Islam BS KLS XI Kurikulum Merdeka www.kherysuryawan.id

View Islam BS KLS XI Kurikulum Merdeka www.kherysuryawan.id flipbook.

SMA/SMK KELAS XI Abd. Rahman Hery Nugroho KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI BADAN STANDAR, KURIKULUM, DAN ASESMEN PENDIDIKAN PUSAT PERBUKUAN KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA 2021 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia Dilindungi Undang-Undang Disclaimer: Buku ini disiapkan oleh Pemerintah dalam rangka pemenuhan kebutuhan buku pendidikan yang bermutu, murah, dan merata sesuai dengan amanat dalam UU No. 3 Tahun 2017. Buku ini digunakan secara terbatas pada Sekolah Penggerak. Buku ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta Kementerian Agama. Buku ini merupakan dokumen hidup yang senantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhan dan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan yang dialamatkan kepada penulis atau melalui alamat surel buku@kemdikbud.go.id diharapkan dapat meningkatkan kualitas buku ini. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis Abd. Rahman Hery Nugroho Penelaah Fatah Syukur Ahmad Zayadi Penyelia/Penyelaras Supriyatno Rohmat Mulyana Sapdi E. Oos M. Anwas Chundasah Maharani Prananingrum Ilustrator Aji Mei Supiyanto Penyunting Agus Imam Kharomen Penata Letak (Desainer) Maspuq Muin Penerbit Pusat Perbukuan Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Komplek Kemendikbud Jalan RS. Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan https://buku.kemdikbud.go.id Cetakan pertama, 2021 ISBN 978-602-244-546-3 (Jilid Lengkap) ISBN 978-602-244-684-2 (Jilid 1) Isi buku ini menggunakan huruf Linux Libertine 12/16 pt., Philipp H. Poll. xx, 356 hlm.: 17,6 x 25 cm.

iii Kata Pengantar Pusat Perbukuan; Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sesuai tugas dan fungsinya mengembangkan kurikulum yang mengusung semangat merdeka belajar mulai dari satuan Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Kurikulum ini memberikan keleluasaan bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Untuk mendukung pelaksanaan kurikulum tersebut, sesuai Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan, pemerintah dalam hal ini Pusat Perbukuan memiliki tugas untuk menyiapkan Buku Teks Utama. Buku teks ini merupakan salah satu sumber belajar utama untuk digunakan pada satuan pendidikan. Adapun acuan penyusunan buku adalah Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 958/P/2020 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Penyusunan Buku Teks Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ini terselenggara atas kerja sama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Nomor: 57/ IX/PKS/2020) dengan Kementerian Agama (Nomor: 5341 TAHUN 2020). Sajian buku dirancang dalam bentuk berbagai aktivitas pembelajaran untuk mencapai kompetensi dalam Capaian Pembelajaran tersebut. Penggunaan buku teks ini dilakukan secara bertahap pada Sekolah Penggerak dan SMK Pusat Keunggulan, sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 162/M/2021 tentang Program Sekolah Penggerak. Sebagai dokumen hidup, buku ini tentunya dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan. Oleh karena itu, saran-saran dan masukan dari para guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan buku teks ini. Pada kesempatan ini, Pusat Perbukuan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat dalam penyusunan buku ini mulai dari penulis, penelaah, penyunting, ilustrator,

iv desainer, dan pihak terkait lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga buku ini dapat bermanfaat khususnya bagi peserta didik dan guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Jakarta, Oktober 2021 Plt. Kepala Pusat, Supriyatno NIP 19680405 198812 1 001

Kata Sambutan Puji syukur kepada Allah Swt., bahwa penulisan Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti hasil kerjasama antara Kementerian Agama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi ini dapat diselesaikan dengan baik. Buku ini disusun sebagai upaya untuk menyiapkan peserta didik agar menjadi insan yang religius dan berbudi pekerti sebagaimana diamanatkan pada Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai sasaran di atas, maka sudah selayaknya kita mendukung Visi dan Misi Presiden untuk mewujudkan Indonesia Maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terbentuknya Pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai- nilai Pancasila, dengan enam ciri utama, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ini disusun sesuai dengan Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020–2035 bahwa peningkatan kualitas pendidikan nasional dilakukan dengan memperbaiki kurikulum nasional, pedagogi, dan penilaian. Materi yang diajarkan dalam buku ini sejalan dengan upaya untuk pengembangan peserta didik, yaitu nilai-nilai dan ajaran Islam yang sangat mulia dan luhur untuk dijadikan suatu habit dalam penanaman sikap, memperluas wawasan dan pengetahuan, serta mengembangkan keterampilan peserta didik agar menjadi muslim yang kaaffah. Buku ini juga menghadirkan nilai-nilai moderasi beragama yang perlu diserap oleh peserta didik. Penguatan moderasi beragama di Indonesia saat ini penting dilakukan karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang v

majemuk dengan bermacam suku, bahasa, budaya dan agama. Indonesia merupakan negara yang memandang penting nilai-nilai agama, walaupun bukan merupakan suatu negara yang berdasarkan pada agama tertentu. Moderasi beragama penting untuk digaungkan dalam konteks global di mana agama menjadi bagian penting dalam perwujudan peradaban dunia yang bermartabat. Moderasi beragama diperlukan sebagai upaya untuk senantiasa menjaga agar tafsir dan pemahaman terhadap agama tetap sesuai dengan koridor berbangsa dan bernegara sehingga tidak memunculkan cara beragama yang ekstrem. Kementerian Agama dalam kesempatan ini menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pusat Kurikulum dan Perbukuan yang telah bekerja dengan sungguh-sungguh bersama Tim Penulis dalam menyiapkan buku ini. Semoga buku ini menjadi sesuatu yang bermakna bagi masa depan anak- anak bangsa. Amin. Jakarta, Oktober 2021 Direktur Pendidikan Agama Islam Dr. Rohmat Mulyana Sapdi vi

vii Prakata Bismillāhirrahmānirrahīm. Alhamdulillāhirabbil ālamīn. Segala puji bagi Allah Swt. penguasa alam semesta sehingga penulisan buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI dan BP) Kelas XI SMA/SMK ini dapat selesai. Semoga kita semua selalu dikaruniai kesehatan, kesuksesan, dan keberkahan dalam menjalankan tugas. Āmīn. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw. keluarga, dan sahabat-sahabatnya. Dalam sistem pendidikan, kurikulum bersifat dinamis dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Namun demikian, perubahan dan pengembangan kurikulum harus dilakukan secara terarah dan dapat menjawab tantangan perubahan zaman. Pengembangan kurikulum dengan semangat merdeka belajar adalah bagian dari ikhtiar untuk mewujudkan Indonesia Maju melalui peningkatan sumber daya manusia. Pengembangan kurikulum baru ini, khususnya pada mata pelajaran PAI dan BP adalah dengan memasukkan profil pelajar Pancasila. Adapun karakter yang dikembangkan adalah, 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, 2) mandiri, 3) bernalar kritis, 4) kreatif, 5) bergotong-royong, dan 6) berkebinekaan global. Tentunya, di luar enam karakter tersebut, guru di sekolah dapat mengembangkan karakter lain yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik masing-masing. Selain itu juga menguatkan literasi, Islam yang rahmatan lil alamīn, moderasi beragama, kebangsaan/keindonesiaan, mengembangkan Higher Order Thinking Skills (HOTS), dan kecakapan abad 21. PAI dan BP sebagai salah satu mata pelajaran wajib pada semua jenjang, mulai dari tingkat dasar, menengah, dan tinggi harus mengikuti perubahan tersebut. Perubahan tersebut, seharusnya dimaknai hal yang positif untuk memperbaiki implementasi PAI dan BP pada saat sekarang dan yang akan datang. Apalagi dengan adanya revolusi industri 4.0, peran mata pelajaran PAI dan BP sangat dibutuhkan peserta didik maupun masyarakat.

viii Kebutuhan peserta didik dalam memahami materi PAI dan BP SMA/ SMK Kelas XI dengan baik diperlukan buku sebagai pemandu dalam belajar. Buku ini menjawab kebutuhan tersebut baik aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Harapannya setelah mempelajari buku ini, menguatkan kalian menjadi pelajar muslim yang rahmatan lil ālamīn, moderat, berkarakter profil pelajar Pancasila, sehingga meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Penulis berusaha seoptimal mungkin untuk menghadirkan buku PAI dan BP dengan sebaik-baiknya. Meskipun begitu, penulis memberi kesempatan kepada bapak/ibu guru PAI, peserta didik atau pembaca memberikan masukan yang konstruktif. Semoga buku ini bermanfaat di dunia dan akhirat. Āmīn. Jakarta, Oktober 2021 Penulis Drs. H. Abd. Rahman, MA. Hery Nugroho, S.Pd.I, M.S.I, M.Si.

ix Daftar Isi Kata Pengantar ..................................................................................................... iii Kata Sambutan ..................................................................................................... v Prakata .................................................................................................................. vii Petunjuk Penggunaan Buku ............................................................................... xiv Pedoman Transliterasi ......................................................................................... xvii BAB 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek .................................................................................... 1 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 2 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 2 C. Infografis .................................................................................................................... 3 D. Tadabbur..................................................................................................................... 3 E. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 4 F. Wawasan Keislaman................................................................................................ 7 1. Telaah Q.S. Ali Imrān/3: 190-191 tentang Berpikir Kritis......................... 7 2. Telaah Hadis dan Penjelasan Lain tentang Berpikir Kritis ...................... 11 3. Telaah Q.S. ar-Rahmān/55: 33 tentang Mencintai Iptek ........................... 14 4. Telaah Hadis dan Penjelasan lain tentang Berpikir Kritis ....................... 19 G. Penerapan Karakter ................................................................................................. 23 H. Refleksi........................................................................................................................ 24 I. Rangkuman ................................................................................................................ 25 J. Penilaian ..................................................................................................................... 26 K. Pengayaan .................................................................................................................. 32 BAB 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain ............... 33 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 34 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 34 C. Infografis .................................................................................................................... 34 D. Ayo Tadarus .............................................................................................................. 35 E. Tadabbur..................................................................................................................... 36 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 37 G. Wawasan Keislaman................................................................................................ 38 1. Memenuhi Janji .................................................................................................. 39 2. Mensyukuri Nikmat .......................................................................................... 43 3. Memelihara Lisan .............................................................................................. 46 4. Menutup Aib Orang Lain ............................................................................... 50

x H. Penerapan Karakter ................................................................................................. 55 I. Refleksi........................................................................................................................ 56 J. Rangkuman ................................................................................................................ 56 K. Penilaian ..................................................................................................................... 58 L. Pengayaan .................................................................................................................. 64 BAB 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba ....................................................................... 65 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 66 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 66 C. Infografis .................................................................................................................... 66 D. Ayo Tadarus .............................................................................................................. 67 E. Tadabbur..................................................................................................................... 68 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 69 G. Wawasan Keislaman................................................................................................ 70 1. Perkelahian Antarpelajar ................................................................................. 70 2. Minuman Keras (Miras) ................................................................................... 76 3. Narkoba................................................................................................................ 81 H. Penerapan Karakter ................................................................................................. 90 I. Refleksi........................................................................................................................ 91 J. Rangkuman ................................................................................................................ 92 K. Penilaian ..................................................................................................................... 93 L. Pengayaan .................................................................................................................. 98 BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig ............................ 99 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 100 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 100 C. Infografis .................................................................................................................... 100 D. Ayo Tadarus .............................................................................................................. 101 E. Tadabbur..................................................................................................................... 101 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 102 G. Wawasan Keislaman................................................................................................ 105 1. Dakwah ................................................................................................................ 106 2. Khutbah................................................................................................................ 115 3. Tablig .................................................................................................................... 123 H. Penerapan Karakter ................................................................................................. 128 I. Refleksi........................................................................................................................ 129 J. Rangkuman ................................................................................................................ 130 K. Penilaian ..................................................................................................................... 131 L. Pengayaan .................................................................................................................. 136

xi BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia .................................................................. 137 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 138 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 138 C. Infografis .................................................................................................................... 139 D. Ayo Tadarus .............................................................................................................. 139 E. Tadabbur..................................................................................................................... 140 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 141 G. Wawasan Keislaman................................................................................................ 144 1. Indonesia ............................................................................................................. 144 2. Umat Islam Indonesia ....................................................................................... 145 3. Ulama Indonesia untuk Dunia........................................................................ 146 H. Penerapan Karakter ................................................................................................. 166 I. Refleksi........................................................................................................................ 167 J. Rangkuman ................................................................................................................ 168 K. Penilaian ..................................................................................................................... 169 L. Pengayaan .................................................................................................................. 174 BAB 6: Menguatkan Kerukunan melalui Toleransi dan Memelihara Kehidupan Manusia ............................. 175 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 176 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 176 C. Infografis ................................................................................................................... 177 D. Tadabbur ................................................................................................................... 177 E. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 178 F. Wawasan Keislaman ............................................................................................... 179 1. Mengkaji Q.S. Yūnus/10: 40-41 tentang toleransi ...................................... 180 2. Mengkaji Q.S. al-Māidah/5 : 32, serta Hadis tentang memelihara kehidupan manusia ........................................................................................... 192 G. Penerapan Karakter ................................................................................................ 201 H. Refleksi ...................................................................................................................... 202 I. Rangkuman ................................................................................................................ 202 J. Penilaian .................................................................................................................... 203 K. Pengayaan ................................................................................................................. 210 BAB 7: Menguatkan Iman dengan Menjaga Kehormatan, Ikhlas, Malu, dan Zuhud ................................................... 211 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 212 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 212 C. Infografis ................................................................................................................... 212 D. Ayo Tadarus ............................................................................................................. 213

xii E. Tadabbur..................................................................................................................... 213 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 214 G. Wawasan Keislaman ............................................................................................... 216 1. Menjaga Kehormatan ....................................................................................... 216 2. Ikhlas .................................................................................................................... 218 3. Malu ...................................................................................................................... 220 4. Zuhud ................................................................................................................... 222 H. Penerapan Karakter ................................................................................................ 225 I. Refleksi ...................................................................................................................... 227 J. Rangkuman ................................................................................................................ 227 K. Penilaian .................................................................................................................... 227 L. Pengayaan ................................................................................................................. 232 BAB 8: Adab Menggunakan Media Sosial ................................... 233 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 234 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 234 C. Infografis ................................................................................................................... 234 D. Ayo Tadarus ............................................................................................................. 235 E. Tadabbur ................................................................................................................... 235 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 236 G. Wawasan Keislaman ............................................................................................... 237 1. Pentingnya Adab menggunakan Media Sosial .......................................... 238 2. Pengertian Adab menggunakan Media Sosial ............................................ 239 3. Dasar Naqli.......................................................................................................... 239 4. Adab menggunakan Media Sosial.................................................................. 241 5. Penerapan Karakter dalam Adab Bermedia Sosial..................................... 247 6. Hikmah Adab Bermedia Sosial ....................................................................... 248 H. Penerapan Karakter ................................................................................................ 249 I. Refleksi ...................................................................................................................... 250 J. Rangkuman ................................................................................................................ 250 K. Penilaian .................................................................................................................... 251 L. Pengayaan ................................................................................................................. 256 BAB 9: Ketentuan Pernikahan dalam Islam ................................ 257 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 258 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 258 C. Infografis ................................................................................................................... 259 D. Ayo Tadarus .............................................................................................................. 259 E. Tadabbur..................................................................................................................... 260 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 261 G. Wawasan Keislaman................................................................................................ 263 1. Pengertian Pernikahan ..................................................................................... 263

xiii 2. Dalil Naqli tentang Pernikahan ...................................................................... 263 3. Tujuan Pernikahan ............................................................................................ 264 4. Hukum Pernikahan ........................................................................................... 266 5. Memilih Pasangan dalam Pernikahan .......................................................... 266 6. Ketentuan Pernikahan ...................................................................................... 268 7. Talak dan Iddah .................................................................................................. 278 8. Rujuk .................................................................................................................... 282 9. Pernikahan Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Undang-Undang No. 16 Tahun 2019 ............................................................ 283 10. Hikmah Pernikahan dalam Islam................................................................... 284 H. Penerapan Karakter ................................................................................................ 285 I. Refleksi ...................................................................................................................... 286 J. Rangkuman ................................................................................................................ 286 K. Penilaian .................................................................................................................... 287 L. Pengayaan ................................................................................................................. 292 BAB 10: Peradaban Islam pada Masa Modern .............................. 293 A. Tujuan Pembelajaran............................................................................................... 294 B. Kata Kunci.................................................................................................................. 294 C. Infografis .................................................................................................................... 295 D. Ayo Tadarus .............................................................................................................. 296 E. Tadabbur..................................................................................................................... 296 F. Kisah Inspiratif ......................................................................................................... 297 G. Wawasan Keislaman................................................................................................ 299 1. Kondisi Islam pada Masa Modern.................................................................. 300 2. Tokoh-Tokoh Islam pada Masa Modern ....................................................... 302 3. Pengaruh Islam Masa Modern bagi Indonesia ............................................ 318 4. Hikmah Belajar Peradaban Islam pada Masa Modern .............................. 319 H. Penerapan Karakter ................................................................................................. 320 I. Refleksi........................................................................................................................ 321 J. Rangkuman ................................................................................................................ 321 K. Penilaian ..................................................................................................................... 322 L. Pengayaan ................................................................................................................. 326 Glosarium .......................................................................................................................... 327 Daftar Pustaka .................................................................................................................. 332 Indeks ................................................................................................................................. 341 Profil Penulis ..................................................................................................................... 346 Profil Penelaah ................................................................................................................ 350 Profil Editor ....................................................................................................................... 354 Profil Desainer .................................................................................................................. 355 Profil Ilustrator ................................................................................................................. 356

xiv Petunjuk Penggunaan Buku Untuk mengoptimalkan kalian belajar menggunakan Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA dan SMK Kelas XI, mari pahami petunjuk penggunaannya. Setiap bab dalam buku ini, ada dua belas rubrik, kecuali Bab I dan VI hanya ada sebelas rubrik. Apa saja? Ayo, perhatikan penjelasannya berikut ini! Tujuan Pembelajaran Pada bagian ini adalah target yang akan kalian capai dalam setiap bab. Sehingga kalian dapat mengetahui dan menyiapkan segala sesuatunya sebelum mempelajari materi yang akan dipelajari. Kata Kunci Pada bagian ini adalah istilah penting yang ada dalam setiap bab. Karenanya, pahami dengan baik maksud dari setiap kata kunci yang ada. Harapannya, dengan adanya kata kunci ini memudahkan kalian mempelajari materi. Infografis Pada bagian ini merupakan penyajian garis besar materi dalam bentuk grafis. Bagian ini, kalian diajak untuk melihat poin-poin materi sebelum melihat secara detail penjelasan dalam setiap bab. Harapannya, kalian akan lebih mudah mengingatnya. Ayo Tadarus Pada bagian ini berisi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan materi dalam setiap bab. Kalian akan diajak untuk membaca dengan tartil sebelum memulai belajar. Harapannya, kalian terbiasa membaca Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain akan menguatkan keliterasian kalian.

xv Tadabbur Pada bagian ini, kalian diajak untuk mengamati 4 gambar dan menuliskan komentar sesuai dengan instruksi dalam box aktivitas. Selanjutnya kalian diajak untuk mencermati wacana berupa artikel terkait materi. Harapannya, kalian akan terbentuk sikap berfikir kritis (yang merupakan salah satu kecapakan abad ke-21) dalam kehidupan sehari- hari. Kisah Inspiratif Pada bagian ini berisi tentang cerita yang menginspirasi berhubungan dengan materi masing- masing bab. Wawasan Keislamaman Bagian ini berisi materi pelajaran sesuai dengan Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur CP Kelas XI SMA dan SMK. Bacalah materi dengan tuntas dan kerjakan aktivitas yang ada dalam kotak dalam setiap bab. Pada bagian ini, kalian diharapkan menjadi peserta didik yang aktif, inovatif, kreatif, religius, dan berkarakter. Penerapan Karakter Berisi butir-butir sikap dan karakter profil Pelajar Pancasila yang terdapat dalam materi dalam setiap bab. Harapannya, karakter tersebut kalian dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Refleksi Pada bagian ini kalian diajak untuk merefleksikan manfaat apa saja setelah kalian mempelajari dalam setiap bab. Rangkuman Pada bagian ini berisi ringkasan materi yang disajikan dalam Wawasan keislaman. Membaca rangkuman tersebut akan membantu kalian menemukan garis besar pembahasan materi dalam setiap bab.

xvi Penilaian Pada bagian ini berisi penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kerjakanlah penilaian ini dengan sungguh-sungguh untuk mengukur tingkat kompetensi yang kalian miliki. Pengayaan Pada bagian ini diperuntukkan bagi peserta didik yang sudah menuntaskan materi dalam setiap bab. Bentuk pengayaan materi tersebut adalah referensi buku atau kitab atau jurnal ilmiah yang dapat diibaca lebih lanjut oleh peserta didik. Selamat belajar menggunakan buku ini. Semoga kalian menjadi pelajar yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., berakhlak mulia, berilmu, menebarkan Islam yang rahmatan lil ālamīn, moderat, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

xvii Pedoman Transliterasi Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XI ini tidak lepas dari penulisan transliterasi. Adapun pedoman transliterasinya berdasarkan atas Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 158 Tahun 1987 dan No. 0543 b/u/1987 sebagai berikut. 1. Penulisan Huruf (Konsonan) No. Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama 1 ا Alif Tidak dilambangkan Tidak dilambangkan 2 ب Ba B Be 3 ت Ta T Te 4 ث Śa ś Es (dengan titik di atas) 5 ج Jim J Je 6 ح Ha H Ha (dengan titik di bawah) 7 خ Kha Kh Ka dan Ha 8 د Dal D De 9 ذ Zal ź Zet (dengan titik di atas)

xviii No. Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama 10 ر Ra R Er 11 ز Zai Z Zet 12 س Sin S Es 13 ش Syin Sy Es dan Ye 14 ص Sad ş Es (dengan titik di bawah) 15 ض Ḍad Ḍ De (dengan titik di bawah) 16 ط Ṭa Ṭ Te (dengan titik di bawah) 17 ظ Ẓa Ẓ Zet (dengan titik di bawah) 18 ع ‘Ain ‘ Apostrof terbalik 19 غ Gain G Ge 20 ف Fa F Ef 21 ق Qaf Q Qi 22 ك Kaf K Ka

xix No. Huruf Arab Nama Huruf Latin Nama 23 ل Lam L El 24 م Min M Em 25 ن Nun N En 26 و Wau W We 27 ه Ha H Ha 28 ء Hamzah ’ Apostrof 29 ي Ya Y Ye 2. Vokal Pendek Tanda Nama Huruf Latin Nama Fathah A A Kasrah I I و Ḍammah U U Contoh: ِ مَلِك : malikiَ لِرَبِّك : lirabbikaِّ مِن ْ شَر : min syarri

xx 3. Vokal Panjang Tanda Nama Huruf dan tanda Nama ا Fathah dan alif ā a dan garis di atasْ ي Kasrah dan ya ī i dan garis di atasْ و و Ḍammah dan wau ū u dan garis di atas Contoh: ِ وَسْوَاس : waswāsiُ نَسْتَعِيْن : nasta’īnuِ صُدُوْر : sudūri 4. Diftong Tanda Nama Huruf Latin Nama ْ ي Fathah dan ya ai a dan i ْ و Fathah dan wau au a dan u Contoh: عَلَيْهِم : ‘alaihim يَوْم ِ الدِّيْن : yaumiddīn

Bab 1 Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2021 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Abd. Rahman dan Hery Nugroho ISBN: 978-602-244-684-2

2 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kalian dapat: 1. Membaca dengan tartil Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan QS. ar-Rahmān/55: 33, serta Hadis tentang berpikir kritis dan semangat mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). 2. Menghafalkan dengan fasih dan lancar Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan QS. ar-Rahmān/55: 33, serta Hadis tentang berpikir kritis dan semangat mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi. 3. Mempresentasikan tentang Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar- Rahmān/55: 33, serta Hadis tentang berpikir kritis dan semangat mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga terbiasa membaca Al-Qur’an. 4. Meyakini bahwa berpikir kritis dan semangat mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah perintah agama. 5. Membiasakan rasa ingin tahu, berpikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 6. Menganalisis Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar-Rahmān/55: 33, serta Hadis tentang berpikir kritis dan semangat mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi. B Kata Kunci • Berpikir Kritis • Tadarrus • Iptek • Tadabbur • Membaca Tartil • Ulil Albab • Ilmu Tajwid • Ayat Qauliyah • Makharijul Huruf

3Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek C Infografis MEMBIASAKAN BERPIKIR KRITIS DAN SEMANGAT MENCINTAI IPTEK Mengidentifikasi tajwid Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar-Rahmān/58: 33 terkait Menganalisis Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar- Rahmān/58: 33, serta Hadis terkait Menghafal Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar-Rahmān/58: 33 Mempresentasikan Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 Q.S. ar-Rahmān/58: 33, serta Hadis Membiasakan nilai-nilai yang terkandung Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar-Rahmān/58: 33, serta Hadis dalam kehidupan sehari-hari Membaca dengan tartil Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar-Rahmān/58: 33, serta Hadis terkait D Tadabbur Aktivitas 1.2 Aktivitas Peserta Didik: Amati gambar atau ilustrasi berikut ini! Lalu berilah tanggapan kalian yang dikaitkan dengan materi ajar yang dipelajari, yakni: Menelaah Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. ar-Rahmān/55: 33 tentang berpikir kritis dan semangat mencintai iptek!

4 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Gambar 1.2 Kapan bendera merah putih dikibarkan di ruang angkasa? Gambar 1.3 Di atas bumi ada langit, dan di atas langit ada apa? Gambar 1.4 Ada daratan, lautan, dan tumbuh- tumbuhan, sudah berapa % yang sudah dimanfaatkan? Gambar 1.5 Pesawat ruang angkasa, sudah adakah putera terbaik Indonesia yang terlibat? E Kisah Inspiratif Aktivitas 1.3 Aktivitas Peserta Didik: Pahami dan renungkan artikel berikut ini, sebagai bagian dari pemahaman dari materi ajar yang akan dipelajari!

5Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek Bijak Terhadap Informasi Rasulullah Saw. bersabda: ِ كَفَى بِالْمَرْء َيْرَة َ قَالَ: قَال َ رَسُوْل ُ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ:عَن ْ أَبِي هُر كَذِبًا أَن ْ يُحَدِّث َ بِكُل ِّ مَا سَمِع َ(رواه مسلم) Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata Rasulullah Saw. Bersabda: “Cukuplah seseorang disebut pendusta orang yang mengatakan (membicarakan) semua yang ia dengar” (HR. Muslim). Penjelasan: Jika seseorang mendapatkan berita, lalu diungkapkan seluruh informasinya tanpa landasan syariah yang benar, maka Rasulullah Saw. menyebutnya sebagai pendusta. Hal ini, karena siapa saja yang mendengar berita, tanpa adanya seleksi, maka sama saja berdusta. Hadis ini, memberi pelajaran penting, agar membiasakan menyaring informasi. Jika mempunyai berita dan ilmu, semestinya disampaikan kepada pihak lain, namun harus tetap mengikuti prinsip-prinsip yang sudah digariskan oleh Allah Swt. Dalam Q.S. az-Zumar/39: 18 Allah berfirman:ُّٰ ﴿ الَّذِيْن َ يَسْتَمِعُوْن َ الْقَوْل َ فَيَتَّبِعُوْن َ اَحْسَنَه ٗ ۗ اُولٰۤىِٕك َ الَّذِيْن َ هَدٰىهُم ُ الل )18 :( الزمر/39 وَاُولٰۤىِٕك َ هُم ْ اُولُوا الْاَلْبَاب ِ ﴾ Artinya: (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat (Q.S. az-Zumar/39: 18) Ayat ini mengandung penjelaskan, yakni: (1) Ciri ulil albab, yaitu orang yang gemar mengumpulkan beragam informasi, tetapi berusaha memilah dan memilihnya yang terbaik dan paling membawa maslahat/

6 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI kebaikan. (2) Berisi informasi tentang ketuhanan, ajaran akhlak-moral, prinsip hidup dari berbagai sumber. (3) Selalu melakukan tabayyun atau konfirmasi. Tabayyun itu sangat penting, karena segala sesuatu yang diucapkan, dengar, dan disampaikan, harus dipertanggungjawabkan di sisi Allah Swt. Hal ini sejalan dengan Q.S. al-Isrā’/17: 36. َ ﴿ وَلَا تَقْف ُ مَا لَيْس َ لَك َ بِه ٖ عِلْم ٌ ۗاِن َّ السَّمْع َ وَالْبَصَر َ وَالْفُؤَاد َ كُل ُّ اُولٰۤىِٕك )36 :( االسراۤء/17 كَان َ عَنْه ُ مَسْـُٔوْلًا ﴾ Artinya: Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya (Q.S. al-Isrā’/17: 36) Bukan hanya itu, tabayyun juga dapat menjauhkan dari prasangka buruk, fitnah dan ghibah. Sebagai makhluk sosial, manusia banyak melakukan interaksi. Menjadi sangat indah, jika interkasi tersebut, yang diserap hanya informasi secara baik. Ini penting sekali, karena saat ini arus informasi yang masuk semakin deras. Jangan ditelan bulat- bulat seluruh informasi yang diterima, tetapi harus ada proses seleksi, karena informasi menjadi sarana paling efektif memengaruhi pola pikir seseorang. Pola pikir inilah yang membentuk tingkah laku. Jika informasi yang diserapnya tidak baik, maka besar kemungkinan perilaku yang muncul akan buruk. Sebaliknya, bila informasi yang diserapnya sarat dengan kebaikan, maka sikap dan perilaku orang tersebut akan baik. Sebab itu, patut sekali bila di tengah derasnya informasi, kita memohon kepada Allah Swt. agar diberi kemampuan untuk tetap konsisten dalam kebaikan, agar keimanan terjaga dari segala distorsi. Disadur dari sumber: Republika Online/Bunga Rampai Taushiyah 3

7Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek F Wawasan Keislaman Aktivitas 1.4 Aktivitas Peserta Didik: Bentuk kelas kalian menjadi 3 kelompok. Lalu, setiap kelompok mendapatkan sub-materi dari materi ajar yang akan dipelajari: (1) membaca secara tartil (sesuai ilmu tajwid dan makharijul huruf) Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Hadis yang terkait; (2) menganalisis isi kandungan Q.S. Ali Imrān/3: 190-191 dan Hadis yangterkait; (3) Menghafalkan dengan fasih dan lancar Q.S. Ali Imrān/3: 190-191. Hasilnya dipresentasikan oleh masing-masing kelompok! 1. Telaah Q.S. Ali Imrān/3: 190-191 tentang Berpikir Kritis a. Tilawah Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 Aktivitas 1.5 Aktivitas Peserta Didik: Mari membaca dengan fasih dan benar Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 berikut ini. Sesuaikan bacannya dengan menggunakan Ilmu Tajwid dan Makharijul huruf! َ ﴿ اِن َّ فِي ْ خَلْق ِ السَّمٰوٰت ِ وَالْاَرْض ِ وَاخْتِلَاف ِ الَّيْل ِ وَالنَّهَار ِ لَاٰيٰت ٍ لِّاُولِى الْاَلْبَاب ِۙ ١٩٠ الَّذِيْن َ يَذْكُرُوْن َ الل َّٰ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِم ْ وَيَتَفَكَّرُوْن فِي ْ خَلْق ِ السَّمٰوٰت ِ وَالْاَرْض ِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْت َ هٰذَا بَاطِل ًاۚ سُبْحٰنَك َ فَقِنَا )190- 191 :(اٰل عمران/3 عَذَاب َ النَّار ِ ١٩١ ﴾

8 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI b. Mengidentifikasi Tajwid Aktivitas 1.6 Aktivitas Peserta Didik: Mari perhatikan dengan cermat teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. Buatlah kajian dari aspek ilmu tajwidnya. Berikut ini ada beberapa contoh, selanjutnya kembangkan untuk kalimat atau lafal yang lain dari ayat tersebut! No Kalimat Hukum Bacaan Sebab 1ّ اِن غنة (Ghunnah) Nun Bertasydid 2ِ السَّمٰوٰت ال ْ شمسية (Al Syamsiah) س ← ال 3ِ وَالنَّهَار مد طبيعي (Mad Thabi’i) Ada Alif, huruf sebelumnya berfathah 4 قِيَامًا وَّقُعُوْدًا ادغام بغنة Idgham Bighunnah Tanwin bertemu huruf و 5َ خَلَقْت قلقلة Qalqalah Huruf ق bersukun (mati) 6َ عَذَاب مد طبيعي (Mad Thabi’i) Ada Alif, huruf sebelumnya berfathah c. Mengartikan Perkata Aktivitas 1.7 Aktivitas Peserta Didik: Coba cermati teks Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. kata per kata. Maknai dari kata atau lafal dari ayat tersebut yang belum ada artinya!

9Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek Kata Makna Kata Maknaِ خَلْق Penciptaanَ يَتَفَكَّرُوْن Mereka memikirkanِ اخْتِلَاف Pergantianِۚ وَالْاَرْض dan bumiِۙ لِّاُولِى الْاَلْبَاب Orang-orang yang berakalَ سُبْحٰنَك Maha Suci Engkauَ يَذْكُرُوْن Mereka yang mengingatَ عَذَاب Siksaْ جُنُوْبِهِم Lambung mereka/ pembaringa mereka (keadaan berbaring)ِ النَّار Neraka d. Menerjemahkan Ayat Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 191). e. Asbabun Nuzul Diriwayatkan dari Aisyah Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Ya Aisyah, saya malam ini ingin beribadah kepada Allah.” Dijawab oleh Aisyah, “Sungguh saya senang berada di sampingmu, saya tidak keberatan. Maka bangunlah Rasulullah, mengambil air wudhu, lalu shalat yang lama sekali. Beliau menangis sampai membasahi pakaiannya, disebabkan sangat dalamnya merenungkan isi kandungan Al-Qur’an yang dibaca. Hal itu dilakukan berkali-kali, sampai menjelang adzan shubuh, dan saat Bilal hadir, masih melihat kondisi Nabi yang menangis. Lalu Bilal bertanya, “Ya Rasulullah,

10 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI kenapa Anda masih menangis. Bukankah Allah Swt. sudah mengampuni semua dosa engkau, baik terdahulu maupun yang akan datang,” lalu dijawab oleh Nabi: “Tidak pantaskah saya ini menjadi hamba Allah yang bersyukur, apalagi di malam ini Allah menurunkan ayat yang alangkah ruginya, jika dibaca ayat ini, namun tidak dihayati makna dan isi kandungannya.” Ayat- ayat tersebut adalah termasuk Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191. f. Isi dan Kandungan Ayat Memahami ayat Al-Qur’an, tidak cukup hanya berdasar terjemah saja, tetapi harus berlandaskan kepada buku tafsir yang mu’tabar (otoritatif). Berikut ini, kandungan isi Q.S. Ali Imrān/3: 190-191: 1. Begitu banyak tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang dibentangkan di langit dan bumi, termasuk pada diri manusia, semua itu harus dijadikan sebagai sarana berpikir bagi umat manusia, khususnya orang beriman, agar dapat mengambil manfaat, faedah, dan hikmah dari keberadaan alam semesta. 2. Penciptaan alam semesta, meliputi silih bergantinya siang dan malam, pusaran angin, keteraturan lintasan benda-benda langit, dan bumi dengan segala isinya, semua itu jangan hanya dijadikan sebagai peristiwa biasa, tanpa hikmah dan tujuan, tetapi harus dipikirkan, diteliti, dan dieksplorasi, sehingga keberadannya semakin terbuka dan dapat diambil sisi positif dan negatifnya melalui akal pikiran serta akal budi yang dimiliki oleh setiap orang; 3. Semua manfaat, faedah, dan hikmah dari beragam peristiwa yang tersebar di alam semesta tersebut, hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki akal pikiran yang sehat serta akal budi yang dikenal dengan istilah ulil albab atau ulul albab; 4. Ulil Albab adalah orang yang memiliki akal pikiran yang lurus, nurani yang bersih, serta menjadi hamba Allah Swt. yang mengisi setiap waktunya untuk memikirkan segala penciptaan dan peristiwa di alam raya ini, sehingga menghasilkan kesimpulan bahwa semua ini membawa manfaat, tidak ada yang sia-sia, akhirnya hidupnya semakin dekat (taqarrub) kepada Allah Swt.; 5. Tanda lain Ulil Albab adalah mereka yang dalam kondisi apapun (duduk, berdiri, dan berbaring) yang artinya juga saat mampu, kaya, atau terpuruk,

11Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek kondisi riang gembira, atau sedih, semua itu tidak menghalangi untuk mengambil maslahat dari segala ciptaan Allah Swt. baik untuk diri sendiri, lingkungan yang mengitarinya, maupun masyarakat secara luas; 6. Ulil Albab juga melakukan pemikiran kritis, utuh, obyektif, dan seimbang terhadap segala problema yang muncul, sehingga buah pemikirannya memberi banyak manfaat, jauh dari kebencian dan sengketa, apalagi kecancuan dan kebimbangan, akhirnya memunculkan kedamaian, kesejukan, serta solusi terbaik bagi semuanya; 7. Setiap orang beriman sangat dituntut, agar penggunaan akal pikiran dan akal budinya, menghasilkan kesadaran diri bahwa semua penciptaan itu bersumber dari Allah. Selanjutnya, mengajak diri dan orang lain, agar semakin dekat (taqarrub) kepada Allah Swt. Melalui pendekatan tersebut, keselamatan dan kesuksesan dunia akhirat dapat diraih, akhirnya terhindar dari kesengsaraan, kegagalan dan kehinaan; 8. Seperti peran dari ulil albab, Ayat ini mengajak juga agar di setiap komunitas dan masyarakat, bahkan dalam lingkup yang lebih luas, ada kelompok orang yang berperan sebagai pemikir dan penengah dari problema yang muncul, sehingga terhindar dari hoax, berita bohong, dan informasi yang tidak benar. 2. Telaah Hadis dan Penjelasan Lain tentang Berpikir Kritis a. Teks Hadis: عَن ْ أَبِي ذَر ٍّ رَضِي َ الل ُّٰ عَنْهُ، قَالَ: قَال َ رَسُوْل ُ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ: تَفَكَّرُوْا فِي خَلْق ِ الل ِّٰ وَلَا تَفَكَّرُوا فِي ذَات ِ الل ِّٰ فَتَهْلِكُوْا (رواه ابو الشيخ) b. Makna Kata: Kata/kalimat Arti تَفَكَّرُوْا Berpikirlah kalianِّٰ خَلْق ِ الل Ciptaan Allah

12 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Kata/kalimat Artiَ وَلا dan janganlahِّٰ ذَات ِ الل Dzat Allah c. Terjemah Hadis Artinya: Dari Abi Dzar r.a. Nabi Saw. bersabda: “Pikirkanlah mengenai segala sesuatu (yang diciptakan Allah), tetapi janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah, karena kalian akan rusak” (H.R. Abu Syeikh). d. Isi Kandungan Hadis 1. Isi Hadis ini membimbing kepada kita agar selalu berpikir kritis atau berpikir positif (positive thinking), yakni memikirkan tentang ciptaan Allah Swt. Maksudnya, kita digalakkan untuk berpikir, meneliti dan mengkaji segala hal yang terkait dengan makhluk ciptaan-Nya, tetapi dilarang memikirkan Dzat-Nya. 2. Terlarang memikirkan Dzat Allah Swt. itu disebabkan: jika dipikir Dzat Allah, pasti akal dan segala potensi yang dimiliki manusia tidak mampu mencapainya. Sebagaimana Rasulullah Saw. menuntun kita dalam menggunakan akal dan kalbu yang dipikirkan hanya makhluk-Nya saja, agar tidak sesat pikir, yang akhirnya menjadi sesat jalan. 3. Harus menjadi kesadaran bersama, bahwa berilmu, yang awalnya dimulai dari proses berpikir, obyeknya hanya di seputar makhluk dan alam semesta, termasuk dirinya sendiri. Jangan sampai melampaui kapasitas akal, yakni berpikir tentang Dzat Allah Swt. 4. Berpikir itu ada batasnya, tidak sebebas-bebasnya. Ada batas yang tidak boleh dilalui dan harus berhenti, karena jika tidak, manusia sendiri yang mengalami kebingungan dan kekacauan dalam hidupnya. Ini tentu tidak dikehendaki, karena penggunaan akal pikiran dan akal budi, bermuara kepada semakin dekatnya kepada Allah Swt., bukan malah menjauh dari-Nya.

13Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek e. Penjelasan Lebih Luas tentang Berpikir Kritis Berpikir menjadi ciri khas manusia. Disebabkan kemampuan berpikir, manusia menjadi makhluk yang dimuliakan Allah Swt. sebagaimana Q.S. al-Isrā’/17: 70 sebagai berikut: ِ ﴿ وَلَقَد ْ كَرَّمْنَا بَنِي ْٓ اٰدَم َ وَحَمَلْنٰهُم ْ فِى الْبَر ِّ وَالْبَحْر ِ وَرَزَقْنٰهُم ْ مِّن َ الطَّيِّبٰت )70 :( االسراۤء/17 كَثِيْر ٍ مَِّّن ْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا ࣖ ﴾ وَفَضَّلْنٰهُم ْ عَلٰى Artinya: Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (Q.S. al-Isrā’/17: 70) Gambar 1.6 Belajar kelompok sangat membantu pemahaman materi ajar Peran sebagai khalifah, diamanahkan kepada manusia, karena faktor berpikir juga. Karena, kemampuan berpikirlah, akan diserap, didapat dan ditemukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah/2: 30 menggambarkan dialog antara Malaikat, Adam, dan Allah Swt. tentang terpilihnya manusia menjadi khalifah di muka bumi, dikarenakan unggulnya ilmu yang dimiliki Adam. Menarik untuk merenungkan dialog tersebut bahwa segala seuatu itu sebelum diputuskan, harus ada dialog dan musyawarah terlebih dahulu. Lalu diputuskan mana argumen dan pemikiran yang paling matang dan unggul untuk dipakai sebagai sebuah keputusan. Itu artinya Islam sangat menekankan adanya berpikir kritis, silakan menyodorkan argumen yang sahih, dan proses dialog yang bijak, sehingga hasilnya membawa kebaikan untuk semua. Berpikir terambil dari bahasa Arab, yakni الفكر, berarti kekuatan yang menembus suatu obyek, sehingga menghasilkan pengetahuan. Jika

14 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI pengetahuan itu didukung bukti-bukti kuat, dinamakan علم/’ilm (Q.S. at- Takātsur/102: 3-5). Jika buktinya belum meyakinkan, namun kebenarannya lebih dominan, disebut ّ ظن (dhann/dugaan)/Q.S. al-Hujurāt/49: 12. Selanjutnya, jika kemungkinan benar dan salahnya seimbang disebut ّ شك (syakk/keraguan). Sementara jika tidak didukung bukti, atau bukti tersebut lemah, sehingga kemungkinan salahnya lebih besar disebut وهم (wahm). Banyak ditemukan ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pengetahuan yang bersumber pada akal pikiran atau rasio. Perintah untuk menggunakan akal dengan berbagai macam bentuk kalimat dan ungkapan merupakan suatu indikasi yang jelas untuk hal ini. Tetapi, tidak sedikit paparan ayat- ayat yang mengungkap tentang pengetahuan yang bersumber pada intuisi (hati atau perasaan) terdalam Menata ulang cara berpikir, mendayagunakan akal, dan menimbang- nimbang sebuah problematika untuk mencari solusi dan menemukan kebenaran, menjadi hal yang niscaya. Itulah sebabnya, Islam menekankan agar akal pikiran harus dijaga betul, jangan sampai diperlemah, baik berasal dari faktor internal maupun eksternal, misalnya tidak mendayagunakan, karena faktor kemalasan; minim ikhtiar, apalagi mengkonsumsi minuman keras, narkoba atau zat adiktif lainnya. 3. Telaah Q.S. ar-Rahmān/55: 33 tentang Mencintai Iptek Aktivitas 1.8 Aktivitas Peserta Didik: Pahami dan renungkan artikel berikut ini, sebagai bagian dari pemahaman dari materi ajar yang akan dipelajari! Ilmu dan Amal Harus dipahami, bahwa ilmu itu yang pertama, setelah itu baru amal. Dokter harus berilmu dulu, sebelum praktik mengobati pasien. Ilmu yang benar melahirkan keselamatan. Ilmu yang salah, menjadi penyebab kegagalan, kehinaan, bahkan kehancuran. Berdasarkan Q.S. al-Hajj/22: 54 Allah Swt. menjelaskan, ‘’Ilmu itu harus dipandu oleh iman, agar jika terjadi keraguan dan kebimbangan, segera kembali kepada sistem keimanan. Sebab, kebenaran itu jelas dan nampak nyata, sebaliknya keburukan juga nyata dan semestinya dihindari.

15Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek Itu artinya, ilmu seiring dan sejalan dengan iman, dan dari iman, muncul ketundukan hati dan kepasrahan. Hal ini, sejalan dengan Q.S. Muhammad/47: 19 yang menjelaskan dengan nada perintah, ‘’fa’lam” yang berarti ketahulilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan, melainkan Allah, dan mintalah ampun bagi dosamu dan bagi orang-orang mukmin. Perhatikan kata ‘’fa’lam’’ didahulukan atas perintah beriman dan beramal. Imam al-Bukhari dalam Hadisnya meletakkan bab yang berjudul ‘’Bābul ‘ilmi qablal qauli wal amal’’ (Bab ilmu sebelum perkataan dan perbuatan). Para ulama melihat ilmu sebagai syarat sahnya perkataan dan perbuatan. Banyak sekali orang ikhlas, tetapi karena kurangnya ilmu, mereka sering menganggap yang salah jadi benar, dan yang benar jadi salah, atau yang sunnah jadi bid’ah dan yang bid’ah jadi sunnah. Anehnya, mereka tidak merasa salah, seperti kandungan Q.S. al- Kahfi/18: 103-104 “Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi dalam perbuatannya? Yaitu, orang- orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” Kita juga diingatkan oleh Q.S. Fāthir/35: 8 bahwa setan mudah memengaruhi orang-orang yang tidak berilmu, sehingga ia menganggap perbuatannya--sekalipun salah--menjadi benar, “Maka apakah orang yang ditipu itu menganggap baik pekerjaannya yang buruk, sehingga ia meyakini bahwa pekerjaannya itu baik?”. Sebuah doa yang selalu kita panjatkan, “Ya Allah tunjukkan kami bahwa yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkan (juga) bahwa yang batil itu memang batil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya”. Berdasarkan untaian doa tersebut, kita dibimbing untuk mendapatkan ilmu, lalu memohon kekuatan untuk mengamalkannya. Imam Al-Ghazali dalam bukunya Minhājul ‘Abidīn menyebutkan beberapa tangga yang harus ditempuh menuju Allah Swt., dan tangga pertama adalah ilmu. Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan bahwa perbuatan tanpa dibekali ilmu, hakikatnya merusak, bukan memperbaiki. Diadaptasi dari sumber: Republika Online/Bunga Rampai 3

16 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI a. Tilawah Q.S. ar-Rahmān/55: 33 Aktivitas 1.9 Aktivitas Peserta Didik: Mari membaca dengan fasih dan benar Q.S. ar-Rahmān/55: 33 berikut ini. Sesuaikan bacannya dengan menggunakan Ilmu Tajwid dan Makharijul huruf! ِ ﴿ يٰمَعْشَر َ الْجِن ِّ وَالْاِنْس ِ اِن ِ اسْتَطَعْتُم ْ اَن ْ تَنْفُذُوْا مِن ْ اَقْطَار ِ السَّمٰوٰت )33 :(الرمحن/55 ۗ لَا تَنْفُذُوْن َ اِلَّا بِسُلْطٰن ٍۚ ﴾وَالْاَرْض ِ فَانْفُذُو ْا b. Mengidentifikasi Tajwid Aktivitas 1.10 Aktivitas Peserta Didik: Mari perhatikan dengan cermat teks Q.S. ar-Rahmān/55: 33. Buatlah kajian dari aspek ilmu tajwidnya. Berikut ini ada beberapa contoh, selanjutnya kembangkan untuk kalimat atau lafal yang lain dari ayat tersebut! No Kalimat Hukum Bacaan Sebab 1ِ اَلْاِنْس اخفاء (‘Ikhfa) س ←ْ ن 2 اَن ْ تَنْفُذُوْا اخفاء (‘Ikhfa) ف ←ْ ن 3 اَن ْ تَنْفُذُوْا مد طبيعي (Mad Thabi’i) Ada و, huruf sebelumnya berharakat dhammah 4ِ مِن ْ اَقْطَار إظهار (idzhar) Nun sukun bertemu hamzah 5ٍ اِلَّا بِسُلْطٰن مد طبيعي (Mad Thabi’i) Ada Alif, huruf sebelumnya berfathah

17Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek c. Mengartikan Perkata Aktivitas 1.11 Aktivitas Peserta Didik: Coba cermati teks Q.S. ar-Rahmān/55: 33 kata per kata. Maknai dari kata atau lafal dari ayat tersebut yang belum ada artinya! Kata Makna Kata Maknaِّ يٰمَعْشَر َ الْجِن Wahai golongan Jinِ وَالْاَرْض dan bumiْ اِن ِ اسْتَطَعْتُم Jika kalian mampuَ لا tidak اَن ْ تَنْفُذُوْا Kalian menembus (melintasi)ٍ بِسُلْطٰن dengan kekuatan d. Menerjemahkan Ayat Artinya: Wahai golongan jin dan manusia! Jika kalian sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kalian tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah) (Q.S. ar- Rahmān/55: 33). e. Asbabun Nuzul Tidak ada sebab khusus tentang turunnya ayat ini, tetapi secara umum, seperti yang dipaparkan M. Quraish Shihab (Pakar Tafsir Indonesia) dalam karyanya berjudul Tafsir Al Mishbah, Surat ini diturunkan, karena tanggapan negatif kaum musyrik Makkah saat mereka diperintah untuk sujud kepada Allah yang ar-Rahmān. Hal ini sejalan dengan Q.S. al-Furqān/25: 60 yang artinya adalah: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kepada ar-Rahman,“ mereka menjawab: “Siapakah ar-Rahman itu?” Jika riwayat ini diterima, maka semakin jelas dan tepat jika Surat ini dinamai dengan nama yang populer tersebut.

18 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI f. Isi dan Kandungan Ayat Berikut ini, kandungan isi Q.S. ar-Rahmān/55: 33: 1. Allah Swt. mengancam kepada jin dan manusia, bahwa kelak di akhirat mereka tidak bisa mengelak akan pertanggung jawaban dari semua nikmat yang sudah diberikan. Meskipun mereka berusaha lari ke segala penjuru langit dan bumi, Sementara langit dan bumi serta alam semesta ini dimiliki dan berada dalam kekuasaan Allah Swt. Jika tidak percaya, silakan menembus dan melintasi ke semua penjuru alam raya ini, pasti mereka tidak mampu melakukan. Gambar 1.7 Hanya ilmu yang tinggi yang mampu menjelajahi ruang angkasa 2. Jika saat ini muncul kelompok manusia yang mampu melintasi beberapa planet di angkasa dengan kekuatan dan ilmu yang didapat, itu hanya seberapa, tidak sebanding dengan luasnya alam semesta, dan harus diingat agar menjadi kesadaran bersama, bahwa kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) harus semakin menumbuhkan kesadaran keimanan kepada Allah Swt. Itu artinya, semakin luas dan dalamnya ilmu yang dimiliki, hidupnya harus semakin dekat kepada-Nya, bahwa semuanya merupakan nikmat yang pasti akan diminta pertanggung jawaban. 3. Didahulukan penyebutan jin baru manusia, karena jin lebih memiliki kemampuan menembus luar angkasa, begitu juga perannya di bumi, meski lebih terbatas (Q.S. Jin/72: 9). Sebaliknya, saat Allah Swt. memberi tantangan untuk membuat semisal Al-Qur’an (Q.S al-Isrā’: 88), penyebutan manusia lebih didahulukan dibanding jin. Hal ini disebabkan kemampuan manusia lebih tinggi dibanding jin, apalagi yang paling ingkar menolak Al-Qur’an adalah jenis manusia. 4. Sebagian ulama menjadikan ayat ini sebagai isyarat ilmiah bahwa kekuatan dan penguasaan ilmu menjadi hal yang mutlak dimiliki, jika ingin menjadi umat, golongan atau kelompok yang sukses merengkuh

19Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek dunia, apalagi akhirat, dan Islam sangat menekankan tentang ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Seperi yang kita dapati sekarang ini, bahwa peradaban maju, pasti berbasis kepada ilmu, termasuk negara- negara maju, disebabkan kemampuan dan kemajuan di bidang ipteknya. 5. Harus dipahami bahwa majunya sebuah negara (sebut saja Singapura, Korea, Jepang, termasuk beberapa negara Eropa dan Amerika) disebabkan besarnya investasi pada kualitas manusia (sering disebut SDM), termasuk keberhasilan menjelajahi ruang angkasa. Itu semua membutuhkan dana yang tidak sedikit, termasuk kerjasama di pelbagai disiplin ilmu, bahkan antar negara, misalnya ilmu astronomi, teknik, matematika, seni, geologi dan lain-lain. 4. Telaah Hadis dan Penjelasan lain tentang Berpikir Kritis a. Teks Hadis ِ سَمِعْت ُ عَبْد َ الل ِّٰ بْن َ عَمْرِو بْن ِ الْعَاصِ، يَقُولُ: سَمِعْت ُ رَسُوْل َ الل ِّٰ صَلَّى ُ الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: إِن َّ الل َّٰ لَا يَقْبِض ُ الْعِلْم َ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُه ُ مِن َ النَّاس وَلَكِن ْ يَقْبِض ُ الْعِلْم َ بِقَبْض ِ الْعُلَمَاء ِ حَتَّى إِذَا لَم ْ يَتْرُك ْ عَالِمًا اتَّخَذ َ النَّاس رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْر ِ عِلْم ٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا (رواه مسلم) b. Makna Kata Hadis Kata Arti Kata Artiُ لَا يَقْبِض Tidak mencabutَ اِتَّخَذ Menjadikan انْتِزَاعًا Melenyapkan رُءُوسًا Pemimpin-pemimpinِ بِقَبْض Dengan mencabut فَسُئِلُوا Mereka ditanyaiْ لَم ْ يَتْرُك Tidak tinggal (tersisa) فَضَلُّوا Mereka sesat

20 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI c. Terjemah Hadis Artinya: Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bin ‘Ash r.a. : “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya, Allah tidak mencabut ilmu dengan melenyapkannya dari dada manusia, tetapi dengan mewafatkan ulama, sehingga setelah tidak ada seorang pun ulama, mereka manusia mengangkat orang-orang bodoh menjadi pemimpin. Mereka ditanya, tetapi mereka (pemimpin-pemimpin yang bodoh itu) memberikan petunjuk tanpa ilmu, kemudian tersesatlah mereka, dan menyesatkan orang lain pula.” (HR. Muslim). d. Isi Kandungan Hadis 1. Hadis ini membicarakan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan yang terkumpul dalam diri pada ulama. Menjadi ulama bukan hal mudah, seperti terlihat dari kisah para ulama saat menuntut ilmu, misalnya Imam al-Ghazali, Imam al-Bukhari, Imam an-Nawawi, dan Buya Hamka setelah mencurahkan segala tenaga, pikiran, waktu dan meghadapi pelbagai cobaan dan rintangan dalam menutut ilmu. Mereka semua menjadi ulama yang produktif dalam berkarya, sehingga karya- karya mereka menginspirasi dan dapat dibaca, diteliti dan ditelusuri isi kandungannya, sehingga generasi saat ini, bahkan generasi mendatang masih dapat mengambil manfaatnya. 2. Rentang sejarah para ulama dari satu generasi ke generasi selanjutnya, baik dari buah karyanya maupun kisah (biografi) hidupnya, masih dapat diambil menjadi teladan, contoh, dan pelajaran tentang bagaimana cara mereka mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kesabaran, olah batin yang dijalani, sehingga ilmu para ulama dapat memberi manfaat sampai saat ini. 3. Sekarang ini, kita rasakan semakin sedikit ulama akibat diwafatkan oleh Allah Swt. Sehingga kita kehilangan ilmu yang dimiliki sang ulama, dan berpengaruh terhadap kehidupan kita. Hal ini terbukti saat ini kita semakin susah menemukan teladan yang dapat dicontoh, akibatnya problematika dunia saat ini semakin banyak dan susah dicari solusinya. 4. Wafatnya para ulama berpengaruh juga kepada tokoh-tokoh yang muncul di seputar kehidupan kita, sosoknya kelihatan lebih pintar, hebat dan meyakinkan, namun jika ditelaah secara mendalam dari sudut pandang kebenaran, tenyata menipu dan membodohi kita. Itulah pentingnya kita

21Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek harus pandai-pandai memilih guru, sehingga ilmu yang didapat dapat membentengi kita dari jalan yang keliru dan menyesatkan. 5. Coba amati dengan seksama, kehidupan di sekeliling kita, ada tokoh masyarakat, bahkan agamawan yang terkenal, sangat populer bagi sebagian masyarakat dengan nasihat dan gaya panggungnya sangat meyakinkan, tetapi tidak lama kemudian ditangkap polisi, karena melanggar aturan hukum yang berlaku. Misalnya, mengaku sebagai ‘nabi’ akhir zaman (nabi palsu); berbuat asusila yang disembunyikan, padahal di antara mereka itu, banyak juga pengikutnya. 6. Rajin, cinta, dan semangat kepada ilmu itu mutlak, tetapi penting sekali melakukan seleksi ilmu dan guru, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, akibat kebodohan (minim ilmu) diri, atau dibodohi pihak lain, namun tanpa sadar, bahwa kita sebenarnya sedang ditipu, baik di bidang duniawi, dan lebih parah lagi, jika itu berurusan dengan masalah ukhrawi. e. Penjelasan lebih luas tentang iptek Memiliki semangat dan mencintai ilmu, seperti tema utama bahan ajar ini, ada baiknya kita hubungkan uraiannya dengan isi kandungan Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 yang terkenal dengan istilah Surat Iqra’, sebuah kata yang merupakan perintah Allah Swt. kepada manusia untuk membaca (mempelajari, meneliti, atau mengeksplorasi) yang obyeknya tidak disebutkan, namun jelas obyeknya tentang apa saja yang diciptakan oleh Allah Swt. baik ayat-ayat yang tersurat (qauliyah) maupun ayat-ayat yang tersirat, yakni alam semesta (kauniyah). Membaca, meneliti dan menuntut ilmu itu harus berlandaskan nama Allah Swt., sehingga terjadi keserasian hubungan antara pencinta ilmu dan Pemberi Ilmu, yakni Allah Swt. Artinya ridha-Nya yang didapatkan, dan dengan bertambahnya ilmu semakin mendekatkan dirinya (taqarrub) hanya kepada-Nya. Jika ini yang dilakukan, hasilnya tentu membawa kebaikan untuk semua dan terhindar dari ilmu yang membawa kerusakan dan kehancuran bagi manusia dan alam semesta. Allah Swt. melalui Surat Iqra’ mengungkapkan bagaimana proses tahapan penciptaan manusia, yakni sebagai makhluk mulia yang melekat di dalam dirinya, dan diberi kesanggupan menguasai segala sesuatu yang ada di alam raya ini, serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya melalui ilmu dimiliki.

22 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Berkali-kali Allah Swt. memerintahkan kembali kepada manusia, khususnya umat Islam agar selalu membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang, kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan perintah mengulangi bacaan itu berarti mengulang-ulangi bacaan yang dibaca dengan demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa seseorang. Gambar 1.8 Buku merupakan jendela dunia Melalui rangkaian ayat ini, Allah Swt. menerangkan bahwa membaca itu berkaitan dengan qalam (pena) sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Qalam sebagai benda padat yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, sehingga dapat pula dijadikan sebagai sarana belajar dan mengajar. Allah Swt. menyatakan bahwa manusia diajari untuk berkomunikasi dengan perantara qalam. Lalu pandai membaca yang memunculkan bermacam- macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dibanding makhluk lain, sedangkan manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Melalui ayat-ayat ini, terbukti tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Jika tidak karena qalam, niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara, penelitian yang tidak tercatat, dan banyak ajaran agama hilang, serta pengetahuan orang terdahulu tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang. Begitu pula tanpa qalam, tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat buruk, tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang kemudian. Selain itu, melalui ayat-ayat ini menjadi bukti bahwa manusia yang berasal dari unsur yang mati dan awalnya belum berbentuk secara lengkap, akhirnya dijadikan Allah Swt. menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai membaca, menulis, dan berkomunikasi, serta mengetahui segala macam ilmu yang belum pernah diketahui dan dikenalnya.

23Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek Aktivitas 1.12 Aktivitas Peserta Didik: Silakan baca berulang-ulang Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. al- Rahmān/55: 33 menurut ilmu tajwid dan makharijul huruf sampai kalian hafal. Gunakan HP kalian atau media komunikasi lain untuk proses menghafal dengan mendengarkan berkali-kali dari tilawah sang qari’/ qariah, lalu cocokkan dengan hafalan kalian. Demonstrasikan hasil hafalan kalian kepada teman kalian atau pihak lain (tutor/mentor) yang sudah mahir. Perhatikan aspek-aspek yang dinilai, antara lain: kesesuaian dengan ilmu tajwid, ketepatan makharijul huruf, dan kelancarannya. G Penerapan Karakter Setelah menelaah materi Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan Q.S. al-Rahmān/55: 33, serta Hadis tentang berpikir kritis, ilmu pengetahuan dan teknologi, diharapkan peserta didik dapat membiasakan karakter dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut. No Butir Sikap Nilai Karakter 1 Terbiasa menyaring dan menyeleksi informasi yang diterima, sehingga masyarakat menjadi sehat sekaligus tidak terjadi kegaduhan karena termakan berita palsu (hoax). Religius, tanggung jawab, peduli lingkungan 2 Menjadi kelompok ulil albab, yaitu orang yang gemar mendengarkan pembicaraan, mencari sebanyak mungkin informasi, tetapi berusaha memilah dan memilih informasi tersebut, dan hanya mengambil yang paling baik dan bermanfaat. Religius, tanggung jawab, peduli lingkungan

24 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 3 Banyak tanda-tanda kebesaran Allah Swt. yang dibentangkan di langit dan bumi, termasuk pada diri manusia, semua itu harus dijadikan sebagai sarana berpikir bagi umat manusia, khususnya orang beriman, agar dapat mengambil manfaat, faedah, dan hikmah dari keberadaan alam semesta. Religius, tanggung jawab 4 Menyadarkan kepada setiap diri, bahwa semakin luas dan dalamnya ilmu yang dimiliki, hidupnya harus semakin dekat kepada Allah Swt., dan semuanya merupakan nikmat yang pasti akan diminta pertanggung jawaban. Religius, tanggung jawab 5 Rajin belajar dengan cara selalu membaca secara berulang-ulang, sehingga isi bacaan itu menjadi satu kepribadian yang utuh bagi dirinya sekaligus memberi manfaat bagi pihak lain Tanggung jawab, peduli lingkungan H Refleksi Memiliki semangat untuk mencintai ilmu pengetahuan dan teknologi, mutlak dimiliki generasi muslim. Jika mengacu kepada Q.S. al-‘Alaq/96: 1-5 yang terkenal dengan sebutan Surat Iqra’, kita diajak dan dibimbing untuk untuk membaca, mempelajari, meneliti, atau mengeksplorasi obyeknya tidak disebutkan. Coba pikirkan, kenapa tidak disebutkan obyeknya. Cari jawabannya melalui buku-buku tafsir yang ada (minimal 3 buku tafsir). Setiap jawaban harus disertai rujukan yang jelas (Nama dan cover buku tafsirnya, dan jawabannya di halaman berapa?)

25Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek I Rangkuman 1. Isi kandungan Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 dan hadis terkait, di antaranya: a) Penciptaan alam semesta, dan silih bergantinya siang dan malam, pusaran angin, keteraturan lintasan benda-benda langit, dan bumi dengan segala isinya, semua itu jangan dijadikan sebagai peristiwa biasa, tanpa hikmah dan tujuan, tetapi harus dipikirkan, sehingga keberadannya dapat diambil sisi positif dan negatifnya melalui akal pikiran serta akal budi yang dimiliki seseorang. b) Kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) harus semakin menumbuhkan kedekatan (taqarrub) kepada Allah Swt. Itu artinya, semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, hidupnya harus semakin baik dan benar di sisi Allah Swt., termasuk semua nikmat yang diterima, pasti akan diminta pertanggungjawaban. c) Berpikir menjadi ciri khas manusia. Disebabkan kemampuan berpikir, manusia menjadi makhluk yang dimuliakan Allah Swt. d) Peran sebagai khalifah, diamanahkan kepada manusia, karena faktor berpikir juga. Karena kemampuan berpikirlah, ilmu pengetahuan dan teknologi akan diserap didapat dan ditemukan. e) Berpikir (الفكر), berarti kekuatan yang menembus suatu obyek, sehingga menghasilkan pengetahuan. Jika pengetahuan itu, didukung bukti-bukti kuat dinamakan علم/’ilm. Jika buktinya belum meyakinkan, namun kebenarannya lebih dominan, disebut ّ ظن (dhann/dugaan). Selanjutnya, jika kemungkinan benar dan salahnya seimbang disebut ّ شك (syakk/keraguan). 2. Isi kandungan Q.S. arl-Rahmān/55: 33 dan hadis terkait, di antaranya: a) Rajin, cinta, dan semangat menuntut ilmu itu mutlak dilakukan, tetapi penting sekali melakukan seleksi ilmu dan guru, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, akibat kebodohan diri, atau dibodohi pihak lain. b) Membaca itu berkaitan dengan qalam (pena) sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia

26 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. c) Setiap orang harus bercita-cita memiliki iptek yang tinggi, sebagaimana peran para ulama, sehingga sampai kini, meski sudah wafat, ilmu masih bermanfaat untuk generasi akan datang, dan harus menjadi kesadaran bersama, bahwa untuk menjadi ulama itu bukan hal mudah. d) Saat ini, semakin sedikit ulama akibat diwafatkan oleh Allah Swt. dan itu berpengaruh kepada hilangnya ilmu yang dimiliki para ulama yang berakibat bagi kehidupan, sehingga semakin susah menemukan teladan yang dapat dicontoh. J Penilaian 1. Penilaian Sikap Penilaian Diri Berilah tanda centang (√) pada kolom berikut dan berikan alasannya! No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 1 Berikhtiar secara maksimal untuk meneladani Rasulullah Saw. Meskipun beliau selalu dijaga oleh Allah dari dosa dan sudah mendapat jaminan surga Allah, beliau tetap beribadah sampai kakinya bengkak 2 Menjadi kelompok Ulil Albab, yakni orang yang memiliki akal pikiran yang lurus, nurani yang bersih, serta menjadi hamba Allah Swt. yang mengisi waktunya untuk memikirkan alam raya ini, tidak ada yang sia-sia.

27Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 3 Setiap muslim sangat dituntut menggunakan akal pikiran dan akal budinya, menghasilkan kesadaran diri bahwa semua penciptaan itu bersumber dari Allah. Selanjutnya, mengajak diri dan orang lain, agar semakin dekat (taqarrub) kepada-Nya. 4 Penguasaan ilmu harus dilakukan, jika ingin menjadi pribadi, umat, dan negara yang sukses merengkuh kehidupan dunia akhirat 5 Para ulama, baik dari buah karyanya maupun kisah (biografi) hidupnya, dapat menjadi teladan, tentang bagaimana cara mereka mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan dan kesabaran, serta olah batin yang dilakukan. Catatan: S= Setuju, R= Ragu, TS= Tidak setuju 2. Penilainan Pengetahuan Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E pada pernyataan di bawah ini sebagai jawaban yang paling tepat! 1. Saat itu Rasulullah Saw. bersama istrinya, Aisyah Ra. lalu beliau minta izin untuk beribadah. Lama sekali sampai menjelang subuh, bahkan menangis tersedu-sedu, karena begitu dalamnya perenungan ayat yang dibaca. Adapun ayat yang dibaca adalah … . A. Q.S. al-Baqarah/2: 190-191 B. Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190-191 C. Q.S. an-Nisā’/4: 150-151

28 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI D. Q.S. al-Maidah/5: 109-110 E. Q.S. al-An’ām/6: 145-146 2. Perhatikan Q.S. Ali ‘Imrān/3: 190 ini! ٍ ﴿ اِن َّ فِي ْ خَلْق ِ السَّمٰوٰت ِ وَالْاَرْض ِ وَاخْتِلَاف ِ الَّيْل ِ وَالنَّهَار ِ لَاٰيٰت )190 :( اٰل عمران/3 لِّاُولِى الْاَلْبَاب ِۙ﴾ Berdasarkan ayat tersebut, kata yang menunjukkan hukum bacaan Mad Thabi’i adalah …. Aِ خَلْق Bِ السَّمٰوٰت Cِ وَالْاَرْض D لِّاُولِى Eَّ اِن 3. Perhatikan potongan Q.S. Ali ‘Imrān/3: 191 berikut ini!ۚ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْت َ هٰذَا بَاطِل ًا Berdasarkan potongan ayat tersebut, yang termasuk isi dan kandungannya adalah … . A. penciptaan yang beraneka ragam dan berwarna B. menyelimuti kelompok dari kebimbangan dan keraguan C. keimanan itu membuahkan ketenangan, serta kebahagiaan D. berpikir kritis yang menghasilkan kesimpulan tidak ada yang sia-sia E. kemerdekaan berpikir kritis, agar menghasilkan wawasan yang utuh 4. Orang-orang yang memiliki akal pikiran yang sehat serta akal budi yang bersih dikenal dengan istilah ulil albab. Di antara tanda-tandanya adalah…

29Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek A. keterlibatannya dalam berbagai peristiwa B. peduli aspek pendidikan dalam meningkatkan martabat C. pemikirannya mendalam tetapi membawa kesimpulan yang sia-sia D. semua kondisi yang menimpanya, menghasilkan banyak sekali manfaat E. daya kritisnya utuh, sehingga tidak didapati keinginan yang meresap 5. Islam sangat menggalakkan untuk berpikir kritis, meneliti dan mengkaji segala hal yang terkait dengan makhluk ciptaan Allah Swt., tetapi dilarang memikirkan tentang …. A. qadha dan segala takdir-Nya B. nama-nama-Nya yang indah C. al-Asmaul Husna yang 99 D. sifat-sifat-Nya yang utuh E. Dzat-Nya atau Hakikat-Nya 6. Berpikir itu ada batasnya. Jika tidak, banyak kekacauan yang terjadi, termasuk yang terjadi di seputar kehidupan umat manusia. Di antara dampak negatifnya adalah … . A. indahnya dunia yang terus diperbaiki B. semakin banyak hasil perenungan yang didapatkan C. kehidupan dunia tetap berjalan sesuai kehendak manusia D. banyak manusia yang tidak mengakui keberadaan Tuhannya E. akal pikirannya menjadi tumpul dan minim martabat yang didapat 7. Setiap orang harus bercita-cita memiliki ilmu setinggi langit. Namun harus disadari bahwa Ilmu yang salah, menjadi penyebab kegagalan dan kehancuran. Sebab itu, ilmu harus dipandu oleh … . A. landasan yang rinci seluas problema manusia B. kembali dan menyatunya jati diri bersama pihak lain C. sistem kepercayaan yang dapat diterima oleh orang banyak D. kematangan berpikir dan dalamnya penghayatan yang dilakukan E. iman yang kuat dan cara beribadah yang benar 8. Perhatikan potongan Q.S. ar-Rahmān/55: 33 berikut ini! …يٰمَعْشَر َ الْجِن ِّ وَالْاِنْس ِ اِن ِ اسْتَطَعْتُم ْ اَن ْ تَنْفُذُوْا

30 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Berdasarkan potongan ayat tersebut, yang termasuk isi dan kandungannya adalah … . A. perintah Allah Swt. kepada jin dan manusia untuk melintasi penjuru langit B. kebebasan bagi jin dan manusia untuk kerjasama untuk hal yang baik C. tidak semua jin dan manusia mampu mengendalikan nafsunya D. kehinaan bagi siapa saja yang menuhankan semesta raya E. luasnya penjuru langit dan bumi serta di antara keduanya 9. Berdasarkan Hadis Nabi Saw., silih bergantinya tahun dan bulan, bukan sekedar berubahnya waktu, namun itu cara Allah Swt. mengambil ilmu- Nya dengan cara … . A. timbul kemalasan di sebagian besar para penuntut iptek B. jauhnya umat dari para pakar yang membidangi ilmu tersebut C. mewafatkan para ulama dengan ilmu yang dimilikinya D. minimnya kehadiran umat di seputar ulama E. berkurangnya para tokoh yang menguasai 10. Cinta dan semangat menuntut ilmu, itu menjadi keharusan. Namun, ada faktor lain yang harus diperhatikan bagi penuntut ilmu. Hal itu adalah … . A. melakukan seleksi guru dan ilmu yang ingin dipelajari B. kapasitas akal yang naik turun sesuai banyak tidaknya ilmu C. jumlah dana yang dibutuhkan dengan dana orang tua D. olah batin yang menurunkan semangat lahir/fisik E. keamanan dan kesehatan yang melingkupinya Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar! 1. Sebutkan tingkatan berpikir, sehingga seseorang itu sudah sampai taraf علم/’ilm,ّ ظن (dhann/dugaan), dan ّ شك (syakk/keraguan)? 2. Perhatikan potongan Q.S. ar-Rahmān/55: 33 berikut ini! يٰمَعْشَر َ الْجِن ِّ وَالْاِنْس ِ اِن ِ اسْتَطَعْتُم ْ اَن ْ تَنْفُذُوْا Terjemahkan potongan ayat tersebut! 3. Sebutkan 3 ciri dari ulil albab?

31Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek 4. Amati dengan cermat Hadis ini!ِ عَن ْ أَبِي ذَر ٍّ رَضِي َ الل ُّٰ عَنْه ُ قَالَ: قَال َ رَسُوْل ُ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه وَسَلَّمَ: تَفَكَّرُوْا فِي خَلْق ِ الل ِّٰ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِي ذَات ِ الل ِّٰ فَتَهْلِكُوْا (رواه ابو الشيخ) Berdasarkan Hadis tersebut, jelaskan 3 (tiga) kandungan isinya! 5. Tulis kembali Q.S. Ali Imran/3: 191 dengan benar! 3. Penilaian Keterampilan a. Penilaian Proyek Aktivitas 1.13 Aktivitas Peserta Didik: Ini kerja pribadi, bukan kelompok. Perintahnya adalah buatlah kaligrafi dari Q.S. Ali ‘Imran/3: 190, dan 191, atau Q.S. ar-Rahman/55: 33. Silakan dipilih ayatnya, setiap peserta didik hanya milih 1 (satu) ayat saja dari 3 (tiga) pilihan yang ada. Dibuat di kertas ukuran A4, pekan depan dikumpulkan. b. Penilaian Praktik Kelompok: Kelas dibagi 5 kelompok, sesuai dengan Penilaian Proyek yang sudah dilaksanakan. Lalu setiap kelompok menilai kaligrafi yang dibuat oleh masing-masing peserta didik. Penilaian harus berdasarkan kesepakatan seluruh anggota di kelompok tersebut, berdasarkan kriteria yang dijelaskan oleh GPAI. Buat rekap nilainya dengan benar. Hasilnya diserahkan kepada GPAI. Individual: Setiap kelas ada 1 peserta didik (sebagai Juara 1) yang memperagakan pembuatan dasar-dasar pembuatan kaligrafi. Sementara itu, GPAI bersama peserta didik lainnya memberikan tanggapan dan penilaian.

32 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI c. Penilaian Portofolio Tuliskanlah semua aktivitas keagamaan kalian, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat pada buku Penilaian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti! K Pengayaan Perhatikan Tugas berikut ini! 1. Tugas ini berkaitan dengan hasil tes baca Al-Qur’an di kelas kalian; 2. Kelompokkan hasil tes tersebut menjadi 3 (tiga), yakni: mahir, sedang dan belum; 3. Bagi kelompok mahir, membimbing kelompok sedang dan belum. Namun, prioritaskan kelompok yang belum 4. Selesaikan tugas tersebut selama 3 bulan dengan menggunakan metode IQRA’, AL-BARQY, TILAWATI, atau metode lain yang kalian kuasai 5. Koordinasikan semua kegiatan tersebut dengan GPAI, Mentor, Tutor, atau siapa saja yang ditunjuk oleh GPAI kalian. 6. Niatkan semua kegiatan tersebut hanya mencari ridha Allah Swt.

Bab 2 Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2021 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Abd. Rahman dan Hery Nugroho ISBN: 978-602-244-684-2

34 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A Tujuan Pembelajaran Peserta didik dapat: 1. Menganalisis cabang iman: memenuhi janji, mensyukuri nikmat, memelihara lisan, menutupi aib orang lain. 2. Mempresentasikan tentang memenuhi janji, mensyukuri nikmat, memelihara lisan, menutupi aib orang lain, sehingga dapat meyakini bahwa cabang iman tersebut adalah bagian dari ajaran agama. 3. Membiasakan sikap tanggung jawab, memenuhi janji, mensyukuri nikmat, memelihara lisan, menutupi aib orang lain. B Kata Kunci • Syukur Nikmat • Akad • Aib • Fitrah • Akidah • Shuhuf/Shahifah • Syariah • Ghibah • Akhlak C Infografis BUKTI BERIMAN: MEMENUHI JANJI, MENSYUKURI NIKMAT, MEMELIHARA LISAN, MENUTUPI AIB ORANG LAIN • Rukun dan Cabang Iman • Iman Membutuhkan Bukti yang Jelas Bukti dari Iman, antara lain: (a) Memenuhi Janji (b) Mensyukuri Nikmat (c) Memelihara Lisan (d) Menutupi Aib Orang Lain 1 2 3

35 D Ayo Tadarus 1. Ayo membiasakan tadarus Al-Qur’an, baik materi ajarnya aspek Al- Qur’an dan Hadis, maupun aspek Keimanan, Fikih, Akhlak, dan Sejarah Peradaban Islam (SPI) sebelum pembelajaran dimulai. 2. Mari tadarus Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid dan makharijul huruf. Semoga melalui pembiasaan ini, Allah Swt. selalu memberikan petunjuk dan kemudahan dalam memahami materi ajar ini, dan mampu menerapkan nilai-nilai yang dikandungnya dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn. Aktivitas 2.1 Aktivitas Peserta Didik: Saatnya, kita tadarus Q.S. al-Māidah/5: 1, Q.S al-Hujurāt/49: 12 berikut ini, lalu salah satu peserta didik membacakan terjemahnya! ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْد ِۗ اُحِلَّت ْ لَكُم ْ بَهِيْمَة ُ الْاَنْعَام ِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُم ْ غَيْر َ مُحِلِّى الصَّيْد ِ وَاَنْتُم ْ حُرُم ٌۗ اِن َّ الل َّٰ يَحْكُم ُ مَا يُرِيْد ُ ﴾ )1 :( املاۤئدة/5 كَثِيْرًا مِّن َ الظَّن ِّۖ اِن َّ بَعْض َ الظَّن ِّ اِثْم ٌ وَّلَا ِ ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا ۗ اَيُحِب ُّ اَحَدُكُم ْ اَن ْ يَّأْكُل َ لَحْم َ اَخِيْهتَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَب ْ بَّعْضُكُم ْ بَعْض ًا مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْه ُۗ وَاتَّقُوا الل َّٰ ۗاِن َّ الل َّٰ تَوَّاب ٌ رَّحِيْم ٌ ﴾ )12 :( احلجرٰت/49 Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

36 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI E Tadabbur Aktivitas 2.2 Aktivitas Peserta Didik: Amati gambar atau ilustrasi berikut ini! Lalu berilah tanggapan kalian yang dikaitkan dengan materi ajar yang dipelajari, yakni: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, dan Menutupi Aib Orang Lain. Gambar 2.1 Memenuhi Janji Gambar 2.2 Mensyukuri Nikmat Gambar 2.3 Menjaga Lisan Gambar 2.4 Menutupi Aib Orang Lain

37 F Kisah Inspiratif Aktivitas 2.3 Aktivitas Peserta Didik: Pahami dan renungkan artikel berikut ini, sebagai bagian dari pemahaman dari materi ajar yang akan dipelajari! Menyebarkan Salam Oleh: Busman Edyar Rasulullah Saw. bersabda, ‘’Kalian tak akan masuk surga, sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan satu amalan, jika dilakukan membuat kalian saling mencintai? Itu adalah sebarkan salam’’ (HR. Muslim). Berlandaskan Hadis tersebut, selain iman, syarat masuk surga adalah adanya suasana yang saling mencintai antarsesama manusia. Saling mencintai baru terasa, apabila salam sudah disebarkan. Bahkan, terhadap orang yang belum dikenal. Rasulullah juga bersabda, ‘’Berikan salam kepada orang yang kalian kenal, dan orang yang tidak dikenal.’’ (HR. Al- Bukhari dan Muslim). Menyebarkan salam berarti menyebarkan kedamaian. Sebab, kata salam mengandung makna kedamaian, keselamatan, dan keamanan. Karena itu, orang yang mengucapkan salam, hakikatnya mengucapkan doa kepada pihak yang diberi salam, agar senantiasa mendapat kedamaian, kasih sayang, dan berkah dari Allah Swt. Setiap muslim yang mengucapkan salam, akan diganjar dengan kebaikan (pahala). Setiap ucapan, ‘’Assalamu ‘alaikum.’’ Sabda Rasulullah Saw., ‘’Orang ini mendapat 10 kebaikan.’’ Jika ada yang mengucapkan, ‘’Assalamu’alaikum wa rahmatullah.’’ Orang ini, mendapat 20 kebaikan.’’ Begitu juga, jika ada lagi yang mengucapkan, ‘’Assalamu ‘alaikum wa Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

38 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI rahmatullah wa barakatuh.’’ Orang terakhir ini mendapat 30 kebaikan.’’ (HR. Ibnu Hibban dari Abu Hurairah). Begitu pentingnya menyebarkan salam, sehingga yang berkendara memberi salam kepada yang berjalan kaki. Orang yang berjalan kaki, mengucapkan salam kepada yang duduk. Dua orang yang bertemu di jalan dan saling memberikan salam, maka yang lebih dahulu memulai, itu lebih utama. (HR. al-Bazzar dan Ibnu Hibban). Jika sehari-hari, kita sudah terbiasa mengucapkan salam, seharusnya tidak ada lagi yang sampai hati berbuat zalim, menipu, membuka aib orang lain. Sebab, semua perilaku tersebut sangat bertentangan dengan hakikat salam. Yakni, memberikan kedamaian, ketenteraman dan keselamatan, termasuk memohon keberkahan dari Allah Swt. Begitulah, melalui hakikat dan makna salam, semua kegiatan diarahkan untuk mewujudkan keselamatan, kedamaian, atau memenuhi janji (sebagai bagian dari syukur nikmat), bukan mengumbar lidah untuk menyakiti, membuka aib, atau bentuk kezaliman yang lain. Disadur dari Republika (dipublikasikan pada 6 Juli 2005) G Wawasan Keislaman Aktivitas 2.4 Aktivitas Peserta Didik: Bentuk kelas kalian menjadi 4 kelompok. Lalu, setiap kelompok mendapatkan sub-materi dari materi ajar yang akan dipelajari, yakni Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, dan Menutupi Aib Orang Lain, agar dikaji, dipahami dan dipelajari. Hasilnya dipresentasikan! Secara garis besar, Dinul Islam terdiri dari 3 pokok (rukun) ajaran, yaitu: Pertama: Akidah, yaitu pokok-pokok ajaran tentang keimanan yang dikenal dengan sebutan 6 Rukun Iman. Kedua; Syariah, yakni pokok-pokok ajaran tentang hukum Islam yang dikenal dengan istilah 5 Rukun Islam. Selanjutnya yang Ketiga: Akhlak, yaitu etika atau moralitas hidup manusia yang bersumber dari wahyu Allah Swt.

39 Ketiganya (Akidah, Syariah dan Akhlak) harus menyatu dan tidak boleh terpisah. Akidah (Iman) menghasilkan Syariah (Islam), dan Syariah tidak melupakan Akhlak (Ihsan). Tentunya, penyatuan tersebut memiliki makna yang amat dalam, bahwa kepribadian muslim itu ditopang oleh Iman, Islam dan Akhlak. M. Quraish Shihab dalam karyanya ”Mutiara Hati” memaparkan bahwa iman itu bertingkat-tingkat yang secara berturut-turut dimulai pengetahuan yang disertai rasa takut, harapan, kekaguman, keyakinan, lalu cinta yang ditandai hubungan harmonis, dan puncaknya adalah leburnya hati dan pikiran. Iman adalah ketundukan hati kepada kebenaran, ketulusan lisan dalam pembenaran, dan patuhnya anggota tubuh dalam kebenaran”. Al-Qur’án menggariskan, misalnya yang tersurat dalam Q.S. al-A’rāf/7: 96, Q.S. Ibrahīm/14: 23, dan Q.S. Yūnus/10: 9, bahwa orang beriman yang dibarengi dengan amal shaleh (sebagai realisasi Syariah dan Akhlak), dijanjikan kehidupan dunianya penuh dengan kebahagiaan, keberkahan, kemuliaan, dan di akhirat nanti dimasukkan ke dalam surga. Di samping itu, Rasulullah Saw. juga bersabda: اَلْإِيْمَان ُ بِضْع ٌ وَسِتُّوْن َ شُعْبَة ً وَالْحَياَء ُ شُعْبَة ً مِن َ الْإِيْمَان ِ (رواه البخاري) Artinya: Iman itu memiliki 63 cabang, sedangkan malu menjadi bagian dari cabang iman. (HR. al-Bukhāri) Hadits ini menjelaskan, bahwa iman itu memiliki 63 cabang (bagian). Di antara cabang iman yang dibahas, sesuai materi ajar ada 4, yakni: (1) Memenuhi Janji, (2) Mensyukuri Nikmat, (3) Memelihara Lisan, dan (4) Menutupi Aib Orang Lain. Berikut ini, mari kita kaji bersama tentang keempat cabang iman tersebut: 1. Memenuhi Janji a. Pengertian Salah satu bukti berimannnya seseorang adalah memenuhi janji, dan ia menjadi bagian dari akhlak terpuji yang seharusnya menghiasi pribadi setiap orang beriman. Adapun padanan kata Janji dalam bahasa Arab adalah ‘aqad’ Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

40 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI (عقد). Melalui kata ini, muncul kata yang sering kita dengar, yakni akad, akidah, atau akad nikah. Menurut bahasa, akad berarti perjanjian atau ikatan yang kuat. Jadi memenuhi janji merupakan kewajiban dan menjadi tanda orang itu beriman atau tidak. Itu sebabnya, jika dikaitkan dengan makna bahasa, maka janji itu harus ditepati dan dipenuhi, dan kita diingatkan bahwa setiap janji akan diminta pertanggung jawaban, sebagaimana Firman Allah Swt.: ( االسراۤء/17: 34) ..... وَاَوْفُوْا بِالْعَهْد ِۖ اِن َّ الْعَهْد َ كَان َ مَسْـُٔوْلًا Artinya:….dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggung– jawabannya. (Q.S. al-Isrā’/17: 34). Perhatikan juga, isi dan kandungan Q.S. al-Māidah/5: 1 dan Q.S. an-Nisā’/4: 32). Memenuhi janji menjadi faktor penting keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Begitu juga sebaliknya. Coba amati di sekeliling kalian, orang yang selalu menepati janjinya, akan dipercaya semua orang; selalu dicari keberadaannya, karena jiwa amanahnya sudah membekas di hati banyak orang. Jika tidak ada modal, banyak menyodori untuk membantunya, dan masih banyak lagi keuntungan yang didapatkan. Belum lagi di akhirat nanti. Sebaliknya, orang tidak menepati janji, hidupnya sangat mengenaskan, tidak dipercaya orang. Boleh jadi, ada orang yang bisa mengelabui semua orang, tetapi si pelaku ini, tidak akan bisa kembali kepada orang-orang yang sudah ditipu, apalagi di zaman sekarang ini, dunia komunikasi begitu mudahnya dapat diakses, hancur sudah karirnya, dan sangat sulit mengembalikan reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun. Itu sebabnya, jika ditinjau dari sudut pandang Islam, memenuhi janji harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Jika tidak! Seseorang itu, sudah terlibat dalam dosa. Sementara dosa sendiri, mengakibatkan suram dan terhalangnya kegiatan yang sudah dirancang. Artinya susah dan sulit mencapai keberhasilan. Lalu, kita diingatkan, bahwa salah satu tanda orang munafik adalah tidak amanah akan janji yang sudah diikrarkan.

