GIRI PRANATA PUPUANGIRI PRANATA PUPUANGerakan Inovasi Kerajinan dan Hilirisasi Produk Unggulan Masyarakat Pupuan TABANAN ERA BARU Aman-Unggul-Madani (AUM) RANCANGAN AKSI PERUBAHAN KINERJA ORGANISASI PELATIHAN KEPEMIMPINAN ADMINSTRATOR ANGKATAN I BADAN KEPEGAWAIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROVINSI BALI TAHUN 2026 Oleh I KETUT JAPA STIAWAN, S.Sn, M.Si NIP. 19710803 200501 1 011BUMDES Dr. Ir. Ketut Rusmulyani, M.Pd NIP. 19621025 198903 2 004 Drs. I Made Agus Harthawiguna, M.Si NIP. 19730814 199203 1 001 mentor
LEMBAR PERSETUJUAN SEMINAR RANCANGAN AKSI PERUBAHAN KINERJA ORGANISASI Nama : I KETUT JAPA STIAWAN, S.Sn, M.Si NIP : 19710803 200501 1 011 Jabatan : Camat Unit Kerja : Kantor Camat Pupuan Judul Rancangan : GIRI PRANATA PUPUAN (Gerakan Inovasi Kerajinan dan Hilirisasi Produk Unggulan Masyarakat Pupuan) Disetujui untuk disampaikan pada Seminar Rancangan Aksi Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026 di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Bali yang dilaksanakan pada hari Rabu , tanggal 1 Juli 2026 Bali, 30 Juni 2026 Coach, Mentor, Dr. Ir. Ketut Rusmulyani, M.Pd Drs. I Made Agus Harthawiguna, M.Si NIP. 19730814 199203 1 001NIP. 19621025 198903 2 004
LEMBAR PENGESAHAN HASIL SEMINAR RANCANGAN AKSI PERUBAHAN KINERJA ORGANISASI Nama : I KETUT JAPA STIAWAN, S.Sn, M.Si NIP : 19710803 200501 1 011 Jabatan : Camat Unit Kerja : Kantor Camat Pupuan Judul Rancangan : GIRI PRANATA PUPUAN (Gerakan Inovasi Kerajinan dan Hilirisasi Produk Unggulan Masyarakat Pupuan) Telah diseminarkan dan disempurnakan berdasarkan masukan dari Penguji, Coach, dan Mentor pada hari Rabu, tanggal 1 Juli 2026 Bali, 2 Juli 2026 Coach, Mentor, Dr. Ir. Ketut Rusmulyani, M.Pd Drs. I Made Agus Harthawiguna, M.Si NIP. 19730814 199203 1 001NIP. 19621025 198903 2 004 Penguji Ir. Gede Pramana, ST, MT NIP. 19680531 199703 1 002
KATA PENGANTAR I KETUT JAPA STIAWAN, S.Sn, M.Si NIP. 19710803 200501 1 011 Atas Asung Kertha Wara Nugraha Ida Sanghyang Widhi Waca/Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan RahmatNya sehinga kami selaku Penulis dapat menyelesaikan Rancangan Aksi Perubahan Kinerja Organisasi sebagai bagian dari Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan I Tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Bali, berlangsung pada bulan juni 2026. Tema yang Penulis angkat dalam Rancangan Aksi Perubahan Kinerja Organisasi ini berjudul GIRI PRANATA PUPUAN (Gerakan Inovasi Kerajinan dan Hilirisasi Produk Unggulan Masyarakat Pupuan). Pada kesempatan ini Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : Om Swastyastu 1.Bapak Drs.I Wayan Budiasa, M.Si selaku Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Bali, yang telah memfasilitasi dan menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Tahun 2026. 2.Bapak selaku penguji yang telah memberikan arahan dan masukan dalam penyusunan aksi perubahan ini. 3.Bapak A.A Ngurah Agung Satria Tenaya, S.Sos, M.Si selaku mentor yang telah memberikan pendampingan, nasehat untuk Rancangan Aksi Perubahan ini; 4.Ibu Dr. Ir. Ketut Rusmulyani, M.Pd selaku coach yang selalu memberikan motivasi, dorongan untuk selalu menjadi pemimpin yang kreatif dan inovatif; 5.Para Widyaiswara BKPSDM Provinsi Bali yang telah memberikan ilmu selama pelatihan ini berlangsung; 6.Seluruh panitia yang terlibat pada Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan I Tahun 2026 ini, dan Rekan-rekan Peserta Pelatihan Administrator Angkatan I Tahun 2026. Penulis menyadari bahwa rancangan aksi perubahan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna, atas hal tersebut penulis sangat mengharapkan saran, kritik dan masukan dari semua pihak demi kemajuan dan perkembangan pelaksanaan aksi perubahan ini sehingga dapat dijadikan pedoman dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program hilirisasi produk unggulan. Demikian Rancangan Aksi Perubahan ini disusun, semoga bermanfaat. Om Shanti, Shanti, Shanti Om Bali, Juli 2026
DA F TA R I S I COVER PROFIL PESERTA LEMBAR PERSETUJUAN SEMINAR (ii) LEMBAR PENGESAHAN HASIL SEMINAR (iii) KATA PENGANTAR (iv) DAFTAR ISI (v) DAFTAR TABEL (vi) DAFTAR GAMBAR (vii) A. Latar belakang B. Tujuan Aksi Perubahan C. Manfaat Aksi Perubahan D. Ruang Lingkup Aksi Perubahan BAB I PENDAHULUAN A. Profil Kinerja Organisasi B. Analisa Masalah Kinerja Organisasi C. Strategi Penyelesaian Masalah D. Pemetaan Sikap Perilaku Kepemimpinan dan Rencana Strategi Pengembangan Potensi Diri BAB II ANALISA MASALAH BAB III PENUTUP DAFTAR PUSTAKA & LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN EDITORIAL
