“Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Teladan Mengabdi untuk Negeri, Menuju Indonesia Emas 2045” MAKALAH INOVASI PELAYANAN KEFARMASIAN Implementasi Srikandi Putri Cantik (Petunjuk Ringkas Cara Penggunaan Antibiotik) Dan QR Code Apoteker Pintar Pada Etiket Obat Disusun untuk Media Edukasi dan Inovasi Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Oleh: apt. Dewi Athiah Nurrahmah, S. Farm. NIPPPK. 198705302023212003 PEMERINTAH KOTA PRABUMULIH DINAS KESEHATAN KOTA PRABUMULIH UPTD PUSKESMAS TANJUNG RAMAN 2026
i KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya makalah yang berjudul “Srikandi Putri Cantik (Petunjuk Ringkas Cara Penggunaan Antibiotik) dan QR Code Apoteker Pintar pada Etiket Obat” dapat diselesaikan dengan baik. Makalah ini disusun sebagai bentuk pengembangan inovasi pelayanan kefarmasian di Puskesmas melalui pemberdayaan kader kesehatan serta pemanfaatan teknologi informasi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap penggunaan obat yang benar dan meningkatkan kualitas informasi penggunaan obat kepada pasien. Program Srikandi Putri Cantik (Petunjuk Ringkas Cara Penggunaan Antibiotik) merupakan bentuk pembinaan kader kesehatan oleh Apoteker Puskesmas agar mampu menjadi perpanjang tangan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara bijak dan rasional. Sementara itu, inovasi penggunaan QR Code Apoteker Pintar pada etiket obat menjadi media informasi digital yang mempermudah pasien memperoleh informasi penggunaan obat secara cepat, mudah, dan tepat sehingga mendukung penggunaan obat yang rasional. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini. Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi tenaga kesehatan, kader kesehatan, serta masyarakat luas. Prabumulih, Juni 2026 Penulis
ii DAFTAR ISI Kata Pengantar i Daftar Isi ii BAB I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang 1 1.2. Pokok Permasalahan 3 1.3. Tujuan 4 BAB II Isi 2.1. Tinjauan Pustaka 5 2.2. Karya Inovasi 5 2.3. Hasil Inovasi 9 BAB III Kesimpulan 11 BAB IV Penutup 12 LAMPIRAN 13 Daftar Pustaka iii
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pelayanan kefarmasian saat ini telah mengalami perubahan paradigma yang sangat signifikan, yakni dari pelayanan yang berfokus pada obat (drug oriented) menjadi pelayanan yang berfokus pada pasien (patient oriented) atau yang dikenal dengan Pharmaceutical Care. Perubahan ini menuntut Apoteker untuk tidak hanya memastikan ketersediaan dan penyerahan obat, tetapi juga bertanggung jawab atas hasil terapi dan kualitas hidup pasien. Apoteker harus memastikan bahwa pasien menerima informasi yang tepat agar pengobatan berjalan efektif dan aman. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, seperti penggunaan tanpa resep, dosis yang tidak tepat, durasi terapi yang tidak sesuai, serta penghentian pengobatan sebelum waktunya, masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Selain itu, praktik swamedikasi, tekanan ekonomi, pengaruh sosial-budaya, dan lemahnya penegakan regulasi turut mempengaruhi situasi. Kondisi tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antimikroba (AMR). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan resistensi antibiotik sebagai salah satu dari 10 ancaman kesehatan masyarakat global teratas. Berdasarkan data WHO, diperkirakan 1,27 juta kematian pada tahun 2019 secara langsung disebabkan oleh infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Di Indonesia, beban resistensi antibiotik sangat tinggi, dengan estimasi 36.500 kematian yang dapat diatribusikan langsung pada AMR dan 147.000 kematian terkait AMR pada tahun 2021. Proyeksi tanpa intervensi menunjukkan angka ini dapat meningkat hingga 182.000 kematian pada tahun 2030. Jika tidak ditangani, diperkirakan pada tahun 2050, AMR dapat menyebabkan hingga 10 juta kematian per tahun secara global. Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran strategis dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara rasional. Apoteker sebagai tenaga kefarmasian tidak
