Menilik Kradenan Menilik Kradenan TENTANG KEHIDUPAN SOSIAL DAN EKONOMI MASYARAKAT DESA KRADENAN. PhotostoryPhotostoryPhotostory
Kata PengantarKata Pengantar04 Mengenal KradenanMengenal Kradenan05 06 08 16 Pertanian Penggilingan Bijih PlastikPenggilingan Bijih Plastik Daster sambungDaster sambung Kripik TahuKripik Tahu25 Daftar IsiDaftar Isi 30 31 32 Ucapan Terima Kasih DokumentasiDokumentasi PenutupPenutup
Menilik Kradenan:Menilik Kradenan:Menilik Kradenan: PHOTOSTORY BOOK 03 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Photostory tentang Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Desa Kradenan. Oleh: Siti Qoni’ah Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang GIAT 17 Universitas Negeri Semarang Tahun 2026 Desa Kradenan Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang
PHOTOSTORY BOOK 04 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Kata Pengantar Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya sehingga photostory berjudul Menilik Kradenan: Photostory tentang Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Desa Kradenan dapat disusun dengan baik. Karya ini merupakan salah satu luaran kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kradenan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang. Melalui foto, observasi, dan wawancara, photostory ini merekam kehidupan masyarakat Desa Kradenan, khususnya aktivitas pertanian dan geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berbagai cerita yang dihadirkan memperlihatkan keseharian masyarakat, keterlibatan warga dalam kegiatan ekonomi, serta beragam peran yang dijalani dalam memenuhi kebutuhan hidup. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Kradenan, para narasumber, serta seluruh pihak yang telah membantu proses penyusunan karya ini. Penulis menyadari bahwa photostory ini masih memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan sebagai bahan perbaikan. Semoga Menilik Kradenan dapat menjadi dokumentasi visual yang bermanfaat sekaligus mengajak pembaca mengenal lebih dekat kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Desa Kradenan melalui cerita-cerita sederhana yang hadir dalam keseharian mereka.
PHOTOSTORY BOOK 05 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Mengenal Kradenan Desa Kradenan merupakan salah satu desa di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, yang berjarak sekitar 85,2 kilometer dari pusat Kota Semarang. Desa ini terletak tidak jauh dari perbatasan wilayah Semarang dan Boyolali. Secara administratif, Desa Kradenan terdiri atas sembilan dusun, yaitu Kradenan 1, Kradenan 2, Kradenan 3, Kradenan 4, Gender, Kedesen Lor, Kedesen Kidul, Kalikendang, dan Kebatan. Kehidupan masyarakat Kradenan berjalan melalui beragam aktivitas, salah satunya di bidang pertanian. Di antara hamparan sawah dan kegiatan sehari-hari warga, terdapat pula usaha-usaha kecil yang menjadi bagian dari penghidupan masyarakat. Berbagai usaha tersebut melibatkan orang-orang dengan latar belakang dan usia yang beragam, yang bekerja dengan cara serta perannya masing-masing. Melalui foto-foto dalam buku ini, Menilik Kradenan mengajak pembaca melihat lebih dekat kehidupan di balik aktivitas usaha masyarakat. Bukan hanya produk yang dihasilkan, tetapi juga orang-orang yang mengerjakannya, keseharian mereka, serta hubungan sosial yang tumbuh di antara para pekerja.
PHOTOSTORY BOOK 06 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 PertanianPertanianPertanian
PHOTOSTORY BOOK 07 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Pertanian menjadi salah satu mata pencaharian utama masyarakat Desa Kradenan. Sebagian besar warga yang bekerja di sektor ini menanam padi sebagai bagian dari aktivitas pertanian mereka.
