View bimbingan 2 PRPOSAL TESIS KARMILA L012231008 flipbook.
EVALUASI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PERRE-PERRE DI PERAIRAN KABUPATEN SINJAI PROPOSAL PENELITIAN KARMILA L012231008 PROGRAM MAGISTER ILMU PERIKANAN DEPARTEMEN PERIKANAN FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2024
ii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ............................................................................................... i DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii DAFTAR TABEL ..................................................................................................... iii I. PENDAHULUAN .............................................................................................. 1 A. Latar Belakang ............................................................................................ 1 B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 3 C. Tujuan ......................................................................................................... 3 D. Kegunaan .................................................................................................... 3 E. Batasan Penelitian ...................................................................................... 3 F. Kerangka Pikir…………………………………………………………………….. 4 II. METODE PENELITIAN..................................................................................... 12 A. Waktu dan Lokasi Penelitian ....................................................................... 12 B. Alat dan Bahan ............................................................................................ 12 C. Prosedur Penelitian ..................................................................................... 13 D. Parameter Penelitian ................................................................................... 13 E. Analisis Data ............................................................................................... 13 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 17
iii DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Alat dan Bahan .................................................................................................... 12 2. Kreteria Keramahan Lingkungan CCRF/FAO 1995 ............................................. 14
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Usaha perikanan tangkap mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis di wilayah perairan Indonesia, terdapat tiga peranan yaitu sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, sumber ketahanan pangan (protein hewani) dan penyedia lapangan pekerjaan (Imelda et al., 2019). Peranan sektor perikanan tangkap di beberapa negara dapat dilihat dari jumlah produksi perikanan (Mardyani & Yulianti, 2020). Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang anggota masyarakatnya banyak berprofesi sebagai nelayan, terutama dalam usaha penangkapan ikan. Ditinjau dari jenis kegiatan yang dilakukan, nelayan di Sulawesi Selatan tampaknya memiliki kesamaan karakteristik dengan usaha pengkapan ikan di tempat lain yang deferensiasif. Sebagai hasil penelitian Masyuri bahwa usaha penangkapan ikan dilakukan atas dasar kondisi ekologi laut, spesies yang tersedia, tradisi yang dipertahankan, modal usaha, tingkat perkembangan teknologi, kemampuan daya serap pasar, dan faktor-faktor lain. Perikanan tangkap merupakan salah satu cara pemanfaatannya sumber daya kelautan yang mengandalkan jasa kelautan selama ini proses produksi. Dalam melakukan penangkapan ikan usaha, penting untuk mengetahui apakah perusahaan dilakukan mengalami keuntungan, kerugian, atau impas (Amrain et.al. 2019). Produksi ikan di kabupaten sinjai khususnya pada wilayah pesisir diperoleh dari berbagai jenis alat tangkap yang banyak di operasikan oleh pelaku usaha perikanan tangkap. Berbagai macam cara atau