Herbarium Digital Tanaman Jeruk Trigas

Dokumen ini adalah herbarium digital siswa tentang tanaman jeruk trigas (Citrus reticulata Blanco) yang disusun oleh kelompok 3 kelas X PPLG 2. Materi mencakup identitas tanaman, habitat alami, kondisi lingkungan, adaptasi morfologi dan fisiologi, serta hubungan tanaman dengan ekosistem. Bagian pertama menjelaskan karakteristik habitat jeruk trigas yang tumbuh optimal di dataran rendah hingga…

Dokumen ini adalah herbarium digital siswa tentang tanaman jeruk trigas (Citrus reticulata Blanco) yang disusun oleh kelompok 3 kelas X PPLG 2. Materi mencakup identitas tanaman, habitat alami, kondisi lingkungan, adaptasi morfologi dan fisiologi, serta hubungan tanaman dengan ekosistem.

Bagian pertama menjelaskan karakteristik habitat jeruk trigas yang tumbuh optimal di dataran rendah hingga menengah dengan iklim tropis hangat. Faktor abiotik seperti cahaya matahari, suhu 25-32°C, kelembapan 70-90%, tanah lempung berpasir, dan curah hujan 1.000-2.500 mm per tahun diuraikan. Faktor biotik meliputi lebah sebagai penyerbuk, cacing penyubur tanah, dan ulat sebagai hama pemakan daun.

Bagian adaptasi mencakup tiga jenis: adaptasi morfologi (akar tunggang kuat, kulit buah tebal), adaptasi fisiologi (menutup stomata saat panas, menyimpan cadangan makanan pada buah), dan adaptasi tingkah laku (fototropisme, membuka daun pagi hari untuk fotosintesis).

Dokumen juga memuat cerita ilmiah tentang perubahan lingkungan yang diamati, seperti tanah kering dan retak, suhu panas, hujan jarang, serta dampaknya pada tanaman: daun menguning, bercak cokelat, lubang pada daun, pertumbuhan terhambat, dan buah tidak maksimal. Solusi yang disarankan meliputi penyiraman teratur, pemangkasan, pemupukan organik, dan pembersihan area sekitar.

Bagian interaksi ekosistem menggambarkan jaring-jaring interaksi antara jeruk trigas dengan ulat daun, lebah, burung, jamur dan bakteri, serta sinar matahari. Jenis interaksi meliputi mutualisme, parasitisme, dan herbivori. Aktivitas manusia dalam budidaya mulai dari penanaman, penyiraman, pemupukan, pemanenan, hingga pengolahan hasil juga dijelaskan beserta dampak positif dan negatifnya.

Terakhir, dokumen membahas hubungan jeruk trigas dengan sistem bumi: hidrosfer (siklus air), litosfer (siklus tanah), dan atmosfer (siklus udara/gas). Fakta menarik mencakup asal tanaman dari Sambas, Kalimantan Barat, ukuran buah 80-300 gram, produktivitas 25-30 kg per pohon pada umur 4-5 tahun, dan penyebaran benih di lebih dari 16 provinsi Indonesia.