KAPURUNGKELOMPOK 2 E | Sosiologi Antropologi Gizi Jejak Rasa, Makna Kultural, dan Optimalisasi Gizi Pangan Sagu Tana Luwu, Sulawesi Selatan TANA LUWU · SULAWESI SELATAN BUKU SAKU · DOKUMENTASI ETNOGIZI2. Arshinta Salsabila 2403055010583. Elvi dwinarti 240305501059 4. Nur Annisa Sahir 2403055010601. Nur Fadilah Darmin 2403055010575. Siti Amira 240305501061PROGRAM STUDI GIZI FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN DAN KESEHATAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

Daftar Isi$3/OnsOrangeTomatoOrganic Options Available Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas convallis mollis mauris, at malesuada quam tempor non. Duis et dictum sapien, sit amet laoreet velit. KAPURUNG · TANA LUWU DAFTAR ISI Kata Pengantar 3 Bagian 1 - Pengantar & Kontekstualisasi Budaya 41.1 Asal-Usul & Geografis 41.2 Dimensi Sosio-Antropologi 51.3 Mitos, Tabu & Kepercayaan 6 Bagian 2 - Profil & Analisis Gizi 82.1 Bahan Utama & Pengolahan Tradisional 82.2 Analisis Nilai Gizi per Porsi 92.3 Evaluasi Sosio-Gizi 10 Bagian 3 - Panduan & Re-Edukasi Gizi 123.1 Potensi Gizi & Solusi Kesehatan 123.2 Rekomendasi Modifikasi Resep 133.3 Lembar Panduan Konseling Gizi 14 Bagian 4 - Penutup & Referensi 164.1 Kesimpulan 164.2 Daftar Pustaka 17

Kata PengantarIndonesia adalah negeri dengan ribuan resep yang diwariskan bukan lewat buku, melainkan lewat tangan, ingatan, dan cerita lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di balik kesederhanaan sepiring makanan tradisional, tersimpan sejarah migrasi, adaptasi ekologi, dan sistem nilai yang menjaga keharmonisan sebuah masyarakat dengan alamnya. Buku saku ini disusun sebagai bagian dari tugas Ujian Tengah Semester dengan tema Dokumentasi Etnogizi, Makna Kultural, dan Optimalisasi Nilai Gizi Pangan Tradisional/Pangan Lokal. Kelompok kami memilih Kapurung, hidangan berbahan dasar sagu yang menjadi identitas kuliner masyarakat Tana Luwu yang meliputi Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kapurung dipilih karena tiga alasan. Pertama, hidangan ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia, menandakan nilai historis dan kulturalnya yang diakui negara. Kedua, komposisinya yang memadukan karbohidrat sagu, protein hewani, dan aneka sayuran menjadikannya kasus menarik untuk analisis gizi sekaligus evaluasi kritis terhadap pengolahan tradisional. Ketiga, sebagai pangan yang terus bertahan di tengah dominasi beras, Kapurung membuka ruang diskusi tentang ketahanan pangan lokal berbasis sagu. Melalui buku saku ini, kami berharap dapat menjembatani dua bidang ilmu yang sering berjalan sendiri-sendiri yaitu antropologi pangan yang memahami makna, dan ilmu gizi yang mengukur manfaat agar edukasi gizi kepada masyarakat dapat disampaikan tanpa mencerabut mereka dari akar budayanya sendiri. KAPURUNG · TANA LUWU KATA PENGANTAR

$3/Ons1.1 Asal-Usul & Geografis Tana Luwu adalah sebutan historis untuk kawasan bekas Kedatuan Luwu, kerajaan tertua di jazirah Sulawesi Selatan. Wilayah ini kini mekar menjadi tempat daerah administratif: Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, dan Kabupaten Luwu Timur. Secara ekologis, Tana Luwu dicirikan oleh dataran rendah, rawa, dan pesisir yang sangat sesuai bagi pertumbuhan pohon sagu (Metroxylon sagu), bahkan di beberapa wilayah Luwu Utara, sagu tumbuh liar tanpa perlu dibudidayakan secara intensif.OrangeTomato Pengantar & Kontekstualisasi BudayaOrganic Options Available Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas convallis mollis mauris, at malesuada quam tempor non. Duis et dictum sapien, sit amet laoreet velit. BAGIAN 1BAGIAN 1- PENGANTAR & KONTEKSTUALISASI BUDAYA 04Kondisi ekologi inilah yang membentuk pola pangan masyarakat Luwu jauh sebelum beras menjadi makanan pokok dominan di Sulawesi Selatan. Sagu diolah menjadi tepung basah (disebut tabaro) yang kemudian direbus dan dibentuk menjadi bulatan- bulatan kecil menggunakan sumpit, teknik pembentukan inilah yang melahirkan nama “Kapurung”, merujuk pada bentuk bulatan sagu tersebut. Di wilayah asalnya sendiri, hidangan ini juga dikenal dengan nama Pugalu. Bulatan sagu ini kemudian disiram kuah berbasis kaldu ikan, ayam, atau daging, yang diberi rasa asam segar dari buah patikala atau air jeruk, dicampur sayuran seperti jantung pisang, bayam, kacang panjang, terong,dan jagung muda. Perpaduan sagu, sayuran, dan hasil perairan dalam kapurung mencerminkan pemanfaatan beragam sumber pangan yang tersedia di lingkungan masyarakat Luwu.

