ilovepdf merged

1 BAB I JEJAK PERADABAN MUSIK BAMBU DI JAWA BARAT: DARI TRADISI LOKAL MENUJU KELAHIRAN ANGKLUNG PADAENG Bambu, Bunyi, dan Perjalanan Peradaban Musik Sunda Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan budaya luar biasa. Ribuan pulau yang tersebar dari barat hingga timur melahirkan beragam bentuk kehidupan sosial, bahasa, adat istiadat, sistem kepercayaan, serta kesenian yang menjadi identitas masyarakatnya. Keberagaman tersebut tidak hanya menunjukkan perbedaan antarwilayah, tetapi juga menggambarkan bagaimana manusia Indonesia sejak dahulu mampu beradaptasi dengan lingkungan alam dan mengolah berbagai sumber daya menjadi bagian dari kehidupan budaya. Salah satu bentuk warisan budaya yang memiliki peranan penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Indonesia adalah musik tradisional. Musik tidak hanya dipahami sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi, sarana pendidikan, bagian dari ritual adat, serta bentuk ekspresi manusia dalam memahami hubungan dirinya dengan alam, masyarakat, dan nilai-nilai spiritual yang diyakini. Di antara berbagai alat musik tradisional Indonesia, angklung menempati posisi yang sangat istimewa. Instrumen sederhana yang terbuat dari bambu ini telah berkembang menjadi salah satu simbol budaya Indonesia yang dikenal luas di dunia. Keunikan angklung tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada filosofi yang melekat dalam cara memainkannya. Sebuah angklung tidak dapat menghasilkan sebuah lagu secara lengkap apabila dimainkan oleh satu orang saja. Setiap pemain hanya memegang satu atau beberapa nada tertentu. Sebuah melodi baru dapat terbentuk ketika seluruh pemain memainkan perannya secara bersama-sama dalam pola yang teratur. Dari proses tersebut lahir sebuah harmoni yang menggambarkan bahwa keberhasilan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga pada kerja sama dan keseimbangan antaranggota kelompok. Filosofi tersebut menjadikan angklung lebih dari sekadar alat musik. Angklung merupakan representasi nilai kehidupan masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kebersamaan, gotong royong, tanggung jawab, dan keharmonisan sosial. Setiap pemain memiliki peran penting, tidak ada nada yang dianggap lebih utama dibandingkan nada lainnya, karena seluruh unsur harus bersatu untuk menghasilkan keindahan. Namun, perjalanan angklung hingga menjadi instrumen modern tidak berlangsung secara singkat. Angklung merupakan hasil dari proses sejarah panjang yang berakar dari hubungan manusia dengan alam, khususnya pemanfaatan bambu sebagai sumber kehidupan masyarakat Nusantara. Sebelum dikenal sebagai instrumen pendidikan dan pertunjukan modern, angklung telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat agraris Sunda yang menggantungkan hidupnya pada alam dan pertanian. Bambu sebagai bahan utama angklung memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Jawa Barat. Tanaman ini tumbuh subur di wilayah pegunungan dan pedesaan, mudah diperoleh, kuat, lentur, serta memiliki karakter bunyi yang khas. Dari kemampuan masyarakat dalam memahami sifat bambu, lahirlah berbagai instrumen musik yang menjadi bagian dari tradisi lokal. Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa budaya tidak pernah bersifat diam. Sebuah tradisi dapat bertahan karena mampu berkembang mengikuti perubahan zaman. Angklung menjadi contoh nyata bagaimana sebuah warisan lokal mampu mengalami transformasi tanpa kehilangan identitasnya.

2 Dari alat musik ritual masyarakat agraris, angklung berkembang menjadi media pendidikan, sarana pertunjukan, simbol diplomasi budaya, hingga memperoleh pengakuan internasional sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada tahun 2010. Perubahan besar tersebut tidak dapat dilepaskan dari peran Daeng Soetigna, seorang pendidik asal Jawa Barat yang berhasil melakukan inovasi terhadap sistem nada angklung. Melalui pengembangan sistem diatonis, angklung tidak lagi hanya memainkan lagu-lagu tradisional, tetapi mampu membawakan berbagai jenis musik modern. Inovasi tersebut melahirkan Angklung Padaeng, sebuah bentuk transformasi budaya yang mempertemukan tradisi lokal dengan perkembangan musik modern. Namun, sebelum memahami lebih jauh mengenai Angklung Padaeng, penting untuk melihat terlebih dahulu perjalanan panjang musik bambu yang menjadi akar sejarahnya. 1.1 Bambu sebagai Sumber Inspirasi Musik Tradisional Nusantara Sejak masa lampau, manusia selalu memiliki hubungan yang erat dengan alam di sekitarnya. Lingkungan bukan hanya menjadi tempat untuk bertahan hidup, tetapi juga menjadi ruang bagi manusia untuk belajar, berkreasi, dan membangun kebudayaan. Berbagai sumber daya alam dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan, tempat tinggal, peralatan rumah tangga, hingga sarana untuk mengekspresikan gagasan dan nilai-nilai kehidupan. Dalam perjalanan panjang peradaban manusia, hubungan antara manusia dan alam melahirkan berbagai bentuk inovasi. Dari bahan-bahan sederhana yang tersedia di lingkungan sekitar, manusia mampu menciptakan teknologi, karya seni, bahkan simbol-simbol budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu contoh nyata dari proses kreatif tersebut dapat dilihat melalui pemanfaatan bambu dalam kehidupan masyarakat Nusantara. Bambu merupakan salah satu tanaman yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat tropis, khususnya di wilayah Asia termasuk Indonesia. Tanaman ini dikenal memiliki pertumbuhan yang cepat, struktur yang kuat, ringan, lentur, serta mudah diolah menjadi berbagai bentuk. Karakteristik tersebut menjadikan bambu sebagai salah satu material alami yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat tradisional. Menurut Widjaja (2001), Indonesia memiliki keanekaragaman jenis bambu yang tinggi dan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan, baik kebutuhan praktis maupun budaya. Keberadaan bambu yang mudah ditemukan di lingkungan masyarakat menjadikan tanaman ini tidak hanya bernilai secara ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya 1. Dalam kehidupan sehari-hari, bambu digunakan untuk berbagai keperluan. Masyarakat memanfaatkannya sebagai bahan bangunan, alat rumah tangga, perlengkapan pertanian, alat transportasi sederhana, hingga berbagai kerajinan tangan. Rumah-rumah tradisional, peralatan 1 Widjaja. A. Elizabeth, “QRASI PENGUKUHAN AHLI PENELITI UTAMA ( APU ) PELAJARAN TERPETIK DARI MENDALAMI BAMBU INDONESIA UNTUK PENGEMBANGANNYA DI MAS A DEPAN [ Experience Taken from a Depth Study on Indonesian Bamboo for the Future Development ]” 8, no. 3 (2006): 153–62.

3 dapur, wadah penyimpanan, bahkan berbagai kebutuhan upacara adat di sejumlah daerah masih menunjukkan kuatnya hubungan masyarakat dengan bambu. Namun, kreativitas manusia tidak berhenti pada pemanfaatan bambu sebagai benda fungsional. Masyarakat Nusantara juga menemukan bahwa bambu memiliki potensi sebagai sumber bunyi. Dari sinilah bambu mulai mengalami perubahan makna: dari sekadar bahan alam menjadi media ekspresi seni. Kemampuan bambu menghasilkan bunyi berasal dari struktur alaminya. Batang bambu memiliki rongga udara yang dapat menghasilkan resonansi ketika mengalami getaran. Ketika bambu dipukul, ditiup, atau digerakkan, udara di dalam ruang bambu ikut bergetar dan menghasilkan karakter suara yang khas. Pengetahuan mengenai sifat akustik bambu tersebut kemudian berkembang melalui pengalaman masyarakat selama ratusan tahun hingga melahirkan berbagai instrumen musik tradisional. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat tradisional sebenarnya memiliki pemahaman yang mendalam terhadap lingkungan. Mereka tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga mengamati karakter setiap material dan mengubahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika. Bambu menjadi contoh bagaimana manusia mampu berdialog dengan alam melalui seni. Jejak penggunaan bambu sebagai alat musik dapat ditemukan di berbagai wilayah Nusantara. Di masyarakat Sunda misalnya, terdapat berbagai instrumen berbahan bambu seperti angklung, karinding, dan suling. Di wilayah lain juga ditemukan instrumen bambu dengan karakteristik yang berbeda, seperti berbagai jenis alat musik bambu di Bali, Jawa, dan daerah lainnya. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa bambu telah menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Indonesia dalam menciptakan identitas musikalnya. Menurut Kunst (1973), perkembangan musik tradisional Indonesia sangat dipengaruhi oleh hubungan masyarakat dengan lingkungan sosial dan budaya tempat mereka hidup. Instrumen musik tidak hanya berfungsi sebagai alat hiburan, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan sistem kepercayaan, kehidupan sosial, serta berbagai kegiatan masyarakat 2. Hal menarik dari musik bambu adalah bahwa suara yang dihasilkan tidak hanya dipandang sebagai bunyi semata. Dalam banyak tradisi masyarakat Nusantara, musik memiliki fungsi yang lebih luas. Musik dapat menjadi sarana komunikasi, pengiring ritual, media kebersamaan, maupun bentuk penghormatan terhadap alam dan kehidupan. Dalam konteks masyarakat Sunda, hubungan manusia dengan bambu berkembang menjadi lebih mendalam. Bambu tidak hanya dilihat berdasarkan manfaat fisiknya, tetapi juga dimaknai melalui nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Cara bambu tumbuh dan bertahan hidup memberikan inspirasi bagi masyarakat dalam memahami kehidupan. Bambu tumbuh secara berkelompok, saling berdekatan, dan membentuk suatu kesatuan. Batangnya terlihat sederhana, tetapi memiliki kekuatan yang mampu bertahan terhadap berbagai kondisi lingkungan. Di sisi lain, bambu juga memiliki sifat lentur yang membuatnya mampu mengikuti perubahan tanpa mudah patah. Karakter inilah yang kemudian sering dikaitkan dengan nilai kehidupan masyarakat Sunda: kebersamaan, keteguhan, kesederhanaan, dan kemampuan beradaptasi. Pemaknaan terhadap bambu tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional tidak hanya melihat alam sebagai sumber material, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran kehidupan. 2 Jaap Kunst, Music in Java.Pdf (The Hague Martinus Nijhoff, 1973), https://doi.org/10.1007/978-94-009-3469-6.

4 Alam menjadi guru yang memberikan inspirasi mengenai bagaimana manusia seharusnya membangun hubungan dengan sesama dan lingkungannya. Dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan kreativitas inilah kemudian berkembang berbagai bentuk musik bambu yang menjadi bagian dari identitas budaya Jawa Barat. Salah satu bentuk yang paling dikenal adalah angklung, sebuah instrumen bambu yang tidak hanya menghasilkan suara khas, tetapi juga membawa nilai kebersamaan melalui cara memainkannya secara berkelompok. Angklung menjadi bukti bahwa sebuah material sederhana dari alam dapat berkembang menjadi karya budaya yang memiliki nilai universal. Melalui bambu, masyarakat Sunda tidak hanya menciptakan alat musik, tetapi juga menciptakan simbol tentang kehidupan: bahwa kekuatan dapat lahir dari kebersamaan, harmoni dapat tercipta melalui perbedaan, dan manusia selalu memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dengan alam tempatnya hidup. 1.2 Perjalanan Musik Bambu dalam Sejarah Indonesia Perkembangan musik bambu di Indonesia merupakan perjalanan panjang yang tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan lingkungan tempat mereka hidup. Sejak dahulu, masyarakat Nusantara memanfaatkan berbagai sumber daya alam di sekitarnya untuk menciptakan alat-alat yang mendukung kehidupan, termasuk alat musik. Bambu menjadi salah satu material yang paling banyak digunakan karena mudah ditemukan, memiliki karakter suara yang khas, serta dapat diolah dengan teknologi sederhana. Setiap daerah memiliki cara tersendiri dalam memahami dan memanfaatkan bambu sebagai sumber bunyi. Perbedaan lingkungan, kebiasaan masyarakat, sistem kepercayaan, dan kebutuhan sosial turut memengaruhi bentuk serta fungsi instrumen bambu yang berkembang. Oleh karena itu, musik bambu tidak hanya lahir dari proses kreativitas musikal, tetapi juga merupakan hasil hubungan panjang antara manusia, alam, dan kebudayaan. Dalam kajian etnomusikologi, musik dipandang bukan hanya sebagai rangkaian bunyi yang memiliki unsur keindahan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Musik dapat menjadi media komunikasi, pembentuk identitas kelompok, sarana ekspresi emosi, hingga bagian dari sistem kepercayaan masyarakat tertentu 3. Pandangan ini membantu memahami bahwa keberadaan alat musik tradisional tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat yang menciptakannya. Pada masyarakat tradisional Nusantara, musik hadir dalam berbagai aktivitas kehidupan. Bunyi- bunyian tradisional dapat ditemukan dalam kegiatan ritual keagamaan, upacara adat, kegiatan pertanian, hiburan rakyat, hingga pertemuan sosial masyarakat. Kehadiran musik dalam berbagai kegiatan tersebut menunjukkan bahwa musik memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Bagi masyarakat agraris, misalnya, musik sering memiliki hubungan erat dengan siklus kehidupan pertanian. Bunyi alat musik digunakan dalam berbagai ritual sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi, permohonan keselamatan, maupun bentuk penghormatan terhadap alam yang memberikan kehidupan. Hubungan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tradisional memiliki cara pandang yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan sebagai pihak yang berdiri terpisah darinya 4. 3 Alan P. Merriam, The Anthropology of Music, Ethnomusicology, vol. 10, 1964, https://doi.org/10.2307/924202. 4 Amin Khoirul Abidin, “Ringkasan Buku Pengantar Ilmu Antropologi Karya Koentjaraningrat,” n.d., 1–42, https://www.ptonline.com/articles/how-to-get-better-mfi-results.

5 Dalam konteks tersebut, musik bambu memiliki makna yang lebih dalam. Suara yang dihasilkan dari bambu bukan hanya dipandang sebagai bunyi, tetapi juga sebagai simbol yang membawa pesan tertentu. Melalui musik, masyarakat menyampaikan nilai kebersamaan, penghormatan, harapan, dan hubungan spiritual dengan lingkungan sekitar. Musik menjadi bahasa budaya yang mampu menyampaikan gagasan tanpa harus selalu menggunakan kata-kata. Salah satu instrumen bambu yang berkembang luas di berbagai wilayah Indonesia adalah suling. Hampir setiap daerah memiliki bentuk dan karakter suling yang berbeda, baik dari segi ukuran, teknik permainan, maupun fungsi dalam kehidupan masyarakat. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi musik berdasarkan kondisi lingkungan dan kebutuhan budaya masing-masing. Suling Sunda, misalnya, memiliki karakter suara lembut yang sering digunakan untuk menggambarkan suasana alam dan perasaan manusia. Sementara itu, di daerah lain, suling dapat memiliki fungsi yang berbeda sesuai dengan konteks budaya masyarakat pendukungnya. Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa satu jenis bahan yang sama, yaitu bambu, dapat melahirkan berbagai bentuk ekspresi seni yang berbeda. Menurut Kunst (1973), perkembangan musik tradisional di Indonesia menunjukkan adanya hubungan erat antara bentuk musik dengan kehidupan sosial masyarakatnya. Instrumen musik tidak muncul secara terpisah, tetapi berkembang mengikuti perubahan masyarakat, lingkungan, dan kebutuhan budaya 5. Selain suling, instrumen bambu lain yang memiliki perkembangan penting dalam sejarah musik Indonesia adalah angklung. Angklung menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat mampu mengubah bahan sederhana dari alam menjadi sebuah karya seni yang memiliki nilai budaya tinggi. Keunikan angklung terletak pada cara menghasilkan suara. Setiap tabung bambu pada angklung menghasilkan nada tertentu ketika digetarkan. Karena satu instrumen hanya menghasilkan nada tertentu, permainan angklung umumnya dilakukan secara bersama-sama. Hal inilah yang kemudian menjadikan angklung memiliki nilai filosofis yang kuat, yaitu menggambarkan bahwa harmoni dapat tercipta melalui kerja sama dan kebersamaan. Nilai kebersamaan tersebut sangat sesuai dengan karakter masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kehidupan sosial yang harmonis. Angklung tidak hanya mengajarkan bagaimana menghasilkan musik, tetapi juga mengajarkan pentingnya saling melengkapi. Setiap pemain memiliki peran yang berbeda, tetapi seluruh bagian harus bekerja bersama agar menghasilkan sebuah melodi yang utuh. Catatan mengenai keberadaan angklung telah ditemukan dalam berbagai sumber sejarah dan budaya Nusantara. Beberapa sumber menyebutkan bahwa instrumen bambu telah digunakan dalam berbagai bentuk pertunjukan masyarakat sejak masa lampau. Hal tersebut menunjukkan bahwa tradisi musik bambu bukanlah kebudayaan baru, melainkan bagian dari perjalanan panjang kreativitas masyarakat Indonesia dalam mengembangkan seni pertunjukan 6. Dalam perkembangannya, angklung memiliki hubungan yang sangat kuat dengan masyarakat Sunda di Jawa Barat. Kondisi geografis Jawa Barat yang memiliki banyak wilayah pegunungan serta lingkungan yang mendukung pertumbuhan bambu menjadi salah satu faktor yang memungkinkan berkembangnya berbagai kesenian berbasis bambu. 5 Kunst, Music in Java.Pdf. 6 Henry Spiller, Archaic Instruments in Modern West Java: Bamboo Murmurs, Archaic Instruments in Modern West Java: Bamboo Murmurs, 2022, https://doi.org/10.4324/9781003302797.

6 Bagi masyarakat Sunda, bambu tidak hanya dipandang sebagai bahan yang memiliki manfaat praktis, tetapi juga memiliki nilai simbolis. Sifat bambu yang tumbuh berkelompok, kuat namun lentur, sering dimaknai sebagai gambaran kehidupan masyarakat yang mengutamakan kebersamaan, ketahanan, dan kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan 7. Dari hubungan yang erat antara masyarakat Sunda dan bambu tersebut, lahirlah berbagai bentuk kesenian yang menjadikan bambu sebagai media utama. Angklung kemudian berkembang tidak hanya sebagai alat musik tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Jawa Barat. Perjalanan angklung mengalami perkembangan besar ketika seorang tokoh bernama Daeng Soetigna melakukan inovasi terhadap sistem nada angklung. Melalui pengembangan angklung bernada diatonis, angklung tidak lagi terbatas digunakan dalam lingkungan tradisional, tetapi dapat dimainkan dalam pendidikan musik, pertunjukan modern, hingga berkolaborasi dengan berbagai jenis musik lainnya 8, 9,10. Inovasi tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan angklung karena membuka ruang baru bagi instrumen tradisional untuk terus berkembang mengikuti zaman. Angklung membuktikan bahwa tradisi bukan sesuatu yang berhenti pada masa lalu, tetapi dapat terus hidup melalui kreativitas dan inovasi. Pengakuan dunia terhadap nilai budaya angklung semakin kuat ketika UNESCO menetapkan Indonesian Angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2010. Pengakuan tersebut bukan hanya menunjukkan pentingnya angklung sebagai karya seni, tetapi juga mengingatkan bahwa keberlangsungan budaya sangat bergantung pada bagaimana generasi berikutnya menjaga, mempelajari, dan mengembangkannya 11. Pada akhirnya, perjalanan musik bambu di Indonesia menunjukkan sebuah pelajaran penting: sebuah benda sederhana dari alam dapat memiliki makna yang luar biasa ketika manusia memberikan nilai, kreativitas, dan filosofi di dalamnya. Bambu bukan hanya tanaman, bukan hanya bahan pembuat alat musik, tetapi juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia, budaya, dan lingkungan. 1.3 Bambu dalam Kehidupan dan Filosofi Masyarakat Sunda Perjalanan angklung tidak dapat dipisahkan dari hubungan panjang antara masyarakat Sunda dengan alam di sekitarnya. Bagi masyarakat Sunda tradisional, alam bukan hanya ruang tempat manusia memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga bagian dari kehidupan yang memiliki nilai, makna, dan aturan yang perlu dihormati. Hubungan manusia dengan alam membentuk cara masyarakat memahami kehidupan, membangun kebiasaan, hingga menciptakan berbagai bentuk kebudayaan. 7 Furqon Furqon, “Etnopaedagogi: Pendekatan Pendidikan Berbudaya Dan Membudayakan,” Journal of Religious Education 1 (2012): 4. 8 Asep Nugraha, “ANGKLUNG TRADISIONAL SUNDA: INTANGIBLE, CULTURAL HERITAGE OF HUMANITY, PENERAPANNYA DAN PENGKONTRIBUSIANNYA TERHADAP KELAHIRAN ANGKLUNG INDONESIA,” n.d. 9 Meghan Hynson, “Bamboo Angklung: Incorporating Indonesia into the Music Education Classroom,” Music Educators Journal 111 (2025): 44–52, https://doi.org/10.1177/00274321251314439. 10 Salsabila Barokatu Lana et al., “Angklung Sebagai Warisan Budaya Sunda: Kajian Fungsi, Nilai, Dan Perkembangannya Di Jawa Barat,” Imajinasi : Jurnal Ilmu Pengetahuan, Seni, Dan Teknologi, 2026, https://doi.org/10.62383/imajinasi.v2i4.1018. 11 Committee UNESCO, “Inscribed in 2010 (5.COM) on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity,” UNESCO Intangible Herritage, 2010, https://ich.unesco.org/en/decisions/5.COM/6.18.

7 Alam dalam pandangan masyarakat Sunda tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang terpisah dari manusia. Manusia hidup bersama alam dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangannya. Cara pandang tersebut kemudian tercermin dalam berbagai tradisi, tata kehidupan sosial, dan karya budaya masyarakat Sunda yang selalu memperlihatkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan nilai spiritual 12, 13. Salah satu unsur alam yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Sunda adalah bambu. Tumbuhan ini banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat, terutama pada daerah pegunungan dan pedesaan yang memiliki kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhannya. Sejak dahulu, bambu telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat karena sifatnya yang kuat, ringan, mudah dibentuk, dan mudah diperoleh. Dalam kehidupan sehari-hari, bambu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari bahan bangunan, alat rumah tangga, perlengkapan pertanian, hingga berbagai bentuk kerajinan. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia. Bambu tidak hanya menjadi material pendukung kehidupan, tetapi juga menjadi bagian dari kebudayaan yang berkembang bersama masyarakatnya 14. Namun, hubungan masyarakat Sunda dengan bambu tidak berhenti pada aspek kegunaan praktis. Lebih dari sekadar bahan, bambu memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan cara masyarakat memahami kehidupan. Karakter bambu yang tumbuh berkelompok sering dikaitkan dengan nilai kebersamaan, bahwa kehidupan manusia tidak dapat berjalan sendiri tanpa hubungan dengan orang lain. Selain itu, sifat bambu yang kuat tetapi tetap lentur memberikan gambaran mengenai sikap hidup yang ideal. Bambu mampu bertahan menghadapi perubahan lingkungan karena memiliki kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan bentuk dasarnya. Nilai tersebut kemudian dipahami sebagai gambaran manusia yang harus memiliki keteguhan prinsip, tetapi tetap mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Pemaknaan terhadap bambu tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tradisional memiliki cara tersendiri dalam membaca tanda-tanda yang diberikan oleh alam. Lingkungan tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran. Dari alam, masyarakat menemukan nilai-nilai yang kemudian diterapkan dalam kehidupan sosial dan budaya. Pandangan tersebut sejalan dengan konsep kehidupan masyarakat Sunda yang menempatkan keseimbangan sebagai bagian penting dalam hubungan manusia dengan dunia sekitarnya. Manusia tidak dipandang sebagai penguasa alam, melainkan sebagai bagian dari alam yang memiliki kewajiban untuk menjaga keharmonisan. Hubungan antara manusia, alam, dan nilai spiritual menjadi salah satu dasar dalam berbagai pemikiran budaya Sunda 15. Cara pandang tersebut kemudian tercermin dalam berbagai bentuk kesenian tradisional Sunda. Seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan nilai 12 Jakob Sumardjo, “Kosmologi Dan Pola Tiga Sunda” 4 (2013). 13 M Nasir et al., “The Local Wisdom on Sundanese People in Relationship with the Natural Environment: An Analytical Study of the Philosophy of Society of Kampung Dukuh Garut,” KnE Social Sciences, 2023, https://doi.org/10.18502/kss.v8i18.14223. 14 A Hildayanti and Wasilah, “Optimizing Bamboo as an Alternative Building Material to Respond Global Architectural Challenges,” in IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, vol. 1157, 2023, https://doi.org/10.1088/1755-1315/1157/1/012011. 15 Sumardjo, “Kosmologi Dan Pola Tiga Sunda.”

8 kehidupan. Melalui musik, tari, dan berbagai pertunjukan tradisional, masyarakat menyampaikan rasa syukur, penghormatan terhadap alam, pesan moral, serta hubungan sosial antaranggota masyarakat. Dalam kajian antropologi musik, musik dipahami sebagai bagian dari sistem budaya yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pendukungnya. Musik memiliki fungsi sosial, menjadi sarana komunikasi, serta menjadi media untuk memperkuat identitas suatu kelompok budaya 16. Dalam konteks inilah bambu memperoleh kedudukan yang istimewa dalam kebudayaan Sunda. Bambu tidak hanya menghasilkan benda yang berguna, tetapi juga mampu melahirkan karya seni yang memiliki nilai estetika dan makna budaya. Dari bambu lahir berbagai instrumen musik tradisional, salah satunya adalah angklung. Kehadiran angklung menunjukkan bagaimana masyarakat Sunda mampu mengubah sesuatu yang sederhana dari alam menjadi karya budaya yang bernilai tinggi. Masyarakat tidak hanya memahami bambu berdasarkan bentuk fisiknya, tetapi juga mengenali karakter bunyi yang dapat dihasilkan dari material tersebut. Proses ini menunjukkan adanya kreativitas budaya, yaitu kemampuan manusia mengolah lingkungan menjadi bagian dari ekspresi seni. Angklung menjadi contoh nyata bahwa hubungan manusia dengan alam dapat menghasilkan identitas budaya. Melalui proses panjang, bambu berubah dari sekadar tanaman menjadi media komunikasi budaya. Getaran suara bambu tidak hanya menghasilkan nada, tetapi juga membawa nilai sosial yang hidup dalam masyarakat. Salah satu nilai yang paling kuat dalam angklung adalah kebersamaan. Berbeda dengan beberapa instrumen musik yang dapat dimainkan secara individu, angklung umumnya dimainkan secara berkelompok. Setiap pemain memiliki bagian nada masing-masing, sehingga sebuah lagu hanya dapat terbentuk apabila seluruh pemain bekerja sama. Karakter permainan tersebut mencerminkan nilai kehidupan masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kerja sama, saling melengkapi, dan keharmonisan sosial. Tidak ada satu pemain yang menjadi pusat perhatian, karena keindahan musik justru muncul dari hubungan antarbagian yang saling mendukung. Nilai inilah yang menjadikan angklung tidak hanya sebagai alat musik, tetapi juga sebagai simbol kehidupan bersama. Perjalanan angklung dari sebuah instrumen sederhana berbahan bambu hingga menjadi identitas budaya masyarakat Sunda menunjukkan bahwa kebudayaan selalu berkembang melalui hubungan antara manusia, alam, dan kreativitas. Bambu memberikan bahan dasarnya, masyarakat memberikan makna, dan seni memberikan kehidupan yang membuatnya terus bertahan hingga saat ini. Pengakuan terhadap nilai budaya angklung semakin kuat ketika UNESCO menetapkan Indonesian Angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2010. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa angklung bukan hanya memiliki arti penting bagi masyarakat Sunda, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya dunia 17. 1.4 Masyarakat Agraris Sunda dan Lahirnya Tradisi Angklung Sejarah perkembangan angklung tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Sunda sebagai masyarakat agraris. Jauh sebelum dikenal sebagai alat musik pertunjukan, media 16 Sumardjo. 17 UNESCO, “Inscribed in 2010 (5.COM) on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.”

9 pendidikan, dan simbol budaya Indonesia, angklung tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang kehidupannya sangat dekat dengan alam, terutama aktivitas pertanian. Bagi masyarakat Sunda tradisional, pertanian bukan hanya kegiatan untuk menghasilkan bahan makanan, tetapi merupakan bagian dari tata kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Sawah, ladang, air, tanah, tumbuhan, dan berbagai unsur alam dipandang memiliki keterkaitan yang membentuk keseimbangan kehidupan. Masyarakat agraris memiliki cara pandang bahwa keberhasilan pertanian tidak semata-mata berasal dari kemampuan manusia dalam mengolah lahan, tetapi juga dipengaruhi oleh keharmonisan hubungan manusia dengan alam. Oleh karena itu, kegiatan pertanian sering disertai dengan berbagai bentuk penghormatan, doa, dan tradisi yang bertujuan menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan. Dalam kehidupan masyarakat Sunda lama, alam memiliki kedudukan yang penting dalam membentuk nilai budaya. Hubungan manusia dengan alam tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga mengandung dimensi spiritual. Pandangan tersebut kemudian tercermin dalam berbagai tradisi pertanian yang diwariskan secara turun-temurun 18, 19. Pertanian, khususnya pertanian padi, memiliki posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Sunda. Padi bukan hanya dipandang sebagai sumber makanan, tetapi juga sebagai simbol kehidupan dan keberlangsungan masyarakat. Karena itu, berbagai tahapan pertanian sering diiringi dengan kegiatan budaya seperti upacara adat, nyanyian, tarian, dan permainan musik tradisional. Dalam konteks tersebut, musik memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar hiburan. Musik menjadi media untuk mempererat hubungan sosial, menyampaikan harapan, membangun kebersamaan, serta menjadi bagian dari komunikasi antara manusia dengan nilai-nilai yang mereka yakini. Dalam kajian etnomusikologi, musik dipahami sebagai bagian dari sistem budaya yang memiliki fungsi sosial dan spiritual bagi masyarakat pendukungnya 20. Angklung kemudian berkembang dalam lingkungan budaya tersebut. Sebagai instrumen berbahan bambu, angklung memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat pedesaan karena bahan pembuatannya tersedia di lingkungan sekitar. Suara yang dihasilkan dari getaran bambu menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, terutama sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi. Keberadaan angklung dalam masyarakat agraris menunjukkan bahwa sebuah alat musik tidak selalu lahir hanya untuk kebutuhan estetika. Dalam kebudayaan tradisional, sebuah instrumen sering kali memiliki hubungan dengan nilai kehidupan masyarakat yang menciptakannya. Angklung menjadi contoh bagaimana benda sederhana dari alam dapat berubah menjadi simbol budaya yang memiliki makna mendalam. 1.4.1 Angklung dalam Siklus Kehidupan Pertanian Dalam masyarakat agraris Sunda, kegiatan pertanian berlangsung mengikuti siklus alam yang memiliki tahapan tertentu. Mulai dari persiapan lahan, penanaman benih, pemeliharaan tanaman, hingga masa panen, setiap proses memiliki aturan dan kebiasaan yang diwariskan antar- generasi. 18 Sumardjo, “Kosmologi Dan Pola Tiga Sunda.” 19 Nasir et al., “The Local Wisdom on Sundanese People in Relationship with the Natural Environment: An Analytical Study of the Philosophy of Society of Kampung Dukuh Garut.” 20 Merriam, The Anthropology of Music.

10 Pertanian tidak hanya dipahami sebagai aktivitas teknis, tetapi juga sebagai proses yang melibatkan hubungan manusia dengan alam dan kehidupan sosial masyarakat. Setiap tahapan pertanian memiliki nilai simbolis yang menunjukkan rasa hormat terhadap lingkungan yang memberikan kehidupan. Pada beberapa komunitas adat Sunda, kegiatan pertanian masih mempertahankan berbagai tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap alam. Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan lokal dalam menjaga hubungan antara manusia, lingkungan, dan nilai budaya yang mereka warisi. Dalam kegiatan tertentu yang berkaitan dengan pertanian, angklung digunakan sebagai bagian dari ekspresi budaya masyarakat. Permainan angklung secara bersama-sama menciptakan suasana kebersamaan karena setiap orang memiliki peran dalam menghasilkan sebuah harmoni. Hal tersebut menjadi salah satu karakter utama angklung. Berbeda dengan beberapa alat musik yang dapat dimainkan secara individu, angklung membutuhkan keterlibatan banyak pemain. Setiap pemain bertanggung jawab terhadap nada tertentu, sehingga sebuah lagu hanya dapat tercipta apabila seluruh pemain mampu bekerja sama. Nilai tersebut memberikan gambaran mengenai kehidupan sosial masyarakat Sunda. Setiap individu memiliki peran yang berbeda, tetapi seluruh peran tersebut saling melengkapi. Tidak ada satu bagian yang dianggap paling penting, karena keharmonisan hanya dapat tercapai melalui kerja sama. Karakter permainan angklung tersebut sejalan dengan nilai kebersamaan dalam masyarakat Sunda. Musik tidak hanya menjadi hasil suara yang indah, tetapi juga menjadi proses pembelajaran sosial mengenai pentingnya tanggung jawab, koordinasi, dan hubungan antarindividu. Dengan demikian, angklung bukan hanya mengajarkan bagaimana memainkan musik, tetapi juga menggambarkan cara masyarakat memahami kehidupan. Melalui angklung, nilai gotong royong dan keseimbangan sosial diwujudkan dalam bentuk bunyi. 1.4.2 Makna Spiritual dan Tradisi Padi Dalam kebudayaan masyarakat agraris Sunda, padi memiliki kedudukan yang sangat penting. Padi bukan hanya tanaman yang menghasilkan makanan pokok, tetapi juga memiliki nilai simbolis sebagai sumber kehidupan. Hubungan masyarakat dengan padi kemudian melahirkan berbagai tradisi penghormatan terhadap proses pertanian. Salah satu konsep yang dikenal luas dalam budaya agraris Nusantara adalah penghormatan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan kemakmuran. Tokoh Dewi Sri dalam berbagai tradisi masyarakat mengalami perkembangan dan pemaknaan yang berbeda-beda sesuai dengan latar budaya serta sistem kepercayaan masyarakat pendukungnya 21. Namun, di balik berbagai bentuk pemaknaan tersebut terdapat nilai yang sama, yaitu kesadaran bahwa kehidupan manusia memiliki hubungan erat dengan alam. Hasil pertanian tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang diperoleh melalui kerja manusia, tetapi juga sebagai bagian dari keseimbangan alam yang harus dihargai. Dalam tradisi masyarakat Sunda, hubungan antara manusia dan alam tersebut tercermin melalui berbagai kegiatan adat yang berkaitan dengan pertanian. Musik, termasuk angklung, menjadi 21 Titi Surti Nastiti, “Dewi Sri Dalam Kepercayaan Masyarakat Indonesia” 3 (2020): 1–12, https://doi.org/10.24832/tmt.v3i1.48.

11 salah satu media untuk mengungkapkan rasa syukur, harapan, dan penghormatan terhadap kehidupan. Bunyi angklung yang berasal dari bambu memiliki makna simbolis yang kuat. Suara yang muncul dari getaran bambu seolah menjadi bentuk komunikasi budaya antara manusia dengan lingkungan yang membesarkannya. Melalui musik, masyarakat menyampaikan rasa terima kasih atas hasil bumi sekaligus memperkuat hubungan sosial antaranggota masyarakat. Karena itu, angklung tidak dapat dipahami hanya sebagai alat musik tradisional. Angklung merupakan bagian dari sistem kehidupan masyarakat Sunda yang menghubungkan tiga unsur penting: manusia, budaya, dan alam. Perjalanan angklung dari lingkungan pertanian menuju panggung pertunjukan modern menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat terus bertahan ketika nilai dasarnya tetap dijaga. Meskipun bentuk penyajiannya mengalami perubahan, nilai kebersamaan, keharmonisan, dan penghormatan terhadap alam tetap menjadi bagian penting dari identitas angklung. 1.5 Evolusi Instrumen Bambu: Dari Lodong, Calung, hingga Angklung Perjalanan angklung sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Sunda tidak terjadi dalam waktu singkat. Kehadirannya merupakan hasil dari proses panjang kreativitas manusia dalam memahami alam, terutama dalam memanfaatkan bambu sebagai material yang memiliki potensi musikal. Sebelum dikenal sebagai instrumen musik yang memiliki bentuk dan sistem permainan seperti sekarang, masyarakat telah lebih dahulu mengenal berbagai bentuk pemanfaatan bambu dalam kehidupan sehari-hari. Bambu digunakan untuk berbagai kebutuhan praktis, tetapi melalui pengalaman dan pengamatan yang terus berkembang, masyarakat mulai menemukan bahwa bambu juga memiliki kemampuan menghasilkan bunyi yang khas.

12 Penemuan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan musik tradisional sering kali berawal dari hubungan sederhana antara manusia dan lingkungan. Masyarakat tidak menciptakan alat musik melalui teori yang rumit, melainkan melalui proses mencoba, mendengar, dan memahami karakter bahan alam yang tersedia di sekitar mereka. Salah satu bentuk awal pemanfaatan bambu yang sering dikaitkan dengan perkembangan instrumen bambu adalah lodong. Pada awalnya, lodong merupakan ruas bambu yang digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, seperti wadah air atau perlengkapan rumah tangga. Namun, ketika bambu kosong dipukul, diketuk, atau dimainkan, muncul bunyi yang menarik perhatian Masyarakat 22. Dari pengalaman tersebut, masyarakat mulai memahami bahwa bambu tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga memiliki potensi sebagai media ekspresi seni. Bunyi yang awalnya muncul secara sederhana kemudian dikembangkan menjadi bentuk permainan musik yang lebih teratur. Proses kreatif tersebut memperlihatkan kemampuan masyarakat tradisional dalam melakukan inovasi berdasarkan pengalaman. Mereka mengamati bahwa perbedaan ukuran, panjang, dan ketebalan bambu menghasilkan karakter suara yang berbeda. Dari pemahaman tersebut kemudian muncul usaha untuk menyusun beberapa potongan bambu agar menghasilkan variasi nada. Perkembangan pemanfaatan bambu sebagai instrumen musik merupakan contoh bagaimana pengetahuan lokal terbentuk melalui hubungan langsung manusia dengan lingkungan. Dalam kajian etnomusikologi, perkembangan alat musik tradisional sering kali berkaitan erat dengan cara masyarakat memahami material, teknologi sederhana, serta kebutuhan budaya mereka.Dari proses pengembangan tersebut kemudian muncul berbagai instrumen bambu yang lebih kompleks, salah satunya adalah calung. 1.5.1 Perkembangan Calung sebagai Tahap Awal Organisasi Nada Calung merupakan salah satu instrumen penting dalam perkembangan musik bambu Sunda. Jika lodong masih memiliki bentuk yang sederhana, calung menunjukkan perkembangan yang lebih maju karena bambu mulai disusun berdasarkan perbedaan tinggi rendah nada. Pada calung, masyarakat tidak hanya memanfaatkan bunyi bambu secara spontan, tetapi mulai memahami bahwa setiap bagian bambu dapat menghasilkan suara tertentu. Panjang pendeknya tabung bambu, ukuran diameter, dan bentuk pengolahan material menjadi faktor yang memengaruhi karakter nada yang dihasilkan. Semula jenis calung ini Adalah calung renteng, seperti sebuah gambang, di awal ukung susunan tabung besar di ikat ke sebuah batang pohon, dan ujung susunan tabung kecil di ikatkan ke pinggang pemainnya. Selanjutnya calung inovasi menjadi 22 Enoch Atmadibrata Atik Soepandi, Khasanah Kesenian Daerah Jawa-Barat (Bandung : Pelita Masa, 1983).

13 calung jinjing, tabung tabung calung disusun dan dinatung pada sebuah palang yang bisa dipegang untuk bisa di bawa dan bergerak 23. Kemampuan tersebut menunjukkan adanya pemahaman musikal yang berkembang melalui pengalaman panjang. Masyarakat menemukan bahwa alam dapat diolah menjadi sistem bunyi yang memiliki keteraturan dan keindahan. Calung kemudian berkembang menjadi salah satu kesenian penting dalam budaya Sunda. Instrumen ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Pertunjukan calung sering menghadirkan suasana kebersamaan karena dimainkan secara kelompok dan melibatkan interaksi antar pemain. Menurut Kunst (1973), perkembangan instrumen tradisional di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki sistem musikal sendiri yang berkembang sesuai dengan lingkungan budaya masing-masing. Instrumen tidak hanya dilihat dari bentuk fisiknya, tetapi juga dari fungsi sosial dan konteks penggunaannya 24. Meskipun memiliki hubungan erat dengan perkembangan musik bambu Sunda, calung memiliki karakter yang berbeda dengan angklung. Calung menghasilkan bunyi melalui cara dipukul, sedangkan angklung menghasilkan suara melalui getaran tabung bambu ketika digerakkan. Perbedaan mekanisme menghasilkan bunyi tersebut menunjukkan bahwa kreativitas masyarakat Sunda terhadap bambu terus berkembang. Dari material yang sama, masyarakat mampu menciptakan berbagai instrumen dengan karakter suara, teknik permainan, dan fungsi budaya yang berbeda. 1.5.2 Lahirnya Angklung sebagai Instrumen Bambu Bergetar Angklung berkembang dari pemahaman masyarakat terhadap sifat alami bambu sebagai material yang mampu menghasilkan bunyi melalui getaran. Berbeda dengan calung yang menghasilkan suara melalui pukulan, angklung menggunakan prinsip resonansi ketika tabung bambu digoyangkan. Ketika angklung digerakkan, tabung bambu mengalami getaran yang menghasilkan suara khas. Bunyi tersebut memiliki karakter lembut dan unik karena berasal langsung dari struktur alami bambu. Keindahan suara angklung bukan hanya terletak pada nada yang dihasilkan, tetapi juga pada hubungan antara gerakan, bunyi, dan kebersamaan para pemainnya. Dalam masyarakat Sunda, terutama pada komunitas adat seperti Kanekes atau Baduy, angklung memiliki hubungan yang erat dengan tradisi pertanian. Angklung buhun digunakan dalam berbagai kegiatan adat yang berkaitan dengan siklus kehidupan masyarakat, termasuk kegiatan yang berhubungan dengan penanaman padi. Salah satu kegiatan yang sering dikaitkan dengan penggunaan angklung adalah ngaseuk, yaitu proses awal penanaman padi dengan menggunakan alat khusus untuk membuat lubang tanam. 23 Atik Soepandi. 24 Kunst, Music in Java.Pdf.

14 Dalam konteks tersebut, angklung tidak hanya berfungsi sebagai musik pengiring, tetapi menjadi bagian dari rangkaian kegiatan budaya yang memiliki nilai simbolis. Permainan angklung biasanya dilakukan bersama nyanyian dan gerakan tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal perkembangannya, angklung bukan sekadar alat musik individual, melainkan bagian dari aktivitas kolektif masyarakat. Karakter permainan secara bersama-sama menjadi salah satu ciri utama angklung. Setiap pemain memegang peran melalui nada tertentu, sehingga sebuah lagu hanya dapat tercipta apabila seluruh pemain mampu bekerja sama. Nilai tersebut menggambarkan cara masyarakat Sunda memahami kehidupan sosial: harmoni tidak dibangun oleh satu individu saja, tetapi melalui hubungan saling melengkapi. Dalam perkembangannya, angklung kemudian mengalami berbagai perubahan bentuk dan fungsi. Dari instrumen yang berkaitan dengan tradisi pertanian, angklung berkembang menjadi alat musik pertunjukan, pendidikan, hingga simbol budaya Indonesia di tingkat internasional. Perjalanan dari lodong, calung, hingga angklung menunjukkan bahwa kebudayaan selalu berkembang melalui proses panjang. Bambu sebagai material sederhana menjadi bukti bahwa kreativitas manusia mampu mengubah sesuatu yang berasal dari alam menjadi karya budaya yang memiliki nilai sejarah, estetika, dan filosofi kehidupan. 1.6 Angklung sebagai Identitas Budaya Masyarakat Sunda Seiring perjalanan waktu, angklung berkembang melampaui fungsi awalnya sebagai alat musik tradisional masyarakat agraris. Angklung tidak lagi hanya hadir dalam kegiatan adat yang berkaitan dengan kehidupan pertanian, tetapi berkembang menjadi salah satu simbol penting kebudayaan Sunda. Keberadaan angklung menunjukkan bagaimana masyarakat Sunda mampu mengubah sesuatu yang berasal dari lingkungan sekitar menjadi sebuah karya budaya yang memiliki nilai tinggi. Bambu yang pada awalnya hanya dipandang sebagai tanaman dengan fungsi praktis, melalui kreativitas masyarakat kemudian berubah menjadi media ekspresi yang mampu menyampaikan nilai kehidupan. Bagi masyarakat Sunda, angklung tidak hanya berbicara mengenai bunyi dan keindahan musik. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, keselarasan, dan hubungan sosial antarindividu. Cara memainkan angklung yang dilakukan secara berkelompok menjadi salah satu ciri yang membedakannya dari banyak instrumen musik lainnya. Setiap pemain angklung memiliki tanggung jawab terhadap nada tertentu. Tidak ada satu pemain yang mampu menghasilkan keseluruhan melodi seorang diri. Sebuah lagu baru dapat tercipta apabila seluruh pemain mampu bekerja sama, mendengarkan satu sama lain, dan memainkan bagiannya pada waktu yang tepat. Karakter tersebut menggambarkan nilai kehidupan masyarakat Sunda yang menempatkan keharmonisan sosial sebagai bagian penting dalam kehidupan. Keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh satu individu yang paling menonjol, tetapi oleh kemampuan seluruh anggota masyarakat dalam menjalankan perannya masing-masing. Dalam perspektif etnomusikologi, musik tidak hanya dipahami sebagai karya seni, tetapi juga sebagai bagian dari sistem sosial dan budaya yang mencerminkan nilai masyarakat

15 pendukungnya. Musik dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas kelompok, membangun hubungan sosial, serta menyampaikan pandangan hidup masyarakat 25. Nilai kebersamaan dalam angklung menjadi semakin kuat karena instrumen ini mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah hambatan untuk menciptakan harmoni. Setiap nada memiliki karakter yang berbeda, tetapi ketika dimainkan bersama akan menghasilkan satu kesatuan musik yang indah 26. Filosofi tersebut menjadikan angklung bukan hanya sebagai alat musik, tetapi juga sebagai simbol kehidupan masyarakat Sunda. Angklung mengajarkan bahwa manusia memiliki peran yang berbeda-beda, namun semuanya memiliki nilai penting dalam membangun kehidupan yang seimbang. Perkembangan angklung sebagai identitas budaya semakin kuat ketika instrumen ini mulai dikenal secara luas melalui pendidikan, pertunjukan seni, dan berbagai kegiatan budaya. Angklung kemudian tidak hanya menjadi milik komunitas tertentu, tetapi menjadi bagian dari representasi budaya Indonesia di tingkat nasional maupun internasional (UNESCO, 2010). 1.7 Ragam Angklung Tradisional Jawa Barat: Warisan Budaya dan Identitas Masyarakat Perkembangan angklung di Jawa Barat menghasilkan berbagai bentuk instrumen yang memiliki karakter berbeda-beda. Angklung tidak berkembang dalam satu bentuk yang seragam, melainkan mengalami penyesuaian sesuai dengan kondisi lingkungan, sejarah, serta kehidupan sosial masyarakat yang menggunakannya. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa budaya selalu berkembang mengikuti kehidupan manusia. Setiap masyarakat memiliki cara tersendiri dalam memahami lingkungan dan mengekspresikannya melalui seni. Oleh karena itu, setiap jenis angklung memiliki cerita dan nilai yang menggambarkan masyarakat pendukungnya. Perbedaan angklung tradisional dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari bentuk fisik, ukuran bambu, jumlah tabung, teknik permainan, fungsi pertunjukan, hingga konteks penggunaannya dalam kehidupan masyarakat. Sebagian besar angklung tradisional Sunda menggunakan sistem nada yang hampir mirip dengan laras dalam karawitan Sunda, pentatonis yang menjadi bagian dari tradisi musik Sunda. Sistem nada tersebut menghasilkan karakter bunyi yang khas dan memiliki hubungan erat dengan berbagai bentuk kesenian Sunda seperti karawitan, tembang, dan pertunjukan rakyat 27. Menurut Kunst (1973), musik tradisional Indonesia berkembang berdasarkan sistem musikal yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan masyarakatnya. Artinya, sebuah instrumen tidak hanya dinilai dari bentuk fisik dan bunyinya, tetapi juga dari fungsi sosial serta nilai budaya yang melekat di dalamnya 28. 25 Merriam, The Anthropology of Music. 26 Saprudin. Sukmayadi. Yudi and Rita Milyartini, “Reimagining Arts Education : Empowering Deaf Learners through the Visual-Musical Innovation of Gawang Angklung” 53, no. 2 (2025). 27 Rita Saprudin, Milyartini, “ISSN 2319-829X Humanities and Social Science Studies , Vol . 13 ( 1 ) The ’ Laras ’ ( Scales ) of Angklung Tradisi : A Reality Between Perception and Theory ISSN 2319-829X Humanities and Social Science Studies , Vol . 13 ( 1 )” 13, no. 1 (n.d.): 1–16. 28 Kunst, Music in Java.Pdf.

