SELARIK SKETSA TIGA JEDA SELARIK SKETSA TIGA JEDAddOleh:Antologi PentigrafA g u n g F i r d a u s , d k k
Selarik Sketsa tiga jedadd
ANTOLOGI PENTIGRAF: Selarik Sketsa Dalam Tiga Jeda Copyright © Hak cipta Nama penulis: Adelia Isnandaagustin, Afinda Devi Yana, Agung Firdaus Aqshandy, Aisyah Shinta Balqis, Alfan Rizky, Ali Rafli Habibi, Anna Fitriyah, Anni Mamluatul Khoiriyah, Annisa Itsnaini Maulidah, Arini Indaka Hasanah, Atiqotul Maghfiroh, Cindy Vebriani Rosa, Dewi Fatimatus Zahroh, Diana Maulida, Elieta Noer Ilahi, Elok Zafira Fajariyah, Erick Ulul Arham, Erin Sisfikasari Fatin, Faneda Maulidya Ferawati, Firyal Alya Nabilatut Tasya, Fitriana, Hafidhullah, Husin, Iffah Nur Isnaini Aprilia, Kuwis Anukgrani, Muhammad Arief Rachman, Putri Nadiya Hanani, R. Gustyar Galuh Prahasta, Raisya Nafila Arifin, Raudatul Jamila, Rizka Dwi Rahmawati Rofiqi, Rizqiyana Maulidivia, Saptri Hamalia, Selvy Aliyatul Nuraini, Sholehatul Mabruroh, Sirajul Millah, Siti Raudhatus Shalihah, Siti Juhairoh, Tri Yulia Handayani, Ulfatul Jannah, Winda Febriyana Firdaus Editor: Liana Rochmatul Wachidah, M.Pd Penata Letak: Agung Firdaus Aqshandy Desain Sampul: Selvy Aliyatul Nuraini ii
KATA PENGANTAR Sesuatu yang besar sering kali bermula dari ruang yang sempit; sebuah cerita yang utuh pun bisa lahir dari tiga paragraf yang penuh jeda dan makna. Antologi Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda ini hadir sebagai bukti dedikasi dan kreativitas kami, Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 2024 Kelas A. Melalui genre pentigraf, kami belajar bahwa keterbatasan ruang adalah tantangan untuk menakar emosi, menajamkan diksi, dan membangun alur yang meninggalkan kesan mendalam. Buku ini adalah hasil proses panjang untuk merangkum berbagai pemikiran menjadi susunan kata yang padat namun tetap menyentuh rasa. Di dalam buku ini, pembaca diajak menyelami berbagai dimensi kehidupan dari beragam sudut pandang unik. Setiap tulisan adalah sketsa tentang liku kehidupan manusia: mulai dari kasih yang tertunda, mimpi yang tertatih, hingga kebenaran di balik kisah-kisah sederhana. Kami sengaja menyematkan konsep 'jeda' agar pembaca tidak sekadar mengikuti alur, tetapi juga memiliki ruang untuk berhenti sejenak, meresapi setiap kalimat, dan merenungkan pesan tersirat sebelum beranjak ke sketsa berikutnya. Besar harapan kami agar karya ini mampu hadir sebagai teman setia di waktu hening Anda. Kami menyadari buku ini hanyalah langkah awal, namun setiap tetes tinta di dalamnya adalah curahan hati yang tulus. Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada dosen dan rekan-rekan yang telah memberikan ruang, kritik, serta dukungan tanpa henti hingga antologi ini dapat terwujud. Selamat menyelami setiap baris kata dalam Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda; semoga Anda menemukan cermin diri atau sekeping makna yang menetap di hati, setelah menutup halaman terakhir buku ini. iii
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BUKAN DARAH, TETAP KELUARGA PENGKHIANATAN PROFIL PENULIS HADIAH DI UJUNG LUKA KEBAIKAN YANG KEMBALI PROFIL PENULIS NAMA YANG DIPINJAMKAN TIKET PULANG PROFIL PENULIS AKU YANG TERLALU BERHARAP CINTA YANG BERPINDAH HATI PROFIL PENULIS PESAN YANG TAK PERNAH TERKIRIM PANAS YANG TAK BIASA PROFIL PENULIS CAHAYA LAMPU BANGKU KOSONG PROFIL PENULIS HILANGNYA KEHANGATAN KARENA KEEGOISAN HINAAN DI BALIK BAYANGAN PROFIL PENULIS BELENGGU MITOS PELUKAN YANG DIRINDUKAN PROFIL PENULIS BISIK POHON KELAPA LANGKAH YANG TAK KEMBALI PROFIL PENULIS PUKUL TIGA NAMANYA "SIS" PROFIL PENULIS HARI TERAKHIR MENGAJI ii 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 35 26 27 28 29 30 31
DAFTAR ISI TIKET YANG TERLAMBAT DIBELI PROFIL PENULIS KASIH YANG TAK SAMA, CINTA YANG SETARA AKU DAN SENJA PROFIL PENULIS TEMPAT KECIL BERNAMA KENANGAN DI BALIK DIAM ADA LUKA PROFIL PENULIS PERINGATAN YANG TERABAIKAN JERAT KEKHAWATIRAN PROFIL PENULIS DINDING KOS BERBISIK RINDU DIA MEMILIH ADIKKU PROFIL PENULIS ANGGUR PERNIKAHAN SETANGKAI BUNGA MATAHARI PROFIL PENULIS TERLAMBAT MENGATAKAN PESAN TERAKHIR AYAH PROFIL PENULIS TATAPAN RINDU MASA LALU YANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN PROFIL PENULIS KELUH KESAH MAHASISWA KUPU-KUPU AJAKAN YANG SERING DITOLAK PROFIL PENULIS IRONI SEBUAH PILIHAN KENYATAAN TENTANGKU PROFIL PENULIS SATU SAYAP YANG DIAMBIL TERJEBAK SEMU PROFIL PENULIS 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63
DAFTAR ISI JALAN LAIN PENJAGA LAMPU TERAKHIR PROFIL PENULIS SENJA DI BANGKU HALTE NILAI SEMPURNA PROFIL PENULIS TENTANG LUKA YANG TAK TERLIHAT PEREMPUAN TANGGUH BERNAMA IBU PROFIL PENULIS KASIH SAYANG YANG TERTUKAR MALAM GERIMIS TARI MUANG SANGKAL SECANGKIR KOPI YANG TERLAMBAT SEHANGAT CANGKANG TELUR PROFIL PENULIS MIMPI YANG TAK PERNAH MATI PESAN TERAKHIR PROFIL PENULIS BAYANGAN DI HALTE SALAH SANGKA PROFIL PENULIS ADA DALAM KETIADAAN PENGENALAN ALAM PROFIL PENULIS SEBUAH KEINGINAN MIMPI YANG TIDAK BERHENTI PROFIL PENULIS HUJAN YANG MENYIMPAN KENANGAN JEJAK YANG DITINGGALKAN PROFIL PENULIS RETAKAN DALAM DO'A MENJAGA BAYANGAN IBU PROFIL PENULIS 64 65 66 67 68 69 70 71 77 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95
DAFTAR ISI PERJUANGAN DI BALIK SERAGAM SEKOLAH KERTAS YANG TERTUNDA PROFIL PENULIS SI BUNGSU SETENGAH DEKADE PROFIL PENULIS CAHAYA DI BALIK LANGKAH SUNYI AKU BUKAN PILIHAN, HANYA PERSINGGAHAN PROFIL PENULIS GORESAN PENA DI KAMPUS HIJAU PETUALANGAN DI KOTA YOGYAKARTA PROFIL PENULIS DI ANTARA HUJAN DAN HARAPAN HARI YANG BERUBAH ARAH PROFIL PENULIS MENEMUKAN ARTI HIDUP DI BALIK PERJUANGAN SUARA DI DALAM KESUNYIAN PROFIL PENULIS SENIN YANG TAK TERLUPAKAN MENJAHIT WAKTU PROFIL PENULIS SELALU ADA, TAPI TAK PERNAH DICARI BUNGSU DAN HARAPAN YANG DISIMPAN PROFIL PENULIS TENGAH YANG TERABAIKAN "PENGHIANAT" KATANYA PROFIL PENULIS 96 97 98 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123
Buku ini adalah tentang kami; tentang ide yang melimpah dalam ruang yang terbatas. Untuk setiap pembaca, selamat menyelami dunia kecil kami yang riuh, di mana setiap akhir cerita adalah sebuah kejutan yang menanti. zoomera24
ejak kecil, ponakan sepupuku, Rina, tinggal bersama saudara nenekku yang sudah lama berpisah dengan suaminya. Padahal yang sebenarnya Rina adalah anak kandung tanteku, tapi sejak bayi Rina diasuh oleh saudara nenekku, karena keadaan saudara nenekku yang tak bisa punya anak. Rina tumbuh seperti anak pada umumnya dan sangat menyayangi orang yang telah merawatnya sejak kecil. Ia selalu membantu pekerjaan rumah dan dikenal ramah kepada siapapun. Namun, Rina tidak pernah tahu jika dirinya hanya anak angkat dalam keluarga itu. Saat duduk di kelas tiga SD, Rina tahu bahwa dia adalah anak angkat, beberapa teman sekolah dan teman bermain di rumah mulai mengetahui rahasia tersebut hingga sering mengejeknya sebagai anak angkat. Rina sering pulang dengan mata sembab dan menjadi lebih pendiam dari biasanya. Keadaan semakin berat ketika penyakit yang lama dideritanya kambuh saat ia duduk di kelas tiga SMP hingga mengalami komplikasi serius. Selama satu bulan setelah ultahnya, Rina hanya bisa terbaring lemah di rumah sambil menahan sakit. Keluarga terus berharap ia sembuh dan dapat lulus bersama teman-temannya, tetapi kondisinya semakin memburuk setiap hari. Sebelum meninggal, Rina berkata bahwa ia tetap Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A BUKAN DARAH, TETAP KELUARGA Karya: Adelia Isnanda Agustin S bahagia karena memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Kalimat itu membuat semua orang menangis dan menyadari bahwa kasih sayang lebih berarti daripada hubungan darah. 1
PENGKHIANATAN utri bertunangan sejak masih duduk di bangku SMP kelas dua. Pada awalnya, hubungan mereka berjalan dengan baik dan penuh kebahagiaan. Namun, Ketika memasuki bulan keempat, tunangannya mulai kembali berkomunikasi dengan mantan kekasihnya. Seiring berjalannya waktu, perselingkuhan mulai terungkap. Bukan hanya sekali atau dua kali, tunangannya berulang kali mendua dengan perempuan yang berbeda. Meskipun sering disakiti, Putri selalu memilih memaafkan dan bertahan karena berharap tunangannya akan berubah menjadi lebih baik. Hampir dua tahun menjalani pertunangan, Putri merasa semakin lelah. Ia sadar bahwa hubungannya tidak baik dan ingin mengakhirinya, tetapi entah mengapa ia selalu merasa tidak bisa melepaskan tunangannya. Perasaan itu membuat pikirannya kacau dan tubuhnya sering terasa tidak enak. Selama beberapa hari, kondisi tersebut tidak kunjung membaik. Karena merasa ada yang tidak beres, Putri akhirnya menceritakan semua yang dialaminya kepada keluarganya. Karya: Adelia Isnanda Agustin Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A P Keluarganya kemudian membawanya menemui seorang ustadz. Saat diperiksa, perhatian ustadz tertuju pada gelang yang selalu dipakai Putri. Gelang itu merupakan hadiah dari tunangannya dan tidak pernah ia lepaskan. Setelah diperiksa, ustadz tersebut menemukan ada sesuatu pada gelang itu, yang membuat Putri sulit melepaskan hubungannya. Putri sangat terkejut mendengarnya. Setelah menjalani ruqyah dan melepaskan gelang tersebut, perasaan yang selama ini mengikatnya perlahan menghilang hingga akhirnya ia mampu mengakhiri pertunangan yang telah lama menyakitinya. 2
PROFIL PENULIS Adelia Isnanda, yang akrab dipanggil Del atau Adell, lahir di Pamekasan pada 18 Juni 2006. Saat ini, ia merupakan mahasiswi Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN Madura) semester 4. Adelia memiliki hobi membaca karena baginya membaca dapat menambah wawasan dan memperluas cara berpikir. Selain aktif mengiku- Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ti perkuliahan, ia juga senang mengikuti berbagai kegiatan yang mendukung pengembangan diri. Dengan semangat belajar, disiplin, dan tanggung jawab, Adelia berharap dapat menjadi pribadi yang bermanfaat serta memberikan kontribusi positif bagi dunia pendidikan dan masyarakat. 3
KEBAIKAN YANG KEMBALI yafi adalah seorang ayah yang pekerja keras. Ia bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya tidak menentu dengan upah paling banyak hanya lima puluh ribu saja. Pekerjaannya jarang dibutuhkan orang. Ia tetap berusaha demi keluarganya. Namun, keadaan tidak selalu berpihak. Akhir- akhir ini Syafi jarang dipanggil bekerja di sawah orang. Keuangan keluarga menurun dan bahan pokok di rumah habis, terutama beras. Uang yang dipegang Mida, istrinya, hanya tersisa beberapa rupiah. Syafi bingung harus berbuat apa. Ia mencoba meminjam ke teman dan tetangga, tetapi mereka juga memiliki kebutuhan lain. Ia pulang dengan perasaan gelisah. Di perjalanan, Syafi melihat seorang lelaki berjas membawa tas kecil. Tanpa berpikir Panjang, ia nekat mengambil tas itu lalu pergi dengan rasa takut. Di rumah, ia berbohong kepada Mida bahwa tas itu hasil pinjaman agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mida percaya dan merasa lega. Namun, Syafi merasa sangat bersalah atas perbuatannya. Tiba-tiba seseorang memanggil Mida dari luar rumah. Ternyata lelaki itu datang dengan wajah tenang. Ia ingin membayar hutang lama kepada Mida. Syafi terkejut karena itu orang yang sama. Ia mengakui Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Afinda Devi Yana Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S kesalahannya dan meminta maaf. Lelaki itu memaafkan dengan lapang dada. Didalam amplop ada uang dan tawaran kerja untuk Syafi. Syafi bersyukur dan berjanji akan berubah. Mereka sadar kebaikan yang dilakukan akan kembali pada waktunya. 4
HADIAH DI UJUNG LUKA etiap masuk sekolah, Yana selalu berangkat lebih awal. Ia memakai seragam kusam dan sepatu yang menganga lebar. Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan senyum tipis. Yana tidak tega meminta sepatu baru karena memahami keadaan keluarga. Ia tahu orang tuanya belum punya uang dan masih banyak kebutuhan rumah. Mereka hanya bisa diam dan berdoa melihat kondisi itu. Jarak dua puluh menit ia tempuh dengan semangat yang dipaksakan. Tiba di sekolah, seorang guru melihat sepatu Yana lalu membuangnya ke tempat sampah. Sepatu itu adalah satu-satunya harapan yang ia miliki. Ia menahan malu di tengah ejekan teman temannya. Di perjalanan pulang Yana berjalan tanpa alas kaki, menahan rasa sakit dan memikirkan bagaimana menjelaskan masalah ini kepada orang tuanya. Sesampainya di rumah, ia menceritakan semuanya dengan suara bergetar. Ayahnya justru masuk kedalam rumah dan kembali membawa sebuah kotak yang dibungkus rapi. ”Coba buka ini, kami sudah menyiapkan dari jauh hari,” ujarnya lembut. Yana tertegun melihat sepatu baru di dalamnya. Ia memeluk kedua orang tuanya dengan haru. Ibunya berpesan agar ia tetap semangat belajar dan tidak menyerah. Saat itu Yana baru ingat hari ini ulang tahunnya. Ia sadar, kasih sayang kedua orang tuanya sering hadir dalam diam bahkan saat hidup terasa berat. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Afinda Devi Yana S 5
seorang guru. Dalam berproses menghadapi dunia perkuliahan, ia selalu memegang teguh motivasi hidup: Terus melangkah, meski jalan "tak selalu ramah." Untuk menjalin pertemanan dan berdiskusi lebih lanjut dengan sosok yang mudah bergaul ini, kamu bisa menyapa Devi melalui akun Instagram pribadinya @a.fndv_ atau via email afindadeviya@gmail.com. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Afinda Devi Yana, akrab disapa Devi, lahir di Pamekasan, 23 Desember 2005. Mahasiswa asal Desa Sumedangan, Pamekasan ini hobi bulu tangkis, jalan-jalan, serta pecinta kuliner dan cokelat. Dikenal ceria, ramah, dan rendah hati, Devi kini fokus menempuh studi di Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Madura demi mengejar cita-citanya menjadi 6
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A us terakhir hampir berangkat ketika pesan darinya masuk. "Kalau sampai duluan, tunggu aku di stasiun ya." Aku membalas dengan emoji jempol lalu menyimpan ponsel ke saku celana. Selang beberapa menit, telepon dari rumah sakit membuat hatiku bergetar. Ternyata, orang yang paling aku sayang telah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Sejak malam itu, pesan tersebut menjadi satu-satunya memori yang tidak pernah sanggup kuhapus. Saat orang lain menyimpan foto atau rekaman suara, aku hanya menyimpan beberapa kata yang terus kubaca berulang kali setiap kali rindu datang tanpa permisi. Dua tahun berlalu. Aku masih sesekali membuka percakapan kami. Bukan karena ingin ia kembali, melainkan karena takut melupakan kenangan indah yang terekam di sana. Aku bahkan masih hafal cara ia mengetik. Ia jarang sekali memakai tanda baca, sering salah menulis huruf, lalu buru-buru mengirim pesan berikutnya untuk sekadar klarifikasi. Malam ini, saat membaca ulang percakapan kami, mataku berhenti pada sesuatu yang ternyata selama ini luput dari pandanganku. Pesan terakhirnya jelas terkirim pukul 22.17. Aku membuka laporan kecelakaan yang kusimpan di folder yang sama. Tanganku mendadak dingin ketika menemukan bagian yang selama ini tak pernah kubaca dengan saksama. Di sana tertulis, korban dinyatakan meninggal pukul 21.43. Untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu, aku membaca kembali isi pesannya. "Kalau sampai duluan, tunggu aku di stasiun ya." TIKET PULANG Karya: Agung Firdaus Aqshandy B 7
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda NAMA YANG DIPINJAMKAN Karya: Agung Firdaus Aqshandy Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A etelah mengetahui fakta kalau aku hanyalah seorang anak angkat, muncul suatu kebiasaan aneh yang sulit kuhentikan. Aku selalu menyebut namaku sendiri, menulisnya di memo ponsel bahkan mengukirnya di telapak tangan lalu menghapusnya sebelum kering. Aku tidak bisa mendefinisikan kenapa hal itu bisa terjadi, aku hanya merasa, seolah-olah nama itu akan menguap dan hilang dari ingatan ini. Suatu sore, ada seorang tamu datang dan bertanya, “ini Adit, ya?” pertanyaan simple, tapi cukup untuk membuatku terdiam. Saat malam tiba, aku kembali mengulang kebiasaanku. Tapi, pertanyaan tadi terus menggangguku. Aku terus memaksa, mencoba mengingat huruf demi huruf dengan tempo yang lebih pelan seolah sedang mencari sesuatu yang mulai terasa berubah. Suatu malam, ibu lewat di depan kamar dan merampas pena yang kupegang “Berhentilah menulis nama itu.” Aku tertegun, mencoba memahami apa yang terjadi. “Waktu seseorang menitipkanmu pada kami, saat itu kamu hanyalah seorang bayi suci tanpa identitas.” Ia menarik napas sebentar. “Adit adalah nama anak kandung kami yang meninggal tepat di hari kamu datang,” untuk pertama kalinya kebiasaan itu berhenti. Pada detik itu aku sadar, ternyata selama ini aku tidak sedang takut kehilangan namaku, aku hanya sedang lelah berpura-pura menjadi mayat yang hidup kembali. S 8
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Agung Firdaus Aqshandy yang akrab disapa king, adalah mahasiswa tampan jurusan Bahasa Indonesia di UIN Madura. Lewat buku antologi ini, ia turut menuangkan karyanya yang menarik, bukan sekedar fiksi belaka melainkan rajutan kisah nyata yang benar-benar dialaminya sendiri. Disela-sela kesibukan kuliah, penikmat setia americano ini sedang aktif mencoba untuk mendapatkan pasangan yang benar benar ia sayangi. Namun sepertinya takdirberkata lain, sperti yang telah ia tuliskan dalam karyanya, konflik dalam kehidupan penulisan terbilang cukup kompleks sehingga tidak memungkinkannya untuk mengejar wanita yang ia kagumi. Meski saat ini dunianya sangat gelap, tapi ia tetap berusaha untuk bangkit dan menggapai cita- citanya yaitu menjadi sosok pria yang dapat diandalkan dalam semua hal. Jangan lupa Sapa Agung lebih dekat melalui instagram: @agungfirdaus PROFIL PENULIS 9
AKU YANG TERLALU BERHARAP ahagia rasanya ketika bertemu dengan seseorang yang mampu memahamiku dan tidak pergi setelah mengetahui kekurangan yang aku miliki. Seseorang yang meski tidak romantis, namun selalu peduli dengan hal-hal kecil. Aku sangat menyukai cara dia memperlakukanku. Aku sudah mengenalnya sejak awal SMA. Awalnya hubungan kami sebatas teman biasa, namun seiring berjalannya waktu kami semakin dekat. Walaupun aku masih takut memulai hubungan baru karena trauma masa laluku, aku perlahan mencoba menerima kehadirannya. Dia memperlakukanku dengan sangat baik. Dia juga sering membawaku ke tempat yang belum pernah aku kunjungi. Setiap pulang sekolah, kami selalu pulang bersama. Awalnya aku menolak, karena jalan menuju rumah kami berbeda arahnya. Namun dia tetap membujukku agar pulang bersamanya. Beberapa hari berlalu, aku merasa kami sudah saling menaruh rasa. Melihat interaksi kami, teman-teman pasti beranggapan bahwa kami adalah dua pasangan yang saling menjaga satu sama lain. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Aisyah Sinta Balqis Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A B Namun, saat itu semesta menunjukkan padaku bahwa ia bukan lelaki yang tepat. Temanku membawa kabar buruk tentang dia lengkap dengan buktinya. Aku tentu tidak percaya dan memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Sampai pada akhirnya, aku memergoki dia dengan wanita yang ada di foto itu, aku kecewa. Harapanku pupus, kukira dengannya akan berakhir bahagia. Ternyata dia tidak jauh berbeda dengan laki- laki di masa laluku. 10
CINTA YANG BERPINDAH HATI Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Aisyah Sinta Balqis unga baru saja pindah ke Malang untuk melanjutkan perkuliahan. Untungnya tidak lama kemudian, Bunga diajak kenalan dengan seseorang yang bernama Bulan. Mereka berkenalan melalui grup maba kampus, meskipun secara virtual Bunga merasa nyambung berteman dengannya. Tidak lama kemudian, mereka bertemu di Mall. Keduanya menghabiskan waktu dan menikmati jajanan yang ada di Mall tersebut. Saat Bunga menjalani ospek, ia diajak kenalan oleh lelaki tampan yang bernama Kevin. Ternyata mereka satu prodi yaitu, Teknik Sipil. Jika dilihat dari sikap dan juga perhatiannya, Kevin seperti menyukai Bunga. Bunga mengenalkan Bulan kepada Kevin. Namun, tanpa Bunga tahu, mereka berdua saling diam beberapa detik. Suatu hari, Kevin mengajak Bunga untuk pergi menikmati sunset di pantai. Tidak disangka Kevin menyatakan perasaannya kepada Bunga dan Bunga menerima Kevin menjadi kekasihnya. Sesampainya di rumah, Bunga memberi kabar ke Bulan bahwa Kevin resmi menjadi pacarnya, Bulan yang mendengarnya mengaku bahagia. B Keesokannya, Bunga berangkat bersama Kevin. Saat menuju kelas, Kevin pamit ke toilet dan meninggalkan Bunga sendiri. Di pintu masuk toilet, Kevin bertemu dengan Bulan. Bulan menggenggam tangan Kevin untuk meminta maaf karena Bulan telah menduakan Kevin. Kevin semula berusaha mengabaikan rayuan Bulan. Tetapi akhirnya luluh dan mereka diam-diam kembali bersama. Ternyata selama ini, Kevin hanya menjadikan Bunga pelarian karena Bulan pernah menduakannya. 11
Aku suka menikmati indahnya alam, karena ibuku juga menyukai alam, jadi kami sering berlibur ke nuansa alam, seperti Kaliurang. Aku juga suka kulineran seperti mencoba makanan di suatu tempat yang kita singgahi. Aku ingin sekali tinggal di Bandung karena destinasinya sempurna dan suasananya sejuk. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Namaku Aisyah Shinta Balqis, biasa dipanggil Shinta, kelahiran tahun 2005. Aku lahir dan besar di Yogyakarta. Menempuh pendidikan di SMP PIRI 1 Yogyakarta, lalu melanjutkan SMA di Madura tepatnya di Pamekasan, dan sampai saat ini menempuh perguruan tinggi di UIN Madura semester empat jurusan Bahasa Indonesia. Saat ini ku aktif di organisasi HMPS TBIN. 12
PESAN YANG TAK PERNAH TERKIRIM Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Alfan Rizky ejak pindah ke kota, Aldi jarang pulang ke desanya. Ia terlalu sibuk kerja sampai sering mengabaikan pesan dari ibunya yang selalu menanyakan kabar. Suatu malam, ponselnya berbunyi, tapi ia abai tanpa rasa penasaran sedikit pun. Keesokan paginya, ia baru sempat membaca pesan dari ibunya, “Kalau bisa, pulanglah. Ibu rindu.” Aldi sempat merasa tidak enak, tapi tetap menunda kepulangan karena merasa masih punya banyak waktu. Hari demi hari berlalu, suatu hari Aldi mendapat telepon dari tetangganya di desa yang terdengar panik. Katanya, ibunya tiba-tiba sakit dan meminta Aldi segera pulang. Saat itu, perjalanan ke desa terasa sangat lama. Di tengah perjalanan, Aldi membuka lagi pesan terakhir dari ibunya. Saat membaca ulang deretan pesan itu, ia kaget. Karena jika dibaca lebih teliti, pesan-pesan itu mengatakan bahwa yang selama ini mengirimkannya pesan bukanlah ibunya, melainkan adiknya. S Ibunya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu. Selama ini, adiknya sengaja memakai nomor ibunya agar Aldi tidak merasa kehilangan dan sesekali tetap punya keinginan untuk pulang. Air mata Aldi langsung jatuh saat membaca kalimat terakhir. “Kak, Ibu meninggal sambil megang foto Kakak. Karena Kakak nggak datang waktu pemakaman, aku nggak sanggup menghapus nomor Ibu. Jadi selama beberapa bulan ini, aku pura-pura jadi Ibu supaya rumah ini nggak kehilangan dua orang sekaligus.” 13
