View Zahra Sabila Nugraha 11220930000074 Skripsi FInal flipbook.
TUGAS AKHIR PERANCANGAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODOLOGI DESIGN SCIENCE RESEARCH (STUDI KASUS: PT KREASI SENSORI GLOBAL) Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komputer Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Disusun oleh: Zahra Sabila Nugraha NIM. 11220930000074 PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2026 M/1448 H
i TUGAS AKHIR PERANCANGAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODOLOGI DESIGN SCIENCE RESEARCH (STUDI KASUS: PT KREASI SENSORI GLOBAL) Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Komputer Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Disusun oleh: Zahra Sabila Nugraha NIM. 11220930000074 PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2026 M/1448 H
ii
iii LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERANCANGAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODOLOGI DESIGN SCIENCE RESEARCH (STUDI KASUS: PT KREASI SENSORI GLOBAL)
iv LEMBAR PENGESAHAN UJIAN Tugas akhir berjudul PERANCANGAN ARSITEKTUR ENTERPRISE MENGGUNAKAN METODOLOGI DESIGN SCIENCE RESEARCH (STUDI KASUS: PT KREASI SENSORI GLOBAL) yang ditulis oleh Zahra Sabila Nugraha dengan NIM. 11220930000074 telah diuji dan dinyatakan LULUS dalam sidang Munaqosah Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 30 Juni 2026. Tugas akhir ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) Program Studi Sistem Informasi.
v
vi LEMBAR PERNYATAAN
vii
viii ABSTRAK Zahra Sabila Nugraha – 11200930000074, Perancangan Arsitektur Enterprise menggunakan Metodologi Design Science Research (Studi Kasus: PT Kreasi Sensori Global), di bawah bimbingan Nur Aeni Hidayah, SE., M.MSI., dan Fitroh, S.Kom, M.Kom. PT Kreasi Sensori Global memiliki rencana strategis ekspansi pasar dan perluasan jaringan distribusi ke general trade. Namun, pertumbuhan bisnis yang sangat pesat hingga mencapai 3100% memicu peningkatan kompleksitas operasional, sehingga dibutuhkan ekosistem digital yang memadai. Kondisi eksisting menunjukkan ketidakselarasan strategis yang berdampak pada silo informasi antardivisi, tingginya fragmentasi data, serta buruknya visibilitas proses bisnis end-to-end. Penelitian ini menerapkan metodologi Design Science Research (DSR) untuk merancang solusi berupa blueprint arsitektur enterprise. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan studi literatur. Penelitian ini bertujuan untuk merancang enterprise integrasi ekosistem digital pada PT Kreasi Sensori Global yang menyelaraskan domain bisnis, data, aplikasi, dan teknologi agar berjalan seiring dengan strategi ekspansi organisasi. Hasil penelitian berupa cetak biru arsitektur enterprise terintegrasi yang mencakup arsitektur bisnis (value stream model dan business capability model), arsitektur data (Conceptual data model), arsitektur aplikasi (Application Portfolio Diagram), serta arsitektur teknologi berbasis service- oriented architecture beserta IT Roadmap. Pengujian melalui kriteria credibility, dependability, dan confirmability membuktikan bahwa artefak yang dihasilkan valid dan sesuai kebutuhan strategis stakeholder. Kata Kunci: Arsitektur enterprise, Design Science Research, small-medium enterprise, arsitektur sistem informasi Bab 1–5 + xliii Halaman + 219 Halaman + 52 Gambar + 24 Tabel + Lampiran Pustaka Acuan (73, 2000–2026)
ix
x KATA PENGANTAR Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW yang telah membawa kita keluar dari zaman kegelapan. Pada tugas akhir ini, penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan. Namun demikian, tugas akhir ini dapat memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Komputer strata satu (S1) Program Studi Sistem Informasi di Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tugas akhir yang berjudul “Perancangan Arsitektur Enterprise Pada PT Kreasi Sensori Global Menggunakan Design Science Research (DSR)” akhirnya dapat diselesaikan sesuai dengan harapan penulis. Selama penyusunan tugas akhir ini, penulis menghadapi banyak kesulitan dan tantangan. Pada kesempatan ini penulis juga hendak mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu memberikan dukungan, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Ucapan terima kasih secara khusus penulis berikan kepada: 1. Bapak Husni Teja Sukmana, S.T., M.Sc, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Ibu Dr. Qurrotul Aini, M.T. selaku Ketua Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi. 3. Bapak Ir. Eri Rustamaji, MBA selaku Sekretaris Program Studi Sistem Informasi Fakultas Sains dan Teknologi. 4. Dosen-dosen Program Studi Sistem Informasi yang telah memberikan ilmu selama perkuliahan. 5. Ibu Nur Aeni Hidayah, S.E, M.M.S.I, selaku Dosen Pembimbing I dan Ibu Fitroh S.Kom, M.Kom, selaku Dosen Pembimbing II, yang telah menyediakan waktunya untuk memberikan ilmu dan tentunya dukungan kepada penulis.
xi 6. Keluarga dan orang tua yang selalu mendoakan kelancaran penyusunan Tugas Akhir ini. 7. Alea Carolina Science Gayo, sebagai CEO PT Kreasi Sensori Global sekaligus teman saya yang sudah menemani saya selama 10 tahun, terima kasih telah memberikan kesempatan ini dan menyisihkan waktunya di tengah kesibukan. 8. Teman-teman yang sudah menemani saya dari smp hingga lulus kuliah, selama 10 tahun, terima kasih sudah menemani saya dalam keadaan suka maupun duka, juga menemani masa kesulitan dalam penyusunan Tugas Akhir ini, untuk Maisya, Qonita, Alea, Erisa, Uta, Bilqis, Tazkia, Farah, Lika. Khususnya teruntuk Maisya dan Qonita yang telah membantu saya di tempat kerja, sehingga saya mendapatkan kesempatan untuk daftar Seminar Hasil. 9. Teman-teman Kelas C yang telah menemani saya selama perkuliahan, yang membuat saya sangat bersyukur berada di lingkungan ini, khususnya untuk Carysma, Fatimah, Ima, Alma, Enje, Jesica, Nadilla, Naput, Caroline, dan Tarisa. 10. Teman-teman seperjuangan yang telah menemani masa-masa skripsian saya di kopi kenangan, yaitu Fida, Mila, Maulana, Angel, Riska. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis tidak menutup diri atas segala bentuk saran dan kritik yang bersifat membangun ke depannya. Akhir kata, semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan penulis sendiri. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Jakarta, 20 Juni 20256 Zahra Sabila Nugraha NIM. 11220930000074
xii xii
xiii xiii DAFTAR ISI TUGAS AKHIR ..................................................................................................... i TUGAS AKHIR ..................................................................................................... i LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR .................................................... iii LEMBAR PENGESAHAN UJIAN .................................................................... iv LEMBAR PERNYATAAN ................................................................................. vi ABSTRAK .......................................................................................................... viii KATA PENGANTAR ............................................................................................x DAFTAR ISI ....................................................................................................... xiii DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xviii DAFTAR TABEL .............................................................................................. xxi BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................................1 1.1 Latar Belakang .............................................................................................1 1.2 Identifikasi Masalah .....................................................................................7 1.3 Rumusan Masalah ........................................................................................8 1.4 Batasan Masalah ...........................................................................................8 1.5 Tujuan Penelitian..........................................................................................9 1.6 Manfaat Penelitian........................................................................................9 1.6.1 Bagi Peneliti .....................................................................................9 1.6.2 Bagi Perusahaan .............................................................................10 1.6.3 Bagi Universitas .............................................................................10 1.7 Metode Penelitian .......................................................................................11 1.7.1 Metode Pegumpulan Data ..............................................................11
xiv xiv 1.7.2 Tahapan Design Science Research Methodology (DSRM) ...........12 1.8 Sistematika Penulisan .................................................................................13 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................17 2.1 Konsep Arsitektur ......................................................................................17 2.2 Prinsip-Prinsip Arsitektur ...........................................................................18 2.3 Jenis-Jenis Pola Arsitektur .........................................................................21 2.3.1 Client-Server Architectures ............................................................21 2.3.2 Tier Architectures ...........................................................................21 2.3.3 Peer-to-peer Architectures .............................................................22 2.3.4 Model View Controller Architectures ............................................23 2.3.5 Service-Oriented Architecture ........................................................24 2.4 Ekosistem Digital .......................................................................................25 2.5 Enterprise Architecture (EA) .....................................................................27 2.6 Keselarasan Strategi Bisnis dan TI.............................................................28 2.7 Small-medium Enterprise (SME) ...............................................................29 2.8 Metode Perancangan Arsitektur .................................................................30 2.9 Konsep Design Science Research ..............................................................32 2.10 Tools Perancangan Arsitektur ....................................................................35 2.10.1 business capability model ...............................................................35 2.10.2 ArchiMate Motivation Model .........................................................44 2.10.3 Value Chain ....................................................................................45 2.10.4 Value stream Map...........................................................................47 2.10.5 ArchiMate viewpoint ......................................................................49 2.10.6 Conceptual data model ...................................................................50
xv xv 2.10.7 Application Portfolio Model ...........................................................52 2.10.8 Technology Reference Model .........................................................52 2.10.9 Landscape Diagram .......................................................................53 2.10.10 Roadmap .......................................................................................54 2.11 Penelitian Sejenis .......................................................................................55 BAB 3 METODE PENELITIAN ........................................................................71 3.1 Pendekatan Penelitian ................................................................................71 3.2 Metode Pengumpulan Data ........................................................................71 3.2.1 Wawancara .....................................................................................71 3.2.2 Observasi ........................................................................................72 3.2.3 Studi Literatur .................................................................................73 3.3 Tahapan Design Science Research Methodology (DSRM)........................74 3.3.1 Identifikasi Masalah dan Motivasi .................................................75 3.3.2 Definisi Tujuan Solusi ....................................................................76 3.3.3 Desain dan Pengembangan .............................................................76 3.3.4 Demonstrasi ....................................................................................78 3.3.5 Evaluasi ..........................................................................................80 3.3.6 Komunikasi.....................................................................................81 3.4 Kerangka Penelitian ...................................................................................81 BAB 4 PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE ..........................83 4.1 Identifikasi Masalah dan Motivasi .............................................................83 4.1.1 Business Problem Map ...................................................................85 4.1.2 ArchiMate Motivation Model .........................................................93 4.2 Definisi Tujuan Solusi ................................................................................96
xvi xvi 4.3 Desain dan Pengembangan.........................................................................97 4.3.1 Baseline Architecture .....................................................................98 4.3.2 Business Target Architecture .......................................................118 4.3.3 Data Target Architecture .............................................................151 4.3.4 Application Target Architecture ...................................................170 4.3.5 Technology Target Architecture ...................................................173 4.3.6 Landscape Target Architecture.....................................................180 4.3.7 Gap Analysis .................................................................................185 4.4 Demonstrasi ..............................................................................................194 4.5 Evaluasi ....................................................................................................200 4.6 Komunikasi ..............................................................................................204 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................205 5.1 Kesimpulan...............................................................................................205 5.2 Saran .........................................................................................................206 5.2.1 Bagi PT Kreasi Sensori Global.....................................................206 5.2.2 Bagi Penelitian Selanjutnya ..........................................................207 DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................208 LAMPIRAN ...................................................................................................... xxiii
xvii xvii
xviii xviii DAFTAR GAMBAR Gambar 1. 1 Grafik Pertumbuhan Penjualan PT Kreasi Sensori Global .................2 Gambar 2.1 Peer-to-Peer Network (Sunyaev, 2024). ............................................22 Gambar 2.2 Interaksi Pada Arsitektur MVC (Sunyaev, 2024). .............................23 Gambar 2.3 Model Proses DSR (Peffers et al., 2007). ..........................................33 Gambar 2.5 Contoh Color-coding Dukungan TI (Kotusev & Alwadain, 2024). ..37 Gambar 2.6 Color-coding Tingkat Kematangan (Kotusev & Alwadain, 2024). ...38 Gambar 2.8 Color-coding Intuitive Importance (Kotusev & Alwadain, 2024). ....40 Gambar 2.9 Pemetaan Tujuan Bisnis pada BCM (Kotusev & Alwadain, 2024). ..40 Gambar 2.10 Color-coding Target Maturity (Kotusev & Alwadain, 2024). .........41 Gambar 2.11 Color-coding Capability Gaps (Kotusev & Alwadain, 2024). ........41 Gambar 2.12 Pemetaan BCM Investasi TI (Kotusev & Alwadain, 2024). ............42 Gambar 2.13 Contoh ArchiMate Motivation Model (Visual Paradigm, 2025)......44 Gambar 2.14 Contoh Value stream Map (Hosiaisluoma, 2022). ...........................47 Gambar 2.15 Contoh ArchiMate viewpoint (Visual Paradigm, 2025). ..................49 Gambar 2.16 Contoh Application Portfolio Models (Kotusev, 2019) ...................51 Gambar 2.17 Contoh Technology Reference Model (Kotusev, 2019). ..................52 Gambar 2.18 Contoh Landscape Diagrams (Kotusev, 2019). ...............................53 Gambar 4.1 business Problem Map .......................................................................85 Gambar 4.5 Viewpoint Purchasing (As-Is) ..........................................................101 Gambar 4.6 Viewpoint Production (As-Is) ...........................................................103 Gambar 4.7 Viewpoint Warehouse (As-Is) ...........................................................105 Gambar 4.8 Viewpoint Marketing (As-Is) ............................................................106
xix xix Gambar 4.9 Viewpoint Research and Development (As-Is) .................................107 Gambar 4.10 Viewpoint Sales (As-Is) ..................................................................109 Gambar 4.11 viewpoint Event (as-is) ...................................................................110 Gambar 4.12 Viewpoint Finance (As-Is)..............................................................111 Gambar 4.13 Viewpoint Customer Service (As-Is) ..............................................112 Gambar 4.14 viewpoint Human Resource (as-is) ................................................113 Gambar 4.15 Application Portfolio Model ..........................................................115 Gambar 4.16 Value Stream Model Production Planning Module (To-Be) ..........119 Gambar 4.18 Value Stream Model Manufacturing Module (To-Be) ...................123 Gambar 4.19 Value Stream Model Warehouse Management Module (To-Be) ...125 Gambar 4.20 Value Stream Model Sales Module (To-Be) ...................................128 Gambar 4.21 value stream model Marketing module (to-be) ..............................130 Gambar 4. 22 Value Stream Model R&D Module (To-Be) ..................................134 Gambar 4.23 Value Stream Model Finance (To-Be) ...........................................137 Gambar 4.24 Value Stream Model Human Resource Module (To-Be) ................140 Gambar 4.25 Value Stream Model Customer Relationship Module (To-Be).......142 Gambar 4.26 Business Capability Model Usulan ................................................144 Gambar 4.27 Conceptual Data Model (To-Be) ....................................................165 Gambar 4.28 Application Reference Model (to-be) .............................................170 Gambar 4.29 Arsitektur Teknologi Target (To-Be) .............................................172 Gambar 4.30 Technology Reference Model (To-Be)............................................177
xx xx
xxi xxi DAFTAR TABEL Tabel 2. 1 Perbandingan Metode Perancangan Enterprise Architecture ...............29 Tabel 2. 2 Penelitian Sejenis ..................................................................................55 Tabel 3. 1 Input, Proses, Output Identifikasi Masalah dan Motivasi .....................73 Tabel 3. 2 Input, Proses, Output dari Tahapan Desain...........................................74 Tabel 4. 1 Detail Permasalahan Kapabilitas Bisnis ...............................................85 Tabel 4. 2 Enterprise Architecture Goals & Metrics. ............................................94 Tabel 4. 3 business production planning module ................................................149 Tabel 4. 4 business purchasing module ...............................................................151 Tabel 4. 5 business Manufacturing module .........................................................152 Tabel 4. 6 business Warehouse Management module .........................................153 Tabel 4. 7 business sales module .........................................................................154 Tabel 4. 8 business Marketing module.................................................................156 Tabel 4. 9 business finance module......................................................................158 Tabel 4. 10 business Human Resource module....................................................160 Tabel 4. 11 business R&D module.......................................................................161 Tabel 4. 12 business Customer Relationship module...........................................163 Tabel 4. 13 Gap Analysis business Architecture ..................................................185 Tabel 4. 14 Gap Analysis Data Architecture .......................................................188 Tabel 4. 15 Gap Analysis Application Architecture.............................................191 Tabel 4. 16 Gap Analysis Technology Architecture.............................................193 Tabel 4. 17 Umpan Balik Kondisi as-is ...............................................................205 Tabel 4. 18 Umpan Balik Arsitektur Target (to-be).............................................207
xxii xxii
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor ekonomi kreatif di Indonesia menunjukkan pertumbuhan pesat, dengan nilai investasi mencapai Rp183,01 triliun atau naik sebesar 32,3% pada tahun 2025 dibandingkan dengan tahun sebelumnya (Kementerian Ekraf RI, 2025). Pertumbuhan ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memperluas pasar serta meningkatkan produk dan kualitas layanan mereka. Salah satu perusahaan yang ingin memanfaatkan peluang tersebut adalah PT Kreasi Sensori Global, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produksi slime dan menjalankan aktivitas bisnisnya melalui model business-to-business (B2B) dan business-to- Customer (B2C). Perusahaan tersebut melakukan distribusinya melalui penjualan online di berbagai e-commerce, serta penjualan offline melalui toko fisik, booth Event, dan mall. Selama 5 tahun terakhir, PT Kreasi Sensori Global mengalami pertumbuhan bisnis yang pesat hingga 3100%, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. 1. Dari wawancara dengan direktur utamanya, yaitu Ibu Alea Carolina Science Gayo, dan diperkuat dengan observasi terhadap dokumen rencana strategis perusahaan, dapat diketahui bahwa PT Kreasi Sensori Global memiliki strategi untuk memperluas bisnis serta pangsa pasar mereka (Gambar 1.1). Strategi tersebut direalisasikan melalui penguatan penjualan online, kegiatan live streaming, affiliate Marketing, endorse influencer, serta pengembangan produk baru yang sesuai dengan
2 kebutuhan pasar. Selain penjualan online, perusahaan memiliki rencana strategis untuk memperluas pasar ke general trade melalui distributor besar, mall, toko ritel, warung, tempat wisata, serta pembukaan toko offline baru dan Event penjualan. Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan bisnis, PT Kreasi Sensori Global juga berencana memperluas portofolio produknya dengan menghadirkan jenis produk baru yang dapat menjangkau segmen pelanggan yang lebih beragam, seperti parfum, body care, dan skin care. Gambar 1.1 Grafik Pertumbuhan Penjualan PT Kreasi Sensori Global Seiring perkembangan bisnis dan cakupan distribusi yang semakin luas tersebut, proses bisnis, data, dan informasi perusahaan pun menjadi semakin kompleks. Dengan demikian, perusahaan memerlukan teknologi dan sistem informasi yang mampu mendukung operasional mereka. Sebagaimana hasil wawancara dengan Ibu Alea, perencanaan strategi ekspansi pasar dari PT Kreasi Sensori Global memicu rencana investasi pada sistem dan teknologi informasi 0 100000 200000 300000 400000 500000 600000 2021 2022 2023 2024 2025 Grafik Pertumbuhan Penjualan PT Kreasi Sensori Global Unit Penjualan
3 perusahaan. Dari wawancara tersebut, yang diperkuat dengan observasi lapangan, terlihat bahwa meskipun perusahaan telah memanfaatkan berbagai sistem informasi, sistem yang digunakan belum mampu memenuhi kebutuhan integrasi proses bisnis di dalam perusahaan. Terjadi ketidakselarasan antara implementasi teknologi dengan kebutuhan bisnis, yang disebabkan karena digitalisasi pada PT Kreasi Sensori Global dilakukan tanpa pemahaman terkait tinjauan terstruktur bisnis mereka. Kondisi tersebut memang seringkali terjadi pada perusahaan startup atau Small and Medium Enterprise (SME) dalam pengembangan SI/TI karena kurangnya pemahaman internal (Bernaert et al., 2014). Kondisi tersebut dapat terlihat pada data POS (Point-of-Sale) dari Event dan toko offline yang belum terintegrasi dengan sistem gudang secara real-time, sehingga menyebabkan selisih data barang karena kesalahan input manual. Analisis penjualan online juga menjadi sulit dilakukan karena data yang tidak valid, akibat proses input manual berbagai komponen transaksi seperti diskon, voucher, biaya iklan, affiliate, dan return ke dalam sistem. Selanjutnya, informasi antar divisi yang tidak saling terhubung menyebabkan koordinasi terhambat dan terjadi keterlambatan pengiriman produk. Hasil penelitian oleh Douimia et al. (2025) menunjukkan bahwa ketiadaan integrasi pada ekosistem digital menyebabkan 67% keputusan manajemen menjadi terlambat. Implementasi teknologi dan aplikasi yang dilakukan secara parsial mengindikasikan bahwa sistem beroperasi secara terisolasi, sehingga digitalisasi tidak memberikan hasil yang optimal (Bernaert et al., 2016). Ketiadaan integrasi dan struktur perencanaan arsitektur memicu terjadinya redudansi aplikasi dan
4 fragmentasi informasi (silo data) di dalam ekosistem perusahaan (Alghamdi, 2024). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa ekosistem digital pada objek penelitian ini belum terintegrasi dan sistem informasi belum berjalan selaras dengan kebutuhan stakeholder. Sementara itu, keberhasilan ekosistem digital pada perusahaan sangat bergantung dengan keselarasan antara berbagai komponen yang ada di dalamnya, yaitu proses bisnis, data, aplikasi, serta teknologi yang digunakan (Palade et al., 2024). Perusahaan memerlukan perencanaan digital yang matang agar investasi TI berjalan selaras dengan tujuan bisnis (Pingilili et al., 2025). Salah satu cara untuk mencapai keselarasan tersebut adalah melalui pendekatan Enterprise Architecture (EA) (Lamey et al., 2023). EA merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan berbagai komponen dalam organisasi, yang mencakup bisnis, data, aplikasi, dan teknologi (Divatia & Jagasia, 2025). EA dapat membantu pengelolaan ekosistem digital terintegrasi yang lebih terarah (Hasdiansa & Hasbiah, 2025). Oleh karenanya, sebagai perusahaan dengan kategori startup atau SME, sebagaimana data yang telah diberikan, perusahaan ini memiliki urgensi perancangan Enterprise Architecture agar perencanaan investasi teknologi dan sistem informasi berjalan selaras dengan strategi serta kebutuhan bisnis perusahaan. Sejumlah penelitian sebelumnya telah menggunakan berbagai pendekatan arsitektur untuk merancang integrasi digital dan membantu mencapai tujuan strategis. Pada perusahaan kimia, Liao & Wang (2021) mengintegrasikan lean manufacturing, digitalization, dan sustainability melalui perancangan arsitektur menggunakan TOGAF ADM yang membantu perusahaan memahami dinamika
5 yang rumit dan kompleks pada organisasi mereka. Pada industri rantai pasok makanan, Oak Kyaw Zaw et al. (2025) membuat rancangan integrasi teknologi blockchain, kekebalan data, privasi, dan kontrol akses untuk meningkatkan skalabilitas dan adaptabilitas di berbagai rantai pasokan melalui fase TOGAF ADM. Selanjutnya, pada universitas, Hindarto (2023) mengembangkan rancangan EA menggunakan TOGAF ADM sebagai fondasi integrasi proses administrasi kampus dan strategi transformasi digital. Pada universitas, Hindarto (2023) mengembangkan rancangan EA menggunakan TOGAF ADM sebagai fondasi integrasi proses administrasi kampus dan strategi transformasi digital. Seperti pada sektor agrifood, Tousert et al. (2025) merancang arsitektur digital terintegrasi untuk rantai pasok serealia menggunakan pendekatan TOGAF untuk mendukung transparansi, efisiensi, traceability, dan pengambilan keputusan yang cerdas. Sementara itu, pada sektor retail, EA berbasis TOGAF ADM telah diterapkan, dan berhasil mengoptimalkan proses penjualan sebesar 63%, serta menghasilkan pengalaman berbelanja yang lebih memuaskan bagi pelanggan (Ruiz et al., 2024). Selain itu, beberapa penelitian lain tidak hanya menggunakan TOGAF ADM, namun juga menerapkan pendekatan berbasis riset, seperti Design Science Research (DSR). Pada lembaga audit, Villamil et al. (2025) membuat arsitektur yang mengintegrasikan layanan TI melalui framework TOGAF ADM dan pendekatan DSR untuk menyelaraskan katalog layanan terpadu dengan fungsi pengawasan fiskal. Pada Bank SME, Sari et al. (2025) menggunakan metode Design Science Research (DSR) dan framework TOGAF untuk merancang
6 blueprint EA yang mendukung integrasi sistem secara berkelanjutan. Pada bidang koperasi, Noranita et al. (2021) menggunakan metode DSR dan framework TOGAF untuk mengatasi permasalahan sistem informasi yang belum terintegrasi serta keterbatasan layanan digital bagi anggota koperasi. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perancangan Enterprise Architecture di berbagai sektor industri lebih banyak menggunakan TOGAF ADM dibandingkan framework lainnya. Sedangkan, pada perusahaan dengan kategori Small-medium Enterprise (SME) atau startup, kerangka kerja seperti TOGAF ADM dinilai terlalu kaku dan kompleks untuk diterapkan (Kotusev, 2021). Sebelum menerapkan Enterprise Architecture Frameworks (EAFs) yang lebih kompleks, perusahaan yang baru memulai penerapan Enterprise Architecture disarankan memanfaatkan Enterprise Architecture Artifacts (EAAs) terlebih dahulu (Guo & Gao, 2023). Selain itu, pendekatan Enterprise Architecture juga seharusnya dibuat lebih fleksibel, ringan, dan mudah disesuaikan dengan kebutuhan organisasi (Kornyshova, 2022). Berbagai literatur terdahulu juga belum ada yang membahas terkait perancangan arsitektur enterprise pada perusahaan SME yang bergerak di sektor ekonomi kreatif dengan proses bisnis yang sangat beragam. Dalam hal ini, perusahaan memiliki proses bisnis end-to-end melalui B2B dan B2C, aktif dalam periklanan digital, serta menyalurkan penjualan melalui berbagai platorm e- commerce, toko fisik, general trade, dan juga booth Event. Dengan demikian, penelitian ini mengisi celah penelitian dengan merancang arsitektur enterprise melalui pendekatan Design Science Research (DSR) pada perusahaan di bidang
7 ekonomi kreatif dengan proses bisnis end-to-end dan model bisnis B2B serta B2C. Selanjutnya, penggunaan artefak arsitektur pada literatur terdahulu masih terbatas pada kerangka kerja yang kaku, sehingga rancangan arsitektur belum benar-benar menyelesaikan permasalahan. Melalui teknik analisis business Value assessment dan roadmap transformasi digital Acatech yang digunakan dalam penelitian ini, perancangan arsitektur dapat menjadi solusi digital yang efektif bagi perusahaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Design Science Research (DSR), merupakan metode yang berfokus pada pengembangan artefak sebagai solusi terhadap permasalahan yang terjadi di organisasi atau lingkungan tertentu (vom Brocke et al., 2020). DSR sudah secara luas digunakan dalam penelitian di bidang Sistem Informasi untuk menyelesaikan permasalahan praktis di lapangan (vom Brocke et al., 2020). Penggunaan DSR dalam penelitian ini dipilih karena keunggulan metode DSR, yang terdapat pada tahapan demonstrasi, evaluasi, dan komunikasi. Dalam hal ini, DSR menekankan bahwa hasil rancangan artefak perlu diuji keselarasannya dengan kebutuhan objek penelitian, sehingga, artefak yang dihasilkan dapat sesuai dengan konteks permasalahan yang ada di lapangan dan menjadi solusi yang efektif bagi perusahaan. Berdasarkan latar belakang yang telah dinarasikan oleh peneliti, tujuan penelitian ini adalah untuk merancang arsitektur enterprise menggunakan metodologi Design Science Research (DSR) dengan studi kasus perusahaan SME di sektor ekonomi kreatif. Artefak arsitektur yang dihasilkan diharapkan dapat menyelaraskan pengembangan sistem informasi dengan strategi perusahaan, yaitu ekspansi pasar dan jaringan distribusi secara luas. Oleh karena itu, peneliti
8 mengajukan judul “Perancangan Arsitektur Enterprise menggunakan Metodologi Design Science Research (Studi Kasus: PT Kreasi Sensori Global)”. 1.2 Identifikasi Masalah Adapun identifikasi permasalahan pada penelitian ini adalah: a. Ekosistem digital pada sebuah perusahaan SME di bidang ekonomi kreatif belum terintegrasi dan informasi antar divisi belum saling terhubung dengan baik. b. Pengelolaan data pada berbagai kanal penjualan online dan offline masih banyak dilakukan secara manual sehingga menyebabkan ketidakakuratan data dan selisih stok antara pencatatan dan Gudang. c. Kompleksitas proses bisnis, data, dan informasi meningkat seiring ekspansi pasar dan jaringan distribusi perusahaan yang menjalankan proses bisnis B2B dan B2C dengan model bisnis multichannel, sehingga dibutuhkan sistem dan teknologi yang dapat mengakomodasi rencana strategis. d. Perencanaan investasi TI belum disertai dengan perancangan Enterprise Architecture yang dapat menyelaraskan proses bisnis, data, aplikasi, dan teknologi untuk mendukung strategi bisnis perusahaan. 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana merancang
9 arsitektur enterprise, yang terdiri dari arsitektur bisnis, data, aplikasi, dan teknologi menggunakan Design Science Research (DSR) agar pengembangan ekosistem digital selaras dengan kebutuhan bisnis dan strategi ekspansi pasar perusahaan?” 1.4 Batasan Masalah Agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terarah dan tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai, maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada hal-hal sebagai berikut: a. Perancangan arsitektur berfokus pada integrasi antara model bisnis, data, aplikasi, dan teknologi untuk mendukung pengembangan ekosistem digital dan penyelarasan strategi bisnis PT Kreasi Sensori Global. b. Perancangan artefak arsitektur dilakukan melalui metodologi Design Science Research (DSR) untuk menghasilkan artefak solusi. c. Penelitian tidak membahas mengenai detail teknis dan implementasi, ataupun prototype dari rancangan yang diusulkan, melainkan berfokus hanya pada perancangan arsitektur sebagai acuan dalam integrasi sistem informasi. d. Model atau artefak yang digunakan untuk perancangan EA adalah Business Problem Mapyang menggunakan business capability model, archimate motivation model, value chain, ArchiMate viewpoint, value stream map, business capability model, conceptual data model, Application portfolio diagram, Application reference model, Technology reference model, landscape diagram, dan roadmap.
