Dokumen Lengkap dengan Penanda Potensi AI Warna Makna Kuning Potensi AI lebih tinggi Hijau Lebih natural / human 2026-06-10-multilingual tugas-uas-pembelajaran-fisika-berba... - 07/05/2026 This number is the probability that the document is AI generated, not a percentage of AI text in the The plagiarism scan was not run for this tugas-uas-pembelajaran-fisika-berbasis-ict_kelompok-4_1783226372060.pdf - Jurnal Materi dan Pembelajaran Fisika Volume, Number , pp. Website : https://jurnal.uns.ac.id/jmpf Analisis Bibliometrik dan Systematic Literature Review Tentang Efektivitas Model Pembelajaran Inkuiri Untuk Mereduksi Miskonsepsi Fisika Asmaul Khusnah1, Driya Happy Sherinda2, Zakkiyatul Musyarrafah3, Zwetta Maharani4 1,2,3,4Universitas Islam Negeri (UIN) Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung *Corresponding Author Email : asmaul0423@gmail.com Abstrak Fisika sering dianggap sulit oleh peserta didik karena karakteristik konsepnya yang abstrak dan kompleks, sehingga rentan memunculkan miskonsepsi yang dapat menghambat proses pembelajaran secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai perkembangan penelitian tentang miskonsepsi dalam pembelajaran fisika melalui analisis bibliometrik, sekaligus mengkaji efektivitas penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri dalam mereduksi miskonsepsi melalui Systematic Literature Review (SLR) mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar pada rentang tahun 2014–2026, diperoleh 190 artikel yang kemudian disaring hingga tersisa 11 artikel yang
memenuhi kriteria inklusi untuk disintesis, sementara analisis bibliometrik menggunakan VOSviewer diterapkan pada metadata artikel untuk memetakan tren dan pola penelitian. Hasil analisis bibliometrik mengidentifikasi empat klaster utama, yaitu penerapan model pembelajaran inkuiri, pemahaman konsep fisika, evaluasi dan kemampuan berpikir kritis, serta pemanfaatan media teknologi seperti simulasi PhET dan laboratorium virtual, dengan tren publikasi yang meningkat dan mencapai puncak pada tahun 2025. Hasil sintesis SLR menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri efektif dalam mereduksi miskonsepsi pada berbagai materi fisika seperti optika, gerak lurus, perpindahan kalor, dan usaha, serta mampu meningkatkan pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar, meskipun tingkat efektivitasnya bervariasi tergantung pada karakteristik materi, bentuk inkuiri, media pendukung, dan kondisi pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini juga mengungkap bahwa munculnya miskonsepsi dipengaruhi oleh pengetahuan awal peserta didik yang keliru, dominasi pembelajaran satu arah, serta keterbatasan media dan variasi metode pembelajaran. Temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peneliti, pendidik, dan pengembang pembelajaran dalam merancang strategi pembelajaran fisika yang lebih efektif untuk mereduksi miskonsepsi. Kata kunci: miskonsepsi, fisika, model inkuiri, analisis bibliometrik, Systematic Literature Review PENDAHULUAN Fisika merupakan salah satu ilmu pengetahuan yang berisi komponen-komponen materi serta interaksi ilmiahnya (Alonso & Finn, 1980). Dalam perkembangan sains dan teknologi, fisika penting karena menjadi dasar dalam berbagai ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, pembelajaran fisika tidak hanya menuntut peserta didik untuk memahami konsep , tetapi juga melatih untuk memiliki kemampuan analitis, logis dan pemecahan masalah. Namun, karakteristik konsep fisika yang bersifat abstrak dan kompleks menjadikan mata
pelajaran ini sering dianggap sulit oleh peserta didik. Kesulitan tersebut dapat menyebabkan adanya berbagai miskonsepsi yang pada akhirnya dapat menghambat proses pembelajaran Peserta didik secara berkelanjutan. Miskonsepsi merupakan kesalahpahaman konsep yang terjadi ketika pesereta didik menghubungkan konsep baru dengan konsep awal yang telah dimilikinya, sehingga menyebabkan terbentuknya konsep yang salah dan bertentangan dengan konsep yang sebenarnya (Cahyaningtyas et al., 2023). Dalam pembelajaran fisika miskonsepsi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya karakteristik peserta didik,guru,konteks pembelajaran, cara mengajar dan bahan ajar (G. Safitri et al., 2022). Apabila tidak segera diatasi, miskonsepsi dapat menjadi penghambat peserta didik dalam memahami materi lanjutan yang lebih kompleks, menurunkan hasil belajar, miskonsepsi dapat memiliki dampak skala besar serta menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (N. S. Safitri et al., 2020). Oleh karena itu,diperlukan suatu inovasi pembelajaran untuk membantu peserta adidik dalam memahami konsep fisika secara benar dan mendalam. Salah satunya melalui proses pembelajaran yang melibatkan Peserta didik aktif dalam memahami konsep-konsep fisika. Seiring dengan perkembang teknologi digital yang terus meningkat, hal ini menjadi cikal bakal tumbuhnya sebuah pengembangan strategi, model, dan media pembelajaran yang berperan aktif dalam mendukung keterlibatan peserta didik, serta ketercapaian tujuan dalam pembelajaran. Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, salah satu model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran inkuiri. Model ini banyak digunakan karena memiliki sintaks yang mendorong peserta didik untuk berperan aktif. melalui kegiatan mengamati, merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis data, dan menarik kesimpulan (Calhoun, n.d.). Melalui tahapan tersebut,
