1
Kata Pengantar Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan karunia-Nya modul pembelajaran *Virus* ini dapat disusun dengan baik. Modul ini disusun sebagai bahan ajar untuk membantu peserta didik memahami konsep-konsep dasar tentang virus secara mandiri maupun dengan bimbingan guru. Materi dalam modul ini disajikan secara sistematis, meliputi sejarah penemuan virus, klasifikasi virus berdasarkan ciri-cirinya, proses reproduksi virus melalui daur litik dan daur lisogenik, serta perbedaan antara kedua daur reproduksi tersebut. Penyajian materi dilengkapi dengan kegiatan pembelajaran, latihan, dan evaluasi untuk mendukung pemahaman peserta didik. Melalui modul ini diharapkan peserta didik mampu mendeskripsikan sejarah penemuan virus, menjelaskan klasifikasi virus berdasarkan ciri-cirinya, menjelaskan proses daur litik dan daur lisogenik, serta membedakan kedua daur reproduksi tersebut dengan baik. Penulis menyadari bahwa modul ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan modul ini. Semoga modul ini dapat memberikan manfaat bagi peserta didik maupun guru dalam proses pembelajaran Biologi Singaraja, 2 Juli 2026 Penulis 2
Pada akhir Fase E, peserta didik mampu memahami virus sebagai entitas aseluler dengan mendeskripsikan sejarah penemuan virus, menjelaskan klasifikasi virus berdasarkan ciri-cirinya, menganalisis proses reproduksi virus melalui daur litik dan daur lisogenik, membedakan kedua daur reproduksi tersebut, serta mengaitkan proses reproduksi virus dengan mekanisme infeksi pada sel inang. 1.Bacalah capaian pembelajaran,tujuan pembelajaran,dan petunjuk pengunaan modul sebelum mempelajari materi. 2.Pelajari materi secara berurutan mulai dari sejarah penemuan virus,klasifikasi virus,hingga proses reproduksi virus melalui daur litik dan daur lisogenik. 3.Kerjakan setiap kegaiatan pembelajaran, LKPD dan latihan soal sesuai petunjuk yang diberikan 4.Kerjakan evaluasi secara mandiri untuk mengetahui tingkat pemahaman terhadap materi yang telah di pelajar 3.Deskripsi Singkat Materi Virus merupakan entitas aseluler yang hanya dapat hidup dan berkembang biak di dalam sel makhluk hidup sehingga disebut parasit obligat intraseluler. Virus tersusun atas materi genetik berupa DNA atau RNA yang dilindungi oleh selubung protein. Dalam modul ini, peserta didik akan mempelajari sejarah penemuan virus, klasifikasi virus berdasarkan ciri-cirinya, serta proses reproduksi virus melalui daur litik dan daur lisogenik beserta perbedaannya. 4.Tujuan Pembelajaran. 1.Mendeskripsikan sejarah penemuan virus 2.Menjelaskan KLasifikasi virus berdasarkan ciri-cirinya 3.Menjelaskan proses daur litik dan lisogenik. 4.Membedakan daur litik dan lisogenik. 2.Petunjuk Pengunaan Modul 1.Capaian PembelajranMata Pelajaran :Biologi Kelas :X Judul :Virus Alokasi Waktu :3x45Menit 3
DAFTAR ISI21 32 5 3 4 4 105 196 247 258 PETUNJUK PENGUNAAN MODUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 EVALUASI DAFTAR PUSTAKA 4
Kata vrus berasal dari bahasa latin yaitu venom yang berarti racun. Diartikan demikian karena hampir semua jenis virus adalah penyebab penyakit, baik pada tumbuhan, hewan maupun manusia. Virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel/jaringan hidup sehingga disebut parasit obligat intraseluler. Definisi virus yang lebih lengkap oleh Matthews, yaitu virus adalah satu set dari satu atau lebih molekul genom berupa molekul RNA atau DNA, biasanya dibungkus oleh selubung pengaman berupa protein selubung (coat protein) atau lipoprotein dan hanya dapat memperbanyak diri dalam sel inang yang sesuai dengan memanfaatkan metabolisme, materi, dan energi dari sel inang. Virus dapat didefinisikan sebagai "organisme bukan sel yang mempunyai genom yang hanya dapat bereplikasi dalam sel inang menggunakan perangkat metabolisme sel inang untuk membentuk seluruh komponen virus".APA ITU VIRUS? Kegiatan Pembelajaran 1. 5