16 Dalam masyarakat Sunda, angklung tradisional memiliki fungsi yang beragam. Ada angklung yang digunakan dalam ritual pertanian, ada yang menjadi bagian dari upacara adat, ada pula yang berkembang sebagai hiburan rakyat dan pertunjukan budaya. Keragaman fungsi tersebut memperlihatkan bahwa angklung merupakan kesenian yang hidup. Ia tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan nilai dasarnya. Setiap jenis angklung membawa identitas lokal masing-masing. Angklung yang berkembang di daerah pegunungan memiliki karakter berbeda dengan angklung yang tumbuh dalam masyarakat pesisir. Perbedaan tersebut bukan menunjukkan adanya tingkatan nilai, tetapi memperlihatkan kekayaan cara masyarakat Indonesia dalam menciptakan kebudayaan. Dengan demikian, keberagaman angklung di Jawa Barat dapat dipahami sebagai gambaran keberagaman kehidupan masyarakat Sunda itu sendiri. Setiap bentuk angklung menjadi representasi hubungan manusia dengan lingkungan, sejarah, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. 1.7.1 Angklung Baduy: Harmoni antara Musik, Alam, dan Tradisi Leluhur Angklung Baduy merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional yang berkembang dalam kehidupan masyarakat adat Baduy di wilayah Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Dalam tradisi masyarakat Baduy, angklung ini dikenal dengan sebutan Angklung Buhun, yaitu angklung warisan leluhur yang memiliki kedudukan penting dalam kehidupan budaya dan spiritual masyarakat. Istilah buhun dalam bahasa Sunda memiliki makna sesuatu yang bersifat lama, kuno, atau berasal dari masa terdahulu, sehingga Angklung Buhun dipahami sebagai simbol keberlanjutan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Meskipun secara administratif wilayah Baduy berada di Provinsi Banten, masyarakat Baduy memiliki hubungan historis dan kebudayaan yang kuat dengan tradisi Sunda lama. Hubungan tersebut terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti sistem kepercayaan, aturan adat, pola hubungan sosial, pengelolaan lingkungan, hingga kesenian tradisional. Angklung Buhun menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Baduy, terutama mengenai hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur 29. Masyarakat Baduy dikenal sebagai komunitas adat yang memegang teguh aturan kehidupan yang disebut pikukuh adat. Aturan tersebut menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara bertani, memanfaatkan sumber daya alam, serta menjaga keseimbangan lingkungan. Bagi masyarakat Baduy, alam bukan hanya dipandang sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang memiliki nilai spiritual dan harus dihormati. Oleh karena itu, berbagai aktivitas masyarakat selalu dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara manusia dan alam. Pandangan tersebut tercermin dalam sistem pertanian masyarakat Baduy, terutama dalam kegiatan yang berkaitan dengan tanaman padi. Padi memiliki kedudukan istimewa karena dianggap sebagai sumber kehidupan yang harus dihargai dan dijaga keberadaannya. Aktivitas pertanian tidak hanya dilakukan sebagai kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari rangkaian adat yang memiliki makna spiritual. Masyarakat Baduy meyakini bahwa keberhasilan 29 D Masunah, J., Mack, Angklung Di Jawa Barat Sebuah Perbandingan (P4ST UPI, 2003).

17 pertanian memiliki hubungan dengan keharmonisan manusia terhadap alam dan rasa syukur kepada kekuatan yang memberikan kesuburan. Dalam konteks tersebut, Angklung Buhun memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai ritual pertanian, terutama kegiatan ngaseuk dan ngahuma. Ngaseuk merupakan proses awal penanaman padi, sedangkan ngahuma merupakan sistem pertanian ladang yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Baduy. Pada kegiatan adat tersebut, Angklung Buhun dimainkan bersama nyanyian tradisional sebagai bagian dari rangkaian ritual. Permainan angklung menjadi bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur kepada Nyi Pohaci (Dewi Kesuburan) yang dipercaya memiliki hubungan dengan keberlangsungan tanaman padi. Fungsi Angklung Buhun dalam kehidupan masyarakat Baduy menunjukkan bahwa musik tradisional tidak hanya memiliki tujuan estetis atau sebagai sarana hiburan. Musik menjadi bagian dari sistem budaya yang mengandung nilai kepercayaan, filosofi hidup, dan hubungan sosial masyarakat. Bunyi yang dihasilkan dari instrumen bambu tersebut menjadi media untuk memperkuat hubungan manusia dengan alam, leluhur, serta nilai-nilai adat yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Dari sisi bentuk dan karakter musikal, Angklung Buhun memiliki ciri khas yang mencerminkan kehidupan sederhana masyarakat Baduy. Instrumen ini dibuat menggunakan bahan bambu yang berasal dari lingkungan sekitar dengan bentuk yang relatif sederhana tanpa menonjolkan kemewahan. Kesederhanaan tersebut bukan menunjukkan keterbatasan dalam penciptaan alat musik, melainkan menggambarkan filosofi masyarakat Baduy yang mengutamakan keseimbangan, kebermanfaatan, dan keselarasan dengan alam. Secara musikal, Angklung Buhun menggunakan sistem nada atau laras mirip salendro. Karakter suara yang dihasilkan memiliki fungsi khusus dalam konteks adat, sehingga penggunaannya tidak dapat dipisahkan dari aturan dan nilai budaya masyarakat pendukungnya. Berbeda dengan alat musik modern yang dapat dimainkan secara bebas, Angklung Buhun memiliki aturan adat mengenai waktu dan tempat penggunaannya. Instrumen ini tidak boleh dimainkan secara sembarangan di luar kegiatan yang telah ditentukan berdasarkan penanggalan adat karena dianggap memiliki nilai sakral dan berkaitan dengan penghormatan terhadap tradisi leluhur. Keberadaan aturan tersebut menunjukkan bahwa Angklung Buhun bukan hanya sebuah benda seni, tetapi juga bagian dari sistem nilai masyarakat Baduy. Pelestarian angklung tidak hanya dilakukan melalui pembuatan dan permainan alat musik, tetapi juga melalui kepatuhan terhadap aturan adat yang menjaga makna simbolis dan spiritualnya. Dengan demikian, keberadaan Angklung Buhun menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana masyarakat adat mempertahankan identitas budaya melalui kesenian tradisional. Menurut kajian antropologi budaya, suatu bentuk seni dalam masyarakat tradisional tidak hanya dipertahankan karena memiliki nilai keindahan, tetapi juga karena memiliki hubungan dengan identitas, sistem kepercayaan, serta cara pandang masyarakat terhadap kehidupan 30. Dalam hal ini, Angklung Buhun menjadi media penyimpan pengetahuan budaya yang merekam nilai-nilai kehidupan masyarakat Baduy, seperti penghormatan terhadap alam, rasa syukur, kesederhanaan, dan kepatuhan terhadap warisan leluhur. Melalui Angklung Buhun, dapat dipahami bahwa musik tradisional memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan bunyi atau menjadi pertunjukan seni. Angklung Buhun merupakan simbol hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan nilai spiritual yang telah 30 Abidin, “Ringkasan Buku Pengantar Ilmu Antropologi Karya Koentjaraningrat.”

18 diwariskan secara turun-temurun. Keberadaannya menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat menjadi sarana untuk menjaga identitas budaya sekaligus menyimpan pengetahuan lokal yang tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman. 1.7.2 Angklung Gubrag: Suara Bambu dalam Tradisi Pertanian Bogor Angklung Gubrag merupakan salah satu jenis angklung tradisional yang berkembang di Kampung Cipining, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Angklung ini memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan jenis angklung lainnya, baik dari segi bentuk, ukuran, maupun fungsi budayanya. Keunikan utama Angklung Gubrag terlihat dari ukuran instrumennya yang relatif lebih besar dengan tabung bambu yang panjang, sehingga menghasilkan suara yang kuat dan dapat terdengar dalam kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak orang. Nama “Gubrag” memiliki beberapa penafsiran yang berkaitan dengan karakter dan penggunaannya dalam kehidupan masyarakat. Istilah tersebut sering dikaitkan dengan bunyi besar yang muncul ketika angklung dimainkan. Selain itu, nama Gubrag juga dipercaya berasal dari kebiasaan masyarakat setelah pelaksanaan upacara adat, yaitu meletakkan angklung tersebut secara sederhana di dalam leuit atau lumbung padi. Tindakan meletakkan angklung dengan suara atau gerakan “digubrag” tersebut kemudian menjadi salah satu asal-usul penyebutan nama Angklung Gubrag 31. Menurut tradisi masyarakat setempat, Angklung Gubrag memiliki hubungan erat dengan kegiatan pertanian, khususnya penghormatan terhadap tanaman padi. Instrumen ini dipercaya diciptakan oleh Buyut Mukhtar menggunakan bambu yang berasal dari Gunung Pasir sebagai sarana untuk memohon keberkahan kepada Dewi Sri Pohaci, yang dalam kepercayaan masyarakat Sunda dikenal sebagai simbol kesuburan dan pelindung tanaman padi. Pada masa lalu, Angklung Gubrag digunakan dalam berbagai kegiatan adat pertanian, terutama ketika masyarakat menghadapi kondisi sulit seperti musim paceklik, dengan harapan agar tanaman padi kembali subur dan menghasilkan panen yang melimpah. Penggunaan Angklung Gubrag dalam tradisi pertanian menunjukkan bahwa musik dalam masyarakat tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan sosial. Permainan angklung menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur terhadap hasil bumi, bentuk penghormatan kepada kekuatan alam, serta doa bersama agar kehidupan masyarakat memperoleh kesejahteraan. Dalam pandangan masyarakat agraris, keberhasilan pertanian tidak hanya bergantung pada kemampuan manusia dalam mengolah lahan, tetapi juga berkaitan dengan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan nilai kepercayaan yang diwariskan leluhur. Dari sisi musikal, Angklung Gubrag memiliki ciri khas berupa suara yang kuat, besar, dan beresonansi. Karakter bunyi tersebut berbeda dengan beberapa jenis angklung lain yang cenderung memiliki suara lebih ringan dan lembut. Ukuran bambu yang lebih besar memberikan 31 Alin Novandini, “PERKEMBANGAN ANGKLUNG GUBRAG : DARI TRADISI RITUAL HINGGA HIBURAN ( 1983-2013 ),” 2013, 155–66.

19 kekuatan bunyi yang sesuai dengan fungsi awalnya sebagai alat komunikasi dalam kegiatan adat masyarakat. Karakter suara yang khas tersebut menjadikan Angklung Gubrag tidak hanya sebagai instrumen musik, tetapi juga sebagai simbol kehadiran budaya masyarakat pendukungnya. Keberadaan Angklung Gubrag juga mencerminkan hubungan erat antara kesenian dan lingkungan tempat budaya tersebut berkembang. Meskipun sama-sama menggunakan bahan bambu seperti berbagai jenis angklung lainnya, setiap daerah memiliki cara berbeda dalam mengembangkan bentuk, fungsi, dan karakter musik sesuai dengan kebutuhan serta nilai budaya masyarakatnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah alat musik tradisional tidak hanya terbentuk dari unsur estetika, tetapi juga dari pengalaman hidup, kondisi lingkungan, dan sistem kepercayaan masyarakat. Angklung Gubrag telah diwariskan secara turun-temurun selama belasan generasi dan tetap dipelihara oleh masyarakat Kampung Cipining sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Proses pewarisan tersebut tidak hanya mempertahankan bentuk fisik instrumen, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang melekat di dalamnya, seperti rasa syukur terhadap alam, penghormatan terhadap leluhur, serta kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan. Dengan demikian, Angklung Gubrag tidak dapat dipahami hanya sebagai alat musik tradisional, melainkan sebagai representasi hubungan manusia dengan alam dan budaya agraris masyarakat Sunda. Melalui bunyi bambunya yang kuat dan keberadaannya dalam ritual adat, Angklung Gubrag menyimpan pengetahuan lokal mengenai cara masyarakat memahami kehidupan, menjaga tradisi, dan mempertahankan identitas budaya di tengah perkembangan zaman. 1.7.3 Angklung Buncis: Dari Tradisi Panen Menuju Seni Pertunjukan Rakyat Angklung Buncis merupakan salah satu bentuk kesenian musik bambu tradisional khas Jawa Barat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Sunda. Kesenian ini tersebar di berbagai wilayah, terutama di daerah Bandung dan sekitarnya, seperti Arjasari, Ujungberung, Bandung Barat, Cimahi, hingga beberapa komunitas budaya di Kuningan. Persebaran tersebut menunjukkan bahwa Angklung Buncis tidak hanya berkembang pada satu daerah tertentu, tetapi menjadi bagian dari kekayaan budaya Sunda yang diwariskan dan dikembangkan oleh berbagai kelompok masyarakat. Dalam proses perkembangannya, setiap daerah dapat memiliki karakter penyajian yang berbeda sesuai dengan lingkungan sosial dan budaya pendukungnya. Berbeda dengan beberapa jenis angklung tradisional yang masih memiliki keterikatan kuat dengan ritual adat, Angklung Buncis berkembang sebagai kesenian rakyat yang menggabungkan unsur musik, hiburan, dan pertunjukan sehingga lebih mudah diterima dalam berbagai kegiatan masyarakat. Nama “Buncis” berasal dari bagian lirik lagu yang biasa digunakan dalam pertunjukan, yaitu ungkapan “cis kacang buncis nyengcle...”. Lirik tersebut kemudian menjadi identitas yang melekat pada kesenian ini. Dalam penyajiannya, Angklung Buncis biasanya dimainkan secara berkelompok dengan menggunakan sekitar sembilan buah angklung yang dipadukan dengan empat buah kendang dog-dog sebagai pengatur irama. Perpaduan suara bambu dan tabuhan kendang menghasilkan karakter musik yang dinamis, meriah, dan sesuai dengan nuansa pertunjukan rakyat Sunda 32. Pada awal perkembangannya, Angklung Buncis memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat agraris Sunda, terutama tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap padi 32 Maman Sumaludin, “ANGKLUNG TRADISIONAL SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH LOKAL” 2 (2022): 52–65.

20 dan Nyi Pohaci Sanghyang Sri sebagai simbol kesuburan dan sumber kehidupan. Dalam pandangan masyarakat agraris, keberhasilan pertanian tidak hanya dipahami sebagai hasil usaha manusia dalam mengolah alam, tetapi juga berkaitan dengan keseimbangan hubungan antara manusia, lingkungan, dan nilai spiritual yang diwariskan oleh leluhur. Oleh karena itu, angklung pada masa awalnya digunakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan pertanian, baik dalam rangkaian proses menanam maupun sebagai ungkapan rasa syukur setelah memperoleh hasil panen. Seiring perkembangan kehidupan masyarakat, fungsi Angklung Buncis mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih dekat dengan kegiatan ritual pertanian, kesenian ini kemudian berkembang menjadi pertunjukan rakyat yang memiliki fungsi hiburan, ekspresi budaya, serta sarana mempererat hubungan sosial masyarakat. Angklung Buncis mulai ditampilkan dalam berbagai kegiatan seperti penyambutan tamu, festival budaya, acara masyarakat, dan berbagai upacara adat, termasuk kegiatan Seren Taun di beberapa daerah yang masih mempertahankan tradisi agraris Sunda. Perubahan fungsi tersebut tidak menghilangkan nilai budaya yang terkandung dalam Angklung Buncis. Kesenian ini tetap mempertahankan identitas masyarakat Sunda melalui penggunaan instrumen bambu, permainan musik secara berkelompok, serta nilai kebersamaan yang tercermin dalam proses pertunjukannya. Angklung Buncis tidak hanya menghadirkan bunyi musik, tetapi juga menampilkan unsur gerak, ekspresi pemain, dan interaksi dengan penonton sehingga menjadi bentuk pertunjukan yang lebih komunikatif. Dalam penyajiannya, pertunjukan Angklung Buncis umumnya memiliki tiga tahapan utama, yaitu pra-sajian, penyajian, dan akhir sajian. Tahap pra-sajian merupakan proses persiapan sebelum pertunjukan berlangsung, tahap penyajian menjadi bagian utama ketika permainan angklung dan kendang ditampilkan, sedangkan tahap akhir sajian berfungsi sebagai penutup rangkaian pertunjukan. Struktur tersebut menunjukkan bahwa Angklung Buncis tidak hanya berupa permainan alat musik, tetapi juga memiliki tata penyajian yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat pendukungnya.

21 Saat ini, Angklung Buncis masih dilestarikan oleh berbagai komunitas adat dan sanggar seni di Jawa Barat. Beberapa wilayah yang turut menjaga keberadaan kesenian ini antara lain Kampung Adat Cireundeu di Kota Cimahi, Kampung Jajawai di Bandung Barat, serta komunitas budaya di Cigugur, Kuningan, Sumedang, dan daerah lainnya. Upaya pelestarian dilakukan melalui pertunjukan budaya, kegiatan pendidikan seni, serta keterlibatan generasi muda dalam mempelajari dan mengembangkan kesenian tradisional. Keberadaan Angklung Buncis menunjukkan bahwa tradisi budaya bukanlah sesuatu yang bersifat tetap dan tidak mengalami perubahan. Sebuah kesenian dapat berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan nilai dasar yang menjadi identitasnya. Angklung Buncis menjadi contoh bagaimana kesenian tradisional mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, mempertahankan akar budaya agraris Sunda, sekaligus menghadirkan bentuk pertunjukan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat masa kini. Dengan demikian, Angklung Buncis tidak hanya dipahami sebagai alat musik bambu tradisional, tetapi juga sebagai representasi perjalanan budaya masyarakat Sunda. Melalui perpaduan unsur musik, pertunjukan, dan nilai kebersamaan, Angklung Buncis menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup apabila mampu diwariskan, dikembangkan, dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat tanpa kehilangan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. 1.7.4 Angklung Dogdog Lojor: Perpaduan Bunyi Bambu dan Ritme Kehidupan Angklung Dogdog Lojor merupakan salah satu kesenian musik tradisional yang berkembang di wilayah Banten Kidul dan Jawa Barat, terutama pada masyarakat adat di Kabupaten Lebak dan Sukabumi. Kesenian ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat yang masih mempertahankan nilai-nilai tradisi leluhur, khususnya kelompok masyarakat Kasepuhan seperti Kasepuhan Ciptagelar dan Kasepuhan Sinar Resmi. Dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, Angklung Dogdog Lojor tidak hanya dipandang sebagai bentuk kesenian, tetapi juga memiliki fungsi adat, sosial, dan spiritual yang berkaitan erat dengan kehidupan pertanian 33. Nama Angklung Dogdog Lojor berasal dari dua unsur utama dalam ansambel ini, yaitu angklung dan dogdog lojor. Istilah dogdog merujuk pada bunyi yang dihasilkan oleh alat musik pukul tersebut, sedangkan lojor dalam bahasa Sunda berarti panjang, sesuai dengan bentuk instrumennya yang berupa gendang silinder dengan ukuran yang dapat mencapai hampir satu meter. Perpaduan antara suara dogdog sebagai alat ritmis dan angklung berukuran besar menjadi ciri khas yang membedakan kesenian ini dengan jenis angklung tradisional lainnya. 33 Dinda Satya Upaja Budi et al., “Angklung Dogdog Lojor Pada Upacara Seren Taun,” Resital 15 No 2 (2014), https://journal.isi.ac.id/index.php/resital/article/view/848.

22 Dalam pertunjukannya, Angklung Dogdog Lojor biasanya menggunakan dua buah Dogdog Lojor dan empat buah angklung besar. Dogdog Lojor berfungsi sebagai pengatur irama utama melalui pola tabuhan yang menghasilkan ketukan dasar, sedangkan angklung dimainkan dengan cara digoyangkan untuk menghasilkan bunyi yang memperkuat suasana pertunjukan. Berbeda dengan angklung modern yang umumnya memiliki susunan nada melodis seperti do-re-mi, angklung dalam kesenian Dogdog Lojor lebih berfungsi sebagai penghasil bunyi ritmis yang berpadu dengan tabuhan dogdog. Kombinasi kedua instrumen tersebut menghasilkan karakter musik yang kuat, dinamis, dan mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat agraris Sunda. Kesenian ini memiliki hubungan erat dengan kehidupan pertanian masyarakat adat, terutama dalam berbagai ritual yang berkaitan dengan padi dan siklus pertanian. Angklung Dogdog Lojor sering dimainkan dalam kegiatan adat seperti upacara panen padi dan Seren Taun, yaitu tradisi ungkapan rasa syukur atas hasil bumi. Dalam kepercayaan masyarakat pendukungnya, bunyi musik yang dihasilkan menjadi bagian dari doa dan penghormatan kepada Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Padi) sebagai simbol kesuburan dan keberlangsungan kehidupan. Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, alam, dan leluhur yang diyakini memiliki peran dalam keseimbangan kehidupan. Selain memiliki fungsi spiritual, Angklung Dogdog Lojor juga memiliki fungsi sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat adat. Pertunjukan ini menjadi ruang berkumpulnya masyarakat, mempererat hubungan antaranggota komunitas, serta memperkuat rasa kebersamaan dalam menjaga tradisi. Biasanya kesenian ini dimainkan secara berkelompok oleh laki-laki dalam rangkaian kegiatan adat tahunan, sehingga proses persiapan hingga pelaksanaannya melibatkan kerja sama antarindividu. Nilai utama yang tercermin dalam Angklung Dogdog Lojor adalah harmoni dan kerja sama. Setiap instrumen memiliki peran yang berbeda, tetapi seluruh unsur harus dimainkan secara selaras agar menghasilkan pertunjukan yang utuh. Pola hubungan antara pemain dan alat musik tersebut mencerminkan cara masyarakat adat memahami kehidupan sosial, yaitu bahwa keberhasilan suatu tujuan dapat tercapai melalui kebersamaan, keseimbangan, dan saling melengkapi. Dari sisi budaya, Angklung Dogdog Lojor menunjukkan bahwa musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari sistem nilai masyarakat. Bunyi yang dihasilkan tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, melainkan membawa pesan mengenai penghormatan terhadap alam, rasa syukur atas hasil pertanian, serta pentingnya menjaga hubungan sosial dalam komunitas.

23 Keberadaan Angklung Dogdog Lojor hingga saat ini menjadi bukti bahwa kesenian tradisional mampu bertahan karena memiliki makna yang kuat bagi masyarakat pendukungnya. Melalui proses pewarisan dari generasi ke generasi, kesenian ini tetap menjadi identitas budaya masyarakat adat Banten Kidul dan Sukabumi. Angklung Dogdog Lojor tidak hanya memperlihatkan keunikan musik bambu Sunda, tetapi juga menggambarkan filosofi kehidupan masyarakat yang menjunjung keseimbangan antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur. 1.7.5 Angklung Sered: Harmoni Musik dan Gerak dalam Tradisi Masyarakat Sunda Angklung Sered merupakan salah satu bentuk kesenian angklung tradisional yang berkembang di wilayah Tasikmalaya, khususnya di Kampung Balandongan, Desa Sukaluyu, Kecamatan Mangunreja, serta dikenal pula di beberapa daerah sekitar Ciamis. Kesenian ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan jenis angklung lainnya karena memadukan permainan musik, gerak tubuh, dan interaksi fisik antarpemain dalam sebuah pertunjukan yang dinamis. Keunikan tersebut menjadikan Angklung Sered tidak hanya sebagai pertunjukan musik tradisional, tetapi juga sebagai representasi nilai kebersamaan, kekompakan, dan semangat masyarakat Sunda. Secara etimologis, istilah "sered" dalam bahasa Sunda berarti menarik atau mendorong. Nama tersebut merujuk pada salah satu bagian utama pertunjukan, yaitu adu kekuatan antara dua kelompok pemain yang saling mendorong menggunakan bahu, lengan, dan kaki hingga salah satu kelompok terdorong mundur. Tradisi ini pada awalnya berkembang sebagai tengara, yaitu sarana komunikasi atau penanda bagi masyarakat setempat, sebelum kemudian berkembang menjadi sebuah kesenian tradisional yang dipentaskan dalam berbagai kegiatan budaya 34. Dalam penyajiannya, Angklung Sered dimainkan oleh dua kelompok yang masing- masing terdiri atas belasan orang. Pertunjukan diiringi oleh permainan angklung yang dipadukan dengan tabuhan kendang dan empat buah dogdog yang menghasilkan irama cepat dan bersemangat. Perpaduan antara suara angklung, ritme perkusi, serta gerakan saling mendorong menciptakan suasana pertunjukan yang energik dan penuh semangat. Berbeda dengan pertunjukan angklung yang lebih menonjolkan unsur melodi, Angklung Sered menghadirkan pengalaman pertunjukan yang menggabungkan unsur musikal, visual, dan fisik secara bersamaan. Keunikan Angklung Sered menunjukkan bahwa dalam tradisi masyarakat Sunda, musik tidak berdiri sendiri sebagai rangkaian bunyi semata. Permainan angklung selalu berhubungan dengan unsur lain, seperti gerakan tubuh, ekspresi pemain, serta interaksi sosial yang membentuk kesatuan pertunjukan. Para pemain tidak hanya bertugas menghasilkan irama, tetapi juga membangun komunikasi, menjaga kekompakan, dan menyesuaikan gerakan dengan ritme musik sehingga seluruh unsur pertunjukan berlangsung secara harmonis. Selain menghadirkan hiburan, Angklung Sered juga memiliki makna sosial yang kuat. Adu kekuatan yang menjadi ciri khas kesenian ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk permusuhan atau kompetisi yang merugikan salah satu pihak, melainkan sebagai simbol ketangguhan, 34 Agus Ahmad W et al., “Changes to the Art Function of Angklung Sered Balandongan Before and After Indonesian Independence” 665, no. Icade 2021 (2022): 15–20.

24 sportivitas, kerja sama, dan solidaritas antarkelompok. Nilai-nilai tersebut mencerminkan kehidupan masyarakat Sunda yang menjunjung kebersamaan dan keseimbangan dalam hubungan sosial. Dalam perspektif seni pertunjukan, Angklung Sered merupakan bentuk ekspresi budaya yang memadukan unsur musik, gerak, simbol, dan kehidupan masyarakat dalam satu kesatuan. Sebagaimana dijelaskan oleh Nalan (2015), seni pertunjukan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai unsur budaya yang merepresentasikan identitas masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, Angklung Sered dapat dipahami sebagai media yang memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun hubungan sosial, mengekspresikan nilai-nilai budaya, dan memperkuat rasa kebersamaan melalui seni. Seiring perkembangan zaman, fungsi Angklung Sered mengalami perluasan. Jika pada awalnya lebih berperan sebagai sarana komunikasi masyarakat dan bagian dari tradisi lokal, kini kesenian ini juga dipentaskan dalam berbagai kegiatan budaya, festival seni, penyambutan tamu, serta hiburan rakyat. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat tanpa kehilangan karakter dan identitas budayanya. Hingga saat ini, Angklung Sered tetap menjadi salah satu warisan budaya yang dilestarikan oleh masyarakat Tasikmalaya dan sekitarnya. Melalui proses pewarisan antargenerasi, kesenian ini terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Meskipun menggunakan instrumen bambu yang sederhana, Angklung Sered mampu menghadirkan pertunjukan yang kaya akan makna, memperlihatkan kreativitas masyarakat Sunda dalam memadukan musik, gerak, dan interaksi sosial menjadi sebuah ekspresi budaya yang unik dan bernilai tinggi. 1.7.6 Angklung Bungko: Ketika Tradisi Bambu Bertemu Budaya Pesisir Angklung Bungko merupakan salah satu kesenian tradisional khas Desa Bungko, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, yang memadukan unsur musik, tari, dan sejarah dalam satu bentuk pertunjukan. Berbeda dengan sebagian besar jenis angklung yang berkembang di wilayah pegunungan dan masyarakat agraris Sunda, Angklung Bungko lahir dan berkembang di lingkungan masyarakat pesisir Cirebon. Perbedaan latar geografis tersebut memberikan pengaruh terhadap fungsi, makna, dan karakter pertunjukannya. Menurut tradisi masyarakat setempat, Angklung Bungko diciptakan oleh Ki Gede Bungko sekitar akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, setelah wafatnya Sunan Gunung Jati. Pada masa itu, kesenian ini digunakan sebagai media dakwah Islam sekaligus sebagai simbol semangat perjuangan masyarakat Cirebon. Angklung Bungko lahir untuk merepresentasikan prajurit yang dipersiapkan menghadapi konflik antara Kesultanan Cirebon dan Pajajaran, serta menjadi ungkapan kegembiraan masyarakat setelah memperoleh kemenangan dalam peperangan melawan pasukan Pangeran Pekik (Ki Ageng Petakan). Dengan demikian, sejak awal kemunculannya Angklung Bungko tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai historis, religius, dan simbolik yang berkaitan dengan perjalanan masyarakat Cirebon. Keunikan Angklung Bungko terlihat pada bentuk pertunjukannya yang berbeda dari jenis angklung lainnya. Jika pada umumnya angklung dimainkan dengan cara digoyangkan untuk menghasilkan bunyi, dalam pertunjukan Angklung Bungko instrumen angklung justru tidak dimainkan, melainkan dibawa oleh para penari sebagai simbol penghormatan terhadap pusaka

25 leluhur. Bunyi musik dalam pertunjukan dihasilkan oleh instrumen lain, seperti gendang, tutukan, klenong, dan gong, yang mengiringi rangkaian tari perang. Angklung yang digunakan merupakan pusaka kuno yang dianggap sakral dan hanya dikeluarkan pada kesempatan tertentu sesuai dengan tradisi masyarakat setempat 35. Gerakan tari dalam Angklung Bungko juga memiliki karakter khas yang membedakannya dari kesenian angklung lainnya. Tarian disusun dalam beberapa bagian, seperti Tari Panji, Benteleye, Ayam Alas, dan Bebek Ngoyor, dengan gerakan yang tegas, kaku, dan menyerupai formasi prajurit di medan perang. Karakter gerakan tersebut mencerminkan semangat kepahlawanan, keberanian, serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan. Perpaduan antara musik, tari, dan simbol-simbol sejarah menjadikan Angklung Bungko sebagai bentuk seni pertunjukan yang sarat makna budaya. Sebagai kesenian yang berkembang di wilayah pesisir, Angklung Bungko juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat yang bergantung pada laut. Bagi masyarakat pesisir Cirebon, laut tidak hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga bagian dari sistem kepercayaan dan identitas budaya. Oleh karena itu, Angklung Bungko sering ditampilkan dalam tradisi Nadran, yaitu upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil laut serta permohonan keselamatan bagi para nelayan dalam menjalankan aktivitas melaut. Dalam konteks tersebut, musik dan tari berfungsi sebagai media yang memperkuat hubungan masyarakat dengan alam, Tuhan, dan nilai-nilai spiritual yang diwariskan oleh leluhur. Perkembangan Angklung Bungko menunjukkan bahwa instrumen angklung mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan budaya. Jika sebagian besar jenis angklung berkembang sebagai bagian dari ritual pertanian masyarakat Sunda, Angklung Bungko justru berkembang dalam budaya pesisir yang memiliki orientasi kehidupan berbeda. Meskipun fungsi dan konteks penggunaannya mengalami penyesuaian, bambu tetap menjadi unsur utama yang 35 Roly Salley et al., “Jurnal Penelitian Musik PHYSICAL FORM OF ANGKLUNG AS THE EMBODIMENT OF ITS COSMOLOGY Jurnal Penelitian Musik” 5 (2024): 1–25.

26 mempertahankan identitas angklung sebagai warisan budaya. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan akar sejarah dan nilai-nilai yang melandasinya. Dalam perspektif antropologi musik, perubahan fungsi suatu kesenian merupakan bagian dari dinamika budaya yang berlangsung secara alami. Merriam (1964) menjelaskan bahwa musik selalu berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat yang menciptakannya. Oleh karena itu, perubahan fungsi Angklung Bungko dari simbol perjuangan dan media dakwah menjadi bagian dari upacara adat serta pertunjukan budaya tidak menunjukkan hilangnya nilai budaya, melainkan mencerminkan kemampuan masyarakat untuk mempertahankan identitas tradisional sambil menyesuaikannya dengan perkembangan zaman. Hingga kini, Angklung Bungko tetap dilestarikan oleh masyarakat Desa Bungko sebagai salah satu identitas budaya Cirebon. Melalui pewarisan antargenerasi dan penyelenggaraan berbagai kegiatan adat maupun pertunjukan budaya, kesenian ini terus hidup sebagai simbol sejarah, nilai keagamaan, semangat perjuangan, dan hubungan harmonis antara masyarakat pesisir dengan lingkungan alamnya. Angklung Bungko membuktikan bahwa kesenian tradisional bukan hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga menjadi media yang merekam perjalanan sejarah, kepercayaan, dan identitas budaya masyarakat pendukungnya. 1.7.7 Angklung Badeng: Musik sebagai Media Pendidikan dan Nilai Keagamaan Angklung Badeng merupakan salah satu kesenian musik tradisional khas Sunda yang berkembang di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kesenian ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan sebagian besar jenis angklung tradisional lainnya karena tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau bagian dari ritual adat, tetapi juga berkembang sebagai media penyampaian ajaran agama, pendidikan moral, dan pelestarian nilai-nilai budaya masyarakat. Perpaduan antara musik, syair, tari, dan unsur bela diri menjadikan Angklung Badeng sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang kaya akan makna 36,37. Secara historis, Angklung Badeng berakar pada tradisi agraris masyarakat Sunda. Pada masa awal perkembangannya, kesenian ini digunakan dalam ritual pertanian sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, yang dipercaya sebagai simbol kesuburan dan pelindung tanaman padi. Namun, seiring berkembangnya Islam di wilayah Garut sekitar abad ke-16 hingga ke-17, fungsi Angklung Badeng mengalami perubahan. Para tokoh penyebar agama Islam di Malangbong memanfaatkan kesenian ini sebagai media dakwah agar ajaran Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan budaya yang telah akrab dengan kehidupan mereka. Perubahan tersebut menunjukkan kemampuan kesenian tradisional untuk beradaptasi dengan perkembangan sosial tanpa meninggalkan akar budaya yang telah dimiliki sebelumnya. 36 Masunah, J., Mack, Angklung Di Jawa Barat Sebuah Perbandingan. 37 Dody Mohamad Kholid, “The Model of Angklung Badeng Learning for Junior High School Students in Malangbong Garut” 255, no. Icade 2018 (2019): 234–37, https://doi.org/10.2991/icade-18.2019.54.

27 Dalam penyajiannya, Angklung Badeng dimainkan menggunakan sembilan buah angklung yang berfungsi sebagai penghasil pola ritmis. Permainan angklung dipadukan dengan berbagai instrumen tradisional lainnya, seperti dogdog dan terbang (rebana), sehingga menghasilkan iringan musik yang khas. Syair-syair yang dinyanyikan umumnya berisi pujian kepada Tuhan, shalawat kepada Nabi Muhammad saw., nasihat kehidupan, ajaran moral, serta nilai-nilai keagamaan yang disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat. Melalui perpaduan musik dan syair tersebut, Angklung Badeng menjadi media komunikasi budaya yang efektif dalam menyampaikan pesan-pesan spiritual dan sosial. Pertunjukan Angklung Badeng tidak hanya menampilkan permainan musik, tetapi juga diperkaya dengan unsur seni lainnya, seperti tarian, dialog, humor, dan gerakan pencak silat. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadikan pertunjukan lebih menarik sekaligus memperkuat pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Dialog yang disisipkan sering kali mengandung nasihat kehidupan atau pesan keagamaan yang dikemas secara ringan dan komunikatif, sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Dari sisi fisik, Angklung Badeng memiliki ciri khas yang membedakannya dari jenis angklung lainnya. Instrumen ini dilengkapi palang penutup pada bagian atas serta dihiasi dengan kain satin atau bulu ayam hutan, yang memberikan identitas visual tersendiri dalam setiap pertunjukan. Keunikan bentuk tersebut menunjukkan bahwa aspek estetika juga menjadi bagian penting dalam pelestarian kesenian tradisional. Keberadaan Angklung Badeng menunjukkan bahwa seni tradisional memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghasilkan keindahan bunyi. Dalam masyarakat Sunda, kesenian menjadi sarana untuk menyampaikan pengetahuan, membangun karakter, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya. Sebelum berkembangnya media komunikasi modern, lagu, cerita, dan pertunjukan tradisional menjadi media pembelajaran yang efektif untuk mewariskan ajaran agama, norma sosial, serta kebijaksanaan lokal kepada masyarakat. Dalam konteks tersebut, bunyi bambu yang dihasilkan Angklung Badeng tidak hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menjadi media penyampai pesan budaya, sosial, dan spiritual. Melalui pertunjukan yang melibatkan musik, syair, gerak, dan interaksi dengan penonton, masyarakat tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Hal ini menunjukkan bahwa proses pewarisan budaya tidak selalu dilakukan melalui tulisan, melainkan juga melalui pengalaman mendengar, melihat, dan berpartisipasi secara langsung dalam sebuah pertunjukan. Perjalanan sejarah Angklung Badeng memperlihatkan kemampuan kesenian tradisional untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas budayanya. Perubahan fungsi dari ritual pertanian menjadi media dakwah Islam merupakan contoh nyata bagaimana budaya

28 dapat berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat sambil tetap mempertahankan unsur-unsur tradisional yang menjadi ciri khasnya. Hingga saat ini, Angklung Badeng masih dilestarikan sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Garut yang mencerminkan perpaduan harmonis antara seni, pendidikan, dan nilai-nilai keagamaan. Dengan demikian, Angklung Badeng tidak hanya menjadi salah satu ragam kesenian angklung di Jawa Barat, tetapi juga merupakan representasi kreativitas masyarakat Sunda dalam memanfaatkan seni sebagai media dakwah, pendidikan, dan pembentukan karakter. Keberadaannya membuktikan bahwa musik tradisional mampu menjadi jembatan yang menghubungkan hiburan, pembelajaran, dan nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat, sehingga tetap relevan dan bernilai di tengah perkembangan zaman. 1.7.8 Angklung Badud: Perpaduan Musik, Tari, dan Kreativitas Pertunjukan Angklung Badud merupakan salah satu kesenian tradisional angklung buhun yang berkembang di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, terutama di Dusun Margajaya, Kabupaten Pangandaran, serta beberapa wilayah sekitar Tasikmalaya. Kesenian ini memiliki karakter yang berbeda dibandingkan jenis angklung tradisional lainnya karena tidak hanya menampilkan permainan musik bambu, tetapi juga memadukan unsur tari, seni peran, kostum, ekspresi, dan arak-arakan dalam satu bentuk pertunjukan yang utuh. Keberadaan Angklung Badud mencerminkan kreativitas masyarakat Sunda dalam mengembangkan instrumen bambu menjadi media hiburan, ekspresi budaya, dan sarana mempererat hubungan sosial masyarakat. Pada awal perkembangannya, Angklung Badud memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat agraris, khususnya suasana perayaan setelah kegiatan pertanian seperti musim panen padi dan acara syukuran masyarakat. Kesenian ini hadir sebagai bentuk ungkapan kegembiraan dan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh. Selain berkaitan dengan kehidupan pertanian, Angklung Badud juga berkembang dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat, seperti acara adat, hiburan rakyat, dan perayaan lingkungan 38. Nama “Badud” sering dikaitkan dengan karakter pertunjukannya yang menampilkan unsur permainan dan peran yang bersifat menghibur. Dalam penyajiannya, para pemain tidak hanya bertugas memainkan alat musik, tetapi juga berperan sebagai tokoh dalam sebuah pertunjukan. Mereka menggunakan kostum tertentu, seperti pakaian menyerupai hewan atau topeng, yang menggambarkan suasana kehidupan di ladang dan lingkungan sekitar masyarakat. Kehadiran unsur peran dan ekspresi tersebut menjadikan Angklung Badud memiliki dimensi dramatik yang membedakannya dari pertunjukan angklung yang hanya berfokus pada permainan musik. Dalam pertunjukannya, Angklung Badud menggunakan seperangkat waditra angklung yang memiliki fungsi masing-masing. Instrumen utama terdiri atas delapan buah angklung dengan pembagian peran seperti Roel 1, Roel 2, Aclik, Sorolok, Ambruk 1, Ambruk 2, Panerus, dan Jenglong. Susunan tersebut dipadukan dengan alat musik pengiring lainnya, seperti gong kecil 38 Prayogo Pangestu, “Kesenian Badud Dalam Upacara Panen Di Desa Margacinta Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran” (2026).

29 dan dogdog (alat musik pukul berbentuk seperti gendang), sehingga menghasilkan irama yang khas dan mendukung suasana pertunjukan yang meriah. Keunikan Angklung Badud terletak pada perpaduan antara unsur musikal dan visual. Bunyi angklung tidak hanya menjadi sajian suara, tetapi menjadi bagian dari pertunjukan yang melibatkan gerakan tubuh, ekspresi wajah, karakter tokoh, dan interaksi antarpemain. Dengan demikian, penonton tidak hanya menikmati musik yang dihasilkan, tetapi juga mengikuti cerita dan suasana yang dibangun melalui gerakan serta penampilan para pemain. Seiring perkembangan zaman, fungsi Angklung Badud mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih banyak hadir dalam konteks kehidupan masyarakat lokal dan kegiatan pertanian, kini kesenian ini berkembang menjadi pertunjukan budaya yang dapat ditampilkan dalam berbagai ruang, seperti festival seni, kegiatan kebudayaan, penyambutan tamu, dan pertunjukan modern. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kesenian tradisional memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan masyarakat tanpa harus kehilangan nilai dasar yang menjadi identitasnya. Kemampuan Angklung Badud dalam mempertahankan keberadaannya menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang bersifat tetap dan tidak berubah. Sebuah kesenian dapat terus hidup apabila masyarakat pendukungnya mampu memahami makna budaya yang terkandung di dalamnya sekaligus menyesuaikan bentuk penyajiannya dengan kebutuhan zaman. Dalam hal ini, kreativitas masyarakat Sunda terlihat melalui pengembangan bambu sebagai instrumen musik yang tidak hanya menghasilkan bunyi, tetapi juga mampu membangun sebuah pertunjukan yang kompleks dan bermakna. Angklung Badud menjadi salah satu bukti bahwa angklung memiliki kemampuan berkembang dalam berbagai konteks kehidupan masyarakat. Jika beberapa jenis angklung lain memiliki keterkaitan kuat dengan ritual pertanian, kepercayaan, atau kegiatan adat tertentu, Angklung Badud menunjukkan sisi lain dari angklung sebagai seni pertunjukan rakyat yang menggabungkan musik, gerak, dan hiburan. Keberagamannya memperlihatkan bahwa satu jenis instrumen dapat memiliki fungsi dan karakter berbeda sesuai dengan lingkungan budaya tempatnya berkembang. 1.8 Nilai Filosofis dalam Keberagaman Angklung Tradisional Keberadaan berbagai jenis angklung tradisional di Jawa Barat menunjukkan bahwa angklung bukan sekadar alat musik berbahan bambu, melainkan bagian dari perjalanan budaya masyarakat yang menciptakannya. Angklung Baduy menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan tradisi leluhur, Angklung Gubrag mencerminkan penghormatan terhadap kehidupan pertanian, Angklung Buncis menunjukkan kemampuan tradisi beradaptasi menjadi hiburan masyarakat, Angklung Dogdog Lojor memperlihatkan nilai kebersamaan melalui perpaduan musik dan ritual, sedangkan Angklung Sered, Angklung Bungko, Angklung Badeng, dan Angklung Badud menunjukkan bahwa angklung mampu berkembang dalam berbagai latar sosial dan budaya Keberagaman angklung tradisional di berbagai wilayah menunjukkan bahwa angklung bukan sekadar instrumen musik yang memiliki bentuk dan bunyi yang berbeda-beda. Di balik perbedaan tersebut terdapat nilai-nilai kehidupan yang menjadi dasar keberadaan angklung dalam masyarakat pendukungnya. Setiap jenis angklung memang memiliki karakter tersendiri. Ada angklung yang berkaitan dengan ritual pertanian, ada yang berkembang sebagai hiburan masyarakat, ada pula yang menjadi media penyampaian pesan sosial dan keagamaan. Perbedaan fungsi tersebut menunjukkan

30 bahwa angklung mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan masyarakat tanpa kehilangan nilai dasar yang membentuk identitasnya. Kesenian tradisional tidak hanya dapat dipahami sebagai bentuk karya estetika, tetapi juga sebagai bagian dari sistem nilai yang mencerminkan cara suatu masyarakat memahami kehidupan 39. Oleh karena itu, keberadaan angklung perlu dilihat lebih luas, bukan hanya dari aspek bunyi, tetapi juga dari makna sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya. 1.8.1 Hubungan Manusia dan Alam Nilai pertama yang tercermin dalam keberadaan angklung adalah hubungan erat antara manusia dan alam. Bambu sebagai bahan utama pembuatan angklung menunjukkan bagaimana masyarakat tradisional memiliki kemampuan untuk membaca dan memanfaatkan lingkungan sekitar secara kreatif. Bambu bukan hanya dipandang sebagai tanaman yang memiliki manfaat praktis, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat. Dari bambu, manusia tidak hanya menciptakan benda untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menghasilkan karya seni yang memiliki nilai simbolis. Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional memiliki cara pandang yang berbeda terhadap alam. Alam tidak hanya menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan yang harus dihargai dan dijaga keberlangsungannya. Dalam konteks kebudayaan Sunda, pemanfaatan bambu sebagai bahan angklung menunjukkan adanya hubungan antara kreativitas manusia dengan kondisi lingkungan tempat mereka hidup. Keberadaan angklung menjadi bukti bahwa kebudayaan sering kali lahir dari kemampuan manusia beradaptasi dengan alam dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermakna 40. Dengan demikian, angklung dapat dipahami sebagai bentuk dialog antara manusia dan lingkungan. Bunyi yang dihasilkan dari bambu bukan hanya suara musikal, tetapi juga membawa cerita tentang hubungan manusia dengan alam yang telah berlangsung selama beberapa generasi. 1.8.2 Kebersamaan dan Nilai Gotong Royong Nilai kedua yang menjadi karakter utama angklung adalah kebersamaan. Hampir seluruh permainan angklung tradisional dilakukan secara berkelompok, sehingga keberhasilan sebuah pertunjukan tidak bergantung pada satu pemain saja. Setiap pemain memegang instrumen dengan nada tertentu. Ada pemain yang menghasilkan nada rendah, ada yang memainkan nada tinggi, dan semuanya memiliki fungsi yang saling melengkapi. Jika salah satu bagian tidak berjalan dengan baik, maka keseluruhan permainan musik akan kehilangan keseimbangannya. Cara bermain tersebut memberikan gambaran bahwa angklung mengajarkan pentingnya kerja sama dalam kehidupan sosial. Tidak ada suara yang dianggap paling utama, karena keindahan justru muncul dari hubungan antara berbagai bagian yang berbeda. Nilai ini sejalan dengan konsep gotong royong yang menjadi salah satu karakter penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui permainan angklung, masyarakat belajar bahwa keberhasilan bersama membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, menghargai, dan 39 Marina Shaidovskaya, “SOCIAL FUNCTIONS OF ART IN TRADITIONAL AND MODERN SOCIETIES,” HUMANITIES OF THE SOUTH OF RUSSIA, 2024, https://doi.org/10.18522/2227-8656.2024.3.8. 40 Encep Sopandi, “Competitive Advantages of Bamboo Creative Products: Study on Saung Angklung Udjo Bandung City West Java Province, Indonesia,” Business and Economics Journal 8 (2017): 1–8, https://doi.org/10.4172/2151- 6219.1000322.