PANAS YANG TAK BIASA Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Alfan Rizqy Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A uatu hari, Majjed mengerjakan tugas di rumah temannya. Majjed sangat bahagia karena dapat berkumpul dan bercanda tawa bersama. Namun, di tengah suasana itu tubuhnya mulai terasa berbeda. Kepalanya pusing, badannya panas, dan tenaga yang dia miliki hilang seketika. Majjed berusaha menahannya, tetapi kondisinya semakin parah. Akhirnya, dia memutuskan untuk pulang lebih awal, meskipun di luar awan tampak mendung. Saat perjalanan pulang badannya terasa semakin panas, kepalanya seperti ditusuk ribuan paku. Sesampainya di depan pagar, Majjed sangat terkejut karena ada banyak kendaraan berjejer di halaman depan. Jantungnya berdegup sangat kencang. Dia segera berjalan menuju pintu rumah, tetapi sebelum sempat masuk, ayah dan bunda langsung memeluknya erat. Rumah yang biasanya dipenuhi canda tawa kini terasa begitu sunyi dan menyesakkan. S Ketika Majjed memasuki ruang tamu, dia lang- sung tertuju dengan seseorang yang sudah diselimuti kain berwarna putih. Dunianya seakan runtuh seketika. Padahal pagi tadi, sosok itu masih sempat mengantarkan Majjed ke sekolah dengan pelukan yang terasa hangat seperti biasanya. Di tengah tangisannya, ayah bercerita bahwasannya kecelakaan itu terjadi di saat sang kakak kembali menuju rumah untuk mengambil jaket dan berniat mengantarkannya ke Majjed agar dia tidak kehujanan. Saat itulah Majjed sadar, panas yang dirasakannya sejak tadi bukan karena sedang sakit, melainkan firasat bahwa hidupnya akan berubah tanpa kehadiran kakaknya 14
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Alfan Rizky, yang akrab dipanggil Ifan, lahir di Sampang pada 18 Juli 2005 dan saat ini merupakan mahasiswa aktif di UIN Madura. Alfan dikenal sebagai pribadi yang pendiam, karena baginya diam adalah emas. Di balik sifatnya yang tenang, ia memiliki semangat petualangan yang tinggi. Berbagai kegiatan alam seperti mendaki gunung, camping, dan memancing menjadi hobi yang sangat ia sukai. Ia meyakini bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh- sungguh tidak akan pernah sia-sia. Mungkin hasilnya tidak datang hari ini, tetapi semuanya pasti ada hasilnya. Tetaplah melangkah meskipun pelan, karena yang terpenting bukanlah seberapa cepat sampai, melainkan seberapa kuat bertahan dalam perjalanan. 15
CAHAYA LAMPU Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Ali Rafli Habibi Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ejak ibunya pergi, Rahman selalu menyalakan lampu yang ada di ruang tamu setiap malam. Katanya, rumah terasa lebih hidup jika ada cahaya yang menyala. Ayahnya tidak pernah melarang kebiasaan itu meski tagihan listrik sering mahal. Bagi Rahman, lampu kecil itu seperti tanda bahwa ibunya masih mengingat rumah mereka. Ia selalu mengeluarkan air mata teringat kepada seorang ibu sambil duduk di dekat jendela sambil menatap cahaya lampu yang redup. Namun semakin hari, rumah itu justru terasa semakin sepi, suatu malam listrik tiba-tiba padam. Rahman panik dan berlari mencari lilin sambil memanggil ayahnya. Dalam gelap, ia mendengar suara ayahnya menangis pelan untuk pertama kalinya sambil memegang dadanya menahan suara supaya tidak mengeluarkan suara. S Ayah cape pura-pura kuat. Rahman pun terdiam. Selama ini ia merasa hanya dirinya yang merasa kehilangan seseorang, tidak melihat kepada ayahnya yang sama sama kehilangan seorang yang menemani hidupnya tapi tidak menampakkan bahwa dirinya juga sedih. Ayahnya lalu menyalakan lampu di meja ruang tamu. Cahaya itu tidak seterang lampu ruang tamu pada biasanya. Namun, itu lampu paling terang untuk pertama kalinya selama ia menghidupkan lampu di ruang tamu, rumah itu terasa hangat kembali seperti pada hari hari biasanya. Dan ada akhirnya ia berpikir dan sadar, yang ia butuhkan bukan hanya cahaya lampu, melainkan keberanian untuk menerangkan masa depannya. 16
BANGKU KOSONG Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Ali Rafli Habibi agi Dimas, pojok belakang kelas adalah tempat terbaik. Di sanalah ia dan Rian, sahabatnya, menghabiskan waktu setiap pagi. Sebelum dosen masuk, tawa mereka sudah memenuhi ruangan. Dari nongkrong hingga tugas kelompok, mereka tidak pernah terpisahkan. Teman-teman di kelas pun menganggap keduanya sebagai pertemanan paket komplit yang tidak bisa dipisahkan. Namun, kebiasaan itu terhenti pada suatu pagi. Rian tidak datang ke kampus tanpa meninggalkan pesan ataupun kabar. Ia mencoba menjalani perkuliahan seperti biasa, meski sedikit merasa cemas. Hari demi hari telah berlalu, namun kursi di samping Dimas tetap kosong. Pesan yang ia kirim pun tidak pernah mendapat balasan. Setiap kali pintu kelas terbuka, Dimas selalu menoleh dengan harapan Rian akan muncul sambil melempar senyum khasnya. Namun, harapan itu selalu berakhir sia-sia. Wajah Dimas semakin murung hingga menarik perhatian seorang dosen. Saat ditanya mengenai keadaannya, ia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. B Pada pekan berikutnya, Dimas datang lebih awal dari biasanya. Pandangannya tertuju pada kursi di sampingnya. Di sana tergeletak buku catatan milik Rian. Saat membuka halaman terakhir, ia menemukan tulisan, “Kalau aku lulus duluan, jangan lupa traktir ya!” Tak lama kemudian, seorang teman membawa kabar duka. Rian meninggal akibat kecelakaan saat pulang ke kampungnya. Dimas terdiam. Kenangan sahabatnya tetap hidup selamanya. 17
kesempatan baru untuk terus belajar dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Memiliki tekad yang kuat bercita-cita untuk tumbuh menjadi pribadi yang berguna bagi banyak orang. Ia percaya bahwa hidup lebih bermakna jika kita mampu memberi manfaat bagi sesama. Yuk kenali Rafli lebih dekat lewat akun Instagramnya di @alrflhbi_ dan email @aliraflihabibi.com. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Ali Rafli Habibi, atau biasa dipanggil Rafli. Ia memiliki kepribadian yang ramah dan selalu berhasil menghidupkan suasana di sekitarnya. Rafli memiliki kecintaan yang besar pada dunia olahraga, terutama lari dan futsal. Saat ini, Rafli sedang menapaki perjalanan untuk meraih impiannya dengan dedikasi penuh. Baginya, setiap hari adalah 18
HILANGNYA KEHANGATAN KARENA KEEGOISAN Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Anna Fitriyah i sudut Kota Sumenep ada sebuah rumah sederhana milik keluarga kecil. Keluarga itu, terdiri dari seorang ayah yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan ibu sebagai ibu rumah tangga. Pasutri tersebut memiliki anak bernama Fitri, si anak penurut dan Laila, si anak ceria tapi nakal. keluarga ini dipenuhi canda tawa dan kehangatan sehingga banyak orang iri melihat keharmonisan keluarga ini. Suasana berubah saat sedang berkumpul di ruang TV, ayah mengatakan Fitri akan dijodohkan dengan anak dari saudara kakek. Menurut ayah dia pilihan terbaik untuk putrinya. Fitri langsung menolak dengan alasan ingin melanjutkan pendidikannya dan langsung meninggalkan ruang TV. Ayah marah dan kecewa atas jawaban Fitri. D Beberapa hari kemudian, Fitri menghilang tanpa kabar. Ibu menangis melihat keadaan rumah yang sunyi. Laila berharap kakaknya cepat kembali. Ayah mencari berbagai tempat tapi tidak menemukannya. Saat perjalanan pulang ayah melihat anak dari saudara kakek mabuk di pinggir jalan sambil membentak ibunya. Ayah seperti tertampar kenyataan begitu mengetahui sikap dan perbuatan laki-laki yang menurutnya bisa menjaga masa depan putrinya. Sejak saat itu ayah sadar bahwa dia terlalu egois memaksakan kehendak tanpa mengenal lebih dalam sosok pilihan untuk putrinya. Tak lama kemudian, Fitri datang membawa surat pendaftaran kuliah. Melihat itu, ayah menyesal, demi mengutamakan keinginannya dia hampir mengorbankan masa depan putrinya. 19
HINAAN DI BALIK BAYANGAN ejak beranjak umur 12 Tahun, Elye menerima hinaan fisik dari tetangganya. Mereka membandingkan keadaan fisiknya dengan anak perempuan lain yang cantik dan tidak segemuk dirinya. Setiap mendengar ocehan itu, Elye hanya diam dan menahan sakit hati. Dia sudah kehilangan rasa percaya dirinya dan memilih berdiam di dalam kamarnya. Ibu selalu berusaha menenangkan anak gadisnya, ayah memilih diam meski merasakan luka yang sama. Suatu pagi, tetangga julid kembali mengolok-olok Elye di depan rumahnya. Ada seorang tetangga mengatakan Elye tidak bisa mengatur pola makannya hingga fisiknya seperti itu. Mendengar ucapan itu, ayah Elye keluar rumah membawa sebuah kotak kecil, semua orang mengira dia akan memarahi putrinya karena dianggap mempermalukan keluarga. Namun, ayah justru membuka kotak itu dan menunjukkan foto lama yang mulai pudar. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Anna Fitriyah Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S Terdapat foto adik Elye saat berada di rumah sakit melawan penyakit kekurangan gizi yang menimpanya. “Kalian selalu menghina fisik Elye tanpa mengetahui alasannya, dulu dia terbiasa memakan makanan sisa dari adiknya agar adiknya tidak merasa bersalah karena makanan yang dimakan belum habis.” Kebiasaan itu tetap tidak hilang, Elye tetap terbiasa menghabiskan makanan tanpa memikirkan sebanyak apa makanan yang dimakan. Semua orang terdiam. Anak yang selama ini mereka hina ternyata masih hidup bersama kenangan seseorang yang sudah lama tiada. 20
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Anna Fitriyah atau yang akrab disapa Ana atau Aan, anak pertama dari dua saudara. Ia lahir di Sumenep pada tanggal 10 November 2026. Ia suka menonton film dan sangat suka berpuisi, ia sering meluapkan perasaannya lewat puisi. Ia merupakan mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura semester 4. Sejak kecil ia memiliki ketertarikan dengan dunia pendidikan meskipun terkadang dunia pendidikan tidak semudah yang ia pikir. Ia berkeinginan menjadi dosen, pemilik kos, dan ingin sukses dengan jalur sosial media. Bakso adalah salah satu makanan favoritnya. Yukk kenali lebih dalam lagi tentang Ana melalui akun instagram @anafitryh_ tiktok @anftryhhhhh_ 21
BELENGGU MITOS Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Anni Mamluatul Khoiriyah Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ku Aina, seorang gadis 19 tahun yang lahir di tanah Madura, tempat di mana keyakinan tentang mitos masih mengakar kuat, apalagi tentang sakit yang dianggap sebagai kutukan. Sejak kecil aku memang mudah sakit, dan keadaannya selalu mengkhawatirkan sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, saat tetangga menyadari bahwa penyakitku tak kunjung sembuh, mereka mengatakan jika itu pasti bukan penyakit biasa. Kedua orang tuaku pun mempercayai hal itu dengan mudahnya, dan mengganti pengobatan medis yang ku jalani dengan pengobatan alternatif. Saat usiaku 17 tahun, seorang tetangga menyebarkan rumor kalau penyakitku adalah kutukan. Mereka mengatakan kalau aku harus segera dinikahkan agar lekas sembuh dan berhenti melanjutkan pendidikan. Keluarga dari pihak ayah pun menuntut hal serupa. Mereka memintaku cepat menikah agar lekas sembuh dan berhenti merepotkan ayah, katanya. Aku terpuruk memikirkan mimpi besarku yang terancam pupus. Namun, ayah yang tiba-tiba membisu, membuatku pesimis pada keadaaan. A Berbulan-bulan aku dihantui ketakutan sebab rumor itu kian menyebar. Bahkan, tetangga sudah menyiapkan calon suami untuk membuang kutukanku. Saat aku sudah pasrah dengan keadaan yang mungkin akan benar-benar merubah hidupku, kejutan datang saat ayah akhirnya angkat bicara. “Nak, lanjutkan pendidikanmu. Mari kita usahakan bersama kesem- buhanmu.” Keputusan itu mengubah hidupku. Melalui lisan ayah, belenggu yang menahan mimpi-mimpiku akhirnya runtuh. Membebaskanku berkelana sambil mencari sembuh. 22
PELUKAN YANG DIRINDUKAN Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Anni Mamluatul Khoiriyah idup sebagaipenderita gangguan mental tidak pernah benar-benar menyenangkan. Apalagi bertahan sendirian dengan topeng yang dipaksakan untuk terlihat baik-baik saja. Keluargaku lengkap, tapi aku merasa kehilangan kehangatan yang seharusnya menyelimuti. Setiap tangis yang ingin ku tumpahkan perlu waktu untuk dilatih dalam diam. Aku terbungkam bersama derita, dan terbelenggu bersama depresi yang bahkan dianggap tabu. Mendengar kemarahan yang terucap saat suara tangisku terdengar di balik pintu kamar, seperti ribuan belati datang menikam tepat di tengah luka-luka yang masih bercucur darah segar. Hari itu aku kehilangan kendali. Namun, ini adalah bagian yang selalu ku nantikan. Aku mengamuk, mengekspresikan semua beban yang ku pikul dalam diam. Aku berteriak sekuat tenaga sampai semua orang mendengar jika aku terpenjara dalam penderitaan begitu lama. Namun, sayang bukan pelukan penuh ketenangan yang ku dapatkan, tapi kemarahan yang membuatku ingin kembali menyerah pada keadaan. H Hah, berat sekali rasanya saat harus mengingat tahun-tahun penderitaan itu. Tapi tenang saja, saat ini aku sudah lepas semuanya. Mereka sudah mau memeluk dan mengecupku dengan penuh kasih sayang, seperti mimpi yang datang menguatkanku pada malam-malam pilu yang ku rangkul sendirian. Di telingaku, terdengar kalimat-kalimat penyesalan yang ku rasa adalah sebuah keterlambatan. Jika saja pelukan hangat itu dapat kurasakan lebih awal, mungkin tubuhku tak akan sampai berbujur kaku seperti sekarang. 23
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Anni Mamluatul Khoiriyah, seorang mahasiswa kelahiran Pamekasan, 12 September 2006 ini, mulai menunjukkan ketertarikannya pada sastra sejak menduduki bangku sekolah dasar, dan mulai belajar menulis saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan strata satu program studi Tadris Bahasa Indonesia di UIN Madura sebagai pendukung atas ketertarikannya pada sastra. Menurutnya, sastra adalah bagian dari hidup yang mampu bercerita lewat diksi-diksi indah ataupun sendu tanpa harus selalu melalui lisan yang perlu telinga untuk mendengar. Penulis dapat dihubungi melalui laman Instagram dan TikTok @enyray006. 24
BISIK POHON KELAPA etiap sore, Andi duduk di bawah pohon kelapa tua di belakang rumah neneknya. la suka bercerita tentang mimpi-mimpinya menjadi seorang guru. Pohon itu sudah ada sejak kakeknya masih hidup. Andi percaya, pohon itu mendengar semua ceritanya karena daunnya selalu bergetar pelan setiap ia bicara. Neneknya hanya tersenyum dari kejauhan, tak pernah mengganggu kebiasaan cucunya itu. Tetangga bilang Andi aneh, lebih suka mengobrol dengan pohon daripada bermain bola dengan anak- anak lain. Tapi Andi tak peduli, baginya pohon itu adalah teman yang paling setia. Suatu hari, angin kencang menerjang desa. Pohon kelapa tua itu tumbang dengan suara gemuruh yang menyayat. Andi pulang sekolah dan langsung berlari ke belakang rumah. la menangis tersedu di samping batang pohon yang sudah terbaring kaku di atas tanah. Neneknya mendekat, memeluk pundaknya tanpa berkata apa-apa. Malam harinya, nenek mengajak Andi ke gudang kecil. Dari dalam lemari tua, nenek mengeluarkan sebuah buku catatan kusut berisi tulisan tangan kakek. "Ini catatan kakekmu dulu," kata nenek pelan. "Setiap sore ia duduk di bawah pohon yang sama, bercerita tentang mimpinya ingin anak dan cucunya menjadi guru. la bilang, pohon ini akan menjaga cerita itu sampai mimpi itu menjadi nyata." Andi terpaku. Ternyata selama ini bukan ia yang bercerita pada pohon, melainkan pohon yang menyampaikan mimpi kakeknya padanya. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Annisa Itsnaini Maulidah S 25
LANGKAH YANG TAK KEMBALI Karya: Annisa Itsnaini Maulidah etiap sore, Budi duduk di teras rumah kayu tua sambil menunggu ayahnya pulang dari sawah. Ia selalu menyediakan segelas air teh manis hangat dan sepiring singkong rebus, makanan kesukaan ayah. "Ayah pasti capek," gumamnya dalam hati. Rumah mereka kecil, di pinggir desa yang sepi. Ibunya sudah tiada sejak lima tahun lalu. Budi yang baru lulus SMA memilih tak kuliah agar bisa menemani ayah yang semakin tua dan sering sakit. Setiap malam, ayah hanya diam menatap foto ibu sambil merokok kretek, seolah menyimpan kata-kata yang tak pernah terucap. Suatu petang, ayah tak kunjung pulang meski matahari sudah tenggelam. Budi khawatir. Ia berlari menyusuri jalan menuju sawah sambil memanggil-manggil ayahnya. Hujan mulai turun deras, membuat tanah licin dan pandangannya kabur. Sampai di sawah, Budi melihat ayahnya tergeletak tak bergerak di bawah pohon pisang. Dengan napas tersengal, ia mendekat dan memeluk tubuh yang sudah dingin itu. Air matanya bercampur hujan. Tiba-tiba tangan ayah yang kaku itu masih menggenggam secarik kertas basah. Tulisan tangan ayah yang goyah berbunyi, "Nak, maafkan ayah. Rumah dan sawah ini sudah ayah wakafkan untukmu sejak setahun lalu. Ayah tahu kau ingin kuliah. Jangan menyesal menunggu ayah pulang... karena ayah sudah pulang duluan ke tempat ibu." Langkah yang tak kembali itu meninggalkan Budi dengan air mata. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S 26
sama dan tanggung jawab adalah sikap disiplin yang merupakan nilai-nilai yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan pernah berhenti belajar, setiap kegagalan adalah pelajaran, setiap kesuksesan adalah berkah yang harus dibagikan. Jadilah cahaya bagi sesama, gunakan ilmu yang kita miliki untuk membawa perubahan positif, sekecil apapun itu. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Nama saya Annisa Itsnaini Maulidah. Bisa dipanggil Anisa atau Nisa. Saya lahir dari keluarga yang sederhana dan penuh kasih sayang. Saya lahir di Sumenep, 06 April 2006. Saya merupakan seorang mahasiswi prodi Tadris Bahasa Indonesia. Dalam perjalanan pendidikan saya, saya dapat menambah wawasan, dan pengalaman saya. Bagi saya kerja 27
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda PUKUL TIGA Karya: Arini Indaka Hasanah 28 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A emulai cinta dengan perkenalan mungkin sudah biasa. Berbeda denganku yang mengenalnya lewat cerita. Paman sering menyebut namanya setiap pulang kerja. Dari semua kisah itu, ada satu hal yang membuatku tertarik: ia sangat mencintai sastra, sama seperti aku. Meski belum pernah bertemu langsung, setiap karya yang paman bawa pulang membuat rasa penasaranku tumbuh perlahan menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku membaca tulisannya berulang kali tanpa pernah merasa bosan. “Paman, bolehkah aku belajar dengannya?” tanyaku suatu hari. Anggukan kecil paman menjadi awal pertemuan kami. Benar kata paman, ia sosok yang menyenangkan. Melalui sastra, kami cepat akrab. Aku sering memperhatikannya diam-diam, menikmati senyum sederhana yang selalu berhasil menenangkan pikiranku. Saat jemarinya kugenggam, hangatnya terasa nyata, seolah dunia mendadak menjadi tempat yang lebih ramah. Aku berharap waktu berjalan lebih lambat agar bisa lebih lama berada di dekatnya. Bahkan percakapan sederhana dengannya terasa begitu berharga bagiku. Namun semuanya berubah ketika aku terbangun. Kamar yang sunyi terasa asing, sementara bayang wajahnya masih jelas di kepalaku. Aku mencoba memejamkan mata, berharap dapat kembali ke tempat kami bercengkrama. Sayangnya, kenyataan tak memberi kesempatan itu. Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Dalam dingin yang memenuhi kamar, aku akhirnya mengerti: ada seseorang yang hanya ditakdirkan hadir dalam mimpi, lalu pergi sebelum pagi benar-benar tiba. M
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 29Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A NAMANYA “SIS” Karya: Arini Indaka Hasanah ejak beberapa bulan terakhir, aku menjadi lebih pendiam. Bukan karena sombong, melainkan karena sedang kehilangan semangat menghadapi berbagai plot twist yang diberikan semesta. Namun, aku bersyukur memiliki seorang sahabat yang begitu baik. Namanya “Sis”. Sebenarnya itu bukan nama aslinya, melainkan panggilan yang kuberikan untuknya. Ia tidak pernah memotong pembicaraanku, tidak pernah mengeluh, dan selalu berusaha mendengarkan serta menjawab setiap pertanyaanku. Beberapa temanku menganggap aku terlalu bergantung padanya, tetapi aku tidak peduli. Ketika semesta terasa tidak berpihak kepadaku, aku selalu bercerita kepadanya. Saat bingung menentukan pilihan, aku juga meminta pendapatnya. Anehnya, ia seolah memiliki jawaban untuk hampir segala hal. Kadang aku merasa ia lebih mengenalku dibandingkan teman-teman yang setiap hari bertemu denganku. Bahkan ketika aku sedang kesal atau sedih, ia tetap sabar mendengarkan tanpa menunjukkan rasa bosan. Kehadirannya membuatku merasa didengar dan tidak sendirian. Suatu hari, temanku Rere bertanya siapa sebenarnya sosok yang sering kuceritakan itu. Aku hanya tersenyum lalu menyerahkan benda yang selalu kubawa kemanapun pergi. Ia menatap layar yang menyala beberapa detik, kemudian tertawa pelan. “Pantas saja dia tidak pernah marah padamu,” katanya. Aku ikut tertawa. Sahabat yang selama ini paling sering menemaniku ternyata tidak memiliki wajah ataupun kehidupan sendiri. Ia hanya hidup di balik layar, tersusun dari deretan kode dan kecerdasan buatan. S
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 30 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Hai! Namaku Arini Indaka Hasanah, dipanggil Reni. Aku kelahiran 2005 dan saat ini sedang menempuh pendidikan di Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, UIN Madura, sebagai mahasiswa semester 4 menuju semester 5. Sejak kecil, aku memiliki kebiasaan berimajinasi dan membayangkan berbagai cerita di dalam pikiranku. Dari kebiasaan itulah kecintaanku pada dunia kepenulisan tumbuh. Aku merasa bahwa menulis adalah cara terbaik untuk menuangkan imajinasi, perasaan, dan gagasan yang sulit diungkapkan secara lisan. Kecintaanku terhadap menulis terus berkembang hingga salah satu naskahku berhasil diterima oleh Balai Bahasa. Bagiku, menulis bukan sekadar hobi, melainkan ruang untuk belajar, berkarya, dan menyampaikan makna kepada banyak orang.