41 b. Pembagian Janji Janji terbagi menjadi 2 bagian, yaitu: 1. Janji kepada Allah Swt. Mungkin terasa ganjil dan ada yang bertanya, kapan saya berjanji kepada Allah Swt. Jawabannya, ternyata sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, bahwa semua manusia tak terkecuali pernah melakukan penjanjian kepada Allah Swt. (di alam ruh/rahim) dan bentuk janjinya adalah nanti jika sudah di dunia akan mengimani Allah sebagai Rabb-Nya dan berjanji menjadi hamba-Nya yang taat. Sebagaimana firmannya: ْ ﴿ وَاِذ ْ اَخَذ َ رَبُّك َ مِن ْۢ بَنِي ْٓ اٰدَم َ مِن ْ ظُهُوْرِهِم ْ ذُرِّيَّتَهُم ْ وَاَشْهَدَهُم ْ عَلٰٓى كُنَّا عَن اَنْفُسِهِم ْۚ اَلَسْت ُ بِرَبِّكُم ْۗ قَالُوْا بَل ٰىۛ شَهِدْن َاۛاَن ْ تَقُوْلُوْا يَوْم َ الْقِيٰمَة ِ اِنَّا )172 :( االعراف/7 هٰذَا غٰفِلِيْن َۙ ﴾ Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.” (Q.S. al-A’rāf/7: 172) Ayat ini dengan jelas menyampaikan bahwa setiap manusia saat berada di alam ruh/rahim sudah menyampaikan janji setia untuk bertauhid dan menjalani hidup di dunia yang didasari fitrah, karena fitrah itu sebenarnya jati diri manusia (pahami juga isi kandungan Q.S. ar-Rum/30: 30). Misalnya saat kita melakukan kebaikan (amal shaleh), hati menjadi tenteram, sebaliknya setiap melakukan keburukan atau dosa, kebimbangan dan keresahan hati yang didapat. Itulah fitrah yang seharusnya memandu setiap langkah manusia dalam kehidupan sehari-hari. 2. Janji kepada sesama manusia. Janji kepada manusia adalah janji-janji yang sudah dibuat dan disepakati, baik sebagai pribadi maupun dengan lembaga atau pihak lain. Melalui janji- Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

42 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI janji inilah reputasi dan nama baik dipertaruhkan. Sekali atau beberapa kali janji tidak ditepati, tanggung sendiri akibatnya. Seperti paparan di muka, sulit sekali menumbuhkan kepercayaan, jika orang atau pihak lain sudah pernah dicederai atau dilukai, akibat janji yang tidak ditepati. Hanya Islam menggariskan, bahwa tidak semua janji itu ditunaikan. Janji yang dibuat di antara sesama manusia, seperti perdagangan, perniagaan, pernikahan dan sebagainya, silakan ditunaikan, asalkan tidak ada penjanjian yang bertentangan dengan syariat Islam. Seperti Sabda Rasulullah Saw.: “Setiap syarat (ikatan janji) yang tidak sesuai dengan Kitabullah, menjadi batil, meskipun seratus macam syarat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). c. Balasan Memenuhi Janji Jika kalian melihat dengan cermat, keadaan di sekitar kalian, nampak jelas balasan orang yang memenuhi janji, dan orang yang tidak memenuhi janji. Orang yang berhasil, tentu memiliki prinsip hidup yang kuat dan kokoh, termasuk memenuhi janji. Sebaliknya, orang yang terpuruk dan terhempas, biasanya hidupnya kurang kuat dalam memegang prinsip. Saatnya kalian memilih yang mana? Al-Qur’an sering memberi tamtsil atau contoh untuk dijadikan pelajaran. Misalnya yang terjadi pada Bani Israil yang sering mengingkari janjinya, akibatnya ketidaktentraman hidup yang didapat, bahkan nilai-nilai keimanan diingkari juga, termasuk memusuhi dan dan membunuh sebagian para rasul yang diutus kepada mereka. Tentu kisah buruk ini, semestinya jangan dicontoh. Pahami lebih lanjut Q.S. al-An’ām/6: 152 dan Q.S ar-Ra’d/13: 20. Berikut ini, manfaat memenuhi janji, antara lain: 1. Mendapatkan predikat sebagai muttaqin dan menjadi sebab tergapainya sifat muttaqin (Q.S. Ali Imrān/3: 76). 2. Menjadi sebab datangnya keberhasilan, keamanan dan ketenteraman, serta jauh adanya konflik dan perselisihan. 3. Menghindari pertumpahan darah, dan terjaga dari mengambil hak orang lain, baik dari pihak muslim atau non muslim (Q.S. al-Anfāl/8: 72). 4. Dapat menghapus kesalahan, dan menjadi sebab dimasukkan ke dalam surga (Q.S. al-Baqarah/2: 40, dan Q.S al-Māidah/5: 12).

43 2. Mensyukuri Nikmat a. Pengertian Ada 2 kata dasar yang digunakan, yakni: Syukur dan Nikmat. Syukur, menurut bahasa berarti membuka atau menampakkan. Lawan dari syukur adalah kufur yang berarti menutup dan menyembunyikan. Perhatikan Q.S. Ibrahīm/14: 7, yaitu: ﴿ وَاِذ ْ تَاَذَّن َ رَبُّكُم ْ لَىِٕن ْ شَكَرْتُم ْ لَاَزِيْدَنَّكُم ْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُم ْ اِن َّ عَذَابِي ْ لَشَدِيْد ٌ ﴾ )7 :( ابرٰهيم/14 Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Q.S. Ibrahīm/14: 7). Syukur merupakan bentuk keridhaan atau pengakuan terhadap rahmat Allah Swt. dengan setulus hati. Makna lainnya adalah pujian atau pengakuan terhadap segala nikmat Allah Swt. yang dibuktikan dengan kerendahan hati dan ketulusan menerimanya yang diwujudkan melalui ucapan, sikap, dan perilaku. Sementara makna nikmat, menurut bahasa adalah pemberian, anugerah, kebaikan, dan kesenangan yang diberikan manusia, baik berupa rezeki, harta, keluarga, maupun segala kesenangan yang lain. Seringkali kita diingatkan oleh khatib atau dai, bahwa nikmat terbesar itu adalah Iman dan Islam, termasuk juga nikmat sehat wal ‘afiat. Berdasarkan penjelasan tersebut, mensyukuri nikmat adalah berterima kasih kepada Allah Swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Caranya adalah menggunakan segala nikmat tersebut, sesuai dengan tujuan nikmat itu diberikan. Misalnya nikmat tangan, mata, dan kaki, semuanya digunakan untuk hal-hal yang benar menurut Allah Swt, bukan keinginan nafsu, syahwat, apalagi perbuatan maksiat. Contoh tidak baik dilakukan umat Yahudi, yang dikisahkan oleh Al- Qur’an (misalnya dalam Q.S. al-Baqarah/2: 49, dan Q.S. al-Qashas/28: 4), sebagai umat yang paling kufur nikmat. Bersama Nabi Musa a.s. umat Yahudi menikmati begitu banyak nikmat, khususnya nikmat keberhasilan Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

44 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI menghadapi Fir’aun dan bala tentaranya yang menindas dan membunuh setiap anak laki-lakinya yang baru lahir. Lalu Allah Swt. menyelamatkan mereka, namun semua itu diingkari, bahkan di satu masa, sampai berani membunuh nabi mereka. Melalui gambaran ini, kita sebagai umat Islam diingatkan, agar jangan menjadi umat yang kufur nikmat. Jadilah umat atau pribadi yang pandai mensyukuri nikmat (Q.S al-Baqarah/2: 152 dan 172). Sadar dan paham bahwa begitu banyak nikmat Allah Swt. yang sudah dianugerahkan kepada kita. Hanya sayangnya, seringkali kita memahami nikmat itu hanya berupa harta benda, uang, dan fasilitas mewah lainnnya, padahal yang termasuk nikmat adalah hidup sehat, keluarga bahagia, menjalankan shalat secara istiqamah, terhindar dari segala cobaan, terhalang melakukan dosa dan kemaksiatan. b. Perwujudan Syukur Tidak terhitung banyaknya nikmat yang sudah kita terima (Perhatikan isi kandungan Q.S. Ibrahīm/14: 34), lalu bagaimana caranya mewujudkan bahwa kita menjadi pribadi yang bersyukur? Jawabannya adalah syukur harus dilakukan dengan 3 hal, yakni: melalui lisan, hati, dan anggota badan. Pribadi yang bersyukur kepada Allah Swt., ditandai dengan pengakuan, kerelaan, dan kepuasan hati atas segala nikmat yang diterima, dilanjutan dengan lisan yang selalu mengucapkan syukur, misalnya banyak-banyak mengucapkan hamdalah dan kalimat-kalimat pujian yang disampaikan (Q.S. ad-Dhuhā/93: 11). Setelah itu, semua nikmat tersebut diwujudkan dan difungsikan oleh anggota tubuhnya dalam ketaatan hanya kepada Allah Swt. Imam al-Ghazali membagi syukur itu, menjadi 3 bagian, yaitu: ilmu, hal (keadaan), dan amal (perbuatan). Melalui ilmunya, seseorang menyadari bahwa segala nikmat yang diterima itu semata-mata berasal dari Allah Swt. Keadaannya menyatakan kegembiraan. Selanjutnya, amal perbuatannya sesuai dan sejalan dengan fungsi nikmat tersebut diberikan. Tersimpul bahwa, wujud syukur harus menyatu antara hati, lisan dan perbuatan. Bukan bersyukur yang benar, jika sering mengucapkan hamdalah, lalu hatinya masih belum puas dengan yang diterima, atau masih iri dan dengki dengan harta benda milik tetangga. Begitu juga, jika kalian memiliki akal yang

45 cerdas, tetapi kelebihan itu hanya disimpan sendiri, tidak disebarkan kepada teman kalian yang masih membutuhkan bantuan dan bimbingan. Jadi, pribadi yang bersyukur itu, ditandai menyatunya hati, lisan dan perbuatan. Tidak boleh terpisah, atau terpotong-potong, sehingga jika kesatuan itu dapat dilakukan, muncul kepribadian muslim yang utuh, bukan pribadi pecah yang hanya sesuai, misalnya antara lisan dan perbuatan, melupakan hati. Begitu juga, hati dan lisan menyatu, tetapi perbuatannya tidak sesuai. c. Keuntungan Menjadi Orang Bersyukur Penjelasan sebelumnya memberi hikmah kepada kita, agar kita menjadi pribadi yang pandai besyukur. Beberapa keuntungannya, dapat disebutkan berikut ini: 1. Jauh Lebih Produktif Saat menghadapi problem, orang yang bersyukur, masih dapat memanfaatkan peluang yang tersisa, sekecil apapun, untuk menangkap peluang yang lain. Tidak menghabiskan waktunya untuk mengeluh dan sesal diri. Apa untungnya menyesali diri? Bangkit dari keterpurukan, itulah cara terbaik menghadapi problema. 2. Lebih Bahagia dan Optimis Pribadi pesimis, hanya akan sibuk meratapi kegagalan dan nyinyir pada kesuksesan pihak lain. Sementara, orang yang bersyukur, emosinya stabil, dan itu menjadikannya lebih bahagia, sigap mencari solusi dan alternatif terbaik, dan melokalisasi persoalan, bukan melebarkannya, apalagi menyalahkan pihak lain. Semuanya, diambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa yang terjadi. 3. Mafaatnya kembali ke Diri Sendiri Coba kalian pikirkan berkali-kali. Dunia ini sudah jutaan atau ribuan tahun, tetapi rahmat dan kasih Allah Swt. masih tetap dilimpahkan ke seluruh makhluknya, dan semuanya tercukupi. Jika ada kelaparan di satu tempat, itu karena kesalahan pengelolaan, atau ada pihak lain yang mengambil berlebih dari yang semestinya. Ambil contoh, di sebuah pesta pernikahan, betapa banyaknya makanan dan minuman tersisa yang akhirnya menjadi sampah, padahal masih banyak saudara kita yang mengais makanan dan belum bisa makan. Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

46 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Hendaklah kita pahami bersama, berlimpahnya rahmat dan nikmat itu, tetap diberikan kepada mereka (boleh jadi orang beriman, atau orang-orang kafir) yang berbuat aniaya, lalim, dan ingkar kepada Allah Swt. Itu semua, tidak menghalangi Allah Swt. untuk menghentikan curahan rahmat dan nikmatnya kepada seluruh makhluk. Jadi, kembali kepada kalian semua. Jika kalian menjadi hamba yang bersyukur, maka manfaat dan maslahatnya, kembali ke Anda sendiri. Sebaliknya, jika kalian kufur, maka tunggulah kegagalan dan kesengsaraan dunia, apalagi pedihnya neraka, akan kalian rasakan sendiri (Q.S. Ibrahīm/14: 7). Allah Swt. juga berfirman:ٖۚ ﴿ وَلَقَد ْ اٰتَيْنَا لُقْمٰن َ الْحِكْمَة َ اَن ِ اشْكُر ْ لل ِِّٰ ۗوَمَن ْ يَّشْكُر ْ فَاِنَّمَا يَشْكُر ُ لِنَفْسِه )12 :( لقمٰن/31 وَمَنْ كَفَر َ فَاِن َّ الل َّٰ غَنِي ٌّ حَمِيْد ٌ ﴾ Artinya: Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, ”Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.” (Q.S. Luqmān/31: 12) 3. Memelihara Lisan a. Pentingnya Menjaga Lidah Lidah atau lisan bisa dikatakan sebagai bagian anggota tubuh yang sangat berharga. Betapa tidak! Melalui lisan yang tidak tertata, muncul pertengkaran dan perselisihan. Lisan juga, bisa membuat malapetaka yang besar, bahkan pembunuhan yang tidak terkira akibatnya. Selanjutnya, penggunaan lisan yang tidak terjaga, menjadikan perang yang menimbulkan korban jiwa mulai dari hitungan yang kecil, sampai mencapai ribuan, bahkan jutaan. Sebaliknya, melalui lisan juga muncul pelbagai macam kedamaian, kesejukan, cinta dan harapan yang tersemai di lubuk jiwa untuk satuan, puluhan, ribuan, jutaan bahkan milyaran umat manusia. Masih banyak manusia yang tetap memelihara harapan, meski kondisinya memprihatinkan dan mengenaskan, karena masih percaya kepada janji-janji yang disampaikan.

47 Misalnya, melalui lisan para nabi dan rasul, dalam bentuk wahyu atau shuhuf (shahifah), saat kini masih banyak dijumpai manusia beriman dengan segala plus minusnya. Karena itu, kita semua, termasuk sebagai pelajar harus tetap rajin belajar dan sungguh menuntut ilmu, meskipun di sekitar kalian muncul pelbagai macam berita dan informasi negatif tentang kondisi negara dan dunia yang semakin mengkhawatirkan, akibat problema yang semakin menumpuk, dunia yang memasuki jurang resesi, ditambah adanya penyakit yang masuk ke dalam kelompok pandemi (misalnya Covid 19). Berlandaskan paparan tersebut, lidah dan lisan kita harus tetap dijaga dengan baik (Q.S. al-Ahzāb/33: 70-71). Tipis sekali perbedaan antara bahagia dan celaka serta senang susah, hanya dari penggunaan lidah. Apalagi jika dikaitkan dengan ajaran Islam yang sudah memberi rambu-rambu dalam penggunan lidah. Kita diingatkan oleh Allah Swt. dengan fiman-Nya, yakni: ﴿ يَّوْم َ تَشْهَد ُ عَلَيْهِم ْ اَلْسِنَتُهُم ْ وَاَيْدِيْهِم ْ وَاَرْجُلُهُم ْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْن َ ﴾ )24 :( النّور/24 Artinya: Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (Q.S. an-Nūr/24: 24). Ayat ini menjelaskan, saat orang-orang yang begelimang dosa akan diazab oleh Allah Swt. di akhirat nanti, mereka membantah dan mengingkari perbuatan buruk mereka, maka anggota tubuhnya menjadi saksi. Lidah, lisan, tangan dan kaki mereka menjadi saksi dan menceritakan dengan rinci apa saja yang mereka lakukan, sehingga tidak bisa berdalih lagi. Bahkan di ayat lain (khususnya di Q.S. Yāsīn), lisan dan mulut akan dikunci, termasuk diingatkan juga, bahwa lisan itu adalah anugerah Allah, kita semua dapat berbicara juga atas karunianya, lalu kenapa disalahgunakan? (perhatikan isi kandungan Q.S. Fushshilat/41: 21). Allah Swt. berfirman di Q.S. Yāsīn/36: 65 ﴿ اَلْيَوْم َ نَخْتِم ُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِم ْ وَتُكَلِّمُنَا ٓ اَيْدِيْهِم ْ وَتَشْهَد ُ اَرْجُلُهُم ْ بِمَا كَانُوْا )65 :36/ۤيٰس ( يَكْسِبُوْن َ ﴾ Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

48 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Artinya: Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan (Q.S. Yāsīn/36: 65). Rasulullah Saw. juga mengingatkan kita, bahwa keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya dalam menjaga lisannya. Seperti makna dasar Islam sendiri yang berarti selamat dan aman. Semua itu, mengajarkan kepada kita bahwa lidah dan lisan ini, harus digunakan dengan benar, sehingga diri sendiri terselamatkan, apalagi pihak lain. Rasulullah Saw. bersabda: ِ عَلَيْه ُّٰ الل صَلَّى ِّٰ الل ُ عَنْهُ، قَالَ: قَال َ رَسُوْل ُّٰ الل َ َيْرَة َ رَضِيعَن ْ أَبِي هُر ْ وَاليَوْم ِ الآخِر ِ فَلْيَقُل ْ خَيْرًا أَو ْ لِيَصْمُت ِّٰ للوَسَلَّمَ: مَن ْ كَان َ يُؤْمِن ُ بِا (رواه البخاري) Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw. bersabda: “barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah berbiacara yang baik, atau (jika tidak mampu) maka diamlah.” (HR. al-Bukhāri) b. Lisan: Antara Fitnah, Ghibah, dan Buhtan Penggunaan lisan yang tidak pada tempatnya, mengakibatkan 3 hal (fitnah, ghibah, dan buhtan) yang menjerumuskan diri sendiri, pihak lain, bahkan sampai level negara dan dunia. Mari kita pahami, kenapa itu terjadi? Lisan yang tidak terjaga, menghasilkan fitnah. Mendengar kata fitnah saja, kalian sudah geleng-geleng kepala, betapa ngeri akibat fitnah. Fitnah adalah bahasa Arab yang terdapat dalam al-Qur’an dan dipakai oleh orang Indonesia, tetapi makna fitnah yang dipahami oleh orang Indonesia berbeda dengan makna fitnah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an kata fitnah memiliki beberapa arti, antara lain cobaan, ujian, musibah dan ada juga yang berarti siksa di akhirat, seperti terdapat dalam Surah al-Baqarah ayat 217 (ِوَالْفِتْنَة ُ اَكْبَر ُ مِن َ الْقَتْل). Ini artinya siksa bagi orang kafir kelak di akhirat lebih besar dari pada pembunuhan. Demikian penjelasan M. Quraish Shihab.

49 Sedangkan makna fitnah yang dipahami masyarakat di Indonesia berdasarkan KBBI adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Dalam pembahasan bab ini, maksud dari fitnah adalah yang dipahami masyarakat Indonesia, yakni merupakan komunikasi satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Lidah yang kasar dan tajam, pasti melukai batin, dan sulit disembuhkan. Sebaliknya, boleh jadi satu pujian, akan mengangkat rasa percaya diri dan tumbuh kembang seseorang. Jadi, kenapa pelit memberikan pujian? Islam melarang perbuatan fitnah, karena banyak bahaya yang ditimbulkan, antara lain: penderitaan menyebar kemana-mana, dan jangan lupa bahwa tangisan dan rintian doa orang yang difitnah (termasuk orang dizalimi), doanya cepat diterima oleh Allah Swt; dan mencelakai diri sendiri, baik cepat maupun lambat. Selanjutnya, melalui lidah yang tidak tertata juga, muncul ghibah (lihat isi kandungan Q.S. al-Hujurat/49: 12), termasuk buhtan. Keduanya sama-sama menimbulkan perselisihan, pertengkaran, dan akibat buruk lain yang lebih besar. Pada titik inilah, sekali lagi, sangat penting bagi kita semua, agar pandai-pandai menjaga lidah dan lisan. Ghibah adalah membicarakan orang lain yang tidak hadir, sesuatu yang tidak disenanginya. Termasuk yang dibicarakan itu, sesuai dengan keadaan orang yang dibicarakan. Jika yang dibicarakan itu, keburukan orang yang disebut, tidak disandang oleh yang bersangkutan, itulah yang dinamakan buhtan/ بهتان (bohong besar). Hadis berikut ini, menambah pemahaman kita tentang ketiga istilah tersebut, yaitu: Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

50 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI َيْرَة َ أَن َّ رَسُوْل َ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَالَ: أَتَدْرُوْن َ مَاعَن ْ أَبِي هُر َ ِكْرُك َ أَخَاك َ بِمَا يَكْرَه ُ قِيْلالْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: الل ُّٰ وَرَسُوْلُه ُ أَعْلَم ُ قَالَ: ذ ُ أَفَرَأَيْت َ إِن ْ كَان َ فِي ْ أَخِي ْ مَا أَقُول ُ قَالَ: إِن ْ كَان َ فِيْه ِ مَا تَقُوْل ُ فَقَد ِ اغْتَبْتَه وَإِن ْ لَم ْ يَكُن ْ فِيه ِ فَقَد ْ بَهَتَّه ُ(رواه مسلم) Artinya: Diriwayatkan dari Abu Hurairah sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: tahukah kalian apa itu ghibah? Para sahabat menjawab Allah dan Rasulnya lebih tahu. Rasul menjawab, “kamu menyebut saudaramu sesuatu yang tidak disukainya.” Lalu para sahabat bertanya, “Bagaimana jika yang disebutkan itu benar? Rasulullah menjawab, “jika yang disebutkan itu benar, maka kamu telah melakukan ghibah (membicarakan aib orang). Dan sekiranya yang disebutkan itu tidak benar, maka engkau telah melakukan buhtan (kebohongan).” (HR. Muslim) c. Petunjuk Menjaga Lisan Berikut ini, beberapa petunjuk Islam dalam penggunaan lisan, antara lain: 1. Menjauhi kebiasaan berkata bohong dan tidak bermanfaat. Jangan pula berbicara yang berlebihan. 2. Jauhi pembicaraan yang batil, kotor, dan jorok 3. Jangan berbicara dusta atau palsu. Ingat! Tanda-tanda orang munafik, salah satunya, jika berbicara berdusta atau bohong. 4. Jangan gunakan lisanmu untuk menggunjing (Q.S. al-Hujurāt/49: 12) 5. Jangan berkata kasar (Q.S. Ali Imrān/3: 159). Jauhi pula melakukan celaan dan melaknat orang lain. 6. Jangan mengadu domba, dan jangan pula mudah marah 7. Jawablah panggilan orang tua dengan sopan dan santun (Q.S. al-Isrā’/17: 28), serta jauhi banyak berbantah-bantahan. 4. Menutup Aib Orang Lain a. Pengertian Aib adalah cela, cacat, nista, noda, perilaku hina, atau ada juga bermakna kiasan, yaitu: arang di muka. Biasanya digunakan dalam kalimat, bagaikan

51 menaruh arang di muka. Melalui kalimat itu, yang bersangkutan sudah dibuka aibnya, sehingga sangat malunya, hancur lebur martabat dan nama baiknya, seakan-akan sudah runtuh hidupnya, disebabkan aibnya dibuka atau tersebar. Begitu beratnya keburukan akibat aib yang dibuka, maka siapa pun kita, jika mengetahui aib, maka hendaklah kita menutupi dan menyimpan rapat- rapat aib tersebut, jangan sampai malah disebar ke khalayak ramai. Kenapa bisa begitu? Jawabannya jika kita sendiri mempunyai aib, inginnya aib itu disimpan rapat-rapat dan enggan jika aib itu tersiar. Allah Swt. banyak sekali menutup aib hamba-Nya, lalu kenapa banyak manusia malah membuka aib sesamanya? Tidak ada satu pun manusia yang ingin aib dibuka. Aib adalah keburukan yang bersifat rahasia. Disebabkan sifatnya yang rahasia, biasanya hanya diketahui oleh yang bersangkutan, atau beberapa orang tertentu. Mayoritas orang, bahkan bisa dikatakan ‘orang gila’, ingin aibnya terus tersembunyi, tidak ada yang ingin aibnya terbuka atau disiarkan pihak lain. Setiap manusia, tampil dengan kelebihan dan kekurangan. Itu sifat dasar yang dimiliki setiap orang. Hal terbaik yang dapat dilakukan seseorang, sepanjang hidupnya adalah terus menemukan kelebihan, dan di saat yang bersamaan mampu mengurangi kekurangan dirinya. Di antara kekurangan itu, muncul aib-aib yang harus ditutupi, dikarenakan pelbagai macam sebab dan alasan. b. Macam-Macam Aib Jika ditinjau dari sifatnya, maka aib dibagi menjadi 2, yakni: 1. Aib Dzahir, yaitu: aib yang nampak dan dapat diketahui secara lahir, jika diperhatikan betul. Misalnya cacat pada barang-barang perdagangan, contohnya buah-buahan yang busuk, atau mebeler yang kelihatan cacatnya. 2. Aib Tersembunyi, yaitu aib yang tidak nampak, karena disembunyikan. Tidak terlihat, meski sudah diperhatikan betul-betul. Ambil contoh, beras yang sudah dicampur antara beras premium, super, dengan golongan yang biasa. Atau kacang-kacangan yang bagus atasnya, sementara yang bawah kondisinya kurang baik. Semuanya tidak kelihatan, jika tidak diurai atau dibuka semuanya. Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

52 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Kedua macam aib ini, dapat disematkan kepada manusia, meski yang banyak dibicarakan adalah aib yang masuk kelompok kedua. Kedua aib inilah yang ingin disembunyikan dan ditutupi, jangan sampai tersiar ke khalayak ramai, karena menimbulkan malu, bahkan bisa menyebabkan minder. c. Aib dan Medsos Dunia modern dengan kecanggihan teknologinya, menambah beban lagi bagi manusia, meskipun melalui teknologi pula, manusia dimudahkan hidupnya. Di titik inilah, pentingnya teknologi itu tetap dipandu norma agama dan aturan moral, sehingga orang tidak mudah menyalahgunakan teknologi. Di antara penyalahgunaan teknologi adalah orang begitu mudah membuka aib orang lain. Hal ini boleh jadi dilatarbelakangi adanya rivalitas (persaingan), persinggungan kepentingan, bahkan sifat iri dengki yang dimiliki. Saat ini, orang begitu mudah tumbang nama baik dan martabatnya dari penyalahgunaan media sosial (medsos), baik dari WhatsApp, Twitter, Instagram maupun Facebook, Telegram, bahkan Blog. Contohnya, ada raja, presiden atau calon presiden, perdana menteri, atau tokoh berpengaruh, bisa turun tahta sendiri atau diturunkan oleh rakyatnya, akibat aibnya dibuka di tengah-tengah masyarakatnya, melalui medsos atau media internet lainnya. Hal ini bukan hanya terjadi di negara kita, tetapi juga terjadi di negara-negara lain. Peristiwa tersebut, membawa kesadaran kepada kita, agar hidup ini jangan banyak kesalahan, dosa dan kemaksiatan (baik pelanggaran menurut pandangan Allah Swt. maupun manusia). Sebab, banyaknya kesalahan sama saja dengan menumpuk aib dan berakibat hidupnya banyak dilakukan hanya untuk menutupi aib, akhirnya tidak menemukan ketenangan dan ketenteraman dalam hidupnya. Pada titik inilah, Islam membimbing kita, bahkan sejak kecil, kita diajarkan untuk menjauhi perbuatan dosa dan kemaksiatan. Jikalau juga melakukannya, segera dan cepat bertaubat, agar aibnya terkikis, sehingga hidupnya produktif dan optimal, akhirnya keberhasilan demi keberhasilan yang didapatkan. Tersimpul, bahwa aib itu harus ditutupi. Jangan mudah menggerakkan jari yang dikaitkan dengan medsos. Teliti dan selektiflah dalam menerima

53 informasi. Jika itu benar, share! Sebaliknya, jika tidak, ya jangan dishare. Begitu juga, tercela sekali, jika ada orang yang mencari-cari kesalahan atau aib seseorang. Kita diingatkan oleh Allah Swt. melalui firmannya, yaitu: ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّن َ الظَّن ِّۖ اِن َّ بَعْض َ الظَّن ِّ اِثْم ٌ وَّلَا ۗ اَيُحِب ُّ اَحَدُكُم ْ اَن ْ يَّأْكُل َ لَحْم َ اَخِيْه ِ مَيْتًاتَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَب ْ بَّعْضُكُم ْ بَعْض ًا )12 :( احلجرٰت/49 فَكَرِهْتُمُوْه ُۗ وَاتَّقُوا الل َّٰ ۗاِن َّ الل َّٰ تَوَّاب ٌ رَّحِيْم ٌ ١٢ ﴾ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang (Q.S. al-Hujurāt/49: 12). Melalui ayat ini, Allah Swt. melarang orang beriman melakukan prasangka buruk, mencari-cari kesalahan pihak lain, dan melarang bergunjing. Bahkan, bagi yang gemar bergunjing diumpamakan seperti orang yang memakan daging saudaranya yang sudah meninggal. Sungguh perilaku yang bukan saja menimbulkan dosa, tetapi juga amat menjijikkan. Rasulullah Saw Bersabda: َيْرَة َ قَالَ: قَال َ رَسُوْل ُ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ: مَن ْ سَتَر َ عَلَىَعَن ْ أَبِي هُر مُسْلِمٍ، سَتَرَه ُ الل ُّٰ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَة ِ (رواه مسلم) Artinya: Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah Saw. Bersabda: Barang siapa menutupi aib saudaranya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.’ (HR. Muslim). Berdasarkan penjelasan tersebut, janganlah kita menjadi pribadi yang suka membuka aib orang. Meskipun jika dikaitkan dengan kondisi saat ini di Indonesia, muncul begitu banyak infotainment yang mengulas gaya hidup Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

54 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI para selebriti, baik yang ditayangkan di televisi maupun di majalah atau koran, yang mayoritas mengumbar aib diri sendiri maupun orang lain. Disebabkan madharatnya yang begitu besar bagi perkembangan masyarakat luas, MUI (Majelis Ulama Indonesia) memfatwakan haramnya melihat tayangan infotainment tertentu yang isinya mengumbar aib. MUI dengan jelas menyatakan infotainment haram, karena merusak keluarga, masyarakat dan negara, terkecuali untuk kepentingan hukum atau penyelidikan. Fatwa ini dikeluarkan pada bulan Oktober 2012. d. Akibat Aib Membuka aib orang lain, sama saja dengan membuka aib diri sendiri. Aib bukan saja membawa madharat (bahaya) kepada yang bersangkutan, tetapi juga pihak lain, termasuk masyarakat luas. Kisah Nabi Musa a.s. dengan umatnya dapat dijadikan ibrah (pelajaran). Secara umum, kisahnya sebagai berikut: Terjadi kemarau panjang, lalu Sang Nabi mengajak umatnya untuk Shalat Istisqa’. Anehnya setelah dilakukan, ternyata hujan tidak turun-turun. Akhirnya Shalat Istisqa’ dilakukan berkali- kali, namun tidak kunjung turun hujan juga. Lalu Nabi Musa a.s mengadu kepada Allah Swt. kenapa tidak turun hujan? Dijawab oleh Allah Swt., hal itu disebabkan ada di antara umatmu yang suka berbuat dosa dan maksiat. Syarat hujan akan turun, jika peserta itu, harus keluar. Nabi Musa a.s menyampaikan pidato di depan umatnya tentang hal itu. Namun, jamaah yang merasa dialah orangnya, malu jika keluar dari jamaah. Takut dipermalukan banyak orang, disebabkan aib yang dimiliki. Akhirnya orang tersebut, tidak mau keluar, tetapi bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada Allah Swt. lalu diterima tobatnya, lalu tidak lama kemudian turunlah hujan. Aktivitas 2.5 Aktivitas Peserta Didik: Kelas dibagi menjadi 5 kelompok, lalu carilah data tentang penyalahgunaan medsos yang merusak dunia pendidikan di Indonesia, khususnya akibat

55 bocornya kunci jawaban saat UN (Ujian Nasional). Agar fokus, peristiwanya dimulai tahun 2014. Jadi kelompok 1 mengambil data tahun 2014, kelompok 2 tahun 2015, dan begitu seterusnya. Persiapkan juga buku catatan, atau laptop yang kalian miliki untuk presentasi. Lalu setelah mengetahui data yang ada, apa yang harus kalian lakukan, agar tidak terjadi penyalahgunaan medsos bagi diri sendiri, keluarga dan sekolah kalian! H Penerapan Karakter Setelah menelaah materi Cabang Iman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, dan Menutupi Aib Orang Lain, diharapkan peserta didik dapat membiasakan karakter dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut. No Butir Sikap Nilai Karakter 1 Sebagai orang beriman, selalu memenuhi janji, karena bukan saja bukti nyata yang harus diwujudkan, tetapi juga karena menjadi bagian dari akhlak terpuji yang seharusnya menghiasi pribadi muslim Religius 2 Mewujudkan suasana yang saling mencintai, saling menjaga keamanan, dan ketenangan, menjadi sikap pribadi saya bersama keluarga dan dengan masyarakat luas. Tanggung jawab, peduli lingkungan 3 Jika berjanji harus ditepati dan dipenuhi, karena kita diingatkan bahwa setiap janji akan diminta pertanggung jawaban, baik di dunia maupun di akhirat. Tanggung jawab, peduli lingkungan Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

56 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI No Butir Sikap Nilai Karakter 4 Mensyukuri nikmat atas anugerah yang telah diberikan oleh Allah Swt. dengan cara menggunakan segala nikmat tersebut sesuai dengan tujuan nikmat itu diberikan Tanggung jawab, peduli lingkungan 5 Tidak melibatkan diri ikut dalam perbincangan tentang aib seseorang yang sudah tersiar di jagad medsos, agar kondisi masyarakat kembali sehat dan aman. Tanggung jawab, peduli lingkungan I Refleksi Sejak manusia berada di bumi, Allah Swt. terus menerus menurunkan rahmat dan nikmatnya, sehingga bumi tetap dapat memberikan segala kebutuhan manusia. Namun, kenapa di dunia ini, masih ada kelaparan dan kemiskinan. Coba lakukan telaah, kenapa bisa terjadi seperti itu! Jawabannya cukup 1 lembar saja yang diperkaya dengan data, gambar, atau ilustrasi! J Rangkuman 1. Dinul Islam terdiri dari 3 pokok/rukun. Pertama: Akidah, yaitu pokok-pokok ajaran tentang keimanan yang dikenal dengan sebutan 6 Rukun Iman. Kedua; Syariah, yakni pokok-pokok ajaran tentang hukum Islam yang dikenal dengan istilah 5 Rukun Islam. Selanjutnya Ketiga: Akhlak, yaitu tata, etika atau moralitas hidup manusia yang bersumber dari wahyu Allah Swt. 2. Iman itu memiliki 63 cabang atau bagian. Di antara cabang iman yang dibahas, sesuai materi ajar ada 4 cabang iman, yakni: (1) Memenuhi

57 Janji, (2) Mensyukuri Nikmat, (3) Memelihara Lisan, dan (4) Menutupi Aib Orang Lain. 3. Memenuhi janji merupakan kewajiban dan menjadi tanda orang itu beriman atau tidak. Janji itu harus ditepati dan dipenuhi, dan setiap janji akan diminta pertanggung jawaban. Memenuhi janji menjadi faktor penting keberhasilan dan kesuksesan seseorang. 4. Syukur merupakan bentuk keridhaan atau pengakuan terhadap rahmat Allah Swt. dengan setulus hati. Bentuk syukur bisa berupa pujian atau pengakuan terhadap segala nikmat Allah Swt. yang dibuktikan dengan kerendahan hati dan ketulusan menerimanya yang diwujudkan melalui ucapan, sikap, dan perilaku. 5. Lidah atau lisan menjadi bagian tubuh yang sangat berharga. Melalui lisan yang tidak tertata, muncul pertengkaran dan perselisihan. Lisan juga, bisa membuat malapetaka yang besar, bahkan pembunuhan yang tidak terkira akibatnya. 6. Sebaliknya, melalui lisan juga, muncul pelbagai macam kedamaian, kesejukan, cinta dan harapan yang tersemai di lubuk jiwa untuk satuan, puluhan, ribuan, jutaan bahkan milyaran umat manusia. Saat ini, masih banyak manusia yang tetap memelihara harapan, meski kondisinya memprihatinkan dan mengenaskan, karena masih percaya kepada janji-janji yang disampaikan. 7. Lidah dan lisan kita harus dijaga betul. Tipis sekali perbedaan antara bahagia dan celaka serta senang susah, hanya dari penggunaan lidah. Apalagi jika dikaitkan dengan ajaran Islam yang sudah memberi rambu-rambu dalam penggunaan lidah. 8. Aib adalah cela, noda, dan perilaku hina. Jika aib itu terbuka, maka sama saja dengan menaruh arang di muka. Jadi, yang bersangkutan sudah dibuka aibnya, sehingga akan merasa sangat malu, hancur lebur martabat dan nama baiknya, seakan-akan sudah runtuh hidupnya. 9. Begitu beratnya aib yang dibuka, maka siapa pun kita, jika mengetahui aib, maka hendaklah kita menutupi dan menyimpan rapat-rapat aib tersebut, jangan sampai malah disebar ke khalayak Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

58 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI ramai. Seperti diri kita sendiri yang tidak ingin aibnya diketahui pihak lain. 10. Di antara penyalahgunaan teknologi, orang begitu mudah membuka aib orang lain. Boleh jadi dilatarbelakangi rivalitas (persaingan), persinggungan kepentingan, bahkan sifat iri dengki. Saat ini, orang begitu mudah tumbang nama baik dan martabatnya dari penyalahgunaan media sosial (medsos), baik dari WhatsApp, Twitter, Instagram maupun Facebook, Telegram, bahkan Blog. K Penilaian 1. Penilaian Sikap a. Penilaian Diri Berilah tanda centang (√) pada kolom berikut dan berikan alasannya! No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 1 Memenuhi janji harus sungguh- sungguh diperhatikan. Jika tidak! Masa depanku akan suram dan sulit menggapai keberhasilan. 2 Saat berada di alam rahim, setiap diri kita sudah menyampaikan janji setia kepada Allah Swt. Namun, karena lupa, boleh melakukan dosa dan kemaksiatan, meski mengotori jiwa kita yang awalnya suci dan bersih.

59 No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 3 Hati-hati berbuat dan bertingkah laku, karena Al-Qur’an menjelaskan bahwa lisan, tangan dan kaki, akan menjadi saksi dan menceritakan dengan rinci segala apa yang kita dilakukan. 4 Keselamatan manusia tergantung kepada kemampuannya dalam menjaga lisan. Karena itu, saat saya menjadi pengurus Rohis yang membidangi dakwah, maka setiap hari saya harus berbicara di depan umum. 5 Takut dipermalukan banyak orang, disebabkan aib yang dimiliki. Tetapi dalam kasus yang membawa maslahat yang lebih besar, aib seseorang boleh dibuka. Catatan: S= Setuju, R=Ragu, TS= Tidak setuju 2. Penilainan Pengetahuan Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E pada pernyataan di bawah ini sebagai jawaban yang paling tepat! 1. Hakikat Islam adalah menebar keselamatan dan kedaimaian. Itu sebabnya, setiap muslim dilarang melakukan … Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

60 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A. khiyar dalam bertransaksi B. teror dan menakuti pihak lain C. hubungan yang ideal dengan non muslim D. hubungan yang mengalihkan peribadatan E. jasa timbal balik yang saling menguntungkan 2. Gunakan lisan dengan sopan dan ditata dengan baik! Kenapa? Karena membawa banyak maslahat. Berikut ini, maslahat yang didapat, kecuali … A. banyak orang menyukai orang tersebut B. keadilan nampak bagi seluruh masyarakat C. tertariknya orang sangat dipengaruhi lisan D. mendamaikan pihak-pihak yang berselisih E. mendekatnya pergaulan yang harmonis 3. Jika aib itu terbuka, maka sama saja dengan menaruh arang di muka. Makna dari kiasan tersebut adalah … A. pentingnya melihat keadaan setiap orang B. terbatasnya kemurnian hati dari pribadi yang terpilih C. betapa malunya siapa saja yang terbuka aibnya D. martabat seseorang di atas segala-galanya E. melakukan kebaikan jauh dari bermanfaat 4. Teknologi bagai pisau bermata dua. Di satu sisi, banyak memudahkan hidup, tetapi disisi lain, disalahgunakan untuk hal-hal yang negatif, antara lain: … . A. salah pergaulan diakibatkan memilih twitter B. keamanan negara menjadi rapuh dan lumpuh C. mencari-cari keabsahan sistem nilai yang ingin dicari D. menjatuhkan nama baik dan martabat seseorang E. digunakan penelitian untuk mengkloning hewan 5. Saat berada di alam rahim, setiap diri sudah menyampaikan janji setia kepada Allah Swt. Di antara janji tersebut adalah … . A. kembali ke jalan yang dijanjikan B. menjauhi gaya hidup yang seimbang

61 C. tidak lupa akan keberadaan dunia dan akhirat D. akan kembali ke alam akhirat sesuai batas waktunya E. menjadi hamba Allah yang baik dan tetap hidup di jalan fitrah 6. Keselamatan manusia tergantung kepada kemampuannya dalam menjaga lisan. Itulah sebabnya, Rasulullah Saw. bersabda: Tanda muslim sejati adalah … . A. tersedianya sandang dan pangan B. keamanan yang melingkupi keluarga C. memberikan sedekah sekedar kemampuan D. selamatnya pihak lain dari ganngguannya E. terhindarnya keadaan yang melelahkan 7. Aib berasal dari salah, dosa dan kemaksiatan yang dilakukan. Bertumpuknya dosa sama saja dengan menumpuk aib. Namun, selalu ada waktu untuk memperbaiki. Berikut ini yang diperbolehkan untuk membuka aib seseorang, yaitu: … . A. menggunakan bukti-bukti yang handal B. mengerem keinginan pihak-pihak yang terlibat C. bertujuan menyelidiki untuk kebaikan masyarakat D. coba-coba mengusut kasus yang membawa mesteri E. memperlakukan lembaga yang faham tentang masalah 8. Saat ini, membuka aib bukan sekedar dari lisan, tetapi melalui jari- jari pada media sosial (medsos) masing-masing. Itu sebabnya, sebagai muslim harus selektif menggunakannya, yaitu A. bersumber dari pemerintah B. benar isinya dan sumbernya jelas C. isinya mengubah tatanan masyrakat D. ada dalil yang menguatkan tentang itu E. susunan kalimatnya sangat bagus dan teratur 9. Memenuhi janji menjadi faktor penting keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Rasulullah mencari contoh terbaik tentang itu. Berikut ini, keuntungan orang menepati janji, kecuali … . Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

62 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A. terus dicari keberadaanya, karena amanah sekali B. hidupnya menjadi berkah dan tidak pernah kurang C. dikembalikan fungsi imannya ke dalam dada manusia D. jauh dari keresaan dan kebimbangan dalam hidupnya E. hilang kekhawatiran dan kecemasan di segala situasi 10. Mensyukuri nikmat yang ada, menjadi kunci kebahagiaan. Hanya sayangnya, seringkali banyak manusia yang tidak menghargai apa yang sudah dimiliki, akibatnya … . A. tidak menyatunya nurani, kalbu dan hati B. jiwanya menjadi rendah dan rusak jasadnya C. jiwanya selalu melayang sampai ke ujung dunia D. mencari-cari lagi sampai semua keluarganya merasa puas E. hidupnya menjadi gelisah, bahkan mencari yang tidak halal Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar! 1. Rasulullah Saw. bersabda, ‘’Kalian tak akan masuk surga, sampai kalian beriman dan saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan satu amalan, jika dilakukan membuat kalian saling mencintai? Itu adalah sebarkan salam’’ (HR. Muslim dari Abu Hurairah). Sebutkan 3 kandungan makna dari kalimat sebarkan salam’’? 2. Sebutkan hubungan antara Iman (Akidah), Islam (Syariah), dan Ihsan (Akhlak)? 3. Tulislah teks hadis yang menjelaskan bahwa cabang iman itu berjumlah 63, dan sebutkan 3 cabang iman yang lain, selain 4 cabang iman yang sudah dipelajari? 4. Buatlah kisah nyata tentang runtuhnya karir seseorang disebabkan penggunaan medsos yang salah, dan apa saja pelajaran yang kalian ambil! 5. Sebutkan 3 isi kandungan Q.S. Ibrāhīm/14: 7, khususnya yang dihubungkan dengan kata syukr dan kufr?