teknik penangkapan ikan dilakukan oleh nelayan di Negara ini. Mulai dari menggunakan perahu, jaring, alat pancing, dan alat penangkap ikan lainnya agar dapat menangkap ikan sesuai target yang ditangkap. Salah satu jenis alat tangkap yang di gunakan oleh nelayan di kabupaten sinjai adalah alat tangkap tradisional yaitu perre- perre. Perre-perre merupakan salah satu jenis alat tangkap yang banyak di operasikan nelayan dan terus berkembang. Selain itu Perre-perre merupakan alat tangkap tradisional yang digunakan oleh nelayan serta teknik operasi tradisional dan model struktural membuat umur operasi jaring angkat sangat terbatas Hal ini karena perre-perre dilengkapi
2 dengan mesin penggerak sendiri yang tidak di miliki jenis bagan yang lain, sehingga dapat bergerak dengan cepat dari fishing ground dan kembali ke fishing base. Perre-perre dikelompokkan dalam alat tangkap kategori jaring angkat dan merupakan sebuah modifikasi alat tangkap ikan pelagis. Menurut Permen KP Nomor 36 (2023) Perre-perre sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf e angka 6 merupakan API yang bersifat pasif, dan dioperasikan dengan menggunakan ukuran mata jaring ≥4 (lebih dari atau sama dengan empat) milimeter, panjang rangka ≤3 (kurang dari atau sama dengan tiga) meter, badan jaring ≤10 (kurang dari atau sama dengan sepuluh) meter, ABPI berupa lampu dengan total daya ≤2.000 (kurang dari atau sama dengan dua ribu) watt, dan kapal. Alat tangkap perre-perre banyak di operasikan oleh nelayan di sulawesi selatan terutama nelayan di kabupaten sinjai. Perre-perre jenis alat tangkap ikan yang menggunakan lampu untuk menarik perhatian ikan.Prinsip pengoperasian perre- perre hampir sama dengan bagan yaitu dalam proses penangkapan ikan dengan bagan, atraktor cahaya yang bagan, digunakan bertujuan untuk mengumpulkan ikan yang mempunyai sifat fototaksis positif atau ikan yang ingin mencari makanan di sekitar area lampu. Penggunaan cahaya yang tepat dapat menentukan keberhasilan proses penangkapan ikan selain itu waktu penangkapan sangat ditentukan terhadap waktu ikan mencari makan. Ikan yang lapar akan lebih tertarik terhadap Cahaya dibandingkan ikan yang kenyang (Puspito et.al 2017). Ikan yang bersifat fototaksis positif akan berkumpul di daerah cahaya lampu sehingga memudahkan nelayan dalam melakukan upaya penangkapan (Maulidya & Setyaningrum 2021). Target tangkapan utama perre-perre ialah ikan-ikan pelagis kecil yang memiliki sifat fototaksis positif. Pada umumnya lebih efektif menangkapan ikan pelagis kecil seperti ikan teri (Stolephorus sp.) (Maksur et.al 2019). Ikan teri (Stolephorus sp.) merupakan salah satu komoditas ekonomis yang menjadi target utama dalam penangkapan lift net (Susanto et.al 2017). Adapun faktor lain yang menyebabkan beragamnya hasil tangkapan dari suatu alat penangkapan yaitu adanya pengelompokan antara ikan target dan non target sehingga ikan bermigrasi bisa tertangkap walaupun bagan di operasikan pada musim berbeda hasil tangkapan utamanya tetap ikan teri (Stolephorus sp.), dan ikan sardinella ( Tejo et.al 2020) Light fishing dikenal sebagai metode penangkapan ikan menggunakan alat bantu Cahaya. Menurut ayodhyoa (1981) peristiwa tertariknya ikan terhadap Cahaya ada dua yaitu pertama peristiwa langsung ikan langsung berkumpul hal ini terkait terhadap fototaksis, kedua peristiwa ketika tida ada Cahaya tetapi terdapat
