1
ii Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga e-book pembelajaran berbasis Model PBMP (Pembelajaran Berbasis Masalah dan Proyek) pada mata kuliah Farmakoterapi Infeksi ini dapat disusun dan diselesaikan dengan baik. E-book ini dikembangkan sebagai bahan ajar digital yang mendukung pembelajaran aktif dan berpusat pada mahasiswa (student-centered learning) melalui analisis kasus klinis, pemecahan masalah, serta penyelesaian proyek pembelajaran yang relevan dengan praktik kefarmasian. Materi yang disajikan dalam e-book ini meliputi ISPA, infeksi saluran kemih (ISK) dan sepsis, infeksi menular seksual (IMS), dan tuberkulosis (TBC), Setiap pertemuan dalam e-book ini dilengkapi dengan tujuan pembelajaran, kasus klinis, aktivitas pembelajaran mahasiswa sesuai sintaks PBMP, proyek atau produk pembelajaran, kuis untuk mengukur pemahaman konsep mahasiswa, angket sikap ilmiah dan juga penyelesaian kasus untuk menilai keterampilan KIE. Melalui komponen-komponen tersebut, mahasiswa diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, serta mengaitkan konsep yang dipelajari dengan permasalahan yang ditemukan dalam praktik kefarmasian. E-book ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam memahami konsep farmakoterapi infeksi, menganalisis kasus klinis, mengambil keputusan terapi secara rasional, mengembangkan keterampilan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), serta menumbuhkan sikap ilmiah dalam menyelesaikan permasalahan kefarmasian. Penulis menyadari bahwa e-book ini masih memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan e-book ini di masa mendatang. Semoga e-book ini dapat memberikan manfaat bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga kesehatan dalam mendukung proses pembelajaran farmasi klinis yang lebih aktif, aplikatif, dan bermakna. Penulis KATA PENGANTAR
iii DAFTAR ISI COVER......................................................................................................................... i KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii PETUNJUK PENGGUNAAN E-BOOK ......................................................................... iv PETA KONSEP ............................................................................................................ v BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. vi A. Deskripsi E-book Berbasis Model PBMP ......................................................... vi B. Kemampuan dan Kinerja yang Diharapkan Setelah Mempelajari E-book ... vii C. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) ............................................... vii D. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK)................................ viii E. Tujuan Akhir Pembelajaran ......................................................................... viii F. Tahapan Model PBMP .................................................................................... ix BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 1 A. KEGIATAN BELAJAR 1 ..................................................................................... 1 B. KEGIATAN BELAJAR 2.................................................................................... 10 C. KEGIATAN BELAJAR 3 ................................................................................... 20 D. KEGIATAN BELAJAR 4 .................................................................................. 29 BAB III EVALUASI AKHIR .......................................................................................... 38 A. TES PEMAHAMAN KONSEP ............................................................................38 B. SIKAP ILMIAH ................................................................................................ 43 C. KETERAMPILAN KIE ...................................................................................... 45 GLOSARIUM ............................................................................................................. 46 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 47
iv PETUNJUK PENGGUNAAN E-BOOK PETUNJUK DOSEN 1. Gunakan e-book sebagai panduan pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah dan proyek (PBMP). 2. Fasilitasi mahasiswa dalam melakukan diskusi, analisis kasus, dan penyelesaian proyek pembelajaran. 3. Bimbing mahasiswa dalam mencari, memilih, dan menggunakan sumber informasi ilmiah yang relevan untuk mendukung penyelesaian kasus dan proyek. 4. Berikan umpan balik terhadap hasil diskusi, tugas, proyek dan presentasi mahasiswa. 5. Lakukan evaluasi pembelajaran melalui refleksi, kuis, serta penilaian terhadap tugas dan proyek yang dihasilkan mahasiswa. PETUNJUK MAHASISWA 1. Bacalah tujuan pembelajaran pada setiap pertemuan sebelum mempelajari materi. 2. Amati dan analisis kasus klinis yang disajikan sebagai dasar pembelajaran. 3. Ikuti setiap tahapan pembelajaran berbasis masalah dan proyek (PBMP) secara aktif. 4. Pelajari materi dan sumber belajar yang tersedia untuk mendukung penyelesaian kasus dan proyek. 5. Kerjakan seluruh aktivitas pembelajaran dan lembar kegiatan mahasiswa (LKM) sesuai dengan petunjuk yang diberikan. 6. Susun dan presentasikan proyek atau produk pembelajaran sesuai topik yang dipelajari. 7. Kerjakan kuis pada setiap pertemuan untuk mengukur pemahaman terhadap materi. 8. Lakukan refleksi pembelajaran dan pelajari rangkuman materi sebagai penguatan konsep.
v PETA KONSEP FARMAKOTERAPI INFEKSI MAHASISWA FARMASI TBC terdiri atas mempelajari ISPA ISK SALURAN KEMIH PENYAKIT INFEKSI Terapi Rasional dikelompokkan berdasarkan bertujuan untuk TBC menimbulkan Kesembuhan dapat berkembang menjadi diterapi dengan ORGAN REPRODUKSI SALURAN NAPAS terdiri atas terdiri atas IMS Batuk, Demam, Sesak Nyeri BAK Keputihan, Luka Kelamin Batuk Kronik Batuk lama Pencengahan & Terapi Tepat terdiri atas dapat berkembang menjadi KULIT/PARU menimbulkan menimbulkan menimbulkan SEPSIS
vi BAB I PENDAHULUAN A. Deskripsi E-book Berbasis Model PBMP Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga e-book pembelajaran berbasis Model PBMP (Pembelajaran Berbasis Masalah dan Proyek) pada mata kuliah Farmakoterapi Infeksi ini dapat disusun dengan baik. E-book ini dikembangkan sebagai bahan ajar digital untuk mendukung pembelajaran berbasis student-centered learning melalui kegiatan analisis kasus klinis, pemecahan masalah, dan proyek pembelajaran yang relevan dengan praktik kefarmasian. E-book ini memuat materi ISPA, infeksi saluran kemih (ISK), sepsis, infeksi menular seksual (IMS), tuberkulosis (TBC), serta TB MDR. Setiap pertemuan dalam e-book ini dilengkapi dengan tujuan pembelajaran, kasus klinis, aktivitas mahasiswa sesuai sintaks PBMP, proyek pembelajaran, kuis pemahaman konsep, angket sikap ilmiah, serta tugas penyelesaian kasus untuk menilai keterampilan KIE. Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa memahami konsep farmakoterapi infeksi, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, serta mengaitkan teori dengan permasalahan nyata dalam praktik kefarmasian. Selain itu, e-book ini juga diharapkan dapat mendukung mahasiswa dalam pengambilan keputusan terapi yang rasional serta mengembangkan keterampilan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) secara lebih terarah dan aplikatif. Penulis menyadari bahwa e-book ini masih memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan di masa mendatang. Semoga e-book ini dapat memberikan manfaat bagi dosen, mahasiswa, dan tenaga kesehatan dalam mendukung pembelajaran farmakoterapi infeksi yang lebih aktif, aplikatif, dan bermakna.
vii B. Kemampuan dan Kinerja yang Diharapkan Setelah Mempelajari E-book Setelah mempelajari e-book Farmakoterapi Infeksi berbasis model PBMP, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan dan kinerja sebagai berikut. Pemahaman Konsep Sikap Ilmiah Keterampilan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Menginterpretasikan konsep dasar, patofisiologi, faktor risiko, manifestasi klinis, pencegahan, serta prinsip farmakoterapi pada penyakit infeksi. Menunjukkan tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, proyek, dan aktivitas pembelajaran. Menjelaskan informasi obat dan edukasi kesehatan kepada pasien atau masyarakat secara tepat dan mudah dipahami. Mengklasifikasikan penyakit infeksi berdasarkan etiologi, faktor risiko, dan karakteristik klinis. Menunjukkan sikap berpikir kritis (skeptis) dalam menganalisis kasus dan mengevaluasi informasi ilmiah. Menunjukkan sikap empati, profesional, dan etis dalam berkomunikasi dengan pasien atau masyarakat. Membandingkan berbagai alternatif terapi berdasarkan efektivitas, keamanan, dan rasionalitas penggunaan obat. Menunjukkan keterbukaan terhadap bukti ilmiah dalam pengambilan keputusan terapi. Melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada pasien atau masyarakat secara jelas, tepat, dan sesuai kebutuhan. Menjelaskan hubungan antara patofisiologi penyakit, mekanisme kerja obat, serta pemilihan terapi rasional berdasarkan kasus klinis. Menunjukkan objektivitas dalam menganalisis data, menarik kesimpulan, dan menyusun solusi masalah. Menerapkan keterampilan KIE dalam konseling obat dan penyelesaian kasus klinis pada pembelajaran berbasis PBMP. C. Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) CPMK-1: Menganalisis konsep penyakit infeksi serta menentukan terapi rasional berdasarkan data kasus dan sumber ilmiah. CPMK-2: Menunjukkan sikap ilmiah (tanggung jawab, kritis, objektif, dan berbasis bukti) dalam proses pemecahan masalah farmakoterapi infeksi. CPMK-3: Melaksanakan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) terkait penyakit infeksi secara tepat, etis, dan bertanggung jawab kepada pasien atau masyarakat.
viii D. Sub-Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (Sub-CPMK) Sub-CPMK 1 Mahasiswa mampu menganalisis ISPA serta menentukan terapi farmakologis yang rasional. Sub-CPMK 2 Mahasiswa mampu menganalisis ISK dan sepsis serta menentukan terapi farmakologis yang rasional. Sub-CPMK 3 Mahasiswa mampu menganalisis IMS berdasarkan etiologi, faktor risiko, dan pencegahan. Sub-CPMK 4 Mahasiswa mampu menganalisis TBC serta menentukan terapi farmakologis yang rasional. E. Tujuan Akhir Pembelajaran Setelah mempelajari seluruh materi dalam e-book ini, mahasiswa diharapkan mampu memahami konsep farmakoterapi penyakit infeksi, menunjukkan sikap ilmiah dalam menganalisis dan menyelesaikan kasus klinis, serta menerapkan keterampilan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) untuk mendukung penggunaan obat yang tepat, aman, efektif, dan rasional.
ix F. Tahapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan Proyek (PBMP) Tahapan Pembelajaran Model PBMP Mahasiswa mempelajari kasus, fenomena penyakit, video pembelajaran, dan informasi pendukung sebagai dasar pembelajaran 1. Orientasi Masalah dan Konteks Proyek 2. Identifikasi Masalah dan Perencanan Proyek Mahasiswa mengidentifikasi masalah, merumuskan pertanyaan, serta merencanakan penyelesaian kasus dan proyek yang akan dikembangkan. 3. Investigasi informasi dan Pengumpulan Data 4. Pengembangan dan Implementasi Proyek 5. Presentasi dan Uji Hasil Proyek 6. Refleksi dan Evaluasi Pembelajaran Mahasiswa mencari, menyeleksi, dan menganalisis informasi dari jurnal, guideline, dan sumber ilmiah lainnya sebagai dasar pengambilan keputusan. Mahasiswa menyusun solusi kasus dan mengembangkan produk atau media edukasi kesehatan sesuai topik pembelajaran Mahasiswa melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran dan mengevaluasi pemahaman yang telah diperoleh Mahasiswa mempresentasikan hasil analisis dan proyek yang telah dibuat untuk memperoleh masukan, diskusi, dan evaluasi.
