Eco-EnzymepadaMengenal Jenis-Jenis Fungi pada Ecoenzyme Limbah SayurLimbah SayuranPenyusun : Masriani Naibaho Universitas Palangka Raya 2026

Eco-EnzymepadaLimbah SayuranM E N G E N A LM E N G E N A LJenis-jenis Fungi MikroskopisPernahkah kamu berpikir bahwa limbah sayuran yang sering dianggap tidak berguna dapat menjadi bagian dari suatu proses yang menarik untuk dipelajari? Melalui e-booklet ini, kamu akan diajak mengenal eco- enzyme, memahami karakteristik fungi, serta mengamati dan mengenali fungi mikroskopis yang ditemukan pada eco-enzyme limbah sayuran. Yuk, amati, kenali, dan temukan dunia fungi di sekitar kita! 🍄🌱 Penyusun: Masriani Naibaho Universitas Palangka Raya 2026

K A T A P E N G A N T A RK A T A P E N G A N T A RPuji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga e-booklet yang berjudul “Mengenal Jenis-jenis Fungi Mikroskopis pada Limbah Sayuran” dapat diselesaikan dengan baik. E-booklet ini disusun sebagai bahan penunjang pembelajaran Biologi, khususnya pada materi Fungi, dengan menyajikan informasi mengenai cendawan yang dapat ditemukan dalam eco-enzyme yang dihasilkan dari limbah sayuran. Penyusunan e-booklet ini bertujuan untuk membantu peserta didik mengenal cendawan melalui karakteristik morfologi yang dapat diamati secara makroskopis maupun mikroskopis. Materi disajikan dengan bahasa yang sederhana serta dilengkapi dengan gambar dan informasi pendukung agar peserta didik dapat lebih mudah memahami dan mengenali struktur serta karakteristik cendawan. Penulis menyadari bahwa e-booklet ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan e-booklet ini pada masa yang akan datang. Semoga e-booklet ini dapat memberikan manfaat dan menjadi salah satu sumber belajar yang menarik bagi peserta didik dalam mempelajari materi Fungi serta meningkatkan ketertarikan terhadap pembelajaran Biologi.iiPalangka Raya, Desember 2026 Penulis

D A F T A R I S ID A F T A R I S Iii

D A F T A R G A M B A RD A F T A R G A M B A Rii

C a p a i a n P e m b e l a j a r a nC a p a i a n P e m b e l a j a r a nii

Tu j u a n P m b e l a j a r a nTu j u a n P m b e l a j a r a nii

P e n d a h u l u a nP e n d a h u l u a n Eco-enzyme merupakan cairan yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan organik, seperti limbah buah dan sayuran, dengan menggunakan gula dan air. Selama proses fermentasi berlangsung, berbagai mikroorganisme dapat berperan dalam proses penguraian bahan organik.iiT A H U K A H K A M U ? T A H U K A H K A M U ? Setiap hari kita menghasilkan berbagai macam limbah dari aktivitas rumah tangga. Salah satunya adalah limbah sayuran. Sisa sawi, kangkung, kol, tomat, terong, dan berbagai sayuran lainnya sering kali langsung dibuang setelah tidak digunakan. Padahal, bahan organik tersebut masih dapat dimanfaatkan. Salah satu caranya adalah melalui proses fermentasi untuk menghasilkan eco-enzyme. Menariknya... 🔍 Apakah kamu tahu bahwa fungi juga dapat ditemukan dan diamati selama proses tersebut?Nah, sudah siap mengenal dunia Fungi? Yuk, kita pelajari bersama!Apa Itu Eco-Enzyme?

M E N G E N A L E C O - E N Z Y M EM E N G E N A L E C O - E N Z Y M EApa Itu Eco-Enzyme?Gula Aren EM-4 Air Mengapa limbah sayuran dapat dimanfaatkan dalam proses fermentasi? Bahan organik dapat menjadi sumber substrat yang dimanfaatkan oleh mikroorganisme selama proses fermentasi. Komposisi bahan organik menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi karakteristik hasil fermentasi. (Benny et al., 2023) Pernahkah kamu melihat botol berisi cairan hasil fermentasi dari sisa buah atau sayuran? Cairan tersebut dikenal sebagai eco-enzyme. Eco-enzyme merupakan cairan yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan organik dengan menggunakan gula dan air serta melibatkan aktivitas mikroorganisme (Kadim et al. 2022).ii Bahan yang digunakan Limbah Sayuran 🔍 Coba pikirkan! Selama proses fermentasi, bahan organik mengalami berbagai perubahan. Mikroorganisme memanfaatkan bahan organik sebagai sumber nutrisi dan menghasilkan berbagai produk metabolisme (Aulia et al. 2021). Eco-enzyme menjadi salah satu bentuk pemanfaatan bahan organik yang sebelumnya dianggap sebagai limbah. Eco-enzyme dibuat menggunakan perbandingan 1 : 3 : 3, yaitu 1 bagian gula, 3 bagian limbah organik, dan 3 bagian air. Perbandingan tersebut digunakan sebagai dasar dalam mencampurkan bahan sebelum proses fermentasi berlangsung.

