Modul KDM final

MODUL KEBUTUHAN DASAR MANUSIA PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA III 1

DAFTAR ISI Pendahuluan............................................................................................................. 3 Modul 1. Konsep Manusia Holistik dan Kebutuhan Dasar......................................4 Modul 2. Respons Adaptasi terhadap Stres............................................................18 Modul 3. Nutrisi dan Cairan Elektrolit..................................................................31 Modul 4. Eliminasi Urine dan Fekal......................................................................42 Modul 5. Mobilisasi, Istirahat, Kebersihan Diri, dan Kenyamanan.......................53 Modul 6. Komunikasi Terapeutik dan Privasi Pasien............................................63 Modul 7. Hand Hygiene dan APD.........................................................................72 Modul 8. Dekontaminasi, Sterilisasi, dan Isolasi...................................................84 Modul 9. Pemeriksaan Fisik Umum.......................................................................94 Modul 10. Tanda Vital dan Antropometri............................................................104 Modul 11. Pemeriksaan Fisik Sistem Tubuh dan Dokumentasi..........................113 2

PENDAHULUAN Modul ini menyatukan materi kebutuhan dasar manusia kelas 1A dan 1B ke dalam satu rangkaian yang runtut, mengikuti sebelas topik pada rencana pembelajaran semester. Setiap modul memuat tujuan belajar, uraian materi, infografis ringkas dalam bentuk tabel dan daftar, daftar periksa, ilustrasi kasus dengan pertanyaan refleksi, rangkuman beserta istilah penting, lima soal dan jawaban, serta daftar rujukan. Isi modul disusun dari makalah yang telah ada tanpa menambah fakta baru, sehingga rujukan yang tercantum di akhir tiap modul adalah rujukan yang digunakan pada makalah tersebut. Ilustrasi kasus dibuat untuk keperluan belajar dan bukan data pasien yang sebenarnya. 3

MODUL 1 KONSEP MANUSIA HOLISTIK DAN KEBUTUHAN DASAR Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang utuh. 2. Menguraikan homeostasis dan homeodinamik sebagai dasar pemenuhan kebutuhan. 3. Memakai hierarki kebutuhan Maslow untuk memahami prioritas kebutuhan pasien. A. Manusia sebagai makhluk holistik Dalam konsep holistik, manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang dinamis. Perubahan atau gangguan pada satu dimensi memengaruhi dimensi lainnya. Seseorang dengan penyakit kronis (biologis) dapat mengalami stres (psikologis), menarik diri dari lingkungan (sosial), dan mempertanyakan makna hidupnya (spiritual). Sebaliknya, dukungan keluarga, kondisi mental yang baik, dan kekuatan spiritual membantu mempercepat penyembuhan fisik. Karena itu manusia harus dilihat secara utuh, tidak dipenggal-penggal. Pada klien kanker payudara, misalnya, yang diperhatikan bukan hanya payudaranya, tetapi juga kondisi psikologis, sosial, dan spiritualnya. Konsep ini menjadi dasar pelayanan yang berpusat pada pasien (patient-centered care), yaitu memberi dukungan psikologis, melibatkan keluarga, memperhatikan kondisi sosial ekonomi, serta menghormati nilai budaya dan keyakinan pasien. Manusia sebagai sistem Sistem Berkaitan dengan Adaptif Proses perubahan individu sebagai respons terhadap perubahan lingkungan yang dapat memengaruhi keutuhan. Personal Persepsi serta tumbuh kembang. Interpersonal Interaksi, peran, dan komunikasi. Sosial Kekuatan dan wewenang pengambilan keputusan dalam keluarga, masyarakat, dan lingkungan. 4

Ingat. Manusia adalah makhluk bio-psiko-sosio-spiritual yang utuh. B. Empat dimensi manusia 1. Dimensi biologis Berkaitan dengan kondisi fisik, struktur tubuh, dan fungsi seluruh sistem organ untuk mempertahankan kehidupan. Kebutuhannya meliputi oksigen, nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi, aktivitas dan olahraga, istirahat dan tidur, kebersihan diri, serta pengaturan suhu tubuh. Dimensi ini mencakup pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme, imunitas, sistem reproduksi, genetik, dan homeostasis, yaitu kemampuan tubuh menjaga kondisi internal tetap stabil meskipun lingkungan luar berubah. Kondisi biologis dipengaruhi usia, jenis kelamin, genetik, status gizi, gaya hidup, aktivitas fisik, kebersihan lingkungan, dan akses pelayanan kesehatan. Dalam pelayanan, dimensi ini menjadi dasar pengkajian: tanda-tanda vital, pemeriksaan fisik, status gizi, dan pemeriksaan laboratorium bila perlu. Cirinya dapat diamati dan diukur secara objektif, misalnya suhu, tekanan darah, nadi, pernapasan, tinggi dan berat badan, IMT, gula darah, dan hemoglobin. 2. Dimensi psikologis Berkaitan dengan aspek mental, emosional, kognitif, kepribadian, motivasi, persepsi, dan perilaku. Stres berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan tidur, hilangnya nafsu makan, penurunan daya tahan tubuh, bahkan peningkatan tekanan darah; sebaliknya penyakit kronis dapat memicu kecemasan, ketakutan, atau depresi. Individu yang sehat secara psikologis mampu mengenali dan mengelola emosi, berpikir rasional, percaya diri, dan menyelesaikan masalah. Dimensi ini tidak diukur langsung, melainkan melalui observasi perilaku, komunikasi, wawancara, dan instrumen psikologi. Contoh: ibu nifas yang mengalami baby blues dan memerlukan dukungan emosional; pasien hipertensi yang cemas lalu tenang setelah edukasi dan dukungan keluarga. 3. Dimensi sosial Berkaitan dengan kemampuan berinteraksi, berkomunikasi, membangun hubungan, serta menjalankan peran dan tanggung jawab di keluarga, kelompok, dan masyarakat. Dukungan sosial yang baik memberi rasa aman dan mengurangi stres, sedangkan konflik keluarga, diskriminasi, perundungan, atau isolasi sosial dapat 5

mengganggu kondisi psikologis dan fisik. Dukungan keluarga, ekonomi, pendidikan, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, dan akses pelayanan perlu dikaji karena memengaruhi keberhasilan terapi. Contoh dalam kebidanan: keluarga mengantar ANC, suami mengikuti kelas ibu hamil, Posyandu dengan kader aktif, serta dukungan sosial pada masa nifas yang menurunkan risiko depresi postpartum. 4. Dimensi spiritual Berkaitan dengan keyakinan, nilai kehidupan, makna dan tujuan hidup, serta hubungan seseorang dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Spiritual tidak hanya praktik keagamaan, tetapi juga nilai moral, etika, rasa syukur, kasih sayang, dan pengampunan. Dalam praktik kebidanan, bidan menghargai keyakinan dan budaya ibu, misalnya memberi kesempatan berdoa sebelum persalinan dan mendukung ibadah sesuai kondisi pasien. Empat dimensi manusia Aspek Uraian Biologis Struktur dan fungsi organ; kebutuhan fisiologis; homeostasis. Dapat diukur objektif. Psikologis Pikiran, emosi, kepribadian, motivasi, perilaku. Dinilai lewat observasi dan wawancara. Sosial Interaksi, peran, komunikasi, dukungan keluarga dan masyarakat. Spiritual Keyakinan, makna hidup, nilai moral, rasa syukur, ibadah. Saling memengaruhi • Penyakit kronis (biologis) dapat memicu stres (psikologis). • Dukungan keluarga (sosial) dapat membantu penyembuhan fisik. • Kekuatan spiritual menumbuhkan harapan dan ketenangan batin. C. Konsep sehat dan sakit 1. Pengertian sehat Sehat adalah kondisi optimal seseorang secara menyeluruh (fisik, mental, sosial, dan spiritual), bukan hanya bebas dari penyakit, serta mampu berfungsi normal, beradaptasi, dan produktif. Sehat bersifat dinamis. 6

Tokoh Pengertian sehat WHO (1948) Keadaan sejahtera yang sempurna secara fisik, mental, dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Nola J. Pender (2011) Keadaan yang memungkinkan individu mengembangkan potensi dirinya secara maksimal melalui perilaku hidup sehat. Perkins Keseimbangan (equilibrium) dinamis antara struktur dan fungsi tubuh dengan berbagai faktor yang memengaruhinya. Ciri sehat: kondisi fisik, mental, sosial, dan spiritual yang baik; daya tahan tubuh baik; menerapkan perilaku hidup sehat; dan mampu beraktivitas produktif. 2. Pengertian sakit Sakit adalah keadaan ketika fungsi tubuh, pikiran, maupun kondisi sosial terganggu sehingga keseimbangan kesehatan terganggu, termasuk pengalaman subjektif merasa tidak nyaman atau tidak mampu beraktivitas seperti biasa. Tokoh Pengertian sakit WHO Terganggunya fungsi normal tubuh yang menurunkan kesehatan fisik, mental, atau sosial. Perkins Ketidakseimbangan (disequilibrium) antara individu dan lingkungannya. Parsons (1951) Orang tidak dapat menjalankan peran sosial secara normal sehingga memerlukan pengobatan dan perawatan. Suchman (1979) Proses yang diawali munculnya gejala, kesadaran adanya gangguan, pencarian pertolongan, penerimaan perawatan, hingga pulih atau beradaptasi. Ciri sakit: gangguan fungsi tubuh; keluhan fisik (demam, nyeri, batuk, sesak napas, mual, muntah, diare, lemas); aktivitas terganggu; perubahan kondisi psikologis; hubungan sosial menurun; memerlukan perawatan; dan kualitas hidup menurun. 7

D. Model konsep sehat-sakit Model Inti Rentang sehat-sakit (Betty Neuman) Individu adalah sistem terbuka. Kesehatan berada pada kontinum dari sehat optimal hingga sakit, bergantung pada kemampuan beradaptasi terhadap stresor. Tiga garis pertahanan: fleksibel (perlindungan pertama, dapat berubah), normal (kondisi kesehatan yang biasa dimiliki), dan resisten (bekerja bila stresor menembus garis normal). Keyakinan kesehatan (Rosenstock) Perilaku sehat dipengaruhi persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, dan hambatan, ditambah cues to action dan self-efficacy. Peran sakit (Talcott Parsons, 1951) Hak: dibebaskan sementara dari peran sosial dan tidak dianggap bertanggung jawab atas penyakitnya. Kewajiban: berusaha sembuh, mencari pertolongan tenaga kesehatan, dan mematuhi anjuran pengobatan. Agen-pejamu-lingkungan Sehat dan sakit adalah hasil interaksi tiga komponen. Penyakit muncul bila ketiganya tidak seimbang. Komponen Contoh Agen Penyebab penyakit: biologis, kimia, fisik, mekanik. Pejamu Usia, jenis kelamin, status gizi, sistem imun, genetik, perilaku hidup. Lingkungan Fisik, biologis, sosial, budaya, ekonomi. E. Kebutuhan dasar manusia Kebutuhan dasar adalah unsur yang dibutuhkan manusia untuk menjaga keseimbangan fisiologis dan psikologis demi mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Orang pertama yang menguraikan kebutuhan manusia adalah Aristoteles; sekitar tahun 1950 Abraham Maslow mengembangkan teori hierarki kebutuhan dasar yang terdiri atas lima tingkat. 8

Lima tingkat hierarki Maslow Tingkat Isi Penerapan dalam asuhan 1. Fisiologis Oksigen dan pertukaran gas, cairan dan elektrolit, makanan, eliminasi urine dan alvi, istirahat dan tidur, aktivitas, suhu tubuh, seksual (prioritas tertinggi). Memprioritaskan jalan napas, oksigen, nutrisi dan cairan, tidur, eliminasi. 2. Rasa aman Aman fisiologis dan psikologis: terhindar dari cedera, infeksi, kekerasan, rasa takut dan cemas. Mencegah risiko jatuh dan infeksi, memberi informasi jelas tentang tindakan. 3. Cinta dan memiliki Kasih sayang keluarga, persahabatan, dukungan komunitas. Dukungan emosional, memfasilitasi kunjungan keluarga. 4. Penghargaan Dihargai diri sendiri dan orang lain, percaya diri, kompeten. Menghargai pendapat pasien, melibatkannya dalam keputusan. 5. Aktualisasi diri Mengembangkan seluruh potensi, kreatif, mandiri, ingin terus belajar. Membantu kemandirian, edukasi perawatan diri, rehabilitasi. Kebutuhan seksual tidak diperlukan untuk kelangsungan hidup seseorang, tetapi penting untuk kelangsungan umat manusia. Hal yang perlu dipahami dari teori Maslow • Manusia senantiasa berkembang menuju potensi maksimal. • Kebutuhan tingkat lebih tinggi belum terpenuhi baik sampai kebutuhan di bawahnya terpenuhi. • Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi pada tiap tingkat dapat menimbulkan kondisi patologis. • Setiap orang memiliki kebutuhan dasar yang sama, tetapi dimodifikasi oleh budaya. • Kebutuhan dipenuhi menurut prioritas dan sebagian dapat ditunda. • Kegagalan memenuhi kebutuhan menyebabkan ketidakseimbangan homeostatis dan dapat menimbulkan penyakit. • Kebutuhan saling berkaitan. 9

Ciri kebutuhan dasar Universal; memiliki prioritas pemenuhan; saling berhubungan (misalnya kurang istirahat memengaruhi kondisi fisik, emosional, dan berpikir); dinamis menurut usia, kondisi kesehatan, dan lingkungan; berkelanjutan sepanjang hidup; serta bertujuan mencapai keseimbangan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Kelebihan dan kelemahan teori Maslow Kelebihan Kelemahan Mudah dipahami dan diterapkan; membantu menentukan prioritas; dasar asuhan berpusat pada pasien; menjelaskan keterkaitan kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan pengembangan diri. Urutan tidak selalu sama pada setiap orang karena budaya, nilai, dan pengalaman; sebagian orang mengutamakan kebutuhan lebih tinggi meski kebutuhan dasar belum terpenuhi, misalnya relawan yang tetap membantu meski ekonominya sulit. Faktor yang memengaruhi pemenuhan kebutuhan Faktor Penjelasan Penyakit Orang sakit bergantung pada orang lain; organ tertentu memerlukan pemenuhan lebih besar. Hubungan yang berarti Keluarga adalah sistem pendukung yang membantu klien menyadari kebutuhan dan memenuhinya secara sehat. Konsep diri Konsep diri positif memudahkan pemenuhan; konsep diri negatif (misalnya depresi) memengaruhi persepsi dan kemampuan. Tahap perkembangan Tiap tahap punya kebutuhan biologis, psikologis, sosial, dan spiritual berbeda. Struktur keluarga Misalnya ibu mendahulukan kebutuhan bayinya dan menunda makan atau tidurnya untuk menyusui. Lima tingkat kebutuhan dan empat dimensi Tingkat Kebutuhan Contoh 5 Aktualisasi diri mewujudkan potensi 4 Penghargaan dihargai dan menghargai 10

Tingkat Kebutuhan Contoh 3 Kasih sayang mencintai dan dicintai 2 Rasa aman aman dan terlindungi 1 Fisiologis oksigen, nutrisi, cairan, eliminasi, istirahat, kebersihan diri, suhu tubuh Empat dimensi manusia Aspek Uraian Biologis kondisi fisik, struktur tubuh, fungsi sistem organ Psikologis kepribadian, perilaku, pikiran, kecerdasan Sosial hidup bersama, norma, budaya Spiritual keyakinan dan pandangan hidup F. Homeostasis dan homeodinamik 1. Homeostasis Berasal dari bahasa Yunani: homeo berarti "sama" dan stasis berarti "mempertahankan keadaan". Homeostasis adalah proses terus-menerus memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap lingkungan, dan terjadi alamiah bila tubuh mengalami stres. Keseimbangan ini diperlukan agar sel, jaringan, dan organ berfungsi optimal. Homeostasis fisiologis dikendalikan sistem endokrin dan sistem saraf otonom melalui empat cara: Cara Keterangan dan contoh Pengaturan diri (self regulation) Otomatis pada orang sehat. Kompensasi Tubuh bereaksi terhadap ketidaknormalan: pupil melebar saat ancaman, berkeringat saat suhu naik, pembuluh darah perifer menyempit dan menggigil saat mendadak dingin. 11

Cara Keterangan dan contoh Umpan balik negatif Penyimpangan dari normal diseimbangkan otomatis. Contoh: tekanan darah naik meningkatkan rangsang baroreseptor, sehingga simpatik turun dan parasimpatik naik, denyut jantung dan kekuatan kontraksi turun, pembuluh darah melebar, hingga tekanan darah normal. Umpan balik positif Mengoreksi ketidakseimbangan fisiologis. Contoh: denyut jantung meningkat untuk membawa darah dan oksigen yang cukup saat hipoksia. Homeostasis psikologis berfokus pada keseimbangan emosional dan kesejahteraan mental, diperoleh dari pengalaman hidup, interaksi, serta norma dan kultur, misalnya mekanisme pertahanan diri seperti menangis, tertawa, atau berteriak. 2. Tujuan homeostasis Aspek Keterangan Contoh dalam kebidanan Suhu tubuh 36,5–37,5°C. Naik: berkeringat dan vasodilatasi. Turun: menggigil dan vasokonstriksi. Suhu ibu hamil dipantau karena peningkatan metabolisme dapat menyebabkan hipertermia. Cairan dan elektrolit Sekitar 60% berat badan adalah cairan. Pada hiperemesis gravidarum, status cairan dipantau untuk mencegah dehidrasi. Glukosa darah Insulin menurunkan, glukagon meningkatkan. Perubahan hormon meningkatkan risiko diabetes melitus gestasional. Asam basa pH darah 7,35–7,45, dijaga paru-paru dan ginjal. Asidosis atau alkalosis mengganggu enzim dan metabolisme sel. Tekanan darah dan sirkulasi Diatur jantung, pembuluh darah, ginjal, dan hormon. Pemantauan tekanan darah mendeteksi dini preeklamsia dan eklamsia. 12

3. Homeodinamik Homeodinamik adalah pertukaran energi antara manusia dan lingkungan secara terus-menerus: manusia tidak hanya menyesuaikan diri, tetapi berinteraksi untuk mempertahankan hidup. Konsep ini berawal dari pandangan manusia sebagai satu kesatuan utuh yang berproses dinamis dan selalu berinteraksi dengan lingkungan. Prinsip (Rogers) Makna Integral Hubungan manusia dan lingkungan tidak terpisahkan; perubahan berlangsung terus- menerus karena saling memengaruhi. Resonansi Proses kehidupan manusia berirama dengan frekuensi yang bervariasi karena pengalaman beradaptasi. Helicy Setiap perubahan dalam proses kehidupan berlangsung perlahan dan ada hubungan antara manusia dan lingkungan. 4. Orang yang kebutuhan dasarnya terpenuhi Orang yang kebutuhannya terpenuhi merasa puas, menikmati kesejahteraan, dan bebas berkembang menuju potensi lebih besar. Bila terganggu, muncul kondisi patologis. Dalam konteks homeostasis, masalah adalah hal yang menghalangi terpenuhinya kebutuhan dan dapat mengancam homeostasis fisiologis maupun psikologis. 5. Penerapan dalam praktik kebidanan Bidan memberi asuhan berpusat pada kebutuhan pasien secara menyeluruh (fisik, psikologis, sosial, spiritual) melalui pemantauan kondisi, edukasi, pencegahan penyakit, dan tindakan sesuai kebutuhan ibu, bayi, dan keluarga. Pemenuhan mencakup oksigen, nutrisi dan cairan, eliminasi, istirahat, aktivitas, kebersihan diri, rasa aman dan nyaman, serta dukungan emosional dan spiritual agar kehamilan, persalinan, nifas, dan perawatan bayi baru lahir berlangsung baik. Lensa holistik Biologis Kebutuhan fisiologis terpenuhi (oksigen, nutrisi, cairan, eliminasi, istirahat,☐ kebersihan diri, suhu tubuh)? 13

Psikologis Adakah tanda stres, kecemasan, atau perubahan semangat?☐ Sosial Bagaimana dukungan keluarga dan kondisi sosial ekonomi?☐ Spiritual Apa keyakinan dan nilai budaya yang perlu dihormati?☐ Ilustrasi kasus Ibu D berusia 28 tahun berada pada hari ketiga nifas. Ia mengeluh sulit tidur dan beberapa kali menangis. Luka jahitannya masih nyeri, dan suaminya bekerja di luar kota sehingga ia merasa sendirian merawat bayinya. Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Dimensi apa saja yang terdampak pada Ibu D? Petunjuk: Biologis (nyeri luka, kurang tidur), psikologis (sering menangis), sosial (suami di luar kota), spiritual (perlu digali). Gangguan pada satu dimensi memengaruhi dimensi lain. Pertanyaan: Kebutuhan Maslow mana yang diprioritaskan lebih dulu? Petunjuk: Kebutuhan fisiologis menjadi landasan, tetapi kebutuhan lain (rasa aman, kasih sayang) tetap diperhatikan. Pertanyaan: Bagaimana wujud asuhan yang holistik? Petunjuk: Memberi dukungan psikologis, melibatkan keluarga, memperhatikan kondisi sosial, dan menghormati nilai yang diyakini pasien. Intisari modul • Perubahan atau gangguan pada satu dimensi (biologis, psikologis, sosial, spiritual) memengaruhi dimensi lainnya. • Pelayanan holistik berpusat pada pasien: bukan hanya diagnosis dan pengobatan, tetapi juga dukungan psikologis, keluarga, kondisi sosial ekonomi, serta nilai budaya dan spiritual. • Homeostasis menjaga kondisi internal tetap stabil, misalnya suhu tubuh, tekanan darah, gula darah, dan keseimbangan cairan. • Homeodinamik memandang manusia dan lingkungan bertukar energi secara terus-menerus (teori Rogers). 14

• Hierarki Maslow memiliki lima tingkat; kebutuhan fisiologis menjadi landasannya. Istilah penting Istilah Pengertian Holistik Manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang dinamis. Homeostasis Dari homeo (sama) dan stasis (mempertahankan keadaan): tubuh menjaga keseimbangan menghadapi berbagai kondisi. Homeodinamik Pertukaran energi yang terus-menerus antara manusia dan lingkungan. Kebutuhan dasar Hal yang sangat penting atau diperlukan untuk menjaga homeostasis dan kehidupan. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Apa yang dimaksud dengan konsep manusia holistik? Jawaban: Manusia dipandang sebagai satu kesatuan utuh yang dinamis, terdiri atas dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang saling berhubungan. Gangguan pada satu dimensi memengaruhi dimensi lainnya, sehingga asuhan harus menyeluruh dan berpusat pada pasien. 2. Bagaimana WHO (1948) mendefinisikan sehat, dan jelaskan hak serta kewajiban orang sakit menurut Parsons. Jawaban: Sehat adalah keadaan sejahtera yang sempurna secara fisik, mental, dan sosial, bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Hak orang sakit: dibebaskan sementara dari peran sosial dan tidak dianggap bertanggung jawab atas penyakitnya. Kewajiban: berusaha sembuh, mencari pertolongan tenaga kesehatan, dan mematuhi anjuran pengobatan. 3. Sebutkan lima tingkatan hierarki kebutuhan Maslow secara berurutan dan delapan kebutuhan fisiologis. Jawaban: Fisiologis, rasa aman, cinta dan rasa memiliki, penghargaan, aktualisasi diri. Delapan kebutuhan fisiologis: oksigen dan pertukaran gas, cairan dan elektrolit, makanan, eliminasi urine dan alvi, istirahat dan tidur, aktivitas, temperatur tubuh, dan seksual. 15

4. Apa yang dimaksud dengan homeostasis dan sebutkan empat cara terjadinya homeostasis fisiologis. Jawaban: Homeostasis adalah mekanisme tubuh mempertahankan keseimbangan lingkungan internal secara terus-menerus agar sel, jaringan, dan organ berfungsi optimal. Empat caranya: pengaturan diri (self regulation), kompensasi, umpan balik negatif, dan umpan balik positif. 5. Jelaskan tiga prinsip homeodinamik menurut Rogers. Jawaban: Prinsip integral (manusia dan lingkungan tidak terpisahkan dan saling memengaruhi), resonansi (proses kehidupan berirama dengan frekuensi bervariasi), dan helicy (perubahan berlangsung perlahan dan terdapat hubungan manusia dengan lingkungan). Daftar rujukan Stuart, G. W., & Sundeen, S. J. (2016). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. Elsevier. Keliat, B. A. (2011). Konsep Diri. Jakarta: EGC. Potter, P. A., & Perry, A. G. (2017). Fundamentals of Nursing (9th ed.). Elsevier. Videbeck, S. L. (2019). Psychiatric-Mental Health Nursing (8th ed.). Wolters Kluwer. Suliswati, dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC. Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. (2018). Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396. Maslow, A. H. (1954). Motivation and Personality. New York: Harper & Row. McLeod, S. (2025). Maslow's Hierarchy of Needs. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/maslow.html Potter, P. A., & Perry, A. G. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). St. Louis: Elsevier. Rosmalawati. (2016). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Ditjen Tenaga Kesehatan, Kemenkes RI. (2023). Pedoman Penyusunan Kurikulum dan Modul Pelatihan Bidang Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI. 16