Pengantar & Kontekstualisasi Budaya $3/OnsOrangeTomatoOrganic Options Available BAGIAN 11.2 Dimensi Sosio-Antropologi Kapurung memiliki fungsi sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat Luwu. Makanan ini tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan dan identitas kuliner masyarakat Tana Luwu. Kapurung dikenal sebagai salah satu makanan tradisional khas Luwu Raya dan hingga saat ini masih banyak dikonsumsi oleh masyarakat, khususnya di Kota Palopo. Tingginya minat masyarakat terhadap Kapurung menunjukkan bahwa makanan tradisional ini masih memiliki kedudukan dalam kehidupan masyarakat setempat. Dalam kehidupan sosial masyarakat, pangan tradisional seperti Kapurung juga dapat menjadi bagian dari kegiatan berkumpul dan makan bersama. Keberadaan makanan khas daerah dalam kegiatan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga membantu mempertahankan kebiasaan dan pengetahuan kuliner yang diwariskan antargenerasi. Kapurung yang dibuat menggunakan sagu sebagai bahan utama menunjukkan adanya pemanfaatan sumber daya pangan lokal yang telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Luwu. Kapurung juga memiliki nilai sebagai identitas kuliner masyarakat Luwu. Ciri khasnya terletak pada penggunaan bulatan sagu yang disajikan bersama kuah dan berbagai bahan pangan seperti sayuran serta ikan atau bahan lainnya. Cara pengolahan dan penyajiannya menjadi bagian dari karakteristik makanan tersebut sehingga membedakannya dari makanan daerah lain. Keberadaan Kapurung yang masih diminati masyarakat menunjukkan bahwa pangan tradisional tersebut tetap dipertahankan di tengah perkembangan makanan modern.BAGIAN 1- PENGANTAR & KONTEKSTUALISASI BUDAYA 05

Pengantar & Kontekstualisasi Budaya $3/OnsOrangeTomatoOrganic Options Available BAGIAN 1 Dengan demikian, fungsi sosio-antropologi Kapurung dapat dilihat sebagai bagian dari kebiasaan pangan masyarakat, sarana dalam kegiatan sosial, serta identitas kuliner dan budaya masyarakat Luwu. Keberadaan Kapurung tidak hanya menunjukkan pemanfaatan sagu sebagai sumber pangan lokal, tetapi juga mencerminkan bagaimana pengetahuan mengenai pengolahan pangan diwariskan dan dipertahankan dalam kehidupan masyarakat. 1.3 Mitos, Tabu & Kepercayaan Berbeda dengan pangan upacara khusus seperti sesajen yang biasanya memiliki aturan konsumsi tertentu dalam ritual, Kapurung tidak dikenal memiliki pantangan konsumsi yang ketat berdasarkan kasta, jenis kelamin, maupun usia. Sifatnya yang relatif inklusif menjadikan Kapurung dapat dikonsumsi oleh berbagai kalangan dan memperkuat perannya sebagai salah satu makanan yang merepresentasikan kebersamaan masyarakat Luwu. Dalam kebiasaan masyarakat Desa Takkalala, Kapurung termasuk anre pong, yaitu makanan berat, sehingga secara tradisional lebih sering dikonsumsi pada waktu siang sebagai makanan utama setelah melakukan aktivitas. Kebiasaan tersebut merupakan warisan dari orang tua dan menjadi bagian dari pola makan masyarakat setempat. Kapurung umumnya tidak dikonsumsi sebagai sarapan, sedangkan konsumsi pada malam hari lebih berkaitan dengan kondisi tertentu seperti setelah berbuka puasa pada bulan Ramadan. Hal ini menunjukkan adanya norma kebiasaan mengenai waktu makan, meskipun bukan merupakan larangan adat yang bersifat mutlak.BAGIAN 1- PENGANTAR & KONTEKSTUALISASI BUDAYA 06