M E N G E N A L E C O - E N Z Y M EM E N G E N A L E C O - E N Z Y M ELangkah-langkah Pembuatan Ecoenzymeii

M E N G E N A L E C O - E N Z Y M EM E N G E N A L E C O - E N Z Y M EFungi merupakan organisme heterotrof yang memperoleh nutrisi dari lingkungan dan banyak kelompok fungi hidup pada substrat organik. Fungi juga memiliki kemampuan menghasilkan enzim ekstraseluler yang membantu menguraikan berbagai senyawa organik. (Naranjo-Ortiz & Gabaldón, 2019) Karena eco-enzyme berasal dari bahan organik yang mengalami fermentasi, keberadaan fungi menjadi hal yang menarik untuk diamati. Namun, keberadaan fungi tidak boleh langsung dianggap sebagai hasil fermentasi yang pasti; keberadaannya perlu dibuktikan melalui pengamatan dan identifikasi. Apakah semua fungi dapat dilihat langsung dengan mata? Proses Fermentasiii Limbah sayuran, gula, dan air dicampurkan kemudian difermentasi dalam wadah tertutup. Selama proses fermentasi, mikroorganisme memanfaatkan bahan organik dan gula sebagai sumber nutrisi sehingga terjadi perubahan pada substrat dan terbentuk berbagai produk metabolisme. Eco-enzyme umumnya dihasilkan melalui proses fermentasi bahan organik dengan gula dan air. (Benny et al., 2023) Hubungan Eco-Enzyme dengan Fungi Untuk menjawabnya, kita perlu mengenal terlebih dahulu karakteristik fungi.

M A T E R I F U N G IM A T E R I F U N G IFungi memiliki beberapa karakteristik umum, yaitu: Bersifat eukariotik. Tidak memiliki klorofil. Tidak melakukan fotosintesis. Memperoleh nutrisi secara heterotrof. Dinding sel umumnya tersusun atas kitin. Dapat tersusun atas satu sel atau banyak sel. Sebagian besar fungi multiseluler tersusun atas benang-benang halus yang disebut hifa. Hifa dapat membentuk kumpulan yang disebut miselium. Dapat berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Tahukah Kamu? S t r u k t u r T u b u h F u n g iS t r u k t u r T u b u h F u n g i Tubuh fungi memiliki struktur yang beragam. Pada fungi berfilamen, tubuhnya tersusun atas benang halus yang disebut hifa. Hifa yang tumbuh dan saling berjalinan akan membentuk miselium. Organisme tersebut termasuk dalam kelompok Fungi. Fungi merupakan kelompok organisme eukariotik dan heterotrof yang memiliki dinding sel mengandung kitin. Fungi memiliki bentuk dan organisasi tubuh yang sangat beragam, mulai dari bentuk uniseluler seperti khamir hingga fungi berfilamen yang tersusun atas hifa. (Naranjo-Ortiz & Gabaldón, 2019) Fungi dapat ditemukan pada berbagai lingkungan dan memiliki peranan penting dalam proses penguraian bahan organik serta siklus unsur di lingkungan.ii Pernahkah kamu melihat jamur tumbuh pada makanan, tanah, kayu, atau bahan organik yang mengalami perubahan? C i r i - C i r i U m u m F u n g iC i r i - C i r i U m u m F u n g i Pada beberapa fungi, terdapat struktur khusus yang berperan dalam pembentukan atau penyebaran spora, seperti konidiofor dan konidia.Tidak semua fungi berbentuk seperti jamur yang biasa kita lihat dengan mata. Sebagian fungi berukuran mikroskopis dan baru dapat diamati dengan bantuan mikroskop.

