Literasi Digital Orang Tua

Penasihat: Abdul Mu’ti Pengarah: Suharti Rusprita Putri Utami Penanggung Jawab: Agus Mohammad Solihin Penulis: Khelmy Kalam Pribadi Fauziah Mona Atalina Indra Budi Setiawan Penelaah: Shara Zakia Nissa Lany Fitriana E C Anom Haryo Bimo Siti Jenab Lilis Hayati Diah Kas Budiarti Diana Damey Dina Ayu Mirta Hendarman Yulaika Ernawati Nina Purnamasari Misyanto Meliyanti Muhammad Arsyad, SDN 050 Tarakan, Kota Tarakan Lalu Bambang, SDN Sadah, Janapria, Kab. Lombok Tengah Yayuk Supatmi, SDN Tenggulunan, Kab. Sidoarjo Norce Hattu, SDN 30 Maluku Tengah, Kab. Maluku Tengah Patrisius Nono, SDN Padedewatu, Kab. Sumba Barat Nani Nikmatun, SDN 1 Gebang Kulon, Kab.Cirebon Sugiyanto, SDN Kramat Jati 07, Kota Jakarta Timur Rusyadi Adi Wibowo, SDN Gang Aut, Kota Bogor Dody Dadang, SDN Sukamaju Baru 1, Kota Depok Citra Dewi, SDN Parapat 1, Kota Tangerang Joko AwalSDN Mustikajaya VII, Kota Bekasi Rizki Arlini, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Penyunting Bahasa: Sulastri Ilustrator dan Penata Letak: Rayi Citha Ivan Denata Tim Konsultan: Azaki Khoirudin Rita Pranawati Sifa Lutfiyani Atiqoh Tim Sekretariat: Gigih Anggana Yuda Kosasih Ali Abu Bakar Jufri Rahmanto Diterbitkan oleh: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Dikeluarkan oleh: Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270 (021) 5746121, Faksimile (021) 5746121 https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id ii

Kata Pengantar Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak-anak kita belajar, berkomunikasi, bermain, dan memahami dunia. Jika dahulu kita mengenal surat dan telepon rumah sebagai sarana komunikasi utama, kini anak-anak kita lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang serba digital. Mereka tumbuh sebagai digital native— generasi yang sejak kecil akrab dengan gawai, internet, dan berbagai platform digital. Situasi ini menghadirkan peluang besar bagi tumbuh kembang anak, sekaligus tantangan baru bagi keluarga bersama satuan pendidikan, masyarakat, dan media sebagai kesatuan catur pusat pendidikan. Dunia digital menyediakan sumber belajar yang tak terbatas, ruang kreativitas yang luas, serta sarana interaksi yang memperkaya pengalaman anak. Namun di sisi lain, ada risiko yang tidak dapat diabaikan: paparan konten kekerasan dan seksual, perundungan siber (cyberbullying), kecanduan gawai, eksploitasi anak, penipuan digital, hingga informasi palsu yang dapat mempengaruhi emosional dan kesehatan mental anak. Tantangan ini semakin menuntut peran orang tua dan keluarga. Sebab, sejatinya tanggung jawab pendidikan yang pertama dan utama adalah orang tua dan keluarga. Buku Seri Penguatan Karakter: Literasi Digital bagi Orang Tua ini hadir sebagai panduan praktis bagi Ayah dan Bunda Hebat untuk mendampingi anak. Pendampingan orang tua merupakan bentuk perlindungan utama yang memastikan hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang secara optimal. Literasi digital bagi orang tua bukan dimaknai sebagai kemampuan teknis semata, tetapi sebagai kecakapan untuk memahami perilaku digital anak, mengenali risikonya, mengatur aksesnya, dan menciptakan lingkungan digital yang aman, positif, dan mendukung penguatan karakter. Semoga buku ini dapat menjadi teman diskusi yang menguatkan Ayah dan Bunda dalam mendidik generasi digital yang cerdas, sehat, dan berkarakter. Selamat membaca, Ayah dan Bunda Hebat. Mari kita dampingi anak- anak dengan penuh cinta, kesadaran, dan harapan. Jakarta, 2 Desember 2025 Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. iii

Daftar Isi Kata Pengantar iii Daftar Isi iv I. Mengenal Dunia Teknologi Digital 1 II. Alarm Bahaya! Mengenal Dampak Gawai Berlebihan 7 pada Anak (Fisik, Mental, dan Sosial) III. Langkah Praktis: Deteksi Dini dan Pencegahan di Rumah 17 IV. Tip Praktis Orang Tua Hebat 28 iv

5 I. Mengenal Dunia Teknologi Digital A. Pentingnya Memahami Dunia Digital Ayah Bunda Hebat, pernahkah kita menyadari betapa cepat dunia berubah? Dulu kita menunggu kabar lewat surat atau telepon rumah, kini cukup dengan sentuhan jari di ponsel, kita bisa mengetahui berita dari mana saja, kapan saja. Bukankah ini bukti betapa pesatnya perkembangan teknologi digital? 1 Teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi, belajar, bekerja, dan berbelanja. Anak- anak pun tumbuh di tengah dunia serba digital, akrab dengan gawai, internet, dan aplikasi sejak dini.