Latar Belakang Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dengan beragam produk unggulan masyarakat di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan kerajinan. Potensi tersebut seharusnya tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat perekonomian daerah. Namun, sebagian besar pelaku UMKM masih menjual produk dalam bentuk primer akibat keterbatasan teknologi, infrastruktur pengolahan, akses pasar, dan kapasitas usaha. Kondisi ini menyebabkan nilai ekonomi yang diterima masyarakat belum optimal serta rentan terhadap fluktuasi harga komoditas. Oleh karena itu, hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengubah bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau produk jadi yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Kecamatan Pupuan memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra perkebunan di Kabupaten Tabanan dengan komoditas unggulan seperti kopi robusta, gula aren, buah-buahan, peternakan, perikanan, serta berbagai produk kerajinan. Potensi ini perlu dioptimalkan melalui pengembangan hilirisasi yang melibatkan LPM, PKK, BUMDes, dan kelompok perajin sebagai penggerak pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dalam konteks tersebut, Camat memiliki peran strategis sebagai regulator, fasilitator, dan koordinator. Camat berperan mendorong standardisasi produk, memperkuat sinergi antara BUMDes dan pelaku UMKM, serta mengonsolidasikan seluruh elemen masyarakat agar pengembangan hilirisasi berjalan secara terpadu, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN Tujuan 1.Menyusun Keputusan Camat atau MoU lintas sektor untuk percepatan hilirisasi produk unggulan 2.Membentuk Satgas Hilirisasi yang melibatkan Pemerintah Kecamatan/Desa, TP PKK, dan pelaku usaha lokal. 3.Menerapkan digitalisasi promosi atau pengolahan pada satu produk kerajinan unggulan lokal. 4.Menyelenggarakan bimbingan teknis manajemen mutu produk bagi pengrajin dan kader penggerak. 1.Meningkatnya kapasitas dan kemampuan kelembagaan ekonomi lokal melalui BUMDes 2.Meluasnya standardisasi produk unggulan masyarakat Pupuan. 3.Terbangunnya kolaborasi aktif antara gerakan sosial dan ekonomi. 4.Tersedianya platform /jejaring pemasaran digital terintegrasi untuk memperpendek rantai pasok produk olahan asli Pupuan. 1.Terwujudnya kemandirian ekonomi masyarakat Kecamatan Pupuan 2.Meningkatnya kesejahteraan pelaku UMKM di Pupuan 3.Terbentuknya Kecamatan Pupuan sebagai sentra agrobisnis berbasis hilirisasi komoditas unggulan 4.Terwujudnya replikasi model ekosistem hilirisasi yang inklusif. Jangka Pendek Jangka Menengah Jangka Panjang
Manfaat Aksi Perubahan Bagi Pengerajin / UMKM 1.Terjadinya peningkatan Nilai Tambah Ekonomi dengan cara mengubah posisi tawar masyarakat 2.Terjaganya stabilitas pendapatan dengan cara mengurangi ketergantungan terhadap fluktuasi harga 3.Adanya kepastian mutu dan legalitas dengan membantu pelaku usaha mendapatkan kemudahan akses untuk sertifikasi produk. 4.Pemberdayaan Perempuan dengan membuka peluang usaha baru bagi kelompok wanita melalui industri rumah tangga berbasis potensi lokal. 1.Peningkatan Kinerja Pelayanan Publik dengan mewujudkan peran Pemerintah Kecamatan yang responsif, adaptif, dan solutif. 2.Optimalisasi Koordinasi Kewilayahan dengan memperkuat fungsi pembinaan, pengawasan, dan sinkronisasi dengan Pemerintah Desa, Kelompok Pengerajin serta Lembaga Kemasyarakatan Desa. 3.Pencapaian Target Makro Daerah dengan membantu pencapaian target kinerja daerah Kabupaten Tabanan. Bagi Kecamatan Pupuan Bagi Pemkab Tabanan 1.Penguatan Sektor Unggulan Daerah dengan mempertegas posisi Kabupaten Tabanan sebagai daerah inovatif dalam pengembangan mutu dan kualitas kerajinan. 2.Integrasi Program Lintas Sektor dimana terciptanya sinergitas yang harmonis antara dinas-dinas terkait dalam satu lokus aksi yang konkret. 3.Sebagai model replikasi kawasan dengan menyediakan cetak biru ekosistem hilirisasi berbasis kecamatan yang dapat direplikasi oleh kecamatan lain. Ruang Lingkup Aksi Perubahan Tahap Persiapan Tahap Pelaksanaan Tahap Evaluasi 1.Melakukan diskusi, koordinasi, dan konsultasi bersama Mentor dan Coach untuk menyelaraskan arah aksi perubahan. 2.Membentuk Tim Kerja pelaksana program. 3.Menyusun dan menerbitkan Surat Keputusan (SK) Camat tentang Susunan Tim Kerja beserta rincian tugas (tupoksi). 4.Menyelenggarakan rapat internal untuk membahas, mematangkan, dan menetapkan rencana kerja. 1.Melaksanakan rapat koordinasi rutin dengan seluruh anggota Tim Kerja.. 2.Mensosialisasikan rencana Aksi Perubahan kepada seluruh Pegawai Kantor dan Forum Perbekel se-Kecamatan Pupuan. 3.Melakukan pendataan, verifikasi, dan penyusunan database (basis data). 4.Melakukan sosialisasi program kepada para pelaku usaha mikro, pengrajin, BUMDes, serta stakeholders terkait. 5.Menyusun dan menetapkan Dokumen Indikator Kinerja Utama (IKU) 1.Menyelenggarakan rapat koordinasi bersama pihak BUMDes untuk menyepakati dan menetapkan jumlah UMKM di desa yang akan difasilitasi. 2.Menganalisis seluruh capaian tahapan jangka pendek dan menyusunnya ke dalam laporan evaluasi resmi.
