View CERPEN MUHLIS MJ (4) flipbook.
Keteguhan di Balik Denting Mesin Ketik Adab dalam Selembar Surat Hikayat Ban Mobil dan Ketelitian Sang Kiai Jejak Kiblat di Pucuk-pucuk Hijau Suara Gelap di Balik Saklar Saat Sang Samudera Meminta Maaf Gema Orasi di Langit Sampang, Kala Cak Nun Menasbihkan Petani sebagai Pahlawan Sejati Suara Gelap di Balik Saklar, Saat Sang Samudera Meminta Maaf Kiai Chalid: Sang Reli dan Hati yang Membumi Mutiara Kisah: "Nyala Nurani di Gelap Perbukitan" Mutiara Kisah: "Nyala Nurani di Gelap Perbukitan" Lanjutan Mutiara Kisah: Menanam Masa Depan di Sampang Kiai Chalid: Sang Reli dan Hati yang Membumi Mutiara Kisah: "Nyala Nurani di Gelap Perbukitan" Mutiara Kisah: Menanam Masa Depan di Sampang Lentera dari Pramian - Sreseh, Jejak Juang Kiai Chalid Menenun Harapan NU Sampang Memori Keteladanan: Oase Spiritual di Bumi RUA Lentera Larut Malam: Jejak Khidmat K.H.A. Chalid El Bushairy Daftar Isi
KeteguhandiBalikDentingMesinKetik: KisahTeladanKHa.ChalidEl-Bushairy'Am Di koridor MA Al-Mas'udiyah, waktu seolah melambat di bawah naungan wibawa KH. Chalid El-Bushairy 'AM Beliau bukan sekadar pemimpin formal, melainkan penjaga ruh kedisiplinan. Baginya, sebuah surat bukan hanya selembar kertas, melainkan wajah kehormatan lembaga dan cermin ketulusan hati. Seulas Ketelitian, Seribu Makna Suatu siang yang terik, seorang wali murid datang dengan gundah, memohon surat keterangan mutasi bagi buah hatinya. Dengan sigap, seorang staf madrasah duduk di hadapan mesin ketik manual yang legendaris. Tuk... tak... ting! Bunyi besi menghantam pita hitam itu bersahutan. Lembar demi lembar HVS disisipkan, berlapis kertas karbon hitam agar meninggalkan jejak yang serupa. Peluh menetes, jari-jemari mulai kaku menekan tuas yang berat. Setelah perjuangan yang melelahkan, selembar surat pun rampung. Edisi 1_03/04/2026_Penulis: MUHLIS MJ Staf tersebut menghadap Sang Kyai dengan napas lega, menyodorkan surat untuk ditandatangani. Namun, sebelum pena menyentuh kertas, mata KH. Chalid yang jernih menangkap sebuah noda kecil dalam kerapian: sebuah kata di bagian bawah tanpa spasi. Dunia mungkin menganggapnya sepele, sebuah kesalahan ketik yang bisa dimaafkan oleh rasa lelah. Namun bagi beliau, konsistensi adalah nafas. Beliau menatap stafnya dengan pandangan yang teduh namun teguh, lalu berkata dengan suara yang arif: "Anakku, kesempurnaan dalam hal kecil adalah cermin kesungguhan kita dalam hal besar. Ketiklah ulang, biarlah kertas ini menjadi saksi bahwa kita tidak pernah bermain-main dengan amanah." Tanpa amarah, namun dengan ketegasan yang tak tergoyahkan, beliau meminta surat itu disusun kembali dari awal. Bukan untuk menyiksa, melainkan untuk mendidik bahwa integritas tidak mengenal kompromi, dan ketelitian adalah bentuk penghormatan tertinggi kepada sesama manusia.
Kenangan itu membawa kita kembali ke era 1990-an, masa di mana denting mesin tik masih menjadi irama harian di kantor madrasah. Suatu siang di Aula Depag Sampang, dalam sebuah pertemuan para Kepala Madrasah dan Pengawas, suasana yang awalnya tenang mendadak terasa canggung. Seorang pejabat mengangkat selembar surat dari MA Al-Mas’udiyah sebagai contoh. "Coba kita lihat surat ini," ujarnya dengan nada mengoreksi di depan forum. "Posisi 'Kepada Yth.' diletakkan di sisi kanan bawah nomor surat, padahal semestinya di sisi kiri sesuai aturan. Administrasinya mungkin perlu sedikit dirapikan lagi." Beberapa peserta tertawa kecil mendengarnya. Namun, Ust. Rusydi Mutahhar, sang pelaksana harian (MAA) yang hadir saat itu, hanya tersenyum tenang. Tidak ada raut tersinggung, apalagi amarah. Beliau menyimak masukan tersebut dengan ketenangan khas seorang santri. Hikmah di Kediaman Kiai Sepulang dari pertemuan, Ust. Rusydi menghadap KHA. Chalid El-Bushairi (Kepala MAA Ketika itu) untuk melaporkan kejadian tersebut. Saya kebetulan berada di sana, menyaksikan percakapan yang penuh kesejukan itu. Mendengar laporan tersebut, Kiai Chalid tidak tampak gusar. Beliau justru tersenyum santai dan mengajak kami melihat dari sudut pandang yang berbeda. "Begini, Ust. Rusydi," tutur Kiai dengan suara teduh. "Coba jenengan ingat saat acara resmi atau di Kantor. Posisi Foto Presiden selalu di sisi kanan Wakil Presiden di sisi kiri, itu adalah bentuk penghormatan tertinggi dalam protokol." Beliau kemudian mengambil secarik kertas, menguraikan makna yang barangkali tak terpikirkan oleh banyak orang di forum tadi. "Surat itu bukan sekadar kertas, tapi punya ruh. Ketika kita letakkan 'Kepada Yth.' di sisi kanan, kita sedang memuliakan penerima surat di posisi tertinggi—seperti posisi Foto Presiden. Sementara