View BOOK I MADE FOR (fix) flipbook.
1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI ................................................................ 1 Kata Pengantar ........................................................... 2 1 – How It started ........................................................ 3 2 – Pressure ................................................................. 9 3 – Not the end .......................................................... 18 4 – New city ............................................................... 26 5 – How they meet ..................................................... 31 6 – Deja Vu ................................................................ 36 7 – Afraid ................................................................... 41 8 – Gone and Truth ................................................... 61 9 – Something Hanging ............................................. 73 10 – Remains ............................................................. 90 End .......................................................................... 102
2 Kata Pengantar Dearest, Medina. Buku ini lahir dari lipatan-lipatan rasa yang paling dalam. Sebagian dari kisah, percakapan, dan kehangatan yang tertuang di dalam lembar-lembar naskah ini terinspirasi dari bagaimana kita saling mengenal, bertumbuh, dan belajar memahami satu sama lain. Naskah ini adalah bentuk cinta, persembahan, sekaligus monumen kecil yang dibangun khusus untuk yang terkasih. Di dalamnya ada harapan agar kita bisa selalu belajar mencintai dengan cara yang paling sehat yaitu mendengarkan tanpa menghakimi, menjaga tanpa mengekang dan saling memeluk di tengah dinginnya dunia. Tentu saja, karya sederhana ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, saya memohon maaf jika ada bagian yang belum sesuai dengan ekspektasi atau belum sepenuhnya mampu mewakili, menyuarakan, mendeskripsikan rasa yang dimiliki. Terima kasih telah menjadi penawar, pendengar, dan rumah terbaik bagi jiwa ini tuk berlabuh.
3 1 – How It started Kedai kopi kecil bernuansa kayu hangat di sudut jalan kampus itu seolah menjadi saksi bisu bagaimana cinta seorang pencinta batuan dan penghubung interaksi sosial tumbuh begitu subur. Di bawah pendar lampu kekuningan yang temaram dan aroma biji kopi yang menenangkan, Abel dan Joya selalu menemukan sudut ternyaman mereka untuk melarikan diri dari penatnya dunia perkuliahan. Abel lelaki berparas manis dengan wangi yang membuat nyaman tidak pernah membiarkan Joya merasa tidak diperlakukan dengan istimewa. Dengan sikapnya yang sangat well-mannered, Abel selalu menarikkan kursi untuk Joya, menalikan sepatu Joya, mengusap kepala Joya, memberikan jaketnya untuk Joya dan segala hal lain yang orang kenal sebagai kata “Gentlemen” itu tersemat pada pribadi Abel Milanza. Kembali pada masa ini, di mana si manis sedang mengabsen pesanan mereka yang tanpa perlu ditanya ataupun dikonfirmasi pemuda itu sudah memahamkan ingatan tentang pesanan favorit Joya berupa kopi gula aren dengan sedikit gula dan makanan yang tidak pedas sama sekali. Tatapan matanya memancarkan rasa hormat dan penghargaan yang begitu dalam, seolah
4 Joya adalah sosok paling berharga yang pernah dipercayakan semesta kepadanya. Namun, di balik sifatnya yang santun dan perhatian, Abel selalu punya cara jahil untuk mengikis kelelahan di wajah kekasihnya. Pemuda itu kerap menyelipkan lelucon-lelucon garing seputar studinya yang kerap membuat Joya tak bisa menahan senyum. “Joya, kamu tau bedanya batuan metamorf sama kamu?” tanya Abel suatu malam dengan raut wajah sok serius, memajukan tubuhnya ke depan meja. Terdengar pasaran dan biasa. Joya menopang dagunya dengan kedua telapak tangan, mengunci tatapannya penuh pada manik mata Abel. Ada binar kehangatan yang tak pernah redup dari mata gadis itu setiap kali menatap kekasihnya. “Apa tuh?” tanyanya antusias. “Kalau batuan metamorf butuh tekanan dan suhu tinggi bertahun-tahun buat berubah jadi indah...” Abel jeda sejenak, lalu terkekeh manis sambil mencolek hidung Joya pelan, “...kalau kamu cuma butuh senyum doang buat bikin dunia aku sempurna.” Tawa renyah nan lembut seketika lolos dari bibir Joya. Bagi orang lain, gombalan dan lelucon Abel mungkin terasa menggelikan atau garing, tetapi bagi
5 Joya, setiap kata yang keluar dari mulut Abel selalu berhasil menghangatkan hatinya. Joya selalu menjadi pemuji nomor satu untuk kekasihnya ia akan tertawa lepas pada setiap lelucon konyol yang dilontarkan pemuda itu. Lebih dari sekadar kekasih, Joya adalah pendengar terbaik yang pernah Abel miliki. Saat Abel bercerita panjang lebar tentang rumitnya praktikum lapangan, lelahnya mengidentifikasi fosil hingga larut, atau bahkan keluh kesahnya tentang dosen pembimbing dan dinamika organisasi yang diikutinya, Joya tak pernah sekalipun memotong. Gadis itu menyimak setiap patah kata dengan ketulusan yang murni, memberikan respon-respon kecil berupa anggukan paham, usapan lembut di punggung tangan Abel dan tatapan mata yang menenangkan. Melihat bagaimana Joya mendengarkannya dengan begitu fokus, Abel kerap terdiam sejenak, diliputi rasa kagum yang membuncah. “Kok tiba-tiba diem? Kenapa, Beb?” tanya Joya bingung saat menyadari pemuda di hadapannya mendadak menghentikan ceritanya. Abel menggenggam erat kedua tangan Joya di atas meja, mengusap jemari lentik itu dengan penuh kasih sayang.
6 “Nothing... I’m just so grateful to have you, Joya,” ujar Abel lirih namun begitu tulus, matanya berbinar menatap gadis itu. “Thank you for always listening to me. Serious, I don't know what I'd do without you.” Joya tersenyum manis, membalas genggaman tangan Abel dengan hangat. “Aku kan emang bakal selalu ada buat denger cerita kamu, forever next to you, Bel. Selamanya.” Begitulah mereka menghabiskan malam demi malam. Di mata dunia, mereka adalah pasangan sempurna yang saling melengkapi. Abel dengan gelombang cintanya yang menggebu-gebu serta perlakuan manisnya dan Joya dengan samudera kesabarannya yang menjadi tempat berlabuh paling tenang bagi Abel. Semesta seolah sengaja merajut benang takdir mereka di bawah kuning sore hari pelantaran taman kampus. Abel berdiri menatap bagaimana Joya dengan senyum yang menyaingi cerahnya matahari. Joya hanya sedang asik mengobrol bersama teman-temannya. Bagi Abel, senyuman itu seolah menyiramkan air sejuk ke atas segala bara api yang ada di dadanya. Pertemuan sederhana itu menjadi titik mula di mana Abel
7 menyadari bahwa ia telah menemukan penawar bagi jiwanya yang kerap terbakar. Meniti jalan mengusahakan calon pengisi relung hati yang sudah lama berdebu itu tidaklah serugi melangkah di atas tanah datar. Perbedaan jurusan bagaikan tembok pembatas yang nyata. Abel yang kesehariannya berteman dengan praktikum dadakan, pennugasan yang menggunung dan batu yang perlu diobservasi harus berjuang menyeberang ke dunia Ilmu Komunikasi yang begitu dinamis, riuh dan penuh warna. Abel yang biasanya enggan melangkah ke area luar jurusannya, mulai rela mengubah ritme hidupnya. Pemuda itu secara diam-diam mencari tahu jadwal kuliah Joya. Ia rela berjalan jauh melintasi lorong- lorong kampus yang terik hanya demi sebuah alasan sederhana untuk sekadar melemparkan sapaan singkat atau memastikan gadis itu baik-baik saja. Proses pendekatan itu dilakukan Abel dengan cara yang begitu santun namun pantang menyerah. Suatu siang, setelah berhasil mengetahui minuman kesukaan Joya dari seorang kawan, Abel sudah berdiri menunggu si cantik pulang seusai kelas. Ketika Joya keluar dengan wajah lelah pasca-kuliah Abel melangkah mendekat menyodorkan secangkir kopi
8 Gula Aren dingin dengan gestur yang sangat menghargai. “Buat penyejuk setelah seharian bergelut sama teori,” tutur Abel hangat, menyunggingkan senyum tipis yang menyembunyikan rasa gugupnya. “Aku Abel, dari Geologi. Kalau nggak keberatan, boleh aku jalan bareng kamu ke halte” Singkat dan mantap. Joya sempat tertegun, menatap pemuda di hadapannya yang bersikap sangat sopan. Wanginya membuat Joya tenang, pakaian pemuda di depannya ini sangat rapi, dengan perpaduan celana bahan cokelat tua dan atasan hijau, serta kacamata kotak yang bersandar di hidung mancungnya. Namun, kejujuran dan binar penuh harap di mata Abel berhasil mencuri perhatian dari segala detail yang ada. Tawa renyah Joya pun pecah ketika Abel mencoba melontarkan lelucon ringan untuk mencairkan suasana canggung agar ajakannya itu diterima.
9 2 – Pressure Hari demi hari keberadaan Abel di gazebo Fakultas Komunikasi bukan lagi pemandangan yang asing. Abel dengan setia menunggu Joya menyelesaikan tugas kelompoknya, membawa camilan favorit gadis itu, hingga menawarkan jaketnya saat angin sore mulai bertiup kencang. Keteguhan hati, perlakuan manis, serta kehangatan yang Abel tawarkan perlahan meruntuhkan setiap keraguan yang ada di hati Joya. Hingga akhirnya gadis itu bersedia menerima uluran tangan Abel untuk merajut kisah bersama. Sebuah awal manis yang tanpa Abel sadari, menjadi awal dari ketergantungan jiwanya yang teramat dalam pada sosok Joya. Abel mulai merasa ia tidak bisa berfungsi dengan baik tanpa Joya di sisinya. Gadis itu adalah satu-satunya jangkar yang mampu menahan sifat impulsif dan amarahnya. Karena ketakutan yang mendalam akan kehilangan sumber ketenangannya, perlahan-lahan sifat protektif dan posesif Abel mulai tumbuh dan mengakar kuat. Ketergantungan itu begitu terasa pada senja ini. Di atas sebuah bangku kayu di bawah pohon mahoni yang rindang, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk mereka berdua. Abel menyandarkan kepalanya di
10 bahu Joya, matanya terpejam damai saat membiarkan jemari lentik gadis itu menyusup pelan di antara helai rambutnya. “Aku kangen banget” gumam Abel lirih, menengadah untuk menatap manik mata Joya. “Minggu ini kamu sibuk banget. I feel like I barely saw you this week.” Joya mengulas senyum manis, sebuah senyuman yang selama ini menjadi candu bagi Abel. Gadis itu merapikan poni Abel dengan penuh kasih. “Sorry ya, Abel... Minggu ini divisi aku lagi overwhelmed banget sama persiapan proker,” bisik Joya lembut, merujuk pada kesibukannya di organisasi. “Tapi sore ini aku usahain bisa jalan sama kamu.” Si penikmat candu tersenyum lega. Ia menegakkan duduknya, lalu merangkul bahu Joya erat- erat. “It’s okay, Babe. Yang penting sekarang kamu di sini. I made a reservation for us tonight. Tempat makan favorit kamu. Aku udah plan semuanya dari kemarin.” Untuk sejenak, Joya menyandarkan kepalanya di dada Abel, membiarkan aroma parfum pemuda itu menghapus segala kepenatannya. Namun, kedamaian yang begitu indah itu mendadak hancur berkeping-
11 keping saat ponsel di dalam tas Joya bergetar berulang kali. Joya merogoh tasnya. Helaan napas pendek lolos dari bibirnya saat membaca rentetan pesan dari rekan organisasinya. “Kenapa, Joya?” tanya Abel, nada suaranya perlahan berubah menegang. Joya menatap Abel dengan pandangan serba salah. “Babe... sorry banget. Ini anak-anak acara panic button. Ada berkas perizinan venue yang mendadak bermasalah dan aku harus balik ke sekretariat sekarang buat fix-in.” Dalam hitungan detik, kehangatan di wajah Abel menguap tanpa sisa. Ekspektasinya yang tidak terpenuhi memicu ego dan sifat impulsifnya untuk mengambil alih. Karena ia terlalu bergantung pada momen-momen bersama Joya, penolakan ini terasa seperti pengkhianatan bagi egonya. Hari-hari yang menyusul setelah insiden di bawah pohon mahoni tidak membawa perbaikan melainkan menjadi awal dari masa-masa paling kelam dalam hubungan mereka. Memasuki puncak kepengurusan organisasi kesibukan Joya dalam mengurus program kerja melonjak drastis, menyita
12 hampir seluruh waktu, tenaga dan pikiran gadis itu. Di sisi lain, Abel yang semakin terkikis oleh rasa cemas dan ketergantungan emosional justru menanggapi jarak tersebut dengan amarah yang kian tak terkendali. Pertengkaran-pertengkaran kecil kini membesar dan berubah menjadi konsumsi harian. Di selasar koridor Gedung Komunikasi yang riuh, suara Abel kerap pecah menembus kebisingan. Ia berdiri melipat dada, menatap Joya dengan urat leher yang menegang tajam. “Aku udah nunggu satu jam di kantin, Joya! Kamu bilang rapat cuma sebentar!” bentak Abel tanpa memedulikan pandangan mahasiswa lain yang lalu lalang. Sifat impulsif dan anger issues yang diidapnya membuat Abel tega melontarkan kata-kata kasar setiap kali ekspektasinya dipatahkan. “Kamu mikir nggak sih kalau waktu aku juga berharga? Atau emang proker sampah itu jauh lebih penting daripada aku?!” Joya berdiri mematung di hadapan Abel, menggenggam erat bundel berkas perizinan yang baru saja dicetaknya. Matanya yang kuyu memperlihatkan betapa dahsyatnya kelelahan fisik dan mental yang sedang ia panggul. Hati gadis itu teriris mendengar tuduhan tebas Abel. Ada dorongan kuat di dadanya untuk berteriak balik, menyuarakan betapa ia sudah
13 membagi tubuh dan pikirannya hingga batas terkecil demi menjalankan kewajiban organisasi sekaligus berusaha menjaga perasaan Abel. Namun melihat pendar amarah yang menyala liar di mata kekasihnya, ketakutan Joya akan pertengkaran yang makin meluas selalu berhasil melumpuhkan suaranya. Lagi-lagi Joya memilih jalan aman yang menghancurkan dirinya sendiri dengan menekan kekecewaan itu dalam-dalam. “Maaf ya, Abel… Tadi pembahasannya mendadak alot sama pihak sponsor” bisik Joya dengan suara serak menahan getaran. Gadis itu mengulas senyum tipis sebuah topeng ketenangan yang kian hari kian retak. “Salah aku nggak sempat chat kamu. Kamu jangan marah-marah di tempat umum begini, ya? Kita jalan sekarang, ya?” Melihat peluruhan dan permohonan maaf dari Joya amarah Abel yang membumbung tinggi perlahan mereda merasa terpuaskan oleh kepasrahan sang kekasih. Abel menghela napas kasar lalu menarik Joya ke dalam pelukannya secara posesif seolah ingin menegaskan kepemilikannya. “Jangan bikin aku kayak begini lagi, Joya. Aku marah karena aku sayang dan butuh kamu” gumam Abel di balik rambut Joya, tak pernah menyadari bahwa
14 setiap kali amarahnya reda, ada kepingan jiwa Joya yang hancur. Perselisihan mereka tidak hanya terjadi di sudut-sudut kampus, tetapi juga merambat hingga larut malam lewat sambungan telepon. Di saat Joya berada di ruang sekretariat organisasi yang dingin bersama timnya ponselnya bergetar tanpa henti memamerkan nama Abel di layarnya. Ketika Joya mengangkatnya di sudut ruangan yang sepi sambutan dingin Abel langsung menyapa indra pendengarannya. “Jam berapa ini, Joya? Kamu masih di sekre sama cowok-cowok anak panitia itu?” tembak Abel penuh curiga dan posesif. “Beb, kami lagi finishing konsep buat besok. Ada belasan orang di sini, bukan Cuma aku” jawab Joya pelan, mencoba memberi pengertian. “Tapi kamu janji pulang jam sembilan! Kenapa selalu ada alasan sih?!” nada suara Abel kembali meninggi, kasar dan tanpa kompromi. “Kamu makin berubah ya sejak pegang proker ini. Kamu egois, Cuma mikirin acara kamu sendiri tanpa pernah mikirin perasaan aku yang nungguin kamu di rumah!”