3 plankton dan ikan-ikan kecil berkumpul, kemudian ikan target berkumpul untuk mencari makan. Cahaya menarik ikan pelagis kecil dan ikan demersal hal ini untuk menarik ikan yang lebih jauh untuk merespon Cahaya agar mendekati atau berkumpul di area tangkapan (Lebong et.al 2021). Dari hasil penelitian Isamu dkk. (2021) menemukan bahawa ikan teri sangat cepat dalam merespon Cahaya. Kedatangan gerombolan ikan teri pada sumber Cahaya memerlukan waktu yang relative singkat. Kelimpahan ikan pelagis kecil termasuk ikan teri sangat berfluktuasi karena ikan teri cenderung menempati perairan pesisir yang kondisi lingkungannya lebih dinamis (Irnawati et.al 2018). Adapun menurut Perre-perre menggunakan cahaya lampu bertenaga mesin genset, perre-perre untuk menarik perhatian ikan selain menggunakan cahaya juga menggunakan bunyi dari mesin. Mesin perre-perre akan menimbulkan turbulensi di air atau getaran sehingga hal tersebut memancing ikan pelagis naik ke permukaan mendekati cahaya lampu dan suara. Salah satu yang mempengaruhi keberhasilan dalam pengoperasian alat tangkap adalah penentuan daerah penangkapan ikan (fishing ground) dimana dalam penentuan daerah penangkapan ikan (fishing ground) berpengaruh terhadap jumlah jenis hasil tangkapan (Kusuma et.al 2014). Seperti yang dikemukan oleh Nelwan, Zainuddin, dan Kurnia (2015) bahwa operasi penangkapan dengan menggunakan light fishing dimulai dari saat lampu dinyalakan hingga jarring ditarik. Dan rangka jarring muncul dipermukaan. Selain itu faktor lingkungan sangat mempengaruhi banyak tidaknya jumlah hasil tangkapan seperti kedalaman suatu perairan semakin dalam suatu perairan maka semakin banyak juga jumlah ikan hasil tangkapan dengan asumsi bahwa semakin dalam suatu perairan, maka semakin banyak volume air yang bisa menyebabkan semakin banyak ikan yang berada di dalamnya. Hal ini berkaitan dengan pendistribusian ikan pada suatu perairan secara horizontal dan vertikal sehingga pergerakan ikan dalam habitatnya menjadi lebih luas (Purbayanto, 2004). Gunarso (1985) menyatakan bahwa ikan teri menyukai kedalaman perairan 10 sampai 60 meter dengan suhu antara 26°C sampai 32°C dan salinitas berkisar antara 32 sampai 35 promil, sedangkan makanan ikan teri merupakan plankton. Mengikuti pedoman FAO yang tertuang dalam Kode Etik Perikanan yang Bertanggung Jawab (CCRF). Dalam CCRF ini, FAO menetapkan serangkaian kriteria bagi teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan (Surbakti, 2019). bahwa penerapan perikanan berkelanjutan harus memperhatikan keberlanjutan sumber daya dan lingkungan, kebutuhan sosial, dan kebutuhan ekonomi manusia (lihat FAO, 1995 untuk
4 rincian lebih lanjut tentang sembilan indikator untuk mengukur keramahan alat penangkapan ikan). Sebaliknya, alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan didefinisikan sebagai alat penangkapan ikan yang berpotensi merusak lingkungan dan/atau menyebabkan berkurangnya stok ikan dan sumber daya, berdampak negatif terhadap keanekaragaman hayati, menangkap spesies yang dilindungi atau terancam punah, tidak dapat diterima oleh masyarakat. masyarakat misalnya bertentangan dengan budaya lokal dan peraturan yang ada. (Hanafi dkk. (2019) dan Amarullah dan Sumardi (2018). Menurut Direktorat Produksi Ditjen Perikanan (2000) ramah lingkungan adalah menentukan alat penangkapan ikan yang dalam operasinya produktif dan hasil tangkapannya mempunyai nilai ekonomis tinggi, oleh karena itu perlu diperhatikan apakah alat tangkap yang beroperasi selektif tidak merusak lingkungan dan sumberdaya serta meminimalisir adanya bycatch maupun dischart. Untuk mengetahui apakah alat tangkap perre-perre termasuk ke dalam jenis alat tangkap yang selektif dapat diketahui dengan cara mengetahui komposisi hasil tangkapan perre-perre. Komposisi ini diketahui dari spesies ikan target tangkapan yang diperoleh. Namun sampai saat ini, data mengenai komposisi ikan hasil tangkapan perre-perre masih kurang. Informasi mengenai alat tangkap perre-perre yang beroperasi masih sangat terbatas dan hampir belum ada yang pernah melakukan penelitian soal alat tangkap tersebut. Kondisi lapangan menunjukkan bahwa alat tangkap ini termasuk alat tangkap modern dengan menggunakan alat bantu cahaya. Meskipun ada anggapan bahwa alat tangkap perre-prre tidak ramah lingkungan, namun hal tersebut belum memberikan alasan yang pasti karena anggapan tersebut hanya merujuk dari salah satu aspek dalam kriteria perikanan bertanggung jawab/ramah lingkungan. Kurang lebih ada sembilan kriteria yang harus dipenuhi untuk menentukan bahwa suatu kegiatan perikanan tangkap yang ramah lingkungan. Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya perikanan menggunakan alat tangkap perre-perre diperlukan cara pandang yang benar mengenai keseimbangan lingkungan dan ekosistem perairan. Informasi mengenai tingkat keramahan lingkungan alat tangkap perre-perre memerlukan satu kajian melalui penelitian. penelitian ini melakukan kajian analisis tingkat keramahan lingkungan pada alat tangkap perre-perre dengan menggunakan analisis Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) FAO (1995). Perre-perre sudah berkembang lama di Masyarakat Sulawesi Selatan, merupakan modifikasi dari began perahu, ukuran jauh lebih kecil, tenaga kerja 1-2 org dan memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Menggunakan pemikat Cahaya lampu dengan daya yang cukup besar disertai dengan suara mesin perahu yang
5 dimodifikasi khusus supaya bunyinya besar. Selama ini alat ini belum terdaftar sebagai alat penangkap ikan. Akibat perkembangan yang semakin pesat, sudah menimbulkan masalah social, terjadi bentrokan antara nelayan alat penangkap ikan lain. Akibat konflik nelayan tsb, maka KKP melakukan kajian awal pada tahun 2023 dan mengakomodir pada Kepmen KP no 36 tahun 2023. Perre-perre mimiliki ukuran mata jarring kecil, cenderung tidak selektif sehingga berpotensi mengganggu kelestarian sumberdaya ikan pelagis kecil. Sampai saat ini belum ditemukan hasil penelitian maupun publikasi tentang perre- perre. Oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan dengan mengetahui cara proses pengoperasian alat tangkap perre-perre. Maka sangat relevan jika dilakukan penelitian dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal dan rasional dan outputnya sebagai rekomendasi dan pengambilan kebijakan bagi pemerintah setempat dan juga oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) demi mewujudkan sustainable fishing. B. Rumusan Masalah Beradasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian anatara lain: 1. Bagaimana jumlah dan jenis hasil tangkapan pada alat tangkap perre-perre di perairan kabupaten sinjai 2. Bagaimana prinsip kerja pengoperasian alat tangkap perre-perre di perairan kabupaten sinjai 3. Bagaimana tingkat keramahan lingkungan alat penangkapan perre-perre berdasarkan analisis keramahan lingkungan di perairan kabupaten sinjai C. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1. Menganalisis jumlah dan jenis hasil tangkapan pada alat tangkap perre-perre di perairan kabupaten sinjai 2. Menganalisis prinsip kerja pengoperasian alat tangkap perre-perre di perairan kabupaten sinjai 3. Menganalisis tingkat keramahan lingkungan alat penangkapan perre-perre berdasarkan analisis keramahan lingkungan di perairan kabupaten sinjai D. Kegunaan Penelitian Penelitian kegunaan dari penelitian ini adalah:
6 1. Sebagai bahan informasi tentang variasi hasil tangkapan yang tertangkap dan juga tingkat keramahan lingkungan alat tangkap perre-perre di perairan kabupaten sinjai 2. Sebagai rujukan dan rekomendasi bagi pemerintah khususnya Dinas Kelautan dan perikanan kabupaten sinjai 3. Dapat dijadikan sebagai sumber rujukan bagi peneliti selanjutnya E. Batasan Penelitian Adapun Batasan dari penelitian ini adalah: 1. Penelitian ini hanya membahas jumlah dan jenis hasil tangkapan terhadap prinsip kerja serta tingkat keramahan lingkungan pada alat tangkap perre-perre.
