E BOOK SEJARAH DESA PESUCEN

PENGANTAR KEPALA DESA PESUCEN Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penyusunan e-book "Sejarah Desa Pesucen" dapat diselesaikan dengan baik. E-book ini disusun sebagai bentuk dokumentasi sejarah, asal-usul, serta identitas Desa Pesucen yang selama ini hidup dan diwariskan melalui tradisi lisan masyarakat. Sebagai sebuah desa yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal, Desa Pesucen menyimpan berbagai kisah yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus. Sejarah tidak hanya merupakan catatan tentang masa lampau, melainkan fondasi yang membentuk identitas diri suatu masyarakat. Melalui e-book ini, berbagai penuturan para sesepuh, tokoh masyarakat, serta data historis berhasil dihimpun sehingga menjadi sebuah dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya Desa Pesucen. Atas nama Pemerintah Desa Pesucen, saya menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan e-book ini, khususnya para sesepuh desa, tokoh masyarakat, tim penyusun, serta seluruh warga yang telah bersedia berbagi cerita, pengalaman, dan pengetahuan mengenai sejarah Desa Pesucen. Saya berharap buku ini tidak hanya menjadi sumber informasi mengenai sejarah Desa Pesucen, tetapi juga menjadi media edukasi yang mampu menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap Desa Pesucen. Akhir kata, marilah kita bersama-sama menjaga, merawat, dan melestarikan sejarah Desa Pesucen sebagai bagian dari identitas serta kekayaan budaya yang menjadi milik kita bersama. Banyuwangi, 31 Juli 2026 Kepala Desa Pesucen Sirojudin 1

KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga e-book "Sejarah Desa Pesucen" ini dapat diselesaikan dengan baik. Penyusunan e-book ini merupakan salah satu upaya untuk mendokumentasikan sejarah, budaya, serta perkembangan Desa Pesucen agar dapat menjadi sumber informasi yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi mendatang. Sejarah desa selama ini sebagian besar berkembang melalui tradisi lisan yang diwariskan dari para sesepuh dan tokoh masyarakat. Oleh karena itu, penyusunan e-book ini dilakukan dengan menghimpun berbagai sumber, baik melalui wawancara dengan tokoh masyarakat maupun penelusuran literatur pendukung, sehingga informasi yang disajikan dapat memberikan gambaran mengenai perjalanan sejarah Desa Pesucen. Penyusun menyadari bahwa sejarah desa merupakan kajian yang terus berkembang seiring ditemukannya sumber dan informasi baru. Oleh karena itu, e-book ini tidak dimaksudkan sebagai akhir dari penulisan sejarah Desa Pesucen, melainkan sebagai langkah awal dalam mendokumentasikan sejarah desa yang selama ini diwariskan secara turun-temurun secara lisan. Penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Desa Pesucen dan semua narasumber yang telah memberikan waktu, informasi, dan masukan selama proses penyusunan e-book ini. Penyusun menyadari bahwa e-book ini masih memiliki keterbatasan sehingga penyusun terbuka untuk kritik dan saran untuk penyempurnaan pada masa yang akan datang. Banyuwangi, 31 Juli 2026 Penyusun MMD Universitas Brawijaya Kelompok 38 2

DAFTAR ISI PENGANTAR KEPALA DESA PESUCEN........................................................ 1 KATA PENGANTAR.............................................................................................2 DAFTAR ISI........................................................................................................... 3 DAFTAR TABEL................................................................................................... 4 DAFTAR GAMBAR.............................................................................................. 5 A. Sejarah Desa...................................................................................................... 6 B. Kondisi Geografis dan Potensi Desa............................................................. 13 DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16 LAMPIRAN..........................................................................................................17 3

DAFTAR TABEL Tabel 1. Periode Kepemimpinan Desa Pesucen............................................. 10-11 4

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Sumber Mata Air Mailang.................................................................. 6 Gambar 2. Terowongan Sumber Kalongan.........................................................11 Gambar 3. Peta Wilayah Desa Pesucen.............................................................. 12 Gambar 4. Dusun Krajan.....................................................................................13 Gambar 5. Dusun Padangbaru............................................................................13 Gambar 6. Dusun Bangunrejo............................................................................ 13 5