31 memahami peran orang lain. Menurut Yudhistira dan Supriyadi (2022), praktik seni tradisional berbasis kelompok memiliki fungsi sosial dalam memperkuat hubungan antaranggota masyarakat karena proses penciptaannya membutuhkan interaksi, komunikasi, dan kerja sama. Oleh karena itu, angklung tidak hanya menghasilkan musik, tetapi juga menciptakan pengalaman sosial. Proses latihan, permainan, hingga pertunjukan menjadi ruang bagi masyarakat untuk membangun hubungan yang lebih erat. 1.8.3 Keseimbangan dan Harmoni dalam Kehidupan Nilai ketiga yang terkandung dalam angklung adalah keseimbangan. Prinsip ini terlihat jelas dari cara instrumen angklung dimainkan. Setiap pemain memiliki bagian masing-masing, dan seluruh bagian tersebut harus berjalan secara harmonis agar menghasilkan sebuah karya musik yang utuh. Konsep tersebut menggambarkan bahwa kehidupan manusia juga berjalan melalui hubungan antarperan. Setiap individu memiliki kemampuan, tanggung jawab, dan fungsi yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling bersaing, tetapi menjadi kekuatan apabila mampu disatukan. Angklung memberikan pelajaran bahwa harmoni tidak berarti semua harus memiliki bentuk yang sama. Justru keindahan muncul karena adanya perbedaan yang saling melengkapi. Pemikiran tersebut sesuai dengan nilai budaya Sunda yang banyak menekankan pentingnya keseimbangan hubungan manusia dengan sesama, alam, dan nilai spiritual. Seni dalam masyarakat Sunda tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana memahami kehidupan. Seni tradisional memiliki kemampuan untuk menyimpan nilai filosofis masyarakat karena di dalamnya terdapat simbol, aturan, dan cara pandang yang diwariskan melalui proses budaya 41. Melalui angklung, konsep keseimbangan tersebut diwujudkan dalam bentuk yang sederhana tetapi memiliki makna mendalam. Setiap nada memiliki tempatnya, setiap pemain memiliki perannya, dan setiap bunyi menjadi bagian dari harmoni yang lebih besar. 1.8.4 Angklung sebagai Media Pembelajaran Nilai Kehidupan Keistimewaan angklung tidak hanya terletak pada bentuk dan bunyinya, tetapi juga pada nilai pendidikan yang terkandung di dalam proses memainkannya. Ketika seseorang memainkan angklung, ia tidak hanya belajar tentang musik, tetapi juga belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kesabaran, dan kemampuan bekerja bersama. Seorang pemain harus memahami kapan harus memainkan nada, kapan harus menunggu, serta bagaimana menyesuaikan diri dengan pemain lainnya. Nilai tersebut menjadikan angklung memiliki fungsi pendidikan yang kuat. Angklung mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu berasal dari kemampuan individu semata, tetapi dari kemampuan membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Dalam konteks pendidikan budaya, angklung menjadi media yang efektif untuk mengenalkan nilai kerja sama dan penghargaan terhadap keberagaman. Setiap anak atau pemain memiliki kesempatan untuk berkontribusi, tanpa memandang apakah perannya besar atau kecil. UNESCO (2020) menekankan bahwa warisan budaya takbenda tidak hanya penting karena bentuk seninya, tetapi juga karena nilai sosial yang diwariskan melalui praktik budaya tersebut. Dalam hal ini, angklung menjadi contoh bagaimana sebuah kesenian dapat membawa pesan kemanusiaan yang bersifat universal. 41 Alaviyya Nuri, “Artistic Expressions as Vehicles of Cultural Memory: Bridging Identity, Heritage, and Intercultural Understanding,” Journal of Ethnic and Cultural Studies, 2025, https://doi.org/10.29333/ejecs/2816.

32 Pada akhirnya, keberagaman angklung tradisional menunjukkan bahwa sebuah alat musik dapat memiliki makna jauh lebih luas daripada fungsi musikalnya. Angklung adalah simbol hubungan manusia dengan alam, gambaran kehidupan sosial yang harmonis, dan media pembelajaran tentang pentingnya kebersamaan. Bunyi angklung yang tercipta dari banyak tabung bambu mengajarkan sebuah pesan sederhana: harmoni hanya dapat terwujud ketika setiap bagian mampu bekerja bersama. 1.9 Keterbatasan Sistem Musik Tradisional dan Tantangan Modernisasi Angklung Perjalanan panjang angklung tradisional menunjukkan bahwa instrumen ini bukan hanya hasil kreativitas masyarakat dalam mengolah bambu, tetapi juga merupakan bagian dari sistem kehidupan yang menghubungkan manusia dengan alam, masyarakat, dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Angklung lahir dari lingkungan budaya tertentu, terutama masyarakat Sunda yang memiliki hubungan erat dengan tradisi, alam, dan kehidupan sosial. Oleh karena itu, setiap unsur dalam angklung, termasuk bentuk instrumen, cara permainan, dan sistem nadanya, berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang menciptakannya. Namun, kebudayaan selalu mengalami perubahan. Perkembangan zaman membawa berbagai tantangan baru bagi keberlangsungan angklung, terutama ketika instrumen tradisional ini mulai memasuki ruang yang lebih luas seperti pendidikan formal, panggung pertunjukan modern, industri kreatif, dan kolaborasi musik internasional. Perubahan tersebut menghadirkan sebuah pertanyaan penting: bagaimana sebuah tradisi dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya? Perkembangan seni tradisional pada era modern tidak dapat dilepaskan dari proses adaptasi. Kesenian yang mampu bertahan bukan berarti kesenian yang tidak berubah, tetapi kesenian yang mampu menemukan cara baru untuk tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat tanpa menghilangkan nilai dasarnya 42. Salah satu tantangan utama dalam perkembangan angklung tradisional terletak pada sistem nada yang digunakan. Sebagian besar angklung tradisional Sunda menggunakan sistem nada tradisional yang hamnpir mirip dengan istilah pentatonis. Sistem nada pentatonis merupakan sistem musik yang menggunakan lima nada utama dalam satu rangkaian tangga nada. Sistem ini menghasilkan karakter bunyi yang khas, sederhana, namun memiliki kekuatan ekspresi yang kuat. Dalam musik Sunda, sistem tersebut menjadi bagian penting yang membentuk identitas musikal masyarakat. Keindahan sistem pentatonis tidak hanya terletak pada jumlah nadanya, tetapi juga pada hubungan antara nada, suasana, dan konteks budaya tempat musik tersebut berkembang. Nada- nada tersebut sangat sesuai digunakan dalam berbagai bentuk kesenian tradisional, seperti karawitan Sunda, tembang, dan berbagai kegiatan budaya masyarakat. Dengan kata lain, sistem pentatonis bukanlah sistem musik yang kurang lengkap, melainkan sistem musik yang memiliki tujuan dan karakter tersendiri. Sama seperti bahasa, setiap sistem musik memiliki cara berbeda dalam menyampaikan pesan dan emosi. Namun demikian, dalam musik angklung tradisional system ini tidak semuanya digunakan, bahkan tidak memiliki lima jenis nada. Ketika ada juga semuanya hanya mirip, apalagi Ketika dikaji dan diukur berdasarkan teori karawitan, yang sudah memiliki jarak frekwensi setiap nadanya. 42 Pushpa Nagini Sripada et al., “CULTURAL SUSTAINABILITY AND INNOVATION IN TRADITIONAL ART FORMS,” ShodhKosh: Journal of Visual and Performing Arts, 2026, https://doi.org/10.29121/shodhkosh.v7.i3s.2026.7332.

33 Sistem musikal tradisional berkembang berdasarkan pengalaman estetika masyarakat pendukungnya 43. Oleh karena itu, sebuah sistem musik tidak dapat dinilai hanya berdasarkan kemampuannya mengikuti standar musik lain, tetapi harus dipahami berdasarkan fungsi budaya dan nilai yang dikandungnya. 1.9.1 Perbedaan Sistem Pentatonis dan Diatonis Ketika angklung mulai diperkenalkan dalam lingkungan pendidikan modern dan pertunjukan musik yang lebih luas, muncul tantangan baru berkaitan dengan kemampuan instrumen dalam memainkan berbagai jenis lagu. Sebagian besar musik modern, terutama yang berkembang melalui pengaruh musik Barat, menggunakan sistem nada diatonis. Tangga nada diatonis merupakan salah satu sistem tangga nada yang paling banyak digunakan dalam musik Barat maupun musik modern. Istilah diatonis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dia yang berarti “melalui” dan tonos yang berarti “nada”. Secara sederhana, tangga nada diatonis dapat dipahami sebagai susunan nada yang memiliki tujuh nada pokok berbeda dalam satu oktaf, dengan pola jarak antar nada (interval) yang tersusun secara teratur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diatonik adalah sesuatu yang berkaitan dengan skala nada musik yang setiap oktafnya terdiri atas delapan nada, dengan nada kedelapan merupakan pengulangan dari nada pertama dalam tingkat yang lebih tinggi. Dengan demikian, dalam satu oktaf terdapat tujuh nada utama dan satu nada pengulangan (oktaf), misalnya: Do – Re – Mi – Fa – Sol – La – Si – Do Dalam teori musik, tangga nada diatonis memiliki karakteristik utama berupa penggunaan dua jenis interval, yaitu interval penuh (whole tone) dan interval setengah (semitone/half tone). Interval penuh memiliki jarak dua setengah nada, sedangkan interval setengah memiliki jarak satu nada kromatis. Kombinasi kedua interval tersebut membentuk pola tertentu yang menjadi dasar pembentukan karakter sebuah lagu. Secara historis, sistem tangga nada diatonis berkembang dari teori musik Yunani Kuno dan kemudian mengalami perkembangan dalam tradisi musik Eropa, khususnya pada periode musik klasik. Sistem ini menjadi dasar dalam pembentukan harmoni, akor, dan komposisi musik modern. 1. Tangga Nada Diatonis Mayor Tangga nada diatonis mayor adalah tangga nada yang memiliki susunan interval: 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½. atau jika menggunakan nada dasar C mayor: C – D – E – F – G – A – B – C Pola tersebut menunjukkan bahwa jarak antara nada pertama dan kedua adalah satu nada, begitu pula nada kedua dan ketiga. Perbedaan muncul pada perpindahan nada ketiga ke nada keempat yang hanya berjarak setengah nada. Pola inilah yang menghasilkan karakter khas tangga nada mayor. 43 R Rehfeldt, I Tyndall, and Jordan Belisle, “Music as a Cultural Inheritance System: A Contextual-Behavioral Model of Symbolism, Meaning, and the Value of Music,” Behavior and Social Issues 30 (2021): 749–73, https://doi.org/10.1007/s42822-021-00084-w.

34 Menurut teori musik, tangga nada mayor memiliki tonika (nada pusat) yang menjadi titik stabil atau pusat gravitasi musikal. Pergerakan nada dalam tangga nada mayor umumnya memberikan kesan terang, kuat, optimis, dan penuh energi. Oleh karena itu, tangga nada mayor sering digunakan dalam lagu-lagu yang menggambarkan semangat, perjuangan, kebahagiaan, atau suasana perayaan. Ciri-ciri tangga nada mayor antara lain: • Memiliki pola interval tetap 1–1–½–1–1–1–½. • Memiliki karakter bunyi yang cerah dan menggembirakan. • Banyak digunakan dalam lagu nasional, lagu anak-anak, lagu pop, dan musik mars. • Nada pertama (tonika) menjadi pusat penyelesaian melodi. 2. Tangga Nada Diatonis Minor Tangga nada diatonis minor merupakan tangga nada yang memiliki susunan interval: 1 – ½ - 1 – 1 – ½ - 1 - 1 Contoh tangga nada A minor alami: A – B – C – D – E – F – G – A Tangga nada minor memiliki pola interval yang berbeda dari mayor sehingga menghasilkan warna suara yang lebih lembut dan emosional. Dalam teori musik, tangga nada minor sering dikaitkan dengan suasana yang lebih dalam, seperti kesedihan, ketenangan, keharuan, atau suasana misterius. Meskipun sering dianggap sebagai tangga nada “sedih”, sebenarnya tangga nada minor tidak selalu bermakna kesedihan. Penggunaan tempo, dinamika, harmoni, dan konteks lirik juga memengaruhi suasana yang dihasilkan sebuah lagu. Tangga nada minor memiliki beberapa bentuk, yaitu: a. Minor Alami (Natural Minor) Minor alami memiliki pola interval: 1 – ½ - 1 – 1 – ½ - 1 - 1 Bentuk ini merupakan pola dasar tangga nada minor yang tidak mengalami perubahan nada. Contoh: A – B – C – D – E – F – G – A b. Minor Harmonis (Harmonic Minor) Pada tangga nada minor harmonis, nada ketujuh dinaikkan setengah nada sehingga menghasilkan karakter yang lebih tegang dan kuat. Pola interval: 1 – ½ - 1 – 1 – ½ - 1½ - 1 Contoh: A – B – C – D – E – F – G# – A Perubahan ini bertujuan menciptakan daya tarik menuju nada utama (tonika).

35 c. Minor Melodis (Melodic Minor) Tangga nada minor melodis mengalami perubahan pada nada keenam dan ketujuh ketika dimainkan naik, tetapi kembali seperti minor alami ketika dimainkan turun. Bentuk ini banyak digunakan dalam komposisi musik klasik. Saat naik (ascending), jarak intervalnya adalah: 1 – ½ - 1 – 1 – 1 – 1 - ½. Sedangkan saat turun (descending), polanya kembali seperti tangga nada minor natural (asli), yakni: 1 – ½ - 1 – 1 – ½ - 1 - 1 Ciri-ciri tangga nada minor: • Memiliki karakter bunyi yang lembut, emosional, dan melankolis. • Banyak digunakan untuk lagu bertema perjuangan, renungan, kesedihan, atau suasana dramatis. • Memiliki variasi bentuk seperti minor alami, harmonis, dan melodis. Peran Tangga Nada Diatonis dalam Musik Tangga nada diatonis memiliki peranan penting dalam membangun struktur sebuah karya musik. Melalui tangga nada, seorang komponis dapat menentukan arah melodi, pembentukan akor, serta suasana emosional yang ingin disampaikan kepada pendengar. Dalam teori harmoni, setiap nada dalam tangga nada memiliki fungsi tertentu. Misalnya: • Tonika (tingkat I) → nada pusat atau nada dasar. • Supertonika (tingkat II) → nada penghubung menuju dominan. • Mediant (tingkat III) → menentukan karakter mayor atau minor. • Subdominan (tingkat IV) → memberikan gerakan menjauh dari tonika. • Dominan (tingkat V) → memiliki kecenderungan kuat kembali ke tonika. • Submediant (tingkat VI) → memberikan warna emosional. • Leading tone (tingkat VII) → memiliki daya tarik menuju nada utama. Tangga nada diatonis merupakan sistem nada yang tersusun atas tujuh nada pokok dalam satu oktaf dengan pola interval tertentu. Dua bentuk utama tangga nada diatonis adalah mayor dan minor. Tangga nada mayor memiliki karakter cerah, kuat, dan penuh semangat, sedangkan tangga nada minor memiliki karakter lebih emosional, lembut, dan mendalam. Kedua jenis tangga nada tersebut menjadi dasar penting dalam penciptaan berbagai karya musik karena mampu membangun suasana, ekspresi, dan identitas musikal suatu lagu. Perbedaan antara sistem pentatonis dan diatonis menyebabkan angklung tradisional memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk memainkan repertoar musik yang lebih luas. Beberapa lagu modern membutuhkan variasi nada yang tidak tersedia dalam sistem angklung tradisional. Misalnya, sebuah lagu dengan banyak perubahan nada atau harmoni kompleks akan sulit dimainkan menggunakan angklung pentatonis karena jumlah dan susunan nadanya memiliki batas tertentu.

36 Namun, keterbatasan tersebut tidak berarti bahwa angklung tradisional memiliki kekurangan. Justru keterbatasan tersebut menunjukkan bahwa setiap instrumen memiliki karakter dan tujuan penciptaannya masing-masing. Angklung tradisional diciptakan untuk memenuhi kebutuhan budaya masyarakat Sunda. Sistem nadanya berkembang untuk mendukung ekspresi musikal yang sesuai dengan tradisi lokal, bukan untuk memainkan seluruh jenis musik dunia. Hal tersebut dapat dianalogikan seperti berbagai bahasa di dunia. Sebuah bahasa tidak menjadi lebih rendah hanya karena tidak memiliki semua kosakata dari bahasa lain. Setiap bahasa memiliki kekayaan, sejarah, dan cara sendiri dalam menyampaikan makna. Begitu pula dengan sistem musik. Pentatonis memiliki kekuatan dalam mempertahankan karakter budaya lokal, sementara diatonis memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menjangkau berbagai jenis komposisi musik. 1.9.2 Tantangan Mempertahankan Identitas di Tengah Modernisasi Modernisasi membawa peluang sekaligus tantangan bagi angklung. Di satu sisi, perkembangan teknologi dan media memberikan kesempatan bagi angklung untuk dikenal lebih luas. Angklung kini dapat dimainkan dalam konser besar, dikolaborasikan dengan berbagai genre musik, bahkan digunakan dalam pendidikan musik. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga membawa risiko perubahan orientasi. Ketika angklung terlalu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan musik modern, terdapat kemungkinan nilai tradisional yang melekat di dalamnya mulai berkurang. Tantangan utama bukan hanya bagaimana membuat angklung mampu memainkan lebih banyak lagu, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara inovasi dan pelestarian nilai budaya. Pengembangan seni tradisional perlu dilakukan melalui pendekatan yang seimbang. Inovasi diperlukan agar seni tetap hidup, tetapi akar budaya tetap harus dijaga agar identitasnya tidak hilang 44. Dalam konteks angklung, perkembangan tidak berarti menggantikan angklung tradisional dengan bentuk baru. Sebaliknya, inovasi dapat menjadi jembatan agar angklung mampu menjangkau generasi baru tanpa kehilangan hubungan dengan sejarah dan budaya asalnya. Upaya pengembangan angklung kemudian mengarah pada pencarian sistem baru yang mampu menghubungkan karakter tradisional dengan kebutuhan musik modern. Dari sinilah muncul berbagai inovasi, salah satunya pengembangan angklung bernada diatonis yang memungkinkan instrumen bambu ini memainkan lebih banyak jenis lagu. Perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan angklung. Angklung tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi berkembang menjadi instrumen yang mampu berdialog dengan perkembangan zaman. Pada akhirnya, tantangan modernisasi bukanlah ancaman yang harus dihindari, tetapi proses yang harus disikapi dengan bijaksana. Tradisi akan tetap hidup apabila mampu beradaptasi, sementara identitas budaya tetap dijaga sebagai dasar keberadaannya. Angklung mengajarkan bahwa mempertahankan budaya bukan berarti membekukannya dalam bentuk lama, tetapi memberikan ruang agar budaya terus tumbuh sesuai dengan kehidupan masyarakat yang berubah. 44 Hong Li et al., “The Innovation of Traditional Handicrafts and Cultural Identity: A Multidimensional Value Analysis Using the DEMATEL-ISM Method,” PLOS One 20 (2025), https://doi.org/10.1371/journal.pone.0322893.

37 1.10 Perubahan Fungsi Angklung dalam Kehidupan Modern Seiring perkembangan masyarakat, fungsi angklung mengalami perubahan yang cukup besar. Pada masa awal perkembangannya, angklung memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat agraris Sunda, terutama kegiatan adat yang berkaitan dengan siklus pertanian, penghormatan terhadap alam, dan ungkapan rasa syukur terhadap hasil bumi. Pada masa tersebut, angklung tidak hanya berfungsi sebagai alat musik, tetapi menjadi bagian dari sistem kehidupan masyarakat. Bunyi angklung hadir dalam ruang budaya yang memiliki makna sosial dan spiritual. Permainan angklung menjadi bagian dari kegiatan bersama yang memperkuat hubungan antaranggota masyarakat. Namun, kehidupan masyarakat terus mengalami perubahan. Perkembangan pendidikan, teknologi, urbanisasi, dan perubahan pola hiburan masyarakat membuat angklung mulai memasuki ruang yang lebih luas. Angklung tidak lagi hanya hidup dalam lingkungan komunitas adat, tetapi berkembang menjadi bagian dari berbagai aktivitas sosial dan budaya modern. Perubahan fungsi tersebut menunjukkan bahwa sebuah tradisi tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk yang sama. Tradisi yang mampu bertahan adalah tradisi yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, tetapi tetap menjaga nilai utama yang menjadi identitasnya. Menurut Widyastutieningrum (2021), keberlanjutan seni tradisional sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam melakukan inovasi tanpa melepaskan hubungan dengan akar budayanya. Sebuah kesenian dapat terus hidup ketika mampu menemukan ruang baru dalam kehidupan masyarakat modern 45. Dalam perkembangannya, angklung kemudian hadir dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti: • pertunjukan seni dan konser budaya; • penyambutan tamu kenegaraan maupun kegiatan resmi; • kegiatan pendidikan di sekolah dan lembaga budaya; • festival seni tingkat daerah hingga internasional; • kegiatan sosial masyarakat; • pertunjukan budaya nasional dan internasional. Perluasan fungsi tersebut menunjukkan bahwa angklung telah mengalami transformasi dari instrumen yang awalnya memiliki fungsi ritual menjadi media ekspresi budaya yang lebih luas. 1.10.1 Angklung sebagai Media Pendidikan Salah satu perubahan paling penting dalam perkembangan angklung modern adalah masuknya instrumen ini ke dalam dunia pendidikan. Angklung memiliki karakter yang unik karena permainan musiknya membutuhkan kerja sama banyak orang. Setiap peserta memegang peran tertentu dan harus mampu mengikuti irama bersama. Karakter tersebut menjadikan angklung tidak hanya bernilai musikal, tetapi juga memiliki nilai pendidikan. 45 M Shafi et al., “INNOVATION IN TRADITIONAL HANDICRAFT COMPANIES TOWARDS SUSTAINABLE DEVELOPMENT. A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW,” Technological and Economic Development of Economy, 2022, https://doi.org/10.3846/tede.2022.17085.

38 Dalam proses pembelajaran, angklung dapat digunakan untuk melatih berbagai kemampuan, seperti disiplin, konsentrasi, koordinasi, tanggung jawab, dan kerja sama kelompok. Seorang pemain angklung tidak hanya belajar menghasilkan bunyi, tetapi juga belajar mendengarkan orang lain. Ia harus memahami bahwa keberhasilan sebuah lagu bergantung pada kontribusi seluruh pemain. Hal inilah yang membuat angklung memiliki nilai pedagogis yang kuat. Musik menjadi sarana untuk membangun karakter, bukan hanya keterampilan seni. Penggunaan seni tradisional dalam pendidikan dapat menjadi pendekatan efektif untuk memperkenalkan nilai budaya sekaligus mengembangkan kemampuan sosial peserta didik 46. Melalui kegiatan seni, pembelajaran tidak hanya berfokus pada pengetahuan, tetapi juga pengalaman langsung dalam bekerja bersama. Dalam konteks pendidikan budaya, angklung memiliki keunggulan karena mampu menggabungkan aspek musikal dan nilai sosial secara bersamaan. Peserta didik tidak hanya mengenal warisan budaya, tetapi juga mengalami langsung nilai kebersamaan yang menjadi filosofi utama angklung. 1.10.2 Angklung dalam Ruang Pertunjukan Modern Selain berkembang dalam dunia pendidikan, angklung juga mengalami perubahan besar dalam dunia pertunjukan. Jika sebelumnya angklung banyak dimainkan dalam konteks tradisi lokal, kini angklung dapat ditemukan dalam berbagai panggung pertunjukan modern. Angklung dimainkan dalam konser, kolaborasi dengan instrumen lain, hingga pertunjukan berskala internasional. Perubahan ini menunjukkan bahwa seni tradisional bukan sesuatu yang terpisah dari perkembangan zaman. Sebaliknya, seni tradisional dapat terus berkembang apabila mampu berdialog dengan bentuk ekspresi baru. Dalam berbagai pertunjukan modern, angklung tidak hanya mempertahankan lagu-lagu tradisional, tetapi juga digunakan untuk memainkan berbagai jenis repertoar musik. Perkembangan tersebut membuat angklung semakin dikenal oleh masyarakat luas. Namun, modernisasi juga membawa tantangan tersendiri. Ketika sebuah seni tradisional masuk ke ruang modern, terdapat kemungkinan perubahan nilai dan fungsi. Oleh karena itu, pengembangan angklung perlu tetap memperhatikan keseimbangan antara inovasi dan pelestarian identitas budaya. Proses modernisasi seni tradisional harus dipahami sebagai proses negosiasi budaya. Perubahan dapat dilakukan selama tetap mempertahankan nilai utama yang menjadi ciri khas kesenian tersebut 47. Dalam kasus angklung, inovasi bukan berarti menggantikan tradisi lama, tetapi memberikan ruang agar angklung dapat terus berkembang dan diterima oleh generasi baru. 46 Rahem Samiya, “Education through the Cultural Dimension: Integration of Knowledge with Traditions and Arts,” STUDIES IN EDUCATION SCIENCES, 2025, https://doi.org/10.54019/sesv6n3-009. 47 F Chung, “Utilising Technology as a Transmission Strategy in Intangible Cultural Heritage: The Case of Cantonese Opera Performances,” International Journal of Heritage Studies 30 (2023): 210–25, https://doi.org/10.1080/13527258.2023.2284723.

39 1.10.3 Kebutuhan akan Angklung yang Lebih Fleksibel Perubahan fungsi angklung dalam kehidupan modern kemudian melahirkan kebutuhan baru, yaitu menciptakan bentuk angklung yang memiliki kemampuan lebih luas dalam memainkan berbagai jenis musik. Angklung tradisional dengan sistem nada pentatonis memiliki kekuatan dalam mempertahankan karakter musik Sunda. Namun, ketika digunakan dalam pendidikan musik modern atau pertunjukan dengan repertoar yang lebih luas, muncul kebutuhan terhadap sistem nada yang lebih fleksibel. Kebutuhan tersebut mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam perkembangan angklung. Tujuannya bukan untuk menggantikan angklung tradisional, tetapi memperluas kemungkinan penggunaannya. Melalui inovasi tersebut, angklung dapat digunakan untuk memainkan berbagai lagu, baik lagu tradisional maupun lagu modern. Angklung kemudian tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tetapi juga menjadi instrumen yang mampu beradaptasi dengan kehidupan masa kini. Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan berarti membekukan sebuah tradisi dalam bentuk lama. Pelestarian justru membutuhkan kreativitas agar sebuah budaya tetap memiliki ruang hidup. Angklung menjadi contoh bahwa warisan budaya dapat tetap bertahan ketika mampu menemukan keseimbangan antara mempertahankan identitas dan membuka diri terhadap perubahan. Dari sinilah perjalanan angklung memasuki tahap penting berikutnya, yaitu lahirnya inovasi angklung modern yang memungkinkan instrumen bambu ini berkembang menjadi media pendidikan dan pertunjukan yang lebih luas. 1.11 Awal Munculnya Gagasan Inovasi Angklung Memasuki abad ke-20, masyarakat Indonesia mulai mengalami perubahan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Sekolah-sekolah mulai berkembang dan tidak hanya berfungsi sebagai tempat memperoleh pengetahuan dasar, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun kreativitas, kedisiplinan, serta kemampuan sosial peserta didik. Dalam perkembangan pendidikan tersebut, seni musik mulai mendapatkan perhatian sebagai salah satu media pembelajaran. Musik tidak hanya dipandang sebagai kegiatan hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk melatih kepekaan rasa, koordinasi, konsentrasi, dan kemampuan bekerja sama. Kondisi tersebut kemudian melahirkan kebutuhan terhadap instrumen musik yang mudah digunakan dalam lingkungan pendidikan. Sekolah membutuhkan alat musik yang dapat dipelajari oleh banyak peserta didik, tidak membutuhkan biaya besar, serta mampu dimainkan secara bersama-sama. Pada masa itu, instrumen musik modern seperti piano, biola, dan berbagai instrumen orkestra Barat belum dapat digunakan secara luas. Selain membutuhkan biaya yang relatif mahal, instrumen tersebut juga membutuhkan fasilitas khusus serta proses pembelajaran yang lebih panjang. Di sisi lain, masyarakat Indonesia telah memiliki instrumen tradisional yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu angklung. Sebagai alat musik berbahan bambu, angklung memiliki

40 karakter yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan karena mudah ditemukan, relatif sederhana dalam cara memainkan, dan dapat melibatkan banyak pemain. Keunggulan angklung sebagai media pembelajaran tidak hanya terletak pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada filosofi permainannya. Dalam permainan angklung, setiap pemain memiliki bagian nada tertentu sehingga keberhasilan sebuah lagu bergantung pada kemampuan seluruh pemain untuk bekerja sama. Penggunaan seni tradisional sebagai media pendidikan memiliki nilai penting karena proses berkesenian tidak hanya mengembangkan kemampuan artistik, tetapi juga membangun karakter sosial seperti kerja sama, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap peran orang lain. Hal tersebut menjelaskan mengapa angklung memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai instrumen pendidikan. Angklung bukan hanya mengajarkan bagaimana menghasilkan bunyi, tetapi juga memberikan pengalaman langsung tentang pentingnya kebersamaan. Namun, ketika angklung mulai diperkenalkan dalam lingkungan pendidikan modern, muncul satu persoalan utama, yaitu keterbatasan sistem nada. Angklung tradisional yang berkembang dalam masyarakat Sunda umumnya menggunakan sistem nada pentatonis. Sistem ini memiliki karakter suara yang khas dan sangat sesuai dengan kebutuhan musik tradisional Sunda, tetapi memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk memainkan berbagai jenis lagu modern. Musik modern, terutama yang berkembang melalui pengaruh musik Barat, banyak menggunakan sistem nada diatonis dengan susunan tujuh nada utama. Perbedaan sistem nada tersebut menyebabkan angklung tradisional tidak selalu dapat memainkan seluruh repertoar musik yang digunakan dalam pembelajaran musik modern. Namun, kondisi tersebut bukan berarti bahwa angklung tradisional memiliki kekurangan. Setiap sistem musik berkembang berdasarkan kebutuhan budaya masyarakat yang melahirkannya. Sistem pentatonis memiliki kekuatan dalam mempertahankan identitas musikal Sunda, sedangkan sistem diatonis memberikan fleksibilitas lebih luas dalam memainkan berbagai jenis musik. Perbedaan tersebut justru membuka ruang pemikiran baru: bagaimana mengembangkan angklung agar mampu menjangkau kebutuhan modern tanpa kehilangan karakter budaya yang menjadi identitasnya. Dalam proses perkembangan budaya, inovasi sering kali muncul ketika masyarakat menemukan kebutuhan baru terhadap suatu tradisi yang sudah ada. Perubahan bukan berarti meninggalkan nilai lama, tetapi mencari cara agar nilai tersebut tetap dapat hidup dalam kondisi masyarakat yang berubah 48. Berdasarkan pemikiran tersebut, muncul gagasan penting dalam sejarah angklung: Bagaimana membuat angklung mampu memainkan berbagai jenis musik, tetapi tetap mempertahankan suara bambu, nilai kebersamaan, dan identitas budaya yang melekat di dalamnya? Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi dasar lahirnya inovasi besar dalam perjalanan angklung menuju bentuk modern. 48 R Inglehart and W Baker, “Modernization, Cultural Change, and the Persistence of Traditional Values,” American Sociological Review 65 (2000): 19–51, https://doi.org/10.1177/000312240006500103.

41 1.12 Tradisi sebagai Dasar Lahirnya Inovasi Inovasi terhadap angklung tidak muncul dengan cara menghapus tradisi yang telah berkembang sebelumnya. Sebaliknya, perubahan tersebut lahir dari pemahaman mendalam terhadap nilai, fungsi, dan karakter angklung tradisional yang telah hidup dalam masyarakat Sunda selama berabad-abad. Sebelum mengalami perkembangan modern, angklung telah memiliki identitas yang kuat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Angklung hadir dalam berbagai kegiatan sosial, ritual adat, serta aktivitas yang berkaitan dengan kehidupan agraris. Nilai kebersamaan, kerja sama, dan keseimbangan menjadi bagian penting yang melekat dalam cara masyarakat memainkan dan memaknai angklung. Oleh karena itu, ketika muncul gagasan untuk mengembangkan angklung, tujuan utamanya bukan menggantikan bentuk tradisional yang sudah ada. Pengembangan tersebut justru berangkat dari kesadaran bahwa sebuah budaya perlu memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri agar tetap dapat digunakan oleh masyarakat pada zamannya. Tradisi memberikan dasar yang kuat bagi proses inovasi. Nilai-nilai yang terkandung dalam angklung tradisional tetap dipertahankan, terutama konsep permainan secara berkelompok yang mengajarkan pentingnya kerja sama dan saling melengkapi. Dalam perkembangan budaya, tradisi dan inovasi bukanlah dua hal yang bertentangan. Tradisi memberikan identitas dan makna, sedangkan inovasi memberikan ruang agar sebuah kebudayaan mampu bertahan menghadapi perubahan sosial. Proses perubahan budaya sering terjadi melalui penyesuaian antara warisan masa lalu dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan sebuah karya dalam bentuk yang sama sepanjang waktu. Sebaliknya, budaya dapat tetap hidup ketika masyarakat mampu mengembangkan bentuk baru yang masih memiliki hubungan dengan nilai dasarnya. Dalam konteks angklung, inovasi dilakukan dengan memperluas kemampuan instrumen tanpa menghilangkan karakter utama yang menjadi cirinya. Suara khas bambu, permainan secara bersama-sama, serta nilai kebersamaan tetap menjadi bagian penting dalam perkembangan angklung modern. Pengembangan sistem nada menjadi salah satu bentuk inovasi yang paling penting. Dengan sistem nada yang lebih luas, angklung memiliki kemampuan untuk memainkan berbagai jenis lagu, baik lagu tradisional maupun lagu modern. Perubahan tersebut membuka peluang baru bagi angklung untuk memasuki berbagai ruang kehidupan, seperti: • media pembelajaran musik di sekolah; • pertunjukan seni modern; • kolaborasi dengan berbagai jenis musik; • kegiatan budaya tingkat nasional maupun internasional. Namun, perlu dipahami bahwa inovasi tersebut bukan berarti menjadikan angklung kehilangan identitasnya. Justru melalui inovasi, angklung memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat yang lebih luas. Sebuah tradisi yang tidak mengalami perkembangan memiliki risiko semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Sebaliknya, tradisi yang mampu beradaptasi memiliki peluang lebih besar untuk

42 diwariskan kepada generasi berikutnya. Inovasi menjadi salah satu cara agar hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan tetap terhubung. Dalam kajian mengenai keberlanjutan seni tradisional, perubahan bentuk penyajian merupakan bagian dari proses adaptasi budaya. Seni tradisional dapat mengalami perubahan selama nilai utama dan identitas budayanya tetap dijaga (Haryono, 2023). Hal tersebut dapat dilihat dalam perkembangan angklung. Meskipun mengalami perubahan dalam sistem nada dan fungsi penggunaannya, angklung tetap mempertahankan karakter dasarnya sebagai instrumen bambu yang dimainkan melalui kerja sama. Dengan demikian, inovasi angklung bukanlah bentuk pemutusan terhadap tradisi, melainkan kelanjutan dari perjalanan budaya yang telah berlangsung sebelumnya. Tradisi menjadi akar yang menjaga identitas, sementara inovasi menjadi jalan agar angklung tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat modern. 1.13 Fondasi Menuju Kelahiran Angklung Padaeng Lahirnya Angklung Padaeng merupakan salah satu fase penting dalam perjalanan panjang perkembangan musik bambu di Indonesia. Kehadirannya tidak dapat dipahami sebagai sebuah perubahan yang muncul secara tiba-tiba, melainkan sebagai hasil dari proses historis yang panjang, yaitu pertemuan antara warisan pengetahuan lokal masyarakat Sunda, pengalaman musikal tradisional, perkembangan ilmu musik, serta kreativitas seorang tokoh dalam merespons perubahan sosial dan kebutuhan pendidikan pada masanya. Sebelum hadirnya Angklung Padaeng, masyarakat Sunda telah memiliki hubungan yang sangat erat dengan bambu sebagai bagian dari kehidupan budaya. Bambu tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi medium ekspresi artistik yang melahirkan berbagai instrumen musik tradisional. Salah satu instrumen tersebut adalah angklung, yaitu alat musik berbahan bambu yang menghasilkan bunyi melalui getaran tabung-tabung bambu ketika dimainkan dengan cara digoyangkan. Dalam kehidupan masyarakat Sunda tradisional, angklung memiliki kedudukan yang tidak hanya berkaitan dengan fungsi musikal, tetapi juga memiliki hubungan dengan sistem nilai dan kepercayaan masyarakat. Pada masa awal perkembangannya, angklung banyak digunakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan agraris, terutama dalam ritual penghormatan terhadap Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dan keberhasilan panen. Hal tersebut menunjukkan bahwa angklung bukan sekadar alat hiburan, melainkan bagian dari sistem kebudayaan yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan simbolis. Keberadaan angklung sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat Sunda tidak terlepas dari berkembangnya pengetahuan lokal mengenai pembuatan instrumen bambu. Para pengrajin tradisional memiliki pemahaman mendalam mengenai karakteristik bambu, mulai dari pemilihan jenis bambu, usia bahan, proses pengeringan, teknik pemotongan, penyusunan rangka, hingga pengaturan tinggi rendahnya bunyi yang dihasilkan. Pengetahuan tersebut umumnya tidak diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi diwariskan melalui pengalaman langsung dari generasi ke generasi. Proses pewarisan tersebut menunjukkan bahwa pembuatan angklung merupakan bentuk pengetahuan budaya yang terbentuk melalui hubungan antara manusia, lingkungan, dan

43 pengalaman musikal. Seorang pembuat angklung tidak hanya menguasai aspek teknis pembuatan instrumen, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap karakter suara yang dihasilkan oleh bambu. Dengan demikian, kualitas sebuah angklung tidak hanya ditentukan oleh bentuk fisiknya, tetapi juga oleh pemahaman pembuatnya terhadap hubungan antara material, teknik, dan bunyi. Kesenian tradisional merupakan hasil kreativitas kolektif masyarakat yang tumbuh melalui proses pewarisan dan perkembangan sesuai dengan dinamika kehidupan pendukungnya 49. Artinya, sebuah kesenian tidak lahir dalam ruang kosong, tetapi terbentuk dari akumulasi pengalaman masyarakat yang berlangsung dalam waktu panjang. Berdasarkan pemahaman tersebut, fondasi awal lahirnya Angklung Padaeng sebenarnya telah terbentuk jauh sebelum munculnya inovasi Daeng Soetigna. Fondasi tersebut berupa keberadaan tradisi angklung Sunda, pengetahuan masyarakat mengenai teknologi bambu, pengalaman musikal tradisional, serta nilai budaya yang melekat pada instrumen tersebut. Namun, memasuki awal abad ke-20, angklung menghadapi tantangan baru ketika harus berhadapan dengan perkembangan pendidikan musik modern dan perubahan kebutuhan masyarakat. Pada masa kolonial Hindia Belanda, sistem pendidikan Barat mulai memperkenalkan berbagai bentuk pengetahuan baru kepada sebagian masyarakat pribumi yang memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan formal. Salah satu tokoh yang mengalami proses pendidikan tersebut adalah Daeng Soetigna. Melalui pendidikan di lingkungan sekolah kolonial Belanda, Daeng Soetigna memperoleh wawasan mengenai berbagai bidang ilmu, termasuk bahasa, ilmu pengetahuan umum, serta sistem musik Barat. Pendidikan tersebut memberikan pengaruh besar terhadap cara pandang Daeng Soetigna dalam memahami musik. Ia tidak hanya mengenal musik sebagai bagian dari tradisi lokal, tetapi juga memahami konsep musik Barat yang lebih sistematis, seperti tangga nada diatonis (do-re-mi-fa- sol-la-si), teori dasar musik, notasi musik, serta metode pembelajaran musik. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi modal intelektual yang memungkinkan dirinya melihat peluang pengembangan angklung dalam konteks yang lebih luas. Berbeda dengan perkembangan angklung tradisional yang terutama diwariskan melalui pengalaman budaya masyarakat, Daeng Soetigna memiliki perpaduan pengetahuan antara tradisi musik Sunda dan sistem musik Barat. Perpaduan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang melahirkan gagasan untuk mengembangkan angklung agar mampu memainkan repertoar musik yang menggunakan sistem nada diatonis. Selain latar belakang pendidikan formalnya, proses kreatif Daeng Soetigna juga sangat dipengaruhi oleh pengalamannya sebagai seorang guru. Sebagai pendidik, ia memiliki perhatian besar terhadap penggunaan musik sebagai media pembelajaran. Bagi Daeng Soetigna, musik 49 Dyah Tjaturrini, “Inheriting System as an Effort to Maintain the Local Culture,” in Proceedings of the Proceedings of First International Conference on Culture, Education, Linguistics and Literature, CELL 2019, 5-6 August, Purwokerto, Central Java, Indonesia, 2019, https://doi.org/10.4108/eai.5-8-2019.2291032.

44 tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga memiliki nilai pendidikan dalam membangun kedisiplinan, kerja sama, kreativitas, kepekaan estetis, dan pembentukan karakter peserta didik. Pengalaman tersebut semakin berkembang melalui keterlibatannya dalam kegiatan kepanduan (Pandu). Pada masa itu, kepanduan merupakan gerakan pendidikan yang menekankan pembelajaran melalui pengalaman langsung, permainan kelompok, kedisiplinan, kerja sama, dan pembentukan karakter. Aktivitas bernyanyi dan bermain musik dalam kegiatan kepanduan memberikan pengalaman kepada Daeng Soetigna mengenai bagaimana sebuah alat musik sederhana dapat menjadi media pendidikan yang menyenangkan dan mudah diterima oleh banyak orang. Dari pengalaman tersebut, muncul gagasan bahwa angklung memiliki potensi yang lebih besar apabila dikembangkan sebagai alat musik pendidikan. Karakter angklung yang dimainkan secara berkelompok memiliki kesesuaian dengan nilai pendidikan kepanduan, yaitu kebersamaan, koordinasi, dan kerja sama. Oleh karena itu, inovasi yang dilakukan Daeng Soetigna tidak hanya didasarkan pada pertimbangan musikal, tetapi juga pada pemikiran pedagogis mengenai fungsi musik dalam pendidikan. Pertemuan antara tiga unsur utama, yaitu tradisi Sunda, pengetahuan musik Barat, dan pengalaman pendidikan, menjadi dasar munculnya gagasan pengembangan Angklung Padaeng. Daeng Soetigna melihat bahwa angklung tradisional memiliki nilai budaya yang kuat, tetapi sistem nadanya memiliki konteks penggunaan yang berbeda dengan kebutuhan musik modern yang berkembang dalam pendidikan dan pertunjukan. Atas dasar pemikiran tersebut, pengembangan angklung yang dilakukan Daeng Soetigna bukanlah upaya untuk menggantikan identitas angklung tradisional, melainkan memperluas fungsi dan kemungkinan musikalnya. Melalui proses eksperimen sekitar tahun 1938, Daeng

45 Soetigna berhasil mengembangkan angklung dengan sistem nada diatonis yang kemudian dikenal sebagai Angklung Padaeng. Transformasi tersebut menunjukkan adanya proses akulturasi pengetahuan, yaitu pertemuan antara budaya lokal dengan pengetahuan baru yang menghasilkan bentuk inovasi tanpa menghilangkan akar tradisinya. Menurut Kayam (1981), kebudayaan tradisional selalu mengalami perubahan karena masyarakat pendukungnya terus berinteraksi dengan perkembangan sosial. Perubahan tersebut bukan berarti hilangnya tradisi, tetapi menjadi cara agar sebuah kebudayaan tetap bertahan dan memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, fondasi lahirnya Angklung Padaeng dapat dipahami melalui tiga unsur utama. Pertama, tradisi, yang memberikan identitas, nilai budaya, dan karakter musikal angklung. Kedua, ilmu pengetahuan, yang memberikan dasar pemahaman mengenai sistem musik dan pengembangan teknis instrumen. Ketiga, kreativitas, yang memungkinkan Daeng Soetigna mengolah kedua unsur tersebut menjadi inovasi baru. Angklung Padaeng pada akhirnya bukan sekadar perubahan teknis pada sebuah alat musik bambu, tetapi merupakan hasil dialog antara warisan budaya lokal dan pengetahuan modern. Kehadirannya menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara tetap, tetapi dapat dilakukan melalui inovasi yang tetap menghargai nilai, sejarah, dan identitas asalnya. 1.14 Dari Warisan Lokal Menuju Revolusi Musik Bambu Perjalanan angklung menuju era modern merupakan kisah panjang tentang hubungan manusia dengan alam, kreativitas budaya, dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan zaman. Dari sebuah instrumen sederhana berbahan bambu yang tumbuh di lingkungan masyarakat Sunda, angklung berkembang menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki pengaruh luas. Pada awal perkembangannya, angklung lahir dari kehidupan masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan alam. Bambu sebagai bahan utama tidak hanya dipilih karena mudah diperoleh, tetapi juga karena memiliki karakter yang sesuai untuk menghasilkan bunyi. Melalui pengalaman panjang, masyarakat mengembangkan pengetahuan mengenai cara memilih bambu, mengolahnya, hingga menghasilkan instrumen musik yang memiliki karakter suara khas. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan sering kali lahir dari kemampuan manusia dalam membaca lingkungan sekitarnya. Alam menyediakan bahan dasar, sedangkan kreativitas manusia memberikan nilai dan makna terhadap bahan tersebut. Dari tangan masyarakat tradisional, bambu sederhana kemudian berubah menjadi instrumen musik yang tidak hanya memiliki fungsi estetika, tetapi juga memiliki nilai sosial dan filosofis. Angklung menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik dalam kegiatan adat, ritual pertanian, maupun berbagai aktivitas sosial yang memperkuat hubungan antaranggota komunitas. Dalam perkembangan budaya, sebuah kesenian tidak hanya bertahan karena bentuk fisiknya, tetapi karena memiliki nilai yang terus dipahami dan diwariskan oleh masyarakat pendukungnya. Warisan budaya dapat tetap hidup apabila terdapat proses pewarisan, pengembangan, dan penyesuaian terhadap perubahan zaman (UNESCO, 2020). Hal tersebut terlihat dalam perjalanan angklung. Angklung tidak berhenti sebagai instrumen tradisional masyarakat Sunda, tetapi terus berkembang melalui berbagai tahap perubahan.

