View Narasi Visual Dalam Jurnalisme Peran Fotografi Dal flipbook.
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research Volume 5 Nomor 4 Tahun 2025 Page 4300-4312 E-ISSN 2807-4238 and P-ISSN 2807-4246 Website: https://j-innovative.org/index.php/Innovative Narasi Visual dalam Jurnalisme Peran Fotografi dalam Mengkontruksi Opini Publik Moh. Ali Wisudawan Prakarsa1✉ , Riyani Dwi Mulya2 Universitas Muhammadiyah Tangerang Email: riyanidwimulya24@gmail.com1✉ Abstrak Di era informasi saat ini, fotografi telah berkembang menjadi alat komunikasi visual yang strategis untuk memengaruhi pendapat publik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana peran fotografi sebagai bagian dari narasi visual memengaruhi persepsi masyarakat terhadap masalah sosial, politik, dan budaya yang disampaikan melalui media massa dan media sosial. Penelitian ini menganalisis berbagai elemen, termasuk kekuatan visual jurnalisme, ekspresi emosi dan wajah dalam foto, serta bagaimana desain komunikasi visual memengaruhi pemaknaan pesan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya merekam realitas tetapi juga mengajarka makna sosial melalui aspek teknis (pencahyaan, bayangan,, dan komposisi), kontekstual (lingkungan sosial dan politik), dan emosional (perasaan dan ekspresi audiens). Dalam bidang jurnalisme warga, fotografi membantu masyarakat berpartisipasi dalam wacana visual yang memngaruhi opini publik. Menurut penelitian ini, fotografi memiliki kekuatan baratif, afektif, dan politis dalam membentuk cara masyarakat melihat realitas sosial. Studi ini juga menekankan betaoa pentingnya literasi visual dalam menghadapi arus informasi yang semakin cepat, visual, dan kompleks. Kata Kunci: Fotografi, Opini Publik, Narasi Visual, Media Massa, Media Sosial, Komunikasi Visual, Ekspresi Wajah, Citizen Journalism
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya Abstract In today's information age, photography has evolved into a strategic visual communication tool for influencing public opinion. The purpose of this study is to gain a better understanding of how photography plays a role as part of a visual narrative that influences public perceptions of social, political, and cultural issues conveyed through mass media and social media. This study analyzes various elements, including the visual power of journalism, emotional and facial expressions in photographs, and how visual communication design influences the interpretation of messages. The results show that photography not only records reality but also teaches social meaning through technical aspects (lighting, shadows, and composition), contextual (social and political environment), and emotional (audience feelings and expressions). In the field of citizen journalism, photography helps people participate in visual discourse that influences public opinion. According to this study, photography has westernizing, affective, and political power in shaping how people perceive social reality. This study also emphasizes the importance of visual literacy in facing the increasingly rapid, visual, and complex flow of information. Keywords: Photography, Public Opinion, Visual Narrative, Mass Media, Social Media, Visual Communication, Facial Expressions, Citizen Journalism PENDAHULUAN Media dan berita adalah sumber utama informasi bagi masyarakat. Melalui mereka, orang dapat mengetahui peristiwa terbaru dan memahami masalah penting yang terjadi di masyarakat. Media juga membantu opini publik. Di era digital, peran media semakin penting karena informasi perlu disaring agar tetap akurat dan terpercaya karena menyebar dengan cepat. Media dimanfaatkan karena fungsinya yang sangat strategis tersebut sehingga keberadaannya pun dimanfaatkan pula oleh partai politik. Partai politik menggunakan sebagai macam saluran media seperti media cetak, elektronik, media online untuk menyampaikan visi, misi dan program-program partai kepada masyarakat luas (Senaharjanta, 2019). Fotografi telah menjadi salah satu media komunikasi visual yang paling kuat dalam membentuk opini publik. Di era digital saat ini, gambar tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga sebagai alat untuk menyampaikan pesan, membentuk persepsi, dan mempengaruhi sikap masyarakat terhadap berbagai isu sosial, politik, dan budaya. Fotografi sangat penting untuk menyampaikan informasi secara cepat dan efektif dalam jurnalistiik. Studi oleh Rahmah Tasya Ad’nisa dan Maya Purnama Sari menemukan bahwa penggunaan media online sangat membutuhkan foto yang akurat, spesifikasi,