SEJARAH DESA PESUCEN Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi A. Sejarah Desa Asal-usul nama "Pesucen" diyakini merujuk pada kata "pesucian", yang dalam bahasa Using memiliki makna “tempat bersuci”. Secara umum, istilah tersebut digunakan dalam konteks agama Islam untuk menyebut tempat berwudu. Penafsiran mengenai asal-usul nama tersebut hidup dan diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan para tokoh masyarakat Desa Pesucen. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, penamaan Desa Pesucen memiliki keterkaitan erat dengan keberadaan sebuah sumber mata air yang sejak dahulu dimanfaatkan sebagai tempat bersuci, yaitu sumber mata air Mailang. Nama “Mailang” berasal dari bahasa Using "meh ilang" yang bermakna “hampir hilang”. Penamaan tersebut muncul karena sumber mata air itu beberapa kali berpindah lokasi sebelum akhirnya menetap di tempat yang dikenal masyarakat hingga sekarang. Gambar 1. Sumber Mata Air Mailang Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan asal-usul Desa Pesucen adalah sosok Mbah Bardan, yaitu seorang warga Singotrunan dari Desa Pengantigan yang bekerja sebagai buruh di perkebunan milik pemerintah kolonial Belanda pada sekitar awal abad ke-18 M. Mbah Bardan dikenal sebagai sosok yang taat menjalankan ibadah. Setiap hendak melaksanakan salat, beliau selalu mengambil air wudu di sebuah 6

sumber mata air yang dikenal sebagai Sumber Mailang, yang terletak di Dusun Krajan, khususnya berada di sebelah timur Pasar Desa Pesucen. Setiap kali warga setempat menanyakan tujuan kepergian Mbah Bardan, beliau kerap mengucapkan, "Nang Pesucen" yang dalam bahasa Indonesia berarti “Ke Pesucen”. Dalam logat masyarakat Suku Using, pengucapan kata “pesucian” cenderung mengalami penyederhanaan pengucapan menjadi “Pesucen”. Seiring berjalannya waktu, penyebutan tersebut semakin dikenal oleh masyarakat setempat dan akhirnya melekat sebagai nama wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pesucen.. Sosok Mbah Bardan juga diyakini sebagai salah satu tokoh yang berjasa dalam pembukaan wilayah Pesucen. Pada masa Kolonial Belanda, awalnya wilayah Pesucen dipenuhi oleh tanaman-tanaman perkebunan seperti kopi dan cengkeh. Kemudian, Mbah Bardan bersama para pengikutnya mempunyai inisiatif untuk membabat hutan (mbabad alas) untuk dijadikan lahan pertanian. Mbah Bardan bersama dengan pengikutnya secara bergotong royong membangun saluran irigasi yang bersumber dari mata air Kalongan untuk dialiri ke kebun kopi tersebut. Di sepanjang kanan dan kiri aliran air tersebut, Mbah Bardan menanam padi, sayuran, pohon pala dan manggis. Oleh karena itu, hingga kini masih banyak dijumpai pohon manggis berusia tua di Desa Pesucen. Saluran irigasi yang dibangun oleh Mbah Bardan bersama para pengikutnya membentang hingga wilayah Sukowidi. Aliran air yang menghubungkan sumber mata air Kalongan dengan wilayah Sukowidi tersebut kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Sungai Sukowidi. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa Mbah Bardan dalam membuka dan mengembangkan sistem irigasi di kawasan tersebut, namanya diabadikan pada sebuah dam pengatur air irigasi yang berada di aliran Sungai Sukowidi, tepatnya berlokasi di Dusun Krajan, Desa Pesucen, di sebelah timur bendungan terowongan. Tidak hanya kisah dari Mbah Bardan yang menjadikannya sebagai identitas dari asal-usul Desa Pesucen, melainkan terdapat tokoh lain yang terlibat dalam sejarah desa, yaitu sosok Datuk Malik Ibrahim. Berdasarkan 7

