Ahmad Tohari RONGGENG DUKUH PARUK PT Gramedia Pustaka Utama
BUKU PERTAMA CATATAN BUAT EMAK
BAB I SEPASANG burung bangau melayang meniti angin berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang. Air. Kedua unggas itu telah melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air. Telah lama mereka merindukan amparan lumpur tempat mereka mencari mangsa; katak, ikan, udang atau serangga air lainnya. Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan kerontang. Sepasang burung bangau itu takkan menemukan genangan air meski hanya selebar telapak kaki. Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik. Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya. Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai batu lepas dari katapel sambil menjerit sejadi-jadinya. Di belakangnya, seekor alap-alap mengejar dengan kecepatan berlebih. Udara yang ditempuh kedua binatang ini membuat suara desau. Jerit pipit kecil itu terdengar ketika paruh alap-alap menggigit kepalanya. Bulu-bulu halus beterbangan. Pembunuhan terjadi di udara yang lengang, di atas Dukuh Paruk. Angin tenggara bertiup. Kering. Pucuk-pucuk pohon di pedukuhan sempit itu bergoyang. Daun kuning serta ranting kering jatuh. Gemersik rumpun bambu. Berderit baling-baling bambu yang dipasang anak gembala di tepian Dukuh Paruk. Layang-layang yang terbuat dari daun gadung meluncur naik. Kicau beranjangan mendaulat kelengangan langit di atas Dukuh Paruk. Udara panas berbulan-bulan mengeringkan berjenis biji-bijian. Buah randu telah menghitam kulitnya, pecah menjadi tiga juring. Bersama tiupan angin terburai gumpalan-gumpalan kapuk. Setiap gumpal kapuk mengandung biji masak yang siap tumbuh pada tempat ia hinggap di bumi.
Demikian kearifan alam mengatur agar pohon randu baru tidak tumbuh berdekatan dengan biangnya. Pohon dadap memilih cara yang hampir sama bagi penyebaran jenisnya. Biji dadap yang telah tua menggunakan kulit polongnya untuk terbang sebagai baling-baling. Bila angin berembus, tampak seperti ratusan kupu terbang menuruti arah angin meninggalkan pohon dadap. Kalau tidak terganggu oleh anak-anak Dukuh Paruk, biji dadap itu akan tumbuh di tempat yang jauh dari induknya. Begitu perintah alam. Dari tempatnya yang tinggi kedua burung bangau itu melihat Dukuh Paruk sebagai sebuah gerumbul kecil di tengah padang yang amat luas. Dengan daerah pemukiman terdekat, Dukuh Paruk hanya dihubungkan oleh jaringan pematang sawah, hampir dua kilometer panjangnya. Dukuh Paruk, kecil dan menyendiri. Dukuh Paruk yang menciptakan kehidupannya sendiri. Dua puluh tiga rumah berada di pedukuhan itu, dihuni oleh orang-orang seketurunan. Konon, moyang semua orang Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala, seorang bromocorah yang sengaja mencari daerah paling sunyi sebagai tempat menghabiskan riwayat keberandalannya. Di Dukuh Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan darah dagingnya. Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala, moyang mereka, dahulu menjadi musuh kehidupan masyarakat. Tetapi mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala yang terletak di punggung bukit kecil di tengah Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Gumpalan abu kemenyan pada nisan kubur Ki Secamenggala membuktikan polah-tingkah kebatinan orang Dukuh Paruk berpusat di sana. Di tepi kampung, tiga orang anak laki-laki sedang bersusah-payah mencabut sebatang singkong. Namun ketiganya masih terlampau lemah untuk mengalahkan cengkeraman akar ketela yang terpendam dalam tanah kapur. Kering dan membatu. Mereka terengah-engah, namun batang singkong itu tetap tegak di tempatnya. Ketiganya hampir berputus asa seandainya salah seorang anak di antara mereka tidak menemukan akal. “Cari sebatang cungkil,” kata Rasus kepada dua temannya. “Tanpa cungkil mustahil kita dapat mencabut singkong sialan ini.” “Percuma. Hanya sebatang linggis dapat menembus tanah sekeras ini,” ujar Warta. “Atau lebih baik kita mencari air. Kita siram pangkal batang singkong kurang ajar ini. Pasti nanti kita mudah mencabutnya.”
“Air?” ejek Darsun, anak yang ketiga. “Di mana kau dapat menemukan air?” “Sudah, sudah. Kalian tolol,” ujar Rasus tak sabar. “Kita kencingi beramai-ramai pangkal batang singkong ini. Kalau gagal juga, sungguh bajingan.” Tiga ujung kulup terarah pada titik yang sama. Currrr. Kemudian Rasus, Warta dan Darsun berpandangan. Ketiganya mengusap telapak tangan masing-masing. Dengan tekad terakhir mereka mencoba mencabut batang singkong itu kembali. Urat-urat kecil di tangan dan di punggung menegang. Ditolaknya bumi dengan hentakan kaki sekuat mungkin. Serabut-serabut halus terputus. Perlahan tanah merekah. Ketika akar terakhir putus ketiga anak Dukuh Paruk itu jatuh terduduk. Tetapi sorak-sorai segera terhambur. Singkong dengan umbi-umbinya yang hanya sebesar jari tercabut. Adat Dukuh Paruk mengajarkan, kerja sama antara ketiga anak laki-laki itu harus berhenti di sini. Rasus, Warta dan Darsun kini harus saling adu tenaga memperebutkan umbi singkong yang baru mereka cabut. Rasus dan Warta mendapat dua buah, Darsun hanya satu. Tak ada protes. Ketiganya kemudian sibuk mengupasi bagiannya dengan gigi masing-masing, dan langsung mengunyahnya. Asinnya tanah. Sengaknya kencing sendiri. Sambil membersihkan mulutnya dengan punggung lengan, Rasus mengajak kedua temannya melihat kambing-kambing yang sedang mereka gembalakan. Yakin bahwa binatang gembalaan mereka tidak merusak tanaman orang, ketiganya berjalan ke sebuah tempat di mana mereka sering bermain. Di bawah pohon nangka itu mereka melihat Srintil sedang asyik bermain seorang diri. Perawan kecil itu sedang merangkai daun nangka dengan sebatang lidi untuk dijadikan sebuah mahkota. Duduk bersimpuh di tanah sambil meneruskan pekerjaannya, Srintil berdendang. Siapa pun di Dukuh Paruk, hanya mengenal dua irama. Orang- orang tua bertembang kidung, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu ronggeng. Dengan suara kekanak-kanakannya, Srintil mendendangkan lagu kebanggaan para ronggeng: Senggot timbane rante, tiwas ngegot ning ora suwe. Lagu erotik. Srintil, perawan yang baru sebelas tahun, menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Boleh jadi Srintil belum faham benar makna lirik
lagu itu. Namun sama saja. Dukuh Paruk tidak akan bersusah hati bila ada anak kecil menyanyikan lagu yang paling cabul sekalipun. Betapa asyik Srintil dengan dendangnya, terbukti dia tidak menyadari ada tiga anak laki-laki sudah berdiri di belakangnya. Srintil baru sadar ketika sedang mencoba memasang mahkota daun nangka ke atas kepalanya. “Terlalu besar,” ujar Rasus mengejutkan Srintil. Perawan kecil itu mengangkat muka. “Aku bersedia membuatkan badongan untukmu,” sambung Rasus menawarkan jasa. “Tak usah. Kalau mau, ambilkan aku daun bacang. Nanti badongan ini lebih baik,” jawab Srintil. Rasus tersenyum. Baginya, memenuhi permintaan Srintil selalu menyenangkan. Maka dia berbalik, menoleh kiri-kanan mencari sebatang pohon bacang. Setelah didapat, Rasus memanjat. Cepat seperti seekor monyet. Dipetiknya beberapa lembar daun bacang yang lebar. Pikir Rasus, dengan daun itu mahkota di kepala Srintil akan bertambah manis. Dengan bantuan ketiga anak laki-laki itu Srintil dapat menyelesaikan mahkota daunnya. Ukurannya tepat. “Bagus sekali,” kata Rasus setelah melihat badongan daun nangka itu menghias kepala Srintil. “Sungguh?” balas Srintil meyakinkan. “Aku tidak bohong. Bukankah begitu, Warta? Darsun?” “Ya, benar. Engkau cantik sekali sekarang,” ujar Warta. “Seperti seorang ronggeng?” tanya Srintil lagi. Gayanya manja. “Betul.” “Ah, tidak,” potong Darsun. “Kecuali engkau mau menari seperti ronggeng.” Srintil diam. Dipandangnya ketiga anak laki-laki di hadapannya. Dalam hati Srintil merasa penasaran. Apakah kalian menyangka aku tak bisa menari seperti seorang ronggeng? tanya Srintil. “Baik, aku akan menari. Kalian harus mengiringi tarianku. Bagaimana?” tantang Srintil. “Wah, jadi kalau begitu,” jawab Rasus cepat. “Aku akan menirukan bunyi gendang. Warta menirukan calung dan Darsun menirukan gong tiup. Hayo!”
Di pelataran yang membatu di bawah pohon nangka. Ketika angin tenggara bertiup dingin menyapu harum bunga kopi yang selalu mekar di musim kemarau. Ketika sinar matahari mulai meredup di langit barat. Srintil menari dan bertembang. Gendang, gong dan calung mulut mengiringinya. Rasus bersila, menepak-nepak lutut menirukan gaya seorang penggendang. Warta mengayunkan tangan ke kiri-kanan, seakan ada perangkat calung di hadapannya. Darsun membusungkan kedua pipinya. Suaranya berat menirukan bunyi gong. Siapa yang akan percaya, tak seorang pun pernah mengajari Srintil menari dan bertembang. Siapa yang akan percaya belum sekali pun Srintil pernah melihat pentas ronggeng. Ronggeng terakhir di Dukuh Paruk mati ketika Srintil masih bayi. Tetapi di depan Rasus, Warta dan Darsun, Srintil menari dengan baiknya. Mimik penagih birahi yang selalu ditampilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya, juga diperbuat oleh Srintil saat itu. Lenggok lehernya, lirik matanya, bahkan cara Srintil menggoyangkan pundak akan memukau laki-laki dewasa manapun yang melihatnya. Seorang gadis kencur seperti Srintil telah mampu menirukan dengan baiknya gaya seorang ronggeng. Dan orang Dukuh Paruk tidak bakal heran. Di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuk tubuhnya. indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan. Demikian, sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup, jari tangannya melentik kenes. Ketiga anak laki-laki yang mengiringinya menyaksikan betapa Srintil telah mampu menyanyikan banyak lagu-lagu ronggeng. Mulut Rasus dan kedua temannya pegal sudah. Namun terus melenggang dan melenggok. Alunan tembangnya terus mengalir seperti pancuran di musim hujan. Betapapun, akhirnya Srintil berhenti karena mulut ketiga pengiringnya bungkam. Tidak tampak tanda Srintil lelah. Bahkan kepada ketiga kawannya, Srintil masih menuntut. “Wah, lagi, ya!” desaknya. “Mengaso dulu. Mulutku pegal,” jawab Rasus.
“Ya, kita berhenti dulu. Kita hanya akan bermain lagi kalau Srintil berjanji akan memberi kami upah,” kata Warta. “Baik, baik. Kalian minta upah apa?” Warta diam. Rasus tersenyum sambil memandang Darsun. “Kalian minta upah apa?” ulang Srintil. Berkata demikian Srintil melangkah ke arah Rasus. Dekat sekali. Tanpa bisa mengelak, Rasus menerima cium di pipi. Warta dan Darsun masing-masing mendapat giliran kemudian. Sebelum ketiga anak laki-laki itu sempat berbuat sesuatu, Srintil menagih janji. “Nah. Kalian telah menerima upah. Sekarang aku menari. Kalian harus mengiringi lagi.” Ketiganya patuh. Ceria di bawah pohon nangka itu berlanjut sampai matahari menyentuh garis cakrawala. Sesungguhnya Srintil belum hendak berhenti menari. Namun Rasus berkeberatan karena ia harus menggiring tiga ekor kambingnya pulang ke kandang. Pada akhir permainan, Rasus, Warta dan Darsun minta upah. Kali ini mereka yang berebut menciumi pipi Srintil. Perawan kecil itu melayani bagaimana laiknya seorang ronggeng. Sebelum berlari pulang, Srintil minta jaminan besok hari Rasus dan dua temannya akan bersedia kembali bermain bersama. Karena letak Dukuh Paruk di tengah amparan sawah yang sangat luas, tenggelamnya matahari tampak dengan jelas dari sana. Angin bertiup ringan. Namun cukup meluruhkan dedaunan dari tangkainya. Gumpalan rumput kering menggelinding dan berhenti karena terhalang pematang. Hilangnya cahaya matahari telah dinanti oleh kelelawar dan kalong. Satu-satu mereka keluar dari sarang, di lubang-lubang kayu, ketiak daun kelapa atau kuncup daun pisang yang masih menggulung. Kemarau tidak disukai oleh bangsa binatang mengirap itu. Buah-buahan tidak mereka temukan. Serangga pun seperti lenyap dari udara. Pada saat demikian kampret harus mau melalap daun waru agar kehidupan jenisnya lestari. Pelita-pelita kecil dinyalakan. Kelap-kelip di kejauhan membuktikan di Dukuh Paruk yang sunyi ada kehidupan manusia. Bulan yang lonjong hampir mencapai puncak langit. Cahayanya membuat bayangan temaram di atas tanah kapur Dukuh Paruk. Kehadirannya di angkasa tidak terhalang awan. Langit bening. Udara kemarau makin malam makin dingin. Pagelaran alam yang ramah bagi anak-anak. Halaman yang kering sangat menyenangkan untuk arena bermain. Cahaya bulan mencipta
keakraban antara manusia dengan lingkup fitriyahnya. Anak-anak, makhluk kecil yang masih lugu, layak hadir di halaman yang berhias cahaya bulan. Mereka pantas berkejaran, bermain dan bertembang. Mereka sebaiknya tahu masa kanak-kanak adalah surga yang hanya sekali datang. Tidak, tidak. Awal malam yang ceria itu tidak berbias lengking anak- anak Dukuh Paruk. Kemarau terlampau panjang tahun ini. Dua bulan terakhir tiada lagi padi tersimpan di rumah orang Dukuh Paruk. Mereka makan gaplek. Anak-anak makan nasi gaplek. Karbohidrat yang terkandung dalam singkong kering itu banyak rusak. Anak-anak tidak berbekal cukup kalori untuk bermain siang malam. Jadi pada malam yang bening itu, tak ada anak Dukuh Paruk keluar halaman. Setelah menghabiskan sepiring nasi gaplek mereka lebih senang bergulung dalam kain sarung, tidur di atas balai-balai bambu. Mereka akan bangun besok pagi bila sinar matahari menerobos celah dinding dan menyengat kulit mereka. Orang-orang dewasa telah bekerja keras di siang hari. Tanaman musim kemarau berupa sayuran, tembakau dan palawija harus disiram dengan air sumur yang khusus mereka gali. Bila malam tiba, keinginan mereka tidak berlebihan; duduk beristirahat sambil menggulung tembakau dengan daun pisang atau kulit jagung kering. Sedikit tengah malam mereka akan naik tidur. Pada saat kemarau panjang seperti itu mustahil ada perempuan Dukuh Paruk hamil. Menjelang tengah malam barangkali hanya Sakarya yang masih termangu di bawah lampu minyak yang bersinar redup. Sakarya, kamitua di pedukuhan terpencil itu masih merenungi ulah cucunya sore tadi. Dengan diam-diam Sakarya mengikuti gerak-gerik Srintil ketika cucunya itu menari di bawah pohon nangka. Sedikit pun Sakarya tidak ragu, Srintil telah kerasukan indang ronggeng. Sakarya tersenyum. Sudah lama pemangku keturunan Ki Secamenggala itu merasakan hambarnya Dukuh Paruk karena tidak terlahirnya seorang ronggeng di sana. “Dukuh Paruk tanpa ronggeng, bukanlah Dukuh Paruk. Srintil, cucuku sendiri, akan mengembalikan citra sebenarnya pedukuhan ini,” kata Sakarya kepada dirinya sendiri. Sakarya percaya, arwah Ki
Secamenggala akan terbahak di kuburnya bila kelak tahu ada ronggeng di Dukuh Paruk. Tak seorang pun menyalahkan pikiran Sakarya. Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah-serapah dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya. Gambaran tentang Dukuh Paruk dilengkapi oleh ucapan orang luar yang senang berkata misalnya, “Jangan mengabadikan kemelaratan seperti orang Dukuh Paruk.” Atau, “Hai, anak-anak, pergilah mandi. Kalau tidak nanti kupingmu mengalir nanah, kakimu kena kudis seperti anak-anak Dukuh Paruk!” Keesokan harinya Sakarya menemui Kartareja. Laki-laki yang hampir sebaya ini secara turun-temurun menjadi dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Pagi itu Kartareja mendapat kabar gembira. Dia pun sudah bertahun-tahun menunggu kedatangan seorang calon ronggeng untuk diasuhnya. Belasan tahun sudah perangkat calungnya tersimpan di para-para di atas dapur. Dengan laporan Sakarya tentang Srintil, dukun ronggeng itu berharap bunyi calung akan kembali terdengar semarak di Dukuh Paruk. “Kalau benar tuturmu, Kang, kita akan tetap betah tinggal di pedukuhan ini,” kata Kartareja menanggapi laporan Sakarya. “Eh, sampean lihat sendiri nanti,” jawab Sakarya. “Srintil akan langsung menari dengan kenesnya bila mendengar suara calungmu.” Kartareja mengangguk-angguk. Bibirnya yang merah kehitaman oleh kapur sirih bergoyang ke kiri-kanan. Lalu disemprotkannya sisa tembakau yang tertinggal di mulutnya. “Ah, Kang Sakarya. Aku tak lagi diperlukan kalau begitu. Bukankah Srintil sudah menjadi ronggeng sejak lahir?” kata Kartareja tawar. Dia sedikit tersinggung. Keahliannya mengasuh ronggeng merasa disepelekan. “Eh, sampean salah tangkap. Maksudku, Srintil benar-benar telah mendapat indang. Masakan sampean tidak menangkap maksudku ini.” “Oh, begitu.” “Ya. Dan tentu sampean perlu memperhalus tarian Srintil. Cucuku tampaknya belum pintar melempar sampur. Nah, ada lagi yang penting; masalah 'rangkap' tentu saja. Itu urusanmu, bukan?” Kartareja terkekeh. Dia merasa tidak perlu berkata apa-apa. “Rangkap” yang dimaksud oleh Sakarya tentulah soal guna-guna, pekasih, susuk dan
tetek-bengek lainnya yang akan membuat seorang ronggeng laris. Kartareja dan istrinya sangat ahli dalam urusan ini. “Pokoknya Dukuh Paruk akan kembali mempunyai ronggeng. Bukankah begitu, Kang?” “Eh, ya. Memang begitu. Kita yang tua-tua di pedukuhan ini tak ingin mati sebelum melihat Dukuh Paruk kembali seperti aslinya dulu. Bahkan aku takut arwah Ki Secamenggala akan menolakku di kubur bila aku tidak melestarikan ronggeng di pedukuhan ini.” “Bukan hanya itu, Kang. Bukankah ronggeng bisa membuat kita betah hidup?” Kedua kakek itu tertawa bersama. Di antara gelaknya Sakarya mengeluh mengapa dia tidak bisa mengundurkan usianya dari tujuh puluh menjadi dua puluh tahun. Beberapa hari kemudian Sakarya dan Kartareja selalu mengintip Srintil menari di bawah pohon nangka. Kedua laki-laki tua itu sengaja membiarkan Srintil menari sepuas hatinya diiringi calung mulut oleh Rasus dan kedua kawannya. Kartareja percaya akan ceritera Sakarya. Srintil telah kemasukan indang ronggeng. Pada hari baik, Srintil diserahkan oleh kakeknya, Sakarya kepada Kartareja. Itu hukum Dukuh Paruk yang mengatur perihal seorang calon ronggeng. Keluarga calon harus menyerahkannya kepada dukun ronggeng, menjadi anak akuan. Dua belas tahun sejak kematian ronggeng Dukuh Paruk yang terakhir. Selama itu Dukuh Paruk tanpa suara calung. Perangkat gamelan bambu itu telah tertutup lapisan debu campur jelaga di para-para dapur keluarga Kartareja. Tali ijuk yang merenteng tiap mata calung telah putus oleh gigitan tikus atau ngengat. Untung. Serangga bubuk dan anai-anai tak merapuhkan gamelan bambu itu. Untung pula, Kyai Comblang, gendang pusaka milik keluarga Kartareja tetap disimpan dengan perawatan istimewa. Perkakas itu siap pakai meski telah istirahat dalam waktu lama. Kesulitan pertama yang dihadapi Kartareja bukan masalah bagaimana memperbaiki alat musiknya, melainkan bagaimana dia mendapat para penabuh. Penabuh gendang yang disayanginya meninggal pada malapetaka paceklik dua tahun lalu. Seorang lagi yang biasa melayani calung penerus,
lenyap entah ke mana. Tetapi bagaimanapun Kartareja beruntung. Dia berhasil menemukan kembali Sakum, laki-laki dengan sepasang mata keropos namun punya keahlian istimewa dalam memukul calung besar. Sakum, dengan mata buta mampu mengikuti secara seksama pagelaran ronggeng. Seperti seorang awas, Sakum dapat mengeluarkan seruan cabul tepat pada saat ronggeng menggerakkan pinggul ke depan dan ke belakang. Pada detik ronggeng membuat gerak birahi, mulut Sakum meruncing, lalu keluar suaranya yang terkenal; Cessss! Orang mengatakan, tanpa Sakum setiap pentas ronggeng tawar rasanya. Kemarau masih mengulur waktu. Kartareja menemukan hari dan malam cerah buat mulai mengasuh Srintil. Senja yang telah ditunggu semua warga Dukuh Paruk. Kartareja menyuruh orang membersihkan halamannya. Empat helai tikar pandan digelar di tengah tanah kering berpasir itu. Setelah hari gelap, sebuah lampu minyak besar dinyalakan. Terang, sebab pada sumbu-lampu minyak itu dipasang sebuah cincin penerang. Suasana demikian mengundang anak- anak. Mereka bergerombol memperhatikan orang-orang bekerja. Semuanya telah tahu, malam itu Srintil akan menari. Di dalam rumah, Nyai Kartareja sedang merias Srintil. Tubuhnya yang kecil dan masih lurus tertutup kain sampai ke dada. Angkinnya kuning. Di pinggang kiri kanan ada sampur berwarna merah saga. Srintil didandani seperti laiknya seorang ronggeng dewasa. Kulitnya terang karena Nyai Kartareja telah melumurinya dengan tepung bercampur air kunyit. Istri dukun ronggeng itu juga telah menyuruh Srintil mengunyah sirih. Bibir yang masih sangat muda itu merah. Banyak perempuan dan anak-anak memenuhi rumah Kartareja. Mereka ingin melihat Srintil dirias. Sepanjang usianya yang sebelas tahun, baru pertama kali Srintil menjadi perhatian orang. Dia tersipu. Terkadang tertawa kecil bila dia mendengar orang berbisik memuji kecantikannya. Mulutnya mungil. Cambang tipis di pipinya menjadi nyata setelah Srintil dibedaki. Alis yang diperjelas dengan jelaga bercampur getah pepaya membuatnya kelihatan seperti boneka. Satu hal disembunyikan oleh Nyai Kartareja terhadap siapa pun. Itu, ketika dia meniupkan mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil. Mantra yang di Dukuh Paruk dipercaya akan membuat siapa saja tampak lebih cantik dari yang sebenarnya;
uluk-uluk perkutut manggung teka saka ngendi, teka saka tanah sabrang pakanmu apa, pakanku madu tawon manis madu tawon, ora manis kaya putuku, Srintil. Konon bukan hanya itu. Beberapa susuk emas dipasang oleh Nyai Sakarya di tubuh Srintil. Orang-orang yang sudah berkumpul hendak melihat Srintil menari mulai gelisah. Mereka sudah begitu rindu akan suara calung. Belasan tahun lamanya mereka tidak melihat pagelaran ronggeng. Maka bukan main senang hati mereka ketika mendengar Kartareja bersuara; pertunjukan akan dimulai. Lingkaran yang terdiri atas warga Dukuh Paruk segera terbentuk. Tiga penabuh duduk bersila menghadapi perangkat pengiring; sebuah gendang, dua calung dan sebuah gong tiup yang terbuat dari seruas bambu besar. Sehelai tikar tersedia bagi tempat Srintil menari. Sakum yang menghadapi calung besar cepat menjadi perhatian orang. Tampaknya dia tidak mengutuk matanya yang buta. Sakum hanya tersenyum. Cengar-cengir. Kedua tangannya memegang pemukul calung, siap menunggu aba-aba gendang. Ketika Srintil muncul dituntun Nyai Kartareja, semua mata terarah kepadanya. Rasus yang berdiri di lapisan penonton paling depan ternganga. Dia tak percaya dirinya telah mencium Srintil beberapa hari yang lalu. Srintil didudukkan di tengah tikar. Tidak bergerak, bahkan dia tidak menggulirkan bola matanya. Kartareja muncul dengan pedupaan yang dibawanya berkeliling arena. Tungku kecil yang mengepulkan asap kemenyan itu kemudian diletakannya dekat gendang. Hening.
Tanggapan hanya berupa bisik-bisik lirih. Seorang perempuan menggamit lengan teman di sebelahnya, memuji kecantikan Srintil. Rasus Warta dan Darsun memandang boneka di tengah tikar itu tanpa kedipan mata. Srintil, yang sering menari di bawah pohon nangka kini tampil di tengah pentas. Kepada tukang gendang, Kartareja memberi isyarat. Detik berikutnya bergemalah irama calung yang dikembari tepuk tangan hampir semua warga Dukuh Paruk. Sakum mulai bertingkah. Dengan lenggang-lenggok jenaka ia memainkan calungnya. Satu-dua seruan cabul mulai meluncur dari mulutnya. Setiap kali berseru, Sakum mendapat tepuk tangan yang riuh. Penonton menunda kedipan mata ketika Srintil bangkit. Hanya dituntun oleh nalurinya, Srintil mulai menari. Matanya setengah terpejam. Sakarya yang berdiri di samping Kartareja memperhatikan ulah cucunya dengan seksama. Dia ingin membuktikan kata-katanya, bahwa dalam tubuh Srintil telah bersemayam indang ronggeng. Dan Kartareja, sang dukun ronggeng mendapat kenyataan seperti itu. Ketika Srintil menyanyikan lagu yang sulit-sulit, yang pasti dia belum pernah mempelajarinya, bulatlah hati Kartareja. Dia harus percaya bahwa Srintil mendapat indang. Kartareja percaya penuh, Srintil dilahirkan di Dukuh Paruk atas restu arwah Ki Secamenegala dengan tugas menjadi ronggeng. Penampilan Srintil yang pertama, membuat Kartareja mengangguk dan mengangguk. “Sakarya tidak berlebihan dengan kata- katanya beberapa hari yang lalu,” pikir Kartareja. Selama menari wajah Srintit dingin. Pesonanya mencekam setiap penonton. Banyak orang terharu dan kagum melihat bagaimana Srintil melempar sampur. Bahkan Srintil mampu melentikkan jari-jari tangan, sebuah gerakan yang paling sulit dilakukan oleh seorang ronggeng. Penampilan Srintil masih dibumbui dengan ulah Sakum lestari kocak dan cabul. Suara “cesss” tak pernah luput pada saat Srintil menggoyang pinggul. Satu babak telah usai. Calung berhenti, dan Srintil kembali duduk. Gumam penonton terdengar. Seorang perempuan mengisak. Rasa harunya setelah melihat Srintil menari menyebabkan air matanya menetes. “Tak kusangka Srintil bisa menari sebagus itu,” katanya. “Kalau boleh aku ingin menggendongnya, membuainya sampai dia lelap di pangkuanku.”
“Yah, aku pun ingin mencuci pakaiannya. Aku akan memandikannya besok pagi,” kata perempuan lainnya. “Eh, kalian dengar. Srintil bukan milik orang per orang. Bukan hanya kalian yang ingin memanjakan Srintil. Sehabis pertunjukan nanti aku mau minta ijin kepada Nyai Kartareja.” “Engkau mau apa?” “Memijat Srintil. Bocah ayu itu pasti lelah nanti. Dia akan kubelai sebelum tidur.” “Yah, Srintil. Bocah kenes, bocah kewes. Andaikata dia lahir dari perutku!” kata perempuan lainnya lagi. Berkata demikian, perempuan itu mengusap matanya sendiri. Kemudian membersihkan air mata yang menetes dari hidung. Rasus yang sejak semula berdiri tak bergerak di tempatnya mendengar segala pergunjingan itu. Anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu merasa ada sesuatu yang terlangkahi di hatinya. Ia merasa Srintil telah menjadi milik semua orang Dukuh Paruk. Rasus cemas tidak bisa lagi bermain sepuasnya dengan Srintil di bawah pohon nangka. Tetapi Rasus tak berkata apa pun. Dia tetap terpaku di tempatnya sampai pentas itu berakhir hampir tengah malam. Orang-orang Dukuh Paruk pulang ke rumah masing-masing. Mereka, baik lelaki maupun perempuan, membawa kenangan yang dalam. Malam itu kenangan atas Srintil meliputi semua orang Dukuh Paruk. Penampilan Srintil malam itu mengingatkan kembali bencana yang menimpa Dukuh Paruk sebelas tahun yang lalu. Srintil adalah seorang yatim piatu-sisa sebuah malapetaka, yang membuat banyak anak Dukuh Paruk kehilangan ayah-ibu. Sebelas tahun yang lalu ketika Srintil masih bayi. Dukuh Paruk yang kecil basah kuyup tersiram hujan lebat. Dalam kegelapan yang pekat, pemukiman terpencil itu lengang, amat lengang. Hanya tangis bayi dan lampu kecil berkelip menandakan pedukuhan itu berpenghuni. Tak ada suara kecuali suara kodok. Bangsa reptil itu berpesta pora, bertunggangan dan kawin. Besok pagi, hasil pesta mereka akan tampak. Kodok betina meninggalkan untaian telur yang panjang. Katak hijau menghimpun telurnya dalam kelompok yang terapung di permukaan
air. Katak daun menyimpan telurnya pada gumpalan busa yang melekat pada ranting semak-semak. Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946. Semua penghuni pedukuhan itu telah tidur pulas, kecuali Santayib, ayah Srintil. Dia sedang mengakhiri pekerjaannya malam ini. Bungkil ampas minyak kelapa yang telah ditumbuk halus dibilas dalam air. Setelah dituntas kemudian dikukus. Turun dari tungku, bahan ini diratakan dalam sebuah tampah besar dan ditaburi ragi bila sudah dingin. Besok hari pada bungkil ampas minyak kelapa itu akan tumbuh jamur-jamur halus. Jadilah tempe bongkrek. Sudah sejak lama Santayib memenuhi kebutuhan orang Dukuh Paruk akan tempe itu. Selesai dengan pekerjaan malam itu, Santayib berangkat tidur. Sepi. Dukuh Paruk dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembab. Srintil yang masih bayi acap kali terjaga bila popoknya basah. Bila kainnya sudah diganti Srintil lelap kembali di ketiak ibunya. Tetes-tetes air yang tersisa di pucuk-pucuk daun jatuh ke bawah. Bunyi keletak-keletik terdengar bila butir air itu menimpa daun pisang atau daun keladi. Seekor burung celepuk hinggap tenang pada sebuah dahan yang rendah. Matanya yang awas menatap ke permukaan air di kubangan. Bila melihat katak, burung malam itu menukik tanpa suara, hinggap di dahan lagi dengan korban di mulutnya. Perburuan baru akan berhenti bila tembolok burung celepuk itu telah penuh daging segar. Pertanda telah kenyang, dia akan mengeluarkan suara berat: guk-guk-guk, hrrrrr. Suara hantu. Suara yang membuat setiap anak yang mendengarnya segera mencari selangkangan ibunya. Sinar bulan tidak mampu menembus tirai awan. Di langit timur bulan hanya membuat rona kuning. Kilat acap kali membuat benderang sesaat, meninggalkan garis kemilau yang patah-patah. Gema guruh berkepanjangan. Hilang gaungnya, Dukuh Paruk kembali didaulat suara bangsa kodok. Hujan yang kemudian turun kembali membuat Dukuh Paruk semakin kecil dan beku. Tak seorang pun di Dukuh Paruk tahu. Segumpal cahaya kemerahan datang dari langit menuju Dukuh Paruk. Sampai di atas pedukuhan cahaya itu pecah, menyebar ke segala arah. Seandainya ada manusia Dukuh Paruk yang melihatnya, dia akan berteriak
sekeras-kerasnya. “Antu tawa. Antu tawa. Awas ada antu tawa! Tutup semua tempayan! Tutup semua makanan!” Namun semua orang tetap tidur nyenyak. Cahaya alarm yang dipercaya sebagai pembawa petaka datang tanpa seorang pun melawannya dengan tolak bala. Kecuali kambing-kambing yang mengembik di kandang. Kecuali keributan kecil di kurungan ayam. Dan burung hantu yang mendadak berbunyi bersahutan. Dari rimbun beringin di atas makam Ki Secamenggala itu burung-burung hantu meneriakkan gema berwibawa. Beku dan kebisuan berjalan sampai fajar menjelang. Makin sering terdengar suara tangis bayi. Juga embik kambing yang mulai lapar. Hujan yang tinggal rinai gerimis menciptakan bianglala di timur. Hanya suara kodok yang sejak sore hari tetap ramai. Kokok ayam dan cericit tikus busuk yang mencari sarangnya di balik batu-batu besar. Meski Santayib orang yang paling akhir pergi tidur, namun dia pulalah yang pertama kali terjaga di Dukuh Paruk. Disusul kemudian oleh istrinya. Srintil, bayi yang manis. Dia biasa tergolek sendiri meskipun kedua orang tuanya mulai sibuk bekerja. Suami-istri Santayib menyiapkan dagangannya; tempe bongkrek. Sebelum matahari terbit akan datang para tetangga yang akan membeli bongkrek. Kecuali hari pasaran Santayib hanya menjual dagangannya kepada para tetangga. Hari mulai terang. Di halaman rumah Santayib seekor kodok melompat satu-dua mencari tempatnya yang gelap di kolong balai-balai. Sekelompok lainnya masih berenang dan kawin di kubangan. Kampret dan kalong berebut masuk ke sarangnya kembali. Boleh jadi mereka masih lapar karena hujan mengacau perburuan mereka. Namun binatang mengirap itu taat kepada alam. Atau mereka akan dikejar dan dimangsa burung gagak bila pulang terlambat. Beberapa anak telah turun dari balai-balai, lari ke depan pintu bambu dan kencing di sana. Atau lari ke kakus terbuka di belakang rumah. Lalat berhamburan. Seekor burung sikatan mencecet menyambar makanannya, lalat hijau. Sesekali burung kecil yang gesit itu terbang menyambar agas yang berputar-putar di atas kepala si bocah. Liang kumbang tahi ada di mana-mana di sekitar kakus. Serangga kotor ini mempunyai cara yang aneh bila hendak membawa tinja ke liangnya. Ia berjalan mundur sambil menolak bulatan kotoran manusia sebesar buah jarak dengan kaki-kaki belakangnya. Alam yang bijaksana, telah mengajari
bangsa kumbang tahi. Walaupun ia berjalan mundur, lintasan jalannya akan berakhir persis di mulut liang. Di sana gumpalan tinja itu ditolak ke dalam tanah. Di sana pula bangsa kumbang tahi menaruh telur bagi kelangsungan hidup jenisnya. Satu-dua orang telah datang membeli bongkrek. Istri Santayib melayani mereka. Celoteh antar-perempuan terdengar akrab. Kemanisan pergaulan kampung yang lugu. “Srintil belum bangun?” “Belum,” jawab istri Santayib. “Srintil bayi yang tahu diri. Rupanya dia tahu aku harus melayani sampean setiap pagi.” “Ah, sungguh beruntung kalian mempunyai seorang bayi yang anteng.” “Betul. Kalau tidak, wah, sungguh repot kami.” “Bongkrekmu tidak dicampur dedak, bukan?” “Oalah, tidak. Kemarin Kang Santayib mendapat bungkil yang baik. Kering dan harum. Cobalah, bongkrekku manis sekali hari ini.” “Syukur. Pagi ini kami seisi rumah makan nasi padi bengawan. Simpanan terakhir buat benih kami tumbuk. Apa boleh buat, kami sudah sebulan makan nasi gaplek. Hari ini kami menanak nasi.” “Wah. Sayur bongkrek campur toge dengan nasi padi bengawan. Hidangkan ketika masih hangat. Boleh aku makan di rumahmu?” seloroh istri Santayib. “Pasti boleh. Ayolah.” “Terima kasih. Aku hanya berolok-olok.” Dukuh Paruk mulai hidup. Dentum lesung berisi gaplek yang ditumbuk. Bunyi minyak panas di wajan yang dikenai adonan tepung pembungkus tempe bongkrek. Atau gemerencing keliningan di leher anak kambing yang menyusu tetek induknya yang merekah. Seekor induk ayam berkotek keras- keras karena burung elang menyambar seekor anaknya. Anak-anak merengek minta makan. Seorang perempuan di dapur menghardik anaknya yang tidak sabar menunggu nasi gaplek masak ditanak. Bila anak-anak Dukuh Paruk sudah lari ke luar dan menyobek sehelai daun pisang, berarti sarapan pagi telah siap. Hanya beberapa di antara mereka yang biasa menggunakan piring. Mereka makan di emper rumah, di ambang pintu atau di mana pun mereka suka. Semua makanan enak sebab perut anak-anak Dukuh Paruk tidak pernah benar-benar kenyang.
Matahari naik. Panasnya mulai menyengat. Panas yang telah mengubah warna rambut orang dan anak Dukuh Paruk menjadi merah. Kulit kehitaman bersisik. Dukuh Paruk yang tadi malam basah kuyup kini terjerang. Panas dan lembab. Namun selamanya Dukuh Paruk menurut pada alam. Orang-orang dewasa tetap bekeria di ladang atau sawah. Anak-anak pergi dengan binatang gembalaannya. Hari itu tak terjadi kelainan di pemukiman terpencil itu. Namun semuanya berubah menjelang tengah hari. Seorang anak berlari-lari dari sawah sambil memegangi perut. Di depan pintu rumahnya dia muntah, terhuyung dan jatuh pingsan. Ibunya yang sudah mulai merasakan sakit menyengat kepalanya, menjerit dan memanggil para tetangga. Sebelum para tetangga datang, anak itu telah meregang nyawa. Bahkan ibunya pun jatuh tak sadarkan diri dengan rona biru di wajahnya. Ibu dan anak terkulai di tanah. Jerit dari rumah pertama memulai kepanikan di Dukuh Paruk. Orang-orang yang bekerja di luar rumah bergegas pulang. Mereka mendengar suara jerit minta tolong. Atau mereka sendiri mulai merasa dunia berputar-putar. Seorang lelaki bahkan digendong oleh temannya karena dia tidak lagi mampu berjalan. Di perkampungan, suara minta tolong terdengar dari setiap rumah. Pada akhirnya setiap keluarga terlibat dalam hiruk-pikuknya sendiri, kengeriannya sendiri. Tolong-menolong antar keluarga tak mungkin dilakukan. Bahkan sementara ibu harus melihat anak atau suaminya menggeliat mempertahankan nyawa tanpa bisa berbuat apa pun karena dirinya sendiri berada antara hidup dan mati. Kebodohan memang pusaka khas Dukuh Paruk. Namun setidaknya orang-orang di sana bisa berfikir mencari sebab malapateka hari itu. Tidak semua warga Dukuh Paruk pusing, muntah lalu terkulai. Ada sementara mereka yang tetap segar. Dan mereka adalah orang-orang yang tidak makan tempe bongkrek buatan Santayib. Jadi. Dalam haru-biru kepanikan itu kata-kata “wuru bongkrek” mulai diteriakkan orang. Keracunan tempe bongkrek. Santayib, pembuat tempe bongkrek itu, sudah mendengar teriakan demikian. Hatinya ingin dengan sengit membantahnya. Namun nuraninya juga berbicara, “Santayib, bongkrekmu akan membunuh banyak orang di Dukuh Paruk ini.”
Pergulatan berkecamuk sendiri di hati ayah Srintil itu. Karena ketegangan jiwa, tubuh Santayib gemetar. Bibir memucat dan nafas memburu. Istrinya yang mulai dirayapi perasaan sama, malah mulai menangis ketakutan. Suami istri itu memang tidak ikut makan tempe buatan sendiri karena sudah bosan. Istri Santayib mendekati suaminya yang sedang duduk gelisah di atas lincak. “Kang, orang-orang itu geger. Banyak tetangga yang sakit dan pingsan. Ini bagaimana, Kang?” Santayib membisu. Ketegangannya makin menjadi-jadi. Melihat laki- laki itu diam, istrinya berseru lagi. “Kang, apa tidak kaudengar orang-orang mengatakan mereka keracunan tempe bongkrek? Bongkrek yang kita buat? Ini bagaimana, Kang?” Sekali ini pun Santayib tetap membeku. Hanya dadanya turun-naik lebih cepat. Perang antara suara hati dan suara nuraninya semakin seru. Fitrahnya sebagai manusia ingin menolak keburukan yang akan datang menimpanya. Santayib mengerti kenyataan yang dihadapi hampir mustahil terbantah. Dia akan dituntut tanggung jawab sebagai pembuat bongkrek yang mendatangkan petaka. Nuraninya sendiri akan menuntut demikian pula. Di tengah kebimbangan demikian, muncullah Sakarya, ayah Santayib sendiri. Di belakang Sakarya menyusul tiga orang laki-laki lain. Ketiganya dengan wajah berang. “Oalah! Oalah! Santayib, anakku. Orang-orang itu mabuk keracunan bongkrek. Bongkrekmu mengandung racun.” Berkata demikian, Sakarya hendak berjalan ke dalam rumah anaknya, ingin melihat bongkrek yang tersisa. Tiba-tiba Santayib berdiri. Perang antara perasaan menolak dan menerima tuduhan bertanggung jawab muncul menjadi momen murka. Santayib tegak pada kedua kakinya yang bergetar. Suara lantang ditujukan kepada empat laki-laki di hadapannya. “Tidak! Bongkrekku tidak mungkin beracun. Bahannya bungkil yang kering. Tidak bercampur apa pun. Ayah, engkau jangan mengajak orang menuduh anakmu sendiri dengan keji!” “He, Santayib. Bukti yang berbicara. Lihat, anakku, istriku, emakku, semua tergeletak. Mereka makan bongkrekmu pagi ini,” bentak seorang laki-laki di belakang Sakarya.
“Tidak bisa! Siapa tahu kejadian ini adalah pageblug. Siapa tahu kejadian ini karena kutuk roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Siapa tahu!” “He, barangkali engkau merambang bungkil dengan bokor tembaga,” seru laki-laki lainnya. Sehabis bertanya demikian laki-laki itu berlari ke sumur. Benar. Di sana dia menemukan sebuah bokor tembaga. Ada lapisan membiru, warna asam tembaga. Bokor ini dibawanya ke depan orang banyak. Dia berteriak bagai orang gila. “Santayib. Engkau anjing! Asu buntung. Lihat, bokor ini biru karena beracun. Asu buntung. Engkau telah membunuh semua orang. Engkau... engkau aaasssu... ” Laki-laki yang hendak melempar Santayib dengan bokor itu tak kuasa meneruskan niatnya. Kepalanya berputar. Ususnya terasa melilit. Wajah dan dadanya terasa panas. Gemetar dan jatuh terjerembab. Kepanikan masih ditambah dengan munculnya seorang perempuan yang berlari sambil mengangkat kain tinggi-tinggi. Tudingan jari telunjuknya mengarah lurus ke arah bola mata Santayib. “Oalaaah, Santayib. Dua orang cucuku tergeletak karena makan bongkrekmu. Mereka akan segera mati. Hayo, bagaimana Santayib! Aku minta tanggung jawab. Engkau hutang nyawa padaku. Tolong cucu-cucuku sekarang. Hayo!” Rasa getir, kelu, dan bimbang mencekam hati Santayib. Dia bingung, amat bingung. Kekacauan hatinya tergambar pada roman muka yang tidak menentu. Istri Santayib berlari hilir-mudik, menangis dan memeluk Srintil. Seperti mengerti segalanya, Srintil pun ikut menangis keras-keras. Boleh jadi kesadaran Santayib hanya tinggal sebagian ketika dia lari masuk ke dalam. Keluar lagi dengan seonggok bongkrek di kedua tangannya. Lengking suaranya membuat siapa pun meremang bulu kuduk. “Bajingan! Kalian semua bajingan tengik! Betapapun bongkrekku tak bersangkut-paut dengan malapetaka ini. Lihat! Akan kutelan bongkrek ini banyak-banyak. Kalau benar ada racun, pasti aku akan segera sekarat!” Secara menyolok Santayib memasukkan bongkrek ke dalam mulutnya. Tanpa mengunyah, makanan itu cepat ditelannya. Pada mulanya, istri Santayib terpana. Tetapi rasa setia kawan menyuruhnya segera bertindak. Sambil membopong Srintil, perempuan itu ikut mengambil bongkrek dari tangan Santayib dan langsung menelannya.
Sejenak Sakarya terbelalak. Di depan matanya sendiri Sakarya melihat anak dan menantunya menentang racun. Tergagap laki-laki tua itu meratap. “Jangan. Oalah, Santayib, jangan. Engkau anakku, jangan menantang kematian. Jangan!” Sakarya hendak melompat ke depan. Ingin ditepiskannya tangan Santayib yang menggenggam bongkrek. Malah ingin dikoreknya mulut anak dan menantunya agar makanan beracun itu keluar kembali. Itu kehendak Sakarya. Tetapi ambang pintu rumah Santayib lain kemauannya. Sakarya yang ingin bergerak secepatnya tersandung ambang pintu, jatuh dengan kepala membentur tiang kayu. Tubuhnya terjajar bersama laki-laki pertama yang gagal melempar Santayib dengan bokor tembaga. Dua tubuh laki-laki terkapar. Satu di antaranya adalah Sakarya, ayah Santayib sendiri. Laki-laki pertama lunglai oleh racun tempe bongkrek, dan yang kedua pingsan karena kepalanya terbentur tiang kayu. Dua laki-laki lainnya berlalu meninggalkan rumah Santayib. Mereka tentu mempunyai kenangan berkesan atas dua tubuh yang tergolek di tanah dan sepasang suami-istri yang sengaja menelan tempe beracun. Gumpalan bongkrek terakhir sudah lewat melalui kerongkongan Santayib. Dia menoleh istrinya yang semula berdiri di sampingnya ikut mengunyah bongkrek. Tetapi perempuan itu telah menghilang ke dalam bilik sambil membopong Srintil. Kebekuan yang mencekam meliputi rumah Santayib. Dia termangu. Dia tidak berbuat apa pun terhadap dua tubuh laki-laki yang melingkar di tanah. Tidak. Santayib pun membiarkan ayah kandungnya dalam keadaan tak sadarkan diri. Apa yang terjadi kemudian hanya bisa diperbuat oleh orang tidak waras. Santayib tertawa terbahak-bahak lalu berlari ke luar rumah. Sambil berjalan melompat-lompat, dicacinya semua orang dengan ucapan yang paling kasar dan cabul. Dukuh Paruk dikelilinginya. Santayib tidak peduli atas kepanikan luar biasa yang sedang melanda para tetangga. Tatapan matanya jalang. Teriakannya membabi buta. “Kalian, orang Dukuh Paruk. Buka matamu, ini Santayib! Aku telah menelan seraup tempe bongkrek yang kalian katakan beracun. Dasar kalian semua, asu buntung! Aku tetap segar-bugar meski perutku penuh tempe bongkrek. Kalian mau mampus, mampuslah. Jangan katakan tempeku
mengandung racun. Kalian terkena kutuk Ki Secamenggala, bukan termakan racun. Kalian memang asu buntung yang sepantasnya mampus!” Lelah berteriak-teriak, Santayib pulang. Di depan rumahnya dia berpapasan dengan beberapa orang yang menggotong laki-laki yang tadi hendak melempar Santayib dengan bokor tembaga. Sakarya masih pingsan, terkulai dekat ambang pintu. Sejenak Santayib tertegun. Digoyangnya tubuh Sakarya yang tetap pingsan. Kemudian Santayib berlalu. Tetapi kepalanya serasa melayang ketika dia bangkit. Kelap-kelip seribu kunang-kunang di matanya. Sengatan pertama terasa menusuk lambungnya. Santayib terus melangkah menuju bilik tidurnya. Derit daun pintu bambu. Tampak istrinya tidur tengadah dengan keringat membasahi badannya. Wajahnya pucat kebiruan. Terkadang perempuan itu meringis bila merasa urat-urat di perutnya menegang. Tetapi Srintil berceloteh lucu sekali di samping tubuh ibunya. Meskipun terasa rumah berayun-ayun, istri Santayib tahu suaminya datang. Dengan menggigil perempuan itu berusaha duduk di bibir balai- balai. Suami-istri saling pandang. Mereka, dua manusia yang telah menerima sasmita dari pencipta Dukuh Paruk. Keduanya berpandangan dengan cara aneh. Keduanya membisu. Bayangan Santayib diterima oleh lensa mata istrinya, kemudian dijabarkan secara kacau-balau oleh syaraf mata. Maka istri Santayib tidak melihat sosok suaminya, melainkan sebuah bayangan bergerak yang amat menakutkan. Wajah istri Santayib semakin pucat. Rona kengerian. Kelopak matanya membuka lebar-lebar sehingga retina hanya berupa titik hitam di tengah bulatan putih. Mulutnya ternganga seperti dia hendak berteriak keras. Santayib pun demikian. Sesungguhnya gendang telinganya menangkap suara celoteh Srintil yang lucu menawan. Tetapi Santayib mendengarnya sebagai hiruk-pikuk suara ribuan monyet di pekuburan Dukuh Paruk. Santayib juga melihat beratus-ratus mayat bangkit, dengan kacau-balau memukuli calung sampai tulang-tulang mereka rontok. Mata Santayib terbeliak dengan mulut ternganga. Ketika Santayib melihat bayangan Ki Secamenggala menjulurkan tangan hendak mencekik lehernya, dia hendak berteriak. Namun semua urat di lehernya kaku.
Beku yang mencekam. Santayib sudah berdiri goyah. Istrinya duduk menggigil. Keduanya tidak saling pandang. Hanya daya manusiawi terakhir memungkinkan suami-istri itu masih sempat berbicara. Suara mereka terdengar dari tenggorokan yang hampir tertutup. “Kang,” kata istri Santayib dengan mata terbeliak lurus ke depan. “Hhh?” “Srintil, Kang, Bersama siapakah nanti anak kita, Kang?” “Hhhh?” “Aku tak tega meninggalkannya, Kang.” Santayib hanya kuasa menelan ludah. Sementara itu Srintil meronta manja di atas tikar. Santayib ingin memandangnya. Tetapi penglihatannya telah baur. Srintil yang bergerak lucu hanya tampak sebagai hantu yang menakutkan. Santayib menikmati kesadarannya yang terakhir ketika melihat istrinya roboh ke belakang. Dia pun segera terkulai setelah dari mulutnya keluar umpatan; “bongkrek asu buntung. “ Istri Santayib meninggal ketika dia berusaha memiringkan badannya hendak memeluk Srintil. Bau kematian telah tercium oleh burung-burung gagak. Unggas buruk yang serba hitam itu terbang berputar-putar di antara pepohonan di Dukuh Paruk. Suaranya yang serak hanya mendatangkan benci. Tetapi hari itu burung-burung gagak bersuka-ria di Dukuh Paruk. Mereka berteriak-teriak dari siang sampai malam tiba. Maut bekerja dengan sabar dan pasti. Maut telah berpengalaman dalam pekerjaannya sejak kematian yang pertama. Tanpa terganggu oleh jerit dan ratap tangis, maut terus menjemput orang-orang Dukuh Paruk. Hari itu sembilan orang dewasa meninggal. Dua di antaranya adalah suami-istri Santayib. Juga sebelas anak-anak tidak tertolong. Jumlah itu merupakan lebih dari separo anak di pedukuhan itu. Belasan anak lainnya menjadi yatim-piatu pada hari yang sama. Meski Santayib dan istrinya meninggal ketika hari masih siang, mayat mereka tidak segera ditanam. Semua orang di Dukuh Paruk sibuk dengan mayat keluarga masing-masing. Atau merawat orang-orang yang masih bertahan hidup. Orang-orang Dukuh Paruk mempunyai cara sederhana menolong orang termakan racun. Air kelapa bercampur garam menjadi pencahar yang lumayan mujarab. Juga air yang bercampur abu dapur. Kalau orang keracunan bisa muntah setelah minum pencahar ini, ada harapan
hidup baginya. Celakanya, penggunaan pencahar yang tak terkendali sering pula membawa kematian. Orang Dukuh Paruk sendiri tak tahu, banyak teman mereka bukan mati oleh racun bongkrek, melainkan karena kekurangan cairan pada tubuh mereka, akibat terlalu banyak muntah. Malam hari, Sakarya bersama istrinya menunggui mayat anak mereka; Santayib suami-istri. Srintil sering menangis. Bayi itu belum merasakan sedih. Srintil menangis karena air susu tak lagi diperolehnya. Oleh Nyai Sakarya, Srintil diberi hidup dengan air tajin. Walaupun sedang menunggu mayat anak dan menantunya, tengah malam Sakarya keluar menuju makam Ki Secamenggala. Laki-laki itu menangis seorang diri di sana. Dalam kesedihannya yang amat sangat, Sakarya mengadukan malapetaka yang terjadi kepada moyang orang Dukuh Paruk. Sakarya tidak lupa, dirinya menjadi kamitua di pedukuhan itu. Keluar dari pekuburan Sakarya berkeliling pedukuhan. Dijenguknya setiap rumah. Setiap kali membuka pintu Sakarya mendapat kesedihan. Bahkan tidak jarang Sakarya mendapat perlakuan yang tidak enak. Seolah- olah dia harus ikut bertanggung jawab atas dosa anaknya, Santayib. Meskipun demikian tak sebuah rumah dilewati oleh Sakarya. Selesai berkunjung ke setiap rumah, Sakarya kembali mengelilingi pedukuhan. Kali ini dia berjalan di tepian kampung. Di kaki bukit kecil di pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya berdiri bersilang tangan. Dalam keheningan yang mencekam, laki-laki tua itu mencoba menghubungkan batinnya dengan ruh Ki Secamenggala atau siapa saja yang menguasai alam Dukuh Paruk. Sarana yang diajarkan oleh nenek moyangnya adalah sebuah kidung yang dinyanyikan oleh Sakarya dengan segenap perasaannya; Ana kidung rumeksa ing wengi Teguh ayu luputing lara Luputa bilahi kabeh Jin setan datan purun Paneluhan datan ana wani Miwah penggawe ala
Gunaning wong luput Geni atemahan tirta Maling adoh tan ana ngarah mring mami Guna duduk pan sirna... Adalah gita penjaga sang malam. Tetaplah selamat, lepas dari segala petaka. Luputlah segala mara bencana. Jin dan setan takkan mengharu-biru, teluh takkan mengena. Serta segala perilaku jahat, ilmu para manusia sesat. Padam seperti api tersiram air. Pencuri takkan membuatku menjadi sasaran. Guna-guna serta penyakit akan sirna... Alam membisu mendengar ratap Sakarya. Dukuh Paruk bungkam. Hanya kadang terdengar keluh sakit. Atau tangis orang-orang yang menyaksikan saudara meregang nyawa. Bau bunga sedap malam dikalahkan oleh asap kemenyan yang mengepul dari semua rumah di Dukuh Paruk, pedukuhan yang berduka ketika Srintil genap berusia lima bulan. BAB II MALAPETAKA itu masih diingat benar oleh semua orang Dukuh Paruk. Seorang nenek telah belasan kali menceriterakannya kepada Rasus, cucunya, Tentu saja nenek itu adalah nenekku sendiri karena di Dukuh Paruk hanya ada seorang bernama Rasus yaitu diriku. Sayang. Dukuh Paruk dengan segala isinya termasuk ceritera Nenek itu hanya bisa kurekam setelah aku dewasa. Apa yang kualami sejak kanak-kanak kusimpan dalam ingatan yang serba sederhana. Dengan kemampuan seorang anak pula, kurangkaikan ceritera sepotong-sepotong yang kudengar dari kiri-kanan. Baru setelah aku menginjak usia dua puluh tahun, aku mampu menyusunnya menjadi sebuah catatan. Memang menyedihkan. Catatan ini tidak lebih daripada sebuah evaluasi perjalanan hidup seorang anak Dukuh Paruk. Bahkan hal itu pun mustahil kulaksanakan sebelum aku
melewati liku-liku panjang sampai aku menemukan diriku sendiri. Ibarat meniti sebuah titian panjang dan berbahaya, aku hanya bisa menceriterakannya kembali, mengulas serta merekamnya setelah aku sampai di seberang. Sebagian ceritera Nenek kupercayai sebagai kebenaran. Sebagian lagi kuanggap sebagai bagian legenda khas Dukuh Paruk. Lainnya lagi menjadi kisah yang malah membuatku selalu tidak puas. Legenda khas Dukuh Paruk misalnya kisah Nenek tentang fenomena di pekuburan Dukuh Paruk malam hari ketika terjadi bencana itu. Nenek mengatakan banyak obor terlihat di atas kerimbunan pohon beringin di atas makam Ki Secamenggala. Dari pekuburan itu terdengar suara tangis bersahutan. Nenek juga mengatakan bayangan Ki Secamenggala keluar, mendatangi setiap mayat yang malam itu belum satu pun sempat dikubur. Bahkan Sakarya mendengar Ki Secamenggala mengatakan kematian delapan belas warga Dukuh Paruk adalah kehendaknya. Selama hidupnya menjadi bromocorah, Ki Secamenggala berutang nyawa sebanyak itu, maka nyawa keturunannya dipakai sebagai tebusan. Beberapa hari sebelum terjadi malapetaka itu telah terlihat berbagai pertanda. Pancuran di Dukuh Paruk mengeluarkan air berbau busuk. Pohon- pohon puring di pekuburan melayu, tetapi pohon semboja malah berbunga. Meskipun belum waktunya, anjing-anjing berdatangan ke Dukuh Paruk. Anjing-anjing jantan berebut betina dalam kegaduhan yang mengerikan. Burung kedasih berbunyi sejak malam tiba sampai terbit fajar. Itu kisah tetek-bengek yang begitu diyakini oleh setiap orang Dukuh Paruk. Siapa pun takkan berhasil mengubah keyakinan itu. Juga orang tak perlu mengutuk warga Dukuh Paruk yang percaya penuh bahwa asam tembaga adalah satu-satunya penyebab bencana. Di kemudian hari aku diberi tahu asam tembaga benar racun. Namun sepanjang menyangkut malapetaka tempe bongkrek, asam tembaga tak terbukti berperan. Kesalahan harus ditimpakan kepada bakteria jenis pseudomonas coccovenenans yang ikut tumbuh pada bongkrek dalam peragian. Bakteria itu menghasilkan racun kuat yang menjadi cikal-bakal kematian orang yang makan tempe bongkrek. Tetapi orang akan sia-sia menyampaikan pengetahuan ini ke Dukuh Paruk. Di sana orang begitu yakin asam tembaga adalah satu-satunya penyebab racun bongkrek. Demikian, dengan menghindarkan perkakas
tembaga orang Dukuh Paruk masih membuat tempe bongkrek. Jadi petaka yang terjadi ketika Srintil bayi (kata Nenek aku berusia tiga tahun saat itu) bukan musibah pertama, bukan pula yang terakhir. Aku sendiri, kata Nenek, selamat secara kebetulan. Selagi Ayah dan Emak baru merasa pusing di kepala, aku sudah jatuh pingsan. Tanpa ada yang memberi petunjuk, Nenek menggali tanah berpasir di samping rumah. Aku ditanamnya dalam posisi berdiri, hanya dengan kepala berada di atas permukaan tanah. Sebenarnya, inilah cara orang Dukuh Paruk mengobati orang keracunan jengkol. Aneh, dengan cara ini pula aku selamat dari racun tempe bongkrek. Setelah dewasa, sekali aku pernah mencoba memikirkan hal ini. Boleh jadi dengan cara ditanam seperti itu keringatku yang pasti mengandung racun cepat terserap oleh tanah dari semua pori di kulit tubuhku. Dengan demikian kekuatan racun cepat berkurang. Ah, tetapi teori demikian sangat tidak patut dan hanya akan mengundang tawa orang-orang pandai. Maka lebih baik kuikuti keyakinan Nenek, bahwa aku selamat karena roh Ki Secamenggala belum menghendaki kematianku. Ceritera Nenek yang paling membuatku penasaran adalah yang menyangkut Emak. Bersama Ayah, Emak juga termakan racun. Bila Ayah langsung meninggal pada hari pertama, tidak demikian halnya dengan Emak. Dia masih hidup sampai seorang mantri datang pada hari ketiga. Mantri yang berkumis dan bertopi gabus itu menolong para korban yang masih bernyawa dengan cara menghardik; mengapa mereka makan tempe bongkrek, makanan yang bahkan tidak pantas untuk anjing. Oleh Pak Mantri, Emak bersama lima orang lainnya dibawa ke poliklinik di sebuah kota kawedanan. Beberapa hari kemudian seorang kembali ke Dukuh Paruk dalam keadaan hidup, dan tiga lainnya sudah menjadi mayat. Emak tidak ada di antara mereka. Nenek selalu menghentikan ceriteranya di sini. Aku merasa pasti. Nenek mengetahui betul apa yang terjadi pada Emak selanjutnya. Namun seperti semua orang Dukuh Paruk, Nenek selalu berusaba menutupi kenyataan yang berlaku atas diri Emak. Sampai usia empat belas tahun, ketika Srintil mulai menjadi ronggeng itu, aku berhasil mendapat sedikit keterangan tentang diri Emak. Ada orang yang secara tak sengaja mengatakan Emak memang meninggal di polikiinik kota kawedanan itu. Namun mayatnya dibawa ke kota kabupaten, di sana
mayat Emak diiris-iris oleh para dokter. Mereka ingin tahu lebih banyak mengenai racun tempe bongkrek. Dengan demikian mayat Emak tidak pernah sampai kembali ke Dukuh Paruk. Di mana Emak dikubur tak seorang Dukuh Paruk pun yang mengetahuinya. Ada pula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan. Namun sampai beherapa hari Emak tidak boleh meninggalkan poliklinik. Kata orang itu, setelah Emak sehat benar dia pergi dari poliklinik itu. Bukan pulang ke Dukuh Paruk, melainkan entah ke mana bersama mantri yang merawatnya. Jadi ada dua versi kisah tentang Emak. Mana yang layak kupercaya aku sendiri selalu ragu. Namun setidaknya aku berharap, versi pertamalah yang benar. Artinya memang Emak meninggal. Mayatnya lalu dicincang untuk kepentingan penyelidikan. Pikiran durhaka semacam ini sengaja kudatangkan ke kepalaku. Kuharap orang akan mengerti andaikata versi itu benar, hakekatnya lebih baik daripada kebenaran versi kedua. Sayang, kedua-duanya tinggal menjadi ketidakpastian yang membuatku lebih merana daripada seorang yatim-piatu. Selama bertahun-tahun aku hanya bisa berandai-andai tentang Emak. Andaikan benar Emak dijadikan bahan penyelidikan racun tempe bongkrek; maka mayat Emak dibedah. Organ pencernaannya dikeluarkan. Juga jantung, bahkan pasti juga otaknya. Orang-orang pandai tentu ingin tahu pengaruh racun bongkrek terhadap jaringan otot jantung, sel-sel otak serta bagaimana racun membunuh butir-butir sel darah merah. Darah Emak diperiksa untuk mengetahui sampai kadar berapa racun bongkrek yang terkandung cukup mematikan. Kubayangkan hampir semua bagian organ tubuh Emak dicincang-cincang. Lalu ditaruh di bawah lensa mikroskop atau diperiksa dalam berbagai perkakas laboratorium yang rumit. Terakhir, mayat Emak yang sudah berantakan dan berbau formalin ditanam. Entah di mana, entah di mana. Orang-orang pandai itu, siapa pun dia, merasa berhak menyembunyikan kubur Emak. Aku yang pernah sembilan bulan bersemayam dalam rahim Emak tidak perlu mengetahuinya. Dalam membayangkan pencincangan terhadap mayat Emak, aku tidak merasakan kengerian. Ini pengakuanku yang jujur. Sebab bayangan demikian masih lebih baik bagiku daripada bayangan lain yang juga mengusik angan-anganku. Itu andaikan Emak tidak meninggal melainkan pergi bersama si Mantri entah ke mana.