63 3. Penilaian Keterampilan a. Penilaian Proyek Aktivitas 2.6 Aktivitas Peserta Didik: Setiap kelas dibagi menjadi 4 kelompok. Buatlah true story dari 4 cabang iman yang dipelajari, yakni Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, dan Menutupi Aib Orang Lain. Setiap kelompok melakukan telaah: 1. Kelompok I tentang keberhasilan orang/lembaga yang Memenuhi Janji. 2. Kelompok II tentang akibat buruk yang diterima orang/lembaga yang tidak Mensyukuri Nikmat. 3. Kelompok III tentang suksesnya orang/lembaga yang Memelihara Lisan. 4. Kelompok IV tentang akibat buruk yang diterima orang/lembaga yang tidak Menutupi Aib Pihak Lain. b. Penilaian Praktik Kelompok: Kelas dibagi 4 kelompok, sesuai dengan Penilaian Proyek yang sudah dilaksanakan. Lalu dipresentasikan dan didiskusikan sesuai dengan tugasnya, lalu membuat kesimpulan tentang kesuksesan atau kegagalan dari 4 cabang iman yang dipelajari, sementara itu GPAI memberikan penilaian dari masing-masing kelompok. Individual: Setiap peserta didik di masing-masing kelas, membuat telaah tentang pengalaman pribadi terkait 4 cabang iman yang dipelajari. Hasilnya dikumpulkan 1 pekan ke depan! Sementara itu, GPAI bersama peserta didik lainnya (yang ditugaskan) untuk memberikan tanggapan dan penilaian dari setiap peserta didik dari masing-masing kelas. Bab 2: Bukti Beriman: Memenuhi Janji, Mensyukuri Nikmat, Memelihara Lisan, Menutupi Aib Orang Lain

64 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI c. Penilaian Portofolio Tuliskanlah semua aktivitas keagamaan kalian, baik di sekolah, rumah, maupun di masyarakat pada buku Penilaian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti! L Pengayaan Syukur menjadi kunci utama dari kebahagiaan. Kenapa manusia modern saat ini, yang jika dikaji dari kemudahan hidup dan berlimpahnya barang- barang sandang, pangan, dan papan, namun hidupnya menjadi terasing, semakin lupa bahkan ingkar kepada Allah Swt. Lakukan analisis yang mendalam tentang problematika tersebut. Perkaya analisa kalian dengan kisah-kisah nyata. Boleh ditulis tangan, atau cara yang lain. Cukup 1-2 lembar saja. Jangan lupa, sertakan sumber rujukannya ya!

Bab 3 Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2021 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Abd. Rahman dan Hery Nugroho ISBN: 978-602-244-684-2

66 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajarari materi ini, kalian dapat: 1. Memecahkan masalah perkelahian antarpelajar, minuman keras (miras), narkoba dalam perspektif Islam. 2. Membuat konten tentang cara mengatasi masalah perkelahian antarpelajar, miras dan narkoba, serta diposting di media sosial, 3. Meyakini bahwa agama melarang melakukan perkelahian antarpelajar, dan melakukan perusakan fasilitas umum, minuman keras, dan narkoba. 4. Membiasakan sikap taat pada aturan, peduli sosial, tanggung jawab dan cinta damai. B Kata Kunci • Miras • Khamr • Narkoba • Alkohol • Perkelahian • Rijs • Tawuran • Psikotropika • Anarkis C Infografis NarkobaMinuman Keras (Miras) MENJAUHI PERKELAHIAN PELAJAR, MINUMAN KERAS DAN NARKOBA • Pelajar yang dicari Islam • Menjauhi kekerasan (anarkis) • Menemukan Jati Diri • Tuntunan Islam kepada Pelajar Hal penting yang harus dihindari pelajar: Perkelahian/ tawuran 1 2 3

67Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba D Ayo Tadarus 1. Ayo membiasakan tadarus Al-Qur’an, baik materi ajarnya aspek Al- Qur’an dan Hadis, maupun aspek Keimanan, Fikih, Akhlak dan Sejarah Peradaban Islam (SPI) sebelum pembelajaran dimulai. 2. Mari tadarus Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid dan makhārijul huruf. Semoga melalui pembiasaan ini, Allah Swt. selalu memberikan petunjuk dan kemudahan dalam memahami materi ajar ini, dan kita mampu menerapkan nilai-nilai yang dikandungnya dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn. Aktivitas 3.1 Aktivitas Peserta Didik: Saatnya, kita tadarus Q.S. asy-Syūrā/42: 40 dan Q.S. al-Māidah/5: 90-91, berikut ini, lalu salah satu peserta didik membacakan terjemahnya! ﴿ وَجَزٰۤؤُا سَيِّئَة ٍ سَيِّئَة ٌ مِّثْلُه َاۚفَمَن ْ عَفَا وَاَصْلَح َ فَاَجْرُه ٗ عَلَى الل ِّٰ ۗاِنَّه ٗ لَا )40 :( الشورى/42 ٌ يُحِب ُّ الظّٰلِمِيْن َ ﴾ ُ ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْر ُ وَالْمَيْسِر ُ وَالْاَنْصَاب ُ وَالْاَزْلَام ُ رِجْس ْ مِّن ْ عَمَل ِ الشَّيْطٰن ِ فَاجْتَنِبُوْه ُ لَعَلَّكُم ْ تُفْلِحُوْن َ ٩٠ اِنَّمَا يُرِيْد ُ الشَّيْطٰن اَن ْ يُّوْقِع َ بَيْنَكُم ُ الْعَدَاوَة َ وَالْبَغْضَاۤء َ فِى الْخَمْر ِ وَالْمَيْسِر ِ وَيَصُدَّكُم ْ عَن )90-91 :( املاۤئدة/5 ِكْر ِ الل ِّٰ وَعَن ِ الصَّلٰوة ِ فَهَل ْ اَنْتُم ْ مُّنْتَهُوْن َ ٩١ ﴾ذ

68 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI E Tadabbur Aktivitas 3.2 Aktivitas Peserta Didik: Amati gambar atau ilustrasi berikut ini! Lalu berilah tanggapan kalian yang dikaitkan dengan materi ajar yang dipelajari, yakni: Menjauhi Perkelahian Antarpelajar, Minuman Keras (Miras) dan Narkoba Gambar 3.1 Tidak terlibat perkelahian antarpelajar Gambar 3.2 Menjauhi minuman keras Gambar 3.3 Tidak coba-coba dengan Narkoba Gambar 3.4 Damai dengan lingkungan dan tidak merusak

69 F Kisah Inspiratif Aktivitas 3.3 Aktivitas Peserta Didik: Pahami dan renungkan artikel berikut ini, sebagai bagian dari pemahaman dari materi ajar yang akan dipelajari! Memilih Hidup Wahai anakku! Hidup ini memang memilih, dan setiap pilihan pasti diminta pertanggungjawaban. Di sela-sela beraktifitas, kalian dapat memilih kegiatan positif (misalnya rajin menuntut ilmu, berolah raga, berteman dengan yang baik-baik saja, atau ikut kegiatan keagamaan) maupun negatif (terlibat perkelahian, sering dugem dan miras, bahkan narkoba. Hanya harus disadari dan menjadi pengingat bagi semua, yakni akibat yang ditimbulkan sebagai konsekuensi pilihan yang diambil. Kalian bisa lihat sendiri, betapa banyak keterpurukan dan kehancuran hidup, akibat perkelahian dan tawuran, terlibat dalam miras dan narkoba. Itu baru sanksi dunia. Bagaimana nasib kalian di akhirat? Tidak terbayangkan kan! Semua itu, semestinya dapat menahan kita dari berbuat yang tidak benar, meskipun ada kebebasan memilih kemana langkah kaki harus diarahkan, tetapi jangan salah memilih hidup. Orang bijak menyampaikan, hidup itu perjuangan yang harus dimenangkan, bukan terpuruk di jeruji penjara, badan kurus kering, karena narkoba, atau miras yang menghempaskan cita dan asa bagi diri sendiri, keluarga, bangsa dan negara. Karena itu, miliki cita dan asa yang besar, berpikir yang maju! Sebenarnya Allah Swt, telah menjadikan keberadaan kita ini sebagai bibit unggul, sehingga jangan sampai menjadi orang yang kalah, gagal dan terpuruk. Semestinya, setiap langkah yang diayunkan, usahakan merupakan langkah menuju kesuksesan dan kemenangan. Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

70 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Perhatikan sekitar kalian! Ada rekan, sahabat, atau anggota keluarga yang derajat dan martabatnya naik turun, akibat pilihan hidupnya. Itulah hidup. Kenapa naik, karena kesesuaian hidupnya dengan aturan Allah Swt. dan prinsip hidup yang dijalani memang benar. Sebaliknya kenapa turun, karena hidup yang dijalani tidak sesuainya dengan aturan dan norma hidup. Diadaptasi dari: Yesi Elsandra/yelsandra@yahoo.com Sumber: eramuslim G Wawasan Keislaman Aktivitas 3.4 Aktivitas Peserta Didik: Bentuk kelas kalian menjadi 3 kelompok. Lalu, setiap kelompok mendapatkan sub-materi dari materi ajar yang akan dipelajari, yakni Menjauhi Perkelahian Antarpelajar; Miras dan Narkoba, agar dikaji, dipahami dan dipelajari. Hasilnya dipresentasikan! Berikut ini, mari kita kaji bersama tentang ketiga hal tersebut: 1. Perkelahian Antarpelajar a. Pelajar yang dicari Islam Islam itu menyelamatkan dan mendamaikan dunia, (termasuk bagi para pelajar), bukan membuat keonaran, perilaku menyimpang, apalagi melakukan tawuran dan perkelahian. Islam itu juga datang dengan solusi, bukan menambah problema. Tatap dunia ini dengan jernih, maka kalian akan mendapatkan jalan hidup yang menakjubkan dan mencengangkan. Di dunia pendidikan, khususnya para pelajar, sudah banyak tinta emas ditorehkan oleh para pelajar muslim dengan segenap prestasi yang diraihnya. Kenapa mereka bisa begitu? Jawabannya karena Islam mengilhami dan menginspirasi seluruh tatanan hidupnya, agar hidup itu bermanfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Seperti yang disabdakan

71 oleh Rasulullah Saw., yakni: Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Prestasi itu tidak hanya berupa capaian yang memiliki level dunia, nasional, provinsi atau kabupaten kota, tetapi hidup dengan benar berlandaskan ajaran Islam bagi diri dan lingkungan terkecil, termasuk di sekolah juga, merupakan prestasi yang membanggakan. Buat apa berprestasi besar, sementara shalat tidak dilaksanakan. Tampan bukan main, bahkan menjadi rebutan para gadis, tetapi tidak mampu membaca Al-Qur’an dengan benar. Buat apa berkelahi dan terlibat tawuran, apa untungnya? Tidak ada kan! Bahkan kerugian yang didapatkan, termasuk sanksi akhirat sudah menunggu. Dunia ini penuh problema, jangan ditambah lagi dengan cara melarikan diri dari masalah. Jika ada masalah, cari solusinya tahap demi tahap, jika belum juga selesai, tetaplah optimis seraca memohon kepada Allah agar memberikan solusi terbaik, tetap bersandar kepada Allah Swt. Apapun keadaannya, susah senang dan sedih gembira selalu bersama Allah Swt. Jika itu bisa kalian lakukan, niscaya dunia akhirat sudah berada di genggaman kalian. b. Definisi Perkelahian dan Tawuran Pelajar Ada beberapa istilah yang sering dipakai untuk mengidentifikasi perilaku menyimpang yang biasanya dilakukan oleh pelajar, yaitu perkelahian dan tawuran. Keduanya bagian dari problema dunia pendidikan, utamanya terjadi di kota-kota besar, dan harus dicari solusi yang tepat, agar perilaku ini tidak dijadikan kebiasaan yang lumrah sebagai bagian dari kenakalan pelajar atau remaja. Perkelahian antarpelajar atau remaja adalah suatu bentuk tindakan kekerasan atau agresi yang dilakukan oleh suatu kelompok pelajar dengan kelompok pelajar lain yang berusaha untuk menyingkirkan pihak lawan dengan menghancurkan atau membuat pihak mereka tidak berdaya. Sementara makna dari tawuran pelajar adalah perkelahian yang melibatkan banyak pelajar, atau perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang berstatus sebagai pelajar. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile delinquency). Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

72 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Kenakalan pelajar atau remaja, menurut Sarlito W. Sarwono adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman. Kenakalan remaja, termasuk perkelahian pelajar, dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Delikuensi Situasional, yakni perkelahian terjadi karena adanya situasi yang mengharuskan mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya dipicu adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara tepat. 2. Delikuensi Sistematik, yakni: para pelajar yang terlibat dalam perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau geng yang memiliki aturan dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti oleh anggotanya, termasuk berkelahi, melukai, mencuri dan tindak pidana yang lain. c. Faktor Penting Adanya Perkelahian Pelajar. Jika kita sepakat bahwa perkelahian pelajar menjadi bagian dari kenakalan remaja, termasuk kelainan perilaku remaja pada umumnya, maka banyak faktor penting adanya perkelahian pelajar, antara lain: 1. Rational Choice, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor individu, motivasi, pilihan dan kemauannya sendiri. Di Indonesia, banyak yang menyetujui pendapat ini, misalnya anak nakal ditaruh di pesantren, agar imannya mantap, sehingga tidak nakal lagi. 2. Social Disorganization, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor lingkungan. Berkurangnya atau hilangnya pranata budaya yang selama ini menopang harmoni sosial. Misalnya orang tua yang semakin sibuk, melupakan pendidikan anak-anaknya, atau guru yang terlalu banyak memberikan peer, dan abai dengan bimbingan dan arahannya. 3. Strain, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor tekanan yang besar dari masyarakat, misalnya kemiskinan di satu sisi, sementara di pihak lain orang kaya yang sering mempertontonkan kekayaannya. 4. Differential Association, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor salah pergaulan. Pelajar yang terbiasa bergaul dengan pelajar yang tukang tawuran, anak yang malas belajar, suka mencuri, bolos belajar, maka semua itu menjadi perekat bagi pelajar yang awalnya baik-baik saja.

73 5. Labbeling, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor terbiasa dicap sebagai pelajar yang nakal. Jika seorang pelajar sering dilabeli sebagai pelajar nakal oleh banyak pihak, maka label tersebut merasuk di dalam dada, akibatnya jadilah pelajar yang nakal. 6. Male Phenomenon, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor jenis kelamin, bahwa anak laki-laki lebih nakal dibanding anak perempuan. Alasannya anak laki-laki, biasanya lebih nakal, atau besarnya budaya maskulin, sehingga wajar jika anak laki-laki itu nakal. d. Ikhtiar Mencegah Perilaku Menyimpang Perilaku menyimpang, termasuk perkelahian pelajar, harus segera dihentikan, jangan dianggap remeh dan lumrah, agar tidak terjadi skala yang lebih besar. Ingat kebakaran besar, dimulai dari titik api yang kecil. Berikut ini beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan, yaitu: 1. Beri kesempatan yang banyak agar pelajar dapat mengembangkan segala minat, bakat dan potensinya, sehingga optimal menemukan jati dirinya dan orientasi hidup yang dituju, serta wujudkan kondisi sekitar yang sehat, aman dan tenteram. 2. Wujudkan kehidupan keluarga yang harmonis. Hubungan antar keluarga berjalan baik. Jaga betul keutuhan dan ketenteraman di antara keluarga. Begitu juga, jika anak berada dalam asrama atau tempat tertentu. 3. Setiap anak itu unik, bahkan yang lahir kembar sekalipun. Karena itu, jangan membiasakan menyamaratakan potensi anak, meski dengan saudaranya sendiri, justru itu menjadi pemicu iri hati. Jika akan mengambil keputusan, bentangkan segala alternatif yang ada, lalu suruh yang bersangkutan memilih atas kesadaran sendiri. Itu jalan terbaik dan tepat yang perlu dilakukan. 4. Di samping faktor keluarga, pengembangan pribadi yang optimal melalui pendidikan di sekolah, memiliki pengaruh yang besar. Melalui pendidikan yang baik, anak akan mampu mengontrol gejolak jiwanya, sehingga tidak melampiaskan ke hal-hal yang tidak perlu. 5. Bentuk perkembangan pelajar di lingkungan sekolah dengan baik. Sebab, sekolah berfungsi sebagai sarana pendidikan, bimbingan dan sebagai tempat perlindungan, jika ada problema yang muncul. Itulah pentingnya Guru BP dan guru senior yang memiliki banyak pengalaman hidup, Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

74 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI sehingga dapat ditransformasikan ke dalam jiwa anak yang menghadapi masalah. 6. Pentingnya membentuk banyak organisasi atau lembaga yang mewadahi aktivitas pelajar atau anak, baik di lingkup sekolah (misalnya OSIS dengan segala sub-unitnya) maupun di lingkungan tempat tinggal sang pelajar, seperti: Karang Taruna, Majelis Ta’lim Remaja, Kelompok Belajar dan semacamnya. 7. Melakukan usaha untuk meningkatkan kemampuan pelajar atau remaja di bidang tertentu sesuai minat dan bakat masing-masing, sehingga semakin tumbuh kepercayaan dirinya, karena di mata teman-temannya dia memiliki skill dan keterampilan yang memadai. Tidak seperti di kebanyakan sekolah yang orientasinya hanya nilai, angka rapot bagus, atau berapa rangkingnya. e. Penanganan Pelajar yang Menyimpang Minimal ada 5 penanganan terhadap pelajar yang menyimpang, yaitu: 1. Kepercayaan. Sang pelajar harus memiliki kepercayaan kepada pihak- pihak yang mau membantunya (wali kelas, guru BP, guru agama, dan lainnya). Mereka para pelajar yakin akan ditolong dan tidak akan dibohongi. Jika pelajar itu lebih memilih ‘pihak luar’, ya tidak apa-apa, karena biasanya ‘pihak dalam’ ada kepentingan lain atau tidak tulus untuk menolongnya. 2. Kemurnian Hati. Pelajar itu sudah percaya bahwa penanganan ini tidak bersyarat. Buat pelajar atau remaja, urusan membantu, ya membantu saja. Tidak perlu ditambahi, “tetapi tetapi”. Sebab itu, pelajar lebih mempercayai teman-temannya sendiri, jika menghadapi problema, meski terkadang nasehatnya tidak utuh dan solusinya bersifat parsial atau sepotong-potong. 3. Kemampuan mengerti dan menghayati (empathy) perasaan pelajar atau remaja. Disebabkan posisi yang berbeda antara anak (pelajar) dengan orang dewasa (orang tua, guru), sulit bagi orang dewasa berempati kepada pelajar, karena kepentingan yang susah dikalahkan. Biasanya orang dewasa merasa lebih unggul dan kurang menghargai posisi pelajar. 4. Kejujuran. Ini penting dilakukan, karena sang pelajar ingin keterbukaan, termasuk sanksi yang diterima, meskipun tidak menyenangkan. Katakan

75 yang benar itu benar. Sebaliknya, yang salah itu salah. Jangan sampai terjadi, ini salah bagi pelajar, sementara bagi orang dewasa itu benar. Jika ini yang terjadi, maka runtuhlah kepercayaan pelajar kepada orang dewasa. 5. Mengutamakan persepsi pelajar sendiri. Pelajar itu akan memandang persoalan dari sudut pandangnya sendiri. Terlepas dari kenyataan yang ada, sang pelajar akan bereaksi sesuai sudut pandangnya sendiri. Karena itu, kemampuan untuk memahami pandangan pelajar, sangat berarti untuk membangun empati terhadap pelajar atau remaja. Berdasarkan semua paparan tersebut, Islam mengambil sudut pandang yang berbeda tentang perkelahian pelajar. Kuncinya kepada posisi balig, jika seseorang itu sudah balig, maka semua perbuatanya (baik dan buruk) menjadi tanggung jawabnya. Tidak seperti hukum positif di Indonesia, yang biasanya sanksi atas perbuatan dikenakan jika usianya antara 17 atau 18 tahun. Sebab itu, sejak dini Islam mengarahkan orang tua agar membimbing dan mendidik puta putrinya sejak kecil tentang al-ahkamul al-khamsah, yakni 5 hukum, meliputi: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Melalui jalan tersebut, sejak kecil anak-anak diajarkan untuk tidak melakukan tindak kekerasan, termasuk perkelahian atau tawuran pelajar. Ajaran Islam dengan tegas tidak pernah mengajarkan kekerasan (anarkis). Apapun alasannya, mengambil jalan kekerasan, tidak dibenarkan dalam Islam. Tindakan kekerasan itu, bukan perwujudan dari Islam. Jika ingin membela kebenaran, harus menggunakan cara-cara yang benar juga. Tidak asal bela saja, sementara kebenaran disampingkan. Sebab, sebagai pelajar muslim, kita semua diingatkan dengan visi dan misi Islam sebagai agama yang damai, santun, dan menjadi rahmat untuk semesta alam (Islam yang rahmatan lil ‘ālamin), sebagaimana firman Allah Swt: )107 :( االنبياۤء/21 ﴿ وَمَا ٓ اَرْسَلْنٰك َ اِلَّا رَحْمَة ً لِّلْعٰلَمِيْن َ ﴾ Artinya: dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiyā’/21: 107) Sekarang ini, Islam dihadapkan pada problema besar, yakni membumikan sekaligus mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Pertanyaan Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

76 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI yang segera muncul adalah apa kiat dan strateginya, sehingga Islam itu benar-benar mampu menjawab realitas problematika kemanusian, damai untuk semua, dan menebar keselamatan dan ketenteraman untuk sesama? Tentu, bukan persoalan mudah untuk menjawab problematika tersebut, namun yang terpenting adalah komitmen semua umat Islam, apapun profesinya (termasuk pelajar muslim), memerankan visi dan misinya dengan benar--di tengah problematika dunia yang semakin kompleks--sejalan dengan risalah Islam seperti yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. melalui Piagam Madinah. Melalui Piagam Madinah inilah, Islam mampu menghadirkan kedamaian, ketenteraman dan harmoni yang tidak menimbulkan luka, apalagi merusak. Sebuah manajemen hidup yang saling berdampingan secara harmonis antar satu sama lain, tanpa perlu mengorbankan nyawa, melukai fisik dan jiwa, merusak harta benda, dan prinsip-prinsip keagamaan yang sudah disepakati bersama. 2. Minuman Keras (Miras) a. Pengertian Khamr (خمر) adalah jenis minuman dan makanan yang dapat memabukkan dan menghilangkan kesadaran seseorang. Makna lainnya adalah segala apapun yang memabukkan atau merusak akal sehat. Berlandaskan pengertian tersebut, segala jenis narkoba termasuk makna dari khamr. Rasulullah Saw. bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah diharamkan”. (HR. Ahmad dan Abu Daud) Miras menjadi induk segala kemaksiatan Termasuk jenis khamr adalah alkohol yang merupakan zat kimia yang dipergunakan untuk beragam keperluan di dunia medis, antara lain disinfektan, pembersih, pelarut, bahan bakar, dan sebagai campuran zat kimia lainnya. Penggunaan alkohol dalam makna terakhir, tidak masuk dalam kategore khamr, dan itu berarti diperbolehkan (tidak haram) Sebaliknya, jenis-jenis obat psikotropika dan narkotika, meski tidak mengandung alkohol, ia tetap haram digunakan. Sebab, dampak negatifnya sangat buruk sekali, baik dilihat dari sisi akal pikiran, kesehatan, harta benda maupun kepribadian bagi semua.

77 Itulah sebabnya khamr menurut istilah Al-Qur’an disebut رجس/rijs (perilaku yang sangat buruk, jijik, kotor, bahkan najis). Perhatikan isi kandungan Q.S. al-Maidah/5: 90. Begitu besarnya kerugian akibat khamr, antara lain: menjadi sumber penyakit, merusak saraf dan mental, bersifat racun/meracuni, merusak liver, merusak akhlak dan sumber segala kerusakan. Itulah sebabnya, Islam mengelompokkan perilaku tersebut, sebagai bagian dari perbuatan setan, dan Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa setan itu musuh utama manusia (Q.S. al-Isrā’/17: 26-27). Itulah sebabnya, perilaku tersebut harus dihindari dan dijauhi, jangan pernah untuk mencoba- coba, khususnya pada khamr. b. Khamr Berdasarkan Telaah Q.S. al-Māidah/5: 90-91. 1. Bacaan ْ ْ ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْر ُ وَالْمَيْسِر ُ وَالْاَنْصَاب ُ وَالْاَزْلَام ُ رِجْس ٌ مِّن ِّٰ عَمَل ِ الشَّيْطٰن ِ فَاجْتَنِبُوْه ُ لَعَلَّكُم ْ تُفْلِحُوْن َ ٩٠ اِنَّمَا يُرِيْد ُ الشَّيْطٰن ُ اَن ِكْر ِ الليُّوْقِع َ بَيْنَكُم ُ الْعَدَاوَة َ وَالْبَغْضَاۤء َ فِى الْخَمْر ِ وَالْمَيْسِر ِ وَيَصُدَّكُم ْ عَن ْ ذ )90-91 :( املاۤئدة/5 وَعَن ِ الصَّلٰوة ِ فَهَل ْ اَنْتُم ْ مُّنْتَهُوْن َ ٩١ ﴾ 2. Terjemah Ayat Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu, agar kamu beruntung. (Q.S. al-Māidah/5: 90) Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?. (Q.S. al-Māidah/5: 91) Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

78 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 3. Asbabun Nuzul Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.: Saat Rasulullah Saw. datang di Madinah, masih banyak yang meminum khamr dan makan dari hasil judi. Mereka bertanya tentang kedua hal tersebut, maka turunlah Q.S. al- Baqarah/2: 219. Dipahami oleh sebagian mereka bahwa itu hanya dosa besar, bukan haram. Karena dipahami seperti itu, kebiasaan buruk ini masih tetap dilanjutkan. Ketika ada kaum muhajirin menjadi imam shalat dalam keadaan mabuk, terjadilah kesalahan dalam membaca Al-Qur’an. Lalu turunlah Q.S. al- Nisā’/4: 43 yang berisi larangan mengerjakan shalat dalam keadaan mabuk. Meskipun sudah turun ayat ini, yang memberi isyarat lebih jelas dan tegas, agar dihindari, dijauhi dan tidak dilakukan, kebiasaan buruk itu masih juga dilakukan. Akhirnya turunlah Q.S. al-Māidah/5: 90-91, yang menegaskan keharaman khamr sehingga mereka pun berkata, ‘Ya Allah, kami (bertekad) berhenti dari meminumnya’. Selanjutnya, mereka bertanya kepada Rasulullah Saw.: bagaimana orang-orang terdahulu yang terbunuh di jalan Allah Swt. atau mereka yang meninggal di tempat tidur, padahal dahulunya, mereka itu suka meminum khamr atau makan hasil perjudian, padahal keduanya kini telah ditetapkan sebagai perbuatan keji dan perbuatan setan. Lalu turunlah Q.S. al-Māidah {5}: 93 yang menjelaskan bahwa apa yang telah dilakukan umat muslim sebelum datangnya larangan ini tidak dinilai sebagai suatu dosa. c. Kandungan Isi Isi dan kandungan ayat-ayat ini, antara lain: 1. Ayat ini merupakan ayat terakhir yang membincang tentang keharaman khamr dan judi. Melalui ayat ini nyata, jelas, dan tegas tentang keharamannya, sudah tidak ada toleransi lagi. Seperti telah dikemukakan terdahulu (pahami kembali Q.S. al-Baqarah/ 2: 219). 2. Allah Swt. tidak serta merta mengharamkan sesuatu, tetapi terlebih dahulu mengajak pola pikir dan jiwa manusia untuk bersama-sama menilai kenapa sesuatu itu menjadi wajib atau diharamkan. Hal ini menjadi bagian pendidikan bagi umat/manusia, agar muncul kesadaran diri sendiri tentang pentingnya ajaran agama itu dilaksanakan atau dijauhi.

79 3. Kedua ayat ini merupakan rangkaian aturan bagi umat, agar menjauhi khamr (miras), judi, berkorban atau mempersembahkan sesuatu untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, semua itu adalah tradisi jahiliah yang sia-sia, dan termasuk rijs, yakni perbuatan keji, kotor, jijik dan bukti nyata kebobrokan akhlak/moral jika itu semua dilakukan. 4. Larangan perbuatan yang berurutan (dimulai khamr (miras, narkoba) sampai mengundi nasib), menurut Imam al-Bukhari, ada hikmah dan maknanya, antara lain: khamr menjadi cara yang paling mudah menghabiskan harta; disusul dengan perjudian yang akan cepat membinasakan harta; lalu pengagungan sesuatu (berhala) yang semestinya bukan tuhan yang merupakan pembinasaan agama. Semua larangan ini dulu, kini, dan esok, dampak negatifnya sudah terbukti. Bahaya khamr, akan susul- menyusul, sampai seseorang dengan penuh kesadaran sendiri menghentikannya 5. Pelajaran berharga yang dapat diambil dari ayat ini, adalah sistem Islam dalam memberi solusi dari perilaku buruk tersebut yang berasaskan akidah. Dimulai dari basis keimanan, pondasi (baca: iman/akidah umat dibimbing terlebih dahulu) diperbuat terlebih dahulu, selanjutnya di bidang syariah/ ibadah, lalu akhlak. 6. Hikmah lainnya adalah siapa pun orang tua, guru, pendidik, ulama, atau mubalig, jika ingin memperbaiki individu atau kelompok masyarakat, materi pembinaan yang harus didahulukan adalah bidang yang ada hubungannya dengan akidah/ keimanan. Hal ini sejalan dengan dakwah Rasulullah Saw. selama di Makkah (13 tahun lamanya, bandingkan dengan periode Madinah yang lebih sedikit, yakni 10 tahun) masalah akidah/keimanan itulah yang diprioritaskan. 7. Salah satu keistimewaan manusia dibanding makhluk lain adalah akal pikirnya. Jika akalnya saja tidak berfungsi atau hilang keseimbangannya disebabkan khamr, apa saja dampak negatif yang ditimbulkannya? Jawabannya tentu banyak sekali, mulai dari madharat bagi dirinya, lalu menimpa pula keluarga, bahkan menjalar ke masyarakat luas. Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

80 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 8. Betapa pun majunya zaman sekarang ini, yang namanya berhala modern masih menjangkiti masyarakat luas, tak terkecuali sebagian umat Islam. Itulah sebabnya, ayat ini juga mengingatkkan tentang peran akal atau rasio dan kalbu (hati nurani) yang sangat penting. Jangan sampai terjadi benda yang tidak bernyawa (berhala) yang tidak membawa manfaat atau madharat sedikit pun, ditahbiskan memiliki sifat-sifat ketuhanan, tentu sikap dan perilaku tersebut sangat bodoh dan irasional. d. Sikap terhadap Khamr Begitu berbahayanya khamr dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, termasuk kelangsungan bangsa dan negara, maka sikap tepat yang perlu dilakukan adalah: 1. Tidak coba-coba memakai atau meminum khamr (miras), karena bahaya dan madharatnya sangat besar, baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. 2. Khamr, judi, berkorban atau mempersembahkan sesuatu untuk berhala, dan mengundi nasib, semua itu adalah rijs, yakni sikap dan perbuatan yang amat sangat tercela, buruk, keji, jijik, kotor, bahkan bisa bermakna najis. 3. Bagi pihak yang berperan dalam pembinaan umat, pentingnya melakukan pentahapan dari mulai yang ringan, sedang, dan berat; bersama-sama menemukan kenapa ini boleh dan itu tidak boleh; menghindari pendekatan memaksa atau hitam putih; dan mendahulukan materi akidah atau keimanan berlanjut ke materi syariah dan akhlak. Indahnya dunia, jangan sampai menjadi kelam, karena ulah kita sendiri yang coba-coba khamr 4. Mengedepankan pola hidup bersih lahir batin; menjauhi sikap dan perilaku yang menjadikan kehidupan rugi secara cepat dan drastis; tetap menjaga akalnya, agar tetap sehat (tidak dikotori dengan khamr; mencari rezeki yang halal dan berkah; serta timbulnya kesadaran sendiri untuk menjalankan aturan agama secara baik dan benar. Begitu besarnya kerugian, akibat khamr, termasuk narkoba, maka Islam mengelompokkan perilaku tersebut, sebagai bagian dari perbuatan setan, dan Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa setan itu musuh utama manusia (Q.S. al-Isrā’/17:

81 26-27). Itulah sebabnya, perilaku tersebut harus dihindari dan dijauhi, jangan pernah untuk mencoba-coba, khususnya pada khamr (miras). 3. Narkoba a. Narkoba Ditinjaui dari Islam Istilah narkoba, di dalam Al-Qur’an memang tidak ditemukan padanannya. Meskipun begitu, tidak berarti Islam tidak menjelaskannya. Istilah ini harus didekati melalui qiyas, yakni satu masalah yang belum ada nash-nya, dicarikan padanan dengan masalah yang sudah ada nashnya, disebabkan persamaan illat (sebab, landasan, motivasi hukum). Dalam hal narkoba, maka disamakan dengan khamr karena sama-sama memabukkan dan membahayakan atau merugikan. Oleh karena itu, narkoba disamakan dengan khamr. Khamr (خمر) adalah jenis minuman dan makanan yang dapat memabukkan dan menghilangkan kesadaran seseorang. Pengertian yang lain adalah segala jenis apapun yang memabukkan atau merusak akal sehat. Itulah sebabnya, segala jenis narkoba termasuk makna dari Khamr. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah Saw.: ٍ عَن ِ ابْن ِ عُمَر َ قَالَ: قَال َ رَسُوْل ُ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّمَ: كُل ُّ مُسْكِر خَمْر ٌ وَكُل ُّ مُسْكِر ٍ حَرَام ٌ (رواه ابو داود) Artinya: Dari Ibnu ’Umar dia berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan adalah diharamkan”. (HR. Abu Daud). Begitu juga, jenis-jenis obatan psikotropika dan narkotika, meski tidak mengandung alkohol, ia tetap haram digunakan. Sebab, dampak negatifnya sangat buruk sekali, baik dilihat dari sisi akal pikiran, kesehatan, harta benda maupun kepribadian bagi semua. Sebab itu, khamr menurut istilah Al-Qur’an disebut rijs (perilaku yang sangat buruk, jijik, kotor, bahkan najis). Sebagai bagian untuk memperjelas pemahaman kita tentang narkoba, mari kita telaah ayat-ayat yang berbicara tentang khamr. Terdapat urutan turunnya ayat-ayat yang berbicara tentang khamr, yakni ada 4 ayat yang dapat disimpulkan sebagai berikut: Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

82 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 1. Ayat-ayat tersebut merupakan kelanjutan dari kesadaran umat Islam (Periode Madinah), agar hidupnya disesuaikan dengan tuntunan Allah Swt. sesudah jelas dan nampak bukti-bukti kebenaran Islam. 2. Urutan ayat tentang khamr adalah: (1). Q.S. an-Nahl/16: 67, bahwa kurma dan anggur dapat menghasilkan 2 (dua) hal yang berbeda, yakni khamr dan rezeki yang halal. (2). Q.S. al-Baqarah/2: 219 yang memberi isyarat lebih tegas agar khamr dijauhi dan dihindari. (3) Q.S. an-Nisā’/4: 43 yang tegas melarang, agar tidak mabuk, saat mendekati waktu shalat. (4). Q.S. al-Māidah/5: 90) dengan tegas mengharamkan khamr sepanjang waktu. 3. Sebagai khalifah di bumi, manusia diajak oleh Allah Swt., agar selalu menggunakan akal sehatnya, sehingga setiap manusia memiliki pilihan jalan mana yang akan ditempuh, baik atau buruk, benar atau salah, patut atau tidak patut (Q.S. asy-Syams /91: 8-10, Q.S. al-Balad/90: 8-10. Melalui cara ini, jangan salahkan pihak lain, jika ada manusia yang mendapatkan kesengsaraan dunia dan akhirat (Q.S. al-Ghāsyiyah/88: 1-8, Q.S. an- Naba’/78: 21-30). 4. Manusia diajak berpikir, kenapa khamr diharamkan? Itulah sebabnya, Allah Swt. membentangkan informasi atau penjelasan tentang dosa, madharat, dan bahaya yang ditimbulkan, meski disebutkan juga ada sisi manfaat dan keuntungannya. 5. Islam menuntun umatnya, agar selalu menyibukkan diri dengan aktivitas yang positif (Q.S. al-Insyirāh/94: 7-8); sungguh-sungguh mencari dan menggapai kehidupan yang serba cukup, bahkan berlebih. Sebab, timbulnya khamr (segala sesuatu yang memabukkan, termasuk narkoba) dialami oleh manusia yang lari dari kenyataan, pengangguran, dan mereka yang belum tahu bagaimana hidup ini harus dijalani. 6. Khamr itu merupakan adat dan kebiasaan (buruk). Karena itu, perlu diluruskan secara bertahap, seperti kebiasaan buruk lainnya. Pelurusan itu dimulai dengan menggerakkan rasa keagamaan dan jiwa manusia, agar dapat menghentikan kebiasaan buruk tersebut. 7. Akhir ayat ini dipenuhi pesan, agar umat Islam memiliki cita dan harapan, jika diberi kehidupan (rezeki) yang berlebih, melebihi kadar kecukupan, memperbanyak membantu pihak lain yang membutuhkan (baik melalui zakat, infak, maupun sedekah).

83 Begitu besarnya kerugian dan madharat akibat khamr/narkoba, maka Islam mengelompokkan perilaku tersebut, sebagai bagian dari perbuatan setan, dan Al-Qur’an dengan tegas menyebutkan bahwa setan itu musuh utama manusia (Q.S. al-Isrā’ {17}: 26-27). Itulah sebabnya, perilaku tersebut harus dihindari dan dijauhi, jangan pernah mendekati apalagi berusaha mencoba-coba. b. Narkoba Ditinjaui dari Hukum Indonesia 1. Pengertian Narkoba adalah singkatan dari nar = Narkoba; ko = Psikotropika; dan ba = Bahan-bahan adiktif (misalnya alkohol, rokok, kopi, dan lain sebagainya). Berani katakan tidak kepada narkoba Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintetis, yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan ke dalam golongan-golongan (sebagaimana terlampir dalam UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika). Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis, bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku (UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika). Zat Adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh organisme hidup, maka dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus menerus. Tersedianya zat yang berkhasiat menghilangkan rasa sakit, atau menimbulkan perubahan suasana batin dan perilaku, merupakan bagian dari kemurahan Allah Swt. yang menciptakan rasa sakit atau letih, dan pada waktu yang sama menyediakan obat atau penawarnya. Hanya yang menjadi masalah, jika zat tersebut disalahgunakan (digunakan secara berlebihan dan berulangka kali di luar tujuan Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

84 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI pengobatan, atau tanpa melalui konsultasi dan pengawasan dokter) akan menimbulkan dampak ketergantungan atau kecanduan. Ketergantungan kepada zat tertentu, dapat menimbulkan gangguan jasmani, rohani, termasuk penderitaan yang mengakibatkan kematian. Manusia, apalagi sebagai orang beriman, yang diberikan anugerah keimanan dan akal pikir yang sehat, seharusnya mampu menghindari narkoba. Dua sampai tiga dasawarsa terakhir, penggunaan dan peredaran narkoba secara ilegal di berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia menunjukkan peningkatan yang tajam, merambah semua kalangan, tidak terkecuali di dunia pendidikan, serta meminta banyak korban berjatuhan. Di sisi lain, penyalahgunaan narkoba juga berkaitan dengan beragam tindak kejahatan, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, putus sekolah, PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), hancurnya masa depan, termasuk di dalamnya penularan HIV/AIDS. Coba sekali! Kamu tidak pernah bisa kembali. Begitu juga, dampak negatif lain, sampai pada rusaknya organ vital seperti: otak, jantung, paru-paru, hati, ginjal, organ reproduksi, serta beragam gangguan rohani, seperti perasaan, pikiran, kepribadian, sikap dan perilaku. Semua itu, menjadi sebab kita dilarang menyalahgunakan narkoba yang tidak sesuai dengan ketentuan medis dan melanggar hukum. 2. Penyalahgunaan Narkoba Penyalahgunaan Narkoba adalah penggunaan narkoba di luar keperluan medis, tanpa pengawasan dokter, dan merupakan perbuatan melanggar hukum (Pasal 59, UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika; serta Pasal 84, 85, dan 86 UU Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Penyalahgunaan Narkoba merupakan gangguan perilaku dan perbuatan anti sosial, seperti: berbohong, membolos, malas, sex bebas, mencuri, melanggar aturan, tidak disiplin, merusak, melawan orang tua dan guru, suka mengancam dan berkelahi, sehingga mengganggu ketertiban, ketenteraman dan keamanan bagi banyak pihak. Penyalahgunaan Narkoba meliputi: taraf coba-coba, hiburan, penggunaan secara teratur, sampai taraf ketergantungan. Boleh jadi, baru taraf

85 coba-coba, tetapi langsung ketergantungan, karena sifat narkoba yang mempunyai daya ketergantungan yang tinggi. Penyalahgunaan Narkoba dilakukan dengan cara ditelan, disuntikkan dengan jarum suntik, rokok, dihisap dengan hidung, semua cara itu tergantung jenis narkoba yang digunakan. Jika dengan jarum suntik, yang dipakai beramai-ramai bisa menjadi sebab penularan HIV/AIDS, Hepatitis B dan C, termasuk penyakit mematikan yang sampai sekarang belum ada obatnya. Narkoba cuma akan menjadi lembaran hitam dalam hidupmu Sekali mencoba narkoba, menimbulkan keinginan untuk mencoba lagi, sampai ketagihan dan menderita ketergantungan. Sebab itu, harus berani menyatakan tidak! jauhi dan hindari! Umumnya, baru muncul keinginan menjauhi, tetapi sudah terlambat, seperti dicengkeram sesuatu yang tidak bisa melepaskan lagi. Ketergantungan narkoba menimbulkan gejala putus obat (para pecandu biasa menyebut “sakaw” yang maknanya ‘sakit’. Keadaan tersebut, sangat menyakitkan dan menimbulkan penderitaan yang luar biasa. Disebabkan harga narkoba itu sangat mahal, maka biaya merawatnya sangat tinggi, sehingga andaikata orang tua/keluarganya kaya, niscaya semuanya akan terkuras habis dan bangkrut, apalagi bagi yang berstatus miskin. 3. Berbagai Jenis Narkoba yang disalahgunakan a. Jenis Narkotika Jenis ini, antara lain: • Morfin, yaitu: alkaloida yang terdapat dalam opium yang bentuknya serbuk putih. Sejenis analagesik yang kuat khasiatnya, tidak berbau, berbentuk kristal, berwarna putih, bisa berubah warnanya menjadi kecoklatan. Sebagian besar opium diolah menjadi morfin. • Putaw, yaitu: nama jalanan dari heroin, berwarna putih dan rasanya pahit jika disalahgunakan. Di pasar gelap, heroin dipasarkan dalam beragam bentuk yang dicampur dengan bahan lainnya, seperti gula, coklat, tepung, susu, dan lain-lain. Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

86 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI • Ganja, Cimeng, Marijuana, atau Cannabis Sativa, yaitu: tumbuhan perdu liar yang tumbuh di daerah beriklim tropis atau sedang. Misalnya, negara India, Nepal, Thailand, Laos, Kamboja, Indonesia, Columbia, Jamaica, termasuk juga Rusia Bagian Selatan, Korea, dan Iowa (AS). • Hasish, yaitu: getah ganja yang dikeringkan dan dipadatkan menjadi lempengan. • Kokain, yaitu: alkaloida dari jenis tumbuhan Erythroxylon Coca, yakni tumbuhan di lereng Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Sejak berabad silam, orang Indian Inca suka mengunyah daun coca dalam upacara ritual, menahan lapar dan letih. Kokain ini menjadi narkoba yang sangat membahayakan, sebab dampak ketergantungannya sangat tinggi, bahkan saat dilakukan percobaan pada binatang di laboratorium, binatang itu memilih kokain, dibandingkan dengan makanannya sendiri, sampai akhirnya mati, karena overdosis. • Opium, yaitu: getah dari kotak biji tumbuhan Papaver Somniferum yang belum matang. Bila kotak biji tersebut diiris, maka keluarlah getah yang berwarna putih, seperti air susu, yang jika dikeringkan akan menjadi sejenis karet berwarna kecoklatan. b. Jenis Psikotropika Jenis ini, antara lain: • Amphetamine dan ATS (Amphetamine Type Stimulant) adalah stimulan susunan syaraf pusat, seperti: kokain, kafein, nekotin, dan chatine. Semua bahan tersebut, digunakan manusia sebagai sarana mengatasi ketegangan jiwa. • Shabu, itu adalah nama lain dari amfetamin. • Obat tidur atau obat penenang, seperti: Nipam, Megadon, dan Pil BK, termasuk zat yang dapat menimbulkan halusinasi, antara lain: LSD, Psilosibin, dan Mushroom. • Ice (baca ais), ini bentuk baru dari Amphetamine, biasanya dalam bentuk Kristal yang dapat dihisab. • Inhalansia, merupakan kelompok bahan kimia yang menghasilkan uap, sehingga dapat mengubah perilaku, seperti: aerosol, bensin, perekat, solvent, dan butyl nitrites (pengharum ruangan).