10 1.5 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang arsitektur enterprise, yang terdiri dari arsitektur bisnis, data, aplikasi, dan teknologi menggunakan Design Science Research agar pengembangan ekosistem digital selaras dengan kebutuhan bisnis dan strategi ekspansi pasar perusahaan. 1.6 Manfaat Penelitian 1.6.1 Bagi Peneliti a. Memperluas pemahaman tentang konsep dan penerapan arsitektur untuk mendukung pengelolaan ekosistem digital terintegrasi dan penyelarasan strategi bisnis. b. Melatih kemampuan dalam menganalisis kebutuhan organisasi serta merancang arsitektur enterprise. c. Menambah pengalaman dalam proses dokumentasi arsitektur dan penyusunan rancangan sistem terintegrasi. d. Menjadi dasar pengembangan kompetensi akademik dan profesional di bidang tata kelola teknologi informasi. 1.6.2 Bagi Perusahaan a. Memberikan rancangan arsitektur data, aplikasi, dan teknologi sebagai dasar perencanaan pengembangan ekosistem digital. b. Mendukung integrasi data antar unit sehingga informasi dapat dikelola secara lebih terpadu. c. Menjadi acuan dalam merancang aplikasi yang selaras dengan proses bisnis
11 dan pengelolaan data. d. Membantu perusahaan dalam mengembangkan sistem informasi yang mendukung operasional secara lebih terstruktur. 1.6.3 Bagi Universitas a. Menambah referensi penelitian di bidang sistem informasi, khususnya terkait arsitektur enterprise. b. Memberikan contoh penerapan metodologi Design Science Research dalam perancangan artefak arsitektur enterprise. c. Memperkaya kajian akademik mengenai penerapan arsitektur enterprise pada organisasi skala small and medium enterprise. d. Menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang mengkaji perancangan arsitektur enterprise. 1.7 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi literatur. Sedangkan untuk perancangan arsitektur, setiap tahapan dilakukan melalui metodologi Design Science Research (DSR). 1.7.1 Metode Pegumpulan Data Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan dengan beberapa teknik berikut: a. Wawancara Dilakukan kepada pihak manajemen dan unit bisnis untuk memperoleh pemahaman mengenai konteks organisasi, alur proses bisnis, sistem yang
12 digunakan, kondisi eksisting sistem informasi organisasi, serta tantangan digital. b. Observasi Peneliti melakukan pengamatan langsung terhadap proses operasional serta berbagai dokumen pendukung. c. Studi literatur Mengkaji literatur dari jurnal, buku, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan topik prinsip dan pola arsitektur, Enterprise Architecture, ekosistem digital, strategic alignment, small-medium enterprise, tools perancangan arsitektur, serta model dan proses Design Science Research (DSR). 1.7.2 Tahapan Design Science Research Methodology (DSRM) Tahapan penelitian ini mengacu pada model proses DSRM yang dikembangkan oleh Peffers et al. (2007). Metodologi ini terdiri atas enam tahapan utama yang digunakan untuk merancang dan mengevaluasi artefak penelitian. Tahapan tersebut adalah sebagai berikut. a. Identifikasi masalah dan motivasi Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan yang terjadi pada kondisi eksisting sistem informasi perusahaan serta menjelaskan alasan pentingnya solusi yang diusulkan. b. Definisi tujuan solusi Pada tahap ini dirumuskan tujuan dari perancangan arsitektur enterprise yang akan dikembangkan berdasarkan permasalahan yang telah diidentifikasi.
13 c. Desain dan pengembangan Tahap ini berfokus pada proses perancangan artefak penelitian. Artefak yang dikembangkan berupa arsitektur bisnis, data, arsitektur aplikasi, dan arsitektur teknologi. d. Demonstrasi Tahap ini dilakukan dengan pembuatan rencana migrasi melalui business Value assessment dan IT roadmap untuk menunjukkan bagaimana implementasi arsitektur bisnis, data, aplikasi, dan teknologi dapat dilakukan. e. Evaluasi Tahap evaluasi dilakukan untuk menilai kesesuaian artefak dengan melakukan uji kredibilitas, uji dependabilitas, dan uji konfirmabilitas. f. Komunikasi Tahap terakhir dilakukan melalui penulisan laporan ilmiah dan pemaparan ke stakeholder terkait untuk menyampaikan hasil penelitian. 1.8 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam laporan tugas akhir ini terbagi atas 5 bab dengan pembagian sebagai berikut: BAB 1 PENDAHULUAN Bab ini berisi gambaran umum penelitian yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan. Bab ini bertujuan untuk
14 menjelaskan konteks permasalahan penelitian dan arah penelitian yang dilakukan. BAB 2 LANDASAN TEORI Bab ini membahas landasan teori yang digunakan dalam penelitian, meliputi konsep yang berkaitan dengan prinsip dan pola arsitektur, Enterprise Architecture, ekosistem digital, strategic alignment, small-medium enterprise, tools perancangan arsitektur, serta model dan proses Design Science Research (DSR). Selain itu, bab ini juga memuat hasil penelitian terdahulu yang relevan sebagai dasar pengembangan penelitian serta untuk mengidentifikasi posisi penelitian dalam kajian yang telah ada. BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Bab ini menjelaskan secara rinci metode yang digunakan dalam penelitian, termasuk metodologi Design Science Research yang digunakan untuk merancang artefak penelitian. Pada bab ini juga dijelaskan tahapan penelitian, model konseptual penelitian, teknik pengumpulan data, serta metode yang digunakan dalam proses perancangan dan evaluasi artefak. BAB 4 PERANCANGAN ARTEFAK ARSITEKTUR Bab ini menyajikan hasil penelitian yang diperoleh dari proses perancangan artefak berupa blueprint IT, bab ini juga memuat pembahasan mengenai hasil analisis kondisi eksisting sistem informasi perusahaan, proses perancangan arsitektur, serta evaluasi terhadap artefak yang dihasilkan dalam konteks permasalahan yang diteliti. BAB 5 PENUTUP Bab ini berisi kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian serta saran
15 yang dapat diberikan untuk pengembangan penelitian selanjutnya maupun untuk penerapan hasil penelitian dalam praktik organisasi.
16
17 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Arsitektur Secara etimologis, architecture berasal dari kata Latin architectura dan Yunani architektōn yang berarti “master builder/chief workman”, yakni sosok pengendali pekerjaan bangunan fisik (Greer, 2013). Meskipun istilah ini berakar dari pembangunan fisik, dalam perkembangannya konsep architecture diadopsi secara luas ke dalam disiplin ilmu sistem informasi dan teknologi informasi (Sousa & Vasconcelos, 2022). Berdasarkan standar teknis IEEE, arsitektur didefinisikan sebagai konsep fundamental atau properti dari sebuah sistem dalam lingkungannya, yang diwujudkan dalam elemen-elemennya, hubungannya, serta prinsip-prinsip dari rancangan dan evolusinya (IEEE, 2000). Sebuah studi empiris menunjukkan bahwa dalam praktik nyata, arsitektur dimaknai melalui empat peran utama (Smolander, 2002): a. Arsitektur sebagai cetak biru (blueprint): Struktur sistem yang akan diimplementasikan. b. Arsitektur sebagai bahasa (language): Sarana komunikasi untuk menyamakan persepsi antar pemangku kepentingan. c. Arsitektur sebagai literatur (literature): Dokumentasi dan referensi untuk pembaca di masa depan. d. Arsitektur sebagai keputusan (decision): Landasan dasar dalam pengambilan keputusan teknis maupun manajerial.
18 Dengan demikian, penelitian ini mengupayakan hasil rancangan arsitektur dapat memenuhi keempat peran arstiektur tersebut. Terkait sifat dasarnya, terdapat perdebatan akademik mengenai apakah arsitektur bersifat deskriptif (menggambarkan apa adanya) atau preskriptif (memberitahukan apa yang harus dilakukan) (Sousa & Vasconcelos, 2022). Maier & Rechtin (2025) menyoroti dualitas ini sebagai aspek fundamental: a. Perspektif deskriptif (descriptive perspective): arsitektur dipandang sebagai representasi model dari sistem yang nyata. Dalam pandangan ini, arsitektur menjelaskan bagaimana sistem tersusun saat ini (as-is). b. Perspektif preskriptif (prescriptive perspective): arsitektur dipandang sebagai sekumpulan prinsip, panduan, atau aturan yang berfungsi sebagai hukum atau standar yang harus dipatuhi dalam pengembangan sistem di masa depan (to-be). Mengacu pada dualitas tersebut, perancangan arsitektur pada penelitian ini lebih menekankan pada pendekatan preskriptif, yang menggambarkan bagaimana rancangan integrasi antar data, aplikasi, dan teknologi agar perusahaan mampu mencapai transformasi digital di masa depan. Di sisi lain, pendekatan deskriptif juga digunakan untuk memahami hubungan antara model bisnis dengan arsitektur SI. 2.2 Prinsip-Prinsip Arsitektur Prinsip-prinsip arsitektur merupakan pedoman umum yang dapat diterapkan untuk memodelkan arsitektur SI. Model arsitektur SI yang dihasilkan dapat
19 berbeda-beda, tergantung pada prinsip mana yang diacukan. Faktor seperti tujuan penggunaan, kelompok sasaran, serta tingkat abstraksi dari arsitektur yang dibuat, menjadi alasan perbedaan tersebut. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut (Sunyaev, 2024): a. Prinsip 1: arsitektur memodelkan batasan, input, dan output dari sistem informasi. Prinsip ini menekankan bahwa arsitek SI harus mendefinisikan secara jelas status internal yang menentukan fungsi apa yang dijalankan, input apa yang ditangkap, dan output apa yang dihasilkan. b. Prinsip 2: sistem informasi dapat dipecah menjadi kumpulan subsistem yang lebih kecil. Pada prinsip kedua ini, analisis tidak terbatas hanya pada bagian-bagian sistem (subsistem), melainkan perlu ada pemahaman juga terkait hubungan antar subsistem yang membentuk perilaku sistem secara keseluruhan. c. Prinsip 3: sistem informasi dapat dianggap berinteraksi dengan sistem lain. Prinsip ketiga menyatakan bahwa sistem informasi tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi dengan sistem informasi lain melalui pertukaran data dan fungsionalitas. Arsitek SI perlu menekankan hubungan antarsistem, terutama pada input dan output yang dipertukarkan, tanpa harus memahami secara rinci fungsi internal sistem lain tersebut. d. Prinsip 4: Sistem informasi dapat dipertimbangkan melalui seluruh siklus hidupnya. Fase sistem informasi ini mencakup fase desain, fase pengembangan, fase pengujian, dan fase operasional. Tergantung pada fase mana yang menjadi perhatian, persyaratan yang berbeda dapat ditempatkan
20 pada arsitektur tersebut. e. Prinsip 5: sistem informasi dapat dihubungkan ke sistem informasi lain melalui antarmuka. Sebagaimana dinyatakan oleh prinsip 3, bahwa setiap SI terhubung dengan ke SI lainnya. Koneksi antara dua SI ini dapat dimodelkan melalui antarmuka yang menjelaskan mekanisme bagaimana kedua SI tersebut berinteraksi. f. Prinsip 6: sistem informasi dapat dimodelkan pada berbagai tingkat abstraksi. Penentuan tingkat abstraksi sesuai dengan kebutuhan arsitektural, bergantung pada properti dan perilaku SI yang menjadi perhatian arsitek. Tingkat abstraksi tinggi digunakan untuk melihat fungsi umum, sedangkan tingkat abstraksi lebih rendah digunakan untuk memahami detail komponen dan dampak perubahan terhadap sistem secara keseluruhan. g. Prinsip 7: sistem informasi dapat dilihat melalui beberapa lapisan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan analisis aspek tertentu secara terpisah. Pembagian ini umumnya mencakup lapisan tujuan sistem (mengapa), fungsi sistem (apa), dan konstruksi sistem (bagaimana), sehingga membantu pengelompokan fungsi secara logis dalam arsitektur SI. h. Prinsip 8: sistem informasi dapat dijelaskan melalui model-model yang saling terkait dengan semantik tertentu. Hal ini karena perilaku sistem tidak bersifat statis, melainkan dapat berubah bergantung pada kondisi tertentu, seperti input pengguna atau status sistem. i. Prinsip 9: sistem informasi dapat dijelaskan melalui berbagai perspektif. Perspektif ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan pemangku kepentingan
21 yang berbeda. Perbedaan perspektif menghasilkan representasi arsitektur yang beragam sesuai dengan kepentingan dan sudut pandang masing- masing pihak. 2.3 Jenis-Jenis Pola Arsitektur Pola arsitektur adalah deskripsi abstrak dari pendekatan arsitektural yang direkomendasikan dan telah teruji keberhasilannya di berbagai lingkungan SI. Pola ini mencakup cara menyusun struktur arsitektur, kondisi penggunaan yang tepat, serta kelebihan dan kekurangannya. Berikut ini adalah berbagai pola arsitektur yang ada dalam literatur sistem informasi (Sunyaev, 2024). 2.3.1 Client-Server Architectures Client-server architectures adalah model desain arsitektur yang mendistribusikan beban kerja antara penyedia layanan (server) dan peminta layanan (client) melalui media jaringan. Dalam model ini, server berperan mengelola sumber daya dan menunggu permintaan masuk, sedangkan client berperan menginisiasi sesi komunikasi untuk mendapatkan konten atau fungsi tertentu. Keunggulan utama model ini terletak pada skalabilitasnya, yaitu penambahan partisipan baru dapat dilakukan dengan relatif mudah tanpa mengganggu bagian sistem lainnya secara langsung. Namun, arsitektur ini memiliki risiko single point of failure, yaitu kegagalan pada satu server dapat melumpuhkan akses layanan bagi seluruh client (Sunyaev, 2024). 2.3.2 Tier Architectures Implementasi arsitektur berlapis bertujuan untuk meminimalkan
22 ketergantungan antar komponen (decoupling), sehingga pengembangan atau modifikasi pada satu lapisan tidak mengharuskan perombakan sistem secara menyeluruh. Terdapat perbedaan antara konsep layer dan Tier. Layer merujuk pada pengorganisasian elemen perangkat lunak secara logis, sedangkan Tier merujuk pada penempatan infrastruktur secara fisik. Secara umum, layer arsitektur ini terbagi menjadi tiga lapisan utama, yaitu Presentation Layer, Application Layer, Data Management Layer. Sedangkan, tipe Tier arsitektur yang paling umum adalah One-Tier Architectures, Two-Tier Architectures, Three-Tier Architectures, dan Multi-Tier Architectures (Sunyaev, 2024). 2.3.3 Peer-to-peer Architectures Pola arsitektur lain yang sering digunakan dalam sistem informasi adalah peer-to-peer (P2P). Setiap node dalam jaringan P2P murni memiliki hak, kapabilitas, dan tanggung jawab yang setara. Setiap node dapat berperan sekaligus sebagai pengguna maupun penyedia layanan dengan membagikan sebagian sumber daya mereka, seperti daya pemrosesan, penyimpanan, atau bandwidth, tanpa memerlukan koordinasi terpusat dari server atau host yang stabil (Sunyaev, 2024). Secara umum, arsitektur P2P dapat dibedakan menjadi dua tipe utama. Pertama, jaringan P2P tidak terstruktur, yaitu node yang membentuk koneksi secara acak tanpa mengikuti struktur tertentu. Kedua, jaringan P2P terstruktur yang mengorganisasikan overlay ke dalam topologi spesifik melalui protokol tertentu (Sunyaev, 2024). Penerapan arsitektur P2P yang paling umum adalah distribusi konten, seperti file-sharing, content delivery Networks (CDN) untuk caching web, serta
23 layanan streaming. Pada sistem P2P, kapasitas sistem akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah node karena setiap partisipan baru turut menyumbangkan sumber daya. Hal ini menciptakan mekanisme verifikasi data yang kuat dan membuat arsitektur P2P sangat tahan terhadap berbagai jenis serangan (Sunyaev, 2024). Gambar 2.1 adalah contoh model peer-to-peer Network. Gambar 2.1 Peer-to-Peer Network (Sunyaev, 2024). 2.3.4 Model View Controller Architectures Arsitektur Model-View-Controller (MVC) merupakan pola arsitektural yang membagi sistem informasi ke dalam tiga komponen utama yang saling terpisah, yaitu model, view, dan controller. Model berfungsi sebagai representasi data dan operasi yang terkait dengan data tersebut, di mana komponen ini bersifat independen dari aspek presentasi maupun kontrol. View bertanggung jawab untuk menyajikan data dari model kepada pengguna, namun tidak memiliki otoritas untuk memproses data tersebut secara mandiri (Sunyaev, 2024). Sementara itu, controller bertindak sebagai pengelola yang menerima masukan dari berbagai sumber, mengevaluasi input tersebut, serta melakukan pembaruan pada data di dalam model maupun penyesuaian pada view. Dalam perkembangan modern, controller sering kali melakukan pembaruan data secara tidak langsung melalui akses ke logika bisnis yang terimplementasi di dalam model.
24 Tujuan utama dari pola MVC adalah menciptakan desain program yang fleksibel untuk memfasilitasi modifikasi, ekstensi, serta meningkatkan reusability pada setiap komponen individu (Sunyaev, 2024). Gambar 2.2 merupakan interaksi pada arsitektur MVC. Gambar 2.2 Interaksi Pada Arsitektur MVC (Sunyaev, 2024). 2.3.5 Service-Oriented Architecture Tujuan utama Service-Oriented Architecture (SOA) adalah meningkatkan penggunaan kembali (reusability) proses bisnis dengan mengemasnya ke dalam layanan mandiri yang terotomatisasi. Skala layanan ini bervariasi, mulai dari fungsi bisnis sederhana hingga proses kompleks yang mengintegrasikan berbagai layanan lainnya (Sunyaev, 2024). Infrastruktur SOA mendukung prinsip loose coupling antara penyedia dan konsumen layanan melalui tiga komponen utama (Sunyaev, 2024): 1. Service Provider: Mengelola layanan dan menyediakan antarmuka akses. 2. Service Broker: Bertindak sebagai direktori tempat spesifikasi layanan dipublikasikan agar dapat ditemukan. 3. Service Requester: Mencari layanan pada broker sesuai karakteristik yang dibutuhkan.
25 Interaksi ini membentuk siklus publish-find-bind, di mana pemohon menemukan layanan melalui broker, lalu menghubungkan (bind) antarmuka untuk mengakses layanan tersebut. Mekanisme ini memungkinkan penggantian penyedia layanan tanpa memengaruhi pemohon, sehingga SOA menjadi solusi ideal untuk integrasi sistem informasi yang heterogen (Sunyaev, 2024). 2.4 Ekosistem Digital Secara konseptual, ekosistem digital didefinisikan sebagai lingkungan sosio-teknis yang melibatkan individu, organisasi, dan teknologi digital yang saling berinteraksi dalam hubungan kolaboratif maupun kompetitif untuk menciptakan nilai bagi pengguna akhir melalui platform digital bersama. Konsep ekosistem ini berakar dari analogi ekologi yang menggambarkan adanya keterkaitan dan ketergantungan antar aktor dalam suatu lingkungan bisnis (Baptista & Nunes, 2026). Dalam konteks digital, ekosistem tersebut berkembang menjadi jaringan yang lebih kompleks karena melibatkan integrasi teknologi digital seperti Internet of Things (IoT), big data, dan platform layanan informasi. Karakteristik utama dari ekosistem digital adalah adanya platform digital sebagai pusat interaksi dan adanya hubungan simbiosis atau saling ketergantungan antar aktor, proses, dan teknologi yang terlibat (Goertler et al., 2025). Platform digital berperan sebagai elemen inti yang memungkinkan berbagai layanan, produk, dan teknologi tambahan dikembangkan oleh berbagai pihak dalam ekosistem tersebut (Baptista & Nunes, 2026).
26 Dalam ekosistem digital, proses penciptaan nilai tidak lagi bersifat linear seperti pada rantai nilai tradisional, melainkan bersifat kolaboratif dan melibatkan banyak aktor secara simultan. Aktor-aktor tersebut dapat mencakup pelanggan, mitra bisnis, pemasok, bahkan kompetitor yang berkontribusi dalam proses co- creation Value. Perubahan ini menunjukkan bahwa ekosistem digital mendorong terbentuknya jaringan terbuka yang memungkinkan pertukaran sumber daya, pengetahuan, dan kapabilitas secara lebih luas (Goertler et al., 2025). Integrasi sumber daya antar aktor dalam ekosistem tersebut berkontribusi pada peningkatan nilai baik bagi masing-masing aktor maupun bagi keseluruhan ekosistem (Goertler et al., 2025). Selain itu, ekosistem digital juga meningkatkan kolaborasi melalui kemampuan komunikasi real-time dan pertukaran informasi yang lebih efisien antar aktor yang terlibat. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk membangun hubungan bisnis yang lebih fleksibel, mempercepat inovasi, serta meningkatkan kecepatan dalam menghadirkan produk atau layanan ke pasar. Lebih lanjut, ekosistem digital juga ditandai oleh adanya hubungan yang dinamis antara aktor, sumber daya, dan aktivitas yang saling terhubung satu sama lain. Hubungan tersebut dapat dianalisis melalui keterkaitan aktivitas (activity links), keterhubungan sumber daya (resource ties), dan ikatan antar aktor (actor bonds) dalam suatu jaringan bisnis digital. Dengan demikian, ekosistem digital tidak hanya berfungsi sebagai lingkungan teknologi, tetapi juga sebagai sistem interaksi kompleks yang memungkinkan penciptaan nilai secara kolektif melalui kolaborasi lintas organisasi dan lintas industri (Baptista & Nunes, 2026).
27 2.5 Enterprise Architecture (EA) Kotusev (2021) mendefinisikan Enterprise Architecture (EA) sebagai kumpulan dokumen yang menjelaskan berbagai aspek organisasi dari perspektif bisnis dan TI secara terintegrasi. EA berperan sebagai instrumen komunikasi yang menyediakan informasi bisnis dan TI bagi pemangku kepentingan serta mendukung pengambilan keputusan. Dalam praktiknya, EA menerjemahkan pertimbangan bisnis yang abstrak menjadi desain solusi TI yang spesifik dan dapat diimplementasikan. EA juga berfungsi sebagai mediator antara manajemen strategis dan manajemen proyek dengan memungkinkan koordinasi yang efektif antara pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan strategis maupun implementasi sistem. Koordinasi tersebut mendukung terciptanya business-IT Alignment yang lebih matang dalam organisasi (Kotusev, 2021). Manfaat EA terletak pada kemampuannya memberikan pandangan menyeluruh terhadap organisasi sehingga membantu mengidentifikasi dan memperbaiki permasalahan, mengurangi duplikasi dan inefisiensi, serta mendukung perencanaan perubahan di masa depan (nauwerck) Selain itu, EA bertujuan menyelaraskan proses bisnis dan sistem informasi menuju tujuan organisasi yang sama sekaligus mengintegrasikan bisnis dan teknologi (Divatia & Jagasia, 2025). EA juga berperan penting dalam mendukung transformasi digital melalui pemanfaatan kembali aset organisasi, peningkatan fleksibilitas, dan kelincahan organisasi dalam merespons perubahan (Divatia & Jagasia, 2025). Penelitian van
28 de Wetering et al. (2021) menunjukkan bahwa EA dapat meningkatkan kelincahan bisnis, menciptakan keunggulan kompetitif, dan meningkatkan nilai organisasi. Dalam konteks E-Semesta, EA membantu meminimalkan tumpang tindih penyesuaian sistem sehingga meningkatkan efisiensi pengembangan dan pemeliharaan platform (Amin et al., 2024). Studi kasus pada perusahaan ritel di Australia menunjukkan bahwa EA menciptakan nilai dalam tiga aspek utama, yaitu meningkatkan pengambilan keputusan terkait TI, meningkatkan efisiensi eksekusi proyek, serta memperkuat platform bisnis digital yang memberikan nilai strategis bagi organisasi. Temuan ini menegaskan bahwa EA merupakan komponen penting dalam mendukung transformasi bisnis (Tamm et al., 2015). 2.6 Keselarasan Strategi Bisnis dan TI Keselarasan strategi bisnis dan teknologi informasi merupakan konsep penting dalam bidang sistem informasi yang menekankan pada keterpaduan antara tujuan bisnis dan pemanfaatan teknologi informasi dalam organisasi (Dairo et al., 2021). Keselarasan strategi bisnis dan TI merupakan proses dinamis yang melibatkan adaptasi terhadap perubahan lingkungan bisnis dan teknologi (Sieber et al., 2022). Hal ini menunjukkan bahwa organisasi perlu secara terus-menerus menyesuaikan strategi TI dengan kebutuhan bisnis yang berkembang (Katz et al., 2016). Pentingnya keselarasan strategi bisnis dan TI telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa keselarasan ini berkontribusi
29 terhadap peningkatan kinerja organisasi dan keunggulan kompetitif (Avison et al., 2004). Sebaliknya, ketidaksesuaian antara strategi bisnis dan TI dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi dan menurunkan efektivitas pemanfaatan teknologi (Avison et al., 2004). Selain itu, keselarasan strategi juga berkaitan erat dengan kemampuan organisasi dalam memanfaatkan TI secara tepat waktu dan sesuai kebutuhan untuk mendukung pencapaian tujuan bisnis (Dairo et al., 2021). Dengan kata lain, teknologi informasi tidak hanya berperan sebagai alat pendukung, tetapi juga sebagai enabler strategis dalam transformasi bisnis (Majstorovic, 2016). Namun, implementasi keselarasan strategi bisnis dan TI menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya komunikasi antara unit bisnis dan TI, perbedaan budaya organisasi, serta keterbatasan dalam tata kelola dan prioritas sumber daya (Dairo et al., 2021). Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang komprehensif dalam mengelola hubungan antara bisnis dan TI agar keselarasan dapat tercapai secara optimal (Dairo et al., 2021). Dengan demikian, keselarasan strategi bisnis dan teknologi informasi menjadi faktor kunci dalam memastikan bahwa investasi TI memberikan nilai tambah bagi organisasi serta mendukung pencapaian tujuan strategis secara berkelanjutan (Avison et al., 2004). 2.7 Small-Medium Enterprise (SME) Enterprise didefinisikan sebagai sekumpulan unit kerja yang memiliki satu rangkaian tujuan yang sama (common goals) (The Open Goup, 2018). Kotusev (2021) menekankan bahwa enterprise harus dipandang sebagai entitas yang bersifat dinamis dan organik. Dalam perspektif ini, enterprise merupakan sistem kompleks,
30 yang menjadi tempat bagi manusia, proses, dan teknologi saling berinteraksi untuk mencapai tujuan strategis (Keating et al., 2024). Small Medium Enterprises (SMEs) merupakan salah satu kategori enterprise yang memiliki pendapatan, jumlah personel, atau aset di bawah ambang batas tertentu. Di Indonesia, batasan ini diatur secara spesifik berdasarkan kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan, yaitu memiliki aset berkisar antara Rp50 juta hingga Rp500 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha), Memiliki omzet penjualan tahunan antara Rp300 juta hingga Rp50 miliar (Purnomo et al., 2021). SME memiliki kontribusi yang sangat signifikan terhadap stabilitas ekonomi, khususnya di Indonesia. Kontribusi SME mencakup 99,9% dari total aktivitas ekonomi di Indonesia, sedangkan korporasi besar hanya mencakup 0,01%. Selain itu, pemerintah menyoroti bahwa SME berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi digital negara di era Society 5.0. Dengan demikian, terdapat peluang digital yang besar pada SME, yang mana terdapat hubungan yang kuat antara kemampuan teknologi, inovasi, dan kinerja perusahaan sebagai strategi utama bagi SME untuk mencapai performa yang lebih tinggi (Purnomo et al., 2021). 2.8 Metode Perancangan Arsitektur Dalam literatur sistem informasi, terdapat berbagai metode yang digunakan untuk merancang arsitektur data, aplikasi, dan teknologi, diantaranya dijelaskan dalam Tabel 2.1.
