Buku Ajar Teknologi Pengolahan Hortikultura

BUKU AJAR TEKNOLOGI PENGOLAHAN HORTIKULTURA Disusun Sesuai Rencana Pembelajaran Semester (RPS) — 16 Pertemuan Muh. Aniar Hari Swasono, S.P., M.P. Hapsari Titi Palupi, S.TP., M.P. Cahyaning Rini Utami, S.TP., M.P. Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian — Universitas Yudharta Pasuruan 2026

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 2 KATA PENGANTAR Buku ajar ini disusun sebagai pendamping perkuliahan mata kuliah Teknologi Pengolahan Hortikultura, disusun secara sistematis mengikuti Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang mencakup 16 pertemuan (termasuk Ujian Tengah Semester pada Pertemuan 8 dan Ujian Akhir Semester pada Pertemuan 16). Buku ajar ini membahas keseluruhan lanskap teknologi pengolahan hortikultura—mulai dari fisiologi pascapanen, penanganan dan penyimpanan, teknologi pengawetan konvensional (pengeringan, pengalengan, pembekuan, fermentasi), hingga teknologi pengolahan non-termal modern. Sebagai studi kasus mendalam pada Pertemuan 11 dan 12, buku ajar ini mengintegrasikan data eksperimental mengenai penerapan teknologi Pulsed Electric Field (PEF) pada ekstraksi sari buah jeruk, yang dilaksanakan di lingkungan Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Yudharta Pasuruan. Studi kasus ini dipilih karena memberikan contoh nyata bagaimana parameter proses non-termal memengaruhi mutu fisikokimia, senyawa bioaktif, dan sensoris produk hortikultura secara terukur. Setiap pertemuan disusun dengan struktur konsisten—capaian pembelajaran, uraian materi, rangkuman, tes formatif, dan tugas mandiri—untuk memudahkan proses belajar mandiri maupun terbimbing. Semoga buku ajar ini bermanfaat bagi mahasiswa dan dapat digunakan secara berkelanjutan sebagai bahan ajar mata kuliah Teknologi Pengolahan Hortikultura. Pasuruan, 2026 Tim Penulis

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 3 DESKRIPSI MATA KULIAH DAN CAPAIAN PEMBELAJARAN Mata kuliah Teknologi Pengolahan Hortikultura (3 SKS: 2 SKS Teori + 1 SKS Praktikum, Semester V) membahas prinsip fisiologis pascapanen, teknik penanganan, serta berbagai teknologi pengolahan dan pengawetan produk hortikultura (buah dan sayur), mencakup pendekatan konvensional maupun modern/non-termal. Uraian lengkap CPL, CPMK, Sub-CPMK, deskripsi mata kuliah, serta rencana pembelajaran mingguan tersaji pada dokumen Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang menjadi acuan penyusunan buku ajar ini. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) 1. Menjelaskan karakteristik fisiologis pascapanen komoditas hortikultura sebagai dasar rancangan proses pengolahan. 2. Menjelaskan prinsip, parameter, dan aplikasi berbagai teknologi pengolahan hortikultura konvensional dan modern, termasuk teknologi non-termal. 3. Menganalisis dampak suatu perlakuan/teknologi pengolahan terhadap mutu fisikokimia, gizi, dan sensoris produk hortikultura berdasarkan data eksperimental. 4. Merancang gagasan penerapan teknologi pengolahan hortikultura yang memperhatikan aspek mutu, keamanan pangan, dan nilai tambah secara bertanggung jawab. Peta Struktur Perkuliahan (16 Pertemuan) Pertemuan Topik 1 Pendahuluan: Ruang Lingkup dan Karakteristik Komoditas Hortikultura 2 Fisiologi Pascapanen: Respirasi, Transpirasi, dan Etilen 3 Penanganan Pascapanen: Sortasi, Grading, Pencucian, dan Pelapisan 4 Teknologi Pendinginan dan Rantai Dingin (Cold Chain) 5 Modified Atmosphere Packaging (MAP) dan Controlled Atmosphere Storage (CAS) 6 Teknologi Pengeringan Produk Hortikultura 7 Teknologi Pengalengan dan Sterilisasi Termal 8 Ujian Tengah Semester (UTS) 9 Teknologi Pembekuan (Freezing) Produk Hortikultura 10 Fermentasi dan Diversifikasi Produk Olahan Hortikultura 11 Teknologi Pengolahan Non-Termal Modern: Prinsip PEF, HPP, dan Ultrasound 12 Studi Kasus: Dampak PEF terhadap Mutu Sari Buah Jeruk 13 Pengolahan Minimal (Minimally Processed) dan Produk Fresh-Cut 14 Pengemasan dan Pengendalian Mutu (HACCP/GMP/SSOP) 15 Diversifikasi Nilai Tambah dan Tren Industri Hortikultura 4.0/5.0 16 Ujian Akhir Semester (UAS)

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 4 PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU AJAR Setiap pertemuan disusun dengan struktur yang konsisten: • Capaian Pembelajaran — kompetensi yang diharapkan dicapai setelah mempelajari materi pertemuan tersebut. • Uraian Materi — penjelasan konsep secara sistematis, dilengkapi ilustrasi/tabel/grafik bila diperlukan. • Rangkuman — ringkasan poin-poin penting sebagai pengingat cepat sebelum evaluasi. • Tes Formatif — soal pilihan ganda dan esai/hitungan untuk menguji pemahaman mandiri. • Tugas/Praktikum — aktivitas lanjutan, dapat dikerjakan individu, kelompok, atau di laboratorium sesuai arahan dosen pengampu. Kunci jawaban tes formatif pilihan ganda disediakan pada bagian akhir buku. Untuk soal esai dan tugas praktikum, mahasiswa disarankan berdiskusi dengan dosen pengampu untuk memperoleh umpan balik yang mendalam.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 5 DAFTAR ISI

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 6 PERTEMUAN KE-1 PENDAHULUAN: RUANG LINGKUP DAN KARAKTERISTIK KOMODITAS HORTIKULTURA Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan ruang lingkup teknologi pengolahan hortikultura serta klasifikasi dan karakteristik umum komoditas hortikultura. 1.1 Apa itu Hortikultura? Hortikultura mencakup budidaya dan pengolahan tanaman buah (pomologi), sayuran (olerikultura), tanaman hias (florikultura), dan tanaman obat (biofarmaka). Dalam konteks mata kuliah ini, fokus utama adalah komoditas buah dan sayur sebagai bahan baku industri pengolahan pangan. 1.2 Klasifikasi Komoditas Hortikultura • Berdasarkan jenis: buah-buahan (jeruk, mangga, apel, pisang, dll.), sayuran daun, sayuran buah, sayuran umbi. • Berdasarkan pola respirasi pascapanen: klimaterik (pisang, mangga, pepaya) dan non-klimaterik (jeruk, anggur, nanas) — dibahas mendalam pada Pertemuan 2. • Berdasarkan tingkat perishability (kemudahan rusak): sangat mudah rusak (stroberi, selada) hingga relatif tahan simpan (kentang, bawang). 1.3 Mengapa Teknologi Pengolahan Hortikultura Penting? Produk hortikultura segar memiliki kadar air tinggi (umumnya 70–95%) dan metabolisme aktif setelah panen, sehingga sangat rentan terhadap kerusakan fisik, mikrobiologis, dan penurunan mutu gizi/sensoris dalam waktu singkat. Kehilangan pascapanen (postharvest loss) pada komoditas hortikultura di negara berkembang dilaporkan dapat mencapai puluhan persen dari total produksi apabila penanganan dan pengolahan tidak dilakukan secara tepat. Teknologi pengolahan hortikultura— mulai dari penanganan sederhana hingga teknologi canggih seperti PEF—bertujuan memperpanjang umur simpan, menjaga mutu gizi dan sensoris, serta meningkatkan nilai tambah produk. 1.4 Ruang Lingkup Mata Kuliah Mata kuliah ini akan membahas topik secara berurutan: fisiologi pascapanen (Pertemuan 2), penanganan dan penyimpanan (Pertemuan 3–5), teknologi pengawetan konvensional (Pertemuan 6–7, 9–10), teknologi non-termal modern dengan studi kasus PEF (Pertemuan 11–12), hingga pengolahan minimal, pengendalian mutu, dan tren industri (Pertemuan 13–15).