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya ringkas, dan lengkap untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya merekan peristiwa tetaapi juga membangun cerita yang dapat memengaruhi cara Masyarakat melihat masalah (Ad’nisa & Sari, 2021). Dalam ranah politik, fotografi digunakan sebagai media untuk membangun citra dan mempengaruhi persepsi publik terhadap tokoh politik. Mohammad Solihin dalam penelitiannya menyatakan bahwa "media visual berupa foto sangat besar pengaruhnya mempengaruhi opini publik. Fotografi memiliki kekuatan visual yang mampu mengkonstruksi keotentikan peristiwa faktual". Hal ini menunjukkan bahwa fotografi tidak hanya merekam realitas, tetapi juga membentuk realitas sosial melalui interpretasi visual. Fotografi juga membantu menyampaikan informasi dari perspektif Masyarakat di media sosial. Dalam penelitian mereka, M. Zaenul Muttaqin dan Sriyono menunjukkan bahwa group Facebook dapat digunakan untuk memproduksi budaya visual yang membentuk opini publik melalui analisis wacana kritis. Ini menunjukkan bahwa fotografi memiliki peran penting dalam kedua media konvensional dan platfom digital yang lebih interaktif Dengan demikian, fotografi memiliki peran yang kompleks dan signifikan dalam konstruksi opini publik, baik melalui media massa, media sosial, maupun partisipasi warga dalam menghasilkan dan menyebarkan informasi visual. Dengan mempertimbangkan latar belakang serta identifikasi masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini difokuskan untuk menelaah secara lebih komprehensif bagaimana peran fotografi dalam memengaruhi pembentukan opini publik melalui berbagai saluran komunikasi visual seperti media massa dan media sosial. Di samping itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menggali lebih jauh faktor-faktor yang memengaruhi tingkat keberhasilan fotografi dalam membentuk opini, baik dari segi teknis, kontekstual, maupun emosional yang melekat dalam citra visual tersebut. Tak hanya itu, perhatian khusus juga diberikan pada dinamika fotografi dalam ranah citizen journalism, yang kian berkembang sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam menyampaikan informasi visual dan membentuk persepsi publik terhadap isu-isu sosial. Fokus penelitian ini akan memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kekuatan visual dalam membentuk cara pandang masyarakat di era digital.
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya METODE PENELITIAN Penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk mendeskripsikan bagian oermukaan dunia sebagaimana dilakukan penelitian kuantitatif dengan positivismenya, tetapi untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah manusia dan sosial (Fadli, 2021). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Narasi Visual Menurut Caputo dalam (Octaviani, 2022) narasi visual telah ada sejak jaman paleolitikum sekitar 30.000 tahun yang lalu. Sejak lama, manusia telah menggunakan kata- kata, gambar, dan benda lain untuk menceritakan dan menggambarkan sesuatu dengan jelas sehingga audiance paham. Media Yang menggunakan gambar visual dan atau grafis, baik bergerak maupun diam, disebut narasi visual. Cara manusia menyampaikan pesan melalui elemen gambar telah lama digunakan dalam narasi visual. Komunikasi tanpa batasan bahasa dapat dilakukan melalui simbol, ilustrasi, dan media visual lainnya. Penggunaan narasi visual dapat dilihat di era saat ini dalam fotografi, film, dan media digital. Ini memiliki kemampuan untuk menarik perhatian dan membuat emosi audience. Narasi visual memiliki keunggulan karena dapat menyampaikan informasi secara ringkas dan mendalam, menjadikannya alat yang sangat bermanfaat dalam dunia komunikasi modern. “Bal mengatakan dengan melibatkan lebih banyak indra penonton, narasi visual dapat meningkatkan pemahaman dan retensi informasi (Kustiawan et al., 2024). Narasi visual telah menjadi bentuk komunikasi yang digunakan sejak masa prasejarah dan terus berkembang hingga era digital saat ini. Narasi visual dapat menyampaikan pesan tanpa batasan bahasa dengan menggunakan elemen visual seperti gambar, simbol, dan ilustarasi. Kehadirannya dalam media kontemporer seperti fotografi dan film meningkatkan daya Tarik pesan dan membuat audience terlibat secara emosional. Banyak penelitian mendukung gagasan bahwa narasi visual tidak hanya memberikan informasi yang mudah dipahami dan mendalam, tetapi juga meningkatkan pemahaman dan daya ingat melalui keterlibatan sensor.