penuturan Bapak Sugiarto, seorang sesepuh di Desa Pesucen yang telah berusia 73 tahun, sosok Datuk Malik Ibrahim dahulunya merupakan seorang demang yang bertempat tinggal di sekitar wilayah Sukowidi, yakni kawasan yang dialiri oleh Sungai Sukowidi. Sungai Sukowidi memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat di mana sungai tersebut menjadi pusat berbagai aktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu saat sungai tersebut mengalami kekeringan sehingga tidak dapat lagi dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Kondisi yang demikian mendorong Datuk Malik Ibrahim untuk menelusuri aliran sungai tersebut untuk mencari sumber mata air yang menjadi hulu Sungai Sukowidi. Penelusuran tersebut mengantarkan beliau ke sumber mata air Kalongan yang selama ini mengalirkan air ke Sungai Sukowidi. Setelah menemukan sumber mata air tersebut, Datuk Malik Ibrahim membangun sebuah sendang yang disakralkan dan diperuntukkan secara khusus sebagai tempat bersuci. Oleh karena itu, kawasan tersebut juga dipercaya memiliki keterkaitan dengan munculnya nama “Pesucen” yang berasal dari kata “pesucian”. Kepercayaan masyarakat terhadap kesakralan sendang di kawasan sumber mata air Kalongan kemudian melahirkan sebuah tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Berdasarkan penuturan Bapak Sugiarto, suatu ketika terdapat seorang warga Lateng yang memiliki anak yang sedang menderita suatu penyakit. Saat berziarah ke makam Datuk Malik Ibrahim yang berada di wilayah Lateng, ia memperoleh saran dari penjaga makam untuk mengambil air dari sumber mata air Kalongan sebagai bentuk ikhtiar untuk kesembuhan anaknya. Warga tersebut kemudian bernazar bahwa apabila anaknya sembuh dari penyakitnya, ia akan menyelenggarakan acara syukuran di kawasan sumber mata air Kalongan, di mana tempat Datuk Malik Ibrahim pernah membangun sebuah sendang untuk tempat bersuci. Setelah anaknya dinyatakan sembuh, nazar tersebut dilaksanakan dengan mengadakan acara syukuran di sumber mata air Kalongan setiap hari Jumat Legi. Hal tersebut kemudian menjadi sebuah tradisi yang kerap dilaksanakan oleh masyarakat Lateng sebagai bentuk 8

ungkapan rasa syukur dan bentuk penghormatan terhadap sosok Datuk Malik Ibrahim. . Adapun sejarah awal terbentuknya Desa Pesucen tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah Banyuwangi, khususnya setelah berakhirnya Perang Puputan Bayu yang terjadi 18 Desember 1771. Perang tersebut dipandang sebagai tonggak penting dalam sejarah Banyuwangi karena menjadi awal terbentuknya wilayah Banyuwangi dan simbol perjuangan masyarakat Blambangan melawan VOC Belanda. Menurut penuturan Bapak Rohim, sebagai salah satu sesepuh di Desa Pesucen, Perang Puputan Bayu melibatkan sekitar 70.000 orang dari berbagai wilayah di kawasan, mulai dari daerah pesisir Situbondo hingga Muncar. Sebagian besar pasukan gugur dalam peperangan tersebut sehingga hanya sebagian kecil yang berhasil bertahan hidup. Menurut narasumber, para penyintas inilah yang kemudian secara bertahap menyebar dan membuka kawasan-kawasan baru, termasuk wilayah yang kelak menjadi Desa Pesucen. Diperkirakan sekitar awal abad ke-18 M terjadi perluasan permukiman ke arah kawasan yang saat itu masih berupa hutan belantara. Terdapat tiga tokoh yang kerap dikaitkan dengan awal pembukaan wilayah Pesucen, yaitu Mbah Bardan, Mbah Haji Manan, dan Pujo Karya. Masing-masing tokoh memiliki peran masing-masing dalam perkembangan awal desa. Wilayah yang pertama kali dibuka berada di sekitar kawasan pasar Desa Pesucen dan area persawahan di sebelah kanan jalan utama. Pada masa itu, sebagian kawasan di atas wilayah tersebut telah dimanfaatkan sebagai perkebunan milik pemerintah kolonial belanda, sedangkan Mbah Bardan bersama pengikutnya membuka lahan di bagian bawah perkebunan tersebut. Pembukaan lahan dilakukan oleh Mbah Bardan dan adiknya, dengan luas lahan diperkirakan mencapai 5-7 hektare. Selain Mbah Bardan, berkembang pula cerita mengenai Mbah Haji Manan yang membuka kawasan di sebelah kiri jalur menuju wilayah yang kini dikenal sebagai Dusun Padangbaru, yang pada masa lalu disebut Dusun Petang. Mbah Bardan dan Mbah Haji Manan diperkirakan hidup pada 9