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 7 Rangkuman • Hortikultura mencakup buah, sayur, tanaman hias, dan biofarmaka; fokus mata kuliah ini pada buah dan sayur. • Komoditas hortikultura memiliki kadar air tinggi dan metabolisme aktif sehingga mudah rusak. • Teknologi pengolahan bertujuan memperpanjang umur simpan, menjaga mutu, dan meningkatkan nilai tambah. Tes Formatif 1 1. Cabang hortikultura yang membahas budidaya dan pengolahan tanaman buah disebut: A. Florikultura B. Olerikultura C. Pomologi D. Biofarmaka 2. Karakteristik utama komoditas hortikultura yang menyebabkannya mudah rusak adalah: A. Kadar lemak tinggi B. Kadar air tinggi dan metabolisme aktif C. Kadar protein tinggi D. Struktur yang sangat keras 3. (Esai) Jelaskan mengapa kehilangan pascapanen (postharvest loss) menjadi isu penting dalam rantai pasok komoditas hortikultura, dan bagaimana teknologi pengolahan dapat berperan mengatasinya. Tugas Mandiri Pilih tiga komoditas hortikultura lokal yang mudah Anda temukan, klasifikasikan berdasarkan jenis dan pola respirasinya (klimaterik/non-klimaterik), lalu jelaskan implikasinya terhadap strategi penanganan pascapanen yang sesuai.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 8 PERTEMUAN KE-2 FISIOLOGI PASCAPANEN: RESPIRASI, TRANSPIRASI, DAN ETILEN Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan proses respirasi, transpirasi, dan peran etilen dalam menentukan strategi penanganan pascapanen komoditas hortikultura. 2.1 Respirasi: Klimaterik vs Non-Klimaterik Setelah dipanen, komoditas hortikultura tetap melangsungkan respirasi—proses pemecahan cadangan gula, pati, dan asam organik menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi, CO2, dan air. Berdasarkan pola laju respirasi pascapanen, buah dikelompokkan menjadi dua golongan utama. Gambar 2.1 Pola umum laju respirasi pascapanen: klimaterik vs non-klimaterik • Buah klimaterik (mangga, pisang, pepaya, alpukat) — menunjukkan lonjakan laju respirasi tajam (respiratory climacteric) yang menyertai proses pematangan, dan dapat matang setelah dipanen (ripening after harvest). • Buah non-klimaterik (jeruk, anggur, nanas, stroberi) — laju respirasi menurun secara bertahap tanpa lonjakan tajam, dan umumnya tidak dapat matang lebih lanjut setelah dipanen. 2.2 Transpirasi (Kehilangan Air) Transpirasi adalah proses kehilangan uap air dari jaringan komoditas ke lingkungan melalui stomata, lentisel, atau permukaan kulit. Kehilangan air berlebih menyebabkan pelayuan (wilting), pengeriputan, dan penurunan bobot serta kesegaran produk. Faktor yang mempercepat transpirasi meliputi kelembaban relatif rendah, suhu tinggi, dan kerusakan permukaan kulit.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 9 2.3 Etilen: Hormon Pematangan dan Senescence Etilen (C2H4) adalah hormon gas yang diproduksi secara alami oleh jaringan tanaman dan berperan sebagai pemicu utama pematangan pada buah klimaterik, serta mempercepat proses senescence (penuaan) pada sayuran daun. Produksi etilen dapat dipicu oleh stres mekanis, serangan patogen, maupun keberadaan buah klimaterik lain di ruang penyimpanan yang sama—prinsip inilah yang mendasari praktik pemisahan penyimpanan antara komoditas penghasil etilen tinggi dengan komoditas yang sensitif terhadap etilen. 2.4 Implikasi terhadap Strategi Penanganan Tabel 2.1 Implikasi Karakteristik Fisiologis terhadap Strategi Penanganan Karakteristik Implikasi Praktis Klimaterik, produksi etilen tinggi Dapat dipanen sedikit lebih awal (matang dalam perjalanan); perlu kontrol etilen selama penyimpanan Non-klimaterik Harus dipanen pada tingkat kematangan optimal karena tidak akan matang lebih lanjut Laju transpirasi tinggi Memerlukan kelembaban relatif tinggi dan suhu rendah selama penyimpanan Sensitif etilen Perlu dipisahkan dari komoditas penghasil etilen tinggi selama penyimpanan/transportasi Rangkuman • Respirasi klimaterik menunjukkan lonjakan tajam yang menyertai pematangan; non-klimaterik menurun bertahap. • Transpirasi menyebabkan kehilangan air dan penurunan kesegaran; dikendalikan melalui kelembaban dan suhu. • Etilen memicu pematangan (klimaterik) dan senescence; perlu dikendalikan selama penyimpanan. Tes Formatif 2 1. Buah yang dapat matang lebih lanjut setelah dipanen (ripening after harvest) termasuk golongan: A. Non-klimaterik B. Klimaterik C. Sayuran umbi D. Tanaman hias 2. Hormon gas yang berperan sebagai pemicu utama pematangan buah klimaterik adalah: A. Auksin B. Etilen C. Giberelin

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 10 D. Sitokinin 3. (Esai) Jelaskan mengapa jeruk (non-klimaterik) harus dipanen pada tingkat kematangan optimal, berbeda dengan mangga (klimaterik) yang dapat dipanen sedikit lebih awal. Tugas Mandiri Amati dua jenis buah (satu klimaterik, satu non-klimaterik) yang disimpan pada suhu ruang selama lima hari. Catat perubahan warna, tekstur, dan aroma setiap hari, lalu simpulkan perbedaan pola perubahannya.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 11 PERTEMUAN KE-3 PENANGANAN PASCAPANEN: SORTASI, GRADING, PENCUCIAN, DAN PELAPISAN Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan teknik sortasi, grading, pencucian, dan pelapisan (coating) sebagai tahap awal penanganan pascapanen. 3.1 Sortasi Sortasi adalah proses pemisahan komoditas berdasarkan kondisi fisik—memisahkan produk yang rusak, cacat, atau terserang penyakit dari produk yang layak diproses lebih lanjut. Sortasi dapat dilakukan secara manual (visual) maupun mekanis (menggunakan sensor optik pada skala industri besar). 3.2 Grading (Pengkelasan) Grading mengelompokkan komoditas yang telah lolos sortasi ke dalam beberapa kelas mutu berdasarkan kriteria seperti ukuran, warna, bentuk, dan tingkat kematangan. Grading penting untuk keperluan standardisasi harga, penentuan segmen pasar (ekspor, ritel modern, pasar tradisional), serta keseragaman input pada tahap pengolahan berikutnya. 3.3 Pencucian dan Sanitasi Pencucian bertujuan menghilangkan kotoran, residu pestisida, dan mengurangi beban mikroba awal pada permukaan komoditas. Air pencucian umumnya diberi sanitizer (misalnya klorin pada konsentrasi rendah yang aman) untuk meningkatkan efektivitas sanitasi tanpa meninggalkan residu berbahaya pada produk akhir. 3.4 Pelapisan (Edible/Wax Coating) Pelapisan menggunakan lilin (wax) atau lapisan dapat dimakan (edible coating berbasis pati, pektin, atau kitosan) berfungsi mengurangi laju transpirasi dan respirasi dengan cara membatasi pertukaran gas dan uap air melalui permukaan kulit, sehingga memperpanjang kesegaran dan memperbaiki tampilan (kilau) produk. Tabel 3.1 Ringkasan Tahapan Penanganan Pascapanen Awal Tahapan Tujuan Utama Contoh Metode Sortasi Memisahkan produk cacat/rusak Visual manual, sensor optik Grading Standardisasi mutu berdasarkan ukuran/warna Grading manual, mesin grading otomatis Pencucian & sanitasi Mengurangi kotoran dan beban Pencucian air + sanitizer (klorin

