Created in Canva
Di sebuah hutan yang hijau dan asri, hiduplah Si Kancil yang terkenal cerdik dan seekor Rusa berbadah gagah dengan tanduk bercabang yang indah. Rusa sangat bangga dengan tubuhnya yang tinggi dan tangkas. Setiap kali berlari menyeberangi padang rumput, Rusa suka memamerkan kecepatannya kepada hewan- hewan lain.
Suatu pagi, Rusa melihat Kancil sedang asyik memakan rumput di tepi sungai. Dengan nada sedikit sombong, Rusa menghampiri Kancil.
Suatu pagi, Rusa melihat Kancil sedang asyik memakan rumput di tepi sungai. Dengan nada sedikit sombong, Rusa menghampiri Kancil
"Hai, Kancil! Tubuhmu makin pendek saja. Lihat aku, dengan kaki panjang dan tanduk gagah ini, aku bisa berlari lebih cepat dari siapa pun di hutan ini!" seru Rusa sambil menepuk dadanya.
Kancil hanya tersenyum tenang. Kancil tahu bahwa Rusa memang cepat, tetapi sering kali Rusa terlalu terburu-buru dan tidak memperhatikan sekitarnya.
Kancil hanya tersenyum tenang. Kancil tahu bahwa Rusa memang cepat, tetapi sering kali Rusa terlalu terburu- buru dan tidak memperhatikan sekitarnya. "Kecepatan itu memang berguna, Rusa," jawab Kancil lembut. "Tapi cerdik dan berhati-hati jauh lebih penting daripada sekadar berlari cepat."
Rusa yang merasa tertantang langsung mengajak Kancil berlomba. "Kalau begitu, mari kita buktikan! Siapa yang bisa mencapai pohon beringin tua di seberang hutan lebih dulu, dialah yang paling hebat!"
Kancil menyetujui ajakan tersebut. Esok harinya, seluruh penghuni hutan berkumpul di garis start. Burung Hantu bertindak sebagai wasit dan memberi aba-aba.
Preeet! Suara tiupan daun mengudara, tanda lomba dimulai. Rusa langsung melesat bagaikan angin, meninggalkan Kancil jauh di belakang.
Rusa tertawa bangga dalam hati, merasa kemenangan sudah berada di tangannya. Namun, karena terlalu fokus berlari kencang tanpa melihat jalan, Rusa tak menyadari adanya area lumpur hisap yang tertutup dedaunan kering di tepi jalur utama.
Bles! Kaki Rusa terperosok dalam ke dalam lumpur. Semakin Rusa meronta-ronta untuk keluar, semakin dalam tubuhnya tenggelam.
Tanduk mewahnya yang besar justru tersangkut di dahan pohon rendah di atasnya, membuatnya benar-benar terkunci dan tak bisa bergerak.
Tak berapa lama, Kancil tiba dengan langkah yang tenang dan konstan. Kancil selalu memperhatikan setiap pijakan kakinya sehingga bisa menghindari area berbahaya tersebut.
Melihat Rusa dalam kesulitan, Kancil tidak tertawa atau mengejeknya. Kancil segera mencari batang kayu yang kokoh dan menjulurkannya ke arah Rusa.
"Pegang kayu ini, Rusa! Aku akan meminta bantuan!" seru Kancil. Kancil dengan cepat memanggil beberapa gajah dan kerbau yang berada tak jauh dari sana.
Bersama-sama, mereka menarik Rusa keluar dari jebakan lumpur hingga selamat.
Rusa menundukkan kepalanya, merasa sangat malu atas kesombongannya
"Maafkan aku, Kancil," ucap Rusa dengan tulus. "Aku terlalu membanggakan kecepatanku dan meremehkanmu.
Jika bukan karena kecerdikan dan kebaikan hatimu, aku pasti masih terjebak di sana."
Kancil menepuk pelan kaki Rusa. "Tidak apa-apa, Rusa. Kita semua memiliki kelebihan masing-masin
Yang terpenting, jangan pernah menyombongkannya dan tetaplah saling membantu.
Sejak hari itu, Rusa tidak lagi sombong. Ia dan Kancil menjadi sahabat baik yang saling melengkapi di dalam hutan.
Cerita Tamat