46 1.14.1 Perjalanan Panjang dari Bambu Sederhana Menuju Instrumen Budaya Sebelum mencapai bentuk modern, angklung mengalami perjalanan perkembangan yang panjang. Pemanfaatan bambu sebagai sumber bunyi dimulai dari bentuk-bentuk sederhana, kemudian berkembang menjadi instrumen yang lebih kompleks seperti calung dan berbagai jenis angklung tradisional. Setiap tahap perkembangan tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat dalam memahami karakter bambu dan mengolahnya menjadi sistem musik yang memiliki aturan tertentu. Lodong, calung, hingga berbagai bentuk angklung tradisional merupakan bagian dari perjalanan kreativitas masyarakat dalam menciptakan hubungan antara material alam dan ekspresi budaya. Perkembangan tersebut tidak hanya menunjukkan perubahan bentuk instrumen, tetapi juga perubahan fungsi. Jika pada awalnya angklung memiliki hubungan kuat dengan kegiatan adat dan pertanian, kemudian berkembang menjadi media hiburan, pendidikan, dan pertunjukan budaya. Perubahan fungsi tersebut menunjukkan bahwa budaya bukan sesuatu yang diam dan tidak berubah. Kebudayaan selalu berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat yang menghidupinya. Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia yang terus mengalami perkembangan sesuai dengan kondisi sosial masyarakat 50. Artinya, perubahan dalam sebuah tradisi bukan berarti hilangnya budaya tersebut, tetapi menjadi bagian dari proses kehidupan budaya itu sendiri. Dalam konteks angklung, perkembangan tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat untuk menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini. 1.14.2 Tantangan Modernitas dan Kebutuhan Akan Perubahan Memasuki era modern, angklung menghadapi tantangan baru. Perubahan pola kehidupan masyarakat, perkembangan teknologi, serta perubahan selera musik membuat angklung perlu menemukan cara baru agar tetap relevan. Salah satu tantangan terbesar adalah keterbatasan sistem nada tradisional. Angklung tradisional yang menggunakan sistem nada pentatonis memiliki karakter kuat dalam musik Sunda, tetapi memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk memainkan berbagai jenis musik modern. Kondisi tersebut kemudian mendorong munculnya gagasan untuk mengembangkan angklung agar memiliki kemampuan lebih luas. Tujuan utama pengembangan tersebut bukan untuk menghilangkan karakter tradisional angklung, tetapi memperluas fungsi dan penggunaannya. Proses perubahan ini menunjukkan bahwa inovasi budaya membutuhkan keseimbangan. Jika perubahan dilakukan tanpa mempertimbangkan nilai tradisi, maka sebuah budaya dapat kehilangan identitasnya. Namun, jika tradisi tidak diberi ruang untuk berkembang, maka budaya tersebut dapat semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Inovasi menjadi jalan tengah yang memungkinkan budaya tetap memiliki akar sejarah sekaligus mampu menjawab kebutuhan zaman. Perubahan dalam seni tradisional merupakan bentuk adaptasi budaya yang memungkinkan sebuah kesenian tetap bertahan. Seni yang mampu beradaptasi memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh generasi baru karena tetap memiliki hubungan dengan kehidupan mereka 51. 50 C Brumann, “Culture,” Open Encyclopedia of Anthropology, 2026, https://doi.org/10.29164/26culture. 51 K Rathwell and D Armitage, “Art and Artistic Processes Bridge Knowledge Systems about Social-Ecological Change: An Empirical Examination with Inuit Artists from Nunavut, Canada,” Ecology and Society 21 (2016): 21, https://doi.org/10.5751/es-08369-210221.

47 1.14.3 Lahirnya Angklung Modern sebagai Transformasi Budaya Dari kebutuhan akan pengembangan tersebut, lahirlah perjalanan menuju angklung modern. Transformasi ini menjadi salah satu titik penting dalam sejarah musik bambu karena mempertemukan tradisi lokal dengan pendekatan musik modern. Angklung modern tidak muncul untuk menggantikan angklung tradisional. Keduanya memiliki ruang dan fungsi masing-masing. Angklung tradisional tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat, sedangkan angklung modern memberikan kemungkinan baru dalam bidang pendidikan dan pertunjukan. Melalui pengembangan sistem nada yang lebih luas, angklung mampu memainkan berbagai jenis lagu dan memasuki lingkungan yang sebelumnya sulit dijangkau. Perubahan tersebut menjadikan angklung memiliki fungsi baru, seperti: • sebagai media pembelajaran musik di sekolah; • sebagai instrumen pertunjukan profesional; • sebagai sarana diplomasi budaya; • sebagai media pengenalan budaya Indonesia di tingkat internasional. Pengembangan tersebut menunjukkan bahwa sebuah warisan budaya dapat mengalami transformasi tanpa kehilangan nilai dasarnya. Angklung tetap membawa nilai utama yang telah melekat sejak awal, yaitu kebersamaan, kerja sama, dan harmoni. Perubahan hanya memperluas ruang bagi nilai tersebut untuk dikenal oleh masyarakat yang lebih luas. 1.14.4 Angklung sebagai Bukti Bahwa Tradisi Dapat Berkembang Perjalanan angklung dari warisan lokal menuju instrumen modern memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana sebuah budaya dapat bertahan. Tradisi tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang berhenti pada masa lalu. Tradisi dapat terus hidup apabila masyarakat mampu memahami nilai yang terkandung di dalamnya dan mengembangkannya sesuai kebutuhan zaman. Angklung menjadi contoh nyata bahwa inovasi tidak selalu berarti meninggalkan identitas. Justru melalui inovasi, sebuah budaya dapat memperoleh kesempatan untuk berkembang dan dikenal lebih luas. Perjalanan angklung memperlihatkan hubungan antara tiga unsur penting: Tradisi memberikan akar. Tradisi menjaga identitas dan nilai budaya agar tidak kehilangan arah. Ilmu pengetahuan memberikan jalan. Pengetahuan memungkinkan pengembangan dilakukan secara sistematis. Kreativitas memberikan kehidupan baru. Kreativitas membuat budaya mampu beradaptasi dengan perubahan. Ketiga unsur tersebut menjadi dasar perjalanan menuju lahirnya Angklung Padaeng sebagai salah satu bentuk transformasi terbesar dalam sejarah perkembangan angklung. Angklung Padaeng menjadi bukti bahwa budaya dapat berubah tanpa kehilangan jati dirinya. Dari bambu sederhana yang berasal dari lingkungan masyarakat Sunda, lahirlah sebuah instrumen yang mampu berbicara kepada dunia. Perjalanan tersebut bukan hanya kisah tentang perkembangan sebuah alat musik, tetapi juga kisah tentang kemampuan manusia menjaga warisan budaya melalui kreativitas dan inovasi.

48 BAB II DARI BAMBU MENUJU ORKESTRA DUNIA: PERJALANAN ANGKLUNG PADAENG DALAM INOVASI MUSIK INDONESIA Dari Tradisi Lokal Menuju Inovasi Musik Modern Perjalanan angklung dari sebuah instrumen tradisional masyarakat Sunda hingga berkembang menjadi sistem musik bambu yang mampu tampil dalam berbagai ruang pertunjukan merupakan salah satu contoh nyata dinamika perkembangan kebudayaan Indonesia. Transformasi tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan keberlanjutan tradisi, pengetahuan lokal masyarakat, perkembangan ilmu musik, serta kreativitas dalam merespons perubahan zaman. Angklung pada awalnya berkembang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Sunda yang memiliki hubungan erat dengan lingkungan alam dan aktivitas sosial masyarakat agraris. Keberadaan angklung tidak hanya berkaitan dengan fungsi musikal, tetapi juga mengandung nilai budaya yang mencerminkan kebersamaan, keseimbangan, dan hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya. Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa instrumen tradisional tidak hanya dipahami sebagai benda seni, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pengetahuan dan identitas budaya masyarakat pendukungnya. Menurut Sukmayadi dan Suyitno (2022), kearifan lokal dalam kebudayaan tradisional memiliki peran penting dalam membangun identitas masyarakat karena di dalamnya terdapat nilai sosial, hubungan manusia dengan lingkungan, serta pengalaman kolektif yang diwariskan antar generasi 1. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan sebuah kesenian tradisional tidak hanya bergantung pada bentuk fisiknya, tetapi juga pada nilai dan makna yang melekat di dalamnya. Dalam konteks angklung, pengetahuan masyarakat Sunda mengenai bambu menjadi fondasi utama dalam perkembangan instrumen tersebut. Masyarakat memiliki pemahaman empiris mengenai pemilihan jenis bambu, proses pengeringan, teknik pemotongan, penyusunan tabung, hingga pengaturan kualitas bunyi. Pengetahuan tersebut berkembang melalui proses pengalaman langsung dan diwariskan melalui praktik budaya. Kajian mengenai kearifan lokal menunjukkan bahwa masyarakat tradisional sering kali memiliki sistem pengetahuan yang terbentuk melalui proses pengamatan dan pengalaman panjang terhadap lingkungan sekitarnya. Pengetahuan tersebut dapat dikategorikan sebagai bentuk pengetahuan berbasis pengalaman (experiential knowledge) yang kemudian menjadi dasar dalam menghasilkan berbagai produk budaya. Somasheker (2016) dan McHattie and Ting (2024) menjelaskan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap material alam dalam karya budaya memiliki hubungan dengan proses pengamatan, percobaan, dan adaptasi yang berlangsung secara turun-temurun 2. 3. Namun, perkembangan masyarakat membawa perubahan terhadap fungsi dan kebutuhan penggunaan angklung. Ketika angklung mulai memasuki lingkungan pendidikan formal dan ruang 1 Hatty Suat et al., “Local Wisdom as Social Capital: The Role of Tradition in Building Community Resilience in the Era Globalization,” International Journal of Sustainable Social Science (IJSSS), 2025 2 B S Somashekhar, “Listening to a fairy tale on a moonlit night...some reflections on the human affinities with plants in the worldviews of indigenous communities along the Western Ghats of Karnataka,” in “Listening to a fairy tale on a moonlit night...some reflections on the human affinities with plants in the worldviews of indigenous communities along the Western Ghats of Karnataka,” 2016 3 L.-S. McHattie and W Teo Boon Ting, “Indigenous relations: craft, vernacular materials and cultural assets in Borneo,” CoDesign, 20 (1), 2024

49 pertunjukan modern, muncul kebutuhan agar instrumen tersebut mampu memainkan repertoar musik yang lebih luas. Sistem musik modern yang banyak berkembang menggunakan konsep tangga nada diatonis, sementara sebagian besar angklung tradisional berkembang dengan sistem nada lokal yang memiliki karakter khas sesuai budaya Sunda. Perbedaan sistem nada tersebut bukan menunjukkan bahwa sistem musik tradisional lebih rendah dibandingkan sistem musik modern. Setiap sistem musik berkembang berdasarkan konteks budaya masyarakat yang melahirkannya. Sistem pentatonis pada angklung tradisional memiliki nilai estetika dan identitas musikal tersendiri, sedangkan sistem diatonis memberikan kemungkinan lebih luas untuk memainkan berbagai jenis komposisi musik. Dalam perkembangan seni tradisional, perubahan bukan berarti menghilangkan identitas budaya, tetapi menjadi strategi agar sebuah kesenian tetap memiliki ruang hidup dalam masyarakat yang terus berubah. Penelitian mengenai pelestarian seni tradisional menunjukkan bahwa keberlangsungan budaya sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam melakukan inovasi tanpa meninggalkan nilai dasar yang menjadi karakter utamanya. Dalam kondisi tersebut, muncul sosok Daeng Soetigna sebagai tokoh yang memiliki pandangan baru terhadap masa depan angklung. Ia melihat bahwa angklung memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai instrumen tradisional, tetapi juga sebagai media Pendidikan dan alat musik yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Latar belakang pendidikan Daeng Soetigna menjadi salah satu faktor penting dalam proses inovasi tersebut. Melalui pendidikan formal pada masa kolonial Belanda, ia memperoleh pengetahuan mengenai sistem musik Barat, termasuk konsep tangga nada diatonis, teori musik, dan metode pembelajaran musik yang lebih sistematis. Pengetahuan tersebut kemudian berpadu dengan pengalaman budaya Sunda yang telah membentuk pemahamannya terhadap angklung. Selain memiliki pengetahuan musik, Daeng Soetigna juga dikenal sebagai seorang guru yang melihat musik sebagai sarana pendidikan karakter. Baginya, kegiatan bermusik tidak hanya bertujuan menghasilkan keindahan suara, tetapi juga melatih kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan sosial peserta didik. Pandangan tersebut semakin berkembang melalui keterlibatannya dalam kegiatan kepanduan. Aktivitas kepanduan pada masa itu menekankan pembelajaran melalui pengalaman langsung, permainan kelompok, kedisiplinan, serta pembentukan karakter. Lingkungan tersebut memberikan inspirasi bagi Daeng Soetigna bahwa angklung memiliki potensi besar sebagai media pendidikan karena cara permainannya menuntut kerja sama antar pemain. Keunikan permainan angklung terletak pada konsep kolektifnya. Setiap pemain hanya bertanggung jawab terhadap nada tertentu, sehingga sebuah lagu hanya dapat terbentuk apabila seluruh pemain mampu bekerja sama. Karakter inilah yang kemudian menjadi dasar pemikiran Daeng Soetigna dalam mengembangkan angklung sebagai instrumen pendidikan. Pengembangan Angklung Daeng Soetigna menunjukkan adanya proses pelestarian melalui pengenalan kembali instrumen angklung diatonis kepada masyarakat, khususnya melalui pendidikan dan pertunjukan. Inovasi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan bentuk musikal dapat menjadi strategi untuk menjaga keberlanjutan sebuah warisan budaya. Dengan demikian, lahirnya Angklung Padaeng merupakan hasil pertemuan tiga unsur utama, yaitu tradisi Sunda, pengetahuan musik barat, dan pengalaman pendidikan. Tradisi memberikan identitas budaya, ilmu musik memberikan dasar pengembangan sistem nada, sedangkan pengalaman pendidikan memberikan arah pemanfaatan angklung sebagai media pembelajaran. Melalui eksperimen yang dilakukan sekitar tahun 1938, Daeng Soetigna berhasil mengembangkan angklung dengan sistem nada diatonis yang kemudian dikenal sebagai

50 Angklung Padaeng. Inovasi tersebut tidak menghapus karakter asli angklung, melainkan memperluas kemampuan musikalnya sehingga dapat digunakan dalam berbagai konteks, mulaidari pendidikan, pertunjukan budaya, hingga panggung internasional. Angklung Padaeng pada akhirnya bukan hanya sebuah perubahan teknis pada instrumen bambu, tetapi merupakan bentuk transformasi budaya yang menunjukkan bahwa tradisi dapat tetap hidup melalui inovasi. Perjalanan angklung membuktikan bahwa warisan budaya akan terus berkembang apabila mampu menjalin hubungan antara nilai masa lalu, kebutuhan masa kini, dan tantangan masa depan. 2.1 Tokoh di Balik Transformasi Angklung Transformasi angklung dari instrumen tradisional masyarakat Sunda menjadi sebuah sistem musik modern tidak dapat dilepaskan dari peran seorang tokoh penting, yaitu Daeng Soetigna. Kehadirannya dalam sejarah perkembangan angklung menjadi titik penting yang mengubah arah perjalanan instrumen bambu tersebut. Melalui pemikiran, pengalaman, dan kreativitasnya, Daeng Soetigna tidak hanya mengembangkan bentuk musikal angklung, tetapi juga memperluas pemahaman masyarakat mengenai fungsi angklung sebagai media pendidikan dan ekspresi budaya. Daeng Soetigna lahir di Garut, Jawa Barat, pada 13 Mei 1908. Ia tumbuh dalam lingkungan budaya Sunda yang memiliki tradisi seni yang kuat. Lingkungan sosial dan budaya tersebut memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan kepekaan estetikanya terhadap kesenian lokal, termasuk musik tradisional berbahan bambu. Kedekatannya dengan budaya Sunda menjadi salah satu dasar yang kemudian membentuk pandangannya bahwa kesenian tradisional memiliki nilai penting yang harus dijaga dan dikembangkan. Namun, perjalanan intelektual Daeng Soetigna tidak hanya dibentuk oleh lingkungan budaya lokal. Ia juga memperoleh pengalaman pendidikan modern melalui sekolah yang berkembang pada masa kolonial Hindia Belanda. Pendidikan tersebut memperkenalkannya pada berbagai pengetahuan Barat, termasuk sistem musik Barat yang memiliki pendekatan berbeda dengan tradisi musik lokal. Melalui pendidikan tersebut, Daeng Soetigna memperoleh pemahaman mengenai teori musik, notasi musik, sistem tangga nada, serta metode pembelajaran musik yang lebih terstruktur. Pertemuan antara latar budaya Sunda dan pengetahuan musik Barat menjadi faktor penting dalam membentuk cara berpikir Daeng Soetigna. Ia tidak melihat musik tradisional dan musik modern sebagai dua hal yang saling bertentangan, tetapi sebagai dua sumber pengetahuan yang dapat dipertemukan untuk menciptakan inovasi. Cara pandang tersebut menjadi dasar pemikirannya dalam mengembangkan angklung agar mampu memiliki fungsi yang lebih luas. Inovasi dalam kebudayaan tradisional sering kali muncul ketika pelaku budaya mampu menghubungkan pengetahuan lokal dengan perkembangan ilmu pengetahuan baru. Proses tersebut bukan sekadar perubahan bentuk, tetapi merupakan strategi adaptasi budaya agar sebuah warisan tetap memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat modern 4. Dalam konteks angklung, Daeng Soetigna memahami bahwa instrumen tersebut memiliki kekuatan budaya yang besar. Angklung memiliki karakter suara bambu yang khas, mudah 4 A E Lennert et al., “Rich local knowledge despite high transience in an Arctic community experiencing rapid environmental change,” Humanities and Social Sciences Communications, 10 (1), 2023

51 dimainkan secara kelompok, serta memiliki nilai kebersamaan yang kuat. Namun, ia juga melihat bahwa sistem nada angklung tradisional memiliki batasan tertentu ketika digunakan untuk memainkan berbagai jenis lagu yang berkembang dalam pendidikan musik modern. Pemahaman tersebut mendorong Daeng Soetigna untuk mencari kemungkinan baru dalam pengembangan angklung. Ia tidak bermaksud menghilangkan karakter tradisional angklung, melainkan memperluas kemampuan musikalnya agar instrumen tersebut dapat memasuki ruang pendidikan dan pertunjukan yang lebih luas. Selain memiliki pengetahuan mengenai musik, posisi Daeng Soetigna sebagai seorang guru menjadi faktor yang sangat menentukan dalam proses inovasi tersebut. Sebagai pendidik, ia memiliki pandangan bahwa musik bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga media pembentukan manusia. Musik dapat digunakan untuk mengembangkan kedisiplinan, tanggung jawab, kepekaan rasa, kreativitas, serta kemampuan bekerja sama. Pandangan pendidikan tersebut sangat sesuai dengan karakter dasar angklung. Dalam permainan angklung, seorang pemain tidak dapat menghasilkan sebuah lagu secara mandiri. Setiap pemain hanya memainkan nada tertentu, sehingga keberhasilan sebuah lagu bergantung pada kemampuan seluruh pemain untuk bekerja bersama. Nilai tersebut menjadikan angklung memiliki dimensi pendidikan yang kuat. Menurut Qiao (2026), pembelajaran musik berbasis praktik kelompok mampu meningkatkan kemampuan sosial peserta didik karena proses bermusik menuntut komunikasi, koordinasi, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap kontribusi individu lain. Karakter tersebut menjadikan musik tidak hanya berfungsi sebagai pembelajaran seni, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter 5. Selain pengalaman sebagai guru, aktivitas Daeng Soetigna dalam organisasi kepanduan (Pandu) juga memberikan pengaruh besar terhadap gagasan pengembangan angklung. Kepanduan pada masa tersebut tidak hanya berorientasi pada keterampilan praktis, tetapi juga menekankan pembentukan karakter melalui pengalaman langsung, permainan kelompok, kedisiplinan, dan kerja sama. Dalam lingkungan kepanduan, aktivitas bernyanyi dan bermain musik menjadi salah satu metode pembelajaran yang menyenangkan dan mudah diterima oleh peserta. Pengalaman tersebut memberikan inspirasi kepada Daeng Soetigna bahwa sebuah instrumen musik sederhana dapat menjadi alat pendidikan yang efektif apabila dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa Daeng Soetigna melihat angklung memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Bagi dirinya, angklung bukan hanya sebuah alat musik yang menghasilkan bunyi, tetapi sebuah media yang dapat mengajarkan nilai kehidupan. Melalui angklung, seseorang belajar bahwa harmoni tidak hanya dibangun melalui kemampuan individu, tetapi melalui kerja sama seluruh anggota kelompok. Pengembangan angklung oleh Daeng Soetigna menunjukkan adanya hubungan erat antara inovasi musikal dan fungsi pendidikan. Angklung diatonis yang dikembangkan tidak hanya memperluas kemampuan musikal instrumen, tetapi juga memperkuat posisi angklung sebagai media pembelajaran dan pelestarian budaya. 5 X Qiao, “Musical self-expression and empathy as dual pathways from group music participation to pro-social behavior: a structural equation modeling approach,” Frontiers in Psychology, 17, 2026

52 Dengan demikian, Daeng Soetigna dapat dipahami bukan hanya sebagai pencipta Angklung Padaeng, tetapi sebagai seorang pendidik, pemikir budaya, dan inovator yang mampu membaca kebutuhan zaman. Keunggulannya terletak pada kemampuannya menggabungkan tiga sumber pengetahuan utama, yaitu warisan budaya Sunda, ilmu musik Barat, dan pengalaman pedagogis. Pertemuan ketiga unsur tersebut menjadi dasar munculnya gagasan pengembangan Angklung Padaeng. Melalui pemikiran Daeng Soetigna, angklung mengalami transformasi dari instrumen tradisional yang memiliki fungsi lokal menjadi instrumen musik yang memiliki jangkauan lebih luas tanpa kehilangan identitas budaya asalnya. 2.2 Pendidikan dan Pandangan Daeng Soetigna terhadap Musik Bagi Daeng Soetigna, musik bukan sekadar rangkaian bunyi yang memiliki unsur keindahan, melainkan sebuah media pendidikan yang mampu membentuk kemampuan intelektual, emosional, dan sosial manusia. Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar pemikirannya dalam mengembangkan angklung sebagai instrumen yang tidak hanya bernilai artistik, tetapi juga memiliki fungsi edukatif. Latar belakang Daeng Soetigna sebagai seorang pendidik memberikan pengaruh besar terhadap cara pandangnya terhadap musik. Dalam proses pembelajaran, ia melihat bahwa seni musik memiliki kemampuan untuk menyampaikan nilai-nilai yang tidak selalu dapat diberikan melalui pembelajaran konvensional. Melalui kegiatan bermusik, peserta didik dapat belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, ketekunan, serta kemampuan menghargai keberadaan orang lain. Pemikiran tersebut sejalan dengan konsep pendidikan seni modern yang menempatkan seni bukan hanya sebagai tujuan akhir berupa keterampilan artistik, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter. Menurut Alziara dan Al-Zubaidi (2026), bahwa Pendidikan seni dengan cepat menjadi elemen penting dari pendidikan modern untuk perkembangan emosional, sosial dan kreatif siswa 6. Pendidikan seni memiliki peran penting dalam mengembangkan aspek sosial dan emosional peserta didik karena proses berkesenian melibatkan pengalaman langsung, ekspresi diri, komunikasi, serta interaksi dengan lingkungan sosial. Dalam pandangan Daeng Soetigna, kelebihan utama angklung terletak pada karakter permainannya yang bersifat kolektif. Berbeda dengan beberapa instrumen musik yang dapat dimainkan secara individual, angklung membutuhkan keterlibatan banyak pemain untuk menghasilkan sebuah komposisi musik yang utuh. Setiap pemain hanya memainkan nada tertentu sesuai dengan bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Konsep tersebut memiliki nilai pendidikan yang sangat kuat. Seorang pemain angklung harus memahami bahwa keberhasilan sebuah lagu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dirinya sendiri, tetapi juga oleh kemampuan seluruh anggota kelompok. Pemain harus mampu mendengarkan pemain lain, mengikuti arahan pemimpin, menjaga ketepatan waktu, serta memahami bahwa setiap bagian memiliki kontribusi yang penting. Melalui proses tersebut, permainan angklung mengajarkan konsep saling ketergantungan positif (positive interdependence), yaitu kondisi ketika keberhasilan individu berkaitan erat dengan 6 Z F S Alziara and K N K Al-Zubaidi, “Art Education as an Approach to Developing Emotional Creativity and Social Skills among Students,” International Journal of Special Education, 41 (10S), 2026

53 keberhasilan kelompok 7. Konsep ini banyak digunakan dalam pendidikan berbasis kerja sama karena mampu melatih kemampuan komunikasi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial peserta didik. Nilai pendidikan inilah yang menjadi salah satu alasan Daeng Soetigna memilih angklung sebagai media pembelajaran. Baginya, angklung memiliki keunggulan yang tidak hanya terletak pada karakter suara bambunya, tetapi juga pada proses sosial yang terjadi ketika instrumen tersebut dimainkan. Dalam permainan angklung, seorang pemain belajar bahwa setiap nada memiliki fungsi yang sama penting. Nada tinggi maupun rendah, melodi maupun pengiring, semuanya memiliki peran dalam membangun keseluruhan harmoni. Tidak ada bagian yang dapat dianggap lebih penting dibandingkan bagian lainnya karena musik hanya dapat tercipta apabila seluruh unsur bekerja secara seimbang. Filosofi tersebut mencerminkan nilai kehidupan sosial masyarakat Indonesia, khususnya konsep kebersamaan dan gotong royong. Angklung mengajarkan bahwa perbedaan peran bukan menjadi penghalang untuk mencapai tujuan bersama, tetapi justru menjadi kekuatan apabila setiap individu mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik. Menurut Arsih, dkk. (2026), seni tradisional yang digunakan dalam pendidikan memiliki potensi besar sebagai media penguatan karakter karena mengandung nilai budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui proses pembelajaran seni, peserta didik tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga memahami nilai sosial dan budaya yang terkandung di dalamnya 8. Selain aspek kerja sama, Daeng Soetigna juga melihat bahwa musik dapat menjadi sarana pembentukan kedisiplinan. Dalam permainan angklung, pemain harus mengikuti tempo, memahami tanda permainan, serta mampu mengendalikan diri agar tidak memainkan nada di luar waktu yang telah ditentukan. Kesalahan satu pemain dapat memengaruhi keseluruhan komposisi musik. Hal tersebut menjadikan latihan angklung sebagai proses pendidikan karakter yang berlangsung secara alami. Peserta didik belajar mengenai pentingnya ketepatan, kesabaran, dan konsistensi melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui teori. Pandangan pendidikan Daeng Soetigna juga dipengaruhi oleh pengalamannya dalam kegiatan kepanduan. Kepanduan pada masa tersebut menggunakan pendekatan pendidikan yang menekankan pengalaman langsung melalui aktivitas kelompok, permainan, musik, dan kegiatan sosial. Metode tersebut memiliki kesamaan dengan karakter permainan angklung yang mengutamakan kerja sama dan keterlibatan aktif seluruh anggota. Dalam kegiatan kepanduan, musik sering digunakan sebagai sarana membangun semangat kelompok dan memperkuat hubungan sosial antaranggota. Pengalaman tersebut memberikan pemahaman kepada Daeng Soetigna bahwa musik sederhana dapat memiliki fungsi Pendidikan yang besar apabila dikembangkan dengan pendekatan yang tepat. Oleh karena itu, ketika mengembangkan angklung diatonis, Daeng Soetigna tidak hanya mempertimbangkan aspek musikal seperti sistem nada dan kemampuan memainkan lagu modern, tetapi juga mempertimbangkan aspek pedagogis. Ia ingin menciptakan sebuah 7 Meghan Hynson, “Bamboo Angklung: Incorporating Indonesia into the Music Education Classroom,” Music Educators Journal, 111, 2025 8 F Arsih et al., “Preserving culture, enhancing learning: A meta-analysis of the effects of traditional games on learning,” Multidisciplinary Reviews, 9 (1), 2026

54 instrumen yang dapat digunakan oleh banyak orang, mudah dipelajari, dan mampu memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Pemikiran tersebut kemudian melahirkan konsep angklung sebagai media pendidikan massal. Angklung dapat dimainkan oleh berbagai kelompok usia, dari anak-anak hingga orang dewasa, tanpa membutuhkan kemampuan musik tingkat tinggi pada tahap awal. Kesederhanaan cara bermainnya menjadi kekuatan yang memungkinkan angklung berkembang luas di lingkungan pendidikan. Salah satu karakter penting Angklung Daeng Soetigna adalah kemampuannya menggabungkan fungsi musikal dan pendidikan. Sistem angklung diatonis yang dikembangkan tidak hanya memperluas kemampuan memainkan berbagai repertoar musik, tetapi juga memperkuat nilai pembelajaran melalui permainan kelompok. Dengan demikian, pandangan Daeng Soetigna terhadap musik menunjukkan bahwa inovasi Angklung Padaeng tidak hanya didasarkan pada kebutuhan memperluas sistem nada, tetapi juga pada gagasan yang lebih besar mengenai fungsi musik dalam kehidupan manusia. Baginya, musik merupakan sarana untuk membangun hubungan antara manusia, budaya, dan pendidikan. Angklung Padaeng pada akhirnya menjadi representasi dari pemikiran tersebut. Ia bukan hanya sebuah instrumen musik bambu dengan sistem nada modern, tetapi juga sebuah metode pendidikan yang mengajarkan harmoni, kerja sama, dan penghargaan terhadap peran setiap individu. 2.3 Inspirasi Awal Mengembangkan Angklung Sebuah inovasi budaya pada dasarnya tidak selalu lahir dari keinginan untuk menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi sering kali muncul dari kemampuan seseorang dalam melihat potensi yang belum sepenuhnya dikembangkan dari sebuah warisan yang telah ada. Hal tersebut juga terjadi dalam perjalanan Daeng Soetigna ketika mengembangkan angklung.

55 Gagasan mengenai perubahan angklung tidak muncul karena keinginan menggantikan tradisi lama, melainkan berangkat dari pemahaman bahwa angklung memiliki nilai budaya dan musikal yang besar, tetapi membutuhkan pengembangan agar dapat menjangkau ruang kehidupan yang lebih luas. Ketertarikan Daeng Soetigna terhadap angklung berkembang melalui pengamatannya terhadap keberadaan instrumen tersebut dalam kehidupan masyarakat Sunda. Ia melihat bahwa angklung memiliki keunikan yang berbeda dibandingkan instrumen musik lainnya. Material bambu memberikan karakter suara yang alami, lembut, dan khas, sementara cara memainkannya secara berkelompok menciptakan pengalaman musikal yang menekankan kebersamaan. Karakter tersebut menjadi salah satu kekuatan utama angklung. Sebuah lagu dalam permainan angklung tidak dihasilkan oleh satu individu, tetapi melalui kontribusi banyak pemain yang saling melengkapi. Setiap pemain memiliki tanggung jawab terhadap nada tertentu, sehingga keberhasilan permainan sangat bergantung pada kemampuan seluruh kelompok dalam membangun harmoni. Karakter kolektif dalam seni tradisional merupakan salah satu bentuk nilai sosial yang dapat menjadi dasar pengembangan pendidikan berbasis budaya. Seni yang melibatkan partisipasi kelompok tidak hanya menghasilkan pengalaman estetis, tetapi juga membangun kemampuan komunikasi, kerja sama, dan kesadaran sosial 9. Namun, di balik potensi tersebut, Daeng Soetigna juga melihat adanya tantangan yang dihadapi angklung pada masa itu. Angklung tradisional berkembang dalam konteks budaya tertentu dengan sistem nada yang sesuai dengan kebutuhan musik Sunda. Sistem tersebut memiliki karakter musikal yang kuat, tetapi memiliki keterbatasan ketika digunakan untuk memainkan berbagai jenis lagu yang berkembang dalam pendidikan musik modern. Pada masa tersebut, pendidikan musik di Indonesia mulai banyak dipengaruhi oleh sistem musik Barat yang menggunakan tangga nada diatonis. Lagu-lagu nasional, lagu pendidikan, maupun repertoar musik modern umumnya menggunakan susunan tujuh nada utama (do-re-mi-fa-sol-la- si). Kondisi ini menyebabkan munculnya kebutuhan terhadap instrumen yang mampu mengikuti sistem musik tersebut. Bagi Daeng Soetigna, kondisi tersebut bukan berarti bahwa angklung tradisional tidak memiliki nilai. Sebaliknya, ia memahami bahwa sistem nada tradisional memiliki fungsi dan karakter tersendiri. Angklung pentatonis merupakan bagian dari identitas musikal Sunda yang harus tetap dihargai. Akan tetapi, ia juga melihat bahwa pengembangan sistem nada dapat menjadi jalan agar angklung memiliki ruang penggunaan yang lebih luas. Pemikiran tersebut menunjukkan adanya pendekatan inovasi yang bersifat adaptif. Inovasi tidak dilakukan dengan menghapus unsur lama, tetapi dengan menambahkan kemampuan baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan semacam ini dalam kajian kebudayaan disebut sebagai proses transformasi budaya, yaitu perubahan suatu bentuk budaya melalui penyesuaian terhadap lingkungan baru dengan tetap mempertahankan unsur identitas utamanya. keberhasilan inovasi budaya sangat dipengaruhi oleh kemampuan pelaku budaya dalam menjaga keseimbangan antara kontinuitas dan perubahan. Sebuah budaya akan lebih mudah 9 F B Mawasti and A Cahyono, “Steps of self-regulation: A case study on the implementation of traditional dance in developing emotional intelligence and its implications for student aggressiveness in elementary schools,” Multidisciplinary Science Journal, 8 (9), 2026

56 bertahan apabila mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dasar yang menjadi cirinya 10. Selain melihat aspek musikal, Daeng Soetigna juga melihat potensi angklung dari sisi pendidikan. Pengalamannya sebagai guru membuatnya memahami bahwa instrumen musik yang baik untuk pendidikan bukan hanya harus memiliki kualitas suara, tetapi juga harus mudah dipelajari, dapat dimainkan secara bersama-sama, dan mampu membangun interaksi sosial. Angklung memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Cara memainkan angklung relatif sederhana karena pemain hanya perlu menggoyangkan instrumen untuk menghasilkan bunyi. Namun, kesederhanaan teknik tersebut tidak menghilangkan kompleksitas dalam permainan kelompok. Justru melalui kesederhanaan tersebut, angklung dapat menjadi media pembelajaran yang melibatkan banyak peserta sekaligus. Gagasan tersebut semakin diperkuat melalui pengalaman Daeng Soetigna dalam kegiatan kepanduan. Dalam lingkungan kepanduan, permainan kelompok dan aktivitas musik digunakan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter. Melalui kegiatan tersebut, ia melihat bahwa musik dapat menjadi sarana yang efektif untuk membangun kebersamaan dan semangat kelompok. Dari pengalaman tersebut muncul pemikiran bahwa angklung memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai instrumen pendidikan yang lebih luas. Jika angklung mampu memainkan berbagai jenis lagu, maka instrumen tersebut dapat digunakan tidak hanya dalam lingkungan budaya tradisional, tetapi juga dalam sekolah, organisasi kepemudaan, dan berbagai kegiatan sosial. Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul dalam pemikiran Daeng Soetigna adalah: "Bagaimana mempertahankan karakter angklung sebagai instrumen bambu tradisional, tetapi sekaligus membuatnya mampu memainkan berbagai jenis musik modern?" Pertanyaan tersebut menjadi titik awal perjalanan panjang pengembangan Angklung Padaeng. Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak ditemukan melalui penggantian identitas angklung, melainkan melalui proses eksperimen yang menggabungkan pemahaman tradisional dan pengetahuan musik modern. Dalam prosesnya, Daeng Soetigna mulai mengembangkan konsep angklung dengan sistem nada diatonis. Pengembangan tersebut membutuhkan pemahaman mengenai hubungan antara ukuran bambu, bentuk tabung, resonansi, dan tinggi rendahnya nada. Dengan demikian, inovasi angklung tidak hanya merupakan perubahan musikal, tetapi juga melibatkan proses teknis dan eksperimental. Pengembangan Angklung Daeng Soetigna merupakan bentuk inovasi organologi, yaitu pengembangan instrumen musik yang mempertimbangkan hubungan antara struktur fisik alat musik dengan karakter bunyi yang dihasilkan. Proses tersebut menunjukkan bahwa penciptaan Angklung Padaeng melibatkan perpaduan antara pengalaman budaya, pemahaman musik, dan eksperimen teknis. Dengan demikian, inspirasi awal pengembangan Angklung Padaeng berawal dari kemampuan Daeng Soetigna dalam melihat nilai yang telah dimiliki angklung sekaligus memahami kebutuhan perubahan zaman. Ia tidak melihat tradisi sebagai sesuatu yang harus dibekukan, tetapi sebagai sumber kreativitas yang dapat dikembangkan. 10 M Kötting and A Kuckertz, “SHORT-, MID-, and LONG-TERM EFFECTS of INNOVATION ACTIVITIES: A CONFIGURATIONAL ANALYSIS on CONTINUITY, COMPETENCE, and COOPERATION,” International Journal of Innovation Management, 25 (5), 2021

57 Melalui pemikiran tersebut, angklung kemudian mengalami transformasi besar. Dari sebuah instrumen tradisional yang memiliki fungsi budaya lokal, angklung berkembang menjadi instrumen musik modern yang memiliki kemampuan memainkan berbagai jenis musik, sekaligus tetap mempertahankan nilai utama berupa kebersamaan, harmoni, dan hubungan manusia dengan budaya. 2.4 Belajar dari Tradisi sebagai Dasar Inovasi Inovasi terhadap sebuah kesenian tradisional tidak dapat dilakukan hanya melalui pendekatan perubahan bentuk atau penambahan fungsi baru. Sebuah inovasi yang kuat harus berangkat dari pemahaman terhadap nilai, struktur, dan karakter dasar budaya yang hendak dikembangkan. Hal inilah yang dilakukan oleh Daeng Soetigna dalam proses pengembangan angklung. Sebelum melakukan perubahan sistem nada, ia terlebih dahulu memahami angklung sebagai produk budaya yang memiliki sejarah, teknologi tradisional, serta karakter musikal yang telah berkembang dalam masyarakat Sunda. Bagi Daeng Soetigna, angklung bukan sekadar instrumen yang terbuat dari bambu, tetapi merupakan hasil dari hubungan panjang antara manusia, alam, dan pengalaman budaya. Setiap bagian dari angklung memiliki keterkaitan antara material, teknik pembuatan, dan karakter bunyi yang dihasilkan. Oleh karena itu, proses pengembangan angklung tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan teori musik, tetapi juga membutuhkan pemahaman terhadap pengetahua tradisional yang telah dimiliki oleh masyarakat pembuat angklung. Pengetahuan tersebut berkembang melalui pengalaman empiris masyarakat Sunda selama bertahun-tahun. Para pengrajin angklung memiliki pemahaman mengenai jenis bambu yang sesuai, waktu terbaik untuk pemanenan, proses pengeringan, teknik pemotongan, hingga cara mengatur ukuran tabung agar menghasilkan suara tertentu. Meskipun sebagian besar pengetahuan tersebut tidak dituangkan dalam bentuk rumus ilmiah tertulis, praktik tersebut menunjukkan adanya sistem pengetahuan lokal yang memiliki dasar pengamatan dan pengalaman yang panjang. Pengetahuan lokal masyarakat tradisional merupakan hasil interaksi berkelanjutan antara manusia dengan lingkungan yang kemudian membentuk sistem pengetahuan praktis. Pengetahuan tersebut sering kali berkembang melalui proses mencoba, mengamati, dan melakukan penyempurnaan secara turun-temurun sehingga menghasilkan teknologi budaya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat 11. Dalam konteks pembuatan angklung, bambu bukan hanya dipandang sebagai bahan baku, tetapi sebagai material yang memiliki karakter akustik tertentu. Setiap jenis bambu memiliki tingkat kepadatan, ketebalan dinding, ukuran diameter, dan kemampuan resonansi yang berbeda. Faktor-faktor tersebut memengaruhi kualitas bunyi yang dihasilkan. Pemahaman mengenai hubungan antara bambu dan bunyi menjadi salah satu dasar penting dalam pengembangan Angklung Padaeng. Untuk menghasilkan nada tertentu, pembuat angklung harus memahami bahwa perubahan kecil pada ukuran tabung dapat memengaruhi tinggi rendahnya suara. Semakin panjang dan besar ukuran tabung bambu, maka kecenderungan nada yang dihasilkan semakin rendah. Sebaliknya, tabung dengan ukuran lebih kecil menghasilkan nada yang lebih tinggi. Proses tersebut menunjukkan bahwa pembuatan angklung sebenarnya telah memiliki unsur- unsur ilmu akustik, meskipun berkembang melalui pengalaman tradisional. Pengetahuan 11 S C Rai and P K Mishra, “Traditional Ecological Knowledge and Resource Management: A Conceptual Framework,” in “Traditional Ecological Knowledge and Resource Management: A Conceptual Framework,” 2023

58 masyarakat mengenai hubungan antara bentuk fisik instrumen dan karakter suara merupakan bentuk pemahaman organologi yang berkembang secara alami. Kajian organologi musik menjelaskan bahwa karakter suara sebuah instrumen tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara struktur fisik, material penyusun, serta teknik permainan. Pengembangan instrumen tradisional membutuhkan pemahaman terhadap aspek fisik alat musik karena perubahan kecil pada konstruksi dapat menghasilkan perubahan karakter suara yang signifikan. Oleh karena itu, sebelum mengembangkan angklung dengan sistem nada diatonis, Daeng Soetigna terlebih dahulu mempelajari berbagai aspek dasar angklung tradisional. Ia memahami bahwa inovasi yang dilakukan harus tetap mempertahankan unsur utama yang menjadi identitas angklung, yaitu: 1. Material bambu sebagai sumber bunyi utama Bambu bukan hanya dipilih karena ketersediaannya, tetapi karena memiliki karakter resonansi yang menghasilkan warna suara khas angklung. 2. Teknik konstruksi tradisional Bentuk tabung, ukuran bambu, rangka, dan susunan bagian instrumen menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas suara. 3. Sistem permainan kelompok Cara memainkan angklung secara bersama-sama menjadi karakter utama yang membedakannya dari instrumen musik lain. 4. Nilai budaya yang melekat pada permainan angklung Konsep kebersamaan, kerja sama, dan keseimbangan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari identitas angklung. Dalam proses pembelajarannya mengenai angklung, Daeng Soetigna juga berinteraksi dengan para pengrajin dan seniman angklung yang memiliki pengalaman panjang dalam membuat instrumen bambu. Salah satu tokoh yang disebut berperan dalam proses tersebut adalah Pak Djaja, seorang pengrajin yang membantu memberikan pemahaman mengenai teknik pembuatan angklung tradisional. Interaksi antara seorang pendidik yang memiliki wawasan musik modern dengan pengrajin yang memiliki pengalaman tradisional menunjukkan adanya proses pertukaran pengetahuan (knowledge exchange). Dari proses tersebut, Daeng Soetigna tidak hanya memperoleh pemahaman teknis mengenai pembuatan angklung, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di balik instrumen tersebut. Inovasi budaya yang berkelanjutan sering kali terjadi melalui kolaborasi antara berbagai bentuk pengetahuan, yaitu pengetahuan tradisional masyarakat dan pengetahuan akademik atau modern 12. Perpaduan kedua jenis pengetahuan tersebut memungkinkan sebuah budaya berkembang tanpa kehilangan identitas dasarnya. Pemahaman terhadap tradisi tersebut menjadi fondasi penting ketika Daeng Soetigna mulai melakukan eksperimen mengembangkan angklung diatonis. Ia tidak mengubah angklung dengan cara mengganti karakter dasarnya, tetapi melakukan penyesuaian pada sistem nada agar instrumen tersebut mampu memenuhi kebutuhan musik modern. Dengan kata lain, inovasi Angklung Padaeng bukanlah bentuk pemutusan dari tradisi sebelumnya, melainkan kelanjutan dari proses perkembangan angklung yang telah berlangsung 12 D Saha and T M Vasuprada, “Reconciling conflicting themes of traditionality and innovation: an application of research networks using author affiliation,” Advances in Traditional Medicine, 21 (4), 2021

59 dalam masyarakat Sunda. Tradisi memberikan dasar pengetahuan mengenai karakter instrumen, sedangkan ilmu musik modern memberikan arah pengembangan terhadap kemampuan musikalnya. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa sebuah inovasi budaya yang berhasil biasanya tidak lahir dari penolakan terhadap masa lalu, tetapi dari kemampuan memahami dan mengembangkan warisan yang telah ada. Hal ini sejalan dengan konsep keberlanjutan budaya, bahwa pelestarian tidak hanya berarti mempertahankan bentuk lama, tetapi juga memberikan ruang bagi budaya untuk berkembang sesuai kebutuhan masyarakat 13. Dengan demikian, proses belajar Daeng Soetigna terhadap tradisi angklung menjadi tahap penting sebelum lahirnya Angklung Padaeng. Ia tidak hanya menciptakan sebuah instrumen baru, tetapi membangun jembatan antara dua dunia pengetahuan: kearifan lokal masyarakat Sunda dan sistem musik modern. Jembatan inilah yang kemudian memungkinkan angklung mengalami transformasi besar, dari instrumen tradisional dengan fungsi budaya tertentu menjadi sebuah sistem musik modern yang mampu dimainkan dalam berbagai konteks pendidikan, pertunjukan, dan kebudayaan internasional. 2.5 Perubahan Sistem Nada: Dari Pentatonis Menuju Diatonis Salah satu inovasi terbesar yang dilakukan Daeng Soetigna dalam perjalanan perkembangan angklung adalah perubahan sistem nada dari yang sebelumnya berkembang dalam tradisi pentatonis menuju sistem nada diatonis. Perubahan tersebut menjadi titik balik yang mengubah kedudukan angklung dari instrumen tradisional yang memiliki ruang penggunaan terbatas menjadi instrumen musik yang mampu memainkan berbagai jenis repertoar, baik lagu daerah, lagu nasional, musik pendidikan, maupun karya musik internasional. Namun, perubahan sistem nada tersebut perlu dipahami secara tepat. Pengembangan sistem diatonis bukan berarti bahwa sistem pentatonis pada angklung tradisional merupakan sistem yang kurang sempurna. Sebaliknya, sistem pentatonis memiliki fungsi dan karakter musikal yang sesuai dengan budaya masyarakat Sunda. Sistem tersebut berkembang berdasarkan kebutuhan estetika, ekspresi, dan konteks sosial masyarakat yang menggunakannya. Setiap kebudayaan memiliki cara tersendiri dalam membangun sistem musik. Sistem nada tidak hanya berkaitan dengan susunan bunyi, tetapi juga berhubungan dengan sejarah, lingkungan budaya, dan cara masyarakat memaknai musik. Oleh karena itu, perbedaan antara sistem pentatonis dan diatonis lebih tepat dipahami sebagai perbedaan karakter dan fungsi musikal, bukan sebagai tingkatan kualitas. Sistem musik tradisional merupakan bagian dari pengetahuan budaya masyarakat yang berkembang berdasarkan pengalaman estetis dan kebutuhan sosial tertentu. Sistem tersebut memiliki nilai tersendiri karena mencerminkan identitas budaya masyarakat pendukungnya. Sistem Nada Pentatonis dalam Angklung Tradisional Sebelum dikembangkan menjadi Angklung Padaeng, sebagian besar angklung tradisional menggunakan sistem nada yang berkembang dalam tradisi musik Sunda. Sistem tersebut memiliki karakter yang berbeda dengan sistem musik Barat yang kemudian berkembang dalam pendidikan formal. 13 Sahar Elyasi̇ and Ruşen Yamaçli, “Architectural Sustainability with cultural heritage values,” Cultural Heritage and Science, 2023

60 Sistem pentatonis secara umum merupakan sistem tangga nada yang menggunakan lima nada utama dalam satu rangkaian nada. Dalam berbagai tradisi musik Asia, termasuk musik Sunda, sistem ini menghasilkan karakter suara yang khas, sederhana, tetapi memiliki kekuatan ekspresi yang mendalam. Dalam konteks musik Sunda, penggunaan sistem nada tradisional memiliki hubungan erat dengan konsep musikal karawitan Sunda. Pola nada tersebut digunakan untuk membangun suasana tertentu dalam berbagai bentuk kesenian, seperti pertunjukan tradisional, ritual budaya, maupun kegiatan masyarakat. Keunggulan utama sistem pentatonis terletak pada kemampuannya mempertahankan karakter lokal. Melalui sistem tersebut, angklung memiliki identitas suara yang kuat dan menjadi bagian dari ciri khas musik Sunda. Namun, ketika angklung mulai memasuki ruang pendidikan modern dan pertunjukan dengan kebutuhan repertoar yang lebih luas, muncul tantangan baru. Banyak lagu yang digunakan dalam pendidikan musik modern menggunakan sistem diatonis yang memiliki jumlah nada lebih banyak serta struktur harmoni yang berbeda. Kondisi tersebut menyebabkan angklung tradisional mengalami keterbatasan dalam memainkan lagu-lagu tertentu. Keterbatasan tersebut bukan karena angklung tidak memiliki nilai musikal, tetapi karena sistem nadanya berkembang untuk tujuan budaya yang berbeda. Sistem Nada Diatonis dan Kebutuhan Musik Modern Berbeda dengan sistem pentatonis, sistem diatonis merupakan sistem tangga nada yang menggunakan tujuh nada utama dalam satu oktaf, yaitu: Do – Re – Mi – Fa – Sol – La – Si – Do Sistem ini menjadi dasar utama dalam perkembangan musik Barat modern dan banyak digunakan dalam pendidikan musik, komposisi, serta berbagai genre musik populer. Menurut teori musik, tangga nada diatonis memiliki pola interval tertentu yang mengatur hubungan jarak antar nada. Pola tersebut memungkinkan terbentuknya berbagai struktur melodi dan harmoni yang lebih kompleks. Dalam praktik musik modern, sistem diatonis memungkinkan seorang komponis menciptakan berbagai variasi musikal melalui: • perpindahan nada (modulasi); • pembentukan akor; • pengembangan harmoni; • variasi melodi. Kemampuan tersebut membuat sistem diatonis banyak digunakan dalam berbagai bentuk music modern. Masuknya sistem pendidikan musik Barat pada masa kolonial membawa perubahan dalam cara masyarakat Indonesia mengenal dan mempelajari musik. Sekolah-sekolah mulai memperkenalkan teori musik Barat, notasi musik, serta penggunaan instrumen dengan system nada diatonis. Dalam konteks tersebut, muncul kebutuhan terhadap instrumen lokal yang mampu beradaptasi dengan sistem musik baru tanpa kehilangan identitas budayanya.