31 Tabel 2.1 Perbandingan Metode Perancangan EA (Nyale & Karume, 2023). Design Science Research TOGAF Architecture Development Method (ADM) Enterprise Architecture Planning Architecture of Integrated Information Systems (ARIS) Fokus Utama Paradigma pemecahan masalah melalui penciptaan artefak inovatif (model, metode, instansiasi). Siklus hidup pengembangan arsitektur enterprise yang bersifat prosedural dan iteratif. Proses pendefinisian arsitektur data, aplikasi, dan teknologi untuk mendukung bisnis. Integrasi antara desain proses bisnis dengan implementasi teknologi informasi (TI). Tujuan Menghasilkan Design Knowledge (DK) dan artefak yang memecahkan masalah nyata. Menciptakan blueprint arsitektur organisasi yang selaras dengan strategi bisnis. Membuat rencana implementasi arsitektur (cetak biru) untuk kebutuhan informasi organisasi. Mengoptimalkan dan mengimplementa sikan sistem aplikasi dari sudut pandang proses. Mekanisme Terdiri dari 6 langkah: Identifikasi masalah, tujuan solusi, desain, demonstrasi, evaluasi, dan komunikasi. Siklus iteratif (Phase A-H) yang mencakup visi, bisnis, sistem informasi, hingga manajemen perubahan. Lapisan tenda/permata: Inisiasi, analisis kondisi saat ini, arsitektur masa depan, dan rencana transisi. Pembagian ke dalam 5 pandangan (views) dan 4 fase transformasi (Build Time). Karakteristi k Menekankan pada rigour ilmiah dan kebaruan (novelty) dari artefak yang diciptakan. Bersifat generik, fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Bukan perancangan sistem detail, melainkan perencanaan kebutuhan data, aplikasi, dan teknologi. Menekankan pada dekomposisi proses kompleks untuk mengurangi kerumitan pemodelan.
32 Berdsarkan berbagai metode yang ada dalam literatur, penelitian ini mengadopsi Design Science Research (DSR) sebagai metodologi utama. Hal ini didasari karena keunggulan DSR sebagai metodologi penelitian yang berakar pada paradigma pemecahan masalah praktis melalui penciptaan artefak inovatif. Berbeda dengan metode Enterprise Architecture Planning (EAP) yang berfokus pada perencanaan kebutuhan informasi atau TOGAF ADM yang bersifat prosedural untuk tata kelola industri, dan ARIS yang lebih cenderung sebagai alat pemodelan proses daripada riset ilmiah. Dalam hal ini, DSR menghubungkan kebutuhan dari lingkungan bisnis dengan fondasi teori serta metodologi dari basis pengetahuan. DSR juga mewajibkan adanya tahap evaluasi formal untuk memvalidasi efektivitas solusi di lingkungan nyata. Dengan demikian, penggunaan DSR memastikan bahwa perancangan arsitektur data, aplikasi, dan tekologi menjadi sebuah produk penelitian yang teruji secara empiris dan metodologis. 2.9 Konsep Design Science Research Design Science Research (DSR) merupakan sebuah paradigma pemecahan masalah yang berfokus pada peningkatan pengetahuan manusia melalui penciptaan artefak yang inovatif. Tujuan utama dari DSR adalah untuk memperluas batasan kemampuan manusia dan organisasi dengan merancang artefak baru yang direpresentasikan melalui konstruk, model, metode, dan instansiasi. Secara mendasar, DSR berupaya menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sesuatu dapat dan seharusnya dikonstruksi atau disusun untuk mencapai target tertentu, yang kemudian disebut sebagai Design Knowledge (DK) (vom Brocke et al., 2020).
33 Salah satu model proses DSR yang paling luas dirujuk dalam literatur adalah model yang dikembangkan oleh Peffers et al. (2007). Model ini menjelaskan enam tahapan utama untuk melakukan riset design science, yaitu: a. Identifikasi masalah dan motivasi (problem identification and motivation). Tahap ini mendefinisikan masalah riset secara spesifik dan membenarkan nilai dari solusi yang ditawarkan. Justifikasi ini penting untuk memotivasi peneliti serta audiens agar dapat menerima hasil riset tersebut. b. Pendefinisian tujuan solusi (objectives of a solution). Tahap ini menyimpulkan tujuan solusi dari definisi masalah. Tujuan ini dapat bersifat kuantitatif (misalnya: solusi yang lebih baik dari yang ada) maupun kualitatif (misalnya: bagaimana artefak baru mendukung solusi yang belum ditangani sebelumnya). c. Desain dan pengembangan (design and development). Tahap menciptakan artefak yang dapat berupa konstruk, model, metode, atau instansiasi. Aktivitas ini mencakup penentuan fungsionalitas artefak, arsitektur, dan pembuatan artefak itu sendiri. d. Demonstrasi (demonstration). Tahap ini menunjukan efektivitas artefak dalam memecahkan masalah melalui penggunaan dalam eksperimen, simulasi, studi kasus, pembuktian, atau aktivitas sesuai lainnya. e. Evaluasi (evaluation). Tahap ini mengamati dan mengukur seberapa baik artefak mendukung solusi dengan membandingkan tujuan solusi terhadap hasil observasi aktual pada
34 tahap demonstrasi. Peneliti dapat memutuskan untuk kembali ke tahap desain untuk memperbaiki artefak atau melanjutkan ke tahap komunikasi. f. Komunikasi (communication). Menyampaikan masalah, pentingnya masalah, artefak, kegunaan, kebaruan, serta efektivitas desain kepada peneliti dan audiens relevan lainnya seperti praktisi profesional. Gambar 2.3 Model Proses DSR (Peffers et al., 2007). Berdasarkan konsep mengenai DSR yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian ini menggunakan metodologi Design Science Research (DSR) dengan dilatarbelakangi alasan akademis dan teknis sebagai berikut. a. Akademis Secara teori konseptual, DSR menghubungkan kebutuhan praktis dari lingkungan bisnis (environment) organisasi dengan fondasi teori serta standar dari basis pengetahuan (knowledge base) (Peffers et al., 2020). Jika sebuah kerangka kerja Enterprise Architecture pada umumnya lebih menekankan pada perencanaan kebutuhan informasi atau standar prosedural untuk tata kelola industri, DSR
35 menekankan pada rigor ilmiah. DSR mewajibkan tahap evaluasi formal di lingkungan nyata, sehingga memastikan bahwa blueprint arsitektur yang dihasilkan merupakan sebuah produk penelitian yang tervalidasi. Berbagai literatur sebelumnya juga sudah menggunakan DSR sebagai metodologi penelitian untuk merancang arsitektur integrasi digital (Anthony Jnr, 2024; Atencio et al., 2024; Firdausy et al., 2022; Villamil et al., 2025). b. Teknis Jika melihat dari sisi teknis perancangan arsitektur, DSR memungkinkan artefak arsitektur enterprise lebih praktis dan sesuai dengan konteks permasalahan perusahaan tanpa terpaku pada kerangka kerja yang kompleks. Sebagaimana diutarakan oleh Guo & Gao (2023) bahwa perusahaan yang baru memulai arsitektur enterprise sebaiknya memanfaatkan Enterprise Architecture Artifacts sebelum benar-benar menerapkan kerangka kerja yang lebih kompleks. 2.10 Tools Perancangan Arsitektur 2.10.1 Business Capability Model Business Capability Model (BCM) adalah representasi visual yang memetakan "apa" yang dilakukan organisasi untuk menciptakan nilai, terlepas dari "bagaimana" proses tersebut dijalankan secara teknis (Kotusev, 2019). Dalam perencanaan strategis, BCM digunakan sebagai peta dasar (heatmap) untuk mengidentifikasi area prioritas bisnis untuk investasi teknologi. Selain itu, BCM berperan untuk menyediakan bahasa netral bagi pihak bisnis dan TI,
36 memungkinkan kedua belah pihak mendiskusikan perencanaan sistem tanpa hambatan istilah teknis yang rumit (Kotusev et al., 2023a). Meskipun struktur dasar BCM memberikan kosakata umum bagi para pengambil keputusan, nilai sesungguhnya dari BCM sebagai instrumen penyelarasan bisnis dan TI terletak pada penggunaan teknik pemetaan (mapping) dan pewarnaan kode (color-coding) (Kotusev & Alwadain, 2024). a. Mapping (pemetaan): menghubungkan berbagai objek perencanaan strategis (seperti masalah bisnis atau tujuan bisnis) ke kapabilitas bisnis yang relevan. b. Color-coding (pewarnaan kode/heatmapping): menandai kapabilitas bisnis tertentu dengan warna berbeda untuk menunjukkan properti tertentu yang penting dari perspektif perencanaan strategis. Berdasarkan tinjauan terhadap praktik industri, terdapat sembilan teknik penggunaan BCM yang dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yaitu pendekatan reaktif, pendekatan proaktif, dan pendekatan retrospektif. Pendekatan reaktif bersifat bottom-up dan berfokus pada evaluasi kondisi organisasi saat ini (current state) untuk menyoroti kekurangan atau permasalahan operasional yang ada. Pendekatan reaktif mencakup empat teknik spesifik, yaitu business Problem Mapping, Current IT Support Color-coding, Current Overall Maturity Color- coding, dan Current Maturity of Different Capability Components (Color-coding) (Kotusev & Alwadain, 2024). business Problem Mapping memetakan masalah operasional atau kendala ("pain points") yang dihadapi organisasi ke dalam blok kapabilitas yang relevan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi area spesifik yang memerlukan perbaikan atau intervensi berbasis TI. Gambar 2.4 adalah contoh
37 pemetaan masalah bisnis pada BCM. Current IT Support Color-coding mengevaluasi kualitas dukungan sistem informasi terhadap kapabilitas bisnis. Hasil evaluasi divisualisasikan melalui pewarnaan kode (color-coding) pada peta kapabilitas (misalnya: warna merah untuk dukungan TI yang buruk) guna mengidentifikasi area yang kurang terlayani (underserved). Gambar 2.5 adalah contoh color-coding pada BCM berdasarkan tingkat jdukungan TI. Gambar 2.4 Pemetaan Masalah Bisnis pada BCM (Kotusev & Alwadain, 2024).
38 Gambar 2.5 Contoh Color-coding Dukungan TI (Kotusev & Alwadain, 2024). Current Overall Maturity Color-coding dilakukan berdasarkan tingkat kematangan kinerja kapabilitas secara umum (misalnya: rendah, sedang, tinggi). Pewarnaan pada BCM digunakan untuk menyoroti area yang berkinerja buruk (underperforming) dan memerlukan peningkatan. Gambar 2.6 adalah contoh color- coding pada BCM berdasarkan tingkat kematangan kapabilitas. Current Maturity of Different Capability Components Color-coding merupakan penilaian kematangan yang lebih granular atau rinci, di mana evaluasi tidak hanya dilakukan pada level kapabilitas, tetapi juga pada komponen pendukungnya, seperti aspek manusia (people), proses (process), informasi, dan teknologi (Kotusev & Alwadain, 2024). Gambar 2.7 adalah contoh color-coding berdasarkan tingkat kematang komponen kapabilitas.
39 Gambar 2.6 Color-coding Tingkat Kematangan (Kotusev & Alwadain, 2024). Gambar 2.7 Color-coding Tingkat Kematangan Komponen (Kotusev & Alwadain, 2024). Berbeda dengan pendekatan reaktif, pendekatan proaktif bersifat top-down dan berorientasi pada perencanaan kondisi masa depan yang diinginkan (desired future state). Kategori ini bertujuan memandu arah investasi TI agar selaras dengan strategi bisnis. Teknik yang termasuk dalam pendekatan ini meliputi Intuitive
40 Importance Color-coding, business Objectives Mapping, Target Maturity Color- coding, dan Capability Gaps Color-coding (Kotusev & Alwadain, 2024). Pada teknik Intuitive Importance Color-coding, BCM diberi kode warna berdasarkan persepsi manajemen eksekutif mengenai kapabilitas mana yang dianggap paling strategis atau kritis bagi keberlangsungan jangka panjang organisasi (Gambar 2.8). Teknik business Objectives Mapping menghubungkan tujuan strategis perusahaan secara langsung ke kapabilitas bisnis tertentu. Hal ini dilakukan untuk memahami area mana yang harus ditingkatkan atau diprioritaskan demi tercapainya tujuan strategis tersebut (Gambar 2.9) (Kotusev & Alwadain, 2024).
41 Gambar 2.8 Color-coding Intuitive Importance (Kotusev & Alwadain, 2024). Gambar 2.9 Pemetaan Tujuan Bisnis pada BCM (Kotusev & Alwadain, 2024). Pada teknik Target Maturity Color-coding, organisasi menetapkan tingkat kematangan yang ingin dicapai di masa depan untuk setiap kapabilitas. Target ini kemudian divisualisasikan untuk memberikan gambaran standar kinerja yang diharapkan (Gambar 2.10). Capability Gaps Color-coding merupakan teknik yang
42 membandingkan tingkat kematangan saat ini (current maturity) dengan target kematangan (Target Maturity). BCM kemudian diwarnai berdasarkan besarnya kesenjangan (gap) yang ditemukan, yang berfungsi sebagai dasar prioritas investasi pengembangan (Gambar 2.11) (Kotusev & Alwadain, 2024). Gambar 2.10 Color-coding Target Maturity (Kotusev & Alwadain, 2024). Gambar 2.11 Color-coding Capability Gaps (Kotusev & Alwadain, 2024). Pendekatan ketiga adalah retrospektif. Pendekatan ini melihat ke belakang
43 untuk mengevaluasi keputusan masa lalu guna menginformasikan perencanaan saat ini. Teknik utama dalam kategori ini adalah pemetaan investasi TI sebelumnya. Metode ini memetakan jumlah anggaran TI yang telah dialokasikan pada periode sebelumnya ke dalam masing-masing kapabilitas bisnis. Pendekatan ini menyediakan data objektif untuk mengevaluasi apakah alokasi sumber daya di masa lalu telah sejalan dengan prioritas strategis organisasi, serta mencegah terjadinya ketimpangan investasi di masa depan. Gambar 2.12 Pemetaan BCM Investasi TI (Kotusev & Alwadain, 2024). Pada penelitian ini, pendekatan BCM yang digunakan adalah reaktif dengan teknik business Problem Mapping. Melalui teknik ini, permasalahan-permasalahn pada organisasi dipetakan pada setiap kapabilitas bisnis untuk memahami secara spesifik di bagian mana masalah terjadi. Teknik ini juga memungkinkan untuk menentukkan area kritis dengan melihat kapabilitas bisnis yang memiliki masalah terbanyak, sehingga organisasi dapat menentukkan prioritas investasi TI.
44 2.10.2 ArchiMate Motivation Model ArchiMate merupakan bahasa pemodelan standar yang dikembangkan oleh The Open Group untuk menggambarkan berbagai aspek dalam Enterprise Architecture secara terintegrasi (Visual Paradigm, 2025). Salah satu lapisan penting dalam ArchiMate adalah Motivation Layer atau ArchiMate Motivation Model, yang digunakan untuk memodelkan alasan, pendorong, tujuan, dan kebutuhan yang mendasari pengembangan arsitektur organisasi. Motivation Model membantu memastikan bahwa seluruh rancangan arsitektur selaras dengan tujuan bisnis dan kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholder). Motivation Model terdiri atas beberapa elemen utama, yaitu (Visual Paradigm, 2025): a. Stakeholder, merepresentasikan individu atau kelompok yang memiliki kepentingan terhadap hasil arsitektur. b. Driver, menggambarkan faktor internal maupun eksternal yang mendorong organisasi melakukan perubahan. c. Assessment, merupakan hasil analisis terhadap kondisi organisasi sebagai respons terhadap driver tertentu. d. Goal, menunjukkan kondisi atau tujuan yang ingin dicapai organisasi. e. Outcome, merepresentasikan hasil akhir yang diperoleh setelah tujuan tersebut tercapai. Penerapan ArchiMate Motivation Model memberikan beberapa manfaat dalam pengembangan Enterprise Architecture. Pertama, model ini membantu memastikan keselarasan antara arsitektur dan tujuan bisnis organisasi. Kedua, Motivation Model meningkatkan kualitas komunikasi antar pemangku kepentingan
45 dengan menyediakan representasi visual mengenai alasan dan tujuan di balik suatu keputusan arsitektur. Ketiga, model ini mendukung analisis dampak perubahan sehingga organisasi dapat mengidentifikasi konsekuensi yang mungkin timbul akibat perubahan kebutuhan bisnis, teknologi, maupun lingkungan eksternal. Dengan demikian, Motivation Model menjadi salah satu komponen penting dalam proses perencanaan dan pengembangan Enterprise Architecture yang berorientasi pada pencapaian tujuan strategis organisasi (Visual Paradigm, 2025). Contoh diagram ArchiMate Motivation Model terdapat pada Gambar 2.13. Gambar 2.13 Contoh ArchiMate Motivation Model (Visual Paradigm, 2025). 2.10.3 Value Chain Value Chain Model merupakan kerangka analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang dilakukan organisasi dalam menciptakan nilai bagi pelanggan serta memperoleh keunggulan kompetitif. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Porter (1985) melalui pendekatan yang memandang perusahaan sebagai sekumpulan aktivitas yang saling berkaitan untuk
46 menghasilkan produk atau layanan yang bernilai bagi pelanggan. Analisis value chain dapat digunakan untuk merumuskan strategi kompetitif, memahami sumber keunggulan kompetitif, serta mengidentifikasi hubungan dan keterkaitan antaraktivitas yang berkontribusi dalam penciptaan nilai (Ensign, 2001). Pendekatan ini memungkinkan organisasi untuk mengetahui aktivitas mana yang memberikan kontribusi terbesar terhadap nilai yang diterima pelanggan dan bagaimana aktivitas tersebut dapat ditingkatkan untuk mencapai kinerja yang lebih baik. Porter (1985) membagi aktivitas dalam value chain menjadi dua kelompok utama, yaitu primary activities dan support activities. Primary activities merupakan aktivitas utama yang secara langsung terlibat dalam penciptaan, penjualan, dan pelayanan produk atau jasa kepada pelanggan. Aktivitas ini meliputi: a. Inbound logistics, yaitu aktivitas yang berkaitan dengan pengelolaan bahan baku atau sumber daya yang masuk. b. Operations, yaitu proses pengolahan input menjadi produk atau layanan yang siap digunakan. c. Outbound logistics, yaitu aktivitas distribusi produk kepada pelanggan. d. Marketing and sales, yaitu aktivitas yang bertujuan memperkenalkan produk dan mendorong terjadinya penjualan. e. Service, yaitu aktivitas yang berkaitan dengan layanan purna jual untuk mempertahankan kepuasan pelanggan. Selain aktivitas utama, terdapat support activities yang berfungsi mendukung efektivitas seluruh aktivitas utama, yaitu:
47 a. Firm infrastructure, yang mencakup fungsi manajemen, keuangan, perencanaan, dan pengendalian organisasi. b. Human resource management, yaitu aktivitas pengelolaan sumber daya manusia mulai dari perekrutan hingga pengembangan kompetensi karyawan. c. Technology development, yaitu aktivitas yang berkaitan dengan pengembangan teknologi, inovasi, dan sistem informasi. d. Procurement, yaitu aktivitas pengadaan sumber daya dan kebutuhan organisasi. Analisis value chain tidak hanya digunakan untuk mengidentifikasi aktivitas bisnis, tetapi juga untuk memahami hubungan antaraktivitas yang mendukung pencapaian strategi organisasi (Ensign, 2001). Dalam penelitian ini, value chain model digunakan untuk memetakan aktivitas bisnis perusahaan sehingga dapat diidentifikasi proses-proses utama dan pendukung yang menjadi dasar dalam perancangan arsitektur ekosistem digital. Hasil pemetaan value chain selanjutnya digunakan untuk memahami kebutuhan bisnis dan menentukan kapabilitas yang diperlukan agar teknologi informasi dapat mendukung pencapaian tujuan organisasi secara lebih efektif. 2.10.4 Value stream Map Value stream mapping adalah teknik untuk mengilustrasikan aliran aktivitas penambah nilai yang menghasilkan output spesifik bagi pemangku kepentingan. Berbeda dengan pemetaan proses bisnis yang bersifat internal dan operasional, VSM mengambil perspektif outside-in, yaitu melihat bagaimana nilai diciptakan
48 dari sudut pandang pelanggan atau penerima manfaat (The Open Group, 2017). Tujuan utama dari pemetaan ini adalah untuk memberikan snapshot mengenai seluruh pekerjaan yang dilakukan organisasi dalam menyampaikan nilainya. Hal ini membantu pemimpin bisnis untuk memprioritaskan rencana strategis dan menilai efektivitas organisasi dalam memenuhi ekspektasi pemangku kepentingan (The Open Group, 2017). Gambar 2.14 adalah contoh value stream map. Gambar 2.14 Contoh Value stream Map (Hosiaisluoma, 2022). Terdapat hubungan intrinsik antara value stream dan kapabilitas bisnis. Jika kapabilitas bisnis menjelaskan "apa" yang dilakukan organisasi, maka value stream menjelaskan "bagaimana" organisasi mengombinasikan kapabilitas tersebut untuk menciptakan nilai. Proses pemetaan silang antara tahapan aliran nilai dengan kapabilitas bisnis bertujuan untuk (The Open Group, 2017): a. Mengidentifikasi kapabilitas mana yang sangat kritis dalam penyampaian nilai kepada pemangku kepentingan. b. Melakukan analisis kesenjangan (Gap Analysis) untuk melihat apakah
49 kapabilitas saat ini sudah memadai untuk mendukung target aliran nilai. c. Menentukan prioritas investasi dan perbaikan pada kapabilitas yang memiliki dampak langsung terhadap kepuasan pemangku kepentingan. 2.10.5 ArchiMate viewpoint ArchiMate menyediakan konsep viewpoint sebagai mekanisme untuk menyajikan arsitektur berdasarkan perspektif tertentu yang disesuaikan dengan kebutuhan stakeholder. Penggunaan viewpoint memungkinkan penyederhanaan kompleksitas arsitektur dengan hanya menampilkan elemen-elemen yang relevan terhadap tujuan analisis. Dalam penelitian ini, pemodelan arsitektur dilakukan menggunakan tiga lapisan utama, yaitu business layer, application layer, dan technology layer. business layer digunakan untuk menggambarkan proses dan layanan bisnis organisasi, Application layer digunakan untuk memodelkan aplikasi yang mendukung aktivitas bisnis, sedangkan Technology layer digunakan untuk merepresentasikan infrastruktur teknologi yang mendukung operasional aplikasi dan sistem informasi organisasi (The Open Group, 2025). Sudut pandang ini efektif digunakan pada tahap awal desain saat detail belum diperlukan, atau ketika menjelaskan arsitektur kepada pihak yang tidak terbiasa dengan visualisasi teknis yang kompleks. Notasi penyederhanaan ini menggunakan garis tebal dengan sudut membulat untuk mewakili konsep, serta garis sederhana untuk hubungan umum. Hubungan "triggering" dan "realization" digambarkan dengan panah, di mana panah "realization" menunjuk ke arah layanan yang direalisasikan (Visual Paradigm, 2023). Gambar 2.15 merupakan contoh ArchiMate viewpoint.
50 Gambar 2.15 Contoh ArchiMate viewpoint (Visual Paradigm, 2025). 2.10.6 Conceptual data model Conceptual data model (CDM) merupakan model data tingkat konseptual yang digunakan untuk menggambarkan kebutuhan informasi pengguna dalam bentuk yang mudah dipahami tanpa memperhatikan aspek implementasi teknis basis data. CDM berfungsi sebagai fondasi yang menyediakan bahasa bersama (common language) bagi para pemangku kepentingan untuk mendefinisikan, menyimpan, serta bertukar informasi secara konsisten dalam suatu sistem (Fischer et al., 2018). Model ini mendeskripsikan entitas dan hubungan antarentitas pada tingkat abstraksi yang tinggi tanpa mempertimbangkan struktur fisik penyimpanan data. Fischer et al. (2017) menjelaskan bahwa conceptual data model tidak berisi data aktual, melainkan mendefinisikan elemen-elemen yang dapat digunakan untuk merepresentasikan data. Dengan demikian, system model merupakan hasil
51 instansiasi dari conceptual data model yang berisi data nyata sesuai dengan kebutuhan sistem (Fischer et al., 2018). Secara umum, conceptual data model memiliki tiga karakteristik utama, yaitu (Fischer et al., 2018): 1. Berorientasi pada kebutuhan pengguna CDM dikembangkan berdasarkan kebutuhan informasi pengguna sehingga istilah dan struktur yang digunakan mencerminkan proses bisnis yang terjadi. 2. Tidak bergantung pada teknologi CDM hanya menggambarkan konsep data dan hubungan antarobjek tanpa menentukan jenis basis data, bahasa pemrograman, maupun mekanisme penyimpanan yang digunakan. 3. Menyediakan semantik yang jelas Setiap elemen pada model memiliki makna yang terdefinisi dengan baik sehingga memungkinkan pertukaran informasi secara konsisten serta meminimalkan ambiguitas dalam interpretasi data. Selain berfungsi sebagai representasi struktur data, conceptual data model juga memberikan fleksibilitas untuk pengembangan sistem di masa mendatang. Model ini dapat diperluas dengan menambahkan atribut, parameter, maupun konsep baru sesuai dengan perubahan kebutuhan organisasi tanpa harus mengubah keseluruhan struktur sistem. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Conceptual data model merupakan representasi tingkat konseptual yang menggambarkan struktur dan hubungan data berdasarkan kebutuhan pengguna
52 (Fischer et al., 2018). 2.10.7 Application Portfolio Model Application Portfolio Model, atau System Portfolio Model, adalah model terstruktur yang mencatat seluruh aset sistem informasi organisasi untuk memantau siklus hidup aset TI, seperti kapan harus memensiunkan atau memperbarui sistem. Artefak ini merepresentasikan pengetahuan aset (asset knowledge) yang memberikan visibilitas penuh bagi organisasi terhadap portofolio teknologi yang dikelolanya. (Kotusev, 2019; Kotusev et al., 2023b, 2023a). Gambar 2.16 merupakan contoh dari Application Portfolio Model. Gambar 2.16 Contoh Application Portfolio Models (Kotusev, 2019) 2.10.8 Technology Reference Model Technology Reference Model merupakan artefak Enterprise Architecture yang berfungsi sebagai representasi grafis terstruktur dari seluruh teknologi, data,
53 atau aplikasi yang digunakan dalam sebuah organisasi. Artefak ini berperan sebagai instrumen deskriptif untuk mendokumentasikan pandangan organisasi, baik dari perspektif teknis maupun kapabilitas bisnis. Dalam manajemen pengetahuan, model ini memfasilitasi penyimpanan informasi bagi karyawan baru maupun kebutuhan operasional melalui repositori yang memungkinkan pengetahuan dicari, diakses, dan dianalisis secara efektif dalam lingkungan multi-pengguna. Secara teoretis, model referensi sering kali menggabungkan pengetahuan eksplisit mengenai portofolio aset saat ini dengan manifestasi pengetahuan tasit para ahli mengenai prospek, status strategis, atau alasan kompleks di balik klasifikasi aset tersebut di masa depan (Kotusev, 2019). Gambar 2.17 merupakan contoh Technology Reference Model. Gambar 2.17 Contoh Technology Reference Model (Kotusev, 2019). 2.10.9 Landscape Diagram Landscape Diagram adalah representasi visual tingkat tinggi yang menggambarkan hubungan antar-sistem, aplikasi, dan unit bisnis. Diagram ini
54 menyajikan pandangan menyeluruh lingkungan TI saat ini, yang sangat krusial untuk analisis dampak perubahan. Diagram ini menyimpan informasi struktural sistem, serta bertindak sebagai peta lokasi yang menyamakan pemahaman spasial mengenai topografi sistem di seluruh unit kerja (Kotusev, 2019; Kotusev et al., 2023a, 2023b. Gambar 2.18 merupakan contoh dari artefak Landscape Diagrams. Gambar 2.18 Contoh Landscape Diagrams (Kotusev, 2019). 2.10.10 Roadmap Roadmap merupakan panduan strategis untuk mengarahkan proses pengembangan yang berskala besar dan berjangka panjang. Pada intinya, roadmap berisi serangkaian jalur pengembangan yang jika diikuti akan membantu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jalur tersebut disusun dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti konteks, situasi, dan lingkungan pengembangan, sehingga memungkinkan pencapaian tujuan secara efektif dan efisien (Widyaningsih, 2014).
