BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA PANDUAN Kokurikuler Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah

2025 BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA PANDUAN Kokurikuler Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah

Panduan Kokurikuler Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah Pengarah Prof. Dr. Toni Toharudin, S.Si., M.Sc., Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Penanggung Jawab Dr. Laksmi Dewi, M.Pd., Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Penyusun Nina Purnamasari, S.H., M.Ak., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Rizki Maisura, S. Psi., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Dr. Kosasih Ali Abu Bakar, S.Kom, MMSI., Pusat Penguatan Karakter Yoga Adi Pratama, M.Pd., SDN Harapan 1 Kota Cimahi Dr. Tri Wahyuni, S.Pd., M.Si., BPK PENABUR Jakarta Sri Aryati Handayani, S.Pd., Gr., SMKN 7 Bandung Maria Jeanindya Wahyudi, S.Ip, Yayasan Pendidikan Semi Palar Penelaah Prof. (Em) Suyanto, M.Ed., Ph.D., Universitas Negeri Yogyakarta Prof. Suwarsih Madya, M.A., Ph.D, Universitas Negeri Yogyakarta Prof. (Em) Dr. Ir. Bambang Soehendro, M.Sc., Universitas Gadjah Mada Prof. Ali Saukah, M.A., Ph.D., Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur Prof. Bambang Suryadi, Ph.D., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Waras Kamdi, M.Pd, Universitas Negeri Malang Prof. Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D., Atdikbud KBRI Canberra/Universitas Negeri Jakarta Ir. Harris Iskandar Ph.D., Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc, Ph.D., Universitas Negeri Jakarta Dr. Ir. Kiki Yuliati, M.Sc., Praktisi Dr. Laksmi Dewi, M.Pd., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Nur Luthfi Rizqa H, M.Pd., Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Yogi Anggraena, M.Si., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran M. Heru Iman Wibowo, S.Si., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Nur Rofika Ayu Shinta Amalia, S.Si., Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Ilustrator Anne Nurul Aini Penata Letak Joko Setiyono Penerbit: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2025

iviv Kata Pengantar Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas terbitnya Panduan Kokurikuler ini. Panduan ini disusun untuk memberikan inspirasi dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan kokurikuler pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah. Kokurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler dalam rangka pengembangan karakter dan kompetensi murid. Kokurikuler dimaksudkan untuk membuka ruang yang lebih fleksibel bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan menanamkan nilai-nilai yang dimiliki oleh satuan pendidikan. Pelaksanaan kokurikuler dilakukan secara fleksibel, dari segi muatan, kegiatan, dan waktu pelaksanaannya. Satuan pendidikan dapat melibatkan orang tua, masyarakat dan/ atau dunia kerja untuk merancang dan menyelenggarakan kokurikuler. Kami berharap implementasi kokulikuler oleh satuan pendidikan akan lebih efektif, sederhana, dan relevan. Oleh karena itu, panduan ini hadir untuk menjadi inspirasi pelaksanaan kokurikuler bagi satuan pendidikan dengan ragam tingkat perkembangan dan ketersediaan sumber daya. Panduan kokurikuler ini memuat makna dan urgensi, kerangka pembelajaran, perencanaan dan pelaksanaan, serta evaluasi dan tindak lanjut kokurikuler. Panduan ini dibuat untuk digunakan dengan dokumen lain yang relevan agar saling melengkapi. Saya menyampaikan selamat dan terima kasih kepada seluruh tim penyusun dan penelaah, beserta tim Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, yang telah bekerja dengan sepenuh hati untuk menghasilkan panduan ini Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Prof. Dr. Toni Toharudin, S.Si., M.Sc

vv Daftar isi Kata Pengantar ...................................................................................................... iv Daftar isi .................................................................................................................. v A Makna dan Pentingnya Kokurikuler ......................................................... 1 1. Pengertian Kokurikuler............................................................................................................. 1 2. Pentingnya Kokurikuler ............................................................................................................ 2 3. Tujuan Kokurikuler..................................................................................................................... 3 4. Karakteristik Kokurikuler ......................................................................................................... 5 B Kerangka Pembelajaran Kokurikuler ....................................................... 8 1. Praktik Pedagogis ....................................................................................................................... 8 2. Lingkungan Pembelajaran....................................................................................................... 9 3. Kemitraan Pembelajaran.......................................................................................................... 9 4. Pemanfaatan Teknologi Digital.............................................................................................. 14 C Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen Kokurikuler ........................ 16 1. Perencanaan Kokurikuler ......................................................................................................... 16 2. Pelaksanaan dan Asesmen Kokurikuler ............................................................................... 55 3. Pelaporan Hasil Kokurikuler .................................................................................................... 56 D Evaluasi dan Tindak Lanjut Kokurikuler .................................................. 58 1. Tujuan Evaluasi kegiatan Kokurikuler .................................................................................. 58 2. Pelaksana Evaluasi kegiatan Kokurikuler ............................................................................ 59 3. Model evaluasi kegiatan .......................................................................................................... 60 4. Analisis Evaluasi kegiatan Kokurikuler ................................................................................. 60 5. Tindak lanjut ............................................................................................................................... 60 Referensi ................................................................................................................. 63 Lampiran ................................................................................................................. 64

vivi Kata Pengantar iv Daftar Isi v Makna dan Urgensi Kokurikuler vi A Makna dan Urgensi Kokurikuler 1 1. Pengertian Kokurikuler 1 2. Pentingnya Kokurikuler 2 3. Tujuan Kokurikuler 4 4. Karakteristik Kokurikuler 6 Kerangka Pembelajaran Kokurikuler 8 B Kerangka Pembelajaran Kokurikuler 9 1. Praktik Pedagogis 9 2. Lingkungan Pembelajaran 10 3. Kemitraan Pembelajaran 10 4. Pemanfaatan Teknologi Digital 15 Perencanaan dan Pelaksanaan Kokurikuler 16 C Perencanaan dan Pelaksanaan Kokurikuler 17 1. Perencanaan Kokurikuler 17 2. Melaksanakan Kokurikuler 36 D Evaluasi dan Tindak Lanjut Kokurikuler 59 1. Tujuan Evaluasi kegiatan Kokurikuler 59 2. Pelaksana Evaluasi kegiatan Kokurikuler 60 3. Model evaluasi kegiatan 61 4. Analisis Evaluasi kegiatan Kokurikuler 61 5. Tindak lanjut 61 Referensi 64 Lampiran 65 Inspirasi Pelaksanaan Kokurikuler sampai Pelaporan 65 Makna dan Pentingnya Kokurikuler A

Panduan Kokurikuler1 Makna dan Pentingnya Kokurikuler A Makna dan Pentingnya Kokurikuler 1. Pengertian Kokurikuler Satuan pendidikan perlu menghadirkan beragam pengalaman belajar yang bermakna sebagai upaya membentuk kompetensi murid secara utuh. Pengalaman belajar yang beragam ini diperoleh melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler. Dengan demikian, kegiatan kokurikuler menjadi bagian integral dan berperan strategis untuk mengembangkan kompetensi murid, terutama karakter. Kokurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi, terutama penguatan karakter. Kompetensi yang dimaksud adalah delapan dimensi profil lulusan, yaitu: 1) keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa; 2) kewargaan; 3) penalaran kritis; 4) kreativitas; 5) kolaborasi; 6) kemandirian; 7) kesehatan; dan 8) komunikasi. Delapan dimensi profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Disamping itu, delapan dimensi profil lulusan menumbuhkembangkan lulusan yang memiliki kepemimpinan efektif yang berintegritas, profesional, dan transformatif. Ringkasan Bab Pengertian Kokurikuler Pentingnya Kokurikuler Tujuan Kokurikuler Karakteristik Kokurikuler

Panduan Kokurikuler2 Rancangan kegiatan kokurikuler sebaiknya mendorong murid bebas bereksplorasi melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan dan bermakna. Kokurikuler berisi kegiatan eksperiensial, langsung, berorientasi pada tindakan dan berdasarkan keterampilan. Dari landasan tersebut, kegiatan kokurikuler dalam panduan ini disajikan dalam bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 (tujuh) kebiasaan anak Indonesia hebat, dan/atau cara lainnya untuk memahami, mengaplikasi, dan merefleksi materi terhadap isu atau permasalahan nyata yang relevan bagi murid. Tema dalam pelaksanaan kegiatan kokurikuler berfungsi menyatukan berbagai gagasan yang mengaitkan kegiatan pembelajaran sesuai dengan konteks sosial budaya dan karakteristik murid. Satuan pendidikan berperan penting dalam merancang muatan kokurikuler yang tidak hanya memperhatikan kebutuhan kurikulum, tetapi juga berlandaskan pada potensi dan kekuatan murid serta lingkungannya sebagai titik tolak pengembangan kegiatan. Dengan demikian, kegiatan kokurikuler menjadi ruang tumbuh yang otentik bagi murid untuk belajar dengan cara yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. 2. Pentingnya Kokurikuler Dalam upaya mewujudkan bangsa yang cerdas dan maju, pendidikan bermutu untuk semua adalah komitmen yang harus selalu dipegang teguh. Komitmen ini tidak cukup diwujudkan hanya melalui pengalaman belajar intrakurikuler dan ekstrakurikuler saja, tetapi juga perlu diperkuat melalui kegiatan kokurikuler yang dirancang secara sistematis, bermakna, dan kontekstual. Kokurikuler memiliki peran strategis untuk menjembatani antara pembelajaran konseptual di kelas dan penerapannya dalam kehidupan nyata, sehingga murid dapat mengembangkan kompetensi secara lebih utuh dan kontekstual. Kompetensi dalam hal ini adalah delapan dimensi profil lulusan. Kokurikuler juga memiliki peran untuk menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan, bermakna, dan memberdayakan, yang memungkinkan murid tumbuh menjadi pribadi yang utuh. Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran mendalam sebagaimana didefinisikan oleh Kemendikdasmen (2025), yaitu pendekatan yang memuliakan manusia dengan menekankan penciptaan suasana belajar yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful). Pembelajaran ini tidak hanya melibatkan olah pikir, tetapi juga olah hati, olah rasa, dan olah raga, secara holistik dan terpadu.

Makna dan Pentingnya KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 3 Dalam praktik kokurikuler, murid tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga dilibatkan secara emosional dan sosial. Mereka diajak memahami, mengaplikasi, merefleksikan, dan bertindak. Saat murid bekerja sama dalam proyek tematik, menyelesaikan tantangan berbasis konteks nyata, atau berkontribusi dalam kegiatan sosial, mereka sedang menjalani pembelajaran yang menyentuh dimensi intelektual, etika, estetika, dan kinestetik sekaligus. Dengan kata lain, kokurikuler memberi ruang hidup bagi pembelajaran mendalam untuk benar-benar terjadi bukan hanya di kepala murid, tetapi juga di hati, tangan, dan tindakan nyata mereka. Kokurikuler menjadikan satuan pendidikan bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat bertumbuh sebagai manusia seutuhnya. 3. Tujuan Kokurikuler Kegiatan kokurikuler bertujuan mendukung tercapainya delapan dimensi profil lulusan secara nyata dan kontekstual melalui pengalaman belajar yang bermakna. Delapan dimensi profil lulusan merupakan hasil dari capaian pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Disamping itu, delapan dimensi profil lulusan menumbuhkembangkan lulusan yang memiliki kepemimpinan efektif yang berintegritas, profesional, dan transformatif. Berikut ke delapan dimensi profil lulusannya: Gambar 1. Delapan Dimensi Profil Lulusan

Panduan Kokurikuler4 1 Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan YME Dimensi keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mengacu pada individu yang memiliki keyakinan dan mengamalkan ajaran agama/kepercayaannya, berakhlak mulia, serta menjaga hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, sesama manusia, dan lingkungan. 2 Kewargaan Dimensi kewargaan mengacu pada individu yang bangga akan identitas dan budayanya, menghargai keberagaman, menjaga persatuan bangsa, menaati aturan bernegara dan bermasyarakat, serta menjaga keberlanjutan kehidupan, lingkungan, dan harmoni antarbangsa. 3 Penalaran Kritis Dimensi penalaran kritis mengacu pada individu yang memiliki rasa ingin tahu, mampu berpikir logis dan analitis, serta mampu menganalisis dan menyelesaikan permasalahan, berargumentasi logis, dan memanfaatkan literasi dan numerasi untuk memecahkan masalah. 4 Kreativitas Dimensi kreativitas mengacu pada individu yang mampu berperilaku produktif, menciptakan inovasi, dan merumuskan solusi bagi permasalahan di sekitarnya. 5 Kolaborasi Dimensi kolaborasi mengacu pada individu yang membiasakan diri untuk peduli dan berbagi, serta membangun kerja sama dengan berbagai kalangan di lingkungan sekitar. 6 Kemandirian Dimensi kemandirian mengacu pada individu yang mampu bertanggung jawab, berinisiatif, dan beradaptasi dalam pembelajaran dan pengembangan diri. 7 Kesehatan Dimensi kesehatan mengacu pada individu yang menjalankan pola hidup bersih dan sehat berdasarkan pemahaman tentang kebugaran, kesehatan fisik dan mental, dan berkontribusi secara positif terhadap lingkungannya. 8 Komunikasi Dimensi komunikasi mengacu pada individu yang memiliki kemampuan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis dengan baik dan benar, sesuai etika dalam beragam konteks dan moda.