6 Fenomena ini melahirkan generasi digital native. Generasi dimana anak-anak tumbuh di tengah kemajuan teknologi dan sangat akrab dengan perangkat digital, bahkan sering kali lebih mahir dari orang tuanya. Mereka belajar cepat, mencari informasi lewat internet, dan aktif di media sosial. Karena itu, orang tua perlu memahami dunia digital. Bukan berarti harus menjadi ahli, tetapi mampu memanfaatkannya dengan bijak. Inilah yang disebut literasi digital, yaitu kemampuan memahami, menggunakan, dan menciptakan informasi dari berbagai sumber digital. Bagi orang tua, literasi digital berarti: • Memahami cara kerja perangkat digital dan internet; • Mengetahui potensi manfaat teknologi digital untuk pendidikan dan perkembangan anak; • Mengenali risiko dan bahaya yang mungkin muncul di dunia digital; • Mampu membimbing anak agar menggunakan teknologi dengan bijak, aman, dan bertanggung jawab; serta • Menjadi contoh yang baik dalam menggunakan teknologi. 2

7 B. Dampak Positif Perkembangan Digital Dunia digital itu ibarat gudang ilmu dan hiburan yang sangat besar. Banyak sekali manfaat positif yang bisa anak-anak kita dapatkan, antara lain, sebagai berikut. Sumber Belajar yang Kaya Anak bisa belajar banyak hal dari internet. Mau belajar bahasa asing, gerakan senam, atau cara membuat robot? Semuanya ada! Akses Informasi Cepat Anak bisa mencari tahu jawaban untuk rasa penasarannya dengan cepat, misalnya tentang hewan langka, luar angkasa, dan sejarah. Melatih Kreativitas Banyak aplikasi atau platform yang bisa membantu anak menyalurkan bakat, seperti membuat gambar digital, video pendek, dan musik. Hiburan yang Beragam Dari permainan edukasi sampai film kartun, banyak pilihan hiburan yang bisa dinikmati anak secara positif. 3 7

8 Konten Negatif Anak bisa saja dengan tidak sengaja melihat atau terpapar konten yang tidak pantas, seperti kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, dan judi online (judol). Penipuan dan Kejahatan Online Ada banyak orang jahat yang mencoba menipu atau bahkan melakukan kejahatan melalui internet. Anak bisa jadi sasaran empuk jika tidak hati-hati. C. Dampak Negatif Perkembangan Digital Di balik segudang manfaat, dunia digital juga menyimpan beberapa risiko yang perlu kita waspadai, yakni sebagai berikut. Kecanduan Gawai atau Internet Penggunaan gawai yang berlebihan bisa membuat anak kecanduan. Akibatnya, mereka jadi malas belajar, kurang tidur, atau jadi mudah marah. Perundungan di Dunia Maya atau Perundungan Siber (Cyberbullying) Anak bisa jadi korban atau bahkan pelaku perundungan di dunia maya. 4

9 Informasi Palsu (Hoaks) Banyak berita atau informasi yang tidak benar beredar di internet. Anak-anak perlu diajari untuk tidak mudah percaya dan selalu mengecek kebenarannya. Risiko Privasi Anak-anak mungkin tanpa sadar membagikan informasi pribadi mereka (nama lengkap, alamat, dan foto) yang bisa disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Gangguan Kesehatan Paparan layar gawai yang terlalu lama dan dekat bisa merusak mata, menyebabkan mata lelah dan kering, atau bahkan gangguan penglihatan jangka panjang pada anak-anak. Keterlambatan Tahapan Perkembangan Anak • Keterlambatan bicara (speech delay) disebabkan kurangnya interaksi langsung anak dengan orang tua atau lingkungan. • Integrasi sensorik terganggu. Perkembangan motorik dan sensorik anak bisa terhambat karena kurang stimulasi fisik sehingga membuat anak menjadi malas bergerak (mager). 5