2 hanya bertanggung jawab dalam pengelolaan obat, tetapi juga memiliki fungsi edukatif kepada pasien dan masyarakat. Di fasilitas tingkat pertama seperti Puskesmas, rasio jumlah Apoteker dengan cakupan wilayah kerja sering tidak seimbang. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pemberdayaan masyarakat. Lahirlah program Srikandi Putri Cantik (Petunjuk Ringkas Cara Penggunaan Antibiotik), yaitu pembentukan kader- kader kesehatan yang dibina langsung oleh Apoteker Puskesmas. Para kader ini bertugas sebagai perpanjang tangan Apoteker untuk memberikan edukasi ke masyarakat luas mengenai penggunaan antibiotik yang bijak dan rasional. Seiring dengan pergeseran paradigma ke arah patient oriented, transformasi digital dalam layanan kefarmasian juga menjadi kebutuhan mutlak. Digitalisasi memungkinkan informasi kesehatan diakses tanpa batasan ruang dan waktu. Pemanfaatan teknologi seperti rekam medis elektronik dan label pintar pada obat memberikan peluang untuk menutup celah informasi antara Apoteker dan pasien di rumah. Dalam pelayanan kefarmasian, transformasi digital menjadi salah satu strategi penting untuk meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien, serta efektivitas pemberian informasi obat. Apoteker tidak hanya berperan dalam penyediaan obat, tetapi juga bertanggung jawab memastikan pasien memperoleh informasi yang benar mengenai cara penggunaan, penyimpanan, dan keamanan obat. Salah satu tantangan yang sering ditemui di fasilitas pelayanan kesehatan adalah keterbatasan waktu dalam penyampaian informasi obat secara menyeluruh kepada pasien. Selain itu, masih terdapat pasien yang lupa terhadap instruksi penggunaan obat setelah kembali ke rumah sehingga berpotensi menyebabkan kesalahan penggunaan obat (medication error). Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang menggabungkan pendekatan sosial-kemasyarakatan dengan teknologi informasi. Sebagai langkah awal modernisasi edukasi pasien, dikembangkan inovasi QR Code Apoteker Pintar pada etiket obat. QR Code tersebut dapat dipindai menggunakan telepon pintar untuk mengakses informasi penggunaan obat dalam
3 bentuk poster, video, atau media edukasi lainnya yang telah disiapkan oleh Apoteker. Pada tahap awal implementasi, penggunaan QR Code masih difokuskan pada obat luar dan obat-obatan tertentu yang memerlukan edukasi khusus, seperti tetes mata, salep mata, inhaler, insulin, suppositoria, dan sediaan khusus lainnya. Pemilihan ini dilakukan karena obat-obat tersebut memiliki teknik penggunaan yang lebih kompleks dibandingkan obat oral sehingga membutuhkan edukasi tambahan agar terapi berjalan optimal. Ke depan, QR Code Apoteker Pintar diharapkan dapat berkembang menjadi media edukasi dan informasi kesehatan yang lebih luas, sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi obat yang akurat, mudah dipahami, dan dapat diakses kapan saja. Melalui kombinasi pemberdayaan kader kesehatan dan pemanfaatan teknologi digital, diharapkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan obat menjadi lebih baik sehingga dapat meningkatkan keberhasilan terapi dan keselamatan pasien. 1.2. Pokok Permasalahan Permasalahan yang menjadi dasar pelaksanaan inovasi ini meliputi: 1. Masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara rasional. 2. Masih ditemukan penghentian penggunaan antibiotik sebelum terapi selesai. 3. Risiko meningkatnya resistensi antibiotik akibat penggunaan yang tidak tepat. 4. Terbatasnya waktu pemberian informasi di fasilitas pelayanan kesehatan 5. Belum optimalnya pemanfaatan media digital sebagai sarana edukasi kefarmasian. 6. Masih terdapat pasien yang kesulitan memahami cara penggunaan obat luar dan obat dengan teknik khusus.