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya Teori Jurnalisme “Jurnalistik berasal dari bahasa Yunani “journal” atau “journe”, yang berarti “catatan harian”. Jurnalistik adalah ilmu yang mempelajari bagaimana menyampaikan pesan atau ide kepada orang-orang secara terorganisir melalui berbagai media seperti surat kabar, majalah (media cetak), radio, televisi, internet (media elektronik), dan film (news-reel) (Harahap & Saragih, 2025). Jurnalistik berperan sebagai wadah komunikasi massa yang menyampaikan ide dan informasi secara sistematis melalui media. Jurnalistik bermula sebagai catatan harian dan berkembang menjadi bidang yang menangani kebutuhan Masyarakat akan informasi yang cepat, akurat, dan relevan. Adanya di berbagai platform, seperti media cetak, siaran elektronik, dan digital, menunjukkan betapa fleksibel dan luasnya dia dalam membentuk pemahaman orang tentang peristiwa yang terjadi. Jurnalistik menjadi alat penting untuk meningkatkan kesadaran sosial dan mendorong partisipasi public melalui penyajian yang sistematis. Pendistribusian informasi berubah karena kemajuan teknologi komunikasi dan informasi melalui Internet. Informasi didistribusikan semakin cepat, dan penonton juga menerimnya secara cepat (Marhamah & Fauzi, 2021). Teori Fotografi Fotografi digital adalah evolusi dari fotografi tradisional yang menggunakan film. Dalam fotografi digital, gambar direkam oleh sensor elektronik di dalam kamera dan kemudian dapat disimpan, diproses, dan dibagikan secara elektronik. Teknologi baru ini membawa transformasi besar dalam cara fotografer merekam dan mengolah foto (Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, 2024). Fotografi digital, evolusi dari fotografi tradisional berbasis film, menggunakan sensor elektronik untuk merekam gambar dan menyimpannya dalam format digital yang dapat diubah dan dibagikan secara instan. Efisiensi tinggi metode ini memungkinkan pengguna mengambil ribuan foto tanpa biaya tambahan, melihat hasil langsung, dan mengolah gambar menggunakan perangkat lunak seperti Lightroom dan Photoshop. Namun, keunggulan estetika film, seperti tonalitas warna yang unik, tekstur "grain", dan rentang dinamis alami, masih sulit ditiru secara sempurna oleh teknologi digital. Kesimpulannya, meskipun fotografi digital unggul dalam hal kecepatan, biaya, dan fleksibilitas pasca-produksi, nilai artistik dan pengalaman reflektif film analog tetap tidak
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya tergantikan oleh fotografi digital. Saat ini, metode terbaik adalah menggabungkan kekuatan kedua medium untuk membuat karya yang efektif sekaligus bermakna secara visual. Penemuan kamera dan media rekam yang berupa film menentukan sejarah fotografi. Proses pencahayaan film terjadi dalam kamera dan direkam dalam media rekam yang berupa film. Bahasa Yunani ”phos” yang berarti cahaya, dan ”graphein” yang berarti menggambar, adalah asal-usul fotografi. Sir John Herschel menggunakan istilah ”foto” pertama kali pada tahun 1893. Menggambar dengan Cahaya adalah defnisi fotografi (Sutedja & Athoriq, 2021). Fotografi digital, evolusi dari fotografi tradisional berbasis film, menggunakan sensor elektronik untuk merekam gambar dan menyimpannya dalam format digital yang dapat diubah dan dibagikan secara instan. Efisiensi tinggi metode ini memungkinkan pengguna mengambil ribuan foto tanpa biaya tambahan, melihat hasil langsung, dan mengolah gambar menggunakan perangkat lunak seperti Lightroom dan Photoshop. Namun, keunggulan estetika film, seperti tonalitas warna yang unik, tekstur "grain", dan