7 F. Kerangka Pikir EVALUASI HASIL TANGKAPAN ALAT TANGKAP PERRE-PERRE DI PERAIRAN KABUPATEN SINJAI Masalah : ❖ Alat tangkap yang tidak selektif ❖ Alat tangkap yang memiliki mobilitas yang sangat tinggi ❖ Belum ditemukan penelitian terkait alat tangkap perre-perre Basis Data Data Primer Data interview, jenis dan jumlah hasil tangkapan, Paremeter oseanografi ( Kedalaman, suhu, salinitas dan arus) daerah penangkapan serta prinsip kerja pengoperasian alat tangkap perre-perre Data sekunder Data yang dikumpulkan melalui penelusuran pustaka, website resmi seperti : http:fishbase.org, Market fisheries Indonesian, dan A field guide for anglers of Indonesia, laporan dari instansi pemerintah atau instasi/lembaga Dinas Kelautan dan Perikanan Kota makassar Analisis Data Excel, Uji Normalitas, Uji T dan Analisis Linear Regresi Berganda Keberlanjutan Alat Tangkap Perre-perre
8 BAB II METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini akan dilaksankan di wilayah perairan Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan, penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – November 2024. Gambar 1. Peta Lokasi B. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini merupakan instrument yang dapat menunjang pada proses pengambilan data penelitian. Adapun alat dan bahan yang digunakan dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Alat dan Bahan No Alat dan Bahan Kegunaan 1. Perre-perre Alat penangkapan ikan 2. Global Positioning System (GPS) Menentukan fishing ground dan fishing base 3. Stop watch Menghitung waktu proses penangkapan ikan 4. Timbangan Menimbang berat hasil tangkapan 5. Alat tulis menulis Untuk mencatat data dilapangan 6. Kamera Dokumentasi penelitian 7. Perangkat komputer Mengelolah dan menganalisis data, dan memvisualisasikan informasi 8. Buku pengenalan ikan untuk pemberian nama ikan dengan mencocokan gambar ikan 9. Hasil tangkapan Sebagai bahan penelitian
9 C. Prosedur Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey terhadap objek penelitian (nelayan, dan alat tangkap perre-perre) di perairan Kabupaten Sinjai. Berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai dan metode penelitian yang digunakan dengan cara wawancara terhadap nelayan, mengikuti operasi penangkapan, dan pengukuran sampel ikan yang dominan tertangkap oleh alat tangkap yaitu ikan teri, serta Teknik pengambilan data yang dilakukan selama penelitian adalah sebagai berikut: 1) Melakukan wawancara responden (nelayan) terkait hasil tangkapan perre-perre serta waktu nelayan dalam mengambil hasil tangkapan 2) Penentuan posisi fishing ground menggunakan Fish fender 3) Mencatat dan mendokumentasikan deskripsi unit penangkapan perre-perre dan proses pengoperasian. 4) Data yang diperlukan meliputi jumlah komposisi jenis dan hasil tangkapan perre-perre setiap hauling. serta data hasil tangkapan dalam satu kali hauling dengan lama waktu penangkapan. 5) Analisis Tingkat Keramahan Lingkungan dilakukan dengan beberapa materi pertanyaan dalam wawancara mencakup kriteria tingkat keramahan lingkungan yang berjumlah 9 kriteria dan 36 sub kriteria yang dapat dikuantifikasikan untuk nilai skoringnya. Berikut penilaian keramahan lingkungan menurut Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) FAO (1995) dilakukan dengan metode quota sampling. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan secara langsung di lokasi pengambilan data dan wawancara terhadap nelayan perre-perre. Data primer meliputi jumlah hasil tangkapan ikan yang dominan yang tertangkap pada alat tangkap perre-perre serta mengikuti proses penangkapan untuk melihat prinsip kerja pengoperasian alat tangkap perre-perre dan melakukan analisis tingkat keramahan lingkungan. Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran pustaka, website resmi seperti : http:fishbase.org, Market fisheries Indonesian, dan A field guide for anglers of Indonesia (William at al., 2013), untuk mencocokkan ikan yang diperoleh serta laporan dari instansi pemerintah atau instasi/lembaga Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sinjai. D. Parameter Penelitian Parameter penelitian ini ialah jumlah dan jenis hasil tangkapan dan tingkat keramahan lingkungan alat tangkap perre-perre dengan melihat faktor oseanografi seperti kecepatan arus, kecerahan, salinitas dan suhu.
