Model Spiritualitas Kontemplatif Aktif Rita Clara (Notepad A6)

R I T A C L A R A , O P Terima Kasih

Modul katekese berbasis spiritualitas kontemplatif-aktif Santo Pier Giorgio Frassati ini dirancang sebagai model pembinaan iman bagi remaja usia 13–18 tahun yang bersifat berjenjang, kontekstual, partisipatif, dan transformatif. Spiritualitas Frassati dipilih karena menghadirkan kesatuan yang utuh antara kehidupan doa yang mendalam dan keterlibatan sosial yang nyata. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan teladan konkret orang muda yang mampu mengintegrasikan iman, persahabatan, studi, kecintaan pada alam, dan pelayanan sosial dalam satu arah hidup yang jelas: Verso l’Alto, yang berarti “menuju ke atas”, menuju Allah. Program ini tidak hanya bertujuan menambah wawasan iman, tetapi terutama membentuk identitas dan orientasi hidup remaja secara integral. Oleh karena itu, tema-tema dalam modul ini disusun mengikuti alur dinamika pertumbuhan iman remaja. Berdasarkan latar belakang mengenai urgensi pembinaan iman remaja yang berjenjang, kontekstual, dan transformatif, serta dengan mengacu pada spiritualitas kontemplatif-aktif

Santo Pier Giorgio Frassati sebagai model yang relevan bagi kaum muda, penulis menawarkan lima tema katekese yang disusun secara sistematis sebagai sebuah perjalanan pertumbuhan iman. Tema-tema ini membentuk satu kesatuan yang menuntun remaja dari kesadaran identitas sebagai pribadi yang dipanggil Allah hingga pada komitmen hidup yang terarah kepada-Nya, sehingga diharapkan menjadi sarana pembinaan iman yang konkret dan aplikatif dalam kehidupan remaja masa kini. Tangerang Selatan, 1 Juli 2026 Rita Clara, OP

MODEL SPIRITUALITAS KONTEMPLATIF - AKTIF ST PIER GIORGIO FRASSATI Sebagai Basis Pembinaan Iman Orang Muda Katolik DAFTAR ISIPrakata Petunjuk Penggunaan Buku Bab 1 Mengenal St Pier Giorgio Frassati Bab 2 Model Spiritualitas Kontemplatif Aktif Bab 3 Rangkuman Program Katekese Bab 4 Modul Katekese: Tema 1: “Aku dipanggil Bro! Hidup ini Bukan Random” Tema 2: “Jangan Ghosting Allah: Stay Connected” Tema 3: “Allah dapat ditemui di Cerita Hidup kamu” Tema 4: “Iman Bukan Cuma Caption Rohani” Tema 5: “Sekarang Aku Tahu Arah Hidupku!” Bab 5 Kesimpulan dan Saran Penggunaan Modul

MENGENAL ST PIER GIORGIO FRASSATI Bab 1

Bab 1

Bab 1

MODEL SPIRITUALITAS KONTEMPLATIF AKTIF Bab 2

MODEL SPIRITUALITAS KONTEMPLATIF AKTIF Dalam Frassati USA (2023) dipaparkan biografi singkat Santo Pier Giorgio Frassati yang memberikan teladan konkret bagi umat beriman dalam menghayati kehidupan spiritualitas kontemplatif-aktif. Frassati hidup sebagai seorang mahasiswa teknik di Turin dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial, politik, serta kemasyarakatan. Meskipun demikian, ia tetap memelihara kehidupan rohani yang mendalam dan konsisten. Kehidupannya menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memadukan doa, devosi, dan pelayanan nyata, sehingga seluruh aspek hidupnya memancarkan kesatuan antara kontemplasi dan aksi. Dari perjalanan hidup rohaninya, spiritualitas Frassati dapat dipahami melalui tiga dimensi yang saling terintegrasi.

Pertama, dimensi kontemplatif, yang tampak dalam kesetiaannya pada doa pribadi, adorasi ekaristi, serta devosi rosario yang menjadi pusat kehidupan imannya. Ia dikenal sering menghabiskan waktu berjam-jam di hadapan Sakramen Mahakudus, bahkan hingga larut malam (FrassatiUSA, 2023). Bagi Frassati, doa bukan sekadar praktik rohani, melainkan sumber kekuatan yang menjiwai seluruh kehidupannya. Kedua, dimensi pelayanan sosial, yang terlihat dalam keterlibatannya dalam Catholic Action serta St. Vincent de Paul Society. Frassati hadir di tengah kaum miskin, orang sakit, dan mereka yang terpinggirkan bukan sekadar sebagai aktivis sosial, tetapi sebagai murid Kristus yang menghadirkan kasih Allah secara konkret. Pelayanan tersebut lahir dari kedalaman relasi dengan Allah, sehingga setiap tindakannya terhadap sesama menjadi perpanjangan dari hidup doanya.

Ketiga, dimensi integrasi hidup, yaitu kemampuan memadukan studinya di bidang teknik, aktivitasnya di bidang sosial-politik, hobinya mendaki gunung, dan relasi-relasi persahabatan yang dimilikinya untuk diintegrasikan dengan kehidupan rohaninya. Dalam ChurchLife Journal, Vincenzi (2025) dijelaskan bahwa Frassati memahami keterlibatan politik dan pembelaan terhadap kaum lemah sebagai bagian dari tanggung jawab Kristiani dalam menegakkan keadilan. Dengan demikian, spiritualitasnya tidak terbatas pada ruang privat iman, tetapi hadir secara nyata dalam seluruh dinamika kehidupan. Keterpaduan ketiga dimensi dalam hidupnya memperlihatkan bahwa spiritualitas Frassati sungguh bersifat kontemplatif-aktif: doa melahirkan pelayanan, pelayanan menemukan maknanya dalam kontemplasi, dan seluruh kehidupan duniawi diarahkan kepada Allah. Prinsip ini selaras dengan ajaran Yesus dalam

Yohanes 15:4–5 tentang ranting dan pokok anggur, yang menegaskan bahwa seseorang hanya dapat menghasilkan buah apabila tinggal di dalam Kristus. Dalam terang teks ini, kehidupan sosial dan pelayanan Frassati tidak terlepas dari relasi mendalam dengan Kristus. Relasi mendahului aksi, dan kontemplasi menjadi sumber daya rohani bagi pelayanan. Semangat hidup Frassati juga tercermin dalam motonya yang terkenal, Verso l’Alto, yang berarti “ke atas” (Lord & Lord, 2010, hlm. 37). Moto ini lahir dari kegemarannya mendaki gunung, namun memiliki makna spiritual yang lebih mendalam. Pengalaman mendaki menuju puncak menjadi simbol perjalanan manusia menuju Allah. Semangat ini sejalan dengan ajaran Gereja dalam Gaudete et Exsultate yang mengajak umat beriman untuk tidak takut menetapkan pandangan lebih tinggi dalam menanggapi panggilan kekudusan (GE, art. 1, 34).

Dengan demikian, pengalaman Frassati dalam menikmati keindahan alam bukan sekadar hobi, melainkan juga jalan spiritual untuk berjumpa dengan Sang Pencipta dan terus bertumbuh menuju kekudusan. Dalam perspektif biblis, orientasi hidup menuju Allah juga ditegaskan dalam Kolose 3:1–5, ketika Rasul Paulus menasihati umat beriman untuk “mencari perkara yang di atas” dan “memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Teks ini menunjukkan bahwa spiritualitas Kristiani bukanlah pelarian dari realitas dunia, melainkan penataan batin yang mengarahkan seluruh kehidupan kepada Kristus. Dengan memandang kepada “yang di atas,” orang beriman dipanggil untuk membarui cara berpikir, cara mengambil keputusan, serta cara membangun relasi dengan sesama sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Dalam kerangka ini, Kolose 3:1–5 menjadi dasar

teologis bagi pemahaman spiritualitas sebagai arah hidup yang terus diarahkan kepada Allah, selaras dengan moto Verso l’Alto Santo Pier Giorgio Frassati. Spiritualitas kontemplatif-aktif yang dihidupi oleh Santo Pier Giorgio Frassati menginspirasi perumusan suatu model spiritualitas yang menekankan integrasi antara kontemplasi dan tindakan nyata sebagai satu kesatuan dalam kehidupan iman. Model ini menegaskan bahwa kontemplasi dan aksi bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua dimensi kehidupan rohani yang saling melengkapi. Aksi pelayanan hanya dapat berakar kuat apabila bertumpu pada kedalaman relasi dengan Allah, sementara kontemplasi menemukan kepenuhannya ketika berbuah dalam tindakan kasih kepada sesama. Menurut Grumett (2006), ketika seseorang membuka diri untuk mendengarkan dan merenungkan firman Allah, pelayanan yang dilakukan dengan kasih akan

semakin tampak sebagai panggilan dan perutusan yang bermakna (Sie & Senda, 2025, hlm. 431). Bagi kaum muda masa kini, keseimbangan antara aktivitas duniawi dan kedekatan dengan Allah merupakan kebutuhan yang sangat penting. Berbagai tuntutan studi, pekerjaan, serta relasi sosial sering kali menyita perhatian dan energi. Tanpa ruang untuk berdoa dan berkontemplasi, kehidupan dapat terasa hampa meskipun tampak produktif. Sebaliknya, tanpa keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial, kehidupan rohani berisiko menjadi spiritualisme yang tidak berbuah. Karena itu, keseimbangan antara aksi dan kontemplasi menjadi kunci kehidupan rohani yang sehat dan bermakna (Sie & Senda, 2025, hlm. 432– 433). Gagasan ini sejalan dengan ajaran Gereja dalam Gaudium et Spes yang menegaskan bahwa iman Kristen harus terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan manusia dan masyarakat (GS, art. 43).

Dalam kerangka ini, spiritualitas kontemplatif-aktif menjadi landasan konseptual yang relevan bagi pembinaan iman orang muda, karena membantu mereka menghayati iman secara utuh, baik dalam relasi dengan Allah maupun dalam tanggung jawab sosial sehari-hari. Dimensi kontemplatif dalam spiritualitas ini juga tercermin dalam Kejadian 9:12–17, ketika Allah menempatkan pelangi sebagai tanda perjanjian antara Allah dan seluruh ciptaan. Teks ini menunjukkan bahwa alam semesta dapat menjadi tanda yang mengingatkan manusia akan kehadiran dan kesetiaan Allah. Oleh karena itu, pengalaman iman tidak terbatas pada ruang liturgis, tetapi dapat ditemukan dalam permenungan atas tanda-tanda kehadiran Allah dalam ciptaan dan pengalaman hidup sehari-hari. Prinsip ini tampak dalam kehidupan Santo Pier Giorgio Frassati yang sering mengalami kedekatan dengan

Allah melalui keindahan alam pegunungan serta dalam relasi persahabatan. Sementara itu, dimensi aktif ditegaskan dalam Yakobus 2:14-17: “Iman tanpa perbuatan adalah mati.” Ayat ini menegaskan bahwa iman yang sejati harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Dalam model spiritualitas kontemplatif-aktif, doa tidak berhenti pada pengalaman batin, tetapi berbuah dalam pelayanan konkret kepada sesama. Dengan demikian, Kejadian 9:12–17 dan Yakobus 2:14-17 memberikan dasar biblis bagi keseimbangan antara kontemplasi dan aksi. Keseimbangan inilah yang secara nyata terwujud dalam kehidupan Santo Pier Giorgio Frassati, sehingga spiritualitasnya menjadi teladan konkret bagi kaum muda Katolik untuk menghidupi iman yang utuh: berakar dalam relasi dengan Allah sekaligus terlibat aktif dalam kehidupan dunia.

ORANG MUDA KATOLIK Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda terbitan Komisi Kepemudaan KWI tahun 1998 menyebutkan bahwa OMK berada pada rentang usia 13–35 tahun, sebagaimana dikutip dalam buku yang diterbitkan oleh Komisi Kepemudaan KWI tahun 2014. Lebih lanjut, Komisi Kepemudaan KWI (2014) menegaskan bahwa OMK berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang digambarkan sebagai sebuah perjalanan. Masa muda dipandang sebagai “terminal” penting antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, suatu fase krusial yang menentukan arah hidup selanjutnya. Dalam perjalanan yang signifikan ini, Gereja dipanggil untuk mendampingi kaum muda agar mereka dapat bertumbuh secara utuh dalam iman dan kehidupan. Paus Fransiskus menegaskan bahwa orang muda bukan hanya objek pendampingan pastoral, tetapi subjek utama evangelisasi yang

dipanggil untuk menjadi saksi iman yang kreatif, penuh sukacita, dan mampu menghadirkan Kristus dalam kehidupan sehari-hari (CV, art. 203). Oleh karena itu, spiritualitas OMK perlu dipahami sebagai spiritualitas yang berakar kuat pada doa dan sakramen, namun sekaligus kontekstual, komunikatif, dan terbuka terhadap dinamika zaman. Dalam konteks pembinaan berjenjang dan berkelanjutan OMK di Indonesia, Komisi Kepemudaan KWI (KomKep KWI) memberikan kerangka praktis mengenai kebutuhan akan pembinaan OMK yang sesuai dengan tahap usia perkembangannya (KomKep KWI, 2020, hlm. x). KomKep KWI (2020, hlm. ix), dengan mengacu pada Christus Vivit artikel 203, menegaskan bahwa apabila orang muda didampingi dengan tepat, mereka akan menggunakan kreativitas dan keberanian mereka dengan cara mereka sendiri. Gereja memberikan perhatian yang besar kepada

kelompok umat yang berada pada usia transisi menuju kedewasaan. Oleh sebab itu, diperlukan pendekatan pastoral dan katekese yang lebih relevan untuk menyertai mereka dalam proses pendewasaan iman dan pembentukan identitas Kristiani (PUK, 2022, art. 256). Dalam hal ini, peran pendamping menjadi sangat penting untuk membantu mereka menemukan nilai-nilai dasar sebagai pegangan dalam mengembangkan bakat dan potensi mereka (KomKep KWI, 2020, hlm. 15). Berbagai penelitian mutakhir juga menunjukkan bahwa OMK menyimpan potensi besar sebagai pelayan Gereja, misalnya keterlibatan mereka dalam pelayanan misdinar dan komunitas kategorial. Namun tingkat partisipasi mereka kerap bersifat “setengah aktif” dan hanya meningkat pada kegiatan tertentu (Daniel & Firmanto, 2023, hlm. 1–2). Di sisi lain, OMK hidup dalam tekanan globalisasi, budaya konsumtif, dan derasnya arus digital yang seringkali menimbulkan ketegangan antara tuntutan