rentang dinamis alami, masih sulit ditiru secara sempurna oleh teknologi digital. Kesimpulannya, meskipun fotografi digital unggul dalam hal kecepatan, biaya, dan fleksibilitas pasca- produksi, nilai artistik dan pengalaman reflektif film analog tetap tidak tergantikan oleh fotografi digital. Saat ini, metode terbaik adalah menggabungkan kekuatan kedua medium untuk membuat karya yang efektif sekaligus bermakna secara visual. Kontruksi Opini Publik Opini publik adalah pandangan atau sikap kolektif masyarakat terhadap isu tertentu yang terbentuk melalui proses komunikasi dan interaksi sosial. Media massa dan media sosial memainkan peran penting dalam membentuk opini publik dengan menyajikan informasi dan narasi yang mempengaruhi persepsi masyarakat. Menurut penelitian oleh Faturahman, penggunaan media sosial dalam konteks pemilihan presiden Indonesia tahun 2019 menunjukkan dampak signifikan dalam membentuk opini publik, terutama dalam konteks polarisasi dan perpecahan sosial. Proses pembentukan opini publik dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kredibilitas sumber informasi, konsistensi pesan, dan interaksi dengan audiens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman audiens, konsistensi pesan, kredibilitas sumber informasi, serta pemanfaatan media sosial secara strategis merupakan faktor utama dalam membentuk opini public (Pramungkas, 2020).
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya Opini publik memiliki peran ganda di negara demokratis. Proses diskursif yang menghasilkan opini publik benar-benar mewakili keinginan dan keinginan warga negara. untuk pemerintah dapat menggunakannya sebagai bagian dari proses membuat keputusan politik yang sesuai dengan keinginan rakyat (Muttaqin & Sriyono, 2021). Teori Cahaya dan Bayangan “Dalam fotografi, pencahayaan adalah komponen penting untuk menghasilkan karya seni. Permainan cahaya yang dilakukan oleh fotografi sesuai penempatan arah dan sudut cahaya memberikan makna yang berbeda kepada objek (Kusuma, 2022). Bayangan dan cahaya adalah perangkat visual penting dalam fotografi dan komunikasi visual. Cahaya berfungsi sebagai alat utama untuk membentuk tampian visual, memperjelas bentuk, menciptakan kedalaman, dan membangun suasana. Sementara itu, bayangan yang dihasilkan oleh pencahayaan memberikan dimensi spasial dan mendorong cerita yang ingin disampaikan. Dalam fotografi, penggunaan light dapat mengubah makna gambar dari yang positif ke yang negatif dan sebaliknya. Jika fotografer tidak menyadari pengaruh besar yang dihasilkan oleh light dan shadows, mereka akan kehilangan kemampuan penting untuk mengontrol hasilnya (Prastiti, 2024). Bayangan dan cahaya dapat membentuk dimensi, suasana, dan cerita dalam fotografi dan komunikasi visual. Bayangan memberikan struktur, dramatisasi, dan fokus visual, sedangkan cahaya yang diarahkan secara strategis memperjelas bentuk, menciptakan kedalaman, dan membangun mood. Secara umum, pengaturan cahaya, baik terang maupun lembut, dapat mengubah perasaan dan arti sebuah foto, mulai dari hangat dan positif hingga tajam dan misterius. Oleh karena itu, untuk "melukis dengan cahaya", fotografer harus menguasai cara cahaya dan bayangan berinteraksi sehingga mereka dapat menghasilkan karya visual yang menyenangkan, indah, dan bermakna. Teori Psikologi Ekspresi Wajah “Ekspresi wajah sangat penting karena mempengaruhi bagaimana orang melihat interaksi sosial. Kemampuan untuk mengidentifikasi emosi orang lain melalui ekspresi wajah mereka sangat penting (Hartosujono, 2017)” Ekspresi wajah sangat penting dalam interaksi sosial karena memungkinkan orang lain secara otomatis mengenali dan merasakan emosi kita. Ini lebih dari sekadar komunikasi nonverbal itu juga menunjukkan empati dan kepercayaan. Saat seseorang tersenyum atau