10 D. Prinsip Pelindungan Anak Prinsip pelindungan anak menurut Kemen-PPPA didasarkan pada empat prinsip utama dari Konvensi Hak Anak, yaitu: 1. Non-Diskriminasi 2. Kepentingan terbaik bagi anak 3. Hak hidup, tumbuh, dan berkembang. 4. Penghargaan terhadap pendapat anak. Hak anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan dasar, seperti sandang, pangan, dan papan, tetapi juga mencakup perkembangan holistik anak-fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual. Pada era digital, pemenuhan hak tersebut menghadapi tantangan baru, sekaligus peluang baru. Dunia digital menawarkan kesempatan belajar, berkreasi, dan besosialisasi dengan lebih luas. Namun, di sisi lain terdapat risiko yang mengancam, seperti paparan konten negatif, cyberbullying, eksploitasi, hingga kecanduan gawai. Mari, Ayah dan Bunda kita memastikan tumbuh kembang optimal anak kita di lingkungan digital yang aman. 6

11 A. Dampak Negatif Penggunaan Gawai (Gadget) yang Tidak Diatur Penggunaan gawai pada anak kini tak terelakkan. Meski bermanfaat untuk belajar dan hiburan, tahukah Ayah bunda bahwa internet juga penuh risiko seperti kekerasan, pornografi, judi online, hoaks, hingga ideologi ekstrem yang mudah tersebar lewat media sosial, video, gim, dan percakapan daring. Konten berbahaya ini bisa memengaruhi perkembangan anak, seperti berikut: II. Alarm Bahaya! Mengenal Dampak Gawai Berlebihan pada Anak (Fisik, Mental, dan Sosial) 7

12 Kecemasan dan Rasa Takut Berlebih Depresi dan Perasaan Tidak Berharga Trauma Mati Rasa Emosional (hilangnya sensitivitas setelah sering terpapar konten tertentu) Stres Kronis dan Kelelahan Mental Rasa Ingin Tahu Seksual Dini Anak menjadi pendiam; menghindari interaksi sosial; tidak mau sekolah; mudah panik; terlihat takut. Kehilangan motivasi diri; tidak berminat bermain; sulit fokus belajar; menarik diri dari keluarga, teman, dan orang sekitar. Sering mimpi buruk; ketakutan berlebihan saat melihat berita/konten tertentu; mudah kaget atau menangis. Menyakiti hewan/orang; menertawakan kekerasan; tidak peduli saat teman disakiti. Sering mengeluh sakit perut/kepala tanpa sebab; mudah marah; sulit berkonsentrasi. Menirukan kata/tindakan seksual; membuka situs dewasa; bertanya dengan cara tidak pantas. Jenis Dampak Psikologis Dampak Perilaku yang Terlihat 8

13 Tanda-Tanda Umum Anak yang Mungkin Terpapar Konten Negatif di Dunia Digital Perubahan Emosi Perilaku Sosial Kebiasaan Digital Anak jadi mudah marah, cemas, ketakutan berlebihan tanpa sebab yang jelas, dan sering tampak murung atau gelisah setelah menggunakan gawai. Contoh: setelah menonton video kekerasan, anak jadi tampak takut sendirian di kamar. Menarik diri dari keluarga atau teman, dan menghindari pembicaraan tentang aktivitas daring. Contoh: anak tidak mau lagi ikut main dengan teman, atau langsung diam saat ditanya sedang menonton apa di internet. Menutup layar saat diawasi, rutin menghapus riwayat pencarian, sangat protektif terhadap ponselnya, enggan berbagi kata sandi dengan orang tua, dan terlibat dalam jual-beli akun media sosial/ gim. Contoh: anak buru-buru menutup layar saat orang tua lewat, atau tiba-tiba punya akun gim baru yang dibeli dari orang lain. Bentuk Tanda yang Dapat Diamati 9

14 Perubahan Bahasa Fisik dan Kesehatan Prestasi Akademik Perilaku Risiko Menggunakan kata kasar, seksual, atau ekstrem yang sebelumnya tidak pernah diucapkan. Contoh: anak mulai meniru bahasa kasar dari konten video atau grup daring. Mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, atau enggan tidur sendiri, keluhan fisik tanpa sebab (sakit kepala, perut, dll.), atau berkurangnya aktivitas fisik hingga berisiko obesitas. Contoh: anak sering mengeluh sakit perut setiap pagi sebelum sekolah, padahal hasil pemeriksaan dokter normal. Penurunan nilai, sulit konsentrasi, atau enggan belajar. Contoh: anak yang biasanya rajin tiba-tiba malas mengerjakan PR karena lebih sering bermain gim atau menonton konten daring. Meniru tindakan berbahaya dari video/gim, atau mengakses situs yang tidak sesuai usia. Contoh: anak mencoba aksi berbahaya dari video viral, atau diam-diam membuka situs dewasa. Jika Ayah Bunda menemukan ciri-ciri ini pada anak, jangan diabaikan. Segera lakukan pendampingan, ajak anak berbicara dengan hangat, dan bila perlu konsultasikan dengan guru atau tenaga profesional. 10