pengirim yang berada di sisi kiri bawah adalah wujud tawadhu’ atau rendah hati. Kita menempatkan diri di posisi yang lebih rendah untuk menghargai sesama. Inilah filosofi adab di balik tata letak surat kita." Marwah yang Terjaga Mendengar penjelasan itu, saya merasa takjub. Di tengah aturan birokrasi yang kaku, Kiai Chalid justru menyelipkan pelajaran akhlak yang sangat indah. Kritik di forum tadi tidak lagi terasa menyakitkan, melainkan menjadi pengingat betapa dalamnya perhatian beliau terhadap tata krama. Bagi MA Al-Mas’udiyah, surat adalah utusan hati. Ia harus tampil dengan wajah yang paling sopan: sangat menghormati yang dituju, namun tetap rendah hati bagi yang mengirim. Ust. Rusydi mengangguk mantap, perasaan gundahnya luruh seketika. Hari itu beliau belajar bahwa menjaga marwah dan martabat lembaga tidak selalu harus dengan pembelaan diri yang keras, melainkan dengan memegang teguh prinsip adab yang tulus. Catatan Penulis:Terkadang kita terlalu fokus pada aturan teknis hingga lupa bahwa di setiap interaksi, ada rasa hormat dan kasih sayang yang perlu kita utamakan. Sebagai bentuk rasa syukur atas ilmu dan bimbingan yang telah diberikan, mari kita tundukkan kepala sejenak untuk mengirimkan doa terbaik. Khususon ila Ruhi Almarhum KHA. Chalid El-Bushairy 'AM dan Almarhum Ust. Rusydi Mutahhar, Lahuma Al-Fatihah... Edisi 2_03/04/2026_Penulis: MUHLIS MJADAB DALAM SELEMBAR SURATKISAH TELADAN KHA. CHALID EL-BUSHAIRY 'AM
Pangarengan, 5 April 2026_Di bawah langit Torjun yang mulai merona jingga, deru mesin motor membelah kesunyian perjalanan pulang dari kegiatan Jastis RUA di Kediaman H. Muhtaram Dsn. Klaggan Ds. Bringin Nonggal Kec. Torjun. Di atas jok Vario 150, aku membonceng Ketua Pembina DPC IQBAL RUA Sampang 2 KH. Abd. Hadi Yusuf, sosok yang menyimpan samudera kearifan. Angin malam berbisik lembut, seolah ingin ikut mendengar sebuah hikayat lama dari bilik pesantren RUA Pramian. Beliau mulai bercerita, suaranya tenang namun bergetar penuh makna. Dahulu, saat beliau masih nyantri, sang guru mulia KHA. Chalid El Bushairy ‘AM memintanya mencuci ban mobil. Dengan penuh bakti, Abd. Hadi muda membasuh karet hitam itu dengan air dan sabun hingga tampak mengkilap. Namun, saat sang kiai datang mendekat, beliau tidak melihat kilapnya, melainkan sela- selanya. Di sana, di antara parit-parit ban, masih terselip kerikil-kerikil kecil yang bersembunyi. Dawuh Sang Guru Dengan nada yang menggetarkan jiwa, KHA. Chalid berkata: "Abd. Hadi, jika membersihkan sesuatu, bersihkanlah hingga ke akar-akarnya. Kebersihan adalah bagian dari iman, dan iman tidak hanya dipakai di atas sajadah shalat, tapi juga pada setiap jengkal khidmahmu kepada dunia." Mendengar itu, tersentaklah batin sang santri. Beliau segera mencari alat, sebuah cungkil besi, demi membebaskan ban itu dari setiap butir batu yang terjepit. Sebuah pekerjaan yang tampak sepele, namun dikerjakan dengan ketelitian tingkat tinggi sebagai bentuk pengabdian. Hikmah di Balik Debu dan Batu Kisah ini adalah cermin bagi kita semua tentang hakikat kesempurnaan dalam beramal: Iman dalam Detail: Kebersihan bukan sekadar membuang yang tampak (lahiriah), tapi membersihkan yang tersembunyi (batiniah). Totalitas Khidmah: Melakukan tugas setengah hati adalah tanda kurangnya rasa syukur. Menghilangkan "kerikil" kecil adalah bentuk integritas seorang hamba. Ibadah Universal: Agama tidak berhenti di pintu masjid. Nilai-nilai ketuhanan harus dibawa hingga ke garasi, ke jalan raya, dan ke setiap sudut aktivitas keseharian. Penutup: Seringkali kita sibuk memoles permukaan agar dipuji manusia, Namun lupa mencungkil kerikil kecil di sela-sela hati yang melukai perjalanan. Karena di mata Sang Khalik, bukan sekadar "selesai" yang dicari, Melainkan ketulusan yang murni hingga ke bagian yang tak terlihat sama sekali. HIKAYAT BAN MOBIL DAN KETELITIAN SANG KIAIKISAH TELADAN KHA. CHALID EL-BUSHAIRY 'AM Edisi 4 - 01/04/2026_Penulis: MUHLIS MJ