Sejarah penemuan virus dimulai di Jerman pada tahun 1883 dengan adanya penyakit yang menimbulkan bintik kuning pada tembakau. Adolf Mayer (1883), seorang ilmuwan yang meneliti menyatakan bahwa penyakit tersebut menulari tembakau tembakau lain. Beliau menyemprotkan getah tanaman yang sakit pada tanaman yang sehat, hasilnya adalah tanaman yang sehat mengalami respon dengan adanya bintik- bintik kuning. Bagaimana Sejarah awal ditemukannya virus? Pada tahun 1892 Dmitri Ivanovski peneliti asal Rusia, menguji hipotesis Mayer guna menemukan penyebab bintik kuning pada daun tembakau. Dmitri mencoba menyaring getah tanaman tembakau yang terinfeksi menggunakan filter bakteri sebelum dioleskan ke daun tanaman tembakau sehat. Hasilnya diperoleh fakta tanaman tembakau sehat tetap tertular. Dengan ini, la menyimpulkan bahwa adal partikel yang lebih kecil lagi dari bakteri yang lolos saring sehingga mampu menular kan penyakit pada tanaman yang sehat Gambar 1."√ Virus: Sejarah, Ciri, Bentuk, Struktur, Replikasi [Lengkap]" https://warstek.com/virus-struktur/ 6
Bagaimana Sejarah awal ditemukannya virus? Pada tahun 1896, seorang ahli mikrobiologi Belanda bernama Martinus Beijerinck (1896) melakukan penelitian dengan mengisolasi penyakit pada tembakau kemudian membiakkannya pada media pertumbuhan bakteri diperoleh fakta bahwa penyakit pada tembakau yang sebelumnya telah diteliti oleh Adolf Mayer dan Omitri Ivanovski tidak dapat tumbuh pada media yang telah dibuat. Partikel tersebut tidak mati ketika dimasukkan ke dalam alkohol, berbeda dengan bakteri yang mati ketika dimasukkan dalam alkohol. Sehingga muncul fakta bahwa makhluk hidup penyebab penyakit pada tembakau tersebut hanya dapat hidup pada makhluk hidup yang diserangnya. Namun, Beijerinck belum dapat menemukan struktur dan jenis partikel penyebab penyakit tersebut. Pada tahun 1935, seorang ilmuwan Amerika yang bernama Wendell Stanley (1935) berhasil mengkristalkan partikel yang menyerang tanaman tembakau tersebut. Partikel tersebut dinamakan TMV (Tobacco Mosaic Virus). Adanya penelitian-penelitian yang dilakukan oleh banyak ilmuwan tersebut, memunculkan fakta bahwa virus berbeda dengan bakteri dan memiliki ukuran yang lebih kecil dari bakteri. Virus dapat hidup pada makhluk hidup lain dan tidak dapat dikembangbiakkan pada media pertumbuhan bakteri. Sejak itu, penelitian tentang virus terus berkembang. Virus lebih dalam dikaji dalam cabang ilmu virologi (Biggs dkk, 2004 dan Campbell dkk, 2009). 7
Bagaimana Sejarah awal ditemukannya virus?Makhluk hidup, seperti hewan dan tumbuhan, umumnya memiliki ciri-ciri mampu melakukan metabolisme, peka terhadap rangsangan, bergerak, tumbuh, serta berkembang biak. Berdasarkan kriteria tersebut, entitas biologis seperti virus, organel, dan plasmid pada awalnya tidak dapat dikategorikan sebagai makhluk hidup secara utuh. Virus tidak memiliki kemampuan untuk bernapas, melakukan metabolisme secara mandiri, maupun mengalami pertumbuhan. Meskipun demikian, virus memiliki salah satu karakteristik makhluk hidup, yaitu mampu memperbanyak diri dengan menggandakan materi genetiknya yang berupa DNA atau RNA. Proses replikasi tersebut tidak dapat dilakukan secara mandiri, melainkan harus memanfaatkan sel inang karena virus tidak memiliki organel yang diperlukan untuk sintesis protein. Seiring berkembangnya ilmu biologi molekuler, diketahui bahwa virus merupakan bagian dari sistem kehidupan. Virus termasuk parasit obligat intraseluler yang berukuran sangat kecil dan mengandung satu hingga ratusan gen. Gen-gen tersebut mampu mengalami mutasi dan berevolusi sebagaimana gen pada organisme hidup lainnya, sehingga virus memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan berkembang. 8