1 TUJUAN PEMBELAJARAN 1 Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Menjelaskan konsep dasar Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), klasifikasi ISPA atas dan ISPA bawah, faktor risiko, serta penyebabnya. 2. Menganalisis gejala klinis, penyebab, dan permasalahan penggunaan obat pada kasus sederhana ISPA. 3. Menerapkan prinsip penggunaan antibiotika secara rasional untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotika pada kasus ISPA. 4. Menentukan terapi farmakologis dan nonfarmakologis yang sesuai berdasarkan kondisi pasien pada kasus sederhana ISPA. 5. Mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotika dan terapi pada kasus ISPA berdasarkan prinsip penggunaan obat rasional dan bukti ilmiah. 6. Memberikan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai penggunaan obat, kepatuhan terapi, serta pencegahan penularan ISPA secara tepat. 7. Mengembangkan media edukasi kesehatan tentang ISPA dan penggunaan antibiotika rasional berdasarkan sumber ilmiah yang valid. 8. Menunjukkan sikap kritis, objektif, bertanggung jawab, dan terbuka terhadap bukti ilmiah dalam menganalisis kasus ISPA serta penggunaan obat yang rasional. INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) DAN TERAPI RASIONAL KEGIATAN BELAJAR 1
2 1. ORIENTASI MASALAH DAN KONTEKS PROYEK PERTANYAAN PEMANTIK KASUS 1 PERTANYAAN PEMANTIK KASUS 2 2. IDENTIFIKASI MASALAH DAN PERENCANAAN PROYEK Berdasarkan kedua kasus di atas: KASUS 1 Seorang mahasiswa datang ke apotek dengan keluhan pilek, bersin, hidung tersumbat, dan batuk ringan sejak dua hari yang lalu. Pasien meminta antibiotika karena ingin cepat sembuh. 1. Apakah antibiotika diperlukan? Jawab: ....................................................................................... 2. Apa kemungkinan penyakit yang dialami pasien? Jawab: ....................................................................................... 3. Apa edukasi yang perlu diberikan oleh apoteker? Jawab: ....................................................................................... KASUS 2 Seorang pasien menghentikan antibiotika sebelum waktunya karena merasa gejalanya sudah membaik. 1. Apa masalah terkait penggunaan obat pada kasus tersebut? Jawab: ........................................................................................ 2. Apa risiko yang mungkin terjadi? Jawab: ........................................................................................ 3. Bagaimana peran apoteker dalam kasus ini? Jawab: ........................................................................................ 1. Apa masalah utama penggunaan antibiotika pada kedua kasus? Jawab: ………………………………………………………………………………………………………………………… 2. Apa dampak jika penggunaan antibiotika yang tidak tepat terus terjadi? Jawab: ………………………………………………………………………………………………………………………… 3. Apa tindakan/intervensi apoteker untuk mengatasi masalah tersebut? Jawab: ………………………………………………………………………………………………………………………… 4. Bagaimana cara apoteker memberikan edukasi kepada pasien? Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………
3 3. INVESTIGASI INFORMASI DAN PENGUMPULAN DATA (MATERI INTI) INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) SEKILAS INFO “Perjalanan Infeksi di Jalur Pernapasan Manusia” A. DEFINISI ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan dari hidung hingga paru-paru dan muncul secara tiba-tiba. Penyebabnya bisa berasal dari virus atau bakteri yang mudah menyebar melalui udara, seperti saat batuk, bersin, atau kontak dengan penderita. Tanda dan gejalanya antara lain batuk, pilek, demam, sakit tenggorokan, dan pada kondisi lebih berat dapat muncul sesak napas. Singkatnya, ISPA sering terlihat seperti “flu biasa”, tetapi tetap perlu diwaspadai karena dapat berkembang menjadi lebih serius jika tidak ditangani dengan tepat. https://www.youtube.com/watch?v=JwD6m7xB5i8 Setiap hari, manusia menghirup ribuan liter udara untuk bertahan hidup. Di dalam udara itu, tidak hanya oksigen yang masuk, tetapi juga berbagai partikel kecil, debu, virus, dan bakteri yang tidak terlihat oleh mata. Tubuh sebenarnya sudah memiliki sistem pertahanan yang sangat canggih di saluran pernapasan: rambut hidung, lendir (mukus), dan sel imun. Namun, ketika jumlah kuman terlalu banyak atau daya tahan tubuh menurun, pertahanan ini bisa ditembus. Saat itulah terjadi ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), yaitu infeksi yang menyerang saluran napas atas maupun bawah dengan durasi penyakit biasanya kurang dari 14 hari. Berita dan Fakta Nyata: Kabut Asap Meningkatkan Kasus ISPA Pada tahun 2019, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau menyebabkan lonjakan kasus ISPA. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat lebih dari 34.000 kasus ISPA hanya dalam periode 1–22 September 2019. Asap kebakaran hutan mengandung partikel halus yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi. Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan mengalami batuk, pilek, sesak napas, hingga ISPA. Pesan penting: Udara yang tercemar tidak hanya mengganggu lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko ISPA, terutama pada anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan. Klik: https://www.antaranews.com/berita/1076396/kasus-ispa-di- riau-34083-penderita-meningkat-akibat-karhutla
4 Mengapa ISPA mudah Terjadi? ISPA mudah terjadi karena kombinasi kuman, daya tahan tubuh, dan lingkungan. Faktor pemicunya antara lain asap rokok, polusi udara, ventilasi buruk, kurang tidur atau stres, serta kebiasaan tidak cuci tangan. Hal-hal sederhana ini bisa membuat tubuh lebih rentan terserang infeksi saluran pernapasan. B. PENYEBAB ISPA ISPA dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, antara lain: a. Virus Virus merupakan penyebab tersering ISPA, di antaranya: 1. Rhinovirus 2. Influenza virus 3. Parainfluenza virus 4. Adenovirus 5. Respiratory Syncytial Virus (RSV) 6. Coronavirus b. Bakteri Beberapa bakteri yang dapat menyebabkan ISPA adalah: 1. Streptococcus pneumoniae 2. Haemophilus influenzae 3. Streptococcus pyogenes 4. Mycoplasma pneumoniae 5. Bordetella pertussis c. Faktor Risiko Faktor yang dapat meningkatkan risiko ISPA meliputi: 1. Paparan asap rokok 2. Polusi udara dan kabut asap 3. Kebersihan lingkungan yang buruk 4. Gizi kurang 5. Daya tahan tubuh rendah 6. Kepadatan hunian 7. Kontak dengan penderita ISPA C. Gejala ISPA Gejala ISPA bervariasi tergantung lokasi infeksi dan tingkat keparahannya. Gejala Umum 1. Batuk 2. Pilek 3. Bersin 4. Hidung tersumbat 5. Sakit tenggorokan 6. Demam 7. Sakit kepala 8. Badan lemas Gejala ISPA Berat 1. Sesak napas 2. Napas cepat 3. Nyeri dada 4. Bibir atau ujung jari kebiruan 5. Penurunan kesadaran D. Klasifikasi ISPA A. ISPA Saluran Pernapasan Atas Infeksi terjadi pada bagian atas saluran pernapasan, seperti: • Rinitis (pilek) • Faringitis • Tonsilitis • Sinusitis B. ISPA Saluran Pernapasan Bawah Infeksi terjadi pada saluran pernapasan bawah, seperti: • Bronkitis • Bronkiolitis • Pneumonia ISPA saluran pernapasan bawah umumnya lebih serius dan berisiko menyebabkan komplikasi. E. ALUR PATOFISIOLOGI ISPA
5 Berikut tabel perbandingan ISPA atas dan ISPA bawah Aspek ISPA Atas ISPA Bawah Definisi Infeksi yang terjadi pada bagian atas saluran pernapasan. Infeksi yang menyerang bagian bawah saluran pernapasan. Lokasi infeksi Hidung, tenggorokan, dan sinus. Bronkus dan paru-paru. Contoh penyakit Common cold, pharyngitis, sinusitis. Bronkitis akut, pneumonia. Penyebab utama Virus (paling sering), sebagian bakteri. Virus atau bakteri; pneumonia sering lebih serius. Gejala utama Pilek, bersin, hidung tersumbat, nyeri tenggorokan, dan nyeri wajah (sinus). Batuk berdahak, sesak napas, nyeri dada, dan demam. Tingkat keparahan Umumnya ringan, tetapi dapat mengganggu aktivitas. Lebih berat dan dapat mengganggu fungsi pernapasan. Contoh khas Common cold → hidung berair dan bersin. Pneumonia → sesak napas dan penurunan kadar oksigen. Terapi umum (farmakologis) Terapi simptomatik, seperti parasetamol, CTM, dan dekongestan. Obat simptomatik ditambah antibiotik (jika penyebabnya bakteri) serta oksigen bila diperlukan. Terapi nonfarmakologis • Istirahat cukup• Minum air putih yang banyak• Menghirup uap hangat• Kompres hangat• Mengonsumsi makanan bergizi • Istirahat cukup• Minum air putih yang banyak• Nutrisi adekuat• Latihan napas sesuai kondisi• Pemantauan tanda sesak napas Peran antibiotik Tidak diperlukan pada infeksi virus (misalnya common cold). Digunakan jika terdapat infeksi bakteri, terutama pada pneumonia. Fakta penting Sering dianggap sebagai "flu biasa" dan dapat sembuh sendiri. Pneumonia dapat berkembang cepat dan berpotensi membahayakan jiwa jika tidak ditangani dengan tepat. Fakta menarik yang jarang diketahui: Virus penyebab ISPA dapat bertahan di permukaan benda (seperti gagang pintu atau meja) selama beberapa jam hingga hari, tergantung jenis virus dan kondisi lingkungan. Lendir yang keluar saat pilek sebenarnya adalah “campuran” antara sel imun mati, virus, dan cairan tubuh.
6 4. PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI PROYEK Mari Analisis Kasus Penggunaan Antibiotika pada ISPA berikut. Kasus Diagnosis Masalah Klinis Risiko Intervensi/Solusi Batuk pilek Common cold Permintaan antibiotik tanpa indikasi Resistensi antibiotik Edukasi: tidak semua ISPA butuh antibiotik, terapi simptomatik Nyeri tenggorokan Faringitis Kemungkinan infeksi bakteri Komplikasi infeksi Antibiotik rasional sesuai indikasi + terapi simptomatik Batuk berdahak Bronkitis akut Penggunaan obat tidak sesuai Perburukan gejala / resistensi Terapi sesuai indikasi + mukolitik/ekspektoran F. Cara Mengatasi ISPA Penatalaksanaan ISPA bergantung pada penyebab dan tingkat keparahan penyakit. A. Terapi Nonfarmakologis 1. Istirahat yang cukup 2. Minum air putih yang banyak 3. Mengonsumsi makanan bergizi 4. Menghindari asap rokok 5. Menggunakan masker saat diperlukan 6. Menjaga kebersihan tangan B. Terapi Farmakologis 1. Antipiretik dan Analgesik Untuk mengatasi demam dan nyeri: 1. Parasetamol 2. Ibuprofen 2. Dekongestan Untuk mengurangi hidung tersumbat: 1. Pseudoefedrin 2. Fenilefrin 3. Ekspektoran dan Mukolitik Untuk membantu mengeluarkan dahak: 1. Guaifenesin 2. Ambroksol 3. Bromheksin 4. Antibiotik Diberikan hanya jika ISPA disebabkan oleh bakteri atau terdapat indikasi klinis yang jelas. Contoh: 1. Amoksisilin 2. Azitromisin 3. Sefalosporin tertentu Penting: Sebagian besar ISPA disebabkan oleh virus sehingga tidak memerlukan antibiotik. https://wpcpublisher.com/jurnal/index.p hp/majalahcendekiamengabdi/article/vie w/399 Mari lakukan Kebiasaan cuci tangan terbukti secara signifikan menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan. Pencegahan ISPA cukup sederhana: cuci tangan, pakai masker saat sakit, hindari asap rokok, cukup tidur, dan terapkan etika batuk. Antibiotik Antibiotik hanya bekerja untuk bakteri, bukan virus. Karena itu, tidak semua ISPA memerlukan antibiotik, terutama infeksi ringan seperti pilek yang umumnya disebabkan virus. Penggunaan antibiotik harus tepat (indikasi, obat, dosis, durasi). Jika salah, dapat menyebabkan resistensi bakteri, terapi tidak efektif, dan efek samping meningkat. Apoteker berperan penting dalam edukasi pasien, memastikan penggunaan antibiotik yang rasional, mencegah kesalahan obat, serta memantau efek samping. Pada banyak kasus ISPA ringan, apoteker sering menjadi tenaga kesehatan pertama yang ditemui pasien.
