Rina dan compressed

Rina danKacamata Ajaibnya

Terdapat seorang anak perempuan bernama rina dia memiliki sifat pemalu, pendiam, serta jarang berbicara kepada orang lain. Meskipun demikian, ia dikenal sebagai anak yang baik hati, penyayang, dan selalu berusaha membantu keluarganya. Rina berasal dari keluarga sederhana yang hidup di sebuah desa. Ayahnya bekerja sebagai petani yang setiap hari mengolah sawah untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga yang mengurus pekerjaan rumah sekaligus merawat kedua adik Rina, yaitu Dimas dan Sekar.

Rina bersekolah di Sekolah Dasar Mekar Bahagia 02 di kelas 6. Semakin naik kelas, Rina tumbuh menjadi anak yang pemalu dan tidak banyak berbicara. Ia lebih sering diam, duduk sendiri saat istirahat, dan enggan untuk bergabung dengan teman-temannya. Hal itu terjadi karena beberapa temannya sering mengucilkannya. Mereka tidak mengajaknya bermain, mengabaikannya saat berbicara, bahkan kadang merertawakannya. Di rumah, keadaan pun tidak jauh berbeda. Ayahnya jarang ada karena sibuk di sawah, sedangkan ibunya selalu disibukkan dengan pekerjaan rumah dan mengurus adik-adiknya. Rina pun terbiasa menyimpan perasaannya sendiri. Ia menjadi pribadi yang tertutup dan tidak berinteraksi dengan orang banyak.

Keesokan harinya, Rina berangkat ke sekolah dengan tidak penuh semangat karena dia lelah habis menjaga kedua adiknya kemarin. Sesampainya di sekolah dia bertemu orang-orang yang suka mengejek dia ada (Ranti, Sonya, dan Syifa). "Eh temen temen liat deh ada yang lewat tuh, si anak pendiem yang gabisa ngomong” “hahaha, iya tuh” ““kirain gada yang lewat”, ”Hei, udah nanti dia nangis loh di kelas” ujar Ranti. Rina hanya bisa mengangguk menunduk dan sedih..

Pagi itu, Rina sarapan bersama ayah, ibu, Dimas, dan Sekar di meja makan. Suasana rumah terasa hangat dan penuh kebersamaan. Sambil mengambil nasi, ibu tersenyum kepada Rina lalu bertanya, "Bagaimana di sekolah hari ini, Rina?". Rina hanya menunduk sambil memandangi makanannya. Dengan suara pelan ia menjawab, "Baik-baik saja, Bu." Ibu kemudian memperhatikan kacamata hitam yang dibawa Rina. "Rina, itu kacamata milik siapa?" tanyanya. Rina masih menunduk dan menjawab, "Aku menemukannya di sebuah gubuk kecil di tepi sawah saat pulang sekolah, Bu. Aku juga belum tahu itu milik siapa." Saat Rina mengangkat wajahnya untuk melihat ibunya, ia terkejut. Di atas kepala ibunya tampak sebuah tulisan yang bersinar lembur. Tanpa berpikir panjang, Rina langsung berkata, "Bu... ko ada tulisan apa itu ya, ada tulisan sesuatu dikepala ibu” kata rina. “Tulisan apa, tidak ada apa-apa rina, sudah-sudah - sudah kamu kurang fokus karena laper” kata ibunya rina

Ketika berangkat ke sekolah, Rinapun banyak berpapasan dengan banyak orang dan muncul pula banyak tulisan yang menjelaskan berbagai keadaan nantinya dalam beberapa waktu jam, menit, dan detik. Sehingga Rina merasa bingung, dia berulang kali mengucek matanya karena ngerasa aneh dengan apa yang dilihatnya. Pada awalnya, Rina tidak percaya dengan tulisan-tulisan di atas kepala mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, Rina menyadari bahwa semua tulisan tersebut benar-benar terjadi sesuai waktu yang tertera. Hal itu membuatnya semakin bingung.

“Aduhh apa si yang diomongin orang aneh itu, disuruh hati-hati pas jalan” kata sonya “anak sok cupu ini kenapa jadi banyak bicara yah” kata syifa “Tau jangan sok bener deh nasehatin kita!” kata ranti dengan ngegas “Dasar orang aneh!’ pemberian Sonya, Ranti, dan Syifa. Dengan berjalanya waktu, Rina mulai melihat dengan mata kepalanya sendiri tentang apa kejadian yang terjadi satu-persatu Rina hanya bisa diam dan tidak bisa berbuat apa-apa “Eh anak aneh, sok banget bisa ngeliat apa yang bakal terjadi, kaya bakal terjadi aja!” kata sonya

Keesokan harinya ternyata teman-teman yang lain pun menghampiri rina salah satu dari mereka. Mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong oleh Rina, sehingga membuat penasaran teman-temannya untuk mendengarkan ceritanya. Merekapun menjadi atusias dan berbangga kepada Rina atas perilakunnya. Rina pun merasa senang dan bersyukur, walaupun ketiga temannya tadi masih tetap mengejek dirinya. .

Namun, ada satu orang yang tetap tidak menyukai Rina. Orang itu adalah Sonya, teman sekelasnya. Sejak dulu, Sonya tidak pernah menyukai Rina. Rasa tidak sukanya semakin besar ketika Rina mulai memiliki banyak teman. Sonya merasa iri karena Rina memiliki kemampuan untuk melihat masa depan dan menjadi pusat perhatian di sekolah. Banyak teman yang sebelumnya bermain dengannya kini lebih sering menghabiskan waktu bersama Rina. "Kenapa si banyak orang yang mendekati orang aneh itu?" “Memangnya dia siapa, apa hebatnya?” “Segitu saja mereka sudah pada senang.” Gumam Sonya sambil memandang Rina yang sedang dikelilingi banyak orang.

