E KATALOG KOLEKSI MUSEUM JUANG 45 SURABAYA E KATALOG KOLEKSI MUSEUM JUANG 45 SURABAYA koleksi Lukisan 13 Juli 2026Surabaya sebagai Kota Pahlawan memiliki Museum Juang 45 yang berlokasi di Jl. Mayjend Sungkono No. 106. Diresmikan Presiden Soeharto pada 17 April 1993, museum ini menyimpan jejak perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan, dari Proklamasi 17 Agustus hingga Pertempuran 10 November 1945. Melalui dokumentasi, koleksi, dan karya seni, flipbook ini mengangkat kembali perjuangan Arek-Arek Suroboyo dan semangat kepahlawanan Surabaya. Jejak Perjuangan Arek-Arek Suroboyo DHD 45 Jawa Timur Berbasis Flipbook
Lukisan ini menggambarkan peristiwa perobekan bendera di Hotel Yamato, Surabaya, pada 19 September 1945. Sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonial yang mengibarkan bendera belanda, yang menjadi penyebab konflik antara WVC Ploegman dan arek-arek Suroboyo. Lukisan Perobekan Bendera Merah Putih Biru Menjadi Merah Putih di Hotel Yamato 19 September 1945 (Karya S.TOPO) DHD 45 Jawa TimurKOLEKSI LUKISANLukisan ini merekam heroisme pertempuran asimetris antara pejuang Batalyon Mayangkara pimpinan Mayor Djarot Soebiantoro melawan kekuatan militer Sekutu pada masa Revolusi Fisik. Meski hanya berbekal senjata seadanya untuk melawan persenjataan dan kendaraan taktis modern, laskar pejuang secara tangguh mampu mempertahankan front wilayah Surabaya, Sidoarjo, hingga Mojokerto Pertempuran tentara sekutu dengan batalyon mayangkara (Karya M. Soehib) Koleksi Lukisan No. 17 Koleksi Lukisan No. 27
Lukisan ini menggambarkan pertempuran sengit di depan Gedung Whiteaway (kini Toko Siola), Jalan Tunjungan, Surabaya, pada Pertempuran 10 November 1945. Gedung yang dahulu dikenal sebagai Whiteaway Laidlaw menjadi salah satu titik strategis perlawanan rakyat Surabaya bersama laskar dan TKR dalam menghadapi pasukan Sekutu yang didukung NICA. PERTEMPURAN DI DEPAN GEDUNG WHITEAWAY (TOKO SIOLA)TEWASNYA BRIGADIR JENDERAL A.W.S. MALLABY DI GEDUNG INTERNATIO, JEMBATAN MERAH, SURABAYA Pada 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby berkeliling Surabaya untuk menyampaikan kesepakatan gencatan senjata antara Indonesia dan Sekutu, hingga rombongannya tiba di sekitar Gedung Internatio, Jembatan Merah. Ketegangan kembali terjadi ketika Gedung Internatio yang diduduki pasukan Inggris dikepung oleh pejuang Indonesia dan kemudian terjadi baku tembak. Dalam peristiwa tersebut, mobil Mallaby terbakar akibat ledakan granat dan Mallaby tewas. Kematian Mallaby menjadi salah satu pemicu meningkatnya konflik Indonesia-Sekutu yang kemudian berkembang menuju Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Lukisan ini menggambarkan pertempuran di kawasan Jembatan Merah, Surabaya, saat pejuang Indonesia menghadapi tentara Sekutu yang bertahan di Gedung Internatio pada 27–30 Oktober 1945. Suasana pertempuran tampak melalui para pejuang, kendaraan militer, kobaran api, dan kepulan asap yang menggambarkan sengitnya perjuangan mempertahankan kemerdekaan.Pertahanan BKR Laut di kawasan Gapura Surya AgungPada 25 Oktober 1945, pasukan Sekutu mendarat di Tanjung Perak dan menuntut BKR Laut menurunkan bendera Merah Putih serta mengosongkan Gedung Modderlust. Tuntutan tersebut ditolak di bawah pimpinan Umar Said, menunjukkan keteguhan BKR Laut dalam mempertahankan kedaulatan RI. PERTEMPURAN DI JEMBATAN MERAH PELUKIS: M. SOEHIEB DHD 45 Jawa TimurKOLEKSI LUKISAN Koleksi Lukisan No. 9 Koleksi Lukisan Laintai 3 Koleksi Lukisan No. 21 Koleksi Lukisan No. 24
Kedatangan Kolonel Sungkono di Kota Surabaya, November 1949 Foto ini menampilkan kedatangan Kolonel Sungkono, tokoh militer dan Panglima Divisi V/Brawijaya, di Kota Surabaya pada November 1949 setelah masa perjuangan menghadapi agresi militer Belanda. Kedatangannya disambut oleh pimpinan militer setempat bersama para perwira TNI. Momen tersebut menggambarkan suasana penyambutan dan pemulihan kehidupan serta komando militer di Surabaya pada masa peralihan menuju kembalinya pemerintahan Republik Indonesia. DHD 45 Jawa TimurKOLEKSI FOTO Rangkaian Insiden Tunjungan: Perobekan Bendera Merah-Putih-Biru Foto ini mengabadikan insiden di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), Surabaya, pada 19 September 1945, ketika para pejuang merobek bagian biru bendera Belanda hingga menyisakan warna merah dan putih. Peristiwa tersebut menjadi salah satu bentuk perlawanan rakyat Surabaya terhadap upaya kembalinya kekuasaan kolonial dan bagian dari rangkaian konflik yang berkembang menuju Pertempuran Surabaya. Anggota Komisi KTN melakukan Peninjuan ke front Jawa timur di antar oleh Mayjen. Dr. Mustopo Desember 1947 Foto ini memperlihatkan anggota Komisi Tiga Negara (KTN) saat meninjau front Jawa Timur pada Desember 1947, dengan didampingi Mayjen Dr. Mustopo. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya KTN memantau kondisi konflik Indonesia– Belanda serta mendukung proses gencatan senjata dan mediasi menuju Perjanjian Renville. Koleksi Lukisan No. 13Koleksi Lukisan No. 11 Koleksi Lukisan No.25
