ii DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ............................................................................................1 KARIMUNJAWA, KEPULAUAN YANG MENYIMPAN CERITA ....................3 BARIKAN: TRADISI, DOA, DAN KEBERSAMAAN ..........................................5 SUARA REBANA DAN SEMANGAT MASYARAKAT .....................................7 RUMAH BUGIS: IDENTITAS YANG BERADAPTASI.......................................9 LAUT, PERAHU, DAN KEHIDUPAN BAHARI.................................................11 KEHIDUPAN SEHARI-HARI: MAKANAN, BAHASA, DAN CERITA ...........13 BUDAYA YANG TUMBUH DARI KEBERSAMAAN ......................................15 MENJAGA KARIMUNJAWA, MENJAGA CERITANYA .................................16 PROFIL PENULIS .................................................................................................17 DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................18

1 KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Puji dan syukur selalu penulis panjatkan kepada Allah Subhanallah Wa Ta’ala/Tuhan Yang Maha Esa karena limpahan rahmat, taufik, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan buku yang berjudul Harmoni Budaya di Antara Ombak . Buku ini menceritakan tentang keindahan alam yang ada di Pulau Karimun Jawa. Semoga buku yang penulis buat ini bisa bermanfaat bagi pembaca yang telah sudi membaca buku ini. Dalam menulis buku ini, penulis sadar bahwa penulis tidak akan bisa menyelesaikannya tanpa bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada: 1. Tim AGPG Grobogan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan sebagai penyelenggara Nubar Samudra Literasi Hayati Karimunjawa. 2. Kedua orang tua penulis, yang senantiasa membimbing, mendidik dengan sabar dan penuh kasih sayang, serta mendoakan penulis. 3. H. Moh. Imron Muntasirudin, M.H., suamiku tercinta yang selalu tanpa kenal lelah memberikan dukungan moral, spiritual, maupun material. 4. Permata hatiku, Kafiil A’izzul Haqq, Mujtaba Ahmad, Fatih Nur Alhaidar, dan Amira Azhar Sya’ab. 5. Teman-teman guru SDN 2 Warukaranganyar yang selalu memberi dukungan dan support kepada penulis dalam membuat buku ini. 6. Teman-teman sesama penulis yang mengikuti kegiatan Nubar Samudra Literasi Hayati Karimunjawa. Baik yang ikut Paket Lengkap Wisata maupun yang ikut Paket Literasi Tanpa Wisata.

2 Sebagai manusia biasa, penulis sadar bahwa buku yang penulis buat masih belum pantas disebut sebagai sebuah karya yang sempurna. Penulis sadar bahwa tulisan penulis masih banyak memiliki kesalahan, baik dari tata bahasa maupun teknik penulisan itu sendiri. Maka dari itu, penulis meminta dan mengharapkan adanya masukan yang membangun dari para pembaca agar penulis semakin termotivasi untuk menjadi lebih baik dan lebih memperbaiki kualitas buku yang akan penulis buat selanjutnya. Purwodadi, September 2026 NUR HIDAYAH, S.Pd.I NIP. 198008232014092003

3 KARIMUNJAWA, KEPULAUAN YANG MENYIMPAN CERITA Karimunjawa sering hadir dalam bayangan orang melalui laut yang jernih, pasir yang terang, gugusan pulau, dan matahari yang jatuh perlahan di ufuk barat. Namun, apabila Karimunjawa hanya dipandang sebagai tempat wisata, kita akan melewatkan bagian yang paling hidup dari kepulauan ini: manusianya dan kebudayaannya. Kebudayaan Karimunjawa tumbuh dari perjumpaan. Kepulauan ini menjadi ruang bertemunya berbagai manusia, gagasan, kebiasaan, dan cara hidup. Kehadiran komunitas Bugis di Kemujan, misalnya, telah dikaji sebagai bagian dari proses pemertahanan identitas budaya di tengah masyarakat Karimunjawa yang beragam. (Suliyati, 2019). Keragaman itu bukan sekadar daftar suku. Ia tampak dalam bahasa sehari-hari, bentuk rumah, makanan, cara bekerja, seni, upacara, hingga cara masyarakat membangun hubungan dengan tetangga. Budaya akhirnya menjadi sesuatu yang tidak hanya dipentaskan ketika ada acara, tetapi juga dijalani setiap hari. Di sinilah daya tarik Karimunjawa menjadi lebih dalam. Laut bukan hanya pemandangan; laut adalah ruang kehidupan. Perahu bukan sekadar kendaraan; bagi masyarakat pesisir, ia juga berkaitan dengan pekerjaan, pengetahuan, dan sejarah keluarga. Mengenal Karimunjawa melalui budayanya berarti belajar melihat kepulauan ini dari sisi yang lebih manusiawi. Kita diajak memahami bagaimana masyarakat yang berbeda latar belakang dapat hidup berdampingan, saling memengaruhi, tetapi tetap menjaga jejak asal-usul masing-masing.

