View 7. Jaka Tingkir Jateng flipbook.
Jaka Tingkir Dahulu kala, di Pulau Jawa, ada dua orang adipa3 Kesultanan Demak yang bersahabat. Mereka adalah Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Tingkir. Dua orang sahabat ini adalah teman seperguruan, murid dari Syekh Si3 Jenar. Sebagai seorang adipa3, Ki Ageng Pengging 3dak pernah berkunjung ke Kesultanan Demak. Ki Ageng Pengging merasa dendam dengan Kanjeng Sultan karena telah menghukum ma3 gurunya, Syekh Si3 Jenar. Kanjeng Sultan menganggapnya sebagai pemberontak. Maka ia pun dijatuhi hukuman ma3. Ki Ageng Pengging meninggal menyusul sahabatnya, Ki Ageng Tingkir, yang sudah lebih dulu meninggal karena sakit. Istri Ki Ageng Pengging yang bernama Nyi Ageng Pengging dan anak laki-lakinya, Mas Karebet, sangat sedih dengan kema3an Ki Ageng Pengging. Karena begitu sedih di3nggal ma3 suaminya, Nyi Ageng Pengging menjadi sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Mas Karebet pun menjadi seorang ya3m piatu. Istri Ki Ageng Tingkir, yaitu Nyi Ageng Tingkir yang sudah lama menjanda, mengangkat Mas Karebet menjadi anaknya. Nama Mas Karebet kemudian digan3 menjadi Jaka Tingkir. Jaka Tingkir tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah berani. Ia menguasai berbagai macam ilmu bela diri dan keagamaan. Ia pun menjadi kesatria yang sak3 dan juga saleh. Suatu ke3ka, Jaka Tingkir bertemu dengan Sunan Kalijaga. Melihat kehebatan yang dimiliki Jaka Tingkir, Sunan itu menyuruhnya untuk bergabung dengan prajurit Kerajaan Demak. Sesuai dengan perintah Sunan Kalijaga, Nyi Ageng Tingkir menyuruh Jaka Tingkir untuk segera pergi ke Kerajaan Demak. Maka berangkatlah Jaka Tingkir ke Kerajaan Demak dengan diantar oleh dua orang santri dari Desa Tingkir. Santri itu mengantarnya menuju rumah Ki Ganjur, seorang panglima pasukan Kerajaan Demak. Jaka Tingkir dididik menjadi prajurit Kerajaan Demak yang tergabung dalam Pasukan Suranata. Keahlian bela diri yang telah ia miliki membuatnya jauh lebih hebat dibandingkan calon-calon prajurit yang lain. Sultan Demak yang pada waktu itu memimpin adalah Sultan Trenggono. Secara 3dak sengaja, ia melihat Jaka Tingkir menggunakan ilmunya ke3ka menyeberangi sungai. Jaka Tingkir menyeberangi sungai tanpa berenang. Ia melayangkan tubuhnya di atas sungai tanpa sedikit pun menyentuh air. Sultan Trenggono sangat kagum melihat kehebatan Jaka Tingkir. Ia lalu bertanya kepada Ki Ganjur, "Siapakah pemuda hebat itu, Ganjur?"
"Itu Jaka Tingkir, Kanjeng. Putra angkat Ki Ageng Tingkir," jawab Ki Ganjur. "Apa kedudukannya di Suranata?" tanya Sultan Trenggono. "Ia calon prajurit, Kanjeng," jawab Ki Ganjur. Sultan Trenggono kaget mendengarnya. "Mengapa pemuda sehebat dia masih menjadi calon prajurit? Saat ini juga, naikkan kedudukannya menjadi prajurit. Ia akan menjadi pasukan pengawalku," perintah Sultan Trenggono. "Baik, Kanjeng Sultan," ujar Ki Ganjur. Saat itu juga, Jaka Tingkir telah menjadi prajurit Pasukan Suranata. Ia akan ikut ke mana pun sultan pergi. Pada suatu hari, Jaka Tingkir bersama pasukannya pergi mengawal sultan berburu di hutan. Ke3ka sedang berjalan beriringan, 3ba-3ba terdengar suara gemerisik dan bayangan sekelebat. Mereka menduga itu adalah seekor harimau. Sultan menyuruh Jaka Tingkir untuk memeriksa. Tak lama kemudian, Jaka Tingkir datang dengan membawa seekor harimau besar dipanggul di punggungnya. Sultan sangat kagum dengan kehebatan Jaka Tingkir. Pada waktu yang lain, Jaka Tingkir lagi-lagi menunjukkan kehebatannya. Kali ini, ia melawan buaya di sungai. Buaya itu berhasil ditaklukkannya dan dibawa ke hadapan sultan. Karena kehebatannya itu, sultan lalu mengangkat Jaka Tingkir menjadi Tumenggung Demak. Ia sekarang yang memimpin Pasukan Suranata. Suatu hari Sultan Trenggono memerintahkan agar jumlah Pasukan Suranata ditambah. Berdasarkan kesepakatan jumlahnya akan ditambah sebanyak dua ratus prajurit. Jaka Tingkir bersama para pemimpin yang lain mengadakan sayembara pemilihan prajurit. Dalam proses pemilihan, 3ba-3ba terjadi sebuah kegaduhan. Ada seorang calon pelamar yang menantang Jaka Tingkir berkelahi. Ia bernama Dadungawuk. Dadungawuk sangat sombong sehingga Jaka Tingkir tersulut emosinya. Dalam perkelahian itu, Dadungawuk tewas. Sultan Trenggono menghukum Jaka Tingkir karena telah membunuh seorang calon prajurit Demak. Ia pun diusir dari Demak. Jaka Tingkir pun mengembara tanpa tujuan yang jelas. Suatu ke3ka ia bertemu dengan laki-laki separuh baya yang bernama Ki Ageng Butuh. Untuk sementara waktu, Jaka Tingkir 3nggal di kediamannya. Selama itu, Ki Ageng Butuh mengajarkan Jaka Tingkir berbagai macam ilmu, seper3 ilmu kenegaraan, kepribadian, dan yang paling utama adalah ilmu agama. Setelah ilmunya semakin bertambah, Jaka Tingkir kembali mengembara. Kali ini, ia menuju makam ayah dan ibu kandungnya, Ki Ageng Pengging dan Nyi Ageng Pengging. Berjalanlah ia menuju Desa Pengging. Di makam orangtuanya, ia berdoa dengan sangat khusyuk. Setelah berdoa, karena lelah dan 3dak punya tempat 3nggal, ia ter3dur di samping makam.