15 Langkah Praktis Orang Tua Dari Mengawasi Menjadi Mendampingi Anak di Dunia Digital Bangun komunikasi terbuka dan empati Perbanyak aktivitas bersama dan buat kesepakatan penggunaan gawai Tanyakan secara santai apa yang mereka lihat daring Kenali kebiasaan digital anak Gunakan fitur kontrol orang tua (Parental Control) Dengarkan pendapat serta perasaan anak dengan penuh perhatian. Jadikan komunikasi sebagai ruang aman tanpa menghakimi. Libatkan anak dalam kegiatan keluarga, masyarakat, atau aktivitas fisik. Buat aturan waktu layar dan edukasi seputar gim maupun media sosial. Ajak anak berbagi pengalaman digital dengan suasana ringan, agar mereka merasa nyaman bercerita. Sesekali periksa riwayat pencarian, media sosial, unduhan aplikasi, serta durasi waktu layar untuk memahami pola penggunaan mereka. Aktifkan filter konten dan pengaturan sesuai usia anak melalui aplikasi. Tip Penjelasan 11

16 Perhatikan emosi setelah aktivitas daring Diskusikan konten yang mereka temui Seimbangkan aktivitasonline dan offline yang Sehat Segera cari bantuan bila diperlukan Amati apakah anak tampak gelisah, mudah tersinggung, atau tiba-tiba menyendiri setelah menggunakan gawai. Berikan panduan nilai sejak dini, tunjukkan mana yang pantas dan tidak, sambil mengajarkan anak untuk berpikir kritis. Dorong anak aktif dalam kegiatan sosial, olahraga, atau hobi yang positif agar tumbuh seimbang. Jika anak menunjukkan gejala psikologis atau medis yang serius, libatkan guru atau tenaga profesional untuk pendampingan lebih lanjut. 12

17 B. Konten Berbahaya di dunia digital Daripada sepenuhnya melarang anak menggunakan gawai, kunci utamanya adalah pendampingan aktif dan komunikasi yang baik. Pemerintah mendukung upaya perlindungan anak di dunia digital melalui PP TUNAS.* Aturan ini yang mendorong platform digital untuk menyaring dan menandai konten, serta memberikan batasan pengguna berdasarkan tingkat risikonya. *PP Tunas: Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak Lalu, apa saja konten yang harus diwaspadai? Ayah Bunda, mari kita kenali bersama jenis konten atau fitur pada perangkat digital yang bisa membahayakan tumbuh kembang anak, baik secara fisik, mental, dan sosial anak. 13

18 4. Informasi palsu Informasi yang menyesatkan, menimbulkan rasa takut, atau membuat anak salah paham. 5. Ajaran radikal dan ekstremisme Konten yang mengajarkan tentang paham kekerasan dan permusuhan terhadap kelompok tertentu. 2. Konten seksual eksplisit Seperti pornografi anak maupun materi dewasa yang tidak sesuai usia. 3. Ujaran kebencian dan diskriminasi Konten berisi ujaran yang menyerang suku, agama, ras, gender, atau identitas lainnya. 1. Konten Kekerasan Misalnya perundungan siber (cyberbullying), video atau gim yang berisi kekerasan fisik, atau tayangan sadis. Secara lebih detail, adalah sebagai berikut: 14

19 6. Konten self-harm Seperti ajakan untuk melukai diri sendiri, dorongan untuk bunuh diri, atau konten berbahaya terkait kesehatan mental. 7. Perjudian dan aktivitas ilegal Tidak hanya judi online, tetapi juga gim dengan taruhan, pinjaman online ilegal, atau transaksi berisiko lainnya. 8. Eksploitasi anak Misalnya anak didekati oleh orang asing di internet untuk tujuan seksual, ekonomi, atau psikologis (child grooming). 9. Konten yang dapat menghambat tumbuh kembang Konten yang mendorong gaya hidup tidak sehat, konsumsi narkoba, atau perilaku berisiko lainnya. 15

20 Mengapa konten tersebut mudah masuk? 1. Konten berbahaya sering dikemas dengan visual menarik, sehingga anak mudah tertarik. 2. Anak bisa menemukannya tanpa sengaja ketika membuka gim atau media sosial. 3. Iklan dan tautan jebakan membuat konten berbahaya mudah muncul. 4. Belum semua platform digital mampu menyaring konten dengan baik. 5. Anak masih kesulitan membedakan mana yang baik dan buruk. Dengan mengenali jenis-jenis konten berbahaya ini, serta memahami mengapa mudah diakses anak, Ayah Bunda bisa lebih sigap dalam mendampingi mereka. Pendampingan yang penuh perhatian akan membantu anak tetap aman sekaligus mampu menggunakan dunia digital secara sehat, positif, dan menyenangkan. 16