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 12 Tahapan Tujuan Utama Contoh Metode mikroba dosis aman) Pelapisan (coating) Mengurangi transpirasi & respirasi Wax coating, edible coating (pati/kitosan) Rangkuman • Sortasi memisahkan produk cacat; grading mengelompokkan mutu berdasarkan kriteria standar. • Pencucian dan sanitasi menurunkan beban mikroba awal sebelum proses lebih lanjut. • Pelapisan (coating) memperlambat transpirasi/respirasi sehingga memperpanjang kesegaran. Tes Formatif 3 1. Proses mengelompokkan komoditas ke dalam kelas mutu berdasarkan ukuran dan warna disebut: A. Sortasi B. Grading C. Coating D. Blanching 2. Fungsi utama edible coating pada buah segar adalah: A. Menambah rasa manis B. Mengurangi laju transpirasi dan respirasi C. Membunuh seluruh mikroba D. Mengubah warna buah 3. (Esai) Jelaskan mengapa keseragaman grading penting bagi industri yang menggunakan komoditas hortikultura sebagai bahan baku proses lanjutan (misalnya ekstraksi sari buah). Praktikum/Tugas Lakukan sortasi dan grading sederhana pada 20 buah jeruk berdasarkan ukuran (diameter) dan tingkat kematangan (warna kulit), kelompokkan ke dalam minimal tiga kelas mutu, kemudian buat laporan singkat disertai foto dokumentasi setiap kelas.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 13 PERTEMUAN KE-4 TEKNOLOGI PENDINGINAN DAN RANTAI DINGIN (COLD CHAIN) Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip pendinginan, fenomena chilling injury, dan konsep rantai dingin (cold chain) pada komoditas hortikultura. 4.1 Prinsip Pendinginan (Cooling) Pendinginan menurunkan suhu komoditas untuk memperlambat laju respirasi, transpirasi, dan pertumbuhan mikroba, sehingga umur simpan diperpanjang. Sebagai patokan umum, setiap penurunan suhu 10°C dapat menurunkan laju respirasi hingga dua hingga tiga kali lipat (prinsip Q10), meskipun nilai eksaknya bervariasi antar-komoditas. 4.2 Metode Pendinginan Awal (Precooling) • Room cooling — pendinginan dalam ruang berpendingin, cocok untuk komoditas yang tidak terlalu sensitif waktu. • Forced-air cooling — udara dingin dihembuskan melalui kemasan, lebih cepat dibandingkan room cooling. • Hydrocooling — pendinginan menggunakan air dingin, efektif untuk komoditas yang tahan terhadap kebasahan. • Vacuum cooling — pendinginan cepat melalui penurunan tekanan, umum digunakan untuk sayuran daun. 4.3 Chilling Injury Chilling injury adalah kerusakan fisiologis yang terjadi pada komoditas tropis/subtropis tertentu (misalnya mangga, pisang, tomat) apabila disimpan pada suhu terlalu rendah namun masih di atas titik beku—biasanya di bawah 10-13°C tergantung komoditas. Gejalanya meliputi pitting (bintik cekung) pada kulit, browning internal, dan kegagalan pematangan normal. Oleh karena itu, suhu penyimpanan optimum harus ditentukan secara spesifik per komoditas, tidak dapat diseragamkan. 4.4 Konsep Rantai Dingin (Cold Chain)

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 14 Gambar 4.1 Skema umum rantai dingin (cold chain) produk hortikultura Rantai dingin adalah rangkaian tahapan penanganan bersuhu rendah yang konsisten sejak panen hingga sampai ke konsumen. Kegagalan menjaga suhu rendah pada satu titik saja dalam rantai ini (misalnya selama transportasi) dapat menyebabkan kerugian mutu yang tidak dapat diperbaiki pada tahap berikutnya, meskipun tahap-tahap lainnya telah dikelola dengan baik. Rangkuman • Pendinginan memperlambat respirasi, transpirasi, dan pertumbuhan mikroba (prinsip Q10). • Empat metode precooling umum: room cooling, forced-air cooling, hydrocooling, dan vacuum cooling. • Chilling injury terjadi pada komoditas tropis bila disimpan terlalu dingin namun belum membeku. • Rantai dingin harus konsisten di setiap tahap; kegagalan satu titik merusak keseluruhan mutu. Tes Formatif 4 1. Kerusakan fisiologis akibat penyimpanan komoditas tropis pada suhu terlalu rendah (namun belum membeku) disebut: A. Freezing injury B. Chilling injury C. Blanching D. Senescence 2. Metode precooling yang menggunakan penurunan tekanan untuk mendinginkan sayuran daun secara cepat adalah: A. Hydrocooling B. Room cooling C. Vacuum cooling D. Forced-air cooling 3. (Esai) Jelaskan mengapa kegagalan menjaga suhu pada satu titik dalam rantai dingin dapat merusak mutu produk meskipun tahap-tahap lain sudah dikelola dengan baik.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 15 Tugas Mandiri Identifikasi satu contoh kasus nyata (dapat berdasarkan pengamatan pribadi atau literatur) mengenai kegagalan rantai dingin pada distribusi produk hortikultura di Indonesia, lalu usulkan perbaikan yang dapat dilakukan.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 16 PERTEMUAN KE-5 MODIFIED ATMOSPHERE PACKAGING (MAP) DAN CONTROLLED ATMOSPHERE STORAGE (CAS) Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip dan penerapan MAP dan CAS dalam memperpanjang umur simpan produk hortikultura. 5.1 Prinsip Dasar: Mengendalikan Komposisi Atmosfer Udara normal terdiri atas sekitar 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 0,04% karbon dioksida. MAP dan CAS bekerja dengan memodifikasi komposisi gas di sekitar komoditas—umumnya menurunkan konsentrasi oksigen dan menaikkan konsentrasi karbon dioksida—untuk menekan laju respirasi dan produksi etilen tanpa menyebabkan kondisi anaerobik yang merugikan. 5.2 Modified Atmosphere Packaging (MAP) MAP mengubah komposisi gas di dalam kemasan pada satu waktu (saat pengemasan), kemudian komposisi tersebut berubah secara pasif seiring respirasi produk dan permeabilitas kemasan. MAP banyak diterapkan pada produk fresh-cut dan sayuran daun dalam kemasan plastik berpermeabilitas terkontrol. 5.3 Controlled Atmosphere Storage (CAS) CAS mempertahankan komposisi gas secara aktif dan konstan sepanjang periode penyimpanan menggunakan sistem kontrol otomatis, umumnya diterapkan pada gudang penyimpanan skala besar (misalnya penyimpanan apel jangka panjang). CAS lebih presisi namun memerlukan investasi infrastruktur yang lebih besar dibandingkan MAP. 5.4 Perbandingan MAP dan CAS Aspek MAP CAS Skala penerapan Kemasan individual/fresh-cut Gudang/ruang penyimpanan besar Kontrol komposisi gas Pasif (berubah seiring waktu) Aktif (dikontrol otomatis, konstan) Biaya investasi Relatif rendah Relatif tinggi Contoh aplikasi Sayuran fresh-cut, salad kemasan Penyimpanan apel/pir jangka panjang 5.5 Risiko: Kondisi Anaerobik Berlebihan Penurunan oksigen yang terlalu ekstrem dapat memicu respirasi anaerobik, menghasilkan off-flavor (etanol, asetaldehida) dan kerusakan jaringan. Oleh karena itu, komposisi gas optimum harus ditentukan

