LLMP 2E (Flipbook)

Najla Hanani - 1483 LLMP – 2E (FLIPBOOK) 1. Apa wawasan baru yang Anda peroleh dari proses analisis kasus, membuat infografis, dan gallery walk? Proses analisis kasus memberikan pemahaman bahwa budaya literasi tidak dapat dibangun hanya melalui kegiatan membaca, tetapi harus menjadi kebiasaan yang terintegrasi dalam seluruh aktivitas sekolah. Penyusunan infografis melatih kemampuan menyederhanakan informasi menjadi pesan yang jelas, menarik, dan mudah dipahami. Sementara itu, kegiatan gallery walk membuka kesempatan untuk memperoleh berbagai sudut pandang, strategi, dan praktik baik dari kelompok lain sehingga muncul banyak inspirasi untuk mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah yang lebih kreatif dan sesuai dengan kebutuhan murid. 2. Bagaimana menerapkan gagasan lingkungan kaya literasi di sekolah Anda? Lingkungan kaya literasi dapat diterapkan melalui penyediaan pojok baca di setiap kelas, pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat kegiatan belajar, pemasangan poster dan mading literasi, serta penyelenggaraan kegiatan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Selain itu, guru dapat mengintegrasikan aktivitas literasi dalam setiap mata pelajaran melalui diskusi, refleksi, penulisan ringkasan, maupun presentasi hasil bacaan. Keterlibatan kepala sekolah, guru, pustakawan, orang tua, dan murid juga perlu dibangun agar budaya literasi menjadi tanggung jawab bersama dan berlangsung secara berkelanjutan.

Najla Hanani - 1483 LLMP – 2E (FLIPBOOK) 3. Apa tantangan yang mungkin Anda temukan dalam menciptakan ekosistem sekolah yang literat? Beberapa tantangan yang mungkin dihadapi meliputi rendahnya minat baca sebagian murid, keterbatasan koleksi bacaan yang bervariasi, kurangnya waktu untuk melaksanakan program literasi secara konsisten, serta belum meratanya komitmen seluruh warga sekolah dalam mendukung Gerakan Literasi Sekolah. Tantangan lain adalah dominasi penggunaan gawai untuk hiburan dibandingkan sebagai sarana literasi. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi seluruh warga sekolah, penyediaan bahan bacaan yang menarik, serta program literasi yang inovatif dan relevan dengan kehidupan murid agar budaya literasi dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Najla Hanani - 1483 LLMP – 2E (FLIPBOOK)

Najla Hanani - 1483 LLMP – 2E (FLIPBOOK) Peran masing-masing pemangku kepentingan dalam merancang dan memanfaatkan lingkungan kaya literasi adalah sebagai berikut. A. Kepala sekolah 1. Menyusun kebijakan dan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang berkelanjutan. 2. Menyediakan sarana dan prasarana literasi, seperti perpustakaan, pojok baca, dan media literasi di lingkungan sekolah. 3. Mengalokasikan anggaran dan memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan literasi. 4. Membangun kolaborasi dengan guru, orang tua, perpustakaan daerah, dan pihak lain untuk memperkuat budaya literasi. 5. Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan program literasi di sekolah. B. Guru 1. Mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran. 2. Merancang pembelajaran yang mendorong murid membaca, menulis, berdiskusi, dan mempresentasikan hasil belajar. 3. Menciptakan lingkungan kelas yang kaya literasi melalui pojok baca, pajangan karya murid, dan media pembelajaran yang menarik. 4. Memberikan teladan sebagai pembaca dan pembelajar sepanjang hayat.

Najla Hanani - 1483 LLMP – 2E (FLIPBOOK) 5. Memberikan pendampingan, motivasi, serta umpan balik terhadap perkembangan kemampuan literasi murid. C. Wali murid (orang tua) 1. Menumbuhkan kebiasaan membaca di rumah melalui pendampingan dan penyediaan bahan bacaan. 2. Memberikan motivasi serta apresiasi terhadap kegiatan literasi yang dilakukan murid. 3. Menjalin komunikasi dan bekerja sama dengan guru dalam mendukung perkembangan literasi murid. 4. Mengawasi penggunaan gawai agar lebih banyak dimanfaatkan untuk kegiatan literasi yang positif. 5. Berpartisipasi dalam program literasi sekolah, seperti donasi buku, kegiatan membaca bersama, atau pendampingan pada kegiatan literasi. Kolaborasi yang sinergis antara kepala sekolah, guru, dan wali murid menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem sekolah yang kaya literasi sehingga budaya membaca, menulis, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat dapat tumbuh secara berkelanjutan pada murid.