View 24. NI PUTU RADHASWARI RESIKAYATNA AKU BISA NAIK SEPEDA Ayu Residharmini flipbook.
AKU BISA NAIK SEPEDA NI PUTU RADHASWARI RESIKAYATNA Namaku Radha, aku berusia 9 tahun dan sekarang aku duduk di kelas 4 SD. Aku adalah anak yang ceria dan suka bermain bersama teman-temanku. Hampir setiap sore aku dan teman-temanku bermain bersama, main petak umpet atau rumah-rumahan. Bermain bersama teman selalu menyenangkan, namun ada satu hal yang membuatku takut yaitu naik sepeda roda dua. Dulu aku hanya bisa memakai sepeda roda empat. Namun setiap kali melihat teman-teman ku melaju dengan sepeda roda dua mereka, sebenarnya aku juga ingin mencoba tetapi aku merasa takut. Aku selalu membayangkan terjatuh dan terluka. Suatu sore yang cerah ibu berusaha membantu ku naik sepeda roda dua. Aku berjalan keluar rumah membawa sepeda ku, langit tampak cerah dan angin terasa sejuk, aku duduk di atas sepeda. Punda ku terasa kaku dan jantungku berdebar kencang. Ibu berkata, ”ayo kayuh sepeda nya” Aku pun mengayuh sepedaku perlahan, tiba-tiba sepeda ku terasa miring dan aku hampir terjatuh. Seandainya ibu tidak memegangi sepeda ku, aku pasti sudah terluka. Sejak saat itu aku menyerah belajar naik sepeda roda dua Setelah dua tahun berlalu, akhirnya aku punya teman yang mengajari ku naik sepeda roda dua namanya Melinda. Suatu sore Melinda mengajak bermain sepeda bersama. “Ayo main sepeda!” ajak Melinda. “Tapi aku tidak bisa naik sepeda roda dua” kataku menjawab ajakan Melinda. “Tidak apa-apa nanti aku ajari” kata Melinda lagi. Akupun mulai mencoba, tapi setelah beberapa kali mencoba aku tetap tidak bisa. Aku kembali menyerah! Saat itu aku hanya bisa berjalan sambil membawa sepeda roda dua ku. Hari-hari pun berlalu, ketika teman ku sedang bermain sepeda bersama, Melinda kembali mengajak ku untuk mencoba
belajar naik sepeda. “Ayo kayuh saja sepedanya” seru Melinda. Kupandangi sepeda roda dua ku, hadiah dari kakek Ketika aku berusia enam tahun. Sepeda berwarna merah muda dengan keranjang di depannya, tampak agak ketinggalan zaman untuk anak seusia ku. Sepeda yang selalu aku dandan kesana-kemari selama bermain karena aku takut naik sepeda. Tapi hari itu aku bertekad untuk belajar naik sepeda. Aku kemudian meberanikan diri menaiki sepeda ku dan berusaha mengayuh. Berkali-kali aku mencoba, sampai akhirnya mulai bisa mengayuh sepeda dengan seimbang. Aku senang sekali, akhirnya aku bisa naik sepeda roda dua! Dari depan rumah ibu dan ayah melihat ku, mereka tersenyum dan bertepuk tangan. “Hebat kamu berhasil!” kata mereka. Aku berhenti di dekat mereka sambil tersenyum lebar, dadaku penuh dengan rasa bangga. Setelah lama berlatih aku bahkan sudah bisa naik sepeda dengan satu tangan. Dulu aku berpikir tidak akan pernah bisa naik sepeda. Sekarang aku mengerti, bahwa menjadi versi terbaik dari diriku bukan berarti harus berhasil sejak awal. Versi terbaik diriku adalah aku yang berani mencoba dan tidak menyerah untuk terus berlatih meskipun harus gagal berkali-kali. Kini setiap kali aku naik sepeda aku akan berkata dalam hati, “Aku tidak akan mudah menyerah dan percaya pada diriku bahwa aku pasti bisa!”. Sore itu terasa lebih menyenangkan, aku kembali menaiki sepeda dengan penuh percaya diri menghampiri teman-teman ku. Kukayuh sepeda ku dengan kencang, angin menerpa wajah ku dan rasanya seperti terbang di angkasa.