KUMPULAN DO'A DO'A DALAM AL QUR'AN

View KUMPULAN DO'A DO'A DALAM AL QUR'AN flipbook.

i

i KATA PENGANTAR Alhamdulillā hi rabbil ‘ā lamī n, segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga buku “Kumpulan Doa-Doa dalam Al-Qur’an” ini dapat diselesaikan. Penyusunan buku ini bertujuan untuk meningkatkan semangat kita dalam berdoa kepada Allah Swt. sebagai wujud nyata melibatkan-Nya dalam setiap langkah dan perbuatan. Selain itu, tidak ada kata seindah doa yang sarat akan harapan dan ketulusan, sebab doa adalah senjata utama bagi setiap orang muslim dalam menghadapi pelbagai dinamika kehidupan. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk merujuk dan mengamalkan doa-doa yang sudah terbukti diabadikan di dalam Al-Qur'an serta diamalkan oleh para nabi. Penyusunan ini juga berpegang teguh pada firman Allah Swt. dalam QS. Ghafir: 60, “Ud'ū nī astajib lakum” (Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu). Semoga kehadiran buku ini menjadi sarana untuk mempertebal keimanan, mempermudah ikhtiar mendekatkan diri kepada-Nya, serta menjadi jalan turunnya rahmat bagi kita semua. Ā mī n yāRabbal ‘ā lamī n.

ii DAFTAR ISI DO’A-DO’A DALAM AL QUR’AN NO Juz Nama/Nomor Surah Nomor Ayat Kandungan Ayat Halaman 1 1 Al-Fatihah (1) 6–7 Doa memohon petunjuk 2 1 Al-Baqarah (2) 126 Doa Nabi Ibrahim 3 1 Al-Baqarah (2) 127– 128 Doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika membangun fondasi Ka'bah 4 2 Al-Baqarah (2) 201 Doa kebaikan dunia dan akhirat 5 2 Al-Baqarah (2) 250 Doa pasukan Thalut ketika melihat musuh 6 3 Al-Baqarah (2) 255 Ayat kursi 7 3 Al-Baqarah (2) 285– 286 Doa orang mukmin 8 3 Ali 'Imran (3) 8–9 Doa memohon konsistensi hati dalam petunjuk 9 3 Ali 'Imran (3) 16 Doa orang yang akan mendapatkan surga 10 3 Ali 'Imran (3) 26 Doa mengakui kebesaran Allah 11 3 Ali 'Imran (3) 38 Doa Nabi Zakaria untuk mendapatkan anak yang baik 12 3 Ali 'Imran (3) 53 Doa pengikut Nabi Isa 13 4 Ali 'Imran (3) 147 Doa orang yang berperang bersama Nabi Muhammad

iii 14 4 Ali 'Imran (3) 173 Doa menghadapi musuh 15 4 Ali 'Imran (3) 191– 194 Doa orang yang mengagumi ciptaan Allah 16 7 Al-Ma'idah (5) 83 Doa orang-orang Nasrani yang beriman karena sadar atas kebenaran Al-Qur'an dan Nabi Muhammad sebagaimana mereka ketahui dari kitab-kitab mereka 17 8 Al-A'raf (7) 23 Doa Nabi Adam dan Siti Hawa setelah memakan buah khuldi yang dilarang Allah 18 8 Al-A'raf (7) 47 Doa penghuni surga ketika melihat neraka 19 9 Al-A'raf (7) 89 Doa Nabi Syu'aib menghadapi kaumnya 20 9 Al-A'raf (7) 126 Doa para ahli sihir Fir'aun ketika akan menghadapi siksa Fir'aun karena beriman kepada Nabi Musa setelah mereka dikalahkan mukjizat Nabi Musa 21 9 Al-A'raf (7) 151 Doa Nabi Musa untuk Nabi Harun 22 9 Al-A'raf (7) 155– 156 Doa Nabi Musa memintakan ampunan untuk kaumnya

iv 23 11 Yunus (10) 85–86 Doa Nabi Musa dan Nabi Harun menghadapi Fir'aun 24 12 Hud (11) 47 Doa Nabi Nuh yang memohon ampunan atas kekeliruannya karena ingin menyelamatkan anaknya dari banjir besar, tetapi ditegur oleh Allah 25 13 Ibrahim (14) 35–41 Doa-doa Nabi Ibrahim 26 15 Al-Isra' (17) 24 Doa untuk kedua orang tua 27 15 Al-Isra’ (17) 80 Doa salat tahajud 28 15 Al-Kahf (18) 10 Doa penghuni gua (Ashabul Kahfi) 29 16 Taha (20) 25–28 Doa memohon kelapangan hati 30 16 Taha (20) 114 Doa belajar 31 17 Al-Anbiya’ (21) 83 Doa Nabi Ayyub tentang penyakitnya 32 17 Al-Anbiya’ (21) 87 Doa Nabi Yunus dalam perut ikan 33 17 Al-Anbiya’ (21) 89 Doa Nabi Zakaria agar memperoleh keturunan 34 17 Al-Anbiya’ (21) 112 Doa Nabi Muhammad menghadapi pertentangan penduduk Mekah 35 18 Al-Mu’minun (23) 26 Doa Nabi Nuh menghadapi kaumnya 36 18 Al-Mu’minun (23) 29 Doa Nabi Nuh ketika berada di atas bahtera

v 37 18 Al-Mu’minun (23) 39 Doa Nabi Hud menghadapi kaumnya 38 18 Al-Mu’minun (23) 93–94 Doa Nabi Muhammad 39 18 Al-Mu’minun (23) 97–98 Doa Nabi Muhammad 40 18 Al-Mu’minun (23) 109 Doa segolongan hamba Allah 41 18 Al-Mu’minun (23) 118 Doa memohon ampunan dan rahmat Allah 42 18 Al-Furqan (25) 65–66 Doa dijauhkan dari azab Jahannam 43 18 Al-Furqan (25) 74 Doa hamba Allah untuk mencapai kemuliaan 44 19 Asy-Syu’ara’ (26) 83–89 Doa Nabi Ibrahim 45 19 Asy-Syu’ara’ (26) 117– 118 Doa Nabi Nuh menghadapi kaumnya 46 19 Asy-Syu’ara’ (26) 169 Doa Nabi Lut ketika melihat perbuatan kaumnya melakukan seks sesama jenis 47 19 An-Naml (27) 19 Doa Nabi Sulaiman atas karunia yang diperolehnya dari Allah 48 20 Al-Qasas (28) 16–17 Doa Nabi Musa ketika menyesali perbuatannya karena memukul seseorang hingga meninggal dunia 49 20 Al-Qasas (28) 21 Doa Nabi Musa ketika hendak meninggalkan Mesir setelah peristiwa pembunuhan

vi 50 20 Al-Qasas (28) 22 Doa Nabi Musa ketika menuju negeri Madyan 51 20 Al-Qasas (28) 24 Doa Nabi Musa setelah menolong dua orang perempuan yang hendak memberi minum ternaknya 52 20 Al-‘Ankabut (29) 30 Doa Nabi Lut untuk kaumnya yang berbuat sesat 53 23 As-Saffat (37) 100 Doa Nabi Ibrahim agar mendapatkan anak saleh 54 24 Ghafir (40) 7–9 Doa para malaikat untuk orang-orang yang beriman 55 26 Al-Ahqaf (46) 15 Doa untuk kedua orang tua dan keturunan 56 27 Al-Qamar (54) 15 Doa Nabi Nuh menghadapi hinaan kaumnya 57 28 Al-Hasyr (59) 10 Doa orang-orang yang datang setelah kaum Muhajirin dan Ansar 58 28 Al-Mumtahanah (60) 4–5 Doa Nabi Ibrahim 59 28 At-Tahrim (66) 8 Doa Nabi Muhammad dan orang-orang beriman 60 28 At-Tahrim (66) 11 Doa istri Fir’aun 61 29 Nuh (71) 26 Doa Nabi Nuh atas kaumnya yang ingkar

vii 62 29 Nuh (71) 28 Doa Nabi Nuh untuk kedua orang tua dan kaumnya yang beriman 63 30 Al-Falaq (113) 1–5 Doa memohon perlindungan kepada Allah 64 30 An-Nas (114) 1–6 Doa memohon perlindungan kepada Allah

1 1. Doa Mohon Petunjuk Surah Al-Fātiḥah (1): Ayat 6–7 اا الْمُسْتاقِيْماطااِهْدَِنا الصِر اَلا الضَّاۤل ِْيْاالايْهِم ْ وغْضُوْب ِ عاْيِْ الْم الايْهِم ْ ە ۙ غاا عمْتاْع ااناا الَّذِيْناطاصِر Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Ṣirāṭal-lażīna an‘amta ‘alaihim, gairil- magḍūbi ‘alaihim wa laḍ-ḍāllīn. Artinya “ Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fātiḥah [1]: 6–7, terjemahan Kementerian Agama RI). Kandungan Doa Doa ini merupakan permohonan seorang hamba kepada Allah Swt. agar senantiasa diberikan petunjuk menuju jalan yang benar, yaitu jalan yang diridai-Nya. Seorang muslim memohon agar dapat mengikuti jalan orang-orang yang memperoleh nikmat Allah, seperti para nabi, orang- orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh. Selain itu, doa ini mengandung permohonan agar dijauhkan dari jalan yang membawa kepada kemurkaan Allah dan kesesatan.

