Created in Canva
Matahari sore baru saja menyurutkan teriknya ketika Raihan (15 tahun) melihat adik perempuannya, Nadia (10 tahun), berjalan gontai memasuki halaman rumah. Wajah adiknya cemberut, matanya sembab, dan tas sekolahnya digeret asal-asalan di atas tanah. Raihan yang sedang menyiram tanaman segera mematikan keran air. "Kenapa, Nad? Kok muka dilipat begitu?" Nadia melempar tasnya ke kursi teras dan duduk bersedekah dada. "Tugas kliping IPA buat besok hilang. Katanya guru harus dikumpul jam 8 pagi, kalau tidak dapat nilai nol. Nadia sudah cari di kelas tapi tidak ada. Pasti ketinggalan di perpustakaan atau jatuh di jalan." Raihan paham betul betapa paniknya sang adik. Tugas itu sudah dikerjakan Nadia selama seminggu penuh dengan memotong majalah bekas dan menempel gambar- gambar ekosistem. Daripada menyalahkan kelalaian adiknya, Raihan langsung mengambil kunci sepeda. "Ayo naik," kata Raihan sambil menepuk jok belakang sepedanya. "Kita balik ke sekolah sekarang. Mumpung gerbang belum dikunci sama Pak Janu, penjaga sekolah." Tanpa membuang waktu, Nadia membonceng kakaknya. Raihan mengayuh sepeda sekuat tenaga membelah angin sore. Setibanya di sekolah, gerbang memang hampir ditutup. Beruntung, Pak Janu mengenali Raihan yang merupakan alumni di sana dan mengizinkan mereka masuk sebentar. Mereka berdua bergegas menuju kelas Nadia, lalu menyusuri koridor hingga ke ruang perpustakaan. Lampu perpustakaan sudah mati, namun melalui jendela kaca, Raihan melihat tumpukan kertas berwarna hijau di atas meja pojok. "Itu klipingku!" seru Nadia lega. Pak Janu membukakan pintu, dan Nadia langsung memeluk map klipingnya dengan erat. Saat perjalanan pulang, langit mulai meredup. Nadia memeluk pinggang kakaknya dari belakang. "Makasih ya, Kak Rai. Kalau tidak ada Kakak, pasti Nadia sudah dihukum besok." Raihan tersenyum sambil terus mengayuh. "Sama-sama. Tapi besok-besok, sebelum pulang periksa lagi bawaannya. Kakak tidak selalu bisa jadi pahlawan kesiangan, ya!" Nadia tertawa kecil dan mengangguk. Ia tahu, meskipun kakaknya suka mengejek, Raihan adalah orang pertama yang akan selalu mengulurkan tangan setiap kali ia membutuhkan bantuan.
Matahari sore baru saja menyurutkan teriknya ketika Raihan (15 tahun) melihat adik perempuannya, Nadia (10 tahun), berjalan gontai memasuki halaman rumah. Wajah adiknya cemberut, matanya sembab, dan tas sekolahnya digeret asal-asalan di atas tanah.
Raihan yang sedang menyiram tanaman segera mematikan keran air. "Kenapa, Nad? Kok muka dilipat begitu?" Nadia melempar tasnya ke kursi teras dan duduk bersedekah dada.
"Tugas kliping IPA buat besok hilang. Katanya guru harus dikumpul jam 8 pagi, kalau tidak dapat nilai nol. Nadia sudah cari di kelas tapi tidak ada. Pasti ketinggalan di perpustakaan atau jatuh di jalan."
Raihan paham betul betapa paniknya sang adik. Tugas itu sudah dikerjakan Nadia selama seminggu penuh dengan memotong majalah bekas dan menempel gambar-gambar ekosistem.
Daripada menyalahkan kelalaian adiknya, Raihan langsung mengambil kunci sepeda. "Ayo naik," kata Raihan sambil menepuk jok belakang sepedanya. "Kita balik ke sekolah sekarang. Mumpung gerbang belum dikunci sama Pak Janu, penjaga sekolah."
Tanpa membuang waktu, Nadia membonceng kakaknya. Raihan mengayuh sepeda sekuat tenaga membelah angin sore. Setibanya di sekolah, gerbang memang hampir ditutup. Beruntung, Pak Janu mengenali Raihan yang merupakan alumni di sana dan mengizinkan mereka masuk sebentar.
Mereka berdua bergegas menuju kelas Nadia, lalu menyusuri koridor hingga ke ruang perpustakaan. Lampu perpustakaan sudah mati, namun melalui jendela kaca, Raihan melihat tumpukan kertas berwarna hijau di atas meja pojok.
"Itu klipingku!" seru Nadia lega. Pak Janu membukakan pintu, dan Nadia langsung memeluk map klipingnya dengan erat.
Saat perjalanan pulang, langit mulai meredup. Nadia memeluk pinggang kakaknya dari belakang. "Makasih ya, Kak Rai. Kalau tidak ada Kakak, pasti Nadia sudah dihukum besok." Raihan tersenyum sambil terus mengayuh. "Sama-sama. Tapi besok- besok, sebelum pulang periksa lagi bawaannya. Kakak tidak selalu bisa jadi pahlawan kesiangan, ya!"
Nadia tertawa kecil dan mengangguk. Ia tahu, meskipun kakaknya suka mengejek, Raihan adalah orang pertama yang akan selalu mengulurkan tangan setiap kali ia membutuhkan bantuan.
...Tamat......The end...