2 DAFTAR ISI PERUBAHAN TUBUH SELAMA KEHAMILAN............................................................3 KELUHAN SELAMA KEHAMILAN..............................................................................33 TANDA BAHAYA KEHAMILAN....................................................................................46 PENYEBAB TANDA BAHAYA.......................................................................................48 PENANGANAN AWAL.................................................................................................... 50 PENCEGAHAN KOMPLIKASI.......................................................................................51 NUTRISI IBU HAMIL...................................................................................................... 53 KONSEP POLA HIDUP SEHAT.......................................................................................64 PENGGUNAAN OBAT RASIONAL PADA IBU HAMIL..............................................94 OBAT-OBATAN YANG DITUNJUKAN UNTUK MANFAAT JANIN..........................95 PEMERIKSAAN KEHAMILAN UNTUK KESEHATAN IBU DAN JANIN.................96
3 PERUBAHAN TUBUH SELAMA KEHAMILAN a. Konsep Dasar Perubahan Tubuh • Definisi Perubahan Fisiologi Kehamilan Perubahan fisiologis kehamilan adalah perubahan normal yang terjadi pada tubuh wanita sejak terjadinya konsepsi hingga persalinan. Perubahan ini merupakan bentuk adaptasi tubuh ibu untuk memenuhi kebutuhan janin yang sedang berkembang, mempertahankan kehamilan, mempersiapkan persalinan, serta mendukung proses menyusui setelah melahirkan (Yulizwati, et al., 2021). Selama kehamilan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan pada sistem reproduksi, kardiovaskular, muskuloskeletal, respirasi, dan sistem tubuh lainnya. Perubahan tersebut merupakan mekanisme alami untuk memenuhi kebutuhan ibu dan janin selama masa kehamilan (Kuswardani et al., 2022). Perubahan fisiologis juga berfungsi mempertahankan fungsi normal tubuh ibu, sekaligus menyediakan nutrisi, oksigen, dan lingkungan yang optimal bagi pertumbuhan serta perkembangan janin (Kuswardani et al., 2022). Adaptasi fisiologis ini sering disertai berbagai ketidaknyamanan kehamilan, seperti nyeri punggung, pegal pada kaki, mudah lelah, sesak napas, edema pada tungkai, sulit tidur, serta perubahan postur tubuh akibat pembesaran uterus dan peningkatan berat badan. Keluhan tersebut merupakan bagian dari proses adaptasi normal selama kehamilan, terutama pada trimester II dan III (Kuswardani et al., 2022). • Adaptasi Maternal Selama Kehamilan Adaptasi maternal selama kehamilan adalah serangkaian perubahan fisiologis dan psikologis yang terjadi pada tubuh ibu sebagai respons terhadap kehamilan. Adaptasi ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi normal tubuh ibu, memenuhi kebutuhan nutrisi dan oksigen janin, serta mempersiapkan ibu menghadapi persalinan dan menyusui (Kuswardani et al., 2022). Bentuk Adaptasi Maternal : a. Adaptasi sistem reproduksi - Terjadi pembesaran uterus untuk mengakomodasi pertumbuhan janin.
4 - Serviks menjadi lebih lunak dan vaskularisasi meningkat sebagai persiapan persalinan. b. Adaptasi sistem kardiovaskular - Volume darah meningkat untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ibu serta janin. - Curah jantung meningkat sehingga aliran darah ke plasenta menjadi optimal. c. Adaptasi sistem muskuloskeletal - Bertambahnya berat badan dan pembesaran uterus menggeser pusat gravitasi tubuh ke depan. - Tulang belakang mengalami peningkatan lengkung (lordosis) sehingga sering menimbulkan nyeri punggung, pegal pada pinggang, varises, dan kram kaki. d. Adaptasi sistem respirasi - Kebutuhan oksigen meningkat seiring pertumbuhan janin. - Ibu dapat mengalami napas terasa lebih pendek, terutama pada trimester akhir akibat desakan uterus terhadap diafragma. e. Adaptasi metabolik - Metabolisme meningkat untuk memenuhi kebutuhan energi ibu dan janin. - Terjadi peningkatan kebutuhan kalori, protein, vitamin, dan mineral selama kehamilan. f. Adaptasi psikologis - Ibu mengalami perubahan emosi dan penyesuaian terhadap peran baru sebagai calon ibu. - Perubahan psikologis berlangsung sesuai usia kehamilan dan membantu mempersiapkan ibu menghadapi persalinan. • Peran Hormon Kehamilan a. Human Chorionic Gonadotropin (hCG) hCG adalah hormon yang diproduksi oleh sel trofoblas embrio setelah implantasi, kemudian oleh plasenta. Hormon ini merupakan penanda utama kehamilan karena terdeteksi dalam darah dan urine sejak awal kehamilan (Cunningham, F. G., dkk, 2022). Peran :
5 - Mempertahankan korpus luteum agar tetap menghasilkan progesteron dan estrogen pada trimester pertama. - Mencegah peluruhan endometrium sehingga kehamilan dapat dipertahankan. - Merangsang perkembangan plasenta. - Berperan dalam pembentukan organ reproduksi janin, terutama pada janin laki-laki dengan merangsang produksi testosteron. - Kadar hCG yang meningkat pada awal kehamilan berhubungan dengan mual dan muntah (morning sickness).. b. Progesteron Progesteron merupakan hormon yang diproduksi oleh korpus luteum pada awal kehamilan, kemudian diambil alih oleh plasenta mulai sekitar minggu ke-10– 12 kehamilan. Peran : - Mempertahankan ketebalan endometrium sebagai tempat implantasi dan perkembangan janin. - Menghambat kontraksi otot rahim sehingga mengurangi risiko keguguran. - Mengendurkan otot polos saluran cerna sehingga memperlambat pengosongan lambung, yang dapat menyebabkan konstipasi dan refluks asam lambung. - Mengendurkan otot saluran kemih sehingga meningkatkan risiko stasis urine dan infeksi saluran kemih. - Merangsang pertumbuhan alveoli payudara sebagai persiapan laktasi. - Menekan respons imun ibu agar janin tidak ditolak sebagai benda asing. c. Estrogen Estrogen diproduksi oleh korpus luteum pada awal kehamilan dan selanjutnya oleh plasenta dalam jumlah yang terus meningkat. Peran : - Merangsang pertumbuhan dan pembesaran uterus. - Meningkatkan aliran darah ke uterus dan plasenta. - Merangsang pertumbuhan duktus (saluran) payudara sebagai persiapan menyusui. - Meningkatkan elastisitas jaringan ikat dan vaskularisasi organ reproduksi.
6 - Meningkatkan sensitivitas uterus terhadap oksitosin menjelang persalinan. - Berperan dalam perubahan kulit seperti hiperpigmentasi dan linea nigra. d. Relaksin Relaksin diproduksi oleh korpus luteum, plasenta, dan desidua selama kehamilan. Peran : - Melunakkan serviks menjelang persalinan. - Melemaskan ligamen panggul sehingga jalan lahir menjadi lebih luas. - Membantu pertumbuhan uterus tanpa meningkatkan kontraksi. - Menyebabkan peningkatan kelenturan sendi yang dapat menimbulkan nyeri punggung dan ketidakstabilan panggul pada sebagian ibu hamil. e. Prolaktin Prolaktin diproduksi oleh kelenjar hipofisis anterior dan meningkat secara bertahap selama kehamilan. Peran : - Merangsang pertumbuhan kelenjar payudara. - Mempersiapkan pembentukan ASI. - Setelah persalinan, bersama penurunan estrogen dan progesteron, prolaktin merangsang produksi ASI. - Membantu mempertahankan proses menyusui selama terdapat rangsangan hisapan bayi. • Tujuan Perubahan Tubuh Selama Kehamilan - Menjamin pertumbuhan dan perkembangan janin. - Menyediakan nutrisi dan oksigen yang cukup bagi janin. - Melindungi janin selama dalam kandungan. - Mempersiapkan proses persalinan. - Mempersiapkan ibu untuk menyusui. b. Perubahan Sistem Reproduksi • Uterus Uterus (rahim) adalah organ reproduksi wanita berbentuk seperti buah pir terbalik yang tersusun atas otot polos (miometrium). Selama kehamilan, uterus
7 menjadi tempat implantasi hasil konsepsi, pertumbuhan dan perkembangan janin, pembentukan plasenta, serta melindungi janin hingga proses persalinan. Seiring bertambahnya usia kehamilan, uterus mengalami pembesaran yang sangat signifikan sebagai bentuk adaptasi fisiologis ibu terhadap kehamilan (Cunningham, F. G., 2022). a. Pembesaran Uterus Pembesaran uterus adalah salah satu perubahan fisiologis utama selama kehamilan yang ditandai dengan meningkatnya ukuran, berat, dan kapasitas rahim sebagai respons terhadap pertumbuhan janin. Pembesaran ini terjadi akibat hipertrofi (pembesaran sel otot) dan hiperplasia (penambahan jumlah sel otot) miometrium yang dipengaruhi oleh hormon kehamilan, terutama estrogen dan progesteron. Perubahan ini memungkinkan uterus menjadi tempat yang aman bagi pertumbuhan janin, plasenta, dan cairan ketuban hingga persalinan (Cunningham, F. G., 2022). Secara normal, berat uterus meningkat dari sekitar 60–80 gram sebelum kehamilan menjadi sekitar 900–1.000 gram pada akhir kehamilan, sedangkan kapasitas rongga uterus bertambah dari sekitar 10 mL menjadi sekitar 5.000 mL atau lebih menjelang persalinan. Seiring bertambahnya usia kehamilan, fundus uteri akan terus meningkat mengikuti pertumbuhan janin dan dapat digunakan sebagai indikator perkembangan kehamilan (Sutanto, A. V., 2018)
8 b. Perubahan Bentuk Uterus - Sebelum hamil berbentuk seperti buah pir. - Pada awal kehamilan menjadi lebih bulat. - Pada trimester kedua dan ketiga menjadi oval dan membesar ke arah rongga abdomen. - Dinding uterus menjadi lebih tipis akibat peregangan. c. Peregangan Ligamen Uterus Ligamen yang menopang uterus ikut meregang, meliputi: - Ligamentum rotundum. - Ligamentum latum. - Ligamentum uterosakral. Akibatnya: - Ibu sering merasakan nyeri tajam pada perut bagian bawah atau lipat paha (round ligament pain). - Keluhan biasanya muncul saat bergerak tiba-tiba. d. Kontraksi Braxton Hicks - Kontraksi tidak teratur dan tidak nyeri. - Mulai terasa sejak trimester kedua. - Tidak menyebabkan pembukaan serviks. - Berfungsi melatih otot uterus menjelang persalinan. • Serviks Serviks adalah bagian bawah uterus yang berbentuk silindris dan menghubungkan rongga rahim (uterus) dengan vagina. Serviks berfungsi sebagai pintu masuk ke rahim, menjaga kehamilan tetap berlangsung, serta menjadi jalan lahir saat persalinan. Selama kehamilan, serviks mengalami berbagai perubahan fisiologis yang dipengaruhi oleh hormon kehamilan, terutama estrogen, progesteron, dan relaksin, untuk mempertahankan janin hingga cukup bulan dan mempersiapkan proses persalinan a. Pelunakan Serviks (Tanda Goodell)
9 - Terjadi sejak minggu ke-6 kehamilan. - Disebabkan peningkatan vaskularisasi dan hormon estrogen. - Serviks menjadi lebih lunak dibandingkan sebelum hamil. b. Peningkatan Vaskularisasi - Aliran darah ke serviks meningkat. - Warna serviks berubah menjadi kebiruan atau keunguan (Tanda Chadwick). - Serviks menjadi lebih tebal dan lunak. c. Produksi Mukus Meningkat - Kelenjar serviks menghasilkan lendir lebih banyak. - Lendir membentuk sumbat mukus (mucus plug). - Berfungsi mencegah masuknya bakteri ke dalam rahim. - Sumbat mukus biasanya keluar menjelang persalinan. • Vagina dan Vulva Vagina adalah saluran muskular yang menghubungkan serviks dengan bagian luar tubuh. Vagina berfungsi sebagai jalan lahir, tempat keluarnya darah menstruasi, dan menerima penis saat hubungan seksual. Selama kehamilan, vagina mengalami berbagai perubahan fisiologis sebagai bentuk adaptasi untuk mendukung kehamilan dan mempersiapkan proses persalinan. Vulva adalah bagian paling luar dari organ reproduksi wanita yang meliputi mons pubis, labia mayora, labia minora, klitoris, vestibulum, serta muara uretra dan vagina. Selama kehamilan, vulva mengalami perubahan akibat peningkatan hormon dan aliran darah ke daerah genital. a. Peningkatan Keasaman Vagina - pH vagina menurun menjadi sekitar 3,5–6. - Disebabkan peningkatan produksi asam laktat. - Berfungsi melindungi dari infeksi bakteri. - Namun dapat meningkatkan risiko infeksi jamur. b. Keputihan Fisiologis (Leukorea) - Terjadi akibat peningkatan hormon estrogen dan aliran darah.
10 - Cairan berwarna putih atau bening. - Tidak berbau menyengat. - Tidak menyebabkan gatal atau nyeri. - Merupakan kondisi normal selama kehamilan. c. Peningkatan Aliran Darah - Pembuluh darah pada vagina dan vulva bertambah banyak. - Warna jaringan menjadi lebih gelap atau kebiruan. - Vagina menjadi lebih elastis sebagai persiapan persalinan. - Dapat menyebabkan vulva tampak membesar dan lebih sensitif. c. Perubahan Payudara • Pembesaran Payudara Selama kehamilan, payudara mengalami berbagai perubahan sebagai persiapan untuk proses menyusui setelah persalinan. Perubahan ini dipengaruhi oleh peningkatan hormon estrogen, progesteron, prolaktin, dan hCG. Pada awal kehamilan, payudara biasanya mengalami pembesaran akibat pertumbuhan jaringan kelenjar susu, peningkatan jumlah pembuluh darah, serta penumpukan lemak. Akibat perubahan tersebut, ibu sering merasakan nyeri dan peningkatan sensitivitas pada payudara, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini merupakan respons normal tubuh terhadap perubahan hormonal (Prawirohardjo, 2020). - Payudara membesar akibat peningkatan hormon estrogen dan progesteron. - Terjadi pertumbuhan jaringan kelenjar susu dan peningkatan aliran darah. - Bertujuan mempersiapkan payudara untuk menyusui. • Nyeri dan Sensitif Nyeri dan sensitivitas payudara merupakan salah satu perubahan fisiologis yang umum terjadi selama kehamilan, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini disebabkan oleh peningkatan hormon estrogen dan progesteron yang merangsang pertumbuhan jaringan payudara, kelenjar susu, serta meningkatkan aliran darah ke payudara. kibatnya, payudara terasa lebih penuh, tegang, berat, dan lebih peka terhadap sentuhan. Beberapa ibu hamil juga dapat merasakan rasa tidak nyaman atau nyeri ringan hingga sedang pada area payudara dan puting susu. Perubahan ini
11 merupakan respons normal tubuh dalam mempersiapkan payudara untuk proses laktasi dan menyusui setelah persalinan. Biasanya keluhan akan berkurang seiring tubuh beradaptasi terhadap perubahan hormonal selama kehamilan (Varney, 2015). Payudara ini mengalami penyesuaian yang terjadi pada nyeri dan sensitive sebagai berikut : - Payudara terasa lebih nyeri, tegang, dan sensitif saat disentuh. - Umumnya terjadi pada trimester pertama. - Disebabkan oleh peningkatan hormon dan pertumbuhan jaringan payudara • Penggelapan Areola Penggelapan areola adalah perubahan warna pada area di sekitar puting susu yang menjadi lebih gelap selama kehamilan. Perubahan ini terjadi akibat peningkatan hormon estrogen, progesteron, dan melanocyte-stimulating hormone (MSH) yang merangsang produksi pigmen melanin pada kulit. Selain menjadi lebih gelap, ukuran areola juga dapat membesar seiring bertambahnya usia kehamilan. Penggelapan areola merupakan perubahan fisiologis yang normal dan berfungsi membantu bayi mengenali puting susu dengan lebih mudah saat proses menyusui setelah lahir. Pada sebagian besar wanita, warna areola akan berangsur memudar setelah persalinan, meskipun tidak selalu kembali seperti sebelum hamil (Cunninham et al, 2018). • Pembesaran Kelenjar Montgomery Pembesaran kelenjar Montgomery merupakan salah satu perubahan fisiologis pada payudara selama kehamilan. Kelenjar Montgomery adalah kelenjar kecil yang terdapat pada areola dan akan tampak lebih menonjol akibat pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Pembesaran ini terjadi sebagai bentuk persiapan payudara untuk proses menyusui. Kelenjar Montgomery menghasilkan cairan berminyak yang berfungsi menjaga kelembapan areola dan puting susu, mencegah kekeringan serta iritasi, dan melindungi puting dari infeksi. Selain itu, cairan yang dihasilkan juga membantu bayi mengenali lokasi puting saat menyusu. Perubahan ini merupakan kondisi normal selama kehamilan dan menunjukkan bahwa payudara sedang mempersiapkan diri untuk laktasi (Verney, 2015). - Kelenjar Montgomery pada areola tampak lebih menonjol dan membesar.
12 - Menghasilkan cairan berminyak yang menjaga kelembapan puting. - Berfungsi melindungi puting dari iritasi selama menyusui. • Produksi kolostrum Produksi kolostrum merupakan salah satu perubahan fisiologis payudara selama kehamilan yang terjadi sebagai persiapan menyusui. Kolostrum adalah cairan pertama yang diproduksi oleh kelenjar payudara, biasanya mulai terbentuk pada trimester kedua hingga ketiga kehamilan. Cairan ini berwarna kekuningan, lebih kental dibandingkan ASI matang, dan diproduksi dalam jumlah sedikit. Kolostrum mengandung protein, vitamin, mineral, leukosit, serta antibodi terutama imunoglobulin A (IgA) yang berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi. Selain memberikan perlindungan terhadap infeksi, kolostrum juga membantu pematangan saluran pencernaan bayi dan mempermudah pengeluaran mekonium (feses pertama bayi). Produksi kolostrum menunjukkan bahwa payudara telah mempersiapkan diri untuk proses laktasi setelah persalinan (Prawirohardjo, 2020). - Mulai terbentuk pada trimester kedua hingga ketiga. - Berupa cairan kental berwarna kekuningan. - Mengandung antibodi, protein, vitamin, dan mineral yang penting bagi bayi baru lahir. • Persiapan Laktasi Persiapan laktasi adalah proses perubahan dan pematangan payudara selama kehamilan untuk mendukung produksi dan pengeluaran ASI setelah persalinan. Proses ini dipengaruhi oleh hormon estrogen, progesteron, prolaktin, dan human placental lactogen (hPL). Selama kehamilan, jaringan kelenjar susu dan saluran laktiferus berkembang, ukuran payudara bertambah, serta aliran darah ke payudara meningkat. Selain itu, puting susu dan areola menjadi lebih menonjol untuk memudahkan bayi saat menyusu. Meskipun prolaktin telah merangsang pembentukan ASI sejak masa kehamilan, produksi ASI dalam jumlah besar baru terjadi setelah persalinan ketika kadar estrogen dan progesteron menurun. Persiapan laktasi ini bertujuan memastikan payudara siap menghasilkan ASI yang cukup
13 untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan kekebalan tubuh bayi setelah lahir (Manuaba, 2018). - Kelenjar susu berkembang secara maksimal. - Saluran ASI bertambah dan membesar. - Mempersiapkan produksi ASI setelah persalinan. d. Perubahan Sistem Kardiovaskular • Peningkatan Volume Plasma Peningkatan volume plasma merupakan salah satu perubahan utama pada sistem kardiovaskular selama kehamilan. Volume plasma darah mulai meningkat sejak trimester pertama dan terus bertambah hingga mencapai puncaknya pada trimester ketiga. Peningkatan ini terjadi sebagai respons tubuh untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi yang semakin besar bagi ibu dan janin. Selain itu, bertambahnya volume plasma membantu meningkatkan aliran darah ke uterus dan plasenta sehingga pertumbuhan serta perkembangan janin dapat berlangsung secara optimal. Volume plasma yang meningkat juga berfungsi sebagai cadangan untuk mengurangi dampak kehilangan darah saat persalinan. Namun, karena peningkatan plasma lebih besar dibandingkan peningkatan jumlah sel darah merah, darah menjadi lebih encer dan dapat menyebabkan anemia fisiologis kehamilan (Prawihardjo, 2020). • Peningkatan Curah Jantung Peningkatan curah jantung (cardiac output) merupakan perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan sirkulasi darah ibu dan janin. Curah jantung adalah jumlah darah yang dipompa jantung dalam satu menit. Selama kehamilan, curah jantung meningkat karena volume darah yang beredar dalam tubuh bertambah dan kebutuhan oksigen serta nutrisi janin semakin besar. Untuk mengimbangi kebutuhan tersebut, jantung bekerja lebih keras dengan meningkatkan jumlah darah yang dipompa ke seluruh tubuh, termasuk ke uterus dan plasenta. Selain itu, ukuran jantung dapat sedikit membesar dan kapasitas pemompaannya meningkat. Peningkatan curah jantung ini penting untuk menjamin suplai oksigen dan zat gizi yang cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan (Cunningham et al, 2018).