4 Gambar 1. Warga membawa buceng dalam rangkaian Tradisi Barikan di Karimunjawa. Sumber foto: ANTARA Foto (file gambar diberikan penulis).

5 BARIKAN: TRADISI, DOA, DAN KEBERSAMAAN Di antara tradisi yang paling menarik perhatian di Karimunjawa adalah Barikan. Tradisi ini menjadi ruang berkumpul warga, doa bersama, arak-arakan, serta makan bersama. Sumber resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut Barikan Kubro sebagai tradisi turun- temurun masyarakat Karimunjawa yang berkaitan dengan rasa syukur atas hasil bumi dan laut serta penyambutan musim baratan. Dokumentasi ANTARA Foto memperlihatkan warga membawa buceng atau tumpeng kecil, kemudian mengikuti rangkaian kegiatan yang melibatkan tokoh agama, arak-arakan tumpeng, dan kebersamaan warga. Tradisi tersebut juga disebut sebagai ruang perjumpaan masyarakat dari latar belakang suku yang beragam. Barikan memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak selalu berupa benda. Ia dapat berupa tindakan bersama: membawa makanan, berjalan bersama, berdoa, mendengarkan musik, dan berbagi hidangan. Di dalamnya tersimpan nilai gotong royong, rasa syukur, dan hubungan sosial. Menariknya, bentuk tradisi dapat mengalami perubahan. Pemerintah dan masyarakat dapat mengemasnya menjadi pergelaran budaya yang lebih besar, sementara makna sosialnya tetap dijaga. Perubahan semacam ini menunjukkan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan zaman tanpa harus kehilangan seluruh akar sejarahnya.

6 Gambar 2. Warga memainkan rebana dalam rangkaian Tradisi Barikan. Sumber foto: ANTARA Foto

7 SUARA REBANA DAN SEMANGAT MASYARAKAT Musik menjadi salah satu unsur yang membuat sebuah tradisi terasa hidup. Dalam rangkaian Barikan, rebana hadir sebagai pengiring kegiatan dan membangun suasana kebersamaan. Suara alat musik yang dimainkan bersama-sama memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi bagian dari kehidupan sosial. Yang menarik bukan hanya alat musiknya, tetapi juga siapa yang memainkannya. Ketika warga dari berbagai usia berkumpul dan memainkan rebana, seni berubah menjadi pengalaman bersama. Anak- anak dapat melihat langsung bagaimana orang dewasa menjalankan tradisi, sedangkan generasi yang lebih tua memiliki kesempatan untuk meneruskan pengetahuan. Pelestarian seni tidak harus selalu dilakukan melalui pertunjukan besar. Latihan rutin di lingkungan masyarakat, kegiatan sekolah, sanggar, dokumentasi video, dan pembelajaran berbasis proyek dapat menjadi cara sederhana agar generasi muda mengenal budaya lokal. Jika generasi muda mengenal budaya bukan hanya dari buku, tetapi juga dari pengalaman langsung, maka tradisi memiliki peluang untuk terus hidup. Teknologi digital pun dapat digunakan untuk mendokumentasikan musik, cerita, pakaian, dan proses persiapan tradisi dengan tetap menghormati masyarakat pemilik budaya.