4 1.3. Tujuan 1. Memberdayakan kader kesehatan (Srikandi) sebagai agen edukasi masyarakat mengenai penggunaan antibiotik yang benar. 2. Meningkatkan kepatuhan dan pemahaman pasien dalam penggunaan obat luar dan obat khusus melalui akses informasi yang cepat dan mudah via QR Code. 3. Menciptakan sistem pelayanan kefarmasian yang inovatif, terintegrasi, dan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu kesehatan masyarakat.
5 BAB II ISI 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Pelayanan Kefarmasian Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, pelayanan farmasi klinik meliputi pengkajian resep, PIO (Pelayanan Informasi Obat), konseling, hingga pemantauan terapi. Paradigma patient oriented menitikberatkan pada interaksi langsung antara apoteker dan pasien untuk mencegah medication error. Edukasi yang baik akan meningkatkan kepatuhan (compliance) pasien terhadap terapi resep yang diberikan. Berdasarkan hasil pengamatan pelayanan kefarmasian, ditemukan beberapa kondisi berikut: Sebagian pasien belum memahami fungsi antibiotik. Pasien masih mengehentikan antibiotik ketika merasa sembuh. Pasien sering lupa aturan minum obat. Pasien masih kesulitan menggunakan obat tetes mata, inhaler, suppositoria, salep, maupun obat luar lainnya. Keterbatasan waktu pelayanan menyebabkan edukasi belum maksimal. 2.2. Karya Inovasi 2.2.1. Jenis Kegiatan Kegiatan ini merupakan bentuk inovasi pelayanan kefarmasian berbasis edukasi masyarakat dan pemanfaatan teknologi informasi melalui : 1. Pembinaan kader Srikandi Putri Cantik. 2. Edukasi penggunaan antibiotik. 3. Penerapan QR Code Apoteker Pintar pada etiket obat.
6 2.2.2. Metode yang Digunakan Metode yang digunakan dalam pelaksanaan program adalah: 1. Metode Edukasi dan Penyuluhan Apoteker memberikan penyuluhan kepada kader dan masyarakat mengenai: ● Penggunaan antibiotik secara bijak. ● Bahaya resistensi antibiotik. ● Penggunaan obat yang benar. ● Cara penggunaan obat. 2. Metode Demonstrasi Dilakukan praktik langsung mengenai cara penggunaan obat tertentu seperti: ● Tetes mata. ● Salep mata. ● Suppositoria. ● Inhaler. ● Obat luar lainnya. 3. Metode Pendampingan Kader Kader Srikandi mendapatkan pembinaan dan pendampingan secara berkala dari Apoteker Puskesmas. 4. Metode Digitalisasi Informasi Pembuatan QR Code yang terhubung dengan media edukasi berupa: ● Poster edukasi. ● Video penggunaan obat. ● Metode audiovisual lainnya.
7 5. Metode Observasi dan Evaluasi Dilakukan evaluasi terhadap pemahaman masyarakat dan efektivitas penggunaan QR Code dalam pelayanan kefarmasian. 2.2.3. Lokasi dan Sasaran Kegiatan 2.2.3.1.Lokasi Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas. 2.2.3.2.Sasaran 1. Kader kesehatan. 2. Pasien Puskesmas. 3. Keluarga pasien. 4. Masyarakat umum. 2.2.4. Variabel Kegiatan 2.2.4.1.Variabel Independen (Variabel Bebas) 1. Edukasi penggunaan antibiotik melalui kader Srikandi Putri Cantik. 2. Pemberian etiket luar yang dilengkapi QR Code Apoteker Pintar 2.2.4.2.Variabel Dependen (Variabel Terikat) 1. Tingkat pemahaman masyarakat dan kepatuhan masyarakat terhadap aturan pakai antibiotik. 2. Tingkat ketepatan teknik penggunaan obat luar oleh pasien di rumah. 3. Kemampuan masyarakat mengakses informasi obat. 2.2.4.3.Variabel Pendukung 1. Peran aktif kader kesehatan. 2. Dukungan tenaga kesehatan. 3. Ketersediaan media edukasi. 4. Akses masyarakat terhadap telepon pintar.