SuaraGelapdiBalikSaklar KISAH TELADAN KHA. CHALID EL-BUSHAIRY 'AM SaatSangSamuderaMemintaMaafCahaya dalam Gelap Malam itu, di Wisma Nurul Iman, lampu dipadamkan atas perintah KHA. Chalid El Bushairy ‘Am. Dalam kegelapan yang pekat, keangkuhan dua muridnya runtuh. Bukan amarah yang terdengar, melainkan suara lirih sang Kiai yang bergetar penuh kerendahan hati. Beliau bercerita tentang niat mulianya menghadiri Isra’ Mi’raj yang terhambat jalanan sempit. Klakson yang beliau bunyikan di sudut pondok bukanlah bentuk ketidaksabaran, melainkan panggilan harapan agar ada santri yang sigap menemani dakwahnya. Namun, panggilan itu hanya dijawab oleh intipan mata tanpa gerak raga. "Maafkan saya..." ucap sang Kiai dalam gelap. Kalimat itu meruntuhkan langit-langit hati Abd. Hamid dan Syahruddin. Bagaimana mungkin seorang samudera ilmu meminta pada setetes embun? Saat lampu dinyalakan kembali, rasa perih di pipi telah menjelma menjadi takzim yang luar biasa.Di tengah keheningan, tiba-tiba suara klakson mobil membelah udara. Tajam dan berulang. Namun, ego manusia terkadang lebih kedap suara dibanding telinga itu sendiri. Syahruddin hanya mengintip dari balik pintu, lalu kembali pada kesibukannya. Klakson kedua menyapa, kembali dibiarkan layaknya angin lalu. Hingga kemudian, sosok yang paling disegani, KHA. Chalid El Bushairy ‘Am, berdiri di ambang pintu. Sebuah lambaian tangan memanggil Syahruddin. Tanpa sepatah kata, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Abd. Hamid yang melihat kejadian itu, sempat tertawa kecil mengejek sahabatnya, dikira Kiai sudah beranjang ke Dalem., Ternyata kembali lagi ke Depan Pintu Ruang Administrasi dan memberikan "hadiah" yang sama persis ke pipi Hamid. "Ayo, kita sama sekarang," bisik Syahruddin, sebuah canda di tengah perih yang membingungkan. Jarum jam menunjuk pukul 21.30 di Pondok Pesantren RUA. Di bawah langit yang khusyuk, Ust. Abd. Hamid Bukhari dan Ust. Syahruddin melangkah menuju Sekretariat Keuangan untuk menuntaskan amanah administratif. Edisi 5 - 18/04/2026_Penulis: MUHLIS MJMutiara Hikmah Peka adalah Ibadah: Khidmat sejati adalah menangkap isyarat guru sebelum ia berucap. Adab di Atas Ilmu: Tamparan Kiai adalah cara beliau membangunkan jiwa yang beku agar ilmu tak sekadar menjadi hiasan kepala. Keluhuran Murabbi: Kegelapan adalah cara Kiai menjaga martabat muridnya saat beliau meminta maaf —sebuah teladan kerendahan hati yang paripurna. Cinta Tanpa Dendam: Di meja makan, hidangan sang Kiai menghapus segala ganjalan. Karena dalam cinta guru dan murid, tak ada luka yang tak menjadi obat. Malam itu mereka pulang dengan jiwa yang kenyang, menyadari bahwa hidayah seringkali datang melalui rasa sakit yang dibungkus kasih sayang.
Panggung Dunia di Balik Gerbang Pesantren Di hadapan ribuan santri dan alumni yang memadati acara HAMAS dan HIAS, Cak Nun berdiri menyampaikan orasi yang menggetarkan. Di bawah sorot kamera wartawan mancanegara, beliau tidak sedang membicarakan kemewahan kota, melainkan membela martabat mereka yang terlupakan. Dengan bahasa sastra yang jernih dan menyentuh, Cak Nun melontarkan pernyataan yang memutus arus pemikiran umum saat itu: Beliau menegaskan bahwa pahlawan yang sesungguhnya bukanlah mereka yang namanya mentereng di baliho politik, melainkan Para Petani. GemaOrasidiLangitSampang Kehadiran sosok budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) beserta budayawan lokal dan Nasional bukanlah tanpa alasan. Mereka hadir atas undangan khusus dari sosok karismatik yang dicintai masyarakat, Alm. KHA. Chalid El-Bushairy 'AM. Kehadiran rombongan ini semakin berwarna dengan ikut sertanya deretan Budayawan Nasional hingga jurnalis internasional dari Jerman dan Amerika Serikat, yang ingin menyaksikan langsung denyut spiritualitas di jantung Madura. Petani: Sang Penjaga Nafas Kehidupan Dalam momentum HAUL yang penuh doa tersebut, Cak Nun mengajak semua orang untuk "ngaji" realitas sosial. Beliau memaparkan mengapa petani adalah pahlawan tertinggi: Akar Kemanusiaan: Tanpa keringat petani, peradaban sehebat apa pun akan runtuh oleh lapar. Kesetiaan pada Tanah: Petani adalah cermin keikhlasan yang paling murni; mereka menanam harapan tanpa menuntut tanda jasa. Kedaulatan Sejati: Cak Nun mengingatkan para tamu nasional dan internasional bahwa kehormatan sebuah bangsa bermula dari kemandirian pangan yang dijaga oleh kaum tani. Edisi 6 - 19/04/2026_Penulis: MUHLIS MJ SAMPANG – Lembaran sejarah di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah (RUA) Pramian mencatat sebuah peristiwa kebudayaan yang monumental pada tahun 1994. Di tengah kekhusyukan peringatan HAMAS dan HIAS (Haul Masyayikh & Haflah Imtihan Akhir Sanah), pesantren ini kedatangan tamu-tamu istimewa yang membawa pesan peradaban dari panggung dunia.Kala Cak Nun Menasbihkan Petani sebagai Pahlawan Sejati KISAH TELADAN KHA. CHALID EL-BUSHAIRY 'AM