Bagaimana Sejarah awal ditemukannya virus?9
Ciri-Ciri Dan Struktur Virus Virus memiliki ukuran yang sangat kecil. Diameter virus berkisar antara 20-400 nanometer (nm). Oleh karena itu virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Virus bersifat parasit obligat intraseluler, yaitu hanya dapat bereplikasi pada sel inang (hospes) yang hidup. Virus dapat dikristalkan seperti benda mati. Virus bukan termasuk sel (aseluler) karena tidak memiliki bagian-bagian sel seperti membran sel, inti sel, sitoplasma, dan organel- organel sel lainnya Partikel virus yang telah lengkap disebut virion. Secara umum, virus tersusun atas materi genetik berupa DNA atau RNA yang dibungkus oleh kapsid, yaitu selubung protein yang berfungsi melindungi asam nukleat. Pada beberapa jenis virus, kapsid juga diselubungi oleh lapisan lipid yang disebut envelope. Virus memiliki bentuk yang beragam, antara lain berbentuk batang, bulat, peluru, dan huruf T. Untuk mempelajari struktur virus, bakteriofag berbentuk huruf T sering dijadikan sebagai contoh karena memiliki struktur yang lebih mudah diamati. Bakteriofag tersusun atas beberapa bagian, yaitu kepala, leher, ekor, pelat dasar, dan serabut ekor. Setiap bagian tersebut memiliki fungsi yang berbeda dalam proses mengenali, menempel, serta menginfeksi sel inang. Gambar 2. Macam-macam bentuk virus (Sumber: www.pinterest.co.uk/biology4u/ Kegiatan Pembelajaran 2. 10
CIRI-CIRI VIRUS Struktur Tubuh Virus 1.Sruktur tubuh virus secara umum terdiri atas kepala, leher, dan ekor. Bagian kepala mengandung materi genetik berupa asam nukleat yang dibungkus oleh kapsid. Gabungan antara asam nukleat dan kapsid disebut nukleokapsid. Materi genetik tersebut berfungsi membawa informasi yang diperlukan dalam proses replikasi virus. Setiap virus hanya memiliki satu jenis asam nukleat, yaitu DNA atau RNA. 2.Kapsid merupakan lapisan protein yang menyelubungi asam nukleat dan tersusun atas subunit protein yang disebut kapsomer. Selain berfungsi melindungi materi genetik dari kerusakan, kapsid juga berperan dalam proses infeksi dengan membantu virus mengenali dan melekat pada permukaan sel inang. Pada beberapa jenis virus, kapsid juga membantu pelepasan materi genetik ke dalam sel sehingga proses replikasi dapat berlangsung. Gambar 3. Macam-macam bentuk virus (Sumber: www.pinterest.co.uk/biology4u/ 1111
Struktur Tubuh Virus 3.Leher merupakan bagian virus yang menghubungkan kepala dengan ekor. Bagian ini berfungsi sebagai penopang kepala sekaligus menjadi saluran bagi perpindahan materi genetik dari kepala menuju ekor. Struktur leher hanya ditemukan pada virus yang memiliki bentuk kompleks, seperti bakteriofag. 4.Ekor merupakan bagian yang berperan penting dalam proses infeksi karena digunakan untuk berikatan dengan sel inang. Struktur ekor terdiri atas selubung ekor, serabut ekor, dan lempeng dasar. Selubung ekor tersusun atas rangkaian cincin protein yang melindungi bagian ekor. Serabut ekor berfungsi mengenali dan melekat pada reseptor di permukaan sel inang, sedangkan lempeng dasar dilengkapi dengan jarum yang membantu memasukkan materi genetik virus ke dalam sel inang. Pada beberapa jenis virus terdapat lapisan tambahan yang disebut envelope atau selubung. Lapisan ini tersusun atas lipid yang berasal dari membran sel inang dan berfungsi melindungi virus serta mempermudah proses infeksi. Envelope mengandung protein dan fosfolipid dari sel inang, serta protein dan glikoprotein virus yang membentuk tonjolan (spike). Spike berperan dalam mengenali reseptor pada permukaan sel inang sehingga virus dapat menempel dan memulai proses infeksi. 1212