BAB II ANALISA MASALAH BAB II ANALISA MASALAH A. PROFIL KINERJA ORGANISASI Kecamatan Pupuan terletak di bagian utara Kabupaten Tabanan dengan luas 179,02 Km2 (ketinggian 700–1200 MDPL). Topografinya landai hingga berbukit, dengan pemanfaatan lahan untuk pertanian/perkebunan (80%) dan pemukiman (20%). Batas utara : Kec. Busungbiu (Buleleng) Batas timur : Kec. Selemadeg & Kec. Penebel Batas selatan : Kec. Selemadeg Barat Batas barat : Kabupaten Buleleng & Jembrana Letak Geografis & Batas Wilayah Kecamatan Pupuan Kependudukan & Kewilayahan Desa Dinas Penduduk Kecamatan Pupuan sebanyak 43.331 jiwa (22.079 laki-laki, 21.252 perempuan) yang meliputi 14 desa dan 71 banjar dinas, terdiri dari Desa Karyasari, Belimbing, Sanda, Batungsel, Padangan, Kebon Padangan, Jelijih Punggang, Pujungan, Pupuan, Sai, Pajahan, Munduktemu, Belatungan, dan Bantiran. Struktur Pemerintahan Kecamatan Pupuan Visi Misi Kabupaten Tabanan adalah "Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana di Kabupaten Tabanan Menuju Tabanan Era Baru: Aman, Unggul, dan Madani (AUM)" yang mengandung makna Nangun Sat Kerthi Loka Bali bermakna Menjaga kesucian dan keharmonisan alam beserta isinya untuk kesejahteraan masyarakat secara sekala dan niskala. Aman: Wilayah yang kondusif, tertib, dan nyaman. Unggul: Berdaya saing tinggi pada sektor pertanian, pariwisata, SDM, dan tata kelola pemerintahan. Madani: Masyarakat yang humanis, maju, demokratis, dan berkeadilan berbasis gotong royong.
Dalam mengimplementasikan visi-misi Kabupaten Tabanan, Camat didukung oleh Sekretariat Kecamatan (Sekcam, Kasubag Perencanaan & Keuangan, Kasubag Umum & Kepegawaian) serta 5 Seksi (Pemerintahan, Kesejahteraan Sosial, Pelayanan Umum, Keamanan & Ketertiban, Pemberdayaan Masyarakat). Berdasarkan Peraturan Bupati Tabanan Nomor 19 Tahun 2020, disebutkan tugas dan fungsi utama Camat meliputi: 1.Regulasi & Perencanaan: Menyusun kebijakan, merumuskan sasaran, merencanakan, mengendalikan, dan mengorganisasikan kegiatan kecamatan. 2.Koordinasi Lintas Sektor: Sinkronisasi kerja dengan instansi vertikal/SKPD, pemberdayaan masyarakat, ketenteraman umum, penegakan regulasi, pemeliharaan fasilitas umum, dan pembinaan pemerintahan desa. 3.Pelayanan & Delegasi: Melaksanakan pelayanan publik ruang lingkup kecamatan/desa serta menjalankan sebagian wewenang yang dilimpahkan oleh Bupati. 4.Manajemen Internal: Mengarahkan, membina, dan menilai prestasi kerja bawahan, menginventarisasi masalah, serta melaporkan hasil kinerja kepada pimpinan. No. Nama BUMDes Alamat 1 Karya Mesari Desa Karyasari 2 Belimbing Lestari Desa Belimbing 3 Sumber Rejeki Desa Sanda 4 Batu Mesari Desa Batungsel 5 Sejahtera Mandiri Desa Padangan 6 Jaya Abadi Desa Kebon 7 Giri Mandara Desa Jelijih 8 Amertha Sanjiwani Desa Pujungan 9 Giri Sedana Desa Pupuan 10 Catur Satya Sedana Desa Sai 11 Tugu Sari Desa Pajahan 12 Sri Sedana Desa Munduktemu 13 Widya Partha Desa Belatungan 14 Sari Amertha Buwana Desa Bantiran Struktur Organisasi & Tugas Fungsi Camat B. ANALISA MASALAH KINERJA ORGANISASI Kecamatan Pupuan memiliki potensi besar di sektor perkebunan (kopi dan buah-buahan) serta kerajinan tangan lokal (seperti rajutan, batok kelapa dan hyang lainnya). Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah belum memadainya infrastruktur ekonomi desa seperti pasar, penginapan, dan akses modal mikro sehingga Indeks Ketahanan Sosial dan Ekonomi di beberapa desa masih berstatus "berkembang". Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah kecamatan kini fokus pada: Penguatan ekonomi dengan mendorong peran BUMDes dan pembinaan UMKM. Modernisasi layanan dengan mengembangkan digitalisasi pelayanan publik. Sinergi strategis dengan menjalin kemitraan dengan pihak swasta dan komunitas. data BUMDes di Kecamatan Pupuan
BUMDes diarahkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD) dan kesejahteraan masyarakat melalui 7 peran utama: 1.Sebagai Offtaker (Pembeli Utama) dengan menjamin harga yang adil bagi pengrajin. 2.Penyedia Pembiayaan Mikro dengan memberikan akses modal yang cepat dan aman. 3.Konsolidasi Produk dengan membentuk unit usaha khusus untuk menampung dan mengelola komoditas kerajinan tangan desa. 4.Pengelolaan Teknologi Tepat Guna dengan menyediakan investasi alat/mesin modern untuk meningkatkan standar kualitas produk. 5.Peningkatan Nilai Tambah dengan memfasilitasi proses finishing, pengemasan, hingga pembuatan narasi produk. 6.Mengintegrasikan Dana Desa untuk kegiatan produktif yang hasilnya diputar menjadi PAD berkelanjutan. 7.Pemasaran Digital, berkolaborasi dengan pemuda lokal untuk memasarkan produk tradisional lewat marketplace dan media sosial. No. Desa Jenis UMKM Unggulan Kuliner Kerajinan 1 Karyasari Gula aren / gula semut Anyaman serabut kelapa 2 Belimbing Gula aren / gula semut Anyaman serabut kelapa 3 Sanda Entil dan gula semut Anyaman serabut kelapa 4 Batungsel Serbuk Kopi, keripik Rajutan 5 Padangan Serbuk kopi Rajutan 6 Kebon Padangan Olahan salak Rajutan 7 Jelijih Punggang Olahan salak Anyaman serabut kelapa 8 Pujungan Serbuk kopi, keripik Rajutan, ukiran 9 Pupuan Jus buah Rajutan 10 Sai Keripik Rajutan 11 Pajahan Olahan buah Rajutan 12 Munduktemu Olahan buah Anyaman 13 Belatunganb Olahan buah Anyaman 14 Bantiran Serbuk kopi Rajutan Data Pelaku UMKM Unggulan di Kecamatan Pupuan