2 2. Doa Nabi Ibrahim a.s. dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 126 Surah Al-Baqarah ayat 126ْ َلَدًا آمِنًا وَارْزُق ْ أَهْلَه ُ مِن َ الثَّمَرَات ِ مَن ْرَاهِيم ُ رَب ِ اجْعَل ْ هََٰذَا ب وَإِذ ْ قَال َ إِبُ ًلً ُثَُّ أَضْطَرُّه َوْم ِ ا ْلْخِر ِ ۖ قَال َ وَمَن ْ كَفَر َ فَأُمَتِعُه ُ قَلِي ْ ِبَِّللَِّ وَالْي ْهُم آمَن َ مِن ُ َِلََٰ عَذَاب ِ النَّار ِ ۖ وَبِئْس َ الْمَصِي إ Wa idz qā la Ibrā hī mu rabbi-j‘al hā dzā baladan ā minaw warzuq ahlahū minats-tsamarā ti man ā mana minhum billā hi wal-yaumil-ā khir. Qā la wa man kafara fa-umatti‘uhū qalī lan tsumma adhtarruhū ilā ‘adzā bin- nā r, wa bi’sal-maṣī r. Artinya “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.’ Dia (Allah) berfirman, ‘Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.’” Doa Nabi Ibrahim dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 126 mengandung permohonan akan keamanan negeri, kecukupan rezeki, serta pelajaran tentang pentingnya iman dan kehidupan akhirat. Doa ini mengajarkan bahwa negeri yang ideal bukan hanya makmur secara materi, tetapi juga aman dan menjadi tempat bagi masyarakat untuk menjalankan kehidupan beriman.

3 3. Doa Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. ketika Membangun Fondasi Ka'bah Q.S. Al-Baqarah [2]: 127–128ُ َقَبَّل ْ مِنَّا إِنَّك َ أَنْت َ السَّمِيع ُ الْعَلِيم َّنَا ت رَب rabbanā taqabbal minnā, innaka antas-samī‘ul-‘alīm. Artinya: ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.’” َْيِْ لَك َ وَمِن ْ ذُرِيَّتِنَا أُمَّة ً مُسْلِمَة ً لَك َ وَأَر َِنَ مَنَاسِكَنَا َّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِم رَب ُ َّوَّاب ُ الرَّحِيم ْنَا ۖ إِنَّك َ أَنْت َ الت وَتُب ْ عَلَي Rabbanā waj‘alnā muslimaini laka wa min dzurriyyatinā ummatan muslimatan laka, wa arinā manā sikanā wa tub ‘alainā , innaka antat- tawwā bur-raḥī m. Artinya: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu. Tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” Doa dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 127–128 mengajarkan bahwa membangun tempat ibadah harus disertai keikhlasan, permohonan agar amal diterima, keteguhan dalam Islam, kepedulian terhadap keturunan, serta keinginan untuk selalu mendapatkan ampunan dan petunjuk Allah.

4 4. Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat Q.S. Al-Baqarah [2]: 201 َِفِ ا ْلْخِرَة ِ حَسَنَة ً وَقِنَا ْيَا حَسَنَة ً و ِفِ الدُّن َّنَا آتِنَا َقُول ُ رَب ْهُم ْ مَن ْ ي وَمِن ِ عَذَاب َ النَّار Wa minhum man yaqūlu rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanatan wa fil- ākhirati ḥasanatan wa qinā ‘adzāban-nār. Artinya “Dan di antara mereka ada yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” 5. Doa Pasukan Thalut ketika Melihat Musuh Q.S. Al-Baqarah [2]: 250َ َبِت ْ أَقْدَامَنَا وَانْصُر َْنَ عَلَى الْقَوْم ِ الْكَافِرِين ْنَا ص َْبًْا وَث ِغ ْ عَلَيَّنَا أَفْر رَب rabbanā afrigh ‘alainā ṣabraw wa tsabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal- qaumil-kāfirīn. ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’” Kisah singkat di balik doa Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 246–251, diceritakan tentang Bani Israil yang meminta seorang raja untuk memimpin mereka berperang di jalan Allah. Allah kemudian mengangkat Thalut sebagai raja. Ketika Thalut dan pasukannya menghadapi Jalut beserta tentaranya, mereka menyadari besarnya tantangan yang ada. Pasukan yang beriman pun memanjatkan

5 doa dalam ayat 250, memohon kesabaran, keteguhan, dan pertolongan Allah. Dalam ayat 251, Allah menceritakan bahwa mereka mengalahkan pasukan Jalut dengan izin-Nya, dan Dawud membunuh Jalut. 6. Ayat Kursi — Q.S. Al-Baqarah [2]: 255ِفِ َوْم ٌ ۚ لَه ُ مَا ََلَ ن ُ ۚ َلَ َتَْخُذُه ُ سِنَة ٌ و َِلَّ هُو َ ا ْلَْي ُّ الْقَيُّوم َّللَُّ َلَ إِلََٰه َ إ اُ َعْلَم َِلَّ ِبِِذْنِه ِ ۚ ي ِفِ ا ْلَْرْض ِ ۗ مَن ْ ذَا الَّذِي يَشْفَع ُ عِنْدَه ُ إ السَّمَاوَات ِ وَمَا ُِ َْيَْ أَيْدِيهِم ْ وَمَا خَلْفَهُم ْ ۖ و ََلَ ي مَا ب ۚ ََِلَّ ِبَِا شَاء يطُون َ بِشَيْء ٍ مِن ْ عِلْمِه ِ إُّ ۚ وَهُو َ الْعَلِي َئُودُه ُ حِفْظُهُمَا ََلَ ي وَسِع َ كُرْسِيُّه ُ السَّمَاوَات ِ وَا ْلَْرْض َ ۖ و ُ الْعَظِيمAllā hu lā ilā ha illā huwal-ḥayyul-qayyū m. Lā ta’khudzuhū sinatuw wa lā naum. Lahū mā fis-samā wā ti wa mā fil-arḍ . Man dzal-ladzī yasyfa‘u ‘indahū illā bi-idznih. Ya‘lamu mā baina aidī him wa mā khalfahum. Wa lā yuḥīṭū na bisyai’im min ‘ilmihī illā bimā syā ’. Wasi‘a kursiyyuhus-samā wā ti wal-arḍ . Wa lā ya’ū duhū ḥifẓuhumā wa huwal- ‘aliyyul-‘aẓī m. Artinya “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus- menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu- Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan

6 bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.” Keutamaan Ayat Kursi َنَا حَدَّث َُمَُمَّد ُ بْن ُ إ ِْسَْاعِيلَنَا ، قَال َ حَدَّث ُّا ْلُْمَيْدِيَنَا ، قَال َ حَدَّثُسُفْيَان َ ْنَة َي بْن ُ عُيَّْللَُّ مِن َّللَِّ بْن ِ مَسْعُود ٍ قَال َ مَا خَلَق َ ا َفْسِي ِ حَدِيث ِ عَبْد ِ ا ِفِ ت ،ِ ْسََاء ٍ و ََلَ أَرْض ٍ أَعْظَم َ مِن ْ آيَة ِ الْكُرْسِي.ُِ ْلَن َّ آيَة َ الْكُرْسِي قَال َ سُفْيَان ِ َّللَِّ مِن َ السَّمَاء ِ وَا ْلَرْض َّللَِّ أَعْظَم ُ مِن ْ خَلْق ِ ا َك ًَلَم ُ اَّللَِّ و هُوَ ك ًَلَم ُ ا. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma‘il, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Al-Humaidi, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, mengenai penjelasan hadis Abdullah bin Mas‘ud, beliau berkata: “Allah tidak menciptakan sesuatu dari langit maupun bumi yang lebih agung daripada Ayat Kursi.” Sufyan berkata: “Hal itu karena Ayat Kursi merupakan firman Allah, dan firman Allah lebih agung daripada makhluk ciptaan Allah, yaitu langit dan bumi.”1َْْبَََن أَخٍعَمْرُو بْن ُ عَاصِمَنَا ، حَدَّثٌَحََّاد ْ، عَنٍعَاصِم ْ، عَنِ ِالشَّعْبْعَنٍ ابْن ِ مَسْعُود ََقَرَة ِ ، وَآيَة َرَأ َ أَرْبَع َ آ َيَت ٍ مِن ْ أَوَّل ِ سُورَة ِ الْب ، قَال َ : " مَن ْ ق 1 At-Tirmidzi, Jāmi‘ at-Tirmidzi, no. hadis 2884, Kitāb Faḍā’il al-Qur’ān, hadis ke-10 dalam Buku 45. Dinilai sahih oleh Darussalam. https://sunnah.com/tirmidhi:2884.

7 َقَرَة ِ ، ًَلًَثً مِن ْ آخِر ِ سُورَة ِ الْب َعْد َ آيَة ِ الْكُرْسِيِ، وَث َتَان ِ ب الْكُرْسِيِ، وَآي ُقْرَأْن َ عَلَى َوْمَئِذ ٍ شَيْطَانٌ، و ََلَ شَيْء ٌ يَكْرَهُهُ، و ََلَ ي َقْرَبْه ُ و ََلَ أَهْلَه ُ ي َلَْ ي َ َِلَّ أَفَاق َمَْنُون ٍ إ" Artinya Telah mengabarkan kepada kami ‘Amr bin ‘Ashim, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari ‘Ashim, dari Asy-Sya‘bi, dari Ibnu Mas‘ud, beliau berkata: “Barang siapa membaca empat ayat dari awal Surah Al-Baqarah, Ayat Kursi, dua ayat setelah Ayat Kursi, dan tiga ayat dari akhir Surah Al- Baqarah, maka pada hari itu setan tidak akan mendekatinya dan keluarganya, serta tidak akan mendekati sesuatu yang tidak disukainya. Dan ayat-ayat tersebut tidaklah dibacakan kepada orang yang gila, melainkan ia akan sadar kembali.” 7. Do’a orang Mu’min Surah Al-Baqarah ayat 286ۗ ْ ْهَا مَا اكْتَسَبَت كَسَبَت ْ وَعَلَي ۚ َلََا مَا َِلَّ وُسْعَهَا َفْسًا إ َّللَُّ ن َلَ يُكَلِف ُ ا كَمَا ْنَا إِصْرًا ََلَ َتَْمِل ْ عَلَي َّنَا و َْنَ ۚ رَب َْنَ إِن ْ نَسِينَا أَو ْ أَخْطَأ ُؤَاخِذ َلَ ت َّنَا رَب َ َّن َبْلِنَا ۚ رَب َحََلْتَه ُ عَلَى الَّذِين َ مِن ْ قَُلَ طَاقَة َ لَنَا بِه ِ ۖ وَاعْف ََلَ َتَُمِلْنَا مَا ا و َ َْلََنَ فَانْصُر َْنَ عَلَى الْقَوْم ِ الْكَافِرِين عَنَّا وَاغْفِر ْ لَنَا وَار َْحَْنَا ۚ أَنْت َ مَوLā yukallifullā hu nafsan illā wus‘ahā . Lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat. Rabbanā lā tu’ā khidznā in nasī nā au akhṭ a’nā . Rabbanā wa lā taḥ mil ‘alainā iṣ ran kamā ḥamaltahū ‘alalladzī na min qablinā .