10 E. Analisis Data 1. Analisis proses pengoperasian penangkapan Analisis proses pengoperasian penangkapan dilakukan dengan cara mendeskripsikan seluruh proses penangkapan dari awal pengoperasian hingga akhir pengoperasian dan ikan tertangkap dapat dilihat pada gambar dibawah: Gambar 2. Deskripsi prosese pengoperasian alat tangkap perre-perre 2. Persentase dan komposisi jenis hasil tangkapan Persentase hasil tangkapan dianalisis dengan berdasarkan proporsi (%) berat setiap jenis hasil ikan hasil tangkapan. Persentase hasil tangkapan utama, sampingan dan buangan dianalisis dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: P: 𝑛𝑖 𝑁 X 100% Dimana: P = Proporsi jenis ikan hasil yang tertangkap (%) ni = Jumlah hasil tangkapan (Kg) N = Total hasil tangkapan (Kg) 3. Frekuensi kemunculan hasil tangkapan Perhitungan Frekuensi kemunculan (persen) dari setiap jenis ikan bertujuan untuk mengetahui sebaran dan peluang ikan tertangkapn selama total trip penangkapan. Perhitungan frekuensi kemunculan dilakukan dengan persamaan sebagai berikut:
11 𝑭𝒊 = ( 𝑎𝑖 𝐴𝑡𝑜𝑡) 𝒙𝟏𝟎𝟎% Dimana: F = Frekuensi kemunculan (%) i = Jenis ikan 𝑎i = Jumlah trip dimana spesies ke-i tertangkap 𝑎𝑡𝑜𝑡 = Jumlah trip penangkapan Analisis frekuensi kemunculan dimaksudkan untuk mengetahui pola keberadaan ikan di lokasi penelitian berdasarkan trip penangkapan. 4. Produktivitas Penangkapan Perre-perre Produktivitas penangkapan perre-perre dihitung dengan menggunakan rumus Dahle (1989) yang telah di modifikasi sebagai berikut : Prd = C T dan Prd = C P Keterangan : Prd = produktivitas perre-perre (kg/menit) C = Jumlah hasil tangkapan perre-perre (kg) T/P = Lama waktu dihitung dari lampu menyala sampai pada saat pengangkatan ikan 5. Analisis Regresi Linear Berganda Model Analisis Regresi Linear Berganda yaitu untuk mengetahui pengaruh factor oseanografi ( kecepatan arus, kedalaman, salinitas dan suhu) terhadap jumlah dan jenis hasil tangkapan dengan menganalisis data tersebut maka akan terlihat bahwa variable bebas (X) mana ( kecepatan arus, kedalaman, salinitas, dan suhu ) yang sangat berpengaruh nyata terhadap jumlah dan jenis hasil tangkapan, sebagai variable tak bebas (Y). Y = a+b1X1+b2X2+b3X3+b4X4 Keterangan: Y = Jumlah dan jenis hasil tangkapan a = Konstanta b1 = Koefisien regresi kecepatan arus b2 = Koefisien regresi kedalaman
12 b3 = Koefisien regresi salinitas b4 = Koefisien regresi suhu X1 = Kecepatan arus X2 = Kedalaman X3 = Salinitas X4 = Suhu Analisis data secara keseluruhan dilakukan dengan menggunakan program apklikasi statistik SPSS Versi 26.0. Langkah-langkah analisis regresi linear berganda dilakukan untuk menguji pengaruh hubungan antara variable bebas (X1,X2,X3,X4) dengan Variabel terikat (Y). Koefisen Determinasi (R2) untuk menguji variable bebas (X1,X2,X3,X4) secara Bersama-sama (simultan) mempengaruhi variable terikat (Y). 1. Uji F pengujian ini dilakukan untuk menguji pengaruh variable bebas (independent) secara Bersama terhadap variable tak bebas (dependen). Dari data Anova didapatkan nilai signifikan F dimana jika Fhitung lebih kecil dari Ftabel dari taraf uji 0,05 berarti berpengaruh nyata dan jika lebih besar dari 0,05 berarti tidak berpengaruh nyata. 2. Pengujian ini dilakukan untuk menentukan pengaruh tiap variable bebas (independent) terhadap variable tidak bebas (dependen). Dari tabel summary output didapatkan nilai signifikan p (probability) dimana jika nilainya t hitung lebih besar dari nilai t table pada taraf uji 0,25 berarti tidak berbeda nyata. 6. Tingkat Keramahan Lingkungan Analisis Tingkat Keramahan Lingkungan dilakukan dengan beberapa materi pertanyaan dalam wawancara mencakup kriteria tingkat keramahan lingkungan yang berjumlah 9 kriteria dan 36 sub kriteria yang dapat dikuantifikasikan untuk nilai skoringnya. Berikut penilaian keramahan lingkungan menurut Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) FAO (1995) dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 4. Kriteria tingkat keramahan lingkungan CCRF/FAO 1995. No Kriteria Sub Kriteria Skor 1 Mempunyai selektivitas yang tinggi Menangkap > dari 3 varian ukuran berbeda jauh 1 1 Menangkap 3 spesies ikan dengan varian ukuran berbeda jauh 2 Menangkap < 3 dengan ukuran yang relative seragam 3