Makna dan Pentingnya KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 5 4. Karakteristik Kokurikuler Karakteristik kegiatan kokurikuler bersifat fleksibel dan kontekstual, serta dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk sesuai kebutuhan dan kekhasan satuan pendidikan. Namun demikian, kegiatan kokurikuler tidak dirancang secara acak atau sekadar tambahan kegiatan. Kegiatan harus berangkat dari identifikasi dimensi profil lulusan yang ingin dikuatkan atau diperdalam. Dengan menentukan terlebih dahulu aspek dimensi profil lulusan yang menjadi fokus, satuan pendidikan dapat merancang kegiatan kokurikuler yang relevan dan berdampak. Sebuah kegiatan dapat dikembangkan sebagai bagian dari kokurikuler jika bertujuan untuk memperkuat delapan dimensi profil lulusan, menunjang kegiatan intrakurikuler baik secara langsung maupun tidak langsung, serta memberi pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual bagi murid. Dalam konteks ini, kokurikuler dapat dilaksanakan dalam tiga cara, yaitu: 1) pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu; 2) Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH); dan/atau 3) cara lainnya. Cara lainnya mengacu pada kurikulum satuan pendidikan dan/atau kebijakan pemerintah. Satuan pendidikan dapat memilih cara pelaksanaan kokurikuler disesuaikan dengan analisis potensi dan kebutuhan. Kriteria kegiatan kokurikuler adalah: 1. Memiliki tujuan untuk memperkuat satu atau lebih dari delapan dimensi profil lulusan. 2. Mengembangkan tema sebagai muatan pembelajaran yang relevan dengan konteks sosial budaya dan karakteristik murid. 3. Mengelola alokasi waktu secara fleksibel mengacu pada struktur kurikulum yang berlaku. 4. Mengembangkan rangkaian kegiatan secara terencana (memuat tujuan, langkah- langkah pelaksanaan, dan asesmen).

Panduan Kokurikuler6 Satuan pendidikan dapat memanfaatkan atau mengadaptasi kegiatan yang selama ini sudah berjalan, dan/atau merencanakan kegiatan kokurikuler yang baru untuk mencapai delapan dimensi profil lulusan. Oleh karenanya, kegiatan kokurikuler seyogyanya didasarkan pada hasil refleksi dan memaksimalkan praktik baik kokurikuler yang sudah berjalan. Misalnya, kegiatan kerja bakti satuan pendidikan dapat dikaitkan dengan nilai kolaborasi yang merupakan salah satu dari delapan dimensi profil lulusan melalui kebiasaan bermasyarakat (dalam 7 KAIH). Kuncinya adalah bagaimana kegiatan-kegiatan tersebut dirancang secara sadar, terencana, melibatkan murid secara aktif, dan terhubung dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan. Dengan demikian, kokurikuler menjadi ruang yang hidup, bermakna, dan menyatu dalam keseharian satuan pendidikan—bukan sekadar agenda tambahan, melainkan bagian dari upaya bersama untuk membentuk generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.

Kerangka Pembelajaran KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 7 Kerangka Pembelajaran Kokurikuler B

Panduan Kokurikuler8 B Kerangka Pembelajaran Kokurikuler Upaya menjadikan kokurikuler sebagai ruang belajar yang benar-benar bermakna dan berdampak bagi murid, perancangannya perlu mengacu pada kerangka kerja pembelajaran mendalam. Dalam konteks ini, kerangka pembelajaran kokurikuler disusun dengan memperhatikan empat komponen penting yang saling terhubung: praktik pedagogis, lingkungan pembelajaran, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital. 1. Praktik Pedagogis Pendidik berperan sebagai aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajar, yang mendampingi proses berpikir, merasakan, dan bertindak murid secara reflektif, serta melibatkan murid mengembangkan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Praktik pedagogis dalam kokurikuler mengutamakan pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu melalui pembelajaran aktif seperti model pembelajaran Ringkasan Bab Praktik Pedagogis Lingkungan Pembelajaran Kemitraan Pembelajaran Pemanfaatan Teknologi Digital

Kerangka Pembelajaran KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 9 berbasis penyelidikan (inquiry), pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), pembelajaran berbasis masalah, dan ruang eksplorasi yang memungkinkan murid mengonstruksi pengetahuan dan membangun makna secara mandiri maupun kolaboratif. 2. Lingkungan Pembelajaran Kegiatan kokurikuler mendorong pemaknaan ruang belajar yang lebih luas, tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar ruang formal: area-area di dalam dan sekitar satuan pendidikan, komunitas lokal, bahkan ruang digital. Lingkungan pembelajaran yang mendukung adalah lingkungan yang aman, terbuka, inklusif, dan menghargai keberagaman cara belajar murid. Hal ini memungkinkan murid mengalami pembelajaran secara utuh dan kontekstual. 3. Kemitraan Pembelajaran Pelaksanaan kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan/atau cara lainnya agar efektif, berkesinambungan dan berdampak masif, maka diperlukan kemitraan dengan berbagai pihak. Kemitraan dalam hal ini bisa ditinjau dari catur pusat pendidikan yaitu satuan pendidikan, keluarga, masyarakat, dan media. a. Peran Satuan Pendidikan Kegiatan kokurikuler sendiri merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran yang dilakukan pada satuan pendidikan. Satuan pendidikan merupakan pengendali seluruh kegiatan pembelajaran, termasuk kokurikuler. Satuan pendidikan merancang kegiatan kokurikuler sesuai dengan potensi lokal, kebutuhan murid, kompetensi yang ingin dikembangkan, dan karakter yang ingin dikuatkan. Kegiatan kokurikuler di satuan pendidikan menguatkan sinergi dengan keluarga, masyarakat, dan media. dalam mendukung peningkatan kompetensi dan penguatan karakter. Berikut adalah tabel peran satuan pendidikan yang dapat dilakukan dalam kegiatan kokurikuler, antara lain:

Panduan Kokurikuler10 Tabel 1. Peran Satuan Pendidikan Peran Kepala satuan pendidikan • memimpin perencanaan kegiatan kokurikuler sesuai dengan kebutuhan murid. • menjaga ekosistem pendidikan yang kondusif untuk mendukung pelaksanaan kegiatan kokurikuler. • meningkatkan kapasitas SDM pendukung pelaksanaan kegiatan kokurikuler. Pendidik • menjadi koordinator dan fasilitator kokurikuler. • membersamai murid agar menjadi pembelajar aktif, berkolaborasi, dan mengembangkan budaya belajar dalam kegiatan kokurikuler. Tenaga Kependidikan Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Warga satuan pendidikan lainnya Sebagai mitra dan ikut menjaga ekosistem yang kondusif. b. Peran Keluarga dalam Kokurikuler Peran keluarga sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang murid, antara lain karena keluarga sebagai tempat pertama anak-anak belajar tentang nilai-nilai kehidupan, seperti kasih sayang, disiplin, dan tanggung jawab. Keluarga juga memiliki andil besar dalam membimbing anak-anaknya untuk menjadi individu yang berbudi pekerti luhur melalui upaya menciptakan suasana yang penuh perhatian dan kasih sayang. Keluarga harus memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dan pendidikan mereka. Berikut adalah tabel peran keluarga yang dapat dilakukan dalam kegiatan kokurikuler, antara lain:

Kerangka Pembelajaran KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 11 Tabel 2. Peran Keluarga Peran Orang Tua/Wali • memberikan teladan di rumah dan mitra bagi satuan pendidikan. • membimbing anak untuk menanamkan nilai-nilai dasar kebaikan. • membangun ekosistem atau lingkungan yang mendukung peningkatan kompetensi dan penguatan karakter anak di rumah. • menciptakan lingkungan yang kondusif untuk mempraktikkan nilai-nilai kebaikan . • memantau tumbuh kembang anak. • meningkatkan kompetensi dan menguatkan karakter murid sebagai mitra utama satuan pendidikan. Anggota Keluarga lainnya • Mendukung orangtua/ wali dalam penanaman penilaian membangun terhadap kompetensi dan karakter nilai-nilai positif keluarga. • Mendukung secara sosial emosional dan menumbuhkembangkan cinta kasih, kerjasama dan toleransi di dalam keluarga. • menciptakan serta menjaga ekosistem yang kondusif. c. Peran Masyarakat dalam Kokurikuler Masyarakat merupakan mitra penting bagi satuan pendidikan untuk melaksanakan kokurikuler. Masyarakat merupakan lingkungan sosial di luar satuan pendidikan dan keluarga yang dapat memberikan pengalaman dan pembelajaran yang kaya dan beragam, dalam rangka meningkatkan kompetensi serta penguatan karakter. Selain itu, kegiatan bersama masyarakat menjadi wadah bagi murid untuk mengasah kemampuan dan pengetahuan mereka dalam konteks yang lebih luas.

Panduan Kokurikuler12 Pendidikan tidak hanya terjadi di institusi formal seperti satuan pendidikan, tetapi juga melalui interaksi sehari-hari, tradisi, dan aktivitas sosial. Masyarakat merupakan sumber pengetahuan praktis seperti kearifan lokal, keterampilan hidup, dan nilai-nilai moral yang membantu membentuk karakter individu, seperti gotong royong, toleransi, dan disiplin. Dengan menjadikan masyarakat sebagai mitra pendidikan, proses belajar menjadi lebih relevan dan kontekstual. Masyarakat juga dilibatkan langsung untuk berperan aktif untuk menciptakan ekosistem yang kondusif. Tabel berikut menggambarkan peran masyarakat yang dapat dilakukan dalam kegiatan kokurikuler, antara lain: Tabel 3. Peran Masyarakat Peran Komunitas • memberikan akses aktualisasi dan tempat untuk praktik di lapangan seperti kantor desa, balai, dsb. • menjadi teladan dan contoh nyata praktik-praktik baik penguatan karakter. • sebagai mitra (sosialisasi dan advokasi) dan ikut menjaga ekosistem yang kondusif. • mendukung kegiatan sosial murid seperti kerja bakti, bakti sosial, dsb. Dunia Usaha Dunia Industri menjadi fasilitator murid dengan dunia nyata sekaligus ikut membantu untuk magang, praktek kerja, dan lain sebagainya dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kemampuan soft skill. Tokoh Masyarakat • sebagai teladan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan sekaligus menjadi contoh nyata yang membentuk karakter murid. • ikut menjaga ekosistem yang kondusif. Tokoh Agama • memberikan teladan dengan menjunjung tinggi nilai- nilai keagamaan sekaligus menjadi contoh nyata dalam menguatkan karakter religius. • membudayakan karakter toleransi.

Kerangka Pembelajaran KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 13 d. Peran Media dalam Kokurikuler Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melalui internet telah menjadi bagian dalam keseharian. Ada berbagai alasan pentingnya menempatkan media sebagai bagian dari Catur Pusat Pendidikan. Media telah memberikan akses luas dan fleksibel terhadap informasi, sehingga produksi dan penyebarluasan materi atau konten yang berhubungan dengan kegiatan kokurikuler bisa dilakukan melalui media konvensional dan media sosial. Media berpotensi menjadi sarana pembelajaran yang efektif, tidak terbatas waktu dan tempat. Pemanfaatan media dalam pembelajaran harus diarahkan untuk mendukung peningkatan kompetensi dan penguatan karakter. Tabel berikut menyajikan pemanfaatan media untuk mendukung kegiatan kokurikuler, antara lain: Tabel 4. Peran Media Peran Media Sosial • sebagai alat dan mitra untuk menyampaikan nilai, narasi, dan inspirasi peningkatan kompetensi dan penguatan karakter kegiatan kokurikuler yang dapat menjangkau secara luas dan berkelanjutan. Media Konvensional • menjadi alat komunikasi, sosialisasi, dan refleksi.

Panduan Kokurikuler14 4. Pemanfaatan Teknologi Digital Teknologi digital menjadi alat bantu yang memperluas akses belajar dan memperkaya pengalaman belajar murid. Dalam kokurikuler, teknologi dapat dimanfaatkan untuk mencari referensi, mendokumentasikan proses, menyampaikan berbagai pesan ke publik, berkolaborasi jarak jauh, memvisualisasikan ide kreatif murid, mempublikasikan hasil pembelajaran yang telah dikerjakan. Teknologi digital dapat juga dimanfaatkan untuk asesmen dan pertukaran informasi di antara guru tentang perkembangan belajar murid. Dengan memperhatikan keempat komponen ini, kerangka pembelajaran kokurikuler menjadi selaras dengan semangat pembelajaran mendalam, yang tidak hanya mengajarkan apa yang harus dipelajari, tetapi juga mengapa dan bagaimana belajar itu membentuk kehidupan murid. Kerangka ini membantu memastikan bahwa setiap kegiatan kokurikuler tidak hanya menyenangkan dan variatif, tetapi juga mendidik secara utuh dan bermakna.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 15 Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen Kokurikuler C

Panduan Kokurikuler16 C Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen Kokurikuler 1. Perencanaan Kokurikuler Seperti telah disampaikan pada bagian sebelumnya bahwa kokurikuler bertujuan untuk penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi murid. Kompetensi yang dimaksud adalah delapan dimensi profil lulusan yang selanjutnya dimaknai sebagai alur perkembangan kompetensi. Dalam merencanakan kokurikuler, diperlukan beberapa tahapan kerja: a. Penentuan Tim Kerja Kokurikuler Tahapan kerja pertama dalam pengembangan kegiatan kokurikuler adalah pembentukan tim kerja. Pembentukan tim ini dilakukan untuk memastikan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan kokurikuler berjalan secara terstruktur, kolaboratif, dan berkesinambungan. Pada awal tahun ajaran, kepala satuan pendidikan membentuk tim kerja kokurikuler yang terdiri atas kepala satuan pendidikan, guru yang ditugaskan sebagai koordinator kokurikuler (dalam peraturan yang mengatur beban kerja guru disebut koordinator pembelajaran berbasis projek), guru kelas dan/atau guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, serta warga satuan pendidikan lainnya yang relevan. Pembentukan tim ini merupakan wujud nyata kepemimpinan kepala satuan pendidikan dalam merancang kegiatan kokurikuler yang berdampak bagi penguatan kompetensi murid. Ringkasan Bab Perencanaan Kokurikuler Pelaksanaan dan Asesmen Kokurikuler Pelaporan Hasil Kokurikuler