M A T E R I F U N G IM A T E R I F U N G IFungi memiliki keanekaragaman yang sangat tinggi. Berdasarkan kajian filogenetik modern, kelompok besar fungi mencakup beberapa filum, antara lain Ascomycota, Basidiomycota, Mucoromycota, Glomeromycota, Chytridiomycota, dan kelompok lainnya. (Naranjo- Ortiz & Gabaldón, 2019) Beberapa fungi yang dibahas dalam e-booklet ini, seperti Aspergillus, Penicillium, Saccharomyces, dan Candida, termasuk dalam kelompok Ascomycota berdasarkan klasifikasi yang digunakan dalam materi ini. Ascomycota merupakan salah satu filum fungi dengan keragaman yang sangat besar.Fungi dapat berkembang biak melalui mekanisme seksual maupun aseksual. Pada beberapa fungi berfilamen, reproduksi aseksual dapat menghasilkan spora seperti konidia. Sementara itu, kelompok khamir seperti Saccharomyces cerevisiae dapat berkembang biak melalui pertunasan (budding). (Naranjo-Ortiz & Gabaldón, 2019; Duina et al., 2014)ii Reproduksi Fungi K l a s i f i k a s i F u n g iK l a s i f i k a s i F u n g i 🔍 Coba pikirkan!Jika fungi memiliki bentuk tubuh yang berbeda-beda, apakah cara mengenalinya juga akan sama? P e r a n a n F u n g i d a l a m K e h i d u p a nP e r a n a n F u n g i d a l a m K e h i d u p a nFungi memiliki berbagai peranan dalam kehidupan. Dalam ekosistem, fungi berperan sebagai pengurai yang membantu menguraikan bahan organik menjadi senyawa yang lebih sederhana. Fungi juga memiliki manfaat dalam bidang pangan, fermentasi, industri, dan kesehatan. Namun, beberapa fungi dapat menyebabkan kerusakan bahan pangan atau penyakit pada organisme tertentu.🍄 Kalau fungi dapat menguraikan bahan organik, apakah fungi juga mungkin berperan dalam proses perubahan limbah sayuran?

Untuk mengetahui keberadaan Fungi pada eco-enzyme, sampel eco-enzyme diisolasi menggunakan media Potato Dextrose Agar (PDA). Tahapan Pengamatan dan Identifikasi Fungiii Pembuatan preparat dan pewarnaan Koloni Fungi yang tumbuh diambil menggunakan jarum ose steril, kemudian diletakkan pada kaca objek. Preparat diberi pewarna yang digunakan dalam penelitian, yaitu Malachite Green Oxalate, KOH 10%, atau tinta Cina 1%, sesuai kebutuhan pengamatan. Pengamatan makroskopis Koloni yang tumbuh diamati berdasarkan warna, bentuk, tekstur, permukaan, dan tepi koloni. F U N G I P A D A E C O E N Z Y M E L I M B A H S A Y U R A N F U N G I P A D A E C O E N Z Y M E L I M B A H S A Y U R A N Eco-enzyme dibuat dari bahan organik yang difermentasi. Bahan organik tersebut menyediakan sumber nutrisi yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai mikroorganisme. Selama proses fermentasi, terjadi aktivitas mikroorganisme yang menyebabkan bahan organik mengalami perubahan. Fungi tertentu dapat tumbuh apabila kondisi lingkungan mendukung pertumbuhannya. Oleh karena itu, eco-enzyme berbahan limbah sayuran dapat menjadi salah satu lingkungan yang dapat diamati untuk mengetahui keberadaan Fungi mikroskopis. Mengapa Fungi Dapat Ditemukan? B a g a i m a n a F u n g i b i s a D i t e m u k a n ?B a g a i m a n a F u n g i b i s a D i t e m u k a n ? Pengambilan sampel eco-enzyme Sampel cairan eco-enzyme diambil setelah proses fermentasi selesai. Isolasi Fungi Sampel eco-enzyme diinokulasikan sebanyak 100 μL pada media PDA, kemudian diratakan menggunakan metode spread plate. Media diinkubasi pada suhu 25–28°C selama 1–2 hari. Pengamatan Mikroskopis Preparat diamati menggunakan mikroskop untuk melihat hifa dan struktur morfologi Fungi yang menjadi dasar dalam proses identifikasi.

