PROCEEDING BOOK20263 Oktober 2026DIGITAL PULSE 2026:Unlocking Health Data through IoT Innovation: Securing the Backbone of Indonesia’s Health InformationDIES NATALIS RMIKDiterbitkan oleh : University Press Universitas Esa Unggul Jl. Arjuna Utara No. 9, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, DKI Jakarta 11510 https://universitypress.esaunggul.ac.id/ Co-Host:POLTEKKES AISYIYAH BANTEN POLTEKKES AISYIYAH BANTENPOLITEKNIK YAKPERMAS BANYUMAS POLITEKNIK YAKPERMAS BANYUMAS ISSN : 3124 - 0895
DAFTAR ISIVENUE MAP................................................................................................ KATA SAMBUTAN DEKAN FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN................................................................................................ KATA SAMBUTAN KETUA PRODI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN........................................................................ KATA SAMBUTAN KETUA PELAKSANA............................................. SUSUNAN PANITIA................................................................................... TIM REDAKSI DAN REVIEWER............................................................. SUSUNAN ACARA SEMINAR INTERNASIONAL............................... SUSUNAN ACARA CALL FOR PAPER................................................. PEMBICARA DAN MODERATOR SEMINAR INTERNASIONAL.... LIST PRESENTASI ORAL.......................................................................... LIST PRESENTASI POSTER..................................................................... ABSTRAK ORAL......................................................................................... ABSTRAK POSTER....................................................................................1 2 3 4 5 6 7 8 9 11 14 16 51
VENUEMAPARAH JALURPARKIR MOBILPARKIR MOTORLEGENDAGEDUNG HOLIQGEDUNG CPPMASJIDTemukan lokasi kegiatan dan fasilitas dengan mudah menggunakan peta berikut.LOKASI KEGIATANGedung A, Lantai 8, 5, 4, 2KANTINDANAU1
DEKAN FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATANProf. Dr. apt. Aprilita Rina Yanti Eff., M.BiomedDekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa UnggulPROF. DR. APT. APRILITA RINA KATA SAMBUTAN2YANTI EFF., M.BIOMED Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua. Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga rangkaian kegiatan Call for Papers DIGITAL PULSE 2026 dengan tema “Unlocking Health Data through IoT Innovation: Securing the Backbone of Indonesia's Health Information" dapat terlaksana dengan baik. Dengan penuh rasa syukur, saya menyambut hadirnya prosiding ini sebagai salah satu bagian dari rangkaian Dies Natalis Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Esa Unggul tahun 2026. Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar agenda ilmiah, tetapi juga menjadi ruang untuk bertemu, berdiskusi, saling berbagi pengalaman, dan bersama-sama melihat arah perkembangan rekam medis serta informasi kesehatan di masa depan. Melalui Call for Papers dalam bentuk presentasi oral dan poster, kita dapat melihat beragam gagasan, hasil penelitian, dan inovasi yang lahir dari pemikiran para mahasiswa, dosen, peneliti, praktisi, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan informasi kesehatan. Di era digital saat ini, data kesehatan memiliki peran yang semakin penting. Namun, pemanfaatan teknologi tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola data, tetapi juga tanggung jawab untuk menjaga keamanan, privasi, kualitas, dan kepercayaan terhadap informasi kesehatan. Saya berharap prosiding ini tidak hanya menjadi kumpulan karya ilmiah, tetapi juga menjadi sumber inspirasi serta membuka peluang untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan melahirkan inovasi yang bermanfaat bagi pelayanan kesehatan dan masyarakat. Pada kesempatan ini, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggitingginya kepada seluruh penulis, reviewer, panitia, dosen, mahasiswa, narasumber, mitra, dan seluruh pihak yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, serta kontribusinya sehingga kegiatan DIGITAL PULSE 2026 dan penerbitan prosiding ini dapat terwujud. Akhirnya, saya mengucapkan Selamat Dies Natalis Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Esa Unggul tahun 2026. Semoga Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul terus tumbuh menjadi program studi yang inovatif, dan mampu menjawab kebutuhan zaman, serta turut memberikan kontribusi nyata dalam membangun sistem informasi kesehatan Indonesia yang semakin baik. Semoga DIGITAL PULSE 2026 menjadi langkah kecil yang membawa dampak besar bagi masa depan informasi kesehatan di Indonesia. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KATA SAMBUTAN KETUA PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATANDaniel Happy Putra, SKM., MKMKetua Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Esa Unggul DANIEL HAPPY PUTRA, SKM., MKM3Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-Nya prosiding Call for Papers DIGITAL PULSE 2026 dapat hadir di tangan pembaca sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) Universitas Esa Unggul. Pada tahun 2025, melalui Heartbeat Festival, Program Studi telah mengangkat isu integrasi teknologi informasi, keamanan data kesehatan, serta tantangan implementasi rekam medis elektronik di fasilitas pelayanan kesehatan. Pada tahun 2026, pembahasan tersebut dikembangkan lebih lanjut melalui tema “Unlocking Health Data through IoT Innovation: Securing the Backbone of Indonesia's Health Information”. Tema ini mengajak kita semua untuk mencermati perkembangan data kesehatan yang tidak lagi hanya bersumber dari pencatatan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga dihasilkan secara berkelanjutan oleh berbagai perangkat digital, seperti sensor, perangkat wearable, dan sistem pemantauan pasien jarak jauh. Volume dan kecepatan data yang demikian besar hanya akan memberikan nilai apabila data tersebut terekam secara akurat, dikode dengan tepat, dapat dipertukarkan antarsistem secara interoperabel, serta terlindungi dari akses dan penggunaan yang tidak sah. Keempat aspek tersebut merupakan fondasi sistem informasi kesehatan nasional, sekaligus menjadi ranah kompetensi utama Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK). Lima ruang lingkup dalam kegiatan ini dapat dibaca sebagai satu alur. Data lahir dari perangkat IoT, tercatat dalam rekam medis elektronik, dipertukarkan dalam ekosistem SATUSEHAT, diolah melalui analitik dan kecerdasan artifisial, lalu dijaga oleh tata kelola yang baik dan tenaga profesional yang kompeten. Naskah-naskah dalam prosiding ini mengisi bagian-bagian dari alur tersebut, dari kajian keamanan dan privasi hingga peran PMIK di era kesehatan digital. Bagi program studi, Call for Papers adalah ruang belajar. Kami memberikan apresiasi khusus kepada para mahasiswa yang untuk pertama kalinya mempresentasikan penelitiannya di hadapan dewan juri. Banyak penelitian yang baik berawal dari pertanyaan sederhana di unit rekam medis. Kepada para dosen, peneliti, dan praktisi, terima kasih telah membawa pengalaman lapangan yang memperkaya diskusi dan menjembatani teori dengan praktik. Terima kasih kami sampaikan kepada seluruh penulis, reviewer dan dewan juri, panitia Dies Natalis, pimpinan Fakultas dan Universitas, serta mitra yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Semoga prosiding ini menjadi rujukan yang bermanfaat bagi pengembangan rekam medis dan informasi kesehatan di Indonesia. Sampai jumpa pada Dies Natalis berikutnya dengan riset yang semakin matang dan berdampak.
BANGGA AGUNG SATRYA, SKM., MKMAssalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua Puji syukur senantiasa kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga kita dapat menerbitkan Proceeding Book ini. Publikasi ini merupakan salah satu puncak perayaan akademik dalam rangka Dies Natalis ke-37 Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Esa Unggul, yang terangkai dalam semarak DIGITAL PULSE 2026. Pada tahun ini, kita mengangkat tema besar "Unlocking Health Data through IoT Innovation: Securing the Backbone of Indonesia’s Health Information". Tema ini lahir dari kesadaran bahwa data kesehatan kini bukan lagi sekadar tumpukan dokumen administratif, melainkan tulang punggung penyusunan kebijakan dan penentu kualitas layanan klinis. Di tengah arus transformasi digital kesehatan nasional, inovasi memegang peranan kunci, namun keamanan dan integritas data tetap menjadi fondasi yang tidak boleh dikompromikan. Buku prosiding ini menghimpun berbagai pemikiran kritis, hasil penelitian terapan, serta inovasi dari para akademisi, praktisi, dan mahasiswa. Makalah-makalah yang tersaji di dalamnya membedah secara komprehensif lima pilar utama yang menjadi sub-tema kita, yaitu: Pertama, eksplorasi pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam layanan dan informasi kesehatan, yang kini mampu menjembatani pemantauan kondisi pasien secara real-time dan lebih presisi. Kedua, diskusi mendalam mengenai keamanan, privasi, dan tata kelola data kesehatan digital, yang menjadi tameng utama dalam melindungi hak-hak pasien di era keterbukaan informasi. Ketiga, strategi percepatan transformasi Rekam Medis Elektronik (RME) serta pencapaian interoperabilitas, guna memastikan kesinambungan pertukaran data antarfasilitas layanan kesehatan yang mulus dan terstandar. Keempat, pemanfaatan Health Data Analytics, Big Data, dan Artificial Intelligence, yang mengubah lautan data mentah menjadi pengetahuan berharga untuk clinical decision support dan manajemen fasilitas kesehatan. Kelima, refleksi mengenai peran profesional Manajemen Informasi Kesehatan (PMIK) yang kini semakin esensial. Di era ini, seorang PMIK dituntut untuk bertransformasi menjadi analis dan wali data (data steward) yang andal di garda terdepan sistem kesehatan. Sebagai Ketua Panitia DIGITAL PULSE 2026, saya ingin menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi- tingginya kepada seluruh penulis yang telah mendiseminasi karya terbaiknya di sini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada tim reviewer, jajaran pimpinan Universitas Esa Unggul, serta seluruh panitia yang telah mendedikasikan waktu dan tenaga demi kesuksesan acara serta penerbitan prosiding ini. Akhir kata, kami berharap Proceeding Book ini tidak hanya sekadar menjadi literatur akademis, tetapi juga mampu memantik diskursus lanjutan dan memacu inovasi nyata dalam memperkuat ekosistem informasi kesehatan di Indonesia. Selamat membaca dan salam inovasi! Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. KATA SAMBUTANKETUA PELAKSANABangga Agung Satrya, SKM., MKMKetua Pelaksana Dies Natalis 37 RMIK Universitas Esa Unggul4
SUSUNAN PANITIA✔ Stella Maharani ✔ Dairotun Hasanah ✔ Maula Febby Rilliyanto ✔ Abdul Akbar Alansyah ✔ Mayday Intan Bharuna✔ Devira Fitriani ✔ Aprilya Nureka Kusumawardani ✔ Muhammad Yusuf S ✔ Syaakira Noor FitrianiKoord. Noerfitri, SKM., MKM✔ Rizka Mahasari ✔ Zakiatul Nafisah ✔ Sabrina Tasya R ✔ Ghesya Anindyah SyifaKoord. Dina Sonia, S.St., MM✔ Baiq Ema Prayitna ✔ Krispina Sastri AyuKoord. Nanda Aula Rumana, SKM., MKM✔ Raynanda Putri Bachtiar ✔ Rifka Nabila Laguni ✔ Chinta Fourdy Wantika ✔ Emilia Karin Dwi LianiPelindungPembina Prof. Dr. apt. Aprilita Rina Yanti Eff., M.BiomedDaniel Happy Putra, SKM., MKMDIVISI PENGMASKoord. Laela Indawati, S.St.MIK., MKMDIVISI LOMBA Koord. Muhammad Fuad Iqbal, SKM., MKMDIVISI OPEN HOUSEDIVISI SEMINARDIVISI CFPDIVISI HUMAS & MEDKOM✔ Zahrah Putri Adhani ✔ Anindya Naila PutriPenasehatDr. Henny Saraswati, S.Si., M.BiomedDIVISI SPONSORSHIP ✔ Ni Kadek Repiliana ✔ Auziniansy Aradya RachmanDIVISI KONSUMSI✔ Indira Khoirunisa ✔ Mildina Chasseilda LeksairDIVISI PERLENGKAPAN✔ Dinda Fitria Nurpratiwi ✔ Muhammad Ralfy Abyan5 : : :KetuaBangga Agung Satrya, SKM., MKM :SekretarisKamila Aprilia, S.AP Dwina Rinata Palupi :BendaharaPuteri Fannya, SKM, M.Kes :
TIM REDAKSI DAN REVIEWER6DESAIN COVER DAN LAYOUTEDITOR-IN-CHIEF / KETUA REDAKSIMANAGING EDITOR / WAKIL KETUA REDAKSIEDITORIAL TEAM / TIM EDITORIALREVIEWERS / MITRA BESTARI: : : : :Nanda Aula Rumana, SKM., MKM (Universitas Esa Unggul)Bangga Agung Satrya, SKM., MKM (Universitas Esa Unggul)Daniel Happy Putra, SKM., MKM (Universitas Esa Unggul)Dina Sonia, S.ST., MM (Universitas Esa Unggul) Noerfitri, SKM., MKM (Universitas Esa Unggul) Muhammad Fuad Iqbal, SKM., MKM (Universitas Esa Unggul) Laela Indawati, S.St.MIK., MKM (Universitas Esa Unggul) Puteri Fannya, SKM., M.Kes (Universitas Esa Unggul)Emilia Karin Dwi Liani Chinta Fourdy Wantika Rifka Nabila Laguni Raynanda Putri Bachtiar
SUSUNAN ACARA7SEMINAR INTERNASIONALWAKTUKEGIATAN07.00 - 08.0008.00 - 08.1008.15 - 08.2508.45 - 09.3009.30 - 09.4009.40 - 10.2510.25 - 10.3510.35 - 11.2511.25 - 11.3511.35 - 11.4511.45 - 11.55Registrasi PesertaPembukaan dan Pembacaan Tata TertibSambutan : Ketua Panitia Ketua Program Studi D-III RMIK UEUSesi 1 : “Indonesia's Digital Health Transformation : Building an Integrated and Secure National Health Information Ecosystem”Diskusi dan Tanya Jawab Sesi 1Sesi 2 : “Cybersecurity, privacy, and Trust in the Era of Connected Healthcare”Diskusi dan Tanya Jawab Sesi 2Sesi 3 : “Harnessing Internet of Things (IoT) for Smart Healthcare: Transforming Health Data into Intelligent Clinical Decision Support”Diskusi dan Tanya Jawab Sesi 3Rangkuman Seminar dan Sesi GSCEvaluasi Peserta, Doorprize, dan Dokumentasi08.10 - 08.15Menyanyikan Indonesia Raya08.25 - 08.35Sambutan dan Pembukaan Resmi Prof. Dr. apt. Aprilita Rina Yanti Eff., M.Biomed08.35 - 08.45Sambutan Warek 3 Dr. Mury Kuswari, S.Pd.,, M.Si Pengenalan Moderator11.55 - 12.00Penutupan Seminar dan Informasi CFP
SUSUNAN ACARA8CALL FOR PAPERWAKTUKEGIATANWAKTU DURASI (MENIT) PJ RUANGAN ONLINE 806KOMUNITAS LAB RMLAB CODING 211 POSTER 12.30 - 13.00 13.00 - 13.10 13.10 - 13.20 13.25 - 13.35 13.40 - 13.50 13.55 - 14.05 14.10 - 14.20 14.25 - 14.35 14.40 - 15.00 15.00-15.10 30 10 10 10 10 10 10 10 20 10 Penutup dan Pengumuman Best Oral & Poster Rekap Hasil Presentasi Oral dan Poster dan Mobilisasi Peserta ke Ruang 806 Peserta 1 Peserta 2 Peserta 3 Peserta 4 Peserta 5 Peserta 6 Peserta 7 Peserta 8 Peserta 9 Peserta 10 Peserta 11 Peserta 12 Peserta 13 Peserta 14 Peserta 15 Peserta 16 Peserta 17 Peserta 18 Peserta 19 Peserta 20 Peserta 21 Peserta 22 Peserta 23 Peserta 24 Peserta 25 Peserta 26 Peserta 27 Peserta 28 Peserta 29 Peserta 30 Peserta 31 Peserta 32 Peserta 33 Peserta 34 Peserta 35-53 Pembukaan dan Pembacaan Ketentuan Persiapan dan Registrasi Panitia CFP Moderator Moderator & Presenter Moderator & Presenter Moderator & Presenter Moderator & Presenter Panitia CFP Panitia CFP Moderator & Presenter Moderator & Presenter
PEMBICARA DAN MODERATORSEMINAR INTERNASIONAL 2026
Ir. Tinuk Andriyanti Asianto, M.KomChairwoman of the Internet Society (ISOC) Indonesia Chapter Jakarta Ir. Tinuk Andriyanti Asianto adalah pakar tata kelola TIK dan ahli strategi transformasi digital dengan pengalaman kepemimpinan lebih dari 30 tahun. Beliau pernah menjabat di berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Penasihat Ahli Ditjen Dukcapil, Ketua ISOC Indonesia, pendiri perusahaan IT, dan dosen di Universitas Esa Unggul. Selain memelopori peluncuran dan pertumbuhan domain nasional . Saat ini beliau juga sedang menyelesaikan pendidikan Doktoral (Ph.D.) dalam bidang Manajemen. Ts. Dr. Gary Loh Chee Wyai Ts. Dr. Loh Chee Wyai (Gary) adalah akademisi komputasi asal Malaysia yang saat ini menjabat sebagai Dosen Senior dan Direktur Centre for International Relations (CIR) di University of Technology Sarawak (UTS). Beliau meraih gelar PhD in Computing dari UTS (2024) dan merupakan Teknolog Profesional bersertifikasi di bidang Keamanan Siber. Selain aktif dalam publikasi ilmiah, beliau memiliki rekam jejak panjang dalam memimpin proyek penelitian dan konsultasi terkait keamanan siber, Internet of Things (IoT), serta pengembangan ekonomi digital komunitas.University of Technology Sarawak (UTS), Malaysia9 Haidar Istiqlal, S.Kom., MARSMinistry of Health Republic of Indonesia Haidar Istiqlal, S.Kom., MARS adalah seorang profesional berlatar belakang Sistem Informasi dan Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Beliau pernah menduduki berbagai posisi strategis, termasuk sebagai Ketua Tim Kerja Kesehatan Lanjutan dan Bioteknologi (2025), serta Kepala Sub Bagian Informasi dan Evaluasi. Selain memiliki pengalaman manajerial yang kuat, beliau juga aktif menjadi praktisi pengajar dan narasumber ahli terkait implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) serta integrasinya dengan platform SATUSEHAT di berbagai institusi. PEMBICARA
10Puteri Fannya, SKM., M.KesUniversitas Esa Unggul, Jakarta Puteri Fannya, SKM., M.Kes. adalah seorang akademisi di bidang Kesehatan Masyarakat yang saat ini menjabat sebagai Lektor di Universitas Esa Unggul. Beliau menempuh pendidikan Sarjana (S1) dan Magister (S2) dalam disiplin Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Andalas. Dalam peran akademisnya, beliau aktif mengajar beberapa mata kuliah seperti Epidemiologi, Pembiayaan Kesehatan, dan Penjaminan Mutu Pelayanan Kesehatan. Selain terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat, beliau juga memiliki rekam jejak penelitian dan publikasi yang berfokus pada evaluasi fasilitas layanan kesehatan, pemanfaatan teknologi informasi kesehatan (seperti sistem rekam medis elektronik), serta telah menerbitkan buku mengenai inovasi dan tantangan dalam manajemen rekam medis elektronik pada tahun 2024. MODERATOR
LIST PRESENTASIORAL DAN POSTER
PRESENTASI ORAL03 OKTOBER 2026WAKTUHALAMANJUDUL DAN PENULISPengembangan Aplikasi Sensus Harian Pasien Berbasis Website di RSUD BangilMuhammad Mahyan Masbuby, Widya Ratnasari, Dwi Valerina, Areta Widya DhanaONLINEZoom Meeting010203040513.10 - 13.200102030411RUANG 806Gedung A Universitas Esa Unggul Jakarta01020304050616Kesiapan Kecerdasan Buatan dan Transformasi Peran Profesional Manajemen Informasi Kesehatan: Peran Mediasi Kompetensi Kesehatan DigitalKhusnul Khotimah Arum Nurvahyanti, Ripandho Jhon Satria, Dadang Kurniawan13.25 - 13.3517Implementasi Blockchain pada Rekam Medis Elektronik dalam Bentuk Upaya Perlindungan Keamanaan Data PasienNeisya Nurose Islami13.40 - 13.5018Gambaran Pelaksanaan Rekam Medis Elektronik Rawat Jalan Berdasarkan Unsur 5 M di Puskesmas KronjoNila Larasati, Heru Indra Cahya, Devie Ismayanty, Lina Marliana13.55 - 14.051906Edukasi Keamanan Data Rekam Medis pada Kader Kesehatan di Puskesmas Kramatwatu Kabupaten SeranIta La Tho, Ayu Nurintan, Suciyati14.10 - 14.2020Analisis Kebutuhan Tenaga Pmik Berdasarkan Beban Kerja di UPK Kementerian KesehatanMiftah Fauzan Nafis, Noor Yulia, Daniel Happy Putra, Puteri Fanyya14.25 - 14.3521Faktor-Faktor yang Memengaruhi Motivasi Kerja Pegawai di Unit Rekam Medis RSJ Dr. Soeharto HeerdjanPutri Amelia Eka Sari, Dina Sonia, Muhammad Fuad Iqbal, Laela Indawati, Diah Sukaesti22Analisis Tarif Rumah Sakit dan INA-CBG Pasien Rawat Inap Diagnosis Gastroenteritis RS Bunda SejatiDimas Aprilio Gurning, Deasy Rosmala Dewi, Noerfitri, Muhammad Fuad IqbalPengalaman Mahasiswa RMIK dalam Menerapkan Etika Komunikasi saat Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Unit Rekam MedisAbdul Akbar Alansyah, Laela Indawati, Puteri Fannya, Nanda Aula Rumana24Analisis Kesiapan Infrastruktur dan Sumber Daya Manusia dalam Implementasi Rekam Medis Elektronik Terintegrasi Satusehat di Puskesmas TamboraSumiatun, Noor Yulia, Laela Indawati, Deasy Rosmala Dewi23Gambaran Kepatuhan Pasien CKG Satusehat dalam Melakukan Pengobatan Lanjutan di Puskesmas Kecamatan TamboraRia Kumala, Muhammad Fuad Iqbal, Noerfitri, Bangga Agung Satrya26Ketepatan Kode Penyakit Diabetes Melitus untuk Analisis Epidemiologi di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka PutihAnanda Ramadhani Putri, Laela Indawati, Muhammad Fuad Iqbal, Nanda Aula Rumana2513.10 - 13.2013.25 - 13.3513.40 - 13.5013.55 - 14.0514.10 - 14.2014.25 - 14.3527
PRESENTASI ORAL03 OKTOBER 2026WAKTUHALAMANJUDUL DAN PENULISEfektivitas Penerapan Simrs pada Rekam Medis Elektronik dengan Metode Hot-Fit di Rumah SakitAnastasia Vania Agungningtyas, Muhammad Fuad Iqbal, Daniel Happy Putra, Puteri FannyaRUANG KOMUNITASLantai 8 Gedung A Universitas Esa Unggul Jakarta0102030405010203041201020304LAB RMLantai 5 Gedung A Universitas Esa Unggul Jakarta0102030405Tracer Study Alumni Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Tahun 2024-2025 : Keterserapan Kerja, Relevansi Kurikulum, dan Kesesuaian KompetensiBona Fasiana Tiomora Gurning, Nanda Aula Rumana, Laela Indawati, Daniel Happy PutraOptimalisasi Penggunaan Rekam Medis Elektronik dalam Meminimalisir Duplikasi Data di Puskesmas PalmerahHidayatus Sholihah, Dina Sonia , Muhammad Fuad Iqbal, Puteri FannyaEvaluasi Mutu Dokumentasi Rekam Medis Melalui Analisis Kuantitatif dan Kualitatif di RSPI Sulianti SarosoNanda Aula Rumana, Diah, Lalu Galih Kirana, Lilis Tri Astuti, Nabila Zahra Maharani, Syauqi Muhammad Fadhillah, Ni Kadek RepilianaWorkflow And Data Governance Challenges in Hybrid Medical Record Management at RSUD KembanganDaniel Happy Putra , Auziniansy Aradya Rachman2830293113.10 - 13.2013.25 - 13.3513.40 - 13.5013.55 - 14.0514.10 - 14.20Evalusasi Penerapan Rekam Medis Elektronik Pendaftaran Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Pinna BekasiReza Gita Savitri, Daniel Happy Putra, Laela Indawati, NoerfitriGambaran Pelaksanaan Pendaftaran Online Rawat Jalan pada Aplikasi Mobile JKN di RSUD BalarajaNanda Alfika, Noor Yulia, Laela Indawati, Noerfitri NoerfitriTinjauan Kualitas Pelayanan Pasien JKN di Unit Rawat Jalan Puskesmas Kecamatan KalideresDandi Cahyadi, Puteri Fannya, Dina Sonia, Muhammad Fuad IqbalHubungan Karakteristik Klaim dan Selisih Tarif BPJS pada CMG Infeksi di RS XYMuhammad Fuad Iqbal, Sabrina Tasya RahmadaniFaktor-Faktor yang Berhubungan dengan Tuberkulosis Paru di Jakarta: Analisis Data SKI 2023 dengan Desain Survei KompleksNoerfitri Noerfitri, Luthfia Agustina333735343613.10 - 13.2013.25 - 13.3513.40 - 13.5013.55 - 14.0514.10 - 14.2032
PRESENTASI ORAL03 OKTOBER 2026WAKTUHALAMANJUDUL DAN PENULISEvaluasi Penggunaan Simrs di RSUD Khidmat Sehat Afiat (Kisa) Kota DepokDesta Septya Ningrum, Deasy Rosmala Dewi, Daniel Happy Putra, Laela IndawatiLAB CODINGLantai 4 Gedung A Universitas Esa Unggul Jakarta010203040506010203041301020304RUANG 211Gedung A Universitas Esa Unggul Jakarta010203040506Faktor Penyebab Keterlambatan Pengisian Resume Medis Elektronik Oleh Dokter Spesialis Anak di Rumah Sakit XNurul Hidayah, Dina Sonia, Noerfitri, Daniel Happy PutraKendala Penggunaan Aplikasi Mobile JKN pada Proses Pendaftaran Rawat Jalan di Rumah Sakit Islam Jakarta SukapuraAulia Zariah, Laela Indawati, Puteri Fannya, Daniel Happy PutraStudi Kasus Penyelesaian Pengembalian Klaim JKN Ditinjau dari Aspek Koding di RSIJ Pondok KopiFarah Sunarto, Muhammad Fuad Iqbal, Bangga Agung Satrya, Daniel Happy PutraEksplorasi Pemahaman Terminologi Medis Mahasiswa Rekam Medis dalam Mendukung Kompetensi Klasifikasi dan Kodefikasi Klinis: Studi KualitatifKezia Chalista Ananda Monika, Nanda Aula Rumana, Laela Indawati, Daniel Happy PutraAnalisis Pelaksanaan Integrasi SIMRS dalam Proses Pengajuan Klaim BPJS di RSUD Kisa Kota DepokSalwa Fenisyah Aulia, Puteri Fannya, Dina Sonia, Laela Indawati38444039424113.10 - 13.2013.25 - 13.3513.40 - 13.5013.55 - 14.0514.10 - 14.2014.25 - 14.35Analisis Kualitatif Kekonsistensian Diagnosis Rekam Medis Rawat Inap di Rumah Sakit Khusus X JakartaSolikhin Harunsah, Lily Widjaja, Muhammad Fuad Iqbal, Puteri FannyaWorkload-Based Staffing Analysis Of Health Information Management Personnel At Pasar Minggu District Health CenterPuteri Fannya, Laela Indawati, Baiq Ema Prayitna, Gustave Handika Halawa, Anindya Nasywa Azzahra, Dwina Rinata PalupiTingkat Perilaku dan Kepatuhan PMIK terhadap Keamanan dan Kerahasiaan Rekam Medis ElektronikDina Sonia, Isya Syilviana PutriPrioritas Risiko Distribusi Rekam Medis Berdasarkan Failure Mode and Effect Analysis di Puskesmas Mampang PrapatanBangga Agung Satrya, Puteri Fannya, Erni Suryani,Syaakira Noor Fitriani, Maria Oliva Deseng, Lintang Triyani Dewi, Giovani Akbar Hidayat, Amanda NathaniaEvaluasi Implementasi Rekam Medis Elektronik Rawat Jalan menggunakan Model Delone Mclean di RSIJ SukapuraFenisa Nurmalia Nursi, Daniel Happy Putra, Bangga Agung Satrya, Muhammad Fuad IqbalIntegrasi Data Multisektoral Untuk Sistem Pendukung Keputusan Bencana: Tinjauan SistematisLaela Indawati, Maula Febby Rilliyanto45504746494813.10 - 13.2013.25 - 13.3513.40 - 13.5013.55 - 14.0514.10 - 14.2014.25 - 14.35
PRESENTASI POSTER03 OKTOBER 2026WAKTUHALAMANJUDUL DAN PENULIS01010203041402030405060708091011120413515253545556575859606162 Analisis Hambatan Mahasiswa D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Esa Unggul dalam Menyusun Karya Tulis IlmiahLilis Tri Astuti, Bangga Agung Satrya, Noerfitri, Nanda Aula Rumana Ketepatan Pengkodean dan Penggunaan Diagnosis Cedera dan Penyebab Luar (External Cause) di RSUD KembanganSalsabila Aurellya Bachtiar, Deasy Rosmala Dewi, Laela Indawati, Noor Yulia Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengembalian Klaim BPJS di Rumah Sakit Bhakti MuliaClarita Angela Merici Darman, Deasy Rosmala Dewi, Dina Sonia, Laela Indawati Analisis Penanganan Komplain Pasien terhadap Petugas Pendaftaran di Puskesmas PalmerahRizka Amelia Putri, Dina Sonia, Muhammad Fuad Iqbal, Noerfitri Efektivitas Penggunaan Anjungan Pendaftaran Mandiri di RSUP Dr.Sitanala TangerangDiah, Noor Yulia, Bangga Agung Satrya, Muhammad Fuad Iqbal Analisis Ketepatan Kodifikasi dan Klasifikasi Penyakit Demam Berdarah Berdarah (Dengue) dalam Mendukung Surveilans EpidemiologiPutri Mutia Maharani, Laela Indawati, Nanda Aula Rumana, Dina Sonia Gambaran Alur Verifikasi Data Pengodean Diagnosis pada SIMRS di Rumah Sakit Soeharto HeerdjanHelmi Aleda Tallo Manafe, Laela Indawati, Puteri Fannya, Dina Sonia, Ifah Muzdalifah Studi Kasus : Implementasi Penggunaan Kode Indonesia Modification (IM) pada Kasus Gigi dan Bedah Mulut di Rumah Sakit Islam Jakarta SukapuraDede Kurniawan, Muhammad Fuad Iqbal, Dina Sonia, Bangga Agung Satrya Analisis Hasil Uji Kompetensi Mahasiswa Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Esa Unggul Tahun 2025Irana Agustin Andania, Nanda Aula Rumana, Puteri Fannya, Dina Sonia Gambaran Penerapan Pelaporan pada Sistem Informasi Manajemen Puskesmas (SIMANTEP) di UPTP Puskesmas Curug Kabupaten TangerangMuslimah Fauziyati, Noerfitri, Nanda Aula Rumana, Laela Indrawati Tinjauan Pelaksanaan Penjelasan General Consent Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Bunda SejatiDiyafa Zahrani, Noerfitri, Bangga Agung Satrya, Puteri Fannya Gambaran Kompetensi Petugas Rekam Medis dalam Pelayanan Kesehatan (Literature Review)Niken Mellina, Noerfitri, Muhammad Fuad Iqbal, Bangga Agung Satrya Hubungan Waktu Tunggu Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Jalan Di Rumah Sakit Bunda SejatiAdhisty Citra Nuraisyah, Puteri Fannya, Nanda Aula Rumana, Noerfitri63
PRESENTASI POSTER03 OKTOBER 2026WAKTUHALAMANJUDUL DAN PENULIS1415151617186964 Literature Review : Evaluasi Penerapan Rekam Medis Elektronik Untuk Menunjang Aplikasi Satu Sehat Di Rumah Sakit IndonesiaRangga Warsa Wijaya, Muhammad Fuad Iqbal, Bangga Agung Satrya, Noor Yulia65666719 Analisis Faktor Penyebab Pengembalian Klaim Berkaitan dengan Kode Penyakit di RS Patria IKKTAdrian Hartanto, Deasy Rosmala Dewi, Nanda Aulia Rumana, Laela Indawati68 Gambaran dan Upaya Penanggulangan Duplikasi Nomor Rekam Medis pada Pendaftaran Online di RSUD Kembangan Tahun 2024-2025Atika Cicilia Rahma Putri, Bangga Agung Satrya, Laela Indawati, Daniel Happy Putra Kepuasan Petugas Unit Rawat Jalan terhadap Sistem Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit Citra Medika DepokCalvina Izzumi Namira Akmal, Deasy Rosmala Dewi, Noor Yulia, Dina Sonia Evaluasi Implementasi Aplikasi P-Care BPJS Kesehatan Berdasarkan Model Hot-Fit di Klinik Citra Bangsa Tahun 2025Mia Fitra Yulianti1 Laela Indawati , Noor Yulia, Dina Sonia Identifikasi Kesesuaian SIMRS dengan Metadata di Laboratorium RMIK Universitas Esa UnggulMuhamad Rizki Muzaki, Noor Yulia, Muhammad Fuad Iqbal, Laela Indawati
ABSTRAKPRESENTER