87 c. Jenis Zat Adiktif Jenis ini, meliputi: Narkoba! Jarum kematian sia-sia. • Nicotin, ia bagian dari tembakau. Setiap satu batang rokok, terdapat 1.1 mg nikotin, sementara nikotin sendiri menjadi stimulan susunan syaraf pusat. Selain nikotin, daun tembakau terdapat ratusan zat lainnya, misalnya Tar. • Alkohol, di dalamnya ada etanol. Kadar alkohol, diperoleh dari fermentasi. Di antara alkohol yang sangat beracun adalah metyil alcohol. 4. Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Banyak cara yang dapat dilakukan, agar tidak terjadi penyalahgunaan narkoba, baik yang berasal dari internal pribadi, orang tua/keluarga, maupun masyarakat. Khusus dari diri sendiri, hal yang dapat dilakukan, antara lain: • Mencintai dan mensyukuri hidup yang merupakan anugerah Allah Swt. • Temu-kenali dan kembangkan daya, minat, dan bakat, serta hobi kalian. • Setiap orang memiliki problema tersendiri. Hadapi dan cari solusinya dengan benar, jangan malah dihindari dan lari dari masalah, apalagi pelariannya ke narkoba. • Memiliki teman akrab itu pilihan, hanya yang menjadi masalah adalah mengorbankan diri demi pertemanan, padahal jelas-jelas itu tidak benar. Dibuai oleh ajakan, bujukan dan paksaan teman. • Berani berkata tidak, serta menolak ajakan teman untuk penyalahgunaan narkoba, atau perbuatan lainnya yang menentang ajaran agama dan hukum. • Pencegahan penyalahgunaan narkoba dimulai dari lingkungan orang tua/keluarga, sekolah, komunitas, tempat kerja sampai pada masyarakat luas, melalui kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi dengan menggunakan beragam media. • Ciptakan lingkungan keluarga dan sekolah yang sehat, harmonis, peduli, terbuka, penuh perhatian dan tanggung jawab serta kasih dan sayang. • Jangan merokok dan minum minuman keras (miras), karena menjadi pintu awal penyalahgunaan narkoba. Di seluruh dunia, setiap hari ada Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

88 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 10.000 orang mati karena merokok, sedangkan di Indonesia setiap tahun ada 57.000 yang mati disebabkan merokok. Data berikut ini (meskipun data ini agak lama, tentu lebih memprihatinkan lagi jika ditelaah data terbaru), menggambarkan betapa narkoba, sudah sangat membahayakan bagi kelangsungan negara Indonesia. BNN (Badan Narkotika Nasional) sendiri bertekad Indonesia harus bebas narkotika tahun 2015 (tekad yang sangat meleset), karena buku ini disusun tahun 2020. Data ini diperoleh dari Editorial Media Indonesia tanggal 31 Mei 2012, yaitu: INDONESIA dalam situasi darurat narkoba. Serbuan barang laknat itu dari luar negeri kian menjadi-jadi. Peredarannya semakin menggila dan menjerat seluruh lapisan masyarakat. Kini, tidak ada satu pun tempat di negeri ini yang steril dari narkoba. Indonesia yang dulu cuma dijadikan transit oleh sindikat internasional sekarang naik kelas menjadi destinasi penjualan. Narkoba bahkan mulai diproduksi di dalam negeri. Serbuan narkoba dari mancanegara bak banjir bandang. Pada pertengahan Mei lalu, misalnya, sabu asal China seberat 351 kg senilai sekitar Rp702 miliar disita jajaran Polda Metro Jaya. Sabu yang bisa meracuni lebih dari 3 juta jiwa itu sempat lolos dari Pelabuhan Tanjung Priok. Dua pekan berselang, giliran Badan Narkotika Nasional (BNN) menyita hampir 1,5 juta butir ekstasi. Nilai pil gedhek yang juga berasal dari China itu tak tanggung-tanggung pula, lebih dari Rp 400 miliar. Dari dua kasus yang terungkap itu saja cukup membuat kita geleng-geleng kepala. Belum lagi penangkapan-penangkapan yang lain. Narkoba yang diperkirakan lolos jauh lebih besar. Data BNN menunjukkan 49,5 ton sabu, 147 juta butir ekstasi, 242 ton ganja, dan hampir 2 ton heroin lepas dari jerat petugas sepanjang 2011. Barang haram bermacam jenis itu mengalir deras, membius pecandu, dan mencari mangsa baru. Bagi mafia narkoba internasional, Indonesia ibarat surga. Ratusan juta penduduk merupakan pasar empuk untuk mengeruk fulus. Tak kurang

89 dari Rp1 triliun setiap hari mereka kantongi dengan tumbal 15 ribu warga Indonesia setiap tahun mati. Ironisnya, penegak hukum terus saja lembek menghadapi keberingasan sindikat narkoba. Sengaja atau tidak, kemudahan demi kemudahan diobral buat para penghancur masa depan bangsa itu. Masih sering kita dapati hakim memvonis ringan bandar, padahal undang-undang mengamanatkan kepada mereka untuk menghukum seberat-beratnya pelaku kejahatan narkoba. Terpidana narkotika juga nyaman di balik jeruji besi. Penjara yang semestinya membuat mereka jera malah menjadi tempat paling aman untuk mengendalikan bisnis terlarang itu. Penjahat narkotika kini bahkan punya benteng terakhir bernama grasi. Contohnya pun belum lama terpampang, yakni ketika Schapelle Corby mendapat hadiah pengurangan hukuman lima tahun oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Berkali-kali kita diingatkan bahwa narkoba merupakan extraordinary crime, kejahatan luar biasa, sehingga mutlak disikapi dengan ketegasan yang luar biasa pula. Narkoba merupakan malapetaka yang nyata, tetapi penegak hukum hingga Presiden malah lunglai memberangusnya. Dalam lirik tembang Koes Plus, orang bilang tanah kita tanah surga karena keindahan dan kesuburan alamnya. Sayang, Indonesia kini juga menjadi surga narkoba. Lebih celaka lagi, surga itu ikut diciptakan pengelola negara yang semestinya menghadirkan neraka bagi penjahat narkotika. Narkoba menjadi hal serius. Jika tidak ditangani komprehensif (terpadu dan menyeluruh), bukan hanya mengakibatkan kerugian ekonomi, tetapi juga degradasi sumber daya manusia, lost generation, termausk juga kejahatan ikutannya seperti korupsi, pencucian uang, pejambretan, hingga perampokan. Belum lagi persebaran HIV AIDS dan Hepatitis. Perlu kita sadari bersama, bahwa lokasi Indonesia sangat strategis dalam peredaran narkoba internasional, sehingga risiko narkoba yang bakal masuk ke Indonesia pun semakin besar. Mengutip data dari BNN, khususnya dari Direktorat Tindak Pidana Narkoba, per Maret 2012 telah disita ganja dengan total 23.891.244,25 gr, pohon ganja (stalks) 1.839.664, luas area penanaman ganja 305,83 Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

90 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Ha, dan bibit ganja 4,38 gr. Data ini, menjadi realitas yang sangat memprihatinkan dan menyesakkan dada bagi siapa saja yang mencintai Indonesia. Berdasarkan gambaran tersebut, setiap kita, siapa pun orangnya, harus menyadari madharat/bahaya besar khamr, karena bahaya latennya melingkupi keluarga kita, yang terkena tidak mengenal batas usia, jenis profesi, bahkan agama. Sebab itu, Islam memberi solusi yang integratif dan komprehensif, baik dilihat dari sanksi hukum; narkoba di dunia, serta ketetapan pidana yang terkait dengan narkoba yang dikelompokkan menjadi 10. Mereka itu adalah produsen, distributor, pemakai, kurir, penjual, pemesan, pembayaran dan pemakai hasil narkoba. Aktivitas 3.5 Aktivitas Peserta Didik: Kelas dibagi menjadi 3 kelompok, lalu silakan pelajari data penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar, lalu bagaimana dampak negatifnya bagi dunia pendidikan di Indonesia menyongsong Generasi Emas Indonesia. Persiapkan juga buku catatan, atau laptop yang kalian miliki untuk presentasi. Lalu setelah mengetahui data yang ada, apa yang harus kalian lakukan, agar tidak terjadi penyalahgunaan narkoba bagi diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekolah kalian! H Penerapan Karakter Setelah menelaah materi Menjauhi Perkelahian Antarpelajar, Miras dan Narkoba, diharapkan peserta didik dapat membiasakan karakter dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut. No Butir Sikap Nilai Karakter 1 Menata diri sejalan dengan aturan agama, sehingga dapat menjauhi perkelahian antar pelajar, minum minuman keras (miras), dan narkoba. Religius

91 No Butir Sikap Nilai Karakter 2 Tidak akan mencoba narkoba, karena sekali mencoba, akan menghempaskan masa depan, menghabiskan harta benda, dan sanksi akhirat yang lebih menyakitkan akan menunggu. Religius, tanggung jawab, peduli lingkungan 3 Setiap pribadi muslim harus memiliki tanggung jawab untuk tidak melakukan perkelahian antar pelajar, minum minuman keras (miras), dan narkoba, sehingga dunia ini menjadi aman, tenteram dan damai. Tanggung jawab, peduli lingkungan 4 Aktif di kegiatan berbagai kegiatan yang positif, baik di sekolah maupun lingkungar sekitar rumah, sehingga terhindar dari perkelahian antarpelajar, minum minuman keras (miras) dan narkoba. Tanggung jawab, peduli lingkungan 5 Berjanji kepada diri, keluarga dan masyarakat untuk perkelahian antar pelajar, menghindari minum minuman keras (miras), dan narkoba. Aktif juga menjadi generasi muda (pelajar) pelopor dalam pola hidup sehat, jauh dari miras dan narkoba. Tanggung jawab, peduli lingkungan I Refleksi Perkelahian pelajar, kata sebagian orang menjadi hal yang lumrah, meskipun jika ditelaah dari sudut pandang Islam, perbuatan itu harus dipertanggungjawabkan, karena pelakunya sudah balig. Di setiap kelas, pasti ada yang menjadi pengurus OSIS, maka dibantu Ketua cobalah menyusun makalah sebanyak 3 lembar saja, boleh ditulis tangan atau cara yang lain tentang apa faktor, mengapa, siapa dan tempatnya di mana, sehingga terjadi perkelahian pelajar di internal atau eksternal sekolah kalian! Hasilnya dipresentasikan, sementara guru dan perwakilan kelas menilai dan memberi tanggapan atas presentasi yang dilakukan! Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

92 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI J Rangkuman 1. Perkelahian pelajar, dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu: (1) Delikuensi Situasional, yakni perkelahian terjadi karena adanya situasi yang mengharuskan mereka untuk berkelahi, dan (2) Delikuensi Sistematik, yakni: para pelajar yang terlibat dalam perkelahian itu berada di dalam suatu organisasi tertentu atau Geng. Faktor penting adanya perkelahian pelajar, antara lain: a) Rational Choice, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor individu. b) Social Disorganization, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor lingkungan. c) Strain, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor tekanan yang besar dari masyarakat. d) Differential Association, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor salah pergaulan. e) Labbeling, yaitu adanya perkelahian pelajar disebabkan faktor terbiasa dicap sebagai pelajar yang nakal. 2. Khamr adalah jenis minuman dan makanan yang dapat memabukkan dan menghilangkan kesadaran seseorang. Makna lain adalah segala apapun yang memabukkan atau merusak akal sehat. Berlandaskan pengertian tersebut, segala jenis narkoba, minuman keras termasuk makna dari khamr. 3. Termasuk jenis khamr adalah alkohol yang merupakan zat kimia yang dipergunakan untuk beragam keperluan di dunia medis, antara lain disinfektan, pembersih, pelarut, bahan bakar, dan sebagai campuran zat kimia lainnya. Penggunaan alkohol dalam makna terakhir, tidak masuk dalam kategore khamr, dan itu berarti diperbolehkan (tidak haram) 4. Tidak pernah coba-coba memakai atau meminum khamr, karena bahaya dan madharatnya sangat besar, baik bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Khamr termasuk rijs, yakni sikap dan perbuatan yang amat sangat tercela, buruk, keji, jijik, kotor, bahkan bisa bermakna najis.

93 5. Narkoba adalah singkatan dari nar = Narkoba; ko = Psikotropika; dan ba = Bahan-bahan adiktif (alkohol, rokok, kopi, dan lain sebagainya). 6. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. 7. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. 8. Zat Adiktif adalah obat serta bahan-bahan aktif yang jika dikonsumsi oleh organisme hidup, menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus menerus 9. Segala jenis obat psikotropika dan narkotika, meski tidak mengandung alkohol, ia tetap haram digunakan. Sebab, dampak negatifnya sangat buruk sekali, baik dilihat dari sisi akal pikiran, kesehatan, harta benda maupun kepribadian bagi semua. K Penilaian 1. Penilaian Sikap Penilaian Diri Berilah tanda centang (√) pada kolom berikut dan berikan alasannya! No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 1 Hidup ini memang memilih, dan setiap pilihan pasti diminta pertanggungjawaban. Sebab itu, saya pilih kegiatan positif dan menjauhi aktivitas negatif, seperti perkelahian, miras dan narkoba. Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

94 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 2 Semua pihak, harus menghindari melabeli seseorang sebagai pelajar yang nakal. Karena jika tidak, pelajar nakal itu akan terus menjadi pelajar nakal, karena label tersebut sudah merasuk di dalam dada. 3 Tidak pernah menggunakan miras dan narkoba, karena berdampak sangat negatif bagi semua, baik dilihat dari sisi akal pikiran, kesehatan, harta benda maupun kepribadian seseorang. 4 Jika timbul masalah, maka masalah itu diselesaikan hilang bersama waktu, tanpa perlu menggunakan miras dan narkoba. 5 Merokok itu boleh saja, karena bahayanya sangat kecil, meski ia termasuk zat adiktif. Catatan: S= Setuju, R=Ragu, TS= Tidak setuju 2. Penilainan Pengetahuan Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E pada pernyataan di bawah ini sebagai jawaban yang paling tepat! 1. Kenakalan pelajar atau remaja, menurut Sarlito W. Sarwono adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum yang bentuknya adalah … A. diketahui sendiri hukumannya B. tidak diketahui sanksinya C. melanggar disiplin D. melawan petugas E. ikut-ikutan

95 2. Adanya perkelahian pelajar dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya karena faktor yang dikenal dengan sebutan Social Disorganization yang maksudnya adalah … . A. faktor tekanan yang besar dari masyarakat B. disebabkan faktor individu dan keinginan pribadi C. perkelahian pelajar disebabkan faktor lingkungan D. pelajar itu sendiri yang salah memilih pergaulan E. beragam penyebab yang multi fungsi 3. Penanganan pelajar yang menyimpang, membutuhkan banyak cara yang intinya difokuskan kepada pribadi pelajar, antara lain: … . A. kepentingan besar dari yang empunya kebutuhan B. kemurnian hati dan tidak bersyarat bagi yang menangani C. melibatkan banyak unsur yang menangani situasi dan kondisi D. posisi pelajar sendiri dengan problema yang dibuat E. kebesaran niat untuk melakukan perbaikan 4. Khamr adalah segala apapun yang memabukkan atau merusak akal sehat. Berlandaskan pengertian tersebut, yang termasuk makna dari khamr adalah … . A. segala jenis narkoba termasuk makna dari khamr B. zat yang mempengaruhi perasaan dan keinginan C. jenis bahan yang dapat mengubah kekalutan D. bahan-bahan tanaman yang tumbuh di bukit E. semua jenis zat yang merusak keimanan 5. Berdasarkan Q.S. al-Māidah/5: 91, banyak akibat buruk yang didapatkan, apabila seseorang itu meminum khamr dan melakukan maisir, yaitu: … . A. derajat dan martabatnya jauh dari jalan Allah Swt. B. pola pikirnya runtuh dan kemalasan yang terus menerus C. kepentingan jangka pendek dan jauh semakin berpadu D. iman yang menjadi penopang mencari rezeki menjadi turun E. tidak shalat, jauh dari Allah, timbul permusuhan dan kebencian 6. Allah Swt. tidak serta merta mengharamkan sesuatu, tetapi terlebih dahulu pola pikir dan jiwa manusia diajak untuk bersama-sama Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

96 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI menilainya, sehingga ini wajib dan itu haram. Berikut ini, merupakan ayat yang terakhir menjelaskan tentang khamr, yakni: A. Q.S. al-Māidah/5: 90 B. Q.S. al-Māidah/5: 191 C. Q.S. al-Māidah/5: 195 D. Q.S. al-Māidah/5: 196 E. Q.S. al-Māidah/5: 197 7. Begitu berbahayanya khamr dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, termasuk kelangsungan bangsa dan negara, maka sikap tepat yang perlu dilakukan adalah … . A. keandalan dalam menggunakan zat dan bahan B. mengerem kehendak dan keinginan yang berlebih C. lebih jitu dalam memperlakukan semua hal yang terkait D. tidak pernah coba-coba memakai atau meminum khamr E. memperlakukan zat atau bahan tersebut secara wajar 8. Melalui Q.S. al-Nahl/16: 67, terdapat 2 buah yang diterangkan oleh Allah Swt. kepada manusia, yang dari buah-buahan tersebut bisa dijadikan sebagai khamr atau rezeki yang halal. Dua buah tersebut adalah … . A. delima dan anggur B. mangga dan kurma C. kurma dan anggur D. anggur dan mangga E. tin dan zaitun 9. Khamr itu kebiasaan (buruk). Karena itu, perlu diluruskan secara bertahap. Berikut ini, cara yang dicoba diluruskan, yaitu: A. menggerakkan rasa keagamaan dan jiwa manusia, agar berhenti B. berpalingnya kebiasaan yang menopang perilaku manusia C. dikembalikan fungsi iman ke dalam dada manusia D. ketahanan diri dan keluarga menghadapi ujian E. menumbuhkan perasaan malu dan peduli 10. Penyalahgunaan narkoba merupakan gangguan perilaku dan perbuatan anti sosial. Berikut ini tanda-tandanya, yaitu: … . A. ide dan gagasan yang tidak menyatu B. tekad rendah dan minat yang bertambah C. jiwa yang kurang dan sentimen bertambah

97 D. berbohong, membolos, minggat, dan malas E. berubah fungsi dan keinginan yang optimal Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar! 1. Sebutkan 3 usaha, agar tidak terjadi perilaku menyimpang di kalangan pelajar? 2. Perhatikan dengan cermat Q.S. al-Māidah/5: 90 ini! ٌ ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْر ُ وَالْمَيْسِر ُ وَالْاَنْصَاب ُ وَالْاَزْلَام ُ رِجْس )90 :( املاۤئدة/5 مِّن ْ عَمَل ِ الشَّيْطٰن ِ فَاجْتَنِبُوْه ُ لَعَلَّكُم ْ تُفْلِحُوْن َ ﴾ Sebutkan 3 isi dan kandungan ayat tersebut! 3. Sebutkan masing-masing dari jenis narkotika dan psikotropika? 4. Di antara 2 jenis zat adiktif adalah nikotin dan alkohol, jelaskan secara singkat dampak negatif bagi yang menggunakan! 5. Sebutkan 5 cara mencegah penyalahgunaan narkoba? 3. Penilaian Keterampilan a. Penilaian Proyek Aktivitas 3.6 Aktivitas Peserta Didik: Setiap kelas dibagi menjadi 6 kelompok. Buatlah telaah tentang data terakhir (2020) pelajar 6 provinsi Indonesia yang menyalahgunakan narkoba. Setiap kelompok melakukan telaah di povinsi: 1. Kelompok I di provinsi DKI Jakarta 2. Kelompok II di provinsi Bali 3. Kelompok III di provinsi Sumatera Utara (Sumut) 4. Kelompok IV di provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) 5. Kelompok V di provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) 6. Kelompok VI di provinsi Papua Bab 3: Menghindari Perkelahian Pelajar, Minuman Keras, dan Narkoba

98 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI b. Penilaian Praktik Kelompok: Kelas dibagi 6 kelompok, sesuai dengan Penilaian Proyek yang sudah dilaksanakan. Lalu dipresentasikan dan didiskusikan sesuai dengan tugasnya, lalu membuat kesimpulan tentang kondisi narkoba di 6 provinsi tersebut, sementara itu GPAI memberikan penilaian dari masing-masing kelompok. Individual: Setiap peserta didik di masing-masing kelas, membuat telaah tentang data perkelahian pelajar di kabupaten/kotanya. Hasilnya dikumpulkan 10 hari ke depan! Sementara itu, GPAI bersama siswa lainnya memberikan tanggapan dan penilaian dari presentasi 6 kelompok dari masing-masing kelas. c. Penilaian Portofolio Tuliskanlah semua aktivitas keagamaan kalian, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat pada buku Penilaian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti! L Pengayaan Miras merupakan nenek moyang (induk) dari segala kejahatan dan kemaksiatan. Coba buktikan kebenarannya, baik dikaji dari sudut nash (dalil naqli) maupun realitas masa kini. Jawabannya harus kisah nyata. Boleh ditulis tangan, atau cara yang lain. Cukup 2-3 lembar saja. Sumber rujukannya harus ditulis lengkap!

Bab 4 Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2021 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Abd. Rahman dan Hery Nugroho ISBN: 978-602-244-684-2

100 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kalian dapat: 1. Menganalisis ketentuan dakwah, khutbah, dan tablig. 2. Menyusun teks khutbah dengan tema nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. 3. Menerapkan ketentuan dakwah, khutbah, dan tablig. 4. Membiasakan sikap menebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin. B Kata Kunci • Dakwah • Tawasuth • Khutbah • Hadats • Tablig • Syahadatain • Radikal • Mujadalah • Teror C Infografis MENEBARKAN ISLAM SECARA SANTUN DAN DAMAI MELALUI DAKWAH, KHUTBAH, DAN TABLIG Dakwah • Pengertian • Dalil naqli • Adab tablig • Sasaran dan tujuan dakwah • Syarat dan • metode dakwah • Media dan manajemen dakwah Khutbah • Pengertian • Syarat khatib • Syarat dua khutbah • Rukun khutbah • Sunnah khutbah • Adab shalat jumat • Adab shalat idhain • Praktik khutbah Tablig • Pengertian • Dalil naqli • Ketentuan tablig • Tata cara tablig • Praktik tablig 1 2 3

101BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig D Ayo Tadarus 1. Ayo membiasakan tadarus Al-Qur’an, baik materi ajarnya aspek Al- Qur’an dan Hadis, maupun aspek Keimanan, Fikih, Akhlak, dan Sejarah Peradaban Islam (SPI) sebelum pembelajaran dimulai. 2. Mari tadarus Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid dan makhārijul huruf. Semoga melalui pembiasaan ini, Allah Swt. selalu memberikan petunjuk dan kemudahan dalam memahami materi ajar ini, dan mampu menerapkan nilai-nilai yang dikandungnya dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn. Aktivitas 4.1 Aktivitas Peserta Didik: Saatnya, kita tadarrus Q.S. Ali-Imrān/3: 104, dan Q.S. al-Nahl/16: 125 berikut ini, lalu salah satu peserta didik membacakan terjemahnya! َ ﴿ وَلْتَكُن ْ مِّنْكُم ْ اُمَّة ٌ يَّدْعُوْن َ اِلَى الْخَيْر ِ وَيَأْمُرُوْن َ بِالْمَعْرُوْف ِ وَيَنْهَوْن )104 :( اٰل عمران/3 َ عَن ِ الْمُنْكَر ِ ۗ وَاُولٰۤىِٕك َ هُم ُ الْمُفْلِحُوْن َ ﴾ ْع ُ اِلٰى سَبِيْل ِ رَبِّك َ بِالْحِكْمَة ِ وَالْمَوْعِظَة ِ الْحَسَنَة ِ وَجَادِلْهُم ْ بِالَّتِي ْ هِي﴿ اُد اَحْسَن ُۗ اِن َّ رَبَّك َ هُو َ اَعْلَم ُ بِمَن ْ ضَل َّ عَن ْ سَبِيْلِه ٖ وَهُو َ اَعْلَم ُ بِالْمُهْتَدِيْن َ ﴾ )125 :( النحل/16 E Tadabbur Aktivitas 4.2 Aktivitas Peserta Didik: Amati gambar atau ilustrasi berikut ini! Lalu berilah tanggapan kalian yang dikaitkan dengan materi ajar yang dipelajari, yakni: Dakwah, Khutbah, dan Tablig!

102 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Gambar 4.1 Berikan kesempatan anak muda berkecimpung di bidang dakwah Gambar 4.2 Laki-laki dan perempuan berhak melakukan dakwah Gambar 4.3 Contoh Dakwah Bil Hal Gambar 4.4 Tablig Akbar F Kisah Inspiratif Aktivitas 4.3 Aktivitas Peserta Didik: Pahami dan renungkan artikel berikut ini, sebagai bagian dari pemahaman materi ajar yang akan dipelajari!

103 Dai Pemberani Kekalahan umat Islam di perang Uhud, membangkitkan kemarahan orang badui di sekitar Madinah tentang dendam lama yang terpendam. Namun tanpa curiga, Rasulullah Saw. memberikan sambutan baik bagi yang ingin memeluk Islam. Karena itu, mereka meminta para juru dakwah (dai) hadir di kampungnya. Akhirnya, diutus enam sahabat. Mereka berangkat bersama para pedagang Arab. Sesampai di kampung ar-Raji, wilayah kekuasaan suku Huzail, para pedagang itu tiba-tiba melakukan penyerangan kepada enam sahabat tersebut, sambil meminta bantuan kepada kaum Huzail. Keenam dai itu siap melakukan perlawanan, setelah sadar mereka dijebak. Para pedagang licik itu berteriak, “Sabar! Kami tidak bermaksud membunuh atau menganiaya kalian. Cuma ingin menangkap untuk dijual ke Makkah sebagai budak. Keenam sahabat dalam posisi sulit, bahkan bisa jadi terbunuh. Mereka bertakbir sambil menyerang dengan tangkas. Terjadilah pertempuran yang seru antara enam lawan begitu banyak orang. Pihak pedagang sudah banyak yang menjadi korban. Akhirnya, tiga sahabat tertusuk musuh dan langsung gugur. Seorang lagi menyusul syahid. Akhirnya, sisa dua orang; Zaid bin Addutsunah dan Khubaib bin Adi. Apa daya dua orang pejuang, menghadapi begitu banyak musuh? Selang beberapa saat, keduanya dapat dilumpuhkan dan ditawan. Lalu diangkut menuju pasar budak di Makkah. Zaid dibeli oleh Shafwan bin Umayyah. Ayah Shafwan, Umayyah bin Khalaf, adalah majikan Bilal dan Amir bin Fuhairah. Umayyah terkenal kejam kepada budak-budaknya. Bilal pernah dijemur di tengah terik matahari dengan badan ditindih batu. Untung Bilal ditebus oleh Abu Bakar dan dimerdekakan. Orang Habsyi ini kemudian terkenal sebagai sahabat dekat Rasulullah Saw. dan diangkat sebagai muadzin. Saat perang Badar, Umayyah berhadap-hadapan dengan Bilal, dan berhasil membunuhnya, sedangkan Khubaib diambil oleh Uqbah bin al- BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

104 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Harits dengan tujuan yang sama, seperti maksud Shafwan membeli Zaid, yakni balas dendam kepada umat Islam. Lalu orang Quraisy menyeret Zaid menuju Tan’im (tempat miqat umrah). Di tempat itu, Zaid menjalani hukuman pancung. Menjelang algojo melaksanakan tugasnya, pemimpin kaum musyrik, Abu Sufyan bertanya, “Zaid, apakah Anda senang seandainya di tempatmu ini digantikan Muhammad, sedangkan Anda hidup tenteram bersama keluargamu di rumah?” “Janganlah begitu,” bantah Zaid dengan keras. “Meski dalam keadaan begini, aku tidak rela Rasulullah tertusuk duri yang paling kecil di rumahnya.” Abu Sufyan marah. Zaid akhirnya menyusul temannya menjadi syuhada. Di hati Abu Sufyan dan orang Quraisy timbul keheranan akan kesetiaan para sahabat kepada Muhammad. Abu Sufyan berucap kagum, “Aku tidak pernah menemukan seorang yang begitu dicintai oleh para sahabat, seperti Muhammad”. ”Sesudah Zaid gugur, rombongan lain menyeret Khubaib. Sesuai dengan hukum qishas, ia diberi hak menyampaikan permohonan terakhir. Ia meminta izin shalat sunnah 2 rakaat. Permohonan dikabulkan, Khubaib melaksanakan ibadahnya dengan baik. Setelah salam, ia berkata, “Demi Allah. Andaikata bukan karena takut disangka aku gentar menghadapi maut, maka shalatku akan kulakukan lebih panjang.” Akhirnya Khubaib menjadi syahid, menyusul lima sahabat lainnya. Namun, semangat dakwah yang dilandasi keikhlasan untuk menyebarkan ajaran kebenaran, takkan pernah padam dari permukaan bumi. Semangat itu terus bergema, sehingga makin banyak jumlah pendakwah yang dengan kekuatan sendiri, menyelusup keluar-masuk pedalaman, berbatu-batu karang atau berhutan-hutan belantara, untuk menyampaikan dakwah atau melakukan tablig. (Sumber: Disadur dari 1001 Kisah Teladan, Islamic Electronic Book)

105 G Wawasan Keislaman Aktivitas 4.4 Aktivitas Peserta Didik: Bentuk kelas kalian menjadi 3 kelompok. Lalu, setiap kelompok mendapatkan sub-materi dari materi ajar yang akan dipelajari, yakni Dakwah, Khutbah, dan Tablig, agar dikaji, dipahami dan dipelajari. Hasilnya dipresentasikan! Menjadi Duta Islam yang Damai Hanya ulah sebagian oknum atau kelompok yang mengatasnamakan Islam, Islam dituduh yang bukan-bukan, misalnya Islam itu keras, kasar, tidak toleran, reaktif, dan tidak santun. Tuduhan tersebut memang menyakitkan, maka jika ingin membela Islam, kita harus menggunakan cara-cara yang benar, santun, dan mendamaikan. Bukan malah menambah cara yang membabi buta, tidak santun, apalagi menakutkan. Mayoritas umat Islam, banyak yang memilih diam, jika berhadapan dengan persoalan yang rumit, contohnya aksi teror bom oleh sebagian oknum; ikhtiar memerangi kemaksiatan dengan cara-cara yang kasar dan menakutkan; mau menang sendiri saat mengutarakan argumen atau lebih unggul karena mayoritas, serta sangat abai dengan keberagaman. Semua pandangan itu tentu tidak benar, dan harus dicari solusi yang tepat. Belajar dari Sirah Rasulullah Saw., kita mendapatkan banyak hikmah tentang bagaimana Islam itu harus dibawa dan diperjuangkan. Islam diajarkan oleh beliau dengan kelemahlembutan, santun, damai dan akhlak yang baik. Bahkan tidak pernah menggunakan cara-cara tetor dan menakutkan. Melalui cara seperti itu, akhirnya banyak pihak atau kelompok yang awalnya antipati kepada Islam, berubah menjadi pemeluk dan pembela Islam yang sejati. Sabda Rasulullah Saw.: إِن َّ الل َّٰ رَفِيْق ٌ يُحِب ُّ الرِّفْق َ فِي ْ الأَمْر ِ كُلِّه ِ (رواه البخاري) BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

106 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Artinya: Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Lembut, dan mencintai kelembutan dalam segala hal.” (HR. al-Bukhāri) Harus kita sadari bersama bahwa saat ini kita (umat Islam) kurang duta Islam yang damai. Mayoritas umat, memang bersikap damai, hanya sikap mayoritas diam, maka panggung sejarah (media) dimanfaatkan sekelompok kecil yang anarkis, tidak toleran, dan wajah muslim yang marah. Sebab itu, diperlukan upaya bersama untuk melawan kesewenang-wenangan tersebut, dan upaya ini harus dilakukan oleh mayoritas umat. Lalu, dimulainya dari mana, dan forum apa yang dapat dipakai untuk membendung citra Islam yang kurang bagus? Jawabannya, tentu dari sekelompok umat yang mengambil peran sebagah dai, khatib, dan mubalig, mereka inilah yang berada di garda terdepan mendakwahkan Islam, kelompok profesi yang banyak menyuarakan nilai-nilai Islam, melalui beragam kegiatan yang dilakukan, misalnya dalam forum Majelis-majelis Dakwah, Khutbah Jum’at, dan Tablig Akbar. Dakwah, khutbah, dan tablig membutuhkan manajemen yang profesional. Sebab, ketiganya memadukan beragam sumber daya yang ada untuk mengajak pihak internal dan pihak eksternal untuk memeluk, mencintai, dan mengamalkan ajaran Islam, atau menyempurnakan nilai ajaran yang sudah terhujam di dada setiap muslim (internal). Di antara faktor penting keberhasilan ketiganya adalah memulai dan mengamalkan terlebih dahulu ajaran Islam kepada diri sendiri, keluarga terdekat, baru kemudian mengajak pihak lain. Ketidakberhasilan dakwah, khutbah, dan tablig dewasa ini, banyak disebabkan karena mereka yang semestinya menjadi contoh atau panutan, malah menerjang dan tidak mematuhi ajaran yang disampaikan. Laksana pagar makan tanaman, tidak satunya kata dengan perbuatan. Pepatah bijak mengatakan: ”Semestinya ia menerangi orang lain, namun yang terjadi ia malah terbakar sendiri.” Berikut ini, rincian tentang Dakwah, Khutbah dan Tablig, yaitu: 1. Dakwah a. Pengertian Merujuk arti bahasa, kata “dakwah” merupakan mashdar (kata dasar) dari kata da’a (ًدَعَى - يَدْعُو ْ - دَعْوَة) yang mempunyai arti mengajak, memanggil,

107 dan menyeru untuk hal tertentu. Orang yang melakukan pekerjaan dakwah disebut dai (laki-laki) dan daiyah (perempuan). Jika ditinjau dari makna istilah, ada beberapa pengertian dakwah, yaitu: 1. Setiap kegiatan yang mengajak, menyeru, dan memanggil orang atau kelompok orang untuk beriman kepada Allah Swt. sesuai dengan ajaran akidah (keimanan), syariah (hukum) dan akhlak Islam. 2. Kegiatan mengajak orang lain ke jalan Allah Swt. secara lisan atau perbuatan untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari supaya mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat. 3. Kegiatan mengajak orang-orang untuk mengamalkan ajaran Islam di dalam kehidupan sehari-hari. 4. Seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha untuk mengubah agar keadaannya lebih baik lagi, baik sebagai pribadi maupun masyarakat. Tersimpul dari pengertian tersebut, dakwah adalah mengajak orang lain untuk meyakini kebenaran ajaran Islam dan mengamalkan syariat Islam, agar tercapai pola hidupnya lebih baik, sehingga tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dakwah tidak hanya berupa tablig, khutbah, dan majelis taklim. Dakwah cakupannya sangat luas, seluas kehidupan setiap muslim. Dakwah tidak mesti berbicara dan berceramah, tetapi setiap perbuatan sehari- hari yang mencerminkan tata nilai Islam, seperti berpakaian menutup aurat, tidak menyontek saat ujian, berbicara yang santun yang sopan, menghindari berita hoax, rajin bersilaturahmi, semua itu sudah bagian dari dakwah. Keberhasilan dakwah sangat ditentukan oleh amaliah dan akhlakul karimah yang dipantulkan dari setiap muslim, apalagi yang berprofesi menjadi dai atau daiyah, tentu banyak faktor lain yang memengaruhi. Menjadi hal yang aneh, jika seorang dai tidak mengamalkan apa yang disampaikan, dan tidak satunya kata dengan perbuatan. Faktor tersebut yang kini banyak menjangkiti para dai, sehingga hasil dakwah tidak banyak memberi pengaruh positif dalam perbaikan kualitas keberagamaan masyarakat, apalagi jika dikaitkan dengan gejala munculnya para dai yang dibesarkan oleh media, misalnya para dai yang biasa dipanggil dengan sebutan ustad seleb (Perhatikan kandungan isi Q.S. ash-Shaf/61: 2-3). BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

108 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI b. Dalil Perlunya Dakwah ِ ﴿ وَلْتَكُن ْ مِّنْكُم ْ اُمَّة ٌ يَّدْعُوْن َ اِلَى الْخَيْر ِ وَيَأْمُرُوْن َ بِالْمَعْرُوْف ِ وَيَنْهَوْن َ عَن )104 :( اٰل عمران/3 الْمُنْكَر ِ ۗ وَاُولٰۤىِٕك َ هُم ُ الْمُفْلِحُوْن َ ﴾ Artinya: Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 104). Perhatikan juga isi kandungan dari beberapa Q.S. Q.S. al-Nahl/16: 125, Q.S. al-Hajj/22: 67, Q.S. al-Qashash/28: 87 yang isinya tentang segala yang terkait dengan dakwah. Gambar 4.6 Seorang Daiyah sedang menyampaikan dakwahnya Dakwah itu bagian kehidupan beragama. Ia merupakan kewajiban agama bagi para pemeluknya. Itulah sebabnya, dakwah bukan sekadar dari inisiatif pribadi, tetapi harus ada sekelompok orang (tha’ifah) yang menjadi juru dakwah. Wujud dakwah juga bukan hanya usaha peningkatan kapasitas keberagamaan, tetapi harus menembus aspek kehidupan, sehingga gerakan dakwah mencakup aspek ekonomi, sosial, politik, dan keamanan. Melalui pemahaman tersebut, dakwah harus menyasar ke banyak aspek kehidupan. Misalnya harus menyentuh di bidang politik; mengentaskan kemiskinan; memberdayakan lembaga pendidikan, menekan angka DO (Drop Out) atau bantuan beasiswa; mengedukasi masyarakat agar saling membantu dan bekerja sama, termasuk juga terlibat aktif dalam memerangi ujaran kebencian dan berita-berita hoax. c. Adab Berdakwah Adab atau etika dakwah yang harus diperhatikan, antara lain:

109 1. Dakwah dengan cara hikmah, yaitu ucapan yang jelas, tegas, dan sikap yang bijaksana. 2. Dakwah menggunakan cara mauidzatul hasanah atau nasihat yang baik, yaitu cara-cara persuasif (damai dan menenteramkan, tanpa kekerasan) dan edukatif (memberikan pengajaran, i’tibar dan pelajaran hidup). 3. Dakwah dengan cara mujadalah, yaitu diskusi atau tukar pikiran yang berjalan secara dinamis dan santun dengan menghargai pendapat orang lain. 4. Dakwah melalui teladan yang baik (uswatun hasanah). Allah Swt. berfirman: َ ْع ُ اِلٰى سَبِيْل ِ رَبِّك َ بِالْحِكْمَة ِ وَالْمَوْعِظَة ِ الْحَسَنَة ِ وَجَادِلْهُم ْ بِالَّتِي ْ هِي﴿ اُد اَحْسَن ُۗ اِن َّ رَبَّك َ هُو َ اَعْلَم ُ بِمَن ْ ضَل َّ عَن ْ سَبِيْلِه ٖ وَهُو َ اَعْلَم ُ بِالْمُهْتَدِيْن َ ﴾ )125 :( النحل/16 Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk (Q.S. an-Nahl/16: 125). d. Tujuan dan Sasaran Dakwah Sasaran dan tujuan dakwah--sejak zaman dulu (mulai Nabi Adam a.s sampai Nabi Muhammad Saw.), bahkan sampai berakhirnya kehidupan--memiliki sasaran yang jelas dan tetap, yakni sebagai berikut: 1. Sasaran Dakwah a) Memberi semangat kepada manusia agar selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas amalnya, dari baik menjadi terbaik, sudah banyak amalnya agar diperbanyak lagi, serta dari yang sekadar mengejar formalitas menuju ke substansi, sehingga profil mukmin yang sejati menjadi nyata adanya. b) Mengubah jalan hidup yang tidak baik menjadi baik, serta yang menyimpang dari aturan Allah Swt. agar kembali ke jalan-Nya BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

110 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI (melalui taubatan nashūhā), sehingga derajat, harkat, dan martabat manusia yang sudah terpuruk dan jatuh ke lembah nista dapat terangkat kembali, dan menjalani kehidupan secara benar. Perhatikan isi kandungan Q.S. al-An’ām/6: 48, dan Q.S. al-Kahfi/18: 57. Banyak contoh yang dapat diketengahkan, misalnya silih bergantinya umat sebelum Nabi Muhammad Saw. Kita kenal kaum Tsamud, kaum ‘Ad, umat Nabi Nuh a.s. dan umat Nabi Luth a.s. Mereka semua dimusnahkan akibat kemaksiatan dan dosa yang dilakukan, kita sebagai umat terakhir, hanya bisa mengambil i’tibar (pelajaran). Contoh lain yang jaraknya terdekat dengan kita baru sekitar 15 abad yang lalu, yakni kaum kafir Quraisy, khususnya di periode Makkah, mayoritas mereka tidak mengenal tatanan yang benar, mulai perbudakan yang merajalela; merebaknya khamr dan perzinaan, sampai derajat manusia dihargai hanya dengan banyaknya kekayaan dan kekuasaan, tanpa mengenal kehormatan dan kemuliaan, lalu diubah menjadi 180% oleh Rasulullah Saw. hanya dalam waktu + 23 tahun. Keberhasilan tersebut dinilai secara tepat oleh Sir George Bernard Shaw dalam karyanya “The Genuine Islam”: (Muhammad Saw.) sukses mengubah Jazirah Arab dari paganisme dan pemuja makhluk menjadi para pemuja Tuhan, dari peperangan dan perpecahan antar suku menjadi umat yang bersatu, dari kaum pemabuk dan pengacau menjadi kaum pemikir dan penyabar, dari kaum yang tidak berhukum dan anarkis menjadi kaum yang teratur … . Sejarah manusia yang tidak pernah terjadi atau sedahsyat ini, dan bayangkan ini terjadi hanya dalam waktu 23 tahun.” 2. Tujuan Dakwah Jika merujuk kepada Q.S. an-Nūr/24: 55, maka tujuan dakwah adalah menyeru dan mengajak segenap manusia agar konsisten/istiqamah dalam: a. Beriman hanya kepada Allah Swt. dan tidak melakukan kemusyrikan (tauhid/akidah); b. Menjadikan seluruh aktivitasnya hanya beribadah kepada Allah Swt. (ikhlas/syariah); c. Mengerjakan amal shaleh dalam arti yang seluas-luasnya (amal ibadah/ muamalah);

111 d. Berakhlak mulia yang tolok ukurnya adalah akhlak Rasulullah Saw. (akhlak/ihsan). Tersimpul bahwa tujuan dakwah adalah mengajak segenap manusia keluar dari jalan kesesatan yang dimurkai, menuju jalan yang benar yang diridhai Allah Swt. (Perhatikan isi dan kandungan Q.S. al-Jin/72: 23; dan Q.S. al-Fajr/89: 27-30). e. Syarat dan Metode Dakwah Banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan dakwah. Faktor terpentingnya adalah inayah Allah Swt., di samping tentu saja dari kepribadian dan karakter dai sendiri, yang menghiasi pribadinya, melebar ke keluarga terdekat, lalu ke masyarakat luas. Itulah sebabnya, seorang dai jika ingin sukses harus memenuhi syarat seperti yang telah dilakukan oleh para rasul, yaitu sebagai berikut: 1. Satunya kata dengan perbuatan, sikap, perilaku dan tingkah lakunya benar-benar menjadi teladan (uswatun hasanah). 2. Memahami objek dakwahnya, sehingga dakwahnya tepat sasaran (Perhatikan isi kandungan Q.S. Ibrāhīm/14: 4), dan Hadis yang artinya: “Berbicaralah kepada manusia sesuai kadar akal mereka.” 3. Memiliki keberanian dan ketegasan, namun tetap bijak dan santun dalam berdakwah. Jalan yang dipilih adalah jalan tengah (tawasuth), damai, dan menenteramkan, meski tidak hilang sikap tegasnya. Kenapa harus santun dan damai dalam berdakwah? Ada beberapa jawaban yang dapat diketengahkan, yaitu: a) Dakwah itu untuk agama Allah Swt. bukan untuk pribadi dai sendiri, golongan dan kelompok atau kaumnya. b) Dakwah itu hakikatnya mengajak, jika disampaikan dengan marah, pihak lain akan menghindar terlebih dahulu, akibatnya bukan dekat, tetapi menjauh. c) Jika dakwah dilakukan denga marah, itu sama artinya menutupi inti Islam sebagai agama yang menyelamatkan, menenteramkan, dan membahagiakan. 4. Memiliki ketabahan dan kesabaran yang tinggi dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan akibat dakwah yang dilakukan. BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