7 DISKUSI SINGKAT Berdasarkan tabel analisis kasus penggunaan antibiotika pada ISPA di atas, jawablah pertanyaan berikut secara kelompok. LKM (LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA) Petunjuk: Kerjakan LKM berikut secara individu pada buku tulis atau lembar kerja terpisah Waktu pengerjaan: ±15 menit 1. Analisislah perbedaan masalah klinis yang terdapat pada masing-masing kasus ISPA di atas. Jawab: ............................................................................................................. 2. Tentukan risiko yang dapat terjadi apabila masalah penggunaan obat pada masing- masing kasus tidak ditangani dengan tepat. Jawab: ............................................................................................................. 3. Evaluasilah ketepatan penggunaan antibiotika pada setiap kasus dan berikan alasan berdasarkan prinsip penggunaan antibiotika rasional. Jawab: ............................................................................................................. 4. Berikan rekomendasi intervensi atau edukasi yang tepat untuk setiap kasus ISPA. Jawab: ............................................................................................................. AKTIVITAS 1 – IDENTIFIKASI KASUS ISPA Lengkapilah tabel berikut berdasarkan kasus yang telah dipelajari. Kasus Diagnosis Penyebab Utama Perlukah Antibiotik? Batuk pilek ........ ........ ........ Nyeri tenggorokan ........ ........ ........ Batuk berdahak ........ ........ ........ AKTIVITAS 2 – PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA RASIONAL Jelaskan mengapa tidak semua kasus ISPA memerlukan antibiotika. Sebutkan kondisi yang memerlukan antibiotika dan kondisi yang tidak memerlukannya. Jawab: ......................................................................................................... AKTIVITAS 3 – PATOFISIOLOGI SINGKAT Jelaskan secara singkat bagaimana infeksi saluran pernapasan dapat menyebabkan gejala seperti batuk, pilek, nyeri tenggorokan, atau produksi dahak berlebih. Jawab: .........................................................................................................
8 5. PRESENTASI DAN UJI HASIL PROYEK MINI PROJECT (TUGAS RUMAH) Pilih salah satu: • infografis ISPA • poster penggunaan antibiotika rasional • poster pencegahan ISPA • konten edukasi kesehatan pernapasan Ketentuan • berbasis evidence-based medicine/guideline • sederhana dan mudah dipahami masyarakat • original (tidak copy-paste) • dapat dibuat manual atau digital Contoh Produk: Poster: "Antibiotika Tidak Selalu Diperlukan pada ISPA" Presentasi Proyek Presentasikan hasil mini project pada pertemuan berikutnya dengan menjelaskan tujuan, isi, dan pesan kesehatan yang disampaikan. Waktu presentasi: ±3–5 menit per kelompok/mahasiswa. AKTIVITAS 4 – PERAN APOTEKER Jelaskan peran apoteker dalam: • memastikan penggunaan antibiotika yang rasional; • mencegah terjadinya resistensi antibiotika; • memberikan edukasi kepada pasien mengenai penggunaan obat ISPA. Jawab: ......................................................................................................... AKTIVITAS 5 – KETERAMPILAN KIE Buatlah contoh pesan edukasi (3–5 kalimat) yang akan disampaikan apoteker kepada pasien yang meminta antibiotika untuk batuk pilek, padahal tidak terdapat indikasi penggunaan antibiotika. Jawab: .........................................................................................................
9 6. REFLEKSI DAN EVALUASI Kerjakan di buku tulis atau di lembar kerja terpisah secara singkat dan jelas. Apa yang kamu pelajari dari pembelajaran ini? https://forms.gle/ZTS67Y12rzvoKyTb6 RANGKUMAN MATERI 1. Apa penyebab utama ISPA? Jawab: .................................................................................................... 2. Mengapa antibiotika tidak selalu diperlukan? Jawab: .................................................................................................... 3. Apa peran apoteker dalam penggunaan antibiotika rasional? Jawab: .................................................................................................... 4. Apa pelajaran penting yang diperoleh hari ini? Jawab: .................................................................................................... 1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) adalah infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan berlangsung kurang dari 14 hari. 2. ISPA dapat disebabkan oleh virus (paling sering) maupun bakteri. 3. ISPA dibagi menjadi ISPA atas (seperti common cold, faringitis, sinusitis) dan ISPA bawah (seperti bronkitis dan pneumonia). 4. Sebagian besar kasus common cold disebabkan oleh virus, sehingga tidak memerlukan antibiotika. 5. Penggunaan antibiotika harus dilakukan secara rasional, yaitu tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat durasi untuk mencegah resistensi. 6. Penggunaan antibiotika yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi antibiotika dan kegagalan terapi di masa depan. 7. Apoteker berperan penting dalam memberikan edukasi, memastikan penggunaan obat yang tepat, serta membantu pasien dalam penggunaan obat secara aman. 8. Pencegahan ISPA dapat dilakukan melalui perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga daya tahan tubuh.
10 TUJUAN PEMBELAJARAN 2 Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Menjelaskan konsep dasar infeksi saluran kemih (ISK) dan sepsis berdasarkan mikroorganisme penyebab. 2. Membedakan karakteristik ISK dan sepsis berdasarkan gejala klinis serta tingkat keparahan infeksi. 3. Menjelaskan proses patofisiologi terjadinya ISK dan perkembangan menuju sepsis. 4. Menganalisis kasus klinis sederhana ISK dan sepsis serta menentukan masalah penggunaan antibiotika yang terjadi. 5. Menganalisis risiko dan dampak penggunaan antibiotika yang tidak rasional pada kasus ISK dan sepsis. 6. Menerapkan prinsip penggunaan antibiotika rasional dalam penentuan terapi pada kasus ISK dan sepsis. 7. Mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotika berdasarkan prinsip terapi rasional pada kasus ISK dan sepsis. 8. Menunjukkan sikap kritis, objektif, bertanggung jawab, dan berbasis bukti ilmiah dalam analisis kasus infeksi serta penggunaan antibiotika rasional. KEGIATAN BELAJAR 2 INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) & SEPSIS
11 1. ORIENTASI MASALAH DAN KONTEKS PROYEK (PEMICU) “Mari amati kasus berikut.” PERTANYAAN PEMANTIK Jawablah pertanyaan dari kasus di atas, kerjakan di buku tulis atau di lembar kerja terpisah secara singkat dan jelas. 2. IDENTIFIKASI MASALAH DAN PERENCANAAN PROYEK Kasus 1: ISK Seorang wanita berusia 30 tahun datang ke apotek dengan keluhan: • nyeri saat BAK • anyang-anyangan • urin tampak keruh Dokter memberikan antibiotika untuk terapi ISK. Namun, pasien menghentikan penggunaan obat setelah merasa membaik. Kasus 2: Sepsis Seorang pria berusia 60 tahun dirawat di IGD dengan keluhan: • demam tinggi • tekanan darah rendah • nadi cepat • penurunan kesadaran Dokter menduga pasien mengalami sepsis akibat infeksi saluran kemih. 1. Berdasarkan pemahaman Anda, jelaskan perbedaan ISK dan sepsis dari segi tingkat keparahan dan kondisi klinis pasien.? Jawab: ..................................................................................................................... 2. Mengapa ISK dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih berat seperti sepsis? Jawab: ..................................................................................................................... 3. Apa dampak penggunaan antibiotika yang tidak sesuai aturan (tidak tepat dosis atau tidak dihabiskan)? Jawab: ..................................................................................................................... Berdasarkan kedua kasus di atas, jawab: 1. Apa masalah utama penggunaan antibiotika pada kasus ISK tersebut? Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………… 2. Apa tanda bahaya pada kasus sepsis yang perlu segera ditangani? Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………… 3. Apa risiko jika antibiotika tidak digunakan sesuai aturan? Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………… 4. Apa peran apoteker dalam mencegah komplikasi ISK menjadi sepsis? Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………
12 3. INVESTIGASI INFORMASI DAN PENGUMPULAN DATA (MATERI INTI A. DEFINISI ISK ISK adalah infeksi yang menyerang “jalur pembuangan urine” tubuh kita, mulai dari uretra hingga ginjal. B. Penyebab ISK Sebagian besar ISK disebabkan oleh bakteri, terutama Escherichia coli (E. coli) yang berasal dari saluran cerna. Bakteri lain yang juga dapat menyebabkan ISK antara lain Klebsiella, Proteus, dan Staphylococcus saprophyticus. Infeksi terjadi ketika bakteri masuk ke uretra dan naik ke saluran kemih. C. Faktor Risiko ISK Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko ISK antara lain: 1) Jenis kelamin perempuan (uretra lebih pendek) 2) Kebiasaan menahan buang air kecil 3) Kurang menjaga kebersihan area genital 4) Aktivitas seksual 5) Penggunaan kateter urin 6) Daya tahan tubuh renda Tahukah Kamu? Infeksi Saluran Kemih (ISK) masih cukup sering terjadi di Indonesia, dengan sekitar 180.000 kasus baru setiap tahun. Wanita lebih berisiko mengalami ISK karena saluran kemih yang lebih pendek sehingga bakteri lebih mudah masuk ke kandung kemih. Kebiasaan kurang minum air putih dan menahan buang air kecil dapat meningkatkan risiko ISK. Gejala yang sering muncul adalah nyeri saat buang air kecil, anyang-anyangan, dan sering berkemih. Fakta menarik: Banyak kasus ISK dapat dicegah dengan menjaga kebersihan diri dan minum air putih yang cukup setiap hari. INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) https://www.youtube.com/watch?v= R2xPNdHkrzo Beberapa kebiasaan sehari-hari yang dapat meningkatkan risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK) antara lain: 1. Kurang minum air putih 2. Sering menahan buang air kecil 3. Kurang menjaga kebersihan area genital 4. Menggunakan pakaian dalam yang lembap atau terlalu ketat Fakta menarik: Kebiasaan sederhana seperti cukup minum air putih dan tidak menahan buang air kecil dapat membantu mencegah ISK.
13 D. Tanda dan Gejala ISK Gejala ISK dapat bervariasi tergantung lokasi infeksi: 1) Nyeri atau panas saat berkemih 2) Sering buang air kecil 3) Urine keruh atau berbau tidak sedap 4) Nyeri di perut bagian bawah 5) Pada kasus berat: demam dan nyeri pinggang (indikasi infeksi ginjal)E. Klasifikasi ISK ISK dibagi menjadi: 1) ISK bawah: uretra dan kandung kemih (lebih sering dan ringan) 2) ISK atas: ginjal (lebih berat, misalnya pielonefritis) G. Pencegahan ISK 1) Menjaga kebersihan area genital 2) Tidak menahan BAK 3) Minum cukup air 4) Buang air kecil setelah hubungan seksual 5) Menghindari penggunaan antibiotik sembarangan https://www.kemkes.go.id/id/pedoman -nasional-pelayanan-klinis-tata-laksana- infeksi-saluran-kemih F. Penatalaksanaan ISK Terapi ISK tergantung tingkat keparahan: 1) Antibiotika (misalnya nitrofurantoin, siprofloksasin, amoksisilin sesuai indikasi) 2) Analgesik untuk mengurangi nyeri 3) Banyak minum air putih 4) Edukasi kepatuhan obat Antibiotik harus digunakan secara rasional untuk mencegah resistensi. https://comphi.sinergis.org/comphi/artic le/view/160 ALUR PATOSIOLOGI ISK https://www.youtube.com/watch?v=eqeSZ- oMsak INFO Tokoh penting (ilmuwan mikrobiologi): Theodor Escherich Beliau adalah ilmuwan yang menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli), salah satu penyebab tersering ISK. Nama “E. coli” diambil dari namanya sebagai penghargaan atas penemuan tersebut.