PHOTOSTORY BOOK 08 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Selain bertani, masyarakat Desa Kradenan juga menggantungkan penghasilan dari sektor usaha. Salah satunya adalah penggilingan bijih plastik milik Bapak Laskara yang telah beroperasi selama kurang lebih tiga tahun. Usaha ini berawal dari pengalaman yang dipelajarinya dari sang paman, yang lebih dahulu menekuni bidang serupa di Kalimantan. PenggilinganPenggilingan bijih plastikbijih plastik Penggilingan bijih plastik
PHOTOSTORY BOOK 09 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Sebelum diolah lebih lanjut, limbah plastik yang diterima dari pemasok harus melewati beberapa tahapan. Prosesnya dimulai dengan menghancurkan plastik menggunakan mesin penghancur, kemudian mencucinya dengan air untuk membersihkan sisa kotoran. Setelah itu, plastik dikeringkan menggunakan mesin sentris pengering agar siap diproses ke tahap berikutnya.
PHOTOSTORY BOOK 10 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Proses penghancuran, pencucian, hingga pengeringan plastik ini dikerjakan oleh tiga orang pekerja laki-laki. Mereka menjalankan setiap tahapan pengolahan menggunakan mesin yang tersedia, sebelum plastik siap melanjutkan perjalanan ke proses berikutnya.
PHOTOSTORY BOOK 11 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Tutup botol plastik yang semula menjadi limbah kini telah berubah menjadi bijih plastik setelah melalui proses pengolahan. Hasil ini nantinya dikirim kembali kepada mitra industri untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam proses produksi berikutnya.
PHOTOSTORY BOOK 12 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Selain mengolah plastik dengan mesin, kegiatan di penggilingan ini juga melibatkan pekerja yang bertugas memilah sampah plastik. Pekerjaan ini dilakukan dengan sistem borongan, dengan upah sebesar Rp2.000 per kilogram plastik yang dipilah. Sebagian besar pekerjanya berusia sekitar 50 tahun. Bagi mereka, pekerjaan ini menjadi salah satu cara untuk menambah penghasilan di tengah kebutuhan sehari-hari.
PHOTOSTORY BOOK 13 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Di sudut pabrik lainnya, aktivitas produksi berlanjut melalui proses penjahitan polybag. Para pekerja laki-laki dan perempuan berusia sekitar 30 hingga 50 tahun duduk berdampingan, menjalankan pekerjaan yang menjadi bagian dari proses produksi. Dengan pembagian tugas yang setara, mereka mengandalkan keterampilan dan ketelitian untuk menyelesaikan setiap lembar polybag. Pekerjaan ini menggunakan sistem borongan, sehingga upah yang diterima mengikuti jumlah hasil yang dikerjakan.
PHOTOSTORY BOOK 14 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026
PHOTOSTORY BOOK 15 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Polybag siap untuk didistribusikan Polybag siap untuk didistribusikan
PHOTOSTORY BOOK 16 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Selanjutnya, terdapat usaha pembuatan daster sambung milik Bu Erni yang turut membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar, terutama ibu-ibu. Usaha ini telah berjalan selama kurang lebih dua tahun. Kain perca yang digunakan diperoleh dari pabrik tekstil melalui pemasok dari Sambi. Potongan-potongan kain tersebut dipotong menjadi satu ukuran yang sama, kemudian dijahit menjadi daster sambung yang siap dipasarkan kembali melalui distributor. DasterDaster SambungSambung Daster Sambung
PHOTOSTORY BOOK 17 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026
PHOTOSTORY BOOK 18 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Pengerjaan daster dilakukan di rumah masing-masing pekerja. Setiap dua hari sekali, mereka menyetorkan hasil jahitan sekaligus mengambil bahan untuk dikerjakan kembali. Para pekerja membuat model daster yang telah ditentukan, dengan pembagian pekerjaan yang sama, mulai dari mengolah potongan kain hingga menjahitnya menjadi pakaian.