Komisi Konsuler Meninjau Front Jawa Timur Foto ini mendokumentasikan kunjungan anggota Komisi Konsuler dan rombongan ke Front Jawa Timur pada Desember 1947, dengan pendampingan Mayor Jenderal Dr. Moestopo. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan kondisi perjuangan dan dampak Agresi Militer Belanda I kepada perwakilan asing, sekaligus menunjukkan peran diplomasi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. DHD 45 Jawa TimurKOLEKSI FOTO Para Tawanan Perang yang Kembali ke Daerah Republik Foto ini mengabadikan kepulangan para tawanan perang ke wilayah Republik Indonesia pada 3 Juni 1948. Momen tersebut berlangsung dalam konteks pemulangan dan pertukaran tawanan setelah Perjanjian Renville, sekaligus menjadi gambaran perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang tidak hanya dilakukan melalui pertempuran, tetapi juga melalui upaya kemanusiaan dan diplomasi. Inspeksi Jenderal Sudirman terhadap Tentara Jepang di Malang Foto ini mengabadikan Panglima Besar Jenderal Sudirman saat melakukan inspeksi terhadap tentara Jepang yang telah dilucuti oleh TKR di Malang pada 28 April 1946. Peristiwa ini menggambarkan masa transisi setelah Perang Dunia II sekaligus menunjukkan peran TKR dalam mengambil alih persenjataan Jepang dan menjaga keamanan wilayah Republik Indonesia. Koleksi Lukisan No. 66Koleksi Lukisan No. 65 Koleksi Lukisan No. 21
Biography Documentation Contact Us Koleksi Patung Mayjend Sungkono Mayjen Sungkono (ejaan lama: Soengkono) pria kelahiran 1 Januari 1911, di Purbalingga merupakan seorang pahlawan nasional dan tokoh militer Indonesia yang pernah menjadi pimpinan Komandan Pertahanan Kota Surabaya saat Pertempuran 10 November 1945. Ia memimpin langsung seluruh pasukan pemuda, Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan arek-arek Suroboyo untuk bertahan melawan gempuran tentara Sekutu dan Inggris. Mayjend suPIMPINAN BKR Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia bergerak cepat menyatukan mantan tentara PETA, Heiho, dan unsur pemuda ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya. Ia memimpin negosiasi dan aksi perebutan senjata dari tangan tentara Jepang yang menyerah kalah, sehingga modal persenjataan pejuang Surabaya menjadi sangat kuat. KOMANDAM PERTEMPURAN SURABAYA Ketika tentara Sekutu (Inggris) mengeluarkan ultimatum sepihak pada 9 November 1945 yang memerintahkan rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata tanpa syarat, Mayjen Sungkono dengan tegas menolak perintah tersebut dan memilih untuk angkat senjata bersama seluruh kekuatan pemuda. Sebagai otak militer di lapangan, ia tidak hanya membakar semangat juang anak buahnya melalui sumpah setia untuk mempertahankan kota hingga titik darah penghabisan pada malam sebelum pertempuran, melainkan juga menyusun strategi taktis yang genius dengan membagi wilayah Surabaya ke dalam beberapa sektor pertahanan gerilya kota yang terorganisir, sehingga mampu menahan gempuran masif dari pasukan infantri, artileri, dan tank-tank canggih milik Inggris. DHD 45 Jawa Timur
Biography Documentation Contact Us Monumen Perjuangan 45 Monumen Perjuangan 45 didirikan sebagai penghormatan terhadap perjuangan para Pejuang 45 dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Setiap unsur pada monumen memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan perjuangan dan keberlanjutan semangat kebangsaan. Patung Kelompok Pejuang Patung Kelompok Pejuang menggambarkan perjuangan bangsa Indonesia yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Relief-relief Sementara itu, relief pada dinding berbentuk daun bunga menggambarkan rangkaian peristiwa sejarah bangsa, mulai dari masa Kebangkitan Nasional hingga peristiwa-peristiwa perjuangan pada masa berikutnya. Kuncup Bunga Melati Patung Kuncup Bunga Melati melambangkan generasi muda sebagai penerus jiwa, semangat, dan nilai-nilai perjuangan bangsa. Nilai Perjuangan Dengan demikian, monumen ini menjadi tanda penghormatan kepada para pejuang dan juga menjadi pengingat bagi generasi penerus untuk memahami dan melanjutkan nilai perjuangan tersebut. DHD 45 Jawa Timur