13 Menangkap ikan satu spesies dengan ukuran yang relative seragam 4 2 Tidak merusak habitat Menyebakan kerusakan habitat pada wilayah yang luas 1 Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit 2 Menyebabkan kerusakan sebahagian pada wilayah yang sempit 3 Aman bagi habitat 4 3 Menghasilkan ikan berkualitas Ikan mati dan busuk 1 Ikan mati, segar dan cacat fisik 2 Ikan mati dan segar 3 Ikan hidup 4 4 Tidak membahayakan nelayan Bisa berakibat kematian pada nelayan 1 Bisa berakibat cacat permanen pada nelayan 2 Hanya bersifat gangguan kesehatan yang bersifat sementara 3 Aman bagi nelayan 4 5 Produksi tidak membahayakan konsumen Berpeluang besar menyebabkan kematian pada konsumen 1 Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan pada konsumen 2 Relative aman bagi konsumen 3 Aman bagi konsumen 4 6 by-catch rendah By-catch ada berapa spesies dan tidak laku di jual di pasar 1 By-catch ada berapa spesies da nada jenis yang laku di pasar 2 By-catch < dari 3 spesies dan mempunyai harga yang tinggi 3 By-catch kurang dari tiga spesies dan mempunyai harga yang tinggi 4 7 Dambak ke bioderversitas Menyebabkan kematian semua mahluk hidup yang merusak habitat 1 Menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat 2 Menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat 3 Aman bagi biodiversitas 4 8 Tidak membahayakan ikan yang dilindungi Ikan yang dilindungi sering tertangkap 1 Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap 2 Ikan yang dilindungi pernah tertangkap 3 Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap 4 9 Dapat diterima secara sosial 1. Biaya Investasi murah 2. Menguntungkan 3. Tidak bertantangan dengan budaya 4. Tidak bertentangan dengan peraturan yang ada Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir pernyataan di atas Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir pernyataan di atas Alat tangkap Memenuhi tiga dari empat butir pernyataan di atas Alat tangkap memenuhi semua butir pernyataan di atas 1 2 3 4
14 Total 36 Hasil penilaian atau skoring pada tiap sub kriteria pada 9 kriteria tingkat keramahan lingkungan unit alat tangkap sero, total jumlahnya digunakan dalam pengambilan keputusan tingkat keramahan lingkungan. Ketentuan kesimpulan tingkat keramahan lingkungan mengacu pada ketentuan CCRF – FAO (1995): Nilai / Skor 1-9 : Sangat tidak ramah lingkungan Nilai / Skor 10-18 : Tidak ramah lingkungan Nilai / Skor 19-27 : Ramah lingkungan Nilai / Skor 28-36 : Sangat ramah lingkungan Hasil pengumpulan data primer dan data sekunder disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang selanjutnya data tersebut dianlisis secara deskriptif. Sehingga untuk menentukan hasil akhirnya yaitu, jumlah total bobot nilai dibagi total responden atau digunakan rumus ketetapan sebagai berikut (Aditya dalam Sima, Yunasfi & Harahap, 2015). 𝑋 = ∑ 𝑋1 − 𝑋2, … 𝑋𝑛 𝑁 = ∑ 𝑋𝑛 Keterangan : Xn : Jumlah total bobot nilai N : Total Responden Data analisi untuk tingkat keramahan lingkungan alat tangkap sero dengan menggunakan 9 kriteria utama berdasarkan FAO (1995). Analisis tingkat keramahan lingkungan dilakukan dengan melihat situasi atau keadaan saat pengoperasian alat tangkap sero serta beberapa pertanyaan dalam wawancara kepada nelayan. Setelah itu ditentukan dengan menjumlahkan secara keseluruhan skor yang diperoleh masing-masing sub kriteria.
