20260804 Materi HSSE for Danantara Rev7 (1)

View 20260804 Materi HSSE for Danantara Rev7 (1) flipbook.

Paparan Kinerja HSSE TW II 2026 Jakarta, 4 Agustus 2026

Presentation Outline 1 HSSE CULTURE – ENERGIZING ONE PERTAMINA2 KINERJA ASPEK HSSE TW II 2026 STRATEGIC PROGRAM HSSE3

KINERJA ASPEK HSSE TW II 2026

Analisis HSSE Performance 2022 – YTD Juni 2026 Total Manhours Prognosa YTD. Juni 2026 Process Safety Events 3 4 1 14 2 0 5 10 15 2022 2023 2024 2025 YTD 2026 -10% Note: (*) Insiden Kecelakaan Pesawat Terbang Pelita Air Service masih dalam proses investigasi dan kajian terkait dengan work relatedness. Perlu penguatan reliability equipment, optimalisasi inspeksi preventif, mitigasi proaktif terhadap kondisi abnormal dan tindak lanjut rekomendasi. Number of Major Accidents (NoA) Security Incidents o Penurunan insiden keamanan didorong efektivitas kontrol risiko & koordinasi keamanan lapangan. o Penguatan analisis pola insiden diperlukan untuk mempertahankan tren penurunan ini. 448 424 540 318 198 2022 2023 2024 2025 YTD 2026 -18% 375,57 M Illness Fatality Penurunan illness fatality terus didorong melalui berbagai macam program pengelolaan kesehatan Pekerja seperti SEBUSEPRO dan “No MCU No Entry”. 28 18 22 8 8 0 20 40 2022 2023 2024 2025 YTD 2026 -27% Average Onsite Personnel 279,786 Jumlah NoA Jumlah Illness Fatality Jumlah Insiden Keamanan 17 24 12 3 2022 84 2023 10 2024 8 2025 62 YTD 2026 20 12 34 20 8 -20% PSE Tier-2 PSE Tier-1 Definisi NoA: o Fatality o Oil Spill > 10 kL o Property Damage > 5 M USD o PSE Tier 1 with 3rd Party Fatality “Kinerja HSSE hingga YTD 2026 menunjukkan tren positif. Meski demikian, diperlukan penguatan berkelanjutan untuk menjaga stabilitas seluruh indikator. Perlu dicatat bahwa perbandingan ini menggunakan data YTD 2026, sedangkan periode lainnya merupakan capaian full year.” 64 44 58 72 82 78 93 108 20 34 36 14 2022 2023 2024 2025 Biru Hijau Emas Highlight: Kinerja PROPER menunjukkan tren peningkatan signifikan pada kategori Hijau hingga 2025, meskipun capaian Emas masih menjadi tantangan. Perubahan mekanisme penilaian dan perluasan kriteria di 2025 menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mendorong peningkatan kualitas beyond compliance secara lebih terfokus. Capaian PROPER Pertamina Group

Kinerja Aspek HSSE TW II 2026 Manhours Entitas Organisasi YTD Juni 2026 (Satuan: Million (M)) Manhours YTD Juni 2026 (M) TRIR YTD Juni 2026SH IML SH GAS SH DOWNSTREAM SH PNRE SH UPSTREAM HO & APFS ≈ 8,90 ≈ 23,50 ≈ 129,47 ≈ 4,24 ≈ 161,67 ≈ 47,79 375,57 0,07 Recordable Incident per CategoryRecordable Incident Trend per Year PIRAMIDA INSIDEN PROCESS SAFETY EVENTS (PSE) PSE Trend 16 29 25 YTD Juni 2024 YTD Juni 2025 YTD Juni 2026 +81% -14% 18 6 YTD Jun 2024 43 YTD Juni 2025 26 YTD Juni 2026 24 7 8 -71% +14% PSE Tier 1 PSE Tier 2 Entitas PSE Tier 1 PSE Tier 2 SHU 1 3 SHD 0 3 SH PNRE 0 0 SH Gas 1 0 PP (NR) 0 0 PIS (IML) 0 0 6 2 5 2 17 2 7 4 12 1 1 FAT RWDC LTI/DAFW MTC 0 0 0% +40% +100% -29% YTD Juni 2026 Real Juni 2026YTD Juni 2025 FAT (Fatality) | RWDC (Restricted Work-day Case) | LTI/DAFW (Lost Time Injury/Days Away From Work) | MTC (Medical Treatment Case) TRIR* (*) TRIR = Total Recordable Incident Rate 0,17 0,07 0,08 RKAP 2026 YTD Juni 2026 YTD Juni 2025 -59% -13% LTIR* 0,01 0,02 0,02 YTD Juni 2024 YTD Juni 2025 YTD Juni 2026 +100% 0% (*) LTIR = Lost Time Injury Rate Note: (*) Insiden Kecelakaan Pesawat Terbang Pelita Air Service masih dalam proses investigasi dan kajian terkait dengan work relatedness. (**) Insiden Kecelakaan Kerja Pekerja LTSA PT PGAS Solution Pada Saat Pemasangan Skun pada Terminal/Kutub Aki Pompa PMK pemilik kontrak SHD (PPN I)