Boleh jadi Emak hidup senang. Di luar Dukuh Paruk kehidupan selalu lebih baik; demikian keyakinanku sepanjang usia. Mantri yang selalu bertopi gabus, berpakaian putih-putih dengan kumis panjang itu mengawini Emak. Mereka beranak-pinak. Tentulah anak mereka berkulit bersih dengan betis montok dan selalu beralas kaki pula. Setiap hari mereka makan nasi putih dengan lauk yang enak. Anak-anak itu, yang hanya hidup dalam angan-anganku, pasti menganggap aneh kehidupan di Dukuh Paruk. Emak sendiri mungkin merasa malu menceriterakan perihal kampung halamannya kepada anaknya yang baru. Suatu saat kubayangkan Emak ingin pulang ke Dukuh Paruk, karena aku yakin dia perempuan yang baik. Namun aku yakin pula mantriku itu pasti melarangnya. Atau Emak tak mungkin bisa kembali karena bersama mantri itu mereka telah pergi ke Deli, tempat paling jauh yang pernah diceriterakan Nenek kepadaku. Ah, entahlah. Akhirnya kubiarkan Emak hidup abadi dalam alam angan- anganku. Terkadang Emak datang sebagai angan-angan getir. Terkadang pula dia hadir memberi kesejukan padaku: Rasus, anak Dukuh Paruk sejati. Bagaimanapun aku tak meragukan keberadaan Emak, seorang perempuan yang mengandung, melahirkan kemudian menyusuiku. Itu sudah cukup. Lebih baik sekarang kuhadapi hal yang lebih nyata. Srintil sudah menjadi ronggeng di dukuhku, Dukuh Paruk. Usianya sebelas tahun. Aku empat belas tahun. Kini Srintil menjadi boneka. Semua orang ingin menimangnya, ingin memanjakannya. Aka tahu sendiri perempuan Dukuh Paruk berganti-ganti mencucikan pakaian Srintil. Mereka memandikannya dan menyediakan arang gagang padi buat keramas. Siapa yang menebang pisang akan menyediakan sesisir yang terbaik buat Srintil. Kalau ada ayam dipotong karena sakit (orang Dukuh Paruk takkan pernah sengaja memotong ayam), Srintil selalu mendapat bagian. Teman-temanku sebaya, Warta dan Darsun, rela menempuh sarang semut burangrang di atas pohon asalkan mereka dapat mencuri mangga atau jambu. Dengan buah-buahan itu Warta dan Darsun ikut memanjakan Srintil. Semua itu tak mengapa. Yang merisaukanku adalah ulah suami-istri Sakarya. Mereka melarang Srintil keluar bermain-main di tepi kampung atau di bawah pohon nangka. Bila ingin melihatnya, aku harus datang ke rumah Sakarya. Atau mengintip Srintil selagi dia mandi di pancuran. Aku mengerti maksud Sakarya memingit cucunya. Dalam waktu sebulan telah
terlihat perubahan pada diri Srintil. Rambutnya yang tidak lagi terjerang terik matahari menjadi hitam pekat dan lebat. Kulitnya bersih dan hidup. Sisik-sisik halus telah hilang. Pipinya bening sehingga aku dapat melihat jaringan halus urat-urat berwarna kebiruan. Debu yang mengendap, menjadi daki, lenyap dari betis Srintil. Dan yang kuanggap luar biasa; Nyai Sakarya berhasil mengusir bau busuk yang dulu sering menguap dari lubang telinga Srintil. Pokoknya, pada usia empat belas tahun aku berani mengatakan Srintil cantik. Boleh jadi ukuran yang kupakai buat menilai Srintil hanya patut bagi selera Dukuh Paruk. Namun setidaknya pengakuanku itu sebuah kejujuran. Maka pengakuan ini berkelanjutan dan aku tidak merasa bersalah telah bersikap semacam itu. Artinya, aku mulai merasa benci terhadap siapa saja yang menganggap Srintil adalah wewenangnya, terutama suami-istri Sakarya. Terutama pula kepada pemuda-pemuda yang memasukkan uang ke dada Srintil bila ronggeng itu menari tole-tole. Perempuan-perempuan Dukuh Paruk begitu memanjakan Srintil sehingga dia seakan tidak lagi memerlukan teman bermain. Tampaknya Srintil tidak merasa perlu memberi perhatian kepadaku atau kepada siapa pun karena semua orang telah memperhatikannya. Ah. Perhatian Srintil itulah yang terasa hilang di hatiku. Sekali aku menemukan cara licik untuk memperoleh kembali perhatian ronggeng Dukuh Paruk itu. Sebuah pepaya kucuri dari ladang orang. Pada saat yang baik, ketika Srintil seorang diri di pancuran, buah curian itu kuberikan kepadanya. Tak kukira aku akan memperoleh ucapan terima kasih yang menyakitkan. “Sesungguhnya saya menginginkan jeruk keprok,” kata Srintil dingin. “Tetapi buah pepaya pun tak mengapa.” Aku diam karena kecewa, dan sedikit malu. Namun aku mendapat akal untuk menolong keadaan. Pikiran itu mendadak muncul setelah kulihat gigi Srintil telah berubah. “Aku tahu engkau ingin jeruk keprok. Namun buah itu tak baik buat gigimu yang habis dipangur. Engkau akan dibuatnya merasa sangat ngilu.” “Wah, kau benar, Rasus. Seharusnya aku tidak melupakan hal itu. Untung kau mengingatkan aku,” jawab Srintil. Matanya menatapku dengan sungguh-sungguh. Ketika kemudian Srintil tersenyum, sinar lembut memancar dari gigi taringnya yang telah berlapis emas. Siapa pun yang
berselera Dukuh Paruk akan terpacu jantungnya bila menerima senyum dengan kilatan cahaya emas semacam itu. Aku tak bisa berkata-kata. Bahkan dalam beradu pandang dengan Srintil, aku kalah. Kurang ajar. Dasar ronggeng, pandangan matanya tak dapat kutantang. Anehnya cara Srintil memandang membuatku senang. Namun seperti sudah kukatakan, Srintil sudah tidak membutuhkan lagi teman sebaya. Maka tanpa canggung sedikit pun kemudian dia berkata, “Aku mau mandi sekarang, Rasus. Sebaiknya engkau pulang. Kalau mau kau bisa menonton nanti malam. Aku akan menari lagi.” “Oh, jadi kau mau menari lagi nanti malam?” tanyaku demi menutupi kejengkelan. “Ya, benar. Sekarang pulanglah!” Pulanglah! Kata itu berulang-ulang terdengar di telingaku. Karena diusir dengan halus aku pun pulang. Dalam hati aku mengumpat; bajingan! Ah, sesaat kemudian aku sadar, sebenarnya aku tidak mengutuk Srintil, melainkan diriku sendiri. Soalnya aku lahir menjadi orang yang layak diusir oleh ronggeng Dukuh Paruk itu. Betapapun aku tidak suka menerima perlakuan Srintil, tetapi aku berlalu. Bukan pulang. Aku hanya menyingkir tidak berapa jauh. Di atas sebuah tonggak kayu aku duduk. Dari tempat itu pandanganku ke arah pancuran itu hanya terhalang perdu kenanga. Jadi, Srintil yang sedang membuka pakaiannya dapat kulihat dengan nyata. Kemudian datang tiga orang perempuan. Seorang di antaranya membawa arang batang padi untuk mengeramasi cucu Sakarya itu. Perkara mandi, Srintil sungguh tidak usah repot. Ketiga perempuan itu berebut melayaninya. Srintil hanya perlu tertawa atau memekik manja bila ada tangan yang mencubit bagian dadanya. Perempuan-perempuan Dukuh Paruk itu! Kelak, sesudah aku tahu tentang perempuan luar kampung, aku bisa mengatakan perempuan Dukuh Paruk memang hebat. Dalam urusan ini aku bersyukur karena Emak telah lama lenyap dari pedukuhan itu. Kalau tidak, kukira Emak juga berbuat seperti semua perempuan Dukuh Paruk. Mereka bersaing dengan sesamanya melalui cara yang aneh. Ketika menonton Srintil menari aku pernah mendengar percakapan perempuan-perempuan yang berdiri di tepi arena. Percakapan mereka akan
membuat para suami merasa tidak menyesal telah hidup dalam kungkungan rumah tangga. “Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku menjadi laki- laki pertama yang menjamahnya,” kata seorang perempuan. “Jangan besar cakap,” kata yang lain. “Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan.” “Tetapi suamimu sudah pikun. Baru satu babak menari pinggangnya akan terkena encok.” “Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?” “Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi lelaki pertama yang mencium Srintil.” “Tunggulah sampai saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu.” Demikian. Seorang ronggeng di lingkungan pentas tidak akan menjadi bahan percemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Malah sebaliknya. Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun birahinya. * * * Sejak peristiwa pemberian pepaya itu, aku merasa Srintil makin menjauh. Sering kusumpahi diriku mengapa aku jadi merasa tersiksa karenanya. Kuajari diriku; kecantikan Srintil bukan milikku, melainkan miliknya. Cambang halus di pipinya yang makin enak dipandang bukan milikku, melainkan miliknya juga. Kalau Srintil tersenyum sambil menari aku dibuatnya gemetar. Tetapi Srintil tersenyum bukan untukku, melainkan untuk semua orang. Meskipun demikian pengajaran demikian tidak menolongku. Aku tetap kecewa karena aku tidak lagi bisa bermain bersama Srintil. Boleh jadi karena merasa begitu tersiksa maka kutemukan jalan untuk memperoleh kembali perhatian Srintil. Acap kali kudengar orang berceloteh bila Srintil habis menarikan tari Baladewa. Kata mereka, tubuh Srintil masih terlampau kecil bagi kerisnya yang terselip di punggung. Celoteh
semacam ini membuka jalan karena di rumahku ada sebuah keris kecil tinggalan ayah. Lama aku berfikir tentang keris itu. Ada keraguan untuk menyerahkannya kepada Srintil. Aku tahu Nenek pasti akan menentang kehendakku. Untung, roh-roh jahat mengajariku bagaimana menipu nenekku yang pikun. Suatu hari kukatakan kepada Nenek, "Nek, tadi malam aku bermimpi bertemu Ayah. Dalam mimpiku itu Ayah berpesan yang wanti-wanti harus kulaksanakan,” kataku dengan hati- hati. “Apa pesan ayahmu?” jawab Nenek yang mulai terpancing kebohonganku. “Soal keris itu, Nek. Kata Ayah keris itu harus kuberikan kepada siapa saja yang menjadi ronggeng di pedukuhan ini. Demikian wangsit Ayah, Nek.” Wajah Nertek makin berkerut-kerut. Buruk bukan main. Aku berharap meski perempuan tua itu yang melahirkan Emak, kejelekan wajahnya tidak diturunkan. Namun pikiran durhaka tidak lama berada di benakku. Segera kusadari, Neneklah yang dengan sabar membesarkanku dengan susah payah. Bila Nenek memburuh menumbuk padi, nasi yang dicatukan baginya tidak dimakan, agar di rumah aku tidak kelaparan. “Apakah karena kita kurang rajin merawatnya maka keris itu harus diserahkan kepada orang lain?” tanya Nenek. “Boleh jadi demikian, Nek,” jawabku mantap. Aku percaya tipuanku mengena. Orang Dukuh Paruk, siapa pun dia, menganggap wangsit sebagai bagian dari hukum yang pantang dilanggar. Maka dengan menyebut kata wangsit itu aku berhasil menipu Nenek secara sempurna. Keris bekas milik ayah tidak lebih dari dua jengkal tanganku. Sarungnya berlapis kuningan atau suasa. Tangkainya terbuat dari kayu walikukun, berbentuk aneh. Bila diperhatikan benar, tangkai keris itu mirip kemaluan laki-laki. Meskipun aku bernama Rasus yang lahir di Dukuh Paruk, aku tidak tahu-menahu tentang keris. Aku tidak tahu kegunaannya. Maka tidak sedikit pun aku merasa sayang menyerahkannya kepada Srintil. Yang kuperlukan sekarang adalah waktu yang baik untuk melakukan penyerahan itu.
Setiap hari bila matahari sudah naik, suami-istri Sakarya pergi ke ladang mereka. Pada saat seperti itu Srintil seorang diri di rumah. Mencari kutu dengan perempuan-perempuan dewasa, atau tidur pulas bila malam sebelumnya Srintil habis menari. Yang kupilih adalah saat demikian. Aku masuk dari pintu belakang, mengendap-endap sampai ke bilik Srintil. Rumah Sakarya amat lengang. Srintil tergeletak di atas balai-balai, pulas. Di dekat bantalnya tercecer banyak uang logam. Menjengkelkan bila mengingat bagaimana uang logam itu dimasukkan ke dada Srintil oleh para perjaka. Aku tahu pasti, tangan para perjaka itu bukan sekedar memasukkan uang. Dada Srintil yang masih sangat muda itu pasti diperlakukan secara tidak senonoh. Aku tetap berdiri memperhatikan Srintil yang tertidur nyenyak. Sudah kukatakan usiaku tiga belas atau hampir empat belas tahun saat itu. Pengetahuanku tentang perempuan, baik sebagai pribadi maupun sebagai lembaga, sungguh tak berarti. Namun dengan daya tangkap yang masih sederhana aku dapat mengatakan ada perbedaan kesan antara perempuan terjaga dan perempuan tertidur. Lebih damai. Lebih teduh. Sepasang mata yang tertutup, lenyapnya garis-garis ekspresi membuat wajah Srintil makin enak dipandang. Bibir yang tampil dengan segala kejujurannya serta tarikan nafas yang lambat dan teratur, membuat aku merasa berhadapan dengan citra seorang perempuan yang sebenarnya. Kelak aku mengetahui banyak orang berusaha melukiskan citra sejati seorang perempuan. Mereka menggunakan sarana seni lukis, seni patung atau seni sastra. Aku percaya para seniman itu keliru. Bila mereka menghendaki lukisan seorang perempuan dengan segala keasliannya, seharusnya mereka melukiskan perempuan yang sedang tidur nyenyak. Jadi aku tidak ingin membangunkan Srintil. Memang aku gagal mencegah tanganku untuk tidak mengelus cambang halus di tepian pipi ronggeng itu. Dan memegang dengan hati-hati pucuk hidungnya. Pada saat itu aku teringat ulah kambing-kambingku sebelum mereka birahi. Teringat juga akan burung tekukur yang saling gigit paruh sebelum mereka kawin. Aku ingin menirukan binatang-binatang itu. Namun batal, khawatir Srintil akan terbangun atau aku sebenarnya tak rela dipersamakan dengan kambing atau burung.
Keris yang kubawa dari rumah masih kuselipkan di ketiakku, rapi tergulung dalam baju. Aku merasa lebih baik menyerahkan benda itu kepada Srintil selagi dia tertidur. Ternyata kesan penyerahan semacam itu, dalam. Sangat dalam. Aku sama sekali tidak merasa menyerahkan sebilah keris kepada seorang ronggeng kecil. Tidak. Yang kuserahi keris itu adalah perempuan sejati, perempuan yang hanya hidup dalam alam angan-angan yang terwujud dalam diri Srintil yang sedang tidur. Tentu saja perempuan yang kumaksud adalah lembaga yang juga mewakili Emak, walau aku tidak pernah tahu di mana dia berada. Tangan Srintil kutata supaya keris yang kuletakkan dekat bantal berada dalam pelukannya. Bajuku masih membungkus benda itu. Nanti bila Srintil terbangun dia akan tahu siapa yang telah meletakkan keris itu di dekatnya. Sebelum berlalu sekali lagi aku menatap Srintil. Aku ingin lebih yakin, dalam tidurnya ronggeng itu malah lebih cantik. Kambing-kambing tidak lagi menarik perhatianku. Mereka boleh berkeliaran sesuka hati. Mereka boleh memasuki ladang orang, dan aku rela binatang gembalaanku itu dibantai oleh petani yang marah. Aku ingin duduk sepuas hati di bawah pohon nangka. Tempat itu masih memberi keteduhan meski aku sudah lama tidak bermain bersama Srintil di sana. Di tempat ini aku duduk seorang diri; merenung. Di sebelah kiriku, agak jauh ke barat, tampak pekuburan Dukuh Paruk. Tonggak-tonggak nisan kelihatan dari tempatku duduk. Hal yang mengecewakan, makam Emak tidak ada di sana. Aku heran mengapa orang Dukuh Paruk tidak membuat kesepakatan, dan bersama-sama menipuku. Kalau mereka mengatakan makam Emak ada di antara makam-makam di pekuburan Dukuh Paruk, pasti aku percaya. Itu lebih baik daripada aku harus mengkhayal antara percaya dan tidak kisah tentang diri Emak. Apakah Emak masih hidup dan lari bersama mantri yang merawatnya, atau sudah mati dan mayatnya dipotong-potong oleh para dokter. Ah, sebaiknya kukhayalkan Emak sudah mati. Ketika hidup dia secantik Srintil. Bila sedang tidur, tampillah Emak sebagai citra perempuan sejati. Ayu, teduh, dan menjadi sumber segala kesalehan, seperti Srintil yang saat itu masih telap memeluk keris kecil yang kuletakkan di sampingnya. Atau, Srintil sudah terjaga. Dia heran ketika menemukan sebilah keris ada di dekatnya. Namun Srintil harus mengenal baju yang menjadi bungkus keris itu. Srintil harus mengenal bajuku. Jadi ronggeng itu harus tahu siapa
yang telah meletakkan keris itu di sampingnya. Perhitunganku bukan khayalan kosong. Bukti kebenarannya terbukti kemudian. Sepasang tangan menutup mataku dari belakang. Sejenak aku tidak bisa menebak siapa yang datang. Namun ketika tercium bau bunga kenanga, serta kuraba kulit tangan yang halus, aku segera memastikan Srintil-lah orangnya. “Kau melamun di sini, Rasus?” tanya Srintil sambil duduk di sampingku. “Ah, tidak...” “Katakan, ya!” “Aku sedang...” “Sudahlah. Jangan mencari alasan yang bukan-bukan. Aku tahu kau sedang melamun karena kehilangan sehelai baju. Nah, ini dia. Pakailah!” Srintil bukan hanya menyerahkan baju bekas pembungkus keris itu kepadaku. Dia langsung memasangkannya pada tubuhku, serta mengancingnya sekalian. Punggung tangan itu putih. Ujung jarinya merah karena Srintil mulai mengunyah sirih. Jantungku berdenyut lebih cepat. “Rasus, coba katakan padaku tentang keris itu. Dan mengapa engkau meletakkannya di sampingku ketika aku sedang tidur,” kata Srintil dekat sekali dengan telingaku. Aku tidak bisa segera menjawab. Aku juga tidak berani mengangkat muka menatap wajah Srintil. “Katakan, Rasus. Katakan.” “Keris itu untukmu, Srin,” jawabku lirih, tanpa melihat lawan bicaraku. “Ya, Rasus. Tetapi mengapa hal itu kaulakukan? Engkau senang padaku?” Lagi, aku tak bisa menjawab. Namun ketika beberapa kali didesak, aku menjawab, “Keris itu kecil, jadi cocok untukmu. Keris yang selama ini kaupakai terlalu besar. Dengan keris pemberianku itu, kau akan bertambah cantik bila sedang menari Baladewa.” “Jadi engkau senang bila aku kelihatan bertambah cantik?” Aku mengangguk. “Tetapi apakah kau mengerti tentang keris yang kauberikan padaku itu?” “Tidak. Aku tak tahu-menahu tentang keris,” jawabku.
“Oh, dengar. Kakek dan Kartareja telah tahu tentang keris itu.” “Apa? Kau juga mengatakan aku yang telah membawanya ke dalam bilikmu?” “Tidak begitu. Mereka tidak kuberi tahu siapa yang membawa keris itu kepadaku. Aku merahasiakan hal itu kepada mereka.” “Lalu?” “Mereka mengatakan keris itu bernama Kyai Jaran Guyang, pusaka Dukuh Paruk yang telah lama lenyap. Itu keris pekasih yang dulu selalu menjadi jimat para ronggeng. Mereka juga mengatakan hanya karena keberuntunganku maka keris itu sampai ke tanganku. Rasus, dengan keris itu aku akan menjadi ronggeng tenar. Itu kata Kakek dan juga kata Kartareja.” “Dengan keris pemberianku itu kau akan menjadi ronggeng tenar?” kataku mengulang. “Begitu kata mereka.” “Jadi kau senang dengan pemberianku itu?” “Oh tentu, Rasus.” Kemudian Srintil merangkulku. Aku tahu dia sedang mengucapkan terima kasih. Ulahnya tidak kucegah. Juga aku tetap diam ketika Srintil mulai menciumi pipiku. Tak kuduga sama sekali dalam melakukan tindakan itu Srintil tak sedikit pun merasa canggung. Tampaknya dia sudah terbiasa. Dalam hati aku bertanya kapankah Srintil belajar cium-mencium? Atau begitukah seharusnya seorang ronggeng? Meski dia baru berusia sebelas tahun?/bp/ Sudah dua bulan Srintil menjadi ronggeng. Namun adat Dukuh Paruk mengatakan masih ada dua tahapan yang harus dilaluinya sebelum Srintil berhak menyebut dirinya seorang ronggeng yang sebenarnya. Salah satu di antaranya adalah upacara permandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Pagi itu Dukuh Paruk berhiaskan bunga bungur. Warna ungu yang semarak menghias hampir semua sudut pedukuhan sempit itu. Matahari mulai kembali pada lintasannya di garis katulistiwa. Angin tenggara tidak lagi bertiup. Langit yang selalu membiru di musim kemarau
mulai bernodakan gumpalan-gumpalan awan. Kemarau sedang menjelang masa akhirnya. Pagi yang lengang. Sinar matahari dalam berkas-berkas kecil menembus kerindangan pekuburan Dukuh Paruk. Tetes-tetes embun di pucuk daun menangkap sinar itu dan membiaskannya menjadi pelangi lembut yang berpendar-pendar. Seekor tupai meluncur turun dari atas pohon. Binatang itu bergerak dalam lintasan yang berupa ulir hingga mencapai tanah. Dengan mata waspada tupai itu melompat-lompat di atas tanah, lalu naik lagi dengan seekor si kaki seribu tergigit di mulutnya. Dalam kerimbunan tumbuhan benalu, sepasang burung madu berkejaran. Jantan yang berwarna merah saga mengejar betinanya. Setelah tertangkap keduanya bergulat sejenak lalu menjatuhkan diri bersama sambil bersenggama. Pasangan itu baru saling melepaskan diri satu detik sebelum tubuh mereka menyentuh tanah. Perintah alam selesai mereka laksanakan. Si jantan terbang dengan penuh kepuasan, kembali terbang dan hinggap di kerimbunan benalu. Selesailah hidupnya karena seekor ular hijau langsung menangkap dan memangsanya di sana. Pohon beringin besar yang menjadi mahkota pekuburan Dukuh Paruk menjadi istana para burung. Pada sebuah dahannya yang tersembunyi hinggap seekor burung celepuk. Ia sedang terkantuk setelah menghabiskan malamnya dengan berburu tikus, ikan atau katak. Hanya burung kucica yang kecil berani mengusik raja burung malam itu. Burung-burung seling yang hitam pekat dan burung katik yang hijau, hinggap dalam kelompok- kelompok. Mereka membisu sambil berjemur menanti hangatnya udara pagi sebelum terbang mencari makanan di tempat lain. Hari itu tak ada kegiatan kerja di Dukuh Paruk. Upacara memandikan seorang ronggeng adalah peristiwa yang penting bagi orang di pedukuhan itu, lagipula amat jarang terjadi. Maka tak seorang pun yang ingin tertinggal. Maka pagi-pagi warga Dukuh Paruk, tiada kecualinya, sudah berkumpul di halaman rumah Kartareja. Mereka akan mengiring Srintil dari rumah itu sampai ke makam Ki Secamenggala. Di sana Srintil akan dipermandikan. Srintil didandan dengan pakaian kebesaran seorang ronggeng. Aku melihat keris kecil yang kuberikan kepada Srintil terselip di pinggang ronggeng itu. Serasi benar ukurannya dengan badan Srintil. Itu bukan hanya penilaianku. Kudengar beberapa orang berkomentar, “Srintil mengenakan
keris baru yang lebih kecil dan bagus. Alangkah pantasnya. Alangkah kenesnya.” Aku yakin pujian itu terdengar oleh Srintil. Kutunggu tanggapannya. Srintil tidak menoleh kepada orang yang mengucapkan pujian itu. Dia menolehku lalu tersenyum. Sayang, aku tak dapat membalas senyum Srintil karena jantungku berdenyut terlampau cepat. Boleh jadi orang-orang bertanya-tanya. Tetapi aku percaya kecuali Srintil dan nenekku yang telah pikun, orang lain tak tahu tentang keris yang dipakai Srintil pagi itu. Atau bila ada orang tahu bahwa akulah yang memberikan keris kecil kepada Srintil, aku tidak peduli. Dengan memberikan pusaka itu kepada Srintil, aku telah memperoleh imbalan yang cukup; Srintil kembali memperhatikan diriku. Ini berarti ada seorang perempuan dalam hidupku, suatu hal yang telah bertahun-tahun kudambakan. Tidak bisa kupastikan yang kurindukan adalah seorang perempuan sebagai kecintaan atau seorang perempuan sebagai citra seorang emak. Emakku. Atau kedua-duanya. Tetapi jelas, penampilan Srintil membantuku mewujudkan angan-anganku tentang pribadi perempuan yang telah melahirkanku. Bahkan juga bentuk lahirnya. Jadi sudah kuanggap pasti, Emak mempunyai senyum yang bagus seperti Srintil. Suaranya lembut, sejuk, suara seorang perempuan sejati. Tetapi aku tidak bisa memastikan apakah Emak mempunyai cambang halus di kedua pipinya seperti halnya Srintil. Atau, apakah juga ada lesung pipit pada pipi kiri Emak. Srintil bertambah manis dengan lekuk kecil di pipi kirinya, bila ia sedang tertawa. Hanya secara umum Emak mirip Srintil. Sudah kukatakan aku belum pernah atau takkan pernah melihat Emak. Persamaan itu kubangun sendiri sedikit demi sedikit. Lama-lama hal yang kureka sendiri itu kujadikan kepastian dalam hidupku. Di halaman rumah Kartareja ronggeng bermain satu babak. Tidak seperti biasa, pentas kali ini tanpa nyanyi atau tarian erotik. Mulut Sakum bungkam. Si buta itu tidak mengeluarkan seruan-seruan cabul. Semua orang tahu permainan kali ini bukan pentas ronggeng biasa. Tetapi merupakan bagian dari upacara sakral yang dipersembahkan kepada leluhur Dukuh Paruk. Selesai bermain satu babak, rombongan ronggeng bergerak menuju pekuburan Dukuh Paruk. Kartareja berjalan paling depan membawa pedupaan. Srintil di belakangnya. Menyusul para penabuh. Sakum dituntun
oleh seorang penabuh lainnya. Di belakang mereka menyusul segenap warga Dukuh Paruk, dari anak-anak sampai yang tua-tua. Bayi-bayi digendong, anak kecil dituntun. Mereka membuat barisan panjang, berarak menuju makam Ki Secamenggala. Sampai di tujuan, Kartareja meletakkan pedupaan di ambang pintu cungkup leluhur Dukuh Paruk. Dua orang laki-laki membawa tempayan berisi air kembang. Dengan air itu nanti Srintil akan dimandikan. Nyai Kartareja menuntun Srintil. Dilindungi oleh beberapa perempuan tua lainnya, pakaian Srintil dibuka, hanya tinggal selembar kain yang menutupi tubuh perawan itu. Mantera-mantera dibacakan oleh Nyai Kartareja, ditiupkan ke ubun- ubun Srintil. Kemudian tubuh perawan itu mulai diguyur air kembang, gayung demi gayung. Sementara itu orang-orang dukuh Paruk lainnya hanya menonton. Srintil menjadi pusat perhatian. Rombongan penabuh mempersiapkan diri. Mereka menata perkakas masing-masing, duduk bersila di atas tanah. Srintil selesai dimandikan. Nyai Kartareja mengeringkan rambut ronggeng itu dengan sehelai kain. Tiga orang perempuan membantu Nyai Kartareja mendandani Srintil kembali. Mereka menyisir, memberi bedak dan membantu Srintil mengenakan kain serta mengikatkan sampur di pinggang. Semuanya sudah beres. Rambut Srintil sudah disanggul. Kemudian ronggeng itu dituntun ke depan pintu cungkup. Di sana Srintil menyembah dengan takjim, lalu bangkit dan berjalan ke hadapan lingkaran para penabuh. Tiba giliran bagi Kartareja. Setelah komat-kamit sebentar, laki-laki itu memberi aba-aba kepada pemukul gendang. Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk pecah. Suara gendang dan calung menggema bersama dalam irama khas. Berpuluh-puluh burung serentak terbang meninggalkan pepohonan di pekuburan itu. Tidak seperti semua orang Dukuh Paruk, burung-burung itu tak menyukai irama calung. Tidak seperti aku yang sedang tak berkedip melihat pengejawantahan Emak pada diri Srintil, burung-burung itu tak menyukai ronggeng. Pada saat seperti itu orang-orang Dukuh Paruk percaya semua roh di pekuburan itu bangkit melihat pertunjukan. Mereka juga yakin arwah Ki Secamenggala berdiri di ambang pintu cungkup dan melihat Srintil
berjoget. Oleh karena itu tak seorang pun berdiri di depan cungkup itu karena tak ingin menghalangi pandangan mata roh Ki Secamenggala. Aku berdiri di bagian depan. Seandainya ada orang Dukuh Paruk mampu berbicara masalah apresiasi, maka alangkah baik bila diadakan pengukuran. Apresiasi siapakah yang paling dalam atas pertunjukan ronggeng Srintil di pekuburan itu. Secara angkuh aku dapat memastikan apresiasikulah yang paling dalam. Aku bukan hanya sekedar melihat Srintil meronggeng, melenggang lenggok dan bertembang. Aku tidak hanya mendengar keserasian bunyi calung, gendang dan gong tiup yang menghasilkan irama indah. Juga aku bukan hanya terkesan oleh lentuk leher Srintil, goyang pundaknya atau lentik jemarinya. Lebih dari itu. Karena aku melihat Srintil lebih daripada seorang perawan kecil yang menjadi ronggeng. Pada saat seperti itu kerinduanku akan kehadiran Emak terobati. Pada saat seperti itu hilang angan-angan apakah Emak melarikan diri bersama mantri itu. Atau mati dan mayatnya dicincang-cincang. Yang memenuhi jiwaku adalah kenyataan Srintil sedang menari, tersenyum kepadaku. Hal itu sudah cukup melenyapkan, meski hanya sesaat, penderitaanku yang tak pernah melihat Emak. Konon semasa hidupnya Ki Secamenggala sangat menyukai lagu Sari Gunung. Maka dalam rangkaian upacara mempermandikan Srintil itu lagu Sari Gunung-lah yang pertama kali dinyanyikan oleh Srintil, secara berulang-ulang. Seperti pada awal upacara di rumah Kartareja, pentas di pekuburan itu meniadakan lagu-lagu cabul. Sakum diam. Tetapi menjelang babak ketiga terjadi kegaduhan. Kejadian itu takkan pernah kulupakan buat selama-lamanya. Dalam berdirinya, tiba-tiba Kartareja menggigil tegang. Mata dukun ronggeng itu terbeliak menatap langit. Wajahnya pucat dan basah oleh keringat. Sesaat kemudian tubuh Kartareja mengejang. Dia melangkah terhuyung-huyung, dan matanya menjadi setengah terpejam. Semua orang terkesima. Calung berhenti. Srintil menghentikan tariannya karena calung dan gendang pun bungkam. Kartareja terus melangkah. Sampai di tengah arena laki-laki tua bangka itu mulai menari sambil bertembang irama gandrung. Hanya Sakarya yang cepat tanggap. Kakek Srintil itu percaya penuh roh Ki Secamenggala telah memasuki tubuh Kartareja dan ingin bertayub. Maka Sakarya cepat berseru,
“Pukul kembali gendang dan calung. Ki Secamenggala ingin bertayub. Srintil, ayo menari lagi. Layani Ki Secamenggala.” Irama calung kembali menggema. Tetapi suasana jadi mencekam. Semua orang percaya akan kata Sakarya bahwa Kartareja sedang dirasuki arwah leluhur. Maka mereka mundur dalam suasana tegang. Calung ditabuh dalam irama tayub. Kesahduan upacara sakral itu hilang. Lagu-lagu pemancing birahi disuarakan. Sakum tidak pernah lupa akan tugasnya. Memoncongkan mulut lalu menghembuskan seruan cabul pada saat Srintil menggoyang pinggul. Cesss... cessss. Kartareja menari makin menjadi-jadi. Berjoget dan melangkah makin mendekati Srintil. Tangan kirinya melingkari pinggang Srintil. Menyusul tangannya yang kanan. Tiba-tiba dengan kekuatan yang mengherankan Kartareja mengangkat tubuh Srintil tinggi-tinggi. Menurunkannya kembali dan menciumi ronggeng itu penuh birahi. Penonton bersorak. Mereka bertepuk tangan dengan gembira. Tetapi aku diam terpaku. Jantungku berdebar. Aku melihat tontonan itu tanpa perasaan apa pun kecuali kebencian dan kemarahan. Tak terasa tanganku mengepal. Hanya itu, karena aku tak bertindak apa-apa. Tak berani berbuat apa-apa. Dan Kartareja terus menciumi Srintil tanpa peduli puluhan pasang mata melihatnya. Tak kuduga sorak-sorai orang Dukuh Paruk berhenti seketika. Mereka, juga aku sendiri, kemudian melihat Kartareja mendekap Srintil begitu kuat sehingga perawan kecil itu tersengal-sengal. Bahkan akhirnya Srintil merintih kesakitan. Seakan dia merasa tulang-tulang rusuknya patah oleh himpitan lengan Kartareja yang kuat. Terjadi ketegangan. Tetapi belum ada orang yang bertindak. Kecuali Sakarya yang tiba-tiba melompat ke depan sambil berseru, “Hentikan calung. Hentikan calung!” Sakarya mendekati Kartareja yang tetap mendekap Srintil kuat-kuat. Sakarya melihat mata cucunya terbeliak karena sukar bernapas. Terbata- bata kakek Srintil itu meratap. “Lepaskan cucumu, Eyang Secamenggala. Aku memohon lepaskan Srintil. Kasihani dia, Eyang. Srintil adalah keturunanmu sendiri,” ratap Sakarya berulang-ulang. Sehabis berkata demikian Sakarya berbalik mengambil pedupaan. Dikibas-kibaskannya asap kemenyan itu ke arah Kartareja yang
dipercayainya sedang kemasukan arwah Ki Secamenggala. Nyai Kartareja mengambil segayung air kembang dan disiramkannya ke kepala suaminya. “Eling, Kang. Eling,” kata Nyai Kartareja. “Jangan panggil dengan sebutan Kang! Panggil dia dengan kata Eyang. Kau tak tahu suamimu sedang kesurupan?” bentak Sakarya kepada Nyai Kartareja. Entah oleh siraman air kembang atau oleh kepulan asap pedupaan, perlahan-lahan Kartareja mengendorkan dekapannya atas diri Srintil. Kedua tangannya terkulai. Dukun ronggeng itu mulai berdiri goyah, dan akhirnya roboh ke tanah. Tangan dan kaki Kartareja kejang. Matanya kelihatan mengerikan karena hanya kelihatan bagiannya yang putih. Aku maju ke depan. Aku ingin menjadi orang pertama yang menolong Srintil dari ketakutannya. Kurangkul pada pundaknya. “Kau tidak apa-apa, Srin?” tanyaku. Srintil hanya menggeleng. Dingin terasa tubuhnya. Tangannya gemetar. Tinggal Kartareja yang menjadi perhatian orang. Dia masih terkapar. Tetapi perlahan-lahan dia menggeliat, kemudian melenguh. Matanya terbuka. Masih tertidur di tanah, Kartareja menoleh kiri-kanan, lalu duduk. Dukun ronggeng itu masih kelihatan bingung. “Syukur-syukur,” ujar Sakarya. “Sampean sudah sadar, Kang?” “Lho, ada apa? Kenapa badanku basah begini? Mengapa calung berhenti?” tanya Kartareja bimbang. Dipandangnya orang-orang yang mengelilinginya, kemudian Kartareja bangkit berdiri. “Ada apa ini?” ulang Kartareja. “He-he. Eyang Secamenggala baru saja hadir. Beliau bertayub bersama Srintil,” ujar Sakarya menerangkan. “Eyang Secamenggala?” “Benar, Kang. Rohnya memasuki tubuh sampean dan tentu saja sampean tidak sadar. Hal ini berarti persembahan kita pagi ini diterima olehnya. Srintil direstuinya menjadi ronggeng.” Percakapan selanjutnya antara Sakarya dan Kartareja tidak lagi kudengar. Aku juga tidak lagi mendengar celoteh serta gumam orang-orang Dukuh Paruk tentang peristiwa yang baru terjadi. Apa pun tak kuinginkan kecuali segera membawa Srintil menyingkir. Kugandeng tangannya menuruni bukit kecil pekuburan. Srintil tidak kuantar pulang ke rumahnya, melainkan kubawa ke rumahku. Suatu keberanian yang tak pernah
terbayangkan dapat kulakukan. Anehnya, Srintil menurut. Bukan main besar rasa hatiku. “Rasus, bila kau tahu betapa ngeri hatiku tadi,” ujar Srintil yang kududukkan di atas lincak. “Kartareja memang bajingan. Bajul buntung,” jawabku mengumpat dukun ronggeng itu. “Eh, Rasus. Jangan berkata begitu. Kaudengar tadi kata kakekku, bukan? Kartareja hanya kesurupan arwah Ki Secamenggala.” “Tidak peduli. Yang penting kakek tua bangka itu berbuat keterlaluan. Kau didekapnya. Bila tak tertolong kau pasti mati tercekik.” “Apakah engkau akan bersedih bila aku mati?” tanya Srintil. Pertanyaan itu membuat mulutku terbungkam. Ah. Srintil tak bersalah bila dia tak mengerti apa arti dirinya bagiku. Dia takkan mengerti bahwa bagiku, dirinya adalah sebuah cermin di mana aku dapat mencoba mencari bayangan Emak. Srintil takkan mengerti hal itu. Dan sekali lagi kukatakan Srintil tak bersalah. Maka untuk sekedar menjawab pertanyaan, kukatakan, “Srin, kau dan aku sama-sama menjadi anak Dukuh Paruk yang yatim piatu sejak kanak-kanak. Kita senasib. Maka aku tak senang bila melihat kau celaka. Bila kau mati aku merasa kehilangan seorang teman. Kau mengerti?”
BAB III AKU mengira upacara permandian di pekuburan itu adalah syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng. Ternyata aku salah. Orang- orang Dukuh Paruk mengatakan bahwa Srintil masih harus menyelesaikan satu syarat lagi. Sebelum hal itu terlaksana, Srintil tak mungkin naik pentas dengan memungut bayaran. Dari orang-orang Dukuh Paruk pula aku tahu syarat terakhir yang harus dipenuhi oleh Srintil bernama bukak-klambu. Berdiri bulu kudukku setelah mengetahui macam apa persyaratan itu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara, terbuka bagi laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng. Laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng, berhak menikmati virginitas itu. Keperawanan Srintil disayembarakan. Bajingan! Bajul buntung! pikirku. Aku bukan hanya cemburu. Bukan pula sakit hati karena aku tidak mungkin memenangkan sayembara akibat kemelaratanku serta usiaku yang baru empat belas tahun. Lebih dari itu. Memang Srintil telah dilahirkan untuk menjadi ronggeng, perempuan milik semua laki-laki. Tetapi mendengar keperawanannya disayembarakan, hatiku panas bukan main. Celaka lagi, bukak-klambu yang harus dialami oleh Srintil sudah merupakan hukum pasti di Dukuh Paruk. Siapa pun tak bisa mengubahnya, apa pula aku yang bernama Rasus. Jadi dengan perasaan perih aku hanya bisa menunggu apa yang akan terjadi. Jauh-jauh hari Kartareja sudah menentukan malam hari Srintil harus kehilangan keperawanannya. Untuk itu Kartareja sendiri harus mengeluarkan biaya. Tiga ekor kambing telah dijualnya ke pasar. Dengan uang hasil penjualan itu dibelinya sebuah tempat tidur baru, lengkap dengan kasur bantal dan kelambu. Dalam tempat tidur ini kelak Srintil akan diwisuda oleh laki-laki yang memenangkan sayembara. Sementara waktu suara calung lenyap dari Dukuh Paruk. Kartareja sedang giat membuat persiapan pelaksanaan malam bukak-klambu itu.
Dukun ronggeng itu rajin keluar Dukuh Paruk untuk menyebarkan berita. Hanya dalam beberapa hari telah tersiar kabar tentang malam bukak-klambu bagi ronggeng Srintil. Orang-orang segera tahu pula, Kartareja menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi pemenang. “Saatnya telah saya tentukan pada Sabtu malam yang akan datang,” kata Kartareja pada suatu pagi di hadapan banyak laki-laki di pasar. “Dan sampean meminta sekeping ringgit emas?” “Ya. Kukira itu harga yang patut,” jawab Kartareja. “Ah,” lenguh laki-laki yang bertanya tadi. “E... Kenapa? Terlalu mahal? Ingat baik-baik. Pernahkah ada ronggeng secantik Srintil?” “Itu benar. Srintil memang ayu dan kenes. Tetapi siapa yang memiliki sebuah ringgit emas di Dukuh Paruk,” “Oh, saya tak pernah bermimpi seorang laki-laki Dukuh Paruk akan memenangkan sayembara. Jangankan ringgit emas, sebuah rupiah perak pun tak dimiliki oleh laki-laki Dukuh Paruk. Aku tidak berharap mereka mengikuti sayembara.” Berita tentang malam birahi itu cepat menyebar ke mana-mana, jauh ke kampung-kampung di luar Dukuh Paruk. Banyak perjaka atau suami yang tergugah semangatnya. Tetapi sebagian besar segera memadamkan keinginannya setelah mengerti apa syarat untuk tidur bersama Srintil pada malam bukak-klambu. Sebuah ringgit emas senilai dengan harga seekor kerbau yang paling besar. Hanya beberapa pemuda yang merasa dirinya sanggup mengalahkan tantangan itu. Tiga hari sebelum Sabtu malam. Sebuah lampu minyak yang terang telah dinyalakan di rumah Kartareja. Pintu sebuah kamar sengaja dibiarkannya terbuka. Dengan demikian sebuah tempat tidur berkelambu yang masih baru bisa dilihat orang dari luar. Tutup kasurnya putih bersih demikian pula bantalnya. Bagi semua orang Dukuh Paruk yang biasa tidur di atas pelupuh bambu, pemandangan seperti itu sungguh luar biasa. Sore itu banyak perempuan dan anak-anak Dukuh Paruk datang ke rumah Kartareja hanya dengan tujuan melihat tempat tidur itu.
Aku sendiri ada di sana. Tidak masuk ke dalam rumah, karena dari tempatku berdiri di sudut halaman sudah dapat kulihat tempat tidur berkelambu itu. Bila orang-orang memandangnya dengan kagum, aku melihat tempat tidur itu dengan masygul. Muak bercampur marah. Bagiku, tempat tidur yang akan menjadi tempat bagi Srintil melaksanakan malam bukak-klambu , tidak lebih dari sebuah tempat pembantaian. Atau lebih menjijikkan lagi. Di sana dua hari lagi akan berlangsung penghancuran dan penjagalan. Aku sama sekali tidak berbicara atas kepentingan birahi atau sebangsanya. Di sana, di dalam kurung kelambu yang tampak dari tempatku berdiri, akan terjadi pemusnahan mustika yang selama ini amat kuhargai. Sesudah berlangsung malam bukak- klambu, Srintil tidak suci lagi. Soal dia kehilangan keperawanannya, tidak begitu berat kurasakan. Tetapi Srintil sebagai cermin tempat aku mencari bayangan Emak menjadi baur dan bahkan hancur berkeping. Membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikkannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri itu. Aku muak. Aku tidak rela hal semacam itu terjadi. Tetapi lagi- lagi terbukti seorang anak dari Dukuh Paruk bernama Rasus terlalu lemah untuk menolak hal buruk yang amat dibencinya. Jadi aku hanya bisa mengumpat dalam hati dan meludah. Asu buntung! Masih dari tempatku berdiri, aku melihat Srintil keluar. Merah bibirnya karena Srintil makan sirih. Rambutnya yang kelimis terjurai menutupi sebagian pundaknya yang mulai berisi. Perempuan-perempuan serta anak- anak segera mengelilinginya di balai-balai. Gumam pujian mulai didengungkan oleh para perempuan itu. Kulihat Srintil tertawa riang. Apa yang salah bila gadis sebesar Srintil bersenang hati mendengar segala macam pujian. Melihat bagaimana cara para perempuan Dukuh Paruk memuji Srintil maka aku yakin setiap diri mereka berharap kiranya anak perempuan mereka kelak seperti Srintil. Menjadi ronggeng. Atau para perempuan itu menyesal mengapa kaki mereka pengkor, atau pipi mereka tambun, atau bibir mereka seburuk bibir kerbau sehingga tak bakal layak menjadi ronggeng. Tak tahulah! Boleh jadi aku akan tetap melamun berang bila gerimis tidak turun. Tak kuduga gerimis kali ini menguntungkan. Para perempuan dan anak-anak yang merubung Srintil segera bangkit bergegas pulang ke rumah masing-
masing. Aku sendiri hanya maju beberapa langkah dan berteduh di emper rumah Kartareja. Srintil baru melihatku setelah aku berada di bawah naungan emper itu. “He? Engkau di situ, Rasus?” tanya Srintil. Nadanya bersukacita. “Ya.” “Sudah lama?” “Sejak sebelum gerimis.” "Mari masuk. Temani aku. Kartareja dan istrinya sedang pergi ke rumah kakekku, Sakarya. Aku seorang diri sekarang.” Srintil menarik tanganku. Aku menurut. Kami duduk berdua di atas lincak. Srintil terus bergerak seperti kanak-kanak. Ah, dia memang masih kanak-kanak. Usianya sebelas atau dua belas tahun. Meski begitu Srintil menangkap suasana yang lesu pada diriku. “He, kau seperti malas bercakap-cakap. Kau segan menemaniku di sini?” “Tidak. Sama sekali tidak.” “Tapi kau hanya berkata bila kutanya. Kenapa?” “Tutup pintu kamar itu dulu.” “Lho, kenapa?” “Aku tak ingin melihat tempat tidur itu meski Kartareja memamerkannya buat semua orang,” kataku agak ketus. Srintil termangu sejenak. Tak usah lama berfikir rupanya Srintil mengetahui juga mengapa aku berkata demikian. Naluri seorang perempuan. Lama kunanti tanggapan Srintil. Tetapi mulutnya yang mungil dan merah masih terkatup. Dia hanya bangkit memenuhi permintaanku menutup pintu kamar itu. Derit pintu bambu dan lenyap dari pandanganku tempat tidur yang akan menjadi ajang Srintil melepaskan keperawanannya. “Ya, Rasus aku tahu. Kau tak usah berkata banyak aku sudah tahu mengapa kau membenci tempat tidur itu.” “Hm?” “Dan engkau tahu bahwa aku senang menjadi ronggeng, bukan?” “He-eh.” “Lalu?” “Yah, aku hanya ingin bertanya padamu; bagaimana perasaanmu menghadapi saat Sabtu malam itu?”
Aku tidak segera mendapat jawaban. Kulihat seorang gadis kecil sedang berfikir tentang sesuatu yang baru baginya. Bukan hanya baru, melainkan juga sesuatu yang menjadi salah satu tonggak sejarah biologisnya. Mungkin selama ini Srintil hanya terpukau oleh janji Kartareja bahwa sebuah ringgit emas yang diberikan oleh laki-laki pemenang akan menjadi miliknya. Kemampuan pikirannya hanya sampai di situ. “Bagaimana?” tanyaku mengulang. “Entahlah, Rasus. Aku tak mengerti,” jawab Srintil sambil menundukkan kepala. “Tentu kau senang karena kau akan memiliki sebuah ringgit emas. Kikira begitu.” “Aku tak mengerti, Rasus. Yang jelas aku seorang ronggeng. Siapa pun yang akan menjadi ronggeng harus mengalami malam bukak-klambu. Kau sudah tahu itu, bukan?” “He-eh.” “Atau begini, Rasus. Bukankah kau telah disunat?” “Sudah tiga tahun. Kenapa?” Srintil diam. Dikibaskannya rambutnya ke belakang. Wajahnya menunduk. Kemudian tanpa melihatku ronggeng itu berkata. “Misalnya, Rasus. Misalnya. Engkau mempunyai sekeping ringgit emas.” “Selamanya aku takkan pernah mempunyai sebuah ringgit emas,” jawabku cepat. “Aku hanya mempunyai sebuah keris kecil warisan Ayah, dan satu-satunya milikku yang berharga itu telah kuserahkan padamu. Kini engkau pasti tahu aku tak mempunyai apa-apa lagi. Kau harus tahu hal itu, Srintil.” Mata Srintil terarah lurus kepadaku. Tak lebih dari sepasang mata anak- anak. Aneh juga. Dari pemilik sepasang mata itu aku mengharap terlalu banyak. Tetapi aku tak merasa bersalah. Tidak. Karena pada saat itu misalnya, ketika Srintil menatapku tajam, aku teringat Emak. Emakku yang mati dan mayatnya dicincang. Atau Emakku yang lari bersama mantri keparat itu, dan sekarang barangkali berada di Deli, negeri khayali yang berada di batas langit. Kutoleh Srintil. Dia masih menatapku dengan cara seorang bodoh. Padahal yang kuharapkan waktu itu adalah pernyataan Srintil bahwa ia tidak akan menempuh malam bukak-klambu karena dia telah memutuskan
tidak akan menjadi ronggeng. Ah, keinginan gila yang mustahil terlaksana. Lucunya, aku menyadari hal itu sebaik-baiknya. Suasana yang bisu membuatku tak betah. Srintil pun kulihat gelisah di tempatnya. Aku tak tahu apalagi yang patut kuperbuat, atau layak kukatakan kepada Srintil. jadi aku bangkit tanpa berucap barang sepatah kata dan berjalan ke arah pintu. “Engkau mau ke mana, Rasus?” kata Srintil. “Pulang.” “Jadi engkau mau pulang?” “Ya.” “Jadi engkau mau pulang, Rasus? Di luar masih gerimis,” ujar Srintil di belakangku. Aku terus berjalan. Lepas di halaman, kain sarung kututupkan ke atas kepala. Ketika membalikkan badan kulihat Srintil masih berdiri di bawah atap emper. Sebenarnya aku tidak meninggalkannya dengan sepenuh hati. Tetapi aku terus berjalan. Sampai di rumah aku langsung merebahkan diri ke atas lincak. Hujan turun makin lebat. Alam menghiburku dengan tiris lembut menyapu tubuhku yang tergulung kain sarung. Aku tidur melingkar seperti trenggiling. Dengan demikian panas tubuhku agak terkendali. Tidur di atas pelupuh, kala hari hujan. Kenangan yang tak terlupakan bagi anak-anak Dukuh Paruk. Aku terlena, larut dalam perjalanan alam pedukuhan kecil itu. Jumat malam. Kemarau sungguh-sungguh telah berakhir. Siang hari hujan turun amat lebat. Lapisan lumpur yang telah berbulan-bulan mengeras seperti batu, kini terendam air. Sawah luas yang mengelilingi Dukuh Paruk tergenang. Dukuh Paruk menjadi pulau. Hanya jaringan pematang tampak membentuk kotak- kotak persegi yang sangat banyak. Tetapi tanah pematang rapuh dan longsor bila terinjak kaki. Burung bluwak, kuntul dan trintil muncul kembali. Selama kemarau mereka mengungsi di tanah-tanah paya di muara Citanduy. Sebentar rumpun-rumpun bambu di Dukuh Paruk akan ramai oleh berbagai burung air. Mereka berkembang-biak di sana seperti dilakukan oleh nenek moyang mereka entah sejak berapa abad yang lalu.