duniawi dan komitmen rohani. Penelitian pastoral- teologis menekankan bahwa OMK membutuhkan pembinaan iman yang holistik yang menolong mereka menyeimbangkan studi, pekerjaan, relasi sosial, dan kehidupan rohani (Sutrisno, 2024, hlm. 121–122). Studi kuantitatif juga menunjukkan bahwa budaya digital membawa peluang sekaligus ancaman, karena gaya hidup individualistik dan hedonistik dapat memicu krisis moral maupun krisis iman apabila kaum muda tidak memperoleh pendampingan yang memadai (Adi & Wijaya, 2024, hlm. 161–162). Situasi ini menuntut Gereja untuk menghadirkan pembinaan iman yang kreatif, dialogis, dan kontekstual dengan realitas hidup OMK saat ini. Dengan melihat dinamika tersebut, kebutuhan akan pembinaan iman bagi OMK menjadi semakin mendesak. Pendampingan iman tidak hanya menjadi jawaban terhadap tantangan budaya digital, tetapi

juga sarana untuk meneguhkan identitas iman, membangun daya tahan moral serta memperkuat peran keluarga dan komunitas sebagai “gereja rumah tangga” yang mendukung pertumbuhan iman kaum muda. Melalui pembinaan yang terarah, integral, dan relevan, OMK diharapkan mampu hadir sebagai generasi pewarta yang tangguh dan membawa pembaruan dalam kehidupan Gereja dan masyarakat (KGK, art. 2685). Dengan demikian, pembinaan iman OMK tidak hanya berfungsi melindungi mereka dari berbagai tantangan zaman, tetapi juga membantu mereka menyadari jati diri dan menemukan panggilan hidupnya. Dalam konteks biblis, panggilan kaum muda ditegaskan secara kuat dalam Yeremia 1:1–8, ketika Allah memanggil Yeremia yang masih muda dan menegaskan bahwa usia bukanlah penghalang untuk melaksanakan perutusan ilahi. Allah sendiri yang berinisiatif memanggil, menyertai, dan menguatkan,

sehingga keterbatasan usia maupun pengalaman tidak menjadi alasan untuk menolak panggilan-Nya. Teks ini memberikan dasar teologis bahwa kaum muda bukan sekadar objek pembinaan, melainkan subjek aktif dalam rencana keselamatan Allah. Pemahaman ini sejalan dengan ajaran Christus Vivit (CV art. 203) yang menegaskan bahwa orang muda adalah subjek utama evangelisasi, dipanggil untuk menjadi saksi iman yang kreatif dan penuh sukacita. Oleh karena itu, pembinaan iman OMK diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa kaum muda dipanggil untuk mengambil bagian secara aktif dalam perutusan Gereja sebagai murid dan saksi Kristus di tengah dunia.

Modul Katekese sebagai Sarana bagi Pembinaan Iman Orang Muda Katolik Daryanto (2013), sebagaimana dikutip dalam Firmadani dan Syahroni (2020, hlm. 281), menjelaskan bahwa modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dan terencana untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar tertentu. Sementara itu, Depdiknas (2004), yang juga dikutip dalam Firmadani dan Syahroni (2020, hlm. 281), menegaskan bahwa modul memungkinkan peserta didik belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan belajarnya. Dalam konteks pewartaaan atau katekese yang diupayakan oleh Gereja, modul dapat menjadi sarana katekese yang memadukan dimensi teologis,

pedagogis, dan pastoral secara terencana sehingga proses internalisasi iman dapat berlangsung secara lebih efektif dan kontekstual. Menurut Petunjuk untuk Katekese (2022), katekese tidak hanya dimengerti sebagai penyampaian doktrin, tetapi sebagai proses mendalam yang menolong orang beriman, termasuk kaum muda untuk mengalami perjumpaan personal dengan Kristus, bertumbuh dalam pemahaman iman, dan mampu mengintegrasikannya dalam hidup sehari-hari. Karena itu, modul katekese perlu dirancang tidak hanya sebagai alat penyampaian informasi, tetapi sebagai pengalaman formasi iman yang holistik. Prinsip ini sejalan dengan Pedoman Pastoral Kerasulan Orang Muda Indonesia (KWI, 2014, hlm. 8), yang menekankan bahwa pembinaan OMK harus bersifat kontekstual, partisipatif, dan aplikatif, sehingga mampu menjawab kebutuhan dan tantangan kaum muda dalam konteks sosial-budaya saat ini.

Proses katekese di kalangan orang muda memerlukan pendekatan yang sungguh memperhatikan dinamika hidup, pencarian makna, dan konteks budaya generasi muda. Dalam Evangelii Nuntiandi, Paus Paulus VI menegaskan bahwa katekese menjadi unsur penting karena harus menyentuh manusia secara utuh dan membaharui dirinya dari dalam. Kaum muda, sebagai kelompok yang sedang berada dalam fase pencarian identitas dan arah hidup, membutuhkan pewartaan iman yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif, sehingga Injil sungguh dihayati dan membentuk orientasi hidup mereka (EN, art. 18–20). Lebih lanjut, Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae menegaskan bahwa katekese bagi orang muda harus bersifat sistematis, berkelanjutan, dan kontekstual, serta diarahkan pada pendewasaan iman. Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa tujuan katekese adalah membantu kaum muda semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus Kristus

secara sadar. Oleh karena itu, metode dan sarana katekese perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan orang muda, bahasa yang mereka pahami, serta realitas konkret yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari (CT, art. 20–21). Sejalan dengan penegasan tersebut, pembinaan iman pada kategori usia 13–18 tahun menjadi sangat strategis, karena pada fase ini kaum muda sedang berada dalam proses pembentukan cara pandang, nilai hidup, serta pilihan-pilihan moral yang akan memengaruhi arah hidup mereka di masa depan. Oleh karena itu, Pedoman Karya Pastoral Orang Muda Katolik Indonesia menegaskan bahwa pembinaan pada tahap perkembangan ini perlu dilaksanakan melalui metode yang aktif, partisipatif, dan berbasis pengalaman konkret, agar nilai-nilai iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi sungguh dihayati dan diinternalisasi dalam dinamika kehidupan sehari-hari (KomKep KWI, 2022, hlm. ix, x, 15).

Dengan pendekatan demikian, katekese tidak berhenti pada transfer pengetahuan iman, melainkan menjadi ruang dialog dan pendampingan yang menumbuhkan kedewasaan iman secara utuh dan relevan dengan realitas kaum muda. Yohanes Paulus II (1979) juga menegaskan pentingnya metode dan sarana katekese yang kreatif dan komunikatif. Katekese tidak dapat disampaikan hanya melalui ceramah satu arah, tetapi perlu melibatkan dialog, pengalaman, dan partisipasi aktif. Bagi orang muda, proses katekese akan lebih efektif bila mengintegrasikan pengalaman hidup, berbagi pengalaman iman, simbol, serta media yang membantu mereka menghayati iman secara personal dan reflektif. Dengan demikian, katekese menjadi ruang perjumpaan antara iman Gereja dan kehidupan konkret kaum muda (CT art. 24, 31). Dalam konteks budaya digital, penggunaan sarana audiovisual menjadi salah satu faktor pendukung

penting bagi katekese orang muda. Media seperti video refleksi, film pendek, podcast rohani, musik rohani kontemporer, animasi Kitab Suci, dan konten digital interaktif mampu menjembatani pesan iman dengan dunia orang muda yang sangat visual dan auditori. Sarana audiovisual membantu menghadirkan pesan iman secara lebih menarik, komunikatif, dan mudah diinternalisasi, tanpa mengurangi kedalaman isinya. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Gereja untuk mewartakan Injil dengan bahasa dan sarana yang dipahami oleh generasi zamannya (EN, art. 40-45).

RANGKUMAN PROGRAM KATEKESE Bab 3

Rangkuman Program Katekese2 “Jangan Ghosting Allah: Stay Connected!” 1. Teladan kehidupan doa Frassati: Misa harian, rosario, adorasi. 2. Dalam terang Yohanes 15:4-5, Yesus mengajak setiap murid untuk tinggal di dalam Dia agar menghasilkan buah iman. 3. Relasi personal dengan Kristus dibangun melalui doa dan kesetiaan dalam memelihara kehidupan rohani. 4. Dimensi kontemplatif sebagai dasar kehidupan sehari-hari. Peserta: 1. mengenal kehidupan doa Frassati sebagai teladan dalam mengembangkan relasinya dengan Kristus. 2. memahami pesan Yohanes 15:4-5 tentang pentingnya tinggal dalam Kristus. 3. menyadari pentingnya membangun relasi personal dengan Allah dalam kehidupannya sebagai orang beriman. 4. menumbuhkan kebiasaan berdoa secara pribadi agar hidup orang muda tetap berakar dalam Kristus.Pertemuan Tema Pokok Materi Tujuan 1 “Aku Dipanggil, Bro! Hidup Ini Bukan Random” 1. Teladan Frassati yang sejak muda menyadari panggilan Allah dalam hidupnya 2. Dalam terang Yeremia 1:1-8, Allah memanggil orang muda dan menyertai mereka dalam perutusan-Nya. 3. Setiap remaja adalah pribadi yang dikasihi dan dipanggil Allah. 4. Menanggapi panggilan Allah membutuhkan keberanian dan kepercayaan kepada penyertaan-Nya. Peserta : 1. mengenal Frassati sebagai teladan orang muda yang menyadari panggilan Allah dalam hidupnya. 2. memahami pesan Yeremia 1 :1- 8 bahwa Allah memanggil dan menyertai orang muda. 3. menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah. 4. berani menanggapi panggilan Allah dalam kehidupan sehari- hari dengan sikap percaya akan penyertaan Allah bagi hidupnya.3 “Allah Dapat Ditemui di Cerita Hidup kamu!” 1. Frassati menemukan Allah dalam keindahan alam dan kehidupan sehari-hari. 2. Kitab Kejadian 9:12-17, menggambarkan kehadiran Allah melalui “pelangi” yang merupakan tanda perjanjian dan kesetiaan Allah kepada manusia 3. Kehadiran Allah yang mengasihi dapat dialami melalui relasi manusia dengan seluruh ciptaanNya dan pengalaman hidup manusia sehari-hari. 4. Manusia perlu bersikap terbuka untuk mengembangkan kepekaan akan kehadiran dan karya Allah dalam kehidupan sehari- hari. Peserta : 1. meneladani cara hidup Frassati yang mampu menemukan Allah dalam segala peristiwa kehidupan sehari-hari. 2. memahami pesan Kejadian 9 :12-17 mengenai tanda kehadiran dan kesetiaan Allah melalui ciptaan dan berbagai peristiwa kehidupan 3. mengembangkan sikap syukur dan kepekaan rohani dalam melihat karya Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkuman Program Katekese4 “Iman Bukan Cuma Caption Rohani!” 1. Pelayanan Frassati kepada kaum miskin dan sesama sebagai buah dari relasinya dengan Allah. 2. Dalam terang Yakobus 2:14- 17, iman tanpa perbuatan adalah mati. 3. Spiritualitas kontemplatif- aktif, menegaskan kesatuan antara doa dan tindakan kasih. 4. Orang beriman dipanggil menjadi saksi kasih Allah dalam kehidupan sosial. Peserta : 1. mengenal teladan Frassati dalam pelayanan kepada sesamanya, terutama kepada mereka yang miskin. 2. memahami pesan Yakobus 2:14-17 bahwa iman harus diwujudkan dalam perbuatan kasih. 3. menyadari bahwa doa dan tindakan kasih merupakan satu kesatuan. 4. termotivasi untuk melakukan aksi kasih dalam kehidupan sehari-hari.5 “Sekarang Aku Tahu Arah Hidupku!” 1. Teladan Frassati yang mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah melalui moto Verso l'Alto (“menuju ke atas”). 2. Dalam terang Kolose 3:1-5, orang beriman diajak mengarahkan hati kepada perkara yang di atas. 3. Orang muda dipanggil membangun komitmen hidup yang selaras dengan nilai Injil Peserta: 1. mengenal orientasi hidup Frassati yang terarah kepada Allah. 2. memahami pesan Kolose 3:1-5 tentang hidup yang berorientasi kepada Allah. 3. merefleksikan arah hidup pribadi sebagai orang muda Katolik. 4. membuat komitmen hidup yang selaras dengan nilai Injil. “Kita tidak diciptakan untuk ‘berbuat apa saja’, tetapi untuk sesuatu yang besar dan kekal” - St. Pier Giorgio Frassati

Langkah-Langkah Program Katekese Tema 1: “Aku Dipanggil, Bro! Hidup Ini Bukan Random” Waktu: 165 menit Materi: 1. Teladan Frassati yang sejak muda menyadari panggilan Allah dalam hidupnya. 2. Dalam terang Yeremia 1:1-8, Allah memanggil orang muda dan menyertai mereka dalam perutusan-Nya. 3. Setiap remaja adalah pribadi yang dikasihi dan dipanggil Allah. 4. Menanggapi panggilan Allah membutuhkan keberanian dan kepercayaan kepada penyertaan-Nya. Tujuan: 1. Peserta mengenal Frassati sebagai teladan orang muda yang menyadari panggilan Allah dalam hidupnya. 2. Peserta memahami pesan Yeremia 1 :1-8 bahwa Allah memanggil dan menyertai orang muda. 3. Peserta menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah.