Analisis Insiden YTD Juni 2026 SYSTEMHARDWARE 1. Degradasi atau kegagalan integritas peralatan dan kerusakan komponen. 2. Kerentanan fisik lingkungan sehingga memungkinkan akses ilegal atau tindakan sabotase/pencurian. 3. Keterbatasan alat bantu mekanis dan ergonomi, yang meningkatkan risiko cedera akibat pekerjaan manual. PEOPLE 1. Kurangnya situational awareness. 2. Kurang tepatnya persepsi tentang bahaya. 3. Kelemahan Kompetensi Antisipasi dan mitigasi Risiko. 4. Kelelahan fisik dan mental (fatigue). 5. Kepatuhan terhadap prosedur 1. Efektivitas Pengelolaan risiko operasional. 2. Implementasi perbaikan asset integrity belum maksimal. 3. Kurang efektifnya perencanaan dan prosedur kerja. REKOMENDASI & TINDAK LANJUT 1. Terus meningkatkan visibilitas bahaya dengan pemasangan tanda tanda bahaya. 2. Effective Safety Communication dengan Dialog dan diskusi tentang persiapan pekerjaan dan pengelolaan risiko sebelum pekerjaan dimulai. 3. Penguatan kompetensi pekerjaan berisiko tinggi (Refresh training untuk Defensive Driving, Journey Management, Lifting & Rigging, Manual Handling, dan Process Safety Awareness). 4. Pengelolaan fatigue yang lebih efektif dengan pengetatan jam kerja dan waktu istirahat pengemudi serta pekerja lapangan. 5. Percepatan program asset integrity (a. Lakukan inspeksi rutin flowline, wellhead, dan peralatan produksi. b. Prioritaskan fasilitas dengan usia tua atau riwayat kebocoran). 6. Peningkatan perlindungan fisik aset (Pasang fencing, locking system, surveillance camera, atau remote monitoring pada sumur suspended). 7. Penyediaan alat bantu mekanis dan ergonomi (Gunakan lifting aid, hoist, atau handling tools untuk mengurangi aktivitas manual handling yang berpotensi menyebabkan cedera punggung). 8. Peningkatan efektivitas Journey Management dan Fatigue Management. 9. Penguatan Asset Integrity Management.

What's In It? Total 2 kejadian fatality sampai YTD Juni '26: 1 19 Februari → Kecelakaan Pesawat Tipe AT802 Single Pilot (PAS) 2 30 Juni → Seorang crew (Mualim 3) terjatuh ke laut saat membantu nakhoda naik ke kapal di area fender IT Tanjung Manggis (SHID) Tren 4 tahun terakhir mengalami kenaikan terutama pada tahun 2025 Tren Bulanan 4 Tahun Terakhir – Perlu Kewaspadaan di Semester 2. SEMESTER I SEMESTER II Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des SEM. I SEM. II TOTAL 2025 0 0 1 1 0 0 0 4 1 1 1 3 2 10 12 2024 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 2023 1 2 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 3 2 5 Tren di Tahun 2025 67% kejadian pada Semester II (Jul – Des) Semester I (Jan–Jun) (6) 33% Semester II (Jul–Des) (12) 67% Pada tahun 2025, sebesar 83% kejadian terjadi setelah Juni, dengan total 10 kejadian, Agustus (4) dan Desember (3) menjadi titik lonjakan utama. Penyebab Kejadian di 2025 Penyebab Langsung (Top 3 — 60%) Kepatuhan Prosedur & Perilaku 23,8% Identifikasi Bahaya 18,8% Pengamanan & Line of Fire 17,5% Penyebab Dasar (Top 3 — 65%) Leadership & Supervisi 28,9% Kompetensi & Motivasi 21,7% Standar Kerja & Risiko 14,5% Waktu Kejadian 38,9% terjadi pada pagi hari Dini Hari (00.00–05.59) 22,2% Pagi hari (06.00–11.59) 38,9% Siang hari (12.00–14.59) 16,7% Sore hari (15.00–17.59) 16,7% Malam hari (18.00–23.59) 5,6% TINDAK LANJUT 1. Strengthen Pre-Work Assurance melalui mandatory field verification terhadap PTW, JSA, dan Critical Controls sebelum pekerjaan dimulai; 2. Increase Visible Felt Leadership dengan fokus pada jam kritis pagi dan Semester II melalui Management Walkthrough serta supervisory assurance; 3. Verify Critical Controls for High-Risk Activities (Line of Fire, WAH, Confined Space, Energy Isolation) menggunakan checklist berbasis CLSR; 4. Drive Learning into Execution melalui mandatory fatality learning, coaching supervisor, dan penguatan Stop Work Authority untuk memastikan pembelajaran diterapkan di lapangan. Looking Back: Fatality 1st Semester 2026 2026 0 0 0 1 0 0 0 0 2 0 20 1 0 0