Dukuh Paruk akan melewati bulan-bulan yang lembab. Lumut akan tumbuh pada dinding bambu atau tiang kayu yang basah. Jamur akan tumbuh pada kayu mati atau dahan yang lapuk. Cacing menjalar di emper- emper. Orong-orong membuat galur-galur di bawah tanah, menerobos bawah dinding dan berakhir di bawah balai-balai. Kutu air dan kudis akan kembali merajalela pada kaki dan tangan anak-anak Dukuh Paruk. Dan orang-orang di sana akan menerimanya sebagai kebiasaan alami. Selagi Dukuh Paruk berhiaskan genangan air di mana-mana, menjelang senja kelihatan seorang pemuda sedang bergegas ke sana. Dower, pemuda itu, tidak mempedulikan pematang panjang yang becek. Dia terus berjalan. Cekat-ceket bunyi telapak kakinya ketika diangkat dari lumpur. Kain sarung tidak dipakainya melainkan disilangkannya di pundak. Bila dipakai kain sarung Dower pasti akan belepotan. Hanya satu hal yang memenuhi benak Dower. Segera sampai ke Dukuh Paruk dan mengetuk pintu rumah Kartareja. Makin dekat ke pedukuhan itu Dower makin terbayang akan sebuah tempat tidur berkelambu. Putih bersih dengan kasur dan bantal yang baru. Dan yang paling penting; seorang perawan kencur yang terbaring di dalamnya. Memenangkan sayembara bukak-klambu bukan hanya menyangkut renjana birahi. Bukan pula hanya menyangkut sukacita mewisuda seorang perawan, melainkan juga kebanggaan. Dower sungguh-sungguh berharap kelak orang akan bergunjing, “Tenyata Dower bukan pemuda sembarang. Dialah orangnya yang memenangkan sayembara bukak-klambu bagi ronggeng Srintil.” Menginjak tanah Dukuh Paruk, hati Dower makin kacau. Hari sudah benar-benar gelap. Lampu-lampu telah dinyalakan. Langit pekat meski hujan belum lagi turun. Selagi tanah basah, jengkerik dan gangsir malas berbunyi. Orong-orong menggantikannya. Serangga tanah itu menggetarkan sayapnya yang menimbulkan suara buruk dan berat. Katak dahan berteriak- teriak. Tidak seperti kodok atau katak hijau, katak dahan bersuara dengan selang waktu yang jarang. Ada sebuah gardu ronda di perempatan jalan kecil di Dukuh Paruk. Dower mendengar gumam beberapa pemuda dari dalam gardu itu. Seandainya Dower tahu. Pemuda-pemuda dalam gardu itu sama seperti dirinya, datang dari luar Dukuh Paruk dalam kaitannya dengan sayembara bukak-klambu. Namun mereka hanya ingin melihat perkembangan apakah
telah ada seorang pemuda datang memenuhi permintaan Kartareja akan sebuah ringgit emas. Mereka sendiri tidak mempunyai uang sebanyak itu. Namun kesempatan mereka mungkin terbuka bila tidak ada pemuda yang sanggup memenuhi syarat yang ditentukan oleh Kartareja. Dalam hal terjadi demikian, diharapkan Kartareja akan menurunkan tarifnya. Tidak seperti malam-malam sebelumnya, rumah Kartareja sudah sepi sejak sore. Dukun ronggeng itu telah mengusir anak-anak yang datang. Tetapi orang-orang tua tidak perlu kena usir. Mereka, orang-orang Dukuh Paruk, telah maklum Kartareja sedang menghadapi hajat penting, dan tidak ingin mengganggunya. Sinar lampu mengenai tubuh Dower ketika dia mencapai halaman rumah Kartareja. Pemuda itu berhenti sejenak. Dari sana Dower dapat melihat Kartareja sedang duduk seorang diri, mengepul-ngepulkan asap rokoknya. Di samping makan sirih, kakek itu juga perokok yang kuat. Sesungguhnya Kartareja sedang gelisah. Namun perasaan itu tertutup oleh ketenangannya. Sudah Jumat malam. Seorang pemuda pun belum juga datang memenuhi harapannya, menyerahkan sekeping ringgit emas bagi keperawanan Srintil. “Alangkah malu bila sayembara bukak-klambu yang kuselenggarakan tidak berhasil. Sia-sialah tiga ekor kambing yang telah kujual,” pikir Kartareja seorang diri. Tetapi lamunan dukun ronggeng itu terhenti ketika pintu depan berderit. “Kula nuwun,” Dower mengucapkan salam. “Mangga,” jawab Kartareja. Dijulurkannya lehernya sambil menyipitkan mata. Sinar lampu membuat matanya silau. “Oh, mari masuk.” Dower melangkah di bawah tatapan Kartareja. Lalu duduk. Berderit bunyi pelupuh lincak yang didudukinya. Kartareja segera tahu tamunya datang dari jauh karena mendengar nafas Dower yang terengah-engah. “Engkau kelihatan lelah. Dari mana engkau datang, Nak?” tanya Kartareja membuka percakapan. “Dari Pecikalan, Kek. Namaku Dower.” “Wah, Pecikalan? Alangkah jauh.” “Yah, Kek. Itulah, jauh-jauh saya datang karena saya mendengar kabar.” “Tentang bukak-klambu, bukan?” “Benar, Kek.” “Waktunya besok malam. Engkau sudah tahu akan syarat yang kuminta, bukan?” tanya Kartareja tanpa melihat tamunya.
“Saya sudah tahu. Sebuah ringgit emas,” jawab Dower datar. “Betul. Apakah sekarang kau telah membawanya?” Dower tersipu. Dia tidak berani mengangkat muka. Kartareja melepas napas panjang. Dalam hati dia mengeluh, karena belum juga muncul sebuah ringgit emas yang diinginkannya. “Wah, Kek,” kata Dower akhirnya. “Pada saya baru ada dua buah rupiah perak. Saya bermaksud menyerahkannya kepadamu sebagai panjar. Masih ada waktu satu hari lagi. Barangkali besok bisa kuperoleh seringgit emas.” Kartareja tidak segera memberi tanggapan. Kecewa dia. Diisapnya rokoknya dalam-dalam. Asap dihembuskannya jadi desah panjang. Namun Kartareja berfikir, dua buah uang rupiah perak adalah jumlah paling banyak yang disanggupi oleh seorang calon sampai pada saat itu. “Jadi begitulah maksudmu, Nak?” “Ya, Kek.” “Baiklah. Uang panjarmu bisa kuterima. Tetapi besok malam kau harus datang membawa sebuah ringgit emas. Kalau tidak, apa boleh buat. Kau kalah dan uang panjarmu hilang. Bagaimana?” “Kalau aku gagal memperoleh sebuah ringgit emas maka uang panjarku hilang?” tanya Dower. “Ya!” Jawab Kartareja singkat. Rona kelicikan mewarnai wajahnya. Dower termangu, tampak berfikir keras. “Kalau engkau berkeberatan, maka terserah. Silakan berfikir. Atau segera pulang ke Pecikalan selagi malam belum larut. Aku akan menunggu pemuda lain, beberapa orang yang akan segera tiba.” Gertakan halus Kartareja mengena. Buktinya, Dower menjadi gelisah, lalu berkata, “Baik, baik, Kek. Kuterima syarat itu. Nah, inilah uang panjar itu.” Dower berdiri agar mudah merogoh saku celananya. Sesaat kemudian terdengar kemerencing. Dua buah uang rupiah perak tergeletak di atas meja, berkilat-kilat terkena sinar lampu. Kartareja meraupnya, lalu dimasukkannya ke dalam saku di ikat pinggangnya. Pada saat itu muncul Srintil membawa baki berisi teko dan dua buah cangkir. Di piring ada goreng ubi. Ketika meletakkan hidangan itu Srintil menggigit bibir. Sekali pun dia tidak mengangkat muka ke arah Dower, membuat hati pemuda dari Pecikalan itu malah penasaran. Kartareja tersenyum melihat Dower resah dalam duduknya.
Aku mengenal dengan sempurna setiap sudut tersembunyi di Dukuh Paruk. Ketika Kartareja bercakap-cakap dengan Dower aku mendengarnya dari balik rumpun pisang di luar rumah. Jadi saat itu sudah kuperoleh gambaran pertama Dower-lah yang akan memenangkan malam bukak-klambu. Aku belum mengenal perjaka Pecikalan itu. Tetapi kebencianku kepadanya langsung melangit. Segera terbayang olehku Dower memperlakukan Srintil secara tidak senonoh dalam tempat tidur berkelambu itu. Pasti, sangat pasti, Dower tidak seperti aku yang selalu bersikap hormat kepada ronggeng itu. Bertahun- tahun lamanya aku menyusun gambaran sedikit-demi sedikit, sehingga terbentuk gambaran Emak secara hampir lengkap pada diri Srintil. Maka Srintil mendapat tempat yang mulia dalam hidupku. Sedangkan Dower tidak demikian. Dia akan merasa telah membeli Srintil. Dalam waktu satu malam Srintil akan menjadi barang yang sudah terbeli. Dower akan memperlakukannya sebagaimana dia suka. Bajingan tengik! Dan aku meludah sengit. Di langit tak sebuah bintang pun kelihatan. Secercah warna terang tampak di langit sebelah barat. Pastilah bulan berada di balik sana. Keremangan yang dibuatnya mampu memperlihatkan bayangan seekor kalong yang terbang perlahan ke selatan. Kirapnya malas, namun pasti. Lepas dari bayangan bulan, kalong itu lenyap. Perhatianku kembali kepada Dower ketika pintu depan rumah Kartareja berderit. Perjaka Pecikalan itu keluar. Kukira dia akan segera berusaha menepati janji yang diucapkannya di depan dukun ronggeng itu, mencari sekeping ringgit emas sampai dapat. Atau dia akan kehilangan dua buah rupiah perak bila usahanya gagal. Aku tak mengerti mengapa tiba-tiba aku memutuskan keluar dari tempat persembunyian lalu dengan diam-diam mengikuti Dower dari belakang. Sambil berjalan berjingkat agar tak diketahui oleh Dower, aku sudah berkhayal tentang perkelahian. Bagaimana seandainya Dower langsung kutinju tengkuknya. Atau kutendang pinggangnya sehat tenaga. Pokoknya aku ingin melumat perjaka Pecikalan yang akan menggagahi Srintil itu. Tak kusangka keinginanku menyakiti Dower dapat terlaksana. Sampai dekat gardu Dower berhenti, kemudian sumpah serapah keluar dari
mulutnya. Aku tahu kemudian tiga orang pemuda yang tadi berkumpul di gardu ronda melempar Dower dengan gumpalan lumpur. “Bajingan tengik! Siapa berani melempari aku?” seru Dower marah. Tak ada jawaban. Bahkan lemparan-lemparan berikutnya menyusul, tepat mengenai punggung Dower. Baju dan kainnya belepotan. Kemarahan pemuda Pecikalan itu makin menjadi-jadi. Dia berbalik dan bertolak pinggang. Kini Dower menghadap ke arahku kira-kira sepuluh langkah di depan. “He! Kamu asu buntung. Kalau ingin berkelahi, ayo keluar! Ayo hadapi aku; Dower dari Pecikalan!” Masih belum ada jawaban. Aku bergerak ke samping, menghindar dari pandangan Dower. Rasa ingin ikut menyakiti Dower muncul di hatiku. Maka aku menekuk kedua kaki demi mencari sesuatu untuk kulemparkan kepadanya. Tanganku meraba sesuatu yang mengonggok. Tahi sapi. Kotoran itu kuraup dengan tangan kanan, langsung kulemparkan kepada Dower. Kudengar perjaka Pecikalan itu mengutuk habis-habisan. Dia hendak melangkah ke depan. Tetapi batal karena dari arah belakang meluncur gumpalan-gumpalan lumpur, makin lama makin seru. Akhirnya Dower tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka dengan kedua tangan agar matanya terhindar dari hujan lumpur. Tidak tahan menghadapi serangan gelap itu akhirnya Dower lari. Bukan main sakit hatinya ketika dia mendengar beberapa pemuda terbahak-bahak. Dower berbelok ingin mengejar para penyergapnya. Tetapi dia belum memahami lorong-lorong di Dukuh Paruk. Dower kehilangan jejak. Hanya terdorong ingin membalas dendam maka Dower terus berlari dalam gelap. Akhirnya, byur! Dower terjerumus masuk ke dalam sebuah kubangan yang dalam. Sekali lagi terdengar suara gelak tawa tiga orang pemuda. Sebaliknya Dower berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Tak ada yang peduli pada Dower yang menggapai-gapaikan tangannya dari dalam kubangan itu. Ketika akhirnya ia berhasil naik, seluruh tubuhnya basah kuyup dan kotor. Perjaka Pecikalan masih bertambah sakit hati karena dia mendengar para penyerang menertawakannya. Suara yang menghinakannya itu makin lama terdengar makin jauh. Dower tidak pernah tahu aku masih berada di dekatnya. Maka aku masih sempat mendengar Dower mengeluh. “Bajingan! Asu buntung!”
Hari Sabtu tiba. Hari yang sangat mengesankan karena batinku ternista luar biasa. Kukira aku takkan pernah berhasil melukiskan pengalaman batinku secara memadai. Hal ini mungkin karena aku tak mempunyai cukup kefasihan. Atau karena orang takkan bisa percaya akan penderitaan batin seorang anak Dukuh Paruk yang bernama Rasus, yang dalam hidupnya mempunyai emak hanya dalam angan-angan. Srintil, yang entah bagaimana dalam banyak hal kuanggap sebagai jelmaan Emak, sore nanti akan dirusak. Kukatakan begitu meski sesungguhnya tidak demikian. Bagiku, setelah Srintil dijual dengan harga sebuah ringgit emas, dia bukan Srintil lagi, melainkan seorang ronggeng Dukuh Paruk. Tidak lebih. Hanya seorang ronggeng Dukuh Paruk takkan dapat kuandaikan sebagai diri Emak. Serasa aku akan kehilangan emak buat kali kedua. Andaikan ada orang percaya akan kegetiran yang melanda hatiku. Atau andaikan ada orang yang mau kuajak berbicara tentang masalah ini, boleh jadi kesedihanku bisa terbagi. Tetapi hanya dirikulah yang tahu dan merasakan segalanya. Bahkan aku begitu yakin Srintil tidak tahu persis kemalangan apa yang kurasakan bila dia sudah terbeli dengan sebuah ringgit emas. Seperti pernah dikatakannya kepadaku, Srintil lahir di Dukuh Paruk untuk menjadi ronggeng. Maka dengan rela hati dia akan menjalani malam bukak-klambu, apa pula dengan kemungkinan baginya memiliki ringgit emas. Katakanlah pagi itu seperti biasa aku keluar melepaskan kambing- kambing. Tetapi sesungguhnya binatang-binatang itu telah lama kutelantarkan. Pagi itu pun aku tak peduli kambing-kambingku memasuki ladang orang. Aku sendiri duduk di pinggir kampung memandang amparan sawah yang penuh air. Di atasku, pada pucuk pohon sengon, hinggap tiga ekor burung keket. Satu jantan, satu betina dan anak mereka yang selalu mengibas-ngibaskan sayap minta makan. Salah seekor induk burung itu segera menukik ke bawah bila melihat capung atau belalang terbang, kemudian hinggap lagi di tempat semula. Serangga tangkapan dihancurkannya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak mereka. Citra sebuah keluarga yang utuh. Kukira Emak pun akan berlaku seperti induk burung keket itu. Dia akan melindungiku, mencarikan makan selagi aku masih kanak-kanak. Bersama Ayah, Emak akan mengajakku bercengkerama seperti keluarga burung keket itu. Nah, hal itu hanya terjadi dalam angan-angan. Seperti belasan
anak Dukuh Paruk lainnya, aku telah yatim-piatu sejak anak-anak. Keparat, malapetaka tempe bongkrek itu. Kukira kicau burung keket serta bunyi air yang tumpah lewat punggung pematang akan terus membawaku melamun bila Warta tidak datang mengusik. “Nah. Kulihat kau lama sekali termenung di situ. Nenekmu tidak menanak gaplek pagi ini?” ujar Warta. “Misalnya demikian apa salahnya kita mencari talas dan kita bakar di sini?” “Aku tak ingin makan,” jawabku tak peduli. “Jadi?” “Pergilah. Jangan ganggu aku.” "Baru kali ini kudengar engkau mengusirku, Rasus. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang kaupikirkan.” “Itu urusanku. Misalkan kuberi tahu, kau takkan dapat menolongku. Tapi aku takkan mengatakan apa-apa kepadamu. Jadi, baik urusi kambingmu.” “Wah, kalau begitu aku bisa menebak. Rasus, kau tak perlu mungkir. Kau sedang termakan pekasih yang dipasang oleh Nyai Kartareja pada diri Srintil, bukan? Hayo, baik mengaku! Kepadaku kau akan sia-sia menyimpan rahasia.” Aku tertawa meskipun terdengar tawar. Tengik betul, Warta menebakku dengan jitu. Melihat ulahku Warta tahu aku telah mengaku. Tawanya terdengar keras sekali. “Oh kasihan kawanku ini. Kau senang akan Srintil, tetapi nanti malam ronggeng itu dikangkangi orang. Wah...” “Bangsat engkau, Warta.” “Bagaimana? Bukankah aku berkata tentang kebenaran?” “Ya. Tetapi kau jangan menambah sakit hatiku.” “Rasus, kau boleh sakit hati. Kau boleh cemburu. Tetapi selagi kau tak mempunyai sebuah ringgit emas, semuanya menjadi sia-sia.” “Ya, kawan. Namun sesungguhnya kau dapat memberi sedikit hiburan padaku. Bertembanglah. Seperti biasa.” Tidak sulit membuat Warta mau bertembang bila orang mau menyediakan setumpuk kata pujian baginya. Di antara sesama anak Dukuh Paruk, Warta dikenal mempunyai suara paling bagus. Tembang kegemarannya juga menjadi kegemaran setiap anak di pedukuhan itu,
sebuah lagu duka bagi para yatim-piatu. Orang takkan menemukan siapa penggubah lagu itu yang mampu mewakili nestapa anak-anak yang di dunia tanpa ayah dan emak. Lagu yang menjadi terkenal di Dukuh Paruk semenjak belasan anak kehilangan kedua orang tua akibat racun tempe bongkrek sebelas tahun yang lalu. Bedug tiga datan arsa guling Padang bulan kekencar ing latar Thenguk-thenguk lungguh dhewe Angine ngidid mangidul Saya nggreges rasaning ati Rumasa yen wus lola Tanpa bapa biyung Tanpa sanak tanpa kadang Urip sengsara tansah nandhang prihatin Duh nyawa gondelana... Pukul tiga dinihari, aku belum mau terlena. Bulan menabur cahaya di halaman, selagi aku termangu seorang diri. Angin yang berembus ke selatan membuat hati semakin merana. Beginilah awak yang telah sebatang kara. Tiada ayah-bunda, tiada sanak-saudara. Hidupku yang papa selalu dirundung derita. Oh, nyawa bertahanlah kau di badan... Warta sudah beratus kali menembangkan lagu itu. Dia tidak lagi tertarik akan makna liriknya. Hanya irama lagu itu yang kiranya akan tinggal abadi di hati Warta dan anak-anak lain di Dukuh Paruk. Selesai menembangkan lagu itu Warta menoleh kepadaku. Dia melihat aku menggigit bibir, dan mungkin mataku berkaca-kaca.
“Lho?” ujar Warta tak mengerti. “Apa pula arti semua ini?” “Tidak apa-apa, Warta. Percayalah, sahabatku, tak ada yang salah pada diriku. Aku terharu. Suaramu memang bisa membuat siapa pun merasa begitu terharu.” “Hanya itu? Bagaimana dengan Srintil yang akan diperkosa nanti malam?” Jangkrik! Meski aku menanggapi kata-kata Warta dengan senyum, namun sesungguhnya hatiku dibuatnya perih, sangat perih. Sehingga aku tak bisa berkata-kata lagi. Hanya umpatku dalam hati, “Warta, kamu bangsat! Kau katakan Srintil akan diperkosa nanti malam? Memang betul. Tetapi mengapa kaukatakan hal itu kepadaku?” Kukira Warta memandangku dari belakang ketika aku berjalan meninggalkannya. Aku tak peduli dan terus berjalan sepembawa kakiku. Perjalanan yang tanpa tujuan membawaku sampai ke lorong yang menuju pekuburan Dukuh Paruk. Seharusnya aku terus melangkah bila tidak kulihat seseorang berjalan merunduk-runduk di antara batang-batang puring. Srintil! Aku tak mungkin salah, dialah orangnya. Tak mengetahui aku membuntutinya, Srintil terus berjalan. Langkahnya berkelok menghindari tonggak-tonggak nisan, atau pohon kemboja yang tumbuh rapat. Setelah berbelok ke kiri, langkah Srintil lurus menuju cungkup makam Ki Secamenggala. Kulihat Srintil jongkok, menaruh sesaji di depan pintu makam. Ketika bangkit dan berbalik, ronggeng itu terperanjat. Aku berdiri hanya dua langkah di depannya. “He, kau, Rasus?” “Aku mengikutimu.” “Aku disuruh Nyai Kartareja menaruh sesaji itu. Bukankah malam nanti...” “Cukup! Aku sudah tahu malam nanti kau harus menempuh bukak- klambu,” aku memotong cepat. Habis berkata demikian aku melangkah pergi. Tetapi Srintil menarik bajuku. “Rasus, hendak ke mana kau?” “Pulang.” "Jangan dulu. Jangan merajuk seperti itu. Kita bisa duduk-duduk sebentar di sini.”
Ternyata aku tak menolak ketika Srintil membimbingku duduk di atas akar beringin. Tetapi baik Srintil maupun aku lebih suka membungkam mulut. Mestilah ronggeng kecil itu merasa sedang menghadapi seorang anak laki-laki yang akan mengalami kekecewaan. Srintil pasti tahu aku menyukainya. Jadi dia tahu pula bahwa malam bukak-klambu baginya menjadi sesuatu yang sangat kubenci. Hanya itu. Atau, apakah aku harus mengatakan secara jujur bahwa Srintil lebih kuhormati daripada seorang kecintaan? Tidak. Aku tak mempunyai keberanian mengatakan hal itu kepadanya. Maka biarlah, Srintil tetap pada pengertiannya tentang diriku secara tidak lengkap. Seekor serangga kecil akhirnya membuka jalan bagi permulaan percakapan kami. Nyamuk belirik hinggap di pipi Srintil. Perutnya menggantung penuh darah. “Srin, tepuk pipimu yang kanan. Ada nyamuk.” “Aku tak dapat melihatnya.” “Tentu saja. Tetapi tepuklah pipi kananmu agak ke atas pasti kena.” “Tidak mau. Engkau yang harus menepuknya.” “Tanganku kotor.” “Tidak mengapa. Hayo tepuklah!” Aku patuh. Tangan kuayunkan. Meski dengan gerak gamang, nyamuk yang menjadi lamban karena terlalu banyak mengisap darah itu kena. Telapak tangan kutekan pada pipi Srintil. Ketika kubuka tergores setitik darah. Ada noda merah pada pipi yang putih. Sunyi dan sepi. Sepotong ranting kecil runtuh. Bunyi keletik terdengar ketika ranting itu menimpa selembar daun. Seekor bengkarung muncul di hadapanku, dan berlari cepat mengejar capung yang hinggap di tanah. Kelengangan berlanjut karena aku dan Srintil membisu kembali. Angin bertiup lambat. Suara belalang kerik menyambutnya dari lereng sempit di sebelah selatan pekuburan. Entah Srintil. Tetapi aku dalam kelengangan pekuburan Dukuh Paruk merasa menjadi sekedar seonggok benda alam. Tiada beda dengan batu- batu berlumut di hadapanku, atau dengan berpuluh nisan cadas yang terpaku mati dan terserak memenuhi pekuburan itu. Boleh jadi pada saat itu akal-budiku berhenti. Kehendak alami menggantikannya. Aku tak bergerak sedikit pun ketika Srintil merangkulku, menciumiku. Napasnya terdengar cepat. Kurasakan telapak tangannya berkeringat. Ketika menoleh ke samping kulihat wajah Srintil tegang. Ah, sesungguhnya
aku tidak menyukai Srintil dengan keadaan seperti itu. Meski aku tidak berpengalaman, tetapi dapat kuduga Srintil sedang dicekam renjana birahi. Tanpa melepas lingkaran tangannya di pundakku, Srintil menoleh sekeliling. Dia was-was ada orang lain di sekitar tempat itu. Sebenarnya Srintil tak usah terlalu curiga. Pohon-pohon puring dan kemboja yang mengelilingi pekuburan Dukuh Paruk menjadi pagar yang sangat rapat. Srintil melepaskan rangkulannya. Kemudian aku mengerti perbuatan itu dilakukannya agar Srintil dapat membuka pakaiannya dengan mudah. Aku sering melihat perempuan mandi telanjang di pancuran. Jadi aku sudah tahu beda tubuh laki-laki dan tubuh perempuan. Tetapi yang kulihat saat itu adalah gambaran perempuan yang utuh. Hanya tidak seperti perempuan dewasa, dada Srintil rata, pinggangnya rata. Bahwa Srintil mengharap aku juga akan membuka pakaian, sudah kumengerti. Andaikata aku adalah Darsun atau Warta, semuanya sudah kulakukan. Malah aku menjadi pihak pertama yang mengambil prakarsa. Nah, aku bukan Darsun, bukan pula Warta. Aku Rasus, anak yang merasa paling malang karena Emak lenyap tanpa kepastian. Emak mati oleh racun tempe bongkrek kemudian mayatnya dicincang, atau emak masih hidup dan meninggalkan aku, lari bersama mantri keparat itu. Tidak pasti mana yang benar. Dan ketidakpastian itu selalu membuatku hampir gila. Rasanya, sebagai anak laki-laki tak ada yang salah pada tubuhku. Melihat Srintil telanjang bulat di hadapanku, aku teringat kambing jantanku bila sedang birahi. Jantung memompa darahku ke segala penjuru. Pada bagian organ tertentu, arteri begitu padat berisi darah hingga menggembung dan menegang. Kehendak alam terasa begitu perkasa menuntutku bertindak. Srintil menarik tanganku. Kupandangi wajahnya yang merona merah. Kupandangi matanya yang berkilat-kilat. Kupandangi pucuk hidungnya dengan bintik-bintik keringat di pucuknya. Kemudian perlahan semua yang tertangkap oleh lensa mataku bergoyang, lalu membaur. Bayangan sosok Srintil melenyap. Yang muncul menggantikannya adalah halimun. Aku percaya; hanya aku yang sejak anak-anak mengkhayalkan demikian dalamnya tentang seorang emak karena aku sangat ingin melihatnya. Khayalan demikian yang hampir sepanjang usia, akhirnya mampu mendatangkan ilusi; bahwa yang berdiri telanjang di depanku bukan Srintil, bukan pula ronggeng Dukuh Paruk, melainkan perempuan
khayali yang melahirkan diriku sendiri. Di sana, di bagian dada kulihat sepasang puting di mana aku menetek hampir selama dua tahun. Di sana, di balik pusar, aku pernah bersemayam selama sembilan bulan dalam rahimnya. Dan ketika aku melihat jalan yang kulewati ketika lahir, mataku berkunang-kunang. Badanku basah oleh keringat dingin. Kemudian aku tak bisa berbuat lain kecuali menutup muka dengan dua telapak tangan. “Rasus, kau tak mau?” tanya Srintil dengan suara hampir tak kudengar. “Takkan ada orang melihat kita di sini.” “Srin, ini tanah pekuburan. Dekat dengan makam Ki Secamenggala pula. Kita bisa kualat nanti,” jawabku. Dalih yang sangat gemilang mendadak muncul di otakku. Kulihat Srintil termangu. Napasnya masih memburu. Rona wajahnya berubah. Terkesan rasa kecewa. Ronggeng Dukuh Paruk itu tetap berdiri seperti batu-batu nisan di belakangnya. Tanpa gerak. “Kita tak bisa berbuat sembrono di tempat ini,” kataku sambil membenahi pakaian Srintil. “Ya, tetapi kau sungguh bangsat.” “Maafkan aku, Srin. Sungguh! Aku minta engkau jangan marah kepadaku,” kataku menirukan cara seorang kacung yang minta belas- kasihan kepada majikannya. Dengan sabar kutunggu sampai Srintil tenang kembali. Mukanya yang tegang perlahan-lahan kembali seperti biasa. “Ya, Rasus. Aku tidak marah.” “Begitulah seharusnya. Apalagi bila kita mengingat ceritera itu.” “Kau benar. Untung kau memperingatkan aku. Kalau tidak, entah apalah jadinya.” Ceritera yang kumaksud adalah sebagian dongeng yang hanya dimiliki oleh Dukuh Paruk. Konon menurut dongeng tersebut pernah terjadi sepasang manusia mati di pekuburan itu dalam keadaan tidak senonoh. Mereka kena kutuk setelah berjinah di atas makam Ki Secamenggala. Semua orang Dukuh Paruk percaya penuh akan kebenaran ceritera itu. Kecuali aku yang meragukannya dan mencurigainya hanya sebagai salah satu usaha melestarikan keangkeran makam moyang orang Dukuh Paruk itu. Tak kusadari betul berapa lama aku berdua Srintil berada di dalam kelengangan pekuburan Dukuh Paruk. Dari tempatku duduk aku tak melihat
matahari. Kerimbunan beringin menghalanginya. Meski tak tahu hendak berbuat apa, kukira kami masih akan tinggal lama di pekuburan itu. Tetapi aku mendengar sayup-sayup orang memanggil. Aku tak lupa, itulah suara Nyai Kartareja. “Aku harus pulang, Rasus. Nyai Kartareja memanggilku. Sudah terlalu lama aku pergi.” Hanya anggukan kepala yang bisa kuberikan sebagai tanggapan. Srintil bangkit, kemudian berjalan berkelok-kelok menghindari tonggak-tonggak nisan. Rumpun-rumpun puring bergoyang tersibak oleh Srintil yang berjalan cepat. Kupu-kupu berterbangan dari pohon kemboja yang sedang berbunga. Aku berdiri memandang Srintil yang tampak dan hilang terhalang pepohonan. Sampai di tempat terbuka tampaklah ronggeng itu berlari. Rambutnya terburai ke belakang. Ada sesuatu terasa lenyap dari hatiku, dan aku tak tahu benar apakah itu. Sore hari paling getir yang pernah kualami. Pulang dari pekuburan aku tidak masuk ke rumah. Nenek yang memanggil-manggil karena hidangan bagiku terbengkalai sejak siang tak kuhiraukan. Aku duduk dekat kandang kambing memperhatikan burung-burung bluwak yang pulang ke pucuk- pucuk bambu di Dukuh Paruk. Atau lengkung bianglala di langit sebelah barat. Pagelaran alam yang damai dan indah. Tetapi aku tidak bisa menikmatinya. Sebuah sisi di hatiku yang mampu menangkap bentuk- bentuk keindahan tertutup oleh rasa gelisah karena beberapa jam mendatang Srintil bukan lagi Srintil. Aku sadar betul diriku terlalu kecil bagi alam, bahkan bagi Dukuh Paruk yang sempit itu. Maka segalanya berjalan seperti biasa. Kusaksikan matahari tenggelam. Puluhan ekor kampret dan kalong kcluar mendaulat langit Dukuh Paruk menggantikan burung layang-layang dan burung- burung lainnya. Pelita-pelita kecil mulai dinyalakan menerangi beranda- beranda yang berbatas dinding bambu. Nyamuk dan agas terbang berputar- putar mengelilingiku. Hari benar-benar telah menjadi gelap, dan aku bergerak masuk ke rumah. Dukuh Paruk seperti hendak berangkat tidur. Anak-anak tak satu pun kelihatan. Bahkan suara mereka tiada lagi terdengar. Hanya sesekali terdengar keributan kecil di kandang kambing. Mereka gelisah oleh
sengatan nyamuk. Atau mereka melihat sepasang mata yang berkilau kebiru-biruan dalam gelap; mata seekor kucing liar. Kedua puluh tiga rumah di Dukuh Paruk sudah kelihatan sepi, kecuali rumah Kartareja. Di rumah dukun ronggeng itu sudah beberapa malam lampu besar dinyalakan. Nyai Kartareja telah selesai mendandani Srintil dengan kain dan baju baru. Rambutnya disanggul. Kartareja menyalakan pedupaan, yang diletakkannya di sudut halaman. Sebuah gayung dengan tangkainya yang tertanam di dalam tanah juga ada di sana. Celana kolor bekas, kutang bekas serta pakaian dalam lainnya dilemparkan ke atas genting. Selesai dengan pekerjaan itu, Kartareja berdiri di tengah halaman dengan wajah menatap langit. Dukun ronggeng itu sedang melakukan ritus penangkal hujan. Aku sedang duduk di atas lincak di beranda. Gelap, karena aku malas menyalakan lampu. Dari jalan sempit yang menuju rumah Kartareja kudengar lenguh seekor kerbau. Malam hari ada orang menuntun kerbau, adalah hal yang tidak biasa terjadi di Dukuh Paruk. Apalagi di pedukuhan itu tak seorang pun mampu memelihara ternak tersebut. Ketika melewati depan sebuah rumah iring-iringan itu tampak jelas. Kukenali betul siapa penuntun kerbau itu: Dower. Seorang perjaka dari kampung Pecikalan menuntun seekor kerbau menuju rumah Kartareja. Segera kuduga hal ini bersangkut-paut dengan acara bukak-klambu malam ini. Kain sarung kusambar dari sampiran, lalu aku berjalan mengendap ke rumah dukun ronggeng itu dari arah belakang. Sampai di sana kulihat ternak besar itu telah tertambat di samping rumah Kartareja. Seperti malam kemarin, aku ingin mendengarkan percakapan antara Kartareja dan Dower. Maka aku berjingkat ke emper samping. Dari celah dinding bambu aku mengintip ke dalam. Dower dengan bajunya yang baru duduk di hadapan tuan rumah. Srintil tidak kelihatan. Namun aku mendengar bisik-bisik antara Nyai Kartareja dengan ronggeng itu. Sambil mengusap wajahnya yang berkeringat, Dower membuka pembicaraan. “Aku datang lagi, Kek. Meski bukan sekeping ringgit emas yang kubawa, kuharap engkau mau menerimanya.” “Lho. Bukan sebuah ringgit emas?” tanya Kartareja. “Bukan, Kek.” “Apa? Ringgit timah?”
“Seekor kerbau betina yang besar. Binatang itu paling tidak bernilai sama dengan sebuah ringgit emas,” kata Dower menerangkan. Namun Kartareja menyambutnya dengan senyum kecut, bahkan menyepelekan. Dower menjadi gelisah dalam duduknya. “Tetapi ringgit emas bisa masuk saku celana. Bagus, tidak kotor dan aku takkan disusahkannya dengan urusan kandang, rumput serta bau busuk,” ujar Kartareja sambil membuang muka. “Kau memang benar, Kek. Tetapi bila dua buah rupiah perak yang kujadikan panjar menjadi milikmu, kukira pemberianku cukup, lebih dari cukup. Bagaimana?” Kartareja tidak mengubah roman muka meski dalam hati dia merasa menang. Seekor kerbau betina yang besar ditambah dengan dua keping rupiah perak. Dukun ronggeng itu terbahak dalam hati. Hanya karena Kartareja sudah amat berpengalaman maka dia dapat mengendalikan perasaannya. “Tetapi bagaimana juga kau tak bisa kuanggap telah mencukupi syarat yang kutentukan. Seekor kerbau dan dua buah rupiah perak tidak sama dengan sebuah ringgit emas.” “Jadi engkau menolak, Kek?” tanya Dower gelisah. “Ya. Kecuali...” “Kecuali apa?” potong Dower cepat. “Kecuali kau mau hanya menjadi cadangan. Bila sampai tengah malam nanti tak ada orang lain membawa ringgit emas kepadaku, maka kaulah pemenangnya. Kalau kau menolak, silakan terima kembali dua rupiah perak ini. Bawalah pula kerbaumu itu.” Dower tidak menyangka Kartareja akan menolak dengan kata-kata sekeras itu. Perjaka Pecikalan tergagap. Bukan main kecewa hatinya. Dower merasa telah melakukan segala usaha agar bisa memenangkan sayembara bukak-klambu, tidur semalam-malaman di atas tempat tidur empuk bersama ronggeng Dukuh Paruk yang masih perawan. Teringat kembali oleh Dower bagaimana dia mendongkel lemari milik orang tuanya untuk mencuri uang rupiah perak itu. Tentu Dower teringat pula pengalaman siang tadi. Dengan gemilang dia berhasil mengecoh ayahnya. Dari sawah kerbau milik ayahnya yang paling besar dituntun pulang. Bukan dimasukkannya ke dalam kandang, melainkan terus dibawanya ke Dukuh Paruk. Kini Dower merasa segala akal busuknya belum tentu membuahkan
hasil. Bahkan bayangan kegagalan muncul di depan matanya. Dalam hati, Dower mengutuk Kartareja dengan sengit. “Si Tua Bangka ini sungguh- sungguh tengik!” Dari tempat gelap di balik dinding aku bisa merasakan kekakuan antara Dower dan Kartareja. Di antara keduanya tidak terjadi percakapan lebih lanjut. Dower merasa berat menerima syarat baru yang dikatakan oleh Kartareja. Sebaliknya dukun ronggeng itu tidak hendak mundur dari pendiriannya. Kebekuan di beranda rumah Kartareja berakhir. Di halaman kelihatan seorang muda datang dengan sepeda berteromol. Dower langsung tahu siapa pemuda itu. Dari suara sepedanya Dower telah memastikan kedatangan Sulam. Hati pemuda Pecikalan resah karena dia tahu seorang saingan tangguh telah datang. Sebaliknya, Kartareja tersenyum. Dia juga kenal siapa Sulam adanya; anak seorang lurah kaya dari seberang kampung. Meski masih sangat muda Sulam dikenal sebagai penjudi dan berandal. Seorang seperti Kartareja tidak merasa perlu mencari orang-orang alim. Dia hanya memerlukan sebuah ringgit emas sebagai nilai keperawanan Srintil. Sulam melangkahi ambang pintu dengan caranya sendiri. Ucapan salam tak perlu baginya. Kebanggaan menjadi anak seorang lurah dibawanya ke mana-mana. Tetapi Sulam berhenti dan tertegun sejenak ketika dilihatnya seorang pemuda lain sudah duduk di hadapan Kartareja. Saling tatap antara Dower dan Sulam terjadi sejenak. Melalui sorot mata masing-masing mereka saling mengejek. “Ada anak Pecikalan di sini?” kata Sulam angkuh. Sebelum tuan rumah menjawab, Dower menyahut lebih dahulu. “Ya! Mengapa? Aku telah menyerahkan seekor kerbau dan dua buah uang rupiah perak. Semua itu bernilai lebih dari pada sebuah ringgit emas,” kata Dower bangga. Keterangan ini membuat Sulam penasaran. Dia tidak percaya. “Betul kata anak Pecikalan ini, Kek?” tanya Sulam kepada Kartareja. Kakek itu tidak segera memberi jawaban. Tanpa melihat kepada Sulam maupun Dower, kemudian Kartareja berkata. “Dower tidak berbohong. Tetapi duduklah dulu. Kau belum mengatakan maksud kedatanganmu ke rumah ini.” “Lho. Kau menyelenggarakan bukak-klambu malam ini, bukan?” tanya Sulam masih dengan caranya yang angkuh.
“Betul.” “Nah, mengapa kau bertanya maksud kedatanganku. Kaukira aku akan datang kemari bila kau tidak menjamuku dengan ronggeng itu?” “Baiklah. Bila demikian katamu, pasti kau sudah siap dengan sebuah ringgit emas,” ujar Kartareja. “Sebuah pertanyaan yang menghina, kecuali engkau belum mengenalku. Tentu saja aku membawa sebuah ringgit emas itu. Bukan rupiah perak, apalagi seekor kerbau seperti anak Pecikalan ini,” ujar Sulam sambil melirik ke arah Dower. Yang dilirik tersengat hatinya lalu membalas keras. “Sulam! Kau boleh pongah kepada siapa pun tetapi jangan kepadaku. Yang hendak kuserahkan kepada Kartareja lebih mahal daripada sekedar sebuah ringgit emas. Dan kau Kartareja! Alangkah dungu bila kau menolak pemberianku dan menerima pemberian Sulam.” “Eh? Engkau marah? Kaulah yang dungu! Kartareja hanya meminta ini sebagai syarat, bukan yang lain-lain, apa pun bentuknya,” ujar Sulam sambil membantingkan uang logam kuning ke atas meja. Kemilau cahayanya. “Berilah lebih banyak bila kau memang kaya,” tantang Dower. “Bila sejak semula Kartareja menghendaki lebih banyak, dua ringgit emas misalnya, pasti kupenuhi. Kau anak Pecikalan jangan banyak cakap. Pulanglah! Gembalakan kerbaumu di sawah.” “Sulam. Jangkrik kamu!” Dua pemuda itu bangkit dan saling pandang dengan sinar mata kemerahan. Baik Sulam maupun Dower sudah mengepalkan tinju. Tetapi Kartareja tetap tenang. Dia hanya melepaskan rokok dari bibir. “Sabarlah, Anak muda. Duduklah di tempat masing-masing. Kita akan berbicara baik-baik.” “Aku hanya mau duduk kembali setelah anak Pecikalan ini enyah dari sini,” seru Sulam keras. “Jangan suruh aku duduk kecuali kau sudah mengakui pemberianku lebih banyak daripada pemberian Sulam. Kartareja, kau jangan bodoh!” Melihat ketegangan semakin menjadi-jadi, Kartareja bangkit dan berdiri di antara kedua tamunya. Nyai Kartareja keluar. Srintil muncul sebentar di pintu lalu surut kembali. Kedua pemuda yang sedang bersitegang sempat
melihatnya. Aneh. Setelah melihat Srintil kemarahan Dower dan Sulam mereda. “Oh, kalian bocah bagus,” kata Nyai Kartareja. “Jangan bertengkar di sini. Aku khawatir tetangga nanti datang karena mendengar keributan. Ayo bocah bagus, duduklah. Kalau kalian terus berselisih, pasti Srintil merasa takut. Bagaimana bila nanti dia tidak bersedia menjalani bukak-klambu?” Oleh caranya yang khas gaya seorang mucikari, Nyai Kartareja dapat menenangkan Sulam dan Dower. Keduanya duduk kembali, masing-masing dengan wajah kecut. Hening. Kartareja duduk termangu. Dahinya berkerut- kerut, membuktikan ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Kemudian kakek itu bangkit berdiri. Kata-katanya terdengar pelan penuh wibawa. “Kalian datang membawa persoalan ke rumah ini. Kalau kalian tidak ingin aku membatalkan rencana, beri kami kesempatan memecahkan persoalan itu. Hendaknya kalian mau diam sebentar di tempat masing- masing. Jangan mencoba bertengkar kembali. Aku hendak bermusyawarah sebentar di dalam.” “Ya, kalian harus menurut. Ingat, Srintil masih sangat muda. Dia tidak biasa mendengar keributan,” sambung Nyai Kartareja. Kakek dan nenek itu masuk ke dalam meninggalkan kedua tamunya yang masih membisu di atas lincak. Antara keduanya sering terjadi saling curi pandang. Tidak lebih. Mereka termakan oleh gertak Kartareja yang mengancam akan membatalkan malam bukak-klambu. Di ruang dalam suami-istri itu tidak melihat Srintil. Tetapi mereka tidak berpikir jauh. Paling-paling Srintil sedang tertelungkup di dalam biliknya dengan hati berdebar-debar. Bila demikian Nyai Kartareja dapat memahami perasaan gadis itu. Dia masih perawan. “Ambil dua cangkir,” perintah Kartareja kepada istrinya. “Kau mau apa?” “Lihatlah nanti.” Kartareja mengeluarkan botol-botol dari lemari. Sebuah masih penuh berisi ciu. Sebuah lagi hanya berisi seperempatnya. Isi botol yang kedua ini ditambah dengan air tempayan hingga penuh. Kepada istrinya yang datang membawa dua buah cangkir, Kartareja memerintahkan menghidangkan minuman keras itu kepada Sulam dan Dower. “Jangan keliru! Yang asli buat Sulam. Lainnya buat Dower,” kata Kartareja. Istrinya tersenyum.
Walaupun tidak selicik Kartareja, namun perempuan itu sudah dapat menduga ke mana maksud tindakan suaminya. Bau alkohol tercium oleh Sulam dan Dower. Kegelisahan dan minuman keras. Dua hal yang ditemui menjadi sahabat di mana-mana. Baik Sulam maupun Dower ingin secepatnya mereguk isi botol yang disodorkan oleh Nyai Kartareja. Apalagi setelah perempuan itu berkata menantang. “Bocah bagus yang paling gagah adalah siapa yang lebih dulu menghabiskan minuman keras ini.” “He, Nyai. Tetapi mengapa kau hanya menyediakan sebotol buatku? Tambah lagi barang dua-tiga botol. Kau jangan harap akan ada sisa minuman di hadapanku nanti.” Tidak berbeda gairahnya dengan Sulam, Dower menarik cangkir dan botol yang tersedia baginya. Betapapun pemuda Pecikalan ini tak ingin disebut sebagai bocah bagus kedua. Dalam hati Dower berkata, dirinya bukan anak kecil yang akan muntah bila kerongkongan tersiram minuman keras. Sulam telah mereguk isi cangkir pertama. Tanpa memperdulikan urat- urat tekaknya yang mengerut, dia meneguk pula isi cangkir kedua. Dan seterusnya. Hanya dalam beberapa saat sebotol ciu keras sudah mengendap dalam lambungnya. Mula-mula Sulam merasa kulit wajahnya terjerang. Panas. Telinga berdenging. Badan terasa ringan. Pandangan mata membaur. Lama-kelamaan dunia jungkir-balik di hadapannya. Tetapi Sulam merasa tenaganya bertambah berlipat ganda. Bersama suami-istri Kartareja, Dower yang sama sekali tidak mabuk ikut menyaksikan Sulam yang mulai mengigau. Dalam dunia khayalnya Sulam melihat beribu bintang jatuh dari langit. Telinganya mendengar suara tembang asmara. Di hadapannya muncul Srintil mengajaknya bertayub. Bau ciu yang menguap dari mulut sendiri dirasakannya sebagai wewangian yang dikenakan oleh ronggeng Dukuh Paruk itu. Tergugah birahi Sulam. Terhuyung-huyung dia bangkit. Di tengah beranda dia mulai berjoget. Nyai Kartareja yang berdiri di dekatnya tidak tampak oleh Sulam sebagai seorang nenek-nenek. Perempuan tua itu kelihatan oleh Sulam sebagai Srintil yang sedang mengajaknya bertayub. Oleh suaminya Nyai Kartareja disuruh melayani Sulam yang sedang hilang ingatan. Soal bertayub tak usah ditanyakan kepada istri dukun ronggeng itu. Dia sangat berpengalaman. Jadilah. Teringat masa mudanya,
maka Nyai Kartareja melayani Sulam dengan sepenuh hati. Dia membiarkan dirinya dibawa berjoget, bahkan diciumi oleh Sulam. Renjana yang menguasai Sulam tidak berlangsung lama. Ciu telah mutlak menguasai semua organ tubuhnya. Gerakannya makin lamban, makin goyah. Ucapan cabul masih sempat keluar dari mulut Sulam sebelum kedua lututnya terlipat, roboh dalam pelukan Nyai Kartareja. Oleh dukun ronggeng yang dibantu Dower, Sulam diangkat dan dibaringkan di atas lincak. Seekor kambing jantan telah dikalahkan oleh ciu dan tipu daya. “Beres,” kata Nyai Kartareja dengan napas tersengal-sengal. “Ya, Nyai. Sekarang sudah beres,” jawab Kartareja. “Engkau tidak mabuk, bukan?” tanya Nyai Kartareja kepada Dower. “Tidak, Nek. Tidak.” “Nah! Tunggu apa pula engkau ini?” “Ah, apa maksudmu?” tanya Dower bingung. “Si Dungu dari Pecikalan. Engkau tak mengerti aku bersusah payah membuat Sulam mabuk? Sekarang kau kumenangkan.” “Jadi? Jadi?” “Ya. Kau boleh tidur bersama Srintil sekarang. Tetapi waktu terbatas sampai Sulam tersadar. Tahu?” “Ya, ya. Aku sudah tahu.” Terdengar suara derit ketika Dower menutup pintu bilik yang berisi tempat tidur berkelambu itu. Sepi. Suami-istri Kartareja masuk ke bilik mereka sendiri. Di sana pasangan tua itu bergurau. Sebuah ringgit emas, dua rupiah perak dan seekor kerbau sudah hampir di tangan./bp/ Siapa yang akan menyalahkan Kartareja bila dukun ronggeng itu merasa telah menang secara gemilang. Siapa pula yang akan menyalahkan Dower bila dia kelak berteriak-teriak bahwa dirinyalah yang telah mewisuda ronggeng Srintil. Sesuatu telah terjadi di belakang rumah Kartareja sebelum Dower menyiapkan kelambu yang mengurung Srintil. Hanya aku dan ronggeng itu yang mengetahui segalanya. Waktu itu aku masih mengintip di emper samping ketika terdengar pertengkaran mulut antara Dower dan Sulam. Sesaat kemudian aku melihat seseorang keluar dari pintu belakang lalu jongkok di bawah pohon pisang.
Dari sosok tubuhnya yang kecil aku memastikan Srintil-lah yang keluar. Dengan berjalan berjingkat kudekati dia. “Srintil?” tegurku dengan suara berbisik. “Jangan terkejut. Aku Rasus.” “Oh!” seru Srintil tertahan. Dia cepat bangkit merangkulku sekuat tenaga. “Rasus. Dengar, mereka bertengkar di luar. Aku takut, sangat takut. Aku ingin kencing!” “Sudah kencing?” “Sudah. Tetapi aku takut. Rasus, kau sungguh baik. Kau ada di sini ketika aku sedang diperjual-belikan.” “Ya.” Masih merangkulku kuat-kuat Srintil mengisak. Kubiarkan dia karena aku pun tak tahu apa yang harus kuperbuat. Kurasakan tubuh Srintil hangat dan gemetar. “Aku benci, benci. Lebih baik kuberikan padamu. Rasus, sekarang kau tak boleh menolak seperti kaulakukan tadi siang. Di sini bukan pekuburan. Kita takkan kena kutuk. Kau mau, bukan?” Sepatahpun aku tak bisa menjawab. Kerongkonganku terasa tersekat. Karena gelap aku tak dapat melihat dengan jelas. Namun aku merasakan Srintil melepaskan rangkulan, kemudian sibuk melepaskan pakaian. Tidak beda dengan pengalaman tadi siang di pekuburan Dukuh Paruk. Hanya ini segalanya berlaku dalam gelap. Aku tidak dapat melihat sosok tubuh Srintil dengan jelas, meski aku yakin saat itu dia sudah telanjang bulat. Aku percaya, suasana gelap dapat mengubah nilai yang berlaku pada pribadi-pribadi. Orang berpikir lebih primitif dalam suasana tanpa cahaya. Dan sebuah perilaku primitif memang terjadi kemudian antara aku dan Srintil. Ilusi akan hadirnya Emak saat itu tak muncul di hatiku. Segalanya terjadi. Alam sendiri yang turun tangan mengguruiku dan Srintil. Boleh jadi Srintil merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tetapi entahlah, karena aku hanya merasa telah memperoleh sebuah pengalaman yang aneh. Tidak lama. Kubantu Srintil mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian dia kuantar sampai ke pintu. Dengan mengintip lewat celah dinding dapat kulihat Srintil membuka klambu dan rebah tertidur di sana. Aku sendiri pulang dengan berbagai perasaan bercampur-aduk di hati. Kelak Srintil bercerita kepadaku bahwa dia segera terjaga kembali ketika Dower membangunkannya dengan dengus napas lembu jantan.
Srintil tidak mengatakan apa yang dialaminya kemudian sebagai suatu perkosaan. Dia hanya berkata, sungguh tidak mudah menempuh syarat menjadi seorang ronggeng di Dukuh Paruk. Setelah Dower keluar Srintil mendengar Nyai Kartareja berkata kepada pemuda Pecikalan itu. “Kau telah memperoleh hadiah sayembara bukak-klambu. Dua rupiah perak serta kerbau itu sah menjadi milik kami. Engkau puas, bukan?” Dower hanya tersenyum. Tercapai sudah keinginannya memperoleh sebutan sebagai pemuda yang mewisuda ronggeng Srintil. Virgin atau tidak virgin ronggeng yang ditidurinya, menjadi naif Dower. “Nek, aku mau pulang sekarang,” katanya kemudian. “Pulang? Nanti dulu!” jawab Nyai Kartareja. “Bila nanti Sulam terjaga dan tidak melihatmu lagi di sini, dia akan merasa curiga. Tahu?” “Ya. Oh rupanya kalian pasangan tua bangka yang licik dan tengik. Baiklah, aku mau tidur di sini. Aku pun telah lelah dan ngantuk.” Suasana di rumah Kartareja sunyi kembali meskipun suami-istri dukun ronggeng itu tidak tidur. Srintil sendiri terbaring gelisah. Pelupuh lincak berderit-derit karena Dower belum dapat memejamkan mata. Tetapi tak berapa lama kemudian segalanya diam. Dower yang lelah dan lemas segera pulas. Tengah malam Nyai Kartareja masuk ke bilik Srintil. Kelambu dibuka. Dengan sinar pelita di tangannya perempuan itu melihat mata Srintil yang masih terbuka. Dengan gaya memanjakan, Nyai Kartareja membelai rambut Srintil. "Dua keping rupiah perak dan seekor kerbau besar telah menjadi milikmu. Kau sudah menjadi anak yang kaya. Engkau merasa senang, bukan?” Srintil mengangguk walaupun perutnya terasa sakit. “Dan engkau masih akan menerima sebuah ringgit emas. Mau, bukan? Nanti bila Sulam terjaga, dia akan masuk kemari.” Mata Srintil terbuka lebar-lebar. Suaranya serak ketika dia bertanya kepada Nyai Kartareja. “Jadi aku harus melayani Sulam pula?” “Tak mengapa, bukan? Engkau akan menjadi satu-satunya anak yang memiliki ringgit emas di Dukuh Paruk ini.” “Tetapi perutku sakit, Nek. Amat sakit.”
“Aku pernah mengalami hal seperti itu. Bocah ayu, percayalah padaku. Semuanya tak mengapa kaulakukan. Ingat, sebuah ringgit emas! Istirahatlah sekarang selagi Sulam masih mendengkur.” Srintil mengisak seorang diri. Baginya alangkah lambat waktu berjalan. Dia ingin hari segera menjelang pagi. Dia ingin segera menemukan dirinya telah selesai menjalankan bukak-klambu. Tak terpikirkan lagi soal ringgit emas atau lainnya. Yang dirasakannya sekarang adalah perutnya yang bagai teriris-iris. Ronggeng itu tak akan menghentikan tangis karena binatang jantan lainnya akan segera datang menyingkap kelambu dan mendengus. Di luar gerimis turun. Sesungguhnya Srintil hampir terlena bila tidak mendengar derit lincak di beranda. Sulam menggeliat lalu melenguh. Semula Sulam akan kembali memejamkan mata. Tetapi tiba-tiba mata pemuda itu terbuka selebar-lebarnya, lalu bangkit. Dia duduk termangu seperti orang sedang bingung. Nyai Kartareja keluar dari biliknya, melangkah mendekati Sulam. “Oh, bocah bagus. Engkau sudah bangun?” tanya Nyai Kartareja semanis seorang ibu. “Jam berapa sekarang, Nek?” kata Sulam sambil menggosok mata dengan punggung tangan. “Ah, masih sore,” tipu perempuan itu pula. Ketika Sulam sadar betul apa tujuannya datang ke Dukuh Paruk, dia berkata sambil bangkit berdiri. “Jadi bagaimana ini. Bagaimana urusan tadi?” “Oh tenanglah, Bocah bagus. Lihat, anak Pecikalan itu masih tertidur nyenyak. Engkau jadi pemenang. Srintil menunggumu sekarang.” “Ha? Di mana Srintil?” tanya Sulam bersemangat. “Lho! Dia di dalam kelambu. Ayo, cepat. Jangan menunggu Dower terbangun.” “Oh ya. Ya. Tetapi nanti dulu, Nek. Aku ingin kencing.” BAB IV ENTAH sampai kapan pemukiman sempit dan terpencil itu bernama Dukuh Paruk. Kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan
sakit serta sumpah-serapah cabul menjadi bagiannya yang sah. Keramat Ki Secamenggala pada puncak bukit kecil di tengah Dukuh Paruk seakan menjadi pengawal abadi atas segala kekurangan di sana. Dukuh Paruk yang dikelilingi amparan sawah berbatas kaki langit, tak seorang pun penduduknya memiliki lumbung padi meski yang paling kecil sekali pun. Dukuh Paruk yang karena kebodohannya tak pernah menolak nasib yang diberikan alam. Yang Mahaperkasa mencipta diriku dari intisari tanah Dukuh Paruk. Ketika aku mulai mengerti bahwa diriku hidup, di dekatku ada seorang nenek, sebuah kandang berisi tiga ekor kambing dan sekeranjang gaplek di sudut rumah kecil. Anak-anak sebaya memanggil perempuan yang terdekat dengan sebutan emak. Tetapi perempuan tua yang paling dekat denganku menolak bila kusebut demikian. “Panggil aku nenek,” katanya. Pernyataan itu adalah tanda-tanya besar pertama yang menindih hatiku. Untung, di Dukuh Paruk ada sekian belas anak yang seperti aku. Warta dan Darsun bahkan aku kemudian tahu pula, Srintil juga tidak mempunyai emak. Ayah juga tak pernah kulihat sejak aku lahir. Tetapi aku tidak begitu merisaukannya. Jangan salahkan diriku karena aku tak tahu mengapa terjadi perasaan demikian. Ceritera tentang malapetaka tempe bongkrek itu mulai terekam di hatiku sejak usiaku lima atau enam tahun. Nenek dan orang-orang lainnya bercerita sebagian-sebagian, sehingga bila kusambung akan tersusun kisah sebuah peristiwa kematian massal secara lengkap. Termasuk di dalamnya keterangan yang sepotong-sepotong tentang Emak. Ah, aku takkan mengulanginya lagi. Keterangan tentang Emak hanya berbekas sebagai deraan batin yang berkepanjangan. Dalam hatiku ada sebuah sisi yang kosong. Seharusnya ada Emak di sana. Aku yang mengharuskannya demikian, namun tidak pernah menjadi kenyataan. Kekosongan yang berkembang bersama pertumbuhanku sejak masa kanak-kanak, menciptakan kegersangan dan kegelisahan. Kehausan melihat serta memiliki Emak telah membuat noda dalam hidupku. Tetapi Dukuh Paruk dan orang-orangnya di sana tak ada yang mengerti diriku yang sakit. Memang Dukuh Paruk memberi kesempatan kepadaku mengisi bagian hati yang kosong dengan seorang perawan kecil bernama Srintil. Tidak lama, sebab sejak peristiwa malam bukak-klambu itu Srintil
diseret ke luar dari dalam hatiku, Dukuh Paruk bertindak semena-mena kepadaku. Aku bersumpah takkan memaafkannya. Jadi ketika Dukuh Paruk bergembira-ria dengan suara calung dan joget Srintil yang telah resmi menjadi ronggeng, aku malah mulai membencinya. Pengikat yang membuatku mencintai Dukuh Paruk telah direnggut kembali. Aku tidak lagi mempunyai cermin tempat aku mencari bayang-bayang Emak. Sakitku terasa lebih perih daripada saat aku belum mengenal Srintil. Salah seekor kambing kutuntun ke luar Dukuh Paruk pada suatu pagi. Sebelum berangkat aku berkata kepada Nenek, aku akan mencari paman di luar kampung dan mungkin tidak kembali lagi. Nenek menangis. Terbata- bata Nenek meminta agar aku tetap tinggal. “Siapa yang akan mengurusiku bila aku sakit dan mati,” katanya. Nenek menjadi korban balas dendamku terhadap Dukuh Paruk. Dia kutinggalkan bersama beberapa ekor kambing. Biarlah. Nenek adalah milik Dukuh Paruk. Kukira Dukuh Paruk tetap mengakui Nenek sebagai warga sampai dia bergabung dengan Ki Secamenggala di pekuburan. Kambing kujual di pasar. Dengan uang penjualan itu aku hidup beberapa hari di warung-warung. Perpindahanku dari warung satu ke warung lainnya terjadi bila kudengar seorang pengunjung bercerita tentang malam bukak-klambu yang baru diselenggarakan di Dukuh Paruk. Perkenalanku dengan pedagang singkong di pasar memungkinkan aku mendapat upah. Di Dukuh Paruk setiap anak berkenalan dengan singkong sejak lahir. Maka pedagang itu terkesan betapa cepat aku mengupasi barang dagangannya. Selain mendapat upah buat makan sehari-hari, aku menemukan sebuah tempat yang teduh untuk menggelar karung-karung. Itulah tempat tidur yang kupakai selama berbulan-bulan. Dawuan, tempatku menyingkir dari Dukuh Paruk, terletak di sebelah kota kecamatan. Akan terbukti nanti, pasar Dawuan merupakan tempat melarikan diri yang tepat. Di sana aku dapat melihat kehadiran orang-orang dari perkampungan dalam wilayah kecamatan itu. Tak terkecuali orang- orang dari Dukuh Paruk. Pasar Dawuan menjadi tempat kabar merambat dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut dan seterusnya. Berita yang terjadi di pelosok yang paling terpencil bisa didengar di pasar itu. Jadi aku seperti masih tinggal di Dukuh Paruk laiknya. Aku mendengar segala hal yang terjadi di pedukuhan itu, tanpa kehadiranku di sana. Dukuh Paruk telah menemukan kembali keasliannya,
dengan munculnya kelompok ronggeng di bawah asuhan dukunnya yang terkenal, Kartareja. Keinginan Sakarya maupun Kartareja agar Srintil menjadi ronggeng tenar, telah terlaksana. Boleh jadi benar kata kedua orang tua itu, keris kecil yang kuberikan kepada Srintil ikut andil dalam ketenaran Srintil. Entahlah. Di pasar Dawuan pula suatu kali aku dapat melihat Srintil yang datang berbelanja dengan Nyai Kartareja. Sebelum ronggeng itu mendekat aku telah tahu kehadirannya dari celoteh orang-orang di pasar itu. “Itu dia, ronggeng Dukuh Paruk. Srintil memang cantik.” “He! Betulkah di Dukuh Paruk ada gadis dengan kulit bersih, betis montok tanpa kurap?” “Srintil itulah buktinya. Wah, alangkah cepat besar dia.” “Ah, jangan bodoh. Bau keringat laki-laki membuat setiap anak perempuan menjadi cepat dewasa.” “Lihat. Baru beberapa bulan menjadi ronggeng sudah ada gelang emas di tangan Srintil. Bandul kalungnya sebuah ringgit emas pula,” kata seorang perempuan penjual sirih. “Kau sudah tahu dari mana ronggeng itu memperoleh bandul kalung seberat dua puluh lima gram. Tetapi kau pasti belum tahu siapa yang memberi Srintil sebuah kalung,” ujar perempuan lainnya. “Dari lurah Pecikalan yang menggendaknya?” “Salah. Lurah Pecikalan telah mengganti atap ilalang rumah Sakarya dengan seng. Dia tidak memberi kalung kepada ronggeng itu.” “Jadi siapa?” “Le Hian! Itu Cina yang mempunyai kilang ciu tersembunyi di tengah kebun pisang. Lihatlah, sebentar lagi Srintil akan memakai subang berlian. Atau akan memakai gelang rangkap.” “Ah, kau seperti tahu segala urusannya?” “Mengapa tidak. Ada seorang siten wedana sedang menggendaknya. Bahkan kudengar istri siten itu sudah menuntut cerai kepada suaminya.” “Alangkah ampuh pekasih suami-istri Kartareja. Engkau harus mempercayainya sekarang,” ujar tukang sirih itu pula. “Ah, tanpa pekasih pun orang akan senang tidur bersama Srintil. Maka aku bisa memahami bila Sulam rela kehilangan sebuah ringgit emas untuk memperoleh keperawanan ronggeng itu,” kata orang laki-laki penjual tikar dari tempatnya.