ONLINE : ZOOM MEETINGPRESENTASI ORAL16PENGEMBANGAN APLIKASI SENSUS HARIAN PASIEN BERBASIS WEBSITE DI RSUD BANGIL Muhammad Mahyan Masbuby , Widya Ratnasari , Dwi Valerina , Areta Widya Dhana Paramitha Kanza Az-Zahra , Rhevalina Yustian Dhini 1* 2 3 4 5 6 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan,1-6 Poltekkes Kemenkes Malang, Indonesia mahyanmasbuby2003@gmail.com* ABSTRACT Background: This study was motivated by the low effectiveness of the SHP system at Bangil Regional General Hospital due to technical constraints such as inaccuracies in monthly data and limited accessibility to the database. Purpose: As a solution to these problems, the author initiated a rebuild of the SHP application, prioritizing system integration and user accessibility. Method: This study falls under the category of development research that specifically employs the Evolutionary Prototyping approach. Result: Based on the research conducted, the author successfully developed a design for the SHP management system at Bangil Regional General Hospital using the Evolutionary Prototyping method, which consists of needs analysis, prototype creation, prototype customization according to user preferences, and application launch. The workflow of the Daily Patient Census system at Bangil Regional General Hospital involves three main entities: Ward Administration, Systems, and Medical Records (MR). Conclusion: Overall, the developed SHP management system can improve the efficiency of Daily Patient Census (SHP) data management at Bangil Regional General Hospital because the processes of recording, processing, and reporting have become more structured and computerized. Keywords: Daily Patient Census, Management System, Evolutionary Prototyping ABSTRAK Latar Belakang: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya efektivitas sistem SHP di RSUD Bangil karena kendala teknis seperti ketidakakuratan data bulanan dan keterbatasan aksesibilitas pada basis data. Tujuan: Sebagai solusi atas problematika tersebut, penulis menginisiasi pengembangan ulang (rebuilt) aplikasi SHP dengan memprioritaskan integrasi sistem dan kemudahan akses bagi pengguna (user accessibility). Metode: Penelitian ini termasuk dalam penelitian pengembangan yang secara spesifik menggunakan pendekatan Evolutionary Prototyping. Hasil: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis berhasil mengembangkan rancangan sistem manajemen SHP di RSUD Bangil menggunakan metode Evolutionary Prototyping yang terdiri dari analisis kebutuhan, pembuatan prototipe, penyesuaian prototipe sesuai keinginan pengguna, dan launching aplikasi. Alur kerja sistem Sensus Harian Pasien (SHP) di RSUD Bangil melibatkan tiga entitas utama yaitu Admin Ruangan, Sistem, dan Rekam Medis (MR). Kesimpulan: Secara keseluruhan, Sistem manajemen SHP yang dikembangkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan data Sensus Harian Pasien (SHP) di RSUD Bangil karena proses pencatatan, pengolahan, dan pelaporan menjadi lebih terstruktur dan terkomputerisasi. Kata kunci: Sensus Harian Pasien, Sistem Manajemen, Evolutionary Prototyping
ONLINE : ZOOM MEETINGPRESENTASI ORAL17KESIAPAN KECERDASAN BUATAN DAN TRANSFORMASI PERAN PROFESIONAL MANAJEMEN INFORMASI KESEHATAN: PERAN MEDIASI KOMPETENSI KESEHATAN DIGITAL Khusnul Khotimah Arum Nurvahyanti , Ripandho Jhon Satria , Dadang Kurniawan1* 2 3 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan,1,2,3 Politeknik Yakpermas Banyumas, Indonesia arumgusta@gmail.com* ABSTRACT Background: Digital transformation and the advancement of artificial intelligence (AI) are changing the demands placed on Health Information Management (HIM) professionals; however, AI readiness does not necessarily translate directly into professional competence and role transformation. Purpose: This study aimed to examine the effects of AI readiness on digital health competence and professional role transformation and to investigate the mediating role of digital health competence. Method: A quantitative explanatory cross-sectional design was conducted among 120 HIM professionals working in primary health centers, hospitals, and clinics in Banyumas Regency, Indonesia, selected using purposive sampling. Data were collected using a five-point Likert-scale questionnaire and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with 5,000 bootstrap subsamples. Results: AI readiness had a positive and significant effect on digital health competence (β=0.642; t=9.184; p<0.001), while digital health competence significantly predicted professional role transformation (β=0.587; t=7.126; p<0.001). AI readiness also had a direct significant effect on professional role transformation (β=0.214; t=2.381; p=0.017). Digital health competence significantly mediated the relationship between AI readiness and professional role transformation (β=0.377; t=6.218; p<0.001), indicating partial mediation. Conclusion: Professional role transformation in HIM is not driven solely by readiness for AI but requires the conversion of AI readiness into digital health competence. These findings highlight the importance of strengthening AI literacy, health data analytics, interoperability, information security, and data governance to support the strategic transformation of HIM professionals in the digital health era. Keywords: Artificial Intelligence; Digital Health Competence; Digital Transformation; Health Information Management; Professional Role Transformation. ABSTRAK Latar Belakang: Transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah tuntutan terhadap profesional Health Information Management (HIM), tetapi kesiapan menghadapi AI belum tentu secara langsung menghasilkan kompetensi dan perubahan peran profesional. Kesenjangan tersebut menunjukkan perlunya memahami mekanisme yang menghubungkan kesiapan AI dengan transformasi peran HIM. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh AI readiness terhadap digital health competence dan professional role transformation, serta menguji peran digital health competence sebagai mediator. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif explanatory cross-sectional pada 120 tenaga HIM di Puskesmas, rumah sakit, dan klinik di Kabupaten Banyumas yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert lima poin dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bootstrapping 5.000 subsamples. Hasil: AI readiness berpengaruh positif dan signifikan terhadap digital health competence (β=0,642; t=9,184; p<0,001), sedangkan digital health competence berpengaruh positif dan signifikan terhadap professional role transformation (β=0,587; t=7,126; p<0,001). AI readiness juga berpengaruh langsung terhadap professional role transformation (β=0,214; t=2,381; p=0,017). Digital health competence terbukti memediasi hubungan tersebut secara signifikan (β=0,377; t=6,218; p<0,001) dengan pola partial mediation. Kesimpulan: Transformasi peran profesional HIM tidak cukup didorong oleh kesiapan menghadapi AI, tetapi memerlukan konversi kesiapan tersebut menjadi kompetensi kesehatan digital. Temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi AI, analitik data, interoperabilitas, keamanan informasi, dan tata kelola data sebagai strategi transformasi profesi HIM di era digital. Kata kunci: Artificial Intelligence; Digital Health Competence; Health Information Management; Professional Role Transformation; Transformasi Digital.
ONLINE : ZOOM MEETINGPRESENTASI ORAL18IMPLEMENTASI BLOCKCHAIN PADA REKAM MEDIS ELEKTRONIK DALAM BENTUK UPAYA PERLINDUNGAN KEAMANAAN DATA PASIEN Neisya Nurose Islami1* Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan,1 Politeknik Yakpermas Banyumas, Indonesia neisyanuroseeislami@gmail.com* ABSTRACT Background: The development of digital technology has driven a significant transformation in health data management through the use of Electronic Medical Records (EMR). Although the system provides ease of access and data exchange for patients, serious issues related to data security, integrity, and confidentiality still frequently arise. Purpose: This research aims to analyse the role of blockchain technology as an innovative solution in enhancing security, transparency, and efficiency in the management of health data in hospitals.Method: The method adopted in this research is a literature review, examining various scientific sources such as journals, articles, and research reports relevant to the application of blockchain in the healthcare system. The research methodology used is a literature review, which is a research method that focuses on the collection, analysis, and observation of various relevant scientific references related to the application of blockchain in electronic medical records. Result: The study results indicate that blockchain has the potential to enhance the security, integrity, transparency, and traceability of electronic medical records (EMR) data through cryptography, access control, and audit trails. Its implementation can support the efficiency of data management and information exchange, but it still faces challenges in interoperability, scalability, performance, cost, regulation, as well as identity and cryptographic key management. Conclusion: In conclusion, blockchain has the potential to enhance the security, integrity, transparency, and traceability of patient data through cryptography, access control, and audit trails. However, its implementation still faces challenges in interoperability, scalability, performance, cost, regulation, as well as identity and key management. Therefore, blockchain is more appropriately applied as an additional security layer on RME with a permissioned blockchain approach and hybrid architecture.Keywords: Blockchain, Data Security, Efficiency, Electronic Medical Records, Transparency Keywords: Electronic Medical Records, Data Security, Transparency, Efficiency, Blockchain ABSTRAK Latar Belakang: Perkembangan teknologi digital telah mendorong transformasi yang besar dalam pengelolaan data kesehatan melalui penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME). Meskipun sistem tersebut memberikan kemudahan dalam akses dan pertukaran data pasien, permasalah serius terkait keamanan, integritas, kerahasiaan data masih sering muncul terjadi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisi peran teknologi blockchain sebagai solusi inovatif dalam meningkatkan keamanan, transparansi, dan efisiensi dalam pengelolaan data kesehatan di rumah sakit. Metode: Metode yang diadopsi dalam penelitian ini adalah literatur riview, dengan mengkaji berbagai sumber ilmiaih seperti jurnal, artikel, dan laporan penelitian yang relevan mengenai penerapan blockchain dalam sistem kesehatan. Metodologi penelitian yang digunakan literature riview, yaitu suatu metode penelitian yang berfokus pada pengumpulan, analisis, dan pengamatan dari berbagai referensi ilmiah yang relevan dan berkaitan penerapan blockchain pada rekam medis elektronik. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa blockchain berpotensi meningkatkan keamanan, integritas, transparansi, dan keterlacakan data RME melalui kriptografi, pengendalian akses, dan audit trail. Implementasinya dapat mendukung efisiensi pengelolaan data dan pertukaran informasi, tetapi masih menghadapi tantangan interoperabilitas, skalabilitas, kinerja, biaya, regulasi, serta pengelolaan identitas dan kunci kriptografi. Kesimpulan: Kesimpulan blockchain berpotensi meningkatkan keamanan, integritas, transparansi, dan keterlacakan data pasien melalui kriptografi, pengendalian akses, dan audit trail. Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan interoperabilitas, skalabilitas, kinerja, biaya, regulasi, serta pengelolaan identitas dan kunci. Oleh karena itu, blockchain lebih tepat diterapkan sebagai lapisan keamanan tambahan pada RME dengan pendekatan permissioned blockchain dan arsitektur hibrida. Kata kunci: Blockchain, Efisiensi, Keamanan Data, Rekam Medis Elektronik, Transparansi
ONLINE : ZOOM MEETINGPRESENTASI ORAL19GAMBARAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK RAWAT JALAN BERDASARKAN UNSUR 5 M DI PUSKESMAS KRONJO Nila Larasati , Heru Indra Cahya , Devie Ismayanty , Lina Marliana1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan,1,2,3,4 Politeknik Kesehatan Aisyiyah Banten, Indonesia nilalarasati773@gmail.com* ABSTRACT Background: Minister of Health Regulation of the Republic of Indonesia Number 24 of 2022 requires every health care facility to implement electronic medical records no later than December 31, 2023. Puskesmas Kronjo has implemented a SIMANTEP based electronic medical record for outpatient services, but its implementation in the field still faces various obstacles related to the 5 M management elements, namely Man, Material, Method, Machine, and Money. Objective: This study aims to describe the implementation of electronic medical records for outpatients based on the 5 M elements at Puskesmas Kronjo in 2026. Method: This study used a qualitative descriptive design. The research subjects were 5 medical record officers at Puskesmas Kronjo selected through total sampling, while the research objects were the electronic medical record facilities and 1,475 outpatient files from May 2026. Data were collected through interviews and observation using a checklist. Results: For the Man aspect, all 5 officers (100%) were not fully ready to operate the system because continued training had not been conducted regularly. For the Material aspect, all SOAP components were completely filled in the 1,475 files, but electronic signature authentication from doctors and the general consent form were not fulfilled at all. For the Method aspect, the registration SOP was available and most procedures ran well, although network disruption sometimes forced manual recording. For the Machine aspect, 8 out of 10 facilities were available and functioning well, while the electronic signature tablet and queue display screen were not yet available. For the Money aspect, the budget was available from BLUD and the Health Office, but the procurement and repair process still took a long time. Conclusion: The implementation of electronic medical records at Puskesmas Kronjo has not run optimally in all 5 M elements, so regular training, procurement of electronic signature facilities, and more responsive budget planning are needed. Keywords: Electronic Medical Record, Outpatient, Puskesmas, 5 M Element ABSTRAK Latar Belakang: Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 mewajibkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan menyelenggarakan rekam medis elektronik paling lambat 31 Desember 2023. Puskesmas Kronjo telah menerapkan rekam medis elektronik berbasis aplikasi SIMANTEP pada pelayanan rawat jalan, namun pelaksanaannya di lapangan masih menemui berbagai kendala yang berkaitan dengan unsur manajemen 5 M yaitu Man, Material, Method, Machine, dan Money. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan rekam medis elektronik pasien rawat jalan ditinjau dari unsur 5 M di Puskesmas Kronjo tahun 2026. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah 5 petugas rekam medis di Puskesmas Kronjo yang diambil dengan teknik total sampling, sedangkan objek penelitian adalah sarana prasarana rekam medis elektronik dan 1.475 berkas rawat jalan bulan Mei 2026. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi menggunakan lembar checklist. Hasil: Pada aspek Man, seluruh petugas atau 5 orang (100%) belum sepenuhnya siap menjalankan sistem karena pelatihan lanjutan belum dilaksanakan secara berkala. Pada aspek Material, seluruh komponen SOAP terisi lengkap pada 1.475 berkas, tetapi autentikasi tanda tangan elektronik dokter dan general consent belum terpenuhi sama sekali. Pada aspek Method, SOP pendaftaran sudah tersedia dan sebagian besar prosedur berjalan baik, meski gangguan jaringan kadang memaksa pencatatan manual. Pada aspek Machine, 8 dari 10 sarana sudah tersedia dan berfungsi baik, sedangkan tablet tanda tangan elektronik dan layar nomor antrian belum tersedia. Pada aspek Money, anggaran tersedia dari BLUD dan Dinas Kesehatan, namun proses pengadaan dan perbaikan sarana masih memerlukan waktu lama. Kesimpulan: Pelaksanaan rekam medis elektronik di Puskesmas Kronjo belum berjalan optimal pada seluruh unsur 5 M sehingga diperlukan penguatan pelatihan berkala, pengadaan sarana tanda tangan elektronik, dan perencanaan anggaran yang lebih responsif. Kata Kunci: Puskesmas, Rawat Jalan, Rekam Medis Elektronik, Unsur 5 M
ONLINE : ZOOM MEETINGPRESENTASI ORAL20EDUKASI KEAMANAN DATA REKAM MEDIS PADA KADER KESEHATAN DI PUSKESMAS KRAMATWATU KABUPATEN SERANG Ita La Tho , Ayu Nurintan , Suciyati1* 1 2 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan,1 Politeknik Kesehatan ‘Aisyiyah Banten, Indonesia Politeknik Kesehatan ‘Aisyiyah Banten, Indonesia2 ayunurintan0@gmail.com* ABSTRACT Background: Medical records contain personal identity and health information that must be managed confidentially. At the primary care level, health cadres work closely with the community and may encounter individual health information, although they are not medical record managers and hold no authority to disclose it. Preliminary observation at Kramatwatu Public Health Center showed uneven understanding of data confidentiality, suboptimal document storage, and the absence of specific education on medical record data security for cadres. Purpose: To improve the knowledge of health cadres regarding the security and confidentiality of medical record data in primary health care services. Method: A community service activity was conducted on 6 August 2026 at Kramatwatu Public Health Center, Serang Regency, involving 30 health cadres selected by total sampling. The activity consisted of a pre-test, education, discussion, case simulation, simple practice mentoring, and a post-test. Knowledge was measured using a multiple-choice questionnaire and analysed descriptively as a distribution of score categories. Result: In the pre-test, 25 participants (83.33%) scored within the 70–100 range, consisting of 20 participants (66.67%) in the 70–84 category and 5 participants (16.67%) in the 85–100 category. In the post-test, the figure rose to 28 participants (93.33%), with the 85–100 category increasing to 8 participants (26.67%) and no participants remaining in the 40–54 category. Conclusion: Education shifted the distribution of participants' scores towards higher categories, indicating improved knowledge of medical record data security. Continued periodic education and behavioural evaluation are needed so that the understanding gained is reflected in daily cadre practice. Keywords: data security; health cadres; medical records ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis memuat identitas dan informasi kesehatan pribadi yang harus dikelola secara rahasia. Pada pelayanan kesehatan primer, kader kesehatan bekerja dekat dengan masyarakat dan dapat berhadapan dengan informasi kesehatan individu, meskipun kader bukan pengelola rekam medis dan tidak memiliki kewenangan untuk membukanya. Observasi awal di Puskesmas Kramatwatu menunjukkan pemahaman kerahasiaan data yang belum merata, penyimpanan dokumen yang belum optimal, serta belum adanya edukasi khusus mengenai keamanan data rekam medis bagi kader. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan kader kesehatan mengenai keamanan dan kerahasiaan data rekam medis dalam pelayanan kesehatan primer. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 6 Agustus 2026 di Puskesmas Kramatwatu Kabupaten Serang dengan 30 kader kesehatan yang diambil secara total sampling. Rangkaian kegiatan meliputi pre-test, edukasi, diskusi, simulasi kasus, pendampingan praktik sederhana dan post-test. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner pilihan ganda dan dianalisis secara deskriptif dalam bentuk distribusi kategori nilai. Hasil: Pada pre-test, 25 peserta (83,33%) berada pada rentang nilai 70–100, terdiri atas 20 peserta (66,67%) kategori 70–84 dan 5 peserta (16,67%) kategori 85–100. Pada post-test, jumlah tersebut meningkat menjadi 28 peserta (93,33%), dengan kategori 85–100 naik menjadi 8 peserta (26,67%) dan tidak lagi terdapat peserta pada kategori 40–54. Kesimpulan: Edukasi menggeser distribusi nilai peserta ke kategori yang lebih tinggi sehingga menggambarkan adanya peningkatan pengetahuan mengenai keamanan data rekam medis. Edukasi berkala dan evaluasi perilaku perlu dilanjutkan agar pemahaman tersebut terwujud dalam praktik kader sehari-hari. Kata kunci: kader kesehatan; keamanan data; rekam medis
ONLINE : ZOOM MEETINGPRESENTASI ORAL21ANALISIS KEBUTUHAN TENAGA PMIK BERDASARKAN BEBAN KERJA DI UPK KEMENTERIAN KESEHATAN Miftah Fauzan Nafis , Noor Yulia , Daniel Happy Putra , Puteri Fanyya1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia miftahfauzannafis0@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Human resource shortages in medical record units potentially increase staff workload, trigger dual-tasking, and reduce the effectiveness of health information management at the Health Service Unit (UPK) of the Ministry of Health of the Republic of Indonesia. Purpose: Therefore, this study aims to accurately analyze the staffing requirements for Medical Record and Health Information Practitioners (PMIK) based on actual workload. Method: This descriptive study employs a quantitative approach using the Health Workload Analysis (ABK-Kes) method, with data collected through observation, interviews, and document reviews of workload components over a one-year period. Result: The results indicate that the UPK currently has only two PMIK personnel, whereas the ideal calculation requires six staff members. This shortage of four personnel is proven to reduce service effectiveness. Conclusion: This study concludes that the fulfillment of PMIK staffing is not yet ideal, but can be addressed through digitalization. The implementation of Electronic Medical Records (EMR), Self- Registration Kiosks, and e-claim bridging significantly reduces the registration workload, allowing the additional staffing need to be optimized to just one PMIK personnel focused on BPJS claims. This study contributes a tangible solution for healthcare human resource efficiency driven by technology. Keywords: Electronic Medical Records (EMR), Health Workload Analysis (ABK-Kes), Healthcare Service Effectiveness, Human Resources Needs, Medical Record and Health Information Practitioners (PMIK) ABSTRAK Latar Belakang: Kekurangan sumber daya manusia (SDM) pada unit rekam medis berpotensi meningkatkan beban kerja petugas, memicu rangkap tugas, dan menurunkan efektivitas pengelolaan informasi kesehatan di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Tujuan: Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan tenaga Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) secara akurat berdasarkan beban kerja nyata. Metode: Penelitian deskriptif ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-Kes), dengan pengumpulan data via observasi, wawancara, dan telaah dokumen terkait komponen beban kerja selama satu tahun. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa UPK saat ini hanya memiliki dua tenaga PMIK, sedangkan perhitungan ideal membutuhkan enam tenaga. Kekurangan empat personel ini terbukti menurunkan efektivitas pelayanan. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemenuhan tenaga PMIK belum ideal, namun dapat diatasi melalui digitalisasi. Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME), Anjungan Pendaftaran Mandiri, dan bridging e-claim secara signifikan memangkas beban pendaftaran, sehingga kebutuhan penambahan SDM dapat dioptimalkan menjadi satu tenaga PMIK saja yang fokus pada klaim BPJS. Penelitian ini berkontribusi memberikan solusi efisiensi SDM kesehatan berbasis teknologi. Kata kunci: Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-Kes), Efektivitas Pelayanan Kesehatan, Kebutuhan Tenaga Kerja, Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK), Rekam Medis Elektronik (RME)
RUANG 806 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL22ANALISIS TARIF RUMAH SAKIT DAN INA-CBG PASIEN RAWAT INAP DIAGNOSIS GASTROENTERITIS RS BUNDA SEJATI Dimas Aprilio Gurning , Deasy Rosmala Dewi , Noerfitri , Muhammad Fuad Iqbal1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia dimasaprilio62@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The National Health Insurance (JKN) program implements the Indonesian Case Base Groups (INA-CBG) payment system for hospital healthcare services. In practice, the INA-CBG reimbursement received by hospitals does not always correspond to the actual service costs incurred, resulting in tariff discrepancies. Purpose: This study aims to analyse the differences between hospital tariffs and INA-CBG tariffs based on diagnosis, length of stay (LOS), and inpatient care class among patients diagnosed with gastroenteritis at Bunda Sejati Hospital. Method: This study employed a descriptive quantitative method with a retrospective approach using percentage analysis. The sample consisted of 93 BPJS inpatient claim files of patients diagnosed with gastroenteritis during November 2025–January 2026, selected using the total sampling technique. Data were obtained from BPJS claim documents, patient medical records, and hospital service cost records. Result: The findings showed 48 cases with gastroenteritis as the primary diagnosis, resulting in a tariff difference of IDR 22,903,325 with a tariff conformity rate of 76%, and 45 cases with gastroenteritis as a secondary diagnosis, resulting in a tariff difference of IDR 20,491,211 with a tariff conformity rate of 79%. Most patients had a LOS of three days; however, tariff conformity decreased as LOS increased. Based on inpatient care class, Class I showed the largest tariff discrepancy compared with the other classes. Conclusion: There is a negative discrepancy between hospital tariffs and INA-CBG tariffs for inpatient gastroenteritis cases at Bunda Sejati Hospital. Length of stay and inpatient care class influence the magnitude of tariff differences. The longer the hospitalization and the higher the inpatient care class, the greater the hospital service costs compared with the INA-CBG reimbursement tariff. Keywords: BPJS Kesehatan, gastroenteritis, hospital tariff, INA-CBG, length of stay. ABSTRAK Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menggunakan sistem pembayaran Indonesian Case Base Groups (INA-CBG) sebagai metode pembayaran pelayanan kesehatan di rumah sakit. Dalam pelaksanaannya, tarif INA-CBG yang diterima rumah sakit tidak selalu sesuai dengan biaya pelayanan yang dikeluarkan sehingga menimbulkan selisih tarif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan tarif rumah sakit dan tarif INA-CBG berdasarkan diagnosis, length of stay (LOS), dan kelas rawat inap pada pasien gastroenteritis di Rumah Sakit Bunda Sejati. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif menggunakan analisis persentase. Sampel penelitian berjumlah 93 berkas klaim BPJS pasien rawat inap diagnosis gastroenteritis periode November 2025–Januari 2026 yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh dari dokumen klaim BPJS, rekam medis pasien, dan rincian biaya pelayanan rumah sakit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat 48 kasus diagnosis utama gastroenteritis dengan selisih tarif sebesar Rp22.903.325 dan tingkat kesesuaian tarif sebesar 76%, serta 45 kasus diagnosis penyerta gastroenteritis dengan selisih tarif sebesar Rp20.491.211 dan tingkat kesesuaian tarif sebesar 79%. Mayoritas pasien memiliki LOS selama tiga hari, namun tingkat kesesuaian tarif menurun pada LOS yang lebih panjang. Berdasarkan kelas perawatan, kelas I memiliki selisih tarif terbesar dibandingkan kelas lainnya. Kesimpulan: Terdapat selisih negatif antara tarif rumah sakit dan tarif INA-CBG pada pasien gastroenteritis rawat inap di Rumah Sakit Bunda Sejati. Lama rawat inap dan kelas perawatan memengaruhi besarnya selisih tarif, di mana semakin lama pasien dirawat dan semakin tinggi kelas perawatan, semakin besar biaya pelayanan rumah sakit dibandingkan tarif INA-CBG. Kata kunci: BPJS Kesehatan, gastroenteritis, INA-CBG, length of stay, tarif rumah sakit.