Struktur Tubuh Virus Virus memilki bentuk yang bermacam-macam, seperti batang,bulat,oval (peluru)filamen (benang),polihedral,dan seperti huruf T. Berikut ini Contoh ilustrasi beberapa macam bentuk virus yang di teliti. Gambar 4. Macam-macam bentuk virus (Sumber: www.pinterest.co.uk/biology4u/ 1313
Klasifikasi Hidup Klasifikasi virus tidak sama dengan klasifikasi makhluk hidup. Jika makhluk hidup menggunakan sistem Linnaeus dengan kingdom sebagai tingkat takson tertinggi, maka virus diklasifikasikan berdasarkan sistem yang ditetapkan oleh International Committee on Taxonomy of Viruses (ICTV). Sistem ini membagi virus ke dalam empat tingkatan takson, yaitu ordo, famili, genus, dan spesies. Penamaan ordo menggunakan akhiran -virales, famili menggunakan akhiran -viridae, dan genus menggunakan akhiran -virus. Nama spesies ditulis dalam bahasa Inggris, misalnya obacco mosaic virus,Human immunodeficiency virus 1 dan Rabies virus. Virus dapat dikelompokkan berdasarkan jenis organisme yang menjadi inangnya, meliputi virus alga, virus archaea, virus bakteri (bakteriofag), virus fungi, virus invertebrata, virus mycoplasma, virus protozoa, virus tumbuhan, dan virus vertebrata. Selain itu, virus juga dapat dibedakan berdasarkan morfologinya menjadi virus heliks (batang), virus polihedral (ikosahedral), virus bersampul, dan virus kompleks (Karmana, 2006). Pengelompokan virus juga dapat dilakukan berdasarkan jenis asam nukleat yang dimilikinya, yaitu DNA dan RNA. Perbedaan utama antara keduanya terletak pada jenis basa nitrogen penyusunnya. DNA tersusun atas adenin (A), timin (T), guanin (G), dan sitosin (C), sedangkan RNA tersusun atas adenin (A), urasil (U), guanin (G), dan sitosin (C). RNA tersusun atas basa nitrogen adenin (A), urasil (U), guanin (G), dan sitosin (C). Selain berbeda pada basa nitrogen, DNA dan RNA juga dibedakan berdasarkan jenis gula penyusun dan jumlah rantainya. DNA mengandung gula deoksiribosa dengan struktur beruntai ganda (double helix), sedangkan RNA mengandung gula ribosa dengan struktur beruntai tunggal (single helix). Namun, pada virus terdapat beberapa jenis yang memiliki DNA beruntai tunggal maupun RNA beruntai ganda. Kegiatan Pembelajaran 2. 1414
ssDNA (single- staranded DNA Virus DNA berpilin tunggal memiliki materi genetik berupa DNA beruntai tunggal. Contohnya Parvovirus, Maize streak virus, dan Bean golden mosaic virus. dsDNA (double- staranded DNA) Virus DNA berpilin ganda memiliki materi genetik berupa DNA beruntai ganda. Contohnya Papillomavirus, Adenovirus, dan Herpes simplex virus. ssRNA+ (single- staranded RNa+) Virus RNA berpilin tunggal memiliki materi genetik berupa RNA beruntai tunggal yang dapat langsung berperan sebagai mRNA. Contohnya yaitu Tobacco mosaic virus (TMV), Rubella virus, dan Coronavirus. ssRNA- (single- staranded RNA) Virus RNA berpilin tunggal memiliki materi genetik berupa RNA beruntai tunggal yang membentuk mRNA dengan bantuan enzim RNA polimerase. Contohnya yaitu virus H5N1 dan virus rabies. dsRNA (Double strand RNA) Virus RNA berpilin ganda memiliki materi genetik berupa RNA beruntai ganda. Contohnya yaitu Rotavirus dan virus demam kutu Colorado. ssRNA-RT atau dsRNA-RT (reveerse transcriptase Virus RNA atau DNA yang membentuk mRNA melalui proses transkripsi balik dengan bantuan enzim transkriptase balik. Contohnya yaitu HIV dan virus hepatitis B. Berdasarkan jenis asam nukleat yang dimilikinya, virus dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis. Pengelompokan tersebut disajikan pada Tabel 2.1. Klasifikasi Hidup 1515
