JELAJAHJELAJAHIndonesiaIndonesiaMAKANAN POPULER10Di Kudus banyak loh makanan populer, apa aja sih? Mulai dari Soto Kudus, Nasi Pindang Kudus, Jenang Kudus, Sate Kerbau, Pecel Pakis Colo, Madumongso Kudus, Tahu Petis Kudus, Keripik Paru Kerbau, hingga Lentog Tanjung.KUDUS EDISI "Wista Alam dan Kuliner Khas Nusantara"
Daftar Isi Soto Kudus 03 04 05 06 07 08 Nasi Pindang kudus Jenang Kudus Sate Kerbau 09 10 11 Pecel Pakis Colo Madumongso Kudus Tahu Petis Kudus Keripik Paru Kerbau Lentog Tanjung 02 KUDUS 12 Sejarah Kota Kudus
Kota Kudus memiliki sejarah yang sangat kaya dan unik dalam peradaban Nusantara, terutama terkait erat dengan penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Sebelum dikenal sebagai Kudus, wilayah ini bernama Tajug, sebuah nama yang merujuk pada bentuk atap tempat pemujaan warga setempat yang beragama Hindu- Buddha. Perubahan besar terjadi ketika Ja’far Shodiq, yang dikenal sebagai Sunan Kudus, mendirikan Masjid Menara Kudus pada tanggal 23 Rajab 956 Hijriah atau 28 Mei 1549 Masehi. Berdasarkan prasasti beraksara Arab yang terpasang di mihrab masjid, tempat ini dinamai Al-Quds yang berarti Kota Suci, yang kemudian diserap oleh masyarakat lokal menjadi kata Kudus. Dalam melancarkan dakwahnya, Sunan Kudus menerapkan pendekatan kultural yang penuh toleransi dengan merangkul tradisi Hindu-Buddha tanpa memicu konflik. Kebijakan ini tecermin dari arsitektur Menara Masjid Kudus yang dibangun menyerupai candi Hindu dari bata merah, serta larangan menyembelih sapi sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang menyucikan hewan tersebut. Imbas dari tradisi ini masih terasa hingga sekarang, di mana daging kerbau menjadi bahan utama berbagai hidangan khas Kudus. Seiring berjalannya waktu, wilayah Kudus terbagi secara alami menjadi Kudus Kulon sebagai pusat keagamaan dan budaya tradisional, serta Kudus Wetan sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan modern. Memasuki akhir abad ke-19, Kudus mengalami transformasi ekonomi yang signifikan dan melahirkan julukan baru sebagai Kota Kretek. Hal ini bermula dari penemuan Haji Jamhari yang meracik campuran tembakau dan cengkeh sebagai obat sesak dada, yang saat dibakar menimbulkan bunyi "kletek-kletek". Racikan ini kemudian berkembang pesat menjadi industri rokok kretek raksasa di bawah pelopor seperti Nitisemito dengan merk Bal Tiga. Hingga kini, identitas Kota Kudus terus dibentuk oleh harmonisasi religi, sejarah, dan industri, yang terangkum erat dalam falsafah hidup warisan Sunan Kudus yaitu Gusjigang—singkatan dari bagus perilakunya, pinter ngajinya, dan terampil dagangnya. Sejarah Kota Kudus Sunan Kudus 03 KUDUS
Soto Kudus memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan nilai toleransi beragama yang diajarkan oleh Sunan Kudus (Ja’far Shodiq) pada abad ke-16. Saat itu, sebagian besar masyarakat setempat memeluk agama Hindu dan Buddha yang menyucikan sapi (lembu). Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi agar tidak menyinggung perasaan umat Hindu, Sunan Kudus menganjurkan para pengikutnya dan masyarakat sekitar untuk tidak menyembelih sapi, melainkan menggantinya dengan daging kerbau. Dari tradisi inilah kuliner Soto Kudus lahir dan konsisten menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya secara tradisional, meskipun seiring berjalannya waktu kini juga banyak dijumpai varian menggunakan daging ayam demi menjangkau selera yang lebih luas. Ukuran mangkuknya yang kecil juga memiliki filosofi tersendiri, yaitu agar porsi makannya tidak berlebihan dan masyarakat tetap bersikap sederhana. Soto KudusBahan-bahan nya sebagai berikut : Daging & Kuah: 500 gram ayam kampung (atau daging kerbau/sapi), 2 liter air, dan minyak goreng secukupnya. Bumbu Halus: 8 siung bawang merah, 5 siung bawang putih, 4 butir kemiri sangrai, 2 cm jahe, 2 cm lengkuas, 1 tsp ketumbar, 1/2 tsp jintan, 1/2 tsp merica, dan 1 tsp kunyit. Bumbu Aromatik: 2 batang serai (memarkan), 4 lembar daun jeruk, 2 lembar daun salam, garam, gula, dan kaldu bubuk. Pelengkap: Tauge pendek (diseduh), seledri, daun bawang, bawang putih goreng, kecap manis, jeruk nipis, sambal rawit, dan nasi putih. Langkah-Langkah Pembuatan : Membuat Kaldu: Rebus daging dalam 2 liter air di atas api sedang hingga empuk dan matang. Setelah itu, angkat dagingnya lalu suwir-suwir, dan biarkan air rebusannya tetap hangat sebagai kuah kaldu. Menumis Bumbu: Haluskan semua bumbu halus, lalu tumis bersama serai, daun jeruk, dan daun salam menggunakan sedikit minyak hingga aromanya harum, matang, dan warnanya sedikit menggelap. Memasak Kuah: Tuangkan tumisan bumbu ke dalam panci berisi air kaldu. Tambahkan garam, gula pasir, dan kaldu bubuk secukupnya, lalu didihkan dengan api kecil selama 10 menit agar bumbu meresap sempurna. Penyajian: Tata nasi putih, suwiran daging, dan tauge di dalam mangkuk. Siram dengan kuah soto panas, lalu beri taburan bawang putih goreng, seledri, dan daun bawang di atasnya. Sajikan bersama perasan jeruk nipis, kecap manis, dan sambal. 04 KUDUS
Sate Kerbau lahir dari wujud toleransi beragama yang diwariskan oleh Sunan Kudus pada abad ke-16. Untuk menghormati masyarakat setempat yang saat itu mayoritas memeluk agama Hindu dan menyucikan sapi (lembu), Sunan Kudus melarang pengikutnya menyembelih sapi. Masyarakat Kudus kemudian memutar otak untuk mengolah daging kerbau yang berserat lebih kasar dan keras agar tetap nikmat dimakan. Daging kerbau ditumbuk atau dicincang halus terlebih dahulu, lalu dibumbui dengan rempah-rempah dan gula merah sebelum dibakar. Hasilnya adalah sate bertekstur sangat empuk dengan cita rasa manis-gurih yang khas dan disiram bumbu kacang tebal bersantan. Sate KerbauBahan-bahan nya sebagai berikut : Daging & Marinasi: 500 gram daging kerbau (atau sapi), 50 gram gula merah (sisir), 3 sendok makan kecap manis, 1 sendok makan air asam jawa, dan tusuk sate secukupnya. Bumbu Halus: 8 bawang merah, 4 bawang putih, 3 kemiri sangrai, 1 sendok teh ketumbar, 1/2 sendok teh jintan, 2 cm jahe, dan 1 sendok teh garam. Bumbu Kacang (Kuah Tebe): 100 gram kacang tanah goreng (haluskan), 200 ml santan encer, 1 lembar daun salam, 1 batang serai (memarkan), garam, dan gula merah secukupnya. Pelengkap: Bawang merah goreng, irisan cabai rawit, dan lontong/nasi putih. Langkah-Langkah Pembuatan : Mengempukkan Daging: Potong daging kerbau searah serat, lalu pukul-pukul atau tumbuk daging menggunakan pemukul daging hingga seratnya memar dan empuk (bisa juga dicincang agak halus). Membalur Bumbu (Marinasi): Campurkan bumbu halus, gula merah, kecap manis, dan air asam jawa. Balurkan ke seluruh potongan daging, lalu diamkan (marinasi) selama minimal 30–45 menit agar bumbu