14 SEPSIS A. DEFINISI SEPSIS Sepsis adalah kondisi medis gawat darurat yang terjadi ketika tubuh bereaksi secara ekstrem terhadap infeksi. Alih-alih hanya melawan kuman, sistem imun justru menyebabkan peradangan luas di seluruh tubuh yang dapat merusak organ. Jika tidak segera ditangani, sepsis dapat berkembang menjadi syok sepsis dan berujung pada kegagalan organ hingga kematian. https://www.youtube.com/watch?v=rf2l JS8yfuo B. Penyebab Sepsis Sepsis dapat dipicu oleh berbagai infeksi, seperti: 1) Infeksi paru (pneumonia) 2) Infeksi saluran kemih (ISK) 3) Infeksi luka atau kulit 4) Infeksi perut (misalnya apendisitis atau peritonitis) 5) Infeksi aliran darah (bakteremia) Kuman penyebab paling sering: 1) Bakteri (paling umum) 2) Virus 3) Jamur (lebih jarang, biasanya pada pasien imun lemah) C. Tanda dan Gejala Sepsis Gejala dapat muncul cepat dan memburuk dalam hitungan jam: Gejala awal: 1) Demam tinggi atau justru suhu tubuh rendah 2) Menggigil 3) Detak jantung cepat 4) Napas cepat 5) Lemas berat Gejala berat: 1) Tekanan darah turun 2) Kebingungan atau penurunan kesadaran 3) Kulit pucat, dingin, atau kebiruan 4) Produksi urine menurun 5) Sesak napas berat https://forikes- ejournal.com/index.php/SF/article/vie w/1532 Tahukah Kamu? Sepsis sering disebut “silent killer” karena dapat berawal dari infeksi yang tampak ringan, seperti pneumonia, ISK, atau infeksi luka, tetapi dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Banyak masyarakat belum menyadari bahwa infeksi biasa yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kerusakan organ hingga kematian. Fakta menarik: Sepsis bukanlah penyakit, melainkan respons tubuh yang berlebihan terhadap infeksi sehingga dapat merusak organ-organ tubuh sendiri. https://www.youtube.com/watch?v=l WeDlOvxJxg
15 H. PERBANDINGAN ISK DAN SEPSIS ISK Sepsis Infeksi lokal Infeksi sistemik Gejala urinaria Gangguan organ Relatif ringan Kegawatdaruratan Antibiotik oral Antibiotik IV cepat Gambar. Proses terjadinya sepsis E. Diagnosis Sepsis Dokter biasanya melakukan: 1) Pemeriksaan fisik dan tanda vital 2) Tes darah (leukosit, CRP, prokalsitonin) 3) Kultur darah untuk mencari kuman 4) Pemeriksaan fungsi organ (ginjal, hati) 5) Analisis laktat darah (menilai kekurangan oksigen jaringan) F. Penanganan Sepsis Sepsis harus ditangani secepat mungkin (golden hour). Terapi utama: 1) Antibiotik intravena segera (jika bakteri) 2) Cairan infus untuk menaikkan tekanan darah 3) Oksigen atau ventilator jika diperlukan 4) Obat vasopressor (untuk syok sepsis) 5) Perawatan di ICU 6) Mengatasi sumber infeksi (misalnya operasi drainase) G. Pencegahan Sepsis 1. Menangani infeksi sejak dini 2. Menjaga kebersihan luka 3. Vaksinasi (influenza, pneumonia, dll.) 4. Menggunakan antibiotik sesuai resep dokter 5. Menjaga daya tahan tubuh I. Penggunaan antibiotika rasional Antibiotika harus digunakan dengan tepat indikasi, dosis, pasien, durasi, dan waktu pemberian. Penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi bakteri dan kegagalan terapi, sehingga infeksi menjadi lebih sulit diobati. ALUR PATOSIOLOGI SEPSIS INFO Sepsis merupakan kondisi darurat akibat respons tubuh yang berlebihan terhadap infeksi. Secara global, sepsis menyebabkan sekitar 5,3 juta kematian setiap tahun dan banyak terjadi di negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia, penelitian pada lebih dari 14.000 pasien sepsis menunjukkan bahwa 58,3% pasien meninggal dunia, dengan infeksi paru-paru (pneumonia) sebagai penyebab tersering. https://unair.ac.id/beban-biaya-penderita- sepsis-di-indonesia/
16 4. PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI PROYEK Mari Analisis Kasus ISK berikut. Kasus Diagnosis Masalah Klinis Risiko Intervensi/Solusi Nyeri saat berkemih dan sering buang air kecil ISK bawah (Sistitis) Keterlambatan pengobatan atau penggunaan antibiotik yang tidak sesuai Penyebaran infeksi ke ginjal Penggunaan antibiotik secara rasional sesuai indikasi dan edukasi kepatuhan terapi Demam tinggi, nyeri pinggang, dan menggigil Pielonefritis Infeksi telah menyebar ke ginjal Kerusakan ginjal dan komplikasi sistemik Pemberian antibiotik yang tepat serta pemantauan kondisi pasien secara berkala Demam, hipotensi, dan penurunan kesadaran akibat infeksi Sepsis akibat ISK Penanganan infeksi terlambat atau terapi tidak adekuat Syok sepsis, gagal organ, hingga kematian Penanganan segera, terapi antibiotik empiris yang tepat, dan perawatan intensif DISKUSI KELOMPOK Berdasarkan tabel analisis kasus ISK di atas, jawablah pertanyaan berikut secara kelompok. 1. Analisislah perbedaan masalah klinis yang terdapat pada masing-masing kasus ISK di atas. Jawab: ............................................................................................ 2. Tentukan risiko yang dapat terjadi apabila masalah pada masing-masing kasus tidak ditangani dengan tepat? Jawab: ............................................................................................ 3. Evaluasilah ketepatan penggunaan antibiotika pada setiap kasus dan berikan alasan berdasarkan prinsip penggunaan antibiotika yang rasional. Jawab: ............................................................................................ 4. Berikan rekomendasi intervensi atau edukasi yang tepat untuk setiap kasus ISK. Jawab: ............................................................................................
17 LKM (LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA) Petunjuk: Kerjakan LKM berikut secara individu pada buku tulis atau lembar kerja terpisah Waktu pengerjaan: ±15 menit AKTIVITAS 1 – IDENTIFIKASI KASUS ISK Lengkapilah tabel berikut berdasarkan kasus yang telah dipelajari. Kasus Diagnosis Gejala Utama Terapi Utama Nyeri saat berkemih dan sering BAK ........ ........ ........ Demam tinggi dan nyeri pinggang ........ ........ ........ Demam, hipotensi, dan penurunan kesadaran akibat infeksi ........ ........ ........ AKTIVITAS 2 – PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA RASIONAL Jelaskan mengapa penggunaan antibiotika pada ISK harus sesuai indikasi, dosis, frekuensi, dan lama terapi yang dianjurkan. Jawab: .................................................................................................. AKTIVITAS 3 – PATOFISIOLOGI SINGKAT Jelaskan secara singkat bagaimana bakteri dapat menyebabkan infeksi saluran kemih hingga berkembang menjadi pielonefritis atau sepsis apabila tidak ditangani dengan baik. Jawab: .................................................................................................. AKTIVITAS 4 – PERAN APOTEKER Jelaskan peran apoteker dalam: • memastikan penggunaan antibiotika yang rasional pada pasien ISK; • meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengonsumsi antibiotika; • mencegah terjadinya resistensi antibiotika. Jawab: .................................................................................................. AKTIVITAS 5 – KETERAMPILAN KIE Buatlah contoh pesan edukasi (3–5 kalimat) yang akan disampaikan apoteker kepada pasien ISK mengenai: • pentingnya menghabiskan antibiotika sesuai anjuran; • menjaga kebersihan saluran kemih; • pentingnya kontrol ulang apabila gejala tidak membaik. Jawab: ..................................................................................................
18 5. PRESENTASI DAN UJI HASIL PROYEK MINI PROJECT (TUGAS RUMAH) Saatnya mengubah ilmu menjadi aksi nyata.” Petunjuk: Kerjakan mini project secara mandiri/kelompok di luar jam perkuliahan berdasarkan materi yang telah dipelajari. Pilih salah satu: • poster ISK • infografis sepsis • edukasi antibiotika rasional • konten media sosial kesehatan Ketentuan • berbasis evidence-based medicine/guideline • menggunakan bahawa yg mudah dipahami masyarakat • original (tidak copy-paste) • dapat dibuat manual atau digital Contoh Produk: Poster: “Kenali Gejala ISK dan Bahaya Sepsis” Presentasi Proyek Presentasikan hasil mini project pada pertemuan berikutnya dengan menjelaskan tujuan, isi, dan pesan kesehatan yang disampaikan. Waktu presentasi: ±3–5 menit per kelompok/mahasiswa. 6. REFLEKSI DAN EVALUASI Kerjakan di buku tulis atau di lembar kerja terpisah secara singkat dan jelas. “Apa yang kamu pelajari dari pembelajaran ini?” 1. Apa perbedaan ISK dan sepsis? Jawab: ................................................................................................. 2. Mengapa antibiotika harus digunakan secara rasional? Jawab: ................................................................................................. 3. Apa pelajaran penting yang kamu peroleh hari ini? Jawab: ................................................................................................. 4. Apa manfaat mini project bagi masyarakat? Jawab: .................................................................................................
19 https://forms.gle/WFycDhS5FMCxgDPt8 RANGKUMAN MATERI 1. ISK merupakan infeksi pada saluran kemih 2. Sepsis adalah kondisi sistemik yang mengancam nyawa 3. Antibiotika harus digunakan secara rasional 4. Penggunaan antibiotika yang salah dapat menyebabkan resistensi 5. Terapi cepat sangat penting pada sepsis 6. Edukasi pasien berperan penting dalam keberhasilan terapi.
20 TUJUAN PEMBELAJARAN 3 Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Menjelaskan konsep dasar infeksi menular seksual (IMS) serta mekanisme penularannya berdasarkan kasus klinis. 2. Mengidentifikasi jenis-jenis IMS seperti gonore, sifilis, dan herpes genital berdasarkan penyebab, gejala, dan karakteristik penyakit. 3. Menjelaskan prinsip terapi rasional pada IMS dengan membedakan penggunaan antibiotika dan antivirus sesuai evidence-based guideline. 4. Menganalisis faktor risiko, masalah penggunaan antibiotika, serta ketidakpatuhan terapi pada kasus IMS. 5. Menganalisis dampak penghentian terapi sebelum waktunya terhadap kegagalan pengobatan, kekambuhan, dan resistensi antibiotika. 6. Mengevaluasi ketepatan terapi dan risiko komplikasi pada kasus IMS berdasarkan prinsip penggunaan obat yang rasional. 7. Menerapkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada pasien terkait pencegahan IMS, penggunaan obat yang benar, dan kepatuhan terapi. 8. Merancang media edukasi kesehatan (poster/infografis/konten edukasi) tentang pencegahan IMS dan penggunaan antibiotika rasional. 9. Menunjukkan sikap ilmiah yang objektif, kritis, bertanggung jawab, serta berbasis bukti ilmiah (evidence-based) dalam menganalisis dan menyelesaikan kasus IMS. KEGIATAN BELAJAR 3 INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS): ETIOLOGI DAN PENCEGAHAN
21 1. ORIENTASI MASALAH DAN KONTEKS PROYEK KASUS 1: GONORE Seorang laki-laki berusia 25 tahun datang ke klinik dengan keluhan nyeri saat berkemih dan keluar cairan kekuningan dari uretra sejak 4 hari yang lalu. Pasien mengaku memiliki riwayat hubungan seksual tanpa kondom. PERTANYAAN KASUS 1 1. Apa kemungkinan diagnosis pasien? Jawab: .................................................................................................. 2. Apa faktor risiko yang menyebabkan penyakit tersebut? Jawab: .................................................................................................. 3. Terapi apa yang mungkin diberikan? Jawab: .................................................................................................. PERTANYAAN KASUS 2 1. Apa masalah terkait penggunaan obat pada kasus tersebut? Jawab: .................................................................................................. 2. Apa risiko penghentian terapi sebelum waktunya? Jawab: .................................................................................................. 3. Edukasi apa yang harus diberikan apoteker? Jawab: .................................................................................................. KASUS 2: MASALAH KEPATUHAN TERAPI Seorang pasien IMS memperoleh antibiotika dari dokter tetapi menghentikan pengobatan setelah gejalanya membaik.