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 17 Dalam pelaksanaannya, tim ini berperan sebagai perancang, pengelola, sekaligus pendamping murid selama proses kokurikuler berlangsung. Berikut pembagian peran dalam tim kerja kokurikuler. Tabel 5. Pembagian Peran dalam Tim Kerja Kokurikuler Peran Kepala Satuan Pendidikan • Memimpin penyusunan kesepakatan dan regulasi pendukung; • Menentukan koordinator kokurikuler; • Memimpin implementasi kegiatan kokurikuler dengan menjadi penanggung jawab; • Memimpin analisis kebutuhan untuk menentukan dimensi profil lulusan yang akan dikuatkan bersama koordinator dan guru kelas/ mata pelajaran; • Memimpin upaya keterlibatan semua pihak dan membangun jejaring kemitraan untuk keperluan kegiatan kokurikuler. Pendidik (Koordinator dan Fasilitator) a. Koordinator Pembelajaran Berbasis Projek (Koordinator Kokurikuler) • mengembangkan kemampuan kepemimpinan dalam mengelola kegiatan kokurikuler di satuan pendidikan; • membuka pintu kolaborasi dengan narasumber untuk memperkaya materi (masyarakat, komunitas, universitas, praktisi); • mengomunikasikan pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, dan kebijakan pendidikan nasional kepada lingkungan satuan pendidikan, orang tua murid, dan mitra (narasumber dan organisasi terkait); • mengelola sistem pelaksanaan kegiatan kokurikuler yang dibutuhkan guru dan murid; • memastikan kolaborasi pembelajaran terjadi di antara para guru yang tergabung di dalam tim sebagai aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajar;

Panduan Kokurikuler18 • memastikan kokurikuler memiliki aktivitas yang kaya dan beragam untuk mengoptimalkan prinsip eksploratif; dan • memastikan rancangan kokurikuler dan asesmen yang dilakukan sesuai dengan kriteria kesuksesan yang sudah ditetapkan. b. Guru Mata Pelajaran/ Guru Kelas sebagai fasilitator kokurikuler • Bersama-sama koordinator menyusun perencanaan dan melaksanakan kegiatan kokurikuler; • Menjadi aktivator, kolaborator, dan pengembang budaya belajari murid dalam kegiatan kokurikuler; • Melakukan asesmen kokurikuler. Tenaga Kependidikan Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung. Warga satuan pendidikan lainnya Sebagai mitra dan ikut menjaga ekosistem yang kondusif. b. Analisis Satuan Pendidikan Tahapan kerja selanjutnya adalah analisis satuan pendidikan. Kegiatan kokurikuler memiliki tujuan akhir untuk mencapai delapan dimensi profil lulusan melalui kurikulum satuan pendidikan, sehingga semua bentuk kegiatan kokurikuler berorientasi pada kebutuhan belajar murid dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. Pemanfaatan analisis ketika menyusun kurikulum satuan pendidikan menjadi dasar perencanaan kegiatan kokurikuler. Analisis satuan pendidikan yang dimaksud dalam perencanaan kokurikuler merupakan analisis lanjutan yang berfokus untuk memetakan tujuan dan perencanaan kegiatan kokurikuler agar berbasis pada kebutuhan satuan pendidikan dan murid. Analisis lanjutan untuk perencanaan kokurikuler terkait dengan kebutuhan belajar murid, sumber daya yang dimiliki oleh satuan pendidikan, pemanfaatan sumber daya tersebut pada kegiatan kokurikuler, serta fasilitasikebutuhan belajar murid.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 19 Identifikasi kebutuhan dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya kepala satuan pendidikan memimpin diskusi dengan pendidik, melakukan observasi, memeriksa dokumen hasil pembelajaran, dan analisis untuk mengidentifikasi delapan dimensi profil lulusan yang masih memerlukan penguatan. Dimensi yang masih memerlukan penguatan, cara melakukan penguatan, dan tindak lanjut dari kegiatan penguatan dimensi tersebut. Dalam melakukan analisis, satuan pendidikan perlu memperhatikan: i. Kesesuaian dengan kurikulum satuan pendidikan. ii. Minat dan bakat murid serta capaian pembelajaran yang belum optimal dicapai dalam kegiatan intrakurikuler, sehingga dapat dioptimalkan pencapaiannya melalui kegiatan kokurikuler. iii. Sumber daya yang dimiliki atau dapat diakses oleh satuan pendidikan. Sumber daya yang dimiliki atau dapat diakses oleh satuan pendidikan meliputi: • Sumber daya fisik (ruang kelas, lapangan, ruang pertemuan, laboratorium, dan lainnya) • Sumber daya manusia (keahlian khusus yang dimiliki guru, orang tua, alumni, • dan mitra belajar lainnya yang dapat dimanfaatkan) • Sumber daya finansial (mempertimbangkan kondisi finansial satuan pendidikan dan kondisi sosial ekonomi keluarga murid) • Sumber daya lingkungan (memanfaatkan fasilitas dan daya dukung lingkungan fisik dan non fisik di sekitar satuan pendidikan seperti museum, sanggar, hutan kota, sawah, kebun perangkat desa, instansi pemerintah, dan lainnya) Secara khusus terkait pemanfaatan sumber daya lingkungan yang sifatnya bermitra. Ketika satuan pendidikan memanfaatkan sumber daya lingkungan sebagai mitra, perlu dipastikan mitra tetap mendapatkan umpan balik atau manfaat dari kegiatan kokurikuler yang dilakukan. iv. Kondisi kontekstual dan karakteristik sosial yang terkait dengan kehidupan keseharian murid.

Panduan Kokurikuler20 c. Membuat perencanaan berdasarkan hasil analisis Dari hasil analisa keempat hal diatas, satuan pendidikan lalu menentukan: (1) Dimensi profil lulusan yang akan dipilih dalam kegiatan kokurikuler Hasil analisis pada tahapan sebelumnya menjadi dasar satuan pendidikan menentukan dimensi profil yang akan disasar dalam kegiatan kokurikuler. Berikut ilustrasi penggunaan hasil analisis satuan pendidikan untuk menentukan dimensi yang akan dicapai melalui kegiatan kokurikuler: Pak Armand SD Lentera Hasil analisis menunjukkan tingkat pemakaian gawai murid semakin meningkat. Kadang hal ini memicu penyebaran informasi yang belum sesuai dengan usia murid. Dengan kondisi ini, dimensi yang sebaiknya dibangun adalah penalaran kritis. Murid diharapkan dapat menyaring dan memilah informasi dari internet. Bu Cici Paud Satu Nusa Tahun ini, kami membuka kelas baru di jenjang TK-A karena permintaan yang meningkat. Di semester pertama, kami akan membangun fondasi dari dimensi kemandirian murid terlebih dahulu.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 21 (2) Tema dalam kegiatan kokurikuler Keberadaan tema berfungsi mengaitkan kegiatan kokurikuler sesuai dengan konteks sosial budaya dan karakteristik murid. Tema dikembangkan oleh satuan pendidikan diperbolehkan menggunakan inspirasi tema dalam panduan ini. Namun satuan pendidikan didorong untuk membuat tema-tema lain yang kontekstual dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Bu Lina SMP Cinta Ilmu Data menunjukkan semakin banyak orangtua murid yang berprofesi sebagai wiraswasta dan mayoritas berada di bidang UMKM dan pariwisata. Pemerintah Daerah juga berencana membuka beberapa area wisata baru dalam waktu dekat. Kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk membangun dimensi kreativitas dan kolaborasi murid. Pak Bara SMK Top Data menunjukkan perusahaan yang bekerja sama dengan satuan pendidikan untuk menjadi tempat murid magang adalah perusahaan dari luar negeri. Untuk mengimbangi hal tersebut saya rasa baik untuk menguatkan dimensi kewargaan murid, demi menjaga nasionalisme tetap tumbuh.

Panduan Kokurikuler22 Referensi tema sebagai inspirasi: a) Generasi sehat dan bugar b) Peduli dan berbagi c) Aku cinta Indonesia d) Hidup hemat dan produktif e) Berkarya untuk sesama dan bangsa f) Gaya hidup berkelanjutan g) dan tema-tema lainnya. (3) Bentuk kegiatan kokurikuler Dalam panduan ini, kegiatan kokurikuler diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama yang dapat dipilih dan dikembangkan oleh satuan pendidikan sesuai dengan karakteristik murid dan konteks satuan pendidikan. Kokurikuler pada pendidikan kesetaraan dilaksanakan paling sedikit melalui pemberdayaan dan keterampilan. Kokurikuler pada satuan PAUD dapat diintegrasikan dengan kegiatan intrakurikuler atau diberikan tema dan alokasi waktu tersendiri. Integrasi dapat dilakukan selama tujuan dan hasil pembelajaran untuk memperkuat delapan dimensi profil lulusan. Ketiga bentuk utama kokurikuler adalah: a) Kegiatan kokurikuler melalui pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin merupakan kegiatan kokurikuler yang mengintegrasikan dua atau lebih mata pelajaran/muatan pembelajaran dalam satu tema yang relevan dengan kehidupan nyata murid. Tujuannya adalah membantu murid melihat keterkaitan antarilmu sebagai upaya mengembangkan delapan dimensi profil lulusan serta memperdalam pemahaman melalui pengalaman kontekstual. Tema yang akan digunakan dapat ditentukan oleh satuan pendidikan dengan didasarkan pada hasil analisis potensi dan kebutuhan satuan pendidikan serta dimensi profil lulusan yang perlu ditingkatkan. Lintas disiplin ilmu di PAUD dapat dipahami seperti layaknya lintas aspek perkembangan pada elemen Capaian Pembelajaran PAUD. Hal ini sesuai dengan karakteristik pembelajaran PAUD yang holistik.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 23 Contohnya satuan pendidikan X mengembangkan tema “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat” sebagai upaya pencapaian dimensi kesehatan, penalaran kritis, dan kolaborasi. Tema ini mengajak murid untuk mengeksplorasi lingkungan sekitar mereka, mengenali masalah kebersihan dan kesehatan, serta merancang kampanye untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Kegiatan ini melibatkan integrasi beberapa mata pelajaran, yakni IPAS, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Seni dan Budaya, dengan peran yang saling melengkapi. Dalam mata pelajaran IPAS, murid diajak untuk mengamati kondisi lingkungan di sekitar rumah atau satuan pendidikan, mengidentifikasi jenis-jenis sampah, serta memahami pengaruh lingkungan terhadap kesehatan. Temuan-temuan tersebut kemudian diolah dalam mata pelajaran Matematika, di mana murid belajar mengumpulkan dan menyusun data dalam bentuk tabel, grafik batang, atau diagram lingkaran sederhana. Setelah itu, mereka mengolah hasil pengamatan dan data tersebut menjadi laporan atau narasi dalam pelajaran Bahasa Indonesia, serta menuliskan pesan kampanye kebersihan dan kesehatan. Seni dan Budaya sebagai penerapan keterampilan dan mengembangkan kreativitas digunakan untuk mendesain poster, brosur, atau media visual lainnya. Poster tersebut dapat berisi ajakan menjaga kebersihan, slogan singkat, serta ilustrasi yang menarik. Pada akhir kegiatan, murid mempresentasikan hasil proyek mereka di depan kelas. Dari ilustrasi di atas, pengembangan pembelajaran kokurikuler kolaboratif lintas disiplin ilmu dapat digambarkan pada Alur di bawah ini.

Panduan Kokurikuler24 Gambar 2. Alur Pengembangan Kegiatan Kokurikuler Lintas Disiplin Ilmu b) Kegiatan Kokurikuler melalui Gerakan 7KAIH Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) berbasis kebiasaan dan pembelajaran mendalam yang mengedepankan pembelajaran penuh kesadaran (meaningful learning), bermakna (mindful learning), dan menyenangkan (joyful learning). Dalam rangka mencapai sebuah kebiasaan diperlukan pembiasaan, dan pembiasaan memerlukan ekosistem pendukung yang dilakukan bersama mitra yang disebut dengan Catur Pusat Pendidikan. Kegiatan kokurikuler G7KAIH ini fokus pada pembentukan karakter murid melalui pembangunan pembiasaan positif yang dilakukan secara rutin, konsisten, dan terencana. Ketujuh kebiasaan tersebut meliputi: 1) Bangun pagi; 2) Beribadah; 3) Berolahraga; 4) Makan sehat dan bergizi; 5) Gemar belajar; 6) Bermasyarakat, dan 7) Tidur Cepat. Sebagai kegiatan kokurikuler, G7KAIH bukan sekedar ajakan moral atau slogan harian, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang perlu dirancang melalui identifikasi kebutuhan, tujuan yang jelas, langkah pelaksanaan yang sistematis, pendampingan, dan asesmen untuk merefleksikan perubahan kebiasaan dan sikap murid. Pada satuan PAUD, kegiatan kokurikuler G7KAIH dapat diintegrasikan dengan intrakurikuler selama tema dan kegiatan terkait dengan 7KAIH. Penentuan Dimensi Profil Lulusan Penentuan Tema Penyusunan Perencanaan Kokurikuler Pelaksanaaan Kokurikuler Evaluasi dan Tindak Lanjut Mapel Mapel Mapel 1 2 3 Pembelajaran Kolaboratif Lintas Disiplin Ilmu

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 25 Kegiatan kokurikuler G7KAIH perlu memperhatikan persyaratan, antara lain; (i) tujuan memperkuat minimal satu dari delapan dimensi profil lulusan; (ii) memperhatikan paduan antara aktivitas pembiasaan dan pengolahan lanjut hasil catatan harian; dan (iii) asesmen boleh dikaitkan dengan satu atau lebih mata pelajaran/muatan pembelajaran yang relevan Implementasi 7KAIH dapat dilakukan dalam berbagai bentuk aktivitas yang menggembirakan, seperti jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas mingguan, kampanye kebiasaan baik, turun ke lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat atau tokoh agama, riset, hingga aksi kolaboratif antar kelas atau tingkat. Berikut gambaran tahapan Pengembangan kegiatan kokurikuler G7KAIH: Gambar 3. Tahapan Pengembangan Kegiatan Kokurikuler Gerakan 7KAIH Penguatan karakter melalui G7KAIH dilakukan beberapa tahapan, antara lain penentuan dimensi profil lulusan, penentuan tema, penentuan pembiasaan (pelaksanaan G7KAIH), penyusunan perencanaan kokurikuler, pelaksanaan kokurikuler, dan evaluasi dan tindak lanjut. Penentuan Dimensi Profil Lulusan Gerakan 7KAIH Penentuan Tema Penentuan Pembiasaan (Pelaksanaan G7KAIH) Penyusunan Perencanaan Kokurikuler Pelaksanaaan Kokurikuler Evaluasi dan Tindak Lanjut