meresap. Membuat Bumbu Kacang: Tumis kacang tanah halus bersama santan, daun salam, serai, garam, dan gula merah hingga mendidih, mengental, dan mengeluarkan sedikit minyak. Koreksi rasa, lalu angkat. Membakar Sate: Tusuk daging yang sudah dimarinasi ke tusuk sate. Bakar di atas arang sambil sesekali diolesi sisa bumbu marinasi atau sedikit minyak hingga matang dan beraroma harum karamel. Penyajian: Tata sate kerbau yang baru dibakar di atas piring, lalu siram melimpah dengan bumbu kacang hangat. Taburi bawang merah goreng dan irisan cabai rawit, lalu sajikan bersama lontong atau nasi hangat. 05 KUDUS
Lentog Tanjung adalah kuliner tradisional legendaris yang berasal dari Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Kata "Lentog" merujuk pada potongan lontong besar yang diiris tebal-tebal, sedangkan "Tanjung" diambil dari nama desa asalnya, Tanjungkarang. Dahulu, para penjual Lentog Tanjung memikul dagangannya dan berjalan kaki menjajakan hidangan ini dari desa ke desa. Lentog Tanjung diciptakan sebagai hidangan sarapan merakyat yang terjangkau namun kaya gizi, memadukan lontong dengan dua jenis sayur berkuah santan gurih: sayur tewel (nangka muda) dan lodeh tahu- tempe. Uniknya, penjual Lentog Tanjung dari dulu hingga sekarang didominasi oleh kaum pria. Lentog tanjungBahan-bahan nya sebagai berikut : Bahan Utama: 4 buah lontong (potong tebal) dan tusukan sate telur puyuh/kerang untuk pelengkap. Sayur Tewel (Nangka Muda): 300 gram nangka muda (rebus hingga empuk), 500 ml santan encer, 2 cm lengkuas, 2 lembar daun salam, garam, dan gula merah secukupnya. Lodeh Tahu-Tempe: 1 kotak tahu dan 1 papan tempe (potong dadu), 500 ml santan, 3 cabai merah iris, 5 cabai rawit utuh, 2 lembar daun salam, dan garam secukupnya. Bumbu Halus (Untuk Kedua Sayur): 8 bawang merah, 5 bawang putih, 3 kemiri sangrai, 1 sendok teh ketumbar, dan 2 cm kunyit. Pelengkap & Taburan: Bawang merah goreng, irisan cabai rawit rebus, dan kerupuk. Langkah-Langkah Pembuatan : Memasak Sayur Tewel: Tumis separuh bumbu halus bersama daun salam dan lengkuas hingga harum. Masukkan nangka muda yang sudah direbus dan santan encer. Bumbui dengan garam dan gula merah, lalu masak dengan api kecil hingga kuah meresap dan nangka makin empuk. Memasak Lodeh Tahu-Tempe: Tumis sisa bumbu halus, irisan cabai merah, dan daun salam hingga matang. Masukkan potongan tahu, tempe, cabai rawit utuh, dan santan. Masak sambil diaduk perlahan agar santan tidak pecah hingga matang dan gurih. Menyiapkan Lontong & Pelengkap: Potong-potong lontong dengan ukuran agak tebal di atas piring saji berkalas daun pisang. Siapkan sate telur puyuh atau sate kerang sebagai pendamping wajib. Penyajian: Siram lontong dengan kombinasi kuah sayur tewel dan lodeh tahu-tempe hangat secukupnya. Taburi bawang merah goreng di atasnya, lalu sajikan bersama sate telur puyuh, cabai rawit utuh, dan kerupuk. 06 KUDUS