8 Gambar 3. Prosesi dan perlengkapan Tradisi Barikan. Sumber foto: ANTARA Foto

9 RUMAH BUGIS: IDENTITAS YANG BERADAPTASI Keragaman budaya Karimunjawa juga dapat dilihat melalui arsitektur. Penelitian Titiek Suliyati dalam Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi membahas rumah Bugis di Desa Kemujan sebagai bentuk pemertahanan budaya masyarakat Bugis. Rumah tersebut menjadi salah satu cara komunitas mempertahankan identitas sekaligus memperkenalkan unsur budayanya kepada masyarakat sekitar. Rumah tradisional tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat tinggal. Bentuk, tata ruang, bahan, dan cara pembangunannya dapat membawa nilai serta ingatan budaya. Di Karimunjawa, bentuk rumah Bugis juga mengalami penyesuaian dengan kondisi lingkungan setempat. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara persis. Budaya dapat beradaptasi dengan lingkungan baru. Yang penting adalah nilai, makna, dan pengetahuan yang menjadi dasar kebudayaan tetap dipahami dan diteruskan. Rumah menjadi semacam buku tanpa halaman. Dari bentuknya kita dapat bertanya: siapa yang membangunnya, dari mana mereka datang, bagaimana mereka menyesuaikan diri, dan nilai apa yang ingin dipertahankan? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat perjalanan di Karimunjawa menjadi pengalaman belajar.

10 Gambar 4. Rumah Panggung Masyarakat Bugis di lingkungan Karimunjawa. Sumber foto: Nasirullah Sitam Gambar 5. Rumah Joglo bergaya tradisional yang memperlihatkan unsur arsitektur masyarakat. Sumber foto Sumber foto: Nasirullah Sitam

11 LAUT, PERAHU, DAN KEHIDUPAN BAHARI Bagi masyarakat kepulauan, laut memiliki makna jauh lebih besar daripada sekadar bentang alam. Laut menjadi sumber penghidupan, jalur perjalanan, ruang bertemu, sekaligus bagian dari ingatan keluarga. Pengetahuan tentang angin, musim, arus, jenis ikan, perahu, dan cara bekerja di laut merupakan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman. Sebagian pengetahuan tersebut diwariskan secara lisan dan melalui praktik sehari-hari. Perahu-perahu yang bersandar di pesisir mengingatkan kita bahwa Karimunjawa adalah ruang hidup. Di balik sebuah perahu ada pekerjaan, keluarga, perjalanan, dan ketergantungan pada kondisi laut. Karena itu, pengembangan wisata perlu berjalan seiring dengan penghormatan terhadap ruang hidup masyarakat. Menjaga laut berarti menjaga sebagian kebudayaan. Ketika lingkungan pesisir rusak, bukan hanya keindahan alam yang berkurang, tetapi juga ruang tempat pengetahuan dan pekerjaan masyarakat berkembang.

12 Gambar 6. Bangunan rumah tradisional bergaya Jawa di Karimunjawa. Sumber foto: Nasirullah Sit Gambar 7. Lanskap pesisir Karimunjawa. Sumber foto: Wisata Karimunjawa.

13 KEHIDUPAN SEHARI-HARI: MAKANAN, BAHASA, DAN CERITA Budaya tidak selalu hadir dalam upacara besar. Ia justru sering paling jelas terlihat dalam hal-hal sederhana: cara orang menyapa tetangga, cara keluarga menerima tamu, makanan yang dimasak, bahasa yang digunakan, dan cerita yang disampaikan. Kuliner menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami masyarakat. Makanan pesisir berkaitan dengan bahan yang tersedia dan kebiasaan keluarga. Resep dapat diwariskan dari orang tua kepada anak dan berubah sedikit demi sedikit mengikuti keadaan. Bahasa juga menyimpan jejak perjumpaan. Di wilayah yang masyarakatnya beragam, penggunaan bahasa dan logat dapat memperlihatkan proses interaksi antarkelompok. Perbedaan bukan selalu penghalang; ia dapat menjadi bagian dari kekayaan komunikasi. Ketika berkunjung ke Karimunjawa, jangan hanya mencari tempat untuk berfoto. Dengarkan cerita warga. Perhatikan cara mereka bekerja. Tanyakan nama makanan. Hormati rumah dan ruang pribadi. Dengan cara sederhana itu, perjalanan wisata dapat berubah menjadi pengalaman budaya.