61 Pemikiran Daeng Soetigna dalam Mengembangkan Sistem Nada Angklung Daeng Soetigna melihat bahwa tantangan utama angklung bukan terletak pada bentuk fisiknya, melainkan pada kemampuan musikal yang dapat dikembangkan dari instrumen tersebut. Ia memahami bahwa kekuatan utama angklung terdapat pada: • karakter suara bambu; • permainan secara berkelompok; • nilai kebersamaan; • kemudahan dimainkan oleh berbagai kalangan. Namun, agar angklung dapat digunakan dalam lingkungan pendidikan dan pertunjukan modern, diperlukan pengembangan sistem nada yang lebih fleksibel. Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa Daeng Soetigna menggunakan pendekatan inovasi yang bersifat adaptif. Ia tidak mengganti identitas angklung, tetapi menambahkan kemampuan baru agar instrumen tersebut dapat menjangkau fungsi yang lebih luas. Pengembangan Angklung Daeng Soetigna merupakan bentuk inovasi organologi yang menggabungkan pemahaman terhadap struktur instrumen tradisional dengan kebutuhan sistem musik modern. Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa inovasi angklung tidak hanya terjadi pada aspek nada, tetapi juga pada pemahaman mengenai fungsi dan posisi angklung dalam kehidupan masyarakat. Proses Transformasi Sistem Nada Angklung Perubahan dari sistem pentatonis menuju diatonis bukanlah proses yang sederhana. Daeng Soetigna harus melakukan berbagai percobaan untuk menemukan cara agar tabung-tabung bambu dapat menghasilkan nada yang sesuai dengan standar musik diatonis. Setiap nada dalam sistem diatonis memiliki hubungan frekuensi tertentu. Oleh karena itu, perubahan ukuran bambu harus dilakukan secara hati-hati agar menghasilkan tinggi rendah nada yang tepat. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pengembangan tersebut meliputi: 1. Ukuran Tabung Bambu Panjang dan diameter bambu memiliki pengaruh langsung terhadap frekuensi suara. Tabung dengan ukuran lebih panjang cenderung menghasilkan nada lebih rendah, sedangkan tabung dengan ukuran lebih pendek menghasilkan nada lebih tinggi. 2. Ketebalan Material Ketebalan dinding bambu memengaruhi kualitas resonansi. Bambu yang terlalu tipis atau terlalu tebal dapat menghasilkan karakter suara yang berbeda. 3. Kualitas Resonansi Setiap tabung harus memiliki kemampuan menghasilkan suara yang stabil agar hubungan antar nada tetap harmonis ketika dimainkan secara bersama-sama. 4. Penyelarasan Antar Nada Dalam sistem diatonis, setiap nada harus memiliki hubungan interval yang tepat. Oleh karena itu, setiap angklung harus melalui proses penyetelan agar dapat digunakan dalam sebuah kelompok musik. Proses tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Angklung Padaeng merupakan perpaduan antara pengetahuan tradisional dan pendekatan ilmiah. Daeng Soetigna tidak hanya

62 mengandalkan kreativitas musikal, tetapi juga memahami aspek teknis mengenai hubungan antara material bambu dan teori bunyi. Makna Perubahan Pentatonis Menuju Diatonis Perubahan sistem nada tersebut memiliki makna yang lebih luas dibandingkan sekadar perubahan teknis. Transformasi tersebut menunjukkan kemampuan budaya lokal dalam beradaptasi terhadap perkembangan zaman. Angklung tradisional tetap memiliki nilai budaya yang kuat sebagai representasi musik Sunda. Sementara itu, Angklung Padaeng hadir sebagai bentuk pengembangan yang memungkinkan nilai-nilai tersebut diperkenalkan melalui ruang yang lebih luas. Keberlanjutan budaya tradisional sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam melakukan inovasi yang tetap mempertahankan nilai inti budaya. Perubahan bentuk atau fungsi tidak selalu berarti hilangnya identitas, selama unsur utama yang menjadi karakter budaya tetap dipertahankan. Dalam kasus Angklung Padaeng, unsur yang tetap dipertahankan antara lain: • penggunaan bambu sebagai sumber bunyi; • teknik permainan dengan cara digoyangkan; • permainan secara berkelompok; • nilai kebersamaan dan kerja sama. Sementara itu, unsur yang mengalami perkembangan adalah: • sistem nada; • kemampuan memainkan repertoar musik; • fungsi dalam pendidikan dan pertunjukan. Dengan demikian, perubahan sistem nada dari pentatonis menuju diatonis merupakan bentuk transformasi budaya yang mempertemukan tradisi dan modernitas. Daeng Soetigna berhasil membuktikan bahwa inovasi tidak harus menghilangkan akar budaya, tetapi dapat menjadi cara untuk memperkuat keberlanjutan sebuah warisan. Angklung Padaeng menjadi bukti bahwa sebuah instrumen tradisional dapat berkembang ketika masyarakat mampu memahami nilai masa lalu sekaligus menjawab kebutuhan masa depan. 2.6 Proses Eksperimen Menciptakan Angklung Diatonis Perubahan sistem nada angklung dari pentatonis menuju diatonis merupakan proses panjang yang membutuhkan perpaduan antara pengetahuan musik, pemahaman terhadap karakter bambu, serta pengalaman praktis dalam pembuatan instrumen. Daeng Soetigna tidak menciptakan Angklung Padaeng hanya melalui pendekatan musikal, tetapi juga melalui serangkaian eksperimen terhadap struktur fisik instrumen agar mampu menghasilkan nada yang sesuai dengan sistem musik modern. Proses tersebut menunjukkan bahwa inovasi Angklung Padaeng merupakan bentuk pengembangan organologi musik, yaitu kajian mengenai hubungan antara struktur fisik sebuah instrumen dengan karakter suara yang dihasilkan. Sebuah instrumen musik tidak hanya dibentuk berdasarkan aspek estetika, tetapi juga berdasarkan pemahaman terhadap material, ukuran, bentuk, serta mekanisme produksi bunyi.

63 Pengembangan instrumen musik tradisional membutuhkan pemahaman terhadap karakter material penyusunnya karena setiap bahan memiliki sifat akustik yang memengaruhi warna suara dan kualitas bunyi. Dalam instrumen berbahan bambu, perubahan kecil pada ukuran maupun bentuk dapat menghasilkan perbedaan frekuensi yang cukup besar. Hal tersebut menjadi tantangan utama bagi Daeng Soetigna ketika mengembangkan angklung diatonis. Angklung tradisional sebelumnya telah memiliki sistem bunyi yang sesuai dengan kebutuhan musik lokal, tetapi untuk menghasilkan nada diatonis diperlukan penyusunan nada yang lebih terstruktur berdasarkan hubungan interval tertentu. 2.6.1 Eksperimen terhadap Karakteristik Bambu sebagai Sumber Bunyi Bambu merupakan unsur utama dalam konstruksi angklung. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karakteristik bambu menjadi tahap penting dalam proses pengembangan Angklung Padaeng. Tidak semua jenis bambu dapat digunakan untuk menghasilkan kualitas suara yang baik. Bambu yang digunakan sebagai bahan angklung harus memiliki karakter tertentu, seperti: • memiliki serat yang kuat; • memiliki tingkat kekeringan yang sesuai; • memiliki resonansi yang baik; • mampu menghasilkan getaran yang stabil. Dalam pembuatan angklung, bambu tidak hanya berfungsi sebagai bahan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari sistem akustik instrumen. Ketika bambu digetarkan, energi mekanik menghasilkan gelombang suara yang kemudian diterima sebagai nada oleh pendengar. Hubungan antara struktur bambu dan bunyi menjadi aspek penting yang harus dipahami dalam proses penyetelan. Panjang, diameter, ketebalan dinding, dan volume rongga udara dalam tabung bambu memiliki pengaruh terhadap frekuensi yang dihasilkan. Secara prinsip akustika: • tabung bambu yang lebih panjang cenderung menghasilkan frekuensi lebih rendah; • tabung yang lebih pendek menghasilkan frekuensi lebih tinggi; • diameter dan ketebalan bambu memengaruhi karakter resonansi; • kualitas material menentukan kejernihan suara. Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa pengembangan Angklung Padaeng melibatkan perpaduan antara pengetahuan tradisional pengrajin dan prinsip-prinsip ilmu bunyi. Teknologi tradisional dalam pembuatan instrumen musik sering kali mengandung pengetahuan ilmiah yang berkembang melalui pengalaman empiris masyarakat. Pengetahuan tersebut tidak selalu ditulis dalam bentuk teori, tetapi tercermin dalam praktik pembuatan yang dilakukan secara turun-temurun. 2.6.2 Penyesuaian Frekuensi Nada dalam Sistem Diatonis Tantangan terbesar dalam menciptakan angklung diatonis adalah bagaimana menghasilkan tujuh nada utama yang memiliki hubungan interval sesuai dengan sistem musik modern. Dalam sistem diatonis, setiap nada memiliki jarak tertentu dengan nada lainnya. Misalnya, tangga nada mayor memiliki pola interval: 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½

64 Pola tersebut harus diterapkan pada susunan tabung bambu agar angklung dapat memainkan melodi dengan tepat. Berbeda dengan sistem pentatonis tradisional yang berkembang berdasarkan pengalaman musikal masyarakat Sunda, sistem diatonis membutuhkan ketepatan hubungan antar nada yang lebih terstruktur. Oleh karena itu, setiap tabung bambu harus disesuaikan secara teliti agar menghasilkan frekuensi yang sesuai. Proses penyetelan dilakukan melalui beberapa tahap: 1. Menentukan ukuran awal bambu Pengrajin menentukan ukuran bambu berdasarkan perkiraan tinggi nada yang ingin dihasilkan. Ukuran awal tersebut menjadi dasar untuk proses penyempurnaan berikutnya. 2. Melakukan pemotongan dan penyesuaian ukuran Tabung bambu kemudian disesuaikan secara bertahap. Pemotongan bagian tertentu dapat mengubah panjang efektif tabung sehingga memengaruhi tinggi rendah nada. 3. Menguji suara yang dihasilkan Setiap tabung diuji untuk mengetahui apakah nada yang dihasilkan sudah sesuai dengan standar sistem diatonis. 4. Melakukan penyempurnaan berulang Apabila nada belum sesuai, dilakukan penyesuaian kembali hingga memperoleh suara yang stabil. Proses tersebut membutuhkan ketelitian tinggi karena kesalahan kecil dapat menyebabkan perbedaan nada yang mengganggu harmoni ketika dimainkan bersama. 2.6.3 Menggabungkan Pengetahuan Tradisional dan Teori Musik Barat Salah satu keunggulan Daeng Soetigna dalam proses inovasi angklung adalah kemampuannya menggabungkan dua sumber pengetahuan yang berbeda. Di satu sisi, ia memahami karakter budaya dan teknik pembuatan angklung tradisional yang berasal dari masyarakat Sunda. Di sisi lain, ia memiliki pengetahuan mengenai teori musik Barat yang diperoleh melalui pendidikan formal. Pertemuan kedua pengetahuan tersebut menjadi faktor utama keberhasilan pengembangan Angklung Padaeng. Pengetahuan tradisional memberikan pemahaman mengenai: • karakter suara bambu; • teknik pembuatan instrumen; • cara permainan angklung; • nilai budaya yang melekat. Sementara itu, teori musik Barat memberikan pemahaman mengenai: • sistem nada diatonis; • hubungan interval; • struktur harmoni; • notasi musik.

65 Inovasi budaya sering kali muncul melalui proses pertemuan antara pengetahuan lokal dan pengetahuan baru. Proses tersebut memungkinkan sebuah budaya mengalami perkembangan tanpa kehilangan identitas asalnya. Hal tersebut terlihat jelas dalam Angklung Padaeng. Meskipun sistem nadanya mengalami perubahan, unsur utama angklung tetap dipertahankan: • bahan utama bambu; • teknik permainan dengan cara digoyangkan; • permainan secara berkelompok; • nilai kebersamaan. 2.6.4 Tantangan dalam Proses Eksperimen Menciptakan angklung diatonis bukanlah proses yang mudah. Daeng Soetigna menghadapi berbagai tantangan teknis maupun konseptual. Tantangan pertama: Menjaga karakter suara bambu Salah satu risiko dalam proses modernisasi instrumen tradisional adalah hilangnya karakter asli alat musik tersebut. Daeng Soetigna harus memastikan bahwa perubahan sistem nada tidak membuat angklung kehilangan warna suara khas bambunya. Tantangan kedua: Menyesuaikan sistem nada modern Sistem diatonis membutuhkan ketepatan nada yang lebih kompleks dibandingkan system tradisional. Oleh karena itu, setiap bagian instrumen harus disesuaikan secara cermat. Tantangan ketiga: Menciptakan instrumen yang mudah dimainkan Karena salah satu tujuan utama Daeng Soetigna adalah menjadikan angklung sebagai media pendidikan, instrumen tersebut harus tetap sederhana dan dapat dimainkan oleh banyak orang. Tantangan keempat: Menyatukan fungsi musikal dan pendidikan Angklung yang dikembangkan tidak hanya harus mampu menghasilkan musik yang baik, tetapi juga harus mempertahankan nilai pendidikan berupa kerja sama dan kebersamaan. Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa inovasi Angklung Padaeng bukan sekadar proses teknis, tetapi juga proses pemikiran mengenai bagaimana sebuah budaya dapat berkembang tanpa kehilangan jati dirinya. 2.6.5 Makna Eksperimen Angklung Diatonis Eksperimen yang dilakukan Daeng Soetigna memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan instrumen baru. Proses tersebut menunjukkan bahwa tradisi dapat berkembang melalui pendekatan kreatif dan ilmiah. Angklung Padaeng menjadi contoh bahwa inovasi budaya dapat dilakukan dengan tiga prinsip utama: Pertama, memahami akar tradisi. Daeng Soetigna tidak mengabaikan nilai budaya angklung tradisional. Kedua, menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat pengembangan. Teori musik dan pemahaman akustika digunakan untuk memperluas kemampuan instrumen. Ketiga, menjawab kebutuhan masyarakat.

66 Angklung dikembangkan agar dapat digunakan dalam pendidikan dan pertunjukan modern. Keberhasilan pelestarian budaya tradisional sangat dipengaruhi oleh kemampuan melakukan inovasi yang tetap mempertahankan unsur identitas utama. Perubahan yang dilakukan bukan untuk menggantikan tradisi, tetapi memberikan ruang baru agar tradisi tetap hidup. Dengan demikian, proses eksperimen menciptakan Angklung Diatonis merupakan tahap penting dalam sejarah perkembangan angklung. Melalui ketekunan, pemahaman budaya, dan kemampuan menggabungkan ilmu musik modern dengan pengetahuan lokal, Daeng Soetigna berhasil menciptakan sebuah inovasi yang mengubah posisi angklung dari instrumen tradisional menjadi sistem musik yang memiliki jangkauan global. 2.7 Lahirnya Angklung Padaeng: Transformasi Angklung Tradisional Menjadi Instrumen Musik Modern Lahirnya Angklung Padaeng merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perkembangan musik tradisional Indonesia. Inovasi ini menandai perubahan besar dalam perjalanan angklung, bukan hanya dari sisi sistem nada, tetapi juga dari segi fungsi, ruang penggunaan, dan cara masyarakat memandang instrumen bambu tersebut. Angklung Padaeng lahir dari proses panjang yang dilakukan oleh Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1938. Pengembangan tersebut merupakan hasil dari perpaduan antara pemahaman terhadap tradisi angklung Sunda, pengetahuan musik Barat yang diperoleh melalui pendidikan formal, serta pengalaman pedagogisnya sebagai seorang guru. Ketiga unsur tersebut menjadi dasar pemikiran dalam menciptakan angklung yang tetap memiliki identitas budaya lokal, tetapi mampu beradaptasi dengan kebutuhan musik modern. Nama Angklung Padaeng sendiri merujuk pada tokoh penciptanya, yaitu Daeng Soetigna. Penggunaan nama tersebut bukan sekadar penanda kepemilikan gagasan, tetapi menjadi bentuk penghargaan terhadap kontribusi besar Daeng Soetigna dalam mengembangkan angklung. Melalui inovasi tersebut, ia berhasil mengubah kemungkinan musikal angklung tanpa menghilangkan karakter utama instrumen tersebut sebagai alat musik bambu khas masyarakat Sunda. 2.7.1 Perubahan Fungsi Angklung: Dari Ritual Budaya Menuju Media Pendidikan Sebelum mengalami pengembangan, angklung tradisional memiliki fungsi yang sangat berkaitan dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sunda. Angklung digunakan dalam berbagai kegiatan masyarakat, terutama yang berhubungan dengan tradisi agraris, ritual adat, dan hiburan rakyat. Namun, setelah dikembangkan oleh Daeng Soetigna, fungsi angklung mengalami perluasan. Angklung tidak lagi hanya berada dalam ruang budaya tradisional, tetapi mulai memasuki ruang pendidikan dan pertunjukan modern. Perubahan tersebut terjadi karena Angklung Padaeng memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan musik. Sistem nada diatonis memungkinkan angklung memainkan lagu- lagu nasional, lagu anak-anak, lagu pendidikan, hingga komposisi musik Barat. Hal ini menjadikan angklung sebagai instrumen yang mudah diterima dalam lingkungan sekolah. Guru dapat menggunakan angklung sebagai media pembelajaran musik karena cara memainkannya relatif sederhana, tetapi tetap mengandung nilai pendidikan yang kuat. Dalam konteks pendidikan, angklung memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan instrumen musik individual. Setiap peserta didik memiliki tanggung jawab terhadap nada tertentu, sehingga keberhasilan permainan bergantung pada kemampuan seluruh kelompok untuk bekerja sama. Pembelajaran seni berbasis budaya lokal memiliki potensi besar dalam membangun karakter peserta didik karena melibatkan aspek kreativitas, kolaborasi, dan

67 pemahaman terhadap identitas budaya. Dengan demikian, Angklung Padaeng bukan hanya menjadi alat musik, tetapi juga menjadi media pendidikan karakter. 2.7.2 Angklung Padaeng sebagai Hasil Akulturasi Budaya Lahirnya Angklung Padaeng menunjukkan adanya proses akulturasi antara budaya lokal Sunda dan pengetahuan musik Barat. Akulturasi tersebut tidak menghasilkan penghapusan terhadap budaya lama, melainkan menciptakan bentuk baru yang memiliki karakter gabungan. Unsur budaya Sunda tetap dipertahankan melalui: • penggunaan bambu sebagai bahan utama; • teknik permainan dengan cara digoyangkan; • pola permainan kelompok; • nilai kebersamaan dalam bermusik. Sementara itu, unsur musik Barat masuk melalui: • sistem tangga nada diatonis; • penggunaan notasi musik; • konsep harmoni; • kemampuan memainkan berbagai repertoar modern. Pertemuan kedua unsur tersebut menjadikan Angklung Padaeng sebagai contoh nyata bagaimana kebudayaan dapat berkembang melalui proses adaptasi. Keberlanjutan budaya tradisional sangat dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam melakukan inovasi yang tetap mempertahankan nilai dasar budaya. Tradisi yang mampu beradaptasi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dibandingkan tradisi yang hanya dipertahankan dalam bentuk lama. Dalam konteks ini, Angklung Padaeng menunjukkan bahwa inovasi bukan ancaman terhadap tradisi, melainkan salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutannya. 2.7.3 Peran Angklung Padaeng dalam Dunia Pendidikan Salah satu keberhasilan terbesar inovasi Daeng Soetigna adalah menjadikan angklung sebagai instrumen pendidikan yang dapat dimainkan secara luas. Karakter angklung sangat sesuai dengan prinsip pendidikan karena permainan instrumen ini mengandung berbagai nilai pembelajaran, antara lain: 1. Kerja Sama Satu pemain tidak dapat menghasilkan sebuah lagu secara lengkap. Setiap pemain membutuhkan pemain lain agar melodi dapat terbentuk. 2. Disiplin Pemain harus memahami kapan harus membunyikan angklung dan kapan harus menunggu. 3. Tanggung Jawab Setiap pemain bertanggung jawab terhadap nada yang menjadi bagiannya. 4. Kepekaan Sosial Pemain harus mendengarkan pemain lain agar tercipta harmoni. Nilai-nilai tersebut menjadikan angklung berbeda dari sekadar alat musik. Angklung menjadi pengalaman belajar yang menggabungkan aspek seni, sosial, dan karakter. Pembelajaran musik berbasis kelompok

68 memberikan kontribusi terhadap perkembangan kemampuan sosial karena peserta didik belajar melalui interaksi, koordinasi, dan pengalaman bersama. 2.7.4 Angklung Padaeng sebagai Revolusi Musik Bambu Indonesia Kelahiran Angklung Padaeng dapat disebut sebagai salah satu bentuk revolusi dalam perkembangan musik bambu Indonesia karena membawa perubahan mendasar terhadap posisi angklung dalam masyarakat. Sebelumnya, angklung lebih banyak dikenal sebagai instrumen tradisional dengan fungsi tertentu dalam masyarakat Sunda. Setelah inovasi Daeng Soetigna, angklung berkembang menjadi instrumen yang: • dapat memainkan berbagai jenis lagu; • dapat digunakan dalam pendidikan formal; • dapat dimainkan dalam format ansambel besar; • dapat dipadukan dengan instrumen musik lainnya; • dapat tampil dalam pertunjukan modern. Perubahan tersebut memperluas ruang keberadaan angklung, dari lingkungan lokal menuju panggung nasional bahkan internasional. Namun, keberhasilan Angklung Padaeng bukan hanya karena perubahan sistem nada, melainkan karena inovasi tersebut tetap mempertahankan nilai utama angklung sebagai musik kebersamaan. Sistem permainan kelompok tetap menjadi karakter utama yang membedakannya dari instrumen lain. 2.7.5 Makna Historis Lahirnya Angklung Padaeng Secara historis, lahirnya Angklung Padaeng menunjukkan bahwa perkembangan budaya tidak berjalan secara linier antara tradisional dan modern. Keduanya dapat saling berinteraksi dan menghasilkan bentuk kebudayaan baru. Daeng Soetigna tidak memandang tradisi sebagai sesuatu yang harus dibekukan, tetapi sebagai sumber kreativitas yang dapat dikembangkan. Melalui pendekatan tersebut, ia berhasil membangun hubungan antara: • masa lalu melalui warisan angklung Sunda; • masa kini melalui kebutuhan pendidikan dan pertunjukan; • masa depan melalui pengembangan musik bambu yang lebih luas. Angklung Padaeng menjadi bukti bahwa sebuah warisan budaya dapat tetap hidup apabila mampu menjawab kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan identitas asalnya. Dengan demikian, kelahiran Angklung Padaeng bukan hanya sebuah pencapaian musikal, tetapi juga sebuah keberhasilan dalam inovasi budaya. Daeng Soetigna berhasil mengubah angklung dari sekadar instrumen tradisional menjadi simbol kreativitas, pendidikan, dan identitas budaya Indonesia. 2.8 Angklung Padaeng dan Perkembangan sebagai Orkestra Bambu Perubahan sistem nada dari pentatonis menuju diatonis menjadi titik awal perkembangan baru dalam sejarah angklung. Jika sebelumnya angklung lebih banyak digunakan dalam konteks budaya lokal dengan fungsi tertentu, maka setelah dikembangkan oleh Daeng Soetigna,

69 angklung mengalami perluasan fungsi menjadi instrumen ansambel yang mampu membawakan berbagai bentuk musik. Keberhasilan Angklung Padaeng tidak hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan nada diatonis, tetapi juga pada perubahan konsep permainan. Daeng Soetigna mengembangkan angklung bukan sebagai instrumen individual, melainkan sebagai instrumen kelompok yang dapat membentuk harmoni melalui kerja sama banyak pemain. Konsep inilah yang kemudian menjadikan angklung berkembang sebagai sebuah orkestra bambu atau ensambel. Dalam konteks musik, istilah orkestra merujuk pada kelompok besar pemain musik yang memainkan berbagai bagian suara secara terorganisasi untuk menghasilkan karya musik secara bersama. Meskipun angklung tidak menggunakan instrumen logam atau alat musik kompleks seperti orkestra Barat, prinsip permainannya memiliki kesamaan, yaitu adanya pembagian peran musikal antar pemain. Pengembangan Angklung Daeng Soetigna tidak hanya berkaitan dengan perubahan sistem nada, tetapi juga perubahan konsep penyajian musik. Angklung dikembangkan menjadi bentuk ansambel yang memungkinkan setiap pemain memiliki fungsi musikal tertentu dalam membangun sebuah komposisi. 2.8.1 Dari Permainan Sederhana Menuju Sistem Ansambel Sebelum mengalami perkembangan modern, permainan angklung tradisional umumnya dilakukan dalam konteks yang lebih sederhana. Setiap instrumen memiliki hubungan erat dengan fungsi budaya tertentu dan dimainkan berdasarkan kebutuhan pertunjukan masyarakat. Setelah hadirnya Angklung Padaeng, pola permainan mengalami perubahan signifikan. Angklung mulai disusun berdasarkan pembagian nada sehingga mampu membentuk melodi dan harmoni yang lebih kompleks. Dalam sistem Angklung Padaeng, setiap angklung biasanya hanya menghasilkan satu atau beberapa nada tertentu. Oleh karena itu, untuk memainkan sebuah lagu diperlukan banyak pemain yang memegang angklung dengan nada berbeda. Konsep ini menciptakan sistem musikal yang unik: • satu pemain bertanggung jawab terhadap nada tertentu; • beberapa pemain membentuk rangkaian melodi; • kelompok lain memberikan harmoni; • keseluruhan pemain menghasilkan sebuah karya musik yang utuh. Dengan demikian, kekuatan utama angklung tidak terletak pada kemampuan satu instrumen, tetapi pada hubungan antar pemain. Hal ini menjadikan angklung memiliki filosofi yang kuat mengenai kebersamaan. Setiap pemain memiliki peran penting meskipun bagian yang dimainkan terlihat sederhana. Sebuah lagu tidak dapat berjalan dengan baik apabila salah satu bagian tidak menjalankan fungsinya. Karakter kolektif dalam seni pertunjukan tradisional menjadi salah satu aspek penting yang membangun nilai sosial karena mengajarkan hubungan antara individu dan kelompok. Dalam permainan angklung, nilai tersebut muncul secara alami melalui proses latihan dan pertunjukan.

70 2.8.2 Struktur Suara dalam Angklung Padaeng Salah satu perkembangan penting dalam Angklung Padaeng adalah munculnya sistem pembagian suara yang memungkinkan angklung dimainkan seperti sebuah kelompok musik modern. Dalam penyajiannya, permainan angklung dapat dibagi menjadi beberapa kelompok fungsi musikal, yaitu: 1. Angklung Melodi Angklung melodi berfungsi memainkan rangkaian nada utama sebuah lagu. Bagian ini menjadi pusat dari penyampaian melodi sehingga membutuhkan ketepatan nada dan ritme. Pemain angklung melodi harus memahami notasi musik serta mampu mengikuti arahan konduktor agar melodi dapat terdengar dengan jelas. 2. Angklung Pengiring atau Harmoni Bagian pengiring berfungsi memberikan dukungan terhadap melodi melalui susunan nada yang membentuk harmoni. Keberadaan bagian ini menjadi salah satu perkembangan penting karena memungkinkan angklung tidak hanya memainkan satu garis melodi, tetapi juga menghasilkan warna musikal yang lebih kaya. 3. Angklung Bass Angklung bass berfungsi memberikan dasar nada rendah yang memperkuat struktur musik. Kehadiran angklung bass memperluas kemampuan ansambel angklung sehingga memiliki karakter yang lebih menyerupai kelompok musik modern. Pembagian fungsi tersebut menunjukkan bahwa Angklung Padaeng bukan sekadar kumpulan alat musik bambu, tetapi sebuah sistem musik yang memiliki organisasi suara. 2.8.3 Konsep Harmoni dan Kerja Sama dalam Permainan Angklung Salah satu karakter paling menarik dari Angklung Padaeng adalah hubungan antara konsep musikal dan nilai sosial. Dalam permainan musik individual, seorang pemain dapat mengendalikan keseluruhan melodi. Namun, dalam permainan angklung, seorang pemain hanya memiliki bagian tertentu dari keseluruhan karya. Hal tersebut menciptakan prinsip bahwa: "Satu nada tidak berarti tanpa nada lainnya." Setiap pemain harus memahami bahwa keberhasilan pertunjukan bergantung pada koordinasi bersama. Pemain tidak hanya dituntut memiliki kemampuan musikal, tetapi juga kemampuan mendengarkan, menyesuaikan diri, dan menghargai kontribusi pemain lain. Nilai tersebut menjadikan angklung memiliki fungsi pendidikan yang kuat. Melalui latihan angklung, seseorang belajar bahwa harmoni dalam musik memiliki kesamaan dengan harmoni dalam kehidupan sosial.

71 2.8.4 Peran Konduktor dalam Orkestra Angklung Perkembangan Angklung Padaeng sebagai ansambel besar juga melahirkan kebutuhan terhadap sistem kepemimpinan musikal melalui seorang konduktor. Konduktor memiliki peran penting dalam mengatur: • tempo permainan; • dinamika suara; • pergantian bagian lagu; • keseimbangan antar kelompok nada. Dalam permainan angklung, keberadaan konduktor menjadi penghubung antara konsep musik dan tindakan pemain. Pemain harus mampu membaca arahan konduktor agar seluruh bagian dapat berjalan secara serempak. Sistem ini menunjukkan adanya pengaruh pendekatan musik modern dalam pengembangan angklung. Namun, nilai dasar permainan kelompok tetap dipertahankan. 2.8.5 Angklung sebagai Simbol Kebersamaan dan Identitas Budaya Perkembangan Angklung Padaeng menjadi orkestra bambu memberikan makna yang lebih luas daripada sekadar perkembangan musikal. Angklung menjadi simbol bagaimana budaya lokal mampu berkembang melalui kreativitas dan adaptasi. Keunikan angklung terletak pada kemampuannya menggabungkan dua aspek: Pertama, identitas lokal. Angklung tetap mempertahankan bambu sebagai material utama dan cara permainan khas Sunda. Kedua, keterbukaan terhadap perkembangan global. Angklung mampu memainkan berbagai jenis musik dan diterima dalam lingkungan pendidikan serta pertunjukan internasional. Angklung Padaeng menjadi contoh nyata bahwa tradisi tidak harus bertahan dalam bentuk lama agar tetap autentik. Sebaliknya, tradisi dapat berkembang melalui proses kreatif yang tetap menghormati akar sejarahnya. 2.8.6 Makna Perkembangan Angklung sebagai Orkestra Bambu Perjalanan Angklung Padaeng menuju bentuk orkestra bambu menunjukkan keberhasilan transformasi sebuah instrumen tradisional menjadi sistem musik modern. Transformasi tersebut mencakup beberapa aspek: 1. Transformasi musikal Dari sistem nada terbatas menuju sistem diatonis yang lebih luas. 2. Transformasi sosial Dari instrumen budaya lokal menuju media pendidikan dan pertunjukan. 3. Transformasi kelembagaan Dari permainan komunitas kecil menuju kelompok ansambel besar. 4. Transformasi budaya Dari warisan lokal menjadi identitas budaya Indonesia yang dikenal secara global.

72 Dengan demikian, Angklung Padaeng tidak hanya menjadi inovasi dalam bidang musik, tetapi juga menjadi model bagaimana sebuah warisan budaya dapat berkembang melalui kreativitas, pendidikan, dan kolaborasi. Kekuatan utama Angklung Padaeng bukan hanya terletak pada perubahan nada atau bentuk instrumen, tetapi pada filosofi yang melekat di dalamnya: bahwa sebuah harmoni hanya dapat tercipta apabila setiap individu mampu memainkan perannya dan bekerja bersama. 2.9 Angklung Padaeng dalam Dunia Pendidikan: Dari Sekolah hingga Gerakan Nasional Salah satu keberhasilan terbesar dari inovasi Angklung Padaeng adalah kemampuannya menempatkan angklung sebagai bagian dari dunia pendidikan. Sejak awal pengembangannya, Daeng Soetigna tidak hanya melihat angklung sebagai alat musik pertunjukan, tetapi sebagai media pembelajaran yang memiliki nilai sosial, budaya, dan karakter. Pemikiran inilah yang kemudian menjadikan angklung berkembang luas di berbagai lembaga pendidikan dan menjadi salah satu bentuk pendidikan seni berbasis budaya lokal di Indonesia. Bagi Daeng Soetigna, pendidikan musik tidak hanya bertujuan menghasilkan peserta didik yang mampu memainkan alat musik secara teknis, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki kepekaan, kedisiplinan, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama. Angklung dipandang memiliki keunggulan karena cara memainkannya menuntut keterlibatan banyak orang secara bersamaan. Setiap pemain memiliki tanggung jawab terhadap nada tertentu, sehingga keberhasilan sebuah lagu bergantung pada kemampuan seluruh kelompok untuk bekerja secara harmonis. 2.9.1 Angklung sebagai Media Pendidikan Karakter Keunggulan Angklung Padaeng dalam dunia pendidikan tidak hanya terletak pada kemampuannya memainkan berbagai lagu, tetapi juga pada nilai-nilai yang terkandung dalam proses permainannya. Dalam sebuah kelompok angklung, tidak ada pemain yang dapat menghasilkan sebuah lagu secara lengkap seorang diri. Seorang pemain hanya menghasilkan satu bagian nada, sementara pemain lainnya melengkapi bagian yang berbeda. Kondisi tersebut menciptakan pengalaman belajar bahwa keberhasilan bersama tidak dapat dicapai melalui kemampuan individu semata. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam permainan angklung antara lain: 1. Kerja Sama Permainan angklung mengajarkan bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam sebuah kelompok. Perbedaan tugas bukan menjadi alasan untuk saling bersaing, tetapi menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama. 2. Disiplin Pemain harus memahami kapan sebuah nada harus dimainkan dan kapan harus menunggu. Kesalahan waktu dari satu pemain dapat memengaruhi keseluruhan permainan. 3. Tanggung Jawab Setiap pemain bertanggung jawab terhadap bagian musik yang diberikan kepadanya. Keberhasilan kelompok bergantung pada kesungguhan setiap individu menjalankan tugasnya. 4. Kepekaan Sosial Pemain harus mampu mendengarkan suara pemain lain agar tercipta keseimbangan dan harmoni. Nilai-nilai tersebut menjadikan angklung memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar

73 pembelajaran seni musik. Angklung menjadi sarana pendidikan karakter yang menggabungkan aspek kognitif, afektif, dan sosial. 2.9.2 Penyebaran Angklung Padaeng melalui Lingkungan Sekolah Setelah berhasil dikembangkan oleh Daeng Soetigna, Angklung Padaeng mulai diperkenalkan dalam lingkungan pendidikan. Sekolah menjadi ruang yang sangat sesuai bagi perkembangan angklung karena karakter instrumen tersebut memungkinkan dimainkan oleh banyak siswa dengan tingkat kemampuan musik yang berbeda. Dalam pembelajaran musik sekolah, salah satu tantangan utama adalah keterbatasan jumlah instrumen dan kemampuan musikal peserta didik yang beragam. Angklung menawarkan solusi karena satu kelompok besar siswa dapat terlibat dalam satu kegiatan musik secara bersamaan. Seorang siswa yang belum memiliki pengalaman musik sebelumnya tetap dapat berpartisipasi melalui pembelajaran dasar seperti: • mengenal nada; • membaca notasi sederhana; • memahami ritme; • mengikuti arahan pemimpin permainan. Dengan pendekatan tersebut, angklung menjadi instrumen yang demokratis karena memberikan kesempatan kepada banyak orang untuk belajar musik. Hal ini memperkuat gagasan Daeng Soetigna bahwa musik seharusnya dapat diakses oleh semua orang, bukan hanya mereka yang memiliki kemampuan musikal tertentu. Penggunaan seni tradisional dalam pendidikan memberikan manfaat ganda, yaitu menjaga keberlanjutan budaya sekaligus memberikan pengalaman belajar yang kontekstual bagi peserta didik. 2.9.3 Hubungan Angklung Padaeng dengan Gerakan Kepanduan dan Pendidikan Nonformal Selain berkembang melalui sekolah formal, Angklung Padaeng juga memiliki hubungan erat dengan kegiatan pendidikan nonformal, terutama kepanduan. Lingkungan kepanduan menjadi salah satu ruang penting yang memperkenalkan musik sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kebersamaan. Dalam kegiatan kepanduan, musik digunakan sebagai media untuk: • membangun semangat kelompok; • memperkuat rasa kebersamaan; • menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. Karakter permainan angklung sangat sesuai dengan prinsip tersebut karena membutuhkan koordinasi, kepatuhan terhadap arahan, dan kemampuan bekerja dalam kelompok. Pengalaman Daeng Soetigna dalam kepanduan memperkuat keyakinannya bahwa angklung dapat menjadi instrumen pendidikan yang efektif. Melalui angklung, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui penyampaian teori, tetapi melalui pengalaman langsung dalam proses bermusik. Konsep tersebut sesuai dengan pendekatan pendidikan berbasis pengalaman (experiential learning) yang menekankan bahwa seseorang dapat memahami nilai tertentu melalui praktik langsung.

74 2.9.4 Angklung Padaeng sebagai Identitas Pendidikan Musik Indonesia Perkembangan Angklung Padaeng dalam dunia pendidikan memberikan dampak besar terhadap posisi musik tradisional Indonesia. Angklung tidak lagi hanya dipandang sebagai kesenian daerah, tetapi menjadi salah satu simbol pendidikan musik nasional. Melalui sekolah dan berbagai lembaga pendidikan, angklung diperkenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari pengenalan budaya bangsa. Hal tersebut menjadikan angklung memiliki fungsi ganda: Pertama, sebagai media pembelajaran musik. Angklung membantu peserta didik memahami konsep dasar musik seperti nada, ritme, harmoni, dan ansambel. Kedua, sebagai media penguatan identitas budaya. Angklung memperkenalkan nilai budaya lokal kepada generasi muda dalam bentuk yang mudah diterima. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan menjadi salah satu strategi utama dalam pelestarian budaya. Sebuah budaya akan sulit bertahan apabila hanya disimpan sebagai peninggalan masa lalu tanpa diwariskan melalui pengalaman nyata. 2.9.5 Dari Ruang Kelas Menuju Gerakan Nasional Keberhasilan Angklung Padaeng dalam lingkungan pendidikan kemudian mendorong berkembangnya kelompok-kelompok angklung di berbagai daerah. Sekolah, komunitas masyarakat, dan lembaga budaya mulai membentuk kelompok angklung yang memainkan berbagai jenis repertoar. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Angklung Padaeng telah mengalami perubahan status: • dari instrumen tradisional lokal; • menjadi media pendidikan; • berkembang menjadi simbol kebudayaan nasional. Penyebaran angklung melalui pendidikan juga memperkuat keberadaannya sebagai warisan budaya yang hidup. Angklung tidak hanya dipelajari sebagai sejarah, tetapi terus dimainkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Dalam perspektif pelestarian budaya, kondisi tersebut sangat penting karena keberlanjutan budaya tidak hanya bergantung pada dokumentasi, tetapi pada keberlangsungan praktik budaya itu sendiri. Budaya yang masih dipraktikkan oleh masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk bertahan karena mengalami proses regenerasi dan adaptasi secara terus-menerus. 2.9.6 Makna Pendidikan dalam Perjalanan Angklung Padaeng Perjalanan Angklung Padaeng menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran sentral dalam keberhasilan inovasi budaya. Daeng Soetigna tidak hanya menciptakan instrumen musik baru, tetapi juga menciptakan cara baru dalam memandang fungsi musik. Melalui pendidikan, angklung menjadi: • sarana belajar musik; • media pembentukan karakter; • alat memperkuat kebersamaan; • simbol identitas budaya Indonesia.

75 Dengan demikian, keberhasilan Angklung Padaeng tidak hanya diukur dari kemampuannya memainkan lagu dengan sistem nada diatonis, tetapi juga dari kemampuannya membentuk pengalaman sosial dan pendidikan bagi banyak orang. Angklung Padaeng membuktikan bahwa sebuah inovasi budaya dapat bertahan apabila memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Melalui pendidikan, angklung tidak hanya diwariskan sebagai benda budaya, tetapi dihidupkan sebagai praktik budaya yang terus berkembang. 2.10 Angklung Padaeng di Panggung Dunia: Diplomasi Budaya dan Pengakuan Internasional Perjalanan Angklung Padaeng setelah berkembang dalam dunia pendidikan menunjukkan bahwa inovasi budaya yang dilakukan Daeng Soetigna memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar pengembangan sebuah instrumen musik. Dari ruang kelas dan komunitas lokal, angklung kemudian berkembang menjadi simbol kebudayaan Indonesia yang mampu hadir dalam berbagai panggung nasional maupun internasional. Kemampuan Angklung Padaeng untuk memainkan berbagai jenis musik menjadi salah satu faktor utama yang memungkinkan instrumen ini diterima dalam berbagai lingkungan budaya. Sistem nada diatonis yang dikembangkan Daeng Soetigna memberikan ruang bagi angklung untuk membawakan lagu-lagu dari berbagai tradisi musik, mulai dari lagu daerah Indonesia, lagu nasional, hingga komposisi musik dunia. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa inovasi budaya dapat menjadi sarana komunikasi lintas budaya. Angklung tidak lagi hanya dipahami sebagai alat musik masyarakat Sunda, tetapi sebagai representasi nilai-nilai Indonesia yang dapat dipahami oleh masyarakat internasional melalui bahasa universal musik. Seni budaya memiliki kemampuan menjadi media diplomasi karena mampu menyampaikan identitas suatu bangsa melalui pengalaman estetis yang dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. 2.10.1 Perluasan Peran Angklung sebagai Representasi Budaya Indonesia Ketika Angklung Padaeng mulai berkembang dalam berbagai kelompok pertunjukan, fungsi angklung mengalami perubahan yang signifikan. Angklung tidak lagi hanya menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat Sunda, tetapi mulai berperan sebagai representasi budaya Indonesia secara lebih luas. Perubahan tersebut terjadi karena angklung memiliki beberapa karakter yang mendukung proses pengenalan budaya: 1. Memiliki identitas lokal yang kuat Penggunaan bambu sebagai material utama dan teknik permainan yang khas menjadikan angklung memiliki ciri yang mudah dikenali. 2. Mudah diterima oleh berbagai kelompok masyarakat Cara memainkan angklung relatif sederhana sehingga dapat dipelajari oleh berbagai usia dan latar belakang. 3. Mengandung nilai universal Konsep permainan bersama menggambarkan nilai kerja sama dan harmoni yang dapat dipahami oleh masyarakat global.