Rianti, E., Marlina, E. D., Hariyanti, & Yuliani, V. (2023). Bahan Ajar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Jakarta I. Haswita, & Sulistyowati, R. (2023). Kebutuhan Dasar Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan (Edisi Revisi). Jakarta: Trans Info Media. Kemendikbudristek RI. (2025). Layanan Penunjang Keperawatan dan Caregiving untuk SMK Kelas XI. Jakarta. Sitohang, T. R. (2023). Aplikasi Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia (KDM). Bandung: Media Sains Indonesia. World Health Organization. (2023). WHO Recommendations on Maternal and Newborn Care for a Positive Postnatal Experience. Geneva: WHO. 17

MODUL 2 RESPONS ADAPTASI TERHADAP STRES Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 4. Membedakan respons stres fisiologis dan psikologis. 5. Menguraikan tahap sindrom adaptasi umum: alarm, resisten, dan kelelahan. 6. Menjelaskan peran bidan membantu ibu mengelola stres. A. Konsep diri Konsep diri adalah persepsi, penilaian, dan keyakinan seseorang terhadap dirinya sendiri yang terbentuk melalui pengalaman, interaksi dengan lingkungan, serta penilaian terhadap kemampuan dan nilai dirinya. Dalam kebidanan, konsep diri membantu perempuan menerima perubahan fisik, psikologis, dan sosial selama kehamilan, persalinan, hingga nifas. Konsep diri positif meningkatkan kemampuan ibu menghadapi perubahan, sedangkan konsep diri negatif meningkatkan risiko stres dan kecemasan. Komponen Penjelasan Contoh pada ibu Citra tubuh (body image) Persepsi terhadap kondisi dan penampilan tubuh. Pembesaran abdomen, perubahan payudara, striae gravidarum; setelah persalinan: involusi uterus, luka persalinan, menyusui. Ketidakpuasan meningkatkan risiko stres, cemas, dan depresi postpartum. Ideal diri (self ideal) Harapan, tujuan, atau standar yang ingin dicapai. Ingin hamil sehat dan melahirkan selamat. Bila kenyataan berbeda (komplikasi, operasi sesar padahal menginginkan persalinan normal), ibu dapat kecewa dan kehilangan percaya diri. 18

Komponen Penjelasan Contoh pada ibu Harga diri (self-esteem) Penilaian terhadap nilai dan kemampuan diri. Dipengaruhi kemampuan beradaptasi, menjalankan peran ibu, dan dukungan keluarga. Harga diri tinggi berisiko depresi lebih rendah. Identitas diri (self-identity) Kesadaran mengenai siapa dirinya. Berubah bertahap dari perempuan menjadi ibu melalui kehamilan, persalinan, dan interaksi dengan bayi. Peran diri (role performance) Kemampuan menjalankan peran sesuai harapan diri dan lingkungan. Menyusui, merawat bayi, menyeimbangkan peran sebagai ibu, istri, dan anggota masyarakat. Ingat. Perubahan pada kelima komponen adalah bagian dari adaptasi psikologis menjadi ibu. Dukungan keluarga, pasangan, dan tenaga kesehatan membentuk konsep diri yang positif. B. Stres dan stresor Stres adalah respons fisiologis, psikologis, dan perilaku yang muncul ketika seseorang menghadapi tuntutan atau tekanan (stresor) yang dianggap melebihi kemampuannya mengatasi. Beberapa rumusan: • Stres adalah stimulus yang dapat mengubah suatu pertumbuhan. Stres bersifat positif, namun bila terlalu banyak dapat menurunkan kualitas hidup, misalnya penyakit fisik dan berkurangnya mekanisme koping (Hidayat, 2006). • Stres adalah segala situasi dengan tuntutan nonspesifik yang mengharuskan individu merespons atau bertindak, baik fisiologis maupun psikologis (Perry dan Porter, 2005). • Stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, dan ketegangan emosi, serta segala tuntutan penyesuaian diri yang mengganggu keseimbangan (Maramis, 1999). Stresor adalah variabel yang dapat diidentifikasi sebagai penyebab timbulnya stres, dapat datang tiba-tiba maupun bersamaan, dan menunjukkan kebutuhan yang tidak 19

terpenuhi: fisiologis, psikologis, sosial, lingkungan, perkembangan, spiritual, atau kultural (Perry dan Porter, 2005). Faktor penyebab stres Jenis Contoh Internal Kondisi kesehatan, pikiran dan persepsi terhadap masalah, kepribadian, rasa percaya diri, kemampuan mengelola emosi, harapan terlalu tinggi pada diri sendiri. Eksternal Masalah keluarga atau pertemanan, beban pendidikan atau pekerjaan, masalah ekonomi, perubahan lingkungan, konflik sosial, kehilangan, lingkungan tidak nyaman. Respons tiap individu berbeda, dipengaruhi kondisi fisik, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan dukungan. Stres dalam kebidanan Situasi Dampak stres Program hamil Tekanan sosial atau kesulitan mendapat keturunan dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi. Persalinan kala I dan II Ketakutan hebat (tokofobia) meningkatkan adrenalin dan menghambat oksitosin alami sehingga pembukaan serviks melambat. Nifas Stres dan kecemasan hebat dalam 42 hari pascamelahirkan dapat memicu baby blues atau depresi postpartum. Dismenore Memperburuk nyeri haid, memicu ketegangan otot, dan mengganggu siklus. PMS Ketidakseimbangan hormonal memicu mood swings yang lebih berat bila stres tinggi. 20

C. Respons adaptasi fisiologis Saat otak merasakan ancaman, sistem saraf simpatik memulai respons "lawan atau lari": detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan meningkat; aliran darah dialihkan ke organ vital dan fungsi yang tidak penting, seperti pencernaan, ditekan. Stres kronis dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, gangguan pencernaan, dan melemahnya kekebalan tubuh. Selye (1976, dalam Potter dan Perry, 1997) membagi respons adaptasi fisiologis menjadi LAS dan GAS. LAS (Local Adaptation Syndrome) GAS (General Adaptation Syndrome) Sifat Lokal, tidak melibatkan seluruh sistem tubuh, adaptif, jangka pendek. Umum atau sistemik; muncul bila reaksi lokal tidak teratasi. Contoh Kulit terinfeksi menjadi kemerahan, bengkak, nyeri, dan panas. Panas dan berkeringat di seluruh tubuh. Tiga tahap sindrom adaptasi umum Tahap Uraian 1. Reaksi alarm Hipotalamus memicu kelenjar adrenal melepas adrenalin: denyut jantung naik, napas cepat dan dangkal. Tubuh siap melawan atau menghindar. 2. Resisten Tubuh mulai stabil; hormon, tekanan darah, dan curah jantung kembali normal. Bila stres teratasi, tubuh memperbaiki kerusakan. 3. Kelelahan Stresor tidak hilang; energi adaptasi habis dan regulasi fisiologis menurun. LAS dan GAS Aspek Uraian LAS (lokal) Terbatas pada area tubuh tertentu, adaptif, jangka pendek. GAS (umum) Melibatkan seluruh tubuh bila reaksi lokal tidak teratasi. 21

Tiga tahap GAS Tahap Yang terjadi Reaksi alarm Individu siap menghadapi stresor. Hipotalamus mengeluarkan hormon sehingga adrenal melepas adrenalin: denyut jantung naik, napas cepat dan dangkal. Hipotalamus juga melepaskan ACTH yang merangsang adrenal mengeluarkan kortikoid. Tubuh siap melawan atau menghindar. Resisten Tubuh mulai stabil; hormon, tekanan darah, dan curah jantung kembali normal. Bila stres teratasi, tubuh memperbaiki kerusakan; bila stresor menetap, masuk tahap kelelahan. Kelelahan Tubuh tidak mampu lagi merespons stres dan energi adaptasi habis. Regulasi fisiologis menurun dan bila stres berlanjut dapat menyebabkan kematian. Reaksi tubuh terhadap stres Bagian tubuh Reaksi Rambut Kecokelatan dan kusam, uban sebelum waktunya, rontok. Mata dan telinga Pandangan kabur karena gangguan tonus otot bola mata; pendengaran terganggu, tinitus. Daya pikir Konsentrasi dan daya ingat menurun, pelupa, sakit kepala atau pusing. Wajah dan mulut Wajah tegang, dahi berkerut; bibir kering, tenggorokan terasa mengganjal sehingga sukar menelan. Kulit Terasa panas atau dingin, keringat berlebih, eksim, urtikaria, gatal, jerawat. Pernapasan Napas berat dan sesak akibat spasme otot dada dan penyempitan saluran napas; dapat memicu asma. Kardiovaskular Jantung berdebar, wajah merah atau pucat, ujung jari dingin dan kesemutan. 22

Bagian tubuh Reaksi Pencernaan Kembung, mual, gastritis, mulas, sulit buang air besar atau diare. Perkemihan Frekuensi buang air kecil meningkat. Otot dan tulang Nyeri, pegal, tegang, ngilu dan kaku sendi. Endokrin Gula darah meningkat; bila berkepanjangan dapat menyebabkan diabetes. Libido Gairah seksual menurun atau meningkat tidak sebagaimana biasanya. D. Respons adaptasi psikologis dan koping Adaptasi psikologis berlangsung melalui mekanisme pertahanan diri untuk melindungi dari ancaman, dan dapat bersifat konstruktif atau destruktif. Perilaku konstruktif membantu individu menerima tantangan dan memecahkan konflik; bahkan kecemasan dapat konstruktif bila menjadi sinyal ancaman sehingga individu mengambil langkah mengurangi dampaknya. Perilaku destruktif tidak membantu mengatasi stresor, misalnya penggunaan alkohol dan obat-obatan yang justru menambah stres. Perilaku adaptasi psikologis mengacu pada mekanisme koping yang berorientasi pada tugas (task oriented) dan mekanisme pertahanan diri (ego oriented) untuk mengatur distres emosional. Strategi koping Penjelasan Problem-focused coping Berfokus pada masalah: mengubah situasi penyebab stres. Emotion-focused coping Berfokus pada emosi: mengubah respons emosional terhadap situasi. Koping adaptif Koping maladaptif Relaksasi, berbagi cerita, menerima kondisi diri, menyesuaikan perilaku positif. Menghindar, menyalahkan diri, zat adiktif. Stres positif (eustress) dapat mendorong pertumbuhan pribadi dan ketahanan mental. Kecemasan situasional adalah respons emosional sementara terhadap 23

bahaya, sedangkan stres kronis dapat menimbulkan emosi negatif seperti permusuhan dan depresi. Respons stres pada ibu hamil Aspek Respons Psikologis Cemas, takut, khawatir terhadap kesehatan janin, takut menghadapi persalinan, perubahan suasana hati, mudah tersinggung, merasa tidak berdaya, atau ambivalen terhadap kehamilan. Fisiologis Gangguan tidur, kelelahan meningkat, perubahan nafsu makan, ketegangan otot, jantung berdebar. Perubahan hormonal dapat memperkuat respons emosional. Perilaku Perubahan pola aktivitas, berkurangnya konsentrasi, menarik diri, sering mencari kepastian, atau meningkatnya kebutuhan perhatian. Trimester Sumber stres I Penerimaan kehamilan, perubahan hormonal, mual, muntah, kelelahan. II Sebagian ibu lebih mampu menerima kehamilan. III Kecemasan meningkat karena khawatir terhadap persalinan, kondisi bayi, dan kesiapan menjadi ibu. Stres yang tidak dikelola dapat meningkatkan risiko kecemasan berlebih dan depresi perinatal. E. Faktor yang memengaruhi respons stres pada ibu Faktor Contoh Biologis/fisiologis Perubahan hormon (estrogen dan progesteron meningkat saat hamil dan turun drastis setelah melahirkan), kelelahan, kurang tidur, nyeri haid, anemia. 24

Faktor Contoh Psikologis Kecemasan, ketakutan, perubahan peran menjadi ibu, trauma persalinan, rendahnya kepercayaan diri. Sosial Dukungan keluarga dan pasangan, konflik rumah tangga, tekanan sosial, kondisi ekonomi. Budaya dan lingkungan Kepercayaan dan mitos, tuntutan budaya, lingkungan tinggal tidak nyaman. Pelayanan kesehatan Akses layanan, kualitas komunikasi tenaga kesehatan, pengalaman pelayanan sebelumnya. Keterkaitan dengan manusia holistik Stres memengaruhi beberapa aspek sekaligus: fisik (jantung berdebar, sakit kepala, gangguan tidur), psikologis (cemas, mudah marah, sulit konsentrasi), sosial (lebih tertutup, konflik), spiritual (mencari ketenangan lewat ibadah dan doa), dan lingkungan (lingkungan penuh tekanan meningkatkan stres). Perubahan kondisi fisik, misalnya kurang tidur, juga membuat seseorang lebih mudah lelah dan tertekan. Karena itu stres perlu ditangani dengan pendekatan holistik. Adaptasi menurut Roy Adaptasi adalah proses penyesuaian diri terhadap perubahan atau stimulus dari dalam maupun luar agar tercapai keseimbangan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Teori yang banyak digunakan dalam kebidanan adalah Teori Adaptasi Roy, yang memandang manusia sebagai sistem adaptif yang terus merespons perubahan melalui mekanisme koping. Selama kehamilan, persalinan, dan nifas, perempuan beradaptasi terhadap perubahan fisiologis, psikologis, konsep diri, fungsi peran, serta hubungan dengan keluarga dan lingkungan. F. Peran bidan dan tenaga kesehatan Bidan memberi asuhan berpusat pada ibu: edukasi, konseling, komunikasi terapeutik, dukungan emosional, deteksi dini masalah psikologis, skrining kondisi psikologis pada setiap kunjungan antenatal, rujukan bila ada gangguan, dan pelibatan suami serta keluarga sebagai sistem pendukung utama. 25

Kelompok Psikologis Fisiologis Ibu hamil Edukasi perubahan fisik dan emosional normal; konseling; deteksi dini stres berlebihan; kelompok dukungan. Senam hamil, teknik pernapasan, relaksasi; edukasi nutrisi bergizi. Ibu menyusui Meningkatkan percaya diri lewat edukasi ASI; deteksi dini baby blues atau depresi pascapersalinan. Teknik menyusui yang benar; edukasi istirahat cukup. Ibu melahirkan Pendampingan dan motivasi; edukasi tahapan persalinan. Manajemen nyeri (relaksasi, pernapasan, posisi nyaman); pemantauan tanda vital. Masa nifas Konseling postpartum; melibatkan keluarga. Memantau pemulihan fisik; edukasi perawatan diri, nutrisi, istirahat. Program hamil Konseling kesiapan mental dan fertilitas. Edukasi gizi dan kesehatan reproduksi; pemeriksaan kesehatan; mencegah kelelahan. Haid Edukasi bahwa perubahan suasana hati normal; pendampingan. Manajemen nyeri haid (relaksasi, kompres hangat); edukasi kebersihan. G. Cara menghadapi stres Aspek Uraian Fisik Makanan bergizi, aktivitas teratur, tidur dan istirahat cukup, kebersihan diri. Pikiran dan emosi Mengenali penyebab stres, relaksasi, mengatur waktu dan prioritas, berpikir realistis. Sosial Berkomunikasi dengan keluarga atau teman, mencari dukungan orang tepercaya, tidak mengisolasi diri. Spiritual Ibadah sesuai keyakinan, doa atau refleksi diri, mencari makna positif. Lingkungan Lingkungan nyaman dan aman, ruang belajar atau kerja teratur. 26

Ingat. Bila stres mengganggu aktivitas atau berlangsung terus-menerus, carilah bantuan tenaga kesehatan atau profesional. Peran tenaga kesehatan secara umum • Pengkajian menyeluruh (fisik dan psikologis). • Mendengarkan dengan empati dan tidak menghakimi. • Membantu mengidentifikasi penyebab stres. • Edukasi tentang stres dan pengelolaannya, serta dukungan emosional. • Menganjurkan koping sehat (istirahat, relaksasi, aktivitas fisik, komunikasi, kegiatan spiritual). • Melibatkan keluarga bila perlu dan merujuk bila stres mengganggu fungsi sehari-hari. Tanda stres yang perlu dikenali Fisik Jantung berdebar☐ Napas cepat☐ Berkeringat☐ Otot tegang☐ Sakit kepala☐ Kelelahan☐ Gangguan tidur☐ Psikologis Cemas atau takut☐ Mudah marah☐ Sedih☐ Sulit berkonsentrasi☐ Perubahan suasana hati☐ Ilustrasi kasus Ibu R, hamil anak pertama pada trimester ketiga, mengatakan jantungnya sering berdebar dan sulit tidur karena khawatir menghadapi persalinan. 27

Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Stresor apa saja yang dialami Ibu R? Petunjuk: Kekhawatiran menghadapi persalinan, perubahan tubuh dan peran sebagai ibu pertama kali (kecemasan trimester ketiga). Pertanyaan: Respons stres apa yang tampak pada fisik dan psikologisnya? Petunjuk: Fisik: jantung berdebar dan sulit tidur. Psikologis: khawatir dan cemas. Pertanyaan: Apa yang dapat dilakukan bidan? Petunjuk: Edukasi tahapan persalinan, konseling dan dukungan emosional, mengajarkan relaksasi dan pernapasan, melibatkan keluarga, serta merujuk bila gangguan berlanjut. Intisari modul • Stres adalah reaksi tubuh dan pikiran terhadap tekanan atau perubahan. Pada tingkat tertentu membuat waspada dan termotivasi, tetapi bila lama dan tidak dikelola mengganggu kesehatan. • Respons fisiologis dimulai dari aktivasi sistem saraf simpatik ("lawan atau lari"): denyut jantung, tekanan darah, dan pernapasan meningkat. • Selye membagi adaptasi fisiologis menjadi sindrom adaptasi lokal (LAS) dan umum (GAS); GAS memiliki tiga tahap. • Adaptasi psikologis dapat konstruktif atau destruktif. Koping bisa berfokus pada masalah atau pada emosi. • Pemicu stres dapat internal (kondisi kesehatan, persepsi, kepribadian) atau eksternal (keluarga, beban pendidikan atau pekerjaan, ekonomi, lingkungan). Istilah penting Istilah Pengertian Stresor Pemicu stres; dapat berasal dari dalam maupun luar individu. LAS Adaptasi lokal, jangka pendek. Contoh: kulit terinfeksi menjadi merah, bengkak, nyeri, dan panas. GAS Adaptasi umum atau sistemik bila reaksi lokal tidak teratasi: alarm, resisten, kelelahan. Koping Upaya menghadapi stres, berfokus pada masalah (mengubah situasi) atau emosi (mengubah respons emosional). 28

Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Sebutkan lima komponen konsep diri. Jawaban: Citra tubuh (body image), ideal diri (self ideal), harga diri (self- esteem), identitas diri (self-identity), dan peran diri (role performance). 2. Apa yang dimaksud dengan stres dan stresor, serta apa penyebab stres pada ibu hamil? Jawaban: Stres adalah respons fisiologis, psikologis, dan perilaku terhadap tuntutan (stresor) yang dianggap melebihi kemampuan mengatasinya; stresor adalah penyebab timbulnya stres. Pada ibu hamil penyebabnya antara lain perubahan hormonal dan bentuk tubuh, kekhawatiran terhadap janin dan persalinan, perubahan peran menjadi ibu, serta faktor keluarga dan sosial ekonomi. 3. Apa perbedaan LAS dan GAS, dan sebutkan tiga tahap GAS menurut Selye. Jawaban: LAS adalah adaptasi lokal, jangka pendek, tidak melibatkan seluruh sistem tubuh (misalnya kulit terinfeksi menjadi merah, bengkak, nyeri). GAS adalah adaptasi umum atau sistemik yang muncul bila reaksi lokal tidak teratasi. Tiga tahap GAS: reaksi alarm, resisten, dan kelelahan. 4. Jelaskan perbedaan problem-focused coping dan emotion-focused coping. Jawaban: Problem-focused coping berusaha mengatasi penyebab stres secara langsung dengan mengubah situasi. Emotion-focused coping berfokus mengelola respons emosional terhadap situasi yang dihadapi. 5. Sebutkan peran bidan dalam membantu ibu menghadapi stres dan beradaptasi. Jawaban: Memberikan edukasi dan informasi yang benar, konseling, komunikasi terapeutik, dukungan emosional, skrining kondisi psikologis pada setiap kunjungan antenatal, merujuk bila ada gangguan psikologis, serta melibatkan suami dan keluarga sebagai sistem pendukung. Daftar rujukan Anwar, N. S., Ernawati, & Ratna. (2022). Hubungan Antara Body Image dengan Self Esteem pada Ibu Postpartum. JIMPK: Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan. Sam, K. L. N., Rahmawati, S. A., Agustina, K. S., dkk. (2025). Buku Ajar Psikologi Kehamilan, Persalinan, Nifas. Optimal Untuk Negeri. 29

Aprilya, N. (2018). Pengaruh Peran Bidan, Peran Keluarga, Persepsi Ibu, Konsep Diri, dan Stres pada Ibu Hamil Primigravida. Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia. Noorianti, R., Sugesti, R., & Lisca, S. M. (2023). Hubungan Peran Bidan, Dukungan Keluarga, dan Kecemasan dengan Perilaku Kunjungan ANC Ibu Hamil TM III. Jurnal Ilmiah Kebidanan Indonesia. Widayati, W. (2024). Peran Dukungan Keluarga terhadap Adaptasi Psikologis Ibu Nifas. Indonesian Scientific Journal of Midwifery. repository.um-surabaya.ac.id/id/eprint/1805/3/BAB_2.pdf EBSCO Research Starters: Behavioral and Psychological Responses to Stress. ebsco.com/research-starters/health-and-medicine/behavioral-and- psychological-responses-stress EBSCO Research Starters: Physiological Responses to Stress. ebsco.com/research-starters/health-and-medicine/physiological-responses- stress ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/index Kemenkes RI. Buku Panduan Praktik Kebidanan. kemkes.go.id/resources/download/buku-panduan/praktik-kebidanan.pdf WHO. who.int/publications/i/item/9789241549912 Azizatunnisa, N., & Suhartini. (2013). Pengetahuan dan keterampilan perawat dalam pelayanan keperawatan holistik di Indonesian Holistic Tourist Hospital Purwakarta Jawa Barat. Jurnal Keperawatan Komunitas, 1(2). Kementerian Kesehatan RI. (2024). Apa Itu Stres: Gejala, Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan. ayosehat.kemkes.go.id/apa-itu-stres Kementerian Kesehatan RI. (2024). Stres. ayosehat.kemkes.go.id/penyakit/stres Purwanti, S. Z. (2022). Stress dan Penyebabnya. Ditjen Kesehatan Lanjutan, Kemenkes RI. Ditjen Kesehatan Lanjutan, Kemenkes RI. (2022). Bagaimana Cara Mengatasi Stres? Ardiansyah. (2022). Peran Perawat dalam Manajemen Stres. Ditjen Kesehatan Lanjutan, Kemenkes RI. Sya'diyah, H., Fathonah, S., Septiana, P., dkk. (2023). Keperawatan Holistik (Pendekatan Komprehensif dalam Perawatan Pasien). Sonpedia Publishing Indonesia. do Carmo, E. A., Sirait, J. R. M., & Wisnusakti, K. (2025). Pendekatan holistik dalam keperawatan jiwa masyarakat: Systematic Literature Review. Jurnal Keperawatan Jiwa, 13(3). 30

MODUL 3 NUTRISI DAN CAIRAN ELEKTROLIT Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 7. Menjelaskan peran makronutrien, mikronutrien, cairan, dan elektrolit. 8. Mengidentifikasi kebutuhan nutrisi dan cairan pada ibu hamil dan menyusui. 9. Mengenali implikasi klinis ketidakseimbangan nutrisi dan cairan. A. Kebutuhan nutrisi Nutrisi adalah zat dalam makanan dan minuman yang diperlukan tubuh untuk tumbuh, berkembang, memperbaiki sel, memproduksi energi, mempertahankan fungsi, dan mengatur fungsi tubuh (Almatsier, 2022). Berdasarkan jumlah kebutuhan, zat gizi dibagi menjadi makronutrien dan mikronutrien. Air juga zat gizi penting karena mencakup 60 persen komposisi tubuh. 1. Makronutrien Zat gizi Fungsi Keterangan dan sumber Karbohidrat Sumber energi utama. Monosakarida (glukosa, fruktosa), disakarida (sukrosa, laktosa), polisakarida (pati, glikogen). Dicerna menjadi glukosa atau disimpan sebagai glikogen di hati dan otot; kelebihannya disimpan sebagai lemak. Protein Pertumbuhan, perbaikan jaringan, sintesis enzim, hormon, dan antibodi. Tersusun dari asam amino, termasuk asam amino esensial yang harus diperoleh dari makanan. Hewani: daging sapi, ayam, ikan, telur, susu. Nabati: tempe, tahu, kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah. 31