112 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 5. Menyadari dengan sepenuh hati bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan, mengajak, dan menyeru, tentang hasilnya diserahkan sepenuhnya hanya kepada Allah Swt. (Q.S. al-An’ām/6: 159). 6. Selalu berdoa kepada Allah Swt. agar dakwahnya mencapai kesuksesan. Sementara itu, perihal metode dakwah yang harus dilaksanakan, jika mengacu kepada Q.S. al-Nahl/16: 125, maka acuannya sebagai berikut: a) Meluruskan niat, bahwa dakwah itu bertujuan hanya kepada Allah Swt., bukan kepentingan lain, tetapi hanya mencari ridha-Nya. b) Dakwah itu harus bijak (hikmah), mengetahui betul kondisi umat/ jamaahnya, sehingga materi dan metode yang disampaikan tepat mengenai sararan. c) Hindari cara-cara yang memaksa, menakutkan apalagi cara teror, tetapi kedepankan cara mau’idhah hasanah, yakni cara yang damai, indah, santun, menenteramkan dan menyenangkan, sehingga materi dakwah dapat masuk dalam relung hati yang paling dalam. Hal ini, tentu tidak mudah, namun dengan bertambahnya pengalaman, serta selalu memperbaharui rujukan atau bacaan, maka capaian tersebut bukan hal yang mustahil. d) Lakukan dakwah dengan cara ber-mujadalah, yakni melalui dialog, diskusi, bahkan boleh juga berdebat, tetapi tetap menggunakan cara yang beradab, berlandaskan etika diskusi yang baik, serta tidak melakukan debat kusir, apalagi mau menang sendiri. f. Metode Al-Qur’an dalam Menyajikan Materi Dakwah Disebabkan objek dakwah itu manusia, yang memiliki unsur jasmani, akal dan jiwa, maka pendekatan dakwah yang dilakukan juga harus memperlakukan manusia secara utuh. Karena itu, Al-Qur’an menggariskan ciri-ciri sebagai berikut: 1. Saat manusia mendapatkan puncak kesucian (saat menerima wahyu, atau hasil olah batin), Al-Qur’an membawa yang bersangkutan dalam situasi yang bersifat material (Perhatikan Q.S. Thāhā/20: 17, Q.S. al- Qiyāmah/75: 16, dan Q.S. al-Najm/53: 17). 2. Menggunakan benda-benda alam, meski ukurannya kecil, sebagai penghubung antara manusia dengan Allah Swt. atau sebagai gambaran

113 tentang sikap kejiwaannya (Perhatikan Q.S. az-Zumar/39: 5, Q.S. al- Baqarah/2: 264). 3. Menekankan bahwa segala sesuatu yang terjadi di bawah kekuasaan, pengetahuan, dan pengaturan Allah Swt. (Perhatikan Q.S. al-Anfāl/8: 17, Q.S. al-An’ām/6: 59, dan Q.S. ar-Ra’d/13: 15). g. Media Dakwah Penggunaan media dakwah tentu menjadi hal yang niscaya, apalagi kondisi masyarakat modern yang ingin serba cepat, canggih, dan mudah. Sebab itu, media dakwah yang digunakan mencirikan anak zamannya, tidak konvensional, apalagi hanya sekadar ceramah dan mengumpulkan massa dalam jumlah yang besar, setelah itu bubar tanpa bekas. Meskipun demikian, media dakwah yang dapat dipakai bisa dalam bentuk yang paling sederhana, misalnya terbatas pada media lisan dan tulisan, tetapi semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, media dakwah pun semakin lengkap, beragam, multi aspek dan sektor, serta memiliki daya jangkau yang semakin luas. Dakwah itu maknanya luas, tidak hanya ceramah dan berbicara di panggung atau mimbar. Dakwah itu meliputi: tutur kata yang sopan; berpakaian menutup aurat dan rapih; bekerja secara halal dan beretos kerja yang tinggi; menjadi karyawan yang disiplin, jujur dan amanah; konsisten shalat 5 waktu ditambah shalat-shalat sunnah; serta beraneka ragam kegiatan manusia yang sejalan dengan tuntunan Allah Swt. Selanjutnya, media dakwah untuk masa kini dapat menggunakan: (a) Media elektronik, beragam media sosial, TV, radio dan internet. (b) Media cetak, antara lain: buku, jurnal, surat kabar, majalah, spanduk, brosur, pamflet dan lain sebagainya. h. Manajemen Dakwah Faktor lain dari kesuksesan seorang dai, sangat tergantung dengan manajemen dan pola yang digunakan, yang namanya manajemen tidak terlepas dari perencanan, pelaksanakan, dan evaluasi, ditambah prinsip- prinsip lain yang mendukung keberhasilan dakwah. Jika ingin berhasil, setiap dai harus mengacu kepada teladan yang sudah diterapkan oleh Rasulullah Saw. baik ketika di periode Makkah maupun BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

114 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Madinah, yang dikenal dengan istilah Sirah Nabawiyah. Pemahaman sirah harus lengkap dan utuh, karena jika tidak! Akibatnya menjadi fatal. Misalnya, apa dan dari mana rujukannya, sehingga ada seorang dai bisa menyuruh anak didikannya untuk melakukan bom bunuh diri, menghancurkan siapa saja, termasuk orang tuanya, dan rekan sesama muslim di negara yang damai (tidak dalam kondisi konflik/peperangan). Apa yang mendasari sikap dan perilaku mereka? Padahal Rasulullah Saw. tidak pernah mencontohkan yang demikian. Hal ini harus menjadi perhatian bersama, karena di negara Indonesia yang kita cintai, selama 2 dekade belakangan ini, muncul gerakan teror dan radikal yang meresahkan semua pihak, termasuk seluruh umat beragama, padahal semua agama tidak mentolerir, mengutuk secara tegas, dan tidak sedikitpun merestui gerakan tersebut. Jika becermin dari dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw., semuanya dimulai dari diri sendiri melalui sikap dan perilaku/akhlak yang terbaik, tutur kata yang santun dan sopan, pergaulan yang damai dan menenteramkan, sampai pada menghindari cara-cara kekerasan, ketakutan, dan paksaan (Perhatikan isi dan kandungan Q.S. al-Qalam/68: 4), Q.S. al-Fath/48: 8, dan Q.S. at-Taubah {9}: 128). Saat berdakwah Rasulullah Saw menerapkan hal-hal sebagai berikut. 1. Lemah lembut dalam menjalankan dakwah 2. Bermusyawarah dalam segala urusan, termasuk urusan dakwah 3. Menyampaikan dakwah sesuai dengan objek dakwah 4. Lapang dada dan sabar 5. Kebulatan tekad 6. Bertawakal i. Strategi Dakwah Prinsipnya, dakwah itu dapat menggunakan strategi yang beraneka ragam, sesuai dengan objek dakwah. Berdakwah harus berpatokan kepada Q.S. an- Nahl/16: 125. Adapun dakwah (secara formal) menggunakan aturan-aturan (ini tidak baku), sebagai berikut.

115 1. Pembukaan, antara lain: • Mengucapkan salam yang dibarengi dengan membaca hamdalah. • Membaca shalawat kepada Nabi Saw. 2. Isi, terdiri dari: • Maksud dan tujuan dakwah • Sasaran dakwah: Objek dakwah adalah orang yang didakwahi. Artinya, orang yang diajak kepada agama Allah Swt., agar meningkatkan kualitas iman dan taqwanya, serta kembali ke jalan kebenaran dan kebaikan. Objek dakwah mencakup seluruh manusia, tak terkecuali si pendakwah itu sendiri. • Materi dakwah: Umumnya, materi dakwah mencakup 4 hal, yaitu: akidah (keimanan); syariah (hukum); akhlak (perilaku); dan muamalah (hubungan sosial); yang kesemuanya berlandaskan Al- Qur’an, Hadis, dan rujukan lain yang memiliki dasar hukum yang kuat dan jelas sumbernya. • Penutup 2. Khutbah a. Pengertian Merujuk makna bahasa, ada beberapa pengertian, yakni: 1. Kata khutbah (خطبة), jika berasal dari kata mukhathabah (مخاطبة) berarti “pembicaraan”; 2. Jika berasal dari kata “al-khatbu” (الخطب) berarti “perkara besar yang diperbincangkan”; dan 3. Khutbah dapat juga bermakna memberi peringatan, pembelajaran atau nasehat dalam kegiatan ibadah. Sementara, jika ditinjau dari pengertian istilah, khutbah adalah: 1. Menyampaikan pesan tentang takwa sesuai dengan perintah Allah Swt. dengan syarat dan rukun tertentu; 2. Kegiatan nasihat yang disampaikan kepada kaum muslim dengan syarat dan rukun tertentu yang erat kaitannya dengan sah atau sunnahnya ibadah, sedangkan orang yang melakukan khutbah dikenal dengan istilah khatib. BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

116 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Umumnya, pelaksanaan khutbah, jika dikaitkan dengan shalat, dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian, yaitu: 1. Khutbah yang dilakukan sebelum shalat, misalnya Khutbah Jum’at 2. Khutbah yang dilakukan sesudah shalat, misalnya Khutbah Shalat ’Idain (Idul Fitri dan Idul Adha), Shalat Khusuf (Gerhana Bulan) dan Shalat Kusuf (Gerhana Matahari), Shalat Istisqa’ (shalat minta hujan), dan khutbah saat Wukuf di Padang Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah). 3. Khutbah yang tidak berkaitan dengan shalat, misalnya Khutbah Nikah. Di antara beragam jenis khutbah, ada hal yang terpenting untuk diketahui, yakni Khutbah Jum’at. Sebab, Khutbah Jumat memerlukan rukun yang harus dipenuhi agar ibadahnya menjadi sah, dan sesuai dengan aturan. Jika, salah satu rukun tidak terpenuhi, maka khutbahnya tidak sah. Sejalan dengan itu, Khutbah Jumat itu terdiri dari 2 bagian: Khutbah Pertama, dan Khutbah Kedua, yang di antara keduanya dipisahkan dengan duduk di antara dua khutbah. b. Syarat Khatib 1. Islam yang sudah balig dan berakal sehat. 2. Mengetahui syarat, rukun, dan sunnah khutbah. 3. Suci dari hadats, baik badan maupun pakaian, serta auratnya tertutup. 4. Tartil dan fasih saat mengucapkan ayat Al-Qur’an dan Hadis. 5. Memiliki akhlak yang baik dan tidak tercela di mata masyarakat. 6. Suaranya jelas dan dapat dipahami oleh jamaah. 7. Berpenampilan rapi dan sopan. c. Syarat-syarat dua khutbah 1. Khutbah Shalat Jum’at dilaksanakan sesudah masuk waktu Dhuhur. Selesai khutbah, dilanjutkan dengan shalat. Berbeda dengan Khutbah Shalat ‘Idain, Shalat Khusuf dan Shalat Kusuf, serta Shalat Istisqa yang dilaksanakan setelah selesai shalat. 2. Khutbah dilakukan dengan berdiri. Namun, jika tidak mampu, boleh dilakukan dengan duduk. 3. Duduk sebentar di antara dua khutbah.

117 4. Suara khutbah harus jelas dan dapat didengar oleh jamaah. Saat sekarang ini, pengurus masjid dapat menggunakan pengeras suara, televisi, atau monitor sehingga jamaah yang berada jauh atau di ruangan lain dapat melihat dan mendengar sang khatib. 5. Tertib, yakni dimulai khutbah pertama, dilanjutkan ke khutbah kedua. ُ عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ سَمُرَة َ أَن َّ النَّبِي َّ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ كَان َ يَخْطُب قَائِمًا، وَيَجْلِس ُ بَيْن َ الْخُطْبَتَيْن ِ(رواه احمد) Artinya: Dari Jabir bin Samurah sesungguhnya Nabi Saw. berkhutbah dengan berdiri dan beliau duduk di antara dua khutbah” (H.R. Ahmad). Hadits lain menyebutkan: َ ُ عَن ْ جَابِر ِ بْن ِ عَبْد ِ اللِّٰ، قَالَ: كَان َ رَسُوْل ُ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّم إِذَا خَطَب َ احْمَرَّت ْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَد َّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّه مُنْذِر ُ جَيْش ٍ يَقُولُ: صَبَّحَكُم ْ وَمَسَّاكُم ْ (رواه مسلم) “Artinya: Dari Jabir bin ‘Abdullah berkata: Bila Rasulullah Saw. berkhutbah, kedua matanya merah, tinggi suaranya, dan penuh semangat bagai seorang panglima yang memperingatkan datangnya musuh yang menyergap di saat pagi atau sore.” (H.R. Muslim). d. Rukun Khutbah 1. Membaca Hamdalah pada kedua Khutbah. 2. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. 3. Berwasiat tentang taqwa kepada diri dan jamaah. 4. Membaca satu atau beberapa ayat suci Al-Qur’an pada kedua khutbah. Ayat yang dibaca biasanya disesuaikan dengan topik yang akan disampaikan. 5. Berdoa pada khutbah kedua untuk memohon ampunan, kesejahteraan, dan keselamatan bagi kaum muslimin dan muslimat baik di dunia maupun akhirat. BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

118 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI e. Sunnah Khutbah 1. Khatib memberi salam pada awal khutbah, dan menghadap ke arah jamaah. 2. Khutbah disampaikan di tempat yang lebih tinggi (di atas mimbar). 3. Khutbah disampaikan dengan kalimat yang jelas, sistematis dan temanya disesuaikan dengan situasi dan kondisi aktual yang saat itu terjadi. 4. Khatib hendaklah memperpendek khutbahnya, jangan terlalu panjang, sebaliknya Shalat Jum’atnya saja yang diperpanjang. 5. Khatib disunnahkan membaca Q.S. al-Ikhlas saat duduk di antara dua khutbah. 6. Khatib menertibkan rukun-rukun khutbah, yaitu dimulai membaca hamdalah sampai rukun yang terakhir, yakni berdoa untuk kaum muslimin. f. Adab Shalat Jum’at 1. Menyegerakan berangkat ke masjid lebih awal. Allah Swt. berfirman: ِ ِكْرذ ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِي َ لِلصَّلٰوة ِ مِن ْ يَّوْم ِ الْجُمُعَة ِ فَاسْعَوْا اِلٰى )9 :( اجلمعة/62 الل ِّٰ وَذَرُوا الْبَيْع َۗ ذٰلِكُم ْ خَيْر ٌ لَّكُم ْ اِنْ كُنْتُم ْ تَعْلَمُوْن َ ﴾ Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui (Q.S. al-Jumu’ah/62: 9) Hindari hadir sesudah khatib sudah berada di atas mimbar dan sudah berkhutbah, karena jika itu dilakukan, tidak dicatat sebagai orang yang mendapatkan keutamaan mendatangi jumat lebih awal. Sebagaimana Hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari. 2. Membiasakan mengisi shaf terdepan yang masih kosong, lalu lakukan shalat “Tahiyatul Masjid” atau Shalat Qabliah Jum’at sebanyak dua rakaat.

119 3. Memperbanyak dzikir dan doa, membaca shalawat Nabi Saw. atau membaca Al-Qur’an dengan suara pelan, sebelum khatib naik mimbar. 4. Mendengarkan khutbah dengan seksama. Jangan berbicara, termasuk menegur jamaah lain, apalagi mengantuk atau tidur, akibatnya jum’atnya menjadi sia-sia, termasuk tidak memahami isi khutbah. Sabda Rasulullah Saw.: َيْرَةَ، أَخْبَرَهُ: أَن َّ رَسُوْل َ الل ِّٰ صَلَّى الل ُّٰ عَلَيْه ِ وَسَلَّم َ قَالَ: إِذَاَ أَن َّ أَبَا هُر قُلْت َ لِصَاحِبِك َ يَوْم َ الجُمُعَةِ: أَنْصِتْ، وَالإِمَام ُ يَخْطُبُ، فَقَد ْ لَغَوْت (رواه البخاري) Artinya: “Sesungguhnya Abu Hurairah menceritakan kepada Sa’id bin al-Musayyab: Sesungguhnya Rasulullah Saw bersaba: Apabila engkau berbicara kepada temanmu (saat pelaksanaan) Shalat Jum’at; “diamlah” padahal imam sedang menyampaikan khutbahnya, maka Jum’atmu sia-sia (meninggalkan adab shalat jumat dan berkurang pahalanya)”. (HR. al-Bukhāri) g. Praktik Khutbah I (Pertama) Urutan khutbah sebagai berikut. 1. Khatib berdiri di mimbar yang diawali dengan ucapan salam. 2. Khatib duduk kembali saat dikumandangkan adzan. 3. Selesai adzan, khatib berdiri dan membaca rangkaian dari rukun-rukun khutbah secara tertib (berurutan yang dimulai hamdalah, shalawat, dan seterusnya). Adapun contoh teks khutbah sebagai berikut. BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

120 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Bacaan Hamdalahِ ُ اَلْحَمْد ُ لل ِِّٰ الَّذِي ْ خَلَق َ مَا فِي السّمٰوَات ِ وَمَا فِي اْلاَرْض ُ اَشْهَد ُ اَن ْ لّا َ اِلٰه َ اِلَّاالل ُّٰ وَحْدَه ُ لا َ شَرِيْك َ لَهُ،لَه ُ الْمُلْك ُ وَلَه ِالْحَمْد ُ يُحْيِي ْ وَيُمِيْت ُ وَاَشْهَد ُ اَن َّ مُحَمَّدًاعَبْدُه ُ وَرَسُوْلُه اُسْوَة ٌ حَسَنَة ٌ لِّلْمُهْتَدِيْنَ،ا ََُّّٰ صَل ِّ وَسَلِّم ْ عَلٰى مُحَمَّدٍ ْ الرَّسُوْل ِ الْاَمِيْن ِ وَعَلٰى اٰلِه ِ وَصَحْبِه ِ وَمَن ْ تَبِعَهُم ْ بِاِحْسَان اِلٰى يَوْم ِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: يَا عِباَد َ الل ِّٰ ... اُوْصِيْكُم ْ ونَفْسِي ِ بِتَقْوَى الل ِّٰ فَقَد ْ فَاز َ الْمُتَّقُوْنَ، قَال َ الل ُّٰ تَعَالٰي: فَإِذَا َقُضِيَت ِ الصَّلٰوة ُ فَانْتَشِرُوْا ِفي اْلاَرْض ِ وَابْتَغُوْامِن ْ فَضْل ْكُرُوْا اللَّٰكَثِيْرًا لَّعَلَّكُم ْ تُفْلِحُوْنالل ِّٰ وَاذِ ن Bacaan Syahadat Bacaan Shalawat Wasiat Taqwa Membaca salah satu Ayat Al-Qur’an 4. Materi khutbah, hendaklah disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang aktual atau terkini, yang diperkuat dengan rujukan atau dalil yang kuat, khususnya yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. 5. Penutup khutbah I (Pertama), contohnya: ِ ُ بَارَك َ الل ُّٰلِي ْ وَلَكُم ْ فِي الْقُرْاٰن ِ الْعَظِيْم ِ وَنَفَعَنِي ْ وَإِيَّاكُم ْ بِمَا فِيْه ِ مِن َ الْاٰيَات ِ وَالذِّكْر ِ الْحَكِيْم ِ وَتَقَبَّل َ مِنِّي ْ وَمِنْكُم ْ تِلَاوَتَه ُ إِنَّه ُ هُو َ السَّمِيْع ُ الْعَلِيْم ُ اَقُوْل ُ قَوْلِي هَذا َ وَاسْتَغْفِر ُ الل َّٰ لِي ْ وَلَكُم ْ وَلِسَائِر ِ الْمُسْلِمِيْن َ وَالْمُسْلِمَات وَالْمُؤْمِنيْن َ وَالْمُؤْمِنَات ِ فَاسْتَغْفِرُوْه ُ إِنَّه ُ هُو َ الْغَفُوْر ُ الرَّحِيْم h. Praktik Khutbah II (Kedua) 1. Selesai khutbah pertama, khatib duduk sebentar (sambil berdoa mohon ampun untuk diri dan kedua orang tua), lalu berdiri untuk khutbah kedua. 2. Khutbah kedua ini, membaca rukun-rukun khutbah mulai dari membaca hamdalah sampai berdoa. Contohnya adalah:

121 َ ُ اَلْحَمْد ُ لل ِِّٰ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. وَاَشْهَد ُ اَن ْ لَّا اِلٰه َ اِلَّاالل ُّٰ وَحْدَه ُ لا َكَفَرَ. وَاَشْهَد ُ اَن َّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًاعَبْدُهشَرِيْك َ لَه ُ اِرْغَامًا لِمَن ْ جَحَد َ بِه ِ و ُ وَرَسُوْلُه ُ سَيِّد ُ الْإِنْس ِ و َ الْبَشَرِ.ا ََُّّٰ صَل ِّ وَسَلِّم ْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّد ٍ وَعَلٰى ْ اٰلِه ِ وَصَحْبِه ِ مَا اتَّصَلَت ْ عَيْن ٌ بِنَظَر ٍ وَأُذُن ٌ بِخَبَرٍ.اَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النّاس َكُمَّٰإِتَّقُوْاالل َّٰ وَذَرُوْاالْفَوَاحِش َ مَاظَهَر َ وَمَا بَطَنَ. وَاعْلَمُوْااَن َّ الل َّٰ اَمَر بِأَمْر ٍ بَدَأ َ بِنَفْسِه ِ . وَثَنّٰي بِمَلا َ ئِكَة ِ الْمُسَبِّحَة ِ بِقُدْسِهِ. فَقَال َ تَعَالٰي: إِن َّ الل وَمَلاَ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَىالنَّبِيِّ يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْاصَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا 3. Setelah itu diakhiri dengan membaca doa 4. Kalimat penutup khutbah kedua, contohnya: عِبَاد َ اللِّٰ، إِن َّ الل َّٰ يَأْمُر ُ بِالْعَدْل ِ وَالْاِحْسَان ِ وَإِيْتَاء ِ ذِي ْ الْقُرْبٰي وَيَنْهٰى ْكُرُوْاِ عَن ِ الْفَحْشَاء ِ وَالْمُنْكَر ِ وَالْبَغْي ِ يَعِظُكُم ْ لَعَلَّكُم ْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذ ْكُم ْ وَاسْئَلُوْه ُ مِن ْ فَضْلِهْكُم ْ وَاشْكُرُوْه ُ عَلٰى نِعَمِه ِ يَزِدُالل َّٰ الْعَظِيْم َ يَذْكُر يُعْطِكُم ْ وَلَذِكْر ُ الل ِّٰ أَكْبَر 5. Khatib turun dari mimbar, dan bersamaan dengan itu, muadzin mengumandangkan ikamah. Aktivitas 4.5 Aktivitas Peserta Didik: Bentuk kelas Anda menjadi 5 kelompok. Lalu, setiap kelompok menyusun naskah (teks) khutbah dengan tema nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Hasilnya dipresentasikan, dan setiap kelompok memberi penilaian apakah temanya sudah bernilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin! BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

122 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI i. Persamaan dan Perbedaan Dakwah dan Khutbah Berikut ini, persamaan dan perbedaan keduanya, yaitu: No Persamaan Perbedaan 1 Sama-sama menyeru manusia untuk menjalani kehidupan yang benar sejalan dengan aturan Allah Swt. Khutbah terikat oleh syarat dan rukun, sedangkan dakwah tidak memiliki aturan yang baku 2 Keduanya mengajak manusia untuk melaksanakan syariat Islam yang kāffah (sempurna, lengkap, utuh). Khutbah tempatnya di masjid atau tempat lain yang memungkinkan, sedangkan dakwah dapat dilakukan di mana saja. 3 Keduanya mengingatkan bahwa sukses dan bahagia itu diperoleh dari ketaatan, sebaliknya kegagalan dan terpuruknya hidup diperoleh dari kemaksiatan. Khutbah Jum’at hanya wajib bagi kaum laki-laki, sedangkan dakwah untuk siapa saja. 4 Sama-sama memberi kabar gembira/basyīran (bahagia, sukses, surga) bagi yang bertaqwa, sebaliknya ancaman/nadzīran bagi yang ingkar (gagal, sengsara, neraka). Khutbah medianya terbatas pada mimbar dan sound system, sedangkan dakwah dapat menggunakan media apa saja.

123 No Persamaan Perbedaan 5 Dai tidak terkait dengan shalat, karena itu ia boleh tidak dalam keadaan suci. Sedangkan khatib berkaitan dengan shalat, oleh karena itu, harus dalam keadaan suci dari hadats dan 3. Tablig a. Pengertian Menurut tinjauan bahasa, kata tablig berasal dari kata ballagha بَلَّغَ-يُبَلِّغُ-تَبْلِيْغًا yang artinya menyampaikan atau memberitahukan pesan atau ceramah secara lisan atau perkataan. Makna lainnya adalah ceramah yang tidak disertai dengan rukun seperti khutbah. Bukan sekadar ceramah atau pesan biasa, tetapi sebuah ceramah yang sumbernya dari ajaran Islam yang disampaikan kepada satu orang atau banyak orang, agar mengamalkan isi pesan tersebut. Disebabkan fokusnya kepada pengamalan isi pesan, maka tablig harus dikemas agar menarik, tidak membosankan, tidak menggurui, tidak menyimpang dari substansi dan disampaikan secara sopan. Adapun pelaku penyampai ceramah atau pesan disebut mubalig (laki-laki) atau mubaligah (perempuan). Namun, jika ditinjau dari pengertian istilah, tablig memiliki beberapa makna, antara lain: 1. Menyampaikan aturan Islam baik dari yang termaktub dalam Al-Qur’an maupun Hadis yang ditujukan kepada umat manusia. 2. Menyampaikan ajaran Islam kepada umat manusia untuk dijadikan pedoman agar memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. 3. Bagian dari dakwah islamiyah dalam bentuk khusus (lisan dan tulisan) untuk disampaikan kepada pihak lain. 4. Menyampaikan ‘pesan’ Allah Swt. secara lisan kepada satu orang atau lebih untuk diketahui dan dipahami, lalu diamalkan isinya. BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

124 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 5. Sebuah profesi yang dilakukan untuk menyampaikan atau menyiarkan agama Islam kepada umat. Berdasarkan pengertian tersebut, tersimpul bahwa tablig merupakan bagian dari dakwah. Tablig lebih banyak berisi pesan atau ceramah lisan dan perkataan, sementara dakwah lebih luas, tidak hanya lisan tetapi juga perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Khusus di Indonesia, konsep tablig tidak hanya berisi ceramah lisan, tetapi juga berisi kegiatan keagamaan lainnya. Misalnya kita kenal istilah tablig akbar yang biasanya dilaksanakan di tempat yang luas dan dihadiri lebih banyak peserta, serta biasanya diisi dengan dzikir bersama, sehingga terjadi perbedaan konsep atau persinggungan makna dan istilah yang dipakai yang tertanam pada benak masyarakat umum. b. Dalil Adanya Tablig َكَفٰى﴿ ۨالَّذِيْن َ يُبَلِّغُوْن َ رِسٰلٰت ِ الل ِّٰ وَيَخْشَوْنَه ٗ وَلَا يَخْشَوْن َ اَحَدًا اِلَّا الل َّٰ ۗو )39 :( االحزاب/33 بِالل ِّٰ حَسِيْبًا ﴾ Artinya: (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah (para rasul yang menyampaikan syariat-syariat Allah kepada manusia), mereka takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan (Q.S. al-Ahzāb/33: 39). Perhatikan juga isi kandungan dari beberapa ayat Al-Qur’an berikut ini, misalnya Q.S. al-Māidah/5: 99, Q.S. ar-Ra’d/13: 40, dan Q.S. al-Nahl/16: 35 yang isinya tentang tablig. c. Ketentuan Tablig Ada beberapa ketentuan dan tara cata yang harus diperhatikan, terkait dengan pelaksanaan tablig, yaitu: 1. Ketentuan Tablig a) Dilakukan dengan cara yang sopan, lemah lembut, tidak kasar, dan tidak merusak. b) Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh jamaah.

125 c) Mengedepankan musyawarah dan berdiskusi untuk memperoleh kesepakatan bersama. d) Materi tablig yang disampaikan harus mempunyai rujukan yang kuat dan jelas sumbernya. e) Disampaikan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, sejalan dengan situasi dan kondisi masyarakat, termasuk aspek psikologis dan sosiologis para jamaah. f) Tidak menghasut orang lain untuk bermusuhan, berselisih, merusak, dan mencari-cari kesalahan orang lain. 2. Tata Cara Tata cara/strategi tablig harus merujuk teladan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya dalam melaksanakan dakwah atau tablig. Jika tidak, tablig yang bertujuan baik, malah berubah menjadikan citra Islam tidak baik, bahkan merusak citra, tentu semua itu harus menjadi kesadaran bersama. Sejarah Islam pun telah memberi teladan dalam bertablig, yaitu: a) Mengajak orang terdekat terlebih dahulu, menuju profil muslim yang menyatu antara kata dan perbuatan, lalu mengajak kepada masyarakat luas. Sebab, keluarga merupakan kunci sukses, karena pihak lain akan melihat dulu pribadi dan keluarganya. Perhatikan isi kandungan Q.S. ash-Shaf/61: 2-3, dan Q.S. Luqmān/31: 12-19)! b) Dekati pihak lain sesuai dengan kapasitas ilmu dan martabatnya. Karena itu, perlu pendekatan dan strategi yang beragam, apalagi kondisi saat ini yang serba cepat, praktis, dan canggih. Semua itu mengharuskan adanya perubahan dalam tablig (Q.S. al- Muddatstsir/74}: 1-7). c) Mengajak diri dan pihak lain untuk saling membantu agar tablig dapat terlaksana dengan baik, bertahap, berkesinambungan, menjangkau semua lapisan masyarakat, serta adanya segmen tablig yang jelas antara mubalig satu dengan yang lain, sehingga semua lapisan masyarakat terkena sasaran tablig (Q.S. al-Māidah/5}: 2). Di samping itu, ada beberapa hal yang patut dijadikan pedoman dalam tablig, yaitu kekuatan keimanan dan kesabaran. Artinya, kesuksesan tablig sangat dilandasi kuatnya iman, sekaligus dibarengi adanya pola manajemen yang handal. Hal ini dapat dicontoh dari cara dan strategi yang dilakukan para BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

126 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Walisongo dan tokoh lainnya dalam menyebarluaskan Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Hanya sayangnya, sekarang strategi ini sudah mulai ditinggalkan oleh para mubalig, sehingga realitas memberi bukti, meski tidak semua, tablig yang dilakukan lebih bersifat seremonial belaka, lebih banyak unsur humornya, melupakan tujuan dan substansi, akibatnya tampak kehilangan ruh dan jiwa, serta kurang memberi dampak positif dalam mengubah perilaku masyarakat. Oleh sebab itu, kembalilah kepada semangat tablig yang baik dan benar. Berikut ini ada beberapa kepribadian dai yang mesti diubah, yakni: (a) Lemah Sikap atau tidak tegas, sehingga mengantarkan hancurnya kedisiplinan. (b) Lemah Hati sehingga menyebabkan rapuhnya cita-cita. (c) Lemah Pikiran, menjadikan problematika tak cepat terselesaikan, dan yang paling penting (d). Lemah Iman, yang mengakibatkan begitu mudah masuknya bujuk rayu, nafsu, dan godaan duniawi. Itulah sebabnya, sangat perlu adanya perubahan strategi tablig dalam masyarakat modern, apalagi didasari realitas tentang adanya tantangan- tantangan sosial dan budaya yang semakin kompleks, sehingga model dan pola tablig relevan dengan kebutuhan zaman, akhirnya umat ini memiliki jatidiri yang mantap yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut. a. Kepribadian umat yang teguh, kokoh, dan kuat; serta seimbang capaian lahir batin, dunia akhirat; sekaligus terpadu iman taqwanya, baik amal ibadahnya, serta santun akhlaknya (syāmil dan kāffah). b. Pola hidupnya selalu menebar kedamaian untuk semua, tegak lurus di atas kebenaran dan keadilan, serta bersemangat menerapkan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘ālamīn (damai, santun, dan menenteramkan untuk semua). c. Mengedepankan model atau pola tablig yang bernafaskan bil hikmah wal mau’idhatil hasanah (bijak, beradab, dan modern). Sedang tata caranya perlu diwujudkan melalui tindakan nyata (bil lisāni wal hāl), contoh dan teladan (uswatun hasanah), dan manajemen yang baik (amal jamā’ī). 3. Peragaan/Praktik Tablig Setiap orang yang memilih profesi tablig, harus benar-benar menata kepribadiannya, sehingga pihak lain yang menjadi objek tablig tertarik dan bersedia ikut dengan kerelaan hati. Itu sebabnya diperlukan banyak

127 persyaratan yang harus dipenuhi, seperti paparan yang sudah disebutkan, juga banyak menempuh jalan persuasif dan mengedepankan pendekatan budaya masyarakatnya. Sebaliknya, hindari menempuh jalan konfrontatif, teror, dan radikal, yang akibatnya pihak lain memberi label yang kurang bagus kepada Islam dan kaum muslim; bukannya semakin dekat, tetapi malah menjauh; bukan simpati yang didapat, malah antipati dan benci. Oleh karena itu, sekali lagi penting sekali ditempuh seruan dan ajakan yang damai, sejuk, santun, dan menenteramkan. Sebagai bagian dari peragaan atau praktik bertablig, maka ada tahapan langkah-langkah yang harus diikuti, yaitu: a) Tahap persiapan Rujuklah dan pelajari materi tablig, agar sesuai dengan kebutuhan jamaah atau audiens b) Tahap pelaksanaan Saat tablig, maka informasi yang disampaikan harus yang praktis, singkat dan serba cepat, dengan tetap mengedepankan bahasa yang sederhana, mengajak jamaah berdiskusi dan mengandalkan logika dan akal sehat, melibatkan juga mata hati, serta menghindari gaya yang menggurui, menekan, apalagi memaksa. Islam itu kebenaran, maka materi tablig juga harus disampaikan secara terbuka, utuh, dan komprehensif, sehingga jamaah dengan kesadaran sendiri dapat menerima ajaran Islam dan menemukan sendiri kebenaran itu. Memang cara itu terasa sulit, tetapi sangat elegan dan pantas dikedepankan, karena Islam sendiri hadir bukan di ruang hampa, tetapi sejak awal sudah berhadapan dengan beragam realitas yang umumnya berbeda, dan berdasarkan Sirah Rasulllah Saw., ternyata realitas yang berbeda tersebut mampu diadaptasi, diubah, dan dicegah sehingga sejalan dengan ajaran Islam. Tercapainya keberhasilan memang perlu waktu, kesabaran yang tinggi, dan menggunakan beragam metode dan strategi, serta mendayagunakan sarana penunjang yang memadai/mendukung. BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

128 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Jangan lupa hindari upaya memaksa, apalagi menggunakan kekerasan, tidak terkesan menggurui, dan mempertimbangkan juga waktu yang tersedia. Gunakan pula metode yang menyenangkan dengan prinsip 3 F (Fun, Fresh, dan Focus), serta tidak berlebihan dalam menggunakan humor dan jenaka. c) Tahap Konsolidasi Sebagai tahap akhir, upayakan adanya pemantapan pemahaman materi tablig dalam bentuk kesimpulan atau resume, dan hal-hal apa saja yang harus ditindaklanjuti, biasanya dikenal dengan RTL (Rencana Tindak Lanjut). Hal ini perlu dilakukan agar setiap jamaah ada kesadaran diri untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas amal, dan tidak kalah pentingnya tidak terjadi bias pemahaman bagi jamaah atau audiens, sebelum mengakhiri kegiatan tablig. H Penerapan Karakter Setelah menelaah materi Dakwah, Khutbah dan Tablig, diharapkan peserta didik dapat membiasakan karakter dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut. No Butir Sikap Nilai Karakter 1 Bersemangat mengikuti dakwah, khutbah, dan tablig, agar mendapatkan banyak manfaat dalam menjalani kehidupan yang benar dan teratur menurut tuntunan Islam. Religius 2 Menghindari melakukan ritual agama (dakwah, khutbah dan shalat Jum’at, tablig (akbar) hanya formalitas atau asal terlaksana, tanpa mengambil hikmah, ibrah (pelajaran) dari kegiatan-kegiatan tersebut. Religius, tanggung jawab, peduli lingkungan

129 No Butir Sikap Nilai Karakter 3 Setiap pribadi muslim harus memiliki tanggung jawab untuk menjadi duta Islam yang damai, sehingga citra Islam semakin bagus di mata orang atau pihak lain. Selanjutnya, menghindari sikap dan perbuatan yang menjadikan citra Islam buruk. Tanggung jawab, peduli lingkungan 4 Aktif di kegiatan Rohis, sehingga ikut terlibat dalam menyeleksi dai, khatib, dan mubalig yang membawa tema Islam yang rahmatan lil alamin, serta berkepribadian mulia, santun tutur katanya, tegas dalam membela kebenaran, serta tidak menghasut, mencaci, dan menebar kebencian. Tanggung jawab, peduli lingkungan 5 Berjanji kepada diri, keluarga, dan masyarakat untuk menjadi duta Islam yang damai, dan bersama dengan komponen umat dan anak bangsa yang lain mewujudkan kehidupan bersama yang harmonis, tenteram, dan mendamaikan. Tanggung jawab, peduli lingkungan I Refleksi Kelas dibagi menjadi 3 kelompok, lalu silakan unduh di internet, atau referensi yang tepercaya tentang ceramah KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), KH. Zainuddin, MZ. (alm), dan Aa Gym. Persiapkan juga buku catatan, atau laptop yang kalian miliki. Lalu pilih dari 3 kisah hidup dai atau mubaligh tersebut yang paling menggetarkan jiwa atau batin kalian, lalu masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya! BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

130 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI J Rangkuman 1. Dibanding khutbah dan tablig, cakupan dakwah itu lebih luas, seluas segala aspek kehidupan setiap muslim. Dakwah tidak mesti berbicara dan berceramah, tetapi melakukan perbuatan sehari-hari yang mencerminkan tata nilai Islam, bahkan diam pun demi menegakkan kebenaran, dapat juga bagian dari dakwah. 2. Syarat dai: (a) satunya kata dengan perbuatan; (b) memahami objek dakwahnya; (c) berani dan tegas, tetapi tetap bijak dan santun dalam berdakwah; (d) memiliki ketabahan dan kesabaran yang kokoh; (e) tugasnya hanyalah menyampaikan, tidak memastikan hasilnya; dan (f ) terus berdoa agar dakwahnya berhasil. 3. Khutbah jika dikaitkan dengan shalat dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: (a) Khutbah sebelum shalat, misalnya Khutbah Jum’at. (b) Khutbah sesudah shalat, misalnya Khutbah Shalat ’Idain, Shalat Khusuf dan Shalat Kusuf, Shalat Istisqa’, dan khutbah saat Wukuf di Arafah; dan (c) Khutbah yang tidak berkaitan dengan shalat, misalnya Khutbah Nikah. 4. Rukun Khutbah: Membaca hamdalah; membaca shalawat Nabi; berwasiat taqwa kepada diri dan jamaah; membaca satu atau beberapa ayat al-Qur’an; dan berdoa kepada kaum muslimin dan muslimat. 5. Tablig bukan sekadar ceramah atau pesan biasa, tetapi sebuah ceramah yang datangnya dari Allah Swt. yang disampaikan kepada satu orang atau banyak orang agar mengamalkan pesan tersebut. 6. Ketentuan tablig: (a) menggunakan cara yang sopan, lemah lembut, tidak kasar, dan tidak merusak; (b) menggunakan bahasa yang mudah dimengerti; (c) mengutamakan musyawarah dan diskusi; (d) materinya menggunakan rujukan yang kuat dan jelas sumbernya; (e) dilandasi keikhlasan dan kesabaran; dan (f). tidak menghasut untuk bermusuhan, berselisih, merusak, dan mencari-cari kesalahan orang lain.

131 K Penilaian 1. Penilaian Sikap Penilaian Diri Berilah tanda centang (v) pada kolom berikut dan berikan alasannya! No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 1 Dakwah, khutbah (Jum’at), dan tablig itu sangat penting, karena itu setiap muslim harus memiliki tekad kuat untuk hadir, sebagai bagian dari menambah ilmu, agar hidupnya sesuai dengan tuntunan Allah Swt. 2 Terlibat aktif dalam kegiatan rohani, sehingga dapat selektif dalam memilih dai, khatib, dan mubalig, agar masyarakat mendapat ilmu yang berwajah Islam yang rahmatal lil alamin dan berpihak kepada nilai- nilai kemanusiaan 3 Siapa pun yang memilih profesi dai, khtatib, dan mubalig, harus benar- benar menata kepribadiannya, sehingga pihak lain tertarik dan bersedia ikut dengan kerelaan hati 4 Islam itu kebenaran, maka materi dakwah, khutbah, dan tablig disampaikan secara terbuka, utuh, dan komprehenshif. Sebaliknya dihindari menebar kebencian dan memperuncing perbedaan. BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

132 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 5 Dakwah, khutbah dan tablig itu dimulai dari masyarakat melalui pergaulan yang diatur, lalu menata dengan cara-cara terkendali dan dikelola secara adat istiadat. Catatan: S= Setuju, R=Ragu, TS= Tidak setuju 2. Penilainan Pengetahuan Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E pada pernyataan di bawah ini sebagai jawaban yang paling tepat! 1. Hendaknya khutbah, tablig dan dakwah yang dilakukan tidak bersifat seremonial, tetapi mencapai sasaran. Sebab itu, semuanya perlu wujud nyata melalui hal-hal berikut ini, kecuali … . A. bil lisāni wal hāl B. uswatun hasanah C. mau’idhah hasanah D. bil hikmah E. bil ra’yi 2. Mulai zaman Nabi Adam As. sampai zaman Rasulullah Saw. serta diteruskan oleh generasi sampai akhir zaman, tujuan Dakwah Islamiyah tidak akan pernah berubah, yaitu … . A. mengajar orang agar bisa membaca Al-Qur’an dengan tartil B. mengubah perilaku manusia yang telah menyimpang dari aturan Allah C. mengajak manusia mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya D. menyeru manusia tentang indahnya surga dan seramnya neraka E. menerapkan kaidah hukum fiqh dalam semua aspek kehidupan 3. Dakwah harus memiliki sasaran yang jelas, karena itu harus menggunakan metode. Berlandaskan Q.S. al-Nahl/16: 125, dijelaskan metode yang dilakukan dai berikut ini, kecuali … .