4. Peserta berani menanggapi panggilan Allah dalam kehidupan sehari-hari, dengan sikap percaya akan penyertaan Allah bagi hidupnya. Metode: Aktivitas bersama, sharing pengalaman hidup, refleksi pribadi. Sarana: Pertemuan kelompok. Sumber Bahan: a. Kitab Suci Yeremia 1:1–8 b. Biografi Pier Giorgio Frassati c. Video singkat tentang kehidupan Frassati Langkah-Langkah Katekese: 1. Pembuka (5 menit) a) Salam pembuka Fasilitator menegaskan bahwa pertemuan ini bukan kelas teori, melainkan ruang untuk mengenal diri di hadapan Allah. b) Doa pembuka Peserta diajak hening sejenak, lalu fasilitator memimpin doa singkat agar hati terbuka mendengarkan panggilan Allah

2. Menggali pengalaman peserta mengenai tokoh yang dikagumi dalam hidupnya (30 menit) a) Fasilitator memberi pengantar yang intinya bahwa di dalam hidup sehari-hari, setiap orang umumnya memiliki seseorang atau tokoh-tokoh yang diidolakan atau dikaguminya. b) Peserta diminta untuk mengisi kertas yang dibagikan oleh fasilitator terkait dengan nama pribadi atau tokoh yang paling diidolakan atau dikagumi oleh peserta dan memaparkan secara singkat bagaimana ia memandang pribadi/tokoh yang diidolakannya tersebut. Contoh kertas yang dibagikan adalah sebagai berikut : Tabel 3.2. Isian Tokoh yang Dikagumi

Bertolak dari hasil tulisannya, beberapa peserta sharing kepada teman-temannya mengenai pribadi/tokoh yang dikaguminya. d) Fasilitator merangkum hasil sharing peserta dengan menekankan hal-hal sebagai berikut: Setiap orang biasanya memiliki tokoh yang dikagumi dalam hidupnya. Tokoh yang dikagumi tersebut sangat mungkin turut memengaruhi cara seseorang dalam berpikir, bersikap, dan memilih jalan hidup. Oleh karena itu, penting bagi seseorang, terutama orang muda untuk memiliki tokoh teladan yang bukan hanya hebat, melainkan juga dapat menuntunnya untuk dapat memiliki sikap hidup yang lebih baik yang didasari oleh kedekatannya dengan Allah. Dalam kehidupan umat beriman Katolik, salah satu tokoh yang dapat dijadikan teladan bagi kehidupan orang muda Katolik adalah kehidupan dari Santo Pier Giorgio Frassati. 3.Memperkenalkan tokoh yang dapat diteladani dengan menampilkan pribadi St.Pier Giorgio Frassati (30 menit) a)Peserta menyaksikan kisah hidup St Pier Giorgio Frassati melalui tayangan video singkat biografi Frassati: https://www.youtube.com/shorts/aFLWosd6FHA?fe ature=share b)Peserta mendalami isi video dalam kelompok dengan pertanyaan sebagai berikut:

• Bagaimana latar belakang kehidupan keluarga yang dimiliki Frassati? • Menurut Anda, dengan latar belakang keluarga yang dimilikinya, hal apa yang menarik dari sikap Frassati? • Apa yang mendasari Frassati mampu bersikap seperti itu? c)Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. d)Fasilitator merangkum hasil diskusi kelompok dan memberi kesimpulan yang intinya adalah: bahwa dalam hidupnya Frassati memiliki kepekaan yang kuat terhadap lingkungan dimana dia hidup. Sikap kepekaan tersebut memunculkan gerakan hatinya untuk berbuat sesuatu. Hal inilah yang dapat dikatakan sebagai panggilan jiwa dari Frassati yang juga bisa dipandang dan disadari sebagai panggilan Allah sendiri bagi hidupnya. 4.Mendalami kisah panggilan Nabi Yeremia (Yeremia 1:1-8) dalam menanggapi panggilan Allah (30 menit) a)Peserta masing-masing diajak membaca Sabda Allah dalam Yer.1:1-8 b)Peserta mendalami Kitab Suci dengan proses tanya jawab yang diberikan oleh Fasilitator, dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: • Apa yang diminta oleh Allah kepada Yeremia? • Bagaimana tanggapan Yeremia ketika diminta Allah menjadi nabi? • Apakah Anda pernah memiliki tanggapan yang sama dengan Yeremia ketika mendapat tugas tertentu?

• Apa yang Anda rasakan ketika mendengar Allah berkata:”Jangan katakan aku ini terlalu muda” c) Fasilitator merangkum dan menggarisbawahi jawaban peserta dengan memberi kesimpulan yang intinya bahwa sebagai orang muda Yeremia juga pada awalnya merasa tidak mampu menanggapi panggilan Allah. Namun pada akhirnya dengan mencoba mengikuti panggilan Allah, Yeremia mampu menjadi nabi besar bangsa Israel pada zamannya. Kita pun oleh Allah diharapkan mampu mengikuti jejak nabi Yeremia yang menyadari panggilan kita masing-masing. 5.Mengajak peserta menyadari panggilan hidupnya secara pribadi (30 menit) a)Fasilitator mengajak peserta melakukan permainan dengan judul: “Langkah Panggilanku” , dengan cara : • Fasilitator secara pribadi telah menyiapkan potongan- potongan karton yang bertuliskan pernyataan- pernyataan yang isinya saling berlawanan. Contoh pernyataannya adalah sebagai berikut :NO. Pernyataan A Pernyataan B 1 Ikut arus Berani memilih yang baik 2 Takut karena masih muda Percaya Allah menyertai 3 Merasa hidupku biasa saja Percaya hidupku berharga 4 Diam saat dibutuhkan Berani menanggapi 5 Hidup asal jalan Hidup dengan arah dari Allah Tabel 3.3. Pilihan Pernyataan Aktivitas Langkah Panggilanku

• Fasilitator menyampaikan aturan permainan sebagai berikut: o Dalam permainan ini, fasilitator nantinya akan menunjukkan kepada peserta potongan- potongan karton yang menampilkan tulisan- tulisan dalam bentuk pernyataan yang saling berlawanan (Pernyataan A ꭢ B) o Saat bermain, setiap satu pernyataan A akan ditunjukkan bersamaan dengan satu pernyataan B. o Setiap kali menunjukkan satu pernyataan A dan satu pernyataan B, fasilitator juga menempelkan pernyataan yang saling berlawanan tersebut di papan tulis dengan posisi pernyataan A di sisi kiri dan pernyataan B di sisi kanan. o Untuk melaksanakan permainan ini, peserta dibagi menjadi 5 kelompok yang akan bermain secara bergantian. o Masing-masing kelompok yang akan bermain, diminta untuk bersama-sama maju ke depan dengan jarak kurang lebih 3 meter dari papan tempat tulisan pernyataan A atau B akan ditempel. o Peserta yang mengikuti permainan, harus memperhatikan dengan cermat setiap pernyataan yang ditunjukkan oleh fasilitator dan kemudian siap memilih pernyataan yang sesuai dengan pilihan hatinya masing-masing ataupun kondisi batinnya saat itu.

o Setelah memilih dalam hati, peserta diminta memberikan reaksi dengan bergerak mengambil posisi berdiri di depan tulisan yang telah dipilih sesuai dengan pilihan hatinya. • Fasilitator mengajak peserta bermain “Langkah Panggilanku” • Fasilitator mendalami permainan bersama peserta dengan pertanyaan: “Apa makna yang Anda temukan dalam permainan tersebut terkait dengan panggilan hidup Anda ?” • Fasilitator merangkum semua tanggapan peserta dengan kesimpulan yang intinya: hidup dibentuk oleh pilihan-pilihan kecil setiap hari, dan panggilan Allah mulai tampak dalam langkah-langkah yang dipilih dengan berani. 6. Mengajak peserta menanggapi panggilan Allah dalam hidup sehari-hari (30 menit) a)Peserta membacakan teks Kitab Suci dari Yeremia 1 :1-8. b)Setiap peserta menuliskan pada secarik kertas yang telah dibagikan: • Sebuah kalimat untuk menanggapi kata-kata Allah dalam ayat 7 dari kitab Yeremia 1 :1-8 • Satu ayat dari teks Kitab Suci Yer.1:1-8 yang mampu membuat dirinya berani menanggapi panggilan Allah dan mempercayakan hidupnya kepada Allah

c) Beberapa peserta diminta sharing untuk teman- temannya bertolak dari jawaban yang telah ditulisnya. d) Peserta melakukan refleksi pribadi: • Peserta menerima kartu kecil bertuliskan 'Aku dipanggil untuk ............ ' • Peserta melengkapi kalimat tersebut dengan satu komitmen sederhana • Beberapa peserta diberi kesempatan membacakan isi kartu yang sudah ditulisnya e) Fasilitator memberi peneguhan dengan menyampaikan kepada peserta bahwa Allah tidak menunggu kita menjadi hebat dulu untuk memanggil kita. Pandangan Allah tentang diri kita tidak selalu sama dengan pandangan kita sendiri. Justru karena Allah menyertai, kita diharapkan berani melangkah. Frassati telah menunjukkan bahwa orang muda pun bisa hidup kudus. 7. Penutup (10 menit) a) Fasilitator memimpin doa penutup. Saat berdoa, peserta diminta untuk menadahkan tangannya sebagai tanda dan simbol penyerahan bakat, ketakutan, serta masa depannya kepada Allah. b) Peserta menyanyikan lagu penutup: 'Ku Mau Cinta Yesus Selamanya' dengan link YouTube : https://youtu.be/Gaelc7vVZFc c) Peserta membawa pulang kartu komitmennya dan saat di rumah dapat meletakkan kartu tersebut di tempat yang mudah dilihat selama satu minggu.

MODUL KATEKESE Bab 4

Daryanto (2013), sebagaimana dikutip dalam Firmadani dan Syahroni (2020, hlm. 281), menjelaskan bahwa modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dan terencana untuk membantu peserta didik mencapai tujuan belajar tertentu. Sementara itu, Depdiknas (2004), yang juga dikutip dalam Firmadani dan Syahroni (2020, hlm. 281), menegaskan bahwa modul memungkinkan peserta didik belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan belajarnya. Dalam konteks pewartaaan atau katekese yang diupayakan oleh Gereja, modul dapat menjadi sarana katekese yang memadukan dimensi teologis, pedagogis, dan pastoral secara terencana sehingga proses internalisasi iman dapat berlangsung secara lebih efektif dan kontekstual. Menurut Petunjuk untuk Katekese (2022), katekese tidak hanya dimengerti sebagai penyampaian doktrin, tetapi sebagai proses mendalam yang menolong orang beriman, termasuk kaum muda untuk mengalami perjumpaan personal dengan Kristus, bertumbuh dalam pemahaman iman, dan mampu mengintegrasikannya dalam hidup sehari-hari. Karena itu, modul katekese perlu dirancang tidak hanya sebagai alat penyampaian informasi, tetapi sebagai pengalaman formasi iman yang holistik. Prinsip ini sejalan dengan Pedoman Pastoral Kerasulan Orang Muda Indonesia (KWI, 2014, hlm. 8), yang menekankan bahwa pembinaan OMK harus bersifat kontekstual, partisipatif, dan aplikatif, sehingga mampu menjawab kebutuhan dan tantangan kaum muda dalam konteks sosial-budaya saat ini.

Proses katekese di kalangan orang muda memerlukan pendekatan yang sungguh memperhatikan dinamika hidup, pencarian makna, dan konteks budaya generasi muda. Dalam Evangelii Nuntiandi, Paus Paulus VI menegaskan bahwa katekese menjadi unsur penting karena harus menyentuh manusia secara utuh dan membaharui dirinya dari dalam. Kaum muda, sebagai kelompok yang sedang berada dalam fase pencarian identitas dan arah hidup, membutuhkan pewartaan iman yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif, sehingga Injil sungguh dihayati dan membentuk orientasi hidup mereka (EN, art. 18–20). Lebih lanjut, Yohanes Paulus II dalam Catechesi Tradendae menegaskan bahwa katekese bagi orang muda harus bersifat sistematis, berkelanjutan, dan kontekstual, serta diarahkan pada pendewasaan iman. Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa tujuan katekese adalah membantu kaum muda semakin mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus Kristus secara sadar. Oleh karena itu, metode dan sarana katekese perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan orang muda, bahasa yang mereka pahami, serta realitas konkret yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari (CT, art. 20–21). Sejalan dengan penegasan tersebut, pembinaan iman pada kategori usia 13–18 tahun menjadi sangat strategis, karena pada fase ini kaum muda sedang berada dalam proses pembentukan cara pandang, nilai hidup, serta pilihan-pilihan moral yang akan memengaruhi arah hidup mereka di masa depan.

Oleh karena itu, Pedoman Karya Pastoral Orang Muda Katolik Indonesia menegaskan bahwa pembinaan pada tahap perkembangan ini perlu dilaksanakan melalui metode yang aktif, partisipatif, dan berbasis pengalaman konkret, agar nilai-nilai iman tidak hanya dipahami secara kognitif, tetapi sungguh dihayati dan diinternalisasi dalam dinamika kehidupan sehari-hari (KomKep KWI, 2022, hlm. ix, x, 15). Dengan pendekatan demikian, katekese tidak berhenti pada transfer pengetahuan iman, melainkan menjadi ruang dialog dan pendampingan yang menumbuhkan kedewasaan iman secara utuh dan relevan dengan realitas kaum muda. Yohanes Paulus II (1979) juga menegaskan pentingnya metode dan sarana katekese yang kreatif dan komunikatif. Katekese tidak dapat disampaikan hanya melalui ceramah satu arah, tetapi perlu melibatkan dialog, pengalaman, dan partisipasi aktif. Bagi orang muda, proses katekese akan lebih efektif bila mengintegrasikan pengalaman hidup, berbagi pengalaman iman, simbol, serta media yang membantu mereka menghayati iman secara personal dan reflektif. Dengan demikian, katekese menjadi ruang perjumpaan antara iman Gereja dan kehidupan konkret kaum muda (CT art. 24, 31). Dalam konteks budaya digital, penggunaan sarana audiovisual menjadi salah satu faktor pendukung penting bagi katekese orang muda. Media seperti video refleksi, film pendek, podcast rohani, musik rohani kontemporer, animasi Kitab Suci, dan konten digital

interaktif mampu menjembatani pesan iman dengan dunia orang muda yang sangat visual dan auditori. Sarana audiovisual membantu menghadirkan pesan iman secara lebih menarik, komunikatif, dan mudah diinternalisasi, tanpa mengurangi kedalaman isinya. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Gereja untuk mewartakan Injil dengan bahasa dan sarana yang dipahami oleh generasi zamannya (EN, art. 40-45).