8 Rabbanā wa lā tuḥ ammilnā mā lā ṭā qata lanā bih. Wa‘fu ‘annā , wagfir lanā , warḥ amnā . Anta maulā nā fanṣ urnā ‘alal-qaumil-kā firī n. Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’” Keutamaan membaca dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ملسو هيلع هللا ىلص menjelaskan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir Surah Al- Baqarah pada malam hari, maka keduanya akan mencukupinya. Para ulama menjelaskan makna “mencukupinya” dengan beberapa penafsiran, antara lain mencukupi sebagai bacaan malam, sebagai perlindungan, atau sebagai sebab memperoleh pahala dan kebaikan. Kesimpulan: Q.S. Al-Baqarah ayat 285–286 mengajarkan keimanan, ketaatan, kesadaran atas keterbatasan manusia, serta permohonan ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah. Dua ayat ini juga mengingatkan kita untuk tetap berusaha, bertobat ketika salah, dan bertawakal dalam menghadapi ujian kehidupan.

9 8. Doa memohon konsistensi hati dalam petunjuk Q.S. Ali ‘Imran (3): 8–9َ َنَا وَهَب ْ لَنَا مِن ْ لَدُنْك َ ر ََحَْة ً ۚ إِنَّك َ أَنْت ْت َعْد َ إِذ ْ هَدَي َنَا ب ُلُوب ِغ ْ قَلَ تُز َّنَا رَبُ الْوَهَّاب٨ََّللََّ َلٍ َلَ رَيْب َ فِيه ِ ۚ إِن َّ ا َوْم َّنَا إِنَّك َ جَامِع ُ النَّاس ِ لِي رَب َ ُيُْلِف ُ الْمِيعَاد٩Rabbanā lā tuzigh qulū banā ba‘da iż hadaitanā wa hab lanā min ladunka raḥ mah, innaka antal-Wahhā b. Rabbanā innaka jā mi‘un-nā si liyaumin lā raiba fī h, innallā ha lā yukhliful-mī ‘ā d. Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan tentangnya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” 9. Do’a orang yang akan mendapatkan surga Q.S. Ali ‘Imran (3): 16ِ َنَا وَقِنَا عَذَاب َ النَّار َّنَا آمَنَّا فَاغْفِر ْ لَنَا ذُنُوب َّنَا إِن َقُولُون َ رَب الَّذِين َ ي١٦Allażī na yaqū lū na rabbanā innanā ā mannā faghfir lanā ż unū banā wa qinā ‘ażā ban-nā r.

10 “(Yaitu) orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.’” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 16). 10. Doa mengakui kebesaran Allah Q.S. Ali ‘Imran (3): 26ُ ِع ُ الْمُلْك َ ِمَِّن ْ تَشَاءَنْز ِْتِ الْمُلْك َ مَن ْ تَشَاء ُ وَت ُؤ قُل ِ اللَّهُم َّ مَالِك َ الْمُلْك ِ تٍ وَتُعِز ُّ مَن ْ تَشَاء ُ وَتُذِل ُّ مَن ْ تَشَاء ُ ۖ بِيَدِك َ ا ْلَْي ُْ ۖ إِنَّك َ عَلَى َٰ كُل ِ شَيْء ٌ قَدِير٢٦Qulillā humma mā likal-mulki tu’til-mulka man tasyā ’u wa tanzi‘ul- mulka mimman tasyā ’u wa tu‘izzu man tasyā ’u wa tużillu man tasyā ’. Biyadikal-khair, innaka ‘alā kulli syai’in qadī r. “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.’” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 26) 11. Doa Nabi Zakaria a.s. Memohon Keturunan yang Baik Q.S. Ali ‘Imran (3): 38ِ َ ْسَِيع ُ الدُّعَاء ْ ِلِ مِن ْ لَدُنْك َ ذُرِيَّة ً طَيِبَة ً ۖ إِنَّك رَب ِ هَب٣٨rabbi hab lī min ladunka żurriyyatan ṭ ayyibah, innaka samī ‘ud-du‘ā ’.

11 Artinya: ‘Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.’” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 38). Kisah singkatnya Nabi Zakaria a.s. melihat Maryam mendapatkan rezeki dari Allah ketika beliau mengunjunginya di tempat ibadah. Peristiwa itu semakin menguatkan keyakinan beliau terhadap kekuasaan Allah. Meskipun telah lanjut usia dan istrinya mandul, Nabi Zakaria tetap berharap Allah menganugerahkan keturunan kepadanya. Beliau pun berdoa dengan penuh harap agar diberikan keturunan yang baik dan saleh. Allah kemudian mengabulkan doanya dengan menganugerahkan seorang putra bernama Nabi Yahya a.s. Pelajaran: Jangan pernah berputus asa dalam berdoa kepada Allah. Mintalah bukan hanya anak, tetapi juga keturunan yang saleh, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi agama serta sesama. Kisah ini berlanjut dalam Q.S. Ali ‘Imran ayat 39–41. 12. Doa Pengikut Nabi Isa a.s. Q.S. Ali ‘Imran ayat 39–41.َ ْنَا مَع َ الشَّاهِدِين ُب َعْنَا الرَّسُول َ فَاكْت َّب ْزَلْت َ وَات َّنَا آمَنَّا ِبَِا أَن رَب٥٣ Rabbanā āmannā bimā anzalta wattaba‘nar-rasūla faktubnā ma‘asy- syāhidīn. “Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan kami telah mengikuti rasul, karena itu tetapkanlah kami

12 bersama orang-orang yang memberikan kesaksian.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 53). Kisah singkatnya Ketika Nabi Isa a.s. mengajak kaumnya untuk beriman kepada Allah, beliau merasakan adanya penolakan dari sebagian orang. Namun, para pengikut setianya yang dikenal sebagai al-ḥawāriyyūn menyatakan dukungan dan keimanan mereka kepada Allah. Mereka beriman kepada wahyu yang Allah turunkan dan berkomitmen mengikuti Nabi Isa a.s. Kemudian mereka memanjatkan doa agar Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang bersaksi atas kebenaran. Kisah ini berkaitan dengan Q.S. Ali ‘Imran ayat 52–55. 13. Doa Orang-Orang yang Berjuang Bersama Nabi Muhammad saw. Q.S. Ali ‘Imran (3): 147 َبِت ْ أَقْدَامَنَا وَانْصُر َْنَ عَلَى ِفِ أَمْر َِنَ وَث َنَا َنَا وَإِسْرَاف َّنَا اغْفِر ْ لَنَا ذُنُوب رَبَ الْقَوْم ِ الْكَافِرِين١٤٧ rabbanaghfir lanā żunūbanā wa isrāfanā fī amrinā wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn. “Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.’” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 147).

13 Kisah singkatnya Ayat ini menggambarkan doa para pengikut nabi-nabi terdahulu yang tetap teguh berjuang di jalan Allah. Mereka tidak menjadi lemah atau menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, mereka memohon ampunan atas dosa-dosa mereka, keteguhan hati dan langkah, serta pertolongan Allah dalam menghadapi musuh. Ayat ini berada dalam rangkaian pembahasan tentang perjuangan para nabi dan pengikut mereka, khususnya setelah kaum Muslimin menghadapi ujian dalam Perang Uhud. Meskipun demikian, doa pada ayat 147 secara langsung menggambarkan orang-orang yang berjuang bersama para nabi terdahulu, bukan secara khusus doa yang diucapkan para sahabat dalam Perang Uhud. 14. Doa Menghadapi Musuh Q.S. Ali ‘Imran (3): Ayat 173َنً َزَادَهُم ْ إِميَا ْ َجََعُوا لَكُم ْ فَاخْشَوْهُم ْ ف الَّذِين َ قَال َ َلَُم ُ النَّاس ُ إِن َّ النَّاس َ قَد ُ َكِيلَّللَُّ وَنِعْم َ الْو ُنَا ا وَقَالُوا حَسْب١٧٣ Allażīna qāla lahumun-nāsu innan-nāsa qad jama‘ū lakum fakhsyauhum fa-zādahum īmānan wa qālū ḥasbunallāhu wa ni‘mal- wakīl. “(Yaitu) orang-orang yang (ketika) ada orang-orang mengatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.’” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 173).

