Modul 1 mata kuliah Iktiologi untuk Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, disusun oleh dosen ITBM Balik Diwa dan Universitas Hasanuddin. Berisi pengantar, sejarah, ruang lingkup, keanekaragaman ikan Indonesia dan Sulawesi, serta kaitannya dengan industri hasil perikanan. Dirancang untuk pembelajaran mandiri via SPADA Indonesia, dengan video, latihan, dan kuis formatif.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 1
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 2 MODUL AJAR DIGITAL MATA KULIAH IKTIOLOGI MODUL 1 Pengantar Iktiologi dan Keanekaragaman Ikan Indonesia serta Potensi Ekonominya bagi Industri Hasil Perikanan Disusun oleh: Prof. Dr. Wayan Kantun, M.P. Dr. Tri Widayati Putri, S.Si., M.Si. Sri Rukmini, S.Pi., M.Si. Dr. Syahrul, S.Pi., M.Si. PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN INSTITUT TEKNOLOGI DAN BISNIS MARITIM BALIK DIWA bekerja sama dengan Program Studi THP Universitas Hasanuddin (Credit Earning – SPADA Indonesia) 2026
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 3 Modul ini dirancang untuk dipelajari secara mandiri (self-paced) melalui platform SPADA Indonesia dalam kurun waktu dua minggu. Setiap Kegiatan Belajar dilengkapi video pembelajaran bernarasi Guru Besar, uraian materi tertulis, kotak "Kaitan dengan THP" yang menegaskan relevansi terapan, latihan formatif, serta rangkuman. Mahasiswa dianjurkan menyelesaikan seluruh aktivitas secara berurutan, aktif berdiskusi di forum asinkron, dan mengerjakan Kuis Formatif 1 di akhir modul sebelum melanjutkan ke Modul 2. Selamat datang pada Modul 1 mata kuliah Iktiologi. Modul ini merupakan pintu gerbang bagi seluruh rangkaian pembelajaran selama satu semester, karena di sinilah mahasiswa mulai membangun cara pandang yang membedakan pendekatan Iktiologi di Program Studi THP dari pendekatan Iktiologi di program studi lainnya. Iktiologi umumnya dipelajari untuk kepentingan taksonomi, ekologi, atau konservasi semata, maka pada Program Studi THP setiap konsep biologis ikan senantiasa ditelusuri hingga ke implikasinya bagi industri pengolahan hasil perikanan. Sebagai calon sarjana Teknologi Hasil Perikanan, Anda kelak akan dihadapkan pada pertanyaan- pertanyaan praktis seperti: mengapa ikan kembung lebih cepat mengalami penurunan mutu dibanding ikan kakap? Mengapa teknik fillet yang tepat berbeda antara ikan bertubuh pipih dan ikan bertubuh torpedo? Mengapa musim tertentu menghasilkan ikan dengan kualitas daging yang lebih baik? Seluruh pertanyaan tersebut hanya dapat dijawab secara ilmiah apabila Anda memiliki fondasi pengetahuan Iktiologi yang kuat. Modul 1 ini dirancang untuk meletakkan fondasi tersebut melalui dua Kegiatan Belajar yang saling melengkapi. Pada Kegiatan Belajar 1, Anda akan diajak menelusuri apa sesungguhnya Iktiologi itu, bagaimana ilmu ini berkembang sepanjang sejarah peradaban manusia, serta di mana posisi ikan dalam skema besar Petunjuk Penggunaan Modul Pendahuluan Modul 1 Peta Konsep Modul 1
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 4 dunia hewan. Pada Kegiatan Belajar 2, fokus pembelajaran bergeser kepada kekayaan keanekaragaman ikan Indonesia dan Sulawesi, serta bagaimana keanekaragaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi peluang ekonomi bagi industri hasil perikanan di Indonesia Timur, khususnya di Makassar sebagai salah satu pusat perdagangan ikan terbesar di kawasan ini. Estimasi waktu belajar mandiri untuk menyelesaikan Modul 1 secara menyeluruh, termasuk menonton video pembelajaran, membaca uraian materi, mengerjakan latihan formatif, serta berpartisipasi dalam forum diskusi asinkron, adalah sekitar 340 menit (setara dua kali pertemuan @ 170 menit) yang dapat dibagi sesuai kecepatan belajar masing-masing mahasiswa selama periode dua minggu yang tersedia. Kegiatan Belajar 1 Tujuan Kegiatan Belajar 1 Setelah menyelesaikan Kegiatan Belajar 1, mahasiswa mampu mengemukakan ruang lingkup Iktiologi, definisi, sejarah perkembangannya, serta menjelaskan mengapa Iktiologi menjadi mata kuliah fondasi bagi seorang sarjana Teknologi Hasil Perikanan (THP). Ikan sebagai Komoditas Strategis: Perspektif Global dan Nasional Sebelum masuk ke definisi formal Iktiologi, penting bagi mahasiswa untuk memahami mengapa ikan, sebagai objek kajian utama disiplin ini, merupakan komoditas yang sangat strategis baik dalam skala global maupun nasional. Berdasarkan laporan FAO (2022) dalam The State of World Fisheries and Aquaculture, ikan dan produk perikanan menyumbang sekitar seperlima dari total asupan protein hewani penduduk dunia, menjadikannya salah satu sumber pangan protein paling penting secara global, khususnya bagi negara-negara berkembang dengan garis pantai panjang seperti Indonesia. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai lebih dari 99.000 kilometer, menempati posisi strategis dalam produksi perikanan tangkap dunia, secara konsisten berada di jajaran negara penghasil ikan tangkap terbesar, bersanding dengan Tiongkok, Peru, dan India. Sektor perikanan tidak hanya berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional (mendukung SDG 2: Zero Hunger), tetapi juga menjadi sumber mata pencaharian bagi jutaan nelayan, pembudidaya, dan pelaku usaha pengolahan ikan di seluruh Indonesia, termasuk di Sulawesi Selatan yang menjadi konteks lokal mata kuliah ini. Skala strategis inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa pemahaman Iktiologi yang kokoh menjadi bekal penting bagi sarjana THP: setiap keputusan teknis yang diambil di tingkat unit pengolahan, betapapun kecil skalanya, pada akhirnya berkontribusi terhadap rantai pasok pangan yang jauh lebih besar mulai dari ketahanan pangan rumah tangga nelayan hingga posisi Indonesia dalam perdagangan hasil perikanan dunia. Iktiologi (Ichthyology, dari bahasa Yunani ichthys = ikan dan logos = ilmu) adalah cabang ilmu Zoologi yang mempelajari ikan secara komprehensif, meliputi morfologi (bentuk luar), anatomi (struktur dalam), fisiologi (fungsi organ dan proses kehidupan), taksonomi dan sistematika (klasifikasi dan kekerabatan), ekologi (interaksi ikan dengan lingkungannya), perilaku, distribusi geografis, hingga evolusi. Ikan merupakan kelompok vertebrata akuatik berdarah dingin (poikiloterm) yang bernapas Ruang Lingkup, Definisi, dan Sejarah Perkembangan Iktiologi A.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 5 dengan insang dan bergerak menggunakan sirip, dengan keanekaragaman jenis terbesar di antara seluruh kelompok vertebrata. Sebagai ilmu yang berusia lebih dari dua ribu tahun, Iktiologi telah berkembang menjadi disiplin yang sangat luas cakupannya. Secara garis besar, ruang lingkup Iktiologi dapat dikelompokkan ke dalam dua pendekatan besar: pendekatan deskriptif, yang berfokus pada pencandraan (deskripsi) bentuk, struktur, dan keanekaragaman ikan; dan pendekatan fungsional, yang berfokus pada bagaimana struktur tersebut bekerja dan berinteraksi dengan lingkungan maupun dengan proses-proses biokimia di dalam tubuh ikan. Kedua pendekatan ini saling melengkapi dan menjadi dasar bagi pengembangan aplikasi praktis Iktiologi di berbagai bidang, termasuk perikanan tangkap, akuakultur, konservasi, dan tentu saja, Teknologi Hasil Perikanan. Mengapa Iktiologi Penting bagi Sarjana THP? Sebagian mahasiswa THP pada awalnya mempertanyakan relevansi mata kuliah Iktiologi bagi profesi mereka kelak, mengingat fokus utama Program Studi THP adalah pengolahan, bukan biologi ikan itu sendiri. Pertanyaan ini wajar, namun jawabannya menjadi jelas apabila kita menelusuri seluruh rantai nilai industri hasil perikanan. Setiap keputusan teknis dalam pengolahan ikan mulai dari memilih spesies yang tepat untuk suatu produk, menentukan metode penanganan pascapanen yang sesuai, hingga merancang formulasi produk olahan pada dasarnya adalah keputusan yang berakar dari pemahaman karakteristik biologis ikan. Sarjana THP yang memahami Iktiologi dengan baik akan mampu mengambil keputusan teknis secara lebih tepat, efisien, dan berbasis bukti ilmiah, dibandingkan sarjana yang hanya menguasai teknik pengolahan tanpa memahami mengapa teknik tersebut bekerja pada spesies tertentu. Perkembangan Iktiologi sebagai disiplin ilmu dapat ditelusuri melalui beberapa tonggak penting yang mencerminkan evolusi cara manusia memahami dan memanfaatkan sumber daya ikan: 1. Era Klasik : Aristoteles (abad ke-4 SM) melalui karya Historia Animalium telah mendeskripsikan lebih dari 100 jenis ikan Laut Aegea dan meletakkan dasar klasifikasi hewan air berdasarkan morfologi. Ia bahkan telah membedakan ikan bertulang rawan (seperti hiu) dari ikan bertulang sejati berdasarkan cara reproduksinya, sebuah pengamatan yang jauh mendahului zamannya. 2. Era Renaisans dan Katalogisasi Awal (abad ke-16–17) : para naturalis Eropa seperti Pierre Belon dan Guillaume Rondelet mulai menyusun katalog bergambar ikan-ikan yang mereka temukan di berbagai perairan Eropa, meletakkan dasar bagi metode dokumentasi ilmiah yang lebih sistematis. 3. Era Sistematika Modern : Carolus Linnaeus (abad ke-18) memperkenalkan sistem tata nama binomial (binomial nomenclature) dalam karyanya Systema Naturae, yang menjadi fondasi taksonomi ikan modern hingga saat ini. Sistem ini memungkinkan setiap spesies ikan memiliki nama ilmiah yang unik dan diakui secara internasional, terlepas dari perbedaan nama lokal di berbagai bahasa dan daerah. 4. Era Eksplorasi dan Deskripsi Fauna Nusantara (abad ke-19) : Peter Bleeker, seorang dokter militer Belanda yang bertugas di Hindia Belanda, mendeskripsikan lebih dari 1.100 spesies ikan baru dari perairan Nusantara (kini Indonesia) selama masa tugasnya. Karyanya yang monumental menjadikan Nusantara salah satu wilayah paling banyak dikaji dalam sejarah Iktiologi dunia, dan banyak Kaitan dengan THP Pemahaman definisi dan ruang lingkup Iktiologi menjadi dasar bagi mahasiswa THP untuk memahami mengapa karakteristik biologis suatu spesies ikan (bentuk tubuh, kandungan lemak, struktur otot) menentukan pilihan teknik pengolahan yang tepat misalnya ikan berlemak tinggi (pelagis kecil) lebih rentan mengalami oksidasi lemak sehingga memerlukan penanganan rantai dingin yang lebih ketat dibanding ikan berlemak rendah. B.