21 III. Langkah Praktis: Deteksi Dini dan Pencegahan di Rumah 1. Bagaimana Aturan Penggunaan Media Sosial bagi Anak? Ayah Bunda, pada sebagian besar aplikasi media sosial anak baru diperbolehkan memiliki akun pada berumur 13 tahun ke atas. A. Batas Usia dan Aturan Aman di Media Sosial 17

22 2. Mengapa Harus Ada Batas Usia? Anak Memiliki Tahapan Tumbuh Kembang sesuai Usia. Tahapan tumbuh kembang anak sangat penting untuk perkembangan fisik, intelektual, psikis, dan sosialnya. Untuk itu, aktivitas daring harus sesuai dengan usia anak. Melindungi Data Pribadi Anak Anak belum memahami risiko membagikan alamat, nomor ponsel, dan foto kepada orang lain, khususnya orang yang tidak dikenal. Mencegah Paparan Konten Tidak Pantas Terdapat banyak konten dewasa, kekerasan, hoaks, dan judi online. Menghindari Perundungan Siber Anak bisa jadi korban ejekan atau tekanan yang didapatkannya secara daring (online). 3. Apa Saja Aturan Aman Bermedia Sosial? • Akun anak dibuat tertutup (privat) sehingga tidak mudah diakses, kecuali oleh keluarga atau orang-orang yang dikenal. • Jangan izinkan anak memposting data pribadi (nama lengkap, alamat rumah/ sekolah, dan nama-nama anggota keluarga yang lain). • Orang tua harus ikut memantau akun anak. • Ajarkan anak untuk memblokir orang asing yang mencurigakan. • Ajak anak berbicara terbuka mengenai apa yang dilihatnya di internet. 18

23 Apabila ingin mendokumentasikan tumbuh kembang anak di platform media sosial, pastikan akun tersebut tertutup (privat) dan pengikut atau teman dari akun tersebut adalah orang yang dikenal baik. Selain itu, jangan memosting video atau foto yang menampilkan tubuh anak. TIP Bagaimana jika orang tua ingin mendokumentasikan tumbuh kembang anak? 19

24 Screen time atau waktu layar adalah waktu yang dihabiskan anak menatap layar seperti saat bermain gawai, menonton TV, atau bermain gim. Mengapa penting untuk dibatasi? Terlalu lama di depan layar dapat menyebabkan: • Mata lelah; • Malas bergerak; • Susah tidur; • Emosi naik turun; dan • Kecanduan gawai. Screen zone atau zona layar adalah kesepakatan atau aturan tempat di rumah mana saja yang boleh atau tidak boleh untuk main gawai. Contoh: Boleh: ruang keluarga dan ruang belajar Tidak boleh: kamar tidur, meja makan, dan toilet Mengapa penting? Zona layar penting diterapkan agar anak tidak sembunyi- sembunyi menggunakan gawai dan tetap bisa mengobrol atau berkegiatan bersama keluarga. Screen break atau jeda layar adalah melakukan istirahat menggunakan gawai. Misalnya, setelah 30 menit menonton atau main gim, anak berhenti sebentar dan melepaskan diri dari layar. Apa yang bisa dilakukan saat screen break? • Melihat keluar jendela. • Berjalan-jalan sebentar. • Minum air. • Melakukan peregangan. Mengapa perlu? Agar mata tidak lelah, tubuh tetap sehat, dan anak tidak terlalu larut di depan layar. B. Atur Waktu dan Tempat Main Gawai: Screen Time, Screen Zone, dan Screen Break Ayah Bunda, guna menghindari dampak negatif paparan gawai (ponsel, tablet, televisi, atau perangkat digital lain), ada beberapa hal yang perlu diketahui. Apa itu waktu layar? Apa itu jeda layar? Apa itu zona layar? 20

25 Perlu diperhatikan bahwa sebelum istirahat layar, agar anak tidak kesulitan dalam fase transisi, Ayah Bunda perlu menerapkan pengingat waktu kepada anak (screen time reminder). Hal ini secara praktis bisa dilakukan. Ayah Bunda dapat mengingatkan dengan perkataan: “Mainnya tinggal 10 menit lagi, ya. Setelah itu, bisa berkegiatan yang lain.” atau “Ingat, ya! Sesuai dengan kesepakatan, tinggal 5 menit lagi. Kamu bisa pilih matikan sendiri atau Ayah/Bunda bantu.” 21

