G BAB I: PANTANGAN YANG TERABAIKAN agasan itu bermula dari sebuah cetusan ringan di sore hari. Arya menyeletuk kepada sahabatnya, Farhan, menyatakan keinginannya untuk mendaki gunung pada akhir pekan. Setelah berdiskusi singkat, Farhan menyepakati ajakan tersebut. Namun, saat menghitung calon anggota rombongan, mereka menyadari bahwa hanya ada dua orang yang siap berangkat. Bagi para pendaki senior di daerah mereka, angka dua—atau jumlah pendaki ganjil jika ditambah satu orang—adalah sebuah pantangan tersendiri. "Kita cari satu orang lagi," usul Farhan sore itu. "Kalau cuma bertiga nanti jumlahnya ganjil. Mitosnya tidak bagus kalau mendaki dalam jumlah ganjil." Usaha mereka membuahkan hasil ketika Rendy, rekan sekampus mereka, menyatakan bersedia bergabung. Dengan total empat orang, rombongan terasa pas dan berimbang. Segala logistik, tenda, serta bahan makanan disiapkan secara cermat. Rencana keberangkatan pun ditetapkan pada Sabtu pagi. Catatan Mitos Pendakian: Mitos masyarakat setempat percaya bahwa rombongan pendaki bernomor ganjil akan digenapkan oleh "penghuni" gaib gunung yang menyesatkan langkah manusia. Namun, ketika fajar menyingsing di hari keberangkatan, nasib berkata lain. Salah satu teman yang berjanji ikut tiba-tiba tidak dapat dihubungi. Teleponnya mati, pesan singkat tak terbalas, dan ia menghilang tanpa kabar. Jam terus berdenting, hingga akhirnya disadari bahwa ia mendadak membatalkan kepersertaan secara sepihak. Melihat tumpukan carrier yang sudah mengepak rapi di halaman, timbul rasa dilema yang mendalam. Keduanya merasa sangat sayang jika rencana mendaki harus dibatalkan hanya karena satu orang mangkir. "Peralatan sudah siap semua. Mubazir kalau tidak jadi berangkat hanya gara-gara dia," cetus Rendy dengan nada bersikeras. Kendati peringatan tua soal larangan jumlah ganjil membayang di benak Arya dan Farhan, mereka akhirnya kalah oleh rasa penasaran dan membulatkan tekad untuk tetap berangkat bertiga. Pasar Gaib Pos Lima — Cerita Pendek Halaman 1 Misteri Pendakian Berjumlah Ganjil dan Leluasa Menantang Mitos CERPEN HOROR PENDAKIAN

L Awal perjalanan berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. Dari gapura pos pendaftaran hingga melewati Pos 1, Pos 2, dan Pos 3, cuaca membiru cerah diselingi semilir angin pegunungan yang menyegarkan. Jalur setapak yang rimbun dan rute menanjak berhasil mereka lalui sesuai jadwal. Rombongan tiga orang itu sempat saling melempar tawa, menganggap mitos jumlah ganjil hanyalah gertakan kosong orang tua. BAB II: RIUH DI KEGELAPAN POS EMPAT angkah kaki mereka mulai melambat tatkala kabut tebal merayap naik dan matahari tenggelam di ufuk barat. Saat berhasil menginjakkan kaki di Pos 4, kegelapan malam sudah pekat menaungi belantara. Mengingat jarak menuju Pos 5 masih cukup jauh dengan rute menanjak yang curam dan berisiko tinggi, mereka memutuskan untuk membangun tenda dan bermalam di Pos 4. Malam kian larut, suhu udara merosot tajam hingga menembus kulit. Di tengah kesunyian malam pegunungan, kejanggalan demi kejanggalan mulai menunjukkan wujudnya. Dari kejauhan—tepatnya dari arah Pos 5—terlihat pendar sinar kelap-kelip menyerupai lentera yang bergerak samar di balik kepekatan rimba. Awalnya, Arya dan Farhan mencoba tak menghiraukannya dan menganggapnya sebagai kilatan senter pendaki lain. Namun, menginjak tengah malam, keheningan hutan mendadak pecah oleh suara sayup-sayup yang lambat laun membesar. Itu bukan suara angin atau jeritan satwa malam, melainkan keriuhan riak suara manusia yang sangat ramai—persis seperti suasana pasar kaget di tengah kota. "Suara itu terdengar ganjil dan gema tawar-menawar pedagang membahana jelas dari arah Pos 5, padahal di atas sana tak ada perkampungan sama sekali..." Suara riuh tawar-menawar, kerincingan logam, dan gelak tawa sahut-menyahut kian menggelegar menghampiri area perkemahan mereka. Pedagang gaib seolah-olah sedang menjajakan barang dagangan tepat di balik semak-semak tenda mereka. Teringat akan cerita para sesepuh, Farhan teringat satu aturan adat penting: jika mendengar aktivitas Pasar Gaib, pendaki harus melempar koin uang dan batu ke arah suara sebagai perlindungan agar tidak diganggu. Tanpa membuang waktu, Arya dan Farhan merogoh saku, mengambil beberapa koin rupiah serta batu kerikil, lalu melemparkannya ke arah semak belukar. Sesaat setelah logam dan batu mendarat di tanah, suara riuh pasar gaib yang tadinya sangat bising langsung senyap seketika. Suasana mendadak hening mencengkeram. Pasar Gaib Pos Lima — Cerita Pendek Halaman 2