RUANG 806 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL23FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MOTIVASI KERJA PEGAWAI DI UNIT REKAM MEDIS RSJ DR. SOEHARTO HEERDJAN Putri Amelia Eka Sari , Dina Sonia , Muhammad Fuad Iqbal , Laela Indawati , Diah Sukaesti1* 2 3 4 5 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia Clinical Research Unit, RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Indonesia5 adkchlsa@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Employee work motivation in the medical records unit plays an important role in supporting the quality of hospital services. At Dr. Soeharto Heerdjan Mental Hospital, the high workload and the existence of double job assignments may create mental burden and concerns among employees in completing their tasks on time. Objective: This study aimed to analyze the intrinsic and extrinsic factors influencing the work motivation of employees in the Medical Records Unit at Dr. Soeharto Heerdjan Mental Hospital. Methods: A descriptive qualitative study was conducted through observation and in-depth interviews involving one key informant and seven main informants. Data were analyzed using an interactive approach consisting of four main stages: data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. Results: Career advancement was identified as the most dominant intrinsic factor supporting employee motivation. The most dominant extrinsic factors were harmonious work relationships, supportive working conditions, and timely salary payments, which contributed to improving employee work motivation. In addition, some non-shift employees responsible for both patient registration and BPJS claim processing still experienced a relatively high workload, requiring them to occasionally work beyond regular working hours. Conclusion: Employee work motivation was shaped by a combination of intrinsic and extrinsic factors, with career advancement, work relationships, working conditions, and salary payments identified as the most dominant factors. The hospital is recommended to evaluate workload distribution, expand opportunities for competency development, improve workplace facilities, and consider providing appreciation for additional workloads. Keywords: Extrinsic Factors, Intrinsic Factors, Medical Record Staff, Work Motivation. ABSTRAK Latar Belakang: Motivasi kerja pegawai di unit rekam medis berperan penting dalam mendukung mutu pelayanan rumah sakit, terutama di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan yang memiliki tuntutan jumlah pekerjaan yang tinggi serta adanya double job dapat menimbulkan beban pikiran dan kekhawatiran petugas dalam menyelesaikan tugas secara tepat waktu. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor intrinsik dan ekstrinsik yang memengaruhi motivasi kerja pegawai di Unit Rekam Medis RSJ Dr. Soeharto Heerdjan. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif yang dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap satu informan kunci dan tujuh informan utama, dengan teknik analisis data yang dugunakan adalah pendekatan interaktif, dengan empat tahapan utama, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil: Peningkatan kerja menjadi faktor intrinsik yang paling dominan dalam mendukung motivasi pegawai, sedangkan faktor ekstrinsik yang paling dominan adalah hubungan kerja yang harmonis, kondisi kerja yang mendukung, dan penggajian yang tepat waktu mendukung peningkatan motivasi kerja pegawai. Selain itu sebagian petugas nonshift yang merangkap tugas pendaftaran dan penyelesaian klaim BPJS masih merasakan beban kerja yang cukup tinggi sehingga sesekali memerlukan waktu kerja di luar jam dinas. Kesimpulan: Motivasi kerja pegawai terbentuk dari kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik, dengan peningkatan kerja, hubungan kerja, kondisi kerja, dan penggajian sebagai faktor yang paling dominan. Rumah sakit disarankan mengevaluasi pembagian beban kerja, memperluas kesempatan pengembangan kompetensi, menata fasilitas kerja, serta mempertimbangkan pemberian apresiasi atas beban kerja tambahan. Kata kunci: Faktor Ekstrinsik, Faktor Intrinsik, Motivasi Kerja, Pegawai Rekam Medis.
RUANG 806 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL24ANALISIS KESIAPAN INFRASTRUKTUR DAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK TERINTEGRASI SATUSEHAT DI PUSKESMAS TAMBORA Sumiatun¹*, Noor Yulia², Laela Indawati , Deasy Rosmala Dewi3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia sumiat170593@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The Indonesian Minister of Health Regulation Number 24 of 2022 requires healthcare facilities to implement Electronic Medical Records (EMR) integrated with SATUSEHAT. The successful implementation of EMR depends on the readiness of information technology infrastructure and human resources (HR). Therefore, it is necessary to analyze the readiness of infrastructure and human resources for the implementation of SATUSEHAT-integrated EMR at Tambora Community Health Center. Purpose: This study aimed to analyze the readiness of infrastructure and human resources and identify the challenges in implementing SATUSEHAT-integrated EMR at Tambora Community Health Center. Method: This descriptive qualitative study used purposive sampling. Ten informants participated, consisting of one key informant (medical records coordinator), one main informant (information technology officer), and eight supporting informants (two registration officers, three physicians, and three nurses). Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Result: Infrastructure and human resources at Tambora Community Health Center were generally adequate to support SATUSEHAT-integrated EMR implementation. Infrastructure readiness was reflected in the availability of hardware, software, internet connectivity, and data security systems, while healthcare personnel demonstrated adequate competence in using EMR. However, unstable internet connectivity, failures in data transmission to SATUSEHAT, and the need for continuous training remained challenges. Conclusion: Tambora Community Health Center has demonstrated adequate readiness for implementing SATUSEHAT-integrated EMR. However, strengthening infrastructure and continuously improving human resource competencies are necessary to achieve optimal and sustainable implementation. Keywords: Electronic Medical Records, Human Resources, Infrastructure, Primary Health Care, SATUSEHAT. ABSTRAK Latar Belakang : Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) yang terintegrasi dengan SATUSEHAT. Kesiapan infrastruktur teknologi informasi dan sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan penerapannya. Oleh karena itu, diperlukan analisis kesiapan infrastruktur dan SDM dalam implementasi RME terintegrasi SATUSEHAT di Puskesmas Tambora. Tujuan : Menganalisis kesiapan infrastruktur dan SDM serta mengidentifikasi kendala implementasi Rekam Medis Elektronik terintegrasi SATUSEHAT di Puskesmas Tambora. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan teknik purposive sampling. Informan penelitian berjumlah 10 orang terdiri atas informan kunci, yaitu penanggung jawab rekam medis, informan utama petugas teknologi informasi, serta delapan informan pendukung, yaitu dua petugas pendaftaran, tiga dokter dan tiga perawat. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil: Kesiapan infrastruktur dan SDM di Puskesmas Tambora secara umum telah memadai dalam mendukung implementasi RME terintegrasi SATUSEHAT. Kesiapan infrastruktur ditunjukkan oleh ketersediaan perangkat keras, perangkat lunak, jaringan internet, dan sistem keamanan data, sedangkan SDM telah memiliki kompetensi dalam penggunaan RME. Namun, masih ditemukan kendala berupa ketidakstabilan jaringan, kegagalan pengiriman data ke SATUSEHAT, serta perlunya pelatihan berkelanjutan untuk mengoptimalkan implementasi RME terintegrasi SATUSEHAT. Kesimpulan: Puskesmas Tambora memiliki kesiapan yang cukup baik dalam implementasi RME terintegrasi SATUSEHAT, namun peningkatan infrastruktur dan penguatan SDM diperlukan untuk mendukung implementasi yang optimal dan berkelanjutan. Kata kunci: Infrastruktur, Puskesmas, Rekam Medis Elektronik, SATUSEHAT, Sumber Daya Manusia.
RUANG 806 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL25PENGALAMAN MAHASISWA RMIK DALAM MENERAPKAN ETIKA KOMUNIKASI SAAT PRAKTIK KERJA LAPANGAN (PKL) DI UNIT REKAM MEDIS Abdul Akbar Alansyah , Laela Indawati , Puteri Fannya , Nanda Aula Rumana1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Jakarta, Indonesia alnsyahabdulakbar@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The quality of healthcare services is significantly influenced by the application of ethical communication between healthcare professionals and patients, as well as among the professionals themselves. Medical Record and Health Information (MRHI) students from Universitas Esa Unggul undergoing Field Work Practice (PKL) in medical record units are expected to implement ethical communication principles during professional interactions. Objective: This study aims to describe students' experiences in applying communication ethics and to identify the obstacles faced by both students and Clinical Instructors (CIs) during the PKL program. Methods: A qualitative approach with a case study design was employed. Informants included third-year students, CIs, and supervising lecturers. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion-drawing techniques. Results: Students demonstrated the application of principles such as honesty, responsibility, adherence to instructions, respect, and empathy in their daily interactions. However, obstacles such as feelings of awkwardness, limited technical language proficiency, student passivity, and slow responses from CIs were still encountered. From the perspective of the supervising lecturers, students require further development of professional communication soft skills to better prepare them for real-world workplace dynamics. Conclusion: While the application of communication ethics by MRHI students is evident, it is not yet optimal. Learning and mentoring strategies for PKL need to place greater emphasis on mastering professional communication skills to enhance student readiness for the demands of the workforce. Keywords: communication, ethics, PKL, medical records, students ABSTRAK Latar Belakang: Mutu layanan kesehatan sangat dipengaruhi oleh penerapan etika komunikasi yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien maupun sesama tenaga kesehatan. Mahasiswa Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) Universitas Esa Unggul yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di unit rekam medis diharapkan mampu mengimplementasikan prinsip komunikasi etis dalam interaksi profesional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman mahasiswa dalam menerapkan etika komunikasi serta mengidentifikasi hambatan yang dihadapi mahasiswa dan Clinical Instructor (CI) selama pelaksanaan PKL. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan terdiri dari mahasiswa tingkat III, CI, dan dosen penanggung jawab. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil: Mahasiswa telah menerapkan prinsip kejujuran, tanggung jawab, kepatuhan terhadap instruksi, sikap hormat, dan empati dalam interaksi sehari-hari. Namun, hambatan berupa rasa canggung, keterbatasan bahasa teknis, sikap pasif mahasiswa, serta respons CI yang lambat masih ditemukan. Dari perspektif dosen penanggung jawab, mahasiswa membutuhkan penguatan soft skills komunikasi profesional agar lebih siap menghadapi dinamika di lapangan. Kesimpulan: Penerapan etika komunikasi oleh mahasiswa RMIK sudah terlihat, tetapi belum optimal. Diperlukan strategi pembelajaran dan pembimbingan PKL yang lebih menekankan pada penguasaan keterampilan komunikasi profesional untuk meningkatkan kesiapan mahasiswa menghadapi tuntutan dunia kerja. Kata Kunci : komunikasi, etika, PKL, rekam medis, mahasiswa
RUANG 806 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL26KETEPATAN KODE PENYAKIT DIABETES MELITUS UNTUK ANALISIS EPIDEMIOLOGI DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA CEMPAKA PUTIH Ananda Ramadhani Putri , Laela Indawati , Muhammad Fuad Iqbal , Nanda Aula Rumana1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul ramadhaniananda14@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Diabetes Mellitus is a chronic disease with a continuously increasing prevalence and remains a major challenge in healthcare services. The accuracy of epidemiological data is highly dependent on the accuracy of disease coding based on the International Classification of Diseases, Tenth Revision (ICD-10). Inaccurate diagnosis coding may lead to incorrect morbidity information, affecting the quality of reporting, program planning, service evaluation, and decision-making in hospitals. Therefore, evaluating the accuracy of Diabetes Mellitus diagnosis coding is essential to produce valid epidemiological data. Purpose: To determine the accuracy of Diabetes Mellitus disease coding for epidemiological analysis at Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih by identifying coding accuracy, describing the distribution of cases based on patient characteristics, and presenting the epidemiological profile based on validated ICD- 10 codes. Method: This study employed a quantitative descriptive design using a total sampling technique involving 115 inpatient medical records of patients diagnosed with Diabetes Mellitus from June to August 2025. Data were collected through documentation and observation using a checklist by comparing physicians' diagnoses with ICD-10 codes. The data were analyzed descriptively using frequency distribution, percentages, and prevalence calculations. Result: Of the 115 medical records, 94 (81.74%) were accurately coded, while 21 (18.26%) were inaccurately coded. The distribution of patients by sex was relatively balanced, with females accounting for 50.43% and males for 49.57%. The largest age group was 56–65 years (33.91%). The prevalence of Diabetes Mellitus among inpatients was 2.28%. The most frequently assigned validated ICD-10 code was E11.5 (Type 2 Diabetes Mellitus with Peripheral Circulatory Complications), comprising 37 cases (32.17%). Conclusion: The accuracy of Diabetes Mellitus diagnosis coding at Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih was generally good; however, coding inaccuracies were still identified and require continuous evaluation. Validated diagnosis coding contributes to more accurate epidemiological data, thereby supporting improvements in medical record quality, health reporting, program planning, service evaluation, and evidence-based decision-making in hospitals. Keywords: Diabetes Mellitus; epidemiological analysis; ICD-10; medical records; coding accuracy. ABSTRAK Latar Belakang: Diabetes Melitus merupakan salah satu penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan. Keakuratan data epidemiologi sangat dipengaruhi oleh ketepatan pengkodean diagnosis berdasarkan ICD-10. Ketidaktepatan kode diagnosis dapat menyebabkan kesalahan informasi morbiditas, sehingga berdampak pada kualitas pelaporan, perencanaan program, evaluasi pelayanan, dan pengambilan keputusan di rumah sakit. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi terhadap ketepatan kode diagnosis Diabetes Melitus sebagai dasar dalam menghasilkan data epidemiologi yang valid. Tujuan: Mengetahui ketepatan kode penyakit Diabetes Melitus untuk analisis epidemiologi di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih melalui identifikasi ketepatan kode diagnosis, distribusi kasus berdasarkan karakteristik pasien, dan gambaran epidemiologi berdasarkan kode yang telah divalidasi. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling terhadap 115 rekam medis pasien rawat inap dengan diagnosis Diabetes Melitus periode Juni–Agustus 2025. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan observasi menggunakan lembar checklist dengan membandingkan diagnosis dokter terhadap kode ICD-10. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan perhitungan prevalensi. Hasil: Sebanyak 94 rekam medis (81,74%) memiliki kode diagnosis yang tepat, sedangkan 21 rekam medis (18,26%) tidak tepat. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin relatif seimbang, yaitu perempuan 50,43% dan laki-laki 49,57%. Kelompok umur terbanyak adalah 56–65 tahun (33,91%). Prevalensi Diabetes Melitus pada pasien rawat inap sebesar 2,28%. Kode ICD-10 yang paling banyak ditemukan setelah validasi adalah E11.5 (Type 2 Diabetes Mellitus with Peripheral Circulatory Complications) sebanyak 37 kasus (32,17%). Kesimpulan: Ketepatan pengkodean diagnosis Diabetes Melitus di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih tergolong baik, namun masih ditemukan ketidaktepatan yang memerlukan evaluasi berkelanjutan. Validasi kode diagnosis berko
RUANG 806 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL27GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN CKG SATUSEHAT DALAM MELAKUKAN PENGOBATAN LANJUTAN DI PUSKESMAS KECAMATAN TAMBORA Ria Kumala , Muhammad Fuad Iqbal , Noerfitri , Bangga Agung Satrya1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul riakumala7@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: the SATUSEHAT Free Health Check (CKG) program is a preventive initiative by the Ministry of Health focused on early detection and public health screening. However, its long-term success relies heavily on medical record continuity and patient compliance with follow-up visits. Purpose: this study aims to determine the compliance level of CKG patients in carrying out follow- up treatment at the Tambora District Health Center. Method: this study utilized a quantitative descriptive method with a retrospective cohort design, analyzing secondary data obtained from the ASIK SATUSEHAT website and the Tambora Health Center Epus system for the August to November 2025 period, involving a total of 406 patients. Result: The findings show a total of 406 patient from August to November 2025, consisting of 222 healthy and 184 at-risk patients, with visits peaking in August (147) and declining to 43 in November. high-risk NCD burdens were heavily concentrated in hypertension (48.4%), obesity (47.8%), and visual impairments (46.7%). Furthermore, 59% (108) of the at-risk group were non- compliant with follow-up visits within 30 days, while only 41% (76) complied. Non-compliance characteristics peaked among males (61%), the elderly at 65% (ages over 60), informal workers (83%), out-of-area residents (61%), and patients diagnosed with Essential Hypertension (61%). Conclusion: the compliance level of CKG patients in carrying out follow-up treatment at the Tambora District Health Center remains low, highlighting the recommendation for the Ministry of Health and District Health Centers to implement a bridging system that generates automated notifications and reminders from ASIK report cards. Keywords : Advanced Medicine, Compliance, Healthy IndonesiaKu, Medical Records, SATUSEHAT. ABSTRAK Latar belakang: Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) SATUSEHAT merupakan upaya preventif Kementerian Kesehatan dengan deteksi dini atau skrining kesehatan masyarakat, namun keberhasilan program ini bergantung pada kesinambungan data rekam medis dan kepatuhan pasien beresiko dalam melakukan kontrol atau kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan. Tujuan: penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepatuhan pasien CKG dalam melakukan pengobatan lanjutan di Puskesmas Kecamatan Tambora. Metode: penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan desain kohort retrospektif, yang menganalisis data sekunder dari website ASIK SATUSEHAT dan sistem Epus Puskesmas Kecamatan Tambora periode Agustus-November 2025 dengan total 406 pasien. Hasil: Temuan menunjukkan total 406 pasien dari Agustus-November 2025, terdiri dari 222 pasien sehat dan 184 pasien berisiko, dengan kunjungan tertinggi pada bulan Agustus (147) dan menurun menjadi 43 pada bulan November. Beban PTM risiko tinggi terkonsentrasi pada hipertensi (48,4%), obesitas (47,8%), dan gangguan penglihatan (46,7%). Selain itu, 59% (108) dari kelompok berisiko tidak patuh terhadap kunjungan lanjutan dalam waktu 30 hari, sementara hanya 41% (76) yang patuh. Karakteristik ketidakpatuhan tertinggi memuncak pada laki-laki (61%), lansia 65% (usia di atas 60 tahun), pekerja informal (83%), penduduk di luar wilayah (61%), dan pasien yang didiagnosis Hipertensi Esensial (61%). Kesimpulan: Tingkat kepatuhan pasien CKG dalam melakukan pengobatan lanjutan di Puskesmas Kecamatan Tambora masih rendah. Disarankan bagi Kementerian Kesehatan dan Puskesmas Kecamatan untuk melakukan bridging system guna menghasilkan notifikasi otomatis dari rapor ASIK maupun pesan singkat pengingat bagi pasien untuk melakukan kunjungan ulang dalam waktu yang telah ditentukan. Kata kunci: CKG, PKG, Pengobatan Lanjut, Rekam Medis, SATUSEHAT, Sehat IndonesiaKu.
RUANG KOMUNITAS : LANTAI 8 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL28EFEKTIVITAS PENERAPAN SIMRS PADA REKAM MEDIS ELEKTRONIK DENGAN METODE HOT-FIT DI RUMAH SAKIT KANKER DHARMAIS Anastasia Vania Agungningtyas , Muhammad Fuad Iqbal , Daniel Happy Putra , Puteri Fannya1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia 1,2,3,4 vaniaanastasia18@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Hospital Management Information Systems (SIMRS) support healthcare services and electronic medical record management. At Dharmais Cancer Hospital, three SIMRS applications are used but are not yet integrated, potentially causing obstacles in data management and healthcare services. Purpose: This study aimed to determine the effectiveness of SIMRS implementation in electronic medical records based on the Human, Organization, Technology, and Net-Benefit aspects. Method: This descriptive quantitative study involved 50 medical record officers, with 40 respondents selected using purposive sampling based on their use of SIMRS in daily operations. Data were collected through observation and questionnaires and analyzed descriptively using SPSS. Result: All variables were categorized as effective. Human was rated effective by 57.5% of respondents, Organization by 82.5%, Technology by 60%, and Net-Benefit by 85%. However, several indicators still required improvement, including system development, decision-making support, system interface, management planning, infrastructure, system errors, user guidance, and communication between units. Conclusion: SIMRS implementation in electronic medical records was generally effective. Continuous system evaluation and development are needed to optimize implementation, particularly in areas that still have limitations. Keywords: Effectiveness; Electronic Medical Records; HOT-FIT; SIMRS ABSTRAK Latar Belakang: Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) berperan dalam mendukung pelayanan kesehatan dan pengelolaan rekam medis elektronik. Di Rumah Sakit Kanker Dharmais terdapat tiga aplikasi SIMRS yang belum terintegrasi sehingga berpotensi menimbulkan hambatan dalam pengelolaan data dan pelayanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas penerapan SIMRS pada rekam medis elektronik berdasarkan aspek Human, Organization, Technology, dan Net-Benefit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Populasi berjumlah 50 petugas rekam medis dan sampel 40 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan penggunaan SIMRS dalam kegiatan operasional. Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan SPSS. Hasil: Seluruh variabel berada pada kategori efektif. Aspek Human dinilai efektif oleh 57,5% responden, Organization 82,5%, Technology 60%, dan Net-Benefit 85%. Namun, masih terdapat indikator yang perlu diperbaiki, meliputi pengembangan sistem, dukungan pengambilan keputusan, tampilan sistem, perencanaan manajemen, infrastruktur, kendala sistem, panduan penggunaan, dan komunikasi antarunit. Kesimpulan: Penerapan SIMRS pada rekam medis elektronik secara umum telah berjalan efektif. Evaluasi dan pengembangan sistem secara berkelanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan penerapan SIMRS, khususnya pada aspek yang masih memiliki kelemahan. Kata kunci: Efektivitas; HOT-FIT; Rekam Medis Elektronik; SIMRS.