Permasalahan / Aspek Kondisi Saat Ini Kondisi Ideal Celah Kesenjangan 1. Pola pikir usaha Pengrajin hanya memproduksi barang tradisional berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa memedulikan tren pasar modern Pengrajin memiliki entrepreneurial mindset yang adaptif terhadap selera, tren, dan kebutuhan pasar global/modern Kurangnya kesadaran pasar dan keengganan keluar dari zona nyaman produksi tradisional 2. Literasi desain dan inovasi Produk minim estetika karena tidak pernah mendapatkan pelatihan desain yang memadukan fungsi utilitas dan nilai seni Produk memiliki nilai estetika tinggi, bervariasi (diversified), dan memiliki nilai jual premium Ketiadaan akses terhadap mentor desainer profesional dan modul pelatihan inovasi produk. 3. Teknologi pendukung Kualitas produk tidak seragam dan mudah rusak (berjamur/rapuh) karena kekurangan alat/Teknologi Tepat Guna (TTG) Produk memiliki standar kualitas ekspor dengan finishing yang matang, awet, dan aman digunakan Keterbatasan aset/alat modern dan minimnya pengetahuan teknik pengawetan 4. Likuiditas dan modal kerja Pengrajin terpaksa menjual produk mentah/murah ke pengepul demi mendapatkan uang tunai instan untuk kebutuhan pokok dan bahan baku Pengrajin memiliki stabilitas finansial dan modal kerja yang cukup untuk menyelesaikan produk hingga tahap final. Ketiadaan akses pembiayaan mikro yang cepat dan aman, menyebabkan ketergantungan akut pada tengkulak 5. Optimalisasi peran BUMDes/Koperasi BUMDes/Koperasi belum berperan aktif, sehingga tengkulak leluasa memainkan harga di tingkat bawah BUMDes/Koperasi bertindak sebagai offtaker (pembeli utama) yang menjamin harga adil dan memutus rantai tengkulak Belum adanya unit usaha khusus kriya di BUMDes serta keterbatasan modal kelembagaan desa untuk menyerap produk 6. Sinergi antar generasi Terjadi pemisahan (skat); pengrajin tua ahli secara teknis tetapi buta digital, sementara pemuda desa melek digital tetapi tidak diberdayakan Tercipta ekosistem kolaborasi di mana keahlian teknis pengrajin tua dipadukan dengan keterampilan digital marketing pemuda Absennya wadah atau forum bersama yang menjembatani transfer pengetahuan Metode Analiisis Metode GAP (Gap Analysis)
Metode APKL (Aktual, Problematik, Khalayak, Kelayakan) No Identifikasi permasalahan A P K L Total skor Peringkat 1 Pengrajin butuh uang tunai cepat untuk kebutuhan dapur & bahan baku, sehingga terpaksa menjual produk mentah/murah ke pengepul 5 4 5 5 19 II 2 Belum optimalnya peran Koperasi atau BUMDes untuk memutus rantai tengkulak dengan bertindak sebagai pembeli utama (offtaker) yang adil 5 5 5 5 20 I 3 Pengrajin kekurangan alat/teknologi tepat guna untuk melakukan standardisasi kualitas dan finishing tingkat lanjut 4 4 5 5 18 III 4 Kurangnya akses terhadap pelatihan desain produk yang memadukan fungsi utilitas dengan nilai estetika/seni (home decor) 5 5 4 3 17 IV 5 Pengrajin memproduksi barang hanya berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa melihat pergeseran tren pasar modern 4 5 4 3 16 V 6 Belum adanya wadah yang menjembatani keahlian fisik pengrajin tua dengan keterampilan digital pemuda desa 4 4 4 3 15 VI Metode Analiisis Penilaian metode ini menggunakan skala Likert 1–5 (1 = Sangat Rendah, 2 = Rendah, 3 = Sedang, 4 = Tinggi, 5 = Sangat Tinggi). Peringkat I: Belum Optimalnya Peran Koperasi atau BUMDes (Skor: 20) Isu ini mendapat skor tinggi pada aspek Kelayakan (Feasibility), menyelesaikan ketergantungan tengkulak lewat intervensi kelembagaan desa sangat mungkin dilakukan. Jika BUMDes hadir sebagai penjamin modal (offtaker), masalah likuiditas pada peringkat pertama secara otomatis bisa langsung teratasi.
Metode USG (Urgency, Seriousness, Growth) No Identifikasi Permasalahan U S G Total skor Peringkat 1 Belum optimalnya peran Koperasi atau BUMDes untuk memutus rantai tengkulak dengan bertindak sebagai pembeli utama (offtaker) yang adil 5 5 5 15 I 2 Pengrajin butuh uang tunai cepat untuk kebutuhan dapur & bahan baku, sehingga terpaksa menjual produk mentah/murah ke pengepul 5 5 4 14 II 3 Pengrajin kekurangan alat/teknologi tepat guna untuk melakukan standardisasi kualitas dan finishing tingkat lanjut 4 4 4 12 III 4 Kurangnya akses terhadap pelatihan desain produk yang memadukan fungsi utilitas dengan nilai estetika/seni (home decor). 3 4 4 11 IV 5 Pengrajin memproduksi barang hanya berdasarkan kebiasaan turun-temurun tanpa melihat pergeseran tren pasar modern 3 4 3 10 V 6 Belum adanya wadah yang menjembatani keahlian fisik pengrajin tua dengan keterampilan digital pemuda desa 3 3 3 9 VI Metode Analiisis Skala Penilaian: 5 = Sangat Besar, 4 = Besar, 3 = Sedang, 2 = Kecil, 1 = Sangat Kecil Analisis Hasil Penentuan Prioritas Utama: Berdasarkan pembobotan dengan metode USG, didapatkan akar masalah utama dengan skor tertinggi (15), yaitu "Belum optimalnya peran Koperasi atau BUMDes untuk memutus rantai tengkulak dengan bertindak sebagai pembeli utama (offtaker) yang adil."