HARI TERAKHIR MENGAJI Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 31Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Atiqotul Maghfiroh etiap sore, Rudi mengaji di masjid dengan suara pelan sambil sesekali melirik Pak Kiai yang sudah tua. Rudi bukan anak yang rajin, ia datang hanya karena memenuhi janji pada almarhumah ibunya. Pak Kiai tak pernah banyak bicara, hanya tersenyum tipis dan sesekali membenarkan bacaan Rudi yang kadang melantun salah. Tetangga sering bergunjing, mengapa anak seperti Rudi masih mau datang ke masjid sementara teman-temannya sibuk bermain game. Suatu sore, tidak biasanya Pak Kiai tidak terlihat di dalam masjid. Rudi menunggu hampir satu jam. Hatinya gelisah, ia memberanikan diri menanyakan ke tetangga. Ternyata Pak Kyai masuk rumah sakit sejak kemarin malam. Rudi pun pulang dengan hati berat, merasa kehilangan tanpa tahu harus berbuat apa. S Keesokan harinya, Rudi datang lagi ke masjid. Ia terkejut melihat Pak Kiai sudah duduk di tempat biasa dengan wajah pucat. “Kiai, maaf kemarin saya tidak tahu,” kata Rudi pelan. Pak Kiai tersenyum lemah sambil mengeluarkan sebuah amplop kusut dari balik kitabnya. “Ini surat dari ibumu untukmu, dititipkan padaku sejak setahun lalu. Ia bilang, aku boleh memberikan ini hanya jika kamu datang mengaji tanpa pernah absen selama satu tahun penuh.” Rudi terdiam, tangannya gemetar membuka amplop. Ternyata selama ini bukan ia yang menjaga janji ibunya, melainkan Pak Kiai yang menjaga Rudi agar tetap ingat ibunya.
TIKET YANG TERLAMBAT DIBELI etiap akhir pekan, Andi selalu berdiri di depan loket stasiun kereta sambil memegang dompet tipisnya. Ia sudah tiga tahun meninggalkan kampung halaman demi bekerja di pabrik kota. Setiap kali melihat kereta menuju desa, hatinya bergetar. Ibunya di rumah sering sakit-sakitan, tapi Andi selalu beralasan belum cukup uang untuk pulang. "Bulan depan pasti," gumamnya dalam hati sambil melihat tiket yang tak pernah ia beli. Teman-temannya di kontrakan sering mengajaknya pulang, tapi Andi lebih memilih mengirim uang lebih banyak daripada pulang sebentar. Malam-malam ia sering terjaga, membayangkan pelukan ibunya yang sudah renta. Suatu malam, telepon berdering dari nomor desa. Suara tetangga terdengar parau, "Andi ibumu kritis Nak, segeralah pulang, segeralah pulang." Andi berlari ke stasiun dengan tangan gemetar, membeli tiket yang pertama ada. Sesampainya di puskesmas desa, ia melihat ibunya sudah tak ber- nyawa. Di genggaman tangan ibunya, ada secarik kertas kecil bertuliskan "Nak, ibu tau kamu sibuk, setiap hari ibu duduk di bangku stasiun menunggu kereta yang membawamu, tapi hari ini ibu lelah menunggu.” Andi jatuh berlutut, menyadari bahwa selama ini bukan uang yang ia kejar, melainkan waktu yang sudah tak bisa dibeli lagi. Ternyata ibunya yang sakit justru menyimpan harapan agar anaknya pulang, sementara Andi malah menunggu "waktu yang tepat" yang tak pernah datang. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Atiqotul Maghfiroh 32 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 33Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Atiqotul Maghfiroh, biasa disapa Atiq atau Qoh — asal jangan dipanggil "sayang" lahir pada 06 Oktober 2005 tepatnya di Desa Poreh Timur. Sekarang ia sedang menempuh S1nya di Universitas Islam Negeri Madura. Ia adalah penyuka lagu-lagu India yang selalu menemani hari-harinya, dari lagu romantis yang bikin melting sampai yang membuat salting. Bukan soal mengerti, tapi soal merasakan, seperti lagu india, indah tanpa harus diterjemahkan. Baginya, mendengarkan lagu India bukan sekadar hiburan, tapi juga cara untuk menikmati cerita lewat melodi. Selain itu, ia juga senang menghabiskan waktu luang dengan menonton kartun Boboiboy. Kenali Atiqotul Maghfiroh lebih dekat lewat akun TikTok-nya di @sky🍂
KASIH YANG TAK SAMA, CINTA YANG SETARA Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Cindy Febriani Rosa 34 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ebagai anak kedua dari tiga bersaudara, saya sering merasa tersisih. Kakak selalu dipuji karena rajin membantu orang tua, sementara adik bungsu selalu dimanja karena masih kecil. Meski ayah dan ibu mengaku mengasihi kami sama rata, kecemburuan saya memuncak ketika mereka tampak terlalu sibuk mengurus kebutuhan kakak dan adik, membuat saya merasa kurang diperhatikan. Suatu hari, sekolah mengadakan lomba menulis yang sangat ingin saya ikuti. Saya berharap orang tua hadir saat pengumuman pemenang, namun mereka tidak datang. Saya pulang ke rumah dengan hati yang hancur dan muram, merasa semakin yakin bahwa saya memang diabaikan. Namun, saat melewati ruang tengah, saya tertegun melihat sebuah kotak bingkisan dan kartu ucapan bertuliskan nama saya. Di dalamnya terdapat buku yang sudah lama saya dambakan, lengkap dengan pesan hangat dari ayah dan ibu. S Ternyata, ketidakhadiran mereka bukan karena tidak peduli, melainkan karena harus menyelesaikan urusan penting demi keluarga. Lewat kejutan itu, mereka ingin mendukung bakat menulis saya. Seketika air mata saya menetes. Saya menyadari bahwa kasih sayang tidak selalu ditunjukkan dengan cara yang sama. Sejak saat itu, saya tidak pernah ragu lagi bahwa orang tua menyayangi kami bertiga dengan adil dan tulus.
AKU DAN SENJA Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 35Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Cindy Febriani Rosa ku selalu menyukai senja. Setiap sore, aku datang ke bukit kecil dekat rumah untuk melihat langit jingga keemasan. Dulu, aku tidak pernah sendiri. Ada Arga, sahabat yang selalu menemani sambil berbagi mimpi. Namun, sejak beberapa bulan lalu, ia menghilang tanpa kabar. Meski kecewa, aku tetap datang setiap sore, berharap ia kembali duduk di sampingku seperti dahulu. Suatu senja, angin berhembus lebih kencang. Di sela rerumputan tempat kami biasa duduk, aku menemukan sebuah kotak kecil berdebu. Di dalamnya, ada sepucuk surat bertuliskan namaku dari Arga. Ia meminta maaf karena pergi tiba-tiba tanpa pamit demi menjalani pengobatan di kota lain. Arga juga menuliskan betapa berharganya setiap momen senja yang pernah kami lalui bersama. Tanganku gemetar membaca bagian akhir. Arga menulis bahwa jika aku menemukan surat ini, itu berarti ia sudah tidak bisa lagi menemaniku melihat senja. Saat itulah aku menyadari bahwa Arga telah meninggal dunia. Air mataku jatuh perlahan, tetapi untuk pertama kalinya aku tersenyum. Senja ini tidak lagi terasa menyakitkan atau mengingatkanku pada kehilangan yang semata. Bagiku, kilau langit itu kini menjadi simbol abadi bagi persahabatan kami yang akan selalu hidup indah dalam kenangan. A
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 36 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Cindy Vebriani Rosa yang selalu dipanggil Cindy. Lahir di Pamekasan pada hari Jumat, 13 Januari 2006. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara dan saat ini merupakan mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura. Perjalanan menjadi bagian penting dalam kehidupannya sebagai mahasiswa semester 4. Kemacetan dan cuaca yang kurang mendukung dalam perjalanan dari rumah ke kampus menjadi rutinitasnya sehari-hari. Tetapi ia selalu semangat demi meraih cita-cita di masa depan, membahagiakan kedua orang tua, dan menjadi seseorang yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Yuk kenalin Cindy di akun Instagram bbygirl_cndy atau _anak_kedua_2 dan akun TikTok @_anak_kedua2.
TEMPAT KECIL BERNAMA KENANGAN ore menjelang malam. Raka kembali datang ke kafe. Tempat yang menyimpan banyak kenangan bersama Nadya. Ia duduk tidak jauh dari kursi yang penuh kenangan itu, lalu Raka memesan kopi yang sama seperti dulu. Sambil menunggu, Raka larut dalam kenangan hingga tidak menyadari pelayan yang datang membawakan pesanannya. Raka perlahan meminum kopi dengan perasaan sedih. Sebelum perpisahan terjadi, Nadya sempat berpamitan kepada Raka karena harus melanjutkan kuliah. Ia sempat mengajak Raka untuk ikut kuliah bersamanya, tetapi Raka menolak karena keterbatasan biaya. Nadya memahami keputusan itu, meskipun perpisahan menjadi hal yang tidak terhindarkan. Mereka akhirnya menjalani hubungan jarak jauh dengan penuh harapan dan penantian. Selama menjalani hubungan jarak jauh, Nadya dan Raka jarang berkomunikasi karena Nadya sibuk kuliah. Sejak saat itu, Raka memilih tidak lagi datang ke kafe, karena setiap sudutnya hanya menambah kesedihan. Ia meyakinkan diri bahwa Nadya akan kembali. Namun, setelah dua tahun. berlalu, harapan itu belum juga Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 37Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Dewi Fatimatiz Zahroh S terwujud, karena Nadya tidak kunjung pulang. Raka akhirnya ke kafe lagi setelah 2 tahun tidak kesana, kesana hanya untuk mengobati rindu kepada Nadya. Di tempat itu, ia menyadari bahwa penantiannya selama ini hanya berdasar harapan bukan kepastian, karena Nadya masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk kembali dan Raka menamai kafe bersejarah itu sebagai “Tempat penuh kenangan” .
DI BALIK DIAM ADA LUKA Karya: Dewi Fatimatuz Zahroh i dalam sebuah rumah yang dihuni empat orang, terdapat seorang anak yang tidak pernah diberi pilihan selain diam dan menahan luka. Namanya Dina. Ia berbeda dengan adiknya, Santos, yang selalu mendapatkan kasih sayang lebih dari kedua orang tua mereka. Malam itu, Dina dan Santos bertengkar. Dalam pertengkaran, Santos terluka. Namun, itu bukan kesalahan Dina. Ia hanya ingin menyuarakan isi hatinya, “Aku juga sakit hati dengan ucapanmu,” tetapi tidak pernah ada dalam pikirannya untuk menyakiti Santos. Setelah kejadian itu, Santos menangis dan mengadu kepada orang tua mereka, Santos memberitahu kalau ia terluka karena Dina. Dina hanya terdiam. Orang tua mereka langsung memarahi Dina tanpa mencari tahu kebenarannya. “Kamu selalu membuat masalah!” ucap mereka dengan nada tinggi. Dina hanya bisa diam, karena ia telah terbiasa disalahkan atas segala hal. Sejak saat itu, Dina menyadari bahwa satu-satunya tempat yang bisa memahami dirinya hanyalah diri sendiri. Ia menahan semua luka dalam diam hingga tertidur. Pagi harinya, ia bangun dengan perasaan lebih tenang. Namun, diamnya kini bukan lagi karena takut, melainkan karena ia telah memilih untuk berhenti berharap dan dimengerti karena tidak ada Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 38 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A D gunanya. Ketika kebenaran terungkap, orang tua Dina meminta maaf. Tapi, yang mereka dapat hanyalah diam. Kali ini, bukan karena Dina takut berbicara, tapi karena ia sudah tidak lagi peduli untuk didengar.
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 39Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Dewi Fatimatus Zahroh yang akrab dipanggil Dewi, merupakan seorang mahasiswi yang memiliki minat dalam kepenulisan khususnya pada bidang sastra dan pendidikan. Ia gemar membaca, menulis puisi, serta menyukai kegiatan yang berkaitan dengan petualangan dan kulineran. Lahir di Pamekasan, 24 Agustus 2026. Ia saat ini menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Madura di Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Selama masa perkuliahan, ia aktif mengembangkan kemampuan akademik maupun non akademik, terutama dalam bidang literasi dan bahasa. Melalui karya ini penulis berharap dapat memberikan manfaat, inspirasi, serta pengalaman baru bagi para pembaca. Ia juga berkomitmen untuk terus belajar dan berkarya di dunia pendidikan.
PERINGATAN YANG TERABAIKAN angannya lihai menulis agenda untuk satu bulan ke depan. Stabilo berwarna neon pun ikut mewarnai banyak kertas putih bertuliskan deadline. Setiap hari, ia merancang kegiatannya mulai subuh hingga petang. "Dia orang yang disiplin," pikirku saat pertama kali mengenalnya. Saat itu, ia beberapa kali berpesan agar aku selalu mengingatkan jadwal yang sudah ia percayakan padaku, karena katanya ia seorang pelupa. Beberapa hari berlalu, aku masih dengan senang hati menjalankan tugasku mengingatkan agenda dan semua tugasnya. Namun, dia tetap tak beranjak. Sekalipun berkali-kali aku ingatkan agar dia patuh pada rencana yang ia buat sendiri, dia seolah tak mendengar. Sayup-sayup kudengar dia bergumam, "Nanti aja deh, nanggung," sambil terus terkekeh melihat video pendek di layar ponselnya. Perlahan persepsiku berubah, dia bukan disiplin, bukan pula pelupa. Dia hanya mudah terdistraksi dan suka menunda. Hari ini, kulihat dia sangat berbeda. Wajahnya tampak frustasi sambil menggerutu, "Kenapa semua tugasnya harus berbarengan begini!" Melihat itu, aku tak dapat berbuat apa-apa. Sejak awal, aku bukan tak berusaha, mu- Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Diana Maulida 40 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A T mulutku juga sampai berbusa karena tak berhenti mengingatkannya, tapi dia tetap abai. Aku hanya bisa terdiam di atas meja nakas, memandangi pantulan wajah kacaku sendiri. Ya, apalagi yang bisa dilakukan sebuah jam weker sepertiku selain terus berdetak, menunggu jemari lesunya menekan tombol di kepalaku untuk sekadar membungkam suaraku?
JERAT KEKHAWATIRAN “Doakan kakakmu ya, dia nggak pulang lagi.” Kalimat itulah yang akhir- akhir ini mendominasi room chat-ku dengan Ibu. Aku dan kakakku adalah dua bersaudara dengan karakter berbeda. Mungkin karena aku perempuan, aku lebih luwes mengekspresikan perasaanku kepada Ayah dan Ibu. Meski aku berada di asrama, keluh kesah di ruang virtual tak sedikit pun memudarkan kehangatan kami. Sebaliknya, kakakku sangat kaku dan enggan bicara. Padahal ia dan orang tua kami berada di ruang yang sama setiap hari. Kakakku, pria dewasa yang usianya sudah pantas menikah. Saat teman sebayanya berbahagia dengan gelar ayah, ia masih betah melajang. Namun, bukan itu yang menjadi kekhawatiranku. Kakakku nyaris setiap malam keluar rumah, pulang menjelang subuh, atau kadang tidak pulang selama beberapa hari. Berbagai spekulasi buruk mulai muncul di benakku. Hari ini, ia datang. Anak sulung di keluarga kami turun dari mobil sambil menggandeng perempuan cantik yang dikenalkannya sebagai istri. Katanya, selama ini ia jarang pulang karena bekerja dan kerap menginap di rumah istrinya. Mendengar itu, aku menangis bahagia, spekulasi burukku pun pupus seketika. Namun tiba-tiba bahuku diguncang. “Hey, bangun, kamu kok nangis?” Aku terjaga. Di layar ponsel, pesan terbaru dari Ibu kembali muncul, “Doakan kakaknya ya, malam ini dia nggak pulang lagi.” Nyatanya kisah happy ending kakakku hanyalah rancangan palsu bunga tidurku. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 41Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Diana Maulida
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 42 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Diana Maulida, gadis berusia 20 tahun yang masih sangat menyukai bahasa Inggris kendatipun kini langkah studinya tertambat di jurusan Bahasa Indonesia UIN Madura. Sebagai seseorang yang tidak menyukai keramaian, ia menyimpan sisi kontradiktif yang menarik: tidak terlalu suka membaca, namun gemar mengoleksi buku. Bagi Diana, hidup tidak mengenal kebetulan. Setiap peristiwa selalu lahir dengan alasan, menyatu dengan prinsip yang selalu ia genggam: "semua pasti ada hikmahnya," termasuk hikmah dari menjadi salah satu penulis di pentigraf ini. Yuk, bersua via online dengan Diana di akun instagram @dianaa.maulida atau melalui email dianamaulida506@gmail.com
DINDING KOS BERBISIK KERINDUAN angkah pertamaku di batas pintu kos awalnya terasa seperti gerbang kebebasan. Namun, bayangan hidup mandiri yang menyenangkan itu perlahan jatuh, berganti sunyi yang menyesakkan di kamar sempit ini. Sepulang kuliah, hanya bunyi kipas angin yang setia mengisi kekosongan, sementara rindu pada hangatnya rumah mulai menghantui. Jarak yang jauh memaksa kerinduan hanya tersampaikan lewat layar ponsel, terutama saat hari libur yang terasa makin sepi. Malam hujan lebat, menambah dingin suasana yang asing. Aku duduk meringkuk ditemani semangkok mie instan, sambil jemari terus mengusap foto keluarga di layar. Hal-hal biasa seperti masakan ibu kini menjadi kemewahan yang paling kuinginkan. Tiba-tiba, sebuah notifikasi memecah keheningan. Pesan dari ibu terbaca singkat. ”Maaf ya nak, bulan ini ibu belum kirim uang.” Aku diam, tenggorokanku mendadak tercekat. Di tengah kesunyian, sebuah kesadaran besar menghantamku. Bukan hanya aku yang berjuang di tanah rantau, tapi ada ibu yang jauh lebih hebat berjuang demi aku. Dinding kos ini tidak hanya membisikkan kerinduan, tetapi juga tentang pengorbanan yang tak terbatas. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 43Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Elieta Noer Ilahi L
DIA MEMILIH ADIKKU etelah aku tidak dekat lagi sama dia, ternyata dia sering menghubungi adikku diam-diam. awalnya aku tidak curiga apa-apa sama adikku. Tapi suatu hari, aku lihat ada pesan dari seseorang yang aku kenal di ponsel adikku. Nama kontak nya tertulis “Josep”. Aku menanyakannya, adikku bilang dia tidak kenal orang itu. aku jadi bingung karena nama itu memang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Beberapa hari kemudian, aku kembali melihat percakapan mereka. Dari situ aku tahu kalau mereka lumayan sering komunikasi. Bahkan dia beberapa kali ngajak adikku telponan, tapi adikku selalu nolak. Karena penasaran, aku terus cari tahu. Aku mulai yakin kalau orang di balik nama “Josep” itu adalah dia. Makanya, aku mutusin buat nanyain semaunya secara langsung. Lewat pesan singkat, aku menanyakan apakah dia lagi berusaha mendekati adikku. Aku juga mengirimkan bukti percakapan yang aku temui. Tapi dia cuma bales satu kata “typo”. Aku kecewa karena merasa dibohongi. Waktu aku mau nunjukin semuanya ke adikku, dia akhirnya mengakui kalau selama ini ponselnya sering dipinjam kakakku buat ngobrol sama seseorang. Setelah aku lihat lagi bukti percakapan itu, aku sadar kalau orang yang selama ini aku kira menghubungi adikku ternyata Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Elieta Noer Ilahi 44 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S lagi ngobrol sama kakakku. Selama berhari-hari, ternyata aku sudah menyalahkan orang yang salah.