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 6 namailmiah ikan Indonesia hingga kini masih menyertakan nama Bleeker sebagai penemu pertama (contoh: Lutjanus bleekeri). 5. Era Konsolidasi Iktiologi Indonesia (abad ke-20) : setelah kemerdekaan, ilmuwan Indonesia mulai berperan aktif dalam kajian Iktiologi nasional, ditandai dengan terbitnya berbagai buku ajar dan penuntun identifikasi ikan berbahasa Indonesia, seperti karya Saanin (1984) tentang Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. 6. Era Molekuler dan Genomik (abad ke-20 akhir hingga kini) : perkembangan teknik DNA barcoding dan filogenetika molekuler memungkinkan klasifikasi ikan yang lebih akurat, termasuk identifikasi spesies kriptik (spesies yang secara morfologi tampak identik namun secara genetik berbeda) yang sulit dibedakan hanya dengan pengamatan visual. Teknologi ini kini juga mulai dimanfaatkan dalam sistem keterlacakan (traceability) produk perikanan, membantu memverifikasi keaslian spesies pada produk olahan seperti fillet beku yang sulit diidentifikasi secara morfologi. Di Indonesia, kajian Iktiologi terus berkembang melalui riset taksonomi dan ekologi ikan di kawasan Wallacea, termasuk kontribusi peneliti lokal seperti karya Andy Omar (2012) dalam Dunia Ikan dan riset-riset Iktiologi kontemporer di perairan Sulawesi, sebagaimana tercermin dalam karya Kantun (2025) yang menjadi salah satu rujukan utama mata kuliah ini. Perkembangan ini menegaskan bahwa Indonesia, dan khususnya Sulawesi, bukan sekadar objek kajian Iktiologi dunia, melainkan juga pusat produksi pengetahuan Iktiologi yang terus berkembang. Tokoh-Tokoh Kunci dalam Perkembangan Iktiologi Untuk memperdalam pemahaman terhadap sejarah Iktiologi, berikut disajikan profil singkat beberapa tokoh yang kontribusinya telah membentuk wajah Iktiologi modern: Tokoh Periode Kontribusi Utama Aristoteles Abad ke-4 SM Meletakkan dasar klasifikasi hewan air melalui pengamatan sistematis terhadap lebih dari 100 jenis ikan Laut Aegea Carolus Linnaeus Abad ke-18 Memperkenalkan sistem tata nama binomial yang menjadi fondasi taksonomi modern seluruh makhluk hidup, termasuk ikan Peter Bleeker Abad ke-19 Mendeskripsikan lebih dari 1.100 spesies ikan baru dari perairan Nusantara, karya paling produktif dalam sejarah Iktiologi Indonesia Hidayat Saanin Abad ke-20 Menyusun Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan berbahasa Indonesia yang menjadi rujukan wajib generasi ahli Iktiologi Indonesia Wayan Kantun Abad ke-21 Peneliti kontemporer Iktiologi Sulawesi, penulis Ikhtiologi Modern: Sains, Teknologi dan Pelestarian Ikan, pengembang utama LOM mata kuliah ini Sebagai disiplin ilmu yang luas, Iktiologi modern terbagi ke dalam beberapa cabang kajian yang saling terkait. Pemahaman terhadap masing-masing cabang ini penting bagi mahasiswa THP karena setiap cabang memiliki titik singgung yang berbeda dengan praktik pengolahan hasil perikanan. Uraian Tahukah Anda? Nama ilmiah banyak spesies ikan Indonesia menyertakan nama "bleekeri" sebagai penghormatan terhadap Peter Bleeker, yang selama masa tugasnya di Hindia Belanda berhasil mendeskripsikan lebih banyak spesies ikan dibanding ilmuwan mana pun dalam sejarah Iktiologi hingga saat ini. Karyanya yang berjudul Atlas Ichthyologique des Indes Orientales Néêrlandaises, terdiri atas puluhan jilid dengan ribuan ilustrasi ikan yang digambar tangan, masih menjadi rujukan penting bagi taksonomis ikan Indonesia hingga sekarang. C.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 7 berikut menjelaskan cabang-cabang tersebut secara lebih mendalam sebelum dirangkum dalam tabel relevansi. Morfologi dan Taksonomi mengkaji bentuk luar tubuh ikan (morfologi) serta sistem pengelompokan dan penamaan ilmiahnya (taksonomi). Bagi mahasiswa THP, kemampuan ini menjadi dasar untuk melakukan grading atau penilaian mutu bahan baku berdasarkan ciri-ciri fisik yang tampak, sekaligus memastikan bahwa spesies yang dibeli sesuai dengan yang tertera pada label atau kesepakatan dengan pemasok. Anatomi mengkaji struktur organ dalam tubuh ikan, seperti sistem integumen (kulit dan sisik), sistem otot, sistem rangka, sistem pencernaan, sistem peredaran darah, dan sistem reproduksi. Pengetahuan anatomi menjadi dasar teknis bagi keterampilan penanganan ikan, seperti teknik eviscerasi (pembuangan organ dalam) yang tepat guna mencegah kontaminasi silang, atau teknik fillet yang meminimalkan kehilangan daging (rendemen). Fisiologi mengkaji fungsi organ dan proses-proses kehidupan di dalam tubuh ikan, termasuk proses biokimia yang terjadi setelah ikan mati (post-mortem), seperti rigor mortis dan autolisis. Pemahaman fisiologi pascapanen ini sangat menentukan strategi penanganan rantai dingin (cold chain) dan penetapan masa simpan (shelf-life) produk perikanan. Ekologi mengkaji interaksi ikan dengan lingkungan tempat hidupnya, termasuk pola migrasi, preferensi habitat, dan hubungan dengan spesies lain dalam ekosistem. Pengetahuan ekologi membantu perencanaan pengadaan bahan baku, misalnya dengan memahami kapan dan di mana suatu spesies dapat diperoleh dalam jumlah dan mutu terbaik. Konservasi mengkaji status populasi ikan, ancaman terhadap kelestariannya, serta strategi pengelolaan berkelanjutan. Bagi industri THP modern yang semakin dituntut memenuhi standar keberlanjutan (sustainability) dan ekolabel, pemahaman konservasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab profesional seorang sarjana THP. Cabang Ilmu Fokus Kajian Relevansi bagi THP Morfologi & Taksonomi Bentuk luar tubuh, sistem klasifikasi, dan identifikasi spesies Grading bahan baku, seleksi spesies sesuai jenis produk Anatomi Struktur organ dalam (integumen, otot, pencernaan, dsb.) Teknik eviscerasi, fillet, dan ekstraksi produk turunan Fisiologi Fungsi organ dan proses biokimia (rigor mortis, metabolisme) Penentuan waktu proses, cold chain management Ekologi Interaksi ikan dengan habitat dan lingkungan Pemetaan sumber bahan baku dan musim tangkap Konservasi Status populasi, ancaman, dan pengelolaan berkelanjutan Kepatuhan regulasi dan keberlanjutan pasokan bahan baku Untuk memahami posisi ikan dalam skema besar dunia hewan, mahasiswa perlu terlebih dahulu memahami hierarki taksonomi secara umum. Sistem klasifikasi makhluk hidup modern menggunakan tingkatan (takson) berjenjang, dari yang paling umum hingga paling spesifik: Kingdom (Kerajaan) → Phylum (Filum) → Class (Kelas) → Order (Ordo) → Family (Famili) → Genus (Marga) → Species (Jenis). Ikan menempati posisi dalam Kingdom Animalia dan Phylum Chordata (hewan bertulang belakang atau memiliki struktur penyokong tubuh berupa notokorda), namun tersebar ke dalam beberapa kelas yang berbeda. D. Posisi Ikan dalam Dunia
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 8 Secara taksonomi, istilah "ikan" (fish/pisces) bukan merupakan satu kelompok takson formal tunggal, melainkan kumpulan tiga kelas vertebrata akuatik berinsang yang berkerabat cukup jauh satu sama lain: • Agnatha (ikan tanpa rahang) : contoh: lamprey dan hagfish; kelompok paling primitif, jarang dimanfaatkan secara komersial dan hampir tidak dijumpai di perairan Indonesia. • Chondrichthyes (ikan bertulang rawan) : contoh: hiu (Selachimorpha) dan pari (Batoidea); rangka tersusun dari tulang rawan (kartilago), bukan tulang sejati. Beberapa jenis dimanfaatkan dalam industri THP, misalnya untuk produk sirip hiu dan tepung ikan, meski pemanfaatannya kini dibatasi ketat oleh regulasi konservasi. • Osteichthyes (ikan bertulang sejati/teleostei) : kelompok terbesar dan paling beragam, mencakup hampir seluruh ikan konsumsi ekonomis penting seperti kembung, kakap, tuna, dan bandeng. Lebih dari 95% spesies ikan yang diperdagangkan secara komersial di Indonesia berasal dari kelompok ini. Menurut data taksonomi terkini yang dihimpun FishBase dan Nelson et al. (2016) dalam Fishes of the World, jumlah spesies ikan yang telah dideskripsikan secara ilmiah di dunia diperkirakan berkisar 34.000–36.000 spesies dan terus bertambah seiring penemuan spesies baru menjadikan ikan kelompok vertebrata paling beragam di planet ini, jauh melampaui jumlah spesies mamalia, burung, reptil, dan amfibi jika digabungkan. Sebagai perbandingan, jumlah spesies mamalia di dunia diperkirakan hanya sekitar 6.500 spesies, burung sekitar 11.000 spesies, sedangkan ikan hampir tiga kali lipat jumlah keduanya. Fakta ini menegaskan betapa luasnya cakupan keanekaragaman yang harus dipahami oleh seorang praktisi Iktiologi maupun sarjana THP yang berkecimpung dalam pengolahan bahan baku ikan. Studi Kasus: Dari Klasifikasi Taksonomi ke Meja Produksi Untuk memahami relevansi praktis dari pengetahuan taksonomi, perhatikan ilustrasi berikut. Seorang quality control (QC) di sebuah unit pengolahan ikan di Makassar menerima kiriman bahan baku yang oleh pemasok disebut sebagai "ikan kerapu". Namun, di pasaran Indonesia, nama lokal "kerapu" sesungguhnya merujuk pada puluhan spesies berbeda dalam genus Epinephelus, Plectropomus, dan Cephalopholis, yang masing-masing memiliki karakteristik daging, kandungan lemak, dan harga pasar yang berbeda. Tanpa pemahaman taksonomi yang memadai, QC tersebut berisiko menerima bahan baku yang tidak sesuai spesifikasi, atau bahkan tertipu oleh substitusi spesies bernilai rendah yang dijual dengan nama spesies bernilai tinggi (praktik yang dikenal sebagai species fraud atau pemalsuan spesies). Kasus semacam ini menjadi semakin relevan dalam konteks perdagangan produk perikanan olahan seperti fillet beku, di mana ciri morfologi eksternal yang biasa digunakan untuk identifikasi telah hilang. Di sinilah teknik molekuler seperti DNA barcoding sebagaimana disinggung pada bagian sejarah Iktiologi di atas mulai banyak diterapkan oleh industri untuk memverifikasi keaslian spesies pada produk akhir, guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi pelabelan dan standar mutu ekspor. Pemahaman menyeluruh tentang karakteristik biologis ikan menentukan ketepatan setiap tahapan dalam rantai nilai industri hasil perikanan, mulai dari penentuan bahan baku hingga produk akhir. Rantai nilai tersebut dapat dibayangkan sebagai sebuah alur yang berkesinambungan: dimulai dari penangkapan atau pemanenan ikan di alam maupun budidaya, dilanjutkan dengan penanganan pascapanen di atas kapal atau di tempat pendaratan ikan, kemudian diteruskan ke unit pengolahan untuk proses lebih lanjut, hingga akhirnya menjadi produk yang siap dipasarkan kepada konsumen. E.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 9 Pada setiap titik dalam alur tersebut, pengetahuan Iktiologi berperan sebagai dasar pengambilan keputusan teknis. Tabel berikut merangkum keterkaitan antara tahapan industri THP dengan cabang pengetahuan Iktiologi yang relevan: Tahapan Industri THP Peran Pengetahuan Iktiologi Seleksi bahan baku Identifikasi spesies dan penilaian kesegaran berdasarkan ciri morfologi eksternal Penanganan pascapanen Pemahaman fisiologi rigor mortis dan laju kemunduran mutu menentukan strategi rantai dingin Proses pengolahan Struktur anatomi (otot, kulit, viscera) menentukan teknik fillet, eviscerasi, dan ekstraksi produk turunan Pengembangan produk Komposisi kimia dan karakter biologis spesies menentukan formulasi produk (nugget, surimi, tepung ikan, dsb.) Keberlanjutan pasokan Ekologi dan status konservasi spesies menentukan keberlanjutan rantai pasok bahan baku industri Rangkuman Kegiatan Belajar 1 • Iktiologi adalah cabang Zoologi yang mengkaji ikan secara menyeluruh: morfologi, anatomi, fisiologi, taksonomi, ekologi, dan evolusi. • Perkembangan Iktiologi berlangsung dari era klasik (Aristoteles), era sistematika modern (Linnaeus), era eksplorasi fauna Nusantara (Bleeker), hingga era molekuler (DNA barcoding). • Ikan mencakup tiga kelas vertebrata: Agnatha, Chondrichthyes, dan Osteichthyes, dengan lebih dari 34.000 spesies terdeskripsi di dunia. • Dalam konteks Prodi THP, Iktiologi diposisikan sebagai fondasi ilmiah bagi seluruh tahapan rantai nilai industri hasil perikanan dari seleksi bahan baku hingga pengembangan produk.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 10 Kegiatan Belajar 2 Tujuan Kegiatan Belajar 2 Setelah menyelesaikan Kegiatan Belajar 2, mahasiswa mampu memetakan keanekaragaman ikan Indonesia dan Sulawesi berdasarkan habitatnya, serta mengaitkan potensi ekonomi spesies ikan dengan peluang pengembangan bahan baku industri Teknologi Hasil Perikanan. Indonesia terletak pada kawasan Wallacea dan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yang diakui secara internasional sebagai pusat keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Fenomena ini erat kaitannya dengan posisi geografis dan sejarah geologi Nusantara: garis Wallace, yang membelah wilayah Indonesia secara biogeografis antara fauna bercorak Asia di bagian barat dan fauna bercorak Australia di bagian timur, menciptakan zona transisi (Wallacea) dengan tingkat endemisme dan keanekaragaman yang sangat tinggi. Sulawesi berada tepat di jantung kawasan Wallacea ini, menjadikannya salah satu wilayah dengan keunikan biogeografi ikan yang paling menarik untuk dikaji di dunia. Berdasarkan kompilasi data taksonomi dari berbagai sumber pustaka (Kottelat et al., 1993; Nelson et al., 2016; FishBase), Indonesia diperkirakan menjadi rumah bagi ribuan spesies ikan air tawar, payau, dan laut — sebuah proporsi yang signifikan dari total keanekaragaman ikan dunia. Angka pasti terus diperbarui seiring temuan spesies baru, sehingga mahasiswa dianjurkan merujuk basis data terkini seperti FishBase (www.fishbase.org) untuk data mutakhir. Yang membedakan Indonesia dari negara- negara lain bukan hanya jumlah spesiesnya, melainkan juga tingkat endemisme yang tinggi banyak spesies ikan air tawar di Sulawesi, misalnya di Danau Poso dan Danau Matano, tidak ditemukan di tempat lain mana pun di dunia. Kaitan dengan THP Tingginya keanekaragaman ikan Indonesia merupakan peluang sekaligus tantangan bagi industri THP: peluang berupa variasi bahan baku dan potensi diversifikasi produk, sedangkan tantangan berupa kebutuhan standar identifikasi dan grading yang mampu mengakomodasi banyak spesies berbeda karakteristik biologisnya. Selain itu, spesies endemik dan langka memerlukan perhatian khusus terkait status konservasinya sebelum dipertimbangkan sebagai bahan baku industri. Perairan Sulawesi, khususnya Selat Makassar dan Laut Banda, merupakan jalur pertemuan massa air Samudra Pasifik dan Hindia yang dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia (ARLINDO). Fenomena oseanografi ini membawa massa air kaya nutrien yang mendukung produktivitas primer tinggi di sepanjang perairan Sulawesi, yang pada gilirannya menopang rantai makanan laut yang kaya, mulai dari plankton hingga predator puncak seperti tuna dan cakalang. Selain Selat Makassar, Teluk Bone di sisi timur Sulawesi Selatan juga dikenal sebagai kawasan penangkapan ikan pelagis besar yang penting bagi perekonomian nelayan lokal. Keanekaragaman Ikan Indonesia dan Sulawesi serta Potensi Ekonominya A. B.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 11 Makassar, sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan sekaligus pusat perdagangan ikan terbesar di Indonesia Timur, menghadirkan akses terhadap ratusan spesies ikan komersial dari berbagai tipe perairan laut dalam, terumbu karang, estuari, dan pelagis. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Untia dan berbagai tempat pelelangan ikan (TPI) di sekitar Makassar menjadi titik pertemuan hasil tangkapan dari nelayan di seluruh kawasan Sulawesi dan sekitarnya, menjadikan pasar-pasar ikan di Makassar sebagai laboratorium alam yang kaya bagi pembelajaran Iktiologi kontekstual sebuah keunggulan lokal yang secara khusus dimanfaatkan dalam perancangan mata kuliah ini. Tahukah Anda? Danau Poso dan Danau Matano di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan merupakan danau purba (danau tektonik tertua di Asia Tenggara) yang menjadi rumah bagi puluhan spesies ikan endemik yang tidak ditemukan di tempat lain mana pun di dunia, termasuk beberapa jenis ikan dari famili Telmatherinidae yang oleh para ilmuwan dijuluki sebagai "Galapagos-nya Indonesia" karena tingkat endemismenya yang sangat tinggi, menyerupai fenomena evolusi unik yang ditemukan Charles Darwin di Kepulauan Galapagos. Salah satu cara paling mendasar untuk memahami keanekaragaman ikan adalah dengan mengelompokkannya berdasarkan tipe habitat tempat ia hidup. Klasifikasi ini penting secara praktis karena tipe habitat sangat memengaruhi karakteristik fisiologis ikan termasuk kemampuan osmoregulasi (pengaturan keseimbangan air dan garam dalam tubuh), yang pada gilirannya berimplikasi pada tekstur daging dan daya tahan ikan setelah ditangkap. Sebagai gambaran umum, ikan laut (bahari) umumnya memiliki mekanisme osmoregulasi yang disesuaikan dengan lingkungan hipertonik (kadar garam lebih tinggi dari cairan tubuh), sedangkan ikan air tawar disesuaikan dengan lingkungan hipotonik (kadar garam lebih rendah dari cairan tubuh). Ikan yang hidup di zona estuari, seperti bandeng, memiliki kemampuan osmoregulasi yang unik karena harus mampu beradaptasi terhadap fluktuasi salinitas yang drastis mengikuti siklus pasang surut sebuah keunggulan fisiologis yang menjelaskan mengapa bandeng menjadi salah satu komoditas budidaya tambak paling populer di Indonesia, termasuk di kawasan pesisir Sulawesi Selatan. Tipe Habitat Karakteristik Contoh Spesies Umum Bahari (Laut) Salinitas tinggi dan stabil; terbagi menjadi zona pelagis (kolom air) dan demersal (dasar laut) Tuna, cakalang, kembung, kakap, kerapu Estuari (Payau) Zona pertemuan air tawar dan laut; salinitas fluktuatif mengikuti pasang surut Bandeng, kakap putih, belanak Air Tawar Salinitas rendah; meliputi sungai, danau, dan perairan rawa Mujair, nila, ikan mas Nilai ekonomi suatu spesies ikan bagi industri THP ditentukan oleh kombinasi beberapa faktor: kelimpahan dan kontinuitas pasokan, karakteristik biologis (kandungan lemak, protein, tekstur daging), permintaan pasar domestik maupun ekspor, serta kesesuaiannya dengan jenis produk olahan tertentu. Kelima faktor ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dalam menentukan strategi bisnis suatu unit pengolahan ikan. C. D.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 12 Kelimpahan dan kontinuitas pasokan menentukan apakah suatu spesies dapat dijadikan andalan produksi berskala besar dan berkelanjutan, atau hanya cocok untuk produk musiman/edisi terbatas. Karakteristik biologis, khususnya kandungan lemak dan struktur otot, menentukan jenis produk olahan yang paling sesuai ikan berlemak tinggi seperti tuna dan cakalang lebih cocok untuk produk asap atau kaleng yang justru memanfaatkan cita rasa lemaknya, sementara ikan berlemak rendah seperti kakap lebih sesuai untuk produk fillet segar bernilai jual tinggi. Permintaan pasar menentukan nilai jual dan segmen konsumen yang dituju, sedangkan kesesuaian dengan jenis produk olahan menentukan efisiensi proses dan tingkat rendemen yang dapat dicapai. Spesies dengan kelimpahan tinggi namun nilai jual segar rendah (contoh: ikan pelagis kecil seperti kembung dan layang) sering kali justru memiliki potensi besar untuk diversifikasi produk bernilai tambah, seperti tepung ikan, ikan asap, ikan asin, atau produk fermentasi khas daerah. Fenomena ini dikenal dalam industri sebagai strategi menaikkan kelas (upgrading) bahan baku bernilai rendah menjadi produk bernilai tinggi melalui inovasi pengolahan sebuah pendekatan yang sangat relevan bagi konteks industri THP skala kecil dan menengah di Indonesia Timur. Faktor Penentu Penjelasan Singkat Contoh Penerapan Kelimpahan & kontinuitas pasokan Menentukan apakah spesies dapat diandalkan untuk produksi berskala besar dan berkelanjutan Kembung tersedia sepanjang tahun di Makassar, cocok untuk produksi skala industri Karakteristik biologis Kandungan lemak dan struktur otot menentukan kesesuaian jenis produk olahan Cakalang berlemak tinggi ideal untuk produk asap/ikan kayu Permintaan pasar Menentukan nilai jual dan segmen konsumen (lokal, nasional, atau ekspor) Kerapu hidup memiliki permintaan ekspor tinggi ke pasar Asia Timur Kesesuaian dengan produk olahan Menentukan efisiensi proses dan tingkat rendemen yang dapat dicapai Kakap merah cocok untuk fillet karena struktur otot yang kompak Nama Lokal Nama Ilmiah (indikatif) Habitat Potensi Produk THP Kembung Rastrelliger spp. Pelagis Ikan asin, pindang, tepung ikan Cakalang Katsuwonus pelamis Pelagis Ikan kayu/abon (khas produk fermentasi & asap Sulawesi) Layang Decapterus spp. Pelagis Ikan asin, produk beku (frozen) Kakap Merah Lutjanus spp. Demersal/Bahari Fillet segar/beku, produk bernilai jual tinggi Kerapu Epinephelus spp. Demersal/Bahari Ikan hidup/segar bernilai ekspor Bandeng Chanos chanos Estuari/Tambak Bandeng presto, bandeng asap, bandeng tanpa duri Teri Stolephorus spp. Pelagis kecil Teri kering (produk unggulan lokal, terkait produk chao/kering) Tuna Thunnus spp. Pelagis besar Loin/steak beku bernilai ekspor tinggi, produk kaleng Tongkol Euthynnus spp. Pelagis Tongkol asap, abon ikan, pindang Baronang Siganus spp. Terumbu karang Ikan bakar segar, produk olahan bernilai lokal tinggi Belanak Mugil spp. Estuari Ikan asin, produk segar untuk pasar lokal E.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 13 Catatan: nama ilmiah bersifat indikatif pada tingkat genus untuk mewakili kelompok spesies yang umum diperdagangkan; identifikasi spesies definitif memerlukan kunci determinasi yang akan dipelajari lebih mendalam pada Modul 2. Studi Kasus: Rantai Nilai Ikan Cakalang dari Pelabuhan hingga Produk Ikan Kayu Sebagai ilustrasi penerapan konsep potensi ekonomi, perhatikan rantai nilai ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) di Sulawesi. Cakalang ditangkap oleh kapal-kapal pole and line dan purse seine di perairan sekitar Sulawesi, kemudian didaratkan di pelabuhan perikanan seperti PPN Untia di Makassar. Sebagian hasil tangkapan dijual segar untuk konsumsi lokal, namun sebagian besar justru diolah menjadi produk ikan kayu (dikenal juga sebagai katsuobushi dalam konteks Jepang, atau lebih dikenal secara lokal sebagai dasar pembuatan abon dan bumbu penyedap alami). Proses pengolahan ikan kayu melibatkan tahapan perebusan, pengasapan, dan penjemuran berulang hingga kadar air sangat rendah, menghasilkan produk dengan masa simpan sangat panjang dan nilai jual yang jauh lebih tinggi dibanding ikan segarnya. Keberhasilan rantai nilai ini sangat bergantung pada pemahaman karakteristik biologis cakalang: kandungan lemak yang relatif tinggi memberikan cita rasa khas pada produk asap, sementara struktur otot yang padat memungkinkan produk mempertahankan bentuknya selama proses pengeringan berulang. Studi kasus ini menggambarkan bagaimana pengetahuan Iktiologi dalam hal ini pemahaman karakteristik biologis spesies pelagis besar menjadi dasar bagi keberhasilan salah satu produk unggulan khas Sulawesi yang telah dikenal luas di pasar domestik maupun internasional. Tantangan Pengelolaan Keanekaragaman Ikan bagi Industri THP Di balik peluang besar yang ditawarkan oleh keanekaragaman ikan Indonesia, terdapat pula sejumlah tantangan nyata yang perlu dipahami calon sarjana THP. Pertama, tantangan standardisasi: dengan ratusan spesies yang beredar di pasar dengan nama lokal yang beragam dan sering tumpang tindih, unit pengolahan memerlukan sistem identifikasi dan grading yang konsisten agar mutu produk akhir tetap terjaga meski bahan baku berasal dari spesies yang berbeda-beda dalam satu kelompok nama dagang. Kedua, tantangan musiman: ketersediaan banyak spesies ikan sangat dipengaruhi oleh musim, arus, dan siklus reproduksi (sebagaimana akan dibahas lebih mendalam pada Modul 4), sehingga industri perlu merancang strategi diversifikasi bahan baku guna menjaga kontinuitas produksi sepanjang tahun. Ketiga, tantangan keberlanjutan: sebagian spesies bernilai ekonomi tinggi menghadapi tekanan penangkapan berlebih (overfishing), sehingga industri THP modern dituntut untuk mempertimbangkan aspek keberlanjutan pasokan dalam setiap keputusan pengadaan bahan baku sebuah topik yang akan dibahas secara mendalam pada Modul 5 mata kuliah ini. Sebagai penerapan konsep pada Kegiatan Belajar 2, mahasiswa diminta melakukan observasi terhadap pasar ikan di lingkungan tempat tinggal masing-masing dan menyusun pemetaan sederhana spesies ikan yang tersedia, meliputi: nama lokal, perkiraan habitat asal, estimasi volume ketersediaan, serta rekomendasi awal jenis produk THP yang berpotensi dikembangkan dari spesies tersebut. Aktivitas ini menjadi latihan awal bagi Proyek Kasus Kelompok yang akan dikerjakan secara lebih mendalam pada Modul 5. F.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 14 Rangkuman Kegiatan Belajar 2 1. Indonesia, termasuk Sulawesi, terletak pada kawasan pusat keanekaragaman hayati laut dunia (Wallacea dan Coral Triangle). 2. Ikan dapat diklasifikasikan berdasarkan habitatnya menjadi kelompok bahari, estuari, dan air tawar, masing-masing dengan karakteristik dan spesies khas. 3. Nilai ekonomi spesies ikan ditentukan oleh kelimpahan, karakteristik biologis, permintaan pasar, dan kesesuaian dengan jenis produk olahan. 4. Pemetaan spesies ikan komersial lokal merupakan langkah awal penting dalam merancang strategi pengembangan produk THP berbasis sumber daya lokal.
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 15 Modul 1 telah mengantarkan mahasiswa memahami Iktiologi sebagai ilmu dasar yang menopang kompetensi profesional sarjana Teknologi Hasil Perikanan, mencakup definisi, ruang lingkup, sejarah perkembangan, cabang-cabang keilmuan, posisi taksonomi ikan dalam dunia hewan, serta keanekaragaman dan potensi ekonomi ikan Indonesia dan Sulawesi. Melalui dua Kegiatan Belajar, mahasiswa telah diajak menelusuri perjalanan panjang Iktiologi dari era Aristoteles hingga era genomik modern, memahami mengapa Indonesia dan khususnya Sulawesi menjadi pusat keanekaragaman hayati ikan dunia, serta melihat langsung bagaimana pengetahuan biologis ikan diterjemahkan menjadi keputusan bisnis nyata melalui studi kasus klasifikasi taksonomi dan rantai nilai ikan cakalang. Kompetensi yang telah dibangun pada Modul 1 ini kemampuan memahami ruang lingkup Iktiologi dan memetakan keanekaragaman serta potensi ekonomi ikan lokal menjadi fondasi yang mutlak diperlukan sebelum melangkah ke Modul 2, yang akan membahas morfologi eksternal dan taksonomi ikan secara lebih mendalam dan teknis, termasuk penggunaan kunci determinasi untuk identifikasi spesies hingga tingkat famili dan genus. Mahasiswa dianjurkan untuk memastikan seluruh latihan formatif pada Modul 1 telah dikerjakan dengan baik sebelum melanjutkan pembelajaran. Sebelum melanjutkan ke Modul 2, luangkan waktu sejenak untuk menilai pemahaman Anda secara jujur terhadap poin-poin berikut. Apabila ada poin yang masih terasa belum dikuasai, dianjurkan untuk mengulang bagian materi terkait sebelum melanjutkan pembelajaran. a. Saya dapat menjelaskan definisi dan ruang lingkup Iktiologi dengan bahasa saya sendiri. b. Saya dapat menyebutkan minimal tiga tonggak sejarah penting dalam perkembangan Iktiologi. c. Saya dapat menjelaskan posisi ikan dalam dunia hewan, termasuk tiga kelas vertebrata akuatik. d. Saya dapat menjelaskan minimal tiga keterkaitan antara cabang ilmu Iktiologi dengan tahapan industri THP. e. Saya dapat menyebutkan minimal lima spesies ikan komersial di pasar Makassar beserta potensi produk THP-nya. f. Saya dapat menjelaskan mengapa keanekaragaman ikan Indonesia menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri THP. g. Saya telah menyelesaikan seluruh latihan formatif dan tugas terstruktur pada Modul 1. Daftar Pustaka Modul 1 • Andy Omar, S. Bin. 2012. Dunia Ikan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. • Kantun, W. 2025. Ikhtiologi Modern: Sains, Teknologi dan Pelestarian Ikan. • Nelson, J.S., Grande, T.C., & Wilson, M.V.H. 2016. Fishes of the World. 5th ed. John Wiley & Sons, Hoboken. • Kottelat, M., Whitten, A.J., Kartikasari, S.N., & Wirjoatmodjo, S. 1993. Freshwater Fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus Editions, Hong Kong. Rangkuman Modul 1 Evaluasi Diri (Self-Chek) sebelum Mlenajutkan ke Modul
MODUL 1 — IKTIOLOGI (BERORIENTASI TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN) Inovasi Pembelajaran Digital 2026| Teknologi Hasil Perikanan ITBM Balik Diwa & Universitas Hasanuddin | Hal. 16 • Latuconsina, H. 2020. Ekologi Ikan Perairan Tropis: Biodiversitas, Adaptasi, Ancaman dan Pengelolaannya. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. • Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Jilid 1 dan 2. Bina Cipta, Jakarta. • Ilyas, S. 1993. Penanganan Ikan Segar. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta. • Junianto. 2003. Teknik Penanganan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta. • Froese, R. & Pauly, D. (eds.). 2024. FishBase. www.fishbase.org. • FAO. 2022. The State of World Fisheries and Aquaculture 2022. Food and Agriculture Organization of the United Nations, Rome. Glosarium Istilah Penjelasan Iktiologi Cabang ilmu Zoologi yang mempelajari ikan secara menyeluruh Taksonomi Ilmu tentang klasifikasi dan penamaan makhluk hidup Binomial Nomenclature Sistem tata nama ilmiah dua kata (genus dan spesies) yang diperkenalkan Linnaeus Osteichthyes Kelas ikan bertulang sejati, kelompok ikan terbesar dan paling beragam Chondrichthyes Kelas ikan bertulang rawan, contohnya hiu dan pari Demersal Ikan yang hidup dekat dasar perairan Pelagis Ikan yang hidup di kolom air, jauh dari dasar perairan Estuari Zona pertemuan air tawar sungai dan air laut Endemisme Kondisi suatu spesies hanya ditemukan secara alami di satu wilayah geografis tertentu Garis Wallace Garis biogeografi pemisah fauna bercorak Asia dan Australia yang melintasi Indonesia Species Fraud Praktik pemalsuan identitas spesies pada produk perikanan untuk keuntungan ekonomi DNA Barcoding Teknik identifikasi spesies berbasis fragmen DNA spesifik, digunakan untuk verifikasi produk olahan Upgrading Bahan Baku Strategi mengolah bahan baku bernilai rendah menjadi produk bernilai tambah tinggi