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya menunjukkan rasa sedih, reaksi imitasi emosional dikenal sebagai penyebaran emosional terjadi secara bawah sadar dan memengaruhi perilaku dan mood kedua belah pihak. Studi juga menunjukkan bahwa kemampuan untuk membedakan senyuman asli dari palsu dapat meningkatkan kepercayaan saat berbicara dengan orang lain. Ekspresi wajah adalah alat komunikasi yang dapat menyampaikan niat positif, memicu empati, dan menciptakan hubungan sosial. Oleh karena itu, memahami dan mengendalikan ekspresi wajah sangat penting untuk meningkatkan interaksi manusia. Fotografi ekspresi dapat didefinisikan sebagai karya fotografi yang terkonsep dengan objek tertentu, diproses, dan dipresentasikan untuk kepentingan si pemotret dengan luapan ekspresi artistik mereka. Dalam hal ini, fotografi dianggap sebagai media ekspresi yang menampilkan jati diri si pemotret dalam proses penciptaan karya. Karena gayanya yang menekankan pada nilai ekspresif-estetis seni, foto-foto yang dia buat lebih mirip dengan fotografi seni murni (fine art photography) (Giantoro et al., 2022). Ekspresi wajah melalui mekanisme seperti mimikri otomatis dan emotional contagion—berperan krusial dalam interaksi sosial, karena memungkinkan orang langsung memahami emosi orang lain dan membangun kepercayaan. Penelitian menunjukkan bahwa reaksi wajah seperti senyuman atau ekspresi kesedihan dapat memicu respons emosional serupa pada pengamat, bahkan hingga memengaruhi persepsi dan keputusan interpersonal. Oleh karena itu, fotografi ekspresi bukan sekadar dokumentasi visual, melainkan medium yang mengungkap kedalaman emosi dan identitas fotografer, sejalan dengan fine art photography yang menekankan nilai estetis dan ekspresif. Memahami dan mengarahkan ekspresi wajah dalam karya visual sangat penting untuk menajamkan komunikasi emosional dan hubungan sosial dalam medium fotografi. Teori Psikologi Ekspresi Emosi ”Ekspresi emosi biasanya probadi dan spontan. Namun, interaksi dengan orang lain biasanya memngaruhinya. Gambaran tentang ekspresi emosi yang ditunjukkan oleh manusia sangat beragam. Misalnya, Ketika seseorang menutup telinga karena takut pada suara petir adalah contoh tingkah laku yang dihasilkan dari pengalaman berinteraksi dengan orang lain (Cahyani Windika Risna et al., 2021) Dalam (Rizky Trylestari, 2023) menjelaskan terdapat 4 ekspresi yang selalu manusia ungkapkan:
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya 1. Kecewa Ekspresi kekecewaan yang dialami oleh seseorang karena tidak memenuhi kebutuhan san keinginan mereka. Orang yang kecewa biasanya melakukan hal-hal yang tidak mereka sadari dan membahayakan diri mereka sendiri. 2. Pasrah ketika seseorang tetap dalam keadaan atau kondisi tertentu tanpa berusaha untuk mengubah, memproses, atau keluar dari keadaan tersebut. Di kehidupan sehari-hari, tidak jarang bahwa orang akan menghadapi masalah yang seringkali membuat orang gelisah dan bingung untuk mencari jalan keluar. 3. Penasaran Penasaran adalah rasa keingintahuan terhadap sesuatu atau sesuatu yang misterius. Rasa penasaran biasanya mendorong orang untuk mencari lebih dalam dan lebih luas dari apa yang didengarkan