8 2.2.5. Langkah-Langkah Inovasi 2.2.5.1.Langkah Inovasi Srikandi Putri Cantik 1. Rekrutmen dan Seleksi: Memilih perwakilan kader aktif dari setiap posyandu/desa di wilayah kerja Puskesmas. 2. Pelatihan Intensif: Apoteker memberikan penyuluhan mendalam kepada kader mengenai antibiotik, bahaya resistensi, dan “Petunjuk Ringkas Cara Penggunaan Antibiotik.” 3. Distribusi Perangkat Edukasi: Kader dibekali media cetak (brosur/leaflet/poster) yang ringkas dan mudah dipahami. 4. Terjun ke Masyarakat: Kader melakukan sosialisasi di forum-forum warga (arisan, posyandu, pengajian) 5. Monitoring dan Pelaporan: Kader melaporkan temuan di lapangan (misal: warga yang menyimpan antibiotik sisa) kepada Apoteker untuk ditindaklanjuti. 2.2.5.2.Langkah Inovasi QR Code Apoteker Pintar 1. Pembuatan Konten Edukasi: Apoteker menyusun materi instruksional (poster atau video pendek) tentang cara pakai obat luar (contoh: cara meneteskan obat mata yang benar, cara memasukkan supositoria). 2. Pembuatan QR Code: Tautan dari materi edukasi yang telah diunggah ke penyimpanan awan dikonversi menjadi gambar QR Code. 3. Integrasi pada Etiket: QR Code dicetak pada stiker etiket biru (khusus obat luar). 4. Edukasi Saat Penyerahan: Saat menyerahkan obat, Apoteker mempraktikkan cara scan QR Code kepada pasien/keluarga pasien. 5. Evaluasi Penggunaan: Memantau analitik akses tautan (beberapa kali QR Code dipindai) dan meminta umpan balik dari pasien saat berkunjung.
9 2.2.6. Teknik Pengumpulan Data Data diperoleh melalui: 1. Observasi. 2. Penyebaran kuesioner, baik angket maupun link. 3. Wawancara. 4. Evaluasi pemahaman masyarakat. 5. Monitoring penggunaan QR Code. 2.2.7. Indikator Keberhasilan 1. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang antibiotik. 2. Meningkatnya kepatuhan penggunaan obat. 3. Bertambahnya kader yang aktif memberikan edukasi. 4. Meningkatnya akses masyarakat terhadap informasi obat. 5. Menurunnya kesalahan penggunaan obat tertentu. 2.3. Hasil Inovasi 2.3.1. Manfaat Bagi Apoteker ● Membantu penyampaian informasi obat secara lebih efektif dan efisien. ● Mempermudah edukasi pasien. ● Mendukung transformasi digital pelayanan kefarmasian. Bagi Puskesmas ● Mendukung transformasi digital pelayanan kefarmasian. ● Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan inovasi edukasi kesehatan. ● Memperluas jangkauan edukasi kesehatan.
10 Bagi Masyarakat ● Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai penggunaan antibiotik secara bijak. ● Mempermudah akses informasi obat. ● Mengurangi kesalahan penggunaan obat. ● Meningkatkan kepatuhan pengobatan. 2.3.2. Hambatan Pelaksanaan Beberapa hambatan yang dapat ditemukan antara lain: 1. Tidak semua masyarakat memiliki telepon pintar yang mendukung pemindaian QR Code. 2. Keterbatasan akses internet. 3. Rendahnya literasi digital pada sebagian masyarakat. 4. Keterbatasan waktu tenaga kesehatan. 2.3.3. Upaya Pemecahan Masalah Upaya yang dilakukan untuk mengatasi hambatan tersebut antara lain: 1. Memberikan edukasi langsung secara tatap muka. 2. Menyediakan media cetak pendukung. 3. Melakukan pendampingan kader secara berkala. 4. Mengembangkan media edukasi yang sederhana dan mudah dipahami.