76 Karakter tersebut menjadikan angklung bukan hanya sebagai produk seni, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya. Dalam kajian diplomasi budaya, sebuah kesenian dapat menjadi instrumen hubungan antarbangsa ketika mampu memperkenalkan nilai, identitas, dan pandangan hidup suatu masyarakat kepada dunia internasional. Budaya tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi sebagai sarana membangun pemahaman dan hubungan antarbudaya. Keberhasilan sebuah warisan budaya dalam ruang global sangat dipengaruhi oleh kemampuannya mempertahankan identitas lokal sekaligus memiliki nilai yang dapat diterima secara universal. 2.10.2 Perkembangan Pertunjukan Angklung dalam Skala Internasional Setelah berkembang sebagai instrumen pendidikan, kelompok-kelompok angklung mulai tampil dalam berbagai kegiatan budaya, festival, dan pertunjukan internasional. Penampilan tersebut memperlihatkan bahwa angklung mampu beradaptasi dengan berbagai bentuk penyajian musik modern. Berbeda dengan citra awalnya sebagai alat musik tradisional sederhana, Angklung Padaeng dapat disajikan dalam format besar menyerupai orkestra. Kelompok angklung mampu memainkan berbagai karya dengan pengaturan melodi, harmoni, ritme, dan dinamika yang kompleks. Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa angklung memiliki fleksibilitas musikal yang tinggi. Instrumen berbahan bambu yang sebelumnya dianggap sederhana mampu menghasilkan pengalaman musik yang besar ketika dimainkan melalui sistem ansambel yang terorganisasi. Perkembangan pertunjukan angklung internasional juga tidak terlepas dari peran berbagai kelompok seni, lembaga pendidikan, komunitas budaya, serta institusi pemerintah yang terus memperkenalkan angklung melalui pertunjukan dan program pertukaran budaya. Keberhasilan penyebaran seni tradisional di tingkat global membutuhkan dukungan ekosistem budaya yang melibatkan seniman, lembaga pendidikan, komunitas, dan kebijakan pemerintah. 2.10.3 Angklung sebagai Diplomasi Budaya Indonesia Dalam hubungan internasional modern, budaya menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun citra suatu negara. Diplomasi budaya dilakukan melalui pertukaran seni, pendidikan, pameran budaya, serta berbagai kegiatan yang memperkenalkan identitas nasional. Angklung memiliki posisi strategis dalam diplomasi budaya Indonesia karena mampu menyampaikan berbagai pesan budaya secara langsung. Melalui pertunjukan angklung, masyarakat internasional dapat mengenal: • kekayaan budaya Indonesia; • kreativitas masyarakat dalam mengembangkan tradisi; • nilai kebersamaan dalam kehidupan sosial; • hubungan harmonis antara manusia dan alam melalui penggunaan bambu. Keunikan angklung sebagai instrumen kelompok juga memberikan pesan simbolis yang kuat. Tidak ada satu pemain yang dapat menghasilkan sebuah lagu secara lengkap. Harmoni hanya dapat tercipta ketika setiap individu menjalankan perannya dan bekerja bersama. Nilai tersebut memiliki kesesuaian dengan konsep kehidupan sosial Indonesia yang menekankan kebersamaan dan gotong royong.

77 2.10.4 Pengakuan UNESCO terhadap Angklung sebagai Warisan Budaya Dunia Salah satu pencapaian terbesar dalam perjalanan Angklung Padaeng adalah pengakuan internasional melalui UNESCO. Pada tahun 2010, Angklung Indonesia secara resmi ditetapkan oleh UNESCO sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity (Warisan Budaya Takbenda). Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa angklung tidak hanya memiliki nilai penting bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga memiliki nilai universal bagi masyarakat dunia. Pengakuan UNESCO tersebut tidak hanya diberikan karena bentuk fisik angklung sebagai alat musik, tetapi juga karena nilai budaya yang terkandung di dalam praktik memainkan angklung. UNESCO menilai bahwa angklung mengandung berbagai nilai penting, seperti: • kerja sama antar pemain; • disiplin kelompok; • penghargaan terhadap peran individu; • transmisi pengetahuan antar generasi. Dengan kata lain, yang diakui bukan hanya instrumennya, tetapi juga tradisi, keterampilan, nilai sosial, dan praktik budaya yang menyertainya. Keberlanjutan warisan budaya takbenda sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk terus mempraktikkan, mengajarkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. 2.10.5 Tantangan Angklung dalam Mempertahankan Eksistensi Global Meskipun telah memperoleh pengakuan internasional, perjalanan angklung tidak berhenti pada pencapaian tersebut. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga agar angklung tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain: 1. Perubahan minat generasi muda Perkembangan teknologi digital dan munculnya berbagai jenis musik modern dapat menyebabkan sebagian generasi muda kurang mengenal musik tradisional. 2. Kebutuhan inovasi pertunjukan Agar tetap menarik, pertunjukan angklung perlu dikembangkan melalui kreativitas baru tanpa kehilangan karakter dasarnya. 3. Regenerasi pelaku budaya Keberlangsungan angklung membutuhkan generasi baru yang tidak hanya mampu memainkan instrumen, tetapi juga memahami nilai budaya di baliknya. Oleh karena itu, pendidikan tetap menjadi strategi utama dalam menjaga keberlanjutan angklung. 1.10.6 Makna Globalisasi Angklung Padaeng Perjalanan Angklung Padaeng menuju panggung dunia menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki kemampuan untuk berkembang secara global apabila didukung oleh inovasi dan sistem pewarisan yang kuat. Keberhasilan angklung tidak hanya berasal dari perubahan sistem nada yang dilakukan Daeng Soetigna, tetapi juga dari kemampuannya mempertahankan nilai utama: • kebersamaan; • harmoni;

78 • kreativitas; • hubungan manusia dengan lingkungan. Angklung Padaeng menjadi contoh bahwa globalisasi budaya tidak selalu berarti hilangnya identitas lokal. Sebaliknya, budaya lokal dapat menjadi semakin kuat ketika mampu berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan akar sejarahnya. Dengan demikian, perjalanan Angklung Padaeng dari bambu tradisional menuju panggung dunia merupakan bukti bahwa inovasi budaya dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Melalui kreativitas Daeng Soetigna, angklung tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi berkembang menjadi simbol identitas Indonesia yang dikenal secara internasional. 2.11 Warisan Pemikiran Daeng Soetigna: Angklung sebagai Simbol Inovasi dan Keberlanjutan Budaya Perjalanan Angklung Padaeng tidak hanya mencatat sebuah perubahan dalam sejarah perkembangan musik bambu Indonesia, tetapi juga merepresentasikan sebuah gagasan besar mengenai bagaimana sebuah budaya dapat bertahan melalui proses inovasi. Keberhasilan Daeng Soetigna dalam mengembangkan angklung menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara tetap, melainkan dapat dilakukan melalui kreativitas yang tetap berakar pada nilai budaya asalnya. Daeng Soetigna meninggalkan warisan yang jauh lebih besar daripada sekadar sistem nada diatonis pada angklung. Warisan terpentingnya adalah cara berpikir bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Tradisi dapat menjadi sumber inspirasi bagi inovasi, sementara pengetahuan modern dapat menjadi sarana untuk memperluas kebermanfaatan sebuah warisan budaya. Pemikiran tersebut menjadi relevan dalam konteks perkembangan kebudayaan saat ini. Perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan globalisasi membawa tantangan baru bagi keberlangsungan seni tradisional. Banyak kesenian lokal menghadapi risiko kehilangan ruang hidup karena perubahan pola konsumsi budaya masyarakat. Dalam kondisi tersebut, inovasi menjadi salah satu strategi penting agar kesenian tradisional tetap memiliki makna bagi generasi baru. Keberlanjutan budaya tidak hanya bergantung pada upaya menjaga bentuk fisik suatu kesenian, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk mengembangkan fungsi, metode pewarisan, dan cara penyajiannya sesuai dengan perubahan zaman. Budaya yang mampu beradaptasi memiliki peluang lebih besar untuk terus hidup dalam masyarakat. 2.11.1 Inovasi sebagai Bentuk Pelestarian Budaya Salah satu pelajaran penting dari perjalanan Angklung Padaeng adalah bahwa inovasi bukan merupakan ancaman terhadap keaslian budaya. Sebaliknya, inovasi dapat menjadi bentuk pelestarian apabila dilakukan dengan memahami nilai dasar yang melekat pada sebuah tradisi. Dalam pengembangan angklung, Daeng Soetigna tidak mengubah seluruh karakter instrumen tersebut. Ia tetap mempertahankan unsur-unsur utama yang menjadi identitas angklung, seperti: • penggunaan bambu sebagai material utama; • teknik permainan dengan cara digoyangkan; • sistem permainan kelompok; • nilai kebersamaan dalam bermusik.

79 Perubahan yang dilakukan lebih diarahkan pada pengembangan kemampuan musikal, yaitu melalui penerapan sistem nada diatonis sehingga angklung mampu memainkan berbagai jenis repertoar musik. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui konsep transformasi kreatif, yaitu mempertahankan esensi budaya sambil memberikan ruang bagi perubahan bentuk dan fungsi. Transformasi budaya merupakan proses ketika suatu warisan budaya mengalami penyesuaian terhadap konteks baru tanpa kehilangan identitas utamanya. Proses ini memungkinkan budaya tetap relevan dan tidak terputus dari kehidupan masyarakat pendukungnya. 2.11.2 Filosofi Angklung: Harmoni dalam Keberagaman Selain aspek musikal, Angklung Padaeng memiliki nilai filosofis yang kuat. Cara memainkan angklung secara bersama-sama menggambarkan prinsip bahwa sebuah harmoni hanya dapat tercipta apabila setiap individu mampu menjalankan perannya dengan baik. Setiap pemain angklung memiliki tanggung jawab terhadap nada tertentu. Tidak ada pemain yang dapat menghasilkan keseluruhan lagu seorang diri. Keberhasilan sebuah pertunjukan bergantung pada kemampuan seluruh pemain untuk saling mendengarkan, menyesuaikan tempo, dan bekerja sama. Filosofi tersebut memiliki hubungan erat dengan nilai sosial masyarakat Indonesia, terutama konsep gotong royong. Dalam kehidupan sosial, keberagaman peran bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan ketika setiap individu mampu berkontribusi secara seimbang. Nilai kearifan lokal dalam budaya Indonesia sering kali tercermin melalui praktik seni yang mengandung pesan mengenai kebersamaan, keseimbangan, dan hubungan sosial. Seni tradisional tidak hanya menghasilkan karya estetis, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai kehidupan. Dalam konteks tersebut, angklung menjadi simbol bahwa perbedaan dapat menghasilkan harmoni. Nada yang berbeda-beda justru diperlukan untuk membentuk sebuah karya musik yang utuh. 2.11.3 Warisan Pendidikan Daeng Soetigna Salah satu aspek paling penting dalam pemikiran Daeng Soetigna adalah pandangannya terhadap hubungan antara musik dan pendidikan. Ia tidak hanya ingin menciptakan alat musik yang dapat dimainkan, tetapi menciptakan media pendidikan yang dapat membentuk manusia. Melalui angklung, Daeng Soetigna memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang menekankan pengalaman langsung. Peserta didik tidak hanya mempelajari teori musik, tetapi mengalami proses bekerja sama, mendengarkan, mengatur diri, dan menghargai kontribusi orang lain. Warisan pendidikan tersebut menjadikan angklung memiliki posisi unik dibandingkan instrumen musik lainnya. Angklung bukan hanya mengajarkan keterampilan musikal, tetapi juga mengajarkan nilai sosial. Nilai pendidikan tersebut semakin relevan dalam perkembangan pendidikan abad ke-21 yang menekankan kemampuan kolaborasi, kreativitas, komunikasi, dan karakter. Pembelajaran seni berbasis budaya lokal dapat menjadi pendekatan strategis untuk mengembangkan kompetensi abad ke-21 karena menggabungkan kreativitas dengan nilai sosial dan identitas budaya.

80 Dengan demikian, gagasan pendidikan Daeng Soetigna masih memiliki relevansi hingga saat ini. Angklung tetap dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang menghubungkan seni, budaya, dan pembentukan karakter. 2.11.4 Angklung Padaeng sebagai Model Inovasi Budaya Keberhasilan Angklung Padaeng memberikan pelajaran penting mengenai bagaimana sebuah budaya dapat berkembang melalui inovasi. Model inovasi yang dilakukan Daeng Soetigna dapat dipahami melalui beberapa tahapan: 1. Memahami akar budaya Sebelum melakukan perubahan, Daeng Soetigna memahami karakter dasar angklung tradisional. 2. Mengidentifikasi kebutuhan zaman Ia melihat bahwa perkembangan pendidikan dan musik modern membutuhkan instrumen yang lebih fleksibel. 3. Menggabungkan berbagai pengetahuan Pengetahuan budaya Sunda dipadukan dengan teori musik Barat dan pengalaman pendidikan. 4. Menghasilkan inovasi yang tetap beridentitas Angklung dikembangkan menjadi diatonis tanpa kehilangan karakter utamanya sebagai instrumen bambu. Model tersebut menunjukkan bahwa inovasi budaya tidak harus dilakukan dengan meninggalkan masa lalu. Sebaliknya, masa lalu dapat menjadi fondasi untuk menciptakan sesuatu yang baru. Menurut Rahman dan Kurniawan (2023), keberhasilan inovasi budaya sangat dipengaruhi oleh kemampuan pelaku budaya dalam menggabungkan nilai tradisi dengan kebutuhan masyarakat kontemporer. 2.11.5 Relevansi Pemikiran Daeng Soetigna di Era Digital Pada era digital, tantangan pelestarian budaya mengalami perubahan. Generasi muda semakin banyak berinteraksi dengan berbagai bentuk budaya global melalui teknologi informasi. Kondisi tersebut membuka peluang sekaligus tantangan bagi keberlangsungan seni tradisional. Dalam situasi tersebut, pemikiran Daeng Soetigna mengenai inovasi menjadi semakin relevan. Pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui penyimpanan arsip atau dokumentasi, tetapi harus menghadirkan pengalaman budaya yang menarik dan sesuai dengan karakter generasi masa kini. Angklung dapat dikembangkan melalui berbagai pendekatan modern, seperti: • pembelajaran berbasis teknologi digital; • dokumentasi audiovisual; • pertunjukan kreatif; • kolaborasi dengan musik modern; • pengembangan media pembelajaran interaktif. Namun, pengembangan tersebut tetap perlu menjaga nilai utama angklung sebagai budaya kebersamaan. Digitalisasi budaya dapat menjadi strategi efektif dalam memperluas akses

81 masyarakat terhadap warisan budaya selama tetap memperhatikan aspek autentisitas dan nilai budaya yang melekat. 2.11.6 Angklung Padaeng sebagai Warisan yang Terus Bergerak Perjalanan Angklung Padaeng menunjukkan bahwa sebuah budaya dapat bertahan bukan karena tidak mengalami perubahan, tetapi karena mampu beradaptasi terhadap perubahan. Daeng Soetigna telah menunjukkan bahwa inovasi budaya dapat dilakukan melalui pemahaman mendalam terhadap tradisi, penguasaan ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap pendidikan. Ia tidak sekadar menciptakan instrumen musik baru, tetapi membangun sebuah gagasan mengenai bagaimana budaya lokal dapat berkembang dan diterima dalam konteks yang lebih luas. Angklung Padaeng menjadi simbol bahwa tradisi bukan sesuatu yang berhenti pada masa lalu. Tradisi merupakan sumber kreativitas yang terus dapat dikembangkan sesuai kebutuhan zaman. Dari bambu sederhana yang tumbuh di lingkungan masyarakat Sunda, lahirlah sebuah instrumen yang mampu membangun harmoni, mengajarkan kerja sama, memperkuat identitas budaya, dan dikenal oleh masyarakat dunia. Warisan terbesar Daeng Soetigna bukan hanya suara angklung yang terdengar merdu, tetapi sebuah pesan bahwa keberagaman dapat menghasilkan harmoni ketika setiap unsur mampu bekerja bersama.

82 BAB III SISTEM MUSIK DAN TEKNIK MEMBACA PARTITUR ANGKLUNG PADAENG Musik merupakan bahasa universal yang menyampaikan gagasan, emosi, dan nilai-nilai budaya melalui susunan bunyi yang terorganisasi. Setiap tradisi musik memiliki sistem musikal yang berkembang sesuai dengan karakter budaya, fungsi sosial, dan perkembangan estetikanya. Dalam konteks Angklung Padaeng, sistem musikal tersebut diwujudkan melalui perpaduan antara prinsip-prinsip musik Barat khususnya sistem nada diatonis dengan karakter bunyi bambu yang menjadi identitas utama angklung. Perkembangan Angklung Padaeng yang dipelopori oleh Daeng Soetigna membawa perubahan mendasar terhadap cara masyarakat memandang dan memainkan angklung. Apabila sebelumnya angklung lebih banyak dimainkan menggunakan sistem laras tradisional Sunda, Angklung Padaeng dikembangkan menggunakan sistem tangga nada diatonis sehingga mampu memainkan berbagai repertoar musik nasional maupun internasional tanpa kehilangan karakter bunyi bambunya. Perkembangan tersebut menjadikan Angklung Padaeng sebagai salah satu bentuk inovasi musik Indonesia yang mampu menjembatani tradisi lokal dengan sistem musik modern. Sebagai sebuah ensambel besar, permainan Angklung Padaeng memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan permainan alat musik individual. Setiap pemain hanya memegang satu atau beberapa nada sehingga keberhasilan pertunjukan tidak ditentukan oleh kemampuan individu semata, melainkan oleh koordinasi seluruh pemain dalam membaca partitur, memahami aba-aba dirigen, serta menginterpretasikan karya musik secara bersama-sama. Oleh karena itu, kemampuan membaca partitur merupakan kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh setiap pemain angklung. Partitur dalam Angklung Padaeng tidak hanya berfungsi sebagai media penulisan notasi, tetapi juga menjadi sistem komunikasi musikal antara komponis, arranger, dirigen, dan pemain. Di dalamnya termuat berbagai informasi penting, seperti identitas lagu, tonalitas, tempo, struktur melodi, harmoni, ritme, dinamika, hingga pembagian peran setiap kelompok angklung. Seluruh unsur tersebut saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan sistem musikal yang utuh. Menurut Strauss (2002), sebuah karya musik dibangun oleh beberapa elemen dasar yang meliputi melodi (melody), harmoni (harmony), irama (rhythm), tempo (tempo), warna suara (timbre), dinamika (dynamics), dan bentuk (form) 1. Elemen-elemen tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi sehingga menghasilkan sebuah komposisi musik yang memiliki identitas artistik. Dalam praktik Angklung Padaeng, seluruh elemen tersebut diterapkan melalui teknik aransemen yang disesuaikan dengan karakteristik instrumen bambu serta sistem permainan ensambel. Bab ini membahas sistem musikal Angklung Padaeng secara komprehensif, dimulai dari pemahaman mengenai elemen-elemen dasar musik hingga sistem pembacaan partitur. Pembahasan tidak hanya menitikberatkan pada konsep teoritis, tetapi juga menjelaskan implementasi setiap konsep dalam praktik aransemen dan pertunjukan Angklung Padaeng. Dengan demikian, pembaca diharapkan tidak hanya mampu memahami teori musik secara konseptual, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam proses latihan maupun pertunjukan. 1 Joseph Straus, Elements of Music, 2002

83 3.2 Hakikat Bahasa Musik dalam Angklung Padaeng

84 Musik sering dipahami sebagai bahasa yang tidak menggunakan kata-kata, tetapi mampu menyampaikan gagasan, suasana, dan emosi melalui bunyi yang tersusun secara teratur. Berbeda dengan bahasa verbal yang menggunakan simbol linguistik, bahasa musik menggunakan nada, ritme, harmoni, tempo, dinamika, dan warna suara sebagai media komunikasi artistik. Oleh karena itu, pemahaman terhadap bahasa musik menjadi dasar utama bagi setiap musisi dalam membaca, menginterpretasikan, dan menyajikan sebuah karya musik. Dalam perspektif musikologi, bahasa musik merupakan sistem simbol yang digunakan untuk mengorganisasi bunyi menjadi suatu struktur yang memiliki makna musikal 2. Simbol-simbol tersebut diwujudkan melalui notasi, tanda ekspresi, tanda tempo, dinamika, artikulasi, dan berbagai petunjuk musikal lainnya yang telah disepakati secara internasional. Dengan memahami simbol-simbol tersebut, seorang pemain musik dapat menginterpretasikan gagasan musikal yang ingin disampaikan oleh pencipta lagu maupun arranger. Pada permainan Angklung Padaeng, konsep bahasa musik memiliki peranan yang lebih kompleks dibandingkan permainan instrumen solo. Hal ini disebabkan karena setiap pemain hanya memainkan sebagian kecil dari keseluruhan struktur musik. Sebuah melodi yang terdengar utuh merupakan hasil kolaborasi puluhan bahkan ratusan pemain yang memainkan nada secara bergantian sesuai dengan notasi yang telah ditentukan. Kondisi tersebut menjadikan partitur sebagai media komunikasi utama dalam permainan Angklung Padaeng. Setiap simbol yang terdapat dalam partitur memiliki fungsi tertentu, mulai dari menunjukkan nada yang harus dimainkan, panjang pendek bunyi, dinamika, tempo, hingga perubahan struktur lagu. Kesalahan dalam memahami satu simbol saja dapat memengaruhi keseluruhan sajian musik karena sistem permainan angklung menuntut ketepatan waktu (timing) dan koordinasi yang tinggi. Selain sebagai media komunikasi, bahasa musik dalam Angklung Padaeng juga menjadi dasar dalam proses pembelajaran. Pemahaman mengenai notasi angka, simbol akor, pembagian melodi, pola iringan, serta teknik membaca partitur akan mempermudah pemain dalam mempelajari repertoar baru secara lebih efektif. Dengan demikian, latihan tidak hanya bergantung pada metode imitasi atau hafalan, tetapi juga didasarkan pada kemampuan literasi musik yang baik. Secara praktis, bahasa musik dalam Angklung Padaeng dapat dipahami melalui tiga dimensi utama. Pertama, dimensi visual, yaitu kemampuan membaca berbagai simbol yang tertulis dalam partitur. Kedua, dimensi auditif, yaitu kemampuan membayangkan bunyi dari simbol yang dibaca sebelum dimainkan. Ketiga, dimensi kinestetik, yaitu kemampuan menerjemahkan simbol tersebut menjadi gerakan memainkan angklung secara tepat. Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi dan menjadi fondasi utama dalam membentuk kemampuan musikal seorang pemain angklung. Oleh karena itu, mempelajari bahasa musik bukan hanya mempelajari notasi, melainkan juga memahami bagaimana sebuah karya musik dibangun, diinterpretasikan, dan diwujudkan menjadi pertunjukan yang utuh. Pemahaman inilah yang menjadi landasan bagi pembahasan elemen- elemen dasar musik pada subbab berikutnya. 3.3 Elemen Dasar Musik dalam Angklung Padaeng Setiap karya musik, baik tradisional maupun modern, dibangun oleh seperangkat elemen dasar yang saling berhubungan. Elemen-elemen tersebut menjadi fondasi dalam proses penciptaan, aransemen, maupun penyajian musik. Keseluruhan elemen tersebut hadir pula dalam sistem 2 T Lazutina and N Lazutin, “The Language of Music as a Specific Semiotic Structure,” Asian Social Science, 11, 2015

85 permainan Angklung Padaeng dengan karakteristik yang disesuaikan dengan sifat akustik instrumen bambu. Dalam praktik permainan Angklung Padaeng, elemen-elemen musik tersebut tidak dipelajari secara terpisah, tetapi dipahami sebagai satu kesatuan yang membentuk struktur musikal. Melodi memberikan identitas lagu, harmoni membangun kekayaan bunyi, irama mengatur aliran waktu, tempo menentukan kecepatan penyajian, timbre membentuk karakter bunyi angklung, sedangkan dinamika memberikan ekspresi sehingga musik terdengar hidup dan komunikatif. Pemahaman terhadap setiap elemen dasar tersebut sangat penting karena akan menentukan kualitas interpretasi seorang pemain maupun arranger dalam menyusun dan menyajikan sebuah karya musik. Oleh sebab itu, pembahasan pada bagian berikut akan menguraikan masing-masing elemen secara lebih rinci dengan menitikberatkan pada penerapannya dalam sistem permainan Angklung Padaeng. 3.4 Melodi (Melody): Garis Musikal dalam Angklung Padaeng 3.4.1 Pengertian Melodi Melodi merupakan elemen paling mendasar dalam sebuah karya musik karena menjadi media utama penyampaian gagasan musikal. Ketika seseorang mengenali sebuah lagu, unsur yang pertama kali diingat umumnya adalah rangkaian nadanya, yaitu melodi. Oleh karena itu, melodi sering disebut sebagai identitas utama suatu komposisi musik. Secara etimologis, istilah melody berasal dari bahasa Yunani melōidia, yang berarti nyanyian atau susunan nada yang dinyanyikan. Dalam kajian musik Barat, melodi dipahami sebagai rangkaian nada yang tersusun secara berurutan berdasarkan tinggi-rendah nada (pitch) dan panjang-pendek bunyi (duration) sehingga membentuk satu kesatuan musikal yang bermakna 3. Soeharto (1995) mendefinisikan melodi sebagai rangkaian sejumlah nada yang dipersepsi berdasarkan perbedaan tinggi-rendah bunyi sehingga membentuk suatu ungkapan musikal, baik berupa kalimat yang utuh maupun hanya sebagian frasa lagu 4. Definisi tersebut menunjukkan bahwa melodi bukan sekadar kumpulan nada, melainkan suatu susunan yang memiliki arah, struktur, dan tujuan musikal. Pandangan serupa dikemukakan oleh Anca Preda (2021), yang menyatakan bahwa melodi merupakan organisasi nada-nada yang membentuk pola musikal sehingga mampu menciptakan identitas sebuah komposisi. Dengan demikian, keindahan sebuah lagu sangat ditentukan oleh kualitas pembentukan melodinya 5. Dalam praktik penciptaan musik, melodi tidak hanya berfungsi sebagai rangkaian nada yang indah, tetapi juga sebagai media komunikasi emosional antara komponis dan pendengar. Melalui melodi, seorang pencipta lagu dapat menyampaikan suasana gembira, sedih, heroik, religius, ataupun romantis tanpa harus menggunakan kata-kata. Oleh karena itu, setiap komposer biasanya memiliki karakteristik melodi yang menjadi ciri khas karya-karyanya. 3.4.2 Melodi dalam Perspektif Angklung Padaeng Konsep melodi dalam Angklung Padaeng memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan permainan instrumen solo seperti piano, biola, atau suling. Pada instrumen solo, seluruh rangkaian melodi dimainkan oleh seorang pemain. Sebaliknya, pada permainan Angklung 3 Gino Stefani, “Melody: A Popular Perspective,” Popular Music, 6, 1987 4 M. Soeharto, Kamus Musik, II ed., Jakarta: Grasindo, 1995 5 Anca Preda, The Concept of Melody. A Structural point of view, 13, 2021

86 Padaeng, satu garis melodi dibangun melalui kerja sama sejumlah pemain yang masing-masing hanya memainkan satu atau beberapa nada sesuai pembagian partitur. Dengan demikian, sebuah melodi yang terdengar utuh pada pertunjukan Angklung Padaeng sebenarnya merupakan hasil koordinasi kolektif seluruh anggota ansambel. Setiap pemain memiliki tanggung jawab terhadap nada yang dipegangnya, sehingga ketepatan waktu, konsentrasi, serta kemampuan membaca partitur menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan penyajian lagu. Karakteristik tersebut menjadikan Angklung Padaeng sebagai bentuk musik kolektif (collective performance), di mana keberhasilan musikal tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi oleh keselarasan seluruh pemain dalam menerjemahkan partitur secara bersama-sama. Ibu Kita Kartini Cipt. W.R. Supratman Do = C = Angklung Nomor 6 = 1 Arr.Angklung : Bye’s Saprudin Melodi lagu utama 1 j .j 2 3 4 5 j .j 3 1 . 6 j .j ! 7 6 5 . . . I bu ki ta Kar ti ni pu tri se ja ti Melodi hiasan q . t . e . j qj w j ej t r j .j y t r e . . . Dalam konteks ini, melodi dapat dipahami sebagai garis musikal (musical line) yang dibangun melalui kesinambungan nada dari awal hingga akhir lagu. Garis musikal tersebut menjadi fondasi utama yang kemudian diperkaya oleh unsur harmoni, ritme, bass, dan ornamentasi sehingga menghasilkan sajian musik yang utuh. 3.4.3 Fungsi Melodi dalam Aransemen Angklung Dalam penyusunan aransemen Angklung Padaeng, melodi memiliki beberapa fungsi utama. a. melodi berfungsi sebagai identitas lagu. Sebuah lagu dikenali oleh pendengar melalui susunan melodinya. Meskipun tempo, iringan, maupun instrumen diubah, selama struktur melodinya tetap dipertahankan maka identitas lagu tersebut masih dapat dikenali. b. melodi menjadi dasar pembentukan harmoni. Arranger menyusun akor, bass, dan ornamentasi berdasarkan arah gerak melodi utama. Oleh karena itu, kualitas harmonisasi sangat dipengaruhi oleh karakter melodi yang digunakan. c. melodi menjadi pedoman interpretasi musikal. Karakter lagu, baik yang bersifat lembut, heroik, ceria, maupun khidmat, dapat dipahami melalui kontur melodinya. Pemahaman tersebut menjadi dasar bagi dirigen maupun pemain dalam menentukan dinamika, tempo, dan ekspresi pertunjukan. d. melodi berfungsi sebagai pusat koordinasi ansambel. Seluruh bagian musik, baik harmoni, bass, maupun pola iringan, pada dasarnya mendukung keberadaan melodi utama sehingga keseluruhan penyajian terdengar seimbang. 3.4.4 Jenis Melodi dalam Angklung Padaeng Melodi merupakan fondasi utama dalam setiap karya musik karena berfungsi sebagai pembawa identitas, gagasan, dan ekspresi musikal. Dalam Angklung Padaeng, melodi memiliki karakteristik khusus karena dibangun secara kolektif oleh sejumlah pemain melalui sistem pembagian nada yang terstruktur. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap konsep melodi tidak hanya mencakup

87 kemampuan mengenali rangkaian nada, tetapi juga kemampuan memahami hubungan antara melodi utama, ornamentasi, counter melody, dan bass dalam sebuah aransemen. Penguasaan konsep tersebut menjadi dasar bagi pembentukan harmoni, ritme, serta elemen-elemen musikal lain yang akan dibahas pada subbab berikutnya Dalam praktik aransemen Angklung Padaeng, melodi tidak hanya terdiri atas satu garis lagu. Untuk menghasilkan sajian musik yang kaya dan menarik, arranger umumnya membagi melodi ke dalam beberapa lapisan (layer) yang memiliki fungsi berbeda. a. Melodi Utama (Main Melody) Dalam partitur Angklung Padaeng, melodi utama umumnya ditempatkan pada baris paling atas sehingga mudah dikenali oleh seluruh pemain. Di bawahnya dapat ditambahkan ornamentasi, harmoni, bass, maupun pola iringan yang disusun secara berlapis (multi-layer arrangement). Melodi utama merupakan garis lagu pokok yang menjadi identitas sebuah komposisi. Melodi inilah yang biasanya dikenal dan dimainkan atau dinyanyikan oleh manusia (masyarakat). Dalam pertunjukan Angklung Padaeng, melodi utama dapat dimainkan oleh kelompok angklung melodi atau dialihkan kepada penyanyi maupun instrumen melodis lain sesuai kebutuhan aransemen. Apabila melodi utama dimainkan secara jelas dan proporsional, pendengar akan lebih mudah mengenali lagu yang dibawakan meskipun iringan dan harmonisasinya mengalami variasi. AMBILKAN BULAN BU Cipt. Ibu Sud Do = C, Angklung No. 6, 4/4 j 0j 3 j 2j 1 j 3j 3 3 j 0j 3 j 2j 1 j 4j 4 4 j 0j 4 j 3j 2 j 3j 5 5 j 4zjj j c 3 z j 2cj 1 2 dst. Am bil kan bulan Bu Ambil kan bulan Bu yang ‘slalu bersi nar di la ngit b. Melodi Ornamentasi (Ornamental Melody) Melodi ornamentasi adalah rangkaian nada yang berfungsi memperindah melodi utama tanpa mengubah identitas atau karakter dasar lagu. Ornamentasi dapat berupa nada penghubung (passing tone), nada tetangga (neighbor tone), pengisian ritmis, maupun variasi melodis yang tetap mengikuti arah dan struktur melodi utama. Kehadiran melodi ornamentasi memberikan nilai estetis, memperhalus alur musikal, serta mengisi ruang-ruang kosong antarfra se sehingga penyajian musik terdengar lebih hidup dan ekspresif. Melodi ornamentasi bergerak mengikuti arah melodi utama tanpa menghilangkan identitas lagu. Hubungan keduanya membentuk tekstur musikal yang lebih kaya, namun tetap mempertahankan kejelasan garis melodi pokok Dalam aransemen Angklung Padaeng, melodi ornamentasi umumnya berperan sebagai unsur pendukung (supporting line). Oleh karena itu, penyusunannya harus mempertimbangkan wilayah nada (ambitus), register, kepadatan ritmis, serta dinamika agar tidak menutupi atau mengaburkan melodi utama. Penempatan ornamentasi yang tepat akan memperkaya tekstur musikal sekaligus mempertahankan kejelasan garis melodi pokok. Melodi Utama

88 AMBILKAN BULAN BU Cipt. Ibu Sud Do = C, Angklung No. 6, 4/4 j 0j 3 j 2j 1 j 3j 3 3 j 0j 3 j 2j 1 j 4j 4 4 j 0j 4 j 3j 2 j 3j 5 5 j 4zjj j c 3 z j 2cj 1 2 dst. 0 0 j !j @ j #j @ ! . j @j # j $j # @ . j !j @ # j @j j ! j 7j 6 5 c. Melodi Harmonis (Counter Melody) Counter melody adalah garis melodi kedua yang disusun untuk berjalan bersamaan dengan melodi utama. Berbeda dengan melodi ornamentasi yang berfungsi sebagai penghias, counter melody memiliki peran struktural dalam membangun harmoni dan menciptakan tekstur musikal yang lebih kaya. Garis melodi ini dikembangkan sebagai ide melodis yang mandiri, tetapi tetap memiliki keterkaitan secara harmonis dengan melodi utama. Dalam aransemen Angklung Padaeng, counter melody dapat disusun menggunakan berbagai teknik, seperti gerak paralel pada interval tertentu, kontrapung (counterpoint) yang menghadirkan dua atau lebih garis melodi independen namun saling melengkapi, maupun teknik kanon (canon), yaitu pengulangan atau peniruan melodi utama oleh suara lain dengan jeda waktu tertentu. Pemilihan teknik tersebut disesuaikan dengan karakter lagu, bentuk aransemen, dan efek musikal yang ingin dicapai. Agar fungsi counter melody tetap efektif, penyusunannya perlu memperhatikan keseimbangan register, arah gerak melodi, ritme, dan hubungan harmonis dengan melodi utama sehingga kedua garis melodi dapat terdengar jelas tanpa saling mendominasi. AMBILKAN BULAN BU Cipt. Ibu Sud Do = C, Angklung No. 6, 4/4 j 0j 3 j 2j 1 j 3j 3 3 j 0j 3 j 2j 1 j 4j 4 4 j 0j 4 j 3j 2 j 3j 5 5 j 4zjj j c 3 z j 2cj 1 2 dst. j 0j 1 j uj y j tj t t j 0j 1 j uj t j yj y y j 0j y j tj u j 1j u j yj t j yj j t j rj e t d. Melodi Bass Melodi bass merupakan garis melodi yang dimainkan oleh kelompok angklung bass atau angklung besar sebagai landasan harmoni sekaligus penopang struktur musikal. Selain menegaskan progresi akor, melodi bass berfungsi memberikan kestabilan ritmis, mengarahkan pergerakan harmoni, serta menciptakan keseimbangan sonoritas dalam keseluruhan aransemen. Meskipun sering dibangun dari nada-nada dasar akor, penyusunan melodi bass tidak selalu bersifat statis. Gerak bass dapat dikembangkan secara melodis melalui langkah nada (stepwise motion), lompatan interval (skip), maupun pola-pola ritmis tertentu yang mengikuti arah progresi harmoni. Dengan demikian, melodi bass tidak hanya berfungsi sebagai fondasi harmoni, tetapi juga membentuk garis melodi yang memiliki nilai musikal tersendiri serta berinteraksi dengan melodi utama dan bagian-bagian pendukung lainnya. Melodi Ornamentasi Melodi Harmonis

89 AMBILKAN BULAN BU Cipt. Ibu Sud Do = C, Angklung No. 6, 4/4 j 0j 3 j 2j 1 j 3j 3 3 j 0j 3 j 2j 1 j 4j 4 4 j 0j 4 j 3j 2 j 3j 5 5 j 4zjj j c 3 z j 2cj 1 2 dst. 0 0 q e t j rj e w r y j tj r j ej r j tj 1 j yj j t j rj e t Dalam perspektif musik Barat, fungsi melodi bass ini memiliki kemiripan dengan konsep figured bass (basso continuo) yang berkembang pada periode Barok, khususnya dalam karya-karya Johann Sebastian Bach. Pada sistem tersebut, garis bass menjadi dasar pembentukan harmoni, sementara suara-suara lainnya dibangun di atasnya sesuai dengan progresi akor yang diimplikasikan. Meskipun dalam aransemen Angklung Padaeng umumnya tidak digunakan angka-angka (figures) sebagaimana pada praktik figured bass Barok, prinsip musikalnya tetap sejalan, yaitu menjadikan garis bass sebagai acuan dalam membangun struktur harmoni dan menjaga kesinambungan gerak musikal. Oleh karena itu, penyusunan melodi bass memerlukan perhatian terhadap arah gerak nada, hubungan antarakor, serta keseimbangan dengan seluruh bagian ansambel agar tercipta harmoni yang kokoh dan menyatu. 3.4.5 Penyusunan Melodi dalam Aransemen Angklung Penyusunan melodi pada Angklung Padaeng tidak hanya mempertimbangkan keindahan musikal, tetapi juga aspek teknis permainan angklung. Seorang arranger harus memahami karakteristik setiap jenis angklung, wilayah nada masing-masing instrumen, kemampuan pemain, serta keseimbangan bunyi dalam sebuah ansambel. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam menyusun melodi antara lain: 1. Melodi harus memiliki arah yang jelas sehingga mudah diikuti oleh pendengar. 2. Kontur melodi disesuaikan dengan karakter lagu. 3. Ambitus disesuaikan dengan jangkauan nada angklung yang tersedia. 4. Ornamentasi tidak boleh menutupi kejelasan melodi utama. 5. Pembagian nada antar pemain harus mempertimbangkan efisiensi perpindahan angklung. 6. Setiap frase melodi harus memiliki hubungan logis dengan frase berikutnya sehingga membentuk kesatuan musikal yang utuh. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip tersebut, aransemen Angklung Padaeng tidak hanya menghasilkan sajian musik yang indah, tetapi juga mudah dimainkan serta efektif dalam proses latihan. 3.5 Harmoni (Harmony): Ruang Musikal dalam Aransemen Angklung Padaeng 3.5.1 Pengertian Harmoni Setelah melodi membentuk garis musikal (musical line) secara horizontal, unsur berikutnya yang membangun keutuhan sebuah karya musik adalah harmoni. Jika melodi merupakan rangkaian nada yang bergerak dari waktu ke waktu, maka harmoni merupakan perpaduan beberapa nada yang dibunyikan secara bersamaan sehingga menghasilkan warna bunyi tertentu. Dengan Melodi Bass

90 demikian, harmoni memberikan dimensi ruang (musical space) yang memperkaya kualitas estetika sebuah komposisi. Dalam kajian teori musik, harmoni diartikan sebagai hubungan antar nada yang terdengar secara simultan dan membentuk keselarasan bunyi. Natalia (2024) menjelaskan bahwa harmoni merupakan aspek vertikal musik yang tersusun melalui kombinasi dua nada atau lebih yang dibunyikan secara bersamaan sehingga membentuk suatu kesatuan musikal yang disebut akor (chord). Harmoni memberikan kedalaman emosional, mempertegas arah melodi, serta membangun karakter sebuah karya musik 6. Anca Preda (2022) menambahkan bahwa harmoni tidak hanya berkaitan dengan pembentukan akor, tetapi juga mencakup hubungan antarprogresi akor yang menghasilkan rasa ketegangan (tension) dan penyelesaian (resolution). Pergerakan tersebut menjadi salah satu faktor utama yang membentuk dinamika musikal dan memberikan arah bagi perkembangan sebuah komposisi 7. Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, harmoni dalam konteks Angklung Padaeng dapat dipahami sebagai sistem pengorganisasian beberapa nada yang dimainkan secara bersamaan atau berurutan untuk mendukung melodi utama sehingga tercipta keseimbangan, kedalaman, dan kekayaan warna bunyi dalam sebuah aransemen. Harmoni sebagai keselarasan bunyi yang terbentuk dari dua nada atau lebih yang dibunyikan secara bersamaan. Keselarasan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah nada, tetapi juga oleh hubungan interval, fungsi tonal, dan konteks musikal tempat akor tersebut digunakan 3.5.2 Fungsi Harmoni dalam Musik Angklung Padaeng Dalam permainan Angklung Padaeng, harmoni tidak sekadar menjadi pelengkap melodi, melainkan merupakan fondasi utama yang menentukan karakter musikal sebuah aransemen. Keberadaan harmoni memungkinkan lagu terdengar lebih hidup, penuh, dan memiliki arah musikal yang jelas. Secara umum, harmoni dalam Angklung Padaeng memiliki beberapa fungsi pokok. a. harmoni berfungsi sebagai landasan tonal yang menopang melodi utama. Melodi memperoleh konteks musikal melalui akor-akor yang mengiringinya sehingga pendengar dapat merasakan nuansa mayor, minor, maupun warna harmoni lainnya. b. harmoni memperkaya tekstur musik (musical texture). Sebuah melodi yang dimainkan tanpa harmoni akan terdengar sederhana, sedangkan penambahan harmoni menghasilkan lapisan bunyi yang lebih kompleks dan menarik. c. harmoni membentuk arah emosional sebuah lagu. Perubahan progresi akor mampu menciptakan kesan bahagia, sedih, tegang, heroik, maupun kontemplatif sesuai dengan karakter komposisi. d. harmoni menjadi dasar penyusunan bagian-bagian lain dalam aransemen, seperti ornamentasi, kontra melodi (counter melody), bass, dan pola iringan (accompaniment pattern). 6 Natalia Gulyanitskaya, “What is ‘harmony’?,” Ученые записки Российской академии музыки имени Гнесиных, 2024 7 Anca Preda Uliță, “The Concept of Harmony. A Structural Perspective,” Bulletin of the Transilvania University of Braşov. Series VIII:Performing Arts, 2022

91 Dengan demikian, keberhasilan sebuah aransemen Angklung Padaeng tidak hanya ditentukan oleh kualitas melodinya, tetapi juga oleh ketepatan penyusunan harmoni yang mendukung keseluruhan struktur musik. 3.5.3 Harmoni Vertikal dalam Angklung Padaeng Bentuk harmoni yang paling umum digunakan dalam Angklung Padaeng adalah harmoni vertikal, yaitu beberapa nada yang dibunyikan secara bersamaan sehingga membentuk sebuah akor. Dalam teori musik tonal, akor dasar umumnya tersusun atas tiga nada (triad), yaitu nada dasar (root), terts (third), dan kuint (fifth). Sebagai contoh, akor C mayor terdiri atas nada C–E–G atau dalam notasi angka dituliskan sebagai 1–3–5. Pada permainan Angklung Padaeng, ketiga nada tersebut dimainkan oleh kelompok pemain yang berbeda, namun dibunyikan secara serentak sehingga menghasilkan kesatuan bunyi yang utuh. Inilah salah satu karakteristik unik Angklung Padaeng, yaitu pembentukan akor dilakukan melalui kerja sama sejumlah pemain, bukan oleh satu orang seperti pada piano atau gitar. Sebagai ilustrasi, pada lagu Ibu Kita Kartini, progresi akor C–F–G–C menjadi dasar harmonisasi yang menopang seluruh perjalanan melodi. Setiap perubahan akor memberikan nuansa musikal yang berbeda sekaligus memperjelas arah frase lagu. Ibu Kita Kartini Cipt. W.R. Supratman Do = C = Angklung Nomor 6 = 1, 4/4 Arr.Angklung : Bye’s Saprudin Akord C F G7 C Melodi lagu utama 1 j .j 2 3 4 5 j .j 3 1 . 6 j .j ! 7 6 5 . . . Harmoni Akord t . . . t . . . 1 . 2 4 3 . . . e . . . e . . . y . u . 1 . . . q . . . q . . . r . t . q . . . Melalui contoh tersebut dapat diamati bahwa harmoni tidak mengubah melodi utama, melainkan memperkuat karakter musikalnya sehingga terdengar lebih penuh dan ekspresif. 3.5.4 Harmoni Horizontal (Arpegio) Selain diwujudkan melalui akor yang dibunyikan secara serempak (block chord), harmoni juga dapat dibentuk melalui teknik arpeggio. Arpeggio merupakan teknik memainkan nada-nada penyusun suatu akor secara berurutan, baik dari nada rendah ke tinggi (ascending), dari tinggi ke rendah (descending), maupun dengan pola tertentu. Meskipun nada-nada tersebut tidak berbunyi secara simultan, pendengar tetap menangkap kesan harmoni karena setiap nada merupakan bagian dari struktur akor yang sama.