Dari Insiden, Menuju Operational Excellence MAIN CONCERN CAUSAL FACTOR 8 ARAHAN DIRUT AVG. 280.000 WORKERS 2025 YTD JUN 2026 14 2 FATALITY 15 7 LOST TIME INCIDENT 20 9 PROCESS SAFETY EVENT BASED ON INCIDENT ANALYSIS Lack of Competency Inadequate Leadership Improper Perception • Inadequate Risk Management • Inadequate Work Standard • Inadequate Maintenance & Inspection • Inadequate MoC BASED ON SUPREME AUDIT • Operational Control • Risk Monitoring • Management of Change • Asset Integrity Management • Emergency Response & Crisis Management 1 Penerapan HSSE Golden Rules 2 Peningkatan Kompetensi dan Budaya Keselamatan 3 Pengawasan & Assurance terhadap Aktivitas Kritikal 4 Kesiapan Peralatan Kritikal (SECE) 5 Inspeksi dan Pemeliharaan Terencana 6 Penguatan Implementasi CSMS 7 Pelaporan Insiden dan Budaya Pembelajaran 8 Kesiapsiagaan Darurat dan Manajemen Krisis PROCESS PLANT PEOPLE 1 VISIBLE HAZARD “Bahaya harus terlihat jelas” 2 CONTROL CRITICAL WORK “Pekerjaan berisiko tinggi harus terkendali” 3 BARRIER INTEGRITY “Barrier harus sehat sebelum gagal” 4 INTERVENTION CULTURE “Setiap orang wajib mengintervensi” 5 LEAD SAFETY EVERY DAY “Kepemimpinan harus terlihat setiap hari” 5 PILAR PRIORITAS UTAMA UNTUK MENEKAN JUMLAH ACCIDENT Dari Insiden, Menuju Operational Excellence Inadequate:

CHECKLIST PROGRAM UNTUK NAIK LEVEL – Jalankan semua program pada seiap level sebelum naik level berikutnya Roadmap 5 Tingkat Budaya Menuju One Vision Zero

BUDAYA TERLIHAT – RISIKO TERKENDALI – SETIAP ORANG SELAMAT, SETIAP HARI 5 Pilar Transformasi Budaya Keselamatan

Program Kerja HSSE - 2026 Program Kerja HSSE 2026: o HSSE Passport 2.0 o HSSE Risk Mgmt. Leadership Traning (Manager & Executive) o HSSE Leaders Forum o HSSE Jambore o HSSE Menyapa o Coaching & Mentoring Safe Work Practices (SWP) o Management Walkthrough (MWT) o Pencatatan Stop Work Authority (SWA) o Analisis Observasi Keselamatan Kerja o Technical Certification (Pekerjaan Berisiko Tinggi seperti Bekerja di Ketinggian, Bekerja di Ruang Terbatas dan lainnya) o HSSE Campaign (HSSE Communication Site, KOMEX, Learning from Event dan lainnya) o Visible Hazard Mgmt: Safety Signage o Penguatan CSMS o Contractor Forum o Percepatan Analisis Insiden o Pulse Check Tindak Lanjut Rekomendasi Fatality o Program Assurance Internal (PSAIMS, SUPREME, SMP, dan PERCA) o Program Assurance Eksternal (PSAIMS, SUPREME, SMP, dan PROPER) o Verifikasi dan Validasi Security Risk Assessment o Security Risk Control o Major Emergency Exercise o Analisis Emergency Readiness (FERRAT, MERRAT, OSERRAT, SERRAT) o Site Verification Health Performance Indicator o Illness Fatality Prevention Program o Biodiversity Management (Konservasi Mangrove, Penyu Sisik, Terumbu Karang, gajah Sumatera dan lainnya) o Measurement, Reporting, and Verification Data Emisi