14 Doa inti yang dapat diamalkanُ َكِيلَّللَُّ وَنِعْم َ الْو ُنَا ا حَسْب Ḥasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl. Artinya: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.” Hikmah ayat: Seorang mukmin hendaknya tidak mudah takut menghadapi ancaman musuh. Ia harus tetap teguh dalam keimanan, berikhtiar, dan bertawakal kepada Allah Swt. Ayat ini mengajarkan keberanian serta keyakinan bahwa pertolongan Allah adalah sebaik- baik sandaran 15. Doa Orang yang Mengagumi Ciptaan Allah Q.S. Ali ‘Imran (3): Ayat 191–194 Ayat 191ِ َ ِفِ خَلْق َفَكَّرُون َت ُعُودًا وَعَلَى َٰ جُنُو ِبِِم ْ وَي َّللََّ قِيَامًا وَق الَّذِين َ يَذْكُرُون َ اَ ًِلً سُبْحَانَك َ فَقِنَا عَذَاب ِبَط َّنَا مَا خَلَقْت َ هََٰذَا السَّمَاوَات ِ وَا ْلَْرْض ِ رَب ِ النَّار١٩١ Latin: Allażīna yażkurūnallāha qiyāmāw wa qu‘ūdaw wa ‘alā junūbihim wa yatafakkarūna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilā, subḥānaka faqinā ‘ażāban-nār. Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah

15 Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’” Ayat 192ٍ ِْيَ مِن ْ أَنْصَار ْتَه ُ وَمَا لِلظَّالِم َقَد ْ أَخْزَي َّنَا إِنَّك َ مَن ْ تُدْخِل ِ النَّار َ ف رَب١٩٢ Latin: Rabbanā innaka man tudkhilin-nāra faqad akhzaitah, wa mā liẓ- ẓālimīna min anṣār. Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim.” Ayat 193ْ َّنَا فَاغْفِر ُنَادِي ل ِْلِْميَان ِ أَن ْ آمِنُوا بِرَبِكُم ْ فَآمَنَّا رَب َِيً ي ْسَِعْنَا مُنَاد َّنَا َّنَا إِن رَب ِ ْرَار َّنَا مَع َ ا ْلَْب َوَف َكَفِر ْ عَنَّا سَيِئَاتِنَا وَتَنَا و لَنَا ذُنُوب١٩٣ Latin: Rabbanā innanā sami‘nā munādiyāy yunādī lil-īmāni an āminū birabbikum fa-āmannā, rabbanā faghfir lanā żunūbanā wa kaffir ‘annā sayyi’ātinā wa tawaffanā ma‘al-abrār. Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), ‘Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,’ maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.” Ayat 194

16ُ َ َلَ ُتُْلِف َوْم َ الْقِيَامَة ِ إِنَّك ََلَ ُتُْز َِنَ ي َنَا عَلَى َٰ رُسُلِك َ و َّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْت رَب َ الْمِيعَاد١٩٤ Latin: Rabbanā wa ātinā mā wa‘adtanā ‘alā rusulika wa lā tukhzinā yaumal-qiyāmah, innaka lā tukhliful-mī‘ād. Artinya: “Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji.” 16. Doa Orang-orang Nasrani yang Beriman karena Menyadari Kebenaran Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw. Q.S. Al- Mā’idah (5): Ayat 83 َهُم ْ تَفِيض ُ مِن َ الدَّمْع ِ ِمَِّا عَرَفُوا ُن َرَى َٰ أَعْي َِلَ الرَّسُول ِ ت ْسَِعُوا مَا أُنْزِل َ إ وَإِذَا َ َقُولُون مِن َ ا ْلَْق ِ ۖ يا الشَّاهِدِيناعاْناا م ُب نَّا فااكْتاَّناا آم بار٨٣ Wa iżā sami‘ū mā unzila ilar-rasūli tarā a‘yunahum tafīḍu minad-dam‘i mimmā ‘arafū minal-ḥaqqi, yaqūlūna rabbanā āmannā faktubnā ma‘asy-syāhidīn. “Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), engkau melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab- kitab mereka), seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).’” (Q.S. Al-Mā’idah [5]: 83).

17 Kisah di Balik Doa Q.S. Al-Mā’idah (5): Ayat 83 Doa ini berkaitan dengan kisah orang-orang Nasrani yang mengenali kebenaran ajaran Nabi Muhammad saw. ketika mendengarkan Al- Qur’an. Hati mereka tersentuh hingga air mata mereka bercucuran karena mereka menyadari bahwa wahyu yang dibacakan Rasulullah saw. mengandung kebenaran yang sejalan dengan petunjuk yang mereka ketahui sebelumnya. Kisah turunnya ayat Dalam penjelasan tafsir, ayat ini berkaitan dengan sekelompok orang Nasrani yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci terdahulu. Ketika mereka mendengar Al-Qur’an yang disampaikan Nabi Muhammad saw., mereka mengenali tanda-tanda kebenaran yang mereka yakini berasal dari Allah. Mereka tidak bersikap sombong atau menolak kebenaran hanya karena datang melalui seorang nabi dari bangsa lain. Al-Qur’an juga menceritakan dalam ayat-ayat sebelumnya, khususnya Q.S. Al-Mā’idah ayat 82–85, tentang orang-orang Nasrani yang memiliki sikap rendah hati dan kedekatan emosional terhadap kebenaran. Mereka berkata bahwa mereka beriman dan memohon agar Allah memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran tersebut. Perlu diketahui, para mufasir menghubungkan ayat-ayat ini dengan beberapa riwayat. Salah satu riwayat yang terkenal menyebut rombongan Nasrani dari Habasyah (Abyssinia) yang datang kepada Nabi Muhammad saw. dan mendengarkan Al-Qur’an. Namun, tidak semua riwayat menyebut kelompok atau peristiwa yang sama secara persis.

18 17. Doa Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa setelah Melanggar Larangan Allah Swt.Q.S. Al-A‘rāf (7): Ayat 23َ َر َْحَْنَا لَنَكُونَن َّ مِن َ ا ْلَْاسِرِين َغْفِر ْ لَنَا وَت َلَْ ت ْ ْفُسَنَا وَإِن َّنَا ظَلَمْنَا أَن َلَ رَب قَا ٢٣ Qālā rabbanā ẓalamnā anfusanā wa il lam taghfir lanā wa tarḥamnā lanakūnanna minal-khāsirīn. “Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (Q.S. Al- A‘rāf [7]: 23). Kisah di balik doa Setelah Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa tinggal di surga, Allah Swt. memperbolehkan mereka menikmati berbagai kenikmatan, tetapi melarang mereka mendekati sebuah pohon tertentu. Namun, setelah digoda oleh setan, keduanya melanggar larangan tersebut. Ketika menyadari kesalahan mereka, Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa tidak menyalahkan orang lain ataupun mencari alasan untuk membenarkan perbuatan mereka. Keduanya mengakui kesalahan dengan penuh penyesalan dan memohon ampunan serta rahmat Allah Swt. melalui doa dalam Surah Al-A‘rāf ayat 23 ini. Kisah tersebut mengajarkan bahwa manusia dapat melakukan kesalahan, tetapi orang yang beriman hendaknya segera menyadari kesalahannya, bertobat, dan kembali kepada Allah Swt. 18. Doa Penghuni Surga ketika Melihat Neraka

19 Q.S. Al-A‘rāf (7): Ayat 47َ َلَ َتَْعَلْنَا مَع َّنَا وَإِذَا صُرِفَت ْ أَبْصَارُهُم ْ تِلْقَاء َ أَصْحَاب ِ النَّار ِ قَالُوا رَبِْيَ الْقَوْم ِ الظَّالِم٤٧ Wa iżā ṣurifat abṣāruhum tilqā’a aṣḥābin-nāri qālū rabbanā lā taj‘alnā ma‘al-qaumiẓ-ẓālimīn. “Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang-orang yang zalim.’” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 47). Kisah di balik doa Ayat ini menggambarkan keadaan penghuni Al-A‘rāf, yaitu tempat atau batas yang berada di antara surga dan neraka. Dalam ayat-ayat sebelumnya, Allah Swt. menjelaskan bahwa di antara penghuni Al-A‘rāf terdapat orang-orang yang mengenali penghuni surga dan penghuni neraka melalui tanda-tanda mereka. Ketika pandangan mereka diarahkan kepada para penghuni neraka, mereka memohon kepada Allah agar tidak ditempatkan bersama orang- orang zalim. Doa ini menunjukkan rasa takut terhadap azab Allah dan harapan agar diselamatkan dari kesudahan yang buruk. 19. Doa Nabi Syu‘aib a.s. dalam Menghadapi Kaumnya Q.S. Al-A‘rāf (7): Ayat 89

20 ْهَا ۚ وَمَا َّللَُّ مِن َنَ ا َنََّا ْ َعْد َ إِذ َْنَ ِفِ مِلَّتِكُم ْ ب ِِبً إِن ْ عُد َّللَِّ كَذ ْنَا عَلَى ا قَد ِ اف َْتََيٍ ُّنَا كُل َّ شَيْء ُّنَا ۚ وَسِع َ رَب َّللَُّ رَب َِلَّ أَن ْ يَشَاء َ ا َعُود َ فِيهَا إ يَكُون ُ لَنَا أَن ْ نۚ َكَّلْنَاَو َّللَِّ ت عِلْمًا ۚ عَلَى اُِْبِْلَْق ِ وَأَنْت َ خَي َوْمِنَا َْيَْ ق َنَا وَب ْن َي ْتَح ْ ب َّنَا اف رَبََتِِْي الْفَا٨٩ Qadiftarainā ‘alallāhi każiban in ‘udnā fī millatikum ba‘da iż najjānallāhu minhā, wa mā yakūnu lanā an na‘ūda fīhā illā an yasyā’allāhu rabbunā, wasi‘a rabbunā kulla syai’in ‘ilmā, ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanāftaḥ bainanā wa baina qauminā bil-ḥaqqi wa anta khairul-fātiḥīn. “Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah jika kami kembali kepada agamamu setelah Allah menyelamatkan kami darinya. Tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami, menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan yang terbaik.” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 89). Kisah di balik doa Nabi Syu‘aib a.s. diutus kepada penduduk Madyan untuk mengajak mereka menyembah Allah Swt., menyempurnakan takaran dan timbangan, serta meninggalkan kecurangan dalam perdagangan. Namun, banyak di antara kaumnya menolak dakwah tersebut. Mereka bahkan mengancam akan mengusir Nabi Syu‘aib a.s. dan orang-orang yang beriman, kecuali jika mereka kembali kepada agama kaum tersebut.