133 A. dakwah disampaikan dengan cara hikmah B. dalam berdakwah harus di jalan Allah Swt. C. dengan cara yang indah dan menyenangkan D. apabila diperlukan boleh dengan cara berdebat kusir E. adanya dialog yang baik antara dai dan yang didakwahi 4. Perhatikan Hadis di bawah ini!ً بَلِّغُوا عَنِّي وَلَو ْ آيَة Banyak hal yang memengaruhi keberhasilan tablig. Namun, ada hal terpenting, sesuai dengan isi kandungan Hadis, yaitu: .. . A. ketenteraman saat melakukan tablig B. metode, strategi, dan cara yang dipakai C. keterlibatan semua pihak menggalang dana D. tablig itu tidak mengenal derajat dan martabat E. kewajiban setiap mubalig menyesuaikan kemampuan 5. Perhatikan Q.S. al-Jumu’ah/62: 9 berikut ini! ِ ِكْرذ ﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْن َ اٰمَنُوْٓا اِذَا نُوْدِي َ لِلصَّلٰوة ِ مِن ْ يَّوْم ِ الْجُمُعَة ِ فَاسْعَوْا اِلٰى )9 :( اجلمعة/62 الل ِّٰ وَذَرُوا الْبَيْع َۗ ذٰلِكُم ْ خَيْر ٌ لَّكُم ْ اِنْ كُنْتُم ْ تَعْلَمُوْن َ ﴾ Isi yang terkandung dari ayat tersebut adalah … . A. kewajiban melakukan shalat B. menghentikan kegiatan jual beli C. bersiap-siap mendengarkan khutbah D. segera ke masjid untuk Shalat Jum’at E. kewajiban melakukan 2 kali khutbah 6. Adanya khutbah menjadi bagian penting dari Shalat Jum’at. Khutbah bukan sekadar dilaksanakan, namun ada juga fungsi lain dari khutbah, yaitu … . A. mengingatkan kembali tentang kehidupan yang benar B. timbulnya kesadaran mendalam tentang kewajiban shalat C. membebaskan seorang muslim dari kewajiban shalat D. gugurnya kewajiban shalat bagi seorang muslim E. terbebasnya kewajiban karena ada udzur BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

134 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 7. Dakwah itu diwajibkan bagi setiap muslim. Ketentuan menjadi dai lebih longgar dibanding khatib. Salah satu yang bukan syarat menjadi dai adalah … . A. memiliki ilmu dan pengetahuan yang memadai B. mengembangkan wawasan ke-Islam-an dan kebangsaan C. memilah ilmu sesuai dengan besar kecilnya manfaat yang didapat D. hidupnya harus sejalan dengan ajaran Islam yang disampaikan E. memberikan contoh dan teladan bagi diri dan pihak lain 8. Hanya orang tertentu yang dapat menjadi khatib. Di antara ketentuannya adalah muslim yang sudah balig, berakal sehat dan taat beribadah. Semua itu bagian dari … A. rukun khutbah B. syarat khutbah C. tata tertib khatib D. adab khutbah E. syarat khatib 9. Menjadi pemimpin yang adil, begitu juga menjadi rakyat yang taat, menjadi harapan kita semua. Jika ada persoalan yang belum dapat dipecahkan, harus tetap dicari solusinya secara adil, yang maknanya adalah … . A. mencari solusi dari beberapa pilihan yang sama-sama menyulitkan B. keterlibatan beberapa komponen masyarakat yang bersatu padu C. semua orang tanpa kecuali diperlakukan sama di mata hukum D. bersikap menyatukan dan mendamaikan masyarakat E. tertibnya lingkungan dari kesadaran masyarakat 10. Kehidupan saat ini sering kita temukan konflik kepentingan antar berbagai kelompok masyarakat. Semua itu harus kita hadapi dengan adil dan bijak. Jika tidak, muncul kelompok penyusup yang berdampak negatif bagi … . A. kerusakan fasilitas umum dan kerugian fisik serta materi B. berlalunya waktu dan sumber daya masyarakat yang mengitari

135 C. keamanan menjadi kondusif dan belum dapat dipisahkan D. sikap dari sebagian masyarakat yang ingin damai E. kelompok yang ingin terhindar dari problema Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar! 1. Pelaksanaan Khutbah Jum’at dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian. Sebutkan! 2. Sebutkan 3 rukun Khutbah Jum’at? 3. Ada beberapa persyaratan yang harus diindahkan bagi mubalig, agar jamaah memiliki kerelaan hati untuk mengamalkan apa yang disampaikan. Sebutkan syarat-syarat itu! 4. Jika kalian ingin berprofesi sebagai seorang dai yang sukses, maka harus memenuhi syarat seperti yang sudah diperankan oleh para Rasul, sebutkan 3 syarat yang paling utama! 5. Saat ini beragam kepentingan masyarakat ingin dipenuhi secara cepat. Banyak juga problema yang diderita. Bagaimana strategi kalian (jika menjadi dai, khatib atau mubalig, sehingga masyarakat bisa tenang dan tenteram! 3. Penilaian Keterampilan a. Penilaian Proyek Aktivitas 4.6 Aktivitas Peserta Didik: Setiap kelas dibagi menjadi 6 kelompok. Buatlah telaah tentang visi, misi, dan tujuan dari beberapa Ormas Islam di Indonesia yang dikaitkan dengan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ormas tersebut adalah 1. Kelompok I tentang Nahdlatul Ulama (NU) 2. Kelompok II tentang Muhammadiyah (MD) 3. Kelompok III tentang Persatuan Islam (Persis) 4. Kelompok IV tentang Nahdlatul Wathon (NW) 5. Kelompok V tentang Jamiatul Khairat 6. Kelompok VI tentang Al Washliyah BAB 4: Menebarkan Islam dengan Santun dan Damai Melalui Dakwah, Khutbah, dan Tablig

136 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI b. Penilaian Praktik Kelompok: Kelas dibagi 6 kelompok, sesuai dengan Penilaian Proyek yang sudah dilaksanakan. Lalu mempresentasikan dan mendiskusikan pembahasan sesuai dengan tugasnya, lalu membuat kesimpulan tentang Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, Nahdlatul Wathan (NW), Jamiatul Khairat dan Al Washliyah. sementara itu GPAI memberikan penilaian dari masing-masing kelompok. Individual: Setiap kelas ada 1 peserta didik (laki-laki) yang memperagakan sebagai khatib Jum’at, sementara 1 peserta didik (perempuan) memperagakan sebagai daiyah atau mubaligah. Sementara itu, GPAI bersama peserta didik lainnya memberikan tanggapan dan penilaian c. Penilaian Portofolio Tuliskanlah semua aktivitas keagamaan kalian, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat pada buku Penilaian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti! L Pengayaan Kalian sebagai generasi milenial, tentu memiliki idola pada seorang atau beberapa dai atau mubalig masa kini. Coba sebutkan 3 dai atau mubalig tersebut, sekaligus sebutkan 5 alasannya, kenapa kalian memilihnya!

Bab 5 Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2021 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Abd. Rahman dan Hery Nugroho ISBN: 978-602-244-684-2

138 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kalian dapat: 1. Menganalisis peran dan keteladanan tokoh ulama Islam di Indonesia: Hamzah al-Fansuri, Nuruddin bin Ali ar-Raniri, Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari, Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani, Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani, dan Muhammad Sholeh bin Umar al- Samarani. 2. Mempresentasikan paparan mengenai peran dan keteladaan ulama Islam tersebut. 3. Mengakui keteladanan tokoh ulama Islam di Indonesia. 4. Membiasakan sikap gemar membaca, menulis, berprestasi, kerja keras, tanggung jawab, literasi dan produktif dalam berkarya. B Kata Kunci • Nusantara • Tuanta Salamaka ri Gowa • Mufti • Aswaja • Sunni • Ukhuwah Wathaniyah • Bustanus al- Shalathin • Sayyidul Hijaz • Aswaja

139BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia C Infografis Indonesia Peran Umat Islam untuk Indonesia Ulama Indonesia untuk Dunia MENELADANI JEJAK LANGKAH ULAMA INDONESIA YANG MENDUNIA Hamzah al-Fansuri Nuruddin ibn Ali al-Raniri Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani Abu Abdullah al-Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani 1 4 6 2 5 73 D Ayo Tadarus 1. Ayo membiasakan tadarus Al-Qur’an, baik materi ajarnya aspek Al- Qur’an dan Hadis, maupun aspek Keimanan, Fikih, Akhlak, dan Sejarah Peradaban Islam (SPI) sebelum pembelajaran dimulai. 2. Mari tadarrus Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid dan makhārijul huruf. Semoga melalui pembiasaan ini, Allah Swt. selalu memberikan petunjuk dan kemudahan dalam memahami materi ajar ini, dan mampu menerapkan nilai-nilai yang dikandungnya dalam kehidupan sehari-hari. Āmīn.

140 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Aktivitas 5.1 Aktivitas Peserta Didik: Saatnya, kita tadarus Q.S. Yūsuf/12: 111, Q.S al-Qashash/28: 25, lalu salah satu peserta didik membacakan terjemahnya! ٍ ﴿ لَقَد ْ كَان َ فِي ْ قَصَصِهِم ْ عِبْرَة ٌ لِّاُولِى الْاَلْبَاب ِۗ مَا كَان َ حَدِيْثًا يُّفْتَرٰى وَلٰكِن ْ تَصْدِيْق َ الَّذِي ْ بَيْن َ يَدَيْه ِ وَتَفْصِيْل َ كُل ِّ شَيْء ٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَة ً لِّقَوْم )111 :( يوسف/12 َ يُّؤْمِنُوْن َ ࣖ ﴾ ﴿ فَجَاۤءَتْه ُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِي ْ عَلَى اسْتِحْيَاۤء ٍ ۖقَالَت ْ اِن َّ اَبِي ْ يَدْعُوْك ۗ فَلَمَّا جَاۤءَه ٗ وَقَص َّ عَلَيْه ِ الْقَصَص َۙ قَال َ لَالِيَجْزِيَك َ اَجْر َ مَا سَقَيْت َ لَن َا )25 :( القصص/28 تَخَف ْۗ نَجَوْت َ مِن َ الْقَوْم ِ الظّٰلِمِيْن َ ٢٥ ﴾ E Tadabbur Aktivitas 5.2 Aktivitas Peserta Didik: Amati gambar atau ilustrasi berikut ini! Lalu berilah tanggapan kalian yang dikaitkan dengan materi ajar yang dipelajari, yakni: Meneladani Ulama Indonesia, yakni: Hamzah al-Fansuri, Nuruddin bin Ali ar-Raniri, Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari, Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani, Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani, dan Muhammad Sholeh bin Umar al- Samarani.

141 Gambar 5.1 Hamzah al-Fansuri, Nuruddin bin Ali ar-Raniri Gambar 5.2 Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari Gambar 5.3 Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani, Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantan Gambar 5.4 Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani F Kisah Inspiratif Aktivitas 5.3 Aktivitas Peserta Didik: Pahami dan renungkan artikel berikut ini, sebagai bagian dari pemahaman dari materi ajar yang akan dipelajari! BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

142 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Peran Ulama di Nusantara “Ulama tak cuma berperan dalam agama, tetapi juga politik. Keberadaannya mengukuhkan kekuasaan politik.” Saat jayanya kerajaan-kerajaan Islam, peran ulama sangat menonjol sekali dalam pemerintahan yang fungsinya memperkokoh kedudukan para pemimpin. Khusus di Asia Tenggara, apalagi Nusantara-Indonesia, hubungan yang erat tersebut bukan hal yang aneh. Contohnya di Kerajaan Samudera Pasai. Buku Sejarah Hukum Islam Nusantara Abad XIV-XIX M memaparkan, di Samudera Pasai, pemerintah menunjuk para ulama sebagai mufti. Hal ini, berdasarkan informasi Ibnu Batutah yang pernah tinggal selama 15 hari di Samudera Pasai pada tahun 1345 M. Di bukunya yang berjudul al-Rihlāt, Ibnu Batutah menyebut fungsi mufti sangat penting dalam kesultanan. Kerajaan Islam Aceh juga memiliki majelis fatwa yang dipimpin seorang mufti yang tugasnya menangani persoalan hukum agama. Kedudukannya di atas kementerian kehakiman. Sistem ini, berlanjut hingga ke masa pembentukan Kesultanan Samudera Pasai,” Gambaran lebih jelas, dapat ditelusuri pada abad 16. Misalya Hamzah Fansuri, yang peninggalannya relatif masih lengkap yang mencakup biografi dan karya keislaman. Begitu juga, ulama terkemuka yang meninggalkan karya monumental lainnya seperti: Syamsuddin al- Sumaterani (w. 1693 M), Nuruddin ar-Raniri (w. 1658 M), Abdul Rauf al-Sinkili (w. 1693 M), dan Yusuf al-Makassari (w. 1699 M). Selanjutnya, pada abad 18 muncul Abdus Samad al-Falimbani (w. 1789 M) dan Syekh Daud al-Fatani (w. 1847 M). Fungsi lainnya, dari para ulama adalah memberi nasihat spiritual sekaligus memberi legitimasi politik di tengah rakyatnya yang beralih menjadi muslim. Ulama juga memegang peran penting dalam menentukan kehidupan keagamaan. Mereka biasanya sebagai kadi atau penghulu di Jawa. Lebih jauh tentang lembaga kadi, kita dapatkan lewat catatan perjalanan wakil khusus Inggris ke Aceh pada 1602 M. Sir James Lancaster, yang menggambarkan peran penting Hamzah Fansuri, misalnya dia

143 diangkat raja untuk memimpin perundingan damai dan persahabatan antara Aceh dan Inggris. Begitu juga Nuruddin ar-Raniri, pernah menengahi protes keras Belanda atas regulasi perdagangan kerajaan yang menguntungkan pedagang Gujarat. Melalui otoritas yang dimiliki, dia berhasil meyakinkan raja Safiyyatuddin (1641-1675 M), untuk menarik regulasi itu. Di Jawa, lembaga itu bisa ditemui di Kerajaan Demak. Sultan-sultan Demak dibantu para ulama. Mereka bertindak sebagai ahlul halli wal ‘aqdi. Lembaga itu menjadi wadah musyawah kerajaan yang punya hak ikut memutuskan masalah agama, kenegaraan, dan segala urusan kaum muslimin. Sunan Giri pernah menduduki ahlul halli wal ‘aqdi. Wewenangnya antara lain: (1) mengesahkan dan memberi gelar sultan kepada penguasa kerajaan Islam di Jawa. (2) menentukan juga garis besar politik pemerintahan. (3) bertanggung jawab di bidang keamanan muslim dan kerajaan Islam, dan yang terakhir (4) berhak mencabut kedudukan sultan, bila menyimpang dari kebijakan para wali. Tak hanya sebagai penasihat raja, para ulama juga menjadi penerjemah Islam ke dalam sistem budaya Indonesia. Melalui tugas itu, ulama berkontribusi dalam memberi legitimasi pada budaya politik Melayu berorientasi kerajaan. Karya-karya para ulama menjadi sumber legitimasi bagi kerajaan. Misalnya, ar-Raniri memiliki pandangan yang lebih rinci tentang hubungan ulama dan raja. Lewat karyanya, Bustan al-Salatin yang ditulis sekitar tahun 1630 M dan didedikasikan kepada Iskandar Tsani, dia menjabarkan cara seorang ulama sufi berhadapan dengan isu politik kerajaan. Ar-Raniri juga menekankan untuk mematuhi raja sebagai kewajiban agama. Kepatuhan kepada raja sama saja dengan mengikuti perintah Allah Swt. Melalui cara tersebut, para raja diberikan otoritas politik yang sah, sehingga harus diakui oleh umat Islam. Tersimpul bahwa Islam sudah memberi sumbangan bagi pembentukan kerajaan Melayu-Indonesia pra-kolonial. Semakin mapan ulama dalam elite kerajaan, makin mantap Islam sebagai ideologi politik kerajaan. Pada BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

144 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI periode itu, tercatat raja-raja seperti Sultan Iskandar Muda dan Iskandar Tsani di Aceh, Sultan Agung di Mataram, dan Sultan Hasanuddin di Makassar. (Artikel tersebut disadur dari tulisan Risa Herdahita Putri | 22 Agustus 2018 dari: https://historia.id/kuno/articles/peran-ulama). G Wawasan Keislaman Aktivitas 5.4 Aktivitas Peserta Didik: Bentuk kelas kalian menjadi 7 kelompok. Lalu, setiap kelompok mendapatkan 1 tokoh ulama sesuai materi ajar yang akan dipelajari Meneladani Ulama Indonesia, yakni: Hamzah al-Fansuri, Nuruddin bin Ali ar-Raniri, Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari, Abdus Samad bin Abdullah al- Jawi al-Palimbani, Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani, dan Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani. Hasilnya dipresentasikan! 1. Indonesia Cendekiawan dan tokoh-tokoh kenamaan dunia, jika pernah berkunjung atau singgah di Indonesia (istilah lebih awal adalah Nusantara), pasti memberi komentar dan penilaian yang baik tentang Indonesia. Hal ini, bisa ditelaah dari budayanya yang santun, murah senyum, mudah bergaul. Apalagi jika dikaitkan dengan keindahan alam dan sumber daya yang melimpah. Luas Nusantara Indonesia, terbentang dari Barat, yakni Sabang (Provinsi NAD/Nanggro Aceh Darussalam) sampai Timur, yakni Merauke (Provinsi Papua). Sementara dari Utara adalah Kepulauan Talaud (Provinsi Sulawesi Utara), sedangkan dari Selatan adalah Pulau Rote (Provinsi Nusa Tenggara Timur). Begitu luasnya Indonesia, sehingga bisa disamakan seperti luas Inggris melampauhi Eropa hingga Irak. Batas Barat Indonesia berada di Grenenwich

145 London, sedangkan batas Timurnya berada di Baghdad Irak. Sementara, batas Utaranya di Jerman, sedangkan batas Selatannya berada di Aljazair. Di wilayah seluas itu, matahari harus terbit sampai 3 kali. Akibatnya, menimbulkan perbedaan 3 waktu, yakni WIB (Waktu Indonesia Barat), WITA (Waktu Indonesia Tengah), dan WIT ((Waktu Indonesia Timur). Itu artinya matahari terbit lebih awal 2 jam dibanding WIB, dan 1 Jam dibanding WITA. 2. Umat Islam Indonesia Indah nian sikap beragama bangsa Indonesia, terutama sikap umat Islam Indonesia sebagai mayoritas. Betapa tidak! Tahun 2020, diperkirakan jumlah penduduk Indonesia sekitar 273,5 juta, sementara pada tahun 2020 ini, jumlah umat Islamnya berjumlah berjumlah 229 juta jiwa, atau 87,2 %. Itu artinya, Umat Islam mampu mengayomi saudaranya yang lain (baik Katolik, Kristen, Hindu, Budha, maupun Konghucu) yang berjumlah 12,8 % (sekitar 44,5 juta). Semuanya hidup rukun dan tenteram membentuk keindahan berperilaku sebagai bangsa Indonesia yang besar. Kondisi tersebut, menjadi prestasi yang sangat membanggakan. Tata perilakunya, mencerminkan ketulusan hati dan kedamaian hidup. Keramahan dan toleransi, menjadi sikap dan perilaku umat beragama di Indonesia. Belum lagi, jika dikaji dari sudut pandang keragaman yang lain, misalnya suku bangsa ada 740; ada 500 etnik yang menggunakan lebih 250 bahasa, dan jumlah pulaunya + 12.504 (2870 sudah memiliki nama, sementara 9.634 yang tidak memiliki nama) Bandingkan dengan negara-negara lain, baik di dataran Eropa, Asia, Timur Tengah maupun di Amerika. Agamanya boleh jadi sama, hanya berbeda sedikit sukunya; atau agama dan sukunya sama; bahkan ada yang agama, bahasa, suku, tanah airnya sama; mereka saling bertikai, berselisih sampai berperang tidak habis-habisnya, dan itu memakan waktu yang lama, bahkan tidak berhenti sampai kini. Membandingkan kondisi tersebut, tentu kita sebagai umat Islam, harus mensyukuri keadaan di Indonesia, mari bersama anak bangsa yang lain, untuk saling mempererat persahabatan dan persaudaraan, baik antar agama (Ukhuwah Islamiyah), sesama anak bangsa (Ukhuwah Wathaniyah), maupun sesama warga dunia (Ukhuwah Basyariyah). BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

146 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 3. Ulama Indonesia untuk Dunia Indonesia merdeka tidak lepas dari peran para Ulama Indonesia. Banyak sekali nama-nama yang dapat kita sodorkan dan menjadi pengingat tentang jejak mereka dalam memerdekakan Indonesia, yang sudah kita kenal, antara lain: Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, dan lain sebagainya. Namun kali ini, yang akan disajikan adalah para Ulama Indonesia yang tidak hanya memberi sumbangsih besar untuk Indonesia, tetapi mewarnai wajah dunia sampai saat ini. Mereka itu, antara lain: Abu Abdul Mu’thi Nawawi al- Tanari al-Bantani, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari, Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani, Nuruddin bin Ali ar-Raniri, Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili, Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, Hamzah al-Fansuri. Mari kita urai jejak dan langkahnya satu per satu. a. Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani 1. Riwayat Hidupnya Gambar 5.5 Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani Nama lengkap beliau adalah Abu Abdul Mu’ti Muhammad bin Umar al-Tanara al- Jawi al-Bantani. Dikenal juga dengan nama Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani. Lebih terkenal dengan nama Syekh atau Imam Nawawi Banten. Ayahnya adalah Umar bin Arabi yang merupakan seorang ulama di Banten. Dikisahkan juga, bahwa Syekh Nawawi masih keturunan dari Sunan Gunung Jati (salah satu Wali Songo) dari Sultan Banten I, yakni Maulana Hasanuddin. Imam Nawawi juga dikabarkan masih memiliki jalur nasab dari Sayyidina Husein r.a, salah satu cucu Rasulullah Saw. selain Sayyidina Hasan r.a. Sebutan al-Jawi, menunjukkan bahwa beliau berasal dari Pulau Jawa, sebab Banten menjadi bagian dari Pulau Jawa. Namun, di seantero dunia,

147 beliau diberi gelar Sayyidul Hijaz (Maha Guru Jazirah Arab, Saudi Arabia sekarang). Kebesaran nama Imam Nawawi sepadan dengan Imam Syafi’i (salah satu tokoh madzhab, sehingga dikenal dengan Madzhab Syafi’i). Beliau dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada ahun 1815 Masehi, atau 1230 Hijriah, dan beliau wafat pada tanggal 25 Syawal 1314 Hijriah, atau 1897 Masehi. Imam Nawawi menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 84 tahun. Imam Nawawi Banten merupakan putra pertama Nusantara Indonesia yang menjadi Imam Masjidil Haram, dan mendapat gelar “Sayyidul Hijaz”. Di Makkah, Imam Nawawi giat menghadiri majelis-majelis ilmu, khususnya di Masjidil Haram. Hingga, setelah dilihat kedalaman ilmu (Faqih) oleh imam masjid utama tersebut, yakni Syekh Ahmad Khatib Sambas (ini juga tokoh Indonesia yang kaliber dunia) memintanya untuk menggantikan posisinya Mulailah Imam Nawawi menjadi pengajar dan membuka majelis ilmu sendiri di Masjidil Haram. Semakin hari, murid atau santrinya semakin banyak. Bahkan, beberapa di antara muridnya merupakan pemuda asal Indonesia juga, yakni Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri Nadlatul Ulama (NU). 2. Teladan yang dapat dicontoh Syekh Nawawi pernah menjadi imam di Masjidil Haram, mengajar di Haramain (sebutan lain dari Makkah Madinah), dan karya-karyanya tersebar juga di Timur Tengah. Di kawasan Asia Tenggara, khususnya di dunia pesantren, karya-karyanya masih dipelajari, dikaji, dan ditelaah, bahkan sampai kini menjadi kurikulum tetap di pesantren. Gelar Sayyidul Hijaz bukan sembarang gelar, dan itu diperoleh di wilayah Timur Tengah, tepatnya di seputar Jazirah Arab (Makkah-Madinah saat itu), dan Masjidil Haram, khususnya Ka’bah yang menjadi jantung atau pusatnya ajaran Islam. Hal ini, menjadikan kita sebagai bangsa Indonesia, merasa bangga dan kagum atas capaian yang diperoleh oleh beliau. Sebab itu, kalian sebagai generasi penerus dapat mencontoh jejak dan langkah Imam Nawawi. BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

148 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 3. Karya Tulisnya Sejak tahun 1870 M, kesibukan Imam Nawawi semakin bertambah, karena harus banyak menulis kitab. Inisiatif menulis, lebih banyak datang dari desakan sebagian koleganya dan para sahabatnya dari Jawa. Kitab-kitab yang ditulisnya sebagian besar adalah kitab-kitab komentar (syarh) dari karya-karya ulama sebelumnya yang populer dan dianggap sulit dipahami. Karya Imam Nawawi berjumlah + 115, dan sampai saat ini masih dipelajari bukan hanya di wilayah Asia Tenggara, tetapi juga di kawasan Timur Tengah. Alasan menulis syarh, selain karena permintaan pihak lain, Imam Nawawi juga berkeinginan untuk melestarikan karya pendahulunya yang sering mengalami perubahan (tahrif) dan pengurangan. Saat menyusun karyanya, beliau selalu berkonsultasi dengan ulama-ulama besar lainnya, termasuk sebelum naskahnya naik cetak. Karya-karya beliau cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia, karena karya- karyanya mudah dipahami dan mendalam isinya. Karya tulis beliau banyak yang diterbitkan di Mesir, seringkali beliau hanya mengirimkan manuskripnya, setelah itu tidak memperdulikan lagi bagaimana penerbit menyebarkan hasil karyanya, termasuk hak cipta dan royaltinya, selanjutnya kitab-kitab beliau itu menjadi bagian dari kurikulum Pendidikan Agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan Malaysia, Filipina, Thailand dan juga negara-negara di Timur Tengah. Menurut Ray Salam T. Mangondana, peneliti di Institut Studi Islam, Universitas of Philippines, ada sekitar 40 sekolah agama tradisional di Filipina yang menggunakan karya Imam Nawawi sebagai kurikulum belajarnya. Selain itu Sulaiman Yasin, dosen di Fakultas Studi Islam Universitas Kebangsaan Malaysia juga menggunakan karya beliau untuk mengajar di kuliahnya. Tepat tahun 1870 M, para ulama Universitas Al-Azhar Kairo Mesir pernah mengundang beliau untuk memberikan kuliah singkat di suatu forum diskusi ilmiah. Mereka tertarik untuk mengundang beliau, karena sudah dikenal di seantero dunia. Semua karya beliau, berbahasa Arab.

149 Bagi para murid/santri yang pernah sekolah (mondok) di pesantren, tentu karya atau kitab yang disusun oleh Syekh Nawawi sudah pernah dipelajari. Berikut ini, 10 nama kitab karya beliau dari total karya beliau yang berjumlah 115 yang mengupas tentang Fiqh, Tasawuf, Tafsir, dan Hadis, yaitu: 1) Sullam al-Munājah syarah Safīnah al-Shalāh 2) Bahjah al-Wasāil syarah al-Risālah al-Jāmi’ah bayn al-Usūl wa al-Fiqh wa al-Tasawwuf 3) al-Tausyīh/Quwt al-Habīb al-Gharīb syarah Fath al-Qarīb al-Mujīb 4) Marāqi al-‘Ubūdiyyah syarah Matan Bidāyah al-Hidāyah 5) Nashāih al-‘Ibād syarah al-Manbahātu ‘ala al-Isti’dād li yaum al-Mi’ād 6) Qāmi’ al-Thugyān syarah Mandhūmah Syu’bu al-Imān 7) al-Tafsir al-Munīr li al-Mu’ālim al-Tanzīl al-Mufassir ‘an wujūĥ mahāsin al-Ta΄wil musammā Marāh Labīd li Kasyaf Ma’nā Qur΄an Majīd 8) Nur al-Dhalām ‘ala Mandhūmah al-Musammāh bi ‘Aqīdah al-‘Awwām 9) Tanqîh al-Qaul al-Hatsîts syarah Lubâb al-Hadîts 10) ‘Uqūd al-Lujain fi Bayān Huqūq al-Zaujain. b. Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari 1. Riwayat Hidupnya Gambar 5.6 Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari Nama lengkapnya Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari. Beliau dilahirkan di Gowa, Sulawesi Selatan, pada tanggal 3 Juli 1626, sedangkan tempat wafatnya di Cape Town, Afrika Selatan, pada tanggal 23 Mei 1699 pada usia 72 tahun. Beliau dijadikan sebagai pahlawan nasional Indonesia. Sementara di kalangan rakyat Sulawesi Selatan, mendapatkan gelar sebagai Tuanta Salamaka ri Gowa (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”). Syekh Yusuf lahir dari ayah-ibu bernama Abdullah dan Aminah. Nama saat dilahirkan adalah Muhammad Yusuf. Konon, nama ini BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

150 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI diberikan oleh Sultan Alauddin (berkuasa sejak 1593M, wafat 15 Juni 1639 M, raja Gowa pertama yang masuk Islam, yang masih kerabat dari ibu Syekh Yusuf. Pendidikan agama diperolehnya sejak berusia 15 tahun di Gowa. Syekh Yusuf juga berguru pada Sayyid Ba Alawi bin Abdul al-Allamah Attahir dan Sayyid Jalaludin Al-Aidid. Kembali dari Gowa, Syekh Yusuf menikah dengan putri Sultan Gowa, lalu saat usianya 18 tahun, Syekh Yusuf pergi ke Banten dan Aceh. Di Banten, sahabatnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa, yang kelak mengangkatnya sebagai Mufti Kesultanan Banten. Selanjutnya, Di Aceh, Syekh Yusuf berguru pada Syekh Nuruddin ar-Raniri dan mendalami tarekat Qadiriyah. Tahun 1644 M, Syekh Yusuf menunaikan ibadah haji dan tinggal di Makkah untuk beberapa lama, lalu belajar kepada ulama terkemuka di Makkah dan Madinah, termasuk juga memperdalam ilmu ke Yaman, berguru pula kepada Syekh Abdullah Muhammad bin Abdul Baqi, dan ke Damaskus (Suriah) untuk berguru pada Syekh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalwati Al-Quraisyi. 2. Teladan yang dapat dicontoh Ketekunan, penjelajahan, dan ikhtiarnya dalam menuntut ilmu, dapat kita jadikan contoh. Betapa tidak! Syekh Yusuf mempelajari Islam sekitar 20 tahun di Timur Tengah. Pencapaian itu, sangat luar biasa, apalagi jika kita kaji dari sisi waktu, Syekh Yusuf melakukan itu sekitar abad 17. Lagi-lagi, kalian sebagai penerus bangsa, dapat meneladani jejak langkah Syekh Yusuf dalam ikhtiarnya saat menuntut ilmu. Saat Kesultanan Gowa kalah perang dari Belanda, Syekh Yusuf pindah ke Banten. Pada periode ini, Kesultanan Banten menjadi pusat pendidikan agama Islam, dan Syekh Yusuf memiliki murid dari berbagai daerah, termasuk 400 orang asal Makassar yang dipimpin oleh Ali Karaeng Bisai. Pada September 1684 M, Syekh Yusuf ditangkap dan diasingkan ke Srilanka. Di negeri itu, Syekh Yusuf tetap berdakwah, sehingga memiliki murid ratusan yang berasal dari India Selatan. Salah satu ulama besar India, yang merupakan santrinya adalah Syekh Ibrahim bin Mi’an. Melalui jamaah haji yang singgah di Srilanka, Syekh Yusuf masih dapat berkomunikasi dengan para pengikutnya di Nusantara, akhirnya oleh

151 Belanda, diasingkan yang lebih jauh lagi. yakni Afrika Selatan yang terjadi pada bulan Juli 1693. Lagi-lagi Syekh Yusuf masih tetap berdakwah Di Afrika Selatan, pengikutnya banyak sekali. Saat beliau wafat tanggal 23 Mei 1699 M, pengikutnya menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Bahkan, Nelson Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’. Jenazah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dibawa ke Gowa atas permintaan Sultan Abdul Jalil (1677-1709 M) dan dimakamkan kembali di Lakiung, pada April 1705 M. Kemudian Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Soeharto. Selanjutnya, pada tahun 2009, Syech Yusuf dianugerahi penghargaan Oliver Thambo, yaitu penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan oleh Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki kepada ahli warisnya yang disaksikan oleh Wapres RI pada waktu, M. Yusuf Kalla di Pretoria Afrika Selatan. 3. Karya Tulisnya Syekh Yusuf dikenal juga sebagai mursyid (pembimbing) tarekat Khalwatiyah. Beliau juga mengajarkan tarekat lainnya, antara lain: Qadiriyah, Naqshabandiyah, Ba‘lawiyah, dan Syathariyah. Itu semua sesuai ijazah yang pernah diterimanya. Ajaran pokoknya adalah usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. yang mengacu pada peningkatan kualitas akhlak yang mulia serta penekanan amal shalih dan dzikir, baik secara perorangan maupun kelompok. Penjelasan lebih rinci dapat ditemukan pada risalahnya yang berjudul An-Nafhatu As Sailaniyah. Khusus berkaitan dengan tata cara melakukan dzikir, salah satu amalan terpenting dalam tarekat, diuraikan dalam risalahnya berjudul Kaifiyāt al- Dzikir (Cara-cara Berdzikir). Menurutnya, ada 20 macam adab berdzikir. Lima di antaranya mengenai hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum berdzikir. Lima macam itu, sebagai berikut. Pertama, bertaubat dari segala dosa; Kedua, berwudhu jika hadas (besar dan kecil), Ketiga, mandi jika junub; Keempat, berdiam diri tidak bicara, BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

152 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI kecuali mengucapkan kalimat dzikir; serta Kelima, memohon (berdoa) hanya kepada Allah Swt. Selain beberapa risalah tersebut, sedikitnya ada 20 judul buku yang ditulis Syekh Yusuf. Hampir semuanya berbahasa Arab. Di antaranya sebagai berikut: 1) Zubdād al-Asrār fī Tahqīq Ba’d Masyārib al-Akhyār. 2) Tāj al-Asrar fī Tahqīq Masyrab Al ‘Ārifīn min Ahl al-Istibshār. 3) Mathālib as-Sālikīn, Fath Kaifiyyah az-Dzikr. 4) Safīnat an-Najah, menjadi karyanya yang paling populer, yang hingga kini masih banyak diajarkan di berbagai pesantren. Di Museum Pusat Jakarta, juga didapati sekitar 10 manuskrip Syekh Yusuf yang belum diterjemahkan. c. Jejak dan Langkah Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani 1. Riwayat Hidupnya Gambar 5.7 Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani Syekh Abdus Samad dilahirkan di Palembang (kini masuk wilayah Sumatera Selatan) pada tahun 1116 H/1704 M, dan wafat pada tahun 1203 H/1789 M dalam usia 85 tahun. Beliau mendapat pendidikan dasar dari ayahnya sendiri di Palembang atau Kedah (Malaysia). Jika ditelaah dari silsilah, nasab Syekh Abdus Samad berketurunan Arab, dari jalur ayah. Nama ayahnya adalah Syeikh Abdul Jalil, yang merupakan ulama yang berasal dari Yaman, yang dilantik menjadi Mufti Negeri Kedah (kini Malaysia) pada awal abad ke-18. Sementara ibunya, bernama Radin Ranti, adalah wanita asli Palembang. Sementara, nama panjangnya terdapat 3 versi, yakni: Abdus Samad al-Jawi al-Falembani, Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Falembani, dan Sayyid Abdus Samad bin Abdurrahman al-Jawi. Pendidikannya dilanjutkan di salah satu pondok di Negeri Pattani (kini masuk wilayah Thailand Selatan). Saat itu, di Pattani menjadi pusat menempa

153 ilmu-ilmu keislaman, setelah dari Pattani, beliau langsung belajar ke Arab (Makkah dan Madinah). Di Pattani, beliau mendapatkan ilmu-ilmu dasar, seperti hafalan Matan Ilmu-Ilmu Arabiyah, dilanjutkan di bidang Syariat Islam dimulai dengan matan-matan ilmu fiqh yang bermadzhab Imam Syafi’i. Selanjutnya, di bidang tauhid dimulai dengan menghafal matan-matan ilmu kalam/ushuluddin menurut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja/Sunni) yang bersumber dari Syekh Abul Hasan al-Asy’ari dan Syeikh Abu Mansur al-Maturidi, karena kecerdasannya saat di Pattani, beliau sudah diperbolehkan sebagai pengajar, meskipun masih sebatas menjadi Mentor atau Tutor. Syekh Muhammad bin Samman menjadi gurunya, Sykh Abdus Samad mendalami juga kitab-kitab tasawuf kepada Syeikh Abdul Rauf Singkel dan Samsuddin al-Sumaterani, kedua-duanya dari Aceh. Sejak kecil, beliau lebih mendalami ilmu tasawuf, maka sejarah mencatatnya sebagai ulama yang memiliki kepakaran dan keistimewaan di cabang ilmu tersebut. Syekh Abdus Samad merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara Indonesia. Ketokohannya melengkapi nama-nama ulama dan intelektual berpengaruh seangkatannya, misalnya Nuruddin ar-Raniri, Muhammad Arsyad al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf al-Makasari, dan masih banyak lainnya. 2. Teladan yang dapat dicontoh Sesampai di Makkah dan Madinah, semangat belajarnya semakin giat. Ia mmpelahari dan menyerap beberapa ilmu yang belum dikuasai, dan memperdalam ilmu-ilmu yang sudah dikuasainya dari guru dan ulama yang terkenal dengan sebutan Jazirah Arab. Namun, beliau tidak melupakan negeri asalnya. Syekh Abdus Samad tetap memberikan perhatian besar pada perkembangan sosial, politik, dan keagamaan di Nusantara Indonesia. Beliau mengalami perubahan besar berkaitan dengan intelektualitas dan spiritual. Capaian itu tidak terlepas dari semangat dan proses pencerahan yang diberikan para gurunya. Beberapa gurunya yang masyhur dan berwibawa dalam proses tersebut, antara lain Muhammad bin Abdul Karim al-Sammani, Muhammad bin Sulayman al-Kurdi (Irak), dan Abdul al-Mun´im Damanhuri. Selain itu, tercatat juga dalam sejarah bahwa beliau berguru juga kepada ulama besar yang lain, di antaranya Ibrahim al-Rais, Muhammad Murad, BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

154 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Muhammad al-Jawhari, dan Athaullah al-Mashri (Mesir). Hasilnya tidak sia- sia, perjuangannya menuntut ilmu di Masjidil Haram dan tempat-tempat lainnya, mengangkat dirinya menjadi salah seorang ulama Nusantara yang disegani dan dihormati di kalangan ulama Arab, juga Nusantara Indonesia. Berdasarkan jejak langkahnya, kita menjadi sadar bahwa capaian besar, diperoleh dari ikhtiar dan usaha yang penuh kesungguhan, bertanggung jawab, serta selektif dalam memilih guru. Itu baru usaha lahir, sedangkan usaha dan olah batin tentu tidak dilupakan, baik dari pribadi maupun mohon doa dari para guru-gurunya. Berkat capaian Syekh Abdus Samad, sekali membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak kalah prestasinya dengan bangsa lain di dunia. 3. Karya Tulisnya Syekh Abdus Samad termasuk pengarang yang produktif. Karyanya yang terkenal dan sampai saat ini masih dipergunakan adalah Hidayatus Salikin dan Siyarus Salikin. Kedua kitab tersebut, merupakan penjelasan dari 2 kitab karya Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, yakni Bidāyat al-Hidāyah dan Lubāb Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn. Adapun kitab dan karyanya yang lain, sebagai berikut: 1) Zahratul Murīd fi Bayāni Kalimah al-Tauhīd, 1178 H/1764 M. 2) Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/1765 M. 3) Hidāyatus Sālikīn fī Sulūki Maslakil Muttaqīn, 1192 H/1778 M. 4) Siyārus Sālikīn ilā ‘Ibādati Rabbil ‘Alamīn, 1194 H/1780 M-1203 H/1788 M. 5) Al-‘Urwatul Wutsqā wa Silsilatu Waliyil Atqā. 6) Ratib Sheikh ‘Abdus Shamad al-Falimbani. 7) Nashīhatul Muslimīna wa Tazkiratul Mu’minīna fi Fadhāilil Jihādi wa Karāmatil Mujtahidīna fī Sabīlillah. 8) Ar-Risālatu fī Kaifiyatir Rītib Lailatil Jum’ah 9) Mulhiqun fī Bayāni Fawaidin Nafi’ah fī Jihādi fī Sabīlillah 10) Zātul Muttaqin fī Tauhidi Rabbil ‘Alamīn 11) ‘Ilmut Tasawuf 12) Mulkhishut Tuhbatil Mafdhah minar Rahmatil Mahdah ‘Alaihis Shalātu was Salām

155 13) Kitab Mi’raj 14) Anisul Muttaqin 15) Puisi Kemenangan Kedah d. Jejak dan Langkah Nuruddin bin Ali ar-Raniri 1. Riwayat Hidupnya Gambar 5.8 Nuruddin bin Ali ar-Raniri Nama lengkapnya Syekh Nuruddin Muhammad bin ‘Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi. Jika ditelaah dari namanya, beliau memiliki darah keturunan (nasab) dari suku Quraisy, suku yang juga menurunkan Nabi Muhammad Saw. Ayahnya adalah seorang pedagang Arab yang bergiat dalam pendidikan agama, sedangkan nama populernya adalah Syekh Nuruddin Ar-Raniri atau Syekh Nuruddin, beliau adalah ulama penasehat Kesultanan Aceh pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II). Syekh Nuruddin diperkirakan lahir sekitar akhir abad ke-16 di kota Ranir, wilayah Gujarat India, dan wafat pada 21 September 1658 M. Pada tahun 1637 M, ia datang ke Aceh, dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di daerah tersebut sampai tahun 1644 M. Syekh Nuruddin mula-mula mempelajari bahasa Melayu di Aceh, lalu memperdalam pengetahuan agama saat beribadah haji ke Makkah. Sepulang dari Makkah, didapati bahwa pengaruh Syamsuddin as-Sumatrani sangat besar di Aceh. Karena tidak cocok dengan aliran wujudiyah (salah satu aliran tasawuf), Syekh Nuruddin pindah ke Semenanjung Malaka untuk memperdalam ilmu agama dan bahasa Melayu. 2. Teladan yang dapat dicontoh Pengetahuan Syekh Nuruddin tak terbatas dalam satu cabang ilmu saja, namun sangat luas yang meliputi bidang sejarah, politik, sastra, filsafat, fikih, BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

156 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI dan mistisisme (tasawuf). Beliau adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Peranan Syekh Nuruddin dalam perkembangan Islam di Nusantara tidak dapat diabaikan. Dia berperan membawa tradisi besar Islam sembari mengurangi masuknya tradisi lokal ke dalam tradisi yang dibawanya. Tanpa mengabaikan peran ulama lain yang lebih dulu menyebarkan Islam di wilayah ini, beliau berupaya menghubungkan satu mata rantai tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam Nusantara. Bahkan, Syekh Nuruddin merupakan ulama pertama yang membedakan penafsiran doktrin dan praktik sufi yang salah dan benar. Saat baru tiba di Aceh, di wilayah tersebut telah berkembang luas paham wujudiyah. Paham ini dianut dan dikembangkan oleh Syekh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Pada tahun 1637 M, ia kembali ke Aceh dan tinggal selama tujuh tahun. Saat itu Syekh Syamsuddin as-Sumatrani telah meninggal. Berkat keluasan pengetahuannya, Sultan Iskandar Tani (1636 M-1641 M) mempercayainya untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Syamsuddin. Nuruddin menjabat sebagai Kadi Malik al-Adil, Mufti Besar, ditambah jabatan sebagai Syekh di Masjid Bait al-Rahmān. 3. Karya Tulisnya Syekh Nuruddin menulis beberapa buah kitab. Ia juga membaca Hikayat Seri Rama dan Hikayat Inderaputera, yang kemudian dikritiknya dengan tajam, serta Hikayat Iskandar Zulkarnain. Beliau juga membaca Tāj as-Salātīn karya Bukhari al-Jauhari dan Sulālat as-Salātīn yang populer pada masa itu. Kedua karya ini, memberi pengaruh yang besar pada karyanya sendiri, yakni Bustān as-Salātīn. Sebagai ikhtiar menyanggah pendapat dan paham wujudiyah, Syekh Nuruddin menulis beberapa kitab, antara lain Asrār al-‘Ārifīn (Rahasia Orang yang Mencapai Pengetahuan Sanubari), Syarāb al-‘Asyiqīn (Minuman Para Kekasih), dan Al-Muntahi (Pencapai Puncak). Di samping itu, ia juga menyanggah ajaran Hamzah Fanzuri melalui polemik-polemik terbuka dengan para pengikut wujudiyah. Sesudah berpolemik selama sekitar satu bulan, Syekh Nuruddin terpaksa meninggalkan Aceh untuk kembali ke tanah kelahirannya di Ranir, daerah

157 Gujarat India, sehingga ia tidak sempat menyelesaikan karangannya yang berjudul Jawāhir al-‘Ulūm fī Kasyfi al-Ma‘lūm (Hakikat Ilmu dalam Menyingkap Objek Pengetahuan). Syekh Nuruddin juga menulis beberapa kitab khusus untuk melawan aliran wujudiyah, antara lain Hill az-Dzill (Sifat Bayang-bayang), Syifā al- Qulb (Pengobatan Hati), Tibyān fī Ma‘rifāt al-Adyān (Penjelasan tentang Kepercayaan), Hujjāt al-Siddiq li Daf az-Zindiq (Pembuktian Ulama dalam Membantah Penyokong Bid’ah), Asrār al-Insān fī Ma‘rifāt ar-Rūh wal ar- Rahmān (Rahasia Manusia dalam Pengenalan Ruh dan Yang Maha Pengasih). Secara keseluruhan, Nuruddin Ar-Raniri menulis sekitar 30 naskah buku, di antaranya adalah: 1) Al-Shirāth al-Mustaqīm 2) Durrat al-Farāid bi syarh al-‘Aqāid an-Nasafiyah 3) Hidāyat al-Hābib fi al Targhib wa’l-Tarhib 4) Bustanus al-Shalathin fī Dzikr al-Awwālin wa al-Ākhirīn 5) Nubdzah fi Da’wah al-Dzill ma’a Shāhibihi 6) Lathā’if al-Asrār 7) Asrāl an-Insān fī Ma’rifāt al-Rūh wa al-Rahmān 8) Tibyān fī Ma’rifat al-Adyān 9) Akhbār al-Ākhirah fi Ahwāl al-Qiyāmah 10) Hill al-Dzhill 11) Ma’u’l Hayat li Ahl al-Mamāt 12) Jawāhir al-‘Ulūm fī Kasyfi’ al-Ma’lūm 13) Aina’l-‘Alam Qabl an-Yukhlaq 14) Syifā’ al-Qulūb 15) Hujjat al-Shiddīq li daf’i al-Zindīq 16) Al-Fat-hu’l-Mubīn ‘a’l-Mulhiddīn 17) Al-Lama’an fi Takfir Man Qala bi Khalg al-Qur’an 18) Shawarim al-Shiddīq li Qath’i al-Zindīq 19) Rahīq al-Muhammadiyyah fī Tharīq al-Shufiyyah 20) Ba’du Khalq al-samawāt wa al-Ardh 21) Kaifiyat al-Shalāt BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

158 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 22) Hidāyat al-Īmān bi Fadhli al-Manān 23) ‘Aqā’id al-Shufiyyat al-MuwahhiddĪn 24) ‘Alaqat Allah bi al-‘Alam 25) Al-Fat-hu’l-Wadūd fī Bayān Wahdat al-Wujūd 26) ‘Ain al-Jawād fī Bayān Wahdāt al-Wujūd 27) Awdhah al-Sabīl wa al-Dalil laisal li Abathil al-Mulhiddīn Ta’wīl 28) Awdhah al-Sabīl laisan li Abathil al-Mulhiddīn Ta’wīl. 29) Syadar al-Mazīd e. Jejak dan Langkah Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili 1. Riwayat Hidupnya Nama populernya adalah Syekh Abdurrauf bin Ali al-Fansuri as-Singkili (Singkil, Aceh). Tahun lahirnya adalah 1024 H/1615 M, sementara wafatnya di Kuala Aceh, Aceh Tahun 1105 H/1693 M). Beliau adalah ulama besar Aceh, dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama Islam di Sumatra dan Nusantara pada umumnya. Sebutan gelarnya yang juga terkenal ialah Tengku Syiah Kuala (bahasa Aceh, artinya Syekh Ulama di Kuala). Gambar 5.9 Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili Adapun nama lengkapnya ialah Aminuddin Abdul Rauf bin Ali al-Jawi Tsumal Fansuri as-Singkili. Sebagian riwayat menyebutkan, keluarganya berasal dari Persia atau Arabia, yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Namun, belum dapat dipastikan karena minimnya catatan sejarah, serta tidak didukung nama keluarga yang mencirikan keturunan Arab ataupun Persia. Beberapa ahli berpendapat, beliau merupakan putra asli pribumi beretnis Minang Pesisir di Singkil yang yang telah menganut agama Islam pada masa itu. Pendapat lain, mengatakan berasal dari etnis Batak Singkil yang beragama Islam yang tidak diketahui lagi marganya.