iiJ e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n Setelah melalui proses fermentasi, eco-enzyme dari limbah sayuran dapat menjadi tempat yang memungkinkan berbagai mikroorganisme untuk tumbuh. Salah satunya adalah fungi atau cendawan mikroskopis. Untuk mengetahui keberadaan fungi, sampel eco-enzyme terlebih dahulu diisolasi pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Koloni fungi yang tumbuh kemudian diamati secara makroskopis dan mikroskopis. Pengamatan dilakukan dengan memperhatikan warna, bentuk, tekstur, permukaan, dan tepi koloni, serta struktur mikroskopis seperti hifa, miselium, dan struktur pembentukan spora. Hasil pengamatan tersebut digunakan untuk mengenali karakteristik dan mengidentifikasi jenis fungi yang terdapat pada eco-enzyme limbah sayuran. Yuk, Kenali Fungi yang Ditemukan! 🔍 Penasaran fungi apa saja yang ditemukan? Yuk, kita kenali satu per satu!

AspergillusAspergillus sp. merupakan jamur kapang mikroskopis berfilamen yang tubuhnya tersusun atas hifa dan membentuk miselium. Kapang ini umumnya memiliki hifa bersekat dan menghasilkan spora secara aseksual melalui konidia. Konidia terbentuk pada ujung konidiofor, yang biasanya memiliki bagian ujung membulat atau vesikel dan dikelilingi struktur penghasil konidia Sinaga et al. (2020). Secara makroskopis, koloni Aspergillus dapat memiliki warna yang beragam, seperti putih, hijau, kuning, hingga hitam, dengan tekstur umumnya bertepung atau seperti beludru. Aspergillus banyak ditemukan pada bahan organik, termasuk bahan pangan dan limbah sayuran, karena memperoleh nutrisi dengan menguraikan dan menyerap bahan organik dari lingkungannya (Sari et al. 2017) Klasifikasi Aspergillus sp. Kingdom : Fungi Filum : Ascomycota Kelas : Eurotiomycetes Ordo : Eurotiales Famili : Aspergillaceae Genus : Aspergillus.ii J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n Gambar 1. Aspergillus Sumber : Dokumentasi Pribadi

SaccharomycesSaccharomyces merupakan genus jamur yang termasuk kelompok khamir (yeast) dari filum Ascomycota. Jamur ini umumnya bersifat uniseluler dan dapat berkembang biak dengan cara pertunasan (budding) (Utami Nasution et al. 2025). Salah satu spesies yang banyak digunakan dalam proses fermentasi adalah Saccharomyces cerevisiae. Khamir ini memiliki kemampuan memfermentasi gula dan menghasilkan etanol sehingga banyak dimanfaatkan dalam berbagai proses fermentasi (Mayangsari & Krisno, 2012 dalam JHPR, 2020). Klasifikasi Saccharomyces sp Kingdom : Fungi Division : Ascomycota Class : Saccharomycetes Order : Saccharomycetales Family : Saccharomycetaceae Genus : Saccharomycesii J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n Gambar 1. Saccharomyces Sumber : Dokumentasi Pribadi

CandidaCandida merupakan genus jamur yang termasuk kelompok khamir (yeast). Sel Candida umumnya berbentuk bulat hingga oval dan dapat berkembang biak secara aseksual melalui pertunasan (budding). Beberapa jenis Candida juga dapat membentuk pseudohifa. Karakteristik morfologi seperti bentuk sel, pertunasan, dan keberadaan pseudohifa dapat digunakan dalam proses identifikasi Candida (Suryaningsih et al., 2018).Klasifikasi Candida Kingdom: Fungi Division: Ascomycota Class: Saccharomycetes Order: Saccharomycetales Family: Debaryomycetaceae Genus: Candidaii J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n Gambar 1. Candida Sumber : Dokumentasi Pribadi

PenicilliumPenicillium merupakan genus jamur kapang yang dapat ditemukan pada berbagai bahan organik. Secara morfologi, Penicillium memiliki hifa dan dapat membentuk struktur penghasil konidia. Konidia yang tersusun pada bagian ujung struktur reproduksinya menjadi salah satu karakter yang digunakan dalam identifikasi genus Penicillium (Yanti et al 2019). Klasifikasi Peniciliium Kingdom: Fungi Division: Ascomycota Class: Eurotiomycetes Order: Eurotiales Family: Aspergillaceae Genus: Penicilliumii J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n J e n i s - j e n i s f u n g i y a n g d i t e m u k a n Gambar 1. Penicillium Sumber : Dokumentasi Pribadi