Aku terperanjat mendengar kata-kata lelaki itu. Orang lain mengatakan Sulam-lah orangnya yang mewisuda Srintil. Aku yakin pula Dower dengan caranya sendiri menyatakan sebagai orang pertama yang tidur bersama ronggeng Dukuh Paruk. Rupanya rahasia belum lagi bocor; hanya aku berdua Srintil yang mengetahui segalanya. Tetapi kejadian di belakang rumah Kartareja itu tidak memberiku kesan yang indah. Aku melakukannya sebagai tindakan spontanitas belaka. Srintil sudah memasuki arena pasar. Aku bersembunyi di balik onggokan singkong dan karung-karung. Semua pedagang di pasar memperlakukan Srintil sebagai orang istimewa. Penjual pakaian menawarkan baju merah saga dengan harga luar biasa tinggi. Kalau tidak dicegah oleh pengiringnya, Nyai Kartareja, Srintil akan membayarnya. Tanpa menawar. Penjual benda manik-manik mengangkat dagangannya. Sebuah cermin ditawarkannya kepada Srintil. Kali ini Nyai Kartareja tidak menghalangi ronggeng itu membeli kaca itu bersama beberapa bungkus pupur dan minyak wangi. Seorang perempuan tua berlari-lari dari arah belakang. Kepada Srintil disodorkannya sehelai kutang. “Aduh, wong ayu. Pakai kutang ini. Dadamu sudah kelihatan montok.” “Berapa harganya, Nek?” tanya Srintil. “Aku tak ingin berjualan kepadamu. Silakan pakai. Aku setiap saat berdiri di pinggir arena bila kau sedang menari. Engkau pasti tidak tahu, bukan?” Srintil membalasnya dengan tawa yang manja. Dipilihnya sebuah kutang berwarna kuning menyolok, lalu diberikannya kepada Nyai Kartareja untuk dibawa. Bukan hanya penjual kutang itu yang memberikan dagangannya dengan cuma-cuma kepada Srintil. Masih banyak lagi. Seorang perempuan penjual buah memberikan mangga-mangga yang masak dengan pengantar, “untuk penyegar bagimu yang terlalu banyak melek di malam hari.” Tukang jamu cepat-cepat meramu dagangannya. “Supaya otot-ototmu tetap kenyal. Laki-laki memang kurang ajar. Dia membenci apa-apa yang kendur!” Bila para perempuan kelihatan tulus ikhlas memanjakan Srintil, tidak demikian dengan para lelaki. Pak Simbar, penjual sabun di pasar Dawuan berkata dengan mata bersinar-sinar kepada Srintil. “Eh, wong kenes, wong kewes. Aku tahu di Dukuh Paruk orang menggosok-gosokkan batu ke badan
bila sedang mandi. Tetapi engkau tak pantas melakukannya. Mandilah dengan sabun mandiku. Tak usah bayar bila malam nanti kaubukakan pintu bilikmu bagiku. Nah, kemarilah.” Berkata demikian, tangan Pak Simbar menjulur ke arah pinggul Srintil. Aku melihat dengan pasti, Srintil tidak menepiskan tangan laki-laki itu. Bangsat! Babah Pincang yang duduk hampir tenggelam di tengah dagangannya ikut berbicara. Juga dengan wajah beringas dan mata berkilat. “Nah. Aku punya sandal kulit. Mulah. Balang baik. Na, kamu olang tida pantas beltelanjang kaki. Betismu bagus. Bayal sandalku. Nanti aku juga mau bayal kalau aku tidul di Dukuh Paluk.” Seperti juga Pak Simbar, Babah Pincang juga gatal tangan. Bukan pinggul Srintil yang digamitnya, melainkan pipinya. Kali ini pun Srintil tak berusaha menolak. Bangsat lagi! Onggokan singkong dan karung-karung tetap menyembunyikan diriku dari pandangan Srintil sampai ronggeng itu keluar dari pasar. Di belakangnya, Nyai Kartareja membawa keranjang yang sarat dengan barang belanjaan. Mata semua laki-laki memandang ke sana: ke pinggul atau betis Srintil. Atau tengkuknya yang putih di bawah rambut hitam yang tersanggul halus. Seruan cabul terdengar dari sudut-sudut pasat Dawuan. Terkadang Srintil menoleh ke belakang dengan lirikan yang mengundang birahi. Sementara para perempuan bergumam sambil berpura-pura sibuk dengan dagangan masing-masing. Terdengar bunyi lonceng sado dan derap kaki kuda. Srintil bersama Nyai Kartareja meninggalkan pasar Dawuan. Sado akan mengantarkan mereka sampai ke ujung pematang. Srintil dan pengiringnya akan berjalan di atas pematang itu sampai ke Dukuh Paruk. Selama setengah jam keduanya akan disiram terik matahari tanpa sebatang pohon pun meneduhi. Di sarangku di balik onggokan singkong itu, aku masih mengenangkan Srintil. Bukan dalam kenangan yang utuh dan melambung indah, melainkan dalam gambaran yang mulai pudar. Srintil telah menjadi dirinya sendiri, dalam kedaulatan yang sulit kugugat. Dia dengan sadar dan bangga menjadi ronggeng dan sundal, dua predikat yang tiada beda. Aku tahu betul Srintil berhak mencari sebutan apa pun yang dia sukai. Apalagi Dukuh Paruk akan hambar tanpa calung dan ronggeng. Memang dengan penampilan Srintil yang sekarang, aku mulai mendapat kesulitan memperoleh secuil gambaran Emak pada dirinya. Emak memang
perempuan Dukuh Paruk. Sekali pun aku tak pernah membayangkan Emak bukan menjadi bagian pedukuhan terpencil itu. Jadi Emak, seperti para perempuan Dukuh Paruk, tidak mengharamkan persundalan. Dia, meski hanya hidup dalam angan-anganku, bukan perempuan suci seperti yang kelak kubaca dalam buku-buku dongeng. Tetapi demi rahim yang pernah membungkusku, aku tak tega membayangkan Emak sebagai perempuan yang selalu ramah terhadap semua laki-laki. Yang tak pernah menepis tangan laki-laki yang menggerayanginya. Tidak. Betapapun aku tak mampu berkhayal demikian. Pasar Dawuan sedikit demi sedikit merenggangkan hubunganku dengan Srintil. Bukan hanya dalam arti lahir, terlebih-lebih dalam arti batiniah. Pasar Dawuan juga ternyata memberikan cakrawala luas padaku tentang banyak hal. Dulu, dunia bagiku adalah Dukuh Paruk dengan sumpah serapahnya, dengan kemelaratannya dan dengan kecabulannya yang sah. Sampai hari-hari pertama aku menghuni pasar Dawuan, aku menganggap nilai-nilai yang kubawa dari Dukuh Paruk secara umum berlaku pula di semua tempat. Ternyata tidak demikian. Pengalamanku dengan Siti akan membuktikannya. Lebih dari itu, karena Siti secara tidak langsung mengajariku bahwa dunia perempuan takkan terwakili oleh Srintil seorang. Siti, seorang gadis seusia Srintil. Setiap pagi dia membeli singkong di pasar Dawuan. Ibunya menjadi penjual berjenis-jenis makanan yang terbuat dari umbi akar tersebut. Ibu Siti tidak berjualan di pasar itu. Tetapi di pasar Dawuan, orang dengan mudah mendapat segala macam keterangan. Demikian, maka aku tahu banyak tentang Siti dan ibunya. Karena setiap pagi aku melayani Siti, maka aku mulai menyenanginya. Sikapnya yang malu-malu dan hampir menutup diri sering merangsang diriku untuk menggodanya. Sekali waktu aku tak berhasil mencegah tanganku yang lancang. Kerudung yang selalu menutupi kepala Siti kusingkapkan. Putih pipinya dan keindahan tengkuknya tak bertirai lagi. Tak ayal tanganku bergerak mencubit pipi putih itu. Sedikit pun aku tak merasa bersalah berbuat demikian. Dukuh Paruk sepanjang usiaku mengatakan perkara mencubit pipi sama sekali tidak tabu, apalagi dosa. Kata ‘dosa’ sendiri baru kudengar setelah aku meninggalkan Dukuh Paruk. Tetapi karena kelancangan tangan itu aku mendapat pengalaman baru yang getir. Setelah kucubit pipinya, Siti membeliakkan
mata. Pipinya merah rona. Gadis itu terpaku sejenak dengan tatapan mata menghunjam jantungku. Mula-mula aku senang karena dengan pipi merah itu Siti bertambah cantik. Namun aku jadi terkejut ketika Siti berlari dengan melemparkan singkong yang telah dibelinya. Kejadian itu memancing tawa orang-orang di sekelilingku. Aku terpaku karena heran dan terkejut. Hanya mencubit pipi. Apa yang luar biasa dalam perilaku sepele itu? Bukankah di Dukuh Paruk aku sudah mencium pipi Srintil dan dia sama sekali tidak marah, bahkan tertawa manja? “He, jangan samakan Siti dengan gadis-gadis Dukuh Paruk. Dia marah karena menganggap kau memperlakukannya secara tidak senonoh,” kata seseorang, entah siapa karena aku tak berani mengangkat muka. “Lihat-lihatlah bila hendak menggoda seorang gadis, Rasus!” kata seorang lainnya. “Di sini memang pasar. Perempuan yang datang berbelanja kemari tidak semua berasal dari Dukuh Paruk. Seorang sundal pun, bila dia bukan perempuan Dukuh Paruk, akan marah bila tersentuh pipinya di depan orang banyak. Meski hanya berpura-pura, namun demikianiah adanya.” Masih banyak celoteh lain yang kudengar. Tetapi aku tak bisa memperhatikan semuanya. Aku sedang terlanda masuknya nilai baru ke dalam hati, bahwa soal mencubit pipi di luar Dukuh Paruk bisa mendatangkan urusan. Lain benar keadaannya dengan Dukuh Paruk. Di sana, seorang suami misalnya, tidak perlu berkelahi bila suatu saat menangkap basah istrinya sedang tidur bersama laki-laki tetangga. Suami tersebut telah tahu cara bertindak yang lebih praktis; mendatangi istri tetangga itu dan menidurinya. Habis segala urusan! Tanah airku yang kecil itu hanya mengajarkan pengertian moral tanpa tetek-bengek. Buktinya, siapa anak siapa tidak pernah menjadi nilai yang kaku dan pasti, oleh karenanya tidak pernah menimbulkan urusan. Di sana, di Dukuh Paruk, aku juga tahu ada obat bagi perempuan-perempuan mandul. Obat itu bernama linggar kependekan dua kata - yang berarti penis tetangga. Dan obat itu, demi arwah Ki Secamenggala, bukan barang tabu apalagi aneh. Tetapi mengapa hanya karena aku mencubit pipi Siti, orang-orang menertawakanku? Ah. Biarlah, bagaimana juga aku yang harus mengalah, dengan mulai belajar menerima kenyataan, bahwa di luar tanah airku yang kecil berlaku nilai-nilai yang lain. Banyak sekali. Misalnya kata umpatan “asu buntung”,
yang bisa didengar setiap menit di Dukuh Paruk tanpa akibat apa pun, merupakan kata penghinaan paling nista di luar pedukuhan itu. Pengalaman malam hari dengan perempuan-perempuan pasar Dawuan juga memperluas cakrawalaku. Gadis-gadis warung di sekeliling pasar Dawuan kebanyakan senang bergurau dengan para lelaki. Ulahnya tidak jauh berbeda dengan perempuan Dukuh Paruk. Beberapa di antaranya mau menerima uangku dan tidak berkeberatan kubawa pergi. Tokh tidak semuanya demikian. Yang tercantik di antara mereka selalu menutup diri di samping ayahnya. Dia bersembahyang, sesuatu yang baru kulihat di luar Dukuh Paruk. Gadis-gadis lain berbisik kepadaku agar jangan mencoba menggoda si alim itu. Kata mereka, hanya laki-laki bersembahyang pula bisa berharap pada suatu saat bisa menjamahnya. Itu pun bila telah terjadi ikatan perkawinan yang sah. Pelanggaran atas ketentuan itu adalah dosa besar. Nah, Rasus dari Dukuh Paruk belum mampu memahami semuanya. Perkawinan yang sah, dosa besar, merupakan ungkapan yang baru kudengar. Terserah pada sejarahku nanti apakah aku bisa menghayati pengertian itu atau aku akan tetap didikte oleh nilai-nilai yang kukenal sejak di Dukuh Paruk. Makin lama tinggal di luar tanah airku yang kecil, aku makin mampu menilai kehidupan di pedukuhan itu secara kritis. Kemelaratan di sana terpelihara secara lestari karena kebodohan dan kemalasan penghuninya. Mereka hanya puas menjadi buruh tani. Atau berladang singkong kecil- kecilan. Bila ada sedikit panen, minuman keras memasuki setiap pintu rumah. Suara calung dan tembang ronggeng menina-bobokkan Dukuh Paruk. Maka benar kata Sakarya, bagi orang Dukuh Paruk kehidupan tanpa calung dan ronggeng terasa hambar. Calung dan ronggeng pula yang memberi kesempatan mereka bertayub dan minum ciu sepuas-puasnya. Pengenalanku atas dunia perempuan di luar Srintil juga membawa perubahan. Kedudukannya sebagai idola serta cermin di mana aku mencari bayangan Emak lama-lama surut dan akhirnya lenyap sama sekali. Sosok Emak yang kulukis dalam angan-angan selama bertahun-tahun, dengan berat hati harus kumusnahkan. Dulu aku begitu yakin Emak mempunyai cambang halus di pipi seperti Srintil. Atau lesung pipit di pipi kiri. Suaranya lembut dan sejuk dengan senyum yang menawarkan duka seorang anak yang selalu merindukannya. Kulitnya putih, dadanya subur di mana selama dua tahun aku bergantung menetek dan bermanja.
Sungguh. Meski berat sekalipun gambaran tentang diri Emak harus kuhancurkan dan menggantikannya dengan citra yang lain. Maka dalam pikiranku sudah kunyalakan api pada setumpuk kayu bakar. Kubayangkan seorang perempuan kulemparkan dengan tanganku sendiri ke atas kobaran api itu. Perempuan yang mempunyai segala gambaran keagungan itu hangus dan lenyap dimakan api. Sebagai gantinya muncul perempuan lain dengan ciri-ciri khas Dukuh Paruk. Rambut kusut dengan ujung kemerahan. Wajah lesu dan pucat karena sehari-hari tidak cukup makan. Sepasang tetek dengan puting hitam, hanya subur pada waktu panen. Sepasang telapak kaki yang lebar dengan endapan daki melapisinya. Kata-katanya kasar dengan selingan serapah cabul. Itulah gambar seorang perempuan Dukuh Paruk, gambaran yang lebih masuk akal. Aku harus mulai belajar menerima kenyataan bahwa sebagai perempuan Dukuh Paruk Emak memiliki ciri-ciri seperti itu pula. Seorang mantri yang mau membawa lari perempuan seperti itu pastilah ada kelainan pada dirinya. Kalau tidak sinting pastilah dia seorang laki-laki bajul buntung! Nah, aku sudah mulai mempunyai gambaran seorang emak. Meski buruk, tetapi bayangannya mudah kuperoleh pada hampir semua perempuan Dukuh Paruk. Atau semua perempuan yang berbelanja atau berjualan di pasar Dawuan. Memang, Srintil tetap tak bisa kulupakan. Kenangan bersamanya karena aku mengenalnya sejak masa kanak-kanak, tidak mungkin hilang dengan mudah. Tetapi kedudukannya dalam jiwaku, sedikit demi sedikit bergeser ke tempat yang lebih wajar. Boleh jadi kelak pada suatu saat aku merindukannya, kemudian mencarinya atas panggilan birahi. Siapa tahu pada suatu saat ada uang dalam jumlah cukup dalam sakuku. Tidak pernah kudengar seorang ronggeng menolak kehendak laki-laki yang akan memberinya uang, apalagi dalam jumlah banyak. Bagaimana aku telah berhasil mendudukkan Srintil dalam kehidupanku secara semestinya terbukti ketika beberapa bulan kemudian aku bertemu kembali di pasar Dawuan. Sikap orang-orang pasar masih biasa. Ronggeng memang seorang perempuan milik umum terutama bagi laki-laki. Bila Pak Simbar atau Babah Pincang berani menggoda Srintil mengapa aku tidak. Aku tidak malu diketahui oleh Srintil sebagai penjaga singkong milik orang lain. Tangan dan bajuku kotor. Di pasar aku tidak pernah mandi kecuali kalau aku sedang tidak malas pergi ke sungai.
Maka ketika orang-orang menyambut kedatangan ronggeng Dukuh Paruk itu, aku pun mendekat. Tanpa canggung sedikit pun Srintil kubimbing ke tempat yang lebih longgar. Tak kupedulikan seruan maupun tatapan orang orang sekeliling. “Kau tidak lupa padaku, Srin?” “Heh! Tentu kau masih bernama Rasus.” “Kau juga tidak lupa kejadian pada suatu malam di belakang rumah Kartareja?” “Jangkrik! Jangan keras-keras. Ya, aku tak melupakan ulahmu yang tolol dan konyol itu.” “He-he. Tetapi aku ingin mengulanginya.” “Kampret, jangan keras-keras. Atau kalau kau ingin membual banyak- banyak, mari kita beli cendol. Di warung itu kelihatan sepi.” “Nah, ayolah. Bersama seorang ronggeng, perut akan terjamin bukan?” “Sudahlah. Kau jangan nyinyir seperti Nyai Kartareja.” Beberapa orang berseru macam-macam ketika melihat aku menggandeng Srintil ke luar pasar menuju warung cendol. Semua tidak kuambil peduli. Apalagi Srintil sendiri yang membungkam mulut-mulut usil itu. “Kalian orang-orang pasar, jangan iri hati. Rasus adalah teman lama dari Dukuh Paruk. Atau bila kalian tetap merasa iri, tunggulah di sini. Nanti kalian akan mendapat giliran.” Srintil pernah menyerahkan diri kepadaku di tempat gelap di belakang rumah Kartareja. Bagiku kejadian itu hampir tak berkesan. Karena waktu itu Srintil bukan hanya sekedar seorang ronggeng. Lagipula waktu itu kuanggap penyerahan Srintil sebagai imbalan penyerahan keris kecil yang kulakukan kepadanya. Di warung cendol itu terbukti pengertianku salah. Dari cara Srintil berbicara, dari caranya duduk di sampingku dan dari sorot matanya, aku tahu Srintil mencatat kejadian di belakang rumah Kartareja itu secara khusus dalam hatinya. Maka aku terpaksa percaya akan kata-kata orang bahwa peristiwa penyerahan virginitas oleh seorang gadis tidak akan dilupakannya sepanjang usia. Juga aku jadi percaya akan kata-kata yang pernah kudengar bahwa betapapun ronggeng adalah seorang perempuan. Dia mengharapkan seorang kecintaan. Laki-laki yang datang tidak perlu mengeluarkan uang bila dia menjadi kecintaan sang ronggeng.
“Rasus, kau menghilang dari Dukuh Paruk sejak kejadian malam hari di belakang rumah Kartareja. Jangkrik! Aku sungguh tak mengerti mengapa kau bertindak demikian.” Jika Srintil mengajukan pertanyaan seperti itu beberapa bulan yang lalu, aku akan sulit mencari jawabnya. Kalaupun aku menemukannya, pastilah muluk, karena aku masih menghubungkan Emak dengan diri Srintil. Tetapi di warung cendol itu mulutku dengan lancar memberikan jawaban kepada Srintil. “Karena engkau telah sah menjadi ronggeng. Selamanya aku tak ingin bertemu lagi denganmu kecuali aku mempunyai uang.” “Jadi begitukah rupanya, Rasus?” “Ya, mengapa?” “Apakah waktu itu aku juga minta uang kepadamu?” Srintil menundukkan kepala ketika mengucapkan kata-kata itu. Sebelum aku bisa membuka mulut, Srintil bangkit meninggalkanku. Aku terpana dan hanya mampu melihat dia mengangkat keranjang belanjaannya ke atas sado. Ketika sais membunyikan cambuk buat melarikan kuda, hatiku yang terlecut. Aneh, ternyata selama setahun penuh aku belum juga menginjakkan kaki ke Dukuh Paruk. Bagiku, bila mendengar Nenek masih mengiris-iris singkong untuk dibuat gaplek serta pergi ke tanah kosong buat menggembala kambing, itu sudah cukup. Pasar Dawuan selama satu tahun itu sekali-sekali menjadi tempat pertemuanku dengan Srintil. Terkadang Srintil mengajakku ke sebuah rumah tidak jauh dari pasar Dawuan. Meskipun Srintil selalu marah bila disebut sundal, tetapi dia tahu betul setiap rumah yang bisa disewa untuk perbuatan cabul. Dia membuktikan kata-katanya bahwa dariku dia tidak mengharapkan uang. Bahkan suatu ketika dia mulai berceloteh tentang bayi, tentang perkawinan. Lucu. Seorang ronggeng berceloteh tentang perkawinan, tentang seorang bayi. Sebagai anak Dukuh Paruk sejati, aku langsung bisa mencurigainya. Aku tahu benar perkawinan di Dukuh Paruk bukan barang muluk, apalagi kudus, maka para perempuan di sana tak perlu memujanya. Perkawinan dalam urusannya dengan kepentingan hayati bisa didapat dengan mudah, apalagi
bagi Srilitil yang cantik. Bila Srintil menginginkan seorang bayi, mengapa dia cemas? Bukankah berpuluh lelaki telah menabur benih? Orang-orang di luar Dukuh Paruk tidak mengerti di mana letak persoalannya. Betapapun perempuan Dukuh Paruk hidup dalam dunianya yang tersendiri, naluri mereka yang ingin beroleh keturunan sama dengan perempuan-perempuan lain. Mereka membenci kambing-kambing yang tak bisa beranak, apapula terhadap diri yang mandul. Mereka merasa mengemban amanat suci Ki Secamenggala agar keturunan moyang orang Dukuh Paruk itu tidak punah termakan malapetaka maupun kemelaratan. Hal ini berarti: bayi. Aku menduga keras Srintil mulai dihantui kesadaran bahwa Nyai Kartareja telah memijit hingga mati indung telurnya, peranakannya. Suami-istri dukun ronggeng itu merasa perlu berbuat demikian sebab hukum Dukuh Paruk mengatakan karir seorang ronggeng terhenti sejak kehamilannya yang pertama. Kukira Srintil mulai sadar kemandulan adalah hantu mengerikan yang akan menjelang pada hari tua. Atau Srintil telah mendengar riwayat para ronggeng yang tak pernah mencapai hari tua karena keburu dimakan rajasinga atau penyakit kotor lainnya. Entahlah. Yang jelas celoteh Srintil tentang bayi dan perkawinan hanya kuanggap sebagai ungkapan perasaan secara emosional, tanpa suatu alasan yang mendukungnya. Lagipula aku merasa rendah diri karena Srintil telah menjadi ronggeng yang benar-benar kaya. Namun seandainya benar keinginan Srintil memperoleh seorang bayi terdorong ketakutannya menghadapi hari tua, aku tak bisa berbuat lain kecuali iba. Sangat iba! * * * Tahun 1960 wilayah kecamatan Dawuan tidak aman. Perampokan dengan kekerasan senjata sering terjadi. Tidak jarang para perampok membakar rumah korbannya. Aku yang selalu tidur di sudut pasar Dawuan mulai merasa takut. Mulai terpikir olehku apakah sudah tiba saatnya bagiku kembali ke Dukuh Paruk? Aku berharap para perampok tidak tertarik pada pedukuhan itu karena letaknya yang berada di tengah sawah. Menurut perhitunganku, andaikata terjadi perampokan di sana polisi gampang mengepungnya.
Ternyata hingga dua tahun berikutnya aku belum juga datang melihat Dukuh Paruk. Bahkan aku meninggalkan pasar Dawuan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bersama sekelompok tentara di bawah pimpinan Sersan Slamet. Kelak akan terbukti nasib mengubah kehidupanku secara ajaib. Dimulai pada suatu sore di depan pasar Dawuan. Pasar begitu sepi. Apalagi perampokan makin hari makin sering terjadi. Sebuah truk penuh tentara berhenti. Kira-kira dua puluh orang tentara turun, masing-masing dengan topi baja dan bedil. Banyak anak-anak menyingkir melihat kedatangan para tentara itu. Mereka terutama takut kepada bedil. Aku sendiri berdiri dan memandang dari jauh di depan gerbang pasar. Kulihat seorang tentara, yang kemudian kukenal sebagai Sersan Slamet, mencari seseorang untuk membantu menurunkan peti-peti serta barang- barang lainnya. Dia tidak melihat seorang pun kecuali aku. Jadi lambaian tangannya kemudian diarahkannya kepadaku. Tak ada anak Dukuh Paruk yang tidak gemetar menerima panggilan seorang tentara. Aku hampir melangkah surut bila Sersan Slamet tidak mengulangi lambaiannya. Bahkan kulihat senyumnya yang kemudian mengurangi ketakutanku. “Siapa namamu?” tanya Sersan Slamet. Gayanya ramah kebapakan. “Rasus.” “Bila tidak sedang sibuk kuminta kau mau membantu kami.” “Tidak. Aku tidak mempunyai kerja saat ini,” kataku masih dengan rasa takut tersisa di hati. “Jadi kau mau membantu kami?” Aku mengangguk. “Baik Marilah mulai. Angkut peti-peti itu ke rumah sana. Nanti ada upah tersedia bagimu.” Pekerjaan kumulai. Peti-peti logam serta barang berat lainnya kuangkat di atas pundak dan kubawa ke sebuah rumah batu yang ternyata telah dipersiapkan sebagai markas tentara. Dari rasa takut lambat laun berubah menjadi rasa bangga. Seorang anak Dukuh Paruk bekerja dalam kelompok tentara. Meski pakaianku tidak seragam dengan mereka, tetapi aku berjalan beriring dengan mereka. Bahkan aku sudah berbicara dengan pemimpin mereka, Sersan Slamet. Aku telah berkenalan dengan seorang tentara.
Karena merasa bangga bekerja dengan sekelompok tentara maka aku mampu mengeluarkan tenaga lebih dari biasanya. Bila mereka mengangkat peti itu satu-satu, aku mengangkatnya sekaligus dua buah di pundakku. Dalam waktu sekian menit mereka hanya bisa membawa sebuah barang dari truk ke markas. Tetapi dalam waktu sama aku telah dua kali hilir- mudik. Rupanya Sersan Slamet mencatat hal ini. Setelah semua barang selesai dibawa ke markas itu, aku minta diri hendak pulang ke sarangku di pasar Dawuan. Sersan Slamet menahanku. Aku dimintanya lebih lama membantunya. Maka rumah kosong yang hendak jadi markas itu kusapu. Ketika aku sedang bekerja Sersan Stamet memberiku sepasang pakaian tentara bekas. Aku diminta segera mengenakannya. Jadilah aku berseragam hijau. Aku mengira sepasang pakaian bekas yang sudah bertisik di sana-sini itu adalah upah yang dijanjikan Sersan Slamet sesaat aku mulai bekerja. Rupanya tidak demikian. Sersan itu telah menjeratku agar aku mau bekerja menjadi kacung yang harus melayani diri serta seluruh anggota pasukannya. Untung, aku tidak bersangkut-paut dengan para gerombolan yang sering mengacau wilayah Dawuan. Bayangkan bila aku seorang anggota gerombolan, atau setidaknya seorang mata-mata mereka yang kuketahui banyak di antara penduduk, maka keputusan Sersan Slamet mengangkatku menjadi pelayannya sungguh suatu kesalahan besar. Menjelang sore semua yang harus kukerjakan telah beres. Sersan Slamet menyuruhku duduk. Di hadapan beberapa tentara lain, sersan itu menanyaiku. “Rasus, dengan pakaian itu engkau telah pantas menjadi seorang tobang. Kami memerlukan seseorang untuk melayani kami dalam tugas. Tentu saja bila kau bersedia memikul tugas itu kelak kau akan menerima gaji. Bagaimana?” Jawaban apa pun tidak bisa segera kuberikan. Tetapi dalam hati aku bersorak-sorai. Bila tawaran itu kuterima, maka pasti aku akan menjadi anak Dukuh Paruk pertama yang berseragam hijau, berbicara dalam bahasa Indonesia, lagipula menerima gaji. Bukan main hebat! Srintil akan melihat seorang yang pernah dikenalnya bernama Rasus berseragam tentara, meski tanpa pangkat. Sakarya dan Kartareja yang telah menciptakan Srintil menjadi seorang ronggeng sehingga aku kehilangan bayangan Emak, akan terbata-bata bila suatu saat kudatangi. Rasakan dia.
“Lho. Engkau tetap diam, Rasus. Engkau menolak atau hanya bingung memikirkan tawaranku?” tanya Sersan Slamet. “Tidak demikian, Pak. Aku hanya merasa sangsi apakah aku dapat memenuhi syarat untuk memikul tugas yang akan kuterima itu,” kataku merendah. “Siapa saja yang mempunyai cukup tenaga serta kejujuran, dapat melaksanakan tugas sebagai tobang. Tentang tenaga, aku sudah merasa pasti engkau memilikinya dengan cukup. Kejujuranmu sudah terpancar dari wajah dan sinar matamu sendiri. Jadi aku merasa pasti pula engkau mampu menjadi seorang tobang.” “Kalau demikian penilaian Sersan, maka aku hanya menurut,” jawabku tanpa mengangkat muka. “Katakan; ya! Kami tentara. Kami memerlukan ketegasan dalam setiap sikap,” kata Sersan Slamet tegas. Tetapi dari nadanya aku tak menangkap kekerasan. “Ya. Tawaran itu kuterima!” “Bagus. Engkau mulai berbicara seperti seorang tentara.” “Tetapi...” “Tetapi? Tentara tak pernah berbicara ‘tetapi’ bila keputusan telah diambil.” “Singkong-singkong yang selama ini kujaga harus secara tegas dan pasti kuserahkan kembali kepada pemiliknya. Seperti tentara, seorang tobang harus tegas!” Pada hari-hari pertama menjadi tobang, banyak hal baru yang kurasakan. Siang hari aku mencuci pakaian-pakaian tentara, melap sepatu- sepatu. Urusan dapur menjadi bagianku pula. Aku melakukan bagian ini dengan senang hati karena di samping memasak aku berkesempatan pergi berbelanja ke pasar Dawuan. Di sana aku pamer dengan baju seragam. Semua orang yang pernah mengenalku di pasar itu memujiku. Bahkan pemilik singkong yang pernah beberapa belas bulan menjadi majikanku, tak berani memanggilku dengan nama, melainkan dengan sebutan “mas tobang”. Aku berharap Srintil secepatnya mengetahui perubahan diriku lalu datang berbelanja ke pasar Dawuan. Sayang belum satu pun orang Dukuh Paruk kujumpai di pasar itu. Sebulan sejak kedatangan pasukan tentara tak terdengar peristiwa perampokan di wilayah Dawuan. Meskipun tentara tetap siaga dan
berpatroli di malam hari, tetapi setidaknya aku merasakan suasana yang tenang di antara mereka. Hubunganku dengan Sersan Slamet lebih dapat dikatakan sebagai hubungan pribadi daripada sebagai hubungan antara seorang tobang dan seorang sersan. Dia banyak bertanya tentang diriku, asal-usulku bahkan sekolahku. Dia mengajariku menulis dan membaca setelah mengetahui aku tak pernah bersekolah. Berbagai kisah diceriterakan kepadaku. Tetapi yang kusenangi adalah kisah seorang tentara pelajar yang karena keberaniannya dapat membunuh tiga serdadu musuh dalam suatu pertempuran. Pada umumnya Sersan Slamet bersikap lembut kepadaku. Tetapi jiwa tentaranya harus muncul juga. Misalnya beberapa hari setelah aku bergabung dengan pasukannya, dia pernah berkata. “Sebagai seorang tobang segala sesuatu yang kauketahui di sini menjadi rahasia penting. Kau harus menjaganya sekuat tenaga. Dengan orang luar kau hanya dibenarkan berbicara seperlunya. Kalau kuketahui kau melakukan kesalahan, aku sendiri yang akan menghukummu. Bila perlu dengan pestolku!” Berbagai pengetahuan takkan pernah kudapat bila aku tak berkesempatan mengenal Sersan Slamet. Hanya dua bulan aku belajar membaca dan menulis. Sesudah itu aku mulai berkenalan dengan buku- buku, dari buku ceritera wayang, buku sejarah sampai buku-buku yang berisi pengetahuan umum. Seluk-beluk senjata juga kuperoleh dari sersan yang baik itu. Dari namanya seperti Pietro Beretta, Parabellum, Lee Enfield, Thomson dan sebagainya. Cara bongkar pasang dan penggunaannya pun diajarkan oleh Sersan Slamet kepadaku. “Siapa tahu pada saat yang kritis kau harus ikut memegang senjata dalam pertempuran,” kata sersan itu sambil tersenyum. Boleh jadi Sersan Slamet tidak tahu hatiku melambung sampai ke langit karena mendengar ucapannya. Andaikata Emak mendengar kata-kata itu! Suatu pagi kudengar Sersan Slamet berkata kepada bawahannya. Bahkan aku pun dipanggilnya mendekat. “Sampai hari ini kiriman bahan makanan belum juga tiba. Padahal persediaan sudah menipis. Kita membutuhkan daging segar. Terus-menerus memakan daging dan makanan kaleng tidak baik untuk lambung kita. Jatah untuk pembeli daging segar sudah habis. Kita putuskan berburu babi atau kijang di hutan.” “Berita bagus,” kata kopral Pujo, “aku ikut.”
“Tidak. Kopral tinggal di sini dan kuserahi tanggung jawab. Aku hanya memerlukan dua orang serta Rasus sebagai penunjuk jalan.” Bila Kopral Pujo bersuka-ria mendengar berita itu, apalagi aku yang bahkan akan diajaknya serta. Berburu bersama tiga orang tentara ke hutan. Orang kampung akan melihat Rasus berjalan beriringan dengan tentara. Mereka akan melihat Rasus mengenakan baju hijau. Pasti mereka akan bergumam. Anak Dukuh Paruk yang satu itu memang luar biasa, dapat menjadi tentara. Apalagi bila aku dapat dipercaya memanggul bedil. Pasti akan berlipat kekaguman orang kampung padaku. Dalam perjalanan pulang aku akan memanggul sendiri hasil buruan. Babi atau kijang. Tak pernah kuimpikan sebelumnya bahwa suatu pengalaman yang amat luar biasa kuperoleh dalam kesempatan berburu itu. Bukan dengan binatang buruan, bukan pula dengan gerombolan perampok yang bersembunyi di hutan. Kira-kira jam delapan kami berangkat dan Dawuan. Di punggungku ada ransel berisi perbekalan. Di pinggangku yang sebelah kiri tergantung termos dan pinggang kanan terselip pisau belati bersirung. Aku merasa diriku luar biasa gagah saat itu. Benar, sepanjang perjalanan ke hutan semua orang yang kebetulan berpapasan denganku bersama tiga orang tentara berdiri sesaat hanya untuk mengagumi seorang anak Dukuh Paruk. Anak-anak kecil segera bersembunyi, meski mereka kupanggil dengan bahasa ibu. Sampai di hutan, perburuan langsung dimulai. Dalam hal ini aku kecewa karena tiga orang tentara yang kuiringkan sama sekali tak berpengalaman dalam hal berburu. Celeng sama sekali tak terlihat barang seekor. Kijang memang terlihat tetapi Sersan Slamet yang menjadi algojo gagal menembak sasarannya. Sampai sore hari ketika perburuan dihentikan, para pemburu hanya kehilangan dua peluru. Satu unruk menembak kijang yang ternyata tak mengena. Satu lagi untuk menembak seekor ular sanca sebesar paha yang bergelung di atas pohon. Jadi di tengah hutan itu aku mempunyai pekerjaan menguliti seekor ular besar, memotonginya pendek-pendek, kemudian memasukkannya dalam tiga buah ransel. Sesungguhnya aku tak menyukai pekerjaan semacam itu. Tetapi demi Sersan Slamet segalanya kulakukan, meski beberapa kali aku hampir muntah. Bau anyir dan sengak menggelitik lambung dan mengaduk- aduk isinya.
“Selesaikan pekerjaanmu,” kata Sersan Slamet. “Aku mau tidur barang sebentar. Cepat bangunkan aku bila kau melihat sesuatu yang mencurigakan.” “Celeng atau kijang?” ujarku bergurau. Sersan Slamet hanya tersenyum lalu merebahkan diri di bawah pohon. Kedua tentara lain malah sudah tak bergerak-gerak lagi, tertidur pulas. Sesungguhnya aku sangat ahli dalam hal mengupas singkong. Tetapi perkara menguliti seekor ular yang hampir empat meter panjangnya baru sekali itu kulakukan. Untung, sebelum pergi tidur Sersan Slamet memberikan petunjuknya. Kepala ular kuikat dengan tali. Ujung tali yang lain kuikatkan pada sebatang pohon. Pada lehernya kubuat irisan melingkar. Dari irisan itu kulit ular kukupas ke belakang. Tenagaku hampir terkuras habis untuk menarik kulit ular itu. Hasilnya adalah sebuah kantung panjang yang terbalik. Pekerjaan selanjutnya tidak memeras banyak tenaga. Ternyata banyak daging ular yang harus kubuang. Dua buah ransel sudah penuh. Ransel ketiga untuk diisi dengan kulit binatang itu. Semuanya selesai sudah. Aku bangkit berdiri untuk memutar tulang punggung. Sepi. Sersan Slamet dan dua orang anggotanya masih terlelap. Aku tidak mempunyai keberanian membangunkan ketiga anggota tentara itu. Maka aku hanya duduk berdiam diri dalam kelengangan hutan yang terasa bertambah hening tanpa kehadiran angin. Setiap kali kutoleh ke belakang tampak tiga sosok tubuh yang tetap nyenyak. Heran. Dalam keadaan tidur sedikit pun tak tampak keperkasaan seorang tentara. Ketika kupandangi tiga pucuk bedil yang dibiarkan tersandar oleh majikannya, tiba-tiba muncul ilham gemilang. Sampai kapan pun aku tak bisa mengerti mengapa ilham itu datang pada saatnya yang amat sangat tepat. Kedatangannya akan terbukti nanti mampu mengakhiri derita panjang yang menista hidupku selama bertahun-tahun. Ketiga bedil itu masih tersandar di tempatnya. Selagi Sersan Slamet bersama dua rekannya pulas, aku bisa menggunakan salah sebuah bedil mereka untuk kepentinganku sendiri. Aku mempunyai musuh bebuyutan yang meski hanya merajalela dalam angan-angan, sudah sekian lama aku ingin menghancurkan kepalanya hingga berkeping-keping: mantri yang telah membawa Emak melarikan diri entah ke mana. Ketika datang
kesempatan buat menghancurkan kepala mantri itu, mengapa aku tidak segera bertindak? Cepat! Jangan tunggu sampai ketiga orang tentara itu terjaga. Bayar kesumatmu sekarang juga! Demikian sebuah suara terdengar jelas dalam hatiku sendiri. Aku patuh. Tindakan pertama, kucari sebongkah batu cadas sebesar kepala. Kuangkat dia ke atas sebuah tonggak kayu. Dengan pisau belati batu cadas itu kuukir. Ada gambar mata, hidung dan bibir. Tak kulupakan kumis panjang yang melintang. Sehelai daun jati kuletakkan di atas batu cadas itu. Maka lengkaplah kepala mantri keparat yang telah mencuri Emak. Mantri yang menurut ceritera Nenek selalu berkumis dan memakai topi gabus. Dari jarak beberapa langkah aku menatap hasil rekaanku. Tak salah lagi. Itulah mantri, musuh bebuyutanku. Bajingan tunggulah balas dendamku beberapa detik lagi. Kulihat kiri-kanan. Sepi. Hanya seekor dadali terbang melintas di langit. Biarlah dia menjadi saksi tunggal atas perbuatan yang akan kulakukan. Aku akan membayar dendam. Dengan berjingkat aku mencapai salah sebuah bedil itu. Sebuah Lee Enfield. Tanganku gemetar ketika mengangkatnya. Bukan karena aku baru kali pertama menjamah sebuah senjata api. Bukan. Sudah kukatakan aku mengenal berbagai jenis senjata sejak aku bergabung dengan Sersan Slamet. Tanganku gemetar karena gejolak dalam hatiku sendiri. Gemetar karena rasa kesumat yang sesaat lagi akan terlampiaskan. Pelan, pelan sekali aku melangkah mundur. Aku takut salah seorang dari ketiga tentara itu bangun. Bila sampai terjadi demikian gagallah rencanaku membalas dendam kepada mantriku yang keparat, Kemudian aku berbalik. Demikian maka aku berdiri beberapa langkah di depan kepala mantri. Aku kembali membuat gerakan yang begitu pelan, ketika aku menarik handel untuk mengokang bedil di tanganku. Lirih sekali sehingga kuharap kuman yang berada di telapak tanganku tak mendengar bunyi pegas yang kurentang. Denyut jantungku ternyata mampu menggerak-gerakkan ujung laras bedil yang telah tertuju lurus pada sasaran. Kepala mantri itu! Maka aku masih menunggu sampai jantungku sedikit lebih tenang. Saat telah tiba.
Bedil kembali kuarahkan kepada sasaran. Kubayangkan bagaimana seorang anggota regu tembak berdiri menunaikan tugas menembak mati seorang musuh. Dialah yang kutiru. Picu kutarik. Ledakan dendam membuat gerak telunjuk kananku menjadi kuat dan pasti. Aku hampir tidak mendengar letupan karena seluruh indera terpusat kepada kepala mantri yang hancur dan terlempar ke belakang. Topi gabusnya terbang entah ke mana. Ya Tuhan! Detik berikutnya aku mendengar Sersan Slamet dan kedua temannya terbangun. Sedetik lagi aku mendengar hardikan yang amat keras disusul sebuah telapak tangan mendarat di pipiku. Bedil di tangan direnggutkan dengan begitu kasar. Tetapi aku tidak pedulikan semuanya. Aku sedang menikmati kepuasan batin yang amat sangat. Mantriku telah mati. Kepalanya hancur sampai tak mungkin orang mengenalinya kembali. Tidak kupedulikan ketiga tentara yang kemudian berdiri bingung, aku maju hendak melihat hasil tembakanku. Luar biasa. Kepala mantri tinggal menjadi kepingan-kepingan kecil. Seorang lelaki dengan kepala hancur seperti itu takkan bisa membawa lari Emak. Sejak saat itu dia sudah menjadi bangkai. Emak telah kubebaskan. Dia akan kuajak kembali ke Dukuh Paruk sekarang juga. Aku menang, menjadi putera paling perkasa yang berhasil gemilang membebaskan Emak tercinta dari genggaman setan. Kukira kesadaran sedang kembali kepada diriku ketika aku berdiri kaku menghadap tiga orang tentara yang memandangku dengan heran. Badanku basah oleh keringat dingin. Tangan dan kakiku gemetar. Tetapi aku berusaha membuat langkah pertama ke arah Sersan Slamet. Sayang aku tak sampai ke tujuan. Kulihat segalanya berputar jungkir-balik. Apa yang terjadi kemudian aku tak mengetahuinya lagi. Entah berapa lama aku tak sadarkan diri. Ingatan pertama yang kurasakan adalah ketika Sersan Slamet menuangkan kopi hangat dari termosnya ke dalam mulutku. Kemudian dari mulut yang belum sepenuhnya terkendali masih terlontar kata-kata, “Mak, kau sudah bebas sekarang. Mari pulang!” “Ya, kau sudah sadar. Kita akan segera pulang,” ujar Sersan Slamet. Kata-kata itu membuatku lebih tersadar. “Oh, Sersan. Aku telah membuat kesalahan. Aku mohon maaf,” kataku sambil bangkit duduk.
“Aku harus mengerti lebih dulu mengapa semua ini kaulakukan. Kau sudah bisa menerangkannya sekarang?” “Maaf, Sersan, aku tak bisa menerangkannya sekarang. Atau hukumlah aku. Kesalahan telah kuperbuat dengan meledakkan sebuah peluru dengan maksud yang sukar Sersan mengerti. Sungguh, Sersan, aku rela menerima hukuman apa pun. “Baik. Mari kita pulang. Tetapi kau harus berjanji nanti akan memberikan keterangan sejelas-jelasnya kepadaku.” “Terima kasih, Sersan. Saya berjanji.” “Bagaimana dengan ular sanca?” “Sudah selesai. Tinggal membawanya dalam tiga buah ransel.” “Kau merasa sudah cukup kuat?” “Sudah.” “Ambil pikulan. Hukuman pertama bagimu adalah mengangkat ketiga ransel itu, seorang diri.” Kepada teman-temannya di markas, kedua tentara yapg ikut berburu mengatakan aku kemasukan setan di hutan. Maka beberapa orang meminta keterangan langsung kepadaku, dan aku hanya cukup mengiyakan. Tetapi kepada Sersan Slamet di kamarnya kukatakan dengan panjang lebar mengapa aku menembak segumpal cadas itu. Pak Sersan mengerti tentang alasan yang kukatakan itu. “Maka aku sungguh minta maaf, Sersan.” “Hanya kali ini kau kumaafkan. Kali lain tidak. Untung aku dapat memahami penderitaan batinmu karena selama hidup engkau belum pernah melihat ibumu. Kalau tidak hukuman yang akan kauterima cukup berat. Bayangkan, mengambil dan menggunakan bedil. Bahkan seorang tentara harus memenuhi syarat tertentu agar dibenarkan berlaku demikian.”--/bp/ Kehadiran tentara di Dawuan tidak selamanya dapat mencegah perampokan di wilayah kecamatan tersebut. Bahkan di beberapa kampung para perampok semakin berani. Pembunuhan terhadap para korban mulai berani mereka lakukan. Usaha mengatasi masalah itu ternyata bukan tugas mudah bagi Sersan Slamet bersama anak buahnya. Patroli malam hari tidak berhasil menangkap seorang perampok pun. Sebaliknya seorang anggota tentara tewas dan seorang lainnya terluka ketika segerombolan perampok mencegat satuan patroli malam.
Sersan Slamet mengganti taktik. Anggotanya dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota dua sampai tiga orang. Setiap kelompok bertugas mengawasi rumah-rumah penduduk yang diduga menyimpan emas permata. Orang-orang inilah yang selalu menjadi sasaran perampokan. Satuan kecil itu meninggalkan posnya di Dawuan secara menyamar dan sudah siap di tempat tugas ketika matahari terbenam. Namun karena jumlah anggota yang terbatas, aku terpaksa ikut menjadi anggota satuan, meski aku belum mendapat kepercayaan memegang senjata. Bersama Kopral Pujo aku mendapat bagian mengawasi Dukuh Paruk. Karena aku sangat mengenal pedukuhan itu, kata Sersan Slamet memberi alasan. Di Dukuh Paruk ada tersimpan emas. Di mana lagi kalau bukan di rumah Srintil. Maka aku menerima tugas bersama Kopral Pujo dengan senang hati, meski terbersit ketakutan akan bertemu langsung dengan para perampok itu. Setiap hari sebelum matahari terbenam, aku berangkat ke Dukuh Paruk. Kopral Pujo menyembunyikan bedilnya dalam gulungan kain sarung. Dia sendiri tidak mengenakan seragam tentara, bahkan tanpa alas kaki. Aku hanya bersenjata sebuah lampu senter. Kami usahakan agar kedatangan kami tidak diketahui oleh orang Dukuh Paruk sendiri. Tempat yang kami pakai sebagai tempat mengintai terletak di ujung pematang yang menghubungkan Dukuh Paruk dengan dunia luar. Bila sampai fajar tak terjadi sesuatu, kami pulang ke Dawuan. Biasanya kami langsung tidur sepanjang pagi. Sesungguhnya aku tidak berharap, sesuatu akan menimpa Dukuh Paruk. Betapapun dia adalah tanah airku yang kecil. Tetapi pada malam kesembilan, ketika cahaya bintang mampu menerangi pedukuhan itu, dari tempat pengintaian kulihat sinar lampu senter mendekat. Kubuka mataku lebar-lebar. Empat lima orang sedang berjalan beriring di atas pematang. Sinar bintang-bintang memungkinkan mataku melihat kelima orang itu masing-masing membawa benda panjang. Tak salah lagi, bedil. “Aduh, Kopral. Akhirnya mereka datang juga,” kataku berbisik. “Berapa? Mataku kurang awas.” “Lima. Semuanya bersenjata. Kita hadapi mereka?” “Seharusnya begitu. Tetapi jangan gila. Hanya ada sepucuk senjata pada kita. Pada mereka ada lima bedil.” “Jadi bagaimana? Keputusan harus segera kita ambil.”
“Nanti dulu. Aku mau kencing.” Mengecewakan. Kopral Pujo tidak lebih berani daripadaku. Pada saat itu dia tidak bisa mengambil keputusan. Jadi akulah yang mengambil prakarsa. “Kita perlu bantuan. Kopral tetap di sini. Aku akan berlari secepatnya ke Dawuan. Dalam dua puluh menit kuharap aku sudah kembali bersama Sersan Slamet.” “Terlalu lama. Mana sentermu. Aku akan memberi isyarat ke markas.” “Tetapi dari tempat ini isyarat itu takkan terlihat oleh Sersan Slamet. Kopral harus lari sampai ke pertengahan pematang.” “Tak mengapa.” “Nah inilah senter yang Kopral minta. Aku juga akan meninggalkan tempat ini mengikuti para perampok itu dari belakang.” “Ya.” “Hati-hati. Kopral jangan salah tembak nanti.” “Ya.” Selagi Kopral Pujo lari ke tengah pematang, aku mengendap mengikuti para perampok yang baru beberapa menit lewat di dekat tempat pengintaian. Benar dugaanku, mereka tidak mendatangi rumah Kartareja di mana Srintil tinggal, melainkan ke rumah Sakarya. Dengan atap seng pemberian lurah Pecikalan, rumah Sakarya kelihatan paling menonjol di Dukuh Paruk. Kulihat dua orang perampok tetap tinggal di luar, satu di belakang dan lainnya di halaman rumah. Tiga lainnya masuk ke beranda setelah membuka pintu dengan tendangan kaki. Sakarya yang terkejut, langsung mengerti apa yang akan terjadi. Kakek Srintil itu keluar. Di ruang tengah dia berhadapan dengan tiga orang yang mengacungkan senjata kepadanya. Nyai Sakarya yang menyusul suaminya keluar langsung tersimpuh di tanah. “Ini rumah ronggeng Srintil, bukan?” bentak salah seorang perampok kepada Sakarya. Yang dibentak menggigil ketakutan. “Aku memang kakek Srintil. Tetapi dia tidak di sini lagi sekarang,” jawab Sakarya dengan bibir gemetar. Salah seorang perampok menampar orang tua itu sampai terhuyung. Lainnya menggeledah ke seluruh sudut rumah. Tak menemukan Srintil maupun hartanya, para penjahat kembali berlaku kasar kepada Sakarya.
“Katakan di mana Srintil tinggal! Jangan membuang waktu. Bedilku bisa meledak setiap saat.” “Jangan, jangan. Akan kukatakan, Srintil tinggal di rumah Kartareja, tiga rumah ke timur dari sini. Tetapi jangan kalian apa-apakan dia. Sungguh. Srintil cucu tunggal kami. Ambil hartanya, tapi jangan cederai dia.” “Itu urusanku. Kamu jangan mengajari kami.” Sebelum meninggalkan rumah Sakarya para perampok membuat orang tua itu pingsan. Pukulan di kepala dengan menggunakan lampu senter sudah cukup. Kemudian kelima penjahat bersama-sama menuju rumah Kartareja. Dukun ronggeng itu sudah mendengar kegaduhan di rumah Sakarya. Barang-barang emas miliknya dan milik Srintil disembunyikannya di dalam abu tungku. Seperti ketika datang ke rumah Sakarya, maka dua orang perampok tetap tinggal di luar rumah. Aku berada di balik pohon hanya beberapa langkah dengan salah seorang di antara mereka. Kudengar pintu yang didobrak. Suara-suara menghardik dan suara-suara pukulan. Sesaat berikutnya kudengar jerit Srintil. Aku mengutuk sengit mengapa Kopral Pujo belum juga muncul. Karena tidak sabar menunggu, maka timbul keberanianku. Penjahat yang berdiri di belakang rumah kelihatan gelisah. Aku mencari sesuatu di tanah. Sebuah batu sudah cukup. Tetapi yang kutemukan sebatang gagang pacul. Ketika perampok itu membelakangiku, aku maju dengan hati-hati. Pembunuhan kulakukan untuk kali pertama. Aku tidak biasa melihat orang terkapar di tanah. Aku belum pernah melihat bagaimana seorang manusia meregang nyawa. Pengalaman pertama itu membuat aku gemetar. Dan siap lari andaikata tidak tertahan oleh keadaan. Aku mendengar langkah mendekat. Cepat aku mengambil senjata milik orang yang sudah kubunuh. Sebuah Thomson yang tangkainya sudah diganti dengan kayu buatan sendiri. Tak mengapa. Senjata yang telah terkokang itu kugunakan untuk pembunuhan kali kedua. Sesudah itu aku benar-benar merasa takut. Aku lari dan berbalik sesaat untuk menghujani rumah Kartareja dengan peluru yang masih tersisa. Kemudian aku berlari kembali. Sampai di sawah aku bertiarap di balik pematang. Thomson itu telah tersembunyi di dalam sebuah parit.
Ketika dalam keremangan kulihat empat sosok tubuh berlari ke arah pedukuhan, aku mengerti Kopral Pujo sudah datang membawa bantuan. “Tunggu, aku Rasus.” “He, di mana mereka?” tanya Sersan Slamet. “Di rumah Kartareja. Cepat. Dua di antara mereka telah kubunuh,” kataku dengan menggigil. Sersan Slamet mengatur siasat. Dia menyuruh tiga anak buahnya memasuki Dukuh Paruk dengan tugas mengusir para penjahat keluar. Dengan Thomson-nya Sersan Slamet akan mencegat mereka di tepi sawah. Terdengar letupan-letupan ramai. Para perampok termakan oleh siasat Sersan Slamet. Mereka lari ke luar rumah Kartareja. Satu orang tertembak oleh Kopral Pujo. Satu orang lolos, tetapi senjata Sersan Slamet berhasil membunuh seorang lainnya. Setelah suasana sepi Sersan Slamet mengajakku melihat rumah Kartareja. Kopral Pujo dan dua temannya sudah di sana. Dengan lampu senter kucari Thomson bertangkai kayu yang tadi kulempar ke dalam parit. Kupanggul dia dengan gagah. Di belakang rumah Kartareja aku berhenti. Kepada Sersan Slamet kutunjukkan dua mayat. Tetapi aku hampir muntah melihat darah begitu banyak. Sebuah senjata lagi tergeletak dekat salah seorang mayat. Ketika aku dan Sersan Slamet masuk, Kartareja sedang menggigil di depan Kopral Pujo. Istrinya duduk termangu. Srintil terbelalak melihat aku membawa bedil, schingga dia ragu-ragu mendekat. Dari keterangan Kartareja diketahui perampok hanya berhasil membawa perhiasan yang pada saat itu dikenakan Srintil; sepasang subang, dua cincin dan seuntai kalung. Kartareja menyuruh Srintil tetap mengenakan perhiasan itu untuk melindungi perhiasan lain yang lebih mahal dari jarahan para perampok. Orang-orang Dukuh Paruk keluar dan berkumpul di rumah Kartareja. Dengan obor mereka disuruh oleh Sersan Slamet mengumpulkan empat mayat. Di hadapan orang banyak Sersan Slamet memujiku sebagai seorang pemberani. Tentara itu tidak tahu aku paling takut melihat darah. “Rasus sangat pantas menjadi tentara. Saya akan berusaha agar dia diangkat secara resmi menjadi anggota kesatuan saya,” kata Sersan Slamet yang disambut dengan gumam orang-orang Dukuh Paruk. Empat mayat akan ditanam besok pagi untuk dikenali dulu identitasnya. Tengah malam Sersan Slamet bersama dua anggotanya pulang ke Dawuan.