A. Gagasan Dasar Desain Produk Kewirausahaan Pendidikan Pembinaan iman Orang Muda Katolik (OMK), khususnya pada rentang usia remaja 13–18 tahun, merupakan salah satu perhatian penting Gereja dewasa ini. Pada tahap remaja, individu berada dalam fase krusial pembentukan identitas diri, nilai hidup, serta orientasi iman. Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia menegaskan bahwa masa remaja merupakan tahap awal OMK yang sangat menentukan arah kehidupan selanjutnya, sehingga membutuhkan pendampingan iman yang terarah, berjenjang, dan berkelanjutan (Komisi Kepemudaan KWI, 2022, hlm 3). Dalam konteks sosial-budaya masa kini, remaja hidup di tengah arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, serta tekanan sosial yang kuat. Situasi ini seringkali menimbulkan ketegangan antara tuntutan akademik, relasi sosial, penggunaan media digital, dan kehidupan rohani. Tanpa pendampingan iman yang memadai, iman remaja berisiko menjadi dangkal dan terpisah dari kehidupan nyata. Oleh karena itu, Gereja dipanggil untuk menghadirkan katekese yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif, yang menolong remaja mengintegrasikan iman dengan realitas hidup sehari-hari (EN, art. 18-19). Sejalan dengan ajaran Gereja, katekese bagi remaja perlu dilaksanakan dengan pendekatan yang kontekstual, partisipatif, dan aplikatif. Petunjuk untuk Katekese menegaskan bahwa katekese merupakan

tindakan khas Gereja yang menuntun umat beriman kepada perjumpaan personal dengan Kristus dan mendorong perubahan hidup yang nyata (PUK, 2022, art. 75-79). Katekese tidak dapat disampaikan hanya melalui ceramah satu arah, melainkan perlu melibatkan pengalaman hidup, refleksi, dialog, serta keterlibatan aktif peserta katekese, khususnya kaum muda yang sedang berada dalam proses pencarian jati diri dan makna hidup (CT, art. 20-21). Dalam kerangka tersebut, teladan hidup Santo Pier Giorgio Frassati dihadirkan sebagai dasar inspiratif bagi program pembinaan iman remaja. Frassati adalah seorang santo muda yang menghidupi spiritualitas kontemplatif-aktif, yaitu kesatuan antara kehidupan doa yang mendalam dan keterlibatan aktif dalam pelayanan sosial. Kesetiaannya pada Ekaristi, doa pribadi, serta perhatiannya kepada kaum miskin menunjukkan bahwa kekudusan dapat dihayati secara konkret di tengah dunia (FrassatiUSA, 2023). Spiritualitas Frassati menampilkan model iman yang relevan bagi remaja, karena dekat dengan dunia mereka dan menghadirkan iman sebagai sumber sukacita dan daya dorong untuk bertindak. Berdasarkan inspirasi tersebut, modul katekese ini disusun sebagai usulan program Pendikkat yang bertujuan menghadirkan sarana pembinaan iman remaja yang konkret dan aplikatif. Program ini menggunakan pendekatan spiritualitas kontemplatif- aktif, yang menekankan keterpaduan antara doa,

pendalaman iman, dan aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini sejalan dengan ajaran Gereja dalam Gaudium et Spes (1965, art. 43) yang menegaskan bahwa iman Kristiani harus terintegrasi dengan seluruh aspek kehidupan manusia dan masyarakat. Modul ini juga menawarkan opsi-opsi penerapan pastoral yang fleksibel. Program dapat dilaksanakan secara berjenjang maupun tematik, disesuaikan dengan kebutuhan paroki atau komunitas, serta diterapkan dalam berbagai bentuk kegiatan, baik indoor maupun outdoor. Prinsip fleksibilitas ini selaras dengan Pedoman Karya Pastoral Orang Muda Katolik Indonesia yang menekankan bahwa pembinaan iman OMK perlu disesuaikan dengan konteks lokal, tahap perkembangan peserta, dan dinamika komunitas (Komisi Kepemudaan KWI, 2014, hlm. 8). Dalam pelaksanaan program Pendikkat ini, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: tahap perkembangan iman remaja, penggunaan bahasa dan metode yang komunikatif, serta peran pendamping sebagai fasilitator yang menyertai proses pertumbuhan iman. Selain itu, penting untuk menciptakan suasana yang aman dan mendukung bagi proses berbagi pengalaman iman, serta melakukan evaluasi dan refleksi berkelanjutan agar pembinaan iman yang dijalankan sungguh memberi dampak bagi pertumbuhan iman remaja (Komisi Kepemudaan KWI, 2022).

Modul katekese berbasis spiritualitas kontemplatif- aktif Santo Pier Giorgio Frassati ini dirancang sebagai model pembinaan iman bagi remaja usia 13–18 tahun yang bersifat berjenjang, kontekstual, partisipatif, dan transformatif. Spiritualitas Frassati dipilih karena menghadirkan kesatuan yang utuh antara kehidupan doa yang mendalam dan keterlibatan sosial yang nyata. Ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan teladan konkret orang muda yang mampu mengintegrasikan iman, persahabatan, studi, kecintaan pada alam, dan pelayanan sosial dalam satu arah hidup yang jelas: Verso l’Alto, yang berarti “menuju ke atas”, menuju Allah. Program ini tidak hanya bertujuan menambah wawasan iman, tetapi terutama membentuk identitas dan orientasi hidup remaja secara integral. Oleh karena itu, tema-tema dalam modul ini disusun mengikuti alur dinamika pertumbuhan iman remaja. Berdasarkan latar belakang mengenai urgensi pembinaan iman remaja yang berjenjang, kontekstual, dan transformatif, serta dengan mengacu pada spiritualitas kontemplatif-aktif Santo Pier Giorgio Frassati sebagai model yang relevan bagi kaum muda, penulis menawarkan lima tema katekese yang disusun secara sistematis sebagai sebuah perjalanan pertumbuhan iman. Tema-tema ini membentuk satu kesatuan yang menuntun remaja dari kesadaran identitas sebagai pribadi yang dipanggil Allah hingga pada komitmen hidup yang terarah kepada-Nya,

sehingga diharapkan menjadi sarana pembinaan iman yang konkret dan aplikatif dalam kehidupan remaja masa kini. Berikut ini adalah gagasan dasar dari tema- tema katekese yang ditawarkan:

TEMA I: “Aku Dipanggil, Bro! Hidup Ini Bukan Random” Pier Giorgio Frassati sejak usia muda telah menyadari bahwa hidupnya adalah jawaban atas panggilan Allah. Ia tidak menunggu menjadi imam atau biarawan untuk hidup kudus. Sebagai mahasiswa yang mendalami bidang teknik, ia menjalani studi, persahabatan, dan kegiatan sosial dengan kesadaran bahwa seluruh hidupnya adalah respons iman. Kesadaran ini menjadi fondasi seluruh perjalanan rohaninya. Masa remaja adalah fase pencarian identitas. Sebelum berbicara tentang doa atau pelayanan, mereka perlu menyadari bahwa mereka dikasihi dan dipanggil Allah. Identitas selalu mendahului tindakan. Tanpa kesadaran ini, iman mudah menjadi rutinitas tanpa makna. Nabi Yeremia pun menegaskan bahwa usia muda bukan penghalang untuk menanggapi panggilan Allah (bdk. Yer. 1:1–8). Seperti Yeremia dan Frassati, yang sejak muda menyadari panggilan hidupnya di hadapan Allah, para remaja pun diajak untuk menyadari bahwa hidup mereka berharga, dikasihi, dan dipercayakan suatu panggilan oleh Allah. Kesadaran yang mendasar ini kemudian menuntut pendalaman lebih lanjut: jika aku dipanggil, maka kepada siapa aku dipanggil? Dari sinilah tahap berikutnya dimulai.

TEMA II - “Jangan Ghosting Allah: Stay Connected!” Kesadaran bahwa dirinya dipanggil tidak berhenti pada pengakuan identitas. Dalam hidup Frassati, kesadaran itu mendorongnya membangun relasi mendalam dengan Kristus. Ia menghadiri Misa harian, berdoa rosario, dan melakukan adorasi secara setia. Dari relasi itulah ia memperoleh kekuatan untuk menjalani hidupnya secara konsisten. Dengan demikian, setelah remaja memahami identitasnya sebagai pribadi yang dipanggil, mereka perlu membangun relasi personal dengan Kristus. Relasi personal dengan Kristus membawa seseorang pada persekutuan yang hidup dengan Allah. Dalam persekutuan ini, Allah tidak lagi dipahami sebagai pribadi yang jauh, melainkan sebagai Allah yang hadir, menyertai, dan membimbing setiap langkah kehidupan. Relasi dengan Allah mendahului aksi dan dimensi kontemplatif menjadi akar seluruh pertumbuhan rohani. Rasul Yohanes menegaskan bahwa hanya dengan tinggal di dalam Kristus seseorang dapat menghasilkan buah (bdk. Yoh. 15:4–5). Jika identitas adalah fondasi, maka relasi adalah sumber kehidupan yang menghidupi fondasi tersebut. Relasi yang hidup dengan Kristus kemudian membuka mata untuk melihat kehadiran Allah dalam seluruh realitas hidup. Dari sinilah perjalanan berlanjut.

TEMA III: “Allah Dapat Ditemui di Cerita Hidup kamu!” Relasi Frassati dengan Kristus tidak berhenti dalam ruang doa. Kedalaman rohaninya justru membuatnya semakin peka menemukan Allah dalam kehidupan nyata. Saat mendaki gunung, ia mengalami alam sebagai ruang kontemplasi. Ia melihat kebesaran Allah dalam ciptaan dan mensyukuri kehadiran Allah sebagai Allah Sang Pencipta yang mengasihi dirinya dan seluruh alam semesta. Dalam teks Kitab Suci Kejadian 9:12-17 digambarkan bahwa Allah menempatkan pelangi sebagai tanda perjanjian-Nya dengan seluruh ciptaan. Pelangi menjadi simbol bahwa Allah tidak jauh dari dunia, melainkan hadir dan setia menyertai kehidupan manusia serta seluruh alam semesta. Tanda tersebut menunjukkan bahwa ciptaan dan seluruh peristiwa yang dialami oleh manusia dapat menjadi sarana bagi manusia untuk mengenali kasih dan kesetiaan Allah. Oleh karena itu, pengalaman iman tidak terbatas pada ruang liturgis atau doa, tetapi juga dapat ditemukan dalam realitas kehidupan, alam, serta peristiwa sehari- hari yang dialami manusia. Melalui tema ini, para remaja diajak menyadari bahwa setelah mereka belajar membangun relasi pribadi dengan Kristus, mereka dipanggil untuk menemukan kehadiran Allah dalam berbagai lingkup kehidupan antara lain dalam keluarga, dalam relasi persahabatan,

hidup sosial kemasyarakatan dan dalam lingkup dunia. Belajar dari Frassati, para remaja diajak untuk semakin mampu berkontemplasi dalam arti menemukan kehadiran Allah dalam seluruh peristiwa hidupnya sehingga mampu bersyukur atas karya Allah dalam hidupnya dan mampu setia menjalani hidupnya dalam tuntunan Allah.

TEMA IV : “Iman Bukan Cuma Caption Rohani!” Kesadaran Frassati akan kasih dan karya Allah di dalam hidupnya, mendorongnya untuk bertindak dan melakukan segala sesuatu sesuai dengan tuntunan Allah. Dalam hidup kesehariannya ia aktif membantu kaum miskin melalui Serikat St. Vincent de Paul. Ia mengunjungi orang sakit dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Tindakannya bukan aktivisme kosong, melainkan buah dari relasi dan pengalaman iman yang mendalam. Rasul Yakobus menegaskan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (bdk. Yak. 2:14-17). Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman akan Allah dalam kehidupan orang beriman memiliki dimensi sosial. Oleh karena itu melalui pertemuan ini para remaja diajak untuk mewujudkan imannya dalam tindakan kasih yang nyata bagi sesama. Ini adalah dimensi aktif dalam spiritualitas sebagaimana yang diteladankan oleh Frassati.

TEMA V: “Sekarang Aku Tahu Arah Hidupku!” Seluruh aspek hidup Pier Giorgio Frassati memiliki arah yang konsisten. Moto hidupnya, Verso l’Alto (“menuju ke atas”), menjadi simbol orientasi rohaninya yang mantap kepada Allah. Studi, persahabatan, doa, dan pelayanan sosialnya tidak berjalan secara terpisah, melainkan terintegrasi dalam satu tujuan hidup yang sama, yaitu mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah. Kesadaran akan arah hidup ini juga ditegaskan dalam Kitab Suci. Dalam Kolose 3:1–5, Rasul Paulus menasihati umat beriman untuk “mencari perkara yang di atas” dan “memikirkan perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Nasihat ini bukan berarti menjauh dari kehidupan dunia, melainkan mengajak orang beriman untuk menata hati dan orientasi hidupnya agar selalu terarah kepada Allah. Ketika seseorang menempatkan Allah sebagai pusat hidupnya, cara ia memandang kehidupan, mengambil keputusan, dan menentukan pilihan masa depan pun dibimbing oleh nilai-nilai Kerajaan Allah. Melalui tema ini, para remaja diajak untuk merefleksikan arah hidup mereka sendiri. Setelah belajar mengenal diri, membangun relasi dengan Kristus, menemukan Allah dalam pengalaman hidup, dan menanggapi iman melalui tindakan kasih, mereka kini diajak menyadari bahwa seluruh perjalanan tersebut mengarah pada suatu tujuan hidup yang jelas. Cita-cita, studi, relasi persahabatan, serta pilihan-pilihan hidup mereka tidak hanya didasarkan pada keinginan pribadi, tetapi juga diarahkan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan

mewujudkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan. Dengan demikian, iman tidak hanya menjadi pengalaman sesaat, tetapi menjadi kompas yang menuntun arah hidup. Seperti Pier Giorgio Frassati yang menata seluruh hidupnya dengan semangat Verso l’Alto, para remaja pun dipanggil untuk mengarahkan hidup mereka kepada Allah, sehingga setiap langkah, harapan, dan cita-cita mereka semakin selaras dengan kehendak Allah.