1908 Menggambarkan tokoh-tokoh pimpinan pergerakan nasional yang menentang penjajahan Belanda. Perjuangan ini ditandai dengan berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908, yang menjadi awal Kebangkitan Nasional dan tumbuhnya semangat persatuan serta nasionalisme bangsa Indonesia. 1928 Menggambarkan lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang menjadi tonggak penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Peristiwa ini memperkuat semangat persatuan dan kesadaran pemuda untuk bersatu dalam satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, serta melanjutkan perjuangan menuju Indonesia Merdeka. DHD 45 Jawa Timur Menggambarkan semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 menjadi titik penting lahirnya Republik Indonesia. Setelah proklamasi, rakyat bersama para pejuang terus berjuang mempertahankan kemerdekaan dari berbagai ancaman dan upaya penjajahan kembali, dengan semangat persatuan, keberanian, dan pantang menyerah. 1945 1950 Menggambarkan berbagai pergolakan dan gerakan yang menentang Pemerintah Republik Indonesia serta mengancam keutuhan negara. Kondisi politik tersebut kemudian mendorong dikeluarkannya Dekrit Presiden 5oekarno pada Juli 1959 dan diberlakukannya kembali UUD 1945. Relief-Relief Monumen Perjuangan 45 1 2 3 4
Biography Documentation Contact Us Koleksi Kursi Milik Panglima SoedirmanSEJARAH KURSI Kursi kayu jati ini awalnya berasal dari salah satu rumah persinggahan dan markas rahasia yang digunakan oleh Jenderal Soedirman selama memimpin Perang Gerilya di wilayah Jawa Timur (1948–1949). Di tengah kondisi fisiknya yang sakit parah, kursi ini menjadi penopang setia sang Panglima saat beristirahat dan menyusun taktik perang. MENGAPA ADA DI GEDUNG JUANG? Setelah masa perang usai, para pejuang dan Dewan Harian Daerah Angkatan 45 (DHD 45) Jawa Timur mengumpulkan sisa-sisa artefak perjuangan dari berbagai daerah. Kursi ini sengaja dibawa dan dirawat di Gedung Juang 45 Surabaya sebagai simbol pusat komando gerilya. Kehadirannya di sini bertujuan agar generasi muda di Jawa Timur dapat melihat langsung bukti nyata kesederhanaan dan pengorbanan luar biasa dari seorang Panglima Besar. Kursi yang terbuat dari kayu dan anyaman bambu ini menggambarkan keteguhan jiwa Panglima Besar Jenderal Soedirman. Kehadirannya di Museum Gedung Juang 45 Jawa Timur menjadi bukti abadi bahwa kekuatan terbesar bangsa ini tidak lahir dari kemewahan taktik, melainkan dari pengorbanan tanpa batas demi tegaknya kedaulatan Indonesia DHD 45 Jawa Timur
Koleksi Lukisan 02 di Museum 45 Surabaya History Gerbang Maut Pada 23 November 1947, sekitar 100 tahanan dan pejuang rakyat dari Bondowoso dipindahkan menuju Surabaya menggunakan tiga gerbong barang. Perjalanan berlangsung selama 16 jam dalam kondisi yang sangat terbatas, tanpa cukup air dan udara Setibanya di Stasiun Wonokromo, banyak tahanan dalam keadaan lemas, sakit, bahkan meninggal dunia. Tragisnya, 38 orang yang berada di gerbong ketiga GR 10152 meninggal seluruhnya karena gerbong tersebut tertutup rapat dan tidak memiliki ventilasi yang memadai. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Gerbong Maut Bondowoso. Terdapat tiga rangkaian gerbong kereta api barang yang dijadikan monumen dan merupakan gerbong asli dari masa tersebut. Satu gerbong berada di Museum Brawijaya, Kota Malang, satu di Alun- Alun Bondowoso, dan satu lainnya berada di Gedung Juang DHD 45, Kota Surabaya. Hingga saat ini, gerbong maut tersebut masih terjaga keberadaannya. Gerbong Maut menjadi saksi bisu meninggalnya pejuang. Gerbong 38 Maut adalah salah satu dari tiga rangkaian gerbong kereta pengangkut pejuang kita yang ditawan Belanda. DHD 45 Jawa Timur
Biography Documentation Contact Us Memories Setiap sudut menyimpan cerita, setiap koleksi membawa jejak perjuangan. Yuk, luangkan waktu untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan di DHD 45 Jawa Timur dan temukan cerita yang masih hidup hingga hari ini. DHD 45 Jawa Timur
Biography Documentation Contact Us See You Next Time And that’s a wrap! Thank you for the good times and experiences. See you next time, Gedung Juang 45 Jawa Timur!THANK YOU https://gedungjuang45.weebly.com/ DHD 45 Jawa Timur