26 USIA 0–6 TAHUN (BALITA & PRASEKOLAH) USIA 6–12 TAHUN (ANAK SD) USIA 12–18 TAHUN (REMAJA) • Anak berusia di bawah 2 tahun: jangan dulu menonton gawai atau TV (kecuali panggilan video dengan keluarga). • Anak berusia 2–6 tahun: paling lama 1 jam sehari. • Anak harus ditemani orang tua saat menonton. Fokus utama: Bermain, ngobrol, dan gerak aktif — bukan layar. • Boleh menonton atau bermain gawai 1–2 jam sehari di luar jam sekolah. • Kontennya harus aman dan bermanfaat. • Orang tua tetap memantau dan membatasi waktunya. Fokus utama: Belajar, main di luar, ngobrol dengan keluarga. • Waktu layar paling lama 2 jam sehari, tetapi tetap harus seimbang. • Jangan lupa tidur cukup, belajar, berolahraga, serta berinteraksi dengan teman dan anggota keluarga. • Mengakses konten yang aman dan bermanfaat. • Ajak anak diskusi bijak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilihat. Berapa Lama Anak Boleh Main HP/TV? 22

27 Fitur Kontrol orang tua (parental control) adalah fitur atau pengaturan yang membantu Ayah Bunda mengawasi, membatasi, dan mengarahkan penggunaan gawai oleh anak-anak agar mereka aman dari konten dan aktivitas digital yang berbahaya. Kontrol orang tua bermanfaat bagi keluarga untuk • Membatasi waktu layar; • Memblokir konten negatif (pornografi, kekerasan, judi, dan hoaks); • Memantau aktivitas daring atau online (riwayat pencarian dan aplikasi yang digunakan); • Mengontrol aplikasi yang boleh diunduh; dan • Melacak lokasi anak secara waktu nyata(real time) untuk keamanan. C. Fitur Kontrol Orang Tua 23

28 Tips Praktis untuk Keluarga: • Libatkan anak saat menyusun aturan penggunaan gawai. • Jelaskan alasan mengapa kontrol dibutuhkan: bukan melarang, tapi melindungi. • Kombinasikan pengawasan teknologi dengan komunikasi terbuka. • Sesuaikan aturan dengan usia dan kebutuhan anak. Contoh Alat Kontrol Orang Tua pada Gawai Platform Android iOS Windows Aplikasi pihak ketiga Alat/FiturFamily Link Screen Time Microsoft Family Safety Qustodio, Net Nanny, Norton Family Fungsi Utama Atur waktu layar, pantau aplikasi, blokir konten Batasi aplikasi, kontrol konten, pantau penggunaan Atur waktu, filter konten, laporan aktivitas Pemantauan lengkap aktivitas digital anak 24

29 D. Perjanjian Digital Keluarga Pentingnya Membangun Perjanjian Digital Keluarga Perjanjian digital keluarga adalah kesepakatan bersama antara orang tua dan anak tentang aturan penggunaan HP, internet, dan media sosial di rumah. Tujuannya agar anak menggunakan teknologi dengan aman dan bertanggung jawab dan orang tua mendampingi dengan penuh perhatian. Perjanjian digital keluarga bisa dalam bentuk aturan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, seperti: 25

30 Gunakan gawai untuk belajar, panggilan video dengan keluarga atau orang dekat, dan hiburan yang sehat. Penggunaan gawai hanya boleh dilakukan di ruang keluarga atau tempat yang disepakati. Patuhi waktu layar, misalnya 1 atau 2 jam/hari. Bercerita ke orang tua jika melihat hal yang aneh di internet. Meminta izin sebelum mengunduh aplikasi baru. Bersikap sopan dan ramah di media sosial. Berteman secara daring (online) hanya dengan orang yang dikenal. Membuka konten kekerasan, pornografi, atau yang tidak sesuai dengan umur. Membawa gawai ke kamar tidur, kamar mandi, atau saat makan. Menggunakan gawai terus-menerus tanpa batas waktu. Menyembunyikan riwayat pencarian, dan aktivitas daring. Mengunduh aplikasi atau gim (game) tanpa sepengetahuan orang tua. Merundung, menghina, atau menyebar pesan jahat. Menerima permintaan berteman dari orang asing. Yang Boleh Dilakukan Yang Tidak Boleh Dilakukan 26

31 Cara Membuat Kesepakatan yang Efektif 1. Libatkan anak saat membuat kesepakatan aturan agar anak merasa ikut memiliki dan lebih patuh. 2. Bahas hal-hal penting seperti: • Waktu penggunaan gawai per hari, • Tempat di rumah yang boleh atau tidak boleh untuk menggunakan gawai, • Jenis konten dan aplikasi yang boleh dibuka, dan • Apa yang harus dilakukan jika anak melihat hal yang buruk di internet. Contoh Poin Kesepakatan Kesepakatan bisa dilakukan dengan menyesuaikan usia dan kebutuhan penggunaan gawai, seperti • Maksimal 1–2 jam waktu layar per hari; • Tidak membawa gawai ke kamar tidur; • Gawai hanya boleh digunakan di ruang keluarga; • Selalu minta izin sebelum mengunduh aplikasi baru. Kesepakatan ini berlaku untuk seluruh anggota keluarga. 27