Aku berdua Kopral Pujo tetap tinggal di Dukuh Paruk. Srintil mengikutiku ketika aku berjalan menuju rumah Nenek. Ah, semakin tua nenekku. Kurus dan makin bungkuk. Kasihan, Nenek tidak bisa banyak bertanya kepadaku. Linglung dia. Tetapi aku merangkulnya sambil berseru berulang-ulang menyebut namaku sendiri. “Aku Rasus, Nek.” “Eh, jadi kamu si Rasus?” “Ya, Nek.” “Kau sudah makan?” “Sudah. Sudah.” “Jadi kamu mau tidur di sini?” “Ya, Nek. Malam ini Nenek kutemani. Sekarang berbaringlah kembali. Ayo kubantu.” Selagi orang-orang Dukuh Paruk mengerumuni rumah Kartareja, aku duduk berdekatan dengan Srintil di beranda rumah nenekku sendiri. Pernah kubaca dongeng tentang seorang pahlawan yang pulang dari peperangan dan kembali disambut oleh seorang puteri jelita. Aku mengumpat habis- habisan mengapa dongeng semacam itu sempat singgah dalam ingatan. Ketika duduk berdua Srintil itu aku memang merasakan kepuasan yang amat sangat. Bukan oleh kenyataan bahwa Srintil tak habis-habisnya memujiku atau karena dia berserah diri sepenuhnya kepadaku. Bukan pula oleh pembunuhan atas dua orang manusia yang telah kulakukan malam itu. Jiwaku terlalu lemah buat menghadapi perbuatan semacam itu, meski mereka yang kubunuh adalah perampok-perampok. Dalam hati aku bersumpah, perbuatan mencabut nyawa takkan pernah kulakukan lagi baik terhadap orang jahat, apalagi terhadap orang-orang biasa. Bukan. Kepuasan itu telah berkembang sejak beberapa hari yang lalu ketika kepala mantri kutembak hancur di tengah hutan. Orang lain akan mengatakan perbuatanku itu tidak lebih dari ulah seorang bocah ingusan yang tidak bermakna apa pun kecuali hanya mengundang tawa. Ya, aku tidak berharap orang lain percaya bahwa aku telah menghukum mati musuh yang telah bertahun-tahun mengusik, bahkan membuat teror berkepanjangan dalam kehidupan batinku. Katakanlah, tak seorang pun mempunyai kepentingan dalam urusan sepele itu, urusan yang tolol dan sinting.
Tetapi aku merasa dengan pasti beban batin yang selalu menindih di hati sebagian besar telah hilang. Kemungkinan kebenaran ceritera bahwa Emak melarikan diri bersama mantri sama sama sekali. Jadi Emak, yang sudah kuyakini tidak sedikit pun mirip Srintil, memang mati termakan racun tempe bongkrek. Mayatnya kemudian dipakai dalam penyelidikan medis untuk mengetahui segala tetek-bengek tentang racun bongkrek. Bila aku telah meninggalkan nilai-nilai asli Dukuh Paruk, tentulah aku bisa mengatakan mayat Emak telah diabdikan untuk kepentingan kemanusiaan. Aku rela sudah, Emak dikubur di suatu tempat entah di mana. Tokh aku sudah tahu, duniaku sudah jauh lebih luas daripada sekedar pemukiman sempit yang terpencil, Dukuh Paruk. Pagi hari ketika semua orang Dukuh Paruk sibuk dengan empat mayat penjahat, aku sengaja tidak keluar dari rumah Nenek. Srintil yang lekat sejak malam hari tak mau berpisah, kecuali ketika dia pulang sebentar buat mengambil beras. Ronggeng itu cukup arif karena dia tahu di rumah Nenek hampir sepanjang tahun tidak tersimpan beras meski hanya segenggam. Srintil menanak nasi dan merebus air buat aku dan Nenek. Dia juga membuat telur dadar, makanan paling mewah yang sangat jarang dibuat orang di pedukuhan kecil itu. Pagi itu, bahkan selama beberapa hari kemudian, Srintil menyediakan diri menjadi istriku. Bukan hanya aku yang dimanjakannya secara berlebihan, melainkan juga Nenek. Perempuan pikun itu pasti merasa mendapat saat yang paling menyenangkan sepanjang usianya. Melalui Kopral Pujo yang hari itu pulang kembali ke markasnya di Dawuan aku menitipkan pesan kepada Sersan Slamet. Aku minta ijin beristirahat barang empat-lima hari. “Mencari seseorang yang bisa menjaga Nenek yang sudah sangat renta,” begitu pesanku. Ternyata usahaku menemukan seseorang itu sangat mudah. Aku terkejut ketika menyadari semua orang di tanah airku yang kecil itu siap memenuhi segala keinginanku. “Soal nenekmu, jangan kaurisaukan benar. Kami akan menjaganya baik-baik. Kami sungguh sadar dari dirinyalah lahir seorang cucu, seorang bocah bagus yang telah berhasil membunuh dua orang penjahat,” kata Kartareja sambil mengacungkan ibu jari kepadaku. “Dan aku sanggup memberinya makan, karena aku sudah mempunyai padi sekarang,” tambahnya.
"Jangkrik!” sahutku dalam hati. “Kamu si Tua Bangka telah menjadi kaya dengan cara memperdagangkan Srintil.” “Jadi, apakah engkau akan segera kembali ke markas, cucuku wong bagus?” tanya Sakarya. “Ya, esok hari, Kek,” jawabku. “Lho, jadi engkau tidak akan tinggal kembali di Dukuh Paruk ini?” tanya seorang perempuan, entah siapa dia. “Ah, itu tak mungkin. Rasus sudah menjadi tentara. Kau tak melihat bedil yang tergantung di tiang kayu itu?” ujar perempuan lainnya. “Aku harus segera bergabung kembali dengan Sersan Slamet. Dia beserta anak-anak buahnya sangat membutuhkan tenagaku. Wilayah kecamatan Dawuan belum aman, bukan?” kataku yang segera disambut dengan anggukan-anggukan kepala. Malam terakhir di Dukuh Paruk aku hampir gagal memejamkan mata hingga pagi hari. Sepanjang malam itu aku menghadapi ulah seorang perempuan yang sedang dituntut oleh nalurinya. Seorang perempuan yang ingin kuanggap tanpa sebutan apa pun, baik sebutan ronggeng atau sebutan perempuan Dukuh Paruk. Srintil hanya ingin disebut sebagai seorang perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya. Dia ingin aku tetap tinggal bersamanya di Dukuh Paruk, atau ikut bersamaku, pergi bergabung dengan kelompok Sersan Slamet. “Bila kau ingin bertani, aku mampu membeli satu hektar sawah buat kaukerjakan. Bila kau ingin berdagang, akan kusediakan uang secukupnya,” pinta Srintil di tengah malam yang amat sepi. “Srin, aku belum berfikir sedemikian jauh. Atau aku takkan pernah memikirkan hal semacam itu. Lagipula aku masih teringat betul kata- katamu dulu bahwa kau senang menjadi ronggeng,” jawabku. “Eh, Rasus. Mengapa kau menyebut hal-hal yang sudah lalu? Aku mengajukan permintaanku itu sekarang. Dengar Rasus, aku akan berhenti menjadi ronggeng karena aku ingin menjadi istri seorang tentara; engkaulah orangnya.” Masih segudang alasan dan janji yang diucapkan Srintil padaku. Sebagai laki-laki usia dua puluh tahun aku hampir dibuatnya menyerah. Tetapi sebagai anak Dukuh Paruk yang telah tahu banyak akan dunia luar, aku mempunyai seribu alasan untuk dipertimbangkan, bahkan untuk menolak permintaan Srintil. Srintil boleh mendapatkan apa-apa dariku
selain bayi dan perkawinan. Aku tahu hal ini sudah cukup memadai bagi seorang perempuan Dukuh Paruk. Permintaan Srintil yang berlebihan pasti hanya didorong keinginan sesaat yang kebetulan sejalan dengan nalurinya sebagai perempuan. Menjelang fajar tiba, kudengar burung sikatan mencecet di rumpun aur di belakang rumah. Keletak-keletik bunyi tetes embun yang jatuh menimpa daun kering. Kudengar dengung kumbang tahi yang terbang menuju arah asal bau tinja yang berserakan di pedukuhanku yang kecil. Rengek bayi tetangga dan keributan kecil di kandang ayam. Keretek tahi kambing yang tercurah ke atas geladak kandangnya. Dan kelepak sayap kampret di antara daun jambu di samping rumah. Perlahan-lahan aku bangun. Lirih sekali. Aku tidak menghendaki terdengar derit pelupuh bambu yang dapat membangunkan Srintil. Dia masih lelap karena lelah. Malam itu Srintil terlalu banyak mengeluarkan keringat. Seperti dulu, Srintil bertambah cantik dan teduh bila sedang tidur. Dengan hati-hati kubenahi kainnya yang acak-acakan. Ketika Srintil menggeliat, kuelus dia seperti aku sedang mengelus seorang anak kecil. Tidak lama aku berdiri menatap ronggeng Dukuh Paruk itu. Aku tidak ingin sesuatu yang berbau sentimental menahan keberangkatanku. Di dalam bilik lain kulihat Nenek, tidur miring dan agak melingkar. Sinar pelita kecil memungkinkan aku melihat gerak paru-parunya. Pelan sekali. Ah, nenekku. Mengapa bukan sejak dulu aku mencari gambar wajah Emak pada kerentaanmu? Oh, tidak, tidak. Aku sudah mendapat pelajaran. Berusaha mencari gambaran Emak yang selama ini kulakukan hanya membuahkan hasil keresahan. Kekeliruan semacam itu takkan pernah kuulangi. Maka kutatap garis-garis kerentaan pada wajah Nenek secara damai. Kemudian ke bawah bantal kusisipkan semua uang yang ada di sakuku. Aku berbalik. Tak kulupakan aku sudah menjadi tentara meski tanpa pangkat. Jadi watak ragu harus kulenyapkan. Selesai mengenakan pakaian seragam, kusambar bedil yang tergantung di atas balai-balai di bilikku. Srintil masih lelap di sana, tetapi aku hanya melihatnya sejenak. Langit di timur mulai benderang ketika aku melangkah ke luar. Belum seorang pun di Dukuh Paruk yang sudah kelihatan. Langkahku tegap dan pasti. Aku, Rasus, sudah menemukan diriku sendiri. Dukuh Paruk dengan segala sebutan dan penghuninya akan kutinggalkan.
Tanah airku yang kecil itu tidak lagi kubenci meskipun dulu aku telah bersumpah tidak akan memaafkannya karena dia pernah merenggut Srintil dari tanganku. Bahkan lebih dari itu. Aku akan memberi kesempatan kepada pedukuhanku yang kecil itu kembali kepada keasliannya. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, aku memberi sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: ronggeng! Sampai di tengah pesawahan aku menoleh ke belakang. Aku tersenyum sendiri, lalu bergegas meneruskan perjalanan. Dengan memanggul bedil, rasanya aku gagah. Tetapi sebenarnya perasaan itu muncul bukan karena ada sebuah bedil di pundak, melainkan karena aku telah begitu yakin mampu hidup tanpa kehadiran bayangan Emak. Di belakangku Dukuh Paruk diam membisu. Namun segalanya masih utuh di sana; keramat Ki Secamenggala, kemelaratan, sumpah-serapah, irama calung dan seorang ronggeng.
BUKU KEDUA LINTANG KEMUKUS DINI HARI
BAB I DUKUH PARUK masih diam meskipun beberapa jens satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi. Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Kokok ayam jantan terdengar satu-satu, makin lama makin sering. Burung sikatan mencecet-cecet dari tempat persembunyiannya. Dia siap melesat bila terlihat serangga pertama melintas dalam sudut pandangnya. Dari sarangnya di pohon aren keluar seekor bajing karena tercium bau lawan jenisnya. Mereka berkejaran. Dahan-dahan bergoyangan. Tetes-tetes embun jatuh menimbulkan suara serempak. Seekor codot melintas di atas pohon pisang. Tepat di atas daun yang masih kuncup, binatang mengirap itu mendadak menghentikan kecepatannya. Tubuh yang ringan jatuh begitu saja ke dalam lubang kuncup daun pisang itu. Jangkrik, gangsir, dan walang kerik sudah lama bungkam. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada embusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap sehingga terjadi suara yang khas. Ada sebatang pohon jambu air di salah satu sudut Dukuh Paruk. Dalam kerimbunan daun-daunnya sedang dipagelarkan harmoni alam; beratus- ratus lebah madu dengan ketekunan yang menakjubkan sedang menghimpun serbuk sari. Sayap-sayapnya mendengungkan aneka nada halus dan datar, mengisi kelengangan pagi yang masih temaram. Tanah di bawah pohon jambu itu memutih oleh hamparan beribu-ribu tangkai sari. Bau wangi tanah, suara lembut sayap-sayap lebah madu dan pendar embun yang mulai menangkap cahaya dari timur. Pucuk-pucuk nyiur dan rumpun bambu menerima kehangatan pertama pagi hari. Pancaran cahaya matahari adalah tenaga yang setiap kali
membangunkan Dukuh Paruk dengan menyingkap kabut yang menyelimutinya. Dua puluh tiga rumah di pedukuhan kecil itu mulai hidup. Terdengar rengek anak-anak yang terjaga dan langsung merasa lapar. Seorang perempuan keluar menjemur kain yang basah kena ompol bayinya. Suaminya juga keluar halaman dengan tujuan berbeda. Laki-laki itu menjambret daun pisang kering untuk menggulung tembakau. Ada orang jongkok di balik semak. Tangannya mengibas mengusir agas yang merubung kepalanya. Dukuh Paruk sudah terjaga. Hanya sebuah rumah yang masih sepi. Rumah itu mempunyai ukuran yang paling kecil di Dukuh Paruk. Penghuninya tunggal, seorang nenek yang sudah linglung. Meskipun sudah bangun, perempuan tua itu belum hendak beranjak dari tempat tidurnya, termangu-mangu dengan matanya yang kelabu. Dalam genggamannya ada beberapa keping uang logam. Dia tidak tahu siapakah yang telah menaruh uang itu di bawah bantalnya. Nenek Rasus itu memang linglung, sudah lama linglung. Tidak seperti biasa, beberapa hari lamanya nenek Rasus tidak tinggal seorang diri di rumahnya. Pagi itu pun dia tidak seorang diri. Seorang perempuan muda yang paling berharga di Dukuh Paruk masih tergolek di atas balai-balai dalam bilik sebelah. Srintil masih menyambung mimpi setelah menempuh malam yang paling berkesan bersama Rasus. Seberkas sinar matahari menembus dinding bambu, lurus seperti kristal maya jatuh di pipi Srintil. Lingkaran terang yang hanya seluas uang logam mampu menyingkap rona hidup di pipi ronggeng Dukuh Paruk itu. Rambutnya yang hitam, meskipun begitu kusut, memantulkan kilau yang lembut. Ketika rona terang itu akhirnya bergerak ke arah mata, Srintil berada dalam batas jaga. Irama napasnya mulai tak teratur, bulu matanya bergerak-gerak. Akhirnya terdengar desah panjang ketika Srintil menggeliat perlahan-lahan. Peralihan dari alam tidur ke alam jaga berlangsung sementara kelopak mata Srintil belum terbuka. Bola mata bergulir-gulir di dalam pelupuknya. Kemudian tercipta sebuah lekuk yang bagus di kedua sudut bibir Srintil. Kesadaran telah merayapinya, kesadaran bahwa lintasan hidupnya sedang memasuki batas waktu di mana Srintil merasa dirinya larut dan menyatu dengan Rasus. Karena Srintil tidur dalam posisi miring ke arah tepi balai-balai, maka ia tetap percaya masih ada seseorang di sampingnya. Tangan kanannya
digerakkan ke arah belakang dengan keyakinan yang bulat bahwa jemarinya akan jatuh ke atas sebidang dada laki-laki. Tetapi yang kemudian terasa di ujung jarinya adalah dinginnya tikar pandan. Dicobanya meraba lebih jauh. Dan kosong. Srintil cepat bangkit dan menoleh ke belakang Didapatinya dirinya tak berteman dalam bilik yang lengang itu. Mula-mula Srintil menduga, atau berharap, Rasus masih berada di sekitar rumah sedang berhajat di belakang misalnya, Namun perasaan buntu tiba-tiba menguasai dirinya setelah Srintil melihat tak ada satu pun barang milik Rasus yang tertinggal. Dalam bilik sebelah Srintil mendapati nenek Rasus duduk hampir tanpa gerak kecuali kembang-kempis dadanya yang tak kentara. Atau sepasang mata kelabu yang bergulir ketika melihat Srintil datang. “Di mana Rasus, Nek?” “Apa?” “Rasus, cucumu! Di manakah dia sekarang?” “Si Rasus di mana?” “Iya.” “Rasus? Jadi Si Rasus sudah pulang?” “Oh, Nenek pikun. Nenek linglung. Nenek tidak melihat ke manakah Rasus pergi?” Sesaat lamanya perempuan itu kembali dalam sikap tanpa gerak. Kemudian menjulurkan tangan ke arah Srintil. Telapak tangan dibuka. Beberapa keping uang logam ada di sana. Srintil menatapnya tidak mengerti. Dan putus asa. Berbalik, menarik daun pintu dengan kasar, lalu keluar. Dicarinya tempat dari mana dia bisa memandang dengan sempurna ke arah pancuran. Rasus tidak kelihatan. Dilongoknya pekarangan kosong tempat orang-orang Dukuh Paruk biasa jongkok di balik semak. Hampa. Yang kelihatan oleh Srintil adalah sepasang burung sikatan yang sedang sibuk menyambar-nyambar lalat hijau. Akhirnya Srintil menatap jauh ke seberang sawah yang sangat luas. Di sana Dawuan mulai memperlihatkan sosoknya. Kabut tipis yang menyelamuti Dawuan mengambang naik karena hangatnya sinar matahari. Dawuan dengan pasarnya. Dawuan dengan markas tentaranya di bamah pimpinan Sersan Slamet, kepada siapa Rasus pergi menggabungkan diri. Bagi Srintil, Dawuan kini berubah menjadi sosok yang angkuh.
“Oh, jadi begitu,” pikir Srintil yang ingin menolak kenyataan bahwa Rasus telah meninggalkannya bahkan tanpa pamit. Dalam perkiraan ronggeng Dukuh Paruk itu semua laki-laki adalah dari jenis yang sama, yang bisa demikian gila hanya karena ingin hidup bersamanya barang satu- dua malam, tak peduli apa pun yang menjadi nilai tukarnya. Sulam, Lurah Pecikalan atau bahkan Bapak Siten Wedana adalah sebagian kecil deretan nama laki-laki yang runduk di bawah kibasan sampur Srintil. Dan ronggeng itu merasa heran mengapa ada seorang lelaki dari jenis lainnya. Dengan keakuan yang tegar laki-laki itu lari menghindar. Boleh jadi Srintil takkan bersedih hati bila laki-laki itu bukan Rasus. Hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap berdiri diam. Dibiarkannya nyamuk-nyamuk blirik yang beterbangan mengelilingi tubuhnya. Beberapa ekor hinggap menghisap darah di kaki Srintil. Seekor lainnya hinggap di belakang telinga dengan perut yang makin lama makin menggantung penuh darah. Rambut di atas dahinya basah oleh kabut pagi yang mengembun. Matanya mengambang. Dua orang anak dengan tubuh telanjang menatap Srintil dengan heran. Mata kedua anak itu adalah mata sekalian orang Dukuh Paruk yang tidak pernah berharap melihat seorang ronggeng menangis. Ronggeng bagi dunia Dukuh Paruk adalah citra sekaligus lambang gairah dan sukacita. Keakuannya adalah tembang dan joget. Perhiasannya adalah senyum dan lirikan mata yang memancarkan semangat hidup alami, semangat yang sama yang telah menerbangkan burung-burung dan memekarkan bunga- bunga. Jadi, ronggeng adalah dunia sukaria dan gelak-tawa. Kedua anak yang bertelanjang badan itu mengundurkan diri. Mereka membawa pertanyaan yang muskil: mengapa seorang ronggeng bisa menangis? Tentu saja hanya Srintil sendiri yang bisa merasakan dirinya sedang ditarik ke luar dari keakuannya. Ada yang menelanjanginya, entah siapa dia, sehingga Srintil sedikit demi sedikit mengenal dirinya dari sisi lain. Bukan sebagai perempuan milik bersama sebuah tatapan melainkan seorang perempuan dalam arti yang paling bersahaja. Dia yang merasa tidak utuh tanpa kepastian seorang laki-laki berada dalam hidupnya; dalam hatinya dan dalam kamar tidurnya. Atau bila benar bahwa dunia yang besar ini berisi berjuta-juta dunia kecil dan dalam setiap dunia kecil itu berisi seorang laki-laki dan seorang perempuan. Srintil hanya merindukan yang kecil itu.
Sebuah dunia kecil tanpa Rasus sungguh tak bisa dibayangkan oleh ronggeng Dukuh Paruk itu. Dukuh Paruk tidak memerlukan waktu lama buat menyadari apa yang sedang terjadi atas diri Srintil. Hari berikutnya, pedukuhan kecil itu sudah hangat oleh celoteh orang-orang perempuan. Perhatian mereka tertuju kepada Srintil yang kini lebih suka diam merenung dan menyendiri. Semuanya tahu bahwa keadaan Srintil tidak bisa dipisahkan dengan Rasus yang telah meninggalkan Dukuh Paruk dan bergabung kembali dengan kelompok tentara pimpinan Sersan Slamet. “Eh, dengar! Pernahkah terjadi seorang ronggeng mabuk kepayang terhadap seorang lelaki?” kata seorang perempuan yang bersama dua temannya sedang mencari kutu di bawah pohon nangka. “Sepanjang yang kudengar tak ada cerita demikian,” jawab perempuan kedua. "Yang baku, seorang laki-laki tergila-gila kepada ronggeng karena ronggeng memang dibuat untuk menarik hati laki-laki. Dia tidak boleh terikat kepada seorang pun. Lha, bagaimana kalau dia sendiri dimabuk cinta demikian?” “Ya, Srintil memang aneh. Nah, kalau sudah terjadi demikian maka Nyai Kartareja yang bersalah.” “Nyai Kartareja?” “Iya. Kalau Nyai Kartareja berhati-hati dalam mendampingi Srintil, takkan terjadi begini. Dia mengabaikan kewajiban karena terlalu bernapsu. Srintil disuruhnya melayani sebanyak mungkin laki-laki tanpa menghiraukan adanya hari-hari pantangan, terutama pada hari kelahiran Srintil sendiri. Memang Nyai Kartareja ikut menjadi kaya. Nah, namun begini jadinya.” “Sebetulnya aku bisa mengerti mengapa Srintil senang terhadap Rasus. Pokoknya tak ada yang salah. Persoalannya bila Srintil terus murung dan menolak kembali naik pentas, Dukuh Paruk jadi sepi. Itu saja yang kusayangkan.” “Tetapi aku masih percaya kepada suami-istri Kartareja. Kalau mereka bisa memasang guna-guna sehingga banyak laki-laki gandrung terhadap Srintil, mengapa mereka tidak mampu memutus tali asmara antara ronggeng itu dengan Rasus?” Ucapan yang terakhir ini memang tidak berlebihan. Kalau ada orang yang paling khawatir tentang keadaan Srintil, tentulah dia Nyai Kartareja
bersama suaminya. Mereka sungguh tidak rela anak asuhannya jatuh hati kepada Rasus atau kepada laki-laki lain mana pun. Lebih-lebih lagi bila Srintil sampai berpikir tentang sebuah rumah tangga yang hendak dibangunnya. Martabat mereka sebagai dukun ronggeng berada dalam taruhan, dan, sumber penghasilan mereka yang subur terancam bahaya. Maka Nyai Kartareja harus berbuat sesuatu. Tali asmara yang mengikat Srintil kepada Rasus harus diputuskan. Mula-mula Nyai Kartareja mencari sebutir telur wukan. Telur ayam yang tertinggal dalam petarangan karena tidak bisa menetas itu diam-diam ditanamnya di salah satu sudut kamar tidur Srintil. Mantera pemutus asmara dibacakan. Niyatingsun matak aji pamurung Hadi aing tampean aing cikaruntung nantung Ditarbuan boeh sana, manci rasa marang Srintil marang Rasus Kene wurung kana wurung, pes mimpes dening Eyang Secamenggala Pentil alum cucuk layu, angen sira bungker Si Srintil Si Rasus Ker bungker, ker bungker kersane Eyang Secamanggala Ker bungker, ker bungker kersane Sing Murbeng Dumadi Adalah matera; susunan kata-kata yang menyalurkan sugesti dan kekuatan alam melalui jalur nonfisika dan bebas dari hukum-hukum tentang energi maupun mekanika yang biasa. Kekuatan itu tak terelakkan kecuali oleh kekuatan lain yang segaris namun berlawanan arah. Dan, mantera yang dipasang oleh Nyai Kertareja secara tak sengaja telah mendapat tandingannya. Yaitu ketika suatu malam Srintil ingin kencing. Karena malas keluar kamar Srintil memilih salah satu sudut kamar tidurnya sebagai tempat melepas hajat. Di sana ada bagian lantai yang gembur bekas cungkilan baru. Adalah layak bila Srintil menganggap bagian tanah tersebut bisa dikencingi karena cepat meresap air, tak peduli di tempat itulah Nyai
Kartareja menanam telur wukan yang telah dimanterainya. Tanpa disadarinya Srintil melumpuhkan mantera yang ditujukan kepadanya. Sudah dua kali Srintil menolak naik pentas. Perbuatan yang sangat mengecewakan suami-istri Kartareja dan terutama orang yang mengundangnya, oleh Srintil hanya diberi dalih enteng: malas! Tetapi Srintil tidak malas melakukan perbuatan yang lucu di mata orang-orang Dukuh Paruk; bercengkerama dengan anak-anak gembala yang kebanyakan masih bertelanjang badan. Tanpa canggung Srintil ikut berlari- lari menghalau kambing. Atau duduk di bawah pohon dan membantu anak- anak gembala membuat layang-layang dari daun gadung. Srintil bisa menyatu dengan kegembiraan anak-anak yang menjadi lebih ceria karena mendapat teman bermain istimewa. Mula-mula anak-anak gembala itu merasa rikuh namun akhirnya mereka cepat akrab. “Dulu saya juga seperti kalian, senang bermain-main di tegalan sambil menggembala kambing,” kata Srintil. Tangannya sibuk membuat mainan baling-balik dari daun kelapa. “Kakak juga pintar menangkap capung dengan getah nangka?” tanya seorang anak. “Ah, itu gampang. Kalau mau dengan getah nangka malah bisa menangkap burung kedasih,” jawab Srintil dengan gaya seorang ibu yang bijak. “Pernah seperti ini?” kata seorang anak lainnya yang membawa tahi sapi kering yang membara sebagian. Di atas bara itu ada seekor jarigkrik yang sedang dibakar. Srintil tersenyum. “Oh, tentu saja. Aduh, gurih nian jangkrik bakar itu, bukan?” “Kakak mau? Silakan ambil.” “Boleh?” “Ambillah!” Anak-anak memperhatikan dengan minat yang penuh ketika Srintil mengunyah jangkrik yang dibakar dalam bara tahi sapi kering itu. Semacam lambang keakraban, dan anak-anak gembala itu bersorak-sorai. Seorang yang paling besar di antara mereka maju mendekati Srintil. Di tangannya ada bambu seruas.
“Benar juga, Kakak rupanya dulu suka bermain-main seperti kami. Tetapi apakah Kakak bisa menebak isi tabung ini?” “Gangsir,” jawab Srintil setelah mencoba berpikir. “Bukan.” “Buah salam.” “Bukan.” “Kepik hijau.” “Bukan.” “Nah, aku menyerah.” “Betul?” “Ya.” Anak gembala itu membalikkan tabung hingga isinya jatuh ke tanah. Srintil menjerit dan melompat, tepat seperti gadis kecil yang ketakutan. Seekor ular rangon merayap bebas setelah sekian lama terkurung dalam tabung bambu. Sekali lagi terdengar sorak-sorai anak-anak gembala. Srintil mengejar si Nakal, mencubit pahanya. Anak itu meringis, namun kelihatannya dia tidak menyesal bila Srintil terus mencubitnya. Suatu ketika Srintil merasa benar-benar ingin menyendiri. Jenuh mendekam dalam kamarnya ronggeng itu keluar menuju tepian dukuh. Di sana, di bawah pohon nangka Srintil dahulu menghabiskan sebagian besar waktu bermainnya. Dipungutnya selembar daun yang jatuh lalu diremasnya. Aneh, Srintil merasa ada sesuatu yang terlampiaskan ketika daun yang tak bersalah itu remuk dalam genggamannya. Tidak jauh dari tempat itu dua ekor anak kambing melompat-lompat dalam gerakan yang amat lucu. Kemudian mereka berlomba mencari selangkangan induknya buat menetek. Ulah kedua kambing itu kelihatan kasar. Tetapi induk mereka membiarkan tetek yang menggembung penuh daya hidup itu diperah dan disodok-sodok. Srintil memperhatikan perilaku induk dan anak itu tanpa kedipan mata. Srintil tersenyum. Kali ini senyumnya disertai oleh kontraksi kelenjar teteknya sendiri serta rangsangan aneh pada urat-urat sekitar rahim. Tiba-tiba hasrat hendak memeluk seorang bayi mendesaknya demikian kuat. Hampir pada saat yang sama rasa cemas karena mungkin Nyai Kartareja dengan caranya sendiri telah mematikan indung telur dalam perut Srintil membuat ronggeng itu sesak napas. Perang yang seru terjadi dalam dadanya yang ditandai dengan sepasang garis basah yang turun dari mata ke pipi Srintil. Ada sebuah
pertanyaan yang buat kali pertama muncul di hatinya; mengapa diriku seorang ronggeng? Pertanyaan itu datang dari perkiraan Srintil; kalau dia bukan seorang ronggeng Rasus takkan meninggalkannya dengan cara begitu saja. Khayalan Srintil terkacau oleh deru sepeda motor yang memasuki Dukuh Paruk. Di kecamatan Dawuan dan sekitarnya hanya ada dua kendaraan seperti itu. Yang satu milik siten wedana, lainnya milik Marsusi, seorang kepala perkebunan karet Wanakeling. Siapa pun di antara keduanya yang bersusah payah datang ke Dukuh Paruk, rasanya hanya untuk satu tujuan. Srintil tertegun sejenak lalu bangkit dan berjalan mengendap-endap menjauhi rumahnya. Pelarian kecil itu berakhir di puncak bukit pekuburan Dukuh Paruk yang menerimanya dalam kesunyian. Ada celeret melayang dari satu pohon ke pohon tanpa suara. Ada kucica betina sibuk membawa kapuk bunga gelagah untuk bantalan sarangnya. Di dekat sebuah batu nisan seekor tabuan sedang menarik-narik ulat besar yang sudah dilumpuhkannya. Dan Srintil terkejut ketika terdengar suara tokek dari bubungan cungkup makam Ki Secamenggala. Kelengangan pekuburan Dukuh Paruk menjadi ibu bagi seorang anak yang ingin memahami apa yang sedang melintas dalam hidupnya. Srintil mengadukan kebuntuan rasanya kepada berjenis-jenis anggrek liar yang menempel pada tubuh batang beringin besar, kepada relung-relung pakis yang berjumbai-jumbai di lereng curam atau kepada terotok kayu mati yang dipatuk burung pelatuk. Santunan mereka yang demikian ramah membuat Srintil merasa betah tinggal di tempat yang tersembunyi itu hingga matahari terbenam nanti atau bisa lebih lama lagi. Dalam kelengangan di pekuburan itu alam mengajaknya bicara banyak-banyak melalui bau tanah dan wanginya bunga kemboja. Melalui denging agas yang mengitari kepalanya atau melalui kelembutan lumut yang menutupi batu-batu lembab. Srintil larut dalam haribaan ibunya, merasa dimengerti dan dimanjakan. Khayalannya bcbas mengawang dan akan terus melayang-layang apabila tidak datang seseorang yang mengusiknya. “Srin, pulang. Ada tamu.” Srintil terkejut sebelum kesadarannya pulih. Tanpa menoleh ke arah sumber suara dia tahu siapa yang datang. “Pulang, Srin. Kau ditunggu,” ulang Nyai Kartareja dengan suara tanpa tekanan memerintah. "Kau harus tahu siapa tamumu kali ini; Pak Marsusi,
kepala perkebunan karet itu.” Srintil mengerdip tanda mengerti. “Nah, ayo pulang.” “Aku belum ingin pulang,” jawab Srintil tanpa emosi. “Eh, jangan begitu, Wong Ayu,” kata Nyai Kartareja sambil mengatur dirinya duduk di samping Srintil. "Kamu tak boleh menyepelekan tamu. Apalagi tamu kali ini bukan sembarang orang.” “Ya, tetapi aku tidak ingin pulang.” “Kalau aku menjadi kamu, Srin, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Menggonceng motor ubluk bersama Pak Marsusi ke kota. Pelesir ke mana-mana, nonton bioskop misalnya. Kau belur pernah melihat tontonan itu, bukan? Kepada Pak Marsusi kau bisa minta dibelikan barang- barang. Nah, bagaimana kalau kau minta kalung seperti yang dipakai istri lurah Pecikalan?” “Sudahlah, Nyai. Pulanglah dulu. Aku akan menyusul kemudian. Aku mau mandi dulu.” “Bagus. Wong Ayu. Tetapi betul, ya. Kamu kami tunggu.” Srintil mengangguk ringan. Diperhatikan induk semangnya yang sedang berjalan menuruni bukit pekuburan Dukuh Paruk. Tak lama kemudian Srintil pun ikut turun. Bukan mengikuti jalan Nyai Kartareja, melainkan jalan lain yang tidak menuju pancuran atau menuju rumahnya. Srintil melangkah cepat ke arah jalan yang membawanya keluar dari Dukuh Paruk. Langkahnya cepat dan panjang-panjang. Kepada orang-orang yang kebetulan berpapasan Srintil hanya tersenyum atau mengangguk ringan. Sampai di pematang yang menuju Dawuan, Srintil mempercepat jalannya. Matahari yang sudah melewati titik kulminasinya menyiram ronggeng itu dengan pancaran terik yang menyakitkan kepala. Srintil terus berjalan, terkadang sambil mengangkat tangan kirinya untuk mengurangi terik matahari ke arah wajahnya./bp/ Di rumahnya Nyai Kartareja mulai merasa was-was karena ternyata Srintil tidak segera mengikutinya pulang. Marsusi, laki-laki berusia lima puluhan, sudah gelisah di tempat duduknya. Caping wol Stetson sudah beberapa kali dipasang di kepala dan dilepas lagi tanpa tujuan tertentu. Akhirnya Marsusi
keluar mengambil sesuatu di bagasi motornya. Sebuah botol persegi dibawanya masuk. Penantian yang menggelisahkan harus ditemanijenewer, pikirnya. Minuman keras itu ditenggak langsung dari botolnya. “sampean tadi mengatakan Srintil ada di rumah. Lalu manakah dia?” tanya Marsusi sambil meletakkan botolnya dengan agak kasar. Nyai Kartareja menyembunyikan kebimbangannya di balik senyum ramah. “Betul, Pak. Tadi Srintil berkata hendak mandi dulu. Ah, anak ini. Ke mana dia?” “Coba susul lagi. Bila benar sedang mandi mengapa bisa demikian lama?” ujar Kartareja. “Nanti dulu,” kata Marsusi yang kelihatan tidak sabar karena menunggu Srintil sekian lama. "sampean berdua yang memelihara Srintil di sini, bukan?” “Benar, Pak.” “Lalu? Apa kalian kira aku datang kemari buat duduk-duduk nganggur seperti ini? Katakan saja; Srintil sedang dipakai orang lain atau Srintil sedang pergi entah ke mana! Jangan biarkan aku jadi gusar, orang Dukuh Paruk!” Kartareja hanya bisa menoleh kiri-kanan. Bibirnya bergerak-gerak namun tak sepatah kata pun terdengar. Bahkan kemudian dukun ronggeng ini duduk membeku dengan mata melukiskan rasa takut ketika Marsusi bangkit dan mendekat. Caping wol dibantingnya ke atas meja. “sampean berdua ini orang dukuh yang tidak tahu diuntung! Aku tidak pernah lupa bahwa semacam sampean ini mendapat rejeki dari orang seperti saya ini. Nah! Mengapa sampean berdua jadi banyak tingkah? Sekarang jawab pertanyaanku; bisakah kalian membawa Srintil kemari sekarang juga? Kalau tidak, mampus saja. Jangan coba-coba menjadi dukun ronggeng!” Apabila Kartareja makin membeku oleh kekasaran Marsusi maka lain halnya dengan istrinya. Nyai Kartareja mempunyai seribu pengalaman menghadapi laki-laki dan dunianya. Dari yang masih bocah sampai yang perjaka, dari yang baru belajar mengenal perempuan sampai yang sudah matang seperti yang sedang gusar di hadapannya itu. Atau karena pekerjaan seorang istri dukun ronggeng yang ternama ialah mengerti secara tepat situasi hati seorang laki-laki yang datang kepadanya, menampung keluh-
kesahnya, menyalurkan renjananya dan meredam emosinya. Demi keberhasilan pekerjaannya Nyai Kartareja tak pernah meninggalkan resep; seorang laki-laki yang datang kepadanya, meski yang sudah beruban sekalipun akan dianggapnya sebagai bayi. Bayi yang mudah terlena oleh kelembutan nina-bobo dan mudah diakali dengan senyum yang teduh serta bujukan manis. “Aduh. Nak, eh, Pak. Benar jugalah bila sampean menjadi gusar semacam ini. Kami pun bisa mengerti mengapa sampean kehilangan kesabaran. Ini semua karena kesalahan kami. sampean dari rumah membawa kejenuhan atau kegemasan yang seharusnya segera cair di rumah ini. Ya, ya. Pokoknya kehendak seorang priyayi seperti sampean pasti akan kami utamakan. Masalahnya, Srintil yang sampean kehendaki masih kekanak-kanakan. Ah, sampean jangan lupa; Srintil masih demikian hijau. Maka siapa pun yang menghendaki kesegarannya harus sedikit bersabar.” “Dengar, Pak. Srintil masih segar seperti kecambah,” sambung Nyai Kartareja sambil menyentuh dada Marsusi dengan lembut. “Saya tidak mencari perempuan lumutan,” kata Marsusi. Nada bicaranya jatuh pada tempo yang rendah. “Nah! Kecambah itu kami sediakan buat sampean. Soalnya kini terletak kepada kesabaran sampean itulah karena Srintil sudah beberapa hari merajuk.” “Nanti dulu. Me-ra-juk?” Hening. Nyai Kartareja membiarkan pertanyaan Marsusi buat sementara mengawang. Andaikan Marsusi tahu bahwa senyuman Nyai Kartareja yang kelihatan begitu wajar adalah sebuah taktik profesional. Atau setidaknya, senyum itu menandakan Nyai Kartareja telah merasa membuat langkah awal yang tepat untuk menguasai keadaan. “Inilah susahnya momong seorang ronggeng cantik tetapi masih kekanak-kanakan. Bayangkan, Pak. Srintil sedang menuntut kalung seperti yang dipakai oleh istri lurah Pecikalan; sebuah rantai emas seberat seratus gram dengan bandul berlian. Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil itu. Nah, bagaimanakah dengan kami yang melarat ini. Oh, Srintil. Mentang-mentang cantik mudah saja dia memberi beban berat kepada kami.” “Hm,” lenguh Marsusi. Hanya itu.
Yang terjadi kemudian adalah tawar-menawar yang berlangsung dalam keheningan. Nyai Kartareja merasa dirinya berada di atas angin. Langkahnya telah berhasil melumpuhkan murka Marsusi sekaligus menempatkan laki-laki itu dalam selmah taruhan harga diri. Perhitungan istri dukun ronggeng itu terbukti cermat. Marsusi memang bukan laki-laki kemarin sore yang tidak tahu akan adanya maksud tertentu dalam kata-kata Nyai Kartareja. Masalahnya Marsusi kini merasa secara tidak langsung diperbandingkan hanya dengan seorang lurah. Martabatnya sebagai priyayi kepala perkebunan terusik. "Seorang priyayi seperti sampean, kalau mau, tentu bisa memenuhi keinginan Srintil,” itulah kata-kata Nyai Kartareja yang melecut hati Marsusi. “Hm,” lenguhnya lagi. Marsusi kembali ke tempat duduknya. Ditenggaknya minuman keras yang masih tersisa. Wajahnya beringas oleh pengaruh alkohol atau oleh kerusuhan dalam hatinya. Dalam hati dia mengutuk Nyai Kartareja yang telah memasang pemerasan terselubung. Aneh, Marsusi tak kuasa mendobrak jebakan halus itu, bahkan menerima apa adanya sebagai tantangan. Dipasangnya caping dengan tergesa-gesa kemudian Marsusi bangkit. “Aku mau pulang, Nyai!” “E, lho?” ujar Nyai Kartareja pura-pura kaget. “Yah, bagaimana lagi bila Srintil ngambek seperti itu,” sela suaminya. “Nanti dulu, Pak. Tak ada pesan buat Srintil? Besok lusa sampean mau datang lagi, bukan?” Marsusi yang sudah duduk di atas sepeda motornya menoleh. Cuping hidungnya bergerak-gerak. Sorot matanya menyala. Gejolak emosinya disalurkan ke kaki yang menggenjot mesin kuat-kuat. Harley Davidson sisa masa perang itu menderu dan laju diiringi tatapan mata anak-anak Dukuh Paruk yang penuh kekaguman. Nyai Kartareja menjatuhkan pundaknya. Lega. Sekarang dia bukan hanya merasa telah mengatasi kemarahan Marsusi yang gagal berjumpa dengan Srintil, melainkan sekaligus menjebak laki-laki itu dalam sebuah tantangan. “Kita main tebak-tebakan, Ki,” kata Nyai Kartareja kepada suaminya. “Aku berani bertaruh; besok atau lusa Pak Marsusi akan kembali kemari. He-he. Seratus gram kalung emas dengan bandul berlian; tantangan
yang pantas buat Pak Marsusi. Apa katamu, Ki?” “Kamu ini bagaimana? Pikir dulu di mana sekarang Srintil,” jawab Kartareja dingin tetapi tandas. Ada perubahan yang nyata pada wajah Nyai Kartareja. Dia tersadar akan masalah yang justru di hadapan matanya. Karena bimbang Nyai Kartareja tak mampu meneruskan kata-katanya. Tidak lama, karena kemudian wajah perempuan itu kembali cerah. “Ah, kukira Srintil berada di rumah kakeknya sekarang. Aku akan pergi ke rumah Sakarya.” “Aku ikut,” kata Kartareja sambil meraup tembakaunya. “Nah, ayolah!” Di rumah Sakarya, suami-istri dukun ronggeng itu mendapatkan kenyataan yang mengecewakan. Srintil tidak berada di sana. Bahkan keduanya mendapat teguran Sakarya yang bernada meminta pertanggungjawaban. Kemudian datang seorang tetangga yang mengatakan melihat Srintil berjalan tergesa-gesa ke luar dari Dukuh Paruk. “Apa sampean berdua tidak mengerti semua ini terjadi karena ada sesuatu antara cucuku dan Rasus?” kata Sakarya, nadanya menuduh. "Dua kali sudah Srintil menampik panggilan naik pentas. Kini dia malah minggat. Bagaimana ini?” Nyai Kartareja mendan ludah. Dia teringat akan telur wukan yang ditanamnya diam-diam dalam bilik Srintil. Heran, mengapa kali ini ikhtiarnya tidak mempan. “Nanti dulu,” sela Nyai Sakarya. "Apabila Srintil suka kepada Rasus, apa salahnya kita membantu agar mereka bisa kawin?” Sakarya diam. Kakek Srintil itu menangkap kebenaran dalam kata-kata istrinya. Pada dasarnya Sakarya merasa mempunyai seorang cucu yang menjadi istri tentara tak perlu ditolak oleh siapa pun di Dukuh Paruk. Namun bagi Sakarya masalahnya memang tidak begitu mudahnya. “E, lha!” ujar Kartareja tertuju kepada Nyai Sakarya. "Tentu saja tak ada yang salah bila Srintil kawin dengan Rasus. Itu bila cucumu tidak menjadi ronggeng pengemban nama Dukuh Paruk.” “Lalu sampean, Sakarya,” kata Kartareja ganti kepada kakek Srintil. "Jaga jangan sampai sampean mempunyai pikiran seperti istri sampean. Ingat kewajiban sampean sebagai pemangku dan kamitua anak-cucu Ki
Secamenggala di dukuh ini. Tanggung jawab sampean tidak membenarkan sampean mementingkan kepentingan sendiri.” Sakarya terbatuk dan mengangguk. “Ya. Tetapi sampean berdua harus berusaha membawa kembali Srintil. Kalian harus menemukan Srintil di mana pun sekarang dia berada.” “Baik. Aku sanggup mencari dan menemukan Srintil,” kata Nyai Kartareja penuh kepastian. “Nah, begitulah. Namun hati-hati. sampean tak boleh berlaku kasar terhadap cucuku meskipun dia telah merepotkan kita,” ujar Nyai Sakarya. “He, kapankah aku menyakiti cucu sampean? Bahkan, siapakah yang telah membuat Srintil kini mampu memiliki harta dan perhiasan sekian banyak? sampean menyuruhku berhati-hati. Tetapi sampean sendiri tidak berhati-hati dalam berkata!” “Sudah, sudah!” suara Kartareja dan Sakarya terdengar hampir bersamaan. Matahari masih terik ketika Srintil turun dari andong di depan pasar Dawuan. Titik-titik keringat di pucuk hidungnya. Tengkuk dan pipinya segar dan hidup, memberi kesan kulit seorang anak usia sepuluh tahun. Bahwa Srintil sebenarnya tidak siap mengunjungi pasar terlihat dari roman mukanya yang beku serta pakaian dan rambutnya yang demikian acak- acakan. Namun dalam keadaan demikian keremajaan Srintil kelihatan wajar. Kalaulah ada sesuatu yang menodainya, maka hanya orang-orang yang sangat berpengalaman yang bisa mengetahuinya. Lihatlah kedua pangkal alis ronggeng itu yang mulai turun masuk ke cekungan rongga mata. Bagi orang-orang yang sangat berpengalaman hal itu adalah tanda bahwa seorang perempuan betapapun muda usianya, sudah memasuki keaktifan kehidupan berahi. Setelah membayar ongkos andong, Srintil tidak segera memasuki pasar melainkan hanya membuat beberapa langkah ke tepi jalan. Belum sekaii pun Srintil kelihatan begitu canggung dan asing di pasar Dawuan. Dia tetap berdiri di tepi jalan hingga beberapa waktu lamanya. Tatapan matanya kosong, tanpa makna.
Biasanya kedatangan Srintil di pasar Dawuan menimbulkan gairah yang spontan. Orang-orang lelaki bersiul-siul atau membuat seloroh erotik. Orang-orang perempuan mengintip tangan, telinga, atau leher Srintil untuk mengetahui adakah perhiasan-perhiasan baru di sana. Kemudian menyusul celoteh spekulasi; gendak Srintil kali ini adalah si Anu atau Bapak Anu, pangkatnya ini atau kerbaunya sekian belas. Tetapi hari itu orang-orang pasar Dawuan banyak menahan diri. Srintil memasuki pasar dengan mendung membayangi wajahnya. Mulutnya terkatup dengan garis bibir datar lurus. Pangkal alisnya bertemu pada lipatan di tengah dahi. Dalam kesan keseluruhan Srintil siap menampik segala bentuk seloroh dan senda-gurau. Orang-orang melihat Srintil dengan pandangan mata mengandung tanda tanya. Perempuan-perempuan saling berbisik. Celoteh ringan mulai terdengar dari sudut-sudut pasar. “Ada apa, dunianya kelihatan gulita?” kata perempuan pedagang ubi kepada rekan di sebelah. Sudut matanya terarah kepada Srintil. “Nah, saya bisa mengira-ngira,” jawab temannya. "Kalau ada seorang ronggeng merengut seperti itu tentu telah terjadi sesuatu dengan pamongnya.” “Maksudmu, Nyai Kartareja?” “Ya. Seorang dukun ronggeng suka mengatur segala urusan, bahkan sering kali ingin menguasai harta anak asuhannya.” “Itu cerita lama. Aku tahu seorang ronggeng sering kali dianggap sebagai ternak piaraan oleh induk semangnya. Lihatlah dalam musim orang berhajat atau masa lepas panen; ronggeng naik pentas setiap malam. Siang hari dia mesti melayani laki-laki yang menggendaknya. Sementara itu yang mengatur semua urusan, lebih-lebih urusan keuangan, adalah si dukun ronggeng. Kasihan, kan? Sebaliknya, kini suami-istri Kartareja menjadi kaya, kan?” “E! Kalian sedang bicara apa? Srintil yang kelihatan kusut itu?” kata perempuan ketiga yang datang bergabung. "Kalian jangan berpikir yang bukan-bukan. Dengar. Srintil berada di sini dalam usaha melarikan diri dari tangan seorang laki-laki yang tidak tahu diri. Laki-laki itu kukira, tidak mau tahu bahwa Srintil sedang datang bulan. He-he-he.” “Ah, mana bisa begitu. Perhatikan sekali lagi, kain Srintil tak bernoda, tumpalnya tidak dilipat. Jadi dia dalam keadaan bersih.”
“Kita memang telah berbicara berlebihan. Kukira Srintil seperti kita juga yang kadang merasa demikian sebal terhadap laki-laki. Jadi yang menyebabkan Srintil murung adalah perkara sederhana. Dia sedang diamuk rasa jenuh dan muak terhadap laki-laki. Itu saja.” Celoteh di sudut pasar itu berhenti karena kehabisan bahan. Perempuan- perempuan itu memperhatikan Srintil memasuki warung penjual lontong. Di sana Srintil duduk satu lincakbersama perempuan pemilik warung. Karena penampilan Srintil yang kaku, perempuan penjual lontong itu menjadi salah tingkah. “Man makan, Jenganten?” “Tidak, Yu. Aku hanya mau minum dan beristirahat sebentar di sini. Boleh kan?” jawab Srintil tanpa melihat pemilik warung. Sejumlah besar air dingin yang bening dihabiskan Srintil. Apabila air mampu menghidupkan kembali tanah yang mati atau menggugah biji-bijian agar tumbuh menjadi kecambah, maka air pulalah yang bisa menjinakkan kegelisahan Srintil dengan pertama-tama memperlambat denyut jantungnya. Termangu-mangu di ataslincak, Srintil merasakan kesejukan air sedang mendinginkan badannya yang semula panas oleh terik matahari dan panas oleh galau pikirannya. Sementara itu di dalam hatinya sedang berlangsung penataan kembali keimbangan antara emosi dan rasa. Proses penguasaan diri yang berlangsung dalam diam itu ternyata menghabiskan banyak tenaga, terbukti dari terbitnya titik-titik keringat di seluruh permukaan kulit ronggeng Dukuh Paruk itu. Suatu kegiatan metabolik dalam intensitas tinggi yang kemudian menuntut mekanisme tubuh Srintil beristirahat. Denyut kantuk pertama kelihatan pada kerdipan mata Srintil yang lamban. Ketika itu Srintil melihat bayangan Rasus muncul di hadapannya. Namun angin yang berembus pelan membuat matanya semakin redup. Rasa kantuk tak tertahankan lagi olehnya. “Yu, aku sangat ngantuk. Aku mau tidur di sini barang sebentar. Boleh kan?” kata Srintil sambil merebahkan diri. Pelupuh lincak berderit. “E, Jenganten ini bagaimana? Orang mengatakan, tidak boleh orang tidur di warung Ora ilok, nanti warungku tidak laku. Nanti...” Perempuan pedagang lontong itu tidak ingin berkata lebih jauh karena melihat kenyataan di hadapannya. Rasa keibuannya tergugah oleh sebentuk tubuh yang tergolek demikian damai. Sosok Srintil yang muda dan lentur,
wajah yang teduh dalam tidur mengingatkan perempuan itu akan anaknya yang masih bayi dan kini ditinggal bersama neneknya di rumah. Dalam keadaan lelap keakuan Srintil hampir punah. Menjadi tidak penting lagi apakah dia bernama Srintil atau apakah dia ronggeng Dukuh Paruk. Tak ada lagi atribut apa pun yang tepat bagi sebuah subyek yang kini terdampar di atas lincak itu. Dia hanya pantas disebut sebagai bagian alam yang bernama anak manusia yang jelas sekali ingin mengundurkan diri barang sejenak dari keakuannya. Yang serempak muncul ke permukaan adalah kesan memelas, kesan yang menjadi daya tarik utama seorang bayi. Ternyata bukan hanya pedagang lontong yang bersimpati kepada Srintil, melainkan juga sebagian besar orang yang berada di pasar Dawuan. Alam menagih janji kepada mereka; alam yang setiap hari mengasah naluri mereka sehingga mereka dapat merasakan bahwa Srintil sedang berada dalam kesempitan sehingga pantas mendapat pembelaan. Tidaklah penting bagi orang-orang pasar Dawuan itu untuk mengetahui apa sebenarnya yang membuat Srintil tampak merana. Manifestasi sikap mereka menjadi jelas ketika satu jam kemudian muncul Nyai Kartareja di gerbang pasar Dawuan. Perempuan-perempuan penjual ubi melihat wajah kaku istri dukun ronggeng itu. Sorot mata yang keruh dan rambut yang disanggul tinggi- tinggi memperkuat kesimpulan bahwa sedang ada ketegangan antara Nyai Kartareja dan Srintil. Atas dasar tuntunan naluri yang paling bersahaja orang-orang pasar Dawuan bertindak melindungi ronggeng Dukuh Paruk itu. “Ah, Nyai Kartareja. sampean sedang mencari Srintil, bukan?” tanya seorang perempuan pedagang ubi. Yang ditanya mengangguk kaku. “Nah, dia tidak ada di sini. Kulihat Srintil tadi terus ke selatan.” “Seorang diri?” “Ya. Dan Srintil kelihatan sangat murung. Ada apa ya, Nyai Kartareja?” Pertanyaan yang bernada campur tangan itu menyinggung perasaan Nyai Kartareja. Dia tidak menjawab, bahkan berbalik keluar pasar Dawuan dalam langkah yang panjang-panjang. * * *
Kegiatan pasar Dawuan sebenarnya hanya berlangsung pagi hari. Setelah matahari tergelincir sebagian pedagang sudah pulang ke rumah masing- masing. Yang tinggal adalah mereka yang tidak mungkin setiap kali membawa dagangannya pulang-balik. Mereka adalah penjual barang- barang tembikar, penjual tikar, pedagang ubi, serta pemilik warung makanan yang melayani pembeli hingga sore hari. Para pedagang keliling juga menggunakan pasar Dawuan sebagai terminal peristirahatan. Pada sore hari banyak los berisi orang yang menggelar tikar; tidur berleha-leha atau duduk berkeliling, bermain kartu. Udara yang panas membuat orang-orang kehilangan gairah bekerja. Mereka mengharapkan suasana yang santai. Seperti burung perkutut di pohon kenari di belakang pasar. Tubuhnya lenyap dalam kerimbunan dedaunan agar bebas dari sengatan sinar matahari. Namun merdu suaranya mencapai si betina jauh di seberang sana. Bila yang dipanggil sudah datang maka perkutut jantan mengubah nada suaranya menjadi lebih rendah dan lembut. Demikian lembut sehingga terdengar baur dengan suara angin yang menyapu pepohonan. Sepasang burung perkutut merasa perlu menciptakan suasana pribadi untuk mencari keselarasan dengan alam. Udara yang panas, angin yang berembus pelan, dan suara perkutut adalah sebuah harmoni yang bersumber dari naluri alam sendiri. Arif seperti sepasang perkutut itu adalah Wirsiter bersama Ciplak, istrinya. Pasangan penjaja musik kecapi itu tahu betul saat yang tepat di mana musiknya menjadi kebutuhan para pelanggan. Mereka muncul di pasar Dawuan ketika orang-orang di sana berada dalam puncak kebosanan pekerjaan rutin. Sehabis bekerja sepanjang pagi hari orang-orang pasar itu mengharapkan kedatangan suasana selingan yang lebih renyah dan ringan. Wirsiter dan istrinya tak pernah rela disebut tukang ngamen, apalagi disebut sebagai pengemis yang berpura-pura menjual musik. Mereka tidak akan menggelar musik di hadapan siapa pun, termasuk pelanggan yang tidak memintanya. Untuk mendukung sikap ini mereka selalu tampil bersih. Pakaian mereka selalu rapi; Wirsiter dengan blangkon, baju lurik serta kain batik yang diwiru. Istrinya selalu muncul dengan kain kebaya lengkap dengan selendang dan konde berhiaskan bunga melati. Bibir mereka merah karena keduanya makan sirih.
Ada berbagai perkakas musik untuk menerjemahkan irama, keselarasan, bahkan renjana alam. Orang Dukuh Paruk misalnya percaya penuh bahwa calung adalah perkakas yang tiada taranya untuk menampilkan irama denyut jantung yang meriah dan hangat dalam rangsangan berahi. Kalau orang ingin bertanya di manakah letak kekuatan musik calung, jawabnya sangat bersahaja; yakni kesederhanaannya. Bukan berarti orang dengan mudahnya memotong-motong bambu, merangkainya kemudian jadilah perangkat calung. Sederhana artinya, orang harus membatasi diri dalam campur tangannya ketika mereka-reka bambu. Persyaratan-persyaratan yang bersifat alami lebih menentukan mutu perangkat calung daripada keahlian tangan pembuatnya. Calung yang sempurna hanya dihasilkan dari bambu hitam yang betul- betul kering. Tetapi orang tidak boleh menjemurnya, apalagi memanggangnya di atas api. Bambu itu tidak boleh terluka sebelum ditebang, baik luka oleh manusia atau luka oleh binatang mengerat atau patah ujungnya selagi masih muda. Dia juga harus lurus dan langsing. Bambu yang tebal karena terlalu gemuk tidak baik untuk membuat calung. Para pembuat calung tidak akan mengatakan bahwa tertib yang mereka patuhi itu adalah cara mereka menempatkan diri dalam keselarasan Sang Empu Agung. Mereka hanya tahu, dengan tertib itulah mereka akan memperoleh perangkat calung yang sebenar-benarnya. Bunyinya akan mampu menerjemahkan suara puluhan blentung, iramanya bisa padu dengan suara curah hujan di atas atap ilalang dan semangatnya adalah detak jantung yang bergairah. Sama halnya calung, kecapi pun mengandalkan kekuatan pada kebersahajaannya. Bentuk umum sebuah kecapi adalah kotak kayu bersegi lima dan memanjang. Pada salah satu bidangnya direntangkan kawat-kawat dawai. Setiap helai kawat mewakili sebuah nada. Tangga nada ditentukan oleh tebal tipisnya kawat serta sebuah bantalan logam tipis yang dipasang miring dan serong. Bantalan serong ini mengatur jenjang panjang kawat- kawat dawai. Tentang sebuah kecapi hendaknya orang tidak menanyakan soal presisi nada, patokan umum, apalagi menerapkan pengetahuan akustik terhadapnya, setidaknya terhadap kecapi milik Wirsiter. Seniman keliling itu tidak belajar teori tetek-bengek. Dengan alatnya yang demikian sederhana Wirsiter dan istrinya melagukan keserasian alam. Guru mereka
adalah kelap-kelip ribuan kunang ketika jatuh gerimis senja hari. Atau lintasan buih yang hilang-tampak di antara bebatuan atau curah hujan yang menerpa permukaan telaga yang tenang. Rasa dalam kesadaran sempurna; itulah guru utama Wirsiter dan istrinya. Jadi Wirsiter bersama istrinya pergi ke sana kemari menjajakan musik yang memanjakan rasa, yang sendu, dan yang melankolik. Musiknya tidak membuat orang bangkit berjoget, melainkan membuat pendengarnya mengangguk-angguk menatap ke dalam diri atau terbang mengapung bersama khayalan sentimental. Seperti pada sore hari yang panas itu orang- orang pasar Dawuan tepekur mendengarkan petikan kecapi Wirsiter. Ciplak membawakan asmara dahana. Li lali tan bisa lali Sun lelipur tan sengsaya Katon bae sapolahe Kancil desa 'njang talingan Aku melu karo ndika Lebu seta sari pohung Becik mati yen kapiran Seberkas lagu dan liriknya dibawakan oleh dua orang yang sejak kelahiran mereka menjadi murid alam. Orang-orang yang sedang berjudi berhenti menjatuhkan kartu. Yang sedang tiduran berleha-leha mengawang ke alam khayal antara tidur dan jaga. Perempuan yang sedang mengunyah sirih tetap menggerak-gerakkan mulut, tetapi pikirannya terbang ke belakang, ke suatu masa yang paling berkesan dalam hidupnya. Barangkali Wirsiter maupun Ciplak tidak bisa mengatakan mengapa mereka lebih banyak menyanyikan lagu-lagu asmara. Dalam kenyataannya mereka hanya menuruti selera sebagian besar pelanggan. Atau karena musik kecapi memang paling cocok untuk melukiskan perasaan asmara. Atau lagi; bila benar bahkan kumbang tahi yang beterbangan di Dukuh Paruk pun diciptakan atas dasar motiyas, cinta agung, maka Wirsiter bersama istrinya hanya patuh kepada naluri alam yang paling dasar.