Pengantar & Kontekstualisasi BudayaSelain waktu konsumsi, masyarakat Luwu juga memiliki kebiasaan untuk menikmati Kapurung ketika masih hangat. Kapurung yang telah dingin akan mengalami perubahan tekstur menjadi lebih keras, sehingga masyarakat setempat cenderung menghindari atau tidak menyukai Kapurung yang sudah dingin. Sumber mengenai Kapurung di Desa Takkalala menyebutkan bahwa masyarakat mengutamakan kesegaran makanan dan Kapurung sebaiknya segera disantap setelah disajikan. Dengan demikian, hal ini lebih tepat disebut sebagai kepercayaan atau kebiasaan kuliner mengenai kualitas dan kesegaran makanan, bukan tabu berdasarkan jenis kelamin, usia, atau status sosial. Dari sisi sosial budaya, Kapurung juga mengalami perubahan makna di masyarakat Luwu. Dahulu makanan berbahan sagu seperti Kapurung kurang dianggap sesuai untuk disajikan dalam pesta perkawinan atau acara besar karena nasi lebih dipandang sebagai makanan yang layak untuk hidangan pesta. Namun, seiring perubahan sosial, Kapurung mengalami peningkatan penerimaan dan sekarang dapat disajikan dalam berbagai kegiatan sosial serta menjadi makanan yang memperkuat identitas masyarakat Luwu. Penelitian tentang Kapurung di Kota Palopo juga menunjukkan bahwa makanan ini memiliki posisi yang kuat sebagai makanan tradisional Tana Luwu dan memiliki tingkat penerimaan yang tinggi di masyarakat.BAGIAN 1- PENGANTAR & KONTEKSTUALISASI BUDAYA 07 BAGIAN 1

2.1 Bahan Utama & Cara Pengolahan Tradisional Komponen utama Kapurung terdiri atas empat kelompok bahan yang saling melengkapi secara gizi: Sumber karbohidrat: tepung/pati sagu basah (tabaro), dibentuk bulatan kecil dengan bantuan air panas dan sumpit. Sumber protein: ikan segar (umumnya ikan air tawar/laut lokal), ayam suwir, atau kadang daging yang direbus menjadi kaldu dasar. Profil & Analisis Gizi $3/OnsOrangeTomatoOrganic Options AvailableBAGIAN 2 · PROFIL & ANALISIS GIZI 08 BAGIAN 2Sayuran: jantung pisang, bayam, kacang panjang, terong, daun katuk, labu siam, dan jagung muda. Perasa & bumbu: air asam dari buah patikala atau jeruk nipis/belimbing wuluh, cabai rawit, bawang merah-putih, dan kacang tanah tumbuk sebagai pengental serta penambahProses Pengolahan Secara tradisional, tahapannya adalah: (1) sagu basah diseduh air mendidih hingga membentuk gel kenyal transparan (gelatinisasi pati); (2) adonan dibentuk bulat kecil menggunakan sumpit; (3) kaldu ikan/ayam dimasak bersama bumbu dan air asam hingga mendidih; (4) sayuran dimasukkan menjelang akhir agar tetap segar dan tidak terlalu layu; (5) bulatan sagu disiram kuah panas saat penyajian.

Bahan (per 1 gram) Energi Karbohidrat Protein Lemak Pati sagu 335–355 kkal 84,7 g 0,7 g 0,2–0,7 g Basah Ikan segar (rata- rata) 90–120 kkal 0 g 18–20 g 1-5 g Sayuran hijau campur 35–73 kkal 6–13 g 2–7 g 0,3–1,2 g Kacang tanah tumbuk 567 kkal 16 g 25 g 49 gProfil & Analisis Gizi 2.2 Analisis Nilai Gizi per Porsi Karena tidak tersedia data laboratorium khusus untuk Kapurung sebagai hdangan utuh, kelompok kami menggunakan pendekatan analisis berbasis komponen (component-based estimation): menjumlahkan nilai gizi tiap bahan penyusun berdasarkan Tabel Komposisi Pangan/data proksimat terpublikasi, lalu menyesuaikan dengan takaran lazim satu porsi saji.BAGIAN 2 · PROFIL & ANALISIS GIZI 09 BAGIAN 2 Tabel 2.2 Analisis NIlai Gizi per Porsi

