23. Putu Arsyla Savira Vinayaka Kegagalan yang Menunjukkan Jalanku Putu Arsyla Savira Vinayaka

View 23. Putu Arsyla Savira Vinayaka Kegagalan yang Menunjukkan Jalanku Putu Arsyla Savira Vinayaka flipbook.

Kegagalan yang Menunjukkan Jalanku Putu Arsyla Savira Vinayaka Hai, namaku Putu Arsyla Savira Vinayaka. Aku murid kelas 4A di SD Taman Tirta. Sejak kecil, aku selalu penasaran ingin tahu di bidang apa sebenarnya bakatku. Aku mencoba banyak hal, satu per satu, sampai akhirnya aku menemukan jawabannya lewat sebuah perjalanan yang sangat panjang dan penuh kegagalan, tetapi kegagalan itulah yang justru menunjukkan jalanku. Waktu masih kecil, aku pernah mengikuti les Kumon untuk belajar matematika. Namun, setelah kurang lebih enam bulan mengikuti les tersebut, aku meminta untuk berhenti karena merasa lelah mengerjakan soal matematika setiap hari. Setelah itu, aku mencoba mencari kegiatan lain yang mungkin lebih cocok untukku. Aku pun mencoba les renang di Klub Renang Bali Titra. Aku berlatih dengan sungguh-sungguh setiap minggunya, hingga akhirnya aku diterima menjadi anggota klub dan boleh mengikuti perlombaan. Sayangnya, saat hari lomba tiba, aku belum berhasil membawa pulang juara. Aku merasa sedih, tetapi aku belajar bahwa kekalahan bukan berarti aku harus berhenti mencoba. Tidak lama setelah itu, aku mencoba bidang lain yaitu koding. Aku mengikuti extra koding di sekolah, dan kemudian melanjutkan les koding di rumah karena aku penasaran bagaimana cara membuat sebuah game sederhana. Sampai akhirnya akupun berkesempatan untuk mengikuti lomba koding. Sayangnya, hasilnya sama seperti ketika aku lomba renang, aku belum menjadi juara. Saat itu aku memperoleh ranking 6 sedangkan yang boleh masuk final adalah ranking 1 sampai 5. Namun, entah kenapa, aku tidak ingin menyerah. Aku hanya berpikir, mungkin bidangku bukan di sini.

Suatu hari, guru wali kelasku saat aku kelas 3 memilihku untuk masuk ke dalam klub matematika di sekolah. Saat itu, aku sendiri sebenarnya meragukan kemampuan matematikaku, karena aku belum pernah merasa istimewa dalam pelajaran ini. Namun, guruku terus memberikan motivasi dan meyakinkanku, hingga aku mau mencoba mengikuti latihan demi latihan. Perlahan aku mulai menyukai cara berpikir dalam matematika, seperti memecahkan teka-teki yang menyenangkan. Meski begitu, aku masih belum yakin sepenuhnya bahwa matematika adalah potensiku, sampai aku mengikuti sebuah lomba matematika. Aku berlatih giat dan berhasil masuk ke babak final untuk pertama kalinya. Namun, waktu mengerjakan soal hampir habis, dan masih ada satu soal terakhir yang belum sempat aku isi di lembar jawaban. Ternyata, jawaban dari soal itu adalah jawaban yang benar. Jika saja sempat kutuliskan, mungkin aku bisa meraih juara 3. Sayangnya hanya tiga besar yang berhak mendapatkan juara, dan aku berada di peringkat keempat, hanya satu langkah dari podium. Aku pulang dengan perasaan campur aduk, bangga sekaligus sangat kecewa. Malam itu aku sangat sedih memikirkan betapa sayangnya kesempatan itu terlewat hanya karena kehabisan waktu. Untungnya, mama dan papaku selalu ada di sampingku, meyakinkanku bahwa peringkat empat bukan berarti gagal, melainkan tanda bahwa aku sudah sangat dekat dengan kemampuan terbaikku. Waktu terus berjalan, dan aku mulai bisa menerima kegagalan itu. Sampai suatu hari aku baru tahu bahwa mama sudah mendaftarkanku untuk mengikuti Festival Sains Nasional (FSN) 2026 yang diselenggarakan oleh Pusat Olimpiade Sains Indonesia (POSI), tanpa sepengetahuanku. Jujur saja, aku kaget dan merasa belum siap untuk mengikuti lomba lagi. Aku takut mengulang rasa kecewa yang sama. Namun mama tidak pernah lelah

meyakinkanku dan mengajariku dengan sabar. Setiap malam, kami berlatih soal matematika bersama-sama. Sembari menunggu jadwal lomba, aku juga berlatih bahasa Inggris karena saat itu ada tes kenaikan tingkat di Bristhon tempat les bahasa Inggrisku. Tanpa kusangka, aku terpilih menjadi rising star kategori best student karena hasil student report-ku memperoleh nilai excellent. Pencapaian kecil ini membuatku semakin yakin bahwa dengan latihan yang sungguh-sungguh, aku juga bisa berhasil di matematika. Aku pun semakin giat berlatih. Sampai akhirnya hari lomba tiba. Namun ternyata, soal-soal yang kudapatkan sangat jauh dari ekspektasiku. Aku sempat merasa down karena hanya berhasil menjawab 12 soal dalam waktu 90 menit. Aku pulang dengan perasaan sedikit sedih dan kecewa, merasa seolah latihan kerasku selama ini sia-sia. Namun orang tuaku selalu ada mendukungku, mengatakan bahwa itu bukan karena aku tidak mampu, melainkan karena tingkat kesulitan soal FSN memang berbeda. Setelah tiga minggu menunggu hasil perlombaan, sebenarnya aku tidak berharap banyak. Kata mama, juara adalah bonus, yang penting aku sudah berani mencoba dan mendapatkan pengalaman. Sampai akhirnya, ketika mama membuka pengumuman, ternyata aku adalah salah satu peraih medali emas dalam ajang tersebut. Sungguh luar biasa! Aku merasa sangat senang karena tidak menyerah, karena mau mencoba, dan mau berusaha dengan latihan yang keras. Apresiasi yang diberikan oleh wali kelas dan sekolahku semakin membuatku senang dan selalu ingin memberikan versi terbaikku. Aku ingin membuat mama dan papaku bangga, ingin membuat sekolahku, serta Miss dan Mr yang selalu membimbingku dengan sabar, bangga dengan pencapaian ini.

Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa menemukan potensi diri tidak selalu mudah dan tidak selalu cepat. Kegagalanku di renang dan koding bukanlah sia-sia, karena dari sanalah aku belajar untuk terus berusaha. Kekecewaanku di final lomba matematika juga bukan akhir dari segalanya, justru menjadi titik balik yang membuatku semakin kuat. Setiap kegagalan sebenarnya sedang menunjukkan jalan menuju sesuatu yang lebih baik, asalkan kita berani mencoba lagi. Aku juga belajar betapa pentingnya dukungan orang-orang terdekat, terutama mama dan papa yang tidak pernah lelah meyakinkanku. Tanpa kesabaran dan keyakinan yang mereka berikan, mungkin aku sudah menyerah sejak lama. Medali emas yang kuraih di FSN 2026 bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi tentang perjalanan panjang menemukan versi terbaik dari diriku sendiri, sebuah perjalanan yang dimulai dari kegagalan.