STRATEGIC PROGRAM HSSE o VISIBLE HAZARD MANAGEMENT o CSMS o IMPROVEMENT JETTY MANAGEMENT (LFE)

Highlight Kejadian NOA: Pekerja Terjatuh dari Fender Kapal di IT Manggis Waktu kejadian : 30 Juni 2026 pukul 22.55 WITA. Lokasi : Breasting Dolphin Jetty 2 IT Manggis Dampak : 1 fatality dan 1 MTC. Aktivitas pemicu : Proses naik ke kapal melalui area fender, bukan melalui akses personel yang aman. Deskripsi Kejadian Tahun 2016 (SH C&T): Petugas RSD (Bp. Sumartoyo) kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari jembatan plat aluminium saat turun dari kapal MT Dawi Tanker, mengalami cidera retak tulang ekor Tahun 2018 (SH C&T): : Loading Master kehilangan keseimbangan dan salah bertumpu saat turun dari kapal tanker melalui breasting dolphin, menyebabkan cedera lutut Selama 2016 – 2026, terdapat 37 kejadian terkait aktivitas jetty, terminal marine, dan fasilitas pendukung maritim di Pertamina Group Lesson Learned & Poin Utama Kejadian Serupa di Pertamina Group • Insiden fatal di Jetty IT Manggis bukan hanya akibat tindakan tidak aman individu, tetapi menunjukkan kegagalan beberapa barrier kritikal secara bersamaan. • Korban berada di atas fender saat membantu transfer orang/barang ke kapal, lalu kehilangan keseimbangan ketika fender berputar dan pergerakan kapal membentuk celah antara fender dan lambung kapal. • Terdapat indikasi lemahnya kontrol akses ke area operasi, karena personel dapat masuk melewati pos area terbatas tanpa pemeriksaan yang dipersyaratkan.

Rekomendasi Perbaikan Pengelolaan Jetty Pertamina SYSTEM 1. Menetapkan dan memperkuat implementasi Program Penegakan Disiplin terhadap pelanggaran HSSE, ketentuan SSSCL, Fleet Management Manual, dan implementasi access control. 2. Melakukan refreshment/training kepada seluruh kru kapal terutama 4 pimpinan tertinggi di kapal terkait safety leadership dan awareness 3. Memperkuat implementasi budaya Stop Work Authority (SWA) pada seluruh aktivitas operasi, khususnya di area perairan, melalui kebijakan perusahaan, peningkatan kompetensi personel, serta penguatan hazard awareness untuk mendorong intervensi dini terhadap Unsafe Act dan Unsafe Condition. HUMAN SYSTEM HARDWARE 1. Melakukan identifikasi sarana akses personel yang aman dari & ke jetty-kapal serta menetapkan rencana perbaikan permanen atas kondisi sub-standar. 2. Melakukan evaluasi dan menetapkan mitigasi sementara untuk melayani kebutuhan akses personel dari dan ke kapal atas kondisi sub-standard 3. Melakukan kajian teknis terhadap desain dan orientasi jetty untuk memastikan keselamatan operasi, keamanan akses personel (safe means of access), dan integritas fasilitas sesuai good engineering practice. SYSTEM 1. Memperkuat mekanisme pengawasan terhadap implementasi SSSCL, Fleet Management Manual, dan akses keluar masuk area terbatas melalui program audit dan pulse check/sidak secara berkala 2. Menetapkan tata kelola terintegrasi proses naik dan turun kru kapal melalui wilayah terminal dengan menyusun standar teknis, mekanisme perizinan, dan persyaratan HSSE yang berlaku bagi seluruh pihak terkait (Terminal, Marine Operation, pihak kapal dan pihak lainnya) 3. Melakukan tinjauan dan evaluasi risiko pada Fleet Management Manual terkait kebijakan membawa keluarga/Family Carriage ke kapal. 4. Melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan pesiar pada dermaga yang belum memiliki sarana akses aman serta menetapkan kebijakan pemberian izin pesiar.