Semburat fajar di ufuk utara Sampang pada akhir September 1993 tidaklah berwarna jingga seperti biasa. Ada mendung kepedihan yang menggelayut di atas Desa Nipah. Aroma tanah yang basah oleh darah empat syuhada masih menyengat di sanubari para ulama. Tragedi 25 September itu telah menyayat hati nurani, memanggil jiwa- jiwa suci untuk turun tangan membela mereka yang terdzolimi.Kiai Chalid: Sang Reli dan Hati yang Membumi Edisi 7 - 20/04/2026_Penulis: MUHLIS MJ Sekitar pukul enam pagi, mesin mobil tua itu menderu pelan di halaman Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah (RUA) Pramian. Alm. KHA. Chalid El-Bushairy 'AM, sosok kiai dengan ketegasan yang dibalut kelembutan, bersiap memulai rihlah perjuangan. Beliau tidak sendiri; ada Ust. Abd. Kadir Fais dan aku, yang saat itu masih muda, membawa beban yang lebih berat dari sekadar raga: sebuah mesin ketik manual dan tumpukan berkas penting—senjata sunyi untuk membela hak-hak korban Nipah. Tujuan pertama adalah kediaman KH. Ahmad Bushiri Nawawi, Sang Rois Syuriyah, di PP. Assirojiyyah Kajuk Sampang. Di sana, rahasia-rahasia pembelaan dirajut dalam doa dan diskusi. Aku tetap setia di dalam mobil, memeluk mesin ketik itu seolah ia adalah bayi yang rapuh. Bagiku, mesin ketik itu adalah penyambung lidah bagi mereka yang dibungkam peluru. Perjalanan berlanjut. Dari satu kediaman kiai ke kiai lainnya—dari KH. Fahrurrozi Farouk hingga akhirnya berkumpul di Pondok Pesantren At-Taroqi Karongan, di bawah asuhan KH. Alawi Muhammad. Di sanalah, atmosfer perjuangan memuncak. Tokoh-tokoh besar dari PWNU Jawa Timur, Alm. KH. A. Hasyim Muzadi (Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim) dan KH. Abd. Wahid Zaini (Wakil Rois Syuriyah), telah hadir. Mereka bukan sekadar datang untuk berbela sungkawa, tapi untuk memastikan bahwa keadilan tidak ikut terkubur bersama para korban. Pukul tiga sore, konvoi kecil dua mobil bergerak menuju "Tanah Syahid" Nipah. Sebuah perjalanan yang tak hanya menguji nyali, tapi juga ketawadhu-an para kekasih Allah ini. Di sebuah tanjakan curam yang baru saja diuruk tanah merah, perjalanan terhambat. Ban mobil KH. Hasyim Muzadi selip, memutar sia-sia di atas tanah yang labil. Pemandangan menakjubkan terjadi: para ulama besar, pemegang tongkat estafet ilmu nabi, turun dari mobil dan bergotong-royong mendorong kendaraan tersebut di tengah debu dan panas. Tiba giliran mobil Kiai Chalid. Beliau menolak untuk didorong. Di sisi jalan, KH. Faurok Alawi Karongan berdiri tegap, jemarinya lincah memutar butiran tasbih, bibirnya merapal doa-doa langit. Ajaib, dengan kelihaian yang luar biasa, mobil Kiai Chalid melesat ke atas, menaklukkan tanjakan seolah tanah merah itu memberinya jalan. "Kiai Chalid Reli!" teriak KH. Faurok dengan nada kagum yang memecah ketegangan. Sesampainya di dataran tinggi, mesin mobil dimatikan. Pandangan kami tertuju pada hamparan panorama alam yang kini disebut Darus Syahid. Indah, hijau, namun menyimpan luka yang dalam. Di tengah kekaguman para kiai akan kebesaran Tuhan lewat alam-Nya, sebuah tangan menarik lenganku lembut menuju sisi mobil. Itu tangan Kiai Chalid. Beliau mendekat, menatap mataku dengan tatapan yang amat teduh, lalu berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, namun sangat menyayat hati. "Maafkan saya... tadi di kediaman kiai, saya dikasih makan, sementara kamu menjaga mobil dan belum makan..." Beliau mengulurkan selembar uang lima ribu rupiah—jumlah yang besar di masa itu—sembari menunjuk sebuah warung kecil di kejauhan. "Belilah sesuatu untuk mengganjal perutmu." Aku terdiam, membeku dalam haru yang luar biasa. Di tengah sanubarinya yang dipenuhi berkas-berkas hukum, di tengah tanggung jawab besar membela rakyat yang tertindas, dan di tengah lelahnya perjalanan fisik, Kiai Chalid masih menyisakan ruang di hatinya untuk memikirkan perut seorang santri yang setia menjaga mesin ketik di dalam mobil. Subhanallah... Inilah sisi kemanusiaan yang lebih tajam dari mesin ketik mana pun, dan lebih lembut dari sutra mana pun. Di tanah Nipah yang terluka, aku belajar bahwa perjuangan besar selalu dimulai dari kepedulian yang paling kecil. (Bersambung...) KISAH TELADAN KHA. CHALID EL-BUSHAIRY 'AM
Di dalam mushalla yang sempit itu, seorang lelaki—korban yang masih hidup—dihadirkan ke tengah lingkaran. Dengan tangan gemetar dan mata yang berkaca-kaca, ia menunjukkan bekas kebiadaban yang dialaminya. Luka di bagian bokongnya yang teriris, sepotong daging yang hilang dicuil peluru atau sangkur, dipelihatkan kepada semua kiai yang hadir. Ia berputar di tengah ruangan, membiarkan para ulama menyaksikan sendiri betapa mahalnya harga sebuah kesetiaan pada tanah kelahiran. Rupanya, kedatangan dua mobil rombongan itu dikira sebagai kembalinya aparat yang membawa nestapa. Namun, saat pintu mobil terbuka dan sosok-sosok bersorban putih turun dengan langkah perlahan, desas- desus ketakutan itu sirna. "Kiai... ini para kiai!" bisik seseorang di kegelapan. Seketika itu juga, ritual tahlil yang tegang itu membuyar. Bukan karena mereka enggan berdoa, melainkan karena rasa