14 • Peningkatan Denyut Jantung Peningkatan denyut jantung merupakan salah satu adaptasi normal sistem kardiovaskular selama kehamilan. Seiring bertambahnya usia kehamilan, denyut jantung ibu meningkat sekitar 10–15 kali per menit dibandingkan sebelum hamil. Peningkatan ini terjadi karena jantung harus memompa darah lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ibu serta janin yang sedang berkembang (Prawirohardjo, S., 2016). Selain itu, bertambahnya volume darah dalam tubuh juga menyebabkan jantung bekerja lebih keras agar sirkulasi darah tetap optimal. Peningkatan denyut jantung membantu memperlancar aliran darah ke uterus, plasenta, dan seluruh jaringan tubuh sehingga kebutuhan metabolisme selama kehamilan dapat terpenuhi dengan baik. Kondisi ini merupakan perubahan fisiologis yang normal dan biasanya akan kembali seperti semula setelah persalinan (Sofian, A., 2011). • Penurunan Tekanan Darah Trimester Awal Pada awal kehamilan, terjadi peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot polos pembuluh darah. Akibatnya, pembuluh darah mengalami vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) sehingga resistensi vaskular perifer menurun. Kondisi ini menyebabkan tekanan darah, terutama tekanan darah diastolik, cenderung menurun pada trimester I hingga pertengahan trimester II (Prawirohardjo, 2016). Penurunan tekanan darah merupakan adaptasi fisiologis untuk meningkatkan aliran darah ke uterus dan plasenta guna memenuhi kebutuhan nutrisi serta oksigen janin. Tekanan darah biasanya mencapai titik terendah pada usia kehamilan 16–24 minggu, kemudian meningkat kembali mendekati nilai sebelum hamil pada trimester III (Cunningham, F.G., et al, 2022). • Anemia Fisiologis Kehamilan Selama kehamilan, volume plasma darah meningkat sekitar 40–50%, sedangkan peningkatan massa eritrosit hanya sekitar 20–30%. Peningkatan volume plasma yang lebih besar dibandingkan peningkatan eritrosit menyebabkan terjadinya pengenceran darah atau hemodilusi (Prawirohardjo, 2016). Hemodilusi ini menyebabkan kadar hemoglobin dan hematokrit menurun sehingga disebut anemia fisiologis kehamilan. Kondisi ini bukan merupakan
15 penyakit, melainkan mekanisme adaptasi tubuh untuk memperbaiki sirkulasi uteroplasenta dan mengurangi risiko kehilangan darah saat persalinan (Cunningham, F.G., et al, 2022). • Edema Fisiologi Edema fisiologis merupakan pembengkakan ringan yang umum terjadi pada kehamilan, terutama pada tungkai bawah, pergelangan kaki, dan kaki (Lowdermilk, D.L., et al., 2020). Edema terjadi karena beberapa mekanisme, yaitu: - Peningkatan volume plasma selama kehamilan. - Retensi natrium dan air akibat pengaruh hormon estrogen dan aldosteron. - Penekanan vena cava inferior oleh uterus yang membesar sehingga aliran balik vena dari ekstremitas bawah terhambat. - Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler yang menyebabkan cairan berpindah ke jaringan interstisial. e. Perubahan Sistem Respirasi • Peningkatan Kebutuhan Oksigen Selama kehamilan, kebutuhan oksigen ibu meningkat sekitar 15–20% dibandingkan sebelum hamil. Peningkatan ini terjadi karena adanya kebutuhan metabolisme yang lebih tinggi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin, plasenta, serta peningkatan aktivitas organ maternal (Prawirohardjo, S. 2016). Kebutuhan oksigen meningkat akibat: - Pertumbuhan janin dan plasenta. - Peningkatan metabolisme basal ibu. - Peningkatan kerja jantung dan paru. - Pertumbuhan jaringan payudara dan uterus. Sebagai bentuk adaptasi, tubuh ibu meningkatkan ventilasi paru sehingga suplai oksigen bagi ibu dan janin tetap terpenuhi (Cunningham, F.G., et al. 2022). • Peningkatan Frekuensi Napas Pada kehamilan terjadi peningkatan kadar hormon progesteron yang merangsang pusat pernapasan di medula oblongata. Akibatnya, ventilasi alveolar meningkat (Lowdermilk, D. L., et al. 2020).
16 Frekuensi napas biasanya tetap dalam batas normal atau sedikit meningkat, namun yang lebih menonjol adalah peningkatan volume tidal (jumlah udara yang masuk dan keluar setiap kali bernapas) sekitar 30–40% (Cunningham, F.G., et al. 2022). Adaptasi ini bertujuan untuk: - Memenuhi kebutuhan oksigen ibu dan janin. - Memfasilitasi pembuangan karbon dioksida dari janin melalui plasenta. - Menjaga keseimbangan asam-basa. • Sesak Napas Ringan Sekitar 60–70% ibu hamil mengalami sesak napas ringan, terutama pada trimester II dan III. Kondisi ini merupakan perubahan fisiologis normal selama kehamilan (Prawirohardjo, S. 2016). Penyebabnya meliputi: - Peningkatan kebutuhan oksigen. - Stimulasi pusat napas oleh progesteron. - Pembesaran uterus yang mengurangi ruang ekspansi paru. - Peningkatan kesadaran ibu terhadap proses pernapasan. Karakteristik sesak napas fisiologis: - Bersifat ringan. - Tidak disertai sianosis. - Tidak disertai nyeri dada atau batuk berat. - Membaik saat istirahat. Jika sesak napas disertai nyeri dada, demam, sianosis, atau memburuk secara mendadak, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut karena dapat mengarah pada kondisi patologis (Lowdermilk, D. L., et al. 2020). • Adaptasi Diafragma Seiring bertambahnya usia kehamilan, uterus yang membesar akan mendorong diafragma ke arah atas sekitar 4 cm. Meskipun diafragma mengalami elevasi, kapasitas ventilasi tetap dapat dipertahankan karena terjadi beberapa adaptasi, yaitu: - Diameter transversal rongga dada meningkat sekitar 2 cm.
17 - Sudut subkostal melebar dari sekitar 68° menjadi 103°. - Lingkar toraks bertambah sekitar 5–7 cm. Perubahan ini memungkinkan paru tetap berkembang dengan baik meskipun posisi diafragma lebih tinggi. f. Perubahan Sistem Pencernaan • Mual dan Muntah Mual dan muntah merupakan salah satu perubahan sistem pencernaan yang paling sering dialami ibu hamil, terutama pada trimester pertama. Kondisi ini terjadi akibat peningkatan kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen yang memengaruhi pusat mual di otak serta memperlambat pengosongan lambung. Keluhan biasanya muncul pada pagi hari, tetapi dapat terjadi kapan saja. Mual dan muntah umumnya dimulai pada minggu ke-4 hingga ke-6 kehamilan, mencapai puncaknya pada minggu ke-8 hingga ke-12, dan berangsur membaik setelah memasuki trimester kedua. Pada sebagian ibu hamil, kondisi ini dapat mengganggu asupan nutrisi dan aktivitas sehari-hari (Kasmiati et al. 2023). • Peningkatan Nafsu Makan Selama kehamilan, tubuh ibu membutuhkan energi, protein, vitamin, dan mineral yang lebih banyak untuk mendukung pertumbuhan janin, plasenta, serta perubahan metabolisme tubuh ibu. Oleh karena itu, banyak ibu hamil mengalami peningkatan nafsu makan, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Setelah keluhan mual dan muntah berkurang, keinginan untuk makan biasanya meningkat. Peningkatan nafsu makan ini merupakan mekanisme fisiologis tubuh untuk memenuhi kebutuhan nutrisi selama kehamilan. Namun, ibu tetap dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang agar kenaikan berat badan tetap sesuai rekomendasi (Kasmiati et al. 2023). • Heartburn Heartburn adalah sensasi panas atau terbakar pada daerah dada hingga tenggorokan akibat naiknya asam lambung ke kerongkongan (refluks gastroesofageal). Selama kehamilan, hormon progesteron menyebabkan relaksasi sfingter esofagus bawah sehingga asam lambung lebih mudah naik ke esofagus. Selain itu, pembesaran uterus yang menekan lambung menyebabkan tekanan intraabdomen meningkat. Keluhan ini biasanya semakin sering terjadi pada
18 trimester kedua dan ketiga, terutama setelah makan dalam jumlah banyak atau saat berbaring. Heartburn dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, gangguan tidur, dan penurunan kualitas hidup ibu hamil (Kasmiati et al. 2023). • Konstipasi Konstipasi merupakan keluhan berupa kesulitan buang air besar, frekuensi buang air besar yang berkurang, atau feses yang keras. Kondisi ini terjadi karena peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot polos saluran pencernaan sehingga gerakan peristaltik usus menjadi lebih lambat. Akibatnya, penyerapan air di usus besar meningkat dan feses menjadi lebih keras. Selain itu, pembesaran rahim dapat menekan usus sehingga memperburuk konstipasi. Kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi suplemen zat besi selama kehamilan juga dapat menjadi faktor pendukung terjadinya sembelit (Kasmiati et al. 2023). • Flatulensi Flatulensi adalah kondisi meningkatnya pembentukan atau penumpukan gas dalam saluran pencernaan yang ditandai dengan perut kembung dan sering buang angin. Selama kehamilan, hormon progesteron menyebabkan relaksasi otot saluran cerna sehingga proses pencernaan berlangsung lebih lambat. Makanan yang berada lebih lama di dalam usus akan mengalami fermentasi oleh bakteri usus dan menghasilkan lebih banyak gas. Pembesaran uterus juga dapat menekan usus sehingga memperlambat pergerakan gas keluar dari tubuh. Flatulensi sering menimbulkan rasa tidak nyaman, penuh, dan begah pada perut (Kasmiati et al. 2023) • Hipersalivasi Hipersalivasi adalah peningkatan produksi air liur yang sering terjadi pada awal kehamilan, terutama pada ibu yang mengalami mual dan muntah berat. Penyebab pastinya belum diketahui secara pasti, tetapi diduga berkaitan dengan perubahan hormonal dan rangsangan refleks akibat mual yang terus-menerus. Produksi air liur yang berlebihan dapat menyebabkan ibu sering meludah, merasa tidak nyaman saat berbicara atau makan, serta mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi ini biasanya bersifat sementara dan akan membaik seiring bertambahnya usia kehamilan (Kasmiati et al. 2023)
19 g. Perubahan Sistem Perkemihan • Frekuensi BAK Meningkat Peningkatan frekuensi buang air kecil merupakan salah satu perubahan fisiologis yang umum terjadi selama kehamilan. Pada trimester pertama, peningkatan frekuensi berkemih disebabkan oleh meningkatnya aliran darah ke ginjal dan laju filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate/GFR), sehingga produksi urine meningkat. Selain itu, uterus yang mulai membesar masih berada di rongga panggul dan menekan kandung kemih. Pada trimester kedua keluhan ini biasanya sedikit berkurang karena uterus naik ke rongga abdomen. Namun, pada trimester ketiga frekuensi berkemih kembali meningkat akibat pembesaran uterus dan penurunan kepala janin ke rongga panggul yang memberikan tekanan pada kandung kemih. Akibatnya, ibu hamil sering merasa ingin berkemih meskipun kandung kemih belum terisi penuh (Kasmiati et al. 2023). • Dilatasi Ureter Selama kehamilan terjadi pelebaran atau dilatasi pada ureter dan pelvis renalis. Perubahan ini dipengaruhi oleh peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot polos saluran kemih sehingga tonus dan peristaltik ureter menurun. Selain faktor hormonal, pembesaran uterus juga dapat menekan ureter, terutama ureter kanan, karena posisi uterus yang sedikit mengalami dekstrorotasi. Dilatasi ureter mulai tampak sejak trimester pertama dan semakin jelas pada trimester kedua serta ketiga. Kondisi ini menyebabkan aliran urine dari ginjal menuju kandung kemih menjadi lebih lambat dan dapat menimbulkan stasis urine (Kasmiati et al. 2023). • Risiko infeksi Saluran Kemih Kehamilan meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran kemih akibat kombinasi perubahan anatomi dan fisiologi sistem perkemihan. Dilatasi ureter, penurunan peristaltik ureter, serta stasis urine menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri. Selain itu, kandungan glukosa dan asam amino dalam urine ibu hamil yang meningkat dapat menjadi media pertumbuhan mikroorganisme. Infeksi saluran kemih pada kehamilan dapat berupa bakteriuria asimtomatik, sistitis, maupun pielonefritis. Apabila tidak ditangani dengan baik,
20 kondisi ini dapat meningkatkan risiko persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan komplikasi pada ibu maupun janin (Kasmiati et al. 2023). • Nokturia Nokturia adalah kondisi sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil. Keluhan ini sering dialami ibu hamil sejak trimester pertama akibat peningkatan fungsi ginjal dan produksi urine. Pada trimester ketiga, nokturia semakin sering terjadi karena tekanan uterus dan bagian terendah janin terhadap kandung kemih. Selain itu, pada saat berbaring, cairan yang menumpuk di tungkai pada siang hari kembali ke sirkulasi darah dan difiltrasi oleh ginjal sehingga produksi urine meningkat pada malam hari. Nokturia dapat menyebabkan gangguan kualitas tidur, kelelahan, dan ketidaknyamanan selama kehamilan (Kasmiati et al. 2023 h. Perubahan Sistem Muskuloskelental • Lordosis Lordosis adalah peningkatan lengkungan tulang belakang bagian lumbal yang terjadi selama kehamilan. Perubahan ini merupakan bentuk adaptasi tubuh terhadap pembesaran uterus dan pertumbuhan janin yang menyebabkan pusat gravitasi tubuh bergeser ke depan. Untuk mempertahankan keseimbangan tubuh saat berdiri dan berjalan, ibu hamil secara tidak sadar akan menarik bahu ke belakang dan meningkatkan lengkungan punggung bawah. Kondisi ini semakin jelas pada trimester kedua dan ketiga seiring bertambahnya ukuran abdomen. Meskipun merupakan perubahan fisiologis normal, lordosis dapat menyebabkan ketegangan pada otot punggung, perubahan postur tubuh, dan ketidaknyamanan saat beraktivitas (Sari, Y., et al 2023).
21 • Nyeri Punggung Nyeri punggung merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang paling sering dialami selama kehamilan, terutama pada trimester ketiga. Keluhan ini terjadi akibat kombinasi beberapa faktor, yaitu peningkatan berat badan, pembesaran uterus, perubahan pusat gravitasi tubuh, peningkatan lordosis, dan pengaruh hormon relaksin yang menyebabkan pelunakan ligamen serta sendi panggul. Nyeri biasanya dirasakan pada daerah punggung bawah (lumbal) atau daerah lumbosakral dan dapat bertambah berat saat berdiri lama, berjalan, mengangkat beban, atau melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Jika tidak ditangani dengan baik, nyeri punggung dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, serta kenyamanan ibu selama kehamilan (Sari, Y., et al 2023). • Peregangan Ligamen Selama kehamilan terjadi peningkatan produksi hormon relaksin dan progesteron yang menyebabkan ligamen dan jaringan ikat menjadi lebih lunak dan elastis. Perubahan ini bertujuan untuk mempersiapkan panggul menghadapi proses
22 persalinan dengan meningkatkan fleksibilitas sendi panggul dan simfisis pubis. Namun, pelunakan dan peregangan ligamen juga menyebabkan stabilitas sendi berkurang sehingga ibu lebih mudah mengalami nyeri, terutama pada daerah panggul, pinggang, dan perut bagian bawah. Peregangan ligamen uterus (round ligament) sering menimbulkan rasa nyeri tajam atau tertarik pada perut bagian bawah, terutama saat ibu berubah posisi secara mendadak, batuk, atau berdiri dari posisi duduk (Sari, Y., et al 2023). • Nyeri Kaki Kram kaki merupakan kontraksi otot yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak disadari, biasanya pada otot betis, terutama pada malam hari. Keluhan ini lebih sering terjadi pada trimester kedua dan ketiga. Penyebab kram kaki belum diketahui secara pasti, tetapi diduga berkaitan dengan peningkatan berat badan, perubahan sirkulasi darah pada tungkai, tekanan uterus terhadap pembuluh darah dan saraf, kelelahan otot, serta perubahan metabolisme kalsium, magnesium, dan fosfor. Kram kaki dapat menyebabkan nyeri yang cukup hebat dan mengganggu kualitas tidur ibu hamil. Peregangan otot secara teratur, aktivitas fisik ringan, dan pemenuhan kebutuhan cairan dapat membantu mengurangi keluhan tersebut (Sari, Y., et al 2023). i. Perubahan Kulit • Strect Mark Striae gravidarum/strect mark merupakan bekas luka atrofi berbentuk garis pada kulit akibat peregangan selama kehamilan, sering muncul di perut, payudara, panggul, dan paha. Awalnya berwarna merah/ungu kemudian memudar menjadi putih. Kondisi ini terjadi akibat penurunan elastisitas kulit karena perubahan hormon (estrogen dan progesteron), peregangan kulit, serta faktor genetik (Jordan et al. 2018).
23 - Disebabkan oleh kerusakan serat kolagen dan elastin akibat peregangan berlebih. - Lebih sering muncul pada trimester II dan III. - Tidak berbahaya, tetapi berdampak kosmetik dan psikologis. • Linea Nigra Linea nigra adalah garis hiperpigmentasi vertikal di tengah abdomen yang memanjang dari simfisis pubis hingga prosesus xifoideus.
24 Terjadi akibat: - Peningkatan hormon estrogen dan progesteron - Stimulasi melanosit sehingga produksi melanin meningkat - Perubahan metabolik kulit selama kehamilan Garis ini biasanya lebih jelas pada trimester kedua dan ketiga dan bersifat fisiologis (tidak berbahaya) (Goldsmith et al. 2021). • Chloasma Gravidarum
25 Chloasma gravidarum adalah hiperpigmentasi pada wajah, terutama pada: - Pipi - Dahi - Hidung - Area simetris wajah Penyebab utama: - Peningkatan hormon estrogen dan progesteron - Aktivasi melanosit berlebihan - Faktor sinar matahari sebagai pencetus tambahan Kondisi ini dapat terjadi hingga sekitar 70% ibu hamil dan sering berdampak pada aspek psikologis karena perubahan estetika wajah (Goldsmith et al. 2021). • Hiperpigmentasi Hiperpigmentasi merupakan perubahan warna kulit menjadi lebih gelap akibat peningkatan produksi melanin selama kehamilan (Kannambal & Tharini 2017).
26 Area yang sering mengalami: - Areola mammae - Aksila - Genital - Abdomen - Wajah (melasma) Mekanisme utama: - Peningkatan hormon kehamilan (estrogen, progesteron, beta-HCG, prolaktin) - Aktivasi melanosit - Faktor genetik dan tipe kulit Prevalensi sangat tinggi, sekitar 87–90% ibu hamil, sehingga dianggap sebagai perubahan fisiologis paling umum pada kehamilan (Tyler, 2020). • Spider Angioma Spider angioma merupakan pelebaran pembuluh darah kecil superfisial berbentuk seperti laba-laba, biasanya muncul di wajah, leher, dada bagian atas, dan lengan (Goldsmith et al. 2021). Terjadi akibat: - Peningkatan kadar estrogen yang menyebabkan vasodilatasi - Perubahan sistem vaskular selama kehamilan - Peningkatan aliran darah maternal Selain spider angioma, perubahan vaskular lain yang sering ditemukan: - Varises - Edema Prevalensi perubahan vaskular sekitar 23,6–41,21% ibu hamil (Kannambal & Tharini, 2017). j. Perubahan Berat Badan • Kenaikan Berat Badan Ideal Kenaikan berat badan pada kehamilan merupakan hasil adaptasi fisiologis tubuh ibu untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Kenaikan ini tidak hanya berasal dari janin, tetapi juga dari perubahan struktur tubuh ibu seperti peningkatan volume darah, cairan tubuh, serta jaringan lemak sebagai cadangan energi (Cunningham, F. G., et al, 2022).
27 Pedoman Institute of Medicine (IOM, 2009) menetapkan bahwa kenaikan berat badan ideal sangat dipengaruhi oleh Indeks Massa Tubuh (IMT) sebelum hamil, karena status gizi awal ibu menentukan kebutuhan energi selama kehamilan. Rincian kenaikan berat badan ideal: - IMT < 18,5 kg/m² (underweight) Kenaikan total: 12,5 – 18 kg ➜ Diperlukan lebih besar karena cadangan energi awal rendah. - IMT 18,5 – 24,9 kg/m² (normal) Kenaikan total: 11,5 – 16 kg ➜ Kondisi paling ideal dengan risiko komplikasi lebih rendah. - IMT 25 – 29,9 kg/m² (overweight) Kenaikan total: 7 – 11,5 kg ➜ Dibatasi untuk mencegah komplikasi metabolik. - IMT ≥ 30 kg/m² (obesitas) Kenaikan total: 5 – 9 kg ➜ Harus lebih rendah untuk mencegah risiko preeklamsia dan diabetes gestasional.
