Sapi Gila dan Scrapie: Ancaman Penyakit Prion pada Ternak

Dokumen ini adalah materi presentasi kelompok 11 X-6 yang membahas penyakit prion pada ternak. Fokus utama adalah penyakit sapi gila atau Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) dan scrapie pada domba dan kambing. Dijelaskan bahwa prion adalah protein abnormal yang tidak memiliki DNA atau RNA, berbeda dari virus atau bakteri. Dokumen ini cocok untuk pelajar atau siapa pun yang ingin memahami…

Dokumen ini adalah materi presentasi kelompok 11 X-6 yang membahas penyakit prion pada ternak. Ditujukan untuk pelajar atau siapa pun yang ingin memahami dasar-dasar penyakit sapi gila (BSE) dan scrapie.

Bagian pertama menjelaskan penyakit sapi gila atau Mad Cow Disease, yang disebabkan oleh prion. Prion adalah protein abnormal yang tidak memiliki DNA atau RNA, dan dapat merusak jaringan otak. Penyakit ini disebut Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE).

Selanjutnya dijelaskan cara prion memperbanyak diri: prion abnormal masuk ke tubuh sapi, mencapai sistem saraf dan otak, mengubah protein normal menjadi abnormal, lalu protein abnormal menumpuk dan merusak jaringan otak. Bagian tubuh yang dirusak adalah otak, sumsum tulang belakang, dan sistem saraf pusat.

Gejala sapi yang terkena BSE meliputi perubahan perilaku agresif, kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan, tubuh gemetar, sensitif terhadap suara, penurunan berat badan, dan akhirnya kematian. Pada manusia, paparan prion BSE melalui makanan terkontaminasi dapat menyebabkan varian Creutzfeldt-Jakob (vCJD).

Bagian scrapie menjelaskan penyakit saraf degeneratif pada domba dan kambing yang juga disebabkan prion. Gejala utamanya adalah gatal hebat, gangguan koordinasi gerak, perubahan perilaku, dan penurunan berat badan. Masa inkubasi scrapie sangat panjang, antara 1 hingga lebih dari 5 tahun.

Dokumen juga membahas pencegahan dan pengobatan. Pencegahan meliputi menghindari pakan dari jaringan hewan berisiko, pemeriksaan rutin, dan konsumsi produk hewan aman. Belum ada obat untuk BSE maupun scrapie. Prion sangat resisten terhadap sterilisasi biasa seperti sinar UV, alkohol, dan formalin.