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 17 secara spesifik per komoditas melalui riset empiris, sejalan dengan prinsip optimasi parameter proses yang juga berlaku pada teknologi PEF (Pertemuan 11–12). Rangkuman • MAP dan CAS menekan respirasi dengan menurunkan O2 dan menaikkan CO2 di sekitar produk. • MAP bersifat pasif pada skala kemasan; CAS bersifat aktif pada skala gudang besar. • Penurunan oksigen berlebihan berisiko memicu respirasi anaerobik dan off-flavor. Tes Formatif 5 1. Perbedaan utama antara MAP dan CAS terletak pada: A. Jenis komoditas yang diolah B. Kontrol komposisi gas (pasif vs aktif) dan skala penerapan C. Warna kemasan D. Jenis bahasa label 2. Risiko utama apabila konsentrasi oksigen diturunkan terlalu ekstrem dalam MAP/CAS adalah: A. Peningkatan vitamin C B. Respirasi anaerobik dan off-flavor C. Peningkatan warna cerah D. Penurunan kadar air 3. (Esai/Hitungan) Sebuah kemasan MAP untuk sayuran fresh-cut dirancang dengan komposisi 5% O2 dan 5% CO2 (sisanya N2). Jelaskan mengapa komposisi ini lebih aman dibandingkan menurunkan O2 hingga 0%.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 18 PERTEMUAN KE-6 TEKNOLOGI PENGERINGAN PRODUK HORTIKULTURA Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip pengeringan dan jenis-jenis alat pengering serta dampaknya terhadap mutu produk hortikultura. 6.1 Prinsip Dasar Pengeringan Pengeringan menurunkan kadar air produk hingga di bawah ambang batas yang mendukung pertumbuhan mikroba (umumnya aktivitas air/aw < 0,6), sehingga produk dapat disimpan dalam waktu lama pada suhu ruang. Prinsip dasarnya adalah perpindahan panas (untuk menguapkan air) dan perpindahan massa (uap air keluar dari bahan ke lingkungan). 6.2 Jenis-Jenis Metode Pengeringan • Pengeringan matahari (sun drying) — sederhana dan murah, namun tidak terkendali dan berisiko kontaminasi. • Pengeringan oven/cabinet dryer — menggunakan udara panas terkontrol, lebih higienis dan konsisten. • Freeze drying (pengeringan beku) — menyublimkan es langsung menjadi uap pada tekanan rendah, mempertahankan mutu gizi dan bentuk terbaik namun biaya tinggi. • Spray drying — untuk bahan cair/pure, menyemprotkan bahan ke udara panas menjadi bubuk (misalnya bubuk sari buah). 6.3 Dampak Pengeringan terhadap Mutu Pengeringan dengan suhu tinggi dapat menyebabkan degradasi vitamin C dan pigmen, perubahan warna (browning non-enzimatis/reaksi Maillard), serta pengerutan (shrinkage) yang mengubah tekstur. Blanching (perlakuan panas singkat) sebelum pengeringan sering diterapkan untuk menginaktivasi enzim penyebab browning enzimatis dan pencoklatan. Tabel 6.1 Perbandingan Metode Pengeringan Metode Kelebihan Keterbatasan Sun drying Murah, sederhana Tidak terkendali, risiko kontaminasi Cabinet/oven dryer Terkendali, higienis Konsumsi energi sedang-tinggi Freeze drying Mutu gizi & bentuk terbaik Biaya investasi & operasional sangat tinggi Spray drying Cepat, cocok bahan cair Hanya untuk bahan bentuk cair/pure

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 19 Metode Kelebihan Keterbatasan Rangkuman • Pengeringan menurunkan aktivitas air untuk menghambat pertumbuhan mikroba. • Empat metode utama: sun drying, cabinet/oven dryer, freeze drying, dan spray drying, dengan trade-off biaya vs mutu. • Blanching sebelum pengeringan membantu mencegah browning enzimatis. Tes Formatif 6 1. Metode pengeringan yang mempertahankan mutu gizi dan bentuk produk paling baik, namun berbiaya sangat tinggi, adalah: A. Sun drying B. Cabinet dryer C. Freeze drying D. Spray drying 2. Perlakuan panas singkat sebelum pengeringan yang bertujuan menginaktivasi enzim penyebab browning disebut: A. Blanching B. Pasteurisasi C. Sterilisasi D. Fermentasi 3. (Esai) Jelaskan mengapa pemilihan metode pengeringan perlu mempertimbangkan trade-off antara biaya dan mutu produk akhir, dengan memberikan contoh kasus produk hortikultura tertentu. Praktikum/Tugas Lakukan pengeringan sederhana pada satu jenis buah/sayur menggunakan oven rumah tangga pada dua suhu berbeda (misalnya 50°C dan 70°C), bandingkan warna, tekstur, dan waktu pengeringan yang dibutuhkan, lalu buat laporan singkat.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 20 PERTEMUAN KE-7 TEKNOLOGI PENGALENGAN DAN STERILISASI TERMAL Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip sterilisasi termal, blanching, dan proses pengalengan produk hortikultura. 7.1 Prinsip Sterilisasi Termal Sterilisasi termal menggunakan panas untuk menginaktivasi mikroorganisme patogen dan pembusuk, termasuk spora bakteri tahan panas seperti Clostridium botulinum yang menjadi acuan utama keamanan pangan pada produk kaleng berasam rendah (low-acid canned food). Tingkat keparahan proses sterilisasi dinyatakan dengan nilai F0 (waktu proses ekuivalen pada suhu referensi 121°C). 7.2 Blanching Blanching adalah perlakuan panas singkat (biasanya perendaman air panas atau pengukusan selama beberapa menit) sebelum proses pengalengan, pembekuan, atau pengeringan, yang bertujuan menginaktivasi enzim (terutama peroksidase dan polifenol oksidase), mengurangi jumlah mikroba awal, serta mengeluarkan udara dari jaringan sel untuk memperbaiki tekstur dan warna produk akhir. 7.3 Tahapan Umum Proses Pengalengan 5. Sortasi, grading, dan pencucian bahan baku. 6. Pengupasan dan pemotongan (jika diperlukan). 7. Blanching untuk inaktivasi enzim. 8. Pengisian ke dalam kaleng/wadah beserta larutan pengisi (brine/syrup). 9. Exhausting (pengeluaran udara) dan penutupan kaleng (seaming). 10. Sterilisasi termal menggunakan autoklaf/retort sesuai nilai F0 yang ditetapkan. 11. Pendinginan cepat dan inkubasi untuk verifikasi keamanan produk sebelum distribusi. 7.4 Keamanan Pangan pada Produk Kaleng Produk kaleng berasam rendah (pH > 4,6) memerlukan proses sterilisasi komersial yang memadai untuk menjamin destruksi spora C. botulinum, sedangkan produk berasam tinggi (pH ≤ 4,6, misalnya buah- buahan) relatif lebih aman karena kondisi asam menghambat pertumbuhan C. botulinum, sehingga proses termal yang diperlukan dapat lebih ringan (pasteurisasi). Rangkuman • Sterilisasi termal bertujuan menginaktivasi mikroba termasuk spora C. botulinum, diukur dengan

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 21 nilai F0. • Blanching menginaktivasi enzim dan memperbaiki tekstur/warna sebelum proses lanjutan. • Produk berasam rendah memerlukan sterilisasi lebih ketat dibandingkan produk berasam tinggi. Tes Formatif 7 (Persiapan UTS) 1. Mikroorganisme yang menjadi acuan utama keamanan pangan pada produk kaleng berasam rendah adalah: A. Escherichia coli B. Clostridium botulinum C. Saccharomyces cerevisiae D. Lactobacillus plantarum 2. Tujuan utama blanching sebelum pengalengan adalah: A. Menambah rasa manis B. Menginaktivasi enzim dan memperbaiki tekstur/warna C. Mengubah pH produk D. Menambah kadar air 3. (Esai) Jelaskan mengapa produk buah kalengan (berasam tinggi) umumnya hanya memerlukan proses pasteurisasi, sedangkan sayuran kalengan berasam rendah memerlukan sterilisasi komersial yang lebih ketat. Praktikum/Tugas Rancang alur proses pengalengan sederhana untuk satu komoditas buah/sayur pilihan Anda, lengkap dengan estimasi parameter blanching dan pertimbangan keamanan pangan berdasarkan tingkat keasamannya.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 22 UJIAN TENGAH SEMESTER (UTS) Pelaksanaan UTS dijadwalkan oleh dosen pengampu sesuai kalender akademik program studi. Cakupan materi meliputi Pertemuan 1 hingga 7: karakteristik dan fisiologi pascapanen komoditas hortikultura, penanganan pascapanen, teknologi pendinginan dan rantai dingin, MAP/CAS, pengeringan, serta pengalengan dan sterilisasi termal. Bentuk soal dan bobot penilaian mengacu pada dokumen RPS mata kuliah Teknologi Pengolahan Hortikultura.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 23 PERTEMUAN KE-9 TEKNOLOGI PEMBEKUAN (FREEZING) PRODUK HORTIKULTURA Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip pembekuan, laju pembekuan, dan dampaknya terhadap tekstur produk hortikultura. 9.1 Prinsip Dasar Pembekuan Pembekuan menurunkan suhu produk hingga di bawah titik beku (umumnya di bawah -18°C untuk penyimpanan jangka panjang) sehingga air bebas dalam jaringan berubah menjadi kristal es, yang secara efektif menghentikan aktivitas mikroba dan sangat memperlambat reaksi enzimatis maupun kimiawi. 9.2 Laju Pembekuan dan Kualitas Kristal Es Laju pembekuan sangat menentukan ukuran kristal es yang terbentuk: pembekuan cepat (misalnya menggunakan blast freezer atau cryogenic freezing dengan nitrogen cair) menghasilkan kristal es berukuran kecil dan merata, sehingga kerusakan struktur sel minimal. Sebaliknya, pembekuan lambat (misalnya freezer rumah tangga konvensional) menghasilkan kristal es besar yang merusak dinding sel, menyebabkan kebocoran cairan sel (drip loss) dan tekstur lembek saat produk dicairkan (thawing). 9.3 Blanching Sebelum Pembekuan Sebagaimana pada pengalengan (Pertemuan 7), blanching juga umum diterapkan sebelum pembekuan sayuran untuk menginaktivasi enzim yang dapat menyebabkan perubahan warna, aroma, dan tekstur selama penyimpanan beku jangka panjang. 9.4 Perubahan Mutu Selama Thawing Proses thawing (pencairan) yang terlalu cepat atau berulang (freeze-thaw cycle) memperparah kerusakan tekstur akibat rekristalisasi es. Oleh karena itu, produk beku sebaiknya dicairkan secara terkendali (misalnya di lemari pendingin) dan tidak dibekukan ulang setelah dicairkan. Tabel 9.1 Perbandingan Laju Pembekuan terhadap Mutu Produk Laju Pembekuan Ukuran Kristal Es Dampak terhadap Tekstur Cepat (blast/cryogenic freezing) Kecil dan merata Kerusakan sel minimal, tekstur lebih baik Lambat (freezer konvensional) Besar dan tidak merata Kerusakan sel signifikan, drip loss tinggi