28 • Distribusi Kenaikan Berat Badan Kenaikan berat badan kehamilan berasal dari berbagai komponen fisiologis tubuh: a. Janin (± 3–3,5 kg) - Merupakan komponen utama - Pertumbuhan organ, jaringan, dan berat badan bayi b. Plasenta (± 0,5–1 kg) - Organ sementara yang menyediakan nutrisi dan oksigen - Berat meningkat seiring usia kehamilan c. Cairan amnion (± 0,8–1 kg) - Menjaga perlindungan janin - Volume berubah sesuai usia gestasi d. Uterus (± 1–1,5 kg) - Mengalami hipertrofi dan hiperplasia otot rahim - Membesar untuk menampung janin e. Payudara (± 0,5–1,5 kg) - Perubahan hormonal menyebabkan pembesaran jaringan kelenjar f. Volume darah & cairan tubuh (± 2–3 kg) - Peningkatan plasma darah hingga 40–50% - Untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi g. Cadangan lemak ibu (± 2–4 kg) - Sebagai cadangan energi untuk trimester akhir dan menyusui - Terutama di area abdomen, paha, dan pinggul (Cunningham, F. G., et al, 2022). • Faktor yang Mempengaruhi Kenaikan BB A. Faktor fisiologis - Perubahan hormon ➜Estrogen dan progesteron meningkatkan nafsu makan dan retensi cairan - Peningkatan kebutuhan metabolik ➜Tubuh membutuhkan energi lebih besar untuk janin - Pertumbuhan janin dan plasenta ➜Secara langsung menambah berat badan ibu
29 - Retensi cairan ➜Peningkatan volume darah dan cairan ekstraseluler B. Faktor maternal - IMT sebelum hamil ➜Faktor utama penentu target kenaikan BB - Usia ibu ➜Remaja → risiko kenaikan tidak optimal ➜Usia lanjut → risiko kenaikan berlebih - Paritas ➜Multipara cenderung lebih mudah mengalami peningkatan BB - Kondisi kesehatan ➜Anemia, gangguan metabolik, dan penyakit kronis memengaruhi berat badan C. Faktor nutrisi dan gaya hidup - Asupan kalori dan protein ➜Kekurangan → BB rendah, kelebihan → obesitas - Pola makan ➜Frekuensi makan, kualitas gizi, konsumsi junk food - Aktivitas fisik ➜Aktivitas rendah → kenaikan BB berlebih - Kebiasaan hidup ➜Pola tidur, stres, dan aktivitas harian D. Faktor sosial dan lingkungan - Status ekonomi keluarga - Tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi - Akses pelayanan kesehatan - Budaya makan dalam keluarga E. Faktor patologis - Hiperemesis gravidarum → penurunan berat badan - Diabetes gestasional → kenaikan berat badan berlebih - Preeklamsia → retensi cairan berlebih - Gangguan tiroid → metabolisme tidak stabil
30 k. Perubahan Psikologis • Faktor Psikolgis Kehamilan tidak hanya menyebabkan perubahan fisik, tetapi juga perubahan psikologis akibat pengaruh hormon, perubahan peran sosial, serta persiapan menjadi orang tua. Adaptasi psikologis yang baik penting untuk menjaga kesehatan ibu dan janin (Cunningham et al. 2022). - Perubahan Emosi dan Psikologis Peningkatan hormon estrogen dan progesteron selama kehamilan dapat memengaruhi neurotransmiter di otak sehingga menyebabkan perubahan suasana hati dan emosi. Ibu hamil dapat mengalami perasaan senang, cemas, takut, sensitif, hingga mudah menangis dalam waktu yang berdekatan. Selain faktor hormonal, perubahan fisik, ketidaknyamanan kehamilan, perubahan hubungan dengan pasangan, dan kekhawatiran terhadap persalinan juga berkontribusi terhadap perubahan psikologis ibu (Lowdermilk et al. 2020). • Mood Swing Mood swing adalah perubahan suasana hati yang terjadi secara cepat dan bergantian selama kehamilan. Kondisi ini paling sering terjadi pada trimester pertama dan trimester ketiga (Lowdermilk et al. 2020). Penyebab Mood Swing - Peningkatan hormon estrogen dan progesteron. - Kelelahan akibat perubahan fisiologis kehamilan. - Mual dan muntah yang berkepanjangan. - Gangguan tidur. - Kekhawatiran terhadap kondisi janin dan proses persalinan. - Perubahan citra tubuh (body image). Manifestasi Mood Swing - Mudah marah atau tersinggung. - Mudah menangis. - Perasaan sedih tanpa sebab yang jelas. - Perasaan bahagia yang berubah menjadi cemas dalam waktu singkat. - Sensitivitas emosional yang meningkat.
31 Dampak : Sebagian besar mood swing merupakan kondisi normal. Namun apabila berlangsung terus-menerus dan disertai kesedihan mendalam, dapat meningkatkan risiko depresi antenatal (Pillitteri., 2019). • Kecemasan Kecemasan merupakan respons emosional yang umum dialami ibu hamil akibat perubahan besar yang terjadi selama kehamilan. Bentuk Kecemasan yang Sering Dialami : a. Kecemasan terhadap kesehatan janin - Takut terjadi kelainan kongenital. - Takut janin tidak berkembang dengan baik. b. Kecemasan terhadap persalinan - Takut nyeri persalinan. - Takut komplikasi saat melahirkan. c. Kecemasan terhadap peran sebagai ibu - Merasa belum siap mengasuh bayi. - Takut tidak mampu menjadi ibu yang baik. d. Kecemasan sosial dan ekonomi - Kekhawatiran mengenai biaya persalinan dan kebutuhan bayi. - Perubahan hubungan dengan pasangan dan keluarga. Gejala Kecemasan : - Sulit berkonsentrasi. - Gelisah dan mudah khawatir. - Gangguan tidur. - Jantung berdebar. - Ketegangan otot. - Mudah lelah. Dampak Kecemasan Berlebihan : Kecemasan yang tidak teratasi dapat meningkatkan kadar hormon stres (kortisol), yang berpotensi memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin (Bobak et al. 2017). • Adaptasi Menjadi Ibu
32 Adaptasi menjadi ibu merupakan proses psikologis ketika seorang wanita mulai menerima dan menjalankan peran barunya sebagai ibu (Lowdermilk et al. 2020). Tahapan Adaptasi Menjadi Ibu : a. Penerimaan Kehamilan Pada tahap awal, ibu mulai menerima kenyataan bahwa dirinya hamil. Reaksi dapat berupa kegembiraan, keterkejutan, atau bahkan penolakan sementara. b. Pembentukan Ikatan dengan Janin (Maternal-Fetal Attachment) Ikatan emosional mulai berkembang saat ibu merasakan gerakan janin, mendengarkan denyut jantung janin, atau melihat hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG). c. Persiapan Menjadi Orang Tua Ibu mulai mempersiapkan kebutuhan bayi dan mempelajari keterampilan pengasuhan, seperti: - Menyiapkan perlengkapan bayi. - Mengikuti kelas antenatal. - Mencari informasi mengenai persalinan dan perawatan bayi. d. Penerimaan Peran Ibu Menjelang persalinan, ibu mulai membayangkan dirinya merawat bayi dan menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua. Faktor yang Mempengaruhi Adaptasi Menjadi Ibu : - Dukungan suami dan keluarga. - Pengalaman kehamilan sebelumnya. - Kondisi kesehatan ibu. - Status sosial ekonomi. - Tingkat pendidikan. - Kehamilan yang direncanakan atau tidak direncanakan. - Kondisi psikologis ibu. Tanda Adaptasi yang Baik : - Menerima kehamilan secara positif. - Menunjukkan perhatian terhadap kesehatan janin. - Aktif mengikuti pemeriksaan antenatal.
33 - Memiliki kesiapan menghadapi persalinan dan perawatan bayi. KELUHAN SELAMA KEHAMILAN 1. Ketidaknyamanan Selama Kehamilan Ketidaknyamanan selama kehamilan merupakan sekumpulan keluhan fisiologis yang sering dialami oleh ibu hamil sebagai akibat dari perubahan hormonal, anatomis, metabolik, dan psikologis yang terjadi selama masa kehamilan. Perubahan kadar hormon estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin (hCG), dan relaksin menyebabkan berbagai adaptasi pada sistem reproduksi, kardiovaskular, pencernaan, muskuloskeletal, dan saluran kemih. Adaptasi tersebut diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin, tetapi sering kali menimbulkan berbagai keluhan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari ibu hamil. Ketidaknyamanan selama kehamilan umumnya bersifat normal dan tidak menunjukkan adanya kondisi patologis, namun apabila tidak ditangani dengan baik dapat memengaruhi kualitas hidup serta kesejahteraan ibu selama masa kehamilan (Novika dkk., 2025). Keluhan yang paling sering terjadi pada trimester pertama adalah mual dan muntah (morning sickness), mudah lelah, pusing, perubahan nafsu makan, serta peningkatan frekuensi berkemih. Mual dan muntah terutama disebabkan oleh peningkatan kadar hormon hCG dan estrogen yang memengaruhi pusat muntah di otak serta motilitas saluran cerna. Selain itu, perubahan hormonal juga dapat menyebabkan perubahan emosi seperti mudah marah, cemas, atau lebih sensitif dibandingkan biasanya. Pada sebagian besar ibu hamil, keluhan ini akan berkurang setelah memasuki trimester kedua seiring dengan stabilnya kadar hormon dalam tubuh (Puspitaningrum, 2024). Memasuki trimester kedua dan ketiga, pertumbuhan janin yang semakin besar menyebabkan berbagai perubahan mekanis pada tubuh ibu. Keluhan yang sering muncul meliputi nyeri punggung bawah, kram kaki, konstipasi, varises,
34 hemoroid, sesak napas ringan, edema pada tungkai, serta nyeri ulu hati (heartburn). Nyeri punggung terjadi akibat pergeseran pusat gravitasi tubuh dan peningkatan kelenturan ligamen yang dipengaruhi hormon relaksin. Sementara itu, konstipasi dan nyeri ulu hati disebabkan oleh perlambatan motilitas gastrointestinal akibat pengaruh progesteron serta tekanan uterus yang membesar terhadap organ pencernaan. Selain ketidaknyamanan fisik, ibu hamil juga dapat mengalami ketidaknyamanan psikologis berupa kecemasan, gangguan tidur, perubahan suasana hati, dan ketakutan menghadapi persalinan. Gangguan tidur sering terjadi pada trimester akhir akibat peningkatan frekuensi berkemih, nyeri punggung, gerakan janin, dan kesulitan menemukan posisi tidur yang nyaman. Kondisi psikologis yang kurang baik dapat memengaruhi kesehatan ibu maupun janin sehingga dukungan keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sekitar sangat diperlukan selama masa kehamilan (Rahma dkk., 2022). Menurut berbagai literatur kebidanan dan kesehatan maternal, sebagian besar ketidaknyamanan selama kehamilan dapat dikurangi melalui edukasi yang tepat, pola makan seimbang, aktivitas fisik ringan yang teratur, istirahat yang cukup, serta pemeriksaan antenatal secara rutin. Pemahaman mengenai perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan penting agar ibu dapat membedakan antara
35 ketidaknyamanan normal dan tanda bahaya kehamilan yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Keluhan selama masa kehamilan diklasifikasikan menjadi dua kategori utama berdasarkan etiologi atau penyebab dasarnya, yaitu keluhan fisiologis yang bersumber dari proses adaptasi alamiah tubuh dan keluhan patologis yang dipicu oleh gangguan klinis atau malfungsi sistem organ. 1. Keluhan Trimester I - Mual Muntah & Morning Sickness Keluhan ini dipicu oleh lonjakan drastis hormon human chorionic gonadotropin (hCG) yang diproduksi oleh jaringan trofoblas (bakal plasenta) segera setelah implantasi. Hormon hCG ini berikatan dengan reseptor di otak, tepatnya pada Chemoreceptor Trigger Zone (CTZ), yang bertanggung jawab mengaktifkan refleks mual dan muntah. Selain itu, peningkatan hormon estrogen dan progesteron secara bersamaan menyebabkan relaksasi otot polos pada dinding lambung, yang memperlambat waktu pengosongan lambung (gastrointestinal motilitas) dan memicu asam lambung naik, sehingga rasa mual menjadi lebih intens di pagi hari saat perut kosong (Rahmatika dkk., 2023). - Nafsu Makan Berubah (Mengidam atau Menolak Makanan)
36 Penyebab utama dari perubahan nafsu makan ini adalah fenomena hiperosmia, yaitu peningkatan sensitivitas indra penciuman yang sangat tajam akibat pengaruh tingginya kadar estrogen dalam darah. Estrogen memengaruhi reseptor penciuman di hidung dan area hipotalamus di otak yang mengatur pusat rasa lapar. Akibatnya, bau-bauan yang sebelumnya dianggap biasa (seperti aroma nasi masakan, parfum, atau minyak goreng) dapat merangsang rasa mual yang hebat, memicu penolakan makanan tertentu, atau sebaliknya, memicu keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan dengan rasa spesifik (mengidam) demi menyeimbangkan rasa tidak nyaman di mulut (Aryasih dkk., 2022). - Hipersalivasi (Air Liur Berlebih / Ptialismus) Peningkatan produksi air liur ini disebabkan oleh stimulasi berlebihan pada kelenjar ludah (glandula salivarius) akibat fluktuasi hormon estrogen yang memengaruhi sistem saraf otonom. Selain faktor hormonal, hipersalivasi pada trimester pertama sering kali merupakan mekanisme pertahanan atau respons refleks tubuh. Saat ibu hamil mengalami mual, mereka cenderung secara tidak sadar jarang menelan ludah karena adanya rasa pahit atau asam di tenggorokan, sehingga air liur menumpuk di rongga mulut dan terasa mengganggu (Rudiyanti & Rosmadewi, 2019). - Nyeri dan Tegang pada Payudara (Mastodynia) Sejak awal konsepsi, tubuh langsung mempersiapkan proses laktasi (menyusui) melalui aktivitas hormonal yang masif. Hormon estrogen merangsang pertumbuhan dan proliferasi sistem duktus (saluran) payudara, sedangkan hormon progesteron memicu perkembangan jaringan alveolar-lobular (pabrik penghasil ASI). Proses ini dibarengi dengan peningkatan vaskularisasi atau aliran darah yang sangat pesat ke area dada, menyebabkan jaringan payudara meregang, menjadi lebih padat, kencang, hiperestesi (sangat sensitif terhadap sentuhan), dan terasa nyeri (Sari, 2022). - Cepat Lelah (Fatigue) Rasa lelah yang ekstrem ini terjadi karena tubuh ibu sedang mengalami peningkatan beban kerja metabolisme basal (Basal Metabolic Rate) secara drastis untuk mendukung proses pembentukan organ-organ vital janin (organogenesis)
37 serta membangun sistem sirkulasi plasenta. Di saat yang sama, hormon progesteron yang kadarnya sangat tinggi di trimester pertama bekerja sebagai depresan alami pada sistem saraf pusat yang memberikan efek sedatif (mengantuk dan relaksasi). Kondisi ini memaksa tubuh ibu untuk membatasi aktivitas fisik agar energi dapat dialokasikan sepenuhnya untuk mempertahankan kehamilan (Wulandari, 2017). - Pusing atau Sakit Kepala Ringan Keluhan pusing dipicu oleh adaptasi sistem kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) di awal kehamilan. Hormon progesteron menyebabkan otot polos pada dinding pembuluh darah mengalami relaksasi, yang mengakibatkan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi sistemik). Di sisi lain, volume darah ibu belum meningkat secara maksimal untuk mengisi pelebaran tersebut, sehingga terjadi penurunan tekanan darah sementara (hipotensi ortostatik). Hal ini menurunkan aliran darah dan suplai oksigen ke otak untuk sesaat, terutama ketika ibu berubah posisi secara mendadak seperti dari berbaring langsung berdiri (Rudiyanti & Rosmadewi, 2019). - Sering Buang Air Kecil (BAK) Keluhan sering BAK pada trimester pertama memiliki dua penyebab mekanis dan fisiologis yang terjadi bersamaan. Pertama, terjadi peningkatan volume darah (hipervolemia) yang membuat ginjal harus menyaring cairan tubuh lebih banyak, sehingga laju filtrasi glomerulus meningkat dan produksi urine bertambah. Kedua, adanya tekanan mekanis langsung dari uterus (rahim) yang mulai membesar. Pada trimester pertama, posisi rahim masih berada di dalam rongga panggul bawah (pelvis minor) tepat di belakang kandung kemih, sehingga setiap pembesaran rahim akan langsung menekan kandung kemih dan mengurangi kapasitas tampung urinenya (Megasari, 2019).
38 2. Keluhan Trimester II - Konstipasi (Sembelit) Penyebab utama konstipasi pada trimester kedua adalah peningkatan kadar hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot polos di seluruh tubuh, termasuk otot-otot pada dinding saluran pencernaan. Akibatnya, gerakan peristaltik usus melambat (gastrointestinal motilitas), sehingga makanan tertahan lebih lama di dalam usus. Kondisi ini membuat penyerapan air oleh usus besar meningkat secara berlebihan, yang menyebabkan feses menjadi keras, kering, dan sulit dikeluarkan. Selain itu, seiring bertambahnya usia kehamilan, rahim yang semakin membesar mulai memberikan tekanan mekanis pada usus besar, yang semakin menghambat jalur evakuasi feses (Yuliani dkk., 2021). - Kram Kaki Kram otot tungkai bawah pada trimester kedua umumnya disebabkan oleh ketidakseimbangan elektrolit di dalam darah, terutama penurunan kadar kalsium dan fosfor karena sebagian besar cadangan mineral ibu dialihkan untuk pembentukan tulang janin. Selain faktor biokimia, pembesaran rahim meningkatkan tekanan mekanis pada pembuluh darah besar di rongga panggul (vena cava inferior). Tekanan ini menghambat sirkulasi darah balik dari ekstremitas
39 bawah menuju jantung, sehingga memicu penumpukan asam laktat di otot kaki dan menimbulkan kontraksi otot yang tiba-tiba dan menyakitkan, terutama di malam hari (Wulandari & Rustiyati, 2020). - Mimisan (Epistaksis) Mimisan pada kehamilan disebabkan oleh perubahan hemodinamik berupa peningkatan volume darah hingga 50% untuk menyuplai plasenta. Kondisi hipervolemia ini dibarengi dengan tingginya kadar estrogen dan progesteron yang memicu pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) dan peningkatan aliran darah di seluruh jaringan tubuh, termasuk pada mukosa hidung. Pembuluh darah kapiler di area hidung bersifat sangat tipis dan superfisial, sehingga kombinasi antara pelebaran pembuluh darah dan tekanan volume yang tinggi membuatnya menjadi sangat rapuh dan mudah pecah, terutama saat ibu mengalami perubahan cuaca atau bersin (Rahmawati, 2019). - Hidung Tersumbat (Rhinitis Kehamilan) Hidung tersumbat tanpa adanya gejala flu atau infeksi saluran napas disebabkan oleh fenomena yang dikenal sebagai rhinitis kehamilan. Hormon estrogen yang tinggi pada trimester kedua memicu pembengkakan (edema) pada jaringan mukosa hidung serta merangsang kelenjar mukosa untuk memproduksi lendir secara berlebihan. Akibatnya, saluran pernapasan di dalam hidung menyempit, menyebabkan ibu hamil sering kali merasa sesak atau tersumbat saat bernapas, meskipun mereka tidak sedang mengalami batuk atau pilek (Siregar, 2022). - Nyeri Punggung Bawah Penyebab utama nyeri punggung pada trimester kedua adalah pergeseran pusat gravitasi tubuh ibu ke arah depan akibat pembesaran rahim dan bertambahnya berat badan janin. Untuk menjaga keseimbangan tubuh saat berdiri atau berjalan, otot-otot punggung bawah harus bekerja ekstra keras dan menarik tubuh ke belakang (posisi lordosis). Di saat yang sama, hormon relaxin dan progesteron melonggarkan ligamen-ligamen serta persendian di area panggul dan tulang belakang. Kombinasi antara peregangan otot yang kronis dan kelonggaran sendi ini
40 memicu ketegangan mekanis yang menimbulkan rasa nyeri pada area lumbal (Sari dkk., 2021). - Keputihan Fisiologis (Leukorea) Keputihan yang bersifat normal pada kehamilan ditandai dengan cairan yang jernih atau putih, tidak berbau, dan tidak gatal. Penyebab utamanya adalah hiperestrogenisme (tingginya kadar hormon estrogen) yang memicu peningkatan vaskularisasi dan aliran darah ke organ reproduksi, termasuk uterus dan vagina. Hal ini merangsang kelenjar serviks (leher rahim) untuk memproduksi sekresi cairan lebih banyak guna melindungi jalan lahir dari potensi infeksi bakteri luar yang dapat naik ke rahim (Aeni, 2020). - Gatal pada Kulit (Pruritus Gravidarum) Rasa gatal yang sering terjadi di area perut, payudara, atau paha disebabkan oleh peregangan kulit yang sangat cepat seiring pertumbuhan janin dan penambahan berat badan ibu. Peregangan ini merusak serat kolagen di lapisan dermis kulit (yang nantinya membentuk striae gravidarum) dan memicu pelepasan histamin lokal yang menimbulkan sensasi gatal. Selain itu, peningkatan kadar hormon estrogen memengaruhi fungsi hati, sehingga terjadi perlambatan sekresi asam empedu (kolestasis ringan) yang membuat sebagian garam empedu masuk ke aliran darah perifer dan mengendap di bawah kulit, memperparah rasa gatal (Khasanah, 2020). - Varises (Pelebaran Pembuluh Darah Vena) Varises pada kaki atau area vulva disebabkan oleh efek hormon progesteron yang merelaksasi otot polos pada dinding pembuluh darah vena, sehingga katup- katup vena menjadi lebih longgar dan kurang efisien dalam memompa darah kembali ke jantung. Faktor ini diperberat oleh tekanan mekanis dari uterus yang membesar yang menekan vena-vena besar di area panggul, sehingga terjadi bendungan aliran darah (stasis vena) dan peningkatan tekanan hidrostatik pada pembuluh darah di ekstremitas bawah yang membuat vena melebar dan berkelok- kelok (Rahmawati, 2019).