Nasi Pindang Kudus merupakan salah satu hidangan berkuah legendaris yang lahir dari perpaduan budaya dan tradisi lokal Kudus. Meskipun namanya menggunakan kata "pindang", kuliner ini sama sekali tidak menggunakan bahan dasar ikan, melainkan daging kerbau (atau daging sapi). Sama seperti hidangan khas Kudus lainnya, penggunaan daging kerbau berakar dari tradisi toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus untuk menghormati umat Hindu. Ciri khas utama Nasi Pindang yang membedakannya dari rawon atau soto adalah penggunaan daun mlinjo (daun so) yang dimasak bersama kuah santan kecokelatan. Daun so memberikan aroma harum yang khas, rasa sedikit asam manis yang segar, serta menyeimbangkan gurihnya kuah santan dan rempah. Secara tradisional, Nasi Pindang disajikan di atas piring yang dialasi daun pisang untuk menambah aroma sedap. Nasi PindangBahan-bahan nya sebagai berikut : Daging & Kuah: 500 gram daging kerbau/sapi (potong dadu), 1,5 liter air kaldu rebusan, 500 ml santan encer, dan 2 genggam daun mlinjo/so muda. Bumbu Halus: 8 bawang merah, 5 bawang putih, 3 buah kluwek (ambil isinya, seduh air panas), 4 kemiri sangrai, 1 sendok teh ketumbar, 1/2 sendok teh jintan, dan 2 cm jahe. Bumbu Aromatik: 2 cm lengkuas (memarkan), 2 batang serai (memarkan), 3 lembar daun jeruk, 2 lembar daun salam, 1 sendok makan gula merah, dan garam secukupnya. Pelengkap: Nasi putih, bawang merah goreng, kerupuk udang/karak, dan perasan jeruk nipis. Langkah-Langkah Pembuatan : Membuat Kaldu Daging: Rebus daging kerbau/sapi dengan air hingga empuk dan matang. Angkat daging lalu sisihkan, dan gunakan air rebusannya sebagai kaldu. Menumis Bumbu: Tumis bumbu halus bersama lengkuas, serai, daun jeruk, dan daun salam hingga matang, harum, dan warnanya menjadi kecokelatan pekat. Memasak Kuah: Tuangkan tumisan bumbu ke dalam panci berisi air kaldu dan santan encer. Masukkan daging yang sudah empuk, gula merah, dan garam, lalu masak dengan api sedang hingga bumbu meresap. Menambahkan Daun So: Masukkan daun mlinjo/so muda ke dalam kuah menjelang matang. Masak sebentar saja sampai daun so layu, lalu matikan api. Penyajian: Siapkan piring beralas daun pisang dan beri nasi putih. Tata irisan daging di atasnya, siram dengan kuah hangat beserta daun so, lalu taburi bawang merah goreng dan sajikan bersama kerupuk. 07 KUDUS
Jenang Kudus merupakan makanan tradisional legendaris sekaligus ikon oleh-oleh utama dari Kota Kudus. Sejarah Jenang Kudus sangat lekat dengan legenda Sunan Kudus dan muridnya, Raden Asmorokandi (Mbah Janggut), di Desa Kaliputu. Alkisah, seorang anak bernama Mbah Depok tenggelam di sungai dan diduga meninggal. Atas petunjuk Mbah Janggut, para ibu di Desa Kaliputu diminta membuat bubur jenang dari tepung beras ketan, santan, dan gula merah untuk membangunkan anak tersebut. Setelah disuapi jenang, anak itu terbangun dan selamat. Sejak peristiwa itu, Sunan Kudus bersabda bahwa Desa Kaliputu akan menjadi sumber penghidupan bagi pembuat jenang. Desa Kaliputu pun hingga kini diakui sebagai sentra industri tradisional Jenang Kudus, yang kemudian berkembang pesat menjadi industri skala besar seperti Jenang Mubarok. Jenang KudusBahan-bahan nya sebagai berikut : Bahan Utama: 500 gram tepung beras ketan, 500 gram gula merah (sisir halus), 100 gram gula pasir, dan 1,5 liter santan kental (dari 2-3 butir kelapa tua). Aromatik & Perasa: 100 gram wijen (sangrai), 1/2 sendok teh garam, dan 3 lembar daun pandan (simpulkan). Peralatan Khusus: Wajan besar (kawah) dan pengaduk kayu panjang. Langkah-Langkah Pembuatan : Melarutkan Gula: Rebus gula merah, gula pasir, garam, daun pandan, dan sebagian santan hingga gula larut sempurna. Saring air gula ini agar bersih dari kotoran, lalu sisihkan. Mencampur Adonan: Larutkan tepung beras ketan dengan sisa