55 2.11 Penelitian Sejenis Pada penelitian ini, peneliti menggunakan 20 penelitian sejenis sebagai sumber referensi, yang dipilih berdasarkan kesamaan topik, metode, maupun model penelitian, yaitu Arsitektur Integrasi, Arsitektur Sistem Informasi, Arsitektur Enterprise, dan Design Science Research. Tabel 2.2 menyajikan daftar penelitian sejenis.
56 Tabel 2.2 Penelitian Sejenis No. Penulis Judul Metode Kelebihan Kekurangan Hasil Penelitian 1. Sari et al. (2025) A TOGAF 10-Based Enterprise Architecture Framework for Digital Transformation in SME Banks Design Science Research (DSR) dengan kerangka kerja TOGAF ADM 10 Menyediakan panduan EA bagi perbankan UMKM dengan dukungan metodologi DSR yang memastikan solusi bersifat ilmiah sekaligus praktis. Penggunaan artefak masih terpaku pada kerangka kerja yang kaku, serta belum mencakup jenis institusi keuangan lainnya untuk generalisasi. Menghasilkan blueprint EA berbasis TOGAF 10 untuk transformasi digital bank SME, mencakup peningkatan infrastruktur TI, adopsi teknologi modern, kepatuhan regulasi, serta menjadi roadmap bagi perubahan yang lebih efisien dan kompetitif. 2. Agitya Pujiandri et al. (2025) Perencanaan Arsitektur Sistem Informasi dengan Menggunakan Metode Enterprise Architecture Planning (EAP) pada UD. Enterprise Architecture Planning (EAP) Penelitian ini menawarkan pendekatan berbasis analisis data awal melalui metode EAP, sehingga menghasilkan arsitektur Penelitian ini terbatas pada perencanaan arsitektur untuk aktivitas pendukung dan belum mencakup proses bisnis utama secara mendalam, Penelitian ini menghasilkan blueprint arsitektur enterprise terintegrasi untuk UD. Amanjaya 03, mencakup fungsi bisnis, data, aplikasi, dan teknologi, dengan
57 Amanjaya 03 Dayeuhluhur SI terintegrasi yang jelas melalui pembagian lapisan presentasi, logika bisnis, dan data. serta belum mencakup perencanaan migrasi. rekomendasi sistem absensi dan penggajian berbasis web untuk meningkatkan efisiensi operasional. 3. Tsiperman (2025) Design techniques for a seamless information system architecture Adaptive Clustering Method Menyediakan metode perumusan kebutuhan berbasis dekomposisi proses bisnis, dengan keunggulan berupa eliminasi celah teknologi, pencegahan over/under fungsionalitas, transparansi desain, serta kemampuan tracing yang menghemat waktu perancangan. Penelitian masih memerlukan perubahan serius pada model arsitektur dan dokumen operasional harus disesuaikan kembali Deskripsi teknologi desain arsitektur data berada di luar lingkup makalah ini, Dihasilkan teknik desain arsitektur SI yang menghubungkan secara eksplisit elemen dari berbagai representasi arsitektur, dan terbukti melalui studi kasus mampu mengintegrasikan arsitektur bisnis hingga level modul dan metode perangkat lunak secara mulus dan terukur. 4. Oak Kyaw A Systematic TOGAF- TOGAF ADM Menyediakan integrasi Masih berupa usulan Dihasilkannya desain integrasi
58 Zaw et al. (2025) Driven Framework for Blockchain-Based Food Traceability with Access Control Lists inovatif antara standar arsitektur enterprise dengan teknologi blockchain yang menjamin immutability serta mekanisme kontrol akses yang ketat. kerangka kerja konseptual tanpa adanya langkah implementasi nyata untuk industri pangan yang kompleks. sistem pelacakan pangan berbasis blockchain yang bersifat tamper-proof dan privacy-preserving 5. Villamil et al. (2025) An Enterprise Architecture-Driven Service Integration Model for Enhancing Fiscal Oversight in Supreme Audit Institutions Design Science Research (DSR) + TOGAF ADM Menawarkan model integrasi layanan TI berbasis Enterprise Architecture yang menggabungkan berbagai kerangka kerja tata kelola ke dalam satu model terpadu, sehingga mampu menyelaraskan aspek teknis layanan TI dengan Model dikembangkan dan divalidasi hanya pada satu institusi pengawasan fiskal (CGR Kolombia), sehingga penerapannya pada organisasi sektor publik lain dengan karakteristik dan regulasi berbeda masih memerlukan validasi Menghasilkan model integrasi layanan berbasis Enterprise Architecture yang mampu mengurangi fragmentasi layanan, meningkatkan standardisasi proses, memperkuat tata kelola informasi, serta membentuk katalog layanan terpadu yang meningkatkan kualitas
59 kebutuhan regulasi pengawasan fiskal pada organisasi sektor publik. lebih lanjut. penyampaian layanan, transparansi, dan responsivitas organisasi. 6. Tousert et al. (2025) A Multi-Layer Enterprise Architecture for Blockchain-Enabled Cereal Supply Chain Traceability and Decision Support TOGAF ADM Menawarkan arsitektur enterprise multi-layer yang mengintegrasikan berbagai teknologi digital seperti IoT, blockchain, Knowledge Graph, dan machine learning ke dalam satu blueprint terpadu, sehingga mampu menyelaraskan kebutuhan pemangku kepentingan dengan kebutuhan sistem pada ekosistem agri-food yang Penelitian masih berfokus pada tahap perancangan arsitektur dengan early implementation insights, sehingga efektivitas arsitektur pada implementasi skala penuh dan berbagai ekosistem agri-food masih memerlukan validasi lebih lanjut. Menghasilkan blueprint arsitektur digital multi-layer untuk rantai pasok sereal yang mendukung traceability berbasis blockchain, analisis prediktif, penalaran semantik, serta layanan pendukung keputusan, dan menjadi acuan dalam pengembangan platform digital pada ekosistem agri-food multi aktor.
60 kompleks. 7. Febrianto et al. (2024) Enterprise Architecture for Education: A TOGAF Approach to Achieve Digital Transformation and Optimal Performance (A Case Study of Shared Service Function) Design Science Research dengan kerangka kerja TOGAF ADM 9.2 Menyediakan arsitektur integrasi aspek keamanan siber (cybersecurity) ke untuk mencapai standar keunggulan pendidikan internasional. Area infrastruktur dan perencanaan migrasi masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut, blueprint yang dihasilkan belum divalidasi secara teknis menyeluruh pada tahap infrastruktur fisik. Ditemukannya kesenjangan pada pemetaan proses bisnis dan dokumentasi prosedur, serta terciptanya blueprint EA yang mencakup proses bisnis, data, dan aplikasi sebagai panduan strategis untuk mengoptimalkan sumber daya dan layanan yayasan. 8. Jamaludin (2024) Perancangan Arsitektur Sistem Informasi Inventory Management System dalam Mendukung Smart Economy Kabupaten Sukabumi Kualitatif dengan NASSCOM Smart City Development Framework Memberikan solusi integrasi konsep Smart City Anatomy dan kerangka kerja ICT (NASSCOM), menyediakan analisis mendalam ancaman siber Efektivitas solusi bergantung pada ketersediaan infrastruktur internet di Kabupaten Sukabumi yang masih memiliki 115 blank spot. Dihasilkannya rancangan arsitektur Inventory Management System (IMS) berbasis website dengan prosedur keamanan yang ketat dan implementasi idle untuk mencegah akses tidak sah.
61 dengan menggunakan Intrusion PrEvention System (IPS), SSL, dan enkripsi data. Sistem ini dapat memantau ketersediaan stok sayuran hasil panen secara real-time untuk ketahanan pangan dan penurunan angka stunting. 9. Yuli Mariyani & Firman Santoso (2024) Perancangan Arsitektur Sistem Informasi Menggunakan Metode Enterprise Architecture Planning (Studi Kasus: Madrasah Tsanawiyah Salafiyah Syafi'iyah) Enterprise Architecture Planning (EAP) Penggunaan EAP memungkinkan analisis mendalam terhadap kebutuhan data sebelum merancang aplikasi, sehingga menghasilkan usulan arsitektur yang saling terintegrasi dan selaras dengan visi institusi pendidikan menengah. Hasil penelitian tergantung pada kesiapan infrastruktur dan literasi digital pengguna, serta belum memiliki perencanaan migrasi sebagai langkah implementasi. Penelitian ini menghasilkan blueprint arsitektur SI untuk MTs Salafiyah Syafi’iyah yang mencakup fungsi bisnis, data, aplikasi, dan teknologi, serta merekomendasikan aplikasi akademik terintegrasi sebagai roadmap transformasi digital dan peningkatan layanan pendidikan. 10. Kotusev & Alwadain (2024) Modeling business Capabilities in Enterprise Architecture Practice: The Case of business capability Kualitatif Posisinya sebagai studi pionir yang berhasil mengungkap sembilan pendekatan pemodelan dan skenario penggunaan Fokusnya yang sangat sempit hanya pada satu domain spesifik serta belum adanya bukti validasi empiris atau Memberikan kontribusi berupa pemahaman sistematis mengenai penggunaan model kapabilitas bisnis sebagai alat strategis untuk menyelaraskan
62 models praktis yang selama ini luput dari literatur Enterprise Architecture arus utama. studi kasus mendalam untuk menguji efektivitas pendekatan tersebut di organisasi nyata. kebutuhan bisnis dan teknologi informasi. 11. Amin et al. (2024) Cultivating Excellence: A Case Study of Enterprise Architecture Transformational Journey in Higher Education Kualitatif dengan analisis Tematik Mampu mendiagnosis masalah secara terperinci dengan kuantifikasi jumlah isu di setiap domain dan menghasilkan luaran konkret berupa desain arsitektur Fokus studi kasus tunggal pada satu universitas, serta tidak adanya penjelasan mengenai tahap validasi atau uji coba terhadap efektivitas desain arsitektur yang diusulkan tersebut. Ditemukannya rincian masalah spesifik (13 isu bisnis, 8 aplikasi, 7 data, 7 teknologi) dan terbentuknya desain landscape map viewpoint architecture sebagai panduan strategis untuk mengurangi kekakuan operasional dan duplikasi sistem. 12. Mutedi et al. (2024) Enterprise Architecture business Model Planning Using EAP Framework (Case Study: PT. Gempita Cahaya Makmur) Kerangka kerja Enterprise Architecture Planning (EAP) Memberikan solusi pematangan arsitektur model bisnis sebagai fondasi yang kokoh dan selaras dengan strategi perusahaan sebelum melangkah ke tahap perancangan aplikasi Cakupan penelitian terbatas hanya pada lapisan arsitektur bisnis dan belum membahas lapisan data, aplikasi, atau teknologi secara menyeluruh. Dihasilkannya cetak biru arsitektur model bisnis yang menggambarkan kondisi saat ini dan aktivitas operasional perusahaan, yang berfungsi sebagai landasan strategis utama untuk pengembangan arsitektur aplikasi di tahap
63 yang lebih teknis. selanjutnya. 13. Hindarto (2023) Supporting University Management System Digital Transformation with Enterprise Architecture TOGAF ADM Menyediakan pemahaman komprehensif mengenai peran strategis Enterprise Architecture dalam mendukung transformasi digital perguruan tinggi, khususnya dalam meningkatkan efektivitas proses bisnis, optimalisasi pengelolaan data, restrukturisasi proses administrasi, dan peningkatan pengalaman mahasiswa. Penelitian bersifat konseptual dan berbasis kajian literatur serta studi kasus, sehingga belum menyajikan implementasi maupun validasi empiris terhadap efektivitas rekomendasi Enterprise Architecture pada berbagai institusi pendidikan tinggi. Memberikan pemahaman mengenai peran Enterprise Architecture sebagai fondasi strategis transformasi digital perguruan tinggi, serta menghasilkan rekomendasi praktis bagi institusi pendidikan tinggi dalam mengoptimalkan sistem manajemen, tata kelola data, proses administrasi, dan layanan kepada mahasiswa. 14. Kotusev et al. (2023a) Enterprise architecture artefacts as instruments for knowledge management: a theoretical interpretation Kualitatif Kedalaman analisisnya yang memberikan perspektif baru dengan memandang artefak EA sebagai instrumen manajemen pengetahuan, Tidak menjelaskan secara rinci kriteria pemilihan ke-27 organisasi tersebut sehingga sulit untuk menilai apakah hasil analisis ini dapat Menunjukkan adanya keragaman yang sangat luas pada artefak EA dalam hal representasi bentuk pengetahuan, strategi manajemen pengetahuan yang
64 serta cakupan datanya yang cukup luas karena melibatkan berbagai variasi organisasi. diterapkan secara merata di semua jenis industri atau skala perusahaan. diterapkan, serta sistem yang digunakan untuk mengelola pengetahuan tersebut di dalam organisasi. 15. Maulina & Junaedi (2022) Perencanaan Arsitektur Sistem Informasi dengan Menggunakan Metode TOGAF Kualitatif dengan kerangka kerja TOGAF ADM Menyediakan panduan pengembangan blueprint teknologi informasi untuk menyelaraskan proses bisnis kesehatan dengan TI, menyesuaikan kebutuhan spesifik klinik, serta menghasilkan rencana implementasi yang terarah melalui roadmap sistem. Usulan solusi masih bersifat konseptual dan perlu validasi di lapangan, penggunaan framework masih terbatas pada TOGAF ADM yang kaku. Menghasilkan blueprint arsitektur sistem informasi Klinik Ashabul Kahfi dengan lima aktivitas utama dan tiga aktivitas pendukung, serta merekomendasikan delapan aplikasi web dan topologi jaringan terintegrasi untuk mengatasi proses manual dan kurangnya integrasi antar divisi. 16. Kotusev et al. (2022) The Practical Roles of Enterprise Architecture Artifacts: A Classification and Relationship Kualitatif melalui dua teori konsekutif: teori konstruksi dan teori validasi Menyediakan taksonomi artefak yang sistematis dan tervalidasi secara empiris oleh pakar, teoretis mengenai fungsi praktis setiap dokumen EA yang selama ini Jumlah sampel yang terbatas membuat temuan ini hanya dapat digeneralisasi secara teoretis pada konteks serupa dan memerlukan validasi lebih lanjut pada Dihasilkannya teori deskriptif baru yang mengklasifikasikan enam jenis umum artefak EA yaitu Considerations, Standards, Visions, Landscapes, Outlines, dan Designs (CSVLOD), serta
65 sering dianggap ambigu. skala yang lebih besar. penjelasan mengenai peran spesifik, konten informasi, dan hubungan antar artefak. 17. Elfariani et al. (2021) Perencanaan Arsitektur Sistem Informasi pada PT. XYZ dengan Menggunakan Pendekatan TOGAF ADM TOGAF ADM Penelitian ini menawarkan solusi atas proses bisnis yang tidak efisien melalui penerapan TOGAF ADM, menghasilkan kerangka yang menyelaraskan strategi bisnis dan TI serta rekomendasi kebutuhan yang tervalidasi menggunakan matriks RACI. Penelitian belum mencakup tahapan analisis business Value assessment dan belum dilakukan uji validasi di lapangan, serta masih menggunakan kerangka kerja industri yang kaku. Penelitian ini menghasilkan dokumen perencanaan EA yang mencakup arsitektur bisnis, data, aplikasi, dan teknologi, serta memetakan otomatisasi proses bisnis dalam matriks tanggung jawab sebagai roadmap untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan. 18. Liao & Wang (2021) Using enterprise architecture to integrate lean manufacturing, digitalization, and sustainability: A lean enterprise case study in the chemical industry TOGAF ADM Menawarkan kerangka kerja Enterprise Architecture yang mengintegrasikan konsep lean manufacturing, digitalisasi, dan keberlanjutan Penelitian berfokus pada satu studi kasus perusahaan kimia internasional, sehingga generalisasi hasil terhadap industri lain maupun organisasi Menghasilkan lean enterprise architecture framework yang dapat diterapkan pada perusahaan kimia serta lean enterprise model yang menjelaskan hubungan antara lean manufacturing,
66 (sustainability), sehingga memberikan panduan komprehensif bagi perusahaan kimia dalam menjalankan transformasi bisnis yang berkelanjutan. dengan karakteristik berbeda masih memerlukan validasi lebih lanjut. digitalisasi, dan keberlanjutan sebagai panduan transformasi bisnis. 19. Fatoni et al. (2021) Arsitektur Sistem Informasi Akademik Perguruan Tinggi Swasta Menggunakan EAP Enterprise Architecture Planning (EAP) Memberikan solusi atas masalah tidak adanya panduan pengembangan sistem informasi akademik di perguruan tinggi swasta, khususnya di Provinsi Sumatera Selatan. Pendekatan EAP dapat menghindari pengembangan sistem yang parsial. Perlu uji validasi di berbagai perguruan tinggi dengan skala yang berbeda. Metodologi bergantung pada akurasi pemodelan bisnis awal. Dihasilkan blueprint arsitektur sistem informasi akademik untuk perguruan tinggi swasta. Mencakup arsitektur data, aplikasi, dan teknologi sebagai arah bagi pimpinan universitas dalam pengembangan layanan akademik. 20. vom Brocke et al. (2020) Introduction to Design Science Research Literature Review Dokumen ini menegaskan peran DSR dalam menghasilkan Design Knowledge yang Dokumen ini bersifat konseptual sebagai pengantar, lebih menekankan kajian teori Penelitian ini menghasilkan pemahaman komprehensif tentang DSR sebagai metode pengembangan artefak dan
67 tervalidasi, dengan keunggulan utama sebagai jembatan antara teori dan praktik melalui artefak yang menjelaskan efektivitas solusi dalam konteksnya. dibanding data empiris, sehingga memerlukan studi kasus tambahan untuk memahami penerapan praktis DSR secara lebih mendalam. teori desain, serta menjadi panduan konseptual bagi peneliti dalam melakukan penelitian yang sistematis, inovatif, dan berkontribusi ilmiah. 21. Peffers et al. (2020) The Design Science Research Process: A Model for Producing and Presenting Information Systems Research. Kualitatif Penelitian ini memberikan kontribusi berupa prosedur DSRM untuk menghasilkan artefak ilmiah yang kredibel, dengan keunggulan fleksibilitas dalam memulai penelitian dari berbagai titik masuk seperti masalah, kebutuhan teknologi, atau evaluasi sistem. Penelitian ini menekankan bahwa meskipun keberhasilan DSRM tetap bergantung pada kreativitas peneliti, serta perlu penyesuaian pada fase evaluasi dan demonstrasi ketika diterapkan pada proyek dengan keterbatasan sumber daya atau waktu. Penelitian ini menghasilkan model DSRM sebagai metodologi terstruktur yang menjembatani kebutuhan praktis dan rigor ilmiah, serta terbukti efektif memandu proses inovasi dan mempermudah komunikasi kontribusi artefak . 22. Ulmi et al. (2020) Enterprise Architecture Planning for Enterprise Kualitatif dengan pendekatan Menyediakan arsitektur microservices yang Validasi implementasi desain baru terbatas Dihasilkannya desain arsitektur decentralized
68 University Information System Using the TOGAF Architecture Development Method Enterprise Architecture Planning (EAP) yang mengadopsi kerangka kerja TOGAF ADM mendukung skalabilitas tinggi dan integrasi fleksibel, agar sistem mampu melayani banyak universitas klien secara cloud-based. hanya pada satu kondisi klien tertentu (kondisi 2) sehingga efektivitas arsitektur ini untuk berbagai kondisi klien belum sepenuhnya teruji. microservice yang terbukti dapat diterapkan pada sistem EUIS untuk mendukung pengembangan sistem ke arah yang lebih fleksibel dan terintegrasi. 23. Purnama (2018) Perencanaan Arsitektur Sistem Informasi PT. Ma'soem Arias dengan Menggunakan Oracle Enterprise Architecture Framework. Oracle Enterprise Architecture Framework (OEAF) Penggunaan konsep berorientasi objek yang memudahkan pemahaman masalah dari sudut pandang objek organisasi yang selaras dengan strategi bisnis. Penelitian ini kurang membahas detail migrasi dan estimasi biaya, serta berpotensi terbatas karena ketergantungan pada satu ekosistem teknologi. Penelitian ini menghasilkan blueprint arsitektur SI untuk PT. Ma'soem Arias, mencakup rekomendasi aplikasi dan teknologi terintegrasi serta model data sebagai dasar pengembangan sistem guna meningkatkan efisiensi dan daya saing. 24. Vasconcelos et al. (2003) Information System Architectures: Representation, Planning and Evaluation Kualitatif Studi Kasus Menyediakan mekanisme penggunaan bahasa UML untuk menghubungkan antara pemangku kepentingan bisnis dan TI melalui, serta mensimulasikan berbagai Detail spesialisasi dari objek pemodelan tidak dipaparkan secara mendalam karena batasan halaman, serta alat evaluasi otomatis dan metodologi perencanaan Menciptakan model UML untuk pemodelan ASI yang terdiri dari konsep Information Entity, IS Block, dan IT Block, dan berhasil dirancang arsitektur target yang lebih efisien dengan menggunakan
69 skenario bisnis dan teknologi untuk perencanaan TI. ASI yang terintegrasi penuh masih dalam tahap pengembangan awal. broker API untuk mengintegrasikan seluruh aplikasi perusahaan.
70 Berdasarkan tinjauan terhadap 24 literatur terpilih, penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kerangka kerja TOGAF ADM masih mendominasi penelitian terkait perancangan arsitektur. Namun, studi yang dilakukan oleh Kotusev (2022) memperlihatkan bahwa kerangka kerja TOGAF terlalu kaku dan berat untuk diterapkan, terutama pada perusahaan small-medium enterprise (SME). Oleh karenanya, beberapa penelitian mulai menggunakan kerangka kerja berbasis metodologi riset, seperti Design Science Research (DSR), untuk memastikan bahwa hasil penelitian valid secara ilmiah. Namun, beberapa penelitian tersebut, meskipun sudah mengadopsi pendekatan DSR, masih terpaku pada kerangka kerja industri yang kaku dan kompleks. Sedangkan, pada kelompok perusahaan SME, pendekatan arsitektur perlu dibuat lebih fleksibel dan adaptif yang menyesuaikan agility dari perusahaan startup. Dalam literatur, pendekatan arsitektur telah banyak digunakan di berbagai sektor industri sebagai salah satu langkah integrasi ekosistem dan teknologi digital. Akan tetapi, belum ada literatur yang membahas tentang perancangan arsitektur enterprise yang mengadopsi pendekatan DSR untuk kategori perusahaan SME di bidang ekonomi kreatif, dengan model bisnis end-to-end (B2B dan B2C), dan jaringan distribusi yang bervariasi, melalui penjualan e-commerce, sosial media, general trade, dan booth Event. Selain itu, penggunaan teknik analisis business Value assessment dan kerangka roadmap transormasi digital oleh Acatech juga belum secara luas digunakan. Dengan demikian, perancangan arsitektur dilakukan melalui fase DSR yang diharapkan dapat menghasilkan artefak solusi yang selaras dengan kebutuhan bisnis.
71 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus, yang memungkinkan peneliti untuk menganalisis konteks organisasi, tujuan strategis, kebutuhan bisnis, dan hambatan operasional dari sudut pandang para pemangku kepentingan. Penelitian studi kasus berfokus pada lingkungan studi kasus untuk memahami masalah dalam konteks organisasi. Peneliti dapat menganalisis data yang diperoleh dari wawancara dan observasi untuk menentukan solusi yang paling sesuai untuk studi kasus. 3.2 Metode Pengumpulan Data Penelitian ini memanfaatkan dua kategori sumber data utama, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari sumber aslinya melalui wawancara dengan pihak manajemen dan unit bisnis, serta observasi terhadap proses operasional perusahaan. Sementara itu, data sekunder dikumpulkan melalui studi dokumentasi terhadap dokumen struktur organisasi, perencanaan strategis, dokumen-dokumen internal divisi, serta literatur terdahulu yang relevan. Proses perolehan data primer dan sekunder tersebut dilakukan melalui beberapa metode pengumpulan data sebagai berikut. 3.2.1 Wawancara Wawancara dilakukan dengan Teknik wawancara semi terstruktur (semi-
72 structured interview) pada bulan Febuari 2026, yang berlokasi di Jalan Haji Cari No 44 RT 3 RW 5 Pondok Kacang Barat, Pondok Aren. Pada level strategis, wawancara dilakukan dengan direktur perusahaan, yaitu Ibu Alea Carolina Science Gayo. Wawancara pada tingkat ini difokuskan untuk menggali informasi mengenai visi jangka panjang organisasi, kebutuhan bisnis organisasi, serta hambatan transformasi digital yang dihadapi manajemen. Pada level operasional, wawancara dilakukan dengan unit bisnis untuk memperoleh pemahaman mengenai proses bisnis operasional, kebutuhan bisnis unit, serta mengeksplorasi kesenjangan (gap) yang terjadi antara kebutuhan operasional dengan realitas sistem yang berjalan. 3.2.2 Observasi Observasi dilaksanakan melalui dua pendekatan utama, yaitu observasi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi langsung dilakukan di kantor perusahaan, pada bulan Desember 2025, yang berlokasi di Jalan Haji Cari No 44 RT 3 RW 5 Pondok Kacang Barat, Pondok Aren. Observasi dilakukan untuk mengamati alur proses bisnis serta kondisi aktual sistem informasi di lingkungan operasional perusahaan. Sementara itu, observasi tidak langsung dilakukan terhadap dokumen struktur organisasi, perencanaan strategis, proses bisnis, dan SOP. Melalui pengamatan data dari kedua pendekatan tersebut, peneliti memperoleh informasi yang mencakup: a. Sejarah singkat, visi, misi, dan tujuan perusahaan. b. Profil perusahaan, strategi bisnis, model bisnis, dan produk-produk perusahaan.
