KOMIK DIGITAL JUDUL : JEJAK REMPAH NUSANTARA HALAMAN 1 SAMPUL HALAMAN 2 Latar : Dapur di Masa Kini Pagi itu, Nara membantu Nenek menyiapkan bahan-bahan untuk membuat jamu. Di atas meja terdapat jahe, kunyit, kayu manis, cengkih, dan berbagai bahan lainnya. Nara memperhatikan banyaknya rempah yang digunakan Nenek. Nara merasa penasaran mengapa jamu menggunakan begitu banyak rempah. Nenek kemudian menjelaskan bahwa rempah bukan hanya digunakan untuk membuat makanan dan minuman, tetapi juga memiliki sejarah panjang dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Nenek mengambil sebuah kotak kayu tua dari lemari. Di dalamnya terdapat peta Nusantara, catatan perdagangan, dan beberapa gambar kapal layar. Nara memperhatikan benda-benda tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. Nenek membuka peta dan menunjukkan wilayah kepulauan yang dahulu terkenal sebagai penghasil rempah. Melalui peta dan catatan itu, Nara mulai mengenal perjalanan rempah Nusantara yang menghubungkan berbagai wilayah di dunia. HALAMAN 3 Cerita berpindah ke masa lalu. Di Kepulauan Banda, seorang pemuda bernama Danu sedang membantu memanen buah pala. Pohon-pohon pala tumbuh di sekitar permukiman, sementara penduduk sibuk mengumpulkan dan mengolah hasil panen. Danu mengetahui bahwa pala merupakan komoditas yang sangat berharga. Rempah ini diminati para pedagang karena dapat digunakan dalam berbagai kebutuhan dan memiliki nilai perdagangan yang tinggi. Setelah memanen pala, Danu melihat sejumlah pedagang datang untuk membeli hasil bumi masyarakat setempat. Mereka membawa barang dagangan dan menawarkan berbagai jenis barang yang berasal dari wilayah lain.
Danu mulai menyadari bahwa hasil panen di daerahnya tidak hanya berguna bagi masyarakat setempat. Pala juga menjadi bagian dari perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia luar. HALAMAN 4 Latar: Selat Malaka, Samudra Pasai, dan Malaka, abad ke-16. Danu melanjutkan perjalanannya melewati Selat Malaka dan singgah di Samudra Pasai serta Malaka. Ia melihat pelabuhan yang ramai dengan kapal-kapal dagang dari berbagai negeri. Di pelabuhan, Danu bertemu pedagang India yang membawa kain, pedagang Tiongkok yang membawa porselen dan sutra, serta pedagang Arab yang menghubungkan perdagangan dengan Timur Tengah dan Eropa. Danu melihat para pedagang saling bertukar barang dan menawarkan rempah-rempah dari Nusantara. Ia menyadari bahwa kekayaan rempah dan letak yang strategis menjadikan Nusantara bagian penting dalam jaringan perdagangan dunia. HALAMAN 5 KEDATANGAN BANGSA EROPA Danu mendengar kabar bahwa bangsa-bangsa Eropa mulai berdatangan ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah. Sejak jatuhnya Konstantinopel pada 1453, bangsa Eropa semakin terdorong mencari jalur perdagangan baru untuk mendapatkan rempah dengan lebih mudah. Portugis merebut Malaka pada 1511 dan mencapai Maluku pada 1512. Spanyol tiba di Tidore pada 1521, disusul Belanda yang datang ke Banten pada 1596 dan mendirikan VOC pada 1602. Danu menyadari bahwa kedatangan mereka bukan sekadar untuk berdagang, tetapi juga untuk menguasai perdagangan rempah-rempah yang sangat berharga. HALAMAN 6 Latar: Pelabuhan dan permukiman di Nusantara, abad ke-16 hingga ke-17. Seiring ramainya perdagangan rempah, Danu melihat pelabuhan semakin sibuk dan kota-kota dagang berkembang. Ia juga melihat para pedagang dari berbagai daerah menggunakan
bahasa Melayu untuk berkomunikasi. Melalui aktivitas perdagangan di pelabuhan, agama Islam turut menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Namun, keadaan mulai berubah ketika VOC berusaha memonopoli perdagangan rempah- rempah. Danu tidak lagi bebas menjual hasil panennya kepada siapa saja. Persaingan dagang semakin ketat dan tekanan bangsa asing mulai dirasakan oleh masyarakat setempat. Danu menyadari bahwa perdagangan rempah membawa perkembangan bagi Nusantara, tetapi juga menimbulkan penderitaan ketika bangsa asing berusaha menguasainya. HALAMAN 7 Latar: Dapur rumah Nara, masa kini. Nara kembali ke masa kini setelah mendengarkan kisah perjalanan rempah-rempah dari neneknya. Ia mulai menyadari bahwa jejak perdagangan rempah masih terasa dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari resep jamu nenek, bahasa Melayu, hingga berbagai masakan berempah khas Nusantara. Nara juga memahami bahwa pelabuhan dan bangunan bersejarah menjadi saksi perjalanan panjang perdagangan rempah di masa lalu. Kini, Nara mengerti bahwa rempah bukan sekadar bumbu dapur, melainkan bagian penting dari sejarah Nusantara. Rempah yang dahulu diperebutkan dunia, hingga kini masih hidup di dapur kita.