14 Gambar 9. Pindang Serani Masakan khas Karimunjawa. Sumber foto: Dupi Resto Gambar 9. Perahu dan aktivitas masyarakat pesisir. Sumber foto: Wisata Karimunjawa

15 BUDAYA YANG TUMBUH DARI KEBERSAMAAN Keragaman akan menjadi kekuatan apabila disertai kemampuan untuk hidup berdampingan. Tradisi seperti Barikan memperlihatkan adanya ruang bersama yang mempertemukan warga dalam doa, arak-arakan, dan makan bersama. Keberagaman tidak berarti semua orang harus menjadi sama. Setiap kelompok dapat mempertahankan unsur identitasnya sekaligus menjadi bagian dari masyarakat Karimunjawa yang lebih luas. Dalam kehidupan kepulauan, hubungan sosial menjadi penting. Warga saling membutuhkan dalam kegiatan ekonomi, sosial, keagamaan, dan kebudayaan. Dari hubungan yang berulang itulah tumbuh kebiasaan hidup bersama. Karimunjawa mengajarkan bahwa kebudayaan dapat menjadi jembatan. Laut yang menjadi jalur perjalanan telah mempertemukan banyak manusia. Dari pertemuan itu lahir masyarakat yang beragam; dari keberagaman itu lahir kebiasaan hidup bersama.

16 MENJAGA KARIMUNJAWA, MENJAGA CERITANYA Setiap tempat memiliki cerita, tetapi tidak semua cerita dapat bertahan apabila tidak ada yang meneruskannya. Karimunjawa memiliki kekayaan budaya yang lahir dari perjalanan panjang, perjumpaan antarkelompok, kehidupan bahari, dan tradisi masyarakat. Tantangan ke depan adalah bagaimana perkembangan wisata, teknologi, dan perubahan gaya hidup dapat berjalan bersama dengan pelestarian budaya. Pelestarian bukan berarti membekukan kebudayaan. Kebudayaan boleh berkembang, selama nilai penting dan ingatan yang menjadi akarnya tidak hilang. Generasi muda memiliki peran besar. Mereka dapat menjadi penulis, fotografer, pembuat film, pemandu wisata, seniman, peneliti, atau pengusaha yang mengangkat budaya Karimunjawa dengan cara kreatif. Dokumentasi digital dapat membantu cerita lama menemukan pembaca baru. Bagi wisatawan, menghargai budaya dapat dimulai dari hal sederhana: menjaga kebersihan, menghormati aturan lokal, meminta izin sebelum memotret orang atau kegiatan tertentu, dan mendukung produk masyarakat setempat. Pada akhirnya, Karimunjawa bukan hanya tentang tempat yang indah untuk didatangi. Karimunjawa adalah ruang hidup. Di sana ada keluarga, bahasa, rumah, makanan, tradisi, doa, kerja keras, dan cerita tentang manusia yang belajar hidup bersama. Jika lautnya adalah wajah Karimunjawa, maka budayanya adalah jiwanya.

17 PROFIL PENULIS A. Identitas diri Nama : NUR HIDAYAH, S.Pd.I Tempat/tgL : Pati, 23 Agustus 1980 NIP : 198008232014092003 Pangkat/Gol. : Penata/III/c Jabatan : Guru Pertama/ Ahli Pertama Alamat rumah : Dsn. Gade Ds. Pojok RT 01, RW 03 Kecamatan Pulokulon 58181 B. Riwayat Pendidikan 1. SD Tahun Lulus : 1992 2. SMP Tahun Lulus : 1997 3. SMA Tahun Lulus : 2000 4. S1. Tahun Lulus : 2004 C. Riwayat Pekerjaan 5. Tahun 2004 sampai dengan 2014 Wiyata di SD Negeri 4 Pojok, Pulokulon. 6. Tahun 2014 sampai dengan 2026 PNS di SD Negeri 2 Jatiharjo, Pulokulon. 7. Tahun 2026 sampai dengan sekarang PNS (Kepala Sekolah) di SD Negeri 2 Warukaranganyar, Purwodadi

18 DAFTAR PUSTAKA Suliyati, Titiek. (2019). “Rumah Bugis sebagai Bentuk Pemertahanan Budaya Masyarakat Bugis di Desa Kemojan Karimunjawa.” Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, 2(2), 203–211. DOI: 10.14710/endogami.2.2.203-211. Surojo, Surojo & Iqbal Satrio Wicaksono. (2019). “Peranan Seni Pertunjukan Barikan Qubro dalam Mendukung Pariwisata Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara Jawa Tengah.” Joged, 10(1). Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2017). “Barikan Qubro Karimunjawa 2017, Mengarak Tumpeng Menolak Bala.” Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah. (2025). Calendar of Event Jawa Tengah 2025 — Barikan Kubro Karimunjawa. ANTARA Foto. “Tradisi Barikan di Karimunjawa.” Foto dan keterangan visual digunakan sebagai rujukan caption pada gambar yang diberikan penulis.

19