15 “Jangan gitu ya, Bel? Jangan nuduh aku gak jelas, egois..” yang keluar dari mulut Abel menusuk relung hati Joya paling dalam. Dia yang selalu mengalah, dia yang selalu menelan kata-kata kasar Abel, dia yang selalu menepis rasa sakit di dadanya demi tersenyum pada Abel namun kini dirinya dicap sebagai sosok yang egois Air mata Joya menetes tanpa suara di atas lantai sekretariat. Tenggorokannya terasa begitu sempit dan dadanya dihantam rasa sesak yang luar biasa hebat manifestasi fisik dari rasa sakit hati yang menumpuk tak bertepi. Namun alih-alih meluapkan kemarahannya malam itu Joya lagi-lagi menyapu bersih kotoran emosi itu ke bawah karpet jiwanya. “Iya, Abel… maafin aku” tutur Joya lirih, menyeka air matanya cepat-cepat agar tidak terdengar sedang menangis. “Sebentar lagi aku pulang. Kamu tidur duluan ya, jangan nungguin aku sambil emosi.” “Terserah!” cetus Abel dingin sebelum mematikan sambungan secara sepihak. Pola tersebut berulang terus-menerus selama berminggu-minggu. Abel yang perfeksionis dan berwatak keras terus-terusan menuntut perhatian penuh dari Joya dan setiap kali ekspektasi itu luput amarah impulsifnya akan meledak menyemburkan bentakan
16 serta kata-kata yang melukai. Abel hidup dalam ketakutan irasional akan kehilangan Joya, namun caranya mempertahankan justru perlahan-lahan merobek ikatan emosional mereka. Sementara itu Joya menjadi wadah penampung emosi yang makin retak. Di luar, Joya tetap menjadi kekasih yang penyayang, suportif dan senantiasa tersenyum tenang setiap kali berhadapan dengan Abel. Namun di dalam, Joya adalah sebuah wadah penampung kekecewaan yang sudah berada di kapasitas 99 persen. Setiap bentakan Abel, setiap tuduhan kasar dan setiap kepasrahan yang dipaksakan menumpuk menjadi beban emosional yang amat pekat. Joya tidak pernah benar-benar memaafkan atau melupakan rasa sakit itu ia hanya menimbunnya rapat- rapat di dasar hatinya demi menghindari bentrokan hebat. Tubuhnya makin kurus, lingkar matanya kian mengendap kehitaman dan dadanya kerap kali terasa sakit luar biasa setiap kali ingatan tentang bentakan Abel melintas. Tanpa disadari oleh Abel yang terlalu sibuk dengan egonya dan tanpa disadari oleh Joya yang terlalu sibuk mengalah menjadikan tumpukan emosi yang tertahan itu kini telah bertransformasi menjadi sebuah bom waktu dengan detak jam yang makin cepat.
17 Satu sulutan amarah lagi, satu titik jenuh lagi, maka bom itu akan meledak membawa konsekuensi fatal yang sudah diintai oleh takdir semesta dari kegelapan.
18 3 – Not the end Malam itu hujan gerimis menyelimuti kawasan kampus dengan udara dingin yang menusuk tulang. Di sudut ruang sekretariat organisasi, Joya akhirnya bisa menghela napas panjang. Seluruh rangkaian persiapan akhir untuk acara utama program kerja yang menyita energi dan pikirannya selama berbulan-bulan telah usai. Namun, tubuh dan jiwa gadis itu sudah berada di ambang batas kemampuan. Sekitar pukul sebelas malam, Joya memesan kendaraan online untuk mengantarkannya pulang ke tempat kos. Dengan langkah gontai, ia merebahkan tubuhnya di kursi belakang kendaraan yang sepi. Ketika mobil melaju membelah jalanan kota yang lengang dan basah, Joya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, membiarkan dinginnya kaca meresap ke pelipisnya yang berdenyut hebat. Tepat saat ia hendak memejamkan mata, layar ponsel di genggamannya menyala terang. Nama Abel terpampang di sana, bergetar membawa pertanda buruk. Joya menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telinganya. Belum sempat ia menguapkan kata sapaan, suara Abel langsung menyambar dari seberang sambungan dengan nada penuh amarah yang tertahan.
19 “Kamu baru selesai jam segini, Joya?!” cecar Abel tanpa jeda, impulsif dan tajam. “Kamu sadar nggak sih ini udah jam berapa?! Aku udah nunggu kabar dari kamu berjam-jam! Kamu bener-bener nggak punya empati ya sama orang yang nungguin kamu!” Kata-kata Abel yang penuh tuduhan itu menghantam dada Joya seperti hantaman godam. Rasa lelah yang teramat sangat, kepalanya yang pening, serta rasa sakit dari bentakan-bentakan Abel selama ini mendadak bergolak hebat di dalam jiwanya. Wadah penampung emosi yang selama ini dipertahankan Joya rapat-rapat yang selalu ia tutupi dengan senyuman dan kata maaf malam itu retak sepenuhnya. Bom waktu itu akhirnya meledak. “Bisa nggak sih sekali aja kamu tanyain keadaan aku dulu, Abel?!” Suara Joya melengking pecah intuk pertama kalinya melintasi sambungan telepon. Tangisnya yang selama berminggu-minggu ditahan seketika pecah membasahi pipinya. Supir kendaraan yang mengendarai mobil di depan sempat melirik terkejut melalui spion tengah. “Aku capek, Abel! Aku capek banget!” jerit Joya dengan napas yang tersedak air mata. Seluruh rasa
20 sakit hati, bentakan dan kepura-puraan yang ia simpan rapi selama ini meluap tanpa bisa dibendung lagi. “Aku seharian berdiri, aku ngurusin segalanya sampai mau pingsan! Tapi setiap kali telepon aku diangkat, kamu Cuma bisa marah-marah! Kamu Cuma mikirin ego kamu! Kamu pikir Cuma kamu yang butuh dimengerti?!” Di kamar kosnya, Abel tertegun sejenak. Ia tak pernah mendengar Joya berteriak sebegini histerisnya. Namun, bukannya tersadar atau meredam amarahnya rasa kaget itu justru memicu ego dan sifat anger issues Abel. Abel merasa harga dirinya diinjak-injak oleh luapan emosi Joya. “Oh, jadi sekarang kamu berani teriak-teriak sama aku?!” balas Abel dengan nada suara yang tak kalah tinggi dan kasar. “Kamu nuduh aku egois?! Aku kayak gini karena aku peduli sama kamu, Joya! Tapi kamu selalu jadiin proker kamu alasan buat ngabaikan aku! Nggak usah drama, Joya!” “Aku nggak drama, Abel! Kamu yang nggak pernah mau dengar aku!” bisik Joya dengan suara serak yang amat hancur, air matanya mengalir deras tanpa henti. “Aku selalu ngalah demi kamu… aku selalu nahan sakit hati aku demi ngerawat emosi kamu! Tapi
21 kamu nggak pernah peduli sama perasaan aku sedikit pun… Aku benci sama kamu, Abel!” “Kalau kamu benci, ya udah! Nggak usah cari aku lagi!” bentak Abel penuh gengsi, melontarkan kata- kata paling beracun tanpa berpikir panjang. Joya mematikan sambungan telepon itu dengan tangan bergetar hebat. Ia memeluk lututnya di kursi belakang, meremas dadanya yang terasa dihantam rasa sakit luar biasa puncak dari gelombang emosi marah dan kecewa yang tak pernah ia luapkan sebelumnya. Isakan tangisnya bergema memecah keheningan di dalam mobil yang terus melaju cepat di atas aspal licin. Tangisan histeris Joya di belakang membuat fokus supir yang sebenarnya sudah sangat mengantuk menjadi terdistraksi. Sang supir berulang kali melirik spion tengah, merasa iba sekaligus serba salah melihat penumpang mudanya yang menangis hancur. Nahas, ketika pandangan sang supir teralih dari jalanan selama beberapa detik, sebuah truk besar dari arah berlawanan mendadak berpindah jalur untuk menghindari genangan air. Saat mata supir kembali menatap ke depan, sorot lampu kuning truk itu sudah berada tepat di hadapan mereka. Dalam keadaan panik dan refleks
22 yang melambat akibat kantuk, supir membanting setir secara mendadak ke arah kiri. Suara decitan ban memekakkan telinga beradu dengan derasnya gerimis. Mobil yang ditumpangi Joya hilang kendali, berputar di atas aspal yang licin, lalu menghantam pembatas jalan beton dengan kecepatan tinggi. Dentuman keras memecah kegelapan malam. Bagian depan mobil itu hancur tak berbentuk, menyisa keheningan yang mencekam beberapa saat setelah benturan. Di kamarnya, Abel melemparkan ponselnya ke atas kasur dengan napas memburu. Dadanya naik- turun oleh sisa amarah dan gengsi yang membumbung tinggi. “Dasar nggak tahu terima kasih” gumam Abel dingin, mencoba membela diri atas kata-kata kasarnya tadi. Namun seiring berjalannya detik demi detik, hening yang menyelimuti kamar kosnya mulai terasa aneh. Perasaan ganjil dan gelisah yang teramat sangat mendadak merayapi benak Abel. Ada dingin yang tidak biasa menjalar dari telapak tangannya hingga ke dada. Penyesalan samar mulai menyusup, membisikkan betapa jahatnya kata-kata yang baru saja ia lemparkan pada Joya.
23 Abel berjalan bolak-balik di kamarnya menatap ponsel yang tergeletak bisu di kasur. Egonya masih melarangnya untuk menelpon balik, tetapi perasaannya berteriak bahwa ada sesuatu yang salah. Dua puluh menit berlalu dalam siksaan gelisah. Tiba-tiba nada dering ponsel Abel memecah keheningan. Abel dengan cepat menyambar ponselnya berharap nama Joya yang muncul di sana. Namun raut wajahnya berkerut saat melihat nama Yamar teman satu kampus mereka yang menelepon. Dengan dahi berkerut,Abel menggeser tombol hijau “Ya, Mar? Ada apa malam-malam” “Bel! Abel!” Suara Yamar di seberang sana terdengar sangat gemetar, panik dan terengah-engah, memotong kalimat Abel “Lu… lu di mana sekarang, Bel?!” “Gua di kosan. Kenapa sih? Lu kok panik gitu?” tanya Abel, ketakutan aneh mulai menguasai dirinya. “Bel… Joya, Bel…” suara Yamar pecah oleh isakan tangis yang tertahan. “Joya kecelakaan… Mobil yang dia tumpangi nabrak pembatas jalan raya bypass… Gua sekarang di IGD Rumah Sakit Umum, Bel… Lu harus ke sini sekarang!” Dunia Abel serasa berhenti berputar di detik itu juga. Ponsel di genggamannya nyaris terlepas. Seluruh darah di tubuhnya rasanya mengalir surut
24 meninggalkan rasa dingin yang membekukan persendiannya. “Lu… lu bercanda kann, Mar?” bisik Abel dengan suara bergetar hebat, matanya membelalak lebar dalam ketakutan yang horor. “Joya… Joya tadi baru aja teleponan sama gua! Jangan bercanda lu, Yamar!” “Gua nggak bercanda, Bel!” teriak Yamar panik dari seberang telepon. “Polisi nemuin kartu mahasiswa Joya di lokasi! Kondisinya kritis banget, Bel! Lu cepat ke sini sekarang!” Panggilan itu terputus. Abel berdiri membatu di tengah kamarnya yang sunyi. Keheningan itu kini menghantamnya dengan rasa bersalah yang teramat destruktif. Kata-kata terakhir yang meluncur dari mulutnya beberapa menit yang lalu mendadak bergema berulang kali di dalam kepalanya dengan sangat jelas “Kalau kamu benci, ya udah! Nggak usah cari aku lagi!” “Nggak… nggak mungkin…” runtuh Abel sambil mencengkeram rambutnya sendiri dengan histeris. Air mata seketika menyembur keluar dari
25 matanya saat penyesalan terhebat sepanjang hidupnya mulai merobek jiwanya. Kalimat terakhir yang ia berikan pada gadis yang paling ia butuhkan di dunia ini bukanlah ungkapan cinta melainkan sebuah makian beracun. Ada kabar yang tidak pernah benar-benar selesai diberitakan meski bertahun-tahun telah lewat. Tentang seorang laki-laki yang tumbuh tua dengan satu nama yang tak pernah ia ucapkan keras-keras lagi karena setiap kali ia coba, tenggorokannya seperti dijerat tali basah. Tentang penyesalan yang tidak mengenal masa kedaluwarsa, yang duduk diam di dada seseorang seperti batu yang menolak lapuk oleh hujan.
26 4 – New city Pintu itu terbuka bukan di kampus dengan bau tanah basah selepas hujan dan aspal yang menyengat panas siang hari. Kali ini, pintu itu terbuka di sebuah kota yang selalu berkabut di pagi hari. Tempat kopi hitam terasa terlalu pahit untuk diminum sendirian dan tempat dua nama baru yang tidak tahu apa-apa soal kehidupan sebelumnya akan segera dipertemukan oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari mereka berdua. “Kamu selalu begini kalau capek. Ngunci semuanya, terus pura-pura baik-baik aja.” Bandung menyambut Meiza dengan hujan gerimis yang turun tanpa aba-aba, tepat saat mobil bak terbuka berisi barang-barangnya berhenti di depan sebuah rumah kos dua lantai berpagar hijau tua. Bulan Agustus, harusnya musim kemarau. Tapi kota ini punya aturan cuacanya sendiri seperti punya banyak hal lain yang tidak pernah benar-benar bisa diprediksi. “Ini aja?” tanya Isa, berdiri dengan payung yang lebih banyak menaungi dirinya sendiri daripada Meiza yang sudah lebih dulu basah kuyup di bagian bahu. “Ini aja,” jawab Meiza singkat, mengangkat satu koper besar dengan gerakan efisien, tanpa keluhan,
27 seolah badannya sudah terlatih untuk tidak pernah menunjukkan beban seberat apa pun yang ia pikul. Itulah Meiza. Rapi bahkan dalam hal-hal kecil yang orang lain anggap sepele. Jadwalnya tersusun di kepala jauh sebelum ia menuliskannya di kertas. Kamar kosnya, begitu pintu terbuka, langsung ia bagi dalam kepala menjadi zona-zona terstruktur area belajar di dekat jendela karena cahaya paginya bagus, area tidur di sudut paling jauh dari pintu supaya lebih tenang dan satu rak kecil di dekat cermin yang nantinya akan diisi barang-barang yang entah kenapa selalu ia beli lebih dari yang ia butuhkan seperti lilin aromaterapi, notes kosong, pena dengan tinta warna yang tidak pernah benar-benar ia pakai. “Lo pindah kota buat skripsi doang?” Isa menjatuhkan diri ke atas kasur kosong yang belum berseprai mengabaikan debu tipis yang beterbangan. “Padahal bisa remote, kan? Psikologi Klinis lo bisa observasi dari kampus lama.” “Aku butuh data lapangan yang spesifik. Lagian—” Meiza berhenti sebentar, menatap kardus di tangannya seolah isinya bisa menjawab pertanyaan yang belum sempat ia ajukan pada dirinya sendiri. “— aku cuma pengen pindah aja. Titik.”