peserta didik dapat membandingkan pemahaman awal yang dimilikinya dengan konsep ilmiah yang sebenarnya. Sehingga dari sinilah miskonsepsi dapat sedikit diminimalkan. Dengan demikian, model inkuiri berpotensi dalam membantu peserta didik memahami konsep-konsep fisika dan mereduksi miskonsepsi dalam pembelajaran fisika. Potensi yang dimiliki model pembelajaran berbasis inkuiri dipandang memiliki potensi dalam membantu peserta didik memperbaiki konsep-konsep yang keliru dan mereduksi miskonsepsi dalam pembelajaran fisika. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivistik yang menekankan bahwa dalam proses pembelajaran peserta didik harus aktif dalam membangun pengetahuannya sendiri serta dituntut bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari di proses pembelajaran tersebut (Azzahra, 2025). Berbagai penelitian telah menyelidiki penggunaan model pembelajaran berbasis inkuiri untuk mengurangi miskonsepsi tentang berbagai materi fisika. Namun, hasil penelitian ini masih tersebar di berbagai konteks, jenjang pendidikan, dan topik pembelajaran, sehingga belum memberikan gambaran yang menyeluruh tentang seberapa efektif model pembelajaran inkuiri. Selain itu, sebagian besar penelitian terdahulu lebih fokus pada peningkatan hasil belajar atau penurunan tingkat miskonsepsi, sedangkan untuk kajian yang membahas tentang keunggulan, keterbatasan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya miskonsepsi masih relatif terbatas. Di sisi lain, perkembangan publikasi mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika juga belum banyak diterapkan untuk menunjukkan arah perkembangan penelitian dan peluang kajian selanjutnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai perkembangan penelitian tentang miskonsepsi dalam pembelajaran fisika melalui analisis bibliometrik, sekaligus mengkaji efektivitas penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri dalam mereduksi
miskonsepsi melalui Systematic Literature Review (SLR). Secara khusus, penelitian ini berupaya menjawab delapan pertanyaan penelitian berikut. RQ1: Bagaimana tren publikasi penelitian miskonsepsi pembelajaran fisika pada periode 2014– 2026? RQ2: Bagaimana karakteristik metode penelitian, materi fisika, jenjang pendidikan , tujuan utama apa yang paling banyak digunakan dalam studi miskonsepsi pembelajaran fisika? RQ3: Bagaimana efektivitas model pembelajaran berbasis inkuiri dalam mereduksi miskonsepsi peserta didik pada pembelajaran fisika? RQ4: Apa saja keunggulan dan keterbatasan penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri dalam mereduksi miskonsepsi pada pembelajaran fisika? RQ5: Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi timbulnya miskonsepsi pada peserta didik dalam pembelajaran fisika? Menjawab kelima pertanyaan tersebut penting untuk memberikan sintesis yang komprehensif mengenai efektivitas model pembelajaran berbasis inkuiri, mengidentifikasi faktor- faktor yang mempengaruhi keberhasilannya, serta memetakan arah perkembangan penelitian mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang umumnya hanya meninjau efektivitas model pembelajaran pada materi atau konteks tertentu, Sedangkan penelitian ini mengintegrasikan analisis bibliometrik dan Systematic Literature Review (SLR) untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai penelitian miskonsepsi dalam pembelajaran fisika pada tahun 2014-2026. Analisis bibliometrik digunakan untuk memetakan tren publikasi,karakteristik penelitian, materi fisika yang sering dikaji, serta jenjang pendidikan yang menjadi fokus utama. Sementara itu, pendekataan Systematic Literature Review (SLR) digunakan untuk mensintesis bukti empiris mengenai efektivitas model pembelajaran berbasis inkuiri untuk mereduksi miskonsepsi, diantaranya keunggulan, keterbatasan, dan fktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya
miskonsepsi pada peserta didik. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengembangkan penelitian yang terdahulu tentang miskonsepsi fisika dengan menambahkan analisis bibliometrik dan Systematic Literature Review (SLR) .Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi peneliti, pendidik, maupun pengembang pembelajaran dalam merancang strategi pembelajaran fisika yang lebih efektif untuk mereduksi miskonsepsi. METODE Penelitian ini menggunakan metodologi analisis bibliometrik dan kajian Systematic Literature Review (SLR). Pendekatan Systematic Literature Review (SLR) digunakan untuk mengintegrasikan dan mempresentasikan hasil-hasil penelitian yang telah ada guna menghasilkan pemahaman baru, pola umum atau kesimpulan yang lebih kuat dari bukti yang beragam (Dr. Muh. Asriadi AM, 2025). Selain itu, analisis bibliometrik disini digunakan untuk menentukan perkembangan penelitian diantaranya mengenai, publikasi, penulisan, tren penelitian, sumber, penulis, serta kata kunci yang sangat berkaitan dengan topik efektivitas model inkuiri yang berkontribusi dalam mengatasi pada konsep fisika. Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut, peneliti menelaah literatur yang relevan dengan menggunakan metode eksplisit untuk mengidentifikasi temuan yang dapat disimpulkan secara baik sesuai dengan studi-studi sebelumnya. Penelitian ini mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) (Suarilah Ira, 2026). Prinsip dasar dalam sebuah kajian sistematis mencangkup beberapa atau empat tahapan utama , diantaranya : (1)Perumusan pernyataan atau masalah penelitian , (2) Identifikasi serta penilaian kritis terhadap bukti yang tersedia ;(3) Sintesis hasil penelitian; dan (4) penarikan kesimpulan (Kusumawati, 2024). Studi yang dilakukan dalam penelitian ini melalui pencarian literatur secara menyeluruh menggunakan Google Scholar. Alasan peneliti memilih basis data ini karena memiliki cakupan
