Penyusutan Aset Tetap ClickAssset Bahan Ajar

PENYUSUTAN ASET TETAP KETENTUAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK) METODE GARIS LURUS (STRAIGHT-LINE METHOD) A. Konsep Dasar Metode Garis Lurus Metode Garis Lurus mengasumsikan bahwa aset tetap memberikan kontribusi yang merata dan konstan selama masa manfaatnya. Oleh karena itu, beban penyusutan dialokasikan dalam jumlah yang sama pada setiap periode akuntansi. B. Formula/Rumus Untuk menghitung beban depresiasi atau penyusutan per tahun, digunakan rumus berikut: Depresiasi = (Harga Perolehan - Estimasi Nilai Sisa) Estimasi Masa Manfaat Keterangan: ● Harga Perolehan: Total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset hingga siap digunakan ● Estimasi Nilai Sisa: Perkiraan nilai jual atau nilai sisa aset jika masa manfaatnya nanti telah habis ● Estimasi Masa Manfaat: Jangka waktu perkiraan penggunaan aset (dalam satuan tahun) C. Ilustrasi Kasus dan Penyelesaian PT Sinergi Muda baru saja membeli sebuah kendaraan operasional untuk mendukung mobilitas tim di lapangan. Harga perolehan (HP) kendaraan tersebut adalah Rp100 juta. Berdasarkan estimasi dari bagian teknis, kendaraan ini memiliki masa manfaat ekonomis selama 5 tahun. Setelah melewati masa 5 tahun penggunaan dan masa manfaatnya habis, kendaraan ini diperkirakan masih memiliki nilai sisa (nilai residu/NS) sebesar Rp10 juta saat dijual kembali. Jika kendaraan tersebut disusutkan menggunakan metode garis lurus, maka: Depresiasi = (Rp 100 juta - Rp 10 juta) = Rp 18 juta/Tahun 5 Tahun Tabel Penyusutan Garis Lurus (SAK): (dalam ribuan rupiah)

Tahun Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku Akhir 0 - - 100.000 1 18.000 18.000 82.000 2 18.000 36.000 64.000 3 18.000 54.000 46.000 4 18.000 72.000 28.000 5 18.000 90.000 10.000 Jurnal: (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/25 Beban Penyusutan Kendaraan 18.000 Akumulasi Penyusutan Kendaraan 18.000 PENYUSUTAN ASET TETAP

KETENTUAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK) METODE SALDO MENURUN (DECLINING BALANCE METHOD) A. Konsep Dasar Metode Saldo Menurun Metode saldo menurun (declining balance method) adalah metode penyusutan yang membebankan biaya penyusutan lebih besar pada tahun-tahun awal masa manfaat aset dan semakin kecil pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini terjadi karena tarif penyusutan tetap diterapkan pada nilai buku aset yang terus menurun pada setiap periode. Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Indonesia (PSAK 16: Aset Tetap), metode depresiasi yang diterapkan seharusnya mencerminkan cara entitas menggunakan manfaat ekonomi dari aset tersebut. Metode saldo menurun digunakan untuk aset yang manfaat ekonominya lebih banyak digunakan pada awal masa pemakaian atau untuk aset yang produktivitasnya menurun seiring waktu. B. Formula/Rumus a. Menentukan Tarif Penyusutan Tarif saldo menurun ganda (Double Declining Balance): b. Menghitung Beban Penyusutan c. Menghitung Akumulasi Penyusutan d. Menghitung Nilai Buku C. Ilustrasi Kasus dan Penyelesaian PT ABC membeli mesin pada 1 Januari 2021 dengan data berikut: ● Harga perolehan: Rp40 juta ● Nilai residu: Rp4 juta ● Umur ekonomis: 5 tahun ● Metode: Saldo menurun ganda Tarif Penyusutan Karena menggunakan saldo menurun ganda:

Tabel Penyusutan Metode Saldo Menurun (dalam ribuan rupiah) Tahun Nilai Buku Awal Perhitungan Beban Penyusutan Beban Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku Akhir 2021 40.000 40.000 x 40% 16.000 16.000 24.000 2022 24.000 24.000 x 40% 9.600 25.600 14.400 2023 14.400 14.400 x 40% 5.760 31.360 8.640 2024 8.640 8.640 x 40% 3.456 34.816 5.184 2025 4.000 1.184 36.000 4.000 Pada tahun terakhir, penyusutan dibatasi sebesar Rp1.184.000 agar nilai buku akhir sama dengan nilai residu sebesar Rp4.000.000. ● Nilai awal buku (tahun pertama) : senilai harga perolehan atau harga beli ● Perhitungan Beban penyusutan : nilai awal buku x presentase penyusutan (tarif penyusutan = [100% dibagi umur manfaat] x 2) ● Beban penyusutan : hasil perhitungan beban penyusutan ● Akumulasi penyusutan : penjumlahan akumulasi dari tahun ke tahun ● Nilai buku akhir : nilai buku awal – beban penyusutan ● Nilai buku awal tahun berikutnya merupakan nilai buku akhir tahun sebelumnya Jurnal: Menurut PSAK 16 Aset Tetap, beban penyusutan diakui pada laba rugi dan dikreditkan ke akun akumulasi penyusutan. Tahun 2021 (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/21 Beban Penyusutan Mesin 16.000

Akumulasi Penyusutan Mesin 16.000 Tahun 2022 (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/22 Beban Penyusutan Mesin 9.600 Akumulasi Penyusutan Mesin 9.600 Tahun 2023 (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/23 Beban Penyusutan Mesin 5.760 Akumulasi Penyusutan Mesin 5.760 Tahun 2024 (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/24 Beban Penyusutan Mesin 3.456 Akumulasi Penyusutan Mesin 3.456 Tahun 2024 (dalam ribuan rupiah)

Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/25 Beban Penyusutan Mesin 1.184 Akumulasi Penyusutan Mesin 1.184 Laporan Posisi Keuangan (dalam ribuan rupiah) Keterangan Jumlah Harga Perolehan Mesin 40.000 Akumulasi Penyusutan Mesin (36.000) Nilai Buku Mesin 4.000

PENYUSUTAN ASET TETAP KETENTUAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK) METODE JUMLAH ANGKA TAHUN (SUM OF THE YEAR DIGIT) A. Konsep Dasar Metode Jumlah Angka Tahun Dalam metode ini, besarnya penyusutan setiap tahun selalu menurun. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa semakin tua suatu aktiva tetap, semakin kecil hasilnya, sehingga penyusutannya pun harus semakin kecil. B. Formula/Rumus Untuk menentukan besarnya jumlah angka tahun dapat juga digunakan rumus berikut: Jumlah angka tahun = 𝑆𝑖𝑠𝑎 𝑀𝑎𝑠𝑎 𝑀𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 𝑛(𝑛+1) 2 x (Harga Perolehan - Nilai Sisa) Keterangan: • Harga Perolehan: Total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset hingga siap digunakan • Estimasi Nilai Sisa: Perkiraan nilai jual atau nilai sisa aset jika masa manfaatnya nanti telah habis • Masa Manfaat (n): Periode waktu yang diperkirakan selama aset dapat digunakan untuk menghasilkan manfaat ekonomis, biasanya dinyatakan dalam tahun. • Sisa Masa Manfaat: Jumlah tahun penggunaan aset yang masih tersisa pada periode tertentu dan digunakan sebagai pembilang dalam perhitungan penyusutan. C. Ilustrasi Kasus dan Penyelesaian Perusahaan pada tahun 2023 membeli sebuah gedung seharga Rp 350.000.000 memiliki masa manfaat 5 tahun dengan nilai sisa Rp 50.000.000. Hitunglah besarnya penyusutan per tahun sampai dengan akhir tahun ke-5 dan buatlah tabel penyusutannya. • Harga Perolehan: Rp350 juta • Nilai Sisa: Rp50 juta • Masa Manfaat (n) = 5 • Jumlah Angka Tahun: 5(5+1) 2 = 15 Penyusutan per tahun: 𝑆𝑖𝑠𝑎 𝑀𝑎𝑠𝑎 𝑀𝑎𝑛𝑓𝑎𝑎𝑡 5(5+1) 2 x (Rp 350 juta – Rp 50 juta)

