KATA PENGANTAR Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkah dan rahmat-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan flipbook ini dengan baik. Flipbook ini disusun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran jarak jauh (PJJ). Flipbook ini disusun sebagai referensi dan bahan belajar untuk mahasiswa/i yang memuat tentang pembahasan mengenai pembelajaran jarak jauh (PJJ), dimulai dari kode etik mahasiswa dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ), konsep dan perkembangan pembelajaran jarak jauh (PJJ), analisis pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang efektif, pembelajaran berbasis komputer, analisis permasalahan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran jarak jauh (PJJ), hingga kegiatan Media Design Challenge. Penyusun mengucapkan terima kasih atas berbagai bantuan dari Ibu Wulan Dwi Safitri, S.Pd., M.Pd. sebagai dosen pengampu mata kuliah pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang telah memberikan bimbingan mengenai flipbook ini dan wawasan yang berharga dalam proses pembelajaran. Penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan flipbook ini dari segi bahasa maupun yang lainnya masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penyusun berharap adanya kritik, saran untuk memperbaiki isi dari flipbook ini, dan usulan demi perbaikan penulisan dalam flipbook di masa yang akan datang. Serta penyusun berharap flipbook ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca serta penyusun sendiri. Akhir kata penyusun ucapkan sekian dan terima kasih. Medan, 15 September 2026 Tim Penyusun

Laporan Tugas 1 KODE ETIK MAHASISWA DALAM Pembelajaran Jarak Jauh IDENTITAS Nama : Nana Alisyah Br. Kaloko NIM : 4233131011 Kelas : PSPK 23 D Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Metode : Pengerjaan Individu Tujuan : Membangun kesadaran mahasiswa terhadap etika, tanggung jawab integritas, dan komunikasi dalam PJJ No. Kode Etik Permasalahan yang Mendasari Rumusan Kode Etik 1 Ketepatan waktu Dalam PJJ, keterlambatan masuk kelas dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan informasi penting, mengganggu proses diskusi, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan hadir tepat waktu sebagai bentuk tanggung jawab akademik. 2 Kejujuran akademik Dalam PJJ, minimnya pengawasan langsung membuka peluang bagi mahasiswa untuk melakukan kecurangan seperti mencontek saat ujian daring maupun menggunakan joki tugas, sehingga dapat merusak integritas akademik. Mahasiswa wajib mengerjakan tugas dan ujian secara mandiri serta jujur, tanpa melakukan bentuk kecurangan apapun. 3 Penghargaan terhadap dosen dan teman Komunikasi yang dilakukan secara daring rentan kehilangan unsur sopan santun karena minimnya interaksi tatap muka, sehingga mahasiswa dapat bersikap kurang Mahasiswa wajib bersikap sopan dan menghargai dosen serta teman sekelas C O N T O H

menghormati dosen maupun sesama teman saat berdiskusi. dalam setiap bentuk komunikasi, baik lisan maupun tulisan, selama proses pembelajaran. 4 Pencantuman sumber Dalam mengerjakan tugas, mahasiswa sering mengutip informasi dari internet atau sumber lain tanpa mencantumkan referensi yang jelas, sehingga menimbulkan potensi pelanggaran hak cipta dan ketidakjelasan asal informasi. Mahasiswa wajib mencantumkan sumber referensi secara jelas dan benar setiap kali mengutip atau menggunakan informasi dari pihak lain. 5 Penggunaan AI secara bertanggung jawab Kemudahan akses terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) berpotensi disalahgunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas secara instan tanpa proses berpikir mandiri, sehingga mengurangi kemampuan analisis dan pemahaman terhadap materi. Mahasiswa diperbolehkan menggunakan AI sebagai alat bantu belajar dengan tetap mengutamakan pemahaman dan hasil kerja mandiri, serta mencantumkan penggunaannya secara transparan. 6 Menghindari plagiarisme Kemudahan mengakses dan menyalin informasi digital meningkatkan risiko mahasiswa melakukan plagiarisme, baik disengaja maupun tidak, dalam penyusunan tugas maupun karya ilmiah. Mahasiswa wajib menyusun tugas dengan bahasa dan pemikiran sendiri serta menghindari tindakan plagiarisme

dalam bentuk apapun. 7 Keaktifan dalam pembelajaran Pembelajaran daring cenderung membuat mahasiswa pasif karena minimnya interaksi langsung, sehingga banyak yang hanya hadir tanpa berpartisipasi aktif dalam diskusi maupun kegiatan pembelajaran. Mahasiswa diharapkan aktif berpartisipasi dalam diskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapat selama proses pembelajaran berlangsung. 8 Tanggung jawab terhadap tugas kelompok Dalam kerja kelompok secara daring, sering terjadi ketimpangan kontribusi antaranggota karena kurangnya koordinasi dan pengawasan langsung, sehingga sebagian anggota tidak menjalankan tanggung jawabnya secara adil. Setiap mahasiswa wajib berkontribusi secara aktif dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas kelompok sesuai pembagian tugas yang disepakati. 9 Etika komunikasi digital Komunikasi melalui platform digital seperti WhatsApp, email, atau forum diskusi rentan disalahgunakan menjadi tidak sopan atau dikirim pada waktu yang tidak tepat, sehingga mengganggu kenyamanan penerima pesan. Mahasiswa wajib menggunakan bahasa yang sopan dan sesuai etika dalam berkomunikasi digital dengan dosen maupun teman, termasuk memperhatikan waktu pengiriman pesan. 10 Menghargai privasi dan Dalam lingkungan digital, informasi pribadi dan karya orang lain seperti foto, rekaman, Mahasiswa wajib menghormati privasi

karya orang lain atau dokumen dapat dengan mudah disebarluaskan tanpa izin, sehingga berpotensi melanggar privasi dan hak cipta. serta karya orang lain dan tidak menyebarluaskan informasi maupun karya pribadi tanpa izin yang bersangkutan.

Laporan Tugas 1 KODE ETIK MAHASISWA DALAM Pembelajaran Jarak Jauh IDENTITAS Nama : Jenny Teresa Manalu Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Kelas : PSPK 23 A Metode : Pengerjaan Individu Tujuan : Membangun kesadaran mahasiswa terhadap etika, tanggung jawab integritas, dan komunikasi dalam PJJ No. Kode Etik Permasalahan yang Mendasari Rumusan Kode Etik 1 Ketepatan waktu Dalam PJJ, keterlambatan masuk kelas dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan informasi penting, mengganggu proses diskusi, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan hadir tepat waktu sebagai bentuk tanggung jawab akademik. 2 Kejujuran akademik Dalam pembelajaran jarak jauh, terdapat peluang bagi mahasiswa untuk mencontek, bekerja sama secara tidak sah saat ujian, atau menggunakan jawaban orang lain. Mahasiswa wajib menjunjung tinggi kejujuran dalam mengerjakan tugas, ujian, dan seluruh kegiatan akademik serta tidak melakukan kecurangan. 3 Penghargaan terhadap dosen dan teman Komunikasi melalui media digital dapat menimbulkan kesalahpahaman, penggunaan bahasa yang tidak sopan, atau Mahasiswa wajib menghormati dosen dan sesama mahasiswa dengan

sikap tidak menghargai pendapat orang lain. menggunakan bahasa yang sopan serta menghargai pendapat dan perbedaan. 4 Pencantuman sumber Mahasiswa dapat dengan mudah mengambil informasi dari internet tanpa mencantumkan sumber sehingga dapat merugikan pemilik karya. Mahasiswa wajib mencantumkan sumber dan melakukan sitasi yang benar dalam menggunakan ide, data, gambar, maupun karya orang lain. 5 Penggunaan AI secara bertanggung jawab Penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat mahasiswa menyerahkan hasil yang bukan merupakan pemikirannya sendiri dan mengurangi proses belajar. Mahasiswa boleh menggunakan AI sebagai alat bantu pembelajaran secara bijaksana, tetapi tetap bertanggung jawab atas hasil pekerjaan dan tidak menyalahgunakannya untuk kecurangan. 6 Menghindari plagiarisme Kemudahan mengakses informasi digital meningkatkan risiko mahasiswa menyalin tugas atau karya orang lain tanpa izin dan pengakuan. Mahasiswa dilarang melakukan plagiarisme dan wajib menghasilkan karya sendiri serta memberikan pengakuan terhadap karya yang digunakan.

7 Keaktifan dalam pembelajaran Dalam PJJ, mahasiswa dapat menjadi pasif karena keterbatasan interaksi langsung dengan dosen dan teman. Mahasiswa diharapkan berpartisipasi aktif dalam diskusi, bertanya, memberikan pendapat, dan mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran. 8 Tanggung jawab terhadap tugas kelompok Dalam kerja kelompok, terkadang terdapat anggota yang tidak berkontribusi sehingga beban pekerjaan menjadi tidak adil bagi anggota lain. Setiap mahasiswa wajib berkontribusi sesuai tugas dan tanggung jawab yang telah disepakati dalam kelompok. 9 Etika komunikasi digital Komunikasi melalui chat atau media pembelajaran dapat menimbulkan konflik akibat penggunaan bahasa yang kasar, tidak sopan, atau tidak sesuai situasi Mahasiswa wajib menjaga sopan santun, menggunakan bahasa yang baik, dan tidak melakukan tindakan yang dapat menyinggung atau merugikan orang lain dalam komunikasi digital. 10 Menghargai privasi dan karya orang lain Materi pembelajaran, rekaman kelas, foto, dan informasi pribadi dapat dengan mudah disebarkan tanpa izin melalui media digital. Mahasiswa wajib menjaga privasi, tidak menyebarkan informasi, dokumentasi, atau karya orang lain

tanpa izin dari pihak yang bersangkutan.

Laporan Tugas 1 KODE ETIK MAHASISWA DALAM Pembelajaran Jarak Jauh IDENTITAS Nama Kelompok : Eliana Angela Siregar Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh Kelas : PSPK 23 D Metode : Pengerjaan Individu Tujuan : Membangun kesadaran mahasiswa terhadap etika, tanggung jawab integritas, dan komunikasi dalam PJJ No. Kode Etik Permasalahan yang Mendasari Rumusan Kode Etik 1 Ketepatan waktu Dalam PJJ, keterlambatan masuk kelas dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan informasi penting, mengganggu proses diskusi, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan hadir tepat waktu sebagai bentuk tanggung jawab akademik. 2 Kejujuran akademik Dalam PJJ, mahasiswa lebih mudah melakukan kecurangan seperti menyontek, bekerja sama saat ujian, atau memberikan jawaban kepada teman karena dosen tidak selalu dapat mengawasi secara langsung. Mahasiswa mengerjakan tugas dan ujian secara jujur tanpa melakukan kecurangan sebagai bentuk menjaga integritas akademik. 3 Penghargaan terhadap dosen dan teman Dalam pembelajaran daring, perbedaan pendapat atau cara berkomunikasi dapat menimbulkan kesalahpahaman. Sikap yang tidak menghargai dosen dan teman dapat Mahasiswa menghargai dosen dan teman dengan mendengarkan, C O N T O H

membuat suasana pembelajaran menjadi tidak nyaman. menghargai pendapat, serta tidak mengganggu atau merendahkan orang lain selama pembelajaran 4 Pencantuman sumber Dalam mengerjakan tugas, mahasiswa sering menggunakan informasi dari internet, buku, jurnal, atau sumber lainnya. Jika sumber tidak dicantumkan, pembaca tidak dapat mengetahui asal informasi tersebut dan dapat dianggap sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab secara akademik. Mahasiswa mencantumkan sumber referensi yang digunakan dalam tugas sebagai bentuk penghargaan terhadap pemilik informasi dan karya ilmiah. 5 Penggunaan AI secara bertanggung jawab Penggunaan AI dalam PJJ dapat membantu mahasiswa memahami materi dan menyelesaikan tugas. Namun, penggunaan AI secara berlebihan tanpa memahami isi jawaban dapat membuat mahasiswa menjadi tidak mandiri dan berpotensi melakukan ketidakjujuran akademik. Mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu pembelajaran secara bijak, tetap memahami materi, memeriksa kebenaran informasi, dan tidak menjadikan AI sebagai pengganti usaha pribadi. 6 Menghindari plagiarisme Kemudahan menyalin informasi dari internet membuat mahasiswa berisiko mengambil tulisan atau karya orang lain tanpa mencantumkan sumber. Hal tersebut dapat merugikan pemilik karya dan melanggar etika akademik. Mahasiswa menyusun tugas dengan menggunakan bahasa dan pemikiran sendiri

serta mencantumkan sumber apabila menggunakan ide atau tulisan orang lain 7 Keaktifan dalam pembelajaran Dalam PJJ, mahasiswa cenderung pasif karena pembelajaran dilakukan melalui perangkat digital. Kurangnya keaktifan dapat menyebabkan mahasiswa kurang memahami materi dan tidak memperoleh pengalaman belajar yang optimal. Mahasiswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dengan mengikuti diskusi, bertanya, menjawab pertanyaan, dan memberikan pendapat secara baik. 8 Tanggung jawab terhadap tugas kelompok Dalam kerja kelompok secara daring, terdapat kemungkinan anggota kelompok tidak berkontribusi secara merata sehingga sebagian anggota harus menyelesaikan pekerjaan lebih banyak. Mahasiswa melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah disepakati dalam kelompok serta berkontribusi secara aktif untuk menyelesaikan tugas bersama. 9 Etika komunikasi digital Komunikasi melalui pesan atau media daring tidak selalu menunjukkan ekspresi dan intonasi seseorang. Penggunaan bahasa yang tidak sopan, pesan yang berlebihan, atau menghubungi dosen pada waktu yang tidak tepat dapat menimbulkan kesalahpahaman. Mahasiswa menggunakan bahasa yang sopan, jelas, dan sesuai dengan situasi ketika berkomunikasi dengan dosen maupun teman

melalui media digital. 10 Menghargai privasi dan karya orang lain Dalam PJJ, mahasiswa sering menggunakan tangkapan layar, foto, video, materi pembelajaran, atau hasil karya teman. Penyebaran tanpa izin dapat mengganggu privasi dan merugikan pemilik karya. Mahasiswa menjaga privasi dan menghargai karya orang lain dengan tidak menyebarkan foto, video, data, atau hasil karya tanpa izin dari pemiliknya.