73 c. Kondisi eksisting sistem informasi perusahaan. 3.2.3 Studi Literatur Studi pustaka dilakukan untuk memperkuat landasan ilmiah penelitian melalui penelaahan berbagai sumber literatur yang relevan, seperti jurnal akademik, buku teks, dan prosiding konferensi. Kajian literatur difokuskan pada teori prinsip dan pola arsitektur, Enterprise Architecture, ekosistem digital, strategic alignment, small-medium enterprise, tools perancangan arsitektur, serta model dan proses Design Science Research (DSR). Selain itu, studi pustaka juga mencakup analisis terhadap penelitian terdahulu mengenai penerapan arsitketur untuk membangun ekosistem digital sebagai bahan perbandingan untuk memahami posisi penelitian ini dalam konteks pengembangan keilmuan yang ada. 3.3 Tahapan Design Science Research Methodology (DSRM) Proses penelitian ini mengikuti enam langkah terstruktur pada model proses DSRM yang dikembangkan oleh Peffers et al. (2007). Peneliti memutuskan untuk mengadopsi model DSRM oleh peffer. karena model ini telah tervalidasi dan diterapkan secara luas dalam penelitian design science di bidang keilmuan sistem informasi. Penelitian ini melalui tahapan-tahapan penelitian sebagai berikut. 3.3.1 Identifikasi Masalah dan Motivasi Tahap identifikasi masalah pada penelitian ini dilakukan dengan meganalisis permasalahan yang terjadi pada lingkungan penelitian untuk menjadi dasar pengembangan solusi TI. Peneliti juga mewawancarai masing-masing unit bisnis untuk lebih mendalami permasalahan operasional yang terjadi. Permasalahan
74 atau pain points dalam organisasi kemudian dipetakan ke dalam kapabilitas bisnis untuk mengetahui secara spesifik kapabilitas di mana masalah terjadi. Kapabilitias dengan permasalahan terbanyak akan menjadi prioritas dalam pengembangan dukungan TI. Berdasarkan permasalahan yang teridentifikasi, peneliti merumuskan potensi solusi yang akan dikembangkan melalui perancangan artefak arsitektur. Selanjutnya, peneliti mendefinisikan justifikasi solusi yang menjadi motivasi untuk melakukan penelitian ini serta megupayakan solusi yang terbaik. Selain itu, justifikasi solusi juga diperlukan untuk logika pemahaman terhadap masalah. Justifikasi solusi dilakukan menggunakan teknik motivation model. Pemodelan dilakukan menggunakan alat ArchiMate, yang bertujuan untuk memberikan motivasi strategis di balik pengembangan sebuah solusi dan memastikan bahwa solusi tersebut selaras dengan visi, tujuan, serta kebijakan organisasi. Tabel 3. 1 berisi input, proses, dan output untuk tahapan penelitian ini. Tabel 3. 1 Input, Proses, Output Identifikasi Masalah dan Motivasi Input Proses Output Dokumen rencana strategis, struktur organisasi, kondisi lingkungan eksternal dan internal, proses bisnis saat ini, daftar kapabilitas bisnis, serta rincian masalah (pain points). 1. Pendefinisian masalah 2. Pemetaan kapabilitas 3. Pemetaan masalah (pain points) 4. Pemodelan ArchiMate motivation model business Problem Map, ArchiMate motivation model. 3.3.2 Definisi Tujuan Solusi Pada tahapan ini, peneliti melakukan perumusan tujuan solusi berdasarkan hasil identifikasi permasalahan dan kebutuhan organisasi yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya. Tahap ini bertujuan untuk menentukan arah pengembangan
75 artefak agar solusi yang dirancang mampu menjawab permasalahan bisnis dan mendukung pencapaian strategi perusahaan. Dalam penelitian ini, tujuan solusi dirumuskan dalam bentuk enterprise architecture goals and metrics yang digunakan sebagai dasar untuk menentukan sasaran arsitektur, indikator keberhasilan, serta ukuran kinerja yang ingin dicapai melalui perancangan enterprise architecture. 3.3.3 Desain dan Pengembangan Pada tahapan inilah artefak solusi dibentuk, menghasilkan rancangan arsitektur bisnis, data, aplikasi, dan teknologi. Artefak solusi dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang ada serta membantu menyelaraskan strategi bisnis organisasi. Peneliti melakukan analisis as-is terhadap kondisi terkini (current state) perusahaan. Gambaran as-is menjadi input untuk penggambaran arsitektur integrasi ekosistem digital to-be. Peneliti memilih artefak enterprise architecture yang paling banyak digunakan dalam praktiknya serta yang paling relevan dengan kebutuhan organisasi. Pemodelan arsitektur dilakukan menggunakan tools perancangan arsitektur, seperti business capability model, Application portfolio model, value stream diagram, ArchiMate viewpoint, dan lain sebagaimnya. Tabel 3. 2 Input, Proses, Output dari Tahapan Desain Input Proses Output Kondisi as-is Organisasi, Proses bisnis organisasi, Kondisi target yang diharapkan, ArchiMate 1. Tahap inisiasi perencanaan untuk menentukan ruang lingkup, visi, dan standar yang akan digunakan dalam Arsitektur baseline - Archimate viewpoint - Application portfolio model
76 motivation model, value chain, struktur organisasi perencanaan arsitektur. 2. Pemodelan kondisi saat ini 3. Pendefinisian arsitektur bisnis, data, aplikasi, teknologi di masa depan 4. Gap Analysis Arsitektur lanskap (to-be) Landscape diagram Arsitektur bisnis (to-be) - value stream model - business capability model Arsitektur data (to-be) - businessue - Conceptual data model Arsitektur aplikasi (to-be) - Application reference model Arsitektur teknologi (to-be) - Arsitektur integrasi teknologi - Technology reference model 3.3.4 Demonstrasi Tahap demonstrasi pada DSR bertujuan untuk menunjukkan bahwa artefak arsitektur yang diusulkan dapat diimplementasikan untuk memecahkan masalah di lapangan. Pada penelitian ini, artefak yang dihasilkan berupa arsitektur enterprise, yang memiliki sifat strategis dan konseptual. Dengan demikian, demonstrasi dilakukan dengan memproyeksikan rencana migrasi melalui business value assessment dan IT roadmap. Aktivitas ini membuktikan bagaimana transisi dari sistem saat ini (baseline) menuju ekosistem digital target (to-be) dapat direalisasikan dan dieksekusi secara bertahap di lingkungan nyata.
77 Dalam menentukkan prioritas implementasi dari masing-masing modul yang diusulkan, peneliti menggunakan business value assessment dengan membandingkan indeks nilai manaat (value) dan indeks resiko (risk) dari setiap modul. business value assessment merepresentasikan nilai yang diharapkan dari implementasi investasi. Penilaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan permasalahan yang dikumpulan dan wawancara yang dilakukan. Selanjutnya, pembuatan IT roadmap mengacu pada kerangka transformasi digital, Industrie 4.0 Maturity Index yang dikembangkan oleh Acatech (Schuh et al., 2017). Acatech membagi proses pengembangan digital ke dalam enam tahap kematangan yang saling berurutan, yaitu (Schuh et al., 2017): a. Computerisation Tahap awal yang berfokus pada penggunaan teknologi komputer untuk mendukung aktivitas tertentu secara terpisah. Sistem informasi pada tahap ini masih berjalan secara individual dan belum terintegrasi satu sama lain. Computerisation menjadi fondasi dasar bagi proses digitalisasi berikutnya. b. Connectivity Pada tahap ini berbagai sistem yang sebelumnya berdiri sendiri mulai saling terhubung. Integrasi antar aplikasi dan pertukaran data mulai dilakukan sehingga proses bisnis dapat berjalan secara lebih terkoordinasi. Konektivitas memungkinkan informasi mengalir secara lebih cepat dan mendukung interoperabilitas antar sistem. c. Visibility Tahap visibility ditandai dengan kemampuan organisasi dalam memperoleh
78 gambaran kondisi operasional secara menyeluruh melalui pengumpulan data secara real-time. Data dari berbagai sumber dikombinasikan untuk membentuk representasi digital perusahaan sehingga organisasi dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam proses bisnisnya. d. Transparency Setelah organisasi mampu melihat kondisi yang terjadi, tahap berikutnya adalah memahami penyebab terjadinya suatu kondisi. Pada tahap ini dilakukan analisis data dan identifikasi hubungan sebab akibat untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat mendukung pengambilan keputusan secara lebih akurat. e. Predictive Capacity Tahap predictive capacity memungkinkan organisasi memprediksi kejadian yang mungkin terjadi di masa mendatang berdasarkan pola data yang telah diperoleh sebelumnya. Organisasi dapat melakukan simulasi berbagai skenario dan mengambil tindakan pencegahan sebelum masalah terjadi sehingga operasional menjadi lebih adaptif dan proaktif. f. Adaptability Tahap tertinggi dalam roadmap pengembangan adalah adaptability, yaitu kemampuan organisasi untuk melakukan penyesuaian secara otomatis berdasarkan data dan prediksi yang tersedia. Pada tahap ini, sebagian keputusan dapat didelegasikan kepada sistem sehingga organisasi mampu merespons perubahan lingkungan bisnis secara cepat dan optimal. 3.3.5 Evaluasi Tahap ini dilakukan dengan merujuk pada pedoman evaluasi penelitian
79 kualitatif oleh Shenton (2004), yang terdiri dari kriteria credibility, transferability, dependability, dan confirmability. Namun, uji transferability tidak digunakan karena penelitian ini bersifat studi kasus tunggal, yang mana menurut Shenton (2004), hasil penelitian kualitatif dari sebuah studi kasus tunggal sulit untuk digeneralisasi karena temuan tersebut sepenuhnya didefinisikan oleh lingkungan khusus tempat penelitian itu terjadi. Demikian, pada penelitian ini, evaluasi kualitatif yang dilakukan hanya berdasarkan kriteria credibility, dependability, dan confirmability. Berikut ini merupakan tahapan evaluasi yang dilakukan: a. Uji kredibilitas (credibility): peneliti memastikan akurasi dan reliabilitas data yang digunakan dalam perancangan arsitektur dengan melakukan konfirmasi kepada pihak perusahaan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa hasil analisis arsitektur Baseline dan identifikasi pain points telah selaras dengan kondisi aktual perusahaan. b. Uji dependabilitas (dependability): peneliti menjamin konsistensi alur penelitian serta kesesuaian standar pengembangan arsitektur dengan melibatkan tinjauan terstruktur oleh dosen pembimbing akademik. Proses ini mencakup revisi berkala untuk memastikan kelayakan dari blueprint sistem informas yang diusulkan. Persetujuan akhir dari pembimbing memvalidasi integritas akademik dan dependabilitas proses penelitian ini. c. Uji konfirmabilitas (confirmability): peneliti menjamin objektivitas penelitian dengan menghimpun feedback dari pihak luar, yaitu pihak perusahaan, guna memberikan masukan mengenai hasil rancangan desain arsitektur untuk penyempurnaan lebih lanjut sebelum memberikan persetujuan akhir. Hal ini
80 mengonfirmasi validitas penelitian dari perspektif eksternal serta memastikan bahwa hasil rancangan arsitektur murni didasarkan pada data lapangan dan kebutuhan strategis organisasi, bukan pada preferensi subjektif peneliti. 3.3.6 Komunikasi Tahap akhir mencakup proses menyebarluaskan hasil penelitian kepada para pemangku kepentingan. Kemudian, konfirmasi hasil penelitian diperoleh melalui surat keterangan yang dikeluarkan oleh perusahaan yang menandakan bahwa data yang digunakan adalah valid, serta hasil penelitian dirancang sesuai dengan kebutuhan organisasi dan siap dipakai untuk kebutuhan transformasi digital. 3.4 Kerangka Penelitian Gambar 3.1 menunjukan kerangka penelitian yang menunjukan alur proses yang dilakukan. Kerangka penelitian mengikuti tahapan Design Science Research oleh Peffers et al. (2007).
81 Gambar 3.1 Kerangka Penelitian
82 82 BAB 4 PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE Hasil analisis pada lingkungan penelitian akan menjadi topik utama pada bab ini. Bab ini mencakup identifikasi masalah dan motivasi, definisi tujuan solusi, desain dan pengembangan artefak, demonstrasi, evaluasi, dan komunikasi. Adapun inti dari perancangan enterprise architecture yang terdiri dari arsitektur data, aplikasi, dan teknologi akan dipaparkan pada bagian desain dan pengembangan artefak. 4.1 Identifikasi Masalah dan Motivasi Berdasarkan wawancara dan observasi di lingkungan penelitian, pertumbuhan bisnis yang pesat memunculkan tantangan baru bagi perusahaan berupa meningkatnya kompleksitas proses, data, dan informasi yang semakin tinggi. Temuan ini didukung oleh kutipan wawancara dengan Direktur Perusahaan, Ibu Alea Carolina Science Gayo, sebagai berikut: “Dalam lima tahun terakhir, perusahaan secara intensif mengembangkan penjualan melalui berbagai kanal digital, seperti endorsement, live streaming, program afiliasi, iklan Instagram, dan berbagai kampanye pemasaran. Strategi tersebut berhasil meningkatkan penjualan secara signifikan. Namun, tingginya volume pesanan menyebabkan banyak keluhan pelanggan terkait keterlambatan pengiriman. Akibatnya, akun toko perusahaan di TikTok sempat diblokir. Kondisi tersebut terjadi karena divisi gudang dan pengemasan mengalami kesulitan dalam menangani jumlah pesanan yang sangat besar.” (Alea Carolina, Direktur Utama).
83 Kebutuhan akan sistem informasi yang memadai pun menjadi prioritas utama bagi pemangku kepentingan. Selain untuk menghadapi tantangan yang ada sekarang, sistem informasi dibutuhkan untuk mengakomodasi rencana strategis perusahaan, yaitu ekspansi pasar dan jaringan distribusi. Sebagaimana kutipan wawancara berikut ini. “Omzet perusahaan selalu mengalami peningkatan sekitar 100% setiap tahun, bahkan dapat melebihi angka tersebut. Oleh karena itu, strategi utama perusahaan adalah meningkatkan omzet hingga dua kali lipat setiap tahunnya. Selain itu, perusahaan berencana memperluas pasar dengan memasuki segmen general trade dan membuka beberapa cabang baru. Segmen general trade mencakup pusat perbelanjaan, distributor besar, toko ritel, warung, dan kawasan wisata.” (Alea Carolina, Direktur Utama). “Saat ini perusahaan belum memiliki sistem ERP yang terintegrasi, namun terdapat rencana untuk mengimplementasikannya. Sistem yang digunakan saat ini adalah Accurate, yang lebih berfokus pada pencatatan dan akuntansi sehingga belum mampu mendukung integrasi proses bisnis secara menyeluruh. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai permasalahan terkait validitas data. Sebagai contoh, pada kegiatan penjualan berbasis Event sering terjadi selisih stok masuk dan stok keluar karena sistem POS belum terintegrasi dengan Accurate sehingga pencatatan masih dilakukan secara manual. Selain itu, data penjualan dari marketplace yang mencakup komponen seperti diskon, biaya administrasi, dan pajak juga harus diinput secara manual. Akibatnya, sering terjadi duplikasi data, ketidaksesuaian informasi, serta analisis penjualan yang kurang akurat.” (Alea
84 Carolina, Direktur Utama). Berdasarkan hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa permasalahan umum yang terjadi adalah sistem informasi perusahaan belum saling terintegrasi membentuk ekosistem digital yang utuh. Sistem informasi yang saling terfragmentasi menyebabkan kurangnya visibilitas terhadap proses bisnis end-to- end, sehingga para pemangku kepentingan menjadi sulit untuk memonitoring operasional perusahaan. Permasalahan ini dipertegas lagi pada hasil wawancara sebagai berikut: “Tim gudang tidak menyampaikan kepada divisi Human Resource bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menangani tingginya volume pesanan. Akibatnya, perusahaan tidak mengetahui bahwa divisi tersebut membutuhkan tambahan tenaga kerja. Di sisi lain, aktivitas periklanan terus berjalan sehingga jumlah pesanan terus meningkat. Namun, karena tim gudang dan pengemasan mengalami keterbatasan sumber daya, proses pengiriman menjadi terlambat dan menimbulkan banyak keluhan pelanggan. Kondisi tersebut menyebabkan akun TikTok Shop perusahaan diblokir dan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.” (Alea Carolina, Direktur Utama). Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa pemangku kepentingan membutuhkan ekosistem digital yang terintegrasi agar memiliki visibilitas penuh dan monitoring terhadap aktivitas operasional mereka secara real-time, sehingga pengiriman informasi tidak bergantung pada komunikasi manual saja. 4.1.1 Business Problem Map Setelah mengetahui garis besar dari permasalahan yang terjadi, peneliti
85 mendalami lebih lanjut permasalahan pada masing-masing kapabilitas bisnis. Oleh karenanya, peneliti merancang Business Problem Mapyang terdiri dari dua level kapabilitas bisnis, yaitu kapabilitas bisnis level 1 dan kapabilitas bisnis level 2. Adapun pain points dipetakan pada kapabilitas bisnis level 2, untuk melihat secara spesifik pada kapabilitas mana permasalahan terjadi. Berdasarkan hasil wawancara dengan CEO dan berbagai aktor pada divisi purchasing, production, marketing, sales, event, warehouse, dan HR, peneliti merumuskan bahwa terdapat lima pain points utama yang terjadi, sebagaimana berikut ini: a. Terjadi duplikasi dan ketidakakurasian data. b. Visibilitas dan monitoring secara real-time yang buruk. c. Data tidak terintegrasi dan terjadi fragmentasi. d. Informasi yang tersebar di berbagai divisi dan tidak terhubung (silo data). e. Belum terdokumentasi secara digital. Pemetaan pain points pada kapabilitas bisnis menghasilkan business Problem Map, yang divisualisasikan pada Gambar 4.1. Hasil rancangan Business Problem Mapmenunjukkan bahwa kapabilitas dengan pain points terbanyak adalah supply chain, product development, marketing & sales, dan customer service. Di antaranya, terdapat beberapa kapabilitas yang belum didukung oleh sistem informasi dan digitalisasi, seperti distribution planning, production planning & scheduling, production & quality control, product testing, product launching, canvassing, sales management, expenditure validation, organization development, KPI tracking & monitoring, customer management, dan customer complaint.
86 Gambar 4.1 business Problem Map Tabel 4.1 menjabarkan lebih detail mengenai permasalahan yang terjadi pada masing-masing kapabilitas bisnis, berdasarkan hasil wawancara dengan aktor terkait. Tabel 4.1 Detail Permasalahan Kapabilitas Bisnis Capability Level 1 Capability Level 2 Pain points Permasalahan Procurement purchasing PP2, PP3 1. Kurangnya visibilitas alur logistik.
87 2. Tidak adanya pelacakan yang terintegrasi untuk memantau status posisi bahan baku secara real-time. Supply chain Warehouse management PP1, PP2, PP3, PP4 1. Belum adanya integrasi antara sistem Point of Sale (POS) dengan sistem gudang mengakibatkan terjadinya selisih stok 2. Sistem saat ini belum mendukung pengelolaan perpindahan Gudang, sehingga membatasi fleksibilitas alokasi stok. 3. Silo data antara Marketing dan kapasitas operasional gudang, yang menyebabkan tim Gudang kewalahan menangani pesanan karena tim Marketing meningkatkan digital ads, sehingga proses pengemasan dan pengiriman terhambat. 4. Data stok retail dan toko cabang tidak terintegrasi dengan gudang utama, sehingga sulit memantau ketersediaan barang secara real- time di seluruh titik distribusi. Distribution planning PP4, PP5 1. Terdapat silo informasi terkait perencanaan distribusi yang mengakibatkan keterlambatan pengiriman. 2. Proses perencanaan dan penjadwalan masih manual dan belum terdigitalisasi, sehingga informasi tidak terkelola dengan baik. Distribution PP2, PP3 1. Belum adanya sistem yang memantau pergerakan distribusi barang (GPS Tracking) ke retail dan toko cabang secara real-time.
88 2. Terjadi keterlambatan pengiriman karena manajemen tugas yang buruk dan tidak adanya monitoring secara real-time terhadap proses bisnis. Production Production planning & scheduling PP2, PP4, PP5 1. Informasi terkait pergerakan bahan baku belum terintegrasi secara real-time, sehingga penjadwalan perencanaan produksi menjadi terlambat. 2. Belum adanya sistem yang dapat mengelola dan mengintegrasikan informasi perencanaan produksi secara digital. 3. Belum adanya analisis kapasitas produksi untuk memastikan bahwa sumber daya yang ada cukup Production & quality control PP5 Proses QC belum tercatat di sistem Accurate, sehingga pemeriksaan barang tidak memiliki checklist digital dan staf harus melakukan penyesuaian stok secara manual jika ditemukan barang rusak. Product development Product design & planning PP4, PP5 1. Informasi terkait perencanaan pengembangan produk masih terfragmentasi pada berbagai sumber data, sehingga menghambat kolaborasi dan visibilitas proses pengembangan produk. 2. Belum adanya sistem yang dapat mengelola dan mngintegrasikan proses pengelolaan tugas pengembangan produk. Market research PP1, PP4 1. Data yang digunakan dalam analisis pasar sering kali mengandung duplikasi dan
89 inkonsistensi, sehingga hasil analisis kurang akurat. 2. Data tren pasar, perilaku dan preferensi pelanggan masih tersimpan di berbagai divisi secara terpisah, sehingga wawasan yang dihasilkan dari riset pasar kurang akurat. Product testing PP5 Belum adanya sistem yang dapat mengelola dan mengintegrasikan informasi terkait pengujian produk, sehingga hasil pengujian produk tidak dapat dipantau secara digital. Product launching PP2, PP3, PP5 1. Belum adanya sistem yang dapat mengelola tugas dan informasi peluncuran produk. 2. Informasi terkait peluncuran produk belum terintegrasi dengan hasil performa penjualan produk 3. Belum adanya monitoring performa produk pasca launching Marketing & sales Digital strategy development PP1, PP2, PP3, PP4 1. Pemantauan performa pemasaran (sosmed, ads, affiliate) belum terintegrasi secara otomatis dan real-time. 2. Terdapat silo data antara Marketing dengan operasional, yang menyebabkan Marketing tidak dapat membuat strategi digital ads berdasarkan forecasting kemampuan operasional. 3. Hasil analisis data yang seringkali tidak akurat dan tidak valid. 4. Belum adanya analisis analisis retention, churn rate, dan segmentasi pelanggan. Canvassing PP5 Manajemen data masih dilakukan
90 secara manual dan belum terdigitalisasi sales management PP1, PP2, PP3, PP5 1. Pengelolaan mitra dagang (distributor/retail) masih dilakukan secara manual, belum terdigitalisasi ke dalam sistem terpusat. 2. Hasil penjualan offline dari sistem POS belum terintegrasi ke sistem gudang, staf harus menginput ulang data penjualan secara manual setiap harinya, sehingga sering terjadi selisih jumlah barang saat proses pengembalian barang sisa (return) ke gudang pusat. 3. Penjualan online dari marketplace belum terintegrasi secara real-time, sehingga sulit memantau performa penjualan Demand & sales forecasting PP3, PP4 1. Analisis penjualan online sulit dilakukan karena banyaknya komponen biaya yang harus diinput secara manual. Belum adanya integrasi otomatis antara sistem internal dengan platform marketplace mengakibatkan data sering kali tidak valid dan sulit untuk dikelola secara real-time. 2. Informasi terkait target penjualan dan rencana produksi belum tersinkronisasi secara optimal antar divisi. finance Cashflow planning PP1, PP4 1. Terdapat silo data pada perencanaan cashflow, yaitu dokumen yang tersebar di berbagai divisi. 2. Hasil analisis data dari divisi lain yang seringkali tidak valid
91 menyebabkan analisis perencanaan cashflow tidak valid. Expenditure validation PP5 Permintaan invoice masih dilakukan manual dan belum terdigitalisasi. HR Organization development PP5 Informasi mengenai pengembangan keahlian dan riwayat pelatihan karyawan belum terdokumentasi dan terdigitalisasi ke dalam sistem. KPI tracking PP5, PP3 1. Belum adanya sistem yang dapat mengelola dan memantau performa karyawan dan divisi secara terintegrasi. 2. Penilaian KPI belum terintegrasi langsung dengan sistem operasional. Customer Relationship Customer management PP2, PP3, PP4, PP5 1. Belum adanya sistem omnichannel yang mengintegrasikan seluruh channel komunikasi dengan pelanggan, sehingga monitoring pelayanan langgan sulit dilakukan. 2. Data terkait pelanggan masih tersebar di berbagai divisi dan belum terpusat menjadi single customer view. 3. Belum adanya sistem informasi untuk mengelola dan mengintegrasikan data hubungan pelanggan. 4. Belum adanya analisis CRM untuk perumusan strategi Marketing. Complaint management PP2, PP3, PP5 1. Belum adanya sistem informasi untuk pengelolaan data keluhan. 2. Data terkait keluhan pelanggan belum terpusat melalui sistem informasi. 3. Belum ada monitoring proses penanganan keluhan secara real-
92 time dan terintegrasi. 4.1.2 ArchiMate Motivation Model Setelah melakukan pendalaman terhadap permasalahan yang ada, peneliti merancang motivation model untuk menelaah motivasi strategis dari rancangan inisiatif TI yang diusulkan, sehingga memperjelas urgensi dan relevansi solusi TI yang diusulkan terhadap kebutuhan organisasi. Selain itu, melalui motivation model, peneliti dapat menyelaraskan rumusan solusi TI dengan kebutuhan stakeholder. Sebagai respons terhadap kondisi saat ini di lapangan, peneliti merujuk pada penelitian oleh De Carolis et al. (2017) untuk merancang course of action, atau solusi TI usulan. Solusi TI usulan pada motivation model ini adalah peningkatan pengambilan keputusan berbasis data, peningkatan responsivitas produksi, peningkatan pengambilan keputusan informasi secara real-time, serta penggunaan sistem kolaborasi supplier dan distributor terintegrasi. Berbagai course of action tersebut menjadi bagian dari tujuan perancangan enterprise architecture untuk menyelaraskan solusi TI dengan kebutuhan rencana strategis. Pada lingkup yang lebih kecil lagi, setiap kebutuhan stakeholder memiliki solusi TI usulan seperti implementasi platform pemasaran berbasis data terintegrasi, implementasi sistem warehouse dan distribusi terintegrasi, implementasi sistem penjualan dan distribusi multichannel terintegrasi, dan lain sebagainya. Adapun kebutuhan stakeholder, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, dianalisis melalui dokumen rencana strategis tahunan pada masing-masing departemen perusahaan. Sedangkan faktor pendorong dan penilaian terhadap urgensi solusi TI, dianalisis melalui wawancara pada masing-masing stakeholder
93 terkait. Dengan demikian, solusi TI yang dihasilkan tidak hanya bersifat ad hoc, tetapi menjadi bagian dari rencana strategis yang mendukung pencapaian tujuan bisnis organisasi. Hasil rancangan motivation model disajikan pada Gambar 4.2.
94 Gambar 4.2 ArchiMate Motivation Model
95 Hasil analisis menggunakan motivation model menunjukkan bahwa faktor pendorong kebutuhan pengembangan enterprise architecture adalah pertumbuhan bisnis dan rencana strategis ekspansi global. Faktor tersebut menyebabkan peningkatan kompleksitas operasional pada berbagai unit organisasi, yang menimbulkan sejumlah permasalahan. Di antaranya adalah keterbatasan informasi real-time, rendahnya integrasi data antar unit, kurangnya visibilitas dan monitoring proses bisnis, belum optimalnya penggunaan data analitik, serta sistem produksi yang kurang responsif menyebabkan lead time lebih panjang dan efisiensi menurun. 4.2 Definisi Tujuan Solusi Pada tahap ini, peneliti menyusun enterprise architecture goals and metrics yang merujuk dalam buku “Fundamentals of Enterprise Architecture Management” oleh Ziemann (2022) sebagai dasar dalam menentukan arah perancangan arsitektur perusahaan. Goals digunakan untuk mendefinisikan sasaran utama yang ingin dicapai dari rancangan arsitektur enterprise integrasi ekosistem digital, sedangkan metrics digunakan sebagai indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan implementasi enterprise architecture dalam mendukung kebutuhan bisnis perusahaan. Tabel 4.2 merupakan enterprise architecture goals and metrics. Tabel 4.2 Enterprise Architecture Goals & Metrics (Ziemann, 2022). EA Goals Metrics Ekosistem digital selaras dengan kebutuhan dan struktur bisnis perusahaan 1. Persentase proses bisnis yang telah terdigitalisasi dan terintegrasi. 2. Tingkat kesesuaian sistem informasi dengan kebutuhan operasional bisnis. 3. Tingkat kepuasan pengguna terhadap layanan dan sistem informasi perusahaan.