41 2. Keluhan Trimester III - Sesak Napas (Dispnea Kehamilan) Penyebab utama sesak napas pada trimester ketiga adalah tekanan mekanis akibat pembesaran uterus yang mendesak organ-organ rongga perut ke atas, sehingga menekan otot diafragma. Tekanan ini menyebabkan diafragma bergeser naik sekitar 4 cm, yang membatasi ruang ekspansi paru-paru saat bernapas sehingga ibu hamil harus bernapas lebih cepat untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Selain faktor mekanis, hormon progesteron yang tinggi secara langsung menstimulasi pusat pernapasan di otak agar meningkatkan ventilasi alveolar, yang menimbulkan sensasi hiperventilasi atau terasa seperti kekurangan napas (Wulandari & Tyastuti, 2020). - Sulit Tidur (Insomnia) Kesulitan tidur pada trimester akhir dipicu oleh kombinasi faktor fisik dan hormonal. Secara anatomis, ukuran perut yang semakin besar menyulitkan ibu hamil untuk menemukan posisi tidur yang nyaman dan membatasi mobilitas saat berbalik di tempat tidur. Kondisi ini diperparah oleh keluhan penyerta trimester ketiga lainnya, seperti nyeri punggung, kram kaki, gerakan janin yang sangat aktif
42 di malam hari, serta peningkatan kecemasan psikologis menjelang persalinan yang merangsang hormon kortisol dan mengganggu siklus tidur alami (Sulistiyanti, 2021). - Edema Kaki (Pembengkakan) Pembengkakan pada area pergelangan dan punggung kaki disebabkan oleh perubahan hemodinamik berupa peningkatan tekanan hidrostatik di pembuluh darah kaki. Hal ini terjadi karena uterus yang semakin berat menekan vena besar di rongga perut (vena cava inferior) saat ibu berdiri atau duduk lama, yang menghambat aliran darah balik dari tubuh bagian bawah menuju jantung. Akibatnya, terjadi bendungan darah (stasis vena) yang memaksa cairan plasma darah merembes keluar dari pembuluh darah masuk ke jaringan interstisial di sekitar kaki (Nurhasiyah dkk., 2023). - Nyeri Punggung dan Panggul Penyebab nyeri panggul dan punggung yang semakin intens di trimester ketiga adalah peningkatan produksi hormon relaxin dan progesteron secara signifikan. Hormon relaxin melonggarkan ligamen-ligamen dan simfisis pubis (sambungan tulang panggul) untuk melunakkan jalan lahir sebagai persiapan persalinan. Kelonggaran sendi ini membuat panggul menjadi tidak stabil dan memicu ketegangan berlebih pada otot-otot di sekitarnya saat menyangga berat badan ibu dan janin yang terus bertambah (Rofi'ah dkk., 2022). - Nyeri Ulu Hati (Heartburn) Heartburn atau rasa panas terbakar di dada disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor hormonal dan mekanis. Pertama, tingginya hormon progesteron merelaksasi otot katup lambung (sfingter esofagus bagian bawah), yang seharusnya berfungsi mencegah asam lambung naik kembali ke kerongkongan. Kedua, rahim yang membesar menekan organ lambung secara fisik, sehingga kapasitas lambung mengecil dan mendesak isi serta asam lambung naik ke esofagus, memicu iritasi dan rasa terbakar (Purwati dkk., 2022). - Kontraksi Palsu (Braxton Hicks)
43 Kontraksi palsu merupakan peregangan otot uterus yang bersifat tidak teratur, tidak berpola, dan tidak menimbulkan pembukaan jalan lahir. Penyebab utamanya adalah peningkatan sensitivitas otot rahim (miometrium) terhadap hormon estrogen seiring bertambahnya usia kehamilan, yang memicu kontraksi intermiten ringan. Kontraksi ini sebenarnya berfungsi fisiologis untuk melatih otot rahim, meningkatkan aliran darah ke plasenta, dan membantu mengarahkan kepala janin masuk ke pintu atas panggul (Rofi'ah dkk., 2022). - Sering Buang Air Kecil (BAK) Berbeda dengan trimester pertama yang dominan karena hormon, sering BAK di trimester ketiga murni disebabkan oleh faktor mekanis. Kepala janin yang mulai turun ke arah rongga panggul bawah secara langsung menekan kubah kandung kemih dari atas. Tekanan konstan ini menurunkan kapasitas tampung maksimal kandung kemih, sehingga meskipun urin yang terisi baru sedikit, reseptor saraf kandung kemih sudah terstimulasi untuk mengirimkan sinyal penuh ke otak, memaksa ibu untuk sering berkemih (Nurhasiyah dkk., 2023). - Kesemutan (Parestesia / Carpal Tunnel Syndrome) Kesemutan, terutama pada jari-jari tangan atau kaki, disebabkan oleh penumpukan cairan (retensi cairan) yang masif di trimester ketiga. Cairan yang tertahan di jaringan tubuh ini menimbulkan pembengkakan lokal yang menekan
44 jalur saraf perifer, seperti nervus medianus di pergelangan tangan (kondisi yang mirip dengan Carpal Tunnel Syndrome). Selain itu, perubahan postur tubuh lordosis (tulang belakang melengkung ke depan) yang ekstrem dapat menekan akar saraf di area tulang belakang sehingga memicu sensasi kesemutan hingga ke kaki (Wulandari & Tyastuti, 2020). 3. Faktor yang Memengaruhi Keluhan 4. Penatalaksanaan Keluhan a. Penatalaksanaan Nonfarmakologi b. Penatalaksanaan Farmakologi 5. Komplikasi yang perlu Diwaspadai - Hiperemesis Gravidarum
45 Hiperemesis gravidarum adalah bentuk ekstrem dari mual dan muntah kehamilan (emesis gravidarum) yang terjadi secara terus-menerus melampaui usia kehamilan 20 minggu. Penyebab klinisnya berkaitan dengan sensitivitas abnormal tubuh terhadap lonjakan hormon hCG dan estrogen yang sangat tinggi, serta gangguan motilitas lambung yang parah. Kondisi ini diklasifikasikan sebagai komplikasi patologis karena menyebabkan ketidakmampuan total untuk mempertahankan asupan nutrisi dan cairan oral. Jika tidak ditangani segera, hiperemesis gravidarum akan memicu robekan pada mukosa esofagus akibat muntah paksa (sindrom Mallory-Weiss), defisiensi tiamin yang mengancam fungsi neurologis pusat (ensefalopati Wernicke), serta gangguan pertumbuhan janin (IUGR) akibat malnutrisi kronis (Rahmatika dkk., 2023). - Dehidrasi Dehidrasi pada kehamilan merupakan kelanjutan patologis yang paling sering timbul akibat hiperemesis gravidarum atau asupan cairan yang tidak adekuat di lingkungan bersuhu tinggi. Kehilangan cairan dan elektrolit (terutama kalium, natrium, dan klorida) secara masif mengganggu homeostasis tubuh ibu hamil. Secara klinis, dehidrasi berat memicu penurunan volume plasma darah secara drastis, yang berakibat pada penurunan perfusi (aliran darah) uteroplasenta menuju janin. Kondisi kekurangan cairan yang ekstrem ini juga menstimulasi hipofisis posterior untuk melepaskan hormon oksitosin dan vasopresin, yang secara tidak sengaja dapat memicu kontraksi uterus prematur, ketuban pecah dini, hingga persalinan prematur (Rudiyanti & Rosmadewi, 2019; Yuliani dkk., 2021). - Preeklamsia Preeklamsia adalah sindrom spesifik kehamilan yang ditandai oleh onset baru hipertensi (tekanan darah sekurang-kurangnya 140/90 mmHg) yang disertai proteinuria atau gangguan disfungsi organ sistemik setelah usia kehamilan 20 minggu. Komplikasi patologis ini berakar pada kegagalan invasi trofoblas primer, di mana pembuluh darah arteri spiralitis ibu gagal melebar secara adekuat, menyebabkan iskemia plasenta dan pelepasan faktor anti-angiogenik ke dalam sirkulasi darah ibu. Dampaknya adalah endoteliosis (kerusakan dinding pembuluh darah) sistemik yang memicu vasospasme, edema serebral (penyebab sakit kepala
46 hebat dan pandangan kabur), gangguan fungsi hati (sindrom HELLP), hingga solusio plasenta dan kejang eklamsia yang mengancam nyawa ibu dan janin (ACOG, 2020; Megasari, 2019). - Anemia Kehamilan Anemia pada kehamilan (umumnya didefinisikan sebagai kadar hemoglobin di bawah 11 g/dL) paling sering disebabkan oleh defisiensi zat besi, yang diperberat oleh fenomena hemodilusi (pengenceran darah fisiologis di mana volume plasma meningkat lebih cepat daripada massa sel darah merah). Kondisi ini berubah menjadi komplikasi patologis ketika penurunan kadar hemoglobin secara signifikan membatasi kapasitas darah untuk mengikat dan mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh ibu dan janin. Dampak klinis anemia kronis meliputi kelelahan ekstrem yang menurunkan imunitas ibu, meningkatkan risiko gagal jantung akibat kardiomiopati hipertrofik, serta meningkatkan risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan (HPP) karena otot rahim kekurangan oksigen untuk berkontraksi secara adekuat (atonia uteri) (Wulandari, 2017; Nurhasiyah dkk., 2023). TANDA BAHAYA KEHAMILAN A. Konsep Tanda Bahaya Tanda bahaya kehamilan adalah sekumpulan gejala, tanda klinis, atau indikasi medis yang menunjukkan adanya bahaya, kelainan, atau komplikasi patologis yang terjadi selama masa kehamilan. Secara patofisiologi, tanda-tanda ini merupakan manifestasi dari kegagalan sistem tubuh ibu dalam beradaptasi dengan kehamilan, adanya infeksi akut, atau gangguan sirkulasi uteroplasenta yang mengancam keselamatan ibu dan janin (Yuliani dkk., 2021). Tanda bahaya ini berbeda dengan ketidaknyamanan fisiologis biasa, karena sifat gejalanya cenderung menetap, memburuk dengan cepat, dan merupakan sinyal kuat terjadinya kegawatdaruratan obstetri seperti preeklampsia berat, perdarahan antepartum, hingga gawat janin (fetal distress) (Megasari, 2019). Deteksi dini terhadap tanda bahaya kehamilan memiliki urgensi klinis yang sangat vital dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Berdasarkan konsep keterlambatan (three delays), deteksi dini berperan
47 memutus rantai keterlambatan pertama, yaitu terlambat mengenali bahaya dan mengambil keputusan di tingkat keluarga (Rudiyanti & Rosmadewi, 2019). Secara klinis, mendeteksi tanda bahaya sejak awal memungkinkan tenaga kesehatan untuk segera melakukan penapisan, memberikan intervensi stabilisasi awal, atau merujuk ibu ke fasilitas kesehatan sekunder/tersier secara tepat waktu (skrining antenatal efektif). Langkah preventif ini sangat krusial untuk mencegah komplikasi kehamilan berkembang menjadi kondisi terminal yang ireversibel, seperti kejang eklamsia, syok hipovolemik akibat perdarahan, atau kematian janin dalam kandungan (Intrauterine Fetal Death/IUFD) (Megasari, 2019; Nurhasiyah dkk., 2023). B. Tanda Bahaya Pada Ibu C. Tanda Bahaya Pada Janin a. Gerakan Janin Berkurang atau Berhenti Gerakan janin merupakan indikator subyektif yang sangat sensitif untuk menilai kesejahteraan dan fungsi neurobehavioral janin di dalam rahim. Secara klinis, janin yang sehat bergerak minimal 10 kali dalam durasi 2 jam (metode count- to-ten). Penurunan frekuensi atau hilangnya gerakan janin secara drastis merupakan tanda bahaya utama yang mengindikasikan terjadinya hipoksia janin kronis atau gawat janin (fetal distress). Patofisiologinya berakar pada insufisiensi plasenta (penurunan kemampuan plasenta mengalirkan darah), sehingga suplai oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin merosot tajam. Sebagai mekanisme pertahanan, janin akan
48 membatasi aktivitas motorik dan pergerakannya guna menghemat konsumsi energi dan memprioritaskan aliran darah ke organ vital seperti otak dan jantung (efek brain sparing). Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan, hipoksia akan berlanjut menjadi asidosis, kegagalan organ, hingga kematian janin di dalam rahim (Intrauterine Fetal Death/IUFD) (Megasari, 2019; Nurhasiyah dkk., 2023). b. Ketuban Pecah Dini (KPD / Premature Rupture of Membranes) Ketuban Pecah Dini (KPD) adalah kondisi pecahnya selaput ketuban sebelum adanya tanda-tanda persalinan atau dimulainya fase aktif persalinan. Secara klinis, KPD ditandai dengan keluarnya cairan jernih atau keruh secara mendadak atau merembes terus-menerus dari jalan lahir yang berbau khas (anyir) dan memiliki sifat basa saat diuji dengan kertas lakmus (tes nitrazin). Patofisiologi KPD umumnya dipicu oleh proses inflamasi atau infeksi bakteri (seperti vaginosis bakterialis atau infeksi saluran kemih) yang menghasilkan enzim proteolitik (kolagenase) yang mendegradasi matriks kolagen pada selaput ketuban sehingga menjadi tipis dan rapuh. Komplikasi ini dikategorikan sebagai tanda bahaya fatal bagi janin karena hilangnya pelindung steril rahim membuka jalur langsung bagi bakteri luar untuk naik (ascending infection), memicu infeksi intrauterin yang parah (korioamnionitis) dan sepsis neonatal. Selain risiko infeksi, hilangnya volume cairan ketuban secara mendadak (oligohidramnion akut) berisiko tinggi menyebabkan kompresi tali pusat (tali pusat terjepit di antara tubuh janin dan dinding rahim) serta prolaps tali pusat (tali pusat menumbung mendahului bagian terendah janin), yang secara instan memutus total sirkulasi oksigen dan memicu kematian janin mendadak (Yuliani dkk., 2021). D. PENYEBAB TANDA BAHAYA 1. Infeksi Infeksi bakteri, virus, maupun parasit merupakan penyebab utama di balik tanda bahaya seperti demam tinggi dan Ketuban Pecah Dini (KPD). Secara patofisiologi, masuknya agen infeksius (seperti pada infeksi saluran kemih atau infeksi menular seksual) memicu respons inflamasi sistemik di dalam tubuh ibu hamil. Bakteri yang naik ke area genitalia (ascending infection) akan melepas zat
49 endotoksin dan merangsang makrofag untuk memproduksi sitokin proinflamasi serta enzim proteolitik (seperti kolagenase). Enzim ini mendegradasi matriks kolagen pada selaput ketuban sehingga selaput menjadi rapuh, menipis, dan akhirnya pecah sebelum waktunya (KPD). Selain itu, mediator inflamasi ini dapat merangsang sintesis prostaglandin lokal yang memicu kontraksi rahim prematur serta menyebabkan infeksi intrauterin (korioamnionitis) yang mengancam keselamatan janin (Yuliani dkk., 2021). 2. Hipertensi dalam Kehamilan Hipertensi merupakan akar penyebab utama dari tanda bahaya sistemik seperti sakit kepala berat, penglihatan kabur, bengkak (edema) berlebihan, hingga kejang (eklamsia). Patofisiologi kondisi ini berpusat pada kegagalan remodeling pembuluh darah arteri spiralis pada awal kehamilan, yang mengakibatkan plasenta mengalami kekurangan aliran darah (iskemia plasenta). Jaringan plasenta yang stres kemudian melepaskan faktor anti-angiogenik ke dalam sirkulasi darah ibu, yang menyebabkan kerusakan sel endotel (endoteliosis) di seluruh tubuh. Kerusakan endotel ini memicu vasospasme (penyempitan pembuluh darah) yang melonjakkan tekanan darah, kebocoran protein di ginjal yang menurunkan tekanan osmotik (pemicu bengkak wajah dan tangan), serta edema serebral di otak yang memicu gangguan saraf berupa nyeri kepala hebat, pandangan kabur akibat iskemia retina, hingga kejang eklamsia (Megasari, 2019). 3. Gangguan Plasenta Gangguan atau anomali pada plasenta merupakan penyebab primer dari tanda bahaya berupa perdarahan pervaginam hebat serta berkurangnya gerakan janin. Secara klinis, gangguan ini terbagi menjadi dua kondisi patologis utama: plasenta previa dan solusio plasenta. Pada plasenta previa, plasenta berimplantasi secara abnormal di segmen bawah rahim sehingga menutupi jalan lahir; seiring meregangnya rahim di trimester akhir, pembuluh darah plasenta akan robek tanpa rasa nyeri. Sementara pada solusio plasenta, terjadi perdarahan di lapisan desidua yang memaksa plasenta lepas secara prematur dari dinding rahim sebelum persalinan, memicu nyeri perut hebat yang kaku seperti papan. Kedua gangguan vaskularisasi ini secara langsung memutuskan jalur distribusi oksigen dan nutrisi
50 dari ibu ke janin, mengakibatkan janin mengalami gawat janin akut (fetal distress) yang ditandai dengan penurunan gerakan secara drastis hingga kematian intrauterin (Megasari, 2019; Nurhasiyah dkk., 2023). E. PENANGANAN AWAL Pertolongan Pertama Pertolongan pertama saat menemui tanda bahaya kehamilan bertujuan untuk menstabilkan kondisi fisik ibu guna mencegah terjadinya syok atau trauma fisik lebih lanjut sebelum mendapat penanganan medis khusus. - Perdarahan: Ibu harus segera berbaring dengan posisi recumbent (telentang atau miring ke kiri) dan menaikkan kaki sedikit lebih tinggi dari dada untuk mempertahankan perfusi darah ke organ vital, serta dilarang memasukkan benda apa pun (termasuk tampon) ke dalam vagina. - Kejang (Eklamsia): Pastikan jalan napas ibu tetap terbuka dengan memiringkan kepala ke satu sisi untuk mencegah aspirasi (tersedak air liur/muntahan), longgarkan pakaian di sekitar leher, serta pasang pelindung empuk di sela gigi (seperti pad kain) untuk mencegah lidah tergigit. Hindari menahan gerakan kejang ibu secara paksa. - Ketuban Pecah Dini (KPD): Ibu harus segera membatasi aktivitas fisik total (bedrest) untuk meminimalkan keluarnya cairan ketuban lebih banyak dan mencegah risiko tali pusat menumbung (prolaps tali pusat) (Yuliani dkk., 2021). Ibu hamil, suami, atau keluarga harus segera pergi ke fasilitas kesehatan (Puskesmas, klinik, atau rumah sakit dengan pelayanan obstetri darurat) tanpa menunda waktu (segera/detik itu juga) begitu mengenali salah satu saja dari tanda bahaya kehamilan yang sifatnya akut. Beberapa gejala yang mengharuskan rujukan instan ke IGD meliputi keluar darah segar dari jalan lahir, cairan ketuban merembes mendadak sebelum waktunya, kepala terasa sangat pening disertai pandangan kabur secara tiba-tiba, nyeri perut hebat yang menetap, gerakan janin yang tidak terasa dalam waktu 2 jam, atau terjadinya kejang. Menunggu hingga jadwal kontrol rutin berikutnya sangat dilarang karena komplikasi patologis dapat memburuk dengan cepat dalam hitungan menit (Megasari, 2019; Nurhasiyah dkk., 2023).