periode yang relatif sama. Hal tersebut didasarkan pada perbandingan usia antargenerasi keturunannya. Tokoh lain yang turut dikaitkan dengan sejarah awal Desa Pesucen adalah Pujo Karya, yang dahulunya disebut Pujo Gati. Pujo Gati secara administratif tercatat menjadi pemimpin pertama Desa Pesucen selama periode tahun 1905-1930. Pujo Gati bersama pengikutnya membangun saluran irigasi berupa terowongan di kawasan Kalongan sepanjang kurang lebih 15 meter agar dapat mengalirkan air ke area persawahan. Pujo Gati kemudian dijuluki Pujo Karyo, yang bermakna "dipuja karyanya", sebagai bentuk penghormatan atas jasanya menyediakan sarana pengairan bagi warga. Namun demikian, apabila melihat perbandingan rentang waktu dengan tokoh-tokoh sebelumnya, Pujo Karya bukanlah tokoh pertama yang membuka lahan di wilayah Pesucen. Meskipun demikian, Pujo Karya tetap memiliki peran penting dalam sejarah administratif pemerintahan Desa Pesucen. Dalam rentang sejarah pemerintahannya, Desa Pesucen melalui beberapa periode kepemimpinan yang tercatat sebagai berikut: No Periode Nama Kepala Desa Keterangan 1 1905–1930 Pujo Karyo Masa Kolonial Belanda 2 1930–1940 Abdul Kadir Masa Kolonial Belanda 3 1940–1947 Pujo Gati Masa Kemerdekaan 4 1947–1949 Mukawi Masa Agresi Militer Belanda 5 1949–1950 Machfudz Pejabat Sementara 6 1951–1967 Salamun Masa Pergolakan G30S/PKI 7 1967–1970 Hudlori Suhud – 8 1970–1973 Djoemanten (periode 1) Pejabat Sementara dari ABRI 9 1973–1985 Djoemanten (periode 2) Dari unsur ABRI 10 1985–1986 H. Hasan Pejabat Sementara 11 1986–1992 Hafidzi Masa Orde Baru 12 1992–1993 Asmaun Pejabat Sementara 10

13 1993–2001 Sumrah Masa Transisi Orde Baru ke Reformasi 14 2001–2011 Drs. Maksum Hasby Masa Orde Reformasi 15 2011–2017 Sugiartono, S.H. Masa Revolusi Mental 16 2017–2023 Drs. H. Maksum – 17 2023 – sekarang Sirojudin – Tabel 1. Periode Kepemimpinan Desa Pesucen Keberadaan sumber mata air Kalongan tidak hanya memiliki nilai historis dalam di Desa Pesucen, tetapi juga menjadi salah satu kawasan yang memiliki potensi alam yang tinggi. Sumber mata air ini mengalirkan air dengan debit yang melimpah dan dikelilingi oleh tebing serta hutan yang masih asri. Potensi alam tersebut kemudian mendorong Pemerintah Desa Pesucen mengembangkan kawasan Kalongan sebagai destinasi wisata alam. Aliran air dari sumber mata air ini mengalir menuruni bebatuan hingga membentuk air terjun yang menawarkan panorama alam yang indah serta suasana yang tenang bagi para pengunjung. Gambar 2. Terowongan Sumber Kalongan Wisata Kalongan berkembang dan menjadi salah satu tujuan rekreasi masyarakat selama kurang lebih satu dekade. Namun, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut mengakibatkan berbagai fasilitas wisata mengalami kerusakan sehingga tidak lagi dapat difungsikan sebagaimana mestinya. Di balik bencana tersebut, ekosistem 11