28 Isa mengangkat sebelah alis, tapi tidak mendesak lebih jauh. Sepuluh tahun berteman sejak SMA mengajarinya satu hal penting soal Meiza perempuan itu tidak pernah benar-benar berbohong, ia hanya memilih bagian mana dari kebenaran yang mau ia bagikan. Dan kalau Meiza memutuskan untuk tidak membagikan sesuatu mendesaknya sama saja dengan mendorong pintu besi yang dikunci dari dalam. “Oke deh. Tapi lo tahu kan, gue ikut lo ke sini bukan cuma buat bantu angkut-angkut doang.” Isa berdiri, merapikan rambutnya yang basah kena gerimis tadi. “Gue juga daftar di sini. Prodi Sastra. Jadi kita satu kampus lagi, kayak dulu.” Untuk pertama kalinya sejak turun dari mobil, sesuatu yang mirip senyum benar-benar muncul di wajah Meiza bukan senyum tipis formalitas yang biasa ia bagikan pada orang asing, tapi senyum yang membuat mata itu ikut melengkung. “Kenapa nggak bilang dari kemarin?” “Surprised” Isa menyeringai. “Lagian kalau gue bilang dari awal, lo pasti udah mulai bikin jadwal ‘kapan kita ketemu, kapan kita nggak ketemu, biar nggak saling ganggu jadwal masing-masing segala. Gue kenal lo, Za.” Meiza melempar bantal ke arah sahabatnya, meski tak bisa menahan tawa kecil yang
29 lolos begitu saja. Untuk sesaat, kamar kos yang masih setengah berantakan itu terasa lebih hangat daripada seharusnya, mengingat hujan yang masih menetes pelan di luar jendela. Tapi malam itu, jauh setelah Isa pamit pulang ke kosnya sendiri yang berjarak dua blok, Meiza terbangun pukul tiga pagi dengan jantung berdebar kencang dan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tidak ingat mimpi apa yang baru saja ia alami. Yang tersisa hanya sensasi sesak di dada, rasa panik yang datang dari tempat yang tidak bisa ia jelaskan dan satu kalimat yang menggantung di ujung kesadarannya seperti gema yang menolak hilang Meiza tidak pernah mengucapkan kalimat itu pada siapa pun. Ia juga tidak pernah mendengarnya diucapkan orang lain padanya. Tapi entah kenapa kalimat itu terasa begitu familiar seolah sudah ribuan kali ia dengar dalam hidup yang tidak bisa ia ingat. Meiza menyalakan lampu tidur, meraih segelas air di nakas dan duduk lama menatap kegelapan di luar jendela sampai fajar datang. Ia sudah cukup lama belajar psikologi untuk tahu istilah teknis dari apa yang barusan ia alami yaitu night terror, mungkin, atau sekadar stres adaptasi lingkungan baru. Tapi ada satu hal yang tidak diajarkan buku manapun yang pernah ia
30 baca: bagaimana menjelaskan rasa bersalah yang begitu nyata, begitu berat, untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa ia ingat pernah ia lakukan. “Maaf, aku nggak sengaja.” “Nggak papa. Beneran nggak papa.”
31 5 – How they meet Hari itu, minggu kedua semester baru, Meiza berjalan cepat melintasi lapangan itu dengan earphone terpasang dan map berisi berkas daftar ulang terselip di bawah lengan. Kepalanya penuh dengan daftar mata kuliah yang harus ia validasi ulang, jadwal observasi klinis yang bentrok dengan jam kuliah wajib dan bayang-bayang mimpi semalam yang masih menempel di kepalanya seperti bau asap yang menolak hilang dari baju. “Eh! sorry, sorry banget!” Ia tidak melihat sepeda yang terparkir miring di pinggir jalan setapak. Ia juga tidak melihat seseorang yang sedang berjongkok di dekatnya, sibuk memunguti draf press release, bundel proposal acara dan spidol warna-warni yang berjatuhan dari tas kanvasnya. Yang Meiza lihat hanya lantai yang tiba-tiba mendekat terlalu cepat dan sepasang tangan asing yang refleks menahan bahunya sebelum ia benar-benar jatuh. “Kamu nggak papa? Aduh, maaf, sepedanya emang aku parkir asal tadi. Aku buru-buru soalnya barangku jatoh semua” Dan di titik itulah semuanya terjadi.
32 Bukan sesuatu yang dramatis bukan seperti adegan film yang diiringi musik menegangkan. Hanya sepersekian detik ketika mata Meiza bertemu mata perempuan asing itu dan tiba-tiba dunia di sekitarnya terasa jauh, seperti suara-suara direndam air. Dadanya sesak dengan cara yang sama seperti tadi malam, tapi kali ini bukan panik yang ia rasakan melainkan sesuatu yang jauh lebih rumit untuk dinamai. Semacam rindu yang tidak masuk akal pada seseorang yang baru saja ia temui. Aku kenal kamu. Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa diundang, tanpa dasar logika apa pun. Meiza bahkan tidak tahu nama perempuan di depannya. “...Kamu oke?” perempuan itu mengulangi, kali ini dengan nada lebih hati-hati, karena Meiza belum juga menjawab dan hanya berdiri mematung menatapnya seperti melihat hantu. Meiza berkedip cepat memaksa dirinya kembali ke lapangan rumput ke jam sepuluh pagi yang cerah ke berkas daftar ulang yang kini sudah agak kusut dalam genggamannya.
33 “Nggak papa,” jawabnya, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya. “Aku yang harusnya minta maaf, nggak lihat jalan.” “Enggaklah, salah aku duluan taruh sepeda sembarangan.” Perempuan itu tersenyum lebar, senyum yang entah kenapa langsung terasa seperti sesuatu yang sudah lama tidak Meiza lihat, meski jelas ini pertama kalinya. “Cecil,” katanya, mengulurkan tangan yang masih ada sedikit noda cat air di sana. “Ilmu Komunikasi, semester lima.” “Meiza,” balasnya, menjabat tangan itu. Dan begitu kulit mereka bersentuhan, sesuatu di dada Meiza kembali berdenyut, tajam sekali, sampai ia hampir menarik tangannya lebih cepat dari yang ia niatkan. “Psikologi. Baru pindahan.” “Oh! Pantas nggak pernah lihat kamu sebelumnya.” Cecil membungkuk lagi, meraih sisa pensil warna yang masih tercecer di rumput, memasukkannya asal ke dalam tas kanvasnya yang reselatingnya memang benar-benar sudah rusak. “Selamat datang di Wiratama deh, kalo gitu. Ini kampus emang agak absurd tapi lumayan seru kok.” Meiza mengangguk kecil, tapi matanya masih setengah tertuju pada tangan Cecil yang sibuk membereskan barang-barangnya sendiri. Ada sesuatu
34 di gerakan itu cara jarinya memegang pensil, cara ia menata ulang barang-barangnya dengan cekatan meski terlihat berantakan yang membuat Meiza merasa seperti sedang menonton adegan yang sudah pernah ia tonton sebelumnya, entah di mana, entah kapan. “Kamu... yakin nggak papa?” Cecil berdiri kembali, kali ini menatap Meiza lebih lama, mengernyitkan kening. “Muka kamu kayak abis liat sesuatu.” “Aku Cuma..” Meiza menahan napas sebentar mencoba mencari kalimat yang masuk akal, sesuatu yang tidak akan terdengar aneh diucapkan pada orang yang baru saja ia kenal lima menit yang lalu. “..kurang tidur aja. Semalam susah tidur.” Itu bukan bohong sepenuhnya. Hanya saja bukan seluruh kebenaran juga. “Oh, sama! Aku juga sering gitu kalau lagi banyak deadline.” Cecil tertawa kecil dan tawa itu ringan, tulus, tanpa beban membuat sesuatu di dalam dada Meiza mengendur sedikit, meski ia tidak tahu kenapa. “Eh, kamu mau ke Kedai Aksara? Kebetulan aku juga ke sana, mau ambil pesenan buat temen sekelompok. Sekalian aja, anggep permintaan maaf dariku.”
35 Meiza seharusnya menolak. Jadwalnya masih penuh, ia masih harus menyelesaikan urusan administrasi sebelum jam kuliah pertama dimulai. Itu yang biasanya ia lakukan menolak dengan sopan, menjaga jarak yang aman, memastikan tidak ada ruang bagi hal-hal yang tidak terjadwal untuk mengganggu harinya. Tapi entah kenapa, kali ini, kata-kata yang keluar dari mulutnya justru.. “Boleh.”
36 6 – Deja Vu Tiga minggu berlalu sejak pertemuan pertama itu dan tanpa benar-benar direncanakan, Meiza dan Cecil menemukan diri mereka menghabiskan lebih banyak waktu bersama daripada yang bisa dijelaskan oleh alasan ‘kebetulan satu kampus’. Mereka bertemu di Kedai Aksara setiap Selasa dan Kamis sore, waktu di mana jadwal kuliah keduanya sama-sama kosong. Cecil membawa laptopnya, mengisi halaman demi halaman dengan kajian isu terbaru, sementara Meiza membawa laporan observasi klinisnya, meski lebih sering ia habiskan waktu memperhatikan Cecil bekerja daripada benar-benar menulis. “Kamu sadar nggak,” kata Isa suatu sore, duduk di seberang mereka berdua dengan segelas es kopi susu yang sudah setengah mencair, “kalian berdua ini kayak udah kenal lama banget. Padahal baru tiga minggu.” “Emang berasa gitu, sih,” jawab Cecil, tanpa mengangkat wajah dari laptopnya. “Aneh ya? Kayak... aku nggak pernah harus jelasin apa-apa ke Meiza. Dia udah ngerti duluan.” Meiza tidak menjawab tapi diam-diam ia setuju. Ada sesuatu tentang cara Cecil tertawa, cara ia
37 menyentuh lengan orang lain saat bercerita hal yang membuatnya bersemangat, cara ia selalu memilih untuk tersenyum lebih dulu sebelum mengeluh semua itu terasa seperti bagian dari sebuah lagu lama yang Meiza masih hafal liriknya meski tak pernah ingat kapan pertama kali mendengarnya. Yang tidak Meiza katakan pada siapa pun termasuk Isa adalah mimpi-mimpi yang mulai datang lebih sering sejak ia mengenal Cecil. Mimpi itu tidak pernah utuh. Hanya kepingan- kepingan suara telepon yang berdering di tengah malam, hujan gerimis yang menampar kaca mobil, sebuah kalimat yang diucapkan dengan nada marah yang begitu asing keluar dari mulutnya sendiri: “Kalau kamu benci, ya udah! Nggak usah cari aku lagi!” Setiap kali terbangun dari mimpi itu, Meiza akan duduk lama di tepi ranjang, menekan kedua telapak tangan ke wajahnya, mencoba memahami kenapa sebuah kalimat yang tidak pernah ia ucapkan dalam hidup ini bisa terasa begitu nyata, begitu penuh penyesalan, seolah ia benar-benar pernah mengucapkannya pada seseorang yang sangat ia cintai. Dan setiap kali itu terjadi, satu-satunya hal yang bisa menenangkannya adalah membuka galeri ponselnya melihat foto-foto random yang diam-diam
38 Cecil kirim ke grup kecil mereka bertiga. Cecil tertawa dengan candaan Isa, Cecil mengantuk di perpustakaan dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa perempuan itu baik-baik saja. Bahwa apa pun yang mimpi itu coba katakan padanya itu bukan kenyataan. Belum menjadi kenyataan. “Za,” Cecil menyenggol lengannya pelan mengembalikan Meiza dari lamunan. “Kamu ngelamun lagi. Udah tiga kali hari ini.” “Maaf. Lagi mikirin tugas,” Meiza berbohong, cepat sekali, terlalu cepat. Cecil menatapnya lama, kepala sedikit dimiringkan seperti mencoba membaca sesuatu yang Meiza sembunyikan di balik kalimat sederhana itu. Ada satu detik di mana Meiza yakin Cecil akan mendesak lebih jauh tapi yang keluar dari mulut Cecil justru senyuman kecil dan sebuah tawaran ringan. “Kalo capek, bilang aja. Aku nggak akan maksa kamu cerita kalo emang belum siap.” Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, sesuatu di dalam diri Meiza sesuatu yang jauh lebih tua dari usianya sendiri terasa seperti hendak menangis mendengarnya, seolah kalimat sesederhana itu adalah
39 hal yang selalu ia butuhkan namun tidak pernah benar- benar ia dapatkan sebelumnya. Dia selalu begini, pikir Meiza, meski ia tahu itu adalah pikiran yang tidak masuk akal untuk seseorang yang baru ia kenal tiga minggu. Selalu ngalah duluan. Selalu nahan diri biar orang lain nggak keberatan. Ia tidak tahu dari mana pemikiran itu datang. Ia hanya tahu tiba-tiba, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk melindungi Cecil dari sesuatu yang bahkan tidak bisa ia jelaskan namanya, tapi terasa begitu nyata, seperti bahaya yang mengintai dari kejauhan yang hanya bisa ia rasakan, tidak bisa ia lihat. Malam itu sepulang dari Kedai Aksara, saat Meiza sudah kembali ke kamar kosnya dan berbaring di ranjang, kepingan mimpi yang selama ini datang terputus-putus tiba-tiba menyatu bukan sebagai mimpi, tapi sebagai sesuatu yang terasa jauh lebih dekat dengan ingatan. Ia melihat wajah seorang perempuan lain bukan Cecil, tapi dengan mata yang sama persis. Mata yang selalu memilih untuk tersenyum dulu sebelum mengeluh. Ia mendengar suara telepon terputus setelah kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya sendiri. Ia merasakan dingin yang menjalar dari telapak tangan hingga ke dada dan sebuah nama yang menelepon
40 dengan suara gemetar, membawa kabar yang membuat dunianya runtuh seketika. Meiza terbangun dengan jeritan tertahan di tenggorokan, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, jantung berdebar begitu keras hingga terasa sakit di dada. Ia menatap kegelapan kamar kosnya, napas tersengal dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke kota ini, sebuah kepastian yang mengerikan mulai terbentuk di kepalanya sesuatu yang tidak masuk akal, sesuatu yang seharusnya mustahil tapi terasa lebih benar daripada apa pun yang pernah ia yakini seumur hidupnya.
41 7 – Afraid Langit Bandung sore itu berwarna abu-abu metalik seolah-olah awan sedang menahan beban air yang tak kunjung tumpah. Meiza menggenggam erat jemari Cecil saat mereka berjalan menyusuri trotoar di kawasan Cihapit. Aroma kopi dan asap kendaraan bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer urban yang biasanya Meiza sukai. Namun hari ini, ada sesuatu yang mengganjal di ulu hatinya. Cecil berjalan sedikit lebih lambat matanya tertuju pada sepasang kekasih yang baru saja melewati mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Di era modern ini, meskipun segalanya tampak lebih terbuka tatapan-tatapan menghakimi itu masih saja terasa seperti sembilu yang menyayat pelan. “Beb, mungkin sebaiknya kita nggak usah pegangan tangan dulu kalau di tempat seramai ini,” bisik Cecil pelan suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin bus yang melintas. Meiza menghentikan langkahnya mendadak. Ia menoleh ke arah Cecil, matanya memicing. “Kenapa? Kamu malu jalan sama aku?” Cecil tertegun, segera menggeleng cepat. “Bukan gitu, Beb. Kamu tahu sendiri kan tadi orang-
42 orang itu ngelihatin kita kayak gimana. Aku cuma nggak mau kamu nggak nyaman. Aku nggak mau kita jadi pusat perhatian yang negatif.” “Aku nggak peduli sama mereka, Beb!” Nada suara Meiza meninggi satu oktav, membuat beberapa pejalan kaki menoleh. “Kenapa kamu selalu mikirin omongan orang lain? Kamu yang bikin aku nggak nyaman kalau kayak gini terus. Seolah-olah hubungan kita ini sesuatu yang salah.” “Beb, lower your voice” Cecil menyentuh lengan Meiza, mencoba menenangkan. “Aku cuma mau kita aman. Aku nggak mau ada keributan.” Namun bagi Meiza, kata “aman” justru memicu sesuatu yang gelap di dalam dirinya. Bayangan- bayangan samar tentang seorang gadis yang menangis di bawah guyuran hujan tentang sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa mendadak berkelebat di benaknya. Ia tidak tahu dari mana ingatan itu berasal tapi rasa takut akan kehilangan Cecil membuatnya menjadi defensif. “Aman? Dengan cara sembunyi-sembunyi? Itu namanya pengecut, Beb!” bentak Meiza. Sifat impulsifnya meledak tanpa kendali. “Kalau kamu emang nggak sanggup hadapi ini, mending kita nggak usah jalan sekalian!”