Metode fishbone (tulang ikan) Metode Analiisis Metode Fishbone (atau dikenal juga sebagai Diagram Tulang Ikan) adalah alat analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, dan menyusun secara visual seluruh akar penyebab dari suatu masalah spesifik. Metode ini sangat berguna dalam manajemen kualitas dan pemecahan masalah (problem solving).
Metode Mc Namara No Alternatif Gagasan Kriteria Alternatif Gagasan Total Prioritas Efektivitas Efisiensi Kemudahan 1 Optimalisasi BUMDes sebagai offtaker resmi desa 5 5 4 14 I 2 Penyediaan skema dana talangan bergulir oleh BUMDes 5 4 4 13 II 3 Karang Taruna dan pengrajin tua untuk digitalisasi produk, pembuatan konten promosi, dan pengelolaan marketplace. 4 4 3 11 V 4 Pengadaan alat standardisasi dan finishing modern 4 4 4 12 IV 5 Program pelatihan berkala dengan mendatangkan desainer profesional 5 4 4 13 III Metode Analiisis Metode McNamara adalah salah satu alat analisis yang digunakan untuk menentukan prioritas alternatif solusi atau efektivitas program Bobot penilaian solusi dengan skala penilaian alternatif (1=sangat buruk, 2=buruk, 3=biasa, 4=baik, 5=sangat baik)
C. STRATEGI PENYELESAIAN MASALAH Terobosan Inovasi Sebagai solusi komprehensif, digagas gerakan GIRI PRANATA PUPUAN (Gerakan Inovasi Kerajinan dan Hilirisasi Produk Unggulan Masyarakat Pupuan) yang dieksekusi melalui 5 pilar strategi berbasis manajemen kinerja modern: 1.Ekosistem Kelembagaan Multisektor dimana Pemerintah Kecamatan bertindak sebagai fasilitator koordinasi terpadu dengn menghubungkan Pemerintah Desa, UMKM, dan BUMDes dengan 8 OPD Teknis Kabupaten Tabanan untuk dukungan legalitas, modal, dan teknologi. 2.Transformasi Organisasi Digital, menyusun database digital UMKM dan produk berbasis desa, membuat katalog digital serta mengoptimalkan marketplace dan media sosial dan mengedukasi warga untuk mengikuti pelatihan digital branding, kemasan modern, dan toko online. 3.Akuntabilitas Kinerja Berbasis Hasil (Result-Oriented), dengan menetapkan target tim pembina kecamatan yang terukur dengan indikator keberhasilan berorientasi pada jumlah produk mentah yang berhasil dihilirisasi menjadi produk turunan bernilai jual tinggi. 4.Pelayanan Publik Inklusif, dengan menerapkan pelayanan gratis, cepat, dan transparan, memfasilitasi perizinan usaha agar UMKM naik kelas dan mampu menembus jaringan swasta, hotel, serta pasar wisata. 5.Diversifikasi Pendanaan, mengurangi ketergantungan pada APBD dengan cara mengintegrasikan Dana Desa (BUMDes), program CSR swasta/perbankan, serta bantuan alat produksi dari pemerintah daerah dan pusat.
No. Kegiatan Waktu Output Metode Pelaksana I JANGKA PENDEK A Tahap Persiapan 1 Konsultasi dengan Mentor dan Coach Minggu I Juli 2026 Arahan dan dokumentasi Konsultasi langsung dan via pesan Project Leader Tim Kerja 2 Pembentukan Tim Kerja Minggu II Juli 2026 Dokumentasi rapat Rapat Project Leader Tim Kerja 3 Penerbitan SK Tim Minggu II Juli 2026 Susunan Tim Kerja Hard copy Camat 4 Rapat Pembahasan Rencana Kerja Tim Minggu III Juli 2026 Notulen dan Dokumentasi rapat Rapat Tim Kerja Giri Pranata B Pelaksanaan 1 Rapat koordinasi dengan seluruh Tim Minggu III Juli 2026 Notulen, daftar hadir dan Dokumentasi Rapat Tim Kerja Giri Pranata 2 Sosialisasi Aksi Perubahan kepada semua Pegawai dan Forum Perbekel Minggu III Juli 2026 Surat undangan, Daftar Hadir, Notulen dan dokumentasi Rapat Project Leader Tim Kerja 3 Penyusunan data base UMKM skala desa Minggu III Juli 2026 Daftar UMKM Hard copy Project Leader Tim Kerja 4 Sosialisasi Aksi Perubahan kepada Pelaku usaha mikro, pengerajin, BUMDes dan stakehorder terkait Minggu III Juli 2026 Surat undangan, Daftar Hadir, Notulen dan dokumentasi Webinar Project Leader Tim Kerja 5 Penetapan Indikator Kinerja Utama Minggu III Juli 2026 Dokumen indikator Hard copy Project Leader Tim Kerja C Evaluasi 1 Survey terhadap BUMDes tentang penetapan jumlah UMKM yang terlayani. Minggu IV Juli 2026 Print out hasil berupa speedsheet Google form Project Leader Tim Kerja Milestone dan Kegiatan
II JANGKA MENENGAH 1 Publikasi katalog digital "GIRI PRANATA PUPUAN, aktivasi media sosial promosi Kecamatan Nopember2026 Terposting di lama Medsos Giri Pranata Pupuan Sreenshoot postingan Project Leader Tim Kerja 2 Kesepakatan integrasi pemanfaatan Dana Desa (via BUMDes) Des 2026 Penyertaan Dana Desa di APBDes Copy Dok APBDes Project Leader Tim Kerja 3 Pelatihan intensif digital branding dan kemasan modern bagi perajin Pebruari 2027 Daftar Hadir dan dokumentasi Webinar Project Leader Tim Kerja III JANGKA PANJANG 1 Kelompok UMKM/Perajin binaan berhasil memproduksi hilirisasi produk mentah menjadi produk jadi dengan kemasan modern dan legalitas yang lengkap Tahun 2027 - 2028 Dokumentasi Dokumentasi Project Leader Tim Kerja 2 Evaluasi akhir tahun yang menunjukkan peningkatan omzet perajin secara terukur melalui pemanfaatan marketplace dan e- commerce secara mandiri Tahun 2028 Dokumen Laporan Akhir Tahun Hard copy Project Leader Tim Kerja No. Kegiatan Waktu Output Metode Pelaksana Milestone dan Kegiatan
Sumber Daya a. Stakeholders Internal : Camat selaku pemimpin, penanggung jawab penuh, dan fasilitator utama ekosistem. Sekretaris Kecamatan selaku koordinator internal, pengawas administrasi, dan pengendali keuangan. Kasi Pemberdayaan Masyarakat Desa selaku motor penggerak lapangan untuk pembinaan BUMDes dan sinkronisasi Dana Desa. Kasi Pemerintahan selaku penanggung jawab legalitas formal, SK Tim Kerja, dan koordinasi dengan Pemerintah Desa. Kasi Pelayanan Umum selaku koordinator fasilitasi perizinan usaha (NIB) gratis dan cepat bagi UMKM. Staf Kecamatan sedlaku tim pendukung teknis untuk sosialisasi dan pengumpulan data. b. Stakeholders Eksternal : Forum Perbekel (14 Kades) selaku pembuat kebijakan desa dan penentu regulasi modal Dana Desa ke BUMDes. Pengurus BUMDes selaku pelaksana taktis, offtaker produk, pengelola teknologi, dan penyedia modal. Kelompok Pengrajin & UMKM selaku subjek utama penerima manfaat yang memproduksi barang hilirisasi. Pemuda Desa (Digital Creator) selaku mitra pembuatan konten, digital branding, dan pengelolaan toko online. 8 OPD Teknis Kab. Tabanan selaku mitra kabupaten penyedia dukungan legalitas, modal, dan teknologi.