Panduan Kokurikuler26 Penentuan tema dalam kegiatan kokurikuler wajib memperhatikan dimensi profil lulusan yang ingin dicapai, sekaligus menentukan pembiasaan yang akan dilakukan. Pembiasaan ditentukan dengan memperhatikan aktivitas kebiasaan yang akan dilakukan dan dukungan dari Catur Pusat Pendidikan guna membangun ekosistem pendukung. Dalam penyusunan perencanaan memperhatikan praktik pedagogis yang dilakukan, lingkungan dan kemitraan pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, aktivitas kegiatan yang dilakukan, dan evaluasi dan tindak lanjut. Pelaksanaan terdiri dari 4 (empat) kegiatan utama, yaitu (i) membangun kesepakatan antara guru dan murid sebagai upaya membangun kesadaran sekaligus menjelaskan pelaksanaan kegiatan kokurikuler yang akan dilakukan (catatan harian, aktivitas pendampingan, dan refleksi); (ii) melaksanakan kebiasaan dan melakukan monitoring serta melakukan pembahasan secara berkala hasil evaluasi dari kebiasaan yang dilakukan melalui catatan harian atau jurnal (jurnal kebiasaan harian, tantangan kelas mingguan, kampanye kebiasaan baik, turun ke lapangan, wawancara dengan tokoh masyarakat atau tokoh agama, riset, hingga aksi kolaboratif antar kelas atau tingkat); (iii) melakukan diseminasi dan advokasi dengan memberikan materi-materi penting dan berinteraksi dengan praktisi maupun narasumber terkait dengan kebiasaan; dan (iv) membangun kemitraan. Pada tahapan evaluasi terdiri asesmen dan evaluasi serta tindak lanjut. Asesmen yang dilakukan untuk melihat dampak yang terjadi setelah dilakukan pembiasaan. Evaluasi yang dilakukan adalah pelaksanaan kegiatan kokurikuler, dengan melihat masukan (input), proses (process), hasil (outcome. Dan tindak lanjut merupakan kebijakan atau program atau aktivitas yang akan dilakukan setelah melihat hasil asesmen dan evaluasi untuk menyempurnakan keluaran maupun hasil yang dicapai yang dihasilkan

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 27 c) Kegiatan Kokurikuler melalui cara lainnya Bentuk kegiatan kokurikuler dalam kategori cara lainnya berupa kegiatan kokurikuler ciri khas satuan pendidikan berbasis konteks lokal dan kegiatan- kegiatan berbasis nilai-nilai satuan pendidikan, dan kegiatan satu disiplin ilmu yang dalam aktivitasnya terjadi kolaborasi beragam keilmuan dan keahlian. Dalam hal ini, satuan pendidikan diberi kebebasan untuk mengembangkan bentuk kegiatan kokurikuler lain yang sesuai dengan nilai-nilai satuan pendidikan, potensi satuan pendidikan, kebutuhan murid, dan konteks lokal, sepanjang kegiatan tersebut memenuhi kriteria kokurikuler. Kegiatan yang dirancang oleh satuan pendidikan berdasarkan keunikan lokal, nilai-nilai khas satuan pendidikan, potensi yang berkembang di masyarakat sekitar, dan kekayaan budaya atau sosial di daerah tersebut. Misalnya, satuan pendidikan dapat menyelenggarakan kelas membatik, belajar permainan tradisional, praktik bertani atau berkebun, sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan lokal sekaligus menanamkan kecintaan terhadap lingkungan dan budaya sendiri. Kegiatan berdasarkan nilai-nilai khas lembaga atau yayasan, seperti nilai keislaman di satuan-satuan Pendidikan dan/atau pondok pesantren yang berafiliasi dengan lembaga keislaman, nilai kristiani di satuan pendidikan Kristen/Katolik, atau terafiliasi dengan Lembaga agama lainnya. Kegiatan dari monodisiplin seperti pagelaran seni, karena dalam aktivitas pagelaran seni terjadi kolaborasi keilmuan dan keahlian seni serta bidang lainnya yang mendukung. Bentuk kegiatan kokurikuler “cara lainnya” ini mengakui bahwa setiap satuan pendidikan memiliki identitas, konteks, dan kekuatan unik yang patut diangkat dan menjadi sumber belajar. Selama kegiatan tersebut dirancang secara terencana, melibatkan murid secara aktif, terdapat asesmen yang relevan dengan mata pelajaran, serta berorientasi pada delapan dimensi profil lulusan, maka kegiatan tersebut merupakan kokurikuler. Berikut tahapan pengembangan kegiatan kokurikuler cara lainnya:

Panduan Kokurikuler28 Gambar 3. Tahapan Pengembangan Kegiatan Kokurikuler Cara Lainnya (4) Tujuan Pembelajaran Setelah menentukan delapan dimensi profil lulusan, memilih tema yang relevan, dan menetapkan bentuk kegiatan kokurikuler, langkah penting berikutnya adalah merancang tujuan pembelajaran kokurikuler. Tujuan pembelajaran adalah pernyataan yang menggambarkan arah, capaian, dan hasil yang diharapkan dari suatu proses belajar yang dijalani murid. Tujuan pembelajaran dalam konteks kokurikuler merupakan gambaran hasil yang diharapkan setelah melaksanakan kokurikuler. Komponen tujuan pembelajaran adalah gabungan antara kompetensi yang ingin dibangun dan konten atau muatan nilai yang ingin ditanamkan. Kompetensi merujuk pada kemampuan murid delapan dimensi profil lulusan. Sementara itu, konten dapat berupa tema proyek, kebiasaan positif, nilai-nilai khas satuan pendidikan, atau isu kontekstual yang menjadi ruang belajar bagi murid. Sebagai contoh, jika satuan pendidikan menetapkan tema “Lingkunganku Sehat, Aku Kuat” dengan bentuk pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, maka tujuan pembelajaran bisa dirumuskan sebagai: “Murid mampu mengidentifikasi kondisi lingkungan sekitar dan menyampaikan pesan ajakan hidup bersih secara kreatif”. Dalam rumusan ini, terdapat gabungan antara kompetensi penalaran kritis dan komunikasi dengan konten tentang kesehatan lingkungan dan kepedulian sosial. Penentuan Dimensi Profil Lulusan Cara Lainnya Penentuan Tema Penentuan Nilai-nilai/kekh asan/program unggulan sekolah/ kebijakan pemerintah setempat/lainn ya. Penyusunan Perencanaan Kokurikuler Pelaksanaaan Kokurikuler Evaluasi dan Tindak Lanjut

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 29 (5) Alokasi Waktu Langkah pertama merancang alokasi waktu kegiatan kokurikuler adalah mengidentifikasi jumlah total jam kokurikuler yang dimiliki setiap kelas. Jumlah jam tersebut diatur dalam Peraturan Menteri tentang implementasi kurikulum. Berikut adalah alokasi waktu kokurikuler dalam satu tahun ajaran untuk setiap jenjang: Tabel 6. Alokasi Waktu Kegiatan Kokurikuler per Tahun Jenjang PAUD/sederajat, SD/sederajat, SMP/ sederajat, dan SMA/sederajat No Satuan/Jenjang Pendidikan Kelas Alokasi waktu (JP /tahun) 1. PAUD atau bentuk lain yang sederajat - Ditetapkan oleh satuan pendidikan 2. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat I 216 3. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat II 216 4. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat III-IV 252 5. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat V 252 6. SD/MI atau bentuk lain yang sederajat VI 224 7. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat VII-VIII 360 8. SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat IX 320 9. SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat X 396 10. SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat XI 144 11 SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat XII 128

Panduan Kokurikuler30 Berikut adalah alokasi waktu kokurikuler dalam satu tahun pelajaran untuk satuan pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) disetiap jenjang: Tabel 7. Alokasi Waktu Kokurikuler per Tahun Jenjang SMK/sederajat No Satuan/Jenjang Pendidikan Kelas Alokasi waktu (JP /tahun) 1. SMK/MAK X 180 2. SMK/MAK XI 144 3. SMK/MAK (program 3 tahun) XII 32 4. SMK/MAK (program 4 tahun) XII 144 5. SMK/MAK (program 4 tahun) XIII - Berikut adalah alokasi waktu kokurikuler dalam satu tahun pelajaran untuk satuan pendidikan Luar Biasa di setiap jenjang: Tabel 8. Alokasi Waktu Kokurikuler per Tahun Jenjang SDLB/sederajat, SMPLB/sederajat, SMALB/ sederajat No Satuan/Jenjang Pendidikan Kelas Alokasi waktu (JP /tahun) 1. SDLB/MILB I 180 2. SDLB/MILB II 216 3. SDLB/MILB III-IV 252 4. SDLB/MILB V 252

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 31 No Satuan/Jenjang Pendidikan Kelas Alokasi waktu (JP /tahun) 5. SDLB/MILB VI 224 6. SMPLB/MTsLB VII 306 7. SMPLB/MTsLB VIII 306 8. SMPLB/MTsLB IX 272 9. SMALB/MALB X 378 10. SMALB/MALB XI 378 11. SMALB/MALB XII 336 Alokasi waktu total di atas adalah pelaksanaan kokurikuler dalam satu Tahun Pelajaran. Satuan pendidikan dapat membagi pelaksanaannya menjadi dua semester. Alokasi waktu untuk setiap kegiatan tidak harus sama, sehingga memberikan keleluasaan kepada satuan pendidikan untuk menyusun kegiatan kokurikulernya sendiri. Pada struktur kurikulum tercantum bahwa alokasi waktu kokurikuler pada muatan lokal ditandai dengan tanda “–”. Hal ini bukan berarti muatan lokal tidak dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan kokurikuler, melainkan menunjukkan bahwa kokurikuler tidak mengambil alokasi jam pelajaran muatan lokal. Dengan demikian, muatan lokal tetap dapat menjadi bagian dari kokurikuler selama dirancang sebagai penguatan nilai, budaya, atau kearifan lokal melalui pendekatan lintas disiplin. Dalam pengorganisasian kegiatan kokurikuler, guru memiliki alokasi waktu sesuai dengan ketentuan pada tabel di atas. Selain itu, koordinator pembelajaran berbasis proyek (koordinator kokurikuler) juga mendapatkan beban kerja tambahan sebesar 2 jam tatap muka per rombongan belajar, maksimal 3 rombongan belajar sehingga totalnya 6 jam 32 Panduan Kokurikuler pelajaran. Lebih lanjut, setiap guru memiliki

Panduan Kokurikuler32 kesempatan untuk menjadi koordinator pembelajaran berbasis proyek (koordinator kokurikuler), sesuai dengan kebutuhan dan kebijakan satuan pendidikan. (6) Merancang aktivitas Pengembangan aktivitas dalam kegiatan kokurikuler perlu mempertimbangkan pengalaman belajar dalam pembelajaran mendalam, yaitu memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Ketiga pengalaman belajar tersebut diupayakan ada dalam rangkaian kegiatan kokurikuler. Sebagai satu rangkaian, kegiatan kokurikuler juga perlu dirancang beralur. Satuan pendidikan dapat menetapkan secara mandiri jumlah dan apa saja aktivitas yang akan dilakukan pada setiap tahapan, sesuai alokasi waktu yang disepakati. Ada banyak jenis aktivitas pembelajaran yang bisa menjadi kegiatan kokurikuler. Berikut beberapa jenis aktivitas pembelajaran yang dapat digunakan sebagai referensi/inspirasi: a. Aktivitas yang bersifat praktikal Misalnya kegiatan berkebun, bertukang, mengolah bahan pangan, membuat model/maket/instalasi, berniaga, kegiatan olah fisik, dan masih banyak lagi. b. Aktivitas keagamaan Bentuk kokurikuler melalui kegiatan keagamaan dapat menguatkan karakter murid dengan mengaplikasikan pemahaman agamanya di kehidupan nyata. Sebagai contoh, kegiatan kokurikuler murid beragama Islam adalah dengan terlibat di kegiatan penyembelihan hewan Qurban di lingkungan sekitar rumahnya. Pengalaman tersebut lalu disajikan dalam suatu bentuk khusus yang dapat dibagikan dengan teman sekelas.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 33 c. Kunjungan/pemanfaatan fasilitas umum Ada banyak fasilitas umum yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang belajar dalam kegiatan kokurikuler, misalnya cagar budaya, museum, perpustakaan daerah, kantor pemerintahan, tempat ibadah, pasar, sanggar budaya, dan sebagainya. Menggunakan transportasi umum seperti angkutan kota atau kereta menuju ke sebuah lokasi juga bisa menjadi media kegiatan kokurikuler. d. Aktivitas penelitian yang melibatkan pengumpulan dan penyajian data Pengumpulan data dapat terkait diri sendiri, orang lain, atau hal lain yang diamati. Pengumpulan data diri terkait pembiasaan, perkembangan emosi dan kesadaran berpikir, misalnya menggunakan jurnal ibadah, jurnal olahraga, catatan perkembangan pemikiran, jdan sebagainya. Pengumpulan data yang melibatkan orang lain dapat dilakukan melalui kegiatan wawancara, observasi, dan metode lain. Kegiatan pencatatan dan penyajian data dapat dilakukan lewat presentasi, pembuatan infografis, video blog, dan bentuk-bentuk lain sesuai rancangan kokulikuler. e. Aktivitas penelitian berbasis riset dan studi literatur Bentuk kegiatannya antara lain mengumpulkan informasi dari berbagai sumber seperti buku referensi, situs, video, infografis, atau sumber lain. Informasi yang didapat lalu didiskusikan, dianalisis, dan disajikan dalam berbagai bentuk sesuai kapasitas dan sumber daya satuan pendidikan. f. Aktivitas yang bersifat advokasi Misalnya kampanye, sosialisasi, penyuluhan, talkshow, penyampaian aspirasi kepada pejabat pemerintah, dan bentuk-bentuk kegiatan lain. Materi yang digunakan dalam aktivitas advokasi menyangkut isu-isu penting yang seharusnya menjadi perilaku masyarakat seperti hemat energi, bahaya rokok, menanam tanaman untuk ketahanan pangan. g. Pelibatan narasumber Sebagai salah satu unsur dalam catur pendidikan, satuan pendidikan didorong untuk melibatkan masyarakat. Salah satunya dengan cara menjadi narasumber