Kenali Fungi Berdasarkan Karakteristiknyaii A Y O M E N G I D E N T I F I K A S IA Y O M E N G I D E N T I F I K A S I Setelah mempelajari karakteristik beberapa fungi, gunakan informasi yang telah dipelajari untuk menentukan fungi yang sesuai dengan setiap deskripsi berikut. 1. Fungi A Fungi ini merupakan kapang berfilamen. Tubuhnya tersusun atas hifa dan miselium. Pada bagian reproduksi aseksual terdapat konidiofor yang menghasilkan konidia. Konidiofor umumnya memiliki bagian ujung yang membulat dan menjadi tempat terbentuknya struktur penghasil konidia. Fungi yang sesuai adalah .... A. Candida sp. B. Saccharomyces sp. C. Aspergillus sp. D. Penicillium sp. Jawaban: C. Aspergillus sp. 2. Fungi B Fungi ini termasuk kelompok khamir dan umumnya tersusun atas sel tunggal. Reproduksinya dapat berlangsung secara aseksual melalui pertunasan. Salah satu spesies yang dikenal luas dari genus ini adalah Saccharomyces cerevisiae. Fungi yang sesuai adalah .... A. Aspergillus sp. B. Saccharomyces sp. C. Penicillium sp. D. Candida sp. Jawaban: B. Saccharomyces sp.

iiA Y O M E N G I D E N T I F I K A S IA Y O M E N G I D E N T I F I K A S I 3. Fungi C Fungi ini termasuk kelompok khamir. Sel umumnya berbentuk bulat hingga oval dan dapat berkembang biak melalui pertunasan. Pada beberapa jenis dapat ditemukan struktur menyerupai hifa yang disebut pseudohifa. Fungi yang sesuai adalah .... A. Candida sp. B. Aspergillus sp. C. Penicillium sp. D. Saccharomyces sp. Jawaban: A. Candida sp. 4. Fungi D Fungi ini merupakan kapang berfilamen yang memiliki hifa dan menghasilkan konidia. Struktur penghasil konidia memiliki percabangan yang menjadi salah satu karakter penting dalam mengenali genus tersebut. Fungi yang sesuai adalah .... A. Saccharomyces sp. B. Candida sp. C. Aspergillus sp. D. Penicillium sp. Jawaban: D. Penicillium sp.

Apa Itu Kunci Determinasi? Kunci determinasi merupakan panduan untuk membantu mengenali fungi berdasarkan ciri-ciri morfologinya. Kunci ini menggunakan beberapa ciri yang dapat diamati, seperti bentuk sel, keberadaan hifa, pertunasan, pseudohifa, serta bentuk konidiofor. Pada e-booklet ini, kunci determinasi digunakan untuk membantu membedakan empat fungi yang dibahas, yaitu Aspergillus sp., Saccharomyces sp., Candida sp., dan Penicillium sp.ii K U N C I D E T E R M I N A S I F U N G IK U N C I D E T E R M I N A S I F U N G I 🔬 Kenali Ciri-Ciri Fungi Sebelum menggunakan kunci determinasi, perhatikan terlebih dahulu gambar fungi berikut.A. Aspergillus sp.B. Saccharomyces sp.C. Candida sp.D. Penicillium sp.

1.Perhatikan gambar dan ciri-ciri fungi di atas. 2.Mulailah dari nomor 1. 3.Pada setiap nomor terdapat dua pilihan, yaitu a dan b. 4.Pilih pernyataan yang paling sesuai dengan ciri fungi. 5.Ikuti nomor yang ditunjukkan sampai menemukan nama fungiii K U N C I D E T E R M I N A S I F U N G IK U N C I D E T E R M I N A S I F U N G I Cara Menggunakan Kunci Determinasi 💡 Jangan memilih berdasarkan nama fungi yang sudah diketahui. Gunakan ciri yang terlihat pada gambar sebagai dasar untuk mengikuti kunci. 🧩 Kunci Determinasi 1. Berdasarkan bentuk tubuh fungi 1a. Fungi berupa sel ragi atau sel tunggal → lanjut ke nomor 2 1b. Fungi memiliki hifa yang membentuk miselium → lanjut ke nomor 3 2. Berdasarkan ciri sel ragi 2a. Sel ragi berbentuk bulat atau oval dan menunjukkan pertunasan, tanpa ciri pseudohifa pada pengamatan yang digunakan → Saccharomyces sp. 2b. Sel ragi berbentuk bulat atau oval, menunjukkan pertunasan, dan dapat membentuk pseudohifa → Candida sp. 3. Berdasarkan bentuk konidiofor 3a. Konidiofor memiliki bagian ujung yang membulat atau berbentuk vesikel → Aspergillus sp. 3b. Konidiofor memiliki percabangan dengan susunan struktur penghasil konidia yang menyerupai kuas → Penicillium sp.