PRESENTASI ORAL29TRACER STUDY ALUMNI PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN TAHUN 2024-2025 : KETERSERAPAN KERJA, RELEVANSI KURIKULUM, DAN KESESUAIAN KOMPETENSI Bona Fasiana Tiomora Gurning , Nanda Aula Rumana , Laela Indawati , Daniel Happy Putra1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Jakarta, Indonesia 1,2,3,4 bonafasianaj@gmail.com* ABSTRACT Background: Vocational higher education institutions are expected to produce competent, work- ready graduates in Medical Records and Health Information (RMIK), particularly following Indonesian Ministry of Health Regulation No. 24 of 2022, which mandates a shift to electronic medical records. Information on graduates' conditions in the workforce remains limited, making a tracer study necessary to evaluate the alignment between graduate competencies and healthcare industry needs. Purpose: This study aims to describe the employment status, workplace level, waiting period, income, labor market transition, horizontal and vertical alignment, and competencies of RMIK graduates from Universitas Esa Unggul, classes of 2024 and 2025. Method: This study used a descriptive quantitative approach with an online tracer study questionnaire. Purposive sampling was applied to a population of 138 alumni, yielding 75 respondents (response rate 54.35%). Data were analyzed univariately and presented as frequency distributions. Result: A total of 76% of graduates were employed, 56% at national-level institutions, and most obtained their first job within 1–3 months. The most common income range was IDR 5,000,000– 7,000,000 (41.33%). Horizontal alignment was high (59% very closely related), and vertical alignment was good (79% at an equivalent level). A competency gap was found across all aspects, particularly in English proficiency (3.28 versus a required 3.71) and digital skills. Conclusion: Graduates of the RMIK Program at Universitas Esa Unggul demonstrate competitive employability, field alignment, and economic value, though strengthening English proficiency and health information technology competencies should be prioritized in future curriculum development. Keywords: competency gap, employability, medical records, tracer study ABSTRAK Latar Belakang: Perguruan tinggi vokasi dituntut menghasilkan lulusan Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) yang kompeten dan siap kerja, terlebih sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 yang mewajibkan peralihan ke Rekam Medis Elektronik. Informasi mengenai kondisi alumni di dunia kerja masih terbatas sehingga diperlukan studi penelusuran (tracer study) untuk mengevaluasi kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status pekerjaan, tingkat tempat kerja, masa tunggu kerja, pendapatan, transisi dunia kerja, keselarasan horizontal dan vertikal, serta kompetensi alumni Program Studi RMIK Universitas Esa Unggul lulusan tahun 2024 dan 2025. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan kuesioner tracer study yang disebarkan secara daring. Sampel diambil secara purposive dari populasi 138 alumni, diperoleh 75 responden dengan tingkat respons sebesar 54,35%. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. Hasil: Sebanyak 76% alumni telah bekerja, 56% di antaranya pada instansi berskala nasional, dan mayoritas memperoleh pekerjaan pertama dalam waktu 1–3 bulan. Pendapatan terbanyak berada pada rentang Rp5.000.000–Rp7.000.000 (41,33%). Keselarasan horizontal tergolong tinggi (59% sangat erat) dan keselarasan vertikal tergolong baik (79% setingkat sama). Ditemukan kesenjangan kompetensi pada seluruh aspek, terutama pada kemampuan bahasa Inggris (3,28 dibanding kebutuhan 3,71) dan keterampilan teknologi digital. Kesimpulan: Lulusan Program Studi RMIK Universitas Esa Unggul memiliki daya serap kerja, keselarasan bidang, dan nilai ekonomi yang kompetitif, namun penguatan kompetensi bahasa Inggris dan teknologi informasi kesehatan perlu menjadi prioritas pengembangan kurikulum ke depan. Kata kunci: keselarasan kerja, kesenjangan kompetensi, rekam medis, tracer studyRUANG KOMUNITAS : LANTAI 8 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL30OPTIMALISASI PENGGUNAAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK DALAM MEMINIMALISIR DUPLIKASI DATA DI PUSKESMAS PALMERAH Hidayatus Sholihah , Dina Sonia , Muhammad Fuad Iqbal , Puteri Fannya1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia hidayatussholihah8@gmail.com* ABSTRACT Background: The implementation of Electronic Medical Records (EMR) in community health centers aims to improve service efficiency and patient data management. However, it still faces patient data duplication caused by suboptimal identity verification. Purpose: This study aims to analyze patient data verification procedures, identify factors causing data duplication based on aspectsman, method, material, and machine, and analyzing the practice of handling data duplication in the use of SIKDA Optima at the Palmerah Health Center. Method: This study employed a descriptive qualitative. Data were collected through in-depth interviews and observations involving registration officers and medical record officers. Result: Patient identity verification is carried out through SIKDA Optima during online and onsite registration by matching the national identification number (NIK), full name, and date of birth before updating or creating patient records. Factors contributing to duplicate patient data include the human aspect; high workload and inconsistent verification, method; reliance on non-unique demographic data, material; incomplete patient identity documents, and machine; limitations of the search and duplicate detection features in SIKDA Optima. Duplicate data are managed by re-verifying patient identity using official documents and reporting the case to medical records officers for data merging or deactivation according to established procedures. Conclusion: Verification procedures at Palmerah Community Health Center have been implemented, but they have not fully prevented duplicate patient data. Improving staff competency, optimizing the system's duplicate detection features, and encouraging patients to provide official identification are needed to improve the quality of electronic medical records and support safer, more effective healthcare services. Keywords: EMR, Data Duplication, SIKDA Optima ABSTRAK Latar Belakang: Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di Puskesmas bertujuan meningkatkan efisiensi pelayanan dan kualitas pengelolaan data pasien. Namun, implementasinya masih menghadapi permasalahan duplikasi data pasien akibat verifikasi identitas yang belum optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis prosedur verifikasi data pasien, mengidentifikasi faktor penyebab duplikasi data berdasarkan aspek man, method, material, dan machine, serta menganalisis praktik penanganan duplikasi data pada penggunaan SIKDA Optima di Puskesmas Palmerah. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi terhadap petugas pendaftaran dan petugas rekam medis. Hasil: Prosedur verifikasi identitas pasien Verifikasi identitas pasien dilakukan melalui SIKDA Optima pada pendaftaran online maupun onsite dengan mencocokkan NIK, nama lengkap, serta tanggal lahir sebelum pembaruan atau pembuatan data pasien. Faktor yang berpotensi menyebabkan duplikasi data pasien meliputi aspek man, berupa tingginya beban kerja petugas dan verifikasi yang sepenuhnya belum optimal; aspek method, yaitu pencarian dan identifikasi pasien masih mengandalkan data demografis yang tidak bersifat unik; aspek material, berupa ketidaklengkapan dokumen identitas pasien saat pendaftaran; serta aspek machine, yaitu keterbatasan fitur pencarian dan deteksi duplikasi pada SIKDA Optima. Penanganan duplikasi data dilakukan melalui verifikasi ulang identitas pasien menggunakan dokumen resmi dan pelaporan kepada petugas rekam medis untuk penggabungan atau penonaktifan data sesuai prosedur. Kesimpulan: Prosedur verifikasi di Puskesmas Palmerah telah berjalan, namun belum sepenuhnya mampu mencegah duplikasi data pasien. Penguatan kompetensi petugas, optimalisasi fitur deteksi duplikasi pada sistem, serta peningkatan kepatuhan pasien dalam membawa identitas resmi diperlukan untuk meningkatkan kualitas data rekam medis elektronik dan mendukung pelayanan kesehatan yang lebih aman dan efektif. Kata kunci: RME, Duplikasi Data, Puskesmas, SIKDARUANG KOMUNITAS : LANTAI 8 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL31EVALUASI MUTU DOKUMENTASI REKAM MEDIS MELALUI ANALISIS KUANTITATIF DAN KUALITATIF DI RSPI SULIANTI SAROSO Nanda Aula Rumana , Diah , Lalu Galih Kirana , Lilis Tri Astuti , Nabila Zahra Maharani , Syauqi Muhammad Fadhillah , Ni Kadek Repiliana 1* 2 3 4 5 6 7 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1-7 Universitas Esa Unggul, Indonesia nandaaularumana@mail.ugm.ac.id* ABSTRACT Background: The quality of medical record documentation is essential for continuity of care, legal accountability, reporting, and healthcare financing. Quality assessment should address not only document completeness but also the consistency and quality of recorded information. Purpose: To evaluate the quality of medical record documentation through quantitative and qualitative analyses at Prof. Dr. Sulianti Saroso Infectious Diseases Hospital (RSPI). Method: A descriptive study was conducted by auditing 75 medical records, comprising conventional and electronic records. Quantitative analysis assessed patient identification, important reports, author authentication, and good documentation practices. Qualitative analysis assessed consistency of diagnoses, documentation, treatment and care records, informed consent, documentation practices, and events potentially associated with compensation. Result: The average completeness score in the quantitative analysis was 88%. Patient identification and author authentication reached 100%, important reports 93%, while good documentation practices reached only 60%. In the qualitative analysis, overall consistency was 96%; diagnostic consistency was 93%, documentation consistency 96%, consistency of treatment and care records 87%, informed consent 100%, documentation practices 99%, and potentially compensable events 100%. Conclusion: Medical record documentation quality was generally good, but gaps remained across components, particularly in documentation quality and consistency of treatment records. Combining quantitative and qualitative audits provides a more comprehensive basis for identifying priorities for improving medical record documentation quality. Keywords: medical record documentation; medical record quality; qualitative analysis; quantitative analysis. ABSTRAK Latar Belakang: Mutu dokumentasi rekam medis merupakan bagian penting dalam menjamin kesinambungan pelayanan, aspek hukum, pelaporan, dan pembiayaan kesehatan. Penilaian mutu tidak hanya memerlukan pemeriksaan kelengkapan dokumen, tetapi juga konsistensi dan kualitas isi pencatatan. Tujuan: Mengevaluasi mutu dokumentasi rekam medis melalui analisis kuantitatif dan kualitatif di RSPI Prof. Dr. Sulianti Saroso. Metode: Penelitian deskriptif dilakukan melalui audit terhadap 75 rekam medis pasien yang terdiri atas rekam medis konvensional dan elektronik. Analisis kuantitatif menilai identitas pasien, laporan penting, autentifikasi penulis, dan pencatatan yang baik. Analisis kualitatif menilai konsistensi diagnosis, pencatatan, tindakan selama perawatan dan pengobatan, informed consent, praktik pencatatan, serta kejadian yang berpotensi menimbulkan kompensasi. Hasil: Rata-rata kelengkapan pada analisis kuantitatif sebesar 88%. Identitas pasien dan autentifikasi penulis mencapai 100%, laporan penting 93%, sedangkan pencatatan yang baik hanya 60%. Pada analisis kualitatif, rata-rata konsistensi mencapai 96%; konsistensi diagnosis 93%, pencatatan 96%, tindakan selama perawatan dan pengobatan 87%, informed consent 100%, praktik pencatatan 99%, dan kejadian yang berpotensi pembayaran kompensasi 100%. Kesimpulan: Mutu dokumentasi rekam medis secara umum baik, namun masih terdapat kesenjangan antar-komponen, terutama pada kualitas pencatatan dan konsistensi dokumentasi tindakan. Audit kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan diperlukan untuk mengidentifikasi prioritas peningkatan mutu dokumentasi rekam medis secara lebih komprehensif. Kata kunci: analisis kualitatif; analisis kuantitatif; dokumentasi rekam medis; mutu rekam medisRUANG KOMUNITAS : LANTAI 8 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL32WORKFLOW AND DATA GOVERNANCE CHALLENGES IN HYBRID MEDICAL RECORD MANAGEMENT AT RSUD KEMBANGAN Daniel Happy Putra , Auziniansy Aradya Rachman1* 2 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2 Universitas Esa Unggul, Indonesia daniel.putra@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Hybrid medical records require coordination between paper documents and electronic information. During digital transition, documentation gaps and reporting safeguards need attention alongside the introduction of technology. Purpose: To describe workflow and data governance challenges in hybrid medical record management at RSUD Kembangan and identify improvement priorities. Method: A descriptive case analysis examined the management and SWOT sections of a field- practice report documenting a 15-working-day placement. Findings derived from reported observations and staff interactions were organised into workflow coordination, documentation completeness, and information safeguards. Result: Paper records, scanning, and electronic systems coexisted with spreadsheet- based inpatient reporting. Defined coding and statistical reporting roles were organisational strengths. Reported constraints included manual record retention work, the need to synchronise paper and digital records, incomplete medical summaries, insufficient spreadsheet formula protection, and limited restrictions on access to the records room. Differences in coding interpretation between medical record and Casemix staff were also reported. The analysis did not quantify error or delay rates. Conclusion: Priorities include reconciling paper and digital workflows, standardising medical summary completion, protecting reporting formulas, and reviewing access controls. These priorities require local verification and evaluation before their effects on service performance can be established. Keywords: data governance; electronic medical records; hybrid medical records; workflow ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis hybrid memerlukan koordinasi antara dokumen kertas dan informasi elektronik. Selama transisi digital, kesenjangan dokumentasi dan pengamanan pelaporan perlu mendapat perhatian seiring dengan penerapan teknologi. Tujuan: Mendeskripsikan tantangan alur kerja dan tata kelola data dalam pengelolaan rekam medis hybrid di RSUD Kembangan serta mengidentifikasi prioritas perbaikan. Metode: Analisis kasus deskriptif dilakukan terhadap bagian manajemen dan SWOT dalam laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang mendokumentasikan praktik selama 15 hari kerja. Temuan dari observasi dan interaksi dengan petugas yang dilaporkan dikelompokkan ke dalam koordinasi alur kerja, kelengkapan dokumentasi, dan pengamanan informasi. Hasil: Dokumen kertas, pemindaian, dan sistem elektronik digunakan bersamaan dengan pelaporan rawat inap berbasis spreadsheet. Pembagian peran koding dan pelaporan statistik merupakan kekuatan organisasi. Kendala yang dilaporkan mencakup pekerjaan retensi berkas secara manual, kebutuhan sinkronisasi rekam medis kertas dan digital, ketidaklengkapan resume medis, proteksi rumus spreadsheet yang belum memadai, serta pembatasan akses ruang rekam medis yang belum optimal. Perbedaan interpretasi koding antara petugas rekam medis dan Casemix juga dilaporkan. Analisis ini tidak mengukur tingkat kesalahan atau keterlambatan. Kesimpulan: Prioritas perbaikan meliputi penyelarasan alur kerja kertas dan digital, standardisasi kelengkapan resume medis, proteksi rumus pelaporan, serta peninjauan pengendalian akses. Prioritas tersebut memerlukan verifikasi dan evaluasi di rumah sakit sebelum dampaknya terhadap kinerja pelayanan dapat ditetapkan. Kata kunci: alur kerja; rekam medis elektronik; rekam medis hybrid; tata kelola dataRUANG KOMUNITAS : LANTAI 8 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
LAB RM : LANTAI 5 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL33EVALUSASI PENERAPAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT UMUM PINNA BEKASI Reza Gita Savitri , Daniel Happy Putra , Laela Indawati , Noerfitri1* 2 3 4 ¹²³ Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia rezagitasavitri@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The implementation of Electronic Medical Records (EMR) is an essential part of digital transformation in hospitals. However, the early implementation phase often encounters challenges related to user adaptation, organizational readiness, and system performance, making evaluation necessary to ensure successful adoption. Purpose: Evaluate the implementation of Electronic Medical Records in the outpatient registration unit at Pinna General Hospital, Bekasi, using the modified Human–Organization–Technology Fit (HOT-Fit) framework. Method: This qualitative descriptive study was conducted through observations, document reviews, and in-depth interviews with nine informants consisting of the head of the medical records unit, registration officers, doctors, nurses, and IT staff. Data were analyzed using the interactive model of data reduction, data display, and conclusion drawing. Result: The Human dimension indicated that users had adapted to the R-HIS system and considered it easy to use despite occasional technical disruptions. The Organization dimension demonstrated clear organizational support and initial training; however, EMR-specific standard operating procedures had not been evenly distributed and IT personnel remained limited. The Technology dimension showed that the system was user-friendly and integrated across hospital units, although slow system response and server overload during peak hours affected service efficiency. Overall, the three dimensions demonstrated a satisfactory level of fit, although several technical and organizational issues still reduced implementation effectiveness. Conclusion: The implementation of EMR in the outpatient registration unit generally demonstrated compatibility between human, organizational, and technological dimensions. Strengthening IT infrastructure, expanding EMR-specific SOP dissemination, and conducting continuous user training are recommended to optimize EMR implementation. Keywords: Electronic Medical Records; HOT-Fit; Information System Evaluation; Outpatient Registration ABSTRAK Latar Belakang: Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan bagian penting dari transformasi digital pelayanan kesehatan di rumah sakit. Namun, pada fase awal penerapannya masih dijumpai berbagai kendala terkait adaptasi pengguna, kesiapan organisasi, dan kinerja sistem sehingga diperlukan evaluasi untuk menilai keberhasilan implementasi. Tujuan: Mengevaluasi penerapan Rekam Medis Elektronik pada unit pendaftaran rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pinna Bekasi menggunakan kerangka Human–Organization–Technology Fit (HOT-Fit) yang dimodifikasi. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, telaah dokumen, dan wawancara mendalam terhadap sembilan informan yang terdiri atas kepala unit rekam medis, petugas pendaftaran, dokter, perawat, dan staf IT. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil: Dimensi Human menunjukkan bahwa pengguna telah mampu beradaptasi dan menilai sistem R-HIS mudah digunakan meskipun masih terjadi gangguan teknis. Dimensi Organization memperlihatkan adanya dukungan manajemen dan pelatihan awal, namun pemerataan SPO khusus RME serta jumlah personel IT masih terbatas. Dimensi Technology menunjukkan sistem telah terintegrasi antarunit dan mudah digunakan, tetapi masih mengalami perlambatan akses serta server overload pada jam pelayanan sibuk. Secara keseluruhan terdapat kesesuaian (fit) antara dimensi manusia, organisasi, dan teknologi, meskipun efektivitas implementasi masih dipengaruhi oleh kendala teknis dan organisasi. Kesimpulan: Penerapan RME di unit pendaftaran rawat jalan telah menunjukkan kesesuaian antara dimensi manusia, organisasi, dan teknologi. Penguatan infrastruktur teknologi, pemerataan SPO RME, serta pelatihan berkelanjutan diperlukan untuk mengoptimalkan implementasi sistem. Kata kunci: Evaluasi Sistem Informasi; HOT-Fit; Pendaftaran Rawat Jalan; Rekam Medis Elektronik.
PRESENTASI ORAL34GAMBARAN PELAKSANAAN PENDAFTARAN ONLINE RAWAT JALAN PADA APLIKASI MOBILE JKN DI RSUD BALARAJA Nanda Alfika , Noor Yulia , Laela Indawati , Noerfitri Noerfitri1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul 1,2,3,4 nandaalfika20@gmail.com* ABSTRACT Background: Online registration through the Mobile JKN application is a digital healthcare innovation designed to simplify and accelerate outpatient registration. The Mobile JKN application has been implemented as part of outpatient registration services at RSUD Balaraja. Purpose: This study aimed to describe the implementation of outpatient online registration through the Mobile JKN application based on Standard Operating Procedure (SOP) compliance, effectiveness, and inhibiting factors. Method: This study used a descriptive qualitative method. Data were collected through observations using a checklist and interviews using an interview guide. The study involved 26 purposively selected participants: one Head of the Health Insurance Unit, 24 Mobile JKN users, and one registration officer. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, with source and technique triangulation to ensure trustworthiness. Result: The implementation of outpatient online registration generally complied with the applicable SOP and was considered fairly effective based on the indicators of program understanding, target accuracy, timeliness, goal achievement, and tangible change. The Mobile JKN application facilitated outpatient registration and reduced waiting time. The main barriers included system and network disruptions, incomplete entry of follow-up care plan letters, limited ability of older adults to use the application, and changes in physicians' schedules. Conclusion: The implementation of outpatient online registration through the Mobile JKN application was fairly effective. However, system optimization, improved staff readiness, and patient education are still needed to enhance service quality. Keywords: Mobile JKN Application, Online Registration, Outpatient Care. ABSTRAK Latar Belakang: Pendaftaran online melalui aplikasi Mobile JKN merupakan inovasi pelayanan kesehatan digital yang bertujuan mempermudah dan mempercepat proses pendaftaran pasien rawat jalan. Aplikasi Mobile JKN telah diterapkan dalam pelayanan pendaftaran rawat jalan di RSUD Balaraja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan pelaksanaan pendaftaran online rawat jalan melalui aplikasi Mobile JKN berdasarkan kesesuaian dengan SPO, efektivitas, dan faktor penghambat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi menggunakan lembar checklist dan wawancara menggunakan pedoman wawancara. Dengan subjek penelitian menggunakan 26 orang infroman yang dipilih secara purposive sampling, yaitu 1 inroman kunci Kepala Instalasi Jaminan Kesehatan, 24 infroman utama pasien pengguna Mobile JKN, dan 1 informan pendukung petugas pendaftaran. Analisis data menggunakan model Miles & Huberman dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil: Pelaksanaan pendaftaran online rawat jalan secara umum telah sesuai dengan SPO yang berlaku dan tergolong cukup efektif berdasarkan indikator pemahaman program, ketepatan sasaran, ketepatan waktu, tercapainya tujuan, dan perubahan nyata. Penggunaan Mobile JKN membantu pasien mempermudah proses pendaftaran rawat jalan, serta mengurangi waktu tunggu. Kendala meliputi gangguan sistem dan jaringan, belum terinputnya surat rencana kontrol, keterbatasan pasien lansia dalam menggunakan aplikasi, serta perubahan jadwal dokter. Kesimpulan: Pelaksanaan pendaftaran online rawat jalan menggunakan aplikasi Mobile JKN tergolong cukup efektif. Namun, optimalisasi sistem, peningkatan kesiapan petugas, serta edukasi kepada pasien masih diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Kata kunci: Aplikasi Mobile JKN, Pendaftaran Online, Rawat Jalan.LAB RM : LANTAI 5 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL35TINJAUAN KUALITAS PELAYANAN PASIEN JKN DI UNIT RAWAT JALAN PUSKESMAS KECAMATAN KALIDERES Dandi Cahyadi , Puteri Fannya , Dina Sonia , Muhammad Fuad Iqbal1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul 1 ,2,3,4 ABSTRACT Background: The quality of health care is an important aspect in meeting the needs and satisfaction of the National Health Insurance (JKN) patients. Kalideres Subdistrict Puskesmas Outpatient Unit still faces several problems in its services, such as limited facilities and infrastructure, comfort of the waiting room, punctuality of service, responsiveness of staff, and individual attention to patients. The condition needs to be evaluated to find out the quality of service perceived by JKN patients. Purpose: This research aims to determine the quality of JKN patient care at the Kalideres Subdistrict Puskesmas Outpatient Unit based on tangible dimensions, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. Method: This research uses a descriptive quantitative method. Data collection was done through observation, interviews, and questionnaires to 96 JKN patients. Evaluation of service quality is done based on five SERVQUAL dimensions, namely tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy, then analyzed descriptively. Results: The results of the research show that 52 respondents (54.2%) rated the service quality in the good category, while 44 respondents (45.8%) rated it as not good. The dimension of empathy is the dimension with the lowest good rating, namely 59 respondents (61.5%), while 37 respondents (38.5%) rated it not good. Conclusion: The quality of service for JKN patients in the Outpatient Unit of Kalideres Subdistrict Puskesmas is still not optimal. It is necessary to improve facilities and infrastructure, the effectiveness of service time, responsiveness and communication of staff, as well as attention and empathy to patients to improve the quality of health services. Keywords: Service Quality, JKN Patients, Outpatients, SERVQUAL, Puskesmas. ABSTRAK Latar Belakang: Kualitas pelayanan kesehatan merupakan aspek penting dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Unit Rawat Jalan Puskesmas Kecamatan Kalideres dalam pelayanannya masih menghadapi beberapa permasalahan, seperti keterbatasan sarana dan prasarana, kenyamanan ruang tunggu, ketepatan waktu pelayanan, daya tanggap petugas, serta perhatian secara individual kepada pasien. Kondisi tersebut perlu dievaluasi untuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan oleh pasien JKN. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas pelayanan pasien JKN di Unit Rawat Jalan Puskesmas Kecamatan Kalideres berdasarkan dimensi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan kuesioner kepada 96 pasien JKN. Penilaian kualitas pelayanan dilakukan berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 52 responden (54,2%) menilai kualitas pelayanan dalam kategori baik, sedangkan 44 responden (45,8%) menilai tidak baik. Dimensi empathy menjadi dimensi dengan penilaian baik terendah, yaitu 59 responden (61,5%), sedangkan 37 responden (38,5%) menilai tidak baik. Kesimpulan: Kualitas pelayanan pasien JKN di Unit Rawat Jalan Puskesmas Kecamatan Kalideres masih belum optimal. Diperlukan peningkatan sarana dan prasarana, efektivitas waktu pelayanan, daya tanggap dan komunikasi petugas, serta perhatian dan empati kepada pasien untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Kata kunci: Kualitas Pelayanan, Pasien JKN, Rawat Jalan, SERVQUAL, Puskesmas.LAB RM : LANTAI 5 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL36HUBUNGAN KARAKTERISTIK KLAIM DAN SELISIH TARIF BPJS PADA CMG INFEKSI DI RS XY Muhammad Fuad Iqbal , Sabrina Tasya Rahmadani1* 2 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul 1 ,2 muhammad.fuad@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Differences between INA-CBG-based BPJS claim tariffs and hospital costs may cause deficits and affect healthcare financing. This gap warrants evaluation of contributing claim and service characteristics. Purpose: To analyze the relationship between patient and service characteristics and BPJS- hospital tariff differences in the Infection Case-Mix Main Group (CMG A). Method: This quantitative study used a cross-sectional design to analyze 125 Infection CMG episodes treated from 25 April to 31 May 2026 using Spearman, Mann-Whitney U, Kruskal-Wallis, and Wilcoxon tests. Results: Length of stay was strongly and negatively related to the tariff difference (ρ=-0.597; q<0.001), which also varied by ward class (H=9.694; q=0.031). Median BPJS and hospital tariffs were Rp2,782,500 and Rp4,338,342, with a significant median difference of -Rp1,541,025 (p<0.001; r=-0.764). Conclusion: Length of stay and ward class were associated with tariff differences. Hospitals should strengthen length-of-stay control and cost evaluation. Keywords: BPJS Health; Claim Tariff Difference; Infection CMG; Length Of Stay; Ward Class ABSTRAK Latar Belakang: Perbedaan tarif klaim BPJS berbasis INA-CBG dan biaya rumah sakit dapat menimbulkan defisit serta memengaruhi pembiayaan pelayanan kesehatan. Kesenjangan ini memerlukan evaluasi karakteristik klaim dan pelayanan yang berkontribusi. Tujuan: Menganalisis hubungan karakteristik pasien dan pelayanan dengan selisih tarif BPJS- rumah sakit pada kelompok Case-Mix Main Group Infeksi (CMG A). Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional menganalisis 125 episode CMG Infeksi periode 25 April-31 Mei 2026 menggunakan uji Spearman, Mann-Whitney U, Kruskal-Wallis, dan Wilcoxon. Hasil: Lama rawat berhubungan negatif kuat dengan selisih tarif (ρ=-0,597; q<0,001), yang juga berbeda berdasarkan kelas rawat (H=9,694; q=0,031). Median tarif BPJS dan rumah sakit masing- masing Rp2.782.500 dan Rp4.338.342, dengan median selisih signifikan -Rp1.541.025 (p<0,001; r=-0,764). Kesimpulan: Lama rawat dan kelas rawat berhubungan dengan selisih tarif. Rumah sakit perlu memperkuat pengendalian lama rawat dan evaluasi biaya. Kata kunci: BPJS Kesehatan; CMG Infeksi; Kelas Rawat; Lama Rawat; Selisih TarifLAB RM : LANTAI 5 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL37Factors Associated with Pulmonary Tuberculosis in Jakarta: A Complex Survey Analysis of IHS 2023 Noerfitri¹*; Luthfia Agustina2 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul 1 ,2 noerfitri@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Jakarta has a substantial tuberculosis (TB) burden influenced by demographic, socioeconomic, and behavioural characteristics. Multivariable analysis that accounts for the survey design is required to identify independently associated factors. Purpose: To analyse factors associated with pulmonary TB among residents of Jakarta. Method: This cross-sectional study used data from 12,580 respondents of all ages in the 2023 Indonesian Health Survey. The outcome was self-reported doctor-diagnosed pulmonary TB. Explanatory variables included age, sex, education, occupation, and smoking status. Weighted estimates and logistic regression accounted for strata, primary sampling units, and sampling weights. Because smoking information was unavailable for some respondents, the complete-case multivariable model included 10,294 respondents and contained sex, smoking status, and occupation. Result: The sample included 51 pulmonary TB cases. Weighted prevalence was 0.40% (95% CI: 0.24–0.57). In bivariable complex-sample analysis, males had higher odds of TB than females (cOR=4.42; 95% CI: 1.65–11.82; p=0.003). In the complete-case multivariable model, males remained associated with higher odds of TB (aOR=5.30; 95% CI: 1.61–17.40; p=0.006). Smoking status (p=0.382) and occupation (p=0.180) were not independently associated with TB. Conclusion: Male residents had higher odds of pulmonary TB. Gender-responsive case finding may be considered, although the small number of cases, wide confidence intervals, and different analytic sample sizes warrant cautious interpretation. Keywords: Jakarta; logistic regression; pulmonary tuberculosis; survey ABSTRAK Latar belakang: DKI Jakarta menghadapi beban tuberkulosis (TB) yang dipengaruhi karakteristik demografis, sosial ekonomi, dan perilaku. Analisis multivariabel yang memperhitungkan desain survei diperlukan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan secara independen. Tujuan: Menganalisis faktor yang berhubungan dengan TB paru pada penduduk DKI Jakarta. Metode: Studi potong lintang ini menggunakan data 12.580 responden seluruh kelompok umur dalam Survei Kesehatan Indonesia 2023. Outcome adalah TB paru berdasarkan laporan diagnosis dokter. Variabel penjelas meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan status merokok. Estimasi berbobot dan regresi logistik memperhitungkan strata, primary sampling unit, dan bobot sampel. Karena data merokok tidak tersedia pada sebagian responden, model multivariat complete-case mencakup 10.294 responden serta memuat jenis kelamin, status merokok, dan pekerjaan. Hasil: Sampel mencakup 51 kasus TB paru. Prevalensi berbobot sebesar 0,40% (IK95%: 0,24–0,57). Pada analisis bivariat Complex Samples, laki-laki memiliki odds TB lebih tinggi daripada perempuan (cOR=4,42; IK95%: 1,65–11,82; p=0,003). Dalam model multivariat complete-case, laki- laki tetap berhubungan dengan odds TB yang lebih tinggi (aOR=5,30; IK95%: 1,61–17,40; p=0,006). Status merokok (p=0,382) dan pekerjaan (p=0,180) tidak berhubungan secara independen dengan TB. Kesimpulan: Penduduk laki-laki memiliki odds TB paru lebih tinggi. Penemuan kasus yang peka gender dapat dipertimbangkan, meskipun jumlah kasus sedikit, interval kepercayaan lebar, dan ukuran sampel analitik berbeda sehingga hasil perlu ditafsirkan secara berhati-hati. Kata kunci: DKI Jakarta; regresi logistik; survei; tuberkulosis paruLAB RM : LANTAI 5 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
LAB CODING : LANTAI 4 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL38EVALUASI PENGGUNAAN SIMRS DI RSUD KHIDMAT SEHAT AFIAT (KISA) KOTA DEPOK Desta Septya Ningrum , Deasy Rosmala Dewi , Daniel Happy Putra , Laela Indawati1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia destaningrum26@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Khidmat Sehat Afiat Hospital (KiSA) Depok City has been using SIMRS Khanza since 2022 to support hospital services and data management. However, there are still obstacles such as difficulties in user adaptation, internet network disruptions, and the lack of periodic evaluation of the use of SIMRS, so evaluation is important to determine the suitability of the use of SIMRS with the needs of users and organizations. Objective: Identify the use of SIMRS and evaluate it using the Human, Organization, Technology, and Net Benefit (HOT-Fit) method at KiSA Hospital Depok City. Methods: Quantitative descriptive research with an evaluative approach. The population amounted to 485 SIMRS users with a sample of 83 respondents determined using the Slovin formula and proportional random sampling techniques. Data was collected through questionnaires and observation sheets, then analyzed using frequency, percentage, and mean distributions. Results: SIMRS has been applied to all hospital service and support units, with all usage indicators in the use category. The results of the evaluation based on the HOT-Fit method showed that the Human component obtained a mean value of 3.84 (Good), Organization 3.71 (Good), Technology 3.56 (Good), and Net Benefit 3.88 (Good). Conclusion: The use of SIMRS at KiSA Hospital in Depok City has been applied to all service units and generally shows good results based on the evaluation of the HOT-Fit method. However, there are still several aspects that need to be improved, especially in user training, compensation, as well as supporting facilities and the quality of the internet network. The results of this study are expected to be evaluation materials for hospitals in optimizing the implementation of SIMRS and improving service quality. Keywords: Evaluation, HOT-Fit Method, System Usage, Hospital, SIMRS. ABSTRAK Latar Belakang: RSUD Khidmat Sehat Afiat (KiSA) Kota Depok telah menggunakan SIMRS Khanza sejak 2022 untuk mendukung pelayanan dan pengelolaan data rumah sakit. Namun, masih ditemukan kendala seperti kesulitan adaptasi pengguna, gangguan jaringan internet, serta belum adanya evaluasi penggunaan SIMRS secara berkala, sehingga evaluasi menjadi penting untuk mengetahui kesesuaian penggunaan SIMRS dengan kebutuhan pengguna dan organisasi. Tujuan: Mengidentifikasi penggunaan SIMRS dan mengevaluasinya menggunakan metode Human, Organization, Technology, and Net Benefit (HOT-Fit) di RSUD KiSA Kota Depok. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan evaluatif. Populasi berjumlah 485 pengguna SIMRS dengan sampel 83 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai mean. Hasil: SIMRS telah diterapkan pada seluruh unit pelayanan dan penunjang rumah sakit, dengan seluruh indikator penggunaan berada pada kategori digunakan. Hasil evaluasi berdasarkan metode HOT-Fit menunjukkan bahwa komponen Human memperoleh nilai mean 3,84 (Baik), Organization 3,71 (Baik), Technology 3,56 (Baik), dan Net Benefit 3,88 (Baik). Kesimpulan: Penggunaan SIMRS di RSUD KiSA Kota Depok telah diterapkan pada seluruh unit pelayanan dan secara umum menunjukkan hasil yang baik berdasarkan evaluasi metode HOT-Fit. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, terutama pada pelatihan pengguna, kompensasi, serta sarana pendukung dan kualitas jaringan internet. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi rumah sakit dalam mengoptimalkan implementasi SIMRS dan meningkatkan kualitas pelayanan. Kata kunci: Evaluasi, Metode HOT-Fit, Penggunaan Sistem, Rumah Sakit, SIMRS.