santan kental dalam wadah terpisah, aduk rata hingga tidak ada gumpalan. Memasak dan Mengaduk Adonan: Tuangkan larutan tepung dan larutan gula ke dalam wajan besar. Masak di atas api sedang sambil terus diaduk tanpa berhenti agar bagian bawahnya tidak gosong. Pengadukan Lama (Mengental): Terus aduk adonan selama 3–4 jam hingga adonan mengental, berubah warna menjadi cokelat gelap mengkilap, dan teksturnya menjadi sangat elastis/kenyal serta tidak lengket di wajan. Penambahan Wijen & Pencetakan: Masukkan biji wijen sangrai menjelang jenang matang, aduk hingga merata. Tuang jenang panas ke dalam nampan beralas plastik/daun pisang, ratakan, biarkan dingin dan padat, lalu potong-potong dan kemas rapi. 08 KUDUS
Soto Kudus memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan nilai toleransi beragama yang diajarkan oleh Sunan Kudus (Ja’far Shodiq) pada abad ke-16. Saat itu, sebagian besar masyarakat setempat memeluk agama Hindu dan Buddha yang menyucikan sapi (lembu). Sebagai bentuk penghormatan dan toleransi agar tidak menyinggung perasaan umat Hindu, Sunan Kudus menganjurkan para pengikutnya dan masyarakat sekitar untuk tidak menyembelih sapi, melainkan menggantinya dengan daging kerbau. Dari tradisi inilah kuliner Soto Kudus lahir dan konsisten menggunakan daging kerbau sebagai bahan utamanya secara tradisional, meskipun seiring berjalannya waktu kini juga banyak dijumpai varian menggunakan daging ayam demi menjangkau selera yang lebih luas. Ukuran mangkuknya yang kecil juga memiliki filosofi tersendiri, yaitu agar porsi makannya tidak berlebihan dan masyarakat tetap bersikap sederhana.Pecel Pakis ColoBahan-bahan nya sebagai berikut : Daging & Kuah: 500 gram ayam kampung (atau daging kerbau/sapi), 2 liter air, dan minyak goreng secukupnya. Bumbu Halus: 8 siung bawang merah, 5 siung bawang putih, 4 butir kemiri sangrai, 2 cm jahe, 2 cm lengkuas, 1 tsp ketumbar, 1/2 tsp jintan, 1/2 tsp merica, dan 1 tsp kunyit. Bumbu Aromatik: 2 batang serai (memarkan), 4 lembar daun jeruk, 2 lembar daun salam, garam, gula, dan kaldu bubuk. Pelengkap: Tauge pendek (diseduh), seledri, daun bawang, bawang putih goreng, kecap manis, jeruk nipis, sambal rawit, dan nasi putih. Langkah-Langkah Pembuatan : Membuat Kaldu: Rebus daging dalam 2 liter air di atas api sedang hingga empuk dan matang. Setelah itu, angkat dagingnya lalu suwir-suwir, dan biarkan air rebusannya tetap hangat sebagai kuah kaldu. Menumis Bumbu: Haluskan semua bumbu halus, lalu tumis bersama serai, daun jeruk, dan daun salam menggunakan sedikit minyak hingga aromanya harum, matang, dan warnanya sedikit menggelap. Memasak Kuah: Tuangkan tumisan bumbu ke dalam panci berisi air kaldu. Tambahkan garam, gula pasir, dan kaldu bubuk secukupnya, lalu didihkan dengan api kecil selama 10 menit agar bumbu meresap sempurna. Penyajian: Tata nasi putih, suwiran daging, dan tauge di dalam mangkuk. Siram dengan kuah soto panas, lalu beri taburan bawang putih goreng, seledri, dan daun bawang di atasnya. Sajikan bersama perasan jeruk nipis, kecap manis, dan sambal. 09 KUDUS