Tahun Ke-1 = 5 15 x Rp300 juta = Rp100 juta Tahun Ke-2 = 4 15 x Rp300 juta = Rp80 juta Tahun Ke-3 = 3 15 x Rp300 juta = Rp60 juta Tahun Ke-4 = 2 15 x Rp300 juta = Rp40 juta Tahun Ke-5 = 1 15 x Rp300 juta = Rp20 juta Setelah tarif penyusutan sudah diketahui, kemudian susun tabel penyusutan pertahunnya: (dalam ribuan rupiah) Tahun Unit Produksi Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku 350.000 2023 5/15 100.000 100.000 250.000 2024 5/15 80.000 180.000 170.000 2025 5/15 60.000 240.000 110.000 2026 5/15 40.000 280.000 70.000 2027 5/15 20.000 300.000 50.000 Jurnal Penyusutan Tahun 2023: (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/23 Beban Penyusutan Gedung 100.000 Akumulasi Penyusutan Gedung 100.000

PENYUSUTAN ASET TETAP KETENTUAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK) METODE SATUAN JAM KERJA (SERVICE HOURS METHOD) A. Konsep Dasar Metode Satuan Jam Kerja Metode ini didasarkan pada anggapan bahwa aktiva (terutama mesin) akan lebih cepat rusak bila digunakan sepenuhnya (full time) dibandingkan dengan penggunaan yang tidak sepenuhnya (part time). Dengan cara ini, penyusutan dihitung berdasarkan satuan jam jasa. Beban penyusutan akan sangat bergantung pada jam layanan yang digunakan. Besarnya penyusutan dihitung sebagai berikut: B. Formula/Rumus Penyusutan/jam = Penyusutan/periode = Jumlah jam/periode x penyusutan/jam Keterangan: ● Harga Perolehan: Total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset hingga siap digunakan ● Estimasi Nilai Sisa: Perkiraan nilai jual atau nilai sisa aset jika masa manfaatnya nanti telah habis ● Taksiran Jam Jasa: Karena beban penyusutan dasarnya adalah jumlah jam yang digunakan, metode ini paling tepat untuk kendaraan. Dengan anggapan bahwa kendaraan lebih banyak aus karena dipakai dibandingkan karena usianya. C. Ilustrasi Kasus dan Penyelesaian Di bawah ini adalah contoh perhitungan biaya penyusutan dengan menggunakan metode unit produksi: Sebuah perusahaan membeli mesin pemotong bahan seharga Rp. 52.500.000, memiliki nilai sisa Rp. 4.200.000 dan masa manfaat 9000 jam. ● Nilai Aset: Rp52.5 juta ● Nilai Sisa: Rp4.2 juta ● Masa Manfaat: 9.000 jam

Diperkirakan mesin tersebut bisa berproduksi dan menghasilkan jumlah jam sebagai berikut: Tahun Ke-1 = 1.500 jam Tahun Ke-2 = 1.200 jam Tahun Ke-3 = 1.500 jam Tahun Ke-4 = 2.000 jam Tahun Ke-5 = 2.800 jam Pertama hitung taksiran jumlah jam beroperasi: Tahun Ke-1 = 1.500 jam Tahun Ke-2 = 1.200 jam Tahun Ke-3 = 1.500 jam Tahun Ke-4 = 2.000 jam Tahun Ke-5 = 2.800 jam (+) Total = 9.000 jam Tarif Penyusutan per jam = = 5.366 per jam Setelah tarif penyusutan sudah diketahui, kemudian susun tabel penyusutan pertahunnya: (dalam ribuan rupiah) Tahun Unit Produksi Tarif Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku 52.500 2020 1.500 5.366 8.049 8.049 44.451 2021 1.200 5.366 6.439,2 14.488,2 38.011,8 2022 1.500 5.366 8.049 22.537,2 29.962,8 2023 2.000 5.366 10.732 33.269,2 19.230,8 2024 2.800 5.366 15.045,8 48.315 4.185

