View 12. Tugek Anggun Perjalanan Menjadi OSTA Luh Putu Anjariyanti flipbook.
PERJALANAN MENJADI OSTA Oleh: Ida Ayu Putu Anggun Pradnyandari Suatu hari, saya sedang berolahraga di sekolah. Setelah selesai berolahraga, saya berjalan melewati papan informasi di dekat kelas. Tiba-tiba saya melihat sebuah kertas yang menarik perhatian saya. Di kertas itu tertulis tentang pendaftaran OSTA atau OSIS Taman Tirta. Saya berhenti sebentar untuk membaca informasinya. Saya merasa penasaran. Selama ini saya belum pernah mengikuti kegiatan seperti OSTA. Saya juga termasuk anak yang kadang masih malu kalau harus berbicara di depan banyak orang. Saat melihat pengumuman itu, saya berpikir, “Bagaimana kalau saya mencoba ikut?” Saya merasa mungkin ini adalah kesempatan bagi saya untuk mencoba sesuatu yang baru dan belajar menjadi lebih berani. Awalnya saya masih ragu. Saya takut tidak bisa mengikuti kegiatan dengan baik atau tidak lolos seleksi. Tetapi kemudian saya berpikir bahwa kalau saya tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu apakah saya bisa atau tidak. Akhirnya, saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri menjadi calon anggota OSTA. Setelah mendaftar, saya mendapat tugas untuk membuat visi dan misi. Saya sempat bingung karena sebelumnya saya belum pernah membuat visi dan misi. Saya mencoba memikirkan apa yang ingin saya lakukan jika nanti menjadi anggota OSTA. Saya ingin menjadi anak yang lebih percaya diri, bertanggung jawab, bisa bekerja sama dengan teman, dan ikut membuat kegiatan sekolah menjadi lebih menyenangkan. Saya mulai menulis sedikit demi sedikit. Saya membaca kembali tulisan saya supaya tidak ada yang terlupa. Setelah selesai, saya merasa lega. Walaupun hasilnya belum tentu sempurna, saya merasa senang karena sudah berani mencoba.
Dari situ saya mulai belajar bahwa melakukan sesuatu yang baru memang terasa sulit pada awalnya. Beberapa hari kemudian, saya melihat ada kertas yang ditempel di depan pintu setiap kelas. Ternyata kertas itu berisi pembagian ruangan untuk peserta seleksi OSTA. Saya segera mencari nama saya. Setelah melihatnya, saya tahu bahwa saya mendapat ruangan 3A. Saya juga mengetahui bahwa wawancara akan dilaksanakan pada hari Senin minggu berikutnya. Hari Senin pun tiba. Sejak pagi saya sudah merasa sedikit gugup. Saya terus memikirkan wawancara yang akan saya jalani. Saya mendapat nomor urut 5. Ketika melihat teman-teman lain yang juga akan mengikuti wawancara, rasa gugup saya semakin terasa. Sambil menunggu giliran, saya mencoba menenangkan diri. Saya menarik napas dan mengingat kembali visi dan misi yang sudah saya buat. Saya berkata dalam hati, “Aku sudah sampai di sini. Aku harus berani mencoba.” Satu per satu peserta dipanggil masuk ke ruangan. Ketika nomor urut saya dipanggil, jantung saya terasa berdetak lebih cepat. Saya berjalan menuju ruangan 3A. Sebelum masuk, saya menarik napas panjang. Saya mencoba tersenyum dan mengatakan kepada diri sendiri untuk tidak terlalu takut. Saya masuk ke dalam ruangan dan mengikuti wawancara. Ada beberapa pertanyaan yang diberikan kepada saya. Saya berusaha menjawab dengan jujur dan tenang. Ada pertanyaan yang bisa saya jawab dengan mudah, tetapi ada juga pertanyaan yang membuat saya berpikir sebentar. Saya juga menyampaikan visi dan misi yang sudah saya buat sebelumnya. Walaupun masih merasa gugup, saya berusaha untuk tetap berbicara dengan jelas. Saya tidak ingin rasa takut membuat saya berhenti mencoba. Setelah semua pertanyaan selesai, saya mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruangan.