51 F. PENCEGAHAN KOMPLIKASI 1. ANC Routin (Antenatal Care) Kunjungan Antenatal Care (ANC) secara berkala dan terstruktur (minimal 6 kali selama kehamilan sesuai standar Kemenkes RI) merupakan pilar preventif utama dalam mendeteksi dini komplikasi. Melalui pemeriksaan ANC terintegrasi yang mencakup pengukuran tekanan darah, penimbangan berat badan, pemeriksaan laboratorium (protein urine, hemoglobin, golongan darah), serta pemantauan denyut jantung janin, tenaga kesehatan dapat mengidentifikasi faktor risiko komplikasi seperti gejala awal preeklampsia atau anemia sejak dini sebelum berkembang menjadi tanda bahaya yang mengancam nyawa (Megasari, 2019). 2. Gizi Baik Pemenuhan gizi yang seimbang, adekuat, dan berkualitas tinggi memegang peran penting dalam memperkuat sistem imun ibu dan mengoptimalkan fungsi plasenta. Ibu hamil wajib mengonsumsi makanan yang kaya akan makronutrien (karbohidrat, protein hewani, lemak sehat) serta mikronutrien esensial seperti zat besi, kalsium, asam folat, dan vitamin C. Status gizi yang baik (LILA dan IMT normal) secara klinis efektif mencegah terjadinya Anemia Defisiensi Besi yang memicu kelelahan ekstrem dan perdarahan pascapersalinan, serta menghindarkan ibu dari kondisi Kurang Energi Kronis (KEK) yang mengganggu pertumbuhan janin (Rahmatika dkk., 2023). 3. Kepatuhan Terapi Kepatuhan ibu hamil dalam menjalankan terapi medis yang diberikan oleh tenaga kesehatan merupakan faktor penentu keberhasilan pencegahan komplikasi. Terapi ini meliputi konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 90 tablet selama masa kehamilan untuk mencegah anemia, serta kepatuhan konsumsi suplemen kalsium dosis tinggi untuk menurunkan risiko preeklampsia pada ibu dengan faktor risiko tinggi. Apabila ibu didiagnosis menderita penyakit penyerta seperti hipertensi gestasional atau diabetes melitus tipe kehamilan (gestasional), kepatuhan dalam meminum obat antihipertensi atau pengontrol gula darah sesuai
52 dosis mutlak diperlukan guna mencegah terjadinya krisis hipertensi, kejang eklamsia, atau kematian janin (Wulandari & Rustiyati, 2020; Yuliani dkk., 2021).
53 NUTRISI IBU HAMIL a. Konsep ibu hamil Kehamilan merupakan tahapan transisi biologis yang krusial bagi wanita, melibatkan adaptasi anatomis, metabolik, dan psikososial yang masif (Gultom & Hutabarat, 2020). Selama masa gestasi, terjadi lonjakan metabolisme basal yang bertujuan untuk memfasilitasi organogenesis janin, perkembangan plasenta, serta hipertrofi jaringan maternal (Handayani dkk., 2022). Ketidakseimbangan antara asupan zat gizi dengan kebutuhan biologis tubuh memicu defisiensi nutrisi sistemik, yang secara signifikan meningkatkan risiko klinis persalinan prematur, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), stunting, serta perdarahan postpartum (Samiatul Milah, 2018). Perubahan fisiologis ibu hamil mencakup ekspansi volume darah hingga 50%, fluktuasi hormonal makro, serta penambahan massa tubuh yang konstan. Oleh karena itu, pemantauan status gizi antropometris, salah satunya melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA), menjadi instrumen skrining esensial untuk mendeteksi risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) sejak fase antenatal awal (Supariasa, 2001).
54 Gambar 1. Bagan Alur Keterkaitan Fisiologis Asupan Gizi Maternal Terhadap Organogenesis Janin (Handayani dkk., 2022). b. Kebutuhan energi dan zat gizi makronutrien Kebutuhan energi total ibu hamil ditentukan oleh basal metabolic rate, tingkat aktivitas fisik, serta deposisi jaringan plasenta. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI mengenai Angka Kecukupan Gizi (AKG), penambahan kalori harian disesuaikan dengan tahapan trimester usia kehamilan: - Trimester I: Pertumbuhan janin masih sangat lambat secara makroskopis, namun laju pembelahan sel dan organogenesis berjalan sangat masif. Dibutuhkan tambahan energi sebesar +180 kkal/hari di atas kebutuhan dasar harian wanita usia subur.
55 - Trimester II: Janin mulai mengalami hipertrofi dan pemanjangan skeletal. Organ- organ tubuh mulai berfungsi. Kebutuhan energi melonjak, direkomendasikan penambahan +300 kkal/hari. - Trimester III: Fase penumpukan jaringan lemak janin dan pematangan fungsi organ akhir. Beban metabolik maternal berada pada puncaknya. Diperlukan konsistensi tambahan energi sebesar +300 kkal/ hari. Gizi pada masa kehamilan adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi perkembangan embrio dan janin serta status kesehatan ibu hamil. Pola makan yang tidak memadai yang mengakibatkan kekurangan asupan nutrisi dan energi dapat berdampak besar pada kesehatan bayi baru lahir dan hasil kehamilan . Pembatasan energi dan nutrisi mengganggu perkembangan janin yang tepat dan dapat menyebabkan penyakit, termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes tipe II, dan hipertensi (Najpaverova S, et al. 2020). Zat gizi makro harus dipenuhi dalam proporsi seimbang untuk menjamin
56 ketersediaan energi substrat seluler bagi ibu dan janin: 1. Karbohidrat (50–60% energi total): Mengutamakan karbohidrat kompleks (sereal utuh, umbi-umbian, beras merah) yang kaya serat pangan untuk mereduksi risiko konstipasi gestasional dan mengontrol fluktuasi glukosa darah (Kemenkes RI, 2019). 2. Protein (Zat Pembangun): Dibutuhkan untuk sintesis jaringan baru janin. Penambahan porsi harian menurut AKG adalah +1g (Trimester I), +10g (Trimester II), dan +30g (Trimester III). Konsumsi protein hewani (ikan, daging, telur) diprioritaskan karena memiliki profil asam amino esensial lengkap dan bioavailabilitas tinggi. 3. Lemak (maksmal 25% energy total): berperan sebagai pelarut vitamin lipofilik dan penyususn membrane sel. Asam lemak esensial rantai panjang seperti Omega-3 (DHA dan EPA) wajib dipenuhi melalui konsumsi ikan laut dalam, bayam, atau minyak nabati guna mendukung maturasi retina dan perkembangan sistem saraf pusat janin. c. Kebutuhan mikronutrien dan Sumpelen klinis Defisiensi zat mikronutrien selama kehamilan berdampa sistematik jangka panjang. Berikut tabel dibawah ini merangkum jenis mikronutrien beserta fungsi klinis dan pemenuhan suplemennya berdasarkan standarisasi medis:
57 d. Manajemen Hidrasi dan Keseimbanngan cairan Manajemen cairan pada ibu hail sangat vital untuk memfasilitasi ekspansi volume vascular maternal, sirkulasi plasenta, pembentukan likuor amnii (cairan ketuban), serta optimalisasi filtrasi glomerulus ginjal. Dehidrasi gestasional dapat memicu sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan oksitosin secara prematur, yang berisiko menginduksi kontraksi uterus dini, oligohidramnion, serta Infeksi Saluran Kemih (ISK) akibat stagnasi urinaria. Air putih murni (bebas kalori, sodium rendah, tanpa zat pengawet) wajib Mikronutrien Fungsi Klinis & Dampak Defisiensi Target Capaian & Sumber Pangan Asam Folat (Vit B9) Sintesis DNA dan replikasi sel. Defisiensi menyebabkan Cacat Tabung Saraf (Neural Tube Defects seperti Spina Bifida) (CDC, 2020). 600 mcg/hari. Sumber utama: Sayuran berdaun hijau gelap, jeruk, hati ayam, brokoli. Zat Besi (Fe) Pembentukan hemoglobin darah. Defisiensi memicu anemia mikrositik hipokromik, hipoksia janin, dan risiko perdarahan kala bersalin. 27 mg/hari (Suplementasi minimal 90 tablet selama hamil). Sumber: Daging merah, hati, bayam. Kalsium (Ca) Mineralisasi skeleton dan gigi janin. Membantu regulasi tekanan darah maternal guna mencegah preeklampsia (WHO, 2021). 1.000 mg/hari. Sumber: Susu rendah lemak, yogurt, keju, kembang kol, tahu, tempe. Yodium Prekursor sintesis hormon tiroid janin dan ibu. Defisiensi memicu retardasi mental berat, kretinisme, dan defisit IQ (Unicef, 2018). Penambahan +50 μg/hari. Sumber: Garam beryodium murni, sereal, rumput laut, produk laut. Vitamin D Homeostasis kalsium dan homeostasis imunologi maternal-janin. Merangsang absorbsi kalsium di intestinum. 600 IU (15 mcg) per hari. Sumber: Pajanan sinar matahari pagi (UVB), kuning telur, ikan tuna.
58 menjadi pilar utama hidrasi harian. Konsumsi jus buah segar tanpa pemanis tambahan diperbolehkan dalam batas moderat (120–180 mL/hari) untuk menyuplai vitamin larut air, sementara minuman tinggi glukosa dan berkarbonasi harus dieliminasi sepenuhnya untuk mencegah gangguan metabolik. e. Pola makan sehat Pola makan merupakan susunan jenis dan jumlah oangan yang dikonsumsi individu atau kelompok untuk memenuhi kebuttuhan fisiologis seperti rasa lapar dan zat gizi, psikologis, serta sosiologis. Aktivitas makan sehari-hari mencakup jenis makanan, jumlah makanan, beserta frekuensi makannya. Untuk mencukupi kebutuhan gizi, diperlukan pola makan yang seimbang terdiri dari variasi makanan dengan porsi yang sesuai. Sebaliknya jika pola makan tidak seimbang, tubuh akan mengalami keteidakseimbangan zat gizi yang dapat memicu masalah kekurangan gizi ataupun kelebihangizi akibat asupan zat tertentu ynag berlebihan (Waryana, 2010).
59 Pengaturan jadwal makan yang baik meliputi frekuensi makan tiga kali sehari yaitu makan pagi, siang, dan malam serta diselingi dengan makanan selingan sore dan sebelum tidur, dengan catatan tidak berlebihan agar tidak mengganggu makan utama. Selain jadwal, porsi makan juga sangat krusial karena berkaitan dengan jumlah makanan yang disajikan sesuai kebiasaan dan kebutuhan individu. Konsumsi porsi makanan yang adekuat setiap hari sangat penting untuk memenuhi kebutuhan zat gizi, baik secara kualitas maupun kuantitas, guna mendukung kondisi fisiologis tubuh, terutama bagi ibu hamil. Variasi jenis makanan yang dikonsumsi berfungsi untuk memenuhi kebutuhan tubuh, mengatasi rasa bosan, sekaligus meningkatkan nafsu makan. Keberagaman pangan ini memberikan dampak besar bagi kesehatan ibu hamil karena mutu makanan akan semakin baik jika menu yang dikonsumsi semakin bervariasi. Secara umum, ragam menu tersebut minimal harus terdiri dari tiga jenis sumber pangan, yaitu makanan pokok (seperti nasi, jagung, atau ubi) sebagai
60 sumber zat tenaga, lauk-pauk (seperti tahu, tempe, telur, atau daging) sebagai zat pembangun, serta sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur. f. Yang harus dihindari ibu hamil Di samping pemenuhan gizi, eliminasi paparan zat toksik-teratogenik mutlak dilakukan demi keselamatan eksistensial janin: - Alkohol: Bersifat teratogenik mutlak. Menembus barier plasenta secara langsung dan memicu kelainan kongenital permanen berupa Fetal Alcohol Spectrum Disorders (FASDs). Tidak ada ambang batas aman minimal untuk alkohol selama kehamilan. - Kafein: Memiliki kemampuan vasokonstriksi pembuluh darah plasenta sehingga membatasi pasokan oksigen dan nutrisi ke janin. Konsumsi dibatasi ketat maksimal 200 mg/hari (setara 1–2 cangkir kopi instan). Paparan berlebih berkolerasi dengan aborsi spontan dan BBLR. - Pangan Mentah & Merkuri: Makanan mentah (sushi, telur setengah matang) membawa risiko infeksi akut bakteri patogen parasit seperti Salmonella, Listeria
61 monocytogenes, dan Toxoplasma gondii. Konsumsi ikan predator besar tinggi merkuri (hiu, makarel) juga wajib dihindari karena merusak neuro-perkembangan janin. g. Patofisiologi masalah nutrisi pada ibu hamil - KEK (Kekurangan Energi Kronis) Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan kondisi patologis di mana ibu mengalami kekurangan pasokan energi dan protein yang berlangsung menahun, sehingga menyebabkan penurunan cadangan energi intraselular dan atrofi fungsional jaringan adiposa tubuh. KEK ditegakkan secara klinis apabila ukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) berada di bawah ambang batas kritis 23,5 cm (Supariasa, 2001). Patofisiologi KEK berdampak langsung pada penurunan ukuran ketebalan vaskularisasi plasenta, mereduksi luas area permukaan serapan vaskular vili korialis, serta menghambat transfer asam amino melintasi membran plasenta. Janin yang dikandung oleh ibu dengan KEK mengalami kelaparan intrauterin kronis yang berujung pada hambatan pertumbuhan janin intrauterin (IUGR) dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) (Dewi, 2023). - Anemia Defisiensi Besi Gestasional Selama masa kehamilan normal, terjadi fenomena hemodilusi, yaitu peningkatan volume cairan plasma darah yang tidak diimbangi secara proporsional
62 oleh peningkatan massa sel darah merah (eritrosit). Kondisi ini menyebabkan penurunan hematokrit fisiologis. Namun, jika cadangan besi (feritin) di sumsum tulang belakang ibu sangat rendah atau asupan Fe dari makanan tidak adekuat, konsentrasi kadar hemoglobin (Hb) akan merosot di bawah 11 ext{ g/dL} pada Trimester I dan III, atau di bawah 10,5 ext{ g/dL} pada Trimester II (WHO, 2021). Anemia defisiensi besi menurunkan kapasitas pengangkutan oksigen sistemik. Hipoksia jaringan maternal ini memaksa jantung bekerja lebih keras (hiperdinamik), meningkatkan risiko gagal jantung maternal, meningkatkan kerentanan uterus terhadap infeksi bakteri naik (ascending infection), serta melemahkan kekuatan kontraksi otot polos miometrium saat persalinan (atonia uteri) yang memicu perdarahan pascasalin yang fatal. - Preeklampsia, Diabetes Gestasional, dan Malnutrisi Makro Malnutrisi tidak hanya berbentuk defisiensi energi, tetapi juga mencakup overnutrisi (kelebihan zat gizi). Konsumsi karbohidrat sederhana dan lemak jenuh yang eksesif memicu obesitas maternal prakehamilan dan peningkatan berat badan yang berlebihan (tabel IMT abnormal). Kondisi ini menginduksi pelepasan sitokin proinflamasi dan radikal bebas yang merusak lapisan endotel pembuluh darah plasenta (maladaptasi sirkulasi uteroplasenta). Kerusakan endotel ini merupakan patofisiologi utama terjadinya Preeklampsia, sebuah sindrom klinis berbahaya
63 setelah usia gestasi 20 minggu yang ditandai oleh hipertensi sistemik mendadak (\ge 140/90 ext{ mmHg}) disertai proteinuria masif. Di sisi lain, resistensi insulin yang diperparah oleh akumulasi jaringan adiposa berlebih memicu munculnya Diabetes Melitus Gestasional (DMG), yang menyebabkan transfer glukosa berlebih ke janin sehingga memicu hiperinsulinemia janin dan kondisi makrosomia (berat bayi lahir ekstrem >4.000 gram). h. Dampak nutrisi buruk pada janin Janin sepenuhnya bergantung pada transfer nutrisi plasenta. Ketika ibu mengalami malnutrisi, mekanisme kompensasi janin bekerja melalui pengorbanan pertumbuhan struktural untuk mempertahankan organ vital (otak dan jantung), sebuah fenomena yang dikenal sebagai "brain-sparing effect". Adapun dampaknya antara lain: A. Intrauterine Growth Restriction (IUGR) dan BBLR Kekurangan kalori dan protein kronis menyebabkan penurunan aliran darah uteroplasenta dan atrofi vili korialis pada plasenta. Akibatnya, transfer glukosa dan asam amino menurun drastis, memaksa janin mengalami gangguan pertumbuhan di dalam rahim (IUGR). Janin dilahirkan dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR, <2.500 gram), yang meningkatkan mortalitas perinatal akibat hipotermia, asfiksia, dan hipoglikemia neonatal. B. Cacat Kongenital dan Kelainan Tabung Saraf (NTD)
64 Defisiensi mikronutrien pada fase organogenesis awal (terutama trimester pertama) bersifat teratogenik nongenetik. Kegagalan asupan asam folat menghentikan proses penutupan tabung saraf pada hari ke-21 hingga ke-28 pasca- konsepsi, menyebabkan Neural Tube Defects (NTDs) seperti anensefali (tidak memiliki sebagian otak) dan spina bifida. Sementara itu, defisiensi yodium yang parah mengganggu pembentukan hormon tiroid janin, mengakibatkan hambatan mental permanen dan kretinisme. KONSEP POLA HIDUP SEHAT a. Konsep pola hidup sehat - Definisi Secara terminologi klinis, Pola Hidup Sehat pada Ibu Hamil adalah sebuah komitmen perilaku komprehensif yang diadaptasi secara sadar untuk memelihara, meningkatkan, dan melindungi kesehatan fisik serta psikologis selama masa kehamilan, persalinan, hingga nifas. Pola hidup sehat ini mencakup pemenuhan gizi seimbang yang spesifik untuk kehamilan, pemeliharaan kebugaran fisik, pengelolaan stres psikologis, pencegahan paparan zat toksik, serta kepatuhan terhadap pemantauan medis secara berkala. Berbeda dengan pola hidup sehat pada populasi umum, pola hidup sehat maternal menekankan pada konsep "Nutritional and Functional Programming", di
65 mana setiap aktivitas, asupan, dan kondisi mental ibu secara langsung memodulasi ekspresi genetik dan lingkungan intrauterin tempat janin berkembang. - Tujuan pola hidup sehat Penerapan pola hidup sehat selama kehamilan memiliki dimensi tujuan yang luas, yang diklasifikasikan ke dalam tujuan jangka pendek (selama masa kehamilan dan persalinan) serta jangka panjang (pasca-persalinan hingga masa depan anak), antara lain: 1. Tujuan Jangka Pendek (Maternal & Fetal Gestasional) - Mencegah Komplikasi Kehamilan: Menurunkan insidensi gangguan metabolik dan vaskular berat seperti Preeklamsia, Hipertensi Gestasional, dan Diabetes Melitus Gestasional (DMG). - Mengoptimalkan Pertumbuhan Janin: Memastikan transfer nutrisi dan oksigen berjalan lancar melalui plasenta sehingga mencegah kelainan kongenital, cacat tabung saraf (NTD), dan hambatan pertumbuhan intrauterin (IUGR). - Mencapai Berat Badan Gestasional Ideal: Mengontrol Gestational Weight Gain (GWG) agar tetap berada dalam rentang rekomendasi Institute of Medicine (IOM), guna mencegah komplikasi persalinan akibat bayi besar (makrosomia) atau berat badan lahir rendah (BBLR). - Mempersiapkan Persalinan yang Aman: Meningkatkan kebugaran kardiorespirasi dan kekuatan otot panggul ibu untuk mempermudah proses persalinan pervaginam serta meminimalkan risiko perdarahan pascasalin. 2. Tujuan Jangka Panjang (Epigenetik & Masa Depan) - Memutus Rantai Stunting: Memastikan janin melewati fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan kecukupan nutrisi mikronutrien, yang merupakan fondasi utama pencegahan stunting secara nasional. - Pencegahan Penyakit Degeneratif (Hipotesis Barker): Menghindarkan janin dari pemrograman metabolik yang salah akibat malnutrisi di dalam rahim, sehingga menurunkan risiko anak menderita penyakit jantung, obesitas, dan diabetes saat dewasa.