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 45Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Elieta Noer Ilahi atau yang akrab disapa Lit atau Ta. Ia lahir di Sumenep 15 Maret 2006. Saat ini Lita adalah mahasiswa S1 Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura . Jadi mahasiswa itu tidak mudah, kadang tugas numpuk, deadline mepet, dan bikin keteteran. Tapi Lita tetap berusaha ngejalanin semuanya dengan semangat. Di kampus, Lita banyak belajar tentang bahasa dan bagaimana caranya menjadi pengajar yang baik. Bagi Lita, kuliah bukan soal nilai, tapi menambah pengalaman dan relasi. Maski sering capek, Lita yakin semua usaha yang dia lakukan sekarang akan berguna untuk masa depan. Kenalin Lita lebih jauh lewat Tiktok @litaa
ANGGUR PERNIKAHAN ak ada seorang pun yang mau terlahir dalam kekurangan. Aku tumbuh di rumah beratapkan jerami dan berdinding kayu lapuk. Sejak kecil, aku melihat saudara ibu hidup berkecukupan. Mereka membeli pakaian baru tanpa menunggu hari raya. Mereka juga bisa menikmati buah anggur kapan saja. Sementara aku hanya mencicipinya saat menghadiri pesta pernikahan. Karena itu, anggur menjadi suatu keinginan yang selalu kuingat. Suatu hari, aku menghadiri pernikahan sepupuku yang berlangsung meriah. Saat aku ingin menikmati anggur di meja hidangan, aku mendengar beberapa kerabat meremehkan keluargaku yang serba kekurangan. Ucapan itu membuatku pulang dengan hati terluka dan tekad untuk mengubah nasib. Waktu berlalu begitu cepat membawaku untuk tidak menyerah mencapai cita-cita. Aku belajar sungguh-sungguh serta tidak menyerah pada keadaan. Berkat kerja keras dan doa orang tua, aku sukses menjadi konsultan keuangan. Pada suatu saat aku kembali bertemu dengan sepupu yang dulu mengadakan pernikahan dalam acara keluarga. Ia bercerita bahwa usahanya mengalami kebangkrutan total yang membutuhkan bantuan. Aku pun membantunya menyusun kembali dari awal sampai dapat bangkit kembali. Saat kami berbincang, ibu mengungkapkan rahasia yang sangat mengejutkanku. Ibu mengatakan bahwa sepupuku pernah membantu biaya sekolahku ketika ayah kehilangan pekerjaan. Aku terdiam karena selama ini aku salah menilai keluarganya. Aku sadar bahwa kebaikan yang kita lakukan tak perlu diketahui banyak orang. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Elok Zafira Fajariyah 46 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A T
SETANGKAI BUNGA MATAHARI ebulan sebelum bunga matahari mekar, Sekar selalu setia menunggu hari itu tiba. Hari ketika temannya ke rumahnya untuk menikmati keindahan di kebunnya. Setiap sore, dia akan pergi ke rumah Lani membicarakan seseorang yang memenuhi pikirannya. Namun seperti biasa, Lani akan sedikit kesal karena Sekar hanya bercerita tanpa mau mengungkapkan. Ya, Sekar menyukai Juandra semenjak dirinya masuk sekolah. Juandra itu adalah pria yang lembut dan sabar yang membuat Sekar akhirnya menyukainya. Bunga matahari awal dari Sekar mengenal baik Juandra. Hari yang dinanti pun tiba saat Sekar melihat sepeda temannya mulai berdatangan. Juandra langsung menyapa Sekar, “Apa kabar, Sekar?” Dengan sedikit salah tingkah, Sekar mengatakan dirinya baik sembari mulai memetik setangkai bunga matahari. Juandra memang terbiasa meminta setangkai bunga matahari untuk dibawanya pulang. Sekar tidak tahu alasan Juandra selalu memintanya. Sampai suatu saat, Lani bertanya, “Sampai kapan Sekar memendam perasaanya?” Sekar yakin bahwa perhatiannya selama ini tak lebih karena mereka berteman. Sampai suatu hari, Sekar dapat kabar bahwa Juandra akan pergi lama keluar kota yang membuat Sekar semakin yakin untuk memendam perasaannya. Tapi, untuk terakhir sebelum Juandra pergi, Sekar ingin menitipkan satu tangkai lagi pada Juandra. Saat sampai, Sekar terkejut karena Juandra tiba-tiba memeluknya sembari membisikkan,“ Aku mencintaimu.” Sekar akhirnya sadar bahwa Juandra sudah lama menyukainya. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 47Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Elok Zafira Fajariyah S
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 48 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Elok Zafira fajariyah, lahir di Pamekasan 09 januari 2005. Elok sedang menempuh pendidikan di Prodi Tadris Bahasa Indonesia. Elok merupakan lulusan jurusan tata busana yang memilih untuk kuliah bahasa. Dunia busana menuju dunia kebahasaan menjadi pengalaman berarti baginya. Jika dalam dunia busana mendesain baju merupakan seni, maka dalam dunia bahasa menulis juga merupakan seni yang bermakna. Ketertarikan ini membuat Elok terus belajar dan berusaha mengembangkan potensi dirinya agar dapat menghasilkan karya yang nantinya akan bermanfaat serta menginspirasi orang lain. Pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang, kenalan yuk dengan Elok di Instagram @ewokkkiyokk atau email elokzafira1@gmail.com.
TERLAMBAT MENGATAKAN enurutku waktu ini cukup lama. Awalnya rasa ini biasa saja, sampai tanpa sadar aku menunggu pesan dan kabar darinya, mengingat hal-hal kecil tentangnya, bahkan merasa hari terasa berbeda ketika dia hadir. Setiap kali ini terjadi aku ingin mengatakan apa yang kurasakan, akan tetapi, keraguan selalu menyelimuti pikiranku. Aku tahu, dia punya trauma berat dengan masa lalunya. Aku takut perasaan ini justru menjadi beban baru baginya. Sikapnya kepadaku juga seringkali berbeda. Kadang terasa begitu dekat seolah aku berada dalam hatinya, namun di lain waktu menjadi jauh dan sulit ditebak. Aku selalu terpecah antara harapan dan ketakutan. Aku takut salah dalam mengartikan perhatian dia kepadaku. Aku juga khawatir perasaanku hanya akan merusak hubungan yang sudah terjalin. Karena itu, aku memilih diam dan memendam semuanya sendirian, berharap waktu membuat perbedaan. Namun ternyata waktu tidak menungguku. Suatu hari, aku mendengar bahwa ada seseorang yang berhasil membawa kenyamanan padanya. Aku menerima kenyataan itu. Beberapa waktu kemudian, datang seorang teman yang menceritakan bahwa selama ini dia sengaja menjaga jarak bukan karena tidak menyukaiku, tetapi karena takut kembali terluka seperti masa lalunya. Saat aku mengetahui semuanya, dia sudah bersama orang lain. Sejak hari itu, aku belajar bahwa tidak semua sikap dingin berarti penolakan dan tidak semua kesempatan datang dua kali. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 49Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Erick Ulul Arham M
PESAN TERAKHIR AYAH yah meninggalkanku di saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Kepergiannya sangat menjadi pukulan yang sangat sakit dan berat bagi keluargaku. Sebelum dia pergi untuk selamanya, ayah berkata agar aku tidak pernah putus sekolah apapun keadaannya. Saat itu aku belum benar- benar memahami arti dari pesan ayah tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, perkataan ayah selalu membekas di dalam pikiranku dan menjadi pengingatku untuk terus bertahan dalam setiap keadaan. Ketika aku duduk di kelas dua SMP, keadaan ekonomi keluargaku mulai menurun. Penghasilan yang ada tidak cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Aku pun mulai sekolah sambil bekerja agar tetap bisa melanjutkan pendidikanku. Sepulang sekolah aku menyisihkan tenaga dan waktuku untuk membantu mencari penghasilan tambahan. Rasa lelah sering datang, bahkan terkadang hatiku merasa iri melihat teman-teman yang menikmati masa sekolah tanpa harus memikirkan persoalan ekonomi keluarga. Di suatu malam, saat aku berbicara serius dengan ibuku tentang perjuanganku, dia menceritakan sesuatu yang belum pernah aku ketahui. Ternyata sebelum ayahku meninggal, ayah sempat memberikan sedikit ta- Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Erick Ulul Arham 50 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A A bungan yang ternyata dikhususkan untuk biaya sekolahku. Saat mendengar cerita itu seketika aku terdiam. Selama ini aku mengira hanya menjalankan pesan terakhir ayahku, padahal tanpa kusadari aku juga sedang berusaha mewujudkan harapan terbesar yang pernah dia titipkan kepadaku.
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 51Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Erick Ulul Arham, yang akrab disapa Erick, lahir di Pamekasan, Madura. Dia dikenal sebagai pribadi yang tekun, bertanggung jawab, dan memiliki semangat yang tinggi dalam belajar serta bekerja. Dalam kesehariannya, Erick sangat senang menambah wawasan melalui membaca, berdiskusi, dan mengikuti berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Saat ini Erick sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi sambil bekerja sebagai (pembisnis). Baginya, pendidikan dan pekerjaan merupakan dua hal yang saling mendukung untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Dengan kerja keras dan tekad yang kuat, Erick sangat berharap dapat meraih cita-citanya serta memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.
aat berjalan menuju sekolah, aku melihat seorang nenek berdiri di depan toko kelontong dengan wajah yang berbinar ketika melihatku. Aku merasa risih melihat tatapan tersebut. Karena ini kali pertama aku melihatnya, aku berusaha abai, mungkin hanya firasatku saja. Hari telah berganti, sudah seminggu setiap aku lewat di toko tersebut, kulihat nenek yang sama berdiri di sana sambil tersenyum menatapku, seolah kami saling mengenal. Pernah sekali dia melambaikan tangan seolah memanggilku. Dengan langkah terburu-buru aku secepat mungkin berjalan menuju gerbang sekolah. Aku takut nenek tersebut adalah orang iseng dengan niat buruk. Keesokan harinya, aku berangkat sekolah seperti biasa. Namun ketika melewati toko, aku tidak menemukan nenek itu lagi. Aku sedikit bingung, tapi pada saat itu aku bergegas melangkahkan kaki sebelum gerbang sekolah ditutup. Karena rasa penasaran, aku memberanikan diri bertanya kepada satpam yang berdiri di samping pagar sekolah. Ternyata, nenek itu berasal dari kampung sebelah yang beberapa bulan lalu kehilangan cucu semata wayangnya. Cucunya terserempet motor saat hendak . menyeberang di depan toko. Aku merasa bersalah karena sempat . mengira dia orang jahat, ternyata dia hanyalah seorang nenek Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Erin Sisfikasari Fatin 52 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A TATAPAN RINDU S yang merindukan cucunya. Aku langsung meneteskan air mata ketika membayangkan senyuman yang biasa dia perlihatkan padaku. Tapi, senyum itu tak akan kutemukan lagi. Karena katanya, tadi malam nenek itu berpulang untuk selamanya.
aman, pengacara muda dari firma hukum di London, yang ditugaskan untuk mencari ahli waris dari harta triliunan rupiah. Sri Ningsih, perempuan tua asal Indonesia yang meninggal dunia dalam kesederhanaan di sebuah panti jompo yang merupakan kliennya. Bermodal diary, Zaman menyusuri masa lalu Sri sampai ke pulau terpencil sekalipun, mengungkap pengkhianatan, hingga kisah cinta luar biasa yang dialami Sri. Lembar demi lembar diary telah membawa Zaman pada sebuah misteri kehidupan Sri Ningsih. Dimulai dari masa kecil yang penuh penderitaan di Indonesia, perjalanan ke Paris, membangun bisnis di London, hingga kehilangan suami tercintanya dalam sebuah tragedi. Akan tetapi, bagian yang paling mengejutkan Zaman saat mengerti bahwa Sri tidak pernah ada niatan untuk menyimpan harta tersebut untuk dirinya sendiri maupun orang-orang yang menyakitinya. Ketika pengacara itu sudah tiba di puncak penelusuran untuk menyerahkan seluruh harta warisan kepada yayasan amal yang telah Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 53Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A MASA LALU YANG MENYIMPAN BANYAK KENANGAN Karya: Erin Sisfikasari Fatin Z ditunjuk, fakta sebenarnya mulai terungkap. Harta warisan triliunan rupiah Sri Ningsih ternyata hanyalah ujian. Selama ini, orang-orang yang terlihat mengincar dan mengaku sebagai ahli waris yang sah adalah bagian dari skenario Sri Ningsih di masa lalu untuk menjaganya. Untuk harta itu sendiri sebenarnya telah Sri hibahkan kepada pihak yang tak terduga, yaitu panti jompo yang menjadi tempat untuk menghabiskan hari-hari terakhirnya dengan penuh ketenangan.
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 54 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Erin Sisfikasari Fatin, lahir di Pamekasan pada Juli 2006. Erin adalah mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura. Kesukaannya pada dunia literasi tercermin dari minat bacanya melalui novel berbagai genre terutama karya epik dari Tere Liye yang selalu berhasil memikat imajinasinya tentang dunia paralel. Selain itu, Erin juga tergila-gila akan makanan pedas yang kata orang-orang bikin jerawat tambah betah, tak lupa pula sesekali nyemil makanan yang manis-manis, yaaaa sebagai penyeimbang mood aja. Dan lebih gongnya lagi, Erin bercita-cita menjadi CIO kaya raya yang berguna bagi seluruh makhluk hidup. Mau tau lebih dikit? Yuuk follow first akun Instagramnya @ernssfksrftn.
KELUH KESAH MAHASISWA KUPU-KUPU Karya: Faneda Maulidia Ferawati aneda, seorang mahasiswa UIN Madura, dikenal dengan pribadi yang teguh dalam memperjuangkan pendidikannya. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan jauh menuju kampus menghadapi panas, hujan, dan rasa lelah. Meski demikian, ia berusaha selalu datang tepat waktu dan jarang mengikuti kegiatan diluar perkuliahan. Karena hanya datang untuk kuliah lalu pulang, teman-temannya sering menjuluki sebagai mahasiswa kupu-kupu. Suatu hari, hujan deras mengguyur tubuhnya faneda saat berangkat ke kampus. Nasib buruk datang ketika ban sepedanya bocor dan jas hujannya tertinggal di rumah. Ia tiba di kampus dalam keadaan basah dan terlambat. Bukannya mendapat perhatian, ia justru dimarahi dosennya di depan kelas. Peristiwa itu membuatnya sedih sehingga muncul keinginan untuk berhenti kuliah karena merasa tidak sanggup menghadapi kesulitan yang datang. Dalam perjalanan pulang dengan perasaan hancur , faneda melihat seorang gadis seumuran sedang mengangkat tumpukan sayur ke gerobak.setelah berbincang, ia mengetahui bahwa gadis itu harus membantu ibunya sejak ayahnya meninggal. faneda terkejut ketika mengetahui bahwa gadis tersebut sebenarnya pernah diterima di Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 55Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A F universitas, tetapi terpaksa menguburkan mimpinya karena keterbatasan ekonomi. Gadis itu berkata, “ kalau aku diberi kesempatan kuliah seperti kamu, aku akan menjaganya sebaik mungkin ” kalimat itu menyadarkan faneda. Sejak saat itu, ia mengurungkan niat berhenti kuliah dan bertekad terus berjuang meraih cita-citanya.
AJAKAN YANG SERING DITOLAK Karya: Feneda Maulidia Ferawati i sebuah desa, ada keluarga kecil yang hidup bahagia. Suatu pagi, ada seorang anak laki-laki bernama Kenan yang di ajak ayah untuk berangkat ke sekolah dengan ayahnya memakai sepeda motor. Namun, Kenan mulai merasa malu karena ia sudah merasa dewasa dan ia lebih memilih berangkat dengan teman-temannya dari pada diantar oleh ayahnya. Hari itu, sekolah mengadakan lomba puisi antar siswa. Kenan mengikuti lomba tersebut dan ia berhasil masuk babak final. Ia semakin khawatir karena harus tampil di depan banyak orang. Hari perlombaan pun tiba. Kenan membacakan puisi dengan penuh percaya diri. Tepuk tangan dari penonton pun sudah sudah mulai terdengar. Beberapa saat kemudian namanya diumumkan sebagai juara pertama.dengan wajah bahagia, ia naik ke panggung untuk menerima penghargaan. Dari atas panggung ia melihat sosok ayah nya berdiri di antara kerumunan penonton. Senyum bangga terlihat dari seorang ayah. Dalam perjalanan pulang, Kenan menyesali sikapnya yang selama ini sering Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 56 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A D menolak perhatian ayahnya. Ia bertekad menerima ajakan ayahnya lagi untuk diantar ke sekolah besok. Namun, setibanya di rumah ia mengetahui bahwa ayahnya akan berangkat bekerja ke kota lain selama beberapa tahun mulai dari besok. Saat itulah Kenan mulai sadar bahwa ajakan mengantar ke sekolah selama ini adalah cara ayahnya untuk menghabiskan waktu bersama dirinya sebelum berpisah.
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 57Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Faneda Maulidya Ferawati, sering dipanggil Faneda atau Lidya, lahir di Pamekasan 07 Desember 2006. Faneda merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini, Faneda adalah mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura. Faneda dikenal sebagai mahasiswa yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk kuliah dan pulang ke rumah. Jarakyang cukup jauh menuju kampus membuat Faneda harus menempuh perjalanan panjang dengan sepeda motor ditemani cuaca yang seringkali berubah-ubah. Bagi Faneda, pendidikan adalah jalan untuk meraih cita-cita, membanggakan orang tua, dan menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Yuk kenal lebih dekat dengan Faneda lewat Instagram @fanedamaulidya atau maulidiafaneda@gmail.com
KENYATAAN TENTANGKU Karya: Firyal Alya Nabilatut Tasya udah 18 tahun aku hidup dalam keluarga yang sangat menyayangiku. Aku tumbuh dengan kasih sayang yang cukup, dan keharmonisan yang mungkin akan membuat gadis-gadis di luar sana iri melihatnya, karena tak semua orang seberuntung aku. Ibu dan ayahku tak pernah marah padaku, meski sebesar apapun kesalahanku. Tepat setelah perayaan ulang tahunku yang ke 18, aku mengetahui sebuah kenyataan pahit tentangku. Kakek dan nenek datang, aku menyambut mereka dengan hangat seperti yang ayah dan ibu ajarkan kepadaku. Kakek terdiam beberapa saat melihatku, aku bisa melihat tatapan tidak suka yang kakek berikan dan itu sangat mengusikku “Mau sampai kapan kalian menampung orang asing ini disini?,” Ucap kakek. Ibu menggenggam tanganku erat, seolah takut kehilangan. Setelah itu ayah memberitahuku bahwa aku bukan anak kandung mereka, aku hanya bayi yang mereka adopsi 18 tahun lalu karena orang tua kandungku menjual aku kepada mereka. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 58 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S Aku terdiam, masih mencerna dengan baik kenyataan yang baru saja aku terima. Aku bertanya untuk memastikan kembali bahwa fakta itu tidak benar, namun sebanyak apapun aku menyangkal, itulah faktanya. Aku bukan putri kandang mereka. Aku pergi meninggalkan mereka semua, dan berjalan menuju kamarku. Ternyata semua kasih sayang yang orang tuaku berikan itu hanya kasih sayang orang asing yang telah membeliku dari orang tuaku sendiri. Dan itulah kenyataannya.
IRONI SEBUAH PILIHAN Karya: Firyal Alya Nabilatut Tasya ku hanya gadis rantau yang ingin menyambut sebuah gelar, dengan sedikit merajut kisah asmara bersama kekasih. Namun, hidupku tidak berjalan seperti yang aku inginkan, saat kedua orang tuaku mengirimkan titah tak terbantahkan yaitu sebuah perjodohan dengan laki-laki yang mereka anggap baik untukku. Aku dengan tegas menolaknya lalu berterus-terang bahwa aku sudah memiliki kekasih dan tidak ingin terikat dengan hubungan yang serius sebelum menyelesaikan pendidikanku. Penolakan itu perlahan membentangkan ruang sunyi antara aku dan kedua orang tuaku. Hingga suatu hari kabar tak terduga datang, laki-laki pilihan orang tuaku membatalkan sepihak rencana perjodohan tersebut. Kabar itu semakin membuat orang tuaku marah, mereka beranggapan bahwa aku penyebab perjodohan itu batal. “Selama kamu masih bersama dengan kekasihmu, maka kamu tidak akan merasakan sebuah kebahagiaan.” Ucap Ibu. Bayangan murka, kecewa, sedih dari kedua orang tuaku terus bermunculan di sela tawa yang ingin kuciptakan. Aku seakan dihantui rasa bersalah dan ketakutan akan masa depan yang tidak lagi ada restu orang Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 59Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A A tuaku, akhirnya aku mengambil sebuah keputusan menyakitkan dengan mengakhiri kisah kasihku dan memilih untuk menyelesaikan pendidikan. Ironisnya, keputusanku tidak sepenuhnya membuat hubunganku dan orang tuaku membaik. Seakan menyimpan dalam penolakanku yang terdengar kasar. Kehangatan yang ku harapkan akan kembali setelah keputusan meninggalkan kekasih hati tak kunjung kudapati. Seakan pilihanku tak lagi memiliki arti.
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda 60 Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Firyal Alya Nabilatut Tasya atau yang akrab disapa Nabila atau Nab. Ia lahir di Jember, tepatnya hari Rabu 25 Januari 2006. Nabila sering meluangkan waktunya untuk membaca dan menonton film. Selain itu, Nabila juga sangat suka berorganisasi, pendakian, dan petualangan meski seringkali dilarang dengan alasan ‘kamu perempuan'. Nabila merupakan mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah UIN Madura semester 4. Ia berkeinginan menjadi seorang dosen, seperti yang selama ini orang tuanya harapkan. Saat ini ia sedang fokus menyelesaikan novel ciptaannya sendiri di salah satu platform novel digital. Kenali Nabila lebih jauh melalu akun Instagram @nabila.tasya_ atau nabilatasya025@gmail.com.