21 Menghadapi tekanan itu, Nabi Syu‘aib a.s. bersama orang-orang beriman tetap teguh mempertahankan keimanan. Mereka tidak mau kembali kepada kekufuran setelah memperoleh petunjuk Allah. Mereka menyerahkan urusan kepada Allah dan memohon agar Allah memberikan keputusan yang benar dan adil antara mereka dengan kaumnya. 20. Doa Para Ahli Sihir Fir‘aun setelah Beriman kepada Nabi Musa a.s. Q.S. Al-A‘rāf (7): Ayat 126 ْنَا ص َْبًْا ِغ ْ عَلَيَّنَا أَفْر ْنَا ۚ رَب ِبَِيَت ِ رَبِنَا لَمَّا جَاءَت َِلَّ أَن ْ آمَنَّا َنْقِم ُ مِنَّا إ وَمَا ت َِْي َّنَا مُسْلِم َوَف وَت١٢٦ Wa mā tanqimu minnā illā an āmannā bi’āyāti rabbinā lammā jā’atnā, rabbanā afrigh ‘alainā ṣabraw wa tawaffanā muslimīn. “Dan engkau tidak menyalahkan (menuntut balas) kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada tanda-tanda (kebesaran) Tuhan kami ketika tanda-tanda itu datang kepada kami. (Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu).’” (Q.S. Al- A‘rāf [7]: 126). Kisah di balik doa Fir‘aun mengumpulkan para ahli sihirnya untuk menghadapi Nabi Musa a.s. Mereka diminta menunjukkan kemampuan sihir di hadapan banyak orang untuk menandingi mukjizat Nabi Musa. Ketika para ahli sihir melemparkan tali dan tongkat mereka, benda-benda itu tampak seperti ular karena sihir mereka.

22 Namun, ketika Nabi Musa a.s. melemparkan tongkatnya atas izin Allah, tongkat itu berubah menjadi ular yang nyata dan menelan apa yang mereka buat. Para ahli sihir yang memahami ilmu sihir segera menyadari bahwa apa yang dilakukan Nabi Musa bukanlah sihir biasa, melainkan tanda kekuasaan Allah. Mereka pun tersungkur bersujud dan menyatakan keimanan kepada Allah, Tuhan semesta alam. Fir‘aun sangat murka. Ia mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang serta menyalib mereka. Menghadapi ancaman siksa tersebut, para ahli sihir tidak menarik kembali keimanan mereka. Mereka justru memohon kepada Allah agar dianugerahi kesabaran dan diwafatkan dalam keadaan berserah diri kepada-Nya. 21. Doa Nabi Musa a.s. untuk Nabi Harun a.s.ََحِِْي ِفِ ر ََحَْتِك َ وَأَنْت َ أَرْحَم ُ الرَّا ْ ِلِ و َْلَِخِي وَأَدْخِلْنَا قَال َ رَب ِ اغْفِر١٥١ Qāla rabbi-ghfir lī wa li-akhī wa adkhilnā fī raḥmatik, wa anta arḥamur- rāḥimīn. “Dia (Musa) berdoa, ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu. Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.’” (Q.S. Al-A‘rāf [7]: 151). Kisah di balik doa

23 Ketika Nabi Musa a.s. pergi ke Gunung Ṭūr untuk menerima wahyu dari Allah Swt., beliau meninggalkan kaumnya dengan menunjuk Nabi Harun a.s. sebagai pemimpin sementara. Namun, ketika Nabi Musa kembali, beliau mendapati sebagian kaumnya telah menyembah patung anak sapi yang dibuat oleh Samiri. Nabi Musa a.s. sangat marah dan sedih melihat kaumnya menyimpang dari ajaran tauhid. Beliau kemudian menegur Nabi Harun a.s. karena merasa kaumnya tidak berhasil dicegah dari kesesatan tersebut. Nabi Harun menjelaskan bahwa beliau telah berusaha mengingatkan mereka, tetapi khawatir tindakannya yang lebih keras akan menimbulkan perpecahan di antara Bani Israil. Setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya, Nabi Musa a.s. memohon ampun kepada Allah untuk dirinya dan saudaranya, Nabi Harun a.s. Beliau juga memohon agar keduanya dimasukkan ke dalam rahmat Allah. Kisah ini menunjukkan kasih sayang Nabi Musa kepada saudaranya dan pentingnya kembali memohon pertolongan Allah setelah menghadapi persoalan yang berat. 22. Doa Nabi Musa a.s. Memintakan Ampunan untuk Kaumnya Q.S. Al-A‘rāf (7): Ayat 155–156َ َلَمَّا أَخَذ َْتُْم ُ الرَّجْفَة ُ قَال ًُلً لِمِيقَاتِنَا ۖ ف ِْيَ رَج َوْمَه ُ سَبْع وَاخْتَار َ مُوسَى َٰ قۖ َعَل َ السُّفَهَاء ُ مِنَّا َبْل ُ وَإ َِيَّي َ ۖ أ َْتُْلِكُنَا ِبَِا ف َهُم ْ مِن ْ ق رَب ِ لَو ْ شِئْت َ أَهْلَكْتْ ُّ ِبَِا مَن َتُك َ تُضِل ْن َِلَّ فِت إِن ْ هِي َ إُّنَا تَشَاء ُ و َْتَْدِي مَن ْ تَشَاء ُ ۖ أَنْت َ وَلِي َ فَاغْفِر ْ لَنَا وَار َْحَْنَا وَأَنْت َ خَي ُْ الْغَافِرِين١٥٥

24 Wakhtāra Mūsā qaumahū sab‘īna rajulal limīqātinā, falammā akhażat- humur-rajfatu qāla rabbi lau syi’ta ahlaktahum min qablu wa iyyāya, atuḥlikunā bimā fa‘alas-sufahā’u minnā? In hiya illā fitnatuka tuḍillu bihā man tasyā’u wa tahdī man tasyā’, anta waliyyunā faghfir lanā warḥamnā wa anta khairul-gāfirīn. “Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka diguncang gempa, Musa berdoa, ‘Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan-Mu. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pelindung kami, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik.’”َ َْنَ إِلَيْك َ ۚ قَال َِنَّ هُد َِفِ ا ْلْخِرَة ِ إ ْيَا حَسَنَة ً و ِفِ هََٰذِه ِ الدُّن وَاكْتُب ْ لَنَا ُهَا ُب ٍ ۚ فَسَأَكْت ََحَِْتِ وَسِعَت ْ كُل َّ شَيْء ِبِ أُصِيب ُ بِه ِ مَن ْ أَشَاء ُ وَر عَذَا َ ْ ِبَِيَتِن َّكَاة َ وَالَّذِين َ هُمُؤْتُون َ الز َّقُون َ وَي َت لِلَّذِين َ ي َُؤْمِنُون ا ي١٥٦ Latin: Waktub lanā fī hāżihid-dunyā ḥasanataw wa fil-ākhirati innā hudnā ilaik. Qāla ‘ażābī uṣību bihī man asyā’u wa raḥmatī wasi‘at kulla syai’, fasaktubuhā lillażīna yattaqūna wa yu’tūnaz-zakāta wallażīna hum bi’āyātinā yu’minūn. Artinya:

25 “Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. Allah berfirman, ‘Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang- orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.’” Kisah di balik doa Setelah Bani Israil melakukan berbagai pelanggaran, Nabi Musa a.s. memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk menghadap Allah pada waktu yang telah ditentukan. Dalam peristiwa tersebut, mereka ditimpa gempa atau guncangan yang dahsyat. Nabi Musa a.s. kemudian memohon kepada Allah agar tidak membinasakan mereka karena perbuatan sebagian orang yang kurang bijaksana. Beliau mengakui bahwa segala sesuatu terjadi dalam ketetapan dan ujian Allah, lalu memohon ampunan, rahmat, serta kebaikan bagi kaumnya di dunia dan akhirat. Doa tersebut menunjukkan kepedulian Nabi Musa a.s. terhadap keselamatan kaumnya. Beliau tidak hanya memohon ampun bagi dirinya sendiri, tetapi juga mengharapkan agar kaumnya mendapatkan rahmat Allah dan kembali ke jalan yang benar.2 Pelajaran yang dapat diambil 1. Memohon ampunan Allah bagi diri sendiri dan orang lain. 2. Menjadi pemimpin yang peduli terhadap keselamatan umatnya. 2 Tafsir Muyassar - Al-A'raf 7:155

26 3. Memohon kebaikan di dunia dan akhirat. 4. Tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. 5. Mengiringi doa dengan pertobatan, ketakwaan, dan keimanan. Inti doa: Memohon ampunan, rahmat, dan kebaikan di dunia serta akhirat bagi diri sendiri dan kaum yang dipimpin. 23. Doa Nabi Musa dan Nabi Harun a.s. dalam menghadapi Fir‘aun Q.S. Yūnus (10): Ayat 85–86ِْيَ ْنَة ً لِلْقَوْم ِ الظَّالِم َلَ َتَْعَلْنَا فِت َّنَا َكَّلْنَا رَبَو َّللَِّ ت َقَالُوا عَلَى ا ف٨٥و ََنَ ِنَا َ بِر ََحَْتِك َ مِن َ الْقَوْم ِ الْكَافِرِين٨٦ Fa qālū ‘alallāhi tawakkalnā, rabbanā lā taj‘alnā fitnatan lil-qaumiẓ- ẓālimīn (85), wa najjinā biraḥmatika minal-qaumil-kāfirīn (86). “Mereka berkata, ‘Kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang yang kafir.’” 24. Doa Nabi Nuh a.s. memohon ampunan kepada Allah Swt. Q.S. Hūd (11): Ayat 47ِِل ْ َغْفِر َِلَّ ت َ ِلِ بِه ِ عِلْم ٌ ۖ وَإ ِّن ِ أَعُوذ ُ بِك َ أَن ْ أَسْأَلَك َ مَا لَيْس رَب ِ إ َ َْحَِْنِ أَكُن ْ مِن َ ا ْلَْاسِرِين َر وَت٤٧