43 Cecil tersentak. Ia menatap Meiza dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Lagi-lagi ia memilih untuk menelan kembali pembelaan yang sudah ada di ujung lidahnya. Ia tidak ingin bertengkar, Ia tidak ingin Meiza semakin marah. Maka dengan gerakan yang sudah menjadi kebiasaan pahit, Cecil melepaskan pegangan tangannya, menunduk dan mengulas senyum tipis yang dipaksakan. “Sorry, Beb. You’re right. Aku yang salah. Yuk, kita lanjut jalan,” ucap Cecil lirih. Meiza mendengus, memalingkan wajahnya. Ia berjalan lebih dulu dengan langkah lebar, meninggalkan Cecil yang tertinggal beberapa langkah di belakang. Kemarahan masih menyelimuti benaknya, menutup matanya dari betapa rapuhnya sosok di belakangnya itu. Tepat di persimpangan jalan, lampu lalu lintas menunjukkan warna kuning yang berkedip. Meiza menyeberang dengan cepat, mengabaikan Cecil yang masih tertinggal. “Beb, cepetan!” teriak Meiza tanpa menoleh. Cecil yang masih dalam keadaan emosional dan tidak fokus mencoba mengejar langkah Meiza. Ia melangkah ke badan jalan tepat saat sebuah mobil
44 hitam melaju kencang mencoba mengejar lampu kuning yang hampir berubah merah. Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal membelah kebisingan sore itu. Meiza berbalik dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Mobil itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari tubuh Cecil yang jatuh terduduk di aspal karena kaget. Wajah Cecil pucat pasi, napasnya tersengal- sengal. Supir mobil itu keluar dan memaki-maki namun Meiza tidak mendengar sepatah kata pun. Dunia di sekitar Meiza mendadak melambat. Suara klakson, makian supir dan riuh jalanan memudar, digantikan oleh suara denging yang menyakitkan di telinganya. Di matanya, sosok Cecil yang terduduk di aspal mendadak bertumpang tindih dengan bayangan Joya yang bersimbah darah di jalanan kampus bertahun-tahun yang lalu. Jangan lagi. Tolong, jangan lagi. Meiza berlari menghampiri Cecil, tubuhnya gemetar hebat. Ia berlutut di samping Cecil, menarik gadis itu ke dalam pelukannya dengan sangat erat seolah takut jika ia melepaskannya, Cecil akan menguap menjadi debu.
45 “Cil... Cecil... kamu nggak apa-apa? Maafin aku... maafin aku...” bisik Meiza histeris. Air matanya tumpah tanpa bisa dibendung. Cecil yang masih syok hanya bisa bersandar pada dada Meiza, merasakan detak jantung Meiza yang berpacu liar. “Aku nggak apa-apa, Mei... cuma kaget...” Namun Meiza tahu ini bukan sekadar kaget. Ia merasakan getaran aneh di udara, sebuah firasat buruk yang sangat nyata. Ia menyadari bahwa kemarahannya tadi, bentakannya yang kasar adalah pemicu dari kesialan yang hampir merenggut nyawa Cecil. Kesadaran horor itu menghantamnya telak. Kutukan itu. Pola itu. Semuanya terulang kembali. Meiza menatap langit yang kini mulai meneteskan hujan menyadari bahwa semesta baru saja memberinya peringatan pertama. Dan jika ia tidak bisa mengendalikan monster di dalam dirinya, peringatan berikutnya mungkin tidak akan berakhir dengan sekadar hampir. Meiza memeluk Cecil semakin erat di tengah gerimis yang mulai menderu, bersumpah dalam hati bahwa ia harus menemukan cara untuk mematahkan lingkaran setan ini, sebelum maut benar-benar memisahkan mereka sekali lagi.
46 Hujan gerimis yang menyisakan aroma tanah basah seolah menjadi selimut dingin di malam Minggu itu. Di dalam apartemen mereka yang temaram Meiza duduk di tepi tempat tidur dengan tatapan kosong, sementara Cecil baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melingkar di leher jenjangnya. Meiza segera bangkit menghampiri Cecil dalam tiga langkah lebar lalu merengkuh pinggang kekasihnya itu erat-erat. Wajahnya dibenamkan di ceruk leher Cecil menghirup wangi floral dengan hint vanilla yang selalu berhasil menenangkan saraf-saraf kepalanya yang tegang sejak kejadian di jalan sore tadi. “Beb... maafin aku ya soal yang tadi sore,” gumam Meiza lirih, suaranya bergetar menahan sisa- sisa rasa takut yang luar biasa. “Aku hampir gila waktu lihat mobil itu hampir nabrak kamu. Jantung aku rasanya mau copot.” Cecil menghela napas pelan, mengusap helai rambut Meiza dengan penuh kelembutan. Jemari lentiknya bergerak naik turun di punggung Meiza memberikan ketenangan yang selama ini selalu menjadi candu bagi kekasihnya. “Udah, Beb... kan aku nggak apa-apa,” bisik Cecil menenangkan. Ia melepaskan pelukan itu sejenak
47 untuk menangkup wajah Meiza dengan kedua tangannya menatap manik mata kekasihnya yang sayu. “Aku tahu kamu kaget. Tapi jangan kayak gitu lagi, ya? Kamu bikin aku takut juga kalau kamu marah-marah di jalan.” Meiza menggenggam tangan Cecil yang berada di pipinya mengecup telapak tangan itu lama. “Aku marah karena aku sayang, Beb. Aku takut setengah mati. Bayangan waktu aku kehilangan kamu di masa lalu... itu dateng lagi. Aku nggak sanggup kalau harus ngerasain itu sekali lagi.” Mendengar ucapan Meiza, Cecil tersenyum tipis. Meskipun ada rasa penasaran di benaknya tentang apa yang selalu dimaksud Meiza dengan masa lalu ia memilih untuk mengabaikannya. Bagi Cecil, Meiza adalah pusat dunianya kekasih yang mencintainya dengan begitu menggebu-gebu meskipun terkadang cara itu terasa menyesakkan. Keesokan harinya dan hari-hari setelahnya, strategi protektif yang salah mulai diterapkan oleh Meiza karena dihantui oleh rasa takut yang irasional akan kehilangan Cecil, Meiza mulai memasang pagar pembatas yang tak kasat mata di sekeliling kekasihnya. Ia melarang Cecil naik transportasi umum. Ia bersikeras
48 menjemput dan mengantar Cecil ke mana pun, bahkan rela memutar arah jauh dari kampusnya sendiri. “Beb, hari ini kamu nggak usah ikut kerja kelompok di luar ya. Kerjain di apartemen aku aja. Biar aku yang pesenin makanan,” ujar Meiza suatu siang menyodorkan kotak makan siang di atas meja kerja Cecil. Cecil mengerjap menatap berkas-berkas tugasnya lalu beralih pada Meiza yang berdiri di sampingnya dengan lipatan tangan di dada. “Tapi Beb, temen-temenku udah nunggu di kafe dekat kampus. Nggak enak kalau aku pindahin ke sini mendadak.” “Bilang aja kamu lagi kurang enak badan. Kenapa sih harus maksain pergi ke luar? Di luar itu nggak aman, Beb. Kamu nggak inget kejadian kemarin?” nada suara Meiza mulai meninggi menampakkan kilatan keras kepala yang tak bisa ditawar. Cecil tertegun. Ia meremas ujung meja, merasakan sesak tiba-tiba menghantam dadanya. “Beb, aku bukan anak kecil yang harus diawasi 24 jam. Aku cuma mau pergi kerja kelompok sebentar, bukan mau perang.”
49 “Bukannya aku ngelarang kamu buat punya kehidupan sendiri, Beb!” Meiza mendengus frustrasi karena Cecil membantahnya. “Aku cuma mau kamu jauh dari bahaya! Kenapa kamu keras kepala banget sih dibilangin?!” Bentakan kecil itu langsung membuat lidah Cecil keluh. Di dalam dadanya, gelombang kekecewaan mulai bergolak, bercampur dengan rasa lelah yang teramat sangat. Namun, alih-alih meledak dan berteriak balik, Cecil kembali menggunakan mekanisme pertahanan lamanya dengan menelan mentah-mentah rasa sakit itu. Ia menunduk menggigit bibirnya, lalu mengangguk pelan. “Iya... maaf. Aku nurut kamu aja. Aku batalin perginya.” Melihat Cecil yang melunak dan meminta maaf, amarah Meiza seketika menguap digantikan oleh rasa lega yang egois. Meiza langsung merengkuh Cecil kembali ke dalam pelukannya mengecup puncak kepala kekasihnya berulang kali tanpa menyadari apa yang baru saja ia lakukan. “Good... anak baik,” bisik Meiza penuh kemenangan. “Kamu harusnya ngerti, semua ini aku lakuin karena aku cinta sama kamu.”
50 Di dalam pelukan Meiza, Cecil memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya menetes dalam diam, membasahi kemeja Meiza tanpa disadari oleh sang kekasih. Cecil merasa sangat aman dalam dekapan itu namun di saat yang sama, ia merasa jiwanya sedang perlahan-lahan mati. Di kemudian hari, undangan itu datang dari grup kelas Cecil, perjalanan dua hari satu malam ke sebuah danau di kaki gunung untuk tugas mata kuliah yang diampu. Cecil sudah membicarakannya berminggu-minggu sebelumnya, matanya berbinar setiap kali menyebutkan rencana itu. “Bayangin, Za, kabutnya tuh masih ada sampai jam sepuluh pagi. Aku udah kepikiran mau pake baju layers lucu” “Sama siapa aja yang ikut?” Meiza memotong, suaranya berusaha terdengar santai meski sesuatu di dadanya sudah mulai mengencang. “Ya satu angkatan. Sekitar 80 orang, plus dosen pembimbing.” “Cowok cewek campur?” Cecil menatapnya sejenak, keningnya sedikit berkerut tapi masih menjawab dengan nada ringan. “Ya iyalah, Za. Kelasku emang campur.”
51 “Oh.” Meiza mengaduk kopinya yang sudah tidak lagi mengepul matanya menatap cairan cokelat itu tanpa benar-benar melihatnya. “Nginepnya di mana?” “Di villa deket danau, satu villa buat semua, cowok cewek beda lantai. Kenapa emang?” Ada jeda yang terlalu lama sebelum Meiza menjawab “Nggak apa-apa. Cuma nanya.” Tapi malam itu, di kamarnya sendiri, Meiza tidak bisa tidur sampai pukul dua pagi, kepalanya dipenuhi bayangan-bayangan yang tidak masuk akal, Cecil tersesat di jalan gunung yang gelap, Cecil terjatuh dari tebing karena terlalu asyik mencari sudut foto yang sempurna, Cecil dikelilingi orang-orang asing yang tidak akan bisa menjaganya sebaik dirinya sendiri. Ia tahu semua itu tidak masuk akal. Ia tahu, sebagai mahasiswi psikologi tingkat akhir, bahwa apa yang ia rasakan punya nama yaitu kecemasan antisipatif yang tidak proporsional, mekanisme pertahanan berbasis trauma yang belum terintegrasi. Ia bahkan bisa menyebutkan tiga jurnal yang membahas pola pikir semacam ini. Tapi mengetahui nama sebuah ketakutan tidak membuatnya lebih mudah untuk dilawan.
52 Keesokan paginya, Meiza mengirim pesan panjang pada Cecil bukan melarang, ia tidak pernah benar-benar melarang karena melarang terasa terlalu jujur, terlalu mengakui bahwa ia takut kehilangan kendali. Yang ia lakukan justru lebih halus dengan cara ia mengirimkan artikel tentang kecelakaan pendaki di daerah pegunungan, menanyakan apakah villa itu punya sinyal telepon yang bagus, menyarankan Cecil untuk terus mengirim kabar setiap dua jam sekali yang dilabeli ‘biar aku nggak kepikiran’. Cecil yang selalu memilih untuk tidak membuat orang lain khawatir daripada memperjuangkan keinginannya sendiri akhirnya membalas dengan kalimat yang membuat sesuatu di dalam dada Meiza terasa lega sekaligus yang membuat sedikit tidak nyaman. Dan begitulah perjalanan itu terjadi dengan Cecil mengirim pesan setiap dua jam sekali di tengah kesibukan mengkaji, meminta maaf setiap kali balasannya terlambat lima belas menit dan pulang dengan wajah lelah yang bukan berasal dari perjalanan Panjang melainkan dari beban tak kasat mata yang terus-menerus ia bawa sepanjang dua hari itu beban untuk selalu memastikan orang lain tidak khawatir bahkan ketika ia sendiri sedang berusaha menikmati sesuatu yang ia cintai.
53 Ia tidak pernah menyelesaikan kajiannya di danau berkabut itu. Kabut yang ia tunggu-tunggu selama berminggu-minggu hilang begitu saja pukul sembilan pagi dan Cecil yang sibuk membalas pesan Meiza tepat pada waktunya terlambat mengambil momen itu. Ia tidak menceritakan hal itu pada Meiza. Ia hanya tersenyum ketika Meiza menjemputnya di kampus, memeluknya erat dan berkata, “Aku kangen banget. Untung kamu balik dengan selamat.” “Iya,” jawab Cecil, membalas pelukan itu meski ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa aneh sebuah pertanyaan kecil yang belum berani ia ucapkan keras- keras. Kenapa aku ngerasa kayak baru pulang dari penjara, padahal aku pulang dari liburan? Perlahan-lahan tanpa disadari salah satu dari mereka pola itu mulai terulang lagi. Ajakan-ajakan yang tadinya spontan mulai membutuhkan pertimbangan panjang. Rencana-rencana kecil dengan teman-teman sekelas mulai dibatalkan dengan berbagai alasan yang jika ditelusuri lebih dalam semuanya bermuara pada satu hal yang sama yaitu Cecil tidak ingin melihat wajah Meiza tegang lagi. Ia tidak ingin menjadi alasan orang yang ia cintai terjaga sampai larut
54 malam dipenuhi kekhawatiran yang tidak pernah benar-benar bisa ia jelaskan asal-usulnya. Isa adalah orang pertama yang menyadarinya. “Lo ke mana aja, Cel? Grup kelas gue tanya- tanya, katanya lo udah nggak pernah nongkrong bareng lagi.” Isa duduk di seberang Cecil di Kedai Aksara suatu sore di mana Meiza kebetulan sedang ada kelas tambahan. “Aku lagi banyak tugas aja,” jawab Cecil mengulang jawaban yang sama yang selalu ia berikan pada siapa pun yang bertanya belakangan ini. Isa menatapnya lama kepala sedikit dimiringkan gestur yang entah kenapa mengingatkan Cecil pada Meiza meski keduanya sama sekali tidak terlihat mirip. “Cel,” kata Isa, pelan, hati-hati. “Lo boleh jujur sama gue. Meiza itu... dia baik, gue tau dia baik. Tapi dia juga temen gue dari dulu dan gue tau dia punya cara-cara aneh buat nunjukin sayang yang kadang lebih terasa kayak..” Isa berhenti, mencari kata yang tidak terlalu keras. “..kayak dia lagi berusaha ngontrol sesuatu yang sebenernya nggak perlu dikontrol.” Cecil ingin membantah. Ia ingin bilang bahwa semua itu tidak benar bahwa Meiza hanya seseorang
55 yang sangat peduli bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi kalimat itu tersangkut di tenggorokannya karena untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, seseorang benar-benar bertanya bagaimana kabarnya bukan kabar mereka berdua bukan kabar hubungan mereka tapi kabarnya sendiri sebagai Cecil, sebagai satu manusia utuh yang punya keinginan dan kelelahannya sendiri. Dan ia tidak tahu jawabannya. Tekanan itu tidak hanya datang dari dalam. Dunia di luar mereka berdua yang selama ini terasa cukup jauh untuk diabaikan mulai mengetuk pintu dengan caranya sendiri. Itu terjadi di sebuah acara keluarga ulang tahun sepupu Cecil yang keenam belas, di rumah tantenya di daerah Dago. Meiza datang menemani diperkenalkan sebagai teman kampus. Sebuah label yang keduanya sepakati sebelum acara dimulai meski keduanya tahu betul label itu tidak pernah cukup untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan satu sama lain. Semua berjalan baik-baik saja sampai seorang bibi jauh yang barangkali sudah menaruh curiga sejak awal melihat cara Cecil dan Meiza duduk terlalu berdekatan, terlalu sering bertukar pandang tanpa alasan yang jelas, melontarkan sebuah pertanyaan yang terdengar ringan tapi mendarat seperti pukulan.