Laporan Tugas 1 KODE ETIK MAHASISWA DALAM Pembelajaran Jarak Jauh IDENTITAS Nama : Gesrina Bangun Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Kelas : PSPK 23D Metode : Pengerjaan Individu Tujuan : Membangun kesadaran mahasiswa terhadap etika, tanggung jawab integritas, dan komunikasi dalam PJJ No. Kode Etik Permasalahan yang Mendasari Rumusan Kode Etik 1 Ketepatan waktu Dalam PJJ, keterlambatan masuk kelas dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan informasi penting, mengganggu proses diskusi, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan hadir tepat waktu sebagai bentuk tanggung jawab akademik. 2 Kejujuran akademik Pembelajaran jarak jauh dapat membuat pengawasan terhadap ujian dan tugas lebih terbatas. Ketidakjujuran, seperti menyontek atau meminta orang lain mengerjakan tugas, dapat merugikan proses penilaian dan mengurangi integritas akademik. Mahasiswa mengerjakan tugas, kuis, dan ujian secara jujur serta tidak melakukan kecurangan dalam bentuk apa pun sebagai wujud integritas akademik. 3 Penghargaan terhadap Komunikasi melalui ruang kelas virtual dapat menimbulkan kesalahpahaman dan membuat seseorang lebih mudah Mahasiswa menghormati dosen dan teman dengan C O N T O H

dosen dan teman menyampaikan komentar yang kurang sopan. Sikap tersebut dapat mengganggu suasana belajar dan hubungan antaranggota kelas. menggunakan bahasa yang sopan, mendengarkan pendapat orang lain, serta menghargai perbedaan pandangan selama pembelajaran. 4 Pencantuman sumber Dalam mengerjakan tugas, mahasiswa sering menggunakan buku, artikel, situs web, atau sumber digital lainnya. Tidak mencantumkan sumber dapat membuat kontribusi orang lain seolah-olah merupakan hasil pemikiran sendiri. Mahasiswa mencantumkan sumber rujukan yang digunakan dalam tugas atau diskusi secara jelas dan sesuai ketentuan akademik. 5 Penggunaan AI secara bertanggung jawab Teknologi AI dapat membantu mahasiswa memahami materi dan mengembangkan ide, tetapi penggunaan tanpa pemeriksaan atau menjadikan AI sebagai pengganti seluruh proses berpikir dapat menurunkan kualitas pembelajaran dan berisiko menghasilkan informasi yang keliru. Mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu belajar secara bertanggung jawab, memeriksa kebenaran informasi, tetap memahami hasil yang digunakan, dan mengikuti aturan dosen atau institusi terkait penggunaan AI. 6 Menghindari plagiarisme Kemudahan menyalin informasi dari internet atau karya orang lain dalam PJJ dapat meningkatkan risiko plagiarisme. Mahasiswa menyusun tugas dengan kata-kata

Plagiarisme merugikan pemilik karya dan tidak mencerminkan kemampuan akademik mahasiswa. dan pemikiran sendiri, mencantumkan sumber ketika menggunakan gagasan orang lain, serta tidak menyalin karya tanpa pengakuan yang semestinya. 7 Keaktifan dalam pembelajaran PJJ dapat membuat mahasiswa cenderung pasif karena tidak berada dalam ruang kelas secara langsung. Kurangnya partisipasi dapat menghambat diskusi dan mengurangi kesempatan untuk memahami materi. Mahasiswa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran, seperti mengikuti diskusi, bertanya ketika belum memahami materi, dan memberikan pendapat yang relevan dengan tetap menghargai peserta lain. 8 Tanggung jawab terhadap tugas kelompok Dalam kerja kelompok secara daring, pembagian tugas dan komunikasi tidak selalu mudah. Anggota yang tidak mengerjakan bagian tugasnya dapat membebani anggota lain dan menghambat penyelesaian pekerjaan kelompok. Mahasiswa melaksanakan bagian tugas kelompok sesuai kesepakatan, berkomunikasi mengenai perkembangan pekerjaan, serta bertanggung jawab

terhadap hasil kerja bersama. 9 Etika komunikasi digital Komunikasi PJJ banyak dilakukan melalui grup chat, forum, dan konferensi video. Pesan yang tidak jelas, penggunaan huruf kapital berlebihan, spam, atau komentar yang tidak sopan dapat mengganggu komunikasi akademik. Mahasiswa berkomunikasi secara sopan, jelas, relevan, dan sesuai konteks akademik serta menggunakan media komunikasi pembelajaran dengan tertib. 10 Menghargai privasi dan karya orang lain Kegiatan PJJ dapat melibatkan data pribadi, rekaman kelas, dokumen, foto, dan hasil karya dosen maupun mahasiswa. Penyebaran tanpa izin dapat melanggar privasi dan merugikan pihak yang bersangkutan. Mahasiswa menjaga privasi dosen dan teman serta tidak menyebarkan rekaman, data pribadi, dokumen, atau karya orang lain tanpa izin dan tanpa alasan akademik yang sah.

Laporan Tugas 1 KODE ETIK MAHASISWA DALAM Pembelajaran Jarak Jauh IDENTITAS Nama : Ayu Lestari Simarmata Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Kelas : PSPK 23 D Metode : Pengerjaan Individu Tujuan : Membangun kesadaran mahasiswa terhadap etika, tanggung jawab integritas, dan komunikasi dalam PJJ No. Kode Etik Permasalahan yang Mendasari Rumusan Kode Etik 1 Ketepatan waktu Dalam PJJ, keterlambatan masuk kelas dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan informasi penting, mengganggu proses diskusi, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan hadir tepat waktu sebagai bentuk tanggung jawab akademik. 2 Kejujuran akademik Dalam pembelajaran jarak jauh, mahasiswa dapat lebih mudah melakukan kecurangan, seperti menyontek, bekerja sama saat ujian yang seharusnya individu, atau memberikan jawaban kepada orang lain. Hal tersebut dapat merugikan diri sendiri dan menghilangkan nilai kejujuran dalam proses akademik. Mahasiswa mengerjangkan tugas, kuis, dan ujian secara jujur serta tidak melakukan kecurangan akademik dalam bentuk apapun. 3 Penghargaan terhadap dosen dan teman Komunikasi atau interaksi yang dimediasi layar sering membuat mahasiswa lupa etika, misalnya berbicara sambil melakukan aktivitas lain, memotong pembicaraan, Mahasiswa wajib bersikap sopan, menghargai pendapat dosen

menggunakan nada tidak sopan di kolom chat, atau tidak menghargai pendapat teman saat diskusi daring, sehingga suasana belajar menjadi tidak kondusif. maupun sesama mahasiswa, dan menjaga etika komunikasi selama proses pembelajaran daring berlangsung. 4 Pencantuman sumber Kemudahan mengakses informasi di internet membuat mahasiswa rentan mengutip data, gambar, atau pendapat orang lain tanpa mencantumkan sumbernya, sehingga menimbulkan ketidakjelasan pemilik gagasan yang melanggar hak cipta Mahasiswa wajib mencantumkan sumber referensi secara jujur dan jelas atas setiap kutipan, data, atau gagasan yang digunakan dalam tugas maupun diskusi. 5 Penggunaan AI secara bertanggung jawab Kemudahan akses AI berisiko disalahgunakan mahasiswa untuk mengerjakan tugas secara instan tanpa berpikir mandiri, sehingga menghambat tahap perkembangan kemampuan mahasiswa tersebut. Mahasiswa boleh menggunakan AI sebagai alat bantu, namun tetap bertanggung jawab dan mengedepankan pemahaman sendiri. 6 Menghindari plagiarisme Kemudahan memperoleh informasi melalui internet membuat mahasiswa dapat dengan mudah menyalin tulisan, ide, atau karya orang lain tanpa memberikan pengakuan yang semestinya (plagiarisme). Mahasiswa wajib mengerjakan tugas dengan hasil pemikiran sendiri dan menghindari plagiarisme. 7 Keaktifan dalam pembelajaran Minimnya pengawasan langsung dalam PJJ membuat sebagian mahasiswa cenderung pasif, hanya bergabung ke kelas daring tanpa benar-benar menyimak, tidak bertanya, dan tidak merespons diskusi, Mahasiswa wajib berperan aktif dalam setiap sesi pembelajaran daring, termasuk

sehingga proses belajar menjadi kurang bermakna. menyimak materi, mengajukan pertanyaan, dan berpartisipasi dalam diskusi kelas. 8 Tanggung jawab terhadap tugas kelompok Dalam kerja kelompok secara daring, koordinasi yang tidak optimal dapat menyebabkan sebagian anggota tidak berkontribusi secara adil, menunda pekerjaan, atau bergantung sepenuhnya pada anggota lain, sehingga menimbulkan ketidakadilan dan menurunkan kualitas hasil kerja kelompok. Setiap anggota kelompok wajib berkontribusi secara adil, menyelesaikan bagian tugasnya tepat waktu, dan bertanggung jawab atas hasil kerja kelompok secara bersama-sama. 9 Etika komunikasi digital Komunikasi dalam PJJ dilakukan melalui berbagai media digital seperti WhatsApp, forum pembelajaran, email, dan video conference. Penggunaan bahasa yang kasar, pesan yang tidak jelas, spam, atau mengirim pesan pada waktu yang tidak tepat dapat mengganggu kenyamanan dan hubungan akademik. Mahasiswa wajib menggunakan bahasa yang santun, jelas, dan sesuai konteks akademik dalam setiap komunikasi digital, baik melalui email, forum, maupun aplikasi pembelajaran daring.

10 Menghargai privasi dan karya orang lain Pembelajaran daring sering melibatkan perekaman sesi kelas, tangkapan layar, atau berbagi dokumen pribadi, sehingga tanpa etika yang jelas, data pribadi maupun karya milik dosen dan mahasiswa lain berisiko disebarluaskan tanpa izin. Mahasiswa wajib menghormati privasi serta hak cipta dosen dan sesama mahasiswa, termasuk tidak menyebarluaskan rekaman, tangkapan layar, atau karya orang lain tanpa izin.

Laporan Tugas 1 KODE ETIK MAHASISWA DALAM Pembelajaran Jarak Jauh IDENTITAS Nama : Andin Livia Siagian Nim : 4231131067 Kelas : PSPK 23B Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh Metode : Pengerjaan Individu Tujua : Membangun kesadaran mahasiswa terhadap etika, tanggung jawab integritas, dan komunikasi dalam PJJ No. Kode Etik Permasalahan yang Mendasari Rumusan Kode Etik 1 Ketepatan waktu Dalam PJJ, keterlambatan masuk kelas dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan informasi penting, mengganggu proses diskusi, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan hadir tepat waktu sebagai bentuk tanggung jawab akademik. 2 Kejujuran akademik Dalam pelaksanaan kuliah terlebih secara pembelajaran jarak jauh, sebagian mahasiswa dapat lebih mudah tergoda untuk mencari atau menggunakan jawaban orang lain ketika mengerjakan tugas atau ujian. Hal tersebut dapat membuat hasil ujian yang diperoleh tidak mencerminkan kemampuanmahasiswa itu sendiri. Mahasiswa mengerjakan tugas dan evaluasi secara jujur sesuai dengan kemampuanya sendiri serta tidak melakukan kecurangan akademik. 3 Penghargaan terhadap Pembelajaran melalui media daring dapat membuat mahasiswa kurang Mahasiswa menghargai dosen C O N T O H