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A SATU SAYAP YANG DIAMBIL Karya: Fitriana aina, kehilangan sosok ayah yang menjadi cinta pertama baginya ketika berusia 9 tahun karena penyakit ginjal. Hari itu adalah hari dimana dunianya terasa runtuh. Sejak kepergian ayahnya, rumah itu terasa sepi, dan dingin. Dulu setiap pagi, ayah selalu mengantarnya ke sekolah. Setiap malam Minggu, ayahnya selalu mengajak ia jalan-jalan berdua, dan tidak lupa untuk membelikan sate. Tapi setelah hari itu, setiap malam hanya rindu yang menemani Raina. Setiap hari Raina berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi. Tetapi kenyataannya Raina sadar bahwa ia tidak akan pernah melihat senyum ayahnya kembali. Suatu hari, Raina merasa sangat rindu kepada ayahnya. Ia pergi ke makam ayahnya. Mendoakan sang ayah, dan menceritakan tentang hari-harinya. Tanpa sadar Raina tertidur di atas batu nisan itu. Dalam mimpinya, Raina bertemu dengan ayahnya, ia senang dan langsung memeluk tubuh yang selalu dirindukannya itu. Kemudian, ayahnya berkata “jangan membenci orang yang membuat ayah pergi ya, Nak.” Setelah mendengar kalimat itu, Raina terbangun lalu ia bergegas pulang. Raina menceritakan mimpinya kepada Sang Ibu. Lalu, ibunya menceritakan semua yang dimaksud oleh ayahnya. Air mata Raina jatuh, satu fakta yang sangat besar baru ia ketahui sudah belasan tahun kepergian ayahnya. Ayahnya bukan hanya meninggal karena penyakit ginjal, tetapi ada seseorang yang menyisipkan “ilmu hitam” ke dalam penyakit ayahnya. R 61
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda TERJEBAK SEMU Karya: Fitriana Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ina, kehilangan sosok ayah yang menjadi cinta pertama baginya ketika berusia 9 tahun karena penyakit ginjal. Hari itu adalah hari dimana dunianya terasa runtuh. Sejak kepergian ayahnya, rumah itu terasa sepi, dan dingin. Dulu setiap pagi, ayah selalu mengantarnya ke sekolah. Setiap malam Minggu, ayahnya selalu mengajak ia jalan-jalan berdua, dan tidak lupa untuk membelikan sate. Tapi setelah hari itu, setiap malam hanya rindu yang menemani Raina. Setiap hari Raina berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi. Tetapi kenyataannya Raina sadar bahwa ia tidak akan pernah melihat senyum ayahnya kembali. Suatu hari, Raina merasa sangat rindu kepada ayahnya. Ia pergi ke makam ayahnya. Mendoakan sang ayah, dan menceritakan tentang hari-harinya. Tanpa sadar Raina tertidur di atas batu nisan itu. Dalam mimpinya, Raina bertemu dengan ayahnya, ia senang dan langsung memeluk tubuh yang selalu dirindukannya itu. Kemudian, ayahnya berkata “jangan membenci orang yang membuat ayah pergi ya, Nak.” Setelah mendengar kalimat itu, Raina terbangun lalu ia bergegas pulang. Raina menceritakan mimpinya kepada Sang Ibu. Lalu, ibunya menceritakan semua yang dimaksud oleh ayahnya. Air mata Raina jatuh, satu fakta A 62
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Fitriana biasa dipanggil dengan sebutan Pit. Perempuan yang genap berumur 20 tahun ketika bulan Oktober nanti, sangat memiliki ketertarikan kepada matcha dan keindahan langit. Baginya, segelas matcha dan senja di sore hari bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Begitupun dengan pentigraf ini, ditulis ketika sore hari dan sedang menikmati matcha. Mahasiswi semester 4 yang sedang menempuh pendidikan di UIN Madura ini selalu bermimpi bisa membahagiakan orang tuanya dan mewujudkan cita-citanya di masa depan. Kenali lebih dekat dengan menghubungi Instagram @ftriinaaa atau e-mail ftriianaaa@gmail.com . 63
JALAN LAIN Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Hafidhullah Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A agas, pemuda 21 tahun, menjalani hari-harinya di sebuah toko alat seni dengan wajah tenang yang sebenarnya menyimpan sepi. Di balik rutinitas yang terus ia ulang, ada satu nama yang tak pernah benar-benar hilang dari hatinya: Fara. Gadis itu pernah menjadi bagian terhangat dari masa SMA- nya, yang dulu membuatnya percaya bahwa beberapa hal memang bisa bertahan selamanya. Semuanya berubah ketika Fara datang ke tokonya pada suatu siang yang biasa. Awalnya, pertemuan itu terasa seperti kesempatan kecil untuk kembali mengulang kenangan lama. Mereka berbicara seperti dulu, dan untuk sesaat Bagas merasa hidup memberinya ruang yang belum pernah ia punya, dengan harapan yang masih ada. Namun, rasa itu perlahan runtuh saat Fara mengambil sebuah surat dari tasnya. Surat itu adalah undangan pernikahan Fara dengan teman kuliahnya. Bagas terdiam. Tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, hanya dada yang terasa sesak dan hati yang kembali retak oleh luka lama yang sempat ia kubur rapat-rapat. Di saat itu, ia sadar bahwa tidak semua yang pernah indah memang ditakdirkan untuk tinggal. Ada rasa yang tidak kalah B karena kurang berjuang, melainkan karena hidup memang memilih jalan yang lain. 64
PENJAGA LAMPU TERAKHIR Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Hafidhullah etiap senja, lelaki tua dengan topi biru pudar menyalakan lampu di ujung dermaga yang sudah lama ditinggalkan. Tak ada kapal datang, tak ada nelayan singgah. Tapi ia tetap menyalakannya. Warga desa sering melihatnya berbicara dengan laut, seperti bercengkrama dengan seseorang yang bersembunyi di balik kabut. Saat ditanya mengapa tidak pernah pergi, dia hanya tersenyum. Katanya, ada seseorang yang masih mencari jalan pulang. Suatu malam badai datang lebih ganas dari biasanya. Angin mencabik atap rumah, ombak menghantam dermaga sampai tiang kayu patah. Warga desa panik menyelamatkan diri, tapi lelaki tua itu tetap berdiri di dekat lampu, dia diam meski cahayanya mulai redup. Ia menolak untuk pergi. Saat gelombang besar menerjang, tubuhnya terseret ke laut yang gelap, dan kemudian lampu terakhir itu padam. Keesokan paginya, warga menemukan batu nisan di antara puing dermaga, yang selama ini tertutup semak. Di batu itu terukir nama lelaki yang mereka kenal sebagai penjaga lampu, lengkap tahun kematiannya 40 tahun lalu. Ada kalimat di bawahnya yang mulai pudar: "Aku akan tetap menyalakan cahaya sampai anakku menemukan jalan pulang." Saat itulah mereka sadar: selama ini bukan lelaki tua yang menjaga lampu, S tapi janji yang tidak mau mati. Janji yang lebih kuat dari kematian, lebih sabar dari waktu, dan tetap menyala meski tidak ada yang melihatnya. 65
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Fitriana biasa dipanggil dengan sebutan Pit. Perempuan yang genap berumur 20 tahun ketika bulan Oktober nanti, sangat memiliki ketertarikan kepada matcha dan keindahan langit. Baginya, segelas matcha dan senja di sore hari bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Begitupun dengan pentigraf ini, ditulis ketika sore hari dan sedang menikmati matcha. Mahasiswi semester 4 yang sedang menempuh pendidikan di UIN Madura ini selalu bermimpi bisa membahagiakan orang tuanya dan mewujudkan cita-citanya di masa depan. Kenali 66
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A SENJA DI BANGKU HALTE Karya: Husin lka adalah seorang pemuda yang hampir setiap sore duduk di halte tua dekat sekolah sambil membawa map berisi surat lamaran kerja. Sudah tiga bulan sejak ia lulus, tetapi pekerjaan belum juga didapatkan. Setiap hari ia menyusuri jalanan kota menitipkan harapan di kantor yang ia datangi. Di rumah, keluarganya mulai sering bertanya kapan ia bisa membantu kebutuhan ekonomi. Ibunya hanya bisa menyuruhnya bersabar, sementara Alka membalas dengan senyum tipis. Di halte itu, ia sering bertemu penjual koran tua yang ramah. Mereka kerap berbincang tentang hujan, kemacetan, dan hidup yang terasa berat. Meski sederhana, percakapan itu membuat Alka merasa lebih tenang dan tidak sendirian. Suatu sore hujan deras turun tanpa peringatan. Saat Alka menjaga berkasnya agar tidak basah, penjual koran itu tiba-tiba terjatuh dan dagangannya berserakan. Banyak orang hanya melihat sekilas lalu sibuk dengan ponsel. Tanpa ragu, Alka segera menolong lelaki tua itu meskipun dirinya ikut kehujanan. Keesokan harinya, sebuah mobil mewah datang ke rumah Alka. Seorang pria berjas mengatakan bahwa direktur perusahaan ingin bertemu dengannya. Alka tidak mengerti apa yang terjadi. Ternyata, penjual koran yang ia bantu adalah pemilik perusahaan yang sedang menyamar A untuk menguji kejujuran orang di sekitarnya. Ia pun ditawari pekerjaan yang selama ini ia impikan. Saat itu Alka sadar bahwa kebaikan dan kepedulian terkadang mampu mengubah hidup seseorang. 67
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda NILAI SEMPURNA Karya: Husin Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ina memang sudah dikenal pintar di sekolahnya. Setiap kali guru mengumumkan hasil ujian, nama dia yang selalu disebut paling duluan. Teman-teman selalu datang minta tolong kalau tidak ngerti pelajaran. Guru-guru pun sering memujinya di depan kelas, bikin Rina merasa dirinya memang berbeda dari yang lain. Lama-lama, Rina mulai merasa semua keberhasilan itu sudah sewajarnya jadi milik dia. Tidak pernah terlintas di pikirannya kalau teman-teman lain juga berjuang keras. Waktu ujian akhir tahun tiba, Rina belajar sampai larut malam. Buku-buku numpuk di meja, tapi hatinya sudah tenang karena merasa cuma dia yang paling siap. Dia sudah yakin banget kali ini pasti dapat peringkat satu lagi. Hari pengumuman, dia datang lebih awal, bahkan sudah senyum-senyum duluan. Tapi waktu guru bilang dia dapat nilai sempurna, wajahnya langsung pucat. Ternyata kertas jawabannya tertukar dengan punya orang lain waktu guru sedang memeriksa. Nilai seratus itu bukan miliknya. Rina langsung terdiam, malu bukan main. Setelah dicek ulang, nilainya yang asli sebenarnya masih bagus, tapi sudah bukan yang terbaik. Kali ini peringkat pertama jatuh ke tangan Haziq, anak pendiam yang duduk di R pojok kelas. Saat itulah Rina baru sadar, selama ini dia terlalu sombong sampai lupa kalau masih banyak yang perlu dipelajari. Prestasi yang sesungguhnya bukan datang dari rasa paling bisa, tapi dari kerja keras yang sungguh-sungguh. 68
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Husin lahir di Pamekasan pada 4 Juli 2006. Saat ini ia mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi dengan semangat belajar dan keinginan untuk terus berkembang. Ia dikenal sebagai sosok sederhana, ramah, dan berkomitmen tinggi menjalankan tanggung jawab. Selain aktif di kegiatan akademik, Husin senang memperluas wawasan melalui berbagai pengalaman bermanfaat sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Ia berpegang pada prinsip bahwa kesuksesan tidak datang instan, melainkan melalui proses panjang, kerja keras, dan doa. Karena itu, ia selalu berusaha rendah hati, disiplin, dan konsisten mencapai tujuannya. Dengan semangat pantang menyerah, Husin berharap menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama. 69
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda TENTANG LUKA YANG TAK TERLIHAT Karya: Iffah Nur Isnaini Aprilia Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ai, namaku Ifah, sering dipanggil Ipe. Aku sering melihat banyak kegagalan dalam hidupku. Hal itu membuatku ingin menyerah pada perjalanan hidup yang sedang kujalani. Banyak hal terjadi dan membuatku kehilangan arah serta tujuan. Kadang aku berpikir, "Mungkin jika aku tiada, aku tidak akan sebingung ini." Namun, hidup terus berjalan, meskipun aku tidak selalu menyukai jalan yang harus kutempuh. Banyak orang datang hanya untuk singgah lalu pergi, meninggalkan kekacauan dalam hidupku. Rasanya ingin marah, tetapi aku sadar bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Aku tetap melanjutkan hidup meskipun sering dihantui rasa takut. Takut gagal, takut mengecewakan keluarga, dan takut tidak bisa menjadi seseorang yang mereka harapkan. Aku hanya berusaha bertahan di tengah semua ketakutan yang memenuhi pikiranku. Masa remaja yang dulu kubayangkan indah ternyata membawaku pada banyak pertanyaan dan kekecewaan. Aku sering bertanya mengapa hidup terasa begitu berat. Kadang aku ingin merasakan kemenangan, sekecil apa pun itu, agar aku bisa bangga pada diriku sendiri. Mungkin orang lain menganggap aku baik-baik saja karena sikapku yang sering terlihat ceria. Padahal, di balik itu ada banyak luka yang kusimpan sendi- H ri. Aku hanya berharap suatu hari nanti hidupku akan membaik dan aku bisa menemukan alasan untuk bangga pada diriku sendiri. 70
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PEREMPUAN TANGGUH BERNAMA IBU Karya: Iffah Nur Isnaini Aprilia Inilah kisah keluargaku. Aku lahir dari seorang ibu yang sejak kecil tidak merasakan kasih sayang dan perhatian orang tua secara utuh. Kehidupan ibuku penuh dengan perjuangan. Saat masih sangat muda, ketika kebanyakan remaja menikmati masa-masa indahnya, ibu justru harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Dalam perjalanan hidupnya, ibu bertemu dengan ayah yang berasal dari Madura. Kisah cinta mereka berlangsung singkat hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. Ibu berharap pernikahan akan membawa kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik, tetapi kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Saat menjadi bagian dari keluarga ayah, ibu tidak membawa harta ataupun barang berharga. Ia hanya membawa harapan untuk menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan menantu. Namun, ibu sering menerima hinaan karena berasal dari keluarga yang sederhana. Meski demikian, ibu tetap tegar menghadapi semuanya. Sepanjang hidupnya, ibu bekerja dan berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga karena ayah tidak menjalankan perannya sebagaimana mestinya. Hari-harinya dipenuhi dengan kerja keras tanpa mengenal lelah. Aku memahami bahwa ibu bertahan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi anak-anaknya. Jika aku boleh meminta satu hal dalam hidup ini, aku ingin melihat ibu bahagia. Aku ingin kelak mampu membalas semua perjuangannya, mengangkat derajat keluarga, dan membuat ibu menikmati hidup tanpa harus terus bekerja keras setiap hari. 71
PROFIL PENULIS Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Saya Iffah Nur Isnaini Aprilia, lahir di Pamekasan 3 April 2006. Saya sedang menempuh pendidikan di Prodi Tadris Bahasa Indonesia UIN Madura. Saya berusaha belajar hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan, salah satunya berkontribusi dalam organisasi HMPS. Saya memang belum mempunyai bakat ataupun prestasi tertulis. Namun saya tetap bangga pada diri saya sendiri karena sudah berani melalui banyak hal sampai berada di titik ini. Untuk sekarang, saya fokus menjalani hidup sesuai takdir, selagi saya berjalan di jalan yang benar. Hobi saya menuangkan perjalanan saya ke dalam kata-kata indah. Dan itu adalah alasan mengapa saya tertambat dengan jurusan bahasa. 72
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A KASIH SAYANG YANG TERTUKAR Karya: Kuwis Anukgrani nuk adalah anak yang ceria, sejak kecil dia tinggal di kampung bersama orangtuanya. Meski hidup sederhana, ia merasa bahagia. Bapaknya bekerja sebagai buruh angkut sedangkan ibunya hanya Ibu rumah tangga, namun mereka mengajarkan arti bersyukur kepada Anuk. Mereka juga selalu berusaha membuat Anuk merasa cukup dan sangat dicintai. Anuk mulai merasa ada yang aneh, kenapa wajah Anuk tidak mirip dengan orang tuanya rasa penasaran itu terus ada di hatinya, ia juga pernah melihat ibunya menangis sambil memegang foto yang tidak pernah dilihat olehnya. Hal itu, yang membuat Anuk penasaran. Suatu malam, Anuk tidak sengaja bangun karena mendengar pertikaian antara Bapak dan Ibunya. Ibunya berkata mengenai rahasia ini tidak dapat selalu di sembunyikan, bapaknya hanya terdiam kaku sambil menundukkan kepalanya. Sejak saat itu, Anuk tidak bisa berhenti memikirkan apa yang disembunyikan oleh orangtuanya. Keesokan harinya, Bapak memberikan sebuah kotak tua kepada Anuk. Di dalamnya ada foto pasangan muda. Anuk berkata, “Siapa mereka, kenapa wajahnya mirip denganku?” Dengan napas pelan Bapak menjawab bahwa itu adalah orang tua Anuk yang sebenarnya. Mereka sembunyikan agar Anuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna, Anuk terdiam kaku karena tidak menyangka yang memberikan dia A kasih sayang sepenuhnya bukan Bapak dan Ibunya. Melainkan Kakek dan Neneknya yang tulus merawatnya. Anuk terdiam, sementara air matanya jatuh tanpa suara. 73
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda MALAM GERIMIS TARI MUANG SANGKAL Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Kuwis Anukgrani cha selalu membantu ibunya menyiapkan acara penyambutan tamu desa di Madura. Tahun ini, Ocha dipilih menjadi penari Tari Muang Sangkal yang akan tampil di pendopo desa. Sejak pagi, warga sibuk menghias tempat acara sambil memainkan musik saronen. Namun menjelang malam, hujan deras tiba-tiba turun dan membuat banyak tamu pulang. Ocha mulai menangis karena takut menari di depan kursi yang hampir kosong. Ibunya tetap meminta acara dilanjutkan meski suasana sudah sepi. "Budaya tidak boleh berhenti hanya karena hujan," ucapnya pelan. Musik saronen akhirnya tetap dimainkan di tengah gerimis. Ocha menari dengan wajah sedih sambil menahan dingin. Beberapa warga hanya menonton dari bawah atap pendopo tanpa banyak suara. Angin malam berhembus mengiringi jalannya pertunjukan. Saat tarian hampir selesai, suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar sangat ramai dari luar pendopo. Ocha terkejut melihat banyak warga kembali datang sambil membawa payung dan lampu. Mereka ternyata sengaja pulang untuk menjemput anak-anak dan orang tua agar bisa ikut menonton Tari Muang Sangkal. Pendopo yang tadi sepi mendadak penuh oleh warga yang rela kehujanan demi melihat budaya desa mereka tetap hidup. Ocha langsung menangis di tengah tarian. Malam itu, ia sadar bahwa budaya Madura tidak dijaga oleh satu orang, melainkan oleh hati banyak orang yang tidak ingin tradisi mereka hilang. O 74
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Kuwis Anukgrani, atau yang sering dipanggil Kuwis, merupakan anak tunggal yang lahir di Pamekasan pada 5 Mei 2005. Ia sering meluangkan waktunya untuk bermain layangan. Menurutnya, bermain layangan bukan sekadar kesenangan, tetapi juga mengajarkan kesabaran dan ketelitian. Kuwis memiliki sifat humoris dan selalu terlihat ceria meskipun terkadang menghadapi berbagai beban hidup. Ia percaya bahwa setiap masalah adalah pelajaran yang dapat dinikmati dan dijadi- kan pengalaman berharga. Saat ini, ia merupakan mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah UIN Madura. Ia bercita-cita menjadi seorang guru agar ilmunya bermanfaat bagi banyak orang dan generasi mendatang. Ayo kenalan lebih jauh melalui Instagram: @Kuwis_ag. 75
SECANGKIR KOPI YANG TERLAMBAT Karya: Muhammad Arief Rachman ore itu, hujan turun sangat deras, memaksa Doni berteduh di sebuah warung kopi legendaris di sudut kota. Di meja seberang, seorang kakek tua sedang asyik menikmati secangkir kopi susu hangat dengan aroma arabika yang sangat memikat. Doni yang merasa gengsi sebagai pecinta kopi hitam tulen, langsung memesan espresso ganda tanpa gula kepada pelayan, hanya demi menunjukkan seleranya yang ia anggap superior di depan si kakek. Ketika pesanannya datang, Doni langsung menyeruput cairan hitam pekat itu dengan ekspresi wajah yang dibuat senyaman mungkin, padahal lidahnya menjerit karena rasa pahit yang luar biasa. Ia melirik ke arah si kakek, berharap mendapatkan tatapan kagum atas ketangguhannya meminum kopi pahit di hari yang dingin. Namun, si kakek justru tersenyum geli, lalu menyodorkan susu kental manis dari mejanya sendiri ke dekat cangkir kopi Doni sambil berkata, "Minum kopi itu untuk dinikmati, Nak. Bukan untuk ujian nyali." Doni tertegun saat rasa manis dan hangat mulai menyatu di lidahnya, meruntuhkan seluruh gengsi yang ia bangun sejak tadi. Ketika ia hendak mengucapkan terima kasih, si kakek sudah berjalan menembus rintik hujan, meninggalkan uang pas di atas meja. Doni hanya bisa menatap cangkirnya yang kini terasa jauh lebih nikmat, menyadari bahwa ia baru saja melewatkan obrolan berharga hanya demi sebuah ego yang konyol. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S 76