Zat gizi Fungsi Keterangan dan sumber Lemak Energi padat, melindungi organ, insulasi, membantu penyerapan vitamin A, D, E, K, komponen membran sel. Jenuh (mentega, santan, daging berlemak), tak jenuh (alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan), omega-3 (salmon, sarden, tuna). 2. Mikronutrien Dibutuhkan dalam jumlah kecil namun esensial. Vitamin larut lemak (A, D, E, K) dan larut air (B dan C) berperan sebagai koenzim dan antioksidan; vitamin menunjang daya tahan tubuh, metabolisme, serta kesehatan mata dan kulit. Mineral adalah elemen anorganik untuk tulang dan gigi (kalsium, fosfor), transportasi oksigen (besi), keseimbangan cairan (natrium, kalium), dan fungsi saraf (magnesium, kalsium); terbagi menjadi makroelemen dan mikroelemen. 3. Kebutuhan pada populasi khusus • Ibu hamil: peningkatan kalori, protein, zat besi, asam folat, kalsium, dan vitamin D. Asam folat penting untuk mencegah cacat tabung saraf. • Ibu menyusui: kalori, nutrisi, dan cairan lebih banyak untuk produksi ASI. • Anak: nutrisi untuk tumbuh kembang fisik dan kognitif; kalsium dan vitamin D penting untuk tulang. Zat gizi dan elektrolit Aspek Uraian Karbohidrat Sumber energi utama; disimpan sebagai glikogen di hati dan otot. Protein Pertumbuhan dan perbaikan jaringan; enzim, hormon, antibodi. Lemak Energi padat; melindungi organ; membantu penyerapan vitamin A, D, E, K. Vitamin dan mineral Vitamin larut lemak (A, D, E, K) dan larut air (B, C); mineral untuk tulang, darah, dan saraf. 32

Elektrolit utama Elektrolit Peran Natrium (Na )⁺ Mengatur cairan ekstrasel dan tekanan darah Kalium (K )⁺ Mengatur irama jantung dan kontraksi otot Kalsium (Ca² )⁺ Pembentukan tulang dan pembekuan darah B. Kebutuhan cairan dan elektrolit Cairan tubuh adalah seluruh air dalam tubuh yang berfungsi sebagai pelarut dan media transportasi zat gizi, oksigen, hormon, dan sisa metabolisme, serta menjaga suhu tubuh, volume darah, melumasi sendi, dan mendukung metabolisme. Elektrolit adalah mineral larut yang bermuatan listrik (ion): menjaga keseimbangan cairan dan asam-basa, tekanan osmotik, menghantarkan impuls saraf, dan membantu kontraksi otot termasuk jantung. 1. Kompartemen cairan Kompartemen Proporsi Elektrolit utama Keterangan Intraseluler (ICF) Sekitar 2/3 (±66%) cairan tubuh Kalium, magnesium, fosfat Di dalam sel; tempat metabolisme sel. Ekstraseluler (ECF) Sekitar 1/3 (±34%) Natrium, klorida, bikarbonat Terdiri atas cairan interstisial (±75% ECF) dan plasma darah (±25% ECF); media pertukaran zat antara darah dan sel. 2. Elektrolit dan fungsinya Elektrolit Fungsi Natrium (Na )⁺ Keseimbangan cairan, tekanan osmotik, tekanan darah, impuls saraf. Kalium (K )⁺ Fungsi sel, kontraksi otot, irama jantung normal. 33

Elektrolit Fungsi Kalsium (Ca² )⁺ Tulang dan gigi, pembekuan darah, kontraksi otot, impuls saraf. Magnesium (Mg² )⁺ Kerja enzim, metabolisme energi, fungsi otot dan saraf. Klorida (Cl )⁻ Keseimbangan cairan dan tekanan osmotik, pembentukan asam lambung (HCl). Bikarbonat (HCO₃ )⁻ Buffer utama menjaga pH darah. Fosfat (PO₄³ )⁻ Tulang dan gigi, produksi energi (ATP), keseimbangan asam-basa. 3. Mekanisme pengaturan keseimbangan Mekanisme Cara kerja Rasa haus Pusat haus di hipotalamus merangsang minum saat cairan menurun atau osmolaritas darah meningkat. ADH Dibuat di hipotalamus, dilepas hipofisis posterior; meningkatkan reabsorpsi air di ginjal sehingga urine berkurang. RAAS Bila tekanan atau volume darah turun, ginjal menghasilkan renin, memicu angiotensin II, merangsang aldosteron sehingga reabsorpsi natrium dan air meningkat. ANP Diproduksi atrium jantung saat volume darah naik; meningkatkan ekskresi natrium dan air. Fungsi ginjal Mengatur jumlah air dan elektrolit yang dikeluarkan lewat urine. C. Kebutuhan harian Kebutuhan Nilai Energi dan protein wanita 19–29 tahun Sekitar 2250 Kkal dan 60 gram protein per hari Energi dan protein pria 19–29 tahun 2600 Kkal dan 65 gram protein per hari 34

Kebutuhan Nilai Cairan dewasa 30–35 ml/kgBB/hari, atau rata-rata 2–2,5 liter per hari Elektrolit utama Natrium sekitar 1500 mg, kalium 3500 mg, kalsium 1000 mg per hari Kebutuhan meningkat pada usia lanjut, anak dalam masa pertumbuhan, serta saat demam, diare, muntah, dan aktivitas berat karena cairan dan elektrolit keluar melalui keringat. Ibu hamil dan menyusui Kondisi Tambahan kebutuhan Kehamilan (trimester II dan III) Energi +300 Kkal, protein +17 gram, zat besi +7 mg, kalsium +200 mg, cairan +300 ml Menyusui Energi +650 Kkal untuk produksi ASI Pemenuhan mengikuti prinsip Isi Piringku: sepertiga piring makanan pokok, sepertiga lauk pauk, seperenam sayur, dan seperenam buah, ditambah 2 gelas susu dan 1 tablet tambah darah setiap hari. D. Gangguan keseimbangan dan implikasi klinis 1. Kondisi patologis cairan dan elektrolit Kondisi Penyebab / batas Tanda Dehidrasi Kehilangan cairan berlebih (diare, muntah, demam, kurang minum). Haus, mulut kering, lemas, pusing, tekanan darah turun, urine berkurang. Overhidrasi Kelebihan cairan (gagal ginjal atau jantung). Edema, sesak napas, tekanan darah naik. Hiponatremia Natrium < 135 mEq/L. Mual, sakit kepala, bingung, kejang, koma. Hipernatremia Natrium > 145 mEq/L. Haus berlebihan, lemah, gangguan kesadaran, kejang. Hipokalemia Kalium < 3,5 mEq/L. Kelemahan otot, kram, konstipasi, gangguan irama jantung. 35

Kondisi Penyebab / batas Tanda Hiperkalemia Kalium > 5,0 mEq/L. Gangguan irama jantung yang dapat mengancam jiwa. Gangguan kalsium, magnesium, dan klorida juga dapat memengaruhi otot, saraf, dan keseimbangan cairan. Kelebihan natrium dapat menyebabkan hipertensi dan edema. 2. Implikasi klinis Ketidakseimbangan Dampak Pada kehamilan Kekurangan nutrisi Menghambat tumbuh kembang; menurunkan daya tahan; mengganggu fungsi organ; risiko anemia dan kelelahan (kurang zat besi, asam folat, vitamin B12); KEK dan stunting. Risiko BBLR dan gangguan pertumbuhan janin. Kelebihan nutrisi Obesitas; penyakit kronis (diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung, gangguan kadar lemak darah). Risiko diabetes gestasional dan hipertensi dalam kehamilan. Ketidakseimbangan cairan Menurunkan kemampuan fisik dan aktivitas; mengganggu metabolisme dan fungsi sel. Dapat mengganggu pertumbuhan janin, menurunkan volume air ketuban, meningkatkan risiko infeksi saluran kemih dan konstipasi. Dalam kebidanan, gangguan ini juga berdampak pada preeklampsia dan perdarahan. E. Peran bidan Bidan berperan promotif dan preventif. 36

Peran Kegiatan Contoh Konseling nutrisi Kebutuhan zat gizi makro dan mikro, pola makan seimbang sesuai usia kehamilan atau masa laktasi, variasi menu, mengatasi mual muntah. Ibu hamil trimester pertama yang mual disarankan makan porsi kecil namun sering dan memilih makanan beraroma tidak menyengat. Pengkajian status gizi dan cairan Berat badan, tinggi badan, LILA, elastisitas kulit, kelembapan bibir dan lidah, frekuensi buang air kecil, anamnesis pola makan. Ibu tampak lemas dengan kulit kering: bidan memeriksa kemungkinan dehidrasi dan menyarankan menambah cairan. Intervensi Suplemen, tablet tambah darah, vitamin, PMT, rencana makan; rujukan bila tidak dapat makan atau minum sama sekali atau ada tanda gizi buruk. Anemia diberi tablet tambah darah; muntah terus-menerus dengan dehidrasi dirujuk ke rumah sakit. Edukasi ibu dan keluarga Makanan bergizi, air putih cukup, istirahat, contoh menu, tips minum teratur; keluarga membantu menyiapkan makanan dan mengingatkan minum. Kelas ibu hamil di puskesmas yang melibatkan suami dan keluarga. Dokumentasi Pencatatan pada Buku KIA. Kebutuhan tambahan yang perlu dipastikan Ibu hamil Kalori☐ Protein☐ Zat besi☐ Asam folat☐ Kalsium☐ Vitamin D☐ Ibu menyusui Kalori☐ 37

Nutrisi☐ Cairan untuk produksi ASI☐ Ilustrasi kasus Ibu S, hamil trimester pertama, mengeluh mual sehingga makan dan minumnya jauh berkurang selama beberapa hari. Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Apa risiko bagi Ibu S bila asupan makan dan minumnya terus berkurang? Petunjuk: Kekurangan asupan nutrisi dan cairan; risiko dehidrasi dan kekurangan gizi yang dapat memengaruhi ibu dan janin. Pertanyaan: Apa yang perlu dikaji bidan? Petunjuk: Berat badan, LILA, pola makan dan minum, kelembapan bibir dan lidah, elastisitas kulit, serta frekuensi buang air kecil. Pertanyaan: Intervensi dan edukasi apa yang sesuai? Petunjuk: Makan porsi kecil namun sering, cairan cukup, tablet tambah darah bila perlu, melibatkan keluarga, dan rujukan bila tidak dapat makan atau minum sama sekali. Intisari modul • Zat gizi terbagi menjadi makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral). • Air membentuk sekitar 60% komposisi tubuh. Kebutuhan cairan normal dewasa 30–35 ml/kgBB/hari. • Elektrolit menjaga keseimbangan cairan, menghantarkan impuls saraf, dan mengatur kontraksi otot, termasuk jantung. • Ibu hamil membutuhkan lebih banyak kalori, protein, zat besi, asam folat, kalsium, dan vitamin D. Asam folat penting untuk mencegah cacat tabung saraf. • Ibu menyusui membutuhkan tambahan kalori, nutrisi, dan cairan untuk produksi ASI. 38

Istilah penting Istilah Pengertian Makronutrien Zat gizi yang dibutuhkan dalam jumlah besar; sumber energi dan bahan struktural. Mikronutrien Vitamin dan mineral; dibutuhkan sedikit tetapi esensial. Elektrolit Mineral terlarut bermuatan listrik (ion) seperti natrium, kalium, dan kalsium. AKG Angka kecukupan gizi; acuannya Permenkes No. 2 Tahun 2023. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Apa perbedaan makronutrien dan mikronutrien, dan sebutkan fungsi utama tiap makronutrien. Jawaban: Makronutrien dibutuhkan dalam jumlah besar (karbohidrat, protein, lemak) sebagai sumber energi dan bahan struktural; mikronutrien dibutuhkan dalam jumlah sedikit (vitamin dan mineral) sebagai zat pengatur dan pelindung tubuh. Karbohidrat: sumber energi utama; protein: pertumbuhan, perbaikan jaringan, enzim, hormon, antibodi; lemak: energi padat, pelindung organ, pelarut vitamin A, D, E, K. 2. Bagaimana pembagian cairan intraseluler dan ekstraseluler beserta elektrolit utamanya? Jawaban: Cairan intraseluler sekitar 2/3 (±66%) cairan tubuh dengan elektrolit utama kalium, magnesium, dan fosfat. Cairan ekstraseluler sekitar 1/3 (±34%), terdiri atas cairan interstisial dan plasma darah, dengan elektrolit utama natrium, klorida, dan bikarbonat. 3. Sebutkan mekanisme tubuh mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit. Jawaban: Rasa haus, hormon antidiuretik (ADH), sistem renin-angiotensin- aldosteron (RAAS), atrial natriuretic peptide (ANP), dan fungsi ginjal. 4. Berapa batas nilai hiponatremia, hipernatremia, hipokalemia, dan hiperkalemia, serta kebutuhan cairan normal dewasa? Jawaban: Hiponatremia: natrium < 135 mEq/L. Hipernatremia: natrium > 145 mEq/L. Hipokalemia: kalium < 3,5 mEq/L. Hiperkalemia: kalium > 5,0 mEq/L. Kebutuhan cairan dewasa 30–35 ml/kgBB/hari atau rata-rata 2–2,5 liter per hari. 39

5. Jelaskan prinsip Isi Piringku dan sebutkan peran bidan dalam pemenuhan nutrisi dan cairan. Jawaban: Isi Piringku: sepertiga piring makanan pokok, sepertiga lauk pauk, seperenam sayur, dan seperenam buah, ditambah 2 gelas susu dan 1 tablet tambah darah per hari untuk ibu hamil. Peran bidan: konseling nutrisi, pengkajian status gizi dan cairan, intervensi (tablet tambah darah, PMT, rujukan), edukasi ibu dan keluarga, serta dokumentasi pada Buku KIA. Daftar rujukan Hall, J. E. (2021). Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology (14th ed.). Elsevier. Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2022). Brunner & Suddarth's Textbook of Medical-Surgical Nursing (15th ed.). Wolters Kluwer. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Pelayanan Gizi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2021). Fundamentals of Nursing (10th ed.). Elsevier. Tortora, G. J., & Derrickson, B. (2021). Principles of Anatomy and Physiology (16th ed.). Wiley. Gandasari, M. F. (2023). Dampak kehilangan cairan terhadap aktivitas lari 5 putaran sebelum dan sesudah dehidrasi. Journal of SPORT, 7(3), 661–672. Heni Marliyanti, S., Zulaikha, S., & Fitriani. (2021). Peran bidan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi pada ibu hamil. Jurnal Kebidanan, 9(1), 25– 32. Lestarina, L., & Sari, D. E. (2019). Peran tenaga kesehatan dalam peningkatan status gizi ibu hamil di puskesmas. Jurnal Kesehatan Prima. Maryanto, E. P. (2020). Dampak dehidrasi saat masa kehamilan. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 9, 927–931. Nasriyah, N., & Ediyono, S. (2023). Dampak kurangnya nutrisi pada ibu hamil terhadap risiko stunting pada bayi yang dilahirkan. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan, 14(1), 161–170. Riskesdas Kemenkes RI. (2018). Pedoman Status Gizi Ibu Hamil dan Anak. World Health Organization. (2017). Recommendations on Maternal Nutrition. Kementerian Kesehatan RI. (2023). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 2 Tahun 2023 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Masyarakat Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. Almatsier, S. (2022). Prinsip Dasar Ilmu Gizi (Edisi Revisi). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 40

Supariasa, I. D. N. (2021). Penilaian Status Gizi (Edisi 2). Jakarta: EGC. Marmi. (2023). Gizi dalam Kesehatan Reproduksi (Edisi 3). Yogyakarta: Pustaka Baru Press. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Gizi Seimbang dengan Isi Piringku. Jakarta: Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. World Health Organization. (2023). Guidelines on Maternal Nutrition and Micronutrient Supplementation. Geneva: WHO Press. Rahmawati, N., & Putri, D. A. (2024). Hubungan Asupan Cairan dengan Kejadian Dehidrasi pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas. Jurnal Kebidanan Indonesia, 15(1), 45–52. 41

MODUL 4 ELIMINASI URINE DAN FEKAL Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 10. Menjelaskan jalur dan fisiologi eliminasi urine dan fekal. 11. Mengidentifikasi faktor yang memengaruhi eliminasi. 12. Menjelaskan gangguan eliminasi dan tindakan pemenuhannya. A. Konsep dasar eliminasi Eliminasi adalah proses fisiologis mengeluarkan sisa metabolisme yang tidak diperlukan, dalam bentuk cair (urine) melalui sistem perkemihan dan padat (feses) melalui sistem pencernaan bagian bawah. Proses ini mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa serta membuang zat toksik. Eliminasi termasuk kebutuhan fisiologis menurut hierarki Maslow, sejajar dengan oksigenasi, cairan dan elektrolit, nutrisi, serta istirahat tidur, dan berkaitan langsung dengan homeostasis. Karena tidak dapat ditunda lama, gangguannya membuat zat sisa menumpuk dan berpotensi menimbulkan gangguan cairan dan elektrolit hingga autointoksikasi. Jenis Istilah Jalur Eliminasi urine Miksi / berkemih Traktus urinarius Eliminasi fekal Alvi / defekasi Traktus digestivus Keduanya diatur sistem saraf otonom, tetapi dapat dikontrol secara volunter pada individu sehat. Eliminasi urine Urine adalah cairan sisa hasil penyaringan darah oleh ginjal. Urine dibentuk ginjal, disalurkan melalui ureter ke kandung kemih, lalu dikeluarkan melalui uretra. Organ Fungsi Ginjal (dua) Retroperitoneal setinggi vertebra torakalis 12 hingga lumbalis 3; menyaring darah, membentuk urine, mengatur cairan, elektrolit, dan asam basa, serta menghasilkan eritropoietin dan renin. 42

Organ Fungsi Ureter (dua) Mengalirkan urine ke kandung kemih dengan gerakan peristaltik. Kandung kemih Menampung urine sementara (dewasa sekitar 300–450 ml; rangsangan berkemih timbul pada 250–450 ml). Uretra Mengalirkan urine ke luar. Panjang laki- laki sekitar 18–20 cm dan perempuan sekitar 3,7–6,5 cm, sehingga perempuan lebih rentan infeksi saluran kemih. Mekanisme miksi: kandung kemih terisi hingga batas tertentu dan merangsang reseptor regang; rangsangan diteruskan ke pusat miksi di medula spinalis dan otak, menimbulkan kontraksi otot detrusor dan relaksasi sfingter uretra. Karakteristik normal urine dewasa Nilai Frekuensi 4–6 kali per hari. Volume 1.500–1.600 ml per hari atau sekitar 1.200–1.500 ml per hari. Warna dan bau Kuning jernih hingga kuning pekat; berbau khas amonia. pH dan isi pH sekitar 4,5–8; tidak mengandung darah, protein, maupun glukosa bermakna. B. Eliminasi fekal Eliminasi fekal adalah pengeluaran sisa pencernaan berupa feses melalui anus, hasil akhir pencernaan dan penyerapan zat gizi. Sisa makanan di usus halus didorong peristaltik ke kolon, tempat air dan elektrolit diserap sehingga feses memadat, lalu ditampung di rektum hingga timbul refleks defekasi. Organ Fungsi Usus halus (duodenum, jejunum, ileum) Pencernaan dan penyerapan zat gizi. Usus besar (kolon asendens, transversum, desendens, sigmoid) Menyerap air dan elektrolit; membentuk dan mendorong feses. Rektum Menampung feses. Anus Sfingter ani interna (involunter) dan eksterna (volunter). 43

Mekanisme defekasi: feses masuk rektum, meregangkan dinding dan merangsang refleks defekasi yang merelaksasikan sfingter ani interna; bila situasi memungkinkan, sfingter eksterna direlaksasikan secara sadar sehingga feses keluar. Feses normal berwarna cokelat, lunak namun berbentuk, dengan frekuensi tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu. Faktor yang memengaruhi eliminasi Eliminasi urine Eliminasi fekal Usia dan tumbuh kembang (bayi dan anak belum mengontrol miksi secara volunter hingga usia 18–24 bulan; penuaan menurunkan fungsi ginjal dan kandung kemih); asupan cairan dan diet; aktivitas fisik dan tonus otot; kondisi psikologis (stres, kecemasan); pembedahan (anestesi dapat menurunkan laju filtrasi glomerulus); penyakit (diabetes melitus, ISK, gangguan ginjal); obat (diuretik); faktor sosiokultural dan kebiasaan. Usia; diet (serat); asupan cairan; aktivitas fisik; posisi defekasi; faktor psikologis; kebiasaan pribadi; obat (laksatif, antibiotik tertentu); prosedur diagnostik dan pembedahan; penyakit penyerta. Dua jalur pembuangan Jalur eliminasi urine • Ginjal • Ureter • Kandung kemih • Uretra Jalur eliminasi fekal • Usus halus • Usus besar • Rektum • Anus Faktor yang memengaruhi eliminasi urine Aspek Uraian Usia anak belum mengontrol miksi hingga 18–24 bulan; penuaan menurunkan fungsi 44

Aspek Uraian Cairan dan diet asupan memengaruhi volume urine Aktivitas dan psikologis stres dan kecemasan Tonus otot kandung kemih, abdomen, panggul Pembedahan anestesi dapat menurunkan laju filtrasi Obat dan penyakit misalnya diabetes melitus C. Gangguan eliminasi 1. Gangguan eliminasi urine Gangguan Penjelasan Retensi urine Ketidakmampuan berkemih meskipun ada dorongan, atau kandung kemih tidak mengosongkan sempurna sehingga urine menumpuk (pembesaran prostat, striktur uretra, gangguan persarafan). Inkontinensia urine Berkemih yang tidak disadari atau tidak terkendali. Enuresis Pengeluaran urine tak disadari pada anak, khususnya malam hari. Perubahan pola lain Frekuensi, urgensi, disuria (nyeri saat berkemih), poliuria (urine berlebih), oliguria dan anuria (urine berkurang hingga tidak ada). Jenis inkontinensia Penjelasan Stres Kebocoran mendadak saat batuk, bersin, atau tertawa akibat lemahnya otot dasar panggul. Urgensi Urine keluar sesaat setelah dorongan kuat mendadak. Overflow Kandung kemih tidak mengosongkan sempurna akibat sumbatan atau kelemahan otot detrusor sehingga urine merembes. Fungsional Hambatan fisik, lingkungan, atau kognitif mencapai toilet. 45

Jenis inkontinensia Penjelasan Campuran Kombinasi stres dan urgensi. 2. Gangguan eliminasi fekal Gangguan Penjelasan Konstipasi Frekuensi defekasi menurun (umumnya kurang dari tiga kali seminggu) dengan kesulitan atau rasa tidak tuntas dan feses keras dan kering. Penyebab: kurang serat dan cairan, kurang aktivitas, kebiasaan menahan. Diare Buang air besar cair lebih dari tiga kali sehari, biasanya dua hari atau lebih, akibat penurunan penyerapan cairan di usus: infeksi, intoleransi makanan, efek obat, atau gangguan psikologis. Inkontinensia fekal/alvi Pengeluaran feses (dan gas) secara involunter akibat sfingter ani tidak mampu mengontrol. Impaksi feses Massa feses keras di rektum akibat konstipasi berkepanjangan. Flatulens Penumpukan gas berlebihan di lambung atau usus. Konstipasi primer Konstipasi sekunder Fungsional/idiopatik tanpa kelainan organik: slow-transit, normal-transit, dyssynergic defecation. Akibat kondisi medis lain: gangguan neurologis, efek obat, ketidakseimbangan elektrolit, atau obstruksi mekanis. 46

D. Tindakan pemenuhan kebutuhan eliminasi Tindakan Jenis dan tujuan Kateterisasi urine Memasukkan selang kateter ke kandung kemih untuk mengeluarkan urine pada retensi atau memantau haluaran urine. Jenis: intermiten (dipasang saat dibutuhkan lalu dilepas, risiko infeksi lebih rendah); indwelling/Foley (menetap dengan balon kecil di ujung, untuk pascaoperasi urologi atau retensi kronis); eksternal/kondom (di luar tubuh untuk inkontinensia tanpa gangguan pengosongan, diganti tiap hari). Enema/huknah Memasukkan cairan ke kolon lewat rektum untuk merangsang peristaltik dan pengeluaran feses, untuk konstipasi atau persiapan pemeriksaan penunjang dan operasi. Enema rendah hanya mencapai sigmoid dan rektum; enema tinggi mencapai kolon asendens; enema retensi cairannya sengaja ditahan untuk tujuan terapeutik. Kolostomi Pembedahan membuat lubang buatan (stoma) pada kolon yang disambung ke dinding perut sebagai jalan keluar feses; perlu perawatan stoma untuk mencegah infeksi dan kerusakan kulit peristomal. Temporer atau permanen; teknik end atau loop. E. Asuhan pemenuhan kebutuhan eliminasi Tahap Isi Pengkajian Riwayat kesehatan (pola eliminasi sebelumnya, riwayat penyakit); pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, perkusi abdomen dan genitalia); karakteristik urine (warna, kejernihan, bau, jumlah) dan feses (warna, konsistensi, bentuk, bau, frekuensi); penunjang (urinalisis, kultur urine, pemeriksaan feses). 47