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya 4. Sedih Kesedihan atau sedih adalah perasaan manusia yang menyatakan kecewa atau frustasi terhadap seseorang atau sesuatu. Rasa sakit, rasa pahit, atau perasaan tidak mampu biasanya merupakan tanda kesedihan Teori Desain Komunikasi Visual Desain komunikasi visual memberikan dampak yang cukup besar terhadap audiens, baik dalam hal positif maupun merangsang kreativitas masyarakat, memperkuat kemampuan dalam memahami pesan visual (literasi visual), serta meningkatkan kepekaan terhadap unsur estetika dalam kehidupan sehari-hari. Unsur-unsur visual seperti ilustrasi, warna, tata letak, hingga tipografi terbukti mampu menumbuhkan imajinasi dan mendorong apresiasi terhadap nilai-nilai visual, khususnya dalam bidang pendidikan dan budaya Pembahasan Studi ini menunjukkan bahwa fotografi membentuk opini publik melalui media massa dan media sosial. Fotografi, sebagai jenis narasi visual, memiliki kemampuan untuk menyampaikan pesan secara emosional dengan cepat dan tanpa batasan bahasa. Foto dalam jurnalisme bukan hanya alat untuk menyimpan catatan, tetapi juga alat untuk mengubah persepsi publik terhadap peristiwa atau tokoh tertentu. Foto dapat meningkatkan empati, sikap, dan keterlibatan audiens melalui ekspresi wajah dan emosi yang ditangkap kamera. Cahaya, bayangan, warna, dan komposisi adalah elemen desain komunikasi visual yang meningkatkan makna dan suasana gambar. Fotografi digital, berkat kecepatan dan fleksibilitas mereka, memperluas jangkauan pesan visual, terutama di media sosial, yang memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam jurnalisme sipil. Dalam situasi seperti ini, fotografi tidak hanya merekam kenyataan tetapi juga menciptakan realitas sosial, yang berdampak pada cara publik melihat masalah politik, sosial, dan budaya.
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya SIMPULAN Sebagai bagian dari media komunikasi visual, fotografi berperan penting dalam membentuk opini publik, terutama di era digital saat ini. Fotografi tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi visual, tetapi juga menjadi alat untuk menyampaikan pesan, membangun narasi, dan mempengaruhi persepsi dan sikap Masyarakat terhadap berbagai masalah social, politik, dan budaya. Fotografi memungkinkan narasi visual untuk menyampaikan pesan tana menggunakan Bahasa tambahan, menimbulkan perasaan bagi audiens, dan meningkatkan daya ingat mereka. Fotografi sangat penting dalam jurnalistik karena dapat menyampaikan pesan dengan cepat dan mendalam. Menggambar melalui Cahaya dan bayangan, serta ekspresi wajah dan emosi, memberikan dimensi estetis dan emosional yang meningkatkan makna sebuah gambar. Partisipasi Masyarakat dalam citizen journalism menunjukkan bahwa fotografi dapat membentuk opini publik secara luas dan bukan hanya milik media professional. Keberhasilan fotografi sangat bergantung pada komponen teknis seperti pencahyaan dan komposisi, konekstual seperti narasi dan setting, dan emosional seperti ekspresi wajah dan perasaan. Semua ini berkontribusi pada bagaimana fotografi membentuk perspektif Masyarakat. Oleh karena itu, fotografi tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi visual, tetapi juga merupakan alat social yang kuat yang dapat membentuk, memengaruhi, dan mengkontruksi kehidupan Masyarakat. Adanya dalam desain komunikasi visual membantu Masyarakat lebih memahami visual serta memperkuat nilai estetika dalam kehidupan sehari-hari. DAFTAR PUSTAKA Lawson, Bryan.1980. Bagaimana Cara Berpikir Desainer (How Designers Think), Yogyakarta & Bandung : Jalansutra Arief Adityawan S. 1999. Tinjauan Desain: dari Revolusi Industri hingga Posmodern, Jakarta : UPT Penerbitan Tarumanagara. Ad’nisa, R. T., & Sari, M. P. (2021). Pengaruh Fotografi Jurnalistik Terhadap Masyarakat Pada Media Online. Jurnal Jurnalisa, 7(2), 149. https://journal3.uin- alauddin.ac.id/index.php/jurnalisa/article/view/21445 Cahyani Windika Risna, Irgi Setyawan, & Cintya Nurika Irma. (2021). Analisis Penggunaan Bahasa Sebagai Ekspresi Emosi Pada Film My Stupid Boss 2. Jurnal Membaca,