22 2. IDENTIFIKASI MASALAH DAN PERENCANAAN PROYEK Berdasarkan kedua kasus di atas, jawab pertanyaan berikut secara singkat dan jelas. 3. INVESTIGASI INFORMASI DAN PENGUMPULAN DATA (MATERI INTI) INFEKSI MENULAR SEKSUAL (IMS) “Cerita Infeksi yang Bergerak Diam-Diam di Dalam Tubuh” A. DEFINISI IMS Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah kelompok penyakit infeksi yang terutama ditularkan melalui kontak seksual, baik melalui hubungan seksual vaginal, anal, maupun oral. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit. https://www.youtube.com/watch?v=XP1sPcmYQow 1. Apa masalah utama terkait penggunaan antibiotika yang terjadi pada kedua kasus tersebut? Jawab: ............................................................................................. 2. Apa dampak yang mungkin terjadi apabila penggunaan antibiotika yang tidak tepat tersebut terus dilakukan? Jawab: ................................................................................................ 3. Apa tindakan atau intervensi yang tepat yang dapat dilakukan oleh apoteker untuk mengatasi masalah tersebut? Jawab: ................................................................................................ 4. Bagaimana cara apoteker memberikan edukasi kepada pasien agar penggunaan antibiotika menjadi benar dan rasional? Jawab: ................................................................................................ Di dalam tubuh manusia, terdapat sistem pertahanan yang selalu bekerja menjaga dari serangan kuman. Namun, ada satu kelompok infeksi yang berbeda: mereka tidak hanya menyerang, tetapi juga berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak tertentu, terutama melalui hubungan seksual. Kelompok ini disebut infeksi menular seksual (IMS). IMS sering tidak langsung terlihat. Ia bisa “diam” di dalam tubuh selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan sebelum menimbulkan gejala. Inilah yang membuatnya berbahaya: tanpa disadari, seseorang bisa menularkan ke orang lain.
23 Mengapa IMS sering tidak disadari? Salah satu hal paling unik dari IMS adalah sifatnya yang “silent infection”. Banyak penderita tidak mengalami gejala awal, sehingga: • merasa dirinya sehat • tidak mencari pengobatan • tanpa sadar menularkan ke pasangan Faktanya, beberapa IMS bisa tetap aktif di dalam tubuh tanpa gejala selama bertahun-tahun, terutama pada tahap awal. https://www.isainsmedis.ejournals.ca/index.php/ism/article/view/2296 B. JENIS-JENIS IMS YANG SERING TERJADI 1. Gonore (Kencing Nanah) Penyebab: Neisseria gonorrhoeae IMS ini sering menyerang uretra, serviks, dan kadang tenggorokan. Gejala: • keluar cairan bernanah dari genital • nyeri saat buang air kecil • pada wanita bisa tidak bergejala Terapi: Antibiotik seperti seftriakson sesuai pedoman. 2. Sifilis Penyebab: Treponema pallidum Sifilis memiliki perjalanan penyakit yang unik dan bertahap. Tahap awal: • luka kecil tidak nyeri (chancre) • sering tidak disadari Tahap lanjut: • ruam kulit • kerusakan organ jika tidak diobati Terapi: Penisilin (benzathine penicillin) masih menjadi pilihan utama. 3. Klamidia Penyebab: Chlamydia trachomatis IMS ini sering disebut “silent infection” karena banyak pasien tidak bergejala. Gejala (jika muncul): • nyeri saat berkemih • keputihan tidak normal • nyeri panggul Terapi: Azitromisin atau doksisiklin. Fakta penting: Klamidia yang tidak diobati dapat menyebabkan infertilitas pada wanita. Kasus IMS di Indonesia Terus Meningkat Kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa kasus IMS pada remaja usia 15–19 tahun terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, dari 2.569 kasus pada tahun 2022, menjadi 3.222 kasus pada tahun 2023, dan 4.589 kasus pada tahun 2024. Sebagian besar kasus didominasi oleh sifilis. Pada tahun 2026, para ahli kesehatan juga melaporkan bahwa tren peningkatan IMS masih terjadi, terutama pada kelompok usia produktif dan remaja, sehingga edukasi, deteksi dini, dan perilaku seksual yang sehat menjadi sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit. https://health.detik.com/berita- detikhealth/d-7973769/ternyata-ini-pemicu- infeksi-menular-seksual-di-gen-z-melonjak- 3-tahun-terakhir
24 4. Herpes Genital Penyebab: Herpes Simplex Virus (HSV) Gejala: • Luka melepuh di area genital • nyeri dan perih • dapat kambuh berulang Terapi: Acyclovir untuk mengurangi gejala dan replikasi virus. Tahukah Anda? Virus herpes tetap berada di tubuh seumur hidup dan bisa “tidur” lalu aktif kembali saat imun menurun. 5. HIV/AIDS Penyebab: Human Immunodeficiency Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh secara perlahan. Tahap awal: • seperti flu biasa Tahap lanjut (AIDS): • infeksi oportunistik • penurunan berat badan • daya tahan tubuh sangat lemah Terapi: Antiretroviral (ARV) untuk menekan virus. Info penting: Dengan terapi ARV teratur, penderita HIV dapat hidup normal seperti orang lain. Masalah yang Sering Terjadi pada IMS • tidak menyelesaikan pengobatan • pengobatan sendiri tanpa diagnosis • pasangan tidak ikut diobati • merasa sudah sembuh padahal belum https://scholarhub.ui.ac.id/ep idkes/vol9/iss1/3/ BAGAIMANA IMS BERKEMBANG DALAM TUBUH? Gambar. Jenis-jenis mikroorganisme penyebab Infeksi Menular Seksual (IMS). Pencegahan IMS IMS sebenarnya bisa dicegah dengan langkah sederhana: • penggunaan kondom secara benar • setia pada satu pasangan • pemeriksaan kesehatan rutin • edukasi seksual yang benar • menghindari perilaku berisiko Fakta penting: Banyak IMS dapat dicegah 100% dengan perilaku seksual yang aman. https://pengabmas.nchat.id/index.php/peng abmas/article/view/145
25 4. PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI PROYEK (IMS) Mari analisis kasus IMS berikut. Kasus Diagnosis Masalah Risiko Solusi Nyeri berkemih dan sekret uretra Gonore Seks tanpa kondom Penularan infeksi dan komplikasi reproduksi Terapi antibiotik dan edukasi perilaku seksual aman Luka genital tidak nyeri Sifilis Terlambat berobat Kerusakan organ dan komplikasi sistemik Pengobatan segera dengan penisilin Vesikel genital berulang Herpes genital Kepatuhan terapi rendah Kekambuhan infeksi Terapi antivirus dan edukasi kepatuhan DISKUSI KELOMPOK Berdasarkan tabel analisis kasus IMS di atas, jawablah pertanyaan berikut secara kelompok. Mengapa pengobatan IMS harus tepat? IMS bukan hanya tentang “mengobati infeksi”, tetapi juga: • menghentikan penularan • mencegah komplikasi • melindungi pasangan Prinsip terapi: • tepat diagnosis • tepat antibiotik/antivirus • tepat durasi • terapi pasangan juga Jika tidak tepat: • resistensi obat • infeksi berulang • komplikasi serius Peran Tenaga Kesehatan (Apoteker & Tim Medis) Dalam IMS, tenaga kesehatan memiliki peran penting: • memberikan edukasi tanpa stigma • memastikan terapi tepat dan tuntas • menjaga kerahasiaan pasien • mencegah resistensi antibiotik • meningkatkan kepatuhan terapi 1. Analisislah perbedaan masalah klinis yang terdapat pada masing-masing kasus IMS di atas. Jawab: ...................................................................................................... 2.Tentukan risiko yang dapat terjadi apabila masalah pada masing-masing kasus tidak ditangani dengan tepat. Jawab: ...................................................................................................... 3.Evaluasilah ketepatan penggunaan terapi pada setiap kasus dan berikan alasan berdasarkan prinsip terapi IMS yang rasional. Jawab: ...................................................................................................... 4. Berikan rekomendasi intervensi atau edukasi yang tepat untuk setiap kasus IMS. Jawab: ......................................................................................................
26 LKM (LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA) Petunjuk: Kerjakan LKM berikut secara mandiri pada buku tulis atau lembar kerja terpisah. Waktu pengerjaan: ±15 menit AKTIVITAS 1 – IDENTIFIKASI KASUS IMS Lengkapilah tabel berikut berdasarkan kasus yang telah dipelajari. Penyakit Agen Penyebab Gejala Utama Terapi Utama Gonore ........ ........ ........ Sifilis ........ ........ ........ Herpes genital ........ ........ ........ AKTIVITAS 2 – TERAPI RASIONAL Jelaskan mengapa gonore dan sifilis diterapi menggunakan antibiotik, sedangkan herpes genital diterapi menggunakan antivirus. Jelaskan pula tujuan masing- masing terapi. Jawab: .................................................................................................. AKTIVITAS 3 – PATOFISIOLOGI SINGKAT Jelaskan secara singkat bagaimana infeksi menular seksual dapat berkembang dalam tubuh hingga menimbulkan gejala dan komplikasi. Jawab: .................................................................................................. AKTIVITAS 4 – PERAN APOTEKER Jelaskan peran apoteker dalam: • meningkatkan kepatuhan terapi IMS • mencegah resistensi antibiotika • memberikan edukasi kepada pasien Jawab: .................................................................................................. AKTIVITAS 5 – KETERAMPILAN KIE Buatlah contoh pesan edukasi (3–5 kalimat) yang akan disampaikan apoteker kepada pasien IMS mengenai: • pentingnya menyelesaikan terapi sampai tuntas; • pencegahan penularan penyakit; • pentingnya kontrol ulang sesuai anjuran tenaga kesehatan Jawab: ..................................................................................................
27 5. PRESENTASI DAN UJI HASIL PROYEK MINI PROJECT (TUGAS RUMAH) “Saatnya mengubah ilmu menjadi aksi nyata.” Petunjuk: Kerjakan mini project secara mandiri atau berkelompok di luar jam perkuliahan berdasarkan materi yang telah dipelajari. Sajikan hasilnya secara kreatif, menarik, dan informatif. Pilih salah satu: • infografis Infeksi Menular Seksual (IMS) • poster pencegahan IMS • poster penggunaan antibiotika rasional pada IMS • poster pentingnya menyelesaikan terapi IMS • konten edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan IMS Ketentuan • berbasis evidence-based medicine (EBM)/guideline terbaru • sederhana dan mudah dipahami masyarakat • original (tidak copy-paste) • dapat dibuat secara manual atau digital • memuat informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan Contoh Produk: Poster: "Cegah IMS dengan Perilaku Seksual yang Aman dan Pengobatan yang Tuntas" Presentasi Proyek Presentasikan hasil mini project pada pertemuan berikutnya dengan menjelaskan: Waktu presentasi: ±3–5 menit per kelompok/mahasiswa. 6. REFLEKSI DAN EVALUASI Kerjakan di buku tulis atau di lembar kerja terpisah secara singkat dan jelas. “Apa yang kamu pelajari dari pembelajaran ini?” 1. Apa faktor risiko utama yang menyebabkan terjadinya infeksi menular seksual (IMS) pada pasien? Jawab: ..................................................................................................... 2. Mengapa kepatuhan dalam menyelesaikan terapi IMS sangat penting untuk mencegah resistensi dan kekambuhan? Jawab: .................................................................................................... 3. Jelaskan peran apoteker dalam mencegah penularan dan meningkatkan keberhasilan terapi IMS. Jawab: ..................................................................................................... 4. Apa hal paling penting yang Anda pelajari dari pembelajaran IMS hari ini? Jawab: .....................................................................................................