Dalam 3durnya, ia bermimpi bertemu dengan ayahnya, Ki Ageng Pengging. Ayahnya menyuruh Jaka Tingkir pergi ke kediaman Ki Ageng Banyubiru, sahabat seperguruan ayahnya. Ke3ka terbangun, Jaka Tingkir langsung pergi menuju kediaman orang yang dimaksud oleh ayahnya itu. Setelah bertanya ke sana kemari, sampailah ia di rumah Ki Ageng Banyubiru. Laki-laki tua itu menyambut Jaka Tingkir dengan baik, seakan ia sudah tahu bahwa Jaka Tingkir akan datang. Selama 3nggal di kediamannya, Banyubiru mengajarkan Jaka Tingkir berbagai macam tujuan beribadah. Pengajaran ini bertujuan agar Jaka Tingkir 3dak hanya menguasai ilmu bela diri dan tenaga dalam, tetapi juga harus mendekatkan diri kepada Allah. Agar nan3nya ia menjadi kesatria yang tawakal. Ilmu yang diperoleh Jaka Tingkir telah cukup. Banyubiru menyuruh Jaka Tingkir kembali ke Kerajaan Demak untuk mengabdi kepada Sultan Trenggono. Sebelum Jaka Tingkir pergi, Banyubiru berpesan. "Pergilah kau ke Gunung Prawoto, Nak. Sultan dan pasukannya sedang berada di sana. Begitu sampai di sana, carilah seekor kerbau dan masukkan ramuan ini ke dalam telinganya," ujarnya sambil memberikan segenggam bubuk ramuan. Banyubiru melanjutkan, "Setelah diberi ramuan, kerbau itu akan mengamuk dan membahayakan sultan dan pasukannya. Pada saat itulah, kau harus segera ber3ndak menangkap kerbau itu. Dengan begitu, sultan akan melihatmu sebagai penyelamatnya. Niscaya, ia akan mempercayakan dirimu untuk kembali menjadi pemimpin di Demak." "Baiklah, Paman. Aku akan melaksanakan perintahmu itu," ujar Jaka Tingkir. "Berha3-ha3lah, Nak. Semoga berhasil," ujar Banyubiru. Setelah mengucapkan terima kasih, Jaka Tingkir pergi menuju Gunung Prawoto. Ia 3dak sendiri, melainkan ditemani oleh 3ga sahabatnya yang juga murid Ki Ageng Banyubiru. Se3banya di sana, Jaka Tingkir melihat sultan dan pasukannya sedang beris3rahat. Ia pun melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya. Kerbau yang telinganya telah diberi ramuan mengamuk dan berlari menuju tempat peris3rahatan sultan. Kerbau itu mengamuk di sana. Tidak seorang pun berani mendekat. Sultan menjadi sangat takut. Pada saat itu, dengan sigap Jaka Tingkir segera mengejarnya. Setelah tertangkap, dipegangnya tubuh kerbau itu. Tubuh kerbau yang mengamuk berhasil ditahan oleh kekuatan tubuh Jaka Tingkir sehingga 3dak dapat berlari lagi. Jaka Tingkir segera meraih tanduk kerbau dan diangkatnya kerbau itu lalu diban3ng-ban3ngkan ke tanah. Setelah kerbau itu sedikit lemas, dihantamnya kepala kerbau dengan tangannya. Hancurlah kepala kerbau itu dan tamatlah riwayatnya. Jaka Tingkir telah menyelamatkan sultan beserta pasukannya. Melihat itu, ha3 sultan menjadi luluh. Ia menyesal telah mengusir Jaka Tingkir dari kerajaannya.
Sultan pun kembali memanggil Jaka Tingkir. Ia diangkat menjadi Adipa3 Pajang. Pajang merupakan daerah bekas Kadipaten Pengging, tempat 3nggal Jaka Tingkir semasa kecil. Jaka Tingkir juga dinikahkan dengan putri Sultan Trenggono yang bernama Putri Pembayun. Setelah Sultan Trenggono wafat, Jaka Tingkir menjadi pemimpin Kerajaan Demak sekaligus Adipa3 Pajang. Ia diberi gelar Sultan Adiwijaya. Sumber: Buku judul “Seri Cerita Rakyat: Jawa Tengah”- Karisma Publishing Group. Penyusun: Sachi Theopilla, Editor: Heidi Saputra.