27 Rabbi innī a‘ūdzu bika an as’alaka mā laisa lī bihī ‘ilm, wa illā taghfir lī wa tarḥamnī akun minal-khāsirīn. “Dia (Nuh) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi.’” (Q.S. Hūd [11]: 47). 25. Doa-Doa Nabi Ibrahim a.s. dalam Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 35–41 • Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 35 — Doa memohon keamanan negeri dan perlindungan dari penyembahan berhalaَ َعْبُد َ ا ْلَْصْنَام َِنَِّ أَن ْ ن ِْنِ وَب ُب َلَد َ آمِنًا وَاجْن رَب ِ اجْعَل ْ هََٰذَا الْب٣٥ Latin: Rabbi-j‘al hāżal-bal ada āminaw-wajnubnī wa baniyya an na‘budal-aṣnām. Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.” • Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 36 — Doa memohon ampunan dan rahmat Allah bagi orang yang berdosaْ ِِن ِ ۖ وَمَن َِنِ فَإِنَّه ُ م رَب ِ إ َِّنَُّن َّ أَضْلَلْن َ كَثِيًا مِن َ النَّاس ِ ۖ فَمَن ْ تَبِع ٌ ّنِ فَإِنَّك َ غَفُور ٌ رَحِيم عَصَا٣٦ Rabbi innahunna aḍlalna kaṡīram minan-nās, faman tabi‘anī fa- innahū minnī, wa man ‘aṣānī fa-innaka gafūrur-raḥīm.

28 “Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak manusia. Maka barang siapa mengikutiku, sesungguhnya dia termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” • Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 37 — Doa memohon keturunan yang taat beribadah, kecintaan manusia, dan rezeki َّنَا َيْتِك َ الْمُحَرَّم ِ رَب ْع ٍ عِنْد َ بَِّتِ بِوَاد ٍ غَي ِْ ذِي زَر ِّن ِ أَسْكَنْت ُ مِن ْ ذُرِي َّنَا إ رَبَ ْهُم ْ مِن ِ ْتَْوِي إِلَيْهِم ْ وَارْزُق لِيُقِيمُوا الص ًَّلَة َ فَاجْعَل ْ أَفْئِدَة ً مِن َ النَّاسَ الثَّمَرَات ِ لَعَلَّهُم ْ يَشْكُرُون٣٧ Latin: Rabbanā innī askantu min żurriyyatī biwādin gairi żī zar‘in ‘inda baitikal-muḥarram, rabbanā liyuqīmuṣ-ṣalāta faj‘al af’idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuqhum minaṡ-ṡamarāti la‘allahum yasykurūn. Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman- tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (demikian itu kami lakukan) agar mereka melaksanakan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” • Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 38 — Doa pengakuan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu

29ِِف ٍ َّللَِّ مِن ْ شَيْء ُيَْفَى َٰ عَلَى ا ُعْلِن ُ ۗ وَمَا ُنُْفِي وَمَا ن َعْلَم ُ مَا َّنَا إِنَّك َ ت رَبِ ََلَ ِفِ السَّمَاء ا ْلَْرْض ِ و٣٨ Latin: Rabbanā innaka ta‘lamu mā nukhfī wa mā nu‘lin, wa mā yakhfā ‘alallāhi min syai’in fil-arḍi wa lā fis-samā’. Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah di bumi dan di langit.” • Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 39 — Doa syukur atas karunia keturunanِ َِب ِْبَِ إ ِْسَْاعِيل َ وَإِسْحَاق َ ۚ إِن َّ ر َ ِلِ عَلَى الْك ُ َّللَِِّ الَّذِي وَهَب ا ْلَْمْد ِ لَسَمِيع ُ الدُّعَاء٣٩ Latin: Al-ḥamdu lillāhill ażī wahaba lī ‘alal-kibari Ismā‘īla wa Isḥāq, inna rabbī lasamī‘ud-du‘ā’. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di usia tua (Ismail dan Ishak). Sungguh, Tuhanku benar- benar Maha Mendengar doa.” • Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 40 — Doa memohon keteguhan dalam mendirikan salat bagi diri sendiri dan keturunanِ َقَبَّل ْ دُعَاء َّنَا وَت َِّتِ ۚ رَب ِْنِ مُقِيم َ الص ًَّلَة ِ وَمِن ْ ذُرِي رَب ِ اجْعَل٤٠ Latin: Rabbij‘alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyyatī, rabbanā wa taqabbal du‘ā’.

30 Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” • Q.S. Ibrāhīm (14): Ayat 41 — Doa memohon ampunan bagi diri sendiri, kedua orang tua, dan seluruh orang mukminُ َقُوم ُ ا ْلِْسَاب َوْم َ ي ِْيَ ي ْ ِلِ وَلِوَالِدَي َّ وَلِلْمُؤْمِن َّنَا اغْفِر رَب٤١ Latin: Rabbanagfir lī wa liwālidayya wa lil-mu’minīna yauma yaqūmul-ḥisāb. Artinya: “Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya perhitungan (hari Kiamat).” 26. Doa untuk Kedua Orang Tua Q.S. Al-Isrā’ (17): Ayat 24ْ وَاخْفِضّنِ صَغِيًا َّيَا كَمَا رَب َلَُمَا جَنَاح َ الذُّل ِ مِن َ الر ََّحَْة ِ وَقُل ْ رَب ِ ار َْحَْهُمَا Wakhfiḍ lahumā janāḥaż-żulli mina ar-raḥmati wa qul rabbir- ḥamhumā kamā rabbayānī ṣagīrā. “Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” 27. Doa Salat Tahajud — Q.S. Al-Isrā’ (17): Ayat 80 َنً نَصِيًا ْ ِلِ مِن ْ لَدُنْك َ سُلْطَا َج َ صِدْق ٍ وَاجْعَلِْنِ ُمُْر ِْنِ مُدْخَل َ صِدْق ٍ وَأَخْرِج وَقُل ْ رَب ِ أَدْخِل Wa qur rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin wa akhrijnī mukhraja ṣidqin waj‘al lī min ladunka sulṭānan naṣīrā. “Dan katakanlah (Muhammad), ‘Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku ke tempat keluar

31 yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolongku.’” 28. Doa Penghuni Gua (Ashabul Kahfi) Q.S. Al-Kahf (18): Ayat 10 َّنَا آتِنَا مِن ْ لَدُنْك َ ر ََحَْة ً وَهَيِئ ْ لَنَا مِن ْ أَمْر َِنَ رَشَدًا رَب rabbanā ātinā min ladunka raḥmatan wa hayyi’ lanā min amrinā rasyadā. ‘Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.’” Kisah di Balik Doa Ashabul Kahfi — Q.S. Al-Kahf (18): Ayat 10 Doa ini berkaitan dengan kisah sekelompok pemuda beriman yang hidup di tengah masyarakat yang menyekutukan Allah. Mereka menolak menyembah selain Allah dan berusaha mempertahankan keimanan meskipun menghadapi tekanan dari penguasa dan masyarakatnya. Demi menyelamatkan iman, mereka meninggalkan lingkungan tersebut dan berlindung di dalam sebuah gua. Ketika berada di dalam gua, mereka memohon pertolongan Allah dengan berdoa, “Rabbanā ātinā min ladunka raḥmatan wa hayyi’ lanā min amrinā rasyadā,” yang berarti, “Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” Mereka tidak hanya meminta keselamatan dari ancaman, tetapi juga memohon rahmat dan petunjuk agar keputusan yang mereka ambil membawa kebaikan. Allah kemudian menidurkan mereka selama bertahun-tahun di dalam gua sebagai salah satu tanda kekuasaan-Nya. Kisah ini dilanjutkan dalam ayat-ayat berikutnya pada Surah Al-Kahf.

32 29. Doa Memohon Kelapangan Hati (Q.S. Ṭāhā (20): Ayat 25–28) ْ ِلِ صَدْرِي َحرَب ِ اشْر٢٥ْ ِلِ أَمْرِي وَيَسِر٢٦ْوَاحْلُل ْ عُقْدَة ً مِنّنِ لِسَا٢٧ِْلَِو َفْقَهُوا ق ي٢٨ Rabbi-syraḥ lī ṣadrī. Wa yassir lī amrī. Waḥlul ‘uqdatan min lisānī. Yafqahū qawlī. “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.” 30. Doa Belajar — QS. Ṭāhā (20): 114 ّْنِ عِلْمًا رَب ِ زِد Rabbi zidnī ‘ilmā. “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” 31. Doa Nabi Ayyub a.s. tentang Penyakitnya — QS. Al-Anbiyā’ (21): 83ََحِِْي َِّنَِ الضُّر ُّ وَأَنْت َ أَرْحَم ُ الرَّا َّن ِ مَس أ Annī massaniyaḍ-ḍurru wa anta arḥamur-rāḥimīn. “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” 32. Doa Nabi Yunus a.s. dalam Perut Ikan — QS. Al-Anbiyā’ (21): 87