syukur yang meluap mendapati pelindung batin mereka telah hadir. Warga segera menyalakan lampu, dan suasana haru menyelimuti surau. Roda-roda mobil menderu pelan, mendaki jalanan setapak yang membelah sunyinya perbukitan Nipah. Di puncak dataran tinggi itu, Kiai Chalid meminta iring-iringan berhenti sejenak. Beliau turun, membiarkan angin pegunungan membasuh wajahnya yang tenang. Di bawah sana, sejauh mata memandang, tanah Madura tampak seperti sajadah raksasa yang membentang sunyi, namun menyimpan luka yang teramat perih. Panorama itu begitu indah, sekaligus menyayat hati bagi siapa saja yang tahu bahwa di balik hijaunya pepohonan, ada darah yang baru saja mengering.Mutiara Kisah: "Nyala Nurani di Gelap Perbukitan" Mutiara Kisah: "Nyala Nurani di Gelap Perbukitan" Edisi 8 - 20/04/2026 Penulis: MUHLIS MJ Perjalanan berlanjut menuju rumah salah satu korban yang selamat. Suasana seketika berubah mencekam saat cahaya lampu mobil menyapu pemukiman. Di sebuah surau kayu yang bersahaja, kerumunan warga tampak menyemut dalam kegelapan. Begitu deru mesin mendekat, lampu-lampu di dalam dan sekitar surau mendadak dipadamkan. Senyap. Hanya sayup-sayup suara tahlil yang bergetar karena ketakutan. Kiai Chalid terdiam. Tatapannya dalam, seolah sedang merekam setiap jengkal luka itu ke dalam sanubarinya. Pukul sembilan malam, di tengah suasana yang masih diliputi sisa-sisa trauma, warga menyuguhkan hidangan sederhana. Nasi itu dimakan dengan khidmat, bukan sebagai jamuan pesta, melainkan sebagai pengikat persaudaraan antara ulama dan rakyat yang terzalimi. Setelah doa dipanjatkan dengan suara yang lirih namun menggetarkan langit, rombongan kiai pun berpamitan, membawa pulang beban sejarah yang akan selalu dikenang. KISAH TELADAN KHA. CHALID EL-BUSHAIRY 'AM Mutiara Kisah Di atas tikar surau yang kusam, agama tidak lagi bicara tentang deretan hukum yang kaku, melainkan tentang telinga yang mau mendengar isak tangis dan mata yang berani menatap luka. Kiai Chalid mengajarkan bahwa kemuliaan seorang hamba Tuhan adalah ketika ia bersedia menjadi rumah bagi mereka yang kehilangan arah, dan menjadi pembela bagi mereka yang haknya dirampas paksa Kesimpulan "Luka di raga rakyat adalah goresan di hati ulama. Di Nipah, cahaya tidak datang dari lampu-lampu yang dinyalakan, melainkan dari ketulusan hati yang mau membumi, memeluk lara, dan menyuapi harapan di tengah gulita." Lanjutan Edisi 7
"Jika sekadar mengejar tegaknya atap satu lantai, mungkin hari ini kita sudah bisa bernaung. Namun lihatlah guratan arsitek Pamekasan ini; ia bukan sekadar denah, melainkan naskah masa depan. Dua lantai pun kelak akan terasa sempit oleh zaman yang terus tumbuh, apalagi jika kita hanya memahat satu lantai hari ini. Kita tidak sedang menyusun batu bata untuk hari ini, kita sedang menanam rumah bagi anak cucu yang belum lahir, " Saya hanya diam, menata cangkir-cangkir kopi sembari menanti kehadiran sang nakhoda, KH. Chalid El Bushairy (Ketua Tanfidziyah PC NU Sampang) Tak lama, beliau tiba setelah perjalanan jauh dari Sreseh. Rapat evaluasi pun memanas hingga tiba pada titik krusial soal keterbatasan dana. Di tengah desakan untuk "asal jadi", Kiai Chalid menarik napas dalam, tatapannya menembus dinding-dinding bata yang belum diplester. Sampang, 11 Muharram 1411 H/3 Agustus 1990. Debu pembangunan menyatu dengan aroma kopi yang saya racik di sudut bedeng. Hari itu, saya—seorang santri kelas 1 Madrasah Aliyah Al-Mas'udiyah Pramian—berdiri di sana bukan untuk kitab kuning, melainkan untuk berkhidmat di dapur. Menggantikan Sdr. Mahen, tugas saya sederhana: memastikan energi para tukang tetap terjaga demi tegaknya Kantor PCNU Kabupaten Sampang (Juklanten Banyuanyar).Mutiara Kisah: Menanam Masa Depan di Sampang Mutiara Kisah: Menanam Masa Depan di Sampang Edisi 9 - 23/04/2026 Penulis: MUHLIS MJ Di atas tanah wakaf Almarhum H. Mohammad Shaleh, sebuah diskusi buntu sedang berlangsung. Wajah-wajah lelah para kiai dan panitia pembangunan tampak tegang. "Dana kita minim," bisik salah satu dari mereka. Muncul usul yang terdengar realistis: "Pangkas saja menjadi satu lantai. Yang penting jadi, yang penting bisa segera dipakai." Seketika, ruangan hening. Usul pragmatis itu luruh. Para kiai mengangguk takzim, menyadari bahwa di balik keterbatasan materi, ada visi yang melampaui zaman. KISAH TELADAN KHA. CHALID EL-BUSHAIRY 'AM Mutiara Kisah "Sebab kepemimpinan bukan tentang seberapa cepat atap bertaut, melainkan seberapa jauh pandangan melampaui maut. Kita tidak sedang menyusun batu bata untuk berteduh hari ini, tapi sedang memahat ruang bagi gagasan besar yang akan mekar di masa depan."