Tahap Isi Diagnosis (contoh) Gangguan eliminasi urine b.d. penurunan kapasitas kandung kemih; retensi urine b.d. obstruksi; inkontinensia urine b.d. penurunan tonus otot dasar panggul; konstipasi b.d. asupan serat dan cairan tidak adekuat; diare b.d. infeksi atau intoleransi makanan; risiko kerusakan integritas kulit b.d. inkontinensia. Intervensi Cairan sekitar 2.000 ml/hari pada dewasa sehat kecuali ada kontraindikasi; makanan tinggi serat; mobilisasi; bladder training dan bowel training; kateterisasi pada retensi sesuai indikasi; huknah pada konstipasi atau impaksi sesuai program terapi; menjaga kebersihan dan kenyamanan klien inkontinensia; edukasi pola eliminasi sehat. Evaluasi Klien berkemih atau buang air besar normal sesuai pola, tidak ada distensi kandung kemih atau impaksi feses, dan klien serta keluarga memahami cara mempertahankan pola eliminasi sehat. Yang diamati pada eliminasi normal Urine Kuning jernih hingga kuning pekat☐ Berbau khas amonia☐ pH sekitar 4,5–8☐ Tidak mengandung darah, protein, atau glukosa bermakna☐ Feses Berwarna cokelat☐ Lunak namun berbentuk☐ Frekuensi tiga kali sehari hingga tiga kali seminggu☐ 48

Ilustrasi kasus Ibu T, hari pertama setelah operasi sesar, mengatakan takut berkemih karena nyeri dan belum buang air besar. Ia minum sedikit dan masih banyak berbaring. Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Faktor apa yang membuat Ibu T sulit berkemih dan belum buang air besar? Petunjuk: Nyeri dan rasa takut (psikologis), pembedahan dan anestesi, asupan cairan sedikit, dan aktivitas yang terbatas karena banyak berbaring. Pertanyaan: Apa yang perlu dikaji bidan? Petunjuk: Pola eliminasi sebelumnya, karakteristik urine dan feses, kemungkinan distensi kandung kemih, serta pemeriksaan abdomen. Pertanyaan: Intervensi apa yang sesuai? Petunjuk: Menganjurkan cairan cukup dan makanan tinggi serat, mobilisasi bertahap, melatih kebiasaan eliminasi, kateterisasi bila retensi sesuai indikasi, dan edukasi pola eliminasi sehat. Intisari modul • Eliminasi adalah pengeluaran sisa metabolisme; termasuk kebutuhan fisiologis sehingga tidak dapat ditunda lama. • Urine mengalir dari ginjal melalui ureter ke kandung kemih, lalu keluar lewat uretra. Uretra perempuan lebih pendek sehingga lebih rentan infeksi saluran kemih. • Pada eliminasi fekal, kolon menyerap air dan elektrolit sehingga feses memadat, lalu ditampung di rektum sampai timbul refleks defekasi. • Eliminasi dipengaruhi usia, asupan cairan dan diet, aktivitas, kondisi psikologis, tonus otot, pembedahan, obat dan penyakit, serta kebiasaan. • Bila terganggu, zat sisa menumpuk dan dapat mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit. Istilah penting Istilah Pengertian Miksi Berkemih; pengeluaran urine melalui uretra. Defekasi (alvi) Pengeluaran feses melalui anus. Peristaltik Gerakan usus yang mendorong sisa makanan menuju kolon. Autointoksikasi Keracunan akibat penumpukan zat sisa metabolisme dalam tubuh. 49

Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Apa yang dimaksud dengan eliminasi dan mengapa termasuk kebutuhan fisiologis? Jawaban: Eliminasi adalah proses mengeluarkan sisa metabolisme dalam bentuk urine melalui sistem perkemihan dan feses melalui sistem pencernaan bawah. Termasuk kebutuhan fisiologis menurut Maslow sehingga harus terpenuhi; bila terganggu, zat sisa menumpuk dan mengganggu keseimbangan cairan dan elektrolit. 2. Sebutkan organ sistem perkemihan dan fungsinya, serta mengapa perempuan lebih rentan infeksi saluran kemih. Jawaban: Ginjal menyaring darah dan membentuk urine; ureter mengalirkan urine ke kandung kemih; kandung kemih menampung urine sementara; uretra mengalirkan urine ke luar. Perempuan lebih rentan karena uretranya lebih pendek (sekitar 3,7–6,5 cm) dibanding laki-laki (sekitar 18–20 cm). 3. Jelaskan mekanisme refleks defekasi. Jawaban: Feses masuk rektum, meregangkan dindingnya dan merangsang refleks defekasi yang merelaksasikan sfingter ani interna. Bila situasi memungkinkan, sfingter ani eksterna direlaksasikan secara sadar sehingga feses keluar. 4. Sebutkan jenis inkontinensia urine dan perbedaan konstipasi primer dengan sekunder. Jawaban: Inkontinensia: stres, urgensi, overflow, fungsional, dan campuran. Konstipasi primer (fungsional/idiopatik) tanpa kelainan organik (slow-transit, normal-transit, dyssynergic defecation); konstipasi sekunder disebabkan kondisi medis lain seperti gangguan neurologis, efek obat, ketidakseimbangan elektrolit, atau obstruksi mekanis. 5. Sebutkan jenis kateter urine dan enema, serta intervensi pemenuhan kebutuhan eliminasi. Jawaban: Kateter: intermiten, indwelling (Foley), eksternal (kondom). Enema: rendah, tinggi, retensi. Intervensi: cairan sekitar 2.000 ml/hari, makanan tinggi serat, mobilisasi, bladder dan bowel training, kateterisasi pada retensi, huknah pada konstipasi atau impaksi, menjaga kebersihan kulit, dan edukasi. 50

Daftar rujukan Aspek Keperawatan pada Inkontinensia Urin. Jurnal Ilmu Keperawatan, I(1). media.neliti.com/media/publications/100009-ID-aspek-keperawatan-pada- inkontinensia-uri.pdf Asuhan Keperawatan pada Pemenuhan Eliminasi Urine. (2015). academia.edu/13147354 Hapsari, dkk. (2024). Bladder Training Sebelum Pelepasan Kateter pada Pasien Post-TURP untuk Menurunkan Inkontinensia Urine: Literature Review. Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO), 5(2). Inkontinensia Fekal [SDKI D.0041]. (2026). Perawat.org. Pengaruh Pemberian Lidocaine terhadap Tingkat Nyeri Pasien Retensi Urin saat Pemasangan Kateter di IGD. (2023). Jurnal Rumpun Ilmu Kesehatan, 3(2). Kejadian Konstipasi pada Lansia di Pos Pelayanan Terpadu Lanjut Usia. (2022). Jurnal Keperawatan Tropis Papua. Kristamuliana, K., Sahar, J., & Rekawati, E. (2020). Penanganan Konstipasi pada Lansia dengan Urut Perut dan Latihan Eliminasi (UPLANASI). Juiperdo, 8(1), 1–9. Pahria, T. (2021). Perilaku Pencegahan Konstipasi pada Lansia di Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia. Holistik Jurnal Kesehatan, 15(3), 534–545. Perbandingan Intensitas Nyeri pada Insersi Foley Catheter Pria. (2021). Jurnal Skolastik Keperawatan. Retensi Urin [SDKI D.0050]. (2026). Perawat.org. Tindakan Kateterisasi sebagai Solusi Retensi Urine. Prosiding COHESIN. Tips Melakukan Perawatan Kolostomi. (2021). ners.unair.ac.id. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Kebutuhan Eliminasi Urin dan Fekal. (2025). Studocu. Hidayat, A. A., & Uliyah, M. (2021). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. (2020). Buku Ajar Fundamental Keperawatan (Edisi 7). Jakarta: EGC. Mubarak, W. I., Indrawati, L., & Susanto, J. (2015). Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar. Jakarta: Salemba Medika. Potter, P. A., & Perry, A. G. (2019). Fundamental of Nursing (Edisi 9). Jakarta: Elsevier. Tarwoto, & Wartonah. (2015). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan (Edisi 5). Jakarta: Salemba Medika. 51

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (Edisi 1). Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (Edisi 1). 52

MODUL 5 MOBILISASI, ISTIRAHAT, KEBERSIHAN DIRI, DAN KENYAMANAN Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 13. Membedakan jenis mobilisasi dan manfaat mobilisasi dini. 14. Menjelaskan istirahat-tidur, kebersihan diri, dan kenyamanan. 15. Menganalisis hubungan antara keempat kebutuhan tersebut. A. Mobilisasi dan body mechanics Mobilisasi adalah kemampuan bergerak secara bebas, mudah, teratur, dan terkoordinasi dalam aktivitas sehari-hari (Hinkle et al., 2022), mencakup perpindahan posisi seperti duduk, berdiri, dan berjalan (Potter et al., 2021). Mobilisasi dipengaruhi kekuatan otot, integritas sistem saraf, fungsi sendi, dan energi (Farrell, 2020). Tujuannya mempertahankan kekuatan otot dan fungsi sendi, mencegah kekakuan dan komplikasi akibat kurang bergerak, serta meningkatkan kemandirian. Body mechanics (postur tubuh) adalah posisi dan keselarasan bagian tubuh saat berdiri, duduk, atau bergerak untuk meminimalkan beban pada tulang belakang dan mencegah cedera. Bidan memfasilitasi pergerakan pasien dengan teknik dan posisi tubuh yang benar, aman, dan ergonomis untuk keselamatan pasien serta mengurangi risiko cedera pada bidan maupun pasien. Jenis mobilisasi Jenis Penjelasan dan contoh Pasif Gerakan dibantu bidan tanpa usaha pasien; mencegah kontraktur dan menjaga fleksibilitas sendi. Contoh: mengubah posisi ibu dari telentang ke miring pascapersalinan. Aktif Gerakan mandiri oleh pasien untuk meningkatkan kekuatan otot. Contoh: ibu bangun, duduk, berdiri, berjalan sendiri. Aktif dengan bantuan (A-AROM) Pasien bergerak dengan sedikit bantuan bidan, keluarga, atau alat. 53

Jenis Penjelasan dan contoh Mobilisasi dini Segera setelah pasien stabil, untuk mengurangi risiko pneumonia, DVT, dan atrofi otot serta mempercepat pemulihan. Ambulasi Berjalan dengan atau tanpa alat bantu (tongkat, walker, kruk). Transfer Pemindahan pasien antarpermukaan, misalnya dari tempat tidur ke kursi roda. Range of Motion (ROM) Latihan gerak sendi untuk mempertahankan atau meningkatkan luas gerak; dapat aktif maupun pasif, disesuaikan kondisi dan toleransi pasien. Faktor yang memengaruhi Mobilisasi Postur tubuh Kekuatan otot, integritas sistem saraf, nyeri atau trauma, alat bantu, lingkungan. Kekuatan dan keseimbangan otot, kebiasaan sehari-hari, ergonomi lingkungan kerja, kelainan bentuk tulang atau cedera, beban atau aktivitas berulang. Manfaat mobilisasi dini • Mencegah tromboemboli. • Meningkatkan fungsi pernapasan dan mencegah pneumonia. • Mempercepat pemulihan fungsi gastrointestinal dan mencegah konstipasi. • Mempertahankan tonus otot. • Meningkatkan sirkulasi dan penyembuhan luka. • Meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian. Prinsip mobilisasi dan body mechanics Prinsip mobilisasi Prinsip body mechanics Utamakan keselamatan pasien dan bidan; gunakan body mechanics yang benar; mobilisasi bertahap sesuai kemampuan; observasi respons fisiologis (napas, nadi, tekanan darah); gunakan alat bantu bila perlu. Pertahankan kesejajaran tulang belakang; tekuk lutut, bukan punggung, saat mengangkat; dekatkan beban ke tubuh; gunakan otot besar (paha dan pinggul); hindari memutar tubuh mendadak; distribusi berat seimbang. 54

Aplikasi dalam kebidanan • Pascapersalinan normal: ibu dianjurkan miring kanan-kiri, duduk, dan berjalan bertahap. • Pascasectio caesarea: mobilisasi dini dimulai miring kanan-kiri, duduk, lalu berjalan (Ando Paratami et al., 2024). • Pasien dengan keterbatasan mobilitas: teknik log-rolling, hoist, atau transfer board. • Edukasi pasien dan keluarga tentang cara bergerak aman. Pelaksanaan melalui pengkajian (kesadaran, kekuatan otot, keseimbangan, nyeri, tanda vital), perencanaan, pelaksanaan bertahap, dan evaluasi respons. Enam jenis mobilisasi Aspek Uraian Pasif Digerakkan bidan tanpa usaha pasien; mencegah kontraktur. Aktif Dilakukan pasien sendiri; melatih kekuatan otot. Aktif dengan bantuan Pasien bergerak dengan sedikit bantuan bidan, keluarga, atau alat. Mobilisasi dini Segera setelah pasien stabil; mengurangi risiko pneumonia, DVT, dan atrofi otot. Ambulasi Berjalan dengan atau tanpa alat bantu. Transfer Memindahkan pasien antarpermukaan, misalnya tempat tidur ke kursi roda. B. Personal hygiene (kebersihan diri) Personal hygiene adalah upaya menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh demi kesejahteraan fisik dan mental, mencakup rambut, mata, hidung, mulut, gigi, dan kulit. Berlaku untuk semua usia dan perlu ditanamkan sejak dini. Dapat dilakukan mandiri atau dengan bantuan sesuai tingkat ketergantungan pasien. Tujuan • Menghilangkan penumpukan minyak, keringat, sel kulit mati, dan bakteri; mengurangi bau badan. • Menjaga keutuhan kulit dan menstimulasi sirkulasi. • Meningkatkan kenyamanan dan mempercepat penyembuhan. 55

• Memberi kesempatan menilai kondisi kulit klien. • Menumbuhkan percaya diri, menciptakan penampilan bersih, dan meningkatkan derajat kesehatan. Faktor yang memengaruhi Citra tubuh; praktik sosial; status sosio-ekonomi; pengetahuan (perlu disertai motivasi); kebudayaan; pilihan pribadi; dan kondisi fisik (penyakit stadium lanjut atau pascaoperasi membuat pasien butuh bantuan). Aspek penting Aspek Pelaksanaan Kulit Mandi teratur dengan sabun. Mulut dan gigi Menyikat gigi dua kali sehari dan berkumur. Tangan Sabun dan air mengalir atau hand sanitizer sebelum dan sesudah makan, setelah dari toilet, dan setelah kontak dengan pasien. Kuku, rambut, pakaian Membersihkan kuku dan rambut; mengganti pakaian teratur. Area genital Dibersihkan dari depan ke belakang pada wanita untuk mencegah kontaminasi dari anus ke uretra. Aplikasi dalam kebidanan Kelompok Kebersihan diri Ibu hamil Edukasi kebersihan untuk mencegah infeksi dan keputihan abnormal. Ibu bersalin Kebersihan perineum dan genital. Ibu nifas Kebersihan perineum (terutama bila ada jahitan episiotomi atau luka caesar), penggantian pembalut teratur, perawatan payudara. Pasien imobilitas Dimandikan di tempat tidur dan dibantu perawatan gigi dan mulut. 56

Dampak hygiene buruk: risiko infeksi (ISK, infeksi luka, saluran napas), bau badan, gangguan rasa nyaman dan harga diri, penularan penyakit, serta masalah kulit dan gigi. C. Istirahat dan tidur Istirahat adalah keadaan relaksasi yang memberi kesempatan tubuh memulihkan energi, sedangkan tidur adalah kondisi fisiologis yang memungkinkan perbaikan dan regenerasi sel. Manfaatnya: memulihkan dan menghemat energi, membantu perbaikan fungsi tubuh, mengurangi lelah dan stres, serta meningkatkan konsentrasi dan kemampuan beraktivitas. Tahap tidur Ciri NREM (Non-Rapid Eye Movement) Dari tidur ringan hingga dalam; aktivitas tubuh menurun dan memasuki istirahat lebih tenang. REM (Rapid Eye Movement) Aktivitas otak lebih tinggi; berkaitan dengan mimpi, memori, dan proses emosional. Faktor yang memengaruhi Upaya pemenuhan Nyeri dan penyakit; stres dan kecemasan; kebisingan dan pencahayaan. Lingkungan tenang, nyaman, dan mendukung; mengatur pencahayaan dan mengurangi kebisingan; jadwal tidur teratur; mengurangi gangguan yang tidak perlu. Pada kehamilan, perubahan hormonal, kenaikan berat badan, dan ketidaknyamanan fisik sering mengganggu tidur; pada nifas, istirahat sering terganggu oleh pemulihan tubuh dan perawatan bayi. Kurang tidur menyebabkan kelelahan, menurunnya konsentrasi, gangguan suasana hati, menurunnya daya tahan tubuh, memperlambat penyembuhan, memengaruhi produksi ASI, dan berkontribusi pada depresi pascapersalinan. Bidan membantu melalui edukasi pola tidur, lingkungan nyaman, mengurangi faktor pengganggu, dan melibatkan keluarga. D. Manajemen nyeri dan kenyamanan Manajemen nyeri adalah upaya mengurangi atau mengendalikan nyeri agar klien nyaman menjalani kehamilan, persalinan, dan nifas. 57

1. Pengkajian menyeluruh: lokasi, intensitas, durasi, karakteristik, serta faktor yang memperberat atau meringankan, menggunakan skala Numeric Rating Scale (NRS) atau Visual Analog Scale (VAS). 2. Intervensi nonfarmakologis: relaksasi, latihan pernapasan, perubahan posisi, ambulasi ringan, pijat, kompres hangat atau dingin, aromaterapi, terapi musik, dan dukungan emosional. 3. Kolaborasi farmakologis: bila tidak teratasi atau nyeri berat, bidan berkolaborasi dengan dokter sesuai indikasi, dengan pemantauan ibu dan janin. 4. Evaluasi: perubahan intensitas nyeri, kenyamanan, dan respons klien. Upaya meningkatkan kenyamanan Mengatur posisi tubuh yang nyaman; menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan; mengatur suhu ruangan; membantu mengatasi nyeri sesuai kebutuhan; dan menciptakan lingkungan tenang, aman, dan mendukung pemulihan. E. Keterkaitan antar kebutuhan Hubungan Penjelasan Nyeri dan mobilisasi Nyeri tak terkontrol membuat pasien enggan bergerak, memperlambat pemulihan, dan menimbulkan kekakuan otot; mobilisasi dini yang tepat membantu mengurangi nyeri. Nyeri dan tidur Nyeri hebat menjadi penyebab utama gangguan tidur; istirahat cukup membantu mengatasi nyeri, dan manajemen nyeri efektif memfasilitasi tidur berkualitas. Mobilisasi dan hygiene Pasien yang bebas bergerak lebih mudah merawat diri sehingga nyaman dan terhindar infeksi. Hygiene dan nyeri/infeksi Kebersihan diri mencegah infeksi, sumber nyeri, terutama pada luka operasi. Kenyamanan dan istirahat Kenyamanan membuat pasien aman dan rileks sehingga dapat beristirahat dengan baik. Ingat. Bila satu kebutuhan tidak terpenuhi, kebutuhan lain dapat terganggu. Bidan memandang pasien sebagai satu kesatuan yang utuh (holistik). 58

Upaya pemenuhan kebutuhan Istirahat dan tidur Lingkungan tenang, nyaman, mendukung☐ Pencahayaan diatur dan kebisingan dikurangi☐ Jadwal tidur dan istirahat teratur☐ Kurangi gangguan yang tidak perlu☐ Kenyamanan Atur posisi tubuh yang nyaman☐ Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan☐ Atur suhu ruangan☐ Bantu atasi nyeri sesuai kebutuhan☐ Ilustrasi kasus Ibu M baru menjalani operasi sesar enam jam lalu. Ia stabil tetapi enggan bergerak karena nyeri, dan ruang rawatnya ramai. Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Mengapa Ibu M enggan bergerak, dan apa risikonya? Petunjuk: Karena nyeri. Kurang bergerak meningkatkan risiko komplikasi seperti tromboemboli, pneumonia, dan konstipasi serta memperlambat pemulihan. Pertanyaan: Bagaimana hubungan nyeri, tidur, dan lingkungan ruang rawat? Petunjuk: Nyeri dan ruang rawat yang ramai mengganggu tidur; kurang tidur memperlambat penyembuhan dan memperberat persepsi nyeri. Pertanyaan: Intervensi apa yang sesuai? Petunjuk: Mengkaji nyeri dengan NRS atau VAS, teknik nonfarmakologis, kolaborasi analgesik bila perlu, mobilisasi dini bertahap setelah stabil, serta mengatur lingkungan yang tenang. Intisari modul • Mobilisasi dibagi menjadi pasif, aktif, aktif dengan bantuan, mobilisasi dini, ambulasi, dan transfer. • Mobilisasi dini membantu mencegah tromboemboli dan pneumonia serta mempercepat pemulihan fungsi pencernaan dan penyembuhan luka. • Tidur terdiri dari tahap NREM dan REM. Nyeri, penyakit, stres, kecemasan, kebisingan, dan pencahayaan memengaruhi tidur. 59

• Kebersihan diri mencakup mandi, rambut, gigi dan mulut, kuku, pakaian, dan area genital. • Keempat kebutuhan saling berkaitan; bila satu tidak terpenuhi, yang lain dapat terganggu. Istilah penting Istilah Pengertian Mobilisasi Kemampuan bergerak secara bebas, teratur, dan terkoordinasi dalam aktivitas sehari-hari. ROM Latihan gerak sendi untuk mempertahankan atau meningkatkan luas gerak; dapat aktif maupun pasif. Body mechanics Posisi dan keselarasan tubuh saat berdiri, duduk, atau bergerak agar beban tulang belakang minimal. NREM / REM NREM: tidur ringan hingga dalam. REM: aktivitas otak lebih tinggi, berkaitan dengan mimpi dan memori. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Sebutkan jenis mobilisasi dalam asuhan kebidanan dan tujuan mobilisasi. Jawaban: Mobilisasi pasif, aktif, aktif dengan bantuan (A-AROM), mobilisasi dini, ambulasi, transfer, dan ROM. Tujuannya mempertahankan kekuatan otot dan fungsi sendi, mencegah kekakuan dan komplikasi akibat kurang bergerak, serta meningkatkan kemandirian. 2. Sebutkan prinsip body mechanics yang benar saat mengangkat atau memindahkan pasien. Jawaban: Pertahankan kesejajaran tulang belakang, tekuk lutut bukan punggung, dekatkan beban ke tubuh, gunakan otot besar (paha dan pinggul), hindari memutar tubuh mendadak, dan jaga distribusi berat seimbang. 3. Apa manfaat mobilisasi dini pada ibu pascapersalinan? Jawaban: Mencegah tromboemboli dan pneumonia, mempercepat pemulihan fungsi usus dan mencegah konstipasi, mempertahankan tonus otot, meningkatkan sirkulasi dan penyembuhan luka, serta meningkatkan kepercayaan diri dan kemandirian. 60