Saat sudah berada di luar, saya merasa sangat lega. Saya tersenyum karena ternyata saya bisa melewati wawancara itu. Sebelumnya saya membayangkan wawancara akan sangat menakutkan. Ternyata, setelah dijalani, tidak sesulit yang saya bayangkan. Setelah wawancara selesai, saya hanya bisa menunggu hasilnya. Saya tidak tahu apakah saya akan lulus atau tidak. Setiap kali melihat papan informasi di sekolah, saya merasa penasaran apakah pengumuman sudah keluar. Saya juga sempat merasa cemas. Dalam hati saya berharap nama saya ada dalam daftar peserta yang lulus. Beberapa minggu kemudian, akhirnya pengumuman yang saya tunggu-tunggu keluar. Ada sebuah kertas yang ditempel di papan informasi. Banyak siswa berkumpul di depan papan tersebut. Saya ikut mendekat untuk melihat hasilnya. Saya mulai mencari nama saya dari bagian atas daftar. Satu per satu nama saya baca. Jantung saya kembali berdebar. Saya terus mencari sampai akhirnya saya melihat nama saya. Ternyata, nama saya ada di daftar peserta yang lulus! Saya merasa sangat senang. Rasanya seperti mendapatkan hadiah karena keberanian saya untuk mencoba. Saya juga merasa bangga kepada diri sendiri. Saya teringat saat pertama kali melihat pengumuman pendaftaran OSTA. Saat itu saya sempat ragu dan takut. Namun, akhirnya saya memilih untuk mencoba. Saya ingin segera menceritakan kabar itu kepada keluarga. Saya yakin Ibu, Ajik, dan kedua adik saya akan ikut senang dan bangga. Bagi saya, menjadi anggota OSTA bukan hanya tentang mendapatkan sebuah jabatan atau mengikuti kegiatan di sekolah. Menjadi OSTA adalah kesempatan untuk belajar banyak hal. Saya ingin belajar menjadi anak yang lebih bertanggung jawab. Saya juga ingin belajar bekerja sama dengan teman-teman. Jika ada kegiatan sekolah, saya ingin ikut membantu dengan sungguh- sungguh. Saya tahu mungkin nanti akan ada kegiatan yang sulit
dan melelahkan. Namun, saya ingin menjalaninya dengan semangat. Dari perjalanan menjadi OSTA, saya menemukan sesuatu tentang diri saya. Ternyata saya bisa melakukan hal yang sebelumnya saya takutkan. Saya yang awalnya ragu untuk mendaftar akhirnya berani mengisi pendaftaran. Saya yang awalnya takut berbicara akhirnya berani mengikuti wawancara. Perubahan itu mungkin terlihat kecil, tetapi bagi saya sangat berarti. Sekarang saya menjadi lebih percaya diri untuk mencoba. Saya juga belajar bahwa kita tidak boleh langsung mengatakan “saya tidak bisa” sebelum mencoba. Perjalanan saya menjadi OSTA dimulai dari sebuah pengumuman sederhana di papan informasi sekolah. Dari sana saya belajar bahwa satu keputusan kecil bisa membawa kita kepada pengalaman yang besar. Sekarang saya percaya bahwa untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, saya tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar. Saya bisa memulainya dari hal kecil, seperti berani mencoba, berani berbicara, mau belajar, dan tidak mudah menyerah. Saya sangat bersyukur karena sudah memilih untuk mencoba menjadi OSTA. Jika waktu itu saya memilih untuk mundur karena takut, mungkin saya tidak akan mendapatkan pengalaman berharga ini. Pesan moral dari pengalaman saya adalah jangan takut mencoba hal baru. Keberanian bukan berarti kita tidak merasa takut, tetapi kita tetap mau mencoba walaupun merasa takut. Kita harus percaya pada diri sendiri, terus berusaha, dan tidak mudah menyerah. Dengan berani mencoba dan mau belajar dari setiap pengalaman, kita bisa menemukan potensi dalam diri kita dan menjadi versi terbaik dari diri kita.