PRESENTASI ORAL39FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PENGISIAN RESUME MEDIS ELEKTRONIK OLEH DOKTER SPESIALIS ANAK DI RUMAH SAKIT X Nurul Hidayah , Dina Sonia , Noerfitri , Daniel Happy Putra1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia nurulhidayah300494@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The Electronic Medical Summary is a crucial part of the Electronic Medical Record, serving as a summary of patient care and must be completed completely and on time. However, at Hospital X, pediatricians are still experiencing delays in completing the Electronic Medical Summary, potentially hindering the administration process, service claims, and the quality of medical record documentation. Objective: Identifying the process of filling out the Electronic Medical Resume and the factors that cause delays in filling it out by pediatricians at Hospital X. Method: This research uses a descriptive qualitative method with techniques purposive sampling The informants consisted of three pediatricians, one Head of the Medical Records Unit, and two medical records completeness analysis officers. Data were collected through interviews and observations, then analyzed using source and technique triangulation. Results: The process of completing the Electronic Medical Resume by pediatricians is generally carried out after the patient has been discharged and all services have been completed, but delays are still encountered. Contributing factors include suboptimal physician compliance and discipline, the lack of a specific SOP for Electronic Medical Resumes, high workloads, and network and system disruptions. Conclusion: Delays in completing the Electronic Medical Resume are influenced by staffing, procedures, workload, and facilities and infrastructure. Improving compliance, strengthening procedures, managing workload, and optimizing the system are necessary to support timely completion and improve the quality of hospital services. Keywords: Delay Factor, Medical Resume, Electronic Medical Record, Hospital ABSTRAK Latar Belakang: Resume Medis Elektronik merupakan bagian penting dari Rekam Medis Elektronik yang berfungsi sebagai ringkasan pelayanan pasien dan harus diisi secara lengkap serta tepat waktu. Namun, di Rumah Sakit X masih ditemukan keterlambatan pengisian Resume Medis Elektronik oleh dokter spesialis anak yang berpotensi menghambat proses administrasi, klaim pelayanan, dan mutu pendokumentasian rekam medis. Tujuan: Mengidentifikasi proses pengisian Resume Medis Elektronik serta faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan pengisiannya oleh dokter spesialis anak di Rumah Sakit X. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Informan terdiri atas tiga dokter spesialis anak, satu Kepala Instalasi Rekam Medis, dan dua petugas analisis kelengkapan rekam medis. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil: Proses pengisian Resume Medis Elektronik oleh dokter spesialis anak umumnya dilakukan setelah pasien pulang dan setelah seluruh pelayanan selesai, namun masih ditemukan keterlambatan. Faktor penyebab meliputi kepatuhan dan kedisiplinan dokter yang belum optimal, belum tersedianya SOP khusus Resume Medis Elektronik, tingginya beban kerja, serta gangguan jaringan dan sistem. Kesimpulan: Keterlambatan pengisian Resume Medis Elektronik dipengaruhi oleh faktor petugas, prosedur, beban kerja, serta sarana dan prasarana. Peningkatan kepatuhan, penguatan prosedur, pengelolaan beban kerja, dan optimalisasi sistem diperlukan untuk mendukung ketepatan waktu pengisian serta meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Kata Kunci: Faktor Keterlambatan, Resume Medis, Rekam Medis Elektronik, Rumah SakitLAB CODING : LANTAI 4 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL40KENDALA PENGGUNAAN APLIKASI MOBILE JKN PADA PROSES PENDAFTARAN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA SUKAPURA Aulia Zariah , Laela Indawati , Puteri Fannya , Daniel Happy Putra1 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia auliazariah3012@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Mobile JKN is a BPJS Kesehatan application used to facilitate access to health services, including online outpatient registration. However, its implementation still encounters various technical and user obstacles that can affect the effectiveness of the registration process. Purpose: This study aims to determine the flow of Mobile JKN use in the outpatient registration process and identify obstacles experienced by patients and registration staff at the Jakarta Islamic Hospital Sukapura. Methode: This study used a descriptive qualitative approach. Data collection was conducted through in-depth interviews, observation, and documentation with three registration staff, four patients using Mobile JKN, and one Head of Medical Records. Results: The results showed that Mobile JKN helps patients obtain queue numbers without having to arrive at the hospital early. However, various obstacles were still encountered, including slow application access, delays in OTP delivery, internet network disruptions, application errors, and inconsistencies in the displayed doctor's schedule. Elderly patients also experienced difficulties logging in, checking in, and using the application features, requiring assistance from family and registration staff. Conclusion: Mobile JKN has made the outpatient registration process easier, but improvements to the application system and increased user education are still needed to optimize its implementation. The results of this study are expected to provide input for BPJS Kesehatan and hospitals in improving the quality of Mobile JKN-based registration services. Keywords: Mobile JKN, outpatient registration, patient barriers, registration staff, healthcare services. ABSTRAK Latar Belakang: Mobile JKN merupakan aplikasi BPJS Kesehatan yang digunakan untuk mempermudah akses pelayanan kesehatan, termasuk pendaftaran rawat jalan secara online. Namun, dalam implementasinya masih ditemukan berbagai kendala teknis maupun kendala yang dialami pengguna sehingga dapat memengaruhi efektivitas proses pendaftaran. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alur penggunaan Mobile JKN pada proses pendaftaran rawat jalan serta mengidentifikasi kendala yang dialami pasien dan petugas pendaftaran di Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap tiga petugas pendaftaran, empat pasien pengguna Mobile JKN, serta satu Kepala Rekam Medis. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mobile JKN membantu pasien memperoleh nomor antrean tanpa harus datang lebih awal ke rumah sakit. Namun, masih ditemukan berbagai kendala, antara lain akses aplikasi yang lambat, keterlambatan pengiriman OTP, gangguan jaringan internet, kesalahan error pada aplikasi, serta ketidaksesuaian jadwal dokter yang ditampilkan. Pasien lanjut usia juga mengalami kesulitan dalam proses login, check-in, dan penggunaan fitur aplikasi sehingga memerlukan pendampingan dari keluarga maupun petugas pendaftaran. Kesimpulan: Mobile JKN telah memberikan kemudahan dalam proses pendaftaran rawat jalan, namun masih diperlukan penyempurnaan sistem aplikasi serta peningkatan edukasi kepada pengguna untuk mengoptimalkan implementasinya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi BPJS Kesehatan dan rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan pendaftaran berbasis Mobile JKN. Kata kunci: kendala penggunaan, Mobile JKN, pasien, pendaftaran rawat jalan, petugas pendaftaran.LAB CODING : LANTAI 4 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL41STUDI KASUS PENYELESAIAN PENGEMBALIAN KLAIM JKN DITINJAU DARI ASPEK KODING DI RSIJ PONDOK KOPI Farah Sunarto , Muhammad Fuad Iqbal , Bangga Agung Satrya , Daniel Happy Putra1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia farah.sunarto@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The National Health Insurance (JKN) program requires accurate diagnosis and procedure coding based on ICD-10 and ICD-9-CM so that claims can be reimbursed through the Indonesian Case Base Groups (INA-CBG's) system, yet pending claims still commonly occur and may disrupt hospital cash flow. Purpose: This study aimed to determine the frequency distribution of returned BPJS Health claims, identify the types of coding errors, and analyze how they were resolved at RSIJ Pondok Kopi during the June–August 2025 period. Method: A descriptive quantitative design with a case study approach was applied to 454 inpatient claim files with pending status. Result: Coding errors were the dominant cause of pending claims (265 files; 58%), followed by administrative factors (98 files; 22%) and clinical factors (91 files; 20%). Among the coding-related cases, the most frequent errors were codes inconsistent with clinical information (113 files; 43%), incorrect code assignment (48 files; 18%), combined codes (47 files; 18%), incorrect principal diagnosis selection (37 files; 14%), and omitted or incomplete codes (10 files each; 4%). Settlement was carried out through code revision in 171 files (65%) and retaining the original code with supporting clinical justification in 94 files (35%). Conclusion: Most pending claims were caused by technical coding errors, indicating the need for routine coding audits and closer coordination with attending physicians (DPJP) to reduce the rate of pending claims. Keywords: Coding Errors, INA-CBG's, JKN, Medical Records, Pending Claims ABSTRAK Latar Belakang: Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menuntut ketepatan koding diagnosis dan tindakan sesuai ICD-10 dan ICD-9-CM agar klaim dapat dibayarkan melalui sistem Indonesian Case Base Groups (INA-CBG's), namun klaim berstatus pending masih sering terjadi dan berpotensi mengganggu arus kas rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi frekuensi pengembalian klaim BPJS Kesehatan, mengidentifikasi jenis kesalahan koding, serta menganalisis bentuk penyelesaiannya di RSIJ Pondok Kopi periode Juni–Agustus 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus terhadap 454 berkas klaim rawat inap berstatus pending. Hasil: Kesalahan koding merupakan penyebab dominan pending klaim (265 berkas; 58%), diikuti faktor administrasi (98 berkas; 22%) dan klinis (91 berkas; 20%). Dari kasus koding, kesalahan terbanyak adalah kode tidak sesuai informasi klinis (113 berkas; 43%), salah penentuan kode (48 berkas; 18%), kode gabung (47 berkas; 18%), kesalahan penentuan diagnosis utama (37 berkas; 14%), serta omit code dan kode kurang lengkap masing-masing 10 berkas (4%). Penyelesaian dilakukan melalui revisi kode pada 171 berkas (65%) dan mempertahankan kode dengan argumentasi klinis pada 94 berkas (35%). Kesimpulan: Sebagian besar pending klaim disebabkan oleh kesalahan teknis koding, sehingga diperlukan audit koding secara berkala dan peningkatan koordinasi dengan DPJP untuk menurunkan angka pending klaim. Kata kunci: INA-CBG's, JKN, Kesalahan Koding, Klaim Pending, Rekam MedisLAB CODING : LANTAI 4 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL42EKSPLORASI PEMAHAMAN TERMINOLOGI MEDIS MAHASISWA REKAM MEDIS DALAM MENDUKUNG KOMPETENSI KLASIFIKASI DAN KODEFIKASI KLINIS: STUDI KUALITATIF Kezia Chalista Ananda Monika¹*, Nanda Aula Rumana², Laela Indawati³, Daniel Happy Putra⁴ ¹Instalasi Rekam Medis, Mayapada Hospital Tangerang, Tangerang, Indonesia Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia chsrty21@gmail.com* ABSTRACT Background: Medical terminology is a fundamental competency that medical records students must master to support the accurate clinical classification and codification. A lack of understanding of medical terminology can lead to coding errors that impact BPJS claims, morbidity reports, and patient safety. However, research exploring medical records students' understanding and application of medical terminology in clinical codification is still very limited. Purpose: This study aims to explore medical records students' understanding of medical terminology to support clinical classification and codification competencies at Esa Unggul University. Method: The study used a qualitative approach with a descriptive exploratory design. Eight informants were selected through purposive sampling, consisting of active 4 and 6 semester students of the Diploma III Medical Records and Health Information Study Program. Data were collected through in- depth semi-structured interviews and analyzed using OpenCode software through the stages of open coding, category grouping, and theme formation. Result: Five themes emerged from the analysis. (1) Student Understanding of Medical Terminology: students are at the Knows level in Miller's Pyramid, able to define terms and provide examples, but mastery of prefix-root-suffix is partial and uneven. (2) Medical Terminology Learning Experience: learning progresses gradually from theory to case studies; lecturer notes are the main source, supplemented by the internet, AI, and a medical terminology dictionary. (3) Barriers in Understanding Medical Terminology Related to Clinical Coding: three dimensions of barriers were found, namely linguistic (Latin/Greek and ambiguous abbreviations), cognitive (difficulty determining lead terms and differentiating primary-secondary diagnoses), and psychosocial (feeling reluctant to ask lecturers). (4) The Role of Medical Terminology in Supporting Clinical Classification and Coding Competence: understanding medical terminology plays a significant role in determining lead terms and interpreting ICD-10; lack of understanding impacts delayed BPJS claims, undercoding, and patient safety risks. (5) Needs for Medical Terminology Learning Development: Students require more interactive, case-based learning using original medical record documents, with a stronger emphasis on prefix-root-suffix structures and medical abbreviations. Conclusion: Students' understanding of medical terminology is functional but not yet optimal in supporting clinical codification competency. More interactive, case-based learning using original medical record documents is needed, as well as curriculum synergy between Medical Terminology and Clinical Codification Classification courses to improve student readiness for practice in healthcare facilities. Keywords: clinical codification, medical record students, Miller's Pyramid, qualitative research, medical terminology ABSTRAK Latar Belakang: Terminologi medis merupakan kompetensi dasar yang harus dikuasai mahasiswa rekam medis untuk mendukung ketepatan klasifikasi dan kodefikasi klinis. Kurangnya pemahaman terminologi medis dapat menyebabkan kesalahan pengkodean yang berdampak pada klaim BPJS, laporan morbiditas, dan keselamatan pasien. Namun, penelitian yang mengeksplorasi pemahaman dan penerapan terminologi medis oleh mahasiswa rekam medis dalam kodefikasi klinis masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pemahaman terminologi medis mahasiswa rekam medis dalam menunjang kompetensi klasifikasi dan kodefikasi klinis di Universitas Esa Unggul. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif eksploratif. Delapan informan dipilih melalui purposive sampling, terdiri dari mahasiswa aktif semester 4 dan semester 6 Program Studi D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan perangkat lunak OpenCode melalui tahapan open coding, pengelompokan kategori, dan penyusunan tema.LAB CODING : LANTAI 4 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL43Hasil: Terbentuk lima tema dari analisis. (1) Pemahaman Mahasiswa terhadap Terminologi Medis: mahasiswa berada pada level Knows dalam Miller's Pyramid, mampu mendefinisikan istilah dan memberikan contoh, namun penguasaan prefix-root-suffix bersifat parsial dan tidak merata. (2) Pengalaman Pembelajaran Terminologi Medis: pembelajaran berkembang bertahap dari teori menuju studi kasus; catatan dosen menjadi sumber utama, dilengkapi internet, AI, dan kamus terminologi medis. (3) Hambatan dalam Memahami Terminologi Medis yang Berkaitan dengan Kodefikasi Klinis: ditemukan tiga dimensi hambatan yaitu linguistik (bahasa Latin/Yunani dan singkatan ambigu), kognitif (kesulitan menentukan lead term dan membedakan diagnosis utama-sekunder), serta psikososial (rasa sungkan bertanya kepada dosen). (4) Peran Terminologi Medis dalam Menunjang Kompetensi Klasifikasi dan Kodefikasi Klinis: pemahaman terminologi medis berperan nyata dalam penentuan lead term dan interpretasi ICD-10; kurangnya pemahaman berdampak pada klaim BPJS tertunda, undercoding, dan risiko keselamatan pasien. (5) Kebutuhan Pengembangan Pembelajaran Terminologi Medis: mahasiswa membutuhkan pembelajaran lebih interaktif dan berbasis kasus nyata menggunakan dokumen rekam medis asli, dengan penguatan prioritas pada struktur prefix-root-suffix dan singkatan medis. Kesimpulan: Pemahaman terminologi medis mahasiswa bersifat fungsional namun belum optimal dalam menunjang kompetensi kodefikasi klinis. Diperlukan pembelajaran yang lebih interaktif dan berbasis kasus nyata menggunakan dokumen rekam medis asli, serta sinergi kurikulum antara mata kuliah Terminologi Medis dan Klasifikasi Kodefikasi Klinis untuk meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam praktik di fasilitas pelayanan kesehatan. Kata kunci: kodefikasi klinis, mahasiswa rekam medis, Miller's Pyramid, penelitian kualitatif, terminologi medisLAB CODING : LANTAI 4 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
PRESENTASI ORAL44ANALISIS PELAKSANAAN INTEGRASI SIMRS DALAM PROSES PENGAJUAN KLAIM BPJS DI RSUD KiSA KOTA DEPOK Salwa Fenisyah Aulia¹*, Puteri Fannya², Dina Sonia³, Laela Indawati⁴ Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia auliasalwa872@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Hospital Management Information System (HMIS) integration is essential in supporting effective healthcare services and ensuring the accuracy of BPJS Health claim submissions. However, the integration between HMIS and the BPJS claim system in several hospitals remains sub optimal, leading to duplicate work and delayed claim processing. Purpose: This study aimed to analyze the implementation of HMIS integration in the BPJS claim submission process, identify obstacles encountered during implementation, and examine the role of HMIS components in supporting claim submission activities at RSUD KiSA Kota Depok. Method: This study employed a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation and in-depth interviews with six informants consisting of medical record officers, casemix officers, and information technology staff. Result: HMIS Khanza has been integrated with BPJS e-Claim through an API bridging mechanism and generally supports the claim submission process effectively. Nevertheless, the integration has not yet been fully optimized because the system is not completely connected with iDRG and several data elements still require manual entry. The primary challenges include unstable network connectivity, system downtime, rapid changes in BPJS regulations and API specifications, inconsistencies in patient data, and differences in clinical coding competency among staff. HMIS components consisting of human resources, hardware, software, network infrastructure, and monitoring generally support claim submission activities, although further optimization remains necessary. Conclusion: HMIS integration has contributed positively to BPJS claim submission at RSUD KiSA Depok City. Strengthening interoperability, improving coding competency, and implementing proactive monitoring are recommended to optimize the electronic claim process. Keywords: BPJS Claim, HMIS, Integration, Medical Record. ABSTRAK Latar Belakang: Integrasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) sangat penting dalam mendukung layanan kesehatan yang efektif dan memastikan keakuratan pengajuan klaim BPJS Kesehatan. Namun, integrasi antara SIMRS dan sistem klaim BPJS di beberapa rumah sakit masih belum optimal, sehingga menyebabkan pekerjaan ganda dan keterlambatan dalam proses klaim. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan integrasi SIMRS dalam proses pengajuan klaim BPJS, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, serta menganalisis peran komponen SIMRS dalam mendukung proses pengajuan klaim di RSUD KiSA Kota Depok. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari petugas rekam medis, casemix, dan teknologi informasi. Hasil: SIMRS Khanza telah terintegrasi dengan e-Klaim BPJS melalui mekanisme bridging API dan secara umum mendukung proses pengajuan klaim secara efektif. Namun, integrasi tersebut belum sepenuhnya optimal karena sistem belum terhubung secara menyeluruh dengan iDRG sehingga sebagian proses masih dilakukan secara manual. Kendala utama yang dihadapi meliputi gangguan jaringan yang tidak stabil, downtime sistem, perubahan cepat pada regulasi BPJS dan spesifikasi API, ketidaksesuaian data antar sistem, dan perbedaan kompetensi petugas dalam melakukan pengkodean diagnosis. Komponen SIMRS yang terdiri dari sumber daya manusia, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan, dan pemantauan secara umum telah mendukung proses pengajuan klaim, meskipun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Kesimpulan: Pelaksanaan integrasi SIMRS telah memberikan kontribusi positif terhadap pengajuan klaim BPJS di RSUD KiSA Kota Depok, namun optimalisasi interoperabilitas sistem, peningkatan kompetensi SDM, serta monitoring sistem secara real-time masih diperlukan untuk meningkatkan efektivitas proses klaim. Kata kunci: Bridging, Klaim BPJS, Rekam Medis, SIMRS, Sistem Informasi.LAB CODING : LANTAI 4 GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGUL
RUANG 211 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL45ANALISIS KUALITATIF KEKONSISTENSIAN DIAGNOSIS REKAM MEDIS RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT KHUSUS X JAKARTA Solikhin Harunsah¹*, Lily Widjaja², Muhammad Fuad Iqbal³, Puteri Fannya⁴ Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia solikhin.82@gmail.com* ABSTRACT Background: Qualitative medical record analysis is an effort to assess the quality of clinical documentation, particularly the completeness and consistency of information. Diagnostic consistency is essential to ensure continuity of care, support healthcare financing claims, audits, and accreditation, and improve patient safety. Inconsistent diagnostic documentation may result in inaccurate clinical information and affect healthcare decision-making. Objective: This study aimed to describe the consistency of diagnostic documentation in inpatient medical records at Special Hospital X Jakarta based on diagnoses documented at admission, during hospitalization, and at discharge. Methods: This study used a descriptive method with a quantitative approach. The sample consisted of 69 inpatient medical records. Data were collected using a qualitative analysis instrument for diagnostic consistency and analyzed descriptively based on three stages of clinical documentation: admission, during hospitalization, and discharge. Results: Diagnostic inconsistencies were identified in 28 medical records (40.58%) at admission, 17 medical records (24.64%) during hospitalization, and 8 medical records (11.11%) at discharge. These findings indicate a decrease in diagnostic inconsistency at each stage of care; however, discrepancies in diagnostic documentation were still identified and may affect the continuity of clinical information. Conclusion: Diagnostic consistency in inpatient medical records needs to be improved, particularly at the initial stage of care. Diagnostic inconsistencies may affect the quality of medical documentation, continuity of care, JKN/BPJS Health Insurance claims, as well as audit and accreditation processes. Hospitals should strengthen the implementation of Standard Operating Procedures (SOPs), improve staff competencies through training, and conduct regular monitoring and evaluation to enhance the consistency of diagnostic documentation. Keywords: Qualitative Analysis, Diagnostic Consistency, Inpatient Medical Records, Medical Record Quality. ABSTRAK Latar Belakang: Analisis kualitatif rekam medis merupakan salah satu upaya untuk menilai mutu dokumentasi klinis, khususnya kelengkapan dan kekonsistensian informasi. Kekonsistensian diagnosis penting untuk menjamin kesinambungan pelayanan, mendukung proses klaim pembiayaan, audit dan akreditasi, serta meningkatkan keamanan pasien. Ketidakkonsistensian diagnosis dapat menyebabkan ketidakakuratan informasi klinis dan memengaruhi pengambilan keputusan pelayanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kekonsistensian pengisian diagnosis pada rekam medis rawat inap di Rumah Sakit Khusus X Jakarta berdasarkan dokumentasi diagnosis saat pasien masuk, selama perawatan, dan saat pasien pulang. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri atas 69 rekam medis rawat inap. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen analisis kualitatif kekonsistensian diagnosis, kemudian hasil dianalisis secara deskriptif berdasarkan tiga tahapan dokumentasi pelayanan, yaitu saat masuk, selama perawatan, dan saat pulang. Hasil: Ketidakkonsistensian diagnosis ditemukan pada 28 rekam medis (40,58%) saat masuk, 17 rekam medis (24,64%) selama perawatan, dan 8 rekam medis (11,11%) saat pulang. Hasil tersebut menunjukkan adanya penurunan ketidakkonsistensian diagnosis pada setiap tahapan pelayanan, namun masih ditemukan ketidaksesuaian dokumentasi yang berpotensi memengaruhi kesinambungan informasi klinis. Kesimpulan: Kekonsistensian diagnosis pada rekam medis rawat inap masih perlu ditingkatkan, terutama pada tahap awal pelayanan. Ketidakkonsistensian diagnosis berpotensi memengaruhi mutu dokumentasi, kesinambungan pelayanan, proses klaim JKN/BPJS Kesehatan, serta pelaksanaan audit dan akreditasi. Rumah sakit perlu memperkuat penerapan SPO, meningkatkan kompetensi petugas melalui pelatihan, serta melaksanakan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk meningkatkan konsistensi dokumentasi diagnosis. Kata Kunci: Analisis kualitatif, kekonsistensian diagnosis, rekam medis rawat inap, mutu rekam medis.