32 IV. Tip Praktis Orang Tua Hebat Ayah Bunda Hebat, setelah memahami seluk-beluk dunia digital, kini saatnya kita melangkah ke bagian tip praktis yang mudah diterapkan di rumah. Tujuannya adalah agar anak-anak kita bisa menggunakan teknologi dengan bijak dan tetap punya kebiasaan baik di dunia nyata dan dunia maya. 28

33 A. Detoks Digital dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Untuk membantu anak melepaskan diri dari ketergantungan gawai dan menemukan kembali keseruan dunia nyata, orang tua bisa menerapkan “Detoks Digital” dengan panduan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ini. Biasakan anak bangun pagi. Bangun pagi dengan segar dan punya waktu lebih banyak untuk aktivitas nongawai sebelum waktu layar (screen time) dimulai. Ajak anak bergerak aktif! Bersepeda, lari pagi, bermain bola, atau sekadar peregangan di rumah. Berolahraga otomatis mendorong anak berada di screen zone luar ruangan atau area aktivitas fisik, jauh dari layar. Ajak anak untuk rutin beribadah sesuai dengan keyakinan. Beribadah menjadi screen break alami yang menenangkan dan melatih fokus tanpa gawai. Bangun Pagi Berolahraga Beribadah 29

34 Pastikan anak mengonsumsi makanan bergizi. Biasakan makan di meja makan tanpa gawai. Ciptakan screen zone bebas gawai di area makan dan menjadi screen break yang wajib bagi seluruh keluarga. Ajari anak berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman. Mengunjungi tetangga, bermain bersama teman, atau mengikuti kegiatan komunitas. Biasakan anak tidur lebih awal. Pastikan tidak ada gawai di kamar tidur menjelang waktu tidur agar kualitas tidur lebih baik. Dorong anak untuk membaca buku, mengerjakan PR, atau mencari tahu hal baru di luar layar. Ajak mereka ke perpustakaan atau museum. Makan Sehat dan Bergizi Bermasyarakat Tidur Cepat Gemar Belajar 30

35 B. Kegiatan Alternatif Menarik untuk Anak Kebiasaan Anak Kegiatan Alternatif Menarik Agar anak tidak bosan saat detoks digital, siapkan berbagai kegiatan menarik yang bisa mereka lakukan. Orang tua bisa libatkan anak dalam memilih kegiatannya. Berikut beberapa ide kegiatan yang bisa orang tua coba, dikaitkan dengan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat: Bangun Pagi Berolahraga Beribadah • Merapikan kamar tidur dan mainan • Membuat sarapan sederhana bersama • Membantu Ayah/Ibu menyiram tanaman • Bermain di taman/lapangan (sepak bola, bulutangkis, kejar-kejaran) • Bersepeda sore • Senam ringan bersama keluarga • Membantu bersih-bersih rumah (menyapu, mengepel) • Membaca buku cerita keagamaan • Menghafal doa dan surat pendek • Berdiskusi ringan tentang nilai-nilai kebaikan • Mendengarkan atau bernyanyi lagu rohani (keagamaan) 31

36 Makan Sehat dan Bergizi Bermasyarakat Tidur Cepat Gemar Belajar • Mengajak anak berbelanja bahan makanan di pasar/ supermarket. • Mengenalkan berbagai jenis buah dan sayur. • Memasak atau menyiapkan camilan sehat bersama. • Menghindari makanan ultraproses. • Bermain dengan teman sebaya di luar rumah (awasi selalu). • Mengunjungi kakek/nenek atau saudara. • Membantu tetangga yang membutuhkan (misalnya mengambil jemuran saat hujan). • Ikut serta dalam kegiatan lingkungan (kerja bakti RT). • Membacakan dongeng sebelum tidur. • Berdiskusi santai tentang kegiatan hari itu. • Mendengarkan musik tradisional yang menenangkan. • Menyiapkan perlengkapan sekolah untuk besok. • Membaca buku cerita (versi cetak) dari perpustakaan atau koleksi pribadi. • Mengerjakan kerajinan tangan (melipat origami, membuat kolase, atau menggambar). • Bermain puzzle atau permainan papan (monopoli atau ular tangga). • Mengunjungi museum atau pameran seni. 32

