View 11. I Putu Dharma Samanta Prabaswara Perjalananku Dari Tidak Bisa Berenang Menjadi Bisa Berenang ginopita wibhukti flipbook.
PERJALANANKU DARI TIDAK BISA BERENANG MENJADI BISA BERENANG Oleh: I Putu Dharma Samanta Prabaswara Saat hari minggu aku jalan-jalan ke kolam renang aku berangkat pukul 14.00 aku berangkat Bersama keluargaku yang terdiri dari Aku,adik,ibuk dan bapak aku sangat bersemangat sampai aku loncat kegirangan tetapi kami harus menunggu karena cuacanya sanngat panas Matahari cerah menyengat kulit ketika aku tiba di kolam renang hari itu. Rasa gembira meluap-luap di dalam dada. Tanpa berpikir panjang dan saking semangatnya, aku langsung melompat ke dalam kolam yang ternyata sangat dalam. Begitu tubuhku terperosok ke dalam air, rasa panik mendadak menyengat kakiku sama sekali tidak menyentuh dasar kolam Aku terkejut setengah mati kepakan kaki dan tanganku sama sekali tak mampu membawaku kembali ke permukaan. Dalam sisa-sisa tenaga yang kian terkuras, aku berusaha meminta tolong. Ditengah kepungan air, samar-samar kudengar suara ibu merespon titik harapan itumembuatku berteriak sekencang kencangnya. Ibu langsung melompat tanpa ragu, berenang secepat kilat menembus air, lalu merengkuh tubuhku ke atas. Begitu mendarat di tepi kolam, aku mendesah lega. Hari itu, di dalam hati, aku berjanji pada diri sendiri bahwa aku harus bisa berenang. Satu tahun berlalu. Aku kembali berenang, kali ini di daerah desa Cengkok di sebuah suangai subak yang airnya sangat jernih. Disana aku juga mandi bareng teman teman satu banjar. Saat sedang asyik bermain air, perhatianku teralih pada sebuah pembatas kolam. Aku melihat seorang temanku Bernama abi yang usianya lebih muda santai saja berenang melewati garis pembatas itu. Dalam pikiranku, area di seberang sana pasti dangkal.
Tanpa ragu aku mengikutinya dari belakang. Namun dugaan ku meleset total. Begitu melewati pembatas, tubuhku langsung tenggelam karena airnya sangat dalam dan kakiku tak menginjak apa pun. Abi yang sadar aku berada dalam bahaya bergegas berenang dan mencoba mendorong tubuhku ke permukaan, namun tenaganya tak cukup. Tak menyerah begitu saja, temanku yang lain langsung berenang cepat ke tepi, berlari menghampiri bapak, dan berteriak memberitahu bahwa aku tenggelam. Tanpa membuang waktu, bapak langsung melompat dan menyelamatkanku. Untuk kesekian kalinya, aku bisa bernapas lega di pelukan bapak. Beberapa bulan kemudian, aku kembali berenang ke Cengkok. Kali ini beda cerita bapak turun langsung untuk mengajariku berenang secara bertahap. Mengingat dua pengalaman pahit yang pernah kulalui, aku belajar dengan sangat serius dan penuh semangat. Tekadku sudah bulat. Lewat latihan keras dan bimbingan bapak, usahaku akhirnya membuahkan hasil. Rasa takut pada air kini berganti menjadi kemenangan aku akhirnya benar-benar bisa berenang Pesan Moral: Kita harus bisa berenang supaya bisa menyelamatkan diri dan bertahan hidup