Profil & Analisis Gizi2.3 Evaluasi Sosio-Gizi Kapurung merupakan makanan tradisional khas Tanah Luwu yang berbahan dasar sagu dan biasanya disajikan bersama sayuran serta sumber protein seperti ikan atau daging. Penggunaan berbagai bahan dalam satu hidangan membuat Kapurung tidak hanya berfungsi sebagai makanan pokok, tetapi juga memberikan zat gizi yang berasal dari masing-masing bahan. Dalam proses pembuatannya, bahan-bahan tersebut mengalami perubahan akibat pemanasan yang dapat memengaruhi tekstur, rasa, dan beberapa komponen gizinya. Pada sagu, pemberian air panas menyebabkan pati mengalami gelatinisasi. Proses ini membuat pati menyerap air dan menghasilkan adonan yang kental serta kenyal sehingga dapat dibentuk menjadi bola-bola sagu. Perubahan tersebut merupakan bagian penting dari pengolahan Kapurung karena menghasilkan tekstur khas yang membedakannya dari sagu sebelum diolah. Sementara itu, ikan atau daging yang dimasak mengalami denaturasi protein akibat panas. Protein tetap terdapat dalam makanan, tetapi mengalami perubahan struktur selama proses pemasakan. Sayuran yang digunakan dalam Kapurung juga dapat mengalami perubahan selama pemanasan. Sebagian komponen yang larut dalam air dapat berpindah dari sayuran ke dalam air atau kuah selama proses memasak. Namun, pada Kapurung, sayuran dikonsumsi bersama kuah sehingga komponen yang berpindah ke dalam kuah masih dapat ikut dikonsumsi. Pada ikan atau ayam yang dimasak dengan suhu lebih tinggi, seperti digoreng atau dipanggang, dapat terjadi reaksi Maillard yang menghasilkan perubahan warna, aroma, dan rasa. Oleh karena itu, pengolahan dapat menyebabkan perubahan pada bahan pangan, tetapi tidak berarti seluruh nilai gizinya hilang.BAGIAN 2 · PROFIL & ANALISIS GIZI 10BAGIAN 2

Profil & Analisis Gizi Selain nilai gizi, cara pengolahan Kapurung memiliki nilai sosial karena menjadi bagian dari kebiasaan dan pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal. Pengolahan sagu menjadi bola-bola sagu, penyiapan sayuran, pembuatan kuah atau kaldu, hingga pencampuran seluruh bahan membentuk karakteristik Kapurung yang khas. Penelitian di Kota Palopo menunjukkan bahwa tahapan dan karakteristik pengolahan Kapurung berkaitan dengan penerimaan dan minat konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa cara pengolahan tradisional turut menjaga karakter Kapurung sebagai pangan lokal masyarakat Luwu. Secara keseluruhan, pengolahan tradisional Kapurung tidak sepenuhnya mengikis nilai gizi bahan asal, meskipun sebagian zat gizi dapat berubah atau berkurang selama pemanasan. Sagu tetap menjadi sumber karbohidrat, ikan atau daging memberikan protein, sedangkan sayuran melengkapi hidangan dengan berbagai zat gizi lainnya. Di sisi lain, proses pengolahan menghasilkan tekstur, rasa, dan aroma yang menjadi ciri khas Kapurung. Dengan demikian, pengolahan Kapurung tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan nilai gizi, tetapi juga mempertahankan cara pengolahan dan identitas pangan tradisional Luwu.BAGIAN 2 · PROFIL & ANALISIS GIZI 11 BAGIAN 2

Panduan & Re-Edukasi Gizi Sensitif Budaya 3.1 Potensi Gizi & Solusi Kesehatan Dengan komposisi yang tepat, Kapurung berpotensi menjadi kendaraan edukasi gizi untuk beberapa isu kesehatan masyarakat di wilayah Luwu dan sekitarnya: Pencegahan stunting: mendorong penggunaan protein hewani (ikan/ayam) dalam porsi cukup serta minimal 3 jenis sayuran per porsi untuk anak-anak dan ibu hamil, guna memenuhi kebutuhan protein dan zat besi harian. Pencegahan anemia: mengombinasikan sayuran kaya zat besi (bayam,daun katuk) dengan sumber vitamin C (air jeruk/patikala) yang sudah ada secara alami dalam resep, guna memaksimalkan penyerapan zat besi non-heme. Pengendalian berat badan & risiko penyakit degeneratif : memanfaatkan sifat mengenyangkan sagu dengan indeks glikemik yang relatif bersahabat, dikombinasikan pengendalian porsi kacang tanah dangaram pada kuahBAGIAN 3 - PANDUAN & RE-EDUKASI GIZI 12 BAGIAN 3