Panduan Kokurikuler34 untuk berbagi pengetahuan/keterampilan terapan yang dikuasai. Misalnya melakukan wawancara dengan tokoh adat setempat, pelaku UMKM, orangtua murid yang memiliki beragam pekerjaan, dan sebagainya. Agar kemitraan dengan masyarakat optimal, saat melakukan identifikasi awal, satuan pendidikan perlu memetakan potensi dan situasi masyarakat secara utuh menyeluruh. Narasumber juga mendapatkan manfaat dari perannya sebagai narasumber dalam kegiatan kokurikuler, misalnya mendapatkan masukan dari satuan pendidikan tentang pola kerja baru, peningkatan penjualan, pengalaman baru berinteraksi dengan murid-murid, jejaring dengan pihak satuan pendidikan. (7) Merancang asesmen Asesmen merupakan bagian yang sangat penting dan tidak terpisahkan dari kegiatan kokurikuler. Melalui asesmen, guru dan murid bersama-sama merefleksikan tujuan pembelajaran yang telah dijalani, khususnya berkenaan dengan pencapaian delapan dimensi profil lulusan. Asesmen dari kegiatan kokurikuler dilaporkan dalam kolom tersendiri pada rapor hasil belajar. Bentuk pelaporan secara umum, tidak selalu harus mengacu pada Capaian Pembelajaran dari suatu mata pelajaran. Asesmen dalam kegiatan kokurikuler menggunakan asesmen formatif dan asesmen sumatif. Asesmen formatif dilakukan selama proses kegiatan berlangsung. Tujuannya adalah untuk memberikan umpan balik yang bersifat membangun, membantu murid merefleksikan pembelajarannya, dan memberikan informasi bagi guru untuk menyesuaikan strategi pembelajaran. Contoh bentuk asesmen formatif diantaranya jurnal refleksi harian murid, observasi keterlibatan murid, tanya-jawab terbuka, umpan balik teman sebaya, penilaian diri, dan bentuk lainnya, Asesmen sumatif dilakukan pada akhir kegiatan kokurikuler untuk melihat sejauh mana tujuan pembelajaran tercapai. Asesmen ini mencakup hasil akhir yang dihasilkan murid, baik berupa karya, aksi, maupun presentasi. Contoh bentuk asesmen sumatif dengan teknik penilaian kinerja berupa poster kampanye yang dibuat murid dalam proyek kolaboratif, presentasi akhir proyek kokurikuler, laporan pengamatan atau

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 35 refleksi tertulis, produk berbasis kebudayaan lokal (dalam bentuk karya seni, video, atau pertunjukan), lembar penilaian kebiasaan (dalam G7KAIH) berdasarkan catatan harian, dan bentuk penilaian lainnya. Hal yang perlu diperhatikan ketika menyusun asesmen kokurikuler diantaranya: • Mengacu pada alur perkembangan Delapan Dimensi Profil Lulusan. Asesmen harus dirancang untuk menilai ketercapaian dimensi profil lulusan secara ringkas. • Fleksibel dan Kontekstual. Asesmen sebaiknya cukup fleksibel untuk disesuaikan dengan konteks kegiatan, bentuk kokurikuler (pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, G7KAIH, atau cara lainnya), serta karakteristik murid dan satuan pendidikan. • Asesmen formatif dan sumatif dalam kokurikuler dapat diintegrasikan dalam asesmen intrakurikuler jika diperlukan, dengan tetap memasukkan deskripsi kokurikuler di kolom rapor. • Deskripsi di rapor didasarkan pada asesmen formatif dan sumatif Dalam pelaksanaan kokurikuler, satuan pendidikan dapat membuat rencana kegiatan untuk satu tahun ajaran. Dalam pelaksanannya, satuan pendidikan bisa memilih jenis kokurikulernya berdasarkan hasil analisis. Berikut inspirasi rencana kegiatan kokurikuler untuk tingkat SMP.

Panduan Kokurikuler36 Tabel 9. Program Kokurikuler SMP Generasi Unggul No Kelas Fokus Dimensi Profil Lulusan Tema Jenis Kokurikuler Bentuk Kegiatan Mata Pelajaran Terkait Alokasi Waktu 1. VII • Kewargaan • Komunikasi Sekolah Ramah Anak Cara Lainnya Penguatan karakter melalui: • Guru Tamu • Melakukan kampanye Pendidikan Pancasila B.Indonesia 38 JP 2. VII • Penalaran Kritis • Komunikasi Lingkungan Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu Pembelajaran proyek dengan aktivitas yang meliputi: • Mengamati kondisi lingkungan sekitar • Menemukan, menganalisis, dan mencari solusi permas- alahan • Melakukan aktivitas peduli lingkungan Matematika IPA 114 JP 3. VII • Kemandi- rian • Kewargaan Bakti Desa Gerakan 7KAIH (Bermasyarakat) • Pengabdian Kepada Mas- yarakat Desa IPS Pendidikan Pancasila Muatan Lokal 94 JP

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 37 No Kelas Fokus Dimensi Profil Lulusan Tema Jenis Kokurikuler Bentuk Kegiatan Mata Pelajaran Terkait Alokasi Waktu 4. VII • Penalaran Kritis • Kesehatan Kesehatan organ tubuh Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu • Mendatangkan narasumber dari Dinas Kesehatan • Membuat model sistem organ tubuh Matematika IPA 114 JP 5. VIII • Kesehatan Pola Hidup Sehat Gerakan 7 KAIH (Makan Sehat dan Bergizi) • Proyek kantin sehat • Market Day IPA Prakarya 38 JP 6. VIII • Kreativitas Kewirausahaan Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu • Kunjungan Be- lajar ke UMKM sekitar satuan pendidikan dan Tempat tinggal • Melakukan akti- vitas berwirau- saha (membuat produk dan me- masarkannya) Prakarya Seni Budaya 114 JP 7. VIII • Penalaran Kritis Teknologi Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu Proyek dengan aktivitas yang meliputi: • Penelitian tentang pengaruh teknologi terhadap kehidupan manusia Informatika Bahasa Inggris 114 JP VIII Kewargaan Keberagaman Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu • Penelitian literatur tentang kekayaan budaya di Indonesia • Pameran hasil penelitian IPS Bahasa Indonesia 94 JP

Panduan Kokurikuler38 No Kelas Fokus Dimensi Profil Lulusan Tema Jenis Kokurikuler Bentuk Kegiatan Mata Pelajaran Terkait Alokasi Waktu 8. IX Komunikasi Aku di masa depan Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu • Mengenali berbagai profesi dengan mengunjungi narasumber untuk melakukan wawancara • Membuat pe- metaan potensi diri • Membuat pohon impian • Membuat dan mengisi jurnal harian IPS Bahasa Indonesia Bahasa Inggris 114 JP 9. IX Penalaran Kritis Perubahan Iklim Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu • Survei banyak- nya kendaraan yang lewat • Proyek mem- buat vertikal garden Matematika IPA 152 JP d. Pembelajaran kolaborasi lintas disiplin ilmu Pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu dapat dilaksanakan baik dalam kegiatan intrakurikuler maupun kokurikuler. Dalam konteks intrakurikuler, pembelajaran lintas disiplin ilmu bersifat opsional dan berorientasi pada pencapaian CP (Capaian Pembelajaran) sesuai mata pelajaran yang terlibat. Sementara itu, dalam kegiatan kokurikuler, pembelajaran lintas disiplin ilmu difokuskan pada pendalaman, penguatan, dan pengayaan pembelajaran kegiatan intrakurikuler dalam rangka memperkuat delapan dimensi profil lulusan.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 39 Beberapa inspirasi aktivitas kokurikuler pembelajaran kolaborasi lintas disiplin ilmu. Tabel 10. Kegiatan Kokurikuler Jenjang/ Satuan Fokus Dimensi Profil Lulusan Tema Tujuan Bentuk Aktivitas Mata Pelajaran/ Muatan Pembelajaran Terkait Alokasi Waktu PAUD Keimanan dan Ketak- waan Ter- hadap Tu- han Yang Maha Esa, kewar- gaan Aku Sayang Diriku dan Teman- teman Menumbuhkan rasa sayang kepada diri sendiri dan orang sekitar melalui pengenalan tentang identitas diri, keragaman antara diri sendiri dan teman, serta pengenalan tentang peran diri di lingkungan sekitar Murid mengeksplorasi berbagai aktivitas bermain, bermain peran, berdiskusi dengan orang tua dan guru, mengunjungi tempat umum, serta menyimak video pembelajaran untuk lebih mengenal diri. Murid lalu membuat buku tentang identitasku Menghargai diri sendiri dan sesama manusia, mengenali identitas diri, dan mengenali peran di keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat, menyimak dan berbicara, serta mengeksplorasi seni. tiga minggu SD Kesehatan, Kolaborasi, Komuni- kasi Lingkun- ganku Sehat, Aku Kuat Murid mampu mengamati kondisi lingkungan sekitar dan membuat poster ajakan hidup bersih Observasi lingkungan satuan pendidikan, diskusi kelompok, dan membuat poster kampanye hidup bersih IPAS, Bahasa Indonesia, Seni dan Budaya, Pendidikan Pancasila 108 JP

Panduan Kokurikuler40 Jenjang/ Satuan Fokus Dimensi Profil Lulusan Tema Tujuan Bentuk Aktivitas Mata Pelajaran/ Muatan Pembelajaran Terkait Alokasi Waktu SMP Kreativitas, Kewar- gaan, Ke- mandirian Peduli lingkungan Murid mampu mengiden- tifikasi isu lingkungan dan menyampaikan solusi melalui vlog kreatif Penelusuran isu lingkungan lokal, penulisan naskah, pembuatan vlog, dan presentasi publik Bahasa Indonesia, IPAS, Informatika, Seni dan Budaya 180 JP SMA Penalaran Kritis, Ko- laborasi, Kewar- gaan Generasi Bijak Digital Murid mampu menganalisis dampak media sosial dan membuat kampanye literasi digital yang etis Studi kasus, debat, penyusunan strategi kampanye, dan penyebaran konten melalui media sosial Sosiologi, Informatika, Bahasa Indonesia 198 JP SMK Komu- nikasi, Kreativitas, Kemandi- rian Wirausaha Lokal Berba- sis Budaya Murid mampu mengeksplorasi potensi lokal dan merancang produk usaha kecil berbasis budaya daerah Riset pasar lokal, wawancara pelaku usaha, perancangan produk, simulasi promosi dan penjualan Produk Kreatif dan Kewirausahaan, Bahasa, Seni Budaya, Informatika 72 JP Setelah rencana kegiatan Kokurikuler untuk satu tahun ajaran disetujui oleh Kepala satuan pendidikan, selanjutnya koordinator kokurikuler bersama guru kelas/mata pelajaran membuat perencanaan kokurikuler untuk setiap kegiatannya. Berikut contoh inspirasi perencanaan kokurikuler Tema peduli lingkungan untuk kelas VII SMP Generasi Unggul yang dibuat berdasarkan Rencana Kegiatan pada Tabel. 9.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 41 Nama satuan pendidikan : SMP Generasi Unggul Kelas : VII Tema Kegiatan : Peduli lingkungan Alokasi Waktu : 114 JP Lokasi Kegiatan : Lingkungan satuan pendidikan A. Dimensi Profil Lulusan 1. Penalaran Kritis 2. Komunikasi B. Tujuan Pembelajaran Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan kompetensi 1. Menganalisis interaksi antar komponen ekosistem dan pengaruhnya terhadap keseimbangan ekosistem (mata pelajaran IPA) 2. Mempresentasikan gagasan sebagai solusi pemecahan masalah secara kritis dan kreatif (mata pelajaran Bahasa Indonesia) C. Praktik Pedagogis Pembelajaran berbasis proyek. D. Lingkungan Belajar Memberi kesempatan kepada murid untuk menganalisis kondisi lingkungan sekitar secara berkolaborasi bersama teman sekelas dan melakukan aksi nyata sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi. E. Kemitraan Pembelajaran Kolaborasi guru IPA dan Bahasa Indonesia. F. Pemanfaatan Digital Laptop, Infocus, video, dan canva/powerpoint G. Kegiatan 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan rangkaian aktivitas yang akan dilakukan. 2. Murid dibagi menjadi beberapa kelompok secara heterogen. 3. Murid diminta memirsa video tentang komponen ekosistem dan kaitannya dengan kerusakan alam. 4. Murid dan guru berdiskusi mengenai isi video dan mengaitkan dengan komponen ekosistem yang ada di lingkungan sekitar. 5. Murid melakukan kunjungan ke lingkungan sekitar satuan pendidikan untuk melakukan pengamatan tentang komponen-komponen ekosistem yang ada. 6. Murid berdiskusi dalam kelompok tentang kondisi ekosistem dan permasalahan yang terjadi. Tiap kelompok dapat memilih kondisi ekosistem yang berbeda. 7. Murid mengumpulkan data tentang alternatif solusi permasalahan lingkungan. 8. Murid merancang solusi terhadap permasalahan yang ditemukan.

Panduan Kokurikuler42 9. Murid membuat karya tentang solusi permasalahan dengan menggunakan berbagai media. 10. Murid mempresentasikan karyanya dengan berbagai media secara berkelompok 11. Murid melakukan refleksi kegiatan yang telah dilakukan. 12. Murid membuat kesepakatan terkait apa hal konkret yang akan dilakukan bersama untuk membantu keseimbangan ekosistem. H. Asesmen Formatif: Teknik observasi dengan instrumen catatan anekdotal Sumatif: Penilaian kinerja dengan instrumen rubrik Nama Murid Catatan Guru Penalaran Kritis Komunikasi Dimensi Profil Lulusan Aspek yang Dinilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Penalaran Kritis Menganalisis interaksi antar komponen ekosistem di lingkungan sekitar Mampu menjelaskan lebih dari 5 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Mampu menjelaskan 3-5 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Mampu menjelaskan kurang dari 3 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Belum mampu menjelaskan lebih dari 5 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Komunikasi Menyampaikan gagasan Menyampaikan gagasan dengan lancar, runtut, dan logis. Menyampaikan gagasan dengan lancar. Alur penyampaian belum runtut dan/atau logis. Menyampaikan gagasan dengan kurang lancar dan belum runtut dan/atau logis Gagasan tidak dapat dipahami. Alur penyampaian belum runtut dan logis.