4. Sebutkan faktor yang memengaruhi personal hygiene dan dampak hygiene yang buruk, serta perbedaan tidur NREM dan REM. Jawaban: Faktor: citra tubuh, praktik sosial, status sosio-ekonomi, pengetahuan, kebudayaan, pilihan pribadi, dan kondisi fisik. Dampak: risiko infeksi, bau badan, gangguan rasa nyaman dan harga diri, penularan penyakit, masalah kulit dan gigi. NREM: dari tidur ringan hingga dalam dengan aktivitas tubuh menurun; REM: aktivitas otak lebih tinggi, berkaitan dengan mimpi, memori, dan proses emosional. 5. Bagaimana alur manajemen nyeri dan hubungan antar kebutuhan dasar pada bab ini? Jawaban: Alur: pengkajian nyeri (lokasi, intensitas, durasi, karakteristik, faktor pemberat dan peringan dengan NRS atau VAS), intervensi nonfarmakologis, kolaborasi farmakologis bila perlu, lalu evaluasi. Mobilisasi, tidur, kebersihan diri, dan kenyamanan saling mendukung; bila satu tidak terpenuhi, yang lain dapat terganggu. Daftar rujukan Palupi, A. K., Susilowati, Y., & Diel, M. M. (2023). Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan Pasien dalam Pemenuhan Kebutuhan Personal Hygiene di Rumah Sakit Kanker Dharmais Tahun 2022. Jurnal Kesehatan Universitas Yatsi Madani, 4(2), 100-111. Supriani, A., & Rosyidah, N. N. (2024). Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mobilisasi Dini Pasien Post Operasi Sectio Cesarea. Enfermeria Ciencia, 2(2), 141-153. doi.org/10.56586/ec.v2i2.28 Paratami, A., Purwaningsih, & Rofida, A. (2024). Asuhan Keperawatan Mobilisasi Dini pada Ibu Post Op Sectio Caesarea dalam Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas di RS Tk II Putri Hijau Medan. SENTRI, 3(4), 164- 177. Setijanto, E., Thamrin, H., & Caprianus, A. R. (2022). Perbandingan antara Mobilisasi Cepat dan Mobilisasi Lambat terhadap Komplikasi Neurologis pada Pasien Anestesi Spinal. Jurnal Anestesi Perioperatif, 10(1), 1-6. Agustina, F., & Afriani, B. (2023). Penerapan Manajemen Nyeri pada Asuhan Keperawatan Pasien dengan Dismenorea. Lentera Perawat, 4(2), 155-161. Batubara, K., & Limbong, P. R. (2021). Pemenuhan Kebutuhan Istirahat Tidur dengan Tindakan Relaksasi Otot Progresif pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. KEPO, 2(2), 163-172. Pranitha, P. D., dkk. (2023). Proporsi dan Perbedaan Karakteristik Kualitas Tidur Mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran. E-Jurnal Medika Udayana, 12(4), 174-184. 61

Magany, R. M., Djaya, P. N., & Kurniawan, F. (2022). Relationship between Parenting Style and Maternal Personal Hygiene with Children's Personal Hygiene in North Jakarta. Althea Medical Journal, 9(3), 205-209. Lestari, R., Realita, F., & Rosyidah, H. (2024). Hubungan Tingkat Pengetahuan Personal Hygiene terhadap Perilaku Personal Hygiene Remaja Saat Menstruasi: Literature Review. MPPKI, 7(4), 596-605. Taufik, dkk. (2024). Hubungan Intensitas Nyeri dengan Pemenuhan Kebutuhan Istirahat dan Tidur pada Pasien Postoperasi Ekstremitas Bawah di Rumah Sakit. Getsempena Health Science Journal, 3(2), 280-291. Permata, F. F., dkk. (2024). Karya Ilmiah. JICN, 1(1), 1-5. Permatasari, L. (2023). Asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan mobilisasi pada pasien Tn.T dengan fraktur neck femur di Lantai V Paviliun Eri Soedewo RSPAD Gatot Soebroto. Karya Tulis Ilmiah, Prodi D-III Keperawatan, STIKes RSPAD Gatot Soebroto. Waqiah, A., Setiawan, D., Sukoyo, S., Setiyanto, S., Yuli, T. A., Hidayah, T. N., & Ubaidillah P., T. (2021/2022). Makalah pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur. Universitas Muhammadiyah Gombong. Zulfaturrohmah, Indah W. N., Firmansyah A. H., & Rifqi A. J. (t.t.). Makalah kebutuhan perawatan diri. Universitas Sains Al-Qur'an Wonosobo. 62

MODUL 6 KOMUNIKASI TERAPEUTIK DAN PRIVASI PASIEN Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 16. Menjelaskan pengertian, tujuan, prinsip, dan tahapan komunikasi terapeutik. 17. Menjelaskan pentingnya menjaga privasi dan kerahasiaan pasien. 18. Menerapkan keduanya pada setiap tahap pelayanan kebidanan. A. Komunikasi terapeutik Komunikasi terapeutik adalah komunikasi profesional yang dilakukan tenaga kesehatan, termasuk bidan, dengan pasien secara sadar, terencana, dan bertujuan spesifik untuk membantu penyembuhan atau pemulihan serta meningkatkan derajat kesehatan pasien. Berbeda dengan komunikasi interpersonal biasa yang spontan dan setara, komunikasi terapeutik menerapkan prinsip komunikasi untuk membantu pasien mengatasi masalah emosional, psikologis, atau fisik melalui bantuan terstruktur. Komunikasi ini juga membangun hubungan saling percaya, memberi dukungan emosional, dan menciptakan suasana aman dan nyaman. Dalam praktik kebidanan, bidan berinteraksi dengan ibu, bayi, keluarga, dan masyarakat pada pemeriksaan kehamilan, persalinan, nifas, pelayanan bayi baru lahir, hingga kesehatan reproduksi, dengan bahasa yang mudah dipahami, sikap ramah, sopan, jujur, dan empatik. Hubungan yang baik membuat pasien lebih terbuka sehingga bidan memperoleh data lengkap dan jujur untuk pengkajian, diagnosis, tindakan, dan edukasi, sekaligus mengurangi kecemasan, ketakutan, dan stres. 63

Tujuan dan manfaat Tujuan Manfaat Membangun hubungan saling percaya; memperoleh informasi lengkap dan akurat; mengurangi kecemasan, ketakutan, dan stres; memberi dukungan emosional; meningkatkan pemahaman pasien terhadap kondisi, tindakan, dan anjuran; mendorong partisipasi pasien dalam keputusan; meningkatkan keberhasilan pelayanan dan kepuasan. Pasien merasa aman dan nyaman; lebih terbuka menyampaikan keluhan; data pengkajian lebih akurat; kecemasan saat pemeriksaan atau persalinan berkurang; kerja sama terhadap anjuran dan terapi meningkat; pasien merasa dihargai dan didengarkan. Prinsip komunikasi terapeutik Prinsip Makna Menghargai (respect) Menghormati hak, martabat, keyakinan, budaya, dan keputusan pasien tanpa membeda-bedakan. Empati Berusaha memahami perasaan dan kebutuhan pasien tanpa larut dalam emosinya. Kejujuran (genuineness) Jujur, terbuka, dan konsisten dalam memberi informasi dan pelayanan. Mendengarkan aktif Memberi perhatian penuh, tidak memotong pembicaraan, dan menanggapi sesuai. Kerahasiaan (confidentiality) Informasi hanya untuk kepentingan pelayanan dan tidak disampaikan tanpa izin, kecuali sesuai ketentuan hukum. Komunikasi jelas Bahasa sopan, sederhana, sesuai tingkat pemahaman pasien. Berorientasi pada kebutuhan pasien Membantu memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan emosional. B. Teknik komunikasi terapeutik Aspek Uraian Mendengarkan aktif Perhatian penuh tanpa interupsi agar pasien merasa didengar dan dihargai. 64

Aspek Uraian Empati dan validasi emosional Pemahaman jujur terhadap perasaan pasien tanpa penilaian sepihak; mengurangi ketidakpastian dan ketakutan. Komunikasi nonverbal Ekspresi wajah ramah, kontak mata tepat, nada suara tenang, dan sentuhan sosial yang menenangkan. Bidan juga memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaan tanpa dihakimi, menjaga kontak mata yang sesuai, dan menjaga kerahasiaan informasi. C. Privasi dan kerahasiaan pasien Menjaga privasi pasien adalah tindakan tenaga kesehatan melindungi hak pasien atas kerahasiaan informasi pribadi dan kondisi kesehatannya, serta memberi rasa aman dan nyaman selama pelayanan. Privasi mencakup identitas, hasil pemeriksaan, riwayat penyakit, tindakan medis, dan kondisi fisik pasien. Informasi pasien tidak boleh disampaikan kepada pihak lain tanpa persetujuan pasien, kecuali dalam keadaan tertentu yang diatur peraturan perundang-undangan. Bagi bidan, hal ini bagian dari etika profesi dan tanggung jawab profesional. Dimensi privasi Penerapan Informasional Melindungi data sensitif (rekam medis, hasil tes, informasi pribadi) agar tidak disebarluaskan tanpa izin eksplisit; membatasi akses rekam medis hanya bagi tenaga kesehatan berwenang; berkomunikasi di tempat yang tidak terdengar orang lain. Fisik dan spasial Menghormati hak pasien selama prosedur dengan ruang periksa tertutup, tirai pembatas, atau penutup tubuh; hanya membuka bagian tubuh yang diperiksa; selalu meminta izin sebelum tindakan pada area tubuh sensitif. 65

Tujuan, manfaat, dan prinsip menjaga privasi Tujuan Manfaat Prinsip Melindungi kerahasiaan identitas, data pribadi, dan informasi kesehatan; menjaga martabat dan hak pasien; memberi rasa aman dan bebas dari rasa malu; membangun kepercayaan; mencegah penyalahgunaan informasi; memenuhi etika profesi. Melindungi hak dan kerahasiaan sesuai etika dan hukum; pasien tidak malu atau takut; kepercayaan terhadap tenaga dan fasilitas kesehatan; pasien lebih terbuka; mencegah penyalahgunaan informasi; menjaga martabat pada pemeriksaan sensitif. Menjaga kerahasiaan data; meminta persetujuan (informed consent) setelah penjelasan memadai; menjaga privasi fisik; menghormati martabat tanpa diskriminasi; membatasi akses rekam medis; lingkungan aman dan nyaman; mematuhi kode etik bidan dan peraturan. Komunikasi terapeutik berhubungan erat dengan privasi karena komunikasi yang sopan, empatik, dan menghargai kerahasiaan menumbuhkan kepercayaan pasien. Empat tahap dan privasi pada tiap tahap Tahap Komunikasi Privasi 1 Pra-interaksi Mempelajari riwayat, menyiapkan diri dan lingkungan. Data tidak disebarkan; ruang periksa tertutup. 2 Orientasi Salam, perkenalan, verifikasi identitas, informed consent. Percakapan tidak terdengar orang lain. 3 Kerja Menggali keluhan, edukasi, dukungan emosional, tindakan. Tirai atau ruang tertutup; hanya bagian yang diperiksa dibuka. 4 Terminasi Menyimpulkan, mengevaluasi pemahaman, rencana tindak lanjut. Hasil disampaikan secara pribadi; rekam medis dijaga. 66

D. Empat tahap komunikasi dan penerapan privasi Tahap Kegiatan komunikasi Penerapan privasi 1. Pra-interaksi (sebelum bertemu pasien) Mempelajari data atau riwayat kesehatan; menyiapkan diri secara fisik, mental, dan emosional (evaluasi diri); menentukan tujuan dan rencana asuhan; menyiapkan lingkungan yang nyaman. Mempelajari data pasien tanpa menyebarkannya; menyiapkan ruang periksa yang tertutup. 2. Orientasi (awal pertemuan) Memberi salam dan memperkenalkan diri; memverifikasi identitas pasien; menjelaskan tujuan pemeriksaan atau tindakan; menjalin hubungan hangat dan empatik; mengidentifikasi masalah dan menetapkan kontrak interaksi; meminta informed consent. Memastikan identitas dengan benar; meminta persetujuan; menjaga percakapan agar tidak terdengar orang lain. 3. Kerja (inti) Menggali keluhan, riwayat kesehatan, dan kebutuhan; memberi edukasi, dukungan emosional, dan motivasi; melakukan pemeriksaan atau tindakan dengan komunikasi yang jelas dan sopan. Menutup bagian tubuh yang tidak diperiksa; memakai tirai atau ruang tertutup; menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan; menghormati budaya dan keyakinan pasien. 4. Terminasi (akhir pelayanan) Menyimpulkan hasil komunikasi dan tindakan; mengevaluasi pemahaman pasien; menjelaskan rencana tindak lanjut atau jadwal kunjungan berikutnya; mengakhiri dengan sopan. Menyampaikan hasil pemeriksaan secara pribadi; menyimpan rekam medis sesuai prosedur; mengingatkan bahwa informasi pasien tetap dirahasiakan. Penerapan dalam pelayanan 5. Membangun hubungan saling percaya: menyapa ramah, memperkenalkan diri, menjelaskan peran. 6. Mendengarkan keluhan secara aktif tanpa menyela atau menghakimi. 67

7. Memberi informasi yang jelas: tujuan, prosedur, manfaat, dan kemungkinan risiko. 8. Meminta persetujuan (informed consent) setelah penjelasan lengkap. 9. Menjaga kerahasiaan informasi dan keamanan rekam medis. 10. Menjaga privasi saat pemeriksaan dan tindakan. 11. Menghargai hak dan keputusan pasien, termasuk memberi kesempatan bertanya dan ikut memutuskan. 12. Mengakhiri pelayanan dengan komunikasi yang baik. E. Hubungan komunikasi dan privasi dengan kepuasan pasien Dampak Penjelasan Membangun kepercayaan Hubungan berlandaskan kejujuran dan rasa hormat mempermudah pencapaian tujuan asuhan. Menurunkan stres dan nyeri Komunikasi suportif menurunkan intensitas persepsi nyeri subjektif pada persalinan. Meningkatkan kepuasan layanan Pasien yang merasa didengar dan dihormati privasinya memberi penilaian positif dan lebih termotivasi mematuhi rencana perawatan. Menjaga privasi saat pelayanan Sebelum dan saat pemeriksaan Ruang tertutup, tirai atau penutup tersedia☐ Identitas pasien diverifikasi☐ Tujuan dijelaskan dan persetujuan diminta☐ Hanya bagian tubuh yang diperiksa yang dibuka☐ Percakapan tidak terdengar orang lain☐ Sesudah pemeriksaan Hasil disampaikan secara pribadi☐ Rekam medis disimpan aman dan hanya dibuka bagi yang berwenang☐ Pasien diingatkan bahwa informasinya dirahasiakan☐ 68

Ilustrasi kasus Bidan A hendak memeriksa ibu hamil yang tampak malu dan menjawab singkat. Tirai di ruang periksa belum terpasang, dan ada orang lain yang masuk keluar ruangan. Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Apa kekurangan situasi pemeriksaan pada kasus ini? Petunjuk: Tirai belum terpasang dan ada orang lain keluar masuk ruangan, sehingga privasi fisik dan informasional tidak terjaga. Pertanyaan: Bagaimana sikap ibu dapat dipahami, dan teknik apa yang dipakai bidan? Petunjuk: Ibu tampak malu karena merasa tidak aman; bidan memakai mendengarkan aktif, empati, dan komunikasi nonverbal yang menenangkan. Pertanyaan: Langkah apa yang dilakukan bidan pada tiap tahap? Petunjuk: Pra-interaksi: menyiapkan ruang tertutup. Orientasi: memperkenalkan diri dan meminta persetujuan. Kerja: memasang tirai dan menutup bagian tubuh yang tidak diperiksa. Terminasi: menyampaikan hasil secara pribadi. Intisari modul • Komunikasi terapeutik adalah komunikasi profesional yang terencana untuk membantu penyembuhan dan membangun kepercayaan. • Privasi mencakup identitas, hasil pemeriksaan, riwayat penyakit, tindakan medis, dan kondisi fisik pasien. • Tujuh prinsip: menghargai, empati, kejujuran, mendengarkan aktif, kerahasiaan, komunikasi jelas, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. • Tahapan: pra-interaksi, orientasi, kerja, dan terminasi; privasi dijaga pada setiap tahap. • Informasi pasien tidak disampaikan kepada pihak lain tanpa persetujuan, kecuali sesuai ketentuan hukum. Istilah penting Istilah Pengertian Komunikasi terapeutik Komunikasi yang dilakukan secara sadar, terencana, dan bertujuan membantu pemulihan pasien. Privasi pasien Hak atas kerahasiaan informasi pribadi dan kondisi kesehatan, serta rasa aman selama pelayanan. Informed consent Persetujuan pasien setelah penjelasan yang memadai. 69

Istilah Pengertian Empati Berusaha memahami perasaan dan kebutuhan pasien tanpa larut dalam emosinya. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Apa yang dimaksud dengan komunikasi terapeutik, apa tujuan utamanya, dan apa bedanya dengan komunikasi interpersonal biasa? Jawaban: Komunikasi terapeutik adalah komunikasi profesional yang dilakukan tenaga kesehatan, termasuk bidan, secara sadar dan terencana untuk membantu penyembuhan dan meningkatkan derajat kesehatan. Tujuan utamanya membangun hubungan saling percaya. Komunikasi interpersonal biasa bersifat spontan dan setara, sedangkan komunikasi terapeutik terencana dan bertujuan spesifik. 2. Apa yang dimaksud dengan menjaga privasi pasien dan apa dua dimensinya? Jawaban: Tindakan tenaga kesehatan melindungi hak pasien atas kerahasiaan informasi pribadi dan kondisi kesehatannya, mencakup identitas, hasil pemeriksaan, riwayat penyakit, tindakan medis, dan kondisi fisik. Dimensinya: privasi informasional (rekam medis, hasil tes, data pribadi) dan privasi fisik dan spasial (ruang tertutup, tirai, meminta izin sebelum tindakan pada area sensitif). 3. Sebutkan prinsip komunikasi terapeutik dalam kebidanan. Jawaban: Menghargai pasien (respect), empati, kejujuran (genuineness), mendengarkan aktif, menjaga kerahasiaan (confidentiality), komunikasi yang jelas dan mudah dipahami, serta berorientasi pada kebutuhan pasien. 4. Sebutkan empat tahap komunikasi terapeutik dan satu kegiatan pada tiap tahap. Jawaban: Pra-interaksi: mempelajari riwayat kesehatan pasien. Orientasi: memberi salam, memperkenalkan diri, dan meminta informed consent. Kerja: menggali keluhan serta melakukan pemeriksaan atau tindakan. Terminasi: menyimpulkan hasil dan menjelaskan rencana tindak lanjut. 5. Sebutkan teknik komunikasi terapeutik, dan bagaimana bidan menjaga privasi pada tahap kerja? Jawaban: Teknik: mendengarkan aktif, empati dan validasi emosional, serta komunikasi nonverbal. Pada tahap kerja, bidan menutup bagian tubuh yang 70

tidak diperiksa, memakai tirai atau ruang tertutup, menjaga kerahasiaan hasil pemeriksaan, dan menghormati budaya serta keyakinan pasien. Daftar rujukan Islami, I. M. R., Qomariyah, N., & Sholehah, A. I. (2024). Pengetahuan bidan tentang komunikasi terapeutik dalam praktik kebidanan. Jurnal Bidan Mandira Cendikia, 3(1). Ikatan Bidan Indonesia. (t.t.). Ikatan Bidan Indonesia: Mitra kesehatan ibu dan anak. https://ikatanbidanindonesia.org/ Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2021). Fundamentals of nursing (11th ed.). Elsevier. Ikatan Bidan Indonesia. (t.t.). Profil penulis pada Google Scholar. Google Scholar. Ani, A., Yuliandini, A., & Saleh, S. N. H. (2025). Pengaruh komunikasi terapeutik dengan intensitas nyeri saat persalinan. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 7(3), 357-364. Dewi, K. S. W. (2025). Studi kualitatif: hambatan dan tantangan komunikasi terapeutik dalam pemberian asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSUD Kabupaten Klungkung (Tesis). ITEKES-BALI. Islami, I. M. R., Qomariyah, N., & Sholehah, A. I. (2024). Pengetahuan bidan tentang komunikasi terapeutik dalam praktik kebidanan. Jurnal Bidan Mandira Cendikia, 3(1), 1-7. Moore, B. A. (2024). Nursing students' attitudes toward patient privacy in a clinical setting (Graduate thesis). Lithuanian University of Health Sciences. Novitasari, A., dkk. (2025). Buku ajar komunikasi terapeutik. Sarana Ilmu Indonesia (Salnesia). Putri, D., Suharyanti, S., & Putri, E. E. (2024). Midwives' therapeutic communication to treat antenatal depression. Jurnal ASPIKOM. Tahulending, P. S., dkk. (2022). Pelatihan komunikasi efektif dalam keperawatan pada perawat di Rumah Sakit X Bekasi. Prosiding PKM-CSR, 5, 1-6. Wang, Y., dkk. (2024). Therapeutic communication: A study of core application and impact on patients in nursing services. International Journal of Medical and Healthcare Research, 2(3), 1. Winarsih, W., dkk. (2024). Pengantar ilmu kebidanan dan standar profesi kebidanan. CV Lauk Puyu Press. 71

MODUL 7 HAND HYGIENE DAN APD Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 19. Menjelaskan rantai infeksi dan cara memutusnya. 20. Melakukan kebersihan tangan pada saat dan dengan teknik yang tepat. 21. Memilih, memakai, dan melepas APD sesuai risiko. A. Infeksi dan rantai penularan 1. Pengertian dan penyebab infeksi Infeksi adalah masuknya mikroorganisme patogen ke dalam tubuh sehingga mampu menyebabkan sakit. Infeksi disebut asimptomatik bila mikroorganisme tidak menimbulkan cedera serius. Penyakit timbul bila patogen berkembang biak dan mengubah jaringan normal. Penyebab Keterangan Bakteri Contoh: Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa. Virus Contoh: SARS-CoV-2, influenza. Jamur Menginfeksi kulit atau organ dalam, terutama pada daya tahan tubuh rendah. Parasit Menumpang pada tubuh pejamu. Tanda klinis infeksi adalah kalor (panas), dolor (sakit), rubor (kemerahan), tumor (pembengkakan), dan fungsiolaesa (gangguan fungsi). 2. Rantai penularan infeksi Infeksi menyebar melalui enam mata rantai yang saling berurutan. Bila satu mata rantai diputus, penularan dapat dicegah. Mata rantai Penjelasan 1. Agen infeksi Bakteri, virus, jamur, atau parasit. Kemampuannya menimbulkan penyakit dipengaruhi patogenitas, virulensi, dan dosis. 72

Mata rantai Penjelasan 2. Reservoir Tempat mikroorganisme hidup dan berkembang biak: manusia, hewan, benda mati, air, makanan, atau lingkungan. 3. Pintu keluar Jalan mikroorganisme meninggalkan reservoir: saluran napas (batuk, bersin), saluran cerna dan kemih, luka kulit, darah, air liur, cairan luka, atau melalui plasenta. 4. Cara penularan Cara perpindahan dari reservoir ke pejamu (lihat bagian berikut). 5. Pintu masuk Jalan masuk ke tubuh pejamu: saluran napas, saluran cerna, saluran kemih dan kelamin, kulit tidak utuh, atau selaput lendir. 6. Pejamu rentan Orang dengan daya tahan atau kondisi tertentu yang berisiko terinfeksi. 3. Cara penularan Aspek Uraian Kontak langsung Sentuhan fisik, darah, atau cairan tubuh. Kontak tidak langsung Melalui benda mati terkontaminasi (fomite) seperti gagang pintu, alat medis, atau linen. Droplet Percikan partikel besar saat batuk, bersin, atau berbicara pada jarak dekat. Airborne Partikel kecil yang bertahan di udara dan dapat menjangkau jarak lebih jauh. Vehikulum Air atau makanan yang terkontaminasi. Vektor Serangga atau hewan pembawa penyakit. 4. Pintu masuk dan pejamu rentan Kateter urine yang tidak steril, tusukan jarum, luka atau lecet pada kulit, serta percikan ke mata, hidung, atau mulut adalah contoh jalan masuk mikroorganisme. Yang tergolong pejamu rentan adalah: • usia lanjut dan bayi baru lahir; • penyakit kronis (misalnya diabetes melitus, HIV/AIDS); • malnutrisi; 73

• penggunaan imunosupresan atau kemoterapi; • luka operasi; • pemakaian alat invasif (kateter, ventilator). Ingat. Semakin rendah kekebalan seseorang, semakin besar risiko infeksi, bahkan bila paparan agennya kecil. Rantai infeksi 13. Agen infeksi 14. Reservoir 15. Pintu keluar 16. Cara penularan 17. Pintu masuk 18. Pejamu rentan Cara memutus rantai • Hand hygiene • APD • Etika batuk • Sterilisasi alat • Limbah medis • Lingkungan bersih • Teknik aseptik B. Pencegahan infeksi dan kewaspadaan standar 1. Pengertian dan tujuan Pencegahan infeksi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah, mengurangi, dan memutus penyebaran mikroorganisme penyebab infeksi demi melindungi pasien, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat. Tujuannya: • melindungi pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, dan penunggu; • memutus rantai penularan; • menurunkan kejadian infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAIs); 74

• meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan; • menekan dampak ekonomi akibat perpanjangan lama rawat dan biaya pengobatan. 2. Upaya memutus rantai infeksi Upaya Manfaat Hand hygiene Mengurangi mikroorganisme pada tangan. APD Melindungi pintu masuk dan pintu keluar. Etika batuk dan bersin Mengurangi penyebaran droplet. Sterilisasi alat Menghilangkan mikroorganisme dari alat. Pembuangan limbah medis yang benar Mencegah lingkungan menjadi sumber penularan. Kebersihan lingkungan (termasuk ventilasi) Mengurangi reservoir. Teknik aseptik Mencegah mikroorganisme masuk ke area atau jaringan yang seharusnya steril. Imunisasi serta edukasi dan pelatihan berkelanjutan juga termasuk bagian dari pencegahan. 3. Kewaspadaan standar Kewaspadaan standar menganggap darah, seluruh cairan tubuh, sekret, ekskreta (kecuali keringat), kulit tidak utuh, dan selaput lendir berpotensi menularkan infeksi pada setiap pasien, tanpa memandang diagnosisnya. Unsurnya meliputi kebersihan tangan, APD sesuai risiko, etika batuk, pengelolaan limbah dan linen, praktik menyuntik yang aman, serta penanganan peralatan perawatan. Ingat. Hand hygiene dan APD adalah dua pilar kewaspadaan standar. Standar kebersihan tangan mengacu pada pedoman WHO yang menjadi acuan Kemenkes RI. C. Kebersihan tangan (hand hygiene) 1. Pengertian dan tujuan Hand hygiene adalah membersihkan tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan cairan antiseptik berbasis alkohol (hand rub). Cara ini termasuk yang paling sederhana dan efektif untuk mencegah penyebaran infeksi. Tujuannya: 75

• menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme di tangan; • mencegah perpindahan mikroorganisme dari petugas ke pasien, dan sebaliknya; • mencegah kontaminasi silang antara pasien, tenaga kesehatan, alat, dan lingkungan; • melindungi tenaga kesehatan dan meningkatkan keselamatan pasien. 2. Prinsip kebersihan tangan • dilakukan pada saat yang tepat (lima momen); • memakai teknik yang benar (enam langkah WHO); • durasi cukup: 40–60 detik dengan sabun dan air mengalir, 20–30 detik dengan hand rub; • kuku pendek dan bersih, tanpa cincin, gelang, atau perhiasan; • tangan dikeringkan dengan tisu sekali pakai atau handuk bersih. Lima momen dan enam langkah dapat dilihat pada infografis di halaman berikutnya. 3. Indikasi lain Selain lima momen, tangan juga dibersihkan sebelum dan sesudah makan, setelah ke toilet, sebelum dan sesudah memakai atau melepas APD, setelah bersin, batuk, atau membuang ingus, setelah memegang benda yang berpotensi terkontaminasi (gagang pintu, uang, alat medis), serta sebelum menyiapkan atau memberi obat. 4. Sabun dan air mengalir atau hand rub? Kondisi tangan Pilihan Lama Tampak kotor atau terkena cairan tubuh pasien secara langsung Sabun dan air mengalir 40–60 detik Tidak tampak kotor; perlu tindakan cepat antarpasien; atau sabun dan air tidak tersedia Hand rub berbasis alkohol (kadar alkohol minimal 60%) 20–30 detik Hand rub memakai gerakan yang sama dengan enam langkah, tanpa dibilas, hingga tangan kering. 76

Ingat. Hand rub tidak boleh dipakai pada tangan yang tampak kotor atau terkena cairan tubuh langsung. Pada kondisi itu tetap cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Kapan dan bagaimana mencuci tangan Lima momen kebersihan tangan 1. Sebelum kontak dengan pasien 2. Sebelum tindakan aseptik 3. Setelah terpapar cairan tubuh 4. Setelah kontak dengan pasien 5. Setelah kontak dengan lingkungan pasien Enam langkah WHO Aspek Uraian 1 Telapak Ratakan sabun, gosok kedua telapak. 2 Punggung tangan Jari saling terkait, kiri lalu kanan. 3 Sela jari Gosok telapak dan sela jari. 4 Punggung jari Posisi saling mengunci. 5 Ibu jari Memutar dalam genggaman, kedua tangan. 6 Ujung jari Gosok ujung jari dan kuku, bilas, keringkan. • Sabun dan air mengalir: 40–60 detik • Hand rub beralkohol (min. 60%): 20–30 detik D. Alat pelindung diri (APD) 1. Pengertian dan kapan APD diperlukan APD adalah alat yang dipakai tenaga kesehatan untuk melindungi tubuh dari paparan bahan infeksius, darah, cairan tubuh, droplet, dan bahan berbahaya lain. Pemilihannya disesuaikan dengan jenis tindakan dan tingkat risiko. APD tidak menggantikan hand hygiene. APD diperlukan pada kondisi berikut: • kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, sekret, atau ekskreta; • tindakan invasif (memasang infus, kateter, pembedahan); 77

• merawat pasien penyakit menular lewat kontak, droplet, atau udara; • menangani limbah medis atau linen terkontaminasi; • risiko percikan ke wajah, mata, atau selaput lendir; • berada di ruang isolasi atau melakukan tindakan berisiko tinggi. 2. Jenis APD dan fungsinya APD Fungsi Sarung tangan Melindungi tangan dari darah, cairan tubuh, jaringan, atau bahan terkontaminasi. Masker Melindungi hidung dan mulut dari percikan cairan tubuh dan partikel pernapasan. Pelindung mata (goggles) Melindungi mata dari percikan darah atau cairan tubuh. Pelindung wajah (face shield) Melindungi mata, hidung, dan mulut. Gaun pelindung Melindungi pakaian dan kulit. Apron Perlindungan tambahan pada bagian depan tubuh dari percikan atau tumpahan. Penutup kepala (mitela) Mencegah rambut dan kulit kepala petugas mengontaminasi area kerja dan pasien, serta melindungi rambut dari percikan. Pelindung kaki Melindungi kaki. 3. Memilih masker, gaun, dan sarung tangan Masker Karakteristik dan penggunaan Masker bedah Menyaring droplet dan percikan; sekali pakai. Untuk perawatan umum, tindakan berisiko percikan, dan penularan droplet. Respirator N95/KN95 Menyaring partikel sangat kecil (aerosol) hingga 95% atau lebih. Untuk tindakan yang menghasilkan aerosol dan penularan lewat udara, misalnya TB paru. Masker kain Berlapis dan dapat dicuci; proteksi lebih rendah. Untuk penggunaan umum non- klinis. 78

Gaun Karakteristik dan penggunaan Gaun non-steril Sekali pakai, tahan cairan tingkat tertentu. Untuk perawatan rutin berisiko percikan. Gaun steril Disterilkan; dipakai dengan teknik aseptik. Untuk tindakan bedah dan prosedur invasif. Apron plastik Melindungi bagian depan tubuh. Untuk risiko percikan tinggi, misalnya memandikan pasien. Coverall (hazmat) Menutupi seluruh tubuh. Untuk penyakit menular berbahaya berisiko tinggi. Sarung tangan Karakteristik dan penggunaan Bersih (non-steril) Sekali pakai. Untuk kontak darah atau cairan tubuh tanpa area steril, misalnya memasang infus. Steril Dikemas individual. Untuk tindakan invasif dan bedah, misalnya kateter urine. Rumah tangga (utility) Tebal; dapat dipakai ulang setelah dibersihkan. Untuk membersihkan alat atau menangani limbah. 4. Prinsip penggunaan APD • Sesuai risiko. Pilih APD berdasarkan penilaian risiko sebelum tindakan. • Hand hygiene dahulu, terutama sebelum memakai sarung tangan. • Periksa kondisi: tidak robek, tidak berlubang, bersih, dan ukuran sesuai. Ukuran terlalu kecil mudah robek, terlalu besar mengganggu gerakan dan mudah terkontaminasi. • Tutupi area berisiko dan pastikan APD terpasang tidak longgar. • Jangan menyentuh bagian luar APD atau wajah selama tindakan, karena bagian luar dapat terkontaminasi. • Ganti APD setiap berpindah pasien atau bila rusak atau terkontaminasi. • Lepas dengan hati-hati, buang APD sekali pakai sesuai prosedur limbah, dan bersihkan serta disinfeksi APD yang dapat dipakai ulang. • Hand hygiene kembali setelah APD dilepas. 79

5. Cara memakai masker yang benar 1. Lakukan kebersihan tangan sebelum menyentuh masker. 2. Periksa masker tidak rusak dan kenali sisi luar dan dalamnya. 3. Pasang menutupi hidung, mulut, hingga dagu, lalu kaitkan tali. 4. Tekan klip hidung agar rapat (terutama pada N95); pastikan tidak ada celah. 5. Hindari menyentuh bagian depan masker. 6. Ganti bila lembap, kotor, atau rusak, lalu lakukan kebersihan tangan setelah melepasnya. Memakai dan melepas APD Urutan memakai Kebersihan tangan☐ Gaun pelindung☐ Masker☐ Penutup kepala (mitela)☐ Kacamata atau pelindung wajah☐ Sarung tangan☐ Urutan melepas Sarung tangan (bagian luar dilipat ke dalam)☐ Kebersihan tangan☐ Kacamata atau pelindung wajah☐ Gaun (gulung sisi luar ke dalam)☐ Kebersihan tangan☐ Penutup kepala☐ Masker, paling akhir☐ Kebersihan tangan☐ Ilustrasi kasus Bidan B akan menolong persalinan pasien yang diduga memiliki penyakit menular. Ia baru saja selesai menulis catatan dan tangannya tampak bersih. 80

Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Kapan kebersihan tangan wajib dilakukan? Petunjuk: Lihat lima momen kebersihan tangan (bagian C). Pertanyaan: Cuci tangan dengan sabun atau hand rub? Petunjuk: Lihat tabel pada bagian C.4: pilihan bergantung pada kondisi tangan. Pertanyaan: Bagaimana urutan melepas APD? Petunjuk: Lihat checklist melepas APD pada bagian D. Intisari modul • Infeksi terjadi melalui rantai enam mata rantai; memutus satu mata rantai sudah cukup untuk mencegah penularan. • Hand hygiene dan APD adalah dua pilar kewaspadaan standar. • Kebersihan tangan dilakukan pada lima momen dengan enam langkah WHO: 40–60 detik dengan sabun dan air mengalir, atau 20–30 detik dengan hand rub bila tangan tidak tampak kotor. • APD dipilih sesuai risiko, dipakai dengan urutan yang benar, dan tidak menggantikan hand hygiene. • Saat melepas APD, komponen paling terkontaminasi (sarung tangan) dilepas lebih dulu, masker paling akhir, dengan kebersihan tangan di antara tahap. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Sebutkan enam komponen rantai infeksi. Jawaban: Agen infeksi, reservoir, pintu keluar, cara penularan, pintu masuk, dan pejamu rentan. 2. Sebutkan lima momen kebersihan tangan menurut WHO. Jawaban: Sebelum kontak dengan pasien, sebelum tindakan aseptik, setelah terpapar cairan tubuh, setelah kontak dengan pasien, dan setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien. 3. Berapa durasi kebersihan tangan dengan sabun dan dengan hand rub? Kapan hand rub tidak boleh dipakai? Jawaban: Sekitar 40–60 detik dengan sabun dan air mengalir, dan 20–30 detik dengan hand rub berbasis alkohol (kadar alkohol minimal 60%) hingga kering. Hand rub tidak boleh dipakai bila tangan tampak kotor atau terkena cairan tubuh langsung; pada kondisi itu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. 81

4. Jelaskan perbedaan masker bedah dan respirator N95. Jawaban: Masker bedah menyaring droplet dan percikan (sekali pakai) untuk perawatan umum dan penularan droplet. Respirator N95/KN95 menyaring partikel aerosol sangat kecil hingga 95% atau lebih untuk tindakan yang menghasilkan aerosol dan penularan lewat udara, seperti TB paru. 5. Bagaimana urutan melepas APD, dan mengapa hand hygiene tetap diperlukan setelahnya? Jawaban: Sarung tangan, kebersihan tangan, pelindung mata atau wajah, gaun, kebersihan tangan, penutup kepala, masker atau respirator terakhir, lalu kebersihan tangan. Tangan dapat terkontaminasi saat melakukan tindakan dan saat melepas APD; APD tidak menggantikan hand hygiene. Daftar rujukan World Health Organization. (2009). WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. Geneva: WHO. World Health Organization. (2009). WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care: A Summary. Geneva: WHO. World Health Organization. (2022). Standard Precautions for the Prevention and Control of Infections: Aide-Memoire. Geneva: WHO. World Health Organization. (2021). Aide-Memoire: Personal Protective Equipment. Copenhagen: WHO Regional Office for Europe. Padeng, E. P. (2023). The Factors Associated with the Use of Personal Protective Equipment (PPE) by Midwives during Delivery Assistance during the COVID-19 Pandemic. Jurnal Ilmiah Bidan, 7(3), 10–16. CDC. (2002). Guideline for Hand Hygiene in Health-Care Settings. Atlanta: CDC. CDC. (2007). Guideline for Isolation Precautions: Preventing Transmission of Infectious Agents in Healthcare Settings. Atlanta: CDC. Aurelia, A. D., dkk. (2025). Pencegahan Infeksi dan Transfer Mikroorganisme. Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(6), 4355–4363. doi.org/10.63822/p0ah9x72 Kepatuhan Prosedur Operasi Standar Penggunaan APD dalam Pencegahan Infeksi Petugas Kesehatan. (2025). Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2(4), 88–100. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Kebersihan Tangan Lima Momen pada Tenaga Kesehatan di Puskesmas Sukajadi Kabupaten Bandung. (2024). Jurnal Terapi Gigi dan Mulut, 3(2), 30. 82

Martilopa, I., dkk. (2024). Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Hand Hygiene pada Perawat di RSUD Sungai Lilin. JABJ, 13(2), 366– 376. Peningkatan Kepatuhan Penggunaan APD pada Perawat di Ruang Perawatan Jiwa. (2025). MEDIC NUTRICIA, 19(4). Pelaksanaan Five Moments Hand Hygiene sebagai Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial. (2024). MEJORA: Medical Journal Awatara, 2(3), 37–41. Efektivitas Penggunaan APD di Tempat Kerja. (2025). SEHATMAS, 4(2), 539– 549. Analisis Kepatuhan Penggunaan APD pada Tenaga Kesehatan di IGD. (2025). Window of Public Health Journal, 6(4), 712–719. World Health Organization. (2023). Guidelines on Core Components of Infection Prevention and Control Programmes. Geneva: WHO. Zulfa, V., & Patricia, A. (2023). Pengetahuan dan Sikap Cuci Tangan Pakai Sabun pada Mahasiswa sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Infeksi. Jurnal Ilmu Kesehatan, 7(2). doi.org/10.33757/jik.v7i2.747 83

MODUL 8 DEKONTAMINASI, STERILISASI, DAN ISOLASI Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 22. Membedakan dekontaminasi, sterilisasi, dan isolasi. 23. Menjelaskan urutan pemrosesan alat dan metode sterilisasi. 24. Menerapkan prinsip isolasi dalam pelayanan kebidanan. A. Dekontaminasi Dekontaminasi adalah proses pembersihan benda atau zat untuk menghilangkan zat pencemar seperti mikroorganisme atau bahan berbahaya, atau proses mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme pada alat, bahan, atau permukaan terkontaminasi sehingga aman ditangani dan diproses lebih lanjut. Dekontaminasi adalah tahap awal sebelum pembersihan dan tidak selalu berarti alat menjadi steril. Alat kebidanan dapat terkontaminasi darah, cairan tubuh, atau mikroorganisme. Tujuan • Mengurangi jumlah mikroorganisme pada alat atau permukaan. • Mencegah penyebaran infeksi dan zat pencemar berbahaya. • Melindungi bidan dan tenaga kesehatan dari paparan. • Membuat alat lebih aman untuk pembersihan berikutnya. • Menjaga keselamatan pasien dan bayi. Proses pengelolaan alat 19. Penanganan alat setelah digunakan dengan hati-hati dan APD sesuai. 20. Dekontaminasi. Alat tidak habis pakai direndam seluruhnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. 21. Pembersihan: dicuci dengan sabun (disikat bila perlu) dan dibilas air, menghilangkan kotoran, darah, dan bahan organik karena sisa kotoran mengganggu disinfeksi atau sterilisasi. 22. Disinfeksi tingkat tinggi (DTT) atau sterilisasi sesuai tingkat risiko penggunaan. 84

23. Penyimpanan di tempat bersih dan terlindung agar tidak terkontaminasi kembali. Jenis dekontaminasi Jenis Contoh Kimia Disinfektan dan antiseptik (alkohol, klorin, hidrogen peroksida, iodin), netralisasi kimia, sabun atau deterjen khusus. Fisik Panas (autoklaf atau pemanasan kering), pembersihan mekanis (menggosok, menyikat, aliran air kuat), radiasi (UV atau gamma), filtrasi (filter HEPA). Biologis (bioremediasi) Mikroba pengurai dan fitoremediasi. Urutan pemrosesan alat Tahap Uraian 1. Penanganan setelah pakai Hati-hati, memakai APD yang sesuai. 2. Dekontaminasi Mengurangi mikroorganisme; contoh: rendam klorin 0,5% selama 10 menit. 3. Pembersihan Menghilangkan kotoran, darah, dan bahan organik. 4. Disinfeksi atau sterilisasi Sesuai tingkat risiko penggunaan alat. 5. Penyimpanan Tempat bersih dan terlindung agar tidak terkontaminasi kembali. Metode sterilisasi Metode Ketentuan Uap bertekanan (autoklaf) 121°C, 106 kPa; 20 menit tanpa bungkus, 30 menit bila dibungkus kain Panas kering (oven) Logam dan kaca: 1 jam pada 170°C. Alat tajam: 2 jam pada 160°C Bahan kimia Glutaraldehid 8–10 jam setelah alat dicuci, dibilas, dan dikeringkan; bilas air steril 85

Metode Ketentuan Suhu rendah Untuk alat tidak tahan panas, sesuai petunjuk produsen B. Sterilisasi Sterilisasi adalah proses menghilangkan atau mematikan seluruh (100%) bentuk mikroorganisme pada alat yang sudah dicuci dan dibilas, termasuk spora bakteri (endospora), sehingga alat aman digunakan kembali dan tidak menimbulkan risiko infeksi nosokomial pada petugas maupun pasien. Cara sterilisasi Cara Ketentuan Uap (autoklaf) Panas dan tekanan; 121°C dan 106 kPa selama 20 menit untuk alat tidak dibungkus kain dan 30 menit untuk alat dibungkus kain, lalu didiamkan hingga kering. Untuk alat tahan panas dan kelembapan. Panas kering (oven) Hanya untuk logam dan kaca; 1 jam pada 170°C; alat tajam (gunting, jarum) 2 jam pada 160°C agar tidak tumpul. Kimia Untuk alat tidak tahan panas. Glutaraldehid (Cydex): alat yang sudah dicuci, dibilas, dan dikeringkan direndam minimal 8–10 jam, lalu dibilas air steril (aquades atau aquabides); atau formaldehid 8%. Alat dikeringkan dulu agar larutan tidak berubah. Ikuti petunjuk konsentrasi, waktu kontak, dan keselamatan. Suhu rendah Untuk peralatan yang tidak tahan suhu tinggi, sesuai jenis alat dan petunjuk produsen. 86

Metode sterilisasi Golongan Metode Fisik Panas basah (autoklaf, 121°C selama 15– 30 menit); panas kering (oven 160–180°C selama 1–2 jam); filtrasi (membran 0,22 atau 0,45 μm untuk larutan termolabil); radiasi (UV untuk permukaan, sinar gamma atau berkas elektron untuk produk industri). Kimia Gas etilen oksida (EO) untuk alat plastik atau bersuhu leleh rendah; cairan kimia (VHP, alkohol 70%, klorin). Validasi keberhasilan memakai tiga indikator: mekanis/fisik (suhu, tekanan, waktu mesin), kimia (pita yang berubah warna), dan biologis (spora Geobacillus stearothermophilus) sebagai standar tertinggi. Tujuh prinsip sterilisasi No. Prinsip Keterangan 1 Dekontaminasi dan pencucian Kotoran melindungi mikroba. 2 Pengeringan Air menghambat penetrasi panas atau uap dan menyebabkan karat. 3 Pemilihan metode sesuai bahan Logam dan kasa dengan autoklaf, kaca dengan oven, plastik elektronik dengan EO. 4 Pengemasan benar Dengan kain, kertas steril, atau kontainer khusus. 5 Parameter sesuai standar Autoklaf 121°C, 15 psi, 15–30 menit. 6 Pemantauan dan validasi Indikator fisik, kimia, biologis. 7 Penyimpanan Tempat bersih, kering, tertutup, bebas debu. 87

Faktor yang memengaruhi keberhasilan Sumber Faktor Alat Kebersihan sebelum sterilisasi, jenis dan bahan alat, kualitas pengemasan (tembus uap tetapi kedap mikroba). Mikroorganisme Jenis (spora bakteri paling resisten) dan jumlah (bioburden). Proses Suhu, lama pemaparan, tekanan (15 psi untuk autoklaf), kelembaban (pada panas basah), dan konsentrasi bahan kimia. C. Isolasi Isolasi adalah tindakan memisahkan pasien yang diketahui atau diduga terinfeksi penyakit menular dari pasien lain, tenaga kesehatan, pengunjung, dan masyarakat untuk mencegah penularan, berdasarkan cara penularan (kontak langsung, droplet, atau airborne) (CDC). Isolasi merupakan salah satu upaya memutus rantai penularan. Isolasi bukan sekadar menempatkan pasien di ruang khusus, tetapi juga mencakup APD, hand hygiene, pembatasan perpindahan pasien, pengelolaan limbah medis, serta pembersihan dan disinfeksi lingkungan. Penerapan yang tepat meminimalkan infeksi silang dan HAIs pada penyakit seperti TB, campak, influenza, COVID-19, dan varisela. Prinsip isolasi Prinsip Penjelasan Kebersihan tangan Sebelum dan sesudah kontak pasien, setelah melepas sarung tangan, sebelum tindakan aseptik, dan setelah kontak lingkungan pasien. APD sesuai risiko Sarung tangan untuk darah atau cairan tubuh, masker bedah untuk droplet, respirator N95 untuk airborne, gaun dan pelindung mata bila ada percikan. Penempatan pasien Airborne di ruang bertekanan negatif; kontak atau droplet di ruang tersendiri atau dikelompokkan dengan diagnosis sama bila ruang terbatas. Pembatasan perpindahan Bila harus dipindah, pasien memakai masker. 88

Prinsip Penjelasan Pengelolaan alat, linen, limbah Alat dipakai ulang melalui pembersihan dan pengolahan sesuai tingkat risiko; linen dan limbah terkontaminasi dikelola agar tidak menjadi sumber penularan. Pengendalian lingkungan Kebersihan ruangan, permukaan yang sering disentuh, dan ventilasi. Edukasi Pasien dan keluarga memahami tujuan isolasi, hand hygiene, masker, dan pembatasan kunjungan. Jenis isolasi Jenis Untuk Contoh Tindakan Kontak Penularan kontak langsung atau tidak langsung MRSA, scabies, diare akibat Clostridioides difficile Sarung tangan dan gaun pelindung, hand hygiene ketat, membersihkan lingkungan dan alat rutin. Droplet Percikan saat batuk, bersin, berbicara Influenza, pertusis, meningitis meningokokus Masker bedah, ruang terpisah bila memungkinkan, membatasi perpindahan pasien. Airborne Partikel udara kecil yang bertahan lama Tuberkulosis, campak, varisela Ruang bertekanan negatif (AIIR) bila tersedia, respirator N95 atau setara, membatasi akses ruang. Protektif Melindungi pasien dengan daya tahan sangat rendah Pasien kemoterapi, transplantasi organ, neutropenia berat Menjaga kebersihan lingkungan, membatasi pengunjung, APD sesuai prosedur. 89

D. Penerapan dan peran bidan Saat Kegiatan Sebelum tindakan Kebersihan tangan; menyiapkan alat yang sudah diproses sesuai standar; APD sesuai risiko; area tindakan bersih. Saat tindakan Teknik aseptik; menjaga kebersihan tangan; alat sesuai; menghindari kontak tidak perlu dengan benda atau permukaan terkontaminasi. Setelah tindakan Alat diproses sesuai prosedur (dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi atau sterilisasi). Pasien penyakit menular Kewaspadaan sesuai, termasuk APD dan pengaturan lingkungan atau pemisahan pasien. Pelayanan ibu dan bayi Pencegahan infeksi pada antenatal, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, dan tindakan kebidanan lain. Peran bidan: kebersihan tangan yang benar, APD sesuai risiko, memakai alat yang diproses sesuai standar, teknik aseptik, mengelola alat setelah digunakan, menjaga kebersihan lingkungan, mengelola limbah medis, mengedukasi pasien dan keluarga, mengikuti SOP, serta melaporkan dan menangani kejadian berisiko infeksi. Prinsip isolasi Enam prinsip Kebersihan tangan☐ APD sesuai risiko☐ Pemisahan pasien☐ Pengelolaan alat yang dipakai ulang☐ Pengelolaan linen dan limbah terkontaminasi☐ Pengendalian lingkungan: kebersihan dan ventilasi☐ Ilustrasi kasus Setelah persalinan, Bidan C menemukan gunting dan klem bekas pakai masih berada di nampan, tertutup darah. 90

Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Apa risikonya bila gunting dan klem dibiarkan terkena darah di nampan? Petunjuk: Darah mengering dan bahan organik mengganggu disinfeksi atau sterilisasi; alat menjadi sumber penularan bagi petugas dan pasien. Pertanyaan: Apa langkah pengelolaan alat yang tepat? Petunjuk: Penanganan dengan APD, dekontaminasi (klorin 0,5% selama 10 menit), pembersihan, DTT atau sterilisasi sesuai tingkat risiko, lalu penyimpanan di tempat bersih dan terlindung. Pertanyaan: Mengapa pembersihan harus mendahului sterilisasi? Petunjuk: Kotoran melindungi mikroba sehingga sterilisasi tidak efektif. Intisari modul • Urutan pemrosesan alat: penanganan setelah pakai, dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi atau sterilisasi, penyimpanan. • Pembersihan harus tuntas karena sisa kotoran dan bahan organik mengganggu disinfeksi atau sterilisasi. • Sterilisasi membunuh seluruh mikroorganisme, termasuk spora; dekontaminasi tidak selalu membuat alat steril. • Metode sterilisasi: uap bertekanan (autoklaf), panas kering, bahan kimia, dan suhu rendah. • Isolasi memisahkan pasien berdasarkan risiko penularan dan didukung enam prinsip. Istilah penting Istilah Pengertian Dekontaminasi Langkah awal agar alat aman ditangani dan diproses lebih lanjut. Sterilisasi Menghilangkan atau mematikan seluruh bentuk mikroorganisme, termasuk spora bakteri. DTT Disinfeksi tingkat tinggi; pilihan pengolahan alat setelah dicuci, sesuai tujuan penggunaan. Isolasi Memisahkan pasien yang memiliki atau diduga memiliki infeksi tertentu untuk memutus penularan. 91

Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Apa perbedaan dekontaminasi dan sterilisasi? Jawaban: Dekontaminasi mengurangi atau menghilangkan mikroorganisme sehingga alat aman ditangani, tetapi tidak selalu membuat alat steril. Sterilisasi menghilangkan atau mematikan seluruh bentuk mikroorganisme, termasuk spora bakteri. 2. Jelaskan proses dekontaminasi alat tidak habis pakai dan tahapan pengelolaan alat terkontaminasi. Jawaban: Alat direndam seluruhnya dalam klorin 0,5% selama 10 menit, dicuci dengan sabun, dibilas air, lalu disterilkan atau di-DTT. Tahapan: penanganan setelah digunakan, dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi atau sterilisasi, dan penyimpanan di tempat bersih dan terlindung. 3. Berapa suhu dan waktu sterilisasi dengan autoklaf dan oven? Jawaban: Autoklaf 121°C dan 106 kPa selama 20 menit (tidak dibungkus kain) atau 30 menit (dibungkus kain). Oven 170°C selama 1 jam; alat tajam 160°C selama 2 jam. 4. Sebutkan tujuh prinsip sterilisasi dan tiga jenis indikator keberhasilannya. Jawaban: Dekontaminasi dan pencucian, pengeringan, pemilihan metode yang tepat, pengemasan yang benar, parameter proses sesuai standar, pemantauan dan validasi, serta penyimpanan yang benar. Indikator: mekanis/fisik, kimia (pita berubah warna), dan biologis (spora Geobacillus stearothermophilus) sebagai standar tertinggi. 5. Sebutkan empat jenis isolasi beserta contoh penyakitnya. Jawaban: Isolasi kontak (MRSA, scabies), droplet (influenza, pertusis), airborne (tuberkulosis, campak, varisela), dan protektif (untuk pasien kemoterapi, transplantasi organ, neutropenia berat). Daftar rujukan Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI. World Health Organization. (2016). Decontamination and Reprocessing of Medical Devices for Health-care Facilities. Geneva: WHO Press. Kemenkes RI. (2020). Buku Pedoman Teknis PPI di FKTP. infeksiemerging.kemkes.go.id. Wikipedia. Sterilisasi. (diakses 27 Juli 2026). EBSO. Prinsip dan Metode Sterilisasi Alat Kesehatan. (diakses 27 Juli 2026). 92

Buku Ajar. Keterampilan Dasar Klinik Kebidanan. Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Standard Precautions for All Patient Care. CDC. Kementerian Kesehatan RI. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 12 Tahun 2020 tentang Akreditasi Rumah Sakit. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Teknis Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Jakarta. World Health Organization. (2009). WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care. Geneva: WHO. World Health Organization. (2016). Decontamination and Reprocessing of Medical Devices for Health-care Facilities. Geneva: WHO. 93

MODUL 9 PEMERIKSAAN FISIK UMUM Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 25. Menjelaskan prinsip dan persiapan pemeriksaan fisik umum. 26. Melakukan pemeriksaan head to toe secara sistematis. 27. Mengaitkan temuan dengan kebutuhan dasar manusia. A. Tujuan dan prinsip pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik memberi data objektif yang mendukung pengkajian kondisi klien. Mahasiswa perlu mampu memeriksa secara sistematis dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan perempuan, serta memahami komunikasi, privasi, informed consent, kenyamanan, keselamatan, dan penghormatan terhadap martabat klien. Tujuan • Memperoleh data objektif kondisi klien dan mengetahui kondisi kesehatan umum. • Mengidentifikasi tanda normal dan abnormal serta perubahan kondisi. • Mendukung pengkajian kebidanan dan menjadi dasar menentukan kebutuhan pelayanan. • Memantau perkembangan klien dan menjadi bahan dokumentasi. Prinsip pemeriksaan fisik Prinsip Penjelasan Menghormati privasi dan martabat Prinsip etika paling fundamental: tutup tirai atau pintu, selimuti bagian tubuh yang tidak diperiksa, hanya membuka bagian tubuh yang diperlukan, hormati nilai budaya dan kepercayaan. Empati dan komunikasi efektif Sapaan ramah, mendengarkan keluhan, bahasa mudah dipahami, bahasa tubuh positif; klien diberi kesempatan bertanya. Persetujuan Menjelaskan prosedur dan alasannya serta memperoleh persetujuan klien. 94

Prinsip Penjelasan Sistematis dan terstruktur Teratur dan berurutan; metode head-to- toe memastikan tidak ada bagian terlewat dan membantu mengenali pola kelainan. Akurasi dan objektivitas Alat tepat dan terkalibrasi, teknik benar; pengamatan berdasar fakta yang dapat diukur dan dilihat, bukan asumsi. Efisiensi waktu dan gerakan Urutan logis dan gerakan terkoordinasi tanpa mengorbankan kualitas. Keselamatan dan kenyamanan Kebersihan tangan, APD bila perlu, lingkungan aman dan nyaman (suhu cukup hangat), posisi aman, menghindari tindakan tidak perlu. Fokus pada kebutuhan dasar Pemeriksaan dikaitkan dengan kebutuhan fisiologis dan psikososial. Contoh: memeriksa nadi untuk kebutuhan sirkulasi, mengamati interaksi ibu dan bayi untuk kebutuhan psikososial. Dokumentasi Jelas, lengkap, dan sistematis. B. Persiapan pemeriksaan fisik Aspek Yang disiapkan Lingkungan Bersih, tenang, pintu tertutup dan tirai terpasang; pencahayaan memadai (cahaya alami lebih disukai); suhu nyaman, karena suhu terlalu dingin dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan hipotermia pada pasien rentan seperti bayi atau lansia; ruang cukup; permukaan meja periksa mudah dibersihkan. Alat Stetoskop; sfigmomanometer; termometer; pulse oximeter; oftalmoskop dan otoskop; reflex hammer; penlight; timbangan dan alat ukur tinggi badan atau pita ukur; jam dengan penghitung detik; sarung tangan (steril bila perlu); kapas, alkohol swab, antiseptik; hand sanitizer; alat dokumentasi. Pastikan semua berfungsi baik, bersih, dan siap digunakan. 95

Aspek Yang disiapkan Pemeriksa Memahami tujuan dan prosedur; kebersihan tangan sebelum dan sesudah kontak pasien serta sebelum dan sesudah memakai sarung tangan; APD sesuai kebutuhan; penampilan profesional (seragam bersih, tanda pengenal, kuku pendek dan bersih, hindari parfum menyengat dan perhiasan); sikap tenang dan percaya diri. Klien Memastikan identitas; menjelaskan tujuan dan langkah; meminta izin sebelum menyentuh; posisi nyaman dan hentikan sementara bila nyeri; pakaian yang memudahkan pemeriksaan atau gaun periksa; menanyakan kekhawatiran. Urutan head to toe 24. Keadaan umum 25. Kepala 26. Mata 27. Hidung 28. Mulut 29. Leher 30. Dada dan pernapasan 31. Kardiovaskular 32. Abdomen 33. Ekstremitas atas 34. Ekstremitas bawah 35. Punggung 36. Kulit 37. Neurologis dasar 96

C. Teknik pemeriksaan fisik Aspek Uraian Inspeksi Pengamatan langsung dengan penglihatan: warna kulit, bentuk tubuh, kesimetrisan, kondisi kulit, ekspresi wajah, gerakan tubuh, kondisi mata, pola napas. Palpasi Menggunakan tangan atau jari untuk menilai suhu, tekstur, nyeri tekan, konsistensi, ukuran, bentuk, pembengkakan atau massa. Perkusi Mengetukkan jari pada permukaan tubuh; suara yang dihasilkan menginformasikan kondisi jaringan atau organ di bawahnya. Auskultasi Mendengarkan suara tubuh, biasanya dengan stetoskop: suara jantung, napas, bising usus, pembuluh darah. Tanda-tanda vital Pemeriksaan Keterangan Tekanan darah Tensimeter atau sfigmomanometer pada lengan yang sesuai dengan teknik yang benar. Nadi Frekuensi, irama, kekuatan/karakteristik; biasanya arteri radialis. Pernapasan Jumlah napas dalam satu menit, pola, kedalaman, dan karakter. Suhu Termometer, dicatat dalam °C. Saturasi oksigen Pulse oximeter sesuai kebutuhan klinis. Tingkat kesadaran Misalnya kompos mentis, somnolen. D. Pemeriksaan head to toe Bagian Yang diperiksa Keadaan umum Tingkat kesadaran, kondisi umum, postur, kebersihan diri, ekspresi wajah, mobilitas, tanda ketidaknyamanan. Kepala dan wajah Bentuk dan ukuran, kesimetrisan, kulit kepala, rambut, lesi, benjolan, edema. 97

Bagian Yang diperiksa Mata Kesimetrisan, kelopak, konjungtiva (anemis atau tidak), sklera (ikterik atau tidak), pupil dan responsnya terhadap cahaya (PERRLA). Telinga Dengan otoskop: serumen berlebih, inflamasi, lesi. Hidung dan mulut Hidung: bentuk, sekret, perdarahan, kemampuan bernapas. Mulut: bibir, mukosa, gigi, gusi, lidah, tenggorokan. Leher Kesimetrisan, rentang gerak, kelenjar getah bening, tiroid. Dada dan paru Bentuk dan kesimetrisan, pola dan frekuensi napas; palpasi nyeri tekan dan massa; perkusi (resonan atau redup); auskultasi bunyi napas normal (vesikular, bronkovesikular) dan abnormal (ronki, mengi, krepitasi). Jantung Inspeksi prekordium; palpasi thrill atau heaving; perkusi batas jantung; auskultasi S1 dan S2 di titik aorta, pulmonal, trikuspid, mitral, serta bunyi tambahan (murmur, gallop). Juga nadi, tekanan darah, pengisian kapiler. Abdomen Bentuk (datar, cembung, cekung), kulit, lesi, distensi, nyeri, bekas operasi; bising usus empat kuadran; perkusi (timpani normal); palpasi ringan dan dalam. Ekstremitas atas dan bawah Kesimetrisan, warna, suhu, edema, rentang gerak, kekuatan otot, kuku, nadi perifer, capillary refill time, refleks tendon dalam (biseps, triseps, patella, Achilles). Punggung Bentuk, kesimetrisan, kulit, luka, nyeri, tulang belakang. Kulit dan muskuloskeletal Warna, suhu, kelembapan, turgor, tekstur, integritas, ruam, luka, memar; postur, integritas tulang, fungsi otot. Neurologis dasar Tingkat kesadaran, orientasi, respons terhadap rangsangan, pergerakan ekstremitas, kekuatan otot, sensasi. 98

Bagian Yang diperiksa Genitalia dan rektum Sesuai indikasi klinis (misalnya kehamilan, persalinan, atau keluhan spesifik), dengan tetap menjaga privasi dan etika. Ingat. Auskultasi abdomen dilakukan sebelum perkusi dan palpasi karena manipulasi abdomen dapat memengaruhi aktivitas usus dan mengubah bising usus. E. Keterkaitan dengan kebutuhan dasar manusia Kebutuhan Terpenuhi Gangguan Oksigenasi Napas normal, paru jernih, kulit dan bibir merah muda. Dispnea, ronki, atau sianosis. Nutrisi dan hidrasi Turgor baik, mukosa lembab, berat badan ideal, tanpa edema perifer. Turgor turun, bibir kering, atau edema (dehidrasi atau malnutrisi). Eliminasi Abdomen lunak, bising usus normal, tanpa distensi. Nyeri saat defekasi atau darah pada feses perlu investigasi lanjut. Sirkulasi Tekanan darah dan nadi normal, nadi perifer kuat, CRT < 2 detik. Takikardia, hipotensi, atau edema perifer. Tidur dan istirahat Tingkat kelelahan, kewaspadaan, dan pola napas memberi gambaran awal. Aktivitas dan mobilisasi Mampu bergerak, rentang gerak sendi dan kekuatan otot baik. Kelemahan, nyeri, atau keterbatasan gerak. Keamanan dan kenyamanan Kulit utuh, tanpa cedera, respons tenang dan kooperatif. Luka, memar, atau ekspresi takut dapat menunjukkan ancaman. Psikososial Interaksi dengan keluarga atau tenaga kesehatan, nada suara, kontak mata, dan ekspresi wajah memberi petunjuk status emosional. 99

F. Dokumentasi, peran bidan, dan tantangan Dokumentasi hasil pemeriksaan Hasil dicatat objektif, jelas, dan sistematis: mencantumkan waktu pemeriksaan, hasil pengukuran tepat, istilah jelas, temuan objektif, keluhan atau respons klien yang relevan, menghindari asumsi, dan menyampaikan temuan yang memerlukan perhatian lanjut sesuai kewenangan dan prosedur. Contoh sederhana: keadaan umum baik, sadar penuh, tampak nyaman; tekanan darah 110/70 mmHg; nadi 80 kali/menit, teratur; pernapasan 18 kali/menit; suhu 36,5°C; kulit bersih, tidak ada luka; ekstremitas tidak tampak edema. Peran bidan • Pengumpul data kritis sebagai dasar diagnosis dan perencanaan asuhan. • Pendeteksi dini komplikasi kehamilan, persalinan, atau nifas sehingga mencegah morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi (Suparman et al., 2023). • Pemberi edukasi kesehatan kepada pasien dan keluarga. • Penilai respons pasien terhadap terapi. • Advokat pasien yang memastikan hak, privasi, dan komunikasi terjaga. • Pemberi asuhan berkesinambungan (Continuity of Care) (Kostania, 2020). Pemeriksaan sistematis membantu mengenali perubahan yang memerlukan pemantauan, konsultasi, kolaborasi, atau rujukan sesuai kondisi dan kewenangan. Tantangan dan peluang Tantangan Peluang Keterbatasan waktu akibat rasio bidan- pasien tinggi; keterbatasan alat dan ruang periksa sempit atau kurang privasi; pemeliharaan kompetensi bidan; resistensi pasien yang malu atau tidak paham pentingnya pemeriksaan; perubahan teknologi seperti telemedik (Rohadi dan Firmanto, 2023). Telemedik untuk konsultasi dan pemantauan jarak jauh; praktik berbasis bukti; kolaborasi interdisipliner; peningkatan kualitas pelayanan yang berkontribusi menurunkan angka kematian ibu dan bayi; program pendidikan inovatif seperti OSOC (Suparman et al., 2023). Persiapan pemeriksaan fisik Pemeriksa dan pasien Memahami tujuan dan prosedur☐ 100

Kebersihan tangan dan APD sesuai kebutuhan☐ Identitas pasien dipastikan☐ Tujuan dijelaskan dan persetujuan diperoleh☐ Posisi sesuai pemeriksaan☐ Lingkungan dan alat Bersih, tenang, terang, suhu nyaman, privasi terjamin☐ Stetoskop, sfigmomanometer, termometer, pulse oximeter, penlight☐ Timbangan, alat ukur tinggi badan, jam dengan penghitung detik☐ Alat bersih dan berfungsi baik☐ Ilustrasi kasus Bidan E akan melakukan pemeriksaan fisik pada ibu hamil yang baru pertama kali datang. Ruang periksa dingin dan alat belum disiapkan. Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Apa yang perlu diperbaiki sebelum Bidan E memulai pemeriksaan? Petunjuk: Suhu ruang dingin (risiko ketidaknyamanan), dan alat belum disiapkan. Lingkungan dan alat harus siap, bersih, dan berfungsi. Pertanyaan: Apa yang disampaikan kepada ibu yang baru pertama kali datang? Petunjuk: Tujuan dan langkah pemeriksaan, meminta izin dan persetujuan, serta memberi kesempatan bertanya. Pertanyaan: Bagaimana bidan menjaga privasi dan kenyamanan? Petunjuk: Menutup tirai atau pintu, membuka hanya bagian tubuh yang diperiksa, menyelimuti bagian lain, dan memastikan posisi nyaman. Intisari modul • Prinsip: menghormati privasi dan martabat, empati dan komunikasi efektif, sistematis, akurat dan objektif, efisien, aman, serta dikaitkan dengan kebutuhan dasar manusia. • Persiapan mencakup lingkungan (tenang, terang, hangat, bersih), alat, pemeriksa, dan pasien (identitas, penjelasan, persetujuan). • Metode head to toe memastikan tidak ada bagian tubuh yang terlewat dan membantu mengenali pola kelainan. • Empat teknik dasar: inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi. 101

• Temuan dicatat berdasarkan fakta yang dapat diukur dan dilihat, bukan asumsi. Istilah penting Istilah Pengertian Head to toe Pemeriksaan sistematis dari kepala hingga kaki. Data objektif Temuan yang dapat diukur atau diamati langsung oleh pemeriksa. Informed consent Persetujuan pasien setelah prosedur dijelaskan. Penlight Senter kecil untuk menilai, antara lain, respons pupil. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Sebutkan prinsip-prinsip pemeriksaan fisik umum dalam praktik kebidanan. Jawaban: Menghormati privasi dan martabat, empati dan komunikasi efektif, memperoleh persetujuan, sistematis dan terstruktur, akurasi dan objektivitas, efisiensi, keselamatan dan kenyamanan, fokus pada kebutuhan dasar manusia, serta dokumentasi. 2. Apa saja yang perlu disiapkan sebelum pemeriksaan fisik? Jawaban: Lingkungan (privasi, pencahayaan, suhu nyaman, kebersihan), alat (stetoskop, sfigmomanometer, termometer, penlight, timbangan, sarung tangan, hand sanitizer, dan lainnya), diri pemeriksa (kebersihan tangan, penampilan dan sikap profesional), serta klien (penjelasan prosedur, izin, posisi nyaman, pakaian periksa). 3. Sebutkan empat teknik dasar pemeriksaan fisik dan urutan head-to-toe. Jawaban: Inspeksi (pengamatan), palpasi (perabaan), perkusi (pengetukan), dan auskultasi (mendengarkan dengan stetoskop). Urutan: tanda-tanda vital, kepala dan leher, dada dan paru, jantung, abdomen, ekstremitas, genitalia dan rektum sesuai indikasi, serta kulit dan muskuloskeletal. 4. Apa kepanjangan PERRLA, dan mengapa auskultasi abdomen dilakukan sebelum perkusi dan palpasi? Jawaban: PERRLA: Pupils Equal, Round, Reactive to Light and Accommodation, yaitu pupil sama besar, bulat, dan bereaksi terhadap cahaya serta akomodasi. Auskultasi abdomen didahulukan karena perkusi dan palpasi dapat memengaruhi aktivitas usus sehingga mengubah bising usus. 102

5. Sebutkan peran bidan dalam pemeriksaan fisik dan hal yang perlu dicatat dalam dokumentasi. Jawaban: Peran: pengumpul data kritis, pendeteksi dini komplikasi, pemberi edukasi, penilai respons terapi, advokat pasien, dan pemberi asuhan berkesinambungan. Dokumentasi mencantumkan waktu pemeriksaan, hasil pengukuran tepat, istilah jelas, temuan objektif, keluhan atau respons klien yang relevan, dan menghindari asumsi. Daftar rujukan Fauziah, F., & Rahmawati, R. (2021). Hubungan Usia dan Paritas dengan Persiapan Persalinan pada Ibu Hamil Trimester Ketiga di Klinik Kusuma Kota Samarinda. Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ), 3(1), 1-8. Ghufron, M. I., Saifuddin, S., Febrianto, A., Amalia, J., & Hamzah, M. (2024). Implementasi Prinsip Prudential Banking pada Tabungan Easy Mudharabah untuk Meningkatkan Kepercayaan Nasabah. Jurnal Ilmiah Edunomika, 8(2), 236-247. Kostania, G. (2020). Model Pelaksanaan dan Evaluasi Asuhan Kebidanan Berkesinambungan dalam Praktik Kebidanan Prodi D.IV Kebidanan. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Tradisional, 5(1), 52-64. Rohadi, R., & Firmanto, A. A. (2023). Konstruksi Hukum Transformasi Digital Telemedik dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2019 tentang Kebidanan Berbasis Nilai Pancasila. Jurnal Hukum Malahayati, 5(3), 1337-1352. Asshobirin, M. P., Robbani, M. I., & Rahmawati, R. (2024). Implementasi Prinsip-Prinsip Ekonomi Syariah untuk Memperkuat Toleransi dalam Masyarakat Multikultural. J-Alif, 9(2), 351-365. Suparman, S., Hairah, S. T., & Nuriana, N. (2023). Studi Kasus Penerapan Metode OSOC dalam Asuhan Kebidanan Komprehensif sebagai Tindakan Deteksi Dini Komplikasi Maternal dan Neonatal. DELIMA: Jurnal Kajian Kebidanan, 1(2), 60-64. Bickley, L. S. (2025). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer. Jarvis, C., & Eckhardt, A. L. (2024). Physical Examination and Health Assessment (9th ed.). Elsevier. Jarvis, C., & Eckhardt, A. L. (2022). Pocket Companion for Physical Examination & Health Assessment (9th ed.). Elsevier. Jarvis, C., & Eckhardt, A. L. (2023). Study Guide & Laboratory Manual for Physical Examination & Health Assessment (9th ed.). Elsevier. 103

MODUL 10 TANDA VITAL DAN ANTROPOMETRI Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 28. Mengukur dan menilai suhu, nadi, napas, dan tekanan darah. 29. Melakukan pengukuran antropometri dengan teknik yang benar. 30. Mengenali faktor yang membuat hasil pengukuran tidak akurat. A. Suhu tubuh Suhu tubuh dikendalikan hipotalamus dan dipengaruhi metabolisme, aktivitas fisik, dan lingkungan. Lokasi Rentang normal Keterangan Oral 36,5–37,5°C Di bawah lidah; pasien tidak makan atau minum sebelumnya. Aksila 36,0–37,0°C Ketiak harus kering. Rektal 37,0–37,5°C Untuk bayi atau pasien tidak sadar. Timpanik / inframerah - Saluran telinga / dahi. Faktor yang memengaruhi: waktu pemeriksaan, aktivitas fisik, lingkungan, siklus menstruasi, usia. Penyebab hasil kurang akurat: posisi termometer tidak tepat, alat belum dikalibrasi, pemeriksaan segera setelah minum atau mandi air panas atau dingin. B. Denyut nadi dan pernapasan Denyut nadi Frekuensi pernapasan Pengertian Gelombang tekanan darah pada arteri akibat kontraksi ventrikel kiri; menggambarkan kecepatan, irama, dan kekuatan. Jumlah siklus inspirasi dan ekspirasi per menit. Normal dewasa 60–100 kali per menit. 12–20 kali per menit. 104

Denyut nadi Frekuensi pernapasan Teknik Ujung jari telunjuk dan tengah dengan tekanan ringan; hitung 60 detik, atau 30 detik dikali dua bila teratur. Lokasi: arteri radialis (paling sering), brakialis (bayi), karotis (resusitasi), femoralis, dorsalis pedis. Amati naik turunnya dada atau abdomen, idealnya setelah menghitung nadi tanpa memberi tahu klien agar pola napas tidak berubah; hitung 60 detik atau 30 detik dikali dua bila teratur. Karakteristik Takikardia (>100/menit), bradikardia (<60/menit); irama teratur atau tidak; kuat atau lemah. Takipnea (>20), bradipnea (<12); dalam atau dangkal; teratur, tidak teratur, atau Cheyne-Stokes; usaha napas normal atau dispnea dengan otot bantu napas. Faktor Aktivitas, stres, demam, obat, posisi. Aktivitas, stres, demam, penyakit paru, posisi. Kesalahan umum Tekanan terlalu kuat; penghitungan tidak tepat pada nadi tidak teratur; memakai ibu jari karena memiliki denyut sendiri. Memberi tahu klien; tidak memperhatikan gerakan dada minimal; salah hitung pada pola tidak teratur. C. Tekanan darah Tekanan aliran darah terhadap dinding arteri: sistolik (jantung berkontraksi) dan diastolik (relaksasi). Alat: sfigmomanometer (aneroid atau merkuri), stetoskop (bunyi Korotkoff), dan manset sesuai lingkar lengan. Klasifikasi dewasa Nilai (mmHg) Normal < 120/80 Prehipertensi 120–139 / 80–89 Hipertensi stadium 1 140–159 / 90–99 Hipertensi stadium 2 ≥ 160 / ≥ 100 Hipotensi < 90/60 Prosedur 38. Klien duduk nyaman, lengan sejajar jantung, telapak tangan menghadap atas. 105