Kalongan justru mengalami pemulihan secara alami. Berkurangnya aktivitas manusia memberikan ruang bagi alam untuk kembali berkembang, ditandai dengan air yang kembali jernih, vegetasi yang tumbuh semakin lebat, serta meningkatnya populasi capung di sekitar aliran sungai. B. Kondisi Geografis dan Potensi Desa Gambar 3. Peta Wilayah Desa Pesucen Desa Pesucen kini berada di bawah wilayah administratif Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, tepatnya berada di bagian barat daya wilayah Kecamatan Kalipuro. Desa Pesucen memiliki luas wilayah sekitar 18,21 km2. Sebelum tahun 1996, Desa Pesucen terbagi menjadi enam wilayah dusun, diantaranya Dusun Krajan, Dusun Padangbaru, Dusun Bangunrejo, Dusun Kopensare, Dusun Plampang, dan Dusun Bulupayung. Akan tetapi, pada tahun 1996 terjadi pemekaran wilayah yang dibuktikan dengan Surat Keputusan Bupati Banyuwangi Nomor 188/588/KEP/439.014/2000 tentang Penetapan Desa Persiapan Bulusari Kecamatan Kalipuro menjadi Desa Bulusari. Desa Bulusari merupakan desa hasil pecahan wilayah Pesucen sehingga wilayah Pesucen 12

kini hanya memiliki tiga dusun, yaitu Dusun Krajan. Dusun Padangbaru, dan Dusun Bangunrejo. Gambar 4. Dusun Krajan Gambar 5. Dusun Padangbaru Gambar 6. Dusun Bangunrejo 13

Pembagian wilayah. tersebut tidak hanya mencakup wilayah permukiman, melainkan juga pembagian tanah kas desa. Tanah kas desa dibagi menjadi dua, di mana Desa Pesucen mendapatkan bagian di sebelah selatan jalan desa, sementara Desa Bulusari mendapat bagian di sebelah utara jalan desa. Adapun batas wilayah Desa Pesucen adalah sebagai berikut: 1. Sebelah Utara : Desa Kelir 2. Sebelah Selatan : Desa Grogol 3. Sebelah Timur : Desa Grogol dan Desa Kelir 4. Sebelah Barat : Desa Bulusari Desa Pesucen berada pada ketinggian sekitar 296,83 mdpl, dengan curah hujan rata-rata mencapai 250 mm dan suhu udara rata-rata 29°C. Desa Pesucen memiliki bentang alam yang didominasi oleh perbukitan hijau, hamparan persawahan, serta vegetasi yang beragam. Berbagai komoditas tumbuh subur di wilayah ini, di antaranya kopi, cengkeh, durian, pala, dan manggis. Karakteristik alam yang mendukung tersebut menjadikan sebagian besar masyarakat Desa Pesucen menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian dan perkebunan. Hingga saat ini, Desa Pesucen dikenal sebagai daerah penghasil manggis sekaligus menjadi sentra utama komoditas manggis di wilayah Banyuwangi. Meskipun buah manggis tidak berbuah sepanjang tahun, ketersediaannya tetap terjaga berkat pasokan dari berbagai daerah sekitar yang bermuara ke Desa Pesucen, sehingga desa ini berperan sebagai pusat distribusi manggis yang terpercaya. Keberhasilan pengelolaan komoditas manggis bahkan telah menembus pasar internasional, dengan tujuan ekspor ke sejumlah negara di kawasan Asia, seperti Republik Rakyat Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Untuk memperkuat identitasnya sebagai Kampung Manggis, masyarakat Pesucen pernah membangun sebuah tugu manggis yang berdiri di tengah simpang tiga Dusun Krajan sebagai ikon wilayah tersebut. Selain mengandalkan hasil buah manggis, warga Desa Pesucen turut memanfaatkan berbagai jenis buah-buahan lokal untuk menunjang perekonomian mereka. Potensi alam ini dikelola secara kreatif melalui 14

usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berupa pengolahan manisan buah, seperti manisan cermai dan manisan pala. Proses pembuatannya masih menggunakan cara tradisional, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta kuliner khas daerah dan menjadikannya salah satu produk unggulan desa. 15

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. (2024). Kecamatan Kalipuro Dalam Angka 2025. Banyuwangi: Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi. (2025). Toponimi wilayah di Kabupaten Banyuwangi. Banyuwangi: Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi. Pemerintah Desa Pesucen. (2023). RPJM Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi Tahun 2023-2029. Banyuwangi: Pemerintah Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. 16

LAMPIRAN Lampiran 1. Dokumentasi Wawancara Sejarah Desa dengan Narasumber 17