dosen dan teman memperhatikan cara berbicara atau bersikap ketika berinteraksi dengan dosen dan teman. dan teman dengan menjaga sikap, bahasa, serta memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan pendapat. 4 Pencantuman sumber Dalam mengerjakan tugas PJJ, mahasiswa sering menggunakan informasi atau kutipan dari internet, buku, jurnal, atau sumber lainnya. Jika sumber tidak dicantumkan, informasi yang dimsukkan dalam tugas menjadi tidak jelas dan dapat merugikan pemilik dari karya yang dikutip.Informasi juga dapat tidak akurat jika tidak adanya sumber yang menyediakan informasi tersebut. Mahasiswa mencantumkan sumber informasi yang digunakan atau dikutip dalam pengerjaan tugas sebagai bentuk menghargai terhadap sumber dan pemilik informasi. 5 Penggunaan AI secara bertanggung jawab Penggunaan AI dapat membantu mahasiswa memahami materi dan menyelesaikan tugas, tetapi penggunaan yang tidak tepat dapat membuat mahasiswa hanya menyalin jawaban tanpa memahami isinya.Pengerjaan tugas secara instan dapat menganggu proses berpikir kritis dan mengurangi kompetensi mahasiswa tersebut. Mahasiswa menggunakan AI sebagai alat bantu untuk belajar dan mengembangkan pemahaman, bukan sebagai pengganti proses berpikir dan tanggung jawab dalam mengerjakan tugas. 6 Menghindari plagiarisme Kemudahan memperoleh informasi secara daring dapat membuat mahasiswa langsung copy paste tulisan atau jawaban dari Mahasiswa menghindari plagiarisme dengan membuat karya

sumber lain tanpa mengolah dengan Bahasa sendiri dan mencantumkan sumbernya. menggunakan hasil pemikiran sendiri, melakukan parafrase dengan benar, dan mencantumkan sumber yang digunakan sebagai kutipan. 7 Keaktifan dalam pembelajaran Dalam PJJ, mahasiswa cenderung menjadi pasif karena pembelajaran dilakukan secara daring sehingga hanya mengikuti kelas tanpa bertanya, berdiskusi, atau memberikan tanggapan. Mahasiswa juga sering gagal focus dan mudah terdistraksi karena pembelajaran tidak dilakukan di ruang kelas. Mahasiswa berusaha aktif mengikuti pembelajaran dengan memperhatikan materi, bertanya, berdiskusi, dan memberikan tanggapan sesuai kebutuhan pembelajaran. Mahasiswa juga tetap mengikuti aturan perkuliahan meskipun tidak dalam kawasan perkuliahan. 8 Tanggung jawab terhadap tugas kelompok Dalam tugas kelompok secara daring, pembagian pekerjaan dan komunikasi yang terbatas dapat menyebabkan ada anggota yang tidak mengerjakan bagian yang telah disepakati. Mahasiswa melaksanakan bagian tugas yang telah disepakati bersama dan berkomunikasi dengan anggota kelompok untuk

menyelesaikan tugas secara bertanggung jawab dan maksimal. 9 Etika komunikasi digital Komunikasi PJJ banyak dilakukan melalui chat, forum, dan video conference. Pesan yang ditulis tanpa memperhatikan Bahasa,emoji yang tidak sesuai dan waktu dapat menimbulkan kesalahpahaman atau dianggap kurang sopan. Mahasiswa menggunakan bahasa yang sopan, jelas, proposional dan sesuai konteks ketika berkomunikasi melalui media digital dalam keberlangsungannya kegiatan pembelajaran. 10 Menghargai privasi dan karya orang lain Dalam pembelajaran daring, mahasiswa dapat menerima atau membagikan foto, rekaman, dokumen, atau hasil karya orang lain. Jika dibagikan tanpa izin, hal tersebut dapat melanggar privasi, hak cipta dan merugikan pemilik karya. Mahasiswa menjaga privasi dan menghargai karya orang lain dengan cara tidak menyebarkan data, rekaman, atau karya sembarangan tanpa adanya izin dari pemiliknya.

Laporan Tugas 1 KODE ETIK MAHASISWA DALAM Pembelajaran Jarak Jauh IDENTITAS Nama : Aditia Julius Ginting Nim : 4231131068 Kelas : PSPK 23 D Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh Metode : Pengerjaan Individu Tujuan : Membangun kesadaran mahasiswa terhadap etika, tanggung jawab integritas, dan komunikasi dalam PJJ No. Kode Etik Permasalahan yang Mendasari Rumusan Kode Etik 1 Ketepatan waktu Dalam PJJ, keterlambatan masuk kelas dapat menyebabkan mahasiswa kehilangan informasi penting, mengganggu proses diskusi, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa mengikuti pembelajaran sesuai jadwal dan hadir tepat waktu sebagai bentuk tanggung jawab akademik. 2 Kejujuran akademik Dalam PJJ, mahasiswa memiliki peluang lebih besar untuk menyontek, bekerja sama secara tidak semestinya, atau mengirimkan jawaban yang bukan hasil pemikirannya sendiri. Hal ini dapat mengurangi nilai kejujuran dan menciptakan penilaian yang tidak objektif. Mahasiswa wajib mengerjakan tugas, ujian, dan kegiatan akademik secara jujur serta menghindari segala bentuk kecurangan. 3 Penghargaan terhadap dosen dan teman Komunikasi secara daring dapat menimbulkan kesalahpahaman, penggunaan bahasa yang tidak sopan, sikap Mahasiswa wajib berkomunikasi dengan sopan, menghargai dosen C O N T O H

meremehkan, atau tindakan yang tidak menghargai pendapat dosen maupun teman. dan teman, serta menghormati setiap perbedaan pendapat selama proses pembelajaran. 4 Pencantuman sumber Mahasiswa terkadang menggunakan materi, gambar, data, atau pendapat dari internet tanpa mencantumkan sumber. Hal tersebut dapat menghilangkan penghargaan terhadap karya orang lain. Mahasiswa wajib mencantumkan sumber secara jelas dan benar ketika menggunakan gagasan, data, gambar, atau karya milik pihak lain. 5 Penggunaan AI secara bertanggung jawab Penggunaan AI dalam PJJ dapat disalahgunakan untuk mengerjakan seluruh tugas tanpa memahami materi, sehingga mengurangi proses berpikir kritis dan kemandirian mahasiswa. Mahasiswa dapat menggunakan AI sebagai alat bantu pembelajaran secara bijak, bertanggung jawab, dan tidak menggantikan proses berpikir serta hasil kerja pribadi. 6 Menghindari plagiarisme Kemudahan mengakses informasi digital dapat mendorong mahasiswa menyalin karya orang lain tanpa izin atau tanpa mencantumkan sumber, sehingga merugikan pemilik karya dan melanggar integritas akademik. Mahasiswa wajib menghasilkan karya secara mandiri dan menghindari plagiarisme dalam bentuk apa pun dengan memberikan pengakuan yang layak terhadap sumber yang digunakan.

7 Keaktifan dalam pembelajaran Dalam PJJ, mahasiswa dapat menjadi pasif, tidak memperhatikan penjelasan, tidak berpartisipasi dalam diskusi, atau mengikuti kelas tanpa keterlibatan yang sungguh- sungguh. Mahasiswa wajib mengikuti pembelajaran secara aktif, memperhatikan materi, berpartisipasi dalam diskusi, serta menunjukkan keterlibatan yang positif dalam setiap kegiatan pembelajaran. 8 Tanggung jawab terhadap tugas kelompok Dalam kerja kelompok daring, terdapat kemungkinan sebagian anggota tidak berkontribusi, menyerahkan pekerjaan kepada anggota lain, atau tidak menyelesaikan tugas sesuai kesepakatan. Mahasiswa wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang telah disepakati serta memberikan kontribusi yang adil dalam setiap kerja kelompok. 9 Etika komunikasi digital Komunikasi melalui media digital dapat menimbulkan pesan yang tidak pantas, penggunaan bahasa kasar, penyebaran informasi yang tidak benar, atau pengiriman pesan pada waktu yang tidak sesuai. Mahasiswa wajib menggunakan bahasa yang sopan, jelas, dan bertanggung jawab dalam setiap komunikasi digital serta menjaga sikap profesional selama berinteraksi dalam pembelajaran. 10 Menghargai privasi dan Dalam PJJ, rekaman pembelajaran, foto, data pribadi, hasil tugas, atau karya orang Mahasiswa wajib menjaga privasi,

karya orang lain lain dapat dengan mudah disebarluaskan tanpa izin, sehingga dapat merugikan pihak yang bersangkutan. tidak menyebarluaskan data atau dokumentasi tanpa izin, serta menghargai dan tidak menyalahgunakan karya orang lain.

ANALISIS PEMBELAJARAN JARAK JAUH YANG EFEKTIF a) Contoh Pembelajaran yang Dianalisis • Judul/jenis pembelajaran : Pembelajaran Jarak Jauh Melalui Zoom/ Google Meet • Materi/topik : Struktur Atom • Media/teknologi yang digunakan : Zoom/ Google Meet, Presentasi Powerpoint, Papan Tulis Digital, dan Video Pembelajaran • Gambaran singkat pembelajaran : Pembelajaran dilaksanakan secara jarak jauh menggunakan Zoom/Google Meet. Pada kegiatan awal, dosen/guru membuka pembelajaran dengan salam, mengecek kehadiran mahasiswa/siswa, menyampaikan tujuan pembelajaran, serta memberikan apersepsi mengenai konsep dasar atom yang telah dipelajari sebelumnya. Pada kegiatan inti, dosen/guru menjelaskan materi struktur atom, meliputi perkembangan teori atom, partikel penyusun atom, serta susunan elektron menggunakan media presentasi. Penjelasan dilakukan secara langsung melalui Zoom/Google Meet sehingga mahasiswa/siswa dapat mengikuti materi dari tempat masing-masing. Untuk meningkatkan pemahaman, dosen/guru memberikan pertanyaan selama pembelajaran dan meminta beberapa mahasiswa/siswa untuk menjawab atau menyampaikan pendapat. Mahasiswa/siswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami. Pada kegiatan akhir, dosen/guru memberikan beberapa soal atau pertanyaan sebagai evaluasi pemahaman. Mahasiswa/siswa mengerjakan soal secara mandiri, kemudian pembelajaran ditutup dengan pembahasan singkat, penyampaian kesimpulan, dan pemberian tugas apabila diperlukan. b) Analisis Pembelajaran Komponen Hasil Analisis Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran sudah cukup jelas karena guru/dosen menyampaikan tujuan pada awal pembelajaran. Tujuan tersebut sesuai dengan aktivitas pembelajaran, yaitu peserta didik mempelajari perkembangan teori atom, partikel penyusun atom, dan

susunan elektron. Namun, tujuan dapat dibuat lebih spesifik dan terukur, misalnya peserta didik mampu menjelaskan perkembangan teori atom, mengidentifikasi partikel penyusun atom, serta menentukan konfigurasi elektron berdasarkan nomor atom. Teknologi/media Teknologi yang digunakan sudah sesuai dengan karakteristik pembelajaran jarak jauh. Zoom/Google Meet memungkinkan pembelajaran berlangsung secara langsung, sedangkan PowerPoint membantu menyajikan materi secara sistematis. Papan tulis digital dapat digunakan untuk menjelaskan konsep atau perhitungan, dan video pembelajaran dapat membantu memberikan gambaran visual mengenai struktur atom. Penggunaan beberapa media tersebut cukup sesuai karena materi struktur atom memiliki konsep yang membutuhkan visualisasi. Interaksi Interaksi antara guru/dosen dan peserta didik sudah terlihat melalui penyampaian materi, pemberian pertanyaan, kesempatan menjawab, dan sesi tanya jawab. Namun, interaksi antarpeserta didik masih terbatas karena kegiatan lebih banyak berpusat pada guru/dosen. Interaksi dapat ditingkatkan melalui diskusi kelompok kecil menggunakan breakout room, kegiatan presentasi, maupun forum diskusi pada LMS. Aktivitas belajar Peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga menjawab pertanyaan, bertanya, menyampaikan pendapat, dan mengerjakan soal evaluasi. Hal tersebut menunjukkan adanya aktivitas belajar. Namun, aktivitas masih perlu ditingkatkan agar peserta didik lebih aktif dan tidak hanya menerima materi. Guru/dosen dapat memberikan tugas analisis, diskusi kelompok, pemecahan masalah, atau LKPD digital yang berkaitan dengan struktur atom.