N BAB III: PETAKA SEBUAH TANTANGAN apas Arya dan Farhan tersengal dalam keheningan yang mendadak itu. Namun, keheningan yang menyelimuti Pos 4 tak bertahan lama. Rendy, yang sejak awal bersikap skeptis dan menganggap segala ritual itu kebodohan, justru tertawa terkekeh melepaskan kepanikan. Dengan nada congkak, ia berdiri menghadap kegelapan rimba dan berteriak menantang. "Jual apa sih kalian di sana?! Coba tawarkan ke sini, saya mau beli!" teriak Rendy lantang, menyuarakan kesombongannya ke dalam kegelapan. Seketika itu pula, udara malam menjadi dingin menusuk tulang. Keheningan tadi hancur berkeping- keping. Suara riuh pasar yang sempat padam mendadak meledak kembali dengan kekuatan berlipat ganda! Suaranya tidak lagi terdengar jauh, melainkan bergemuruh hebat menyerupai gelombang air bah yang menerjang langsung ke arah Pos 4, disertai hempasan angin kencang yang mengguncang tenda mereka hingga hampir roboh. Arya dan Farhan memejamkan mata erat-erat sambil memeluk tiang tenda dalam ketakutan yang mencekat dada. Ketika badai angin gaib itu akhirnya surut beberapa menit kemudian, suasana kembali tenang secara mendadak. Namun, saat Arya membuka mata dan menyalakan senter, barulah mereka menyadari petaka yang sesungguhnya: Rendy telah hilang tanpa jejak. Upaya pencarian malam itu nihil. Pemuda yang tadi menantang keberadaan pasar gaib itu lenyap ditelan kegelapan malam. Jasad maupun keberadaannya tak terdeteksi. Tim Tim SAR dan relawan dikerahkan untuk melakukan pencarian berskala besar, tetapi selama dua minggu berturut-turut, tidak ada kabar maupun petunjuk sedikit pun mengenai keberadaan Rendy. Rombongan dan keluarga mulai memasrahkan nasibnya, menduga Rendy telah meninggal dunia di belantara. Akhir Penelusuran: Dua minggu kemudian, Rendy ditemukan di sebuah ceruk jurang dekat Pos 5 dalam kondisi pingsan tak sadarkan diri. Secara fisik tak ada luka atau penyakit pada tubuhnya, namun jiwa dan sukmanya tertinggal di alam ghaib akibat lisan yang tidak dijaga. Rendy segera dilarikan dan dirawat di rumah seorang Kyai/Ustadz setempat. Meskipun fisiknya tampak utuh dan sehat tanpa cidera lara, kesadarannya tak kunjung kembali karena sukmanya masih terikat dan tertinggal di pasar gaib pegunungan tersebut. Melalui serangkaian ritual doa dan proses ruqyah spiritual secara intensif, barulah kesadaran dan jiwanya perlahan dapat dipulihkan kembali. Kisah ini menjadi ikhtiar dan peringatan abadi bagi siapa saja: hargailah aturan alam dan jangan pernah menantang hal yang tak kasat mata. Pasar Gaib Pos Lima — Cerita Pendek Halaman 3

Pasar Gaib Pos Lima

Report