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya Volume 6(April), 65–72. http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jurnalmembaca Fadli, M. R. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Medan, Restu Printing Indonesia, Hal.57, 21(1), 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1. Giantoro, R. P., Raharjo, A., & Pramana, I. M. B. (2022). Visualisasi Buruh Bangunan Dalam Karya Fotografi Ekspresi. Retina Jurnal Fotografi, 2(1), 60–69. https://doi.org/10.59997/rjf.v2i1.1293 Harahap, B., & Saragih, M. Y. (2025). Urgensitas jurnalistik media sosial whatsapp pada mahasiswa fakultas ilmu sosial universitas islam negeri sumatera utara. 10(1), 1–10. Hartosujono, H. (2017). Eksplorasi Kepekaan Dewasa Awal Terhadap Ekspresi Wajah Anak. Jurnal Psikologi Insight, 1(1), 14–24. https://doi.org/10.17509/insight.v1i1.8441 Kustiawan, W., Sahlaya, M. R., Ginting, T. R., Aulia, R., Purnama, S., & Fadilah, H. (2024). Eksplorasi Strategi Narasi Visual dalam Meningkatkan Daya Tarik Program Infotaiment Televisi : Studi Kasus Pada Acara Berita Hiburan Malam. 8, 26413–26419. Kusuma, S. S. (2022). Analisis Arah Cahaya Dalam Studio Fotografi. IMAJI: Film, Fotografi, Televisi, & Media Baru, 13(2), 144–152. https://doi.org/10.52290/i.v13i2.78 Marhamah, M., & Fauzi, F. (2021). Journalisme di Era Digital. JICOMS: Journal of Islamic Communication and Media Studies, 1(1), 16–37. Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, S. D. M. D. (2024). Tinjauan Kualitas Citra dalam Fotografi Digital: Analisis Pengaruh Teknik Pengolahan dan Perangkat Kamera Terhadap Hasil Fotografi. Muttaqin, M. Z., & Sriyono, S. (2021). Konstruksi Opini Publik melalui Media Sosial: Studi Pendekatan Analisis Wacana Kritis Grup Facebook Lintas Kejadian Kota Jayapura pada Bulan Juni 2021. POLITICOS: Jurnal Politik Dan Pemerintahan, 1(2), 113–129. https://doi.org/10.22225/politicos.1.2.2021.113-129 Octaviani, A. W. (2022). Narasi visual pada game edukasi berjenis aksi. 11(1), 1–14. http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng- 8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2 008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEM BETUhttps://jurnal.iwu.ac.id/index.p Pramungkas, P. R. (2020). Peran Humas Pembentuk Opini Publik Dalam Upaya Pencitraan Lembaga Pendidikan. Kelola: Journal of Islamic Education Management, 5(1), 1–14. https://doi.org/10.24256/kelola.v5i1.1411 Prastiti, N. P. S. (2024). Teknik Levitasi Dalam Fotografi Makanan : Analisis Semiotika Dan Estetika Karya Fotografer Herry Tjiang. Retina Jurnal Fotografi, 4(2), 326–337.
Copyright @ Moh. Ali Wisudawan Prakarsa, Riyani Dwi Mulya https://doi.org/10.59997/rjf.v4i2.3706 Rizky Trylestari, E. M. (2023). Ruang kata. 168–182. Senaharjanta, I. L. (2019). Dampak Fotografi Jurnalistik Di Surat Kabar Nasional Pada Masa Kampanye Pemilihan Daerah Dki Jakarta Dalam Memengaruhi Pemilih. Spectā: Journal of Photography, Arts, and Media, 2(1), 1–12. https://doi.org/10.24821/specta.v2i1.2461 Sutedja, M., & Athoriq, F. (2021). Fotografi Monokromatik Hitam Putih Dalam Dunia Fotografi Modern. Widyakala: Journal of Pembangunan Jaya University, 8, 46. https://doi.org/10.36262/widyakala.v8i0.390.