Prinsip PJJ Prinsip PJJ yang sudah diterapkan antara lain fleksibilitas tempat belajar, pemanfaatan teknologi komunikasi, kemandirian belajar, dan penggunaan media digital. Peserta didik dapat mengikuti pembelajaran dari tempat masing-masing. Selain itu, peserta didik diberikan kesempatan untuk belajar dan mengerjakan evaluasi secara mandiri. Namun, prinsip interaktivitas dan kemandirian belajar masih dapat diperkuat melalui aktivitas kolaboratif dan tugas yang mendorong peserta didik mencari serta mengolah informasi secara mandiri. Karakteristik PJJ Karakteristik PJJ terlihat dari adanya pemisahan tempat antara guru/dosen dan peserta didik serta penggunaan teknologi sebagai penghubung proses pembelajaran. Pembelajaran juga memanfaatkan media digital dan memungkinkan peserta didik mengikuti pembelajaran tanpa harus berada di ruang kelas yang sama. Selain itu, terdapat unsur belajar mandiri melalui pengerjaan soal dan tugas. Agar lebih efektif, pembelajaran dapat mengombinasikan kegiatan sinkron melalui Zoom/Google Meet dengan kegiatan asinkron melalui LMS atau e-modul. Asesmen Asesmen dilakukan melalui pertanyaan selama pembelajaran dan soal evaluasi pada akhir pembelajaran. Bentuk tersebut dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi struktur atom. Namun, asesmen masih lebih menekankan pada pemahaman konsep. Asesmen dapat dikembangkan dengan memberikan kuis digital, tugas pemecahan masalah, LKPD, proyek sederhana, serta penilaian keaktifan dalam diskusi. Dengan demikian, penilaian dapat mencakup pengetahuan, keterampilan, dan aktivitas peserta didik selama PJJ.

c) Kelebihan dan Kekurangan Kelebihan : 1. Pembelajaran dapat dilakukan secara langsung dan fleksibel meskipun guru/dosen dan peserta didik berada di tempat yang berbeda. Penggunaan Zoom/Google Meet memungkinkan guru/dosen menyampaikan materi struktur atom secara langsung kepada peserta didik. Selama memiliki perangkat dan koneksi internet peserta didik tetap dapat mendengarkan penjelasan, melihat presentasi, menjawab pertanyaan, dan bertanya kepada guru/dosen meskipun tidak berada di ruang kelas yang sama. 2. Penggunaan PowerPoint membantu penyampaian materi menjadi lebih sistematis. Materi struktur atom seperti perkembangan teori atom, partikel penyusun atom, dan susunan elektron dapat disusun dalam bentuk slide secara berurutan. Hal ini membantu peserta didik mengikuti pembahasan dari konsep yang sederhana hingga konsep yang lebih kompleks. 3. Papan tulis digital membantu guru/dosen menjelaskan konsep dan perhitungan. Pada materi struktur atom, guru/dosen dapat menggunakan papan tulis digital untuk menuliskan konfigurasi elektron, menjelaskan susunan elektron, atau membuat contoh soal secara langsung. Peserta didik dapat melihat proses penjelasan tersebut melalui layar. 4. Video pembelajaran membantu memberikan visualisasi terhadap konsep struktur atom. Struktur atom merupakan materi yang cukup abstrak karena atom dan partikel penyusunnya tidak dapat diamati secara langsung. Video pembelajaran dapat memberikan gambaran berupa animasi atau visualisasi mengenai atom, proton, neutron, elektron, serta perkembangan model atom sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi. 5. Adanya interaksi antara guru/dosen dengan peserta didik selama pembelajaran. Guru/dosen tidak hanya menjelaskan materi, tetapi juga memberikan pertanyaan kepada peserta didik selama pembelajaran. Peserta didik diberikan kesempatan untuk menjawab, menyampaikan pendapat, dan bertanya mengenai materi struktur atom yang belum dipahami. 6. Peserta didik terlibat dalam kegiatan evaluasi.

Pada akhir pembelajaran, peserta didik diberikan soal atau pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi struktur atom. Kegiatan ini dapat membantu guru/dosen mengetahui bagian materi yang sudah dipahami maupun yang masih mengalami kesulitan. 7. Melatih peserta didik untuk belajar secara mandiri. Dalam pembelajaran jarak jauh, peserta didik tidak selalu mendapatkan pendampingan secara langsung seperti di kelas. Peserta didik perlu memperhatikan penjelasan melalui Zoom/Google Meet, mencatat materi, memahami kembali video atau PowerPoint, serta mengerjakan soal secara mandiri. 8. Pembelajaran dapat menggunakan beberapa media sekaligus. Penggabungan Zoom/Google Meet, PowerPoint, papan tulis digital, dan video pembelajaran membuat penyampaian materi tidak hanya dilakukan melalui ceramah. Setiap media memiliki fungsi yang berbeda dan saling melengkapi dalam membantu peserta didik memahami struktur atom. 9. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya ketika mengalami kesulitan. Selama pembelajaran berlangsung, peserta didik dapat menyampaikan pertanyaan secara langsung melalui mikrofon atau fitur chat. Dengan demikian, peserta didik memiliki kesempatan untuk meminta penjelasan kembali apabila belum memahami konsep tertentu. Kekurangan : 1. Pembelajaran sangat bergantung pada perangkat dan koneksi internet. Penggunaan Zoom/Google Meet membutuhkan perangkat seperti laptop atau smartphone serta koneksi internet yang stabil. Jika koneksi terganggu, peserta didik dapat mengalami keterlambatan suara, gambar terputus, atau bahkan keluar dari pertemuan sehingga penjelasan materi struktur atom tidak dapat diikuti secara utuh. 2. PowerPoint dapat membuat pembelajaran terlalu berpusat pada penyampaian materi. Jika slide PowerPoint hanya berisi tulisan dan gambar tanpa aktivitas tambahan, peserta didik cenderung hanya membaca atau mendengarkan penjelasan guru/dosen. Hal ini dapat membuat peserta didik kurang aktif dalam memahami konsep struktur atom yang bersifat abstrak.

3. Papan tulis digital kurang efektif untuk peserta didik yang mengalami kendala melihat tampilan layar. Penjelasan konfigurasi elektron atau contoh soal melalui papan tulis digital dapat sulit diikuti apabila tulisan terlalu kecil, tampilan kurang jelas, atau proses penulisan berlangsung terlalu cepat. Peserta didik juga tidak dapat melihat proses penjelasan secara langsung seperti ketika berada di kelas. 4. Video pembelajaran tidak selalu menjamin peserta didik memahami konsep struktur atom. Video yang terlalu cepat, terlalu panjang, atau menggunakan istilah yang sulit dapat menyebabkan peserta didik kesulitan mengikuti penjelasan. Selain itu, peserta didik dapat hanya menonton video tanpa benar-benar memahami konsep proton, neutron, elektron, dan perkembangan teori atom. 5. Interaksi antara guru/dosen dan peserta didik menjadi lebih terbatas. Meskipun peserta didik dapat bertanya melalui mikrofon atau chat, tidak semua peserta didik aktif menyampaikan pertanyaan. Guru/dosen juga lebih sulit mengetahui secara langsung apakah seluruh peserta didik benar-benar memahami materi struktur atom seperti halnya dalam pembelajaran tatap muka. 6. Evaluasi selama pembelajaran jarak jauh kurang dapat mengukur pemahaman peserta didik secara menyeluruh. Ketika peserta didik mengerjakan soal secara daring, guru/dosen lebih sulit memastikan proses pengerjaan dilakukan secara mandiri. Selain itu, keterbatasan waktu dalam pertemuan daring dapat menyebabkan jumlah soal yang diberikan terbatas sehingga tidak semua indikator materi struktur atom dapat dievaluasi. 7. Pembelajaran mandiri dapat menjadi kendala bagi peserta didik yang membutuhkan banyak bimbingan. Tidak semua peserta didik memiliki kemampuan belajar mandiri yang sama. Peserta didik yang masih kesulitan memahami konsep dasar atau konfigurasi elektron dapat mengalami kebingungan ketika harus mempelajari kembali materi tanpa pendampingan langsung dari guru/dosen. 8. Penggunaan beberapa media sekaligus dapat menyebabkan peserta didik mengalami kebingungan teknis. Perpindahan antara Zoom/Google Meet, PowerPoint, papan tulis digital, dan video pembelajaran dapat membuat peserta didik harus mengikuti beberapa tampilan atau

aplikasi. Jika pergantian media tidak dilakukan dengan teratur, perhatian peserta didik dapat teralihkan dari materi struktur atom. 9. Kesempatan bertanya belum tentu dimanfaatkan oleh seluruh peserta didik. Walaupun fitur mikrofon dan chat tersedia, sebagian peserta didik mungkin merasa malu, ragu, atau takut salah ketika bertanya. Akibatnya, peserta didik yang sebenarnya belum memahami materi struktur atom dapat memilih diam sehingga guru/dosen tidak mengetahui kesulitan yang mereka alami. d) Penerapan Pada Pembelajaran Kimia SMA Bagian ini wajib agar tugas terhubung dengan bidang Pendidikan Kimia. 1. Topik Kimia SMA : Struktur Atom 2. Masalah Pembelajaran : Struktur atom termasuk materi yang cukup abstrak sehingga peserta didik sering mengalami kesulitan dalam memahami perkembangan teori atom, partikel penyusun atom, serta konfigurasi elektron. Kondisi tersebut dapat menjadi lebih sulit dalam pembelajaran jarak jauh karena guru dan peserta didik tidak berada di tempat yang sama sehingga bimbingan secara langsung menjadi terbatas. Selain itu, apabila pembelajaran lebih banyak berupa penjelasan guru dengan bantuan PowerPoint, peserta didik dapat menjadi kurang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. 3. Tujuan Pembelajaran : Peserta didik diharapkan dapat memahami perkembangan teori atom, mengenali partikel-partikel penyusun atom, serta menentukan konfigurasi elektron berdasarkan nomor atom. Selain memahami konsep, peserta didik juga diharapkan mampu berpartisipasi dalam diskusi dan mengemukakan hasil pemikirannya terkait permasalahan struktur atom. 4. Teknologi yang Dipilih : Pembelajaran menggunakan Zoom/Google Meet sebagai sarana pembelajaran secara langsung. PowerPoint digunakan untuk membantu penyampaian materi, sedangkan papan tulis digital digunakan ketika guru menjelaskan konsep atau memberikan contoh soal. Video pembelajaran juga dimanfaatkan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai konsep struktur atom yang bersifat abstrak. 5. Bentuk Aktivitas : Kegiatan pembelajaran dapat diawali dengan apersepsi, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan materi melalui PowerPoint dan video. Setelah itu, peserta didik mengikuti sesi tanya jawab dan diskusi kelompok. Peserta didik dapat diberikan permasalahan, misalnya menentukan konfigurasi elektron

dari suatu unsur berdasarkan nomor atom, kemudian membahas penyelesaiannya bersama anggota kelompok. Hasil diskusi dapat disampaikan kepada peserta didik lainnya melalui presentasi singkat. Dengan kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan lebih aktif dalam memahami dan mengolah materi. 6. Bentuk Interaksi : Interaksi antara guru dan peserta didik berlangsung melalui penjelasan materi, sesi pertanyaan, pemberian tanggapan, serta umpan balik. Sementara itu, interaksi antarpeserta didik dapat dilakukan melalui diskusi kelompok dengan memanfaatkan fitur breakout room pada Zoom/Google Meet. Guru memberikan arahan selama kegiatan berlangsung dan membantu peserta didik apabila terdapat konsep yang belum dipahami. 7. Asesmen : Penilaian dapat dilakukan melalui pertanyaan yang diberikan selama pembelajaran, kuis atau soal evaluasi, tugas individu, serta hasil diskusi kelompok. Aspek yang dinilai meliputi pemahaman peserta didik terhadap konsep struktur atom, kemampuan mengidentifikasi partikel penyusun atom, dan kemampuan menentukan konfigurasi elektron. Keaktifan peserta didik dalam diskusi serta kemampuan menyampaikan hasil pemikiran juga dapat diperhatikan dalam penilaian. Dengan demikian, asesmen dapat memberikan gambaran mengenai pengetahuan dan keterlibatan peserta didik selama pembelajaran jarak jauh. e) Kesimpulan Pembelajaran kimia sinkron melalui Zoom Meeting pada materi Struktur Atom telah memenuhi sebagian besar karakteristik PJJ yang efektif, terutama pada aspek interaksi dua arah dan pemanfaatan teknologi untuk menjembatani keterpisahan fisik antara guru dan siswa. Prinsip kemandirian belajar juga tampak melalui tugas mandiri dan diskusi kelompok di breakout room. Namun demikian, pembelajaran ini belum sepenuhnya optimal karena bersifat sinkron penuh tanpa opsi akses asinkron atau rekaman sesi, sehingga siswa dengan kendala koneksi internet berisiko tertinggal. Selain itu, minimnya praktikum nyata membuat pemahaman konsep kurang mendalam. Perbaikan yang diperlukan meliputi penyediaan rekaman sesi, kombinasi dengan simulasi virtual seperti PhET, serta variasi asesmen keterampilan proses agar pembelajaran menjadi lebih interaktif, bermakna, dan sesuai karakteristik PJJ yang ideal.

Nama Kelompok : Kelompok 1 Anggota Kelompok : ~ Nana Alisyah Br. Kaloko ~ Ayu Lestari Simarmata ~ Gesrina Bangun ~ Andin Livia Siagian ~ Eliana Angela Siregar ~ Jenny Teresa Manalu ~ Aditia Julius Ginting Mata Kuliah : Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Dosen Pengampu : Wulan Dwi Safitri, S.Pd., M.Pd. PEMBELAJARAN JARAK JAUH (PJJ) BERBASIS KOMPUTER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN 1. Pengertian PJJ Berbasis Komputer Sebagai Media Pembelajaran Pembelajaran Jarak Jauh berbasis komputer sebagai media adalah pembelajaran jarak jauh yang menggunakan komputer atau laptop sebagai sarana untuk membantu proses belajar. Melalui komputer, guru dapat memberikan materi, menjelaskan pelajaran, berkomunikasi dengan siswa, memberikan tugas, dan melakukan ujian atau penilaian, meskipun guru dan siswa berada di tempat yang berbeda. Contohnya: guru mengajar melalui Zoom, memberikan materi melalui Google Classroom, dan siswa mengerjakan tugas menggunakan komputer. 2. Karakteristik PJJ Berbasis Komputer Sebagai Media Pembelajaran 1. Interaktif Peserta didik dapat berinteraksi langsung dengan materi melalui komputer, misalnya menjawab soal, memilih menu, melakukan simulasi, dan menerima respons dari program. 2. Individual dan mandiri Peserta didik dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan kecepatan belajarnya sendiri. Materi juga dapat dipelajari berulang kali jika belum dipahami. 3. Menggunakan multimedia Materi dapat disajikan dalam berbagai bentuk, seperti teks, gambar, suara, video, animasi, grafik, dan simulasi msehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan mudah dipahami.