92 Dalam konteks aransemen, arpeggio tidak hanya berfungsi sebagai variasi penyajian harmoni, tetapi juga membentuk garis melodi yang menghubungkan perubahan akor secara lebih halus (voice leading). Teknik ini mampu menghasilkan tekstur yang lebih dinamis, memberikan kontinuitas gerak musikal, serta menghindari kesan harmoni yang statis. Pada aransemen Angklung Padaeng, pola arpeggio sering dimanfaatkan sebagai pengiring (accompaniment pattern) maupun sebagai pengisi ruang antarfra se, sehingga harmoni tetap terasa jelas tanpa harus selalu diwujudkan melalui pembunyian akor secara bersamaan. Dalam aransemen Angklung Padaeng, teknik arpegio banyak digunakan untuk mengisi ruang musikal, memperkaya tekstur bunyi, memberikan variasi ritmis serta dapat menjadi sebuah melodi ornamentasi. Teknik ini sangat efektif diterapkan pada lagu-lagu yang membutuhkan kesan lembut, mengalir, atau romantis. Do = C, 3/4 Akor C Mayor Melodi Lagu t 1 . . 0 2 3 5 . . Harmoni Arpegio q e t q e t q e t 3.5.5 Harmonisasi Paralel Melodi (Parallel Harmony) Selain harmoni akor dan arpegio, dalam Angklung Padaeng juga dikenal harmonisasi paralel melodi, yaitu pembentukan garis melodi kedua yang bergerak sejajar dengan melodi utama. Teknik ini sering disebut sebagai parallel harmony, yaitu dua garis melodi yang bergerak secara bersamaan dengan interval tertentu, misalnya interval terts atau sekst. Fungsi harmonisasi melodi bukan untuk menggantikan melodi utama, melainkan memperkaya warna musikal tanpa menghilangkan identitas lagu. Pada lagu-lagu bertempo sedang maupun lambat, harmonisasi paralel mampu menghasilkan kesan yang lebih luas, hangat, dan emosional. SOMEWHERE MY LOVE Ots. Film The Good Father Do = D = Angklung No. 8, 12/8 Arr. Angklung: Daeng Soetigna Melodi lagu j 3j j .j . j 5j j j .j / @ j #z j x j .x j x .c j #j j .j . j 7j j @j ! j 5j j .j / 4 j 4zj x j .xj x .c j 4j j .. Harmoni j tj j .j . j 1j j .j u j 1z j x j .x j x .c j 1j j .j . j 3j j 5j 4 j 3j j .j / 2 j 2zj x j .xj x .c j 2j j .. Paralel

93 Dalam penyusunan harmonisasi, arranger perlu memperhatikan beberapa prinsip, antara lain: • tidak menutupi kejelasan melodi utama; • menghindari benturan interval yang tidak diinginkan; • menjaga keseimbangan register suara; • mempertahankan fungsi tonal setiap akor. 3.5.6 Harmoni sebagai Instrumen Akompanyemen Karakteristik lain Angklung Padaeng adalah penggunaan angklung akompanyemen, yaitu seperangkat unit angklung yang dirancang khusus untuk memainkan akor sebagai pengiring dan di setiap angklung sudah diberi label huruf kapital sebagai nama akor dimaksud. Instrument akompanyemen ini terdiri dari unit, satu unit dengan jenis tabung yang besar sebagai akompanyemen dasar akord, dan satu unit dengan tabuh lebih kecil sebagai ko-akompanyemen, untuk memberikan penegasan terhadap syle/ irama musik yang dimainkan. Umumnya instrument ini diletakan pada sebuah rak atau standar khusus untuk digantungkan sesuai dengan kebutuhan tinggi rendahnya pemain, sehingga pemain tidak memegang tetapi langsung memainkannya. Berbeda dengan angklung melodi yang hanya menghasilkan satu nada, angklung akompanyemen terdiri atas tiga hingga empat tabung bambu yang membentuk satu akor ketika digetarkan. Oleh karena itu, pemain cukup membaca simbol akor dengan huruf kapital tanpa harus membaca notasi angka, seperti:

94 AMBILKAN BULAN BU Cipt. Ibu Sud Do = C, Angklung No. 6, 4/4 C F C j 0j 3 j 2j 1 j 3j 3 3 j 0j 3 j 2j 1 j 4j 4 4 j 0j 4 j 3j 2 j 3j 5 5 j 4j 3 j 2j 1 2 Sistem ini memudahkan proses latihan sekaligus memungkinkan penyajian musik berlangsung lebih efisien. Dalam partitur, simbol akor biasanya ditempatkan di atas melodi utama sehingga mudah dibaca oleh pemain akompanyemen. Teknik memainkan akompanyemen dapat disesuaikan dengan karakter lagu, misalnya: • bunyi getar (legato); • bunyi pendek (staccato); • sentakan (accent); • pola ritmis tertentu sesuai gaya musik. Keberadaan angklung akompanyemen menjadi salah satu inovasi penting dalam sistem Angklung Padaeng karena memungkinkan pembentukan harmoni yang lebih kaya tanpa mengurangi efisiensi permainan ansambel. Namun, dalam perkembangannya sampai saat ini, penggunaan angklung akompanyemen terkadang diganti dengan Carumba (calung arumba, semacam gambang yang sring digunakan untuk permainan musik arumba) 3.5.7 Prinsip Penyusunan Harmoni dalam Aransemen Angklung Penyusunan harmoni dalam Angklung Padaeng memerlukan pemahaman yang baik terhadap teori musik sekaligus karakteristik instrumen bambu. Seorang arranger perlu mempertimbangkan beberapa aspek berikut. 1. Progresi atau perjalanan kesesuaian akor harus mendukung arah melodi. 2. Distribusi nada pada setiap kelompok angklung harus seimbang. 3. Hindari penumpukan suara pada register yang sama. 4. Perhatikan karakter lagu ketika memilih jenis akor. 5. Gunakan variasi harmoni secara proporsional agar tidak mengaburkan melodi utama. 6. Harmoni harus mendukung ekspresi lagu, bukan sekadar memenuhi ruang bunyi. Dengan memperhatikan prinsip-prinsip tersebut, aransemen Angklung Padaeng akan menghasilkan keseimbangan antara melodi, harmoni, bass, dan ritme sehingga penyajian musik menjadi lebih komunikatif. Harmoni merupakan elemen musikal yang memberikan dimensi ruang pada sebuah komposisi melalui hubungan beberapa nada yang dimainkan secara bersamaan maupun berurutan. Dalam Angklung Padaeng, harmoni diwujudkan melalui berbagai bentuk, antara lain akor vertikal, arpegio (melodi horizontal), harmonisasi paralel, serta permainan angklung akompanyemen atau pengiring. Seluruh bentuk tersebut disusun untuk mendukung melodi utama, memperkaya tekstur musikal, dan memperkuat ekspresi artistik sebuah karya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai konsep harmoni menjadi salah satu kompetensi penting bagi arranger, dirigen, maupun pemain Angklung Padaeng dalam menghasilkan pertunjukan yang utuh dan berkualitas.

95 3.6 Rhythm (Irama): Dimensi Waktu dalam Permainan Angklung Padaeng 3.6.1 Pengertian Rhythm (Irama) Setiap karya musik tidak hanya dibangun oleh susunan tinggi-rendah nada (melodi) dan perpaduan bunyi secara vertikal (harmoni), tetapi juga oleh pengaturan waktu yang memberikan kehidupan pada musik. Unsur tersebut dikenal sebagai rhythm atau irama. Tanpa irama, rangkaian nada hanya menjadi bunyi yang tidak memiliki arah, keseimbangan, maupun keteraturan. Oleh karena itu, irama merupakan salah satu elemen fundamental yang menentukan bagaimana musik bergerak dan dirasakan oleh pendengar. Secara etimologis, istilah rhythm berasal dari bahasa Yunani rhythmos yang berarti aliran yang teratur (flow). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa irama bukan sekadar hitungan matematis, melainkan suatu pola gerak bunyi yang berlangsung secara teratur dalam dimensi waktu 8. Soeharto (1995) mendefinisikan irama sebagai gerak bunyi yang tersusun secara teratur akibat munculnya aksen pada interval waktu tertentu. Keindahan irama terbentuk melalui variasi panjang-pendek bunyi, penempatan tekanan (accent), serta keteraturan denyut (pulse) yang menjadi dasar berlangsungnya sebuah komposisi musik 9. Rhythm merupakan hasil interaksi antara durasi nada, pola aksen, ketukan (beat), dan meter (meter) yang bersama-sama membentuk struktur temporal sebuah karya musik. Dengan kata lain, rhythm merupakan organisasi waktu dalam musik yang menentukan bagaimana suatu komposisi bergerak dari awal hingga akhir 10. Berdasarkan berbagai pengertian tersebut, irama dalam konteks Angklung Padaeng dapat dipahami sebagai pola keteraturan bunyi yang mengatur hubungan waktu antara setiap nada sehingga seluruh pemain mampu memainkan musik secara serempak, terukur, dan selaras. 3.6.2 Unsur-unsur Pembentuk Rhythm Irama tersusun atas beberapa unsur yang saling berkaitan. Pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut sangat penting bagi setiap pemain Angklung Padaeng karena menjadi dasar dalam membaca partitur maupun mengikuti arahan dirigen. Dalam musik angklung Padaeng Rhythm dibentuk oleh Bass (string contrabass) dan Akompanyemen. Selain itu kedua alat ini juga membentuk dan menjaga tempo musik. a. Pulsa (Pulse) Pulsa merupakan denyut dasar yang berlangsung secara konstan sepanjang lagu. Pulsa dapat dianalogikan seperti detak jantung manusia yang terus berdetak secara teratur tanpa dipengaruhi variasi melodi maupun dinamika. Dalam latihan angklung, pulsa sering dijadikan acuan utama agar seluruh pemain memiliki persepsi waktu yang sama. b. Beat (Ketukan) Beat adalah satuan waktu yang digunakan untuk menghitung jalannya musik. Ketukan menjadi dasar dalam menentukan panjang-pendek nada, pembagian birama, maupun koordinasi antar pemain. 8 A Śliwiński, The Concept of Rhythm, 2020 9 Soeharto, op. cit. 10 John Bispham, “Rhythm in Music: What is it? Who has it? And Why?,” Music Perception, 24, 2006

96 Pada praktiknya, pemain angklung biasanya menghitung: 1 – 2 – 3 – 4 atau 1 – 2 – 3 sesuai tanda birama lagu. c. Aksen (Accent) Aksen merupakan tekanan yang diberikan pada ketukan tertentu sehingga membentuk karakter irama. Sebagai contoh: Birama 4/4 KUAT – lemah – sedang – lemah Birama 3/4 KUAT – lemah – lemah Pola tekanan tersebut akan menentukan karakter musik yang dimainkan. d. Meter (Birama) Meter adalah pengelompokan ketukan ke dalam satuan-satuan yang berulang secara teratur. Melalui meter, pemain mengetahui jumlah ketukan dalam setiap ruas birama sehingga koordinasi permainan menjadi lebih mudah dilakukan. 3.6.3 Rhythm sebagai Jantung Permainan Angklung Dalam permainan Angklung Padaeng, irama memiliki kedudukan yang sangat penting karena menjadi dasar koordinasi seluruh pemain. Berbeda dengan permainan alat musik solo, ansambel angklung melibatkan puluhan bahkan ratusan pemain yang harus membunyikan angklung pada waktu yang sama sesuai dengan partitur. Oleh karena itu, sedikit saja perbedaan persepsi terhadap irama akan menyebabkan ketidaksinkronan permainan sehingga kualitas musikal menjadi menurun. Dalam konteks ini, rhythm dapat diibaratkan sebagai denyut jantung sebuah pertunjukan. Selama denyut tersebut berjalan secara stabil, seluruh elemen musik dapat berkembang dengan baik. Sebaliknya, apabila irama terganggu, maka melodi, harmoni, maupun dinamika akan kehilangan keseimbangannya. 3.6.4 Peran Dirigen dalam Menjaga Rhythm Keberhasilan permainan Angklung Padaeng tidak hanya bergantung pada kemampuan membaca partitur, tetapi juga pada kemampuan seluruh pemain mengikuti arahan dirigen. Dirigen bertugas menjaga beberapa aspek berikut: • kestabilan tempo; • ketepatan ketukan; • perubahan dinamika; • pergantian bagian lagu; • koordinasi seluruh kelompok instrumen. Melalui gerakan tangan, dirigen memberikan informasi visual mengenai ketukan, aksen, perubahan tempo, hingga akhir lagu. Oleh sebab itu, setiap pemain harus mampu membaca gerak dirigen bersamaan dengan membaca partitur. Dalam praktik latihan, kemampuan mengikuti dirigen merupakan bagian penting dari pembentukan disiplin musikal.

97 3.6.5 Rhythm dalam Aransemen Angklung Padaeng Pada aransemen Angklung Padaeng, irama tidak hanya dibentuk oleh satu instrumen, tetapi merupakan hasil kolaborasi beberapa kelompok pemain terutama instrumen Bass dan Akompnayemen. 1. Angklung Akompanyemen Kelompok ini membentuk pola iringan utama yang menjadi dasar ritmis lagu. Misalnya pola: • Waltz • March • Rumba • Slow Rock • Bossa Nova Pola tersebut menentukan karakter keseluruhan musik. 2. Ko-akompanyemen Ko-akompanyemen berfungsi mengisi ruang ritmis yang tidak dimainkan oleh akompanyemen utama sehingga tekstur musik menjadi lebih padat. 3. Kontra Bass Kontra bass memperkuat hubungan antara ritme dan harmoni melalui permainan nada dasar akor. Selain memberikan fondasi harmonis, bass juga membantu menjaga kestabilan ketukan. 4. Instrumen Perkusi Apabila digunakan, instrumen perkusi seperti drum, kendang, atau cajón berfungsi mempertegas pola ritmis sehingga seluruh ansambel lebih mudah menjaga kestabilan tempo. 3.6.6 Pola Rhythm dalam Musik Angklung Dalam praktik pertunjukan, arranger biasanya menyesuaikan pola ritmis dengan karakter lagu. Setiap genre musik memiliki karakter ritmis yang berbeda. Lagu mars memiliki pola ritme yang berbeda dengan lagu keroncong, jazz, pop, maupun musik daerah. Dalam Angklung Padaeng, kemampuan arranger menerjemahkan karakter ritmis suatu lagu menjadi pola permainan angklung merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan aransemen. Oleh karena itu, pemain tidak cukup hanya memainkan nada yang benar, tetapi juga harus memahami karakter irama sehingga musik yang dihasilkan memiliki ekspresi yang sesuai dengan maksud penciptanya. Beberapa contoh pola yang umum digunakan antara lain: March. Digunakan pada lagu-lagu perjuangan dan mars. Karakter: tegas; kuat; stabil; penuh semangat.

98 Waltz (3/4) Memiliki karakter: mengalun; lembut; elegan. Pola tekanan: KUAT – lemah – lemah Rumba Ditandai oleh sinkopasi dan pola ritmis yang lebih dinamis. Untuk jenis-jenis gaya musik lainnya, arranger sering memodifikasi pola ritmis sesuai karakter musik sehingga permainan angklung tetap relevan dengan style musik yang diinginkan. 3.6.7 Penerapan Rhythm dalam Latihan Angklung Kemampuan menjaga irama tidak diperoleh secara instan, tetapi harus dilatih secara bertahap. Latihan-latihan tersebut bertujuan membangun kesamaan persepsi waktu di antara seluruh pemain. Beberapa latihan yang dapat dilakukan antara lain: 1. Berlatih menggunakan metronom. 2. Membaca ritme tanpa memainkan angklung. 3. Tepuk tangan mengikuti pola ketukan. 4. Menghitung birama dengan suara keras. 5. Mengikuti aba-aba dirigen. 6. Bermain dalam kelompok kecil sebelum bergabung dengan ansambel penuh. Rhythm merupakan dimensi waktu dalam musik yang mengatur keteraturan bunyi melalui pulsa, ketukan, aksen, dan meter. Dalam permainan Angklung Padaeng, irama menjadi fondasi utama yang menyatukan seluruh pemain dalam satu kesatuan musikal. Stabilitas rhythm memungkinkan melodi, harmoni, dan dinamika berkembang secara seimbang sehingga menghasilkan pertunjukan yang utuh. Oleh sebab itu, penguasaan konsep rhythm, kemampuan mengikuti dirigen, serta disiplin dalam menjaga ketukan merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap pemain Angklung Padaeng.

99 3.7 Tempo (Tempo): Pengendali Kecepatan dan Karakter Musik dalam Angklung Padaeng 3.7.1 Pengertian Tempo Setiap karya musik memiliki karakter yang berbeda-beda. Sebuah lagu perjuangan umumnya dimainkan dengan tempo yang lebih cepat untuk membangkitkan semangat, sedangkan lagu bertema religius atau romantis sering disajikan dengan tempo yang lebih lambat guna membangun suasana yang tenang dan penuh penghayatan. Perbedaan karakter tersebut salah satunya ditentukan oleh tempo, yaitu tingkat kecepatan suatu karya musik dimainkan. Secara etimologis, kata tempo berasal dari bahasa Italia yang berarti waktu (time). Dalam terminologi musik, tempo diartikan sebagai ukuran kecepatan atau lambatnya ketukan (beat) yang menjadi acuan selama sebuah komposisi dimainkan. Tempo menjadi salah satu elemen utama dalam interpretasi musik karena berpengaruh terhadap karakter, ekspresi, dan suasana yang ingin disampaikan kepada pendengar 11. Menurut Laitz (2016), tempo merupakan kecepatan dasar yang mengendalikan jalannya pulsa musik (musical pulse). Kecepatan tersebut menjadi kerangka waktu yang mengatur hubungan antar nada, irama, dan dinamika sehingga keseluruhan komposisi dapat dipahami sebagai satu kesatuan yang utuh 12. Soeharto (1995) menjelaskan bahwa tempo adalah ukuran cepat atau lambatnya sebuah lagu yang dinyatakan dengan istilah-istilah tertentu, seperti Largo, Andante, Moderato, atau Allegro. Istilah-istilah tersebut telah menjadi konvensi internasional dan digunakan sebagai petunjuk bagi pemain dalam menginterpretasikan sebuah karya musik 13. Berdasarkan pengertian tersebut, tempo dalam permainan Angklung Padaeng dapat dipahami sebagai pedoman kecepatan permainan yang menjadi dasar koordinasi seluruh pemain sehingga karakter musikal sebuah karya dapat diwujudkan sesuai dengan maksud pencipta lagu maupun arranger. 3.7.2 Fungsi Tempo dalam Permainan Angklung Padaeng Tempo memiliki peranan yang sangat penting dalam permainan ansambel, khususnya pada Angklung Padaeng yang dimainkan secara kolektif. Ketepatan tempo tidak hanya memengaruhi kelancaran permainan, tetapi juga menentukan keberhasilan penyampaian pesan musikal kepada pendengar. Secara umum, tempo memiliki beberapa fungsi sebagai berikut. a. Menentukan Karakter Lagu Tempo merupakan salah satu unsur yang membentuk karakter sebuah komposisi. Lagu yang dimainkan terlalu cepat atau terlalu lambat akan kehilangan identitas musikalnya. Sebagai contoh, lagu bertempo Allegro akan menampilkan suasana yang enerjik, penuh semangat, dan dinamis. Sebaliknya, lagu bertempo Largo atau Adagio akan memberikan kesan tenang, khidmat, dan penuh penghayatan. Dalam aransemen Angklung Padaeng, pemilihan tempo menjadi keputusan artistik yang harus mempertimbangkan karakter lagu, fungsi pertunjukan, kemampuan pemain, serta kondisi ruang pertunjukan. 11 Pono Banoe, Kamus musik, Yogyakarta: Kanisius, 2003 12 Steven G Laitz, The Complete Musician : An Integrated Approach to Tonal Theory , Analysis , and Listening The Complete Musician : An Integrated Approach to Tonal, n.d. 13 Soeharto, op. cit.

100 b. Menjaga Keserempakan Permainan Karena setiap pemain hanya memegang satu atau beberapa nada, perubahan tempo yang tidak terkendali dapat menyebabkan keterlambatan atau percepatan permainan sehingga melodi dan harmoni menjadi tidak sinkron. Oleh karena itu, seluruh pemain harus memiliki persepsi tempo yang sama dengan mengikuti ketukan yang diberikan oleh dirigen maupun metronom pada saat latihan. c. Membantu Interpretasi Musikal Tempo tidak hanya berkaitan dengan kecepatan, tetapi juga menjadi media interpretasi. Seorang dirigen dapat sedikit memperlambat tempo pada bagian klimaks yang bersifat emosional atau mempercepat bagian penutup untuk memberikan kesan yang lebih hidup. Namun demikian, perubahan tersebut harus tetap berada dalam koridor karakter lagu dan tidak mengubah identitas komposisi secara keseluruhan. 3.7.3 Tempo Absolut dan Tempo Relatif Dalam praktik musik modern dikenal dua pendekatan dalam menentukan tempo, yaitu tempo relatif dan tempo absolut. Tempo Relatif Tempo relatif menggunakan istilah-istilah musik berbahasa Italia yang menunjukkan kisaran kecepatan beserta karakter musikalnya. Sistem ini telah digunakan selama berabad-abad dan masih menjadi standar dalam penulisan partitur. Beberapa contoh tempo relatif antara lain: Istilah Makna Largo Sangat lambat dan luas Lento Lambat Adagio Lambat dan penuh penghayatan Andante Secepat langkah kaki orang berjalan Moderato Sedang Allegretto Agak cepat Allegro Cepat Vivace Cepat dan hidup Presto Sangat cepat Prestissimo Secepat mungkin Meskipun memberikan gambaran karakter lagu, istilah-istilah tersebut masih bersifat interpretatif sehingga memungkinkan adanya perbedaan kecepatan antar kelompok musik. Tempo Absolut (Metronome) Untuk memperoleh standar yang lebih objektif, tempo juga dinyatakan menggunakan satuan Beats Per Minute (BPM).

101 Sistem ini diperkenalkan melalui penggunaan metronom yang pertama kali dikembangkan oleh Johann Nepomuk Maelzel pada awal abad ke-19. Dalam sistem BPM, setiap ketukan memiliki nilai numerik yang menunjukkan jumlah denyut dalam satu menit. Sebagai contoh: • ♩ = 60 berarti satu ketukan berlangsung satu kali setiap detik. • ♩ = 80 berarti delapan puluh ketukan dalam satu menit. • ♩ = 120 berarti seratus dua puluh ketukan dalam satu menit. Pada latihan Angklung Padaeng, penggunaan metronom sangat membantu dalam membangun keseragaman tempo di antara seluruh pemain sebelum interpretasi artistik dilakukan oleh dirigen. 3.7.4 Peran Dirigen dalam Mengendalikan Tempo Dalam permainan Angklung Padaeng, dirigen merupakan pusat kendali seluruh ansambel. Selain memberikan aba-aba masuk dan berhenti, dirigen bertanggung jawab menjaga kestabilan tempo sepanjang pertunjukan. Melalui pola ayunan tangan (conducting pattern), dirigen memberikan informasi mengenai: • kecepatan dasar lagu; • perubahan tempo; • pergantian bagian lagu; • ritardando; • accelerando; • fermata; • akhir lagu. Kemampuan pemain membaca gerakan dirigen menjadi syarat penting agar seluruh kelompok tetap berada dalam tempo yang sama. Oleh karena itu, latihan ansambel tidak hanya berfokus pada membaca partitur, tetapi juga pada kemampuan merespons gestur dirigen secara cepat dan tepat. Namun, dalam proses latihan biasanya selalu diberikan arahan dan catatan supaya bisa disepakati dan di pahami, sehingga, ketika prose pertunjukan berlangsung bagian bagian tertentu ketika ada perubahan tempo bhakan juga dinamika, seluruh pemain selain memperhatikan aba-aba dirigen juga paham dan hapal. 3.7.5 Perubahan Tempo dalam Aransemen Angklung Dalam sebuah karya musik, tempo tidak selalu bersifat tetap. Untuk memperkuat ekspresi, arranger atau komponis sering memberikan petunjuk perubahan tempo pada bagian-bagian tertentu. Beberapa istilah yang umum digunakan antara lain: Mempercepat Tempo Istilah Makna Accelerando (accel.) Berangsur-angsur semakin cepat Stringendo Semakin mendesak dan cepat Più Mosso Menjadi lebih cepat Precipitando Dipercepat secara drastis Doppio Movimento Menjadi dua kali lebih cepat

102 Memperlambat Tempo Istilah Makna Ritardando (rit.) Berangsur-angsur melambat Rallentando (rall.) Melambat secara bertahap Meno Mosso Menjadi lebih tenang dan lambat Calando Melambat sekaligus melembut Allargando Semakin luas dan lambat Dalam Angklung Padaeng, perubahan tempo tersebut harus dipahami sebagai bagian dari interpretasi artistik. Seluruh pemain harus mengikuti perubahan yang diberikan oleh dirigen agar transisi berlangsung secara alami tanpa mengganggu kesinambungan musik. 3.7.6 Tempo dalam Praktik Latihan Angklung Penguasaan tempo merupakan keterampilan yang harus dibangun melalui latihan yang sistematis. Beberapa metode yang dapat diterapkan antara lain: 1. Berlatih menggunakan metronom untuk membangun kestabilan pulsa. 2. Memulai latihan dengan tempo yang lebih lambat sebelum mencapai tempo sebenarnya. 3. Berlatih membaca partitur sambil menghitung ketukan secara lisan. 4. Mengikuti pola ayunan tangan dirigen tanpa memainkan angklung. 5. Melatih perubahan tempo secara bertahap menggunakan contoh lagu sederhana. Melalui latihan yang berkesinambungan, pemain akan memiliki kepekaan terhadap perubahan tempo sehingga mampu mempertahankan kestabilan permainan dalam berbagai situasi pertunjukan. 3.7.7 Tempo sebagai Media Ekspresi Musikal Tempo bukan sekadar ukuran cepat atau lambatnya musik, tetapi juga merupakan media ekspresi artistik. Kecepatan permainan memengaruhi persepsi pendengar terhadap suasana yang ingin dibangun dalam sebuah lagu. Pada lagu-lagu bertema perjuangan, tempo yang relatif cepat mampu menghadirkan semangat dan energi. Sebaliknya, pada lagu-lagu religius, tempo yang lebih lambat memberikan ruang bagi pendengar untuk menghayati makna musikal secara lebih mendalam. Dalam Angklung Padaeng, keberhasilan menginterpretasikan tempo sangat dipengaruhi oleh kerja sama antara arranger, dirigen, dan seluruh pemain. Oleh karena itu, tempo tidak boleh dipahami sebagai angka semata, tetapi sebagai bagian integral dari ekspresi musikal. Tempo merupakan elemen musik yang mengatur kecepatan permainan sekaligus membentuk karakter dan ekspresi sebuah karya. Dalam permainan Angklung Padaeng, tempo menjadi pedoman utama yang menjaga keserempakan seluruh pemain serta mendukung penyampaian pesan musikal secara utuh. Penguasaan tempo memerlukan kemampuan membaca partitur, mengikuti arahan dirigen, serta latihan yang konsisten menggunakan metronom maupun teknik interpretasi ansambel. Dengan demikian, tempo tidak hanya berfungsi sebagai ukuran kecepatan, tetapi juga sebagai sarana untuk mewujudkan kualitas artistik dalam pertunjukan Angklung Padaeng.

103 3.8 Timbre (Timbre): Identitas Warna Bunyi dalam Angklung Padaeng 3.8.1 Pengertian Timbre Selain melodi, harmoni, irama, dan tempo, terdapat satu elemen musik yang berperan penting dalam membentuk karakter sebuah karya, yaitu timbre atau warna suara (tone color). Timbre merupakan karakteristik bunyi yang memungkinkan seseorang membedakan dua instrumen yang memainkan nada, tinggi nada (pitch), dan tingkat kenyaringan (loudness) yang sama. Dengan kata lain, timbre merupakan identitas akustik yang membedakan satu instrumen dari instrumen lainnya. Timbre adalah kualitas bunyi yang dihasilkan oleh sumber suara tertentu sehingga pendengar dapat membedakan bunyi piano, biola, suling, gitar, maupun angklung meskipun memainkan nada yang sama. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh bentuk gelombang suara, spektrum harmonik, resonansi, serta karakter bahan pembentuk instrumen 14. Laitz (2016) menjelaskan bahwa timbre merupakan hasil interaksi antara frekuensi dasar (fundamental frequency) dengan deretan nada atas (overtones) yang muncul secara alami ketika suatu instrumen dibunyikan. Kombinasi tersebut menghasilkan warna suara yang khas dan menjadi identitas setiap instrumen musik 15. Dalam kajian organologi, warna suara suatu alat musik dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain bahan pembuat instrumen, bentuk resonator, teknik produksi bunyi, serta cara pemain mengolah sumber bunyi 16. Oleh karena itu, meskipun dua instrumen memainkan nada yang sama, karakter bunyi yang dihasilkan akan tetap berbeda. Berdasarkan pengertian tersebut, timbre dalam Angklung Padaeng dapat dipahami sebagai karakter khas bunyi bambu yang dihasilkan melalui getaran tabung resonansi sehingga membentuk identitas sonoritas yang membedakannya dari seluruh instrumen musik lainnya. 3.8.2 Timbre sebagai Identitas Angklung Padaeng Keunikan utama Angklung Padaeng terletak pada warna bunyinya. Tidak ada instrumen lain yang mampu menghasilkan karakter resonansi bambu seperti angklung. Ketika sebuah nada dimainkan pada piano, gitar, atau biola, frekuensi nadanya mungkin sama, tetapi kualitas bunyi yang terdengar tetap berbeda karena masing-masing instrumen memiliki sistem resonansi yang berbeda. Pada Angklung Padaeng, sumber bunyi berasal dari getaran tabung bambu yang beresonansi secara alami. Resonansi tersebut menghasilkan bunyi yang ringan, jernih, hangat, dan bergetar (vibrant), sehingga memberikan kesan musikal yang khas. Karakter inilah yang menjadikan angklung mudah dikenali bahkan hanya melalui beberapa nada pertama yang dimainkan. Keistimewaan timbre angklung juga menjadi salah satu alasan mengapa UNESCO menetapkan angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) pada tahun 2010. Pengakuan tersebut tidak hanya didasarkan pada nilai budaya, tetapi juga pada kekhasan sistem musikal dan karakter bunyi yang dimilikinya 17. 14 S McAdams, “Perspectives on the Contribution of Timbre to Musical Structure,” Computer Music Journal, 23, 1999 15 Laitz, op. cit. 16 Fred Saultter and Imperial Productions, “Sound the Trumpet,” Music Educators Journal, 77, 1991 17 Committee UNESCO, “Inscribed in 2010 (5.COM) on the Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity,” https://ich.unesco.org/en/decisions/5.COM/6.18

104 3.8.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Timbre Angklung Karakter warna suara angklung tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai aspek organologis dan teknik permainan. a. Jenis Bambu Jenis bambu yang digunakan merupakan faktor utama yang menentukan kualitas suara. Bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea) dan bambu temen (Gigantochloa atter) merupakan dua jenis bambu yang paling banyak digunakan dalam pembuatan angklung karena memiliki kepadatan serat dan elastisitas yang baik. Perbedaan jenis bambu akan menghasilkan perbedaan warna suara, tingkat resonansi, dan daya tahan instrumen. b. Umur Bambu Bambu yang terlalu muda menghasilkan bunyi yang kurang stabil, sedangkan bambu yang terlalu tua cenderung kehilangan elastisitasnya. Oleh karena itu, pemilihan umur bambu menjadi salah satu tahap penting dalam proses pembuatan angklung agar diperoleh kualitas resonansi yang optimal. c. Bentuk dan Ukuran Tabung Resonansi Panjang tabung, diameter bambu, ketebalan dinding, serta volume ruang resonansi akan memengaruhi karakter bunyi yang dihasilkan. Tabung yang lebih besar umumnya menghasilkan warna suara yang lebih hangat dan rendah, sedangkan tabung kecil menghasilkan suara yang lebih terang (bright) dan tajam. d. Teknik Pembuatan Ketelitian dalam proses penyeteman (tuning) juga menentukan kualitas timbre. Kesalahan sedikit saja dalam proses pemotongan maupun penyeteman dapat mengubah karakter resonansi sehingga warna suara menjadi kurang seimbang. e. Teknik Memainkan Angklung Selain kualitas instrumen, timbre juga dipengaruhi oleh cara pemain membunyikan angklung. Teknik menggoyangkan, menghentakkan, maupun meredam angklung akan menghasilkan karakter bunyi yang berbeda meskipun menggunakan instrumen yang sama. 3.8.4 Timbre dalam Teknik Permainan Angklung Dalam praktik permainan Angklung Padaeng, warna suara dapat dimodifikasi melalui berbagai teknik permainan sehingga menghasilkan variasi ekspresi musikal. 1. Legato Legato merupakan teknik memainkan angklung dengan getaran yang berkesinambungan sehingga antar nada terdengar menyambung. Teknik ini banyak digunakan pada lagu-lagu bertempo lambat dan bersifat liris. 2. Staccato/ Teknik Centok Staccato menghasilkan bunyi yang pendek dan terputus. Pada permainan angklung, teknik ini dilakukan dengan segera menghentikan getaran tabung setelah bunyi muncul.Karakter bunyi menjadi lebih ringan, tegas, dan ritmis. Dalam tradisi permainan Angklung Padaeng, dikenal teknik centok, yaitu membunyikan angklung dengan hentakan singkat pada bagian dasar sehingga menghasilkan suara pendek menyerupai staccato. Teknik ini sering digunakan pada pola iringan maupun bagian-bagian ritmis.

105 3. Tremolo (Getar Berulang) Tremolo dilakukan dengan menggoyangkan angklung secara terus-menerus sehingga bunyi terdengar panjang dan berkesinambungan. Teknik ini banyak digunakan untuk mempertahankan nada panjang dalam lagu-lagu bertempo lambat. 3.8.5 Timbre dalam Aransemen Angklung Padaeng Dalam penyusunan aransemen, arranger tidak hanya mempertimbangkan melodi dan harmoni, tetapi juga memperhatikan distribusi warna suara. Beberapa prinsip yang umum diterapkan antara lain: • mengombinasikan register tinggi dan rendah secara seimbang; • menghindari penumpukan bunyi pada wilayah nada tertentu; • memanfaatkan kontras warna suara antar kelompok angklung; • mengombinasikan bunyi angklung dengan instrumen lain secara proporsional. Pengelolaan timbre yang baik akan menghasilkan tekstur musik yang kaya tanpa menghilangkan karakter alami bunyi bambu. 3.8.6 Timbre dan Interpretasi Musikal Warna suara memiliki hubungan yang erat dengan ekspresi musikal. Lagu yang sama dapat menghasilkan kesan yang berbeda apabila dimainkan dengan teknik bunyi yang berbeda. Sebagai contoh, lagu bertema perjuangan akan terdengar lebih kuat apabila dimainkan menggunakan teknik staccato dan aksen yang tegas. Sebaliknya, lagu bertema religius atau romantis akan terasa lebih menyentuh apabila dimainkan menggunakan teknik legato dengan resonansi yang panjang. Namun, teknik ini sering dipakai dalam bentuk ornamentasi atau hiasan musik. Dalam konteks ini, timbre bukan hanya sifat fisik instrumen, tetapi juga merupakan media ekspresi artistik yang dapat diolah melalui interpretasi pemain dan arahan dirigen. 3.8.7 Timbre sebagai Identitas Budaya Keunikan warna suara Angklung Padaeng tidak hanya memiliki nilai musikal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Indonesia. Bunyi bambu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara, baik sebagai media ritual, hiburan, komunikasi, maupun pendidikan. Oleh karena itu, mempertahankan karakter timbre angklung berarti sekaligus menjaga warisan budaya yang telah berkembang selama berabad-abad. Dalam konteks pendidikan musik, pemahaman terhadap timbre menjadi penting agar pemain tidak hanya mampu menghasilkan nada yang benar, tetapi juga mampu mempertahankan karakter bunyi khas angklung yang menjadi identitas instrumen tersebut. Timbre merupakan karakter warna suara yang membedakan satu instrumen dengan instrumen lainnya. Dalam Angklung Padaeng, timbre terbentuk melalui resonansi tabung bambu yang menghasilkan bunyi hangat, jernih, dan bergetar sehingga menjadi identitas utama instrumen ini. Karakter tersebut dipengaruhi oleh jenis bambu, proses pembuatan, penyeteman, bentuk resonator, serta teknik permainan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai timbre tidak hanya berkaitan dengan aspek akustik, tetapi juga menjadi bagian penting dalam interpretasi musikal, penyusunan aransemen, dan pelestarian identitas budaya Angklung Padaeng.

106 3.9 Dinamika (Dynamics): Ekspresi Musikal dalam Permainan Angklung Padaeng 3.9.1 Pengertian Dinamika Musik tidak hanya tersusun atas nada, harmoni, dan irama, tetapi juga memerlukan ekspresi agar mampu menyampaikan pesan artistik kepada pendengar. Salah satu unsur utama yang membentuk ekspresi tersebut adalah dinamika. Dinamika mengatur tingkat keras dan lembutnya bunyi sehingga musik memiliki kehidupan, variasi, dan daya ungkap yang lebih kuat. Dalam teori musik, dinamika merupakan perubahan intensitas bunyi yang digunakan untuk membangun karakter musikal dan memperkuat interpretasi sebuah karya. Machlis dan Forney (2016) menyatakan bahwa dinamika adalah variasi kekuatan bunyi (loudness) yang digunakan untuk menciptakan kontras, keseimbangan, dan ketegangan emosional dalam sebuah komposisi. Melalui dinamika, musik tidak hanya terdengar sebagai rangkaian nada, tetapi berkembang menjadi media ekspresi yang mampu membangkitkan berbagai respons emosional. Laitz (2016) menjelaskan bahwa dinamika merupakan salah satu perangkat interpretasi yang memberikan arah kepada pemain mengenai bagaimana suatu bagian musik harus dibunyikan, baik secara lembut (soft), keras (loud), maupun mengalami perubahan intensitas secara bertahap. Menurut Soeharto (1992), dinamika adalah tanda-tanda dalam musik yang menunjukkan tingkat keras atau lembutnya bunyi serta perubahan intensitas selama sebuah karya dimainkan. Dengan demikian, dinamika bukan hanya berkaitan dengan volume suara, tetapi juga dengan cara pemain mengolah kualitas bunyi sesuai karakter musik. Dalam konteks Angklung Padaeng, dinamika dapat dipahami sebagai kemampuan mengendalikan intensitas bunyi melalui teknik permainan yang terkoordinasi sehingga menghasilkan ekspresi musikal sesuai dengan maksud pencipta lagu maupun arranger. 3.9.2 Peran Dinamika dalam Permainan Angklung Padaeng Dalam permainan Angklung Padaeng, dinamika memiliki fungsi yang sangat penting karena menentukan kualitas artistik sebuah pertunjukan. Permainan yang seluruhnya dilakukan dengan tingkat suara yang sama akan terdengar monoton dan kehilangan daya ekspresinya. Sebaliknya, penggunaan dinamika yang tepat mampu membangun suasana, memperjelas struktur lagu, dan memperkuat penyampaian pesan musikal. Secara umum, dinamika memiliki beberapa fungsi utama. a. Membangun Ekspresi Musik Setiap lagu memiliki karakter yang berbeda. Lagu perjuangan membutuhkan kesan kuat dan penuh semangat, sedangkan lagu bertema religius atau romantis lebih membutuhkan nuansa lembut dan penuh penghayatan. Dinamika menjadi sarana utama untuk menghadirkan perbedaan karakter tersebut. b. Membentuk Kontras Musikal Kontras antara bagian yang lembut dan keras membuat musik terdengar lebih hidup. Perubahan intensitas bunyi membantu pendengar mengenali struktur lagu, seperti bagian pembuka, pengembangan, klimaks, dan penutup. c. Memperjelas Struktur Komposisi Dalam aransemen Angklung Padaeng, dinamika sering digunakan untuk menandai perpindahan antarfrasa, perubahan tema, maupun klimaks musikal. Dengan demikian, dinamika berfungsi sebagai penanda struktur selain melodi dan harmoni.

107 d. Mendukung Interpretasi Dirigen Dinamika menjadi salah satu media komunikasi antara arranger, dirigen, dan pemain. Simbol dinamika yang terdapat dalam partitur diterjemahkan oleh dirigen menjadi gerakan tubuh dan ekspresi, kemudian diwujudkan oleh pemain melalui teknik membunyikan angklung. 3.9.3 Karakter Dinamika pada Angklung Berbeda dengan instrumen seperti piano atau biola yang memungkinkan seorang pemain mengendalikan intensitas bunyi secara individual, Angklung Padaeng dimainkan secara kolektif. Oleh karena itu, pengendalian dinamika menjadi tanggung jawab seluruh anggota ansambel. Keras atau lembutnya bunyi tidak ditentukan oleh satu pemain, melainkan oleh keserempakan teknik yang dilakukan seluruh kelompok. Hal ini menjadikan dinamika sebagai salah satu aspek latihan yang memerlukan koordinasi tinggi. Pengaturan dinamika dalam permainan angklung dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: • besar kecilnya amplitudo getaran angklung; • kekompakan gerakan seluruh pemain; • teknik menggoyangkan angklung; • kecepatan gerakan tangan; • kemampuan mengendalikan resonansi bambu; • arahan dirigen. Karena karakter bunyi angklung berasal dari resonansi bambu, perubahan dinamika tidak dapat dilakukan secara ekstrem seperti pada piano. Oleh sebab itu, pemain harus mampu mengolah intensitas bunyi secara halus agar perubahan dinamika tetap terdengar alami. 3.9.4 Teknik Menghasilkan Dinamika Dalam praktik permainan Angklung Padaeng, dinamika dapat dibentuk melalui berbagai teknik permainan. a. Variasi Amplitudo Getaran Semakin besar gerakan menggoyangkan angklung, semakin besar pula energi getaran yang dihasilkan sehingga bunyi terdengar lebih kuat. Sebaliknya, gerakan yang lebih kecil menghasilkan bunyi yang lebih lembut. b. Pengendalian Resonansi Resonansi dapat dipertahankan lebih lama atau dihentikan lebih cepat sesuai kebutuhan musikal. Pengendalian resonansi menjadi salah satu teknik penting dalam menghasilkan perubahan dinamika yang halus. c. Keserempakan Gerakan Karena dimainkan secara ensambel, kualitas dinamika sangat bergantung pada kesamaan gerakan seluruh pemain. Gerakan yang tidak seragam akan menyebabkan warna bunyi menjadi tidak seimbang. d. Teknik Artikulasi Teknik seperti legato, staccato, centok, maupun tremolo turut memengaruhi persepsi dinamika yang dirasakan pendengar.

108 3.9.5 Simbol Dinamika dalam Partitur Sebagaimana musik pada umumnya, partitur Angklung Padaeng menggunakan simbol dinamika yang telah menjadi konvensi internasional. Donau Wellen Do = C Cipt. Ivanovici Arr. Angklung : Daeng Soetigna Intro: ff fff ff fff Am G F E7 Am G F E7 ^ . % . $ . # / @ # . . . ^ . % . $ . # / @ # . . j 0j # 6 . 5 . 4 . 3 / 2 3 . . . 6 . 5 . 4 . 3 / 2 3 . . 0 3 . 2 . 1 . 0 0 u . . . 3 . 2 . 1 . 0 0 u . . 0 1 . u . y . 0 0 / t . . . 1 . u . y . 0 0 / t . . 0 f f f E7 Am E7 # . . j 0j # # . . j 0j # # . . j 0j 3 7 . . . ! . . . 7 . . . / 5 . . . 6 . . . / 5 . . . j 0j e j / tj u j 3j 0 0 j 0j e j yj 1 j 3j 0 0 j 0j e j / tj u j 3j 0 0 p E Am 3z x .x x .x c 3 / 5 6 7z x .x x .x c 7 / 5 3 !z x .x x .x c ! 7 6 #z x .x x .x c # 0 # f p Dm Am E7 Am $z x .x x .x c $ # @ #z x .x x .x c # @ ! 7z x .x x .x c 7 ! 7 6z x .x x .x c 6 0 3

109 Dinamika Tetap Simbol Istilah Makna pp Pianissimo Sangat lembut p Piano Lembut mp Mezzo Piano Agak lembut mf Mezzo Forte Agak keras f Forte Keras ff Fortissimo Sangat keras fff Fortississimo Sekeras mungkin Perubahan Dinamika Simbol Istilah Makna < Crescendo Berangsur-angsur semakin keras > Decrescendo / Diminuendo Berangsur-angsur semakin lembut fp Forte-Piano Dimulai keras kemudian segera lembut sfz Sforzando Tekanan kuat secara tiba-tiba Simbol-simbol tersebut biasanya ditempatkan di bawah atau di atas notasi sesuai dengan kebutuhan aransemen. 3.9.6 Peran Dirigen dalam Mengendalikan Dinamika Dalam pertunjukan Angklung Padaeng, dirigen memiliki peran utama dalam mengendalikan dinamika ansambel. Melalui ekspresi wajah, gerakan tangan, tinggi-rendah ayunan, serta bahasa tubuh, dirigen memberikan informasi kepada seluruh pemain mengenai perubahan intensitas bunyi. Sebagai contoh: • ayunan tangan yang lebih lebar biasanya menunjukkan peningkatan dinamika; • gerakan yang lebih kecil mengisyaratkan permainan yang lembut; • telapak tangan yang mengarah ke bawah sering digunakan untuk meminta pemain menurunkan intensitas bunyi. Kemampuan membaca gestur dirigen merupakan bagian penting dari keterampilan musikal seorang pemain angklung. 3.9.7 Dinamika sebagai Media Interpretasi Dinamika tidak boleh dipahami sekadar sebagai simbol dalam partitur. Setiap perubahan dinamika memiliki tujuan artistik yang berkaitan dengan makna lagu. Dalam proses aransemen, penempatan dinamika harus mempertimbangkan bentuk lagu, struktur frase, perkembangan harmoni, serta tujuan ekspresi yang ingin dicapai. 3.9.8 Dinamika dalam Proses Latihan Penguasaan dinamika tidak dapat dicapai hanya dengan memahami teori, tetapi harus dibangun melalui latihan yang sistematis. Beberapa metode latihan yang dapat diterapkan antara lain: 1. memainkan satu lagu dengan beberapa tingkat dinamika yang berbeda; 2. melatih perubahan crescendo dan decrescendo secara bertahap; 3. mengikuti perubahan dinamika melalui aba-aba dirigen; 4. merekam hasil latihan untuk mengevaluasi keseimbangan bunyi antar kelompok; 5. melatih kekompakan gerakan agar perubahan dinamika terjadi secara serempak.