Jurnal Penyusutan Tahun 2020: (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/20 Beban Penyusutan Mesin 8.049 Akumulasi Penyusutan Mesin 8.049

PENYUSUTAN ASET TETAP KETENTUAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN (SAK) METODE SATUAN HASIL PRODUKSI (PRODUCTIVE OUTPUT METHOD) A. Konsep Dasar Metode Satuan Hasil Produksi Dalam metode ini umur ekonomis aktiva ditaksir dalam satuan jumlah unit hasil produksi, sehingga penyusutan tiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi hasil produksi. B. Formula/Rumus Untuk menghitung beban depresiasi atau penyusutan per tahun menggunakan metode penyusutan per unit dihitung sebagai berikut: Penyusutan/unit = Penyusutan/periode = Jumlah produksi/periode x Penyusutan/unit Keterangan: ● Harga Perolehan: Total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset hingga siap digunakan ● Estimasi Nilai Sisa: Perkiraan nilai jual atau nilai sisa aset jika masa manfaatnya nanti telah habis ● Taksiran Hasil Produksi: Jumlah total unit produksi yang diperkirakan dapat dihasilkan oleh aset selama masa manfaatnya. C. Ilustrasi Kasus dan Penyelesaian Sebuah perusahaan membeli mesin pabrik dengan harga perolehan senilai Rp125 juta yang memiliki nilai sisa Rp5.2 juta dan diprediksi memiliki masa manfaat hingga 5 tahun ke depan. ● Nilai Aset: Rp125 juta ● Nilai Sisa: Rp5 juta ● Masa Manfaat: 5 tahun Diperkirakan mesin tersebut bisa berproduksi dan menghasilkan jumlah unit sebagai berikut:

Tahun Ke-1 = 15.000 unit Tahun Ke-2 = 13.500 unit Tahun Ke-3 = 12.000 unit Tahun Ke-4 = 11.500 unit Tahun Ke-5 = 8.000 unit Pertama hitung taksiran jumlahg produksi sebagai berikut: Tahun Ke-1 = 15.000 unit Tahun Ke-2 = 13.500 unit Tahun Ke-3 = 12.000 unit Tahun Ke-4 = 11.500 unit Tahun Ke-5 = 8.000 unit (+) Total= 60.000 unit Tarif Penyusutan per unit = = 2.000 per unit Setelah tarif penyusutan sudah diketahui, kemudian susun tabel penyusutan pertahunnya: (dalam ribuan rupiah) Tahun Unit Produksi Tarif Penyusutan Akumulasi Penyusutan Nilai Buku 125.000 2020 15.000 2.000 30.000 30.000 95.000 2021 13.500 2.000 27.000 57.000 68.000 2022 12.000 2.000 24.000 81.000 44.000 2023 11.500 2.000 23.000 104.000 21.000 2024 8.000 2.000 16.000 120.000 5.000

Jurnal Penyusutan Tahun 2020: (dalam ribuan rupiah) Tanggal Nama Akun Ref Debit Kredit 31/12/20 Beban Penyusutan Mesin 30.000 Akumulasi Penyusutan Mesin 30.000 Referensi Direktorat Jenderal Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri. (n.d.). Modul akuntansi pemerintah daerah berbasis akrual: Akuntansi penyusutan aset tetap. Sukmanah, N., & Nurhayati, Y. (2023). Penerapan metode penyusutan aktiva tetap pada Dinas Pertanian Kabupaten Garut. JAMER: Jurnal Ilmu-Ilmu Akuntansi Merdeka, 4(1).