Klasifikasi Hidup Tabel di atas menyajikan ringkasan klasifikasi virus berdasarkan jenis asam nukleat. Selanjutnya, amati gambar berikut Klasifikasi Virus Berdasrkan Sampul Keterangan: Tidak memiliki envelope (selubung lipid). Tersusun atas kapsid dan asam nukleat (DNA atau RNA). Keterangan: Memiliki envelope (selubung lipid) Memiliki protein spike/glikoprotein Terdiri atas kapsid dan materi genetik 1.Virus Tanpa Sampul (Non-enveloped) 2. Virus Bersampul (Enveloped) 1616
Klasifikasi Hidup Tabel di atas menyajikan ringkasan klasifikasi virus berdasarkan jenis asam nukleat. Selanjutnya, amati gambar berikut Klasifikasi Virus Berdasrkan Sampul Keterangan: Tidak memiliki envelope (selubung lipid). Tersusun atas kapsid dan asam nukleat (DNA atau RNA). Keterangan: Memiliki envelope (selubung lipid) Memiliki protein spike/glikoprotein Terdiri atas kapsid dan materi genetik 1.Virus Tanpa Sampul (Non-enveloped) 2. Virus Bersampul (Enveloped) 1717
18 18
REPRODUKSI VIRUS Daur Replikasi Virus Virus hanya dapat memperbanyak diri apabila berada di dalam sel inang karena tidak memiliki sistem metabolisme sendiri. Pada permukaan virus terdapat protein reseptor yang berfungsi mengenali dan menempel pada reseptor yang sesuai di membran sel inang. Kecocokan antara kedua reseptor tersebut memungkinkan virus menginfeksi sel inang. Proses perkembangbiakan virus disebut replikasi. Secara umum, replikasi virus berlangsung melalui dua siklus, yaitu siklus litik dan siklus lisogenik, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar Berikut iniGambar 4. Pinterest. (n.d.). Virus life cycle [Gambar]. https://pin.it/3FMzr31L7 Kegiatan Pembelajaran 3. 1919
REPRODUKSI VIRUS 1. Siklus Litik Daur litik terjadi ketika kemampuan pertahanan sel inang lebih rendah daripada kemampuan virus dalam menginfeksi. Virus yang bereproduksi melalui daur litik disebut virus virulen. Pada siklus ini, virus mengambil alih aktivitas sel inang untuk menghasilkan partikel-partikel virus baru. Setelah proses replikasi selesai, sel inang akan pecah (lisis) sehingga virion-virion baru dilepaskan dan dapat menginfeksi sel lain. Seluruh proses pada daur litik berlangsung relatif cepat. Tahapan daur litik meliputi adsorpsi, penetrasi, sintesis dan replikasi, perakitan (maturasi), serta lisis.Pada fase adsorpsi, bakteriofag mulai menempel pada sel bakteri dengan menggunakan ujung ekornya. Virus ini akan melekat pada bagian tertentu di permukaan dinding sel bakteri yang masih dalam kondisi normal atau belum rusak. Bagian khusus pada dinding sel tersebut disebut reseptor, yaitu tempat pengenalan yang memungkinkan virus untuk menempel secara spesifik pada sel inang yang sesuai. a) Fase Adsorpsi b) Fase Penetrasi. Setelah dinding sel bakteri dihidrolisis oleh enzim lisozim, seluruh materi genetik fag kemudian masuk ke dalam sel bakteri (hospes). Selanjutnya, fag mulai mengambil alih dan mengendalikan DNA bakteri sehingga aktivitas sel inang diarahkan untuk mendukung proses pembentukan dan perbanyakan virus. c) Fase Replikasi. Setelah dinding sel bakteri dihidrolisis oleh enzim lisozim, seluruh materi genetik fag kemudian masuk ke dalam sel bakteri (hospes). Selanjutnya, fag mulai mengambil alih dan mengendalikan DNA bakteri sehingga aktivitas sel inang diarahkan untuk mendukung proses pembentukan dan perbanyakan virus. 2020