4 “Iman Bukan Cuma Caption Rohani!” 1. Pelayanan Frassati kepada kaum miskin dan sesama sebagai buah dari relasinya dengan Allah. 2. Dalam terang Yakobus 2:14-17, iman tanpa perbuatan adalah mati. 3. Spiritualitas kontemplatif-aktif, menegaskan kesatuan antara doa dan tindakan kasih. 4. Orang beriman dipanggil menjadi saksi kasih Allah dalam kehidupan sosial. Peserta : 1. mengenal teladan Frassati dalam pelayanan kepada sesamanya, terutama kepada mereka yang miskin. 2. memahami pesan Yakobus 2:14-17 bahwa iman harus diwujudkan dalam perbuatan kasih. 3. menyadari bahwa doa dan tindakan kasih merupakan satu kesatuan. 4. termotivasi untuk melakukan aksi kasih dalam kehidupan sehari- hari. 1. Kitab Suci Yakobus 2:14-17 2. Kisah pelayanan Frassati Waktu: 90 menit 1. Diskusi kelompok 2. Studi kasus 3. Perencanaan aksi kasih5 “Sekarang Aku Tahu Arah Hidupku!” 1. Teladan Frassati yang mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah melalui moto Verso l'Alto (“menuju ke atas”). 2. Dalam terang Kolose 3:1-5, orang beriman diajak mengarahkan hati kepada perkara yang di atas. 3. Orang muda dipanggil membangun komitmen hidup yang selaras dengan nilai Injil Peserta: 1. mengenal orientasi hidup Frassati yang terarah kepada Allah. 2. memahami pesan Kolose 3:1-5 tentang hidup yang berorientasi kepada Allah. 3. merefleksikan arah hidup pribadi sebagai orang muda Katolik. 4. membuat komitmen hidup yang selaras dengan nilai Injil. 1. Kitab Suci Kolose 3:1–5 2. Kisah hidup Pier Giorgio Frassati Waktu: 125 menit 1. Refleksi mendalam 2. Sharing refleksi iman 3. Penulisan komitmen

❖ Tema 1: “Aku Dipanggil, Bro! Hidup Ini Bukan Random” Waktu: 165 menit Materi: 1. Teladan Frassati yang sejak muda menyadari panggilan Allah dalam hidupnya. 2. Dalam terang Yeremia 1:1-8, Allah memanggil orang muda dan menyertai mereka dalam perutusan-Nya. 3. Setiap remaja adalah pribadi yang dikasihi dan dipanggil Allah. 4. Menanggapi panggilan Allah membutuhkan keberanian dan kepercayaan kepada penyertaan-Nya. Tujuan: 1. Peserta mengenal Frassati sebagai teladan orang muda yang menyadari panggilan Allah dalam hidupnya. 2. Peserta memahami pesan Yeremia 1 :1-8 bahwa Allah memanggil dan menyertai orang muda. 3. Peserta menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang dikasihi dan dipanggil oleh Allah. 4. Peserta berani menanggapi panggilan Allah dalam kehidupan sehari-hari, dengan sikap percaya akan penyertaan Allah bagi hidupnya.

Metode: Aktivitas bersama, sharing pengalaman hidup, refleksi pribadi. Sarana: Pertemuan kelompok. Sumber Bahan: a.Kitab Suci Yeremia 1:1–8 b.Biografi Pier Giorgio Frassati c. Video singkat tentang kehidupan Frassati Langkah-Langkah Katekese: 1. Pembuka (5 menit) a) Salam pembuka Fasilitator menegaskan bahwa pertemuan ini bukan kelas teori, melainkan ruang untuk mengenal diri di hadapan Allah. b) Doa pembuka Peserta diajak hening sejenak, lalu fasilitator memimpin doa singkat agar hati terbuka mendengarkan panggilan Allah. 2. Menggali pengalaman peserta mengenai tokoh yang dikagumi dalam hidupnya (30 menit) a) Fasilitator memberi pengantar yang intinya bahwa di dalam hidup sehari-hari, setiap orang umumnya memiliki seseorang atau tokoh-tokoh yang diidolakan atau dikaguminya. b) Peserta diminta untuk mengisi kertas yang dibagikan oleh fasilitator terkait dengan nama pribadi atau tokoh yang paling diidolakan atau dikagumi oleh peserta dan memaparkan secara singkat bagaimana ia memandang pribadi/tokoh yang diidolakannya tersebut.

Tabel 3.2. Isian Tokoh yang Dikagumi

Bertolak dari hasil tulisannya, beberapa peserta sharing kepada teman-temannya mengenai pribadi/tokoh yang dikaguminya. d) Fasilitator merangkum hasil sharing peserta dengan menekankan hal-hal sebagai berikut: Setiap orang biasanya memiliki tokoh yang dikagumi dalam hidupnya. Tokoh yang dikagumi tersebut sangat mungkin turut memengaruhi cara seseorang dalam berpikir, bersikap, dan memilih jalan hidup. Oleh karena itu, penting bagi seseorang, terutama orang muda untuk memiliki tokoh teladan yang bukan hanya hebat, melainkan juga dapat menuntunnya untuk dapat memiliki sikap hidup yang lebih baik yang didasari oleh kedekatannya dengan Allah. Dalam kehidupan umat beriman Katolik, salah satu tokoh yang dapat dijadikan teladan bagi kehidupan orang muda Katolik adalah kehidupan dari Santo Pier Giorgio Frassati.

3. Memperkenalkan tokoh yang dapat diteladani dengan menampilkan pribadi St.Pier Giorgio Frassati (30 menit) a) Peserta menyaksikan kisah hidup St Pier Giorgio Frassati melalui tayangan video singkat biografi Frassati: https://www.youtube.com/shorts/aFLWosd6FHA? feature=share b) Peserta mendalami isi video dalam kelompok dengan pertanyaan sebagai berikut: • Bagaimana latar belakang kehidupan keluarga yang dimiliki Frassati? • Menurut Anda, dengan latar belakang keluarga yang dimilikinya, hal apa yang menarik dari sikap Frassati? • Apa yang mendasari Frassati mampu bersikap seperti itu? c) Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. d) Fasilitator merangkum hasil diskusi kelompok dan memberi kesimpulan yang intinya adalah: bahwa dalam hidupnya Frassati memiliki kepekaan yang kuat terhadap lingkungan dimana dia hidup. Sikap kepekaan tersebut memunculkan gerakan hatinya untuk berbuat sesuatu. Hal inilah yang dapat dikatakan sebagai panggilan jiwa dari Frassati yang juga bisa dipandang dan disadari sebagai panggilan Allah sendiri bagi hidupnya.

4. Mendalami kisah panggilan Nabi Yeremia (Yeremia 1:1- 8) dalam menanggapi panggilan Allah (30 menit) a) Peserta masing-masing diajak membaca Sabda Allah dalam Yer.1:1-8 b) Peserta mendalami Kitab Suci dengan proses tanya jawab yang diberikan oleh Fasilitator, dengan bantuan pertanyaan sebagai berikut: • Apa yang diminta oleh Allah kepada Yeremia? • Bagaimana tanggapan Yeremia ketika diminta Allah menjadi nabi? • Apakah Anda pernah memiliki tanggapan yang sama dengan Yeremia ketika mendapat tugas tertentu? • Apa yang Anda rasakan ketika mendengar Allah berkata:”Jangan katakan aku ini terlalu muda” c) Fasilitator merangkum dan menggarisbawahi jawaban peserta dengan memberi kesimpulan yang intinya bahwa sebagai orang muda Yeremia juga pada awalnya merasa tidak mampu menanggapi panggilan Allah. Namun pada akhirnya dengan mencoba mengikuti panggilan Allah, Yeremia mampu menjadi nabi besar bangsa Israel pada zamannya. Kita pun oleh Allah diharapkan mampu mengikuti jejak nabi Yeremia yang menyadari panggilan kita masing-masing.

5. Mengajak peserta menyadari panggilan hidupnya secara pribadi (30 menit) a) Fasilitator mengajak peserta melakukan permainan dengan judul: “Langkah Panggilanku” , dengan cara : • Fasilitator secara pribadi telah menyiapkan potongan-potongan karton yang bertuliskan pernyataan-pernyataan yang isinya saling berlawanan. Contoh pernyataannya adalah sebagai berikut : Tabel 3.3. Pilihan Pernyataan Aktivitas Langkah Panggilanku

• Fasilitator menyampaikan aturan permainan sebagai berikut: o Dalam permainan ini, fasilitator nantinya akan menunjukkan kepada peserta potongan-potongan karton yang menampilkan tulisan-tulisan dalam bentuk pernyataan yang saling berlawanan (Pernyataan A ꭢ B) o Saat bermain, setiap satu pernyataan A akan ditunjukkan bersamaan dengan satu pernyataan B. o Setiap kali menunjukkan satu pernyataan A dan satu pernyataan B, fasilitator juga menempelkan pernyataan yang saling berlawanan tersebut di papan tulis dengan posisi pernyataan A di sisi kiri dan pernyataan B di sisi kanan. o Untuk melaksanakan permainan ini, peserta dibagi menjadi 5 kelompok yang akan bermain secara bergantian. o Masing-masing kelompok yang akan bermain, diminta untuk bersama-sama maju ke depan dengan jarak kurang lebih 3 meter dari papan tempat tulisan pernyataan A atau B akan ditempel. o Peserta yang mengikuti permainan, harus memperhatikan dengan cermat setiap pernyataan yang ditunjukkan oleh fasilitator dan kemudian siap memilih pernyataan yang sesuai dengan pilihan hatinya masing-masing ataupun kondisi batinnya saat itu.

• Setelah memilih dalam hati, peserta diminta memberikan reaksi dengan bergerak mengambil posisi berdiri di depan tulisan yang telah dipilih sesuai dengan pilihan hatinya. • Fasilitator mengajak peserta bermain “Langkah Panggilanku” • Fasilitator mendalami permainan bersama peserta dengan pertanyaan: “Apa makna yang Anda temukan dalam permainan tersebut terkait dengan panggilan hidup Anda ?” • Fasilitator merangkum semua tanggapan peserta dengan kesimpulan yang intinya: hidup dibentuk oleh pilihan-pilihan kecil setiap hari, dan panggilan Allah mulai tampak dalam langkah-langkah yang dipilih dengan berani.

6. Mengajak peserta menanggapi panggilan Allah dalam hidup sehari-hari (30 menit) a) Peserta membacakan teks Kitab Suci dari Yeremia 1 :1-8. b) Setiap peserta menuliskan pada secarik kertas yang telah dibagikan: • Sebuah kalimat untuk menanggapi kata-kata Allah dalam ayat 7 dari kitab Yeremia 1 :1-8 • Satu ayat dari teks Kitab Suci Yer.1:1-8 yang mampu membuat dirinya berani menanggapi panggilan Allah dan mempercayakan hidupnya kepada Allah c) Beberapa peserta diminta sharing untuk teman- temannya bertolak dari jawaban yang telah ditulisnya. d) Peserta melakukan refleksi pribadi: • Peserta menerima kartu kecil bertuliskan 'Aku dipanggil untuk ............ ' • Peserta melengkapi kalimat tersebut dengan satu komitmen sederhana • Beberapa peserta diberi kesempatan membacakan isi kartu yang sudah ditulisnya e) Fasilitator memberi peneguhan dengan menyampaikan kepada peserta bahwa Allah tidak menunggu kita menjadi hebat dulu untuk memanggil kita. Pandangan Allah tentang diri kita tidak selalu sama dengan pandangan kita sendiri. Justru karena Allah menyertai, kita diharapkan berani melangkah. Frassati telah menunjukkan bahwa orang muda pun bisa hidup kudus.

7. Penutup (10 menit) a) Fasilitator memimpin doa penutup. Saat berdoa, peserta diminta untuk menadahkan tangannya sebagai tanda dan simbol penyerahan bakat, ketakutan, serta masa depannya kepada Allah. b) Peserta menyanyikan lagu penutup: 'Ku Mau Cinta Yesus Selamanya' dengan link YouTube : https://youtu.be/Gaelc7vVZFc c) Peserta membawa pulang kartu komitmennya dan saat di rumah dapat meletakkan kartu tersebut di tempat yang mudah dilihat selama satu minggu.

❖ Tema 2:“Jangan Ghosting Allah: Stay Connected!” Waktu: 100 menit Materi: 1.Teladan kehidupan doa Frassati: Misa harian, rosario, adorasi. 2.Dalam terang Yohanes 15:4-5, Yesus mengajak setiap murid untuk tinggal di dalam Dia agar menghasilkan buah iman. 3.Relasi personal dengan Kristus dibangun melalui doa dan kesetiaan dalam memelihara kehidupan rohani. 4.Dimensi kontemplatif sebagai dasar kehidupan sehari-hari. Tujuan: 1. Peserta mengenal kehidupan doa Frassati sebagai teladan dalam mengembangkan relasinya dengan Kristus. 2. Peserta memahami pesan Yohanes 15:4-5 tentang pentingnya tinggal dalam Kristus. 3. Peserta menyadari pentingnya membangun relasi personal dengan Allah dalam kehidupannya sebagai orang beriman. 4. Peserta menumbuhkan kebiasaan berdoa secara pribadi agar hidup orang muda tetap berakar dalam Kristus.