4. Memberikan umpan balik langsung Komputer dapat memberikan informasi mengenai jawaban peserta didik. Misalnya, setelah mengerjakan kuis, peserta didik dapat langsung mengetahui jawaban yang benar atau salah. 5. Fleksibel Peserta didik dapat belajar dari berbagai tempat dan, terutama dalam PJJ, dapat mengakses materi sesuai waktu yang tersedia selama fasilitas pembelajaran dapat digunakan. 6. Berbasis teknologi digital Pembelajaran memanfaatkan perangkat dan aplikasi digital, seperti komputer, internet, LMS, aplikasi pembelajaran, dan berbagai sumber belajar digital. 7. Menyediakan simulasi Komputer dapat mensimulasikan suatu proses atau fenomena yang sulit dilakukan secara langsung. Hal ini sangat berguna dalam pembelajaran sains dan kimia. Contoh: siswa menggunakan simulasi untuk melihat pengaruh suhu dan konsentrasi terhadap laju reaksi. 8. Memungkinkan evaluasi secara digital Tes, kuis, tugas, dan latihan dapat dilakukan menggunakan komputer. Hasilnya dapat disimpan dan diolah secara digital. 9. Menyediakan akses terhadap berbagai sumber belajar Komputer yang terhubung internet memungkinkan peserta didik mengakses e-book, jurnal, video pembelajaran, website pendidikan, dan sumber informasi lainnya. 10. Mendukung komunikasi dan kolaborasi Dalam PJJ, komputer dapat digunakan untuk berkomunikasi melalui forum diskusi, email, chat, dan video conference, sehingga peserta didik tetap dapat berinteraksi dengan guru dan teman. 3. Kelebihan Dan Kekurangan PJJ Berbasis Komputer Sebagai Media Pembelajaran A. Kelebihan 1. Memudahkan akses materi digital

Komputer memudahkan siswa untuk mengakses berbagai materi pembelajaran dalam bentuk PDF, PowerPoint, video, gambar, maupun dokumen digital lainnya. Materi dapat dibuka dan dipelajari kembali sesuai kebutuhan siswa. 2. Mendukung pembelajaran interaktif Komputer dapat digunakan untuk menampilkan video, animasi, simulasi, dan kuis interaktif. Penggunaan media tersebut dapat membantu siswa memahami materi yang sulit atau abstrak serta membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik. 3. Mempermudah komunikasi dan interaksi daring Komputer memungkinkan guru dan siswa tetap berkomunikasi meskipun tidak berada di tempat yang sama. Interaksi dapat dilakukan melalui chat, forum diskusi, platform pembelajaran, maupun video conference. 4. Membantu pengerjaan dan pengumpulan tugas Siswa dapat mengerjakan berbagai tugas menggunakan komputer, seperti membuat dokumen, presentasi, laporan, dan latihan soal. Tugas juga dapat disimpan dan dikumpulkan secara digital sehingga lebih praktis dan menghemat penggunaan kertas. 5. Menyimpan banyak materi pembelajaran Komputer memiliki kapasitas penyimpanan yang memungkinkan siswa menyimpan berbagai materi, tugas, catatan, dan sumber belajar dalam satu perangkat. Materi tersebut juga dapat digunakan kembali ketika siswa membutuhkan. 6. Fleksibel dalam proses pembelajaran Komputer memberikan fleksibilitas karena siswa dapat belajar dari mana saja dan kapan saja, selama memiliki perangkat dan akses yang mendukung. Hal ini sangat membantu terutama dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ). 7. Memperluas akses ke sumber belajar Komputer yang terhubung dengan internet memungkinkan siswa mencari berbagai sumber belajar tambahan, seperti artikel, jurnal, e-book, video edukasi, dan website pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya bergantung pada materi yang diberikan oleh guru. B. Kekurangan 1. Ketergantungan pada perangkat dan internet Proses pembelajaran sangat bergantung pada kondisi komputer atau perangkat yang digunakan serta koneksi internet. Pembelajaran dapat terganggu apabila perangkat mengalami masalah atau jaringan internet tidak stabil.

2. Membutuhkan kemampuan teknologi Guru dan siswa harus memiliki keterampilan dalam menggunakan komputer serta platform pembelajaran daring. Kurangnya kemampuan teknologi dapat menyebabkan kesulitan dalam mengakses materi, mengikuti pembelajaran, maupun mengumpulkan tugas 3. Interaksi sosial terbatas Komunikasi secara daring tidak sepenuhnya dapat menggantikan interaksi langsung antara guru dan siswa maupun antarsiswa. Hal ini dapat membuat diskusi, kerja sama, dan komunikasi selama pembelajaran menjadi kurang optimal. 4. Membutuhkan kemandirian dan disiplin Siswa perlu memiliki kemampuan untuk mengatur waktu, mengikuti pembelajaran, serta menyelesaikan tugas secara mandiri. Kurangnya kedisiplinan dapat menyebabkan siswa tertinggal dalam mengikuti materi pembelajaran. 5. Potensi gangguan selama belajar Penggunaan komputer dalam pembelajaran dapat membuat siswa terdistraksi oleh aktivitas lain, seperti bermain gim, menggunakan media sosial, atau membuka situs yang tidak berkaitan dengan pembelajaran. Hal ini dapat mengurangi konsentrasi dan fokus siswa. 6. Kesenjangan fasilitas Tidak semua siswa memiliki komputer, perangkat pendukung, maupun akses internet yang memadai. Perbedaan fasilitas tersebut dapat menyebabkan tidak semua siswa memperoleh kesempatan belajar yang sama secara optimal. 4. Contoh Penerapan PJJ Berbasis Komputer Sebagai Media Pembelajaran Dalam Pembelajaran Kimia ➢ Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat menjadi salah satu media pembelajaran yang efektif dalam mendukung proses pembelajaran kimia. Melalui PJJ, siswa dapat mengakses materi pembelajaran kapan saja dan di mana saja dengan menggunakan perangkat digital yang terhubung ke internet. Media seperti Google Classroom, Moodle, Zoom, Google Meet, dan berbagai platform pembelajaran lainnya dapat digunakan untuk menyampaikan materi, memberikan tugas, melaksanakan diskusi, serta melakukan evaluasi pembelajaran. Sebagai contoh, pada materi reaksi asam dan basa, guru dapat menyampaikan materi melalui video pembelajaran dan presentasi interaktif, kemudian memberikan simulasi virtual

untuk mengamati perubahan pH ketika suatu larutan ditambahkan asam atau basa. Siswa dapat mengikuti pembelajaran melalui komputer dari rumah, mengerjakan kuis dan latihan soal secara daring, serta melakukan diskusi melalui forum atau video conference. Guru kemudian memberikan umpan balik terhadap hasil pekerjaan siswa dan mengevaluasi pemahaman mereka melalui tes online. Dengan demikian, PJJ dapat meningkatkan kemandirian dan keterampilan siswa dalam memanfaatkan teknologi untuk belajar. PJJ tidak hanya berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan materi, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang dapat menciptakan proses belajar yang fleksibel, interaktif, dan sesuai dengan perkembangan teknologi digital. Selain itu, pembelajaran kimia tetap dapat berlangsung secara interaktif meskipun guru dan siswa berada di tempat yang berbeda. ➢ Misalnya pembelajaran dilakukan pada materi ikatan kimia untuk siswa SMA. 1. Guru memberikan materi melalui komputer Guru mengunggah modul digital, PowerPoint, atau video pembelajaran mengenai ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam melalui LMS. 2. Siswa mempelajari materi secara mandiri Siswa membuka materi menggunakan laptop atau komputer dari rumah. Mereka dapat mempelajari materi sesuai dengan waktu yang tersedia dan mengulang bagian yang belum dipahami. 3. Menggunakan video atau animasi Guru memberikan video atau animasi mengenai proses terbentuknya ikatan ion dan kovalen. Hal ini membantu siswa memahami konsep yang sulit jika hanya dijelaskan melalui teks. 4. Menggunakan simulasi komputer Siswa dapat menggunakan simulasi pembelajaran untuk mengamati bagaimana atom berinteraksi dan membentuk ikatan. Jadi, siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi dapat mengamati konsep kimia secara visual. 5. Diskusi secara online Setelah mempelajari materi, guru memberikan pertanyaan atau kasus melalui forum pembelajaran. Siswa kemudian berdiskusi dan memberikan jawaban melalui komputer. 6. Evaluasi menggunakan kuis online

Guru memberikan kuis mengenai ikatan kimia. Misalnya siswa diminta menentukan jenis ikatan pada NaCl, H₂O, atau Cl₂. Hasil kuis dapat digunakan guru untuk mengetahui pemahaman siswa.

ANALISIS PERMASALAHAN SARANA DAN PRASARANA PENUNJANG PEMBELAJARAN JARAK JAUH 1. Petunjuk Umum Bacalah kasus yang diberikan, kemudian diskusikan secara berkelompok. Untuk setiap kasus, analisis: 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? 2. Kasus dalam PJJ KASUS 1 Seorang guru kimia SMA melaksanakan PJJ menggunakan laptop dan video conference. Selama 90 menit, guru menjelaskan materi Ikatan Kimia menggunakan PowerPoint. Siswa diminta menyalakan kamera dan mencatat materi. Setelah penjelasan selesai, guru memberikan file PDF dan meminta siswa mengerjakan latihan. Tidak ada simulasi, diskusi, atau aktivitas interaktif. Meskipun seluruh siswa memiliki perangkat dan akses internet, sebagian besar siswa tidak aktif selama pembelajaran. Diskusi Kelompok : Ikatan Kimia (Ceramah Satu Arah, Sarana Memadai) 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utamanya bukan pada ketersediaan sarana, melainkan pada desain pembelajaran yang bersifat satu arah (ceramah 90 menit) tanpa variasi aktivitas, sehingga siswa pasif meski seluruh perangkat dan akses internet sudah memadai. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Teknologi yang dipakai (laptop, video conference, PowerPoint, PDF) sebenarnya sudah sesuai dengan kondisi siswa yang semuanya memiliki perangkat dan akses internet

baik. Namun pemanfaatannya belum sesuai kebutuhan pembelajaran, karena hanya digunakan untuk transfer informasi searah, padahal materi Ikatan Kimia bersifat abstrak dan sangat terbantu oleh visualisasi atau simulasi interaktif. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Tidak ada kendala sarana/prasarana fisik. Kendalanya adalah pada pemanfaatan sarana yang ada guru belum menggunakan fitur interaktif seperti simulasi molekul, breakout room, polling, atau kuis langsung. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Dampaknya adalah rendahnya partisipasi dan motivasi siswa, pemahaman konsep yang dangkal karena tidak ada visualisasi tiga dimensi struktur ikatan, serta kelelahan digital akibat durasi ceramah yang panjang tanpa jeda aktivitas. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru dapat memecah 90 menit menjadi segmen lebih pendek: mini-ceramah 15–20 menit, dilanjutkan kuis/polling interaktif, diskusi kelompok kecil (breakout room), dan sesi tanya jawab, sehingga komputer dan teknologi video conference digunakan lebih dari sekadar alat penyampai slide. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Alternatif yang dapat digunakan: simulasi molekul interaktif (misalnya PhET Ikatan Kimia), video animasi singkat, aplikasi kuis interaktif (Kahoot/Quizizz), diskusi kelompok melalui breakout room, dan papan tulis digital (whiteboard) untuk kerja kolaboratif. KASUS 2 Guru akan melaksanakan pembelajaran PJJ pada materi Laju Reaksi. Guru merencanakan pembelajaran menggunakan video conference selama 90 menit, video eksperimen beresolusi tinggi, simulasi online, dan kuis langsung. Namun, beberapa siswa tinggal di daerah dengan koneksi internet yang tidak stabil. Ketika video conference berlangsung, suara sering terputus dan beberapa siswa keluar dari kelas. Video eksperimen juga sulit ditonton karena ukuran file cukup besar. Diskusi Kelompok : Laju Reaksi (Konten Berat, Koneksi Tidak Stabil) 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut?