No Tahapan kegiatan Potensi Resiko Kemungkinan Dampak Mitigasi 1 Konsultasi dengan Mentor dan Coach Jadwal bentrok dengan agenda mendesak Mentor/Coach sehingga konsultasi tertunda Jarang terjadi Kecil Membuat janji temu jauh- jauh hari dan menyiapkan poin konsultasi secara ringkas WA 2 Pembentukan Tim Kerja Anggota tim yang dipilih memiliki beban kerja kedinasan lain yang tinggi Jarang terjadi Kecil Memilih anggota tim lintas fungsi yang adaptif dan membagi porsi tugas secara adil dan proporsional. 3 Penerbitan SK Tim Proses birokrasi penandatanganan SK oleh Camat tertunda karena kesibukan dinas luar. Jarang terjadi Kecil Menyiapkan draf SK lebih awal dan berkoordinasi dengan sekretariat/ajudan untuk pencatatan jadwal penandatanganan 4 Rapat Pembahasan Rencana Kerja Tim Anggota tim kurang memahami tupoksi masing-masing dalam rencana kerja. Bisa terjadi Sedang Project Leader membuat panduan tertulis singkat (job description) sebelum rapat dimulai agar pembahasan lebih fokus. 5 Rapat koordinasi dengan seluruh Tim Kehadiran tim tidak lengkap karena ada tugas lapangan mendadak Bisa terjadi Sedang Menyediakan opsi kehadiran daring/hibrida dan membagikan notulen hasil rapat sesegera mungkin di grup koordinasi. 6 Sosialisasi Aksi Perubahan kepada Pegawai dan Forum Perbekel Kurangnya komitmen atau respon pasif dari beberapa Perbekel karena menganggap ini program tambahan. Bisa terjadi Sedang Menekankan manfaat aksi perubahan ini terhadap pertumbuhan ekonomi desa dan kemudahan pendataan di tingkat desa. Manajemen Resiko Pengembangan inovasi GIRI PRANATA memerlukan manajemen risiko yang terstruktur dan sistematis untuk mengidentifikasi, mengendalikan, dan memantau setiap potensi dampak negatif terhadap pencapaian tujuan program.
No Tahapan kegiatan Potensi Resiko Kemungkinan Dampak Mitigasi 7 Penyusunan database UMKM skala desa Data dari desa tidak valid, tidak lengkap, atau terlambat dikirimkan Cukup besar Tinggi Menyediakan format/templat database yang sederhana dan menetapkan batas waktu tegas 8 Sosialisasi kepada Pelaku usaha mikro, pengrajin, BUMDes & Stakeholder Gangguan jaringan internet saat webinar atau pelaku UMKM kesulitan menggunakan platform digital. Cukup besar Sedang Menyediakan titik kumpul sosialisasi di kantor desa terdekat untuk mendengarkan webinar bersama dibantu perangkat desa. 9 Penetapan Indikator Kinerja Utama Indikator yang disusun terlalu muluk/sulit diukur dalam jangka pendek. Bisa terjadi Sedang Menggunakan prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) yang realistis dicapai 10 Rapat koordinasi bersama BUMDes masalah penetapan jumlah UMKM terlayani Perbedaan data atau persepsi antara Tim Kerja dengan pengurus BUMDes terkait UMKM yang aktif. Bisa terjadi Sedang Melakukan pra-konsiliasi (penyelarasan data awal) sebelum rapat koordinasi resmi dimulai. 11 Membuat laporan evaluasi Keterlambatan pengumpulan bukti fisik/dokumentasi menghambat penyusunan laporan Cukup besar Tinggi Mewajibkan tim untuk mengunggah (upload) bukti dokumentasi dan notulen ke folder digital bersama (Google Drive) setiap kali kegiatan selesai. 12 Publikasi katalog digital "GIRI PRANATA PUPUAN" & aktivasi medsos Akun media sosial sepi interaksi atau pengelolaannya tidak konsisten setelah proyek selesai. Cukup besar Sedang Menunjuk admin khusus dari tim kerja, membuat kalender konten berkala, dan mengintegrasikannya dengan informasi pelayanan kecamatan. Manajemen Resiko
No Tahapan kegiatan Potensi Resiko Kemungkinan Dampak Mitigasi 13 Kesepakatan integrasi pemanfaatan Dana Desa (via BUMDes) Beberapa desa enggan menganggarkan penyertaan modal untuk UMKM di APBDes karena prioritas lain. Cukup besar Tinggi Pendekatan persuasif dan regulasi dari Camat mengenai pentingnya penguatan ekonomi lokal melalui BUMDes dalam APBDes 14 Pelatihan intensif digital branding dan kemasan modern bagi perajin Pelaku UMKM/perajin kesulitan menyerap materi teknis jika hanya dilakukan via webinar Cukup besar Tinggi Mengombinasikan webinar dengan penyediaan video tutorial singkat yang dapat diputar ulang kapan saja, atau menyediakan sesi konsultasi tatap muka terbatas. 15 Kelompok UMKM berhasil memproduksi produk hilirisasi, kemasan modern & legalitas Proses pengurusan izin legalitas memakan waktu lama atau terkendala syarat administrasi. Cukup besar Sedang Membangun kemitraan strategis dengan Dinas Koperasi & UKM atau Dinas Perizinan untuk memberikan jalur fasilitasi kolektif. 16 Evaluasi akhir tahun menunjukkan peningkatan omzet melalui e-commerce Perajin konsisten berjualan di awal, namun malas memperbarui (update) toko digitalnya secara mandiri Cukup besar Sedang Membentuk "Komunitas UMKM Digital" tingkat kecamatan sebagai wadah saling menyemangati, berbagi tips, dan evaluasi berkala. Manajemen Resiko