11 BAB III KESIMPULAN Perubahan pelayanan kefarmasian menuju patient oriented menuntut Apoteker untuk lebih inovatif. Inovasi pelayanan kefarmasian mutlak diperlukan untuk beradaptasi dengan keterbatasan waktu pelayanan dan tantangan literasi kesehatan masyarakat. Srikandi Putri Cantik terbukti mampu mengatasi keterbatasan SDM Apoteker dalam menekan laju resistensi antibiotik di masyarakat melalui pemberdayaan kader. Sementara itu, QR Code Apoteker Pintar pada etiket obat luar merupakan wujud nyata transformasi digital yang memastikan pasien mendapatkan panduan cara pakai obat yang tepat secara audio-visual kapan pun dibutuhkan.
12 BAB IV PENUTUP Pelayanan kefarmasian yang berkualitas tidak hanya berfokus pada penyediaan obat, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat memahami cara penggunaan obat yang benar. Oleh karena itu, program Srikandi Putri Cantik dan QR Code Apoteker Pintar merupakan langkah awal dalam transformasi digitalisasi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat Puskesmas. Diharapkan ke depannya, fitur pada QR Code Apoteker Pintar dapat terus dikembangkan menjadi portal informasi dan edukasi kesehatan publik yang lebih luas. Selain itu, pembinaan berkelanjutan kader Srikandi diharapkan mendapat dukungan penuh dari lintas sektor, sehingga program ini ini dapat terus berkesinambungan dan direplikasi oleh fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah lainnya.
13 LAMPIRAN A. Inovasi Srikandi Putri Cantik 1. Pemilihan dan Penyuluhan terhadap Srikandi Putri Cantik Kepala UPTD Puskesmas Tanjung Raman memilih kader aktif yang berada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanjung Raman. Kader-kader yang dipilih diberikan sosialiasi berupa paparan materi oleh Apoteker Puskesmas. Sebagai bentuk apresiasi dan pengukuhan agen kesehatan masyarakat, diadakan penyerahan penghargaan kepada peserta terpilih berupa penyematan pin “Srikandi Putri Cantik” oleh kepala UPTD Puskesmas Tanjung Raman dan mendapatkan sertifikat yang secara eksplisit mencantumkan keterangan bahwa mereka telah mengikuti atau menjadi bagian dari program “Penggunaan Antibiotik Secara Bijak”. Pin Srikandi Putri Cantik Penyuluhan Apoteker kepada Srikandi Putri Cantik
14 Penyematan Pin dan Pemberian Sertifikat terhadap Srikandi Putri Cantik
15 Foto Bersama
16 2. Materi Edukasi yang Digunakan Srikandi Putri Cantik
17 3. Sosialisasi Srikandi Putri Cantik ke Masyarakat di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Tanjung Raman Masyarakat
18 Posyandu Pengajian
19 4. Evaluasi Pengisian angket Pengisian link https://forms.gle/NzyWdLGewCogUvtp8
20
21
22 B. Inovasi QR Code Apoteker Pintar pada Etiket Obat Implementasi awal penggunaan QR Code Apoteker Pintar dilakukan pada etiket obat luar seperti tetes mata, salep mata, supositoria, dan obat luar lainnya. 1. Pembuatan Konten Edukasi
23 2. Pembuatan QR Code 3. Penyerahan Obat disertai Informasi Cara Penggunaan QR Code
24
iii DAFTAR PUSTAKA Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Jakarta: Kemenkes RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Pedoman Penggunaan Antibiotik Bijak di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba. Jakarta: Kemenkes RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Transformasi Sistem Kesehatan Indonesia Pilar Teknologi Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI. Siregar, C.J.P., & Amalia, L. (2004). Farmasi Klinik: Teori dan Penerapan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Notoadmodjo, S. (2018). Promosi Kesehatan dan Peilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Satibi. (2019). Manajemen Obat di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Arini, D., dkk. (2022). “Pemanfaatan QR Code sebagai Media Edukasi Kesehatan Digital”. Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia, 8(2), 101-109.