Panduan & Re-Edukasi Gizi Sensitif Budaya $3/OnsOrangeTomatoOrganic Options Available Modifikasi di atas sengaja dirancang agar tidak mengubah identitas rasa asam-gurih khas Kapurung, karena penerimaan masyarakat terhadap edukasi gizi sangat bergantung pada seberapa jauh rasa dan bentuk aslinya tetap dijaga. BAGIAN 3 3.2 Rekomendasi Modifikasi Resep Aspek Kebiasaan Umum Rekomendasi Perbaikan Kacang Tanah Ditumbuk banyak untuk kuah kental Kurangi ∼30%, ganti sebagian dengan tumbukan biji labu/wijen untuk tetap gurih namun lebih rendah lemak jenuh Garam/Penyedap Sesuai selera, kadang berlebih Gunakan takaran terukur (≤1 sdt garam/porsi); perkuat rasa dari asam segar dan bawang, bukan garam Ragam sayur 1–2 jenis sayur Standarkan minimal 3–4 jenis sayur per porsi, termasuk sayuran daun hijau tuah Fortifikasi Tanpa tambahan khusus Tambahkan daun kelor cincang di akhir masak kaya zat besi, kalsium, vitamin A tanpa mengubah rasa asam-gurih khas Porsi Protein Bervariasi, kadang minim Standarkan ≥75 g ikan/ayam per porsi dewasa, ≥50BAGIAN 3 - PANDUAN & RE-EDUKASI GIZI 13

$3/OnsOrangeTomatoOrganic Options Available Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas convallis mollis mauris, at malesuada quam tempor non. Duis et dictum sapien, sit amet laoreet velit. 3.3 Panduan Konseling bagi Tenaga Kesehatan Bagian ini disusun sebagai lembar praktis bagi bidan, kader posyandu, ahli gizi puskesmas, atau tenaga promosi kesehatan yang bertugas di wilayah Tana Luwu, agar dapat menjelaskan nilai gizi Kapurung menggunakan bahasa dan simbol yang akrab bagi masyarakat setempat. Prinsip Komunikasi 1.Gunakan istilah lokal yang sudah dikenal (Kapurung, Pugalu, tabaro) hindari istilah gizi teknis seperti "makronutrien" atau "indeks glikemik" tanpa penjelasan sederhana. 2.Mulai dari apresiasi, bukan koreksi: sampaikan dulu bahwa Kapurung memang sudah bergizi, baru kemudian arahkan pada penyempurnaan kecil 3.Gunakan analogi "isi mangkuk empat warna" putih (sagu), merah/oranye (protein & bumbu), hijau (sayur), kuning (jagung/kacang) sebagai cara visual sederhana memastikan kelengkapan gizi tanpa perlu istilah teknis. Contoh kalimat pembuka konseling: “Kapurung yang Ibu masak ini sudah bagus sekali karena ada sagu, ikan, dan sayurnya sekaligus. Supaya makin bagus untuk pertumbuhan anak, Ibu bisa tambah satu jenis sayur hijau lagi dan pastikan ikannya agak banyak, ya.” Panduan & Re-Edukasi Gizi Sensitif BudayaBAGIAN 3BAGIAN 3 - PANDUAN & RE-EDUKASI GIZI 14