No Pihak yang terdampak Kompetensi yang dibutukan Pengembangan Kompetnsi Waktu Pelaksanaan 1 Tim Kerja Giri Pranata Memahami cara penyusunan regulasi, dan legalitas. Memahami cara pembuatan indikator berbasis dampak (result- oriented). Penyamaan persepsi berdasarkan regulasi dasar serta untuk penetapan Indikator Kinerja Utama (IKU) Minggu II Juni 2026 2 Aparatur Pemerintahan Desa dan Lembaga Ekonomi (BUMDes) Penguasaan instrumen verifikasi data potensi UMKM desa secara digital Pendampingan pengisian data potensi melalui formulir digital Minggu III Juni 2026 3 Generasi Muda Desa Memahami keterampilan digital branding dan komunikasi visual. Pengelolaan toko online, platform e-commerce, dan manajemen marketplace. Pembuatan visual katalog produk (E-Katalog) dan manajemen konten media sosial Pelatihan intensif dan pengorganisasian pemuda desa sebagai admin digital resmi toko online BUMDes. Aktivasi platform media sosial resmi Kecamatan sebagai wadah publikasi berkelanjutan Minggu II Juli 2026 Strategi Pengembangan Organisasi Sebagai tindak lanjut komprehensif dari pelaksanaan Gerakan Perubahan GIRI PRANATA PUPUAN, diperlukan sebuah cetak biru (Blue Print) berupa Strategi Pengembangan. Strategi ini disusun berdasarkan evaluasi matriks GAP, analisis Fishbone, USG dan yang lainnya. Strategi Pengembangan Inovasi GIRI PRANATA PUPUAN
D. PEMETAAN SIKAP PERILAKU KEPEMIMPINAN DAN RENCANA STRATEGI PENGEMBANGAN POTENSI DIRI Pemetaan dilakukan melalui self-assessment oleh peserta dan penilaian oleh mentor menggunakan instrumen dari LAN. Hasilnya didiskusikan dalam proses mentoring untuk menyepakati celah kemampuan (gap) dan strategi pengembangannya. Assessment ini mengukur 7 kompetensi manajerial jabatan administrator: 1.Membangun Integritas: Konsisten bertindak sesuai norma/etika organisasi, jujur, bertanggung jawab, dan menciptakan budaya etika tinggi. 2.Membangun Sinergitas: Membina hubungan kerja efektif, saling membantu, dan mengoptimalkan sumber daya untuk tujuan organisasi. 3.Membangun Komunikasi: Mendengarkan secara aktif dan persuasif dalam menyampaikan gagasan untuk mencapai tujuan bersama. 4.Berorientasi pada Hasil: Berkomitmen menyelesaikan tugas, mampu mengidentifikasi risiko, dan menghubungkan perencanaan dengan hasil nyata. 5.Pelayanan Publik: Menyelenggarakan pelayanan secara profesional, transparan, objektif, netral, dan bebas dari kepentingan pribadi/golongan. 6.Mengelola Perubahan: Adaptif terhadap situasi baru, mendukung inisiatif perubahan, dan memimpin implementasinya secara efektif. 7.Pengambilan Keputusan: Mampu menentukan tindakan yang tepat berdasarkan analisis data dan informasi yang relevan dalam situasi berisiko. Rekap nilai gabungan pemetaan sikap dan perilaku terlampir pada Lampiran RAP ini Pemetaan Sikap Perilaku Kepemimpinan
No. Komponen / Sub Komponen Intervensi Strategi Pengembangan Potensi Diri Tahapan Kegiatan Rencana Waktu Pelaksanaan 1 Mengelola Perubahan / Pengembangan diri dan orang lain. 1.Memberikan kepercayaan kepada bawahan melalui penugasan menantang dan Proaktif mencari peluang perbaikan dan menyampaikan alternatif solusi 2.Memaksimalkan pendelegasian wewenang secara terukur kepada bawahan. 3.Menumbuhkan inisiatif mandiri dalam menciptakan solusi taktis dan perbaikan system 1.Menggunakan metode terstruktur untuk membimbing bawahan saat mengemban tugas-tugas baru yang lebih menantang. 2.Mengembangkan iklim kerja kreatif dan adaptif terhadap perubahan serta aktif melakukan studi komparasi inovasi. 1.Mengidentifikasi potensi kepemimpinan dan minat kompetensi para Kepala Seksi atau staf. Menunjuk staf menjadi penanggung jawab atau ketua tim kerja 2.Melakukan bimbingan untuk memantau perkembangan kompetensi bawahan. 3.Mengeksekusi perbaikan langsung pada alur birokrasi pelayanan kecamatan yang dinilai kurang efektif. Minggu II dan III Juli 2026 2 Mengelola Perubahan / Inisiatif. 1. Meningkatkan kemampuan penyampaian ide, strategi dan inovasi 1. Merancang Inovasi - inovasi dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran perangkat daerah 1. Melakukan pemetaan peran dinas - dinas terkait dalam mendukung hilirisasi produk. 2. Menyelenggarakan rapat koordinasi internal untuk menyelaraskan target program GIRI PRANATA. 3. Menyusun rencana kerja kolaboratif Menyusun draf Kerja Sama Publik-Swasta atau Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait hilirisasi kerajinan Minggu III Juli 2026 Rencana Strategi Pengembangan Potensi Diri Untuk mewujudkan tujuan Aksi Perubahan dan mengoptimalkan kinerja profesional, strategi pengembangan potensi dilakukan melalui empat langkah: pemetaan diri (self- assessment), penetapan tujuan (goal setting), peningkatan kompetensi, serta evaluasi dan adaptasi. Strategi Pengembangan Potensi Diri