RUANG 211 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL46WORKLOAD-BASED STAFFING ANALYSIS OF HEALTH INFORMATION MANAGEMENT PERSONNEL AT PASAR MINGGU DISTRICT HEALTH CENTER Puteri Fannya , Laela Indawati , Baiq Ema Prayitna , Gustave Handika Halawa , Anindya Nasywa Azzahra , Dwina Rinata Palupi 1* 2 3 4 5 6 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1-6 Universitas Esa Unggul, Indonesia puteri.fannya@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Adequate staffing of Health Information Management (HIM) personnel is essential to ensure effective patient registration and medical record management in primary healthcare. Staffing that does not correspond to workload may reduce service efficiency and increase the burden on available personnel. Purpose: This study aimed to analyze the staffing requirements of HIM personnel based on workload and identify the gap between current and required staffing at Pasar Minggu District Health Center. Method: A descriptive quantitative approach was applied using the Health Workload Analysis (ABK- Kes) method. The analysis included available working time, workload components and time norms, workload standards, supporting task standards, and calculation of required personnel. The main activities analyzed were patient registration, medical record assembling, and filing. Result: The available working time was 78,300 minutes/year. With a time norm of 3 minutes for each main activity, the workload standard was 26,100 activities/year. The supporting task factor was 4%, resulting in a supporting task standard of 1.04. The calculated staffing requirement was 7.696, rounded to 8 personnel, while only 6 personnel were currently available. Therefore, there was a shortage of 2 personnel, primarily in patient registration, whereas staffing for assembling and filing was sufficient. Conclusion: The number of HIM personnel at Pasar Minggu District Health Center does not meet workload-based staffing requirements. Adding two personnel, particularly to support patient registration, is recommended to achieve a more proportional distribution of human resources and support service efficiency. Keywords: ABK-Kes; health information management; staffing requirements; workload ABSTRAK Latar Belakang: Ketersediaan tenaga Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) yang sesuai dengan beban kerja penting untuk menjamin efektivitas pelayanan pendaftaran pasien dan pengelolaan rekam medis di pelayanan kesehatan primer. Ketidaksesuaian jumlah tenaga dengan beban kerja dapat menurunkan efisiensi pelayanan dan meningkatkan beban tenaga yang tersedia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan tenaga PMIK berdasarkan beban kerja serta mengidentifikasi kesenjangan antara jumlah tenaga yang tersedia dan kebutuhan tenaga di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABK-Kes). Analisis meliputi Waktu Kerja Tersedia, komponen beban kerja dan norma waktu, Standar Beban Kerja, Standar Tugas Penunjang, serta perhitungan kebutuhan tenaga. Kegiatan pokok yang dianalisis meliputi pendaftaran pasien, assembling, dan filing rekam medis. Hasil: Waktu Kerja Tersedia sebesar 78.300 menit/tahun. Dengan norma waktu 3 menit untuk setiap kegiatan pokok, diperoleh Standar Beban Kerja sebesar 26.100 kegiatan/tahun. Faktor Tugas Penunjang sebesar 4% menghasilkan Standar Tugas Penunjang 1,04. Kebutuhan tenaga hasil perhitungan sebesar 7,696 atau dibulatkan menjadi 8 orang, sedangkan tenaga yang tersedia sebanyak 6 orang. Dengan demikian, terdapat kekurangan 2 tenaga, terutama pada kegiatan pendaftaran pasien, sedangkan tenaga untuk assembling dan filing telah mencukupi. Kesimpulan: Jumlah tenaga PMIK di Puskesmas Kecamatan Pasar Minggu belum memenuhi kebutuhan berdasarkan beban kerja. Penambahan dua tenaga, terutama untuk mendukung pendaftaran pasien, direkomendasikan agar distribusi sumber daya manusia lebih proporsional dan efisiensi pelayanan dapat ditingkatkan. Kata kunci: ABK-Kes; beban kerja; kebutuhan tenaga; perekam medis dan informasi kesehatan
RUANG 211 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL47TINGKAT PERILAKU DAN KEPATUHAN PMIK TERHADAP KEAMANAN DAN KERAHASIAAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK Dina Sonia , Isya Syilviana Putri1 2 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2 Universitas Esa Unggul, Indonesia dina.sonia@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Electronic Medical Record (EMR) are an important component of health information systems because they improve the efficiency and accuracy of patient data management. However, their implementation also presents serious challenges related to access to and exchange of health information, including increased risks of unauthorized access and confidentiality breaches. As key EMR users, medical records officer play an essential role in protecting this information. This study therefore examined their behavior and compliance in maintaining EMR security and confidentiality. Purpose: To identify the level of behavior and compliance of medical records officer towards EMR security and confidentiality. Method: This descriptive quantitative study involved a sample of 97 medical records officer working at healthcare facilities in Jakarta Province that had implemented EMR. Data were collected using a questionnaire and analyzed using frequency distributions. The Kolmogorov Smirnov test indicated that the data were not normally distributed; therefore, high and low categories were determined using median values. Result: High category behavior was observed for subjective norm (58.76%), attitude (56.70%), and perceived behavioral control (55.67%). High category compliance was highest for instrumental compliance (72.16%), followed by normative compliance (68.04%) and identity based compliance (55.67%). Low category proportions were 41.23% for subjective norm, 43.29% for attitude, 44.32% for perceived behavioral control, and 44.32% for identity based compliance. Conclusion: Behavior and compliance regarding EMR security and confidentiality were generally high but uneven. Training, technical support, supervision, and professional culture should be strengthened, particularly to improve behavioral control and internalize compliance as part of professional identity. Keywords: Behavior; Compliance; Electronic Medical Records; Information Security; Medical Records Officer. ABSTRAK Latar Belakang: Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) menjadi bagian penting dalam sistem informasi kesehatan karena mampu meningkatkan efisiensi dan akurasi pengelolaan data pasien. Namun, perkembangan ini juga memunculkan tantangan serius, terutama terkait akses dan pertukaran informasi kesehatan, sekaligus meningkatkan risiko akses yang tidak sah dan pelanggaran kerahasiaan. Petugas rekam medis sebagai salah satu pengguna RME memiliki peran penting dalam menjaga keamanan informasi tersebut. Hal ini mendukung untuk dilakukan penelitian terkait perilaku dan kepatuhan petugas rekam medis dalam menjaga keamanan dan kerahasiaan. Tujuan: Mengidentifikasi tingkat perilaku dan kepatuhan petugas rekam medis terhadap keamanan dan kerahasiaan RME. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif, dengan jumlah sampel 97 petugas rekam medis di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Provinsi DKI Jakarta yang telah menerapkan RME. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan rumus distribusi frekuensi. Berdasarkan hasil pengujian dengan Kolmogorov Smirnov pada instrumen penelitian, didapatkan data tidak terdistribusi normal sehingga penetapan kategori tinggi dan rendah ditentukan menggunakan nilai median. Hasil: Perilaku kategori tinggi ditemukan pada norma subjektif sebesar 58,76%, sikap 56,70%, dan kontrol perilaku 55,67%. Kepatuhan kategori tinggi paling banyak terdapat pada kepatuhan instrumental sebesar 72,16%, diikuti kepatuhan normatif 68,04% dan kepatuhan identitas 55,67%. Proporsi kategori rendah masih mencapai 41,23% pada norma subjektif, 43,29% pada sikap, 44,32% pada kontrol perilaku, dan 44,32% pada kepatuhan identitas. Kesimpulan: Perilaku dan kepatuhan petugas rekam medis terhadap keamanan dan kerahasiaan RME cenderung tinggi, tetapi belum merata. Penguatan pelatihan, dukungan teknis, pengawasan, dan budaya profesional diperlukan, terutama untuk meningkatkan kontrol perilaku dan internalisasi kepatuhan sebagai identitas profesional. Kata kunci: Perilaku; Kepatuhan; Petugas Rekam Medis, Keamanan Informasi, Rekam Medis Elektronik.
RUANG 211 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL48PRIORITAS RISIKO DISTRIBUSI REKAM MEDIS BERDASARKAN FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS DI PUSKESMAS MAMPANG PRAPATAN Bangga Agung Satrya , Puteri Fannya , Erni Suryani ,Syaakira Noor Fitriani , Maria Oliva Deseng ,1* 2 3 4 5 Lintang Triyani Dewi , Giovani Akbar Hidayat , Amanda Nathania6 7 8 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,4,5,6,7,8 Universitas Esa Unggul, Indonesia Unit Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, Indonesia3 bangga.agung@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Manual retrieval and distribution of medical records may cause errors in patient identification and destination, compromising record availability and service timeliness. Risk prioritization is required to strengthen medical record quality management. Purpose: To identify and prioritize failure modes in the retrieval, filing, and distribution of medical records at Mampang Prapatan Health Center. Method: This descriptive case study used interviews with medical record staff to identify potential failure modes, their effects, and their causes. Each failure mode was scored for severity, occurrence, and detection; the scores were multiplied to obtain the Risk Priority Number (RPN). Result: Four failure modes were identified. Incorrect writing of the patient number, name, and destination unit was the highest priority (RPN 54; severity 6, occurrence 3, detection 3). Inconsistent patient number and name ranked second (RPN 48). Prolonged retrieval and incorrect destination labels each had an RPN of 36. The main causes were insufficient staff accuracy and continued use of a manual tracer. Conclusion: Incorrect documentation of the patient number, name, and destination unit is the primary risk in medical record distribution. Verification of these data before distribution should be prioritized to support timely service and reliable health information. Keywords: failure mode and effect analysis; medical record distribution; patient identification; primary health care; risk management. ABSTRAK Latar Belakang: Proses pengambilan kembali dan distribusi rekam medis secara manual berpotensi menimbulkan kesalahan identitas pasien dan unit tujuan yang dapat mengganggu ketersediaan rekam medis serta ketepatan waktu pelayanan. Prioritas risiko diperlukan untuk memperkuat pengelolaan mutu rekam medis. Tujuan: Mengidentifikasi dan menentukan prioritas modus kegagalan pada proses retrieval, filing, dan distribusi rekam medis di Puskesmas Mampang Prapatan. Metode: Studi kasus deskriptif ini menggunakan wawancara dengan petugas rekam medis untuk mengidentifikasi modus kegagalan potensial, dampak, dan penyebabnya. Setiap modus kegagalan dinilai berdasarkan severity, occurrence, dan detection, kemudian dikalikan untuk memperoleh Risk Priority Number (RPN). Hasil: Ditemukan empat modus kegagalan. Salah menulis nomor, nama pasien, dan unit tujuan menjadi prioritas tertinggi dengan RPN 54 (severity 6, occurrence 3, detection 3). Ketidaksesuaian nomor dan nama pasien menempati prioritas kedua dengan RPN 48. Retrieval yang memerlukan waktu lama dan kesalahan penempelan label unit tujuan masing-masing memiliki RPN 36. Penyebab utama adalah ketelitian petugas yang belum optimal dan penggunaan tracer yang masih manual. Kesimpulan: Kesalahan pencatatan nomor, nama pasien, dan unit tujuan merupakan risiko utama dalam distribusi rekam medis. Verifikasi data sebelum distribusi perlu diprioritaskan untuk mendukung ketepatan waktu pelayanan dan keandalan informasi kesehatan. Kata kunci: distribusi rekam medis; failure mode and effect analysis; identifikasi pasien; manajemen risiko; puskesmas
RUANG 211 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL49EVALUASI IMPLEMENTASI REKAM MEDIS ELEKTRONIK RAWAT JALAN MENGGUNAKAN MODEL DELONE MCLEAN DI RSIJ SUKAPURA Fenisa Nurmalia Nursi , Daniel Happy Putra , Bangga Agung Satrya , Muhammad Fuad Iqbal1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia fenisaanurmalia@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Digital transformation in healthcare encourages healthcare facilities to implement Electronic Medical Records (EMR) to improve service effectiveness, efficiency, and quality. Although EMR has been implemented at Jakarta Sukapura Islamic Hospital, evaluation is still needed to determine the success level of the system based on users’ perceptions as a basis for continuous improvement. Purpose: This study aimed to evaluate the success level of outpatient EMR implementation at Jakarta Sukapura Islamic Hospital based on six dimensions of the DeLone and McLean Model, namely system quality, information quality, service quality, use, user satisfaction, and net benefits. Method: This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 77 respondents selected through stratified random sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using univariate analysis with the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Result: The results showed that EMR implementation was rated good across all dimensions: system quality (93.5%), information quality (94.8%), service quality (93.5%), use (93.5%), user satisfaction (90.9%), and net benefits (96.1%). The highest percentage was found in the net benefits dimension, while the lowest was user satisfaction. Conclusion: Outpatient EMR implementation at Jakarta Sukapura Islamic Hospital demonstrated a good success level across all dimensions of the DeLone and McLean Model. The findings indicate that EMR supports service effectiveness and provides benefits for users and the organization. This study provides empirical evidence that can serve as a basis for continuous system evaluation and development to improve healthcare service quality and support future research. Keywords: DeLone and McLean; Electronic Medical Records; Information System Evaluation; Outpatient Services; Jakarta Sukapura Islamic Hospital. ABSTRAK Latar Belakang: Transformasi digital di bidang kesehatan mendorong seluruh fasilitas pelayanan kesehatan menerapkan Rekam Medis Elektronik (RME) untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan mutu pelayanan. Meskipun RME telah diterapkan di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Sukapura, evaluasi implementasi tetap diperlukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan sistem berdasarkan persepsi pengguna sehingga dapat menjadi dasar perbaikan berkelanjutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan implementasi RME rawat jalan di RSIJ Sukapura berdasarkan enam dimensi Model DeLone dan McLean, yang meliputi system quality, information quality, service quality, use, user satisfaction, dan net benefits. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 77 responden yang dipilih menggunakan teknik stratified random sampling, data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert dan di analisis secara univariat menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Hasil: Hasil Penelitian menunjukkan bahwa implementasi RME memperoleh penilaian baik pada seluruh dimensi, yaitu system quality (93,5%), information quality (94,8%), service quality (93,5%), use (93,5%), user satisfaction (90,9%), dan net benefits (96,1%). Variabel dengan persentase tertinggi adalah net benefits, sedangkan persentase terendah adalah user satisfaction. Kesimpulan: Implementasi RME rawat jalan di RSIJ Sukapura menunjukkan tingkat keberhasilan yang baik pada seluruh dimensi Model DeLone dan McLean. Temuan ini mengindikasikan bahwa implementasi RME mendukung efektivitas pelayanan serta memberikan manfaat bagi pengguna dan organisasi, keberhasilan implementasi RME yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi dan pengembangan sistem secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan, serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya. Kata kunci: DeLone dan McLean; Evaluasi Sistem Informasi; Rawat Jalan; Rekam Medis Elektronik; Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura
RUANG 211 : GEDUNG A UNIVERSITAS ESA UNGGULPRESENTASI ORAL50INTEGRASI DATA MULTISEKTORAL UNTUK SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN BENCANA: TINJAUAN SISTEMATIS Laela Indawati , Maula Febby Rilliyanto1* 2 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2 Universitas Esa Unggul, Indonesia laela.indawati@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Disaster response depends on timely information from health services, displaced populations, housing, and critical infrastructure. In practice, these data are often stored in separate systems, making it difficult for decision-makers to see the situation as a whole. Purpose: This study examined how multisectoral data are integrated to support disaster decision-making, the disaster phases in which integration is used, and the analytical approaches and maturity of the available evidence. Method: A PRISMA-guided systematic review was conducted using Scopus records searched in September 2026. Titles, abstracts, and accessible full texts were screened using predefined criteria requiring linkage of at least two target data domains. Eligible studies were synthesised narratively by data domain, disaster phase, integration mechanism, supported decision, and evidence limitation. Result: Of 748 studies identified, 36 studies met the inclusion criteria. Critical infrastructure was the most frequently integrated domain, followed by health, housing, and displacement. Integration was used mainly for preparedness, followed by response and recovery. Approaches ranged from spatial matching, network analysis, shared geodatabases, minimum datasets, schema harmonisation, ontologies, and APIs to simulation and artificial intelligence. These systems supported risk mapping, facility and shelter selection, evacuation routing, healthcare access, resource allocation, and recovery monitoring. Conclusion: Multisectoral data integration is moving beyond static mapping towards more connected and adaptive decision-support systems. However, evidence of measurable operational and health benefits remains limited, indicating a need for stronger comparative evaluation and field-based implementation studies. Keywords: data integration; decision support systems; disaster management; information systems ABSTRAK Latar Belakang: Penanganan bencana membutuhkan informasi yang cepat dan utuh dari layanan kesehatan, pengungsian, hunian, dan infrastruktur kritis. Dalam praktiknya, data tersebut sering tersimpan pada sistem yang berbeda sehingga pengambil keputusan sulit melihat kondisi bencana secara menyeluruh. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menelaah bagaimana data multisektoral diintegrasikan untuk mendukung pengambilan keputusan bencana, pada fase apa integrasi digunakan, serta pendekatan analitik dan tingkat kematangan bukti yang tersedia. Metode: Tinjauan sistematis dilakukan mengikuti pedoman PRISMA menggunakan rekod Scopus yang ditelusuri pada September 2026. Judul, abstrak, dan teks lengkap yang dapat diakses diseleksi berdasarkan kriteria yang mensyaratkan keterhubungan sedikitnya dua domain data. Studi yang memenuhi kriteria disintesis secara naratif berdasarkan domain data, fase bencana, mekanisme integrasi, keputusan yang didukung, dan keterbatasan bukti. Hasil: Dari 748 studi yang teridentifikasi, 36 studi memenuhi kriteria inklusi. Infrastruktur kritis merupakan domain yang paling sering terintegrasi, diikuti kesehatan, hunian, dan pengungsian. Integrasi terutama digunakan pada kesiapsiagaan, respons, dan pemulihan. Pendekatan yang ditemukan mencakup pencocokan spasial, analisis jaringan, geodatabase bersama, minimum dataset, harmonisasi skema, ontologi, API, simulasi, hingga kecerdasan buatan. Sistem tersebut mendukung pemetaan risiko, pemilihan fasilitas dan shelter, rute evakuasi, akses layanan kesehatan, alokasi sumber daya, serta pemantauan pemulihan. Kesimpulan: Integrasi data multisektoral berkembang dari pemetaan statis menuju sistem pendukung keputusan yang semakin terhubung dan adaptif. Namun, bukti manfaat operasional dan kesehatan yang terukur masih terbatas, sehingga diperlukan evaluasi komparatif yang lebih kuat dan pengujian melalui penerapan di lapangan. Kata kunci: integrasi data; manajemen bencana; sistem informasi; sistem pendukung keputusan
PRESENTASI POSTER51ANALISIS HAMBATAN MAHASISWA D-III REKAM MEDIS UNIVERSITAS ESA UNGGUL DALAM MENYUSUN KARYA TULIS ILMIAH Lilis Tri Astuti , Bangga Agung Satrya , Noerfitri , Nanda Aula Rumana1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia 1,2,3,4 lilistriastuti@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Completing a final project is a mandatory academic requirement for students in the medical record and health information study program. However, students frequently encounter complex challenges that delay their timely graduation. Purpose: This study aims to analyze the internal and external barriers experienced by final-year students during the final project development at Universitas Esa Unggul. Method: A qualitative descriptive approach was employed using purposive sampling, involving seven final-year students from the D-III Medical Record and Health Information Study Program at Universitas Esa Unggul. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana interactive model. Result: The findings reveal that internal barriers are primary driven by affective factors, including procrastination, guidance anxiety, and waning intrinsic motivation. These psychological hurdles manifest as somatic symptoms (physical fatigue and sleep disturbances) and are exacerbated by cognitive difficulties in academic writing and statistical data analysis. Meanwhile, external barriers encompass technical communication challenges regarding supervisor revisions, hardware limitations with the risk of data loss, and digital distractions caused by self-regulation deficits in the learning environment. Conclusion: Psychological obstacles act as the primary determinant affecting academic completion. Consequently, academic mentoring should extend beyond technical guidance to incorporate psychological support and digital literacy enhancements, such as cloud storage adoption for data risk mitigation. Keywords: Barriers, Final Project, Medical Records, Procrastination, Self-Regulation. ABSTRAK Latar Belakang: Penyusunan tugas akhir merupakan syarat kelulusan akademik yang wajib dipenuhi oleh mahasiswa program studi rekam medis dan informasi kesehatan. Meskipun demikian, mahasiswa sering kali menghadapi kendala kompleks yang menghambat ketepatan waktu penyelesaian studi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan internal dan eksternal yang dialami mahasiswa tingkat akhir selama proses penyusunan tugas akhir di Universitas Esa Unggul. Metode: Penelitian kualitatif deskriptif ini menggunakan teknik purposive sampling yang melibatkan tujuh mahasiswa tingkat akhir Prodi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Universitas Esa Unggul. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam (in-depth interview) dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan internal didominasi oleh faktor afektif berupa prokrastinasi, kecemasan saat bimbingan, dan penurunan motivasi intrinsik. Hambatan psikologis ini bermanifestasi menjadi gejala somatisasi (kelelahan fisik dan gangguan tidur), serta diperberat oleh keterbatasan kognitif dalam penulisan akademis dan pengolahan data statistik. Sementara itu, hambatan eksternal meliputi tantangan komunikasi teknis terkait arahan revisi pembimbing, keterbatasan perangkat keras yang berisiko menyebabkan kehilangan data, serta distraksi digital akibat defisit regulasi diri di lingkungan belajar. Kesimpulan: Hambatan psikologis menjadi faktor penentu utama yang memengaruhi kelancaran penyelesaian studi. Oleh karena itu, pendampingan akademik perlu diperluas dengan mengintegrasikan dukungan psikologis serta penguatan literasi digital, termasuk pemanfaatan penyimpanan awan (cloud storage) sebagai strategi mitigasi risiko data. Kata kunci: Hambatan, Tugas Akhir, Prokrastinasi, Regulasi Diri, Rekam Medis.
PRESENTASI POSTER52KETEPATAN PENGKODEAN DAN PENGGUNAAN ISTILAH DIAGNOSIS CEDERA DAN EXTERNAL CAUSE DI RSUD KEMBANGAN Salsabila Aurellya Bachtiar , Deasy Rosmala Dewi , Laela Indawati , Noor Yulia1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia clxsaviella@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Accurate documentation of injury diagnoses and external causes is crucial for ICD-10 to support the quality of medical record data, morbidity reporting, hospital statistics and healthcare financing claims. However, inaccuracies in medical summaries frequently lead to coding errors, significantly impacting medical record data quality, ICD-10 consistency and healthcare decision- making. Objective: This study aimed to analyze the accuracy of injury diagnosis terminology and external cause terminology, the accuracy of ICD-10 and the factors influencing coding accuracy at Kembangan Regional General Hospital. Methods: A quantitative study with a cross-sectional study design was conducted using 89 electronic medical records of injury cases from January-December 2024. Data were collected through ICD-10 based observations and interviews with the head of the medical records unit, coders and physicians. Data were analyzed descriptively using frequency distributions and percentace to evaluate the quality of diagnosis documentation and coding accuracy. Results: The accuracy rates were 41.57% for injury diagnosis terminology, 3.37% for external cause terminology, 38.20% for injury coding, and 3.37% for external cause coding. Inaccuracies were primarily attributed to non-specific diagnoses; incomplete documentation of injury location, place of occurrence and patient activity; the absence of standard operating procedures for external cause coding; hospital information system limitations; and a lack of ICD-10 training. Conclusion: The accuracy of diagnosis terminology and external cause coding at Kembangan Regional General Hospital remains low. Developing standard operating procedures, conducting periodic ICD-10 training and enhancing the hospital information system are necessary to improve medical record data quality, coding accuracy and the quality of health information. Keywords: Coding Accuracy; External Cause; ICD-10; Injury Diagnosis; Medical records. ABSTRAK Latar Belakang: Ketepatan pengisian diagnosis cedera dan penyebab luar (external cause) sangat penting dalam pengkodean ICD-10 untuk mendukung mutu data rekam medis, pelaporan morbiditas, statistik rumah sakit, dan klaim pembiayaan kesehatan. Namun, ketidaktepatan pada resume medis masih sering ditemukan kesalahan pengkodean sehingga sangat berdampak pada kualitas data rekam medis, konsistensi pengodean ICD-10 dan pengambilan keputusan pelayanan kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis ketepatan penggunaan istilah diagnosis cedera, istilah external cause, ketepatan pengkodean ICD-10, serta faktor-faktor yang memengaruhi ketepatan pengkodean di RSUD Kembangan. Metode: Penelitian kuantitatif dengan studi desain cross-sectional dilakukan menggunakan 89 rekam medis elektronik kasus cedera periode Januari-Desember 2024. Data dikumpulkan melalui observasi berbasis ICD-10 dan wawancara dengan kepala unit rekam medis, petugas koder, serta dokter. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase untuk mengevaluasi kualitas pengisian diagnosis dan ketepatan pengkodean. Hasil: Ketepatan penggunaan istilah diagnosis cedera sebesar 41,57%, ketepatan penggunaan istilah external cause sebesar 3,37%, ketepatan pengkodean cedera sebesar 38,20%, dan ketepatan pengkodean external cause sebesar 3,37%. Ketidaktepatan terutama disebabkan oleh diagnosis yang belum spesifik, pengisian lokasi cedera, tempat kejadian, dan aktivitas pasien yang belum lengkap, belum adanya standar operasional prosedur pengkodean external cause, keterbatasan sistem informasi rumah sakit, serta kurangnya pelatihan ICD-10. Kesimpulan: Ketepatan penggunaan istilah diagnosis dan pengkodean external cause di RSUD Kembangan masih rendah. Penyusunan standar operasional prosedur, pelatihan ICD-10 secara berkala, serta pengembangan sistem informasi rumah sakit diperlukan untuk meningkatkan kualitas data rekam medis, ketepatan pengkodean diagnosis dan mutu informasi kesehatan. Kata Kunci: Diagnosis Cedera; ICD-10; Ketepatan Pengkodean; Penyebab Luar; Rekam Medis.
PRESENTASI POSTER53FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGEMBALIAN KLAIM BPJS DI RUMAH SAKIT BHAKTI MULIA Clarita Angela Merici Darman , Deasy Rosmala Dewi , Dina Sonia , Laela Indawati1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia angellaenjell9@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The return of BPJS claims is a frequent problem in hospitals, leading to delays in fund disbursement, increased staff workload, and disruption of hospital cash flow. Based on observations at Bhakti Mulia Hospital, claim returns were still found due to incomplete documentation, medical procedures not recorded in medical records, medications not entered into the system, and incomplete supporting examination results. Purpose: This study aims to examine the implementation of BPJS claims, analyze BPJS claim returns, and identify the factors influencing BPJS claim returns based on the 5M factors (man, method, material, machine, and money) at Bhakti Mulia Hospital. Method: This study employed a qualitative research method with a descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document review. Research informants were selected using purposive sampling technique, consisting of outpatient casemix coding officers, inpatient casemix coding officers, casemix verification officers, BPJS claim staff, and the head of the casemix unit. Result: The results showed that the implementation of BPJS claims had been carried out according to the flow, starting from file collection, coding, internal verification, to claim submission. However, claim returns were still found due to discrepancies in diagnosis, coding, and medical indications, incomplete supporting documents, obstacles in the information system, and limited human resources. Conclusion: Material and man factors were the most dominant factors contributing to BPJS claim returns at Bhakti Mulia Hospital. This study contributes to identifying the root causes of claim returns, making it valuable for further investigation to improve the hospital's claim system. Keywords: BPJS Health, 5M Factors, Claim Returns, Medical Records, Bhakti Mulia Hospital. ABSTRAK Latar Belakang: Pengembalian klaim BPJS ialah persoalan yang banyak terdapat di rumah sakit juga mengakibatkan terlambatnya pencairan dana, peningkatan beban kerja petugas, serta terganggunya arus kas rumah sakit. Berlandaskan perolehan observasi di Rumah Sakit Bhakti Mulia, masih ada pengembalian klaim yang disebabkan oleh ketidaklengkapan dokumen, laporan tindakan yang tidak tercantum dalam rekam medis, obat yang tidak terinput dalam sistem, serta hasil pemeriksaan penunjang yang tidak lengkap. Tujuan: Pengkajian ini berupaya memahami penjalanan klaim BPJS, menganalisa pengembalian klaim BPJS, serta mengidentifikasi penyebab yang memberi dampak pengembalian klaim BPJS berlandaskan penyebab 5M (man, method, material, machine, dan money) di Rumah Sakit Bhakti Mulia. Metode: Pengkajian ini mempergunakan cara pengkajian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pengakumulasian data dijalankan dari wawancara, observasi, juga telaah dokumen. Informan pengkajian dipilih mempergunakan teknik purposive sampling yang termasuk petugas casemix coding rawat jalan, petugas casemix koding rawat inap, petugas verifikasi casemix, staf bagian klaim BPJS, dan kepala unit casemix. Hasil: Perolehan pengkajian menjabarkan jika penjalanan klaim BPJS sudah terlaksana searah pada alur mulai dari pengumpulan berkas, koding, verifikasi internal, sampai pengajuan klaim. Tetapi, masih ditemukan pengembalian klaim yang disebabkan oleh ketidaksesuaian diagnosis, coding, dan indikasi medis, ketidaklengkapan dokumen pendukung, kendala pada sistem informasi, serta keterbatasan sumber daya manusia. Kesimpulan: Faktor material dan man menjadi penyebab yang paling banyak pada terjadinya pengembalian klaim BPJS di Rumah Sakit Bhakti Mulia. Pengkajian ini memberikan kontribusi dalam mengidentifikasi akar permasalahan pengembalian klaim hingga layak untuk ditindaklanjuti guna perbaikan sistem klaim di rumah sakit. Kata kunci: BPJS Kesehatan, Faktor 5M, Pengembalian Klaim, Rekam Medis, Rumah Sakit Bhakti Mulia.