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 24 Laju Pembekuan Ukuran Kristal Es Dampak terhadap Tekstur Rangkuman • Pembekuan menghentikan aktivitas mikroba dan memperlambat reaksi enzimatis/kimiawi. • Pembekuan cepat menghasilkan kristal es kecil sehingga kerusakan sel minimal; pembekuan lambat sebaliknya. • Blanching sebelum pembekuan sayuran mencegah perubahan warna/aroma selama penyimpanan. • Freeze-thaw cycle berulang memperparah kerusakan tekstur akibat rekristalisasi es. Tes Formatif 9 1. Pembekuan cepat menghasilkan mutu tekstur yang lebih baik dibandingkan pembekuan lambat karena: A. Menghasilkan kristal es besar B. Menghasilkan kristal es kecil dan merata C. Tidak membentuk kristal es sama sekali D. Meningkatkan kadar air produk 2. Fenomena kebocoran cairan sel setelah produk beku dicairkan disebut: A. Blanching B. Drip loss C. Chilling injury D. Senescence 3. (Esai) Jelaskan mengapa produk beku tidak disarankan untuk dibekukan ulang setelah dicairkan (freeze-thaw cycle). Tugas Mandiri Bandingkan tekstur satu jenis sayuran yang dibekukan pada freezer rumah tangga (pembekuan lambat) dengan yang tidak dibekukan (segar), amati perbedaan tekstur setelah dicairkan, lalu jelaskan kaitannya dengan ukuran kristal es.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 25 PERTEMUAN KE-10 FERMENTASI DAN DIVERSIFIKASI PRODUK OLAHAN HORTIKULTURA Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip fermentasi pada produk hortikultura dan contoh diversifikasi produk bernilai tambah. 10.1 Prinsip Fermentasi sebagai Metode Pengawetan Fermentasi memanfaatkan aktivitas mikroorganisme (umumnya bakteri asam laktat) untuk mengubah gula dalam bahan menjadi asam organik (terutama asam laktat), yang menurunkan pH produk sehingga menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk dan patogen, sekaligus menciptakan karakteristik rasa dan aroma khas. 10.2 Contoh Produk Fermentasi Hortikultura • Acar (pickle) sayuran — fermentasi spontan oleh bakteri asam laktat alami pada media garam. • Sauerkraut/kimchi — fermentasi kubis dengan bakteri asam laktat, populer sebagai produk fungsional kaya probiotik. • Cuka buah (vinegar) — fermentasi ganda: alkohol oleh khamir, kemudian asam asetat oleh bakteri asam asetat. 10.3 Faktor yang Mempengaruhi Fermentasi • Konsentrasi garam — mengendalikan jenis mikroba yang tumbuh dominan dan kecepatan fermentasi. • Suhu fermentasi — memengaruhi laju pertumbuhan mikroba dan profil rasa akhir. • Ketersediaan oksigen — sebagian besar fermentasi pengawetan bersifat anaerobik/mikroaerofilik. 10.4 Diversifikasi Produk Olahan Hortikultura Selain fermentasi, diversifikasi produk hortikultura dapat berupa selai (jam), sirup, dodol/jenang buah, keripik buah (menggunakan teknik penggorengan vakum/vacuum frying untuk menjaga warna dan nutrisi), hingga produk bubuk (menggunakan spray drying atau freeze drying, lihat Pertemuan 6). Diversifikasi bertujuan meningkatkan nilai tambah, memperluas segmen pasar, dan mengurangi kehilangan pascapanen pada saat produksi melimpah (panen raya). Rangkuman • Fermentasi menurunkan pH melalui produksi asam laktat, menghambat mikroba pembusuk/patogen.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 26 • Contoh produk fermentasi hortikultura: acar, sauerkraut/kimchi, cuka buah. • Diversifikasi produk (selai, keripik vakum, bubuk) meningkatkan nilai tambah dan mengurangi kehilangan pascapanen. Tes Formatif 10 1. Mikroorganisme utama yang berperan dalam fermentasi acar sayuran adalah: A. Bakteri asam laktat B. Khamir alkohol C. Kapang Aspergillus D. Bakteri Salmonella 2. Teknik penggorengan yang digunakan untuk membuat keripik buah dengan warna dan nutrisi lebih terjaga adalah: A. Deep frying suhu tinggi B. Vacuum frying C. Pan frying D. Stir frying 3. (Esai) Jelaskan bagaimana fermentasi dapat menjadi strategi pengawetan yang relevan bagi UMKM pengolahan hortikultura dengan sumber daya terbatas. Praktikum/Tugas Buat acar sayuran sederhana (misalnya wortel dan mentimun) menggunakan larutan garam, amati perubahan pH dan tekstur selama tiga hingga lima hari fermentasi, lalu buat laporan hasil pengamatan.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 27 PERTEMUAN KE-11 TEKNOLOGI PENGOLAHAN NON-TERMAL MODERN: PRINSIP PEF, HPP, DAN ULTRASOUND Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip teknologi non-termal modern (HPP, ultrasound, PEF), mekanisme elektroporasi, serta menghitung parameter operasi PEF. 11.1 Mengapa Teknologi Non-Termal? Metode konvensional yang telah dibahas pada Pertemuan 6, 7, dan 9 (pengeringan, pengalengan, pembekuan) sebagian besar melibatkan panas yang efektif mengawetkan namun berisiko merusak senyawa sensitif panas seperti vitamin C dan komponen aroma. Teknologi non-termal—termasuk High Pressure Processing (HPP), ultrasound, dan Pulsed Electric Field (PEF)—berkembang sebagai solusi untuk menjaga mutu gizi dan sensoris tanpa mengandalkan suhu tinggi sebagai agen utama proses. Tabel 11.1 Perbandingan Teknologi Non-Termal Utama Teknologi Prinsip Kerja Kelebihan Keterbatasan Ultrasound Kavitasi akustik Cepat, fleksibel dikombinasikan Panas lokal pada intensitas tinggi High Pressure Processing (HPP) Tekanan hidrostatik sangat tinggi Inaktivasi mikroba efektif Investasi & biaya operasional tinggi Pulsed Electric Field (PEF) Elektroporasi membran sel Non-termal, hemat energi, fleksibel skala Sensitif terhadap konduktivitas bahan 11.2 Prinsip Kerja PEF dan Mekanisme Elektroporasi Gambar 11.1 Skema umum rangkaian sistem PEF

