Di sebuah hutan belantara yang lebat, Kancil sedang asyik berjalan-jalan menikmati segarnya udara pagi. Tiba-tiba, langkahnya terhenti saat seekor Singa besar melompat keluar dari balik semak-semak dan menghadang jalannya. "Haha! Akhirnya ada sarapan lezat!" geram Singa sambil memamerkan taringnya yang tajam. "Kamu tidak bisa lari ke mana- mana lagi, Kancil!" Kancil sempat terkejut setengah mati, tetapi ia dengan cepat menenangkan hatinya dan memutar otak. Ia tahu, berlari melawan Singa yang jauh lebih cepat hanya akan sia-sia. "Ampun, Raja Hutan yang gagah perkasa," kata Kancil dengan tenang sambil membungkuk hormat. "Hamba tentu ikhlas menjadi santapan Baginda. Hanya saja... hamba merasa sedih dan khawatir akan keselamatan Baginda." Singa mengerutkan dahi dan menghentikan langkahnya. "Khawatir denganku? Apa maksudmu, Kancil?!" "Tadi saat hamba berjalan ke sini, hamba bertemu dengan seekor singa lain di dekat sumur batu," bisik Kancil dengan raut wajah cemas. "Dia bilang, Dialah penguasa hutan yang sebenarnya. Tubuhnya jauh lebih besar dari Baginda, dan dia menantang Baginda untuk bertarung demi memperebutkan tahta." Mendengar hal itu, harga diri Singa yang tinggi langsung terbakar amarah. "Apa?! Ada singa lain di wilayahku?! Tunjukkan padaku di mana dia sekarang!" Kancil sempat terkejut setengah mati, tetapi ia dengan cepat menenangkan hatinya dan memutar otak. Ia tahu, berlari melawan Singa yang jauh lebih cepat hanya akan sia-sia. "Ampun, Raja Hutan yang gagah perkasa," kata Kancil dengan tenang sambil membungkuk hormat. "Hamba tentu ikhlas menjadi santapan Baginda. Hanya saja... hamba merasa sedih dan khawatir akan keselamatan Baginda." Singa mengerutkan dahi dan menghentikan langkahnya. "Khawatir denganku? Apa maksudmu, Kancil?!" "Tadi saat hamba berjalan ke sini, hamba bertemu dengan seekor singa lain di dekat sumur batu," bisik Kancil dengan raut wajah cemas. "Dia bilang, Dialah penguasa hutan yang sebenarnya. Tubuhnya jauh lebih besar dari Baginda, dan dia menantang Baginda untuk bertarung demi memperebutkan tahta." Mendengar hal itu, harga diri Singa yang tinggi langsung terbakar amarah. "Apa?! Ada singa lain di wilayahku?! Tunjukkan padaku di mana dia sekarang!" Tanpa berpikir panjang, Singa melompat masuk ke dalam sumur untuk menerkam musuhnya. Namun, yang ia dapati hanyalah air dingin yang dalam dan dinding batu yang licin. Singa terkejut dan panik, berjuang keras agar tidak tenggelam. "Kancil! Tolong aku! Di mana singa itu?!" teriak Singa dari dasar sumur. Dari atas bibir sumur, Kancil menengok sambil tersenyum. "Raja Singa, di dalam sana tidak ada musuh. Yang kamu lawan tadi hanyalah bayangan dari amarah dan kesombonganmu sendiri. Ingatlah, kekuatan fisik tanpa akal yang jernih hanya akan membawamu pada masalah." Singa menunduk malu dan berjanji tidak akan sombong lagi. Kancil yang berhati baik kemudian pergi memanggil Gajah dan hewan-hewan lain untuk membantu menarik Singa keluar dari sumur. Sejak hari itu, Singa menjadi raja yang lebih bijaksana, dan Kancil berhasil menyelamatkan dirinya dengan cerdik.

Di sebuah hutan belantara yang lebat, Kancil sedang asyik berjalan-jalan menikmati segarnya udara pagi. Tiba-tiba, langkahnya terhenti saat seekor Singa besar melompat keluar dari balik semak-semak dan menghadang jalannya. "Haha! Akhirnya ada sarapan lezat!" geram Singa sambil memamerkan taringnya yang tajam. "Kamu tidak bisa lari ke mana-mana lagi, Kancil!"

Di sebuah hutan yang lebat, Kancil sedang asyik mengunyah rumput muda ketika suara raungan keras menggetarkan tanah. Dari balik semak-semak, muncullah Singa dengan tubuh besar dan taring yang tajam. S

Report