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 43 e. Gerakan 7 KAIH Gerakan 7KAIH diyakini sebagai salah satu upaya dalam pencapaian delapan dimensi profil lulusan karena gerakan ini melibatkan catur pusat pendidikan dengan satuan pendidikan sebagai penggerak. Gerakan 7KAIH akan lebih efektif jika dilaksanakan dalam desain kokurikuler, yakni terdapat perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Satuan pendidikan dapat secara fleksibel menentukan tema dan memilih satu atau lebih kebiasaan dalam 7KAIH sesuai kebutuhan. Berikut disajikan inspirasi kegiatan kokurikuler melalui 7KAIH. Tabel 11. Inspirasi Kegiatan Kokurikuler G7KAIH Dimensi 7 KAIH Contoh Tema Contoh Kegiatan Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME beribadah berolahraga peduli dan berbagi Aku dan Sang Pencipta dll kegiatan keagamaan jurnal ibadah catatan syukur dll Kewargaan bermasyarakat • Hidup bersama dalam keberagaman • Aku bagian dari bangsa ini • Diskusi toleransi • Simulasi pemilu mini • Kegiatan gotong royong Penalaran kritis • gemar belajar • Menyelesaikan masalah • Fakta dan opini • Aku berpikir • Proyek mini riset • Analisis berita • Eksperimen sederhana Kreativitas • gemar belajar • Aku bisa berkarya • Inovasi untuk sekitar • Karya seni • Pameran ide • Karya tulis kreatif • Desain poster Kolaborasi • bermasyarakat • Kerja tim itu asyik • Bersama kita bisa • Proyek kelompok • Games kerja sama • Forum diskusi Kemandirian • bangun pagi • tidur tepat waktu • Mengatur waktuku • Aku bertanggung jawab • Jurnal manajemen waktu • Tantangan pribadi harian • Penjadwalan mingguan Kesehatan • berolahraga • makan sehat dan bergizi • Hidup sehat • Aku sayang tubuhku • Jadwal olahraga bersama • Pojok sehat • Kampanye gizi Komunikasi • gemar belajar • bermasyarakat • Bicara yang baik • Aku bisa menyampaikan pendapat • Debat kelompok • Kegiatan presentasi • Cerita pengalaman

Panduan Kokurikuler44 Inspirasi contoh aktivitas 1 Kebiasaan Berolahraga melalui Senam Anak Indonesia Hebat (SAIH) Gambar 4. Pagi ceria dengan melakukan Senam Anak Indonesia Hebat Kemendikdasmen telah mengeluarkan Surat Edaran Bersama dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Agama tentang Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembiasaan di satuan pendidikan. Penguatan pendidikan karakter melalui Pagi Ceria adalah melakukan Senam Anak Indonesia Hebat. Satuan pendidikan juga bertujuan menguatkan eksplorasi kegiatan olahraga murid. Perencanaan Kokurikuler Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Nama satuan pendidikan : SD Cerdas Berkarakter Kelas : II Tema : Hidup sehat Alokasi Waktu : 48 JP Lokasi Kegiatan : di lingkungan satuan pendidikan dan lingkungan sekitar A. Dimensi Profil Lulusan Kesehatan dan Kemandirian

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 45 B. Tujuan Pembelajaran 1. memahami manfaat berolahraga bagi tubuh. 2. pembiasaan kegiatan berolahraga C. Praktik Pedagogis Pembelajaran kontekstual, Observasi ke Lapangan. D. Lingkungan pembelajaran Penguatan karakter melalui kebiasaan berolahraga dengan mengedepankan pendekatan yang memuliakan melalui pembiasaan yang dilakukan secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan pada ekosistem yang mendukung. E. Kemitraan Pembelajaran 1. Satuan pendidikan, kolaborasi antara Guru PJOK dan IPAS 2. Keluarga, menggiatkan anak untuk bergaya hidup aktif dan terbiasa berolahraga. 3. Masyarakat a. pemilik pusat kebugaran, kunjungan ke pusat kebugaran b. praktisi kesehatan, melakukan wawancara dengan atlet atau dokter c. Organisasi sosial masyarakat dan aparat pemerintah, ikut menyosialisasikan dan menggiatkan kegiatan berolahraga di lingkungan F. Kegiatan 1. Pendidik mengajak murid mendiskusikan kegiatan olahraga murid dan frekuensi yang dilakukan selama ini serta memberikan sumber belajar tentang pentingnya berolahraga 2. Murid menginvestigasi manfaat dari berolahraga dan berbagai kegiatan olahraga yang dianjurkan untuk rentang usianya dari berbagai sumber (guru tamu dari dunia kesehatan/ atlet/ buku/ dsb) 3. Murid melakukan kunjungan ke pusat kebugaran atau tempat sejenis dimana kebiasaan olahraga terjadi untuk melihat manfaat dari berolahraga teratur 4. Murid menunjukkan temuan pentingnya berolahraga dan ragam olahraga yang direkomendasikan untuk dirinya 5. Penyusunan rencana kegiatan kokurikuler berupa kebiasaan berolahraga (murid menyepakati kegiatan-kegiatan olahraga yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu) 6. Pembuatan buku jurnal kesehatan 7. Pembiasaan kegiatan berolahraga a. Guru membangun kesepakatan dengan murid untuk melaksanakan Senam Anak Indonesia Hebat (SAIH) dan kegiatan berolahraga lainnya, baik di satuan pendidikan dan di rumah b. Murid melaksanakan kegiatan berolahraga di satuan pendidikan dan bekerjasama dengan orang tua untuk pelaksanaan di rumah c. Murid mengisi jurnal pelaksanaan.

Panduan Kokurikuler46 8. Diskusi berkala terkait manfaat dari kebiasaan berolahraga a. Murid membahas hasil evaluasi jurnal yang mereka isi tiap rentang waktu tertentu yang disepakati. b. Murid berdiskusi tentang manfaat berolahraga atau perbedaan yang dirasakan setelah lebih rutin berolahraga dengan para narasumber-narasumber yang berkompeten G. Asesmen Formatif: Teknik observasi dengan instrumen catatan anekdotal Sumatif: Penilaian kinerja dengan instrumen rubrik Nama Murid Kebiasaan Berolahraga Catatan Guru Belum Terbiasa Terbiasa Dimensi Profil Lulusan Aspek yang Dinilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Kesehatan memahami manfaat berolahraga bagi tubuh mampu menjelaskan dengan baik manfaat dari semua gerakan pada SAIH mampu menjelaskan dengan baik manfaat dari sebagian besar gerakan pada SAIH mampu menjelaskan dengan baik manfaat dari sebagian gerakan pada SAIH hanya mampu menjelaskan dengan baik manfaat dari beberapa gerakan pada SAIH Kemandirian berolahraga menjadi kebiasaan mampu melaksanakan SAIH setiap hari, baik di rumah maupun di sekolah mampu melaksanakan SAIH, 2 kali seminggu di sekolah dan beberapa hari di rumah mampu melaksanakan SAIH, 2 kali seminggu di sekolah dan satu hari di rumah hanya mampu melaksanakan SAIH, 2 kali seminggu di sekolah

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 47 Inspirasi contoh aktivitas 2 Kebiasaan Bangun Pagi dan Tidur Cepat Dari hasil identifikasi awal di kelas, ternyata banyak murid yang tidak fokus mengikuti pelajaran di kelas. Setelah dilakukan identifikasi, salah satu penyebabnya anak yang tidur larut malam sehingga bangun pagi terlambat menyebabkan mereka melakukan persiapan yang terburu-buru ke satuan pendidikan dan masih mengantuk ketika di kelas pelajaran pagi. Oleh karena itu, diputuskan pada kelas itu, murid untuk melakukan kebiasaan bangun pagi dan tidur cepat. PERENCANAAN KOKURIKULER G7KAIH Nama satuan pendidikan : SMP Cerdas Berkarakter Kelas : VII Tema : Generasi Sehat dan Bugar Alokasi Waktu : 60 JP Lokasi Kegiatan : di lingkungan satuan pendidikan dan rumah A. Dimensi Profil Lulusan Kesehatan dan Penalaran Kritis B. Tujuan Pembelajaran 1. menumbuhkan kebiasaan tidur cepat dan bangun pagi 2. memahami manfaat dari tidur cepat dan bangun pagi C. Praktik Pedagogis Pembelajaran pada kegiatan kokurikuler ini menggunakan prinsip pembelajaran saintifik. D. Lingkungan pembelajaran Penguatan karakter melalui kebiasaan bangun pagi dan tidur cepat dengan mengedepankan pendekatan yang memuliakan melalui pembiasaan yang dilakukan secara berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan pada ekosistem yang mendukung. E. Pemanfaatan Digital Video pembelajaran tentang pengaruh kebiasaan tidur terhadap kesehatan, pengumpulan data dari sumber digital tentang pentingnya tidur cukup dan bangun pagi oleh murid F. Kemitraan Pembelajaran 1. satuan pendidikan, kolaborasi antara Guru IPA, Guru Bahasa Indonesia dan Komite satuan pendidikan 2. Keluarga, menggiatkan anak untuk pembiasaan bangun pagi dan tidur cepat. 3. Masyarakat: tokoh masyarakat dan tokoh agama, memberikan inspirasi pentingnya kebiasaan bangun pagi dan tidur cepat bagi anak-anak.

Panduan Kokurikuler48 G. Kegiatan 1. Pendidik mengajak murid mendiskusikan kebiasaan jam tidurnya dan membandingkan dengan teman, murid menceritakan pengalaman dan perbedaan apa yang dirasakan di esok hari ketika tidur lebih cepat dan tidur larut malam 2. Murid melakukan pengumpulan data dan referensi terkait urgensi dan manfaat tidur cukup dan bangun pagi dari berbagai sumber (termasuk misalnya wawancara dengan ahli kesehatan/ tokoh masyarakat/ tokoh agama) dan mendiskusikan temuannya 3. Murid menyimpulkan hasil pengumpulan data 4. Penyusunan rencana kegiatan kokurikuler melalui kebiasaan bangun pagi dan tidur cepat 5. Pembuatan catatan harian atau jurnal 6. Pembiasaan bangun pagi dan tidur cepat a. Guru membangun kesepakatan dengan murid untuk melaksanakan kebiasaan bangun pagi dan tidur cepat di rumah b. Murid mengeksplorasi strategi-strategi yang dapat mendukung pelaksanaan tidur cepat dan bangun pagi c. Murid mengisi jurnal pelaksanaan bangun pagi dan tidur cepat. 7. Murid membahas hasil evaluasi catatan harian atau jurnal yang mereka isi, tantangan yang dialami dalam pelaksanaan tidur cepat dan bangun pagi serta solusinya 8. Murid mempresentasikan proses pengalamannya berupaya tidur cepat dan bangun pagi serta perubahan yang dirasakan oleh tubuh dan pikiran. H. Asesmen Formatif: Teknik observasi dengan instrumen catatan anekdotal Sumatif: Penilaian kinerja dengan instrumen rubrik Nama Murid Kebiasaan Bangun Pagi dan Tidur Cepat Catatan Guru Belum Terbiasa Terbiasa Dimensi Profil Lulusan Aspek yang Dinilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Kesehatan menumbuhkan kebiasaan bangun pagi dan tidur cepat Setiap hari melakukan bangun pagi dan tidur cepat 5 hari dalam seminggu melakukan bangun pagi dan tidur cepat 3 hari dalam seminggu melakukan bangun pagi dan tidur cepat amat jarang melakukan bangun pagi dan tidur cepat Penalaran Kritis memahami manfaat dari bangun pagi dan tidur cepat mampu menjelaskan manfaat dari bangun pagi dan tidur cepat bagi kesehatan tubuh dengan jelas dan lengkap mampu menjelaskan manfaat dari bangun pagi dan tidur cepat bagi kesehatan tubuh dengan jelas dan sebagian besar saja mampu menjelaskan manfaat dari bangun pagi dan tidur cepat bagi kesehatan tubuh secara besaran umum saja jelas dan lengkap hanya mampu menjelaskan manfaat dari bangun pagi dan tidur cepat bagi kesehatan tubuh secara tidak jelas dan kurang lengkap

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 49 f. Cara lainnya Seperti telah disebutkan pada bagian bentuk kegiatan bahwa kegiatan kokurikuler melalui cara lainnya dilakukan seperti, kegiatan-kegiatan berbasis nilai-nilai satuan pendidikan. Kegiatan kokurikuler melalui nilai-nilai satuan pendidikan berupa kegiatan yang dibuat untuk mencapai nilai-nilai ciri khas satuan pendidikan. Hasil belajar yang diperoleh dilaporkan dalam rapor sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Kegiatan kokurikuler dapat diselenggarakan bekerjasama dengan mitra untuk menguatkan penggunaan ragam sumber daya yang membantu murid mencapai tujuan pembelajaran. Hal yang perlu diperhatikan adalah satuan pendidikan mengembangkan kegiatan lainnya sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan dan mitra kerja yang dimiliki oleh satuan pendidikan. Kegiatan kokurikuler ciri khas satuan pendidikan berbasis konteks lokal a) Sebuah satuan pendidikan terletak di daerah pengrajin batik, maka satuan pendidikan tersebut dapat mengalokasikan jam pelajaran Kegiatan kokurikuler ciri khas satuan pendidikan berbasis konteks lokal. Materi pembelajaran membatik meliputi pengenalan batik, motif batik, proses membuat batik. Kegiatan pembelajaran difokuskan pada praktik membatik sehingga murid memiliki keterampilan membatik. b) Sebuah satuan pendidikan terletak di daerah pariwisata, maka satuan pendidikan tersebut dapat mengalokasikan jam pelajaran kokurikuler. Materi pembelajaran pariwisata mencakup pengenalan industri pariwisata, pengelolaan dan inovasi pariwisata kegiatan kokurikuler melalui nilai-nilai satuan pendidikan a) Sebuah satuan pendidikan memiliki keunggulan dalam bidang kepemimpinan, maka satuan pendidikan tersebut dapat membuat kegiatan kokurikuler berupa latihan kepemimpinan. Kegiatan latihan kepemimpinan dapat dilakukan di lingkungan satuan pendidikan untuk menekan biaya. Materi yang diajarkan selama latihan diimplementasikan oleh murid secara terus menerus dan dilakukan monitoring serta asesmen. b) Sebuah satuan pendidikan berbasis keagamaan, misalnya PAUD, SD, SMP, SMA Islam, maka satuan pendidikan dapat membuat kegiatan berupa mengaji yang dilakukan secara rutin setiap satu minggu sekali. Contoh 1 Contoh 2