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 28 PEF memanfaatkan kejutan listrik bertegangan tinggi berdurasi singkat untuk mengubah struktur sel bahan pangan tanpa memicu kenaikan suhu berarti. Sistem PEF terdiri atas generator tegangan tinggi, bank kapasitor, chamber dan elektroda, serta pengaturan bentuk gelombang (waveform). Gambar 11.2 Ilustrasi mekanisme elektroporasi pada membran sel Ketika potensial transmembran melampaui nilai ambang kritis akibat paparan medan listrik, terbentuk pori-pori mikro pada membran sel (elektroporasi), meningkatkan permeabilitas sel sehingga senyawa intraseluler dapat berdifusi keluar lebih mudah. Elektroporasi reversibel bersifat sementara (pori dapat menutup kembali), sedangkan elektroporasi ireversibel bersifat permanen dan dimanfaatkan untuk ekstraksi maksimal serta inaktivasi mikroba. 11.3 Parameter Operasi PEF Kuat medan listrik (E, kV/cm) dihitung dengan persamaan E = V/d, dengan V = voltase (kV) dan d = jarak antar-elektroda (cm). Parameter lain meliputi lebar pulsa, frekuensi pulsa, jumlah pulsa, dan energi spesifik (kJ/kg). Contoh Perhitungan Chamber dengan jarak elektroda 2 cm diberi voltase 20 kV, maka E = 20/2 = 10 kV/cm — nilai yang umum digunakan pada riset PEF jus buah. Rangkuman • Tiga teknologi non-termal utama: ultrasound, HPP, dan PEF, masing-masing dengan prinsip kerja berbeda. • PEF bekerja melalui elektroporasi—pembentukan pori mikro pada membran sel akibat medan listrik. • Kuat medan listrik dihitung dengan E = V/d; parameter lain meliputi lebar pulsa, frekuensi, dan energi spesifik. Tes Formatif 11

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 29 1. Fenomena pembentukan pori mikro pada membran sel akibat paparan medan listrik disebut: A. Blanching B. Elektroporasi C. Chilling injury D. Karamelisasi 2. Jika voltase 18 kV diberikan pada chamber PEF dengan jarak elektroda 3 cm, maka kuat medan listriknya adalah: A. 3 kV/cm B. 6 kV/cm C. 9 kV/cm D. 18 kV/cm 3. (Esai) Jelaskan mengapa PEF dianggap lebih fleksibel dibandingkan HPP untuk diadaptasi pada skala laboratorium hingga industri menengah.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 30 PERTEMUAN KE-12 STUDI KASUS: DAMPAK PEF TERHADAP MUTU SARI BUAH JERUK Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menganalisis data eksperimental dampak voltase PEF terhadap mutu fisikokimia, senyawa bioaktif, dan sensoris sari jeruk, serta menentukan perlakuan terbaik. 12.1 Rancangan Studi Kasus Studi kasus ini menggunakan data eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat taraf voltase PEF (P0/kontrol, P1, P2, P3) pada tiga varietas jeruk (lemon, baby, nipis), sebagai contoh penerapan konsep elektroporasi (Pertemuan 11) pada komoditas hortikultura nyata. 12.2 Dampak terhadap pH dan Viskositas Gambar 12.1 Pengaruh voltase PEF terhadap pH sari jeruk

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 31 Gambar 12.2 Pengaruh voltase PEF terhadap viskositas sari jeruk Kenaikan voltase umumnya menaikkan pH (pelepasan mineral/buffer). Viskositas jeruk lemon menurun (depolimerisasi pektin), sedangkan jeruk baby dan nipis meningkat (pelepasan pektin terlarut) — menegaskan respons bersifat matriks-spesifik. 12.3 Dampak terhadap Warna Gambar 12.3 Pengaruh voltase PEF terhadap nilai L* sari jeruk Kecerahan (L*) meningkat pada jeruk lemon dan nipis akibat pelepasan pigmen dan pengecilan partikel; jeruk baby relatif stabil. Nilai a* dan b* juga bergeser secara matriks-spesifik, mengindikasikan perubahan distribusi pigmen karotenoid pada intensitas tinggi. 12.4 Dampak terhadap Vitamin C dan Antioksidan

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 32 Gambar 12.4 Pengaruh voltase PEF terhadap kadar vitamin C sari jeruk Gambar 12.5 Pengaruh voltase PEF terhadap aktivitas antioksidan sari jeruk Vitamin C dapat meningkat pada voltase rendah namun menurun pada voltase tinggi (degradasi oksidatif) — dampak dualistik PEF. Sebaliknya, aktivitas antioksidan meningkat konsisten pada ketiga varietas seiring kenaikan voltase, dijelaskan melalui konsep bioaksesibilitas. 12.5 Penentuan Perlakuan Terbaik

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 33 Gambar 12.6 Nilai indeks efektivitas De Garmo termodifikasi per perlakuan Tabel 12.1 Perlakuan Terbaik per Varietas Jeruk (Indeks Efektivitas De Garmo) Jenis Jeruk P0 P1 P2 P3 Terbaik Nipis 0,64 1,16 2,42 1,45 P2 Lemon 0,92 1,14 1,48 2,09 P3 Baby 1,10 0,92 2,19 0,80 P2 Perlakuan terbaik berbeda antar-varietas: jeruk nipis dan baby optimum pada voltase menengah (P2), sedangkan jeruk lemon pada voltase tertinggi (P3) — mengonfirmasi prinsip bahwa optimasi parameter proses hortikultura, seperti halnya MAP (Pertemuan 5) dan pengeringan (Pertemuan 6), harus dilakukan secara spesifik per komoditas. Rangkuman • Data eksperimen menunjukkan dampak PEF terhadap pH, viskositas, warna, vitamin C, dan antioksidan bersifat matriks-spesifik. • Aktivitas antioksidan meningkat konsisten pada seluruh varietas; vitamin C berisiko menurun pada voltase tinggi. • Indeks efektivitas De Garmo membantu menentukan voltase optimum secara objektif, yang berbeda antar-varietas. Tes Formatif 12 1. Berdasarkan Tabel 12.1, perlakuan terbaik untuk jeruk lemon adalah: A. P0 B. P1 C. P2 D. P3

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 34 2. Peningkatan aktivitas antioksidan yang konsisten pada seluruh varietas terutama dijelaskan melalui konsep: A. Sintesis senyawa baru B. Bioaksesibilitas senyawa yang sudah ada C. Fermentasi D. Karamelisasi 3. (Esai) Bandingkan prinsip 'optimasi spesifik per komoditas' pada studi kasus PEF ini dengan prinsip serupa yang telah dibahas pada MAP/CAS (Pertemuan 5) dan chilling injury (Pertemuan 4). Tugas Mandiri Susun laporan singkat (2 halaman) yang merangkum seluruh temuan studi kasus PEF-jeruk, serta rekomendasi praktis bagi UMKM sari buah berdasarkan Tabel 12.1.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 35 PERTEMUAN KE-13 PENGOLAHAN MINIMAL (MINIMALLY PROCESSED) DAN PRODUK FRESH-CUT Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip pengolahan minimal dan produksi fresh-cut pada komoditas hortikultura. 13.1 Konsep Pengolahan Minimal Pengolahan minimal (minimally processed food) mengacu pada produk yang mengalami perlakuan fisik minimal—seperti pengupasan, pemotongan, dan pencucian—tanpa proses pengawetan intensif (pemanasan tinggi, pengeringan menyeluruh), sehingga karakteristik segar produk tetap terjaga. Produk fresh-cut (buah/sayur potong siap konsumsi) merupakan contoh paling umum dari kategori ini. 13.2 Tantangan Utama Produk Fresh-Cut Proses pemotongan merusak jaringan sel sehingga mempercepat laju respirasi, memicu browning enzimatis (terutama pada apel, kentang, pisang akibat aktivitas enzim polifenol oksidase), serta meningkatkan risiko kontaminasi mikroba karena luasnya permukaan yang terbuka. 13.3 Strategi Pengendalian Mutu Fresh-Cut • Penggunaan pisau yang tajam dan higienis untuk meminimalkan kerusakan jaringan sel saat pemotongan. • Pencelupan dalam larutan antioksidan (misalnya asam askorbat/asam sitrat) untuk mencegah browning enzimatis. • Pengemasan dengan MAP (Pertemuan 5) untuk memperlambat respirasi produk yang telah dipotong. • Penyimpanan suhu rendah konsisten (rantai dingin, Pertemuan 4) sejak produksi hingga distribusi. 13.4 Keterkaitan dengan Teknologi Non-Termal Teknologi non-termal seperti PEF (Pertemuan 11–12) berpotensi diaplikasikan sebagai pretreatment pada produk fresh-cut untuk meningkatkan retensi senyawa bioaktif sekaligus menekan aktivitas mikroba awal, meskipun penerapannya pada skala komersial fresh-cut masih menjadi area riset yang terus berkembang. Rangkuman • Pengolahan minimal mempertahankan karakteristik segar dengan perlakuan fisik minimal (pengupasan, pemotongan).