66 - Mempercepat Pemulihan Post-Partum: Membantu ibu mengembalikan fungsi fisiologis tubuh, stabilitas emosional, serta mendukung kelancaran produksi ASI (laktogenesis). b. Aktifitas fisik dan manfaat olahraga Aktivitas fisik (Physical Activity) adalah gerakan tubuh oleh otot rangka yang mengeluarkan energi demi menjaga kebugaran fisik dan mental ibu hamil. Latihan rutin sangat diperlukan untuk mengoptimalkan perkembangan janin baik secara anatomi maupun fisiologi (Indarwati et al., 2019). Manfaat Klinis Olahraga Intensitas Sedang: - Metabolik: Meningkatkan sensitivitas insulin dan mengontrol kadar gula darah untuk mencegah Diabetes Gestasional. - Vaskular: Meningkatkan aliran darah plasenta dan menurunkan tekanan darah tinggi (Preeklamsia). - Muskuloskeletal: Menguatkan otot dasar panggul, mengurangi nyeri punggung bawah, meningkatkan stamina mengejan saat melahirkan, serta mempercepat pemulihan nifas (Ketut et al., 2022; Todorovic et al., 2020). c. Jenis latihan fisik
67 d. Aktivitas dan posisi tidur yang harus dihindari
68 e. Istirahat, tidur dan pengelolaan stress
69 f. Kebersihan lingkungan,makanan, dan kebiasaan sehat
70
71 g. Pemantauan status gizi dan antropometri ibu hamil - Berat badan dan indeks massa tubuh (IMT) - Pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) Pemenuhan Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene Higiene Pribadi untuk Ibu Hamil sangat penting untuk menjaga kebersihan diri mereka guna mencegah risiko infeksi akibat kotoran yang dapat mengandung banyak bakteri. Tujuan utama dari higiene pribadi adalah untuk menjaga kesehatan ibu hamil, mencegah timbulnya penyakit, dan memberikan rasa nyaman (Lusiana Gultom, S. S. T. , Hutabarat, J. , Psi, S. , dan Keb. 2020). Personal Hygiene adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan rutin oleh seseorang untuk memelihara
72 kebersihan tubuh, bagian-bagian tubuhnya, serta lingkungan yang berkaitan langsung dengan fisiknya, demi menjaga kesehatan dan menghindari penyakit. 1. Kebersihan Tubuh Kebersihan fisik adalah usaha untuk menjaga semua bagian tubuh agar tetap tertata, sehat, dan terhindar dari kuman penyebab penyakit. Kebersihan fisik merupakan aspek penting dari kebersihan pribadi yang berfungsi untuk mencegah infeksi, meningkatkan kenyamanan, serta mendukung kesehatan ibu selama kehamilan. Mandi secara rutin sangat krusial untuk mempertahankan kebersihan tubuh selama masa kehamilan. Ibu dianjurkan untuk mandi dua kali sehari atau lebih jika tubuhnya cenderung berkeringat.
73 Tabel Checklist Mandi Ibu Hamil & Evaluasi Harian Hari Mandi 2x sehari Menggunakan sabun Membersihkan lipatan tubuh (ketiak, selangkangan, dan leher) Ganti Pakaian Bersih Kulit bersih dan tidak bau Keluhan (gatal, ruam, bau badan, dll) Ket 1 Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak 2 Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak 3 Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak 4 Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak 5 Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak Ya / Tidak
74 Tangan adalah bagian tubuh yang paling sering dipakai dalam berbagai kegiatan sehari-hari, sehingga mudah terpapar kotoran, debu, dan mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur. Ketika seseorang menyentuh barang, berjabat tangan, menangani uang, menggunakan fasilitas umum, atau melakukan aktivitas lain, kuman dapat dengan mudah menempel di permukaan tangan tanpa disadari. Tangan yang tidak bersih bisa menjadi sarana penularan penyakit jika digunakan untuk menyentuh makanan, wajah, hidung, mulut, atau mata (Natsir, 2018). Oleh karena itu, menjaga kebersihan tangan adalah hal penting dalam merawat kesehatan individu dan lingkungan. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (2016), mencuci tangan dengan cara yang tepat dilakukan melalui enam tahapan selama sekitar 20 hingga 30 detik supaya kuman dan kotoran bisa dibersihkan secara maksimal. Sebaiknya cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir karena lebih efektif untuk menghilangkan bakteri, virus, serta kotoran yang ada pada tangan. Berikut adalah langkah-langkah mencuci tangan yang benar: 1. Basahi tangan dengan air mengalir, sebelum menggunakan sabun, basahi kedua tangan terlebih dahulu dengan air bersih yang mengalir. Air yang mengalir membantu menghapus sebagian kotoran yang ada di tangan. 2. Tuangkan dan ratakan sabun pada kedua telapak tangan, ambil sabun secukupnya, lalu gosokkan kedua telapak tangan hingga sabun berbusa dan merata di seluruh permukaan tangan.
75 3. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari tempatkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri, kemudian gosok punggung tangan kiri serta sela-sela jari. Lakukan hal yang sama pada tangan kanan. Langkah ini bertujuan untuk membersihkan area tangan yang sering terabaikan. 4. Gosok kedua telapak tangan dan sela-sela jari, satukan kedua telapak tangan, lalu gosok perlahan sambil membersihkan sela-sela jari agar kuman yang terperangkap di antara jari dapat diangkat. 5. Gosok bagian dalam jari dengan posisi saling mengunci kaitkan jari- jari dari kedua tangan, kemudian gosok bagian dalam jari secara bergiliran. Metode ini membantu membersihkan area lipatan jari. 6. Bersihkan ibu jari dengan gerakan memutar genggam ibu jari kiri dengan tangan kanan dan gosoklah dengan gerakan memutar. Lakukan hal yang sama pada ibu jari kanan. Ibu jari sering kali terabaikan saat mencuci tangan, oleh karena itu perlu pembersihan khusus. 7. Gosok ujung jari dan kuku letakkan ujung jari tangan kanan pada telapak tangan kiri dan gosok dengan gerakan memutar. Lakukan secara bergantian. Tahap ini penting untuk menghilangkan kotoran dan kuman yang terdapat di bawah kuku. 8. Bilas tangan menggunakan air mengalir setelah semua bagian tangan telah dibersihkan, bilaslah tangan dengan air bersih yang mengalir hingga semua sisa sabun hilang total. 9. Keringkan tangan menggunakan handuk atau tisu bersih, tangan yang basah lebih rentan menjadi sarang kuman, sehingga penting untuk mengeringkannya dengan handuk bersih, tisu, atau pengering tangan. 10. Tutup keran menggunakan tisu atau handuk, setelah tangan bersih, gunakan tisu atau handuk untuk menutup keran agar tangan tidak kembali terkontaminasi oleh kuman yang mungkin ada di permukaan keran. Tabel pemantauan kebiasaan cuci tangan pada ibu hamil No Waktu Cuci Tangan Sudah Dilakukan Belum Dilakukan Keterangan 1 Sebelum makan 2 Sebelum menyiapakan makanan
76 3 Setelah dari toilet 4 Setelah mengganti pembalut 5 Setelah memegang sampah 6 Setelah batuk atau bersin 7 Setelah beraktivitas diluar rumah 8 Sebelum menyentuh bayi 9 Setelah memegang hewan 10 Sebelum tidur Perawatan untuk rambut dan kuku pada wanita hamil merupakan usaha untuk memastikan kebersihan, kesehatan, serta kenyamanan selama masa kehamilan, guna mencegah masalah kesehatan dan mendukung kesejahteraan sang ibu. Selama kehamilan, perubahan pada hormon dapat berdampak pada kondisi rambut dan kuku. Beberapa wanita hamil mungkin menemukan bahwa rambut mereka tumbuh lebih tebal dan bersinar, sementara yang lain bisa mengalami kerontokan, minyak berlebih, atau bahkan ketombe. Selain itu, kuku pada wanita hamil dapat tumbuh lebih cepat, namun terkadang juga menjadi lemah dan gampang patah. Oleh karena itu, penting untuk merawat rambut dan kuku sebagai bagian dari higiene pribadi selama masa kehamilan. Tabel cheklist perwatan rambut dan kuku pada ibu hamil
77 No Kegiatan Perawatan Ya / Tidak Keterangan 1 Mencuci rambut secara teratur 2 Menggunakan sampo yang sesuai 3 Mengeringkan rambut setelah keramas 4 Menjaga kebersihan kulit kepala 5 Menyisir rambut setiap hari 6 Memotong kuku secara rutin 7 Membersihkan sela-sela kuku 8 Mencuci tangan sebelum dan sesudah memotong kuku 9 Menggunakan alat pemotong kuku yang bersih 10 Tidak menggigit kuku 2. Perawatan Payudara Air Susu Ibu (ASI) adalah sumber nutrisi yang sangat bermanfaat bagi bayi, dengan kandungan yang seimbang dan sesuai untuk mendukung pertumbuhannya. Dengan menerapkan teknik menyusui yang tepat, ASI bisa menjadi satu-satunya makanan bagi bayi sampai usia enam bulan. Anak-anak yang mendapatkan ASI secara eksklusif cenderung memiliki IQ (Indeks Kutipan Kecerdasan) yang lebih
78 tinggi rata-rata 12,9 poin dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mendapatkan ASI saat masih kecil. Pemberian ASI eksklusif terbukti efektif dalam mengurangi masalah pertumbuhan pada bayi, seperti stunting. Stunting adalah masalah kronis akibat kekurangan gizi, di mana asupan nutrisi tidak mencukupi dalam waktu lama sehingga tinggi badan anak menjadi lebih rendah daripada yang seharusnya berdasarkan usianya (Susanti dan Dewi, 2022). Tabel ceklist pemantauan persiapan menyusui No Persiapan Menyusui Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu 1 Minum air putih ≥ 8 gelas/hari □ □ □ □ □ □ □ 2 Mengonsumsi protein (ikan, telur, ayam, tahu, tempe) □ □ □ □ □ □ □ 3 Mengonsumsi sayuran hijau □ □ □ □ □ □ □ 4 Mengonsumsi buah- buahan □ □ □ □ □ □ □ 5 Minum susu ibu □ □ □ □ □ □ □
79 hamil/menyusui 6 Mengonsumsi makanan kaya zat besi □ □ □ □ □ □ □ 7 Istirahat atau tidur cukup (7–9 jam) □ □ □ □ □ □ □ 8 Melakukan aktivitas fisik ringan □ □ □ □ □ □ □ 9 Mengelola stres dengan baik □ □ □ □ □ □ □ 10 Menggunakan bra yang nyaman dan tidak ketat □ □ □ □ □ □ □ Tabel Evaluasi kesiapan menyusui menjelang persalinan No Kegiatan Ya Tidak 1 Mengikuti edukasi tentang ASI dan menyusui □ □ 2 Memahami manfaat ASI eksklusif □ □ 3 Mempelajari posisi menyusui yang benar □ □ 4 Mempelajari teknik pelekatan bayi yang benar □ □ 5 Berdiskusi dengan suami tentang dukungan menyusui □ □ 6 Menyiapkan bra menyusui □ □ 7 Menyiapkan breast pad □ □ 8 Menyiapkan bantal menyusui □ □ 9 Menyiapkan pompa ASI (jika diperlukan) □ □ 10 Mengetahui tempat konsultasi laktasi terdekat □ □
80 Pemijatan payudara merupakan aktivitas memijat payudara secara lembut yang dapat dilakukan setiap hari. Dengan melakukan pemijatan payudara, produksi ASI pada ibu yang menyusui bisa meningkat. Banyak ibu pasca melahirkan memilih pemijatan payudara karena lebih praktis dan terjangkau. Ibu menyusui dapat melakukan pemijatan ini sendiri di rumah dengan menggunakan tangan untuk memberikan tekanan atau melakukan pijatan lembut saat bayi tidak menyusu. Pemijatan payudara lebih mudah dilakukan karena tidak memerlukan bantuan orang lain.
81 Tabel pemantauan harian Tanggal Massage Teknik Z Dilakukan Durasi (Menit) Payudara Terasa Nyaman Tidak Ada Nyeri Dilakukan pada Kedua Payudara □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak □ Ya □ Tidak Tabel Evaluasi mingguan persiapan menyusui
82 No Pernyataan Ya Tidak 1 Saya melakukan massage payudara teknik Z minimal 3 kali minggu ini. □ □ 2 Saya merasa lebih nyaman setelah melakukan massage. □ □ 3 Tidak ada keluhan nyeri selama massage. □ □ 4 Saya menggunakan bra yang nyaman dan tidak ketat. □ □ 5 Saya mengonsumsi makanan bergizi setiap hari. □ □ 6 Saya minum air putih minimal 8 gelas per hari. □ □ 7 Saya memahami manfaat ASI eksklusif. □ □ 8 Saya merasa lebih siap untuk menyusui bayi setelah lahir. □ □ Perawatan puting adalah serangkaian tindakan untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan kondisi puting payudara agar siap digunakan untuk menyusui serta mencegah terjadinya masalah seperti puting lecet, nyeri, infeksi, atau sumbatan ASI. Pada masa kehamilan, perawatan puting bertujuan untuk mempersiapkan ibu
83 menghadapi proses menyusui dengan menjaga elastisitas dan kebersihan puting. Sedangkan pada masa menyusui, perawatan puting bertujuan untuk mempertahankan kesehatan puting dan mendukung kelancaran pemberian ASI. Tabel pemantauan perawatan putting payudara: No Kegiatan Perawatan Puting Ya Tidak 1 Membersihkan payudara dan puting dengan air bersih setiap hari □ □ 2 Tidak menggunakan sabun pada puting □ □ 3 Mengeringkan puting dengan handuk bersih dan lembut □ □ 4 Menggunakan bra yang nyaman dan sesuai ukuran □ □ 5 Memeriksa kondisi puting (normal, datar, atau terbenam) □ □ 6 Tidak mengalami nyeri, lecet, atau iritasi pada puting □ □ 7 Berkonsultasi dengan bidan jika terdapat keluhan pada puting □ □ 3. Perawatan Kulit Stretchmark merupakan permasalahan yang umum dialami ole$h para ibu setelah
84 hamil dan melahirkan baik itu secara normal maupun caesar. Stretchmark bisa menjadi gelap pada multigravida dengan kulit gelap dan hitam. Sekitar 90% wanita memiliki striae gravidarum terutama di trimester terakhir kehamilan. Beberapa stretchmark menghilang seiring dengan berjalannya waktu, sementara yang lain stretchmark tetap sebagai permanen. Adanya stretchmark yang permanen tentu akan membuat ibu khawatir, ibu akan merasa tubuhnya tidak menarik dan terganggu dengan adanya stretchmark yang masih akan membekas bahkan pada kehamilan selanjutnya (Masthura, 2024). Stretchmark disebabkan oleh hipertensi pada kulit. Lapisan dermis yang rusak tersesbut akan membuat kulit memilliki garis-garis berwarna putih yang biasanya terjadi di sekitar paha, pinggul, area betis, bagian lengan atas, bokong dan payudara. Timbulnya stretchmark membuat sebagian orang merasa tidak percaya diri, terutama pada stretchmark yang muncul berada di area yang mudah terlihat seperti di betis dan lengan. Perlu dilakukan perawatan badan pada stretchmark, meskipun stretch mark tidak bisa 100% hilang, setidaknya dapat mengurangi atau menyamarkan stretchmark yang ada di kulit (Maharani, 2022) Tabel pemantauan dan pencegahan stretchmark pada ibu hamil
85 No Kegiatan Ya Tidak 1 Mengoleskan pelembap pada area rentan stretch mark setiap hari □ □ 2 Minum air putih minimal 8 gelas per hari □ □ 3 Mengonsumsi makanan kaya protein □ □ 4 Mengonsumsi buah dan sayur setiap hari □ □ 5 Melakukan aktivitas fisik ringan □ □ 6 Menjaga kenaikan berat badan sesuai anjuran □ □ 7 Tidak menggaruk area kulit yang gatal □ □ Kulit kering adalah kondisi ketika kulit kehilangan kelembapan alami sehingga terasa kasar, bersisik, gatal, kencang, atau mudah terkelupas. Pada ibu hamil, kulit kering dapat terjadi akibat perubahan hormon, peningkatan kebutuhan cairan tubuh, peregangan kulit, serta paparan lingkungan yang menyebabkan kelembapan kulit berkurang. Tanda dan Gejala Kulit Kering Kulit terasa kasar dan tidak halus. Kulit tampak kusam atau bersisik. Timbul rasa gatal, terutama pada perut, payudara, dan paha. Kulit terasa tertarik atau kencang. Pada kondisi tertentu dapat terjadi kemerahan atau pengelupasan ringan.
86 Hiperpigmentasi adalah kondisi kulit yang menjadi lebih gelap akibat peningkatan produksi melanin pada kulit. Pada ibu hamil, hiperpigmentasi terjadi karena adanya perubahan hormonal, terutama peningkatan hormon estrogen, progesteron, dan melanocyte stimulating hormone (MSH) yang merangsang pembentukan pigmen kulit. Kondisi ini merupakan perubahan fisiologis yang umum terjadi selama kehamilan dan biasanya muncul pada wajah (melasma), puting payudara, areola, garis tengah perut (linea nigra), serta lipatan tubuh seperti ketiak dan selangkangan. Tanda dan gejalanya berupa bercak atau area kulit yang berwarna lebih gelap dibandingkan kulit sekitarnya, berwarna cokelat muda hingga cokelat tua, tidak disertai nyeri, dan umumnya akan memudar secara bertahap setelah persalinan (Manik, Hambali, & Ningsih, 2025). 4. Perawatan Gigi dan Mulut Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut bermanfaat untuk menjaga kondisi janin agar tetap tumbuh dan berkembang secara sehat dan sempurna, serta mencegah terjadinya kelahiran bayi dengan berat badan tidak normal atau kelahiran prematur. Selama kehamilan sangat penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sehingga fungsi pengunyahan tetap baik dan asupan gizi tetap baik dan ibu hamil tetap sehat, serta mencegah penyakit gigi dan mulut menjadi lebih parah.
87 Tujuan Pemeriksaan Gigi dan Mulut Menjaga kesehatan gigi dan gusi selama kehamilan. Mendeteksi dini adanya karies gigi, gingivitis, atau infeksi rongga mulut. Mencegah komplikasi penyakit gigi dan mulut yang dapat memperburuk kondisi kesehatan ibu. Memberikan edukasi mengenai cara menjaga kebersihan gigi dan mulut selama kehamilan. Tabel pemantauan Kesehatan gigi dan mulut No Kegiatan Ya Tidak 1 Menyikat gigi minimal 2 kali sehari □ □ 2 Menggunakan pasta gigi berfluor □ □ 3 Membersihkan sela-sela gigi atau menggunakan benang gigi □ □ 4 Mengonsumsi buah dan sayur setiap hari □ □ 5 Mengurangi makanan manis dan lengket □ □ 6 Minum air putih minimal 8 gelas per hari □ □ 7 Memeriksakan kesehatan gigi dan mulut secara berkala □ □ 8 Tidak mengalami gusi berdarah atau bengkak □ □
88 5. Perawatan Organ Intim Kesehatan reproduksi menurut WHO (Word Health Organization) yaitu kondisi dimana sejahtera secara fisik, mental dan social berkaitan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya secara utuh tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan(WHO, 2023) Kesehatan reproduksi membahas beberapa hal tentang kesehatan alat reproduksi seseorang, selain itu kesehatan reproduksi juga berhubungan dengan siklus hidup serta permasalahan yang dihadapi seorang wanita(ayu A, Noor MS & Rahman F, 2017). Tabel Ceklist kebersihan vagina pada ibu hamil No Kebiasaan Penting Menjaga Kebersihan Vagina Ya Tidak 1 Membersihkan area genital dari depan ke belakang setelah BAK/BAB ☐ ☐ 2 Mengeringkan area genital setelah dibersihkan ☐ ☐ 3 Mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari atau saat lembap ☐ ☐ 4 Menggunakan celana dalam berbahan katun yang bersih dan nyaman ☐ ☐
89 5 Segera memeriksakan diri jika mengalami gatal, nyeri, bau tidak sedap, atau keputihan tidak normal ☐ ☐ Pencegahan infeksi pada organ reproduksi adalah serangkaian upaya yang dilakukan untuk mencegah masuk dan berkembangnya mikroorganisme seperti bakteri, jamur, virus, maupun parasit yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada organ reproduksi. Pada ibu hamil, pencegahan infeksi sangat penting karena perubahan hormon dan peningkatan kelembapan area genital dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran reproduksi maupun infeksi saluran kemih. Pencegahan infeksi dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan organ reproduksi, menggunakan pakaian yang bersih dan nyaman, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin selama kehamilan (Sapuri & Nurhayati, 2023). Cara mencegah infeksi pada organ reproduksi yaitu :
90 Kesehatan Mental Ibu Hamil Selama kehamilan, wanita mengalami perubahan fisik, psikis, dan emosi, yang dapat mempengaruhi kesehatan mental ibu (Shahid et al., 2022). Kecemasan selama kehamilan juga terkait dengan kesehatan mental, dan ibu hamil yang mengalami kecemasan yang berlebihan dapat mengakibatkan gangguan mental ibu (Sunarmi et al., 2022). Beberapa faktor yang bisa memicu munculnya gangguan mental pada ibu hamil (Franks et al., 2017) yaitu : Kurangnya dukungan dari suami, orang tua atau keluarga. kritik yang kurang baik dari lingkungan sekitar, Rasa malu atau kurang percaya diri dengan keadaan yang sedang dialaminya dan kurang cukupnya masalah ekonomi dalam keluarganya.