..K I S A H T E L A D A N K H A . C H A L I D E L - B U S H A I R Y ' A Mpada tahun 1986, beliau adalah seorang penata yang tekun. Tangan dinginnya telah lama merawat dan menghidupkan madrasah di rahim Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah, Pramian, serta menyemai benih-benih ilmu di pelosok Kecamatan Sreseh. Pengalaman panjang itulah yang menjadi kompas sekaligus modal berharga saat beliau menapak jalan baru yang penuh tantangan. Ketika pertama kali melangkah di selasar LP Ma’arif NU Sampang, Kiai Chalid mendapati sebuah rumah besar yang fondasinya masih perlu diperkokoh. Struktur organisasi saat itu bagaikan anyaman yang belum rapat; renggang di sana-sini, dan denyut kualitas pendidikannya masih membutuhkan napas baru. Namun, beliau tidak mengeluh. Baginya, keterbatasan bukanlah dinding pembatas, melainkan halaman kosong yang siap ditulis dengan tinta emas perjuangan. MEMINTAL JARING DI TANAH SAMPANG Strategi pertama yang lahir dari buah pikir Kiai Chalid adalah sebuah terobosan yang melampaui zamannya. Beliau mengerti bahwa untuk menguatkan batang pohon, akar-akarnya di dalam tanah harus terlebih dahulu diperluas. Maka, lahirlah gagasan Kortan—Koordinator Kecamatan. Beliau memintal kembali jaring-jaring organisasi yang sempat longgar, menghubungkan satu kecamatan dengan kecamatan lainnya di seluruh penjuru Sampang. Uniknya, ketulusan Kiai Chalid bukan hanya mewujud dalam kata-kata atau rapat yang formal. Dari sudut pondok pesantrennya sendiri, beliau merelakan batangan-batangan kayu jati terbaik. Kayu-kayu itu dipahat dengan rapi menjadi papan nama organisasi, lalu didistribusikan ke setiap kecamatan. Papan nama kayu jati itu bukan sekadar penanda fisik, melainkan simbol keteguhan hati, harga diri, dan identitas LP Ma’arif NU yang kokoh tak lekang oleh zaman. MENDOBRAK TEMBOK KERAGUAN Tantangan terbesar Kiai Chalid bukanlah menyusun kurikulum atau menyelaraskan standar pendidikan yang beragam di berbagai lembaga—meski itu pun menguras energi yang tak sedikit. Ujian terberatnya adalah menghadapi sebuah benteng pemikiran yang mengakar kuat di kalangan pesantren salaf kala itu: anggapan bahwa menerima bantuan dari pemerintah adalah hal yang haram. LENTERA DARI PRAMIAN - SRESEH JEJAK JUANG KIAI CHALID MENENUN HARAPAN NU SAMPANGEdisi 10 - 30/06/2026 Penulis: MUHLIS MJHal 1... Langkah kaki Kiai Chalid selalu mantap, seirama dengan detak tasbih yang tak putus di jemarinya. Sebelum pundaknya memikul amanah besar sebagai Ketua LP Ma’arif NU Kabupaten Sampang
..Dengan kelembutan hati seorang guru dan kedalaman ilmu seorang ulama, Kiai Chalid mendekati para kiai sepuh. Beliau berdialog, meluruskan sudut pandang, dan memberikan pemahaman dengan untaian argumen yang menyejukkan. "Bantuan ini bukanlah racun yang merusak keikhlasan pesantren," urai beliau dalam sebuah kesempatan, "melainkan hak yang kembali pulang untuk membesarkan syiar Islam." Perlahan namun pasti, fajar pemikiran baru mulai menyingsing. Pesantren- pesantren salaf yang awalnya menutup diri—seperti Lanbulan, Ketapang, hingga Camplong—mulai membuka gerbangnya. Mereka tidak hanya luluh untuk menerima hak bantuan dari pemerintah, tetapi juga dengan bangga mengirimkan santri-santrinya untuk melebur dalam riuh Ujian Akhir Ma’arif NU. Sebuah pemandangan yang mengharukan, di mana tradisi salaf dan keteraturan organisasi berpadu dalam harmoni yang indah. WARISAN YANG HIDUP Kepemimpinan Kiai Chalid yang teduh namun progresif selama lima tahun (1986-1991) meninggalkan jejak yang tak terhapus waktu. Beliau berhasil melahirkan struktur organisasi yang mandiri hingga ke akar rumput melalui sistem Kortan. Pondok pesantren salaf di Sampang kini tak lagi berjalan sendiri dalam kesunyian; mereka telah melek organisasi dan berdaya secara ekonomi tanpa kehilangan jati diri kesalafannya. Harumnya khidmat Kiai Chalid di LP Ma'arif NU terdengar hingga ke penjuru daerah. Atas dedikasi dan sepak terjangnya yang gemilang, sejarah kemudian mencatat estafet perjuangan yang lebih tinggi: Kiai Chalid dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Sampang, bersanding serasi dengan KH. Ahmad Bushiri Nawawi sebagai Rois Syuriyahnya untuk masa khidmat 1991-1995. Sementara itu, tongkat estafet LP Ma'arif NU ia serahkan kepada Ustaz A. Kadir Faiz untuk melanjutkan perjalanan. Kiai Chalid telah tiada, namun kisah dari masa khidmatnya tetap hidup sebagai cermin keteladanan. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa merawat umat membutuhkan dua hal: keteguhan prinsip sekuat kayu jati, dan kelembutan hati dalam merangkul perbedaan. Edisi 10 - 30/06/2026 Penulis: MUHLIS MJ Hal 2.