15 DAFTAR PUSTAKA [FAO] Food and Agriculture Organization. (1995). Code of Conduct For Responsible Fisheries. FAO. Rome, Italy. 41P. Adiya, 2013. Identifikasi Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan di Desa Bagan Asahan Kecamatan Tanjung Balai. 48-60. Amrain, F. Olii, A. H. Baruwadi, A. S. R. 2019. Productivity and Feasibility of Lift-net Fishery in Kwandang. Department of Aquatic Resources Management. Faculty of Fishery and Marine Science. State University of Gorontalo. Arimoto, T., S.J. Choi., dan Y.G. Choi. 1999. Trends and Perspectives for Fishing Technology Research Towards the Sustainable Development. Proceeding of 5th International Symposium on Efficient Application and Preservation of Marine Biological Resourse. OSU National University. Ayodhyoa AU. Fishing methods. Bogor. Dewi Sri Foundation. 1981;91 Direktorat Jendral Pengelolaan Ruang Laut. 2020. Konservasi Perairan Sebagai Upaya menjaga Potensi Kelautan dan Perikanan Indonesia. URL. https://kkp.go.id/djprl/artikel/21045-konservasi-perairan-sebagai-upaya-menjaga- potensi-kelautan-dan-perikanan-indonesia. Diakses tanggal 26 September 2023. Irnawati, R., Surilayani, D., Susanto, A., Munandar, A., & Rahmawati, A. (2018). Potential yield and fishing season of anchovy (Stolephorus sp.) in Banten, Indonesia. Isamu, K. T., Rais, M., Mustafa, A., Iswandi, M., & Anadi, L. (2021). Analysis For Productivity Improvement In Boat Lift Net Fishing Business Through The Use Of Ufl Plus Technology. Review of International Geographical Education Online, 11(7). Kusuma, C. P. M., Boesono, H., & Fitri, A. D. P. (2014). Analisis hasil tangkapan ikan teri (Stolephorus sp.) dengan alat tangkap bagan perahu berdasarkan perbedaan kedalaman di Perairan Morodemak. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology, 3(4), 102-110. Lebong, P., Najamuddin, A. M., & Marimba, A. (2021). Fishing Effectiveness of Fixed Lift Nets with Multi Color LED Combinations. International Journal of Environment, Agriculture and Biotechnology, 6, 4. Maskur, M., Rumpa, A., Supryady, S., Najih, M. R., & Hawati, H. (2019). Analisis Kelayakan Usaha Pengoprasian Alat Penangkap Ikan (Api) Bagan Perahu Di Tempat Pelelangan Ikan Desa Lamurukung Kecamatan Lamuru Kabupaten Bone. Aurelia Journal, 1(1), 39-42. Martasuganda, S. 2005. Set Net Serial Teknologi Penangkapan Ikan Berwawasan lingkungan Departemen PSP. FIKP IPB Bogor. Maulidya, A., & Setyaningrum, E. W. (2021). Pengaruh Parameter Oseanografi Terhadap Ikan Hasil Tangkapan Pada Alat Tangkap Bagan Tancap Di Perairan Muncar Kabupaten Banyuwangi.
16 Monitja, D. 2001. Pemanfaatan Sumber daya Pesisir Dalam Bidang Perikanan Tangkap. Prosiding Pelatihan Pengelolaan Agrisep 2(15) 2014 17 Wilayah Pesisir Terpadu. Pusat Kajian Sumber daya Pesisir dan Laut. Institut Pertanian Bogor. Najamuddin. 2012. Rancang Bangun Alat Penangkapan Ikan. Arus Timur. Makassar. Nazir, M. 2009. Metode Penelitian. Ghalia Indonesia. Jakarta. Nelwan, AF, Zainuddin, M., & Kurnia, M. (2015). Produktivitas Perikanan Pelagis Besar dengan Menggunakan Handline Berbasis di Kabupaten Majene. . Perikanan Laut: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut, 6(2), 129-142. doi: https://doi.org/ 10.29244/jmf.6.2.129-142 Pahlefi, M., Reza, F. & Hidayat, Z. (2017). Implementasi Kebijakan Larangan Alat Tangkap Cantrang Di Kabupaten Rembang. Journal of Public Policy and Management Review, 6 (2) : 200-214. Purbayanto. 2004. Performa Selektivitas Alat Tangkap Bagan Rambo di Perairan Barru Selat Makasar. Penelitian Perikanan Makasar 10:24-30. Puspito, G., Ahmad, S., & Sururi, M. (2017). Selection of lamp reflector construction and fishing time of lift net. The Egyptian Journal of Aquatic Research, 43(2), 155-160. Surbakti, J. A., & Sir, R. W. (2019). Tingkat Keramahan Lingkungan Alat Tangkap Bagan di Perairan Oesapa Teluk Kupang, Nusa Tenggara Timur (Level of Environmental Fishing Gears on Oesapa Waters of Kupang, East Nusa Tenggara). Saintek Perikanan: Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology, 15(1), 41- 45. Susanto, A., Irnawati, R., & Syabana, M. A. (2017). Fishing efficiency of LED lamps for fixed lift net fisheries in Banten Bay Indonesia. Turkish Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 17(2), 283-291. Tejo, S. B. A., Supriadi, D., Rostika, R., & Khan, A. (2020). The environmental friendliness level of boat bagan fishing gear in Belitung Regency. Asian Journal of Fisheries and Aquatic Research, 8(3), 17-27.