Implementasi Srikandi Putri Cantik dan QR Code Apoteker…

Makalah ini disusun oleh apt. Dewi Athiah Nurrahmah, S. Farm. dari UPTD Puskesmas Tanjung Raman, Kota Prabumulih, tahun 2026. Berisi program Srikandi Putri Cantik (pembinaan kader kesehatan untuk edukasi antibiotik) dan QR Code Apoteker Pintar pada etiket obat sebagai media informasi digital. Mencakup latar belakang, pokok permasalahan, tujuan, tinjauan pustaka, langkah inovasi, dan hasil yang…

Makalah ini merupakan karya inovasi pelayanan kefarmasian yang disusun oleh apt. Dewi Athiah Nurrahmah, S. Farm. dari UPTD Puskesmas Tanjung Raman, Kota Prabumulih, tahun 2026. Dokumen ini ditujukan bagi tenaga kesehatan, kader kesehatan, dan masyarakat umum sebagai media edukasi dan inovasi di Puskesmas.

Bagian pendahuluan menjelaskan perubahan paradigma pelayanan kefarmasian dari drug oriented menjadi patient oriented. Latar belakang menguraikan masalah penggunaan antibiotik yang tidak tepat, risiko resistensi antimikroba (AMR), dan data WHO tentang kematian akibat AMR. Pokok permasalahan mencakup rendahnya pemahaman masyarakat, penghentian antibiotik sebelum waktunya, dan keterbatasan waktu edukasi di fasilitas kesehatan.

Bab Isi memuat tinjauan pustaka berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas. Karya inovasi terdiri dari dua program utama: Srikandi Putri Cantik (pembinaan kader kesehatan untuk edukasi antibiotik) dan QR Code Apoteker Pintar pada etiket obat untuk obat luar dan obat dengan teknik khusus seperti tetes mata, salep mata, inhaler, insulin, dan supositoria.

Langkah-langkah inovasi Srikandi Putri Cantik meliputi rekrutmen kader, pelatihan intensif, distribusi media cetak, sosialisasi ke masyarakat, dan monitoring. Inovasi QR Code Apoteker Pintar mencakup pembuatan konten edukasi (poster/video), pembuatan QR Code, integrasi pada etiket biru, edukasi saat penyerahan obat, dan evaluasi penggunaan melalui analitik akses tautan.

Metode yang digunakan meliputi edukasi dan penyuluhan, demonstrasi cara penggunaan obat, pendampingan kader, digitalisasi informasi, serta observasi dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, wawancara, dan monitoring penggunaan QR Code. Indikator keberhasilan meliputi peningkatan pemahaman masyarakat, kepatuhan penggunaan obat, dan akses terhadap informasi obat.

Hasil inovasi memberikan manfaat bagi Apoteker dalam penyampaian informasi obat yang efektif, bagi Puskesmas dalam transformasi digital dan peningkatan mutu pelayanan, serta bagi masyarakat melalui perluasan jangkauan edukasi kesehatan. Dokumen ini diakhiri dengan kesimpulan dan daftar pustaka.