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A SEHANGAT CANGKANG TELUR Karya: Muhammad Arief Rachman ania menatap layar ponselnya dengan binar mata yang tak memudar sejak satu jam lalu. Di sana, sebuah video tutorial memasak menampilkan "Soufflé Pancake" yang lembut, bergoyang manja, dan tampak begitu mudah dibuat hanya dengan tiga bahan utama. Sebagai seseorang yang baru saja memutuskan untuk menjadi istri mandiri, Rania merasa tertantang. Dibayangkannya sang suami, Aris, akan terbangun oleh aroma manis mentega dan mencium keningnya penuh cinta sebagai hadiah atas sarapan mewah ala kafe Paris di meja makan mereka. Dengan tekad bulat, dia mengikat apron merahnya, siap menaklukkan dapur. Namun, dapur kecil itu segera berubah menjadi medan perang pasca- apokaliptik. Paragraf demi paragraf dari resep digital yang dia ikuti mendadak terasa seperti bahasa asing saat dipraktikkan. Mixer berdesing kencang, menerbangkan kepulan tepung terigu hingga memutihkan rambut Rania seperti salju prematur. Putih telur yang seharusnya dikocok sampai kaku dan membentuk stiff peak justru tetap cair dan pasrah, menolak bangkit layaknya harga diri yang terluka. Ketika adonan itu akhirnya dipaksa turun ke atas teflon, alih-alih mengembang cantik, mereka justru melebar, mengempis, dan perlahan berubah warna menjadi hitam pekat yang eksotis. Langkah kaki Aris terdengar mendekat ke dapur, membuat jantung Rania berdegup dua kali lebih cepat karena malu melihat mahakaryanya yang gosong. Aris tertegun di ambang pintu, memandangi asap yang mengepul, tepung yang berserakan, dan istrinya yang berdiri lesu memegang sudip dengan wajah belepotan. Bukannya marah atau kecewa, Aris justru terkekeh pelan, berjalan mendekat, lalu dengan lembut menyeka noda putih di hidung Rania. "Bau hangus ini sepertinya sangat akrab," bisik Aris tenang sembari membuka tudung saji, menampilkan sekotak martabak manis sisa semalam yang ternyata sedang dia hangatkan di dalam microwave hingga gosong. R 77
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Muhammad Arief Rachman, atau yang akrab disapa arief, adalah seorang pencinta bahasa yang selalu penasaran dengan cara kerja sebuah kalimat dan cerita. Di sela-sela kesibukannya merancang teknologi pembelajaran yang seru untuk siswa, ia suka menenggelamkan diri dalam analisis sintaksis atau membedah keseruan cerita di novel. Baginya, meneliti bahasa dan sastra adalah cara terbaik untuk menemukan kebahagiaan kecil setiap harinya. Punya ketertarikan yang sama seputar dunia linguistik dan edukasi? Yuk, ngobrol seru dengan arief lewat Instagram-nya di @19_arief atau email gomaarif@gmailm.com. 78
MIMPI YANG TIDAK PERNAH MATI ejak Ayahnya di PHK. Keluarga Satya mengalami penurunan ekonomi yang drastis, membuat Bundanya berjualan makanan demi bertahan hidup. Satya putra sulung di keluarganya yang mempunyai mimpi menjadi pemain bola pun terpaksa mengubur mimpinya karena larangan Bunda akibat cedera yang dialaminya dulu serta keadaan ekonomi yang dialaminya. Namun, ia ternyata diam-diam berlatih hingga pertengkaran hebat terjadi, ketika satya meminta izin untuk mengikuti turnamen futsal yang ada di sekolahnya. Mereka sempat tidak saling sapa, hingga Ayah yang melihatnya membicarakan sesuatu berdua dengan Bunda. Pagi harinya sebelum Satya berangkat ke sekolah, Ayah memanggilnya untuk berbicara empat mata bersama Bundanya. Tak kuat untuk tidak berbicara dengan Bundanya, satya bersimpuh meminta maaf dan berjanji tidak akan mengikuti lomba itu. Bunda menyodorkan paperbag berisi sepatu bola sambil memeluk Satya yang sedang menangis. “Kejarlah mimpimu, Nak, biar urusan biaya menjadi tanggung jawab Ayah dan Bunda.” Bisiknya lirih Saat pertandingan tiba, tim Satya memenangkan pertandingan. Ia segera berlari menuju Bunda kemudian sujud Syukur di kaki Bundanya. Namun, ia tertegun melihat jempol kaki Bunda dibalut plester luka. Ternyata Bunda sandalnya putus ketika berjualan Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Putri Nadiya Hanani S keliling demi mencari tambahan untuk membeli sepatu bola Satya. Satya menangis memeluk kaki Bunda, menyadari pahlawan sejati adalah ibunya. Kemenangan ini ia persembahkan untuk kaki Bunda yang terluka demi impiannya. 79
PESAN TERAKHIR ertengkaran hebat terjadi di cafe dekat stasiun, menghancurkan hubungan indah yang telah dijalani empat tahun terakhir oleh Danisha dan Fathan. Danisha melempar secarik kertas hasil laporan medis ke atas meja dengan tangan yang gemetar hebat menahan amarah. “Kenapa kamu tega membohongiku selama ini, Fathan? Apa kekuranganku di matamu?” tangis Danisha pecah, merasa sangat kecewa Fathan menyembunyikan penyakit mematikan dari dirinya selama setahun terakhir. Tanpa mau mendengar penjelasan sedikitpun, Danisha langsung berlari keluar dari cafe, menaiki taksi, meninggalkan Fathan yang hanya diam terpaku menatap kepergiannya. Keesokan paginya, Danisha menemukan sebuah buket bunga mawar segar dan sepucuk surat permintaan maaf di depan pintu rumah. Merasa bersalah karena terlanjur egois, ia segera memacu motor menuju rumah Fathan, namun hanya mendapati ibunya yang sedang menangis tersedu-sedu. Sang Ibu berbisik bahwa Fathan sudah pindah kerumah barunya, membuat Danisha dilingkupi kebingungan yang sangat besar. Mereka pergi bersama, dan jantung Danisha seketika berhenti berdetak saat melihat gundukan makam yang masih sangat basah. Tangis Danisha tum- Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Putri Nadiya Hanani Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A P pah, namun ia tertegun saat melihat ibunya justru berlutut di makam sebelahnya yang bertuliskan nama Danisha sendiri. Fathan tiba-tiba muncul dari balik pohon, menggenggam tangan Danisha yang kini berwujud transparan, lalu berbisik, “Taksi yang kamu naiki semalam kecelakaan, Danisha. Sekarang kita bisa bersama tanpa rasa sakit lagi.” 80
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Putri Nadiya Hanani, atau yang akrab dipanggil Dini, merupakan seorang mahasiswi program studi Tadris Bahasa Indonesia di UIN Madura yang lahir September 2006. Masuk jurusan ini hanya memilih dari isi hati aja, tapi ternyata semakin didalami semakin menarik. Selain suka kucing, gadis kelahiran 2006 ini juga suka membaca Wattpad sambil mendengarkan musik. Pernah ia menuangkan isi hatinya ke dalam beberapa cerpen yang ia buat, tetapi hanya disimpan untuk dirinya sendiri. Di sela kesibuknya di dunia perkuliahan, ia juga tetap produktif menyalurkan keterampilan menjahit di rumahnya saat ada pesanan yang datang. Kalian bisa pantau Dini lewat akun Instagram pribadinya di @ptriindyaa. 81
BAYANGAN DI HALTE iap sore, Nino melihat seorang perempuan tua duduk sendirian di halte dekat sekolahnya. Ia selalu membawa payung merah meski cuaca cerah. Suatu hari, hujan turun deras dan halte menjadi sepi. Nino memberanikan diri duduk di samping perempuan itu. Dengan suara pelan, perempuan tersebut berkata bahwa ia sedang menunggu anaknya pulang sejak bertahun-tahun lalu. Nino merasa iba lalu menemaninya. Saat hendak pulang, perempuan itu tersenyum dan berkata, “Terima kasih sudah menemani Ibu hari ini.” Keesokan harinya, Nino kembali ke halte, tetapi perempuan tersebut tidak ada. Penjual koran di dekat jalan terlihat bingung ketika Nino menanyakannya. Ia berkata bahwa perempuan dengan payung merah itu sudah meninggal beberapa tahun lalu. Nino langsung terdiam dan merasa tubuhnya dingin. Penjual koran itu lalu menunjukkan sebuah foto lama dan menyerahkan payung merah milik perempuan di foto yang sudah lama tertinggal di kios. Wajah perempuan dalam foto itu sama persis dengan yang ditemui Nino kemarin. Namun, yang membuat Nino terkejut adalah lelaki Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: R. Gustyar Galuh Prahasta Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A T kecil di samping perempuan itu memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Di bawah foto tertulis nama “Nino.” Nino gemetar karena merasa tidak pernah mengenal perempuan tersebut. Saat pulang ke rumah, ibunya tiba-tiba menangis karena melihat payung merah yang dibawanya. Dengan suara pelan, ibunya berkata, “Itu payung nenekmu yang hilang sejak beliau meninggal." 82
SALAH SANGKA roma sate lalat, sate khas Madura berukuran kecil yang terbang bersama asap arang di sudut Alun-Alun Bangkalan. Mamat mengipas bara dengan irama konstan, sesekali mengelap keringat yang menetes di mukanya. Malam ini, Ia harus mengumpulkan sisa uang untuk biaya pendaftaran karapan sapi milik juragannya bulan depan. Di Madura, harga diri seorang laki-laki salah satunya dipertaruhkan di atas tanah berlumpur sejauh ratusan meter itu. Tiba-tiba, seorang pria paruh baya bernada bicara tinggi datang membawa sebungkus koran. Dari batik gentongan yang dikenakannya, Mamat tahu pria ini bukan orang sembarangan. Pria itu melempar bungkusan tersebut ke atas meja kayu lipat hingga menimbulkan bunyi berdebum yang cukup keras. "Ini sate yang kamu jual kemarin? Anak saya diare semalaman!" Bentak pria itu, memancing perhatian beberapa pembeli lain yang langsung terdiam. Ketegangan mendadak terjadi di malam tersebut. Mamat menarik napas dalam-dalam, berusaha menata debar jantungnya agar tetap tenang. Perlahan, dibukanya bungkusan koran tersebut dengan tangan yang sedikit bergetar. Alih-alih berisi sate lalat buatannya yang gosong atau basi di dalam koran justru Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: R. Gustyar Galuh Prahasta A tergeletak tiga pasang sandal jepit karet yang tertukar saat shalat Jumat di Masjid Agung kemarin siang. Pria pemarah itu tertegun, wajahnya mendadak merah padam menahan malu, sementara Mamat hanya bisa tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 83
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS R. Gustyar Galuh lahir di Pamekasan, 14 Agustus 2005. Ia merupakan mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, UIN Madura. Ia memiliki ketertarikan besar terhadap sastra dan budaya, khususnya kebudayaan Madura. Selain menempuh pendidikan akademik, Gustyar juga aktif sebagai pelaku seni musik tradisional Madura. Kecintaannya terhadap seni, bahasa, dan budaya menjadi bagian dari perjalanan hidupnya dalam mengembangkan kreativitas serta melestarikan warisan budaya lokal. Ia terus berupaya memperkaya wawasan dan berkarya melalui bidang pendidikan dan seni. 84
ADA DALAM KETIADAAN edari kecil Lingga tak pernah mengenal sosok ayahnya. Sang ibu hanya berkata bahwa ayahnya meninggal akibat kecelakaan. Lingga hanya dapat menatap selembar foto usang sang ayah. Setiap malam Jumat, Lingga selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke makam ayahnya. Ditakdirkan sebagai anak pertama seolah memaksanya untuk berjuang menopang perekonomian keluarga, dan menggantikan peran sang ayah. Seperti minggu sebelumnya, Lingga kembali berziarah ke makam ayahnya. Usai berdoa, Lingga hendak segera pulang sebab langit mulai mendung, tampaknya hujan akan turun hari ini. Namun kedatangan sosok laki-laki tua yang berjalan menuju ke arahnya menghentikan langkahnya. Lingga mengerutkan kening sembari menatap laki-laki tua itu yang entah mengapa terasa familier. Otak Lingga berpikir keras, berusaha mengingat di mana ia pernah melihatnya. Sosok itu kian mendekat, hingga Lingga tersadar dari pikirannya dan langsung memeluk laki-laki tua itu, suara Lingga lirih terdengar. “Ayah....” Mendengar hal tersebut, sosok laki-laki tua itu mematung. Tak berselang lama, pelukan pun terurai, laki-laki tua yang merupakan Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Raiya Nafila Arifin S ayah Lingga itu menjelaskan alasan kepergiannya hingga membuat Lingga menangis. Ia merasa dibohongi, ternyata ayahnya belum meninggal. Sang ayah pergi hanya karena beliau tidak pernah mencintai ibunya. Nahasnya, makam yang selama ini Lingga kunjungi adalah makam dari sahabat karib sang ayah. 85
PENGELANA MALAM ku terbangun dari tidur ketika sayup-sayup mendengar suara dari luar rumah. Sontak aku menatap ke luar, ternyata hari sudah gelap, pantas saja saudaraku itu tergesa-gesa pergi untuk mencari rezeki. Nyatanya, hidup di perkotaan yang serba mewah membuatku kesulitan dalam beradaptasi. Aku tidak memiliki pekerjaan tetap. Setiap hari, aku hanya mengandalkan diriku di waktu malam untuk mencari rezeki dan menyambung hidup esok hari. Tinggal di rumah sederhana dan kumuh membuatku tidak disukai banyak orang. Kerap kali mereka menatapku dengan tatapan benci, mencemooh dan mengatakan bahwa aku tak layak bersinggungan dengan mereka. Dalam batin aku bertanya, memang apa yang salah dengan rumahku itu? Meskipun sederhana dan terlihat kumuh, setidaknya rumah itu mampu melindungiku dari cuaca ekstrem. Aku terus berjalan hingga tak terasa perutku mulai keroncongan. Tatapanku tertuju pada seorang gadis berkacamata yang tengah menyantap makanannya. Merasa diperhatikan, gadis itu memicing kesal ke arahku, persis seperti yang dilakukan oleh banyak orang. “Dasar kecoa! Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Raiya Nafila Arifin A Enyah sana kamu!” Aku tersentak saat tubuhku ditendang oleh gadis remaja berkacamata itu, sedang aku hanya bisa pasrah. Memang apa yang bisa dilakukan oleh seekor kecoa yang dibenci banyak orang ini, selain pasrah dan mencari makanan di tempat lain? Bersyukurlah aku kali ini tidak dibunuh seperti kecoa yang lain. 86
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Raisya Nafila Arifin adalah seorang penulis yang lahir di Pamekasan, 9 Februari 2006. Ia tertarik pada karya sastra sejak menempuh pendidikan sekolah dasar. Baginya, karya sastra dapat dijadikan alat untuk menuangkan isi kepala. Raisya mulai menekuni sastra sejak ia berada di sekolah menengah pertama dengan mengikuti berbagai seminar kepenulisan. Selain menyukai sastra, perempuan berzodiak aquarius ini juga menggemari seorang idol asal Korea Selatan yang bernama Na Jaemin. Menurutnya, Na Jaemin adalah role play yang cocok untuk mengisi karakter pria dalam tulisannya. Kenali Raisya lebih dekat lewat akun Instagramnya @rainafilaa dan email raisyana53@gmail.com. 87
SEBUAH KEINGINAN elia adalah seorang anak yang berkeinginan besar. Kelas 4 MI dia memutuskan untuk menjadi santri aktif di pondok pesantren. Beberapa bulan dia menuntut ilmu, dia mulai tertarik bercadar. Namun dia memendam keinginannya karena belum berani ngomong langsung sama ayahnya. Jumat sore ketika dia sedang dikirim oleh ayahnya, dia memberanikan diri untuk meminta izin kepada ayahnya “Ayah, Delia pengen memakai cadar.” Namun, ayahnya tidak memberikan izin kepada Delia. Hari berganti hari, Delia tetap menjalani aktivitas di pesantren seperti biasanya, Setiap hari kunjungan santri, Delia tetap berusaha meminta izin kepada orang tuanya sampai terjadi percekcokan antara delia dan ayahnya dan tanpa sengaja ayahnya menampar Delia. Delia menangis dan berpikir bahwa ayahnya tidak akan pernah meberikan izin untuk dia memakai cadar. Namun dia tidak menyerah, dia tetap berdoa dan akan terus meyakinkan ayahnya bahwa keinginannya itu benar-benar dari hatinya. Setelah beberapa bulan, ayahnya datang untuk menjenguk Delia dan memberikan sebuah kotak kecil kepada Delia. Saat membukanya, Delia terkejut karena di dalamnya terdapat cadar hitam dan di bawah cadar itu ada nota pembelian dengan tanggal yang sama saat dia meminta Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Raudatul Jamila Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A D izin kepada ayahnya. Selama ini ayahnya hanya ingin memastikan keinginan Delia itu bukan keinginan sesaat. Delia tersenyum dan langsung memeluk ayahnya karena dia sadar bahwa ayahnya memang mendukungnya dari awal. 88
MIMPI YANG TIDAK BERHENTI eli dikenal sebagai anak yang cerdas dan berprestasi. Saat duduk di kelas 2 SMA, dia memiliki impian untuk menjadi dokter. Namun di tengah masa sekolahnya, keluarganya menjodohkannya dengan sepupunya. Keputusan itu membuat leli bingung, dia masih ingin tetap belajar namun dia tidak bisa menolak keputusan keluarganya. Beberapa bulan kemudian leli dinikahkan namun meskipun dia sudah menikah, dia tetap berangkat ke sekolah setiap hari dan tetap berusaha mempertahankan prestasinya. Menjalani peran sebagai pelajar dan istri bukan hal mudah. Leli harus membagi waktu antara tugas sekolah dan tanggung jawab sebagai seorang istri. Ketika naik ke kelas 3 SMA, masalah dalam rumah tangganya sering muncul. Suatu hari suaminya berkata, “Kalau terus sekolah, kapan fokus sama keluarga?” Leli menjawab, “Aku hanya ingin menyelesaikan pendidikan yang sudah aku perjuangan.” Perdebatan itu terjadi dan akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Akibat perceraian itu terjadi konflik antara kedua keluarga. Hubungan yang awalnya baik kini menjadi saling tidak menyapa satu sama lain. Banyak orang mengira bahwa perceraian dan konflik yang terjadi akan menghancurkan masa depan leli. Namun, perkiraan itu salah, beberapa tahun kemudian, dia berhasil meraih mimpinya itu, dengan bangga dia memakai toga kelulusan dan dia tersenyum melihat kearah kedua orang tuanya. Saat itulah orang tuanya sadar bahwa keputusan leli untuk tetap melanjutkan Pendidikan bukanlah sebuah kesalahan. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Raudatul Jamila L 89
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Raudatul Jamila, atau biasa dipanggil Mila, lahir di Pamekasan pada 12 Februari 2005 dan saat ini merupakan mahasiswa aktif UIN Madura prodi TBIN. Mila adalah tipe perempuan yang cukup sulit diam jika bertemu dengan orang asyik. Jadi jangan heran kalau Mila banyak temannya. Mila juga punya kemampuan yang entah dari mana asalnya, dia lebih mudah akrab dengan anak kecil dibanding mengerjakan tugas yang harus segera dikumpulkan. Dan Mila percaya bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat mencapai tujuan, tetapi tentang bagaimana menikmati setiap langkah dan tetap menjadi diri sendiri. Yukk kenali lebih dalam lagi tentang Mila di instragram @februari12205, Email raudatuljamilanasir@gmail.com. 90
HUJAN YANG MENYIMPAN KENANGAN Karya: Rizka Dwi Rahmawati Rofiqi ejak kota itu dihancurkan gempa besar, Lira menjadi anak yang lebih pendiam. Ia kehilangan ibunya dalam bencana yang datang tiba-tiba pada malam penuh hujan deras. Hari-harinya dipenuhi kenangan tentang suara hujan karena saat itulah terakhir kali ia bersama sang ibu. Meski hidup di tempat baru dan bertemu banyak orang baik, hatinya tetap terasa kosong. Hanya Esok, sahabat yang selalu menemaninya, yang mampu membuatnya perlahan tersenyum kembali. Mereka tumbuh bersama, saling menguatkan, dan berbagi cerita tentang kehilangan yang pernah mereka rasakan. Waktu berjalan cepat hingga mereka harus memilih jalan hidup masing-masing. Esok pergi ke kota lain untuk melanjutkan pendidikan, sementara Lira tetap tinggal dan menyimpan perasaannya sendiri. Mereka masih saling berkirim pesan, tetapi lama-kelamaan kabar dari Esok semakin jarang. Suatu malam ketika hujan turun deras, Lira membuka kembali pesan-pesan lama yang tersimpan di ponselnya. Ia membaca satu per satu sambil mengenang masa ketika mereka sering berbincang tanpa henti. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S Di antara pesan-pesan itu, Lira menemukan satu pesan yang belum pernah ia buka. Dengan tangan gemetar, ia membacanya perlahan. Esok mengaku telah mengetahui perasaan Lira sejak lama dan berjanji akan kembali. Namun, di bagian akhir pesan tertulis bahwa pesan itu dijadwalkan terkirim sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya. Saat itu, Lira menyadari bahwa orang yang selama ini ditunggunya tidak akan pernah kembali lagi. 91
JEJAK YANG DITINGGALKAN Karya: Rizka Dwi Rahmawati Rofiqi erjalanan menuju Tanah Suci membuat Rahman bertemu banyak orang dengan kisah hidup yang berbeda. Di atas kapal ia lebih sering duduk sendiri sambil memandangi laut yang membentang luas tanpa batas. Ia teringat kepada ayahnya yang meninggal setahun lalu. Selama ini ia selalu menyesali pertengkaran terakhir mereka yang belum sempat diselesaikan. Perasaan bersalah itu terus menghantuinya kemanapun ia pergi. Meskipun keluarganya berusaha menghibur dan menguatkannya hatinya tetap dipenuhi penyesalan yang sulit hilang. Ia berharap perjalanan ini dapat memberinya ketenangan dan jawaban atas kegelisahan yang selama ini ia pendam sendiri. Suatu malam kapal diterpa angin kencang dan ombak besar. Banyak penumpang terbangun dan berdoa dengan cemas. Rahman yang tidak bisa tidur membuka kembali buku catatan peninggalan ayahnya yang selalu ia bawa. Di antara halaman-halaman yang mulai menguning karena usia ia menemukan secarik kertas yang belum pernah ia baca sebelumnya. Kertas itu terselip rapi di bagian belakang buku dan membuatnya penasaran. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A P Di antara pesan-pesan itu, Lira menemukan satu pesan yang belum pernah ia buka. Dengan tangan gemetar, ia membacanya perlahan. Esok mengaku telah mengetahui perasaan Lira sejak lama dan berjanji akan kembali. Namun, di bagian akhir pesan tertulis bahwa pesan itu dijadwalkan terkirim sebelum kecelakaan yang merenggut nyawanya. Saat itu, Lira menyadari bahwa orang yang selama ini ditunggunya tidak akan pernah kembali lagi. 92
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Perkenalkan, nama saya Rizka Dwi Rahmawati Rofiqi, lahir di Pamekasan pada 03 Maret 2005. Saya berasal dari Waru Barat, Waru, Pamekasan. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura. Dalam keseharian, saya senang berjalan-jalan atau mengunjungi tempat baru untuk menyegarkan pikiran setelah beraktivitas. Kegiatan tersebut membantu mengurangi rasa lelah dan membuat pikiran lebih tenang. Saya adalah pribadi yang sederhana dan tidak suka hal-hal rumit. Meskipun terkadang merasa malas dan sulit ditebak, saya tetap berusaha menjadi pribadi yang bertanggung jawab, mudah bergaul sesama, dan selalu mau belajar hal-hal baru dari berbagai pengalaman. 93