110 Melalui latihan yang konsisten, pemain akan memiliki sensitivitas terhadap perubahan intensitas bunyi sehingga mampu menghasilkan permainan yang lebih ekspresif. Dinamika merupakan elemen musik yang mengatur variasi intensitas bunyi sehingga menghasilkan ekspresi dan karakter musikal. Dalam permainan Angklung Padaeng, dinamika memiliki kedudukan yang sangat penting karena berkaitan dengan koordinasi seluruh pemain, kemampuan mengolah resonansi bambu, serta interpretasi yang diberikan oleh dirigen. Penguasaan dinamika tidak hanya memperkaya kualitas artistik sebuah pertunjukan, tetapi juga menjadi salah satu indikator kematangan musikal sebuah ansambel angklung. 3.10 Sistem Notasi dan Pembacaan Partitur Angklung Padaeng Kemampuan membaca partitur merupakan salah satu kompetensi fundamental dalam permainan Angklung Padaeng. Berbeda dengan permainan alat musik solo yang memungkinkan seorang pemain menguasai keseluruhan melodi, permainan angklung dilaksanakan secara kolektif melalui pembagian nada kepada banyak pemain. Setiap pemain hanya memainkan satu atau beberapa nada tertentu sehingga keberhasilan sebuah pertunjukan sangat bergantung pada kemampuan seluruh anggota ansambel membaca dan menginterpretasikan partitur secara tepat. Dalam konteks tersebut, partitur tidak hanya berfungsi sebagai media penulisan notasi, tetapi juga sebagai sistem komunikasi musikal antara komponis, arranger, dirigen, dan pemain. Seluruh informasi mengenai identitas lagu, struktur musikal, tempo, dinamika, pembagian instrumen, hingga teknik permainan disampaikan melalui simbol-simbol yang telah disepakati dalam penulisan musik 18. Pada Angklung Padaeng, partitur umumnya menggunakan notasi angka sebagai media utama penulisan. Pemilihan sistem ini didasarkan pada pertimbangan pedagogis dan praktis karena notasi angka relatif lebih mudah dipahami oleh pemain dengan latar belakang pendidikan musik yang beragam. Meskipun demikian, dalam proses aransemen profesional, notasi angka sering dipadukan dengan notasi balok untuk memberikan informasi musikal yang lebih lengkap. Dengan memahami sistem notasi secara baik, pemain tidak hanya mampu membaca simbol- simbol musik, tetapi juga dapat memahami hubungan antara melodi, harmoni, ritme, dinamika, dan teknik permainan yang membentuk keseluruhan struktur komposisi. 3.10.1 Hakikat Partitur dalam Angklung Padaeng Partitur merupakan dokumen musikal yang memuat seluruh informasi yang diperlukan untuk memainkan suatu karya musik. Dalam ensambel Angklung Padaeng, partitur berfungsi sebagai pedoman utama yang menyatukan puluhan bahkan ratusan pemain agar mampu menghasilkan sajian musik yang utuh dan serempak. Menurut Read (1979), partitur adalah representasi visual dari sebuah komposisi musik yang memuat seluruh elemen musikal dalam bentuk simbol-simbol notasi. Simbol-simbol tersebut memungkinkan pemain menerjemahkan gagasan musikal ke dalam bentuk bunyi yang sesuai dengan maksud pencipta lagu maupun arranger. Pada Angklung Padaeng, fungsi partitur menjadi lebih kompleks karena tidak hanya menunjukkan nada yang harus dimainkan, tetapi juga mengatur pembagian tugas setiap kelompok instrumen. Oleh sebab itu, partitur menjadi pusat koordinasi seluruh proses latihan maupun pertunjukan. 18 Laitz, op. cit.

111 Secara umum, sebuah partitur Angklung Padaeng memuat informasi sebagai berikut: • identitas lagu; • nama pencipta lagu; • nama arranger; • nada dasar (tonalitas); • tempo dan metronom; • notasi melodi; • harmoni; • pola iringan; • permainan bass; • simbol dinamika; • tanda pengulangan; • petunjuk teknik permainan; • pembagian nomor angklung. Keseluruhan informasi tersebut membentuk satu sistem yang harus dipahami secara utuh sebelum pemain memasuki tahap praktik. 3.10.2 Karakteristik Partitur Angklung Padaeng Partitur Angklung Padaeng memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari partitur instrumen lain. a. partitur lebih banyak menggunakan notasi angka dibandingkan notasi balok. Sistem ini berkembang karena dianggap lebih praktis dalam proses latihan kelompok serta lebih mudah dipelajari oleh masyarakat umum. b. partitur tidak hanya memuat melodi utama, tetapi juga terdiri atas berbagai lapisan (multi- layer arrangement), seperti melodi ornamentasi, harmoni, bass, akompanyemen, dan pola ritmis. Dengan demikian, seluruh elemen musik dapat dibaca secara bersamaan oleh masing-masing kelompok pemain. c. partitur Angklung Padaeng selalu berkaitan dengan sistem penomoran instrumen. Setiap nomor angklung mewakili tinggi nada tertentu sehingga pemain harus mampu menghubungkan simbol notasi dengan instrumen yang dipegangnya. d. partitur berfungsi sebagai media komunikasi visual antara arranger dan pemain. Semua perubahan tempo, dinamika, maupun teknik permainan disampaikan melalui simbol- simbol yang telah menjadi konvensi dalam penulisan musik. 3.10.3 Komponen Utama Partitur Angklung Padaeng Agar partitur dapat dibaca secara benar, setiap pemain perlu memahami fungsi masing-masing bagian yang terdapat pada lembar partitur. Komponen tersebut meliputi: 1. Judul lagu. 2. Nama pencipta lagu (composer). 3. Nama arranger. 4. Nada dasar (key signature). 5. Nomor angklung. 6. Tempo. 7. BPM (Beats Per Minute). 8. Tanda birama. 9. Melodi utama.

112 10. Ornamentasi. 11. Harmoni. 12. Simbol akor. 13. Bass. 14. Pola iringan. 15. Simbol dinamika. 16. Teknik permainan. 17. Tanda pengulangan. 18. Instrumen tambahan. Masing-masing komponen tersebut memiliki fungsi yang berbeda, namun saling berkaitan dalam membentuk keseluruhan sistem pembacaan partitur. 3.10.4 Literasi Partitur sebagai Kompetensi Musikal Kemampuan membaca partitur merupakan bagian dari literasi musik (music literacy). Literasi musik tidak hanya berarti mampu mengenali simbol notasi, tetapi juga mampu menghubungkan simbol tersebut dengan bunyi, gerakan, dan interpretasi musikal. Dalam permainan Angklung Padaeng, kemampuan membaca partitur meliputi: • interpretasi musik • mengenali nada yang dimainkan; • memahami hubungan antarfrasa; • membaca perubahan tempo; • mengikuti dinamika; • mengenali perubahan harmoni; • memahami tanda ulang; • mengikuti arahan dirigen.

113 4a

114 3.11 Anatomi Partitur Angklung Padaeng Setelah memahami konsep dasar partitur sebagai media komunikasi musikal, langkah berikutnya adalah mengenali setiap komponen yang terdapat di dalam sebuah partitur Angklung Padaeng. Sebuah partitur tidak hanya berisi kumpulan notasi yang menunjukkan tinggi-rendah nada, tetapi juga memuat berbagai informasi yang menjadi pedoman dalam proses latihan maupun pertunjukan. Informasi tersebut meliputi identitas lagu, pencipta, arranger, tonalitas, tempo, tanda birama, simbol harmoni, dinamika, hingga pembagian nomor angklung yang harus dimainkan. Dalam praktik permainan Angklung Padaeng, kemampuan membaca partitur harus dilakukan secara sistematis. Seorang pemain tidak cukup hanya membaca notasi angka, tetapi juga harus memahami seluruh informasi yang menyertainya. Kesalahan dalam menafsirkan satu simbol dapat menyebabkan kesalahan interpretasi terhadap keseluruhan karya musik. Oleh karena itu, pembahasan pada subbab ini disusun berdasarkan urutan pembacaan partitur, yaitu dimulai dari bagian paling atas hingga bagian paling bawah. 1. Judul Lagu Judul lagu merupakan identitas utama yang menunjukkan nama karya musik yang akan dimainkan. Selain berfungsi sebagai penanda administratif, judul lagu memberikan gambaran awal mengenai karakter, tema, maupun konteks musikal yang terkandung dalam karya tersebut. Dalam praktik pertunjukan, judul lagu menjadi acuan bagi seluruh pemain, dirigen, maupun penonton untuk mengenali repertoar yang sedang disajikan. Oleh karena itu, penulisan judul harus jelas, konsisten, dan ditempatkan pada bagian paling atas partitur. Secara umum, judul lagu ditulis menggunakan ukuran huruf yang lebih besar dibandingkan informasi lainnya sehingga mudah dikenali. Fungsi judul lagu antara lain: • menunjukkan identitas karya musik; • memudahkan pengarsipan repertoar; • membedakan satu komposisi dengan komposisi lainnya; • menjadi acuan dalam proses latihan dan pertunjukan. 2. Nama Pencipta Lagu (Composer) Di bawah judul lagu biasanya dicantumkan nama pencipta (composer). Informasi ini merupakan bentuk penghargaan terhadap hak intelektual pencipta yang menghasilkan melodi dan, apabila ada, lirik lagu. Dalam ilmu musik, komponis merupakan individu yang menciptakan gagasan musikal melalui penyusunan melodi, harmoni, ritme, serta struktur komposisi. Nama pencipta dicantumkan untuk menunjukkan asal-usul karya sekaligus menjaga integritas akademik dan etika dalam penggunaan repertoar. Pencantuman nama pencipta memiliki beberapa fungsi, yaitu: • memberikan penghargaan terhadap hak cipta; • menjadi informasi historis mengenai asal-usul lagu; • memudahkan penelusuran referensi apabila lagu digunakan dalam penelitian atau pembelajaran. Sebagai contoh, pada lagu Mars Angklung, nama pencipta yang dicantumkan adalah Daeng Soetigna.

115 3. Nama Arranger (Arranger) Apabila pencipta menghasilkan karya asli, maka arranger bertugas mengadaptasi karya tersebut ke dalam bentuk aransemen Angklung Padaeng. Peran arranger sangat penting karena tidak semua lagu dapat langsung dimainkan menggunakan angklung tanpa melalui proses penyesuaian. Dalam praktik Angklung Padaeng, seorang arranger bertanggung jawab menyusun pembagian melodi utama, ornamentasi, harmoni, bass, pola iringan, dinamika, serta pembagian nomor angklung sesuai karakteristik instrumen dan tingkat kemampuan pemain. Dengan demikian, dua aransemen yang dibuat oleh arranger berbeda terhadap lagu yang sama dapat menghasilkan warna musikal yang berbeda pula, meskipun melodi pokoknya tetap sama. Informasi mengenai arranger umumnya ditulis di bagian kanan atas partitur. Fungsi pencantuman arranger antara lain: • menunjukkan identitas penyusun aransemen; • membedakan versi aransemen suatu lagu; • memberikan penghargaan terhadap karya artistik arranger; • menjadi referensi apabila aransemen digunakan kembali dalam kegiatan akademik maupun pertunjukan. 4. Nada Dasar (Key/Tonality) Salah satu informasi penting yang terdapat pada bagian awal partitur adalah nada dasar atau tonalitas. Nada dasar merupakan pusat tonal yang menjadi acuan dalam penyusunan seluruh nada pada sebuah komposisi. Dalam sistem musik diatonis, tonalitas menentukan hubungan antar nada, fungsi harmoni, serta penyesuaian instrumen yang digunakan. Pada partitur Angklung Padaeng, informasi tonalitas biasanya ditulis dalam bentuk: Do = C atau Do = D atau Do = A Penulisan tersebut menunjukkan bahwa nada Do ditempatkan pada nada absolut tertentu sehingga seluruh nomor angklung harus disesuaikan dengan tonalitas tersebut. Sebagai contoh: Do = A = Angklung Nomor 3 Artinya, angklung bernomor enam berfungsi sebagai nada Do pada lagu tersebut. Apabila tonalitas berubah menjadi Do = D, maka fungsi setiap nomor angklung juga ikut berubah sesuai sistem transposisi. Informasi mengenai nada dasar sangat penting karena akan menentukan: • nomor angklung yang harus disiapkan; • wilayah nada yang dimainkan; • jenis harmoni yang digunakan; • pembagian pemain dalam ansambel. Oleh karena itu, sebelum latihan dimulai, pemain harus memastikan bahwa tonalitas yang tertulis pada partitur telah dipahami dengan benar sehingga tidak terjadi kesalahan dalam memilih instrumen. Salah satu contoh penomoran angklung dengan nada dalam Nada Dasar Do = A

116 Nada q / q w / w e r / r t y Nomor Angklung A A# B c c# d d# e 0 Nada / u u 1 2 3 4 / 4 5 6 Nomor Angklung 1 2 3 5 7 8 9 10 12 Nada 7 ! / ! @ # $ % Nomor Angklung 14 15 16 17 19 20 22 4a. Tanda Birama (Time Signature) Di bawah informasi tempo biasanya terdapat tanda berbentuk pecahan angka yang dikenal sebagai tanda birama (time signature). Simbol ini menunjukkan bagaimana ketukan dikelompokkan dalam setiap ruas birama. Secara umum, tanda birama terdiri atas dua angka yang ditulis menyerupai pecahan. Sebagai contoh: Pemahaman terhadap tanda birama sangat penting karena berkaitan langsung dengan pola gerak dirigen, pembagian frase, serta interpretasi ritmis sebuah lagu. Selain itu istilah lain dalam bagian dari birama adalah sebagai berikut: 2 4 4 4 6 8 3 4 Birama dua empat, setiap birama ada dua hitungan dan setiap hitungan bernilai seperempat. Artinya dalam tiap – tiap batas garis ( yang dinamakan 1 birama ) ada 2 ketukan dengan hitungan 1,dan 2 Birama tiga empat, setiap birama ada tiga hitungan dan setiap hitungan bernilai seperempat Artinya dalam tiap – tiap batas garis ( yang dinamakan 1 birama ) ada 3 ketukan dengan hitungan 1, 2, dan 3 Birama empat empat, setiap birama ada empat hitungan dan setiap hitungan bernilai seperempat Artinya dalam tiap – tiap batas garis ( yang dinamakan 1 birama ) ada 4 ketukan dengan hitungan 1, 2, 3, dan 4 Birama enam delapan, setiap birama ada enam hitungan dan setiap hitungan bernilai seperdelapan Artinya dalam tiap – tiap batas garis ( yang dinamakan 1 birama ) ada 6 ketukan dengan hitungan 1, 2, 3, 4, 5, dan 6

117 5. Tempo Tempo merupakan petunjuk mengenai kecepatan dasar suatu karya musik. Informasi ini selalu ditempatkan pada bagian awal partitur karena menjadi acuan seluruh pemain dalam menentukan karakter serta alur permainan sejak awal hingga akhir lagu. Dalam permainan Angklung Padaeng, tempo tidak hanya berfungsi sebagai ukuran cepat atau lambatnya musik, tetapi juga menjadi dasar koordinasi seluruh anggota ansambel sehingga setiap pemain dapat bergerak dalam pulsa yang sama. Pada partitur Angklung Padaeng, tempo biasanya ditulis menggunakan istilah musik berbahasa Italia, misalnya: Istilah Karakter Largo Sangat lambat, luas, dan agung Adagio Lambat dan penuh penghayatan Andante Secepat langkah orang berjalan Moderato Sedang Allegretto Agak cepat Allegro Cepat dan bersemangat Vivace Cepat, hidup, dan energik Presto Sangat cepat Istilah tersebut tidak hanya menunjukkan tingkat kecepatan, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai karakter musik yang harus diwujudkan selama pertunjukan. Dalam praktik Angklung Padaeng, tempo menjadi tanggung jawab dirigen untuk dijaga agar tetap stabil. Seluruh pemain harus mengikuti ketukan yang diberikan melalui pola ayunan tangan sehingga permainan berlangsung serempak 6. Metronom dan BPM (Beats Per Minute) Selain menggunakan istilah tempo, partitur modern umumnya mencantumkan informasi mengenai BPM (Beats Per Minute) sebagai ukuran yang lebih objektif mengenai kecepatan permainan. BPM menunjukkan jumlah ketukan yang harus berlangsung dalam satu menit. Penulisan BPM biasanya didahului oleh simbol nilai not yang menjadi satuan ketukan, misalnya: ♩ = 100 Artinya, not seperempat (quarter note) dimainkan sebanyak seratus ketukan dalam satu menit. Keberadaan BPM memberikan beberapa keuntungan, antara lain: • menyeragamkan interpretasi tempo antar kelompok musik; • mempermudah proses latihan menggunakan metronom; • menjaga kestabilan permainan ketika latihan dilakukan tanpa dirigen; • membantu arranger menyampaikan kecepatan yang diinginkan secara lebih akurat. Pada tahap awal latihan, penggunaan metronom sangat dianjurkan agar pemain memiliki persepsi pulsa yang sama. Setelah kestabilan tempo terbentuk, interpretasi musikal dapat dikembangkan melalui arahan dirigen tanpa kehilangan kerangka tempo yang telah dite

118 7. Notasi Angka sebagai Sistem Penulisan Angklung Sistem notasi angka merupakan sistem penulisan musik yang menggunakan angka 1–7 sebagai representasi derajat nada dalam tangga nada diatonis. Angka 1 2 3 4 5 6 7 Solmisasi Do Re Mi Fa Sol La Si Dalam praktik Angklung Padaeng, sistem tersebut mengalami pengembangan sehingga mampu mewakili berbagai lapisan aransemen. Notasi angka tidak hanya menunjukkan tinggi nada (pitch), tetapi juga memuat informasi mengenai: • durasi bunyi; • ritme; • frase musik; • hubungan antarnada; • teknik permainan; • struktur aransemen. Oleh karena itu, pemain tidak cukup hanya menghafal angka-angka, tetapi juga harus memahami makna musikal yang terkandung di dalam setiap simbol tersebut. Konsep Multi-Layer Arrangement Salah satu karakteristik utama aransemen Angklung Padaeng adalah penggunaan sistem multi- layer arrangement. Dalam satu partitur terdapat beberapa lapisan musik yang dimainkan secara bersamaan. Lapisan tersebut meliputi: Layer 1 Melodi utama. Merupakan identitas lagu yang paling mudah dikenali. Layer 2 Melodi ornamentasi. Berfungsi memperindah garis melodi utama. Layer 3 Harmoni. Memberikan ruang musikal melalui pembentukan akor. Layer 4 Bass. Menjadi fondasi harmoni sekaligus memperkuat ritme. Layer 5 Akompanyemen. Menghasilkan pola iringan sesuai karakter lagu. Layer 6 Instrumen tambahan. Memberikan warna musikal sesuai kebutuhan aransemen. Seluruh lapisan tersebut dimainkan secara simultan sehingga menghasilkan tekstur musik yang kaya, namun tetap mempertahankan kejelasan melodi utama. 8. Tanda Ulang (Repeat Sign) Untuk menghindari penulisan yang berulang, partitur menggunakan tanda ulang. Beberapa tanda ulang yang sering terdapat pada beberapa karya musik/ aransemen musik angklung di antaranya sebagai berikut: Teknik membaca tanda ulang tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1. Musik dimainkan dari ruas birama satu/ a, dua/ b, tiga/ c, dan empat/ d, 2. Lihat tanda ulang (garis ganda dan diawali titik dua)

119 3. Lihat di atas birama empat terdapat tanda kurung dengan angka satu, 4. Musik harus diulang atau kembali ke ruas birama pertama/ a, dua/ b, dan tiga/ c, 5. Dari ruas birama tiga/ c langsung ke ruas birama kelima/ e dan seterusnya. Teknik membaca tanda ulang tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1. Musik dimainkan dari ruas birama satu/ a, dua/ b, tiga/ c, empat/ d, lima/ e, enam/ f, tujuh g/, delapan/ h, Sembilan/ i, sepuluh/ j, sebelas/ k, duabelas/ l, tigabelas/ m, dan empatbelas/ n, 2. Lihat tanda ulang di bawah ruas birama empat belas/ n terdapat d.c. la fine, 3. d.c.al. fine itu dibaca da capo al fine yang berarti kembali ke kepala/ awal dan berakhir di tanda fine, 4. Musik harus diulang dari ruas birama empat belas/ n ke ruas birama satu/ a (kepala/ awal) 5. Kemuadia dari ruas birama empat belas/ n langsung ke ruas birama limabelas/ o, dan musik berakhir. Teknik membaca tanda ulang tersebut di atas adalah sebagai berikut: 1. Musik dimainkan dari ruas birama satu/ a, dua/ b, tiga/ c, empat/ d, lima/ e, enam/ f, tujuh g/, delapan/ h, sembilan/ i, sepuluh/ j, dan sebelas/ k, 2. Lihat tanda ulang di bawah ruas birama sebelas/ k terdapat d.s. to coda, 3. d. s. to coda. itu dibaca da segne to coda al fine yang berarti kembali ke tanda segno dan langsung ke coda, 4. Musik harus diulang dari ruas birama sebelas/ k ke ruas birama lima/ e (yang bertanda ) dan berjalan sampai ke ruas birama sembilan/ i, 5. Kemudian dari ruas birama sembilan/ i (yang bertanda to coda), langsung ke ruas birama duabelas/ l, dan musik berjalan terus sampai akhir di ruas birama limabelas/ o, Cara Membaca Simbol Navigasi Agar tidak terjadi kesalahan selama pertunjukan, pemain disarankan mengikuti langkah berikut. 1. Membaca seluruh simbol sebelum mulai memainkan lagu. 2. Menandai bagian yang mengalami pengulangan. 3. Mengidentifikasi keberadaan D.C., D.S., Fine, maupun Coda.

120 4. Mengikuti seluruh perubahan tempo dan dinamika. 5. Memperhatikan aba-aba dirigen pada setiap perpindahan bagian. Dengan melakukan langkah tersebut, kemungkinan kesalahan navigasi partitur dapat diminimalkan. Kesalahan yang Sering Terjadi Dalam latihan Angklung Padaeng, beberapa kesalahan yang paling sering ditemukan adalah: • pemain lupa melakukan pengulangan; • salah menuju bagian Coda; • tidak memperhatikan tanda Fine; • mengabaikan perubahan dinamika; • terlambat mengikuti ritardando atau accelerando; • terlalu fokus pada notasi sehingga tidak melihat aba-aba dirigen. Kesalahan-kesalahan tersebut umumnya dapat diatasi melalui latihan membaca partitur secara menyeluruh sebelum memainkan lagu. Implikasi dalam Permainan Angklung Padaeng Pemahaman terhadap simbol ekspresi dan navigasi memungkinkan seluruh pemain menerjemahkan maksud arranger secara konsisten. Selain meningkatkan ketepatan teknis, kemampuan membaca simbol juga memperkuat kualitas interpretasi sehingga pertunjukan terdengar lebih ekspresif, terstruktur, dan komunikatif. Simbol ekspresi dan navigasi merupakan bagian penting dalam sistem pembacaan partitur Angklung Padaeng. Simbol-simbol tersebut tidak hanya memberikan petunjuk mengenai dinamika, tempo, dan artikulasi, tetapi juga mengatur arah perjalanan musik melalui berbagai tanda navigasi seperti repeat, Da Capo, Dal Segno, Fine, dan Coda. Oleh karena itu, penguasaan simbol-simbol tersebut menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap pemain agar mampu memainkan partitur secara tepat dan sesuai dengan interpretasi musikal yang diharapkan. 9. Simbol Akor (Chord Symbols) dalam Partitur Angklung Padaeng Selain notasi melodi dan harmoni, partitur Angklung Padaeng umumnya dilengkapi dengan simbol akor (chord symbols) yang berfungsi sebagai petunjuk harmonisasi selama pertunjukan. Simbol akor merupakan bentuk penyederhanaan informasi harmoni yang memungkinkan pemain, arranger, dan dirigen memahami progresi akor tanpa harus menuliskan seluruh nada penyusunnya pada setiap ruas birama. Dalam praktik aransemen modern, simbol akor telah menjadi standar internasional karena mampu mempercepat proses pembacaan partitur dan memudahkan komunikasi antarpemusik. Pada permainan Angklung Padaeng, simbol akor menjadi acuan utama bagi kelompok akompanyemen, bass, dan instrumen pendukung dalam membangun harmoni yang sesuai dengan melodi utama menggunakan huruf kapital. Simbol akor merupakan representasi singkat dari susunan nada yang membentuk suatu akor. Simbol tersebut menunjukkan nada dasar (root), kualitas akor (mayor, minor, diminished, augmented), serta nada tambahan apabila diperlukan. Dengan memahami simbol akor, pemain tidak hanya mengetahui nama akor, tetapi juga memahami fungsi harmoninya dalam struktur lagu. Dalam permainan Angklung Padaeng, simbol akor memiliki beberapa fungsi penting.

121 Pertama, simbol akor menjadi pedoman harmonisasi bagi kelompok angklung akompanyemen. Pemain tidak perlu membaca seluruh notasi harmoni secara rinci karena cukup mengikuti simbol akor yang tercantum pada partitur. Kedua, simbol akor mempermudah koordinasi antarbagian ansambel. Dirigen, pemain bass, pemain perkusi, maupun instrumen tambahan dapat menggunakan informasi yang sama sehingga seluruh kelompok bergerak dalam progresi harmoni yang seragam. Ketiga, simbol akor membantu arranger dalam menyusun variasi iringan. Satu simbol akor dapat dikembangkan menjadi berbagai pola ritmis dan tekstur tanpa mengubah fungsi harmoninya. Keempat, simbol akor memudahkan proses modulasi apabila lagu dipindahkan ke nada dasar yang berbeda. Arranger hanya perlu menyesuaikan hubungan antar-akor sesuai tonalitas baru tanpa mengubah struktur musikal lagu. Membaca Simbol Akor pada Partitur Pada Angklung Padaeng, simbol akor umumnya ditempatkan di atas garis melodi utama dengan huruf kapital pada setiap ruas biarama, agar mudah dibaca oleh seluruh kelompok pemain. Penempatan ini memungkinkan pemain memahami hubungan antara perubahan melodi dan progresi harmoni secara bersamaan. Sebagai contoh, sebuah progresi harmoni dituliskan sebagai berikut. Bagi kelompok akompanyemen, simbol tersebut menjadi acuan dalam menentukan angklung akor yang harus dimainkan. Sementara bagi pemain bass, simbol tersebut menjadi dasar dalam menentukan nada dasar yang akan memperkuat fondasi harmoni. Simbol Akord Simbol Akord

122 Melalui ilustrasi tersebut, pembaca dapat melihat bahwa simbol akor tidak menggantikan notasi musik, tetapi berfungsi sebagai informasi tambahan yang memperjelas struktur harmoni. Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Membaca Simbol Akor Dalam proses latihan, beberapa kesalahan yang sering dijumpai antara lain: 1. Menganggap simbol akor hanya sebagai nama huruf, tanpa memahami susunan nada penyusunnya. 2. Terlambat berpindah akor, sehingga mengganggu kesinambungan harmoni. 3. Tidak memperhatikan perubahan tonalitas, terutama pada lagu yang mengalami modulasi. 4. Menyamakan seluruh jenis akor, misalnya menganggap A, Am, Adim dan A7 memiliki fungsi yang sama. 5. Mengabaikan hubungan antara simbol akor dan bass, sehingga fondasi harmoni menjadi kurang kuat. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat diminimalkan melalui latihan membaca progresi akor secara bertahap dan analisis partitur sebelum latihan ansambel. Implikasi dalam Permainan Angklung Padaeng Pemahaman terhadap simbol akor memberikan banyak manfaat dalam praktik permainan Angklung Padaeng. Pemain menjadi lebih mudah mengikuti perubahan harmoni, arranger lebih leluasa mengembangkan variasi iringan, dan dirigen dapat mengoordinasikan seluruh kelompok secara lebih efektif. Selain itu, kemampuan membaca simbol akor juga menjadi bekal penting bagi pemain yang ingin mengembangkan keterampilan mengaransemen maupun melakukan improvisasi sederhana. Simbol akor merupakan representasi ringkas dari struktur harmoni yang berfungsi sebagai pedoman dalam membaca dan memainkan partitur Angklung Padaeng. Penguasaan simbol akor tidak hanya memudahkan pemain memahami progresi harmoni, tetapi juga memperkuat koordinasi antarpemain serta meningkatkan kualitas interpretasi musikal. Oleh karena itu, kemampuan membaca simbol akor menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap pemain, arranger, dan dirigen Angklung Padaeng. 10. Bass dalam Partitur Angklung Padaeng Dalam sebuah aransemen musik, bass merupakan fondasi yang menopang keseluruhan struktur harmoni. Apabila melodi berfungsi sebagai pembawa identitas lagu dan harmoni membangun ruang musikal, maka bass memberikan landasan tonal yang menjaga keseimbangan antara kedua unsur tersebut. Kehadiran bass menjadikan musik terdengar lebih kokoh, stabil, dan memiliki arah yang jelas. Pada permainan Angklung Padaeng, kelompok bass memiliki tanggung jawab untuk memainkan nada-nada dasar/ rendah yang mendukung progresi akor dan menjaga kesinambungan irama yang dimainkan oleh instrumen kontra Bass (string contra bass) sering disebut juga Bass Betot atau Bass Bambu, atau terkadang juga ada yang memakai Bass Elektrik atau semi akustik eletrik. Meskipun sering kali tidak menjadi pusat perhatian pendengar, kualitas permainan bass sangat menentukan keberhasilan sebuah pertunjukan. Kesalahan pada bagian bass dapat menyebabkan perubahan fungsi harmoni, mengurangi stabilitas tonal, bahkan memengaruhi interpretasi musikal secara keseluruhan.

123 Susunan senar pada contra bass (atau kontrabas) dan semi elektrik bass umumnya terdiri dari 4 senar yang disetel dengan interval perfect fourth. Urutannya adalah E-A-D- G (dari nada terendah ke nada tertinggi): • Senar 1 (G): Senar paling tipis (atas) dengan nada tertinggi • Senar 2 (D): Nada di bawah G • Senar 3 (A): Nada di bawah D • Senar 4 (E): Senar paling tebal (bawah) dengan nada terendah Setiap senar berjarak interval 5 nada (kuint murni). Selain itu, terdapat pula versi kontrabas dengan 5 senar yang biasanya menambahkan senar C di bawah nada E. Anda dapat membaca lebih lanjut mengenai peran dan anatomi instrumen ini di artikel lengkap Dalam permainan Angklung Padaeng, bass memiliki beberapa fungsi utama yang saling berkaitan. a. Menjadi Fondasi Harmoni Bass memainkan nada dasar (root) atau nada tertentu yang mewakili fungsi suatu akor. Nada tersebut menjadi pijakan bagi kelompok harmoni dan akompanyemen dalam membentuk warna musikal yang utuh. Sebagai contoh, ketika partitur menunjukkan akor C Mayor, kelompok bass umumnya memainkan nada C sebagai fondasi harmoni. Nada tersebut memperkuat persepsi tonal sehingga keseluruhan ansambel terdengar lebih stabil.

124 b. Memperjelas Progresi Akor Perubahan nada bass membantu pendengar merasakan perpindahan akor dari satu fungsi harmoni ke fungsi lainnya. Oleh karena itu, bass tidak hanya memainkan nada rendah, tetapi juga berperan sebagai penunjuk arah perkembangan harmoni seperti memainkan dasar dari inversi akord, contoh Akord C mayor itu terdiri dari C – E – G, jika bentuk nya menjadi inevrsi 1 maka susunannya E – G – C, jika inversi 2 susunannya G – C - E c. Menghubungkan Harmoni dan Ritme Selain mendukung harmoni, bass juga berfungsi memperkuat pola ritmis dan menjaga kestabilan tempo. Dalam banyak aransemen Angklung Padaeng, pola permainan bass dirancang mengikuti aksen-aksen tertentu sehingga menjadi penghubung antara kelompok harmoni dan instrumen perkusi. Posisi Bass dalam Partitur Pada partitur Angklung Padaeng, bass umumnya ditempatkan di bawah bagian harmoni. Posisi tersebut mencerminkan fungsinya sebagai lapisan paling rendah dalam struktur musikal. Simbolnya menggunakan huruf kapital dan huruf kecil. Huruf kapital menandakan bahwa senar bass yang di petik nada nada besar, sedang huruf kecil itu untuk oktaf-oktaf nada yang lebih kecil. Jenis Pola Permainan Bass Dalam praktik aransemen Angklung Padaeng, pola permainan bass dapat disesuaikan dengan karakter lagu dan gaya musik. Pada bagian ruas birama tertentu, jika polanya berbeda biasanya di tuliskan langsung di bawah notasi angka. Sedangkan untuk pola yang sama, biasanya di Simbol Bass Simbol Bass

125 tuliskan di bagian tertentu dengan sebutan pola iringan. Beberapa pola yang umum digunakan antara lain sebagai berikut. a. Root Bass Root bass merupakan pola paling sederhana, yaitu memainkan nada dasar dari setiap akor. Sebagai contoh: Akor Nada Bass C C F F Pola ini banyak digunakan pada lagu-lagu sederhana dan efektif untuk menjaga kestabilan tonal. b. Alternating Bass Pada pola ini, bass dimainkan secara bergantian antara nada dasar dan nada kelima (perfect fifth) atau ada memberikan istilah kontranya. Sebagai contoh: Akor C Mayor dimainkan dengan pola: C – G – C – G Pola ini banyak dijumpai pada lagu-lagu rakyat, musik pop, dan iringan mars karena memberikan kesan ritmis yang lebih kuat. c. Walking Bass Walking bass merupakan pola permainan yang bergerak secara bertahap mengikuti progresi nada sehingga menghasilkan aliran musikal yang lebih dinamis. Teknik ini banyak digunakan pada aransemen jazz, swing, dan beberapa lagu populer yang diadaptasi ke dalam permainan Angklung Padaeng. d. Pedal Point Pedal point adalah teknik mempertahankan satu nada bass dalam beberapa perubahan akor. Teknik ini digunakan untuk membangun ketegangan musikal (musical tension) sebelum menuju penyelesaian (resolution). Cara Membaca Bass pada Partitur Pembacaan bass dilakukan melalui beberapa tahapan. a. pemain mengidentifikasi simbol akor yang sedang berlangsung. b. menentukan nada bass yang harus dimainkan sesuai fungsi harmoninya. c. memperhatikan pola ritmis yang dituliskan pada bagian bass. d. menyesuaikan dinamika agar tidak mendominasi kelompok melodi. e. mengikuti perubahan tempo dan aba-aba dirigen. Dengan mengikuti langkah tersebut, pemain bass tidak hanya memainkan nada rendah, tetapi juga menjaga kesinambungan struktur harmoni secara keseluruhan.

126 Kesalahan yang Sering Terjadi Dalam proses latihan Angklung Padaeng, beberapa kesalahan yang sering ditemukan pada kelompok bass antara lain: • memainkan nada dasar tanpa memperhatikan inversi akor; • terlambat berpindah mengikuti perubahan progresi harmoni; • memainkan dinamika yang terlalu kuat sehingga menutupi melodi; • kurang memperhatikan pola ritmis sehingga permainan terdengar monoton; • tidak mengikuti arahan dirigen pada saat perubahan tempo atau dinamika. Kesalahan tersebut dapat diminimalkan melalui latihan membaca progresi akor secara bertahap dan latihan ansambel yang menekankan koordinasi antarkelompok. Implikasi dalam Permainan Angklung Padaeng Dalam sebuah ansambel Angklung Padaeng, kelompok bass dapat diibaratkan sebagai fondasi sebuah bangunan. Meskipun tidak selalu menonjol, keberadaannya menentukan kestabilan seluruh struktur musikal. Pemain bass dituntut memiliki kemampuan membaca partitur, memahami fungsi harmoni, menjaga ritme, serta berkoordinasi dengan kelompok akompanyemen dan dirigen agar tercipta keseimbangan sonoritas yang optimal. Bass merupakan elemen fundamental yang memberikan landasan tonal dan ritmis dalam aransemen Angklung Padaeng. Melalui permainan nada-nada rendah, bass memperkuat progresi harmoni, menjaga kestabilan struktur musikal, serta menciptakan keseimbangan sonoritas dalam ansambel. Oleh karena itu, kemampuan membaca bagian bass, memahami hubungan dengan simbol akor, serta mengenali berbagai pola permainan menjadi kompetensi penting bagi setiap pemain Angklung Padaeng. 11. Simbol Ekspresi dan Navigasi dalam Partitur Angklung Padaeng Partitur tidak hanya memuat notasi melodi, harmoni, bass, dan pola iringan, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai simbol yang berfungsi sebagai petunjuk interpretasi dan navigasi musik. Simbol- simbol tersebut membantu pemain memahami bagaimana sebuah komposisi harus dimainkan, kapan suatu bagian diulang, bagaimana perubahan tempo dilakukan, serta bagaimana ekspresi musikal diwujudkan selama pertunjukan. Dalam permainan Angklung Padaeng, pemahaman terhadap simbol ekspresi dan navigasi memiliki peranan yang sangat penting karena pertunjukan melibatkan banyak pemain yang harus bergerak secara serempak. Kesalahan dalam membaca satu simbol saja dapat menyebabkan ketidaksamaan interpretasi sehingga mengganggu kesinambungan permainan ansambel. Simbol-simbol dalam partitur merupakan sistem komunikasi visual yang memungkinkan komponis dan arranger menyampaikan berbagai petunjuk musikal kepada pemain secara ringkas dan universal. Oleh karena itu, kemampuan membaca simbol menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari literasi musik. Fungsi Simbol Ekspresi dan Navigasi Dalam partitur Angklung Padaeng, simbol ekspresi dan navigasi memiliki beberapa fungsi utama. Pertama, memberikan petunjuk mengenai cara memainkan suatu bagian lagu. Kedua, mengatur arah perjalanan musik melalui tanda pengulangan dan perpindahan bagian. Ketiga, membantu seluruh pemain mempertahankan keseragaman interpretasi. Keempat, menghemat penulisan partitur sehingga bagian-bagian yang sama tidak perlu ditulis berulang kali.

127 Simbol Dinamika Dinamika menunjukkan tingkat keras atau lembutnya bunyi. Beberapa simbol yang paling sering dijumpai pada partitur Angklung Padaeng antara lain sebagai berikut. Simbol Istilah Makna pp Pianissimo Sangat lembut p Piano Lembut mp Mezzo Piano Agak lembut mf Mezzo Forte Agak keras f Forte Keras ff Fortissimo Sangat keras fff Fortississimo Sekeras mungkin Dalam permainan Angklung Padaeng, perubahan dinamika dilakukan melalui keseragaman gerakan seluruh pemain. Oleh karena itu, simbol dinamika harus selalu diinterpretasikan berdasarkan arahan dirigen. Simbol Perubahan Dinamika Selain dinamika tetap, partitur juga menggunakan simbol perubahan intensitas bunyi. Simbol Istilah Makna < Crescendo Semakin keras > Decrescendo / Diminuendo Semakin lembut sfz Sforzando Tekanan kuat secara tiba-tiba fp Forte-Piano Keras kemudian segera lembut Simbol-simbol tersebut biasanya digunakan untuk memperkuat ekspresi musikal pada bagian- bagian tertentu. 3.10.18.5 Simbol Artikulasi Artikulasi menunjukkan cara suatu nada harus dimainkan. Beberapa simbol yang umum digunakan antara lain: Simbol Nama Fungsi ^ Staccato Bunyi pendek — Tenuto Bunyi penuh sesuai nilai not ∪ Legato Bunyi mengalir > Accent Memberikan tekanan Pada Angklung Padaeng, artikulasi diwujudkan melalui teknik menggoyangkan, menghentakkan, maupun meredam angklung sehingga menghasilkan karakter bunyi yang sesuai. Simbol Perubahan Tempo Selain tempo awal lagu, arranger sering memberikan petunjuk perubahan tempo selama pertunjukan.

128 Beberapa istilah yang sering dijumpai antara lain: Istilah Makna Accelerando Berangsur semakin cepat Ritardando Berangsur semakin lambat Rallentando Melambat secara bertahap A Tempo Kembali ke tempo semula Tempo Primo Kembali ke tempo awal Perubahan tempo harus dipimpin oleh dirigen agar seluruh kelompok tetap bergerak secara serempak. Simbol Fermata Fermata ditandai dengan simbol berbentuk setengah lingkaran yang memiliki titik di tengahnya Simbol ini menunjukkan bahwa suatu nada, akor, atau tanda diam harus dipertahankan lebih lama daripada nilai not yang tertulis. Dalam pertunjukan Angklung Padaeng, lamanya fermata tidak ditentukan secara matematis, tetapi mengikuti aba-aba dirigen. Oleh karena itu, seluruh pemain harus memperhatikan gestur dirigen sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya. 12. Simbol Instrumen Tambahan Dalam penulisan partitur musik angklung, khususnya untuk kebutuhan aransemen yang melibatkan instrumen perkusi, hingga saat ini belum terdapat standar simbol yang bersifat baku dan berlaku secara universal. Oleh karena itu, setiap arranger memiliki kebebasan untuk menentukan simbol-simbol tertentu sesuai dengan kebutuhan musikal karya yang disusunnya. Meskipun demikian, penggunaan simbol tersebut tetap harus mengedepankan prinsip keterbacaan, konsistensi, dan kemudahan dipahami oleh seluruh pemain. Pada praktiknya, apabila sebuah komposisi memerlukan bunyi-bunyi perkusi atau efek suara tertentu, simbol instrumen tersebut dicantumkan pada bagian atas notasi angka, tepat pada ruas birama atau ketukan tempat bunyi tersebut dimainkan. Penempatan simbol di atas notasi angka bertujuan agar pemain dapat membaca melodi dan instrumen tambahan secara bersamaan tanpa mengganggu struktur notasi utama. Simbol yang digunakan umumnya berupa gambar sederhana, bentuk geometris, atau tanda grafis yang mudah dikenali. Nilai ritmis setiap simbol mengikuti notasi angka yang berada tepat di bawahnya. Dengan demikian, apabila simbol ditempatkan di atas not angka bernilai satu ketuk, maka instrumen perkusi dimainkan selama satu ketuk. Apabila berada di atas not setengah ketuk atau seperempat ketuk, maka durasi permainannya mengikuti nilai not tersebut. Teknik memainkan setiap instrumen perkusi mengacu pada teknik dasar yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Oleh karena itu, simbol yang dicantumkan hanya berfungsi sebagai penanda jenis instrumen yang harus dimainkan pada waktu tertentu, bukan sebagai penjelasan teknik permainannya. Sebagai pedoman, arranger disarankan untuk selalu menyertakan legenda simbol (symbol legend) pada halaman awal partitur apabila menggunakan simbol-simbol yang bersifat khusus atau belum umum digunakan. Hal ini bertujuan untuk menghindari perbedaan interpretasi antar pemain serta memudahkan proses latihan dan pertunjukan.

129 Contoh Simbol Instrumen Perkusi Setiap simbol memiliki fungsi sebagai penanda instrumen yang harus dimainkan pada saat tertentu sesuai dengan posisi penempatannya dalam partitur. Simbol tersebut tidak menunjukkan tinggi nada (pitch), melainkan hanya mengidentifikasi jenis instrumen perkusi yang digunakan. Nilai ritmis tetap mengikuti notasi angka yang berada tepat di bawah simbol. Dalam praktik aransemen, bentuk simbol dapat dimodifikasi atau disederhanakan sesuai kebutuhan, selama penggunaannya konsisten di seluruh partitur dan dijelaskan melalui legenda simbol. Konsistensi penggunaan simbol menjadi aspek penting agar seluruh pemain memiliki pemahaman yang sama terhadap instruksi yang diberikan oleh arranger. Dengan adanya sistem simbol instrumen tambahan ini, partitur musik angklung menjadi lebih komunikatif, efisien, dan mampu mengakomodasi berbagai warna bunyi perkusi tanpa mengubah struktur utama notasi angka. Hal ini memberikan keleluasaan bagi arranger untuk mengeksplorasi variasi ritmis dan warna musikal sehingga menghasilkan sajian pertunjukan yang lebih dinamis dan ekspresif. 13 dan 14 Pola Iringan (Accompaniment Pattern) Pola iringan (accompaniment pattern) adalah susunan ritme dan harmoni yang dimainkan secara berulang untuk mendukung melodi utama dalam permainan Angklung Padaeng. Pola ini berfungsi sebagai penghubung antara melodi, harmoni, dan bass sehingga menghasilkan sajian musik yang utuh, seimbang, dan memiliki karakter musikal yang jelas. Dalam partitur Angklung Padaeng, bagian pola iringan umumnya disusun setelah bagian bass sebagai pedoman bagi kelompok pengiring. Dalam penulisan partitur Angklung Padaeng terdapat dua cara penyajian pola iringan. Pola iringan yang digunakan secara tetap (konstan) sepanjang lagu biasanya dituliskan dalam tabel pola iringan yang ditempatkan pada bagian bawah partitur, sehingga tidak perlu diulang pada setiap birama. Sebaliknya, pola iringan yang bersifat khusus atau mengalami perubahan pada bagian tertentu dituliskan di atas ruas birama tepat pada awal birama yang menggunakan pola

130 tersebut. Penempatan ini memudahkan pemain mengenali perubahan pola iringan tanpa mengganggu pembacaan notasi utama. Beberapa pola iringan yang umum digunakan dalam aransemen Angklung Padaeng antara lain March, Waltz (3/4), Slow Rock, Rumba, Bossa Nova, dan Pop Modern. Masing-masing pola memiliki karakter ritmis yang berbeda dan dipilih sesuai dengan gaya serta suasana lagu. Dengan memahami pola iringan dan cara penulisannya dalam partitur, pemain dapat menjaga kestabilan ritme, mengikuti perubahan akor dengan tepat, serta mendukung melodi utama sehingga menghasilkan permainan ansambel yang lebih padu dan musikal. Sebagai contoh dapat di lihat dalam pembahasan 3.6 Rhythm di sub bab atas. 15. Sistem Penomoran Angklung dan Distribusi Instrumen Salah satu karakteristik utama yang membedakan permainan Angklung Padaeng dari permainan instrumen musik lainnya adalah penggunaan sistem penomoran instrumen angklung. Dalam permainan piano, gitar, biola, atau suling, seorang pemain dapat menghasilkan berbagai nada menggunakan satu instrumen. Sebaliknya, pada Angklung Padaeng setiap instrumen hanya menghasilkan satu nada tertentu sehingga diperlukan pembagian instrumen kepada banyak pemain untuk membentuk sebuah komposisi yang utuh. Agar proses latihan dan pertunjukan dapat berlangsung secara efektif, setiap angklung diberi nomor sesuai dengan sistem penataan nada yang digunakan dalam kelompok. Penomoran tersebut menjadi media komunikasi antara arranger, dirigen, dan pemain sehingga proses distribusi instrumen dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman terhadap sistem penomoran tidak hanya membantu pemain memilih instrumen yang tepat, tetapi juga mempermudah proses membaca partitur, melakukan transposisi, serta memahami hubungan antara tonalitas lagu dan distribusi nada dalam ansambel. Konsep Penomoran Angklung Pada Angklung Padaeng, setiap instrumen diberi nomor yang merepresentasikan jumlah angklung dan setiap nomor memiliki nada tersendiri sesuai dengan urutan nada dalam diatonis, jika kita melihat dari klasifikasi nomor angklung pada bab sebelumnya, bahwa angklung ini di mualai dari nomor G oktaf besar sampai c3. Adapun urutannya menjadi G – G# - A – A# - B – C – C# - d – d# - e – f – 0 – 1 – s.d nomor 30. Dari nomor tersebut memiliki nada diatonis, misalnya Nomor 0 = f#; 1 = g; 2 = g#; 3 = a; dst. Sampai nomor 30 = c3 Dengan demikian, nomor angklung tidak identik dengan nama nada, tetapi merupakan identitas fisik instrumen yang akan memperoleh fungsi musikal sesuai dengan tonalitas lagu. Dalam partitur musik angklung lagu Mars Angklung dengan nada dasar Do = 3 (angklung nomor 3). Setelah dianalisis, semua nada yang terdapat dalam keseluruhan lagu tersebut, ditemukanlah nada-nada mulai dari nada paling rendah sampai paling tinggi. Kemudian di buat tabel seperti berikut:

131 Hal ini untuk memudahkan, bahwa tidak semua angklung terpakai dalam lagu tersebut, sehingga nomor-nomor angklung yang tidak dimainkan dalam lagu tersebut tidak perlu untuk dipegang. Teknik ini bisa diaplikasikan kedalam karya-kraya musik atau aransemen musik angklung lainnya dengan nada dasar yang lain, dan nomor angklung yang lain. Jika kita mengambil satu kasus di lagu Mars Angklung, aranger menginginkan lagu tersebut dimainkan dengan nada dasar Do = G (nomor angklung 1) maka, susunan pembagian nomor anglung akan berubah.