PHOTOSTORY BOOK 19 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Masyarakat yang bekerja di sini memiliki usia dan kebutuhan yang beragam, mulai dari sekitar 20 hingga 55 tahun. Ada yang menjadikan pekerjaan ini sebagai sumber penghasilan utama, ada pula yang mengerjakannya sebagai pekerjaan sampingan atau untuk mengisi waktu luang. Upah yang diterima dihitung berdasarkan jumlah daster yang diselesaikan, yaitu Rp4.000 untuk daster dewasa dan Rp2.000 untuk daster anak-anak.
PHOTOSTORY BOOK 20 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Sebagian besar pekerja telah memiliki keterampilan menjahit sebelum bergabung. Namun, bagi mereka yang belum bisa menjahit, Bu Erni menyediakan pelatihan secara gratis. Kesempatan ini membuat pekerjaan tersebut dapat dijangkau oleh warga yang ingin belajar sekaligus memperoleh penghasilan.
PHOTOSTORY BOOK 21 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Makna pekerjaan Bagi ibu-ibu yang bekerja di sini, menjahit daster bukan sekadar pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Ada yang menjadikannya sebagai pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang, ada pula yang menyalurkan kegemarannya menjahit melalui kegiatan ini. Di sela-sela kesibukan menyelesaikan jahitan, usaha ini juga menjadi ruang bagi mereka untuk semakin akrab. Meski sebelumnya telah saling mengenal sebagai tetangga, bekerja dalam usaha yang sama membuat hubungan mereka semakin dekat.
PHOTOSTORY BOOK 22 GIAT 17 UNNES TAHUN 2027 “Lingkungan kerjanya enak mba, bu Erni itu pejuang lingkungan. Beliau menyediakan lapangan pekerjaan, dan hanya mengambil sedikit keuntungan, 500 perak per dasternya” -Ibu lis, salah satu pekerja usaha daster sambung
PHOTOSTORY BOOK 23 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Daster Dewasa
PHOTOSTORY BOOK 24 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Daster Anak
PHOTOSTORY BOOK 25 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Di Desa Kradenan juga terdapat usaha keripik tahu milik Ibu Tri Nuryani yang telah berjalan selama kurang lebih 18 tahun. Pada usia 54 tahun, Bu Tri masih menekuni usaha yang dirintis dari ketertarikannya pada dunia oleh-oleh. Berawal dari kebiasaannya mengunjungi tempat oleh-oleh dan mendapat masukan untuk mencoba berjualan, Bu Tri mulai merintis usahanya melalui berbagai percobaan hingga menghasilkan keripik tahu seperti sekarang. Perjalanan menjalankan usaha ini tentu tidak selalu mudah. Berbagai kesulitan pernah membuat Bu Tri hampir menyerah. Namun, beliau berpegang pada prinsip bahwa ketika sudah melangkah di jalan berlumpur, mundur justru akan membuat seseorang terjebak, sedangkan terus maju akan membawanya melewati rintangan. Prinsip tersebut menjadi pegangan Bu Tri dalam mempertahankan usaha yang telah dijalankannya selama bertahun-tahun. KripikKripik TahuTahu Kripik Tahu
PHOTOSTORY BOOK 26 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Pembuatan keripik tahu diawali dengan mencuci kedelai hingga bersih. Kedelai kemudian dihancurkan dan disaring untuk memisahkan sari kedelai dari ampasnya. Tahapan awal ini menjadi bagian penting dalam proses pengolahan kedelai sebelum berlanjut menjadi tahu yang nantinya diolah menjadi keripik.
PHOTOSTORY BOOK 27 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Setelah disaring, sari kedelai direbus hingga siap diolah menjadi tahu. Tahu yang dihasilkan kemudian didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk ke tahap berikutnya. Setelah cukup dingin, tahu digiling dan diperas untuk mengurangi kadar airnya, lalu dibentuk menjadi bulatan dan diberi bumbu. Bulatan tahu tersebut didiamkan setidaknya lima jam agar tidak mudah hancur saat digoreng. Setelah itu, tahu dibelah dan bagian dalamnya dikeluarkan sebelum digoreng kembali hingga menjadi keripik tahu.