iiD A F T A R P U S T A K AD A F T A R P U S T A K A Benny, N., Shams, R., Dash, K. K., Pandey, V. K., & Bashir, O. (2023). Recent trends in utilization of citrus fruits in production of eco-enzyme. Journal of Agriculture and Food Research, 13, 100657 Duina, A. A., Miller, M. E., & Keeney, J. B. (2014). Budding yeast for budding geneticists: A primer on the Saccharomyces cerevisiae model system. Genetics, 197(1), 33–48. Mayer, F. L., Wilson, D., & Hube, B. (2013). Candida albicans pathogenicity mechanisms. Virulence, 4(2), 119–128. Naranjo-Ortiz, M. A., & Gabaldón, T. (2019a). Fungal evolution: Major ecological adaptations and evolutionary transitions. Biological Reviews, 94(4), 1443–1476. Naranjo-Ortiz, M. A., & Gabaldón, T. (2019b). Fungal evolution: Diversity, taxonomy and phylogeny of the Fungi. Biological Reviews, 94(6), 2101–2137. Samson, R. A., Visagie, C. M., Houbraken, J., Hong, S.-B., Hubka, V., Klaassen, C. H. W., Perrone, G., Seifert, K. A., Susca, A., Tanney, J. B., Varga, J., Kocsubé, S., Szigeti, G., Yaguchi, T., & Frisvad, J. C. (2014). Phylogeny, identification and nomenclature of the genus Aspergillus. Studies in Mycology, 78, 141–173 Visagie, C. M., Houbraken, J., Frisvad, J. C., Hong, S.-B., Klaassen, C. H. W., Perrone, G., Seifert, K. A., Varga, J., Yaguchi, T., & Samson, R. A. (2014). Identification and nomenclature of the genus Penicillium. Studies in Mycology, 78, 343–371.Sari, A. R., Kusdiyantini, E., & Rukmi, M. G. I. (2017). Produksi selulase oleh kapang Aspergillus sp. hasil isolasi dari limbah pengolahan sagu (Metroxylon sp.) dengan variasi konsentrasi inokulum pada fermentasi terendam statis. Jurnal Biologi, 6(1), 11–20. Kadim, L. A. N., Ambarita, I., Maulita, Y., Novriyenni, Simanjuntak, M., Rahmadani, S., Fauzi, A., & Sihombing, A. (2022). Pelatihan pembuatan eco enzym secara online dari sampah buah dan sayuran sebagai disinfectant dan hand sanitizer herbal kepada guru-guru SMK Pusat Keunggulan. Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat METHABDI, 2(1), 17–20. M. N. Aulia, N., dkk. (2021). Analisis efektivitas ecoenzym dari limbah organik kulit mentimun sebagai pengawet tomat. Biology Science & Education, 10(1).

iiD A F T A R P U S T A K AD A F T A R P U S T A K A Sinaga, L., Lingga, R., Afriyansyah, B., & Hudatwi, M. (2020). Identifikasi jamur makroskopik dari tambak udang Litopenaeus vannamei sistem semi-intensif. Ekotonia: Jurnal Penelitian Biologi, Botani, Zoologi dan Mikrobiologi, 5(1), 17–25. Utami Nasution, A. T., Daulay, A. S., & Ridwanto. (2025). Isolasi dan identifikasi jamur Saccharomyces cerevisiae dari air nira aren daerah Tanjung Morawa. Farmasainkes: Jurnal Farmasi, Sains dan Kesehatan, 4(2).

iiBIODATA PENULISNamaTempat lahirTanggal lahirAsal sekolah::::Masriani NaibahoBangun Mariah15 April 2005SDN 094097 Simp Pongkalan Tongah SMPN 4 Pematang Raya SMAN 3 Pematang SiantarMasriani Naibaho, lahir di Bangun Mariah, Kecamatan Dolok Masagal, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, pada tanggal 15 April 2005. Penulis menempuh pendidikan dasar di SD Simp Pongkalan Tongah, kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 4 Raya. Pendidikan menengah atas diselesaikan di SMA Negeri 3 Pematang Siantar. Saat ini, penulis sedang menempuh pendidikan Strata Satu (S1) pada Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikann di Universitas Palangka Raya.