96 Ekosistem digital yang efektif dan efisien dalam jangka pendek maupun jangka panjang 1. Pengurangan aktivitas manual dan duplikasi data. 2. Waktu yang dibutuhkan dalam proses pengolahan dan distribusi informasi. 3. Pengurangan biaya operasional akibat redundansi sistem dan proses. Ekosistem digital yang agile dan mampu mendukung perubahan bisnis 1. Kemudahan penambahan atau perubahan layanan digital. 2. Kecepatan implementasi kebutuhan sistem baru. 3. Tingkat interoperabilitas antar aplikasi dan divisi. Ekosistem digital yang sederhana, transparan, dan mudah dipahami 1. Tingkat integrasi antar sistem dan data perusahaan. 2. Kemudahan pelacakan data dan proses bisnis antar divisi. 3. Tingkat standarisasi proses bisnis dan teknologi yang digunakan. Portofolio sistem dan layanan digital yang terintegrasi dan seimbang 1. Tingkat penggunaan platform dan data secara bersama antar divisi. 2. Pengurangan redundansi aplikasi dan data. 3. Tingkat optimalisasi penggunaan sistem existing perusahaan. 4.3 Desain dan Pengembangan Berangkat dari temuan dari tahapan identifikasi masalah dan motivasi, pengembangan artefak sebagai blueprint ekosistem digital difokuskan untuk mencapai tujuan solusi yang telah dirumuskan melalui EA goals and metrics, serta mengatasi permasalahan pada kapabilitas bisnis, serta memenuhi kebutuhan stakeholder. Secara keseluruhan, permasalahan yang terjadi pada lingkungan penelitian adalah kurangnya integrasi sistem informasi yang membentuk ekosistem digital secara utuh, serta adanya ketidakselarasan antara kebutuhan stakeholder
97 dengan kapabilitas digital yang dimiliki perusahaan. Oleh karena itu, dalam merancang blueprint ekosistem digital, peneliti menggambarkan baseline architecture, target architecture, dan gap analysis. Baru kemudian, peneliti menggambarkan IT roadmap pada tahapan DSR selanjutnya, yaitu demonstrasi. Setiap artefak arsitektur yang dihasilkan akan dikonfirmasikan ke pihak terkait untuk memastikan kesesuaian hasilnya. Seluruh pengembangan artefak, didasari oleh temuan wawancara dari berbagai pihak terkait. 4.3.1 Baseline Architecture Tahapan pertama dalam menggambarkan blueprint ekosistem digital adalah dengan memvisualisasikan kondisi saat ini melalui baseline architecture (as-is architecture). Dalam memahami kondisi bisnis saat ini, perlu adanya pemahaman terkait struktur organisasi yang menjadi objek penelitian, seperti yang tertera pada Gambar 4.3. Gambar 4.3 Struktur Organisasi Selanjutnya, untuk memahami kebutuhan organisasi, peneliti terlebih
98 dahulu melakukan analisis menggunakan value chain untuk mengidentifikasi aktivitas utama (primary activities) dan aktivitas pendukung (support activities) yang membentuk proses bisnis perusahaan secara keseluruhan. Diagram value chain disajikan pada Gambar 4.4.
99 Gambar 4.4 Analisis Value Chain
100 Berdasarkan hasil analisis value chain, nilai utama perusahaan dihasilkan melalui kemampuan mengelola proses produksi dan pemasaran digital yang mendukung pertumbuhan penjualan. Sementara itu, aktivitas pendukung seperti pengelolaan sumber daya manusia, pengadaan, teknologi, dan keuangan berperan dalam memastikan kelancaran operasional perusahaan. Analisis ini juga menunjukkan bahwa setiap aktivitas bisnis memiliki keterkaitan sehingga memerlukan pertukaran informasi yang akurat antar divisi. Hasil analisis value chain selanjutnya menjadi dasar dalam melihat kebutuhan bisnis perusahaan. Setelah mengetahui bagaimana proses penciptaan nilai di dalam organisasi, dilakukan pemetaan kondisi eksisting yang diperoleh melalui wawancara dan observasi dengan berbagai pihak terkait, seperti Direktur Utama perusahaan, leader, dan staf pada masing-masing divisi. Penggambaran baseline architecture dilakukan menggunakan ArchiMate viewpoint dan application portfolio model untuk merepresentasikan kondisi bisnis, data, aplikasi, dan teknologi yang saat ini digunakan oleh perusahaan. selanjutnya, hasil perancangan arsitektur baseline tersebut menjadi dasar dalam penyusunan arsitektur target (to-be architecture) yang diusulkan. berikut merupakan pembahasan mengenai model viewpoint pada masing-masing divisi di PT Kreasi Sensori Global. a. purchasing Secara keseluruhan, arsitektur as-is pada unit bisnis purchasing menunjukkan bahwa pemantauan pergerakan bahan baku masih dilakukan secara manual, melalui pencatatan pada sistem Accurate dan komuikasi WhatsApp, belum melalui pemantauan secara real-time. Aktivitas manual ini menjadikan tim
101 purchasing selalu lambat update status bahan baku, sehingga meyulitkan tim produksi untuk membuat perencanaan produksi. Temuan ini didasari pada hasil wawancara dengan staff terkait di divisi purchasing, Ibu Rahma sebagai berikut: “Pemantauan bahan baku saat ini masih dilakukan melalui komunikasi WhatsApp dan sistem Accurate. Sistem tersebut hanya digunakan untuk mencatat status pembelian bahan baku dan belum mampu menyediakan informasi mengenai estimasi kedatangan maupun posisi bahan baku secara real-time. Selain itu, pembaruan status oleh divisi purchasing pada sistem maupun melalui WhatsApp sering mengalami keterlambatan.” (Rahma, staff bagian purchasing). Keterlambatan update oleh divisi purchasing juga dikonfirmasi oleh divisi production, di mana keterlambatan dapat menghambat proses perencanaan produksi. Selain itu, terdapat beberapa proses manual yang menghambat efisiensi dari operasional purchasing, seperti pengelolaan hubungan serta kolaborasi dengan supplier, validasi anggaran dan persetujuan pengeluaran. Gambar 4.5 merupakan arsitektur as-is viewpoint pada divisi purchasing.
102 Gambar 4.5 Viewpoint Purchasing (As-Is) b. Production Melalui observasi pada divisi production, dihasilkan arsitektur as-is yang menunjukkan bahwa proses produksi memiliki visibilitas dan otomatisasi yang rendah, sehingga proses produksi kurang efisien dan optimal. Selain itu juga, penggunaan data analitik yang rendah menyebabkan proses produksi kurang efektif. Seperti pada permintaan produksi yang masih manual, identifikasi kebutuhan produki yang masih manual, perencanaan produksi yang belum terintegrasi real-time dengan hasil analisis proyeksi permintaan produksi dari berbagai channel penjualan, belum adanya penggunaan data analitik untuk analisis perencanaan kapasitas, penjadwalan produksi yang terlambat karena kurangya visibilitas dengan pergerakan bahan baku, serta belum tersistemnya pengelolaan penugasan dan memantau aktivitas produksi secara terintegrasi dan real-time. Proses seperti pemeriksaan kualitas juga bahkan belum terdigitalisasi ke
103 dalam sistem, sehingga menjadi sulit untuk memantau hasil produksi. Selain itu, sistem informasi yang digunakan, yakni Accurate, tidak dapat mengelola perpindahan gudang dan alokasi stok produksi. Ketiadaan kapabilitas dan integrasi tersebut menyulitkan tim gudang untuk mengelola inventory pada masing-masing jaringan distribusi mereka. Seluruh temuan ini didasari oleh hasil wawancara dengan salah satu pihak terkait. “Permintaan produksi dari masing-masing tim saat ini masih dilakukan secara manual melalui WhatsApp. Aktivitas Quality Control juga belum tercatat dalam sistem dan masih dikelola secara manual. Selain itu, sistem Accurate memiliki keterbatasan dalam mendukung proses produksi karena belum menyediakan fitur perpindahan stok antar gudang maupun pengelolaan stok yang fleksibel untuk kebutuhan penjualan berbasis Event. Kondisi tersebut menyebabkan proses operasional menjadi kurang optimal.” (Desti, SPV Production). Akibat dari belum terdigitalisasi nya proses QC dikonfirmasi melalui hasil wawancara berikut ini: “Permasalahan dari tidak terdokumentasi dan tidak terdigitalisasinya proses quality control itu adalah kita menjadi kesulitan untuk tracking barang yang reject karena kita harus menginput data secara manual.” (Desti, SPV Production). Gambar 4.6 adalah hasil rancangan as-is viewpoint dari divisi production.
104 Gambar 4.6 Viewpoint Production (As-Is) c. Warehouse Temuan dari observasi lapangan menghasilkan arsitektur as-is pada divisi warehouse, yang menunjukkan bahwa pengelolaan dan pemantauan proses distribusi untuk berbagai saluran penjualan belum terintegrasi menjadi kesatuan. Hal ini menyebabkan visibilitas terhadap proses pengiriman dan distribusi menjadi rendah. Lalu, sales order pada berbagai saluran penjualan belum terintegrasi langsung dengan sistem gudang, prioritas pengiriman pun belum dilakukan secara otomatis, menyebabkan alokasi pengiriman yang buruk. proses quality check dan pengelolaan hubungan dengan distributor juga belum terakomodasi dengan sistem informasi. Kondisi baseline ini juga dipertegas melalui wawancara dengan direktur utama dan spv gudang, sebagai berikut:
105 “Tim gudang tidak menyampaikan kepada divisi Human Resource bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menangani tingginya volume pesanan. Akibatnya, perusahaan tidak mengetahui bahwa divisi tersebut membutuhkan tambahan tenaga kerja. Di sisi lain, aktivitas periklanan terus berjalan sehingga jumlah pesanan terus meningkat. Namun, karena tim gudang dan pengemasan mengalami keterbatasan sumber daya, proses pengiriman menjadi terlambat dan menimbulkan banyak keluhan pelanggan. Kondisi tersebut menyebabkan akun TikTok Shop perusahaan diblokir dan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan.” (Alea Carolina, Direktur Utama). Permasalahan pada divisi gudang juga diperkuat oleh wawancara dengan spv gudang, sebagai berikut: “Ketika ada promo atau iklan yang sedang berjalan, jumlah pesanan biasanya meningkat sangat signifikan. Namun, jumlah personel di tim gudang dan pengemasan tetap sama sehingga kami sering kewalahan dalam memproses pesanan. Akibatnya, beberapa pesanan mengalami keterlambatan pengiriman. Selama ini kami juga belum memiliki sistem yang dapat menunjukkan kondisi beban kerja tim secara langsung kepada manajemen, sehingga kebutuhan tambahan tenaga kerja sering kali baru diketahui setelah terjadi penumpukan pesanan.” (Agung, SPV Gudang). Gambar 4.7 merupakan arsitektur as-is viewpoint pada divisi warehouse.
106 Gambar 4.7 Viewpoint Warehouse (As-Is) d. Marketing Arsitektur as-is pada unit bisnis marketing menunjukkan bahwa informasi pada berbagai aktivitas pemasaran, seperti pengelolaan affiliate, endorsement, campaign, dan aktivitas promosi lainnya, belum terintegrasi melalui sebuah sistem, sehingga menimbulkan inkonsistensi informasi serta mengurangi akurasi analisis data. selain itu, leader marketing menjadi sulit untuk memantau proses dan performa marketing karena tidak adanya visibilitas. kondisi ini berdampak pada pengambilan keputusan yang kurang tepat, sehingga kinerja pemasaran menjadi kurang optimal dan tidak sepenuhnya tepat sasaran. Gambar 4.8 adalah as-is viewpoint dari divisi marketing. Temuan ini berdasarkan wawancara dengan pihak terkait marketing:
107 “Strategi kita adalah membuat produk yang laku di pasar (product market fit).” (Nana, Manager Marketing) “Accurate untuk analisis penjualan online susah. Penjualan online itu banyak macam-macam pengeluarannya, ada diskon, voucher, ads, dsb. Semuanya harus diinput satu-satu, tidak bisa otomatis. Karena banyak input, jadinya banyak data yang tidak valid.” (Nana, Manager marketing) Gambar 4.8 Viewpoint Marketing (As-Is) e. Research and development Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, arsitektur as-is pada unit bisnis Research and Development (R&D) menunjukkan bahwa proses pengembangan produk belum terintegrasi ke dalam sebuah sistem. Informasi terkait hasil riset pasar, desain produk, formulasi, serta pengujian produk belum
108 tersimpan dalam repositori yang terintegrasi sehingga pengetahuan dan dokumentasi pengembangan produk tersebar pada berbagai media. Informasi yang tersebar dan belum terintegrasi mengurangi keakuratan hasil analisis data. Kondisi- kondisi tersebut menyebabkan proses kolaborasi, pelacakan perubahan desain, dan pengambilan keputusan menjadi kurang efisien karena memerlukan pencarian dan verifikasi informasi dari berbagai sumber yang berbeda. Kondisi ini terlihat pada hasil wawancara berupa: “Proses pengembangan produk itu kita dokumentasi nya masih lewat WhatsApp saja, sama PPT untuk hasil yang sudah fix nya. Belum ada penggunaan aplikasi untuk penyimpanan dokumentasi dan data. Jadi, kadang susah untuk tracking atau mencari dokumen yang kita butuhkan.” (Dea, Staf R&D). Gambar 4.9 merupakan as-is viewpoint pada divisi Research and Development. Gambar 4.9 Viewpoint Research and Development (As-Is) f. Sales Melalui observasi lapangan, dihasilkan arsitektur as-is pada unit bisnis
109 sales, yang menunjukkan bahwa sistem informasi yang digunakan belum mendukung pengelolaan berbagai channel penjualan secara terintegrasi. Karenanya, divisi sales tidak memiliki visibilitas yang memadai untuk memonitoring performa penjualan dan inventory dari berbagai channel penjualan mereka. Sistem informasi yang digunakan juga belum mengakomodasi proses koordinasi antara divisi sales dengan distributor. Selain itu, tidak adanya integrasi real-time dengan sistem warehouse membuat data yang ada tidak valid dan akurat. Kurangnya integrasi ini juga terlihat pada hasil wawancara berikut ini: “Toko offline pakai sistem kasir. Data penjualan dari toko (sistem kasir), dimasukkan manual ke sistem Accurate. Aplikasi kasir yang digunakan adalah Oshera, tapi Oshera itu tidak langsung terintegrasi dengan Accurate. Terkadang, banyak data yang tidak valid atau salah.” (Dian, Staf sales). Gambar 4.10 merupakan as-is viewpoint pada divisi sales.
110 Gambar 4.10 Viewpoint Sales (As-Is) g. Event Arsitektur as-is yang dihasilkan melalui observasi pada unit bisnis event menunjukkan bahwa pengelolaan informasi terkait kerja sama vendor, perencanaan agenda, penyiapan produk, hingga pencatatan penjualan event belum terintegrasi secara otomatis. kondisi ini berpotensi memicu hambatan penyelarasan data antar- divisi, terutama saat menyinkronkan kebutuhan stok produk dari tim production dengan realisasi penjualan di lapangan. Pembaruan status operasional dan koordinasi tim sebagian besar masih bertumpu pada komunikasi manual melalui WhatsApp dan pencatatan pada sistem terpisah (seperti Oshera dan Accurate). Karenanya, tim event sering menghadapi kendala berupa selisih jumlah barang keluar dan masuk. Kondisi ini juga tersampaikan melalui wawancara berikut ini: “Kalau di Event, data tidak terintegrasi. Karena harus input manual, banyak data yang ilang, ada juga yang selisih. Misalnya produk dikeluarkan untuk
111 Event sebagai pengeluaran di gudang, tapi tidak semua laku, jadinya barang balik lagi, nah pas balik lagi, terkadang jumlahnya tidak sama.” (Toni, Staf sales). Gambar 4.11 adalah rancangan as-is viewpoint dari divisi event. Gambar 4.11 viewpoint Event (as-is) h. Finance Berdasarkan hasil observasi pada divisi finance, Arsitektur as-is pada unit bisnis finance menunjukkan bahwa pengelolaan data anggaran berbagai divisi belum terintegrasi sepenuhnya. Dengan demikian, divisi finance kesulitan untuk memonitoring kondisi keuangan secara real-time. Proses validasi dan persetujuan keuangan masih dilakukan secara manual melalui WhatsApp, sehingga menghambat proses operasional perusahaan. Data yang tidak terintegrasi juga menyebabkan analisis data yang kurang akurat. Hasil temuan ini ditegaskan melalui wawancara berikut ini: “Data anggaran dari setiap divisi belum terintegrasi dalam satu sistem,
112 sehingga kami kesulitan memantau kondisi keuangan secara real-time. Selain itu, proses persetujuan masih dilakukan melalui WhatsApp dan rekap data masih banyak dilakukan secara manual.” (Ifa, Staf finance). Gambar 4.12 adalah as-is viewpoint dari divisi finance. Gambar 4.12 Viewpoint Finance (As-Is) i. Customer service Arsitektur as-is pada unit bisnis customer service digambarkan melalui observasi dan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa komunikasi pelanggan di berbagai channel penjualan belum terintegrasi melalui omnichannel. Karenanya, proses pada layanan pelanggan menajdi kurang efisien karena petugas harus berpindah antar aplikasi untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan. Selain itu, tidak adanya integrasi data menyebabkan keterlambatan respons, serta inkonsistensi informasi yang diberikan kepada pelanggan. Data pelanggan juga
113 masih tersebar dan belum terintegrasi menjadi single customer view. Keadaan baseline customer service terlihta pada hasil wawancara berikut ini: “Komunikasi pelanggan masih masing-masing di berbagai platform dan belum terintegrasi dalam satu sistem. customer service harus berpindah-pindah aplikasi untuk melihat riwayat pelanggan, proses pelayanan menjadi kurang efisien, respons lebih lambat, dan data pelanggan belum dapat dilihat secara menyeluruh.”. Gambar 4.13 adalah as-is viewpoint dari divisi customer service. Gambar 4.13 Viewpoint Customer Service (As-Is) j. Human resource Arsitektur as-is menggambarkan kurangnya otomatisasi dan integrasi alur kerja, khususnya dalam proses persetujuan, pemantauan KPI, dan analisis kebutuhan. Dengan demikian, HR tidak dapat memantau progres pekerjaan dan pencapaian KPI setiap divisi secara terintegrasi. Kondisi tersebut menyebabkan keterbatasan dalam mengidentifikasi divisi yang mengalami kekurangan sumber daya manusia maupun divisi yang menunjukkan performa di bawah target.
114 “HR belum memiliki sistem yang terintegrasi untuk memantau progres pekerjaan dan pencapaian KPI seluruh divisi. Informasi masih diperoleh melalui laporan dari masing-masing divisi, sehingga sulit untuk mengidentifikasi divisi yang membutuhkan tambahan SDM maupun divisi yang performanya berada di bawah target.” (Sindy, Staf HR). Gambar 4.14 adalah as-is viewpoint dari divisi Human Resource (HR). Gambar 4.14 viewpoint Human Resource (as-is) Selanjutnya, peneliti menggambarkan as-is application portfolio model, yaitu diagram yang memetakan aplikasi-aplikasi yang digunakan untuk mendukung proses operasional perusahaan ke dalam kelompok kapabilitas. Berdasarkan hasil wawancara dengan direktur utama, Ibu Alea Carolina Science Gayo, Aplikasi Accurate merupakan aplikasi yang direncanakan untuk tidak digunakan lagi, sehingga diberi kategori “retiring”. Sebagaimana hasil wawancara dengan mengutip langsung percakapan sebagai berikut: “Rencananya, kita sudah tidak mau pakai Accurate lagi, karena Accurate
115 itu lebih ke sistem untuk pencatatan dan akuntansi saja, dia tidak terintegrasi.” (Alea Carolina, Direktur Utama). Kemudian, hasil analisis dari Business Problem Mappada Gambar 4.1, menjadi rujukan dalam menilai dukungan TI pada setiap kapabilitas bisnis melalui Application Portfolio Model pada Gambar 4.15.
116 Gambar 4.15 Application Portfolio Model Berdasarkan hasil application portfolio tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat kapabilitas bisnis yang belum mendapat dukungan TI secara optimal, sehingga kapabilitas dengan kriteria tersebut diberi kategori “kurang terpenuhi”. Sedangkan terdapat juga kapabilitas bisnis yang belum mendapat dukungan TI yang memadai, sehingga dikategorikan sebagai "tidak terpenuhi".
117 4.3.2 Business Target Architecture Setelah melakukan analisis terhadap kondisi saat ini (as-is) dan menghasilkan rancangan arsitektur baseline, peneliti membuat arsitektur target sebagai respons dari kondisi yang ada. Arsitektur target mencakup arsitektur bisnis, data, aplikasi, teknologi, dan lanskap. Arsitektur target dirancang menggunakan pendekatan service-based architecture, yang membagi rancangan ekosistem digital menjadi 10 modul utama. Modul-modul yang diusulkan antara lain adalah purchasing, production planning, manufacturing, warehouse management, research and development, marketing, sales, finance, human resource, dan customer relationship management. Modul-modul usulan pada ekosistem digital merujuk pada buku “Enterprise Resource Planning Systems” oleh O’Leary (2000), yang disesuaikan dengan analisis kebutuhan bisnis di PT Kreasi Sensori Global, serta beberapa literatur lain. arsitektur bisnis pada setiap modul yang menjadi usulan, disajikan dalam bentuk value stream model dan business capability model. Value stream model digunakan untuk menggambarkan bagaimana aliran nilai tambah (value-adding) pada ekosistem digital usulan. aliran nilai tambah pada value stream model dirancang agar selaras dengan kebutuhan dan tujuan stakeholder, sebagaimana telah didefinisikan pada rancangan motivation model (Gambar 4.2). Dengan demikian, ekosistem digital yang diusulkan dapat selaras dengan rencana strategis bisnis. Penggambaran value stream model usulan merujuk pada kebutuhan digitalisasi, sebagaimana telah diidentifikasikan di tahapan identifikasi masalah dan motivasi. Sedangkan penggambaran arsitektur bisnis menggunakan business
118 capability model memungkinkan untuk melihat gambaran secara holistik mengenai kapabilitas digital dari kesepuluh modul yang diusulkan. Dari business capability model yang telah dirancang, stakeholder dapat menentukan prioritas implementasi dukungan TI berdasarkan rencana strategis mereka. Berikut ini merupakan pembahasan value stream model dari masing-masing modul pada ekosistem digital usulan. a. Production planning module Value stream model pada modul production planning menggambarkan aliran nilai pada proses perencanaan produksi yang bertujuan menghasilkan perencanaan produksi yang efisien dan terintegrasi. Aliran nilai dimulai dari otomatisasi identifikasi kebutuhan produksi berdasarkan target produksi dan hasil peramalan penjualan dari modul sales. Selanjutnya, sistem menghitung kebutuhan material secara otomatis melalui Material Requirement Planning (MRP) serta validasi kapasitas produksi untuk memastikan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan. Setelah kebutuhan material dan kapasitas produksi tervalidasi, sistem menyusun jadwal produksi secara otomatis dan menghasilkan production order sebagai dasar pelaksanaan produksi. Selanjutnya dilakukan sinkronisasi inventori untuk memastikan ketersediaan material sesuai dengan rencana produksi yang telah ditetapkan. Seluruh aktivitas produksi kemudian dipantau melalui mekanisme monitoring real-time sehingga perkembangan produksi dapat diketahui secara cepat dan akurat. Melalui integrasi data, otomatisasi perencanaan material, validasi kapasitas,
119 penyusunan jadwal, serta monitoring real-time, value stream ini menghasilkan nilai berupa perencanaan produksi yang lebih efisien, akurat, dan terkendali bagi production leader dalam mendukung kelancaran proses manufaktur. Gambar 4.16 adalah to-be value stream model dari modul production planning.
120 Gambar 4.16 Value Stream Model Production Planning Module (To-Be)
121 b. Purchasing module Value stream model pada modul purchasing menggambarkan aliran nilai pada proses pengadaan bahan baku yang bertujuan menghasilkan proses pengadaan yang efisien dan terkendali. Aliran nilai dimulai dari identifikasi kebutuhan pengadaan yang didukung oleh otomatisasi perhitungan biaya bahan baku sehingga kebutuhan pembelian dapat ditentukan secara lebih akurat. Selanjutnya aliran nilai pada validasi anggaran terdapat pada otomatisasinya, yaitu jika perkiraan biaya bahan baku melebihi batas anggaran, maka perlu persetujuan dari tim finance melalui sistem terintegrasi. Setelah pengadaan disetujui, proses berlanjut ke koordinasi supplier yang didukung oleh pengelolaan supplier terintegrasi sehingga informasi supplier dapat dikelola secara terpusat. Tahap berikutnya adalah pemrosesan purchase order yang dilakukan secara otomatis untuk mempercepat proses pemesanan dan mengurangi kesalahan administrasi. Selama proses pengiriman berlangsung, sistem menyediakan visibilitas pengiriman secara real-time sehingga status dan posisi bahan baku dapat dipantau dengan lebih mudah. Gambar 4.17 adalah to-be value stream model dari modul purchasing.
122 Gambar 4.17 Value Stream Model Purchasing Module (To-Be)
123 Ketika barang diterima, dilakukan proses penerimaan dan inspeksi barang yang terintegrasi dengan data pengadaan untuk meningkatkan akurasi informasi. Selanjutnya, verifikasi invoice dilakukan melalui pencocokan otomatis antara invoice, purchase order, dan goods receipt guna memastikan kesesuaian transaksi. Proses diakhiri dengan penyelesaian pembayaran yang mendukung transparansi pengelolaan arus kas perusahaan. Melalui integrasi data, otomatisasi proses pengadaan, pemantauan pengiriman secara real-time, serta verifikasi transaksi yang terintegrasi, value stream ini menghasilkan nilai berupa pengadaan yang lebih efisien, akurat, dan terkendali bagi purchasing leader dalam mendukung kelancaran operasional perusahaan. c. Manufacturing module Value stream model pada modul manufacturing menggambarkan aliran nilai pada proses pelaksanaan dan pengendalian produksi yang bertujuan menghasilkan proses produksi yang efisien dan terintegrasi. Aliran nilai dimulai dari pemantauan aktivitas produksi secara real-time untuk memberikan visibilitas terhadap progres pekerjaan, penggunaan sumber daya, dan kondisi operasional di lantai produksi. Nilai tambah pada aktivitas ini terdapat pada proses produksi yang responsif terhadap permintaan pasar dan pemantauan kapasitas produksi. Gambar 4.18 adalah to-be value stream model dari modul manufacturing.
124 Selanjutnya dilakukan pengendalian proses produksi untuk memastikan seluruh aktivitas produksi berjalan sesuai rencana dan standar operasional yang telah ditetapkan. Pada tahap ini, sistem menyediakan kemampuan monitoring hasil produksi secara terukur sehingga penyimpangan proses dapat segera diidentifikasi dan ditindaklanjuti. Setelah proses produksi selesai, dilakukan quality inspection untuk memeriksa kualitas produk yang dihasilkan. Proses ini didukung oleh aliran nilai yaitu validasi kualitas produksi yang terintegrasi sehingga tim produksi dapat memantau hasil inspeksi dan mengelola barang reject sistematis. Gambar 4.18 Value Stream Model Manufacturing Module (To-Be) Produk yang telah memenuhi standar kualitas kemudian memasuki tahap penyimpanan finished goods. Pada tahap ini, data hasil produksi terintegrasi dengan sistem warehouse sehingga informasi jumlah dan status produk jadi dapat diperbarui secara otomatis. Integrasi antara produksi dan warehouse memungkinkan proses perpindahan barang dan pengelolaan inventory terdokumentasi dengan baik. Melalui visibilitas aktivitas produksi secara real-time, monitoring hasil produksi yang terukur, validasi kualitas yang terintegrasi, serta integrasi antara produksi dan warehouse, value stream ini menghasilkan nilai berupa proses
125 manufacturing yang efisien dan terintegrasi. Nilai tersebut membantu production leader dalam meningkatkan pengendalian produksi, menjaga kualitas produk, serta memastikan kelancaran aliran barang dari proses produksi hingga penyimpanan. d. Warehouse management module Value stream model pada modul warehouse management menggambarkan aliran nilai pada proses pengelolaan gudang dan distribusi yang bertujuan meningkatkan efisiensi serta ketepatan waktu distribusi produk. Aliran nilai dimulai dari alokasi inventory dan warehouse, yaitu aktivitas penentuan lokasi penyimpanan barang dan alokasi stok secara otomatis berdasarkan kebutuhan pada toko cabang atau general trade. Value-adding tersebut membantu perusahaan mengoptimalkan dan memantau persediaan stok pada berbagai gudang. Gambar 4. 19 adalah to-be value stream model dari modul warehouse management. Selanjutnya dilakukan sinkronisasi inventory real-time, yang memungkinkan jumlah stok diperbarui secara otomatis setiap terjadi transaksi barang masuk maupun keluar. Lalu, terdapat aktivitas penerimaan customer order, yaitu proses penerimaan pesanan pelanggan dari berbagai saluran penjualan yang telah terintegrasi untuk memudahkan pemantauan status pesanan. Setelah pesanan diterima, dilakukan validasi dan sinkronisasi order untuk memastikan ketersediaan stok serta kesesuaian data pesanan. Proses ini didukung oleh mekanisme prioritas order otomatis untuk mengoptimalkan kebutuhan distribusi secara real-time.