PHOTOSTORY BOOK 28 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Dalam proses produksi, bapak-bapak bertugas mengolah kedelai menjadi tahu hingga menggorengnya. Mereka menangani tahapan awal pengolahan bahan hingga tahu siap diproses lebih lanjut menjadi keripik tahu.
PHOTOSTORY BOOK 29 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Setelah tahu bulat digoreng oleh bapak-bapak, giliran ibu-ibu mengambil bagian dalam proses klecep. Pada tahap ini, tahu dibelah, dibalik ke arah berlawanan, lalu bagian dalamnya dikeluarkan sebelum digoreng kembali hingga menjadi keripik tahu. Di sela-sela pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan ini, obrolan ringan turut menemani aktivitas mereka.
Kripik tahu siapKripik tahu siapKripik tahu siap didistribusikandidistribusikandidistribusikan Kripik tahu siap didistribusikan
PHOTOSTORY BOOK 30 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026 Penutup Di Kradenan, kehidupan berjalan melalui banyak pekerjaan. Ada petani yang mengolah lahan, ada tangan-tangan yang memilah plastik, menjahit potongan kain, dan mengolah kedelai menjadi keripik tahu. Pekerjaan-pekerjaan ini mungkin terlihat biasa dalam keseharian, tetapi di sanalah kita dapat melihat bagaimana masyarakat menjalani hidup, mengandalkan keterampilan, dan menemukan cara untuk terus bekerja. Melalui Merekam Kradenan, kami mencoba memberi ruang bagi cerita- cerita tersebut. Foto-foto dalam buku ini tidak mungkin menggambarkan seluruh kehidupan masyarakat Kradenan. Namun, setiap bingkai menjadi kesempatan untuk memperhatikan hal-hal yang kerap luput dari pandangan: proses panjang di balik sebuah produk, ketelitian dalam menyelesaikan pekerjaan, serta orang-orang yang mengisi ruang-ruang kerja dengan aktivitas dan cerita mereka sendiri. Bagi kami, mendokumentasikan Kradenan bukan semata-mata soal mengumpulkan gambar, melainkan belajar memahami kehidupan dari hal-hal yang dekat dengan keseharian. Bahwa sebuah desa tidak hanya dikenal melalui letak dan potensinya, tetapi juga melalui orang- orang yang mengusahakan kehidupannya setiap hari. Semoga Merekam Kradenan dapat menjadi jejak kecil yang membantu pembaca mengenal sisi tersebut. Sebab, ketika sebuah pekerjaan selesai dan hasilnya dibawa pergi, ada proses dan cerita manusia yang tetap layak untuk diingat. Dan melalui foto-foto ini, sebagian dari cerita itu kini memiliki tempat untuk disimpan.
Dokumentasi PHOTOSTORY BOOK 31 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026
Ucapan Terima Kasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Desa Kradenan, seluruh masyarakat Desa Kradenan, teman-teman Kelompok GIAT 17 UNNES Desa Kradenan, para pemilik UMKM, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan berbagi informasi selama proses penyusunan photostory ini. Penulis menyadari bahwa etnofotografi ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis memohon maaf atas segala kekurangan yang ada dan mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi penyempurnaan karya ini. Semoga photostory ini dapat memberikan manfaat dan menjadi salah satu dokumentasi yang memperkenalkan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Kradenan. PHOTOSTORY BOOK 32 GIAT 17 UNNES TAHUN 2026
Menilik Kradenan SEBUAH PHOTOSTORYSEBUAH PHOTOSTORY OKTOBER 2026 UNNES GIAT 17 TAHUN 2026UNNES GIAT 17 TAHUN 2026 DESA KRADENAN, KECAMATAN KALIWUNGU, KABUPATEN SEMARANGDESA KRADENAN, KECAMATAN KALIWUNGU, KABUPATEN SEMARANG