28 https://forms.gle/QDouhG2j9fT5QeJi6 RANGKUMAN MATERI 1. IMS merupakan penyakit yang terutama ditularkan melalui hubungan seksual. 2. Gonore, sifilis, dan klamidia merupakan IMS akibat bakteri, sedangkan herpes genital merupakan IMS akibat virus. 3. Farmakoterapi IMS harus diberikan sesuai indikasi dan guideline. 4. Penggunaan antibiotika dan antivirus harus rasional untuk mencegah kegagalan terapi dan resistensi. 5. Apoteker berperan dalam edukasi, monitoring terapi, peningkatan kepatuhan pasien, dan pencegahan penularan IMS. 6. Pencegahan IMS dapat dilakukan melalui perilaku seksual yang aman, penggunaan kondom, dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
29 TUJUAN PEMBELAJARAN 4 Setelah mengikuti pembelajaran, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Menjelaskan konsep dasar, penyebab, gejala, karakteristik, serta patofisiologi tuberkulosis (TB). 2. Menjelaskan prinsip penggunaan obat antituberkulosis (OAT) secara rasional. 3. Menjelaskan upaya pencegahan dan pengendalian penularan TBC. 4. Menginterpretasikan gejala klinis dan faktor risiko pada pasien TBC berdasarkan kasus yang diberikan. 5. Menganalisis permasalahan pada kasus TBC serta dampak ketidakpatuhan terapi terhadap keberhasilan pengobatan. 6. Mengevaluasi ketepatan penggunaan obat OAT berdasarkan prinsip terapi rasional dan kondisi klinis pasien. 7. Memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) kepada pasien dan keluarga mengenai penggunaan obat, kepatuhan terapi, efek samping, serta pencegahan penularan penyakit. 8. Menyusun produk edukasi kesehatan sederhana terkait TBC berdasarkan sumber ilmiah yang relevan. 9. Menunjukkan sikap ilmiah berupa rasa ingin tahu, berpikir kritis, tanggung jawab, ketelitian, keterbukaan terhadap bukti ilmiah, serta kerja sama dalam pembelajaran. KEGIATAN BELAJAR 4 TUBERKULOSIS (TBC)
30 1. ORIENTASI MASALAH DAN KONTEKS PROYEK (PEMICU) PERTANYAAN PEMANTIK Kerjakan di buku tulis atau di lembar kerja terpisah secara singkat dan jelas. 2. IDENTIFIKASI MASALAH DAN PERENCANAAN PROYEK “Mari amati kasus berikut.” Seorang laki-laki berusia 40 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh selama lebih dari 2 minggu. Pasien juga mengeluhkan demam ringan terutama pada sore hari, keringat malam, nafsu makan menurun, dan berat badan berkurang sekitar 4 kg dalam dua bulan terakhir. Dari hasil wawancara diketahui bahwa pasien tinggal serumah dengan anggota keluarga yang pernah menjalani pengobatan tuberkulosis. Dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan hasil pemeriksaan dahak menunjukkan adanya bakteri Mycobacterium tuberculosis. Berdasarkan hasil tersebut, dokter mendiagnosis pasien mengalami tuberkulosis paru dan memberikan terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) serta edukasi mengenai pentingnya menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. 1. Berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan pada kasus, tindakan apa yang harus dilakukan pasien untuk mencegah penularan TBC kepada anggota keluarganya? Jawab: ...................................................................................... 2. Analisislah hubungan antara gejala batuk lebih dari 2 minggu, penurunan berat badan, dan keringat malam dengan diagnosis tuberkulosis paru pada pasien! Jawab: ...................................................................................... 3. Evaluasilah pentingnya kepatuhan pasien dalam menjalani terapi OAT hingga tuntas. Apa dampak yang dapat terjadi jika pasien menghentikan pengobatan sebelum waktunya? Jawab: ...................................................................................... 4. Rancanglah suatu bentuk edukasi atau kampanye kesehatan sederhana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pencegahan dan pengobatan TBC! Jawab: ...................................................................................... Berdasarkan kasus tuberkulosis (TB) di atas, jawablah pertanyaan berikut secara kelompok. 1. Berdasarkan kasus tersebut, masalah kesehatan utama apa yang dialami pasien dan gejala apa saja yang mendukung identifikasi masalah tersebut? Jawab: ................................................................................................. 2. Faktor-faktor apa yang dapat meningkatkan risiko penularan tuberkulosis pada keluarga dan lingkungan sekitar pasien? Jawab: .................................................................................................
31 3. INVESTIGASI INFORMASI DAN PENGUMPULAN DATA (MATERI INTI) “Mari cari informasi dan simak video untuk membantu menyelesaikan kasus.” TUBERKULOSIS (TBC) https://jerkin.org/index.php/jerkin/ar ticle/view/5479 A. DEFINISI TUBERKULOSIS Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang paru-paru, tetapi dapat juga menyerang organ lain. B. PENULARAN Penularan terjadi melalui udara (airborne droplet) saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. https://www.youtube.com/watch ?v=LCKNA68iDxI 3. Mengapa edukasi mengenai pencegahan dan pengobatan TBC perlu diberikan kepada pasien dan masyarakat? Jelaskan alasan Anda.? Jawab: ....................................................................................... 4. Rancanglah sebuah proyek edukasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang TBC, meliputi tujuan, sasaran, dan bentuk media yang akan digunakan. Jawab: ................................................................................................ Tahukah Anda? TBC Masih Menjadi Ancaman Besar di Indonesia Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban Tuberkulosis (TBC) tertinggi di dunia. Setiap tahun diperkirakan terdapat 824.000 kasus TBC, dengan sekitar 93.000 kematian, atau setara dengan 11 orang meninggal setiap jam akibat penyakit ini. Yang lebih mengkhawatirkan, sekitar 4 dari 10 penderita TBC belum terdiagnosis, sehingga dapat terus menularkan penyakit tanpa disadari. TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang menyebar melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Jika tidak diobati secara tepat dan tuntas, TBC dapat merusak paru-paru, menimbulkan komplikasi serius, bahkan menyebabkan kematian. https://gorontalo.antaranews.com/berita/35498 1/kemenkes-temukan-600698-kasus-tbc-per-27- september-2025
32 Gejalan TBC Gejalan TBC berupa: • batuk lebih dari 2 minggu • demam ringan • keringat malam • penurunan berat badan • lemah dan lesu • pada kasus lanjut: hemoptisis (batuk darah) PATOFISIOLOGI TBC Terapi Pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT): • isoniazid (H) • rifampisin (R) • pirazinamid (Z) • etambutol (E) Terapi harus: 1. teratur 2. sesuai dosis 3. sesuai durasi (minimal 6 bulan) Ketidakpatuhan dapat menyebabkan resistensi obat https://www.youtube.com/watch? v=dwjBazDQMTU Jejak Singkat Tuberkulosis (TBC) TBC bukan penyakit baru. Penyakit ini telah dikenal manusia selama ribuan tahun dan masih menjadi tantangan kesehatan hingga saat ini. Pada 24 Maret 1882, Robert Koch berhasil menemukan bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyebab penyakit TBC. Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam dunia kesehatan. Di Indonesia, TBC telah ada sejak masa kolonial dan pernah menyerang berbagai kalangan masyarakat. Salah satu tokoh nasional yang diketahui menderita TBC adalah Jenderal Soedirman. Saat ini, TBC dapat disembuhkan melalui pengobatan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang diminum secara teratur dan tuntas.
33 Tahukah Kamu? Indonesia menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030, sehingga deteksi dini dan kepatuhan pengobatan menjadi kunci keberhasilan pengendalian TB https://www.who.int/indonesia/news/de tail/08-01-2026-indonesia-charts-next- phase-of-tb-response-through-national- programme-review? Fakta Penting TBC Tahun 2026 https://www.youtube.com/watch?v=6SIBFzvVWSU TBC Masih Menjadi Ancaman Serius TBC masih termasuk penyakit infeksi paling mematikan di dunia. WHO memperkirakan sekitar 10,8 juta orang menderita TBC pada tahun 2023 dan sekitar 1,25 juta orang meninggal akibat TBC Indonesia Termasuk Negara dengan Beban TBC Tinggi WHO memperkirakan terdapat sekitar 1,09 juta kasus TBC di Indonesia pada tahun 2023, dengan lebih dari 130 ribu kematian akibat TBC. TBC Bisa Menyerang Siapa Saja Meskipun lebih berisiko pada orang dengan daya tahan tubuh lemah, TBC dapat menyerang anak-anak maupun orang dewasa yang sehat. Gejalanya Sering Diabaikan Batuk lebih dari 2 minggu, demam ringan, keringat malam, penurunan berat badan, dan mudah lelah merupakan gejala khas TBC yang perlu diwaspadai TBC Dapat Disembuhkan Dengan pengobatan OAT yang teratur dan tuntas, TBC dapat disembuhkan. Sebaliknya, menghentikan obat sebelum waktunya dapat menyebabkan kegagalan terapi. Waspadai TB Resistant Obat (TB-RO) Ketidakpatuhan terhadap pengobatan dapat menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat sehingga pengobatan menjadi lebih lama, lebih sulit, dan lebih mahal. Pencegahan Dimulai dari Lingkungan Menjaga ventilasi rumah, menerapkan etika batuk, menggunakan masker saat sakit, serta imunisasi BCG merupakan langkah penting untuk mencegah TBC.
34 4. PENGEMBANGAN DAN IMPLEMENTASI PROYEK Mari Analisis Kasus TBC berikut. Kasus Diagnosis Masalah Klinis Risiko Intervensi/Solusi Batuk lebih dari 2 minggu, demam ringan, keringat malam, dan penurunan berat badan Tuberkulosis Paru Keterlambatan diagnosis dan pengobatan Penularan kepada orang lain serta perburukan penyakit Pemeriksaan dan pengobatan OAT sesuai pedoman Pasien sering lupa minum OAT dan tidak kontrol secara teratur Tuberkulosis Paru Ketidakpatuhan pengobatan Gagal terapi dan kekambuhan penyakit Edukasi kepatuhan terapi dan pemantauan pengobatan Pasien menghentikan OAT sebelum terapi selesai karena merasa sudah sembuh TB MDR (Tuberkulosis Resistan Obat) Penggunaan OAT tidak tuntas Resistensi obat, pengobatan lebih lama, dan biaya meningkat Menyelesaikan terapi sesuai anjuran dan pendampingan pasien DISKUSI KELOMPOK Berdasarkan tabel analisis kasus tuberkulosis di atas, jawablah pertanyaan berikut secara kelompok. 1. Analisislah perbedaan masalah klinis yang terdapat pada masing-masing kasus tuberkulosis di atas. Jawab: ........................................................................................................ 2. Tentukan risiko yang dapat terjadi apabila masalah pada masing-masing kasus tidak ditangani dengan tepat. Jawab: ........................................................................................................ 3. Evaluasilah pentingnya kepatuhan penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada setiap kasus dan berikan alasan berdasarkan prinsip terapi tuberkulosis yang rasional? Jawab: ........................................................................................................ 4.Berikan rekomendasi intervensi atau edukasi yang tepat untuk setiap kasus tuberkulosis Jawab: ........................................................................................................