PRESENTASI POSTER54ANALISIS PENANGANAN KOMPLAIN PASIEN TERHADAP PETUGAS PENDAFTARAN DI PUSKESMAS PALMERAH Rizka Amelia Putri , Dina Sonia , Muhammad Fuad Iqbal , Noerfitri1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia 1,2,3,4 rizka@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Puskesmas as a primary health care facility holds a strategic role in the national health system, with the registration unit serving as the front line of patient interaction, making its service quality decisive for patients' first impressions. Patient complaints are an important indicator of health service quality, and unresolved complaints can lower patient satisfaction, increase conflict, damage institutional image, and heighten legal risk. An analysis of Google reviews for Puskesmas Palmerah found 265 negative reviews (19.6%) out of 1,354 reviews, mostly related to unfriendly staff attitudes, inefficient night-shift service, and disorderly queue systems. Purpose: This study aims to identify the types and forms of patient complaints, describe the complaint-handling procedures at the registration unit, and explore registration staff experiences in facing patient complaints at Puskesmas Palmerah. Method: This study used a qualitative approach with a case study design, through direct observation and in-depth interviews with medical record and registration staff. Result: Patient complaints covered staff attitudes, long registration waiting times due to disruptions in the SIKDA Optima system during peak hours, inconsistent queue calling, and unclear service flow, particularly at night. Existing complaint-handling procedures were not yet fully standardized nor optimally communicated to patients. Conclusion: Complaint handling at Puskesmas Palmerah still requires strengthening of procedural standardization, registration staff interpersonal communication competence, information system infrastructure stability, and service flow optimization to improve patient satisfaction and trust. Keywords: Patient Complaints, Public Health Center, Registration ABSTRAK Latar Belakang: Puskesmas sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peran strategis dalam sistem kesehatan nasional. Bagian pendaftaran merupakan unit terdepan yang berinteraksi langsung dengan pasien sehingga kualitas pelayanannya sangat menentukan persepsi awal pasien. Komplain pasien merupakan indikator penting mutu pelayanan kesehatan, dan kegagalan penanganannya dapat menurunkan kepuasan pasien, meningkatkan konflik, menurunkan citra fasilitas kesehatan, hingga meningkatkan risiko tuntutan hukum. Analisis ulasan Google Puskesmas Palmerah menemukan 265 ulasan negatif (19,6%) dari 1.354 ulasan, umumnya terkait sikap petugas yang kurang ramah, ketidakefisienan pelayanan malam hari, serta ketidakteraturan sistem antrean. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi jenis dan bentuk komplain pasien, mendeskripsikan prosedur penanganan komplain di bagian pendaftaran, serta mengeksplorasi pengalaman petugas pendaftaran dalam menghadapi komplain pasien di Puskesmas Palmerah. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui observasi langsung dan wawancara mendalam dengan petugas rekam medis dan petugas pendaftaran. Hasil: Komplain pasien yang diterima mencakup keluhan terhadap sikap petugas, lamanya waktu tunggu pendaftaran akibat gangguan sistem SIKDA Optima pada jam sibuk, ketidakkonsistenan pemanggilan antrean, serta kurangnya kejelasan alur pelayanan terutama pada malam hari. Prosedur penanganan komplain yang ada belum sepenuhnya terstandarisasi dan belum disosialisasikan secara optimal kepada pasien. Kesimpulan: Penanganan komplain di Puskesmas Palmerah masih memerlukan penguatan pada aspek standarisasi prosedur, peningkatan kompetensi komunikasi interpersonal petugas pendaftaran, stabilitas infrastruktur sistem informasi, serta optimalisasi alur pelayanan untuk meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pasien. Kata Kunci: Analisis, Komplain Pasien, Penanganan, Pendaftaran, Puskesmas
PRESENTASI POSTER55Efektivitas Penggunaan Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) di RSUP dr. Sitanala Tangerang Diah diah , Noor Yulia , Bangga Agung Satrya , Muhammad Fuad Iqbal1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia 1,2,3,4 ddiah907@gmail.com* ABSTRACT Background: The Self-Registration Kiosk (APM) is a healthcare innovation aimed at improving the efficiency of the outpatient registration process. However, its use at Dr. Sitanala General Hospital, Tangerang, still faces various challenges, requiring evaluation of its effectiveness. Purpose: This study aims to analyze the effectiveness of the use of the Self-Registration Kiosk (APM) at Dr. Sitanala General Hospital, Tangerang based on the level of use, registration time, patient satisfaction, and staff involvement in the use of APM. Method: This study employed a descriptive method with a quantitative approach. The sample consisted of 96 patients using APM, selected using an accidental sampling technique. Data collection was conducted through observation, time measurement using a stopwatch, document review, and a patient satisfaction questionnaire based on the SERVQUAL dimensions. Data analysis was conducted descriptively using frequency distributions, percentages, and average values. Result: APM usage reached 30.37% of total outpatient visits. The average registration time through APM was 101 seconds, faster than registration at the counter, which took 218 seconds. Patient satisfaction averaged 74.5%, categorized as satisfied. 88.54% of patients still required assistance from staff while using APM, while 11.46% were able to use APM independently. Conclusion: a statement of overall results in a nutshell as well as the research’s implications and contributions to its field. It should convince readers that the research is interesting, valuable, and worth investigating further. Keywords: Self-Registration Kiosk, service effectiveness, patient satisfaction, registration time. ABSTRAK Latar Belakang: Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) merupakan inovasi pelayanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan efisiensi proses pendaftaran pasien rawat jalan. Namun, pemanfaatannya di RSUP dr. Sitanala Tangerang masih menghadapi berbagai kendala sehingga efektivitas penggunaannya perlu dievaluasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas penggunaan Anjungan Pendaftaran Mandiri (APM) di RSUP dr. Sitanala Tangerang berdasarkan tingkat penggunaan, waktu pendaftaran, kepuasan pasien, dan keterlibatan petugas dalam penggunaan APM. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 96 pasien pengguna APM yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pengukuran waktu menggunakan stopwatch, telaah dokumen, dan kuesioner kepuasan pasien berdasarkan dimensi SERVQUAL. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil: Penggunaan APM mencapai 30,37% dari total kunjungan pasien rawat jalan. Rata-rata waktu pendaftaran melalui APM adalah 101 detik, lebih cepat dibandingkan pendaftaran melalui loket yang memerlukan 218 detik. Tingkat kepuasan pasien memperoleh skor rata-rata 74,5% dengan kategori puas. Sebanyak 88,54% pasien masih memerlukan bantuan petugas selama menggunakan APM, sedangkan 11,46% pasien dapat menggunakan APM secara mandiri. Kesimpulan: Penggunaan APM mampu meningkatkan efisiensi waktu pendaftaran dan memberikan tingkat kepuasan pasien pada kategori puas. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal karena sebagian besar pasien masih memerlukan bantuan petugas dalam proses pendaftaran. Oleh karena itu, diperlukan upaya optimalisasi penggunaan APM agar kemandirian pasien dalam melakukan pendaftaran dapat meningkat. Kata kunci: Anjungan Pendaftaran Mandiri, efektivitas pelayanan, kepuasan pasien, waktu pendaftaran.
PRESENTASI POSTER56ANALISIS KETEPATAN KODIFIKASI DAN KLASIFIKASI PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DALAM MENDUKUNG SURVEILANS EPIDEMIOLOGI Putri Mutia Maharani , Laela Indawati , Nanda Aula Rumana , Dina Sonia1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia 1,2,3,4 putrimutiamaharani83@gmail.com* ABSTRACT Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains a major public health problem in Indonesia, with case numbers continuing to rise, making the accuracy of diagnosis coding essential to ensure the validity of epidemiological surveillance data. Purpose: This study aims to analyze the accuracy of coding and classification of DHF diagnoses (A90-A91) based on the ICD-10 standard, identify the factors causing inaccuracies, and describe the epidemiological profile of DHF patients. Method: This descriptive quantitative study used a case study design through a retrospective audit of medical records at Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih for the period January-July 2025. The sample consisted of 87 medical records selected by simple random sampling, using an audit checklist based on ICD-10, with data analyzed descriptively through univariate frequency distribution and percentages. Result: The coding accuracy rate was only 50.6% (44 files), while 49.4% (43 files) were inaccurate, dominated by under-coding of A91 into A90. Human factors (Man) were the dominant cause (62.8%), followed by Material and Money factors (18.6% each). The epidemiological profile showed a predominance of male patients (55.2%) with ages ranging from 1-80 years, and the highest number of visits occurred in April with 130 visits. Following laboratory verification, the number of A91 cases increased from 49 to 66. Conclusion: The accuracy of DHF diagnosis coding still needs improvement through regular coding audits and enhanced coder competency, so that the resulting epidemiological data is more valid and reliable in supporting surveillance and public health decision-making. Keywords: Codification Accuracy, Dengue Hemorrhagic Fever, Diagnostic Classification, Epidemiological Surveillance, ICD-10. ABSTRAK Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan masalah kesehatan utama di Indonesia dengan jumlah kasus yang terus meningkat, sehingga ketepatan kodifikasi diagnosis menjadi krusial dalam mendukung validitas data surveilans epidemiologi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketepatan kodifikasi dan klasifikasi diagnosis DBD (A90-A91) berdasarkan standar ICD-10, mengidentifikasi faktor penyebab ketidaktepatan, serta menggambarkan profil epidemiologi pasien DBD. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain studi kasus melalui audit retrospektif rekam medis di Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih periode Januari-Juli 2025. Sampel penelitian berjumlah 87 rekam medis yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling, dengan instrumen lembar audit berdasarkan ICD-10, dan data dianalisis secara deskriptif univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Tingkat ketepatan kode diagnosis hanya sebesar 50,6% (44 berkas), sedangkan 49,4% (43 berkas) tidak tepat, didominasi oleh praktik under-coding dari A91 menjadi A90. Faktor manusia (Man) menjadi penyebab dominan (62,8%), diikuti faktor Material dan Money masing-masing (18,6%). Profil epidemiologi menunjukkan dominasi pasien laki-laki (55,2%) dengan rentang usia 1- 80 tahun, serta puncak kunjungan tertinggi terjadi pada bulan April dengan 130 kunjungan. Setelah verifikasi laboratorium, jumlah kasus A91 meningkat dari 49 menjadi 66 kasus. Kesimpulan: Ketepatan kodifikasi diagnosis DBD masih perlu ditingkatkan melalui audit koding berkala dan peningkatan kompetensi koder, agar data epidemiologi yang dihasilkan lebih valid dan dapat diandalkan dalam mendukung surveilans serta pengambilan keputusan kesehatan masyarakat. Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, ICD-10, Ketepatan Kodifikasi, Klasifikasi Diagnosis, Surveilans Epidemiologi.
PRESENTASI POSTER57GAMBARAN ALUR VERIFIKASI DATA PENGODEAN DIAGNOSIS PADA SIMRS DI RUMAH SAKIT SOERHARTO HEERDJAN Helmi Aleda Tallo Manafe , Laela Indawati , Puteri Fannya , Dina Sonia , Ifah Muzdalifah1* 2 3 4 5 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia 1,2,3,4 Instalasi Rekam Medis, Rumah Sakit Soeharto Heerdjan, Indonesia5 aledatallo@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Verification of diagnosis coding data on SIMRS plays an important role in ensuring the accuracy of clinical data and the smoothness of BPJS Health claims. However, the implementation of the verification process in hospitals still faces various technical and non- technical obstacles that can affect the quality of diagnosis coding. Purpose: This research aims to analyze the verification flow of diagnosis coding data in SIMRS, as well as identify technical and non-technical obstacles in the verification process at Soeharto Heerdjan Hospital. Method: This research uses a descriptive qualitative method carried out at Soeharto Heerdjan Hospital in February and June 2026. The data were collected through in-depth interviews and direct observation of five informants selected by purposive sampling, namely the Head of the Medical Record Installation, two coder officers, one IT officer, and one doctor, until data saturation was achieved, then analyzed thematically. Result: The research results show that there is a shift in the role of the coder due to the input of the diagnosis in the form of an ICD code by doctors, which should be input as a clinical description, accompanied by technical and non-technical constraints in the verification process of diagnosis coding. Conclusion: In general, the verification flow of diagnosis coding data at Soeharto Heerdjan Hospital has been running according to the applicable SOP, although the optimization of the information system and interprofessional coordination are still necessary. This finding contributes as the basis for evaluating the operational standard of diagnostic coding verification in hospitals. Keywords: Diagnosis Verification Flow, Diagnosis Coding, Hospital Information System, Medical Records. ABSTRAK Latar Belakang: Verifikasi data pengodean diagnosis pada SIMRS berperan penting dalam menjamin akurasi data klinis serta kelancaran klaim BPJS Kesehatan. Namun, implementasi proses verifikasi di rumah sakit masih menghadapi berbagai kendala teknis dan non-teknis yang dapat memengaruhi kualitas pengodean diagnosis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis alur verifikasi data pengodean diagnosis pada SIMRS, serta mengidentifikasi kendala teknis dan non-teknis dalam proses verifikasi di RS Soeharto Heerdjan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang dilaksanakan di RS Soeharto Heerdjan pada Februari dan Juni 2026. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi langsung terhadap lima informan yang dipilih secara purposive sampling, yaitu Kepala Instalasi Rekam Medis, dua petugas koder, satu petugas TI, dan satu dokter, hingga tercapai saturasi data, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran peran koder akibat penginputan diagnosis dalam bentuk kode ICD oleh dokter, yang seharusnya diinput sebagai deskripsi klinis, disertai kendala teknis dan non-teknis dalam proses verifikasi pengodean diagnosis. Kesimpulan: Secara umum, alur verifikasi data pengodean diagnosis di RS Soeharto Heerdjan telah berjalan sesuai SOP yang berlaku, meskipun optimalisasi sistem informasi dan koordinasi antarprofesi masih diperlukan. Temuan ini memberikan kontribusi sebagai dasar evaluasi standar operasional verifikasi pengodean diagnosis di rumah sakit. Kata kunci: Alur Verifikasi Diagnosis, Pengodean Diagnosis, SIMRS, Rekam Medis.
PRESENTASI POSTER58STUDI KASUS : IMPLEMENTASI PENGGUNAAN KODE INDONESIA MODIFICATION (IM) PADA KASUS GIGI DAN BEDAH MULUT DI RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA SUKAPURA Dede Kurniawan , Muhammad Fuad Iqbal , Dina Sonia , Bangga Agung Satrya1* 2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Indonesia 1,2,3,4 dedekrnwn45@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The Indonesia Modification (IM) Code is a diagnostic coding standard used in the Indonesian Diagnosis Related Group (iDRG) system. The inaccuracy of the use of IM codes in dental and oral surgery cases is still a problem that has the potential to affect the accuracy of the grouping of cases and claims of BPJS Kesehatan. Objective: To determine the level of accuracy in the use of the Indonesia Modification (IM) Code and to identify the types of coding errors in dental and oral surgery cases at the Jakarta Sukapura Islamic Hospital. Methods: This study used a case study method with a quantitative descriptive approach through document observation and coding audits of 185 outpatient medical record files of dental and oral surgery cases. The audit was conducted using a checklist based on six coding inaccuracy criteria. Results: The results showed that out of 185 cases of diagnosis, 97 cases (52%) had been correctly coded, while 88 cases (48%) were incorrect. The most common diagnoses were dental impaction (93 cases), pulp gangrene (89 cases), and radical gangrene (41 cases), followed by pericoronitis, dental fractures, periodontitis, dental malposition, partially erupted tooth, temporomandibular joint (TMJ) disorder, and supernumerary tooth. Audits of 88 inappropriate cases showed that the most errors were in the form of missing diagnosis/action codes in 68 cases (77%), followed by 4-character category errors in 39 cases (44%). A 3-character category error was found in only 2 cases (2%) and an unnecessary code in 1 case (1%), while errors in diagnosis selection and diagnosis code sequencing were not found. Conclusion: The inaccuracy of the use of IM codes is dominated by incompleteness in the writing of diagnosis/action codes and errors in determining 4-character categories. These findings show the need to update coding SOPs, conduct regular coding audits, and improve coder competencies through continuous training to support the accuracy of iDRG case grouping and BPJS Kesehatan claims. Keywords: Coding Accuracy, Dental and Oral Surgery, iDRG, Indonesia Modification Code, Medical Records. ABSTRAK Latar Belakang: Kode Indonesia Modification (IM) merupakan standar pengodean diagnosis yang digunakan dalam sistem Indonesian Diagnosis Related Group (iDRG). Ketidaktepatan penggunaan kode IM pada kasus gigi dan bedah mulut masih menjadi permasalahan yang berpotensi memengaruhi akurasi pengelompokan kasus dan klaim BPJS Kesehatan. Tujuan: Mengetahui tingkat ketepatan penggunaan Kode Indonesia Modification (IM) serta mengidentifikasi jenis-jenis kesalahan pengodean pada kasus gigi dan bedah mulut di Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui observasi dokumen dan audit koding terhadap 185 berkas rekam medis rawat jalan kasus gigi dan bedah mulut. Audit dilakukan menggunakan checklist berdasarkan enam kriteria ketidaktepatan pengodean. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 185 kasus diagnosis, sebanyak 97 kasus (52%) telah dikode dengan tepat, sedangkan 88 kasus (48%) belum tepat. Diagnosis yang paling banyak ditemukan adalah impaksi gigi (93 kasus), gangren pulpa (89 kasus), dan gangren radiks (41 kasus), diikuti perikoronitis, fraktur gigi, periodontitis, malposisi gigi, partially erupted tooth, temporomandibular joint (TMJ) disorder, dan supernumerary tooth. Audit terhadap 88 kasus yang tidak tepat menunjukkan bahwa kesalahan terbanyak berupa kode diagnosis/tindakan yang hilang sebanyak 68 kasus (77%), diikuti kesalahan kategori 4 karakter sebanyak 39 kasus (44%). Kesalahan kategori 3 karakter hanya ditemukan pada 2 kasus (2%) dan kode yang tidak diperlukan pada 1 kasus (1%), sedangkan kesalahan pemilihan diagnosis dan pengurutan kode diagnosis tidak ditemukan. Kesimpulan: Ketidaktepatan penggunaan kode IM didominasi oleh ketidaklengkapan penulisan kode diagnosis/tindakan dan kesalahan penentuan kategori 4 karakter. Temuan ini menunjukkan perlunya pembaruan SOP pengodean, pelaksanaan audit koding secara berkala, dan peningkatan kompetensi koder melalui pelatihan berkelanjutan untuk mendukung akurasi pengelompokan kasus iDRG dan klaim BPJS Kesehatan. Kata kunci: Gigi dan Bedah Mulut, iDRG, Kode Indonesia Modification, Ketepatan Koding, Rekam Medis.
PRESENTASI POSTER59ANALISIS HASIL UJI KOMPETENSI MAHASISWA REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL TAHUN 2025 Irana Agustin Andania , Nanda Aula Rumana , Puteri Fannya , Dina Sonia1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia agustynanna10@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The Competency Test (UKOM) is a means of assessing the achievement of graduate competencies in the Medical Records and Health Information (RMIK) study program in accordance with the standards set by the Ministry of Health. UKOM results are important as evaluation material to determine the level of student’s competency achievement and to identify areas that require improvement. Purpose: This study aimed to analyze the results of the Competency Test of RMIK students at Universitas Esa Unggul in 2025 and to identify the competencies with the highest and lowest achievement scores. Method: This study employed a descriptive quantitative approach using data in the form of UKOM scores of students in 2025 Period 3. The data analyzed were purely UKOM scores and did not include academic grades or Grade Point Average (GPA). Data collection was conducted through documentation and observation of UKOM result records. Data analysis was carried out descriptively by calculating mean values and presenting frequency distributions for each competency. Result: Research results involving 17 students indicate that the Health Data and Information Management competency had the highest average score at 20.0, followed by the competency in Clinical Classification Skills, Coding of Diseases and Other Health Problems, and Clinical Procedures at 12.0; the Health Information Management Service competency at 10.8; and the competency in Health Statistics Applications, Basic Epidemiology, and Biomedicine at 9.98. Conclusion: of this study indicates differences in the level of competency achievement across competency areas based on UKOM results. These findings can serve as evaluation material for institutions and study programs in improving the quality of learning to optimize students’ competency achievement in accordance with established standards. Keywords: Competency assessment, medical records and health information. ABSTRAK Latar Belakang: Uji Kompetensi (UKOM) merupakan sarana untuk menilai capaian kompetensi lulusan Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) sesuai standar Kementerian Kesehatan. Hasil UKOM penting sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi mahasiswa serta mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil Uji Kompetensi mahasiswa RMIK Universitas Esa Unggul Tahun 2025 dan mengidentifikasi kompetensi dengan capaian nilai tertinggi dan terendah. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan data berupa nilai UKOM mahasiswa Tahun 2025 Periode 3. Data yang dianalisis merupakan nilai UKOM murni dan tidak mencakup nilai akademik maupun Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan observasi terhadap data hasil UKOM. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung nilai rata-rata dan menyajikan distribusi frekuensi pada masing- masing kompetensi. Hasil: Hasil penelitian terhadap 17 mahasiswa menunjukkan bahwa kompetensi Manajemen Data dan Informasi Kesehatan memiliki nilai rata-rata tertinggi sebesar 20,0, diikuti kompetensi Keterampilan Klasifikasi Klinis, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Kesehatan Lainnya serta Prosedur Klinis sebesar 12,0, kompetensi Manajemen Pelayanan RMIK sebesar 10,8, dan kompetensi Aplikasi Statistik Kesehatan, Epidemiologi Dasar, dan Biomedik sebesar 9,98. Kesimpulan: penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat penguasaan antar kompetensi berdasarkan hasil UKOM. Temuan ini dapat menjadi bahan evaluasi bagi institusi dan program studi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran agar capaian kompetensi mahasiswa semakin optimal dan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kata kunci: uji kompetensi, rekam medis dan informasi kesehatan.
PRESENTASI POSTER60GAMBARAN PENERAPAN PELAPORAN PADA SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PUSKESMAS (SIMANTEP) DI UPTD PUSKESMAS CURUG KABUPATEN TANGERANG Muslimah Fauziyati *, Noerfitri , Nanda Aula Rumana , Laela Indrawati1 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia muslimahfauziyati28@gmail.com* ABSTRACT Background: The Integrated Public Health Center Management Information System (SIMANTEP) is used to support the recording, processing, and reporting of health service data. However, internet disruptions, system errors, server downtime, power outages, and limited reporting features may affect the timeliness, completeness, and accuracy of reported data. Purpose: This study aimed to describe the implementation of health service reporting through SIMANTEP at the Curug Public Health Center, Tangerang Regency, including its reporting process, encountered obstacles, effects on data quality, and staff efforts to maintain reporting consistency during system disruptions. Method: This study employed a descriptive qualitative design and was conducted from September 2025 to February 2026. Informants were selected through purposive sampling from personnel directly involved in the management, implementation, and supervision of SIMANTEP reporting. Data were collected through in- depth interviews, direct observation, and document review. The data were analyzed thematically through data reduction, data presentation, conclusion drawing, and verification. Data credibility was maintained through source and method triangulation. Results: SIMANTEP supported an integrated reporting process consisting of data recording, data entry, verification, report preparation, and report submission. The main obstacles included internet disruptions, system errors, server downtime, power outages, and unavailable automated report formats. System disruptions caused temporary delays of approximately 10–15 minutes and created risks of incomplete or inaccurate data. Staff maintained reporting continuity through manual recording, data re-entry, verification, and periodic supervision. Conclusion: SIMANTEP has generally supported integrated health service reporting, although technical and operational constraints remain. Improvements in system stability, infrastructure, reporting features, staff competence, and disruption-handling procedures are needed to ensure timely, complete, and accurate reporting. Keywords: data quality; health reporting; public health center; SIMANTEP; system disruption ABSTRAK Latar Belakang: Sistem Informasi Manajemen Terintegrasi Puskesmas (SIMANTEP) digunakan untuk mendukung pencatatan, pengolahan, dan pelaporan data pelayanan kesehatan. Namun, gangguan jaringan internet, kesalahan sistem, server tidak dapat diakses, gangguan listrik, dan keterbatasan fitur laporan dapat memengaruhi ketepatan waktu, kelengkapan, serta keakuratan data pelaporan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan penerapan pelaporan pelayanan kesehatan melalui SIMANTEP di UPTD Puskesmas Curug, Kabupaten Tangerang, meliputi proses pelaporan, kendala yang dihadapi, dampak terhadap kualitas data, dan upaya petugas untuk menjaga konsistensi pelaporan ketika terjadi gangguan sistem. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dan dilaksanakan dari September 2025 sampai Februari 2026. Informan dipilih melalui teknik purposive sampling dari petugas yang terlibat langsung dalam pengelolaan, pelaksanaan, dan pengawasan pelaporan SIMANTEP. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi. Data dianalisis secara tematik melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil: SIMANTEP mendukung proses pelaporan terintegrasi yang meliputi pencatatan, penginputan, verifikasi, penyusunan, dan pengiriman laporan. Kendala yang ditemukan berupa gangguan jaringan, kesalahan sistem, server tidak dapat diakses, gangguan listrik, dan belum tersedianya beberapa format laporan otomatis. Gangguan menyebabkan penundaan sementara sekitar 10–15 menit serta menimbulkan risiko ketidaklengkapan dan ketidakakuratan data. Petugas menjaga keberlanjutan pelaporan melalui pencatatan manual, penginputan ulang, verifikasi, dan pengawasan berkala. Kesimpulan: SIMANTEP secara umum telah mendukung pelaporan pelayanan kesehatan secara terintegrasi, meskipun masih terdapat kendala teknis dan operasional. Peningkatan stabilitas sistem, infrastruktur, fitur laporan, kompetensi petugas, dan prosedur penanganan gangguan diperlukan untuk menghasilkan pelaporan yang tepat waktu, lengkap, dan akurat. Kata kunci: gangguan sistem; kualitas data; pelaporan kesehatan; puskesmas; SIMANTEP
PRESENTASI POSTER61TINJAUAN PELAKSANAAN PENJELASAN GENERAL CONSENT PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT BUNDA SEJATI Diyafa Zahrani , Noerfitri , Bangga Agung Satrya , Puteri Fannya1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia diyafazahrani31@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: General consent is a general agreement provided by patients before receiving healthcare services in a hospital. Explaining general consent in accordance with the Standard Operating Procedures (SOP) is essential to protect patients' rights, improve healthcare service quality, and support hospital accreditation standards. Challenges in its implementation may reduce the effectiveness of information delivery and require continuous evaluation. Objective: This study to describe the implementation process of general consent explanations, identify the personnel involved, and determine the obstacles encountered during the implementation of general consent for inpatients at Bunda Sejati Hospital. Methods: This study employed descriptive qualitative approach. Informants included the Head of the Medical Records Unit, the Registration Coordinator, and two inpatient registration officers selected through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Results: The implementation of general consent explanations complied with the hospital's SOP in 2018. Registration officers explained the purpose of general consent, and hospital regulations using clear and understandable language while allowing patients and their families to ask questions. Monitoring was conducted through daily audits and monthly evaluations. The main obstacles included Electronic Medical Record (EMR) system disruptions, simultaneous patient arrivals, and delays general consent from emergency patients while waiting for family. Conclusion: The implementation of general consent explanations at Bunda Sejati Hospital complies with the established SOP and supports hospital accreditation standards. Although the EMR system has facilitated the explanation general consent. Keywords: General Consent, Electronic Medical Record, Inpatient Registration. ABSTRAK Latar Belakang: General consent merupakan persetujuan umum yang diberikan oleh pasien atau keluarga sebelum memperoleh pelayanan kesehatan di rumah sakit. Penjelasan general consent yang sesuai dengan Standar Prosedur Operasional (SPO) penting untuk menjamin hak pasien, meningkatkan mutu pelayanan, serta mendukung pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Namun, pelaksanaannya masih menghadapi berbagai kendala sehingga perlu dilakukan evaluasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pelaksanaan penjelasan general consent, mengidentifikasi petugas yang berperan dalam pelaksanaannya, serta mengetahui kendala yang dihadapi pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Bunda Sejati. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan terdiri atas Kepala Rekam Medis, Koordinator Pendaftaran, dan dua petugas pendaftaran rawat inap yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil: Pelaksanaan penjelasan general consent telah mengacu pada SPO sejak tahun 2018. Penjelasan dilakukan oleh petugas pendaftaran menggunakan bahasa yang mudah dipahami, meliputi tujuan general consent, hak dan kewajiban pasien, serta tata tertib rumah sakit, disertai kesempatan bagi pasien untuk bertanya. Monitoring juga dilakukan melalui audit harian dan evaluasi bulanan. Kendala utama adalah gangguan pada sistem Rekam Medis Elektronik (RME) yang eror, pasien yang datang secara bersamaan, pasien UGD yang menunda pelaksana persetujuan general consent karena menunggu pihak keluarga. Kesimpulan: Pelaksanaan penjelasan general consent di Rumah Sakit Bunda Sejati telah sesuai dengan SPO dan mendukung pemenuhan standar akreditasi rumah sakit. Dengan penerapan RME mempermudah proses penjelasan general consent. Kata kunci: General Consent, Rekam Medis Elektronik, Pendaftaran Rawat Inap.