Fatality untuk Transformasi Jetty yang Aman, Andal, Tertib dan Ramah Lingkungan 1. PROBLEM / ISU 2. INSIGHT 3. ACTION OUTCOME FATALITY & MTC 30 Juni 2026, 22.55 WITA 1 fatality dan 1 MTC di Jetty 2 IT Manggis. PERILAKU MANUSIA Crew kapal dan Masyarakat belum disiplin, serta persepsi risiko yang rendah. LEMAHNYA PENGAWASAN Tidak ada intervensi personel naik turun kapal melalui fender. Selain itu, kendaraan dan personel melintasi tanpa pemeriksaan efektif. RISIKO BERULANG Operasi marine dilakukan di banyak lokasi Pertamina. Tercatat 37 kejadian aktivitas jetty/marine 2016–2026; pola risiko sudah berulang. Risiko muncul bukan dari satu unsafe act, tetapi dari kegagalan beberapa barrier People, Process, Asset, dan Environment. Fender adalah proteksi sandar, bukan fasilitas boarding; penggunaan yang salah menciptakan potensi fatal. Paparan alun, gelombang, dan gerakan kapal memperbesar kemungkinan kehilangan keseimbangan dan terjepit. Kontrol akses dan intervensi tidak dilakukan untuk menghentikan aktivitas yang tidak aman dan/atau melanggar peraturan. Kegagalan beberapa barrier dalam insiden ini menjadi sinyal perlunya transformasi menyeluruh, bukan sekadar corrective action parsial. Transformasi Terintegrasi Berbasis 4 Pilar PEOPLE (Manusia & Budaya) • Disiplin naik turun kapal dengan aman • Patuh terhadap peraturan Perusahaan sesuai ketentuan berlayar • Peningkatan situational awareness • Penguatan pengawasan dan stop work authority PROCESS (Prosedur & Sistem) • Review SOP naik turun kapal • Pemeriksaan akses, izin, dan manifest • Audit, inspeksi, dan monitoring digital ASSET (Fasilitas & Infrastruktur) • Penyediaan fasilitas naik turun kapal yang aman • Pemeriksaan fender, bollard, trestle • Penerangan, CCTV, dan tangga darat • Desain jetty aman dan berstandar internasional ENVIRONMENT (Lingkungan & Keberlanjutan) • Pengendalian kondisi kerja air & sea state • Housekeeping area jetty • Pencegahan pencemaran saat operasi • Ketahanan operasi pada kondisi ekstrem PEOPLE • Persepsi tepat, perilaku tepat • Kompeten, peduli, disiplin • Budaya selamat kuat PROCESS • Prosedur jelas dan standar • Pengendalian risiko efektif • Reliable & konsisten ENVIRONMENT • Area kerja asri & tertata • Laut bersih, pesisir lestari • Operasi berkelanjutan Kegagalan barrier: (1) penggunaan peralatan tidak sesuai fungsi, (2) kontrol akses yang longgar terhadap personel non-esensial, dan (3) lemahnya pengawasan serta keberanian menghentikan pekerjaan saat kondisi tidak aman. Transformasi Pelabuhan MIGAS Pertamina KEY TAKE AWAY ASSET / HARDWARE • Desain jetty dan akses naik turun aman • Asset andal dan integritas baik • Tahan kondisi laut ekstrem KONDISI LAUT Alun, ombak dan arus yang kuat. Azimuth jetty sejajar arah alun meningkatkan Risiko operasional

Arahan & Tindakan Perbaikan Peningkatan Aspek Safety Operasional Jetty

Arahan & Tindakan Perbaikan Peningkatan Aspek Safety Operasional Jetty Dasar: Surat No. 140 /S00000/2026-S0 tentang Peningkatan Aspek Operasional Jetty. Arahan management untuk tindak lanjut perbaikan segera: 1. Meningkatkan pengawasan dan kontrol terhadap seluruh area jetty dan kapal baik oleh loading master, security, petugas Marine, ataupun awak kapal, melakukan pencegahan dan penghentian (SWA) aktivitas berisiko tepat waktu. 2. Melakukan review dan refresh SOP untuk kegiatan pesiar awak kapal terutama untuk area yang memiliki pola ombak dan alun tinggi. 3. Melakukan pengecekan secara berkala keandalan kondisi fender, bolder, trestle, dan tali tambat kapal, melakukan perbaikan dan pembangunan fasilitas untuk keandalan dan keselamatan jangka panjang. 4. Memastikan kembali aktivitas penyandaran/penambatan kapal sudah mematuhi prosedur (termasuk prosedur naik turun kapal, penggunaan APD untuk awak kapal yang akan pesiar). 5. Memastikan fasilitas penunjang di jetty tersedia, memadai dan dalam kondisi yang layak pakai, seperti penerangan, pos security, CCTV, tangga darat dan APAR. 6. Melakukan evaluasi dan menjadikan insiden sebagai pembelajaran berharga (learning from event) dan melakukan perbaikan cepat dan tepat (immediate corrective action) sehingga kejadian sejenis tidak terulang.

Terima Kasih