159 Pada masa mudanya, mula-mula belajar kepada ayahnya sendiri. Kemudian belajar kepada ulama-ulama di Fansur dan Banda Aceh. Selanjutnya, pergi menunaikan ibadah haji, dan dalam proses lawatannya, belajar juga kepada banyak ulama di Timur Tengah. 2. Teladan yang dapat dicontoh Diperkirakan Syekh Abdul Rauf kembali ke Aceh sekitar tahun 1083 H/1662 M, dan mengajarkan serta mengembangkan Tarekat Syathariah yang diperolehnya. Banyak santri dan murid yang berguru kepadanya, dan berasal dari Aceh serta wilayah Nusantara lainnya. Beberapa yang menjadi ulama terkenal ialah Syekh Burhanuddin Ulakan (dari Pariaman, Sumatra Barat) dan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan (dari Tasikmalaya, Jawa Barat). Syekh Abdul Rauf menjadi rujukan penting para mubalig yang merintis dakwah ke berbagai daerah di Nusantara. Hal itu sejalan dengan sifat strategis Aceh sebagai poros peradaban Islam di Kepulauan Indonesia. Saat itu, Aceh merupakan tempat persinggahan para calon jamaah haji asal Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Disebabkan peran besar tersebut, Syekh Abdul Rauf dapat dikatakan sebagai Poros sejumlah ulama Nusantara. Salah seorang muridnya adalah Syekh Burhanudin Ulakan (1646 M-1692 M). Setelah belajar di Aceh, mubalig asal Pariaman itu berangkat ke Tanah Suci. Sepulangnya dari Haramain, dia mendirikan surau di Ulakan. Jasanya yang paling dikenang adalah mendakwahkan Islam kepada kaum bangsawan Kerajaan Pagaruyung. Murid lainnya adalah Syekh Abdul Muhyi. Mubaligh asal Jawa Barat itu pernah bermukim di Aceh, untuk kemudian berangkat ke Tanah Suci untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Sempat pula dia berkunjung ke Baghdad (Irak) untuk berziarah ke makam Syekh Abdul Qadir Jailani (1077 M-1166 M). Sepulangnya dari rihlah keilmuan itu, Abdul Muhyi menyebarkan dakwah Islam, termasuk tarekat Syathariyah, di Jawa Barat. Tokoh berikutnya adalah Abdul Malik bin Abdullah (1678-1736) dari Semenanjung Melayu dan Dawud al-Jawi ar-Rumi. Keduanya juga berangkat ke Tanah Suci untuk beribadah haji sekaligus pengembangan keilmuan. Akhirnya kiprah Abdul Malik banyak di bidang syariat dan fikih. Sementara, Dawud al-Jawi yang diduga berasal dari Turki, dijadikan sebagai wakil utama dari tarekat Syathariyah sepeninggal wafatnya Syekh Abdur Rauf. BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

160 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 3. Karya Tulisnya Menurut Azyumardi Azra (Akademisi UIN Jakarta) menyatakan bahwa banyak karya-karya Syekh Abdurrauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya. Di antaranya adalah: 1) Mir’at al-Thullāb fī Tasyil Mawā’iz al-Badî’rifat al-Ahkām al-Syar’iyyah li Mālik al-Wahhāb, karya ini berisi tentang bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sultanah Safiyatuddin. 2) Tarjuman al-Mustafīd, merupakan naskah pertama Tafsir Al-Qur’an yang lengkap berbahasa Melayu. 3) Terjemahan Hadits Arba’in karya Imam al-Nawawi, ditulis atas permintaan Sultanah Zakiyyatuddin. 4) Mawā’iz al-Badī’, berisi sejumlah nasihat penting dalam pembinaan akhlak. 5) Tanbīh al-Masyi, merupakan naskah tasawuf yang memuat pengajaran tentang martabat tujuh. 6) Kifāyat al-Muhtajin ilā Masyrah al-Muwahhidīn al-Qāilīn bi Wahdatil Wujūd, memuat penjelasan tentang konsep wahdatul wujud. 7) Daqāiq al-Hurf, pengajaran mengenai tasawuf dan ilmu kalam (akidah). Di antara karya besar Syekh Abdu Rauf adalah Tarjuman al-Mustafīd. Itulah terjemahan dan tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Melayu. Kitab tersebut banyak dipengaruhi karya Abdullah bin Umar bin Muhammad Syairazi al-Baidawi (w. 1286 H), yakni Tafsir Anwār al-Tanzil wa Asrār al- Ta’wīl, yang dalam bahasa Arab dan memang sudah legendaris di penjuru dunia. Namun, karya tulis syekh asal Aceh itu juga tidak kalah terkenal. Sebagai contoh, Tarjuman al-Mustafīd diketahui pernah terbit pada 1884 M/1885 M dalam edisi dua jilid di Istanbul, Turki. Adapun karya-karyanya yang lain juga menjadi bacaan penting, baik oleh alim ulama maupun sultan-sultan Melayu. Di samping itu, mubalig kelahiran Singkel ini, juga kerap memanfaatkan sastra sebagai medium penyebaran gagasan sufistik. Sebuah syair karyanya yang terkenal adalah Syair Ma’rifat yang salinannya ditulis di Bukittinggi pada tahun 1859 M.

161 f. Jejak Langkah Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani 1. Riwayat Hidupnya Gambar 5.10 Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani Di kalangan ulama atau masyarakat awam, orang sering menyebutnya dengan nama Mbah Sholeh Darat. Kata “Darat” pada akhir nama beliau, disebabkan beliau tinggal di daerah yang bernama Darat, yaitu suatu daerah di pantai utara Semarang. Saat ini, daerah Darat termasuk wilayah Semarang Barat. Mbah Sholeh Darat dilahirkan di desa Kedung Cumpleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sekitar 1820 M. Sementara, informasi yang lain menyebutkan, beliau lahir di Dukuh Kedung Cumpleng, Desa Ngroto, Kecamatan Mayong, Jepara. Beliau wafat di Semarang pada 28 Ramadan 1321 H/18 Desember 1903 M. Nama lengkapnya adalah Al-’Alim Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani al-Jawi asy-Syafi’i. Jika dari namanya yang panjang, mengindikasikan bahwa beliau merupakan seorang Ulama Besar di Jawa. Nama Ayahnya adalah Kiyai Umar yang merupakan salah seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro di Jawa Bagian Utara Semarang. Hasil didikan Mbah Sholeh Darat, dapat ditelusuri dari nama-nama berikut ini, yang merupakan tokoh-tokoh besar Indonesia, antara lain: Hadratu Syekh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH Amir Idris (pekalongan), KH Dahlan Tremas, KH Dimyathi Tremas, KH Dalhar Watucongol (Magelang). Selanjutnya, KH Bisri Syansuri (Jombang), KH Kholil (Lasem Rembang), KH Sya’ban (semarang), KH Abdus Syakur Senorita (Tuban), KH Yasir Jekulo (Kudus), dan KH Thoyib (Mranggen Demak). Jangan dilupakan juga, termasuk hasil didikan beliau adalah tokoh emansipasi wanita Indonesia, yakni R.A. Kartini. BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

162 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Kiai Sholeh juga menjadi salah satu pengajar di Makkah. Muridnya berasal dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Jawa dan Melayu. Hal ini tentu membanggakan, kita sebagai generasi penerus telah disuguhi banyak tokoh besar Indonesia, karena itu menjadi kewajiban kita untuk dapat mencontoh dan meneladani capaian dan keberhasilan mereka, baik di level nasional, regional maupun mancanegara. 2. Teladan yang dapat dicontoh Kiai Sholeh Darat menimba ilmu di pesantren-pesantren pada zamannya, beliau banyak berjumpa dengan kiai-kiai masyhur yang dikenal memiliki kedalaman serta keluasan ilmu batin (tasawuf), yang kemudian dijadikan sebagai gurunya di Nusantara Indonesia, antara lain KH. M. Sahid yang merupakan cucu dari Syaikh Ahmad Mutamakkin, seorang ulama besar dari daerah Pati Jawa Tengah sekitar abad ke-18. Beliau juga berguru kepada KH. Syahid Waturoyo, KH. Muhammad Shaleh Asnawi (Kudus), KH. Haji Ishaq Damaran, KH Abu Abdillah Muhammad Hadi Baguni, KH Ahmad Bafaqih Ba’alawi, dan KH Abdul Ghani Bima. Beliau juga menimba ilmu ke gurunya yang di mancanegara, khususnya di wilayah Hijaz (Jazirah Arab Saudi Arabia), antara lain Syeikh Muhammad al-Muqri, Syeikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syeikh Ahmad Nahrowi, Sayid Muhammad Saleh bin Sayid Abdur Rahman Az-Zawawi, Syeikh Zahid, Syeikh Umar asy-Syami (Suriah dan Palestina) Syeikh Yusuf al-Mishri (Mesir). Berdasarkan penjelasan tersebut, banyak hal yang dapat dicontoh dari Syekh Shaleh Darat, antara lain: a) Pengembaraan ilmunya melalui guru atau ulama yang sudah masyhur, berguru kepada ulama yang bukan sekedar dalam ilmunya, tetapi juga memiliki sangat baik amal ibadah dan akhlak yang dimiliki guru-gurunya. b) Tidak puas hanya menimba ilmu ulama dari Nusantara, tetapi sampai ke mancanegara, khususnya negara-negara di kawasan Timur Tengah, karena pusat Islam pada waktu adalah di wilayah-wilayah tersebut. c) Beliau juga mendidik wanita-wanita muslim, terbukti beliau berhasil melambungkan nama RA. Kartini menjadi tokoh emansipasi wanita Indonesia, padahal pada waktu itu Nusantara masih di bawah

163 cengkeraman penjajah Belanda yang umumnya menjadikan wanita sebagai warga “‘kelas dua”. 3. Karya Tulisnya Syekh Kyai Sholeh Darat termasuk ulama yang produktif, banyak karya lahir darinya. Di antara kitab atau karya tulis beliau adalah: 1) Kitab Munjiyat, tentang tasawuf, ringkasan dari penjelasan kitab Ihya’ `Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali. 2) Syarh Kitab al-Hikam, juga tentang tasawuf, merupakan penjelasan dari kitab al-Hikam karangan Syekh Ibnu Atha’illah al-Askandari. 3) Latha’if at-Thaharah tentang hukum bersuci. 4) Kitab ash-Shalah, membicarakan tata cara mengerjakan shalat. 5) Tarjamah Sabil al-`Abid `ala Jauharah at-Tauhid, menjelasakan akidah Ahli Sunnah wal Jamaah dengan mengacu Imam Abul Hasan al-Asy`ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. 6) Mursyid al-Wajiz, kandungannya membicarakan tasawuf atau akhlak. 7) Minhaj al-Atqiya’, juga tentang tasawuf dan akhlak. 8) Kitab Hadis al-Mi’raj, tentang perjalanan Nabi Muhammad s.a.w untuk menerima perintah shlata fardhu. 9) Kitab Asrar al-Shalah, kandungannya membicarakan rahasia-rahasia shalat. 10) Faid ar-Rahman fi Tarjamah Tafsir al-Kalam al-malik al-Dayyan yang merupakan tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Dan kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah dengan R.M. Joyodiningrat, seroang Bupati Rembang. 11) Kitab Manasik al-Haj wa al-Umrah wa Adab al-Ziyarah li Sayyid al- Mursalin. Kitab ini, membahas ibadah haji dan umrah yang berisi 64 halaman dengan 17 topik yang dikupas dimulai dari bab Kitab Haj wa al-Umrah hingga al-Khatimah (penutup). Kitab ini diterbitkan di Bombai India pada tahun 1340 H/1922 M. 12) Kitab Majmu’ah al-Syari’ah al-Kafiyah li al-’Awam. Isinya hampir mirip dengan karyanya yang terdahulu, yakni tentang haji. Kitab ini diterbitkan oleh penerbit Karya Toha Putra Semarang, sayangnya tidak ditemukan tahun kapan diterbitkan. BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

164 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI g. Jejak dan Langkah Hamzah al-Fansuri 1. Riwayat Hidupnya Gambar 5.11 Hamzah al-Fansuri Nama populernya Syekh Hamzah Fansuri, atau Hamzah al-Fansuri. Nama al-Fansuri sendiri berasal dari Arabisasi kata Pancur, sebuah kota kecil di pantai Barat Sumatra yang kini terletak antara Singkil (Aceh) dan Sibolga (Sumatra Utara). Merujuk zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bagian Aceh Selatan. Beliau berasal dari Barus (saat ini di provinsi Sumatera Utara). Di jaman itu, wilayah Barus sering disinggahi para saudagar dan musafir dari mancanegara. Bahkan, disebut oleh Sastrawan Abdul Hadi, signifikansinya sudah tercantum dalam naskah sejarah Yunani Kuno yang ditulis pada abad kedua sebelum Masehi (SM). Namun, ada pula yang berpendapat lain, bahwa Hamzah Fansuri dilahirkan di Ayuthia, ibukota lama kerajaan Siam (Thailand). Seperti pendapat Syed Naguib al-Attas, bahwa keluarganya memang berasal dari Barus, tetapi dirinya sendiri lahir di Syahr Nawi, yakni Ayuthia, ibu kota Kerajaan Siam yang berdiri pada 1350. Sepanjang hayatnya, Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam, Hindi, Arab, dan Persia. Bahasa Arab dan Persia merupakan bahasa penting pada abad ke-16. Saat itu, di Barus sudah berkembang suatu dialek bahasa Melayu yang unggul, di samping dialek Malaka dan Pasai. Oleh karena itu, bahasa Melayu yang dipakai Hamzah Fansuri dalam karya-karyanya dapat dianggap contoh terbaik ragam bahasa Melayu. 2. Teladan yang dapat dicontoh Sepanjang hayatnya, Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam, Hindi, Arab, dan Persia. Bahasa Arab dan Persia, merupakan bahasa penting pada abad ke-16, termasuk mengenai tasawuf Islam.

165 Di Barus pada masa itu, sudah berkembang suatu dialek bahasa Melayu yang unggul, di samping dialek Malaka dan Pasai. Oleh karena itu, bahasa Melayu yang dipakai Hamzah Fansuri dalam karya-karyanya dapat dianggap contoh terbaik ragam bahasa Melayu Barus. Semua pegiat Sastra Nusantara menyebut bahwa Hamzah Fansuri adalah penyair agung di rantau Sumatera. Disebutkan oleh A Teeuw, ketika Valentijn (seorang sarjana Belanda) mengunjungi Barus pada 1706, ia membuat catatan yang menunjukkan kekagumannya kepada sang penyair. ‘’Seorang penyair Melayu, Hamzah Pansur, adalah sosok terkemuka di lingkungan orang-orang Melayu, karena syair dan puisinya yang menakjubkan. Kita dibuat dekat kembali dengan kota kelahiran sang penyair, jika mengangkat naik timbunan debu kebesaran dan kemegahan masa lampau,’’ tulis Valentijn. 3. Karya Tulisnya Syekh Hamzah Fansuri merupakan figur penting dalam sejarah kebudayaan Melayu-Indonesia. Kemasyhurannya meliputi banyak bidang, yakni kesusastraan, tasawuf, dan dakwah Islam. Namun, sedikit sekali yang dapat memastikan detail riwayat hidup sang perintis tradisi penulisan syair berbahasa Melayu itu. Berikut ini, sedikir rincian karya beliau yang terkait dengan kesusatraan Melayu: Syair Hamzah Fansuri terdiri atas 13-21 bait. Setiap bait terdiri atas empat baris, yang berima a-a-a-a. Pada umumnya jumlah kata tiap baris ada empat, meskipun terdapat pengecualian. Syair Hamzah al-Fansuri banyak dipengaruhi puisi-puisi Arab dan Persia (seperti rubaiyat karya Umar Khayyam), namun tetap ada perbedaan, yakni: Rima Rubaiyat adalah a-a-b-a, sedangkan Hamzah al-Fansuri memakai rima a-a-a-a. Selanjutnya, jika ditelaah dari segi tema setiap syair yang dikarang Hamzah al-Fansuri, lebih banyak membahas tentang aspek tasawuf. Hal ini, dikarenakan bidang lain yang diminati adalah tasawuf, selain sastra dan dakwah Islam. Hamzah Fansuri banyak melakukan kreasi atau inovasi baru, yang sebelumnya tidak dikenal dalam sastra Melayu lama. Misalnya, memperkenalkan bentuk puisi baru untuk mengekspresikan diri. Inovasi BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

166 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI lain adalah pemakaian bahasa yang kreatif. Hamzah Fansuri tidak segan- segan meminjam kata-kata dari bahasa Arab dan Persia dalam puisinya. Adapun karya-karya Syekh Hamzah Fansuri yang sampai saat ini masih dapat ditelaah, dikaji dan dinikmati adalah: Syair Hamzah Fansuri Hamzah Fansuri di dalam Makkah Mencari Tuhan di Bait-Ka’bah Di Barus ke Qudus terlalu payah Akhirnya dijumpa di dalam rumah Kelompok Puisi 1) Syair Burung Unggas 2) Syair Dagang 3) Syair Perahu 4) Syair Si Burung pipit 5) Syair Si Burung Pungguk 6) Syair Sidang Fakir Kelompok Prosa 1) Asrār al-‘Ārifīn 2) Sharab al-‘Āsyikīn 3) Kitab al-Muntahi/Zinat al-Muwahidīn Aktivitas 5.5 Aktivitas Peserta Didik: Kelas dibagi menjadi 4 kelompok, lalu susun makalah dalam bentuk ppt. yang mengisahkan Ulama Nusantara Indonesia yang menorehkan catatan emas di dunia, yaitu: (1) Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari; (2) Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi; (3) Syekh Muhammad Yasin al- Fadani; dan (4) Syekh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi; Persiapkan juga buku catatan, atau laptop yang kalian miliki untuk presentasi. Lalu setelah mengetahui profil Ulama Nusantara tersebut, apa yang harus kalian lakukan, agar dapat meneladani dalam upaya mencari ilmu! H Penerapan Karakter Setelah menelaah materi Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia Yang Mendunia, diharapkan peserta didik dapat membiasakan karakter dalam kehidupan sehari-hari, sebagai berikut.

167 No Butir Sikap Nilai Karakter 1 Sebagai generasi penerus, muncul tekad dan semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, seperti yang dilakukan ulama Nusantara Indonesia yang sudah menorehkan tintas emas dalam percaturan ilmu di dunia Tanggung jawab, peduli lingkungan 2 Banyak karya tulis (kitab) yang diwariskan ulama Nusantara Indonesia, maka menjadi kewajiban kepada kalian untuk mengkaji, menelaah, dan mempelajari kitab- kitab tersebut untuk kemajuan Indonesia dan Dunia. Tanggung jawab, peduli lingkungan 3 Tidak minder dan rendah diri dalam percaturan dunia, sebab para ulama Nusantara Indonesia dulu, meski dalam keterbatasan, tetapi tetap unggul berhadapan dengan masyarakat dunia, khususnya di dunia pemikiran dan keilmuan. Tanggung jawab, peduli lingkungan 4 Ulama Nusantara Indonesia sudah memberi contoh, meskipun pengembaraan dan penjelajahan ilmu sudah sampai ke manca negara, tetapi tidak melupakan untuk mencintai tanah airnya untuk memajukan bangsa dan negaranya Tanggung jawab, peduli lingkungan 5 Tidak melupakan untuk memiliki kompetensi berbahasa asing, termasuk Bahasa Arab, karena mayoritas buku dan karya yang disusun oleh para ulama Nusantara Indonesia berbahasa Arab, minimal bisa memahami dan menterjemahkan. Tanggung jawab, peduli lingkungan I Refleksi Jika kalian kaji jejak langkah 7 Ulama Nusantara Indonesia yang sudah dipelajari, sebutkan 5 faktor yang menjadi penyebab para ulama tersebut, meraih capaian yang begitu unggul. Jawabannya ditulis tangan, dan cukup 2 lembar saja yang diperkaya dengan data, gambar, atau ilustrasi! Ini tugas pribadi atau individual ya! BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

168 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI J Rangkuman 1. Indonesia merdeka tidak lepas dari peran para Ulama Indonesia. Banyak sekali nama-nama yang dapat kita sodorkan dan menjadi pengingat tentang jejak mereka dalam memerdekakan Indonesia, yang sudah kita kenal, antara lain: Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Pangeran Antasari, dll. 2. Materi ajar ini, agak berbeda yakni Ulama Indonesia yang bukan hanya memberi sumbangsih besar untuk Indonesia, tetapi mewarnai wajah dunia sampai saat ini. Mereka itu, antara lain: Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani, Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al- Makasari, Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani, Nuruddin bin Ali ar-Raniri, Syekh Abdurauf bin Ali al-Singkili, Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani, Hamzah al-Fansuri. 3. Syekh Nawawi pernah menjadi imam di Masjidil Haram. Gelarnya Sayyidul Hijaz. Di kawasan Asia Tenggara, khususnya di dunia pesantren, karya-karyanya masih dipelajari, dikaji, dan ditelaah. 4. Jejak dakwah Syekh Yusuf Tajul Khalwati dimulai dari Gowa, Sulawesi Selatan, lalu diasingkan ke Srilanka (Asia Selatan, dekat India) ke Afrika Selatan. Presiden Nelson Mandela menyebutnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’. 5. Syekh Abdus Samad merupakan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara Indonesia. Ketokohannya melengkapi ulama seangkatannya, misalnya Nuruddin ar-Raniri, Muhammad Arsyad al-Banjari, Hamzah Fansuri, Yusuf al-Makasari, dan masih banyak lainnya. 6. Ilmu Syekh Nuruddin sangat luas yang meliputi bidang sejarah, politik, sastra, filsafat, fikih, dan mistisisme (tasawuf). Beliau juga negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. 7. Syekh Nuruddin menulis beberapa kitab. Mendalami juga Hikayat Seri Rama dan Hikayat Inderaputera, yang kemudian dikritiknya

169 dengan tajam, serta Hikayat Iskandar Zulkarnain. Didalami pula buku Tāj as-Salātīn karya Bukhari al-Jauhari dan Sulālat as-Salātīn. 8. Syekh Abdul Rauf menjadi rujukan penting para mubalig yang merintis dakwah ke berbagai daerah di Nusantara. Hal itu sejalan dengan sifat strategis Aceh sebagai poros peradaban Islam di Nusantara. Saat itu, Aceh menjadi tempat persinggahan calon jamaah haji asal Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. 9. Kiai Sholeh Darat menjadi salah satu pengajar di Makkah. Muridnya berasal dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Jawa dan Melayu, antara lain: Hadratu Syekh KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH Amir Idris (pekalongan), KH Dahlan Tremas, KH Dimyathi Tremas, KH Dalhar Watucongol (Magelang), dan masih banyak lagi. 10. Sepanjang hayatnya, Syekh Hamzah Fansuri tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam, Hindi, Arab, dan Persia. Bahasa Arab dan Persia merupakan bahasa penting pada abad ke- 16. Saat itu, di Barus sudah berkembang suatu dialek bahasa Melayu yang unggul, di samping dialek Malaka dan Pasai. K Penilaian 1. Penilaian Sikap Penilaian Diri Berilah tanda centang ( pada kolom berikut dan berikan alasannya! No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 1 Adanya 7 ulama Nusantara Indonesia yang mendunia, mereka itu hanya capaian yang bersifat pribadi, tidak mewakili Nusantara Indonesia 2 Syekh Nawawi Banten pelopor generasi penerus Indonesia, bahwa orang Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lain, bahkan boleh jadi lebih unggul BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia √( 22960001_PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI P.SMA-SMK XI_T-169_R1.pdf 1 4/12/2022 3:40:24 PM

170 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI No Pernyataan Jawaban Alasan S R TS 3 7 ulama Nusantara Indonesia memberi teladan, bahwa literasi dalam bentuk karya tulis mejadi bukti abadinya umur manusia. Seperti orang bijak mengatakan bahwa jika usiamu ingin abadi, maka menulislah! 4 Kondisi yang terbatas dan tanah airnya yang masih dijajah, tidak menyurutkan tekad dan semangat 7 pemuda Indonesia (yang kemudian menjadi ulama yang berkaliber dunia) untuk berprestasi dan unggul di bidangnya masing-masing. 5 7 ulama Nusantara Indonesia tersebut, memberi inspirasi lain, bahwa jika keadaan terdesak boleh pergi untuk untuk kembali ke tanah kelahirannya. Catatan: S= Setuju, R=Ragu, TS= Tidak setuju 2. Penilainan Pengetahuan Berilah tanda silang (X) pada huruf A, B, C, D atau E pada pernyataan di bawah ini sebagai jawaban yang paling tepat! 1. Saat jayanya kerajaan Islam, peran ulama sangat menonjol sebagai bagian dari pejabat elite. Adapun perannya yang paling penting adalah … . A. duduk menemani para pemimpin yang membidangi pemerintahan B. berbeda-beda peran sesuai wilayah atau daerah yang dikuasai C. menjadi penasehat di bidang keagamaan bagi kerajaan D. mempengaruhi pemimpin agar menegakkan aturan E. dikembalikan aturan bernegara yang menyimpang 2. Syekh Nawawi pernah menjadi imam di Masjidil Haram, mengajar di Haramain, dan mendapatkan gelar Sayyidul Hijaz. Saat itu, yang termasuk Hijaz adalah wilayah … . A. Timur Tengah seluruhnya B. Makkah, Madinah, dan Damaskus

171 C. Palestina, Yordania dan Yaman D. Saudi Arabia, Irak dan Iran E. Jazirah Arab, Makkah, Madinah 3. Sampai saat ini, karya-karya beliau masih dipelajari, dikaji, dan ditelaah di pesantren. Misalnya kitab Sullam al-Munâjah syarah Safînah al- Shalâh dan Nashâih al-‘Ibâd syarah al-Manbaĥâtu ‘ala al-Isti’dâd li yaum al-Mi’âd. Itu adalah karya tulis dari … . A. Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani B. Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari C. Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani D. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani E. Nuruddin bin Ali ar-Raniri 4. Setiap tanah yang dipijak, selalu melakukan dakwah, bahkan saat diasingkan, beliau bahkan diberi gelar oleh Nelson Madela (Presiden Afrika Selatan) sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’. Beliau adalah … . A. Syaikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari B. Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani C. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani D. Nuruddin bin Ali ar-Raniri E. Hamzah Fansuri 5. Syekh Abdus Samad merupakan tokoh kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara Indonesia. Jumlah karyanya + 20 kitab/buku. Namun, karyanya yang terkenal dan sampai saat ini masih dipergunakan adalah … . A. Kaifiyāt al-Dzikir B. Al-Tafsir al-Munîr li al-Mu’âlim C. Al-Tausyîh/Quwt al-Habîb al-Gharîb D. Hidayatus Salikin dan Siyarus Salikin E. An-Nafhatu As Sailaniyah. 6. Beliau adalah negarawan, ahli fikih, teolog, sufi, sejarawan dan sastrawan penting dalam sejarah Melayu pada abad ke-17. Perannya dalam perkembangan Islam di Nusantara tidak dapat diabaikan. Beliau adalah … . BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

172 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A. Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Tanari al-Bantani B. Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati al-Makasari C. Abdus Samad bin Abdullah al-Jawi al-Palimbani D. Muhammad Sholeh bin Umar al-Samarani E. Syekh Nuruddin bin Ali ar-Raniri 7. Syekh Abdul Rauf dapat dikatakan sebagai poros sejumlah ulama Nusantara. Adapun nama muridnya yang paling berjasa, sehingga mampu mendakwahkan Islam kepada kaum bangsawan Kerajaan Pagaruyung adalah … . A. Abu Abdul Mu’thi Nawawi B. Abul Mahasin Tajul Khalwati C. Syekh Burhanudin Ulakan D. Sholeh bin Umar E. Ali ar-Raniri 8. Kiai Sholeh Darat menjadi salah satu pengajar di Makkah. Muridnya berasal dari seluruh penjuru dunia, termasuk dari Jawa dan Melayu. Berikut ini, murid dan santrinya yang berhasil di didik, kecuali … . A. Hadratu Syekh KH Hasyim Asy’ari B. KH Ahmad Dahlan C. RA. Kartini D. Iskandar Zulkarnain E. KH Amir Idris 9. Sepanjang hayatnya, beliau tidak hanya fasih berbahasa Melayu, tetapi juga Jawa, Siam (Thailand), Hindi, Arab, dan Persia. Namun, karya tulisnya menggunakan Bahasa Melayu. Beliau adalah … . A. Mbah Sholeh Darat B. Muhammad Arsyad C. Bukhari al-Jauhari D. Syekh Hamzah Fansuri E. KH Dahlan Tremas 10. Ajaran pokok tarekat Syekh Yusuf berkisar pada usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Di antara risalah yang ditulisnya berjudul an-Nafhatu as-Sailaniyah yang pokok isinya tentang … . A. memohon (berdoa) itu semestinya hanya kepada Allah Swt B. petunjuk-petunjuk bagi orang yang akan mulai memasuki tarekat C. berdiam diri tidak bicara, kecuali mengucapkan kalimat dzikir D. berwudhu terlebih dahulu, jika ada hadas (besar dan kecil) E. ada 20 macam adab berdzikir

173 Jawablah pertanyaan berikut dengan singkat dan benar! 1. Ulama Indonesia ini pernah diundang untuk presentasi di hadapan para ulama Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, tepatnya tahun 1870 M. Siapakah Beliau ini? 2. Syekh Yusuf pada tahun 1644, menunaikan ibadah haji dan tinggal di Makkah untuk beberapa lama, lalu belajar kepada ulama-ulama terkemuka di berbagai negara. Sebutkan di negara-negara manakah itu? 3. Syekh Abdus Samad termasuk pengarang yang produktif. Sebutkan kedua karyanya yang terkenal dan sampai saat ini masih dipergunakan? 4. Syekh Nuruddin awalnya belajar bahasa Melayu di Aceh, lalu memperdalam ilmu agamanya saat beribadah haji ke Makkah. Sepulang dari Makkah, didapati bahwa di Aceh, aliran wujudiyah sudah berkembang. Jelaskan apa itu aliran wujudiyah? 5. Banyak karya-karya Syekh Abdul Rauf Singkil yang sempat dipublikasikan melalui murid-muridnya, di antaranya Tarjuman al- Mustafīd. Sebutkan isi garis besar dari isi kitab tersebut? 3. Penilaian Keterampilan a. Penilaian Proyek Aktivitas 5.6 Aktivitas Peserta Didik: Setiap kelas dibagi menjadi 7 kelompok. Buatlah resume atau resensi tentang karya-karya berikut ini yang merupakan karya tulis dari 7 ulama Nusantara Indonesia yang sudah kalian pelajari: 1. Kelompok I: Kitab dari Abu Abdul Mu’thi Nawawi al-Bantani yang judulnya Nashâih al-‘Ibâd 2. Kelompok II: Kitab dari Syaikh Yusuf al-Makasari yang judulnya Safīnat an-Najah 3. Kelompok III: Kitab dari Abdus Samad al-Palimbani yang judulnya Hidāyatus Sālikīn 4. Kelompok IV: Kitab dari Nuruddin ar-Raniri yang judulnya Syifā al-Qulb 5. Kelompok V: Kitab dari Syekh Abdurauf al-Singkili yang judulnya Tarjuman al-Mustafīd BAB 5: Meneladani Jejak Langkah Ulama Indonesia yang Mendunia

174 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI 6. Kelompok VII: Kitab dari Muhammad Sholeh al-Samarani yang judulnya Kitab Majmu’ah al-Syari’ah 7. Kelompok VIII: Kitab dari Hamzah al-Fansuri yang judulnya Asrār al-‘Ārifīn b. Penilaian Praktik Kelompok: Kelas dibagi 7 kelompok, sesuai dengan Penilaian Proyek yang sudah dilaksanakan. Lalu dipresentasikan dan didiskusikan sesuai dengan tugasnya, lalu membuat kesimpulan tentang isi kitab atau karya tersebut, sementara itu GPAI memberikan penilaian dari masing-masing kelompok. Individual: Setiap peserta didik di masing-masing kelas, membuat tulisan tentang pengalaman pribadi (cukup 1 lembar dan ditulis tangan sendiri) terkait 7 ulama Nusantara Indonesia yang sudah dipelajari. Hasilnya dikumpulkan 1 pekan ke depan! Sementara itu, GPAI bersama peserta didik lainnya (yang ditugaskan) untuk memberikan tanggapan dan penilaian dari setiap peserta didik dari masing-masing kelas. c. Penilaian Portofolio Tuliskanlah semua aktivitas keagamaan kalian, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat pada buku Penilaian Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti! L Pengayaan Terdapat 7 ulama Nusantara Indonesia yang memiliki reputasi dunia, adakah di antara karya-karyanya yang pernah kalian pelajari dan telaah, baik di lingkungan sekolah, rumah, lingkungan sekitar, atau di pondok pesantren? Jawabannya harus jujur ya! Perkaya juga dengan tanggapan kalian tentang peran dan karya-karya mereka untuk kemajuan Indonesia ke depan. Boleh ditulis tangan, atau cara yang lain. Cukup 1-2 lembar saja. Jangan lupa, sertakan sumber rujukannya ya!

175Bab 1: Membiasakan Berpikir Kritis dan Semangat Mencintai Iptek Bab 6 Menguatkan Kerukunan melalui Toleransi dan Memelihara Kehidupan Manusia KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI REPUBLIK INDONESIA 2021 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Penulis: Abd. Rahman dan Hery Nugroho ISBN: 978-602-244-684-2

176 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI A Tujuan Pembelajaran Dalam bab ini, tujuan pembelajarannya adalah: 1. Membaca Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia dengan tartil; 2. Mengidentifikasi tajwid dalam Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia; 3. Menerjemahkan dalam Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia; 4. Menganalisis Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia; 5. Membiasakan membaca al-Quran dengan meyakini bahwa toleransi dan memelihara kehidupan manusia adalah perintah agama 6. Membiasakan sikap toleransi dan peduli sosial, cinta damai, semangat kebangsaan, dan tanggung jawab sebagai implementasi dari Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia; 7. Menulis kembali Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia dengan baik dan benar; 8. Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia; 9. Menyajikan tentang Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32, serta Hadis tentang toleransi dan memelihara kehidupan manusia. B Kata Kunci • Al-Qur’an • Toleransi • Hadis • Kerukunan • Tajwid • Tartil • Memelihara kehidupan Manusia • Perdamaian

177BAB 6: Menguatkan Kerukunan melalui Toleransi dan Memelihara Kehidupan Manusia C Infografis Mengidentifikasi tajwid dalam Q.S. Yūnus/10: 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5: 32 Membaca Q.S. Yūnus /10 : 40-41 dan Q.S. al-Māidah/5 : 32, serta Hadis terkait Menerjemahkan Q.S. Yūnus/10 : 40-41 dan QS. al-Māidah/5 : 32, serta Hadis terkait Menyajikan Q.S. Yūnus /10 : 40-41 dan QS. al-Māidah/5 : 32, serta Hadis terkait Mendemonstrasikan hafalan Q.S. Yūnus/10 : 40-41 dan QS. al- Māidah/5 : 32, serta Hadis terkait Hidup Rukun Melalui Toleransi dan Memelihara Kehidupan Manusia Menganalisis Q.S. Yūnus/10 : 40-41 dan QS. al-Māidah /5 : 32, serta Hadis terkait D Tadabbur Gambar 6.1 Menjaga persatuan meskipun berbeda agama dan aliran kepercayaan Gambar 6.2 Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku

178 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI Gambar 6.3 Pelajar memberikan santunan kepada anak yatim piatu Gambar 6.4 Pelajar membantu menyeberangkan orang tua di jalan raya Aktivitas 6.1 Dari gambar 6.1 dan 6.2 di atas, bagaimana hubungannya dengan toleransi? Dari gambar 6.3 dan 6.4 di atas, bagaimana hubungannya dengan memelihara kehidupan manusia? E Kisah Inspiratif Perhatikan bacaan di bawah ini! Toleransi dalam Lintasan Sejarah Muslim Masyarakat di Madinah pada zaman Nabi Muhammad Saw. adalah multietnis dan multiagama. Masyarakat ini kemudian disatukan dalam sebuah wadah negara dan konstitusi yang dikenal dengan piagam Madinah. Piagam Madinah memberikan kebebasan beragama sesuai dengan ajaran masing-masing. Rasulullah Saw. berusaha menegakkan keadilan kepada semua komunitas etnis dan agama yang ada, sehingga tercipta suasana kedamaian dan ketenteraman. Selain itu, di dalamnya berisi aturan-aturan berkenaan dengan orang-orang Muhajirin, Anshar, dan Yahudi yang bersedia hidup berdampingan dengan kaum muslim. Penghargaan terhadap keberadaan komunitas etnis dan pemeluk agama yang ada di Madinah, merupakan salah satu indikator adanya masyarakat yang harmonis, penuh pengertian, damai, dan sejahtera.

179 Pada masa khalifah Abu Bakar al-Shidiq dan Umar bin Khathab, usaha menegakkannya terus dilakukan. Bahkan kedua sahabat besar ini yang sebelum muslim merupakan orang yang terpandang dan terhormat dari sosial dan ekonomi. Dalam satu riwayat disebutkan, ketika Abu Bakar al-Shidiq menjadi khalifah, ia menjadi miskin. Untuk menutupi kehidupannya, ia berusaha bekerja sendiri dengan berjualan di salah satu pasar yang ada di kota Madinah. Harta dan kekayaannya digunakan untuk melakukan gerakan keagamaan agar masyarakat terhindar dari kemiskinan dan ketidakadilan. Melihat kenyataan ini Umar bin Khathab menegur dan meminta Abu Bakar al-Shidiq mengambil sebagian kecil dari harta yang tersimpan di Bait al-Mal, karena ia juga sebenarnya mempunyai hak di situ. Tetapi Abu Bakar al-Shidiq tidak mau, bahkan berkata: “Dia akan sangat tersiksa apabila melihat umat dan masyarakat yang berada di bawah kepemimpinannya sengsara. Ia tidak mau memikul beban dosa yang begitu besar nanti.” Kenyataan sejarah tersebut dapat dipahami bahwa keadilan dan pengakuan terhadap hak-hak orang lain, merupakan salah satu bentuk dakwah yang sebenarnya menuju masyarakat madani. Islam mengajarkan nilai-nilai keadilan (‘adalah), amanah, dan toleransi (tasamuh). Nilai-nilai inilah yang semestinya dikembangkan oleh penganut agama yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,dan bernegara. Sumber: disarikan dari Buku Deradikalisasi Pemahahaman al-Qur’an dan Hadis yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Nasarudin Umar, MA (2014: 360-364) Aktivitas 6.2 Dari bacaan di atas, buatlah tiga kata kunci dan jelaskan maksudnya! F Wawasan Keislaman Ada yang tahu pengertian toleransi? Mengapa manusia perlu sikap toleran dan memelihara kehidupan manusia? Untuk mendalami materi tersebut, silahkan kalian pelajari materi ini dengan baik sampai selesai ya. Pada pembahasan BAB 6: Menguatkan Kerukunan melalui Toleransi dan Memelihara Kehidupan Manusia

180 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMA/SMK Kelas XI materi ini, fokusnya adalah Q.S. Yūnus /10 : 40-41 serta Hadis tentang toleransi dan Q.S. al-Māidah/5: 32 serta Hadis tentang memelihara kehidupan manusia. 1. Mengkaji Q.S. Yūnus/10: 40-41 tentang toleransi Dalam mengkaji Q.S. Yūnus/10: 40-41 ada enam tahapan yang kalian akan lakukan, yaitu: pertama, membaca. Kedua, mengidentifikasi tajwid. Ketiga, mengartikan perkata. Keempat, menerjemahkan ayat. Kelima, menganalisis isi. Keenam, penerapan Q.S. Yūnus/10: 40-41. Mari bersama membahas satu persatu. a. Membaca Q.S. Yūnus/10 : 40-41 dengan tartil Perhatikan teks lengkap Q.S. Yūnus/10 : 40-41 di bawah ini! ࣖ َ ۠ ﴿ وَمِنْهُم ْ مَّن ْ يُّؤْمِن ُ بِه ٖ وَمِنْهُم ْ مَّن ْ لَّا يُؤْمِن ُ بِه ٖۗ وَرَبُّك َ اَعْلَم ُ بِالْمُفْسِدِيْن ٤٠ وَاِن ْ كَذَّبُوْك َ فَقُل ْ لِّي ْ عَمَلِي ْ وَلَكُم ْ عَمَلُكُم ْۚ اَنْتُم ْ بَرِيْۤـُٔوْن َ مَِّا ٓ اَعْمَل ُ وَاَنَا )40- 41 :( يونس/10 بَرِيْۤء ٌ مَِّّا تَعْمَلُوْن َ ٤١ ﴾ Aktivitas 6.3 Bacalah Q.S. Yūnus/10 : 40-41 dengan tartil. Cara membacanya adalah dengan berpasangan bersama teman kalian satu meja! Apabila jumlah siswa ganjil, maka kelompok terakhir jumlahnya tiga. Satu siswa membaca, sedangkan temannya menyimak. Apabila ada bacaan yang kurang tepat, temannya mengingatkan. Setelah selesai, bergantian membaca dan menyimak. b. Mengidentifikasi Tajwid dalam Q.S. Yūnus /10 : 40-41 Setelah membaca dengan tartil, mari mengidentifikasi tajwid dalam Q.S. Yūnus /10 : 40-41. Identifikasi tajwid ini merupakan penerapan materi tajwid yang pernah kalian pelajari pada kelas sebelumnya. Perhatikan petunjuk mengerjakannya yang ada kotak di bawah ini! Aktivitas 6.4 Isilah titik-titik pada tabel dibawah ini, yaitu pada kolom hukum bacaan dan alasan sebagaimana seperti di contoh.