56 “Cecil sama temennya ini kok deket banget ya? Jangan-jangan..” Perempuan itu tertawa kecil, tawa yang jelas-jelas mengandung sindiran. “Ih, jangan macem-macem lho. Kasian Ibu kamu kalo tau anaknya begitu.” Ruangan itu tidak benar-benar hening. Musik masih mengalun, tawa anak-anak kecil masih terdengar dari halaman belakang. Tapi bagi Cecil, seluruh dunia terasa berhenti untuk sesaat dan ia merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari tengkuknya sampai ke ujung jari. “Bercanda aja, Tante,” Cecil menjawab dengan senyum yang ia paksakan, suara yang ia usahakan tetap ringan. “Meiza emang temen deket aku, kok.” Bibinya tertawa lagi, seolah masalah itu sudah selesai lalu berpindah ke topik lain. Tapi Meiza yang duduk di sebelah Cecil sepanjang percakapan itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menggenggam gelas minumannya lebih erat sampai buku-buku jarinya memutih dan matanya menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras. Perjalanan pulang malam itu dilalui dalam diam yang berat.
57 “Kamu marah?” Cecil akhirnya bertanya setelah lima belas menit hanya suara mesin mobil yang mengisi ruang di antara mereka. “Enggak,” jawab Meiza terlalu cepat, terlalu datar. “Aku cuma mikir.” “Mikirin apa?” “Mikirin,” Meiza menghela napas panjang, tangannya masih menggenggam kemudi lebih erat dari biasanya. “Mikirin gimana caranya biar kita nggak perlu ngalamin hal kayak tadi lagi.” Cecil menatap profil wajah Meiza dalam remang cahaya lampu jalan yang bergantian menyapu wajah itu, ada sesuatu yang berbeda di sana sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan tapi bisa ia rasakan. Ketegangan yang jauh lebih dalam dari sekadar reaksi terhadap komentar seorang bibi yang tidak sopan. “Kita nggak salah apa-apa, Za,” kata Cecil pelan, mencoba menenangkan. “Yang salah tuh dunianya, bukan kita.” “Tapi dunia yang salah itu bisa nyakitin kamu.” Suara Meiza pecah sedikit di kalimat itu dan untuk sesaat sesuatu yang jauh lebih tua dari usianya muncul di matanya, ketakutan yang begitu dalam begitu kuno seolah bukan berasal dari dirinya sendiri melainkan dari
58 sesuatu yang sudah ia bawa sejak lama sekali dari tempat yang bahkan tidak bisa ia ingat. “Aku nggak bisa biarin itu terjadi.” Sejak malam itu sesuatu di dalam Meiza berubah dan perubahan itu tidak lagi bisa disamarkan sebagai kekhawatiran wajar seorang kekasih baru. Ia mulai menyarankan lalu perlahan mendesak agar mereka mengurangi acara-acara di ruang publik agar Cecil tidak lagi memposting foto mereka berdua di media sosial meski hanya sebagai teman agar mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar apartemen mereka, di mana dunia luar tidak bisa menjangkau dan menyakiti apa yang mereka miliki. “Bukannya lebih aman gitu?” Meiza berkata suatu malam ketika Cecil dengan ragu-ragu bertanya kenapa mereka jarang lagi keluar bersama teman- teman. “Kita cuma perlu jaga-jaga aja sampai semuanya lebih tenang.” “Sampai kapan?” Cecil bertanya, suaranya kecil. Meiza tidak punya jawaban untuk itu karena jujur saja di dalam kepalanya ketakutan itu tidak pernah benar-benar punya batas waktu. Ketakutan itu adalah sesuatu yang menempel di tulangnya yang muncul setiap malam dalam bentuk mimpi yang semakin jelas,
59 semakin menyakitkan, semakin sulit dibedakan dari kenyataan. Dan di tengah semua itu tanpa disadari siapa pun kecuali dirinya sendiri, Cecil mulai kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi bagian paling nyata dari dirinya. Laptopnya yang dulu selalu penuh dengan persuratan, kini tergeletak di rak dengan debu yang menutupi layar. Ia tidak lagi mengambilnya secara spontan setiap kali menunggu sesuatu karena setiap kali ia mencoba tangannya terasa berat, pikirannya terlalu penuh dengan hal-hal lain untuk memberi ruang bagi komentar dan tanggapan yang dulu mengalir begitu mudah dari jari-jarinya. Ia mulai lupa kapan terakhir kali tertawa sampai perutnya sakit, tawa yang benar-benar keluar dari dalam, bukan tawa kecil yang ia keluarkan untuk menenangkan orang lain. Ia mulai sulit tidur, terbangun di tengah malam dengan pikiran berputar-putar tentang hal-hal yang tidak pernah ia khawatirkan sebelumnya. apakah ia sudah membalas pesan Meiza cukup cepat, apakah ia terlihat terlalu dekat dengan teman laki-laki di kelasnya tadi siang, apakah senyumnya tadi terlihat cukup meyakinkan.
60 Cermin di kamarnya mulai memantulkan seseorang yang terasa asing baginya sendiri, wajah yang sama, tapi matanya kehilangan sesuatu yang dulu selalu ada di sana sesuatu yang selama ini menjadi ciri khas yang membuat orang-orang di sekitarnya selalu berkata, “Cecil itu selalu cerah, ya, kayak nggak pernah ada masalah.” Binar itu pelan-pelan, tanpa disadari siapa pun, mulai padam.
61 8 – Gone and Truth Malam itu hujan turun deras jenis hujan yang membuat jalanan Bandung berubah menjadi sungai- sungai kecil di pinggir trotoar. Cecil baru saja pulang dari kampus terlambat karena rapat kelompok tugas akhir yang molor lebih dari yang seharusnya dan ia sudah membalas pesan Meiza tiga kali dalam satu jam terakhir, menjelaskan kenapa ia belum juga sampai di apartemen. Pesan keempat datang saat ia baru turun dari taksi di seberang jalan dari apartemennya. Kamu udah sampe belum? Udah setengah delapan. Cecil menatap layar ponselnya dan untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan sesuatu di dalam dirinya terasa retak. Ia tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu mulai muncul sebuah kelelahan yang begitu dalam begitu berat sampai rasanya ia ingin duduk begitu saja di trotoar basah dan menangis sampai tidak ada lagi air mata yang tersisa. Ia sudah menahan diri terlalu lama, tersenyum terlalu sering ketika sebenarnya ia ingin menjerit, mengalah terlalu banyak ketika sebenarnya ia hanya ingin didengarkan.
62 Jarinya bergetar saat mengetik balasan Iya, ini otw nyebrang. Dan mungkin karena tangannya bergetar atau karena matanya sudah mulai buram oleh air mata yang tidak sempat ia sadari sudah mengalir, Cecil tidak benar-benar memperhatikan jalan di depannya ketika ia melangkah menyeberang. Suara klakson yang melengking keras dan cahaya lampu motor yang tiba-tiba begitu dekat membuat jantungnya melompat ke tenggorokan. Ia terlonjak mundur, kakinya tersandung trotoar dan tubuhnya jatuh terduduk di genangan air tepat saat motor itu melintas hanya beberapa jengkal dari tempatnya berdiri sedetik yang lalu. “Woy! Liat jalan dong, Mbak!” teriak si pengendara motor tanpa berhenti, suaranya menghilang ditelan hujan. Cecil duduk di sana, di tengah genangan air, basah kuyup, gemetar bukan hanya karena dingin dan untuk beberapa detik ia tidak bisa bergerak sama sekali. Yang bisa ia rasakan hanya detak jantungnya sendiri yang begitu keras dan sebuah pikiran yang muncul begitu saja, tanpa diundang.
63 Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana sebelum sebuah tangan meraih lengannya, menariknya berdiri dengan panik. “Cecil! Ya Tuhan, kamu kenapa?!” Meiza yang rupanya sudah menunggu di depan lobby apartemen, tidak sabar setelah balasan pesan yang tidak kunjung datang sehingga memilih tuk berlari menyeberang jalan tanpa peduli hujan. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar saat memeriksa seluruh tubuh Cecil, mencari luka yang mungkin tidak terlihat. “Aku nggak papa,” Cecil berbisik tapi suaranya pecah di kata terakhir dan tanpa bisa ia cegah lagi, tangisan yang sudah lama ia tahan akhirnya meledak begitu saja di tengah hujan, di pinggir jalan dengan Meiza yang berlutut di hadapannya, wajah dua-duanya basah oleh air yang tidak lagi jelas berasal dari langit atau dari mata mereka sendiri. “Aku capek, Za,” isak Cecil kata-kata yang selama ini ia telan mentah-mentah akhirnya keluar tanpa bisa ia bendung. “Aku capek banget. Aku nggak bisa napas. Aku ngerasa kayak... kayak aku udah nggak jadi diri aku sendiri lagi. Aku nggak inget kapan terakhir kali aku seneng-seneng karena aku beneran pengen, bukan karena aku butuh distraksi biar nggak mikirin macem-macem. Aku nggak inget kapan
64 terakhir kali aku ketawa tanpa mikir dulu apa reaksi kamu kalo aku ketawa sama orang lain.” Setiap kata itu menghantam Meiza seperti pukulan dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia tidak bisa membantah satu pun dari kalimat itu. Ia hanya bisa duduk di sana, di tengah hujan memegang kedua tangan Cecil yang gemetar dengan dadanya terasa hancur oleh rasa bersalah yang begitu besar hingga hampir tidak sanggup ia tanggung. “Maaf,” bisik Meiza berulang-ulang seolah kata itu bisa menebus segalanya meski keduanya tahu itu tidak akan pernah cukup. “Maaf, Cel. Maaf aku udah bikin kamu ngerasa kayak gitu. Aku nggak.. aku nggak pernah maksud..” “Aku tau kamu nggak maksud,” potong Cecil di tengah isaknya. “Tapi itu yang bikin ini lebih susah, Za. Kamu nggak jahat. Kamu cuma... kamu kayak lagi lari dari sesuatu, aku nggak tau itu apa dan aku udah cape nebak-nebak sendirian.” Malam itu di bawah hujan yang perlahan mereda, dua perempuan itu duduk berpelukan di trotoar basah dengan sesuatu yang akhirnya untuk pertama kalinya, terasa jujur di antara mereka sebuah pengakuan bahwa ada yang salah dan bahwa mereka
65 berdua sudah tidak sanggup lagi memperbaikinya sendirian. Keesokan harinya Cecil menceritakan semuanya sambil masih gemetar di ruang praktik dr. Nera yang terasa hangat meski sederhana. Dinding berwarna krem, satu sofa panjang berwarna abu-abu lembut dan sebuah jendela besar yang membiarkan cahaya sore masuk tanpa menyilaukan. “Ceritain aja apa yang kamu rasain, nggak perlu diatur dulu,” kata dr. Nera, suaranya tenang tanpa terburu-buru. “Nggak ada yang salah di sini.” Butuh waktu hampir setengah jam bagi Cecil untuk akhirnya berhasil mengucapkan kalimat pertama tanpa air mata menyertainya. Tapi begitu ia mulai, kata- kata itu mengalir seperti bendungan yang akhirnya jebol tentang bagaimana ia selalu memilih diam sejak kecil karena di rumahnya dulu, konflik selalu berujung pada sesuatu yang lebih buruk dari sekadar ketidaknyamanan sesaat. Tentang bagaimana ia belajar bahwa cara teraman untuk dicintai adalah dengan tidak pernah menjadi beban, tidak pernah mengeluh, selalu tersenyum lebih dulu sebelum orang lain sempat khawatir.
66 “Dan sekarang,” dr. Nera bertanya pelan, “apa yang bikin kamu akhirnya sadar kalau cara itu nggak lagi berhasil?” Cecil menatap tangannya sendiri teringat trotoar basah, teringat lampu motor yang begitu dekat, teringat bagaimana ia hampir tidak menyadari bahayanya karena terlalu sibuk memikirkan perasaan orang lain. “Karena aku hampir kehilangan diriku sendiri,” jawab Cecil akhirnya pecah tapi jujur. Sesi itu berakhir dengan tangis yang terdengar pilu, tangis yang selama ini selalu ditahan keluar begitu hebat tanpa ditahan. Sesi Meiza satu minggu berikutnya, dilakukan sendirian atas saran dr. Nera “biar kalian berdua punya ruang masing-masing dulu sebelum kita coba sesi bareng.” Di ruangan yang sama dengan cahaya sore yang sama, Meiza duduk kaku di ujung sofa, tangannya terlipat rapat di pangkuan seolah tubuhnya sendiri sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak tumpah keluar. “Aku nggak tau harus mulai dari mana,” kata Meiza setelah hening yang panjang. “Coba mulai dari apa yang paling sering muncul di pikiranmu belakangan ini,” saran dr. Nera.
67 Meiza menghela napas panjang, matanya menatap jendela ke arah langit sore yang mulai memerah. “Aku mimpi buruk. Terus-terusan. Selalu sama bukan persis sama tapi selalu tentang hal yang sama. Kehilangan seseorang yang aku sayang karena kesalahanku sendiri, karena amarahku sendiri.” “Dan kamu ngerasa itu... terhubung sama Cecil?” Meiza tidak menjawab langsung. Tangannya mengepal di atas pangkuannya, buku-buku jarinya memutih. “Aku ngerasa kalau aku nggak jagain dia sekuat yang aku bisa,” Meiza akhirnya berkata pelan hampir seperti bisikan, “aku bakal kehilangan dia lagi.” “Lagi,” ulang dr. Nera tanpa menghakimi hanya mengamati kata itu dengan hati-hati. “Kamu bilang lagi. Kamu pernah kehilangan seseorang sebelumnya?” Dan di titik itu, Meiza tidak sanggup lagi menahannya. Ia tidak menceritakan semuanya tidak nama, tidak detail, tidak kata-kata rumit yang mungkin akan terdengar seperti sesuatu yang lebih dari sekadar kecemasan berlebihan pada seseorang yang baru mengenalnya di ruangan itu. Tapi ia berbicara tentang perasaan itu, tentang rasa bersalah yang sudah ada jauh
68 sebelum ia mengenal Cecil, tentang ketakutan yang terasa lebih tua dari usianya sendiri, tentang bagaimana ia belajar yang entah dari mana, entah sejak kapan bahwa kata-kata yang diucapkan dalam amarah bisa menjadi hal terakhir yang pernah kita katakan pada seseorang yang kita cintai. “Aku nggak mau ngulang kesalahan yang sama,” kata Meiza, suaranya bergetar. “Tapi cara aku nyoba nyegah itu... aku sadar sekarang, itu justru bikin Cecil terluka dengan cara yang lain. Aku nggak lagi ngelukai dia lewat amarah. Aku ngelukai dia lewat... lewat ketakutan aku sendiri yang aku bebanin ke dia tanpa dia minta.” Sesi gabungan mereka datang dua minggu kemudian. Cecil dan Meiza duduk berdampingan, tidak berpegangan tangan, dengan jarak yang terasa lebih jauh dari sekadar jarak fisik. “Aku pengen kalian berdua belajar satu hal hari ini,” kata dr. Nera menatap keduanya bergantian. “Kalian nggak harus nyelesain semuanya di sini. Tapi kalian bisa mulai bilang satu hal jujur, hal yang selama ini kalian takut buat diucapkan.” Hening yang panjang mengisi ruangan itu. Cecil menatap tangannya sendiri. Meiza menatap Cecil lama
69 sebelum akhirnya menoleh pada dr. Nera dan berkata, suaranya nyaris tak terdengar: “Boleh aku ngomong ini ke Cecil aja? Nanti, di apartemen? Bukan karena aku takut cerita di sini. Tapi karena aku pengen dia denger ini bukan sebagai pasien, tapi sebagai... sebagai orang yang aku cintai.” Dr. Nera mengangguk pelan. “Boleh. Tapi janji sama saya kalian akan tetep dateng minggu depan, apa pun yang terjadi.” Kemudian malam itu, di kamar apartemen yang terasa dingin dan dinding-dindingnya dihiasi oleh cetakan-cetakan foto-foto Cecil bersama teman lamanya yang sudah menguning, bekas dari masa ketika binar itu masih menyala terang. Meiza duduk di sofa dengan Cecil duduk di sebelahnya. “Aku mau cerita sesuatu,” kata Meiza akhirnya setelah hening yang terasa seperti berjam-jam. “Dan aku nggak yakin kamu bakal percaya. Tapi aku janji, ini yang paling jujur yang pernah aku ucapin ke siapa pun.” Cecil menunggu diam, matanya yang lelah tapi masih penuh perhatian tertuju pada Meiza sepenuhnya. “Sejak pertama kali kita ketemu,” Meiza memulai, suaranya bergetar, “aku ngerasa kayak udah kenal kamu. Bukan kenal biasa. Kenal yang lebih
70 dalam dari itu, kayak... kayak aku udah pernah kehilangan kamu sebelumnya, di kehidupan yang aku ingat jelas. Aku mimpi tentang seseorang yang wajahnya nggak persis kamu, tapi matanya sama. Cara dia senyum sama. Cara dia selalu ngalah, selalu nahan sakit hatinya sendiri biar orang lain nggak khawatir semuanya sama persis kayak kamu.” “Za..” “Biar aku selesain,” Meiza berkata cepat, seolah kalau ia berhenti sekarang ia tidak akan pernah sanggup memulainya lagi. “Di mimpi itu, aku yang bikin dia pergi bukan orang lain karena aku nggak bisa ngontrol amarah aku, karena aku terlalu sibuk mikirin ego aku sendiri buat denger apa yang sebenernya dia butuhin. Dan kata terakhir yang aku denger dari dia adalah dia bilang dia benci sama aku, terus dia pergi dan aku nggak pernah sempet minta maaf, karena..” suara Meiza pecah sepenuhnya di kalimat itu, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya jatuh tanpa bisa ia cegah. “..karena dia meninggal, Cel. Malam itu juga. Dan aku selalu ngerasa itu salah aku.” Cecil terdiam tidak bergerak mencoba memahami kalimat demi kalimat yang barusan ia dengar, sesuatu yang terlalu besar, terlalu asing, untuk bisa langsung dicerna dengan logika biasa.