publikasi ilmiah yang sangat luas, mencakup artikel jurnal, prosiding konferensi, tesis, disertasi, elektronik, IN press dan berbagai karya akademik lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Dengan cakupan yang luas tersebut, Google Scholar atau dalam Bahasa Indonesia disebut Google Cendekia merupakan fitur penyedia layanan edukatif yang memungkinkan peneliti dapat memperoleh informasi yang beragam dan mendukung penyusunan tinjauan pustaka yang komprehensif (Nurul & Winoto, 2022). Tahap pertama yaitu pencarian pendahuluan dilakukan dengan menggunakan berbagai sinonim dari setiap istilah yang berkaitan dengan topik penelitian, seperti “miskonsepsi fisika Peserta didik SMA melalui pembelajaran inkuiri” dan “ mengatasi miskonsepsi fisika Peserta didik dengan model pembelajaran inkuiri”, sehingga diperoleh kombinasi kata kunci yang memberikan cakupan hasil pencarian paling luas dan relevan. Kata kunci akhir yang digunakan dalam penelusuran literatur melalui Google Scholar meliputi (“Inovasi” dan “miskonsepsi” dan “fisika” dan “inkuiri” dan “SMA”). Selanjutnya, kombinasi kata kunci tersebut digunakan dalam proses pencarian literatur di Google Scholar. Tahap kedua analisis bibliometrik, artikel yang sudah diperoleh kemudian ditelusuri berdasarkan DOI dan abstraknya diekspor ke dalam format RIS menggunakan DOI to RIS. Selanjutnya, metadata artikel diimpor ke mandelay dan dikelompokkan ke dalam satu folder dalam format RIS sesuai dengan topik penelitian untuk memudahkan pengelolaan referensi. Berkas RIS tersebut kemudian diimpor ke VOSviewer untuk dianalisis menggunakan teknik co-occurrence kata kunci. Hasil analisis divisualisasikan dalam bentuk network visualization, overlay visualization, dan density visualization sehingga dapat menggambarkan hubungan antarkata kunci, perkembangan tren penelitian, serta tema-tema dominan mengenai miskonsepsi fisika Peserta didik SMA. Metadata tersebut kemudian diekspor ke dalam format
Microsoft Excel (xlsx). Tahap ketiga yaitu proses penyaringan dilakukan menggunakan Microsoft Excel dimana mempermudah pencatatan, pengelompokan, serta penerapan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga diperoleh artikel yang relevan untuk dianalisis lebih lanjut. Kriteria Kelayakan Kriteria kelayakan yang digunakan dalam penelitian ini digunakan untuk memastikan bahawa artikel yang dianalisis sangat relevan dengan topik efektivitas model inkuiri untuk mereduksi miskonsepsi pada pembelajaran fisika. Publikasi yang digunakan yaitu artikel ilmiah yang berbahasa inggris dan bahasa indonesia yang diterbitkan dalam rentang tahun 2014-2026. Rentang waktu ini dipilih untuk memperoleh gambaran terkini terhadap perkembangan penelitian terkait penerapan model inkuiri dalam pembelajaran fisika dan upaya untuk mereduksi miskonsepsi peserta didik dalam berbagai konsep fisika. Penelitian ini berfokus pada kajian pada bidang pendidikan, khususnya pendidikan fisika dan pembelajaran sains. Maka dari itu, artikel yang dipilih harus memiliki keterkaitan langsung dengan miskonsepsi fisika serta penerapan model pembelajaran yang berbasis inkuiri. Selain itu juga, artikel yang dimasukkan dalam penelitian ini merupakan artikel yang telah melalui proses peer review dan tersedia secara full-text sebagai jaminan kualitas akademik serta kelengkapan informasi penelitian. Jenis publikasi yang digunakan meliputi artikel penelitian empiris yang didalamnya membahas tentang penerapan model inkuiri dalam pembelajaran fisika serta mengetahui pengaruh terhadap miskonsepsi peserta didik. Penelitian yang dipilih dapat menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitatif, maupun mixed methods. Melalui penerapan kriteria kelayakan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sistematis, dan terpercaya mengenai efektivitas model inkuiri dalam mereduksi miskonsepsi pada pembelajaran fisika. Proses Seleksi dan Pengumpulan Data Proses identifikasi literatur dilakukan dengan
menggunakan strategi pencarian yang telah dirancang sebelumnya melalui Google Scholar. Fokus penelusuran adalah artikel yang membahas remediasi miskonsepsi dalam pembelajaran fisika menggunakan metode inkuiri pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) dan dibatasi pada publikasi tahun 2014–2026. Pada pencarian awal diperoleh 190 artikel yang mungkin relevan dengan topik penelitian. Seluruh artikel yang berhasil diidentifikasi kemudian diunduh dalam format RIS dan dikelola menggunakan Mendeley untuk memudahkan pengorganisasian referensi serta mendeteksi artikel duplikat. Pada tahap ini ditemukan 7 artikel duplikat yang kemudian dihapus, sehingga tersisa 183 artikel untuk memasuki proses penyaringan. Metadata artikel yang telah dibersihkan diekspor ke Microsoft Excel untuk pelaksanaan proses screening dan ekstraksi data. Proses penyaringan dilakukan melalui pembacaan judul dan abstrak untuk memastikan artikel tersebut relevan dengan tujuan penelitian. Artikel dikeluarkan apabila bukan merupakan artikel ilmiah, tidak tersedia dalam bentuk full-text, atau tidak membahas remediasi miskonsepsi fisika secara spesifik. Berdasarkan kriteria tersebut, sebanyak 16 artikel dieliminasi sehingga tersisa 167 artikel yang memenuhi syarat untuk ditelaah lebih lanjut pada tahap kelayakan (eligibility). Idetifikasi Studi Melalui Databasis Diagram PRISMA Identifikasi Artikel ditemukan melalui Google Schoolar (n=190) Artikel duplikat yang dihapus (n=7) Eligibility Artikel full-text yang dinilai kelayakannya (n=167) Included Screening Judul dan Abstrak (n=183) Screening Metode tidak jelas (n=12) Tidak memuat data keberhasilan remediasi (n=135) Tidak meggunakan inkuiri sebagai remediasi (n=20) Artikel yang memenuhi seluruh kriteria eksklusi (n=11) Bukan artikel ilmiah Tidak full text Tidak relevan dengan topic miskonsepsi fisika (n=16) Keterangan : l Artikel sebagai analisis bibliometrik sejumlah 167 artikel l Artikel untuk sintesis SLR sejumlah 11 artikel Berdasarkan kriteria
tersebut, sebanyak 16 artikel dieliminasi sehingga sebanyak 167 artikel yang memenuhi syarat untuk dianalisis lebih lanjut pada tahapan kelayakan ( eligibility). Sebanyak 167 artikel hasil proses screening digunakan sebagai dataset dalam menganalisis bibliometrik menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Analis ini bertujuan untuk memetakan tren publikasi, hubungan antarkata kunci, perkembangan tema penelitian , serta karakteristik penelitian yang mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika. Lalu selanjutnya, proses seleksi lanjutan dilakukan secara lebih mendalam digunakan untuk keperluan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan isi artikel , penerapan model, pembelajaran berbasis inkuiri, serta relevansinya sebagai upaya mereduksi miskonsepsi fisika. Pada tahapan kelayakan , artikel diseleksi kembali berdasarkan kesesuaian isi, tujuan penelitian, metode, subjek, serta keterkaitannya dengan remediasi miskonsepsi menggunakan model pembelajaran inkuiri. Setelah seluruh tahapan seleksi diselesaikan, diperoleh 11 artikel yang memenuhi seluruh kriteria inklusi dan akan digunakan dalam proses sintesis akhir SLR. Selanjutnya, hasil pengkodean terbuka (open coding) digunakan untuk menganalisis isi artikel. Ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik penelitian, model inkuiri yang diterapkan, instrumen yang digunakan, serta efektivitas metode inkuiri dalam meremediasi miskonsepsi fisika. Proses open coding dilakukan dengan cara mengelompokkan data berdasarkan dengan tema-tema tertentu , seperti karakteristik penelitian, jenis model inkuiri, instrumen penelitian, dan efektivitas pembelajaran. Hasil pengkodean selanjutnya disintesis secara tematik untuk mengungkap kecenderungan penelitian, pola temuan, serta kesenjangan riset dalam bidang remediasi miskonsepsi fisika menggunakan metode inkuiri. Alur lengkap proses identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, hingga penetapan artikel yang diikutsertakan dalam sintesis disajikan pada diagram PRISMA. HASIL
DAN DISKUSI HASIL Hasil analisis bibliometrik menggunakan perangkat lunak VOSviewer disajikan pada Gambar 1. Analisis ini digunakan untuk memetakan hubungan antara kata kunci penelitian mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika berdasarkan analisis co-occurrence. Gambar 1 Hasil visualisasi VOSviewer Gambar 1 menyajikan pemetaan bibliometrik penelitian tentang miskonsepsi dalam pembelajaran fisika menggunakan VOSviewer. Visualisasi tersebut menampilkan hubungan antar kata kunci berdasarkan analisis co-occurrence. Setiap node menggambarkan kata kunci tertentu, sedangkan untuk ukuran nodenya mempresentasikan tingkat frekuensi kemunculan dalam publikasi yang dianalisis. Semakin besar ukuran node, menandakan bahwa semakin sering kata kunci tersebut digunakan dalam penelitian. Selain itu, garis penghubung antar node mempresentasikan tingkat kekuatan hubungan antarkata kunci, dan warna yang berbeda menunjukkan pengelompokan kata kunci kedalam beberapa jenis penelitian. Berdasarkan hasil analisis tersebut , ditemukan bahwa terdapat empat klaster utama yang menggambarkan fokus penelitian miskonsepsi dalam pembelajaran fisika. Masing-masing klaster tersebut menunjukkan keterkaitan antara model pemahaman konsep, pembelajaran, penggunaan media virtual , serta pengembangan keterampilan berpikir untuk peserta didik. Klaster merah berfokus pada penerapan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran fisika. Kata kunci dominan dalam klaster ini meliputi model, inkuiri, Peserta didik, kelas, data, dan peserta didik. Klaster ini menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian tersebut berdasarkan berfokus pada implementasi model pembelajaran inkuiri untuk mereduksi miskonsepsi dan hasil belajar peserta didik. Klaster hijau berkaitan dengan pemahaman konsep serta proses pembelajaran fisika. Beberapa kata kunci yang termasuk diantaranya student, concept, understanding, learning, physics, dan problem
menunjukkan bahwa penelitian ini berfokus pada pengembangan pemahaman konsep peserta didik serta identifikasi permasalahan pembelajaran fisika petaka. Klaster Biru menyoroti keterampilan berpikir kritis dan evaluasi pembelajaran. Beberapa kata kunci yang termasuk diantaranya, inquiri, test, posttest, critical thinking skill, dan experimental class menunjukkan adanya hubungan antara model pembelajaran inkuiri dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis serta evaluasi hasil belajar peserta didik melalui berbagai instrumen tes. Untuk klaster kuning yaitu berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran berbasis teknologi , khususnya virtual laboratory dan simulasi PhET. Kata kunci yang termasuk diantaranya PhET simulation, instrument, student misconception, dan diagnostic test dimana menunjukkan bahwa penelitian mulai banyak menggunakan media virtual dalam membantu peserta didik untuk memahami konsep yang abstrak yang ada dalam pembelajaran fisika serta untuk mengetahui miskonsepsi yang terjadi pada peserta didik. Secara keseluruhan , visualisasi bibliometrik ini menunjukkan bahwa penelitian yang berhubungan dengan miskonsepsi dalam pembelajaran fisika dikembangkan melalui integrasi model pembelajaran inkuiri, penggunaan virtual lab, dan penguatan kemampuan dalam berpikir kritis. Hubungan antara kata kunci yang terhubung menjelaskan bahwa penelitian- penelitian tersebut memiliki keterkaitan yang kuat dalam meningkatkan pemahaman konsep fisika serta untuk mereduksi miskonsepsi peserta didik. Klaster Kata Kunci Dominan Frekuensi Tema Utama Merah Model, inkuiri, Peserta didik, kelas, data, peserta didik 98 Penerapan Model Inkuiri Hijau Student, concept, understanding, learning, physics, problem 85 Pemahaman konsep fisika Biru Inquiry, test, posttest, critical thinking skill, experimental class 73 Evaluasi dan berpikir kritis Kuning PhET simulation , instrument, diagnostic test, student, misconception 51 Virtual Lab dan
Diagnostik Miskonsepsi Berdasarkan diagram pada gambar 2. Sebanyak 167 artikel hasil proses screening digunakan dalam analisis bibliometrik pada periode 2014-2026. Jumlah publikasi menunjukkan tren yang cenderung meningkat meskipun mengalami fluktuasi pada beberapa tahun. Puncak publikasi terjadi pada tahun 2025 dengan 39 artikel (20,5% dari total artikel), sedangkan jumlah publikasi terendah terdapat pada tahun 2015 dan 2016, masing-masing sebanyak 1 artikel. Penurunan jumlah publikasi pada tahun 2026 diduga karena proses publikasi dan pengindeksan artikel pada tahun tersebut masih berlangsung. Secara keseluruhan, tren tersebut menunjukkan bahwa topik penelitian yang dikaji terus berkembang dan masih menjadi perhatian para peneliti. Gambar 2 Persentase penelitian tentang miskonsepsi dalam rentang tahun 2014-2026 Gambar 3 Diagram metode yang digunakan untuk meneliti penurunan miskonsepsi Metode yang digunakan dalam penelitian pada artikel- artikel tersebut ada 37 metode. Pada gambar 3 ditunjukkan bahwa sebagian besar artikel menggunakan metode quasi eksperimental (38 arikel), pre-eksperimental (18 artikel) dan eksperimen (13 artikel) . Gambar 4 Diagram dari materi yang digunakan dalam menganalisis misonkonsepsi. Pada gambar 3 di atas, ditunjukkan tentang distribusi materi fisika yang digunakan dalam menganalisis miskonsepsi. Berbagai materi yang dipisahkan dalam sub topik diantaranya optik, usaha dan energi, fluidai gelombang, listrik, gerak, hukum pascal, dan kalor. Sub topik materi yang paling banyak dikaji adalah Usaha dan energi (artikel) dan fluida statis (13 artikel). Diperlukan lebih banyak lagi eksplorasi terkait materi ataupun subtopik untuk menganalisis miskonsepsi pada fisika. Gambar 5 Persentase subjek yang dikaji dalam penelitian Berikut adalah subjek yang dikaji dalam penelitian pada artikel-artikel miskonsepsi fisika. Subjek terbagi menjadi beberapa kategori yaitu Peserta didik sd, Peserta didik smp, Peserta