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 36 • Produk fresh-cut rentan browning enzimatis dan kontaminasi mikroba akibat kerusakan jaringan saat pemotongan. • Pengendalian mutu fresh-cut mengombinasikan antioksidan, MAP, dan rantai dingin. Tes Formatif 13 1. Enzim yang paling berperan dalam browning enzimatis pada apel/kentang yang dipotong adalah: A. Amilase B. Polifenol oksidase C. Lipase D. Protease 2. Strategi berikut yang TIDAK relevan untuk mengendalikan mutu produk fresh-cut adalah: A. Pencelupan larutan antioksidan B. Pengemasan MAP C. Penyimpanan suhu rendah D. Penyimpanan suhu ruang terbuka 3. (Esai) Jelaskan mengapa produk fresh-cut memiliki umur simpan lebih singkat dibandingkan produk utuh dari komoditas yang sama. Praktikum/Tugas Buat produk fresh-cut sederhana (misalnya apel potong) dengan dan tanpa pencelupan larutan asam askorbat/asam sitrat, amati perbedaan tingkat browning setelah 30, 60, dan 120 menit, lalu laporkan hasilnya.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 37 PERTEMUAN KE-14 PENGEMASAN DAN PENGENDALIAN MUTU (HACCP/GMP/SSOP) Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan prinsip pengemasan produk olahan hortikultura serta penerapan HACCP, GMP, dan SSOP. 14.1 Fungsi Pengemasan Produk Olahan Hortikultura • Melindungi produk dari kerusakan fisik, kontaminasi mikroba, dan pengaruh lingkungan (cahaya, oksigen, kelembaban). • Memperpanjang umur simpan (khususnya dikombinasikan dengan MAP, Pertemuan 5). • Media informasi (label gizi, tanggal kedaluwarsa, izin edar) dan sarana pemasaran. 14.2 Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) HACCP adalah sistem pencegahan bahaya keamanan pangan yang sistematis, mencakup identifikasi bahaya (biologis, kimia, fisik), penentuan titik kendali kritis (Critical Control Point/CCP), penetapan batas kritis, prosedur pemantauan, tindakan koreksi, verifikasi, dan dokumentasi. Pada lini pengolahan hortikultura, CCP umum meliputi suhu sterilisasi/pasteurisasi, suhu penyimpanan dingin, dan tahap sanitasi. 14.3 Good Manufacturing Practices (GMP) GMP mencakup praktik higiene personal, kebersihan fasilitas produksi, kalibrasi alat, serta dokumentasi proses produksi untuk menjamin konsistensi mutu dan keamanan produk pada setiap batch produksi. 14.4 Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) SSOP mengatur prosedur baku pembersihan dan sanitasi peralatan, permukaan kerja, serta fasilitas produksi guna mencegah kontaminasi silang antar-batch produksi. Tabel 14.1 Ringkasan Sistem Keamanan Pangan Sistem Fokus Utama Contoh Penerapan pada Hortikultura HACCP Titik kendali kritis bahaya keamanan pangan Suhu sterilisasi kaleng, suhu cold storage GMP Praktik produksi yang baik & konsisten Higiene personal, kalibrasi alat pengering/PEF SSOP Prosedur sanitasi fasilitas & peralatan Pembersihan chamber PEF, peralatan pengalengan