126 Gambar 4.19 Value Stream Model Warehouse Management Module (To-Be)
127 Tahap selanjutnya adalah perencanaan outbound dan picking, yaitu proses penyiapan barang untuk pengiriman. Aktivitas ini didukung oleh nilai tambah otomatisasi outbound requirement dan manajemen tugas gudang sehingga proses pengambilan dan pengemasan barang dapat dilakukan secara lebih cepat dan terstruktur. Proses diakhiri dengan monitoring berbagai jaringan distribusi perusahaan yang memberikan nilai berupa pelacakan pengiriman secara real-time. Dengan ini, perusahaan memperoleh visibilitas terhadap proses distribusi dan mengidentifikasi potensi keterlambatan pengiriman secara lebih cepat. Melalui otomatisasi pengelolaan inventori, integrasi pesanan pelanggan, sinkronisasi stok secara real-time, serta pemantauan distribusi yang terintegrasi, Value stream ini menghasilkan nilai berupa peningkatan efisiensi dan ketepatan waktu distribusi. Nilai tersebut membantu Warehouse leader dalam mengoptimalkan pengelolaan gudang, meningkatkan akurasi persediaan, dan memastikan produk dapat diterima pelanggan sesuai waktu yang direncanakan. e. Sales module Value stream model pada modul sales menunjukkan alur proses penjualan yang bertujuan untuk meningkatkan visibilitas pengelolaan penjualan berbagai channel. Proses pengelolaan general trade membawa nilai tambah berupa terintegrasinya data distributor, sehingga menghasilkan proses koordinasi yang efektif. Nilai tambah berupa otomatisasi persetujuan dan monitoring penawaran dapat membantu mempermudah proses koordinasi. Proses pengelolaan vendor pada event dirancang untuk memiliki nilai tambah yang dapat melacak hubungan dengan
128 vendor, serta kesepakatan kerja sama. Demikian dengan aktivitas perencanaan dan pengelolaan event yang diharapkan mampu melacak setiap kegiatan, penugasan, dan performa penjualan event yang terintegrasi dalam satu sistem. Gambar 4.20 adalah to-be value stream model dari modul sales. Pada modul sales, pesanan masuk dari berbagai jaringan distribusi serta pengiriman barang keluar ditargetkan terintegrasi dengan sistem gudang, sehingga aktivitas ini dapat membawa nilai tambah berupa efektivitas pengelolaan pesanan melalui monitoring pesanan terintegrasi. Dalam pengelolaan pembayaran, value stream model dirancang untuk mengotomatisasikan invoice dan persetujuan kebutuhan anggaran, yang membawa nilai pada efektivitas proses penjualan karena berkurangnya proses manual dan hand over.
129 Gambar 4.20 Value Stream Model Sales Module (To-Be)
130 Selanjutnya, monitoring performa penjualan dirancang agar dapat membawa nilai tambah yang meningkatkan visibilitas real-time performa penjualan di berbagai channel penjualan. Aktivitas lainnya yaitu integrasi analitik data berupa forecasting penjualan, dirancang untuk membawa nilai tambah berupa meningkatnya efektivitas pengambilan keputusan yang berbasis data. Hasil akhir dari value stream ini adalah meningkatnya efisiensi proses penjualan, tersedianya informasi yang akurat dan terkini, serta kemampuan sales leader dalam mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat untuk meningkatkan kinerja penjualan di berbagai channel bisnis. f. Marketing module Value stream model pada modul marketing menggambarkan alur proses pemasaran yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan aktivitas pemasaran digital secara terintegrasi dan berbasis data. Alur value stream dimulai dari identifikasi insight target market and customer segment, yang menghasilkan nilai tambah berupa pengambilan keputusan yang lebih akurat berdasarkan data pelanggan dan segmentasi pasar. Manfaatnya adalah strategi pemasaran dapat disusun secara lebih tepat sasaran. Gambar 4.21 adalah to-be value stream model dari modul marketing.
131 Gambar 4.21 value stream model Marketing module (to-be)
132 Selanjutnya, aktivitas perencanaan campaign marketing dirancang agar terintegrasi dengan mekanisme budgeting dan persetujuan (approval) yang terpusat. Integrasi tersebut memberikan nilai tambah berupa percepatan proses persetujuan kegiatan pemasaran. Setelah kampanye direncanakan, aktivitas pengelolaan content dan social media memungkinkan pengelolaan konten pemasaran secara terintegrasi dan terotomatisasi, sehingga distribusi konten pada berbagai platform digital dapat dilakukan dengan lebih efisien. Pada aliran integrasi marketplace, sistem dirancang untuk menghubungkan berbagai kanal pemasaran dan penjualan digital ke dalam modul marketing secara terintegrasi. integrasi ini membawa nilai tambah berupa peningkatan visibilitas penjualan dan aktivitas pemasaran pada berbagai channel secara real-time. Selanjutnya, aktivitas pengelolaan endorse, live streaming, dan affiliate mendukung pengelolaan kerja sama dengan influencer, affiliate, maupun kegiatan promosi digital lainnya secara terpusat. Aktivitas tersebut menghasilkan nilai tambah berupa visibilitas dan pengendalian aktivitas pemasaran digital yang lebih baik, sehingga efektivitas setiap program promosi dapat dipantau dengan lebih mudah. Pada proses eksekusi campaign promotion dan digital marketing, sistem dirancang untuk mendukung otomatisasi berbagai aktivitas pemasaran, seperti pelaksanaan kampanye, pengelolaan promosi, dan pemberian diskon. Otomatisasi ini memberikan nilai tambah berupa peningkatan efisiensi operasional dan konsistensi pelaksanaan program pemasaran. Selanjutnya, aktivitas monitoring
133 engagement dan marketing ditujukan untuk memantau performa kampanye secara real-time. Melalui integrasi data dari berbagai platform digital, aktivitas ini menghasilkan visibilitas performa pemasaran dan Return on Investment (ROI) secara real-time, sehingga perusahaan dapat mengevaluasi efektivitas strategi pemasaran yang dijalankan. Pada aktivitas online sales forecasting, aliran nilai terjadi dengan memanfaatkan integrasi data penjualan dan data pemasaran untuk menghasilkan prediksi penjualan online. Nilai tambah yang dihasilkan berupa peningkatan kemampuan pengambilan keputusan berbasis data, baik dalam perencanaan kampanye berikutnya maupun dalam penyusunan strategi pemasaran jangka panjang. Informasi tersebut selanjutnya disajikan kepada marketing leader dalam bentuk dashboard analitik yang menyediakan informasi performa pemasaran secara komprehensif dan real-time. Hasil akhir dari Value stream ini adalah meningkatnya performa pemasaran melalui pengelolaan kampanye yang lebih terintegrasi, terukur, dan berbasis data. Selain itu, tersedianya informasi pemasaran secara real-time memungkinkan marketing leader mengambil keputusan yang lebih tepat sasaran. g. Research & development module Value stream model pada modul research and development (R&D) menggambarkan alur proses pengembangan produk yang dirancang untuk meningkatkan efektivitas inovasi produk berbasis data. Alur value stream dimulai dari aktivitas identifikasi peluang dan ide produk yang didukung oleh digitalisasi, sehhingga membawakan nilai tambah berupa visibilitas hasil market research yang
134 terintegrasi. Dampaknya adalah tim R&D dapat mengidentifikasi peluang inovasi berdasarkan data yang lebih akurat dan terkini. Gambar 4. 22 to-be value stream model dari modul R&D. Selanjutnya, aktivitas perencanaan proyek pengembangan produk dirancang agar terintegrasi secara terpusat. Integrasi ini menghasilkan nilai tambah berupa kemampuan untuk memantau progres proyek, alokasi sumber daya, serta pencapaian target pengembangan produk. Setelah proyek direncanakan, aktivitas pengembangan konsep produk mendukung mekanisme persetujuan (approval) yang terintegrasi. Dengan demikian, setiap usulan konsep dapat ditinjau dan disetujui secara lebih cepat serta terdokumentasi dengan baik. Pada tahap penyusunan formula produk, sistem dirancang untuk mengelola formula produk secara terpusat sehingga seluruh informasi terkait komposisi, spesifikasi bahan baku, dan perubahan formula dapat dilacak dengan mudah. Aktivitas ini menghasilkan nilai tambah berupa pengelolaan formula yang terdokumentasi dan terintegrasi, sehingga mengurangi risiko kehilangan atau ketidaksesuaian data. Tahap berikutnya, yaitu eksperimen dan pengujian produk, dirancang untuk menghasilkan nilai tambah berupa tersedianya dokumentasi hasil pengujian dan kemudahan dalam melakukan evaluasi terhadap setiap pengembangan produk.
135 Gambar 4. 22 Value Stream Model R&D Module (To-Be)
136 Selanjutnya, aktivitas pengelolaan spesifikasi produk, yang dirancang untuk menghasilkan nilai tambah berupa tersedianya standar produk yang terdokumentasi dengan baik. Pada tahap peluncuran produk, sistem dirancang agar terintegrasi dengan fungsi pemasaran dan produksi. Integrasi tersebut memungkinkan informasi produk baru, formula, dan spesifikasi produk dapat langsung digunakan oleh divisi terkait tanpa memerlukan proses pertukaran data secara manual. Hasil akhir dari value stream ini adalah terciptanya proses inovasi produk yang terdokumentasi, dan terintegrasi. Selain meningkatkan efisiensi pengelolaan proyek pengembangan produk, value stream ini juga menghasilkan informasi yang lebih akurat untuk mendukung pengambilan keputusan, sehingga perusahaan mampu menghasilkan inovasi produk yang lebih tepat sasaran, dan sesuai dengan kebutuhan pasar. h. Finance module Value stream model pada modul finance menggambarkan alur proses pengelolaan keuangan yang dirancang untuk meningkatkan akurasi, transparansi, dan visibilitas informasi keuangan secara terintegrasi. alur value stream dimulai dari aktivitas pengelolaan billing dan invoice yang menghasilkan nilai tambah berupa proses dan monitoring yang terintegrasi sehingga status tagihan dapat dipantau secara lebih mudah dan akurat. Selanjutnya, pada aktivitas pengelolaan hutang dan pembayaran vendor, sistem dirancang untuk mengintegrasikan data hutang dengan proses pembayaran vendor. Integrasi tersebut memberikan nilai tambah berupa kemampuan memonitor kewajiban perusahaan kepada vendor secara real-time, sehingga membantu pengendalian arus kas dan mengurangi risiko
137 keterlambatan pembayaran. Pada sisi penerimaan, aktivitas pengelolaan piutang dan pembayaran customer dirancang agar seluruh data piutang pelanggan dan penerimaan pembayaran dapat tercatat dalam satu sistem. Aktivitas ini menghasilkan nilai tambah berupa monitoring piutang secara real-time yang memudahkan perusahaan dalam mengelola tagihan pelanggan dan mempercepat proses penagihan. Selain itu, aktivitas pengelolaan kas dan rekening bank mendukung integrasi transaksi keuangan dengan rekening perusahaan sehingga perusahaan memperoleh visibilitas terhadap posisi kas dan arus kas secara real-time. Melalui integrasi tersebut, proses monitoring cashflow menjadi lebih akurat. Gambar 4.23 adalah to-be value stream model dari modul finance.
138 Gambar 4.23 Value Stream Model Finance (To-Be)
139 Pada tahap pengelolaan konsolidasi transaksi keuangan, sistem dirancang untuk mengintegrasikan seluruh transaksi keuangan dari berbagai proses bisnis perusahaan untuk kebutuhan pelaporan maupun analisis. Selanjutnya, aktivitas pengelolaan anggaran dan perencanaan keuangan mendukung kemampuan melakukan monitoring realisasi anggaran secara real-time. Pada aktivitas integrasi forecasting dan insight finansial, ekosistem digital dirancang untuk memanfaatkan data historis dan data operasional dalam menghasilkan proyeksi keuangan perusahaan. Integrasi analitik ini memberikan nilai tambah berupa kemampuan melakukan perencanaan keuangan yang lebih akurat. Informasi tersebut kemudian disajikan melalui dashboard finance leader dan CEO yang menyediakan visibilitas menyeluruh terhadap kondisi keuangan perusahaan. Hasil akhir dari value stream ini adalah meningkatnya akurasi pengelolaan keuangan, tersedianya visibilitas informasi keuangan secara real-time, serta kemampuan perusahaan dalam melakukan pengendalian dan perencanaan keuangan secara lebih efektif. Dengan dukungan integrasi proses, otomatisasi transaksi, dan analitik keuangan, finance leader maupun CEO dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan berbasis data. i. Human resource module Value stream model pada modul Human Resource (HR) menggambarkan proses pengelolaan sumber daya manusia yang terintegrasi mulai dari perencanaan kebutuhan tenaga kerja hingga pengembangan karyawan. Proses diawali dengan perencanaan kebutuhan tenaga kerja yang didukung oleh identifikasi kebutuhan tenaga kerja secara sistematis serta mekanisme approval yang terintegrasi. Tahap
140 ini dilanjutkan dengan proses rekrutmen dan hiring yang memanfaatkan workflow terintegrasi, sehingga proses seleksi dan penerimaan karyawan dapat dilakukan secara lebih terdokumentasi dengan baik. Ekosistem digital dirancang untuk mendukung pengelolaan struktur organisasi dan jabatan serta pengelolaan data karyawan dalam satu basis data terpusat. Integrasi ini memastikan seluruh informasi karyawan tersimpan secara konsisten dan mudah diakses oleh pihak yang berwenang. Selanjutnya, pengelolaan absensi dan waktu kerja dilakukan secara real-time sehingga perusahaan dapat memantau kehadiran dan aktivitas kerja karyawan secara lebih akurat. Data tersebut kemudian terhubung dengan proses payroll yang berjalan secara otomatis, sehingga perhitungan gaji menjadi lebih efisien dan meminimalkan kesalahan administrasi. Gambar 4. 24 adalah to-be value stream model dari modul human resource.
141 Gambar 4.24 Value Stream Model Human Resource Module (To-Be)
142 Selain mendukung administrasi kepegawaian, ekosistem digital juga menyediakan fitur monitoring performa karyawan melalui pengelolaan KPI dan evaluasi kinerja yang terintegrasi. Hasil penilaian kinerja tersebut menjadi dasar dalam perencanaan dan pengembangan karyawan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sesuai kebutuhan organisasi. Dengan tersedianya data yang terintegrasi dan real-time, HR leader memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap kondisi tenaga kerja, performa karyawan, serta kebutuhan pengembangan SDM. Hasil akhirnya adalah peningkatan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia, pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat, serta pengembangan SDM yang lebih terarah untuk mendukung tujuan perusahaan. j. Customer relationship management module Value stream model pada modul Customer Relationship Management (CRM) menggambarkan alur penciptaan nilai dalam pengelolaan hubungan pelanggan yang bertujuan untuk meningkatkan loyalitas dan pengelolaan hubungan dengan pelanggan yang berbasis data. Proses diawali dengan pengelolaan data dan kontak pelanggan secara terpusat sehingga seluruh informasi pelanggan dapat terintegrasi dan mudah diakses. Data tersebut kemudian diperkaya melalui pencatatan interaksi pelanggan dan histori pembelian dari berbagai kanal, sehingga perusahaan memperoleh pandangan yang lebih lengkap mengenai perilaku dan kebutuhan pelanggan. Gambar 4.25 adalah hasil rancangan value stream model dari modul CRM.
143 Gambar 4.25 Value Stream Model Customer Relationship Module (To-Be)
144 Informasi yang telah terkumpul selanjutnya dimanfaatkan untuk mengelola lead dan opportunity penjualan, melakukan segmentasi pelanggan, serta memberikan layanan yang lebih personal. Dengan adanya integrasi data pelanggan, perusahaan dapat mengidentifikasi prospek potensial, memahami karakteristik pelanggan, dan memberikan layanan yang lebih tepat sasaran. Selain itu, proses pengelolaan layanan dan penanganan pelanggan menjadi lebih terstruktur karena seluruh riwayat interaksi dan informasi pelanggan tersedia dalam satu sistem. Setelah perancangan value stream model, kapabilitas digital dari setiap modul yang diusulkan digambarkan melalui business capability model, pada Gambar 4.26. Kapabilitas digital yang diusulkan, dirancang berdasarkan hasil analisis kebutuhan bisnis dan studi literatur yang relevan. Dengan demikian, kapabilitas digital pada BCM dirancang khusus untuk mendukung digitalisasi operasional, penggunaan data analitik lanjutan, otomatisasi proses, integrasi data, peingkatan visibilitas proses bisnis, serta pengambilan keputusan berbasis data. Kapabilitas yang diusulkan disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan bisnis, analisis kesenjangan arsitektur, dan target ekosistem digital perusahaan.
145 Gambar 4.26 Business Capability Model Usulan Pada purchasing module, kapabilitas digital yang diusulkan berfokus pada peningkatan efisiensi dan transparansi proses pengadaan. Kapabilitas seperti
146 integrated supplier management, automated purchase order, dan automated invoice & payment memungkinkan proses pengadaan dilakukan secara terintegrasi dan terotomatisasi, mulai dari pengelolaan vendor hingga pembayaran. Selain itu, kapabilitas automated budget control & approval dan procurement analytics mendukung pengendalian anggaran serta analisis kinerja pengadaan secara lebih efektif. Kehadiran real-time shipment tracking dan integrated quality check management juga meningkatkan visibilitas proses pengiriman dan kualitas material yang diterima perusahaan. Pada production planning module, kapabilitas digital dirancang untuk meningkatkan akurasi perencanaan dan optimalisasi sumber daya produksi. Kapabilitas seperti Intelligent production planning, automated production scheduling, dan automated material requirement planning mendukung perencanaan produksi yang lebih responsif terhadap perubahan permintaan. Selain itu, intelligent capacity planning, production resource optimization, dan warehouse allocation planning memungkinkan perusahaan mengoptimalkan kapasitas produksi, tenaga kerja, serta penggunaan material. Kapabilitas ini didukung oleh real-time inventory & stock planning serta integrated routing management yang meningkatkan koordinasi antara fungsi perencanaan, produksi, dan pergudangan. Pada manufacturing module, fokus kapabilitas digital berada pada pengendalian aktivitas produksi secara real-time. Kapabilitas integrated production task management dan real-time production activity monitoring memungkinkan perusahaan memantau progres produksi secara langsung. Sementara itu, quality control management mendukung pengendalian kualitas yang lebih terstruktur,
147 sedangkan integrated finished goods allocation membantu memastikan distribusi hasil produksi dilakukan secara optimal. Pengukuran kinerja operasional juga diperkuat melalui kapabilitas production KPI management. Pada research and development module, kapabilitas digital diarahkan untuk meningkatkan efektivitas inovasi produk. Kapabilitas integrated research project management memungkinkan pengelolaan proyek penelitian secara terstruktur, sedangkan integrated product lifecycle management mendukung pengelolaan siklus hidup produk dari tahap ide hingga peluncuran. Selain itu, intelligent market research management membantu memanfaatkan data pasar sebagai dasar pengembangan produk. Kapabilitas automated R&D budget control & approval, product testing management, dan R&D KPI management turut mendukung tata kelola aktivitas penelitian yang lebih efektif dan terukur. Pada marketing module, kapabilitas digital yang diusulkan berfokus pada pengelolaan pemasaran omnichannel dan pemasaran berbasis data. Kapabilitas seperti integrated campaign lifecycle management, integrated influencer & KOL management, dan integrated content management memungkinkan seluruh aktivitas pemasaran dikelola dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Selain itu, omnichannel marketplace integration dan omnichannel social media integration meningkatkan visibilitas aktivitas pemasaran di berbagai platform digital. Kapabilitas analitik seperti integrated online sales forecasting, intelligent marketing analytics, dan digital marketing ROI monitoring mendukung evaluasi performa pemasaran secara real-time sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan akurat.
148 Pada sales module, kapabilitas digital difokuskan pada peningkatan efektivitas pengelolaan penjualan dan hubungan dengan distributor. Kapabilitas Integrated general trade management, integrated quotation management, dan integrated sales order management mendukung pengelolaan proses penjualan secara end-to-end. Sementara itu, integrated invoice & payment management memastikan proses transaksi berjalan lebih efisien. Kapabilitas analitik seperti integrated sales forecasting, intelligent sales analytics, revenue monitoring, dan sales performance monitoring memungkinkan perusahaan memperoleh visibilitas yang lebih baik terhadap performa penjualan dan pencapaian target bisnis. Pada finance module, kapabilitas digital dirancang untuk meningkatkan akurasi dan transparansi pengelolaan keuangan perusahaan. Kapabilitas seperti automated billing & invoice management, integrated accounts payable management, dan integrated accounts receivable management mendukung otomatisasi transaksi keuangan. Selain itu, integrated budgeting & financial planning, integrated financial forecasting, dan financial analytics & performance reporting memberikan kemampuan analitik yang mendukung proses perencanaan dan pengendalian keuangan. Kapabilitas automated account reconciliation management juga membantu meningkatkan akurasi pencatatan dan pelaporan keuangan perusahaan. Pada human resource module, kapabilitas digital yang diusulkan mendukung pengelolaan sumber daya manusia yang lebih terintegrasi. Kapabilitas integrated employee data management, automated attendance & workforce management, dan integrated payroll management memungkinkan pengelolaan
149 administrasi sdm dilakukan secara otomatis. Selain itu, recruitment & talent acquisition, resource requirement tracking, serta hr analytics & workforce reporting membantu perusahaan dalam perencanaan kebutuhan tenaga kerja dan pengembangan talenta secara lebih strategis. pengukuran kinerja sdm juga didukung melalui HR KPI management. Pada customer resource management module, kapabilitas digital berfokus pada peningkatan kualitas hubungan dengan pelanggan dan pemanfaatan data pelanggan sebagai aset strategis perusahaan. Kapabilitas integrated customer data management, customer purchase lifecycle management, dan integrated customer service management memungkinkan pengelolaan pelanggan dilakukan secara menyeluruh. Kapabilitas behavioral customer segmentation management, intelligent lead & opportunity management, dan ai driven promotion & cross selling recommendation mendukung strategi pemasaran yang lebih personal dan berbasis perilaku pelanggan. Selain itu, omnichannel customer interaction management memungkinkan seluruh interaksi pelanggan dari berbagai kanal terintegrasi dalam satu platform. Pada warehouse management module, kapabilitas digital diarahkan untuk meningkatkan visibilitas dan efisiensi pengelolaan persediaan. Kapabilitas real- time warehouse inventory management dan real-time inventory tracking & visibility memungkinkan perusahaan memantau kondisi stok secara real-time. Sementara itu, automated warehouse task management, integrated warehouse allocation, dan intelligent order fulfillment management mendukung optimalisasi aktivitas operasional gudang. Kapabilitas integrated shipment & distribution
150 management juga meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memantau proses distribusi barang secara terintegrasi. 4.3.3 Data Target Architecture Perancangan arsitektur data target difokuskan pada integrasi data antar berbagai modul dalam ekosistem digital perusahaan, sehingga dapat meningkatkan pengambilan keputusan secara real-time. Arsitektur data dikembangkan berdasarkan hasil analisis kebutuhan data serta analisis aliran informasi di perusahaan. Kebutuhan data dan informasi diperoleh melalui wawancara dan observasi pada PT Kreasi Sensori Global. Arsitektur data target disajikan melalui data entity catalog dan conceptual data model. Data entity catalog digunakan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan entitas data utama. Sementara itu, conceptual data model digunakan untuk memvisualisasikan hubungan antar entitas data pada tingkat konseptual sehingga memberikan gambaran menyeluruh mengenai aliran dan keterhubungan data yang mendukung integrasi proses bisnis dalam ekosistem digital perusahaan. Berikut ini merupakan hasil rancangan data entity catalog. a. Production planning module Pada data entity catalog di modul production planning, entitas production requisition digunakan untuk mencatat permintaan produksi oleh tim marketing & sales. Kebutuhan material dari setiap produk yang diperlukan dalam proses produksi kemudian dikelola melalui material requirement dan Bill of Materials (BOM), yang berfungsi sebagai dasar perhitungan kebutuhan bahan baku. Selanjutnya, entitas production order dan production schedule digunakan
151 untuk mengelola pelaksanaan dan penjadwalan produksi agar sesuai dengan target produksi dan kapasitas sumber daya yang tersedia. Pengelolaan kapasitas produksi didukung oleh entitas resource master, routing master, dan capacity planning yang memungkinkan perusahaan melakukan perencanaan sumber daya secara lebih optimal. Apabila ketersediaan material tidak mencukupi, sistem akan menghasilkan purchase requisition sebagai dasar pengajuan pembelian bahan baku kepada pemasok. Tabel 4.3 adalah hasil rancangan data entity catalog dari mdul production planning. Tabel 4.3 Business Production Planning Module Data Entity Attribute Production requisition [production_requisition_id, production_period, production_demand, warehouse_id *, capacity_id *, capacity_status] Material requirement [mrp_id, product_id, material_id, material_name, quantity_required, production_requisition_id, unit, status] Production order [production_order_id, product_id *, product_name, quantity_production, production_date, due_date, production_status, priority_level] Bill of materials [bom_id, product_id *, material_id *, material_name, demand_forecast, unit] Material master [material_id, sku, material_name, current_stock, stock_status, stock_buffer] Product master [product_id, sku, product_name, product_category, product_specification, current_stock, stock_status] Resource master [resource_id, category, name, capacity, status, availability] Routing master [routing_id, operation_sequence, standard_time] Production schedule [schedule_id, production_order_id *, start_date, end_date, queue_level] Capacity planning [capacity_id, resource_id *, routing_id *, available_capacity, capacity_status] Inventory master [inventory_id, warehouse_id *, product_id *, current_stock, reserved_stock, incoming_stock, safety_stock]
152 Purchase requisition [pr_id, request_date, requester, department *, material_id *, supplier_id *, material_name, quantity_requested, unit, purchase_requisition_status, budget_id *, budget_forecast, max_budget, budget_approval_status] b. Purchasing module Pada data entity catalog di modul purchasing, entitas supplier master digunakan untuk mengelola informasi pemasok yang menjadi mitra perusahaan dalam proses pengadaan. Kebutuhan pembelian material yang berasal dari proses perencanaan produksi dicatat melalui purchase requisition master sebagai dasar pengajuan pembelian dan proses persetujuan anggaran. Setelah pengajuan pembelian disetujui, sistem akan menghasilkan purchase order yang digunakan sebagai dokumen resmi pemesanan kepada pemasok. Selanjutnya, proses pengiriman material dipantau melalui shipment master yang menyediakan informasi status pengiriman, estimasi kedatangan, serta lokasi pengiriman secara real-time. Setelah material diterima, proses penerimaan dan inspeksi barang dicatat dalam goods receipt master untuk memastikan kesesuaian barang yang diterima dengan pesanan yang diajukan. Selain itu, entitas invoice master digunakan untuk mengelola proses penagihan dan pembayaran kepada pemasok berdasarkan transaksi pembelian yang telah dilakukan. Tabel 4.4 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul purchasing. Tabel 4.4 Data Entity Catalog Purchasing Module Data Entity Attribute Supplier master [supplier_id, supplier_name, contact, address, status, lead_time] Purchase requisition [pr_id, mrp_id *, request_date, requester, department *, material_id *, supplier_id *, material_name, budget_forecast, budget_id *, max_budget,
153 master budget_approval_status, purchase_requisition_status] Purchase order [po_id, supplier_id *, po_date, po_status, total_cost] Invoice master [invoice_id, supplier_id *, invoice_date, total_payment, payment_status] Shipment master [shipment_id, po_id *, supplier_id *, shipment_date, arrival_estimation, shipment_status, resi_number, latitude, longitude, current_location, tracking_timestamp] Goods receipt master [goods_receipt_id, po_id *, warehouse_id *, receipt_date, received_by, inspection_status] c. Manufacturing module Pada data entity catalog di modul manufacturing, entitas production master digunakan untuk mencatat aktivitas produksi yang berlangsung, mulai dari waktu pelaksanaan, status aktivitas, jumlah produksi yang dihasilkan, hingga hasil inspeksi kualitas produk. Entitas ini terhubung dengan production order dan routing master untuk memastikan proses produksi berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Selanjutnya, hasil produksi yang telah selesai diproses akan dicatat pada inventory master untuk memantau ketersediaan stok produk pada setiap gudang maupun saluran penjualan. Adapun informasi lokasi penyimpanan produk dikelola melalui warehouse master yang menyimpan data terkait identitas dan lokasi gudang. Tabel 4.5 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul manufacturing. Tabel 4.5 Data Entity Catalog Manufacturing Module Data Entity Attribute Production master [production_id, routing_id *, production_order_id *, start_time, end_time, activity_status, production_quantity, inspection_result, product_id *n inventory_id *] Inventory [inventory_id, product_id *, warehouse_id *, quantity_stock, sales_channel_id