didik sma, Mahapeserta didik, artikel, guru dan gabungan dari sma dan guru serta dosen dan guru. Sehingga dapat diartikan bahwa miskonsepsi merambah dari subjek tingkat terbawah yaitu Peserta didik sd sampai ke guru bahkan dosen yang seharusnya sudah mendalami keseluruhan konsep dalam pembelajaran fisika. Miskonsepsi fisika diadopsi di masa lalu berpotensi menetap bahkan didistribusikan ke fase pendidikan berikutnya, termasuk ketika subjek sudah beralih menjadi seorang pendidik. Gambar 6 Persentase tujuan dari penelitian. Dalam artikel-artikel ini terdapat sepuluh tujuan penelitian termasuk efektivitas remediasi miskonsepsi, pengaruh penerapan suatu inovasi pembelajaran ,diagnosis miskonsepsi, pengembangan, analisis miskonsepsi, evaluasi, deskripsi, membandingkan, reduksi miskonsepsi dan peningkatan dari miskonsepsi fisika. Sebagian artikel bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan suatu inovasi pembelajaran dalam mereduksi miskonsepsi (27,4% atau 52 artikel) dan mengetahui efektivitas remediasi miskonsepsi (19,5% atau 37 artikel) Seperti yang ditunjukkan pada gambar 5. PEMBAHASAN A. Pemetaan Tren Penelitian Miskonsepsi dalam Pembelajaran Fisika Menggunakan VOSviewer Analisis bibliometrik pada penelitian ini dilakukan terhadap 167 artikel dari hasil screening awal untuk memperoleh gambaran umum mengenai tren dan perkembangan penelitian miskonsepsi dalam pembelajaran disika. Sementara itu untuk kajian Systematic Literature Review (SLR) dilakukan secara lebih mendalam terhadap 11 artikel akhir yang memenuhi seluruh kriteria inklusi penelitian. Hasil analisis bibliometrik menunjukan bahwa penelitian mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika mengalami perkembangan yang cukup signifikan dalam rentang tahun 2014-2026. Peningkatan jumlah publikasi dari tahun ketahun menandakan bahwa permasalahan miskonsepsi sangat penting dalam pendidikan fisika yang terus menarik perhatian para peneliti. Hal ini, dipengaruhi oleh tingkat kesulitan dalam materi atau konsep fisika yang abstrak dan kompleks yang
menyebabkan timbulnya kesalahpahaman pada peserta didik. Selain itu, tuntutan pembelajaran abad-21 yang menekankan dimana kemampuan yang harus dimiliki Peserta didik meliputi, berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pemahaman konsep turut mendorong dalam berkembangnya penelitian mengenai strategi pembelajaran yang mampu dalam membantu peserta didik memahami konsep fisika dengan baik (Arifin & Mu, 2024). Sejalan dengan perkembangan pembelajaran abad ke 21 penggunaan teknologi pembelajaran seperti simulasi PhET, laboratorium virtual , dan media interaktif lainnya yang sering sekali digunakan dalam pembelajaran fisika (Marpaung et al., 2025). Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi sudah berkembang secara signifikan. Dengan adanya perkembangan teknologi menjadikan pemanfaatannya digunakan sebagai sarana untuk membantu dalam memvisualisasikan konsep-konsep yang abstrak kepada peserta didik. Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu untuk membantu peserta didik dalam memahami konsep fisika yang sulit diamati secara langsung sehingga dapat pula untuk mengurangi terjadinya miskonsepsi. Hal ini sejalan dengan pendapat (Info & History, 2023) yang menyatakan bahwa penggunaan simulasi interaktif dapat membantu peserta didik untuk membangun pemahaman konsep melalui visualisasi dan eksplorasi konsep secara kontekstual. Untuk mengetahui arah perkembangan penelitian mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika, maka dari itu dilakukan analisis bibliometrik menggunakan VOS Viewer seperti yang ditunjukkan pada gambar 1,2,3,4 dan 5. Analisis ini bertujuan untuk memetakan hubungan antar topik penelitian berdasarkan keterkaitan dengan kata kunci yang digunakan dalam artikel-artikel yang dianalisis. Berdasarkan pengelompokan tersebut terdapat empat klaster utama yang dominan dalam penelitian mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika. Klaster merah menunjukkan bahwa
penelitian banyak yang berfokus pada penerapan model pembelajaran inkuiri , dimana digunakan dalam membantu mereduksi miskonsepsi dan pemahaman konsep fisika pada peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak digunakan karena dianggap mampu melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses penyelidikan secara langsung. Selanjutnya adalah klaster hijau berkaitan dengan pemahaman konsep fisika dimana menunjukkan miskonsepsi sering muncul akibat ketidak sesuaian dengan pengetahuan awal dengan konsep ilmiah yang nyata. Kondisi ini menunjukkan bahwa peserta didik sering membangun konsep fisika berdasarkan dengan pengalaman sehari-hari yang belum tentu dengan konsep ilmiah sebenarnya. Selain itu, klaster Biru menunjukkan bahwa keterkaitan antara pembelajaran inkuiri dengan kemampuan dalam berpikir kritis serta evaluasi hasil belajar peserta didik. Kemampuan berpikir kritis memiliki peran penting dalam membantu peserta didik untuk mengevaluasi konsep yang dimiliki , menemukan kesalahpahaman konsep yang dimiliki , menemukan kesalahan konsep, serta untuk memperbaiki pemahaman yang kurang tepat. Sementara itu untuk klaster kuning menunjukkan bahwa penggunaan teknologi pembelajaran seperti virtual laboratory serta simulasi PhET digunakan untuk membantu pemahaman konsep fisika yang abstrak dan mengidentifikasi miskonsepsi pada peserta didik. Pentingnya penggunaan media digital dalam pembelajaran fisika karena beberapa konsep fisika sulit untuk diamati secara langsung dan terlalu abstrak dalam kehidupan sehari-hari. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penelitian tentang miskonsepsi dalam pembelajaran fisika tidak hanya berfokus pada identifikasi kesalahpahaman konsep, tetapi juga pada pengembangan strategi pembelajaran yang mampu memperbaiki pemahaman konsep pada peserta didik. Integrasi model pembelajaran berbasis inkuiri,