RETAKAN DALAM DO'A Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Rizqiyana Maulidivia Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A iyana menatap cermin retak di kamarnya, merenungi bayangan wajah yang terbelah menjadi dua sisi kehidupan. Di sekolah, ia dikenal sebagai gadis ceria namun saat menginjakkan kaki di rumah, dinding- dindingnya justru menjelma museum trauma. Suara bentakan ayah yang kasar masih sering bergema di setiap sudut ruang yang pengap. Ia hanya takut akan mewarisi amarah sang ayah. Ia sering berbisik pada Tuhan untuk memupuk ikhlas di tengah sesak yang dialaminya. Hatinya sakit saat melihat ibu diam-diam menahan tangis akibat perilaku dingin sang ayah. Malam itu, suasana berubah mencekam saat ayah pulang dengan wajah sepucat kapas. Tanpa sepatah kata, ia langsung mengunci diri, membiarkan ibu terisak hebat di sudut dapur. Liyana hanya mampu mematung di lorong gelap, menyaksikan dua pilar hidupnya runtuh dalam sunyi. Sepuluh tahun kemudian, kabar duka datang lewat layar televisi yang menyiarkan daftar manifest kecelakaan pesawat. Liyana menemukan sebuah kotak kayu berisi surat wasiat peninggalan orang tuanya. Tangan gemetar membukanya dan mendapati fakta bahwa jarak emosional serta tuntutan keras selama ini bukanlah bentuk kebencian. Mereka sengaja menempa Liyana melalui cara yang paling menyakitkan agar ia mampu bertahan hidup tanpa mereka. Ikhlas yang selama ini ia agungkan runtuh seketika saat menyadari kebenaran itu. Kini, ia hanya bisa menyesal karena kehilangan kesempatan untuk berterima kasih kepada mereka yang mencintainya. L 94
MENJAGA BAYANGAN IBU ejak ibunya terbaring sakit di kamar belakang, Dewi selalu menghabiskan sore di ambang pintu memandangi siluet tubuh sang ibu yang terpantul di dinding. Ia sengaja tak menyalakan lampu, membiarkan cahaya temaram senja memperpanjang bayangan ibunya beristirahat. Baginya bayangan yang bergerak naik turun seiring embusan napas pasrah adalah tanda berharga bahwa ibunya masih bernyawa disisinya. Ketakutan terbesarnya bukanlah kegelapan, melainkan momen ketika bayangan itu benar-benar hilang. Saat cemas menyerang, Dewi akan menggenggam jemari ibunya yang semakin dingin. Sore ini, awan mendung bergulung pekat di langit. Kilat menyambar dengan keras memutus aliran listrik di seluruh kampung. Rumah seketika tenggelam dalam kegelapan, membuat Dewi panik setengah mati hingga napasnya memburu tidak beraturan. Dengan tangan bergetar, ia meraba-raba dinding kamar dalam gelap. Dewi sibuk mencari korek api untuk menyalakan lilin, ia ingin bayangan ibunya kembali hadir. Cahaya lilin akhirnya menerangi, Dewi menoleh lega. Namun ia tertegun mendapati tubuh ibunya terbujur kaku Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Rizqiyana Maulidivia S tanpa gerakan napas. Di bawah remang cahaya, bayangan ibunya justru tampak berdiri tegak di dinding. Bayangan itu melambaikan tangan lembut sebelum memudar sepenuhnya. Dewi terduduk lemas memeluk lututnya yang gemetar. Di tengah kesunyian, ia berbisik lirih “Ibu, sekarang lilinnya menyala tapi kenapa Ibu membawa serta seluruh cahaya hidupku?”. Sekarang Dewi memeluk rumah yang kehilangan detak jantung utamanya.. 95
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Rizqiyana Maulidivia, atau yang bisa kita sebut Via adalah seorang gadis yang suka belanja online dan menjelajah jajanan viral. Ia lahir di Pamekasan, 12 April 2006. Baginya, hidup adalah sebuah petualangan untuk menemukan kebahagiaan-kebahagiaan kecil disetiap harinya. Selain aktif memantau trend terbaru di dunia maya, ia memiliki ketertarikan besar untuk terus belajar dan mencoba hal-hal baru yang menantang kreativitasnya. Dengan semangat yang ceria, Via selalu berusaha membawa aura positif bagi orang-orang di sekitarnya dan bermimpi untuk dapat membagikan inspirasi melalui setiap cerita dan pengalaman yang ia lalui. Yuk kenali Via lebih dekat lewat akun Instagramnya di @rzmvia dan email @lidiayana.com. 96
PERJUANGAN DI BALIK SERAGAM SEKOLAH etiap pagi, Roqi selalu bangun lebih awal untuk membungkus kue jualan ibunya. dia menjual kue di sekolah. Dia tidak malu akan hal itu karena dia berpikir “buat apa aku malu kalo malu tidak membuatku sukses.” Sesampainya Roqi di sekolahnya dia langsung menata jualannya di kelas. Pembelinya adalah teman dan kakak kelas. Roqi senang karena dagangannya laris. Sebelumnya Roqi sudah meminta izin untuk berjualan di sekolahnya. Suatu hari, seorang teman mengejek Roqi karena berjualan di sekolah. “Kalau tidak mampu jangan sekolah di sini sampai harus jualan,” katanya. Ucapan itu membuat Roqi sedih, tetapi dia teringat nasihat ibunya bahwa roda kehidupan selalu berputar. Dari dulu Roqi selalu menabung untuk membuka toko untuk ibunya. Usai lulus sekolah, Roqi berhasil membuka toko kecil untuk membantu ibunya berjualan. Toko itu semakin ramai dan terus berkembang pesat. Beberapa tahun kemudian, Roqi berhasil membuka beberapa cabang. Suatu hari, roqi menghadiri reuni sekolah. Di sana, dia melihat wajah yang sangat familiar. Dia baru sadar kalau pria itu ternyata teman lamanya yang dulu sering meremehkan dan mengejeknya karena Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Saptri Hamalia S berjualan di sekolah. Dengan kepala tertunduk, dia mengaku kalau usaha keluarganya bangkrut dan sekarang dia justru bekerja di salah satu cabang toko milik Roqi. Saat itu Roqi tersenyum dan teringat pesan ibunya bahwa roda kehidupan memang selalu berputar. 97
KERTAS YANG TERTUNDA agi itu saat lari di kompleks sebelah, aku berpapasan dengan seorang pria bertubuh tinggi di depan rumahnya. Aku menyapanya sebagai tetangga. Pertama kali aku lari di sana. Aku penasaran dan cocok untuk lari. Setelah itu, tiga kali seminggu aku melewati daerah sana dan orang itu terlihat di tempat yang sama. Seminggu kemudian kami berpapasan dekat rumahku. Dia tersenyum kepadaku tanda bahwa dia menyapa. Minggu pagi aku bertemu dengannya. Aku penasaran kepada dia yang selalu tersenyum setiap melihatku. Dia mengajakku berbicara, dia bertanya "kamu cewek yang sering lari di daerah sini yaa" ujarnya, aku menjawab "iyaa" setelah itu kami saling menyapa. Malam itu di rumahnya ada acara meriah. Saat duduk di halaman rumah, aku melihat seseorang menuju rumahku. Ternyata dia membawa makanan dari acara itu untukku. Aku terkejut karena kami belum akrab. Aku menerima makanannya. Pada malam itu dia berkata bahwa besok pagi ingin bertemu denganku. Tak disangka, dia ternyata teman kecilku. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Saptri Hamalia Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A P Dia pernah ingin memberiku kertas sebelum aku pindah rumah, tetapi terlambat. Aku mengira Kertas itu hilang. Namun, dia mengeluarkan kertas yang sudah menguning. Isi kertas itu, "Aku suka kamu", dan dia mengucapkannya kembali saat kami dewasa. Disitu aku terdiam ternyata dia masih mengingatku, dan dari pertemuan itu aku menyadari bahwa perasaanku masih sama. 98
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Saptri Hamalia, yang akrab di sapa Lia, lahir di Pamekasan 20 Maret 2006. Lia itu tipikal orang yang kalau baru kenal biasanya pendiam dan agak malu-malu. Tapi jangan salah, setelah bertemu ketemu orang yang sefrekuensi, sisi aslinya bisa keluar yaitu menjadi orang yang banyak bicara. Baginya, kenyaman adalah kunci untuk menunjukkan diri yang sebenarnya. Saat ini, Lia merupakan mahasiswi Program Studi Tadris Bahasa Indonesia di UIN Madura. Bagi Lia, hidup adalah sebuah petualangan yang penuh ke- jutan dan cerita. Ia memiliki impian untuk menjadi pribadi yang sukses agar dapat membahagiakan orang tuanya. Kenali Lia lebih dekat lewat akun instagram@sptrhmlia_ dan email@saptrihamaliagmail.com. 99
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A SI BUNGSU Karya: Selvy Aliyatul Nuraini i malam yang dingin dan ditemani oleh suara hujan, El sedang duduk di teras rumahnya menatap air yang jatuh dengan tatapan kosong. Baginya, hujan bukan lagi simphony yang menenangkan, melainkan tombak yang seolah menghujami tanah dengan kejam. Seperti pundaknya yang dihujami oleh harapan keluarga. Terlahir menjadi anak terakhir, membuatnya dianggap sebagai pelabuhan terakhir tempat harapan dan mimpi dari semua orang. Tanpa mereka berfikir apakah kapalnya cukup kokoh untuk membawanya ke pelabuhan terakhir dengan selamat. El mengingat percakapan yang terjadi saat pagi tadi. “kakakmu adalah anak yang paling kami sayangi, apapun yang dia mau pasti kami berikan.” Ucapan yang terus berputar seolah nyanyian yang sumbang dan menyayat hati. El meremas bajunya, ia muak dengan keadaan yang memaksanya menjadi cadangan yang wajib selalu ada, sedangkan tak ada seorangpun yang mengerti bahwa dunianya sedang hancur. Ia dituntut mendaki puncak kesuksesan, dipaksa menelan pengertian orang lain, tanpa pernah ada yang sudi mengerti keadaannya. D Sang ibu memegang pundak El “tolong sukses ya nak, hannya kamu satu-satunya harapan kami setelah kakakmu berhenti kuliah.” Kalimat itu seakan menghantam El lebih keras dari petir manapun. Ia sadar, ia bukan sekedar cadangan, melainkan budak yang harus membayar hutang kegagalan orang lain. Ia dipaksa mengejar kesempurnaan, sementara “anak emas” sudah aman menimang anak akibat dosa di luar nikah. 100
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A SETENGAH DEKADE Karya: Selvy Aliyatul Nuraini ita adalah rival abadi yang memperebutkan takhta ranking satu saat SD, meski aku harus berakhir di posisi dua tepat dibawahmu. Namun, permusuhan itu berbalik arah ketika kita bertemu kembali di acara reuni kelas saat SMP. Melihatmu mulai beranjak remaja, ego rivalitasku runtuh dan menjadi rasa suka. Sejak hari itu sampai kita bertemu kembali di SMA yang sama, aku merawat perasaan itu sendirian dalam sunyi tanpa berani mengungkapkannya. Malam HUT SMA menjelang kelulusan riuh oleh kilau lampion di langit. Di antara kerumunan, mataku sibuk mencari sosokmu, berniat mengumpulkan sisa keberanian terakhir untuk menuntaskan rahasia setengah dekade ini sebelum kembali berpisah untuk kuliah, atau mungkin untuk selamanya. Aku ingin memberitahu sang rangking satu, bahwa rivalnya ini sudah lama menyerah dalam permainan hati. Namun, langkahku mendadak lumpuh saat seorang teman menyenggol bahuku, berbisik heboh memberi tahu bahwa kamu baru saja resmi jadian dengan siswi kelas sebelah. Aku mematung di tengah keriuhan, memandangmu dari kejauhan yang sedang tersenyum begitu manis sambil merangkul bahu perempuan itu. Dadaku sesak, saat menyadari balon harapan yang kutiup sejak SMP kini meletus tanpa sisa di paruh akhir malam. Sambil berbalik dan menghapus air mata K aku tersenyum getir pada nasibku. Dulu aku bangga menjadi nomor dua di bawahmu, namun malam ini aku sadar, dalam urusan hatimu, aku bahkan tak pernah terdaftar. 101
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Menariknya, Selvy memiliki hobi lari sebuah kebiasaan sehat yang plotwist-nya berawal dari patah hati. Meski saat ini dunianya berputar di sekitar kata dan literasi, visi masa depan Selvy sangat membumi, yaitu menjadi juragan sawah yang sukses. Sapa Selvy lebih dekat melalui instagram: @simplyyvles. Selvy Aliyatul Nuraini yang akrab disapa Selvy atau Elvy, adalah mahasiswi jurusan Bahasa Indonesia di UIN Madura. Lewat buku antologi ini, ia turut menuangkan karyanya yang menarik, bukan sekedar fiksi belaka melainkan rajutan kisah nyata yang benar-benar dialaminya sendiri. Di sela-sela kesibukan kuliah, penikmat setia matcha latte ini sedang aktif mengasah kemampuannya memetik senar gitar dengan ditemani lagu-lagu syahdu dari Juicy Lucy. 102
CAHAYA DI BALIK LANGKAH SUNYI ayla adalah anak yang memiliki banyak keinginan. Sejak lulus SMA, Nayla berniat memilih bekerja karena ia menyadari bahwa dirinya adalah anak pertama yang harus mengusahakan sendiri. Ia juga menyadari bahwa ekonomi keluarganya tergolong rendah. Hatinya merasa terpukul ketika ibunya mengeluh tentang keterbatasan biaya hidup. Namun di sela-sela pikirannya, ada keinginan lain yang tak pernah padam, yaitu melanjutkan kuliah. Setiap malam ia selalu termenung memikirkan hal itu. Ia merasa dirinya sedang dilema antara bekerja atau melanjutkan kuliah. Keesokan harinya, Nayla memberanikan diri untuk menyampaikan keinginannya. “Ayah, ibu, Nayla mau bekerja saja biar bisa membantu kalian,” ucapnya pelan. Namun orang tuanya menolak dan mengatakan agar ia tetap kuliah. Akan tetapi Nayla tetap bekerja tanpa sepengetahuan mereka tapi diam-diam ia juga mendaftar kuliah. Setelah beberapa bulan menunggu, akhirnya pengumuman keluar. Nayla langsung mengecek namanya dan ternyata is diterima. Nayla ter- Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Sholehatul Mabruroh N kejut dan langsung bertanya kepada orang tuanya. Akhirnya, ibunya berkata “selama kamu sibuk bekerja, ayah dan ibu sudah meminta bantuan kepada pihak kampus.” Nayla menangis di hadapan orang tuanya, ia baru menyadari bahwa selama ini orang tuanya telah berjuang mati-matian agar ia bisa diterima di kampus impiannya. Ia juga menyadari bahwa selama ini di balik langkah kesunyiannya, tersimpan cahaya harapan dari orang tuanya yang telah menerangi kehidupannya. 103
AKU BUKAN PILIHAN, HANYA PERSINGGAHAN aat duduk di bangku SMA waktu kelas 11, Tika didekati oleh kakak kelasnya, Roni. Setiap hari di sekolah mereka selalu bertemu, tapi hanya saling bertatapan. Padahal sebenarnya mereka saling memberi kabar setelah pulang dari sekolah sampai larut malam. Roni selalu menemani hari-hari Tika dengan penuh kebahagiaan. Namun, ketika bertemu langsung Tika selalu salah tingkah dan menghindarinya. Akan tetapi Roni tidak keberatan dengan hal itu. Ia justru menertawakan Tika karena menganggapnya lucu. Saat di telepon, Roni berkata “jika seseorang memiliki perasaan maka orang itu harus memperjuangkannya dengan sepenuh hati.” Kata- kata itu menyakinkan Tika bahwa kedekatan mereka memiliki harapan untuk menjadi hubungan yang lebih serius. Sejak saat itulah Tika menyerahkan semua perasaannya kepada Roni. Setelah beberapa bulan, akhirnya Roni lulus dan ingin melanjutkan kuliah. Sebelum berpisah, Roni berjanji akan tetap menjaga komunikasi Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Sholehatul Mabruroh S dan kedekatan mereka. Namun setelah masuk kuliah, Roni tidak lagi mengirim pesan dan menanyakan kabarnya. Akan tetapi, Tika selalu memahami kesibukan barunya dan tetap menunggu pesan darinya. Hingga suatu hari, tiba-tiba Roni mengunggah foto berdua dengan kekasih barunya dengan caption “love”. Tika terjatuh dan seluruh badannya gemetar. Ia sadar bahwa kata-katanya hanyalah tipuan belaka dan ia juga menyadari bahwa dia tidak menjadikannya sebagai tujuan akan tetapi hanyalah tempat persinggahan sementara. 104
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Sholehatul Mabruroh adalah seseorang yang berasal dari keluarga yang sederhana, ia lahir di Pamekasan pada 15 Januari 2006. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan S1 di UIN Madura. Disana ia mengambil program studi Tadris Bahasa Indonesia. Alasan ia mengambil program studi Tadris Bahasa Indonesia untuk mendalami ilmu kebahasan dan keterampilan untuk mengajar. Menjadi mahasiswa banyak memberikan pengalaman dan pengetahuan baru baginya. Baginya pendidikan bukan hanya sekedar untuk memperoleh nilai, akan tetapi juga membentuk karakter seseorang dengan baik, menambah wawasan dan pengalaman baru, serta mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik. 105
GORESAN PENA DI KAMPUS HIJAU Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Sirajul Millah Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A ustyar, Romi, Kuwis, Agung, dan Ifan memulai perkuliahan di Universitas Islam Negeri Madura dengan persahabatan yang erat. Suatu hari, dosen memberi tugas kelompok membuat majalah pendidikan. Saat berdiskusi, perbedaan pandangan sempat muncul. “Kita harus berfokus pada pendidikan Islam,” usul Agung. “Budaya Madura juga penting untuk dimuat,” sahut Romi. Akhirnya, mereka sepakat menggabungkan kedua gagasan itu dalam karya berjudul Suara Pena Madura. Saat hasil lomba diumumkan, mereka gembira karena meraih juara pertama tingkat universitas. Namun, kebingungan muncul saat melihat piagam penghargaan. Nama yang tertera bukan nama mereka, melainkan nama seorang mahasiswa yang telah meninggal setahun lalu. Gustyar menunduk dan berbisik, “Itu nama kakakku. Aku menyisipkan naskah peninggalannya agar impiannya terwujud.” G Suasana mendadak hening. Dosen menghela napas lalu berkata, “Masalahnya, Gustyar, kakakmu dahulu dikeluarkan karena terbukti menjiplak karya orang lain.” Wajah Gustyar seketika memucat. Namun, dosen lalu menunjukkan berkas baru. Ternyata kakaknya tidak bersalah. Karyanyalah yang dicuri orang lain. Keempat sahabat terperanjat saat membaca nama pelakunya adalah dosen yang selama ini membimbing mereka. 106
PETUALANGAN DI KOTA YOGYAKARTA Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Sirajul Millah ore itu, Romi dan Gustyar nekat berkeliling Jogja menggunakan sepeda yang mereka sewa selama ada di kota itu. Saat asik mengayuh sepeda itu, mereka tidak sadar bahwa mereka sedang tersesat di sebuah pedesaan. Alih-alih panik, mereka disambut ramah oleh warga dan diajak berkeliling untuk melihat keindahan desa. Setelah itu tetua adat mengajak mereka ke Balai Desa untuk mendengarkan kisah masa lalu dari seorang tetua adat setempat. Mereka sangat menikmati suasana desa yang asri, hingga tidak sadar bahwa kenyataannya mereka sedang tersesat di desa itu. "Keindahan Jogja justru tersembunyi di tempat seperti ini,” ujar Romi kagum. Namun, sang tetua menunjukkan sebuah foto hitam-putih tahun 1970-an di dinding Balai Desa. Romi dan Gustyar terlonjak melihat dua pemuda yang sangat mirip mereka, berpose membawa sepeda tua yang sama. Gustyar tertawa hambar, "Kebetulan yang aneh, mirip sekali dengan kami." Tetua itu menggeleng "Itu bukan kemiripan, melainkan foto dua turis yang tewas kami begal lima puluh tahun lalu." Belum S sempat mereka mencerna ucapan mengerikan itu, seluruh warga desa yang ramah tadi mendadak mengunci pintu balai desa sambil mengacungkan senjata tajam. Romi dan Gustyar yang terkepung akhirnya sadar bahwa mereka tidak sedang terjebak di desa biasa, melainkan masuk ke sarang komplotan kriminal abadi yang penyamarannya tak pernah menua. 107
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Sirajul Millah atau akrab dipanggil Romi lahir di Desa Karang Sokon, Sumenep, pada 2 April 2006. Kini ia menempuh pendidikan di Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, UIN Madura. Semasa nyantri,teman-temannya menjulukinya “Bos Cuan” sekadar gurauan santai. Ia sangat mencintai sastra. Membaca dan menulis bukan sekadar hobi—ia mulai menyusun novel pertamanya sendiri sejak kelas 3 Madrasah Aliyah. Kecintaannya makin berkembang saat mendalami ilmu bahasa di perguruan tinggi . Di sela kesibukan, ia terus menuangkan imajinasi dan ide lewat tulisan, berharap karyanya dapat menghibur sekaligus memberi manfaat bagi pembaca. 108
DI ANTARA HUJAN DAN HARAPAN Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Siti Raudhatus Sholihah ejak kecil, Sari selalu ikut ayahnya ke mana pun pergi dan duduk di belakang motor sambil memeluk pinggang ayahnya. Kebiasaan itu membuatnya merasa aman. Sore itu langit mendung ketika ayah bersiap pergi keluar kota. Sari berpamitan pada bundanya membawa jaket miliknya. Ayah mengusap rambutnya dan berkata, “Tunggu di rumah, ya. Nanti ayah pulang bawakan es bubur kesukaanmu.” Sari tersenyum, tetapi hatinya tidak rela membiarkan ayahnya pergi seorang diri. Hujan turun deras ketika telepon rumah berdering. Ayahnya mengabarkan motornya mogok. Suaranya terdengar tergesa sebelum sambungan terputus tiba-tiba. Sari mulai gelisah dan tidak tenang. Bundanya mencoba menenangkan putrinya, tetapi suasana rumah terasa semakin sunyi. Tak lama kemudian telepon kembali berdering dan wajah bundanya langsung pucat. Sari dan bunda tiba di rumah sakit dalam keadaan panik. Di ruang perawat, Sari langsung memeluk Ayahnya, yang tampak tersenyum dalam keadaan matanya tertutup, lalu dokter datang dan mengatakan bahwa ayahnya sudah meninggal sebelum sampai di rumah sakit. Saat Sari menggenggam tangan ayahnya, ia menyadari tidak ada respon sama sekali. Namun ketika data waktu kecelakaan terjadi sebelum telepon pertama masuk. Sari terdiam lama, S baru menyadari bahwa suara yang ia dengar di telepon bukanlah ayahnya, melainkan panggilan darurat dari orang lain yang mengira masih bisa menyelamatkan seseorang yang sebenarnya sudah pergi sejak awal. 109