..K I S A H T E L A D A N K H A . C H A L I D E L - B U S H A I R Y ' A MK I S A H T E L A D A N K H A . C H A L I D E L - B U S H A I R Y ' A MPada rentang tahun 2004 hingga 2011, saat saya mengemban amanah sebagai Kepala MA Almas'udiyah, sebuah peristiwa indah terukir di tahun 2009. Kala itu, madrasah kami dipercaya menerima bantuan Dana Hibah sebesar 100 Juta Rupiah dari Kementerian Koperasi. Amanah tersebut dialokasikan untuk pengadaan peralatan tata busana serta operasional pelatihan bagi santri dan masyarakat sekitar. Program TPKU (Tempat Praktik Keterampilan Usaha) Ketika tim monitoring yang dipimpin oleh seorang Deputi Kementerian datang meninjau, kekaguman langsung membuncah. Program berjalan dengan transparan dan berdaya guna. Namun, keindahan sejati dari kunjungan itu baru dimulai saat mentari telah tenggelam. Sekitar pukul 19.30 WIB, saya mengantarkan sang Deputi menuju Wisma Nurul Iman, kediaman hangat K.H.A. Chalid El Bushairy 'AM. Di sanalah, dalam rentang waktu yang seolah berhenti antara keheningan malam hingga pukul 23.00 WIB, sebuah dialog jiwa tercipta. Sang Deputi, yang telah melanglang buana ke berbagai penjuru provinsi dan berdiskusi dengan beragam pemuka lintas agama, tertegun. Di hadapan Kiai, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia jumpai di tempat lain. Kalimat yang diucapkannya malam itu terus terngiang, menjadi saksi bisu karisma sang ulama: "Kiai, saya telah lama menjadi tim monitoring. Seluruh provinsi telah saya datangi, dan dengan berbagai pemuka agama penerima program saya telah berkomunikasi. Namun, di Bumi RUA Pramian ini, di hadapan Kiai, saya merasakan hal yang sangat berbeda. Rasanya begitu nyaman dan meneduhkan. Jika ada kesempatan, saya ingin mengajak teman-teman untuk berkunjung ke pondok Kiai. Dan... izinkan saya meminta nomor kontak Kiai, karena malam ini, saya menobatkan Anda sebagai Guru Spiritual saya." Pengakuan jujur itu lahir bukan tanpa alasan. Malam itu, K.H.A. Chalid El Bushairy 'AM memaparkan imajinasi dan visi yang begitu tajam. Beliau berbicara dengan fasih tentang sosial kemasyarakatan, menelanjangi realitas kepemerintahan dengan bijak, serta mengurai berbagai benang kusut kehidupan dengan sudut pandang yang jernih dan sarat solusi. Petikan Hikmah: Jiwa yang Membumi, Pikiran yang Melangit Karisma Lahir dari Ketulusan, Bukan Jabatan Sang Deputi tidak terpesona oleh kemegahan fisik pondok, melainkan oleh kedalaman samudra jiwa sang Kiai. Kenyamanan yang dirasakan tamu adalah pantulan dari hati Kiai yang bersih, yang menerima siapa pun tanpa sekat status sosial. Keseimbangan Makrifat dan Realitas Seorang ulama sejati tidak hanya fasih bicara urusan akhirat, tetapi juga memiliki kepekaan tajam terhadap urusan dunia umatnya. Ketajaman Kiai dalam membedah isu sosial dan pemerintahan menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang hadir sebagai solusi konkret bagi peradaban. Daya Ubah Sebuah Perjumpaan Pertemuan yang singkat namun dipenuhi keberkahan mampu mengubah cara pandang seseorang. Kiai mengajarkan kita bahwa dakwah terbaik bukanlah dengan lisan yang menggurui, melainkan dengan kehadiran yang menenteramkan MEMORI KETELADANAN: OASE SPIRITUAL DI BUMI RUAMEMORI KETELADANAN: OASE SPIRITUAL DI BUMI RUAMEMORI KETELADANAN: OASE SPIRITUAL DI BUMI RUAEdisi 11 - 03/07/2026 Penulis: MUHLIS MJ