Panduan Kokurikuler50 kegiatan kokurikuler melalui satu disiplin ilmu yang aktivitasnya terjadi kolaborasi keilmuan dan keahlian. Sebuah satuan pendidikan mengusung nilai seni budaya sebagai keunggulan satuan pendidikan. Untuk memperkuat mata pelajaran seni budaya maka dilakukan kegiatan kokurikuler berupa pentas seni atau pagelaran seni. Kegiatan pentas seni sebagai wadah praktik bagi murid menerapkan teori yang telah dipelajari sekaligus menunjukkan keahlian yang telah diperoleh murid dari mata pelajaran seni budaya. Dalam hal ini terdapat kegiatan dari monodisiplin seni budaya namun juga terjadi kolaborasi berbagai keilmuan dan keahlian. Berikut contoh perencanaan kokurikuler dalam bentuk cara lainnya: PAUD Berseri merumuskan kebersihan sebagai salah satu nilai utama, mengingat perlunya perhatian khusus tentang kebersihan di lingkungan sekitar satuan pendidikan. Perencanaan kokurikuler ini diawali dengan identifikasi pendidik yang menemukan bahwa beberapa murid memiliki masalah dengan gigi dan belum terbiasa membersihkan giginya secara teratur. Pendidik menyadari diperlukan pemahaman lebih murid tentang kebersihan gigi dan kolaborasi dengan orang tua dan mitra untuk pelaksanaannya PERENCANAAN KOKURIKULER Nama satuan pendidikan : PAUD BERSERI Kelas : TK B Tema : Gigiku Bersih Alokasi Waktu : 2 minggu A. Dimensi Profil Lulusan Kesehatan B. Tujuan Pembelajaran Kegiatan kokurikuler ini bertujuan untuk menguatkan kompetensi: Murid merefleksikan pentingnya kebersihan diri sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. C. Praktik Pedagogis Pembelajaran kontekstual. Contoh 3

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 51 D. Lingkungan pembelajaran Lingkungan fisik yang terdiri atas ruang sikat gigi/koridor dan air, lingkungan sosial berupa interaksi antara murid, pendidik, dan orang tua. Lingkungan psikologis yang membuat murid nyaman dan senang melakukan kegiatan perawatan gigi, lingkungan akademik yang mencakup kehadiran dokter gigi dan perawat. E. Kemitraan Pembelajaran Puskesmas (tenaga kesehatan dan dokter gigi), orang tua murid. F. Kegiatan 1. Murid mengamati gigi masing-masing melalui cermin yang disiapkan oleh pendidik, menceritakan kondisi giginya (adakah yang tanggal/ bolong/ patah/ berwarna coklat atau kehitaman, dsb), serta keluhan yang mungkin dirasakan terkait giginya. Murid juga menceritakan bagaimana caranya menjaga kebersihan gigi selama ini. 2. Pendidik menyampaikan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan menggunakan media pembelajaran yang mendukung. Murid menyimpulkan hal yang mereka pahami. 3. Satuan pendidikan bekerjasama dengan menghadirkan dokter gigi dan tenaga kesehatan di satuan pendidikan. 4. Pendidik melakukan tanya jawab tentang profesi dokter gigi 5. Dokter gigi menjelaskan tentang pentingnya kesehatan gigi dan cara menyikat gigi yang benar menggunakan media yang mendukung seperti model gigi, serta cara lain merawat gigi, seperti mengonsumsi makanan yang tidak merusak gigi, dsb. 6. Pendidik membagi murid ke dalam kelompok untuk sikat gigi 7. Pendidik mengajak murid ke ruang sikat gigi/koridor yang telah disiapkan gelas dan air, secara bergiliran tiap kelompok. Kelompok yang belum mendapatkan giliran sikat gigi, diberikan aktivitas bermain pada sentra-sentra yang telah disiapkan. 8. Dokter gigi mengajari murid cara menyikat gigi 9. Setelah semua murid selesai menyikat gigi, dokter gigi mengajak murid untuk menceritakan pengalamannya sikat gigi 10. Dokter gigi berpesan agar murid murid selalu rajin sikat gigi 11. Pendidik mengajak murid untuk melakukan refleksi (menceritakan perbedaan caranya menyikat gigi sebelum dan sesudah berinterakdi dengan dokter gigi, apa yang akan dilakukan murid setelah lebih memahami cara merawat gigi, membuat kesepakatan bersama, dsb). 12. Pendidik menyediakan ragam kegiatan unjuk kerja merawat gigi yang dapat dipilih murid seperti: • membuat poster langkah-langkah menyikat gigi • membuat buku cara merawat gigi • menggambar cara merawat gigi • membuat miniatur makanan yang dapat merusak gigi 13. Murid mempresentasikan karya yang dibuat serta mempraktikkan contoh cara merawat gigi.

Panduan Kokurikuler52 G. Asesmen Formatif: Teknik observasi dengan instrumen check list () Sumatif: Teknik penilaian kinerja PERENCANAAN KOKURIKULER Nama satuan pendidikan : SMA Nusantara Jaya Kelas : X Tema : Kearifan Lokal Budaya Sunda Alokasi Waktu : 114 JP Lokasi Kegiatan : Lingkungan satuan pendidikan A. Dimensi Profil Lulusan 1. Kewargaan 2. Kolaborasi 3. Kreativitas B. Tujuan Pembelajaran Kegiatan kokurikuler ini bertujuan untuk menguatkan kompetensi: 1. Merefleksikan pentingnya pelestarian budaya sunda. 2. Menampilkan karya seni yang terinspirasi dari budaya Sunda secara kolaboratif. Nama Murid Hasil Pengamatan Catatan Pengamatan Belum Muncul Muncul Ananda  Nama Murid Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Hasil Karya Catatan Ananda murid dapat membuat karya terkait cara menjaga kebersihan diri (merawat gigi) (diisi dengan hasil karya yang dibuat anak di kegiatan no. 12) murid mempraktikkan cara merawat gigi

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 53 C. Praktik Pedagogis • Studi literatur dan observasi lapangan • Penampilan D. Lingkungan pembelajaran Memberi kesempatan kepada murid untuk melakukan kunjungan belajar ke tempat yang relevan dengan kearifan budaya sunda. Lingkungan mendorong murid menghasilkan karya yang original. E. Kemitraan Pembelajaran Kolaborasi guru Seni Budaya, Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia dengan tokoh masyarakat dan budayawan sunda. F. Pemanfaatan Digital Laptop, Infocus, video, dan canva/powerpoint G. Kegiatan 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan rangkaian aktivitas yang akan dilakukan. 2. Guru memutar video atau menampilkan gambar yang menunjukkan fenomena budaya sunda mulai ditinggalkan 3. Murid merumuskan masalah aktual, misal: “bagaimana upaya pelestarian budaya sunda yang relevan dengan generasi masa kini?” 4. Murid melakukan observasi lapangan ke tempat budaya lokal (kampung adat, padepokan seni, museum, dll) 5. Murid mewawancarai narasumber budaya dan mendokumentasi unsur-unsur kearifan lokal 6. Murid mendiskusikan isu-isu yang berkaitan seni dan budaya sunda 7. Murid memilih bentuk karya seni yang akan ditampilkan sesuai dengan minat secara berkelompok 8. Murid menyelenggarakan Gelar Karya Budaya Sunda, masing-masing kelompok menampilkan karya seninya 9. Murid menuliskan refleksi kritis tentang makna pelestarian budaya lokal di tengah globalisasi 10. Murid membuat komitmen untuk melestarikan budaya sunda H. Asesmen Formatif: Teknik observasi dengan instrumen catatan anekdotal Nama Murid Catatan Guru Kewargaan Kolaborasi Kreativitas

Panduan Kokurikuler54 Sumatif: Penilaian kinerja dengan instrumen rubrik Dimensi Profil Lulusan Aspek yang Dinilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Kewargaan Mere- fleksikan pentingnya pelestarian budaya sun- da Menunjukkan rasa bangga terhadap budaya Sunda, menyebut contoh nyata yang diamati atau dialami, serta menyampaikan keinginan kuat untuk melestarikan budaya. Menyatakan pentingnya budaya Sunda dengan satu alasan jelas, dan menyebut contoh budaya yang dikenal, meskipun belum menyampaikan bentuk tindakan nyata. Menunjukkan minat terhadap budaya Sunda, namun masih umum dan belum terlihat kesadaran akan pentingnya pelestarian. Belum menunjukkan ketertarikan atau kesadaran terhadap budaya Sunda Dimensi Profil Lulusan Aspek yang Dinilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Kolaborasi Partisipasi dalam kerja kelompok Sangat aktif, menjadi penggerak kelompok, dan membantu anggota lain Aktif berpartisipasi dan menjalankan peran dengan tanggung jawab Terlibat dengan dorongan dan menyelesaikan sebagian tugas Tidak terlibat dan kurang bertanggung jawab terhadap tugas kelompok Kreativitas Inovasi dalam karya seni yang ditampilkan Karya sangat orisinal, menggabungkan nilai budaya dengan ekspresi baru yang bermakna Karya cukup kreatif dan memiliki sentuhan personal Karya menunjukkan upaya modifikasi sederhana Karya seni kurang orisinal dan meniru tanpa pengembangan

Perencanaan, Pelaksanaan, dan Asesmen KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 55 2. Pelaksanaan dan Asesmen Kokurikuler Pada awal pelaksanaan kokurikuler, pendidik melaksanakan kegiatan dengan mengacu pada perencanaan sambil mengamati dinamika pembelajaran. Pendidik lalu menyesuaikan strategi pembelajaran agar lebih kontekstual, kolaboratif, dan mendorong eksplorasi serta refleksi. Pada tahap ini, pendidik menciptakan ruang belajar yang menantang, menggugah rasa ingin tahu, dan memberi kesempatan bagi murid untuk terlibat aktif, mengembangkan ide, dan memecahkan masalah secara kreatif. Pelaksanaan kokurikuler dalam bentuk kolaboratif lintas disiplin ilmu dapat dilaksanakan seperti pembelajaran intrakurikuler yang berorientasi pada CP (Capaian Pembelajaran) sesuai mata pelajaran yang terlibat dalam rangka memperkuat delapan dimensi profil lulusan. Hasil asesmen dari bentuk ini dapat diintegrasikan pada nilai di intrakurikuler sesuai mata pelajaran yang relevan. Pelaksanaan kokurikuler dalam bentuk 7 KAIH perlu mempertimbangkan alokasi waktu yang mendukung, mengingat hasil yang diharapkan juga berupa kebiasaan, sehingga perlu penyesuaian pelaksanaan dalam frekuensi yang lebih rutin. Misalnya kebiasaan berolahraga setiap minggu atau beberapa hari dalam seminggu dari hasil kesepakatan bersama dalam fokus tema berolahraga. Walaupun tema kemudian berganti, misalnya satuan pendidikan berganti fokus ke tema makan sehat dan bergizi, pembiasaan berolahraga tetap perlu dilakukan secara rutin. Bentuk asesmen formatif pun menyesuaikan untuk kurun waktu yang cukup panjang, misalnya jurnal olahraga murid untuk satu semester atau tiga bulan, walaupun asesmen sumatif sudah selesai dilaksanakan. Begitu pula pelaksanaan kokurikuler dalam bentuk cara lainnya. Apabila hasil yang diharapkan juga berupa internalisasi nilai-nilai satuan pendidikan, maka kegiatan tertentu dapat terus dilaksanakan walaupun durasi kegiatan kokurikuler sudah selesai. Asesmen formatif digunakan untuk memantau efektifitas strategi pembelajaran yang responsif untuk memantau pemahaman dan memfasilitasi umpan balik yang membangun penguatan, pendalaman, dan/atau pengayaan kegiatan Intrakurikuler dalam rangka pengembangan kompetensi murid. Asesmen sumatif pada kokurikuler mengacu pada alur perkembangan delapan dimensi profil lulusan. Hasil asesmen ini sekaligus menjadi dasar perencanaan pembelajaran selanjutnya sehingga siklus belajar terus berlanjut secara reflektif dan adaptif.

Panduan Kokurikuler56 3. Pelaporan Hasil Kokurikuler Pelaporan hasil kokurikuler dalam rapor murid dicantumkan pada kolom Kokurikuler. Pelaporan berisi deskripsi tentang kegiatan yang dilakukan murid dalam kokurikuler beserta pencapaian dimensi profil lulusan yang sudah ditentukan. Mengingat pada satuan PAUD kegiatan kokurikuler dapat terintegrasi dengan intrakurikuler, maka pelaporan kokurikuler dapat diintegrasikan dalam deskripsi elemen CP yang paling terkait dengan dimensi profil lulusan yang dipilih. Apabila satuan PAUD membuat kegiatan kokurikuler yang terpisah dengan intrakurikuler, maka dapat dibuat kolom kokurikuler tersendiri di rapor. Deskripsi dalam rapor mencakup seluruh kegiatan kokurikuler yang dilakukan dalam tiap semester. Artinya, jika satuan pendidikan membuat dua atau lebih kegiatan kokurikuler dalam satu semester maka pelaporannya cukup satu yang mencakup dimensi profil lulusan yang sudah ditentukan. Misal, SD X di semester ganjil menyepakati melaksanakan 2 kegiatan kokurikuler, yaitu pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu yang fokus pada dimensi penalaran kritis dan gerakan 7KAIH yang fokus pada dimensi kolaborasi, maka yang dilaporkan adalah hasil belajar pada dimensi penalaran kritis dan kolaborasi. Setelah satuan pendidikan melaksanakan kokurikuler selama satu semester, selanjutnya hasil dari kegiatan kokurikuler dianalisis untuk menentukan dimensi profil lulusan yang sudah diperkuat diganti baik dan dimensi profil lulusan yang masih perlu penguatan pada murid. Pendidik kemudian mendeskripsikan dimensi profil lulusan di rapor. Ketentuan deskripsinya adalah: 1. Menggambarkan pencapaian dimensi profil lulusan murid. 2. Menggambarkan hasil belajar secara ringkas. 3. Menggunakan bahasa yang positif dan edukatif.