71 “Aku tau ini kedengeran gila,” lanjut Meiza mengusap wajahnya kasar. “Aku psikolog, Cel. Aku seharusnya yang paling ngerti kalau ini semua bisa dijelasin sama sains, kecemasan, trauma yang nggak terintegrasi, apa pun namanya. Tapi setiap kali aku coba nge-rasionalisasi ini, ada bagian dari diriku yang tau, dengan cara yang nggak bisa aku jelasin, bahwa ini bukan cuma mimpi biasa. Ini kayak... ingatan. Ingatan dari hidup lain, di mana aku udah pernah kehilangan kamu dan alasannya adalah amarah aku sendiri.” “Makanya kamu jadi kayak gini,” bisik Cecil akhirnya, kepingan-kepingan itu mulai tersusun di kepalanya. “Makanya kamu takut aku pergi jauh-jauh. Makanya kamu..” “Makanya aku ngekang kamu,” potong Meiza mengakui hal itu dengan suara yang penuh penyesalan. “Bukan karena aku nggak percaya sama kamu. Tapi karena aku terlalu takut ngulang kesalahan yang sama sampai aku nggak sadar aku lagi bikin kesalahan yang baru. Aku pikir kalau aku jagain kamu ketat-ketat, kalau aku kendaliin semua yang bisa dikendaliin, aku bisa nyegah hal buruk itu kejadian lagi. Tapi yang sebenernya terjadi malah aku bikin kamu perlahan- lahan ngilang sama kayak yang aku takutin dari awal. Cuma dengan cara yang berbeda.”
72 Kamar itu hening untuk waktu yang lama. Cecil menatap perempuan yang selama berbulan-bulan terakhir ini terasa begitu asing dan begitu familiar di saat yang sama, yang kini duduk di hadapannya dengan seluruh pertahanannya runtuh, tanpa topeng, tanpa alasan yang rapi, hanya kejujuran yang mentah dan menyakitkan. “Aku nggak tau harus bilang apa,” bisik Cecil akhirnya, air matanya sendiri mulai mengalir tanpa suara. “Ini... ini banyak banget, Za. Aku butuh waktu buat nyerna semuanya.” “Aku tau,” Meiza mengangguk cepat meski hatinya terasa remuk mendengarnya. “Kamu nggak harus langsung percaya. Kamu nggak harus langsung maafin aku. Aku cuma... aku pengen kamu tau kenapa, aku pengen kamu tau bahwa ini bukan karena kamu kurang apa-apa, bukan karena aku nggak percaya sama kamu. Ini karena aku terlalu takut dan aku nggak pernah ngasih ketakutan itu ruang buat diomongin jadi dia keluar dengan cara yang nyakitin kamu.” Cecil mengulurkan tangan, ragu-ragu sebentar sebelum akhirnya menggenggam tangan Meiza yang masih gemetar. Bukan sebagai jawaban bahwa semuanya sudah baik-baik saja mungkin karena keduanya tahu, jauh di dalam hati, bahwa ini baru
73 permulaan, bahwa masih ada jalan panjang yang harus mereka lalui sebelum semuanya benar-benar sembuh. Tapi sebagai sebuah pengakuan kecil, sebuah janji yang belum sepenuhnya terucap, bahwa ia tidak akan pergi begitu saja malam itu. “Aku nggak tau apa yang bakal terjadi besok,” kata Cecil pelan menatap tautan tangan mereka. “Tapi aku tau satu hal, Za. Aku capek jadi orang yang selalu diem demi orang lain. Kalo kita mau lanjut, kalo kamu beneran mau lanjut sama aku, aku butuh kamu belajar dengerin aku, bukan cuma jagain aku. Ada bedanya.” “Aku tau,” bisik Meiza mengangguk, air mata masih mengalir di pipinya. “Aku bakal belajar. Aku janji.” 9 – Something Hanging Di luar jendela kamar apartemen itu, malam Bandung berlangsung seperti biasa, lampu-lampu jalan yang berkedip lembut, suara motor yang sesekali melintas dan udara dingin yang menyusup lewat celah jendela yang tidak tertutup rapat. Tapi di dalam kamar itu, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, ada sesuatu yang mulai retak, bukan retak yang menghancurkan, melainkan retak seperti cangkang telur yang pecah dari dalam, membiarkan sesuatu yang
74 baru, yang lebih rapuh tapi lebih jujur, mulai bernapas untuk pertama kalinya. Dua minggu setelah malam hujan itu, Cecil pindah. Ibunya tidak tahu selama ini ia tinggal bersama Meiza yang ibunya tau Cecil hanpir tertabrak karena ia terlalu lelah saat akan berkunjung ke kediaman Meiza. Bukan atas paksaan siapa pun. Ibunya yang mengusulkan setelah mendengar cerita tentang kejadian di trotoar itu lewat versi yang sudah disaring. Ibunya hanya tahu Cecil hampir tertabrak motor. Tidak lebih dari itu tapi itu cukup membuat perempuan itu bersikeras anaknya harus tinggal di tempat yang lebih aman. Ada gerbang, ada satpam, ada lift yang tidak perlu dipanjat lewat tangga gelap seperti tempat tinggalnya dulu sebelum tinggal Bersama Meiza. Kebetulan atau mungkin tidak benar-benar kebetulan, apartemen yang dipilih ibunya berada di gedung yang sama dengan tempat Meiza tinggal. Bedanya cuma lantai. Meiza di lantai delapan. Cecil kebagian unit dua lantai di bawahnya. “Aku nggak minta ini,” kata Meiza, waktu Cecil bercerita soal kepindahan itu. Nadanya hati-hati. Seolah takut kalimatnya sendiri akan terdengar seperti tuduhan. “Serius. Aku nggak pernah bilang apa-apa ke mama kamu.”
75 “Aku tau” Cecil tersenyum kecil. Bukan senyum lama yang dulu selalu ia pakai untuk menutupi sesuatu. Senyum ini lebih tipis. Lebih jujur. “Kalo aku curiga kamu yang atur, aku udah tolak dari kemarin.” Malam pertama di unit barunya, Cecil membuka kardus-kardus satu per satu sendirian. Meiza menawarkan diri untuk membantu, tapi Cecil menolak dengan lembut. “Aku pengen susun sendiri,” katanya. “Biar tau di mana taruh apa. Biar ini beneran berasa punya aku.” Itu kalimat kecil. Tapi Meiza mengerti maksudnya lebih dalam dari sekadar urusan kardus. Ia mengangguk. Duduk di lantai ruang tamu yang masih kosong, menemani tanpa menyentuh apa pun sampai jam sebelas malam. Beberapa minggu berikutnya berjalan pelan. Canggung di beberapa titik. Lega di titik lainnya. Ada malam ketika Cecil mengajak beberapa teman jurusannya berkumpul di apartemen barunya dan Meiza tidak diundang lebih dulu. Ia tahu dari story Instagram, bukan dari pesan langsung. Dadanya sempat mengencang. Tangannya sempat meraih ponsel untuk mengetik sesuatu lalu berhenti.
76 Ia menutup ponselnya duduk. Menghitung napas seperti yang diajarkan dr. Nera. Satu, dua, tiga. Keesokan paginya, ia hanya bertanya, biasa saja, tanpa nada menyelidik. “Kumpul kemarin seru?” “Seru banget.” Mata Cecil berbinar sedikit, binar cahaya yang sudah lama tidak Meiza lihat. “Kita ngobrolin tugas akhir sambil makan mie instan tengah malem. Berantakan banget dapurnya. Sori ya, aku baru sempet beresin sekarang.” “Nggak papa.” Dan kali ini, Meiza benar-benar berhasil membuat kalimat itu terdengar tulus bukan kalimat penenang untuk dirinya sendiri. Bukan berarti semuanya berubah begitu saja. Ada malam-malam ketika ketakutan lama itu muncul lagi, mengetuk dari dalam. Ada satu kejadian ketika Cecil pulang lebih larut dari biasanya dan Meiza sudah berdiri di depan pintu apartemennya sendiri, gelisah, sebelum sadar apa yang sedang ia lakukan. Ia menahan diri untuk tidak turun ke lantai enam, ia menahan diri untuk tidak menelepon, ia duduk di sofa, memeluk lututnya sendiri dan menunggu, benar-benar menunggu, bukan mengawasi sampai pesan dari Cecil masuk sendiri, tanpa diminta.
77 Udah sampe. Maaf ya baru kabarin, tadi sinyal jelek di parkiran. Meiza tidak membalas dengan pertanyaan lanjutan. Ia hanya membalas. Oke. Istirahat ya. Sederhana. Tapi bagi seseorang yang selama ini selalu merasa harus tahu segalanya, kalimat sesederhana itu terasa seperti mendaki gunung. Isa datang berkunjung suatu sore, membawa dua gelas kopi dari Kedai Aksara dan duduk di teras kecil apartemen Cecil sambil memperhatikan tumpukan kertas baru yang mulai lagi memenuhi meja. “Gue seneng liat lo produktif lagi,” kata Isa. “Aku juga.” Cecil menatap salah satu lembar proposalnya yang sudah di acc untuk magang, padahal dia yakin kualitas dirinya belum sebagus itu setelah apa yang terjadi. Tapi setidaknya, tangannya mau bergerak lagi tanpa dipaksa. “Rasanya kayak baru mulai belajar napas lagi.” “Meiza gimana?” Cecil terdiam sebentar sebelum menjawab. “Dia coba. Beneran coba. Kadang masih keliatan kayak lagi nahan diri mati-matian buat nggak tanya macem-
78 macem. Tapi dia nahan. Itu udah beda banget sama sebelumnya.” Isa mengangguk pelan. Ada sesuatu di wajahnya semacam kelegaan yang belum sepenuhnya utuh. “Cel,” katanya, hati-hati. “Gue mau nanya sesuatu dan lo boleh nggak jawab kalo nggak mau.” “Tanya aja.” “Lo masih takut sama dia?” Pertanyaan itu menggantung lama di udara sore, bercampur uap kopi yang mulai dingin. “Kadang,” jawab Cecil, jujur. “Bukan takut dia bakal marah atau apa. Tapi takut... takut kalo semua ini cuma jeda. Takut suatu hari nanti pola lama itu balik lagi, terus aku harus mulai dari awal buat sadar aku lagi ngilangin diri sendiri.” Isa tidak punya jawaban untuk itu. Tidak ada yang benar-benar punya. Yang bisa dilakukan hanya menunggu dan berharap luka yang mulai menutup itu cukup kuat untuk bertahan dari ujian berikutnya. Ujian itu datang lebih cepat dari yang siapa pun kira. Sebuah ruangan kecil di pusat kota mengundang Cecil untuk ikut mengisi acara Talk Show
79 bersama sepuluh pembicara muda lain. Bukan talk show kampus. Cecil membaca pesan undangan itu tiga kali sebelum berani percaya isinya nyata. “Za!” Ia berlari ke lantai delapan sore itu juga, napas masih terengah waktu Meiza membuka pintu. “Aku diundang Talk Show. Beneran Talk Show, bukan tugas kuliah.” Untuk sesaat, wajah Meiza berubah cerah. Ia menarik Cecil ke dalam pelukan, tertawa kecil, ikut senang tanpa perlu berpikir dua kali. Lalu Cecil melanjutkan kalimatnya. “Pembukaannya di Jakarta. Aku harus nginep dua malam di sana. Sendirian, soalnya acaranya cuma sponsorin akomodasi buat pembicara, bukan buat orang lain.” Perubahan di wajah Meiza terjadi cepat. Nyaris tidak kentara. Tapi Cecil sudah cukup lama mengenal perempuan ini untuk menangkap rahang yang mengeras sedikit, jeda yang terlalu panjang sebelum menjawab. “Dua malam,” ulang Meiza, pelan. “Iya.”
80 “Sendirian.” “Za.” Cecil menarik napas. Mencoba tetap tenang, meski sesuatu di dadanya sudah mulai berdebar was-was. “Aku tau apa yang lagi kamu pikirin. Tapi ini bukan trip liburan sama teman kelas. Ini karirku. Ini kesempatan yang mungkin cuma dateng sekali.” “Aku nggak bilang jangan pergi.” “Tapi mukamu bilang gitu.” Meiza menutup mata sebentar. Menarik napas panjang, cara yang sudah ia latih berbulan-bulan terakhir setiap kali dorongan lama itu muncul. “Kasih aku waktu,” katanya, akhirnya. “Bukan buat mikirin gimana caranya nyegah kamu. Tapi buat mikirin gimana caranya aku ngadepin ini tanpa balik ke pola lama. Aku janji aku nggak akan larang kamu. Tapi jujur aja, Cel, ini berat buat aku.” Cecil duduk di sofa, menunggu, tangannya menggenggam ponsel yang masih menampilkan undangan pameran itu. “Aku ngerti ini berat,” katanya, pelan. “Tapi aku juga nggak bisa terus-terusan nahan mimpi aku sendiri cuma buat bikin kamu ngerasa aman, Za. Kita udah pernah di titik itu. Aku nggak mau balik ke sana.”
81 “Aku tau.” Suara Meiza nyaris berbisik. “Aku tau dan aku nggak minta kamu balik ke sana. Aku cuma... butuh sedikit waktu buat percaya, kalo dua malam kamu di Jakarta bukan berarti aku bakal kehilangan kamu lagi.” Malam itu sebelum tidur, Meiza mengirim pesan pada dr. Nera untuk meminta sesi tambahan sebelum jadwal mingguan mereka. Bukan karena ia ingin mundur. Tapi karena, untuk pertama kalinya, ia memilih mencari cara menghadapi ketakutannya sendiri sebelum ketakutan itu sempat menyentuh Cecil lagi. "Ketakutan kamu itu valid, Meiza. Tapi valid nggak sama dengan harus dituruti." Ruang praktik dr. Nera sore itu terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya suara AC yang berdengung pelan dan sesekali klakson dari jalan raya di bawah. “Coba jelasin,” kata dr. Nera. “Apa sebenernya yang kamu takutin soal dua malam itu?” Meiza membenarkan kacamatanya, rambutnya sudah mulai agaak panjang walaupun tetap seperti potongan untuk anak laki-laki. Berpikir cukup lama sebelum menjawab.