91 Kelas ibu hamil Adalah kegiatan edukasi dan pendampingan bagi ibu hamil yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan psikologis selama kehamilan, persalinan, dan masa setelah melahirkan sehingga Kesehatan mental ibu tetap terjaga. Manfaat kelas ibu hamil untuk Kesehatan mental: 1. Mengurangi stress, kecemasan, dan ketakutan selama kehamilan. 2. Meningkatkan rasa percaya diri 3. Membantu ibu mengenali dan mengelola emosi dengan baik
92 4. Meningkatkan pengetahuan tentang perubahan fisik dan psikologis selama kehamilan 5. Meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan ibu serta janin KELAS IBU HAMIL Nama Ibu : Usia Kehamilan : Tanggal Kelas : Tempat Kelas : Pemantauan Kelas Kesehatan Mental Ibu Hamil Pantau perasaan dan pikiran ibu setiap kali ikut kelas Ibu yang sehat mental, kehamilan lebih bahagia No Pernyataan Ya (Sering) Kadang- kadang Tidak (Tidak Pernah) 1 Saya merasa tenang dan nyaman selama beberapa hari terakhir 2 Saya merasa bahagia menjalani kehamilan 3 Saya tidur cukup dan nyenyak 4 Saya memiliki nafsu makan yang baik 5 Saya dapat mengendalikan rasa cemas atau khawatir 6 Saya memiliki seseorang untuk berbagi cerita dan perasaan 7 Saya meluangkan waktu untuk istirahat dan relaksasi 8 Saya masih menikmati aktivitas yang saya sukai 9 Saya merasa percaya diri menghadapi persalinan
93 10 Saya merasa didukung oleh suami dan keluarga Hal Yang membuat saya bahagia hari ini Hal yang saya khawatirkan hari ini
94 PENGGUNAAN OBAT RASIONAL PADA IBU HAMIL Penggunaan obat selama kehamilan sangat umum, dengan sebagian besar (hingga 97%) wanita hamil mengonsumsi setidaknya satu obat selama kehamilan, dan jumlah yang serupa melaporkan setidaknya satu obat yang digunakan pada trimester pertama. Pemberian resep di luar indikasi (off-label) selama kehamilan juga umum terjadi, mengingat kendala keuangan, pertimbangan praktis, dan kurangnya insentif bagi perusahaan farmasi untuk meminta persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) untuk penggunaan obat yang sudah ada di pasaran selama kehamilan. Selain itu, obat-obatan bebas (OTC) tertentu yang telah dikaitkan dengan efek teratogenik, seperti ibuprofen, digunakan oleh 15%–18% wanita hamil. - PENDEKATAN PENGOBATAN KETKA OBAT-OBATAN DIKETAHUIN BERSIFAT TERATOGENIK DAN KONTRAINDIKASI 1. Pertimbangan penggunaan obat pada kehamilan Pemilihan obat pada ibu hamil harus mempertimbangkan usia kehamilan, dosis, lama penggunaan, serta kondisi tertentu seperti jenis kelamin janin pada obat yang dapat memengaruhi perkembangan seksual. Pada sinusitis bakteri akut, obat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu aman, tidak aman, dan belum memiliki bukti keamanan yang cukup selama kehamilan. Sebagian besar obat simtomatik dinilai aman, namun pseudoefedrin sebaiknya digunakan dalam bentuk dekongestan lokal
95 dibandingkan oral karena dapat mengurangi penyerapan sistemik dan potensi risiko terhadap janin. 2. Penggunaan antibiotik dan obat dengan risiko teratogenic Antibiotik golongan penisilin, sefalosporin, dan klindamisin umumnya aman digunakan selama kehamilan. Sebaliknya, fluorokuinolon dan doksisiklin relatif dikontraindikasikan karena berisiko menyebabkan gangguan perkembangan janin, seperti perubahan warna gigi permanen. Meskipun demikian, pada kondisi tertentu, obat yang berpotensi membahayakan janin tetap dapat digunakan jika manfaatnya bagi keselamatan ibu lebih besar daripada risikonya. Contohnya adalah warfarin pada ibu dengan katup jantung mekanik, karena meskipun berisiko menyebabkan kelainan janin, obat ini lebih efektif mencegah komplikasi serius pada ibu dibandingkan alternatif lain. 3. Pertimbangan penggunaan hidroksiurea pada penyakit sel sabit Hidroksiurea efektif mengurangi komplikasi pada penyakit sel sabit (Sickle Cell Disease/SCD), tetapi data mengenai keamanannya pada kehamilan masih terbatas dan terdapat kekhawatiran terhadap risiko kelainan bawaan serta gangguan pertumbuhan janin. Namun, pada kondisi tertentu, manfaat penggunaan hidroksiurea untuk mencegah komplikasi berat pada ibu dapat lebih besar daripada risikonya. Oleh karena itu, keputusan terapi harus mempertimbangkan keseimbangan antara risiko obat terhadap janin dan bahaya yang dapat timbul apabila penyakit ibu tidak diobati. - OBAT OBATAN YANG DITUNJUKAN UNTUK MANFAAT JANIN o Digoxin Digunakan untuk mengobati takiaritmia janin sehingga membantu menormalkan irama jantung dan mencegah gagal jantung serta hidrops fetalis. o Sotalol Diberikan untuk mengendalikan gangguan irama jantung janin agar fungsi jantung tetap baik selama kehamilan.
96 o Flecainide Digunakan sebagai terapi aritmia janin, terutama bila diperlukan untuk mengembalikan irama jantung normal. o Sirolimus Digunakan pada kasus tumor janin (misalnya teratoma sakrokoksigeal atau rhabdomioma jantung) dan malformasi vaskular untuk menghambat pertumbuhan tumor serta mengurangi risiko gagal jantung dan kematian janin. PEMERIKSAAN KEHAMILAN UNTUK KESEHATAN IBU DAN JANIN Mengapa Pemeriksaan Kehamilan Penting? Kehamilan merupakan masa yang penuh perubahan bagi tubuh ibu dan menjadi periode penting bagi tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin perlu dilakukan untuk memastikan bahwa ibu dan bayi berada dalam kondisi sehat. Melalui pemeriksaan kehamilan, tenaga kesehatan dapat memantau perkembangan janin, mendeteksi risiko komplikasi sejak dini, serta memberikan edukasi yang diperlukan agar ibu dapat menjalani kehamilan dengan aman dan nyaman. Apa yang Dilakukan Saat Pemeriksaan Kehamilan?
97 1. Konsultasi dengan Tenaga Kesehatan Setiap kunjungan biasanya diawali dengan sesi konsultasi. Dokter atau bidan akan menanyakan : 4. kondisi kesehatan ibu 5. riwayat kehamilan sebelumnya 6. obat yang sedang digunakan 7. pola makan 8. keluhan yang dirasakan selama kehamilan. Konsultasi ini sangat penting karena membantu tenaga kesehatan memahami kondisi ibu secara menyeluruh dan menentukan pemeriksaan atau tindakan yang diperlukan. 2. Pengukuran Berat Badan
98 Berat badan ibu akan diperiksa pada setiap kunjungan. Pertambahan berat badan selama kehamilan menjadi salah satu indikator bahwa janin mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang. Berat badan yang terlalu rendah dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, sedangkan kenaikan berat badan yang berlebihan dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan. 3. Pemeriksaan Tekanan Darah Pemeriksaan tekanan darah bertujuan untuk mendeteksi adanya hipertensi atau preeklamsia, yaitu kondisi peningkatan tekanan darah yang dapat membahayakan ibu dan janin. Dengan pemeriksaan rutin, gangguan ini dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. 4. Pemeriksaan Pertumbuhan Janin
99 Tenaga kesehatan akan mengukur tinggi fundus uteri, yaitu jarak antara tulang kemaluan hingga puncak rahim. Pengukuran ini digunakan untuk menilai apakah pertumbuhan janin sesuai dengan usia kehamilan. Apabila ukuran rahim tidak sesuai dengan usia kehamilan, dokter dapat melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi janin. 5. Pemeriksaan Denyut Jantung Janin Mulai usia kehamilan tertentu, denyut jantung janin dapat didengar menggunakan alat khusus. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa janin berkembang dengan baik dan mendapatkan suplai oksigen yang cukup. Mendengar denyut jantung janin juga sering menjadi momen yang membahagiakan bagi ibu dan keluarga karena menjadi tanda kehidupan bayi dalam kandungan.
100 6. imunisasi Tetanus (TT) Imunisasi TT diberikan kepada ibu hamil untuk melindungi ibu dan bayi dari penyakit tetanus. Vaksin ini membantu mencegah tetanus pada ibu serta tetanus neonatorum pada bayi setelah lahir. Manfaat : 9. Melindungi ibu dari tetanus. 10. Melindungi bayi dari tetanus neonatorum. 11. Mendukung kehamilan dan persalinan yang lebih aman. 💉🤰👶 7. Konseling Gizi dan Pola Hidup Sehat Konseling gizi dan pola hidup sehat bertujuan membantu ibu hamil memenuhi kebutuhan nutrisi dan menerapkan kebiasaan sehat selama kehamilan. Melalui konseling ini, ibu mendapatkan informasi tentang makanan bergizi, aktivitas fisik yang aman, istirahat yang cukup, serta cara menjaga kesehatan ibu dan janin.Manfaat:
101 Memenuhi kebutuhan gizi ibu dan janin. Mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Membantu menjaga kesehatan selama kehamilan. 8. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) USG merupakan pemeriksaan menggunakan gelombang suara yang memungkinkan dokter melihat kondisi janin secara langsung di dalam rahim. Melalui USG, dokter dapat mengetahui usia kehamilan, pertumbuhan janin, posisi plasenta, jumlah cairan ketuban, serta mendeteksi kemungkinan kelainan bawaan sejak dini. Nutrisi yang Mendukung Kehamilan Sehat Selain pemeriksaan rutin, ibu hamil perlu memperhatikan asupan nutrisi setiap hari. Makanan bergizi seimbang membantu memenuhi kebutuhan energi ibu sekaligus mendukung pertumbuhan janin. Konsumsi makanan yang mengandung : 12. Protein 13. Karbohidrat 14. lemak sehat 15. vitamin, dan mineral sangat dianjurka 16. sayur
102 17. buah 18. telur 19. daging 20. kacang-kacangan 21. dan susu merupakan sumber nutrisi yang baik selama kehamilan. Suplemen Dan Nutrisi Yang Dibutuhkan Untuk Ibu Hamil Untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi, tenaga kesehatan biasanya memberikan beberapa suplemen penting. 22. Asam folat berperan dalam pembentukan otak dan sumsum tulang belakang janin serta membantu mencegah cacat tabung saraf.
103 23. Zat besi membantu pembentukan sel darah merah dan mencegah anemia selama kehamilan. 24. Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang dan gigi janin serta membantu menjaga kesehatan tulang ibu. Suplemen harus dikonsumsi sesuai anjuran tenaga kesehatan agar manfaatnya optimal. Tanda bahaya yang harus diwaspadai Meskipun sebagian besar kehamilan berlangsung normal, ibu perlu mengenali tanda-tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera. Pengenalan tanda bahaya sejak dini dapat membantu mencegah komplikasi yang lebih serius bagi ibu dan bayi.
104 PERSIAPAN MENJELANG PERSALINAN a. Konsep Persiapan Persalinan • Pengertian Persiapan persalinan adalah proses perencanaan yang dilakukan oleh ibu hamil sejak trimester ketiga untuk menghadapi proses kelahiran dengan lebih siap, baik dari aspek fisik, psikologis, sosial, maupun pengetahuan Rosianna., 2023). Persiapan ini tidak hanya mencakup kesiapan menghadapi proses melahirkan, tetapi juga (Maryunani., 2016) : - Pengenalan tanda-tanda persalinan - Persiapan tempat dan penolong persalinan - Kesiapan mental menghadapi nyeri - Pengetahuan teknik mengurangi nyeri - Kesiapan keluarga sebagai pendukung Pengertian Persiapan Persalinan dalam Konsep Gentle Birth (Noviani & Rosita 2021). Dalam pendekatan road to gentle birth, persiapan persalinan diartikan sebagai upaya edukasi dan latihan untuk menciptakan proses kelahiran yang (Dewi 2023): - Tenang (calm) - Minim trauma - Minim intervensi berlebihan - Lebih alami - Mengutamakan relaksasi ibu Persiapan ini menekankan teknik non-farmakologi seperti: - Teknik pernapasan - Relaksasi tubuh dan pikiran - Yoga prenatal - Penggunaan birthing ball - Pengendalian rasa takut dan cemas • Tujuan Persiapan Persalinan a. Meningkatkan Pengetahuan Ibu tentang Persalinan (Lucia et al. 2015).
105 Tujuan utama persiapan persalinan adalah memberikan pemahaman yang komprehensif kepada ibu mengenai: - Proses fisiologis persalinan - Tanda-tanda awal persalinan (kontraksi, pembukaan serviks, pecah ketuban) - Tahapan persalinan (kala I–IV) - Faktor yang memengaruhi nyeri persalinan - Cara menghadapi nyeri secara alami Peningkatan pengetahuan ini sangat penting karena pengetahuan akan mempengaruhi kesiapan mental ibu. b. Meningkatkan Kesiapan Psikologis (Mengurangi Cemas dan Takut) (SDKI., 2018). Persiapan persalinan bertujuan untuk menurunkan: - Kecemasan - Ketakutan terhadap nyeri - Ketegangan mental - Stres menjelang persalinan Kondisi psikologis yang stabil akan membantu proses persalinan lebih lancar karena hormon stres (adrenalin) dapat mengganggu kontraksi Rahim (Sriwenda & Yulinda 2017). c. Mengurangi Nyeri Persalinan Secara Non-Farmakologi Persiapan persalinan bertujuan agar ibu mampu mengelola nyeri tanpa bergantung sepenuhnya pada obat-obatan (Yuksel et al., 2017). Metode yang digunakan (Dirgahayu et al., 2022): - Teknik pernapasan dalam - Relaksasi otot - Yoga prenatal - Massage ringan - Birthing ball - Musik relaksasi d. Meningkatkan Keamanan Ibu dan Bayi Saat Persalinan Persiapan persalinan bertujuan untuk mencegah komplikasi seperti (Maryunani 2016):
106 - Perdarahan - Hipertensi kehamilan - Infeksi - Persalinan lama Dengan persiapan yang baik, proses persalinan dapat berlangsung lebih aman. e. Meningkatkan Kemandirian Ibu dalam Persalinan Tujuan lainnya adalah membuat ibu (Novitasari., 2020): - Lebih aktif saat persalinan - Mampu mengatur napas dan posisi tubuh - Mampu mengurangi rasa sakit secara mandiri - Tidak panik saat kontraksi f. Menciptakan Pengalaman Persalinan yang Positif (Positive Birth Experience) Persiapan persalinan juga bertujuan agar ibu memiliki pengalaman melahirkan yang (Caron & Markusen., 2016): - Tidak traumatis - Lebih nyaman - Lebih tenang - Memberikan kepuasan psikologis Pengalaman positif ini penting untuk kesehatan mental postpartum. b. Tanda Persalinan • Kontraksi Teratur Kontraksi teratur adalah kontraksi rahim yang terjadi secara berulang, semakin kuat, semakin lama, dan semakin sering, yang menandakan bahwa tubuh sedang mempersiapkan jalan lahir untuk proses persalinan (Maryunani., 2016).
107 Kontraksi ini berbeda dengan kontraksi palsu (Braxton Hicks) karena bersifat: - Teratur (berpola) - Semakin intens - Tidak hilang dengan istirahat - Menyebabkan pembukaan serviks Ciri-ciri kontraksi persalinan: - Muncul secara berkala (misalnya setiap 10 menit → 5 menit → 2–3 menit) - Durasi semakin lama (30 detik → 60 detik → 90 detik) - Intensitas semakin kuat - Menyebabkan nyeri di perut bagian bawah dan pinggang • Pecah Ketuban Pecah ketuban adalah kondisi ketika selaput ketuban yang berisi cairan amnion pecah, sehingga cairan keluar melalui vagina sebelum atau selama persalinan(Kemenkes RI., 2020).
108 Cairan ini berfungsi melindungi janin selama kehamilan ciri-ciri pecah ketuban: - Keluar cairan dari vagina secara tiba-tiba atau merembes - Cairan jernih atau sedikit kekuningan - Tidak dapat ditahan seperti urin - Biasanya tidak berbau (atau bau khas amnion) - Dapat terjadi sebelum kontraksi atau saat persalinan berlangsung Risiko jika ketuban pecah terlalu lama: - Infeksi pada ibu dan bayi - Persalinan harus segera ditangani tenaga kesehatan • Bloody Show Bloody show adalah keluarnya lendir bercampur darah dari vagina, akibat perubahan dan pembukaan serviks menjelang persalinan (Rosianna., 2023).
109 Hal ini terjadi karena: - Serviks mulai menipis (efacement) - Serviks mulai membuka (dilatasi) - Lendir penutup serviks (mucus plug) terlepas Ciri-ciri bloody show: - Lendir kental bercampur darah - Warna merah muda, coklat, atau kemerahan - Keluar sedikit-sedikit - Biasanya muncul sebelum kontraksi aktif Makna klinis: - Tanda awal persalinan sudah dekat - Menunjukkan perubahan serviks - Tidak selalu berarti persalinan langsung terjadi, tetapi dalam 24–48 jam biasanya persalinan dimulai
110 c. Persiapan Fisik • Nutrisi Nutrisi selama kehamilan adalah pemenuhan kebutuhan zat gizi ibu dan janin untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta mempersiapkan tubuh ibu menghadapi persalinan dan masa menyusui (Kemenkes RI., 2020). Pada trimester ketiga, kebutuhan nutrisi meningkat karena pertumbuhan janin berlangsung lebih cepat dan tubuh ibu mempersiapkan energi untuk proses persalinan. Tujuan Pemenuhan Nutrisi : - Menunjang pertumbuhan dan perkembangan janin. - Menjaga kesehatan ibu selama kehamilan. - Mencegah anemia dan kekurangan gizi. - Menyediakan cadangan energi untuk persalinan. - Mendukung pembentukan ASI setelah melahirkan. Nutrisi yang Dibutuhkan - Karbohidrat sebagai sumber energi. - Protein untuk pertumbuhan jaringan janin dan plasenta. - Zat besi untuk mencegah anemia. - Kalsium untuk pembentukan tulang dan gigi janin. - Asam folat untuk pertumbuhan sel dan jaringan. - Vitamin dan mineral untuk menjaga kesehatan ibu dan janin. - Air untuk mencegah dehidrasi dan menjaga volume cairan tubuh. • Senam Hamil Senam hamil adalah latihan fisik yang dirancang khusus bagi ibu hamil untuk menjaga kebugaran tubuh, meningkatkan fleksibilitas otot, serta mempersiapkan tubuh menghadapi persalinan (Haryanti & Artanty., 2018). Senam hamil biasanya dilakukan pada trimester kedua dan ketiga dengan pengawasan tenaga kesehatan atau instruktur yang terlatih.
111 Tujuan Senam Hamil : - Meningkatkan kekuatan dan elastisitas otot panggul. - Melatih teknik pernapasan untuk persalinan. - Mengurangi nyeri punggung dan keluhan kehamilan. - Memperbaiki postur tubuh. - Mengurangi kecemasan menjelang persalinan. - Membantu memperlancar proses persalinan. Manfaat Senam Hamil : - Melancarkan sirkulasi darah. - Mengurangi ketegangan otot. - Meningkatkan stamina dan daya tahan tubuh. - Membantu ibu lebih rileks dan percaya diri menghadapi persalinan. - Mempermudah proses pembukaan dan pengeluaran janin. • Istirahat Cukup Istirahat yang cukup adalah terpenuhinya kebutuhan tidur dan waktu relaksasi selama kehamilan sehingga tubuh ibu memiliki kesempatan untuk memulihkan energi dan menjaga kesehatan fisik maupun mental (SDKI., 2018).
112 Pada trimester ketiga, ibu sering mengalami gangguan tidur akibat pembesaran perut, sering berkemih, nyeri punggung, atau kecemasan menjelang persalinan (Dewi., 2023). Tujuan Istirahat yang Cukup : - Memulihkan energi tubuh. - Mengurangi kelelahan selama kehamilan. - Menjaga kesehatan fisik dan mental ibu. - Membantu pertumbuhan dan perkembangan janin. - Mempersiapkan stamina untuk proses persalinan. Manfaat Istirahat yang Cukup : - Mengurangi stres dan kecemasan. - Menjaga kestabilan tekanan darah. - Meningkatkan daya tahan tubuh. - Membantu fungsi metabolisme dan hormon kehamilan. - Mengurangi risiko komplikasi akibat kelelahan. . d. Persiapan Mental • Mengurangi Ketakutan Ketakutan menjelang persalinan merupakan respons emosional yang sering dialami ibu hamil akibat kekhawatiran terhadap nyeri persalinan, keselamatan diri dan bayi, serta ketidakpastian selama proses kelahiran. Ketakutan yang berlebihan dapat memicu kecemasan dan stres sehingga mengganggu proses persalinan (SDKI., 2018). Dampak Ketakutan pada Persalinan (Dewi., 2023). Kecemasan yang berlebihan dapat menyebabkan peningkatan produksi hormon adrenalin yang mengakibatkan: - Peningkatan tekanan darah. - Peningkatan denyut nadi dan laju pernapasan. - Ketegangan otot. - Penurunan efektivitas kontraksi uterus. - Peningkatan persepsi nyeri persalinan.