Evaluasi dan Tindak Lanjut KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 57 Evaluasi dan Tindak Lanjut Kokurikuler D

Panduan Kokurikuler58 D Evaluasi dan Tindak Lanjut Kokurikuler Kegiatan kokurikuler memegang peranan penting dalam memperkaya pengalaman belajar, mengasah keterampilan, dan membentuk karakter serta kepribadian. Keberhasilan kegiatan kokurikuler berarti peningkatan kompetensi yang signifikan dalam diri murid, baik secara akademik maupun non-akademik. Karena kegiatan kokurikuler bukan hanya hadir mengisi waktu kosong atau sekedar aktivitas tambahan bagi murid, tetapi kegiatan ini dirancang dan dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengeskalasi dan mengakselerasi kompetensi murid. Oleh karena itu evaluasi terhadap efektivitas dan relevansi kegiatan kokurikuler menjadi sangat penting. Evaluasi terhadap kegiatan dapat memberikan umpan balik, dan melihat efektivitas pelaksanaan, serta dampak. 1. Tujuan Evaluasi kegiatan Kokurikuler Evaluasi kegiatan kokurikuler bertujuan untuk: a. mengetahui apakah kegiatan telah mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan, termasuk mengukur tingkat keberhasilan, efektivitas, dan dampak kegiatan. Evaluasi bukan hanya melihat hasil, tetapi juga proses. Dengan demikian, Ringkasan Bab Tujuan Evaluasi kegiatan Kokurikuler Pelaksana Evaluasi kegiatan Kokurikuler Model evaluasi kegiatan Analisis Evaluasi kegiatan Kokurikuler Tindak lanjut

Evaluasi dan Tindak Lanjut KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 59 perlu mengukur proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Di akhir, evaluasi mengukur ketercapaian tujuan dengan mekanisme yang sesuai dengan bentuk kegiatan. b. memastikan keterkaitan kegiatan kokurikuler dengan intrakurikuler dan ketercapaian delapan dimensi profil lulusan mengacu pada alur perkembangan kompetensi delapan dimensi profil lulusan. c. memberikan umpan balik seperti kekuatan, kelemahan, hambatan selama implementasi. Umpan balik digunakan untuk memodifikasi dan penyempurnaan kegiatan kedepannya. Masing-masing pihak yang terlibat akan memperoleh umpan balik sesuai dengan tugas dan fungsinya, sehingga masing-masing dapat memperbaiki dan meningkatkan peran mereka dalam kegiatan ini. d. menyediakan data dan bukti otentik bagi kepala satuan pendidikan untuk melanjutkan kegiatan / menghentikan kegiatan / melanjutkan kegiatan dengan perbaikan dan pengembangan. Keluaran dari evaluasi bukan hanya penilaian tentang efektivitas tetapi juga data otentik tentang pelaksanaan kegiatan. Sehingga kepala satuan pendidikan dapat melakukan perbaikan dengan berdasarkan data dari hasil evaluasi. 2. Pelaksana Evaluasi kegiatan Kokurikuler Penanggung jawab kegiatan adalah kepala satuan pendidikan, sehingga evaluasi kegiatan kokurikuler juga menjadi tanggung jawab kepala satuan pendidikan. Kepala satuan pendidikan dapat menunjuk pihak lain untuk melakukan evaluasi kegiatan. Pelaksana evaluasi kegiatan secara ideal untuk menjaga objektivitas adalah pihak lain yang tidak berkepentingan terhadap kegiatan. Namun dengan alasan penyederhanaan, satuan pendidikan dapat melakukan sendiri evaluasi kegiatan melibatkan semua elemen dalam pelaksanaan kegiatan seperti murid, guru, orang tua untuk menjaga objektivitas. Objektivitas tetap dapat dipenuhi dengan cara dipilih guru yang tidak terlibat dalam kegiatan untuk melakukan evaluasi.

Panduan Kokurikuler60 3. Model evaluasi kegiatan Model evaluasi sederhana yang dapat diterapkan untuk mengevaluasi kegiatan kokurikuler meliputi masukan (input), proses (process), keluaran (output), dan hasil (outcome). masukan mencakup sumber daya dan perencanaan pembelajaran dengan tujuan untuk menilai apakah sumber daya yang tersedia telah dimanfaatkan secara optimal dan perencanaan yang dibuat dapat dilakukan. Proses mencakup tindakan yang dilakukan dalam menjalankan kegiatan. Evaluasi pada proses bertujuan untuk menilai apakah kegiatan terlaksana sesuai dengan rencana dan partisipasi murid. Keluaran mencakup hasil kegiatan. Evaluasi pada keluaran bertujuan untuk menilai apakah terdapat perubahan sikap, keterampilan, dan pengetahuan murid. Hasil mencakup hasil kegiatan pada jangka panjang. Evaluasi pada hasil bertujuan untuk menilai apakah kegiatan memiliki dampak jangka panjang pada murid dan satuan pendidikan. 4. Analisis Evaluasi kegiatan Kokurikuler Analisis evaluasi kegiatan kokurikuler dilakukan berdasarkan metode evaluasi yang diterapkan. Data evaluasi yang telah dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan informasi seperti partisipasi murid, manfaat kegiatan, kendala, dan dukungan satuan pendidikan 5. Tindak lanjut Tindak lanjut merupakan langkah konkret yang diambil berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan, memperkuat keunggulan, dan meningkatkan efektivitas kegiatan. Beberapa bentuk tindak lanjut yang dapat dilakukan antara lain: • Perbaikan perencanaan kegiatan: menyesuaikan kembali tujuan, strategi, dan indikator keberhasilan berdasarkan hasil evaluasi sebelumnya. Apabila terdapat dimensi yang belum tercapai maka dimensi tersebut dilanjutkan kembali pada kegiatan kokurikuler tahun berikutnya.

Evaluasi dan Tindak Lanjut KokurikulerPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 61 • Peningkatan kompetensi guru: memberikan pelatihan atau workshop kepada guru untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan. • Pengadaan sarana dan prasarana: memenuhi kebutuhan fasilitas penunjang agar kegiatan dapat berjalan optimal. • Peningkatan partisipasi murid: melakukan pendekatan kreatif untuk menarik minat murid dan menciptakan lingkungan yang inklusif. Contoh pengawasan, evaluasi, dan tindak lanjut kegiatan kokurikuler: satuan pendidikan Dasar Anggrek Berseri melakukan kegiatan kokurikuler berupa Senam Pagi Bersama dalam rangka membentuk 7 KAIH. Kegiatan di kelola oleh seorang guru sebagai koordinator kegiatan, dengan sasaran untuk semua murid kelas I-VI. Instrumen untuk pengawasan, dan evaluasi dapat mengacu pada komponen masukan, proses, dan keluaran seperti berikut: Tabel 12. Contoh Evaluasi Kegiatan Penguatan Karakter Komponen Butir Pertanyaan Teknik Pengumpulan Data Responden Masukan Terdapat perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen Studi dokumen rencana kegiatan Guru koordinator kegiatan Sumber daya satuan pendidikan dimanfaatkan secara optimal Wawancara, Observasi Guru koordinator kegiatan Sumber daya yang dipakai kegiatan Guru pemandu senam memiliki kompetensi yang relevan Wawancara, Observasi Guru koordinator kegiatan Guru pemandu senam

Panduan Kokurikuler62 Komponen Butir Pertanyaan Teknik Pengumpulan Data Responden Proses Melibatkan seluruh murid Observasi Murid Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias Wawancara, Observas Murid Pelaksanaan kegiatan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan Studi dokumen rencana jadwal Guru koordinator kegiatan Keluaran Kegiatan berjalan dengan lancar Observasi Murid senang mengikuti kegiatan Wawancara Murid Kesehatan/kebugaran murid meningkat Studi dokumen frekuensi dan jumlah siswa yang tidak masuk karena sakit Guru koordinator program Hasil Kebiasaan senam/berolahraga pada murid Kuesioner Orang tua Pola makan dan hidup teratur sesuai standar kesehatan Kuesioner Data hasil pengukuran indeks massa tubuh (Body Mass Index) Alumni Alumni

ReferensiPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 63 Referensi Kemendikdasmen. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen

Panduan Kokurikuler64 Lampiran Inspirasi Pelaksanaan Kokurikuler sampai Pelaporan Dalam bagian ini akan dijelaskan pembuatan rapor kokurikuler. Perlu diperhatikan bahwa contoh ini merupakan simulasi pembuatan rapor akan menggunakan satu kegiatan kokurikuler untuk satu semester. PERENCANAAN KOKURIKULER Nama satuan pendidikan : SMP Generasi Unggul Kelas : VII Tema : Peduli lingkungan Alokasi Waktu : 114 JP Lokasi Kegiatan : Lingkungan satuan pendidikan A. Dimensi Profil Lulusan 1. Penalaran Kritis 2. Komunikasi B. Tujuan Pembelajaran Kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan kompetensi 1. Menganalisis interaksi antar komponen ekosistem dan pengaruhnya terhadap keseimbangan ekosistem (mata pelajaran IPA) 2. Mempresentasikan gagasan sebagai solusi pemecahan masalah secara kritis dan kreatif (mata pelajaran Bahasa Indonesia) C. Praktik Pedagogis Pembelajaran berbasis proyek.

LampiranPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 65 D. Lingkungan Belajar Memberi kesempatan kepada murid untuk menganalisis kondisi lingkungan sekitar secara berkolaborasi bersama teman sekelas dan melakukan aksi nyata sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi E. Kemitraan Pembelajaran Kolaborasi guru IPA dan Bahasa Indonesia. F. Pemanfaatan Digital Laptop, Infocus, video, dan canva/powerpoint G. Kegiatan 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan rangkaian aktivitas yang akan dilakukan. 2. Murid dibagi menjadi beberapa kelompok secara heterogen. 3. Murid diminta memirsa video tentang komponen ekosistem dan kaitannya dengan kerusakan alam. 4. Murid dan guru berdiskusi mengenai isi video dan mengaitkan dengan komponen ekosistem yang ada di lingkungan sekitar. 5. Murid melakukan kunjungan ke lingkungan sekitar satuan pendidikan untuk melakukan pengamatan tentang komponen-komponen ekosistem yang ada. 6. Murid berdiskusi dalam kelompok tentang kondisi ekosistem dan permasalahan yang terjadi. Tiap kelompok dapat memilih kondisi ekosistem yang berbeda. 7. Murid mengumpulkan data tentang alternatif solusi permasalahan lingkungan. 8. Murid merancang solusi terhadap permasalahan yang ditemukan. 9. Murid membuat karya tentang solusi permasalahan dengan menggunakan berbagai media. 10. Murid mempresentasikan karyanya dengan berbagai media secara berkelompok 11. Murid melakukan refleksi kegiatan yang telah dilakukan. 12. Murid membuat kesepakatan terkait apa hal konkret yang akan dilakukan bersama untuk membantu keseimbangan ekosistem. H. Asesmen Formatif: Teknik observasi dengan instrumen catatan anekdotal Nama Murid Catatan Guru Penalaran Kritis Komunikasi

Panduan Kokurikuler66 Sumatif: Penilaian kinerja dengan instrumen rubrik No Nama Murid Penalaran Kritis Komunikasi SB B C K SB B C K Dimensi Profil Lulusan Aspek yang Dinilai Sangat Baik Baik Cukup Kurang Penalaran Kritis Menganalisis interaksi antar komponen ekosistem di lingkungan sekitar Mampu menjelaskan lebih dari 5 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Mampu menjelaskan 3-5 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Mampu menjelaskan kurang dari 3 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Belum mampu menjelaskan lebih dari 5 interaksi antar komponen- komponen yang membentuk ekosistem Komunikasi Menyampaikan gagasan Menyampaikan gagasan dengan lancar, runtut, dan logis. Menyampaikan gagasan dengan lancar. Alur penyampaian belum runtut dan/atau logis. Menyampaikan gagasan dengan kurang lancar dan belum runtut dan/atau logis Gagasan tidak dapat dipahami. Alur penyampaian belum runtut dan logis.

LampiranPendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah 67 Berdasarkan perencanaan kegiatan kokurikuler di atas, berikut tahapan dalam pembuatan pelaporannya: 1. Input dan Analisis nilai Contoh tabel hasil analisis kegiatan kokurikuler 2. Deskripsi rapor Inspirasi 1 Kokurikuler Ananda Putra sudah baik dalam penalaran kritis dengan mampu menjelaskan 3-5 interaksi antar komponen-komponen yang membentuk ekosistem, dan masih perlu berlatih dalam mengomunikasikan gagasan. Inspirasi 2 Kokurikuler Ananda Putra sudah baik dalam penalaran kritis saat mencari solusi terhadap permasalahan terkait lingkungan dan masih perlu berlatih dalam mengomunikasikan gagasan. Inspirasi 3 Kokurikuler Ananda Putra sudah baik dalam penalaran kritis dan masih perlu berlatih dalam mengomunikasikan gagasan dalam tema peduli lingkungan. Nama Murid Hasil Asesmen Penalaran Kritis (SB/B/C/K) Hasil Asesmen Komunikasi (SB/ B/C/K) Catatan pendidik Putra B K Gagasan yang disampaikan tidak dapat dipahami, namun sudah bisa menjelaskan interaksi antar komponen ekosistem

Panduan Kokurikuler68 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN PUSAT KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN