TOSORA BERCERITA 1

K K N - T 1 1 6 I N O V A S I D E S AD E S A T O S O R A , K E C . M A J A U L E N G , K A B . W A J OK K N - T 1 1 6 I N O V A S I D E S AD E S A T O S O R A , K E C . M A J A U L E N G , K A B . W A J O

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga buku saku TOSORA BERCERITA: Dokumentasi Sejarah Lisan Desa Tosora sebagai Upaya pelestariaan warisan budaya. dapat diselesaikan dengan baik. Buku ini disusun sebagai salah satu bentuk upaya mendokumentasikan sejarah lisan, warisan budaya, serta nilai-nilai lokal yang dimiliki oleh Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. Desa Tosora bukan hanya dikenal sebagai salah satu kawasan cagar budaya, tetapi juga sebagai bagian penting dalam perjalanan sejarah Kerajaan Wajo yang menyimpan berbagai cerita, tradisi, dan peninggalan bersejarah yang masih diwariskan hingga saat ini. Penyusunan buku ini didasarkan pada hasil wawancara dengan Kepala Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda. Oleh karena itu, beberapa kisah yang disajikan merupakan sejarah lisan (folklore) yang telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Kehadiran cerita-cerita tersebut tidak hanya menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Tosora, tetapi juga menjadi warisan yang patut didokumentasikan dan dilestarikan. Harapan kami, buku saku ini dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat, pelajar, mahasiswa, wisatawan, maupun siapa saja yang ingin mengenal Desa Tosora lebih dekat. Selain itu, buku ini diharapkan dapat menjadi arsip desa yang membantu menjaga dan memperkenalkan kekayaan sejarah serta budaya Tosora kepada generasi sekarang dan yang akan datang. Penulis menyadari bahwa buku ini masih memiliki berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan di masa mendatang. Akhir kata, semoga buku ini dapat memberikan manfaat serta menjadi salah satu langkah kecil dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Desa Tosora. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Tosora, 1 Agustus 2026 Penulis Aulia SamadKATA PENGANTARK K N - T 1 1 6 I N O V A S I D E S AD E S A T O S O R A , K E C . M A J A U L E N G , K A B . W A J O

TOSORA BERCERITA TOSORA BERCERITA DAFTAR ISI BAB IAWAL MULA DESA TOSORA BAB II MENGENAL DESA TOSORA BAB III ADAT YANG TETAP HIDUP DAN SITUS BERSEJARAH DESA TOSORA BAB IVSEJARAH MESJID TUA TOSORA BAB VTOSORA DIMATA GENERASI MUDAPENUTUP

Desa Tosora merupakan salah satu desa bersejarah di Kabupaten Wajo yang menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berbagai situs cagar budaya, adat istiadat, serta cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat menjadi bukti bahwa Tosora memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Wajo. Namun, sebagian besar cerita tersebut masih diwariskan secara lisan dan belum banyak didokumentasikan dalam bentuk yang mudah dipelajari oleh masyarakat luas. Seiring berkembangnya zaman, terdapat kekhawatiran bahwa sebagian pengetahuan lokal tersebut dapat terlupakan apabila tidak segera didokumentasikan. Buku saku TOSORA BERCERITA hadir sebagai upaya untuk menghimpun dan mendokumentasikan berbagai informasi mengenai sejarah lisan, warisan budaya, adat istiadat, serta situs-situs bersejarah di Desa Tosora. Informasi dalam buku ini disusun berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, yaitu Kepala Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda, serta dilengkapi dengan referensi dari berbagai sumber yang relevan. Selamat membaca, menelusuri setiap kisah, dan mengenal lebih dekat warisan budaya Desa Tosora yang terus hidup dari masa ke masa.CATATAN PENULIS Buku ini memuat informasi yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi lapangan, serta berbagai referensi tertulis. Beberapa kisah yang disajikan merupakan tradisi lisan (folklore) yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Tosora. Oleh karena itu, kisah-kisah tersebut disampaikan sebagai bagian dari dokumentasi budaya dan identitas masyarakat, serta tidak seluruhnya dimaksudkan sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi secara akademis. T O S O R A B E R C E R I T ATOSORA BERCERITA TOSORA BERCERITA ENTANG BUKU OSORA BERCERITAOSORA BERCERITAT"Setiap desa memiliki cerita. Setiap cerita menyimpan identitas. Dan setiap identitas layak untuk diwariskan."

Desa Tosora merupakan salah satu desa bersejarah di Kabupaten Wajo yang menyimpan banyak cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam tradisi masyarakat Bugis, asal-usul Tosora tidak hanya berkaitan dengan berdirinya permukiman, tetapi juga erat dengan kisah We Tadampali, seorang putri dari Kerajaan Luwu. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, We Tadampali diasingkan oleh keluarganya karena menderita penyakit kulit yang dianggap membawa aib bagi kerajaan. Bersama para pengikutnya, ia dibawa ke sebuah wilayah yang saat itu masih berupa hutan dan rawa. Dalam perjalanan menuju tempat pengasingan, rombongan tersebut terdampar di suatu wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Tosora.BAB I WAL MULA DESA TOSORA WAL MULA DESA TOSORA ATahukahKamu? Menurut cerita masyarakat, nama Tosora berasal dari kata Bugis tosore' yang berarti "terdampar", merujuk pada peristiwa ketika rombongan We Tadampali tiba dan menetap di wilayah tersebut.

Di tempat pengasingannya, We Tadampali akhirnya sembuh secara ajaib setelah seekor tedong bonga (kerbau belang) menjilati bagian tubuhnya yang sakit. Tempat ia memperoleh kesembuhan kemudian dikenal sebagai Sakkoli, sedangkan wilayah tempat ia pertama kali diasingkan dikenal sebagai Majauleng. Setelah sembuh, kecantikan We Tadampali kembali tersiar hingga ke berbagai kerajaan Bugis. Seorang Pangeran Bone datang untuk meminangnya, dan pernikahan mereka dipercaya menjadi simbol persatuan antara Kerajaan Luwu dan Kerajaan Bone. Dalam tradisi lisan Bugis, keturunan mereka kemudian dikaitkan dengan asal-usul para pemimpin awal di wilayah Wajo. Meskipun kisah We Tadampali merupakan bagian dari legenda yang diwariskan secara lisan dan belum dapat dibuktikan secara historis, cerita ini memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Tosora. Kisah tersebut mengajarkan nilai ketabahan dalam menghadapi cobaan, harapan akan kehidupan yang lebih baik, pentingnya menjaga kehormatan (siri'), serta semangat persatuan. Hingga kini, cerita We Tadampali tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Tosora dan menjadi salah satu warisan sejarah lisan yang terus dilestarikan. B A B I BAB I

Di Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo, terdapat sebuah desa yang menyimpan jejak penting perjalanan sejarah Sulawesi Selatan, yaitu Desa Tosora. Berdasarkan bukti sejarah dan naskah lontara, Tosora dikenal sebagai cikal bakal Kabupaten Wajo sekaligus pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Wajo. Jejak kejayaan tersebut masih dapat ditemukan melalui berbagai situs cagar budaya yang tersebar di kawasan desa. Selain menjadi kawasan bersejarah, Tosora juga dikenal sebagai desa yang kaya akan budaya. Di sini, masyarakat masih mempertahankan tradisi menenun sutra yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut menjadi salah satu identitas budaya yang tetap hidup hingga sekarang, khususnya di kalangan perempuan. Di sisi lain, sebagian besar masyarakat Tosora juga menggantungkan hidup pada sektor pertanian sehingga desa ini dikenal sebagai salah satu lumbung pertanian di Kecamatan Majauleng.ENGENAL DESA TOSORA ENGENAL DESA TOSORA MBAB IIWarisan Sejarah yang Masih Hidup "Tosora bukan sekadar sebuah desa, tetapi jejak awal lahirnya peradaban dan demokrasi di TanahWajo." โ€” Andi Asri Prasak Mas'ud, Kepala Desa TosoraKEUNIKAN DESA TOSORA Keunikan Tosora tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada tata ruang desa yang masih memperlihatkan jejak kota kerajaan. Jalan- jalan di kawasan ini tersusun saling terhubung menyerupai sarang laba- laba, mencerminkan pola penataan kota pada masa lalu. Hal tersebut menjadi salah satu ciri khas yang membedakan Tosora dengan desa-desa lainnya. Masyarakat Tosora juga masih menjaga tradisi Tudang Sipulung, yaitu musyawarah para petani sebelum musim tanam. Dalam forum ini, masyarakat bersama-sama menentukan waktu tanam, pembagian air, dan berbagai kesepakatan lainnya agar proses bercocok tanam dapat berjalan dengan baik. Tradisi ini menunjukkan bahwa nilai kebersamaan, musyawarah, dan gotong royong masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Tosora.

๐Ÿ’ก Tahukah Kamu? ๐Ÿ“ Tosora merupakan cikal bakal Kabupaten Wajo dan pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Wajo. ๐Ÿ› Pola jalan Desa Tosora masih mengikuti tata ruang kota kerajaan dengan bentuk menyerupai sarang laba-laba. ๐Ÿงต Tradisi menenun sutra masih terus dilestarikan oleh masyarakat Tosora hingga sekarang. ๐ŸŒพ Tudang Sipulung merupakan tradisi musyawarah para petani yang masih dijalankan sebagai bentuk kebersamaan dalam mengatur musim tanam dan pembagian air.HARAPAN UNTUK GENERASI MUDA Bagi Kepala Desa, masa depan warisan budaya Tosora berada di tangan generasi muda. Beliau berharap anak-anak muda tidak hanya mengenal sejarah desanya, tetapi juga berani memperkenalkannya kepada dunia melalui media digital. Digitalisasi, dokumentasi, dan promosi budaya dinilai menjadi langkah penting agar situs-situs bersejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai budaya Tosora tetap lestari dan dikenal oleh generasi mendatang. Dengan memanfaatkan teknologi, generasi muda diharapkan mampu menjadi penerus yang menjaga sekaligus mengenalkan identitas budaya Desa Tosora kepada masyarakat yang lebih luas.MENJAGA WARISAN BUDAYA Melestarikan sejarah dan budaya menjadi salah satu komitmen Pemerintah Desa Tosora. Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari mendukung keberadaan juru pelihara situs, membantu pelestarian tradisi menenun, hingga menyelenggarakan Pekan Budaya Tosora sebagai agenda tahunan sejak tahun 2021. Pemerintah desa juga membentuk Peraturan Desa tentang Kelembagaan Adat sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Namun, upaya tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Keterbatasan anggaran serta masih perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga situs cagar budaya menjadi pekerjaan bersama yang terus dihadapi hingga saat ini.BAB II

DAT YANG TETAP HIDUP DAN SITUS BERSEJARAH DESA TOSORA DAT YANG TETAP HIDUP DAN SITUS BERSEJARAH DESA TOSORA ATradisi Tudang Sipulung: Musyawarah yang Tetap Bertahan di Tengah Perubahan Salah satu tradisi yang masih terus dilaksanakan oleh masyarakat Desa Tosora hingga saat ini adalah Tudang Sipulung. Dalam bahasa Bugis, tudang sipulung berarti "duduk bersama", yaitu sebuah tradisi musyawarah yang menjadi wadah bagi masyarakat untuk berdiskusi dan mengambil keputusan secara bersama- sama, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan pertanian. Berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat, pelaksanaan Tudang Sipulung pada masa lalu memiliki rangkaian prosesi yang berbeda dengan saat ini. Sebelum memasuki musim tanam, masyarakat diminta membawa berbagai alat pertanian yang akan digunakan. Alat-alat tersebut kemudian dibakar sebagai bagian dari prosesi adat. Kepercayaan masyarakat saat itu meyakini bahwa alat yang tetap utuh ketika dibakar merupakan alat yang berkualitas atau "murni", sedangkan alat yang hangus dianggap tidak layak digunakan. Prosesi ini menjadi simbol kesiapan masyarakat dalam memulai musim bercocok tanam.BAB III

Seiring perkembangan zaman, beberapa rangkaian ritual tersebut tidak lagi dilaksanakan. Namun, esensi Tudang Sipulung tetap dipertahankan. Saat ini masyarakat masih berkumpul dalam forum musyawarah untuk membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pertanian, seperti penentuan waktu tanam, jadwal panen, kondisi lahan, serta persoalan lain yang menyangkut kepentingan bersama. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa adat dan tradisi di Desa Tosora tidak hilang, melainkan mengalami penyesuaian mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat. Meskipun bentuk pelaksanaannya berubah, nilai-nilai yang terkandung di dalam Tudang Sipulung, seperti kebersamaan, musyawarah, gotong royong, dan semangat mengambil keputusan secara kolektif, tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Tosora hingga sekarang.

ITUS BERSEJARAH DESA TOSORA ITUS BERSEJARAH DESA TOSORA SSitus Cempa Makajoange: Jejak Lahirnya Demokrasi di Tanah Wajo Salah satu situs bersejarah yang memiliki makna penting bagi masyarakat Wajo adalah Situs Cempa Makojoange. Menurut penuturan tokoh masyarakat, tempat ini diyakini sebagai lokasi lahirnya semboyan "Maradeka To Wajo", yang mencerminkan semangat kebebasan, persatuan, dan demokrasi masyarakat Wajo. Di tempat inilah para tokoh adat mencapai kesepakatan untuk mengubah sistem pemerintahan dari kerajaan turun- temurun menjadi sistem yang lebih mengedepankan musyawarah dan keterwakilan. Sebagai simbol dari kesepakatan tersebut, tiga kelompok bangsawan yang mewakili keturunan Batara Wajo menanam tiga bibit pohon asam. Ketiga pohon itu kemudian tumbuh menyatu menjadi satu pohon besar. Pohon tersebut menjadi lambang persatuan, bahwa meskipun berasal dari kelompok yang berbeda, seluruh masyarakat Wajo memiliki tujuan yang sama, yaitu membangun pemerintahan yang adil dan mengutamakan kepentingan bersama.

Menurut narasumber, pohon asam itu pernah tumbuh sangat besar hingga delapan orang dewasa harus bergandengan tangan untuk mengelilinginya. Di bagian batangnya terdapat tiga sekat yang menunjukkan bahwa pohon tersebut berasal dari tiga batang yang kemudian menyatu. Pohon ini menjadi bukti nyata sekaligus simbol sejarah persatuan masyarakat Wajo selama bertahun-tahun. Pohon bersejarah tersebut akhirnya tumbang pada tahun 2004. Sebagian masyarakat mengaitkan peristiwa itu dengan sebuah kepercayaan bahwa tumbangnya pohon merupakan pertanda mulai memudarnya nilai-nilai demokrasi dan persatuan. Meskipun demikian, pandangan tersebut merupakan keyakinan yang hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Situs Cempa Makojoange tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi pengingat bahwa persatuan, musyawarah, dan demokrasi telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Wajo sejak masa lampau. Nilai-nilai tersebut diharapkan terus diwariskan kepada generasi muda sebagai bekal dalam menjaga keharmonisan masyarakat dan melestarikan warisan budaya Desa Tosora.

ITUS BERSEJARAH DESA TOSORA ITUS BERSEJARAH DESA TOSORA SBung Daowe: Sumur Jodoh dalam Cerita Masyarakat Tosora Bung Daowe merupakan salah satu situs bersejarah di Desa Tosora yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan "Sumur Jodoh". Sebutan tersebut berasal dari cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Menurut penuturan tokoh masyarakat, pada masa lalu perempuan Bugis sangat menjunjung tinggi nilai siri' atau harga diri. Seorang gadis tidak diperkenankan keluar rumah tanpa alasan yang jelas ataupun tanpa izin dari orang tua. Sebagian besar aktivitas mereka dilakukan di dalam rumah, seperti menenun dan membantu pekerjaan keluarga. Apabila seorang perempuan telah dianggap cukup usia untuk menikah, tetapi belum juga memperoleh pasangan, orang tuanya dipercaya akan membawanya ke Bung Daowe. Oleh karena itu, masyarakat kemudian mengenal situs ini sebagai Sumur Jodoh. Kepercayaan tersebut menjadi bagian dari cerita rakyat yang hidup di tengah masyarakat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tahukah Kamu? Hingga kini Bung Daowe lebih dikenal masyarakat sebagai Sumur Jodoh, sebuah sebutan yang berasal dari cerita lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, kisah Bung Daowe mencerminkan nilai-nilai sosial masyarakat Bugis pada masa lalu, seperti pentingnya menjaga kehormatan keluarga, peran orang tua dalam kehidupan anak, serta penghormatan terhadap adat istiadat yang berlaku di Desa Tosora.

Bung Paranie: Sumur Penyucian Diri Para Pejuang Bung Paranie merupakan salah satu situs bersejarah di Desa Tosora yang memiliki kaitan erat dengan perjuangan masyarakat Wajo pada masa peperangan. Berdasarkan cerita lisan yang berkembang di masyarakat, situs ini dipercaya sebagai tempat para pasukan melakukan penyucian diri sebelum berangkat ke medan perang. Menurut penuturan tokoh masyarakat, pada masa perjuangan melawan VOC, Panglima La Tenri mengarahkan para prajurit untuk terlebih dahulu membersihkan diri di sumur-sumur yang dikenal sebagai Bung Paranie. Sebelum berangkat, para pejuang dianjurkan untuk meminta maaf kepada kedua orang tua, saling memaafkan dengan sesama, kemudian mandi dan berwudhu sebagai bentuk penyucian lahir dan batin.

Prosesi tersebut bukan dimaksudkan sebagai ritual untuk memperoleh kesaktian, melainkan sebagai bentuk kesiapan spiritual dalam menghadapi peperangan yang penuh risiko. Dengan hati yang bersih dan hubungan yang telah diselesaikan dengan sesama, para prajurit berharap dapat berjuang dengan penuh keberanian serta memperoleh akhir kehidupan yang baik apabila gugur di medan perang. Bagi masyarakat Tosora, Bung Paranie bukan sekadar sebuah sumur, melainkan simbol keberanian, keikhlasan, dan ketakwaan para pejuang pada masa lalu. Cerita ini menjadi bagian dari warisan budaya lisan yang terus dikenang sebagai pengingat akan semangat perjuangan masyarakat Wajo dalam mempertahankan tanah airnya.Tahukah Kamu? Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, para prajurit dahulu mandi dan berwudhu di Bung Paranie sebelum berangkat berperang. Selain sebagai simbol penyucian diri, masyarakat juga meyakini bahwa air Bung Paranie dapat memberikan kekebalan kepada para pejuang ketika menghadapi musuh. Kepercayaan ini merupakan bagian dari folklore yang diwariskan secara turun- temurun di Desa Tosora.

Sejarah Masjid Tua Tosora Berdasarkan Tuturan Juru Kunci Masjid Tua Tosora merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Desa Tosora. Berdasarkan penuturan juru kunci masjid, sejarah keberadaan masjid ini berkaitan dengan masuknya Islam ke wilayah Tosora. Menurut beliau, seorang ulama yang berasal dari Yaman datang ke Tosora sekitar tahun 1321 dan mulai menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Dalam proses tersebut, masyarakat berkumpul dalam jumlah yang besar untuk menerima ajaran Islam. Menurut penuturan narasumber, bangunan Masjid Tua Tosora didirikan sekitar tahun 1332. Beliau juga menyampaikan adanya keyakinan bahwa tokoh yang membangun masjid masih memiliki hubungan keturunan dengan Nabi Muhammad SAW serta memiliki keterkaitan dengan para Wali Songo. Cerita ini merupakan bagian dari tradisi lisan yang masih berkembang di tengah masyarakat Tosora dan diwariskan dari generasi ke generasi.EJARAH MESJID TUA DESA TOSORA EJARAH MESJID TUA DESA TOSORA SBAB IV "Di balik dinding-dinding batu Masjid Tua Tosora tersimpan kisah tentang masuknya Islam, berkembangnya pemerintahan Kerajaan Wajo, serta kehidupan masyarakat yang terus menjaga warisan leluhurnya hingga kini."

Narasumber menjelaskan bahwa Masjid Tua Tosora diyakini sebagai salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan. Dalam perjalanan sejarahnya, bangunan masjid pernah mengalami kerusakan pada masa penjajahan Belanda hingga sebagian bangunannya tertimbun. Seiring berjalannya waktu, keberadaan masjid kembali mendapat perhatian dan mulai dikenal luas oleh masyarakat dari berbagai daerah. Di sekitar masjid terdapat beberapa peninggalan bersejarah lainnya, seperti sumur tua yang dipercaya telah ada sejak awal perkembangan kawasan tersebut. Menurut cerita yang berkembang, di sekitar masjid dahulu juga terdapat permukiman yang menjadi tempat tinggal masyarakat pada masa awal berkembangnya Tosora. Sebagai juru kunci yang telah mengabdi sejak tahun 2003, narasumber mengungkapkan bahwa Masjid Tua Tosora setiap tahunnya dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan Thailand. Para pengunjung datang untuk mempelajari sejarah, berziarah, maupun melihat langsung salah satu warisan budaya Islam di Kabupaten Wajo. Selain nilai sejarahnya, masyarakat juga meyakini bahwa Masjid Tua Tosora memiliki nilai spiritual yang kuat. Menurut narasumber, banyak pengunjung yang datang dengan harapan memperoleh ketenangan batin dan keberkahan. Berbagai kisah mengenai pengalaman spiritual tersebut menjadi bagian dari cerita yang hidup di tengah masyarakat hingga saat ini.

Tradisi Keagamaan dan Upaya Pelestarian Masjid Tua Tosora Selain menjadi situs bersejarah, Masjid Tua Tosora hingga kini masih menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan masyarakat. Berdasarkan penuturan juru kunci, salah satu tradisi yang rutin dilaksanakan adalah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta haul tokoh yang diyakini berperan dalam penyebaran Islam di Tosora. Menurut narasumber, pelaksanaan haul mulai diselenggarakan pada tahun 2022 dan telah menjadi agenda tahunan yang diikuti oleh masyarakat serta peziarah dari berbagai daerah. Pada tahun 2026, kegiatan tersebut direncanakan kembali berlangsung pada bulan September.

Keberlangsungan Masjid Tua Tosora juga didukung oleh berbagai upaya pelestarian fisik. Narasumber menjelaskan bahwa sejumlah fasilitas di kawasan masjid dibangun secara bertahap melalui bantuan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat. Pelataran masjid, fasilitas penunjang, serta beberapa bangunan di kawasan situs merupakan hasil kerja sama berbagai instansi dan partisipasi masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya tersebut. SEBELUM SESUDAHTahukah kamu? Pengunjung datang dari berbagai negara. Menurut juru kunci, Masjid Tua Tosora tidak hanya dikunjungi wisatawan lokal, tetapi juga peziarah dari Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Thailand yang ingin mengenal sejarah penyebaran Islam di Tosora.

Generasi muda memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan sejarah dan budaya Desa Tosora. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, pelestarian budaya menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama. Kemudahan dalam mengakses informasi melalui internet sebenarnya memberikan peluang bagi generasi muda untuk mempelajari sejarah serta warisan budaya daerahnya. Namun, rendahnya minat membaca dan berkurangnya ketertarikan terhadap budaya lokal menyebabkan tidak semua generasi muda memanfaatkan kesempatan tersebut. Identitas budaya Bugis di Desa Tosora hingga saat ini masih tergolong kuat. Bahasa Bugis masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Akan tetapi, salah satu tantangan yang mulai terlihat adalah semakin berkurangnya kemampuan generasi muda dalam mengenal dan menulis aksara Lontara. Padahal, aksara Lontara merupakan bagian penting dari warisan budaya Bugis yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Perkembangan teknologi juga membawa perubahan pada pola aktivitas generasi muda. Banyak anak muda yang menghabiskan waktu berkumpul di sekitar kawasan Masjid Tua Tosora, tetapi belum sepenuhnya memanfaatkan keberadaan situs bersejarah tersebut sebagai sarana untuk mengenal sejarah dan budaya desa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaan situs, tetapi juga memerlukan kesadaran untuk memahami nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. OSORA DIMATA GENERASI MUDA OSORA DIMATA GENERASI MUDATBAB V

Sebagai upaya menumbuhkan kepedulian terhadap budaya lokal, Pemerintah Desa Tosora secara rutin menyelenggarakan Pekan Budaya Tosora. Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal kembali sejarah, adat istiadat, serta berbagai bentuk kesenian dan tradisi yang dimiliki Desa Tosora. Melalui kegiatan tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya. Pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh masyarakat, tetapi juga seluruh generasi muda sebagai penerus warisan leluhur. Dengan mengenal sejarah, mempelajari nilai-nilai budaya, serta terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan, generasi muda dapat berkontribusi dalam menjaga identitas Desa Tosora agar tetap lestari dan dikenal oleh generasi yang akan datang."Kalau bukan kita yang merawat budaya tersebut, siapa lagi? Ketika kita meninggalkan budaya nenek moyang, suatu saat budaya itu hanya akan menjadi cerita belaka." -Ilham Anwar

ENUTUPENUTUPP"Setiap batu memiliki cerita, setiap tradisi menyimpan makna, dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaganya."Menelusuri Desa Tosora bukan hanya tentang melihat bangunan-bangunan tua atau mendengar kisah yang diwariskan dari para leluhur. Lebih dari itu, Tosora mengajarkan bahwa sejarah adalah bagian dari identitas yang membentuk kehidupan masyarakat hingga hari ini. Di balik setiap situs cagar budaya, adat istiadat, dan cerita rakyat, tersimpan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta semangat untuk menjaga warisan yang telah dititipkan kepada generasi penerus. Melalui buku saku TOSORA BERCERITA berbagai sejarah lisan dan warisan budaya yang selama ini hidup dalam ingatan masyarakat telah didokumentasikan agar tidak hilang oleh waktu. Buku ini bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan sebuah upaya untuk merekam cerita, memperkenalkan identitas Desa Tosora, serta menumbuhkan rasa bangga terhadap kekayaan budaya yang dimiliki. Pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tokoh adat, maupun tokoh agama. Setiap orang memiliki peran untuk mengenal, menghargai, dan menjaga warisan tersebut. Di era digital, generasi muda memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memperkenalkan Tosora melalui tulisan, fotografi, film, media sosial, maupun berbagai bentuk karya kreatif lainnya. Semoga buku ini menjadi langkah kecil yang memberi manfaat bagi masyarakat Desa Tosora, pelajar, mahasiswa, peneliti, wisatawan, dan siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan budaya Wajo. Suatu hari bangunan dapat berubah, tetapi cerita akan tetap hidup selama ada orang yang mau mengingat, menceritakan, dan menjaganya. Semoga Tosora terus bercerita kepada setiap generasi.

LAMPIRAN DOKUMENTASILAMPIRAN DOKUMENTASIWAWANCARA KEPALA DESAWAWANCARA AMBO ASSEWAWANCARA ALANGWAWANCARA ILHAM ANW AR

NARASUMBER BUKUNARASUMBER BUKUBuku TOSORA BERCERITA disusun berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa narasumber yang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai sejarah, budaya, serta kehidupan masyarakat Desa Tosora. 1. Asri Prasak Mas'ud Kepala Desa Tosora Memberikan informasi mengenai profil Desa Tosora, sejarah desa, upaya pelestarian budaya, serta harapan bagi generasi muda. 2. Alang Juru Kunci Masjid Tua Tosora Menyampaikan sejarah lisan mengenai Masjid Tua Tosora, penyebaran Islam, tradisi keagamaan, serta perkembangan kawasan masjid. 3. Ambo Asse Tokoh Masyarakat Desa Tosora Menjelaskan adat istiadat, nilai budaya, serta sejarah situs cagar budaya di Desa Tosora. 4. Ilham Anwar Perwakilan Generasi Muda Desa Tosora Menyampaikan pandangan generasi muda mengenai pelestarian budaya dan tantangan menjaga warisan budaya di era digital.

PROFIL PENULISPROFIL PENULISAulia Samad merupakan mahasiswa Program Studi Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin. Ketertarikannya pada kajian sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat mendorongnya untuk mendokumentasikan berbagai warisan budaya lokal sebagai bentuk pelestarian pengetahuan bagi generasi mendatang. Buku saku TOSORA BERCERITA: Dokumentasi Sejarah Lisan Desa Tosora sebagai Upaya pelestariaan warisan budaya. disusun sebagai bagian dari pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Inovasi Desa Universitas Hasanuddin Gelombang 116 di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Kabupaten Wajo. Dalam penyusunannya, penulis melakukan observasi lapangan, dokumentasi situs cagar budaya, serta wawancara dengan berbagai narasumber, seperti Kepala Desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan generasi muda sehingga menghasilkan sebuah buku saku yang diharapkan dapat menjadi media edukasi sekaligus arsip budaya bagi masyarakat. Melalui karya ini, penulis berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal, menghargai, dan ikut menjaga sejarah serta warisan budaya Desa Tosora agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.