$3/OnsOrangeTomatoOrganic Options Available Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas convallis mollis mauris, at malesuada quam tempor non. Duis et dictum sapien, sit amet laoreet velit. Skrip Edukasi per Sasaran Panduan & Re-Edukasi Gizi Sensitif BudayaBAGIAN 3 Sasaran Pesan Kunci Ibu hamil/menyusui Perbanyak ikan dan sayuran hijau tua dalam Kapurung untuk cegah anemia; tambahkan sedikit daun kelor tanpa mengubah rasa. Balita & anakanak Potong sayur dan ikan lebih kecil agar mudah dimakan; pastikan porsi ikan cukup untuk dukung tumbuh kembang. Lansia Kurangi kacang tanah dan garam pada kuah; perbanyak sayur berserat untuk pencernaan dan tekanan darah. Pelaku Usaha Kuliner Standarkan porsi protein-sayur sebagai nilai jual "Kapurung sehat", Sekaligus menjaga konsistensi rasa. Media Bantu Tenaga kesehatan disarankan menggunakan alat peraga sederhana (mangkuk contoh, kartu bergambar bahan Kapurung) saat penyuluhan di posyandu atau pertemuan PKK, mengikuti prinsip "isi mangkuk empat warna" pada halaman sebelumnya, agar pesan lebih mudah diingat tanpa memerlukan literasi gizi teknis dari peserta. Pengingat penting: Seluruh rekomendasi pada Bagian 3 bersifat edukatif umum danbukan pengganti konsultasi gizi klinis individual, terutama bagi kelompok dengan kondisi kesehatan khusus (diabetes, hipertensi, alergi makanan tertentu).BAGIAN 3 - PANDUAN & RE-EDUKASI GIZI 15

OrangeTomatoKapurung adalah contoh nyata bagaimana pangan lokal dapat menjadi titik temu antara warisan budaya dan kebutuhan gizi masyarakat. Berasal dari adaptasi ekologis masyarakat Tana Luwu terhadap kelimpahan sagu, hidangan ini berkembang menjadi simbol kebersamaan sosial sekaligus solusi pangan bergizi asalkan proporsi protein dan sayurannya dijaga dengan baik. Evaluasi sosio-gizi menunjukkan bahwa nilai gizi Kapurung yang sesungguhnya bertumpu pada kelengkapan lauk dan sayur, bukan pada sagunya semata, yang secara mandiri miskin protein dan mikronutrien. Temuan ini membuka jalan bagi strategi edukasi gizi yang tidak mengubah identitas kultural Kapurung, melainkan menyempurnakan proporsi bahan yang sudah ada di dalamnya ada sebuah pendekatan yang sensitif budaya sekaligus berbasis bukti. Dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dan potensinya sebagai produk UMKM, Kapurung memiliki peluang besar untuk terus dilestarikan, sekaligus dioptimalkan sebagai media edukasi gizi masyarakat Tana Luwu dan Sulawesi Selatan secara lebih luas.4.1 Kesimpulan Penutup & ReferensiBAGIAN 4BAGIAN 4- PENUTUP & REFERENSI 16

$3/OnsOrangeTomato Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Maecenas convallis mollis mauris, at malesuada quam tempor non. Duis et dictum sapien, sit amet laoreet velit. 4.2 Referensi Penutup & ReferensiBAGIAN 4BAGIAN 4- PENUTUP & REFERENSI 17Firdamayanti, F., dkk. (2024). Analisis atribut mutu produk kapurung menggunakan House of Quality. Jurnal Triton, 15(2), 287–299. Firdamayanti, E., Srihidayati, G., & Lisanty, F. I. (2024). Identifikasi faktor- faktor proses pengolahan Kapurung yang memengaruhi minat konsumen dengan menggunakan metode Quality Function Deployment (QFD) di Kota Palopo. Jurnal Triton, 15(2), 287–299. https://doi.org/10.47687/jt.v15i2.736 Imranah, I., Yusaerah, N., Wana, N., & Faradita, U. (2024). Ethnochemistry: Studying the food chemistry in the making of Kapurung. Hydrogen: Jurnal Kependidikan Kimia, 12(5), 1108–1121. https://doi.org/10.33394/hjkk.v12i5.13325 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Tabel komposisi pangan Indonesia. Kusdarianto. (2021). Pengolahan sagu menjadi sinole dengan varian rasa di masyarakat Tana Luwu: Sebagai upaya penambahan ekonomi selama pandemi COVID-19. SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 4(3), 829–833. Palijama, S., dkk. (2025). Variasi komposisi kimia produk pangan berbasis sagu. Jurnal Agrosilvopasture-Tech, 4, 214–220. Rajab, & Munisya. (2020). Potensi olahan diversifikasi pangan lokal berbahan sagu di Kabupaten Luwu Utara. BIOFARM: Jurnal Ilmiah Pertanian, 16(2). Umasangadji, & Rijal. (2024). Komposisi kimia tepung sagu per 100 gram. Dalam S. Palijama dkk. (2025), Variasi komposisi kimia produk pangan berbasis sagu. Jurnal Agrosilvopasture-Tech, 4, 214–220.

Kapurung: Jejak Rasa, Makna Kultural, dan Optimalisasi Gizi Pangan…

arshinta salsabila
Пожаловаться