Madumongso merupakan kudapan manis tradisional legendaris khas Jawa, termasuk di Kudus, yang biasanya hadir pada acara-acara istimewa seperti perayaan Idulfitri, hajatan, atau dijadikan oleh-oleh khas. Nama "Madumongso" berasal dari bahasa Jawa, yaitu "Madu" (sesuatu yang manis seperti madu) dan "Mongso" (makanan/musim), yang menggambarkan rasanya yang sangat manis dan legit bagaikan madu. Ciri khas utama Madumongso terletak pada bahan dasarnya yang menggunakan tape ketan hitam. Proses pembuatannya membutuhkan ketabahan dan kesabaran ekstra karena melibatkan proses fermentasi ketan menjadi tape terlebih dahulu, sebelum dimasak berjam-jam bersama santan dan gula merah hingga menjadi adonan yang kenyal dan mengkilap. Secara tradisional, Madumongso dibungkus kecil-kecil menggunakan kertas minyak warna-warni berbentuk seperti permen. MadumongsoBahan-bahan nya sebagai berikut : Bahan Utama: 500 gram tape ketan hitam (yang sudah matang dan manis), 400 gram gula merah (sisir halus), 100 gram gula pasir, dan 1 liter santan kental (dari 1,5 butir kelapa tua). Aromatik & Perasa: 3 lembar daun pandan (simpulkan), 1/2 sendok teh garam, dan minyak goreng secukupnya (hanya untuk mengolesi wadah/tangan). Bungkus: Kertas minyak/plastik warna-warni dan benang/kawat pengikat. Langkah-Langkah Pembuatan : Persiapan Tape Ketan: Pastikan tape ketan hitam sudah matang sempurna (berair dan rasanya manis agak asam). Buang air tape secukupnya agar adonan nantinya tidak terlalu cair. Memasak Santan dan Gula: Rebus santan kental bersama gula merah, gula pasir, garam, dan daun pandan di dalam wajan besar di atas api sedang. Aduk perlahan sampai gula larut dan santan mulai berminyak/mengental. Memasukkan Tape Ketan: Masukkan tape ketan hitam ke dalam adonan santan gula yang sudah mengental. Aduk rata agar tape menyatu sempurna dengan kuah santan. Pengadukan Lama (Mengkaramel): Kecilkan api dan aduk adonan terus-menerus tanpa berhenti selama 2–3 jam. Adonan akan perlahan menyusut, mengental, berubah warna menjadi hitam pekat mengkilap, dan bertekstur legit elastis serta tidak lengket di wajan. Pencetakan dan Pembungkusan: Matikan api dan biarkan adonan Madumongso hingga dingin. Ambil adonan secukupnya (sekitar 1 sendok teh), lalu bungkus dengan kertas minyak warna-warni dan pilin/ikat kedua ujungnya hingga menyerupai permen tradisional. Madumongso siap disajikan atau dijadikan oleh-oleh. 10 KUDUS
Tahu Petis merupakan salah satu kudapan gurih legendaris yang sangat populer di Kudus dan daerah pesisir Jawa Tengah lainnya. Kehadiran kuliner ini merupakan bentuk akulturasi budaya antara masyarakat lokal dengan warga keturunan Tionghoa yang memperkenalkan teknik pembuatan tahu di kawasan pesisir. Kunci utama kelezatan Tahu Petis khas Kudus terletak pada racikan bumbu petis—olahan kaldu udang atau ikan yang dimasak kental hingga berwarna hitam pekat. Petis dikombinasikan dengan bumbu kacang, bawang putih, dan gula jawa, menghasilkan cita rasa gurih, manis, dan sedikit pedas yang khas. Biasanya disajikan bersama tahu goreng renyah (sering kali digoreng bersama adonan telur) serta pelengkap lontong dan tauge untuk menu santap malam atau camilan hangat. Tahu Petis Bahan-bahan nya sebagai berikut : Bahan Utama: 5 buah tahu putih/cokelat (potong dadu), 2 butir telur ayam (kocok lepas), lontong (potong-potong), dan 100 gram tauge (seduh air panas). Bumbu Petis Kacang: 2 sendok makan petis udang berkualitas, 50 gram kacang tanah goreng (haluskan), 3 siung bawang putih, 4 cabai rawit merah (sesuai selera), 1 sendok makan gula jawa (sisir), 1/2 sendok teh garam, dan air hangat