Metode: Aktivitas bersama, tanya jawab, refleksi iman Sarana: Pertemuan kelompok. Sumber Bahan: 1. Kitab Suci Yohanes 15:4–5 2. Kisah spiritualitas Frassati Langkah-Langkah Katekese: 1. Pembuka (5 menit) a) Fasilitator memulai sesi dengan salam pembuka dalam suasana hening. Suasana di ruangan pertemuan diciptakan sedikit lebih tenang dari biasanya. b) Fasilitator memimpin doa pembuka, memohon Roh Kudus menolong peserta berjumpa secara personal dengan Yesus. 2. Mengajak peserta menyadari kondisi hati mereka saat ini (15 menit) a) Fasilitator mengajak peserta melakukan permainan ‘Cek Sinyal Hati’ untuk melihat keadaan hati mereka dengan bertanya : Ibarat sinyal HP, bagaimana kondisi sinyal hati mereka saat ini kepada Allah ? Apakah sinyal hati mereka sedang full bar, satu bar, atau no signal. b) Fasilitator menegaskan bahwa dalam permainan ini tidak ada jawaban yang salah atau memalukan, sebab kegiatan ini bukan penilaian iman, melainkan cara jujur melihat keadaan hati masing-masing.

c) Fasilitator menjelaskan bahwa dalam permainan ini, jawaban peserta terhadap pertanyaan fasilitator, harus dilakukan dengan gerakan tangan dengan memperhatikan gambar berikut ini: Gambar 3.1. Cek Sinyal Hati

• Full bar: dengan dua tangan yang diarahkan ke depan dalam posisi terbuka , yang artinya peserta merasa cukup dekat dengan Allah, lebih siap berdoa, atau sedang rindu pada Allah. • Setengah sinyal: satu tangan diletakkan di dada, yang artinya peserta masih ingin dekat dengan Allah, tetapi sedang lelah, terdistraksi, atau kurang fokus. • No signal: tangan disilangkan di depan dada atau kedua tangan diturunkan ke bawah yang artinya peserta sedang merasa jauh dari Allah, malas berdoa, bingung, atau tidak merasakan koneksi dengan Allah. d) Fasilitator mengajak peserta memulai permainan dengan menghitung bersama: “Satu, dua, tiga!” dan masing-masing peserta langsung harus melakukan gerakan tangan yang menunjukkan kondisi sinyal hatinya kepada Allah yang dialami saat itu. e) Fasilitator meminta kesediaan 2–3 peserta untuk membagikan alasan singkat atas gerakan yang dipilihnya ketika harus menjelaskan kondisi signal hatinya kepada Allah. Pertanyaan yang dapat diajukan fasilitator misalnya: • “Mengapa kamu memilih gerakan itu?” • “Apa yang paling memengaruhi hubunganmu dengan Allah akhir-akhir ini?” • “Apa yang biasanya membuat sinyalmu dengan Allah menjadi lemah?”

f) Fasilitator menutup bagian ini dengan menegaskan bahwa kadang orang bisa terus terhubung dengan dunia, tetapi justru terputus dari Allah. Apapun kondisi yang dialami oleh hati manusia, Allah tetap hadir dan tidak menjauh dari manusia yang dikasihiNya. Oleh karena itu, waktu yang kita gunakan sejenak untuk meninjau kondisi sinyal hati kita kepada Allah, sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk kembali membangun relasi dengan Allah, tinggal di dalam Allah dan membiarkan Allah juga tinggal di dalam hidup kita masing-masing. 3. Memperkenalkan kehidupan doa St Pier Giorgio Frassati (20 menit) a) Peserta menyimak tayangan video singkat St. Pier Giorgio Frassati melalui link YouTube sebagai berikut: https://youtu.be/c3B9upPlnsU b) Peserta mendalami kisah kehidupan St. Pier Giorgio Frassati dengan menjawab pertanyaan sebagai berikut: • Dari video tadi, bagian manakah yang menunjukkan kalau Frassati sungguh dekat dengan Allah?

• Menurut Anda, mengapa Frassati tetap meluangkan waktu untuk berdoa di tengah kesibukannya sehari-hari yang padat dengan aktivitas dan di tengah upayanya dalam membangun relasi dengan teman- temannya.? • Setelah melihat kehidupan Frassati, apa yang dapat menginspirasi kalian terkait dengan kehidupan doa? c) Fasilitator menegaskan bahwa Frassati membangun hidup yang akrab dengan Allah melalui kesetiaannya mengikuti Misa harian, berdoa rosario, dan adorasi. Dari relasi doa yang sederhana dan dilakukan dengan penuh kesetiaan, Frassati memperoleh kekuatan untuk menjalani studi, persahabatan, dan pelayanan sosial. Oleh karena itu, orang muda pun diajak menyadari bahwa mereka juga dapat membangun relasi yang nyata dengan Allah melalui kebiasaan doa sehari-hari.

4. Mengajak peserta memahami pentingnya membangun relasi yang intim dengan Yesus Kristus sebagai Sumber Kehidupan (20 menit) a) Fasilitator mengajak peserta duduk tenang dan hening sejenak. Peserta diminta menenangkan hati serta menyadari bahwa mereka sedang datang kepada Yesus yang ingin berbicara melalui Sabda-Nya. b) Fasilitator mengawali pembacaan Kitab Suci dengan tanda salib dan berdoa untuk memohon kepada Roh Kudus agar peserta diberi hati yang terbuka untuk mendengarkan Sabda Allah. c) Fasilitator atau salah satu peserta membacakan Yohanes 15:4–5 dengan perlahan, sementara itu, masing-masing peserta diminta mendengarkan dengan khusyuk. d) Peserta diajak hening sejenak dan dalam keheningan mencoba menemukan apa pesan Allah Yesus untuk dirinya secara pribadi. e) Fasilitator menciptakan suasana doa di dalam ruang pertemuan, dan memberi kesempatan kepada peserta untuk mengungkapkan pesan Allah kepada dirinya masing-masing. f) Fasilitator memberikan peneguhan kepada peserta yang intinya bahwa dalam Kitab Suci Yohanes 15:4-5, Yesus mengajarkan pentingnya tinggal di dalam Dia. Sebagaimana ranting tidak dapat hidup tanpa pokok anggur, demikian pula hidup orang beriman tidak dapat berbuah tanpa hubungan yang dekat dengan Yesus.

Mengajak peserta membuat komitmen untuk menumbuhkan kebiasaan berdoa (30 menit) a) Fasilitator mempersiapkan permainan dengan judul: “Cari Sumber Sinyal”, dengan cara : • Menyiapkan alat dan bahan sebagai berikut : o Kertas HVS atau kertas warna o Spidol besar o Selotip/lakban kertas o Kertas kecil untuk komitmen pribadi o Pulpen atau pensil b) Fasilitator menyiapkan beberapa tulisan di kertas yang isinya menggambarkan hal-hal /kondisi-kondisi yang dapat membantu ataupun menghambat peserta menjalin relasi dengan Allah misalnya: Kitab Suci, misa, rosario, meditasi, media sosial, bermain game, sibuk bekerja, berdoa, rasa malas, rasa bosan, membaca injil, rekoleksi, retret, dsb. c) Fasilitator meletakkan tulisan-tulisan tersebut secara acak dan menyebar di sekeliling ruangan pertemuan. d) Peserta diberi kesempatan untuk berkeliling ruangan sambil membawa catatan pribadi untuk mencatat: • Mana hal/kondisi dalam tulisan-tulisan tersebut yang dapat membantunya untuk membangun relasi dengan Allah • Mana hal/kondisi dalam tulisan-tulisan tersebut yang dapat menghambatnya menjalin relasi dengan Allah

e) Peserta diajak untuk membuat komitmen dalam membangun relasi yang intim bersama Allah dengan langkah sebagai berikut: • Peserta menentukan 2 hal/kondisi yang terdapat dalam tulisan-tulisan tersebut untuk dijadikan sebagai kegiatan atau kebiasaan baru yang akan dipilihnya dalam upaya membangun relasi dan kedekatannya dengan Allah. • Secara khusus, peserta juga diminta membuat satu komitmen yang dapat dilakukannya terkait dengan kehidupan doanya untuk 1 bulan ke depan. 6. Penutup (10 menit) a) Peserta yang bersedia dan tergerak diharapkan dapat memimpin doa penutup. b) Peserta menyanyikan lagu penutup 'Tinggallah Bersama Aku’ sambil bergandengan tangan. (lihat link https://youtu.be/2jLzeBp3Yak ) c) Fasilitator menutup pertemuan dengan kalimat penutup: 'Jangan ghosting Allah. Saat kamu kembali pada-Nya, Allah tidak pernah membalas dengan menjauh.'

❖Tema 3: “Allah Dapat Ditemui di Cerita Hidup kamu!” Waktu: 160 menit Materi: 1. Frassati menemukan Allah dalam keindahan alam dan kehidupan sehari-hari. 2. Kitab Kejadian 9:12-17, menggambarkan kehadiran Allah melalui “pelangi” yang merupakan tanda perjanjian dan kesetiaan Allah kepada manusia 3. Kehadiran Allah yang mengasihi dapat dialami melalui relasi manusia dengan seluruh ciptaanNya dan pengalaman hidup manusia sehari-hari. 4. Manusia perlu bersikap terbuka untuk mengembangkan kepekaan akan kehadiran dan karya Allah dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan: 1. Peserta meneladani cara hidup Frassati yang mampu menemukan Allah dalam segala peristiwa kehidupan sehari-hari. 2. Peserta memahami pesan Kejadian 9 :12-17 mengenai tanda kehadiran dan kesetiaan Allah melalui ciptaan dan berbagai peristiwa kehidupan. 3. Peserta mengembangkan sikap syukur dan kepekaan rohani dalam melihat karya Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Metode: Observasi lingkungan/pengalaman hidup, sharing kelompok, refleksi iman kelompok. Sarana: Pertemuan kelompok. Sumber Bahan: 1. Kitab Suci Kejadian 9:12–17 2. Lingkungan sekitar sebagai sarana refleksi iman. Langkah-Langkah Katekese: 1. Pembuka (10 menit) a) Fasilitator menyapa peserta dan memimpin doa singkat memohon hati yang peka melihat karya Allah. b) Fasilitator memberi pengantar bahwa jika pada pertemuan sebelumnya peserta belajar tinggal dekat dengan Allah, maka pada pertemuan ini mereka diajak belajar melihat bahwa Allah juga hadir dalam alam dan cerita hidup sehari-hari. ‘Sering kita berpikir Allah hanya hadir di gereja padahal Frassati juga menjumpai Allah di gunung, dalam persahabatan, dan dalam kehidupan yang nyata.’ 2. Mengajak peserta untuk menemukan kehadiran Allah melalui bacaan teks Kejadian 9:12-7 dan video singkat napak tilas pendakian gunung (40 menit) a) Fasilitator mengajak peserta mengamati jejak iman Frassati dalam alam melalui cuplikan singkat video napak tilas pendakian gunung Pier Giorgio Frassati di link youtube https://youtu.be/GQxrWMQOxNs Sebelum video diputar, fasilitator menjelaskan secara singkat bahwa Frassati adalah orang muda yang mencintai Allah, sesama, dan juga alam ciptaan.

Setelah video ditonton, fasilitator mengajak peserta menyebutkan kesan singkat tentang suasana gunung, perjalanan pendakian, atau hal yang mereka tangkap dari pengalaman Frassati di alam dari perjalanan napak tilas orang muda di Italy. b) Fasilitator mengajak salah satu peserta membacakan teks Kitab Suci Kejadian 9:12–17. Setelah pembacaan, fasilitator memberi waktu hening singkat untuk peserta membaca kembali dalam hati, mengingat gambaran utama dalam bacaan, terutama tanda pelangi sebagai tanda perjanjian Allah. c) Fasilitator mengajak peserta mendalami pengalaman menonton video dan mendengarkan Sabda Allah dengan menuliskan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan berikut: • Dalam bacaan ini, relasi Allah dengan manusia digambarkan dengan pelangi. Kalau relasimu dengan Allah digambarkan dengan sebuah simbol, simbol apa yang kamu pilih? Mengapa? • Setelah melihat video pendakian Frassati dan mendengar bacaan Kitab Suci, menurutmu apakah Allah bisa dialami juga lewat alam? Bagian mana dari alam yang paling membuatmu merasa Allah itu dekat? • Dalam hidupmu sekarang, hal kecil apa yang terasa seperti “pelangi”, yaitu tanda bahwa Allah masih hadir dan peduli kepadamu?

d) Fasilitator merangkum jawaban peserta dengan menegaskan bahwa setiap orang dapat mengalami Allah dengan cara yang berbeda. Ada yang lebih mudah merasakan Allah saat berdoa, ada yang justru tersentuh saat melihat alam, langit, gunung, hujan, atau hal-hal sederhana dalam hidup. Fasilitator menegaskan bahwa jawaban peserta menunjukkan bahwa relasi dengan Allah itu nyata, walaupun dirasakan secara berbeda-beda. e) Fasilitator menegaskan bahwa dalam Kejadian 9:12–17, pelangi menjadi tanda kesetiaan Allah yang tidak meninggalkan manusia. Melalui teladan Frassati, peserta juga diajak melihat bahwa alam dapat menjadi tempat hati manusia lebih mudah terarah kepada Allah. Karena itu, alam ciptaan bukan hanya sesuatu yang indah untuk dilihat, tetapi juga bisa membantu manusia menyadari kasih, kehadiran, dan kesetiaan Allah dalam hidup. 3. Mengajak peserta menemukan kehadiran Allah melalui observasi lingkungan sekitar (60 menit) a) Peserta diajak untuk melakukan kegiatan Mini Contemplative Walk atau observasi lingkungan sekitar dengan hati yang peka. b) Peserta diajak keluar ruangan selama 15-30 menit (atau mengamati sekitar bila tidak memungkinkan keluar) untuk mencari tiga hal yang mengingatkan mereka pada kebaikan, keindahan, atau kehadiran Allah.

c) Peserta mencatat hasil pengamatan dalam format: - 'Aku melihat ...', - 'Aku merasa ...', ' - ‘Aku teringat bahwa Allah ...'. Jika memakai HP, peserta boleh memotret satu objek yang paling berbicara bagi mereka. d) Peserta diminta melakukan sharing dalam kelompok kecil, berbagi pengalaman dalam mini contemplative walk dengan panduan pertanyaan berikut ini: - Di pengalaman apa kamu merasa Allah dekat? - Di bagian hidup mana kamu justru sulit melihat Allah hadir? e) Fasilitator menutup kegiatan dengan menegaskan bahwa Allah tidak hanya hadir di gereja atau saat doa, tetapi juga dalam hidup sehari-hari: dalam keluarga, persahabatan, belajar, alam, bahkan dalam situasi terluka dan perjuangan hidup untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik. Allah selalu hadir dan menyertai, tetapi dibutuhkan hati yang peka untuk mengenali kehadiran-Nya. 4. Mengembangkan kepekaan rohani dan rasa syukur peserta melalui pengalaman hidup sehari-hari melalui aktivitas “Pelangi Hidupku” (40 menit) a) Fasilitator membagikan beberapa kartu/kertas warna kepada setiap peserta di dalam kelompok. Setiap warna melambangkan satu bagian pengalaman hidup. Fasilitator menjelaskan bahwa seperti pelangi yang terdiri dari berbagai warna, hidup manusia juga terdiri dari berbagai

pengalaman yang berbeda, tetapi semuanya dapat menjadi tempat untuk mengenali kasih dan kesetiaan Allah. b) Peserta kemudian diminta menuliskan pada setiap kartu warna: • warna 1: satu pengalaman yang paling mereka syukuri; • warna 2: satu pengalaman yang membuat mereka kecewa, sedih, atau terluka; • warna 3: satu harapan yang sedang mereka bawa dalam hati; • warna 4: satu relasi penting dalam hidup mereka, misalnya keluarga, sahabat, atau seseorang yang berarti; • warna 5: satu bagian hidup di mana mereka ingin belajar lebih peka melihat kehadiran Allah. Fasilitator memberi waktu beberapa menit agar peserta menulis dalam suasana tenang dan reflektif. c) Fasilitator menegaskan bahwa seperti pelangi yang terdiri dari banyak warna, hidup setiap orang juga berisi banyak pengalaman. Ada yang indah, ada yang berat, ada yang membingungkan. Namun Allah tetap hadir dalam semuanya. Pelangi dalam Kitab Suci mengingatkan bahwa Allah setia dan tidak pernah meninggalkan manusia. Begitu juga dalam hidup kita, Allah tetap menyertai dan bekerja melalui setiap pengalaman yang kita alami.

d) Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta kelompok masing-masing untuk berbagi cerita mengenai satu warna yang paling bermakna bagi mereka di dalam kelompok. Peserta tidak perlu membagikan semuanya; cukup satu pengalaman yang ingin mereka ceritakan. Untuk membantu sharing tetap terarah, fasilitator dapat memberi pertanyaan sederhana seperti: • “Mengapa warna itu yang paling bermakna bagimu?” • “Apa yang kamu pelajari terkait dengan pelangi yang sudah kamu temukan dalam hidupmu?” e) Setelah beberapa peserta berbagi, fasilitator menegaskan bahwa iman yang bertumbuh terlihat dari kemampuan seseorang untuk mengenali kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari. Allah hadir bukan hanya dalam hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga dalam pengalaman yang sulit, dalam harapan, dalam relasi, dan dalam proses hidup yang sedang dijalani. Pelangi sebagai tanda perjanjian Allah mengingatkan bahwa Allah tetap setia dan tidak pernah meninggalkan umat- Nya. f) Fasilitator mengajak peserta menyimpan kartu itu atau membawanya pulang sebagai pengingat bahwa hidup mereka, dengan segala warnanya, tetap berada dalam kasih dan penyertaan Allah.

5. Penutup (10 menit) a) Fasilitator memimpin doa penutup dengan ucapan syukur atas ciptaan, pengalaman hidup, dan kesetiaan Allah. b) Peserta menyanyikan lagu penutup “Semua Bunga Ikut Bernyanyi”, dengan gerak dan lagu dengan panduan link https://www.instagram.com/reel/DVLHBxkiQ- i/?igsh=MTh3MTBxbjB2YzBsZA==

❖ Tema 4: “Iman Bukan Cuma Caption Rohani!” Waktu: 90 menit Materi: 1. Pelayanan Frassati kepada kaum miskin dan sesama sebagai buah dari relasinya dengan Allah. 2. Dalam terang Yakobus 2:14-17, iman tanpa perbuatan adalah mati. 3. Spiritualitas kontemplatif-aktif, menegaskan kesatuan antara doa dan tindakan kasih. 4. Orang beriman dipanggil menjadi saksi kasih Allah dalam kehidupan sosial. Tujuan: 1. Peserta mengenal teladan Frassati dalam pelayanan kepada sesamanya, terutama mereka yang miskin. 2. Peserta memahami pesan Yakobus 2:14-17 bahwa iman harus diwujudkan dalam perbuatan kasih. 3. Peserta menyadari bahwa doa dan tindakan kasih merupakan satu kesatuan. 4. Peserta termotivasi untuk melakukan aksi kasih dalam kehidupan sehari-hari. Metode: Diskusi kelompok, studi kasus, perencanaan aksi kasih. Sarana: Pertemuan kelompok. Sumber Bahan: 1. Kitab Suci Yakobus 2:14-17 2. Kisah pelayanan Frassati

Langkah-Langkah Katekese: 1. Pembuka (10 menit) a) Fasilitator mengajak peserta masuk ke suasana pertemuan, membuka dengan doa, lalu mengantar tema melalui pertanyaan pemantik tentang iman yang tampak rohani tetapi belum nyata dalam kepedulian kepada sesama. Misalnya dengan pertanyaan berikut ini : “Menurut kalian, apakah seseorang bisa kelihatan rohani, tetapi sebenarnya kurang peduli pada sesama?” b) Beberapa peserta diberi kesempatan menjawab singkat. Fasilitator lalu menegaskan bahwa pertemuan ini akan membantu peserta melihat bahwa iman sejati tidak tidak berhenti pada kata- kata, tetapi tampak dalam tindakan kasih. 2. Mengajak peserta memahami iman yang diwujudkan dalam perbuatan melalui teladan Frassati dan pesan Yakobus (20 menit) a) Peserta menyaksikan, melalui link YouTube, kisah singkat tentang Frassati yang aktif melayani orang miskin, mengunjungi yang sakit, dan tidak memisahkan doa dari pelayanan. (https://youtu.be/lH3rjqD8zrA) b) Salah satu peserta membacakan teks kitab suci Yakobus 2:14–17, kemudian fasilitator membantu peserta melihat bahwa iman yang hidup selalu berbuah dalam tindakan kasih. Frassati tidak hanya berdoa atau berbicara tentang Allah. Kedekatannya dengan Allah

membuat ia sungguh peduli dan bertindak bagi sesama. Karena itu, iman yang hidup selalu berbuah dalam kasih. 3. Membimbing peserta mewujudkan iman dalam tindakan kasih yang konkret dalam kehidupan sehari-hari (30 menit) a) Fasilitator mengajak peserta menyadari bahwa sering kali seseorang merasa sudah cukup beriman karena tahu ajaran Allah, bisa berbicara baik, atau merasa iba kepada orang lain. Namun, Sabda Allah mengingatkan bahwa iman yang hidup harus tampak dalam perbuatan nyata. Karena itu, peserta akan melihat beberapa situasi yang dekat dengan kehidupan remaja dan mencoba menemukan tanggapan iman yang konkret. b) Peserta dibagi dalam 3 kelompok kecil. Setiap kelompok menerima satu studi kasus yang berbeda untuk didiskusikan dalam kelompoknya masing-masing. c) Peserta diajak membaca kasus dengan saksama, memahami situasi, tokoh, dan persoalan yang terjadi sebelum mencari jawabannya. Kelompok 1: Teman yang sedang kesulitan ekonomi Di sekolah, ada seorang teman yang sering hanya minum air saat jam istirahat. Ia jarang membeli makanan di kantin dan kadang berkata bahwa ia tidak lapar. Suatu hari, kamu mendengar bahwa orang tuanya sedang mengalami kesulitan

ekonomi. Beberapa teman mulai membicarakannya, tetapi tidak ada yang sungguh mendekat atau menolong. Kamu merasa iba, tetapi juga takut kalau bantuanmu membuat dia malu. Kelompok 2: Teman yang sedang sakit Ada seorang teman yang sudah beberapa hari tidak masuk sekolah karena sakit. Setelah kembali, ia tampak lemah dan kebingungan karena banyak pelajaran yang tertinggal. Beberapa teman hanya berkata, “Cepat sembuh ya,” tetapi sesudah itu tidak ada yang benar- benar membantu. Kamu sebenarnya ingin peduli, tetapi merasa repot karena kamu juga punya banyak tugas. Kelompok 3: Tetangga lansia yang hidup sendirian Di dekat rumahmu ada seorang nenek yang tinggal sendirian. Ia sudah tua dan jalannya pelan. Kadang kamu melihat ia kesulitan membawa belanjaan atau membersihkan halaman rumahnya. Banyak orang lewat dan melihat, tetapi jarang ada yang berhenti membantu. Kamu ingin menolong, tetapi kadang merasa malu atau berpikir bahwa itu bukan urusanmu.

d) Peserta dalam setiap kelompok diarahkan untuk mendiskusikan kasus dengan pertanyaan panduan kelompok berikut ini: • Apa masalah yang terjadi dalam kasus ini? • Apa yang mungkin dirasakan oleh orang yang mengalami situasi itu? • Jika kamu ada di situasi itu, apa tindakan kasih yang bisa kamu lakukan? • Mengapa tindakan itu menunjukkan iman yang hidup? e) Setelah diskusi selesai, setiap kelompok diajak mempresentasikan hasil diskusi secara singkat, meliputi isi kasus dan hasil pembahasannya. Kelompok lain dapat menambahkan pendapat atau usulan tindakan yang lain. f) Fasilitator menutup kegiatan dengan menegaskan bahwa iman yang hidup tidak berhenti pada rasa kasihan, kata-kata baik, atau niat di dalam hati. Iman yang sungguh bertumbuh akan terlihat dalam keberanian untuk peduli, menolong, hadir, dan melakukan kebaikan secara nyata, meskipun dimulai dari hal-hal kecil. 4. Mengajak peserta untuk mengisi untuk melakukan aksi dan komitmen (20 menit) Peserta mengisi lembar “Aksi Kasih 7 Hari” dengan menuliskan: • kepada siapa, • tindakan yang akan dilakukan, • kapan dilakukan, • alasan iman di balik tindakan itu.

4. Penutup (10 menit) a) Fasilitator mengajak peserta menutup pertemuan dengan doa bagi sesama yang menderita, dilanjutkan dengan lagu penutup “Melayani Lebih Sungguh “ dengan iringan link YouTube https://youtu.be/5u4Rjs4059U, dan ajakan menjalankan komitmen kasih dalam kehidupan sehari-hari. b) Bila kondisi memungkinkan, rencana aksi peserta digabungkan menjadi satu gerakan kecil, misalnya kunjungan, paket kasih, atau aksi peduli lingkungan.

❖ Tema 5: “Sekarang Aku Tahu Arah Hidupku!” Waktu: 125 menit Materi: 1. Teladan Frassati yang mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah melalui moto Verso l'Alto (“menuju ke atas”). 2. Dalam terang Kolose 3:1-5, orang beriman diajak mengarahkan hati kepada perkara yang di atas. 3. Orang muda dipanggil membangun komitmen hidup yang selaras dengan nilai Injil. Tujuan: 1. Peserta mengenal orientasi hidup Frassati yang terarah kepada Allah. 2. Peserta memahami pesan Kolose 3:1-5 tentang hidup yang berorientasi kepada Allah. 3. Peserta merefleksikan arah hidup pribadi sebagai orang muda Katolik. 4. Peserta membuat komitmen hidup yang selaras dengan nilai Injil. Metode: Refleksi mendalam, sharing refleksi iman, penulisan komitmen, doa bersama Sarana: Pertemuan kelompok Sumber Bahan: 1. Kitab Suci Kolose 3 :1-5 2. Kisah hidup Pier Giorgio Frassati

Langkah-Langkah Katekese: 1. Pembuka (10 menit) a) Fasilitator menyambut peserta dan memimpin doa pembuka agar Allah menolong peserta melihat hidup mereka dengan jujur, mengenali arah hidup mereka, dan semakin berjalan dekat dengan-Nya melalui teladan Pier Giorgio Frassati dan Sabda Allah. b) Peserta diajak menyadari bahwa sesi ini akan membantu mereka melihat satu hal penting dalam hidup, yaitu arah hidup. Fasilitator menegaskan bahwa setiap orang sedang berjalan dalam perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang sedang semangat, ada yang sedang bingung, ada yang merasa jalannya pelan-pelan, dan ada pula yang mulai menemukan arah. Oleh karena itu, peserta diajak belajar dari teladan Pier Giorgio Frassati dan dari Sabda Allah agar semakin menyadari ke mana hidup mereka sedang diarahkan. 2. Mengajak peserta melakukan aktivitas “Posisi Hidupku Saat Ini” untuk menyadari posisi batin perjalanan hidup mereka saat ini (20 menit) a) Fasilitator menempelkan satu gambar besar jalur pendakian di depan ruangan, dan setiap peserta menerima satu stiker atau satu post-it kecil. Contoh gambar pendakian seperti berikut ini.

Gambar 3.2. Posisi Hidupku Saat Ini b) Peserta diminta maju ke depan secara bergantian, untuk menempelkan stiker pada titik yang paling menggambarkan keadaan hidup mereka saat ini. c) Setelah semua peserta menempelkan stiker, fasilitator mengajak mereka melihat hasilnya bersama. d) Fasilitator menjelaskan bahwa gambar jalur pendakian melambangkan perjalanan hidup. Fasilitator menegaskan bahwa setiap orang dapat berada di titik yang berbeda. Ada yang merasa baru mulai berjalan, ada yang sedang bingung, ada

yang naik pelan-pelan, ada yang mulai bertumbuh, dan ada yang merasa arah hidupnya mulai semakin jelas. e) Fasilitator juga meneguhkan bahwa Allah hadir dalam setiap tahap hidup, baik saat seseorang masih bingung, berjalan pelan, maupun mulai bertumbuh. 3. Mengenal Frassati sebagai teladan orang muda yang hidupnya memiliki arah yang jelas (15 menit) a) Peserta diajak mendengarkan kisah singkat tentang Frassati melalui link https://youtu.be/TWWPkPHVENM b) Fasilitator menjelaskan bahwa Pier Giorgio Frassati adalah orang muda yang hidupnya penuh semangat. Seperti anak muda pada umumnya, ia adalah seorang yang menuntut ilmu, bersahabat, mendaki gunung, dan melayani orang lain. Dari kegemarannya mendaki gunung, lahirlah semboyan Verso l’Alto, yang berarti “menuju ke atas”. c) Fasilitator lalu menegaskan bahwa bagi Frassati, “ke atas” bukan sekadar soal mendaki gunung, melainkan mengarahkan hati, pilihan, dan seluruh hidup kepada Allah. Frassati digambarkan sebagai pribadi yang tidak memisahkan doa dari hidup sehari-hari. Ia belajar dengan sungguh-sungguh, bersahabat dengan hangat, menolong sesama, dan tetap

setia kepada Allah. Dengan demikian, Verso l’Alto bukanlah ajakan untuk melarikan diri dari dunia, melainkan ajakan untuk menjalani hidup sehari-hari dengan arah yang benar. d) Peserta diajak merenungkan apa arti hidup yang mempunyai arah, serta membedakan antara hidup yang memiliki arah dengan hidup yang sekadar mengikuti arus. e) Fasilitator menegaskan bahwa memiliki arah hidup tidak berarti seseorang sudah mengetahui seluruh masa depannya. Memiliki arah hidup berarti mulai belajar menempatkan Allah sebagai pusat hidup, lalu menjalani hidup sehari-hari melalui pilihan-pilihan yang mengarah kepada-Nya. 4. Mendalami sabda Allah dalam Kolose 3 :1-5 untuk membantu peserta memahami arah hidup orang beriman (20 menit) a) Peserta diajak menciptakan suasana hening untuk mendengarkan sabda Allah dari rasul Paulus di Kolose 3:1-5. Salah seorang membacakan dengan perlahan dan jelas. b) Peserta diminta memperhatikan satu kata atau satu kalimat dari teks kitab suci yang telah dibacakan, yang paling menyentuh dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: • “Kata atau kalimat mana yang paling menantang bagi anda?” • “Apa artinya ‘mencari perkara yang di atas’ bagi anda?”