3 Kerjasama/ Komunikasi Meningkatkan tata cara menyampaikan informasi dengan cukup jelas baik secara tertulis maupun lisan dalam menunjang kelancaran kerja pada unit. Meningkatkan komunikasi yang lebih intensif dengan atasan maupun bawahan 1.Menyusun instrumen kendali mutu untuk setiap urusan di Kantor Camat. 2.Memimpin rapat evaluasi internal guna membedah kendala tugas staf. 3.Memberikan kesempatan berbicara yang lebih banyak terhadap bawahan yang membidangi pelayanan masing-masing Minggu III Juli 2026 No. Komponen / Sub Komponen Intervensi Strategi Pengembangan Potensi Diri Tahapan Kegiatan Rencana Waktu Pelaksanaan Rencana Strategi Pengembangan Potensi Diri BAB III PENUTUP BAB III PENUTUP Demikian Rancangan Aksi Perubahan Kinerja Organisasi (RAPKO) "GIRI PRANATA PUPUAN" ini disusun sebagai pedoman strategis hilirisasi produk unggulan masyarakat. Keberhasilan gerakan ini diukur melalui tiga target output utama: 1.Legalitas & Data: Penerbitan SK Tim Kerja, penyusunan database UMKM desa, koordinasi layanan BUMDes, serta penyusunan Dokumen IKU dan evaluasi awal. 2.Digitalisasi & Kapasitas: Peluncuran katalog digital dan media sosial promosi, MoU integrasi Dana Desa, serta pelatihan digital branding dan kemasan modern. 3.Kemandirian UMKM: Terwujudnya UMKM binaan yang legal, mandiri, dan mampu memasarkan produk hilirisasi via e-commerce, dibuktikan dengan evaluasi peningkatan omzet. Pelaksanaan rencana aksi ini membutuhkan sinergi dan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan (Kecamatan, Desa, BUMDes, dan perajin). Melalui konsistensi bersama, gerakan ini diharapkan mampu memutus ketergantungan penjualan bahan mentah, meningkatkan posisi tawar pengrajin, serta menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan di Kecamatan Pupuan.
DAFTAR PUSTAKA Pemerintah Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Jakarta. Pemerintah Republik Indonesia. (2014). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi RI. (2021). Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Nomor 3 Tahun 2021 tentang Pendaftaran, Pendataan dan Pemeringkatan, Pembinaan dan Pengembangan, dan Pengadaan Barang dan/atau Jasa Badan Usaha Milik Desa/Badan Usaha Milik Desa Bersama. Jakarta. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI. (2022). Peraturan Menteri PANRB Nomor 6 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Kinerja Pegawai Aparatur Sipil Negara. Jakarta. Pemerintah Kabupaten Tabanan. (2016). Peraturan Bupati Tabanan Nomor 52 Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Tabanan. Tabanan. Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Bela Negara Kepempinan Pancasila. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Kepemimpinan Transformasional. Jakarta Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Jejaring Kerja. Jakarta Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Strategi Komunikasi Organisasi Sektor Publik. Jakarta Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Manajemen Perubahan Sektor Publik. Jakarta Lembaga 38 Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Akuntabilitas Kinerja. Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Hubungan Kelembagaaan. Jakarta Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Organisasi Digital. Jakarta
Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Manajemen Kinerja. Jakarta Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Standar Kinerja Pelayanan. Jakarta Lembaga Administrasi Negara. Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Manajemen Keuangan Negara. Jakarta Lembaga Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Manajemen Resiko. Jakarta Lembaga Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator: Studi Lapangan. Jakarta Lembaga Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara. 2023. Modul Pelatihan Kepemimpinan Administrator : Aksi Perubahan Kinerja Organisasi. Jakarta Lembaga Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Struktural Kepemimpinan : Berpikir Kritis. Jakarta Lembaga Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Struktural Kepemimpinan : Self Resilience. Jakarta Lembaga Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Pelatihan Struktural Kepemimpinan : Digital Skill Dalam Penyusunan Kebijakan. Jakarta Lembaga Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara. 2021. Modul Kepemimpinan Pengawas : Diagnosa Organisasi. Jakarta Kotler, P., & Keller, K. L. (2021). Marketing Management (16th ed.). Pearson (Referensi untuk Digital Branding dan Pemasaran Modern). Tambunan, T. T. H. (2019). Development of MSMEs in Indonesia. Jakarta: Trisakti University Press (Referensi untuk pengembangan ekonomi skala mikro/UMKM di perdesaan). Suryani, A., & Handayani, T. (2022). "Optimalisasi Peran BUMDes Sebagai Offtaker dalam Memutus Rantai Tengkulak di Sektor Industri Kreatif". Jurnal Administrasi Publik dan Tata Kelola Desa, 4(1), 22-35.
LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran I Komitmen Bersama
Lampiran II Asesmen Peserta
Lampiran III Asesmen Mentor
Lampiran IV Rekap Nilai Gabungan Pemetaan Sikap dan Perilaku
1. MEMBANGUN KOMITMEN BERSAMA https://bit.ly/MEMBANGUN_KOMITMEN_BERSAMA 2. HASIL PEMETAAN https://bit.ly/HASILPEMETAAN 3. BIMBINGAN MENTOR https://bit.ly/lembar_bimbingan 2. REKAP PEMETAAN SIKAP PRILAKU https://bit.ly/REKAPNILAISIKAP 3. BIMBINGAN COACH Lampiran V
Lampiran VI Lembar Coaching
Lampiran VII Lembar Mentoring