Lentera Larut Malam: Jejak Khidmat K.H.A. Chalid El Bushairy Gerimis tipis membasahi bumi Sampang malam itu, menyisakan hawa dingin yang perlahan menembus pori-pori. Waktu telah melewati pukul satu dini hari. Di dalam mobil yang berjalan pelan, sunyi sempat merayap, menyelimuti lelah setelah mengisi pengajian di Pondok Pesantren Al-Ihsan Jrangoan, Omben Sampang. Di kursi belakang, duduk sosok bersahaja yang menjadi nakhoda pertama gerbong struktural Nahdlatul Ulama di Sampang: K.H.A. Chalid El Bushairy. Beliau adalah Ketua Tanfidziyah PCNU Sampang pertama (1991–1995), amanah yang tertuang dalam SK PBNU Nomor 139/A.II.04.d/XII/1991, yang ditandatangani oleh para tokoh bangsa seperti K.H.M. Yusuf Hasyim, K.H. Ma'ruf Amin, Gus Dur, dan Drs. H.M. Ichwan SAM. Bagi Kiai Chalid, SK tersebut bukanlah selembar kertas legalitas, melainkan selembar piagam pengabdian tanpa batas. Ketukan Pintu dan Canda Lailatul Qadar "Kita mampir ke rumah Sekretaris dulu," dawuh Kiai Chalid memecah keheningan. Voice-nya tenang namun penuh ketegasan yang lembut. Saya dan Ustaz Furadi saling berpandangan. Jam di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB. Rasa kantuk sebenarnya mulai menggelayut, namun melihat gairah berkhidmat sang Kiai yang tak kunjung padam, rasa lelah kami menguap seketika. Sesampainya di kediaman sang Sekretaris, suasana kampung sudah sangat sepi. Kiai Chalid melangkah di bawah rintik gerimis, mendekati pintu, lalu mengetuknya dengan ritme yang sopan. Setelah mengucap salam, beliau berbisik agak lantang dengan nada bergurau yang khas untuk mencairkan suasana: "Lailatul Qadar datang...!" Tawa kecil tertahan pecah di antara kami. Sungguh sebuah candaan yang mendalam. Bagi sang pemilik rumah yang terbangun, kedatangan Ketua PCNU di sepertiga malam bagaikan berkah tak terduga—sebuah kunjungan silaturahmi yang meruntuhkan sekat antara pimpinan dan bawahan. Beliau memang dikenal selalu merawat silaturahmi, tidak hanya kepada para masyayikh sepuh seperti K.H. Ahmad Zayyadi Muthi atau K.A. Ahmad Bushiri Nawawi, tetapi juga membumi ke seluruh jajaran pengurus hingga ke kediamannya. bersambung ...
Jemari, Mesin Ketik, dan Cahaya Senter Malam itu, mushala rumah menjadi saksi bisu sebuah perjuangan organisasi yang murni. Tidak ada laptop canggih, tidak ada printer otomatis. Yang ada hanyalah sebuah mesin ketik manual yang selalu setia menemani di dalam mobil Kiai Chalid. Tugas mulia pun dibagi di bawah temaram malam: Ustaz Furadi bersiap dengan draf dan kertasnya. Saya mengambil posisi penting: memegang senter, mengarahkan berkas cahaya tepat ke atas tuts mesin ketik dan lembaran kertas, membelah kegelapan mushala. Jemari mulai menari. Bunyi "tak-tik-tuk" mesin ketik manual bersahut-sahutan dengan suara jangkrik dan rintik gerimis di luar. Setiap ketukan adalah untaian khidmat untuk umat. Surat-menyurat organisasi diselesaikan malam itu juga dengan ketelitian tingkat tinggi. Kiai Chalid mencontohkan secara nyata bahwa urusan jamiyyah NU tidak boleh ditunda-tunda, meski kantuk membujuk dan fajar hampir menyingsing. Fajar Khidmat yang Tak Pernah Padam Jarum jam menunjuk angka 03.00 WIB ketika lembar surat terakhir selesai dilipat dan dimasukkan ke dalam map. Napas lega berembus di keheningan subuh yang dingin. Barulah setelah semua urusan administrasi tuntas, Kiai Chalid mengajak kami untuk pulang. Perjalanan pulang menuju kediaman diiringi rasa takjub yang membuncah di dalam dada saya. Saya menyaksikan sendiri bagaimana totalitas seorang pemimpin. Khidmat ini terus beliau bawa hingga periode kedua (1995–2000) berdasarkan SK PBNU Nomor 108/A.II.04.d/V/1996, bahu-mombahu bersama K.H. Madzkur Rasyad selaku Rois Syuriyah, Ahmad Faridi, S.Ag sebagai Sekretaris, dan di bawah naungan Restu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang kala itu dipimpin oleh K.H. Muh. Ilyas Ruhiat dan Gus Dur. Kiai Chalid El Bushairy telah mengajarkan kepada kami sekelumit hikmah yang tak ternilai harganya: Bahwa ber-NU bukan tentang mencari nama atau posisi. Ber-NU adalah tentang menghidupkan malam dengan silaturahmi, menerangi kegelapan dengan cahaya keikhlasan, dan mengetuk pintu-pintu hati dengan kasih sayang, seolah membawa berkah Lailatul Qadar di setiap langkah. Edisi 11 - 08/07/2026 Penulis: MUHLIS MJ