penggunaan media digital , serta penguatan kemampuan berpikir kritis menjadi arah perkembangan utama dalam penelitian pembelajaran fisika saat ini. Selain memetakan hubungan antar topik penelitian, analisis bibliometrik juga menunjukkan perkembangan jumlah publikasi penelitian dari tahun ke tahun sebagaimana ditampilkan pada Gambar 2.Analisis ini dilakukan untuk mengetahui tingkat perkembangan penelitian mengenai miskonsepsi dalam pembelajaran fisika selama periode penelitian. Berdasarkan pada gambar 2 diketahui bahwa jumlah publikasi penelitian tentang miskonsepsi dalam pembelajaran fisika menunjukkan tren yang dominan mengalami peningkatan selama tahun 2014 sampai dengan tahun 2026. Meskipun mengalami peningkatan pada beberapa tahun tertentu. Diketahui bahwa sannya puncak dari publikasi terjadi pada tahun 2025 dengan jumlah 39 artikel atau sekitar 20,5% dari total artikel yang dianalisis. Peningkatan peningkatan jumlah publikasi menunjukkan bahwa penelitian mengenai penelitian miskonsepsi masih sangat relevan dan terus berkembang sampai saat ini. Sementara untuk jumlah publikasi yang rendah pada tahun-tahun awal menunjukkan bahwa kajian tentang miskonsepsi belum banyak mendapatkan perhatian pada periode tersebut. Sedangkan jumlah penurunan pada tahun 2026 diduga karena proses publikasi dan pengindeksan artikel masih berlangsung. Setelah mengetahui perkembangan dari jumlah publikasi, penelitian ini juga menganalisis tentang metode penelitian yang paling banyak digunakan dalam penelitian mengenai miskonsepsi fisika. Distribusi metode penelitian tersebut disajikan pada gambar 3. Berdasarkan pada gambar 3, menunjukkan bahwa metode penelitian yang banyak digunakan yaitu metode quasi experiment,dan pre-experimental. Penelitian yang menggunakan metode eksperimen menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian berupaya untuk menguji efektivitas model, strategi, atau media pembelajaran
dalam mereduksi miskonsepsi peserta didik. Sedangkan penggunaan metode quasi experiment menunjukkan bahwa penelitian pendidikan fisika umumnya dilakukan dalam kondisi kelas nyata sehingga ada beberapa faktor yang tidak bisa diatur sepenuhnya oleh peneliti. Meskipun demikian, metode tersebut tetap efektif untuk melihat pengaruh penerapan model pembelajaran terhadap perubahan pemahaman konsep pada peserta didik. Selanjutnya pada gambar 4, penelitian ini menunjukkan mengidentifikasi materi fisika yang sering digunakan dalam penelitian miskonsepsi. Distribusi materi fisika tersebut dapat dilihat pada bagian gambar 4. Berdasarkan gambar 4, materi yang sering digunakan untuk mengkaji miskonsepsi dalam peserta didik adalah materi tentang usaha dan energi, fluida statis. Kedua materi tersebut memiliki konsep yang abstrak serta memerlukan pemahaman konseptual yang kuat sehingga sering mengalami kesalahpahaman pada peserta didik. Pada usaha dan energi, peserta didik sering mengalami miskonsepsi dalam memahami hubungan antara usaha, energi kinetik, dan energi potensial. Sementara itu, pada materi fluida statis, peserta didik sering mengalami miskonsepsi ada tekanan hidrostatis dan hukum pasal. Selain kedua itu, materi tersebut penelitian juga banyak dilakukan pada materi optik, gelombang, listrik, gerak, kalor, dan hukum newton. Dari hasil tersebut menunjukkan bahawa miskonsepsi dapat terjadi pada hampir seluruh materi fisika,oleh karena itu masih diperlukannya penelitian lebih lanjut pada berbagai subtopik lainnya. Selain materi pembelajaran, penelitian ini juga menganalisis tentang subjek yang paling banyak dikaji dalam penelitian miskonsepsi fisika . Hasil analisis tersebut dapat dilihat pada gambar 5. Berdasarkan pada gambar 5, subjek penelitian terdapat berbagai macam tidak hanya Peserta didik SMA saja tetapi juga Peserta didik SD, SMP, Mahapeserta didik, Guru, dan bahkann dosen. Temuan ini menunjukkan bahwa miskonsepsi dapat
bertahan dalam jangka waktu yang panjang apabila tidak segera direduksi. Hal ini juga dipengaruhi oleh kesalahpahaman konsep yang diperoleh pada jenjang pendidikan sebelumnya berpotensi berlanjut hingga jenjang pendidikan berikutnya, bahkan seseorang sudah menjadi pendidik. Kondisi ini menunjukkan bahwa miskonsepsi merupakan masalah serius yang perlu untuk segera ditangani sejak dini supaya tidak mempengaruhi proses pembelajaran pada jenjang berikutnya. Secara keseluruhan, hasil analisis bibliometrik menunjukkan bahwa penelitian tentang miskonsepsi pada pembelajaran fisika berkembang secara signifika, mengarah pada pengembangan pembelajaran yang lebih aktif , efektif., inovatif dan berbasis teknologi. Salah Satu model pembelajaran yang paling banyak digunakan adalah model pembelajaran berbasis inkuiri, model ini dianggap mampu dalam membantu pemahaman peserta didik dalam membangun pemahaman konsep melalui proses penyelidikan secara langsung. Selain itu penggunaan simulasi PhET dan virtual laboratory juga menunjukkan peran penting dalam membantu peserta didik untuk memahami konsep-konsep fisika yang bersifat abstrak serta untuk mereduksi permasalahan miskonsepsi. B. Efektivitas Model Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam Mereduksi Miskonsepsi pada Pembelajaran Fisika Berdasarkan hasil sintesis terhadap artikel yang dianalisis, menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri efektif dalam mereduksi miskonsepsi peserta didik pada beberapa macam materi fisika. Efektivitas tersebut dibuktikan melalui penurunan persentase miskonsepsi, peningkatan pemahaman konsep. Beberapa penelitian menjelaskan besarnya penurunan miskonsepsi yang bervariasi.(Rozaq et al., 2017) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode inkuiri terlaksana dengan baik dan mampu mengurangi miskonsepsi pada berbagai konsep optika, dengan penurunan berkisar antara 9%–34%. Pada materi gerak lurus,