39. Manset dipasang 2–3 cm di atas fossa antecubiti, selang ke bawah. 40. Raba arteri brakialis, letakkan diafragma stetoskop. 41. Pompa manset hingga denyut brakialis tak terdengar, lalu tambah 20–30 mmHg. 42. Buka katup perlahan; tekanan turun sekitar 2–3 mmHg per detik. 43. Bunyi Korotkoff pertama = tekanan sistolik. 44. Bunyi menghilang = tekanan diastolik. Faktor yang memengaruhi: ukuran manset tidak sesuai, manset terlalu longgar atau ketat, posisi lengan, klien berbicara atau bergerak, merokok atau kafein, kandung kemih penuh. Kesalahan: manset terlalu kecil menghasilkan nilai lebih tinggi, terlalu besar lebih rendah; pembacaan aneroid tidak tepat; pendengaran pemeriksa kurang baik. Nilai acuan tanda-tanda vital Parameter (dewasa) Nilai Suhu oral 36,5–37,5°C Suhu aksila 36,0–37,0°C Suhu rektal 37,0–37,5°C Denyut nadi 60–100 kali/menit Frekuensi napas 12–20 kali/menit Tekanan darah normal <120/80 mmHg Prehipertensi 120–139/80–89 mmHg Hipertensi stadium 1 140–159/90–99 mmHg Hipertensi stadium 2 ≥160/≥100 mmHg Hipotensi <90/60 mmHg Antropometri • Berat badan • Tinggi atau panjang badan • Lingkar kepala 106

D. Antropometri Berasal dari bahasa Yunani anthropos (manusia) dan metron (ukuran): metode pengukuran dimensi tubuh untuk mengevaluasi status gizi, pertumbuhan, dan proporsi tubuh; penting dalam pemantauan ibu hamil, ibu menyusui, bayi, dan balita. Pengukuran Cara Kesalahan / catatan Berat badan Timbangan di posisi nol dan terkalibrasi; klien melepas alas kaki dan benda tambahan, berdiri tegak di tengah timbangan; catat hasil. Bayi memakai timbangan bayi. Timbangan belum dikalibrasi, permukaan tidak rata, klien bergerak, pakaian berlebihan. Dipengaruhi hidrasi, waktu, pakaian, kehamilan. Tinggi badan Dewasa dan anak > 2 tahun: stadiometer; berdiri tegak membelakangi alat, tumit, bokong, punggung, dan kepala menempel, kepala pada Frankfort plane, cross bar menyentuh kepala. Bayi dan anak < 2 tahun: panjang badan dengan infantometer, telentang, kepala dijaga lurus, kaki diluruskan. Tidak tegak, alas kaki, kepala tidak sesuai Frankfort plane, alat tidak vertikal, salah baca skala. Tinggi menurun pada lansia. Lingkar kepala Pita ukur fleksibel tepat di atas alis dan telinga melewati oksiput, tidak terlalu ketat atau longgar. Memantau pertumbuhan otak bayi; mendeteksi mikrosefali atau hidrosefali. Neonatus sekitar 33–35 cm, bertambah sekitar 1 cm per bulan pada beberapa bulan pertama. Lingkar dada Setinggi puting susu. Dibandingkan lingkar kepala pada bayi. LiLA Di tengah lengan atas antara akromion dan olekranon. Indikator status gizi jangka panjang pada balita dan ibu hamil; < 23,5 cm sering menjadi indikator risiko kekurangan energi dan protein. 107

Pengukuran Cara Kesalahan / catatan Tinggi lutut Memperkirakan tinggi badan. Untuk individu yang tidak mampu berdiri tegak. Ingat. Frankfort plane adalah garis dari telinga ke sudut mata yang sejajar lantai. E. Sistematika, interpretasi, dan implikasi Persiapan dan pelaksanaan yang sistematis Aspek Isi Peralatan Bersih, berfungsi, terkalibrasi (timbangan, sfigmomanometer, termometer); baterai alat elektronik diperiksa. Klien Menjaga privasi (tirai atau ruang tertutup); penjelasan kepada klien atau keluarga; mengatur posisi (misalnya duduk tegak untuk tekanan darah, bayi tenang dan berbaring). Lingkungan dan petugas Nyaman, tenang, suhu sesuai, pencahayaan memadai; cuci tangan sebelum dan sesudah kontak; tidak terburu-buru. Urutan Pengamatan kondisi umum; antropometri bila perlu saat klien tenang; tanda vital (pernapasan saat tenang setelah menghitung nadi, nadi, tekanan darah, suhu); pencatatan segera dengan satuan standar. Faktor pengganggu Kecemasan klien (penjelasan mudah, relaksasi); pergerakan klien (libatkan orang tua pada bayi dan anak); lingkungan bising atau dingin. Alat wearable memberi informasi real-time (Larasati et al., 2025) tetapi perlu kalibrasi dan validasi dengan pemeriksaan manual bila ragu. 108

Interpretasi dalam konteks kebidanan Parameter Interpretasi Suhu Demam (> 37,5°C) dapat menandakan infeksi atau inflamasi; hipotermia pada bayi baru lahir atau syok. Nadi Takikardia (> 100 bpm) pada ibu hamil dapat terkait anemia, kekurangan cairan, atau kecemasan; bradikardia (< 60 bpm) terkait gangguan jantung atau obat; irama tak teratur perlu evaluasi lanjut. Pernapasan Takipnea (> 20/menit) pada ibu hamil dapat terkait preeklamsia, edema paru, atau kecemasan; dispnea adalah tanda bahaya. Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg pada ibu hamil perlu diwaspadai sebagai tanda preeklamsia; tekanan rendah pada kehilangan darah atau syok. Berat badan ibu hamil Dipantau; kenaikan kurang atau berlebih berisiko. Berat bayi baru lahir Umumnya 2.500–4.000 gram; < 2.500 gram (BBLR) dan < 1.500 gram (sangat rendah) perlu penanganan khusus. IMT, lingkar kepala, LiLA Tinggi/panjang dengan berat badan menentukan IMT dan status gizi; lingkar kepala yang terlalu lambat atau cepat tumbuh dapat berkaitan dengan gangguan neurologis; LiLA < 23,5 cm pada ibu hamil menunjukkan risiko kekurangan energi kronis dan BBLR. Korelasi antarparameter: demam umumnya meningkatkan nadi dan napas; perdarahan menyebabkan tekanan darah rendah disertai takikardia dan napas meningkat. Implikasi terhadap kualitas asuhan • Deteksi dini gangguan (hipertensi gestasional, infeksi, gangguan pertumbuhan). • Ketepatan keputusan klinis dan evaluasi efektivitas intervensi. 109

• Pencegahan komplikasi, misalnya mencegah hipertensi gestasional berkembang menjadi eklamsia. • Edukasi tepat dan peningkatan kepercayaan klien. • Dokumentasi andal sebagai dokumen legal dan sumber informasi. Tantangan Keterbatasan sumber daya (alat terkalibrasi, jumlah tenaga); beban kerja tinggi sehingga terburu-buru; minimnya pelatihan berkelanjutan; variasi kondisi individu (kehamilan, penyakit kronis); lingkungan kurang mendukung (bising, privasi minim). Mengukur tekanan darah Langkah Pasien duduk nyaman, lengan sejajar jantung, telapak menghadap atas☐ Manset dipasang 2–3 cm di atas fossa antecubiti☐ Raba arteri brakialis, letakkan diafragma stetoskop☐ Pompa hingga denyut tak terdengar, tambah 20–30 mmHg☐ Buka katup perlahan, turun sekitar 2–3 mmHg per detik☐ Bunyi Korotkoff pertama = sistolik☐ Bunyi menghilang = diastolik☐ Ilustrasi kasus Saat kontrol, tekanan darah Ibu F tercatat lebih tinggi dari biasanya. Ia baru saja berjalan cepat menuju ruang periksa dan berbicara dengan petugas selama pengukuran. Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Faktor apa yang dapat menyebabkan tekanan darah Ibu F tampak lebih tinggi? Petunjuk: Ia baru berjalan cepat dan berbicara selama pengukuran; aktivitas dan berbicara memengaruhi hasil. Pertanyaan: Apa yang sebaiknya dilakukan bidan sebelum mengukur ulang? Petunjuk: Memberi waktu istirahat, mengatur posisi duduk dengan lengan sejajar jantung, memastikan manset sesuai, dan meminta ibu tenang tanpa berbicara. 110

Pertanyaan: Mengapa hasil perlu ditafsirkan dengan hati-hati? Petunjuk: Tekanan darah ≥ 140/90 mmHg pada ibu hamil perlu diwaspadai sebagai tanda preeklamsia, tetapi hasil yang dipengaruhi faktor pengganggu perlu dipastikan lewat pengukuran ulang yang benar. Intisari modul • Tanda-tanda vital: suhu, denyut nadi, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah. • Nilai acuan berlaku untuk dewasa; interpretasi pada kehamilan, bayi, dan anak mengikuti pedoman khusus. • Hasil yang tidak akurat sering berasal dari alat belum dikalibrasi, posisi atau ukuran alat tidak tepat, atau pasien bergerak atau berbicara saat pengukuran. • Antropometri mengukur dimensi tubuh untuk menilai status gizi, pertumbuhan, dan proporsi tubuh. • Ukuran dasarnya: berat badan, tinggi atau panjang badan, dan lingkar kepala. Istilah penting Istilah Pengertian Takikardia / bradikardia Nadi di atas 100 / di bawah 60 kali per menit. Takipnea / bradipnea Napas di atas 20 / di bawah 12 kali per menit. Bunyi Korotkoff Bunyi pertama = tekanan sistolik; bunyi menghilang = tekanan diastolik. Antropometri Dari anthropos (manusia) dan metron (ukuran): metode mengukur dimensi tubuh. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Sebutkan rentang normal suhu tubuh pada pengukuran oral, aksila, dan rektal. Jawaban: Oral 36,5–37,5°C, aksila 36,0–37,0°C, rektal 37,0–37,5°C. 2. Mengapa sebaiknya klien tidak diberi tahu bahwa frekuensi napasnya sedang dihitung? Jawaban: Agar klien tidak secara sadar mengubah pola pernapasannya. Pemeriksaan idealnya dilakukan setelah menghitung nadi. 111

3. Jelaskan pengaruh ukuran manset terhadap hasil tekanan darah. Jawaban: Manset terlalu kecil menghasilkan tekanan darah lebih tinggi, sedangkan manset terlalu besar menghasilkan nilai lebih rendah. Ukuran manset harus sesuai lingkar lengan klien. 4. Apa yang dimaksud Frankfort plane dan mengapa penting? Jawaban: Garis khayal dari telinga menuju sudut mata yang sejajar lantai. Posisi kepala pada Frankfort plane diperlukan agar pengukuran tinggi badan akurat. 5. Sebutkan interpretasi tekanan darah ≥140/90 mmHg dan LiLA <23,5 cm pada ibu hamil. Jawaban: Tekanan darah ≥140/90 mmHg perlu diwaspadai sebagai tanda preeklamsia. LiLA <23,5 cm menunjukkan risiko kekurangan energi kronis dan berkaitan dengan kemungkinan bayi berat lahir rendah (BBLR). Daftar rujukan Febtrina, R., & Malfasari, E. (2018). Analisa Nilai Tanda-Tanda Vital Pasien Gagal Jantung. Health Care: Jurnal Kesehatan, 7(2), 1-7. doi.org/10.36763/healthcare.v7i2.26 Larasati, D. A., Sopiah, P., & Ridwan, H. (2025). Keefektifan perangkat wearable dalam pemantauan tanda-tanda vital pada pasien. Jurnal Ilmiah Keperawatan (JIKep), 11(1), 1-10. doi.org/10.33023/jikep.v11i1.2333 Pratiwi, N., Erismawati, E., Warikar, A. A., & Lestari, D. P. (2023). Pengaruh Media Video terhadap Keterampilan Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital (TTV) pada Mahasiswa Keperawatan Prodi D-III Keperawatan Manokwari. MANUJU: Malahayati Nursing Journal, 5(11), 1-14. doi.org/10.33024/mnj.v5i11.11784 112

MODUL 11 PEMERIKSAAN FISIK SISTEM TUBUH DAN DOKUMENTASI Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari modul ini, mahasiswa mampu: 31. Menjelaskan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. 32. Menguraikan pemeriksaan fisik pada enam sistem tubuh. 33. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan secara lengkap dan objektif. A. Pengertian dan tujuan Pemeriksaan fisik adalah proses pengkajian kondisi tubuh pasien secara sistematis oleh tenaga kesehatan untuk memperoleh data objektif tentang keadaan kesehatan pasien. Hasilnya menjadi dasar menentukan diagnosis, merencanakan tindakan, dan mengevaluasi perkembangan kondisi pasien. Sebelum pemeriksaan, petugas menjelaskan tujuan kepada pasien, menjaga privasi, mencuci tangan, menyiapkan alat, dan memastikan pasien berada pada posisi yang nyaman. Tujuan • Mengetahui kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. • Mengidentifikasi kelainan atau gangguan pada sistem tubuh. • Mengumpulkan data objektif sebagai dasar penegakan diagnosis. • Menentukan tindakan atau intervensi yang tepat. • Memantau perkembangan kondisi pasien setelah tindakan. • Menjadi dasar dokumentasi asuhan kebidanan atau keperawatan. B. Empat teknik dasar Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi saling melengkapi. 113

Teknik Cara dan yang dinilai 1. Inspeksi Pengamatan dengan penglihatan; langkah pertama, sistematis dari kepala hingga kaki. Diamati: bentuk dan postur, warna kulit, kebersihan, simetri, gerakan, pembengkakan, luka atau kelainan kulit, pola pernapasan, ekspresi wajah, kesadaran. 2. Palpasi Meraba dengan tangan atau jari untuk menilai suhu, tekstur, kelembapan, elastisitas kulit, nyeri tekan, pembengkakan, massa, denyut nadi, dan getaran. Palpasi ringan (sekitar 1 cm) untuk nyeri, kelembapan, suhu kulit; palpasi dalam untuk organ, massa, atau ukuran organ. 3. Perkusi Mengetukkan jari pada permukaan tubuh untuk menghasilkan bunyi dari getaran jaringan; menilai ukuran, batas, kepadatan, serta adanya udara, cairan, atau massa. Umumnya setelah inspeksi dan palpasi. 4. Auskultasi Tahap terakhir; stetoskop untuk bunyi jantung, bunyi napas, dan bising usus. Ingat. Pada abdomen urutannya berubah: inspeksi, auskultasi, perkusi, lalu palpasi, karena perkusi dan palpasi dapat merangsang gerakan usus dan memengaruhi hasil pemeriksaan bising usus. Jenis bunyi perkusi Bunyi Ciri Ditemukan pada Sonor Nyaring dan bergaung Normal pada paru sehat Hipersonor Lebih nyaring dari sonor; peningkatan udara Emfisema, pneumotoraks Redup Pendek dan tidak bergaung Organ padat seperti hati; area berisi cairan atau jaringan memadat Pekak Sangat pendek dan datar Tulang atau otot tebal Timpani Keras seperti genderang Organ berisi udara seperti lambung atau usus 114

Tujuan perkusi: menentukan ukuran dan batas organ, menilai kepadatan jaringan, mendeteksi udara, cairan, atau massa abnormal, membantu mengidentifikasi kelainan pada sistem pernapasan dan pencernaan, serta melengkapi data inspeksi, palpasi, dan auskultasi. Empat teknik dan bunyi perkusi Aspek Uraian Inspeksi Mengamati dengan penglihatan, dari kepala hingga kaki. Palpasi Meraba dengan tangan atau jari: suhu, tekstur, nyeri tekan, massa. Perkusi Mengetuk permukaan tubuh; bunyi menunjukkan kondisi jaringan. Auskultasi Mendengar dengan stetoskop: jantung, napas, bising usus. Bunyi perkusi Bunyi Ciri dan lokasi Sonor Nyaring, bergaung; paru sehat Hipersonor Lebih nyaring; emfisema, pneumotoraks Redup Pendek; hati, area cairan Pekak Sangat pendek, datar; tulang, otot tebal Timpani Seperti genderang; lambung, usus C. Pemeriksaan berdasarkan sistem tubuh Sistem Yang dinilai dan teknik Integumen (kulit, rambut, kuku) Inspeksi: warna, kebersihan, kelembapan, ruam, luka, bekas operasi, memar, perubahan pigmentasi; rambut (warna, distribusi, kerontokan); kuku (bentuk, warna, dasar kuku). Palpasi: suhu, turgor, kelembapan, pembengkakan, nyeri tekan, massa. Membantu mendeteksi dehidrasi, infeksi, gangguan sirkulasi, atau penyakit kulit. 115

Sistem Yang dinilai dan teknik Respirasi Inspeksi: bentuk dada, simetri gerakan, frekuensi dan kedalaman napas, otot bantu napas, sesak, sianosis. Palpasi: ekspansi dada, nyeri tekan, fremitus taktil. Perkusi: kondisi jaringan paru. Auskultasi: bunyi napas normal (vesikuler) dan tambahan (ronki, wheezing, stridor). Kardiovaskular Inspeksi: warna kulit, edema, pembengkakan vena, sirkulasi perifer. Palpasi: denyut, kekuatan, irama nadi, suhu ekstremitas, apeks jantung bila perlu. Auskultasi: S1 dan S2, bunyi tambahan (murmur, gallop). Gastrointestinal (abdomen) Urutan: inspeksi (bentuk, simetri, warna kulit, luka operasi, pembengkakan, peristaltik tampak), auskultasi (bising usus empat kuadran), perkusi (distribusi udara dan cairan, ukuran organ seperti hati), lalu palpasi (nyeri tekan, kekakuan otot, pembesaran organ, massa). Muskuloskeletal Inspeksi: postur, bentuk tulang, simetri, deformitas, pembengkakan, atrofi otot, cara berjalan. Palpasi: nyeri tekan, suhu sendi, pembengkakan, spasme, kekuatan otot. Rentang gerak (ROM) aktif maupun pasif. Neurologi Tingkat kesadaran dengan Glasgow Coma Scale (GCS) bila perlu, orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang, saraf kranial, refleks fisiologis, koordinasi, keseimbangan, kekuatan otot, sensasi, fungsi motorik dan sensorik. D. Pendokumentasian Pendokumentasian adalah pencatatan seluruh data objektif hasil pemeriksaan secara lengkap, akurat, sistematis, dan tepat waktu. Dokumentasi menjadi media komunikasi antartenaga kesehatan, sarana evaluasi perkembangan pasien, bukti pertanggungjawaban profesional, dan memiliki nilai hukum bila terjadi masalah dalam pelayanan. 116

Prinsip Komponen yang dicantumkan Objektif, jelas, lengkap, akurat; istilah medis yang benar; tanpa interpretasi pribadi; ditulis segera setelah pemeriksaan selesai. Identitas pasien; tanggal dan waktu pemeriksaan; keadaan umum; tanda-tanda vital; hasil pemeriksaan setiap sistem tubuh; temuan abnormal bila ada; tindakan yang dilakukan; nama dan tanda tangan pemeriksa. E. Pentingnya dalam praktik kebidanan Pemeriksaan fisik yang benar penting untuk mendeteksi dini komplikasi atau kelainan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir, sehingga diagnosis kebidanan dan intervensi tepat. Dokumentasi yang baik menjaga kesinambungan pelayanan, memudahkan komunikasi antartenaga kesehatan, menjadi bahan evaluasi mutu, mendukung pendidikan dan penelitian, serta menjadi bukti hukum bila terjadi sengketa. Dokumentasi hasil pemeriksaan Prinsip Objektif☐ Jelas dan lengkap☐ Akurat, memakai istilah medis yang benar☐ Tanpa interpretasi pribadi☐ Ditulis segera setelah pemeriksaan☐ Komponen Identitas pasien, tanggal dan waktu☐ Keadaan umum dan tanda-tanda vital☐ Hasil pemeriksaan tiap sistem tubuh☐ Temuan abnormal, bila ada☐ Tindakan yang dilakukan☐ Nama dan tanda tangan pemeriksa☐ Ilustrasi kasus Bidan G memeriksa abdomen seorang ibu nifas. Ia berencana langsung meraba perut, lalu mengetuk, dan mendengarkan bising usus terakhir. 117

Pertanyaan refleksi Pertanyaan: Apa kekeliruan rencana Bidan G? Petunjuk: Urutan pemeriksaan abdomen salah: ia meraba (palpasi) dan mengetuk (perkusi) sebelum auskultasi. Pertanyaan: Apa dampaknya pada hasil pemeriksaan? Petunjuk: Palpasi dan perkusi dapat merangsang gerakan usus sehingga memengaruhi penilaian bising usus. Pertanyaan: Bagaimana urutan yang benar, dan apa yang perlu dicatat? Petunjuk: Inspeksi, auskultasi, perkusi, lalu palpasi. Hasil dicatat objektif, lengkap, dan segera setelah pemeriksaan. Intisari modul • Empat teknik dasar saling melengkapi: inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi. • Pada abdomen, urutannya berubah menjadi inspeksi, auskultasi, perkusi, lalu palpasi agar bising usus tidak terpengaruh. • Bunyi perkusi: sonor, hipersonor, redup, pekak, dan timpani; masing- masing berkaitan dengan jenis jaringan atau isi organ. • Pemeriksaan dilakukan pada sistem integumen, respirasi, kardiovaskular, gastrointestinal, muskuloskeletal, dan neurologi. • Dokumentasi harus objektif, jelas, lengkap, akurat, dan ditulis segera setelah pemeriksaan. Istilah penting Istilah Pengertian Fremitus taktil Getaran suara yang dinilai lewat palpasi dada. GCS Glasgow Coma Scale; penilaian tingkat kesadaran. ROM Rentang gerak sendi, diperiksa aktif maupun pasif. Bising usus Bunyi usus yang didengar dengan stetoskop pada empat kuadran abdomen. Latihan: 5 Soal dan Jawaban 1. Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan fisik dan apa tujuan utamanya? Jawaban: Pemeriksaan fisik adalah proses pengkajian kondisi tubuh pasien secara sistematis untuk memperoleh data objektif. Tujuannya mengetahui 118

kondisi kesehatan pasien, mengidentifikasi kelainan, mengumpulkan data untuk diagnosis, menentukan tindakan, memantau perkembangan pasien, dan menjadi dasar dokumentasi. 2. Sebutkan empat teknik dasar pemeriksaan fisik beserta urutannya. Jawaban: Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada pemeriksaan abdomen urutannya menjadi inspeksi, auskultasi, perkusi, lalu palpasi. 3. Mengapa pada pemeriksaan abdomen auskultasi dilakukan sebelum palpasi dan perkusi? Jawaban: Karena palpasi dan perkusi dapat merangsang pergerakan usus sehingga memengaruhi hasil pemeriksaan bising usus. 4. Sebutkan jenis bunyi perkusi dan contoh organ atau kondisi tempat bunyi itu ditemukan. Jawaban: Sonor pada paru sehat; hipersonor pada emfisema atau pneumotoraks; redup pada organ padat seperti hati atau area berisi cairan; pekak pada tulang atau otot tebal; timpani pada organ berisi udara seperti lambung atau usus. 5. Apa prinsip dan komponen pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik? Jawaban: Prinsipnya objektif, jelas, lengkap, akurat, memakai istilah medis yang benar, tanpa interpretasi pribadi, dan ditulis segera setelah pemeriksaan. Komponennya identitas pasien, tanggal dan waktu, keadaan umum, tanda-tanda vital, hasil pemeriksaan tiap sistem tubuh, temuan abnormal, tindakan yang dilakukan, serta nama dan tanda tangan pemeriksa. Daftar rujukan Bickley, L. S. (2021). Bates' guide to physical examination and history taking (13th ed.). Wolters Kluwer. Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2022). Brunner & Suddarth's textbook of medical-surgical nursing (15th ed.). Wolters Kluwer. Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2021). Fundamentals of nursing (10th ed.). Elsevier. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Standar profesi bidan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pedoman penyelenggaraan rekam medis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 119