Orang-orang di pasar Dawuan asyik terlena. Segala sesuatu lepas dari perhatian mereka, tak terkecuali sebuah subyek yang sedang terdampar di atas lincak pedagang lontong. Musik Wirsiter mengantarkan Srintil ke alam jaga dengan caranya yang paling santun. Perlahan-lahan Srintil membuka matanya. Namun dia tidak melihat sesuatu karena pusat indrianya sedang bertumpu pada syaraf pendengaran. Memang, Wirsiter dan istrinya dengan lagu asmara yang mereka kumandangkan tidak bermaksud menyentuh hati Srintil. Namun ketidak-sengajaan mcreka tak urung mengusik kelenjar air mata ronggeng Dukuh Paruk itu.Srintil bangkit, dan mengusap mata. Perempuan pedagang lontong menoleh karena mendengar derit pelupuh bambu. “Oh, sudah bangun, Jenganten? E, lha sampean menangis?” “Tidak, Yu. Tidak.” “Jenganten ini bagaimana? jelas sekali sampean menangis. Sakit? Atau sebenarnya apa...” “Tidak, Yu. Beri aku minum lagi,” potong Srintil. Penjual lontong tertegun. Ditatapnya Srintil yang sibuk mengusap air mata di pipi dan di kedua lubang hidungnya. Lalu sadar bahwa Srintil bukan kanak-kanak lagi, karenanya dia layak mempunyai wilayah pribadi yang tak usah diketahui orang lain. “Anu, Jenganten, makan ya?” “Aku tidak lapar, Yu.” “Ah jangan berdusta di hadapanku. Aku ini seorang ibu yang sudah cukup usia, jadi aku bisa membaca tanda-tanda orang yang lapar. Bibir sampeankehilangan cahayanya. Lekuk di pangkal leher sampean sangat kentara. Dan ketika tidur tadi perut sampean masuk ke rongga dada. Maka sekarang makanlah. Bila tidak nanti tubuh sampean bisa rusak. Sayang, bukan?” Srintil bukan tidak lapar. Sejak kemarin perutnya sudah terasa perih. Masalahnya dia hanya malas menyuapkan makanan ke dalam mulut. Namun ketika sepiring nasi lontong dengan kuah panas siap di hadapannya Srintil mengalah. Hidangan itu dihabiskannya dalam waktu singkat. Bibirnya, pipinya, merah oleh panasnya kuah serta pedasnya sambal cabai. Keringat serta air matanya kembali menitik. Citra hidupnya seakan menggeliat bangkit.
“Nah, benar kataku, bukan? Nasi lontong ini bisa membuat sampean lejar. Tambah, ya?” “Terima kasih, Yu. Aku sudah kenyang.” Srintil meninggalkan pasar Dawuan ketika orang-orang di sana masih asyik menikmati kecapi Wirsiter. Banyak orang menoleh kepadanya tetapi tanpa komentar. Namun dalam hati mereka mencatat; baru sekali inilah mereka melihat Srintil begitu lesu dan murung. Baru beberapa langkah di luar pasar Srintil berhenti. Rasa bimbang menghentikan langkah-langkahnya. Perilakunya yang serba canggung menarik perhatian orang-orang yang melihatnya. Seorang di antara mereka mendekati Srintil dari arah belakang. Laki-laki berkaus putih dan bercelana hijau tentara itu tak merasa salah ketika tangannya menggamit pantat Srintil. Tak diduganya Srintil membalas dengan tatapan mata amarah. "Aku memang ronggeng, maka tangan laki-laki boleh hinggap di mana saja pada tubuhku. Tetapi kini hatiku bukan lagi ronggeng. Bukan!” Sayang. Teriakan keras Srintil hanya bergema dalam hati sendiri. Kopral Pujo yang berdiri satu jengkal di hadapannya tidak mendengar teriakan itu. Namun setidaknya dia sadar kemarahan Srintil akibat kelancangan tangannya bukan berpura-pura. “Kira-kira dua jam yang lain Nyai Kartareja datang ke markasku mencari kamu. Wah! Seorang ronggeng dicari di sebuah markas tentara. Lucu, ya?” kata Kopral Pujo sambil cengar-cengir untuk menutupi penyesalannya. “Kamu sudah bertemu Nyai Kartareja?” sambungnya. “Belum,” jawab Srintil tak acuh. “Kamu disangkanya pergi bersama Rasus.” “Oh?” “Begitulah. Padahal sudah tiga hari ini Rasus tidak ada di markas. Bersama Sersan Slamet, Rasus pergi ke markas batalyon.” “Oh? Jadi Rasus tidak ada lagi di sini?” Kopral Pujo tidak mcnangkap perubahan mendadak pada wajah Srintil. “Dia anak yang beruntung. Bila pulang nanti Rasus benar-benar sudah jadi tentara. Punya pangkat, punya gaji. Wah, pokoknya seperti aku ini.”
Srintil diam menunduk. Dan mengapa Kopral Pujo tidak mengerti bahwa sedang terjadi galau yang seru dalam hati perempuan muda di hadapannya? Ketumpulan perasaannya menyebabkan Kopral Pujo juga tidak berprasangka apa pun ketika Srintil bertanya, “Kapankah kira-kira Rasus pulang?” “Mana aku tahu. Tetapi kira-kira lama. Yang aku tahu, seorang seperti Rasus harus menempuh pendidikan sebelum resmi diberi pangkat. Di mana dia akan dididik, entahlah. Aku baru tahu kalau Sersan Slamet kembali ke markas.” “Ya.” ujar Srintil lirih. Kini Kopral Pujo mengerti perubahan pada diri Srintil; matanya yang berkaca-kaca, sinar wajahnya yang memudar dan napasnya yang terengah- engah. Kopral itu mengerutkan kening. “Nanti dulu, Wong Dukuh Paruk! Aku jadi tidak mengerti. Adakah sesuatu antara dirimu dengan...” “Tidak, Pak. Tidak!” Srintil memutar badan lalu berjalan cepat meninggalkan Kopral Pujo yang kemudian berdiri termangu, kemudian tersenyum sendiri sambil mengangguk-angguk. Dan, "Hm?” Tentang Rasus dan Srintil, Kopral Pujo hanya tahu keduanya berasal dari Dukuh Paruk. Selama dalam pergaulan di markas, Rasus tak pernah bercerita tentang ronggeng itu, apalagi tentang hubungan khusus di antara keduanya. Entah dorongan apa yang menyebabkan Srintil kembali memasuki pasar Dawuan. Duduk di sebuah lincak kosong Srintil memanggil Wirsiter dan istrinya dan meminta mereka menggelar musik. Selesai satu babak Srintil meminta penjaja musik kccapi itu menyambungnya. Dan seterusnya, tanpa menghiraukan berapa banyak uang yang harus dikeluarkannya. Hingga matahari hampir terbenam pasar Dawuan masih berhiaskan suara kecapi Wirsiter dan tembang yang dinyanyikan oleh Ciplak. Srintil menampilkan kegembiraan yang aneh. Terkadang Srintil tersenyum sambil pacak gulu, tetapi senyumnya aneh. Terkadang ia ikut berduet dengan Ciplak, tetapi suaranya parau, tidak polos. Semuanya memberi kesan perilaku Srintil bertentangan dengan apa yang sedang dirasakan dalam hatinya. Lalu apa pula yang menyebabkan Srintil demikian marah ketika Ciplak minta berhenti bertembang.
“Kami sudah lelah, Jenganten,” kata Ciplak. “Sudah dua puluh babak.” “Ya, istriku benar. Lagi pula hari sudah hampir gelap,” tambah Wirsiter. Srintil mengerutkan kening hingga kedua pangkal alisnya hampir bertemu. Matanya bersinar-sinar. “Sudah dua puluh babak; jadi sampean berdua takut aku takkan membayar semuanya. Begitu?” ujar Srintil tajam. “Ah, jangan salah mengerti, Jenganten,” kata Wirsiter merendah. "Hari sudah sandikala!” Dengan tekanan kata pada "sandikala" Wirsiter bermaksud mengingatkan Srintit akan hari yang sedang memasuki saat-saat paling peka. Senjakala: saat keimbangan ekosistem alam bergoyang karena siang sedang beralih ke malam, karena sedang berlangsung perubahan intensitas sinar kosmik yang jatuh ke bumi. Wirsiter takkan pernah berkata demikian. Dalam hidupnya hanya ada salah satu ketentuan bahwa orang harus beristirahat di kala hari senja ketika Bathara Kala turun mencari mangsa. Bathara Kala harus dihormat dan dipuja; satu hal yang tak bisa ditawar- tawar bagi Wirsiter dan istrinya. Menyimpang dari tertib itu hanya berarti menyediakan diri menjadi umpan Sang Waktu. Srintil dapat memahami kata-kata Wirsiter; senjakala adalah saat semua orang mengundurkan diri dari keseharian untuk memenuhi selera alam. Namun tak urung kemarahan masih tergambar jelas di wajahnya. Barangkali kemarahan Srintil akan berkepanjangan kalau tidak dilihatnya seorang nenek berjalan terbungkuk-bungkuk mendekatinya. Suaranya terputus-putus karena napas yang terengah-engah sehabis jauh berjalan. “Cucuku, Wong Ayu, kau di sini?” suara Nyai Sakarya langsung menyiram hati Srintil yang sedang panas. Suara itu adalah suara paling akrab yang dikenal Srintil sejak masa kanak-kanak. Suara ibu tak pernah didengarnya karena Srintil jadi yatim- piatu sejak bayi. Mata Nyai Sakarya yang sudah begitu redup karena usia masih mampu memberi daya kepada Srintil yang kemudian bangkit perlahan-lahan. Sentuhan telapak tangan renta yang jatuh di pundaknya terasa sejuk di hati Srintil. Dia berjalan menunduk ke luar pasar Dawuan dalam rangkulan neneknya, menggigit bibir, dan matanya kembali berkaca- kaca.
Seorang nenek yang terbungkuk-bungkuk berjalan merangkul cucunya. Nyai Sakarya maupun Srintil membisu. Namun dalam hati masing-masing sudah tumbuh kesepakatan; mereka berdua hendak pulang ke Dukuh Paruk. Pedukuhan kecil yang terasing di tengah sawah itu adalah ibu mereka. Haribaan dan pelukannya teduh dan mesra. Mereka berhenti di sebuah angkruk di luar Dawuan sambil menanti saat senjakala lewat. Dalam kegelapan yang mulai membayang keduanya tetap bungkam. Nyai Sakarya sudah tahu mengapa cucunya melarikan diri dan Srintil sudah tahu pula mengapa Nenek mencarinya. Kemudian keduanya melayangkan ingatan masing-masing kepada dua hal yang berbeda. Nyai Sakarya teringat akan orang tua Srintil - anaknya sendiri - yang kedua- duanya meninggal dalam malapetaka racun bongkrek ketika Srintil baru berusia lima bulan. Duka cita masa lalu yang tak mungkin terlupakan kini menjelma menjadi rasa sayang yang amat sangat terhadap cucunya. Sementara Srintil yang tidak tahu-menahu soal malapetaka tempe bongkrek itu hanya teringat akan Rasus. Dan Rasus kini menjadi sebuah teka-teki yang menyakitkan setiap kali bayangannya muncul di hati Srintil. Anak Dukuh Paruk itu entah di mana sekarang. Srintil merasa ditinggalkannya dengan cara yang paling tidak berperasaan. Perjalanan ke Dukuh Paruk diteruskan ketika bintang-bintang mulai terang. Lepas dari jalan besar Srintil dan neneknya menapak pematang yang lurus menuju Dukuh Paruk. Gerumbul kecil itu meremang di kejauhan. Kiri-kanan pematang adalah hamparan sawah yang sangat luas dan kini ditanami berbagai palawija. Burung bence yang selalu berteriak-teriak bila ada manusia berjalan dalam gelap terbang hanya beberapa depa di atas kepala cucu dan nenek itu. Suaranya berisik, seakan-akan seluruh malam adalah miliknya yang sedang diusik. Agak jauh di depan sepasang sinar kebiruan bergerak menyeberang pematang diikuti oleh dua pasang lainnya. Srintil merapat ke tubuh neneknya. “Belacan yang mengiringkan anak-anaknya.” kata Nyai Sakarya yang mengerti akan ulah Srintil. Namun Srintil kembali merapat ke tubuh neneknya ketika terdengar kegaduhan tak jauh di sampingnya. Sesaat kemudian samar-samar terlihat seekor unggas besar mengapung ke udara dengan tikus sawah di cakarnya. Burung hantu telah mendapat mangsa
pertama di awal malam. Dia terbang megah sementara jerit tikus mangsanya terdengar makin jauh makin sayup. Malam telah sempurna gelap sebelum Nyai Sakarya dan Srintil mencapai Dukuh Paruk. Bulan tua baru akan muncul tengah malam sehingga cahaya bintang leluasa mendaulat langit. Kilatan cahaya bintang- beralih memberi kesan hidup pada rentang langit. Tetapi bila kilatan cahaya itu berlangsung beberapa detik lamanya dia menimbulkan rasa inferior; betapa kecil manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kceil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun. /-bp./
BAB II TAMPI berjalan terburu-buru menuju rumah Sakarya. Goder, anaknya yang baru sepuluh bulan melekat di balik kain embanannya. Tangan kanan Tampi memegang sesuatu yang terbungkus tumpal kain. Sesisir pisang raja; yang ini buat Srintil yang sudah beberapa hari tergeletak sakit. Badannya mulai kurus, wajahnya pucat. Kesan kesegarannya, ciri utamanya yang paling menonjol selama ini, hampir lenyap. Srintil enggan bercakap-cakap dengan siapa pun, enggan makan, bahkan senyumnya yang sangat khas hilang sama sekali. Nah, kecuali pada saat Goder kecil datang bersama emaknya. Pesona bayi adalah pesona bunga-bunga, pesona mayang pinang yang terurai dari kelopaknya di pagi hari atau pesona biru bunga bungur di awal musim kemarau. Ulahnya selalu menawan, bahkan bau badan dan mulutnya adalah kesegaran ajaib yang hanya alam sendiri mampu menciptakannya. Sinar matanya yang polos bening mampu memadamkan murka seorang ayah. Bayi adalah kesejukan alam seperti demikian adanya sehingga seorang ibu misalnya, takkan marah bila pangkuannya terkena kencing, bahkan tahi bayinya. Seorang bayi pastilah lebih dari anak kandung ibunya karena dia sesungguhnya adalah anak kandung alam yang paling sah. Maka siapa pun yang mau jujur dengan nuraninya akan mengakui bahwa semua bayi hidup dalam alam yang penuh rahmat. Siapa yang merasa sedang diamuk rasa tidak menentu bisa mendapatkan keteduhan bila dia mau menyelinap ke dalam dunia bayi. Srintil yang sedang merana secara ragawi maupun rohani bisa merasakan keajaiban suasana yang dibawa oleh si kecil Goder. Meski badannya lemah dia berusaha duduk dan meminta Tampi menyerahkan
bayinya. Demikian setiap hari bila Tampi menjenguk Srintil di rumah Sakarya. “Kula nuwun...” “Oh, ya. Tampi, bukan? Mari masuk,” ujar Nyai Sakarya menyilakan tamunya. “Bagaimana keadaan Srintil, Nyai?” “Lihatlah sendiri di kamar. Wah, harus bagaimana aku ini. Srintil masih enggan makan. Ketupat dia tak mau, lontong yang kuberikan tadi pagi masih utuh sekarang. Bubur, apalagi.” Kamar tidur Srintil yang sesungguhnya berada di rumah Kartareja. Di sanalah dia sebagai ronggeng menerima tamunya. Kamar di rumah Kartareja itu mewah menurut ukuran Dukuh Paruk. Tempat tidurnya terbuat dari besi pejal, kasurnya tebal dan berkelambu. Orang seperti Tampi tak berani masuk ke dalam kamar seperti itu karena rikuh. Sementara di rumah neneknya, Srintil tidur dalam kamar seperti milik kebanyakan orang Dukuh Paruk. Tempat tidurnya terbuat dari bambu seluruhnya kecuali empat tiang penyangganya. Alasnya adalah tikar pandan dengan dua bantal yang sudah lusuh. Masuk ke dalam bilik seperti itu tak ada keraguan sedikit pun di hati Tampi. “Bagaimana, Srin?” tanya Tampi setelah melangkahi pintu bilik. Tubuh yang tergolek itu hampir tak memberi tanggapan apa pun. Matanya kosong dan cekung. “Ini kubawa untukmu pisang raja yang matang di pohon. Wangi sekali,” sambung Tampi. Bawaannya diletakkan di samping tubuh Srintil. “Ah, Yu. Aku tak ingin makan apa pun. Yang kuharapkan dari sampeanbukan makanan melainkan anakmu. Nah, turunkan Goder biar bermain bersamaku. Tanganku sudah gatal ingin menimangnya. Mari.” Tampi tidak bisa menolak permintaan itu meski dia merasa kasihan ketika melihat Srintil dengan tenaga yang sudah lemah berusaha bangun. Sebelum berpindah tangan Goder menatap emaknya, kemudian berganti menatap Srintil. Yang sedang dicari oleh sepasang mata bening itu adalah ketulusan hati. Seorang bayi dengan hati yang demikian bersih akan segera tahu sikap palsu di balik keramahan dan kehangatan yang dibuat-buat. Dia pasti akan menangis di tangan seorang yang tidak bersikap tulus. Di pangkuan Srintil, Goder tidak menangis bahkan melonjak-lonjak gembira. Ditarik-tariknya tali kutang Srintil yang membuat ronggeng itu
meringkik geli. “Eh, kamu masih kecil. Nanti, kalau kamu sudah besar!” ujar Srintil. “Bukan apa-apa, Srin. Goder hanya mau netek.” "Ya, memang. Tetapi bocah bagus ini memang nakal. Seperti ayahnya, barangkali.” Dua orang perempuan tertawa bersama. Tak ada kesan bahwa seorang di antara keduanya benar-benar dalam keadaan sakit. Nyai Sakarya memanggil Tampi dari luar bilik. “Kemarilah kamu, Tampi. Biarkan anakmu bergurau dengan Srintil.” Tampi menurut dan keluar dari bilik Srintil dengan wajah gembira; kegembiraan seorang ibu bila anaknya mendapat perhatian khusus orang lain. Apalagi Srintil adalah warga Dukuh Paruk yang terkenal. Dari luar bilik Tampi dan Nyai Sakarya masih mendengar ceria di balik dinding bambu. Keduanya tersenyum-senyum karena bisa menghayati sepenuhnya kata-kata Srintil kepada Goder. Bukan hanya itu mereka juga bisa membayangkan gerak-gerik Srintil ketika berkata, “Cah bagus, bila kamu sudah besar nanti ini buat siapa? Buat saya, boleh, kan?” Atau, “Malam ini kau tidur bersamaku di sini. Tak apa-apa, sungguh. Paling- paling akan kucubit pipimu yang kenes ini. Paling-paling akan kucubit pantatmu yang gempal ini. Huh!” Kasak-kusuk di dalam bilik itu terus berlanjut berselang-seling antara tawa ringan dan suara gemas Srintil. Goder ngoceh amat lucu dan menangis bila Srintil terlalu bernapsu menciumnya. Ketika Srintil meringkik agak keras Tampi dan Nyai Sakarya masuk ke dalam bilik. Mereka melihat Srintil meringis menahan rasa geli dan sakit; Goder bergayut pada tetek ronggeng itu. “He, kamu sedang meneteki Goder?” seru Nyai Sakarya terheran-heran. "Mana bisa, kamu belum pernah melahirkan. Tetekmu belum berputing.” Srintil menggeliat, meringis sambil menahan napas. Tetapi dia bertahan ketika Tampi hendak mengambil Goder dari tangannya. Coder menangis, entah karena tetek Srintil tidak mengeluarkan air susu atau karena dia merasakan ada ketegangan menyelimuti ibunya, Srintil, dan Nyai Sakarya. “Nah, apa kataku,” ujar Nyai Sakarya. "Mana mungkin kau bisa meneteki bocah bila tetekmu kosong. Lagi pula seorang perempuan yang sedang menyusui harus banyak makan, terutama sayuran. Sedangkan kau sudah empat-lima hari ini tidak makan apa pun. Pokoknya tidak mungkin!”
Srintil mengalah dan hendak menyerahkan Goder kepada Tampi. Dan pada saat yang sama terpancarlah kencing dari kulup bayi itu. Srintil basah pada bagian perutnya, tetapi dia malah tertawa gembira. Hari-hari selanjutnya Srintil makin larut dalam dunia Goder, larut dalam ocehan bayi yang lucu menawan. Sentuhan kulit bayi itu menggugah perasaan aneh pada diri Srintil. Demikian, maka entah apa yang dirasakan Srintil ketika dia membenamkan hidung dalam-dalam ke pipi Goder. Pada saat seperti itu Srintil kadang merasa begitu dekat dengan Rasus, kadang dia merasa dirinya adalah ibu kandung Goder tak kurang suatu apa. Ibu kandung yang dengan senang hati menyediakan diri menjadi tanah bagi sebutir kecambah yang sedang tumbuh, menjadi air yang mengalirkan kasih-sayang, dan menjadi pagar pelindung bagi si kecambah. Amanat alam ini entah mengapa, menggema dalam sanubari Srintil dan biasnya mencapai fitrah keibuannya. Makin lama Srintil makin lekat dengan Goder, bayi Tampi. Sering kali Srintil menyuruh, jelasnya mengusir Tampi pulang bila Goder sudah di tangannya. Hasrat meneteki Goder telah berubah menjadi renjana jiwanya, renjana hatima, dan renjana sistem ragawinya. Maka alam jangan disalahkan bila Dia menggerakkan kelenjar air susu Srintil bekerja meskipun ronggeng itu belum pernah melahirkan dan bukan pula dalam masa menyusukan. Ketika kali pertama Srintil sadar teteknya mengeluarkan air susu maka dia berurai air mata. Namun semangat hidupnya bangkit segera. Srintil kini banyak makan, banyak minum air sayur, bahkan minta diramukan jamu pelancar air susu. Hanya dalam beberapa hari tubuhnya kembali segar dan kelihatan lebih hidup. Lihatlah seorang perempuan tujuh belas tahun dengan sepasang tetek yang penuh. Adalah di sana gabungan antara kesegaran remaja dan citra kematangan seorang ibu; dua unsur utama pesona perempuan bertemu pada diri seorang ronggeng Dukuh Paruk. Srintil makin mempesona. Orang-orang Dukuh Paruk terutama yang tua-tua mengaku baru sekali inilah pedukuhan kecil itu memiliki seorang ronggeng yang demikian cantik. Tetapi sesungguhnya orang-orang Dukuh Paruk tidak akan puas dengan kecantikan Srintil. Mereka baru benar-benar puas bila Srintil sudah kembali berjoget, kembali ke pentas ronggeng. Kecuali Tampi, tak seorang Dukuh Paruk pun berkepentingan dengan Srintil yang ke sana kemari membopong bayi. Mereka tak peduli bahwa
bayi itu telah menjadi bagian hidup Srintil dan terbukti telah berhasil memberinya motivasi baru dan gairah baru dalam hidupnya. Terlebih lagi orang takkan peduli karena tidak tahu bahwa ketika meneteki Goder, Srintil merasakan kepuasan seksual yang setidaknya mengurangi kebutuhan seksual yang sebenarnya. Orang-orang Dukuh Paruk tidak peduli semuanya. Mereka hanya ingin melihat Srintil kembali menari dan menari. Bagi mereka apalah arti seorang ronggeng yang tidak menari, dan apalah arti Dukuh Paruk tanpa suara calung serta lenggang-lenggok seorang ronggeng. Anggapan seperti itu terutama melekat demikian kuat pada diri Sakarya, Kartareja, dan istrinya. Sakarya bukan hanya kakek Srintil; dia adalah orang yang dituakan di Dukuh Paruk dan merasa mengemban amanat Ki Secamenggala untuk memangku kelestarian Dukuh Paruk dengan segala coraknya. Pada masa hidupnya, pada bcberapa generasi lalu, Ki Secamenggala - moyang semua orang Dukuh Paruk - bukan hanya penggemar ronggeng. Tokoh bromocorah ini memberi wasiat turun-temurun agar ronggeng dan calung menjadi bagian lestari pedukuhan kecil itu. Sementara itu suami-istri Kartareja adalah dukun ronggeng. Merekalah yang paling tahu segala tetek-bengek dunia peronggengan dan mereka menggunakan pengetahuan serta statusnya sebagai dasar mata pencarian. Dari ongkos pentas mereka mengambil bagian yang kadang-kadang lebih besar daripada bagian yang diterima Srintil. Dan keuntungan yang lebih besar lagi diterima oleh suami-istri Kartareja manakala mereka bertindak sebagai mucikari. Seorang laki-laki yang mabuk kepayang terhadap Srintil dan ingin tidur bersamanya barang satu-dua malam harus melalui perantaraan Nyai Kartareja. Maka baginya untuk sementara tak mengapalah kalau Srintil masih enggan menari asalkan dia mau melayani laki-laki yang menginginkannya. Ketika suatu malam Marsusi muncul kembali di Dukuh Paruk, tibalah saat bagi Nyai Kartareja meminta Srintil kembali kepada kebiasaan semula. Dalam mempengaruhi Srintil, Nyai Kartareja menggunakan segala kemampuannya karena dia tahu Marsusi pastilah membawa kalung emas seratus gram dengan bandul berlian. Perhiasan seperti milik istri lurah Peeikalan itu telah lama menjadi buah mimpinya. Tetapi kepada Marsusi dia mengatakan Srintil-lah yang menginginkannya.
Malam itu Srintil sedang berada di rumah kakeknya, Sakarya, mengayun-ayun Goder dalam embanannya. Bahwa Nyai Kartareja akan datang menyusulnya sudah diperhitungkan oleh Srintil ketika dia mendengar deru sepeda motor memasuki Dukuh Paruk. Kebimbangan mulai membayang pada wajahnya. Srintil belum siap mengambil sikap apa pun. Yang pasti Srintil merasa tidak seperti dulu lagi. Semangat hidupnya sebagian besar tersita oleh bayi gemuk yang kini lekat dalam embanannya. Kehidupan angan-angannya terlanjur terpaut kepada anak Dukuh Paruk yang jadi tentara dan kini entah di mana, Rasus. Maka mengapa tidak ada orang tahu sebenarnya Srintil terkejut ketika menyadari bahwa Dukuh Paruk masih mengharuskan dirinya melayani laki-laki yang datang. "Jadi Dukuh Paruk tidak mengerti bagaimana aku sekarang,” keluhnya. Dukuh Paruk dengan orang-orangnya memang tidak tahu banyak. Mereka hanya tahu Srintil jatuh hati kepada Rasus dan bertepuk sebelah tangan. Apa dan sejauh mana akibat penampikan Rasus terhadap Srintil tak pernah diperkirakan orang. Ketika berbaring sakit beberapa hari lamanya Srintil merenungkan pengalamannya dengan dunia laki-laki. Selama ini Srintil hanya menurut kepada Nyai Kartareja, lalu menerima uang atau perhiasan. Betapapun dirinya seorang ronggeng Srintil merasa tidak mempunyai perbedaan dengan perempuan lain. Dia memiliki perasaan khusus terhadap laki-laki tertentu dan dia merasa harus memiliki kesempatan memilih. Adalah peruntungan Srintil mengapa laki-laki yang dipilih untuk dijadikan muara segenap hati dan perasaarmya adalah Rasus; dia yang secara halus telah menampik dan meninggalkannya dengan cara yang menyakitkan. Srintil masih terlalu muda untuk memahami keretakan-keretakan yang terjadi dalam dirinya sendiri. Pada mulanya Srintil merasa sedih dan putus asa. Kemudian seperti yang diajarkan oleh Dukuh Paruk, Srintil menganggap semua kegetiran yang dialaminya merupakan bagian garis hidup yang harus dilaluinya. Maka pada dasarnya Srintil pasrah dan nrimo saja. Dalam hidup ini orang harus nrimo pandum; ikhlas menerima jatah, jatah yang manis atau jatah yang getir. Tetapi bahkan Srintil sendiri tidak merasa bahwa sesuatu telah menyusup ke alam bawah sadarnya. Sesuatu itu adalah benih melembaga yang kelak akan mengubah sikap Srintil terhadap semua laki-laki. Pada taraf pertama citra laki-laki yang berkembang di hati Srintil adalah dua
wajah yang kesemuanya jauh dari menyenangkan. Pertama adalah laki-laki jenis lembu jantan atau bajul buntung seperti kebanyakan mereka yang datang kepadanya. Mereka mendengus dan menggeram seperti macan berhasil menerkam menjangan. Hampir semua dari mereka tidak mempunyai latar perkenalan sebelumnya dengan Srintil. Melayani laki-laki yang baru dikenalnya mula-mula tidak mendatangkan masalah batiniah pada diri ronggeng itu. Tetapi pengalaman yang sama bersama Rasus, laki- laki belia yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak dengan ikatan batin yang kuat, memberi Srintil sebuah perbandingan yang timpang. Sangat jauh berbeda; lebih berkesan, lebih banyak mengandung makna karena bukan hanya raga melainkan juga jiwa yang menyatu. Lainnya adalah laki-laki jenis munyuk yang lemah Mereka cengar- cengir, dan begitu mudah takluk tak berdaya di hadapan seorang ronggeng cantik seperti Srintil. Mereka rela kehilangan apa saja kemudian merengek hampir mengemis. Kalau mau Srintil bisa memberi segala perintah kepada mereka seperti kacung. Para lelaki seperti itu gampang sekali bermulut bocor, menceritakan keburukan istri sendiri kepada Srintil. Dengan cara seperti ini mereka mengharap simpati ronggeng itu untuk menciptakan suasana yang lebih manis bersamanya. Nah, Srintil justru luar biasa benci kepada laki-laki seperti itu. Wajah yang kedua adalah laki-laki jenis Rasus dan Rasus sendirilah modelnya. Dia tangkas seperti anak kijang, harga dirinya hampir mencapai taraf congkak dan tidak merengek apalagi mengemis. Rasus memberi karena Srintil meminta atau Srintil meminta dan Rasus memberi. Sebagai laki-laki kepribadiannya menggaris jelas. Rasus memang masih muda tetapi di hati Srintil dia memberi gambaran sebuah pohon kukuh dengan bayangan yang teduh tempat orang bernaung. Sayang sekali betapapun Srintil mengagumi Rasus, laki-laki itu telah membuat luka di hatinya. Seperti semua laki-laki lain Rasus pun ikut menyelipkan benih kekecewaan di alam bawah sadar Srintil. Dalam wawasan ini Srintil tidak bisa melihat beda antara dua wajah laki-laki itu. Semuanya mengecewakan, semua merangsang Srintil membuat suatu perhitungan. Srintil tersadar karena Goder menggeliat dalam embanannya. Kepada neneknya, Srintil minta diri hendak pulang ke rumah Kartareja. Suami-istri Sakarya cepat tanggap dan menilai tindakan cucunya sebagai perubahan
yang baik. Bukan hanya karena Srintil sudah sekian lama tidak mau menjenguk rumah pamongnya, melainkan juga karena kakek dan nenek itu telah mendengar suara sepeda motor yang berhenti di depan rumah Kartareja. Menurut perkiraan Sakarya dan istrinya, Srintil hendak menjumpai tamunya, ini berarti cucunya itu telah kembali seperti semula dan telah melupakan Rasus. Nenek dan kakek Srintil saling berpandangan dan tersenyum. “Kalau kau hendak pergi menemui tamumu, sebaiknya kembalikan dulu Goder kepada emaknya. Atau tinggalkanlah dia bersamaku di sini,” kata Nyai Sakarya. “Tidak, Nek. Biarlah anak ini tetap bersamaku,” jawab Srintil di luar pintu. Srintil melangkah dengan pasti dalam kegelapan. Sebenarnya taburan bintang di langit memberikan cahaya temaram ke bumi. Namun kerimbunan pepohonan di Dukuh Paruk menyerap cahaya itu sehingga tercipta kegelapan sempurna di bawahnya. Srintil berjalan cepat sambil memeluk Goder erat-erat dalam embanannya. Hatinya mantap oleh semangat baru yang pasti akan mengejutkan semua orang, namun dia telah bertekad akan mempertahankannya. Di depan rumah semangnya itu Srintil berjumpa dengan Nyai Kartareja yang memang hendak menjemputnya di rumah Sakarya. “Srintil?” “Ya, Nyai.” “Wah, bagus! Wong ayu, ada tamu datang. Kau tahu siapakah dia?” “Tidak.” “Pak Marsusi, kepala perkebunan karet Wanakeling. Berbaik-baiklah melayaninya. Eh, kau masih membawa-bawa anak si Tampi? Mari, serahkan anak itu kepadaku. Tidak pantas menemui seorang tamu penting sambil membopong bayi.” Srintil tidak menjawab tetapi membuat gerakan sedemikian rupa sehingga Nyai Kartareja harus tahu bahwa Srintil enggan berpisah dengan bayinya. Nyai Kartareja mengerutkan kening karena tidak tahu menerjemahkan sikap Srintil. Akhirnya istri dukun ronggeng itu mengalah, masuk kembali ke dalam rumah. Srintil mengikutinya dari belakang. “Nah, Pak Marsusi, inilah Srintil. Ternyata aku tak perlu bersusah payah menjemputnya karena dia sendiri yang datang. Kukira Srintil tak akan
berbuat demikian apabila tamu yang datang bukansampean. Iya kan, Srin?” Perkenalan basa-basi itu tidak ditanggapi oleh Srintil. Apalagi pandangan mata Marsusi segera menyergapnya. Memang hanya sesaat tetapi Srintil dapat membaca secara mendalam makna pandangan seperti itu. Entahlah, kali ini Srintil mulai merasa muak. Dalam hati Marsusi memercik api yang membakar gairah yang dibawanya dari rumah. Pengetahuannya tentang Srintil sebagian besar diperolehnya dari penibicaraan umum, ditambah dengan dua kali melihat ronggeng itu secara langsung. Satu kali ketika Srintil naik pentas di Pecikalan beberapa bulan yang lalu. Kemudian satu kali lagi di pasar Dawuan. Kini semuanya menjadi lebih jelas. Apalagi Marsusi merasa Srintil yang muncul di rumah Kartareja saat itu khusus untuk dirinya. "Ah, pantas. Pantas!” kata Marsusi dalam hati. Tanpa disadarinya tangannya meraba kantung baju. Di dalamnya ada seuntai kalung seratus gram dengan bandul berlian. Srintil tetap berdiri. Goder menggeliat dalam buaiannya. Oh, seorang bayi. Alam jualah yang memberinya kepekaan luar biasa kepadanya. Dalam tidurnya bayi itu menangkap keresahan hati ibu yang sedang membuainya. Mata hati bayi yang masih putih mampu merekam segalanya. Bukan hanya denyut jantung Srintil yang makin cepat, melainkan juga segala sudut batinnya yang sedang gelisah. Mengapa tidak muncul pertanda nyata bahwa seorang bayi seperti Goder sudah merasa bahwa ada pihak lain yang ingin merebut tempatnya di haribaan Srintil? Mengapa sasmita alam im terlalu lembut sehingga hanya seorang bayi yang mampu menangkapnya? Dan mengapa seorang bayi tidak mampu membela kepentingannya yang paling vital sekalipun kecuali hanya dengan cara menangis? Maka apa yang seharusnya terjadi, terjadilah. Goder menggeliat makin kuat. Kemudian meronta dan menangis. Makin lama tangisnya makin kuat. Tangis yang sarat makna karena sesungguhnya alam sendiri telah berbisik kepada Goder, di sana ada sepasang mata berbinar yang ingin menelan Srintil bulat-bulat. Tak tersisa naluri yang utuh untuk membaca apa yang membuat Goder meronta dan menangis. Kartareja dan istrinya yang semula sudah menghilang muncul kembali di ruang tengah. Mereka merasa pasti Goder ingin kembali kepada Tampi, ibu kandungnya. Maka suami-istri dukun ronggeng itu menyuruh Srintil membawa Goder kepada Tampi.
“Siapa menyuruhmu repot seperti itu. Kamu kan masih lan, mengapa bersusah payah mengambil anak orang? Dan itu tamumu! Kamu tahu siapa Pak Marsusi, bukan?” Srintil tidak ingin menanggapi kata-kata Nyai Kartareja. Dia melangkah ke luar sambil mengayun-ayun Goder. Gerak-geriknya demikian pantas. Dari mulutnya terdengar suara desis lembut demi mengajuk bayi dalam embanan, membuat gambaran seorang ibu tampil dengan utuh. Demikian, maka tak kurang dari Pak Marsusi sendiri hanya bisa menelan ludah dan menggeleng-gelengkan kepala. Bersama suami-istri Kartareja, Marsusi duduk membeku ketika mendengar Srintil bersenandung nina bobo di halaman rumah. Yun ayun, ayun turu Turu lah neng ayunan Anakku si bocah landhung Mesuk gede dadi rebutan Yun ayun, ayun turu Turua si bocah lanung Cilike tak ayun-ayun Gedhene ngeman biyung Angkasa yang kelam sepi membisu. Bahasanya tanpa suara. Tetapi kedip-kedip bintang adalah kesaksian yang berbicara banyak akan apa yang terjadi di bawah lengkung langit. Suara dendang Srintil adalah nyanyian ibu. Berlatarkan bunyi gangsir yang datar dari berat terciptalah dendang alam yang membawa Goder kembali ke alam damai. Dia bergerak-gerak lembut kemudian lelap dalam udara malam yang kian sejuk. “Anak siapakah itu?” tanya Marsusi setelah Srintil berlalu ke dalam.
“Bayi itu anak si Tampi. Entahlah, Pak, Srintil begitu lekat dengan bayi itu,” jawab Nyai Kartareja. “Ya, aku melihatnya sendiri; seperti ibu dan anak kandungnya.” “Sebenarnya aku tidak suka. Beginilah jadinya. Srintil jadi tidak sempat menghormati tamu secara semestinya.” “Malam ini aku memang bermaksud mengajak Srintil ke luar. Mungkin dua atau tiga hari,” ujar Marsusi sambil menyalakan rokok. “Nah, itu baik sekali. Hampir sebulan ini Srintil membeku di Dukuh Paruk, tak mau memenuhi undangan pentas. Mula-mula memang karena sakit. Tetapi setelah sembuh Srintil masih ngambek saja. Ah, saya tahu sebabnya. Srintil masih tetap iri terhadap istri lurah Pecikalan. Iri terhadap kalungnya!” “Hm. Nanti Srintil tidak akan iri lagi,” jawab Marsusi. Senyumnya penuh gaya dan pasti. Nyai Kartareja tak perlu bertanya apa pun untuk mengartikan makna serryum tamunya. Maka dalam hati istri dukun ronggeng itu bergema sorak kemenangan. “Ya, Pak, ya. Maka bawalah Srintil dan gembirakan dia. Srintil telah kehilangan kelincahannya, kekenesannya. Yang demikian itu tak boleh terjadi atas diri seorang ronggeng. Dan kalau itu, Pak: tidak boleh jadi pastilah akan melumerkan kebekuan hati Srintil!” Di atas tempat tidurnya yang mewah menurut ukuran Dukuh Paruk Srintil membaringkan bayinya dengan hati-hati. Ketika Goder meronta sejenak Srintil menawarkan teteknya. Mulut Srintil kembali berdesis dengan suara lembut. Goder kembali lelap dengan kedamaian sempurna pada wajahnya. Bukan hanya karena lembutnya belaian, tetapi karena rasa aman bagi jiwanya. Bayi itu bisa menerjemahkan tanpa salah segala gerak- gerik ibunya, segala getar suaranya. Rangsangan spiritual itu memberinya sasmita bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan atas diri ibunya, Srintil. Dia tak akan kehilangan setitik pun tempat dalam haribaan ibunya. Melihat Goder sudah tertidur Srintil bangkit. Sangguinya yang kendor dibuka dan disanggulkannya kembali lebih kuat. Ditatapnya wajah Goder dalam sikap diam sempurna. Tetapi wajah bayi itu menjadi cermin yang menampilkan seribu bayangan. Rasus yang paling pertama muncul, kemudian wajah ibu-bapak yang tak pernah dilihatnya. Terakhir muncul dirinya sendiri.
Srintil menggigit bibir karena bayangan itu bertanya tentang siapa dirinya. Pertanyaan itu sejenak mengambang karena Srintil tak kuasa menjawabnya. Menyusul pertanyaan lain; siapakah yang mengatur diri itu, Nyai Kartareja, para lelaki yang membayarnya. ataukah diri itu sendiri? Srintil memejamkan mata agar leluasa berbicara dengan hatinya. Lama sekali Srintil tetap berdiri tak bergerak. Kerut-kerut pada kulit dahinya menandakan ada pergolakan sedang berlangsung di dalam dirinya. Tetapi ketika akhirnya Srintil keluar dari kamar, wajahnya telah cerah. Keyakinan diri seakan telah berada dalam genggamannya. Dia memperlihatkan ketenangan yang hanya mungkin dimiliki oleh perempuan- perempuan yang benar-benar matang. Gerakannya mantap ketika Srintil duduk di bangku di sisi ruangan. Nyai Kartareja agak terkejut terutama karena melihat anak asuhannya keluar dengan kain dan baju yang melekat sejak siang hari. Lebih dari itu, Srintil kelihatan tidak bergairah menyambut tamunya. “Ah, jangan marah, Pak. Srintil terlalu lama membiarkan sampean menunggu. Sekarang, silakan berbincang-bincang. Oh, ya, Srin. Pak Marsusi hendak mengajakmu pelesir malam ini. Apakah kau tidak berdandan dulu?” “Tidak, Nyai,” jawab Srintil singkat. “E, lha?” Srintil tersenyum; senyum seorang yang merasa mampu mengendalikan suasana. “Pak Marsusi, aku takkan pergi ke mana-mana malam ini. Dan...” “Eh, nanti dulu!” potong Nyai Kartareja. Ada kegemparan dalam nada suaranya. "Apa katamu tadi?” “Aku tak ingin pergi ke mana pun, Nyai,” jawab Srintil. Nyai Kartareja masih tak percaya akan kedua daun telinganya. Dadanya turun-naik. Namun hanya sesaat. Kematangannya sebagai seorang mucikari berhasil menata kembali perasaannya. “Wong Ayu,” kata Nyai Kartareja lembut. Tangannya membelai pundak Srintil. "Tak baik terlalu cepat menampik uluran tangan seseorang. Apalagi dia adalah Pak Marsusi. Kau belum bertanya hendak ke mana kau akan dibawanya. Nah, bahkan kau belum mengerti apa hadiah Pak Marsusi buatmu kali ini.”
Dua detik kemudian terdengar bunyi rantai logam dijatuhkan orang ke atas meja. Sementara mata Marsusi mengarah ke awang-awang, mata Srintil dan kedua induk semangnya menatap benda berkilau di atas meja itu. Dalam keheningan yang tercipta, sesaat wajah Nyai Kartareja berubah meriah. Sinar matanya memperlihatkan hasrat yang meluap. Bibirnya bergerak-gerak namun suaranya tak kunjung terdengar. Srintil pun lama menatap kalung emas yang kelihatan sangat menantang itu. Dua-tiga kali dia menelan ludah. Sebutir berlian memancarkan cahaya kebiru-biruan: godaan yang sulit diabaikan oleh seorang perempuan muda seperti ronggeng Dukuh Paruk itu. Ketika Srintil berada dalam puncak kebimbangannya, Nyai Kartareja mendorongnya dengan kata-kata yang amat sugestif. “Apa kataku, Wong Ayu. Rugi benar bila kau tidak menurutkan kehendak Pak Marsusi. Ayolah, ganti pakaianmu. Ganti pula kalung di lehermu itu dengan yang di sana.” “Nah, ini. Ambillah,” kata Marsusi dengan suara datar. “Yang itu memang lebih baik. Jauh lebih baik dan lebih mahal tentunya,” sela Kartareja. "Tak pernah kulihat seorang perempuan memakai kalung sebagus itu kecuali istri lurah Pecikalan. Nah, Srin, kini giliranmu.” Sejenak Srintil diam membeku. Di dalam rongga hatinya muncul kembali bayangan Rasus. Gendang telinganya menangkap suara Ciplak yang menembangkan asmara dahana. Li lali tan bisa lali, sun lelipur tan sangsaya... “Tidak, Nyai. Aku tidak ingin pergi ke mana pun,” ujar Srintil pelan namun terasa benar kepastiannya. Ketiga orang di dekatnya terkejut. Kartareja menegakkan kepala. Marsusi meluruskan punggung sambil melepas rokok dari mulutnya. Yang paling gempar adalah Nyai Kartareja. “Kau? Kau ini bagaimana? Kau cucu Sakarya tidak ingin memiliki kalung sebagus itu?” “Nyai tak usah berbicara seperti itu kepadaku,” ujar Srintil dengan ketenangan yang mengagumkan. “Oh, maafkan saya yang tua ini, Wong Ayu. Bila kau tak ingin pelesir kukira tak mengapa. Siapa tahu Pak Marsusi tidak berkeberatan mengubah rencana. Dari niat semula hendak pelesir bersamamu barang dua-tiga hari menjadi acara menginap di rumah ini barang dua-tiga malam. Bagaimana, Pak?”
Marsusi terbatuk. Pukulan pertama membekas berupa tanda tanya yang melintang pada wajahnya. Baru kali inilah ajakannya pergi berkencan ditolak orang. Dan justru ketika dia bersedia memberi imbalan yang paling mahal. Dalam keraguannya Marsusi ingin meraup kembali kalung emas itu, dan pulang. Tetapi sesuatu di depan mata menahan Marsus duduk tempat. Srintil duduk agak menyamping. Ketenangannya yang demikian utuh adalah pesona baru dalam penampilannya. Dengan tata sanggul seadanya profil Srintil justru memperlihatkan kesegaran remaja yang amat impresif. Bentuk rahangnya bagus. Pipinya jernih dengan hiasan jambang halus. Kulit leher berkata apa adanya, bahwa usia Srintil memang baru tujuh belas. Marsusi kembali terbatuk. “Apabila Srintil enggan keluar, maka terserah kepadanyalah. Aku tak keberatan menginap di sini,” kata Marsusi akhirnya. “Dengar itu, Srin? Pokoknya, Pak Marsusi datang kemari hanya membawa satu tujuan. Yakni membuat hatimu senang. Iya kan, Pak?” Marsusi hanya tersenyum. Nyai Kartareja bangkit dan memberi isyarat kepada suaminya. Keduanya kemudian menghilang ke dalam rumah. Mereka yakin bahwa suasana yang sulit telah berlalu. Tinggal satu yang pantas mereka lakukan, yakni memberi kesempatan kepada tamunya menikmati kebebasannya bersama Srintil. Kelengangan malam merembes masuk ke dalam rumah Kartareja. Ada kampret masuk melalui pintu depan yang terbuka, berputar-putar sejenak dalam ruangan dan menghilang lagi lewat jalan yang sama. Dua ekor cicak berlomba menangkap mangsa: seekor serangga yang terbang hinggap pada dinding bambu. Ketika serangga itu terbang kembali dan berpusing-pusing di sekitar lampu kedua pengejarnya berganti acara. Kedua cicak itu saling berkejaran. Yang besar mengejar yang kecil. Pengejaran berhenti dalam upacara kawin yang brutal. Atap seng rumah Kartareja tiba-tiba berdentam. Sesuatu yang pekat jatuh dari langit. Tak ada sesuatu yang bisa dituduh kecuali kalong berak sambil terbang. Atau binatang itu memuntahkan biji salam yang sudah dimamah dan diisap airnya. Selain itu terdengar suara yang membuat Dukuh Paruk mempunyai warna khas. Irama calung. Tetapi malam itu yang terdengar adalah suara calung tunggal. Dalam hal demikian calung menggantikan gambang. Di tangan orang yang tepat seperti Sakum, calung adalah gambang. Bedanya, calung terbuat dari bambu sementara gambang dari kayu. Sebagai penabuh
calung yang masyhur, meski kedua matanya buta, Sakum tak pernah mengeluh. Bahkan gaya dan suaranya selalu berupa banyolan. Tetapi malam itu Srintil menangkap kelainan pada suara dan irama calung Sakum. Di balik irama yang padu dengan ketenangan malam tersirat pesan ironik. Ironinya seorang penabuh calung yang sudah sekian lama tidak mendapat penghasilan karena Srintil belum juga hendak naik pentas. Srintil tersenyum getir karena teringat akan nasib Sakum; si Buta yang menjadi mascot kelompok ronggengnya. Dan bukan hanya Sakum seorang yang terputus rejeki lantaran Srintil mogok menari. Tiga orang penabuh lainnya bernasib sama. Sementara suara calung terus mengisi kelengangan Dukuh Paruk, di rumah Kartareja terjadi suasana yang lucu. Marsusi duduk gelisah. Sebaliknya, Srintil duduk di atas singgasana kemandirian yang nyata. Berkali-kali Marsusi menelan ludah, tetapi Srintil tetap duduk menyamping, berpura-pura tidak tahu ada seekor buaya lapar di dekatnya. “Jenganten,” suara Marsusi serak. Senyumnya kaku seperti anak kecil sedang minta jajan kepada emaknya. "Ini kalungmu, ambillah.” Srintil menoleh sambil tersenyum. Tetapi siapa pun bisa memastikan senyum Srintil kali ini sama sekali tidak erotik. “Sebentar, Pak. Untuk apa kalung itu sampean berikan kepada saya?” Marsusi menarik napas panjang. Tingkahnya canggung. “Begini, Pak,” sela Srintil setelah tahu Marsusi gagal membuka mulut. "Kalung itu akan kuterima bila dia sampean maksudkan sebagai upahku menari. Nah, sampean tinggal mengatakan kapan dan di mana pentas hendak diadakan. Di sana sampean boleh mengajakku bertayub sepuas hati.” “Lho, bukan. Kalung ini bukan buat upahmu menari atau bertayub,” ujar Marsusi. “Mau sampean berikan kepadaku dengan begitu saja? Nah, marilah!” “Bukan!” “Ya!” potong Srintil dengan kecepatan yang tidak terduga. "sampean ingin memberikan kalung ini kepadaku bukan sebagai upahku menari atau bertayub, melainkan untuk satunya lagi. Oh, Pak Marsusi, sampean tidak salah. Karena saya memang telah melakukan hal semacam itu dengan sekian banyak lelaki. Tetapi, Pak...”
Marsusi menyondongkan kepalanya lebih ke depan. Pikirannya yang mulai baur membuat dia ingin segera tahu apa kata Srintil selanjutnya. “Sekarang aku tak ingin melakukannya lagi.” “Lho, kenapa?” “Hanya merasa tak ingin, begitu.” “Katakan terus terang!” nada suara Marsusi mulai berat. “Memang hanya tak ingin. Kalau sekedar menari atau bertayub, nah, ayohlah. Aku memang seorang ronggeng.” “Nanti dulu! Mengapa hal ini baru kaukatakan kepadaku; bukan kepada laki-laki lain sebelum aku? Mengapa?” “Persoalannya sederhana, Pak,” kata Srintil masih dalam ketenangan yang utuh. "sampean kebetulan menjadi laki-laki pertama yang datang setelah saya memutuskan mengubah haluan.” “Jelasnya! Kamu menampik kedatanganku?” “Tidak sepenuhnya demikian, Pak. Kalau sampean ingin sekedar bertayub denganku, maka selenggarakan pentas. Terserah, kapan dan di mana.” Urat pada kedua rahang Marsusi menggumpal. Matanya menyorot lurus ke arah wajah ronggeng Dukuh Paruk itu. Renjana yang dibawanya dari rumah mulai berubah menjadi dorongan amarah. Marsusi bangkit berdiri, berjalan berkeliling ruangan. Wajahnya berubah beringas. Srintil siap menanti sesuatu akan hancur oleh tangan tamunya. Ternyata tidak. Marsusi hanya berjalan berputar-putar, mendengus-dengus, kedua tangannya bergerak limbung. Nyai Kartareja muncul dari dalam diikuti oleh suaminya. Tentulah mereka mendengar percakapan yang kaku antara Srintil dan Marsusi. Kemunculan pasangan dukun ronggeng itu disambut dengan tudingan tangan Marsusi. “Nah! sampean berdua duduk!” teriak Marsusi. “Duduk!” ulang Marsusi karena melihat suami istri Kartareja kelihatan bimbang. Kini Marsusi bertindak menurut gayanya yang asli; gaya seorang mandor perkebunan terhadap para kuli penyadap karet. “Takkan sekali-kali seorang kepala perkebunan sampai kemari kalau pedukuhan ini tidak bernama Dukuh Paruk,” Marsusi mengawali pidatonya sambil tetap berjalan berputar-putar. "Dan takkan sekali-kali aku masuk ke
rumah ini bila di sini bukan sarang seorang ronggeng. Dan dia si ronggeng Dukuh Paruk yang bernama Srintil, bukan?” Karena dituding tepat di depan mata maka Srintil mengangkat muka. Sementara wajah suami-istri Kartareja kelihatan kecut. Srintil hampir tidak memperlihatkan emosi apa pun. Tatapan matanya yang demikian tenang membuat Marsusi menurunkan tangan. Kemudian Marsusi melangkah mendekati Nyai Kartareja. Ucapannya terdengar habis-habisan. “sampean cecunguk, ya! Siapakah yang secara tidak langsung menyuruhku membawa kalung seperti milik istri lurah Pecikalan? Barang itu sudah berada di depan matamu. Tetapi apa hasilnya sekarang?” “Pak Marsusi,” suara Srintil datar, "saya mohon sampean tidak marah terhadap Nyai Kartareja. Ini urusanku. Persoalan yang sederhana tidak perlu sampean persulit.” “Ini bukan persoalan sederhana! Aku tidak sekali-kali menganggapnya sederhana!” “Bagaimana juga, Pak, masalahnya tetap sederhana. Yakni sampean mau membeli sesuatu di sini, tetapi warung sudah tutup. Itu saja, Pak.” “Jadi kamu, dan sampean semua di sini, telah menghinaku. Dan kalian orang Dukuh Paruk, apakah kalian mengira aku tidak tahu bahwa semua yang kelihatan di sini adalah hasil persundalan? Hah?” “Sabar, Pak. Aku ingin berbicara...” “Cukup! Kamu nenek cecurut! Biang sundal dan setan Dukuh Paruk. Aku tak ingin mendengar lagi suaramu. Omongmu itu kentut kuda!” Marsusi yang beringas mengambil topi lalu dipasangnya di kepala. Dengan gerak tangan yang cepat kalung yang semula hendak dipakainya sebagai pembeli Srintil segera masuk ke saku baju. Masih ada satu lagi yang diambilnya dari atas meja; botol jenewer. Isinya yang tinggal setengah ditenggaknya. Botol itu dibanting mengenai umpak tiang. Suara beling remuk memecah keheningan. Semenit kemudian terdengar suara motor Marsusi menderu. Keberangkatan Marsusi meninggalkan ketegangan di rumah Kartareja. Wajah Nyai Kartareja gelap dan kusut. Kekesalan hatinya dilampiaskan dengan cara berkali-kali memukul pantat sendiri. “Toblas, toblas! Kamu ini bagaimana, Srintil? Kamu menampik Pak Marsusi? Toblas, toblas. Itu pongah namanya. Kamu memang punya harta sekarang. Tetapi jangan lupa anak siapa kamu sebenarnya. Kamu anak
Santayib! Orang tuamu tidak lebih dari pedagang tempe bongkrek. Bapak dan emakmu mati termakan racun!” Srintil membeku, menundukkan kepala dan menggigit bibir. Kesaksian tentang kedua orang tuanya yang baru disampaikan oleh Nyai Kartareja telah menggores hatinya. Tentang kedua orang tuanya Srintil telah tahu segalanya. Tetapi setiap kali berita itu berulang, setiap kali pula hatinya terluka. Srintil menangis. Dan Nyai Kartareja tidak peduli. “Oalah toblas, beginilah caramu membalas budi kami, ya! Kami berdua telah memberimu jalan sehingga kamu mendapatkan kamukten. Tetapi inilah imbalan yang kami terima; dipermalukan habis-habisan oleh Pak Marsusi. Anak Santayib, dasar cecurut kamu! Dan kamu bertingkah menolak sebuah kalung seratus gram? Merasa sudah kaya? Bila kamu tidak suka kalung itu mestinya bisa kauambil untukku. Dan kaulayani Pak Marsusi karena semua orang toh tahu kau seorang ronggeng dan sundal.” “Sudah, Nyai, sudah,” kata Kartareja berusaha menghentikan amarah istrinya. “Biar! Sekali ini dia harus mendapat pelajaran. Lama-kelamaan anak Santayib ini jadi kurang ajar!” Dada Nyai Kartareja masih kembang-kempis tetapi dia sudah kehabisan kata-kata. Sisa kemarahannya tumpah ketika dia meludah sengit ke arah Srintil. Sampai sedemikian jauh Srintil tetap diam. Bahkan dia tetap tak bergeming meski Nyai Kartareja sudah masuk ke kamarnya dengan membanting pintu keras-keras. Air matanya berjatuhan. Ketabahan yang diperlihatkannya ketika menghadapi Marsusi telah runtuh. Hal ini terjadi karena Nyai Kartareja telah mengusik kedua orang tuanya yang sudah menjadi tanah di pekuburan Dukuh Paruk. Yang membawa kembali ketenangan ke dalam hati Srintil adalah suara calung tunggal yang ditabuh Sakum. Mula-mula suara itu masih berbaur dengan lengking kemarahan Nyai Kartareja yang terus terngiang dalam telinga Srintil. Disusui kemudian oleh derik seribu jangkrik yang menggetarkan gendang telinga. Lama-kelamaan suara kacau itu surut. Tinggal bunyi calung yang menjalin malam Dukuh Paruk, menyatukannya dalam satu citra yang bulat dan utuh. Klenting-klentung itu tumpah dengan runtut, kadang ada nada yang melompat seperti belatung nangka yang ranum, namun tetap terikat dalam keselarasan.