(Taufiq et al., 2020) menjelaskan bahwa penurunan miskonsepsi yang awalnya sebesar 47,30% menjadi 25,49%, disertai peningkatan pemahaman konsep menjadi 58,58%. Efektivitas model inkuiri ini juga ditujukan melalui indikator lain. ( Jatmiko, 2014) menunjukkan bahwa efektivitas dalam mengurangi miskonsepsi pada materi perpindahan kalor memperoleh kategori sedang berdasarkan nilai N-gain sebesar 0,5. ( Khoirunisa et al., 2019) menunjukkan bahwa menghasilkan penurunan miskonsepsi sebesar 64,37% (kategori sedang) pada materi usaha. Pada tingkat Mahapeserta didik (Shofiyah, 2017) juga menunjukkan peningkatan pemahaman konsep dari 21,3 menjadi 68,3 setelah penerapan modified free inquiry. Meskipun demikian, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa efektivitas model inkuiri inni tidak selalu mendapatkan hasil yang maksimal. ( Nana, 2020) menunjukkan bahwa pada siklus I dan II belum mencapai target penurunan miskonsepsi, kemudian berhasil pada siklus III dengan penurunan mencapai 62,50%. Selain itu, ada beberapa masih bingung dalam menentukan besar tekanan hidrostatis dan juga masih terjadi miskonsepsi meskipun telah diberikan perlakukan, menunjukkan bahwa miskonsepsi bersifat resisten dan sulit dihilangkan(Shofiyah, 2017). Secara keseluruhan, hasil sintesis menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis inkuiri efektif dalam mereduksi miskonsepsi pada beberapa materi fisika. Namun, tingkat efektivitasnya berbeda-beda bergantung pada karakteristik materi, bentuk inkuiri yang digunakan, media pendukung, serta kondisi pelaksanaan pembelajaran. Secara keseluruhan, hasil sintesis menunjukkan bahwa model pembelajaran inkuiri efektif dalam mereduksi miskonsepsi pada berbagai materi fisika. Namun,tingkat efektivitas nya dipengaruhi oleh karakteristik materi, bentuk inkuiri, yang digunakan , media pendukung pembelajaran, serta kondisi pelaksanaan pembelajaran. C. Keunggulan dan keterbatasan penerapan
model pembelajaran berbasis inkuiri dalam mereduksi miskonsepsi pada pembelajaran fisika Hasil analisis menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis inkuiri memiliki sejumlah keunggulan yang ditunjukkan pada beberapa penelitian. Keunggulan utama adalah kemampuan dalam membantu peserta didik membangun konsep melalui proses penyelidikan sehingga miskonsepsi dapat dikurangi secara signifikan. Selain dari reduksi penurunan miskonsepsi, beberapa penelitian juga menunjukkan peningkatan dalam pemahaman konsep, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar. Beberapa pemelitian mengembangkan model inkuiri menggunakan media pendukung seperti PhET Simulation, LKPD berbasis STEM dan mind mapping. Penggunaan media tersebut terbukti mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran karena membantu peserta didik memvisualisasikan konsep-konsep fisika yang bersifat abstrak. Penelitian (Frans & Wasis, 2022) menunjukkan penggunaan media LKPD berbasis Guided Inquiry Learning berbantuan PhET Simulation efektif menurunkan miskonsepsi pada materi Fluida dinamis, sedangkan (Khoirunisa et al., 2019) menunjukkan juga bahwa media Mind Mapping efektif meremediasi miskonsepsi Peserta didik pada materi usaha. Selain itu, (Taufiq et al., 2020) Penelitian hanya menggunakan satu kelompok, tidak ada kelompok pembanding sehingga efektivitas penggunaan Inkuiri dan LKS STEM diragukan. Karena ada banyak faktor yang dapat mempengaruhinya. Penggunaan dua perlakuan sekaligus, yaitu Guided Inquiry dan LKPD berbasis STEM, juga menyebabkan sulitnya mengidentifikasi faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar. Jadi temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri sangat dipengaruhi oleh desain penelitian, kesiapan peserta didik, media pembelajaran yang digunakan, serta kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. D. Faktor-
Faktor yang Mempengaruhi Timbulnya Miskonsepsi Peserta didik dalam Pembelajaran Fisika Berdasarkan hasil sintesis artikel, terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan munculnya miskonsepsi pada pembelajaran fisika. Faktor pertama (Taufiq et al., 2020) menunjukkan bahwa Peserta didik memiliki kemampuan awal yang beragam dalam memahami konsep, semakin percaya diri Peserta didik dengan konsep yang salah, semakin sulit menerima konsep baru yang sesuai dengan pemahaman ilmuwan pada umumnya. Faktor yang kedua (Nisa et al., 2020) menunjukkan bahwa peserta didik sudah mempunyai konsep awal tentang materi usaha sebelum mengikuti pelajaran formal di bawah bimbingan guru. Faktor ketiga (Nana, 2020) menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi berjalan satu arah artinya guru yang lebih aktif dalam proses pembelajaran, Peserta didik mendengarkan ceramah guru dari awal hingga akhir pembelajaran, guru lebih mendominasi kegiatan pembelajaran di kelas, Peserta didik kurang terlibat aktif dalam pembelajaran. Selain faktor-faktor tersebut, penggunaan metode pembelajaran yang kurang variatif , keterbatasan media pembelajaran, serta kurangnya kegiatan praktikum hal ini juga dapat mempengaruhi munculnya miskonsepsi pada peserta didik . Oleh karena itu, upaya mereduksi miskonsepsi pada peserta didik harus dilakukan melalui pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan penyelidikan , menguji konsep, berdiskusi, serta memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa miskonsepsi tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik peserta didik, tetapi juga disebabkan pada proses pembelajaran dan serta strategi pembelajaran yang digunakan guru. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran berbasis inkuiri yang didukung dengan media pembelajaran interaktif dapat menjadi salah satu