113 - Risiko persalinan menjadi lebih lama dan lebih sulit. Selain itu, kecemasan yang tidak teratasi dapat berlanjut hingga masa nifas dan meningkatkan risiko gangguan psikologis postpartum (Sriwenda dan Yulinda., 2017). Upaya Mengurangi Ketakutan : - Memberikan informasi yang benar tentang persalinan. - Meningkatkan dukungan keluarga dan tenaga kesehatan. - Melakukan latihan relaksasi dan pernapasan. - Mengikuti kelas ibu hamil. - Membangun kepercayaan diri ibu dalam menghadapi persalinan. • Teknik Persiapan Teknik persiapan persalinan merupakan berbagai metode yang digunakan untuk membantu ibu hamil mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis agar mampu menghadapi proses persalinan dengan lebih tenang, nyaman, dan percaya diri (Yuksel et al. 2017). Tujuan Teknik Persiapan Persalinan : - Mengurangi ketakutan dan kecemasan. - Membantu ibu mengendalikan nyeri persalinan. - Meningkatkan kesiapan fisik dan mental. - Memperlancar proses persalinan. - Meningkatkan rasa percaya diri ibu. Bentuk Teknik Persiapan Persalinan a. Teknik Pernapasan Latihan pernapasan membantu ibu mengontrol rasa nyeri dan mempertahankan suplai oksigen selama kontraksi. Manfaat: - Mengurangi ketegangan. - Membantu relaksasi. - Mengurangi persepsi nyeri. - Membantu proses meneran. b. Relaksasi
114 Relaksasi dilakukan dengan mengendurkan otot dan menenangkan pikiran untuk mengurangi stres dan kecemasan (Dewi., 2023). Manfaat: - Menurunkan ketegangan otot. - Mengurangi rasa takut. - Membantu ibu lebih tenang saat kontraksi. c. Prenatal Yoga Prenatal yoga mengombinasikan gerakan tubuh, latihan pernapasan, dan meditasi yang aman bagi ibu hamil (Haryanti dan Artanty., 2018). Manfaat: - Meningkatkan fleksibilitas tubuh. - Mengurangi nyeri punggung. - Menenangkan pikiran. - Meningkatkan kesiapan persalinan. d. Birthing Ball (Gym Ball) Birthing ball adalah bola khusus yang digunakan untuk latihan gerakan panggul selama kehamilan dan persalinan (Sheishaa et al. 2019). Manfaat: - Mengurangi nyeri persalinan. - Membantu posisi janin masuk ke panggul. - Meningkatkan kenyamanan ibu. - Membantu mempercepat kemajuan persalinan. • Edukasi Persalinan Edukasi persalinan adalah proses pemberian informasi dan pembelajaran kepada ibu hamil mengenai kehamilan, persiapan persalinan, proses kelahiran, serta perawatan pascapersalinan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapan ibu (Lucia et al. 2015). Tujuan Edukasi Persalinan (Novitasari., 2020) - Meningkatkan pengetahuan ibu tentang persalinan. - Membantu ibu mengenali tanda-tanda persalinan. - Mengurangi kecemasan dan ketakutan. - Membantu ibu membuat keputusan yang tepat saat persalinan.
115 - Meningkatkan kesiapan fisik dan psikologis. Materi Edukasi Persalinan - Tanda-tanda persalinan. - Tahapan persalinan. - Manajemen nyeri persalinan. - Teknik relaksasi dan pernapasan. - Persiapan kebutuhan ibu dan bayi. - Perawatan nifas dan menyusui. Manfaat Edukasi Persalinan Edukasi yang baik dapat meningkatkan pemahaman ibu sehingga lebih siap menghadapi persalinan dan mampu menerapkan teknik yang telah dipelajari. e. Persiapan Administrasi • BPJS BPJS Kesehatan merupakan program jaminan kesehatan nasional yang memberikan perlindungan biaya pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, dan perawatan bayi baru lahir sesuai ketentuan yang berlaku (Kemenkes RI., 2020). Tujuan Persiapan BPJS - Menjamin akses pelayanan kesehatan selama persalinan. - Mengurangi beban biaya persalinan. - Mempermudah proses rujukan jika terjadi komplikasi. - Menjamin ibu mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai standar. Hal yang Perlu Dipersiapkan (Rosita., 2022). - Memastikan status BPJS aktif. - Membayar iuran secara rutin. - Mengetahui fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) yang terdaftar. - Menyiapkan kartu BPJS atau identitas kepesertaan digital. - Memahami alur rujukan apabila terjadi kegawatdaruratan. • Dokumen Penting
116 Dokumen penting persalinan adalah berbagai berkas yang diperlukan untuk proses pendaftaran, pemeriksaan, persalinan, hingga pengurusan administrasi bayi setelah lahir (Kemenkes RI., 2020). Tujuan Menyiapkan Dokumen - Mempercepat pelayanan saat ibu datang ke fasilitas kesehatan. - Memudahkan proses rujukan apabila diperlukan. - Menghindari hambatan administrasi saat persalinan. - Mendukung pencatatan kesehatan ibu dan bayi. Dokumen yang Perlu Dipersiapkan (Rosianna., 2023) 1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) ibu dan suami. 2. Kartu Keluarga (KK). 3. Kartu BPJS Kesehatan. 4. Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). 5. Hasil pemeriksaan kehamilan (USG, laboratorium, dan rekam medis lainnya). 6. Surat rujukan (jika ada). 7. Dokumen pendukung lain yang diminta fasilitas kesehatan. • Buku KIA Buku KIA adalah buku yang digunakan sebagai alat pencatatan, pemantauan, dan edukasi kesehatan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, serta kesehatan anak sejak lahir hingga usia balita (Kemenkes RI., 2020). Tujuan Buku KIA - Mencatat riwayat kesehatan ibu selama kehamilan. - Memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. - Menjadi media komunikasi antara ibu dan tenaga kesehatan. - Memberikan informasi kesehatan bagi ibu dan keluarga. Manfaat Buku KIA (Novitasari., 2020). - Memuat hasil pemeriksaan antenatal care (ANC). - Mencatat kondisi kehamilan dan faktor risiko. - Menjadi pedoman mengenali tanda bahaya kehamilan dan persalinan. - Membantu tenaga kesehatan menentukan tindakan yang tepat saat persalinan.
117 - Menyediakan informasi tentang perawatan bayi baru lahir, imunisasi, dan gizi anak. f. Persiapan Tempat Persalinan • Rumah Sakit Persiapan rumah sakit atau fasilitas kesehatan adalah upaya ibu dan keluarga untuk menentukan tempat persalinan yang aman dan sesuai dengan kondisi kehamilan sebelum hari perkiraan lahir tiba (Kemenkes RI., 2020. Pemilihan fasilitas kesehatan harus mempertimbangkan: - Jarak dari rumah. - Ketersediaan tenaga kesehatan. - Kelengkapan fasilitas pelayanan persalinan. - Kemampuan penanganan kegawatdaruratan dan komplikasi. Tujuan Persiapan Tempat Persalinan - Menjamin ibu memperoleh pertolongan persalinan yang aman. - Mempercepat penanganan apabila terjadi komplikasi. - Mengurangi keterlambatan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. - Meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Hal yang Perlu Dipersiapkan - Menentukan rumah sakit, puskesmas, atau klinik bersalin sejak trimester ketiga. - Mengetahui lokasi dan rute menuju fasilitas kesehatan. - Menyiapkan nomor telepon fasilitas kesehatan. - Mengetahui prosedur pendaftaran dan rujukan. - Menyiapkan fasilitas kesehatan alternatif apabila terjadi keadaan darurat. • Bidan Bidan merupakan tenaga kesehatan profesional yang memiliki kompetensi dalam memberikan asuhan selama kehamilan, persalinan, nifas, dan perawatan bayi baru lahir (Novitasari., 2020). Persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih dapat mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan keselamatan ibu serta bayi (Maryunani., 2016).
118 Tujuan Menentukan Penolong Persalinan - Memastikan ibu mendapat asuhan yang aman dan sesuai standar. - Memudahkan pemantauan kondisi ibu dan janin. - Mempercepat penanganan jika terjadi komplikasi. - Memberikan dukungan fisik dan psikologis selama persalinan. Hal yang Perlu Dipersiapkan - Menentukan bidan atau tenaga kesehatan yang akan membantu persalinan. - Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. - Berkonsultasi mengenai rencana persalinan. - Mengetahui cara menghubungi bidan sewaktu-waktu. - Mendiskusikan kemungkinan rujukan apabila ditemukan faktor risiko. • Transportasi Persiapan transportasi adalah perencanaan sarana kendaraan yang akan digunakan ibu menuju fasilitas kesehatan saat tanda-tanda persalinan muncul atau ketika terjadi keadaan darurat (Kemenkes RI., 2020). Transportasi merupakan bagian penting dari perencanaan persalinan karena keterlambatan mencapai fasilitas kesehatan dapat meningkatkan risiko komplikasi. Tujuan Persiapan Transportasi (Rosita., 2022). - Memastikan ibu dapat segera mencapai fasilitas kesehatan. - Mengurangi risiko keterlambatan penanganan persalinan. - Memudahkan proses rujukan jika diperlukan. - Mendukung keselamatan ibu dan bayi. Hal yang Perlu Dipersiapkan - Menentukan kendaraan yang akan digunakan. - Menyiapkan pengemudi atau anggota keluarga yang siap mengantar. - Mengetahui rute tercepat menuju fasilitas kesehatan. - Menyiapkan biaya transportasi darurat. - Menyimpan nomor telepon ambulans atau layanan kegawatdaruratan. g. Perlengkapan Persalinan Perlengkapan Ibu : • Baju Ibu
119 Baju ibu adalah pakaian yang dipersiapkan untuk digunakan selama persalinan dan masa nifas. Pakaian ini umumnya berbahan lembut, longgar, mudah menyerap keringat, dan nyaman digunakan agar tidak menghambat pergerakan ibu serta memudahkan proses menyusui setelah bayi lahir. Selain berfungsi sebagai pelindung tubuh, baju ibu juga membantu menjaga kebersihan dan kenyamanan selama masa pemulihan pascapersalinan (Rosianna., 2023). • Pembalut Nifas Pembalut nifas adalah pembalut khusus yang dirancang untuk menyerap darah nifas atau lokia yang keluar dari jalan lahir setelah persalinan. Pembalut nifas memiliki daya serap yang lebih tinggi dibandingkan pembalut biasa karena volume pengeluaran darah pada masa nifas relatif lebih banyak, terutama pada hari-hari pertama setelah melahirkan. Penggunaan pembalut nifas membantu menjaga kebersihan area genital dan mengurangi risiko infeksi (Maryunani., 2016). • Peralatan Mandi Peralatan mandi adalah seperangkat alat dan bahan yang digunakan untuk menjaga kebersihan diri selama masa perawatan setelah persalinan. Peralatan ini meliputi sabun, sampo, sikat gigi, pasta gigi, handuk, sisir, dan perlengkapan kebersihan lainnya. Menjaga kebersihan tubuh setelah persalinan sangat penting untuk meningkatkan kenyamanan serta mencegah terjadinya infeksi pada ibu (Kemenkes RI., 2020). Perlengkapan Bayi : • Baju Bayi Baju bayi adalah pakaian yang dipersiapkan untuk digunakan oleh bayi sejak lahir. Baju bayi berfungsi melindungi kulit bayi yang masih sensitif, memberikan kenyamanan, serta membantu mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat. Bahan pakaian bayi sebaiknya lembut, mudah menyerap keringat, dan tidak menimbulkan iritasi pada kulit bayi (Kemenkes RI., 2020). • Popok Popok bayi adalah perlengkapan yang digunakan untuk menampung urine dan feses bayi sehingga kebersihan tubuh bayi tetap terjaga. Popok membantu
120 menjaga kulit bayi tetap kering, mengurangi risiko iritasi kulit, dan memudahkan orang tua dalam merawat bayi baru lahir. Popok dapat berupa popok kain maupun popok sekali pakai yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi (Kemenkes RI., 2020). • Selimut Selimut bayi adalah kain penutup yang digunakan untuk menjaga kehangatan tubuh bayi baru lahir. Bayi memiliki kemampuan yang terbatas dalam mengatur suhu tubuhnya sehingga mudah mengalami kehilangan panas. Oleh karena itu, penggunaan selimut sangat penting untuk membantu mempertahankan suhu tubuh bayi tetap stabil dan mencegah terjadinya hipotermia (Kemenkes RI., 2020). h. Pendamping Persalinan • Peran Suami Peran suami adalah keterlibatan aktif suami dalam memberikan dukungan, perhatian, bantuan, serta pendampingan kepada ibu selama masa kehamilan dan persalinan. Suami merupakan orang terdekat yang memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis ibu hamil (Rosita., 2022). • Dukungan Keluarga Dukungan keluarga adalah bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga kepada ibu hamil dalam bentuk dukungan emosional, informasi, maupun bantuan fisik yang bertujuan membantu ibu menghadapi kehamilan dan persalinan dengan lebih baik (Notoatmodjo (2011). Bentuk Dukungan Keluarga 1. Dukungan Psikologis Keluarga membantu menciptakan suasana yang nyaman dan mendukung sehingga ibu merasa tenang selama kehamilan (Sriwenda dan Yulinda (2017). Bentuk dukungan: - Memberikan perhatian dan kasih sayang. - Mengurangi beban pikiran ibu. - Memberikan dorongan dan motivasi positif. 2. Dukungan Fisik
121 Keluarga membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari ibu agar kondisi fisiknya tetap terjaga menjelang persalinan (Rosita., 2022). Bentuk dukungan: - Membantu pekerjaan rumah tangga. - Menyediakan makanan bergizi. - Membantu ibu mendapatkan waktu istirahat yang cukup. - Mengantar ibu ke fasilitas kesehatan. 3. Dukungan Finansial Dukungan finansial merupakan bantuan keluarga dalam mempersiapkan kebutuhan ekonomi yang berkaitan dengan persalinan (Rosianna., 2023). Bentuk dukungan : - Menyiapkan biaya persalinan. - Menyediakan dana darurat. - Membantu memenuhi kebutuhan ibu dan bayi. 4. Dukungan Pengambilan Keputusan Dalam kondisi darurat, keluarga berperan membantu mengambil keputusan yang cepat dan tepat terkait pelayanan kesehatan yang dibutuhkan ibu (Kemenkes RI., 2020). Bentuk dukungan: - Menentukan fasilitas kesehatan rujukan. - Membantu proses administrasi. - Mendampingi ibu saat memperoleh pelayanan kesehatan. • IMD Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah proses meletakkan bayi di dada atau perut ibu segera setelah lahir dengan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact) selama minimal satu jam atau sampai bayi berhasil menemukan puting susu dan menyusu sendiri. IMD merupakan langkah awal yang penting dalam keberhasilan pemberian ASI dan menjadi bagian dari perawatan bayi baru lahir yang direkomendasikan oleh tenaga kesehatan.
122 Melalui IMD, bayi secara alami akan menunjukkan refleks untuk mencari puting susu ibu, menjilat, merangkak, dan akhirnya menyusu. Proses ini membantu bayi beradaptasi dengan lingkungan luar rahim serta memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi (Kemenkes RI., 2020). Tujuan IMD - Membantu bayi memperoleh kolostrum sebagai imunisasi pertama. - Mempercepat keberhasilan pemberian ASI eksklusif. - Menjaga suhu tubuh bayi tetap stabil. - Memperkuat ikatan kasih sayang (bonding attachment) antara ibu dan bayi. - Mengurangi risiko kematian bayi baru lahir. - Merangsang produksi hormon oksitosin dan prolaktin yang mendukung pengeluaran ASI. • ASI Ekslusif ASI eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air
123 putih, susu formula, madu, bubur, maupun makanan pendamping lainnya, kecuali obat-obatan, vitamin, atau mineral yang diresepkan tenaga kesehatan. ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi selama enam bulan pertama kehidupan. Selain itu, ASI mengandung antibodi dan berbagai faktor imunologis yang membantu melindungi bayi dari infeksi dan penyakit (Kemenkes RI., 2020). Tujuan ASI Eksklusif - Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi secara optimal selama enam bulan pertama kehidupan. - Mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi secara optimal. - Meningkatkan daya tahan tubuh bayi terhadap infeksi. - Mengurangi risiko penyakit seperti diare, infeksi saluran pernapasan, dan alergi. - Mempererat hubungan emosional antara ibu dan bayi. - Mendukung tumbuh kembang fisik, mental, dan kecerdasan anak. • Perawatan Payudara Perawatan payudara adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan kesiapan payudara selama kehamilan hingga masa menyusui. Perawatan ini bertujuan mempersiapkan payudara agar dapat berfungsi secara optimal dalam memproduksi dan mengeluarkan ASI setelah persalinan (Maryunani., 2016). Selama kehamilan, payudara mengalami berbagai perubahan fisiologis akibat pengaruh hormon estrogen, progesteron, dan prolaktin. Perubahan tersebut meliputi pembesaran payudara, peningkatan vaskularisasi, penggelapan areola, pembesaran kelenjar Montgomery, serta mulai terbentuknya kolostrum. Oleh karena itu, perawatan payudara penting dilakukan sejak masa kehamilan, terutama trimester III, sebagai persiapan laktasi (Novitasari., 2020). i. Persiapan Masa Nifas • Perawatan Luka
124 Perawatan luka pasca persalinan adalah upaya menjaga kebersihan dan mempercepat penyembuhan luka pada area genital ibu setelah melahirkan, baik melalui persalinan normal (luka perineum/episiotomi) maupun tindakan operasi seperti sectio caesarea. Perawatan ini bertujuan mencegah infeksi serta mempercepat proses pemulihan jaringan (Maryunani., 2016). Tujuan Perawatan Luka (Kemenkes RI., 2020). - Mencegah terjadinya infeksi pada luka persalinan. - Mempercepat proses penyembuhan jaringan. - Mengurangi rasa nyeri dan ketidaknyamanan. - Menjaga kebersihan area perineum atau luka operasi. Bentuk Perawatan Luka (Maryunani (2016). - Menjaga kebersihan area luka dengan air bersih. - Mengganti pembalut nifas secara teratur. - Mengeringkan area luka setelah BAK/BAB. - Melakukan kontrol ke tenaga kesehatan secara rutin. - Menghindari aktivitas berat yang dapat mengganggu penyembuhan. • Nutrisi Ibu Nifas Nutrisi ibu nifas adalah kebutuhan gizi yang harus dipenuhi oleh ibu setelah melahirkan untuk membantu pemulihan kondisi tubuh, mempercepat penyembuhan, serta mendukung produksi ASI yang optimal (Kemenkes RI., 2020). Tujuan Nutrisi Ibu Nifas (Maryunani (2016). - Mempercepat pemulihan kondisi tubuh setelah persalinan. - Mendukung produksi ASI yang berkualitas. - Meningkatkan daya tahan tubuh ibu. - Mencegah anemia dan kelelahan. Kebutuhan Nutrisi (Kemenkes RI., 2020). - Karbohidrat sebagai sumber energi utama. - Protein untuk perbaikan jaringan tubuh. - Lemak sehat untuk energi tambahan. - Vitamin dan mineral (terutama zat besi, kalsium, dan vitamin A). - Cairan yang cukup untuk mendukung produksi ASI. Hal yang Perlu Dihindari (Maryunani (2016).
125 -Makanan rendah gizi. - Kurang minum air. - Diet ketat setelah melahirkan. • KB Pasca Persalinan KB pasca persalinan adalah upaya penggunaan metode kontrasepsi yang dilakukan setelah ibu melahirkan untuk mencegah atau menunda terjadinya kehamilan berikutnya dalam jangka waktu tertentu, sehingga memberikan kesempatan bagi ibu untuk pemulihan kesehatan serta mendukung optimalisasi pertumbuhan bayi melalui pemberian ASI (Kementerian Kesehatan RI (2020) & (Rosita (2022). Jenis KB Pasca Persalinan (Kemenkes RI., 2020). - KB alami (amenore laktasi/ASI eksklusif). - KB hormonal (pil, suntik, implan). - KB non-hormonal (IUD/spiral). - KB permanen (tubektomi/vasektomi pada kondisi tertentu). ⏳ Waktu Penggunaan (Rosita., 2022) - Dapat dimulai segera setelah melahirkan sesuai kondisi ibu. - Disesuaikan dengan metode persalinan dan kondisi kesehatan.