82 “Aku takut sesuatu terjadi sama dia. Kecelakaan. Sakit mendadak. Hal-hal yang nggak bisa aku kontrol.” “Itu ketakutan yang wajar dimiliki siapa pun yang sayang sama orang lain.” Dr. Nera mencondongkan tubuh sedikit. “Tapi coba jujur sama diri sendiri. Apa cuma itu?” Hening lama. Meiza menghela napas. “Aku takut nggak ada di sana kalo sesuatu terjadi,” akhirnya ia mengaku. “Aku takut nggak bisa nolongin dia, aku takut kalo aku nggak jagain dia setiap detik, aku bakal nyesel seumur hidup.” “Dan kalo kamu jagain dia setiap detik,” dr. Nera bertanya, pelan, “apa itu benar-benar mencegah sesuatu terjadi? Atau itu cuma bikin kamu ngerasa lebih tenang?” Meiza tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu terasa seperti pisau kecil yang menyayat lapisan yang selama ini ia bangun rapi. “Ngerasa lebih tenang,” akunya akhirnya. “Bukan beneran nyegah apa-apa.” “Nah.” Dr. Nera tersenyum tipis, bukan senyum kemenangan, lebih ke arah dorongan lembut. “Itu titik
83 pentingnya. Kamu nggak bisa ngontrol semua kemungkinan buruk di dunia ini, Meiza. Nggak ada satu manusia pun yang bisa. Yang bisa kamu kontrol cuma satu yaiyu gimana kamu ngerespon rasa takut itu waktu dia dateng.” Mereka menghabiskan sisa sesi merancang sesuatu yang sederhana. Bukan aturan ketat seperti dulu. Cuma kesepakatan kecil. Satu pesan waktu Cecil sampai. Satu pesan sebelum tidur. Selebihnya Meiza harus belajar percaya pada keheningan di antara dua pesan itu, bukan mengisinya dengan kekhawatiran. “Isi waktu kamu sendiri,” saran dr. Nera. “Jangan habiskan dua hari itu cuma nungguin ponsel bunyi. Cari sesuatu buat kamu kerjain. Buat kamu jadi Meiza, bukan cuma orang yang nungguin Cecil pulang.” Malam sebelum keberangkatan, Cecil datang ke apartemen Meiza membawa dua kotak nasi goreng dan satu map berisi kertas-kertas yang sekiranya akan ia bicarakan di acara itu. “Aku bangga sama kamu,” katanya sederhana tanpa embel-embel apa pun. Cecil tersenyum, senyum penuh yang membuat matanya menyipit sampai hampir hilang.
84 “Besok jam berapa berangkat?” Meiza bertanya. “Jam tujuh pagi. Kereta.” “Aku anter ke stasiun.” “Nggak usah repot..” “Aku pengen” Meiza menggenggam tangan Cecil di atas meja. “Bukan buat mastiin kamu berangkat aman. Cuma pengen lihat kamu pergi dengan cara yang baik.” Keesokan paginya di peron yang ramai, mereka berdiri berhadapan sampai pengumuman keberangkatan terdengar untuk kedua kalinya. “Kabarin aja kalo sampe,” kata Meiza. “Nggak usah tiap jam. Aku nggak akan nunggu-nunggu.” “Kamu bakal nungguin.” Cecil tertawa kecil. “Ya mungkin sedikit.” Meiza ikut tertawa, jujur untuk pertama kalinya soal itu. “Tapi aku nggak akan biarin nungguin itu ngerusak dua hari kamu di sana. Fokus sama pameran kamu aja.” Cecil mencium pipi Meiza cepat, lalu naik ke gerbong sambil menyeret koper kecilnya. Dari jendela
85 kereta ia melambai sampai peron itu menghilang dari pandangan. Meiza berdiri di sana beberapa menit lebih lama dari yang diperlukan. Bukan karena ragu. Hanya karena ingin menikmati perasaan melepas seseorang pergi tanpa dadanya remuk karenanya. "Aku nggak nyangka aku bisa sebahagia ini tanpa harus ngecek HP tiap lima menit." Hari pertama, Meiza menghabiskan pagi di perpustakaan kampus bersama Isa mengerjakan bab metode penelitian skripsinya yang sudah tertunda berminggu-minggu. “Lo keliatan tenang,” komentar Isa waktu jam makan siang. “Aku lagi latihan.” Meiza menutup laptopnya. “Latihan percaya, kalo nggak ada kabar bukan berarti ada yang salah.” Pesan dari Cecil masuk pukul dua siang. Foto selfie dirinya dengan backgorund panggung di mana ia akan bicara. Udah sampe dari tadi. Lagi main ke tempatnya. Deg- degan banget.
86 Meiza membalas singkat. Pasti bagus hasilnya. Semangat. Ia tidak menambahkan pertanyaan lain. Tidak menanyakan siapa saja yang ada di sana, jam berapa acaranya selesai, di mana ia akan menginap malam ini. Ia meletakkan ponselnya di meja, menghadapkan layarnya ke bawah dan kembali membaca jurnal yang tadi sempat tertunda. Malam itu sebelum tidur ada satu momen yang hampir membuatnya goyah. Ia terbangun pukul satu dini hari, dengan sisa mimpi yang samar, bukan mimpi buruk seperti biasanya, hanya bayangan kabur tentang lampu gantung dan suara orang banyak. Jantungnya berdebar sebentar. Tangannya sudah meraih ponsel di nakas sebelum ia berhenti. Ia duduk. Menyalakan lampu tidur. Mengambil buku catatan kecil yang disarankan dr. Nera untuk menulis apa pun yang muncul di kepala tanpa harus langsung bertindak. Aku takut sesuatu terjadi. Tapi aku nggak punya bukti apa pun kalo sesuatu benar-benar terjadi. Ini cuma mimpi. Cecil baik-baik aja.
87 Ia menulis kalimat itu tiga kali sampai napasnya kembali teratur. Lalu tidur lagi, tanpa mengirim satu pesan pun. Pagi harinya pesan dari Cecil sudah menunggu. Pagi Za! Semalem aku udah latihan sama pembicara yang lain dan aku sangat excited buat hari ini!! Meiza tersenyum lebar sendirian membaca pesan itu berulang kali. Selamat! Aku bangga banget sama kamu. Ceritain dong nanti kalo udah pulang, aku pengen denger semuanya. Pasti dong! Aku siap-siap dulu ya! Hari kedua berjalan lebih ringan dari yang Meiza bayangkan. Ia menghabiskan sore bersama Isa di Kedai Aksara membahas rencana wisuda yang masih setahun lagi, tertawa untuk hal-hal kecil yang selama berbulan-bulan terakhir jarang sekali membuatnya benar-benar lepas. “Ini pertama kalinya gue liat lo santai kayak gini sejak lo kenal Cecil,” kata Isa. “Aneh ya.” Meiza menyeruput kopinya. “Justru waktu aku belajar buat nggak selalu deket sama dia, aku ngerasa lebih deket sama diri aku sendiri.”
88 Isa tersenyum, tidak berkomentar lebih jauh, hanya membiarkan momen itu ada dengan sendirinya. Cecil pulang keesokan sorenya, turun dari kereta dengan wajah lelah tapi berbinar penuh, koper kecilnya sudah bertambah satu tas berisi oleh-oleh. Meiza sudah menunggu di peron, tepat seperti janjinya untuk berdiri di sana sejak sejam sebelumnya seperti yang dulu ia lakukan, tapi datang lima menit sebelum kereta tiba, tenang tanpa gelisah berlebihan. “Za!” Cecil berlari kecil menghampirinya, memeluknya erat di tengah keramaian penumpang yang turun. “Selamat datang.” Meiza membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya sebentar di bahu Cecil. “Aku denger dari pesan-pesan kamu, kayaknya dua hari ini luar biasa banget.” “Luar biasa.” Cecil melepas pelukan, menatap Meiza dengan mata yang penuh cahaya yang untuk pertama kalinya dalam waktu lama, terasa utuh bukan sekadar dipaksakan untuk menenangkan orang lain. “Tapi bagian yang paling luar biasa itu justru pas aku sadar, aku bisa senang sejauh ini tanpa harus khawatir kamu lagi apa di rumah. Aku percaya kamu baik-baik
89 aja. Dan itu... itu rasanya kayak beban yang selama ini aku nggak sadar aku pikul, akhirnya lepas dikit.” Meiza menggenggam kedua tangan Cecil, menatapnya lama di tengah stasiun yang ramai. “Kita belum selesai,” katanya, jujur. “Masih banyak yang harus kita perbaiki. Tapi hari ini... hari ini rasanya kayak bukti kecil kalo kita bisa.” Cecil mengangguk menyandarkan kening mereka berdua sejenak sebelum akhirnya tertawa dan menarik Meiza berjalan keluar stasiun, koper berderak- derak di belakang mereka dan sore Bandung menyambut dengan langit oranye yang untuk kali ini tidak membawa hujan.
90 10 – Remains Tiga bulan setelah Talk Show di Jakarta itu, hidup mereka menemukan ritme baru yang untuk pertama kalinya sejak Meiza pindah ke Bandung terasa seperti napas yang tidak lagi ditahan. Apartemen lantai enam milik Cecil sudah tidak lagi terasa seperti unit kosong berisi kardus. “Za, aku salah nggak sih di bagian kalimat ini?” Cecil bertanya suatu sore, menyodorkan laptopnya sambil duduk bersila di lantai ruang tamu, dikelilingi pensil warna yang berserakan dan rapi dengan caranya sendiri yang sebenarnya cuma dimengerti oleh Cecil. Meiza meletakkan laptopnya, menghampiri, lalu duduk di sebelahnya. “Menurutku bagus. Tapi kamu nanya aku, padahal aku nggak ngerti kaidah yang baik.” “Justru itu.” Cecil terkekeh, menyenderkan kepala ke bahu Meiza sebentar. “Aku nggak butuh kritik teknis. Aku cuma butuh tau, apa ini kelihatan jujur atau enggak.” Kata jujur itu masih terasa baru di antara mereka, seperti sepatu yang belum sepenuhnya pas tapi sudah mulai nyaman dipakai berjalan.
91 Isa datang membawa dua kantong plastik berisi risoles dan es teh, duduk di karpet yang sama, memperhatikan tumpukan kertas yang makin hari makin menggunung di meja kerja Cecil. Meiza memperhatikan bagaimana Ceil dan Isa berinteraksi sambil tersenyum kecil menyesap tehnya. Ada sesuatu yang menenangkan dalam mendengar Cecil mengekspresikan dirinya sendiri dengan begitu utuh tanpa perlu meminta izin siapa pun, tanpa perlu berpikir demi tidak menyinggung siapa pun. Dulu, di bulan-bulan pertama, Cecil akan menjawab candaan tawa kecil yang terlalu cepat, seolah buru-buru menutup topik sebelum sempat menimbulkan gesekan. Sekarang, ia merespon dengan jeda yang cukup untuk berpikir yang bagi Meiza adalah bukti kecil yang paling ia syukuri setiap hari. Malam itu, setelah Isa pulang, hujan mulai turun. Bukan hujan deras seperti dulu. Hanya gerimis tipis yang mengetuk kaca jendela pelan-pelan, jenis hujan yang biasanya membuat Bandung terasa lebih dingin dari seharusnya. Dua perempuan itu memilih tidur di apartemen Cecil dengan kebiasaan yang sudah mulai terjadi lebih sering, meski kamar mereka masih tetap terpisah secara resmi di lantai yang berbeda,
92 semacam batas kecil yang keduanya sepakati untuk tidak buru-buru dilangkahi. Meiza terbangun pukul dua dini hari dengan jantung berdebar begitu keras hingga terasa sakit di rusuknya. Ia tidak menjerit kali ini. Tidak seperti dulu. Ia hanya duduk diam di tepi ranjang, napasnya tersengal pelan, matanya menatap kegelapan kamar yang sesekali diterangi kilat samar dari luar jendela. Perlahan ia bangkit, melangkah keluar kamar tanpa membangunkan Cecil dan duduk di kursi dekat jendela ruang tamu, memeluk lututnya sendiri menatap gerimis yang menetes di kaca. Ia tidak sadar berapa lama ia duduk di sana sebelum suara langkah kaki pelan terdengar di belakangnya. “Za?” Cecil berdiri di ambang pintu kamar, rambutnya berantakan, mengenakan kaus longgar yang kebesaran. Ia tidak langsung bertanya ada apa. Ia hanya berjalan mendekat, duduk di lantai tepat di depan kursi Meiza dan menunggu.
93 “Aku nggak apa-apa,” kata Meiza terlalu cepat, terlalu otomatis, kalimat yang sudah keluar begitu saja sebelum ia sempat memikirkannya. “Kamu ngomong gitu tiap kali kamu jelas-jelas nggak apa-apa,” balas Cecil, suaranya lembut tapi tidak mundur. Ia meraih tangan Meiza yang dingin, menggenggamnya di antara kedua telapak tangannya sendiri. “Aku udah dengerin kamu cerita soal Joya, soal Abel. Aku tau itu bukan mimpi biasa buat kamu. Tapi malam ini... mukamu beda, Za. Ini bukan mimpi yang sama, kan?” Meiza menatap Cecil lama dan untuk pertama kalinya sejak malam pengakuan itu, sesuatu di dalam dadanya terasa retak lagi bukan retak yang menyakitkan, tapi retak seperti bendungan yang akhirnya menyerah menahan air yang sudah terlalu lama tertahan. “Bukan cuma itu,” bisik Meiza akhirnya. “Aku belum cerita semuanya, Cel.” Cecil tidak bergerak. Tidak juga terkejut, hanya menunggu seperti sudah lama menduga ada bagian dari cerita itu yang belum pernah diucapkan. “Waktu itu aku bilang aku mimpi tentang seseorang yang meninggal karena kesalahanku. Itu
94 bener. Tapi itu cuma satu.” Suara Meiza gemetar, matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia memaksa dirinya untuk terus bicara, seolah kalau ia berhenti sekarang, ia tidak akan pernah sanggup memulainya lagi. “Ada yang lain, Cel. Banyak yang lain. Aku nggak pernah cerita karena aku sendiri nggak ngerti gimana caranya bikin itu masuk akal.” “Cerita aja,” kata Cecil pelan. “Nggak harus masuk akal.” Meiza menarik napas Panjang menatap gerimis di luar jendela seolah jawaban ada di sana. “Kadang dia mati karena jatuh,” ucapnya, suaranya nyaris seperti bisikan, seperti takut kalau diucapkan terlalu keras, kenyataan itu akan jadi lebih nyata dari yang sudah-sudah. “Dari tempat yang tinggi, aku nggak pernah tau di mana persisnya, cuma inget anginnya dan suara jeritan yang keburu hilang sebelum sempet aku raih tangannya. Kadang dia tenggelam. Ada air, gelap, dingin dan aku berenang secepat yang aku bisa tapi selalu, selalu telat beberapa detik. Kadang dia ke tabrak kereta kuda di suatu masa yang aku nggak tau namanya atau kendaraan yang aku nggak kenal bentuknya, di jalan yang aku nggak inget di kota mana. Dan kadang...” suaranya pecah sebentar, “...kadang dia cuma menghilang. Nggak ada kecelakaan, nggak ada
95 suara. Dia cuma pergi suatu hari dan aku nggak pernah tau kenapa, aku cuma tau dia nggak pernah kembali.” Cecil menggenggam tangan Meiza lebih erat, membiarkan kalimat-kalimat itu mengalir tanpa memotongnya. “Dan setiap kali itu terjadi,” lanjut Meiza, air mata mulai menetes tanpa suara, “aku nggak pernah bisa nyelametin dia. Nggak sekali pun. Aku selalu telat, selalu kurang cepat, selalu kurang kuat. Aku nggak tau namanya, Cel. Aku nggak pernah tau usianya, tahunnya, atau di mana persisnya itu terjadi. Semua detail di sekitarnya berubah-ubah tiap kali. Tapi aku selalu tau itu dia.” Ia menatap Cecil, matanya basah tapi lurus, penuh keyakinan yang mengerikan sekaligus jujur. “Aku tau dari caranya senyum sebelum bilang sesuatu yang berat, kayak dia lagi nyoba nurunin tensi sebelum orang lain sempet khawatir. Aku tau dari matanya yang ada binar kecil di sana yang selalu nyala duluan sebelum bibirnya sempat ikut senyum. Aku tau dari caranya mikirin orang lain duluan sebelum mikirin dirinya sendiri bahkan waktu dia lagi sekarat sekalipun.” Ruangan itu hening untuk waktu yang lama, hanya suara gerimis yang mengisi jeda di antara mereka.