solusi untuk membantu peserta didik untuk membangun pemahaman konsep fisika secara lebih ilmiah dan mendalam. KESIMPULAN Studi ini menunjukkan bahwa penelitian tentang miskonsepsi dalam pembelajaran fisika terus berkembang secara signifikan dari tahun ke tahun, dengan tren publikasi meningkat sepanjang periode 2014– 2026 dan mencapai puncaknya pada tahun 2025. Melalui analisis bibliometrik menggunakan VOSviewer, teridentifikasi empat klaster utama: penerapan model pembelajaran inkuiri, pemahaman konsep fisika, evaluasi dan kemampuan berpikir kritis, serta pemanfaatan media teknologi seperti simulasi PhET dan laboratorium virtual. Hasil kajian sistematis (SLR) menegaskan bahwa model pembelajaran berbasis inkuiri efektif dalam mereduksi miskonsepsi peserta didik pada berbagai materi fisika seperti optika, gerak lurus, perpindahan kalor, dan usaha, sekaligus meningkatkan pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis, dan hasil belajar, terutama ketika dipadukan dengan media interaktif seperti PhET Simulation, LKPD berbasis STEM dan mind mapping. sementara itu, tingkat efektivitasnya tetap bervariasi bergantung pada karakteristik materi, bentuk inkuiri, serta kondisi pelaksanaan pembelajaran, dan miskonsepsi tertentu terbukti resisten meskipun telah diberi perlakuan. Secara keseluruhan, model pembelajaran inkuiri menjadi strategi kunci dalam membangun pemahaman konsep fisika yang lebih mendalam dan mereduksi miskonsepsi, dan penelitian mendatang dapat mengkaji penerapannya pada subtopik fisika yang lebih beragam atau memperkuat bukti efektivitas melalui desain penelitian dengan kelompok pembanding. DAFTAR RUJUKAN Alonso, M., & Finn, E. J. (1980). DASAR-DASAR FISIKA UNIVERSITAS (Ed.1). Jakarta : Penerbit Erlangga. Arifin, B., & Mu, A. (2024). Pengembangan Kurikulum Berbasis Keterampilan dalam Menghadapi Tuntutan Kompetensi Abad 21. 1(2), 118–128. Azzahra, N. T. (2025). Teori Konstruktivisme Dalam
Dunia Pembelajaran. 2(2), 64–75. Cahyaningtyas, C. D., Fatma, E., Rianto, P. A. M., Nuha, U., Wahyuni, S., & Yusmar, F. (2023). Analisis miskonsepsi Peserta didik smp pada materi konsep suhu dan kalor. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(15), 71–75. Calhoun, E. (n.d.). Models of Teaching. Dr. Muh. Asriadi AM, M. P. (2025). SYNTHESIS RESEARCH (N. S. Siti Raisya Ramdhania (ed.); Cetakan pe). CV.RUANG TENTOR. Frans, B. U., & Wasis, W. (2022). Penerapan LKS Berbasis PhET untuk Mereduksi Miskonsepsi Peserta didik pada Materi Arus Listrik Bolak Balik. J. Penelit. Pembelajaran Fis., 13(1), 31– 40. https://doi.org/10.26877/jp2f.v13i1.11529 Info, A., & History, A. (2023). Penggunaan Teknologi Augmented Reality dalam Pembelajaran Ekonomi : Inovasi untuk Meningkatkan Keterlibatan dan Pemahaman Peserta didik. 6(November), 9040–9050. Jatmiko, W. dan. ( 2014). Penerapan model pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) untuk mengurangi miskonsepsi Peserta didik kelas X SMAN 2 Ponorogo pada pokok bahasan Perpindahan Panas. IPF, 3(3). https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/inovasi-pendidikan- fisika/article/view/11051 Khoirunisa, I., Sitompul, S. S., & Mursyid, S. (2019). Remediasi miskonsepsi menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing berbantuan mind mapping tentang usaha di SMA. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Khatulistiwa (JPPK), 9(9). https://doi.org/https://doi.org/10.26418/jppk.v9i9.42645 Kusumawati, E. (2024). BUKU AJAR METODOLOGI PENELITIAN: LANGKAH-LANGAH ,ETODOLOGI PENELITIAN YANG SISTEMATIK (I. A. Prandani Astrid (ed.)). PT. Asammdel Liamsindo Teknologi. Marpaung, T. C., Nopitasari, P., Simbolon, R. N., Suyanti, R. D., & Pardosi, S. M. (2025). PEMANFAATAN SIMULASI PHET SEBAGAI MEDIA. 3(11). Nana, N. (2020). Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Mereduksi Miskonsepsi pada konsep Gerak Lurus Peserta didik SMA Kelas X. DIFFRACTION, 2(1), 44–51. https://doi.org/10.37058/diffraction.v2i1.1799 Nisa, I. K., Yuliati, L., & Hidayat, A.
(2020). Analisis Penguasaan Konsep melalui Pembelajaran Guided Inquiry berbantuan Modul Terintegrasi STEM pada Materi Fluida Dinamis. J. Pendidik. ( Online) (Malang), 5(6), 809. https://doi.org/10.17977/jptpp.v5i6.13627 Nurul, F., & Winoto, Y. (2022). Pemetaan bibliometrik terhadap perkembangan penelitian dengan topik arsitektur informasi pada Google scholar menggunakan Vosviewer Bibliometric mapping of research developments using information architecture topics on Google scholar using Vosviewer Abstract. 2(1), 43–60. Rozaq, M., Suyono, S., & Wasis, W. (2017). PENGGUNAAN METODE INKUIRI UNTUK MENGATASI MISKONSEPSI PESERTA DIDIK PADA MATERI POKOK OPTIKA GEOMETRI SERTA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK DI SMK NEGERI 1 LUMAJANG. J. Penelitian. Pendidik. Sains, 2(2), 198. https://doi.org/10.26740/jpps.v2n2.p198-205 Safitri, G., Sitompul, S. S., & Hamdani, H. (2022). Analisis Miskonsepsi Peserta didik Pada Materi Listrik Statis Menggunakan Four Tier Diagnostic Test. Jurnal Pendidikan: Riset Dan Konseptual, 6(4), 593–601. https://doi.org/https://doi.org/10.28926/riset_konseptual.v6i4.579 Safitri, N. S., Djudin, T., & Trisianawati, E. (2020). Identifkasi miskonsepsi Peserta didik pada materi kalor dan perpindahannya di kelas VII SMP negeri 5 sungai kakap. Jurnal Pendidikan Sains Dan Aplikasinya, 3(1), 1–6. Shofiyah, N. (2017). Penerapan Model Pembelajaran Modified Free Inquiry untuk Mereduksi Miskonsepsi Mahapeserta didik pada Materi Fluida. 1(1), 19–28. https://doi.org/10.21070/sej.v1i1.836 Suarilah Ira, dkk. (2026). PENGANTAR SYSTEMATIC RIVIEW DAN METAANALISIS DENGAN PENDEKATAN PRISMA. Airlangga UNiversity Press. Taufiq, M., Muntamah, S., & Parmin, P. (2020). Remediation of misconception on straight line motion concept using guided inquiry model assisted by student worksheet based on science technology engineering and mathematics
(STEM) on junior high school students. J. Phys. Conf. Ser., 1521(4), 42039. https://doi.org/10.1088/1742-