154 master *] Warehouse master [warehouse_id, warehouse_name, warehouse_location] d. Warehouse management module Pada data entity catalog di modul warehouse, entitas sales order master digunakan untuk mencatat pesanan yang diterima dari berbagai saluran penjualan beserta status dan prioritas pemrosesannya. Selanjutnya, kebutuhan pengemasan produk dikelola melalui outbound requirement yang menjadi dasar perencanaan penggunaan material kemasan sebelum proses pengiriman dilakukan. Aktivitas operasional gudang seperti pengambilan barang, pengemasan, dan persiapan pengiriman dikelola melalui warehouse task sehingga proses distribusi dapat berjalan secara terstruktur dan terjadwal. Adapun lokasi penyimpanan produk dikelola melalui warehouse master yang menyimpan informasi terkait gudang perusahaan. Setelah pesanan siap dikirim, proses distribusi dimonitor melalui entitas shipment yang memuat informasi status dan lokasi pengiriman hingga produk diterima pelanggan. Selanjutnya, proses penagihan dan pembayaran dikelola melalui invoice master untuk memastikan transaksi penjualan dapat diselesaikan dengan baik. Tabel 4.6 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul warehouse Management module. Tabel 4.6 Data Entity Catalog Warehouse Management Module Data Entity Attribute Sales order master [sales_order_id, customer_id *, product_id *, total_order, sales_channel_id *, sales_channel, order_status, queue_level] Warehouse [warehouse_id, warehouse_name, warehouse_location]
155 master Outbound requirement [outbound_req_id, production_id *, packing_material_id *, budget_id *, forecast_quantity, forecast_budget, budget_approval_status, max_budget] Packing material master [packing_material_id, material_name, available_stock, stock_status] Inventory master [inventory_id, warehouse_id *, quantity_stock, sales_channel_id *] Warehouse task [warehouse_task_id, task_type, assigned_employee, scheduled_time, task_status] Shipment [shipment_id, sales_order_id *, shipment_status, shipment_date, shipment_location, customer_address] Invoice master [invoice_id, sales_order_id *, sales_chanel, invoice_date, total_invoice, payment_status] e. Sales module Pada data entity catalog di modul sales, entitas sales channel master berfungsi untuk mengelola informasi berbagai kanal penjualan yang digunakan perusahaan, sedangkan customer master, branch store master, dan distributor master digunakan untuk menyimpan informasi pelanggan, toko cabang, dan distributor sebagai pihak yang terlibat dalam proses penjualan. Untuk mendukung aktivitas penjualan berbasis event, sistem menyediakan entitas event vendor master, event master, dan event task yang digunakan untuk mengelola vendor, pelaksanaan event, serta tugas-tugas yang terkait dengan kegiatan promosi dan penjualan. Selain itu, modul ini juga mendukung proses perencanaan penjualan melalui entitas sales forecasting yang digunakan untuk memprediksi permintaan produk dan menentukan target produksi. Hasil peramalan tersebut menjadi dasar
156 pembentukan production requisition guna memastikan ketersediaan produk sesuai kebutuhan pasar. Adapun entitas quotation digunakan untuk mengelola penawaran harga kepada pelanggan sebelum transaksi penjualan dilakukan. Tabel 4.7 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul sales. Tabel 4.7 Data Entity Catalog Sales Module Data Entity Attribute Sales Channel Master [sales_channel_id, channel_type, channel_name] Customer master [customer_id, customer_name, address, contact, region, sales_channel_id *, sales_channel] Branch store master [branch_id, branch_name, branch_location, sales_channel_id *, inventory_id *, inventory_stock] Distributor master [distributor_id *, distributor_name, region, address, contact_person, contact, distributor_level, sales_channel_id *, inventory_id *, inventory_stock] Event vendor master [vendor_id, vendor_name, address, status, contact, contact_person, region, budget_id *, budget_max, budget_approval_status] Event master [Event_id, Event_name, Event_schedule, Event_pic, Event_status, vendor_id *, vendor_status, product_id *, sales_performance, POS_id *, sales_channel_id *, inventory_stock] Event task [Event_task_id, Event_id *, task_name, assigned_person, task_status] Sales Order [sales_order_id, sales_channel_id*, product_id *, total_order, order_status, payment_id *, payment_status, shipment_id *, shipment_status] Invoice master [invoice_id, sales_order_id *, invoice_date, total_invoice, payment_status] Payment master [payment_id, invoice_id *, payment_date, payment_method, payment_amount] Shipment [shipment_id, sales_order_id *, sales_channel_id *, shipment_date,
157 master shipment_status] Sales Forecasting [forecast_id, product_id *, forecast_period, predicted_demand, Production_target, sales_order_id *] Production requisition [Production_requisition_id, Production_period, forecast_id *, Production_target, warehouse_id *] Quotation [quotation_id, customer_id *, quotation_date, quotation_status, total_quotation] f. Marketing module Pada data entity catalog di modul marketing, entitas marketplace channel dan social media channel digunakan untuk mengelola berbagai kanal pemasaran dan penjualan digital, termasuk pemantauan performa kanal serta integrasi melalui API. Aktivitas promosi dan pemasaran dikelola melalui campaign management yang didukung oleh customer segment untuk menentukan target audiens yang sesuai dengan strategi pemasaran perusahaan. Dalam pelaksanaan kampanye, sistem memanfaatkan content management untuk mengelola konten pemasaran yang akan dipublikasikan pada berbagai platform digital. Selain itu, kerja sama dengan influencer atau Key Opinion Leader (KOL) dikelola melalui KOL Master guna mendukung peningkatan jangkauan dan efektivitas kampanye pemasaran. Pengelolaan anggaran pemasaran dilakukan melalui marketing budget untuk memastikan penggunaan anggaran dapat dipantau dan dikendalikan sesuai rencana yang telah ditetapkan. Untuk mengukur efektivitas aktivitas pemasaran, sistem menyediakan marketing analytics yang mencatat berbagai indikator kinerja seperti impresi, klik, tingkat konversi, ROI, dan engagement. Informasi tersebut
158 menjadi dasar dalam penyusunan online sales forecasting untuk memperkirakan permintaan produk di masa mendatang. Tabel 4.8 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul marketing. Tabel 4.8 Data Entity Catalog Marketing Module Data Entity Attribute Sales order [sales_order_id, customer_id *, product_id *, total_order, shipment_id *, shipment_status, marketplace_channel_id *, marketplace_name, order_status] Marketplace channel [market_channel_id, marketplace_name, API_status, sales_performance, sales_channel_id *, inventory_id *, inventory_stock] Campaign management [campaign_id, campaign_name, campaign_type, start_date, end_date, campaign_status, target_audience] Customer segment [segment_id, segment_name, segmentation_criteria, target_customer] Social media channel [social_media_channel_id, platform_name, API_status, account_performance] Content management [content_id, content_title, content_type, content_category, publish_schedule, content_status] Kol master [kol_id, kol_name, platform, follower_count, engagement_rate, rate_card, collaboration_status] Marketing budget [budget_id, campaign_id *, budget_type, allocated_budget, actual_cost, remaining_budget] Marketing analytics [analytics_id, campaign_id *, impressions, clicks, conversion_rate, ROI, engagement_metric, social_media_channel_id] Online sales forecasting [forecast_id, product_id *, forecast_period, predicted_demand, Production_target] Production requisition [Production_requisition_id, Production_period, forecast_id *, Production_target, warehouse_id *, sales_order_id *] Product master [product_id, SKU, product_name, product_category, product_specification, current_stock, stock_status, price] Discount & promotion [promotion_id, promotion_name, promotion_type, discount_Value, start_date, end_date, eligibility_criteria] Product bundle [bundle_id, bundle_name, bundled_products, bundle_price, bundle_status]
159 g. Finance module Pada data entity catalog di modul finance, entitas accounts payable dan accounts receivable digunakan untuk mengelola kewajiban pembayaran kepada pemasok serta piutang yang berasal dari transaksi pelanggan. Seluruh transaksi keuangan yang terjadi kemudian dicatat pada general ledger sebagai dasar penyusunan laporan keuangan perusahaan. Pengelolaan arus kas dilakukan melalui cashflow master yang mencatat seluruh transaksi penerimaan dan pengeluaran dana berdasarkan departemen. Untuk mendukung pengendalian keuangan, sistem menyediakan budget master yang digunakan untuk merencanakan, memantau, dan mengendalikan penggunaan anggaran pada setiap departemen. Selanjutnya, data transaksi yang telah tercatat akan diolah menjadi financial statement untuk menghasilkan laporan keuangan perusahaan. Proses kepatuhan dan validasi keuangan juga didukung oleh account reconciliation untuk memastikan kesesuaian antara catatan keuangan dan saldo rekening perusahaan. Entitas data financial analytics dan financial forecast juga digunakan untuk menganalisis kinerja keuangan serta memproyeksikan kondisi keuangan perusahaan pada periode mendatang. Tabel 4.9 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul finance. Tabel 4.9 Data Entity Catalog Finance Module Data Entity Attribute Accounts payable [AP_id, supplier_id *, invoice_id *, due_date, payable_amount, payment_status] Accounts receivable [AR_id, customer_id *, invoice_id *, receivable_amount, due_date, payment_status] General ledger [GL_id, account_code, account_name, transaction_date, debit_amount, credit_amount]
160 Cashflow master [cashflow_id, transaction_date, transaction_type, department_id *, bank_id *, amount, payment_method, transaction_status, approval_status] Financial statement [statement_id, reporting_period, total_revenue, total_expense, net_profit] Invoice master [invoice_id, name, invoice_date, invoice_type, total_amount, invoice_status] Payment master [payment_id, invoice_id *, payment_date, payment_method, payment_amount] Bank master [cashbank_id, bank_name, account_number, account_balance, cashflow_type] Budget master [budget_id, department_id *, budget_period, budget_forecast, used_budget, max_budget] Financial analytics [analytics_id, reporting_period, revenue, expense, profit_margin, cashflow_status] Tax master [tax_id, tax_type, tax_rate, tax_amount, tax_period] Account reconciliation [reconciliation_id, account_id *, reconciliation_date, reconciliation_status] Financial forecast [forecast_id, forecast_period, projected_revenue, projected_expense, projected_cashflow] h. HR module Pada data entity catalog di modul Human Resource (HR), entitas employee master digunakan untuk menyimpan informasi utama karyawan, sedangkan department master berfungsi untuk mengelola struktur organisasi dan penempatan karyawan pada setiap departemen. Pengelolaan administrasi kepegawaian didukung oleh attendance master dan leave master yang digunakan untuk mencatat kehadiran serta pengajuan cuti karyawan. Selanjutnya, payroll master digunakan untuk mengelola proses penggajian berdasarkan data kehadiran, tunjangan, dan potongan yang berlaku pada setiap periode. Pada proses pengadaan tenaga kerja, recruitment master digunakan untuk
161 mengelola tahapan rekrutmen dan status kandidat. Selain itu, performance evaluation berfungsi untuk memantau dan mengevaluasi kinerja karyawan berdasarkan capaian KPI dan umpan balik yang diberikan. Pengembangan kompetensi karyawan dikelola melalui training & development yang mencatat aktivitas pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia. Tabel 4.10 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul human resource. Tabel 4.10 Data Entity Catalog Human Resource Module Data Entity Attribute Employee master [employee_id, employee_name, gender, birth_date, address, phone_number, email, hire_date, employment_status, department_id *, position_name, position_level] Attendance master [attendance_id, employee_id *, attendance_date, check_in_time, check_out_time, attendance_status] Leave master [leave_id, employee_id *, leave_type, leave_start_date, leave_end_date, leave_status] Payroll master [payroll_id, employee_id *, salary_amount, allowance_amount, deduction_amount, payroll_period] Recruitment master [recruitment_id, candidate_name, applied_position, recruitment_stage, recruitment_status] Department master [department_id, department_name, leader_name] Performance evaluation [evaluation_id, employee_id *, KPI_score, feedback, evaluation_status] Training & development [training_id, training_name, employee_id *, training_date, training_status] i. Research & Development module Pada data entity catalog di modul Research and Development (R&D), entitas research project master digunakan untuk mengelola informasi proyek penelitian, termasuk tujuan, anggaran, periode pelaksanaan, dan penanggung jawab
162 proyek. Selanjutnya, product development master digunakan untuk memantau proses pengembangan produk pada setiap tahapan hingga target peluncuran produk tercapai. Proses formulasi produk didukung oleh formula master yang menyimpan komposisi bahan dan versi formulasi produk. Kegiatan penelitian dan pengujian dikelola melalui experiment master dan trial batch master yang digunakan untuk memantau hasil evaluasi produk. Setelah melalui tahap evaluasi, spesifikasi produk dikelola melalui product specification master. Selain itu, dokumentasi penelitian dan pengembangan disimpan dalam research document master. Entity market research master mencakup analisis tren pasar, preferensi pelanggan, dan kondisi kompetitor. Apabila diperlukan pengadaan bahan, proses pengajuan pembelian dilakukan melalui research purchase requisition yang terhubung dengan pengelolaan anggaran proyek. Tabel 4.11 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul R&D. Tabel 4.11 Data Entity Catalog R&D Module Data Entity Attribute Research project master [project_id, project_name, project_type, project_start_date, project_end_date, project_status, project_objective, project_budget, budget_id *, project_leader_id *, department_id *] Product development master [development_id, product_id *, product_name, development_stage, target_launch_date, development_status, product_category, forecast_id *, market_research_id *] Formula master [formula_id, product_id *, bom_id *, material_id *, material_name, composition_percentage, formulation_status, formula_version] Experiment master [experiment_id, project_id *, experiment_name, experiment_type, experiment_date, experiment_result, experiment_status, resource_id *, routing_id *] Trial batch [trial_batch_id, product_id *, Production_id *, Production_order_id *,
163 master Production_date, batch_quantity, trial_result, approval_status] Product specification master [specification_id, product_id *, specification_type, specification_detail, specification_status, compliance_id *] Research document master [document_id, project_id *, document_name, document_type, document_version, upload_date, approval_status, created_by_employee_id *] Market research master [market_research_id, product_id *, customer_segment_id *, analytics_id *, market_trend, customer_preference, competitor_analysis, research_period] Research purchase requisition [research_pr_id, project_id *, material_id *, supplier_id *, quantity_requested, request_date, purchase_requisition_status, budget_id *, budget_forecast, max_budget, budget_approval_status] j. CRM module Pada data entity catalog di modul Customer Relationship Management (CRM), entitas customer profile berfungsi sebagai pusat data pelanggan yang menyimpan informasi identitas dan profil pelanggan. Selanjutnya, customer interaction digunakan untuk mencatat seluruh riwayat interaksi pelanggan melalui berbagai kanal komunikasi. Pemantauan prospek penjualan dan peluang transaksi dikelola melalui entitas lead master dan opportunity master. Riwayat transaksi pelanggan dicatat pada purchase history. Untuk mendukung strategi pemasaran dan peningkatan loyalitas pelanggan, sistem menyediakan customer analytics dan customer segmentation yang digunakan untuk menganalisis perilaku pelanggan. Hasil analisis tersebut dimanfaatkan oleh promotion recommendation untuk memberikan rekomendasi produk atau promosi yang lebih relevan bagi setiap pelanggan. Selain itu, customer complaint digunakan untuk mengelola keluhan pelanggan. Seluruh
164 informasikemudian dirangkum dalam CRM analytics report yang menyediakan informasi terkait pertumbuhan pelanggan, tingkat retensi, konversi, serta sentimen pelanggan. Tabel 4.12 adalah hasil rancangan data entity catalog dari modul Customer Relationship Management. Tabel 4.12 Data Entity Catalog Customer Relationship Module Data Entity Attribute Customer profile [customer_id, customer_name, customer_type, gender, birth_date, address, phone_number, email, social_profile] Customer interaction [interaction_id, customer_id *, interaction_type, interaction_date, interaction_channel, interaction_notes, follow_up_status] Purchase history [purchase_history_id, customer_id, sales_order_id, purchase_date, total_purchase] Lead master [lead_id, lead_name, lead_source, lead_status, assigned_sales] Opportunity master [opportunity_id, customer_id *, opportunity_stage, estimated_Value, closing_date, opportunity_status] Customer analytics [analytics_id, customer_id, customer_lifetime_Value, churn_Risk_index, engagement_score, purchase_frequency] Customer segmentation [segment_id, segment_name, segmentation_criteria, target_customer] Promotion recommendation [recommendation_id, customer_id, recommended_product, recommendation_type, recommendation_score] Customer complaint [service_ticket_id, customer_id *, complaint_type, ticket_status, assigned_agent] CRM analytics report [report_id, reporting_period, customer_growth, retention_rate, conversion_rate, sentiment_score, sentiment_platform] Conceptual data model pada Gambar 4.27, menggambarkan struktur data utama yang digunakan perusahaan, sebagaimana telah dijabarkan pada data entity catalog, beserta hubungan antar entitasnya. Diagram ini dirancang untuk mendukung integrasi aliran data dan informasi pada proses bisnis perusahaan, sehingga workflow antar divisi dapat berjalan dengan lebih lancar dan efektif.
165
166 Gambar 4.27 Conceptual Data Model (To-Be)
167 Pada proses perencanaan produksi, production requisition menjadi penghubung antara modul sales, marketing, dan purchasing. Entitas ini mereferensikan data dari sales forecasting dan online sales forecasting untuk menentukan target produksi yang akan diproses lebih lanjut melalui Material Requirement Planning (MRP), capacity planning, dan production order. Modul production planning juga terhubung dengan entitas data budget master untuk memproyeksikan anggaran pengadaan bahan baku, serta otomatisasi persetujuan anggaran berdasarkan batas minimum dan maksimum pengeluaran. Selanjutnya, data kebutuhan material akan diteruskan ke modul purchasing melalui entitas purchase requisition untuk proses pengadaan bahan baku. Modul purchasing terhubung dengan budget master untuk mengelola aliran kas dan pengeluaran pengadaan bahan baku. Modul ini juga dirancang untuk terhubung dengan entitas supplier untuk proses koordinasi dengan pihak eksternal, juga terhubung dengan entitas shipment untuk pemantauan kedatangan bahan baku. Selanjutnya, proses produksi menghubungkan entitas production order, yang mana berisi informasi terkait perencanaan produksi, dengan production master, yaitu entitas data untuk mengelola proses produksi. Pada sisi distribusi dan penjualan, sales order menjadi entitas utama yang menghubungkan modul sales, warehouse management, CRM, Marketing, dan finance. Entitas ini merepresentasikan data pesanan produk oleh customer dari berbagai chanel penjualan, yang terintegrasi langsung dengan modul warehouse management. Melalui kapabilitas order fulfilment management, modul warehouse dapat mengelola pengiriman pesanan produk berdasarkan urutan prioritas,
168 inventory, dan lokasi. Integrasi antara sales order dengan modul warehouse management mengahsilkan entitas data shipment master, data penagihan melalui invoice master, serta data transaksi pelanggan yang dimanfaatkan oleh CRM untuk membangun purchase history dan customer analytics. Customer profile menjadi entitas utama pada modul crm yang terhubung dengan customer interaction, purchase history, opportunity master, customer complaint, dan promotion recommendation. Data pelanggan tersebut juga dimanfaatkan oleh modul marketing melalui customer segment dan marketing analytics untuk mendukung pelaksanaan kampanye pemasaran yang lebih terarah. Pada modul marketing, entitas marketplace channel terintegrasi dengan inventory master untuk memantau persediaan produk pada gudang penjualan online. Selain itu juga, marketplace channel terhubung dengan entitas sales order master pada modul warehouse untuk mengintegrasikan pemesanan order masuk dari berbagai e-commerce secara otomatis. Pada modul R&D, hasil pengembangan produk masuk ke entitas data product master, yang merupakan bagian dari modul marketing. Entitas formula master juga terhubung dengan modul production planning melalui entitas bill of materials. Modul HR memiliki entitas performance evaluation untuk memantau kinerja operasional tim secara keseluruhan. Entitas tersebut juga memungkinkan tim HR untuk mengidentifikasi kebutuhan sumber daya pada perusahaan. Entitas budget master pada modul HR berfungsi untuk mengendalikan aliran kas yang digunakan untuk kegiatan pengembangan SDM. Pada modul sales, integrasi utama terjadi dengan modul warehouse, di mana inventory master berfungsi untuk
169 memantau ketersediaan stok produk pada saluran distribusi offline. Sedangkan sales order master untuk mengelola pemesanan produk dari berbagai distributor, dan shipment master digunakan untuk memantau proses pengiriman distribusi produk. Di sisi keuangan, invoice master merupakan entitas yang menghubungkan berbagai aktivitas bisnis dengan modul finance. Integrasi ini memungkinkan otomatisasi pembuatan invoice tanpa permintaan manual kepada finance. Seluruh entitas data pada modul finance, seperti accounts payable, accounts receivable, dan payment master, terintegrasi dengan general ledger, sehingga seluruh transaksi operasional dapat tercatat dan terintegrasi dalam proses pengelolaan keuangan perusahaan. Entitas data utama lainnya yang terintegrasi dengan seluruh modul adalah entitas budget master. Entitas ini digunakan untuk memantau anggaran dan keuangan pada masing-masing departemen, sehingga modul finance memiliki kapabilitas persetujuan anggaran otomatis, berdasarkan data minimal dan maksimal anggaran masing-masing departemen. Pengendalian anggaran menggunakan budget master menjadi input bagi entitas cashflow master untuk perencanaan cashflow perusahaan. 4.3.4 Application Target Architecture Application reference model menggambarkan pemetaan aplikasi usulan pada setiap kapabilitas bisnis PT Kreasi Sensori Global. Melalui pemetaan ini, perusahaan dapat memastikan bahwa setiap kapabilitas bisnis memiliki dukungan aplikasi yang sesuai serta meminimalkan terjadinya tumpang tindih fungsi antar aplikasi. Aplikasi yang direkomendasikan merupakan 10 modul usulan pada ekosistem digital PT Kreasi Sensori Global, yang mencakup purchasing,
170 production planning, manufacturing, warehouse management, research and development, marketing, sales, finance, human resource, dan customer relationship management. Modul atau aplikasi target yang dirancang merujuk pada studi literatur dan wawancara yang dilakukan. Wawancara bertujuan untuk menggali kebutuhan sistem informasi pada setiap kapabilitas bisnis. Hasil wawancara dapat dilihat pada Lampiran 4 dan 5. Penggambaran application reference model tertera pada Gambar 4.28.
171 Gambar 4.28 Application Reference Model (to-be) Hasil perancangan menunjukkan bahwa setiap kapabilitas bisnis didukung oleh modul-modul pada ekosistem digital yang diusulkan melalui arsitektur target. Modul-modul yang diusulkan memiliki kapabilitas digital yang telah disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan bisnis. Kapabilitas digital dari modul-modul tersebut telah digambarkan melalui business capability model. Selain itu, beberapa aplikasi pendukung eksternal seperti Microsoft Office, Zoom, dan WhatsApp tetap
172 digunakan untuk mendukung kebutuhan bisnis, namun tidak menjadi aplikasi inti/utama dalam menjalankan operasional. Gambar 4.28 adalah hasil dari rancangan arsitektur target aplikasi, yang tersajikan dalam Application Reference Model. 4.3.5 Technology Target Architecture Technology Target Architecture menggambarkan rancangan infrastruktur teknologi yang menjadi usulan untuk mendukung implementasi ekosistem digital PT Kreasi Sensori Global. Arsitektur teknologi yang dirancang menerapkan pendekatan service-oriented dan integrasi data yang memungkinkan seluruh modul bisnis saling terhubung melalui mekanisme pertukaran data yang terstandarisasi. Hasil rancangan arsitektur target disajikan pada Gambar 4.29, yang terdiri atas sebelas lapisan utama dan membentuk alur integrasi teknologi pada ekosistem digital yang menjadi usulan.
173 Gambar 4.29 Arsitektur Teknologi Target (To-Be)
174 a. External data source layer Lapisan pertama merupakan sumber data eksternal yang menyediakan informasi dari berbagai kanal bisnis perusahaan. Sumber data eksternal berasal dari platform marketplace seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, Blibli, dan Lazada, platform media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, X (Twitter), dan YouTube, sistem POS yang digunakan pada toko fisik, serta sistem GPS dan logistik yang digunakan untuk pemantauan distribusi produk. Berbagai sumber data eksternal ini membawa informasi yang kemudian dialirkan ke dalam sistem internal, seperti informasi pelanggan, aktivitas pemasaran, transaksi penjualan, hingga status pengiriman produk secara real-time. Data tersebut menjadi fondasi bagi proses analitik dan pengambilan keputusan. b. Presentation layer Presentation layer berfungsi sebagai antarmuka bagi pengguna untuk mengakses layanan pada ekosistem digital. Lapisan ini terdiri atas web portal, mobile application, admin portal, supplier portal, dan distributor portal. Melalui lapisan ini, setiap stakeholder dapat mengakses informasi dan menjalankan proses bisnis sesuai peran masing-masing. Penggunaan berbagai kanal akses memungkinkan sistem dapat digunakan oleh pengguna internal maupun mitra eksternal perusahaan. c. Microservices layer Microservices layer berisi layanan bisnis utama yang direpresentasikan dalam bentuk modul-modul aplikasi yang telah dirancang pada target application
175 architecture. Modul tersebut meliputi production planning, purchasing, manufacturing, warehouse management, sales, marketing, finance, human resource, research & development, Customer Relationship Management (CRM). Pendekatan microservices memungkinkan setiap modul dapat beroperasi secara independen tanpa memengaruhi modul lainnya. Selain meningkatkan fleksibilitas pengembangan sistem, pendekatan ini juga mendukung skalabilitas ketika kebutuhan bisnis perusahaan berkembang. d. API layer API layer berfungsi sebagai penghubung antar aplikasi dan layanan yang terdapat dalam ekosistem digital. Lapisan ini terdiri atas API gateway, Enterprise Service Bus (ESB), event streaming, dan API standardization. API gateway digunakan sebagai pintu masuk utama komunikasi antar aplikasi. Enterprise service bus berperan dalam mengelola pertukaran data antar layanan bisnis, sedangkan event streaming mendukung pertukaran informasi secara real-time. Sementara itu, API standardization memastikan seluruh layanan menggunakan standar komunikasi yang konsisten sehingga integrasi dapat dilakukan dengan lebih mudah. Lapisan ini menjadi komponen utama dalam menghilangkan silo data yang ditemukan pada kondisi eksisting. e. Operational database layer Operational database layer berfungsi sebagai tempat penyimpanan data operasional dari masing-masing modul bisnis. Setiap domain bisnis memiliki basis data tersendiri. Pemisahan basis data berdasarkan domain bisnis bertujuan untuk meningkatkan kinerja sistem sekaligus menjaga independensi setiap layanan pada
176 arsitektur microservices. f. Data lake layer Data lake digunakan sebagai repositori penyimpanan data terpusat yang mampu menampung berbagai jenis data, baik data terstruktur maupun tidak terstruktur. Lapisan ini memungkinkan perusahaan menyimpan seluruh data bisnis dalam satu lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan analitik, machine learning, maupun pengembangan sistem di masa mendatang. g. ETL layer ETL (Extract, Transform, Load) layer bertugas melakukan integrasi dan pengolahan data sebelum digunakan untuk analitik. Melalui proses ETL, kualitas data dapat ditingkatkan sehingga data yang digunakan dalam proses analisis menjadi lebih akurat, konsisten, dan dapat dipercaya. h. Data warehouse layer Data warehouse berfungsi sebagai pusat penyimpanan data terintegrasi yang telah melalui proses ETL Pendekatan data mart memungkinkan setiap fungsi bisnis memperoleh akses yang lebih cepat terhadap data yang relevan dengan kebutuhan analisis masing-masing. i. Analytics layer Analytics layer menyediakan kemampuan analisis data untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data (data-driven decision making). Keberadaan lapisan ini memungkinkan perusahaan tidak hanya memahami kondisi bisnis saat ini, tetapi juga melakukan prediksi terhadap kondisi di masa mendatang. j. Reporting layer
177 Reporting layer merupakan lapisan penyajian informasi bagi manajemen dan stakeholder bisnis. Melalui dashboard tersebut, informasi dapat dipantau secara real-time sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan akurat. k. Monitoring, security, and governance layer Lapisan terakhir merupakan fondasi yang menjamin keamanan, keandalan, dan tata kelola sistem. Komponen-komponen tersebut memastikan bahwa data dan layanan dalam ekosistem digital terlindungi dari risiko keamanan, memiliki mekanisme pemulihan ketika terjadi gangguan, serta memenuhi standar tata kelola data yang baik. Setelah merancang arsitektur teknologi target, yang terdiri dari 11 layer utama, berikutnya adalah merancang rekomendasi teknologi untuk mendukung implementasi arsitektur teknologi target. Rekomendasi teknologi digambarkan melalui technology reference model, yang disajikan pada Gambar 4.30. Model ini menggambarkan komponen teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung integrasi proses bisnis, pengelolaan data, keamanan sistem, serta integrasi dengan berbagai platform eksternal yang digunakan perusahaan.