35 LKM (LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA) Petunjuk: Kerjakan LKM berikut secara individu pada buku tulis atau lembar kerja terpisah. Waktu pengerjaan: ±15 menit AKTIVITAS 1 – IDENTIFIKASI KASUS TUBERKULOSIS Lengkapilah tabel berikut berdasarkan kasus yang telah dipelajari. Kasus Diagnosis Masalah Utama Risiko Batuk lebih dari 2 minggu, demam ringan, keringat malam, dan penurunan berat badan ........ ........ ........ Pasien sering lupa minum OAT dan tidak kontrol secara teratur ........ ........ ........ Pasien menghentikan OAT sebelum terapi selesai karena merasa sudah sembuh ........ ........ ........ AKTIVITAS 2 – PENGGUNAAN OAT SECARA RASIONAL Jelaskan mengapa pasien tuberkulosis harus mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara teratur dan sampai tuntas sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………………… AKTIVITAS 3 – PATOFISIOLOGI SINGKAT Jelaskan secara singkat bagaimana infeksi Mycobacterium tuberculosis dapat masuk ke tubuh, berkembang di paru-paru, dan menimbulkan gejala tuberkulosis. Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………………… AKTIVITAS 4 – PERAN APOTEKER Jelaskan peran apoteker dalam: • meningkatkan kepatuhan pasien terhadap penggunaan OAT; • mencegah terjadinya TB MDR (Tuberkulosis Resistan Obat); • memberikan edukasi mengenai penggunaan OAT dan pencegahan penularan TBC Jawab: …………………………………………………………………………………………………………………………………… AKTIVITAS 5 – KETERAMPILAN KIE Buatlah contoh pesan edukasi (3–5 kalimat) yang akan disampaikan apoteker kepada pasien TBC mengenai: • pentingnya minum OAT secara teratur; • pentingnya menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan; • cara mencegah penularan TBC kepada orang lain. Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………………………
36 5. PRESENTASI DAN UJI HASIL PROYEK MINI PROJECT (TUGAS RUMAH) Saatnya mengubah ilmu menjadi aksi nyata.” Petunjuk: Kerjakan mini project secara mandiri/kelompok di luar jam perkuliahan berdasarkan materi yang telah dipelajari. Pilih salah satu: • Poster kepatuhan terapi TBC • Infografis TB MDR • Edukasi penggunaan OAT • Edukasi infeksi jamur • Konten media sosial kesehatan Ketentuan: • berbasis evidence-based medicine/guideline • sederhana dan mudah dipahami masyarakat • original (tidak copy-paste) • dapat dibuat manual atau digital Contoh Produk: Poster Kepatuhan Minum OAT 📢 Presentasi Proyek Presentasikan hasil mini project pada pertemuan berikutnya dengan menjelaskan tujuan, isi, dan pesan kesehatan yang disampaikan. ⏱️ Waktu presentasi: ±3–5 menit per kelompok/mahasiswa. 6. REFLEKSI DAN EVALUASI Kerjakan di buku tulis atau di lembar kerja terpisah secara singkat dan jelas. 💡 “Apa yang kamu pelajari dari pembelajaran ini?” 1. Apa manfaat kepatuhan terapi TBC? Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………………… 2. Apa peran apoteker dalam terapi TBC? Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………………… 3. Apa pelajaran penting yang kamu peroleh hari ini? Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………………… 4. Apa manfaat mini project bagi masyarakat? Jawab: ……………………………………………………………………………………………………………………………… 5. Mengapa edukasi TB MDR penting dilakukan? Jawab: ………………………………………………………………………………………………………………………………
37 Mari kerjakan quiz berikut dengan benar https://forms.gle/4uAJcGGXXjBRWrrM6 RANGKUMAN MATERI Apa yang harus diingat? 1. TBC adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. 2. Menyerang paru-paru dan dapat menyebar ke organ lain. 3. Menular melalui udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. 4. Gejala utama: batuk > 2 minggu, demam ringan, keringat malam, berat badan menurun, dan mudah lelah. 5. Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan dahak dan pemeriksaan penunjang lainnya. 6. Pengobatan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara teratur hingga tuntas. 7. Pengobatan tidak teratur dapat menyebabkan gagal terapi dan TB MDR. 8. Pencegahan: imunisasi BCG, etika batuk, memakai masker, menjaga ventilasi rumah, dan menyelesaikan pengobatan. 9. TBC dapat disembuhkan jika terdeteksi dini dan pengobatan dijalani dengan patuh.
38 BAB III EVALUASI AKHIR A. Tes Pemahaman Konsep Sekarang waktunya Anda untuk mengevaluasi materi yang telah Anda pelajari dari kegiatan belajar. Evaluasi berbentuk soal pilihan ganda yang berjumlah 20 butir. Soal 1 Soal 2 Soal 3 Soal 4 Pasien laki-laki usia 50 tahun datang dengan demam, batuk produktif purulen, nyeri dada pleuritik, dan sesak yang semakin memberat. Foto toraks menunjukkan konsolidasi pada lobus inferior kanan disertai air bronchogram. Diagnosis yang paling sesuai adalah .... A. Pneumotoraks spontan B. Bronkitis akut C. Pneumonia bakterial D. Asma eksaserbasi E. Efusi pleura Seorang pasien datang dengan batuk produktif, demam, dan nyeri dada. Foto toraks menunjukkan opasitas lobar disertai gambaran air bronchogram. Berdasarkan temuan tersebut, proses patologis yang paling mungkin terjadi pada paru adalah .... A. Gangguan ventilasi akibat bronkospasme B. Pengisian alveoli oleh eksudat akibat proses inflamasi C. Kolaps alveoli akibat obstruksi jalan napas D. Akumulasi cairan pada rongga pleura E. Penurunan perfusi paru tanpa proses inflamasi Pasien dengan pilek, bersin, dan batuk ringan tanpa demam signifikan serta tanpa infiltrat paru. Kondisi paling sesuai adalah .... A. Infeksi bakteri saluran napas bawah B. Gagal jantung ringan C. Pneumonia atipikal D. TB laten aktif E. Proses inflamasi virus saluran napas atas Seorang pasien dengan infeksi saluran kemih mengalami hipotensi, takipnea, oliguria, dan peningkatan kadar laktat. Berdasarkan temuan tersebut, interpretasi yang paling tepat adalah .... A. Reaksi obat akibat terapi B. Gangguan perfusi akibat sepsis C. Kehilangan cairan ringan D. Gangguan aliran darah perifer E. Penurunan fungsi imun
39 Soal 5 Soal 6 Soal 7 Soal 8 Soal 9 Seorang pasien datang dengan hipotensi, peningkatan penanda inflamasi, dan gangguan fungsi ginjal. Berdasarkan kombinasi temuan tersebut, interpretasi yang paling tepat terhadap kondisi pasien adalah .... A. Terjadi disfungsi organ akibat respons inflamasi sistemik B. Infeksi masih terbatas pada organ primer C. Gangguan elektrolit menjadi penyebab utama seluruh gejala D. Gangguan saraf menjadi penyebab hipotensi E. Penurunan kesadaran disebabkan oleh demam semata Pasien mengalami pilek, bersin, dan batuk ringan selama tiga hari tanpa demam tinggi. Kondisi tersebut paling tepat dikategorikan sebagai .... A. Infeksi bakteri akut B. Infeksi oportunistik C. Pneumonia komunitas D. Infeksi saluran napas atas E. Tuberkulosis aktif Pasien mengalami disuria dan hasil urinalisis menunjukkan nitrit positif. Penyakit tersebut paling tepat diklasifikasikan sebagai .... A. Infeksi virus respiratorik B. Infeksi jamur sistemik C. Penyakit autoimun D. Gangguan metabolik E. Infeksi bakteri uropatogen Seorang pasien datang dengan pilek, bersin, dan batuk ringan selama dua hari tanpa demam tinggi serta tanpa tanda infeksi bakteri. Pasien tetap diberikan antibiotik untuk mempercepat penyembuhan. Berdasarkan prinsip penggunaan antibiotik yang rasional, tindakan tersebut paling tepat diklasifikasikan sebagai .... A. Penggunaan antibiotik empiris B. Penggunaan antibiotik profilaksis C. Penggunaan antibiotik tidak rasional D. Penggunaan antibiotik definitif E. Penggunaan antibiotik suportif Seorang pasien dengan infeksi saluran kemih datang dengan demam tinggi, hipotensi, peningkatan kadar laktat serum, dan penurunan fungsi ginjal. Berdasarkan data klinis tersebut, kondisi pasien paling tepat diklasifikasikan sebagai .... A. Sepsis dengan disfungsi organ B. Infeksi lokal tanpa komplikasi C. Gangguan hormonal sistemik D. Hipoperfusi akibat dehidrasi E. Reaksi inflamasi noninfeksi
40 Soal 10 Soal 11 Soal 12 Soal 13 Perbedaan utama infeksi virus dan bakteri pada saluran napas adalah .... A. Mekanisme penyebaran penyakit B. Pola perkembangan gejala C. Respons terhadap antimikroba D. Tingkat keparahan gejala E. Kecepatan perjalanan penyakit Seorang pasien datang dengan batuk dan demam. Pemeriksaan menunjukkan adanya infiltrat yang melibatkan alveoli paru. Berdasarkan kondisi tersebut, perbedaan utama dibanding ISPA ringan adalah .... A. Lokasi dan luas infeksi B. Durasi dan pola gejala C. Respons dan daya tahan tubuh D. Kecepatan dan proses penyembuhan E. Karakter dan berat penyakit Seorang pasien dengan pilek ringan meminta antibiotik, sedangkan pasien lain dengan infeksi bakteri mendapatkan antibiotik sesuai hasil pemeriksaan. Perbedaan prinsip terapi pada kedua kondisi tersebut adalah .... A. Ketepatan dan waktu terapi B. Indikasi dan etiologi terapi C. Durasi dan jumlah terapi D. Tingkat dan berat penyakit E. Metode dan bentuk terapi Seorang pasien menggunakan antibiotik sesuai resep, sedangkan pasien lain membeli antibiotik secara bebas tanpa evaluasi klinis. Analisis perbedaan paling bermakna dari kedua tindakan tersebut adalah .... A. Biaya dan akses pengobatan B. Durasi dan jadwal penggunaan C. Kemudahan dan cara memperoleh D. Ketepatan dan risiko terapi E. Frekuensi dan bentuk penggunaan
41 Soal 14 Soal 15 Soal 16 Soal 17 Seorang pasien awalnya mengalami infeksi pada saluran kemih, kemudian berkembang menjadi hipotensi, demam tinggi, dan gangguan fungsi organ. Berdasarkan kondisi tersebut, perbedaan utama infeksi sistemik dibanding infeksi lokal adalah .... A. Respons dan penyebaran inflamasi B. Tingkat dan berat keluhan C. Durasi dan progres penyakit D. Jenis dan sumber infeksi E. Keterlibatan organ lain Pasien sering membeli antibiotik tanpa resep untuk mengobati pilek. Ketika mengalami infeksi bakteri berat, antibiotik lini pertama tidak lagi efektif. Analisis yang paling tepat adalah .... A. Perubahan pola infeksi B. Adaptasi terhadap bakteri C. Penurunan respons imun D. Seleksi bakteri resisten E. Penurunan efektivitas obat Pasien mengalami demam tinggi, kaku kuduk, fotofobia, dan penurunan kesadaran setelah infeksi saluran napas yang tidak tertangani. Analisis yang paling tepat adalah .... A. Penyebaran infeksi disertai inflamasi B. Kehilangan cairan tubuh akut C. Peningkatan tekanan pembuluh darah D. Respons alergi yang menyeluruh E. Gangguan fungsi sistem gerak Penggunaan antibiotik berulang tanpa indikasi dapat menyebabkan perubahan klinis karena .... A. Peningkatan respons imun tubuh B. Perubahan struktur jaringan paru C. Eliminasi infeksi akibat virus D. Peningkatan metabolisme tubuh E. Seleksi mikroorganisme resisten
42 Soal 18 Soal 19 Soal 20 Untuk mempermudah, Anda dapat mengisi jawaban tersebut melalui link berikut. Seorang pasien datang dengan pilek, bersin, dan batuk ringan selama dua hari tanpa tanda infeksi bakteri, namun meminta antibiotik agar cepat sembuh. Berdasarkan prinsip terapi rasional, keputusan yang paling tepat adalah .... A. Memberikan terapi spektrum luas B. Memberikan kombinasi terapi C. Menunda pemberian antibiotik D. Memberikan dosis lebih rendah E. Melakukan evaluasi penunjang Seorang pasien dengan infeksi saluran kemih mengalami demam tinggi, hipotensi, dan peningkatan laktat. Perkembangan menjadi sepsis terjadi akibat .... A. Penurunan suhu tubuh B. Respons inflamasi sistemik C. Reaksi alergi terhadap infeksi D. Gangguan status nutrisi E. Peningkatan tekanan darah Seorang pasien mengalami infeksi berulang dan diketahui sebelumnya sering menggunakan antibiotik tanpa evaluasi medis. Antibiotik lini pertama kini tidak lagi efektif. Penyebab paling mungkin adalah .... A. Perubahan jenis mikroorganisme B. Peningkatan aktivitas tubuh C. Perubahan pola nutrisi D. Seleksi strain bakteri resisten E. Perubahan regulasi hormon https://forms.gle/BviMRnVFqwvZzGsSA