Masalah utamanya adalah pemilihan format pembelajaran berkebutuhan bandwidth tinggi (video conference, video eksperimen resolusi tinggi, simulasi online real-time) tanpa mempertimbangkan variasi kualitas jaringan internet siswa. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Teknologi yang dipilih belum sepenuhnya sesuai kondisi siswa. Rancangan ini cocok untuk siswa dengan internet stabil, tetapi tidak realistis untuk siswa di daerah dengan koneksi terbatas, sehingga sebagian siswa gagal mengikuti pembelajaran secara utuh. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendala utamanya adalah jaringan internet yang tidak stabil di sisi siswa (prasarana infrastruktur) serta ukuran file video eksperimen yang terlalu besar sehingga sulit diunduh atau ditonton secara lancar. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Dampaknya adalah siswa keluar dari kelas sinkron sebelum pembelajaran selesai, kehilangan sebagian materi, munculnya kesenjangan pemahaman antar siswa, serta pengalaman belajar yang terganggu dan membuat frustrasi. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru dapat menyediakan opsi asinkron (rekaman sesi) sebagai pelengkap sesi sinkron, mengompresi/menurunkan resolusi video eksperimen, mengunggah materi lebih awal agar dapat diunduh sebelum jadwal, dan menyiapkan mode audio-only sebagai cadangan saat koneksi video bermasalah. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Alternatif yang dapat digunakan: video eksperimen versi kompresi rendah atau dapat diunduh untuk ditonton luring, simulasi ringan berbasis HTML5 yang cepat dimuat, materi ringkasan dalam bentuk infografis/teks sebagai pengganti video, dan kuis yang dapat dikerjakan secara asinkron. KASUS 3 Guru merancang PJJ untuk materi Struktur Atom dengan menggunakan komputer, aplikasi simulasi, e-modul, dan video conference. Setelah pembelajaran dimulai, diketahui bahwa sebagian besar siswa hanya memiliki smartphone. Beberapa aplikasi yang digunakan

guru tidak dapat berjalan dengan baik pada smartphone dan tampilan e-modul sulit dibaca pada layar kecil. Guru tetap meminta seluruh siswa menggunakan aplikasi yang sama. Diskusi Kelompok : Struktur Atom (Aplikasi Tidak Ramah Smartphone) 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utamanya adalah guru merancang pembelajaran berbasis asumsi bahwa siswa memiliki komputer, padahal mayoritas siswa hanya memiliki smartphone, sehingga muncul ketidaksesuaian antara teknologi yang dipilih dan perangkat yang benar-benar dimiliki siswa. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Teknologi yang dipilih tidak sesuai kondisi siswa. Aplikasi simulasi dan tampilan e-modul dirancang untuk layar besar (komputer), sehingga tidak optimal dan sulit digunakan pada layar smartphone yang lebih kecil. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendala prasarana yang utama adalah keterbatasan perangkat siswa (hanya smartphone, bukan laptop/komputer) serta aplikasi dan e-modul yang belum mobile-friendly. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Dampaknya adalah siswa kesulitan mengakses dan mengoperasikan aplikasi/e-modul, pembelajaran menjadi tidak merata, motivasi belajar menurun, dan pemahaman tentang model struktur atom yang membutuhkan visualisasi menjadi tidak optimal. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru perlu terlebih dahulu memetakan kondisi perangkat siswa sebelum memilih platform, lalu memilih aplikasi dan format e-modul yang responsif di smartphone, atau menyediakan versi alternatif khusus untuk pengguna smartphone. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Alternatif yang dapat digunakan: aplikasi simulasi berbasis web responsif atau versi mobile (misalnya PhET versi Android/website responsif), e-modul dalam format yang mudah digulir di layar kecil, serta video animasi singkat sebagai pengganti simulasi yang berat KASUS 4 Sebuah sekolah melaksanakan PJJ pada materi Kesetimbangan Kimia. Guru menggunakan video conference dan meminta siswa mengikuti simulasi secara online. Ketika

pembelajaran berlangsung, listrik di beberapa wilayah tempat tinggal siswa tiba-tiba padam. Akibatnya, siswa tidak dapat mengakses internet dan keluar dari kelas. Guru tidak menyediakan materi atau aktivitas alternatif yang dapat dilakukan secara offline. 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utama dalam kasus ini adalah pembelajaran terlalu bergantung pada listrik, internet, video conference, dan simulasi online tanpa adanya rencana pembelajaran alternatif. Ketika terjadi pemadaman listrik, siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran dan tidak memiliki materi atau aktivitas yang dapat dikerjakan secara offline. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Teknologi yang digunakan sebenarnya sesuai untuk pembelajaran Kesetimbangan Kimia, karena video conference dan simulasi online dapat membantu siswa memahami konsep yang bersifat abstrak dan membutuhkan visualisasi. Namun, penggunaannya belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi peserta didik karena guru tidak mempertimbangkan kemungkinan terjadinya gangguan listrik atau internet. Teknologi seharusnya digunakan secara fleksibel dengan menyediakan alternatif apabila pembelajaran daring secara langsung tidak dapat dilakukan. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendala utama adalah: • Listrik di tempat tinggal beberapa siswa yang mengalami pemadaman. • Akses internet yang tidak dapat digunakan ketika listrik padam. • Perangkat elektronik seperti smartphone atau laptop yang bergantung pada daya listrik. • Tidak tersedianya materi dan aktivitas pembelajaran offline sebagai alternatif. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Permasalahan tersebut dapat menyebabkan: • Siswa keluar dari kelas virtual sebelum pembelajaran selesai. • Siswa kehilangan materi pembelajaran.

• Siswa tidak dapat mengikuti simulasi Kesetimbangan Kimia. • Terjadi ketimpangan pembelajaran antara siswa yang listriknya tersedia dan siswa yang mengalami pemadaman. • Pemahaman siswa terhadap materi menjadi tidak merata. • Tugas dan aktivitas pembelajaran berpotensi tidak dapat diselesaikan tepat waktu. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru perlu menerapkan sistem pembelajaran yang fleksibel dan memiliki rencana cadangan. Sebelum pembelajaran dimulai, guru dapat memberikan materi yang dapat diunduh ketika listrik dan internet tersedia. Misalnya, guru menyediakan: 1. E-modul atau PDF materi Kesetimbangan Kimia. 2. Video pembelajaran dengan ukuran file yang tidak terlalu besar dan dapat diunduh. 3. Lembar kerja peserta didik (LKPD) yang dapat dikerjakan secara offline. 4. Instruksi pembelajaran yang jelas sehingga siswa dapat belajar mandiri ketika tidak dapat mengikuti video conference. 5. Waktu pengumpulan tugas yang fleksibel bagi siswa yang mengalami gangguan listrik. 6. Rekaman pembelajaran agar siswa dapat mempelajari kembali materi ketika sudah mendapatkan akses listrik dan internet. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan? Alternatif yang dapat digunakan antara lain: • E-modul/PDF offline mengenai Kesetimbangan Kimia. • Video pembelajaran yang dapat diunduh untuk ditonton tanpa koneksi internet. • LKPD cetak atau digital offline. • Materi dalam bentuk infografis atau rangkuman. • Rekaman pembelajaran dari video conference. • Simulasi yang dapat digunakan secara offline apabila tersedia. • Komunikasi melalui pesan singkat setelah siswa kembali mendapatkan akses internet.

KASUS 5 Seorang guru ingin membuat pembelajaran kimia yang menarik. Untuk materi Asam- Basa, guru menggunakan berbagai teknologi sekaligus: video conference, animasi, virtual laboratory, game edukasi, video pembelajaran, beberapa aplikasi kuis, dan berbagai platform digital. Siswa harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Akibatnya, siswa bingung menentukan aktivitas yang harus dilakukan. Sebagian siswa bahkan lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari cara menggunakan aplikasi daripada memahami materi. 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utama adalah penggunaan terlalu banyak teknologi dan platform dalam satu pembelajaran sehingga menimbulkan beban kognitif dan kebingungan bagi siswa. Guru terlalu berfokus pada banyaknya teknologi yang digunakan, bukan pada kesesuaian teknologi dengan tujuan pembelajaran. Akibatnya, siswa lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpindah aplikasi dan memahami cara menggunakan platform daripada mempelajari konsep Asam-Basa. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Secara umum, teknologi yang dipilih dapat mendukung pembelajaran Asam-Basa, terutama karena animasi dan virtual laboratory dapat membantu memvisualisasikan konsep yang sulit diamati secara langsung. Namun, jumlah teknologi yang digunakan terlalu banyak. Penggunaan banyak aplikasi sekaligus justru tidak sesuai dengan kebutuhan siswa karena menyebabkan kebingungan, meningkatkan beban belajar, dan mengurangi fokus terhadap materi. Guru sebaiknya memilih beberapa teknologi yang paling relevan berdasarkan tujuan pembelajaran, bukan menggunakan semua teknologi yang tersedia. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendala dalam kasus ini bukan hanya perangkat atau internet, tetapi juga: • Terlalu banyak platform dan aplikasi yang harus digunakan. • Siswa harus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. • Kemampuan siswa dalam menggunakan setiap aplikasi berbeda. • Kemungkinan adanya keterbatasan perangkat dan kuota ketika menjalankan banyak aplikasi. • Tidak adanya satu platform utama sebagai pusat kegiatan pembelajaran. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Dampaknya antara lain:

• Siswa menjadi bingung mengenai urutan aktivitas pembelajaran. • Fokus siswa terhadap materi Asam-Basa berkurang. • Waktu pembelajaran banyak digunakan untuk membuka dan mempelajari aplikasi. • Beban kognitif siswa meningkat. • Siswa dapat mengalami kelelahan digital. • Siswa yang kurang terbiasa menggunakan teknologi dapat semakin tertinggal. • Tujuan pembelajaran menjadi kurang tercapai karena perhatian siswa terpecah pada penggunaan teknologi. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru perlu menerapkan prinsip "teknologi digunakan sesuai kebutuhan, bukan sebanyak mungkin." Langkah yang dapat dilakukan adalah: 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan? Guru tidak perlu menggunakan semua teknologi sekaligus. Alternatif yang lebih efektif adalah menggunakan kombinasi sederhana, misalnya: • LMS atau satu platform utama untuk menyimpan seluruh materi dan tugas. • Video pembelajaran singkat untuk menjelaskan konsep Asam-Basa. • Animasi atau simulasi untuk memvisualisasikan konsep pH, ion H⁺ dan OH⁻, serta indikator. • Satu aplikasi kuis untuk evaluasi. • LKPD digital untuk aktivitas siswa. • Forum diskusi pada platform utama untuk kegiatan tanya jawab. Contoh rancangan sederhananya: LMS → Video/Animasi → LKPD → Diskusi → Kuis Dengan pola tersebut, siswa tidak perlu berpindah-pindah aplikasi secara berlebihan. Kesimpulan Kasus 5 Masalah pada Kasus 5 bukan karena teknologi yang digunakan kurang, tetapi justru terlalu banyak teknologi digunakan secara bersamaan. Penggunaan teknologi harus mempertimbangkan tujuan pembelajaran, kemudahan akses, kemampuan siswa, dan efektivitasnya. Guru sebaiknya memilih teknologi yang sederhana, terintegrasi, dan benar- benar mendukung materi Asam-Basa, sehingga siswa dapat lebih fokus memahami materi daripada mempelajari cara menggunakan berbagai aplikasi. 1. Menentukan tujuan pembelajaran Asam-Basa terlebih dahulu.

2. Memilih satu platform utama sebagai pusat pembelajaran. 3. Membatasi jumlah aplikasi tambahan. 4. Menjelaskan langkah penggunaan aplikasi sebelum aktivitas dimulai. 5. Menyusun urutan kegiatan yang jelas, misalnya: materi → animasi/simulasi → diskusi → kuis → refleksi. 6. Memastikan aplikasi yang dipilih mudah digunakan dan dapat diakses melalui perangkat siswa. 7. Menyediakan alternatif apabila terdapat siswa yang mengalami kendala teknologi. 8. Mengevaluasi apakah setiap teknologi benar-benar membantu mencapai tujuan pembelajaran. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan? Guru tidak perlu menggunakan semua teknologi sekaligus. Alternatif yang lebih efektif adalah menggunakan kombinasi sederhana, misalnya: • LMS atau satu platform utama untuk menyimpan seluruh materi dan tugas. • Video pembelajaran singkat untuk menjelaskan konsep Asam-Basa. • Animasi atau simulasi untuk memvisualisasikan konsep pH, ion H⁺ dan OH⁻, serta indikator. • Satu aplikasi kuis untuk evaluasi. • LKPD digital untuk aktivitas siswa. • Forum diskusi pada platform utama untuk kegiatan tanya jawab. Contoh rancangan sederhananya: LMS → Video/Animasi → LKPD → Diskusi → Kuis Dengan pola tersebut, siswa tidak perlu berpindah-pindah aplikasi secara berlebihan. KASUS 6 Seorang guru kimia SMA akan melaksanakan pembelajaran Kesetimbangan Kimia secara PJJ selama dua minggu. Guru telah menyiapkan LMS, video pembelajaran, simulasi, forum diskusi, dan kuis online. Namun, setelah pembelajaran dimulai, ditemukan tiga kondisi siswa. Kelompok A memiliki laptop dan internet rumah yang stabil. Mereka dapat mengikuti video conference dan simulasi dengan baik. Kelompok B hanya memiliki smartphone. Mereka dapat membuka LMS, tetapi kesulitan menggunakan simulasi karena tampilannya tidak optimal pada perangkat mereka.