96 Cecil menatap Meiza mencoba mencerna beban yang baru saja diletakkan di hadapannya, beban yang jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan, jauh lebih tua, jauh lebih berlapis dari satu kisah Abel dan Joya yang sudah cukup mengguncangnya beberapa bulan lalu. “How many times,” tanya Cecil pelan, suaranya nyaris tidak terdengar di antara suara hujan, “have you watched me... die?” Untuk sesaat, senyum kecil yang biasa muncul di wajah Meiza saat ia mencoba menenangkan diri sendiri, menghilang sepenuhnya digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih jujur, lebih telanjang, seolah pertanyaan itu menariknya kembali ke dalam gelap yang selama ini ia coba kubur. “Too many...” bisiknya, suaranya nyaris pecah. Cecil menahan napas. Ia tidak melepaskan genggamannya meski tangannya sendiri mulai gemetar. “Why do you keep doing this to yourself?” tanyanya lagi, lebih lirih dari sebelumnya, seolah pertanyaan itu sendiri sudah cukup menyakitkan untuk diucapkan. “Kenapa kamu terus-terusan biarin diri kamu inget semua itu, Za? Kenapa nggak coba lupain aja?”
97 Meiza menatap Cecil lama dan di detik itu, sesuatu di matanya terlihat begitu tua, jauh lebih tua dari usia dua puluh dua tahunnya, seolah membawa berat dari ribuan malam yang tidak pernah benar-benar ia jalani sendirian di kehidupan ini. “Because forgetting you,” jawabnya, suaranya gemetar, berbisik, seolah setiap kata itu menyayat sesuatu di tenggorokannya sebelum sempat keluar, “would hurt more...” Cecil merasakan air matanya sendiri jatuh sebelum ia sempat menyadarinya. “Aku tau ini kedengeran gila,” lanjut Meiza, cepat, seperti takut kalau ia berhenti sekarang, ia tidak akan pernah sanggup menyelesaikan kalimat ini. “Aku tau kalau aku ceritain ini ke dr. Nera, dia bakal nyoba nyari penjelasan ilmiah yang masuk akal dan mungkin dia bener. Mungkin semua ini cuma cara otakku ngerasionalisasi rasa takut kehilangan yang aku bawa dari trauma masa kecil atau apa pun namanya. Tapi Cel, kalau aku lupa, kalau aku beneran berhenti inget semua itu, rasanya kayak aku ninggalin kamu sendirian di setiap versi kematian itu. Kayak aku bilang, ‘nggak apa-apa kamu mati sendirian, aku udah lupa kamu.’ Dan aku nggak sanggup. Aku nggak pernah sanggup ngelakuin itu.”
98 “Za...” Cecil bangkit dari lantai, naik ke kursi kecil di samping Meiza, memeluknya dari samping erat-erat, membiarkan kepala Meiza jatuh ke bahunya. “Aku di sini. Aku hidup. Aku duduk di sini, sekarang, sama kamu. Aku nggak ke mana-mana.” “Aku tau,” isak Meiza, suaranya teredam di bahu Cecil. “Aku tau, tapi bagian dari aku yang udah nyaksiin semua itu terlalu banyak, dia nggak pernah bisa sepenuhnya percaya. Dia terus-terusan nunggu detik di mana semuanya bakal berubah lagi.” Cecil mengusap punggung Meiza pelan, membiarkan tangisan itu tumpah sepenuhnya, tidak buru-buru menenangkan, tidak buru-buru mencari solusi dan hanya hadir dengan cara yang selama berbulan-bulan mereka berdua pelajari lewat susah payah adalah satu-satunya hal yang benar-benar bisa dilakukan saat menghadapi rasa sakit yang tidak bisa diperbaiki dalam semalam. “Aku nggak bisa janji aku nggak akan pernah mati,” kata Cecil akhirnya, pelan, jujur, tanpa berusaha membuatnya terdengar lebih ringan dari yang sebenarnya. “Nggak ada orang yang bisa janji itu, Za. Bukan aku, bukan kamu, bukan siapa pun. Tapi aku bisa janji satu hal aku nggak akan pergi karena kamu marah, atau karena kamu takut, atau karena kamu lupa gimana
99 caranya percaya. Kalau suatu hari aku beneran pergi, itu bukan karena kamu nggak cukup jagain aku. Itu cuma... hidup. Dan kamu nggak bisa terus-terusan hukum diri kamu sendiri buat sesuatu yang bahkan belum tentu ada hubungannya sama kamu.” Meiza mengangkat wajahnya, menatap Cecil dengan mata yang masih basah tapi mulai lebih tenang. “Gimana caranya kamu bisa sebijak ini?” tanyanya, setengah bertanya sungguhan, setengah bertanya pada dirinya sendiri. “Aku nggak bijak,” Cecil tersenyum kecil, mengusap air mata di pipi Meiza dengan ibu jarinya. “Aku cuma capek liat kamu nanggung semua ini sendirian. Kalau ini beban yang kita berdua yang punya, ya udah, kita berdua yang pikul. Bukan aku doang yang harus belajar cerita jujur, Za. Kamu juga.” Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, Meiza tertawa kecil, tawa yang basah oleh air mata, tapi tetap tawa yang jujur. “Aku sayang kamu,” katanya, sederhana, tanpa embel-embel. “Aku juga,” balas Cecil, menempelkan kening mereka berdua. “Di kehidupan ini dan mungkin di
100 semua versi kehidupan yang lain yang bahkan aku sendiri nggak pernah inget.” Mereka duduk di sana, di kursi kecil dekat jendela, sampai gerimis di luar berhenti sepenuhnya, sampai langit mulai berubah warna dari hitam pekat menjadi abu-abu keunguan yang menandakan subuh akan segera datang. Tidak ada lagi kalimat besar yang perlu diucapkan malam itu. Hanya dua tubuh yang saling bersandar, dua tangan yang tidak pernah benar- benar melepaskan genggaman dan satu keheningan yang, untuk pertama kalinya, tidak terasa seperti sesuatu yang perlu ditakuti. Menjelang pagi, Meiza akhirnya tertidur di bahu Cecil bukan tidur yang penuh mimpi buruk melainkan tidur yang begitu lelap hingga Cecil harus memeriksa dua kali apakah dadanya masih naik-turun hanya untuk memastikan. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama tidak ada satu pun bayangan yang datang mengganggu tidur itu. Tidak ada telepon yang berdering di tengah malam dalam mimpinya. Tidak ada air, tidak ada ketinggian, tidak ada suara decitan ban. Hanya gelap yang tenang dan di ujungnya samar entah nyata atau hanya harapan yang menyusup lewat celah
101 kesadaran, sebuah cahaya pagi yang hangat, seperti gerimis yang akhirnya berhenti untuk selama-lamanya.
102 End Sesi berikutnya bersama dr. Nera, Meiza dan Cecil datang bersama-sama, duduk berdampingan di sofa abu-abu itu yang kali ini benar-benar berdampingan, bahu bersentuhan, tangan bertautan tanpa perlu dipikirkan lagi. “Kalian kelihatan beda hari ini,” komentar dr. Nera memperhatikan keduanya dengan seksama sebelum membuka buku catatannya. “Kami cerita semuanya,” kata Meiza, suaranya masih sedikit lelah tapi jauh lebih ringan dari biasanya. “Bukan cuma soal Abel dan Joya. Semuanya.” Dr. Nera mengangguk pelan, tidak terkejut, seolah sudah menduga akan ada lapisan lain yang belum terungkap. “Dan gimana rasanya, setelah semuanya keluar?” Cecil dan Meiza saling menatap sebentar seperti mencari jawaban di wajah satu sama lain sebelum akhirnya Cecil yang menjawab. “Berat,” katanya jujur. “Tapi lebih ringan dari nanggung sendirian. Aku masih belum sepenuhnya ngerti semuanya, Bu. Tapi aku ngerti satu hal ini bukan sesuatu yang bisa hilang cuma karena aku bilang
103 ‘jangan dipikirin’. Ini butuh waktu. Dan aku mau ada, selama waktu itu berjalan.” “Itu jawaban yang jauh lebih matang daripada kebanyakan pasien saya,” dr. Nera tersenyum tipis lalu menoleh pada Meiza. “Dan kamu? Gimana rasanya akhirnya bilang semuanya?” Meiza menghela napas panjang, menatap tangannya sendiri yang masih tertaut dengan tangan Cecil. “Kayak taruh batu besar yang udah aku bawa terlalu lama,” jawabnya pelan. “Nggak ilang beratnya. Tapi sekarang bukan cuma aku yang megang. Rasanya... aneh. Aku hampir lupa gimana rasanya nggak sendirian nanggung semua ini.” “Itu tepatnya kenapa terapi ini nggak pernah cuma soal ‘menghilangkan’ sesuatu,” kata dr. Nera, meletakkan pena di atas mejanya. “Trauma, rasa takut atau rasa bersalah.. semua itu nggak bisa dihapus begitu aja kayak coret kalimat di kertas. Yang bisa kita lakukan adalah belajar membawanya dengan cara yang nggak lagi menghancurkan kita, atau orang-orang di sekitar kita. Dan dari yang saya lihat hari ini, kalian berdua udah mulai belajar caranya.”
104 Sesi itu berakhir lebih cepat dari biasanya, bukan karena ada yang terburu-buru, tapi karena untuk pertama kalinya tidak ada lagi banyak hal yang perlu diselesaikan hari itu. Mereka berjalan keluar dari gedung praktik dr. Nera dengan langkah yang lebih ringan, menyusuri trotoar yang basah oleh gerimis semalam, menuju Kedai Aksara seperti kebiasaan lama yang tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk. Bulan-bulan berikutnya berjalan dengan cara yang tidak pernah bisa mereka bayangkan di awal hubungan mereka biasa. Sungguh-sungguh biasa, dengan segala arti kata itu yang selama ini terasa seperti kemewahan yang tidak mungkin mereka miliki. Cecil menyelesaikan skripsinya di semester itu, mempresentasikan hasil kerja kerasnya di depan dosen penguji dengan tangan yang gemetar tapi suara yang mantap, menjelaskan data yang ia buat sebagai bagian dari data kualitatifnya bagaimana visual bisa menyampaikan sesuatu yang kata-kata sering gagal ungkapkan, terutama soal kesehatan mental. Meiza duduk di barisan penonton bersama Isa, memegang buket bunga kecil yang sudah disiapkan sejak pagi, tersenyum begitu lebar hingga pipinya pegal saat nama Cecil disebut lulus dengan predikat cumlaude.
105 Meiza sendiri menyelesaikan penelitian lapangannya, mengumpulkan data-data observasi klinis yang selama ini menjadi alasan resminya pindah ke Bandung, meski jauh di dalam hati ia tahu alasan sebenarnya jauh lebih rumit dari sekadar data lapangan. Skripsinya, yang awalnya ia rencanakan membahas pola kelekatan pada dewasa muda akhirnya berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih personal sebuah kajian tentang bagaimana rasa takut kehilangan bisa termanifestasi menjadi perilaku protektif berlebihan dan bagaimana komunikasi terbuka menjadi kunci untuk memutus siklus itu. Ia tidak pernah menuliskan nama Cecil di mana pun dalam skripsinya, tapi setiap orang yang cukup dekat dengannya tahu, dari mana sebenarnya inspirasi itu berasal. Musim hujan datang dan pergi. Cecil tidak pernah lagi kehilangan binar itu di matanya. Meiza terus berlatih menahan diri, tidak selalu berhasil, ada malam-malam ketika ketakutan lama itu masih datang mengetuk, ketika ia masih harus menahan diri untuk tidak mengirim pesan kelima kalinya dalam satu jam, ketika mimpi-mimpi itu masih sesekali muncul, meski frekuensinya semakin jarang, semakin samar, seperti gema yang perlahan kehilangan kekuatannya. Tapi setiap kali itu terjadi, ada satu hal yang berubah mereka tidak lagi menghadapinya sendirian.
106 Hampir setahun setelah malam gerimis itu, Meiza terbangun dengan jantung berdebar lagi. Cecil, yang tidur di sampingnya, langsung terjaga tanpa perlu ditanya seperti sudah terlatih mengenali ritme napas Meiza yang berubah. “Mimpi lagi?” tanyanya, pelan, mengusap punggung tangan Meiza. Meiza mengangguk, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di wajahnya. “Tapi ini beda,” katanya, suaranya penuh keheranan yang tidak biasa. “Aku mimpi tentang kita. Bukan tentang kematian. Cuma... kita, di suatu tempat yang aku nggak kenal, duduk di beranda, udah tua, rambut kita udah putih semua. Kamu masih ketawa sama cara yang sama kayak sekarang. Dan nggak ada apa-apa yang buruk terjadi. Kita cuma... duduk. Sama- sama. Sampai selesai.” Cecil terdiam sejenak, lalu tersenyum dengan begitu lebar hingga matanya menyipit hampir hilang, senyum yang sama yang membuat Meiza jatuh cinta pada pandangan pertama, entah di kehidupan yang mana.
107 “Mungkin,” bisik Cecil, menarik Meiza kembali ke dalam pelukannya, “itu tandanya kita udah nggak perlu takut lagi.” Mimpi-mimpi nyata itu sebuah gema dari kehidupan lain yang sungguh pernah mereka jalani hingga cara pikir manusia mengolah cinta yang begitu dalam hingga terasa lebih tua dari usia mereka sendiri. Meiza hanya membiarkan pertanyaannya akan kenapa ia harus mengulangi berbagai kehidupan dan selalu jatuh cinta dan ditinggalkan tetapi banyak hal lain dalam hidup yang tidak selalu butuh penjelasan untuk bisa diterima. Yang Meiza tahu pasti hanyalah saat ini setiap pagi, Meiza bangun dan menemukan Cecil masih di sana. Setiap malam, Cecil tidur dengan tangan yang tidak pernah benar-benar jauh dari jangkauan Meiza. Dan di setiap ruang di antara kedua momen itu, mereka belajar, sedikit demi sedikit untuk berhenti hidup dalam ketakutan akan apa yang mungkin terjadi besok dan mulai benar-benar hidup di hari ini. Kutukan jika memang itu benar ada, tidak pernah patah lewat pertarungan besar, tidak lewat kejaran di tengah hujan atau pengorbanan dramatis di detik-detik terakhir. Ia patah lewat sesuatu yang jauh lebih sederhana, jauh lebih sunyi sebuah kejujuran yang
108 diucapkan di tengah gerimis, sebuah tangan yang tidak pernah dilepaskan meski beban yang dibawa begitu berat dan sebuah keputusan, diulang setiap hari, untuk tetap tinggal, tetap mendengarkan dan tetap saling memilih, satu hari pada satu waktu. Lima tahun kemudian, di sebuah rumah kecil dengan halaman yang cukup luas untuk Cecil berjemur di bawah matahari pagi, Meiza duduk di beranda sambil membaca hasil riset kliniknya yang terbaru, sesekali menoleh ke arah Cecil yang santai di sudut halaman, rambutnya diikat asal. “Za,” panggil Cecil, tanpa menoleh dari laptopnya. “Kamu tau nggak, kadang aku masih suka mikir soal cerita kamu itu. Yang dulu.” Meiza meletakkan berkasnya, berjalan mendekat duduk di kursi kecil di sebelah Cecil. “Yang mana?” “Semuanya.” Cecil menoleh, tersenyum, matanya berbinar dengan cahaya sore yang mulai jatuh miring di antara mereka. “Aku suka mikir, dari semua kehidupan itu yang jatuh, yang tenggelam, yang ketabrak, yang ngilang. Ini yang pertama kali kita berhasil sampai sejauh ini. Ini yang pertama kali kamu nggak harus nyari aku lagi.”
109 Meiza tersenyum, meraih tangan Cecil, menciumnya lembut. “Iya,” katanya, suaranya penuh dengan kepastian yang tidak pernah ia miliki di kehidupan mana pun sebelumnya. “Dan aku nggak akan pernah lupa gimana rasanya, sampai akhirnya bisa bilang begitu.” Di luar, angin sore berembus pelan, membawa aroma bunga kamboja dari halaman tetangga. Tidak ada hujan hari itu. Tidak ada firasat buruk, tidak ada bayangan gelap yang mengintai dari kejauhan. Hanya dua orang yang duduk berdampingan, tangan bertautan, menatap matahari yang perlahan tenggelam di ufuk membawa janji bahwa esok akan datang lagi dan mereka akan tetap ada di sana, menyambutnya bersama-sama seperti yang selalu seharusnya terjadi, di kehidupan mana pun, jika saja dunia memberi mereka kesempatan. Kali ini, akhirnya, dunia memberi mereka kesempatan itu. Dan mereka, untuk pertama kalinya, memilih untuk tidak menyia-nyiakannya.
110