Dengarlah suara mata calung yang menyusup ke bawah rumpun- rumpun bambu di Dukuh Paruk. Dari bambu pulang ke bambu. Mesra dan penuh makna seperti seorang anak yang menyurukkan wajah dalam-dalam ke selangkangan emaknya. Ketika angin malam membuat desah daun-daun bambu, suaranya menjadi latar yang paling alami bagi irama calung yang terus mengalir melalui ayunan kedua tangan Sakum. Tit-tuit tit-tuit suara burung prit putih yang mulai terdengar sejak matahari terbenam memaripurnakan kidung Dukuh Paruk. Pedukuhan terpencil itu sedang menembangkan kidung malam. Entahlah, kini yang terdengar bukan nada cepat bergairah, melainkan suara pilu yang menggayut. Srintil masuk langsung menuju kamar. Kartareja yang sedang duduk membatu hanya menatapnya sepintas. Tetapi dukun ronggeng itu sedikit terperangah ketika sesaat kemudian Srintil sudah berdiri di hadapannya sambil mendekap Goder dalam embanan. Ayah dan anak asuhan bertatapan. Melalui bahasa rasa Kartareja sudah tahu apa arti kehadiran Srintil di hadapannya. Tak terdengar kata barang sepatah meskipun bibir Srintil kelihatan bergerak-gerak. Demikian juga halnya Kartareja. Sampai akhirnya Srintil berbalik dan keluar halaman suasana masih bisu. Hanya derit engsel pintu. Selebihnya adalah kelengangan. Dan cericit tikus busuk yang terkejut ketika Srintil lewat di dekatnya. Keluar dari rumah orang tua akuannya Srintil merasakan suatu hal yang baru; begitu dekat dengan dirinya sendiri. Akunya sepenuhnya dalam genggaman. Akunya yang terdiri atas dirinya sendiri dan seorang bayi dalam pelukan. Hangat tubuh Goder yang melekat di dadanya menjadi kehangatan pertama bagi sebuah semangat baru yang mulai melembaga dalam jiwa Srintil. Sampai di rumah kakeknya, Sakarya, Srintil mendapati seorang perempuan lain. Tampi. Wajah perempuan itu langsung meriah melihat kedatangan Srintil. Dia tergopoh bangkit menyongsong Srintil di ambang pintu. “Oalah, Jenganten. Kemarikan anakku. Aku sudah kangen,” ujar Tampi sambil mengulurkan kedua tangannya. Namun Srintil menepis tangan itu. “Mau melihat Goder, Lihatlah dari situ. Mau menggamit pipinya yang tambun dan padat, silakan. Tetapi jangan ambil dia dari embananku.” “Aku bersungguh-sungguh, Jenganten. Karena aku sudah sangat kangen. Sehari ini aku belum menyentuhnya. Dan, ah! Siapa bilang Goder
tidak akan mengganggumu, Jenganten? Baru saja terbukti, bukan?” “Terbukti?” “Aku mengerti semua yang baru terjadi di rumah Kartareja. Kalau bukan karena anakku, sampeansudah pergi naik sepeda motor bersama...” “Cukup. Kamu salah, Tampi. Kamu tak mengerti. Aku tidak pergi bersama laki-laki itu karena aku tak mau. Itu saja. Tak ada sangkut-pautnya denga Goder. Tahu?” “Tetapi aku mendengar Nyai Kartareja jelas menyebut-nyebut nama anakku. Oh, sampean tidak mengerti bagaimana perasaanku saat itu. Ingin rasanya aku menerobos masuk untuk mengambil Goder dan membawanya pulang selekas mungkin. Anakku masih terlalu bersih buat dilibatkan ke dalam urusan orang-orang dewasa.” “Nah, kamu betul. Goder masih terlalu bersih. Maka aku tidak akan mengotorinya. St, jangan ganggu dia. Dan jangan lagi sebut dia anakmu, melainkan anakku! Nah, iya kan?” Tampi bersungut-sungut, tetapi senyumnya mekar kemudian. Dia merasa tidak mungkin berbohong bahwa sesungguhnya dia berbangga hati karena anaknya menjadi boneka bagi perempuan yang paling ternama, Srintil. “Ah, Tampi. Sesungguhnya kamu tidak usah lagi merisaukan Goder. Cukuplah aku yang menjadi emaknya. Aku bisa menetekinya. Aku bisa membelikan baju yang terbaik di pasar Dawuan baginya. Pokoknya, apa yang bisa kauberikan kepada Goder, aku pun bisa melakukannya secara lebih baik. Dan jangan khamatir, bila sudah besar nanti dia tahu perempuan mana yang melahirkannya. Sekarang biarlah dia menjadi anakku yang sebenar-benarnya. Yang perlu kaulakukan sekarang adalah melayani suami sebaik mungkin. Supaya bayimu yang kelima cepat lahir!” Seloroh Stintil mencairkan kekakuan. Tampi mencubit lengan temannya. Terasa benar oleh Srintil bahwa selorohnya tepat mengena pada perasaan Tampi yang sebenarnya. Bagi perempuan Dukuh Paruk melayani suami bukan hanya sekedar keharusan hidup. Dia adalah satu-satunya kegiatan lain di luar urusan dapur serta memelihara anak-anak. Dalam kenyataan aspek humaniora bagi perempuan Dukuh Paruk hampir terpusat sepenuhnya di atas pelupuh bambu mereka. Dan ketika Goder sudah menginjak usia sembilan bulan, seloroh Srintil itu sungguh tidak bisa
dielakkan oleh Tampi. Artinya, ketidakhadiran Goder di sampingnya memberikan kedaulatan yang lebih bagi suaminya, dan dirinya juga. Hingga tengah malam Srintil tidak mampu memejamkan mata. Kadang dia duduk termangu di bibir balai-balai. Kadang tidur gelisah di samping Goder yang lelap. Dan sekali waktu Srintil merasa demikian gemas karena mengetahui betis Goder bentol sebesar biji jagung. Seekor kutu busuk yang menggembung penuh darah digilas dengan telunjuknya. Noda darah tercoreng pada tikar pandan, sengak baunya. Sakum masih terus mengembara dengan irama calung tunggalnya. Sebenarnyalah Sakum tak bisa menjelajah ke mana-mana karena kedua matanya buta sejak lahir. Dia tidak bisa mengembara di alam nyata. Tetapi karena buta, Sakum memiliki kepekaan luar biasa. Pengembaraannya di alam rasa demikian teliti dan memikat sehingga mampu mengajak orang lain mengikutinya. Malam itu pastilah banyak warga Dukuh Paruk setia memicingkan mata agar bisa mengawang bersama-sama Sakum. Entah berapa tembang telah dibawakan oleh seniman calung itu. Dan Srintil amat terkesan oleh sebuah pupuh sinom yang mengalun berulang- ulang; Bonggan kang tan mrelokena Mungguh ugering ngaurip Uripe lan tri prakara Wirya karta, tri winasis Kalamun kongsi sepi Saka wilayan telelu Tetas tilasing sujalma Aji godhong jati aking Temah papa, papariman ngulandara Merugilah orang yang mengabaikan tiga perkara teras kehidupan. Yakni trampil, keutamaan, dan kepandaian. Bila triperkara ini ditinggalkan. Punahlah citra keutamaan manusia. Dia tidak lebih utama daripada daun jati kering; melarat, mengemis, dan menggelandang.
Terasa benar tembang sinom itu keluar dari dasar hati Sakum yang sedang papa karena telah lama tidak bekerja mengiringi Srintil dalam pentas. Sakum, yang meski buta tetapi harus memberi makan seorang istri dan empat orang anak. Makin lama Srintil makin merasa digugat oleh Sakum dengan caranya yang sangat halus; mengapa dia masih menolak naik pentas dengan akibat perut Sakum anak-beranak menjadi lapar. Gugatan itu menambah beban pikiran Srintil yang telah ditindih oleh pengalamannya dengan Marsusi di awal malam. Dan wajah Sakum bersama anak dan istrinya terus terbayang meski akhirnya penabuh calung itu jatuh tertidur di belakang alat musiknya. Boleh jadi hanya Srintil seorang yang tetap jaga ketika embun pertama jatuh sesaat malam melampaui batas dini hari. Perihal melek sepanjang malam bukan perkara asing bagi seorang ronggeng. Biasanya Srintil bergadang dalam suasana gairah dengan ciu, dengan uang, dan dengan berahi. Kali ini lain, sangat lain. Srintil sedang berada dalam haribaan Dukuh Paruk yang tengah tidur lelap selelap-lelapnya, merenung dan merenung. Dan Srintil tidak bisa ingkar bahwa awal segala permenungannya adalah kenangannya bersama Rasus. Rasus yang semasa kanak-kanak bermain bersama di bawah pohon nangka, Rasus yang diserahi keperawanannya, dan Rasus yang kemudian menjadi tentara tetapi kini berada entah di mana. Tetapi Srintil merasa setiap kali permenungannya berakhir pada titik antah berantah. Terutama setelah dia sampai kepada pertanyaan: apa yang bakal terjadi atas dirinya setelah Rasus pergi. Apa pula yang bakal dialaminya setelah - entah mengapa - dia memutuskan menolak laki-laki bernama Marsusi yang bersedia memberinya kalung emas bermata berlian. Dukuh Paruk sepanjang zaman mengajarkan, kehidupan adalah pakem; manusia tinggal menjadi pelaku-pelaku yang bermain atas kehendak dalang. Maka bagi Srintil kepergian Rasus tidak bisa dipahami secara lain kecuali atas kehendak Sang Dalang juga. Meskipun sebagai akibatnya Srintil harus merasakan kegetiran dalam hatinya. Lain lagi perihal penolakannya atas Marsusi. Srintil khawatir jangan-jangan penolakannya itu berarti penentangan terhadap pakem hidup. Dan sepanjang yang dipercayainya sikap semacam ini akan membawa akibat buruk. Barangkali Srintil akan tetap dalam kekhawatirannya bila dia tidak sempat teringat hal- hal keseharian yang sering dilihatnya. Misalnya toh tidak semua ayam
betina tunduk kepada jago yang mengejar hendak mengawininya. Demikian juga kambing, kucing, dan juga burung-burung. Tentulah hewan-hewan betina itu tidak bisa dikatakan telah melanggar perintah alam. Atau, memang alam jugalah yang mengatur segala perilaku seluruh warganya. Tak terkecuali Srintil, ketika dia menampik kehadiran Marsusi. Ketika pada ujung permenungannya Srintil memperoleh sedikit ketenangan, matanya mulai terasa mengantuk. Sementara itu cecet pertama burung sikatan sudah terdengar. Disusul kemudian oleh kokok ayam jantan. Bunyi keresek daun pisang kering yang menerima kedatangan codot yang hendak menyembunyikan diri. Samar-samar, karena matanya mulai terpejam, Srintil masih sempat melihat seekor bangkong melompat-lompat. kemudian menerobos celah dinding di dekat umpak tiang. Kodok longan itu akan bersembunyi sepanjang hari di kolong balai-balai, tepat di bawah kepala Srintil. Gangsir dan orong-orong menghentikan suaranya, membuat Dukuh Paruk menyambut kedatangan hari baru dalam suasana yang begitu lengang. Demikian lengang sehingga suara tetes embun jelas terdengar ketika jatuh ke atas daun iles-iles yang tumbuh semarak di belakang rumah. Srintil menikmati mimpi bercengkerama dengan para anak gembala; berlarian di atas permukaan bunga-bunga ilalang. Langit di atasnya penuh laron dan burung-burung. Srintil membaur bersama semua hewan di Dukuh Paruk. Namun keindahan mimpinya terputus. Sepasang tangan halus meraba-raba dadanya, masuk ke dalam kutang. Goder merengek minta menetek. BAB III SUDAH beberapa hari Sakarya kelihatan lebih banyak termenung. Perubahan yang terjadi atas diri Srintil, cucunya, sangat mengganggu pikirannya. Perihal Srintil menampik seorang laki-laki yang ingin memakainya tidak
begitu memusingkannya. Masalahnya, bagaimana jadinya bila Srintil tetap menghindar dari panggung pentas. Dukuh Paruk akan kehilangan pamornya. Tanpa seorang ronggeng, Dukuh Paruk akan mati; suatu hal yang tak ingin disaksikan oleh Sakarya yang kini sudah berada pada ujung usia. Perasaan kakek Srintil itu lebih dirisaukan oleh peristiwa-peristiwa kecil namun baginya penuh makna. Kemarin, seekor burung tlimukan terbang secepat angin menerobos pintu rumahnya yang terbuka, membentur keras cermin lemari kacanya. Burung itu runtuh ke lantai dan mati seketika. Dari paruhnya yang mungil merah menetes darah. Entah mengapa Sakarya sangat terkesan oleh pemandangan itu; seekor burung yang molek dengan bulu hijau mengkilap dan paruh seperti cabai masak, mati di hadapannya dengan gelimang darah. Sehari sebelumnya kamitua Dukuh Paruk itu menyaksikan seekor ayam hutan hinggap di pohon angsana di samping rumahnya. Sakarya selalu membaca sasmita alam. Sakarya tidak pernah berpikir bahwa suatu perkara sekecil apa pun bisa berdiri sendiri, lepas dari kehendak semesta. Dan semuanya pastilah mengemban makna yang sasmita. Sepanjang menyangkut binatang asing yang mendekat, apalagi sampai masuk ke rumah, siapa pun di Dukuh Paruk akan membacanya sebagai pertanda buruk. Dan pagi ini, selagi duduk membatu di ruang depan, punggung Sakarya tertimpa sesuatu yang dingin dan lembut: seekor cicak. Dua makhluk sama-sama terkejut. Binatang itu lari setelah menjatuhkan diri ke tanah lalu merayap cepat di dinding. Sakarya tak kalah cepat. Dengan gombal pembersih meja dilecutnya cicak itu, kena! Dilumatnya dengan kaki, "Asu buntung, mampus kamu!” Sasmita buruk lagi, pikir Sakarya. Apabila sudah yakin demikian maka hanya satu hal yang harus dilakukan oleh kamitua Dukuh Paruk itu; mengetuk pintu makam Eyang Secamenggala di puncak bukit, kemudian memasang sesaji dan membakar kemenyan. Dia bersiap-siap. Istrinya disuruh mencari kembang di halaman rumah Kartareja. Dia sendiri masuk ke kamar mengambil seikat upet. Bila sekali dibakar ujungnya sayatan kelopak manggar ini akan terus membara sampai habis. Sakarya keluar rumah dalam pakaian serba hitam. Celananya longgar sampai ke tengah betis. Di lehernya terselempang kain. Iket wulung membelit kepalanya. Di tangan kanannya yang tersilang ke belakang tergenggam upet yang sudah membara di ujungnya. Sepanjang
perjalanannya kakek Srintil itu tak sekali pun mengangkat muka. Langkah- langkahnya pelan dan khidmat. Tetapi sekali dia harus berhenti, menarik napas panjang kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Seekor ular koros menyeberang jalan setapak yang hendak dilaluinya. Binatang melata itu berhenti sejenak mengalang jalan. "Lagi-lagi, alangan!” desis Sakarya. "Kalau tidak berada-ada mengapa ular itu berkeliaran mengalang jalan. Toh perutnya menggembung pertanda ada tikus yang telah dimakannya. Dalam keadaan biasa seharusnya dia bergelung tidur di bawah semak.” Tiba-tiba Sakarya tersenyum. Di tengah kebeningan hatinya mendadak muncul kesadaran yang dalam bahwa usianya sudah di atas tujuh puluh tahun. Di Dukuh Paruk dialah laki-laki sang paling lanjut. Apabila pertanda buruk yang dirasakannya adalah peringatan akan datangnya ajal maka pantaslah adanya. Perihal kematian diri, bukan hanya sekali-dua Sakarya merenungkannya. Kadang malah merindukannya. Beberapa tahun yang lalu Sakarya memesan tempat di pekuburan Dukuh Paruk. Dibuatnya pemakaman palsu dengan tonggak nisan. Bila ajal tiba maka orang akan menanam tubuh Sakarya di tempat itu. Dalam kesadaran yang mulai akrab dengan kematian Sakarya sampai ke pekuburan Dukuh Paruk. Dia berhenti di kaki tanjakan buat menata pernapasannya. Suasananya temaram karena kerindangan beringin di puncak bukit memayungi sebagian besar tanah pekuburan. Ditambah lagi matahari pagi masih tersaput awan. Mata Sakarya yang sudah kelabu menatap ke depan. Ketika angin yang lemah berembus pohon-pohon puring bergoyangan. Dan Sakarya diam sempurna. Pohon-pohon yang bergoyang itu tampak olehnya sebagai kelompok manusia dalam tarian aneh. Meski dengan wajah-wajah mengerikan Sakarya bisa mengenali mereka. Yakni orang-orang yang meninggal keracunan tempe bongkrek tujuh belas tahun yang lalu. Ada wajah Santayib suami-istri di antara wajah-wajah yang menyeramkan itu. Keduanya adalah anak dan menantunya, tepatnya orang tua kandung Srintil. Ada wajah-wajah ronggeng Dukuh Paruk sebelum Srintil yang meninggal puluhan tahun yang lalu. Sakarya merasa hawa dingin bertiup di kuduknya. Suara hiruk-pikuk bergalau dalam telinga. Dan tiba-tiba Sakarya terkejut oleh sinar menyilaukan yang menusuk matanya. Matahari pagi muncul dari balik awan. "Ah, boleh jadi benar, kematianku sudah dekat,” gumam Sakarya. Aneh, Sakarya merasakan ketentraman dalam hati setelah bergumam
demikian. Ketika mulai mendaki pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya tidak merasa lain kecuali sedang menapaki jalan menuju rumah. Hatinya damai. Pasrah. Kepasrahannya terucapkan ketika mulutnya komat-kamit menyatakan sesuatu di depan pintu makam Ki Secamenggala. Asap kemenyan mengepul dari ujung upetnya yang membara. Apabila Sakarya masih mengajukan keinginannya sebelum ajal tiba, maka masalahnya menyangkut kepentingan Dukuh Paruk; hendaknya calung dan ronggeng lestari adanya. Setidaknya, Srintil akan kembali menari, meronggeng. Kamitua Dukuh Paruk itu sungguh tidak bisa membayangkan apa jadinya bila Srintil tetap menghindari pentas. Dukuh Paruk tanpa ronggeng; reputasi buruk bagi kakek yang merasa menjadi pemangku anak-cucu Ki Secamenggala di Dukuh Paruk. Pulang ke rumah Sakarya mendapati Srintil sedang menerima seorang tamu. Semula Sakarya mengira tamu itu hanya berkepentingan dengan Srintil secara pribadi. Namun setelah jelas siapa dia, Sakarya langsung ikut duduk. Tamu itu adalah Pak Ranu, seorang penggawa kantor kecamatan yang sudah dikenalnya. Sakarya sadar betul seorang seperti Pak Ranu tidak akan berurusan dengan ronggeng secara pribadi. “Wah, seorang priyayi datang ke Dukuh Paruk; ada apa ini?” kata Sakarya. “Tentu ada urusan yang saya bawa bagi sampean serta cucu sampean ini.” “Begitu. Nah, katakan, Pak Ranu. Asalkan jangan urusan hukum, karena kami di Dukuh Paruk tak pernah menyalahi hukum.” “Sama sekali bukan itu, Kang. Ini urusan calung.” “Calung?” “Apabila ada orang luar datang ke Dukuh Paruk, apa lagi maksudnya?” “Yah, ya. Lalu, apakah sampean sudah berbicara langsung dengan Srintil?” “Sudah.” Sakarya menoleh kepada cucunya. Wajah Srintil tersaput awan ketidakpastian. Murung dia. Sakarya mengerti, lalu menarik napas panjang sambil bersandar ke belakang. “Kang Sakarya,” ujar Pak Ranu. "Bukan saya yang hendak punya hajat melainkan panitia perayaan Agustusan.” “Agustusan dengan mementaskan ronggeng?”
“Nah, baru kali ini terjadi bukan? Rasanya, ini sebuah kehormatan bagi Dukuh Paruk.” “Ya, tentu.” “Nah. Tetapi saya agak heran mengapa Srintil tidak segera memberi kesanggupan.” Lagi, Sakarya menarik napas panjang. Kemudian, dengan tetap menunduk Sakarya bergumam seperti kepada dirinya sendiri. “Seharusnya Srintil mengerti urusan kali ini bukan sekedar undangan berpentas. Bisa juga dikatakan sebagai perintah karena dia datang dari panitia resmi.” “Nah! sampean betul, Kang Sakarya. Betul. Untung sampean yang mengatakannya, bukan saya.” “Sekarang bagaimana sampean, Jenganten?” kata Pak Ranu kepada Srintil. Setelah lama berdiam-diri Srintil menjawab lirih, "Sudah lama saya tidak menari, Pak.” “Kenapa?” Pertanyaan Pak Ranu berulang sampai tiga kali. “Tidak apa-apa, Pak.” “Ah, masa. Bila ada ronggeng maka harus ada calung, bukan?” “Yah, pokoknya saya sedang malas menari, Pak.” “Memang, Jenganten. Terkadang orang bisa merasa malas atau bosan terhadap pekerjaannya. Soalnya, permintaan ini datang dari panitia Agustusan yang diketuai sendiri oleh Camat. Bagaimana?” “Bila sedang malas, tarianku bisa tidak karuan, Pak. Bagaimana?” Pak Ranu tersinggung oleh pertanyaan balik ini. Tetapi penggawa kantor kecamatan ini bertahan dalam kesabarannya. “Nanti dulu, Jenganten. Pada malam kesenian nanti kalian akan tampil berganti-ganti. Ada rombongan orkes keroncong dari kota, ada rombongan lawak dan juga rombongan akrobat. Tetapi saya percaya rombongan ronggeng Dukuh Paruk jugalah yang paling digemari penonton.” Srintil tak bergeming oleh rangsangan yang ditawarkan oleh Pak Ranu. Juga dia tetap bungkam ketika Sakarya ikut mendesaknya. Akhirnya utusan dari kantor kecamatan itu berdiri. Ucapannya terdengar bernada ancaman. “Pikirlah baik-baik, Wong Dukuh Paruk. Kami tidak rugi bila sampean menampik permintaan ini. Sebaliknya, sampean bisa menghadapi kesulitan
karena telah mengecewakan pihak kecamatan!” Pak Ranu keluar dengan wajah buram. Srintil mengikutinya dengan pandangan bimbang. Sakarya terpaku, tak sepatah kata pun bisa terucapkannya bahkan ketika Pak Ranu berpamitan. Baru setelah Pak Ranu pergi Sakarya berhasil membuka mulutnya. Kata-kata kecewa bernada menyalahkan ditujukannya kepada Srintil. Dalam kata-kata itu tersirat ketakutan akan datangnya kesulitan seperti diisyaratkan oleh pertanda- pertanda aneh beberapa hari ini. “Kamu telah mengecewakan seorang priyayi; suatu hal yang tidak layak dilakukan oleh orang dusun seperti kita ini. Oalah, cucuku, kamu tidak menyadari dirimu sebagai seorang kaula.” “Kek...” “Apa!” “Bila saya bertahan, apakah saya bisa kena hukum?” Pertanyaan Srintil adalah bukti sebuah langkah surut. Sakarya melihat pintu mulai terbuka. Tetapi kakek itu menyembunyikan perasaannya. “Mengapa tidak? Kita ini kaula. Kita wajib tunduk kepada perintah, bahkan keinginan para penggawa itu. Menampiknya, sama saja dengan mengundang hukum. Nah, beranikah kamu melakukannya?” Sakarya sengaja melebih-lebihkan ucapannya. Dia berharap Srintil akan segera mengubah pendiriannya. Tetapi jawaban Srintil bahkan mengejutkan Sakarya. “Ya, sudah! Aku rela menerima hukuman. Dibui pun jadi! Bagaimana aku harus menari bila hati tak mau. Kakek tahu bukan, sebuah tarian baru hidup bila hati dan jiwa ikut menari.” Tanpa menunggu tanggapan kakeknya, Srintil bangkit. Di pintu ruang tengah dia berpapasan dengan neneknya. Dari tali sampiran Srintil menarik sehelai kain pengemban, disampirkannya ke pundak, dan keluar. Srintil melangkah cepat ke rumah Tampi. Goder ada di sana sejak pagi hari. Sebelum sampai ke tujuan Srintil berhenti di depan rumah Sakum. Hatinya terkesan oleh suasana di situ. Penabuh calung yang buta itu sedang menganyam sebuah kukusan. Kedua tangannya trampil, seakan ada mata pada setiap ujung jarinya. Di belakangnya tersusun barang-barang anyaman yang sudah jadi, siap dijadikan uang bila ada yang membutuhkannya. Ah, semua orang tahu apalah arti jumlah uang yang diterima Sakum dari barang-barang anyamannya. Anaknya empat orang.
Apa yang kelihatan oleh Srintil adalah gambar ketidakcukupan yang parah. Rumah Sakum hanya bertiang empat, doyong, ayam dan angin bebas masuk dan keluar dari segala penjuru. Dari dalamnya orang bisa melihat awan di langit, dan bintang-bintang pada waktu malam. Rumah, tepatnya gubuk itu, kelihatan demikian compang-camping. Ketidakcukupan Sakum lebih jelas kelihatan pada diri keempat orang anaknya. Yang tertua, seorang gadis sembilan tahun. Rambutnya merah bulu jagung. Kedua ujung bibirnya berhiaskan cokop yang seperti lumut kerak. Wajahnya, bahkan kedua matanya kusam tanpa cahaya. Kulitnya mati dengan daki terutama pada tengkuk dan betisnya. Kini dia duduk bersandar dinding menunggui adiknya yang terkecil yang merayap-rayap di tanah. Dua anak Sakum yang lain sedang mencungkil-cungkil tanah di samping rumah. Keduanya telanjang. Gerigi tulang punggungnya menyembul kulit. Tangan mereka yang lemah tergantung tanpa daya. Mereka sedang menyelusuri alur lubang orong-orong. “Asu buntung!” kata yang lebih kecil. "Lubang orong-orong ini menghunjam ke dalam tanah. Di bawah batu pula.” “Kamu yang tolol,” kata kakaknya. "Setiap lubang orong-orong mempunyai gua. Minggir kamu.” Si kakak jongkok tepat di atas lubang orong-orong, memegang kulupnya dan kencing. Karena kebanjiran air hangat maka orong-orong keluar dari liangnya. Dua pasang tangan berebut menangkapnya. Yang kecil kalah dan terjungkal ke belakang oleh dorongan kakaknya. Dia menangis dan berusaha merebut haknya. Tetapi si kakak telah lenyap masuk ke dapur. Orong-orong dalam genggamannya segera mati dalam abu panas. Semenit kemudian serangga tanah itu lumat dalam mulutnya. Sakum kelihatan tidak terusik oleh hiruk-pikuk anak-anaknya. Jemarinya terus bekerja: menganyam, menyambung, atau memotong serpih bambu yang kepanjangan. "Bila aku masih mendengar suara anakku, itu pertanda baik. Berarti mereka masih hidup.” Ini senda-gurau Sakum yang bukan sekali-dua diucapkannya. Dan untuk berhubungan dengan segala sesuatu di luar dirinya Sakum tidak hanya mengandalkan indria pendengaran. Naluri dan perasaannya terkadang justru lebih terpercaya. Misalnya, Sakum tahu istrinya telah atau akan berbuat serong dari nada suaranya. Demikian juga halnya bila terjadi ketidakadilan pada waktu makan. Untuk mengetahui apakah satu-satunya
pelita dalam rumahnya sudah menyala di malam hari Sakum hanya memerlukan tarikan napas panjang-panjang. Hidungnya dapat memastikannya dari udara yang masuk ke paru-parunya. Naluri atau mungkin seluruh permukaan kulitnya sangat peka terhadap perubahan yang terjadi di sekitarnya. Seperti saat itu; Sakum berhenti mendadak dari kegiatannya ketika Srintil melangkah mendekatinya. Kelopak mata yang menutupi lubang keropok bergerak-gerak. Mulutnya cengar-cengir. Suara yang kemudian didengarnya adalah suara yang telah diramalkannya, dan jitu. “Sibuk, Kang Sakum?” kata Srintil sambil duduk di balai-balai hanya beberapa jengkal dari tubuh Sakum. “Eh, Jenganten? Pantas, sejak pagi kudengar burung prenjak berbunyi ngganter di dekat rumah. Rupanya ada tamu penting hari ini.” “Bukan aku yang penting, Kang. Tetapi aku membawa masalah penting.” “Eh, penting bagaimana? Pak Marsusi datang lagi? Eh, maaf, Jenganten.” “Bukan itu. Ada seorang utusan dari kantor kecamatan datang ke rumahku tadi pagi. Kita dimintanya naik pentas pada malam perayaan Agustusan nanti.” Srintil menunggu tanggapan Sakum. Yang dinantinya adalah ledakan kegembiraan. Naik pentas berarti uang bagi seluruh anggota rombongan ronggeng. Keluarga Sakum yang hidup di atas titik pusat peta kemelaratan Dukuh Paruk harus menyambutnya dengan gembira. Tetapi laki-laki dengan sepasang mata keropos itu diam saja. Hanya alisnya turun-naik. Benar, Sakum sudah lama merindukan pentas. Namun saat itu dia sudah bisa membaca dengan tepat perasaan Srintil yang masih enggan menari. “Bagaimana, Kang?” “Eh, bagaimana? sampean sudah mengerti apa jadinya bila aku berlama-lama tidak menabuh calung, jadi akulah yang harus bertanya kepada sampean; bagaimana?” “Aku mengerti, Kang. Kau berharap aku mau menerima permintaan panitia Agustusan, bukan?” “Tentu saja begitu, Jenganten.” “Ya...” Srintil menghadapi kebuntuan rasa. Di depan kakeknya dia bersikeras tak mau memenuhi permintaan panitia Agustusan. Dihukum pun
dia mau. Tetapi sebenarnya Srintil ingin menarik kata-katanya sesaat setelah terucapkan. Kini Srintil merasa telah menemukan orang yang paling tepat untuk menyatakan perasaannya secara jujur. Tanpa disadari sejak semula ternyata Sakum adalah orang yang dekat dengan dirinya, lebih dekat daripada suami-istri Kartareja, bahkan kakek dan neneknya sekalipun. “Ya, Kang. Sebaiknya aku menuruti permintaan mereka. Aku mau menari lagi, Kang. Tetapi hatiku, Kang, hatiku!” “Hati?” “Ya. Hatiku tak bisa kubawa menari.” “Bisa,” Ujar Sakum cepat. "Aku percaya indang ronggeng masih tetap bersemayam pada diri sampean,/I>. Hati sampean yang buntu akan terobati bila sampean,/I> melupakan dia.” “Dia?” “Ya, Rasus.” Berkata demikian wajah Sakum memperlihatkan segala kesungguhannya. Amat jarang Sakum berbuat demikian. Bibirnya merapat, otot-otot pipinya menegang. Dengan cara itu Sakum ingin menyatakan kebenciannya atas hubungan Srintil-Rasus yang telah membawa banyak persoalan bagi rombongan ronggeng, bagi Dukuh Paruk. Srintil langsung menundukkan kepala, benci melihat wajah Sakum yang mengerikan. Hatinya tersinggung oleh kata-kata Sakum. Tetapi Srintil kemudian sadar kata-kata itu bukan ditujukan kepada Srintil maupun Rasus sebagai pribadi, melainkan kepada sifat hubungan antara keduanya yang ternyata telah membuat suara calung lenyap dari Dukuh Paruk. “Jenganten,” sambung Sakum. Kini dengan nada suara seorang bapak. "Bukan sampean seorang yang menjadi ronggeng dan terpikat oleh laki-laki tertentu. Hal semacam ini sejak dulu sering terjadi. Tetapi tidak segenting pada diri sampean. Dulu, puluhan tahun yang lalu, ronggeng Trombol mengalami hal seperti ini. Dia kawin dengan seorang wedana. Nah, dasar masih bersemayam indang dalam dirinya, perkawinan mereka hanya berumur selama orang mengunyah sirih. Ronggeng Trombol kembali menjadi milik Dukuh Paruk, artinya kembali melenggang dan melenggok seperti laiknya seorang ronggeng. Demikian juga yang terjadi atas diri ronggeng Cepon. Dia tergila-gila kepada anak seorang pedagang batik. Mereka kawin juga akhirnya. Tetapi
nasibnya malah lebih buruk. Suami yang dicintai pergi meninggalkannya. Ronggeng Cepon begitu merana. Akhirnya dia mati ketika usianya belum lagi dua puluh. Nah, sekarang diri sampean. Sudah cukup apa yang sampean dapatkan dari Rasus. Begitulah namanya seorang ronggeng. sampean sudah merasakan kesenangan bersamanya, tidur bersamanya. Hanya itulah yang bisa sampean terima, karena sampean seorang ronggeng. Selagi indang masih tinggal dalam diri, sampean tidak mungkin mendapatkan lebih dari itu. Tidak mungkin! Jadi sekali lagi, lupakan Rasus demi kebaikan sampean sendiri.” Srintil masih menundukkan kepala. Kini matanya basah. Tadi setiap kali Sakum menyebut nama Rasus, setiap kali pula jantungnya berdenyut keras. Terbayang kembali olehnya suatu ketika di malam hari menjelang acara bukak-klambu. Rasus menemuinya dengan wajah demikian hampa tetapi penuh ketidakberdayaan. Terngiang kembali ucapan Rasus terakhir yang masih sempat didengarnya, "Aku tak mungkin mengawinimu karena kamu seorang ronggeng. Kamu milik Dukuh Paruk.” “Jadi aku masih seorang ronggeng karena pada diriku masih bersemayam indang?” ucap Srintil pelan. “Eh, sudah puluhan tahun dan sudah sekian banyak ronggeng yang kukenal. Getar suara sampean adalah getar suara ronggeng. Bau badan sampean adalah bau badan ronggeng. Wibawa sampean juga wibawa ronggeng. Nah, sampean memang masih seorang ronggeng. Kelak pada suatu saat aku akan tahu sampean, bukan lagi ronggeng. Yakni bila indang telah meninggalkan diri sampean.” Sakum kemudian menarik napas lega. Kedua bahunya turun seakan baru lepas dari beban yang berat. Memang, Sakum telah lama ingin mengungkapkan perasaannya kepada Srintil; mengingatkannya dan mengajarinya tentang bagaimana seharusnya sikap seorang ronggeng. Niatnya demikian tulus sehingga Sakum tak menghendaki orang menghubungkan niat itu dengan kepentingan pribadinya. Merasa telah mengungkapkan semua perasaannya Sakum kembali kepada pekerjaannya. Tangannya kembali menganyam serpih-serpih bambu. Tangis anak Sakum masih berkepanjangan. Tangis yang hambar, tangis seorang anak yang lapar tetapi merasa pasti tak ada nasi yang bisa
dituntutnya. Burung kembali ngoceh, bebas, dan lepas. Suaranya meriah dan renyah, kebalikan yang sempurna atas suara tangis anak Sakum. “Ke mana istrimu, Kang?” “Eh, dia di rumah Kartareja. Menumbuk padi. Tentu dia hampir pulang. Suara alunya sudah lama tak terdengar.” “Sudah menanak nasi?” tanya Srintil menatap wajah anak-anak Sakum. Pertanyaan itu mengundang harapan bagi mereka. “Jenganten ini bagaimana? Yang sedang memburuh menumbuk padi belum lagi pulang.” “Ah, begitu. Sekarang matahari hampir tergelincir. Mestinya istrimu sudah pulang.” “Aku tahu matahari sudah tergelincir. Buktinya, bau sengak makin menyengat, pertanda tempat kencing anak-anak di sebelah barat rumah sudah kena panas matahari.” Srintil meneruskan perjalanan ke rumah Tampi hendak mengambil Goder. Masih di dekat rumah Sakum dia melihat sepasang bunglon berkejaran pada ranting pohon dadap. Yang betina lari tunggang-langgang lalu melompat ke dahan lain. Yang jantan mengejar, ragu-ragu, lalu menyusul melompat. Kali ini dia luput dan terbanting ke tanah. Diam dan seakan-akan mati. Warna kulitnya yang semula hijau terang perlahan-lahan berubah warna tanah. Binatang itu baru bergerak setelah langkah Srintil begitu dekat. "Bila Kang Sakum tidak picek tentu dia akan berkata kepadaku; jangan membabi buta mengejar orang yang lari. Nanti terbanting seperti bunglon itu.” Seperti Sakum, Tampi pun mendorong Srintil menerima permintaan panitia Agustusan itu. Tampi bahkan membumbui kata-katanya dengan hal- hal yang memang belum diketahui oleh Srintil. “Jenganten mungkin belum tahu. Pada malam perayaan seperti itu akan berkumpul semua priyayi di Dawuan. Ada wedana, ada polisi, dan ada tentara. Mantri ini, mantri itu, semua akan berkumpul. Penonton lain bisa mencapai jumlah seribu orang.” “Seribu orang, Yu?” “Percayalah, Jenganten. Maka jangan sia-siakan pentas yang istimewa itu. sampeanjustru harus tampil dalam tarian yang terbagus.”
“Kamu juga mau nonton, Yu?” “Yah, itu pasti. Saya kira semua orang akan kerok-batok pergi semua ke alun-alun kecamatan Dawuan. Jadi mengapa aku harus tinggal di rumah?” Dalam perjalanan pulang, Srintil telah mendapat kata putus. Dia hendak memenuhi permintaan panitia Agustusan. Tetapi Srintil sendiri tidak bisa memastikan apakah keputusan itu merupakan tekad yang utuh atau hanya karena sebab lain. Pihak pertama yang mendengar keputusan Srintil adalah Goder, bayi yang dipeluknya erat-erat sambil berjalan pulang. “Bocah bagus, aku mau menari lagi. Boleh, kan? Ah, kau tak usah khawatir. Aku tetap emakmu. Kau tetap anakku yang paling bagus!” * * * Ketika laut surut di Segara Anakan. Sebuah perahu motor dengan mesin disel tua merayap terbata-bata menempuh jalur Cilacap-Kalipucang. Pada saat laut seperti itu Segara Anakan mirip sungai di tengah endapan lumpur yang luas. Terbentuk delta-delta yang ditutup rapat oleh pohon bakau. Para penumpang dalam perahu motor itu dapat melihat kerajaan burung yang masih tersisa. Di atas amparan lumpur itu terlihat berbagai jenis burung pemakan ikan. Trinil yang tak pernah berhenti membuat gerakan cabul berjalan kian kcanari dengan kegesitan yang mengagumkan. Bila perahu motor mendekat, mereka terbang dalam lintasan patah-patah, suaranya hiruk-pikuk. Ada bluwak berkejaran setengah terbang dan setengah berlari di atas lumpur. Sementara kuntul membentuk kelompok: makhluk-makhluk putih, terkadang mereka menyebar kemudian berkumpul lagi dalam gerakan-gerakan lamban. Ada seekor binatang tamu yang besar, berdiri dengan kaki hampir sepenuhnya tenggelam dalam lumpur. Langkahnya amat lamban, mirip langkah-langkah seorang kakek pikun. Dia adalah bangau tongtong. Dia kelihatan merana, tanpa teman sejenis. Manakala hutan-hutan sudah rusak. Manakala sawah-sawah sudah berbau obat penyemprot hama, dan manakala sudah terlalu banyak pemuda menyandang senapan angin. Maka wilayah Segara Anakan serta daerah berawa-rawa di sekitarnya adalah tempat terakhir bagi berjenis-jenis burung untuk mempertahankan keberadaannya. Suaka. Burung dadali yang sudah sulit ditemukan di daerah pedalaman ternyata masih banyak di sana.
Demikian juga burung-burung pemakan biji-bijian seperti tekukur, balam, dan perkutut. Dan yang menyolok adalah banyaknya burung alap-alap. Tentu saja karena mangsanya, burung-burung kecil seperti berondol, burung madu, atau kutilang seperti sengaja dikumpulkan dalam pulau-pulau kecil berambut hutan bakau itu. Para penumpang yang menyarati kapal motor tua itu tampaknya tak terkesan oleh pesona dunia burung. Boleh jadi mereka terlalu angkuh dalam dunianya sendiri, dunia manusia. Atau hanya karena mereka tidak bisa duduk tenang. Kendaraan yang mereka tumpangi harus meliuk-liuk menuruti air yang dalam agar tidak kandas. Dalam hal ini pengemudi perahu motor itu, yang tak lebih dari seorang pemuda belasan tahun, layak mendapat pujian. Dia memahami betul seluk-beluk pekerjaannya. Dan keahliannya terbukti bila perahunya harus berpapasan dengan perahu lain dalam alur sempit dekat sebuah tikungan. Pada sebilah tempat pemberhentian tiga orang turun, semuanya laki- laki. Melihat keadaannya dua di antara mereka tentulah tengkulak terasi, yakni hasil utama penduduk di wilayah itu. Yang seorang lagi kelihatan belum terbiasa di sana. Dia berdiri agak ragu. Kemudian berjalan tertatih- tatih di atas titian bambu yang menghubungkan dermaga kapal motor dengan daratan. Di tengah titian dia berhenti dan terkejut melihat seekor biawak melintas di bawahnya. Binatang yang lari berkecipak itu meninggalkan alur berkelok-kelok pada lumpur hitam yang berbau terasi. Di tepi daratan ada warung yang menjual rokok, minuman, dan buah- buahan. Sebetulnya laki-laki itu merasa haus. Tetapi karena tidak terbiasa dengan minuman bersahaja, yakni air asam yang disajikan dalam gelas kotor, maka dia berusaha menahan hausnya. Masalahnya, bagaimana juga dia harus masuk ke warung itu. Dibelinya rokok dan pisang. Sambil makan pisang laki-laki itu mencapai tujuan utama berhenti di warung itu. Kepada pemilik warung dia menanyakan sebuah alamat. Yang ditanyakan oleh Marsusi adalah alamat yang terlalu sering dicari orang pendatang. Pak Tarim. Banyak tetangga merasa heran mengapa begitu sering Pak Tarim menerima orang pendatang. Tarim, laki-laki tua berkepala Semar, demikian juga perutnya. Setiap hari berleha-leha menghadapi gelas besar dengan kue-kue jajan pasar. Penghidupan sehari- hari dipercayakan kepada istri serta anak-anaknya. Anak-anak juga cucunya sudah mempunyai keahlian menangkap udang, kepiting, atau binatang
lainnya untuk campuran bahan terasi. Demikian jorok cara pengumpulan bahan terasi itu schingga orang yang anti terasi sering menuduh bahwa bumbu masakan itu pasti tercampur bekicot dan belatung, bahkan bangkai kadal. Memang di kampung laut itu nama Tarim sering dihubungkan dengan ngelmu. Tetapi hanya orang-orang tua tertentu yang mengetahui pasti ilmu apakah yang dikuasai orang tua itu. Anehnya justru orang luarlah yang mengetahui kekhususan Tarim. Seperti halnya Marsusi. Melalui jalur informasi yang panjang dan berliku-liku sampailah dia kepada Tarim. Menurut seorang teman Tarim-lah orangnya yang bisa membantu Marsusi dalam hal melaksanakan urusan khususnya. Panas udara mulai reda ketika Marsusi diterima oleh Kakek Tarim. Tuan rumah menerima tamunya tanpa emosi meskipun sang tamu adalah orang yang baru pertama dilihatnya dan kelihatan berasal dari kalangan priyayi. Ketika Marsusi memperkenalkan diri, Tarim bahkan sama sekali tidak memperhatikan wajahnya. Hanya kepala Semarnya yang mengangguk- angguk. Lalu mempersilakan Marsusi beristirahat di sebuah kamar yang tertutup. “Silakan beristirahat dulu,” kata Tarim sambil menunjuk kamar yang dimaksud. "Nanti malam sampean baru bisa berbicara. Selamanya aku tak pernah berembuk dengan siapa pun yang berada dalam keadaan lelah.” Marsusi agak terperangah karena dalam kamar yang tak berkursi dan berlantai tikar pandan itu ada seorang tamu lain. Laki-laki yang tengah telentang itu cepat-cepat bangkit begitu Marsusi masuk. Keduanya berpandangan sejenak lalu bertukar senyum dan mengangguk. Naluri masing-masing mengatakan bahwa kedua-duanya sedang menempuh jalan yang sama. Maka antara kedua tamu itu segera tercipta suasana akrab. “Saya Dilam dari Warubosok. Saya datang kemari hendak minta tolong kepada Kakek Tarim. Bapak juga, kan?” Marsusi hanya tersenyum. Dan menyulut rokok. Teman barunya ditawarinya sebatang. Asap rokok membuat keduanya makin akrab seperti telah terjadi persahabatan yang lama sebelumnya. “Nah, apakah persoalan sampean?” tanya Marsusi sambil menyandarkan diri pada dinding bambu. Dilam kelihatan ragu. Rahasia pribadi yang dibawanya dari Warubosok belum seorang pun tahu, belum juga istrinya. Haruskah dia
membocorkannya kepada orang yang baru sekali bertemu? Hati Dilam menolak. Tetapi suasana senasib-sepenanggungan bersama orang yang baru dikenalnya itu mengubah semuanya. Juga, di mata orang dusun seperti Dilam, Marsusi kelihatan begitu berwibawa. Dan bagaimana juga Dilam merasa telah berutang budi; rokok Marsusi sudah diisapnya. “Sebenarnya persoalan saya sangat sepele, Pak. Kerbau!” “Kerbau?” “Benar. Dua ekor kerbau saya mati di kandang, diracun orang.” Marsusi mengangguk, tak ingin menyela cerita Dilam. “Mula-mula pada suatu malam seekor kerbau saya lepas dari kandang. Malam itu juga saya cari ke mana-mana tetapi saya tidak bisa menemukannya. Baru pagi hari saya berhasil menemukan kerbau itu di ladang orang, sedang menumpas tanaman jagung. Saya mengambil bintang itu kemudian pergi ke rumah pemilik ladang. Permintaan maaf saya ditolaknya. Dia juga menolak tawaran saya tentang ganti rugi. Nah, saya sudah berniat baik, tetapi dua malam berikutnya kerbau saya mati dua ekor. Bukan main sakit hati saya, Pak.” “sampean yakin kerbau-kerbau itu mati termakan racun?” “Iya, Pak. Sejak kecil saya tidak pernah berpisah dengan kerbau. Saya tahu bahwa kerbau hanya berak di tempat-tempat tertentu. Saya juga tahu kerbau yang ingin kawin, yakni bila binatang itu mulai mengasah pantatnya ke tiang kandang. Apalagi tentang kerbau yang sakit. Nah, kerbauku mati mendadak. Mulutnya berbusa. Setelah dipotong dan isi perutnya dikeluarkan tercium ban racun. Isi perut itu kami buang ke kolam dan ternyata ikan-ikan mati. Jadi apa lagi kalau bukan racun?” “sampean juga yakin bahwa pemilik ladang itulah yang meracuni kerbau sampean?” “Kalau bukan dia, siapa lagi?” Marsusi tersenyum dan mengangguk demi menyenangkan lawan bicaranya. Ganti Dilam yang bertanya tentang persoalan yang dibawa oleh kepala perkebunan karet itu. Tetapi Marsusi menghindar dengan cara melorotkan tubuhnya hingga sampai pada posisi tidur. Mata dipejamkan pura-pura mengantuk. Dan kelelahan serta angin laut yang menerobos masuk ke bilik tamu itu membuatnya benar-benar tertidur. Ketika terbangun beberapa jam kemudian Marsusi mendapati kamar sudah diterangi lampu minyak. "Jam tujuh malam,” desisnya setelah
melihat jam tangannya. Marsusi bangkit. Kakinya hampir menyentuh gelas. Ternyata bukan hanya ada gelas-gelas, melainkan juga piring-piring berisi nasi dan lauk-pauknya. Semuanya tidak mampu membangkitkan selera Marsusi. Lidahnya sudah terbiasa dengan makanan yang lebih baik. Gelas Dilam tinggal berisi setengahnya. Tetapi ke manakah orangnya? Pertanyaan itu terjawab oleh suara dua orang yang sedang bercakap- cakap di dalam rumah. Marsusi dapat memastikan dua orang itu adalah Dilam dan tuan rumah. Tergerak oleh rasa ingin tahu Marsusi keluar dari bilik. Ternyata ruang depan tanpa lampu. Sepi, bahkan tak terdengar suara anak-cucu Tarim maupun istrinya. Marsusi, perlahan-lahan, duduk di kursi yang paling dekat dengan asal suara di balik dinding. * * * Di ruang dalam Dilam duduk berhadapan dengan Tarim. Kali ini wajah Tarim bersungguh-sungguh. Setiap ucapan tamunya ditanggapi dengan kening berkerut serta kedua alis yang hampir bertemu. “Sekali lagi, pikirlah dahulu, Nak. Ini persoalan nyawa. Dan saya akan membebankan seluruh tanggung jawab pada diri sampean,” kata Tarim sambil memandang tajam ke arah bola mata Dilam. “Hati saya sudah bulat, Kek. Saya bersedia menerima segala akibatnya.” “Akibat di dunia dan di alam kelanggengan nanti?” “Ya, Kek.” “sampean mengerti bahwa urusan semacam ini juga akan berakibat buruk kepada anak-cucu sampean?” Dilam tidak segera memberi tanggapan. Kini wajahnya menunduk, sejenak berhenti bernapas. Saat itu rasa sakit hati karena permintaan maafnya ditolak pemilik ladang menyengat kembali. Dalam rongga matanya terbayang dua ekor kerbau kesayangannya terkapar. “Saya tidak berpikir jauh ke sana, Kek. Urusan nanti bagaimana nanti saja. Pokoknya begitulah tekad saya.” “Aku tidak biasa tergesa-gesa, Nak. Nah, pikirlah kembali. Keluarlah, siapa tahu udara di luar bisa mengubah pikiran sampean.”
Meskipun merasa enggan, namun Dilam bangkit juga. Tidak diketahuinya pada saat yang lebih cepat Marsusi berjingkat kembali ke biliknya. Udara di luar memang lebih dingin. Dilam memandang langit yang masih merona merah di barat sisa mambang petang. Nyamuk luar biasa banyak sehingga Dilam tak pernah berhasil menenangkan dirinya. Tak mengapa, karena setidaknya Dilam bisa mengingat kembali sepenuhnya kata-kata Tarim. Mestinya semuanya benar. Lepas dari kenyataan bahwa kakek itu menikmati upah dari ilmu hitamnya, toh dia kelihatan bersungguh-sungguh mencegah orang membuat celaka sesamanya. Atau seperti yang pernah didengar oleh Dilam sendiri bahwa Tarim akan menerima dengan ikhlas pengunduran diri seseorang yang semula datang dengan maksud minta bantuan buat membinasakan orang lain. Masalahnya tinggal pada nurani Dilam untuk menerima sinar terang. Ternyata kesumat yang mengendap dalam hati laki-laki dari Warubosok itu lebih pekat. Kata-kata sendiri yang tadi terucapkan di depan Tarim bergema kembali. "Urusan nanti, bagaimana nanti saja!” Dilam masuk kembali menghadap Tarim. Wajahnya malah bertambah gelap. Sambil duduk dilepasnya napas banyak-banyak. “Bagaimana, Nak?” “Saya tetap pada pendirian semula. Sudahlah, Kek. Pokoknya semua ini atas tanggung jawab saya.” “Baiklah kalau begitu.” Tarim bangkit meninggalkan tamunya. Seperempat jam kemudian dia muncul lagi membawa sebuah cawan berisi air bening dan sehelai kain mori. Setelah terpapar di atas meja Dilam baru melihat ada sebuah jarum berekor benang terselip pada kain mori. Tak urung hati Dilam terkesiap melihat benda-benda yang mendadak berpengaruh magis itu. Kakek Tarim duduk. Entah mengapa napasnya terengah-engah. Keningnya mengkilat oleh titik keringat. Jarum dipegang pada ekor benangnya, diayun-ayun memutar tepat di atas cawan. Ayunan dihentikan. Jarum yang masih berpusing-pusing itu ditunggunya sampai berhenti. Kemudian dijatuhkan tepat di tengah air dalam cawan. Air seperti mendidih dan Tarim cepat menutup cawan itu dengan kain mori. Sesaat kemudian terdengar suara gemercik. Kain mori itu disingkapkan. Airnya masih bening tetapi jarum berekor benang itu telah lenyap.
“Kirimanmu sudah berangkat,” kata Tarim. Ketegangan pada wajahnya mengendur. Dengan ujung baju dilapnya keringat yang mengucur deras. Sementara itu Dilam sendiri belum bisa melepaskan diri dari kebisuan yang sebenar-benarnya. Dan Dilam terperanjat ketika terdengar lagi suara berkecipak dari dalam cawan yang tertutup mori. Tarim membukanya. Mata Dilam membulat melihat air dalam cawan sudah berubah. Jarum berekor benang kelihatan lagi, mengkilat dalam cairan yang lambat-laun menjadi merah. Darah mengental pada ekor benang itu, larut perlahan-lahan merata dalam cairan. “Hem, selesai,” kata Tarim sambil mengemasi perkakasnya. "Sekali lagi, Nak. Semua ini terjadi atas tanggung jawab sampean sepenuhnya. Kalau besok cepat pulang ke Warubosok sampean bisa melihat penguburan mayat seteru sampean itu.” Yang terkesan dari wajah Dilam adalah perasaan puas sekaligus ngeri. Orang Warubosok itu tak mampu berkata-kata. Dirasakannya keringat meleleh di tengkuknya. Melihat Dilam yang pucat dan agak gemetar Tarim tersenyum. Kakek itu sudah hapal. Itulah perilaku kebanyakan tamu yang datang kepadanya. “Agar sampean tidak gemetar seperti itu hanya ada satu cara. Usahakan sekeras-kerasnya rasa benar di hati sampean. Bahwa musuh sampean mendapat celaka akibat ulah sendiri; tanamkan keyakinan itu kuat-kuat pada diri sampean.” Dilam mengundurkan diri dengan kegoncangan hati yang tidak bisa disembunyikan. Dalam bilik tamu didapatinya Marsusi sedang menengadah, tidur di lantai bertikar. “Sudah?” tanya Marsusi dengan senyum. Jawaban Dilam adalah air muka yang kosong hambar. “Masih adakah perahu motor menghilir ke Cilacap? Aku ingin secepatnya pulang,” ujar Dilam. Mendengar cakap temannya yang ngelantur Marsusi sekali lagi tersenyum. Sebab sesungguhnya dirinya pun mulai diliputi ketidakpastian. Dia mendengar seluruh percakapan antara Dilam dengan Kakek Tarim; sesuatu yang tidak boleh tidak telah membuat bulu kuduknya meremang. Marsusi merasa yakin temannya, seperti dirinya juga, dihantui oleh perasaan tidak nyaman.
Kedua penghuni bilik tunggu itu berdaulat dalam pikiran masing- masing. Dilam telentang berbantal tangan, matanya menerawang jauh menembus atap, membayangkan seterunya tiba-tiba terbatuk dan muntah darah. Disusul hiruk-pikuk dalam kegawatan yang amat sangat. Jerit istri dan anak-anaknya. Seruan minta tolong kepada tetangga. Tangis yang ramai dan berkepanjangan. Galau suara laki-laki dan perempuan. Dan akhirnya sesosok mayat diam di atas balai-balai tertutup kain dari ujung kaki hingga kepala. Orang-orang yang semula tercekam kepanikan mulai duduk. Dilam seakan mulai mendengar mereka berspekulasi tentang sebab malapetaka. Tak ayal lagi, pergunjingan akan sampai kepada masalah kiriman. Dilam gelisah. Kegelisahan itu makin terasa mengusik hati ketika terbayang kembali olehnya pemandangan dalam cawan putih itu. Ada darah kental yang larut perlahan-lahan dalam air bening. Marsusi duduk berselonjor dengan punggung lekat pada dinding bilik. Rokoknya mengepul. Dia sama sekali tidak memperhatikan Dilam yang kelihatan begitu gelisah. Namun sebenarnya Dilam-lah yang sedang menjadi titik pusat permenungannya. Tak salah lagi Dilam pastilah seorang petani. Dia berasal dari kaum yang selama ini dianggap sebagai simbol sisa keluguan, kejujuran, bahkan keutuhan kemanusiaan. Tetapi mengapa si tani yang dungu itu memiliki keberanian menumpahkan darah meski secara tidak langsung, melalui jalan yang tidak bisa diterangkan dengan akal - petani sesamanya? Kearifan yang segera diperoleh Marsusi dari permenungan sesaat itu adalah sebuah pelajaran sederhana, bahwa rasa dendam mampu membinasakan martabat kemanusiaan. Juga di antara dua orang dusun yang masih terikat pada keserbaluguannya. Dan Marsusi terkejut ketika sadar dirinya kini berada hanya beberapa jengkal dari Dilam. Dan dia berada dalam bilik itu, terus terang dalam rangka tujuan yang sama. Bila Dilam telah mencelakakan pemilik ladang yang telah meracuni kerbaunya, maka Marsusi akan membuat celaka seorang anak Dukuh Paruk yang telah mempermalukannya, menampik hajatnya. Pandangan mata Marsusi baur. Terbayang olehnya Srintil memegang dada sambil terbatuk mengeluarkan darah segar. Ada beling dan paku-paku berhamburan dari mulutnya. Matanya terbeliak mengerikan. Kemudian
terbayang keranda diusung menuju pekuburan diiringi tangis semua warga Dukuh Paruk. Marsusi menggeleng-gelengkan kepala. Menelan ludah dan membunuh rokoknya di lantai. Seperti halnya Dilam, pada saat itu pun Marsusi ingin segera pulang. Tetapi bayangan Stintil ketika menampiknya kelihatan lagi di depan mata. Urat-urat pipinya menggumpal. Pada saat itu terdengar suara dari dalam. Kakek Tarim memanggilnya. Seperti orang yang kehilangan kepastian Marsusi bangkit. Dilam memandangnya sambil tetap telentang. Ah, mata orang Warubosok itu! Seakan ada sesuatu yang minta diterjemahkannya. Sayang lampu minyak itu tidak mempunyai cukup cahaya buat memantulkan kembali makna yang terkandung dalam sinar mata Dilam. Sementara itu suara panggilan terdengar kembali buat kali kedua. Marsusi menyeberang ruang depan dan membuka pintu yang menuju ruang dalam. “Silakan duduk,” sambut Tarim dalam gaya yang paling ayem dan acuh. "Sekarang terangkan maksud kedatangan sampean.” Setelah terbatuk beberapa kali, Marsusi menceritakan kembali pengalamannya di Dukuh Paruk kira-kira dua minggu sebelumnya. Nada suaranya santun, tanpa emosi; satu hal yang menarik perhatian tuan rumah. Tarim sudah terbiasa dengan bicara orang mengadu, mengeluh, dan penuh dendam. Tetapi hal itu tak terbersit dalam pembicaraan Marsusi. Tiba-tiba Tarim tersenyum, membuat Marsusi berhenti berbicara. “Srintil, Nak?” “Ya, Kek.” “Ah.” “sampean mengenalnya, Kek?” “Benar. Dia seorang ronggeng yang bisa membuat orang geregetan, bukan? Aku sudah pernah menontonnya. Ah, memang. Dan dia telah mempermalukan ,I>sampean yang gagah begini.” Marsusi tersipu, dibalas oleh Tarim dengan tawa terkekeh. “Ah, memang tidak enak dibikin malu, apalagi oleh seorang ronggeng cantik. Lalu sampean mau apa?” “Tentu saja aku ingin membalasnya, bahkan melenyapkannya. Aku tahu betul Srintil menerima semua laki-laki yang datang sebelum saya demi uang yang tak seberapa atau demi satu-dua gram emas, Tetapi dia menampikku, padahal seratus gram kalung emas berbandul berlian yang
kusodorkan kepadanya. Mau disebut apa lagi kalau bukan penghinaan yang sebesar-besarnya. Tetapi, Kek...” “Tetapi?” “Pikiran saya berubah sekarang.” “Ah, biarlah dia.” Marsusi tersenyum tawar. Tetapi Kakek Tarim terkekeh-kekeh. “Karena, kalau Srintil melirik sambil pacakgulu, jantungmu rontok, bukan? Karena, kalau Srintil melempar sampur, hatimu terbeset, bukan?” Tarim menyambung tawanya lebih keras. Perut semarnya bergejolak. Bibirnya yang tumpul pada kedua ujungnya tertarik ke belakang sehingga tak salah lagi; Semar. “Ah, ya! Mestinya semua orang seperti sampean; tak usah ragu mengubah pikiran bila disadari pikiran yang dimaksud tidak baik. Mengapa masih saja orang datang kemari dengan tujuan mencari pelampiasan dendam, bahkan kadang hanya karena rasa iri terhadap sesama. Mereka mengira dengan melampiaskan dendam maka urusannya selesai. Nah, mereka keliru. Dengan cara itu bahkan mereka memulai urusan baru yang panjang dan lebih genting. Di dunia ini, Nak, tak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Maksudku, tak suatu upaya apa pun yang bisa bebas dari akibat. Upaya baik berakibat baik, upaya buruk berakibat buruk. “Lebih aneh lagi, Nak. Orang yang sudah tahu akan akibat buruk tetapi masih juga berani mengambil risiko.” Marsusi mendengarkan khotbah Tarim dengan minat yang penuh. Bukan hanya karena dia menangkap kebenaran dalam khotbah itu, melainkan secara pasti dia merasakan adanya kepura-puraan yang nyata. Seorang tukang sihir berkhotbah tentang nilai-nilai budi luhur! Keganjilan yang terasa di hati Marsusi mengambang menjadi garis-garis tanda tanya pada wajahnya, pada sinar matanya. Sasmita ini terekam oleh indria Tarim. Dia tanggap sasmita. “Nah, saya ini, Nak, bisa diibaratkan sebagai tukang membuat bedil. Dia tahu betul bedil hanya dibuat untuk satu tujuan; memisahkan nyawa dari badan. Mestinya tak perlu ada orang membuat bedil supaya setiap mayat yang dikubur adalah dia yang mati wajar. Dan itu baik. Nah, ternyata kehidupan ini seperti demikian adanya. Aku hanya Kakek Tarim. Aku tak berdaya mengubah arah kehidupan, bahkan aku tak kuasa menghindar dari garis yang telah ditentukan buat diriku.”