Kelompok C tinggal di daerah dengan jaringan internet yang tidak stabil. Mereka sering kehilangan koneksi dan tidak dapat mengikuti pembelajaran sinkron secara penuh. Guru awalnya berencana memberikan aktivitas dan materi yang sama kepada seluruh siswa. Jika guru mempertahankan rancangan tersebut, sebagian siswa akan tertinggal. Namun, jika guru membuat terlalu banyak versi pembelajaran, beban kerja guru menjadi sangat besar. 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utamanya adalah perbedaan perangkat dan kualitas internet siswa. Kelompok A memiliki laptop dan internet stabil, Kelompok B hanya menggunakan smartphone, sedangkan Kelompok C memiliki internet yang tidak stabil. 2. Apakah teknologi yang digunakan sudah sesuai? Belum sepenuhnya. LMS dan video pembelajaran dapat digunakan semua siswa, tetapi simulasi kurang sesuai untuk smartphone dan pembelajaran sinkron sulit diikuti oleh siswa dengan internet tidak stabil. 3. Sarana/prasarana apa yang menjadi kendala? Kendala utamanya adalah keterbatasan perangkat, simulasi yang tidak ramah smartphone, serta jaringan internet yang tidak stabil. 4. Apa dampaknya terhadap pembelajaran? Siswa mengalami kesulitan mengikuti aktivitas, sehingga pembelajaran menjadi tidak merata dan sebagian siswa berisiko tertinggal. 5. Bagaimana guru menyesuaikan teknologi? Guru dapat menggunakan LMS sebagai platform utama dan menyediakan materi yang dapat diakses melalui smartphone. Untuk siswa dengan internet terbatas, materi dapat dibuat agar bisa diunduh dan dipelajari secara offline. 6. Apa alternatif media/teknologi? Alternatifnya adalah e-modul yang mobile-friendly, video berukuran kecil, LKPD offline, simulasi ringan, dan rekaman pembelajaran. KASUS 7 Guru mengajarkan materi Stoikiometri melalui LMS. Seluruh materi tersedia dalam bentuk e-modul, video, latihan interaktif, dan kuis. Sebagian besar siswa menggunakan smartphone karena tidak memiliki laptop. Pada awalnya guru menganggap masalah perangkat telah teratasi karena semua siswa memiliki smartphone. Namun, beberapa masalah muncul. E-modul memiliki banyak tabel dan persamaan yang sulit dibaca pada layar kecil. Video membutuhkan kuota cukup besar. Latihan

soal memerlukan input jawaban yang lebih nyaman dilakukan menggunakan keyboard. Selain itu, siswa sering berpindah dari aplikasi LMS ke aplikasi kalkulator dan kemudian kembali lagi ke LMS. Guru kemudian menyimpulkan bahwa: “Yang penting siswa memiliki smartphone karena semua materi sudah online.” Namun nilai siswa justru menurun dan banyak siswa mengeluhkan kesulitan mengikuti pembelajaran. 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utama dalam kasus ini adalah guru menganggap kepemilikan smartphone sudah cukup untuk mengikuti pembelajaran PJJ. Padahal, beberapa materi dan aktivitas Stoikiometri membutuhkan tampilan yang lebih besar dan input jawaban yang lebih nyaman sehingga sulit dilakukan melalui smartphone. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Teknologi yang digunakan belum sepenuhnya sesuai. LMS memang dapat diakses melalui smartphone, tetapi e-modul yang memiliki banyak tabel dan persamaan sulit dibaca pada layar kecil. Video juga membutuhkan kuota cukup besar, sedangkan latihan perhitungan lebih nyaman menggunakan keyboard. 3 Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendala yang terdapat dalam kasus ini meliputi: • Sebagian besar siswa hanya memiliki smartphone. • Ukuran layar smartphone kecil sehingga tabel dan persamaan sulit dibaca. • Video membutuhkan kuota internet yang cukup besar. • Tidak adanya keyboard fisik membuat beberapa aktivitas input jawaban kurang nyaman. • Siswa harus berpindah dari LMS ke aplikasi kalkulator dan kembali lagi ke LMS. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Siswa menjadi kesulitan membaca materi dan mengerjakan latihan. Waktu belajar juga dapat terbuang untuk mengatasi masalah teknis, sehingga konsentrasi terhadap materi Stoikiometri berkurang dan hasil belajar siswa dapat menurun. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif?

Guru perlu membuat materi yang responsif terhadap smartphone, terutama pada bagian tabel, persamaan, dan latihan soal. Video dapat dibuat dalam ukuran lebih kecil dan dapat diunduh. Guru juga sebaiknya mengurangi aktivitas yang mengharuskan siswa berpindah-pindah aplikasi. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Alternatif yang dapat digunakan antara lain: • E-modul mobile-friendly dengan tampilan sederhana. • Video pembelajaran dengan ukuran file yang lebih kecil. • LKPD digital yang mudah diakses melalui smartphone. • Kalkulator yang dapat digunakan langsung melalui browser atau perangkat. • Latihan soal yang dirancang khusus untuk layar smartphone. • Materi berupa gambar atau infografis untuk menjelaskan tabel dan persamaan. • Satu platform utama sebagai pusat materi, tugas, dan evaluasi. KASUS 8 Sebuah sekolah melaksanakan PJJ Larutan Asam-Basa. Pembelajaran dirancang sebagai berikut: Zoom → penjelasan guru → simulasi → diskusi → kuis online Pada hari pembelajaran: ● listrik di rumah beberapa siswa padam; ● beberapa siswa kehilangan koneksi internet; ● server LMS mengalami gangguan; ● link simulasi tidak dapat dibuka; ● guru tetap melanjutkan pembelajaran sinkron; ● siswa yang tidak dapat masuk Zoom tidak memperoleh materi pengganti. Akibatnya, sebagian siswa mengikuti pembelajaran, sebagian hanya memperoleh rekaman, dan sebagian lainnya tidak memperoleh materi sama sekali. Guru kemudian memberikan tugas yang sama kepada seluruh siswa dengan batas waktu yang sama. Diskusi Kelompok : Larutan Asam-Basa (Kegagalan Teknis Beruntun, Tanpa Rencana Cadangan) 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut?

Masalah utamanya adalah terjadinya beberapa gangguan teknis secara bersamaan (listrik padam, koneksi internet hilang, server LMS gangguan, dan link simulasi tidak dapat dibuka), sementara guru tetap memaksakan pembelajaran sinkron tanpa rencana cadangan, sehingga akses siswa terhadap materi menjadi sangat tidak merata dan tugas dengan tenggat yang sama tetap diberlakukan untuk seluruh siswa. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Rancangan alur pembelajaran (Zoom → penjelasan guru → simulasi → diskusi → kuis online) sebenarnya sesuai untuk kondisi ideal, tetapi tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik karena seluruhnya bergantung pada rantai teknologi sinkron tanpa redundansi atau opsi offline, sehingga ketika satu titik gagal, seluruh alur pembelajaran ikut runtuh. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendala yang muncul meliputi listrik yang padam di rumah sebagian siswa, koneksi internet siswa yang terputus, server LMS sekolah yang mengalami gangguan, dan link simulasi eksternal yang tidak dapat diakses — gabungan kegagalan infrastruktur di sisi siswa maupun di sisi sekolah/penyedia layanan. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Dampaknya adalah sebagian siswa sama sekali tidak memperoleh materi, sebagian hanya mendapat rekaman tanpa dapat berinteraksi langsung, muncul kesenjangan pemahaman yang besar antarsiswa, serta ketidakadilan penilaian karena tugas dan batas waktu yang sama diberlakukan pada siswa dengan kondisi akses yang sangat berbeda. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru perlu menyiapkan rencana kontingensi sebelum pembelajaran dimulai, misalnya materi cadangan yang dapat diakses secara offline, memantau kehadiran di awal sesi dan segera beralih ke jalur alternatif (rekaman atau pesan WhatsApp) bila gangguan terdeteksi, serta memberikan kebijakan tenggat tugas yang fleksibel dan diferensiasi bagi siswa yang terdampak gangguan, bukan menyamaratakan seluruh siswa. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Alternatif yang dapat digunakan antara lain rekaman sesi yang dapat diunduh dan ditonton ulang, e-modul/PDF offline sebagai pengganti simulasi langsung, grup WhatsApp atau saluran komunikasi cadangan untuk penyampaian materi dan tugas saat LMS bermasalah,

kuis yang dapat dikerjakan secara asinkron dengan tenggat yang diperpanjang, serta simulasi versi ringan/dapat diunduh sebagai pengganti link simulasi daring. KASUS 9 Guru ingin mengajarkan Laju Reaksi melalui PJJ. Ia mempertimbangkan dua pilihan. Pilihan A — Virtual Laboratory Siswa dapat melakukan eksperimen secara virtual dan mengubah variabel seperti konsentrasi, suhu, dan luas permukaan. Namun, aplikasi membutuhkan perangkat yang cukup baik dan koneksi internet stabil. Pilihan B — Video Eksperimen Guru merekam eksperimen kemudian mengunggah video. Video lebih mudah diakses, tetapi siswa hanya mengamati eksperimen dan tidak dapat mengubah variabel secara langsung. Guru ingin menggunakan Virtual Laboratory karena dianggap lebih canggih dan interaktif, tetapi mengetahui bahwa sekitar 40% siswa memiliki keterbatasan perangkat dan internet. Diskusi Kelompok : Laju Reaksi (Trade-off Virtual Lab vs Video Eksperimen) 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utamanya adalah guru dihadapkan pada trade-off antara kualitas interaksi pembelajaran (Virtual Laboratory yang lebih interaktif) dan pemerataan akses, karena sekitar 40% siswa memiliki keterbatasan perangkat dan internet sehingga berisiko tidak dapat mengikuti pembelajaran jika Virtual Laboratory dipaksakan untuk seluruh kelas. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Virtual Laboratory sangat sesuai secara pedagogis untuk materi Laju Reaksi karena memungkinkan siswa mengubah variabel dan bereksperimen secara aktif, namun belum sesuai dengan kondisi riil sebagian besar peserta didik karena mensyaratkan perangkat dan koneksi yang tidak dimiliki 40% siswa. Video Eksperimen lebih sesuai dari sisi kemudahan akses, tetapi kurang optimal karena membuat siswa pasif sebagai pengamat saja. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendala utamanya adalah keterbatasan spesifikasi perangkat dan koneksi internet yang stabil pada sekitar 40% siswa, yang menjadi syarat teknis untuk menjalankan aplikasi Virtual Laboratory dengan lancar. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Jika Virtual Laboratory dipaksakan, hampir separuh siswa berisiko tidak dapat mengikuti eksperimen sama sekali sehingga muncul kesenjangan pemahaman konsep Laju Reaksi dan

rasa tidak adil. Sebaliknya, jika hanya menggunakan Video Eksperimen, siswa yang sebenarnya mampu menggunakan Virtual Laboratory kehilangan kesempatan untuk bereksplorasi secara aktif. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru dapat menerapkan pendekatan diferensiasi/blended, yaitu menyediakan kedua opsi sekaligus: siswa dengan perangkat dan internet memadai menggunakan Virtual Laboratory, sedangkan siswa lainnya menggunakan Video Eksperimen yang dilengkapi LKPD berisi pertanyaan prediksi dan analisis data, sehingga tetap aktif berpikir meski hanya mengamati video. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Alternatif yang dapat digunakan antara lain simulasi berbasis web yang lebih ringan (misalnya PhET Laju Reaksi) sebagai pengganti aplikasi Virtual Laboratory yang berat, video eksperimen interaktif dengan titik jeda berisi pertanyaan (branching video), LKPD berbasis data hasil eksperimen video untuk dianalisis siswa, serta opsi eksperimen sederhana di rumah dengan bahan aman sebagai pengganti simulasi bagi siswa dengan keterbatasan perangkat. KASUS 10 Sebuah SMA memiliki fasilitas PJJ yang cukup lengkap. Sekolah menyediakan: 1. laboratorium komputer; 2. jaringan internet; 3. LMS; 4. perangkat video conference; 5. berbagai aplikasi pembelajaran; 6. perpustakaan digital. Namun, evaluasi menunjukkan bahwa pembelajaran PJJ masih kurang efektif. Dalam pembelajaran kimia, guru sering menggunakan video conference untuk menjelaskan materi. Siswa diminta mengunduh banyak materi dari LMS dan mengerjakan tugas melalui beberapa aplikasi berbeda. Guru jarang memberikan aktivitas interaktif karena menganggap fasilitas teknologi sudah cukup. Siswa juga harus menggunakan beberapa akun dan platform untuk mengikuti satu mata pelajaran.

