Buku ini ditulis oleh seorang guru SD sebagai hasil dari kegiatan literasi. Buku ini mengajak pembaca untuk mengenal Pulau Karimunjawa tidak hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga melalui kebudayaan masyarakatnya. Buku ini cocok untuk pembaca umum, pelajar, dan siapa saja yang tertarik pada budaya dan kehidupan masyarakat pesisir.
Buku Harmoni Budaya di Antara Ombak adalah buku nonfiksi yang ditulis oleh Nur Hidayah, S.Pd.I, seorang guru SDN 2 Warukaranganyar. Buku ini lahir dari kegiatan Nubar Samudra Literasi Hayati Karimunjawa yang diselenggarakan oleh Tim AGPG Grobogan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan. Buku ini ditujukan untuk pembaca umum yang ingin mengenal Pulau Karimunjawa dari sisi budaya dan keseharian masyarakatnya, bukan hanya sebagai destinasi wisata.
Buku dibuka dengan kata pengantar yang berisi ucapan terima kasih penulis kepada berbagai pihak yang mendukung penulisan. Penulis menyadari bahwa buku ini masih memiliki kekurangan dan mengharapkan masukan dari pembaca. Kata pengantar ditandatangani di Purwodadi pada September 2026.
Bab pertama berjudul Karimunjawa, Kepulauan yang Menyimpan Cerita. Bab ini mengajak pembaca melihat Karimunjawa sebagai ruang pertemuan berbagai manusia, gagasan, dan kebiasaan. Penulis menyebutkan kehadiran komunitas Bugis di Kemujan sebagai contoh pemertahanan identitas budaya. Keragaman tampak dalam bahasa, bentuk rumah, makanan, cara bekerja, seni, dan upacara. Laut dan perahu dijelaskan sebagai ruang kehidupan dan pengetahuan, bukan sekadar pemandangan.
Bab kedua membahas tradisi Barikan. Tradisi ini merupakan ruang berkumpul warga, doa bersama, arak-arakan, dan makan bersama. Sumber dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebut Barikan Kubro sebagai tradisi turun-temurun yang berkaitan dengan rasa syukur dan penyambutan musim baratan. Dokumentasi ANTARA Foto memperlihatkan warga membawa buceng atau tumpeng kecil. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari latar belakang suku yang beragam dan mengandung nilai gotong royong serta…
Bab ketiga berjudul Suara Rebana dan Semangat Masyarakat. Bab ini menjelaskan peran rebana sebagai pengiring dalam tradisi Barikan. Penulis menyoroti bahwa seni menjadi pengalaman bersama ketika warga dari berbagai usia memainkannya. Pelestarian seni dapat dilakukan melalui latihan rutin, kegiatan sekolah, sanggar, dokumentasi video, dan pembelajaran berbasis proyek. Teknologi digital juga disebut sebagai alat untuk mendokumentasikan musik dan cerita budaya.
Bab keempat membahas Rumah Bugis sebagai identitas yang beradaptasi. Penelitian Titiek Suliyati dalam Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi disebut sebagai sumber. Rumah Bugis di Desa Kemujan menjadi bentuk pemertahanan budaya sekaligus penyesuaian dengan lingkungan setempat. Penulis menekankan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lama secara persis, tetapi nilai dan pengetahuan yang mendasarinya tetap dipahami dan diteruskan.