2. Siklus Lisogenik REPRODUKSI VIRUSSetelah asam nukleat dan protein yang menyusun selubung virus terbentuk, maka akan terbentuk fag baru yang sudah lengkap. Pada tahap ini, satu sel bakteri dapat menghasilkan sekitar ±200 virus baru yang masing-masing memiliki DNA dan kapsidnya sendiri. d) Fase Perakitan. e) Fase Pembebasan. Setelah mencapai fase fag dewasa, sel bakteri akan mengalami lisis atau pecah. Istilah “lisis” inilah yang menjadi dasar penamaan daur tersebut sebagai daur litik. Sel bakteri yang pecah kemudian akan melepaskan virus-virus baru yang siap menginfeksi kembali sel inang lainnya. DNA virus menyatu dengan DNA bakteri di dalam sel inang dan membentuk profag. Pada tahap ini, materi genetik virus menjadi bagian dari DNA bakteri tanpa langsung merusak sel inang. Pada fase ini, profag akan ikut bereplikasi ketika sel bakteri membelah. Akibatnya, setiap sel anakan bakteri akan membawa profag yang telah terintegrasi di dalam DNA-nya. 4. Fase Replikasi (pembelahan) 3. Fase Penggabungan 2. Fase Penetrasi. Setelah berhasil menempel pada sel bakteri, virus memasukan materi genetik berupa DNA kedalam sel bakteri,sedangkan kapsidnyatetap berada diluar sel.1.Fase Adsorpsi dan infeksi dan infeksi Pada fase ini bakteriofag menempel pada reseptor yang spesifik di permukaan sel bakteri.setelah berhasil melekat virus melakukan penetrasi dengan memasukan materi genetiknya kedalam bakteri untuk memulai proses infeksi. 2121
2222
RANGKUMAN Materi ini mengkaji sejarah penemuan virus berdasarkan hasil penelitian para ilmuwan yang berperan dalam perkembangan ilmu virologi. Selain itu, peserta didik mempelajari klasifikasi virus berdasarkan karakteristik yang dimilikinya, seperti bentuk, jenis materi genetik, keberadaan selubung, dan jenis sel inang yang diinfeksi. Materi juga membahas mekanisme reproduksi virus melalui dua siklus, yaitu daur litik dan daur lisogenik. Pada daur litik, virus memperbanyak diri hingga menyebabkan sel inang pecah, sedangkan pada daur lisogenik materi genetik virus berintegrasi dengan DNA sel inang dan bereplikasi bersama sel inang sebelum memasuki fase litik. Melalui pembelajaran ini, peserta didik diharapkan mampu memahami sejarah penemuan virus, mengidentifikasi klasifikasi virus berdasarkan ciri-cirinya, menjelaskan tahapan daur litik dan lisogenik, serta membedakan kedua mekanisme reproduksi virus tersebut. 2323
2424
DAFTAR PUSTAKA Ayuk Ratna dkk, 2021. Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMA. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Ayuk Ratna dkk, 2021. Buku Siswa. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMA. Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia. Campbell, N. A. & J. B. Reece. 2009. Biologi, Edisi Kedelapan Jilid 3 Terjemahan: Damaring Tyas Wulandari. Jakarta: Erlangga. Carrillo, C. M.del M. Cavia and S. Alonso-Torre. 2012. Role of Oleic in Immune System; Mechanism od Action; A Review, Nutricion Hospitalaria. Facultad de Ciencias Universidad de Burgos Spain, 27 (4), 978-990. . Irmaningtyas. 2019. Biologi untuk SMA kelas XI. Jakarta: Erlangga. Pratiwi dkk, 2006. Biologi untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga. 25 Shah, K. d. 2020. Focus on Mental Health During the Coronavirus (COVID-19) Pandemic: Applying Learnings from the Past Outbreaks. 12(3). doi:10.7759/cureus.7405 25