Akibatnya, siswa merasa kelelahan menggunakan teknologi, bingung menentukan tugas yang harus dikerjakan, dan justru lebih banyak menghabiskan waktu mengakses platform daripada memahami materi. Diskusi Kelompok : Fasilitas Lengkap, Pembelajaran Belum Efektif (Fragmentasi Platform) 1. Apa masalah utama dalam kasus tersebut? Masalah utamanya adalah meskipun sarana dan prasarana PJJ sudah sangat lengkap, pembelajaran tetap kurang efektif karena guru terjebak pada asumsi bahwa kelengkapan fasilitas otomatis menjamin keberhasilan pembelajaran, sehingga strategi pembelajaran yang diterapkan (banyak platform/akun terpisah, minim aktivitas interaktif) menjadi tidak efisien dan justru membebani siswa. 2. Apakah teknologi yang dipilih/digunakan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik? Jelaskan. Secara teknis, fasilitas yang tersedia (laboratorium komputer, jaringan internet, LMS, perangkat video conference, berbagai aplikasi, dan perpustakaan digital) sudah lebih dari memadai. Namun pemanfaatannya belum sesuai kebutuhan siswa, karena mengharuskan penggunaan banyak akun dan aplikasi berbeda untuk satu mata pelajaran serta minim variasi aktivitas interaktif, sehingga fasilitas yang lengkap tidak dioptimalkan secara pedagogis. 3. Sarana dan/atau prasarana apa yang menjadi kendala dalam kasus tersebut? Kendalanya bukan pada ketersediaan sarana fisik, melainkan pada fragmentasi platform (banyak aplikasi dan akun terpisah yang harus dikelola siswa), volume materi unduhan dari LMS yang besar, serta tidak adanya satu pusat pembelajaran yang terintegrasi untuk satu mata pelajaran. 4. Apa dampak permasalahan tersebut terhadap proses pembelajaran? Dampaknya adalah siswa mengalami kelelahan digital, bingung menentukan tugas yang harus dikerjakan, banyak waktu terbuang untuk berpindah platform dan login ke berbagai akun, serta pemahaman terhadap materi kimia menjadi tidak optimal karena minimnya aktivitas interaktif yang sebenarnya dapat difasilitasi oleh teknologi yang tersedia. 5. Bagaimana guru dapat menyesuaikan penggunaan komputer dan teknologi agar pembelajaran tetap efektif? Guru perlu mengintegrasikan seluruh aktivitas pembelajaran ke dalam satu LMS sebagai pusat utama, mengurangi jumlah aplikasi tambahan yang tidak esensial, merancang variasi aktivitas interaktif (diskusi, simulasi singkat, kuis) dengan alur yang jelas dan konsisten

setiap pertemuan, serta menyusun instruksi dan jadwal tugas secara eksplisit agar siswa tidak kebingungan meskipun fasilitas yang tersedia banyak. 6. Apa alternatif media atau teknologi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut? Alternatif yang dapat digunakan antara lain satu LMS terpadu sebagai portal utama untuk materi, tugas, forum diskusi, dan nilai; video pembelajaran singkat dan simulasi ringan yang tertanam langsung di LMS; kuis interaktif yang terintegrasi dalam platform utama (bukan aplikasi terpisah); serta pengurangan jumlah akun dengan memanfaatkan fitur bawaan platform utama alih-alih menambah aplikasi baru.

Media Design Challenge A. Petunjuk Setiap kelompok memilih satu konsep Kimia SMA yang sulit dipahami secara langsung, kemudian: 1. Mengidentifikasi karakteristik konsep. 2. Menentukan tujuan pembelajaran. 3. Memilih media berbasis TIK yang sesuai. 4. Menjelaskan alasan pemilihan media. 5. Membuat rancangan awal penggunaan media tersebut. B. Template Tugas 1. Identitas Kelompok Nama Kelompok : Kelompok 1 Anggota Kelompok : Nana Alisyah Br. Kaloko (4233131011) Gesrina Bangun (4233131063) Eliana Angela Siregar (4233131045) Ayu Lestari Simarmata (4231131007) Andin Livia Siagian (4231131067) Aditia Julius Ginting (4231131068) Jenny Teresa Manalu (4233131055) 2. Identifikasi Konsep Kimia Komponen Uraian Konsep/Materi Kimia Termokimia Kelas XI SMA Karakteristik Konsep Termokimia mempelajari perubahan energi, khususnya kalor, yang menyertai reaksi kimia atau perubahan fisika. Konsep ini melibatkan sistem dan lingkungan, perpindahan kalor, reaksi eksoterm dan endoterm, serta perubahan entalpi (ΔH).

Bagian yang Sulit Dipahami Membedakan sistem dan lingkungan, memahami arah perpindahan kalor, membedakan reaksi eksoterm dan endoterm, serta menghubungkan perubahan suhu dengan perubahan energi/kalor. Alasan Konsep Sulit Dipahami Perubahan energi dan perpindahan kalor tidak dapat diamati secara langsung pada tingkat partikel. Peserta didik juga perlu menghubungkan fenomena makroskopis seperti perubahan suhu dengan konsep energi pada tingkat mikroskopis. 3. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti pembelajaran menggunakan media ini, peserta didik diharapkan mampu: 1. Membedakan sistem dan lingkungan pada suatu reaksi kimia atau perubahan fisika dengan tepat melalui animasi interaktif yang disajikan dalam media pembelajaran. 2. Menganalisis arah perpindahan kalor dari sistem ke lingkungan atau sebaliknya berdasarkan pengamatan visualisasi perubahan suhu dan energi pada media pembelajaran. 3. Membedakan karakteristik reaksi eksoterm dan endoterm berdasarkan arah perpindahan kalor, perubahan suhu, serta perubahan entalpi (ΔH) yang ditampilkan dalam media. 4. Menghubungkan perubahan suhu yang teramati secara makroskopis dengan perubahan energi/kalor pada tingkat partikel melalui simulasi visual yang disediakan dalam media pembelajaran. 5. Menentukan tanda perubahan entalpi (ΔH) positif atau negatif pada reaksi eksoterm dan endoterm berdasarkan hasil pengamatan terhadap media yang digunakan. 5. Pemilihan Media Berbasis TIK Komponen Uraian Nama Media Simulasi Interaktif Termokimia

Jenis Media Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Simulasi dan animasi Platform/Aplikasi PhET Interactive Simulations Bentuk Media Simulasi digital yang dilengkapi animasi visual, perubahan suhu,perpindahan kalor, serta interaksi pengguna untuk mengamati konsep eksoterm dan endoterm. Sasaran Pengguna Peserta didik kelas XI SMA Pada materi Termokimia 6. Alasan Pemilihan Media Jelaskan alasan kelompok memilih media tersebut dengan mempertimbangkan karakteristik konsep dan kebutuhan peserta didik. Aspek Pertimbangan Alasan Kesesuaian dengan konsep Simulasi interaktif sesuai dengan materi Termokimia karena dapat membantu peserta didik memahami sistem dan lingkungan, arah perpindahan kalor, reaksi eksoterm dan endoterm, serta perubahan entalpi (ΔH). Konsep-konsep tersebut sulit dipahami hanya melalui penjelasan verbal karena melibatkan perubahan energi yang tidak dapat diamati secara langsung. Kemudahan penggunaan Media berbasis simulasi dapat digunakan dengan cara mengamati dan mencoba berbagai kondisi secara langsung. Peserta didik dapat mengikuti pembelajaran secara bertahap melalui tampilan visual dan interaksi yang tersedia. Kemampuan visualisasi Media mampu membantu memvisualisasikan proses yang tidak

terlihat secara langsung, seperti perpindahan kalor dan perubahan energi pada tingkat partikel. Hal ini sesuai dengan karakteristik materi Termokimia yang mengharuskan peserta didik menghubungkan fenomena makroskopis dengan konsep mikroskopis. Interaktivitas Peserta didik tidak hanya melihat materi, tetapi dapat berinteraksi dengan simulasi dan mengamati perubahan yang terjadi. Dengan demikian, peserta didik dapat melakukan pengamatan dan menemukan hubungan antara perubahan suhu, perpindahan kalor, dan perubahan energi. Daya tarik bagi peserta didik Tampilan animasi dan simulasi membuat pembelajaran lebih menarik dibandingkan penyampaian materi secara konvensional. Peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih aktif melalui pengamatan dan interaksi dengan media. Ketersediaan teknologi Media digital dapat digunakan dengan perangkat teknologi seperti komputer atau laptop yang mendukung pembelajaran berbasis TIK. Penggunaan media ini juga sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang memanfaatkan teknologi untuk memberikan visualisasi terhadap konsep yang abstrak. 7. Rancangan Awal Media Buat rancangan awal atau konsep penggunaan media yang dipilih. Komponen Rancangan Uraian

Judul Media Simulasi Interaktif Termokimia: Perpindahan Kalor dan Perubahan Entalpi. Media ini dirancang untuk membantu peserta didik mempelajari konsep termokimia melalui simulasi dan visualisasi yang dapat diamati secara langsung. Konsep yang divisualisasikan Media memvisualisasikan hubungan antara sistem dan lingkungan, arah perpindahan kalor, reaksi eksoterm dan endoterm, perubahan suhu, serta perubahan entalpi (ΔH). Visualisasi digunakan untuk membantu peserta didik menghubungkan perubahan yang terlihat pada tingkat makroskopis dengan konsep energi yang terjadi pada tingkat partikel. Materi utama Materi yang disajikan meliputi pengertian sistem dan lingkungan, perpindahan kalor, reaksi eksoterm dan endoterm, hubungan perubahan suhu dengan kalor, serta perubahan entalpi (ΔH). Materi disusun secara bertahap agar peserta didik dapat mengamati fenomena terlebih dahulu sebelum menghubungkannya dengan konsep termokimia. Fitur utama media Media dilengkapi dengan simulasi interaktif dan animasi visual yang menunjukkan perubahan suhu serta perpindahan kalor. Peserta didik juga dapat mengamati kondisi sistem dan lingkungan serta perubahan yang terjadi selama simulasi. Fitur tersebut digunakan untuk memberikan gambaran terhadap

konsep yang sulit diamati secara langsung melalui pembelajaran konvensional. Bentuk interaksi pengguna Peserta didik berinteraksi langsung dengan simulasi dengan menjalankan dan mengamati perubahan yang ditampilkan. Peserta didik dapat memperhatikan perubahan suhu dan arah perpindahan kalor, kemudian mencatat hasil pengamatan. Berdasarkan hasil tersebut, peserta didik diarahkan untuk menentukan apakah proses yang diamati termasuk reaksi eksoterm atau endoterm dan menghubungkannya dengan tanda perubahan entalpi (ΔH). Alur penggunaan media Pembelajaran dimulai dengan pengenalan fenomena yang berkaitan dengan perubahan suhu akibat suatu proses. Selanjutnya, peserta didik mengidentifikasi sistem dan lingkungan pada simulasi. Peserta didik kemudian menjalankan simulasi dan mengamati perubahan suhu serta arah perpindahan kalor. Hasil pengamatan digunakan untuk membedakan reaksi eksoterm dan endoterm. Pada tahap berikutnya, peserta didik menghubungkan arah perpindahan kalor dengan perubahan entalpi (ΔH), kemudian menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan. Output yang diharapkan Setelah menggunakan media, peserta didik diharapkan mampu mengidentifikasi sistem dan lingkungan, menjelaskan arah perpindahan kalor,

membedakan reaksi eksoterm dan endoterm, serta menghubungkan perubahan suhu dengan perubahan energi. Peserta didik juga diharapkan mampu menentukan tanda perubahan entalpi (ΔH) berdasarkan proses yang diamati pada simulasi. 8. Sketsa/Storyboard Rancangan Media Mahasiswa dapat membuat gambaran sederhana mengenai desain media yang akan dibuat. Bagian/Tampilan Deskripsi Isi Bentuk Visual/Interaksi Tampilan 1 Halaman pembuka menampilkan fenomena perubahan suhu. Peserta didik mengamati fenomena dan menjawab pertanyaan pemantik tentang penyebab perubahan suhu. Gambar beaker/larutan, indikator suhu, pertanyaan pemantik, dan tombol “Mulai”. Tampilan 2 Peserta didik mengenali sistem dan lingkungan pada simulasi sebelum melakukan pengamatan perpindahan kalor. Ilustrasi sistem dan lingkungan. Pengguna dapat memilih/menekan bagian gambar untuk menentukan sistem dan lingkungan.

Tampilan 3 Peserta didik menjalankan simulasi, mengamati perubahan suhu, lalu menentukan arah perpindahan kalor. Animasi beaker, indikator suhu, partikel, dan panah arah kalor. Tombol “Jalankan Simulasi” digunakan untuk memulai. Tampilan 4 Peserta didik membandingkan proses eksoterm dan endoterm berdasarkan perubahan suhu, arah kalor, serta tanda perubahan entalpi (ΔH). Dua panel eksperimen A dan B dengan visual perubahan suhu/kalor dan keterangan ΔH < 0 atau ΔH > 0 Tampilan 5 Peserta didik menyusun kesimpulan dari hasil pengamatan dan mengerjakan latihan untuk menentukan jenis proses dan tanda ΔH Ringkasan hubungan suhu–kalor–ΔH, soal latihan, kolom jawaban, dan tombol “Selesai”. 9. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis, kelompok memilih media media Simulasi Interaktif Termokimia berbasis PhET Interactive Simulations untuk membantu peserta didik kelas XI SMA memahami konsep termokimia. Media ini dirancang untuk memvisualisasikan konsep yang sulit diamati secara langsung, seperti sistem dan lingkungan, arah

perpindahan kalor, reaksi eksoterm dan endoterm, perubahan suhu, serta perubahan entalpi (ΔH).