37 Daftar Istilah Anak Digital Native Generasi anak yang sejak kecil tumbuh di tengah kemajuan teknologi digital dan akrab dengan perangkat seperti gawai, internet, dan media sosial. Cyberbullying (Perundungan Siber) Perilaku menyakiti, mempermalukan, atau menghina orang lain melalui media digital seperti media sosial, pesan daring, atau gim online. Detoks Digital Upaya melepaskan diri dari ketergantungan gawai melalui kegiatan positif di dunia nyata. Eksploitasi Anak Tindakan memanfaatkan anak untuk kepentingan tertentu, misalnya seksual, ekonomi, atau psikologis. Family Link Aplikasi dari Google untuk membantu orang tua mengatur waktu layar, memblokir konten negatif, dan memantau aktivitas daring anak. Filter Konten Fitur pada platform digital untuk menyaring atau membatasi jenis konten yang dapat diakses anak. Gawai Alat elektronik seperti telepon genggam, tablet, atau komputer yang digunakan untuk berkomunikasi, bermain, dan mengakses internet.

38 Hoaks (Informasi Palsu) Informasi bohong atau menyesatkan yang disebarkan seolah-olah benar di dunia maya. Judol (Judi Online) Permainan atau taruhan daring yang melibatkan uang atau keuntungan tertentu dan dapat berdampak negatif bagi anak. Kecanduan Gawai Ketergantungan berlebihan terhadap perangkat digital hingga mengganggu aktivitas harian dan interaksi sosial anak. Konten Berbahaya Materi digital yang dapat berdampak negatif bagi anak, seperti kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, penipuan, radikalisme, dan eksploitasi anak. Kontrol Orang Tua (Parental Control) Fitur untuk membantu orang tua memantau, membatasi, dan melindungi anak dari konten atau aktivitas daring yang berisiko. Literasi Digital Kemampuan untuk memahami, menggunakan, dan menciptakan informasi melalui media digital secara bijak, aman, dan bertanggung jawab. Media SosialPlatform daring tempat pengguna dapat berinteraksi, berbagi informasi, gambar, atau video (seperti TikTok, Instagram, Facebook). Perjanjian Digital Keluarga Kesepakatan bersama antara orang tua dan anak mengenai aturan penggunaan gawai, internet, dan media sosial di rumah.

39 Perundungan Siber Lihat Cyberbullying. PP TUNAS Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak. Screen Break (Jeda Layar) Istirahat sejenak dari penggunaan gawai agar mata dan tubuh tidak lelah serta anak tidak kecanduan layar. Screen Time (Waktu Layar) Lama waktu anak menatap layar perangkat digital seperti televisi, ponsel, atau komputer. Screen Zone (Zona Layar) Kesepakatan tempat di rumah yang boleh atau tidak boleh digunakan untuk bermain gawai. Ujaran Kebencian Konten atau komentar yang menyerang individu atau kelompok berdasarkan suku, agama, ras,gender, atau identitas lainnya.

40 Daftar Pustaka Buku Literasi Digital untuk Orang Tua disusun berdasarkan berbagai sumber kebijakan nasional, pedoman pelindungan anak, serta referensi konseptual yang relevan dengan tema literasi digital keluarga. Daftar pustaka berikut memuat regulasi, panduan, dan publikasi yang menjadi acuan utama dalam penyusunan materi buku ini. American Academy of Pediatrics (AAP). (2023). Media and Young Minds: Recommendations for Families. Washington, D.C.: AAP. Apple Inc. (2024). Screen Time: Parental Control Feature for iOS Devices. Cupertino: Apple Inc. Common Sense Media. (2022). Parents’ Guide to Digital Well-being. San Francisco: Common Sense Media. Google LLC. (2024). Google Family Link & YouTube Kids: Panduan Pengaturan Aman untuk Anak. Mountain View: Google LLC. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) & Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Panduan Penggunaan Gawai Aman bagi Anak dan Remaja. Jakarta: IDAI. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). (2023). Panduan Nasional Literasi Digital untuk Orang Tua dan Anak. Jakarta: Kominfo. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). (2023). Prinsip Perlindungan Anak Berdasarkan Konvensi Hak Anak. Jakarta: KemenPPPA.

41 Microsoft Corporation. (2024). Microsoft Family Safety – Tools for Parents. Redmond: Microsoft Corporation. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). (2022). 21st Century Children: Digital Wellbeing for the Next Generation. Paris: OECD Publishing. Pemerintah Republik Indonesia. (2025). Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). (1989). Convention on the Rights of the Child (Konvensi Hak Anak). New York: United Nations. UNESCO. (2021). Media and Information Literacy: Policy and Strategy Guidelines. Paris: UNESCO. UNICEF Indonesia. (2022). Digital Literacy and Online Safety for Parents and Children. Jakarta: UNICEF Indonesia.

42