33ِْيَ ِّن ِ كُنْت ُ مِن َ الظَّالِم َِلَّ أَنْت َ سُبْحَانَك َ إ َلَ إِلََٰه َ إ Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn. “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” 33. Doa Nabi Zakaria a.s. agar Memperoleh Keturunan QS. Al-Anbiyā’ (21): 89ِْيَ َرْدًا وَأَنْت َ خَي ُْ الْوَارِث ّْنِ ف ِ َلَ تَذَر رَب Rabbi lā tadhar-nī fardan wa anta khairul-wārithīn. “Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.” 34. Doa Nabi Muhammad saw. Menghadapi Pertentangan Penduduk Mekah — QS. Al-Anbiyā’ (21): 112َ َعَان ُ عَلَى َٰ مَا تَصِفُون ُّنَا الر ََّحََْٰن ُ الْمُسْت ْ ِبِْلَْق ِ وَرَب قَال َ رَب ِ احْكُم Qāla rabbī uḥkum bil-ḥaqqi wa rabbunar-raḥmānul-musta‘ānu ‘alā mā taṣifūn. “Dia (Nabi Muhammad) berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Tuhan kami adalah Tuhan Yang Maha Pengasih, tempat memohon pertolongan atas semua yang kamu katakan.’” 35. Doa Nabi Nuh a.s. Menghadapi Kaumnya — QS. Al- Mu’minūn (23): 26ِ كَذَّبُون ّْنِ ِبَِا رَب ِ انْصُر

34 Rabbi anṣurnī bimā kadzdzabūn. “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” 36. Doa Nabi Nuh a.s. ketika Berada di Atas Bahtera QS. Al- Mu’minūn (23): 29ِْيَ َكًا وَأَنْت َ خَي ُْ الْمُنْزِلْز ََلً مُبَار ِْنِ مُن رَب ِ أَنْزِل Rabbi anzilnī munzalan mubārakan wa anta khairul-munzilīn. “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi tempat.” 37. Doa Nabi Hud a.s. Menghadapi Kaumnya QS. Al-Mu’minūn (23): 39ِ كَذَّبُون ّْنِ ِبَِا رَب ِ انْصُر Rabbi anṣurnī bimā kadzdzabūn. “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” 38. Doa Nabi Muhammad saw. Memohon Perlindungan dari Azab QS. Al-Mu’minūn (23): 93–94َ َِن ِ مَا يُوعَدُون رَب ِ إِمَّا تُرِيِْيَِْنِ ِفِ الْقَوْم ِ الظَّالِم ًَلَ َتَْعَل رَب ِ ف Rabbi immā turiyannī mā yū‘adūn. Rabbi falā taj‘alnī fil-qaumiẓ- ẓālimīn. “Ya Tuhanku, jika Engkau hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku termasuk golongan orang-orang yang zalim.”

35 39. Doa Nabi Muhammad saw. Memohon Perlindungan dari Godaan Setan — QS. Al-Mu’minūn (23): 97–98ِْيِ ْ َهََزَات ِ الشَّيَاط رَب ِ أَعُوذ ُ بِك َ مِنِوَأَعُوذ ُ بِك َ رَب ِ أَن ْ يَْضُرُون Rabbi a‘ūdzu bika min hamazātisy-syayāṭīn. Wa a‘ūdzu bika rabbi ay yaḥḍurūn. “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu, ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekatiku.” 40. Doa Segolongan Hamba Allah — QS. Al-Mu’minūn (23): 109ََحِِْي َّنَا آمَنَّا فَاغْفِر ْ لَنَا وَار َْحَْنَا وَأَنْت َ خَي ُْ الرَّا رَب Rabbanā āmannā faghfir lanā warḥamnā wa anta khairur-rāḥimīn. “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah sebaik-baik pemberi rahmat.” 41. Doa Memohon Ampunan dan Rahmat Allah QS. Al- Mu’minūn (23): 118ََحِِْي رَب ِ اغْفِر ْ وَارْحَم ْ وَأَنْت َ خَي ُْ الرَّا Rabbighfir warḥam wa anta khairur-rāḥimīn. “Ya Tuhanku, ampunilah dan rahmatilah, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik.” 42. Doa Dijauhkan dari Azab Jahannam — QS. Al-Furqān (25): 65– 66

36 كَان َ غَرَامًا َّنَا اصْرِف ْ عَنَّا عَذَاب َ جَهَنَّم َ إِن َّ عَذَا ِبََا رَبْإ َِّنََّا سَاءَت َقَرًّا وَمُقَامًا مُسْت Rabbanāṣrif ‘annā ‘adzāba jahannama inna ‘adzābahā kāna gharāmā. Innahā sā’at mustaqarran wa muqāmā. “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” 43. Doa Hamba Allah untuk Mencapai Kemuliaan — QS. Al- Furqān (25): 74 ِْيَ إِمَامًا ْْيٍُ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّق ُرَّة َ أَع َّنَا هَب ْ لَنَا مِن ْ أَزْوَاجِنَا وَذُر َِيَّتِنَا ق رَب Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yunin waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” 44. Doa Nabi Ibrahim a.s. — QS. Asy-Syu‘arā’ (26): 83–89َْلِِْي ِْنِ ِبِلصَّا ْ ِلِ حُكْمًا وَأ َْلِْق رَب ِ هَبٍْ ِلِ لِسَان َ صِدْق وَاجْعَلَ ِفِ ا ْلْخِرِينِِْنِ مِن ْ وَرَثَة ِ جَنَّة ِ النَّعِيم وَاجْعَلُْ ْلَِِبِ إِنَّه وَاغْفِرِْيَ كَان َ مِن َ الضَّالَْعَثُون ُب َوْم َ ي ِّنِ ي ََلَ ُتُْز وَْف َن َلَ ي َ َوْم يٌع ُ مَالَ َنُون و ََلَ بٍَّللََّ بِقَلْب ٍ سَلِيم َِلَّ مَن ْ أَتَى ا إ

37 Rabbi hab lī ḥukman wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn. Waj‘al lī lisāna ṣidqin fil- ākhirīn. Waj‘alnī min waratsati jannatin-na‘īm. Waghfir li-abī innahū kāna minaḍ-ḍāllīn. Wa lā tukhzinī yauma yub‘atsūn. Yauma lā yanfa‘u mālun wa lā banūn. Illā man atallāha biqalbin salīm. “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan. Ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat. Janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” 45. Doa Nabi Nuh a.s. Menghadapi Kaumnya — QS. Asy-Syu‘arā’ (26): 117–118ِ كَذَّبُون َوْمِي رَب ِ إِن َّ قَََنَ ِِنِ وَمَن ْ مَعِي َتْحًا و َهُم ْ ف ْن َي ِْنِ وَب َي ْتَح ْ ب فَاف َِْي مِن َ الْمُؤْمِن Rabbi inna qaumī kadzdzabūn. Faftaḥ bainī wa bainahum fatḥan wa najjinī wa man ma‘iya minal-mu’minīn. “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka berilah keputusan antara aku dan mereka, dan selamatkanlah aku serta orang-orang mukmin yang bersamaku.” 46. Doa Nabi Lut a.s. ketika Menghadapi Perbuatan Kaumnya — QS. Asy-Syu‘arā’ (26): 169َ َعْمَلُون ِ َنَ ِِنِ وَأَهْلِي ِمَِّا ي رَب

38 Rabbi najjinī wa ahlī mimmā ya‘malūn. “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” 47. Doa Nabi Sulaiman atas Karunia yang Diperolehnya dari Allah QS. An-Naml (27): 19ْ ْعَمْت َ عَلَي َّ وَعَلَى َٰ وَالِدَي َّ وَأَن َِّتِ أَن ِْنِ أَن ْ أَشْكُر َ نِعْمَتَك َ ال رَب ِ أَوْزِع َْلِِْي َ ِفِ عِبَادِك َ الصَّا ِْنِ بِر ََحَْتِك َرْضَاه ُ وَأَدْخِل أَعْمَل َ صَا ْلًِا ت Rabbi auzi‘nī an asykura ni‘matakallatī an‘amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a‘mala ṣāliḥan tarḍāhu wa adkhilnī biraḥmatika fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” 47. Doa Nabi Musa a.s. ketika Menyesali Perbuatannya QS. Al-Qaṣaṣ (28): 16–17ُ َغَفَر َ لَه ُ إِنَّه ُ هُو َ الْغَفُور ُ الرَّحِيم ِلِ ف ْ َفْسِي فَاغْفِر ِّن ِ ظَلَمْت ُ ن قَال َ رَب ِ إِْيَ َلَن ْ أَكُون َ ظَهِيًا لِلْمُجْرِم ْعَمْت َ عَلَي َّ ف قَال َ رَب ِ ِبَِا أَن Qāla rabbi innī ẓalamtu nafsī faghfir lī faghafara lahū innahū huwal- ghafūrur-raḥīm. Qāla rabbi bimā an‘amta ‘alayya falan akūna ẓahīran lil-mujrimīn.

39 “Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.’ Maka Allah mengampuninya. Sungguh, Allah Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku tidak akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa.’” 48. Doa Nabi Musa a.s. ketika Hendak Meninggalkan Mesir QS. Al-Qaṣaṣ (28): 21ِْيَ ِ َنَ ِِنِ مِن َ الْقَوْم ِ الظَّالِم رَب Rabbi najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn. “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.” 49. Doa Nabi Musa a.s. ketika Menuju Negeri Madyan QS. Al-Qaṣaṣ (28): 22ِ َِنِ سَوَاء َ السَّبِيل َهْدِي َِب ِ أَن ْ ي َوَجَّه َ تِلْقَاء َ مَدْيَن َ قَال َ عَسَى َٰ ر وَلَمَّا ت Wa lammā tawajjaha tilqā’a Madyana qāla ‘asā rabbī an yahdiyanī sawā’as-sabīl. “Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan, dia berdoa, ‘Mudah- mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.’”