secukupnya. Pelengkap & Taburan: Bawang merah goreng, seledri cincang, dan kerupuk. Langkah-Langkah Pembuatan : Membuat Bumbu Petis: Ulek bawang putih, cabai rawit, gula jawa, dan garam hingga halus. Masukkan kacang tanah halus dan petis udang, ulek hingga tercampur rata. Tuangkan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga bumbu petis kental dan licin. Menggoreng Tahu Telur: Campurkan potongan tahu ke dalam kocokan telur yang sudah diberi sedikit garam. Goreng dalam minyak panas hingga adonan tahu-telur matang berkulit kuning keemasan dan renyah. Angkat dan tiriskan. Menyiapkan Piring Saji: Tata potongan lontong dan tauge yang sudah seduh di atas piring, lalu letakkan tahu-telur goreng hangat di atasnya. Penyajian: Siramkan bumbu petis kacang kental secara melimpah di atas tahu dan lontong. Taburi bawang merah goreng serta seledri, lalu sajikan selagi hangat bersama kerupuk. 11 KUDUS
Kehadiran Keripik Paru Kerbau tidak lepas dari tradisi masyarakat Kudus yang gemar mengolah berbagai bagian dari daging dan jeroan kerbau. Sejak zaman Sunan Kudus, daging kerbau menjadi pilihan utama masyarakat sebagai wujud toleransi beragama terhadap penganut Hindu yang menyucikan sapi. Karena penggunaan kerbau yang begitu tinggi dalam masakan harian seperti soto dan sate, masyarakat Kudus memanfaatkan bagian jeroan, khususnya paru kerbau, agar tidak terbuang sia-sia. Paru kerbau yang memiliki tekstur empuk dan serat khas diolah dengan cara direbus, diiris sangat tipis, dilapisi adonan tepung beras berempah, lalu digoreng garing. Olahan ini berkembang menjadi salah satu produk oleh-oleh kering paling populer khas Kudus karena daya simpannya yang lama serta teksturnya yang renyah dan gurih. Keripik Paru KerbauBahan-bahan nya sebagai berikut : Bahan Utama: 500 gram paru kerbau segar, 200 gram tepung beras, 50 gram tepung tapioka/sagu, 1 butir telur ayam, dan 250 ml air (atau air es). Bumbu Halus (Marinasi & Adonan Tepung): 6 siung bawang putih, 1 sendok makan ketumbar sangrai, 3 kemiri sangrai, 2 cm kunyit, 2 cm jahe, 1/2 sendok teh merica bubuk, 1 sendok teh garam, dan 1 sendok teh kaldu bubuk. Aromatik Rebusan: 2 lembar daun salam, 1 batang serai (memarkan), dan 2 cm lengkuas. Minyak: Minyak goreng secukupnya (harus melimpah untuk teknik deep frying). Langkah-Langkah Pembuatan : Merebus dan Mengiris Paru: Rebus paru kerbau bersama daun salam, serai, lengkuas, dan sedikit garam hingga matang dan agak kaku. Angkat dan dinginkan (bisa dimasukkan sebentar ke dalam lemari es agar lebih padat). Iris tipis-tipis paru kerbau searah seratnya. Membuat Adonan Tepung Berempah: Campurkan tepung beras, tepung tapioka, bumbu halus, telur, dan air. Aduk rata hingga tercipta adonan tepung encer yang tidak menggumpal. Melapisi Paru: Celupkan irisan tipis paru kerbau satu per satu ke dalam adonan tepung berempah hingga terbalut rata. Menggoreng Garing: Panaskan minyak goreng yang banyak dengan api sedang. Goreng irisan paru yang sudah berbalut tepung hingga berwarna kuning keemasan, renyah, dan tidak lagi berbusa. Angkat dan tiriskan dari minyak. Penyimpanan / Penyajian: Biarkan keripik paru kerbau benar-benar dingin di suhu ruang agar renyahnya tahan lama, lalu simpan dalam wadah kedap udara atau kemasan plastik. Keripik paru kerbau siap dinikmati sebagai camilan gurih atau oleh- oleh khas Kudus. 12 KUDUS