• “Bagaimana kita tetap hidup di dunia ini, tetapi hati kita tetap diarahkan kepada Allah?” c) Beberapa peserta diajak berbagi jawaban atas pertanyaan refleksi di atas, kemudian fasilitator menegaskan bahwa melalui Sabda tersebut, Allah mengajak peserta menata hati dan hidup mereka. Meskipun mereka tetap hidup di dunia ini, belajar, berteman, dan menjalani kegiatan sehari-hari, hati mereka diarahkan kepada Kristus. Itulah hidup yang mempunyai arah. 5. Membimbing peserta merefleksikan keadaan dirinya secara pribadi, melihat arah yang ingin dituju, dan memilih satu langkah kecil yang konkret (20 menit) a) Fasilitator menyiapkan lembar refleksi yang berisi 3 kalimat, yang akan dibagikan kepada seluruh peserta. Tabel 3.4. Lembar Refleksi

b) Peserta diarahkan untuk membuat refleksi pribadi secara singkat. Mereka tidak perlu menulis panjang, melainkan cukup mengisi tiga bagian yang tersedia dengan jujur dan sederhana. Perlu disampaikan juga bahwa tidak ada jawaban benar atau salah. c) Setelah kegiatan menulis selesai, fasilitator meneguhkan bahwa yang terpenting bukanlah langsung menjadi sempurna, melainkan berani memilih arah yang benar dan melangkah sedikit demi sedikit dengan setia. 6. Membimbing peserta mengungkapkan refleksinya secara sederhana dan belajar mendengarkan (20 menit) a) Peserta duduk berpasangan dengan teman di sebelahnya dan membagikan secara singkat apa yang paling mereka sadari hari itu, serta langkah kecil yang ingin mereka lakukan. Fasilitator menegaskan bahwa peserta tidak perlu membagikan seluruh isi refleksinya, melainkan cukup bagian yang ingin mereka ceritakan. b) Fasilitator menutup sesi refleksi dengan menegaskan bahwa arah hidup tidak dibangun sekaligus, melainkan melalui pilihan-pilihan kecil yang dijalani dengan setia. c) Peserta diminta untuk membawa pulang kartu komitmen yang telah dibuatnya, dan disimpan baik- baik untuk menjadi pengingat akan arah yang dituju melalui hal yang sederhana dan bisa segera dilakukan. Komitmen kecil yang sungguh dijalankan sering kali lebih berarti daripada niat besar yang

tidak diwujudkan. Allah melihat kesungguhan hati dan langkah-langkah kecil yang dijalani dengan setia. 7. Penutup (15 menit) a) Peserta diajak berdiri melingkar, bila memungkinkan, peserta memegang lilin kecil. Bila tidak memungkinkan, peserta dapat meletakkan tangan di dada. b) Fasilitator kemudian memimpin doa penyerahan hidup dengan memohon agar Allah menolong peserta menata hati, pilihan, dan langkah mereka supaya semakin dekat kepada-Nya. Dalam doa itu, fasilitator dapat menekankan bahwa seperti Pier Giorgio Frassati, peserta pun dipanggil untuk berjalan Verso l’Alto, menuju Allah, serta memohon kekuatan agar mereka setia dalam langkah-langkah kecil yang baik. c) Setelah doa, peserta diajak menyanyikan lagu penutup “Verso L’Alto” dengan melodi yang sudah disiapkan. Pada bagian akhir lagu, peserta dapat diajak mengucapkan seruan “Verso l’Alto” bersama- sama dengan gerakan tangan terangkat ke atas sebagai simbol arah hidup yang tertuju kepada Allah. d) Pada penutup sesi, fasilitator menegaskan bahwa Verso l’Alto bukan sekadar semboyan Frassati, melainkan juga dapat menjadi arah hidup peserta. Meskipun mereka belum sempurna dan mungkin masih berjalan pelan, mereka sedang berada di jalan yang benar selama hati mereka terus diarahkan kepada Allah.

LAGU PENUTUP “Verso L’Alto” (dapat dinyanyikan dengan melodi “Naik-Naik ke Puncak Gunung”) Verso l’alto, verso l’alto, moto Giorgio Frassati Verso l’alto, verso l’alto, menuju tempat yang tinggi Berjalan bersama Allah dalam doa dan karya Berjalan bersama Allah dalam suka dan duka Seruan penutup: VERSO L’ALTO!

KESIMPULAN DAN SARAN PENGGUNAAN MODUL Bab 5

A. Kesimpulan Tugas akhir ini disusun sebagai proyek kewirausahaan pendidikan yang bertujuan menghasilkan sebuah modul pembinaan iman bagi Orang Muda Katolik berdasarkan model spiritualitas kontemplatif-aktif Santo Pier Giorgio Frassati. Bertolak dari kajian literatur tentang kehidupan Santo Pier Giorgio Frassati, dokumen-dokumen Gereja, serta kebutuhan pembinaan iman orang muda masa kini, dapat disimpulkan bahwa keteladanan hidup Frassati memiliki relevansi yang kuat bagi pembinaan iman OMK, khususnya usia 13–18 tahun. Santo Pier Giorgio Frassati menunjukkan bahwa kekudusan tidak terpisah dari kehidupan nyata orang muda. Ia menghayati iman melalui relasi yang mendalam dengan Allah, terutama melalui doa, Ekaristi, devosi kepada Bunda Maria, dan kecintaannya pada alam sebagai ruang kontemplasi. Namun, kehidupan rohani tersebut tidak berhenti pada kesalehan pribadi. Relasi Frassati dengan Allah justru mendorongnya untuk hadir secara konkret bagi sesama, terutama bagi kaum miskin, orang sakit, dan mereka yang membutuhkan perhatian. Dengan demikian, spiritualitas Frassati memperlihatkan kesatuan antara kontemplasi dan aksi, antara kedekatan dengan Allah dan keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial. Model spiritualitas kontemplatif-aktif ini penting bagi pembinaan iman OMK masa kini yang hidup di tengah arus perubahan sosial, perkembangan teknologi, budaya instan, serta berbagai tantangan dalam membangun identitas diri dan arah hidup. Dalam situasi tersebut, OMK

membutuhkan pembinaan iman yang tidak hanya memberi pengetahuan agama, tetapi juga menolong mereka mengalami iman sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Iman perlu dipahami sebagai relasi personal dengan Kristus yang berbuah dalam tindakan kasih, kepedulian terhadap sesama, tanggung jawab terhadap ciptaan, serta keberanian menentukan arah hidup yang sesuai dengan kehendak Allah. Berdasarkan kajian tersebut, modul pembinaan iman yang disusun dalam tugas akhir ini dirancang sebagai sarana pendampingan yang kreatif, kontekstual, dan aplikatif. Modul ini tidak hanya memperkenalkan sosok Santo Pier Giorgio Frassati sebagai teladan orang muda Katolik, tetapi juga mengajak peserta untuk mengolah pengalaman hidup mereka sendiri. Melalui lima tema utama, peserta dibimbing untuk menyadari bahwa mereka dikasihi dan dipanggil Allah, membangun relasi personal dengan Kristus, menemukan kehadiran Allah dalam kehidupan dan alam ciptaan, mewujudkan iman dalam tindakan kasih, serta menentukan arah hidup yang semakin terarah kepada Allah. Dengan demikian, modul ini dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi pastoral bagi pembinaan iman OMK. Modul ini menawarkan alur pembinaan yang berjenjang, mulai dari pengenalan diri dan panggilan, pendalaman relasi dengan Tuhan, kepekaan terhadap kehadiran Allah dalam hidup sehari-hari, perwujudan iman dalam aksi kasih, hingga komitmen untuk menjalani hidup dengan

arah yang jelas. Seluruh proses tersebut diharapkan membantu OMK menghayati iman secara lebih utuh, bukan hanya sebagai pengetahuan, kebiasaan religius, atau kegiatan gerejawi semata, tetapi sebagai cara hidup yang menyatukan doa, persahabatan, studi, pelayanan, dan tanggung jawab sosial. Namun demikian, modul yang dihasilkan dalam tugas akhir ini masih merupakan produk awal. Modul ini disusun berdasarkan kajian literatur dan rancangan pastoral- pedagogis, sehingga masih membutuhkan uji coba, evaluasi, dan penyempurnaan lebih lanjut. Penggunaan modul di paroki atau komunitas OMK perlu disesuaikan dengan konteks peserta, jumlah pendamping, waktu yang tersedia, budaya komunitas, serta kebutuhan pastoral setempat. Oleh karena itu, modul ini terbuka untuk dikembangkan agar semakin efektif, komunikatif, dan sesuai dengan dinamika pembinaan iman orang muda Katolik. B. Saran Untuk Penggunaan Modul Agar modul pembinaan iman berbasis spiritualitas kontemplatif-aktif Santo Pier Giorgio Frassati ini dapat digunakan secara efektif, beberapa usulan berikut perlu diperhatikan. Pertama, modul ini sebaiknya digunakan dalam kegiatan pembinaan iman OMK secara berproses, bukan sebagai kegiatan satu kali pertemuan yang berdiri sendiri. Kelima tema dalam modul telah disusun secara bertahap dan saling berkaitan. Oleh karena itu, pendamping disarankan

menggunakan modul ini sebagai rangkaian pembinaan yang utuh, sehingga peserta dapat mengalami proses pertumbuhan iman secara lebih mendalam dan terarah. Jika waktu yang tersedia terbatas, pendamping dapat menyesuaikan durasi setiap pertemuan, tetapi tetap perlu menjaga kesinambungan antar-tema. Kedua, modul ini perlu digunakan dengan memperhatikan usia dan kondisi peserta. Sasaran utama modul adalah OMK usia 13–18 tahun, sehingga bahasa, contoh kasus, aktivitas, dan pertanyaan refleksi perlu disampaikan dengan sederhana, konkret, dan dekat dengan pengalaman remaja. Fasilitator perlu menghindari penjelasan yang terlalu abstrak atau terlalu berat secara teologis. Pendampingan sebaiknya dilakukan dengan suasana yang hangat, partisipatif, dan tidak menggurui, agar peserta merasa aman untuk berefleksi dan berbagi pengalaman. Ketiga, fasilitator perlu mempersiapkan diri sebelum menggunakan modul. Persiapan ini mencakup pemahaman terhadap sosok Santo Pier Giorgio Frassati, pokok-pokok spiritualitas kontemplatif-aktif, tujuan setiap sesi, alur kegiatan, bahan Kitab Suci, media yang diperlukan, serta kemungkinan dinamika yang muncul selama proses berlangsung. Fasilitator tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu peserta menghubungkan teladan Frassati dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Keempat, modul ini sebaiknya digunakan secara fleksibel

sesuai dengan konteks komunitas. Dalam hal ini, paroki, sekolah, lingkungan, komunitas kategorial, atau kelompok OMK dapat menyesuaikan bentuk-bentuk kegiatannya dengan situasi komunitasnya masing-masing. Beberapa aktivitas dapat dibuat lebih singkat, diperluas, atau diganti dengan metode lain asalkan tetap sejalan dengan tujuan sesi. Penyesuaian tersebut perlu dilakukan tanpa menghilangkan inti modul, yaitu membantu OMK memiliki relasi yang intim dengan Allah dan memiliki keberanian untuk mewujudkan tindakan kasih kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari dalam terang iman. Kelima, penggunaan modul ini perlu didukung oleh evaluasi sederhana setelah kegiatan berlangsung. Evaluasi dapat dilakukan melalui refleksi peserta, pengamatan fasilitator, diskusi bersama tim pendamping, atau lembar umpan balik singkat. Evaluasi ini penting untuk mengetahui apakah tujuan setiap sesi tercapai, apakah kegiatan mudah dipahami oleh peserta, apakah metode yang digunakan efektif, dan bagian mana yang perlu disempurnakan. Hasil evaluasi tersebut dapat menjadi dasar untuk memperbaiki modul dan proses pembinaan bagi orang muda yang akan digunakan di kemudian hari. Keenam, modul ini dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai bahan pembinaan berkelanjutan bagi OMK. Pengembangan dapat dilakukan dengan menambahkan bahan pendalaman, lembar kerja peserta, panduan fasilitator yang lebih rinci, media visual, video pengantar, atau aktivitas lanjutan seperti aksi sosial, retret singkat, ziarah alam, atau kegiatan pelayanan. Dengan

pengembangan tersebut, modul ini tidak hanya menjadi bahan pembinaan di dalam ruangan, tetapi juga dapat mendorong OMK untuk menghidupi iman secara nyata dalam keluarga, sekolah, Gereja, dan masyarakat. Ketujuh, dalam pendampingan orang muda Katolik di tingkat paroki, dibutuhkan kerja sama lintas bidang pastoral maupun kerjasama antar seksi, seperti halnya dengan Seksi Kepemudaan, Seksi Katekese, Seksi Kerasulan Keluarga. Proses aktivitas atau kegiatan yang ditawarkan dalam modul dapat dikembangkan dengan mendorong OMK untuk ambil bagian dalam kegiatan berbagai bidang pastoral dan juga dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan seksi-seksi yang ada di paroki. Harapannya adalah bahwa dengan kerjasama lintas bidang pastoral dan juga lintas seksi ini, proses pendampingan untuk OMK dapat lebih menyentuh seluruh aspek kehidupan orang muda.

N O T E S d a t e