40 51. Doa Nabi Musa a.s. setelah Menolong Dua Orang Perempuan QS. Al-Qaṣaṣ (28): 24ٌ ِِلََّ مِن ْ خَي ٍْ فَقِي ْزَلْت َ إ ِّن ِ لِمَا أَن َقَال َ رَب ِ إ َِلَ الظِل ِ ف ََلََّٰ إ َو ُثَُّ ت فَسَقَى َٰ َلَُمَا Fasaqā lahumā ṡumma tawallā ilaẓ-ẓilli faqāla rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr. “Maka dia (Musa) memberi minum ternak kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (rezeki) yang Engkau turunkan kepadaku.’” 52. Doa Nabi Lut a.s. untuk Kaumnya yang Berbuat Sesat QS. Al-‘Ankabūt (29): 30َ ّْنِ عَلَى الْقَوْم ِ الْمُفْسِدِين قَال َ رَب ِ انْصُر Qāla rabbi unṣurnī ‘alal-qaumil-mufsidīn. “Dia (Lut) berdoa, ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku dengan menimpakan azab kepada kaum yang berbuat kerusakan itu.’” 53. Doa Nabi Ibrahim a.s. agar Mendapatkan Anak Saleh QS. Aṣ-Ṣāffāt (37): 100َْلِِْي ْ ِلِ مِن َ الصَّا رَب ِ هَب Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn.

41 “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” 54. Doa Para Malaikat untuk Orang-Orang yang Beriman QS. Ghāfir (40): 7–9َ َعُوا سَبِيلَك َّب َ َتَبُوا وَات َّنَا وَسِعْتَ كُل َّ شَيْء ٍ ر ََحَْة ً وَعِلْمًا فَاغْفِر ْ لِلَّذِين رَبِ وَقِهِم ْ عَذَاب َ ا ْلَْحِيمَِّْتِ وَعَد ْْتَُم َّنَا وَأَدْخِلْهُم ْ جَنَّات ِ عَدْن ٍ ال رَب ْ َِيَّْتِِم وَمَن ْ صَلَح َ مِن ْ آ ِبَئِهِم ْ وَأَزْوَاجِهِم ْ وَذُرُإِنَّك َ أَنْت َ الْعَزِيز ُ ا ْلَْكِيمَ َقَد ْ ر ََحِْتَه ُ وَذََٰلِك َ هُو َوْمَئِذ ٍ ف وَقِهِم ُ السَّيِئَات ِ وَمَن ْ تَق ِ السَّيِئَات ِ ي ُ الْفَوْز ُ الْعَظِيم Rabbanā wasi‘ta kulla syai’in raḥmatan wa ‘ilman faghfir lilladzīna tābū wattaba‘ū sabīlaka wa qihim ‘adzābal-jaḥīm. Rabbanā wa adkhilhum jannāti ‘adninillatī wa‘adtahum wa man ṣalaḥa min ābā’ihim wa azwājihim wa dzurriyyātihim innaka antal-‘azīzul-ḥakīm. Wa qihimus- sayyi’āti wa man taqis-sayyi’āti yauma’idzin faqad raḥimtahū wa żālika huwal-fauzul-‘aẓīm. “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka ampunilah orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari azab neraka. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang-orang saleh di antara nenek moyang mereka, pasangan-pasangan mereka, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. Dan peliharalah mereka

42 dari (bencana) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (bencana) kejahatan pada hari itu, maka sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya, dan itulah kemenangan yang agung.” 55. Doa untuk Kedua Orang Tua dan Keturunan QS. Al-Aḥqāf (46): 15ْ ْعَمْت َ عَلَي َّ وَعَلَى َٰ وَالِدَي َّ وَأَن َِّتِ أَن ِْنِ أَن ْ أَشْكُر َ نِعْمَتَك َ ال رَب ِ أَوْزِعَ ِّن ِ مِن ُبْت ُ إِلَيْك َ وَإ ِّن ِ ت َِّتِ إ ْ ِلِ ِفِ ذُرِي َرْضَاه ُ وَأَصْلِح أَعْمَل َ صَا ْلًِا ت َِْي الْمُسْلِم Rabbi auzi‘nī an asykura ni‘matakallatī an‘amta ‘alayya wa ‘alā wālidayya wa an a‘mala ṣāliḥan tarḍāhu wa aṣliḥ lī fī dzurriyyatī innī tubtu ilaika wa innī minal-muslimīn. “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat- Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang- orang muslim.”

43 56. Doa Nabi Nuh a.s. Menghadapi Hinaan Kaumnya QS. Asy-Syu‘arā’ (26): 117–118.ِ َوْمِي كَذَّبُون رَب ِ إِن َّ قَََنَ ِِنِ وَمَن ْ مَعِي َتْحًا و َهُم ْ ف ْن َي ِْنِ وَب َي ْتَح ْ ب فَاف َِْي مِن َ الْمُؤْمِن Rabbi inna qaumī kadzdzabūn. Faftaḥ bainī wa bainahum fatḥan wa najjinī wa man ma‘iya minal-mu’minīn. “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakanku. Maka berilah keputusan antara aku dan mereka, dan selamatkanlah aku serta orang-orang mukmin yang bersamaku.” 57. Doa Orang-Orang yang Datang Setelah Kaum Muhajirin dan Ansar — QS. Al-Ḥasyr (59): 10ًًِّل ُلُوبِنَا غ ِفِ ق ْ ََلَ َتَْعَل َنَ ِبِِلِْميَان ِ و َقُو َّنَا اغْفِر ْ لَنَا و َِلِِخْوَانِنَا الَّذِين َ سَب رَب ٌ َّنَا إِنَّك َ رَءُوف ٌ رَحِيم لِلَّذِين َ آمَنُوا رَب Rabbanaghfir lanā wa li-ikhwāninal-ladzīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj‘al fī qulūbinā ghillal lilladzīna āmanū rabbanā innaka ra’ūfur-raḥīm. “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

44 58. Doa Nabi Ibrahim a.s. — QS. Al-Mumtaḥanah (60): 4–5ُ ْنَا وَإِلَيْك َ الْمَصِي َب َكَّلْنَا وَإِلَيْك َ أَنَو َّنَا عَلَيْك َ ت رَبًْنَة َلَ َتَْعَلْنَا فِت َّنَا رَب ُ َّنَا إِنَّك َ أَنْت َ الْعَزِيز ُ ا ْلَْكِيم لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِر ْ لَنَا رَب Rabbanā ‘alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr. Rabbanā lā taj‘alnā fitnatal lilladzīna kafarū waghfir lanā rabbanā innaka antal-‘azīzul-ḥakīm. “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal, hanya kepada Engkau kami bertobat, dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang- orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” 59. Doa Nabi Muhammad saw. dan Orang-Orang Beriman QS. At-Taḥrīm (66): 8ٌ َّنَا أ َْتِْم ْ لَنَا نُور ََنَ وَاغْفِر ْ لَنَا إِنَّك َ عَلَىَٰ كُل ِ شَيْء ٍ قَدِير رَب Rabbanā atmim lanā nūranā waghfir lanā innaka ‘alā kulli syai’in qadīr. “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya untuk kami dan ampunilah kami. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

45 60. Doa Istri Fir‘aun — QS. At-Taḥrīm (66): 11َ ََنَ ِِنِ مِن ََنَ ِِنِ مِن ْ فِرْعَوْن َ وَعَمَلِه ِ و ِفِ ا ْلَْنَّة ِ و ْتًا َي ِ ِلِ عِنْدَك َ ب رَب ِ ابْن َِْي الْقَوْم ِ الظَّالِم Rabbi ibni lī ‘indaka baitan fil-jannati wa najjinī min Fir‘auna wa ‘amalihī wa najjinī minal-qaumiẓ-ẓālimīn. “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya, serta selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” 61. Doa Nabi Nuh a.s. atas Kaumnya yang Ingkar QS. Nūḥ (71): 26 ِ َلَ تَذَر ْ عَلَى ا ْلَْرْض ِ مِن َ الْكَافِرِين َ د ََيَّرًا رَب Rabbi lā tadzar ‘alal-arḍi minal-kāfirīna dayyārā. “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang- orang kafir itu tinggal di atas bumi.”

46 62. Doa Nabi Nuh a.s. untuk Kedua Orang Tua dan Kaumnya yang Beriman — QS. Nūḥ (71): 28ِ ِْيَ وَالْمُؤْمِنَات ِْتَِ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِن َي ْ ِلِ وَلِوَالِدَي َّ وَلِمَن ْ دَخَل َ ب رَب ِ اغْفِر َبَارًا َِلَّ ت ِْيَ إ و ََلَ تَزِد ِ الظَّالِم Rabbighfir lī wa liwālidayya wa liman dakhala baitiya mu’minan wa lil- mu’minīna wal-mu’mināti wa lā tazidiẓ-ẓālimīna illā tabārā. “Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman, dan semua orang yang beriman, laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran.” 63. Doa Memohon Perlindungan kepada Allah QS. Al-Falaq (113): 1–5ِ قُل ْ أَعُوذ ُ بِرَب ِ الْفَلَقَمِن ْ شَر ِ مَا خَلَقوَمِن ْ شَر ِ غَاسِق ٍ إِذَاَ وَقَبِِ ِفِ الْعُقَد َّفَّا ًثَت وَمِن ْ شَر ِ النوَمِن ْ شَر ِ حَاسِد ٍ إِذَا َ حَسَد Qul a‘ūdzu birabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri ghāsiqin idzā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-‘uqad. Wa min syarri ḥāsidin idzā ḥasad.

47 “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.’” 64. Doa Memohon Perlindungan kepada Allah QS. An-Nās (114): 1–6ِ قُل ْ أَعُوذ ُ بِرَب ِ النَّاسِمَلِك ِ النَّاسِإِلََٰه ِ النَّاسِمِن ْ شَرِ الْوَسْوَاس ِ ا ْلَْنَّاسُِ ِفِ صُدُور ِ النَّاس ُوَسْوِس الَّذِي يِمِن َ ا ْلِْنَّة ِ وَالنَّاس Qul a‘ūdzu birabbin-nās. Malikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril- waswāsil-khannās. Alladzī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās. Minal-jinnati wan-nās. “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.’”