PRESENTASI POSTER62GAMBARAN KOMPETENSI TERKAIT KODING PADA PETUGAS REKAM MEDIS DI PELAYANAN KESEHATAN (LITERATURE REVIEW) Niken Mellina , Noerfitri , M. Fuad Iqbal , Bangga Agung Satrya1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia nikenmellina1401@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: The accuracy of diagnostic coding is an essential component of medical record management because it affects the validity of hospital statistical data and the BPJS/INA-CBGs claim process. However, coding inaccuracies are still frequently found in various healthcare facilities due to the limited competency of medical record officers. Purpose: This study aimed to describe the competency of medical record officers related to the accuracy of diagnostic coding based on published literature. Method: This study used a literature review method, searching for scientific articles through Google Scholar. Articles were selected based on inclusion and exclusion criteria, with publications spanning 2019–2025. Sixteen relevant articles were analyzed descriptively to identify coding accuracy and influencing factors. Result: The findings showed that the accuracy of diagnostic coding in healthcare facilities generally ranged from 50% to 70%. The main factors contributing to coding inaccuracies included incomplete medical documentation, inadequate understanding of medical terminology, limited accuracy and work experience of coders, insufficient coding training, and poor compliance with Standard Operating Procedures (SOPs). These conditions resulted in delayed BPJS/INA-CBGs claims and reduced validity of hospital statistical data. Conclusion: The competency of medical record officers plays a crucial role in improving the accuracy of diagnostic coding. Continuous training, adherence to Standard Operating Procedures, and improvements in medical documentation are necessary to produce accurate coding and support the quality of healthcare services. Keywords: coding accuracy, ICD-10, literature review, medical record officers, competency. ABSTRAK Latar Belakang: Ketepatan koding diagnosis merupakan komponen penting dalam pengelolaan rekam medis karena memengaruhi validitas data statistik rumah sakit dan proses klaim BPJS/INA- CBGs. Namun, ketidaktepatan koding masih banyak ditemukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan yang dipengaruhi oleh kompetensi petugas rekam medis. Tujuan: Mengetahui gambaran kompetensi petugas rekam medis terkait akurasi koding diagnosis berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan. Metode: Penelitian menggunakan metode literature review dengan menelusuri artikel ilmiah melalui Google Scholar. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dengan rentang publikasi tahun 2019–2025. Sebanyak 16 artikel yang relevan dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi tingkat akurasi koding serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa akurasi koding diagnosis di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan masih berada pada kisaran 50–70%. Faktor yang paling sering memengaruhi ketidaktepatan koding meliputi dokumentasi medis yang tidak lengkap, rendahnya pemahaman terminologi medis, kurangnya ketelitian dan pengalaman petugas, belum optimalnya pelatihan koding, serta rendahnya kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP). Kondisi tersebut berdampak pada tertundanya klaim BPJS/INA-CBGs dan menurunnya validitas data statistik pelayanan kesehatan. Kesimpulan: Kompetensi petugas rekam medis berperan penting dalam meningkatkan akurasi koding diagnosis. Peningkatan kompetensi melalui pelatihan berkelanjutan, kepatuhan terhadap SOP, serta perbaikan kualitas dokumentasi medis diperlukan untuk menghasilkan koding yang akurat dan mendukung mutu pelayanan kesehatan. Kata kunci: akurasi koding, ICD-10, kompetensi, literature review, petugas rekam medis.
PRESENTASI POSTER63HUBUNGAN WAKTU TUNGGU TERHADAP KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT BUNDA SEJATI Adhisty Citra Nuraisyah , Puteri Fannya , Nanda Aula Rumana , Noerfitri1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia adhisty.citra24@gmail.com* ABSTRACT Background: Waiting time is one indicator of the quality of hospital services that can affect the level of patient satisfaction. The shorter the waiting time perceived by the patient, the greater the patient feels satisfied with the service received. Purpose: This study aims to determine the relationship between waiting time and outpatient satisfaction at Bunda Sejati Hospital. Method: This study uses an inferential quantitative method with a cross-sectional design. The study population was all outpatients who met the inclusion criteria at Bunda Sejati Hospital. The study sample was taken using convenience sampling. Data collection was carried out by distributing questionnaires to 96 respondents to measure waiting time with patient satisfaction. Data analysis was carried to univariately to describe the characteristics of the respondents, and bivariate using the Chi-Square test to determine the relationship between the two variables. Results: The results showed that respondents with an exact waiting time of ≤60 minutes were 76 (79,2%) respondents, while respondents with an incorrect waiting time of >60 minutes were 20 (20,8%) respondents. Then for respondents who stated that they were dissatisfied as many as 56 (58,3%) respondents, while respondents, who stated that they satisfied as many as 40 (41,7%) respondents. The results of the Chi-Square test showed that there was a relationship between waiting time and patient satisfaction with a p-value = 0,007 (p < 0,05). Patients who receive services with short waiting times tend to have higher levels of satisfaction than those who experience long waiting time. Conclusion: Waiting time is related to patient satisfaction. The results of this study are expected to provide evaluation material for hospital in improving service quality, particularly regarding waiting times for outpatient. Keywords: Waiting Time, Patient Satisfaction, Outpatient Care, Cross-Sectional, Chi-Square Test ABSTRAK Latar Belakang: Waktu tunggu merupakan salah satu indikator mutu pelayanan rumah sakit yang dapat memengaruhi tingkat kepuasan pasien. Semakin singkat waktu tunggu yang dirasakan pasien, maka semakin besar pasien merasa puas terhadap pelayanan yang diterima. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan waktu tunggu terhadap kepuasan pasien rawat jalan di Rumah Sakit Bunda Sejati. Metode: Penelitian menggunakan metode kuantitatif inferensial dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi di Rumah Sakit Bunda Sejati pada bulan Juni hingga Juli 2026. Sampel penelitian diambil menggunakan convenience sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebar kuesioner ke 96 responden untuk mengukur waktu tunggu dengan kepuasan pasien. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik responden, dan bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan waktu tunggu tepat ≤60 menit sebanyak 76 (79,2%) responden, sedangkan responden dengan waktu tunggu tidak tepat >60 menit sebanyak 20 (20,8%) responden. Lalu untuk responden menyatakan tidak puas sebanyak 56 (58,3%) responden, sedangkan responden yang menyatakan puas sebanyak 40 (41,7%) responden. Hasil uji Chi-Square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara waktu tunggu dengan kepuasan pasien dengan nilai p-value = 0,007 (p < 0,05). Pasien yang memperoleh pelayanan dengan waktu tunggu singkat cenderung memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi dibandingkan pasien yang mengalami waktu tunggu lama. Kesimpulan: Waktu tunggu berhubungan dengan kepuasan pasien. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan, khususnya pada waktu tunggu pasien rawat jalan. Kata Kunci: Waktu Tunggu, Kepuasan Pasien, Rawat Jalan, Cross Sectional, Uji Chi-Square.
PRESENTASI POSTER64GAMBARAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN DUPLIKASI NOMOR REKAM MEDIS PADA PENDAFTARAN ONLINE DI RSUD KEMBANGAN TAHUN 2024-2025 Atika Cicilia Rahma Putri , Bangga Agung Satrya , Laela Indawati , Puteri Fannya1* 2 3 4 Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia putrirahma586@esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background : Medical record number duplication continues to occur during the online registration process at RSUD Kembangan, which may lead to incomplete or inconsistent data and interfere with the smooth provision of services. Purpose : This research seeks to examine the current state and the actions taken to tackle the problem of duplicate medical record numbers in the online registration system at RSUD Kembangan between 2024 and 2025, covering how often the issue occurs, its pattern across different months, and the steps implemented to resolve it. Method : A descriptive approach that combines both qualitative and quantitative methods was used. Quantitative data were collected from online registration records and examined by looking at how often and to what extent duplicate entries occurred, expressed as frequencies and percentages.Qualitative data were gathered through direct observation and by conducting interviews with the relevant personnel. Result : The study found that in 2024, there were 274 instances of duplication among a total of 69,194 patient visits, which accounts for 0.40%, while in 2025, there were 264 duplication cases out of 82,303 visits, representing 0.32%. Recurrent incidents were noted almost every month, though the number varied each time. Mitigation efforts included finding and matching patient information, as well as combining medical record numbers in the Hospital Management Information System (SIMRS). However, these efforts are still reactive, meaning that duplications are usually found only after patients have already received care. Conlusion : As a result, although the rate of duplication dropped between 2024 and 2025, it has not yet achieved the desired 0% quality standard. Therefore, it is necessary to implement more effective preventive actions during the online registration process, particularly by improving the methods used to verify a person's identity and by making the automated alert systems more robust. Keywords: Duplication, Online Registration, Medical Record, and SIMRS. ABSTRAK Latar Belakang: Duplikasi nomor rekam medis masih terjadi dalam proses pendaftaran online di RSUD Kembangan, yang dapat menyebabkan ketidakberkesinambungan pada data pasien dan mengganggu jalannya proses pelayanan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memahami situasi serta upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah duplikasi nomor rekam medis pada proses pendaftaran online di RSUD Kembangan pada tahun 2024–2025, termasuk frekuensi terjadinya masalah tersebut, distribusinya berdasarkan bulan, serta langkah-langkah yang diambil untuk mengatasinya. Metode: Penelitian ini menerapkan metode deskriptif dengan pendekatan campuran. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pendaftaran online dan dianalisis dengan melihat frekuensi serta persentase dari kejadian duplikasi, sementara data kualitatif didapatkan melalui observasi langsung dan wawancara dengan petugas yang terkait. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat 274 kasus duplikasi dari total 69.194 kunjungan pasien, dengan persentase sebesar 0,40%.Sementara itu, pada tahun 2025 terdapat 264 kasus duplikasi dari 82.303 kunjungan pasien, dengan persentase 0,32%. Kejadian pengulangan masih tercatat hampir setiap bulan dengan jumlah yang berbeda-beda. Upaya penanganan dilakukan dengan cara mengidentifikasi dan mengcocokkan data pasien serta proses penggabungan nomor rekam medis di dalam sistem informasi manajemen rumah sakit. Namun, upaya penanganannya masih bersifat korektif karena duplikasi umumnya baru diketahui setelah pasien menerima pelayanan. Kesimpulan : Dengan demikian, persentase kejadian duplikasi menurun dari tahun 2024 ke tahun 2025, tetapi belum mencapai standar kualitas 0%. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan yang lebih efektif sejak tahap pendaftaran online dengan meningkatkan proses verifikasi identitas dan memperkuat sistem peringatan otomatis. Kata kunci : Duplikasi, Pendaftaran Online, Rekam Medis, dan SIMRS.
PRESENTASI POSTER65EVALUASI KEPUASAN PETUGAS UNIT RAWAT JALAN TERHADAP REKAM MEDIS ELEKTRONIK MENGGUNAKAN END USER COMPUTING SATISFACTION (EUCS) Calvina Izzumi Namira Akmal , Deasy Rosmala Dewi , Noor Yulia , Dina Sonia1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia vizzumi99@student.esaunggul.ac.id* ABSTRACT Background: Digital transformation in the healthcare sector is driving the implementation of Electronic Medical Records (EMR) in accordance with Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 24 of 2022 to improve service quality and patient data security. However, technical issues such as buffering and system errors in the EMR system at Citra Medika Hospital in Depok highlight the need to evaluate user satisfaction. Purpose: This study aims to analyze the level of satisfaction among outpatient unit staff regarding the use of the Electronic Medical Record System using the End User Computing Satisfaction (EUCS) method. Method: This is a quantitative study with a descriptive design using total sampling of 70 medical and healthcare personnel in the outpatient unit. Result: Data were collected via an EUCS questionnaire using a 1–4 Likert scale and analyzed using quantitative descriptive methods. The results showed a user satisfaction level of 89.88% with an average EUCS score of 105.78, which falls into the “satisfied” category. All EUCS dimensions— Content (92.95%), Accuracy (92.07%), Format (90.67%), Ease of Use (90.00%), and Timeliness (90.71%)—also fell within the “satisfied” category. Conclusion: Based on these results, the Electronic Medical Record system at Citra Medika Hospital in Depok has been functioning well and is capable of meeting user needs, although further system development is still needed to improve overall user satisfaction. Keywords: Electronic Health Records, EUCS, Satisfaction, Hospitals. ABSTRAK Latar Belakang: Transformasi digital di bidang kesehatan mendorong penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2022 untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keamanan data pasien. Namun, kendala teknis seperti buffering dan error sistem pada RME di Rumah Sakit Citra Medika Depok menunjukkan perlunya evaluasi terhadap kepuasan pengguna. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepuasan petugas unit rawat jalan terhadap penggunaan Sistem Rekam Medis Elektronik menggunakan metode End User Computing Satisfaction (EUCS). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif menggunakan teknik total sampling terhadap 70 tenaga medis dan tenaga kesehatan di unit rawat jalan. Data dikumpulkan melalui kuesioner EUCS dengan skala Likert 1–4 dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tingkat kepuasan pengguna sebesar 89,88% dengan rata-rata skor EUCS sebesar 105,78, yang termasuk kategori puas. Seluruh dimensi EUCS, yaitu Content (92,95%), Accuracy (92,07%), Format (90,67%), Ease of Use (90,00%), dan Timeliness (90,71%), juga berada pada kategori puas. Kesimpulan: Berdasarkan hasil tersebut, sistem Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit Citra Medika Depok telah berjalan dengan baik dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna, meskipun pengembangan sistem masih diperlukan untuk meningkatkan kepuasan pengguna secara menyeluruh. Kata kunci: EUCS, Kepuasan, Rekam Medis Elektronik, Rumah Sakit,
PRESENTASI POSTER66EVALUASI IMPLEMENTASI APLIKASI P-CARE BPJS KESEHATAN BERDASARKAN MODEL HOT-FIT DI KLINIK CITRA BANGSA Mia Fitra Yulianti , Laela Indawati , Noor Yulia , Dina Sonia1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia miafitra07@gmail.com* ABSTRACT Background: The BPJS Kesehatan Primary Care (P-Care) application is a web-based health information system used by Primary Healthcare Facilities (FKTP) to support patient services, medical record documentation, referral management, and National Health Insurance (JKN) claims administration. Continuous evaluation of its implementation is essential to ensure that the system meets user needs, organizational requirements, and technological standards. Purpose: This study aimed to evaluate the implementation of the P-Care application at Citra Bangsa Clinic using the HOT-Fit (Human, Organization, and Technology Fit) evaluation model. Method: A qualitative research approach was employed, involving registration officers, nurses, and physicians as key informants. Data were collected through in-depth interviews and direct observations and were analyzed thematically based on the Human, Organization, Technology, and Net Benefit dimensions of the HOT-Fit framework. Result: The findings revealed that the Human dimension was characterized by users' adequate competencies and high satisfaction with the system, particularly its ease of use in managing patient referrals. The Organization dimension demonstrated effective interdepartmental coordination and consistent implementation of standard operating procedures. In the Technology dimension, the application effectively supported claims administration and improved service workflows; however, challenges remained, including occasional central server disruptions and limited interoperability between the P-Care application and the clinic's internal electronic medical record system. Overall, the implementation of the P-Care application contributed to improved service efficiency, standardized health data management, and enhanced accuracy in the claims process. Conclusion: It is recommended that Citra Bangsa Clinic optimize administrative staff scheduling during peak service hours, while BPJS Kesehatan strengthen server reliability and system interoperability. Future research should adopt a mixed-methods approach to quantitatively assess post-implementation cost efficiency and long-term system performance. Keywords: P-Care, BPJS Kesehatan, HOT-Fit, Medical Records, Primary Healthcare Facilities (FKTP). ABSTRAK Latar Belakang: Aplikasi Primary Care (P-Care) BPJS Kesehatan merupakan sistem informasi berbasis web yang digunakan oleh Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk mendukung pelayanan pasien, pendokumentasian rekam medis, penyusunan rujukan, serta pelaporan klaim Jaminan Kesehatan Nasional. Implementasi sistem ini memerlukan evaluasi secara berkelanjutan untuk memastikan kesesuaian antara kebutuhan pengguna, dukungan organisasi, dan kualitas teknologi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi aplikasi P-Care di Klinik Citra Bangsa menggunakan model HOT-Fit (Human, Organization, and Technology Fit). Metode: Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan informan yang terdiri atas petugas pendaftaran, perawat, dan dokter. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis secara tematik berdasarkan komponen Human, Organization, Technology, dan Net Benefit. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek Human ditunjukkan oleh kompetensi pengguna yang baik serta tingkat kepuasan yang tinggi terhadap kemudahan penggunaan sistem, terutama dalam proses rujukan. Pada aspek Organization, koordinasi antarunit dan penerapan standar operasional prosedur telah berjalan dengan baik. Sementara itu, aspek Technology menunjukkan bahwa aplikasi efektif dalam mendukung administrasi klaim, meskipun masih terdapat kendala berupa gangguan server pusat dan keterbatasan integrasi (bridging) dengan sistem rekam medis elektronik internal. Secara keseluruhan, implementasi P-Care memberikan manfaat berupa peningkatan efisiensi pelayanan, standarisasi data, dan ketepatan proses klaim. Kesimpulan: Implementasi aplikasi P-Care di Klinik Citra Bangsa telah memenuhi aspek Human, Organization, Technology, dan Net Benefit dalam model HOT-Fit, serta memberikan manfaat dalam meningkatkan efisiensi pelayanan dan kualitas pengelolaan data. Disarankan agar Klinik Citra Bangsa mengoptimalkan pembagian shift administrasi pada jam pelayanan puncak, BPJS Kesehatan meningkatkan stabilitas server dan interoperabilitas sistem, serta penelitian selanjutnya menggunakan metode campuran (mixed methods) untuk mengukur efisiensi biaya pasca implementasi secara kuantitatif. Kata kunci: P-Care, BPJS Kesehatan, HOT-Fit, Rekam Medis, FKTP
PRESENTASI POSTER67LITERATURE REVIEW: EVALUASI PENERAPAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK UNTUK MENUNJANG APLIKASI SATU SEHAT DI RUMAH SAKIT INDONESIA Rangga Warsa Wijaya¹*, Muhammad Fuad Iqbal , Bangga Agung Satrya , Noor Yulia2 3 4 Program Studi D-III Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia ranggawarsawijaya@gmail.com* ABSTRACT Background : The implementation of Electronic Medical Records (EMR) in Indonesia has become a national priority since its inclusion in the Ministry of Health's Strategic Plan for 2020–2024, which targets the implementation of EMR in all hospitals by 2024. However, the progress of EMR implementation remains below expectations, as reflected in the limited number of hospitals that have successfully implemented EMR optimally. Purpose : This study aims to evaluate the implementation of Electronic Medical Records (EMR) in hospitals in Indonesia in supporting integration with the Satu Sehat platform. Method : This study used a literature review method by collecting and analyzing relevant national scientific articles related to the implementation and evaluation of Electronic Medical Records in hospitals. The evaluation was conducted using the HOT-Fit model, which consists of four aspects: Human, Organization, Technology, and Net Benefit. Result : The results of the analysis indicate that the implementation of EMR in Indonesian hospitals is still in the development stage. The main challenges in the Human aspect include resistance from healthcare workers and uneven distribution of training. In the Organization aspect, management support has been established, but it is not yet fully supported by cross-unit coordination and strong operational policies. The Technology aspect still faces challenges related to system features, user interfaces, network stability, infrastructure, and readiness for integration with the Satu Sehat platform. Meanwhile, the Net Benefit aspect shows improvements in work efficiency and access to patient information, although these benefits have not been fully optimized. Conclusion : The implementation of Electronic Medical Records in Indonesian hospitals has shown positive progress but still requires improvement across all HOT-Fit dimensions. Strengthening human resource capacity, infrastructure, system quality, cross-unit coordination, and organizational policies is needed to optimize EMR implementation and support effective data integration with the Satu Sehat platform. Keywords: Electronic Medical Record, HOT-Fit, Satu Sehat, Hospital, Information System Evaluation. ABSTRAK Latar Belakang: Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di Indonesia menjadi salah satu prioritas nasional sejak dimuat dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2020–2024, dengan target penerapan RME di seluruh rumah sakit pada tahun 2024. Namun, perkembangan penerapan RME masih belum mencapai target yang diharapkan, sebagaimana terlihat dari masih terbatasnya jumlah rumah sakit yang telah menerapkan RME secara optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) di rumah sakit di Indonesia dalam mendukung integrasi dengan platform Satu Sehat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan mengumpulkan dan menganalisis jurnal ilmiah nasional yang relevan mengenai penerapan dan evaluasi Rekam Medis Elektronik di rumah sakit. Evaluasi dilakukan menggunakan model HOT-Fit yang mencakup empat aspek, yaitu Human, Organization, Technology, dan Net Benefit. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan RME di rumah sakit Indonesia masih berada pada tahap pengembangan. Pada aspek Human, kendala utama meliputi adanya resistensi dari tenaga kesehatan dan pelatihan yang belum merata. Pada aspek Organization, dukungan manajemen telah tersedia, tetapi belum sepenuhnya didukung oleh koordinasi antarsatuan kerja dan kebijakan operasional yang kuat. Pada aspek Technology, masih ditemukan kendala terkait fitur sistem, antarmuka pengguna, stabilitas jaringan, infrastruktur, serta kesiapan integrasi dengan platform Satu Sehat. Sementara itu, pada aspek Net Benefit telah terlihat peningkatan efisiensi kerja dan kemudahan akses terhadap informasi pasien, meskipun manfaat tersebut belum sepenuhnya optimal. Kesimpulan: Penerapan Rekam Medis Elektronik di rumah sakit Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif, tetapi masih memerlukan peningkatan pada seluruh aspek HOT-Fit. Penguatan kapasitas sumber daya manusia, infrastruktur, kualitas sistem, koordinasi antarsatuan kerja, dan kebijakan organisasi diperlukan untuk mengoptimalkan penerapan RME serta mendukung integrasi data yang efektif dengan platform Satu Sehat. Kata kunci: Rekam Medis Elektronik, HOT-Fit, Satu Sehat, Rumah Sakit, Evaluasi Sistem Informasi.
PRESENTASI POSTER68Identification of SIMRS Compliance with Metadata in the Esa Unggul RMIK Laboratory Muhamad Rizki Muzaki , Noor Yulia , Muhammad Fuad Iqbal , Laela Indawati1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia Muhammadrizkimuzaki@gmail.com* ABSTRACT Background : Practicum in advocacy education institutions needs to be in accordance with workplace activities so that the equipment used is as similar as possible to those in health services, this study reviewed the RMIK practicum laboratory of Esa Unggul University whether the SIMRS used was in accordance with the contents of the Ministry of Health's regulatory standards Number HK.01.07 / MENKES / 1423/2022 in the outpatient unit. Purpose: The study aims to identify the suitability of SIMRS with Metadata in the metadata variable which has five important aspects in filling in patient data, namely identity sheets, payment methods, general consent, initial forms / initial assessments and specialist examinations. Method: The research method is descriptive with a quantitative approach with a cross-sectional research design, the population of all data in the laboratory SIMRS and the sample uses a saturated sample. SIMRS in the Esa Unggul University laboratory. Result: The results of the study show that the number of variables of the 236 standard variable items currently in the Esa Unggul University laboratory is only 126 variables (53%) and a total of 126 variables in the Esa Unggul University Laboratory with the appropriate data type and format are 123 (98%). Conclusion: Conclusion Based on the five important aspects in RMIK metadata, menu updates are still needed so that SIMRS can be used optimally. Suggestions are that SIMRS needs to be developed and updated and improved in the variables and metadata in the implementation of electronic medical records. Keywords: Metadata, Variables, SIMRS Esa Unggul University Laboratory ABSTRAK Latar Belakang: Praktikum dalam institusi Pendidikan advokasi perlu adanya kesesuaian dengan kegiatan ditempat kerja sehingga perangkat yang dugunakan sebisa mungkin sama dengan yang ada dipelayanan Kesehatan, penelitian ini meninjau Laboratorium praktikum RMIK Universitas Esa Unggul apakah SIMRS yang digunakan sudah sesuai dengan isi standar peraturan Kementerian Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1423/2022 pada unit rawat jalan. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk identifkasi kesesuaian SIMRS dengan Metadata pada variabel meta data memiliki lima aspek penting dalam pengisian data pasien yaitu lembar identitas, cara pembayaran, persetujuan umum/general consent, formulir awal/asesmen awal dan pemeriksaan spesialistik. Metode: Metode penelitian Deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian crosssectional, populasi semua data yang ada di SIMRS laboratorium dan sampel nya menggunakan sampel jenuh. SIMRS di laboratorium Universitas Esa Unggul. Hasil: Hasil dari penelitian jumlah variabel 236 item variabel standar saat ini yang ada dilaboratorium Universitas Esa Unggul baru 126 variabel (53%) dan total 126 variabel yang ada di Laboratorium Universitas Esa Unggul dengan type data serta formatnya sesuai sebanyak 123 (98%). Kesimpulan: Berdasarkan lima aspek penting dalam metadata RMIK masih perlu di lakukan pembaruan menu agar SIMRS dapat digunakan secara maksimal. Saran perlu dilakukan pengembangan SIMRS dan melakukan pembaharuan serta penyempurnaan dalam variabel dan metadata pada penyelenggaraan rekam medis elektronik. Kata Kunci : Metadata,Variabel, SIMRS Laboratorium Universitas Esa Unggul.
PRESENTASI POSTER69ANALISIS FAKTOR PENGEMBALIAN KLAIM BPJS TERKAIT KODE PENYAKIT DI RS PATRIA IKKT Adrian Hartanto , Deasy Rosmala Dewi , Nanda Aulia Rumana , Laela Indawati1* 2 3 4 Program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan, Fakultas Ilmu Ilmu Kesehatan,1,2,3,4 Universitas Esa Unggul, Indonesia adrianhartanto893@gmail.com* ABSTRACT Background: BPJS claim returns related to disease coding remain an administrative challenge because they affect reimbursement timeliness and hospital financial management. Purpose: This study aimed to analyze the factors causing BPJS claim returns related to disease coding at Patria IKKT Hospital. Method: A quantitative descriptive design was employed using total sampling of 51 inpatient claim files returned during June–December 2024. Data were collected through observation, interviews with medical record officers, document review, and analysis of standard operating procedures. Result: The findings indicated that the hospital had implemented a general disease coding SOP but had not established a specific SOP for BPJS claim coding. The highest number of returned claims occurred in October, accounting for 15 cases (29.41%), while Typhoid Fever was among the diagnoses most frequently returned because it did not meet BPJS secondary diagnosis requirements. Conclusion: The contributing factors were identified through the 5M approach, including Man, Method, Material, Money, and Machine. Strengthening coder competency, developing a specific BPJS claim coding SOP, and conducting periodic internal audits are recommended to improve coding accuracy and reduce claim returns. Keywords: BPJS claims, disease coding, medical records, SOP ABSTRAK Latar Belakang: Pengembalian klaim BPJS Kesehatan akibat ketidaksesuaian kode penyakit masih menjadi permasalahan administrasi yang memengaruhi ketepatan pembayaran klaim serta pengelolaan keuangan rumah sakit. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab pengembalian klaim BPJS terkait kode penyakit di RS Patria IKKT. Metode: Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik sampling jenuh terhadap 51 berkas klaim rawat inap yang dikembalikan selama periode Juni–Desember 2024. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dengan petugas rekam medis, telaah dokumen, serta analisis standar operasional prosedur. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah sakit telah memiliki SOP pengkodean penyakit, namun belum memiliki SOP khusus mengenai pengkodean klaim BPJS. Pengembalian klaim tertinggi terjadi pada bulan Oktober sebanyak 15 kasus (29,41%), sedangkan diagnosis Typhoid Fever menjadi salah satu diagnosis yang paling sering dikembalikan karena tidak memenuhi ketentuan diagnosis sekunder BPJS. Kesimpulan: Faktor penyebab pengembalian klaim meliputi aspek Man, Method, Material, Money, dan Machine. Penyusunan SOP khusus pengkodean klaim BPJS, peningkatan kompetensi coder, serta pelaksanaan audit internal secara berkala direkomendasikan untuk meningkatkan akurasi pengkodean dan menurunkan angka pengembalian klaim. Kata Kunci: BPJS, klaim, kode penyakit, rekam medis, SOP
DIES NATALIS RMIK DIGITAL PULSE 2026