“ Hai Sonya, aku hanya mau memberitahu kamu bahwa, saat pulang sekolah hati-hati yaa dijalan, aku melihat ada mobil yang melaju sangat kencang di jalan. Aku khawatir ada sesuatu yang terjadi kepadamu”. kata Rina Sonya menatap rina dengan wajah kesal. Sonya sama sekali tidak menyukai perhatian yang diberikan oleh Rina. “Hei kamu, tidak usah berpura-pura baik deh ke aku!, memangnya kamu siapa? kenapa harus ikut campur?” kata Sonya Rina terdiam sejenak. Namun, Sonya masih melanjutkan perkataannya. “ Lagi pula, memangnya kamu bisa tahu apa yang akan terjadi pada ku? hanya karena orang-orang bilang kamu bisa melihat masa depan, buakn berarti kamu tahu segalanya! kamu pikir kamu hebat yaa” “ Ya sudah itu terserah kamu yang penting aku sudah memberi tahu kamu, tolong kamu lebih berhati-hati lagi ya” kata Rina.

Bel sekolah pun berbunyi yang mengartikan bahwa jam pulang sekolah pun telah tiba, ketika berjalan keluar kelas Rina mengikuti Sonya dari belakang, karena ingin memastikan Sonya. Ketika sudah memasuki pintu selamat datang desa, Rina melihat tulisan diatas kepala Sonya tiba-tiba berubah “2 menit lagi akan terjadi tabrakan” dengan cepat Rina mendekati Sonya yang mau menyebrang dan Ketika Rina melihat kesebelah kanan jalan terdapat mobil yang sangat ngebut dan mau menabrak Sonya.

Tiba-tiba, Rina berlari dan menarik sonya dari belakang. Sonya kaget dan hampir menabrak Sonya. Rina mengeraskan suara agar kawan-kawan di belakangnya memperharikan tanpa lupa karena berhasil menyelamatkan temannya dari kecelakaan. “Kamu tidak apa-apa, Sonya?” tanya Rina dengan Khawatir. Sonya yang masih terkejut di pinggir jalan menggaguk sambil memegang dadanya. “Aku kaget sekali, hampir saja aku tadi ter tabrak” kata Sonya dengan muka yang kaget. “Rina, kamu mengikuti aku dari tadi? Terima kasih banyak, ya, sudah menolong aku.” ucapan dengan mata berkaca Rina tersenyum kecil. “Iya, Aku hanya ingin memastikan kamu selamat. Sudah, sekarang hati-hati kalau menyebrang jalan.” jawaban Rina Sonya mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa Riana benar-benar peduli kepadanya.

Dalam perjalanan pulang, Rina dan Sonya berjalan bersama sambil berbincang- bincang. Setelah kejadian yang mereka alami hari itu, Sonya mulai menyadari bahwa Rina adalah teman yang baik. “Rina, terima kasih ya sudah mau menolongku tadi.” kata Sonya sambil tersenyum. “Sama-sama, Sonya aku senang bisa membantu.” jawab Rina Sonya lalu berkata, “maaf sekali kalau selama ini aku selalu mengejek mu.’ Rina tersenyum dan berkata, “aku suda memaafkan mu sblm km meminta maaf.” Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan hati yang gembira dan persahabatan yang semaki

Keosakan paginya, Rina berangkat sekolah dengan perasaan senang dan sesampai nya ia sudah disambut dengan sonya bukan dengan ejekan tetapi dengan sapaan yang sama sekali ia tidak pernah denger di sekolah di sana. “Selamat pagi Rina.” Sonya menyapa. “Pagi juga Sonya.” kata Rina “Apa aku boleh duduk sama kamu Rina?” kata Sonya “Iya boleh, kamu duduk saaja denganku.” kata Rina

Saat jam istirahat, Sonya, Ranti, dan Syifa bertemu di kantin sekolah. Mereka membicarakan kejadian kemarin. Sonya merasa sudah saatnya menceritakan kebaikan Rina kepada kedua sahabatnya agar mereka tidak salah paham lagi. Ranti: "Sonya, kenapa akhir-akhir ini kamu sering mengajak Rina?" Syifa: "Iya, bukannya Rina anak yang pendiam?" Sonya: "Kalian salah menilai Rina. Sebenarnya Rina anak yang sangat baik." Ranti: "Memangnya kenapa?" Sonya: "Kemarin, waktu aku hampir tertabrak mobil di depan sekolah, Rina langsung menolongku sehingga aku selamat." Syifa: "Serius? Rina yang menolongmu?" Sonya: "Iya. Padahal kami belum begitu dekat, tapi dia tetap menolongku tanpa ragu." Ranti: "Wah, ternyata Rina baik sekali. Selama ini kita salah paham menilai dia tidak baik" Syifa: "Kalau begitu, kita harus meminta maaf dan mulai berteman dengannya yaa" Sonya: "Benar. Aku yakin Rina akan senang kalau kita mau menjadi teman yang baik." Setelah mendengar cerita Sonya, Ranti dan Syifa menyadari bahwa mereka telah salah menilai Rina. Mereka senang dengan berita tersebut dan mulai berteman dengannya. Sejak saat itu, mereka belajar bahwa seseorang tidak boleh dinilai hanya dari kesan pertama, tetapi dari kebaikan hati dan perbuatannya.