“Ya. Dan untunglah, setidaknya aku telah berhasil mengubah niatku,” kata Marsusi setelah beberapa kali mengangguk. Tetapi dia kaget karena Tarim menertawakannya, ditambah dengan pandangan mata menyindir. “sampean memang beruntung. Tetapi yang baru sampean lakukan adalah mengubah niat. Pelaksanaannya tidak gampang, Nak. Betulkah sampean telah berhasil menghapus dendam sehingga hati sampean bersih dan putih seperti daging buah kelapa? Aku tidak yakin, Nak.” Tarim menatap wajah tamunya, lama dan menghunjam. Marsusi merasa tersinggung. Tetapi tak bisa berbuat lain kecuali diam dan mempertanyakan kembali apa yang ada dalam hatinya. “Coba, Nak. Sekarang sampean mengaku telah memaafkan Srintil, ronggeng Dukuh Paruk itu. Bagaimana masalahnya bila suatu ketika sampean melihat Srintil menjadi buah pujaan ratusan orang dalam suatu pentas? Dan, bagaimana halnya bila suatu saat sampean mendapati Srintil bergendak dengan laki-laki yang pada dasarnya lebih rendah daripada diri sampean? Betulkah dendam sampean kepadanya tidak akan kembali kumat?” Marsusi tergagap oleh pertanyaan beruntun itu. Dan tatapan mata itu. Tatapan mata yang penuh keyakinan diri. Marsusi dibuatnya merasa kecil. “Aku ini sudah tua, Nak. Jangan-jangan aku lebih menguasai persoalan sampean dan lebih tahu apa yang sebaiknya sampean lakukan sekarang.” “Boleh jadi begitu, Kek. Maka tidak salah aku sampai ke tempat ini.” “Baiklah. Dalam hal diri sampean yang ternyata belum setua diriku maka balaslah sakit hati sampean. Asal adil. sampean telah dipermalukan, bukan?” Marsusi mengangguk seperti anak kecil. “Maka balaslah kembali dengan mempermalukannya. Hanya dengan cara itu sampean bisa membebaskan diri dari rasa dendam. Mungkin juga sampean bahkan bisa melupakan Srintil buat selama-lamanya. Sekali lagi, membalas dendam yang adil adalah dengan cara sama: mempermalukannya. Bukan menyakiti badan, apalagi membahayakan jiwanya.” “Saya sudah mengerti, Kek. Tetapi bolehkah saya bertanya?” “Lha, mengapa tidak?” “Andaikan yang telah mempermalukan diriku bukan Srintil, apakah sampean tetap pada kata-kata yang sama?”
Pertanyaan balik yang dilontarkan Marsusi ini membuat wajah Tarim sedikit menegang. Apabila yang dihadapinya bukan seorang kepala perkebunan tentu kemarahannya meletus. Atau, tentu saja. Karena menyadari derajatnya Marsusi berani bertanya kepada orang pandai itu. Tarim maklum. Bibirnya yang tebal dan tumpul merekah senyum. “Wah, saya harus berkata jujur. Begini, Nak. Srintil dalam kenyataannya bukan hanya milik orang tuanya, sanak saudaranya, bahkan bukan hanya milik Dukuh Paruk bersama kelompok ronggengnya. Dia milik semua orang. sampean juga, aku juga. Maka membuatnya tertalu celaka akan berakibat lebih buruk dari apa yang bisa kita duga. Ini sangat tidak baik, terutama bagi sampean sendiri. Percayalah!” Marsusi mengakui dirinya kalah. Tetapi lega. Selanjutnya dia lebih banyak menganggukangguk menerima petunjuk Tarim. Ketika pertemuan dua orang itu berakhir, angin darat mulai bertiup. Meski nyamuk luar biasa banyak serta tidur di atas amparan tikar, Marsusi lelap hingga pagi. Sayang, beberapa kali dia dikejutkan oleh Dilam yang tidur gelisah dan sering mengigau./-bp./ * * * * Kegembiraan itu lahir dan berkembang dari Dukuh Paruk. Berita cepat tersiar bahwa pada malam perayaan Agustusan nanti Srintil akan kembali meronggeng. Kurang dua hari lagi, tetapi sudah banyak orang bersiap-siap. Anak-anak mulai bertanya tentang uang jajan kepada orang tua mereka. Para pedagang, dari pedagang soto sampai pedagang pecel bersiap dengan modal tambahan, juga tukang lotre putar yang selalu menggunakan kesempatan ketika banyak orang berhimpun. Nyai Kartareja segera memperbaiki hubungannya dengan Srintil, pertama-tama dengan berusaha mengaku bersalah dalam peristiwa Marsusi beberapa minggu berselang. Perubahan sikapnya terhadap Srintil sangat nyata. Dia tidak berkamu lagi terhadap ronggeng Dukuh Paruk yang telah sekian lama menjadi anak akuannya. Nyai Kartareja kini memanggil Srintil
dengan sebutan Jenganten atau setidaknya sampean; suatu pertanda bahwa kedewasaan, tepatnya kemandirian Srintil telah diakuinya. Srintil seperti hendak menjadi temanten laiknya. Dia dipingit oleh Nyai Kartareja. Badannya dilulur untuk memulihkan keremajaan kulitnya. Sebelum berangkat tidur Nyai Kartareja memintanya mengunyah satu-dua butir merica agar suaranya tetap lantang dan jernih. Pakaian pentasnya dicuci secara istimewa. Sementara itu Nyai Kartareja tidak perlu lagi mencari jelaga dan getah pepaya buat penghitam alis, juga tak perlu lagi menyuruh Srinitil mengunyah sirih sebelum naik pentas. Kios Pak Simbar di pasar Dawuan sudah menyediakan gincu, pensil rias, dan sebagainya. Selagi istrinya mengurus Srintil, Kartareja menyiapkan perangkat calung. Penabuh-penabuh dihubungi dengan pesan agar nanti menampilkan permainan terbaik. Calung-calung yang sudah lama tidak terpakai diperbaiki. Diteliti kalau ada temalinya yang putus. Ada orang datang, entah siapa. Kepada Kartareja orang itu mengaku anggota panitia. Dia menyodorkan kertas berisi catatan lagu. Tetapi karena Kartareja buta huruf orang itu membacakan untuknya. Ternyata lagu-lagu itu semua sudah dihafal oleh dukun ronggeng itu. Hanya di sana-sini ada pergantian kata atau kalimat. Kartareja merasakan keanehan karena dalam lagu-lagu itu diselipkan kata "rakyat" dan "revolusi", kata-kata mana terasa kurang akrab dalam hatinya. Tetapi Kartareja tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Baginya menuruti kata priyayi atau orang yang seperti itu merupakan salah satu kebajikan dalam hidup. Boleh jadi hanya Sakarya yang tidak sepenuhnya larut dalam kegembiraan. Sikapnya yang hati-hati berasal dari filsafatnya yang sederhana. Bagiya segala sesuatu berpasang-pasangan adanya, tak terkecuali sesuatu yang bernama kegembiraan. Pasangannya pastilah kesusahan. Sepanjang lintasan hidupnya yang panjang Sakarya sering menemukan kenyataan bahwa segala sesuatu tak pernah berpisah jauh dari pasangannya. Orang selalu memilih pihak yang menguntungkan dan menjauhi pihak yang merugikan. Antara keduanya harus tetap terjaga jarak. Dan dalam pikiran Sakarya menjaga jarak itu berarti harus selalu bersikap hati-hati, eling. Kadang juga diartikannya sebagai keseimbangan dan tidak berlebih-lebihan. Jadi Sakarya tidak ikut berhura-hura. Persiapannya menyambut kembali pementasan Srintil lebih ditekankan pada segi kejiwaan. Lebih sering
memasang sesaji di dekat makam Ki Secamenggala, lebih banyak terjaga di malam hari serta mengurangi makan-minum. Srintil diperintahkannya dengan sangat ngasrep pada hari kelahirannya. Perayaan Agustusan tahun 1964 itu dimulai dengan upacara pagi hari di lapangan kecamatan Dawuan. Pemandangan dikuasai oleh kain rentang dengan tulisan macam-macam. Ada yang direntang di antara pohon-pohon, tetapi lebih banyak yang ikut masuk ke lapangan yang padat manusia. Gelombang ribuan kepala memberi gambaran seperti pemandangan di ladang tembakau yang ditiup angin. Acungan seribu tangan yang diiringi pekik gempita hanya dapat diandaikan kepada petir yang terjadi di hutan jati meranggas. Semua yang berpidato mengerahkan habis-habisan tenaga urat lehernya. Agitasi, propaganda, serta slogan kutukan membakar seluruh lapangan dalam kepalan ribuan tangan serta riuhnya bunyi tambur. Semua orang tegak dalam harga diri yang tertempa seketika oleh retorika para pembicara. Semua orang menggenggam semangat meluap yang setidaknya mampu mengalahkan siksaan yang datang dari sinar matahari yang mulai terik. Gadis-gadis remaja yang biasa malu bersuara keras atau bertingkah seperti laki-laki, larut dalam semangat massa yang meluap. Mereka tidak ketinggalan mengepal tangan dan berteriak. Dan puncak hura-hura itu meledak ketika sebuah patung kelaras jagung yang diberi kopiah serta kaca mata dibakar massa. "Gembong musuh rakyat telah jadi abu!” teriak seorang pemuda. Matanya merah berkaca-kaca karena letupan emosi dalam dirinya. Sakum mendukung anak pada pundaknya. Dia berdiri di bawah pohun sengon, menjadi titik ironi di tengah galau manusia. Baru sekali ini Sakum mengutuk dirinya yang buta. Baru sekali ini Sakum gagal menerjemahkan suara dan suasana yang terekam oleh sisa indrianya. Padahal Sakum sudah biasa melihat meriahnya pentas ronggeng dengan jiwa, bukan dengan matanya. Sakum juga mampu melihat kepanikan semua orang bila datang angin ribut. Atan kecemasan anak istrinya ketika petir menyambar. Dia juga mampu menangkap ceria wajah anak-anak bila gumpalan nasi di depan mereka lebih besar dari kepalan tangan.
Tetapi Sakum tidak berputus asa. Melalui denyut nadi anak yang bertengger di pundaknya Sakum terus mencoba mengikuti dan mencari makna hiruk-pikuk yang sedang terjadi di sekelilingnya. Bila denyut nadi anaknya mencepat Sakum mengerahkan kemampuan indrianya yang tersisa. Terkadang juga Sakum menyadap saraf mata anaknya. “Apa yang kaulihat, Nak?” “Wah! Merah, merah, Pa. Bapa tidak melihat ya?” “Apa yang merah?” “Semua, banyak sekali. Orang-orang bertopi kain merah. Bendera- bendera merah. Tulisan-tulisan merah. Eh, ada juga yang hitam, hijau, dan kuning. Wah, bagus sekali, Pa.” “Siapa yang berpidato?” “Tidak tahu.” “Mari kita mendekat barisan kuda lumping.” “Wah, panas, Pa. Tetapi tak mengapa, asalkan...” “Hah?” “Es, Pa. Haus.” “Tak ada uang lagi, Nak. Habis.” “Wah, jangan bohong. Tadi sebelum berangkat kulihat Srintil memberimu uang. Iya, kan? Kalau bukan es, air asem juga boleh. Haus, Pa.” Sakum mengalah. Anaknya diturunkannya dari pundak. Begitu menginjak tanah, anak itu menyeret ayahnya ke arah pedagang minuman. Sakum juga minum. Setelah membayar dan menerima uang kembali, Sakum jongkok. Anaknya yang tangkas kembali bertengger di atas pundak. “Ayo, tunjukkan aku jalan ke dekat barisan kuda lumping.” “Punten, punten,” seru anak Sakum dari atas pundak ayahnya. Barisan orang yang padat menyisih membuka jalan. Hampir semua orang mengenal siapa laki-laki buta yang mendukung anaknya di pundak itu. Tetapi anak Sakum yang baru berusia enam tahun itu sudah pintar memanfaatkan kebutaan ayahnya. Sakum tidak digiringnya ke arah barisan kuda lumping melainkan ke arah pedagang balon di sudut lapangan. Meskipun tak mungkin baginya memiliki permainan yang mengagumkan itu, dia setidaknya berkesempatan melihatnya sepuas hati. “Asu buntung! Kaubawa ke mana aku ini?” tanya Sakum sengit. “Ke dekat barisan kuda lumping.”
“Mampus kamu! Ini bukan dekat barisan kuda lumping. Bau busuk ini pasti ulah tukang balon gas, bukan?” Anak itu tertawa lalu memutar kepala ayahnya. “Punten, punten.” Upacara diakhiri dengan pawai. Gempita dan kepalan tinju menjalar ke segenap penjuru kota kecamatan itu. Dua-tiga anak sekolah yang jatuh pingsan karena sengatan matahari tidak mengurangi sedikit pun gelora massa. Menjelang tengah hari segala keramaian surut. Dawuan kembali sepi, bahkan pasarnya lebih sepi dari hari biasa. Bersama orang-orang Dukuh Paruk, Sakum pulang. Anaknya tidak lagi didukung di atas pundak. Kini anak itu menjadi tongkatnya. Dalam dunianya yang gelap Sakum masih mencoba memahami keramaian yang baru saja diikutinya. Semua orang tahu perayaan Agustusan tahun ini luar biasa ramai. Jauh lebih ramai daripada tahun-tahun sebelumnya. Bagi Sakum hura-hura hari ini tanpa makna betapapun keras dia berusaha menangkapnya. Dia sudah mendengar, bukan mengerti, bahwa perayaan hari ini demi mengagungkan hari kemerdekaan, bukan kemerdekaan itu sendiri. Sementara itu konsep tentang kemerdekaan baginya adalah bagian dari antah-berantah. Baginya hidup ini harus dijalani dengan pasrah, dengan atau tanpa apa yang sering dikatakan orang kemerdekaan. Mengapa Sakum tidak tahu bahwa teman-temannya sesama orang Dukuh Paruk tidak lebih beruntung meski mata mereka awas? Mereka juga tidak menangkap makna istimewa yang dibawa hari ini, sejarah hari ini. Mereka tidak mengerti makna pidato, tanda-tanda gambar partai, atau slogan-slogan yang telah dilihatnya memenuhi lapangan kecamatan Dawuan. Bukan hanya karena mereka sepenuhnya buta huruf. Lebih dari itu. Dalam tradisi hidup mereka ikatan kesetiaan dan kebersamaan nyaris tak pernah menerobos ke luar batas Dukuh Paruk. Politik dalam sisi pandang yang paling bersahaja tak pernah muncul di pedukuhan terpencil itu. Tatanan hidup mereka adalah tradisi yang berdasar pada ikatan darah keturunan. Kesetiaan mereka berpusat pada cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengah Dukuh Paruk, makam Ki Secamenggala. Dan kedaulatan Dukuh Paruk digembalakan oleh seorang kamitua.
Suatu ketika datang seseorang ke Dukuh Paruk menawarkan gambar- gambar partai. Dikatakannya gambar itu adalah perlambangan rakyat tertindas. Mula-mula Sakarya tertarik karena orang pendatang itu sering kali dan berulang-ulang menyebut kata "rakyat". Kata itu bagi Sakarya tidak bisa lain kecuali bermakna kaula. Siapa pun di Dukuh Paruk merasa dirinya kaula. Tetapi Sakarya kemudian bangkit menghentikan cakap orang pendatang itu ketika dia mulai berbicara tentang rakyat melarat korban kaum penindas yang jahat. “Siapakah yang sampean maksud dengan rakyat korban kaum penindas itu?” “Nah! Misalnya sampean sendiri bersama semua warga Dukuh Paruk ini. Darah kalian diisap habis sehingga hanya tertinggal seperti apa yang kelihatan sekarang; kemelaratan! Ditambah dengan kebodohan dan segala penyakit. Kalian mesti bangkit bersama kami.” “Nanti dulu. Menurut sampean kami adalah rakyat yang tertindas. Apa sampean tidak keliru? Kami sama sekali tidak merasa tertindas, sungguh! Sejak zaman dulu kami hidup tentram di sini.” “Itulah. sampean tidak mengerti bagaimana cara mereka melakukan penindasan terhadap rakyat. Sejak zaman nenek moyang sampean, kaum penindas itu telah melakukan kejahatannya. Cara mereka telah menyejarah. Lihatlah akibat kejahatan mereka di sini. Semua orang kurang makan! Semua orang bodoh dan sakit. Anak-anak cacingan dan kudisan. Anak-anak kalian di sini sungguh-sungguh hidup tanpa harapan.” “Yang sampean maksud dengan kaum penindas?” “Kaum imperialis, kapitalis, kolonialis, dan para kaki tangannya. Tak salah lagi!” “Wah, kami bingung, Mas. Kami tak pernah mengenal mereka. Cerita sampean kedengaran lucu. Pokoknya begini, Mas. Sejak dulu beginilah yang bernama Dukuh Paruk. Kami senang hidup di sini, karena itulah kepastian yang kami terima. Kami tak pernah percaya ada sesuatu yang lebih baik daripada kepastian itu. Dan kekeliruan besar bila sampean berharap akan mendengar keluhan kami. Boleh jadi benar kami bodoh, miskin, dan sakit. Tetapi itulah milik kami pribadi. sampean tak usah pusinig memikirkannya. Lucu, kan? Kami sendiri merasa biasa-biasa saja. Kenapa orang lain mesti repot?”
“sampean yang lucu karena tidak tahu dan tidak mau tahu akan sejarah?” “Wah, sekarang sejarah. Apa pula itu, Mas” “Sejarah itu sesuatu yang amat perkasa. Kalian tidak bisa menolak apalagi melawannya. Dan sampean akan digilasnya bila tetap diam dalam ketololan. Tunggu saja!” “Yang paling perkasa itu yang murbeng dumadi, Mas. Yang telah menentukan kami hidup di Dukuh Paruk ini, yang telah memastikan hidup kami seperti ini.” Jadi Dukuh Paruk masih tetap Dukuh Paruk meskipun pada tahun 1964 itu dunia di luarnya sedang berhura-hura. Pidato di mana-mana. Gambar- gambar simbol partai di mana-mana dan pawai di mana-mana. Dukuh Paruk tetap tenang ditunggui oleh cungkup di puncak sebuah bukit kecil di tengahnya. Atau sekedar Sakarya, kamitua pedukuhan kecil itu yang tak pernah lengah membaca sasmita alam. Dia merasakan datangnya hari-hari beringas. Hari-hari ketika orang-orang meninggalkan pekerjaan buat berhimpun di tanah lapang. Hari-hari ketika jalan penuh manusia mengepal tangan serta teriakan lantang. Semuanya mengingatkan Sakarya akan sebatang pohon kelapa yang ditiup angin. Bila angin bertiup dari utara pohon itu akan meliuk ke selatan. Bila angin reda pohon kelapa itu tidak langsung kembali tegak melainkan akan berayun lebih dulu ke utara. Bagi Sakarya hura-hura di luar Dukuh Paruk adalah angin kencang yang meniup kehidupan. Seperti pohon kelapa itu: sebelum kehidupan kembali tenang lebih dulu harus terjadi sesuatu. Tetapi sesuatu itu tak bisa diraba oleh daya pikir siapa pun di Dukuh Paruk, tidak juga Sakarya. Padahal sepanjang hidupnya yang tidak pernah berhenti dari mengikuti irama dan keberimbangan alam, Sakarya telah memperoleh cukup kearifan. Bahwa suatu keluarbiasaan harus dibayar dengan kerusakan keberimbangan. "Jangan tertawa terlalu terbahak-bahak, sebab nanti akan segera menyusul tangis sedih,” demikian sering dikatakan Sakarya kepada anak-cucunya di Dukuh Paruk. Entahlah. Yang terjadi malam itu di Dukuh Paruk adalah kegembiraan yang luar biasa. Hampir semua warganya keluar mengiring Srintil yang hendak meronggeng pada malam perayaan Agustusan di Dawuan. Inilah
penampilan pertama ronggeng Dukuh Paruk pada sebuah arena resmi; suatu hal baru yang membawa kebanggaan istimewa. Malam itu semangat kota kecil Dawuan berpusat di lapangan sepak bola dekat kantor kecamatan. Sebuah panggung yang lebar, setinggi satu meter didirikan orang pada salah satu sudutnya. Dawuan belum mengenal aliran listrik. Tetapi malam itu banyak sekali lampu neon di sekitar panggung. Suara generator yang bising, anehnya, mendatangkan kebanggaan orang. Rupanya semua orang melupakan suara bising karena toh dari sanalah tenaga bagi lampu-lampu neon yang mengagumkan itu. Bagi sebagian besar orang yang menyemut di sekitar lapangan adalah sesuatu yang luar biasa, ada cahaya terang-benderang tetapi tanpa minyak. Rombongan dari Dukuh Paruk disambut dengan sinar mata serta wajah- wajah berseri. Para penabuh dengan perangkat calungnya diterima panitia. Mereka ditempatkan di belakang panggung. Tetapi Srintil bersama Nyai Kartareja dipersilakan duduk bersama ibu-ibu pejabat kecamatan Dawuan. Srintil menemukan dirinya kembali utuh sebagai seorang ronggeng yang telah matang. Suasana panggung yang megah menghidupkan seluruh permukaan kulitnya. Dan cahaya matanya. Barangkali pada saat itu baru kali pertama indang ronggeng benar-benar merasuk sepenuhnya. Dari sosoknya terpancar wibawa dan pesona luar biasa. Dia duduk tenang, setenang kembang soka di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Pandangan matanya adalah cahaya penuh harga diri, mantap, dan dalam ketenangan pandangan mata itu terpancar tenaga yang melumpuhkan. Srintil sesudah berusia delapan belas adalah Srintil yang telah mengalami perihnya upacara bukak-klambu, juga sudah merasakan getirnya ditampik laki-laki idaman. Pada usia semuda itu Srintil juga sudah menjelajahi dunia perhubungan dengan sekian puluh lelaki. Dan jauh sebelum itu tanah airnya, Dukuh Paruk, telah menempanya dalam kemiskinan yang mengakar. Sejarahnya pahit yang pasti layak membuatnya kusut, malu, dan tanpa harga diri. Apalagi saat itu Srintil duduk di antara kaum perempuan yang paling bermartabat di kecamatan Dawuan. Sorot neon pertama di Dawuan menjadi saksi bahwa yang terjadi pada diri Srintil adalah sesuatu yang khas Srintil. Latar sejarahnya yang melarat dan udik ibarat beribil. Tahi kambing itu meski busuk dan menjijikkan namun mampu menyuburkan daun-daun tembakau di tanah gersang, tidak tercabik-cabik oleh sejarahnya. Sebaliknya, Srintil bangkit membentuk
dirinya sendiri dengan sejarah keterbelakangannya. Hasilnya mulai terpapar di bawah sorot lampu neon itu. Srintil menjadi pusat suasana, menjadi daya tarik suasana dan Srintil duduk menguasai suasana. “Itukah rupanya si Anak Dukuh Paruk itu?” bisik Ibu Camat kepada perempuan di sebelahnya. Ibu Wedana. “Ya, itulah dia.” “Aku baru melihatnya dengan jelas sekarang.” “Bagaimana? Cantik? Kenes?” Hati Ibu Camat risau. Tetapi perasaan itu tersembunyi di balik senyumnya yang tawar. Kejujurannya mengakui keunggulan ronggeng Dukuh Paruk itu. Lebih cantik daripada dirinya, bahkan seandainya Ibu Camat masih sebelia Srintil. Dengan gerakan yang amat licik mata Ibu Camat menoleh kepada deretan kursi para lelaki. Hatinya makin kacau ketika melihat kenyataan hampir semua mata laki-laki di sana terarah kepada Srintil. Tak terkecuali mata suaminya. Ibu Wedana tersenyum. Ikhlas senyumnya karena baginya sama saja; ronggeng cantik atau ronggeng bopeng takkan membahayakan kehidupan rumah tangganya. Karena suaminya sudah tua dan impoten. “Lihat, kondenya terlalu tinggi, kan?” “Memang,” jawab Ibu Wedana tenang saja. "Tetapi itu sengaja. Nanti Srintil akan pamer tengkuk.” “Kebayanya berantakan kukira. Potongannya acak-acakan.” “Apa pun kebayanya takkan menjadi soal. Toh nanti akan dibukanya. Dan, lihat saja. Di balik kebaya itu masih terlihat bentuk pundaknya yang amat serasi. Apalagi nanti bila pundak itu tampil telanjang.” Ibu Camat merengut. Entah dengan alasan apa dia minta diri dan berpindah ke sebelah Ibu Komandan Polisi. Sekali lagi Ibu Wedana tersenyum. Kali ini senyum kemenangan. "Siapa bilang mempunyai suami impoten sama sekali tidak beruntung?” Di sebelah Ibu Komandan Polisi, kasak-kusuk Ibu Camat berlanjut. “Meski cantik, tetapi kesan udiknya sangat kentara.” “Ya, memang. Aku sendiri menjadi risi, jadi ingin tahu, siapa, laki-laki mana, yang menempatkan anak udik itu duduk bersama kami.” “Mbakyu benar. Akan kuminta suamiku menyuruh orang...” “Suruh apa?” “Memindahkan anak Dukuh Paruk itu ke tempat lain.”
Ibu Camat hendak bangkit. Pada saat yang sama Srintil bangkit. Menoleh ke arah dua ibu yang kasak-kusuk, dengan senyum yang paling aneh. Senyum seorang rani dari atas singgasananya. Ibu Camat berhenti pada gerakan yang janggal. Ibu Komandan Polisi berpura-pura membuka tas tangannya. Tetapi dari tempatnya yang agak terpisah Ibu Wedana tertawa terkekeh. Perang dingin itu berlangsung setengah menit, pada saat mana mata Srintil memancarkan cahaya lembut namun mampu membungkam semangat perempuan- perempuan di sekelilingnya. Kejanggalan itu berakhir ketika Nyai Kartareja menarik Srintil agar duduk kembali. Dan Srintil duduk kembali. Tersenyum kembali dengan keanehan yang sama. Senyum gadis panggung yang selalu merasa setiap malam hiburan adalah miliknya yang paling sah. Mendung menyaput deretan kursi kaum perempuan. Wajah Ibu Camat merah padam. Rasanya, baru sekali ini dia dilangkahi oleh perempuan lain, dan justru oleh seorang yang di matanya tidak lebih dari sundal. Hatinya bergolak. Tetapi tenaga ajaib mana yang telah melumpuhkannya? Ibu Camat hanya bisa terpaku di kursinya. Terkalahkan oleh senyum dan sinar mata anak udik dari Dukuh Paruk. Senyum kecil serta kerlingan mata bisa membuat sakit jauh lebih hebat dari pukulan tangan: ungkapan ini sedang dirasakan kebenarannya oleh Ibu Camat. Kegelisahan Ibu Camat serta perempuan-perempuan lain tersisih karena acara hendak dimulai. Seperti ketika pagi hari upacara diawali dengan pidato serta teriakan para pengunjung yang gemuruh. Lebih seribu tangan mengepal di udara. Mereka begitu sengit mengganyang musuh. Musuh itu dilukiskan dalam kata-kata penuh retorika oleh pembicara secara amat pintar sehingga para pengunjung seakan melihat setan yang demikian jahat dan harus segera dilumpuhkan. Pengganyangan berlangsung lancar dan musuh tercabik-cabik, mati oleh semangat massa. Meski hanya berlangsung dalam kata-kata plus kepalan tinju, namun kelihatan memuaskan. Pembicara turun dalam iringan tepuk tangan yang panjang dan riuh. Menang! Acara hiburan dimulai. Seorang pengantar acara menaiki pentas. Laki- laki dengan mata burung hantu itu mengatakan penuh semangat bahwa revolusi saat ini menuntut pengabdian habis-habisan tak terkecuali dari para seniman. Dan meskipun kebanyakan pengunjung telah maklum laki-laki itu
mengatakan, rombongan musik keroncong mewakili kekuatan politik ini, rombongan pencak silat mewakili itu, serta ronggeng Dukuh Paruk mewakili yang lain lagi. Ketiga-tiganya telah bersatu-padu, seia-sekata ikut mengganyang musuh melalui pengabdian seni. “Dan ronggeng Dukuh Paruk itu,” ujarnya dengan tekanan kata yang istimewa, "mereka adalah seniman-seniman rakyat! Rakyat yang perkasa, rakyat yang demikian tangguh, schingga mereka masih tetap menyanyi dan menari meskipun telah berabad-abad hidup tertindas. Sebentar lagi Srintil dan kawan-kawannya akan tampil di pentas ini. Tetapi jangan salah. Apa pun yang disajikannya tidak bisa lain daripada sebuah makna tuntutan kebebasan! Bebas dari penindasan kaum imperialis, kapitalis, dan kolonialis bersama antek-antek mereka. Sekali lagi, bebas!” Dari salah satu sudut lapangan terdengar sorak-sorai yang riuh. Terasa sekali hura-hura itu diatur dengan komando. Terasa sekali ada usaha lebih menonjolkan peran rombongan ronggeng Dukuh Paruk di antara rombongan kesenian lain. Di tempat berkumpul di sisi panggung, Sakarya melirik rekannya Kartareja. Keduanya tidak paham akan ucapan-ucapan pengantar acara apalagi maknanya. Tetapi setidaknya kedua orang Dukuh Paruk itu merasakan ada kejanggalan. Sepanjang pengetahuaannya ronggeng tak memerlukan pengantar kata yang macam-macam sebelum mulai berpentas. “Aku khawatir, Kang,” kata Sakarya. “Bagaimana?” “Jangan-jangan kita melakukan kesalahan. Pentas kita kali ini dilakukan menyimpang adat. sampeanmendengar ucapan-ucapan pengantar acara tadi?” “Ya,” jawab Kartareja. "Tetapi bagaimana, ya. Kita di sini menjadi orang yang diatur.” “Aku dilarang mereka membakar dupa, Kang. Juga syarat-syarat lainnya. Wah, hatiku sungguh tidak enak. Bisa terjadi apa-apa nanti.” “Benar, Kang. Mereka tidak tahu bagaimana jerih kita membujuk Srintil agar mau kembali menari. Nah, sekarang Srinfil sudah mau, tetapi mereka kelihatan tidak menghargai tata cara pementasan ronggeng.” “Aku mau pergi, Kang.” “Pergi? Ke mana?” “Ke luar. Aku percayakan kepada sampean pengaturan atas anak-anak.”
Kartareja maklum. Rekannya harus berbuat sesuatu yang berhubungan dengan arwah Ki Secamenggala. Di tempat yang penuh manusia hal-hal semacam itu tak mungkin dilakukannya. Pergelaran musik keroncong sudah dimulai. Suasana yang tercipta oleh nada-nada klangenan membuat para pengunjung terpilah-pilah. Ketika seorang pemuda necis membawakan lagu Jenang Gula, banyak orang terkesima; hanyut terbawa ombak melankolik. Srintil menatap lurus ke arah pemuda yang berpakaian bersih dengan dasi kupu-kupu itu. Hatinya ikut bernyanyi. Tetapi dari sudut tertentu mulai terdengar kasak-kusuk. Kemudian sebuah suara mencuat entah dari mana. “Turun, turun! Kami tidak doyan ngak-ngik-ngok imperialis! Turun!” Si pemuda yang segera tanggap tidak menuruti ocehan dari sudut lapangan itu. Dia cukup pintar dengan cara mengganti lagunya. Para pemain diaturnya sejenak. Kemudian berkumandanglah Genjer-Genjer, sebuah lagu daerah yang entah mengapa menguasai udara tanah air pada tahun 1964 itu. Semangat dan kegembiraan pengunjung terbakar kembali. Banyak orang bangkit dari tempat duduk agar bisa lebih leluasa bertepuk tangan atau bahkan ikut tarik suara. Suasana sungguh meriah membahana. Anehnya Srintil makin membeku di tempat duduknya. Bukan karena tidak terbawa suasana. Di dalam hatinya terjadi letupan kegembiraan yang hanya bisa dinikmati dalam diam. “Namanya Murdo, Tri Murdo, putra penilik sekolah di Dawuan ini,” bisik Nyai Kartareja kepada Srintil. Hanya orang yang berbakat mucikari segera menangkap apa yang terjadi dalam hati Srintil. Dia jugalah perempuan yang paling banyak tahu data tentang para lelaki di daerahnya. "Sekolahnya di Yogya. Di mataku Murdo adalah seorang anak muda yang bagus. Entahlah di matamu.” Srintil menepis tangan Nyai Kartareja, memberi isyarat agar perempuan tua itu tidak meneruskan kata-katanya. Srintil malu. Perubahan wajahnya begitu nyata sehingga Nyai Kartareja malah tertawa. Sebelum hiburan musik keroncong berakhir seorang laki-laki menemui Nyai Kartareja. Rombongan ronggeng dimintanya menyiapkan diri karena waktu baginya hampir tiba. Sebenarnya, sesudah musik keroncong berakhir, tibalah giliran pertunjukan pencak silat. Tetapi tanpa penjelasan apa pun rombongan itu tidak hadir.
Nyai Kartareja membawa Srintil ke sebuah ruang tertutup di kantor kecamatan. Di sana Srintil bertukar pakaian. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, sekarang, tak ada yang kurang pas pada tubuh Srintil. Segala hiasan alami pada tubuhnya sedang berada pada puncak perkembangannya. Ketika kebaya dan kutang dilepas tampillah pesona sang Ratih. Lehernya yang segar menjadi perimbangan kedua pundak yang memiliki kesempurnaan bentuk. Kalung emas, cincin, serta tiga gelang berkilat dan mempertegas keremajaan kulitnya. Giwangnya besar. Cahaya berjatuhan dari mata faset intan bila Srintil menggerakkan kepala sedikit aja. Banyak orang menerobos masuk ingin melihat Srintil berdandan. Nyai Kartareja hanya mengusir ke luar mereka yang masih anak-anak. Bagi yang dewasa, istri dukun ronggeng itu hanya berpura-pura merasa keberatan. Tetapi sesungguhnya dia senang memperoleh kesempatan memamerkan kecantikan anak asuhannya. Srintil melihat dirinya dalam cermin kecil yang dipegangnya. "Ya. Itulah diriku yang sebenarnya, yang demikian seharusnya. Tetap tersenyum dan gembira. Aku seorang ronggeng dan ronggeng!” Ketika Srintil keluar diiringi Nyai Kartareja dirinya menjadi titik pusat pancaran ratusan pasang mata. Seorang laki-laki berjalan di depan menyibak kerumunan orang. Laki-laki ini langung membawa Srintil menuju panggung. Perangkat musik keroncong telah berganti dengan calung. Dan demi anu orang memberi kaca mata hitam kepada Sakum. Mula-mula Sakum menolak karena kebutaan adalah bagian hidup yang telah diterimanya tanpa rasa malu sedikit pun. Tetapi setelah dikatakan dia bertambah gagah dengan kaca mata itu Sakum menerimanya. Srintil menapaki tangga panggung dengan iringan tepuk tangan yang riuh. Dari sudut tertentu slogan politik. "Hidup kesenian rakyat!” Tetapi Srintil tenang seperti awan putih bergerak di akhir musim kemarau. Memang, sejenak dia tertegun oleh luas serta benderangnya panggung. Dia hanya terbiasa dengan arena beralaskan tikar pandan dan lampu pompa sebagai penerang. Kemudian segenap penonton menyaksikan bagaimana Srintil menempatkan dirinya secara mengesankan sebagai pemangku utama kewibawaan panggung. Dia berdiri memutar badan ke arah semua penonton. Bibirnya sedikit ditarik sehingga terjadi keindahan lekuk di kedua ujungnya. Matanya berkilat seperti kepik emas hinggap di atas daun.
Angkuh tetapi teduh. Srintil sedang memberi hormat kepada penonton tanpa harus menekan harga dirinya. Kemudian hening. Semua orang melihat Srintil merendahkan badan, duduk di hadapan para penabuh. Rombongan dari Dukuh Paruk sedang menunaikan tata cara mereka sendiri, mengheningkan cipta sebelum pertunjukan dimulai. Dan tak seorang pun mengerti apa yang sedang bergolak di hati Srintil. Dia sadar betul dirinya sedang menjadi tumpuan pandangan lebih dari seribu pasang mata. Ada mata Ibu Camat, mata bapak ini, bapak itu, dan mata warga Dawuan. Namun Srintil menganggap tak ada beda antara sekian banyak mata itu. Baginya sama saja. Semuanya adalah mata Rasus. Di depan mata Rasus itu Srintil akan menunjukkan betapa dirinya mempunyai sekian banyak kelebihan. Sehingga meski sudah menjadi tentara Rasus sama sekali tidak berhak mengecilkan arti dirinya. "Kamu telah meninggalkan diriku dengan cara menyakitkan. Kamu takkan berbuat seperti itu bila kamu tidak ingin dirundung penyesalan yang mendalam. Lihat saja!” Tidak diperlukan pengetahuan yang mendalam untuk mengatakan bahwa pada dasarnya tarian ronggeng adalah tiruan kasar tari gambyong, sejenis tari pemanasan berahi di kalangan para ningrat. Dalam perkembangan selanjutnya tari ronggeng meniru juga tari serimpi, tari Bali, dan tari topeng. Bahkan juga tari Baladewa. Semuanya ditiru secara mentah, gaya jelata. Kadang tari-tari itu digabung tidak karuan sehingga dalam pentas orang bisa mengatakan lenggang-lenggok seorang ronggeng tidak lebih dai gerakan spontan, bermakna dangkal dan lebih ditekankan kepada kesan erotik. Dan siapa pun yang mengikuti perkembangan Srintil sejak awal tidak akan menemukan perubahan-perubahan dalam gaya tariannya meski dia hampir enam tahun menjadi ronggeng. Kecuali malam itu yang terbukti lain. Si buta Sakum justru yang pertama merasakannya. Sakum mendengar suara gesekan kaki Srintil di lantai panggung. Dirasakannya kibasan sampur dan didengarnya getar suara Srintil. Semuanya berubah. Srintil seakan menari dalam keadaan marah. Andaikan mata Sakum awas tentulah dia dapat melihat betapa Srintil mengangkat kedua lengannya lebih tinggi hingga tampak putih kulit ketiaknya. Goyang pundaknya lebih berani. Bila sedang pacak gulu mata Srintil tidak terarah kepada penonton seperti telah menjadi ciri khasnya. Mata Srintil menantang bintang-bintang. Senyum
seorang ronggeng, apalagi bila dia sedang menari, tak pernah mempunyai makna lain kecuali ungunya bunga kecipir bagi kumbang atau merahnya kembang soka bagi kupu-kupu. Rayuan tanpa kata atau pemikat yant bertuah. Tetapi malam itu senyum Srintil tak mungkin diterjemahkan sebagai perayu atau pemikat. Tarikan kedua ujung bibirnya hanya menggambarkan hati penuh martabat. Kekenesan yang pongah meski menggemaskan. Apabila Srintil telah bertekad hendak menundukkan seribu mata Rasus maka dia terbukti berhasil melakukannya. Selama menari terbayang olehnya Rasus yang runduk tak berdaya dan penuh penyesalan, mengapa dia telah tega membuat Srintil sengsara. "Apalah arti seorang Rasus,” demikian pikir Srintil sambil meratui panggung, "bila seribu mata terkesima padaku. Di sana ada camat, ada wedana, ada Tri Murdo, dan entah siapa lagi. Mereka terpaku di tempat masing-masing membiarkan hati mereka menjadi bulan-bulanan, membiarkan perasaan mereka menjadi permainanku.” Srintil terus menari dalam semangat yang mengesankan. Gerakannya tetap penuh tenaga meskipun kulitnya mulai berkilat oleh keringat. Sampai babak kelima, saat yang biasa dia gunakan untuk beristirahat Srintil terus melenggang dan melenggok. Tentulah semua orang mengatakan semangat Srintil dipacu semata-mata oleh suasana panggung yang luar biasa menurut ukuran seorang ronggeng. Atau oleh kenyataan jumlah penonton yang meluap dan termasuk orang-orang terpenting di Dawuan di antara mereka. Tak seorang pun mengerti Srintil sedang melampiaskan kemurkaan di alam bawah sadarnya. Tak seorang pun tahu. Kecuali Sakum. Laki-laki buta itu sudah terbiasa memahami sesuatu dengan intuisinya. Sakum ingin menghentikan Srintil. Dengan sikunya dia menggamit Kartareja yang kebetulan duduk di sisinya. Kartareja cepat mengerti maksud Sakum, tetapi tidak berani mengambil keputusan. Maka Sakum yang bertindak. Sentuhan irama calungnya dibuat sumbang dengan cara menyimpangkan nada tiada tertentu. Itulah cara yang sudah disepakati bila para penabuh ingin berbicara dengan ronggeng. Namun demikian Srintil terus menari. Baru setelah tiga buah lagu berlalu Srintil patuh akan aba-aba yang diberikan Sakum. Lenyapnya suara calung menciptakan suasana yang mendadak janggal dan hampa. Kekosongan udara kemudian diisi oleh bisik-bisik dari kiri-
kanan yang terus mengembang menjadi dengung merata di seputar lapangan. Orang-orang mendapat kesempatan melepas ketegangan setelah sekian lama berdiam diri memampat kesan yang mendalam. Sesaat kemudian terdengar suara keras. "Terus, terus! Hidup Srintil. Hidup seniman rakyat.” “Sampean harus beristirahat, Jenganten. Jangan terlalu memaksakan diri. Tidak baik,” kata Sakuni. Srintil duduk bersimpuh, menutup mukanya dengan ujung sampur. Layaknya dia sedang melap keringat. Tetapi hingga beberapa saat lamanya Srintil tetap dalam keadaan demikian. Dari samping terlihat pipi Srintil yang berubah pucat. Napasnya tersengal-sengal. Nyai Kartareja yang segera menangkap suasana genting cepat naik ke panggung. “Kenapa, Jenganten?” “Pusing, Nyai. Pusing! Oh, hk. Napasku sesak. Dadaku sesak!” Nyai Kartareja merangkul Srintil. Dia langsung mengerti masalahnya genting karena Srintil tidak lagi menguasai berat badan sendiri. Dan terkapar di lantai panggung. Pekik Nyai Kartareja mengawali kekusutan di sana. Dalam sekejap arena sudah penuh orang. Kebanyakan hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun setidaknya seorang di antara mereka mengerti apa yang harus dilakukannya setelah menyadari Srintil dalam keadaan pingsan. Segala yang mengikat tubuh Srintil dikendurkannya. Kemudian dia bersiap membuat napas buatan. Namun sebelum Tri Murdo melakukannya Srintil telah siuman. Napasnya megap- megap seperti orang yang habis lama tenggelam. Sejenak dia kelihatan bingung. Matanya bergulir ke kiri dan ke kanan, Kemudian dia cepat bangkit ketika menyadari seorang berdasi kupu-kupu berdiri melangkahi tubuhnya. Wajahnya merah ketika beradu pandang dengan Tri Murdo. Kekalutan masih berlangsung hingga beberapa lamanya meskipun Srintil sudah dituntun orang turun dari panggung. Tak kurang suatu apa. Orang-orang tidak percaya bahwa tak ada yang kurang beres pada tubuh ronggeng itu. Tetapi Srintil bersikeras bahwa dirinya tidak memerlukan pertolongan apa pun kecuali sedikit waktu buat membenahi kembali pakaiannya lalu siap lagi naik panggung. Hanya seorang yang tahu persis apa yang telah terjadi. Marsusi dalam pakaian penyamaran berdiri di balik bayang-bayang sebatang pohon. Tangan kanannya menggenggam sebuah botol kecil sebesar kelingking.
Bila mulut botol itu ditutup dengan ibu jarinya maka terjadi heboh di panggung. Srintil tak bisa bernapas. Itu sudah sekali dibuktikannya. Dan sekali heboh belumlah cukup buat membalas kesumatnya terhadap ronggeng Dukuh Paruk itu. Dengan sabar Marsusi menanti kesempatan berikutnya. Seperempat jam kemudian Srintil kembali menjadi fokus hidup yang mendaulat panggung. Dia menari seperti mengapung di udara; lincah dan bebas lepas. Kadang seperti burung beranjangan, berdiri di atas satu titik meski sayap dan paruhnya terus bergetar. Kadang seperti bangau yang melayang meniti arus angin. Suaranya yang timbul tenggelam dalam pengeras suara bahkan memberikan kesan lebih hidup, seperti sendaren layang-layang yang meliuk-liuk di angkasa. Perasaan segenap penonton ikut mengapung bersama irama tarian Srintil. Mereka mengikuti setiap gerak ratu panggung itu dengan mata, dengan hati, dan dengan denyut jantung mereka. Ibu Camat dan Ibu Komandan Polisi dengan kebencian mereka. Ibu Wedana malah ceria karena melihat suaminya berjingkrak-jingkrak penuh gairah, persis seperti lelaki perkasa laiknya. Para penonton demikian terpesona sehingga mereka bingung ketika melihat tiba-tiba Srintil berhenti, berdiri tak bergerak. Kedua lengannya yang merentang tinggi terpancang kaku. Mulutnya yang terbuka tetap dalam keadaan demikian hingga beberapa saat lamanya. Calung serentak berhenti. Kartareja melompat ke depan, menahan tubuh Srintil yang roboh ke belakang. Gempar lagi. Banyak orang berlompatan ke atas panggung. Juga Pak Camat. Tetapi istrinya menahannya. Tri Murdo yang sejak tadi menonton di deretan kursi paling depan hanya dalam beberapa detik sudah menangani Srintil. "Apa kataku. Mestinya Srintil jangan menari lagi,” katanya. Sementara petugas keamanan mengusir penonton yang berlompatan ke atas panggung. Tri Murdo berdua Nyai Kartareja berusaha menyadarkan Srintil. Kutang ketat yang membalut tubuh Srintil dari dada sampai ke pinggulnya dibuka. Wajah Srintil biru, paru-parunya berhenti. Tetapi Tri Murdo yakin jantungnya masih berdenyut. Dia berdiri mengangkang tepat di atas perut Srintil menggerak-gerakkan kedua tangan ronggeng itu, membuat napas buatan. Tidak lama, karena kemudian Srintil tiba-tiba membusungkan dada menarik napas dalam-dalam. Megap-megap, mulutnya terbuka seperti ikan mujair. Dan terbelalak karena setagen dan
kutangnya sudah terbuka. Di atas perutnya berdiri laki-laki muda berpakaian putih berdasi kupu-kupu. Srintil cepat duduk. Tri Murdo melangkah ke samping. Orang-orang henclak mengangkat tubuh ronggeng itu. Tetapi Srintil menolak. Nyai Kartareja merangkul dan membimbing Srintil turun dari panggung. Setelah keadaan sedikit reda pengatur acara mengumumkan bahwa pertunjukan kesenian malam itu usai. Meskipun keadaan sedikit kalut tetapi laki-laki itu menutup acaranya dengan teriakan mengguntur. Penonton menyambutnya dengan teriakan bersama. Dan acungan seribu tangan mengepal. Penonton bubar dengan berbagai kesan pada diri mereka masing-masing. Namun kebanyakan dari mereka tidak menduga macam-macam. Yang terjadi atas diri Srintil adalah sebuah permainan; suatu hal yang tidak terlalu aneh bagi masyarakat Dawuan. Hanya sedikit orang menduga Srintil terkena ayan atau penyakit lainnya. Apabila Marsusi menghendaki nama Srintol ternoda oleh peristiwa di atas panggung ini maka dia keliru besar. Boleh jadi Marsusi merasa puas. Juga Ibu Camat atau Ibu Komandan Polisi. Tetapi ratusan lagi lainnya justru merasa bertambah simpati terhadap ronggeng Dukuh Paruk itu. Marsusi telah menyakiti burung perkutut milik umum. Beruntunglah Marsusi karena tak seorang pun tahu akan ulahnya. Kecuali Kartareja. Sejenak setelah Srintil sadar dia menyelinap di antara kerumunan pengunjung. Kartareja sudah menduga adanya tangan jail dan ingin segera tahu milik siapakah tangan itu. Tidak gampang mencari satu orang di antara ratusan pengunjung. Namun Kartareja sudah mengetahui cara yang paling gampang. Orang yang dicarinya pasti memiliki ekspresi wajah sang berbeda dan gerak-gerik yang tidak sama dengan semua pengunjung lainnya. Dan Kartareja melihat seorang yang bergegas meninggalkan arena. Pakaiannya hitam dengan ikat kepala wulung. Dikejarnya laki-laki yang kelihatan tegap itu. “Tunggu sebentar, Mas,” panggilnya. Laki-laki itu menoleh. Mata Kartareja membulat untuk lebih memahami wajah laki-laki itu. Mula-mula Kartareja ragu. “Oh, sampean? Ah, mestinya sampean menonton bersama Pak Camat. Tak pantas di sini, bukan?”
“Yah, terkadang orang ingin menyendiri.” Jawab Marsusi tenang. Kartareja tersenyum. Marsusi tersenyum. Dalam kebisuan mereka telah terjadi komunikasi yang intensif. Tetapi kejanggalan tidak bisa dihindari. Marsusi menawarkan rokok yang kemudian diterima oleh Kartareja, dan langsung menyulutnya. “Pentasmu kali ini sedikit terganggu,” ujar Marsusi. “Yah, saya maklum. Saya mengerti perasaan sampean. Yang penting, sekarang perkara utang-piutang sudah tunai.” “Hm, ya.” “Ya.” “Dan itu...” “Apa?” “Asuhan sampean!” “Srintil?” Marsusi tidak menjawab. Hanya senyumnya yang mengembang dan segera terbaca oleh Kartareja. “Ah, itu persoalan mudah. Apalagi bagi sampean. Apabila sampean masih mau, masalahnya tinggal bagaimana sampean bisa bersabar.” “Aku memang masih penasaran. Oh, tidak. Maksudku, ronggengmu memang membuat gemas!” “He-he.” “He-he-he.” Dan Marsusi membanting hancur botol jimatnya. Tunai sudah. Tak ada lagi siapa mempermalukan siapa. Kartareja dan Marsusi berpisah dengan senyum. Keduanya tahu betul arti senyum mereka masing-masing. Jam satu tengah malam rombongan dari Dukuh Paruk belum meninggalkan arena. Mereka menikmati kopi panas yang disediakan panitia. Srintil sudah melepaskan pakaian ronggengnya, duduk dikelilingi beberapa orang laki- laki yang merasa beruntung bisa berdekatan dengan ratu panggung. Mata Srintil mencari laki-laki yang berdasi kupu-kupu. Tri Murdo masih ada tetapi sudah siap berangkat dengan rombongan orkes keroncongnya. Ketika minta diri Tri Murdo bersikap biasa, sangat biasa. Srintil menelan ludah. Bapak Wedana bangkit. Dari mulutnya terdengar
tembang pucung, pujian bagi para ronggeng. Sambil melangkah tangannya bertepuk berirama. Sengkang ceplik, cunduk jungkat sarwi wungu Pupur lelamatan Nganggo rimong plangi kuning Candanira kaya sekar dhedhompolan Bergiwang rupa bunga tanjung, bermahkota sisir serba ungu. Bedaknya tipis rona, dengan selendang pelangi kuning. Baunya adalah harum serumpun bunga. Ibu Wedana bertepuk tangan memberi semangat bagi suaminya. Orang- orang ikut bertepuk dan bertembang melagukan pucung yang setua Dukuh Paruk itu. Srintil tertawa dan tertawa. Keayuannya muncul pada sinar matanya, pada cerah kulitnya, dan pada kesegaran mulutnya. Srintil menoleh kepada Ibu Wedana ketika Bapak Wedana mencubit pipinya. Ibu Wedana malah bertambah gembira. "Siapa mengira suamiku laki-laki tanpa daya?” Malam itu Srintil hampir tidak pulang ke Dukuh Paruk. Bapak dan Ibu Wedana memintanya dengan sangat menginap di Dawuan. Sebaliknya, Kartareja amat berkeberatan. “Maafkan kami, Bapak. Kami orang-orang Dukuh Paruk tidak bisa berbuat sesuatu yang melanggar ketetapan yang kami anut. Ini malam Ahad Pahing: tidak boleh tidak, kami semua harus tidur di rumah kami masing- masing di Dukuh Paruk.” Sebuah obor besar kelihatan dari jauh melintasi pematang panjang yang menuju Dukuh Paruk. Nyala apinya meninggalkan ekor asap hitam yang meliuk di udara. Orang-orang Dukuh Paruk sedang berjalan menuju tanah airnya. Hampir tak ada yang berbicara. Sepi, kecuali suara calung dalam pikulan. Kaki-kaki mereka basah oleh embun rerumputan. Sinar obor membuat penerangan bagi sebuah pentas tersendiri. Ada burung cabak
berebut serangga di angkasa. Ada belalang terbang menabrak nyala api. Dan Sakum berteriak karena kakinya menginjak katak kecil hingga perut binatang itu meledak. Di hadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang lelap. Di atasnya lintang wluku. Di atasnya, terkadang, membersit sinar terang bintang beralih. Dan suara burung hantu dari atas pekuburan Dukuh Paruk menggema, seakan menyambut para warga yang sedang pulang di puncak malam.
BAB IV KUDA hitam itu sudah berbusa mulutnya. Suara kuk-kuk terdengar setiap kali binatang jantan itu melangkahkan kaki: suara kantung buah zakarnya yang tergesek-gesek kulit paha. Lebih dari tiga puluh kilometer telah ditempuhnya, menarik andong dengan kusir dan seorang penumpang. Sentika, satu-satunya penumpang di atas andong itu adalah laki-laki usia enam puluhan. Subur badannya, berwajah bulat dan tenang. Bajunya hitam. Celananya yang longgar menutup lutut juga berwarna hitam. Ikat kepalanya melilit rapi. Dengan bibir merah karena makan sirih lengkaplah penampilan Sentika sebagai laki-laki sisa masa lalu, dan hidup bertani di daerah pegunungan. “Kudamu sudah letih rupanya,” kata Sentika kepada Sartam, kusir. "Itu, di depan ada warung. Kita mengaso dulu.” “Bukan hanya kudaku yang minta islirahat, Pak.” “Lha iya. Kamu juga lapar. Mulutku asam. Makan sirih sambil berayun- ayun di andongmu terasa kurang nyaman.” Sartam menghentikan andongnya di bawah lindungan pohon johar. Kudanya meringkik. Di sana ada andong lain, kudanya betina. Sementara Sartam memberi makan kudanya dengan rumput bercampur dedak yang dibawanya dari rumah. Sentika berjalan gontai ke warung. Dipesannya dua gelas kopi. Ketika Sartam datang menggabungkan diri Sentika sudah menggulung daun sirih dengan bumbu-bumbunya; kapur, gambir, dan biji pinang kering. Gerahamnya bekerja. “Dawuan masih jauh?” tanya Sentika kepada perempuan pemilik warung. “Oh, sampean hendak pergi ke sana? Jauh, masih jauh. Kukira tengah hari nanti sampean baru sampai ke sana.”
“Dari Dawuan aku mau terus ke Dukuh Paruk. sampean mengerti arahnya?” “Aku belum pernah pergi ke Dukuh Paruk. Tetapi sudah sering mendengarnya. Pedukuhan itu terkenal ronggengnya bukan? sampean mau mengundang ronggeng?” “Lha iya. Kira-kira begitulah.” “sampean dari mana?” “Alaswangkal.” “Alaswangkal? Dan sampean naik andong dari sana?” “Lha iya. Aku orang kuno, tidak biasa naik bus. Tidak pernah.” “Kalau begitu andong itu milik sampean sendiri?” “Aku menyewanya. Ini dia pemiliknya,” jawab Sentika sambil menoleh kepada Sartam. Yang dilirik tersenyum karena teringat besarnya sewa andong yang bakal diterimanya. Ah, tetapi Sartam mengerti siapa Sentika. Kebun singkongnya hampir seluas tanah pegunungan di Alaswangkal. Dua- tiga pabrik tapioka tergantung kepada singkong hasil perkebunannya. Untuk itu Sartam tak usah ragu memilih makanan terbaik yang disajikan di warung itu. Toh Sentika yang akan membayarnya. Setelah perut kenyang Sartam kembali ke andongnya, duduk sambil merokok. Rokok itu terus mengepul di mulutnya meskipun Sartam tertidur karena lelah. Dan tersentak bangun ketika Sentika menepuk pundaknya. “Lha iya. Dasar ular koros kamu! Bila perut penuh, mata mengantuk. Ayo berangkat!” Perempuan warung itu benar; menjelang tengah hari Sentika dan andongnya sampai ke Dawuan. Setelah bertanya kepada seseorang di pinggir jalan dia meneruskan perjalanan. Andong itu berhenti di sudut pematang panjang yang menuju Dukuh Paruk. Sartam mendapat waktu istirahat panjang karena harus tinggal bersama andongnya di pinggir jalan sementara Sentika berjalan seorang diri ke Dukuh Paruk. Laki-laki itu berjalan mantap meskipun matahari terik berada tepat di atas kepalanya. Perjalanan selama setengah hari pun tidak memberikan kesan lelah kepadanya. Sentika sudah terbiasa berjalan jauh. Turunan dan tanjakan di Alaswangkal melatih kakinya sejak masa kanak-kanak. Di tepi Dukuh Paruk seorang anak kecil memberi tahu arah rumah Srintil yang sejak peristiwa Marsusi tinggal bersama kakeknya, Sakarya. Nyai Sakarya yang pertama menemuinya. Kemudian menyusul suaminya.