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 38 Sistem Fokus Utama Contoh Penerapan pada Hortikultura Rangkuman • Pengemasan melindungi produk, memperpanjang umur simpan, dan menjadi media informasi/pemasaran. • HACCP mengidentifikasi titik kendali kritis; GMP menjamin konsistensi produksi; SSOP mengatur sanitasi. • Ketiga sistem ini saling melengkapi dalam menjamin keamanan pangan produk olahan hortikultura. Tes Formatif 14 1. Sistem yang berfokus pada identifikasi titik kendali kritis terhadap bahaya keamanan pangan adalah: A. GMP B. SSOP C. HACCP D. MAP 2. Prosedur baku pembersihan peralatan dan fasilitas produksi termasuk dalam sistem: A. HACCP B. GMP C. SSOP D. CAS 3. (Esai) Rancang tiga contoh titik kendali kritis (CCP) untuk lini produksi sari buah jeruk berbasis PEF, mengacu pada pembahasan Pertemuan 11–12.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 39 PERTEMUAN KE-15 DIVERSIFIKASI NILAI TAMBAH DAN TREN INDUSTRI HORTIKULTURA 4.0/5.0 Capaian Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan arah pengembangan teknologi pengolahan hortikultura di era Industri 4.0/5.0 dan merancang gagasan diversifikasi produk. 15.1 Integrasi Digital dalam Pengolahan Hortikultura Sensor IoT dan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin banyak diterapkan untuk pemantauan mutu pascapanen secara real-time (misalnya sensor gas etilen otomatis pada CAS, Pertemuan 5), prediksi umur simpan, serta penyesuaian parameter proses secara dinamis pada teknologi seperti PEF (Pertemuan 11–12). 15.2 Digital Twin dan Precision Processing Konsep digital twin—representasi virtual sistem fisik yang diperbarui secara real-time—memungkinkan simulasi proses pengolahan tanpa eksperimen fisik berulang, mempercepat scale-up dari skala laboratorium ke industri, sejalan dengan prinsip precision food processing yang menyesuaikan parameter secara presisi per karakteristik bahan baku. 15.3 Diversifikasi Nilai Tambah Diversifikasi produk hortikultura dapat berupa produk siap konsumsi (fresh-cut, Pertemuan 13), produk fungsional (jus kaya antioksidan hasil PEF, Pertemuan 12), produk fermentasi (Pertemuan 10), maupun produk kering/bubuk (Pertemuan 6), yang seluruhnya bertujuan mengurangi kehilangan pascapanen dan meningkatkan daya saing produk hortikultura lokal. 15.4 Rangkaian Keterkaitan Materi Mata Kuliah Seluruh materi—dari fisiologi pascapanen (Pertemuan 2), penanganan dan penyimpanan (Pertemuan 3– 5), teknologi pengawetan konvensional (Pertemuan 6–7, 9–10), hingga teknologi non-termal modern (Pertemuan 11–12) serta pengolahan minimal dan pengendalian mutu (Pertemuan 13–14)— menegaskan satu prinsip utama: keberhasilan teknologi pengolahan hortikultura selalu bergantung pada pemahaman karakteristik fisiologis dan optimasi parameter proses yang spesifik per komoditas. Rangkuman • Industri 4.0/5.0 mendorong integrasi IoT, AI, dan digital twin dalam pengolahan hortikultura. • Diversifikasi produk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi kehilangan pascapanen.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 40 • Prinsip optimasi spesifik per komoditas berlaku konsisten di seluruh materi mata kuliah ini. Tes Formatif 15 1. Konsep representasi virtual sistem proses yang memungkinkan simulasi tanpa eksperimen fisik berulang disebut: A. Big data B. Digital twin C. Blockchain D. E-commerce 2. (Esai) Rancang gagasan proyek mini diversifikasi produk olahan untuk satu komoditas hortikultura lokal pilihan Anda, mencakup teknologi yang digunakan dan target nilai tambahnya. Proyek Mini & Presentasi Setiap kelompok mempresentasikan rancangan proyek mini diversifikasi produk hortikultura (dari Tes Formatif 15 soal 2) di depan kelas, mencakup latar belakang, teknologi yang diusulkan, target mutu, dan estimasi nilai tambah. Kisi-Kisi UAS UAS mencakup materi Pertemuan 9–15: pembekuan, fermentasi, teknologi non-termal (PEF/HPP/ultrasound), studi kasus PEF-jeruk, pengolahan minimal, pengemasan/HACCP, dan tren industri. Bentuk soal meliputi pilihan ganda, esai analisis data, dan rancangan studi kasus.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 41 UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) Pelaksanaan UAS dijadwalkan oleh dosen pengampu sesuai kalender akademik program studi. Cakupan materi meliputi Pertemuan 9 hingga 15 sebagaimana kisi-kisi pada Pertemuan 15. Bentuk soal, bobot penilaian, dan komponen nilai akhir (tugas, tes formatif, UTS, UAS, praktikum) ditetapkan sesuai dokumen RPS mata kuliah Teknologi Pengolahan Hortikultura.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 42 KUNCI JAWABAN TES FORMATIF (PILIHAN GANDA) Kunci jawaban berikut hanya mencakup soal pilihan ganda. Untuk soal esai, hitungan, dan tugas praktikum, mahasiswa disarankan berdiskusi dengan dosen pengampu atau kelompok belajar guna memperoleh umpan balik yang lebih mendalam. Pertemuan 1: 1-C, 2-B Pertemuan 2: 1-B, 2-B Pertemuan 3: 1-B, 2-B Pertemuan 4: 1-B, 2-C Pertemuan 5: 1-B, 2-B Pertemuan 6: 1-C, 2-A Pertemuan 7: 1-B, 2-B Pertemuan 9: 1-B, 2-B Pertemuan 10: 1-A, 2-B Pertemuan 11: 1-B, 2-B Pertemuan 12: 1-D, 2-B Pertemuan 13: 1-B, 2-D Pertemuan 14: 1-C, 2-C Pertemuan 15: 1-B Catatan perhitungan (Pertemuan 4, soal hitungan): jika ditanyakan kuat medan listrik pada jarak elektroda tertentu, gunakan rumus E = V/d.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 43 GLOSARIUM Klimaterik — Golongan buah dengan lonjakan laju respirasi tajam yang menyertai pematangan, dapat matang setelah dipanen (contoh: mangga, pisang, pepaya). Non-klimaterik — Golongan buah dengan laju respirasi menurun bertahap, umumnya tidak dapat matang lebih lanjut setelah dipanen (contoh: jeruk, anggur, nanas). Transpirasi — Proses kehilangan uap air dari jaringan komoditas ke lingkungan melalui stomata, lentisel, atau permukaan kulit. Etilen — Hormon gas alami pemicu pematangan buah klimaterik dan senescence pada sayuran daun. Chilling injury — Kerusakan fisiologis akibat penyimpanan komoditas (khususnya tropis) pada suhu rendah namun belum membeku. Cold chain (rantai dingin) — Rangkaian proses penanganan bersuhu rendah yang berkesinambungan dari pascapanen hingga konsumen. MAP (Modified Atmosphere Packaging) — Teknik pengemasan yang memodifikasi komposisi gas di dalam kemasan secara pasif untuk memperpanjang kesegaran. CAS (Controlled Atmosphere Storage) — Teknik penyimpanan dengan kontrol aktif dan presisi terhadap komposisi gas ruang simpan. Blanching — Perlakuan panas singkat untuk menginaktivasi enzim penyebab kerusakan mutu sebelum proses pengeringan/pengalengan/pembekuan. Freeze drying — Metode pengeringan beku-vakum yang mempertahankan mutu gizi dan bentuk produk secara optimal. Nilai F0 — Ukuran keseimbangan proses sterilisasi termal terhadap inaktivasi Clostridium botulinum pada produk kaleng berasam rendah. Drip loss — Kebocoran cairan sel yang keluar dari produk setelah proses thawing (pencairan) pasca- pembekuan. Fermentasi asam laktat — Proses fermentasi oleh bakteri asam laktat yang mengubah gula menjadi asam laktat, menurunkan pH dan mengawetkan produk. Minimally processed food — Produk pangan yang mengalami pengolahan minimal (pemotongan, pencucian) namun tetap dalam kondisi segar. Fresh-cut — Produk hortikultura segar yang telah dipotong/dikupas dan siap konsumsi/olah, umumnya dikemas dengan MAP. Browning enzimatis — Reaksi pencoklatan pada permukaan buah/sayur terpotong akibat aktivitas enzim polifenol oksidase. Elektroporasi — Fenomena pembentukan pori-pori mikro pada membran sel akibat paparan medan listrik bertegangan tinggi (dasar kerja teknologi PEF). Kuat medan listrik (E) — Intensitas medan listrik PEF, dihitung sebagai voltase dibagi jarak antar- elektroda (E = V/d, satuan kV/cm). Bioaksesibilitas — Ketersediaan biologis suatu senyawa aktif untuk diserap/dianalisis tanpa mengubah jumlah totalnya.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 44 HACCP — Hazard Analysis and Critical Control Point, sistem manajemen keamanan pangan berbasis titik kendali kritis. GMP — Good Manufacturing Practices, praktik produksi yang baik untuk menjamin konsistensi mutu dan keamanan pangan. SSOP — Sanitation Standard Operating Procedures, prosedur baku sanitasi peralatan dan fasilitas produksi. Digital twin — Representasi virtual suatu sistem proses fisik yang diperbarui secara real-time untuk keperluan simulasi dan optimasi.

Buku Ajar — Teknologi Pengolahan Hortikultura 45 DAFTAR PUSTAKA Aganovic, K., Smet, K., Grauwet, T., Van Loey, A., & Hendrickx, M. (2022). Effect of pasteurization by moderate intensity pulsed electric fields (PEF) treatment compared to thermal treatment on quality attributes of fresh orange juice. Foods, 11(21), 3461. Barba, F. J., Parniakov, O., & Wiktor, A. (Eds.). (2019). Pulsed Electric Fields to Obtain Healthier and Sustainable Food for Tomorrow. Academic Press. Barba, F. J., Parniakov, O., Pereira, S. A., Wiktor, A., Grimi, N., Boussetta, N., & Lebovka, N. (2020). Current applications and new opportunities for the use of pulsed electric fields in food science and industry. Food Research International, 77, 773–798. Barrett, D. M., Somogyi, L., & Ramaswamy, H. (Eds.). (2004). Processing Fruits: Science and Technology (2nd ed.). CRC Press. Bocker, R., & Silva, E. K. (2024). Pulsed electric field technology as a promising pre-treatment for enhancing orange agro-industrial waste biorefinery. RSC Advances, 14(3), 2116–2133. Fabroni, S., Platania, G. M., Amenta, M., & Ballistreri, G. (2024). Pulsed electric field as a mild treatment for extended shelf-life and preservation of bioactive compounds in blood orange juice. Applied Sciences, 14(16), 7275. Fan, R., Wang, L., Fan, J., Sun, W., & Dong, H. (2022). The pulsed electric field assisted-extraction enhanced the yield and the physicochemical properties of soluble dietary fiber from orange peel. Frontiers in Nutrition, 9, 925642. Fellows, P. J. (2017). Food Processing Technology: Principles and Practice (4th ed.). Woodhead Publishing. Kader, A. A. (Ed.). (2002). Postharvest Technology of Horticultural Crops (3rd ed.). University of California, Agriculture and Natural Resources Publication 3311. Puértolas, E., Cregenzán, O., Luengo, E., Álvarez, I., & Raso, J. (2022). Pulsed electric fields: Effects on nutritional and sensory quality of foods. Food Engineering Reviews, 14(1), 1–20. Rahman, M. S. (Ed.). (2007). Handbook of Food Preservation (2nd ed.). CRC Press. Salunkhe, D. K., & Kadam, S. S. (1998). Handbook of Vegetable Science and Technology: Production, Composition, Storage, and Processing. CRC Press. Wills, R. B. H., & Golding, J. B. (2016). Postharvest: An Introduction to the Physiology and Handling of Fruit and Vegetables (6th ed.). CABI. Yeom, H. W., Streaker, C. B., Zhang, Q. H., & Min, D. B. (2000). Effects of pulsed electric fields on the quality of orange juice and comparison with heat pasteurization. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 48(10), 4597–4605. Yu, X., Xu, Y., Ren, H., & Deng, Y. (2023). Pulsed electric field as a promising technology for solid foods processing: A review. Food Chemistry, 403, 134367. Zhang, H. Q., Barbosa-Cánovas, G. V., & Balasubramaniam, V. M. (2022). Nonthermal Processing Technologies for Food (2nd ed.). Wiley-Blackwell.