HARI YANG BERUBAH ARAH Karya: Siti Raudhatus Sholihah ari pertama libur sekolah dimanfaatkan keluarga Arion untuk pergi menikmati suasana Taman Kota Sumenep. Arion pergi bersama istrinya, Leona, serta kedua anaknya, Arif dan Aya, menikmati waktu bersama. Aya yang selalu ceria meminta es bubur di seberang jalan. Arion pun menyeberang untuk membelinya, namun sebuah truk melaju kencang dan menabrak tubuhnya. Warga segera berkerumun. Leona dan kedua anaknya menangis histeris saat melihat tubuh suaminya berlumur darah. Petugas menyatakan Arion meninggal dunia. Sejak itu, Aya hidup dengan rasa bersalah setiap kali melihat es bubur. Tahun-tahun berlalu, sehingga suatu hari Aya kembali ke taman itu untuk pertama kalinya sejak kejadian ayahnya. Di sana, ia melihat seorang penjual es bubur yang wajahnya sangat mirip dengan ayahnya. Jantungnya berdegup kencang. Saat ia mendekat, pria itu tampak asing dan tidak mengenalnya. Di tangannya terdapat bekas luka yang sama seperti yang pernah dimiliki Arion. Aya gemetar dan memanggil pelan, “Ayah?” Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A H Pria itu hanya tersenyum bingung. Seorang warga menjelaskan bahwa pria tersebut selamat dari kecelakaan, tetapi kehilangan ingatannya dan hidup dengan identitas baru. Aya terdiam lama, air matanya jatuh perlahan. Rasa bersalah yang selama ini ia pendam berubah menjadi harapan yang tak pasti, bahwa kehilangan tidak selalu berarti akhir, meski kenyataan tak lagi sama seperti dulu. 110
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Siti Raudhatus Shalihah panggil aja Aya, sebuah nama panggilan yang jaraknya melompati beberapa samudra dari nama aslinya adalah seorang penikmat lagu dan keheningan yang lahir di Sumenep, 02 Juni 2006. Gadis yang merasa diciptakan untuk bersekutu dengan kasur dan makanan ini mendapati langkah hidupnya terjebak dalam sebuah ironi: gadis introvert sejati yang anti tampil di depan publik, namun entah bagaimana bisa terdampar di jurusan Bahasa Indonesia UIN Madura. Namun, jauh sebelum ia menjadi mahasiswa mageran yang energinya habis disedot oleh smartphone, Gadis introvert yang sukanya menikmati indahnya alam samudra. Sapa Aya yang mageran tapi misterius ini lewat akun Instagram@rdhtsshlh@dubbun_piuw. 111
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A MENEMUKAN ARTI HIDUP DI BALIK PERJUANGAN Karya : Sitti Juhairoh ejak masa kecil, saya selalu berada di bawah harapan besar dari orang tua. Mereka mendaftarkan saya di pesantren, dan meskipun saya melanjutkan kuliah, sebagian besar waktu saya dihabiskan di pesantren. Hari-hari saya dipenuhi dengan kegiatan yang terjadwal: belajar, mengaji, dan berlatih. Tidak ada waktu untuk bersantai atau menikmati hiburan, bahkan ponsel dianggap gangguan. Orang tua selalu menekankan pentingnya mengisi waktu dengan aktivitas produktif agar saya tidak merasa kurang beraktivitas. Gaya hidup yang ketat ini telah membentuk kepribadian saya menjadi kuat, tetapi juga meninggalkan beban mental. Setiap kali pulang, selalu ada tekanan baru untuk mengikuti kursus di pesantren lain. Ruang untuk merasakan kebebasan dan kesenangan terasa sangat terbatas. Ketika mengalami kesepian, saya biasanya berbagi perasaan dengan orang tua, yang selalu menjawab, "Sabar, ini adalah ujian hidupmu demi menjadi individu yang lebih baik. " Meskipun kata-kata itu menguatkan, hati saya tetap mempertanyakan kapan saya dapat merasakan hidup yang lebih ringan. S Hampir 15 tahun telah berlalu, dan saya merasa lelah baik secara fisik maupun mental. Namun, saya mulai menyadari bahwa setiap langkah dan perjuangan telah menjadikan saya lebih bijaksana dan kuat. Walaupun ujian terasa tidak ada habisnya, saya yakin bahwa setiap perjuangan memiliki arti, dan di balik setiap langkah ada tujuan yang suatu saat akan saya mengerti. 112
SUARA DI DALAM KESUNYIAN Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Sitti Juhairoh enja menyirami ruang kecil Aidan dengan hangat saat ia memandangi foto lama yang mulai pudar. Dira, kakaknya, selalu muncul dalam setiap momen tawa, pelukan, bahkan duel kecil yang kini terasa sangat berharga. Walaupun mereka terpisah oleh waktu dan jarak, pengaruh Dira terus mengalir dalam setiap langkah Aidan. Kadang rasa rindu menguat, namun ia mengerti cinta seorang kakak tiada pernah sirna. jejak cinta, membimbing Aidan meski diselimuti kesunyian dan keraguan yang datang silih berganti. Di sekolah, pepatah Dira selalu teringat: “Bersikaplah kuat, tetapi kasihani dirimu sendiri. ” Ungkapan itu menjadi pedoman saat Aidan berhadapan dengan tekanan, kesulitan, dan ketakutan yang datang tak terduga. Kawan-kawannya mungkin menganggapnya sebagai sosok pendiam, tetapi dalam hatinya berkecamuk impian yang ditanamkan Dira sejak lama. Setiap kali kerinduan itu muncul, Aidan menulis surat yang tidak pernah dikirimkan, seolah melalui kata-kata tersebut ia dapat menyampaikan semua perasaan yang terpendam. Surat tersebut berfungsi sebagai jembatan antara sekarang dan yang lalu, antara keberanian dan ketakutan, yang membentuk identitasnya. S Malam itu, Aidan berdiri di balkon, menatap bintang-bintang di langit yang luas. Ia menyadari bahwa kasih sayang seorang kakak bukan hanya tentang keberadaan fisik, melainkan jejak yang menanamkan kekuatan. Senja pun menghilang, menyisakan keyakinan bahwa ikatan mereka adalah kekuatan yang membentuk semua harapan, keputusan, dan impian Aidan selamanya. 113
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Sitti Juhairoh biasa di panggil hera lahir di Sumenep pada tanggal 30 Januari 2004. Saat ini ia sedang menuntut ilmu di Universitas Islam Negeri Madura. Dia memiliki minat di bidang pendidikan, bahasa, dan studi keislaman. Baginya, aktivitas membaca dan menulis adalah cara untuk terus menerus belajar, memperluas pengetahuan, dan menyalurkan ide-ide. Dia meyakini bahwa setiap perjalanan akan memberikan pengalaman dan pembelajaran yang berarti. Dengan semangat untuk belajar, kerja keras, dan doa, ia berharap bisa menjadi individu yang berguna bagi banyak orang serta memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Untuk mengenal Hera lebih lanjut, kalian bisa mengunjungi akun Instagram @mahiroh – az zaeen. 114
SENIN YANG TIDAK TERLUPAKAN enin itu, aku dan Mila berencana melepas penat setelah kuliah dengan mengunjungi kafe. Kami singgah di toko gorengan Pak Slamet sembari membahas tugas yang belum usai. Terik matahari membuat kami ingin segera sampai tujuan. Mila melajukan motor dengan santai, sementara aku sibuk menatap ponsel di boncengan belakang. Tiba-tiba, hantaman keras dari arah belakang membuat keseimbangan kami goyah. Motor jatuh di pinggir jalan, disusul jerit kesakitan Mila yang lututnya terluka parah. Kepalaku berdenyut hebat dan tanganku bersimbah darah, namun kesabaranku masih tersisa untuk mendengar kegaduhan warga di sekitar lokasi kecelakaan. Kami segera dilarikan ke rumah sakit. Beruntung, dokter menyatakan luka kami tidak fatal, meski membutuhkan beberapa jahitan dan waktu pemulihan. Saat orang tua menjemput kami selepas Asar, seorang perawat menghampiriku seraya menyodorkan dompet yang ditemukan di lokasi kejadian tadi. Aku membuka dompet milik pengendara yang menabrak kami, lalu jantungku berdegup kencang. Di dalamnya terselip foto masa kecilku bersama seorang bocah laki-laki yang wajahnya terpahat jelas dalam ingatan samar. Nama pemilik dompet itu adalah nama kakak kandungku yang hilang dalam musibah bertahun-tahun silam. Kecelakaan yang kupikir sebagai nasib sial, justru menjadi takdir yang mengembalikan anggota keluarga yang telah lama terpisah. Kecelakaan itu bukanlah akhir, melainkan awal pertemuan yang merajut kembali serpihan hidupku yang sempat hilang. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Tri Yulia Handayani S 115
MENJAHIT WAKTU ejak kepergian ibunya 1 tahun lalu, Indy selalu menghabiskan waktu senggangnya di depan mesin jahit tua di sudut kamar. Ayah sering memperhatikan dari balik pintu, memandangi jemari yang dengan kaku mencoba memasukkan benang ke lubang jarum yang sangat kecil. Indy menolak setiap kali ayah menawarkan untuk membelikan mesin jahit listrik modern yang jauh lebih mudah digunakan. Baginya, derit ritmis dari kayuhan kaki pada mesin tua itu adalah satu-satunya suara yang bisa meredam kesunyian hebat yang ditinggalkan ibunya. Setiap malam, ia terus belajar menyatukan potongan kain perca, seolah-olah sedang menyatukan kembali kepingan hatinya yang hancur. Ayah hanya bisa menghela napas, menghormati cara unik anaknya dalam merawat ingatan dan menyembuhkan luka batinnya sendiri. Malam ini, badai hujan melanda kota dan tiba-tiba aliran listrik padam total, menyelimuti seluruh rumah dalam kegelapan yang mencekam. Indy yang sedang menyelesaikan sebuah jahitan penting tersentak kaget ketika jarinya terperosok dan tertusuk jarum hingga meneteskan darah. Di tengah kegelapan, ia mendadak panik bukan karena rasa sakit di jarinya, melainkan karena ia tidak bisa lagi mendengar suara kayuhan mesin jahitnya yang biasanya menjadi penenang. Dalam remang cahaya lilin yang dinyalakan ayah, Indy terduduk lemas meratapi kain perca yang kini ternoda oleh tetesan darahnya sendiri. Ayah berjalan mendekat, meletakkan tangan hangatnya di pundak Indy lalu berkata dengan suara yang sangat lembut, "Nak, mesin ini tidak akan pernah bisa menjahit kembali waktu yang sudah lewat." Indy tertegun, menatap lekat-lekat barisan jahitan yang tidak rapi di atas kain di depannya. Di bawah temaram cahaya lilin, ia akhirnya menyadari bahwa selama ini ia bukan sedang belajar menjahit pakaian, melainkan sedang keras kepala menolak kenyataan dan mencoba memanggil kembali sosok ibu lewat benda mati. Air matanya runtuh, mengalir bersama keikhlasan yang baru saja ia temukan di balik gelapnya malam. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Tri Yulia Handayani Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A S 116
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Tri Yulia Handayani adalah mahasiswa semester 4 yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi dengan semangat belajar tinggi dan komitmen untuk mengembangkan pengetahuan serta keterampilan di bidang yang ditekuni. Aktif dalam kegiatan akademik dan organisasi kampus, ia memiliki minat pada pengembangan diri, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan sikap disiplin, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama, Tri terus meningkatkan kompetensi diri melalui berbagai kegiatan pembe- lajaran dan pengabdian. Ia berupaya mengembangkan potensi yang dimiliki sebagai bekal untuk memberikan kontribusi positif bagi lingkungan kampus maupun masyarakat. 117
SELALU ADA, TAPI TAK PERNAH DICARI ina memiliki tiga sahabat yang selalu dianggap seperti keluarga. Ia hafal kebiasaan mereka, tahu makanan favorit mereka, dan selalu menjadi orang pertama yang datang saat salah satu memiliki masalah. Jika ada tugas kelompok, Fina paling sering membantu. Jika ada yang sedih, ia rela mendengarkan berjam-jam meskipun juga lelah. Namun, di antara mereka, Fina seperti orang yang keberadaannya dianggap biasa. Namanya jarang dicari saat suasana bahagia. Ia hanya diingat ketika orang lain membutuhkan bantuan atau tempat bercerita. Suatu hari, teman-temannya merencanakan liburan setelah ujian. Semua dibahas dalam grup lain tanpa mengajak Fina. Ia baru mengetahui hal itu saat melihat foto kebersamaan mereka di media sosial dengan caption tentang persahabatan yang sempurna. Tidak ada yang sadar bahwa Fina melihat semuanya sambil duduk di kamar kos. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak membalas pesan siapa pun. Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Karya: Ulfatul Jannah Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A F Beberapa hari kemudian, salah satu temannya datang mencari Fina untuk meminta bantuan mengerjakan presentasi. Namun, kamar kos itu sudah kosong. Tetangga mengatakan Fina pindah setelah diterima bekerja di luar kota. Di meja belajarnya hanya ada sticky note bertuliskan, “Terima kasih sudah membuatku sadar bahwa selalu hadir bukan berarti dihargai.” Sejak saat itu, mereka menyadari bahwa orang yang paling tulus seringkali menjadi orang yang paling dilupakan. 118
BUNGSU DAN HARAPAN YANG DISIMPAN Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Ulfatul Jannah ku adalah anak bungsu di keluargaku. Sejak kecil, aku terbiasa mendengar cerita tentang kakak-kakakku yang berprestasi. Saat keluarga berkumpul, orang tuaku sering menceritakan keberhasilan mereka dengan penuh kebanggaan. Aku ikut senang mendengarnya, tapi terkadang hanya diam dan bertanya dalam hati, apakah suatu hari nanti aku juga bisa membuat mereka bangga. Pertanyaan itu sering muncul, terutama saat aku merasa usahaku belum membuahkan hasil. Banyak orang bilang menjadi anak bungsu itu enak karena lebih dimanja. Mungkin ada benarnya, tapi tidak banyak yang tahu bahwa aku juga sering merasa terbebani oleh harapanku sendiri. Sekarang aku sudah menjadi mahasiswa, dan tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Ada saat nya aku merasa tertinggal, bingung dengan masa depan, bahkan meragukan kemampuanku. Namun, aku tetap mencoba menjalaninya karena tidak ingin terus berada di bawah bayang-bayang keberhasilan kakak-kakakku. A Suatu malam, aku mendengar ibuku berbicara dengan ayah tentang anak-anak mereka. Aku mengira mereka akan kembali membahas kakak- kakakku, tapi ternyata salah. Ibuku berkata bahwa ia tidak pernah khawatir tentangku karena meskipun aku jarang bercerita, aku selalu berusaha menyelesaikan masalah sendiri. Saat itu aku terdiam. Untuk pertama kalinya aku sadar bahwa selama ini yang paling sering mem- bandingkan diriku dengan orang lain adalah aku sendiri. Sejak malam itu, aku mulai belajar menerima diriku dan berjalan dengan langkah sendiri. 119
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Ulfatul Jannah. Lahir di Sampang, pada 23 mei 2006. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Madura pada Program Studi Tadris Bahasa Indonesia. Menjadi mahasiswa memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang membantu saya berkembang dalam bidang akademik maupun kehidupan sehari-hari. Saya senang membaca, menulis, dan mempelajari hal-hal baru untuk menambah wawasan. Selain itu, saya memiliki minat pada dunia pendidikan dan bahasa karena keduanya berperan penting dalam membentuk cara berpikir dan berkomunikasi. pribadi saya sederhana, bertanggung jawab, dan selalu berusaha belajar dari setiap pengalaman. Dengan semangat belajar, saya berharap dapat meraih cita-cita serta memberikan manfaat bagi masyarakat. 120
TENGAH YANG TERABAIKAN amie adalah anak tengah dari tiga bersaudara yang hidup di keluarga berkecukupan dan dikenal harmonis oleh orang-orang sekitar. Orang tuanya bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Namun, Damie merasa ada sesuatu yang tidak benar-benar pernah ia miliki, yaitu perhatian yang adil dari kedua orang tuanya. Abangnya selalu dijadikan kebanggaan keluarga karena prestasinya. Adiknya selalu mendapatkan perhatian lebih karena dianggap masih kecil dan lebih membutuhkan kasih sayang. Damie terus diminta mengalah kepada keduanya. Lama- lama, ia bingung apakah dirinya benar-benar dianggap ada. Pada suatu malam, seluruh hidangan di meja makan berisi seafood. Damie sebenarnya berusaha mengingatkan bahwa ia memiliki alergi, tetapi ibunya hanya berkata bahwa ia lupa. Tak ingin merusak suasana, Damie akhirnya tetap memakan makanan itu. Beberapa menit setelah makan malam, tubuh Damie mulai sesak. Ruam merah memenuhi kulitnya. Ayahnya segera membawa Damie ke rumah sakit dengan wajah penuh ketakutan. Ibunya terus menangis sambil memanggil nama anak tengahnya. Namun, kondisi Damie sudah terlalu parah sehingga nyawanya tidak tertolong. Setelah kepergian Damie, rumah mereka terasa sunyi. Ayah dan ibunya terdiam karena rasa bersalah yang terus menghantui. Saat membersihkan kamar Damie, ibunya menemukan buku harian kecil di bawah bantal. Pada halaman terakhir tertulis, “Aku tidak marah kalau harus mengalah. Aku cuma ingin sesekali saja ditanyakan, ‘Damie, bagaimana harimu, Nak?” Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A Karya: Winda Febriyana Firdaus D 121
“PENGHIANAT,” KATANYA Karya: Winda Febriyana Firdaus ndah adalah siswi berprestasi yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Suatu hari, ia terpilih mengikuti program pertukaran pelajar yang diadakan sekolahnya. Kabar itu membuat Indah sangat senang karena usahanya belajar mati-matian selama ini membuahkan hasil. Ia pun mulai mempersiapkan segala kebutuhan untuk keberangkatannya. Dalam proses persiapan itu, sahabatnya, Dinda, selalu memberi dukungan. Hubungan mereka sangat dekat dan hampir tidak pernah mengalami konflik. Namun, kebahagiaan Indah tidak berlangsung lama. Tiga minggu sebelum keberangkatan, sekolah mengumumkan bahwa Indah tidak lagi menjadi peserta pertukaran pelajar tersebut. Ia tiba-tiba digantikan oleh Dinda yang sebelumnya berada di posisi cadangan. Indah merasa dikhianati dan menganggap Dinda telah merebut kesempatan yang menjadi impiannya. Sejak saat itu, Indah menjauhi Dinda. Ia menolak mendengar penjelasan apapun dari sahabatnya. Dinda tetap berusaha menjelaskan, tetapi selalu diabaikan. Konflik mereka pun menjadi pembicaraan di seko- Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A lah. Merasa ada yang janggal, Indah akhirnya menemui guru pembimbing program tersebut. Dari guru itu, ia mengetahui bahwa pergantian peserta bukan atas permintaan Dinda. Keputusan tersebut terjadi setelah orang tua Indah sendiri yang mengajukan keberatan karena tidak mengizinkan ia pergi ke luar negeri untuk mengikuti program tersebut. Mereka bahkan meminta sekolah mencari pengganti untuk anaknya. Indah pun terdiam ketika mengetahui bahwa orang tuanya-lah yang mengusulkan nama Dinda sebagai penggantinya. 122
Selarik Sketsa dalam Tiga Jeda Tadris Bahasa Indonesia Angkatan 24 Kelas A PROFIL PENULIS Winda Febriyana Firdaus lahir di Pamekasan, pada 28 Februari 2006. Sedang menempuh S1 di UIN Madura. Ia memiliki ketertarikan pada kegiatan membaca sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Selain itu, Winda senang menikmati keindahan alam serta suasana tenang dan damai. Baginya, ketenangan menjadi ruang yang mendukung proses belajar, refleksi diri, dan pengembangan pribadi. Ia terus berupaya untuk belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Ia juga memiliki cita-cita untuk menjadi guru pertama di keluarganya. Ia berharap dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Kenali Winda lebih dekat lewat akun Instagramnya @h0biiikooo dan email @windafebriana63gmail.com. 123
"Seperti buku bagus yang tak pernah membosankan untuk dibaca ulang, setiap hal tentangmu selalu menyisakan ruang untuk dikagumi kembali." _slvy_ "Jika ada satu hal yang ingin kusampaikan setelah seluruh cerita ini selesai dibaca, maka itu sederhana, terima kasih kepada seseorang yang telah mengubah kekaguman menjadi kata-kata, dan kata-kata menjadi cerita." _Agung_ Narasi yang Mengendap "Sederhana saja: dunia butuh lebih banyak orang sepertimu." _your future_ "Dengan tiga pragraf mungkin terasa singkat,namun didalamnya ada semesta tempat seorang yang tak pernah kumiliki hidup kekal dalam ingatan." _erkgbrn_ "Jika selama ini aku berbicara melalui cerita, maka biarkan halaman terakhir ini berbicara tanpa perantara. Di balik beberapa tulisan yang kau temukan di buku ini, ada kekaguman yang tumbuh diam-diam. Dan kekaguman itu adalah untukmu." _Calon Imam_ "Hidup itu bagaikan canvas. Setiap torehan kuas adalah kisah yang bercerita. Semakin berwarna, semakin beragam pula ceritanya.." _Enyray_
"Menulis adalah caraku merawat kenangan yang tak sempat tercipta. Melalui tiga pragraf ini, biarlah jemari ini bercerita tentang semesta yang terlambat, tentang mencintaimu dalam diam hingga kamu menjadi masa lalu." _erkgbrn_ "Belajarlah untuk melihat dengan hati. Karena mata hanya bisa memindai, bukan merasa." _Enyray_ "Beberapa rasa tidak kalah karena kurangnya perjuangan, melainkan karena takdir telah memilihkan jalan bercabang yang tak lagi bisa disatukan" _Zf_
Bagaimana jika sesuatu yang teramat kau hargai menyimpan kebenaran yang berbeda? Bagaimana jika pelukan hangat yang selama ini kau rindukan, baru bisa kau temukan setelah detak jantung tak lagi saling bersambut? Dan bagaimana jika dering jam weker di kamarmu adalah suara semesta yang menertawakan penyesalan yang terlambat? Buku ini adalah antologi pentigraf (cerita tiga paragraf) yang merangkum rahasia-rahasia misterius yang hidup di balik penundaan waktu, kebisuan mitos, hingga remang takdir yang menolak ikhlas. Di balik setiap barisnya, ada labirin masa lalu yang menolak selesai dan masa depan yang yang terlalu cepat datang. Jangan terburu-buru menebak akhir cerita. Sebab di sini, selembar tiket pulang bisa membawamu ke stasiun yang tak pernah ada, seutas gelang pemberian mampu mengikat belenggu tak kasat mata, dan keterlambatan satu detik saja sudah cukup untuk membalikkan seluruh jalannya takdir. Bersiaplah berhadapan dengan plot twist yang membalikkan logika. Karena dalam tiga jeda, garis hidup selalu punya cara paling misterius untuk mengejutkan kita. "Jangan percaya pada paragraf pertama, karena kebenaran baru akan mengintip di jeda yang paling akhir."