43 B. SIKAP ILMIAH Setelah Anda mengikuti kegiatan pembelajaran ini, berilah tanda centang (✓) pada setiap pernyataan berikut untuk menunjukkan sikap ilmiah Anda. Keterangan: SS = Sangat Setuju S = Setuju CS = Cukup Setuju TS = Tidak Setuju STS = Sangat Tidak Setuju No Pernyataan Item SS S CS TS STS 1 Saya tetap berusaha menyelesaikan analisis kasus infeksi meskipun waktu pengerjaan terbatas. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 2 Saya mencantumkan sumber utama yang saya gunakan dalam menjawab kasus farmakoterapi infeksi. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 3 Saya dapat menjelaskan kembali alasan pemilihan terapi pada kasus infeksi jika diminta. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 4 Saya mengumpulkan tugas tanpa memastikan kembali bahwa hasil analisis yang saya lakukan sudah tepat. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 5 Saya terkadang tidak melakukan pengecekan ulang terhadap hasil analisis yang sudah saya kumpulkan. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 6 Saya mempertimbangkan lebih dari satu sumber sebelum menyimpulkan terapi pada kasus infeksi. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 7 Saya mencoba memahami alasan perbedaan rekomendasi terapi dari berbagai guideline sebelum mengambil keputusan. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 8 Saya menilai kesesuaian informasi dengan kondisi pasien sebelum menyimpulkan terapi antibiotik. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 9 Saya menerima informasi tanpa mencari sumber lain untuk memastikan ketepatannya. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 10 Saya tetap mempertahankan pemahaman awal saya tanpa mengevaluasi kembali informasi yang diperoleh. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 11 Saya mempertimbangkan hasil penelitian terbaru dalam menentukan keputusan terapi infeksi. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 12 Saya bersedia menyesuaikan keputusan jika terdapat bukti ilmiah yang lebih kuat. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 13 Saya mencoba memahami perbedaan antara referensi lama dan terbaru sebelum menarik kesimpulan terapi. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 14 Saya lebih sering menggunakan pendekatan yang sudah familiar meskipun ada sumber terbaru yang berbeda. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 15 Saya dalam beberapa kondisi kurang mempertimbangkan variasi hasil penelitian dalam analisis terapi antibiotik. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐
44 16 Saya mempertimbangkan data klinis pasien secara menyeluruh sebelum menyimpulkan terapi. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 17 Saya memperhatikan hasil pemeriksaan penunjang sebelum menentukan terapi antibiotik pada kasus infeksi. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 18 Saya berusaha agar keputusan terapi tidak dipengaruhi oleh asumsi awal terhadap kasus. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 19 Saya menarik kesimpulan berdasarkan dugaan awal sebelum seluruh data kasus dianalisis. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ 20 Saya tetap mempertahankan interpretasi awal meskipun data klinis menunjukkan hasil yang berbeda. ☐ ☐ ☐ ☐ ☐ Untuk mempermudah, Anda dapat mengerjakan angket ini dengan klik bagian berikut. https://forms.gle/U3XqjhJFg4EsJUDy6
45 C. Keterampilan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) Keterampilan KIE adalah kemampuan menyampaikan informasi, memberikan edukasi, dan membangun komunikasi yang efektif kepada individu atau masyarakat terkait masalah kesehatan. Keterampilan ini tidak hanya didasarkan pada penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan menyampaikan pesan secara jelas, tepat, dan dapat dipahami oleh sasaran. Bacalah dan analisis kasus berikut dengan cermat, kemudian berikan jawaban sesuai dengan pertanyaan yang tersedia. KASUS 1 – ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) KASUS 2 – ISK (Infeksi Saluran Kemih) Seorang laki-laki usia 25 tahun datang ke apotek pada sore hari dengan kondisi tampak kurang nyaman. Ia membawa resep dari dokter setelah diperiksa di klinik karena keluhan batuk berdahak dan demam. Resep: • Amoksisilin 500 mg (3 kali sehari 1 kapsul) • Parasetamol 500 mg (3 kali sehari 1 tablet bila demam) Penggalian informasi tambahan: Pasien mengatakan bahwa ia sering begadang, jarang minum air putih, dan tetap merokok meskipun sedang sakit. Ia juga mengaku belum pernah mengonsumsi antibiotik sebelumnya. Setelah obat diserahkan, pasien terlihat ragu dan bertanya kepada apoteker: 1. Saya harus minum obat ini sampai kapan, dan bagaimana aturan pakainya yang benar? 2. Apakah antibiotik ini boleh dihentikan kalau sudah merasa membaik? 3. Saya tetap boleh merokok tidak selama sakit? 4. Efek samping apa yang mungkin saya rasakan dari obat ini? 5. Apakah penyakit ini bisa sembuh total tanpa komplikasi? Seorang perempuan usia 30 tahun datang ke apotek dengan wajah tampak tidak nyaman dan sering meminta izin ke toilet. Ia membawa resep dari dokter setelah mengalami keluhan nyeri saat buang air kecil. Resep: • Ciprofloxacin 500 mg (2 kali sehari 1 tablet) • Parasetamol 500 mg (3 kali sehari 1 tablet bila nyeri/demam) Penggalian informasi tambahan: Pasien mengaku sering menahan BAK karena pekerjaan yang padat, jarang minum air putih, dan lebih sering mengonsumsi kopi dibandingkan air putih. Setelah obat diberikan, pasien bertanya kepada apoteker: 1. Bagaimana cara minum obat ini agar cepat sembuh? 2. Apakah antibiotik ini harus dihabiskan meskipun gejalanya sudah hilang? 3. Apa yang menyebabkan penyakit ini bisa terjadi pada saya? 4. Makanan atau minuman apa yang sebaiknya saya hindari? 5. Apakah ISK ini bisa kambuh lagi di kemudian hari?
46 GLOSARIUM Istilah Definisi ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) Infeksi pada saluran pernapasan atas atau bawah yang berlangsung akut (≤14 hari), disebabkan oleh virus atau bakteri, dengan gejala seperti batuk, pilek, demam, dan sesak napas. Pneumonia Infeksi pada jaringan paru (alveoli) yang menyebabkan peradangan dan konsolidasi sehingga mengganggu pertukaran gas. TBC (Tuberculosis) Penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis terutama menyerang paru, tetapi dapat mengenai organ lain. TB Paru Bentuk tuberkulosis yang menyerang paru-paru dengan gejala batuk lama, penurunan berat badan, demam, dan keringat malam. TB Ekstraparu Tuberkulosis yang menyerang organ selain paru, seperti kelenjar getah bening, tulang, atau otak. TB MDR (Multidrug Resistant Tuberculosis) Tuberkulosis yang resisten terhadap minimal 2 obat utama lini pertama (isoniazid dan rifampisin). Resistensi antibiotik Kondisi ketika mikroorganisme (bakteri) tidak lagi peka terhadap antibiotik yang sebelumnya efektif. ISK (Infeksi Saluran Kemih) Infeksi yang terjadi pada sistem saluran kemih seperti uretra, kandung kemih, ureter, atau ginjal, umumnya disebabkan oleh bakteri seperti Escherichia coli. Sistitis Infeksi pada kandung kemih ditandai dengan nyeri saat berkemih, sering berkemih, dan rasa tidak tuntas saat buang air kecil. Pielonefritis Infeksi pada ginjal biasanya merupakan komplikasi dari ISK yang tidak ditangani. IMS (Infeksi Menular Seksual) Infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual, dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit. Gonore IMS yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, ditandai dengan keluarnya cairan purulen dari genital dan nyeri saat berkemih. Sifilis IMS yang disebabkan oleh Treponema pallidum, dengan tahapan klinis dari luka awal hingga komplikasi sistemik. KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) Proses penyampaian informasi kesehatan bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku individu atau masyarakat secara efektif dan tepat sasaran.
47 DAFTAR PUSTAKA Anandita, Y. (2026, January 8). Indonesia charts next phase of TB response through national programme review. World Health Organization. https://www.who.int/indonesia/news/detail/08-01-2026-indonesia-charts-next- phase-of-tb-response-through-national-programme-review Anjelin, R., Putri, S. O., & Saputra, H. (2025). Edukasi pencegahan penyakit menular seksual pada wanita usia produktif. Jurnal Pengabdian Meambo, 4(2), 247–252. https://doi.org/10.56742/jpm.v4i2.145 ANTARA News. (2019, September 23). Kasus ISPA di Riau: 34.083 penderita, meningkat akibat karhutla. https://www.antaranews.com/berita/1076396/kasus- ispa-di-riau-34083-penderita-meningkat-akibat-karhutla Bennett, J. E., Dolin, R., & Blaser, M. J. (2020). Mandell, Douglas, and Bennett’s principles and practice of infectious diseases (9th ed.). Elsevier. Brunton, L. L., Hilal-Dandan, R., & Knollmann, B. C. (2023). Goodman & Gilman’s the pharmacological basis of therapeutics (14th ed.). McGraw-Hill Education. Dipiro, J. T., Yee, G. C., Posey, L. M., Haines, S. T., Nolin, T. D., & Ellingrod, V. L. (2023). Pharmacotherapy: A pathophysiologic approach (12th ed.). McGraw-Hill. Hall, J. E. (2021). Guyton and Hall textbook of medical physiology (14th ed.). Elsevier. Harahap, E., Novitasari, W., Purba, H. S. R., Nainggolan, A., & Saputra, F. (2026). Sosialisasi/penyuluhan tuberkolosis (TB): Penyebab, gejala, penularan dan pencegahannya di Desa Muaratais Kabupaten Tapanuli Selatan. Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan, 4(4). https://jerkin.org/index.php/jerkin/article/view/5479 Jameson, J. L., Fauci, A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Longo, D. L., & Loscalzo, J. (2022). Harrison’s principles of internal medicine (21st ed.). McGraw-Hill. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana tuberkulosis. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pedoman nasional pelayanan klinis tata laksana infeksi saluran kemih. https://www.kemkes.go.id/id/pedoman- nasional-pelayanan-klinis-tata-laksana-infeksi-saluran-kemih Kumar, V., Abbas, A. K., & Aster, J. C. (2020). Robbins & Cotran pathologic basis of disease (10th ed.). Elsevier. Murray, P. R., Rosenthal, K. S., & Pfaller, M. A. (2020). Medical microbiology (9th ed.). Elsevier.
48 Ningrum, D. A., & Safitri, Y. (2023). Penyuluhan kesehatan tentang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada masyarakat. Majalah Cendekia Mengabdi. https://wpcpublisher.com/jurnal/index.php/majalahcendekiamengabdi/article/vie w/399 Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P. A., & Hall, A. M. (2021). Fundamentals of nursing (10th ed.). Elsevier. Prisie, M. Y. N. (2025, September 29). Kemenkes temukan 600.698 kasus TBC per 27 September 2025. ANTARA News. https://gorontalo.antaranews.com/berita/354981/kemenkes-temukan-600698- kasus-tbc-per-27-september-2025 Purba, A. K. R. (2020, July 29). Beban biaya penderita sepsis di Indonesia. UNAIR News. https://unair.ac.id/beban-biaya-penderita-sepsis-di-indonesia/ Rahmadania, S. R. (2025, June 20). Ternyata ini pemicu infeksi menular seksual di Gen Z melonjak 3 tahun terakhir. detikHealth. https://health.detik.com/berita- detikhealth/d-7973769/ternyata-ini-pemicu-infeksi-menular-seksual-di-gen-z- melonjak-3-tahun-terakhir Ramadhan, C., Astuti, D., Widyastuti, R., & Sulistyorini, M. (2024). Analisis faktor risiko sebagai upaya pencegahan terhadap kejadian kasus infeksi saluran kemih. CoMPHI Journal: Community Medicine and Public Health of Indonesia Journal, 4(2). https://doi.org/10.37148/comphijournal.v4i2.160 Sarasmita, L. P. R., Indira, I. G. A. E., Puspawati, N. M. D., Permana, A., Hosea, F. E., & Sedana, C. (2025). Doksisiklin sebagai post-exposure prophylaxis untuk pencegahan transmisi infeksi menular seksual: Tinjauan pustaka. Intisari Sains Medis, 16(2), 738–741. https://doi.org/10.15562/ism.v16i2.2296 Turnip, R. S., Bahri, N. F., Irmawati, I., Mashudi, M., Ganefianty, A., & Fahmi, I. (2021). Peran perawat pada pasien sepsis di unit critical care: A narrative review. Jurnal Penelitian Kesehatan SUARA FORIKES (Journal of Health Research Forikes Voice), 13(1). http://dx.doi.org/10.33846/sf.v13i1.1532 Wardiman, W., Djuwita, R., & Kusnadi, B. (2025). Analisis situasi masalah penyakit infeksi menular seksual di Kota Bogor tahun 2024. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 9(1), Article 3. https://doi.org/10.7454/epidkes.v9i1.1138 World Health Organization. (2023). Global tuberculosis report 2023. World Health Organization.